Cerita pendek pertama dari @ken_the_12.. hasil perumusan dan penelusuran dari berbagai ide disekujur raga, dari lika-liku dan permasalahan kehidupan, dari berbagai sumber dan nara sumber.. yang terpercaya dan tidak terpercaya, yang terlihat maupun tidak terlihat. Jika ada pemilihan kata-kata dan penulisan kalimat yang aneh dan tidak berkenan mohon dima’afkan, karena maklum saja nuwbie nih. Kisah ini adalah fiktif. Tidak ada hubungannya dengan tokoh, kelompok atau kejadian nyata. Sumonggo rekan2 sekalian menikmati dan semoga menambah manfaat yang berarti. Teruntuk kak mods yang baik hati mohon dengan sangat karya ini diperkenankan. Jika memang tidak layak atau hasil copas, sumonggo didelete saja. Terima kasih.
--
untukmu kawan.. pengorbanan [ide] kita berdua..
Bismi..
Semoga kita diberkati secara bersama-sama, dengan kebenaran.. yang tidak samar-samar lagi.
Ijinkan aku “kawan senama” menceritakan suatu kisah, yang berasal dari kemurnian angan-angan walaupun tidak suci lagi. Hal ini bermula tatkala aku diwejang “kisah sembilan ksatria” dalam bentuk yang lain.
*
Gusti..
Ijinkan, ijinkan!
Kami memulai, dengan sedikit.. kesan duka
Serta pelengkap bumbu rasa cinta.. amiien..
Aku berharap.. dalam diriku yang paling dalam!
Agar “wak khatim”.. menjadi romo ampel. Supaya dia menjadi, seorang yang dapat mengayomi kita semua [sekalian]..
Aku [juga] berharap..
Agar “cak armed”.. menjadi kyai giri. Supaya dia menjadi, seorang yang mampu membuka pintu Arasy bagi kita semua!?
Aku [pun] berharap..
Agar “dul regi”.. menjadi bang muria. Supaya dia menjadi, seorang yang mampu mengenalkan lautan biru bagi kita sekalian!
Aku berharap juga..
Agar “si adi”.. menjadi kang drajat. Supaya dia menjadi, seorang yang dapat mengangkat keadaan kita semua [sekalian]..
Aku [terus] berharap..
Agar “si daniar”.. menjadi den kalijogo. Supaya dia menjadi, seorang yang dapat menjaga kita sekalian dari kekeliruan!?
Aku kemudian berharap..
Agar “si riboet”.. menjadi mbah kudus. Supaya dia menjadi, seorang yang dapat membantu kesiapan rohani kita semua!
Aku lalu berharap..
Agar “si ape”.. menjadi cak jati. Supaya dia menjadi, seorang yang dapat mengembalikan kepercayaan diri kita semua!
Aku berharap seterusnya..
Agar “ada seseorang” [yang kami pikir ada pada guk hono].. menjadi gus malik ibrahim. Supaya dia menjadi, seorang yang dapat mengemong dan menasehati diri kita semua!?
Dan yang terakhir!
Terkadang aku berpikir, dan terus merenung.. pantaskah kalo’ daku berharap-harap, menjadi koh bonang?! Padahal diri ini masih abu-abu?! Sedangkan koh bonang adalah kaum abangan!?
Oh.. Gusti
Maka berkatilah kami sekali lagi..
Dengan kebenaran.. yang tidak samar-samar lagi..!
Ampuni kami..
Ijinkan aku “kawan senama” untuk berkisah padamu sekalian, tatkala aku menyamar menjadi pribadi “koh bonang”.. tatkala aku beralih rupa dengan mengenakan zirah besi koh bonang ..serta ijinkan aku menjadi koh bonang sendiri, amiien..
Kisah ini berawal.. tatkala Sang Gusti bertitah,
“Wahai.. padamu AKU memanggil yaa gus malik ibrahim.. jadilah seorang yang [bisa] menjadi [suatu] jembatan yang adil dan arif.. bagi kawulomu!”
“Wahai.. padamu AKU memanggil yaa romo ampel.. jadilah seorang yang [bisa] menahan dirimu dari napsu berkuasa atas kawulomu.. demi kemaslahatan [yang lebih luas] bagi ummat, dan tegakkan kewibawaan kaum ulama atas para raja dunia!”
“Wahai.. padamu AKU memanggil yaa kyai giri.. jadilah seorang yang [bisa] mendapatkan kesaktian dan kekuatan untuk menyembuhkan [berbagai] penyakit pada zaman ini, namun engkau harus ingat kawulo didalammu!”
“Wahai padamu AKU memanggil yaa kang drajat.. jadilah seorang yang [bisa] melebarkan telingamu untuk mendengar suara nurani kawulomu dan menomerduakan suara, dirimu sendiri!”
“Wahai padamu AKU memanggil yaa den kalijogo.. jadilah seorang yang [bisa] menjalankan prinsip hidupmu dengan tetap mengikhlasi hidup sederhana, serta jadilah ‘bocah angon’ bagi segala keadaan kawulomu itu sekalian!”
“Wahai padamu AKU memanggil yaa mbah kudus.. jadilah seorang yang [bisa] mengimbangi kawulomu, serta jadilah ‘pendekar yang mumpuni’.. namun menunduk di hadapan kawulomu yang paling lemah!”
“Wahai padamu AKU memanggil yaa bang muria.. jadilah seorang yang [bisa] membuka diri selebar-lebarnya, untuk bersilahturahmi dengan kawulomu.. dengan tetap menjaga kemurnian dan ketegasan, sebagaimana angin berhembus dan menerpa apa pun saja.. untuk menyentuhkan kesejukan bagi setiap kawulomu!”
“Wahai padamu AKU memanggil yaa cak jati.. jadilah seorang yang [bisa] melembutkan kepribadian kawulomu sehingga AKU perkenankan dirimu untuk menembus berbagai kedalaman dimensi yang ada pada setiap kawulomu, alam ruhaniah serta alam kasyaf lainnya!”
…
“..ampun Gusti, Kanjeng Gustiku.. nopo panjenengan lupa pada daku?”
“Hm.. hehehe, ternyata dikau bisa bercakap juga!? Mengapakah dikau diam?”
“..ampun Gusti! daku sekarang lagi mendiami cinta biruMU Gusti.. daku berharap selalu mengingat wajah agungMu Gusti!?”
“OH.. engkau mengerang kesakitan, ataukah meminta-minta?! Apakah engkau berharap mabuk dalam kehampaan? Apakah engkau menginginkan tenggelam dalam keheningan? Wahai.. AKU bersumpah demi pohon Tin dan Zaitun, demi gunung Sinai, demi negeri asal baitullah.. Janganlah dikau melewati batasanKU.. Sang Pemilik Alief Laam Miem! Karena setelah dikau melewatiNYA, ..dikau akan merasa kaya melebihi AKU.. dikau akan merasa [bisa] menyatukan langit dan bumi! Ingatlah, sesungguhnya [hanya] kepada Tuhanmulah.. yaitu AKU [adalah] tempat kembalimu!!”
“duh Gusti.. ampun Gusti.. janganlah DIKAU memarahiku.. janganlah DIKAU membenciku.. sesungguhnyalah daku ini adalah seorang yang fakir! tanpaMu Gusti, tiadalah daku mengenal diriku ini.. Wahai Gusti, daku tunduk, patuh.. taat padaMU [amiien] titahkanlah padaku.. [kalo’ perlu akan daku pikul arasyMU]”
“AKU titahkan padamu sekarang.. Wahai padamu AKU memanggil yaa koh bonang.. jadilah seorang yang [bisa] mengetuk .. memasuki, dan bersemayam di[dalam] setiap qolbu para kawulo-kawulo!! Hingga perlu dirimu.. untuk membunyikan boning bonangmu! Untuk belajar kepada gus malik ibrahim! Untuk berguru kepada romo ampel! Untuk menjadi murid kyai giri! Untuk melacak [wacana] strategi budaya kang drajat! Untuk mengikuti jejak den kalijogo! Untuk mengacu kepada mbah kudus! Untuk menelusuri perjalanan bang muria! Serta.. menyelami [jati] diri cak jati!”
“nyuwun inggih Gusti.. pangestunipun..”
Lalu kemudian,
Setelah titah turun kesembilan ksatria tersebut, maka mereka serentak turun dari [Lauhul Mahfudz] permadani Arasy Sang Gusti, kemudian berpendar.. untuk menyerukan kebenaran yang HAQ, dan menyuarakan seruanNYA!
Gus malik ibrahim pergi ke selatan gresik..
Romo ampel pergi kedaerah soerabaja..
Kyai giri menuju ke utara gresik..
Kang drajat pergi ke sekitar lamongan..
Den kalijogo beranjak menuju [kadilangu] demak..
Mbah kudus langsung ke arah kudus jawa tengah..
Begitu pula dengan bang muria, cabut kearah gunung muria..
Sedangkan cak jati juga berangkat ke cirebon..
“lha.. sekarang tinggal daku sendirian, bingung seru, mau pergi kemana? Jawa timur, tengah, dan barat sudah sip! Pusing nih kepala, tewur banget nih urusan!?”
Akhirnya..
Daku memutuskan untuk ‘nyangkruk’ di gunung lawu, mampir disebelah waroeng. Untuk memesan, wedhang kopi dan asap rokoq yang sudah siap masuk ketubuhku. Setelah nyruput, dan menghabiskan sebatang rokoq.. tiba-tiba, eyang Tunjung Moyo lewat didepan mataku.. matur nuwun Gusti ucapku lirih..
Kemudian, aku bertanya padaNYA.. mengenai arti dari gunung lawu ini. “LHA ‘hu’ [iku] Wenehi Urip”. Setelah berkata demikian, DIA lalu ‘oncat’ pergi kelangit tujuh. Dalam hati daku berkata, “Gusti.. sungguh besar rahasiaMU.. mampus daku.. hilang daku..”
Setelah ‘camping’ selama empat puluh satu hari disana, akhirnya daku turun gunung. Dan kembali ‘nyangkruk’ di waroeng, untuk minum segelas wedhang kopi serta ngudut untuk menghembus asap yang.. sudah melewat lubang hidungku ini. Sembari berpikir, bukankah bopoku ada di [soerabaja] jawa timur, begitu pula eyangku juga ada disana. Akhirnya, daku memutuskan untuk ngendhon di jawa timur. Berhubung.. aku nggak ‘connect’ ama bopo, daku langsung meluncur ke tuban, untuk meminta idzin daripada eyang. Idzin pun turun, pada akhirnya.. daku membangun pondhokanku ditepi lautan, dan jadilah daku menetap disana.
... ... ...
[masih] bersambung.. semoga..
--
Cerita pendek ini didedikasikan untuk momen2 yang berkumpul dan bersilahturahmi dibulan april ini.. ulang tahun rekan2 kami, ulang tahun perkumpulan kami.. dan tentu saja, ulang tahun BlueFame tercinta ini..
Terima kasih Gusti.. terhadap rekan2 kami, teruntuk perkumpulan kami.. dan terkhusus BlueFame tercinta ini.. olehnya dan karenanya serta daripadanya, warna dan dinamika langkah dapat menjadi bentuk sejarah..
nuwus
---
sekilas
Ditepi lautan.. dekat pantai, yang merupakan batasan.. antara samudera terbentang dengan daratan [diri].
Ditepi lautan.. dengan semerbak wedhang, kaWEruh senDHANG.. yang sebahagian.
