QUOTE
begini bro... sebetulnya Karen Armstrong (saya tahu siapa dia) agak sedikit melupakan fakta bahwa suku2 bangsa yg berdagang di Mekah, sudah mengenal alat2 tulis termasuk kertas dan tinta,jika tidak darimana perdagangan bisa berjalan bila tidak ada catatan hutang-piutang? bila tidak ada alat2 tulis sudah pasti kacau kota itu. mengenai bagaimana cara buat alat2 tulis itu, jangan lupa suku2 yg ada di tanah arab ada juga berasal dari Mesir. penduduk mesir sudah tahu bagaimana cara buat lembar surat ato perkamen kosong. di Mekah sudah ada perdagangan mengenai alat tulis.
segala peristiwa yg ada di Mekah dan Medina dicatat oleh para saudagar dari berbagai kerajaan agar bisa disampaikan oleh pihak kerajaan dan generasi mereka ditempat asal mereka. Jadi tujuan Saudagar bukan hanya berdagang,tapi juga mencatat peristiwa ditempat mereka singgah utk disampaikan kembali ke orang2 ditempat asal mereka.
Maaf tp menurut saya perdagangan telah ada jauh sebelum adanya budaya menulis. Lagipula dalam masyarakat Arab, kesaksian seseorang sangat tinggi kedudukannya. Jadi soal hutang-piutang cukup dihadirkan saksi laki-laki dewasa. Tidak seperti sekarang yg semuanya harus ada bukti tertulis, inilah budaya lebih dari 1400 tahun yg lalu dimana kehormatan suku sangat dijunjung tinggi, dan sangat memegang ucapannya.
Dan perlu diingat juga, saya tidak mengatakan bahwa tidak ada alat tulis, saya mengatakan bahwa budaya Arab saat itu adalah budaya verbal, mereka bisa mencatat dalam pelepah kurma namun itu tidak lazim dilakukan. Sehingga rekam sejarah dalam bentuk catatan seperti yg bro minta sebelumnya sangat jarang ditemui.
Memang betul kalo bro liat dari kondisi perdagangan, peradaban global saat itu. Namun khusus bangsa Arab sendiri, mereka dikenal lebih menyukai mengingat dari pada mencatat (jadi inget kalo gw suka males nyatet waktu SD). Dan perlu diingat juga, bagi suku-suku di Arab, puisi dalam bentuk lisan lah yg merupakan budaya mereka. Puisi memegang peranan penting saat itu bagi masyarakat Arab, dari mulai sekedar mencurahkan hati sampai mengusir setan, dsb. Itu pula yg menurut banyak cendikiawan muslim, mengapa Al Qur'an diturunkan dalam bentuk puisi. Mereka saat itu sangat menghargai kata-kata yg dirangkai dalam bentuk puisi, oleh karena itu juga banyak yg mengaku masuk Islam pada awal masa kelahiran Islam krn bentuk puisi Al Qur'an yg sangat indah dimana hanya mereka yg mampu berbahasa Arab yg mendalam yg mampu menghargai tingginya bahasa Al Qur'an. Puisi begitu penting bagi masyarakat Arab sampai-sampai menurut bbrp sumber, ada semacam perlombaan puisi, dimana puisi yg dianggap bagus dan menjadi pemenang akan ditulis dan digantung di Ka'bah. Ini juga menunjukan bahwa mencatat sesuatu itu merupakan hal yg langka.
Nah rekaman sejarah Arab baik semasa Pra-Islam maupun saat lahirnya Islam banyak diperoleh dari puisi-puisi tersebut, kesaksian-kesaksian dalam bentuk verbal yg kemudian diturunkan ke generasi berikutnya lalu kemudian oleh para peneliti diteliti dan dicross check sana sini. Memang benar peradaban mesir mampu menghasil media tulis, namun siapa yg mau mencatat sejarahnya kecuali bangsanya sendiri. Inilah kenapa rekaman sejarah Arab tidak banyak dari bentuk perkamen-perkamen, lembaran-lembaran seperti dead sea scroll, walaupun ada proporsinya tidak lebih banyak dibandingkan dalam bentuk verbal yg kemudian diingat dan diturunkan. Tidak seperti Mesir kuno yg mencatat sejarahnya dalam tembok-tembok piramida, krn itulah budaya mereka sehingga sangat mungkin sekali itu pula lah yg menyebabkan mereka mampu membangun piramida dan bangunan megah lainnya, bandingkan dengan Arab.
Al Qur'an sendiri pun dicatat oleh para pengikut nabi Muhammad krn diperintahkan oleh beliau, sebagai bukti bahwa masyarakat Arab lebih menyukai verbal, dalam Islam ada yg disebut Hadist, ini adalah bentuk rekaman sejarah Rasulullah atau dalam bahasa lain disebut biography dalam bentuk verbal kemudian diturunkan ke generasi selanjutnya yg baru kemudian dicatat oleh generasi-generasi selanjutnya ketika bentuk pencatatan sudah lazim dilakukan. Nah bro juga mengutip Hadist yg mengatakan bahwa di Ka'bah ada sekian banyak berhala...nah asal mula hadist pun adalah catatan dalam bentuk verbal. Jika bro lihat dalam hadist disana bro akan lihat bahwa umumnya bentuk penulisannya berupa kesaksian verbal, bukan bentuk rekaman dokumen. Tetapi bentuk kalimat verbal yg kemudian dicatat...misal nih "Abu Hurairah Ra berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda " Cukuplah bagi orang itu disebut pembohong jika dengan setiap apa yang ia dengar" ( HR. Muslim ). Apa yg dicatat adalah perkataan dari Abu Hurairah RA yg mendengar bahwa Nabi bersabda (artinya mendengar ucapan verbal nabi) demikian demikian.
QUOTE
segala peristiwa yg ada di Mekah dan Medina dicatat oleh para saudagar dari berbagai kerajaan agar bisa disampaikan oleh pihak kerajaan dan generasi mereka ditempat asal mereka. Jadi tujuan Saudagar bukan hanya berdagang,tapi juga mencatat peristiwa ditempat mereka singgah utk disampaikan kembali ke orang2 ditempat asal mereka.
Bisa jadi, tp sangat mungkin sekali sebagai saudagar/pedagang yg hanya singgah dalam waktu tertentu dan disibukkan dengan urusan perdagangannya, sangat mungkin sekali apa yg mereka catat lebih banyak perhitungan laba-rugi, cash flow, forecasting (jika sudah ada ilmu forecasting demand hehe), bunga krn riba umum dilakukan sebelum Islam muncul, bahkan mungkin catatan hutang si Fulan seperti yg bro kemukakan. Perlu diingat juga, Mekkah yg menjadi pusat masyarakat Arab waktu itu adalah tmp ziarah berbagai kepercayaan yg hanya ramai jika musim ziarah datang.
Menarik sebenarnya dan saya suka berdiskusi disini mengenai hal ini tp, sorry nih, bukannya yg kita diskusikan membuat tret ini semakin OOT?
Kalo bro memang sangat tertarik dengan Arab pra-Islam, mungkin saya bisa tunjukan bukunya yg menurut saya cukup lengkap, dari mulai Arab pra Islam, kemunculan Islam, hingga kemunduran kekhalifahan. Silahkan bro cari buku History of the Arabs penulisnya Philip Khuri Hitti tahun 1937, beliau melakukan penelitian dan menulis buku ini selama 10 thn. Bukunya sangat tebal, lebih tebal dari Al Qur'an.