Help - Search - Members - Calendar
Full Version: sekedar cerita pendek
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Chicken Soup for The BlueFame's Soul
Pages: 1, 2, 3
dody2milis
PENJUAL IKAN DAN PAPAN PENGUMUMAN

Seseorang mulai berjualan ikan segar di pasar. Ia memasang papan pengumuman bertuliskan: "DI SINI JUAL IKAN SEGAR."

Tidak lama kemudian datang seorang pengunjung yang menanyakan tulisannya, "Mengapa kau tuliskan kata 'DI SINI'? Bukankah orang sudah tahu kalau kau berjualan di sini, bukan di sana?"

"Benar juga," pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata 'DI SINI' dan tinggallah "JUAL IKAN SEGAR".

Tidak lama kemudian datang pengunjung kedua yang juga menanyakan tulisannya, "Mengapa kau pakai 'SEGAR'? Bukankah semua orang sudah tahu kalau yang kau jual adalah ikan segar, bukan ikan busuk?"

"Benar juga," pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata 'SEGAR' dan tinggallah "JUAL IKAN".

Tidak lama kemudian datang pengunjung ketiga yang juga menanyakan tulisannya, "Mengapa kau tulis kata 'JUAL'? Bukankah semua orang sudah tahu
kalau ikan ini dijual, bukan dipamerkan?"

"Benar juga," pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata 'JUAL' dan tinggallah "IKAN".

Tidak lama kemudian datang pengunjung keempat yang juga menanyakan tulisannya, "Mengapa kau tulis kata 'IKAN'? Bukankah semua orang sudah tahu
kalau ini ikan, bukan daging?"

"Benar juga," pikir si penjual ikan, lalu diturunkannya papan pengumuman itu.

Pojok Renungan: Bila kita ingin memuaskan semua orang, kita takkan mendapatkan apa-apa. (diadaptasi dari: unknown)

;----------------------
berlanjut...

* om mod, kalau dah pernah ada threat ini didelete ajah..*
dody2milis
LEPASKAN

Berikut ini kisah penuh makna berjudul "Lepaskan" yang ditulis oleh Dr. Billy Graham.

Suatu hari, seorang anak kecil sedang bermain-main dengan sebuah vas bunga yang sangat mahal. Ia memasukkan tanggannya ke dalam vas bunga dan ..ops.. tidak dapat menariknya keluar kembali. Ia mulai menangis dan menarik perhatian ayahnya. Sang ayah mencoba membantu sekuat tenaga menarik tangan anaknya dari vas bunga, namun gagal. Setelah beberapa kali mencoba dan gagal, akhirnya mereka berpikir untuk memecahkan saja vas bunga mahal itu. Tapi tiba-tiba, sang ayah mendapat ide, "Nah begini saja anakku, kita coba sekali lagi. Lepaskan genggaman tanganmu yang ada di dalam vas itu. Luruskan telapak tanganmu seperti ini, " kata sang ayah sambil menunjukkan telapak tangannya. "Lalu ..hopla..tariklah keluar."

Mendengar itu si anak malah merengek yang membuat sang ayah keheranan. Katanya, "Nggak bisa yah! Aku nggak bisa melepaskan genggamanku karena nanti uang receh yang aku pegang ini bisa terlepas lagi."

Pojok Renungan:
Senyum dong! Bukankah banyak dari kita yang bertingkah seperti anak kecil tadi. Begitu sibuk menggenggam sesuatu yang tak begitu berharga namun rela mengorbankan kebebasan kita. Saya harap, anda segera melepaskan hal-hal sepele dari hati anda. Lepaskan. Biarkan mereka pergi.
dody2milis
LIPAN YANG TAK BISA MENARI LAGI

Alkisah ada seekor lipan yang sangat pandai menari dengan seratus kakinya. Setiap kali lipan itu menari, semua hewan di hutan berkumpul untuk
melihatnya. Mereka sangat terkesan dan kagum pada tariannya yang indah. Tapi ada satu hewan yang tidak senang melihat lipan menari; yaitu kura-kura.

"Bagaimana aku bisa membuat lipan itu berhenti menari?" pikir kura-kura itu. Tentu ia tidak boleh mengatakan begitu saja bahwa ia tidak menyukai tarian lipan. Bahkan ia pun tidak mungkin mengatakan bahwa ia sendiri dapat menari lebih baik, karena itu jelas tidak benar. Akhirnya kura-kura menemukan sebuah rencana jahat.

Kura-kura duduk dan menulis surat kepada lipan.

"Wahai lipan yang tiada tara, aku adalah seorang pengagum tarianmu yang sangat indah. Aku ingin mengetahui bagaimana kamu melakukannya tarianmu. Apakah kamu mengangkat kaki kirimu nomor 28, kemudian kaki kananmu nomor 39? Atau apakah kamu mulai mengangkat kaki kananmu nomor 17 sebelum kamu angkat kaki kirimu nomor 44? Aku menanti jawabanmu dengan penuh harap.
Hormat saya,
Kura-kura."

Ketika lipan itu membaca suratnya, segera saja dia mulai memikirkan tentang apa yang sebenarnya dia lakukan ketika sedang menari. Kaki mana yang diangkatnya lebih dulu? Dan sesudah itu kaki mana lagi? Aah, betapa rumitnya memikirkan hal itu. Akhirnya, malah lipan itu tidak pernah bisa menari dengan baik lagi!

Pojok Renungan: Keindahan adalah untuk dirasakan dan dileburkan dalam diri bukan untuk dipikirkan apalagi dihitung-hitung di atas kertas teori. (adapted from Sophie's World - Jostein Gaarder)
dody2milis
DUA KOTAK

Ada di tanganku dua buah kotak yang telah Tuhan berikan padaku untuk dijaga. Kata-Nya, "Masukkan semua penderitaanmu ke dalam kotak yang berwarna hitam. Dan masukkan semua kebahagiaanmu ke dalam kotak yang berwarna emas."

Aku melakukan apa yang Tuhan katakan. Setiap kali mengalami kesedihan maka aku letakkan ia ke dalam kotak hitam. Sebaliknya ketika bergembira maka aku letakkan kegembiraanku dalam kotak berwarna emas. Tapi anehnya, semakin hari kotak berwarna emas semakin bertambah berat. Sedangkan kotak berwarna hitam tetap saja ringan seperti semula.

Dengan penuh rasa penasaran, aku membuka kotak berwarna hitam. Kini aku tahu jawabannya. Aku melihat ada lubang besar di dasar kotak berwarna hitam itu, sehingga semua penderitaan yang aku masukkan ke sana selalu jatuh keluar.

Aku tunjukkan lubang itu pada Tuhan dan bertanya, "Kemanakah perginya semua penderitaanku?"

Tuhan tersenyum hangat padaku. "AnakKu, semua penderitaanmu berada padaKu."

Aku bertanya kembali, "Tuhan, mengapa Engkau memberikan dua buah kotak, kotak emas dan kotak hitam yang berlubang?"

"AnakKu, kotak emas Kuberikan agar kau senantiasa menghitung rahmat yang Aku berikan padamu, sedangkan kotak hitam Kuberikan agar kau melupakan penderitaanmu."

Pojok Renungan: Ingat-ingatlah semua kebahagiaanmu agar kau senantiasa merasakan kebahagiaan. Campakkan penderitaanmu agar kau melupakannya. (diadaptasi dari Two Boxes)
dody2milis
PERSEMBUNYIAN HAKIKAT DIRI MANUSIA

Pada suatu hari Tuhan mengumpulkan seluruh binatang di penjuru bumi dan berkata, "Aku bermaksud menyembunyikan sesuatu dari manusia sampai mereka siap untuk mengetahuinya."

Para binatang itu bertanya-tanya keheranan,"Apakah itu, wahai Yang Maha Pencipta?"

Tuhan menjawab, "Pengetahuan atas hakikat diri mereka"

Kata Elang, "Berikan pada hamba, hamba akan menerbangkannya ke bulan"

Jawab Tuhan, "Jangan. Suatu hari mereka akan pergi ke sana dan menemukannya."

Kata Ikan Paus, "Biarkan hamba yang menyembunyikan jauh di dasar lautan."

Jawab Tuhan, "Jangan. Suatu saat mereka akan pergi ke sana pula."

Kata Banteng, "Kalau begitu hamba akan menguburkan di padang rumput."

Jawab Tuhan,"Tidak. Mereka akan membabat padang rumput dan menemukannya."

Akhirnya seekor Tikus Mondok yang selamanya hidup di perut bumi, berpenglihatan rabun, namun dapat melihat dengan jelas melalui mata hatinya,
berkata, "Sembunyikan saja di dalam diri mereka sendiri."

Dan Tuhan pun berkata, "Ya! Sudah Aku lakukan!"

Pojok Renungan: Jika demikian kemana lagi kita akan mencari pemahaman atas hakikat diri manusia selain menengok ke dalam diri kita sendiri? (diadaptasi dari: Legenda Sioux - Afterhours Inspirational Stories)
dody2milis
VISI SEEKOR SIPUT

Di suatu hari di awal musim semi, seekor siput memulai perjalanannya memanjat sebuah pohon ceri. Beberapa ekor burung di sekitar pohon itu
melihat sang siput dengan pandangan aneh.

"Hei, siput tolol," salah seekor dari mereka mencibir, "pikirmu kemana kamu akan pergi?".

"Mengapa kamu memanjat pohon itu?" berkata yang lain, "Di atas sana tidak ada buah ceri."

"Pada saat saya tiba di atas," kata si siput, "Pohon cerinya akan berbuah."

Pojok Renungan: Hanya mereka yang berpandangan jauhlah yang melihat keabadian di balik kekosongan. Sedangkan mereka yang awam melihat kekosongan sebagai kesia-siaan. (diadaptasi dari: Pocket of Sower's Seeds - Brian Cavanaugh)
die Hoellekugel
keep posting bro... Peace.gif
dody2milis
JEMBATAN MAAF
Penulis: Unkown

Alkisah ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka jatuh ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar sedemikian hebat. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan, saling meminjamkan peralatan pertanian, dan bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan. Namun kerja sama yang akrab itu kini retak. Dimulai dari kesalahpahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.

Suatu pagi, seseorang mengetuk rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. "Maaf tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan," kata pria itu dengan ramah. "Barangkali tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan."

"Oh ya!" jawab sang kakak. "Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ..ah sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan buldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya."

Kata tukang kayu, "Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat tuan merasa senang."

Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu. Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian. Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya.

Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi. Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar.

"Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku." kata sang adik pada kakaknya.

Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi. "Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu," pinta sang kakak.

"Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini," kata tukang kayu, "tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan."
dody2milis
BERHATI-HATILAH DALAM BERNEGOSIASI
The Jokesmith

Seorang pengusaha sedang asyik memancing di sebuah danau terpencil dan berhasil menangkap seekor ikan berwarna perak. Ternyata itu adalah ikan ajaib. Ketika ditarik ke atas perahu, ikan itu berkata, "Tolong. Aku akan mati bila tidak segera kau kembalikan ke dalam air. Sebagai imbalannya aku akan mengabulkan tiga permintaanmu."

"Hemm, aku ingin enam permintaan," kata pengusaha itu menawar.

"Aku tidak memiliki cukup kekuatan," kata ikan perak itu sambil terengah-engah. "Cepat! Katakan tiga permintaanmu."

"Tidak. Aku hanya mau menerima empat permintaan. Empat permintaan adalah tawaran minimumku," jawab pengusaha.

"Ayolah," ikan perak itu mulai kehabisan nafas. "Aku tak tahan lagi. Aku hanya bisa mengabulkan tiga permintaamu. Katakan apa yang kau inginkan.
Cepat!"

"Baiklah," kata pengusaha sambil menghela nafas, "Kau menang, tapi kau harus mengabulkan semua permintaanku sebelum aku mengembalikan kau ke dalam air. Setuju?"

Tidak ada jawaban. Ikan perak itu tergeletak dengan tenang di atas lantai perahu - mati.
dody2milis
BATU BESAR
Penulis: Unkown

Suatu hari seorang dosen sedang memberi kuliah tentang manajemen waktu pada para mahasiswa MBA. Dengan penuh semangat ia berdiri depan kelas dan berkata, "Okay, sekarang waktunya untuk quiz." Kemudian ia mengeluarkan sebuah ember kosong dan meletakkannya di meja. Kemudian ia mengisi ember tersebut dengan batu sebesar sekepalan tangan. Ia mengisi terus hingga tidak ada lagi batu yang cukup untuk dimasukkan ke dalam ember. Ia bertanya pada kelas, "Menurut kalian, apakah ember ini telah penuh?"

Semua mahasiswa serentak berkata, "Ya!"

Dosen bertanya kembali, "Sungguhkah demikian?" Kemudian, dari dalam meja ia mengeluarkan sekantung kerikil kecil. Ia menuangkan kerikil-kerikil itu ke dalam ember lalu mengocok-ngocok ember itu sehingga kerikil-kerikil itu turun ke bawah mengisi celah-celah kosong di antara batu-batu. Kemudian, sekali lagi ia bertanya pada kelas, "Nah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?"

Kali ini para mahasiswa terdiam. Seseorang menjawab, "Mungkin tidak."

"Bagus sekali," sahut dosen. Kemudian ia mengeluarkan sekantung pasir dan menuangkannya ke dalam ember. Pasir itu berjatuhan mengisi celah-celah kosong antara batu dan kerikil. Sekali lagi, ia bertanya pada kelas, "Baiklah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?"

"Belum!" sahut seluruh kelas.

Sekali lagi ia berkata, "Bagus. Bagus sekali." Kemudian ia meraih sebotol air dan mulai menuangkan airnya ke dalam ember sampai ke bibir ember. Lalu ia menoleh ke kelas dan bertanya, "Tahukah kalian apa maksud illustrasi ini?"

Seorang mahasiswa dengan semangat mengacungkan jari dan berkata, "Maksudnya adalah, tak peduli seberapa padat jadwal kita, bila kita mau berusaha sekuat tenaga maka pasti kita bisa mengerjakannya."

"Oh, bukan," sahut dosen, "Bukan itu maksudnya. Kenyataan dari illustrasi mengajarkan pada kita bahwa: bila anda tidak memasukkan "batu besar"
terlebih dahulu, maka anda tidak akan bisa memasukkan semuanya."

Apa yang dimaksud dengan "batu besar" dalam hidup anda? Anak-anak anda; Pasangan anda; Pendidikan anda; Hal-hal yang penting dalam hidup anda; Mengajarkan sesuatu pada orang lain; Melakukan pekerjaan yang kau cintai; Waktu untuk diri sendiri; Kesehatan anda; Teman anda; atau semua yang berharga.

Ingatlah untuk selalu memasukkan "Batu Besar" pertama kali atau anda akan kehilangan semuanya. Bila anda mengisinya dengan hal-hal kecil (semacam kerikil dan pasir) maka hidup anda akan penuh dengan hal-hal kecil yang merisaukan dan ini semestinya tidak perlu. Karena dengan demikian anda tidak akan pernah memiliki waktu yang sesungguhnya anda perlukan untuk hal-hal besar dan penting.

Oleh karena itu, setiap pagi atau malam, ketika akan merenungkan cerita pendek ini, tanyalah pada diri anda sendiri: "Apakah "Batu Besar" dalam
hidup saya?" Lalu kerjakan itu pertama kali."
dody2milis
PIKULAN DIRI SENDIRI
Unkown

Alkisah ada seorang raja memiliki dua pangeran kembar. Tidak diketahui dengan pasti siapakah dari kedua pangeran itu yang lahir terlebih dahulu.
Ketika mereka berdua tumbuh dewasa, sang raja mencari akal bagaimana cara yang adil agar ia bisa mewariskan mahkota kekerajaannya. Semua orang tahu, bahwa kedua pangeran itu sama-sama cerdas, menyenangkan, sehat dan kuat. Dengan pandangannya yang tajam, sang raja mengetahui bahwa salah satu dari keduanya memiliki karakter yang berbeda.

Suatu hari raja memanggil mereka berdua di balariung kerajaan. Raja berkata, "Anak-anakku. Suatu saat nanti salah satu dari kalian harus menggantikan kedudukanku sebagai raja. Beban dan tanggung jawab menjadi raja sangatlah berat. Aku ingin mengetahui siapakah di antara kalian yang mampu menanggung beban itu dengan sepenuh hati. Aku bermaksud mengirim kalian pergi jauh ke perbatasan kerajaan. Di sana salah seorang menteriku akan membekalimu dengan pikulan yang sama-sama berat di pundak kalian. Mahkota kerajaan akan aku berikan kepada siapa yang pertama kali kembali sambil tetap membawa pikulan itu, sebagaimana seharusnya yang dilakukan oleh seorang raja."

Dengan semangat persaingan yang penuh persahabatan, kedua bersaudara itu memulai perlombaan. Tak lama kemudian di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang wanita tua yang sedang susah payah memikul barang yang tampaknya terlalu berat dibanding tubuhnya yang lemah itu. Salah seorang pangeran menyarankan agar mereka berhenti dan membantu wanita itu. Pangeran yang lain memprotes, "Bukankah kita juga akan menerima pikulan untuk kita sendiri. Ayo, kita lanjutkan saja perjalanan kita." Ia lalu terburu-buru melanjutkan perjalanan, sedangkan yang lain menolong wanita tua itu.

Dari hari ke hari, di sepanjang perjalanan pangeran itu menemukan bahwa banyak orang yang butuh pertolongan. Seorang lelaki buta telah menyebabkan ia menunda perjalanannya untuk beberapa mil. Sedangkan seorang pria lumpuh telah menghentikan langkahnya beberapa saat. Akhirnya ia berhasil tiba di tempat yang dimaksud dan menerima pikulannya dari sang menteri. Kemudian ia kembali pulang ke istana kerajaan sambil menjaga pikulannya. Ketika ia tiba di pintu gerbang, ia bertemu dan disambut oleh saudara kembarnya yang berkata, "Saya tidak mengerti. Saya katakan pada ayah bahwa pikulan yang diberikan terlalu berat untuk dipikul. Bukankah begitu?"

Pangeran yang baru tiba ini berkata, "Menurutku, saat aku menolong orang lain dengan memikul beban mereka, aku menemukan kekuatan untuk membawa bebanku sendiri." Demikianlah, akhirnya pangeran ini dinobatkan menjadi raja. (diadaptasi dari "Burden on Your Own" - Sunshine Magazine)
dody2milis
CUMA NAMA SAJA

Seorang Direktur menerima sebuah surat. Ketika ia membuka amplop suat itu, ia menemukan selembar kertas kosong yang hanya bertuliskan satu kata saja: "TOLOL".

Esok harinya Direktur itu mengumumkan apa yang ditemukannya itu di rapat direksi. Katanya, "Saya mengetahui banyak orang menulis surat yang sering lupa menuliskan namanya di akhir surat. Tapi, kemarin saya menerima surat dari seseorang yang menuliskan namanya di akhir surat, sayangnya dia lupa menulis isi suratnya."
dody2milis
BERKORBAN DEMI TEMAN

Kisah ini benar-benar terjadi.
Pada suatu hari di suatu kamp latihan militer, sersan pelatih muncul dan tiba-tiba mencampakkan sebuah granat tangan ke tengah-tengah sekelompok
prajurit muda. Mereka lari berpencar, buru-buru mencari perlindungan. Sersan itu lantas mengatakan bahwa granat itu kosong dan ia cuma ingin melihat reaksi mereka. Keesokan harinya seorang prajurit yang baru masuk menggabungkan diri ke kelompok itu. Sersan pelatih mengatakan kepada mereka agar jangan memberi tahu prajurit baru itu tentang apa yang akan terjadi.
Sewaktu sersan itu kemudian muncul dan melemparkan granat ke tengah-tengah mereka, prajurit baru itu, yang tidak tahu bahwa granat itu takkan meledak, buru-buru menjatuhkan diri di atas granat agar ledakannya tidak mencederai rekan-rekannya. Ia mau berkorban demi keselamatan rakan-rekan sesama prajurit.

Tahun itu ia dianugerahi satu-satunya medali untuk keberanian dan ketabahan yang diberikan bukan pada waktu perang.
Kim Noone (diadaptasi dari "A Cup of Chicken Soup for the Soul", editor: Jack Canfield, dkk.)
dody2milis
KELEMAHAN ATAU KEKUATAN?
Bits & Pieces

Terkadang kelemahan terbesar anda dapat menjadi kekuatan terbesar anda. Mari kita simak contoh berikut tentang seorang anak laki-laku berusia 10 tahun yang memutuskan untuk belajar Judo meski tubuhnya cacat. Ia kehilangan lengan kirinya di sebuah kecelakaan mobil.

Lalu anak laki-laki itu berguru pada seorang guru Judo yang sudah berusia lanjut dari Jepang. Anak laki-laki itu belajar dengan sebaik-baiknya, namun ia tidak bisa mengerti mengapa setelah tiga bulan berlatih, gurunya hanya mengajar satu jurus saja.

"Sensei," kata anak laki-laki itu, "Tidakkah saya sebaiknya belajar lebih banyak jurus lagi?"

"Memang ini satu-satunya jurus yang kau tahu, tetapi sebenarnya ini adalah satu-satunya jurus yang perlu kau ketahui," jawab sang Sensei.

Meski tidak sepenuhnya mengerti apa maksudnya, tetapi karena percaya akan gurunya, anak laki-laki itu terus berlatih.

Beberapa bulan kemudian, sang Sensei mengajak anak laki-laki itu untuk mengikuti turnamen pertamanya. Sungguh mengejutkan sekali, ternyata anak laki-laki itu memenangkan dua pertandingan dengan mudah. Pertandingan ke tiga tampaknya berlangsung cukup seru dan sulit. Lawannya mulai tidak sabar dan menyerang, namun anak-laki-laki itu dengan trampil menggunakan satu jurus andalannya untuk memenangkan pertandingan. Masih terkagum-kagum dengan keberhasilannya itu, kini akan laki-laki itu maju ke babak final.

Kali ini, lawannya bertubuh lebih besar, lebih kuat dan berpengalaman sekali. Suatu final yang tidak seimbang. Anak laki-laki itu tampaknya akan
dikalahkan dengan mudah. Karena khawatir terjadi kecelakaan pada anak laki-laki itu, wasit meminta time-out. Ketika ia hampir menghentikan
pertandingan, sang Sensei menginterupsi.

"Jangan," cegah sang Sensei, "Biarkan ia melanjutkan pertandingannya."

Segera setelah pertandingan berjalan beberapa saat, lawannya melakukan kesalahan fatal. Ia membiarkan pertahannya terbuka, dan langsung saja anak laki-laki itu menggunakan jurus satu-satunya untuk menjatuhkan lawan. Ia memenangkan pertandingan dan menjadi juara dalam turnamen itu.

Pada perjalanan pulang, anak laki-laki dan sang Sensei menganalisa setiap gerakan di setiap pertandingan. Kemudian, anak laki-laki itu memberanikan dirinya bertanya sesuatu yang memenuhi benaknya, "Sensei, bagaimana saya tadi bisa memenangkan turnamen hanya dengan satu jurus saja?"

"Kau menang karena dua sebab," sang Sensei menjawab. "Pertama, kau hampir benar-benar menguasai salah satu jurus membanting tersulit yang ada di Judo. Dan kedua, satu-satunya pertahanan untuk melumpuhkan jurus itu adalah dengan menjepit lengan kirimu."

Maka, kelemahan terbesar pada diri anak laki-laki itu telah menjadi kekuatan terbesarnya.

(diadaptasi dari "Weakness or Strength?", Bits & Pieces, August 15, 1996, Economic Press Inc., Concentric.net)
kurama
mantap mas
lanjutin postingannya ya
bermutu banget
arex_kere
lanjut.....

makasih banget.....
dody2milis
PENGEMIS DAN DUA EKSEKUTIF MUDA


Dua orang eksekutif muda, Koen dan Cok, baru saja turun dari kantor mereka di kawasan Segitiga Emas Jakarta untuk beristirahat makan siang, ketika seorang pengemis mendekati mereka untuk meminta-minta. Dengan sinis Koen menolaknya dan mengusir pengemis itu pergi. Sebaliknya, melihat hal itu, Cok segera mengeluarkan dompetnya, mengambil selembar sepuluh ribuan dan memberikannya pada pengemis itu sambil tersenyum ramah. Pengemis itu
menerimanya dengan penuh gembira, berterimakasih sambil membungkuk-bungkukkan badannya.

Setelah pengemis itu pergi, Koen mengomel-ngomel atas sikap Cok itu, "Duh, kita ini bukan orang kaya. Lalu buat apa sok berbaik hati?" teriak Koen.
"Kamu khan tahu, pasti uang tadi dipakai pengemis itu untuk mabuk-mabukkan atau judi!"

Jawab Cok dengan santai, "Kalau begitu apa bedanya dengan kita?"

(diadaptasi dari "Beggars dan Choosers", Joke of The Day)
dody2milis
Smiley: CTRL+ALT+DEL ?


Empat orang insinyur sedang bepergian dalam sebuah kendaraan; insinyur mesin, insinyur kimia, insinyur elektro dan insinyur komputer. Dalam
perjalanan, tiba-tiba kendaraan yang mereka tumpangi mogok.

"Menurut saya, piston mesin mobil ini aus. Kita harus menggantinya," kata insinyur mesin.

"Menurut saya, bensinnya terkontaminasi. Kita musti memurnikannya terlebih dahulu," kata insinyur kimia.

"Menurut saya, sistem pembakarannya terganggu. Kita sebaiknya menyetel ulang sistem listriknya," kata insinyur elektro.

Kemudian mereka semua menoleh pada insinyur komputer yang terdiam saja sedari tadi. Mereka menanyai insinyur komputer itu, apa usulnya untuk
memperbaiki mobil mereka. Setelah terbengong sekian lama sambil menatapi kaca depan, akhirnya insinyur komputer itu berkata, "Hmm, saya tidak tahu kenapa. Tetapi sebaiknya kita keluar dari mobil ini, lalu masuk dan mencoba menstaternya lagi, mungkin mesinnya bisa berjalan normal kembali...??"


.. 096...
dody2milis
SEORANG YOGI DAN SEEKOR KALAJENGKING

Seorang yogi (ahli Yoga), yang duduk bersemadi di pinggir sungai Gangga, melihat seekor kalajengking jatuh ke dalam air di depannya. Ia memungut
kalajengking tersebut, namun disengat oleh binatang itu. Kalajengking itu jatuh lagi ke dalam air. Sekali lagi yogi tersebut menyelamatkannya, dan
sekali lagi ia disengat. Kejadian itu berulang dua kali lagi, dan baru setelah itu seseorang yang melihat kejadian itu bertanya kepada yogi itu,
"Anda terus juga menolong kalajengking itu, padahal satu-satunya terima kasih yang ditunjukkannya adalah menyengat Anda?"

Yogi itu menjawab, "Memang sifat kalajengking adalah menyengat, sedangkan sifat para yogi adalah menolong yang lain jika mereka mampu melakukannya."

(diadaptasi dari, "The Religions of Man", Huston Smith)

Pojok Renungan:
Bagaimana dengan sifat anda? Sesungguhnya sifat manusia yang hakiki adalah mencintai, maka jangan berhenti mencintai meski anda tak memperoleh apa-apa. Atau, meski hanya kebencian yang anda terima. Karena mencintai tak mengenal imbalan kecuali rasa cinta itu sendiri.
rizka
bagus bgt om...
makasih bnyk udah sharing hal bagus kyk gini.......
dody2milis
ARTI HIDUP

Suatu hari, seorang ibu dibawa ke rumah sakit setelah usaha bunuh dirinya berhasil digagalkan. Salah seorang anaknya baru saja meninggal pada usia 11 tahun. Dr. Kurt Kocourek mengundangnya ikut berpartisipasi dalam suatu kelompok terapi, dan secara kebetulan saya melangkah masuk ke dalam ruangan tempat terapi itu diadakan, ketika ibu tersebut sedang bercerita.

Setelah kematian anaknya, dia merasa sangat kesepian dan tinggal bersama anaknya yang satu lagi, yang lumpuh karena penyakit yang dideritanya ketika masih balita. Anak malang itu harus duduk di kursi roda setiap hari dan setelah kematian saudaranya, ia jarang diperhatikan oleh ibunya lagi. Akan tetapi sewaktu dia mencoba melakukan bunuh diri, anaknya yang lumpuh itulah yang mencegahnya. Anak itu mencintai kehidupan! Baginya, hidup sangat berarti. Kenapa ibunya tidak berpikir demikian juga? Saya jadi bertanya-tanya bagaimana caranya agar bisa membantu sang ibu untuk
berpikiran sama.

Dengan berimprovisasi sedikit, saya berpartisipasi dalam diskusi itu dan menanyai seorang wanita lain dalam kelompok.
Saya bertanya berapa umurnya. " Tiga puluh." Jawabnya.
Saya dengan cepat menukas kembali, "Bukan, kamu bukan berusia tiga puluh, tapi sudah delapan puluh tahun dan sekarang sedang berbaring di ranjang menunggu kematian. Dan sekarang kamu melihat kembali seluruh kehidupanmu. Sebuah hidup tanpa anak tetapi kaya dan terkenal."

Kemudian saya mengajaknya untuk membayangkan situasi tersebut, "Apa yang akan kamu pikirkan? Apa yang akan kamu katakan pada dirimu?"

Biarlah saya mengutip jawabannya:
"Oh, saya menikahi seorang milyuner. Saya mempunyai hidup yang menyenangkan dan makmur, dan saya benar-benar menikmatinya! Saya menggoda pria-pria tampan; saya mempermainkan mereka! Tetapi sekarang saya sudah delapan puluh tahun; saya tidak mempunyai seorang anak pun. Sebagai seorang wanita tua, saya tidak bisa melihat apa arti hidup saya selama ini. Sebenarnya saya harus mengakui, hidup saya adalah suatu kegagalan."

Kemudian saya mengundang ibu yang berusaha melakukan bunuh diri tadi untuk membayangkan hal yang sama. Mari kita dengarkan apa yang dikatakannya:

"Saya berharap memiliki anak dan harapan ini telah diberikan kepada saya. Salah satunya sudah meninggal dan yang satunya lagi yang lumpuh akan dikirim ke institusi jika saya tidak ingin merawatnya. Walau anak itu lumpuh dan memerlukan bantuan seumur hidupnya, dia tetap anakku. Jadi saya harus memberikan hidup yang berarti baginya. Saya akan membuatnya menjadi orang yang lebih baik."
Pada saat itu, air mata mengalir dari matanya. Dengan menangis, dia melanjutkan, "Saya bisa melihat kembali masa lalu saya yang damai karena hidup saya penuh dengan arti, dan saya telah berusaha keras untuk mencapainya. Saya telah melakukan yang terbaik. Saya telah melakukan yang terbaik untuk putraku. Hidup saya bukanlah suatu kegagalan!"

Dengan melihat hidupnya dari tempat tidur kematiannya, ibu itu telah menemukan tujuan hidupnya, tujuan hidup yang akan mengatasi segala
penderitaannya.

(diadaptasi dari "Man's Search for Meaning", Victor E. Frankl)

Pojok Renungan:
Kita semua memiliki sebuah hidup. Satu-satunya tugas kita adalah menemukan makna hidup dan memenuhinya. Maka kita akan memiliki hidup penuh makna. Inilah yang disebut kebahagiaan.
dody2milis
PERINTANG DI JALAN

Dahulu kala ada seorang raja yang pada suatu ketika meletakkan sebongkah batu besar di sebuah jalan raya. Kemudian ia bersembunyi untuk melihat
apakah ada orang yang menggeser batu besar yang merintangi keleluasaan lalu lintas itu. Beberapa saudagar terkaya dan bangsawan kerajaan itu, ketika berhadapan dengan batu besar itu lantas membelokkan langkah, mengitarinya agar bisa lewat. Banyak yang dengan lantang mengecam raja karena tidak memperhatikan keberesan kondisi jalan; tetapi tak seorangpun berbuat sesuatu untuk menyingkirkan batu besar itu. Kemudian lewatlah seorang petani, membawa sayur-sayuran. Ketika langkahnya terhambat sesampainya di perintang jalan itu, ia meletakkan bebannya lalu berusaha menggeser batu besar itu ke pinggir. Dengan susah payah, ia akhirnya berhasil.

Ketika petani itu hendak mengangkat lagi sayur-sayuran bawaannya tadi, dilihatnya ada sebuah dompet tergeletak di tengah jalan, ditempat batu besar tadi berada. Dompet itu berisi uang emas yang tidak sedikit serta sepucuk surat dari raja yang menyatakan bahwa uang emas itu diperuntukkan bagi orang yang menyingkirkan batu besar itu dari tengah jalan.

Dari kejadian itu si petani menarik pelajaran yang takkan pernah dimengerti oleh banyak orang : setiap rintangan merupakan peluang untuk memperbaiki keadaan.

(diadaptasi dari "A Cup of Chicken Soup for the Soul", Jack Canfield, dkk.)

Pojok Renungan: Rintangan memang menyebalkan bila kita tidak mampu menangkap peluang dibaliknya. Namun, setiap rintangan menjanjikan keberhasilan, hanya bila kita berani dan mampu mengatasinya.
dody2milis
HADIAH CINTA

"Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!
Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."

Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, "Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pu menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya." Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari
itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut
jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah ... bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. "Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?"

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat,
namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah
dikerjakan namun tidak diketahui.

(email dari sebuah milis. Terima kasih untuk siapa saja yang telah menulis cerita indah ini - 118)
dody2milis
WAKTU AKAN MENOLONG

Dahulu kala, ada sebuah pulau yang dihuni oleh berbagai bentuk emosi dan perasaan manusia; seperti, BAHAGIA, SEDIH, ILMU dan lain sebagainya,
termasuk CINTA.

Suatu hari datanglah berita bahwa pulau itu akan tenggelam, maka diminta pada semuanya untuk mempersiapkan perahu dan meninggalkan pulau. Saat semuanya pergi, hanya CINTA yang masih tertinggal. CINTA menunggu hingga tiba saat-saat yang terakhir. Dan, ketika pulau sudah hampir tenggelam, CINTA memutuskan untuk mencari bantuan.

Tak beberapa lama, KAYA melintas dengan perahunya yang luar biasa mewah. CINTA berkata, "KAYA, maukah kau membawa aku?" KAYA menjawab, "Tidak, saya tidak bisa. Perahuku penuh dengan emas dan perak. Tak ada lagi tempat untukmu."

Kemudian, CINTA memohon pada CEMAS yang lewat dengan perahunya yang indah. "CEMAS, tolonglah aku." Maaf, aku tidak bisa menolongmu, CINTA. Aku khawatir kau akan merusakkan perahuku," jawab CEMAS.

SEDIH lewat di depan CINTA. Sekali lagi CINTA memohon bantuan dari SEDIH, "SEDIH, ajaklah aku bersamamu." Namun SEDIH menjawab, "Oh, CINTA. Aku begitu sedih. Aku ingin menyendiri."

Tak lama BAHAGIA lewat, tapi ia tampak begitu bahagia hingga tidak mendengar panggilan CINTA.

Tiba-tiba terdengar suara, "Ayo CINTA, aku akan menolongmu." Tampaklah sosok yang begitu tua. CINTA merasa begitu senang sampai-sampai ia lupa menanyakan siapakah yang menolongnya itu.

Ketika mereka sampai di daratan, sosok tua itu pergi meninggalkan CINTA. Baru kemudian CINTA tersadarkan bahwa ia berhutang budi pada sosok tua itu. Lalu ia menanyakan hal itu pada ILMU, "Wahai ilmu, siapakah yang telah menolongku tadi?"

"Itu tadi adalah WAKTU," jawab ILMU.

"WAKTU?" kata CINTA heran. "Tapi mengapa WAKTU menolongku?"

ILMU tersenyum dan menjawab dengan penuh kebijakan, "Karena hanya WAKTU yang mampu memahami bahwa CINTA adalah penyelamat yang paling baik."

(diadaptasi dari: "Time Tested", unknown)
dody2milis
GEMA KEHIDUPAN

Seorang anak kecil dan ayahnya sedang berjalan di sebuah gunung. Tiba-tiba anak itu tergelincir dan menjerit, "Aaaaahhh!!!" Betapa kagetnya ia, ketika
mendengar ada suara dari balik gunung, "Aaaaahhh!!!"

Dengan penuh rasa ingin tahu, ia berteriak, "Hai siapa kau?" Ia mendengar lagi suara dari balik gunung, "Hai siapa kau?"

Ia merasa dipermainkan dan dengan marah berteriak lagi, "Kau pengecut..!!"
Sekali lagi dari balik gunung terdengar suara, "Kau pengecut..!!"

Ia lalu menengok ke ayahnya dan bertanya, "Ayah, sebenarnya apa yang terjadi?"

Ayahnya tersenyum dan berkata, "Anakku, mari perhatikan ini" Kemudian ia berteriak sekuat tenaga pada gunung, "Aku mengagumimu..!!" Dan suara itu menjawab, "Aku mengangumimu..!!"

Sekali lagi ayahnya berteriak, "Kau adalah sang juara..!!" Suara itu pun menjawab lagi, "Kau adalah sang juara..!!"

Anak itu merasa terheran-heran, tapi meih juga belum memahami. Kemudian ayahnya menjelaskan, "Nak, orang-orang menyebutnya GEMA, tetapi sesungguhnya inilah yang dimaksud dengan hidup itu. Ia akan mengembalikan padamu apa saja yang kau lakukan dan katakan. Hidup kita ini hanyalah refleksi dari tindakan kita. Bila kau ingin mendapatkan lebih banyak cinta kasih di dunia ini, maka berikanlah cinta kasih dari hatimu. Bila kau ingin mendapatkan kebaikan dari orang lain, maka berikanlah kebaikan dari dirimu. Hal ini berlaku pada apa saja dan pada semua aspek dalam hidup. Hidup akan memberikan apa yang telah kamu berikan padanya. Maka, sebenarnya hidup ini bukan suatu kebetulan.
Hidup adalah pantulan dari dirimu; gema dirimu.

" (diadaptasi dari: "The Echo of Life", unknown)
white lotus
ceritanya keren-keren.....trims for posting...
dody2milis
smiley : SURAT WASIAT
The Joker

Seorang direktur yang baru diangkat memasuki ruang kerjanya dan menemukan empat buah ampop tertumpuk di atas meja. Pada amplop pertama tertulis, "Bukalah aku terlebih dahulu". Kemudian di amplop berikutnya berturut-turut tertulis nomor 1, 2, 3.

Ia membuka amplop pertama dan menemukan sepucuk surat dari direktur terdahulu yang digantikannya. Di surat tersebut tertulis, "Berikut ini, aku
tinggalkan padamu tiga buah surat yang akan menyelamatkanmu dari masa-masa krisis. Setiap kau mengalami keadaan darurat dimana kau tidak tahu harus berbuat apa, bukalah amplop-amplop berikut ini secara berurutan. Mulai dari nomor satu, nomor dua lalu nomor tiga."

Direktur itu lalu menyimpan amplop-amplop tersebut dan segera melupakannya.

Enam bulan kemudian, para buruh di perusahaannya mogok kerja. Pabrik pun ditutup dan mengalami kerugian besar. Berhari-hari ia melakukan negosiasi dengan serikat pekerja, tetapi hasilnya nol besar. Tiba-tiba ia teringat pada amplop-amplop peninggalan direktur pendahulunya. Kemudian ia membuka amplop nomor satu. Dan ia membaca, "Untuk memecahkan persoalanmu ini, salahkan saja aku. Lemparkan semua kekeliruan yang terjadi pada aku; direktur pendahulumu." Wow, ini ide yang bagus, katanya dalam hati. Kemudian ia mengikuti apa yang tertulis di surat itu dan persoalannya pun selesai. Semua orang senang.

Beberapa bulan kemudian, para buruh melakukan mogok kerja lagi. Kali ini ia langsung membongkar laci mejanya dan membuka surat nomor dua. Di sana tertulis, "Kali ini, salahkan Pemerintah atas semua persoalan yang menimpamu." Anjuran ini pun bekerja dengan baik. Ia bisa bernafas lega.
Sekali lagi, pekerjaannya terselamatkan.

Sebulan kemudian, buruh mogok lagi. Tanpa banyak pikir, direktur itu membuka amplop nomor tiga. Di sana tertulis, "Cepat siapkan empat buah amplop sebagaimana yang aku wasiatkan padamu ini."

(diadaptasi dari: Letters eat cake)
dody2milis
Smiley: TIDAK MAU NILAI B
Unknown

Seorang Dosen berbicara di depan para mahasiswa MBA. Hari itu akan diadakan ujian akhir untuk menentukan lulus tidaknya mereka dalam mata kuliah
tersebut.

Kata si Dosen, "Saudara-saudara sekalian, saya senang sekali bisa memberikan mata kuliah tersulit dalam semester ini. Saya tahu, anda telah berusaha
keras. Meski sebagian besar dari anda harus bekerja di siang hari, bahkan banyak yang jatuh sakit karena terlalu lelah. Saya tahu itu semua demi
karier anda. Dan tentu saja karier anda jauh lebih penting dibanding semua usaha-usaha tersebut."

Dosen itu menghela nafas, "Hari ini sedang diadakan test interview penerimaan karyawan baru di sebuah perusahaan multi nasional yang terkenal.
Oleh sebab itu ada beberapa mahasiswa yang memilih untuk tidak ikut dalam ujian ini, namun mengikuti test interview di perusahaan tersebut. Ini adalah kesempatan baik yang sangat-sangat jarang terjadi."

Kelas menjadi agak ribut.

Dosen itu melanjutkan, "Saya ingin anda sukses. Karena itu, saya mengijinkan anda semua yang berminat untuk mengikuti test interview tersebut untuk tidak mengikuti ujian ini. Dan anda tak perlu khawatir karena saya akan memberikan nilai B pada anda."

Wah, kontan para mahasiswa itu bersorak-sorai sambil mengucapkan terima kasih pada si Dosen. Satu per satu mahasiswa MBA itu meminta ijin dan
meninggalkan ruang kelas. Hingga akhirnya tinggal satu orang mahasiswa yang tetap tinggal dalam kelas. Dosen itu merasa heran, katanya, "Ayo, ini
kesempatan terakhir! Jangan disia-siakan." Namun, mahasiswa itu tetap tidak beranjak.

Dosen itu tersenyum lalu berbisik, "Saya bangga dengan kepercayaan diri yang kau tunjukkan. Ayo cepat keluar. Jangan persoalkan nilai ujianmu. Saya akan memberimu nilai A!"

(diadaptasi dari unknown)
Renji Furuya
Keren banget! makasih smile.gif
ubadeo
mantap
dody2milis
PELUANG YANG NYARIS LEWAT

Karena ingin menyenangkan hati istri saya yang hendak keluar dengan seorang sahabatnya, saya menawarkan diri untuk menjaga Ramanda, anak perempuan kami yang berumur tiga tahun. Saya lantas sibuk mengerjakan sesuatu, sementara Ramanda tampaknya sedang asyik sendiri di kamar lain. Tidak ada masalah, begitulah pikir saya. Namun kemudian suasana terasa tenang sekali. Terlalu tenang! Saya berseru, "Apa yang sedang kau lakukan, Ramanda?" Tidak ada jawaban. Saya ulangi pertanyaan saya dan terdengar jawabannya, "Ah... tidak sedang apa-apa." Tidak berbuat apa-apa? Sedang berbuat apa anak itu?

Saya meninggalkan meja tempat saya bekerja, lari masuk ke ruang duduk. Saya sih sempat melihat Ramanda bergegas masuk ke kamar tidur. Saya
mengejarnya. Ia lari, masuk ke kamar mandi. Salah langkah, karena dari situ ia tidak bisa ke mana-mana lagi. Saya suruh ia berpaling. Ramanda tidak mau. Dengan suara galak, sekali lagi saya menyuruhnya berpaling.

Ramanda memutar tubuhnya lambat-lambat, menghadap ke arah saya. Tampak dalam genggamannya sisa lipstik yang baru dibeli istri saya. Dan seluruh muka anak itu penuh dengan warna merah menyala (tentu saja kecuali bibirnya)!

Sementara ia memandang saya dengan tatapan mata ketakutan dan bibir gemetar, terngiang di telinga saya suara-suara yang diteriakkan kepada saya semasa masih kecil dulu, "Bisa-bisanya kamu... Kamu mestinya sudah tahu bahwa... Sudah berapa kali ayah katakan padamu... Itu nakal namanya..." Saya tinggal memilih saja dampratan mana yang hendak saya pergunakan untuk Ramanda agar ia tahu bahwa yang dilakukannya itu merupakan kenakalan. Tetapi sebelum sempat saya sempat mendamprat, saya melihat baju kaus lengan panjang yang dipakainya. Istri saya yang memakaikannya, baru sejam yang lalu. Pada bagian dada kaus itu tertera tulisan berhuruf besar-besar: I'M A PERFECT LITTLE ANGEL - Aku malaikat cilik yang sempurna. Suatu ungkapan untuk menyatakan perilaku manis tanpa cela. Kupandang kembali matanya yang basah karena air mata. Aku tidak lagi melihat anak nakal yang tidak mau menurut. Aku kini melihat malaikat cilik yang tak ternilai harganya, penu h spontanitas yang nyaris saja kulenyapkan dari dirinya andaikan aku tadi sempat membuatnya merasa bersalah.

"Kau kelihatan cantik sekali, sayang! Sini, ayah foto, biar ibu bisa melihat betapa hebatnya wajahmu." Saya memotretnya sambil bersyukur bahwa saya tidak kehilangan peluang untuk memperoleh penegasan kembali betapa sempurnanya malaikat cilik yang dikaruniakan-Nya kepadaku.

(diadaptasi dari "A Cup of Chicken Soup for the Soul", Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Barry Spilchuk)
dody2milis
Smiley: PERTANYAAN KEDUA SAJA!

Setelah melewati babak penyisihan yang sangat ketat, akhirnya Kabayan sampai ke babak final kuis TV Tak-Tik-Bom berhadiah Rp. 100 juta. Kabayan adalah peserta satu-satunya dalam sejarah kuis Tak-Tik-Bom yang berhasil menjawab semua pertanyaan dan maju ke babak final. Sehari sebelum babak final diselenggarakan Kabayan bilang pada MC Dede Nyusup bahwa ia ingin pertanyaan tentang sejarah Indonesia.

Akhirnya tibalah malam yang dinanti-nantikan. Acara itu ditayangkan langsung ke seluruh nusantara dan di saksikan jutaan pemirsa. Semua orang ingin
melihat apakah Kabayan berhasil menjawab pertanyaan final kemudian membawa pulang 100 milliar Rupiah.

Kabayan berdiri di atas panggung dengan gagah. Setelah basa-basi perkenalan, MC Dede Nyusup tampil, "Pak Kabayan, anda telah memilih pertanyaan tentang sejarah Indonesia. Anda tahu khan, kalau anda bisa menjawab pertanyaan ini maka anda pulang membawa 100 juta Rupiah bebas pajak. Apakah anda sudah siap?"

Dengan mantap Kabayan mengangguk. Penonton di studio bersorak-sorai riuh rendah. Sedangkan produser acara Tak-Tik-Bom tampak gemetar cemas.
Seandainya Kabayan berhasil menjawab pertanyaan itu, maka bangkrutlah usahanya ini. Sejarah Indonesia adalah keahlian si Kabayan. Belum pernah ia gagal dalam soal ini.

Kata MC Dede Nyusup, "Pak Kabayan, pertanyaan tentang sejarah Indonesia ini dibagi menjadi dua bagian. Anda boleh memilih untuk menjawab pertanyaan yang pertama atau yang kedua terlebih dahulu. Yang jelas, pertanyaan kedua lebih mudah dibanding pertanyaan pertama. Nah, pertanyaan yang manakah yang anda pilih terlebih dahulu?"

Kabayan berpikir sejenak. Meski sejarah Indonesia adalah keahliannya, tetapi ia ingin bermain selamat saja. "Saya pilih pertanyaan kedua terlebih
dahulu," kata Kabayan tanpa ragu.

MC Dede Nyusup mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Saya akan mengajukan pertanyaan kedua kemudian pertanyaan pertama."

Penonton di studio menahan nafas. Pemirsa TV di rumah diam untuk menyimak pertanyaan yang akan diajukan.

"Pertanyaan kedua," kata MC Dede Nyusup dengan perlahan. "Tahun berapakah terjadinya hal tersebut?"


(diadaptasi dari "The Big Question", Joke For Today)

* Psstt.. tahukah anda pertanyaan pertamanya? Yaitu: "Dimanakah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dibacakan?"
dody2milis
LUKISAN KEDAMAIAN
Unknown

Seorang Raja mengadakan sayembara dan akan memberi hadiah yang melimpah kepada siapa saja yang bisa melukis tentang kedamaian. Ada banyak seniman
dan pelukis berusaha keras untuk memenangkan lomba tersebut. Sang Raja berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka. Hanya ada dua buah lukisan yang benar-benar paling disukainya. Tapi, sang Raja harus memilih satu di antara keduanya.

Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang. Permukaan telaga itu bagaikan cermin sempurna yang memantulkan kedamaian gunung-gunung yang
menjulang mengitarinya. Di atasnya terpampang langit biru dengan awan putih berarak-arak. Semua yang memandang lukisan ini akan berpendapat, inilah
lukisan terbaik mengenai kedamaian.

Lukisan kedua menggambarkan pegunungan juga. Namun tampak kasar dan gundul. Di atasnya terlukis langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan
badai. Sedangkan tampak kilat menyambar-nyambar liar. Di sisi gunung ada air terjun deras yang berbuih-buih. Sama sekali tidak menampakkan ketenangan dan kedamaian. Tapi, sang Raja melihat sesuatu yang menarik. Di balik air terjun itu tumbuh semak-semak kecil di atas sela-sela batu. Di dalam semak-semak
itu seekor induk Pipit meletakkan sarangnya. Jadi, di tengah-tengah riuh-rendahnya air terjun, seekor induk Pipit sedang mengerami telurnya dengan damai. Benar-benar damai.

Lukisan manakah yang memenangkan lomba?

Sang Raja memilih lukisan nomor dua. Tahukah anda mengapa? "Karena", jawab sang Raja, "kedamaian bukan berarti anda harus berada di tempat yang tanpa
keributan, kesulitan atau pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai, meski anda berada di tengah-tengah keributan
luar biasa. Kedamaian hati adalah kedamaian sejati"

(diadaptasi dari Unknown, Coffeeintherain.com)
dody2milis
Smiley:
SUARA JANGKRIK DAN SUARA UANG


Seorang Seniman tua bertemu dengan sahabat karibnya yang kini menjadi konglomerat kaya. Sudah sekian puluh tahun mereka tidak saling berjumpa.
Kini mereka memutuskan untuk menghabiskan hari itu dengan berjalan kaki mengelilingi kota sambil mengenang persabahatan mereka di masa kanak-kanak dulu.

Tanpa kenal lelah mereka berjalan, bertukar pengalaman dan bersenda gurau. Hari pun beranjak petang. Mereka tiba di sebuah pasar malam yang ramai penuh dengan lalu lalang pengunjung. Tiba-tiba si Seniman tua ini berhenti, terdiam terpaku. Bibirnya tersenyum. Matanya terpejam, seakan menikmati sesuatu. Rekannya, si Konglomerat itu, terheran-heran melihat kelakuan si seniman. "Ada apa?" tanyanya.

"Sst, tidakkah kau mendengar suara yang indah ini?" jawab si Seniman.

"Aku hanya mendengar suara riuh rendah kerumunan orang-orang di pasar malam ini. Suara apa yang kau dengar?" tanya si Konglomerat.

"Nyanyian merdu seekor jangkrik." jawab si Seniman. Si Konglomerat itu semakin keheranan. Ia sama sekali tak mendengar suara jangkrik, apalagi di
tempat yang ramai seperti itu. Kemudian, si Seniman berjongkok ke arah selokan. Perlahan tangannya mengais sebuah lubang yang agak tersembunyi.
Dan, hup, dari lubang itu meloncatlah seekor jangkrik jantan hitam legam gagah dengan garis kuning cantik di lehernya..

Si Konglomerat membelalakkan matanya penuh takjub. "Kau benar-benar seorang seniman sejati yang mampu mendengarkan suara alam meski sangat lirih. Indera pendengaranmu sangat tajam dan luar biasa." puji si Konglomerat terkagum-kagum.

Si Seniman itu tersenyum. "Ah, sebenarnya pendengaranku ini tidak seberapa dibanding dengan pendengaran dan penglihatan orang-orang kebanyakan." Lantas, seniman itu merogoh saku celananya, mengambil segenggam uang logam dan melemparkannya ke trotoar. Suara uang logam itu bergemerincing. Segera saja semua orang di sekitar mereka berhenti dan terdiam. Mata-mata mereka mengamati kemana uang-uang logam itu menggelinding. Bahkan, ada beberapa orang yang mencoba memungutnya.

Kata si seniman tua, "Benar khan? Mereka mungkin tidak bisa mendengar nyanyian jangkrik tadi, tetapi mereka takkan menyia-nyiakan suara uang!"

Smiley...! Itulah mengapa seniman tua itu tidak menjadi seorang konglomerat kaya-raya bergelimang uang.
dody2milis
Smiley: KEKAYAAN

Seorang ayah yang sangat kaya raya mengajak anaknya berkeliling desa. Ia ingin mengajarkan pada si anak tentang kemiskinan dan menunjukkan betapa miskinnya penduduk desa itu. Hari itu, mereka bermalam di sebuah rumah keluarga petani yang sangat sederhana.

Ketika mereka kembali pulang ke kota, si ayah bertanya pada anaknya, "Nak, bagaimana kesanmu tentang perjalanan kita kali ini?"

Si anak menjawab, "Sangat menyenangkan, yah!"

"Apakah kau melihat betapa miskinnya keluarga petani yang kita inapi semalam?" tanya si ayah lagi.

"Ya,"

"Lalu, pelajaran apa yang dapat kau ambil dari perjalanan kita ini?" tanya si ayah penasaran.

"Oh, saya telah belajar bahwa, kita cuma memelihara seekor kucing dalam rumah. Sedangkan mereka memiliki beberapa ekor kambing dan ayam yang
dipelihara dalam rumah mereka. Kita mempunyai kolam dengan air mancur dan lampu hias di taman depan rumah. Sedangkan mereka memiliki sungai kecil panjang yang melintasi halaman rumah, dan bintang-bintang yang menghiasi kebun mereka. Halaman rumah kita dibatasi oleh pagar rumah orang lain, sedangkan halaman mereka adalah sawah ladang yang luas dan gunung-gunung yang menjulang tinggi."

Si anak berhenti sejenak untuk merenung.

Beberapa saat kemudian, si anak menghela nafas dan menjawab pertanyaan ayahnya, "Terima kasih yah. Engkau telah menunjukkan betapa sangat miskinnya kita, dan betapa kayanya mereka."

Smiley...! Manakah yang lebih berharga: lampu taman yang mahal atau bintang-bintang di langit malam? Kolam dengan air mancur indahnya atau
sungai dan air terjunnya? Persepsi...! Bukankah kaya atau miskin hanyalah permainan persepsi saja.

(Inspired by "Riches", submitted by Judy McMann)
b4rb4r
tenks for posting braderZ hehe,, keep posting yaak
\
dody2milis
POHON APEL

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi
pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk
membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel.

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau
menolongku?"

"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.

Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku." kata
pohon apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal
untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

"Maaf, anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."

"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu." jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat." kata pohon apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini." kata
pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata anak lelaki. "Aku hanya mmebutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan
akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika
kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan. Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.

Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada
kita.

(diadaptasi dari "Apple Tree", unknown)
dody2milis
Smiley: DEFINISI HUKUM


Seorang awam bertanya pada seorang pakar hukum mengenai definisi hukum. Kata sang pakar, "Menjelaskan apa sebenarnya hukum itu sulit, tetapi kita bisa memahaminya dari cerita berikut. Dua orang bergantian masuk ke dalam sebuah cerobong asap yang hitam. Saat keluar dari cerobong, badan dan pakaian salah seorang di antaranya menjadi hitam kotor, sedangkan yang satunya tetap putih bersih. Pertanyaannya, siapa di antara mereka yang akan mandi untuk membersihkan badan?"

"Tentu saja yang badannya kotor," jawab orang awam.

"Salah, yang badannya bersihlah yang akan mandi. Kenapa? Karena melihat rekannya kotor, ia menganggap dirinya juga kotor. Sedang yang kotor
menganggap dirinya bersih." Si pakar hukum melanjutkan lagi ceritanya.
"Kedua orang tadi masuk lagi ke dalam cerobong. Ketika keluar, keadaannya tetap saja. Satu kotor dan satu bersih. Siapa yang mandi?"

"Yang bersih," jawab orang awam.

"Salah, yang badannya kotorlah yang mandi. Berdasarkan pengalaman yang terdahulu, mereka memeriksa dirinya sendiri, tidak melihat diri orang
lain.Yang kotor tahu dirinya kotor maka dia segera mandi." Cerita terus berlanjut. "Untuk ketiga kalinya, mereka masuk lagi ke dalam cerobong.
Sekarang siapa yang mandi, yang bersih atau yang kotor?"

Orang awam berpikir sejenak dan menjawab, "Yang bersih."

"Salah, "jawab pakar hukum.

"Kalau begitu, keduanya mandi bersama atau tidak ada yang mandi."

"Semua salah. Yang benar adalah mana mungkin ada cerita macam itu. Dua orang masuk ke satu cerobong tetapi keluarnya bisa satu bersih satu kotor?
Demikian pula definisi hukum itu, semuanya tergantung dari siapa yang menafsirkannya." Demikanlah penjelasan definisi hukum yang dijabarkan oleh
pakarnya.

Hikmah:
Smiley...! Kita cenderung untuk melihat kesalahan orang lain, tak pernah menyadari kesalahan diri sendiri, inilah tahap pertama kehidupan kita. Semua
ini berlanjut hingga ke tahap kedua, kita mulai belajar untuk mawas diri/introspeksi agar tidak sampai babak belur, dijauhi, dibenci atau dimaki-maki orang di sekeliling kita. Di dalam dunia yang nyata ini (cerobong asap), mana ada sih orang yang tak punya kelemahan (keluar dari cerobong tetap putih bersih)? Di sinilah kita akan mencapai tahap ketiga.
Setiap orang pasti memiliki kelemahan. Meskipun ada juga orang yang berhasil memperbaiki kelemahannya tetapi bagaimanapun juga dia masih tetap memiliki kelemahan yang lain. Jangan rendah diri dengan kelemahan yang kita miliki (baik jasmani, akal kecerdasan ataupun materi duniawi) dan gunakan kelebihan kita untuk mengejar prestasi yang setinggi-tingginya. Dalam segala hal pertimbangkanlah kelebihan dan kelemahan kita. Sebagai seorang pemimpin, pertimbangkanlah kelebihan dan kelemahan bawahan sebelum membagi tugas dan tanggung jawab.
dody2milis
KEINGINAN

Suatu pagi Raja berjalan-jalan di luar istananya dan bertemu dengan seorang pengemis. Lalu, Raja bertanya pada Pengemis, "Hai Pengemis, apa yang kau inginkan dariku?"

Pengemis itu tertawa terbahak-bahak dan menjawab, "Mengapa Yang Mulia bertanya demikian? Apakah Yang Mulia mampu memenuhi keinginan hamba?"

Sang Raja merasa tersinggung, katanya, "Tentu saja! Aku pasti dapat memenuhi keinginanmu. Kata apa keinginanmu."

Pengemis itu menyahut, "Harap Yang Mulia berpikir dua kali sebelum menjanjikan sesuatu." Ternyata, Pengemis ini bukanlah pengemis sembarangan.
Ia sebenarnya adalah guru dari Raja tersebut yang telah lama meninggalkan kerajaan. Ketika itu ia pernah berjanji, "Aku akan datang menyadarkanmu dan memberi pelajaran hidup yang masih kau lupakan."

Namun, sang Raja tidak mengenal Gurunya yang sedang menyamar menjadi Pengemis itu. Sang Raja merasa dilecehkan dan memaksa Pengemis itu, "Aku akan memenuhi semua keinginanmu. Aku adalah raja yang sangat berkuasa, tak ada satu keinginanpun yang tak dapat aku penuhi."

Pengemis itu berkata, "Ah, keinginan hamba gampang sekali. Apakah Yang Mulia melihat mangkuk yang hamba pergunakan untuk meminta-minta itu? Dapatkah Yang Mulia memenuhinya dengan sesuatu?"

Sang Raja tertawa, "Oh tentu saja...!" Ia lalu memanggil salah satu pengawalnya dan memerintahkan untuk mengisi mangkuk Pengemis itu dengan
uang. Pengawal itu segera pergi ke istana dan kembali sambil membawa sekantung uang. Ia lalu memasukkan uang itu ke dalam mangkuk Pengemis.
Namun, ajaib! Begitu dimasukkan ke dalam mangkuk, uang itu langsung lenyap tak berbekas. Begitu terus. Meski sudah dimasukkan banyak uang, mangkuk itu tetap kosong.

Tak lama orang-orang pun berkumpul melihat keajaiban itu. Hampir seluruh kekayaan Raja sudah dimasukkan ke dalam mangkuk itu. Raja itu berteriak, "Bagaimana mungkin? Aku sudah hampir kehilangan seluruh kerajaanku namun masih juga belum mampu mengalahkan pengemis ini." Seluruh perhiasan, emas dan batu-batu permata milik sang Raja telah lenyap ditelan mangkuk Pengemis itu. Mangkuk itu sepertinya tidak memiliki dasar. Apa pun yang masukkan - apa pun! - langsung lenyap begitu saja.

Malam telah tiba, orang-orang yang riuh rendah kini menjadi senyap. Sang Raja telah kehilangan segala-galanya. Sang Raja berlutut di hadapan Pengemis mengakui kekalahannya, "Baiklah, kau menang. Namun, sebelum kau pergi, maukah kau memenuhi keingintahuanku. Terbuat dari apakah mangkuk itu?"

Si Pengemis tertawa dan berkata, "Hahaha... mangkuk ini terbuat dari "pikiran manusia". Ini bukanlah rahasia besar. Ini benar-benar hanya terbuat
dari pikiran manusia biasa."

Mari kita pahami hal ini dalam kehidupan nyata. Ambilah satu keinginanmu - amati bagaimana prosesnya. Pertama, ketika kau dapat memenuhi satu
keinginanmu, kau akan merasakan kenikmatan dan kegembiraan yang luar biasa. Namun, segera saja perasaan itu lenyap. Semula kau hanya menginginkan mobil, namun kemudian kau menginginkan rumah, kapal pesiar, istri dan seterusnya, karena segera saja semua itu menjadi tak berharga lagi.

Kenapa? Karena pikiranmu telah melenyapkannya. Memang benar kendaraan telah kau miliki, namun segera saja kau kehilangan kegembiraan atas kendaraan itu. Kenikmatan itu hanya terletak pada saat kau memilikinya. Meski kau telah memiliki rumah mewah, kapal pesiar dan istri yang cantik, segera saja kenikmatan itu lenyap. Yang ada kekosongan di sana yang siap menelanmu. Sekali lagi kau harus menciptakan keinginan lain agar kau bisa melarikan diri dari jurang yang tak berdasar itu. Bila kau terus berusaha menciptakan dan memenuhi keinginanmu, maka kau akan melupakan ketenangan batinmu.

Itulah mengapa, sebenarnya bila kau berusaha memenuhi semua keinginanmu, kau hanyalah seorang pengemis. Saat kau menyadari bahwa keinginan itu sebenarnya mengecohmu maka kau akan tiba di titik balik kehidupanmu. Dan kau menemukan sebuah jalan baru. Jalan menuju ke dalam dirimu. Maka, masuklah ke dalam hatimu. Ke dalam keheningan batinmu. Ke dalam kekosongan. Pulanglah ke rumahmu sendiri.

(diadaptasi dari "Desire", Unknown)
dody2milis
Smiley: IMAJINASI


Profesor Buckland adalah pakar biologi termasyhur pada awal abad ke 19. Suatu hari ia menjamu tamu-tamunya makan malam. Kebetulan, pada pagi harinya ia baru saja membedah seekor buaya.

"Anda suka rasa sopnya?" yanyanya pada salah seorang tamu setelah sang tamu menghabiskan sopnya.

"Sop penyu, khan? Ini dugaan saya karena warna lemaknya hijau," kata sang tamu yang juga pecinta makanan pada masa itu.

"Saya pikir ini semacam sop yang rasanya aneh. Tidak terlalu jelas apa rasanya, enak sih enak, tetapi agak asing...," sahut yang lain ikut menebak.

"Itu memang semua rasa buaya, seperti buaya yang saya bedah tadi pagi dan anda makan sopnya malam ini," jawab sang Profesor kalem.

Para tamu menjadi gaduh, beberapa orang malahan meninggalkan ruangan dan segera ke kamar kecil.

"Ha...! Lihat apa artinya imajinasi...!" Profesor Buckland berseru. "Jika saya katakan pada para tamu bahwa ini adalah sop penyu atau sop sarang
burung, mereka pasti akan mengatakan bahwa sopnya sangat lezat..."

Tak beberapa lama kemudian, salah seorang tamu bertanya hati-hati, "Tapi betulkah ini sop buaya, Prof?"

"Ha..., ha..., ha..., sup buaya...?! Mustahil...! Ini adalah sop daging sapi muda yang lezat...!"
dody2milis
PEDANG DAMOCLES

Suatu ketika hiduplah seorang raja bernama Dionysius yang memerintah di Syracuse, kota terkaya di Sisilia. Ia tinggal di istana megah yang dipenuhi oleh benda-benda yang indah dan mahal, dan dikelilingi oleh pelayan-pelayan yang siap melakukan apa pun perintahnya.

Karena kekayaan dan kekuasaannya, tak heran bila banyak orang di Syracuse yang iri pada kejayaannya. Salah satunya adalah Damocles, sahabat karib Dionysius, yang selalu berkata, "Wah, kau sungguh beruntung. Kau memiliki apa saja yang kau inginkan. Tentunya, kau adalah orang yang palng berbahagia di dunia ini."

Hingga suatu hari Dionysius merasa gerah dengan ucapan-ucapan Damocles dan berkata, "Kemarilah, sobatku, Damocles. Benarkah kau pikir aku ini manusia paling berbahagia dibanding orang lain?"

"Ya, tentu saja," jawab Damocles. "Lihatlah, betapa hebat kekayaan yang kau miliki dan kekuasaan yang ada dalam genggamanmu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi di dunia ini. Adakah hidup yang lebih baik dari kehidupanmu?"

"Barangkali, kau bersedia untuk bertukar tempat denganku?" kata Dionysius.

"Oh, saya malah tidak pernah memimpikan hal itu," kata Damocles. "Tapi, andai saja saya boleh mencicipi kekayaan dan kenikmatan-kenikmatan yang kau miliki itu selama satu hari saja, maka aku tak akan memimpikan kebahagiaan yang lebih besar lagi.

"Baiklah. Kita bertukar tempat hanya satu hari saja, dan kau boleh memiliki itu semua," jawab Dionysius.

Kemudian, keesokan harinya, Damocles diboyong ke istana. Semua pelayan dan dayang-dayang telah diperintahkan untuk memperlakukannya sebagaimana layaknya seorang raja. Mereka pun memakaikan busana kerajaan pada Damocles. Tak lupa, Damocles pun mengenakan mahkota raja di kepalanya. Lalu, ia duduk di ruang makan istana yang telah dipenuhi oleh makanan-makanan lezat, anggur yang mahal, bunga-bunga indah, parfum dengan wewangian semerbak, dan musik yang merdu. Tidak ada yang diinginkannya tidak tersedia. Semuanya ada.
Damocles pun merebahkan tubuhnya di sofa yang lembut dan merasa bahwa ia benar-benar menjadi manusia yang paling berbahagia di dunia ini.

"Tahukah kau," bisiknya pada Dionysius yang duduk di ujung meja panjang. "Aku belum pernah menikmati hidup semacam ini."

Lalu ia meraih segelas anggur. Ketika gelas itu menyentuh bibirnya, ia melihat sebuah bayangan di langit-langit yang terpantul dari gelas anggur. Benda apakah yang menggantung tepat, bahkan hampir menyentuh, kepalanya itu?

Mendadak Damocles melonjak. Senyumnya hilang dari bibirnya. Wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar. Ia merasa tak selera pada makanan, anggur dan musik indah lagi. Ia hanya ingin segera meninggalkan tempat ini, sejauh mungkin, tak peduli di mana pun itu.

Apa yang menyebabkan Damocles begitu berubah? Ternyata, di atasnya tergantung sebuah pedang yang diikat dengan seutas rambut kuda. Pedang itu berkilat-kilat saking tajamnya, dan tepat tertuju ke tengah-tengah dua bola matanya. Damocles ingin segera beranjak dan lari, tetapi ia mengurungkan niatnya, karena khawatir bila tindakan terburu-burunya itu malah memutuskan rambut kuda itu dan membuat pedang tajam itu menghujamkan pedang itu ke tubuhnya. Akhirnya ia terbujur kaku di sofanya.

"Hay, ada apa gerangan, sahabatku?" tanya Dionysius. "Sepertinya kau kehilangan seleramu."

"Pedang itu...! Pedang itu...!" bisik Damocles. "Tidakkah kau melihatnya?"

"Oh ya, aku melihatnya dengan jelas," kata Dionysius. "Aku melihatnya setiap hari. Pedang itu selalu tergantung di atas kepalaku. Dan, selalu ada kesempatan bagi siapa pun untuk memutuskan tali rambut kuda yang tipis itu.
Mungkin saja orang itu adalah salah seorang dari penasehatku yang iri dan dengki pada kekuasaanku dan berusaha membunuhku. Atau ada seseorang yang menyebarkan fitnah tentang diriku sehingga orang-orang berbalik membenciku. Atau, mungkin juga raja tetangga yang ingin merebut tahtaku. Atau, aku melakukan kebijakan yang keliru sehingga dapat meruntuhkan kewibawaanku. Bila kau ingin menjadi pemimpin, kau harus bersedia menerima resiko-resiko tersebut. Resiko-resiko itu datang bersama kekuasaan yang kau peroleh. Pahamkah kau wahai Damocles?"

"Ya, kini aku paham," kata Damocles. "Aku paham bahwa aku keliru, dan kau sebenarnya banyak memikirkan sesuatu selain kekayaan dan kekuasaanmu belaka. Baiklah, ambil kembali tahtamu ini. Dan biarkan aku tinggal di rumahku saja."

Kemudian, hingga akhir hayatnya, Damocles tidak lagi memimpikan untuk menjadi raja meskipun hanya sejenak.

(diadaptasi dari: "Sword of Damocles", diceritakan oleh James Baldwin, "The Book of Virtues", William J. Bennett )
dody2milis
Smiley: ANTARA KRITIK DAN PENGHARGAAN

Seorang wanita baru pindah ke sebuah kota kecil. Setelah berada di sana beberapa waktu, ia mengeluh kepada tetangganya tentang pelayanan buruk yang dialaminya di apotek setempat. Ia meminta pada tetangganya agar mau menyampaikan kritiknya pada pemilik apotek itu.

Beberapa hari kemudian wanita pendatang tersebut pergi lagi ke apotek itu. Pemilik apotek menyambutnya dengan senyum lebar sambil mengatakan betapa senangnya ia melihat wanita itu berkenan datang kembali ke apoteknya, dan berharap wanita dan suaminya menyukai kota mereka. Bukan hanya itu, pemilik apotek itu bahkan menawarkan diri membantu wanita dan suaminya menguruskan berbagai hal agar mereka bisa menetap di kota itu dengan nyaman. Lalu, ia pun mengirimkan apa yang dipesan wanita itu dengan cepat dan baik.

Wanita itu merasa senang dengan perubahan luar biasa yang ditunjukkan oleh pemilik apotek. Kemudian, ia melaporkan hal itu pada tetangganya. Katanya, "Anda tentu sudah menyampaikan kritik saya mengenai betapa buruk pelayanannya waktu itu."

"Oh, tidak," jawab tetangganya. "Sebenarnya saya tidak menyampaikan kritik anda pada mereka. Saya harap anda tidak keberatan. Saya katakan pada pemilik apotek itu betapa anda terkagum-kagum melihat caranya mendirikan apotek di kota kecil ini. Dan, anda merasa apoteknya adalah salah satu apotek dengan pelayanan terbaik yang pernah anda temui."

"???"
--------------------------------------------
* Smiley's...! Semua orang akan melakukan apa pun bagi anda, bila anda memperlakukan mereka dengan penuh hormat, penting, dan berharga. Kritik
seringkali hanya menghancurkan harapan perbaikan. Sedangkan sebuah apresiasi (penghargaan) selalu mendorong orang lain untuk melakukan lebih baik lagi. Adakah kritik yang membangun? Yang pasti ada adalah penghargaan yang membangun. Semoga Smiley's kali ini menggugah kita agar lebih pandai menyuarakan penghormatan, bukan hanya kritik belaka. (diadaptasi dari "Becoming a Person of Influence", John c. Maxwell)
dody2milis
MENIKMATI KEBOSANAN

Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu: "Sebenarnya apa itu perasaan 'bosan', pak tua?"

Pak Tua: "Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu."

Tamu: "Kenapa kita merasa bosan?"

Pak Tua: "Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki."

Tamu: "Bagaimana menghilangkan kebosanan?"

Pak Tua: "Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."

Tamu: "Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?"

Pak Tua: "Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"

Tamu: "Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."

Pak Tua: "Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang."

Tamu: "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"

Pak Tua: "Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.

Tamu: "Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?"

Pak Tua: "Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."

Tamu: "Contohnya?"

Pak Tua: "Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.

Tamu: "Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?"

Sambil tersenyum Pak Tua berkata: "Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria."
dody2milis
Smiley: Takdir di Tangan Sendiri


Di zaman dahulu ada seorang Jendral dari negeri Tiongkok kuno yang mendapat tugas untuk memimpin pasukan melawan musuh yang jumlahnya sepuluh kali lipat lebih banyak. Mendengar kondisi musuh yang tak seimbang, seluruh prajuritnya gentar kalau-kalau akan menderita kekalahan.

Dalam perjalanan menuju medan perang, sang Jendral berhenti di sebuah altar vihara. Ia melakukan sembahyang dan berdoa meminta petunjuk para dewa. Sedangkan prajuritnya menanti di luar vihara dengan harap-harap cemas. Tak lama kemudian, sang Jendral keluar dari vihara.

Ia berteriak pada seluruh pasukannya, "Kita telah mendapat petunjuk dari langit." Lalu ia mengeluarkan koin emas simbol kerajaan dari sakunya. Sambil mengacungkan koin itu ke udara ia berkata, "Sekarang, kita lihat apa kata nasib. Mari kita adakan toss. Bila kepala yang muncul, maka kita akan menang. Tapi bila ekor yang muncul, kita akan kalah. Hidup kita tergantung pada nasib."

Jendral lalu melempar koin emas itu ke udara. Koin emas pun berputar-putar di udara. Lalu jatuh berguling-guling di tanah. Seluruh pasukan mengamati apa yang muncul. Setelah agak lama menggelinding ke sana-kemari, koin itu terhenti. Dan yang muncul adalah KEPALA. Kontan seluruh pasukan berteriak kesenangan. "Hore..! Kita akan menang. Nasib berpihak pada kita, Ayo serbu dan hancurkan musuh. Kemenangan telah pasti."

Dengan penuh semangat sang Jendral dan pasukannya bergerak menuju medan perang. Pertempuran berlangsung sangat sengit. Dengan bekal keyakinan dan tekad baja akhirnya musuh yang tak terhingga banyaknya dapat dikalahkan. Jendral dan seluruh pasukannya betul-betul senang. Seorang prajurit berkata, "Sudah kehendak langit, maka tak ada yang bisa mengubah nasib."

Sesampai di ibu kota mereka disambut meriah oleh seluruh penduduk. Raja pun terkagum-kagum mendengar kisah peperangan yang dashyat itu. Beliau bertanya pada sang Jendral bagaimana ia mampu mengobarkan semangat pasukannya hingga begitu gagah berani. Sang Jendral kemudian menyerahkan koin emasnya pada Raja sambil berkata, "Paduka, inilah yang memberikan mereka nasib baik."

Raja menerima dan mengamati koin emas itu yang ternyata kedua sisinya bergambar: KEPALA..!

Smiley...! Langit itu adil, dan tidak ada orang yang dikecualikan. Yang bisa menolong dirimu adalah dirimu sendiri.

(diadaptasi dari: "The Book of ZEN - Freedom of The Mind" - Tsai Chih Chung)

dody2milis
KISAH BAMBU DAN PETANI

Pada suatu waktu ada sebuah kebun yang ditanami oleh berbagai tanaman indah. Kebun itu dijaga dan dipelihara dengan sepenuh hati oleh seorang petani. Setiap hari ia menyiangi dan merawat semua tanaman yang tumbuh di sana dengan hati-hati dan penuh kasih sayang.

Dari sekian tanaman yang ada dalam kebun itu, bambu adalah tanaman yang paling dicintainya. Bambu memang tanaman yang paling indah yang tumbuh di dalam kebun itu. Bambu tumbuh berbaris berjajar mengelilingi kebun bak pagar kokoh yang melindungi tanaman lain. Batangnya berdiri paling tinggi menjulang ke atas seolah menopang langit. Bila angin tiba, tubuhnya bergoyang-goyang lembut dan daunnya gemerisik melantunkan kidung merdu.
Siapa pun yang mendengarnya pasti terpesona. Bila hujan turun, tetes-tetes sisa air hujan menggelayut di ujung-ujung daun berkilauan seperti anting-anting berlian dikenakan oleh seorang gadis cantik. Ranting-rantingnya taut-bertaut memberikan tempat bagi burung-burung untuk beristirahat. Di udara yang panas, daun-daun rindangnya menaungi tanaman kecil dari teriknya mentari. Petani itu selalu memandangi bambu itu dengan pandangan penuh suka cita.

Suatu hari, petani itu mendatangi bambu. Ia mengusap batang bambu itu dan berbisik pada sang bambu. Dengan gembira, sang bambu merundukkan kepalanya perlahan agar dapat mendengar bisikan petani.

Petani itu berbisik lembut, "Bambu oh bambu, aku bermaksud menggunakanmu."

Bambu itu merasa berbahagia. Ia telah menghabiskan setiap jam dalam hidupnya untuk tumbuh dan berkembang. Dari hari ke hari, dari tahun ke tahun ia memperkuat diri. Batangnya telah tumbuh hijau, kokoh, besar dan kuat. Kini tibalah waktu baginya untuk memenuhi takdir mengapa ia diciptakan di muka bumi.

Bambu menjawab bisikan petani, "Oh, tuanku. Aku telah siap. Gunakan aku sebagaimana kau kehendaki."

"Bambu oh bambu," suara petani itu bergetar. "Aku harus menebang dan memotong tubuhmu."

Bambu itu gemetar penuh ketakutan. "Oh, tuanku. Mengapa kau harus memotong tubuhku yang indah ini? Bukankah kau telah merawatku sedemikian rupa sehingga aku tumbuh menjadi bambu tercantik yang pernah ada. Jangan potong tubuhku. Gunakan saja aku sebagai penyejuk pandanganmu, penghias kebun ini."

"Bambu oh bambu," suara petani itu semakin bergetar. "Bila aku tidak memotong tubuhmu aku tidak dapat menggunakanmu."

Tiba-tiba suasana kebun itu menjadi sunyi senyap. Angin menahan nafasnya. Dengan perlahan sang bambu meluruhkan kebanggaannya, tunduk patuh pada permintaan tuannya yang telah merawat hidupnya selama ini. "Oh, tuanku. Bila kau tak dapat menggunakanku tanpa memotong tubuhku, maka lakukanlah. Potonglah tubuhku."

"Bambu oh bambu," lanjut petani. "Aku pun akan memangkas daun-daun dan ranting-rantingmu."

"Oh, tuanku. Kasihanilah aku," rengek sang bambu. "Kau boleh memotong tubuhku yang indah ini. Tetapi, mengapa kau harus memangkas daun dan ranting-ranting juga?"

"Bambu oh bambu. Bila aku tidak memangkasnya, aku tidak bisa menggunakanmu," jawab petani.

Matahari menyembunyikan wajahnya. Dengung lebah pun terhenti. Sadar akan pengabdiannya pada petani, bambu itu pun menjawab, "Oh, tuanku. Lakukanlah."

"Bambu oh bambu. Aku pun akan membelah tubuhmu menjadi dua dan memotong buku-bukumu, bila tidak aku tidak bisa menggunakanmu," kata petani.

Sang bambu tersungkur di tanah penuh penyerahan diri. "Oh tuanku. Bila itu yang kau kehendaki, belahlah tubuhku."

Kemudian, petani itu memotong bambu, membersihkan batangnya dari ranting-rantng dan daun-daun. Membelah batangnya menjadi dua dan membersihkan buku-bukunya. Setelah itu, dengan hati-hati petani memanggul bambu itu dan membawanya ke lembah bukit tempat sebuah mata air jernih memancar dari sela-sela batu. Ia lalu meletakkan satu ujung bambu untuk menampung air dan menyambung ujung satunya dengan batang bambu lain terus memanjang sehingga menuju sebuah sawah padi yang kering. Ya... bambu itu kini bertugas sebagai saluran air. Tubuhnya yang dulu menjulang tinggi, kini berkelok-kelok menuruni lembah menjadi tempat mengalirnya air bergemericik menuju sawah petani. Dan, petani pun bisa menanami sawahnya dengan pepadian.

Beberapa bulan kemudian. Padi telah menguning matang dan siap untuk dipanen. Para petani dengan suka cita turun ke sawah memanennya. Pada saat itulah, sang bambu menyadari bahwa ia pernah begitu bangga dengan kecantikannya. Namun, dalam kepatuhan dan pengorbanan, kejayaan hidupnya tak sedikitpun berkurang bahkan kini ia menjadi penyambung hidup bagi dunia yang lebih semesta.

;-----------------------------------------------
( Siapakah bambu itu? Siapakah petani itu? Bila bambu itu adalah kita, manusia, maka kepatuhan kita pada Sang Maha Pencipta, meskipun penuh
pengorbanan dan kesulitan, sebenarnya memberikan kejayaan yang sejati.)
dody2milis
Smiley:SALING BAHU MEMBAHU

Ini adalah sebuah kisah tentang seniman panggung terkenal di masa lalu, Jimmy Durante. Suatu ketika ia diminta untuk mengadakan pertunjukan amal untuk para veteran Perang Dunia II. Karena jadwal kegiatan pertunjukannya sangat padat, kepada panitia ia hanya menyediakan waktu selama beberapa menit saja. Setelah itu ia harus meninggalkan panggung dan mengadakan pertunjukkan di tempat lain.

Saat pertunjukkan tiba. Jimmy melakukan aksinya. Tampaknya para penonton puas dan terus-menerus memberikan tepuk tangan yang riuh rendah. Namun, apa yang terjadi. Meski waktu yang dijanjikannya telah lewat ia masih tetap berada di panggung dan melanjutkan terus pertunjukannya. Hingga tiga puluh menit kemudian ia pun undur diri sambil membungkukkan badannya. Bergegas ia meninggalkan panggung. Di balik panggung, salah seorang panitia bertanya, "Mengapa anda berubah pikiran? Bukankah anda pernah berjanji hanya akan beraksi selama beberapa menit saja?"

Jimmy menjawab, "Baiklah, mari saya tunjukkan mengapa saya memutuskan untuk melanjutkan pertunjukkan saya." Kemudian Jimmy mengajak panitia itu naik ke atas panggung. Katanya, "Lihatlah penonton yang duduk di barisan terdepan"

Di barisan terdepan duduk dua orang pria, masing-masing lengannnya buntung karena tertembak dalam peperangan. Yang seorang buntung tangan kanannya, sedangkan yang lain buntung tangan kirinya. Mereka duduk berdampingan. Mereka bertepuk tangan dengan saling menepuk-nepukkan tangan-tangan mereka yang utuh. Mereka pun bergembira menyaksikan pertunjukkan Jimmy Durante.


(diadaptasi dari Bits & Pieces)
Smiley...! Kerjasama yang indah dan syahdu bukan? Bukankah kita sendiri bukan orang-orang yang sempurna sehingga selalu membutuhkan bantuan
orang lain.)
dody2milis
DOA SALLY

Sally baru berumur delapan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Georgi, yang sedang menderita sakit parah. Mereka telah melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwa Georgi. Hanya operasi yang sangat mahal yang bisa menyelamatkan jiwa Georgi. Tapi, mereka tidak punya biaya untuk itu.

Sally mendengar ayahnya berbisik, "Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang."

Kemudian, Sally pergi ke tempat tidur dan mengambil celengan dari tempat persembunyiannya, dikeluarkannya semua isi celengan itu ke lantai dan dihitungnya secara cermat...tiga kali. Nilainya harus benar-benar tepat.

Dengan membawa uang tersebut, Sally menyelinap keluar dari apartemennya dan pergi ke toko obat di sudut jalan. Ia menunggu dengan sabar sampai sang apoteker memberi perhatian. Tapi dia terlalu sibuk dengan orang lain untuk diganggu oleh seorang anak berusia delapan tahun. Sally berusaha menarik perhatian dengan menggoyang-goyangkan kakinya, tapi gagal. Akhirnya dia mengambil uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase. Berhasil!

"Apa yang kamu perlukan?" tanya apoteker itu dengan suara marah. "Tidak tahukah kau, saya sedang sibuk berbicara dengan saudara saya?"

"Tapi, saya ingin berbicara kepadamu mengenai adik saya," Sally menjawab dengan nada yang sama. "Dia sakit. Dan saya ingin membelikannya keajaiban."

"Apa yang kamu bilang?" tanya sang apoteker.

"Ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya sekarang. Jadi berapa harga keajaiban itu ?"

"Kami tidak menjual keajaiban!. Saya tidak bisa menolongmu."

"Dengar, saya mempunyai uang untuk membelinya. Katakan saja berapa harganya."

Seorang pria berpakaian rapi berhenti dan bertanya, "Keajaiban jenis apa yang dibutuhkan oleh adikmu?"

"Saya tidak tahu," jawab Sally. Air mata mulai meleleh dipipinya. "Saya hanya tahu dia sakit parah dan mama mengatakan bahwa ia membutuhkan operasi. Orang tua saya tidak mampu membayarnya. Tapi sebenarnya saya juga mempunyai uang."

"Berapa uang yang kamu punya?" tanya pria itu lagi.

"Satu dollar dan sebelas sen," jawab Sally dengan bangga. "Itulah seluruh uang yang saya miliki di dunia ini."

"Wah, kebetulan sekali," kata pria itu sambil tersenyum. "Satu dollar dan sebelas sen, harga yang pas untuk membeli keajaiban yang dapat menolong adikmu." Pria itu mengambil uang tersebut, kemudian memegang tangan Sally sambil berkata, "Bawalah saya pada adikmu. Saya ingin bertemu dengannya dan juga orang tuamu."

Pria itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang ahli bedah terkenal. Operasi dilakukannya tanpa biaya dan membutuhkan waktu yang tidak lama sebelum Georgi dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat.

Kedua orang tuanya sangat bahagia mendapatkan keajaiban tersebut. "Operasiitu," bisik ibunya, "adalah seperti keajaiban. Saya tidak dapat membayangkan berapa harganya"

Sally tersenyum. Dia tahu secara pasti berapa harga keajaiban tersebut: satu dollar dan sebelas sen, ditambah dengan keyakinan seorang anak kecil.
dody2milis
Smiley: APAKAH PIKIRAN ANDA MASALAH BAGI ANDA?


Mulanya sih biasa saja. Aku memikirkan sesuatu yang ringan-ringan yang sebentar saja sudah aku lupakan. Tetapi lama-kelamaan, tanpa bisa aku elakkan, pikiran yang ringan itu malah datang silih berganti. Satu pikiran lenyap, timbul pikiran lain. Begitu seterusnya. Tiba-tiba kini aku berubah menjadi seorang pemikir sosial yang memikirkan semua hal.

Kemudian, aku memutuskan untuk berpikir dan merenung untuk diriku saja. "Semata-mata agar rileks," begitu kataku sendiri. Tapi aku tahu, itu tidak benar. Berpikir menjadi penting dan semakin penting bagiku. Akhirnya, aku berpikir sepanjang waktu.

Lalu, aku berpikir saat aku sedang bekerja. Ternyata, bekerja dan berpikir adalah dua hal yang tak bisa diakurkan. Tapi, aku tidak bisa menghentikannya. Selama bekerja aku terus berpikir tentang banyak hal.
Bahkan pada saat jam istirahat aku tidak berkumpul dengan rekan-rekan sekantorku. Aku lebih suka membaca Thoreau dan berdiskusi dengan orang-orang pemikir di perpustakaan pusat kota. Rasanya malas untuk kembali ke kantor. Kepalaku pusing dan bingung memikirkan pertanyaan, "Apa yang sesungguhnya terjadi di dunia ini?"

Di rumah, kejadiannya juga tidak terlalu baik. Suatu malam, sepulang dari kantor, aku mematikan TV lalu bertanya pada istriku, "Apa artinya hidup ini?" Maksudku sih untuk mengajaknya berdiskusi dan memikirkan hal-hal tentang hidup ini. Tetapi, istriku malah pergi menginap di rumah orang tuanya.

Kini aku dikenal sebagai pemikir berat. Suatu hari bos memanggilku. Katanya, "Morris...! Sebenarnya aku menyukaimu. Dan sulit bagiku untuk mengatakan hal ini, tetapi pikiranmu itu telah menjadi problem bagi kantor kita. Kalau kau tidak mau berhenti berpikir sewaktu bekerja, lebih baik kau mencari pekerjaan lain."

Wahduh...apa yang disampaikan bosku itu justru menjadi pemikiran yang serius bagiku. Aku lalu memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Setelah perbincangan itu, aku pulang lebih awal dan berkata pada istriku, "Sayangku, aku pikir aku telah ketagihan berpikir."

"Aku tahu kau telah banyak berpikir," jerit istriku. "Dan, aku minta cerai saja!" "Tapi, oh sayangku. Ini tidak berbahaya kok?"

"Ya, tapi ini menjadi persoalan serius bagiku," teriak istriku. Bibirnya menggigil. "Kau terlalu banyak berpikir seperti profesor saja. Asal kau tahu saja, menjadi profesor itu tidak mendatangkan uang banyak. Jadi, kalau kau tetap terus berpikir, kita tidak akan punya uang lagi!"

"Hey, itu silogisme yang keliru," kataku tak sabar. Istriku mulai menangis. Aku sudah tak tahan lagi. "Malam ini aku tidur di perpustakaan," ancamku.

Aku pun pergi keluar memacu kendaraan ke perpustakaan kota. Selama perjalanan, aku ingin sekali membaca dan memikirkan tentang Nietzsche. Begitu sampai di perpustakaan, aku menggedor-gedor pintu kacanya, tetapi tak seorangpun ada di sana. Ah, betapa kecewanya aku. Perpustakaan sudah tutup.
Aku pun berguling-guling di tanah dan mencabik-cabik rumput yang tak berdosa. Aku benar-benar menginginkan Zarathustra. Tiba-tiba mataku menatap sebuah poster terpampang di dinding perpustakaan yang bertuliskan, "Hai kawan, apakah berpikir telah menghancurkan hidupmu?" Aha, itu adalah poster dari sebuah kelompok anti berpikir, "Pemikir Anonim". Malam itu pun aku mengunjungi pertemuan kelompok mereka.

Nah, kini aku berada di sini. Di dalam kelompok "Pemikir Anonim" untuk memperbaiki pikiranku. Aku tak pernah tertinggal dalam setiap pertemuan mereka. Di setiap pertemuan kami selalu menonton video-video santai yang tidak merangsang pikiran bekerja. Minggu lalu kami menonton video "Porky's". Kami saling bertukar pengalaman bagaimana kita bisa menghindari berpikir. Aku pun mulai menghindari orang-orang yang suka berpikir serius.

Tahukah anda bagaimana hidupku kini? Oo, aku masih bekerja di tempat yang dulu. Dan, rumah tanggaku berjalan lebih baik. Hidup tampaknya jauh lebih mudah...begitu aku berhenti berpikir.

----------------------------------------------
( Bukan maksud hati mengecilkan peran pikiran kita, namun sekedar mengingatkan bahwa hidup itu untuk diterima dan dijalani apa adanya; bukan semata-mata untuk dipikirkan terlalu serius.)

(Diadaptasi dari "Are You a Problem Thinker?", Merwyn – Rainbow Corner)
dody2milis
TAMBANG INTAN

Pada suatu waktu, tidak jauh dari sungai Indus hiduplah seorang petani Persia bernama Ali Hafed. Ia adalah seorang kaya yang memiliki tanah luas, kebun buah, ladang gandum dan taman indah.

Pada suatu hari, seorang pendeta bijak dari timur mendatangi kediaman Ali Hafed. Ia bercerita pada Ali Hafed tentang bagaimana alam raya ini diciptakan. Katanya, pertama Tuhan Yang Maha Kuasa menusukkan jari-Nya ke dalam kabut, lalu perlahan-lahan menggerakkannya berputar-putar. Gerakan berputarnya semakin cepat, dan semakin cepat, sehingga berangsur-angsur kabut tu berubah menjadi bola api. Bola api itu masuk ke dalam alam semesta, membakar lapisan kabut kosmik sehingga menjadi hujan yang membasahi permukaannya. Bola api itu meleleh, meletus dan mendingin. Bagian yang mendingin dengan cepat menjadi batu karang. Bagian yang mendingin lebih lambat menjadi perak. Sedangkan, bagian yang paling lambat dingin menjadi intan. "Intan adalah tetes-tetes sinar matahari yang menjadi padat. Intan adalah benda ciptaan Tuhan yang paling tinggi nilainya," kata pendeta bijak itu. "Hanya dengan sebongkah intan sebesar ibu jari saja, tuan dapat membeli sebuah kota. Nah, seandainya tuan Ali Hafed dapat memiliki tambang intan, maka tuan dapat menjadi raja di atas semua singgasana kerajaan di seluruh dunia."

Tiba-tiba Ali Hafed merasa jatuh miskin. Malam itu ia berbaring di tempat tidur sebagai orang miskin. Ia tidak puas dengan keadaan dirinya. Matanya tidak bisa dipicingkan. "Saya ingin memiliki sebuah tambang intan," begitu bisiknya berulang-ulang sepanjang malam.

Pagi-pagi sekali, Ali Hafed membangunkan pendeta bijak. "Maukah anda menunjukkan dimana saya bisa menemukan tambang intan? Saya ingin menjadi kaya raya," katanya terus terang.

"Kau harus mencarinya," jawab pendeta bijak itu.

"Kemana saya harus pergi?" tanya Ali Hafed lagi.

"Baiklah," jawab pendeta bijak itu. "Tuan harus mencari sungai yang mengalir di atas pasir putih di antara gunung-gunung tinggi. Di sanalah tuan akan menemukan intan di dalam pasirnya."

"Saya tidak percaya sungai seperti itu ada," tantang Ali Hafed.

"Tentu saja ada, bahkan banyak sekali," kata pendeta bijak. "Yang harus anda lakukan hanyalah mencarinya."

Ali Hafed menatap ke luar jendela. Pandangannya tertuju ke pegunungan yang membatasi tanahnya. "Kalau demikian, saya percaya. Saya akan pergi!" Tekad Ali Hafed sudah sedemikian bulat.

Ali Hafed menjual tanah dan ladangnya. Ia menitipkan keluarganya untuk dijaga oleh tetangganya. Kemudian Ali Hafed pergi mencari intan. Ia memulainya dari pegunungan yang paling dekat, lalu ke Palestina. Kemudian mengembara ke Eropa. Setelah keping uang penghabisannya dibelanjakan, ia berdiri dengan pakaian compang-camping di teluk Barcelona, Spanyol, memandangi ombak yang datang bergulung-gulung. Hatinya putus asa, sengsara dan patah harapan. Tak lama kemudian, ia menceburkan dirinya ke air laut pasang. Ia tenggelam dan tak pernah muncul lagi.

Tetapi ceritanya belum selesai. Justru cerita yang sebenarnya dimulai disini:

Suatu hari, seseorang yang telah membeli tanah Ali Hafed menuntun untanya ke kebun untuk minum. Ketika unta itu minum di sungai jernih yang melintasi ladang itu, pemilik tanah bekas milik Ali Hafed itu melihat ada kilatan aneh di pasir putih di dasar sungai yang dangkal. Ia mintanukkan tangannya ke air dan mengambil sebongkah batu yang memantulkan cahaya indah. Batu aneh itu dibawanya pulang, diletakkan di dekat perapian. Dan, ia pun kembali bekerja.

Beberapa hari kemudian, ia dikunjungi oleh pendeta bijak itu. Pada saat Pendeta bijak itu melihat batu aneh yang bekilauan di dekat perapian, ia segera menghampirinya dan berseru, "Hai, ada intan di sini! Ada intan di sini! Apakah Ali Hafed sudah kembali?"

"Tidak, Ali Hafed belum belum kembali. Dan batu itu bukan intan," jawab pemilik kebun itu. "Itu hanya batu dari kebun."

"Saya tahu itu intan," kata pendeta bijak bersikeras. "Dan ini adalah intan yang indah sekali."

Kemudian, bersama-sama mereka pergi ke sungai di kebun. Mereka mengaduk-aduk pasir dengan tangan mereka, dan menemukan lebih banyak batu yang lebih indah dan lebih berharga daripada yang pertama. Dan di saat itulah mereka menemukan tambang intan Golcanda, tambang intan terbesar di dunia.

-------------------------------------------------------------------------------------------------
Saya belum menemukan sebuah kisah yang mengandung moral yang lebih kuat dari cerita ini. Mungkin anda sadar bahwa intan yang anda cari-cari
sebenarnya sedang menunggu di halaman belakang rumah anda sendiri, dalam diri anda sendiri; tempat nilai dan harga diri anda yang terpendam.

(diadaptasi dari "Acres of Diamonds", Denis Waitley)
dody2milis
Smiley: HATI SEEKOR TIKUS


Seekor tikus merasa hidupnya sangat tertekan karena takut pada kucing. Ia lalu menemui seorang penyihir sakti untuk meminta tolong. Penyihir memenuhi keinginannya dan mengubah si tikus menjadi seekor kucing.

Namun setelah menjadi kucing, kini ia begitu ketakutan pada anjing. Kembali ia menemui penyihir sakti yang kemudian mengubahnya menjadi seekor anjing.

Tak lama setelah menjadi anjing, sekarang ia merasa ketakutan pada singa. Sekali lagi penyihir sakti memenuhi keinginannya dan mengubahnya menjadi seekor singa.

Apa yang terjadi? Kini ia sangat ketakutan pada pemburu. Ia mendatangi lagi si penyihir sakti meminta agar diubah menjadi pemburu. Kali ini si penyihir sakti menolak keinginan itu sambil berkata, "Selama kau masih berhati tikus, tak peduli bagaimana pun bentukmu, kau tetaplah seekor tikus yang pengecut"
-----------------------------------------
Ya..! Kita adalah apa yang ada di dalam hati kita. Bentuk luar, tingkah laku, dan lain-lain hanyalah tempelan yang dapat menyembunyikan "kita" yang sejati.

(inspired by: Anthonny De Mello)
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.