Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Kisah Raden Bratasena atau Bima atau Wrekodara
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
mas jojon
Bima termasuk Pandawa yang paling dikenal oleh masyarakat ramai. Bahkan ada produk jamu diberi nama “Kuku Bima”. Sangking nge-trend-nya “Kuku Bima” banyak orang mengira senjata Bima bernama Kuku Bima. Ada lelucon mengenai Kuku Bima. Di dalam kelas sekolah dasar negeri di Jakarta, kebetulan hari itu berlangsung pelajaran sejarah dan topik hari itu mengenai perwayangan. Guru sejarah bertanya kepada murid-muridnya: “Apakah nama senjata sakti mandraguna milik Bima?”. Dari pojokan kelas tangan dianjungkan ke atas dan sang guru mempersilahkan muridnya untuk menjawab. “Kuku Bima, Bu!”, sahutnya.
Memang senjata Bima yang sakti berbentuk kuku, tapi namanya bukan Kuku Bima, namanya Pancanaka. Pancanaka ini bukan sembarang kuku. Kuku ini tanjamnya tak terhingga. Ada cerita kalau tanjamnya Pancanaka setara dengan 7 pisau cukur baru. Dari seluruh Pandawa, Bima yang paling dibenci oleh Kurawa. Bima memiliki tubuh yang paling kuat di antar Pandawa dan Kurawa. Dia mampu mengalahkan Duryodhana dan Kurawa lainnya. Waktu perang tanding antara Bima dan Kurawa, pihak Kurawa selalu kalah dan dihajar habis-habisan. Duryodhana, yang tertua dari Kurawa sangat membenci Bima dan selalu mencari cara untuk membinasakan Bima. Kebencian ini semakin bertambah karena ketakutan akan lepasnya tahta dari tangannya.

Rencana Pembunuhan
Duryodhana pernah merencanakan untuk membunuh Bima dengan menenggelamkan ke dalam Sungai Gangga. Waktu itu Bima dan beberapa Kurawa berenang di Sungai Gangga, setelah selesai berenang mereka bersantap. Tidak tahunya makanan Bima telah diracuni oleh Kurawa. Letih dan ditambah keracunan makanan membuat Bima terbaring lemas tidak berdaya. Melihat hal itu Duryodhana, sepupu Bima segera mengikat sepupunya itu dengan ranting-ranting pohon berduri dan menutupi tubuhnya dengan daun-daun gatal. Kemudian mereka melemparkan Bima ke papan lebar yang dipasangi paku-paku tajam beracun. Mereka memperkirakan, jika Bima jatuh di atas papan itu, ia pasti akan binasa tertusuk paku-paku beracun itu. Tetapi Bima tidak jatuh di atas papan itu. Dia jatuh ke dalam Sungai Gangga. Segera oleh ular-ular penghuni Sungai Gangga yang sangat berbisa mematuki tubuh Bima. Belum jauh dihanyutkan, Bima dihempaskan oleh pusaran air ke tepian seberang sungai. Dengan gembira, Duryodhana dan saudara-saudaranya yang mengira telah membinasakan Bima pulang ke istana. Namun Bima selalu dalam lindungan dewata, racun-racun ular bukan membunuh Bima malah membantu melawan racun makanan Duryodhana sehingga racun di tubuh Bima menjadi sirna. Tidak hanya sirna malah membuat Bima kebal akan segala racun. Usaha pembunuhan Bima tidak sekali dilakukan. Duryodhana melakukan beberapa kali percobaan pembunuhan. Kali ini Duryodhana meminta bantuan dari Mahaguru Dorna, seorang resi mahasakti untuk membinasakan Bima. Karena Mahaguru Dorna lebih berat ke Kurawa, diluluskan permintaan Kurawa.
Mahaguru Dorna memanggil Bima menghadap dan memberi dia tugas untuk mencari tirtha prawidhi atau air suci kehidupan. Katanya, “Wahai, muridku Bima yang perkasa, pergilah engkau mencari tirtha prawidhi. Carilah sampai dapat. Jangan kembali jika belum berhasil. Ketahuilah, barang siapa memiliki tirtha prawidhi, dia akan dapat memahami hidup ini dan akan mampu mengenal asal, arah dan tujuan hidup manusia, yaitu sangkan paraning dumadi. Pergilah anakku. Jangan pernah ragu, karena orang yang ragu takkan pernah berhasil.”
Bima memang orang yang tidak pernah banyak pikir sebelum bertindak. Setelah minta izin dengan ibunya, Dewi Kunti, ia pun berangkat. Dalam pikiran Bima tidak terlintas rencana busuk yang dibuat oleh Kurawa untuk mencelakakan dirinya. Di perjalanan mencari tirtha prawidhi, Bima tidak perduli pada binatang buas, raksasa, setan atau jin yang mengganggunya dalam pengembaraan. Semua berhasil dikalahkan.

Pada suatu hari ketemulah Bima dengan dua raksasa sakti, Rukmukha dan Rukmakhala. Ia menantang kedua raksasa itu untuk berkelahi. Tantangan diterima. Ia menerjang kedua raksasa itu. Keduanya tewas seketika. Begitu terbanting ke tanah, kedua raksasa itu menjelma menjadi Batara Indra dan Batara Bayu, yaitu ayah Bima sendiri.
Batara Indra memberinya mantra Jalasengara dan Batara Bayu memberinya satu ikat pinggang sakti. Kedua hadiah itu akan menjadi bekal baginya untuk mengarungi samudera paling dalam di mana pun di dunia. Kemudian Batara Bayu memberinya petunjuk bahwa air hidup yang dimaksud terletak di dalam Telaga Gumuling, di tengah rimba Palasara. Di dalam rimba belantara itu Bima harus menghadapi seekor naga raksasa sebesar Gunung Semeru yang bernama Anantaboga. Bima mengucapkan terima kasih, lalu pergi ke rimba Palasara. Sampai di tepi Telaga Gumuling, Bima disambut oleh naga raksasa Anantaboga yang langsung menyerangnya. Naga itu mengibas-ibaskan ekornya dan membelit badan kesatria Pandawa itu. Dengan Pancanaka, kuku ibu jarinya yang sakti, Bima menusuk leher Anantaboga dan memutus tali nyawanya. Anantaboga menggelepar-gelepar sebentar, lalu menggeletak mati, tak bergerak.
Ajaib. Mayat Anantaboga lenyap, menjelma menjadi Dewi Maheswari. Sesungguhnya Dewi Maheswari adalah bidadari yang di-kutuk-pastu oleh Sang Hyang Guru Pramesti. Ia terpaksa menjalani hukuman sebagai naga raksasa. Dari Dewi Maheswari, Bima mendapat petunjuk di mana ia bisa menemukan tirtha prawidhi, yaitu di dasar samudera raya.
Dengan mantra Jalasengara pemberian Batara Indra, Bima mengarungi Samudera Selatan yang penuh gelombang bergulung-gulung setinggi gunung. Di dalam samudera itu ia harus menghadapi naga besar Nawatnawa yang menyemburkan hujan berbisa. Tetapi, berkat apa yang dialaminya di Sungai Gangga, badannya menjadi kebal. Dan berkat ikat pinggang pemberian Batara Bayu, ia bisa mengambang di samudera raya. Dengan tangkas ia menaklukkan Nawatnawa, mencekiknya, dan menusuk lehernya dengan kuku Pancanaka. Seketika itu, matilah Nawatnawa. Tetapi, setelah tiga pertarungan berat itu, Bima menjadi sangat lelah. Ia membiarkan dirinya diombang-ambingkan gelombang raksasa dan dihempaskan ke sebuah karang emas. Seorang diri, tanpa pertolongan siapa pun.
mas jojon
Dewa Ruci

Ketika itulah muncul Dewa Ruci yang sangat kasihan melihat Bima. Ia memancarkan sinar cemerlang yang menyebabkan Bima siuman. Alangkah kagetnya Bima melihat seorang manusia yang sangat kecil namun sangat mirip dengan dirinya. Manusia itu berkata, “Aku ini Dewa Ruci yang disebut juga Nawaruci. Aku datang untuk menolongmu Bimasena. Wahai kesatria perkasa, masuklah ke dalam telingaku. Di dalam diriku, engkau akan menemukan apa yang kaucari’.”
Bima heran sekali mendengar perintah manusia mungil itu. Bagaimana mungkin tubuhku yang sebesar ini bisa masuk merasuk ke dalam tubuhnya yang sekecil itu? pikirnya terheran-heran. Ketika Bima masih ragu-ragu, Dewa Ruci berkata, “Sesungguhnya, tempat ini adalah tempat yang kosong dan sunyi, tak ada apa-apa, tak ada busana atau pakaian, tak ada boga atau makanan. Semua serba sempurna. Ketahuilah, selama ini engkau hanya setia pada ucapan, mengabdi pada gema, yaitu bentuk segala kepalsuan.”
Uraian hakikat hidup yang gaib itu membuat Bima tercengang, tak kuasa berkata-kata.
Dewa Ruci melanjutkan, “Siapakah yang lebih besar, wahai Panduputra, engkau atau alam semesta yang ada di dalam tubuhku? Aku adalah jagad besar atau makrokosmos dan engkau adalah jagad kecil atau mikrokosmos yang ada di dalam aku.”
Bima yang semula ragu, apakah dia akan bisa masuk ke dalam lubang telinga Dewa Ruci, menjadi mantap setelah mendengar uraian ringkas itu. Tanpa ragu ia melaksanakan perintah manusia mungil itu. Begitu memasuki telinga Dewa Ruci, Bima merasa seakan-akan berada di alam kosong, berhadapan dengan suatu wujud berbentuk gading yang memancarkan sinar putih, merah, kuning, dan hitam perlambang jiwa manusia dengan sifat-sifat murninya. Sinar putih melambangkan kemurnian budi, sinar merah melambangkan watak berangasan dan lekas marah, sinar kuning melambangkan keinginan-keinginan manusiawi, dan sinar hitam melambangkan angkara murka dan keserakahan.
Kemudian Bima melihat tiga wujud seperti boneka dari emas, gading dan permata. Ketiganya melambangkan tiga dunia. Masing-masing disebut Inyanaloka atau lambang badan jasmani, Guruloka atau lambang alam kesadaran, dan Indraloka atau lambang dunia rohani. Demikianlah, di dalam tubuh Dewa Ruci, Bima mendengarkan penjelasan panjang lebar tentang hakikat manusia dengan segala nafsunya dan hakikat alam semesta yang terbagi menjadi tiga tataran.
Kemudian, tanpa disadarinya, Dewa Ruci yang gaib dan agung itu lenyap dari mata batinnya. Bima tersadar. Tahulah Bima bahwa dia telah menemukan apa yang harus dicarinya, vaitu tirtha prawidhi, air suci atau air kehidupan, perlambang hakikat dirinya dan hakikat alam semesta.
Bima seorang yang tidak pernah menggunkana bahasa halus pada siapapun bahkan dengan dewa sekalipun tutur bahasanya tetap kasar. Hanya pernah sekali Bima bertutur bahasa halus yaitu ketika berbicara dengan Dewa Ruci. Dewa Ruci berarti juga dewa yang halus. Dewa Ruci ialah halusnya Bima.
Bima beristri Dewi Nagagini dan Dewi Arimbi. Anantasena anak tertua Bima dari Dewi Nagagini dan Gatotkaca anak dari Dewi Arimbi.
mas jojon
Raden Anantaredja atau Anantasena

Pernah satu kala Pandawa ditipu dan hendak dibakar hidup-hidup oleh Kurawa. Namun berkat peringatan Raden Jamawidura, paman dari Pandawa dan Kurawa, Pandawa cepat menyelamatkan diri. Namun Pandawa tidak kuasa menghindar dari tipu daya Kurawa. Karena kemurahan dewa, Pandawa dapat meloloskan diri ke dalam perut bumi dengan mengikuti seekor garangan (sebangsa musang) putih, hingga bertemu dengan Hyang Antaboga. Kemudian Bima yang waktu itu bernama Raden Bratasena dikawinkan dengan Dewi Nagagini, dan berputra seorang laki-laki bernama Raden Anantaredja atau Anantasena. Anantasena merupakan anak tertua dari Bima.
Setelah besar Anantasena mencari ayahnya, tapi Bima yang waktu itu telah berganti nama menjadi Raden Wrekodara tidak langsung mengakui kalau Anantasena sebagai darah dagingnya. Raden Wrekodara memberikan persyaratan kalau dia baru akan mengakui Anantasena sebagai anaknya kalau dia bisa mengalahkan Raden Wrekodara. Maka Anantasena bersembunyi di dalam perut bumi, ketika ayahnya lewat disergaplah secara tiba-tiba. Dan Raden Wrekodara tidak bisa bergerak dan diakuilah Anantasena sebagai anaknya.
Kalau aku hitung-hitung mengenai kehebatan seluruh tokoh dalam cerita Mahabrata, Anantasena dapat dikatakan jagoan yang paling hebat, yang menakutkan, yang tidak ada tandingannya. Bayangkan saja Anantasena hanya perlu menjilat jejak seseorang maka seseorang itu langsung dikirim ke hadapan Batara Yama (dewa kematian). Atas kehendak Sri Krisna ditipulah Anantasena untuk menjilat jejaknya sendiri dan matilah dia. Tindakan Sri Krisa didasari atas perhitungannya kalau nanti pada perang Baratayudha Anantasena tidak akan mendapat lawan tanding.
Mmmmm agak kecewa kan? Aku sangat kecewa atas kematian Anantasena. Waktu aku membaca profil Anantasena aku langsung merinding. Bayangin hanya dengan menjilat bisa membunuh orang. Siapa yang bisa jadi lawannya? Karna dengan Kunta yang dapat membunuh siapa saja? atau Baladewa dengan senjata yang dapat membunuh dewa? Semua bukan lawan Anantasena. Mengerikan tapi sedikit jorok.
mas jojon
Dewi Arimbi

Dewi Arimbi seorang puteri Raksasa, saudara Prabu Arimba, seorang raja raksasa di Pringgadani. Di dalam mimpi Dewi Arimbi bertemu dengan Bima, Padawa yang kedua. Maka dicarilah dan ketemulah Bima yang pada saat itu dikenal dengan Raden Bratasena. Setiba Dewi Arimbi dihadpan Raden Bratasena lalu memeluk kaki Raden Bratasena dengan melahirkan kehendaknya. Tetapi Raden Bratasena tidak suka, lantaran puteri itu berupa raksasa. Pada waktu mana ibu Raden Bratasena, Dewi kunti bersabda: “O, kasihan benar kamu anak cantik”. Sabda Dewi Kunti itu menyebabkan perubahan roman muka Dewi Arimbi jadi secantik-cantiknya. Dipersitrilah oleh Raden Bratasena dan kemudian hari berputra seorang kesatria Raden Gatotkaca
Demon Storm
Bro.. topik tentang cerita wayang dah ada... lebih lengkap malah.. liat postingan yg dibuat IZROIL..
lit sini dl... http://www.bluefame.com/index.php?showtopic=174953


QUOTE (mas jojon @ Jun 17 2009, 04:04 PM) *
Raden Anantaredja atau Anantasena

Pernah satu kala Pandawa ditipu dan hendak dibakar hidup-hidup oleh Kurawa. Namun berkat peringatan Raden Jamawidura, paman dari Pandawa dan Kurawa, Pandawa cepat menyelamatkan diri. Namun Pandawa tidak kuasa menghindar dari tipu daya Kurawa. Karena kemurahan dewa, Pandawa dapat meloloskan diri ke dalam perut bumi dengan mengikuti seekor garangan (sebangsa musang) putih, hingga bertemu dengan Hyang Antaboga. Kemudian Bima yang waktu itu bernama Raden Bratasena dikawinkan dengan Dewi Nagagini, dan berputra seorang laki-laki bernama Raden Anantaredja atau Anantasena. Anantasena merupakan anak tertua dari Bima.
Setelah besar Anantasena mencari ayahnya, tapi Bima yang waktu itu telah berganti nama menjadi Raden Wrekodara tidak langsung mengakui kalau Anantasena sebagai darah dagingnya. Raden Wrekodara memberikan persyaratan kalau dia baru akan mengakui Anantasena sebagai anaknya kalau dia bisa mengalahkan Raden Wrekodara. Maka Anantasena bersembunyi di dalam perut bumi, ketika ayahnya lewat disergaplah secara tiba-tiba. Dan Raden Wrekodara tidak bisa bergerak dan diakuilah Anantasena sebagai anaknya.
Kalau aku hitung-hitung mengenai kehebatan seluruh tokoh dalam cerita Mahabrata, Anantasena dapat dikatakan jagoan yang paling hebat, yang menakutkan, yang tidak ada tandingannya. Bayangkan saja Anantasena hanya perlu menjilat jejak seseorang maka seseorang itu langsung dikirim ke hadapan Batara Yama (dewa kematian). Atas kehendak Sri Krisna ditipulah Anantasena untuk menjilat jejaknya sendiri dan matilah dia. Tindakan Sri Krisa didasari atas perhitungannya kalau nanti pada perang Baratayudha Anantasena tidak akan mendapat lawan tanding.
Mmmmm agak kecewa kan? Aku sangat kecewa atas kematian Anantasena. Waktu aku membaca profil Anantasena aku langsung merinding. Bayangin hanya dengan menjilat bisa membunuh orang. Siapa yang bisa jadi lawannya? Karna dengan Kunta yang dapat membunuh siapa saja? atau Baladewa dengan senjata yang dapat membunuh dewa? Semua bukan lawan Anantasena. Mengerikan tapi sedikit jorok.


ini lo pake sumber mana?? setau gw, Antareja tuanak pertama, sedangkan Antasena anak terakhir...
anak Bima ada 3..
  1. Anantareja/Antareja
  2. Gatotkaca
  3. Anantasena/Antasena


yg lo ceritain diatas itu lebih banyak Antareja..
liat ini ..

QUOTE (IZRO'IL @ Apr 26 2009, 08:48 PM) *
Seri Tokoh Wayang

Antareja


ANANTAREJA adalah putera Bima/Werkudara, salah satu dari lima satria Pandawa, dengan Dewi Nagagini, putri Hyang Anantaboga dengan Dewi Supreti dari Kahyangan Saptapratala.

Ia mempunyai 2 (dua) orang saudara lelaki lain ibu, bernama : Raden Gatotkaca, putra Bima dengan Dewi Arimbi, dan Arya Anantasena, putra Bima dengan Dewi Urangayu.

Anantaraja, atau yang lebih sering disingkat Antareja, adalah salah satu tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam Mahabharata karena merupakan asli ciptaan para pujangga Jawa.
Antareja adalah putra sulung Bimasena yang lahir dari Nagagini putri Batara Anantaboga, dewa bangsa ular. Perkawinan Bima dan Nagagini terjadi setelah peristiwa kebakaran Balai Sigala-Gala di mana para Korawa mencoba untuk membunuh para Pandawa seolah-olah karena kecelakaan.
Bima kemudian meninggalkan Nagagini dalam keadaan mengandung. Antareja lahir dan dibesarkan oleh Nagagini sampai ketika dewasa ia memutuskan untuk mencari ayah kandungnya. Dengan bekal pusaka Napakawaca pemberian Anantaboga dan Cincin Mustikabumi pemberian Nagagini, Antareja berangkat menuju Kerajaan Amarta.
Di tengah jalan Antareja menemukan mayat seorang wanita yang dimuat dalam perahu tanpa pengemudi. Dengan menggunakan Naapakawaca, Antareja menghidupkan wanita tersebut, yang tidak lain adalah Subadra istri Arjuna.
Tiba-tiba muncul Gatutkaca menyerang Antareja. Gatutkaca memang sedang ditugasi untuk mengawasi mayat Subadra demi untuk menangkap pelaku pembunuhan terhadap bibinya itu. Subadra yang telah hidup kembali melerai kedua keponakannya itu dan saling memperkenalkan satu sama lain.
Antareja dan Gatutkaca gembira atas pertemuan tersebut. Kedua putra Bima itu pun bekerja sama dan akhirnya berhasil menangkap pelaku pembunuhan Subadra yang sebenarnya, yaitu Burisrawa.
Antareja memiliki Ajian Upasanta pemberian Hyang Anantaboga. Lidahnya sangat sakti, mahluk apapun yang dijilat telapak kakinya akan menemui kematian. Anatareja berkulit napakawaca, sehingga kebal terhadap senjata. Ia juga memiliki cincin Mustikabumi, pemberian ibunya, yang mempunyai kesaktian, menjauhkan dari kematian selama masih menyentuh bumi maupun tanah, dan dapat digunakan untuk menghidupkan kembali kematian di luar takdir. Kesaktian lain Anantareja dapat hidup dan berjalan didalam bumi.
Anantareja memiliki sifat jujur, pendiam, sangat berbakti pada yang lebih tua dan sayang kepada yang muda, rela berkorban dan besar kepercayaanya kepada Sang Maha Pencipta. Ia menikah dengan Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa, raja ular di Tawingnarmada, dan berputra Arya Danurwenda.
Setelah dewasa Anantareja menjadi raja di negara Jangkarbumi bergelar Prabu Nagabaginda. Ia meninggal menjelang perang Bharatayuddha atas perintah Prabu Kresna dengan cara menjilat telapak kakinya sebagai tawur (korban untuk kemenangan) keluarga Pandawa dalam perang Bharatayuddha.


QUOTE (IZRO'IL @ Apr 26 2009, 08:35 PM) *
Seri Tokoh Wayang

Antasena


ANTASENA adalah Putra Bima/Werkudara, salah satu dari lima satria Pandawa, dengan Dewi Urangayu, putri Hyang Mintuna (Dewa ikan air tawar) di Kisiknarmada. Ia mempunyai 2 (dua) orang saudara seayah lain ibu, yaitu : Antareja, putra Dewi Nagagini, dan Gatotkaca, putra Dewi Arimbi.

Anantasena, atau sering disingkat Antasena adalah nama salah satu tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam naskah Mahabharata, karena merupakan asli ciptaan para pujangga Jawa. Tokoh ini dikenal sebagai putra bungsu Bimasena, serta saudara lain ibu dari Antareja dan Gatutkaca.
Antasena digambarkan berwatak polos dan lugu, namun teguh dalam pendirian. Dalam berbicara dengan siapa pun, ia selalu menggunakan bahasa ngoko sehingga seolah-olah tidak mengenal tata krama. Namun hal ini justru menunjukkan kejujurannya di mana ia memang tidak suka dengan basa-basi duniawi.
Dalam hal kesaktian, Antasena dikisahkan sebagai putra Bima yang paling sakti. Ia mampu terbang, amblas ke dalam bumi, serta menyelam di air. Kulitnya terlindung oleh sisik udang yang membuatnya kebal terhadap segala jenis senjata.
Antasena dikisahkan meninggal secara moksa bersama sepupunya, yaitu Wisanggeni putra Arjuna. Keduanya meninggal sebagai tumbal kemenangan para Pandawa menjelang meletusnya perang Baratayuda.
Ketika itu Wisanggeni dan Antasena menghadap Sanghyang Wenang, leluhur para dewa untuk meminta restu atas kemenangan Pandawa dalam menghadapi Korawa. Sanghyang Wenang menyatakan bahwa jika keduanya ikut berperang justru akan membuat pihak Pandawa kalah. Wisanggeni dan Antasena pun memutuskan untuk tidak kembali ke dunia. Keduanya kemudian menyusut sedikit-demi sedikit dan akhirnya musnah sama sekali di kahyangan Sanghyang Wenang.
dursasana391
OOOOoooo Gitu toh ceritane.....Sebenarnya banyak tokoh wayang Jawa..... tapi tak ada dalam versy kisah 'Mahabharata' yg asli punya orang India....entahlah apa maksudnya para 'Dalang' masih perlu menambahkan tokoh-tokoh yg tak ada dalam versy Mahabharata yg kisah aslinya dari India.........
thaphe
Antareja ditipu oleh kresna untuk menjilati jejak kakinya sendiri sehingga dia mati karena kresna takut waktu perang baratayuda antereja salah menjilat jejak kaki pendawa
jodipan
sip
aliparasalan
d hl yng kelewt tuh kyknya meskipun bim puny kesktin lebih dri pr kurwa tpi kenytnny bim tk bis mengalhkan duryudana secara jujur, ia sendiri hampir kalah ketika duel dengan duryudana. nmun kresna memberithukn kelmahan duryudana kepada bima secara isyarat kelemhan duryudana yaitu pahanya, hal ini membuat duryudana marah pada krisna dan khirnya bima mampu mengalhknya
4n66495
sebenarnya antareja gak sakti-sakti amat..buktinya dia masih bisa di boongin ama kresna ngejilat tapak kakinya sendiri...mangkanya bener si krena..ni orang kudu di "amankan" dulu sebelum salah ngejilat lagi...
zelda20000
iya sih bner dari pada ntar pandawa yang kena tapi kasihan juga, dia kan anggota keluarga pandawa juga......
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.