Help - Search - Members - Calendar
Full Version: SOLIQUY; GUMAM CINTA SATU MASA
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Apresiasi Buku
loo


Judul Buku: SOLILOQUY
Penulis: Rimura Arken
Penerbit: Juxtapose
Tahun : 2009
Tebal: 216 halaman.

Seringkali kita mendengarkan kalimat itu. Kalimat yang barangkali ‘sakti’ bagi banyak orang. “Segala sesuatu indah pada waktunya”. Benarkah demikian? Apakah selamanya pepatah atau kata mutiara itu benar? Bagaimana kalau waktu itu tak pernah ada? Bukankah kita sering diberi waktu hanya sekali? Dan kadang, hanya waktu itulah waktu yang tepat.

Tidak ada waktu lain selain itu. Kita tidak hidup di dunia Doraemon, di mana jika mengalami sebuah kegagalan, maka kita bisa meminta alat ajaib untuk kembali ke masa tertentu memperbaiki kesalahan tersebut.

Bagi sebagian orang, mengungkapkan rasa cinta tentu saja bukanlah perkara yang mudah. Terlebih, antara keduanya telah terjalin hubungan aneh dan mengambang: entah sahabat, teman curhat, atau sepasang sejoli yang sedang dimabuk asmara. Maka banyak pilihan untuk hal tersebut. Ada yang menebalkan muka, lalu mengatakannya secara terus terang tanpa harus berharap diterima (sekadar melegakan hatinya). Atau, ada yang seolah memasrahkan dirinya jatuh remuk redam dalam rasa asmara. Ada lagi beberapa manusia yang hanya ingin menunda, merasakan tiap desau cinta dan rindu dendam itu terus menyelimuti hatinya. Membiarkan semuanya mengalir selayaknya udara yang bertiup tak pernah tentu arah.

Kenz adalah seorang mahasiswa filsafat di sebuah universitas di bilangan Jawa Barat. Seperti kebanyakan mahasiswa, terutama filsafat yang selalu identik dengan “amburadul”-nya, maka Kenz and the gank tidak jauh-jauh dari cerita itu. Dunia dan hidup ia jalani begitu adanya, susah, senang bersama saudara-saudara seperantauan, berdiam di rumah kontarakan, bertualang hidup dengan membaca dan mencatat setiap jejak kehidupan. Demonstrasi, diskusi, berdebat dan juga mengendapkan segala beban hidup, hanya dengan mengadu pada buku catatan. Ia adalah manusia tertutup yang hanya mempercayai buku sebagai tempat curahan hatinya. Segala suasana batin dan pengalaman ia rekam dalam buku catatannya. Termasuk hubungan tak menentunya dengan Rere, seorang gadis yang kelak mengisi banyak ruang dalam hatinya. Catatan demi catatan ia pendam sendiri sebagai surat-surat yang tak pernah ia tahu kapan harus mengirimnya. Surat-surat yang tak pernah tersampaikan.

Soliloquy, sesuai judulnya seolah sebuah monolog panjang tentang gundah-gulana sebuah jiwa. Sebuah jiwa yang penuh cinta dan pergulatan kehidupan. Buku ini bisa dibilang sebuah memoar hidup seorang anak muda. Tentu saja karena back ground penulisnya adalah mahasiswa filsafat, maka mau tak mau ia terpengaruh dengan dunianya untuk memunculkan letupan-letupan filosofis dalam novelnya ini. Sebuah novel yang barangkali menjadi sebuah kitab filsafat yang lunak. Membuat seorang yang tak paham dan tak mau tahu tentang filsafat merasakannya sebagai sebuah bagian dari kehidupan yang sangat dekat dengan kita.

Kenz mencintai seseorang, namun ia selalu menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Permasalahannya adalah, apakah waktu yang tepat itu memang ada? Atau, kelak waktu itu akan menuntunnya pada sebuah rahasia yang tak pernah kita tahu? Entah akan memenjaranya dalam derita dan sesal, atau barangkali akan membawa dan melemparkan kita menuju kebahagiaan karena ‘semua indah pada waktunya’? dalam novelnya ini, penulis bercerita banyak hal, bagi anak muda atau yang pernah muda, membaca novel ini adalah membaca diri, membaca dunia muda yang petuh petualangan fisik dan spiritual. Idealisme dibenturkan realita, keyakinan bertabrakan dengan fakta, sebuah ramuan khas anak muda dalam menjalani hidupnya. Inilah hal paling menarik yang tersaji dalam novel ini.

Tentu saja tidak semua hal indah pada waktunya. Karena waktu yang tepat tak pernah bisa diprediksi. Karena hidup adalah rangkaian misteri yang kadang tak terkuak bahkan hingga kita mati. Yang jelas, kau tak pernah tahu apa yang kau miliki hingga kau kehilangan sesuatu itu. Maka tentu saja, pilihan untuk melakukan sesuatu, mengucapkan sebuah kata, atau mengungkapkan sebuah rasa adalah pilihan masing-masing orang. Ada yang ingin melakukannya cepat, tergesa-gesa, ada juga yang memilih menungu dan bahkan mengendapkannya bersama jutaan pertimbangan yang masuk akal (setidaknya bagi ia sendiri). Rimura Arken, penulis “SOLILOQUY …aku selalu menunggu waktu yang tepat” mengajarkan kita banyak hal dan banyak pertimbangan dalam hidup. Selamat membaca. [Tabik.] (IB)

likkit_park
jual buku bro
manrebale
menarik gak nih????
randiz
boleh nih kayanya
dhany
thx for share bos....
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.