Help - Search - Members - Calendar
Full Version: When Love Say...
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
EvenHart_cLOVEr
Ella telah berpacaran dengan Devon selama bertahun-tahun. Devon telah memebeli sebuah apartemen untuk mereka. Dan hari ini, mereka akan menginap di apartemen itu. Sore itu Ella pulang dari kerjanya lebih awal, pergi ke supermarket, membeli bahan untuk di masak nya berdua bersama Devon. Malam ini pasti akan sangat istimewa, pikirnya. Begitu juga Devon, ia membeli beberapa jenis bunga yang indah, dan wine yang terbilang mahal. Malam ini harus menjadi malam yang romantis, pikirnya.
Ella tiba lebih dulu di apartemen, ia segera masuk dan mulai membereskan barang belanjaan nya. Tak lama kemudian, Devon tiba. Ella membantunya menata bunga nya di seluruh ruangan. Keduanya terlihat sangat bahagia. Betapa indah nya hidup ketika cinta mewarnai hidup. Ella mulai memasak, Devon membantunya. Senyum terus menghias, tawa terus mengiring keduanya. Makanan pun telah siap.
Ponsel Devon berbunyi,
“Halo?” Suara di seberang sana terdengar sedang berbicara.
“Baiklah, saya akan turun sebentar lagi.” Devon memutuskan telepon nya.
“Ada apa?” Tanya Ella sedikit cemas. Devon hanya tersenyum, lalu berkata, “ Ah, tidak. Salah seorang temanku hendak mengembalikan kunci mobil ku. Sebentar yah.” Devon mencium kening Ella lembut. Lalu keluar dari apartemen nya.
Devon terus tersenyum saat memasuki lift, hingga beberapa orang asing melihatnya. Tapi ia tak peduli. Ini saat nya, pikirnya. Saat ketika ikatan cinta semakin diperkuat oleh pernikahan. Ketika kedua manusia harus berbagi dalam hidup. Ketika benang merah di antara mereka tak bisa lagi di putuskan.
Devon tiba di depan apartemen dan mencari-cari sosok pegawai sebuah toko yang tadi meneleponya. Seseorang menepuk bahunya pelan dari belakang.
“Ini pesanan anda. Sesuai dengan yang anda pesan.” Devon membuka kotak mungil berpita biru. Sebuah cincin yang indah dan berkilau.
“Baik. Terimakasih.” Ucap Devon sambil menutup kotak itu. Lalu menanda tangani sebuah kertas yang sepertinya kwitansi.
“Anda terlihat sangat bahagia. Pasangan anda pasti juga begitu.”
“Ya. Kami akan hidup bahagia.”
“Selamat untuk anda. Kalau begitu saya permisi.” Akhirnya sang pegawai toko pun berlalu. Devon menuju pelataran parkiran. Membuka pintu mobilnya, dan mengeluarkan sebuket bunga yang merah merekah. Ia sengaja menyimpan satu buket bunga untuk Ella.
Saat menutup pintu mobilnya. Devon mendengar bunyi alarm kebakaran. Ia segera berlari menuju lobby apartemen. Api telah menjilat gedung itu. Dengan kalap ia berlari menerobos kerumunan orang. Entah sejak kapan api mulai berkobar. Yang pasti, gedung itu mulai terbakar. Dan api cukup cepat bergerak. Pemadam kebakaran mulai menyiram api yang terus menggila. Devon mecoba masuk ke dalam gedung. Ella masih di dalam. Ia harus menyelamatkan gadis itu. Polisi dan beberapa petugas menahan nya. Devon tidak peduli, ia terus mencoba masuk, hingga ia di tahan beberapa petugas. Devon dengan nekadnya melayangkan tinjunya ke arah petugas, petugas itu lengah, saat itu dimanfaatkan Devon untuk kabur ke dalam apartemen.
Asap hitam terus mengempul di dalam. Membuat Devon terus berbatuk. Tapi ia tak akan menyerah hingga ia menyelamatkan Ella. Walaupun mereka harus bertukar nyawa. Devon rela. Saat tiba di depan apartemen nya,pintu nya terbuka. Ia mencari Ella dengan kalap. Tapi gadis itu tak ada. Mungkin Ella telah keluar, pikirnya. Tapi ia ragu. Mungkin saja Ella masih di dalam. Ia mencoba mengelilingi seluruh gedung yang semakin panas. Napas nya tersenggal-senggal. Batuknya semakin menjadi. Tapi semangat nya semakin membara. Ia terus meneriaki nama Ella. Kemana gadis itu? Ataukah ia sudah?? Ah! Memikirkan nyasudah membuat Devon gila. Tuhan seakan menjawab. Devon melihat seorang gadis terduduk di sudut koridor. Gadis itu Ella. Ia segera berlari memeluknya. Ella mengangkat kepalanya lalu menangis.
“aku kira kau tak akan kembali.” Devon mengangkat tubuh Ella. Lalu menggendongnya.
“Aku tak akan membiarkan cerita kita berakhir seperti ini.” Ucap Devon tertaih-tatih.
Devon berjalan menerobos api. Asal gadis ini selamat, sepanas apapun api membakar, ia tidak peduli. Saat mereka hampir sampai di pintu keluar, Devon tak bisa lagi bertahan. Napas nya kacau. Kulitnya terasa panas. Sementara Ella sudah tak sadarkan diri dalam pelukan nya. Devon pun roboh ke tanah.
Bertahun-tahun sejak kejadian itu, akhirnya hari ini, saat langit mendung, Ella mengenakan gaun putih. Gaun yang katanya hanya sekali di pakai seumur hidup. Gaun pengantin. Walau hari ini akan menjadi hari terpenting dalam hidupnya, Ella tak menunjukkan seulas senyum pun di wajahnya. Langit ikut bermuram untuknya.
“Ella.” Panggil ibunya. “ Lupakan saja pria itu. Kalain tidak berjodoh.” Kalimat itu membuat tangisan di wajah Ella. Ibunya hanya menggeleng lalu meninggalkan nya. Ini entah yang sudah keratus kali Ella menangisi Devon. Pria itu tidak menepati janji nya untuk membuatnya bahagia.
Menurut petugas kebakaran, mereka hanya menemukan Ella di dalam gedung. Kemugkinan Devon ikut terbakar. Ella masih tak percaya dan mencoba menunggu selama bertahun-tahun. Tapi pria itu tak juga kembali. Seiring bertambahnya umur, Ella terpaksa harus menikah. Ia tidak menyangka, malam yang seharusnya indah itu, harus menjadi mimipi buruknya baginya. Saat teringat Devon, hatinya sakit. Saat mengingat Devon telah tiada, hatinya hancur. Saat teringat hari ini ia akan menikah, hatinya sedih. Tak ada lagi harapan. Biarlah mereka bahagia di kehidupan lain.
Seorang pria mengenakan topi dan wajahnya tertutup. Ia duduk dalam mobilnya dan menatap gereja yang dihiasi senyum tamunya. Semua berbahagia. Lalu bahagiakah gadis itu? Ini kah akhir cerita? Biarlah ia tak bahagia, asal gadis itu bahagia. Biarlah cinta nya dipendam nya sendiri. Daripada gadis itu harus menanggung malunya seumur hidup. Cinta adalah pilihan. Entah kekuatan apa yang membuat ia keluar dari mobilnya. Biarlah ia melihat gadis itu untuk terakhir kalinya. Ia berjanji setelah hari ini, ia tak akan lagi mengikuti gadis itu seperti yang ia lakukan tahun- tahun terakhir. Masih dengan wajah tertutup,ia berjalan ke belakang gereja. Ia melihat Ella duduk dengan air mata mengalir. Hatinya tersayat. Betapa ia merindukan gadis itu. Andai saja ia tidak membawa gadis itu ke apartemen nya waktu dulu, mungkin saat ini ia lah yang menemani gadis itu menuju pernikahan. Mimpi tinggalah mimpi. Kakinya seakan tak mendengarkan katanya, terus melangkah mendekati Ella. Inikah usaha nya merebut kembali gadis itu? Tidak. Ia berbalik.
“Kaukah itu?” Ella bertanya. Pria itu hanya diam terpaku. Jantung nya berdegup kencang. Patut dimaafkan kah ia?
“Kenapa meninggalkanku? Apakah kau bahagia melihatku menderita?” Matanya berkaca-kaca. Pria itu tak dapat berkata lagi. Air matanya pun mulai mengalir.
“Aku terus menunggu selama bertahun-tahun. Kukira kau tak menginginkanku lagi.” Hati Devon semakin terluka. Padahal ia melakukan semua ini untuk kebahagiaan Ella. Ternyata gadis itu tidak bahagia. Saat terbangun di rumah sakit, Devon mendapati wajahnya buruk. Luka bakar di sana sini. Satu hal yang ia pikirkan saat itu. Apakah Ella masih mencintainya? Ya, mungkin saja Ella masih mencintainya. Tapi bagaimana perasaan gadis itu ketika semua orang menertawakan kebodohan nya memilih pria yang buruk rupa nya? ia tak ingin Ella di cela. Maka pilihan meninggalkan nya pun dipilih Devon. Ia memohon pada petugas kebakaran untuk berbohong dengan mengatakan bahwa Devon telah meninggal. Biarlah gadis itu menderita beberapa waktu. Namun ia akan bangkit dengan cinta yang baru.
“Bicaralah. Aku perlu alasan mu. Apa kau kira aku bahagia dengan ini semua?” Ella membalikkan tubuh Devon hingga topinya terjatuh, dan betapa terkejutnya ia melihat pria itu. Wajah nya.. ah, buruk. Ella terkejut. Devon segera mengambil topinya lalu menutupi wajahnya.
“Masih perlukah aku menjawab?” Ella kembali dari alam bawah sadarnya.
“Luka itu.. apakah.. karena kejadian itu?” Ella merasa sedikit bersalah. Devon hanya diam dan mengangguk. Ella tahu, luka itu di dapatkan Devon demi menyelamatkan nya. Devon bisa saja masih berwajah tampan seandainya ia tidak kembali ke apartemen untuk menyelamatkan nyawanya.
“Lalu, kau kira aku tidak mencintai mu lagi setelah luka itu?” lagi-lagi Devon mengangguk berat. Tapi sudahlah. Ini semua sudah takdir. Apa yang bisa dilakukan seorang pria berwajah buruk untuk merebut kembali cintanya. Devon berpaling meninggalkan Ella yang masih termenung hingga Ella mengucapkan kalimat yang berbunyi, “ aku memang akan menikah dengan pria lain. Tapi asal kau tahu, aku tidak mencintainya. Karena di hatiku, memori di apartemen itu masih menunggu akhir dari cerita.” Ella meninggalkan ruangan itu. Tangisnya semakin pecah. Di saat ia tahu orang yang ia sayangi masih hidup,apa yang harus ia lakukan. Mengecewakan semua orang yang hadir ke pernikahan nya demi menggapai kebahagian nya sendiri? Tidak kah itu terlalu egois?
Devon keluar dari gereja itu. Tanpa disadarinya seseorang sedang melihatnya.
Ella berdiri di depan Andrean, calon suaminya. Ia memang tampan. Tapi tidak setampan Devon yang dulu. Saat cincin dipasangkan ke jari Andrean. Andrean menahan nya. Hal itu membuat seluruh orang yang menyaksikan nya terkejut. Tak terkecuali Ella. seakan bertanya ‘kenapa’, Andrean menjawab, “Kita tidak akan mau menikah dengan orang yang tidak kita cintai, bukan?”
“Aku pun begitu. Walaupun aku mencintaimu, tapi aku tahu kau tidak mencintaiku. Untuk apa kita menikah?” Ella merasa haru. Ternyata Andrean mengerti perasaan nya.
“Aku memang mencintaimu selama ini, tapi caraku mencintaimu berbeda. Aku tak akan memilikmu hanya karena cintaku. Aku akan membiarkan mu bahagia. Orang bilang, mencintai tak harus memiliki. Selama ini Devon sanggup melakukan nya, kenapa aku tidak?” Ella kembali menangis.
“Pergilah. Ia sedang menunggu.” Ella langsung berlari keluar dari gereja. Biarlah orang-orang kecewa, asal tidak ada hati yang tersakiti. Hari ini para tamu melihat keangungan cinta. Bahwa manusia sanggup terlepas dari ego dan membiarkan cintanya memilih pintu yang diketuknya.
Ella berlari dengan napas terengah-engah. Tangan nya memegang lututnya mengatur napas. Ditarik nya napas nya dalam-dalam. Lalu ia berteriak,
“Kapan kau melamarku? ” Devon berbalik lalu tersenyum. Berjalan mendekati Ella danmengeluarkan sebuah cincin dari saku celana nya. Cincin yang sama dengan yang dulu. Ia selalu membawa nya bersama nya.
Pena tergores mengakhiri cerita. Keikhlasan Andrean mengalah telah melahirkan cinta yang baru.

ahmad Before

Ikut DI Simak...... BrokenHeart.gif
ganstage
so sweeeeeeeet
Justevo
gooood post sobb
Ciuman Pertama
bener2 bener menyedihkan BigGrin.gif
b4c0
mantap.... justru di saat tersulit lah bukti ke sucian cinta itu diuji... nays story ^^
baioe
malez mo baca broo...

ntar ngenetnya bayar mahal lagi coz buang2 waktu...


da format pdf nya g??

ato format yang laen yang bisa dibawa pulang gitu???
Ms. queen
nice story.... it really touching...
nastro
nice story n nice posting ... keep posting ..
echohatred
keren........
galot
mantap ..
keren pisan uy ,,
chiie
terharu crying_anim.gif crying_anim.gif Applause.gif Applause.gif NailBiting.gif
xBFxDayKnight
QUOTE (baioe @ Aug 3 2009, 11:17 PM) *
malez mo baca broo...

ntar ngenetnya bayar mahal lagi coz buang2 waktu...


da format pdf nya g??

ato format yang laen yang bisa dibawa pulang gitu???



are u stupid???? or other else lower than stupid???

you can Copas it...

[no offense]

gondok aja org kek gini...
gak menghargai sedikitpun...
emgnya dia aja yg SANGAT SIBUK...
kalo gak mau abisin uang ama waktu... jgn ke warnet bro....


@TS... keep Posting Bro....
A+ for U
dbluensky
terharu bacanya......hiks...hiks
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.