Selasa, 23 Juni 2009 | 03:34 WIB
CODE
[/code]oleh: René L Pattiradjawane
Belum hilang air mata akibat kecelakaan helikopter jenis Bolkow milik TNI AD yang jatuh di Cianjur, Jawa Barat, menewaskan Komandan Pusat Pendidikan Pasukan Khusus TNI AD Kolonel Ricky Samuel dan tiga anggota TNI AD lainnya. Tangisan semakin menjadi-jadi setelah lima hari kemudian sebuah Super Puma SA330 milik TNI AU jatuh di Lanud Atang Senjaya, Bogor, menewaskan empat anggota militer.
Air mata penyesalan atas berbagai kecelakaan alat utama sistem persenjataan milik TNI ini membawa kita menerawang apa yang pernah diucapkan pemenang Hadiah Nobel Albert Einstein, ”Two things are infinite, the universe and human stupidity; and I’m not sure about the the universe.”
Sekali lagi kita melihat, membaca, dan mendengar beragam alasan atas kejadian-kejadian tersebut yang selalu muncul sebelum dilakukan investigasi menyeluruh penyebab kecelakaan tersebut. Kita pun membenarkan apa yang diucapkan Einstein, kebodohan manusia menjadi tidak ada batasnya.
Kita heran dengan instruksi Panglima Tertinggi TNI, yang sibuk mengikuti kampanye pilpres, yang memberikan perintah kontradiktif dan terkesan tidak genting memerintahkan konsolidasi total. Tetapi, TNI harus terus melakukan tugas pokok operasionalnya. Padahal, persoalan yang sudah pada kondisi merah (condition red). Secara perlahan, tetapi pasti hal itu menghabiskan manusia dan alutsista TNI.
Apalagi pernyataan Wapres Jusuf Kalla yang dengan gagah berani mengatakan mampu menyelesaikan persoalan alutsista TNI dalam waktu tiga bulan, sebagai konsumsi kampanye dan memudahkan persoalan yang dihadapi secara genting oleh TNI. Kalau capres pilihan Golkar ini menang menjadi presiden yang akan datang, berarti baru Januari 2010 ada solusi terhadap kegentingan persoalan alutsista yang menewaskan para anggota TNI kita.
Padahal, baik Panglima Tertinggi TNI maupun Wapres sebagai incumbent (petahana) yang mengendalikan jalannya negara dan pemerintahan seharusnya mampu memberikan solusi nyata mengatasi krisis keselamatan yang dihadapi TNI sekarang ini. Jangan kita terus diperdaya dengan alasan keterbatasan anggaran, soal perawatan rutin, ketersediaan suku cadang, apalagi soal pembelian pesawat baru.
Potensi fatal
Kita menghargai posisi KSAU sebagai pimpinan tertinggi TNI AU yang meminta maaf, menyatakan bertanggung jawab, dan tidak mau meletakkan jabatannya. Itu haknya. Tetapi sebagai manajer militer di masa damai, tidak bisa seorang pemimpin berkali-kali mengatakan menjamin perawatan korban yang luka-luka dan meninggal dunia, dan menyelesaikannya dengan membentuk tim investigasi lagi.
Kita pun mengecam DPR yang seenaknya memberikan pernyataan untuk menaikkan anggaran tambahan pertahanan pada tahun APBN 2010. Padahal, sistem pertahanan kita pada kondisi SOS, mudah disusupi oleh siapa saja, dan tidak siap menghadapi ancaman kedaulatan secara mendadak karena ketidaksiapan alutsista yang dimiliki, plus semakin susutnya personel TNI karena tewas dalam berbagai kecelakaan.
Betul bahwa setiap periode waktu tertentu di berbagai tingkat satuan TNI diselenggarakan pengawasan dan pemeriksaan (wasrik) yang sifatnya rutin, serta sering kali tidak ada kelanjutan dari satu wasrik ke lainnya. Padahal, persoalan alat peralatan di lingkungan TNI sekarang sudah pandemik karena sudah uzur; tidak dirawat dengan memadai; serta berhadapan dengan sistem pengadaan yang rumit melibatkan berbagai kepentingan.
Kita pun mempertanyakan keseriusan Panglima TNI untuk menerima laporan wasrik yang obyektif karena sebenarnya sistem pengadaan suku cadang maupun peralatan lainnya sudah pandemik melibatkan alat peralatan dan manusianya sendiri, serta berpotensi menjatuhkan korban anggota TNI secara sia-sia.
Kita sebenarnya mengajukan pertanyaan sederhana. Apakah Panglima TNI menyadari dalam pengadaan dan penyediaan suku cadang alat peralatan militer sekarang ini menghadapi persoalan serius ancaman produk- produk aspal (asli tapi palsu), yang sekarang menjadi persoalan serius di lingkungan militer sejumlah negara termasuk AS? Dalam dunia penerbangan, produk aspal jenis ini disebut sebagai bogus parts serta berpotensi fatal terhadap keselamatan pesawat terbang dan helikopter.
Membusukkan
Kita curiga kecelakaan Super Puma SA330 TNI AU pekan lalu, yang disebut oleh KSAU sebagai kerusakan pada sistem kontrol udara dan autopilot, melibatkan adanya bogus parts ini. Sistem autopilot helikopter sebenarnya meningkatkan nilai keamanan sistem penerbangan karena mampu memberikan keleluasaan pada pilot melihat di luar kokpit, membaca peta dalam penerbangan, dan yang terpenting mengurangi fatik dan stres pada pilot.
Sistem autopilot pada helikopter dibuat oleh Sagem Avionics Inc, yang membuat sistem kontrol penerbangan otomatis pada helikopter. Persoalannya, sistem autopilot ini dikendalikan oleh sebuah cip komputer dan sekarang banyak ditemukan bogus parts di lingkungan militer AS yang dibuat di RRC, negara yang terkenal mampu membuat beragam jenis produk aspal mulai dari mesin pompa air sampai cip teknologi canggih dengan harga yang sangat murah.
Dan, ketika berbagai suku cadang dan alat peralatan yang seharusnya memiliki standar spesifikasi militer tidak diterapkan secara benar, maka selama itu pula berbagai kecelakaan di lingkungan militer akan terus terjadi.
Kita sudah mulai kelelahan dan kehabisan tenaga untuk mengebumikan para prajurit TNI, membersihkan puing reruntuhan pesawat terbang dan helikopter, menjalankan tugas pokok operasional, melakukan investigasi, dari satu kecelakaan militer ke lainnya. Semua ini merupakan bagian dari strategi global membusukkan sistem pertahanan kita. Sadarlah![code]
Belum hilang air mata akibat kecelakaan helikopter jenis Bolkow milik TNI AD yang jatuh di Cianjur, Jawa Barat, menewaskan Komandan Pusat Pendidikan Pasukan Khusus TNI AD Kolonel Ricky Samuel dan tiga anggota TNI AD lainnya. Tangisan semakin menjadi-jadi setelah lima hari kemudian sebuah Super Puma SA330 milik TNI AU jatuh di Lanud Atang Senjaya, Bogor, menewaskan empat anggota militer.
Air mata penyesalan atas berbagai kecelakaan alat utama sistem persenjataan milik TNI ini membawa kita menerawang apa yang pernah diucapkan pemenang Hadiah Nobel Albert Einstein, ”Two things are infinite, the universe and human stupidity; and I’m not sure about the the universe.”
Sekali lagi kita melihat, membaca, dan mendengar beragam alasan atas kejadian-kejadian tersebut yang selalu muncul sebelum dilakukan investigasi menyeluruh penyebab kecelakaan tersebut. Kita pun membenarkan apa yang diucapkan Einstein, kebodohan manusia menjadi tidak ada batasnya.
Kita heran dengan instruksi Panglima Tertinggi TNI, yang sibuk mengikuti kampanye pilpres, yang memberikan perintah kontradiktif dan terkesan tidak genting memerintahkan konsolidasi total. Tetapi, TNI harus terus melakukan tugas pokok operasionalnya. Padahal, persoalan yang sudah pada kondisi merah (condition red). Secara perlahan, tetapi pasti hal itu menghabiskan manusia dan alutsista TNI.
Apalagi pernyataan Wapres Jusuf Kalla yang dengan gagah berani mengatakan mampu menyelesaikan persoalan alutsista TNI dalam waktu tiga bulan, sebagai konsumsi kampanye dan memudahkan persoalan yang dihadapi secara genting oleh TNI. Kalau capres pilihan Golkar ini menang menjadi presiden yang akan datang, berarti baru Januari 2010 ada solusi terhadap kegentingan persoalan alutsista yang menewaskan para anggota TNI kita.
Padahal, baik Panglima Tertinggi TNI maupun Wapres sebagai incumbent (petahana) yang mengendalikan jalannya negara dan pemerintahan seharusnya mampu memberikan solusi nyata mengatasi krisis keselamatan yang dihadapi TNI sekarang ini. Jangan kita terus diperdaya dengan alasan keterbatasan anggaran, soal perawatan rutin, ketersediaan suku cadang, apalagi soal pembelian pesawat baru.
Potensi fatal
Kita menghargai posisi KSAU sebagai pimpinan tertinggi TNI AU yang meminta maaf, menyatakan bertanggung jawab, dan tidak mau meletakkan jabatannya. Itu haknya. Tetapi sebagai manajer militer di masa damai, tidak bisa seorang pemimpin berkali-kali mengatakan menjamin perawatan korban yang luka-luka dan meninggal dunia, dan menyelesaikannya dengan membentuk tim investigasi lagi.
Kita pun mengecam DPR yang seenaknya memberikan pernyataan untuk menaikkan anggaran tambahan pertahanan pada tahun APBN 2010. Padahal, sistem pertahanan kita pada kondisi SOS, mudah disusupi oleh siapa saja, dan tidak siap menghadapi ancaman kedaulatan secara mendadak karena ketidaksiapan alutsista yang dimiliki, plus semakin susutnya personel TNI karena tewas dalam berbagai kecelakaan.
Betul bahwa setiap periode waktu tertentu di berbagai tingkat satuan TNI diselenggarakan pengawasan dan pemeriksaan (wasrik) yang sifatnya rutin, serta sering kali tidak ada kelanjutan dari satu wasrik ke lainnya. Padahal, persoalan alat peralatan di lingkungan TNI sekarang sudah pandemik karena sudah uzur; tidak dirawat dengan memadai; serta berhadapan dengan sistem pengadaan yang rumit melibatkan berbagai kepentingan.
Kita pun mempertanyakan keseriusan Panglima TNI untuk menerima laporan wasrik yang obyektif karena sebenarnya sistem pengadaan suku cadang maupun peralatan lainnya sudah pandemik melibatkan alat peralatan dan manusianya sendiri, serta berpotensi menjatuhkan korban anggota TNI secara sia-sia.
Kita sebenarnya mengajukan pertanyaan sederhana. Apakah Panglima TNI menyadari dalam pengadaan dan penyediaan suku cadang alat peralatan militer sekarang ini menghadapi persoalan serius ancaman produk- produk aspal (asli tapi palsu), yang sekarang menjadi persoalan serius di lingkungan militer sejumlah negara termasuk AS? Dalam dunia penerbangan, produk aspal jenis ini disebut sebagai bogus parts serta berpotensi fatal terhadap keselamatan pesawat terbang dan helikopter.
Membusukkan
Kita curiga kecelakaan Super Puma SA330 TNI AU pekan lalu, yang disebut oleh KSAU sebagai kerusakan pada sistem kontrol udara dan autopilot, melibatkan adanya bogus parts ini. Sistem autopilot helikopter sebenarnya meningkatkan nilai keamanan sistem penerbangan karena mampu memberikan keleluasaan pada pilot melihat di luar kokpit, membaca peta dalam penerbangan, dan yang terpenting mengurangi fatik dan stres pada pilot.
Sistem autopilot pada helikopter dibuat oleh Sagem Avionics Inc, yang membuat sistem kontrol penerbangan otomatis pada helikopter. Persoalannya, sistem autopilot ini dikendalikan oleh sebuah cip komputer dan sekarang banyak ditemukan bogus parts di lingkungan militer AS yang dibuat di RRC, negara yang terkenal mampu membuat beragam jenis produk aspal mulai dari mesin pompa air sampai cip teknologi canggih dengan harga yang sangat murah.
Dan, ketika berbagai suku cadang dan alat peralatan yang seharusnya memiliki standar spesifikasi militer tidak diterapkan secara benar, maka selama itu pula berbagai kecelakaan di lingkungan militer akan terus terjadi.
Kita sudah mulai kelelahan dan kehabisan tenaga untuk mengebumikan para prajurit TNI, membersihkan puing reruntuhan pesawat terbang dan helikopter, menjalankan tugas pokok operasional, melakukan investigasi, dari satu kecelakaan militer ke lainnya. Semua ini merupakan bagian dari strategi global membusukkan sistem pertahanan kita. Sadarlah![code]
Kalo sudah begini, bagaimana NKRI bisa disegani oleh negara2 lain? bagaimana kita bs mengembalikan citra NKRI seperti jaman Bung Karno dulu, yaitu sebagai Macan Asia! Pantas saja Malaysia selalu memandang kita dengan sebelah mata!
