Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Anthology Updated
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Poetry Room
Pages: 1, 2
The Hide
Ronin

akulah ronin yang menderita
robot rutinitas yang terbelenggu
sajak-sajak minumanku
sepi gelap selimutku
aku setia mengunjungimu
rabuk rabuklah ini sunyi
suguhi aku anggurmu
yang paling nikmat
biar lenyap ini senyap


Akhirnya Cintaku

di masa dendam jadi lantunan do'a
aku menyerah pada-Mu
dalam tobat yang usai
dosa yang tidak berulang
pemberontakan padam
keangkuhan luruh
ketidakpercayaan sirna
paripurna hingga kusiap untuk-Mu
dan aku gembira, jika Kau
tak mengganggapnya terlambat
tak peduli aku tempat
satu yang ingin ku ucap
Cinta, akhirnya cintaku hanya untuk-Mu.
The Hide
Aku Mabuk Dosa

aku mabuk dosa
semata-mata dosa
segala-galanya dosa
tak bisa lain lagi
aku mabuk dosa
lainnya tak bisa aku mabuki
lainnya palsu, lainnya tiada
api membakar
mabuklah aku mabuk dosa
tak bisa lihat tak bisa dengar
bila matahari memancar
siapa sebenarnya menyinar
kalau malam legam
siapa hadir dikegelapan
kalau punggung ditikam
siapa merasa ditikam
mabuklah aku mabuk dosa
kalau jantung berdegup
siapa yang hidup
kalau menetes puisi
siapa yang hakiki
mabuklah aku
mabuk dosa
berkepanjangan
berulang-ulang
ditunggu neraka


Remukkan Kenangan

kini jarak kita adalah kesunyian
huruf-huruf yang kau lukis dalam warna
adalah kalimat yang dibekukan
bisu dalam patahan makna
dan hari ini tak akan menjadi 4 tahun
malam ini ku remukkan kenanganmu
pada malam yang berkarat keheningan
The Hide
Nihil Jiwa

Nihil jiwa
tak berarti kata-kata
menjamur
pada batu-batu dunia penuh noda
airmata hanya pengantar
melembabkan penyesalan yang terlalu dalam
dan kesedihan tetap saja terselip dalam diam
remuk redam tak tertelan
sebutlah,
ini peringatan
dan tempat mengadu hanyalah TUHAN.


A Price Of Betrayal

Pengkhianatan,
berlipat-lipat
berulang-ulang,
kesakitan dalam cinta yang cacat.
Pengkhianatan,
bersimpang-simpang
bercabang-cabang,
keyakinan dalam dusta yang sesat.
Pengkhianatan,
tak akan terbayar,
walau airmata diteteskan.
The Hide
Timah Panas

seperti menutup mata dari indahnya sang nirwana
ketika rambutmu yang kelam berkibaran
di depan wajahku
wangi yang menyihir
bibir merah merekah
dan tiba-tiba kau sudah dipelukku
mengikut gelombang hitam
nafsu yang dibangkitkan
vokal dan konsonan
hampa makna
sungguh madu kehidupan yang terhisap
adalah timah panas


Pohon Kegetiran

sebuah pohon kegetiran
telah tumbuh di dalam dadaku
akarnya merambah
ke seluruh arah
daun-daunnya berguguran
kemudian hanyut memenuhi jantung
menumpuk busuk menjadi pupuk
bagi sperma masa depan
kini pohon itu berkembang
menguasai pergerakan daging
membangun kerajaan
mengendalikan tubuhku dengan
mimpi-mimpi yang mengerikan
The Hide
Pujangga Asing

aku ini pujangga asing yang membawa
hati sebagai senjata dan otak kanan sebagai perisai
dan keduanya pun menyanggupinya sebagai teman
dalam kembara kata.
demikianlah maka aku selalu takut dan merasa
waswas pada saat lengah dan lemah tak berdaya
sebab hati dan otak kanan berubah wujud serigala buas
dan ular ganas, bila meminta kata-kata.


Bla Bla Bla...

dimana harus kusimpan
kemayaaanmu
sebab tak lagi kuat
dada menyimpan bentukmu
dan aspal hitam
hanya bisa menggambar
fatamorgana
jadi kucipta
keranda kesenyapan
tempatmu tinggal
dan bayangmu lepas
demikianlah sementara
pertanyaanku usai
dalam bla bla bla...
The Hide
Dalam Kubangan

tapaki kepastian ditengah kegalauan di padang jelai
yang hijau dan menguning sebagai perlambang
ah, dunia. sebentar lagi segala tiba.
dan sepi-sepiku masih berjelaga
dalam jarak yang tak terukur jauhnya
berkutat dalam kubangan
dan aku bosan!
kepalaku terbelah
kata-kataku musnah
dan tubuh
jadi pembelaanku


Membunuh Rutin

rasanya ingin aku bunuh rutinitas ini
aku bunuh langsung seketika itu juga
dan bebaslah aku dari kungkungan
lalu aku pergi
menjumpai sepi
berkelana di tempat semayamnya kata-kata
dan aku tuliskan jadi bara
menyala!
tersibak gelap dan
kulihat kau juga disana
dengan tatapan yang tak setiap orang mau memandangnya
jalang dan nanar
rasanya kau membunuh rutinitas yang sama
The Hide
Doktrin

sejak acuh mendarat di ideologi
maka aku terdoktrin
membunuhmu adalah harus
perlahan agar kau
rasakan kesakitan
dalam detiknya dendam
tak akan kudengarkan
lagi permohonan
ampunan bukan keinginan
aku dilatih untuk menyiksa
matimu dalam tulisan


Fermentasi Singkat

kemudian kutahu ramah itu habis
meski menunggu
malam ini tak menyelipkan sekeping
denting darimu
mungkin pagi sedikit datang terlambat
dan hal-hal sentimental
lebih lama bersembunyi bersama bulan
di hutan kesepian
segala yang kucoretkan dimatamu
tak lagi sekedar sapa
tak juga sebuah pertemuan
kita kandas dalam api menyala
justru setelah hujan
menggoreskan cerita tentang
fermentasi singkat

The Hide
Puisiku Bermasturbasi

hawa pagi ini cacat
sebagai hari
tanpa rokok
kopi jadi sendiri
bak mandi sunyi
memaksa
masturbasi?
lalu genap birahi
ahhh komplit aku
dalam frustasi
sebab janji tak kau tepati
penantian jadi basi
rindunya membuat anomali
tentang aku
tak butuhkanmu lagi
well babe!
terapiku adalah
inspirasi imajinasi
lalu puisiku bermasturbasi
muncrat kesana kemari


Refrain Masa Depan

maka kuburlah aku
dalam lirih kemarau yang kau simpan
dan episode ini akan cepat berlalu
duhai,
lenguh kita bergantung pada selembar udara
di seutas luka
lalu pada refrain masa depan
kita tak lagi gersang
menghitung bulir mimpi
yang tak pernah tersembur
mengapa dan entah yang terlanjur
baru saja membujur
The Hide
Dendam Belum Usai

begitu nyata bentuk kesepian.
dan aku merindukan-Mu dalam diam.
________________________________
dendam belum usai.....


Roman Mawar Merah

usai sebuah perjalanan
apalagi yang kau ingat
selain serial petualangan
berbumbu gairah
kehilangan tak sanggup
meretakkan ubun-ubun
yang kau junjung
tak juga pengakuan muncul
menenangkan geletar angin
yang dibawa hujan
dengan apa cinta ini
kuberi nama
roman mawar merah
atau picisan berdarah?
The Hide
Arsenik Kontrak Mati

kemudian semburkan
di tengah tawa iblis-iblis
berbaju coklat dan safari
ayo tuangkan lagi
dan lagi
jack daniels lalu martini
tenang saja ini party
ow ia manis!
jangan lupa
terakhir nanti
sesuai janji
arsenik kontrak mati
sebagai pembalasan
dari ibu yang berjuang sendiri


Tepat di Dahi

kukandung banyak sajak tidak jadi
kata-kata saling mengintimidasi
bertransaksi,
semburat kusut harga diri.
hai tikus
bawa sini itu belati
ku asah dengan hati
untuk kuhujamkan lagi
tepat di dahi!
tepat di dahi!


The Hide
Diagram Tulang Ikan

pukulan sapu yang kau kebutkan
punggungku bergambar
diagram tulang ikan
merah berdarah
lukanya bisa disembuhkan
kenangannya merasuk
tak terlupakan
ahhh meski aku tak dendam
perlakuanmu melekat
dan anakku adalah korban
berikutnya
sapu itu berbicara lagi
ah kelembutan rupanya
bersembunyi dibalik awan
berarak bersama teladan


Jejak Purba

hanya tinggal jejak purba
sedangkan pikiran melayang entah kemana
kenangan menumpuk dibawah tempat tidur
bunga-bunga mawar
bermekaran di langit kamar
dan keringatpun melimpah
diantara khayalan membatu
mengalir menuju lembah
tak bertepi didalam hatimu
The Hide
Hutan Lambang

terpuji dalam kenang anak manusia
menggelapkan pandangku
ke rumahNya
tersesat di hutan lambang
pada sebidang kanvas
dalam sapuan
biru gelap
status palsu
dan kini ku tangkap
makna maut
senyap bersambung
dalam takut


Cinta pada Laju

henti sejenak.
aku kembali
pada percakapan kita semalam
kuncup-kuncup bermekaran
Kau bilang.
Ahhh aku tak hendak
membuatMu cemburu
sebab aku
masih cinta pada laju,
menumpuk dosa.
The Hide
Sepi

tetabuhan di dadamu
melaung pengap
sewaktu hati mengeruh
pada lepas janji
kesesakan rasa memburu
sayup yang menelan sepi
pun sesisa asa jatuh
sebagai jarum menghunjam lamun, Lengking.
lalu kudekap hati agar tak mati.


Sebuah Pejam

didalam sebuah pejam
aku menyusup jauh
ke rongga hatimu
disitu aku diam
lama mencari kata
yang urung kau ucapkan
"ya aku maafkan!"
namun tak juga kutemukan
aku takkan lama lagi.
kemana gerangan kata itu kau simpan
keluarkan! maafkan!
jangan kau buat aku tertahan.
The Hide
Uang Datang

sebab kesabaran menjadi arang
sudah hangus aku menanak cinta
sepuluh tahun derita
cukup buat kita
aku butuh uang abang!
sedang selangkangan
sudah semakin lebar kau dulang
dan aku hanya semakin kusut
menahan pikiran dari bercabang
ahhh apa ku harus buka
pintu kamar lebar-lebar buat orang
lalu uang datang! uang datang!


Terbelit Getir

tertusuk cinta pada sebuah senja
warna pupus
bayangmu mengendap
pada desir-desir halus
pernah coba ku tebus
tapi jalan tak pernah putus
sama kejamnya dengan waktu
tak kumengerti
mengapa?
hingga akhir terbelit getir.
The Hide
Picisan

Lirikmu berbau hujan
dingin menyegarkan
ah tak kutemukan sedikitpun
kejanggalan! kecuali kini
aku tak melingkarkan benci
dan manisku, kuyakinkan padamu itu bukan siklamat basi.
meski pagi ini, tiba-tiba menyeruak tanpa permisi.
lagu yang tak pernah kudengarkan lagi
picisan picisan
jadi belati
sepi


Kata

kata itu hancur dalam tidak setia
dusta yang meraja
menimbulkan kerusakan yang luar biasa
kesakitan yang parah
penderitaan yang teramat sangat
sungguh menyesakkan dada
dendam, aku dendam, pada kata
cinta.
The Hide
Perpisahan

Sebab kedalaman perasaan
tak terjangkau
maka sambutlah
buklet kata-kata
tentang waktu yang terbelah
muram menempel disudut kelam
mungkin ini akhirku
atau awal buatmu
pun disini selalu ada
berkepul-kepul penantian
dalam jarak yang tersimpan, diam.


Tenggelam

kuminum secangkir nafsu
teguk demi teguk terhabiskan
dan melebih kelam
pada sekarat kata-kata
ketelanjangan yang nyata
dari kemandulan rasa
ku panggil cinta
pesan-pesan pun
mengalir ke telaga alasan
tenggelam tak bersuara
dan hilang di ceruk waktu
betra
segar masih di tengah ingatan
momen itu
ketika pagi mulai menua
pada hiruk pikuk di tepi jalan
terantuk kakiku memberat
tertumbuk pandang pada..... nya

perempuan muda berparas letih
peluh dan debu nan akrab melekat
lalu lalang bingar seakan melambat di antara ku dan... nya
aneh,kian aneh bagi dua indera penglihatanku

tatap menatap dlm jarak menetap
gerangan lorong apa nan tlah ia tembus
kosong.... melompong kerling matanya
terkesiap bingung dengar buah hatinya menangis

belasan kali lampu berganti...merah,kuning,hijau
yakin ku masih tergugu
"dia terlalu muda,mengapa terseok sebegitu rupa membawa 2 bocah tampan'
entah berbekal apa ia
ku rasa tak di sini ia berasal
ku merasa datang dari tempat yang angkuh

"kemana lelakinya
dimana sanak keluarganya"

anak perawan hanyut terbuang
di hadapku namun tak terjangkau
dan... sang surya pun membenamkan diri
diantara kenangan yang pernah menjelma

betra
secarik kusut kertas kotor
lelah menampung larikan kata2 lapuk
dengan wujud nan memudar
tinta tulus itu berkata-kata
seperti hendak berkaca-kaca

mengapa tak ku remas saja
lalu robek seribu bagian
atau bakar dengan beringas
ow, atau mungkin ku timbun di tempat yg jauh dan terpencil
ah,mengapa... mengapa
meski telah ku menghardik gundah
tergeletak saja tak musnah

tuna wicara
tuna rungu
kilapkan netra nan teramat syahdu bening
dirinya...ya, dirinya

yakinku pipi lembut itu baru usai membasah
deras di curahkan mata cantik itu
mata nan senantiasa ingin berbicara
hingga redup lalu sayu,isyarat terakhir pada lentik jemari

dan...
inilah segala aksara beku darimu
di ringkih kertas kumal ini
seluruh suara yang tersumbat di rongga tenggorok mu
peri kecilku... sayang

ku percaya
tulisan ini masih utuh
karena itu adalah...
desir suaramu di pelupuk dini asmara kita mewangi
manja pintamu ketika rindu masih enggan melayang
ocehan rapatmu saat banyak yg kan kau kisahkan
juga omelanmu pada si bengal ini
serta do'a ikhlasmu tuk kita... tuk cinta ini

peri kecil
elok
meski mulut dan telinga sudah mengalah
betra
kebakuan nan lilit tiap jengkel leher
omelan,perintah,ceramah tanpa contoh konkret
himpit lalu gerus sukma kami

kan ku bangun kerajaan kecil
altar impian generasiku
secepat kilat kita melesat ke sana

kuatkan kepal
teruskan hujaman lantang
menggema bersahutan hantam rantai itu

malam hari
kami kan bersenang-senang
terbahak apa adanya

ooo,bernyanyi
hanya kami yg mengerti
berdo'a cukup sendiri dgn illahi
betra
yiaaaaaaah
ku datang
tak perlu dijelang
menderu angkat tinggi gelombang
ha ha ha
ini,keparat yg slalu usik hari2 santun mu
mimpi berakhir bahagia mu segera habis
ini,begundal perobek segala yg berunsur palsu
aku bukan binatang jalang aku sang tombak pengikis
ilalang2 norma butut ditengah semua riak laku manis

bila seluruh badut2 banci itu hanya julurkan keluh kesah
aku akan iringi kau menari dalam tangga nada yg sama
walau manusia2 cengeng di sana terus meraung akan ketidakpuasan pribadinya
diriku tentu temani kau melagu pada debu2 kosmik,menembus selaksa periode
meski bocah2 manja mengepak ngepakkan panji2 kebesaran leluhurnya
daku tetap angkat gelas bersulang tuk anti kemapanan bersama dikau

biarpun dunia sangat tak sesempurna surga
pasti ku selalu berdzikir di belakangmu dalam tiap sesi berjamaah,pada tiap penghujung rakaat

jadi
biar ku atur dulu hela nafas ini

mungkin lu suka dgn yg ini
betra
sri begawan
urung berjalan
ajal berbisik di balik awan
tentang sisa masa tuk ajarkan

kreasi naratif
sebungkus lauk segar
terlupa edukatif
suarakan lolongan propaganda hambar

kami
tangisi
panutan sejati
yang telah lama mati

generasi generasi
sembah tren2 terpampang paling anyar
balutan2 modis jadi bahan diskusi
asupan otak hanya bau-bau hedon tersasar

syahwat
kekerasan
syahwat
kekerasan

harga diri
coreng moreng di dahi
kulit keriput ayah bunda
tak torehkan kesan dalam di dada

generasi generasi
bocah bocah congkak keroaki galaksi
penghuni lantai dasar
zaman khilaf melebar

era dimana...
sayap malaikat patah lalu hangus
iblis berdansa meriah
pahlawan tewas tak bernisan
dan orang baik tak pernah berhasil lalui fajar
betra
tak ingin berlebih
jgn sampai kurang

untaian dr seberantak huruf ini

tak ingin lampaui batas
jgn sampai kurang dari kadar

kata2 magis beraroma puitis ini

harus ku tunggu 7 purnama dlm lingkar roda waktu
tuk paparkan mutiara aksara ini
tuk raih nuansa yg tepat
agar kelak sejarah mencatat sebagai
gubahan terelok sang begawan bodoh ini

lalu kupaketkan sekeranjang basa basi
sebagai hidangan pencuci mulut
pabila puisiku ternyata busuk
hingga kau tak sampai mual
ku tak ingin mulut mungilmu jd bau krn semburkan muntah
ku jaga bibir lembutmu senantiasa indah
sebab
ku tau tutur katamu selalu bagai sabda pujangga
dan aku hny manusia kasar nan bertutur amarah
betra
nuansa itu datang lagi
inspirasi membentur kebuntuan
tak tau akan berapa lama seperti ini
bedebah
daya rasa,cipta dan karsa...patah
perlahan tedengar dahan2 meretak
kering terpanggang
tidaaaak,jangan seperti ini
setengah mati ku hidupkan
imaji yg dulu juga lama hanyut
aduh
apa memang wktnya ku sumpal mulut
berjalan ringan menuju... rumah
tunggu
nikotin dan kafein sedikit lagi
aaaach
tak pengaruh
pulang
ya surut beringsut
benahi otak kusut
The Hide
Satu Tepukan Duka

hingga resah merajam
seluruh kita
semburat kelam
satu tepukan
dan menyembur luka
merah embun duka
lalu kepuasan siapakah?
bila pilu tersedu-sedu
dan dendam berlebuh-lebuh
pun aku hanya mampu
bersembunyi di balik dekap
menatap reruntuhan


Kandas

untuk sesuatu yang sentimental
kubiarkan kabut jatuh disini
sekian lama bersamamu
hanya aku yang menjadi bara
pun tebir-tebir kelu
menjadi terlalu pahit dalam sakit
memaksaku kembali pada mimpi
yang kandas justru setelah
ku lihat gerai-gerai air hujan

The Hide
Menyeka Sangkur

pada lautan darah yang berhamburan. .
aku merencanakan pembalasan
sebab kau, api yang menghantam tubuh
saudara saudara sendiri.
maka pedih tak tertuntaskan
tak terbayar pun dengan pertanggungjawaban
dendam tak akan usai
sebelum aku koyak kau dalam kepingan
dan aku puas saat menyeka sangkur
dengan darah mencurah dari otakmu


Celaru

Dengan musik yang mengiringi
aku menunggu-Mu
dalam denting air
lesap diantara senja
dan pematang rasa
tuaku disini
tuah yang tertepi
tengadah tak juga
terdahaga
maka rengkuhlah aku
seperti debu
dalam hati yang celaru
betra
lompat lompat
di antara desak-desak
peluh-peluh meluruh
hingar-bingar hantam kepala
pemandangan remang-remang
tubuh semampai tumpang-tindih
semerbak harum campur-campur
gairah usahakan direguk silih-berganti
busana mini kerlap-kerlip

meneteslah liur bersama alkohol
jerit histeria iringi liuk-liuk manusia
akhir adalah birahi dan tak sadarkan diri

jayalah
jayalah
lantai dansa berlendir basah
The Hide
Galau

di galau rindu
sebungkah sepi manjelma dera
menancapkan telunjuk-telunjuk senyap
pada jantung lembab
pun keluh menjadi basah
ngalir jauh ke lembah
menjadi luka
perpisahan tak disengaja
mengirim tempias pada jiwa
kabar mengambang
tentang berkarat cinta


Romantisme Jalang

sebab aku sama denganmu
terbelit getir
yang bernanah pada pertanyaan
kemana rindu
membusuk ke arah entah
yang konon tak terbatas
dan tiba-tiba tubuh
menjadi sekam
kering mengerang-erang
dikubur serial
romantisme jalang
betra
bukankah
buku-buku sejarah di tiap ruang baca
menuturkan tentang generasi muda
yang akan menjadi tonggak kemajuan

lalu mengapa sekarang mereka mati sia2

tunas2 bangsa kelak sandang beban
mengangkat berat warisan bobrok leluhur
apa hendak dikata
mereka berkumpul di kamar2 mayat,kini

tak dinyana
pada putih abu2
darah membasuh
di jubah putih biru tua
kebodohan melekat
betra
Like anyone would be
I am flattered by your fascination with me
I have simply wanted an object to crave
But you're not allowed
You're uninvited
An unfortunate slight


Must be strangely exciting
To watch the stoic squirm
Must be somewhat heartening
To watch shepard meet shepard
But you're not allowed
You're uninvited
An unfortunate slight


Like any uncharted territory
I must seem greatly intriguing
You speak of my love like
You have experienced like mine before
But this is not allowed
You're uninvited
An unfortunate slight


I don't think you unworthy
I need a moment to deliberate
djoedjoer berboedi loehoer
lusinan keping putih
berhambur lalu memberantak
kotornya tanah basah

zat kapur dan sel tanduk
dilumat
lamat-lamat
anyir selesai tercium
di waktu burung2 nazar menggaok kekenyangan

pasir masih hangat bubuk mesiu
disembur liur tamak panglima angkara
bangkai? usah ditanya
tebing2 cadas di sini pun telah luluh lantak
tandus dicakar gerigi2 baja

nisan imajiner
lekat dipeluk arwah arwah tak berdosa
mungkin diorama setengah lingkaran surya jingga merah
segera hangus
dan esok pagi bangkit murka dari tepi barat
The Hide
Rubuh

lelah bersarang dalam tubuh
menunggumu
pada ruang menghujam angin
merubuh rubuh
segenap runtuh
tertunduk pada rutuk
yang gaduh
pun haru semakin tumpul
dalam keluh
jadi lekaslah, beri aku pilihan
selain kering dan rapuh.


Lapuk

diselembar lamun
rinduku lapuk
bebayang semakin tak terkejar
mengapa begitu banyak tanya mengambang,
sedang kau tak ada
pun sadar menjerit diam
tertelan musim yang panjang
menyatu pada derit-derit keterasingan
tak berpintu
tak tertuntaskan
semakin pucat
pada cinta berbau temaram
djoedjoer berboedi loehoer
please
open the window
it seems that my breathe wounded

Mr. selfish
crack my skull
pity
well,i'm the one who got fool

nevermind
broken wind just fine by me
at least clean that damn nightmare

something has missing
runaway bride now make a parade
the last angel in foggy dream must lay down
in filthy morgue
o lord...
emptiness has found a friend.......me,yup
me
the unsuspecting victim of darkness in the valley
get caught by spider web of ugly destiny

are we have reach the bottom of the glass
lie to me
kill my concesness
make my ambition amnesiac
please
djoedjoer berboedi loehoer
renang
membenam
maju-maju
arah yg mana

uzur nyaris bagai busur
kendur usai lama terbentang tegang
pondok2
tak bertuan tak ramah
tetap
nan pandangiku

maju-maju
arah mana

pulang di sebelah mana
rute kembali mengabur di kertas koyak

arah mana

kuyup
mengering sekian kali
naungan mengasing dengan pura-pura
bau busuk niatkan bingkai penyambut

mana

sayup2 itu
hulu
muara
mungkin tepian
kerling gambaran semu saja

nyanyi bergulat kalah dalam rinai
betul
karna kecipak deras bermelodi mayor

jemput aku
aku buta
kabut tipis tirus sangat curam
jelang diriku
cepatlah, bulan sabit mulai berdarah
djoedjoer berboedi loehoer
secuil percik
peluh kemarin

sedang ku racik
walau licin asin

fusikan
di dedaunan

agar
semangat lahir
di tiap embun hadir
penyeret tabir
kantuk dan malas

tak ada
selain optimis
di saga
nan bengis

dan memang
bergerak ku harus
jemput rizki
yg telah tercurah
terserak di wajah
mayapada
betra
teman
mari sebentar berbelok
kita sambangi pola baru

masih se zaman
jua sama bobrok
moga sebuah bincangan seru

tentang jasad mungil
tentangnya tergolek pasrah
tak melawan tak memanggil
suci dicampak pd keranjang sampah

ayah sudah puas
tertawa usai birahi
bunda sediakan saji pemuas
lalu sendiri menyudahi

pada inti nafsu
kala iblis hangatkan peluh
pergumulan laknat berderu
cetak satu lagi korban tuk dibunuh
betra
tersesat dalam rasa yg sendu,sedih,melankolis
yg diharapkan hanyalah sedikit perubahan sisa makanan kemarin
ode,lagu duka yg melayang-layang menghantui
pekerjaan pagi yg berakhir malam tak lagi menjadi solusi
mungkin yg dibutuhkan hanyalah sedikit kajaiban
lagi2 diam,termenung,frustasi
semuanya tak lagi bisa mencukupi
halusinasi membawanya pergi tinggalkan hidupnya melayang,menghilang
betra
semua terlihat indah disela kedamaian yg tak pernah berhenti
semua pintu tertutup untuk pergi
memaksa tetap untuk disini
pagi menjelang harumnya bunga meredam malam merah hitam ketakutan
mungkin takkan sanggup lagi tuk lupakan semuanya
diantara bulan & bintang terikat dlm kenikmatan
dimanja mimpi2 indah tak inginkan untuk meninggalkan
menjadi bagian konfigurasi
hny satu dari segalanya di dunia ini
belum lagi sempat berfikir untuk tinggalkan semua ini
betra
kerat sedikit dagingku
ambil dan cicipi
hujani dirimu dgn semburan darahku
jilatlah bertubi tubi

sejumput asa pd pelupuk mata buyar kini
olehmu olehmu
tuan besar yg mulia

sri baginda laksaan tahun
titah2mu injak dgn bengis urat nadi
kami kami semua
dinastimu tegak mengangkang
diatas belulang saudara kami

kerat sedikit dagingku
ambil dan cicipi
hujani dirimu dgn semburan darahku
jilatlah bertubi tubi

kau buta
pura2 buta
kau tuli
berlagak tuli

hei kaisar
kami rakyat
kami sekarat
ikrar2 tak kan pernah obati kami
betra
sex and violence
sajian hangat terfavorit
wajarlah
di akhir zaman ini
era kehidupan memang hampir usai
tebarlah kegilaan

syahwat syahwat syahwat
sangat memikat
merasuk lekat
seiring dendam jd do'a
dgn tonggak2 amarah membara
kala kekerasan adalah budaya
kekerasan ialah jalan
kekerasan adalah solusi dan terapi

kami tak berlagak suci
kami kenyang cicipi lumpur dosa
tapi...
tapi kami tetap dpt rasakan jengah
usai jelajahi lumpur nista itu
mengapa...
oooh mengapa kalian tiada jumpai kejengahan yg sama
mengapa mengapa mengapa
terlaknatkah kalian?
dikutukkah jiwa2 murnimu hingga tersesat?

jawaaaaaab!
jawab tanyaku,jalaaang!
betra
menggigil kita bersama dalam kelam
badai tersuram membalut langkah kita nan tertatih
tumpahkan kasih cinta di atas luka
luka pedih sayatan derita
lalu,berdua kita bernaung di bawah pelangi redup
kerasnya hidupku hidupmu melebur lahirkan secercah asa
sayang,cinta sejati kita cinta orang terbuang
insan lain tutup mata dan hidung mereka saat rasakan hadir kita
semoga kala degupan terakhir jantung kita kasih putihNya masih selimuti jiwa lusuh kita
betra
kebakuan nan lilit tiap jengkel leher
omelan,perintah,ceramah tanpa contoh konkret
himpit lalu gerus sukma kami

kan ku bangun kerajaan kecil
altar impian generasiku
secepat kilat kita melesat ke sana

kuatkan kepal
teruskan hujaman lantang
menggema bersahutan hantam rantai itu

malam hari
kami kan bersenang-senang
terbahak apa adanya

ooo,bernyanyi
hanya kami yg mengerti
berdo'a cukup sendiri dgn illahi
betra
lelah diriku temani hari
tak mungkin tuk membalas
air mata dalam hati

biarkan aku menelan riak
menghadang debur ombak
tak ingin ku beranjak

ingin kudiam sejenak
tinggalkan hawa panas
lepaskan layar awan merah

dan kau tak henti bertanya
ketika malam tiba
pulangkah engkau hari ini?

mungkin aku tiba
mungkin aku tiba
mungkin aku tiba esok lusa

lama hilang layarkan malam
membayang sinar terang
biarkan rasa bersalah
hancur lebur didada

lama hilang layarkan malam
membayang sinar terang
kapan aku akan kembali
kau tak henti bertanya

kpn datang sosokku
bilakah aura jiwaku mengharum lekuk jagad
betra
kita semua terlahir dlm suci
dari sang Maha suci
merangkak lalu terhuyung
pd lantai bumi nan kasar
jumpai kerlip warna-warni
bagai nirwana sejati
buahi rasa ingin

sang terlaknat melambai manis
di ujung gemerlap itu
dan buai langkah kita

indah itu hny menipu
kilau itu ternyata fana
ah, terombang ambing jiwa suci ini
hingga....
yg tersisa kumparan pekat
kelilingi dan hantui detak jantung
pekat melekat
buta mata
buta hati
didekap............... dosa
dan
kembali kita merangkak
rayapi
titian yg terlupakan
dgn helai detik yg tersisa
coba membalik pd wajahNya
sekali lagi

walau linangan air mata tak cukup
meski ibaan terasa palsu
dan haturan do'a terbata
tetap kt usahakan
krn wajib adanya
semoga sudi Ia elus kalbu lusuh ini
dgn nur illahi
semoga bergeser sedikit pintuNya

oooh ku...
MENGHARAP SURGA
betra
moga
Semua terekam tak pernah mati
Tak akan pernah mati
dalam pita 32 track
melanglang ke langit hilang
merebak cakrawala lembayung....yg hilang

ya
itu saja
The Hide
Sekali Lagi

tak tau malu...
seperti pencuri yang menelusur malam
dan membawa sunyi
mengganti dengan butir keluh
di luas lekuk tubuh remang
membangkitkan geletar halus
di bias cahaya yang esok
mungkin menyulut bara
airmata saat ku terjaga


Raib

akhirnya disini
tempat kembali
sunyi
tak peduli arah
mata angin.
memendungkan jiwa,
menjangkau-Mu membuat kenyataan
menyekat dilarung-larung nafas.
tersengal-sengal pada tangis
dari mata-mata kelelahan
menyuguhkan perkabungan
"telah raib cinta"
Zvara
Bravooo! Lanjut friends....


The Hide
Pada Binar Subuh

kubur
sedalam itu
aku atas debu

nalar yang terputus
di lenguh terakhir
tak tertanggungkan

terbujur pada entah
penantian tak terukur
lekat menunggu bara

duhai,
pada binar subuh
telah pupus sujud-sujud
saat maut menusuk degup.


Deflagrasi

jika ada yang tumpah
dari sepi dan gelap
maka sebutlah
biar dendam tak basi
pada deflagrasi
meruah-ruah sakit
mendentam-dentum benci
bengkak dan pecah
pada pertanyaan
kemana bual-bual lepas
malam tadi
sudahkah tumpas
beban seendap nyeri?
The Hide
Sekabung Ini

sekabung ini cinta
padamu lepas
sekejap urai
tempias ku kira
pada ruap luka
yang berdarah
tiap kali kau ucap
"kanda, semua sudah usai."
tapi sakit ini
semakin menanah ngalir
kecut memerah
tak mau berserah
sebab seperti selalu
pada malam itu
diam tetap dalam jaga
tak bersudah
meski aku seperti siap
disergap dalam gelap


Segaris Penyuluh

semangat penghabisan senja
angslup dalam gelap
dialas kain yang berat
menyangga pertanyaanku
menghampar jadi
pasir resah
memanjang pada batas
pelabuhan dosa
sekejap pun
tak dapat disentuh
biduk cinta
ohhh sekerlip hati ini
mengerdip getar meronta
meminta-minta
segaris penyuluh bekal semayam
The Hide
Ornamen Sunyi

ucapkan salam kekasih
pada ornamen sunyi
kelak jika kau pergi
usai sekelumit debar
lalu hitunglah!
hitunglah sakitmu
banyakkah jumlahnya?
kita sama sakit kekasih
mungkin sebab setia jadi bara
ritme kondisi yang mengaburkan
tak menentramkan meski wujud dan gagah
jadi sudah pisah ini kekasih
jangan pelihara benci
sebab ia hanya semakin
menambahkan bau busuk yang gegap
pada cinta kita yang gelap


Malam Pipih

jikalau riap jejak
semakin mengabur
maka biarlah aku terkubur
perlahan
pada denyut-denyut masalalu
mengerdip lirih
pun seperti matamu
cinta taklah mudah diakhiri atau diawali
tapi kehendak mengajak pergi mengejar
matahari
dan harap yang kau simpan
hanya membawa getir
pada malam pipih yang setelahnya pagi
The Hide
Demikianlah

demikianlah antara
paris dan oslo janjiku bisu
sebab jarak semakin jadi abu
menggenggamnya hanya seperti
merentang luka serupa malu
didalamnya aku bergelantung
sembunyi tersesat sesekali
sayup-sayup sampai dari entah
kudengar geletar suaramu
"kiranya aku mengerti sejak ini, sebait
sajak yang kau gantungkan ditali malam
membuat cinta berubah jadi perca."


Linangku Kejap

didalam akulah
ular melingkar makin dalam
kembara dekat sumber
tempat awal bermukim
disana kalbu sehampar
susut digelas waktu
lupa dentang jam maut
datang membayang
kuyup kenyang geliat liang
nekad di gelap ruang
mengikut kemana liar
dan linangku kejap
dari sekilat dapatkah
ku tangkap bayang ujud-Nya?
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.