Help - Search - Members - Calendar
Full Version: dunia dalam derita
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Poetry Room
betra
warta ini hari
tak berbeda
tiada kunjung melega
bahkan berlari
jauhi beranda
bahagia duniawi

tepi-tepi kubur ramai
dipenuhi panjang antri
desak-desak
dengan lebam membengkak

rantai-rantai kenyataan
terbelit mesra pada urat2 syaraf

pesta masih berlangsung
walau titian hidup sampai di penghujung
tentu tidak disini
jelas ditengah sana
tengah-tengah lumpur hedon

gagak juga burung2 nazar
mungkin kan segera berpesta
tentu,disini
kelak disana
disini lebih dulu

hingar
gelak para babi berdasi
tingkahi badut2 betina berkilau palsu

tunggu...
ampas hidangan
hangat terhidang
menyeraki istana-istana kristal
mungkin dapat jadi peneman kubur kita
ken_the_12
bakar
dan ini hari memanas
betapa gedung yang kekar
lenyap tak berbekas

hingar
selayak gagak dan nazar
betapa gelak para kurcaca
betapa kurcaci menjerit duka

dunia dalam derita
bakar saja hingga rata
hingga duka kurcaci tak berbekas
hingga tawa kurcaca tiada jelas !!
betra
matur suwun
wahai pujangga
atas sejuknya sambutmu
ken_the_12
QUOTE (betra @ May 21 2009, 09:13 PM) *
matur suwun
wahai pujangga
atas sejuknya sambutmu


makar jiwa ini
hingga teriak
bakar diri ini
hingga terserak

aku ini hanya abu
atau pena yang bisu
aku ini pejalan lusuh
ditengah hari yang rusuh

Hug.gif

pangestu
betra
3 sorakan dgn gelas terangkat
bilas derai tawa tadi
keringat kian hangat
seolah restui
peringai dungu sebaris punggawa pelagak dermawan

saudara kami
sedang terbungkam bubuk nasi
karat dlm otak tak berisi
tak dosa bagi kami
doktrin jua ironi beringas disuapi ditiap penggal waktu

sedang tuk dikau nan terhormat
habiskan isi2 gelas itu
hingga arak menyekat
gelak pun jadi sabda pendita ratu

jiwa2 penat
pantas sekarat
sebagai tumbal modernisasi keparat
alas keranda dewa birokrat
ken_the_12
aku peras anggur itu
dari cawan yang beku
aku reguk dengan sangat
betapa dahaga ini melambat

aku mengais nasi itu
dari pojokan ambisi yang dungu
aku ambil dengan cepat
betapa perut lepaskan lapar yang menjerat

sedang pada dirimu itu
singkirkan segala tanda seru
walau aku menjadi belagu
setidaknya aku jujur kepadamu

pada bentuk jiwaku yang berkarat
pada kataku yang melarat
pada 'aku yang sekarat
inilah 'aku hakekat, diam bergerak memutar sa'at..

Hug.gif

pangestu
ezafallinsadness
hidup yg mulai menjemukan ..
mulai terasa mencengangkan ..

hati yg tlah tertelan ..
perih oleh kelakuan ..
manusia jalang yg tak mengerti keindahan ..
tak mengerti arti gelora cinta dan kasmaran ..

terasa sepi ..
ketika dia pergi ..
beranjak jauh dari sini ..
dan bergelimpang caci maki di dalam hati ..
dan akhirnya mati ..
dalam ketidak percayaan ..
The Hide
hubbu dunya meresap dalam jiwa
diikat melingkar oleh tali kemunafikan
berlomba mengejar piala semu bahagia
ahhhhh peristiwa yang selalu berulang
tetap saja tak menimbulkan kesadaran
hikmah, kunci yang hilang.
hubbu dunya meresap dalam jiwa
diikat melingkar oleh tali kemunafikan
berlomba mereguk anggur berbisa
ahhhhh peristiwa yang selalu berulang
tetap saja tak memberikan pelajaran
hikmah, kunci yang hilang.
hubbu dunya meresap dalam jiwa
diikat melingkar oleh tali kemunafikan
terlupa ajal dan wajah-Mu di mata
betra
trimakasih
ternyata ada manusia disekitarku
The Hide
^^^ your very welcome, dari better_man untuk betra. BigGrin.gif
betra
tulang tulang iga
menyembul nyaris tak terbalut
asupan minim pengganjalnya

ayah
bunda
usah bersedih
tampar murungmu

bentuk cobaan
bentuk ujian
ini hanya

bapak
ibu
tebalkan ikhlas
tinggikan sabar

perahu nan berlayar
hidup ini

haraplah surga
kejarlah hakiki
buatlah Ia tersenyum

dunia ini bangkai
daging busuk
dikeroyok anjing2 rakus

surgalah yg sesungguhnya
tak menyisakan tangis juga pedih

derita sekarang justru manis
duka saat ini adalah titian
penghantar pada muka jannah
betra
usai kesenduan berlapis-lapis
ku jumpai
semangkuk airmata

terbias bayangan derita
berkawan dengan wajah muram
kaum kusam
insan2 papa di dalamnya

terbelah langit
memecah bumi
oleh tangis dan amarah mereka

retakan pd kulit bibir
gembel2 di pojok negeriku
simpulkan
semua perilaku para penguasa
dgn laju dinastinya
anak_cecil
tersentak
ku mulai tersadar
terbangun
mencari gelap

berjalan
tiada henti tak arah
mendengar
lekuk tubuh dari bumi
melihat
tiap tetes darah mengucur

membaca
untuk dunia dalam derita. .

^^
betra
makasih buat yg mau menambahkan
lanjut
betra
ga bs dibantah lirik dibawah ini emang...legendaris

Perang perang lagi
Semakin menjadi
Berita ini hari
Berita jerit pengungsi

Lidah anjing kerempeng
Berdecak keras beringas
Melihat tulang belulang
Serdadu boneka yang malang

Tuan tolonglah tuan
Perang dihentikan
Lihatlah ditanah yang basah
Air mata bercampur darah

Bosankah telinga tuan
Mendengar teriak dendam
Jemukah hidung tuan
Mencium amis jantung korban

Jejak kaki para pengungsi
Bercengkrama dengan derita
Jejak kaki para pengungsi
Bercerita pada penguasa

Tentang ternaknya yang mati
Tentang temannya yang mati
Tentang adiknya yang mati
Tentang abangnya yang mati
Tentang ayahnya yang mati
Tentang anaknya yang mati
Tentang neneknya yang mati
Tentang pacarnya yang mati
Tentang ibunya yang mati
Tentang istrinya yang mati

Tentang harapannya yang mati

Perang perang lagi
Mungkinkah berhenti
Bila setiap negara
Berlomba dekap senjata

Dengan nafsu yang makin menggila
Nuklir pun tercipta
( nuklir bagai dewa )
Tampaknya sang jenderal bangga
Dimimbar dia berkata

Untuk perdamaian (bohong)
Demi perdamaian (bohong)
Guna perdamaian (bohong)
Dalih perdamaian (bohong)

Mana mungkin
Bisa terwujudkan
Semua hanya alasan
Semua hanya bohong besar

betra
baru saja membujur
sepenggal episode uzur
lama mendekam
tertindih dilipatan otak dalam

perempuan belia
dihantar takdir
mengetuk menyelia
di hari mati tak bernama tak bertabir

gersang juga jengah
akrab melekat
perempuan muda gundah
terpaksa bungkam malu nan mendekat

di muka rumahku
ambang pintu lapuk
berseru ia
"jadikanlah saya pembantu
agar periuk nasi tak meremuk"
begitu mengiba ku rasa di telinga

apa yg bs kami kata
panorama kelu jua lingkupi,kami
getar peduli pasti kami punya
perangkat pendukung belum ada pada kami
betra
temaram sinar lilin di tengah pandanganku seakan hisap segala suasana ceria di bumi
bayangan memanjang dari tempatku bersandar sejalan dgn hela nafas panjang
ku menerawang
3 hari yg lalu membersit kabar ke rongga teling dan menggumpal dlm benak
seorang bocah perempuan menuntun neneknya nan renta
ke dalam lorong panjang putih dan dingin
raga nan dibelit rasa sakit mendapat penolakan diujung lorong itu
sesosok bidadari putih ajukan syarat
syarat tersulit bagi nenek dan cucu perempuannya
administrasi tetek bengek

ooooooh...
wahai para manusia jgn sampai kau sakit jika miskin msh jd statusmu
krn siapa perduli isi kantongmu
tengoklah disana
tengok bangunan megah putih nan angkuh di sana
berdiri kokoh pancarkan aura dingin ke segala penjuru
nyaris segalanya putih
namun
jika kau beruntung dpt susuri lebih dalam
mungkin kau kan jumpai warna lain
bentuk kontras dgn sekelilingnya

hitam, ya hitam
hitam dlm palung terdalam nurani para punggawa bangunan itu
ku dengar punggawa2 itu dilantik di bawah ikrar sakral
tuk jadi malaikat penyelamat bagi si pesakitan

malaikat yg diharapkan
iblis yg menjelma

uang sebelum obat
uang sebelum rapatkan mata
betra
"5 menit lagi
aku hny mnt 5 menit lagi
tuk sambung lelap"

wanita indah disampingku berujar lembut
"sayang,knp tak kau ambil 15 atau 30 atau 60 menit lagi
bahkan kau bisa nikmati sehari penuh dalam buai mimpi
hari ini kita masih menganggur,hari ini realita tetap mirip "

kutengadahkan kepala dan haturkan do'a
lalu campakkan keras kabut
ditengah lantunan adzan subuh nan agung
ku coba tegakkan jasad
perlahan kubelai rambutnya dan bisikkan wejangan sederhana
"cintaku,kita tetap harus berdo'a kan?
kita tetap wajib tunaikan perintahNya kan?
tak peduli badai tak peduli kelam
walau kita masih miskin atau telah sejahtra
mudah2an gubuk reot ini kan diganti istana emas
mudah2an derita kita kan berbuah tawa
dan semoga tangis kita kan surut oleh belaianNya
di.....surga kelak"


betra
pendidikan gratis tuk semua

bla...bla...bla

1 lagi slogan dari tumpukan basi

humor kering membosankan

bukan begitu,kawan

sajak ini hanya picisan

namun setidaknya jujur,nyata, dan konkret

tak seperti sebait katamu

cuih,rasa dan karsaku mendadak tumpul

imaji enggan melayang

hah, cukup begini saja ucapku

terlalu mahal waktuku tuk tanggapi dagelan tak lucumu

telan saja bait itu sendiri olehmu

kenyangkan perut besarmu nan berguncang

hingga kau tersedak

sampai kau tercekik

dan tak usah kabari aku bila ajal jumpaimu



betra
"tolong,selembar saja pak
selembar bukti bahwa kami miskin
runutan ini sakiti kepala
hisap terus bulir waktu
persingkat lah pak
walau tak jelas
meski tak butuh tp saya harus
dapat selembar itu
gurat kasar pd muka saya tak cukupi
keaslian status
aduuuh,bahkan saya pikir
juragan di sana bisa berobat gratis
setelah dpt selembar keterangan itu
kertas putih tipis dgn torehan lebih dipercaya
dibanding seluruh hidup kami
kenapa ya pak?
perih sekali,knp mematung pak?
antrian makin panjang
jatah segera habis
ayo, pak.selesaikan"

"gadai kan yg kau pny
baru kau pny selembar ini
yaa,paling tidak....mungkin"
betra
aku adalah rakyat,rakyat,rakyat
kaos oblong ini terbeli setahun yg lalu dari hasil menjual botol bekas
sandal jepit ini,sudah putus tapi masih bisa kusambung dengan tali rapia
celana pendek ini pun entah dari kapan,yg ku ingat,bulan kemaren aku potong
celana dalam?enggak usah kau tanya

aku adalah rakyat,rakyat,rakyat
jas mewah ini terbeli dari hasil nilep proyek jembatan
sepatu kulit nan kinclong made in singapure pun terbeli ketika kunjungan kerja
celana panjang ini pun dibuat oleh butik ternama di ibu kota
celana dalam?selalu aku lepas ketika ngamar dihotel berbintang lima bersama wanita

aku adalah rakyat,rakyat,rakyat
hari ini aku makan nasi bungkus,tidak membeli,tapi meminta
minum aku dapat gratis di warung dekat terminal
merokok,ya..aku merokok dari puntung-puntung yg masih panjang
jangan tanya apakah aku minum alkohol

aku adalah rakyat,rakyat,rakyat
breakfast aku di hotel tempat semalam indehoy bersama panlok
makan siang di restoran bersama kontraktor yg siap menyodorkan amplop tebal
sebelum dinner aku nongkrong dicafe sambil cuci mata
makan malam tentunya di restoran atau dihotel,tergantung situasi
alkohol?sudah pasti aku minum seminggu sekali di diskotik terkemuka

aku adalah rakyat,rakyat,rakyat
kaki ini adalah kendaraan termewah yg pernah kumiliki
keringat dan bau sampah adalah teman sehari hari mencari rejeki
beban berat pun terkadang kupanggul di pundak demi beberapa rupiah
terkadang kujual suara ku bersama gitar usang atau tutup botol yg kupaku pada setangkai kayu
gaji??kita bahas yg lain saja

aku adalah rakyat,rakyat,rakyat
moge dan mercy tersimpan aman di garasi,sehari hari aku pakai jaguar kemana saja
keringat dan bau adalah teman diranjang bersama wanita malam
untuk memasak bahkan menyalakan televisi tinggal pencet remote
oh iya,aku punya supir pribadi dan segala macam tukang dirumah dan dikantor,tinggal perintah
gaji?ah..itu hanya syarat untuk membuat kartu kredit,incomeku proyek dan amplop tebal

aku adalah rakyat,rakyat,rakyat
sakit kepala,tinggal di ikat,terluka karena benda tajam,tinggal diudap air ludah
bila demam atau sakit parah,aku hanya bisa tidur,tidur dan tidur
bila mati,paling pak RT yg tak kukenal,atau dinas sosial,atau polisi yg menguburku
yg penting aku mencium tanah dan jasadku dimakan belatung
dan semoga aku bisa masuk surga

aku adalah rakyat,rakyat,rakyat
sakit kepala,aku bisa panggil dokter pribadi untuk memeriksa ku
chek up rutin tiap bulan tinggal minta rembeus sama kantor
bila sakit parah,ruang VIP rumah sakit telah menanti ditemani suster cantik dan seksi
bila mati,sirine polisi akan membuka jalan menuju makam,iringan pun berjubel penuh
peti mati seharga milyaran menjadi kamarku di alam sana
dan semoga aku bisa masuk surga

aku adalah rakyat,rakyat,rakyat
betra
si kecil ini
lalat tak berarti
hny dianggap usiki
diinjak sampai mati

kurus
lusuh
dekil
wujudku

kaki2 rapuh
menginginkan pembasuh
bahu kering legam
rindu hangat menggenggam

si besar disana
raksasa buncit
buas sekali seringainya
buatku mencicit

tebal daftar belanjanya
lebihi lapisan dagingku

kapan semua jadi imbang
bisakah mendekat jurang pemisah
antara...


betra
disini kami bisa menikmati cicit tikus
didalam rumah miring ini
kami mencium selokan dan sampah
bagi kami setiap hari adalah kebisingan
disini kami berdesak-desakan dan berkeringat
bersama tumpukan gombal-gombal
dan piring-piring
disini kami bersetubuh dan melahirkan
anak-anak kami

didalam rumah miring ini
kami melihat matahari menyelinap
dari atap ke atap
meloncati selokan
seperti pencuri

radio dari segenap penjuru
tak henti-hentinya membujuk kami
merampas waktu kami dengan tawaran-tawaran
sandiwara obat-obatan
dan berita-berita yang meragukan

kami bermimpi punya anak-anak
tapi bersama hari-hari pengap
yang menggelinding
kami harus angkat kaki
karena kami adalah gelandangan
betra
hari ini aku sakit
namun harga obat menjulang tinggi
yang katanya generik dan terjangkau
hanya bisa hilangkan sakit kepala
bukan sakitnya isi kepala
lebih baik aku mati

hari ini aku mati
namun sejengkal tanah enggan melumat
karna keluargaku tak mampu
penuhi segudang syarat birokrat
aku pun hidup lagi ...

hari ini aku hidup
namun tak tau berteduh dimana
semua sudah digusur
bahkan sekedar berdiri pun susah
apalagi mencari nafkah
kawan bilang jaman sudah edan
jangankan cari yang halal ikut pak haji
yang haram saja sudah banyak saingan
jadi mau apa lagi ?

hidup susah ... sakit payah ... matipun susah setengah hidup
sudahlah ... aku cuma bisa mengadu dengan Tuhan
mau dikemanakan raga dan nyawa ini
aku sudah ga peduli
mampus sana !


betra
joni tanpa nama
kecrek2 sampai bengek
titik nan serupa
pada trotoar singgah merengek

menit ke menit
berkelebat menjemput rizki
melanglang tanpa pamit
krn yg lain banyak umbarkan maki

joni tanpa nama
mungil mendekil
gosok2 alas kaki di bawah purnama
panggul lusuh sang kotak kecil

kemapanan tak jauh
mantap mengambang
di antara laksaan peluh
hidup dan mengangkang

joni tanpa nama
berkumpul banyak
dgn harta tak berima
lalu terhempas coba tuk nyenyak
betra
menjalar serat-serat bercendawan
masuki tanpa permisi
jasad kusam tak berharta
menggigit pelan daging secuil

sekelumit tegang
bauri resah gelisah
sampai picu waswas dan putus asa

hari naas tak teraba juluran intuisi
intai selalu sesi nan tepat
sementara racikan pengobat
antara ada dan tiada

salahkah mata beringas
depan saku menganga

siapa yang berdosa?
betra
serasa asa telah angkat kaki
beringsut pergi jauh dari ranah kami
sejalan dengan gerobak cendol si mamat tetanggaku
nan diboyong kasar petugas pamong praja

eko,teman mudaku
ahhh....
sabar ya dik
ibumu tengah urus segala surat keterangan
tuk tebus segera engkau dari bui bau

tunggu... tunggu...
mengapa yang terhormat bapak RT meminta sejumlah upeti pada ibumu?
dan kenapa pula si kamtib baik hati gamit lengan eko
ketika sandang gitar usang coba taklukan keras kehidupan?
betra
usai riwayat 1 generasi
mudah saja menebak yang diestafetkan
angkatan selanjutnya terima mandat
tolak? ku rasa tak kuasa

strata rendah bersama finansial melarat
tongkat estafetnya
pangkat yang diserah terimakan
harap melestari

ku pikir... peduli dan kedermawanan murni sudah dimuseumkan
atau mungkin telah disuakakan
mungkin juga sudah lama tersangkut di buku-buku pelajaran
dan lengket tak mau lepas pada dongeng-dongeng purba

apakah satir ucapku
siniskah pola pandangku
betra
dalam kamar luas sejuk berkilau
tetes liur marak mengucur
sejalan dengkur makin menguat
walau santapan tadi belum sempurna tercerna
brrrrrt...
beralih sebentar ke depan rumah

sosok di muka halaman seperti terusik
gerangan kerut apa kusutkan hatinya
sang orang asing teruntuk banyak orang

mata mengatup
namun sadar masih penuh
mustahil dengkur mendengung
tapi....
1 benang merah akhirnya tersibak
dapat jua teraih dan dibaca
hmmm...
tetes liur sama berkecipak di dirinya
pencernaan sama beroperasi

di dalam kamar kenyang berliur
di luar halaman lapar berdecak ludah
betra
bopeng
sedikit terkupas
kulit wajahnya

merayap sendu
tak kuasa mengejar
laju dunia yg tinggalkannya

awan di atas
menggumpal
siratkan atmosfer batin

sendiri
telah sendiri
dan masih sendiri
akrab dengan aspal
entah
letih
entah
rela

ku rasa
pekuburan pun
tak sanggup di bayar....... nya
bilamana akhir tiba menyapa
betra
santai
laksana turis di pantai
singgah berdansa pada bening lantai
menyeruput cepat sebelum tawa usai

mungkinkah tercapai
mampukah terbeli tanpa lunglai
takut, ku takut di ujung petang hanya tragedi lagi
kuasa pada regulasi
meski teriak parau mendesis tiada henti

hancurkan saja daftar jadwal basi
ku yakin mentari pagi selalu dijemput ironi
tarik jauh manis pada kopi
singkirkan sekedar remah2 roti
bahkan kepulan nasi di dandang kan diseret pergi

empuk ranjang
bersama harta menggelimang
jaya abadi puluhan windu
cukup dengan tunjuk,perintah dan picu
milik kelas mana?
punya golongan siapa?
betra
miskin
dan menjadi miskin
garis takdir
bukan aib
bukan kesalahan

ujian
cobaan

teruntuk kalian
penggenggam erat gudang harta
teruntuk kita semua perasanya

cawan kering
diam merinding
nanti tetes derma sang asing
tuk silih berganti punguti puing
bahu membahu berdampingan rekatkan pahala sebanding
betra
tuhan...
dia terlalu renta
dia nyeri
oh rabbku...
kemana garis keturunannya
dimana waktunya menanggalkan beban

terseok
hujan juga kemarau
sekedar gelorakan santapan di meja makan
entah ada yg peduli atau simpati
mungkin banyak nan tau
sebatas wacana dan konsumsi warta
jelas mata batin mereka tak terusik
jelas bagi mata kepala ia perusak pemandangan
mata kepala mereka nan terusik

tuhan...hamba mengiba kehadiratMu
bungkuslah kalbunya hingga tetap
hingga kokoh di garis nan Kau ridhoi
kasihi jiwa usangnya
pasti cintaMu nan terbesar pada kami

kerut diwajahnya
garis2 dalam di sekujurnya
masih sandang berat nestapa
rutin tiap pagi menyapa
anak_cecil
berjalan lusuh mencari nafkah
mencari sampah dalam lautah berkah
.
tuhan,
bantulah hambamu itu,
berbaju compang camping
tubuh kurus penuh tulang
kaki kecil letih dan lemas terus berjalan
tak kenal lelah tak kenal malas
demi sesuap nasi dia kumpulkan setumpuk sampah
.
tuhan,
limpahkan rizkimu kepadanya.
atau tambah sampah kami untuk dirinya. .
betra
masih depan kalian
tetap meracau ku tak jenuh-jenuh
tentang... ah, tentu kalian paham

rasa-rasanya jemariku tak mau lagi menggores
laksana berprotes terhadap perintah syaraf
kepulan inspirasi tetap saja diletupkan aspirasi...si suara hati

kira2 bginilah hasil pergumulanku dgn sel2 otak kanan...

maharaja tambun
reguk anggur murni embun

hamba sahaya bermahkota angan kosong
terbahak akan masa depan melompong
siang terik lamunkan nasib baik
jauh dari kursi sri baginda

baginda nan khayalkan ambisi
lagi...

roda patah pedati tua
menonton hanya
sang kereta kencana melayang ringan
sedekahkan sisa harum istana putih
The Hide
pada lautan darah yang berhamburan. .
aku merencanakan pembalasan
sebab kau, api yang menghantam tubuh
saudara saudara sendiri
maka pedih tak tertuntaskan
tak terbayar pun dengan pertanggungjawaban
dendam tak akan usai
sebelum aku koyak kau dalam kepingan
dan aku puas saat menyeka sangkur
dengan darah mencurah dari otakmu
ken_the_12
hanya mereguk titik gemintang saat raga membujur
dilembut hamparan hijau
habiskan kepul asap putih seiring gemericik bumi melemah
damai,
tak ada manusia lain sejauh mata memandang
jauhi hari,
perlombaan raup duniawi dan sikat siku hari..

… … …

dunia dalam derita
kehidupan diluar sana
rumit dan jauh lebih nyata
keras terlahir
dan jutaan hikmah muncul menemani
dunia semakin bebal
aku pun terdiam kesal..


*
short message request, fulfill.. ImNotWorthy.gif

Hug.gif

pangestu
djoedjoer berboedi loehoer
QUOTE (ken_the_12 @ Aug 15 2009, 11:23 PM) *
hanya mereguk titik gemintang saat raga membujur
dilembut hamparan hijau
habiskan kepul asap putih seiring gemericik bumi melemah
damai,
tak ada manusia lain sejauh mata memandang
jauhi hari,
perlombaan raup duniawi dan sikat siku hari..

… … …

dunia dalam derita
kehidupan diluar sana
rumit dan jauh lebih nyata
keras terlahir
dan jutaan hikmah muncul menemani
dunia semakin bebal
aku pun terdiam kesal..


*
short message request, fulfill.. ImNotWorthy.gif

Hug.gif

pangestu

ku ucap trima kasih
betra
guruh kisruhkan paruh paruh kumuh
terlentang pada tanah landai
atap separuh
permadani selembar kertas warta
dan...
hujanlah

makhluk2 pengerat keparat
berlomba puaskan nafsu di saat sepi
dan...
hujanlah

kaki kotor bergurat kering
teruntai menjulur segenggam nasi basi
enyahkan
entaskan
usaha jaga martabat
di hadangan lapar menelisik
dan...
hujanlah

hujaaaaaan...
cuci bersih darah beku
mandikan keluh kesah
bilas linangan di sudut piring dan mangkuk

hujanlah...
betra
dik cilik wajah cekung
menepi kala lantunan takbir menggaung
semata wayang dlm pengertian sebenarnya
kosong tatap, kosong saku, kosong rongga pencernaan

iba tak ia pinta
kepalannya hanya melonggar
di sesi sesi tengadah do'a

dik belum 10 tahun
sukacita dlm lipat koran bekas alas sujud

pekarangan masjid pagi tadi
hari ini
ketika riang berlebihan kita pecah khusyuk 30 di belakang
TheCriminalCat
jeritan sepi..
air mata mengalir bisu di pipi..
anak kecil di ribaan..
cuma tau menangis dan menangis..
eksperesi kepada lapar..
dimanakah hendak ku cari..
sesuap nasi untuk mengisi perut2 kecil yang kosong itu..
suami..
aku tak tau dia dimana..
dia sudah pergi dari hidup kami..
sejak dia akrab dengan serbuk putih pengkhayal itu..
sejak dia mengenal dunia jalang..
aku hanya sampah..
pembekal duit..
penerima pukulan..
pemuas nafsu..
lebih baik aku tak bersuami..
rumah usang ini..
telah menyaksikan penderitaan kami..
suara si kecil.. bergema lagi..
memecah keheningan
perut nya minta di isi..
betra
terbatuk...
seok2 papah belulang lapis kulit
kayu kering patuh di bawah pegangan tangan
dia butuh apa yang kita panggil, rumah
uban beriap ditampar udara bertimah hitam
aih...berlomba dengan lalat dan kucing kurap
pungut santapan di onggok sisa2

cucuran rinai dari griya tawang sebelah tikar jerami
usik mimpi berlubangnya
ia mengenal bangunan mengkilap itu
10 tahun yg lalu...
rasa sendiku kan putus,bila ceritakan perihal itu
airmata seakan menggempur pori2
cukup...
tak perlu ku kisahkan...anak perempuannya nan muntahkan ia ke tepi jalan krn jijik pd si tua miskin
financebbs
seorang ibu menyeka air mata di pelipis
meratapi hidup yang kian hari kian bengis
seakan makin menjajah kaum marhaenis
yang jiwa dan raganya telah teriris-iris
betra
lama sekali kutatap
dia...
sang orang asing
bagi mataku

derapnya menggantung
meraba
penuh waspada

hah
berat kulepas
nafas

terletup ingin
sapa ia
sang orang asing
bagi hatiku

bisik aneh
cekat niatku
urung

sedikit sedikit
ku letakkan raga
pada kotor trotoar

benak serta batin
tak henti berkecamuk
tentang dia...
sang orang asing
bagi otak kusutku

berjuang...
diantara...
kejam realita

tanpa...
dua bundar... mata

empati simpati empati simpati
akhirnya tertumbuk pilih
pada empati
maka...
licinlah pipiku
teraliri tangis
dan...
kecamuk pun merinai
basah hingga
mata hati

bayang pun jadi hidup
paparkan kisah keluh
cerita kesah
dia...
sang orang asing
bagi palung sanubari
kita
betra
tangan2 itu
bercak bercak hitam
kuku kuku tak terurus

mengepal
menjulur
lalu membuka
4 lembar rupiah kotor lg kusut
kemudian berkata kata seiring tersedu
"ibuku msh tergolek lemah usai lahirkan adik,2 hari yg lalu
ini sudah sedaya upaya ku ikhtiarkan
tapi...
tapi...
barusan ku saksikan seorang bpk paruh baya berbatik
keluarkan sekantung yg seperti ini
tetap belum dpt tuntun pulang anak perempuannya"

helai di ubun2nya
menitikkan peluh
dan jatuh di pipi nan telah hanyut
anak_cecil
jeritan kesakitan nya terdengar
dalam auman keras.
dalam nikmatnya berteriak.
sang bocah merintih
berbagi sakit untuk ibunya yang sedang terbaring
lemah, tak berdaya
mencoba hidup, ingat sang anak
yang makannya hanya berdua
yang hidupnya cuma berdua
yang susahnya tinggal berdua
suaminya kabur,
dengan wts lokal
bermodal uang,
habis berjudi dia mabok,
habis mabok dia senang,
habis uang dia kabur,
isrinya sekarat,
seraya berkata,
dunia ini cukup kejam untuk ku,
semoga kelak,
akhirat tidak kejam. .
erik241992
waduh
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.