Bab I
Pelarian


Langit menghujam, seakan hendak runtuh dan meluluh lantakkan bumi. Hujan deras disertai petir yang membahana bergemuruh menghiasi sore yang gelap ini. Tampak beberapa laki-laki dan dua orang perempuan berlari tergesa-gesa mencari tempat untuk berteduh. Pakaian mereka telah basah kuyup, langkah mereka seperti lelah dan bingung mencari tempat teraman yang terdekat dengan diri mereka.

“Sekar.. Tungguin gue..” Panggil Debby, gadis termuda dari kelompok itu. Langkahnya tergopoh-gopoh.

“Yes Deb, hati-hati langkah lo. Batu ini licin banget..” Sekar memegang tangan Debby untuk menyeberangi beberapa batu di hulu sungai.

Sementara tiga orang laki-laki didepannya menengok dan membantu dua perempuan itu untuk menyeberang hulu sungai.

“Deb, kamu nggak apa-apa? Kamu capek?” tanya Andre, salah satu laki-laki yang sangat mengkhawatirkan Debby. Di wajah Andre tampak garis kerutan kekhawatiran dan kesedihan yang mendalam. Hanya saja Andre sangat pandai menyembunyikan itu semua dari orang lain. Andre tidak ingin ada satupun yang mengetahui isi hatinya kepada Debby.

“Its okay. Jangan khawatir, ayo kita harus segera mencari tempat berteduh sebelum hari semakin gelap..” jawab Debby yang seakan mengetahui isi hati Andre.

Mereka berlima terus berlari menelusuri pinggir sungai dan berharap sampai ke rumah warga terdekat untuk menumpang berteduh. Langkah mereka terus diiringi gemuruh petir yang seakan ingin menyiksa dan membunuh mereka
satu-persatu.

--

Ratusan kilometer jauhnya.

“Hahahahhaa.. Tampaknya mereka ketakutan…” Suara tawa yang memecahkan keheningan bergema di ruangan yang hampir kosong dari perabot, dan yang terlihat hanyalah beberapa peralatan yang biasanya dimiliki untuk ritual-ritual tertentu. Suara itu adalah milik Aru.

“Ru, lo yakin mereka sudah pergi jauh?” tanya Gandhi pada Aru.

“Yakin banget. Sekar itu adalah jelmaan iblis. Dia akan takut dengan sendirinya. Mereka akan lari menjauh…” Aru menjelaskan dengan yakin.

“Tapi gue rasa mereka hanya bersembunyi dan menyusun kekuatan baru. Mereka berlima dan kita hanya bertiga..” Kata Yudha yang memotong pembicaraan Aru.

“Jangan ragu sama kekuatan gue. Kekuatan gue langsung turun dari langit. Bumi ini tidak akan menerima iblis macam mereka semua. Mereka sudah tidak ada tempat disini lagi. Langkah kita selanjutnya adalah mengosongkan semua kemampuan mereka dan membuat mereka mati kutu.. Kita hanya tinggal mencari lokasi yang tepat dimana mereka bersembunyi, hingga mereka singgah di tempat dan berdiam lama disitu barulah kita menyerang mereka dan menghabiskannya satu demi satu.. Hahahaha..” Aru tertawa keras merayakan kemenangan yang terasa sudah didepan matanya.

“Hahahaha.. Lihat saja, belum apa-apa saja mereka sudah lari ketakutan.. begitu lemahnya mereka namun mereka merasa merekalah yang paling kuat..” Gandhi menambahkan. Sementara Yudha hanya tersenyum kecut. Hati Yudha masih tersirat keraguan, bahwasanya tidaklah mungkin Sekar dan teman-temannya itu kalah dalam pertempuran ghaib ini dan melarikan diri sejauh yang dikatakan Aru.

--

“Berapa lama lagi kita akan sampai Nu?” tanya Debby pada Tanu. Tanu adalah kekasih Sekar yang selalu setia menemani. Sementara Tanto dari kejauhan hanya mengamati situasi yang sangat rawan itu.

“Sebentar lagi Deb. Sabar yah.. Istirahatlah dulu, untung saja hujan sudah berhenti..” jawab Tanu seperti air yang mendinginkan panasnya hati.

Debby hanya tersenyum. Sembari menatap Andre menyuguhkannya air yang diambil dari sungai yang jernih. Mata Debby sudah bengkak, menyiratkan kelelahan untuk menangis. Air matanya pun telah kering. Dia sangat tidak menduga bahwa akan terjadi suatu kejadian mengerikan yang hanya bisa di selesaikan dengan empat sahabatnya itu.

“Minum Deb..” Andre menawarkan air sungai yang ditampung dengan botol minum.

“Ini bersih kok..” Andre menambahkan kata-katanya sembari menatap dalam mata Debby.

Hati Debby bergetar. Ada cinta disana, namun cinta itu tidak tersampaikan secara lisan. Debby tidak mampu untuk mengungkapkan perasaannya kepada Andre.

“Tidak. Sebelum ini semua selesai, aku tidak akan membiarkan Andre mengetahui isi hatiku..” ujar debby dalam hati.

“Deb.. Masih pegal nggak? Kita mau lanjut lagi nih.. Tinggal sedikit lagi kita sampai. Lihat gunung itu, di kaki gunung itu sepertinya ada pemukiman warga, mungkin kita bisa menumpang menginap disana..” kata Sekar tegas dari kejauhan.

“Iya, ayo kita lanjut lagi..” jawab Debby semangat. Sekilas matanya menatap Andre yang membantunya berdiri.

--

“Akhirnya sampai juga…” Tanto menghela nafas lelah.

“Alhamdulillah…” bathin Sekar, Tanu, Debby dan Andre.

“Ayo. Kita ketuk pintu rumah itu..” ajak Tanu sembari menunjukkan rumah warga yang paling terang lampunya.

Mereka berlima melangkahkan kaki ke depan pintu rumah gubuk itu.

“Assallamualaikum..” Tanu memberi salam

“Wa’alaikum sallam” sahut suara perempuan dari dalam rumah.

Pintu rumah pun terbuka. Tampak perempuan tua yang membukakan pintu.

“Bu, kami berlima dari arah kota. Ingin ke kaki gunung mencari seseorang,tapi kami kemalaman di jalan. Jika tidak keberatan, bolehkah kami menumpang untuk menginap hingga hari mulai terang besok..?” Sekar menuturkan dengan sopan.

“Oh.. Boleh.. Silahkan masuk anak muda.. “ perempuan itu menyilahkan mereka berlima untuk memasuki gubuknya sambil memperhatikan mereka satu-persatu dengan tajam.

“Tunggu sebentar yah nak..” berkata perempuan itu sambil berjalan kebelakang.

Tak lama kemudian dia kembali sambil membawa nampan yang mengebulkan uap dan menyebarkan wangi khas teh.

”Hanya ini yang saya punya, saya tinggal sendirian disini..” kata perempuan itu sembari menyuguhkan teh manis hangat dan beberapa gorengan.

“Nggak apa-apa bu.. Maaf merepotkan..” Tanto menjawab dengan sopan.

“Biarkan dia istirahat nak. Sepertinya dia kelelahan sekali..” kata perempuan tua itu kepada Andre kemudian menatap Debby.

“Ayo Deb, kamu tidur di dipan ini..” ajak Andre.

Tak lama Debby segera tertidur. Sebelum tidur Debby berdoa agar mimpinya tidak buruk seperti mimpi-mimpi dimalam sebelumnya. Namun Debby yakin, para sahabatnya akan selalu menjaganya hingga menjaga mimpi-mimpinya itu.

“Bagaimana kalian bisa sampai disini? Bagaimana ceritanya?” tanya perempuan tua itu.

“Begini bu. Kami berlima sebenarnya hanyalah anak muda biasa saja. Tapi kami mempunyai musuh yang tidak kami duga sama sekali. Bisa di bilang, kami sedang bertempur secara ghaib. Guru kami mengatakan kami hendaknya pergi ke kaki gunung untuk mencari salah satu sesepuh yang bisa membantu kami..” Tanu menjelaskan secara gamblang. Tanu meyakini perempuan tua itu akan mengerti apa yang dibicarakannya. Karena secara kebathinan Tanu seperti terhubung dengan perempuan tua yang tidak mau menyebutkan namanya itu.

“Saya mengerti. Tapi perjalanan menuju kesana sangat berbahaya, apalagi kalian membawa gadis muda yang tidak mengerti apa-apa. Gadis ini tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Dia terlalu lemah untuk berjalan jauh, dan terlalu rapuh untuk menerima begitu besarnya kekuatan yang akan kalian hadapi nanti..” jawab perempuan tua itu sembari menatap Debby yang tertidur pulas.

“Lalu kami harus bagaimana bu? Kami tidak akan meninggalkan dia sendirian disini. Sementara tujuan utama kami adalah melindunginya. Justru dia yang sedang dalam bahaya..” Andre berbicara dengan agak emosi.

“Sabar nak.. Ini semua adalah ujian. Yang kalian perlukan adalah lebih banyak bersabar. Niscaya semua ini kan ada balasannya.. Saran ibu, biarlah gadis ini tinggal disini. Ketika kalian sudah selesai, kalian bisa menjemputnya disini. Dia akan aman bersama ibu disini..”

Sekar, Tanu, Tanto dan Andre segera berunding. Kalaupun mereka rela meninggalkan Debby disini, Debby tidak akan mau ditinggal sendiri dengan orang yang tak dikenalnya. Tapi keadaan semakin mendesak, jika mereka tidak cepat-cepat semua akan terlambat dan sia-sia.

--

Cahaya matahari yang masih redup diam-diam masuk menyelusup melalui celah-celah jendela dan rotan gubuk tua. Debby membuka mata dan terkejut mendapati dirinya tidak sedang tidur di tempat tidur nyamannya. Sedetik baru dia menyadari bahwa dia tidak sedang di Jakarta. Dia sedang dalam pelarian besar. Bersama para sahabatnya.

“Deb.. Sholat subuh dulu..” Andre membantu Debby bangun dari dipan keras. Dia menatap sekeliling. Sahabat-sahabatnya masih setia menemaninya. Sekar melemparkan senyum termanisnya untuk Debby.

Debby segera mengambil air wudhu dan menunaikan ibadah sholat. Ketika sudah selesai dia menyapa sahabat-sahabatnya itu dan perempuan tua yang tengah sibuk memasak untuk mereka. Sekar membantu perempuan tua itu.
Ketika mereka selesai sarapan seadanya, Debby dan sahabat-sahabatnya berunding tentang langkah selanjutnya.

“Deb, perjalanan masih amat jauh. Sementara waktu semakin sempit. Kami harus berjalan cepat agar segera sampai ketempat tujuan. Sekiranya jika kamu mengikhlaskan kami berempat yang akan menunaikan tugas ini, dan kamu menunggu kami disini..” Tanu menjelaskan dengan tenang.

“APA? Kalian akan meninggalkan aku disini? TIDAK. Jangan karena aku lemah dan lambat dalam berjalan lalu kalian tega meninggalkan aku disini, dengan orang yang baru kita kenal?” Debby kaget mendengar perkataan Tanu.

“Deb, kami tidak meninggalkan kamu. Kami selalu ada disini. Hanya saja biar raga kami pergi dan menunaikan tugas ini. Tinggal dua hari lagi sebelum purnama Deb. Kita tidak bisa menyia-nyiakan waktu sementara kita semua tahu bahwa kamu sedang sakit, sudah pasti kamu akan berjalan sangat lambat.. Deb, kami percaya ibu ini. Dia akan menjagamu baik-baik. Setelah semua selesai kami akan menjemputmu. Itu pasti Deb. Kami tidak akan mungkin meninggalkan kamu..” Sekar menambahkan.

Sementara Andre hanya terdiam sedih. Dalam hatinya tidak bisa meninggalkan Debby sendirian. Meninggalkan orang yang dicintainya bersama orang tak di kenal. Namun Andre mempercayai kemampuan Tanu dan Sekar dalam menilai seseorang. Andre percaya bahwa Debby akan aman dan baik-baik saja disini.

Debby menatap Andre dalam. Menunggu persetujuan dari laki-laki yang dicintainya itu.

Andre mengangguk pelan.

“Baiklah..” Debby mengangguk lesu. Dia tahu dia harus berguna bagi sahabatnya. Dan satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah hanya menunggu dengan tenang disini.

Tanto tersenyum sembari membereskan barang-barang yang perlu di bawa.

“Tenang, dia aman bersama ibu disini.. “ kata perempuan tua itu sembari tersenyum.

Setengah jam kemudian, Sekar dan lainnya telah siap untuk berangkat dan meneruskan perjalanan menuju kaki gunung. Di kaki gunung akan ada pintu masuk ke dalam suatu petualangan baru yang akan mereka alami berempat.
Sementara Debby hanya tersenyum kecut dan berharap bisa bersabar menanti keempat sahabatnya itu.

“Deb,kami berangkat dulu. Jaga diri baik-baik. Bersabarlah, jangan lupa sholat dan terus berdoa. Kami pasti akan berhasil, jangan khawatirkan kami..” Sekar menenangkan Debby. Mereka berpelukan sebentar dan Debby menitikkan air mata.

“Janji ya kalian tidak akan apa-apa. Kalian akan menjemputku disini dengan kemenangan? Janji ya..” tanya Debby pada Sekar sembari menatap Tanu, Tanto dan Andre.

“Insya Allah Deb. Kebaikan pasti akan menang.” Jawab Tanu

Debby menatap Andre dalam-dalam. Andrepun begitu. Cinta mereka sudah terikat. Walau tak pernah terucap.

“Aku pamit ya.. Pesanku, sama dengan pesan Sekar.” Kata Andre pelan berbisik. Andre memeluk Debby erat. Hingga Debby tak kuasa menahan air matanya agar tidak terus jatuh.

“Aku percaya kita akan bersatu lagi. Itu pasti Nde..” kata Debby

“Deb, pamit ya..” kata Tanto sembari melambai kearah perempuan tua. Tanto telah memproteksi Debby agar dia selalu aman, walau Tanto tahu proteksi itu tidak akan bertahan lebih dari satu hari. Setidaknya hanya satu hari saja Debby harus berjuang sendiri menjaga dirinya dari hal-hal buruk yang mungkin akan menerkamnya.

Debby menatap sahabat-sahabatnya itu hingga mereka jauh dan tidak kelihatan lagi. Hatinya sepi. Dia tidak mampu meluapkan kesedihannya.

Perempuan tua menatap Debby dengan dalam. Menanti datangnya malam. Debby menatap waswas dan menjauhi perempuan itu. Sebenarnya Debby tidak menyukai bila bertemu orang-orang baru dan langsung mempercayainya. Tapi keadaan sedang mendesak, dan Debby mempercayai kemampuan Tanu dan Sekar.

“Non Debby..” kata perempuan tua itu dengan suara berat

“Ya bu..” tanya Debby heran.

“Mari masuk.. “ jawab perempuan tua itu sembari mencengkram tangan Debby dengan keras. Sesaat Debby kesakitan dan berpikir, bagaimana mungkin perempuan tua mempunyai tenaga sekuat itu untuk mencengkram tangannya. Debby berusaha meloloskan dirinya dari cengkraman tangan perempuan tua itu, tapi raga Debby sudah lelah dan tak mempunyai tenaga besar untuk melawan.

Debby hanya tersenyum kecut. Berusaha untuk tetap positif thinking.

Sementara jauh di Jakarta, Aru, Yudha dan Gandhi tertawa senang. Merayakan kemenangan mereka. Karena telah berhasil memisahkan Debby dari keempat sahabatnya.

--

bersambung..