http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/...produksi.komodo
Wah, Indonesia Produksi Komodo

Mardanih
Model busway Komodo yang dipamerkan di Gedung BPPT Jakarta, Selasa (18/8)
QUOTE
JAKARTA, KOMPAS.com —- Sebanyak 13 Komodo saat ini telah berkeliaran di sepanjang jalur Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, sampai Ancol, Jakarta Utara. Sementara 30 Komodo lainnya akan segera menyusul di tahun ini.
Tapi nanti dulu, Komodo yang dimaksud bukanlah Komodo si binatang purba, melainkan busway yang diberi nama Komodo. Bus gandeng yang memiliki panjang 18 meter itu merupakan hasil karya cipta bangsa Indonesia. Desainnya pun 100 persen dibuat oleh anak bangsa, karenanya patut untuk dibanggakan.
Komodo diproduksi perusahaan nasional bernama PT Asian Auto International (AAI). Peluncuran pembuatannya dilakukan pada 2008 lalu. Pembuatan Komodo didukung oleh Departemen Perindustrian, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Departemen Perhubungan, Pemprov DKI Jakarta, Industri Karoseri, dan IKM Manufaktur dan Asosiasi.
Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh Komodo di antaranya adalah memiliki ketinggian bawah bus mencapai 1,1 meter yang cocok untuk kondisi Jakarta yang sering dilanda banjir. Panjang bus juga mencapai 18 meter sehingga dapat menampung 160 penumpang dan berbahan bakar CNG yang berarti ramah terhadap lingkungan.
Direktur Pusat Industri Manufaktur BPPT Erzi Agson Gani mengaku, pemerintah sama sekali tidak terlibat dalam segi pendanaan dalam pembuatan Komodo. Anggaran untuk memproduksi bus ini, menurutnya, seluruhnya berasal dari pihak swasta yaitu PT AAI.
"Enggak terlibat pembuatan. Dana enggak keluarin sama sekali. Dana dari pihak swasta, semuanya dari PT AAI. Misalnya BPPT, BPPT hanya mendampingi desain dan pengujian," ujarnya kepada Kompas.com di Gedung BPPT, Jakarta, Selasa (18/8).
Sementara itu, Direktur Marketing PT AAI Ruddy Soesilo mengaku pemberian nama Komodo kepada bus yang per unitnya dijual dengan harga Rp 4 miliar itu dikarenakan Komodo merupakan hewan langka yang ada di Indonesia.
Selain membidik pasar Indonesia, ia juga mengaku akan berusaha menembus pasar dunia, misalnya pasar Eropa. Dirinya pun yakin Komodo dapat menembus pasar Eropa. "Peluang pasar Eropa ada. Kalau kita bisa jual 5 sampai 6 saja itu sudah bagus, tapi sekarang kami lihat marketnya bagus di Indonesia," ujarnya.
C10-09
Tapi nanti dulu, Komodo yang dimaksud bukanlah Komodo si binatang purba, melainkan busway yang diberi nama Komodo. Bus gandeng yang memiliki panjang 18 meter itu merupakan hasil karya cipta bangsa Indonesia. Desainnya pun 100 persen dibuat oleh anak bangsa, karenanya patut untuk dibanggakan.
Komodo diproduksi perusahaan nasional bernama PT Asian Auto International (AAI). Peluncuran pembuatannya dilakukan pada 2008 lalu. Pembuatan Komodo didukung oleh Departemen Perindustrian, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Departemen Perhubungan, Pemprov DKI Jakarta, Industri Karoseri, dan IKM Manufaktur dan Asosiasi.
Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh Komodo di antaranya adalah memiliki ketinggian bawah bus mencapai 1,1 meter yang cocok untuk kondisi Jakarta yang sering dilanda banjir. Panjang bus juga mencapai 18 meter sehingga dapat menampung 160 penumpang dan berbahan bakar CNG yang berarti ramah terhadap lingkungan.
Direktur Pusat Industri Manufaktur BPPT Erzi Agson Gani mengaku, pemerintah sama sekali tidak terlibat dalam segi pendanaan dalam pembuatan Komodo. Anggaran untuk memproduksi bus ini, menurutnya, seluruhnya berasal dari pihak swasta yaitu PT AAI.
"Enggak terlibat pembuatan. Dana enggak keluarin sama sekali. Dana dari pihak swasta, semuanya dari PT AAI. Misalnya BPPT, BPPT hanya mendampingi desain dan pengujian," ujarnya kepada Kompas.com di Gedung BPPT, Jakarta, Selasa (18/8).
Sementara itu, Direktur Marketing PT AAI Ruddy Soesilo mengaku pemberian nama Komodo kepada bus yang per unitnya dijual dengan harga Rp 4 miliar itu dikarenakan Komodo merupakan hewan langka yang ada di Indonesia.
Selain membidik pasar Indonesia, ia juga mengaku akan berusaha menembus pasar dunia, misalnya pasar Eropa. Dirinya pun yakin Komodo dapat menembus pasar Eropa. "Peluang pasar Eropa ada. Kalau kita bisa jual 5 sampai 6 saja itu sudah bagus, tapi sekarang kami lihat marketnya bagus di Indonesia," ujarnya.
C10-09