Help - Search - Members - Calendar
Full Version: sebuah galeri kontemporer
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Poetry Room
Pages: 1, 2, 3
betra
kotak kecil ini kutinggalkan
kuwariskan
teruntuk kalian
adik2 tunas baru zaman nan ingin serta akan meracau,memaki,menumpahkan serabut2 kental dihati yang tak sudi dibelenggu norma usang yg memang telah terkulai,terdistorsi
juga bagi para pengembara udara se-angkatan se-generasi ku,kalian tau yg harus dilakukan
serta pelopor2 dan leluhur yang sudah masuki tahap "beliau"...basuhlah kotak kecil ini dgn segala arif dan bijakmu
betra
pontang panting aku berlari
mengejar semua mimpi-mimpiku
dari pagi dan pagi lagi
bikin hidup lebih berarti

kadang terasa asing rumahku
berteman dengan jalanan
berkelahi dengan waktu
untuk terus bertahan hidup

aku kehabisan udara
dan sulit untuk bernafas
isi otakku berkarat
buntu ga ada lagi jalan

aku ingin santai
bukan dengar nasihat
aku cuma ingin teman bicara
yang dengarkan aku
hibur diriku
bantu lepaskan semua bebanku
dan membuat ku tenang
The Hide
rasanya ingin aku bunuh rutinitas ini
aku bunuh langsung seketika itu juga
dan bebaslah aku dari kungkungan
lalu aku pergi
menjumpai sepi
berkelana di tempat semayamnya kata-kata
dan aku tuliskan jadi bara
menyala!
tersibak gelap dan
kulihat kau juga disana
dengan tatapan yang tak setiap orang mau memandangnya
jalang dan nanar
rasanya kau membunuh rutinitas yang sama
betra
ha.ha.ha
3 sorakan untukmu
untuk kita

berlayar tak pikirkan berlabuh
mengepak ke batas terakhir semesta
nenek moyangku seorang pelaut,mereka bilang
heh,ganti slogan...nenek moyangku penipu dan berbaring membusuk
pengembara udara,ya itu ku suka

ke aku an
jalin dgn biasa
sambil sandang kotak sejuta mimpi
selagi msh ada celah tuk rubah dunia

pola 1 bait 4 baris
akhiran ab-ab
ciiih,telan saja olehmu hingga kenyang

hey,jalang
apakah telah masuki kecepatan cahaya
kita sekarang

salam-salam dunia fana
kami mengangkang dpn surya pagi
mungkin aku dan dia yg msh belum...
belum berperut buncit di usia kami

1 pasti jelas
hny kami nan mengusung kembali
semangat bawah tanah
yg telah dilupakan
yg telah kalian coba ludahi,injaki dan hajati

hey,nak
usap lembab itu di matamu
cinta bukan hanya pacar
sejuk banyak menanti tuk dihargai

ini merdeka diluar 63tahun yg kmarin
potro
busyetttt bagus" tuh puisinya ...


mau donk . . . . .
The Hide
Ya ya ya akulah pengetahuan terbatas
kemampuan sejengkal
Ya ya ya akulah bentuk kelemahan
hanya saja perlu kau tahu
ketidakramahanmu tetap saja bisa kubaca
[ketidakramahan yang bagi setiap orang
dibaca penolakan bahkan pemberontakan]
sebagai kejujuran
sekali lagi, dengan kelemahan ini
tetap saja itu bisa kubaca.
Kawan, bisa jadi perjalanan hidupku
tidak sekeras dirimu.
perjalanan yang membuat dirimu
matang dan gampang menangkap
segala bentuk wajah kepura-puraan
Disini, aku menyambutmu
untuk membaca dan memahami.
Kecepatan kata-kata
bukan kecepatan suara
atau bahkan kecepatan cahaya
Disini aku, bersama kamu
dalam kemerdekaan kata-kata.
djoedjoer berboedi loehoer
duhai,kakak tersayang
tiada guru disini
bukanlah murid kita berdua

wahai,sobat terpuji
hanya ada imam
cuma ada makmum

kau imam
aku si hina memakmumi

tegakah kau bebani aku
lewat ribuan kati puja sanjung
pantaskah si bodoh ini
memberi ajaran

oh,kakak terpuji
mari sama teguk saja larutan ini
betra
yth,bapak ibu guru di tempat
terbetik tanya dalam benak kami
maka,melayanglah sepucuk surat ini
moga tak tersesat menuju anda

maaf kiranya...
pabila buruk guratan kami
dan semrawutnya tata bahasa kesopanan kami

bapak,ibu...
adakah sesuatu nan dalangi sedikitnya perhatianmu dalam kucurkan pengetahuan pada jam-jam pelajaran
benarkah kabar dihembus angin bahwa itu sekelumit taktik bapak ibu tuk hisap kami ke depan sesi2 les yg kau buka di pondokmu
sejatikah ucap kakak-kakak kumal disana tentang kalian berkomplot bersama juragan2 buku paket agar selalu tercipta tambahan biaya tiap awal bulan
lalu,apa sebetulnya beda antara pendidik dan pengajar pak,bu
mengapa generasi kami menjelma jadi kaum acuh & penganut falsafah bebas tanpa tepi

bapak,ibu
terakhir,jawablah dgn sentuhan bijak
kenapa kami merasa isi kepala menumpul kian hari
petunjuk2 pada lembar teori seakan menipu...membodohi
karena fakta di luar tak sama dgn azas dan landasan teori di bangku kelas

satu permohonan maaf lagi mengakhiri kalam resah ini
wassalam

betra
dulu,belum lama ini
ekspresi di galeri sastra
bagiku adalah representasi galau jiwa
ceracau keluh kesah
rengek semua ketidak adilan bagi relung hati
serta segenap ketidak puasan di atas altar ego

demi Dzat yg jiwaku ada di tanganNya
sungguh ku tergelak
kenapa tiada ku hirau nestapa saudara sekelilingku
apa alasanku membeo di tengah deras kasihNya
bocah pun tertawa melihatku

ah,puji syukur kini ku lebih baik dari segala itu
sekarang,metamorfosa telah lengkap
usai kepompong belia

begitu saja narasi mentahku
setelah ini dengan semangkuk penuh kebeningan wicak dan kearifan tetua
ku serahkan pada panca indera kalian

simak
hayati
halaman2 baru di pucuk penaku
betra
kelebatan nan indah
kehadiran paling cepat dlm aura beku

gagap menyapa
ku sambut seulas senyum bingung

hilang
terluka
bersama-sama

kami menampik
satu sama lain
membenci dlm pura-pura

mungkin pura2 untukku
tak tau untuknya

The Hide
Untukku?
aku lengkap mengenalmu!
bukankah sudah kusebut, disini aku menyambutmu.
hangat, dalam kemerdekaan kata-kata.
jadi kawan, aku tak berpura-pura mengenaimu.
Gembira aku mendengar,
isyarat perubahan darimu.
mari, kita berkelebat disini.
Dan, taburkan.
betra
baik
baiklah
baiknya lancarkan kerongkongan
dgn sapa dan pesan

bila jarak memisahkan
kedipkan gemintang
ku yakin segaris dejavu ungkapkan
lebih baik atau buruk tetap cerahkan dendang

untuk saat ini
jawab saja kejanggalan ini

adakah di sana lirik menjadi bau
tangga nada diburamkan picis
bunyi2an melantun murah
kehendak tuan berdasi manis
betra
nuansa itu datang lagi
inspirasi membentur kebuntuan
tak tau akan berapa lama seperti ini
bedebah
daya rasa,cipta dan karsa...patah
perlahan tedengar dahan2 meretak
kering terpanggang
tidaaaak,jangan seperti ini
setengah mati ku hidupkan
imaji yg dulu juga lama hanyut
aduh
apa memang wktnya ku sumpal mulut
berjalan ringan menuju... rumah
tunggu
nikotin dan kafein sedikit lagi
aaaach
tak pengaruh
pulang
ya surut beringsut
benahi otak kusut
The Hide
Lirikmu berbau hujan
dingin menyegarkan
ah tak kutemukan sedikitpun
kejanggalan! kecuali kini
aku tak melingkarkan benci
dan manisku, kuyakinkan padamu itu bukan siklamat basi.
meski pagi ini, tiba-tiba menyeruak tanpa permisi.
lagu yang tak pernah kudengarkan lagi
picisan picisan
jadi belati
sepi
betra
pemabuk di pelukan pelacur jalanan
tabungkan keping-keping dosa tuk akhir zaman
gadis kecil berbusana bidadari
sayu pada sorot mata tatap asa hari-hari
sementara
ribut-ribut di sana
teriak-teriak jadi gila
semarakkan amarah membara
lawan...lawan...lawan
terselip maksud tersembunyi
tak ada juntrung berakhir buntung
menghasut massa di songsong laras senapan dan 1 dinasti gila
lalu di sudut-sudut
berserak yg selalu pusing
habiskan waktu urusi cinta,patah hati,bersemi lagi,hancur berantakan
merengek,mengeluh,memelas di wajah yg terlanjur buruk kemudian berlebih-lebihan

lekuk waktu kian jemukan
dilatari tontonan membodohi dan simphoni murahan

di bawah dan tepi-tepi
serangga ringkih kais-kais rezeki satu kandang dengan reptilia buas berseragam rapi

dan...
akulah, di tengah-tengah
terhimpit
dipaksa keadaan...bertahan
walau perjalanan nampak ironis
ken_the_12
menyublim sekali lagi,
saat semua terlelap,
saat gelap beri rasa damai - saat 'tlah hening..

aku cinta sekali malam yang memeluk dengan mesra,
membuai dan lindungi laksana ibu,
dan aku anak terkasihnya, anak malam..

gelap memanggil dari balik belukar,
dibawah pendar dewi bulan,
pendeta kata-kata, betra sang pujangga..


*
inspirated dari sms tengah malam,
yang mungkin 'kau lupa tapi tetap kuingat..
Hug.gif

pangestu
betra
oh,tak kan pernah ku lupa temanku
haru sekali ada yg perhatikan diriku
bangga rasanya ada yg menghargai si bodoh ini

terima kasih nawak
ku layangkan tanpa sajak berlebihan
betra
di atas ranah nan elok
di putari bukit2 hijau berkelok-kelok
kampong2 sederhana bermartabat
lingkari hari dgn syara' juga kitabullah

permai beradat tinggi
tak lekang panas
tak dilapuki hujan
santun taati pepatah petuah

anak dara jinjing cambung nasi
di terik pertengahan siang
si bujang giat kerahkan daya di hamparan menguning

kaum tua memangku anak
membimbing kemenakan
merangkul dusanak serta kerabat sekampung

dan
petang di kampung kami
khidmat dalam jalur-jalur illahi
kecil besar,tua muda
berjajar rapi dalam surau
dilanjutkan tadabur kalam-kalam suci

saat pekat,takut tiada menyergap
suluh benderang selalu membias
seorang bunda kandung
menebarnya lewat murni keping kalbu

tak ada ku tau lagi
masa sekarang ini
tetapkah atau luruh menghilang
keajaiban2 itu
bulir baik kala dahulu
kala sabai nan aluih masih melegenda
saat nurbaya berterompah pergi menyelinap temui samsul
masa malin jadi simbol peringatan bagi si buyung dan upik
atau ketika "salah asuhan" berjaya dipuja puji
djoedjoer berboedi loehoer
peringai anjing-anjing malam
riuh dgn decak berliur
ramai di belakang gelas arak
tak bosan tak malu

jelita bermandi peluh
melukis tawa renyah pemikat
titik-titik embun termakan tak di hirau
demi hasrat kebutuhan, terlentang pun siap laksanakan

degup2 jam di dinding
memberat
merah padam menatap
hujan aib meluncur mudahnya
tak bertudung tak bertirai
The Hide
kukandung banyak sajak tidak jadi
kata-kata saling mengintimidasi
bertransaksi,
semburat kusut harga diri.
hai tikus
bawa sini itu belati
ku asah dengan hati
untuk kuhujamkan lagi
tepat di dahi!
tepat di dahi!
djoedjoer berboedi loehoer
talk is cheap
lies are expensive
expensive for the payback
my wallet not fat
so
hey,man
i'm with u
against the world
against all madness
The Hide
Kata pertama ini susah aku dapatkan
lalu makin terdengar suara langkahmu
gemerincing menabur ketakutan
dan keluar kereta laju dari pikiran
sampah-sampah mengendap
yang minta didaur ulang
arrghhh, lalu ku eja itu aksara
perlahan dan berulang-ulang
semakin cepat lalu melambat
dan keluarlah kata, b a n g s a t.
betra
ku lihat gerai-gerai air hujan
menggalir normal pada kaca jendela
helai waktu maju biasa saja
kehidupan berputar pun tiada janggal

menandakan, aku yang gila
busuk sendiri tak berfusi
mengganti suasana,apalah daya
segarkan atmosfer dalam jiwa
...butuh uang
terbahak ku hingga batuk angin
rekreasi telah jauh dari beranda kebutuhan

bukan mahal
pendapatan saja nan berkurang
untunglah ada peradaban modern,televisi
ah,cepat ku hidupkan
tidaaaaaaak
irama apa ini
warta memuakkan,kriminal edan,peristiwa2 mengenaskan
politik,sinema jual mimpi,politik lagi,lalu parade selebritis

tolong bu dokter
potong saja syaraf ku yg kusut
kemoterapi jika perlu
betra
lompat lompat
di antara desak-desak
peluh-peluh meluruh
hingar-bingar hantam kepala
pemandangan remang-remang
tubuh semampai tumpang-tindih
semerbak harum campur-campur
gairah usahakan direguk silih-berganti
busana mini kerlap-kerlip

meneteslah liur bersama alkohol
jerit histeria iringi liuk-liuk manusia
akhir adalah birahi dan tak sadarkan diri

jayalah
jayalah
lantai dansa berlendir basah
The Hide
dasar jalang
bahkan perempuan seperti dirimupun
berkalung dendam
sama saja rupanya!
mari mari
aku ganyang kau sampai ke tulang
kita tuntaskan saja
lewat cara apa saja kau suka!
betra
wanita...
tulang iga...
begitulah,melengkung

bimbing
ingatkan
tuntun lalu imami

tulang melengkung
jgn kau keraskan terhadapnya
nanti patah
iga istimewa
dibiarkan dan acuhkan,coba saja
tetep bengkok ia selamanya

tengah2
ambil cara
tengah2
antara paksa dan acuh
The Hide
aku tulis sajak ini diatas papyrus
agar kau tahu kami ini serius
jadi jika kau menghunus
akan kami anggap kalian tikustikus
yang mesti diberangus
lalu kami bungkus
dalam kardus
atau kami lemparkan dalam kakus
betra
bukankah
buku-buku sejarah di tiap ruang baca
menuturkan tentang generasi muda
yang akan menjadi tonggak kemajuan

lalu mengapa sekarang mereka mati sia2

tunas2 bangsa kelak sandang beban
mengangkat berat warisan bobrok leluhur
apa hendak dikata
mereka berkumpul di kamar2 mayat,kini

tak dinyana
pada putih abu2
darah membasuh
di jubah putih biru tua
kebodohan melekat
djoedjoer berboedi loehoer
kangen,kangen sekali
ingin kucari
kemanakah kalian bersembunyi

sisa peninggalan era ku
produk terakhir nan masih bertahan

heeeeey
yang ku maksud,kalian
tentu saja kalian
pembangkang nilai2 terkulai
penggempur langit ke monoton an
pengubah kanvas berwarna seragam

ingatkah pada kumal wajah kita dulu
ingatkah akan kurus dan ringkih raga ini
ingatkah memapah kita silih berganti

sekali lagi inginku
kalian dan diriku
kacaukan jenjang tangga nada
minor mayor
di tengah parau banci-banci disini
djoedjoer berboedi loehoer
gigi gigi geraham
terus jepit hingga menggeram
urat2 kebenaran
sulur digdaya nan puritan

moncong buas
laras senapan
memapas
lebam yg nyaris meringan

tetap ku buka
lajur2 alternatif
tepat didpn hidung mereka
apakah ku terdengar naif?

geraham patah
darah membasah
aaaah,taring ganti mengoyak
1 gores perih sulut nanar menyalak

semesta kan bergolak
haaaaaargh
The Hide
tak ada sajak tercipta pagi ini
jiwa terlanjur dipaku rutinitas hari
mendera tubuh pencari materi
argggggggggggghhhhhhhh
jadi begini saja
kupersiapkan belati
menunggumu sendiri
dan layaknya pengecut
kubunuh kau dalam sunyi
setidaknya, aku tidak harakiri.
betra
he.he,he
better_man emang hebat bikin puisinya

di atas langit
di bawah tanah
mengapung sjumlah bangkai di antaranya
pada trotoar,pada kali kumuh,pada bilik sepetak dipinggir rel dan pada ruang VIP rumah sakit

nanti kan diukur
kelak ditimbang
nanti kan digelar
kelak kan ditanya

seonggok daging
setumpuk tulang
nan dialiri darah
kita....

merugikah
atau
beruntung
betra
duduk di hamparan permadani alam
di bawah langit keemasan nan mulai hitam
asap rokok melayang lalu hilang tertiup angin

kami,di sini saksikan lubang hitam
nan siap telan cerita hidup kami
ku ingat jelas
beberapa masa lalu
kami masih mengagumi surya terbenam
tenang.... hangat
entah mengapa awan kelam berbalut gemuruh
sekejap hampiri
di senja hari yang mati ini
The Hide
kita orang-orang terlupakan
diantara sekumpulan ramai
belatung pemakan bangkai
merahkan saja
sebab disini
kita adalah raja
aku raja malam
kau raja singa
dan berdua kita jelang
sepi
sunyi
ken_the_12
kita adalah kaum merah,
dari bentuk yang terjajah..
oleh mereka,
oleh kata-kata tragis..
kita adalah kaum merah,
yang tidak dipusingkan hitam dan putih..
kita lawan,
lebih baik diasingkan, daripada menyerah..

*
inspirasi kampus kuning.. Whistle.gif Hug.gif

pangestu
djoedjoer berboedi loehoer
terkesiap ku sebentar tadi
beberapa gelimpang tubuh
melintas tarik perhatian
melenggok di atas landasan...
kebebasan
kesetaraan
hak individu

aura terpancar dari aurat
malu terpencar jauhi kemaluan
birahi terpendar membumbung tingkahi

leku2 nan renyah
sanggup lumerkan keimanan
pun demikian
tubuh2 tersebut, meregang
keluarkan suara2
"hormati harkat martabat kami"
The Hide
bosan aku
selalu kau tanya
apa guna puisi?
liat saja itu pelangi
lautan
gula-gula
bola kaki
dan pakaian baru.
adakah kesenangan yang kau dapatkan?
kalau ia, jangan kau tanyakan pertanyaan kacau itu lagi
atau kukuliti kau sampai ke hati.
bosan aku
selalu kau tanya
apa arti puisi?
ini bukan tekateki
yang ketika kau peroleh jawabannya
tak ada lagi keriangan
tak lagi mencipta makna
ini misteri
tergantung di angkasa raya
dan kau layaknya berhadapan
dengan sekuntum mawar
pemandangan senja
atau wajah yang lama mengendap
ini tak perlu dijelaskan
renungkan saja
temukan jawaban
dan hentikan celometanmu

betra
mungkin ini
jejak terakhir dariku
tapak2 kaki penghabisan
sebelum ku melangkah jauh

mungkin sebuah jeda
entahlah
bisa jadi lintasan terakhir selamanya

tak tau ku tentang takdir
krn tiada sketsa rencana mengenai ini

hidup melenggang bersamaku
betra
ini teriakku!

ku benci ramai
phobia hingar
muak pada insan
ingin injak santun-santun palsu
bangsat kalian,bocah-bocah manja bau kencur
mual terhadap celoteh-celoteh sesumbar
tak suka tren mode
modis-modis banci
matilah gaya hidup hedon,liberal & individualistis

terakhir,cukup berbisikku
membusuklah di kerak sang nar
hai,penyuka duniawi
pengejek seruan illahi
perengek segala coba
penafik kucuran nikmat anugrah

The Hide
Aku dengar,
gemuruhmu.
beradu cepat gemuruhku
berdua kita hilang
membuat kekacauan
meninggalkan jejak
jadi kawan,
perpisahan tak ada disini
kembalilah kapanpun kau mau
ah, iri aku denganmu
bebas berpetualang
menorehkan semangat
kebebasan
sedang aku teronggok disini
membunuh sepi sendirian
terpinggirkan
ken_the_12
rutinitas,
cambuk besar nan senantiasa paksa dan budaki..
keji juga garang, menghardik walau jasad letih,
isi otak berkarat
dan jemu memuncak, taat selalu kita padanya

ada apa?
sukarelakah kita mendaftar jadi hambanya?
apakah ini harus ini?
dan apakah itu mesti itu?

persepsi dan paradigma,
hanya cermin bongkar pasang
geserlah dari titik yang lapuk

anugrah teragung sudah terlimpah
langsung dari tanganNYA tanpa jembatan perantara
khusus untuk insan yang memilih dan pilihan itu sendiri
lantas kenapa tungkai kaki kerap diseret sejak mata membuka tadi pagi..
hingga kantuk serbu benteng-benteng kesadaran
ataukah dari awal hidup.. telah mendoktrin dengan bentuk ironi..

*
Hug.gif Hug.gif Hug.gif
nawak betra, ken menambahkan yang ada..
dari bincang kita, dari rapal ken dan betra..
meneruskan yang tersedia,
kidung pamungkas yang membara..

Hug.gif

pangestu
The Hide
akulah ronin yang menderita
robot rutinitas yang terbelenggu
sajak-sajak minumanku
sepi gelap selimutku
aku setia mengunjungimu
rabuk rabuklah ini sunyi
suguhi aku anggurmu
yang paling nikmat
biar lenyap ini senyap
betra
Arak-arakan bawahi idiot
Dengan menuju warna-warna
Masih tak mengerti
Yang dilakukan yang sedang diteriakkan

Ini cuma permainan
Ini bukan wujud nyata

Baris pasukanku siapkan amunisi
Kau boneka yang ditipu boneka

Ini cuma permainan
Ini bukan wujud nyata

Ini cuma permainan
Ini bukan wujud nyata

Guru tak merasa ada guna
Cukup tanpa banyak tak berguna

Ini pesta apa...
pesta siapa...
pesta yg itu...
tak seperti... pesta disana...
ini Cuma....Pesta Pora...

Itu namanya kriminalitas
Bukan politik bukan taktik
Akhirnya jadi bahan lelucon
Yang tak lucu dan tak jeli

Ini cuma permainan
Ini bukan wujud nyata
The Hide
aku ini pujangga asing yang membawa
hati sebagai senjata dan otak kanan sebagai perisai
dan keduanya pun menyanggupinya sebagai teman
dalam kembara kata.
demikianlah maka aku selalu takut dan merasa
waswas pada saat lengah dan lemah tak berdaya
sebab hati dan otak kanan berubah wujud serigala buas
dan ular ganas, bila meminta kata-kata.
betra
terima kasih
untuk semuanya

salamku tuk kalian
tuk semua yg kalian kenal

sampai jumpa
senang rasanya
miliki kenang bersama kalian

namun
waktunya
ku surut
usah melambai
cukup renggangkan tangan

terima kasih
sampai jumpa
jangan lupakan si gila ini
djoedjoer berboedi loehoer
ada apa?
ada apa?
ada apa?
apa yg sebenarnya terjadi?
betra
"waaah
sejuk sekali
oksigen terhirup ringan
aroma wangi di mana-manacantik nian tempat ini
panorama hijau kenyangkan tiap mata

memang damai
dengan rimbun pepohonan
bahkan embun sudi singgah
hingga mentari naik jauh
ramah,santun & penuh pekerti insan-insannya
tingkahi makmur nan meraja

tata aturan tegas & wibawa
tentu saja karena syariat alasnya
adil tiada meliuk-liuk
ku cermati semua duduk sama rendah berdiri sama tinggi

ku dengar ranah ini kan genapkan usia
ku ucap, selamat ulang tahun jakarta
yang ke 10"

mungkin bila ada nenek moyangku yg pujangga ia kan bersyair seperti di atas
betra
tiada ku duga
terang tiupkan ode

cahya buram
dgn sosok penjaga
pastikan pilu
mesra menyorot

bunda malam
mengapa melemah
atau dikau menyerah
pasrah
panjangkan selimutmu
kecup lagi keningku

bunda
tutup rapat silau itu
benderang selalu tagih kenyataan
kesiapkan sejati nan tak adil
surya ingatkan slalu fakta empiris

aku enggan
siap belum tumbuh
sementara
buai saja dulu
bunda
bohongi saja aku
oh,dewi malam
betra
ku jalin cepat
lalu simpul ku
pada samudra peristiwa
segala warta kehidupan

maksud tersembunyi tak ada
hny pemapar dan perunut sulur
mungkin dan semoga rapikan
kusam dunia

seorang pahlawan?
tidak kuharap
tiada pernah kuharapkan
aku tak memilihnya

namun coba memperbaiki?
tentu

bidak selalu dpt selamatkan
dgn mungil tangannya
dgn rapuh kakinya
dan tulus kalbunya
The Hide
sebuah lorong gelap
dalam pikiranku mengharap cahaya
angin begitu kasar
dan dingin menggelar
konser salak anjing
bayang-bayang pohonan
di aspal jalanan memahat kesunyian
dalam batinku
di balik jendela kalender
menguning, tanggal demi tanggal
berontokan bagai daun gugur
semasa itulah lorong gelap pikiranku
mengharap cahayaNya
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.