
Kisah Raja Saud
Sang Penjegal, Kisah Ibn Saud Menguasai Arabia
Penulis : H.C. Armstrong
Penerbit : Ufuk Press, Juni 2008
Tebal : 405 halaman
SEJARAH adalah kumpulan narasi orang besar. Begitu orang menyebutnya. Apakah orang itu telah berjasa bagi kemajuan kemanusiaan, atau ia telah ikut menyengsarakan masa depan nasib jutaan umat manusia. Sejarah tampaknya memang seringkali bercerita kepada kita tentang peristiwa orang-orang besar dalam setiap kiprah hidupnya.
Begitulah kesan yang dapat ditangkap setelah membaca buku berjudul Sang Penjegal Kisah Ibn Saud Menguasai Arabia (terjemahan) karya Harold Cortenay Armstrong. Buku ini menceritakan mengenai perjuangan seorang putra keturunan raja Arab yang agung, Abdul Aziz yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ibn Saud dalam merebut kembali dinastinya dari pendudukan musuhnya, yakni Rashid.
Filsuf Jerman Nietzsche pernah memaklumatkan dalam aforismenya bahwa hakikat dari dunia, hidup, dan ada adalah The Will to Power (kehendak untuk berkuasa). Setiap kehendak itu muncul dari satu ego, yaitu prinsip identitas dan kesatuan. Dengan berkuasa, seorang itu merasakan kebahagiaan (happiness), dimana perasaan akan bertambahnya kekuasaan-hambatan diatasi (St. Sunardi, 1996).
Berangkat dari motivasi kuasa itulah, kata Nietzsche, yang memungkinkan terjadi penguasaan kelompok satu atas lainnya, dan yang memungkinkan satu dengan lainnya terjadi perang. Dalam kacamata inilah, perebutan kekuasaan yang bergejolak di lingkungan kerajaan Arab yang agung Saud itu terjadi.
Cerita buku ini bermula ketika di lingkungan istana Riyadh terjadi perang saudara. Kakak beradik, Abdullah dan Saud yang bertengkar kurang lebih 10 tahun demi memperebutkan takhta kekuasaan dari keturunan nenek moyangnya. Peperangan itu kemudian menyebabkan kekalahan pada pihak Saud, sehingga dia melarikan diri dan tinggal dengan Kabilah Ajman di provinsi Al-Ahsa, bagian timur istana Riyadh. Maka berkuasalah Abdullah.
Meski satu lainnya telah kalah, tapi peperangan tetap terjadi dalam berbagai bentuknya. Abdurahman saudara laki-laki lainnya bertugas memediasi dan mengingatkan terhadap berbagai kemungkinan ancaman pendudukan dari Kabilah lain.
Ternyata, dalam kondisi yang tidak menentu itulah, dengan mudah dimanfaatkan oleh pihak luar musuh dari luar keluarga keturuan Ibn Saud. Yaitu Rashid berhasil menguasai istana Riyadh dan menjadi raja di daerah itu dalam waktu yang lama.
Sementara itu, pewaris takhta kekuasaan yang sah, Abdurahman akhirnya tersingkir, dan hidup di pengasingan bersama putranya, Abdul Aziz.
Rashid memerintah daerah Riyadh dengan tangan besi. Dia menarik pajak dari daerah-daerah jajahannya. Tidak segan-segan dia memerangi kabilah yang membangkang terhadap kekuasaannya. Di seberang yang lain, Abdurahman masih menaruh dendam dengan Rashid. Untuk membalas rasa sakitnya itulah dia menyiapkan putranya, Abdul Aziz yang kemudian lebih dikenal Ibn Saud, untuk merebut kembali kekuasaannya.
Pada waktunya, Ibn Saud tumbuh dan besar sebagai pejuang perang yang tangguh, serta tidak segan membabat habis musuh-musuhnya. Ibn Saud berencana merebut kembali kejayaan dinastinya. Dengan taktik dan strategi yang dijalankan, akhirnya ia pun berhasil membunuh Obeid, saudara Rashid. Dan tidak lama setelah itu, istana Riyadh pun sudah berada di tangan.
Dengan keberhasilannya menguasai Riyadh, maka akhirnya ia menghimpun kekuatan yang lebih dalam melebarkan kekuasaannya ke jajirah Arab lainnya. Hingga kini terbukti, Negara Arab Saudi masih berdiri kokoh dengan dinasti King Abdul Aziz.
Membaca buku ini, akan tersadarkan bahwa kekuasaan itu bukan barang yang suci, bahkan bagi orang yang sangat beragama. Ia selalu sarat intrik, sifat licik, dan akhirnya berjatuhan korban.
Buku ini menghadirkan cerita lain di balik pemandangan klise sebagian orang tentang negara damai Arab Saudi. Buku yang menampilkan sosok Abdul Aziz secara berbeda, dari kesan selama ini sebagai raja yang bijak dan arif. H.C.Armstrong menggambarkan Raja Abdul Aziz sebagai seorang yang keras dan teguh pendiriannya.[]
Afriadi, Pengkaji Buku di RMBooks