Help - Search - Members - Calendar
Full Version: tajuk yang tak pernah usai..
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
ken_the_12
Cerita pendek pertama dari @ken_the_12.. hasil perumusan dan penelusuran dari berbagai ide disekujur raga, dari lika-liku dan permasalahan kehidupan, dari berbagai sumber dan nara sumber.. yang terpercaya dan tidak terpercaya, yang terlihat maupun tidak terlihat. Jika ada pemilihan kata-kata dan penulisan kalimat yang aneh dan tidak berkenan mohon dima’afkan, karena maklum saja nuwbie nih. Kisah ini adalah fiktif. Tidak ada hubungannya dengan tokoh, kelompok atau kejadian nyata. Sumonggo rekan2 sekalian menikmati dan semoga menambah manfaat yang berarti. Teruntuk kak mods yang baik hati mohon dengan sangat karya ini diperkenankan. Jika memang tidak layak atau hasil copas, sumonggo didelete saja. Terima kasih.

--
untukmu kawan.. pengorbanan [ide] kita berdua..

Bismi..
Semoga kita diberkati secara bersama-sama, dengan kebenaran.. yang tidak samar-samar lagi.
Ijinkan aku “kawan senama” menceritakan suatu kisah, yang berasal dari kemurnian angan-angan walaupun tidak suci lagi. Hal ini bermula tatkala aku diwejang “kisah sembilan ksatria” dalam bentuk yang lain.

*
Gusti..
Ijinkan, ijinkan!
Kami memulai, dengan sedikit.. kesan duka
Serta pelengkap bumbu rasa cinta.. amiien..

Aku berharap.. dalam diriku yang paling dalam!
Agar “wak khatim”.. menjadi romo ampel. Supaya dia menjadi, seorang yang dapat mengayomi kita semua [sekalian]..
Aku [juga] berharap..
Agar “cak armed”.. menjadi kyai giri. Supaya dia menjadi, seorang yang mampu membuka pintu Arasy bagi kita semua!?
Aku [pun] berharap..
Agar “dul regi”.. menjadi bang muria. Supaya dia menjadi, seorang yang mampu mengenalkan lautan biru bagi kita sekalian!
Aku berharap juga..
Agar “si adi”.. menjadi kang drajat. Supaya dia menjadi, seorang yang dapat mengangkat keadaan kita semua [sekalian]..
Aku [terus] berharap..
Agar “si daniar”.. menjadi den kalijogo. Supaya dia menjadi, seorang yang dapat menjaga kita sekalian dari kekeliruan!?
Aku kemudian berharap..
Agar “si riboet”.. menjadi mbah kudus. Supaya dia menjadi, seorang yang dapat membantu kesiapan rohani kita semua!
Aku lalu berharap..
Agar “si ape”.. menjadi cak jati. Supaya dia menjadi, seorang yang dapat mengembalikan kepercayaan diri kita semua!
Aku berharap seterusnya..
Agar “ada seseorang” [yang kami pikir ada pada guk hono].. menjadi gus malik ibrahim. Supaya dia menjadi, seorang yang dapat mengemong dan menasehati diri kita semua!?
Dan yang terakhir!
Terkadang aku berpikir, dan terus merenung.. pantaskah kalo’ daku berharap-harap, menjadi koh bonang?! Padahal diri ini masih abu-abu?! Sedangkan koh bonang adalah kaum abangan!?
Oh.. Gusti
Maka berkatilah kami sekali lagi..
Dengan kebenaran.. yang tidak samar-samar lagi..!
Ampuni kami..

Ijinkan aku “kawan senama” untuk berkisah padamu sekalian, tatkala aku menyamar menjadi pribadi “koh bonang”.. tatkala aku beralih rupa dengan mengenakan zirah besi koh bonang ..serta ijinkan aku menjadi koh bonang sendiri, amiien..

Kisah ini berawal.. tatkala Sang Gusti bertitah,

“Wahai.. padamu AKU memanggil yaa gus malik ibrahim.. jadilah seorang yang [bisa] menjadi [suatu] jembatan yang adil dan arif.. bagi kawulomu!”
“Wahai.. padamu AKU memanggil yaa romo ampel.. jadilah seorang yang [bisa] menahan dirimu dari napsu berkuasa atas kawulomu.. demi kemaslahatan [yang lebih luas] bagi ummat, dan tegakkan kewibawaan kaum ulama atas para raja dunia!”
“Wahai.. padamu AKU memanggil yaa kyai giri.. jadilah seorang yang [bisa] mendapatkan kesaktian dan kekuatan untuk menyembuhkan [berbagai] penyakit pada zaman ini, namun engkau harus ingat kawulo didalammu!”
“Wahai padamu AKU memanggil yaa kang drajat.. jadilah seorang yang [bisa] melebarkan telingamu untuk mendengar suara nurani kawulomu dan menomerduakan suara, dirimu sendiri!”
“Wahai padamu AKU memanggil yaa den kalijogo.. jadilah seorang yang [bisa] menjalankan prinsip hidupmu dengan tetap mengikhlasi hidup sederhana, serta jadilah ‘bocah angon’ bagi segala keadaan kawulomu itu sekalian!”
“Wahai padamu AKU memanggil yaa mbah kudus.. jadilah seorang yang [bisa] mengimbangi kawulomu, serta jadilah ‘pendekar yang mumpuni’.. namun menunduk di hadapan kawulomu yang paling lemah!”
“Wahai padamu AKU memanggil yaa bang muria.. jadilah seorang yang [bisa] membuka diri selebar-lebarnya, untuk bersilahturahmi dengan kawulomu.. dengan tetap menjaga kemurnian dan ketegasan, sebagaimana angin berhembus dan menerpa apa pun saja.. untuk menyentuhkan kesejukan bagi setiap kawulomu!”
“Wahai padamu AKU memanggil yaa cak jati.. jadilah seorang yang [bisa] melembutkan kepribadian kawulomu sehingga AKU perkenankan dirimu untuk menembus berbagai kedalaman dimensi yang ada pada setiap kawulomu, alam ruhaniah serta alam kasyaf lainnya!”

“..ampun Gusti, Kanjeng Gustiku.. nopo panjenengan lupa pada daku?”
“Hm.. hehehe, ternyata dikau bisa bercakap juga!? Mengapakah dikau diam?”
“..ampun Gusti! daku sekarang lagi mendiami cinta biruMU Gusti.. daku berharap selalu mengingat wajah agungMu Gusti!?”
“OH.. engkau mengerang kesakitan, ataukah meminta-minta?! Apakah engkau berharap mabuk dalam kehampaan? Apakah engkau menginginkan tenggelam dalam keheningan? Wahai.. AKU bersumpah demi pohon Tin dan Zaitun, demi gunung Sinai, demi negeri asal baitullah.. Janganlah dikau melewati batasanKU.. Sang Pemilik Alief Laam Miem! Karena setelah dikau melewatiNYA, ..dikau akan merasa kaya melebihi AKU.. dikau akan merasa [bisa] menyatukan langit dan bumi! Ingatlah, sesungguhnya [hanya] kepada Tuhanmulah.. yaitu AKU [adalah] tempat kembalimu!!”
“duh Gusti.. ampun Gusti.. janganlah DIKAU memarahiku.. janganlah DIKAU membenciku.. sesungguhnyalah daku ini adalah seorang yang fakir! tanpaMu Gusti, tiadalah daku mengenal diriku ini.. Wahai Gusti, daku tunduk, patuh.. taat padaMU [amiien] titahkanlah padaku.. [kalo’ perlu akan daku pikul arasyMU]”
“AKU titahkan padamu sekarang.. Wahai padamu AKU memanggil yaa koh bonang.. jadilah seorang yang [bisa] mengetuk .. memasuki, dan bersemayam di[dalam] setiap qolbu para kawulo-kawulo!! Hingga perlu dirimu.. untuk membunyikan boning bonangmu! Untuk belajar kepada gus malik ibrahim! Untuk berguru kepada romo ampel! Untuk menjadi murid kyai giri! Untuk melacak [wacana] strategi budaya kang drajat! Untuk mengikuti jejak den kalijogo! Untuk mengacu kepada mbah kudus! Untuk menelusuri perjalanan bang muria! Serta.. menyelami [jati] diri cak jati!”
“nyuwun inggih Gusti.. pangestunipun..”

Lalu kemudian,
Setelah titah turun kesembilan ksatria tersebut, maka mereka serentak turun dari [Lauhul Mahfudz] permadani Arasy Sang Gusti, kemudian berpendar.. untuk menyerukan kebenaran yang HAQ, dan menyuarakan seruanNYA!
Gus malik ibrahim pergi ke selatan gresik..
Romo ampel pergi kedaerah soerabaja..
Kyai giri menuju ke utara gresik..
Kang drajat pergi ke sekitar lamongan..
Den kalijogo beranjak menuju [kadilangu] demak..
Mbah kudus langsung ke arah kudus jawa tengah..
Begitu pula dengan bang muria, cabut kearah gunung muria..
Sedangkan cak jati juga berangkat ke cirebon..
“lha.. sekarang tinggal daku sendirian, bingung seru, mau pergi kemana? Jawa timur, tengah, dan barat sudah sip! Pusing nih kepala, tewur banget nih urusan!?”

Akhirnya..
Daku memutuskan untuk ‘nyangkruk’ di gunung lawu, mampir disebelah waroeng. Untuk memesan, wedhang kopi dan asap rokoq yang sudah siap masuk ketubuhku. Setelah nyruput, dan menghabiskan sebatang rokoq.. tiba-tiba, eyang Tunjung Moyo lewat didepan mataku.. matur nuwun Gusti ucapku lirih..

Kemudian, aku bertanya padaNYA.. mengenai arti dari gunung lawu ini. “LHA ‘hu’ [iku] Wenehi Urip”. Setelah berkata demikian, DIA lalu ‘oncat’ pergi kelangit tujuh. Dalam hati daku berkata, “Gusti.. sungguh besar rahasiaMU.. mampus daku.. hilang daku..”

Setelah ‘camping’ selama empat puluh satu hari disana, akhirnya daku turun gunung. Dan kembali ‘nyangkruk’ di waroeng, untuk minum segelas wedhang kopi serta ngudut untuk menghembus asap yang.. sudah melewat lubang hidungku ini. Sembari berpikir, bukankah bopoku ada di [soerabaja] jawa timur, begitu pula eyangku juga ada disana. Akhirnya, daku memutuskan untuk ngendhon di jawa timur. Berhubung.. aku nggak ‘connect’ ama bopo, daku langsung meluncur ke tuban, untuk meminta idzin daripada eyang. Idzin pun turun, pada akhirnya.. daku membangun pondhokanku ditepi lautan, dan jadilah daku menetap disana.

... ... ...

[masih] bersambung.. semoga..

--
Cerita pendek ini didedikasikan untuk momen2 yang berkumpul dan bersilahturahmi dibulan april ini.. ulang tahun rekan2 kami, ulang tahun perkumpulan kami.. dan tentu saja, ulang tahun BlueFame tercinta ini..

Terima kasih Gusti.. terhadap rekan2 kami, teruntuk perkumpulan kami.. dan terkhusus BlueFame tercinta ini.. olehnya dan karenanya serta daripadanya, warna dan dinamika langkah dapat menjadi bentuk sejarah..

nuwus


---
sekilas
Ditepi lautan.. dekat pantai, yang merupakan batasan.. antara samudera terbentang dengan daratan [diri].
Ditepi lautan.. dengan semerbak wedhang, kaWEruh senDHANG.. yang sebahagian.
Sucks
QUOTE
momen2 yang berkumpul dan bersilahturahmi dibulan april ini

silaturahmi yang (terus) akan sambung terus sam Hug.gif

menapak jejak dalam keremangan
perkenalan dengan yang lain
seiring langkah dalam perjalanan
silaturahmi dengan bentuk yang lain


*maaf kalo ane comment dengan puisi coz ini merupakan salah satu "bentuk" apresiasi

teruntuk sam ken WeDhang JaHe dan Asap Rokok Cuppa.gif ngudud.gif
ken_the_12
sumonggo kang @sucks,
silahturahmi disini..
sumonggo masuk
dan menikmati yang ada disini..

*
Cuppa.gif ngudud.gif sumonggo kulo aturi, unjukan wedhang kopi plus sepensiks niki..

nuwus

Hug.gif
ShieldOfAthena
Doh.gif ampun, guruuu.... chomz cuma bisa melongo bacanya..... speak_cool.gif

sementara hanya mampu jadi penikmat
alunan sabda pena sang guru tirakat
bersastra menyapa kerabat

ImNotWorthy.gif

sambil suguhan djarum black kesukaan ma coffeemix Cuppa.gif ngudud.gif
The Hide
hasil perenungan yang dalam dan luarbiasa.
sungguh mempesona bila teraih makna.

QUOTE
Dalam hati daku berkata, “Gusti.. sungguh besar rahasiaMU.. mampus daku.. hilang daku..”


ken, salut.
Sucks
QUOTE (ken_the_12 @ Apr 12 2009, 09:23 AM) *
sumonggo kang @sucks,
silahturahmi disini..
sumonggo masuk
dan menikmati yang ada disini..

*
Cuppa.gif ngudud.gif sumonggo kulo aturi, unjukan wedhang kopi plus sepensiks niki..

nuwus

Hug.gif


ane sruput Cuppa.gif n ngudud.gif sembari menanti edisi berikutnya axehead.png

"gedong gelas isi tigang perkawis" Hug.gif
ken_the_12
QUOTE
hasil perenungan yang dalam dan luarbiasa.
sungguh mempesona bila teraih makna.

QUOTE
Dalam hati daku berkata, “Gusti.. sungguh besar rahasiaMU.. mampus daku.. hilang daku..”


ken, salut.


ImNotWorthy.gif ampun sam @better_man..

Bila makna tersirat dalam kata
Maka duka melepas angkuhnya
Bila makna mengurai simpulnya
Tiadalah kita selain semesta..

Nuwus yo sam Hug.gif
--

QUOTE
Doh.gif ampun, guruuu.... chomz cuma bisa melongo bacanya..... speak_cool.gif

sementara hanya mampu jadi penikmat
alunan sabda pena sang guru tirakat
bersastra menyapa kerabat

ImNotWorthy.gif

sambil suguhan djarum black kesukaan ma coffeemix Cuppa.gif ngudud.gif


ImNotWorthy.gif ampun mbakyu chomz..

Wahai pertiwi suci
Janganlah dikau menunduk dan menunggu
Mari bersama dan berlari
Berkelana melewat kalam dan waktu..

[sambil mupeng melihat djarum black yang tergeletak..]

Nuwus yo sis @SOA Hug.gif
--

QUOTE
ane sruput Cuppa.gif n ngudud.gif sembari menanti edisi berikutnya axehead.png

"gedong gelas isi tigang perkawis" Hug.gif


ImNotWorthy.gif ampun kang @sucks..

Ingsun iki gedong ingkang samar..
Ono ing telenge netro goib..

Matur kesuwun yo kang @sucks Hug.gif

*
edisi selanjutnya.. semedi cipta agak lama kayaknya.. axehead.png
siwa
Air mengalir dalam sebuah benjana..
Titisan tinta hanya sebuah warna..
Aku tertegun... akan sebuah cerita..
Mohon silahturahmi terus di jaga..
abang_kotak
patang puluh siji taun [41th]
kata [dewajudi] angka totokan.....
patang puluh siji taon [41th] sudah ane dikasih kesempatan ama Tuhan...
ntuk nikmati surga dunia ...... namun dipintu neraka [alNer=alamneraka]
lan [seratan] @kent "kuwi" dari penyaringan [sejati ne kang sejati]
kulo piyambak [diriku] belum bisa "nyerat sastra" kang koyo mengkono [segitu dalem]
dan [+] waniiiiii..... waniiiiiiii ...... lan waniiiii sejeru kuwi [sedalam lautan atlantic kata endang s taurina].............

6 taon kepungkur [kebelakang] satu peristiwa yang membuat perubahan besar pada pribadi [ku]..
dan [sekarang] aku rasakan hasil dari perubahan itu .......................

untuk mas kent [dan rekan] bf aku tak bermaksud curhat.......
namun ................
perubahan itu akan kita alami, mau tidak mau kehendak [Tuhan] kita hadapi bukan dipikiri......

setapak demi setapak perubahan itu akan kita hadapi
pertanyaaan yang selalu tak menemukan jawaban pasti dan yang tak tertulis oleh mas kent ....
"mampukah kita, nuswantara ini, ato masyarakat lan kawulo alit negari nuswantoro negari kang gemah ripah loh jinawi digeber marang Gusti kang Agung {ngadepi "wong jowo kare separo wong sebrang kari sak jodho"} ----- paromo sastro serat Joyoboyo kang dadhi pauger rani wong urip ono ing archo podho [panutan hidup manusia].................

mohon maaf kalo ada salah kata nan sarkas lan kemeruh [ngapunten lan matur nuwun]
ken_the_12
QUOTE
Air mengalir dalam sebuah benjana..
Titisan tinta hanya sebuah warna..
Aku tertegun... akan sebuah cerita..
Mohon silahturahmi terus di jaga..


*
tiada aku menyangkal adanya
penghormatan dari kawan senama
yang mengingatkan dan selalu menjaga
sumonggo kakang @siwa.. ImNotWorthy.gif

matur kesuwun dah mampir dimari Hug.gif
pangestu..

--

QUOTE
patang puluh siji taun [41th]
kata [dewajudi] angka totokan.....
patang puluh siji taon [41th] sudah ane dikasih kesempatan ama Tuhan...
ntuk nikmati surga dunia ...... namun dipintu neraka [alNer=alamneraka]
lan [seratan] @kent "kuwi" dari penyaringan [sejati ne kang sejati]
kulo piyambak [diriku] belum bisa "nyerat sastra" kang koyo mengkono [segitu dalem]
dan [+] waniiiiii..... waniiiiiiii ...... lan waniiiii sejeru kuwi [sedalam lautan atlantic kata endang s taurina].............


Hug.gif nyuwun inggih kangmas @abang_kotak..
sumonggo badar sejati.. dumugi.. [Agar “ada seseorang” [yang kami pikir ada pada guk hono].. menjadi gus malik ibrahim. Supaya dia menjadi, seorang yang dapat mengemong dan menasehati diri kita semua!?]
lan terakhir, sumonggo badar sejati.. dumugi.. [Agar “si daniar”.. menjadi den kalijogo. Supaya dia menjadi, seorang yang dapat menjaga kita sekalian dari kekeliruan!?]

dan yg terakhir..
mungkin untuk pertanyaan peyan akan dalem jadikan inspirasi buat sambungan dari cerpen ini nuwus nawak dah singgah dan tetirah disini.. Hug.gif

pangestu
Sucks
sampai jati menyadarkan diri
hingga bonang berdendang lantunan hati
penuh syair dalam giri
doa ampel menyertai
khusyuk kudus menempati
walau malik sudi menyemangati
tanpa harus jogo berdiri
hingga muria pergi menyendiri
tanpa drajad menyombongkan diri
ken_the_12
untukmu kawan.. pengorbanan [ide] kita berdua.. Hug.gif

QUOTE
6 taon kepungkur [kebelakang] satu peristiwa yang membuat perubahan besar pada pribadi [ku]..
dan [sekarang] aku rasakan hasil dari perubahan itu .......................

untuk mas kent [dan rekan] bf aku tak bermaksud curhat.......
namun ................
perubahan itu akan kita alami, mau tidak mau kehendak [Tuhan] kita hadapi bukan dipikiri......

setapak demi setapak perubahan itu akan kita hadapi
pertanyaaan yang selalu tak menemukan jawaban pasti dan yang tak tertulis oleh mas kent ....
"mampukah kita, nuswantara ini, ato masyarakat lan kawulo alit negari nuswantoro negari kang gemah ripah loh jinawi digeber marang Gusti kang Agung {ngadepi "wong jowo kare separo wong sebrang kari sak jodho"} ----- paromo sastro serat Joyoboyo kang dadhi pauger rani wong urip ono ing archo podho [panutan hidup manusia].................


QUOTE
sampai jati menyadarkan diri
hingga bonang berdendang lantunan hati
penuh syair dalam giri
doa ampel menyertai
khusyuk kudus menempati
walau malik sudi menyemangati
tanpa harus jogo berdiri
hingga muria pergi menyendiri
tanpa drajad menyombongkan diri


Bismi..
Kami lanjut kembali, tapa perih pada hati dan bentuk lain dari imaji..
Astagh.. sekali lagi
Ini adalah dua puluh satu hari. Semenjak ‘nyawiji’ dengan jubah koh bonang ini

Ijinkan daku sobat, sobatku yang senama dan menginspirasi
Agar Gusti meridhoi, angan-angan nyeleneh ini
Agar utusan Gusti selalu mendengarkan, keluh-kesah hati, yang maha pendosa ini
Astagh.. sekali lagi

... ... ...
Ditepi lautan.. dekat pantai, yang merupakan batasan.. antara samudera terbentang dengan daratan [diri].
Ditepi lautan.. dengan semerbak wedhang, kaWEruh senDHANG.. yang sebahagian.

Daku kembali, menuju pondokanku.. segi empat sempurna berhias warna hijau dan merah yang apik. Berkolaborasi dengan alas kuning bersanding putih. Aduhai, ditepi garis tanjung samudera membentang daratan membujur. Dan tentu saja sendhang tiga rasa yang menempel tepat disamping kediaman, griya sederhana ini. Asam, asin, tawar.. yang kerap menemani hidup dan kehidupan itu sendiri. Disebuah tempat persimpangan, tuban.. tu’u baa nun, bejo kumayangan dalam bahasa yang sederhana. Tempat berkumpulnya kata ‘umum’ dan ‘khusus’, majma’al bahrain, sungai dan laut yang menyatu. Samudera terbentang dan sendhang berselendang. Dasar yang ada pada dasar.

Daku kembali, menuju pondokanku.. dengan melihat para wanitaku yang berkumpul. Seakan telah berlangsung maha peristiwa yang terjadi. “Ada apa ini, sri.. tika.. tiwi.. betapa aneh kalian ini..”. setelah daku tepat berada ditengah pintu, mereka serempak menyambutku seraya berkata.. “Wahai njheng bonang, ada sebuah pondok bambu dibalik bukit sana, yang setiap malam selalu terpancar sinar kalem berlapis-lapis”. Daku tertegun, betapa peristiwa yang membutuhkan nalar bijaksana. Dengan ringan daku menimpali, “apakah kedatangan diri ini terkalahkan oleh pondok bambu, dan apakah bukan berupa pondok randhu hijau??”. Tiwi tersenyum tipis seraya berkata lembut “apakah wajah berseri kami tak cukup untuk menyambut? Apakah bening hati ini tiada sempurna untuk ucapan selamat datang? Duhai koh bonang yang mekar tiada sembarang, betapa jerit kami simpan.. betapa gundah kami hilangkan, hanya untuk melihatmu pulang..” dengan bentuk nadaku yang paling sederhana daku menyahut “betapa kalian bertiga adalah wanitaku yang paling sempurna, sekarang katakanlah apa yang ada, apa yang mengganjal didada..”. tika mendekat seraya berucap “pondok randhu itu, ah.. bukan pondok bambu itu njheng bonang.. betapa bentuk khayal yang sempurna dan bisa saja berupa teguran Sang Pencipta yang nyata..”. daku terdiam sejenak, ‘coba genapkan benak dan betapa ini adalah momen yang dapat mengharubirukan, “baiklah.. “sahutku, “daku akan pergi ‘tuk selidiki..” ujarku cepat. “Surak O surak hore..” mereka bertiga kompak dengan semarak. Duh, betapa para wanitaku telah sempurna dalam berkata. Kemudian, untuk kesekian kalinya.. daku pergi kembali.

Daku kembali menyamar.. untuk mengetahui kejadian yang samar. Kembali, daku mengenakan selendang penyamaranku. Lalu berjalan, menuju bukit.. yang dimaksud para wanitaku. Setelah sampai, ternyata benar pondok randhu ini, eh salah, pondok bambu ini terpancar sinar kalem berlapis-lapis.. laksana bintang biarpun sunyi, sinarnya, anginnya, tumbuhan yang ada disekelilingnya. Semua begitu menggoda angan. Layaknya kristal salju ditengah taklamakan. Dan lebih kaget lagi, bang muria dengan manisnya mengintai dari dekat. Segera daku hampiri dan menyapanya. Bang muria menoleh dan dengan isyarat kedua mata yang memang keahliannya, bercakap denganku untuk menjauh sejenak dari pondok tersebut. Daku menangkap maksud, lalu kami beranjak sedikit menjauh dari pondok bambu itu.

Daku mulai membuka cakap dengan pertanyaan sambung-menyambung, “Bang muria koq ada disini? Bukankah letak dan jarak cukup jauh? Apakah memang sudah lama mengintai disini?”. Dia berkata lirih “yah, sekedar menyelesaikan sesuatu yang tertunda.. walau letak dan jarak membentang bukan berarti pupus yang namanya sebuah kewajiban, dan tentu saja sudah hampir seminggu diri ini disini”. “Semoga koh bonang tidak lebih terkejut dari sekarang bila mengetahui siapa dan apa sebenarnya rahasia yang terkandung dan tersimpan dari pondok tersebut” ujarnya ringkas. “Ne’ gitu, sumonggo menuju.. kita masuk menuju pondok bambu itu” pintaku. “Sumonggoaken koh bonang..” bang muria menyahut.

Kami masuk dari jendela yang ada disamping pondok, sebenarnya.. bang muria protes dengan keras. Dia berkata tidak sopan masuk rumah lewat jendela, tetapi dengan lugas dan sederhana daku mengatakan kepadanya jika DIA menutup pintunya, maka DIA masih membuka jendelanya. Bang muria geleng-geleng tidak karuan. Nyeleneh, hanya itu kata terakhir yang kudengar sebelum bang muria menyetujui dengan sedikit paksaan yang daku berikan. “Lha dalah.. drajat!! ‘kau.. ‘kau..” daku tidak bisa berkata dengan lepas. “Kang drajad, nyuwun sewu kami bertamu, permisi kami melaju sampai disini..” dengan tenang bang muria mengambil alih pembicaraan. Kang drajat diam seribu bahasa, hanya menangis dengan istiqomahnya. Betapa daku tertegun, kaget.. terkejut! Betapa tidak, cahaya yang memancar kalem dari pondok tersebut ternyata berasal dari tangis kang drajat! Air mata yang keluar menjadi siluet yang memancar. Raut mukaku muram seketika, dan betapa mata bang muria berkaca-kaca.

Mulut kami bertiga terkunci, diam seribu bahasa. Daku kemudian berusaha dengan cakap, dengan kata-bahasa yang ke seribu satu. Hanya sekedar, untuk memecah kebekuan sunyi yang mendasar. Bang muria menyahut dan berkata dengan apa adanya “tolonglah, koh bonang.. barangkali peyan berkenan untuk memberi bantuan..” sekonyong-konyong kang drajat memegang tanganku layaknya seorang adik kepada kakak, “tolong aku.. tolong aku.. aku malu.. dengan nama drajat yang selalu.. dengan gelar drajat yang meng aku” rengeknya. “Jadi itu masalahmu?” sahutku. Copot saja gelar drajat yang satu, aku tak mampu, otak dan hatiku telah kaku dan membeku..” ratap kang drajat penuh penjiwaan. “Astagh.. baiklah jika itu maumu, ijinkan daku, melintasi dimensi waktumu, ‘tuk menghapus gurat duka yang haru dan biru, dibebatuan relung kalbumu! Wahai, daku berucap padamu, drajat! ‘kau harus tau.. betapa ‘kau adalah persembahan rahim ibundamu, percikan suci ayahandamu.. jangan ‘kau bertanya tentang syurga dan neraka, karena mereka berdua adalah urusan Gustimu.. sabar lan syukur.. nikmatilah.. mabuklah dengan sabar lan syukur iku. Mintalah pada Gustimu, bila ‘kau masih percaya akan NYA serta.. satu pesanku, bukalah lebar-lebar telinga dirimu.. dan telinga hatimu. Dengarkanlah suara nurani kawulomu, baru kemudian suara nurani dirimu sendiri. Ingat itu! Camkan dan resapi dalam tujuh lapis bhumimu.. wulu, kulit, daging, getih, otot, balung lan sungsummu..” kataku dengan garang.

Tanpa diduga, kang drajat berdiri sambil sedikit memaki. “Apakah hanya dirimu sendiri yang tahu rahasia sirri? Aku tahu akan itu.. bunuh saja aku.. rahasia akan tetap selamanya menjadi rahasia karena tiada saksi mata.. jangan buat aku menderita.. betapa aku telah lupa akan bersuka..”. “Drajaaat..” teriakku kencang. Bang muria dengan refleks yang sudah lebih baik dari pertama kali dia belajar dulu melompat ketengah kami berdua dengan apiknya seraya berkata, “kang drajat, tarik kembali ucapanmu.. betapa katamu itu telah menjadi racun yang bau”. Kang drajat hanya membuang muka dengan kalemnya. “Koh bonang aku tidak bisa menunggu lagi, ijinkan aku mengucap dengan lebih keras lagi” bang muria kemukakan pikirannya. Dan tanpa menunggu perkataanku, bang muria melanjutkan kembali cakapnya.. “
tangis darah memecah suasana
rindu pengasingan akan bersama
akankah diri selalu berdua
kemanakah dirimu sekarang berada

jurang dulu tak pernah ada
kini kau ada di sebelah sana
akankah kau buang segala
demi perjuangan bersama

diri ini tak kuasa
membendung segala rasa
segala penantian bathin menggelora
beruang dan harimau duduk berdua
melihat naga merenung mengurung dalam nestapa

benarkah logikamu yang bicara
ataukah kesombongan yang ada
peluk penuh hangat akan derita
menanti datangnya purnama

waktu yang tersisa
rubahlah dirimu seperti sedia kala
lewati waktu selalu bersama
menanti moment penuh gelora.. “

Kang drajat mendengar hal itu dengan senyum sinis seraya berkata, “muria, ‘kau tiada tahu suatu apa.. melainkan hanya kosong belaka.. ‘kau tidak tahu akan bentuk serat purbo, kau tiada mengetahui akan bopo Ismoyo.. bentuk suksmo palopo.. pun juga pakdhe Bancolono.. betapa berani, betapa ‘kau sudah berani akan aku ini..”. Bang muria mendengus pelan.. “
Aku berjalan gontai diiringi senandung lagu rindu...............
Berjalan mengikuti angin berhembus............
Menatap tajam ke depan...........
Menembus debu beterbangan........
Di tengah terik matahari menyengat..............
Aku sadar akan siapa diriku..........
Melalui berbagai ‘kata - kata’ yang telah terucap........
Aku berusaha tetap tegar dan teguh akan siapa diriku............
Wahai angin berputarlah di depanku.........
Porak porandakanlah mereka yang menghalangi jalanku............
Wahai air menarilah di hadapanku............
Bukakanlah jalan untukku..........
Wahai api berbarislah dihadapanku.........
Bakarlah mereka yang telah termakan oleh ‘api nafsu’ mereka...............
Wahai Tanah meleburlah di tanganku............
Kan ku jadikan kau sebagai tamengku............................... “

“Drajat.. betapa ‘kau telah membuang akan segala.. betapa ‘kau telah berubah sedemikian rupa, jadi camkan kata-kataku ini..
Daku terkekeh mendengarmu bagai angin yang telah lalu
Melewat harimau yang menyeringai parau
Betapa Muria telah siap menanggung malu
Melewat beruang ditepi banyu

Ah, dalam resah aku menengadah
Semoga ‘kau tak lagi pongah
Dalam makarmu aku ditengah
Menggelar do’a agar api tak lagi merah

Aduhai ‘kau yang pilu
Apakah Giri Nata tak sampai padamu
Kalam Muria enggan kau gugu..
Duh, jangan jadikan aku pembunuh seperti dulu

Mungkin, dirimu memeluk prahara sebegitu rupa
Pun juga ‘kau mencumbu aral dengan mesra
Tapi tetap.. janganlah kau lupa akan segala
Betapa aku telah menggelar sastra pencabut nyawa

..jika memang darah harus tumpah
Ijinkan daku, dengan boning bonangku..

Hawa suksma sejati turun mengikut tapak
Mekar laksana kembang, samar laksana bayang
Nogo sap langit.. Nogo sembilan membelit
Urai.. menebar empat penjuru dengan siluet tapak lembayung suci
... ...
Aku mohonkan dari padaMU dengan darah pada lidahku
Aku mintakan dari padaMU dengan nira pada jemariku
Debur.. gempur.. lebur..
Sirno Kertaning Bhumi..

Aku endapkan rasa marah, demi tunggu ‘kau menyerah
Tiga wayah purnama.. lalu kutuai karmamu!! “

Daku semburkan kata demi kata tadi dengan lantang tiada goyah dengan mengacungkan jemariku tepat dimuka kang drajat. Dengan tubuh yang bergetar hebat karena menahan amarah terpusat, daku menarik lengan bang muria pergi dari situ secepatnya. Kini tinggal kang drajat sendirian melongo dengan wajah pucat pasi membiarkan kami berdua pergi meninggalkan pondok bambu itu.
... ... ...

[masih] bersambung.. semoga..

--
Terima kasih Gusti.. terhadap moment mei yang meinangis ini. Terhadap inspirasi yang selalu berlari. Terhadap pemberontakan hati yang setia menemani.. olehnya dan karenanya serta daripadanya, raga dan jiwa menjadi sepasang kembara.. ImNotWorthy.gif

pangestu

sekilas
Kang drajat termangu lesu, kemudian berangkat menuju..
kediaman romo ampel yang selalu, membela kang drajat walau dengan bentuk yang paling biru sekalipun itu..
Sucks
haiyah,,,,
jabang bayi lanang wedok...


janganlah kau biarkan jari ini mengacung
menindak serta perjalanan yang bernaung
terasa ikatan dalam gaung
menunggu gerakan tak berujung
di ujung penantian 3 purnama bersenandung
simak kisah perjalanan Semar berkidung
penghentian hikayat tuntas tanpa singgung


healah ngger...
tiada rasa tiada daya tanpa upaya
melepas penat bersama pergerakan indonesia
silau akan pencapaian harta
melenggang keluar dalam kegelapan rasa

hey ya bonang..
sebelum 'pertanda' kau berubah
bisikkanlah dalam kalbu muria
teruntuk resah drajad
simpuh berdoa dalam romo
hingga ujung penantian berakhir sudah

ya BP...
sadarkah kau akan lakuanmu
meninggalkan segala tata kramamu
menunggu dan menanti perjamuan kalbu
sendiri menikmati siksa perjalananmu
ken_the_12
QUOTE (Sucks @ May 9 2009, 02:59 AM) *
haiyah,,,,
jabang bayi lanang wedok...


janganlah kau biarkan jari ini mengacung
menindak serta perjalanan yang bernaung
terasa ikatan dalam gaung
menunggu gerakan tak berujung
di ujung penantian 3 purnama bersenandung
simak kisah perjalanan Semar berkidung
penghentian hikayat tuntas tanpa singgung


healah ngger...
tiada rasa tiada daya tanpa upaya
melepas penat bersama pergerakan indonesia
silau akan pencapaian harta
melenggang keluar dalam kegelapan rasa

hey ya bonang..
sebelum 'pertanda' kau berubah
bisikkanlah dalam kalbu muria
teruntuk resah drajad
simpuh berdoa dalam romo
hingga ujung penantian berakhir sudah

ya BP...
sadarkah kau akan lakuanmu
meninggalkan segala tata kramamu
menunggu dan menanti perjamuan kalbu
sendiri menikmati siksa perjalananmu


Hug.gif

betapa segala daku suguhkan
melewat boning bonangku
melewat sang girinata yang mulia
melewat muria hyang agung

betapa purnama wayah yang pertama
betapa karma telah berjalan sebegitu rupa
wahai BP yang menanti,
daku suguhkan sesaji sederhana ini..

*
Hug.gif
rutam nuwus nawak dengan kalammu
pena ini bawa kembali memorynya
hatur hormatku kepadamu, duhai panembahan muria..
semoga sudi, semoga berkenan dalam kalbu..

pangestu
Sucks
QUOTE (ken_the_12 @ May 9 2009, 03:26 AM) *
QUOTE (Sucks @ May 9 2009, 02:59 AM) *
haiyah,,,,
jabang bayi lanang wedok...


janganlah kau biarkan jari ini mengacung
menindak serta perjalanan yang bernaung
terasa ikatan dalam gaung
menunggu gerakan tak berujung
di ujung penantian 3 purnama bersenandung
simak kisah perjalanan Semar berkidung
penghentian hikayat tuntas tanpa singgung


healah ngger...
tiada rasa tiada daya tanpa upaya
melepas penat bersama pergerakan indonesia
silau akan pencapaian harta
melenggang keluar dalam kegelapan rasa

hey ya bonang..
sebelum 'pertanda' kau berubah
bisikkanlah dalam kalbu muria
teruntuk resah drajad
simpuh berdoa dalam romo
hingga ujung penantian berakhir sudah

ya BP...
sadarkah kau akan lakuanmu
meninggalkan segala tata kramamu
menunggu dan menanti perjamuan kalbu
sendiri menikmati siksa perjalananmu


Hug.gif

betapa segala daku suguhkan
melewat boning bonangku
melewat sang girinata yang mulia
melewat muria hyang agung

betapa purnama wayah yang pertama
betapa karma telah berjalan sebegitu rupa
wahai BP yang menanti,
daku suguhkan sesaji sederhana ini..

*
Hug.gif
rutam nuwus nawak dengan kalammu
pena ini bawa kembali memorynya
hatur hormatku kepadamu, duhai panembahan muria..
semoga sudi, semoga berkenan dalam kalbu..

pangestu

sebuah transformasi tanpa ujung
tanpa bentuk mendengung
isikan dalam relung
menikmati sesaji dalam mendayung

pena tanpa tinta
coretan penuh rasa
sila bersujud di hadapan Yang Kuasa
bersanding dalam karsa

Hug.gif
kalbu yang kau bisikkan dalam boning bonang kelabu
tanpa batas tanpa jeda bersamamu
bersama sang girinata bersatu
gugah rasa penuh gelora indah kalbu

sami2 pangestu
ken_the_12
QUOTE (Sucks @ May 9 2009, 03:40 AM) *
QUOTE (ken_the_12 @ May 9 2009, 03:26 AM) *
QUOTE (Sucks @ May 9 2009, 02:59 AM) *
haiyah,,,,
jabang bayi lanang wedok...


janganlah kau biarkan jari ini mengacung
menindak serta perjalanan yang bernaung
terasa ikatan dalam gaung
menunggu gerakan tak berujung
di ujung penantian 3 purnama bersenandung
simak kisah perjalanan Semar berkidung
penghentian hikayat tuntas tanpa singgung


healah ngger...
tiada rasa tiada daya tanpa upaya
melepas penat bersama pergerakan indonesia
silau akan pencapaian harta
melenggang keluar dalam kegelapan rasa

hey ya bonang..
sebelum 'pertanda' kau berubah
bisikkanlah dalam kalbu muria
teruntuk resah drajad
simpuh berdoa dalam romo
hingga ujung penantian berakhir sudah

ya BP...
sadarkah kau akan lakuanmu
meninggalkan segala tata kramamu
menunggu dan menanti perjamuan kalbu
sendiri menikmati siksa perjalananmu


Hug.gif

betapa segala daku suguhkan
melewat boning bonangku
melewat sang girinata yang mulia
melewat muria hyang agung

betapa purnama wayah yang pertama
betapa karma telah berjalan sebegitu rupa
wahai BP yang menanti,
daku suguhkan sesaji sederhana ini..

*
Hug.gif
rutam nuwus nawak dengan kalammu
pena ini bawa kembali memorynya
hatur hormatku kepadamu, duhai panembahan muria..
semoga sudi, semoga berkenan dalam kalbu..

pangestu

sebuah transformasi tanpa ujung
tanpa bentuk mendengung
isikan dalam relung
menikmati sesaji dalam mendayung

pena tanpa tinta
coretan penuh rasa
sila bersujud di hadapan Yang Kuasa
bersanding dalam karsa

Hug.gif
kalbu yang kau bisikkan dalam boning bonang kelabu
tanpa batas tanpa jeda bersamamu
bersama sang girinata bersatu
gugah rasa penuh gelora indah kalbu

sami2 pangestu


daku hanya sempatkan segala yang kubisa
daku hanya tunaikan sebuah karma yang tersisa
melewat kata atau cerita
dari bentuk biasa ataupun yang sederhana

walau mungkin tiada diterima
daku mohon, ampunilah hamba
teruntuk kawan yang setia
soerabaja.. soerabaja..

*
Hug.gif
beribu kata daku ucapkan
walau sederhana daku haturkan
rutam nuwus nawakku yang setia
kita berbagi semua inspirasi yang ada
ImNotWorthy.gif

pangestunipun..
The Hide
QUOTE
jangan ‘kau bertanya tentang syurga dan neraka, karena mereka berdua adalah urusan Gustimu.. sabar lan syukur.. nikmatilah.. mabuklah dengan sabar lan syukur iku. Mintalah pada Gustimu, bila ‘kau masih percaya akan NYA serta.. satu pesanku, bukalah lebar-lebar telinga dirimu.. dan telinga hatimu. Dengarkanlah suara nurani kawulomu, baru kemudian suara nurani dirimu sendiri. Ingat itu! Camkan dan resapi dalam tujuh lapis bhumimu.. wulu, kulit, daging, getih, otot, balung lan sungsummu..”



kent, bagian itu, gw suka.
harus bener-bener diresapi, maka akan terbuka misteri.

teruskan yah!
ken_the_12
QUOTE (better_man @ May 17 2009, 01:58 PM) *
QUOTE
jangan ‘kau bertanya tentang syurga dan neraka, karena mereka berdua adalah urusan Gustimu.. sabar lan syukur.. nikmatilah.. mabuklah dengan sabar lan syukur iku. Mintalah pada Gustimu, bila ‘kau masih percaya akan NYA serta.. satu pesanku, bukalah lebar-lebar telinga dirimu.. dan telinga hatimu. Dengarkanlah suara nurani kawulomu, baru kemudian suara nurani dirimu sendiri. Ingat itu! Camkan dan resapi dalam tujuh lapis bhumimu.. wulu, kulit, daging, getih, otot, balung lan sungsummu..”



kent, bagian itu, gw suka.
harus bener-bener diresapi, maka akan terbuka misteri.

teruskan yah!


betapa manusia itu sendiri adalah sebuah bentuk misteri terbesar..
dan betapa kita musti terus belajar..

*
Hug.gif

untukmu elang
karenamu semua terbilang
karenamu pula misteri menghilang
rutam nuwus nawak.. kawan yang tersayang..

pangestu
ken_the_12
untukmu kawan.. pengorbanan [ide] kita berdua.. Hug.gif

aku menunggu putihmu
dan aku menunggu pula hitammu
karena aku adalah warna yang satu
hanya abu-abu..

Bismi..
Kami gulirkan kembali, pena buta ini..
Astagh.. kepadaNYA
Ini adalah genap wayah purnama, melewat boning bonang seperti biasa..

... ... ...
Kang drajat termangu lesu, kemudian berangkat menuju..
kediaman romo ampel yang selalu, membela kang drajat walau dengan bentuk yang paling biru sekalipun itu..

Ranah sedati paling ujung, berhiaskan hutan bakau yang memukau.. Dengan sedikit aroma laut, serta panas yang jarang surut. Itulah letak ‘panggonan’ romo ampel. Terlihat dikejauhan, rumah yang memanjang tepat didepan langgar persembahyangan. Membujur bagai empat persegi. Selaksa kupat yang masih belum sempurna adanya. Sedati atau sejati, benar-benar nama yang layak untuk tetirah dan tempat singgah. Pun juga demikian dengan romo ampel yang menjadikannya tempat untuk mujahadah.

Sayup mendekat, suara tapak kaki berat yang seperti menanggung ribuan penderitaan. Dengan tampang pucat pasi dan pakaian seadanya kang drajat memasuki panggonan romo ampel. “Salam.. salam.. romo, ini aku drajat”. “salamun.. duh, tole drajat.. ada apa denganmu itu? Masuklah tole jangan kau ragu.. karena keraguan dapat menumpulkan pedangmu itu..” sahut romo ampel. Kang drajat pelan berkata “romo, betapa payah aku ini.. betapa gundah, sirah selaksa patah..”. Romo ampel menyahut dengan pelan pula, “kang drajat, apakah panggonan ini dapat memberikan? Apakah ranah sedati ini dapat memberi? Betapa ‘kau telah keras seperti batu.. betapa kau selayak angin yang mengerang selalu..”. kang drajat melanjutkan, “tunjukkan padaku tempat, tunjukkan padaku cepat.. agar hilang rapat, bentuk madat dijiwaku yang keparat”. “Kang drajat, apakah ini gara2 koh bonang yang sedang meradang?” ujar romo ampel. “Ya, tentu saja dan juga bang muria yang setengah pudar kebaikannya” sahut kang drajat cepat. Romo ampel melanjutkan cakapnya, “berangkatlah segera, tanyalah pada dia yang menyimpan primbonnya.. aku doakan padamu kinabulan, aku sertakan padamu pedoman, semoga kau genapkan lagi langkahmu yang tiada bertepi”. Kang drajat berucap, “apakah yang romo maksud adalah mbah kudus? Jika memang itu tempatnya, aku akan berangkat dengan segera”, sembari pamit pada romo ampel yang bila diperhatikan dengan seksama, giginya tak lagi renggang seperti dulu kala.

Tidak jauh memang tempat mbah kudus, tetapi jika berjalan kaki dapat memakan waktu setengah hari lamanya. Belum lagi bentuk jalan yang berkelak-kelok serta bebatuan disana-sini yang menghiasi jalan menuju tempat mbah kudus. Seperti bentuk jerami, atau bambu yang ditali-temali, betapa sederhana tempat mbah kudus, maklum saja.. keluarganya agak banyak, sehingga harta kekayaan mbah kudus dibagi rata pada mereka semua. Nyaris saja mbah kudus tidak punya apa-apa. Namun demikian, mbah kudus adalah benar-benar orang yang khusus dengan kelebihan dan kekurangannya.

“Salam.. salam.. mbah kudus, ini adalah drajat datang untuk meminta berkat..” ucap kang drajat. Dari dalam menyahut, “apakah itu kau drajat yang melarat? Apakah itu kau selalu ragu? Apakah itu kau yang memang menyeringkan gamang?”. Kang drajat berkata “benar ini aku yang selalu, ini aku yang sering ragu, pun juga ini aku yang kau bilang itu..”. mbah kudus keluar dengan tawa renyah seperti biasanya seraya berkata “sudah aku tunggu kau dari purnama yang lalu, tetapi kau malah meratap pilu..seperti pungguk saja kau ini.. peristiwa yang kau jalani telah membuat langit menjadi jengah.. kembalilah kau kepada jalanmu drajat!”. Kang drajat menggumam lirih, “katakan saja padaku bentuk.. tapi jangan kau mengutuk..”. mbah kudus melanjutkan, “pergilah kau ‘tuk mujahadah.. menuju pulungan yang memerdekakan, endapkan dirimu disitu.. semoga kau menjadi satu.. semoga kau luruh tak lagi batu”. Kang drajat berkata cepat, “terima kasih atas dirimu dan katamu, mbah kudus yang halus”.

Syahdan, sudah setengah purnama lamanya kang drajat berada dipulungan.. tempat ‘pulung’ berkumpul, tempat persimpangan yang bukan sembarangan. Suatu hari ditengah panas, sekonyong-konyong datanglah gus malik ibrahim dan bang muria, tentu saja dengan koh bonang yang selalu menempel. “koh, kita kesini mencari ikan kan?? Bukan mencari kericuhan??” tanya bang muria. “tenang saja bang, walau ga’ ada rotan ikan pun jadi” jawab gus malik ibrahim. “hush, yang benar ga ada rotan akar pun jadi.. walau ga ada ikan, inspirasi dikit-dikit juga ga masalah koq” kata koh bonang. “hehehehe, sepurane koh.. dah kebiasaan lowak-lawik kosakata” ucap gus malik ibrahim sedikit membela diri. Berjalanlah mereka bertiga menuju sendhang kecil dipulungan. Betapa terkejut mereka bertiga, tatkala melihat kang drajat ‘ndophrok’ dipinggiran sendhang tersebut.

Gus malik ibrahim spontan melirik bang muria. Bang muria dengan refleksnya melanjutkan lirikan kearah kong bonang. Dan koh bonang dengan tenang, melihat kelangit sekitar, sekadar mengagumi bentuk awan rindang yang mendinginkan. Bang muria mendengus kesal dengan tampang tak berdosa koh bonang. Gus malik ibrahim mengelus dadanya sendiri seraya berkata dalam nada yang paling rendah, “benar-benar koh bonang itu orang yang kejam.. atau lugu yah?”. Dengan santai dan percaya diri, koh bonang mendekat kepada kang drajat seraya berkata, “wahai drajat, yang kami anggap kerabat, bergabunglah bersama kami mencari disini, bentuk ikan ataupun bentuk lain yang terpendam. Daripada kau bingung, daripada kau buntung, semoga kau menjadi orang yang beruntung”. Kang drajat kaget setengah mati melihat kedatangan mereka bertiga, apalagi dengan ucapan koh bonang barusan.

Kang drajat berkata, “gus malik ibrahim, bang muria, koh bonang.. kadingaren datang bertiga? Apakah akan melaksanakan pembunuhan?”. Koh bonang serentak berucap, “wakakakak, hal itu masih dua purnama yang akan datang, jangan khawatir wahai kerabat. Kami hanya sekedar mengambil eraman yang kau simpan selama dipulungan”. Bang muria berkata, “waduh, ternyata kita dibohongi lagi oleh kong bonang, katanya diajak mencari ikan.. lha, koq malah jadi menggenapkan langkah pada kang drajat? Koh bonang memang pandai berbohong!”. Gus malik ibrahim menyahut, “walau pandai berbohong tetapi juga pandai dalam melihat dan menilai kedalaman orang, kita turutkan saja, betapa rahasia itu samar dan kita tidak tahu suatu apa..”. kang drajat dengan mata sederhananya menatap lekat pada koh bonang.

Koh bonang dengan tidak mau kalah menatap pula kang drajat dengan tatapan polos andalannya seraya berkata, “bukalah, apa yang kau dapat selama mujahadah.. susunkan apa yang kau dapatkan.. wahai kang drajat”. Kang drajat bersimpuh sembari berucap lirih, “ampunkan dosa kami, jangan genapkan penderitaan kami, betapa sirr menjadi rasa, betapa rasa menjadi kuasa.. Maja shakti melewat Soerabaja, Kali Mas ini beberkan wayahnya, Padukuhan ngagel siratkan maqomnya, Maja sempurna pada purnama..”. koh bonang dengan riang membalas, “Mengganti yang mati [dengan] samadhi di sedati.. Maja setia menanti [hingga] meranggas seperti jati.. drajat, ternyata kau sudah mengerti, tiada rugi diri ini datang kesini. Tlatah suci ranah sedati. Betapa drajat telah sempurnakan bentuk akad dan mufakat serta khalwat yang memikat. Drajat, selamat datang kembali duhai kerabat yang dekat”. Koh bonang menghampiri kang drajat dan memeluknya dengan hangat. Kang drajat pun seakan enggan melepaskan dekapan erat koh bonang. Mereka berdua tertawa riang kembali dengan sepuasnya. Betapa drajat setidaknya telah paripurna dalam menghadapi ujian hidupnya.

Gus malik ibrahim dan bang muria berpandang-pandangan satu sama lain dengan serempak. Mereka kaget, takjub dan tentu saja menyisakan pertanyaan, keingintahuan. Bahwasanya koh bonang dan kang drajat telah menjadi bentuk yang sulit dinalar dan dimengerti oleh mereka berdua. Tetapi, mereka berdua bersyukur, koh bonang tidak lagi menurutkan hawa amarah.. sebab mereka tahu, seperti apa bentuk parah dari amarah koh bonang.

... ... ...

[masih] bersambung.. semoga..

--
Terima kasih Gusti.. Teruntuk juli dibulan juni.. Synchronisasi, moment mei yang me[i]nangis ini..
ImNotWorthy.gif

pangestu

sekilas
den kalijogo terpekur hampir tersungkur, pada wayah yang meluncur.. persiapan menghadapi yang hancur.. hingga guntur terdengar luntur. Kemendung menjadi saksi.. Kemendung daulatkan bentuk sesaji..


Rota Kurivaim
QUOTE
daku hanya sempatkan segala yang kubisa
daku hanya tunaikan sebuah karma yang tersisa
melewat kata atau cerita
dari bentuk biasa ataupun yang sederhana


tak terpenting berbentuk biasa ataupun yang sederhana
irama pengiring hati lah yang terpenting

bagus banget om ken ama om sucks Hug.gif Hug.gif
i waiting the next Hug.gif Hug.gif


regards


Lee Hom
ken_the_12
QUOTE (~Lee Hom~ @ Jun 7 2009, 12:49 PM) *
QUOTE
daku hanya sempatkan segala yang kubisa
daku hanya tunaikan sebuah karma yang tersisa
melewat kata atau cerita
dari bentuk biasa ataupun yang sederhana


tak terpenting berbentuk biasa ataupun yang sederhana
irama pengiring hati lah yang terpenting

bagus banget om ken ama om sucks Hug.gif Hug.gif
i waiting the next Hug.gif Hug.gif


regards


Lee Hom


cinta irama yang tak terlukiskan tak terbentuk bagai lukisan atau nada yang bisa kau dengar tiap hari artikanlah dengan hati jangan dengan pikiran dan ambisi karena dia akan pergi dan takkan kembali

pada cinta, pada pena buta yang berkata..
pada kembara, pada perjalanan manusia..

untukmu kawan.. pengorbanan [ide] kita berdua..

Hug.gif

pangestu
Sucks
wayah kesepuluh tlah tiba
melewat jejak sang pendosa
sigap akan makna
diri ini hadir tuk beri nuansa

dalam dekap sank dewa
tuntun gelap menuju cahaya
drajat yang setia
berduka dengan hati yang gembira
melewat batas akan rasa

kali mas jadi saksi
kalijogo menapak sepi
wayah kemendung yang beruntung
untuk moment boning dalam bonang


*
pangestu
Hug.gif
ken_the_12
QUOTE (Sucks @ Jun 10 2009, 06:16 PM) *
wayah kesepuluh tlah tiba
melewat jejak sang pendosa
sigap akan makna
diri ini hadir tuk beri nuansa

dalam dekap sank dewa
tuntun gelap menuju cahaya
drajat yang setia
berduka dengan hati yang gembira
melewat batas akan rasa

kali mas jadi saksi
kalijogo menapak sepi
wayah kemendung yang beruntung
untuk moment boning dalam bonang


*
pangestu
Hug.gif


mungkin sedasa itu kuasa,
sedasa itu pula sempurna..
betapa para pendhawa,
menunggu para ksatria muda..

kalijaga ada ditengah kita
dengan tenang yang menggoda
betapa lara surutkan bentuknya
sehingga kita daulatkan maja..

Hug.gif

pangestu
ken_the_12
untukmu kawan.. pengorbanan [ide] kita berdua.. Hug.gif

potongan-potongan, medan pertempuran..

Bismi..
Wayah purnama merah, [yang] gemetar dibalut darah..
Astagh.. kepadaNYA

... ... ...
den kalijogo terpekur hampir tersungkur, pada wayah yang meluncur.. persiapan menghadapi yang hancur.. hingga guntur terdengar luntur. Kemendung menjadi saksi.. Kemendung daulatkan bentuk sesaji..

Den kalijogo duduk sendiri memikirkan hakekat bentuk, dan bentuk itu sendiri. Pada maqom kemendung, setengah mendung.. bentuk relung.. menyendiri selayak gunung, betapa wajah yang seraut bingung.. dia terpekur, nyaris tersungkur.. betapa serenade kegelapan telah membuat makar yang jujur.. bentuk sederhana pun hancur..

Dikejauhan, kyai giri dan koh bonang nampak dengan sangat.. mereka berjalan beriringan selayak sepasang kerabat.. bertukar kalam dengan rapat, betapa tapak dan kata mereka begitu berat namun juga ringan dengan bentuk yang dekat.. semakin dekat, dan den kalijogo tidak menyadarinya. Dia begitu asyik bercanda dengan alam bawah sadarnya..

“kali..” sapa kyai giri. “woi, kalijogo..” koh bonang meneruskan. Den kalijogo masih mematung dengan rapinya. Tidak sadar, koh bonang menimpuk kepala den kalijogo dengan buah gedhang setundun. “tlepuk..” suara timpukan yang pelan dan menggugah bentuk yang lain. Den kalijogo tersadar dan meringis kesakitan. Tetapi dengan wajah kelaparan dan begitu anggunnya dia menoleh kepada kedua gurunya ini dengan tanpa basa-basi.. “gedhongnya, eh.. gedhangnya aku makan poro njheng guru sekalian, habis perut dah keroncongan dari tadi” katanya ringkas.

“waduh, kyai giri.. sikali koq jadi begini.. piye iki?!” koh bonang berkata, “gara-gara siapa coba?!” ucap kyai giri cepat, sambil ganti menimpuk koh bonang dengan sebuah bakiak. “glodak..” suara timpukan yang terdengar merdu tapi menyakitkan itu mengagetkan den kalijogo yang sedang makan gedhong, eh.. gedhang dengan cueknya itu. “lho? kena timpuk juga toh?” ucapnya ringan. “gara-gara siapa coba?!” balas koh bonang sambil menimpuk den kalijogo sekali lagi dengan bakiak milik kyai giri. “koh bonang aneh! Menjawab sebuah pertanyaan dengan sebuah pertanyaan pula.. lagipula diiringi dengan intermezzo timpukan segala..” ratap den kalijogo.

“memangnya kenapa? Apakah perkataanku padamu menjadi sesuatu yang tidak adil? Ataukah karena timpukanku yang mengandung unsur? Tanya koh bonang. ‘sudah-sudah.. jangan diteruskan.. koh bonang, tujuan kita kemari bukan untuk pelajaran kata berkait.. pun juga pelajaran timpuk-menimpuk.. kita disini untuk memberi, pun juga untuk den kalijogo yang menyendiri” kyai giri berkata. “waduh, lupa.. ma’afkan kalo keterusan” ujar koh bonang.

“kali? Sudah berapa lama kau menyendiri? Apakah yang terjadi? Tanya kyai giri. “kalijogo? Sumonggo! Katakan saja dengan legowo” ucap koh bonang. “tidak ada apa-apa” ucap den kalijogo datar. “seperti biasanya, dia pasti akan berkata demikian kyai giri..” koh bonang berkata. “itu tugasmu agar dia bisa berkata sebenarnya nang!” ujar kyai giri cepat. “waduh, lha koq ayas lagi yang ketiban sampur..” ucap koh bonang kesal. “ingin kena timpuk lagi?” tanya kyai giri. Dengan tenang dan refleks yang sudah terasah, koh bonang segera menimpuk den kalijogo. “aduh.. yang ditanya kan koh bonang, kenapa jawabannya dengan menimpuk diriku? Den kalijogo bersungut-sungut. “ingin kena timpuk lagi? Kalo tidak cepat ngomong alasan dirimu itu menyendiri hingga seperti ini” ujar koh bonang dengan riang, kapan lagi bisa nimpuk orang dengan tenang bathin koh bonang. Spontan den kalijogo berkata.. “aku hanya ingin menggenapkan diri, sekedar menyusupkan bara api kedalam hati..”. “apakah itu semua karena pertemuanmu dengan syech begal pati di guo pecat nyowo hai jogo?” tanya koh bonang.

Den kalijogo terdiam dengan sepasang mata yang berkaca-kaca. Dia menatap kyai giri dan koh bonang secara bergantian seakan meminta bentuk pelajaran, dari murid kepada sang guru. Kyai giri berkata “berbicara itu ibarat sungai yang mengalir, jika tak kau jogo alirnya.. maka hanya akan ada banjir yang merugikan”. “koh bonang melanjutkan katanya “wahai kali, tutur katamu seperti orang dewasa.. tetapi bathinmu menangis.. pada bentuk hidup.. pada bentuk mati.. akan kelanggengan.. akan keberlangsungan.. jiwa dalam setiap wadah adalah kekal adanya.. perubahan yang menapak pasti, tak perlu kau tangisi..”

Kyai giri pun menyahut “suka pun juga duka.. dapat menuju sesat.. prasasat yang sesaat.. tentang hubungan, diluar wadah.. intimidasi terhadap ketidaklanggengan alam yang naftsi..”. koh bonang melanjutkan katanya.. temukan yang haq pada perasaan dan perjalanan.. abadi, langgeng tiada mati.. yang ada diluar dan sesungguhnya tiada.. jangan katakan pisau yang memotong, tapi Dialah Yang Memotong.. agar kau temukan, satu yang selalu.. yang terlepas dari bentuk haru, bukan biru bukan ungu.. bukan pada suka, bukan pula pada duka.. rasa gelisah.. amarah.. dalam dirimu, dalam diriku.. merdeka, itu saja yang tersisa..”

“kebenaran itu selayak alam semesta yang utuh.. nyala api, tetes air.. pun juga sepoi angin yang mendesir.. jangan hanya dengan mata biasa.. keberadaan, ketiadaan.. bentuk perubahan.. betapa jiwa itu adalah tunggal.. sebuah perputaran yang kekal” kata kyai giri. “janganlah memikirkan, bentuk kemenangan ataupun kekalahan.. kebajikan, pun juga kebatilan.. arahkan saja semuanya kedepan.. luruskan arahmu.. tunaikan dharmamu.. pasti kan bertemu..” terang koh bonang. “jangan biarkan, pikiran melacur tiada keruan. Tentukan jalan dengan keteguhan dan pembulatan. Jangan kau risaukan, bebaskan pikiran.. ikuti suara hatimu.. nuranimu..” terang kyai giri. “bebaskan segala keinginan, dengarkan penjelasan hati yang bersuara.. itulah pencerahan!” koh bonang mengendapkan.

“pengalaman duka terlampaui seketika.. tiada kecewa.. betapa diri yang paripurna.. senantiasa sadar akan jati diri nya sepenuhnya. Panca indera penuh keterlibatan muncul keinginan penuh kerinduan, bedakan tindakan junjung keseimbangan gapai kesadaran. Jiwa yang damai kebahagiaan Yang Kekal Sejati. Pengendalian diri penyatuan kembali Sang Illahi Robbi”. Kyai giri dan koh bonang kompak berkata penuh kebersamaan.

Den kalijogo termenung, selayak mendung yang menghias gunung. Begitu indah dengan noktah pada wadah. Tiada lagi merah.. tiada lagi gundah.. setidaknya purnama walau tiada sempurna..

... ... ...

[masih] bersambung.. semoga..

--
Terima kasih Gusti.. pada hari ini.. menyiapkan diri, ‘tuk hibernasi.. meranggas seperti jati..
ImNotWorthy.gif

pangestu

sekilas
cak jati mengurung diri.. pada bentuk yang mengilhami, seorang istri.. yang mengilhami bidadari..
flashmaster
wah .......[masih] bersambung.. semoga..
The Hide
setidaknya purnama walau tiada sempurna..

ditunggu lanjutannya ken...
Rota Kurivaim
setidaknya purnama walau tiada sempurna..

love it Love.gif Love.gif
ken_the_12
[masih] bersambung.. semoga..
setidaknya purnama walau tiada sempurna..


... ... ...

bro flashmaster.. Praying.gif amien..

sam better_man n sam ~Lee Hom~..
nubie melanjutkan bentuk, maja mekar sempurna.. pada wayah purnama..

Hug.gif

pangestu
Sucks
wayah pertemuan yang tak disangka
ataukah sudah terduga
melewat purnama tanpa sempurna
tanpa harus dikira

senyawa maupun tak bernyawa
nyawiji maupun manunggaling
antara ada tanpa tiada
jaga tanpa harus berpaling


*
menunggu datangya suatu kerinduan dari benak jati [?], drajat [?], bonang [?]
menunggu dari kyai giri sembari menemani memberi kesempatan ke-tiganya

Hug.gif
ken_the_12
wayah pertemuan yang tak disangka
ataukah sudah terduga
melewat purnama tanpa sempurna
tanpa harus dikira

senyawa maupun tak bernyawa
nyawiji maupun manunggaling
antara ada tanpa tiada
jaga tanpa harus berpaling


*
menunggu datangnya suatu kerinduan dari benak jati [?], drajat [?], bonang [?]
menunggu dari kyai giri sembari menemani memberi kesempatan ke-tiganya

--

kang sucks.. Hug.gif
semoga saja,
bertemu kesempatan selanjutnya
walau sebenarnya
kitab itu telah siap adanya..

rutam nuwus nawak, atas apresiasi yang indah tiada terperi..

Hug.gif

pangestu
Sucks
well...
kapan enaknya bareng yah Thinking.gif

lho lha kok malah curhat axehead.png ImNotWorthy.gif

duduk bersila tangan terbuka
tutup mata hati terbuka
indah terperi sembari membaca kembali
kapankah ini semua terulang kembali


*
memory "ngeni" terngiang kembali Hug.gif
ken_the_12
duduk bersila tangan terbuka
tutup mata hati terbuka
indah terperi sembari membaca kembali
kapankah ini semua terulang kembali

*
memory "ngeni" terngiang kembali

--

ImNotWorthy.gif

mungkin padhang purnama,
mungkin juga wayah selanjutnya..

tajuk yang tak pernah usai,
membayang pada kita tepat ditengah garis..

semoga cerah, jauh dari merah.. semoga ngeni, bersemi kembali.. Praying.gif amien..

Hug.gif

pangestu
ken_the_12
untukmu kawan.. pengorbanan [ide] kita berdua.. Hug.gif

Bismi,
purnama kelima.. dengan jubah yang sama..
Gusti, ampuni kami..
...

cak jati mengurung diri.. pada bentuk yang mengilhami, seorang istri.. yang mengilhami bidadari..

rentetan kejadian, menjelang ramadhan..

sebuah serat dengan undangan terlampir berada diatas tikar njheng bonang. berwarna merah keemasan selayak senja penceraian. dengan sedikit lusuh dan lekukan disana-sini. maklum, koh bonang adalah pribadi yang agak nyeleneh dibanding orang kebanyakan. tidak pernah prapen.. eh, pripen dalam menyimpan barang. sekedar meyimpannya daripada hilang. lain soal, kalau itu uang. koh bonang selalu mengaturnya. bahkan, walaupun itu tidak punya uang sama sekali. benar-benar seorang yang lebih tepat dikatakan mata duitan daripada sebutan kanjheng.

serat tersebut berisikan undangan perkawinan antara cak jati dengan seorang wanita yang bernama isi.. eh, widji. dengan corak yang mengandung dan mengundang inspirasi bagi yang menerimanya. dengan logo timbul berwarna hijau pupus yang diukir sederhana diatas daun lontar yang sederhana pula. ?jw, jati dengan widji. ternyata ini hasil si jati menyendiri beberapa lama.. dan hasilnya ilham istri seorang widji yang mirip bidadari bathin koh bonang. “kenapa harus memakai tanda tanya?” tanyaku. “karena tanda merupakan sebahagian makna.. dan tanya sendiri adalah sebahagian dari jawaban yang memberikan” cak jati menerangkan. maklum, cak jati adalah orang berseni.. selalu saja ada bentuk inspirasi yang mengaspirasi. “lalu kenapa warna serat undangannya berwarna merah keemasan selayak senja penceraian, ini kan perkawinan?” tanya koh bonang. cak jati menjawabnya dengan sederhana, diam.. lalu pamit untuk mengantarkan serat undangan untuk rekan lainnya. lumayan gila juga nih cak jati, bathin koh bonang resah. mengingat uang yang dipunyai tinggal sedikit, maklum.. tanggal muda dibulan yang menua. belum lagi, ketiga wanita njheng bonang yang selalu meminta uang dipertengahan purnama.

“datang saja koh.. kenapa harus memikirkan buwuh..?” ucap bang muria spontan. “nte sih enak.. kalau ayas sih harus mengikutsertakan kedua adik” jawab koh bonang refleks. “lha, piye tho? terus wanita peyan gimana? yang tiga itu lho!” sergah bang muria dengan menekankan pada kata tiga. “itu khan urusan bapak mereka, bukan urusan ayas “ kata koh bonang kesal. “istri khan ?” tanya bang muria. “sepertinya bukan” jawab koh bonang datar. percakapan mereka berdua terus berlanjut walaupun terkesan tidak cocok satu sama lain bahkan bisa diartikan mbulet, ruwet, yah memang pada dasarnya koh bonang sendiri adalah manusia dengan seribu dua alasan.

... ... ...

syahdan, sebulan kemudian.. perkawinan cak jati dan ning widji terjadilah. dengan pembukaan mendung dilangit dan dihiasi hujan lebat didesa tetangga sekitar. acara tersebut berlangsung dengan sakral. bentuk tradisional yang mencitrakan mempelai berdua disuguhkan dengan parade alunan melodi timur. dengan sesekali mukaddimah meja para ksatria hitam yang berbintang acara tersebut telah menjadi reuni masa lampau para pemuda. dihiasi para dara muda yang menggugah selera, malam semakin larut dengan hitam-putih meja yang berangka sungguh suatu pemandangan yang menawarkan ironi dan berbau penyesalan bagi sebagian perjaka.

lalu, tak lama kemudian.. kedua mempelai dipersilahkan untuk maju ke tampil.. sekedar bertukar kata, dan selayang pandang teruntuk cinta yang telah menyatukan mereka berdua :

“wahai dikau, widji yang kucinta..
betapa aku menyayangimu
walau dengan haru dan kasih yang membisu
selembut wangi melati atau roman yang telah lalu
sepanas emosi jiwaku, tetapi nyata..
bahwasanya hatiku menulis indah tentangmu
aku ingin engkau duduk bersamaku
didanau.. dilangit..
didasar bhumi, diujung dunia, dialam mimpi
atau entah ditempat yang mana lagi.. tinggal engkau sebutkan
disisi bintang yang paling panas atau salju yang paling dingin.. “

”duhai cak jati, seorang pria yang kucinta..
betapa tampak cintamu dari rona wajahmu
menerangkan segala, bagai lentera ditangan pendeta
karena engkau, jalan ini menjadi nyata-jauh dari semu
karena engkau pula.. aku tiada buta
tanpamu, dunia selayak seorang buta dan bisu “

”wahai dikau, widji satu yang kurindu..
betapa aku merindukanmu hingga terluka
dan aku tahu, kau terluka jua
ijinkan aku membawa senyummu.. 'tuk temani hari sepiku
cepatlah kita bertemu!?
karena bahagia sekali rasanya jika bisa bertemu denganmu
walau dalam mimpi, dimana aku bisa mengecup lembut bibirmu!! “

”duhai cak jatiku, pujaan hatiku..
betapa hasrat ingin berjumpa,
walau terbentang jarak diantara kita berdua
apakah engkau pernah berharap,
hujan datang disiang hari yang cerah..
dimana akan ada pelangi indah yang menghias
aku ingin berada ditengah hujan itu bersamamu-bermandikan tetes air surgawi
aduhai, betapa indahnya hari itu.. “

”wahai dikau, widji yang kunanti..
lihatlah, betapa rembulan semakin kusut dan awan mulai bergerak menghilang
angin memecah sunyi dan menggetarkan dinding hati
tetapi,
hasratku akanmu semakin memuncak
laksana bhumi merindukan terik mentari
bolehkah jika.. aku pinta wujudmu? “

”duhai cak jatiku.. tambatan hatiku
betapa aku sama denganmu
berharap wujud dimata walau sekedar bayang saja
kau dan aku..
engkaulah jati.. akulah widji
kau dan aku..
menyatu, kita dan hanya kita!?

semoga Tuhan memberikan, wujud cinta kita berdua
semoga Tuhan mendaulatkan.. cinta jati dan widji “

“duhai kekasih pujaan..
terbentuklah suatu karunia cinta
merindu tanpa batas
mereguk kebersamaan tak terbatas
hingga batas usia merentas

melenggang langgeng dalam kalbu
mengisyaratkan benak penuh syahdu
indah tak terukur akan satu

cinta sejati yang tak tertolak
liku yang tak terbayang
resap indah dalam benak
warna yang membayang “

“cak djati, sudah kau lihatkah Tajmahal itu ?
prasasti kita berdua
lambang cinta dan derita
rindu yang kau punya
sama dengan yang ku punya
dalam semuanya kita adalah satu
kesabaran menanti segala tiba

air mengalir dalam sebuah untaian dara
cinta mengalir dalam sebuah cerita
kita hanya bisa berusaha
semua itu atas kehendak-Nya

titisan harapan ilusi manusiawi
jiwa bercerita hanya sebatas duniawai
semoga ini bukan hanya mimpi
kami ini mendoakan menjadi pasti

salam hangat cinta berkata
kata berulang tiada makna
ilusi jiwa selalu berkelana
mencari cahaya dalam sebuah bedjana “

“dinda widji, kini aku disini..
dari bentuk utara, yang penuh dengan luka
dinda widji, kini aku disini..
kembali dari utara, dengan tapak luka yang membara

betapa aku ingat senyummu,
betapa pula kuingat garis lembutmu.. .
yang melekat rapat tanda wangimu,
yang melewat garis edar indahmu.. .

... ... ...

oh, widji..
ini aku cak jati..
kupersembahkan bunga rindu dalam dada,
sebuah tanda cinta dari seorang pria dewasa.. .

dilingkupi getarmu,
tepat dititik tengahmu..

nadamu mengalun,
membuat bentuk kataku menari..
bunyi tertegun,
sunyi bersembunyi..
jeritmu terbangun,
cintaku padamu.. dengan resonansi tinggi..

ragammu menyatu, padaku..
pelan, bumi berbunyi..

kilau sunyi padamu..
'simfoni ini turut bernyanyi.. .

... ... ...

widji, apakah kau sudi mengikutiku?
dengan aroma mawar, melati, dan kanthil,
maka kaulah kekasih hati..

widji, apakah kau sudi jadi telaga hatiku?
dengan aroma mawar, melati, dan kanthil,
maka kaulah kekasih hati..

widji, kekasih setia
apakah kau sudi memberi apapun yang kumau?
apakah kau sudi menolongku disaat kuterjatuh?
bila tugasku 'tlah selesai,
maukah kau menemaniku?
dengan aroma mawar, melati, dan kanthil,
maka kaulah kekasih hati..

wahai widji kekasihku tampakkan cintamu yang tersembunyi,
hingga aku bersama pohon keabadian
bukalah gerbang jiwamu
izinkan aku masuk menuju
aku sudah jatuh
aku pula mati karenamu
berikan aku semi
agar diri tak meranggas seperti jati
biarkan cintaku menutup sucimu
agar genang ini tak lagi gundah
jadilah sempurnaku
genapkan setengahku.. “

”duhai cak jatiku yang menanti diri,
kirimkan aku bungamu itu
agar kuncup agar hidup
sendhang dihati yang kau beri
engkaulah sinar
engkau pulalah yang memancar
lintaskan garis edarmu
betapa engkau telah memanduku selalu
betapa caci dan gores dihati
tak lekangkan gairah ini
kutunggu setengahmu
untuk menjadi setengahku.. “

...

koh bonang berdiri, dan mengajak kedua adiknya pergi.. bang muria membuntuti seraya berkata, "acaranya khan belum selesai kanjheng..". "acara itu kini telah menjadi acara keluarga.. tak bagus dilihat para perjaka dan remaja" sahut koh bonang singkat. "ternyata koh bonang masih.. .. apa gunanya ketiga wanita yang dipunya?" ucap bang muria lirih karena takut dikeplak lagi, dan dengan sedikit sesal karena tidak diperbolehkan koh bonang untuk bergabung dengan meja ksatria hitam yang berbintang.. hitam-putih meja yang berangka.

... ... ...

[masih] bersambung.. semoga..

--
kami haturkan sujud syukur kami kepadaMU Gusti,
teruntuk juni yang memberi.. teruntuk juli dan matahari..
teruntuk ini hari, melewat purnama sekali lagi..
sembah kami ini, yang mewakili air mata pencari..

ucap syukur kami kepada para nawak tercinta yang telah menyempurnakan bentuk setengah kami ini.. rutam nuwus nawak terbaik.. Hug.gif
ImNotWorthy.gif

pangestu

sekilas..
mbah kudus tersulut resah.. seakan memecah pada bara yang merekah.. dengan merah yang membuncah.. memuncak pada amarah, ombak soliton gerah pertanda pantang 'tuk menyerah..
Sucks
romantika dunia ini
melihat sepasang muda mudi
merajut cinta teruntuk pencarian abadi

tak lekang oleh sesuatu tak musnah oleh waktu

simfoni cinta berdawai
menyambut pasangan tahun ini
Hug.gif

-----

numpang lewat...
meratap ataukah menatap
menyekat atukah menyergap


*sujud sukur kami haturkan ke hadirat MU Gusti ImNotWorthy.gif

best regards

sucks
pangestu
Hug.gif
ken_the_12
QUOTE (Sucks @ Sep 3 2009, 12:11 AM) *
romantika dunia ini
melihat sepasang muda mudi
merajut cinta teruntuk pencarian abadi

tak lekang oleh sesuatu tak musnah oleh waktu

simfoni cinta berdawai
menyambut pasangan tahun ini
Hug.gif

-----

numpang lewat...
meratap ataukah menatap
menyekat atukah menyergap


*sujud sukur kami haturkan ke hadirat MU Gusti ImNotWorthy.gif

best regards

sucks
pangestu
Hug.gif


oyi nawak,
memang benar-benar best couple of the year..
cak jati n ning widji
setia dalam segala janji

betapa tajuk ini
turut memberikan permohonan kepada cinta sepasang muda-mudi

rutam nuwus nawak,
yang telah singgah barang sejenak..

Hug.gif

pangestu
ken_the_12
untukmu kawan.. pengorbanan [ide] kita berdua.. Hug.gif

Bismi..
Menorehkan senja seperti biasa
Astagh.. kepadaNYA
Memanggil lembayung pulang kembali
... ... ...

mbah kudus tersulut resah.. seakan memecah pada bara yang merekah.. dengan merah yang membuncah.. memuncak pada amarah, ombak soliton gerah pertanda pantang 'tuk menyerah..

pada luka yang terbuka..

...

mbah kudus menunggu dengan resah, terlihat dari gores wajah yang nampak bingung dan resah apik tertata berkejaran dikedua bola mata. Sesekali mendesah pelan terkadang mendengus dengan cepat. Betapa menunggu telah membuat semua lapisan kulit menegang kaku. Hari terus berganti dan tetap saja diri ditelan gundah yang terus mengintimidasi.

“Kyai giri lama sekali.. sudah dua kali putaran bulan dan hanya angin yang menampakkan diri disini” keluh mbah kudus. “Wonten nopo tho mbah ? “ tanya kang drajat tiba-tiba. “Weleh, lha koq yang muncul malah kamu jat ! “ kata mbah kudus semakin masygul. “Memangnya ada hal yang aneh kalau aku silahturahmi dimari ? “ tanya kang drajat mengikut kesal. “Bukan begitu.. ... ... jadi begitulah” ucap mbah kudus seperti biasa, aneh dan sedikit rancu pada susunan kalimat yang diucapkan.

“Hm.. repot juga, kalau gitu aku kontak dulu koh bonang , biar karuwatan eh keliru, keruwetan peyan cepat terselesaikan.. “ kang drajat berkata seolah mafhum dengan perkataan mbah kudus. Lalu kemudian berangkatlah kang drajat menuju kediaman koh bonang yang sedang dalam masa pem[b]ugaran. Maklum, menurut koh bonang harus ada variasi untuk tempat yang ditinggali. Biar tidak terkesan basi dan salah persepsi dari orang-orang yang mengunjungi.

“Kulo nuwun, .. koh..” suara kang drajat terengah-engah didepan serambi koh bonang. “Masuk saja drajat ! “ ucap koh bonang santai sambil memilin lembaran tembakau yang kelihatan nikmat. “Kadingaren mampir.. mentang-mentang sudah punya tunggangan garudea baru.. tunggangan atau tanggungan yo ? “ ucap koh bonang menyindir. “Uhuk-uhuk.. koh bonang seperti biasanya dhowo tur landhep, sindirannya begitu luar biasa..” ucap kang drajat sambil keplok-keplok. “Lho ? Memangnya ada apa tho jat ? “ tanya koh bonang sambil ngikut keplokan. “Mbah kudus..” kata kang drajat tenang sambil duduk sembari memilin lembaran tembakau dengan serbuk kemenyan, biar lebih harum alasan sederhana kang drajat yang seakan dipaksakan.

“Ternyata demikian.. “ koh bonang berkata sembari nyeruput wedhang kopi ilmu andalannya. Angin mendadak berubah haluan, yang tadinya semilir menjadi membungkus dan mengukus sedemikian rupa. Belum lagi suaranya yang pelan meningkat, menyiratkan segala pemberontakan dewa bayu. Tiba-tiba dan tanpa disangka-sangka kyai giri datang tanpa diundang. “Lha dalah.. kyai giri koq datang dimari, bukannya berjanji kata dengan mbah kudus ? “ sambut koh bonang sembari memeluk kyai giri dengan mesra. Kang drajat berdiri menanda hormat lalu duduk lagi sembari melinthing tembakau madura ilmu andalannya.

“Ada apa kyai giri ? sajake koq ganjil-ganjil ?” tanya koh bonang. Mau jual-beli keyakinan ! “ ucap kyai giri berat. “Waduh, koq kelihatannya ruwet gitu.. apa ada masa lalu yang memburu ? “ tanya kang drajat. “Keadaan sudah siaga, tetapi tetap saja.. ah, betapa hati terkebiri.. betapa diri menghamba menyentak nurani” kyai giri menggulirkan kata sebegitu rupa. Angin yang tadinya menyentak kini meluruh seketika. Mungkin juga mengikut pergerakan kyai giri, bathin koh bonang. “Hm .. mungkin juga ada hubungannya dengan wayah ? “ tanya koh bonang sambil melirik kang drajat. “Begini saja kyai, mari kita ke ranah sedati.. siapa tau dapat genap tidak lagi ganjil” usul koh bonang.

Dan pada akhirnya, kyai giri tidak menyahut hanya melangkahkan kakinya saja mengikut koh bonang dan kang drajat. Angin kembali menggerisik mengawani sunyi menangkup segala imaji mereka bertiga dan bergerak alami mengantarkan pertemuan mereka dengan mbah kudus yang mengukus.

"Uhuk-uhuk.. kenapa jadi bertiga ? “ tanya mbah kudus halus. Kang drajat hanya menyeringai sembari melirik kyai giri yang tetap acuh tak acuh. “Drajat.. mungkin ada baiknya kelud kita letuskan” koh bonang berusaha memecah kesunyian. “Weleh, pripun tho.. bukankah gulungan dalam maksud jamak masih belum diputuskan ? “ sembur kang drajat. Koh bonang hanya mengerling ketus kearah kang drajat. “Saya setuju dengan peyan koh ! “ dengan cepat kang drajat mengubah pendapatnya, maklum daya refleksnya sudah lama tidak dilatih sehingga terlambat menyadari maksud koh bonang. Sedangkan mbah kudus dan kyai giri masih berdiam dengan keadaan mereka berdua.

“Mungkin juga..” tiba-tiba kyai giri meluberkan kata-katanya. “Kenapa demikian kyai ? “ tanya mbah kudus tak kalah tiba-tibanya. “Keyakinan pada bentuk lampau serta penghormatan terhadap budaya sudah luntur” tukas kyai giri. Sontak koh bonang dan kang drajat bersalaman akur sekali. ‘Ada ada apa dengan kalian berdua ? “ tanya kyai giri. “Begini, bisa dijelaskan maksud pernyataan peyan barusan.. “ ucap koh bonang cepat, setidaknya untuk mengalihkan pertanyaan dengan sebuah pertanyaan pula. “Manusia zaman ini begitu munafiq, bagaimana tidak.. keris yang merupakan warisan budaya kita direbut dan diaku oleh ranah sebrang, mereka berkoar dan berteriak tidak terima. Tetapi mereka juga tidak pernah mempergunakan bahkan kerap mencemooh bahwa keris itu syirik musyrik dan.. ... ... jual beli keyakinan yang menggelikan” sambung kyai giri. “Jadi ternyata terlambat itu karena urusan yang membingungkan..” mbah kudus menimpali seperti sudah mengerti apa yang terjadi akan alasan keterlambatan kyai giri.

Koh bonang dan kang drajat beringsut pergi membiarkan kyai giri dan mbah kudus bercakap dengan ruang sepi diantara mereka berdua. Walau sebenarnya koh bonang dan kang drajat masih menyisakan bentuk kebingungan didasar hati mereka sambil menarik kesimpulan sekenanya, bahwa pada hakikat sebenarnya kyai giri dan mbah kudus berjanji hanya untuk silahturahmi dengan dinding hampa diantara mereka berdua saja.

... ... ...

[masih] bersambung.. semoga..

--
Terima kasih Gusti.. atas diri kami dan semua yang kami alami ini..

ImNotWorthy.gif

pangestu

sekilas..
gus malik ibrahim menyublim. Mencobakan tengah pada nawak yang jengah.. genapkan ruwat hingga dititik gawat. Lengkapkan hajat walau dibentang cacat..
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.