http://kaltimpost.web.id/index.php?mib=ber...il&id=30649
QUOTE
CALON presiden Jusuf Kalla (JK) menyatakan menghargai hasil perhitungan cepat pemilu presiden. Meski demikian, dia menyatakan masih menunggu hasil perhitungan formal yang dilakukan KPU dan hasil perhitungan dari seluruh saksi dari tim kampanye JK-Wiranto yang berada di seluruh kecamatan. "Sejauh ini, laporan dari daerah-daerah di TPS-TPS angkanya jauh lebih tinggi dari quick count.
Karena itu, kita tunggu hasil formal dari KPU," tutur JK. Kalla mengaku terkejut dengan perolehan suara berdasarkan quick count. Pasalnya, tim kampanye JK-Wiranto sejak awal memperkirakan pilpres akan berlangsung dua putaran, terlepas JK-Wiranto atau Megawati-Prabowo yang lolos mendampingi SBY-Boediono ke putaran kedua. "Tentu kita terkejut, karena tentu saja kita prediksikan menang.
Karena itu, kita tunggu hasil pemilu resmi," papar JK yang selama kampanye sering mengkritik SBY. Karena tidak percaya dengan hasil quick count, JK enggan mengucapkan selamat pada pasangan SBY-Boediono. "Kalau berdasarkan hasil quick count, tentu kita berikan selamat. Tapi kita hargai usaha KPUD dan relawan di daerah, sehingga kita harus menunggu hasil pemilu," kata lelaki asal Makassar ini.
JK sendiri belum berencana mengajukan gugatan pemilu. Pasalnya, belum ada laporan kecurangan pemilu yang dilaporkan ke Bawaslu atau polri. "Gugatan itu tergantung kasus, ada kasus atau tidak. Kita tunggu saja," tuturnya. JK tak bersedia mengomentari pidato kemenangan calon presiden SBY menanggapi hasil quick count. "Kita hargai apa yang diyakini Pak SBY," paparnya.
Ketika wartawan bertanya tentang rencananya bila tidak terpilih, JK kembali menegaskan akan pulang kampung. Lebih dulu dia akan menyelesaikan tugasnya sebagai wakil presiden hingga pelantikan presiden-wakil presiden baru pada 20 Oktober mendatang. "Tugas saya dan Pak SBY ‘kan sampai 20 Oktober. Tentu saya akan tetap bekerja membantu presiden menjalankan pemerintahan," tambahnya.
JK tidak bersedia mengomentari tentang rencana Partai Golkar menggelar percepatan musyawarah nasional (munas) untuk mengganti ketua umum, sekaligus mengalihkan dukungan ke SBY. "Itu soal lain. Nantilah, belum kita bicarakan hal itu," ucapnya. TAK KECEWA Sementara itu, calon wakil presiden (cawapres) Wiranto mengaku bisa menghargai hasil quick count beberapa lembaga yang telah diumumkan di sejumlah stasiun televisi.
Namun, dia juga masih menunda untuk memberikan kata selamat bagi pasangan pemenang. Dia masih akan menunggu hasil resmi dari KPU nantinya. ”Saya tidak kecewa, biasa saja,” ujar Wiranto, di kediamannya, di Komplek Palem Kartika, Bambu Apus, Jakarta Timur, kemarin (8/7). Menurut dia, sejak memutuskan ikut bertarung lagi dalam ajang pilpres, dirinya sudah siap menang maupun kalah.
Menurut dia, sah-sah saja sejumlah lembaga survei melakukan upaya hitung cepat dalam ajang pemilu. Namun, pihaknya tetap mengajak agar semua pihak tetap menghargai hasil penghitungan resmi yang sedang dilakukan KPU. Sebab, lembaga itulah penyelenggara resmi pemilihan umum. ”Kami sementara menghargai tetap yang sudah ada (quick count, Red), tapi kita juga harus menunggu dulu pengumuman KPU,” katanya.
Wiranto juga menyatakan, bahwa dirinya dan JK sebenarnya sudah berupaya maksimal untuk bisa memenangkan perhelatan pilpres kali ini. ”Barangkali kami inilah pasangan yang menciptakan rekor, bisa bergerak 3-10 titik dalam sehari,” terang mantan panglima ABRI itu, sambil tersenyum. NILAI BURUK Pasangan Mega-Prabowo juga enggan mengucapkan selamat atas kemenangan SBY-Boediono.
Kubu Mega-Prabowo menilai pelaksanaan pemilu masih buruk sehingga pemenangnya tidak pantas diberi selamat. "Kita tidak mempersoalkan menang atau kalah. Tapi prosesnya harus benar agar hasilnya legitimate," ujar Dewan Pembina Tim Kampanye Mega-Prabowo, Taufiq Kiemas di Kediamannya, Jl Teuku Umar, Jakarta Pusat, Rabu (8/7).
Taufiq, meminta pemerintah dan KPU membuktikan pemilu 2009 sudah sesuai dengan aturan dan lebih baik dari Pemilu 2004. Taufiq juga mempertanyakan kisruh DPT yang tidak kunjung bisa diselesaikan KPU. "Buktikan saja dari awal pendaftaran hingga akhir proses pemilu apakah sudah oke. Kalau sudah berjalan baik, kita akan ucapkan selamat," tegas pria asal Palembang ini.
Karena itu, kita tunggu hasil formal dari KPU," tutur JK. Kalla mengaku terkejut dengan perolehan suara berdasarkan quick count. Pasalnya, tim kampanye JK-Wiranto sejak awal memperkirakan pilpres akan berlangsung dua putaran, terlepas JK-Wiranto atau Megawati-Prabowo yang lolos mendampingi SBY-Boediono ke putaran kedua. "Tentu kita terkejut, karena tentu saja kita prediksikan menang.
Karena itu, kita tunggu hasil pemilu resmi," papar JK yang selama kampanye sering mengkritik SBY. Karena tidak percaya dengan hasil quick count, JK enggan mengucapkan selamat pada pasangan SBY-Boediono. "Kalau berdasarkan hasil quick count, tentu kita berikan selamat. Tapi kita hargai usaha KPUD dan relawan di daerah, sehingga kita harus menunggu hasil pemilu," kata lelaki asal Makassar ini.
JK sendiri belum berencana mengajukan gugatan pemilu. Pasalnya, belum ada laporan kecurangan pemilu yang dilaporkan ke Bawaslu atau polri. "Gugatan itu tergantung kasus, ada kasus atau tidak. Kita tunggu saja," tuturnya. JK tak bersedia mengomentari pidato kemenangan calon presiden SBY menanggapi hasil quick count. "Kita hargai apa yang diyakini Pak SBY," paparnya.
Ketika wartawan bertanya tentang rencananya bila tidak terpilih, JK kembali menegaskan akan pulang kampung. Lebih dulu dia akan menyelesaikan tugasnya sebagai wakil presiden hingga pelantikan presiden-wakil presiden baru pada 20 Oktober mendatang. "Tugas saya dan Pak SBY ‘kan sampai 20 Oktober. Tentu saya akan tetap bekerja membantu presiden menjalankan pemerintahan," tambahnya.
JK tidak bersedia mengomentari tentang rencana Partai Golkar menggelar percepatan musyawarah nasional (munas) untuk mengganti ketua umum, sekaligus mengalihkan dukungan ke SBY. "Itu soal lain. Nantilah, belum kita bicarakan hal itu," ucapnya. TAK KECEWA Sementara itu, calon wakil presiden (cawapres) Wiranto mengaku bisa menghargai hasil quick count beberapa lembaga yang telah diumumkan di sejumlah stasiun televisi.
Namun, dia juga masih menunda untuk memberikan kata selamat bagi pasangan pemenang. Dia masih akan menunggu hasil resmi dari KPU nantinya. ”Saya tidak kecewa, biasa saja,” ujar Wiranto, di kediamannya, di Komplek Palem Kartika, Bambu Apus, Jakarta Timur, kemarin (8/7). Menurut dia, sejak memutuskan ikut bertarung lagi dalam ajang pilpres, dirinya sudah siap menang maupun kalah.
Menurut dia, sah-sah saja sejumlah lembaga survei melakukan upaya hitung cepat dalam ajang pemilu. Namun, pihaknya tetap mengajak agar semua pihak tetap menghargai hasil penghitungan resmi yang sedang dilakukan KPU. Sebab, lembaga itulah penyelenggara resmi pemilihan umum. ”Kami sementara menghargai tetap yang sudah ada (quick count, Red), tapi kita juga harus menunggu dulu pengumuman KPU,” katanya.
Wiranto juga menyatakan, bahwa dirinya dan JK sebenarnya sudah berupaya maksimal untuk bisa memenangkan perhelatan pilpres kali ini. ”Barangkali kami inilah pasangan yang menciptakan rekor, bisa bergerak 3-10 titik dalam sehari,” terang mantan panglima ABRI itu, sambil tersenyum. NILAI BURUK Pasangan Mega-Prabowo juga enggan mengucapkan selamat atas kemenangan SBY-Boediono.
Kubu Mega-Prabowo menilai pelaksanaan pemilu masih buruk sehingga pemenangnya tidak pantas diberi selamat. "Kita tidak mempersoalkan menang atau kalah. Tapi prosesnya harus benar agar hasilnya legitimate," ujar Dewan Pembina Tim Kampanye Mega-Prabowo, Taufiq Kiemas di Kediamannya, Jl Teuku Umar, Jakarta Pusat, Rabu (8/7).
Taufiq, meminta pemerintah dan KPU membuktikan pemilu 2009 sudah sesuai dengan aturan dan lebih baik dari Pemilu 2004. Taufiq juga mempertanyakan kisruh DPT yang tidak kunjung bisa diselesaikan KPU. "Buktikan saja dari awal pendaftaran hingga akhir proses pemilu apakah sudah oke. Kalau sudah berjalan baik, kita akan ucapkan selamat," tegas pria asal Palembang ini.