Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Tiga Dosa Media dalam Liputan Bom
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Cafe > Fresh News
OhYesOhNo
Source: tempointeraktif.com Rabu, 05 Agustus 2009 | 19:25 WIB
http://tempointeraktif.com/hg/kolom/2009/0...0805-95,id.html

Tiga Dosa Media dalam Liputan Bom



Arya Gunawan


QUOTE
TEMPO Interaktif, Jakarta - Dua pekan berlalu sejak bom kembar mengguncang Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, namun gegap-gempita laporan media massa terkait dengan peristiwa tersebut tampak belum menyurut. Nyaris tak ada media berita yang absen melaporkan perkembangannya setiap hari. Sebuah kenyataan yang wajar, mengingat peristiwanya masih terus berkembang dan menyisakan sederet tanda tanya, termasuk mengenai belum tersingkapnya teka-teki pelaku dan motifnya.

Di satu sisi, "kehebohan" yang berlangsung di kalangan media ini tentu perlu disambut hangat, karena ini menunjukkan bahwa media tengah menjalankan fungsi dan menunaikan tugas mereka sebagai penyedia informasi bagi masyarakat. Dengan kata lain, media tengah melayani khalayak untuk memenuhi salah satu hak asasi khalayak, yaitu hak untuk mendapatkan informasi.

Namun, pada sisi lain muncul juga situasi yang mengundang keprihatinan ditinjau dari sudut disiplin ilmu dan praktek jurnalisme, sebagaimana tecermin dari judul yang dipakai untuk tulisan ini. Sebelum melangkah lebih jauh, saya hendak menegaskan bahwa apa yang saya maksudkan dengan "dosa" dalam konteks ini semata-mata untuk memberikan efek penguatan, bukan diniatkan untuk menjadikan media sebagai pesakitan.

Tulisan ini juga tidak bermaksud menunjukkan secara terperinci kasus per kasus, dan tidak pula hendak menuding secara spesifik media mana yang telah melakukan perbuatan "dosa" tadi. Tulisan ini lebih sebagai sebuah gambaran umum, dengan niat agar bisa dijadikan alat becermin dan mawas diri bagi para pemilik, pengelola, dan pekerja media, untuk melakukan langkah-langkah koreksi dan pembenahan di masa datang.

Tiga "dosa" yang dimaksudkan di sini hampir selalu menghantui dan dapat memerangkap media jika berhadapan dengan peristiwa pengeboman seperti yang terjadi di Mega Kuningan ini. Banyak faktor yang menjadi penyebab munculnya perangkap tersebut, antara lain "perlombaan" mengejar kecepatan dan eksklusivitas berita sehingga mereka tak terlalu awas lagi terhadap nilai-nilai yang dikedepankan oleh etika jurnalisme (misalnya saja pentingnya akurasi, juga sikap untuk selalu mengupayakan kepatutan/decency). Di tengah perlombaan yang dipicu oleh iklim kompetisi sangat ketat semacam ini, yang lebih tampil adalah hal-hal sensasional, yang bermuara pada aspek komersial, dan tersingkirkanlah nilai-nilai ideal. Faktor lainnya adalah "kemalasan" wartawan untuk melakukan verifikasi guna menawarkan sebuah kontra-teori atas apa yang disampaikan oleh lembaga-lembaga resmi (dalam kasus bom Mega Kuningan, yang mendominasi adalah versi resmi dari pihak kepolisian).

"Dosa" pertama yang dilakukan media dalam konteks laporan bom Mega Kuningan ini adalah pengabaian terhadap asas kepatutan. Ini tampak nyata, terutama pada media televisi, di mana gambar-gambar yang seharusnya tidak patut ditampilkan (misalnya saja gambar yang menunjukkan bagian-bagian tubuh yang telah terpenggal terkena bom) tetap terpampang. Keprihatinan yang serius telah disuarakan oleh Dewan Pers begitu tayangan tersebut muncul. Sebagian besar media kemudian mendengarkan kritik ini, namun sebagian lainnya masih sempat berlenggang kangkung, business as usual.

"Dosa" kedua, media telah menempatkan dirinya bukan lagi semata-mata sebagai pelapor, melainkan telah bergerak terlalu jauh hingga menjadi interogator, bahkan inkuisitor (salah satu definisi dari istilah terakhir ini adalah a questioner who is excessively harsh alias "seorang pewawancara yang amat kasar"). Inilah yang dengan mencolok diperlihatkan oleh sejumlah stasiun televisi saat para reporternya melakukan wawancara terhadap sejumlah anggota keluarga atau kerabat dari nama-nama yang diduga oleh pihak kepolisian terlibat dalam aksi pengeboman itu. Para sanak keluarga dan kerabat ini seperti tengah mengalami mimpi buruk: hidup yang semula barangkali aman-tenteram, seketika terusik oleh kehadiran para juru warta yang dengan agresif berupaya mendapatkan keterangan--apa pun bentuk keterangan itu--dari mereka.

Media tentu boleh-boleh saja mencari informasi dari mereka, namun harus dengan pertimbangan masak, setidaknya untuk dua hal: (a) relevansi (misalnya, apakah seorang paman dari salah seorang yang disebut-sebut terlibat dalam aksi itu cukup relevan untuk dijadikan narasumber, apalagi sang paman kemudian mengaku sudah 10 tahun tak pernah lagi berhubungan ataupun mendengar kabar mengenai keberadaan sang keponakan); dan (b) cara mengorek informasi. Untuk butir terakhir ini, yang hadir ke hadapan khalayak adalah kesan bahwa pihak yang diwawancarai ditempatkan seolah-olah sebagai pesakitan. Inilah salah satu wujud nyata dari apa yang disebut sebagai trial by the press, bahkan ia telah layak digolongkan sebagai teror dalam bentuk lain.

Masih terkait dengan "dosa" nomor dua ini, perkembangannya kemudian malah kian runyam, yakni ketika tiba-tiba pihak berwajib menyebutkan bahwa nama-nama yang semula diduga terlibat dalam aksi pengeboman itu ternyata keliru. Tidak tampak rasa bersalah, apalagi permintaan maaf terbuka, dari kalangan media yang sebelumnya telah menjalankan peran inkuisitor tadi. Padahal para sanak keluarga dan kerabat itu telah terpapar begitu terbuka ke publik, telah menjadi buah bibir di mana-mana dan bukan tak mungkin telah dijauhi oleh lingkungannya. Damage has been done, dan seakan tak ada upaya dari pihak yang merusak untuk menata kembali kerusakan itu.

Untuk "dosa" pertama dan kedua, obat penawarnya adalah pemahaman terhadap nilai-nilai dan praktek penerapan etika jurnalisme. Setiap lembaga media perlu menerbitkan pedoman internal penerapan etika jurnalisme ini. Setiap wartawan wajib mempelajarinya dan memahami isinya, bila perlu dengan membuat pelatihan khusus mengenai etika dengan berbagai studi kasus yang konkret bagi setiap wartawan baru. Bila perlu, ditambahi pula dengan kontrak kerja yang mencantumkan bahwa si pemegang kontrak wajib mematuhi etika jurnalisme, dan bisa dikenai sanksi tegas jika mengabaikannya. Dengan segala cara ini, nilai-nilai etika jurnalisme menjadi terinternalisasi alias melekat pada diri setiap wartawan, sehingga mereka tahu persis apa yang mesti dilakukan jika diperhadapkan dengan berbagai dilema yang terkait dengan etika jurnalisme dalam tugas mereka sehari-hari.

Adapun "dosa" nomor tiga adalah hal yang sudah lama menjadi keprihatinan saya dan telah berulang kali pula saya suarakan, yaitu kemalasan media untuk mencari alternatif versi cerita di luar apa yang disorongkan oleh lembaga resmi. Untuk mendapatkan versi alternatif ini, tentu saja diperlukan upaya ekstrakeras dari media untuk terus menggali informasi dari berbagai sumber, untuk melakukan verifikasi tanpa bosan, untuk tetap skeptis alias tidak menelan mentah-mentah informasi yang diterima, termasuk--tepatnya, apalagi--yang datang dari pihak resmi. "Dosa" ketiga ini sebetulnya terkait dengan "dosa" kedua. Jika media melakukan pertobatan untuk sekuat tenaga menghindar dari "dosa" ketiga ini, hampir pasti media juga akan terhindar dari "dosa" kedua. Sebab, media pasti tidak akan terburu-buru menggeruduk sanak keluarga dari mereka yang dituduh terlibat dalam aksi pengeboman itu, sebelum diperoleh petunjuk sangat kuat yang mengarah pada nama-nama tersebut .

Sebetulnya, perangkap tiga "dosa" seperti ini tak perlu lagi terjadi dalam kasus bom Mega Kuningan ini, karena bukan pertama kalinya media di Indonesia melaporkan peristiwa pengeboman. Namun, mungkin media luput menarik pelajaran penting dari kasus-kasus sebelumnya. Atau, kalaupun sempat melakukan perenungan dan memetik hikmah dari kejadian terdahulu, ia masih tinggal sebagai pelajaran, bukan sesuatu yang diterapkan pada tataran praktis.*


Arya Gunawan, pemerhati media, mantan wartawan Kompas dan BBC London. Kini bekerja di UNESCO Jakarta, dan menjadi dosen tidak tetap di Jurusan Jurnalisme FISIP Universitas Indonesia

Peace.gif peace Peace.gif
GODStalker
Hmm..untung ane bukan orang terkenal chaong.gif .
So gk perlu stress n ambil ati dengan ulah media-jurnalis yg ngasal.

Nice,
shadow lady
yaaah...mereka semua berlindung atas nama kebebasan pers...Peace.gif
sea_man
demi mengejar rating n update news keorisinilan suatu berita tidak ditelaah terlebih dahulu sehingga menjadi simpang siur bagi pemirsa/ pembaca
cowokganteng
gw bingung yang investigator wartawan ato polisi ya ??? Silly.gif
maff nih kalo ada temen-temen BF yang wartawan Peace.gif
yudosyaf
setuju sama TS.

IMHO, media sekarangn sudah bukan lagi kebebasan pers, tapi kebablasan pers...
kalo kebebasan pers harusnya diikuti pula dengan tanggungjawab pers atas berita yg disampaikan kepada khalayak, bukan makin membuat khalayak bingung, takut dan apriori....

semoga prinsip cover both side dan proses edukasi utk pembacanya lebih dikedepankan lagi....

tanggungjawablah, pers ! ini kan juga negara-bangsa dan tanah air kita sendiri....

hidup Indonesia !!!
dcL
Setuju, kasian sama masyarakat umum yang sayangnya menelan bulat-bulat apa yang diberikan media.

Kalo boleh nambahin, bahasa yang dipakai sebaiknya bahasa Indonesia yang baik dan benar, tanpa memandang target pasar media yang bersangkutan.
D3viL MelloW
ini yg gw suka... bener kata @shadow lady, mereka berlindung atas nama kebebasan pers...padahal nilai2 pers sendiri sudah ga di gubris oleh sebagian media..asal buat berita semenarik mungkin agar rating naik terus.... axehead.png

makanya gw dari dulu ga pernah percaya ma berita..walau itu bener2 asli beritanya.. krn mungkin dapat beritanya krn memaksa sang narasumber untuk bercerita... Thinking.gif Hmmmph.gif

saran gw sih buat media di mana pun.. bijaksanalah membuat berita yg akan di konsumsi oleh masyarakat banyak... Waiting.gif
rheinhardt
wah media itu ternyata dosanya banyak n besar lg. Hmmmph.gif

skrg ane ga mau baca koran lagi, pindah baca bluefame aja. thumbsup_anim.gif
kakang
seolah olah kesannya "nih berita di TV ku lebih update dibanding stasiun laen ..."

anyway, mereka juga udah banyak membantu kasih informasi ... meski terkadang terlalu berlebihan ...
TB_CUTE
media keblablasan ya broooooooooo
ArmiOfInferno
QUOTE (Bank_Ben @ Aug 10 2009, 08:07 AM) *
demi mengejar rating n update news keorisinilan suatu berita tidak ditelaah terlebih dahulu sehingga menjadi simpang siur bagi pemirsa/ pembaca

setuju banget sama bank ben
h3ndr444
Tapi hari ini media telah mempermalukan negara kita , dengan adanya berita tewasnya nordin m top ternyata salah orang bro mungkin sekarang noordin lagi cekikikan tertawa ria..
Bang Marbun
setuju banget nih.. ama yg buat artikel.. dan nyatanya... TV ONE di cekal dalam peliputan brita pemakaman di rumah air dan eko


____________________________
http://www.bangmarbun.com
http://www.bangmarbun.com/?p=13
the greath
bener banget bro.. terlalu "vulgar" dala penyampaian..
bahkan terkesan di ulang-ulang.
seolah-olah sudah tidak ada lagi berita yang lebih bagus dari "segmen" tersebut.
hiryukatana
Yups. Ane stuju. Trutama buat salah satu stasiun TV swasta kita ( nggk perlu disebutkan rasanya anda2 smua udah tahu yg mana ) itu.
Tiap hari n hampir spanjang hari masalah ituuu aja yg di ulas. Kayak nggk ada brita lain aja. Sampe jengah ngeliatnya
adanta168
media kita....aksi teroris sepertinya di jadikan proyek untuk meningkatkan rating pemirsa...... cari2 sensasi gituuuu
jandaborneo
Kebebasan Pers yang sering di salah artikan justru merusak tatanan kehidupan berbangsa dan negara. Karena Media Massa memiliki kekuatan untuk membentuk Opini publik/masyarakat, barang siapa yang menguasai Media dia akan berkuasa karena Media KERAP dijadikan Corong Propaganda. Dan efeknya kebenaran yang dihembuskan oleh media massa dapat ditangkap oleh Masyarakat awam sebagai kebenaran yang Hakiki, yaitu kebenaran yang mampu menjadikan Media Massa sebagai Lembaga Super Body, karena apa yang diucapkan oleh media massa merupakan kebenaran yang tidak bisa dilawan.

NB : BTW gue suka neh ama topik tentang ini... TS TOP Bet deh
woolgatherer
setuju bgt ma @atas.....kadang2 media tidak menkonfirmasikan ke absahan beritanya dan langsung saja mem posting berita tersebut.....akhirnya yg terjadi adalah simpang siurnya situasi....dan terkadang media malah dijadiin kendaraan politik....yah mudah2an aja media kita ke depannya bisa lebih baik....dan selalu memberikan fakta yg terpapar di lapangan bkn cm seketar cerita yg belum terbukti... smile.gif
enambelas
Gw paling kesel lihat komentar orang yang ngaku pengamat intelejen. Ngaco semua. Pengamat intelejen bilang setelah melihat foto sepertinya bukan Noordin. Pengamat itu menganalisis foto orang yang kepalanya terbelah yang katanya didapat dari densus 88. Padahal foto itu adalah foto pemuda bunuh diri dari menara air gorontalo. Sang pengamat intelijen yang sok tahu itu juga bilang kesamaannya dengan noordin adalah kalung coklat yang dipakai. Walaaahhh pengamat tolol mana ada teroris make kalung yang sama. Duuhhh ini sih bukan pengamat intelijennnnnnnnn (INI KESALAHAN MEDIA CETAK YANG TIDAK CROSS CHECK SUMBER FOTONYA ATAU MENISBATKAN SESEORANG DENGAN JULUKAN PENGAMAT INTELIJEN).

Trus ada lagi, Pengamat Intelijennn (nnnn nya sampe banyak saking sebelnya) diwawancara sama TV One ngomong gini kalau menurut feeling saya ini Noordin M Top. Bodoh Pengamat intelijen pake feeling kayak paranormal. Intelijen itu pake data dong.

Lihat tuh Sidney Jones (dari Australia) yang mengatakan secara hati-hati dan sedari awal bilang yang terbunuh bukan Noordin M Top karena dia punya data dan cara Noordin M Top meloloskan diri. Bukan lihat dari foto yang ngawur atau feeling.
enambelas
Gw paling kesel lihat komentar orang yang ngaku pengamat intelejen. Ngaco semua. Pengamat intelejen bilang setelah melihat foto sepertinya bukan Noordin. Pengamat itu menganalisis foto orang yang kepalanya terbelah yang katanya didapat dari densus 88. Padahal foto itu adalah foto pemuda bunuh diri dari menara air gorontalo. Sang pengamat intelijen yang sok tahu itu juga bilang kesamaannya dengan noordin adalah kalung coklat yang dipakai. Walaaahhh pengamat tolol mana ada teroris make kalung yang sama. Duuhhh ini sih bukan pengamat intelijennnnnnnnn (INI KESALAHAN MEDIA CETAK YANG TIDAK CROSS CHECK SUMBER FOTONYA ATAU MENISBATKAN SESEORANG DENGAN JULUKAN PENGAMAT INTELIJEN).

Trus ada lagi, Pengamat Intelijennn (nnnn nya sampe banyak saking sebelnya) diwawancara sama TV One ngomong gini kalau menurut feeling saya ini Noordin M Top. Bodoh Pengamat intelijen pake feeling kayak paranormal. Intelijen itu pake data dong.

Lihat tuh Sidney Jones (dari Australia) yang mengatakan secara hati-hati dan sedari awal bilang yang terbunuh bukan Noordin M Top karena dia punya data dan cara Noordin M Top meloloskan diri. Bukan lihat dari foto yang ngawur atau feeling.
loginku
gw suka nih opininya

pers sejak diberi kebebasan, kadang emang aga keterlaluan, bener katanya, bukan lagi sebagai reporter, tapi udah sebagai inkuisitor
tapi kalo dibikin peraturan soal ini, nti dibilangnya mengekang kebebasan pers.

semoga pers yang baca ini jadi sadar, n coba buat jadi lebih baik Peace.gif
andimedan
di Indonesia ada beberapa saluran tv tapi beritanya pada sama semua
bosan
SandalOfAthena
awalnya menarik .. tapi kemudian jadi kebablasan
tipikal media2 di Indonesia .. bener kata sebagian temen2 di atas
sudah kebablasan
hendra7986
mereka sok jagoan
OhYesOhNo
Source: Kompas.com Kamis, 27 Agustus 2009 | 22:02 WIB
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/0...tik.jurnalistik

85 Persen Wartawan Indonesia Tidak Memahami Kode Etik Jurnalistik




QUOTE
JAKARTA, KOMPAS.com — Menurut hasil penelitian Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) tahun 2006, ditemukan 85 persen wartawan yang ada di Indonesia tidak pernah membaca dan memahami kode etik jurnalistik.

Menurut Abdullah Alamudi, Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat, Dewan Pers, hal itu disebabkan banyaknya media yang muncul setelah zaman Orde Baru berakhir. Banyaknya media menyebabkan semua orang dapat menjadi wartawan tanpa bekal yang cukup.

"Pada zaman Orde Baru hanya ada 289 media, empat tahun setelah Soeharto lengser melonjak menjadi 1.800 media. Dari mana sumber manusia itu," kata dia di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Kamis (27/8) malam.

Penyebab lainnya, tambah dia, hingga saat ini belum ada sekolah yang benar-benar diperuntukkan bagi masyarakat yang ingin menjadi wartawan. "Padahal, banyak yang ingin jadi wartawan. Karena wartawan juga masih mempunyai nilai sosial yang tinggi," tutur dia.

Selain itu, banyak wartawan yang merasa kode etik jurnalistik hanya membatasi ruang gerak mereka. "Dari 40 peserta kursus jurnalistik mengatakan tidak bisa menulis berita jika mengikuti kode etik yang ada," jelas dia.

Alamudi menyesalkan hal tersebut. Menurut dia, tanpa mengerti kode etik, seorang wartawan tidak akan berimbang dalam pemberitaannya. Hal tersebut justru merugikan media secara keseluruhan. "Pasalnya masyarakat akan menilai buruk seluruh media. Dianggap kebablasan," ujarnya.

Ia menuturkan, untuk mengatasi permasalahan itu, Dewan Pers tengah berusaha menyosialisasikan pentingnya pemahaman kode etik tersebut. "Wartawan harus baca UU Jurnalistik yang hanya 11 pasal. Kalau bisa malah baca juga peraturan lainnya," ucap dia.

RDI


Peace.gif peace Peace.gif
OhYesOhNo
Source: Kompas.com Sabtu, 29 Agustus 2009 | 04:17 WIB
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/0...a.liputan.teror

Bahaya Liputan Teror
Bisa Mengancam Nyawa Aparat Keamanan di Lapangan



Persda Network/Bian Harnansa
Polisi mengawal dua tersangka teroris yang tertangkap di daerah Temanggung, Jawa Tengah saat dipindahkan ke Markas Komando Brimob, Kelapa Dua, Depok, Senin (10/8). Kedua teroris tersebut diduga merupakan anak buah Noordin M Top.


QUOTE
JAKARTA, KOMPAS.com - Liputan terorisme justru membahayakan nyawa aparat keamanan di lapangan. Wartawan senior Bambang Harymurti dalam Diskusi Etika Pers dalam Meliput Terorisme, Kamis (27/8) malam, menjelaskan, liputan di Mumbay, India, mengakibatkan korban besar di pihak aparat.

”Korban polisi dan anggota pasukan antiteror lebih besar daripada teroris yang tewas karena gerak-gerik aparat disiarkan langsung televisi dan diantisipasi teroris yang berada di Hotel Taj Mahal. Bahkan, komandan pasukan antiteror India tewas karena gerakan mereka dipantau oleh teroris yang lalu mengantisipasi sehingga mengakibatkan banyak aparat tewas,” kata Bambang di hadapan para anggota Dewan Pers dan undangan petinggi media cetak, online, dan televisi.

Berangkat dari preseden peliputan kasus Mumbay, Bambang menambahkan, terjadi kesepakatan para petinggi televisi di India dalam meliput kasus terorisme dengan tidak mengganggu apalagi membahayakan nyawa aparat yang bertugas.

Bambang menyayangkan peliputan terorisme di Indonesia yang berlebihan. Bahkan, reporter di lapangan mengambil kesimpulan pribadi tentang tewasnya Noordin M Top tanpa mendapat informasi dari sumber resmi kepolisian.

Wakil Ketua Dewan Pers Leo Batubara menegaskan, peliputan terorisme yang menampilkan kekerasan berdarah-darah dan mencitrakan teroris seperti pahlawan sangat tidak patut dilakukan wartawan profesional.

”Para wartawan AS yang berpolitik liberal pun tidak mau menyorot gambar ribuan mayat korban serangan 11 September. Sebaliknya, di Indonesia yang menganut gagasan kerakyatan justru mengeksploitasi tayangan kekerasan,” kata Leo.

Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat Dewan Pers Abdullah Alamudi mengatakan, sekitar 85 persen wartawan Indonesia tidak pernah membaca kode etik jurnalistik. ”Itu disebabkan banyaknya media yang muncul pasca-Orde Baru. Semua orang dapat menjadi wartawan tanpa bekal memadai. Pada zaman Orde Baru hanya ada 289 media, empat tahun setelah Soeharto lengser menjadi 1.800 media,” katanya.

Selain itu, banyak wartawan yang merasa kode etik jurnalistik hanya membatasi ruang gerak mereka. ”Dari 40 peserta kursus jurnalistik dari kalangan infotainment, ada yang mengatakan tidak bisa meliput selebriti jika harus mengikuti kode etik. Ketika diadakan pelatihan lanjut, tidak ada yang mau ikut,” paparnya.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Nanan Soekarna mengatakan, Dewan Pers dan Mabes Polri akan merumuskan pedoman meliput kasus terorisme bagi wartawan. ”Ini adalah upaya yang baik agar polisi dan wartawan dapat bertugas dengan maksimal,” ujar Nanan.

General Manager dan Current Affair TV One Sulaiman Sakib seusai acara mengatakan, pihaknya terus memperbaiki mutu liputan. ”Kami sekarang titip mata kepada aparat di lapangan. Kekeliruan yang terjadi langsung diantisipasi dengan berita aktual seperti informasi tewasnya Ibrohim pascatayangan yang menyebut Noordin M Top tewas di Temanggung,” katanya.

Sumber : Kompas Cetak


Peace.gif peace Peace.gif
yantth
setuju banget. terutama kalau mewancarai keluarga korban atau tersangka teroris. ngeliatnya aja kasian, masih dipaksa njawab pertanyaan wartawan. media dapat rating, keluarga dapat apa?
wance
Lha trus untuk mbrantasnya gimana Pak?...
inyoek
gue setuju bro...apalagi kalo liat penyiar yang wawancarain nara sumber nyolot banget, lom siap jawaban dah nyambung ke pertanyaan lain..bener2 gak da etika dan gak profesional bgt..
prazz
diberi kebebasan malah kebablasan.... kadang2 gw liat wartawan sungguh keterlaluan dlm meliput berita, koreksi tuh buat para wartawan.. gw doain semoga para wartawan diberi hidayah berupa etika peliputan berita..amin
dcL
Kalaupun wartawannya ga tau etika, paling enggak kan di setiap media apapun bentuknya punya Editor atau apapun namanya yang bertugas untuk menyeleksi berita mana yang layak tayang. Mustinya mereka itu 100% sudah mengetahui etika dong.
Kenapa aturannya hanya sebatas etika, yang namanya etika itu sanksinya hanya sebatas sanksi moril. Saya kurang jelas kalo di UU Pers ada aturannya ga kalo yang melanggar itu ada sanksinya.
Sebaiknya kalo mau jadi wartawan itu musti ada sertifikasinya supaya 100% semua wartawan tau etika jurnalistik

QUOTE
Selain itu, banyak wartawan yang merasa kode etik jurnalistik hanya membatasi ruang gerak mereka. ”Dari 40 peserta kursus jurnalistik dari kalangan infotainment, ada yang mengatakan tidak bisa meliput selebriti jika harus mengikuti kode etik. Ketika diadakan pelatihan lanjut, tidak ada yang mau ikut,” paparnya.


axehead.png axehead.png axehead.png
Emangnya yang punya hak cuma wartawan aja (kalo ada bro bluefame yang wartawan sorry) semua orang termasuk sumber berita dan peliput berita punya haknya sendiri-sendiri dan semua hak tersebut harus dihormati.

Thanks and Peace
diskonaksi
Itu yg emang susah dirubah dari media di Indonesia.

Terlalu over dalam segala hal
Ju_Mex
Jangan2 yg nonton beritanya juga ikutan dosa...ampun dah.
wadon cyber
berkaitan dengan dosa yang pertama demi mengejar berita, media khususnya wartawan (maaf) lebih memilih mengambil gambar orang sekarat yang sedang minta tolong daripada menolong si korban itu sendiri. sudah tidak adakah rasa sedikit kemanusiaan dibanding rating?
OhYesOhNo
QUOTE (wadon cyber @ Sep 9 2009, 02:01 PM) *
berkaitan dengan dosa yang pertama demi mengejar berita, media khususnya wartawan (maaf) lebih memilih mengambil gambar orang sekarat yang sedang minta tolong daripada menolong si korban itu sendiri. sudah tidak adakah rasa sedikit kemanusiaan dibanding rating?


nah ini kena banget Bro ....
ane juga kesel banget, knapa sih harus diambil adegan seperti ini, knapa ngga menolong mereka ?
apa sih yang dicari? liputan ekslusif demi mengejar karier dan popularitas, baik itu pribadi maupun stasiun tv ?
sampai ada liputan berdarah2 skaligus full ngejar narasumber pagi siang malam sampai kehabisan nafas si target nya, gila bener ...
sudah lah, kaum pers itu jangan berkacak pinggang di atas legalitas kewartawanannya, itu sama saja dengan premanisme !, ngga ada bedanya ...

buatlah berita yg elegan dan enak dikemas, sopan dan patut ditayangkan, serta selektif waktu penayangannya ...
penonton televisi bukan orang dewasa smua, tapi ada juga anak2 ....

salam,
OyOn

Peace.gif peace Peace.gif
EmFeld
menurut saya, justru pemberitaan media sekarang ini yang membuat aksi terror itu sukses karena orang menjadi takut beneran. Inti dari terror kan mau bikin orang takut. Nah, dengan blow-up dari media ini akhirnya tujuan para terroris jadi kesampaian..kenapa si ga bisa nunggu sampai ada keterangan resmi dulu baru ngeluarin statement. Apa ga malu coba kaya kemaren maen bilang M.Top ketangkap ga taunya yang ketangkep orang lain..malu woy malu....prihatin saya ma media sekarang..gampang banget nyari point yang bisa di-blow-up n ngebikin unrest di masyarakat..jangan mentang2 kbebasan pers trus kebablasan dong...sorry buat yang wartawan ya..ini cuma menyuarakan suara hati ajah..my two cents of mind

regards

-EmFeld-
itoh
Pikiran mereka cuman mencari berita,mengesampingkan efek dari pemirsanya,mengabaikan perasaan narasumber,deadline adalah dewa dan kiblat mereka!
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.