Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Clara Sumarwati, Wanita Indonesia Pertama Pendaki Everest Masuk RSJ
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Cafe > Fresh News > Olahraga
west ice
Source: detiknews.com
Senin, 12/10/2009 14:14 WIB
Parwito - detikNews
http://www.detiknews.com/read/2009/10/12/1...erest-masuk-rsj


QUOTE
Clara Sumarwati, Wanita Indonesia Pertama Pendaki Everest Masuk RSJ

Magelang - Nasib Clara Sumarwati (44), sungguh mengenaskan. Wanita Indonesia dan Asia Tenggara pertama yang berhasil mencapai Puncak Everest itu mengalami gangguan jiwa. Clara kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof dr Soerojo, Magelang, Jawa Tengah.

Humas RSJ dr Seorojo, Saiful, menjelaskan Clara sudah berulangkali menjalani perawatan di RSJ tersebut. Terakhir Clara masuk pada 30 Juni 2009 lalu. Menurut kakaknya, Elizabeth Sumaryati, Clara mengalami stres dan kerap marah-marah.

Ini adalah kali ketiganya wanita tersebut menjalani perawatan di RSJ. Dia pertama kali dirawat pada tahun 1997. Dan pada tahun 2000, Clara menjalani perawatan jalan.

"Tetapi kini jiwanya terguncang lagi. Kemungkinan akibat kurang perhatian dan tidak mengkonsumsi obat secara rutin," ungkap Saiful.

Kisah pilu wanita berprestasi tersebut sepertinya tidak diketahui banyak pihak. Sebab sekian lama dia menjalani perawatan di RSJ, tak ada yang memperdulikan. Bahkan, pengakuan Clara tentang prestasi gemilangnya pun tak ada yang mempercayainya. Termasuk pihak RSJ Soerojo sendiri.

Sampai akhirnya secara tidak sengaja dia bertemu dengan Amir Hamzah, seorang Asisten Deputi Menpora. Saat itu Amir Hamzah sedang berkungjung ke RSJ Prof dr Soerojo pada Jumat 9 Oktober. Amir saat itu sedang menyaksikan sejumlah pasien RSJ tersebut yang sedang latihan menari untuk mengikuti Festival Pemuda Pelopor di Jakarta. Clara yang merasa kenal dengan Hamzah pun menyapanya.

"Bapak, masih ingat saya nggak? Saya Clara pak, pendaki wanita Indonesia dan ASEAN pertama yang menaklukan gunung Everest," ungkap Clara seperti ditirukan Saiful.

Amir awalnya kaget ditegur Clara. Namun beberapa saat kemudian pria tersebut mengingatnya. Clara adalah wanita Indonesia pertama yang berhasil mencapai Puncak Everest pada 1996 silam.

Sejak saat itu semua pihak di RSJ Soerojo, termasuk para dokter dan pejabat lainnya, mempercayai pengakuan Clara. Selama ini mereka menyangka Clara hanya mengarang cerita bahwa dirinya pernah mendaki gunung tertinggi di dunia itu. (djo/djo)
PuJaNggA90m
kasihan ya, kok bisa gitu ...
d’Napié
bener2 memilukan bro...
pemerintah seakan "melupakan" mereka2 yg pernah berprestasi buat negeri ini.
coba bro semua inget yg sudah2. spt contohnya, petinju kita yg dulu pernah mengharumkan nama indonesia, elyas pical, sampe skg adakah tunjangan masa depan bagi dia? ga ada sama sekali bro. masih banyak lagi bro mereka2 yg pernah bikin harum indonesia, tapi akhirnya hidup mereka bener2 memilukan

meskipun aku bangga ama indonesia, tapi kadang2 aku juga "malu" ama negeri ini
west ice
Source: detiknews.com
Selasa, 13/10/2009 07:33 WIB
Ramadhian Fadillah - detikNews
http://www.detiknews.com/read/2009/10/13/0...lara-dihentikan


QUOTE
FMI Minta Kontroversi Soal Prestasi Clara Dihentikan


Jakarta - Clara Sumarwati menderita depresi karena prestasinya mendaki Everest menjadi kontroversi. Pendaki Everest pertama dari Indonesia ini bahkan harus dirawat di RSJ. Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) pun meminta agar kontroversi soal keberhasilan Clara dihentikan.

"Kalau sudah tercatat, dan ada buktinya pernah mencapai puncak Everest, tidak perlu ada kontroversi," ujar pengurus FMI, Jody Tirie, saat dihubungi detikcom, Senin (12/10/2009).

Jodie meminta semua pihak berjiwa besar atas prestasi Clara. Menurutnya sangat disayangkan jika Clara sampai menderita depresi karena prestasinya tidak diakui.

"Kenapa kita tidak bisa menghargai prestasi orang lain," pungkas pria yang sedang menjalankan misi pendakian ke tujuh puncak tertinggi dunia ini.

Berdasarkan everesthistory.com, situs yang memuat nama-nama pendaki puncak tertinggi tersebut, Clara tercatat telah menggapai puncak tertinggi Everest pada tanggal 26 September 1996. Lima orang sherpa (seperti guide), yang mendampingi Clara selama pendakian juga tercatat mencapai puncak. Mereka adalah Ang Gyalzen, Chuwang Nima, Dawa Tshering, Gyalzen, dan Kaji.

Wanita berusia 44 tahun ini kini dirawat di (RSJ) Prof dr Soerojo, Magelang, Jawa Tengah. Keluarga dan lingkungannya menolak Clara kembali ke tengah-tengah mereka.
(rdf/fiq)
west ice
Source: detiknews.com
Selasa, 13/10/2009 08:01 WIB
Ken Yunita - detikNews
http://www.detiknews.com/read/2009/10/13/0...h-foto-terbakar


QUOTE
Berbagai Kejanggalan Klaim Clara & Kisah Foto Terbakar


Jakarta - Kontroversi keberhasilan Clara Sumarwati mencapai puncak Mount Everest telah muncul sejak kepulangannya ke Indonesia. Para pendaki saat itu meragukan Clara telah menjejakkan kaki di puncak gunung tertinggi di dunia itu. Banyak kejanggalan atas klaim Clara.

Muhammad Gunawan, seorang pendaki gunung di era 1996 mengaku melihat beberapa kejanggalan dari bukti-bukti yang diungkapkan Clara. Hal pertama yang membuat pria yang akrab disapa Ogun itu tidak percaya adalah waktu yang dibutuhkan Clara untuk mencapai puncak.

"Dari cerita yang saya dapat, ada beberapa yang menurut saya nggak match," kata Ogun saat berbincang dengan detikcom, Selasa (13/10/2009).

Selain mendapat cerita dari Clara melalui telepon, Ogun juga sempat bertemu dengan Gibang Basuki, anggota Koppasus yang mendampingi Clara mendaki Everest pada 1996. Menurut dia, saat pendakian itu, Clara berpisah dengan Basuki di camp 5. Mereka berpisah selama dua malam.

"Dari cerita itu, saya mulai nggak yakin kalau dia mencapai puncak, karena medan dari camp terakhir sampai puncak itu berat sekali. Masak dia bisa mencapainya dalam waktu 2 malam," kata Ogun.

Ogun mengatakan, sebenarnya medan tersebut bisa saja ditempuh dalam waktu dua malam. Namun orang yang menaklukkan tersebut harus orang yang sudah lihai dan kuat.

"Sedang saya kira, Clara nggak sekuat itu karena selama ini, di antara teman-teman pendaki, dia yang paling lambat. Dia bisa butuh waktu 4 sampai 5 malam," kata pria yang pernah menjadi pelatih Clara saat pendakian Gunung
Acontagua itu.

Kesangsian Ogun terhadap Clara semakin tebal ketika melihat foto-foto Clara selama melakukan pendakian. Menurut dia, dari semua foto yang ada, tidak ada satu pun yang menunjukkan Clara sedang berada di puncak.

"Foto yang dia bilang di puncak, itu bukan di puncak. Itu jalur menuju puncak, antara camp 5 ke ketinggian 7.700 meter," kata Ogun. Puncak Everest sendiri berada di ketinggian 8.848 mdpl.

Ogun mengatakan, mengenai foto yang selalu diklaim foto berada di puncak Everest, dirinya sempat meminta klarifikasi Clara. Saat itu, Clara berjanji akan menampilkan foto tersebut.

"Kan di puncak Everest itu ada semacam tiang puncak, nah di foto Clara tidak ada itu. Saya sempat tanya dan dia bilang akan kasih, tapi sampai sekarang nggak dikasih-kasih juga. Akhirnya saya dengar katanya fotonya terbakar," kata Ogun.

Adanya sertifikat-sertifikat yang dikeluarkan berbagai organisai pendakian yang diperoleh Clara juga tidak dapat menyakinkan Ogun dan para pendaki saat itu. Menurut dia, saksi yang menyaksikan Clara menginjakkan kaki di puncak Everest juga tidak bisa memberikan bukti-bukti yang jelas. "Keterangannya juga lari-lari, nggak jelas," kata Ogun.

Keraguan itu semakin kentara setelah Clara seperti enggan memberikan klarifikasi. "Dia berjanji mau bikin presentasi soal keberhasilan itu, tapi tidak pernah terjadi. Dia seakan lari-lari, tidak mau memberi penjelasan," kata pendaki yang sudah dua kali mencoba menaklukkan Everest itu.

Kontroversi soal pendakian Clara ke Everest itu muncul kembali saat berita soal dirawatnya Clara di rumah sakit jiwa muncul ke media. Pendaki perempuan yang disebut-sebut menjadi perempuan pertama yang menjejakkan kaki di Puncak Everest itu mengalami gangguan jiwa. Konon karena Clara merasa prestasinya tersebut tidak dihargai, meski dia pernah dianugerahi Bintang Nararya oleh pemerintah.
(ken/asy)
rembel
Sungguh malang sekali...

Kalau nunggu ularan pemerintah, pasti bakalan lama prosesnya..
potro
source:detik.com/Selasa, 13/10/2009 12:16 WIB
http://www.detiknews.com/read/2009/10/13/1...ri-ri?991101605



Jakarta - Serka Asmujiono, anggota TNI Kopassus, berhasil mencapai puncak gunung Everest pada April 1997. Di tengah kontroversi siapa pendaki puncak Everest pertama dari Indonesia, Asmujiono tidak mempersoalkannya. Namun, kata dia, perlu keterbukaan dan kejujuran bila ada pendaki yang berhasil mendaki puncak Everest.

Klaim Clara Sumarwati sebagai orang pertama Indonesia yang berhasil mendaki puncak Everest memang sudah menggema sejak 1996, beberapa saat setelah Clara pulang ke Indonesia. Namun setelah itu muncul kontroversi karena Clara tidak bisa membuktikan bahwa dia mencapai puncak. Berbagai keganjilan pun muncul. Setelah ekspedisi itu, Clara pun masuk RS Jiwa di Magelang. Dia dirawat berkali-kali sejak 1997 dan saat ini masih dirawat di RS tersebut.

Bila Clara tidak mencapai puncak Everest, maka orang Indonesia pertama yang bisa mendaki puncak Everest adalah Asmujiono. Dia mendaki Everest pada 1997 bersama Tim Kopassus yang dibentuk oleh Danjen Kopassus saat itu, Mayjen Prabowo Subianto. Saat itu, Asmujiono masih berumur 25 tahun dan berpangkat sersan satu. Tim terdiri dari Kopassus, Wanadri, Mapala UI, Rakata, RCTI, dan beberapa kelompok pecinta alam lainnya.

Secara pribadi, Asmujiono tidak mempersoalkan siapa pendaki pertama puncak Everest dari Indonesia. Yang pasti, pria yang sering disapa Asmuji itu bangga dengan prestasinya mencapai puncak Eversest dalam ekspedisinya, setahun setelah ekspedisi yang dilakukan Clara. Bila memang Clara disebut sebagai pendaki puncak Everest pertama dari Indonesia, Asmuji tidak mempermasalahkannya.

"Saya bangga seorang putri seperti Ibu Clara memiliki semangat yang luar biasa dan berani mendaki Everest. Terlepas dia sampai puncak atau tidak, saya tetap bangga dengan Ibu Clara," kata Asmuji saat berbincang-bincang dengan detikcom, Selasa (13/10/2009).

Dia mengaku klaim Clara sebagai pendaki puncak Everest memang diragukan dan menjadi kontroversi. Banyak pihak meragukan Clara, karena tidak memiliki bukti kuat. Karena itu, Asmuji berharap Clara bisa terbuka dan jujur dengan klaim ini, dan bisa memberikan bukti-bukti sehingga klaimnya tidak diragukan.

Ekspedisi Everest 1997

Ekspedisi ke Gunung Everest memang tidak mudah. Perlu waktu persiapan lama dan dana yang cukup banyak untuk mendaki gunung tertinggi di dunia yang terletak di Nepal ini. Gunung ini memiliki ketinggian 8.848 mdpl.

Asmuji yang memang sudah berprestasi dalam pendakian gunung di Indonesia diikutkan dalam Ekspedisi Everest yang digagas Danjen Kopassus pada 1997. Setelah diseleksi, ada 33 orang yang tergabung dalam tim ini dan diberangkatkan ke Nepal.

Di Nepal, dilakukan seleksi kembali. Hasilnya 16 orang terpilih untuk mendaki Everest, termasuk Asmuji. Tim dibagi menjadi dua. Satu tim yang terdiri dari 10 Orang diberangkatkan melalui sisi selatan, sedangkan tim lainnya yang berjumlah 6 orang diberangkatkan dari sisi utara. Asmuji masuk tim yang diberangkatkan dari sisi selatan.

Pendakian pun dilakukan. Beberapa orang di tim Asmuji berguguran. Sampai akhirnya, terpilih 3 orang yang tercepat untuk terus melanjutkan ke puncak Everest. Asmuji menjadi salah satu dari tiga orang yang terpilih itu. Dua orang lainnya adalah Kapten Misirin (Kopassus) dan Letkol Iwan Setiawan yang menjadi komandan tim (Kopassus). Dua orang dipilih sebagai cadangan, yaitu Sugiarto (FPTI/Federasi Panjat Tebing Indonesia) dan Sertu Parno (Kopassus).

Tiga orang yang terpilih itu kemudian mendaki dari satu camp ke camp yang lebih tinggi. "Saya akhirnya yang berhasil sampai Puncak. Saya tiba di Puncak pada 26 April 1997, pukul 15.40 waktu Nepal," ujar Asmuji.

Sayang, dua pendaki dari Kopassus gagal sampai ke titik puncak. Kapten Misirin hanya bisa sampai titik 16 meter sebelum titik puncak, meski sudah berada di area puncak. Sedangkan Iwan Setiawan hanya bisa sampai di titik 30 meter sebelum puncak. "Dari ekspedisi ini, saya dan Kapten Misirin yang mendapat sertifikat sebagai Summiter," terang Asmuji.

Agar keberhasilannya sampai puncak tidak diragukan, Asmuji pun menyiapkan bukti, termasuk foto dan video. Dia juga berpose mengenakan baret merah Kopassus dan memasang bendera Merah Putih di tiang segitiga di titik tertinggi puncak Everest. Nama Asmuji pun tercatat sebagai pendaki puncak Everest di everesthistory.com. Saksi-saksi bahwa dia sampai di puncak pun sangat banyak, tidak seperti yang dialami Clara.
loginku
ini dia stress gara - gara ga diakuin dah pernah ke puncak everest,,damn poor mam

sebenernya kalo dah dibilang dia dah ke puncak everest kan brati ga usah dimasalahin lagi donk?

walau ceritanya emang meragukan

heum
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.