Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Catatan A. Umar Said
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Sejarah
loadknock
Judul tulisan ini mungkin terasa sebagai cemooh yang tak pantas, atau kelakar yang tidak lucu, atau ungkapan sembrono yang hanya membikin marah atau jengkel sebagian orang, terutama para pendukung Suharto beserta rejimnya Orde Baru. Apa boleh buat, kalau begitu. Sebab, tulisan ini memang sengaja untuk mencemoohkan “Hari Kesaktian Pancasila”. Bahkan lebih dari itu! Tulisan ini dimaksudkan untuk menghujat – dan sekeras-kerasnya pula ! -- apa yang dinamakan oleh para pendukung rejim militer Orde Baru sebagai “hari yang sakti”, yaitu tanggal 1 Oktober. Karena, apa yang dilakukan oleh Suharto dkk dan para pendukung Orde Baru umumnya selama 32 tahun lebih, adalah pelecehan Pancasila, pemalsuan Pancasila, perkosaan Pancasila, penghinaan Pancasila, penyalahgunaan Pancasila, penyelewengan Pancasila atau –- bahkan ! --pengrusakan Pancasila. Jadi, seperti yang sudah disaksikan sendiri oleh banyak orang, selama masa Orde Baru (sampai sekarang !) Hari Kesaktian Pancasila sama sekali bukanlah sesuatu yang “sakti” melainkan sesuatu yang “sakit”.

“Hari Kesaktian Pancasila” selama sekitar 40 tahun selalu diperingati di Lubang Buaya, berdekatan dengan “Monumen Kesaktian Pancasila”, yang didirikan oleh rejim militer Orde Baru untuk memperingati tewasnya 6 jenderal TNI sebagai akibat peristiwa G30S. Bahwa Suharto dkk memberi penghargaan kepada perwira-perwira yang menjadi korban dalam peristiwa G30S adalah suatu hal yang wajar dan kiranya bisa dimengerti oleh banyak orang. Namun, bahwa peringatan terhadap 6 jenderal yang tewas itu dijadikan ritual yang - dengan gagah tetapi salah -- diberi nama “Hari Kesaktian Pancasila” adalah suatu kebohongan atau pemalsuan yang tidak boleh --dan tidak bisa!!! – ditolerir lagi oleh semua orang yang mempunyai fikiran jernih atau nalar yang sehat. Kita semua hendaknya tidak membiarkan terus para pendukung Suharto (rejim militer Orde Baru) berceloteh, atau membual, atau “omong gede” bahwa mereka menghargai Pancasila tetapi bersamaan dengan itu menjalankan hal-hal yang sama sekali bertentangan (bahkan, memusuhi !) dengan Pancasila-nya Bung Karno.

Mereka justru mengkhianati Pancasila

Perlulah kiranya selalu kita ingat bersama bahwa sejak 1970 sampai jatuhnya Suharto (tahun 1998) peringatan hari lahirnya Pancasila (hari ketika Bung Karno menyajikan kepada seluruh bangsa Indonesia gagasan besarnya itu) dilarang oleh Kopkamtib. Jadi, lama sekali. Keterlaluan, bukan? Bagaimana mereka bisa koar-koar menjunjung tinggi-tinggi Pancasila, tetapi memusuhi penggagasnya, yaitu Bung Karno ! Sebab, kalau dilihat dari berbagai segi sejarah perjuangan bangsa, bisalah dikatakan bahwa Pancasila adalah satu dan senyawa dengan Bung Karno, atau Bung Karno adalah Pancasila itu sendiri. Artinya, Pancasila (yang asli !) tidak bisa dipisahkan dari Bung Karno, apalagi dipertentangkan, seperti yang sudah dilakukan Suharto beserta para pendukungnya.

Jadi, sekali lagi perlu diulangi bahwa seperti yang sudah sama-sama kita saksikan selama beberapa puluh tahun, para tokoh rejim militer Orde Baru sering sekali bicara muluk-muluk atau bersuara lantang tentang Pancasila dalam pidato-pidato atau tulisan mereka, tetapi dalam praktek menjalankan hal-hal yang sama sekali berlawanan atau bahkan bermusuhan dengan jiwa asli atau isi yang sebenarnya menurut gagasan penciptanya atau perumusnya, Bung Karno. Suharto dkk bicara tinggi-tinggi soal Pancasila, namun mereka malahan telah mengkhianati pencetusnya, menggulingkan kekuasaannya sebagai presiden, menahannnya sebagai tapol, dan membiarkannya sakit parah dan wafat dalam status sebagai tahanan.

Bukan itu saja! Sebagian terbesar politik dan praktek-praktek rejim militer Orde Baru (dengan penyokong utamanya Golkar dan militer) selama puluhan tahun tidaklah mencerminkan jiwa atau isi Pancasila, yaitu : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, dalam permusyawaratan perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dari pengalaman yang berpuluh-puluh tahun, nyatalah dengan jelas bahwa apa yang dilakukan Suharto dkk selama 32 tahun adalah penyelewengan (kalau bukan pembunuhan) jiwa agung dan tujuan luhur yang terkandung dalam Pancasila-nya Bung Karno.



Mereka tidak menyelamatkan negara melainkan “menjerumuskan”-nya

Peringatan “Hari Kesaktian Pancasila” adalah salah satu di antara banyak sekali praktek-praktek rejim militer Orde Baru (yang masih diteruskan sampai sekarang oleh para pendukung setianya) yang dimaksudkan sebagai usaha untuk terus-menerus menjatuhkan citra Bung Karno beserta para pendukung utamanya, yang terdiri dari golongan kiri pada umumnya, dan golongan PKI pada khususnya. Secara langsung atau tidak langsung, dan dengan berbagai jalan dan bentuk, digambarkan bahwa “Pancasila” mereka yang “sakti” telah menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia dari kesalahan-kesalahan Bung Karno yang “bersekutu” dengan PKI.

Padahal, seperti yang kita semua sama-sama saksikan, justru karena mereka telah menyalahgunakan, atau memalsu, atau melecehkan Pancasilanya Bung Karno itulah keadaan negara bangsa dan negara kita menjadi sangat semrawut dan bobrok sekali dewasa ini. Justru karena mereka (Suharto dkk) mengkhianati Bung Karno sebagai presiden dan Panglima Tertinggi Angkatan Perang dan Pemimpin Besar Revolusi, maka mereka sama sekali tidak pantas – dan juga sama sekali tidak berhak !!! – untuk menggembar-gemborkan sebagai golongan yang menjunjung tinggi Pancasila dan “menyelamatkan bangsa dan negara”. Sebaliknya, seperti yang disaksikan oleh kita semua, perkembangan situasi di Indonesia sejak kudeta merangkak yang dilakukan Suharto dkk sampai sekarang menunjukkan dengan jelas bahwa justru mereka itulah yang telah menjerumuskan bangsa dan negara ke dalam jurang kebobrokan dan kebusukan.

Karena mereka telah memusuhi ajaran-ajaran atau gagasan besar Bung Karno, termasuk mencampakkan jiwa asli atau isi utama Pancasila hasil pemikirannya, maka negara kita sekarang berada dalam krisis yang multi-dimensional atau bersegi banyak. Di antara berbagai krisis atau persoalan besar yang dihadapi rakyat dan negara kita adalah : dikangkanginya asset negara yang penting-penting oleh kekuatan asing, kelumpuhan negara dan bangsa menghadapi neo-liberalisme, kerusakan moral atau iman di berbagai kalangan atas, rusaknya persatuan bangsa karena persoalan agama dan kesukuan, merajalelanya korupsi dimana-mana, hilangnya kepedulian atau kepekaan rasa terhadap kemiskinan sebagian terbesar rakyat, dibiarkannya pengangguran sampai beberapa puluh juta orang, merosotnya patriotisme atau nasionalisme kerakyatan.



“Hari Kesaktian Pancasila” adalah anti-Bung Karno

Para pendukung Orde Baru menggembar-gemborkan “Hari Kesaktian Pancasila” dengan tujuan yang berlawanan sama sekali dengan gagasan besar dan otentik yang terkandung dalam Pancasila-nya Bung Karno. “Hari Kesaktian Pancasila” yang diselenggarakan di Lubang Buaya pada intinya adalah berjiwa atau berorientasi anti-Sukarno,atau anti-kiri umumnya, termasuk anti-PKI.

Dalam kaitan ini perlulah kiranya kita semua (termasuk orang-orang yang masih tertipu oleh Orde Barunya Suharto bahwa “Hari Kesaktian Pancasila” adalah sesuatu yang luhur dan mulia) mengerti dengan gamblang bahwa secara keseluruhan, Pancasila-nya Bung Karno adalah kiri. Dengan mengingat bahwa sejak mudanya ia sudah menerjunkan diri dalam perjuangan anti-kolonialisme Belanda dengan elan (semangat) revolusioner dan jiwa NASAKOM, maka jelaslah bahwa ia menggagas Pancasila dalam tahun 1945 pun dengan latar-belakang fikiran kiri dan revolusioner.

Kalau kita cermati gagasan-gagasan Bung Karno yang besar dan progresif yang terkandung dalam kata-kata di Pancasila-nya: Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan, dan Keadilan sosial, maka kita semua bisa melihat bahwa apa yang dilakukan oleh Suharto dengan Orde Barunya selama 32 tahun adalah betul-betul pengkhianatan besar-besaran terhadap Pancasila yang asli. Sebab, hanya orang-orang yang jiwanya tidak sehatlah yang masih bisa -- atau masih berani !!! -- mengatakan bahwa Orde Baru telah mempraktekkan Kemanusiaan yang adil dan beradab (harap ingat : pembantaian jutaan orang tidak bersalah dalam peristiwa 65, penangkapan ratusan ribu orang selama puluhan tahun, dan menyengsarakan terus-menerus, sampai sekarang, keluarga korban 65 yang puluhan juta orang jumlahnya).

Juga hanya orang-orang yang nalarnya rusak-lah yang terus-menerus mengatakan bahwa pemerintahan Orde Baru (dan semua pemerintahan yang berikutnya) telah dan sedang mentrapkan Kerakyatan, kalau kita ingat bahwa lembaga-lembaga negara (antara lain : DPR, DPRD, Mahkamah Agung, dan aparat birokrasi dikuasai oleh anasir-anasir korup dan bermental anti-rakyat). Dan hanya orang-orang yang imannya sesatlah yang tidak segan-segan mengatakan bahwa semua pemerintahan pasca-Sukarno menjunjung tinggi-tinggi prinsip Keadilan sosial, kalau kita saksikan bahwa selama ini sebagian terbesar rakyat kita hidup di bawah 2 dollar sehari, sedangkan segolongan orang-orang sebangsa Tommy Suharto dan Tutut bergelimang dengan uang triliunan Rupiah.

Perlu kita sama-sama renungkan juga bahwa Bung Karno merumuskan sila pertama Pancasila (Ketuhanan Yang Maha Esa) dengan pengertian agama (Islam, Katolik, Kristen dll) yang progresif, yang berkemanusiaan, yang adil dan beradab, yang menjunjung tinggi-tinggi kerakyatan dan keadilan sosial (jadi sama sekali berlawanan dengan praktek-praktek FPI atau ajaran golongan Islam fundamentalis Indonesia lainnya). Patutlah kita semua ingat bahwa Bung Karno sejak masih mahasiswa sudah terjun dalam gerakan Islam yang progresif atau kiri, anti-kolonialis, dan bersahabat dengan orang-orang komunis juga, karena ia anggap mereka sebagai kawan seperjuangan.

Apa yang dikemukakan di atas itu adalah untuk mengajak kita semuanya melihat bahwa “Hari Kesaktian Pancasila” yang diselengggarakan di Lubang Buaya itu sebenarnya atau pada intinya adalah hanya salah satu di antara banyak upaya sebagian golongan militer pendukung Suharto beserta sisa-sisa kekuatan Orde Baru lainnya untuk melanjutkan terus-menerus politik mereka yang salah selama ini, yaitu memerosotkan citra Bung Karno dan sekaligus memukul gerakan kiri, dan terutama PKI. Itu semuanya perlu mereka lakukan, untuk menutupi dosa-dosa mereka yang besar dan banyak sekali yang telah dilakukan sejak 1965.



Pancasila adalah pemersatu bangsa dan juga kiri

Bahwa jiwa asli Pancasila adalah kiri, baiklah disajikan ulang apa yang dikatakan oleh penggagasnya, Bung Karno, seperti yang dapat kita baca dalam dua jilid buku “Revolusi belum selesai”. Dalam buku tersebut dapat dibaca kumpulan pidato-pidato Bung Karno sesudah peristiwa G30S, yang banyak menyinggung masalah Pancasila. Berikut adalah satu bagian kecil sekali dari pidato beliau dalam sidang paripurna Kabinet Dwikora di Bogor pada tanggal 6 November 1965 (yaitu kita-kira sebulan lebih setelah terjadinya G30S, ketika para pembesar militer pendukung Suharto mulai menggunakan Pancasila untuk menyerang Bung Karno) :

“Jangan kira, Saudara-saudara, kiri is alleen maar (keterangan : bahasa Belanda, yang artinya : hanyalah ) anti-imperialisme. Jangan kira kiri hanya anti-imperalisme, tetapi kiri juga anti-uitbuiting (penghisapan). Kiri adalah juga menghendaki satu masyarakat yang adil dan makmur, di dalam arti tiada kapitalisme, tiada exploitation de l’homme par l’homme, tetapi kiri. Oleh karena itu saya berkata tempo hari, Pancasila adalah kiri. Oleh karena apa ? Terutama sekali oleh karena di dalam Pancasila adalah unsur keadilan sosial. Pancasila adalah anti-kapitalisme. Pancasila adalah anti-exploitation de l’homme par l’homme. Pancasila adalah anti-exploitation de nation par nation. Karena itulah Pancasila kiri” (Revolusi belum selesai, halaman 77).

Dalam sidang pimpinan MPRS ke 10 di Istana Negara, 6 Desember 1965 (jadi dua bulan sesudah G30S) Bung Karno mengatakan :” Apakah tidak benar kalau saya berkata bahwa di waktu yang akhir-akhir ini, Pancasila dipergunakan sebagai satu barang an sich.Aku Pancasila! Maksudnya apa orang yang berkata demikian ini ? Aku antikomunis. Perkataan dipakai untuk sebetulnya men-demonstreer anti kepada Kom. Padahal Pancasila sebetulnya tidak anti-Kom. Kom dalam arti ideologi sosial untuk mendatangkan di sini suatu masyarakat yang sosialistis. Kalau dikatakan, ya aku Pancasila, tetapi dalam hatinya anti-Nasakom. Pancasila dipakai untuk mengatakan aku Pancasila, tetapi aku anti-Nas. Aku Pancasila tetapi aku anti-A.

Pancasila adalah pemersatu, adalah satu ideologi yang mencakup segala. Dan aku sendiri berkata, aku ini apa? Aku Pancasila. Aku apa ? Aku perasan daripada Nasakom. Aku adalah Nasionalis, aku adalah A, aku adalah sosialis, kataku. Tetapi banyak orang memakai Pancasila ini sebagai hal yang anti.” (Revolusi belum selesai, halaman 217).



Pancasila-nya Bung Karno perlu kita angkat kembali

Mengingat itu semuanya nyatalah bahwa « Hari Kesaktian Pancasila » yang diselenggarakan di Lubang Buaya (dan di tempat-tempat lainnya di Indonesia) adalah sebenarnya bertentangan sama sekali dengan jiwa asli Pancasila-nya Bung Karno dan ajaran-ajaran besarnya yang lain. Karena itulah tulisan ini sependapat dengan usul atau fikiran yang sudah mulai muncul supaya ritual yang hanya menyebar racun persatuan bangsa ini ditiadakan atau dihapuskan saja untuk selanjutnya. Tetapi, kalau sisa-sisa Orde Baru masih mau tetap mengadakannya, ada juga baiknya ! Sebab, seperti halnya diaporama beserta « Monumen Pancasila, » -nya, akhirnya itu semua akan merupakan boomerang bagi mereka, karena banyak orang (terutama generasi yang akan datang) akan bisa melihat dengan jelas kebohongan dan tujuan yang tidak luhur yang dikandungnya. Diaporama dan segala macam monumen yang didirikan oleh rejim militer ini pastilah akan menjadi “senjata makan tuan” bagi mereka sendiri.

Jadi, kita semua melihat bahwa Pancasila sudah dikotori atau dibikin busuk seperti comberan (dan memuakkan!) oleh Suharto dan konco-konconya selama puluhan tahun dengan macam-macam praktek (antara lain indoktrinasi paksaan Penataran “Penghayatan dan Pengamalan Pancasila”, dan cekokan berupa seminar atau rapat-rapat dll). Karenanya, sudah banyak orang yang bukan saja membenci Suharto dengan Orde Barunya, melainkan juga tidak menghargai Pancasila lagi.

Karenanya, adalah tugas kita bersama dewasa ini, dan untuk selanjutnya, untuk mengangkat kembali Pancasila dari comberan yang dibikin oleh rejim militer Suharto. Pancasila-nya Bung Karno perlu kita junjung tinggi-tinggi, kita kumandangkan lagi, dan kita dudukkan di tempat yang luhur dan mulia sebagaimana mestinya, sebagai pemersatu bangsa yang berjuang untuk masyarakat yang betul-betul demokratis, adil dan makmur.

Paris, 7 Oktober 2008
isthar
bro bisa minta biografi penulis asli artikel ini g ?

thanx
loadknock
QUOTE (isthar @ Aug 3 2009, 09:40 AM) *
bro bisa minta biografi penulis asli artikel ini g ?

thanx


hallo pesanan datang........
silahkan dinikmati mumpung masih anget nih......

A. Umar Said


dilahirkan pada tanggal 26 Oktober 1928, di desa Pakis,
dekat Tumpang, kota kecil di dekat Malang (Jawa Timur). Bapak
beliau adalah seorang guru, tamatan Normaal School di Blitar. Jadi,
bolehlah dikatakan bahwa beliau adalah seorang anak yang semasa
kecil, dalam masa kolonial Belanda, dibesarkan di lingkungan
guru.

Tahun 1941. Sampai masuknya tentara pendudukan Jepang
dalam tahun 1941, belajar di HIS (Hollandsch Inlandse School)
BLitar sampai tahun terakhir.

1941 - 1945. Selama pendudukan Jepang, belajar di SMP Kediri
(Baluwerti). Selama belajar di SMP menjadi juara dalam bahasa
Jepang, di bawah pimpinan pak Suwandi Tjitrowasito.
1945 - 1946. Menjelang akhir 1945 (November sampai
permulaan 1946) ikut dalam pertempuran di Surabaya dan
sekitarnya. Sebagai anggota rombongan pemuda dikirim oleh
Kementerian Dalam Negeri RI ke Sumatera.

1947- 1948. Melanjutkan sekolah di Taman Madya (Taman
Siswa) di Wirogunan Jogyakarta.

1948 - 1949. Menjadi guru Sekolah Dasar di Malang dan
kemudian di Surabaya.

1949 (akhir). Meninggalkan Surabaya untuk “merantau” ke
Jakarta, dan bekerja di sebuah hotel kecil (rumah penginapan)
“Surakarta” di Meester Cornelis (Jatinegara), sambil
memperdalam bahasa Inggris

1950. Menjadi penterjemah di United States Naval Liaison
Office di Jalan Raden Saleh, Jakarta, selama beberapa bulan
(pekerjaan penterjemahan dari bahasa Belanda ke bahasa Inggris).
Memasuki dunia jurnalistik

1950 - 1953. Bekerja di suratkabar Indonesia Raja di bawah
pimpinan Mohtar Lubis, mula-mula sebagai korektor, kemudian
reporter kota, dan kemudian lagi menjadi wartawan politik.
Sebagai wartawan perang (bersama dengan Subekti dari Pedoman
dan Idham Idris dari Kementerian Penerangan) mengikuti operasi
militer untuk menghancurkan RMS dan mengikuti pendaratan
TNI di Tulehu (Ambon) dan pertempuran benteng Paso. Bersama
wartawan Beb Vuyk (Pedoman) mengikuti misi Palang Merah
Indonesia untuk mengirim bantuan makanan dan pakaian ke
pulau-pulau Ceram, Buru, Ambon, Banda, Aru, Kai, Tanimbar,
Alor, Wetar, dan Flores.

1953. Untuk pertama kali ke luar negeri sebagai anggota
delegasi Indonesia (merangkap penterjemah) ke Konferensi
Internasional Hak-Hak Pemuda yang diselenggarakan di Wina
(Austria). Kemudian diteruskan dengan kunjungan ke Moskow
dan ke Tiongkok untuk pertama kali, sebagai tamu dari Gabungan
Pemuda Seluruh Tiongkok. Kembali ke Jakarta dengan kapal KPM
“Tjiluwah” bersama almarhum Asmu (dari BTI) yang menjadi
tamu pemerintah Tiongkok.

1953-1956. Bekerja di Harian Rakjat sebagai wartawan.
Mengikuti perjalanan Bung Karno ke Indonesia Timur bersama
dengan Satyagraha (Suluh Indonesia) dan Bung Tomo. Kunjungan
ini dilakukan ke Makassar, Ceram dan Ambon, Tual, Flores dan
Timor Barat (Atambua dan Atapupu). Dalam tahun 1955, sebagai
wartawan mengikuti Konferensi Asia-Afrika di Bandung dan
membikin laporan-laporan tentang peristiwa bersejarah ini.

1956. Berangkat ke Padang untuk memimpin suratkabar
Harian Penerangan, milik Lie Oen Sam (Ketua Baperki Padang).
Jabatan ini disandang sampai tahun 1960. Selama itu telah terjadi
pemberontakan Dewan Banteng yang dipimpin oleh Letkol
Ahmad Husein, dan kemudian diproklamasikannya PRRI di
bawah Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Pekerjaan sebagai
pimpinan redaksi suratkabar di daerah pemberontakan
dialaminya dengan penuh bahaya.

1959. Menjalin perkawinan dengan seorang gadis Minang dari
Solok. Upacara perkawinan diramaikan oleh undangan dari
Gubernur Sumatera Barat Kaharudin Datuk Rangkajo Basa dan
Penguasa Perang Daerah (Peperda) dan Masyarakat Adat
Sumatra Barat.
Ekonomi Nasional, PWI Pusat dan PWAA

1960. Mendapat tawaran untuk memimpin suratkabar
Ekonomi Nasional yang terbit di Jakarta. Sejak itu, keluarga dipindah
semuanya ke Jakarta.

1962. Sebagai anggota delegasi ke Kongres International
Organisation of Journalists (IOJ) di Budapest, bersama S. Tahsin,
Hasjim Rahman, Tom Anwar (dari Bintang Timur) dan Koerwet
Kartaadiredja (INPS). Di Budapest inilah terkumpul tandatangan
dari banyak delegasi wartawan negeri-negeri Asia-Afrika, untuk
menyelenggarakan Konferensi Wartawan Asia-Afrika (KWAA)
di Indonesia.

1962. Setelah selesai kongres IOJ di Budapest, dengan S. Tahsin
berkunjung ke Tiongkok sebagai tamu Persatuan Wartawan
Seluruh Tiongkok (All China Journalists Association) untuk
membicarakan penyelenggaraan KWAA (Konferensi Wartawan
Asia-Afrika) di Jakarta. Di Peking bertemu dengan Menteri
Luarnegeri Chen Yi.

1962 (akhir). Sekembali dari Tiongkok, bersama-sama dengan
teman-teman wartawan lainnya, membentuk Panitia Persiapan
KWAA. beliau terpilih sebagai Bendahara Panitia Pusat KWAA.
Ikut dalam delegasi untuk bertemu dengan Bung Karno guna
membicarakan peneyelenggaraan KWAA dalam tahun 1963.

1962 (sampai 1965). Sering menerima undangan untuk
menghadiri pameran-pameran dagang internasional yang
diselenggarakan di Brno (Cekoslowakia), Plovdiv (Bulgaria),
Leipzig (Jerman Timur), Poznan (Polandia). Juga memenuhi
undangan dari Bremen (Bremen Tabakbeurse), kementerian
luarnegeri Inggris.
Kegiatan internasional

1963. Bersama-sama dengan Karim. DP, Mahbub Djunaedi
(Duta Masyarakat), Suhardi (Suluh Indonesia) mengikuti rombongan
perjalanan Presiden Sukarno dalam kunjungan kenegaraan beliau
ke Manila, Pnompenh, dan kemudian Tokio (kunjungan privé). Di
Manila bertemu dengan Presiden Philipina Diosdadong
Macapagal dan Pangeran Norodom Sihanouk di Pnompenh. Para
wartawan yang ikut dalam rombongan Presiden Sukarno ini
diberi medali mas oleh Ratu Kosamak (ibusuri Pangeran
Sihanouk).

1963. Berbulan-bulan melakukan kegiatan untuk persiapan
dan kemudian penyelenggaraan KWAA yang bersejarah, yang
berlangsung di Hotel Indonesia dan Presshouse (Wisma Warta)
di Jakarta. Setelah terbentuk PWAA (Persatuan Wartawan Asia-
Afrika), yang dipimpîn oleh Djawoto, beliau dipilih sebagai
Bendahara merangkap sebagai anggota Sekretariat PWAA.
Setelah Djawoto diangkat oleh Bung Karno sebagai Dubes RI di
Peking, Joesoef Isak menggantikannya sebagai sekretaris jenderal
PWAA.

1963. Dalam kongres PWI di Jakarta, dipilih sebagai Bendahara
PWI Pusat, yang dipimpin oleh Karim D.P (dari Warta Bhakti)
sebagai Ketua. Berbagai jabatan ini dirangkap sambil meneruskan
tugas sebagai pimpinan redaksi Ekonomi Nasional dan mengajar di
Akademi Junrnalistik Dr Rivai (Jakarta).

1963. Menghadiri konferensi internasional anti-bom nuklir
di Hiroshima dan berkunjung ke Hanoi untuk pertama kali.
Bertemu dengan Presiden Ho Chi Minh, bersama-sama dengan
anggota delegasi Indonesia lainnya.

1964. Keliling negeri-negeri Arab (Irak, Mesir dan Siria) dan
Afrika Timur (Kenya, Uganda, Tanzania, Zanzibar, Somalia,
Sudan), sebagai anggota delegasi PWAA.

1965 (permulaan). Berangkat ke Aljazair untuk menghadiri
Konferensi AAPSO (Afro-Asian People’s Solidarity Organisation).
Dari Paris, ikut dalam pesawat terbang kepresidenan, ketika Bung
Karno kembali dari perjalanan beliau ke Afrika.

1965 (14 September). Meninggalkan Jakarta sebagai anggota
delegasi grup IOJ (International Organisation of Journalists) yang
mengadakan konferensi internasional di Santiago (Chili). Dalam
delegasi ini terdapat Francisca Fangiday sebagai wakil Harian
Rakjat. Sehabis konferensi IOJ di Santiago mendapat tugas untuk
singgah di Aljazair guna merundingkan persiapan
penyelenggaraan KWAA ke-II di Alger.
Sesudah peristiwa G30S ke Tiongkok

1965 (permulaan Oktober). Mendengar dari KBRI di Alger
bahwa terjadi G30S. Karena kemudian mendengar bahwa
suratkabar Ekonomi Nasional bersama-sama Harian Rakjat, Warta
Bhakti, Bintang Timur, Suluh Indionesia dilarang terbit, maka beliau
memutuskan untuk tidak segera kembali ke Jakarta, sambil
menunggu perkembangan lebih lanjut.

1965 (Oktober-November). Setelah menunggu agak lama di
Alger dan di Paris, memutuskan untuk menggabungkan diri
dengan delegasi Indonesia yang sedang berkunjung ke Tiongkok
dalam rangka Hari Nasional Tiongkok 1 Oktober.

1965 (November). Datang di Peking dan bergabung dengan
delegasi wartawan Indonesia (yang dipimpin Supeno dari Antara).
Kemudian, setelah PWAA dipindah dari Jakarta ke Peking, maka
saya bekerja kembali di Sekretariat PWAA, di bawah pimpinan
Djawoto (yang menyatakan diri meletakkan jabatannya sebagai
Dutabesar RI untuk Tiongkok). Pekerjaan sebagai kepala
Sekretariat PWAA, di bawah pimpinan Djawoto (yang menjabat
kembali sebagai Sekjen PWAA), berlangsung sampai saya
meninggalkan Peking.

1966. (Permulaan). Ikut sebagai anggota delegasi Indonesia
dalam konferensi Trikontinental yang diselenggarakan di Havana
(Kuba). Delegasi yang dipimpin oleh Ibrahim Isa ini merupakan
delegasi tandingan yang dikirim oleh Jakarta (di bawah Kolonel
Latief Hendraningrat). Selama di Havana delegasi Indonesia
mendapat kehormatan dari Fidel Castro yang datang ke hotel
tempat menginap beliau, untuk bicara-bicara tentang situasi
Indonesia, tentang terjadinya G30S dan terbunuhnya begitu
banyak orang oleh militernya Soeharto.

1967. Sebagai anggota delegasi PWAA, berkunjung ke
berbagai negeri Arab dan Afrika Barat, untuk membicarakan
kerjasama dengan persatuan-persatuan wartawan di negeri:
Siria, Mesir, Aljazair, Senegal, Mali, Guinea, Siera Leone dan
Conggo Brazaville.

1971 - 1973 (permulaan). Bersama-sama banyak kawankawan
Indonesia lainnya, hidup dalam tempat penampungan
sementara di satu daerah di propinsi Jiangxi. Di antara banyak
kegiatan selama di tempat penampungan sementara ini, ikut
dalam menyelenggarakan penerbitan intern “Bahan
Pertimbangan” yang berisi berita-berita dan informasi tentang
situasi di Indonesia waktu itu.

Akhir 1973 sampai permulaan 1974. Meninggalkan Tiongkok
menuju Rumania, Jugoslavia, dan kemudian Jerman Barat, dalam
rangka mencari jalan untuk bisa menetap di Perancis.
Suaka politik dan kehidupan di Perancis

1974 (bulan April). Terbang dari Jerman Barat menuju Paris,
dan menyatakan di lapangan terbang Paris minta suaka politik
di Perancis. Sejak datang ke Paris, langsung mengadakan kontakkontak
persahabatan dengan berbagai kalangan Perancis, dalam
rangka usaha mencari pekerjaan sambil melakukan berbagai
kegiatan. Memperdalam bahasa Perancis lewat kursus-kursus di
Sorbonne.

1975 - sampai Mei 1982. Bekerja sebagai pegawai di suatu
badan Kementerian Pertanian Perancis. Pekerjaan di Kementerian
Pertanian ini merupakan periode adaptasi yang penting dalam
kehidupan baru di Paris. Selama itu, melakukan berbagai kegiatan
mengenai soal-soal yang berkaitan dengan situasi di Indonesia,
terutama mengenai tapol dan hak-hak manusia. Dalam periode
ini, sering mondar-mandir ke Holland, Jerman Barat dan Swiss
untuk membantu kedatangan sejumlah kawan-kawan yang
datang dari Tiongkok, Albania dan lain-lain negeri, yang ingin
menetap di Eropa Barat.

1976. Menjadi peserta Konferensi Nasional CCFD (Comite
Catholique contre Faim pour Developpement), suatu organisasi
besar di Perancis yang membantu Dunia Ketiga. Dalam tahun ini
juga bertemu untuk pertama kali dengan Jose Ramos Horta (dari
Timor Timur) di Holland, dan kemudian mendirikan di Paris
organisasi ASTO (Association de Solidarité avec Timor Oriental)
bersama-sama dengan sejumlah teman-teman Perancis. ASTO
ini sampai sekarang masih berdiri (sudah lebih dari dua puluh
lima tahun).

1977. Untuk pertama kali sejak meninggalkan Jakarta (14
September 1965) bisa berhubungan lewat telpon dengan istri beliau
(yang tinggal di Jakarta), berkat bantuan kawan lama beliau, Bung
Joesoef Isak. Kemudian, dalam tahun 1978, sesudah berpisah
tanpa surat-menyurat selama kira-kira tiga belas tahun, istri beliau
berkunjung sebentar ke Paris. Sejak itu, diadakan persiapanpersiapan
untuk berkumpulnya kembali seluruh keluarga
(dengan dua anak laki-laki).

1978. Mendirikan Komite Tapol di Paris bersama Philippe Farine
(pimpinan CCFD), yang kemudian berhasil mengumpulkan tanda
tangan dari berbagai tokoh penting Partai Sosialis Perancis untuk
rehabilitasi para ex-tapol dan juga tentang larangan buku
Pramoedya. Menerbitkan majalah dalam bahasa Perancis tentang
HAM di Indonesia.Restoran “Indonesia” dan Chine Express, dll.

1982 (Mei). Menyatakan mengundurkan diri secara sukarela
dari pekerjaan di Kementerian Pertanian Perancis, dengan tujuan
untuk mencurahkan tenaga dan waktu guna berdirinya suatu
usaha kolektif bagi kehidupan kawan-kawan Indonesia (political
refugees) yang berdatangan dari Tiongkok, Albania dan lain-lain
negeri.

1982 (Desember). Restoran “INDONESIA” (yang berstatus
koperasi) berdiri. Selama beberapa tahun ikut mengelola dan
bekerja di restoran kolektif ini, sambil melakukan kegiatankegiatan
sosial dan politik lainnya (antara lain: mengadakan
“malam Indonesia,” rapat-rapat tentang soal Indonesia dll).

1986 (sampai 1996). Menerbitkan majalah ekonomi dalam
bahasa Perancis Chine Express, yang ditujukan kepada
perusahaan-perusahaan Perancis yang ingin berhubungan
dengan pasar Tiongkok. Selama sepuluh tahun penerbitan ini
dilakukan sendiri (tanpa pegawai atau pembantu).

1987. Sebagai anggota delegasi CCFD untuk evaluasi projek
kerjasama dengan satu universitas Korea Utara (Wonsan), dan
kemudian diteruskan ke Tiongkok untuk dimulainya hubungan
antara CCFD dengan CAFIU (Chinese Association for International
Understanding).

1996. Untuk pertama kalinya (sejak 1965) berkunjung ke
Indonesia, dengan menggunakan paspor Perancis. Karena regime
Orde Baru masih berkuasa, maka hubungan dengan keluarga dan
kawan-kawan di Indonesia masih dilakukan dengan sangat hatihati,
waktu itu.

1998. Memutuskan untuk menghentikan penerbitan majalah
bulanan Chine Express, dan mengambil masa pensiun, sampai
sekarang. Namun, walaupun sudah pensiun, masih tetap terus
menjadi anggota koperasi Fraternité (restoran INDONESIA) dan
masih terus melakukan berbagai kegiatan sosial dan politik, yang
bersangkutan dengan Indonesia.

Sejak 1997, setiap tahun pergi berkunjung ke Indonesia untuk
hubungan dengan berbagai organisasi dan perseorangan di
Indonesia. Beberapa kali ikut dalam konferensi yang diadakan
oleh INFID (di Bogor dan di Bali). Menjalin kerjasama dengan
berbagai LSM di Indonesia dalam berbagai bidang.
Sudah pensiun, tetapi tetap sibuk

2000. Menjadi anggota rombongan Mme Danielle Mitterrand
(istri mendiang Presiden Perancis, François Mitterrand) yang
berkunjung ke Indonesia untuk mengadakan kontak dengan para
ex-tapol (Yayasan Ibu Sulami dll).

2001. Menjadi anggota pengurus CDI (Comité pour la
Démocratie en Indonésie), yang didirikan bersama-sama dengan
teman-teman Indonesia dan Perancis. Dalam CDI ini terdapat
orang-orang dari Partai Sosialis, Partai Hijau, Partai Komunis
dan perseorangan. CDI sudah mengadakan kerjasama dengan
berbagai kalangan di Indonesia.

Mei 2002. Sebagai anggota delegasi ASTO (Komite Timor
Timur di Perancis) berkunjung ke Timor Timur, dalam rangka
perayaan Hari Kemerdekaan Timor Leste di Dili, yang jatuh pada
tanggal 20 Mei 2002. Pada saat itu, telah bertemu kembali dengan
sahabat-sahabat lama, antara lain: Mari Alketiri (Perdana
Menteri), Rogerio Lobato (Menteri Dalamnegeri), Roque Rodriguez
(Menteri Pertahanan), Jose Ramos Horta (Menteri Luar Negeri).

Sekarang,beliau dalam kehidupan sederhana di Perancis, tetap
berusaha untuk bisa berbuat sesuatu untuk Indonesia. Masih
berusaha terus untuk menulis, dan meneruskan hubungan
dengan berbagai kalangan di Indonesia, dalam rangka perjuangan
bersama untuk menegakkan demokrasi, membela HAM, dan ikut
dalam gerakan untuk terus mendorong adanya perobahan perobahan
demi kepentingan rakyat banyak.

katakanlah yang benar itu benar walaupun pedih terasa

gimana bro ada pesenan lain....???
aikbj
Mantaf biografina, isinya jg mencerahkan...thks bro infona
manstein
hmm..

kembali lagi cerita tntg 1 Oktober.. semoga saja tidak hanya omong doang.. karena orangnya juga pada saat kejadian tidak berada di Indonesia..
robekdikit

hmmm...nice post...
mblendez
siiip....
mblendez
siiip....
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.