Laporan wartawan WARTA KOTA Yoseph Suhirno
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/200...ya.disandera.rs
Tak Mampu Bayar, 2 Ibu dan Bayinya Disandera RS

Warta Kota/Yoseph Suhirno
Suharni dan Arya Bimo
QUOTE
SRENGSENG, KOMPAS.com — Peristiwa tragis dialami Suharni dan Santi berikut dua bayi mereka. Keempatnya masih tertahan—4 bulan dan 2 minggu—di RS Bersalin Sofa Marwa, Jagakarsa, Jakarta Selatan, karena tak mampu membayar biaya persalinan.
Suharni sudah tertahan di rumah sakit yang terletak di Jalan Bina Warga, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, itu sejak bulan Mei, sedangkan Santi sejak dua minggu lalu. Mereka tak sanggup membayar biaya operasi caesar masing-masing Rp 5 juta. Selama dalam "penyanderaan", mereka juga diwajibkan membayar biaya Rp 100.000 per hari.
Total biaya yang harus dibayar Suharni Rp 20 jutaan, sedangkan yang jadi kewajiban Santi Rp 7,5 juta. Keduanya berasal dari keluarga tak mampu. Suami Suharni, Aryo Bimo, kerja serabutan, sedangkan suami Santi hanya sebagai pemulung.
Sudah 4 bulan
Biaya sebesar Rp 20 jutaan yang harus dibayar Suharni (30) terdiri dari biaya operasi (Rp 5 juta) dan biaya perawatan selama dia dan bayinya di rumah sakit selama empat bulan.
Aryo Bimo (33), suaminya, sudah berupaya mencari uang, tetapi belum berhasil. Dia hanya mampu membayar Rp 3 juta, pinjaman dari kerabat-kerabatnya. Saat ditemui di Kamar Bougenvile nomor 3, lantai 2 RS Bersalin Sofa Marwa, Suharni menyatakan keinginannya untuk segera pulang. "Saya sudah ingin pulang, tapi terkendala biaya bersalin," kata warga Kampung Vitara RT/RW 05/13, Pancoranmas, Depok, Jawa Barat, ini.
Saat itu, bayi Suharni yang diberi nama Ayudya Meitana Bimantari tidur dalam posisi telentang di ranjangnya. Di tengah kelelapannya, sesekali bibir mungilnya melempar senyum.
Suharni mengatakan bahwa suaminya, Aryo Bimo, sempat membayar Rp 3 juta. Namun karena sang bayi lahir prematur, Suharni dan buah hatinya itu perlu dirawat selama sebulan terhitung sejak dia masuk rumah sakit pada 5 Mei 2009. Untuk itu, setiap harinya mereka dikenai biaya Rp 100.000. "Suami saya masih mencari pinjaman ke bank," ujar Suharni.
Aryo Bimo mengaku sudah meminta keringanan biaya, tetapi tidak diberi. Dia juga pernah meminta kepada pihak rumah sakit agar istri dan anaknya diizinkan pulang, dengan janji akan melunasi biaya persalinan secara mencicil. Namun, permohonan ini pun tidak dikabulkan.
Sekamar dengan Suharni, Santi (27) juga mengalami nasib serupa. Bedanya, Santi baru dua minggu tertahan di kamar berukuran 3 x 3 m tersebut. Bayinya, Syahrul Gunawan, yang baru berumur 2 minggu, terbalut sarung kotak-kotak milik sang ayah, tampak tidur pulas di ranjangnya.
Sementara itu, kakak Syahrul, Sri Wahyuni (3,5), tak kalah lelap meski tidur tanpa kaus di kolong ranjang. "AC sih nyala, tapi enggak dingin," kata Santi sambil mengipasi tubuh Syahrul.
Santi masuk RS Bersalin Sofa Marwa pada 18 Agustus 2009 atas rujukan seorang bidan di kawasan Depok Lama, Jawa Barat. "Bidan itu bilang, saya harus (operasi) caesar," ujarnya.
Sebenarnya, pada 21 Agustus, Santi dan Syahrul sudah bisa pulang seandainya tidak ada kendala biaya. "Apa daya, saya dan suami hanya pemulung," ungkap Santi, yang saat itu mengenakan baju warna oranye tanpa lengan dipadu kain jarik.
Untuk bisa keluar dart rumah sakit, Santi harus membayar biaya operasi sebesar Rp 5,3 juta ditambah biaya rawat inap dan biaya dokter yang kalau ditotal mencapai Rp 7,5 juta.
Menurut Santi, suaminya, Yudhi Wijaya (48), sudah berupaya mencari uang ke mana-mana tetapi belum berhasil. Untuk membayar biaya perawatan, Yudhi sudah meminta keringanan berupa pembayaran secara cicilan. Bahkan, Yudhi pernah menawarkan tenaga untuk bekerja di rumah sakit tersebut untuk menutupi biaya persalinan istrinya.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Selatan Togi Asman mengatakan, pihaknya sudah mengirim tim ke RS bersalin Sofa Marwa. "Begitu saya dengar informasi ini, saya terjunkan tim ke sana. Biar kami lakukan penyelidikan dulu," kata Togi.
Sementara itu, pemilik rumah sakit, Yanti Sugianto, mengakui bahwa pasien bernama Suharni dan bayinya belum diperbolehkan pulang karena belum membayar biaya perawatan. Demikian pula dengan Santi dan bayinya.
Menurut Yanti, pihaknya sudah memberikan keringanan untuk membayar biaya perawatan secara mencicil. "Sejak (Suharni dan bayinya) dirawat sebulan, kami sudah tawarkan untuk membayar secara mencicil, tetapi tentunya dengan jaminan," katanya.
Namun, pada saat diminta jaminan, pasangan Aryo-Suharni tidak bisa memenuhinya sehingga kepulangan Suharni dan bayinya pun tertunda. Sebagai solusinya, Yanti meminta keluarga Suharni maupun keluarga Santi membuat surat pernyataan di atas meterai yang berisi kesanggupan untuk membayar biaya operasi dan perawatan. "Kami akan berikan keringanan berupa potongan dari jumlah yang seharusnya dibayar," ujarnya.
Suharni sudah tertahan di rumah sakit yang terletak di Jalan Bina Warga, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, itu sejak bulan Mei, sedangkan Santi sejak dua minggu lalu. Mereka tak sanggup membayar biaya operasi caesar masing-masing Rp 5 juta. Selama dalam "penyanderaan", mereka juga diwajibkan membayar biaya Rp 100.000 per hari.
Total biaya yang harus dibayar Suharni Rp 20 jutaan, sedangkan yang jadi kewajiban Santi Rp 7,5 juta. Keduanya berasal dari keluarga tak mampu. Suami Suharni, Aryo Bimo, kerja serabutan, sedangkan suami Santi hanya sebagai pemulung.
Sudah 4 bulan
Biaya sebesar Rp 20 jutaan yang harus dibayar Suharni (30) terdiri dari biaya operasi (Rp 5 juta) dan biaya perawatan selama dia dan bayinya di rumah sakit selama empat bulan.
Aryo Bimo (33), suaminya, sudah berupaya mencari uang, tetapi belum berhasil. Dia hanya mampu membayar Rp 3 juta, pinjaman dari kerabat-kerabatnya. Saat ditemui di Kamar Bougenvile nomor 3, lantai 2 RS Bersalin Sofa Marwa, Suharni menyatakan keinginannya untuk segera pulang. "Saya sudah ingin pulang, tapi terkendala biaya bersalin," kata warga Kampung Vitara RT/RW 05/13, Pancoranmas, Depok, Jawa Barat, ini.
Saat itu, bayi Suharni yang diberi nama Ayudya Meitana Bimantari tidur dalam posisi telentang di ranjangnya. Di tengah kelelapannya, sesekali bibir mungilnya melempar senyum.
Suharni mengatakan bahwa suaminya, Aryo Bimo, sempat membayar Rp 3 juta. Namun karena sang bayi lahir prematur, Suharni dan buah hatinya itu perlu dirawat selama sebulan terhitung sejak dia masuk rumah sakit pada 5 Mei 2009. Untuk itu, setiap harinya mereka dikenai biaya Rp 100.000. "Suami saya masih mencari pinjaman ke bank," ujar Suharni.
Aryo Bimo mengaku sudah meminta keringanan biaya, tetapi tidak diberi. Dia juga pernah meminta kepada pihak rumah sakit agar istri dan anaknya diizinkan pulang, dengan janji akan melunasi biaya persalinan secara mencicil. Namun, permohonan ini pun tidak dikabulkan.
Sekamar dengan Suharni, Santi (27) juga mengalami nasib serupa. Bedanya, Santi baru dua minggu tertahan di kamar berukuran 3 x 3 m tersebut. Bayinya, Syahrul Gunawan, yang baru berumur 2 minggu, terbalut sarung kotak-kotak milik sang ayah, tampak tidur pulas di ranjangnya.
Sementara itu, kakak Syahrul, Sri Wahyuni (3,5), tak kalah lelap meski tidur tanpa kaus di kolong ranjang. "AC sih nyala, tapi enggak dingin," kata Santi sambil mengipasi tubuh Syahrul.
Santi masuk RS Bersalin Sofa Marwa pada 18 Agustus 2009 atas rujukan seorang bidan di kawasan Depok Lama, Jawa Barat. "Bidan itu bilang, saya harus (operasi) caesar," ujarnya.
Sebenarnya, pada 21 Agustus, Santi dan Syahrul sudah bisa pulang seandainya tidak ada kendala biaya. "Apa daya, saya dan suami hanya pemulung," ungkap Santi, yang saat itu mengenakan baju warna oranye tanpa lengan dipadu kain jarik.
Untuk bisa keluar dart rumah sakit, Santi harus membayar biaya operasi sebesar Rp 5,3 juta ditambah biaya rawat inap dan biaya dokter yang kalau ditotal mencapai Rp 7,5 juta.
Menurut Santi, suaminya, Yudhi Wijaya (48), sudah berupaya mencari uang ke mana-mana tetapi belum berhasil. Untuk membayar biaya perawatan, Yudhi sudah meminta keringanan berupa pembayaran secara cicilan. Bahkan, Yudhi pernah menawarkan tenaga untuk bekerja di rumah sakit tersebut untuk menutupi biaya persalinan istrinya.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Selatan Togi Asman mengatakan, pihaknya sudah mengirim tim ke RS bersalin Sofa Marwa. "Begitu saya dengar informasi ini, saya terjunkan tim ke sana. Biar kami lakukan penyelidikan dulu," kata Togi.
Sementara itu, pemilik rumah sakit, Yanti Sugianto, mengakui bahwa pasien bernama Suharni dan bayinya belum diperbolehkan pulang karena belum membayar biaya perawatan. Demikian pula dengan Santi dan bayinya.
Menurut Yanti, pihaknya sudah memberikan keringanan untuk membayar biaya perawatan secara mencicil. "Sejak (Suharni dan bayinya) dirawat sebulan, kami sudah tawarkan untuk membayar secara mencicil, tetapi tentunya dengan jaminan," katanya.
Namun, pada saat diminta jaminan, pasangan Aryo-Suharni tidak bisa memenuhinya sehingga kepulangan Suharni dan bayinya pun tertunda. Sebagai solusinya, Yanti meminta keluarga Suharni maupun keluarga Santi membuat surat pernyataan di atas meterai yang berisi kesanggupan untuk membayar biaya operasi dan perawatan. "Kami akan berikan keringanan berupa potongan dari jumlah yang seharusnya dibayar," ujarnya.