http://internasional.kompas.com/read/xml/2...ih.disiksa.pula
Tahanan Sudah Lapar Masih Disiksa Pula

EPA/ADREES LATIF/POOL
Mantan Kepala Penjara Tuol Sleng semasa rezim Khmer Merah, Kaing Guek Eav atau dikenal dengan Duch (kanan), berbicara dengan pengacaranya, Francois Roux (kiri), saat hari pertama pengadilan genosida Kamboja dukungan PBB di pinggiran ibu kota Phnom Penh, Selasa (17/2). Duch kemungkinan dijatuhi hukuman seumur hidup atas tuduhan kejahatan kemanusiaan, kejahatan perang, penyiksaan, dan pembunuhan. Lima mantan pejabat rezim Khmer Merah bakal diajukan ke pengadilan ini guna mempertanggungjawabkan kematian 1,7 juta warga Kamboja selama kekuasaan Khmer Merah pada tahun 1975-1979.
QUOTE
KOMPAS.com-Kisah kejahatan kemanusiaan rezim Khmer Merah di Kamboja terus bermunculan. Sebuah kamp di hutan menjadi lokasi penyiksaan tahanan yang meski sudah lapar, tetapi masih saja disiksa.
Hal ini terungkap lewat kesaksian Duch, yang nama aslinya adalah Kaing Guek Eav (66)—seorang mantan kepala penjara Tuol Sleng—di sebuah pengadilan dukungan PBB, Selasa (21/4) di Phnom Penh.
Di pengadilan, Duch mengatakan, bagian dari pekerjaannya adalah melatih kader-kader untuk menyiksa dan mengeksekusi tahanan, yang adalah juga sesama warga Kamboja. Penyiksaan terjadi hanya karena perbedaan aliran keyakinan atau ideologi politik.
Tugasnya yang lain adalah membuat para kader menjadi komunis sejati. ”Saya ingin mendidik mereka untuk menemukan sebuah jalan, yang disebut sebagai jalan revolusioner,” kata Duch.
Yang terbukti kemudian adalah negara bukan menuju sebuah prestasi gemilang secara revolusioner, tetapi hanya melahirkan pembantaian, di mana asas kemanusiaan diharamkan.
Ini semua terjadi pada era kejayaan Khmer Merah di Kamboja, periode 1975-1979. Pada era itu juga, Duch turut berperan melakukan kejahatan kemanusiaan. Saat itu dia mengawasi penjara utama, Tuol Sleng.
Kisah penyiksaan di Tuol Sleng itu menjadi salah satu muatan utama museum kejahatan kemanusiaan di Phnom Penh. Penjara ini menjadi tempat berakhirnya ajal ribuan orang, yang memunculkan istilah ”Ladang Pembantaian”.
Pengadilan juga sudah menjadi ajang penuturan bukti-bukti kejahatan yang dilakukan di M-13, sebuah penjara rahasia di sebuah hutan periode 1971-1975, yang juga diawasi Duch.
Korban-korban utama mereka adalah warga pendukung Amerika Serikat, termasuk pejabat pemerintahan pro-AS saat itu. Aksi-aksi penyiksaan manusia di penjara-penjara itu juga terstruktur secara baik.
Di pengadilan, kepada Duch diajukan sebuah pertanyaan. Mengapa para tahanan disiksa, bukannya dididik kembali?
Duch menjawab. ”Kami tidak diperbolehkan mengajarkan logika atau menyebarkan hak-hak tahanan sesuai mandat PBB. Jika kami tidak menuruti perintah itu, kepala kami pun bisa dipenggal.”
Anak-anak ditugasi
Duch juga menuturkan bagaimana para warga desa dipaksa mengirimkan anak-anak mereka yang masih berusia belasan tahun untuk membantu pekerjaannya. ”Biasanya, tak seorang pun yang berani menolak permintaan seperti itu ... karena mereka pada umumnya takut dibunuh,” kata Duch.
Selain Duch, juga ada banyak sipir penjara yang menjadi bawahan Duch. Para bawahan ini bertutur, mereka tidak berani melihat langsung mata Duch saat berbicara.
Salah satu sipir itu bernama Chan Khorn, kini berusia 53 tahun. Saat itu dia berusia belasan tahun. Khorn mengenang, bagaimana dia dipaksa menghadiri sebuah pertemuan untuk memperbaiki cara-cara mereka menangani para tahanan.
Duch secara rutin mengancam para anak buahnya bahwa mereka akan dikenai hukuman jika gagal menunaikan tugas dan kemudian diminta menghadiri sesi serupa. Sesi ini dinamai swakritik. Sesi ini menjadi wahana tempat para sipir saling mengkritik diri sendiri dan para rekan. ”Saya sendiri pernah mengakui kesalahan sendiri lalu menerima kritikan dari rekan-rekan lain,” kata Khorn.
”Namun, tak ada yang berani mengkritik Duch. Tak satu pun. Karena dia adalah orang terpenting di bagian kami, siapa yang tidak takut?”
Menjaga kakek sendiri
Tragedi bagi Khorn adalah, di penjara dia bertugas, salah satu tahanan adalah kakeknya sendiri. Sayang, tidak disebutkan apa yang terjadi pada kakeknya itu. Yang jelas, kakek itu ada di penjara M-13 yang terkenal brutal.
Bulan lalu, Duch meminta maaf atas kematian 15.000 orang di penjara Tuol Sleng. Namun, Duch selalu menegaskan tidak pernah membunuh langsung para tawanan itu.
Pada hari Selasa (21/4), Duch juga mendengar kesaksian Khorn. Saat diberi kesempatan menjawab soal semua tuduhan Khorn, Duch tak menyia-nyiakan kesempatan.
”Kami saling berjauhan satu sama lain dalam 36 tahun terakhir. Sekarang ketika saya melihat mantan anak buah saya, saya trenyuh,” kata Duch, mantan guru matematika.
Duch terancam hukuman seumur hidup atas kejahatannya yang terjadi di era rezim Khmer Merah yang dipimpin Pol Pot. Pemimpin ini sudah meninggal tahun 1998.
Duch sendiri mengakui, jaringan penjara yang dia awasi bukanlah tempat di mana hak asasi manusia dihargai, tetapi ditendang. Duch tidak akan dieksekusi mati karena pengadilan dukungan PBB itu tidak memiliki mandat menjatuhkan hukuman mati. (AFP/MON)
Sumber : Kompas Cetak
Hal ini terungkap lewat kesaksian Duch, yang nama aslinya adalah Kaing Guek Eav (66)—seorang mantan kepala penjara Tuol Sleng—di sebuah pengadilan dukungan PBB, Selasa (21/4) di Phnom Penh.
Di pengadilan, Duch mengatakan, bagian dari pekerjaannya adalah melatih kader-kader untuk menyiksa dan mengeksekusi tahanan, yang adalah juga sesama warga Kamboja. Penyiksaan terjadi hanya karena perbedaan aliran keyakinan atau ideologi politik.
Tugasnya yang lain adalah membuat para kader menjadi komunis sejati. ”Saya ingin mendidik mereka untuk menemukan sebuah jalan, yang disebut sebagai jalan revolusioner,” kata Duch.
Yang terbukti kemudian adalah negara bukan menuju sebuah prestasi gemilang secara revolusioner, tetapi hanya melahirkan pembantaian, di mana asas kemanusiaan diharamkan.
Ini semua terjadi pada era kejayaan Khmer Merah di Kamboja, periode 1975-1979. Pada era itu juga, Duch turut berperan melakukan kejahatan kemanusiaan. Saat itu dia mengawasi penjara utama, Tuol Sleng.
Kisah penyiksaan di Tuol Sleng itu menjadi salah satu muatan utama museum kejahatan kemanusiaan di Phnom Penh. Penjara ini menjadi tempat berakhirnya ajal ribuan orang, yang memunculkan istilah ”Ladang Pembantaian”.
Pengadilan juga sudah menjadi ajang penuturan bukti-bukti kejahatan yang dilakukan di M-13, sebuah penjara rahasia di sebuah hutan periode 1971-1975, yang juga diawasi Duch.
Korban-korban utama mereka adalah warga pendukung Amerika Serikat, termasuk pejabat pemerintahan pro-AS saat itu. Aksi-aksi penyiksaan manusia di penjara-penjara itu juga terstruktur secara baik.
Di pengadilan, kepada Duch diajukan sebuah pertanyaan. Mengapa para tahanan disiksa, bukannya dididik kembali?
Duch menjawab. ”Kami tidak diperbolehkan mengajarkan logika atau menyebarkan hak-hak tahanan sesuai mandat PBB. Jika kami tidak menuruti perintah itu, kepala kami pun bisa dipenggal.”
Anak-anak ditugasi
Duch juga menuturkan bagaimana para warga desa dipaksa mengirimkan anak-anak mereka yang masih berusia belasan tahun untuk membantu pekerjaannya. ”Biasanya, tak seorang pun yang berani menolak permintaan seperti itu ... karena mereka pada umumnya takut dibunuh,” kata Duch.
Selain Duch, juga ada banyak sipir penjara yang menjadi bawahan Duch. Para bawahan ini bertutur, mereka tidak berani melihat langsung mata Duch saat berbicara.
Salah satu sipir itu bernama Chan Khorn, kini berusia 53 tahun. Saat itu dia berusia belasan tahun. Khorn mengenang, bagaimana dia dipaksa menghadiri sebuah pertemuan untuk memperbaiki cara-cara mereka menangani para tahanan.
Duch secara rutin mengancam para anak buahnya bahwa mereka akan dikenai hukuman jika gagal menunaikan tugas dan kemudian diminta menghadiri sesi serupa. Sesi ini dinamai swakritik. Sesi ini menjadi wahana tempat para sipir saling mengkritik diri sendiri dan para rekan. ”Saya sendiri pernah mengakui kesalahan sendiri lalu menerima kritikan dari rekan-rekan lain,” kata Khorn.
”Namun, tak ada yang berani mengkritik Duch. Tak satu pun. Karena dia adalah orang terpenting di bagian kami, siapa yang tidak takut?”
Menjaga kakek sendiri
Tragedi bagi Khorn adalah, di penjara dia bertugas, salah satu tahanan adalah kakeknya sendiri. Sayang, tidak disebutkan apa yang terjadi pada kakeknya itu. Yang jelas, kakek itu ada di penjara M-13 yang terkenal brutal.
Bulan lalu, Duch meminta maaf atas kematian 15.000 orang di penjara Tuol Sleng. Namun, Duch selalu menegaskan tidak pernah membunuh langsung para tawanan itu.
Pada hari Selasa (21/4), Duch juga mendengar kesaksian Khorn. Saat diberi kesempatan menjawab soal semua tuduhan Khorn, Duch tak menyia-nyiakan kesempatan.
”Kami saling berjauhan satu sama lain dalam 36 tahun terakhir. Sekarang ketika saya melihat mantan anak buah saya, saya trenyuh,” kata Duch, mantan guru matematika.
Duch terancam hukuman seumur hidup atas kejahatannya yang terjadi di era rezim Khmer Merah yang dipimpin Pol Pot. Pemimpin ini sudah meninggal tahun 1998.
Duch sendiri mengakui, jaringan penjara yang dia awasi bukanlah tempat di mana hak asasi manusia dihargai, tetapi ditendang. Duch tidak akan dieksekusi mati karena pengadilan dukungan PBB itu tidak memiliki mandat menjatuhkan hukuman mati. (AFP/MON)
Sumber : Kompas Cetak