Galodo, Mitos Angka 9 Masjid Babussalam Selalu Selamat
TANAHDATA, METRO--Bencana galodo yang melanda Kenagarian Pasie Laweh, Kecamatan Sungai Tarab, Senin (30/3) mengingatkan masyarakat dengan kejadian serupa 30 tahun lalu. Menurut keterangan para sepuh, galodo sudah untuk ketiga kalinya melanda wilayah tersebut.
Entah kebetulan saja, atau memang rencana Allah SWT, galodo terjadi di tiga tahun yang berakhir dengan angka 9 (1959, 1979, dan 2009). Selain itu, ternyata masih banyak keganjilan dan keunikan lain yang mengentalkan petuah orang-orang tua soal negeri di pinggang Gunung Marapi.
Malona, begitulah orang Sungai Tarab menyebut sungai yang membelah kecamatan mereka. Malona juga berarti aliran air yang datang dari lereng Gunung Marapi. “Tahun 1979 pernah lo kajadian nan bantuakko. Tapi iko nan paliang gadang,” ungkap Kamssari (65), salah seorang korban yang pernah berhadapan dengan kejadian serupa dua kali. “Wakatu 79 tu, suami ambo maningga. Yang salamaik ambo jo anak-anak,” katanya.
Warga Jorong Babussalam, Kecamatan Sungai Tarab itu mengatakan, seperti juga kejadian di tahun 1979, kali ini Galodo juga diawali dengan suara patuih tungga diiringi bunyi bergemuruh seperti mesin huller baru dinyalakan. “Kini, ambo anak beranak bisa salamaik dek hari masih pagi. Galodo mulai jam anam, salasai jam sambilan,” sebutnya seolah tak sadar angka sembilan muncul lagi dalam pembicaraan.
Menurut ceritanya, usai galodo tahun 1979, Kamsari sekeluarga mengikuti program transmigrasi bersama anak-anaknya ke Pesisir Selatan. “Alah 25 tahun di Pasisia, kami baliak ka siko. Sabab tanah kami di siko,” katanya.
Jamilis (63) tetangga Kamsari yang rumahnya selamat dari kedua galodo mengatakan, bencana serupa juga pernah terjadi tahun 1959. “Galodo nan kini ko duo kali lipek dari galodo-galodo sabalumnyo,” katanya. Usai galodo tahun 1979, Jamilis tetap tinggal di lokasi rumahnya yang terletak di ketinggian.
Selain cerita soal dua galodo sebelumnya, Kamsari dan Jamilis juga menceritakan perihal Masjid Babussalam yang selamat melewati setiap galodo. “Jorong ko banamo Babussalam, samo jo namo masjid kami. Baiak dulu atau kini, masjid tu tetap salamaik walau lah kanai galodo bagai,” katanya. Pengamatan POSMETRO hari itu, Masjid Babussalam berdiri kokoh, sementara bangunan sekitarnya rata dengan tanah, runtuh dan tertimbun material galodo.
Allahu Akbar