Help - Search - Members - Calendar
Full Version: MUSASHI
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
Pages: 1, 2
IZRO'IL
Musashi I (Tanah)

Musashi I 1



Takezo terbaring di antara mayat-mayat itu. Ribuan jumlahnya.
“Dunia sudah gila,” pikirnya samar. “Manusia seperti daun kering, yang hanyut ditiup angin musim gugur.”
Ia sendiri seperti satu di antara tubuh-tubuh tak bernyawa yang berserakan di sekitarnya. Ia mencoba mengangkat kepala, tapi hanya dapat mengangkatnya beberapa inci dari tanah. Ia tak ingat, apakah pernah merasa begitu lemah. “Sudah berapa lama aku di sini?” ia bertanya-tanya.
Lalat-lalat mendengung di sekitar kepalanya. Ia ingin mengusirnya, tapi mengerahkan tangan untuk mengangkat tangan pun ia tak sanggup. Tangan itu kaku, hampir-hampir rapuh, seperti halnya bagian tubuh yang lain. “Tentunya sudah beberapa lama tadi aku pingsan,” pikirnya sambil menggerak-gerakkan jemarinya satu demi satu. Ia belum begitu sadar bahwa dirinya sudah terluka. Dua peluru bersarang erat di dalam pahanya.
Awan gelap mengerikan berlayar rendah di langit. Malam sebelumnya, kira-kira antara tengah malam dan fajar, hujan deras mengguyur daratan Sekigahara. Sekarang ini lewat tengah hari, tanggal lima belas bulan sembilan tahun 1600. Sekalipun topan telah berlalu, sekali-kali siraman hujan segar masih menimpa mayat-mayat itu, termasuk wajah Takezo yang tengadah. Tiap kali hujan menyiram, ia membuka dan menutup mulutnya seperti ikan, mencoba mereguk titik-titik air itu. “Seperti air yang dipakai mengusap bibir orang sekarat,” kenangnya sambil melahap setiap titik air yang datang. Kepalanya sudah hilang rasa, sedangkan pikirannya seperti bayang-bayang igauan yang melintas.
Pihaknya telah kalah. Ia tahu betul itu. Kobayakawa Hideaki, yang dikiranya sekutu, ternyata diam-diam telah bergabung dengan Tentara Timur. Ketika ia menyerang pasukan Ishida Mitsunari pada senja hari, jalan pertempuran pun berubah. Ia kemudian menyerang tentara panglima-panglima yang lain – Ukita, Shimazu, dan Konishi. Maka sempurnalah keruntuhan Tentara Barat. Hanya dalam setengah hari pertempuran sudah dapat dipastikan siapa yang sejak itu akan memerintah negeri. Dialah Tokugawa Ieyasu, daimyo Edo yang perkasa.
Bayangan kakak perempuannya dan penduduk desa yang sudah tua-tua mengambang di depan matanya. “Aku akan mati,” pikirnya tanpa rona sedih. “Jadi, beginikah rasanya?” Dan ia pun merasa tertarik ke arah kedamaian maut, seperti anak-anak yang terpesona oleh nyala api.
Tiba-tiba salah satu mayat yang dekat dengannya mengangkat kepala, “Takezo!”
Bayang-bayang dalam kepala Takezo menghilang. Seolah terbangun dari mati, ia pun menoleh ke arah suara itu. Ia yakin itu suara teman karibnya. Dengan segenap kekuatan, ia mengangkat tubuhnya sedikit dan ia paksakan keluar suara bisikan yang hampir tidak terdengar itu, karena kalah oleh titik-titik hujan. “Matahachi, kaukah itu?” Lalu ia rebah, terbaring diam, mendengarkan.
“Takezo! Betul-betul kau masih hidup?”
“Ya, hidup!” serunya, tiba-tiba keluar pongahnya. “Dan kau? Kau sebaiknya jangan mati juga. Jangan berani-berani!” Matanya lebar terbuka sekarang, dan senyuman tipis bermain di bibirnya.
“Mana bisa aku mati! O, tidak!” Sambil terengah-engah karena merangkak menyeret badan dengan susah payah, Matahachi pun mendekati sahabatnya setapak demi setapak. Ditangkapnya tangan Takezo, tapi yang ia cengkeram dengan kelingkingnya sendiri hanyalah kelingking temannya itu. Sebagai sahabat, sejak kanak-kanak mereka sering mematrikan janji dengan cara itu. Ia pun lebih mendekat lagi, dan kemudian menggenggam tangan sahabatnya itu seluruhnya.
“Sungguh aku tak percaya kau hidup juga! Tentunya hanya kita yang selamat!”
“Jangan begitu terburu-buru! Aku belum mencoba berdiri.”
“Mari kubantu. Ayo kita pergi dari sini!”
Tapi tiba-tiba saja Takezo menarik Matahachi ke tanah dan menggeram, “Pura-pura mati! Celaka lagi!”
Bumi pun mulai menderum seperti kawah gunung. Lewat tangan mereka berdua tampak angin pusaran sedang mendekat. Dan semakin mendekat. Baris-baris penunggang kuda sehitam jelaga meluncur langsung menuju mereka berdua.
“Bajingan! Mereka kembali!” kata Matahachi sambil terus mengangkat lutut, seolah-olah bersiap melompat. Takezo langsung menangkap pergelangan kakinya, hingga hampir-hampir mematahkannya, serta merenggutnya ke bumi.
Dalam sekejap mata, para penunggang kuda sudah terbang melewati mereka. Beratus-ratus kaki kuda yang berlumpur dan menyimpan maut mencongklang dalam formasi, menyepelekan para samurai yang sudah tewas. Sambil memperdengarkan pekikan-pekikan perang, dan dengan zirah serta senjata berdentingan, para penunggang kuda itu melaju terus.
Matahachi berbaring menelungkup dengan mata terpejam, dengan harapan kosong semoga mereka tidak terinjak-injak, sedangkan Takezo menatap tanpa berkedip ke langit. Kuda-kuda itu begitu dekat dengan mereka, hingga mereka dapat mencium bau keringatnya. Kemudian semuanya berlalu.
Secara ajaib mereka tidak terluka dan tidak dikenali, dan untuk beberapa menit lamanya keduanya tinggal diam tak percaya.
“Selamat lagi!” kata Takezo sambil mengulurkan tangan kepada Matahachi. Masih merangkum bumi, pelan-pelan Matahachi memutar kepala, memperlihatkan seringai lebar yang sedikit bergetar. “Ada yang berpihak pada kita, itu pasti,” katanya parau.
Kedua sahabat itu saling bantu berdiri dengan susah payah. Pelan-pelan mereka melintasi medan pertempuran, menuju tempat aman di bukit-bukit berhutan, terpincang-pincang dan berangkulan. Di sana mereka rebah, dan sesudah beristirahat sebentar, mulailah mereka mencari-cari makanan. Dua hari mereka hidup dari buah berangan liar dan daun-daunan yang dapat dimakan di dalam lubang-lubang basah di Gunung Ibuki. Makanan itulah yang membuat mereka tidak mati kelaparan, tapi perut Takezo jadi sakit, dan usus Matahachi tersiksa. Tak ada makanan yang dapat mengenyangkannya, tak ada minuman yang dapat menghilangkan dahaganya, tapi ia merasa kekuatannya pulih kembali sedikit demi sedikit.
Badai tanggal lima belas itu menandai akhir topan musim gugur. Kini hanya dua malam sesudahnya, bulan yang putih dingin sudah memandang muram ke bawah, dari langit yang tak berawan.
Mereka berdua mengerti, betapa berbahayanya berada di jalan, dalam cahaya bulan terang. Bayangan mereka akan tampak seperti bayangan sasaran, yang dapat dengan jelas dilihat oleh patroli yang sedang mencari orang-orang yang berkeliaran. Keputusan untuk mengambil resiko itu datang dari Takezo. Melihat keadaan Matahachi yang begitu jelek – katanya lebih baik tertangkap daripada terus mencoba berjalan – agaknya memang tidak banyak pilihan lain. Mereka harus berjalan terus, tapi jelas pula bahwa mereka harus menemukan tempat untuk menyembunyikan diri dan beristirahat. Maka perlahan-lahan mereka pun berjalan menuju tempat yang menurut mereka adalah arah kecil Tarui.
“Bisa kau bertahan?” Tanya Takezo berulang-ulang. Dilingkarkannya tangan temannya itu ke bahunya sendiri, untuk membantunya berjalan. “Kau baik-baik saja, kan?” Napas berat temannya itulah yang mengkhawatirkannya. “Mau beristirahat?”
“Aku baik-baik saja.” Matahachi mencoba kedengaran berani, tapi wajahnya lebih pucat daripada bulan di atas mereka. Bahkan dengan lembing yang digunakannya sebagai tongkat pun hampir tidak dapat melangkahkan kaki.
Beberapa kali ia meminta maaf merendah-rendah, “Maaf, Takezo. Aku tahu, akulah yang melambatkan jalan kita. Betul-betul aku minta maaf.”
Beberapa kali pula Takezo hanya menjawab dengan kata-kata, “Lupakan itu.” Tapi akhirnya, ketika mereka sudah berhenti untuk beristirahat, ia pun menoleh kepada temannya dan cetusnya, “Coba dengar, akulah yang mestinya minta maaf. Pertama-tama, akulah yang menjerumuskanmu ke sini, ingat tidak? Kau ingat, bagaimana aku menyampaikan rencanaku padamu, bahwa akhirnya aku aku akan melakukan sesuatu yang bakal betul-betul mengesankan ayahku? Aku sungguh tak bisa menerima kenyataan bahwa sampai meninggalnya, Ayah tetap yakin aku tak akan pernah mencapai sesuatu. Aku ingin perlihatkan padanya! Ha!”
Ayah Takezo, Munisai, dulu mengabdi pada yang Dipertuan Shimmen dari Iga. Begitu Takezo mendengar bahwa Ishida Mitsunari sedang membentuk tentara, ia pun yakin bahwa kesempatan yang hanya sekali seumur hidup akhirnya datang baginya. Ayahnya seorang samurai. Apakah tidak sewajarnya kalau ia pun menjadi samurai? Ingin sekali ia memasuki kancah keributan, untuk membuktikan keberaniannya, untuk membikin berita tersebar seperti api kebakaran melintas dusun: ia telah memenggal jenderal musuh. Ia sangat ingin membuktikan dirinya sebagai orang yang harus diperhitungkan, dihormati – bukan hanya sebagai perisau dusun.
Takezo mengingatkan Matahachi tentang semua itu, dan Matahachi mengangguk. “Aku tahu. Aku tahu. Tapi aku merasa begitu juga. Bukan hanya kau.”
Takezo melanjutkan, “Aku minta kau mengawaniku, karena kita memang selalu bersama-sama melakukan semuanya. Tapi perbuatan ibumu itu sungguh mengerikan! Dia berteriak-teriak mengatakan pada semua orang bahwa aku gila dan brengsek! Dan tunanganmu Otsu, saudara perempuanku, dan semua orang menangis. Katanya pemuda-pemuda dusun seharusnya tinggal di dusun. Ya, barangkali mereka benar juga. Kita ini anak laki-laki satu-satunya, dan kalau kita terbunuh, tidak ada yang melanjutkan nama keluarga. Tapi peduli apa? Apa begitu mestinya hidup?”
Mereka berhasil menyelinap keluar dusun tanpa kelihatan orang, dan merasa yakin tidak ada lagi penghalang yang memisahkan mereka dengan kehormatan pertempuran. Namun ketika sampai di perkemahan Shimmen, mereka berhadapan dengan kenyataan perang. Mereka langsung diberitahu bahwa mereka tidak akan menjadi samurai dalam waktu singkat, bahkan tidak dalam beberapa minggu, tak peduli siapa ayah mereka. Bagi Ishida dan jenderal-jenderal lain, Takezo dan Matahachi hanyalah sepasang orang udik, tidak banyak lebihnya dari anak-anak yang kebetulan memegang sepasang lembing. Paling banyak yang dapat mereka peroleh adalah izin untuk tinggal di sana sebagai prajurit biasa. Tanggung jawab mereka, kalaupun dapat dinamakan demikian, hanyalah mengangkut senjata, periuk nasi, dan alat-alat rumah tangga lainnya, memotong rumput, mempengaruhi geng-geng jalanan, dan sesekali bertugas sebagai pandu.
“Samurai, ha!” kata Takezo. “Lelucon macam apa pula. Kepala jenderal! Mendekati samurai musuh saja tidak, apalagi jenderal. Tapi setidak-tidaknya semua itu sudah lewat. Sekarang apa yang mau kita lakukan? Aku tidak bisa meninggalkanmu di sini sendirian. Kalau itu kulakukan, bagaimana aku akan menghadapi ibumu dan Otsu?”
“Takezo, aku tidak menyalahkanmu karena kita celaka. Bukan salahmu kita kalah. Kalaupun ada yang mesti disalahkan, Kobayakawa-lah orangnya. Kobayakawa yang bermuka dua itu. Betul-betul aku ingin menangkapnya. Akan kubunuh bangs*t itu!”
Beberapa jam kemudian, mereka sudah berdiri di tepi dataran kecil, menyaksikan lautan miskantus yang serupa buluh, sudah berantakan dan patah-patah terkena badai. Tak ada rumah. Tak ada cahaya.
Di sini pun banyak mayat, bergelimpangan seperti waktu jatuhnya. Kepala salah satu mayat itu tergeletak dalam rumput tinggi. Ada juga yang menengadah di sungai kecil. Lainnya lagi tersangkut dengan anehnya pada seekor kuda mati. Hujan telah membasuh darah, dan dalam sinar bulan daging mati itu tampak seperti sisik ikan. Di sekitar semua itu, yang terdengar hanyalah litani giring-giring dan jangkrik musim gugur yang sepi.
Aliran air mata membentuk jalur putih menuruni wajah suram Matahachi, dan ia memperdengarkan keluhan seorang yang sakit parah.
“Takezo, kalau aku mati, maukah kau mengurus Otsu?”
“Apa yang kau omongkan ini?”
“Aku merasa seperti mau mati.”
Takezo membentaknya, “Nah, kalau memang itu yang kau rasakan, barang kali kau memang akan mati.” Ia jengkel, karena sesungguhnya ia ingin temannya itu lebih kuat, hingga ia sendiri dapat menyandarkan diri kepadanya sekali-kali, bukan secara fisik, melainkan sebagai pendorong.
“Ayolah Matahachi! Jangan seperti bayi cengeng begitu.”
“Kalau ibuku pasti ada yang mengurus, tapi Otsu, dia sendirian di dunia ini. Selamanya begitu. Kasihan aku padanya, Takezo. Berjanjilah kau akan mengurusnya, kalau aku tak ada.”
“Kau mesti percaya pada diri sendiri! Tak ada orang mati karena mencret. Cepat atau lambat kita akan menemukan rumah, dan kalau kita sudah menemukan rumah itu, kutidurkan kau dan akan kudapatkan obat. Sekarang hentikan rengekan tentang mati itu!”
Lebih jauh sedikit, sampailah mereka di tempat bertumpuknya tubuh-tubuh tanpa nyawa, hingga kelihatan seolah satu divisi penuh telah disapu habis. Waktu itu sudah hilang perasaan mereka melihat darah kental. Mata mereka berkaca-kaca menangkap pemandangan itu dengan sikap masa bodoh yang dingin. Mereka berhenti lagi, beristirahat.
Selagi mereka mengatur napas, terdengar ada yang bergerak di antara mayat-mayat itu. Keduanya undur ketakutan, dan secara naluriah merundukkan badan dengan mata terbuka lebar dan perasaan diwaspadakan.
Sosok tubuh itu membuat gerakan melejit cepat, seperti gerakan seekor kelinci yang terkejut. Dan ketika mata mereka sudah terpusat ke arahnya, terlihat oleh mereka orang yang entah siapa itu sedang berjongkok rendah. Semula mereka menduga ia seorang samurai yang tersesat, karena itu mereka menabahkan diri untuk menghadapi pertemuan yang berbahaya. Tapi alangkah kaget mereka, karena ternyata prajurit dahsyat itu hanyalah seorang gadis muda. Gadis itu agaknya berumur sekitar tiga belas atau empat belas tahun, mengenakan kimono dengan lengan digulung. Obi sempit yang membelit pinggangnya sudah bertambal-tambal di beberapa tempat, namun terbuat dari brokat emas. Di tengah himpunan mayat itu, ia betul-betul merupakan pemandangan yang ganjil. Ia melayangkan pandang dan menatap mereka dengan penuh kecurigaan, dengan mata kucing yang licik.
Takezo dan Matahachi heran akan hal yang sama: apa yang menyebabkan gadis itu dating di malam buta itu?
Sekejap keduanya hanya balas memandang gadis itu. Kemudian Takezo berkata, “Siapa kau?”
Gadis itu mengerdip beberapa kali, berdiri, lalu enyah dari situ.
“Stop!” seru Takezo. “aku cuma mau mengajukan satu pertanyaan padamu. Jangan pergi dulu!”
Tapi gadis itu sudah pergi, seperti kilasan kilat di tengah malam. Dan bunyi giring-giring kecil pun menghilang ke dalam ngeri kegelapan.
“Apa kemungkinan itu hantu?” renung Takezo keras, sementara ia memandang kosong ke dalam kabut tipis.
Matahachi menggigil sedikit, tapi memaksakan diri tertawa. “Kalau ada hantu di sini, tentunya hantu serdadu-serdadu itu, kan?”
“Sayang aku telah membikin takut gadis itu,” kata Takezo. “Tentunya ada dusun di dekat-dekat sini. Dan dia tentunya bisa memberikan petunjuk pada kita.”
Mereka berjalan terus, mendaki bukit pertama dari dua bukit yang ada di hadapan mereka. Di cekungan sebelah sana terdapat paya-paya yang menghampar ke selatan Gunung Fuwa. Dan tampak cahaya, hanya setengah mil jauhnya.
Ketika mendekati rumah pertanian itu, terasa oleh mereka bahwa rumah itu bukan sekedar rumah biasa. Kelihatan dari tembok tanah tebal yang mengelilinginya. Juga dari pintu gerbangnya yang boleh dikatakan megah. Atau setidaknya sisa-sisanya, karena pintu gerbang itu sudah tua dan sudah sangat memerlukan perbaikan.
Takezo mendekati pintu dan mengetuk-ngetuk pelan. “Permisi!”
Karena tidak ada jawaban, ia mencoba sekali lagi. “Maaf kami mengganggu pada jam seperti ini, tapi temanku ini sakit. Kami tak ingin menyusahkan – dia perlu istirahat sedikit.”
Mereka mendengar orang berbisik-bisik di dalam, dan akhirnya terdengar bunyi orang berjalan ke pintu.
“Kalian yang berkeliaran di Sekigahara, kan?” Suara itu datang dari seorang gadis muda.
“Betul,” kata Takezo. “Kami bawahan Lord Shimmen dari Iga.”
“Menyingkirlah! Kalau kalian ditemukan orang di sini, kami bisa celaka.”
“Betul-betul kami minta maaf telah mengganggu seperti ini, tapi kami telah lama sekali berjalan. Temanku ini butuh sedikit istirahat, hanya itu, dan …”
“Pergilah. Menyingkirlah!”
“Baiklah, kalau memang itu yang Anda kehendaki. Tapi apa tak bisa temanku ini diberi obat? Perutnya sakit sekali sekali, hingga sukar bagi kami berjalan terus.”
“Entahlah….”
Beberapa waktu kemudian, mereka mendengar langkah-langkah kaki dan bunyi dering kecil menjauh ke dalam rumah, makin lama makin lemah.
Baru pada waktu itulah mereka melihat wajah itu. Wajah itu tampak di jendela samping, wajah seorang wanita, dan wajah itu memperhatikan mereka terus.
“Akemi,” serunya, “biar mereka masuk. Mereka prajurit biasa. Patroli Tokugawa tak akan membuang-buang waktu buat mereka. Mereka tak dikenal.”
Akemi membuka pintu, dan wanita yang memperkenalkan diri sebagai Oko itu pun datang untuk mendengarkan cerita Takezo.
Maka disetujuilah bahwa mereka tidur di lumbung. Untuk mengobati sakit perutnya, Matahachi mendapat tepung arang magnolia dan bubur beras encer dengan campuran bawang. Beberapa hari berturut-turut ia tidur terus-menerus, sedangkan Takezo duduk berjaga-jaga di sampingnya, sambil mengobati luka-luka peluru di pahanya dengan minuman keras murah.
Pada suatu malam, kira-kira seminggu kemudian, Takezo dan Matahachi duduk mengobrol.
“Mereka tentunya punya usaha tertentu,” kata Takezo.
“Aku tak peduli dengan kerja keras mereka. Aku senang mereka telah menerima kita.”
Tetapi rasa ingin tahu Takezo telah bangkit. “Ibunya belum begitu tua,” sambungnya. “Aneh, bahwa mereka berdua hidup sendiri di pegunungan ini.”
“Hm. Apa menurut pendapatmu gadis itu agak mirip Otsu?”
“Memang ada sesuatu padanya yang membuat aku ingat Otsu, tapi kukira mereka tidak betul-betul serupa. Keduanya manis, titik. Menurutpendapatmu, apa yang sedang dia lakukan waktu pertama kali kita melihatnya itu? Merangkak-rangkak di antara mayat-mayat itu di tengah malam? Dan kelihatannya pekerjaan itu tidak mengganggunya sama sekali. Ha! Masih terbayang olehku hal itu. Wajahnya tenang dan tenteram, seperi boneka buatan Kyoto. Sungguh gambaran yang luar biasa!”
Matahachi memberi isyarat pada Takezo untuk diam.
“Ssst! Kudengar giring-giringnya.”
Ketukan ringan Akemi di pintu terdengar seperti ketukan burung pelatuk. “Matahachi, Takezo,” panggilnya lembut.
“Ya?”
“Ini aku.”
Takezo berdiri dan membuka kunci. Gadis itu membawa sebaki obat-obatan dan makanan, dan bertanya tentang kesehatan mereka.
“Jauh lebih baik. Terima kasih untukmu. Juga untuk ibumu.”
“Ibu bilang, biar kalian sudah sehat, kalian jangan bicara terlalu keras atau pergi keluar.”
Takezo pun menjawab atas nama mereka berdua. “Kami minta maaf sudah membikin repot kalian.”
“Oh, tidak apa-apa. Cuma kuminta kalian berhati-hati. Ishida Mitsunari dan beberapa jenderal lain belum tertangkap. Mereka mengawasi daerah ini dengan ketat, dan jalan-jalan penuh dengan pasukan Tokugawa.”
“Betul?”
“Makanya, biar kalian cuma prajrit biasa. Ibu bilang, kalau kami tertangkap menyembunyikan kalian, kami akan ditahan.”
“Kami tak akan bikin rebut,” janji Takezo. “Malahan muka Matahachi akan kututup kain, kalau dia mendengkur terlalu keras.”
Akemi tersenyum, membalikkan badan untuk pergi, dan katanya, “Selamat malam. Aku akan datang lagi besok pagi.”
“Tunggu!” kata Matahachi. “Apa salahnya kau datang ke sini, bicara dengan kami sedikit?”
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Ibu nanti marah.”
“Peduli apa dengan ibumu? Berapa tahun umurmu?”
“Enam belas.”
“Kalau begitu, badanmu terlalu kecil, ya?”
“Terima kasih atas komentar itu.”
“Di mana ayahmu?”
“Tidak punya lagi.”
“Maaf. Lalu bagaimana kalian hidup?”
“Kami bikin moxa.”
“Obat yang dibakar di kulit buat menghilangkan sakit itu?”
“Ya, moxa daerah ini terkenal. Musim semi kami memotong mugwort di Gunung Ibuki. Musim panas mengeringkannya, lalu musim gugur dan dingin membuatnya jadi moxa. Kami jual di Tarui. Orang datang dari mana-mana hanya untuk beli moxa itu.”
“Kiranya kalian tidak butuh lelaki untuk mengerjakan itu.”
“O, kalau itu yang ingin kalian ketahui, lebih baik aku pergi.”
“Nanti dulu, sedikit lagi,” kata Takezo. “Ada satu pertanyaan lagi.”
“Apa itu?”
“Malam ketika kami datgn kemari itu, kami melihat seorang gadis di medan pertempuran, dan dia mirip sekali denganmu. Apa itu kau?”
Akemi cepat membalikkan badan dan membuka pintu.
“Apa kerjamu di sana?”
Gadis itu membanting pintu di belakangnya. Dan ketika ia berjalan ke rumah itu, giring-giring kecil pun berdering dengan iramanya yang aneh dan sumbang.

Sisir
Dengan tinggi sekitar 1,75 meter, Takezo cukup jangkung untuk orang sezamannya. Tubuhnya seperti tubuh kuda yang indah: kuat dan lentur, dengan kaki panjang berotot. Bibirnya penuh, berwarna merah tua, dan alisnya yang hitam tebal jadi tampak tidak lebat karena bentuknya yang indah. Karena jauh melampaui sudut-sudut luar matanya, alis itu pun menambah kejantanannya. Orang-orang kampung menyebutnya “anak tahun yang gemuk”, suatu ungkapan yang hanya dipakai untuk anak dengan badan lebih besar dari rata-rata. Sebutan itu jauh dari maksud menghina, tapi bagaimanapun membuatnya ada jarak dengan anak-anak muda lain, dan itu membuatnya cukup malu pada masa kanak-kanaknya.
Ungkapan itu tidak pernah dipergunakan untuk menggambarkan Matahachi, namun dapat pula dikenakan padanya. Ia agak lebih pendeka dan pejal daripada Takezo, dadanya bidang dan besar, dan wajahnya bulat, memberikan kesan periang, kalau bukan sifat badut sejati. Matanya yang besar dan sedikit menonjol itu cenderung bergerak ketika ia berbicara, dan kebanyakan lulucon yang dibuat orang untuk merendahkannya berpusat pada kemiripannya dengan katak yang yak henti-hentinya berdengkung pada malam-malam musim panas.
Kedua pemuda itu sedang berada di puncak usia pertumbuhan mereka, dan karenanya cepat pulih dari sebagian besar penyakit. Ketika luka-luka Takezo sudah sepenuhnya sembuh, Matahachi pun tidak dapat lagi menahan hambatan yang dirasakannya. Mulailah ia berjalan mondar-mandir di seputar lumbung, dan tak henti-hentinya mengeluh karena merasa terkurung. Tidak hanya sekali ia membuat kesalahan, dengan mengatakan bahwa ia merasa seperti jangkrik di dalam lubang yang gelap dan jangrik memang suka pada suasana hidup seperti itu. Matahachi tentunya telah mulai mengintip kedalam rumah, karena pada suatu hari ia mendekatkan mulutnya kepada teman seselnya itu, seolah hendak menyampaikan berita yang mengguncangkan dunia. “Tiap malam,” bisiknya genting, “janda itu membedaki mukanya dan mempercantik diri!” Muka Takezo pun jadi seperti anak umur dua belas tahun yang benci anak gadis, melihat pengkhianatan teman karibnya yang makin tertarik kepada “mereka” itu. Matahachi sudah menjadi pengkhianat kini, dan pandangan mata Takezo pun tidak salah lagi mengungkapkan kemuakan.
Matahachi mulai kerap pergi ke rumah itu, duduk-duduk di dekat perapian bersama Akemi dan ibunya yang masih muda. Sesudah tiga atau empat hari mengobrol dan berkelakar dengan mereka, tamu yang ramah itu pun sudah menjadi anggota keluarga. Ia tidak kembali ke lumbung, juga pada malam hari, dan kalau kadang-kadang pulang, napasnya berbau sake. Ia mencoba membujuk Takezo datang ke rumah itu, dengan menyanyikan puji-pujian terhadap kehidupan yang baik, yang hanya beberapa meter jauhnya dari tempat itu.
“Gila kau!” jawab Takezo gusar. “Kau bisa bikin kita terbunuh, atau setidaknya tertangkap. Kita ini sudah kalah, jadi gelandangan – apa kau belum juga mengerti? Kita mesti berhati-hati dan bersembunyi, sampai keadaan mereda.”
Tapi dengan segera ia bosan mencoba mengajak temannya yang cinta kenikmatan itu untuk berpikiran sehat, dan mulailah ia menghentikan omongan temannya dengan jawaban-jawaban ringkas.
“Aku tidak suka sake,” atau kadang-kadang, “Aku lebih suka di sini. Santai.”
Tapi Takezo sendiri akhirnya mulai sinting juga. Ia merasa bosan bukan kepalang, dan mulai memperlihatkan tanda-tanda mengalah. “Apa betul-betul aman?” tanyanya. “Maksudku sekitar sini? Apa tak ada tanda-tanda patroli? Apa kau yakin?”
Maka, sesudah terkubur dua puluh hari lamanya dalam lumbung itu, akhirnya ia keluar seperti tawanan perang yang setengah kelaparan. Kulitnya tampak jernih pucat, seperti mayat, lebih-lebih ketika ia berdiri di samping temannya yang sudah terbakar matahari dan sake itu. Dipandangnya langit biru yang terang, dan sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, ia pun menguap dengan nikmatnya. Ketika mulutnya yang besar itu akhirnya menutup kembali, terlihatlah bahwa alisnya waktu itu mengait. Wajahnya tampak resah.
“Matahachi,” katanya sungguh-sungguh, “kita terlalu memaksakan keinginan pada orang-orang ini. Mereka sekarang menghadapi resiko besar gara-gara kita di sini. Kupikir kita harus berusaha pulang sekarang.”
“Kau benar,” kata Matahachi. “Tapi tak seorang pun dapat melewati rintangan itu tanpa pemeriksaan. Jalan ke Ise dan Kyoto tak bisa ditempuh, menurut janda itu. Katanya, kita mesti bertahan sampai salju turun. Gadis itu juga bilang begitu. Dia yakin mesti tetap bersembunyi. Dan kau tahu, dia selalu pergi ke mana-mana setiap hari.”
“Kau bilang duduk di dekat api sambil minum itu bersembunyi?”
“Tentu. Tahu tidak, apa yang sudah kulakukan? Beberap hari yang lalu orang-orang Tokugawa datang mengintai; mereka masih mencari Jenderal Ukita. Dan aku bisa melepaskan diri dari bajingan-bajingan itu hanya dengan keluar dan menyapa mereka.“ Mata Takezo membelalak tak percaya mendengar itu, sedangkan Matahachi tertawa terbahak-bahak. Setelah tawanya reda, ia pun melanjutkan. “Kau lebih selamat di tempat terbuka daripada meringkuk di lumbung, sambil mendengarkan langkah-langkah kaki orang dan dibikin gila olehnya. Inilah yang mau kukatakan padamu.” Matahachi tertawa terpingkal-pingkal, sedangkan Takezo mengangkat bahu.
“Barangkali kau benar. Itu bisa jadi cara terbaik untuk mengatasi persoalan.”
Takezo masih juga mengajukan persyaratan, tapi sesudah percakapan itu, ia pun ikut pergi ke rumah tersebut. Oko, yang agaknya senang kalau ada orang lain, terutama laki-laki, berusaha membuat mereka betul-betul kerasan. Namun sekali-kali ia membuat kedua pemuda itu terlonjak dengan sarannya agar seorang dari mereka mengawini Akemi. Tapi ini agaknya lebih membikin bingung Matahachi daripada Takezo. Takezo mengabaikan saja saran itu, atau menandinginya dengan kata-kata lucu.
Waktu itu musim matsutake yang lezat dan harum, yang tumbuh di pangkal-pangkal pohon-pohon pinus, dan Takezo cukup terhibur mencari jamur-jamur besar di gunung yang berhutan, di belakang rumah itu. Sambil memegang keranjang, Akemi mencari jamur itu dari pohon ke pohon. Setiap kali tercium baunya, suaranya yang tanpa dosa itu pun menggema di tengah hutan.
“Takezo, sini! Banyak di sini!”
Dan kalau sedang mencari-cari di dekatnya, Takezo pun selalu menjawab, “Di sini juga banyak!”
Sinar matahari musim gugur menerobos tipis dan miring ke arah mereka, lewat ranting-ranting pinus. Babut daun pinus di tempat teduh yang sejuk di bawah pohon-pohonan itu bagaikan bunga mawar yang lunak berdebu. Setelah lelah, Akemi pun menantang Takezo sambil terkikik, “Mari kita lihat, siapa yang paling banyak!”
“Aku!” jawab Takezo pasti. Mendengar itu, Akemi pun mulai memriksa keranjang Takezo.
Hari ini tidak beda dengan hari-hari lain. “Ha, ha! Aku tahu!” teriak Akemi. Dengan rasa kemenangan penuh kegembiraan yang hanya bisa terjadi pada gadis semuda itu, dan tanpa kesadaran diri ataupun sikap sopan yang dibuat-buat, ia pun menunduk ke keranjang Takezo. “Yang banyak kau dapat itu jamur payung!” Lalu ia pun membuangi jamur beracun itu satu per satu, bukan sambil menghitungnya keras-keras, melainkan diiringi gerakan yang begitu pelan dan disengaja, hingga Takezo hampir tidak dapat mengabaikannya, sekalipun dengan mata terpejam, Akemi melontarkan masing-masing jamur itu sejauh-jauhnya. Selesai dengan tugas itu, ia pun menengadah dengan wajah membinarkan rasa puas diri.
“Sekarang lihat, aku dapat jauh lebih banyak daripada kau!”
“Sudah siang sekarang,” gumam Takezo. “Mari pulang.”
“Kau marah karena kalah, kan?”
Akemi pun berlari kencang seperti ayam pegar menuruni sisi bukit, tapi sekonyong-konyong ia berhenti, wajahnya dipenuhi rasa terkejut. Seorang lelaki raksasa datang lurus mendekat lewat belukar, setengah jalan menuruni lereng bukit; langkah-langkhanya panjang dan tenang, matanya yang tajam menatap langsung kepada gadis muda yang rapuh di hadapannya. Orang itu tampak primitif luar biasa. Segala sesuatu pada dirinya bernada perjuangan untuk tetap hidup, dan ia menampakkan ciri suka berkelahi: alis yang lebat dan ganas, dan bibir atas yang tebal melingkar; pedang berat, jubah zirah, dan kulit binatang melengkapi dirinya.
“Akemi!” raungnya seraya mendekati gadis itu. Ia menyeringai lebar, memperlihatkan giginya yang kuning melapuk, tapi wajah Akemi tetap saja menyiratkan kengerian belaka.
“Apa ibumu yang hebat itu ada di rumah?” tanyanya dengan ejekan yang dibuat-buat.
“Ya,” cicit Akemi.
“Nah, kalau nanti kau pulang, ceritakan sesuatu padanya. Mau tidak?” Ejekan itu diucapkannya dengan sopan.
“Ya.”
Dan kini nadanya berubah kasar. “Katakan padanya, jangan mempermainkan aku dengan menimbun uang tanpa sepengetahuanku. Katakan aku akan datang segera untuk mengambil bagianku. Mengerti?’
Akemi diam saja.
“Dia pikir barangkali aku tidak tahu, tapi orang yang dijuali barang-barang itu datang langsung padaku. Aku berani bertaruh, kau pergi juga ke Sekigahara, bukan, Nak?”
“Ah, tidak!” protes Akemi lemah.
“Ya, tak apalah. Cuma sampaikan padanya apa yang kukatakan tadi. Kalau dia main tidak jujur lagi, akan kutendang dia keluar dari daerah ini.” Ia menyorot gadis itu sesaat dengan matanya, kemudian pergi dengan lamban ke arah paya.
Takezo mengalihkan matanya dari orang asing itu kepada Akemi, dengan penuh minat. “Siapa orang itu?”
Dengan bibir masih menggeletar Akemi menjawab lesu, “Namanya Tsujikaze. Dia dari kampung Fuwa.” Suara Akemi hampir tak lebih dari bisikan.
“Dia bandit, kan?”
“Ya.”
“Kenapa dia begitu marah?”
Akemi berdiri saja tanpa menjawab.
“Tak akan kuceritakan itu pada orang lain,” kata Takezo, mencoba meyakinkan Akemi. “Apa tak bisa kau menceritakannya padaku?”
Akemi, yang jelas merasa tak senang, agaknya sedang mencari-cari kata. Dan tiba-tiba ia pun menyandarkan diri ke dada Takezo dan memohon, “Kau janji taka akan bercerita pada orang lain?”
“Siapa yang akan kuceritai? Samurai Tokugawa?”
“Ingat waktu kau pertama kali melihatku malam itu? Di Sekigahara?”
“Tentu saja ingat.”
“Nah, apa belum kau bayangkan, apa yang kulakukan waktu itu?”
“Belum, aku belum pernah memikirkannya,” kata Takezo dengan wajah sungguh-sungguh.
“Nah, waktu itu aku mencuri!” Lalu ia pun menatap Takezo dekat-dekat, untuk menaksir reaksi Takezo.
“Mencuri?”
“Sesudah pertempuran, aku pergi ke medan, mengambili barang-barang serdadu yang tewas: pedang, hiasan sarung pedang, kantong kemenyan –– apa saja yang dapat kami jual.” Ia memandang Takezo lagi untuk menangkap tanda-tanda sikap tidak setuju, tetapi wajah Takezo tidak memperlihatkannya sama sekali. “Pekerjaan itu mengerikan,” keluhnya kemudian, lalu berubah bersikap pragmatis, “tapi kami butuh uang untuk makan. Kalau aku bilang tak mau pergu, Ibu marah.”
Matahari masih cukup tinggi di langit. Atas saran Akemi, Takezo duduk di rumput. Lewat pohon-pohon pinus, mereka dapat memandang ke bawah, ke rumah di tengah paya itu.
Takezo mengangguk pada diri sendiri, seolah sedang membayangkan sesuatu. Sejenak kemudian ia berkata, “Kalau begitu, cerita tentang memotong mugwort dan membuat moxa itu bohong semuanya?”
“O, tidak. Kami mengerjakan itu juga! Tapi selera Ibu begitu mahal. Tak mungkin kami dapat hidup dari moxa saja. Ketika ayahku masih hidup, kami tinggal di rumah terbesar di kampung ini, malahan boleh dibilang di tujuh dusun yang ada di Ibuki. Kami punya banyak pelayan, dan Ibu selalu punya barang-barang bagus.
“Apa ayahmu pedagang?”
“O, tidak. Dia pemimpin bandit setempat.” Mata Akemi bersinar penuh kebanggaan. Jelaslah, ia tidak lagi takut akan reaksi Takezo, dan kini ia melepaskan perasaan sebenarnya. Rahangnya mantap, tangannya yang kecil mengepal pada waktu bicara. “Tsujikaze Temma, orang yang baru kita jumpai tadi, itulah yang membunuhnya. Paling tidak, begitulah kata semua orang.”
“Maksudmu, ayahmu dibunuh?”
Sambil mengangguk diam, Akemi mulai menangis, sekalipun ia berusaha menahannya. Takezo merasa sesuatu yang berada jauh di dalam dirinya mulai mencair. Semula ia tidak menaruh simpati pada gadis itu. Sekalipun gadis itu lebih kebanyakan dari gadis yang sudah berumur enam belas tahun, namun bicaranya seperti wanita dewasa, dan sering kali ia membuat gerakan cepat yang membuat orang lain berjaga-jaga. Tapi ketika air mata mulai menitik dari bulu matanya yang panjang, tiba-tiba Takezo pun jadi meleleh oleh rasa kasihan. Ia ingin mendekap gadis itu untuk melindunginya.
Gadis itu bukanlah gadis yang dibesarkan seperti biasa. Agaknya tak pernah ia pertanyakan, apakah di dunia ini tidak ada yang lebih mulia daripada pekerjaan ayahnya. Ibunya telah meyakinkannya bahwa tak ada salahnya melucuti mayat, bukan untuk makan, melainkan untuk hidup layak. Banyak pencuri sejati enggan melakukan pekerjaan itu.
Selama bertahun-tahun berlangsungnya perselisihan kaum feodal, keadaan telah menjadikan semua manusia, sampai yang pemalas di pedesaan, terhanyut oleh cara hidup seperti ini. Orang banyak pun lebih-kurang memang telah minta mereka melakukan hal itu. Ketika perang pecahn para penguasa militer setempat bahkan memanfaatkan jasa-jasa mereka dan memberikan imbalan melimpah pada mereka atas jasa membakar perbekalan musuh, menyebarkan desas-desus bohong, mencuri kuda dari kamp-kamp musuh, dan lain-lain hal seperti itu. Yang paling sering terjadi adalah jasa-jasa mereka dibeli orang. Tapi, sekalipun tidak dibeli, perang menawarkan banyak kesempatan. Di samping berkelaiaran di antara mayat-mayat untuk mengumpulkan barang-barang berharga, kadang-kadang mereka berhasil mendapat hadiah dari menyerahkan kepala samurai yang kebetulan tersandung oleh mereka dan kemudian mereka pungut. Satu saja pertempuran besar sudah cukup bagi para pencuri bejat ini hidup senang enam bulan atau setahun.
Pada waktu-waktu bergolak, petani atau pembelah kayu biasa pun sudah tahu mengambil keuntungan dari kesengsaraan orang dan pertumpahan darah. Perkelahian di luar kampung sendiri sudah bisa membuat orang-orang sederhana ini meninggalkan pekerjaan, dan dengan cakapnya mereka menyesuaikan diri dengan situasi, dan menemukan cara untuk memunguti sisa-sisa hidup manusia lain, seperti burung pemakan bangkai. Sebagian karena gangguan inilah para penjarah professional menetapkan perlindungan keras atas wilayah masing-masing. Sudah menjadi peraturan keras bahwa para pemburu liar, yaitu perampok-perampok yang melanggar hak-hak yang telah dimiliki para penjahat kejam ini dapat dikenai pembalasan dendam.
Akemi pun menggigil, dan katanya, “Apa akal kita? Orang-orang bayaran Temma sedang dalam perjalanan kemari sekarang. Aku tahu itu.”
“Jangan khawatir,” kata Takezo meyakinkannya. “Kalau mereka nanti muncul, aku sendiri yang akan menyambut mereka.”
Ketika mereka turun bukit, senja telah turun di atas paya itu, dan segalanya sunyi. Jejak asap api pemandian di rumah itu merayap di area puncak jajaran rumput mendong, seperti ular yang melenggok-lenggok di langit. Oko sedang berdiri santai di pintu belakang, seusai melakukan riasan malam. Ketika melihat anak perempuannya datang bersama Takezo, ia pun berseru, “Akemi, apa kerjamu sampai begini larut?”
Terasa benar tajamnya mata dan suaranya. Gadis itu pun segera tersadar, sesudah begitu lama ia berjalan dengan kepala kosong. Ia memang lebih peka terhadap suasana hati ibunya daripada apa pun di dunia ini. Ibunya telah menanamkan kepekaan ini dan telah berhasil memanfaatkannya, mengendalikan anak gadis itu seperti boneka, hanya dengan pandangan atau gerak-geriknya.

Cepat-cepat Akemi menjauh dari sisi Takezo, dan dengan wajah memerah ia pun mendahului dan masuk rumah.
Hari berikutnya, Akemi menyampaikan pada ibunya tentang Tsujikaze Temma. Oko naik pitam.
“Kenapa tidak cepat-cepat kau ceritakan?” raungnya sambil menyeruduk ke sana kemari seperti perempuan gila, menarik-narik rambutnya, mengeluar-ngeluarkan barang dari laci dan lemari dan mengonggokkan semuanya di tengah kamar.
“Matahachi! Takezo! Bantu aku! Semua ini mesti kita sembunyikan.”
Matahachi menggeser sebuah papan yang ditunjukkan oleh Oko, lalu ia menempatkan diri di atas langit-langit. Tak banyak ruangan antara langit-langit dan kasau itu. Orang hampir tidak dapat merangkak di situ, tapi cukuplah itu untuk memenuhi kebutuhan Oko, dan terutama agaknya kebutuhan almarhum suaminya. Takezo berdiri di atas bangku, di antara ibu dan anak, dan mulai mengulurkan barang-barang itu satu persatu kepada Matahachi. Jika Takezo tidak mendengar cerita Akemi hari sebelumnya, tidak bakal ia tidak merasa kagum melihat keanekaragaman barang-barang yang sekarang dilihatnya.
Takezo tahu ibu dan anak ini sudah lama melakukan pekerjaan itu, namun demikian sungguh mengagumkan. Betapa banyaknya barang yang mereka timbun. Ada belati, umbai lembing, lengan baju zirah, helm tanpa mahkota, kuil mini yang dapat dibawa-bawa, tasbih Budha, tiang bendera…. Bahkan ada sandal berlak berukir indah dan bertatah emas, perak, dan indung mutiara.
Dari lubang di langit-langit, Matahachi mengintip keluar dengan wajah bingung. “Sudah semua?”
“Tidak, ada satu lagi,” kata Oko seraya pergi cepat-cepat. Sesaat kemudian ia sudah kembali membawa sebilah pedang, satu seperempat meter panjangnya, dari kayu ek hitam. Takezo mulai mengeluarkan barang itu pada Matahachi, tetapi bobot, lengkung dan sempurnanya keseimbangan senjata itu demikian mengesankannya, sampai tak dapat ia melepaskannya.
Ia pun menoleh kepada Oko dengan pandangan tersipu. “Apa tak bisa Ibu menghadiahkan ini padaku?” tanyanya dengan mata memancarkan kepasrahan. Ia memandang kakinya sendiri, seakan-akan hendak mengatakan bahwa ia memang belum melakukan sesuatu yahg pantas mendapat ganjaran pedang itu.
IZRO'IL
Musashi I (Tanah)

Musashi I 2


“Apa kau betul-betul menginginkannya?” jawab nyonya itu dengan lembut, dengan nada seorang ibu.
“Ya…ya… tentu!”
Sekalipun wanita itu tidak benar-benar mengatakan Takezo boleh memilikinya, namun ia tersenyum, memperlihatkan dekik pipinya, dan tahulah Takezo bahwa pedang itu sudah menjadi miliknya. Matahachi melompat turun dari langit-langit, meledak oleh rasa iri. Ia pun meraba-raba pedang itu dengan tamaknya, membuat Oko tertawa.
“Coba lihat, orang kecil ini merajuk karena tidak dapat hadiah!” Ia mencoba menenteramkan hati Matahachi dengan memberikan pundit-pundi kulit yang manis dan berbatu akik. Matahachi tidak tampak terlalu senang. Matanya terus tertuju kepada pedang kayu ek hitam itu. Perasaannya terluka, dan pundit-pindi itu hanya sedikit dapat menyembuhkan harga dirinya yang terluka.
Keika suaminya masih hidup, Oko rupanya punya kebiasaan mandi uap secara santai tiap malam, merias diri, dan kemudian minum sedikit sake. Singkatnya, ia menghabiskan waktu untuk merias diri sebanyak yang dihabiskan geisha yang terbesar bayarannya. Ini bukanlah jenis kemewahan yang dapat dikembangkan oleh orang biasa, tetapi ia berkeras melakukannya, bahkan ia telah mengajar Akemi mengikuti kebiasaan yang sama itu, sekalipun gadis itu menganggapnya menjemukan, dan alasannya tidak dapat ia pahami. Oko tidak hanya suka senang; ia pun berketetapan untuk tetap muda selama-lamanya.
Malam itu, selagi mereka duduk di sekitar perapian ceruk, Oko menuangkan sake untuk Matahachi dan mencoba meyakinkan Takezo untuk juga mencobanya. Ketika Takezo menolak, ia letakkan mangkuk itu ke tangan Takezo, ia tangkap pergelangan tangannya, dan ia paksa Takezo mengangkat mangkuk itu ke bibirnya.
“Laki-laku sudah sewajarnya minum,” umpatnya. “Kalau kau tidak dapat melakukannya sendiri, akan kubantu.”
Berulang kali Matahachi menatap Oko denga perasaan tak enak. Sada akan pandangan Matahachi itu, Oko bahkan semakin berani terhadap Takezo. Sambil meletakkan tangannya secara main-main di lutut Takezo, mulailah ia mendendangkan lagu cinta yang sedang popular.
Sampai di sini, Matahachi pun merasa sudah sampai batas kesabarannya. Sambil tiba-tiba menoleh kepada Takezo, ia berucap, “Kita mesti lekas meneruskan perjalanan!”
Ucapan ini mencapai sasarannya. “Tapi… tapi… ke mana kalian akan pergi?” Tanya Oko terbata-bata.
“Kembali ke Miyamoto. Ibuku dan tunanganku tinggal di sana.”
Oko hanya sekejap terkejut; sebentar kemudian ia sudah dapat menguasai dirinya kembali. Matanya menyempit, senyumnya membeku, dan suaranya menjadi getir. “Nah, harap dimaafkan karena aku telah menghambat kalian, telah menerima kalian, dan memberikan tempat pada kalian. Kalau memang ada gadis yang menanti kalian, lebih baik kalian lekas-lekas saja pulang. Jangan kiranya aku menahan kalian!”Sesudah menerima pedang ek hitam itu, Takezo tak pernah lagi terpisah darinya. Memegangnya saja merupakan kenikmatan yang tak terlukiskan baginya. Sering ia meremas gagang pedang itu erat-erat, atau menggesekkan sisinya yang tumpul pada telapak tangannya, hanya untuk merasakan betapa sesuai lengkung dengan panjangnya. Bila tidur ia dekap pedang itu ke tubuhnya. Sentuhan dingin permukaan kayu itu pada pipinya mengingatkannya pada lantai dojo, di mana ia pernah mempraktekkan teknik-teknik main pedang pada musim dingin. Alat yang hampir sempurna, dan sekaligus merupakan benda seni dan maut ini, membangkitkan kembali di dalam dirinya semangat tempur yang telah ia warisi dari ayahnya.
Takezo mencintai ibunya, tetapi ibu itu telah meninggalkan ayahnya dan pergi ketika Takezo masih kecil, meninggalkannya sendirian dengan Munisai, seorang ayah yang gila tata tertib, yang tak tahu bagaimana memanjakan anak dalam suasana yang tidak menguntungkan seperti itu. Apabila ayahnya ada, anak itu selalu merasa kikuk dan ketakutan, tidak pernah merasa santai. Ketika berumur sembilan tahun, begitu besar hasratnya akan kata manis ibunya, hingga ia pernah melarikan diri dari rumah dan nekat pergi ke Propinsi Harima, tempat ibunya tinggal. Takezo tak pernah mengerti mengapa ibu dan ayahnya bercerai, dan pada umur sekian, penjelasan tentang itu pun tidak akan banyak menolong. Ibunya telah kawin dengan samurai lain, dan mendapat seorang anak lagi.
Begitu pelarian kecil itu sampai di Harima, ia tidak membuang-buang waktu lagi untuk menemukan ibunya. Ibunya lalu membawanya ke daerah hutan di belakang kuil setempat, supaya tidak kelihatan orang, dan di sana sambil berurai air mata ia pun memeluk anaknya itu erat-erat dan menyuruhnya kembali kepada ayahnya. Takezo tak pernah melupakan adegan itu; setiap detailnya akan tetap hidup dalam kenangannya, sepanjang umurnya.
Sebagai seorang samurai, tentu saja Munisai mengirimkan orang-orangnya untuk memperoleh kembali anaknya, begitu ia mengetahui anaknya hilang. Sudah jelas ke mana perginya anak itu. Takezo pun dikembalikan ke Miyamoto seperti seikat kayu bakar, diikat di punggung kuda yang tidak bersadel. Sebagai pembuka, Munisai menyebutnya anak bandel yang kurang ajar, dan dengan keberangan yang hampir mencapai histeris, ia sabet anaknya sampai ia tak kuat menyabet lagi. Takezo ingat lebih gamblang daripada apa pun di dunia ini, betapa sengit ultimatum ayahnya waktu itu. “Kalau sekali lagi kau pergi ke ibumu, tak akan kuakui kau sebagai anak.”
Tidak lama sesudah kejadian itu. Takezo mendengar kabar bahwa ibunya jatuh sakit dan meninggal. Kematian itu berakibat berubahnya Takezo dari seorang anak pendiam dan pemurung menjadi anak kampung yang jail. Munisai pun akhirnya menjadi takut. Ketika ia mendatangi anak itu dengan pentung, anak itu menantangnya dengan tongkat kayu. Satu-satunya orang yang bisa menandinginya adalah Matahachi, yang juga anak seorang samurai; semua anak lain tunduk pada perintah Takezo. Waktu ia berumur dua belas atau tiga belas tahun, badannya sudah hampir setinggi orang dewasa.
Pada suatu kali, seorang pemain pedang pengembara bernama Arima Kihei menaikkan panji-panji berhias emas, dan menyatakan siap melawan siapa saja penantang dari kampung itu. Takezo berhasil membunuh orang itu tanpa kesukaran, dan mendapat pujian dari orang-orang kampung atas keberaniannya.
Namun penghargaan itu singkat saja umurnya, karena bersamaan dengan bertambahnya umur, ia pun jadi semakin tak dapat dikendalikan dan brutal. Banyak orang yang menganggapnya sadis, dan apabila ia muncul di suatu tempat, orang pun segera menyingkir. Sikap Takezo terhadap mereka semakin menjelaskan sikap dingin mereka terhadapnya.
Ketika ayahnya yang tetap keras dan kasar akhirnya meninggal, unsur kejam di dalam diri Takezo lebih membesar lagi. Kalau tidak karena kakak perempuannya, Ogin, Takezo barangkali sudah lebih tak bisa dikendalikan lagi dan telah diusir dari kampung oleh penduduk yang marah. Untunglah ia menyayangi kakaknya, dan karena tak tahan melihat air mata kakaknya, biasanya ia pun melakukan apa saja yang diminta kakaknya.
Pergi perang bersama Matahachi merupakan titik balik bagi Takezo. Hal itu menunjukkan bahwa bagaimanapun ia mau merebut kedudukan di tengah masyarakat, sejajar dengan orang-orang lain. Tetapi kekalahan di Sekigahara sekonyong-konyong telah menghilangkan harapan-harapan seperti itu, dan ia pun mendapati dirinya sekali lagi tercebur ke dalam kenyataan gelap yang menurut anggapannya telah ia tinggalkan. Namun ia seorang pemuda yang diberkati sifat riang yang mulia, yang hanya dapat berkembang di zaman perjuangan. Selagi tidur, wakjahnya setenang wajah bayi, sama sekali tak terusik oleh pikiran-pikiran hari esok. Memang ia mengalami juga mimpi-mimpi, baik di waktu tidur maupun terjaga, tapi tidak banyak ia mengalami kekecewaan yang sebenar-benarnya. Karena modalnya hanya sedikit, maka hanya sedikit pula ia kehilangan; sekalipun dalam makna tetentu ia sudah tercerabut, namu ia terbebaskan juga dari belenggu.
Melihat napasnya yang dalam dan tetap, sementara ia memeluk erat pedang kayunya itu, barangkali Takezo sedang bermimpi; senyuman halus tersungging pada bibirnya, sedangkan bayangan kakak perempuannya yang lembut dan kota kelahirannya yang damai berpancaran turun seperti air terjun dari gunung, di hadapan matanya yang terpejam dan berbulu lebat itu, Oko menyelinap ke dalam kamarnya sambil membawa lampu. “Sungguh wajah yang damai,” bisik Oko dengan kagum, lalu ia pun mengulurkan tangan dan menyentuh sedikit bibir Takezo dengan jemarinya.
Kemudian ia mematikan lampu dan berbaring di samping Takezo. Seraya meringkuk seperti kucing, sedikit demi sedikit ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Takezo, sementara wajahnya yang putih dan gaun malam warna-warni yang betul-betul terlampau muda untuknya itu terbenam dalam kegelapan. Yang kedengaran saat itu hanyalah titik-titik embun yang jatuh di ambang jendela.
“Ingin tahu juga, apakah dia masih perjaka,” kagumnya sambil mengulurkan tangan untuk menyingkirkan pedang kayu itu.
Tapi begitu ia menyentuh pedang itu, Takezo langsung berdiri dan berteriak, “Pencuri! Pencuri!”
Oko terlempar ke lampu, hingga bahu dan dadanya luka, dan Takezo memelintir tangannya tanpa ampun lagi. Oko menjerit kesakitan.
Karena kagetnya, Takezo pun melepaskannya. “O. jadi ini tadi Ibu? Aku pikir pencuri.”
“Oooh,” rintih Oko. “Sakit!”
“Maaf, aku tidak tahu.”
“Kau ini tak kenal kekuatan badan sendiri. Hampir lepas tanganku.”
“Aku sudah minta maaf. Mau apa Ibu di sini?”
Oko tak menghiraukan pertanyaan Takezo yang polos itu; ia tidak merasakan lika tangannya; dicobanya melingkarkan anggota badannya itu ke leher Takezo, dan gumamnya, “Kau tak perlu minta maaf. Takezo …” Ia pun menggosokkan punggung tangannya lembut-lembut ke pipi Takezo.
“Hai! Apa pula ini? Apa Ibu gila?” teriak Takezo sambil meloloskan diri dari sentuhan wanita itu.
“Jangan ribut begitu, tolol. Kau tahu perasaanku padamu.” Oko terus mencoba membelai Takezo, tapi Takezo menepak-nepaknya, seperti orang diserang gerombolan lebah.
“Ya, dan aku sangat berterima kasih. Kami berdua tak akan melupakan betapa besar kebaikan Ibu, yang telah menerima kami dan segalanya itu.”
“Maksudku bukan itu, Takezo. Aku bicara tentang perasaan wanitaku – tentang perasaan yang indah dan hangat terhadapmu.”
“Tunggu dulu,” kata Takezo sambil melompat berdiri. “Akan kunyalakan lampu.”
“Oh, bagaimana kau bisa begini kejam,” rengek Oko, dan bergerak lagi akan memeluk Takezo.
“Jangan!” teriak Takezo marah. “Hentikan, sungguh! Hentikan!”
Ada sesuatu dalam suara Takezo yang membuat Oko takut dan menghentikan serangannya, sesuatu yang tegas dan mantap.
Takezo merasa tulang-tulangnya bergoyang dan giginya gemeretuk. Tidak pernah ia menghadapi lawan yang demikian berat. Bahkan ketika telentang di bawah kuda-kuda yang mencongklang lewat di Sekigahara, tak pernah jantungnya demikian berdentam. Ia pun duduk ngeri di sudut kamar
“Kuminta ibu pergi dari sini,” mohonnya. “Kembalilah ke kamar ibu sendiri. Kalau tidak, akan kupanggil Matahachi. Akan kubangunkan seisi rumah!”
Oko tidak beranjak. Ia duduk saja di kegelapan dengan napas berat, dan dengan mata menciut ia pun menatap Takezo. Ia tak mau ditolak. “Takezo,” gumamnya lagi. “Apa kau tidak memahami perasaanku?”
Takezo tidak menjawab.
“Tidak memahami?”
“Ya, tapi apa Ibu memahami perasaanku: diserang selagi tidur, dibikin takut setengah mati, dan dianiaya seekor macan dalam gelap?”
Kini giliran Oko yang diam. Dari kedalaman kerongkongannya keluar bisikan seperti suara geraman, dan ia pun mengucapkan setiap suku katanya ini dendam. “Begitu tega kau mempermalukan aku?”
“Aku mempermalukan ibu?”
“Ya ini sungguh membikin malu.”
Keduanya begitu tegang waktu itu, hingga tak terdengar oleh mereka ketukan pintu, yang agaknya sudah berlangsung beberapa lama. Ketukan itu dipertegas lagi oleh teriakan-teriakan. “Ada apa di dalam? Apa kau tuli? Buka pintu!”
Berkas cahaya tampak di celah daun jendela. Akemi terbangun. Kemudian langkah kaki Matahachi terdengar mendekat, dan suaranya berseru, “Ada apa?”
Kemudian dari gang rumah, Akemi berseru resah, “Ibu! Apa Ibu di situ? Jawab, Bu!”
Oko menyerobot cepat kembali ke kamarnya sendiri yang berdekatan dengan kamar Takezo. Ia menjawab dari situ. Orang-orang lelaki di luar rupanya mendobrak daun jendela dan menyerbu ke dalam. Sampai di kamat perapian, Oko melihat enam atau tujuh pasang bahu lebar menyerbu dapur yang berdekatan dan berlantai kotor. Letaknya agak di bawah, karena memang dibuat lebih rendah dari ruangan-ruangan lain.
Seorang di antaranya berteriak, “Tsujikaze Temma di sini. Kasih lampu!”
Orang-orang itu menyerobot masuk ke dalam ruang tamu. Mereka bahkan tidak melepas sandal, suatu tanda kekasaran yang sudah melekat. Mereka mulai melongok ke sana kemari –– ke lemari, ke laci-laci, ke bawah tatami jerami tebal tang menutup lantai. Temma mendudukkan diri denga megahnya di dekat perapian, sambil mengawasi kaki tangannya menggeldah ruangan-ruangan itu dengan sistematis. Ia betul-betul menikmati pekerjaan itu, tapi dengan segera ia bosan karena tidak melakukan apa-apa.
“Terlalu lama!” geramnya sambil menghantamkan tinju ke tatami. “Kau pasti menyimpannya sebagian di sini. Di mana barang itu?”
“Aku tak merngerti apa yang kau bicarakan,” jawab Oko sambil melipat dengan sabar kedua tangannya di perut.
“Jangan bicara begitu, perempuan!” lenguh Temma. “Mana barang itu? Aku tahu barang itu ada di sini!”
“Aku tak punya apa-apa!”
“Tak punya?”
“Tak punya.”
“Kalau begitu, barangkali memang kau tidak memilikinya. Barangkali salah infrmasi yang kuterima….” Ia pun memandang Oko dengan tajam, sambil menarik-narik dan menggaruk-garuk jenggotnya. “Cukup, anak-anak!” gunturnya.
Sementara itu, Oko sudah duduk di kamar sebelah. Pintu dorongnya terbuka lebar, seakan-akan hendak mengatakan bahwa Temma dapat memeriksa terus tempat yang dicurigainya.
“Oko,” panggil Temma kasar.
“Apa maumu?” terdengar jawaban dingin
“Bagaimana kalau minum sedikit?”
“Mau sedikit air?”
“Jangan paksa aku…,” ancam Temma memperingatkan.
“Sake ada di sana. Minumlah kalau mau.”
“Ai, Oko,” kata Temma melunak. Ia hampir-hampir mengagumi Oko karena sikap keras kepalanya yang dingin. “Jangan begitu. Aku sudah lama tak berkunjung. Apa begini caranya menyambut teman lama?”
“Berkunjung!”
“Sudahlah kau ikut bersalah juga. Sudah banyak yang kudengar tentang apa yang dilakukan ‘janda tukang moxa dari berbagai orang, sampai rasanya tak mungkin semua itu bohong. Kudengar kau menyuruh anakmu yang cantik itu memereteli mayat-mayat. Nah, kenapa dia mesti melakukan hal seperti itu?”
“Tunjukkan padaku buktinya!” jerit Oko. “Mana buktinya!”
“Kalau ada rencanaku menggalinya, mana mungkin aku mengingatkan Akemi sebelumnya? Kau tahu sendiri aturan permainannya. Ini wilayahku, dan aku harus memeriksa rumahmu. Kalau tidak, semua orang akan menyangka mereka bisa lepas begitu saja sesudah melakukan hal seperti itu. Kalau begitu, di mana nanti tempatku? Aku harus melindungi diriku, tahu!”
Oko menatap Temma dalam kediaman baja, kepalanya setengah tertoleh kepadanya, sedangkan dagu dan hidungnya terangkat bangga.
“Baiklah, akan kulepaskan kau kali ini. Tapi ingat, aku bersikap baik sekali kepadamu sekarang.”
“Baik kepadaku? Siapa? Kau? Menggelikan!”
“Oko,” bujuk Temma, “ke sinilah, dan tuangkan minuman untukku.”
Tapi ketika Oko tidak juga memperlihatkan tanda-tanda akan bergerak, ia pun meledak, “Anjing gila kau! Apa kau tidak tahu, kalau kau bersikap baik padaku, tidak bakal kau hidup seperti ini?”
Temma mereda sedikit, kemudian nasihatnya, “Pikirlah dulu.”
“Aku memang tenggelam dalam kebaikan hati Tuan,” terdengar jawaban yang berbisa.
“Kau tak suka padaku?”
“Coba jawab pertanyaan ini: Siapa yang membunuh suamimu? Aku yakin kau ingin aku percaya bahwa kau tidak tahu, kan?”
“Kalau kau mau membalas dendam pada pelakunya , aku akan membantumu dengan senang hati. Aku bisa membantu dengan jalan apa pun.”
“Jangan berlagak bodoh!”
“Apa maksudmu?”
“Kau sudah banyak mendengar dari orang banyak. Apa mereka tidak mengatakan padamu bahwa kau sendirilah yang membunuhnya? Apa kau belum mendengar bahwa Tsujikaze Temma itulah pembunuhnya? Semua orang tahu. Boleh saja aku janda seorang bandit, tapi aku belum jatuh begitu rendah sampai mau main ke sana kemari dengan pembunuh suamiku.”
“Kau rupanya memang harus mengatakannya: tak bisa kau membiarkan saja hal itu, ya!” Sambil tertawa, Temma mengosongkan sakenya dalam sekali teguk, dan menuang lagi. “Kau tahu, mestinya kau tidak mengatakan hal-hal seperti itu. Itu tak baik untuk kesehatanmu atau kesehatan anakmu yang manis!”
“Aku akan mendidik Akemi dengan semestinya, dan sesudah dia kawin, aku akan kembali menghadapimu. Ingat kata-kataku ini!”
Temma tertawa lagi hingga bahu dan seluruh tubuhnya berguncang. Setelah mereguk seluruh sake yang dapat ditemukannya, ia pun memberi isyarat kepada salah seorang kaki-tangannya yang ditempatkan di sudut dapur, tombaknya tegak sejajar dengan bahunya. “He, kau,” katanya dengan suara menggelegar, “geser papan langit-langit itu dengan pangkal tombakmu!”
Orang itu tunduk pada perintah Temma. Ia mengitari kamar sambil menyodok-nyodok langit-langit, dan kekayaan Oko pun berjatuhan ke lantai, seperti hujan es.
“Seperti sudah kuduga,” kata Temma sambil berdiri dengan kikuknya. “Coba lihat, anak-anak. Bukti! Dia telah melanggar peraturan, tak sangsi lagi. Bawa dia keluar dan kasih hukumannya!”
Orang-orang itu pun berduyun-duyun ke kamar perapian, tapi sekonyong-konyong mereka terhenti. Oko berdiri mematung di pintu, seakan menantang mereka untuk menjamahnya. Temma, yang telah turun ke dapur, memanggil tak sabar, “Apa yang kalian tunggu? Bawa dia kemari!”
Tak ada yang bergerak. Oko terus menatap orang-orang itu dari atas, dan orang-orang itu tetap saja seperti lumpuh. Temma pun memutuskan untuk mengambil alih. Sambil mendecapkan lidahnya ia mendekati Oko, tetapi ia pun tiba-tiba terhenti di depan pintu. Di belakang Oko, tidak kelihatan dari dapur, berdiri dua pemuda berwajah ganas. Takezo menggenggam rendah pedang kaunya, siap mematahkan tulang kering pendatang pertama atau siapa pun yang cukup bodoh untuk mengikutinya. Di pihak lain, Matahachi menggenggam pedang tinggi-tinggi, siap menebaskannya ke leher pertama yang berusaha menerobos pintu masuk. Akemi tidak kelihatan.
“O, jadi begitu ya,” rintih Temma, yang tiba-tiba ingat adegan di sisi gunung. “Aku pernah lihat orang itu berjalan bersama Akemi beberapa hari yang lalu – yang memegang tongkat itu. Siapa yang satunya?”
Matahachi ataupun Takezo tidak menjawab. Ini berarti mereka bermaksud menjawab dengan senjata. Ketegangan memuncak.
“Mestinya tidak ada lelaki di rumah ini,” raung Temma. “Hai, kalian berdua… Kalian pasti dari Sekigahara! Hati-hatilah kalian – kuperingatkan kalian.”
Kedua pemuda itu sama sekali tidak bergerak.
“Tak ada di daerah ini yang tidak kenal nama Tsujikaze Temma! Akan kutunjukkan pada kalian, apa yang kami lakukan terhadap gelandangan!”
Sunyi. Temma memberi isyarat pada kaki-tangannya untuk menyingkir. Seorang di antaranya terjatuh ke perapian. Ia menjerit, dan ranting-ranting menyala yang kejatuhan tubuhnya menjadi bunga api ke langit-langit. Dalam beberapa detik saja, ruangan sudah penuh oleh asap.
“Aarrrghh!”
Temma menerjang ke ruangan itu, Matahachi pun menebaskan pedang dengan kedua tangannya, tapi orang tua itu terlalu cepat baginya, hingga tebasan itu mental mengenai sarung pedang Temma. Oko telah melarikan diri ke sudut terdekat, sementara Takezo menanti dengan edang kayu eknya yang terpasang horizontal. Ia mengincar kaki Temma, lalu mengayunkan pedangnya dengan segenap kekuatan. Pedang itu mendecit di kegelapan, tapi tidak terdengar suara benturan. Manusia lembu itu telah melenting ke udara pada waktunya, dan ketika turun ia menerjang Takezo derngan kekuatan batu besar.
Takezo merasa seakan berkelahi dengan seekor beruang. Inilah orang terkuat yang pernah dihadapinya, temma mencengkeram lehernya dan mendaratkan dua-tiga pukulan yang membuat tengkorak Takezo seperti pecah. Kemudian Takezo mendapat kesempatan lagi, sehingga Temma terlempar ke udara. Ia mendarat ke dinding, mengguncangkan rumah dan segala isinya. Ketika Takezo mengangakt pedang kayunya untuk dihantamkan ke kepala Takezo, bandit itu berkelit, langsung berdiri dan melarikan diri, dikejar oleh Takezo.
Takezo sudah memutuskan untuk tidak membiarkan Temma lolos. Itu berbahaya. Hatinya sudah bulat. Kalau berhasil menangkap orang itu, ia takkan setengah-tengah membunuhnya. Ia akan memastikan benar bahwa tak ada sepenggal nafas pun tertinggal.
Itulah sifat Takezo. Ia makhluk ekstrem. Waktu kecil pun sudah ada sifat primitif dalam darahnya, sifat yang mengingatkan orang pada prajuritu-prajurit ganas jepang kuno, sifat yang sekaligus liar dan murni. Sifat itu tak kenal cahaya peradaban ataupun tempaan pengetahuan. Tidak kenal pula sikap lunak. Itu ciri alamiah, suatu ciri yang membuat ayahnya tak bisa menyukai anak itu. Munisai telah mencoba dengan cara apa pun yang khas bagi golongan militer untuk mengatasi kebuasan anaknya dengan menghukumnya keras-keras dan sering-sering, tetapi akibatnya hanya membuat anak itu lebih liar, seperti celeng liar yang kebuasan sejatinya muncul pada waktu ketiadaan makanan. Semakin orang kampung menghinakan pemuda kasar itu, semakin ia bersikap seolah ia berkuasa atas mereka.
Ketika anak alam itu sudah besar, ia pun mulai bosan dengan berlagak sebagai pemilik dusun itu. Terlampau mudah baginya mengancam orang-orang dusun yang sifatnya takut-takut. Ia mulai memimpikan hal-hal yang lebih besar. Sekigahara telah memberikan kepadanya pelajaran pertama tentang apa sebenarnya dunia ini. Impian-impian di masa muda porak-poranda – meski ia tak punya banyak impian. Baginya tidak ada yang namanya merenungkan kegagalan dalam usaha ‘sejati’ yang pertama ataupun mempertanyakan suramnya masa depan. Ia belum tahu arti disiplin pribadi, dan ia menerima seluruh bencana berdarah itu dengan tenang saja.
Dan kini, kebetulan saja ia tertumbuk pada kakap yang sungguh besar – Tsujikaze Temma, pemimpin para bandit! Inilah lawan yang ia hasratkan bertanding di Sekigahara.
“Pengecut!” bentaknya. “Jangan lari! Dan ayo lawan aku!”
Takezo berlari seperti kilat, melintasi lapangan yang gelap kelam, sambil meneriakkan kata-kata ejekan. Sepuluh langkah di depannya Temma melarikan diri seperti terbang. Rambut Takezo menyapu telinganya. Ia merasa bahagia – lebih bahagia daripada kapan pun dalam hidupnya. Makin jauh ia berlari, makin dekat ia pada kegairahan binatang semata-mata.
Maka ia pun melompat ke punggung Temma. Darah menyembur di ujung pedang kayu itu, dan jeritan yang membekukan darah mengoyak malam yang tenang. Tubuh bandit yang besdar dan berat itu jatuh ke bumi dengan suara yang berdebam dan terguling. Tengkoraknya hancur, matanya lepas dari ceruknya. Dua-tiga pukulan berat dijatuhkan lagi ke tubuh itu, dan tulang-tulang rusuk yang patah pun mencuat dari kulitnya.
Takezo mengangkat tangan, menghapus banjir keringat yang turun dari keningnya.
“Puas, Kapten?” tanyanya penuh kemenangan.
Dengan sikap acuh tak acuh, kembalilah ia ke rumah. Orang yang tidak tahu kejadian barusan akan menyangka ia hanya keluar malam untuk jalan-jalan, sama sekali tanpa urusan di dunia ini. Ia merasa bebas, tidak menyesal karena tahu kalau orang itu yang menang, ia sendiri akan terbaring di sana, tanpa nyawa dan sendirian.
Dari kegelapan terdengar suara Matahachi, “Takezo, kaukah itu?”
“Ya,” jawab Takezo kering. “Ada apa?”
Matahachi berlari mendekat dan katanya sambil terengah-engah, “Aku bunuh satu! Bagaimana denganmu?”
“Aku bunuh satu juga.”
Matahachi mengangkat pedangnya yang berlumuran darah sampai kepangan gagangnya. Sambil melebarkan bahunya, dengan penuh kebanggaan ia berkata, “Yang lain-lain lari. Bajingan-bajingan pencuri ini pengecut! Tak punya nyali! Cuma bias melawan mayat, ha! Ini baru perkelahian, ha-ha-ha!”
Kedua pemuda itu penuh percikan darah kental, dan mereka puas seperti sepasang anak kucing yang makan kenyang. Sambil berkeciap senang, mereka pun menuju lampu yang tampak dari jauh. Takezo dengan pedang berdarah, Matahachi dengan pedang yang juga berdarah.
Seekor kuda gelandangan melongokkan kepalanya ke jendela dan melihat-lihat sekitar rumah. Dengusnya membangunkan kedua orang yang sedang tidur. Sambil memaki binatang itu, Takezo menampar telak hidungnya. Matahachi meregangkan badan, menguap, berucap betapa enak tidurnya.
“Matahachi sudah cukup tinggi,” kata Takezo.
“Apa kau kira sudah sore?”
“Tidak mungkin!”
Sesudah tidur nyenyak, peristiwa-peristiwa malam sebelumnya sudah terlupakan sama sekali. Untuk kedua orang ini, yang ada hanya hari ini dan besok.
Takezo berlari ke belakang rumah dan melepas baju sampai pinggang. Sambil merundukkan badan di sisi sungai gunung yang bersih dan sejuk itu ia memercikkan air ke wajahnya, membasahi rambutnya, dan membasuh dada dan punggungnya. Seraya menengadah ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali, seakan-akan mencoba mereguk sinar matahari dan seluruh udara yang ada di langit. Masih mengantuk, Matahachi masuk ke kamar perapian. Ia mengucapkan selamat pagi kepada Oko dan Akemi dengan riang.
“He, kenapa pula kalian, wanita-wanita yang manis ini, cemberut begitu?”
“Apa betul begitu kelihatannya?”
“Ya, betul sekali. Kelihatannya seperti kalian sedang berkabung. Apa yang mesti dirisaukan? Kami telah membunuh pembunuh suami ibu dan menghantam kaki-tangannya; mereka tidak akan lekas lupa.”
Kekecewaan Matahachi tidak sukar diterka. Semula ia pikir janda dan anak gadisnya itu akan senang sekali mendengar berita kematian Temma. Memang malam sebelumnya Akemi bertepuk tangan gembira ketika pertama kali mendengar tentangnya. Tetapi Oko dari semula sudah tampak tidak enak, dan hari ini, ketika membungkuk kesal di dekat api, ia tampak lebih muram lagi.
“Ada apa dengan Ibu?” tanya Matahachi. la berpendapat Oko adalah wanita yang paling sukar disenangkan hatinya di dunia ini. “Inilah balasannya!” katanya pada diri sendiri sambil mengambil teh pahit yang dituangkan Akemi untuknya dan berjongkok.
Oko tersenyum lesu, iri kepada anak muda yang belum banyak mengecap asam garam kehidupan di dunia ini. “Matahachi,” katanya letih, “kau rupanya belum mengerti. Temma punya beratus-ratus pengikut.”
“Tentu saja. Orang brengsek seperti dia selalu punya banyak pengikut. Kami tidak takut akan macam orang-orang yang ikut dengan orang seperti itu. Kalau kami dapat membunuh dial kenapa kami mesti takut kepada anak buahnya? Kalau mereka mencoba menyerang kami, Takezo dan aku akan…”
“… tak berbuat apa-apa!” sela Oko.
Matahachi membusungkan dadanya clan katanya, “Siapa bilang begitu? Datangkan mereka sebanyak-banyaknya! Mereka tak lebih dari serombongan cacing. Atau Ibu pikir Takezo dan aku ini pengecut? Mau merangkak mengundurkan diri? Ibu kira siapa kami ini?”
“Kalian bukan pengecut, tapi kalian kekanak-kanakan! Bahkan terhadap aku! Temma punya adik lelaki bernama Tsujikaze Kohei, dan kalau dia datang mencari kalian, kalian berdua jadi satu pun tak akan punya kesempatan menang!”
Ini bukan macam pembicaraan yang suka didengar oleh Matahachi, tapi sementara Oko meneruskan pembicaraannya ia mulai berpikir barangkali Oko ada benarnya. Tsujikaze Kohei agaknya memiliki gerombolan besar pengikut di sekitar Yasugawa di Kiso. Dan bukan hanya itu, ia ahli berkelahi dan luar biasa mahir dalam menangkap orang yang lepas dari tangkapannya. Sebegitu jauh belum ada orang yang dapat hidup normal sesudah Kohei secara terbuka menyatakan akan membunuhnya. Jalan pikiran Matahachi hanyalah, kalau orang menyerang kita di tempat terbuka, itu mudah. Tapi lain sekali halnya kalau orang itu menyerang selagi kita tidur nyenyak. ,
“Itulah kelemahanku,” demikian diakuinya. “Aku tidur seperti orang mati”
Sementara duduk bertopang dagu dan berpikir, Oko pun sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada lagi yang dapat dilakukannya kecuali meninggalkan rumah itu beserta cara hidupnya dan pergi jauh dari situ. Ia pun bertanya pada Matahachi, apa yang hendak dilakukannya beserta Takezo.
“Aku akan membicarakannya dengan dia” jawab Matahachi. “Ke mana pula dia pergi tadi?”
Ia pun berjalan ke luar clan mencari ke sekitar situ, tapi Takezo tidak tampak di mana pun. Sejenak kemudian ia memayungi matanya dengan tangan, memandang ke kejauhan, dan melihat Takezo sedang menaiki kuda.

۩
Pesta Bunga



PADA abad tujuh belas, jalan raya Mimasaka merupakan jalan utama. Jalan itu membentang dari Tatsuno di Provinsi Harima, berkelok-kelok melewati dataran yang dalam peribahasa dilukiskan sebagai “berbukit-bukit”. Seperti halnya pancang-pancang yang menandai perbatasan Mimasaka-Harima, jalan itu menelusuri rangkaian pegunungan yang seakan tanpa akhir. Para musafir yang muncul dari Celah Nakayama biasa memandang ke lembah Sungai Aida, dan di situ sering kali mereka terkejut melihat sebuah kampung yang cukup besar.
Sebetulnya Miyamoto lebih tepat dinamakan perserakan dusun daripada sebuah kampung yang sesungguhnya. Sekelompok rumah berderet di sepanjang sisi-sisi sungai, yang lain berkerumun jauh di atas perbukitan, dan yang lain lagi mengambil tempat di tengah dataran terbuka berbatu-batu, sehingga sukar dibajak. Jika dilihat secara keseluruhan, jumlah rumahrumah itu cukup memadai untuk suatu pemukiman pedesaan pada waktu itu.
Sampai kira-kira setahun sebelum itu, Yang Dipertuan Shimmen dari Iga memiliki sebuah puri, tak sampai satu mil jauhnya dari sungai-sebuah puri kecil sebagaimana puri-puri lain, tapi puri yang memikat para tukang clan pedagang untuk selalu datang. Lebih jauh ke utara terdapat tambang perak Shikozaka yang kini sudah lewat zaman keemasannya, tapi dahulu pernah memiliki daya tarik bagi para penambang dan mana-mana.
Para musafir yang bepergian dari Tottori ke Himeji atau dari Tajima ke Bizen lewat pegunungan itu biasanya menggunakan jalan raya tersebut, dan biasanya mereka juga singgah di Miyamoto. Miyamoto memiliki rona eksotik sebuah kampung yang sering dikunjungi oleh penduduk yang datang dari beberapa provinsi dan dapat membanggakan tidak hanya losmennya, melainkan juga toko pakaiannya. Rombongan perempuan malam juga berlabuh di sana.
Leher mereka dipupur putih seperti mode waktu itu. Mereka biasa mondar-mandir di depan rumah usahanya, seperti kelelawar putih di bawah tepi atap. Itulah kota yang ditinggalkan oleh Takezo clan Matahachi untuk pergi berperang.
Sambil memandang puncak-puncak atap Miyamoto, Otsu duduk melamun. Ia gadis lembut, berkulit terang clan berambut hitam mengilat, sosok tubuh dan anggota badannya indah dan kelihatan rapuh. Sosoknya itu menyiratkan kesan kudus, hampir-hampir seperti peri. Tidak seperti gadis-gadis petani yang tegap dan merah sehat, yang bekerja di sawah di bawah sana, gerak-gerik Otsu halus. Jalannya anggun, lehernya jenjang dan kepalanya tegak. Kini, selagi duduk di ujung emperan kuil Shippoji, ia tampak bagai patung porselen.
Sebagai bayi temuan di kuil gunung ini, ia punya sifat menyendiri yang jarang ditemukan pada gadis umur enam belas tahun. Keengganannya bergaul dengan gadis-gadis lain seumurnya clan dari dunia kerja, membuat matanya memancarkan pandangan kontemplatif dan sungguh-sungguh tajam, yang cenderung menolak lelaki yang terbiasa dengan perempuan sembarangan. Matahachi, tunangannya, hanya satu tahun lebih tua darinya, dan sejak ia meninggalkan Miyamoto bersama Takezo pada musim panas sebelumnya, Otsu tidak mendengar kabar apa-apa tentangnya. Bahkan sampai bulan pertama dan kedua tahun baru ini la merindukan berita tentang Matahachi, namun kini bulan keempat sudah dekat, dan ia tidak lagi berani berharap.
Dengan malas pandangannya mengawang ke awan-awan, dan pelan-pelan muncullah pikiran di kepalanya. Sebentar lagi sudah satu tahun penuh.
“Saudara perempuan Takezo pun tidak mendengar berita tentang Takezo. Bodoh aku, kalau aku menyangka di antara mereka ada yang masih hidup.” Sekali-kali ia mengucapkan kata-kata itu pada seseorang, dengan harapan atau dengan suara dan mata mengimbau, agar orang lain itu membantahnya dan memintanya untuk tidak berputus asa. Tapi tak seorang pun memperhatikan keluhannya. Bagi orang kampung yang bersahaja, yang sudah terbiasa dengan pasukan Tokugawa yang menduduki kuil Shimmen sederhana itu, tidak ada alasan lagi untuk menyimpulkan bahwa mereka masih hidup. Tak seorang pun anggota keluarga Yang Dipertuan Shimmen pulang dari Sekigahara, dan itu wajar sekali. Mereka keluarga samurai; mereka telah kalah. Tak akan mereka berkehendak memperlihatkan wajahnya kepada orang-orang yang mengenalnya. Tapi bagaimana dengan prajurit biasa? Apakah tidak wajar kalau mereka pulang? Bukankah mereka sudah akan pulang lama berselang, kalau mereka memang masih hidup?
“Kenapa,” demikian tanya Otsu, entah untuk keberapa kalinya, “kenapa orang-orang pergi berperang?” Kini ia sudah bisa menikmati kesenduan duduk sendiri di emperan kuil clan merenungkan hal yang muskil itu. Ia dapat menyendiri berjam-jam lamanya di tempat itu, tenggelam dalam angan-angan murung. Tiba-tiba ada suara lelaki menyerbu pulau kedamaiannya. “Otsu!”
Gelandangan yang telah membangunkan mereka dengan ringkiknya itu, berputar-putar di kaki gunung, bertelanjang punggung.
“Seperti tak ada masalah di dunia ini baginya,” kata Matahachi pada diri sendiri dengan rasa iri. Dengan tangan mencorong di depan mulut ia berseru, “Hei, Takezo! Pulang! Kita mesti bicara!”
Sesaat kemudian mereka sama-sama berbaring di rumput sambil mengunyah-ngunyah rumput, membicarakan apa yang akan mereka lakukan kemudian.
Matahachi berkata, “Jadi, menurut pendapatmu kita mesti pulang?”
“Ya, memang begitu. Kita tak dapat tinggal dengan kedua wanita ini selamanya.”
“Ya, memang tidak.”
“Aku tak suka perempuan.” Setidak-tidaknya itulah keyakinan Takezo. “Baik. Kalau begitu, ayo kita pergi.”

Matahachi berguling dan memandang ke langit. “Sekarang, sesudah bulat pikiran kita, ingin rasanya aku cepat-cepat pulang. Tiba-tiba aku menyadari sangat kehilangan Otsu. Sungguh aku ingin melihatnya segera. Lihat di atas itu! Ada awan yang bentuknya seperti raut muka Otsu. Lihat! Bagian itu seperti rambutnya sesudah dikeramas.” Matahachi menjejak-jejak tanah sambil menunjuk langit.
Mata Takezo mengikuti bayangan kuda menjauh, yang baru saja dilepaskannya. Seperti kebanyakan pengembara yang diam di padang-padang, kuda gelandangan dianggapnya makhluk yang baik wataknya. Apabila kita tidak membutuhkannya lagi, ia pun tidak meminta apa-apa dari kita; begitu saja ia pergi sendiri ke tempat lain.
Dari rumah, Akemi memanggil mereka makan malam. Mereka pun berdiri.
“Ayo balapan!” teriak Takezo.
“Ayo!” Matahachi menimpali.
Akemi bertepuk tangan gembira ketika kedua pemuda itu sama-sama berlari melintasi rumput yang tinggi, meninggalkan awan debu di belakang mereka.
Sesudah makan malam, Akemi termenung. la baru saja mendengar bahwa kedua orang itu telah memutuskan untuk kembali ke rumah mereka. Sungguh menyenangkan bahwa mereka tinggal di rumah itu, dan ia ingin hal itu berlangsung selamanya.
“Tolol kau!” umpat ibunya. “Kenapa pula kau sedih?” Oko sedang mengatur riasannya, sama rumitnya seperti biasa. Sementara memaki anak gadisnya, ia pun menatap Takezo di dalam cermin. Takezo menangkap pandangannya, dan tiba-tiba teringatlah ia akan bau harum tajam wanita itu ketika menyerbu ke dalam kamarnya.
Matahachi menurunkan guci sake besar dari sebuah rak, lalu mengempaskan diri di samping Takezo dan mulai mengisi sebuah botol pemanas
kecil, seolah-olah ia adalah tuan rumah. Karena malam itu malam terakhir, mereka merencanakan untuk minum sepuas-puasnya. Oko pun agaknya mencurahkan perhatian khusus kepada wajahnya.
“Jangan sampai ada setetes pun yang tak terminum!” katanya. “Tak ada gunanya menyisakan sesuatu untuk tikus-tikus di sini.”
“Atau cacing-cacing!” sambut Matahachi.
Dalam waktu singkat mereka telah mengosongkan tiga guci besar. Oko menyandarkan badan pada Matahachi dan mulai membelainya sedemikian rupa, hingga Takezo memalingkan kepala karena malu.
“Aku… aku… tak bisa berjalan,” gumam Oko mabuk.
Matahachi mengawalnya ke kasurnya, sementara kepala Oko tersandar berat ke bahunya. Sampai di sana, Oko menoleh pada Takezo dan katanya dengki, “Kau, Takezo, tidurlah sendirian. Kau suka tidur sendiri. Betul, kan?”
Tanpa gumaman apa pun Takezo merebahkan diri asal saja. Ia sudah sangat mabuk, dan hari sudah larut malam.
Ketika ia terbangun, hari telah tinggi. Begitu membuka mata, ia pun merasakannya. Terasa olehnya rumah itu kosong. Barang-barang yang hari sebelumnya ditumpukkan Oko dan Akemi untuk perjalanan telah hilang. Tidak ada pakaian, tak ada sandal-dan Matahachi pun tak kelihatan.
la memanggil, tapi tak ada jawaban, clan ia pun tidak mengharapkannya lagi. Rumah yang kosong memancarkan suasananya sendiri. Tak ada orang di halaman, tak ada orang di belakang rumah, tak seorang pun di lumbung. Satu-satunya jejak teman-temannya hanyalah sisir merah terang yang tergeletak di samping mulut pipa air yang terbuka.
“Matahachi babi!” katanya pada diri sendiri.
Mencium bau sisir, kembali ia teringat bagaimana Oko mencoba menggodanya malam hari belum lama ini. “Inilah yang mengalahkan Matahachi,” pikirnya. Memikirkan hal itu saja darahnya menggelegak.
“Hai, tolol!” teriaknya keras. “Bagaimana dengan Otsu? Apa yang akan kauperbuat dengan dia? Apa tidak sudah terlalu sering dia kautinggalkan, babi?”
Diinjaknya sisir merah itu. la ingin berteriak berang, bukan untuk diri sendiri, melainkan karena rasa kasihan pada Otsu, yang dapat dibayangkannya dengan jelas sedang menanti di kampung sana.
Selagi ia duduk sedih di dapur, kuda gelandangan itu melongok tenang di pintu. Karena Takezo tidak menepuk hidungnya, ia pun pergi ke meja cuci dan dengan malasnya menjilati butir-butir padi yang menempel di sana.
Otsu menoleh. Ia melihat seorang laki-laki bertampang muda datang mendekati dari sumur. Orang itu hanya mengenakan cawat yang hampir tidak dapat memenuhi fungsinya, dan kulitnya yang tertempa cuaca berkilau seperti emas redup patung Budha. Ia biarawan Zen yang tiga-empat tahun lalu datang ke tempat itu dari Provinsi Tajima. Sejak itu ia tinggal di kuil itu.
“Akhirnya datang musim semi,” kata biarawan itu, puas pada diri sendiri. “Musim semi suatu berkah, tapi berkah campuran. Begitu keadaan sedikit panas, kutu-kutu busuk itu pun melanda negeri. Mereka mencoba mengambil alih negeri, persis seperti Fujiwara no Michinaga, si bangs*t lihai, anak buah seorang regent.” Sebentar kemudian ia pun meneruskan monolog itu.
“Aku baru saja mencuci pakaianku, tapi di mana akan kukeringkan jubah tua yang sudah compang-camping ini? Aku tak dapat menggantungkannya di pohon prem. Dosa besar sekali clan menghina alam, kalau aku menutup bunga-bunga itu. Cobalah pikir, aku orang yang punya selera, tapi aku tak dapat menemukan tempat menggantungkan jubah ini! Otsu! Pinjami aku kayu jemuran.”
IZRO'IL
Musashi I (Tanah)

Musashi I 3


Wajah Otsu memerah melihat biarawan bercawat cekak itu. Ia pun berseru, “Takuan! Bapak tak bisa ke mana-mana setengah telanjang begitu, sebelum pakaian Bapak kering!”
“Kalau begitu, aku akan tidur. Bagaimana kalau begitu?”
“Oh, Bapak ini keterlaluan!”
Sambil mengangkat satu tangannya ke langit dan satu lagi menunjuk tanah, Takuan menirukan gaya patung kecil Budha yang setiap tahun sekali biasa diurapi para pemujanya dengan teh khusus.
“Sebenarnya aku menanti saja sampai besok! Karena hari ini tanggal delapan, hari ulang tahun sang Budha, aku bisa berdiri saja seperti ini dan membiarkan orang-orang menunduk hormat padaku. Kalau mereka menuangkan teh manis ke badanku, akan kukejutkan mereka dengan menjilat bibirku.” Dan dengan wajah saleh ia pun melagukan sabda pertama sang Budha, “Di langit sana dan di bumi ini hanya aku yang suci.” •
Otsu pun tertawa geli melihat lagak Takuan yang kurang pantas itu. “Bapak betul-betul mirip, lho!”
“Tentu saja mirip. Aku ini titisan Pangeran Sidharta.”
“Kalau begitu, berdiri saja baik-baik di situ. Jangan bergerak! Aku akan ambil teh untuk pengurapannya.”
Pada saat itu seekor tawon menyambar kepala Takuan, dan gaya reinkarnasinya pun seketika berganti dengan gerak tangan yang kacau. Melihat celah dalam cawatnya yang longgar itu, sang tawon menukik lagi, dan Otsu pun tertawa terbahak-bahak. Sejak datangnya Takuan Soho, nama yang diberikan kepadanya sesudah menjadi pendeta, bahkan bagi Otsu yang pendiam itu pun tak ada hari tanpa hiburan berupa apa yang dilakukannya atau dikatakannya.
Namun sekonyong-konyong Otsu berhenti tertawa. “0, saya tak bisa lagi membuang-buang waktu sepezti ini. Ada ha1-hal penting yang harus saya kerjakan:’
Sementaca ia memasukkakan kakinya yang putih kecil itu ke dalam sandal, Takuan bertanya polos, “Kerjaan apa?”
“Kerjaan apa? Apa Bapak sudah lupa juga? Pertunjukan pantomim Bapak tadi yang mengingatkan saya. Saya harus menyiapkan segala sesuatunya untuk besok. Pendeta tua menyuruh saya mengambil bunga untuk menghias kuil bunga. Kemudian saya harus menyiapkan segalanya untuk upacara pengurapan. Dan malam ini saya harus membuat teh manis.”
“Di mana kau mengambil bunga?”
“Dekat sungai, di lapangan bawah.”
“Aku akan mengawanimu.”
“Tanpa pakaian?”
“Kau tak akan bisa memetik bunga secukupnya, kalau sendirian. Kau perlu bantuan. Lagi pula, manusia dilahirkan tanpa pakaian. Ketelanjangan itu sifat alamiahnya.”
“Mungkin saja, tapi saya tidak menganggap itu alamiah. Sudahlah, lebih balk saya pergi sendiri.”
Dengan harapan dapat menghindar, Otsu pun bergegas memutar ke belakang kuil. Sebuah keranjang ia sandangkan ke punggung. la ambil sebuah sabit, lalu la pun menyelinap ke luar pintu samping, tapi beberapa saat kemudian ia sudah melihat kembali Takuan menempel di belakangnya. Sekarang ia mengenakan kain pembalut besar, semacam yang biasa digunakan orang untuk membawa tilam.
“Apa ini lebih cocok untukmu?” serunya sambil menyeringai.
“Tentu saja tidak. Bapak kelihatan lucu. Orang bisa mengira Bapak gila.” “Kenapa?”
“Entahlah. Cuma, jangan jalan di samping saya!”
“Tapi sebelum ini tak pernah rasanya kau keberatan berjalan di samping seorang pria.”
“Takuan, Bapak ini betul-betul mengerikan!” la pun berlari jauh ke depan, diikuti langkah-langkah panjang Takuan, seperti sang Budha turun dari pegunungan Himalaya. Kain pembalutnya mengepak-ngepak liar ditiup angin.
“Jangan marah, Otsu! Kau tahu, aku hanya menggoda. Dan lagi temanteman lelakimu tak suka kalau kau terlalu banyak cemberut.”
Delapan atau sembilan ratus meter di bawah kuil itu, bunga-bunga musim semi bermekaran di kedua tepi Sungai Aida. Otsu meletakkan keranjangnya di tanah, dan di tengah lautan kupu-kupu yang sedang berterbangan mulailah ia mengayunkan sabitnya dengan gerakan setengah lingkaran, memotong bunga-bunga itu di dekat akarnya.
Sejenak kemudian Takuan pun terpekur. “Sungguh damai di sini,” desahnya, yang kedengaran religius dan kekanak-kanakan sekaligus. “Nah, kalau kita dapat menghabiskan hidup kita di surga penuh bunga, kenapa kita semua ini lebih suka menangis, menderita, dan tersesat dalam pusaran derita dan kemarahan, dan menyiksa diri dalam nyala api neraka? Kuharap setidak-tidaknya kau tak usah mengalami segalanya itu.”
Otsu secara berirama mengisi keranjangnya dengan bunga-bunga rumput yang kuning cemerlang, seruni, aster, apiun, dan violet musim semi. Ia menjawab, “Takuan, daripada berkhotbah, lebih baik Bapak waspada terhadap tawon-tawon itu.”
Takuan menganggukkan kepala sambil mendesah putus asa. “Aku bukannya bicara tentang tawon, Otsu. Aku cuma mau menyampaikan padamu ajaran sang Budha tentang nasib perempuan.”
“Nasib perempuan sama sekali bukan urusan Bapak!”
“O, kau keliru! Sudah tugasku sebagai pendeta untuk mencampuri kehidupan orang banyak. Aku setuju, ini jenis pekerjaan yang suka mencampuri urusan orang, tapi tidak lebih sia-sia daripada urusan seorang pedagang, penjual pakaian, tukang kayu, atau samurai. Pekerjaan ini ada karena dibutuhkan.”
Otsu pun melunak. “Rasanya Anda benar.”
“Memang demikianlah yang terjadi selama ini. Golongan pendeta tidak bagus hubungannya dengan kaum perempuan, selama kira-kira tiga ribu tahun. Kau tahu, agama Budha mengajarkan bahwa perempuan itu jahat. Iblis. Utusan neraka. Bertahun-tahun aku menggeluti kitab suci, karena itu bukan kebetulan bahwa kau dan aku selamanya berselisih.”
“Dan menurut kitab suci Bapak, kenapa perempuan itu jahat?”
“Karena dia menipu lelaki.”
“Apa lelaki tidak menipu perempuan juga?”
“Ya, tapi… sang Budha sendiri lelaki.”
“Apa menurut Bapak, kalau dia perempuan, keadaannya akan sebaliknya?” “Tentu saja tidak! Bagaimana mungkin seorang iblis dapat menjadi
Budha?”
“Takuan, itu tidak masuk akal.”
“Kalau ajaran agama itu hanya pikiran sehat, kita tak akan membutuhkan nabi-nabi untuk menyampaikannya pada kita.”
“Nah, itu, sekali lagi Bapak memutarbalikkan semuanya untuk keuntungan diri sendiri!”
“Komentar khas perempuan. Kenapa mesti menyerangku pribadi?”
Otsu menghentikan ayunan sabitnya lagi, wajahnya memperlihatkan sikap jemu.
“Takuan, kita hentikan saja omongan ini. Saya sedang tak senang bicara hari ini.”
“Diam, perempuan!”
“Kan dari tadi Bapak yang terus bicara?”
Takuan memejamkan mata, seolah-olah mengerahkan kesabaran. “Biar kujelaskan sekarang. Ketika sang Budha masih muda, dia duduk di bawah pohon bodhi. Iblis-iblis perempuan menggodanya siang-malam. Dengan sendirinya dia lalu tidak menghargai tinggi perempuan. Sekalipun begitu, karena dia memang maha pengampun, di masa tuanya dia mengambil beberapa murid perempuan.”
“Karena dia sudah bijaksana atau pikun?”
“Jangan menghujat!” Takuan memperingatkan dengan tajam. “Dan jangan lupa Bodisatwa Nagarjuna yang juga membenci-maksudku takut-pada perempuan, seperti juga sang Budha. Bahkan dia pun sampai mengagungkan empat jenis perempuan, yaitu saudara perempuan yang patuh, teman perempuan yang penuh kasih, ibu yang baik, dan pembantu yang tunduk. Berulang-ulang dia memuji kebajikan mereka itu dan menasihatkan pada orang laki-laki untuk memperistri perempuan-perempuan jenis itu tadi.”
“Saudara perempuan yang patuh, teman perempuan yang penuh kasih, ibu yang baik, dan pembantu yang tunduk…. Saya lihat Bapak sudah menyusun semua itu untuk keuntungan lelaki.”
“Itu cukup wajar, bukan? Di India kuno lelaki lebih dihormati dan perempuan kurang dihormati dibandingkan dengan di Jepang. Tapi kuminta kaudengarkan nasihat yang diberikan Nagarjuna pada perempuan.”
“Nasihat apa?”
“Dia mengatakan, ‘Hai, perempuan, jangan kamu mengawini laki-laki…”
“Itu lucu!”
“Masih ada kelanjutannya. ” Dia mengatakan, ‘Hai, perempuan, kawinlah dengan kebenaran.”‘
Otsu memandangnya dengan hampa.
“Lihat tidak?” kata Takuan sambil mengibaskan tangannya. “Kawinlah dengan kebenaran, itu berarti kau tak boleh diberahikan semata-mata oleh makhluk hidup, tapi harus mencari yang abadi.”
“Tapi, Bapak,” kata Otsu tak sabar, “apa sih ‘kebenaran’ itu?”
Takuan menjatuhkan kedua tangannya ke samping dan memandang ke tanah. “Yah, kalau dipikir-pikir,” katanya sambil berpikir, “aku sendiri tidak begitu yakin.”
Tawa Otsu pun pecah, tapi Takuan tidak mengacuhkannya. “Ada yang aku tahu pasti. Kalau diterapkan pada kehidupanmu, kawin dengan kejujuran artinya kan tak boleh berkeinginan pergi ke kota, melahirkan anak-anak yang lemah dan sentimental. Kau mesti tetap di kampung, yang jadi milikmu, dan di situlah kau mesti menelurkan anak-anak yang bagus dan sehat.”
Otsu mengangkat sabitnya tak sabar. “Takuan,” bentaknya jengkel, “Bapak datang kemari ini untuk membantu saya memetik bunga atau tidak?” “Tentu saja. Karena itulah aku di sini.” “Kalau begitu, jangan berkhotbah lagi, dan pegang sabit ini.”
“Baiklah, kalau kau memang tidak menginginkan bimbingan spiritual dariku, aku pun tak akan memaksakannya padamu,” katanya berpura-pura tersinggung.
“Sementara Bapak bekerja, saya akan lari ke rumah Ogin, untuk melihat apa dia sudah menyelesaikan obi yang akan saya pakai besok.”
“Ogin? Kakak perempuan Takezo itu? Aku sudah pernah melihatnya, kan? Bukankah dia pernah datang ke kuil denganmu?” Dan Takuan pun menjatuhkan sabitnya. “Aku ikut.”
“Dengan pakaian begitu?”
Takuan berpura-pura tidak mendengar. “Dia barangkali akan menyuguhi kita teh. Aku sudah haus setengah mati.”
Karena sudah capek sekali berdebat dengan biarawan itu, Otsu pun mengangguk lemah, dan bersama-sama mereka berjalan menyusuri sungai.
Ogin, seorang gadis berumur dua puluh lima; tidak lagi dianggap orang sedang mekar-mekarnya, tapi sama sekali tidak jelek tampangnya. Walaupun para calon cenderung mundur karena reputasi adik lelakinya, tapi tak kurang orang yang melamarnya. Pembawaan dan pendidikannya yang baik segera tampak oleh semua orang. la menolak semua pinangan, semata-mata karena ia ingin mengurus adik lelakinya lebih lama lagi.
Rumah yang ditinggalinya dibangun oleh ayah mereka, Munisai, ketika masih memegang tanggung jawab latihan militer keluarga Shimmen. Sebagai hadiah atas kerjanya yang sangat baik, ia dianugerahi hak utama menggunakan nama Shimmen. Rumah itu menghadap ke sungai, dikitari oleh tembok kotor yang tinggi, didirikan di atas pondasi batu, dan jauh lebih besar dari yang diperlukan oleh seorang samurai biasa di pedesaan. Dahulu rumah itu megah, tapi kini telah reyot. Bunga-bunga iris liar berkecambah dari atapnya, dan dinding dojo, di mana Munisai dahulu biasa mengajarkan seni perang, kini terlapisi seluruhnya oleh kotoran burung layang-layang putih.
Ketika Munisai tak disukai lagi, ia kehilangan status dan mati sebagai orang miskin. Suatu kejadian yang bukan tidak umum di zaman yang penuh kekalutan. Segera sesudah kematiannya, para pembantunya pun pergi, tapi karena mereka semua orang asli Miyamoto, banyak yang masih sering singgah. Apabila singgah, mereka meninggalkan sayur-sayuran segar, membersihkan kamar-kamar yang tidak dipakai, mengisi guci-guci air, menyapu jalanan, dan dengan cara-cara lain yang tak terhitung jumlahnya mereka berusaha memelihara rumah tua itu. Mereka juga senang mengobrol dengan anak perempuan Munisai.
Ketika Ogin yang sedang menjahit di kamar dalam mendengar pintu belakang terbuka, ia menyangka yang datang adalah salah seorang dari bekas-bekas pembantu itu. Karena sedang tenggelam dalam pekerjaannya, ia pun terlompat ketika mendengar Otsu menyalaminya.
“Oh,” katanya. “Kamu rupanya. Bikin kaget aku saja. Aku baru menyelesaikan obi-mu. Mau kaupakai besok, kan?”
“Betul. Ogin, aku mau mengucapkan terima kasih, karena kau sudah mau bersusah payah. Sebetulnya aku bisa menjahitnya sendiri, tapi di kuil begitu banyak pekerjaan, sampai tak ada waktu lagi.”
“O, aku senang bisa membantu. Aku punya lebih banyak waktu dari yang kubutuhkan. Kalau tak ada kesibukan, aku mulai melamun.”
Otsu mengangkat kepala, dan terlihat olehnya altar keluarga. Di atasnya menyala lilin, di atas piring kecil. Dalam cahaya suram itu la melihat dua tulisan gelap yang dilukis sangat saksama dengan kuas. Keduanya dilekatkan di papan, dengan sesajian air clan bunga di depannya:
Roh Shimmen Takezo yang telah pergi, Umur 17.
Roh Hon’iden Matahachi yang telah pergi, Umur sama.
“Ogin,” kata Otsu resah. “Apa kau sudah mendapat kabar bahwa mereka terbunuh?”
“Ah, belum…. Tapi apa lagi yang lain dari itu? Aku sudah pasrah. Aku yakin mereka tewas di Sekigahara.”
Otsu menggelengkan kepala keras-keras. “Jangan katakan itu! Bikin sial! Mereka belum mati, belum! Kurasa mereka akan muncul hari-hari ini.”
Ogin memandang jahitannya. “Apa kau mimpi tentang Matahachi?” tanyanya lembut.
“Ya, selalu. Kenapa?”
“Itu artinya dia sudah mati. Aku sendiri tidak mimpi yang lain kecuali adikku.”
“Ogin, jangan bilang begitu!” Otsu pun berlari ke altar dan mencabut tulisan itu dari papannya. “Kusingkirkan barang-barang ini. Cuma mengundang yang jelek-jelek.”
Air mata melelehi wajahnya ketika la mengembus lilin itu. Tak puas dengan itu, dicengkeramnya bunga dan mangkuk air, lalu ia berlari melintasi kamar sebelah, menuju beranda. Di sana dilontarkannya bunga itu sejauhjauhnya clan dituangkannya air di pinggir sana. Air tumpah tepat di kepala Takuan yang sedang jongkok di bawah.
“Aaii! Dingin!” lengking Takuan sambil melompat, dan dengan kalutnya ia mencoba mengeringkan rambut dengan salah satu ujung kain pembalutnya. “Apa pula yang kaulakukan ini? Aku datang kemari mencari secangkir teh, bukan mandi!”
Otsu pun tertawa sampai keluar air mata. “Maaf, Takuan. Betul-betul minta maaf. Saya tak lihat.”
Sebagai tanda minta maaf, ia pun membawakan Takuan teh yang sudah dinantikannya. Ketika ia kembali ke dalam, Ogin yang memandang tajam ke beranda itu bertanya, “Siapa itu?”
“Biarawan musafir yang tinggal di kuil. Yang kotor itu. Kau pernah melihatnya, denganku, ingat tidak? Waktu dia sedang berjemur telungkup sambil memegang kepala, memandang ke tanah. Ketika kita bertanya kepadanya apa yang dilakukannya, dia mengatakan kutu-kutunya sedang mengadakan pertandingan gulat. Dia bilang dia telah melatih kutu-kutu itu untuk menghiburnya.”
“0, dia!”
“Ya, dia. Namanya Takuan Soho.”
“Aneh ya.”
“Ya, begitulah paling tidak.”
“Apa yang dipakainya itu? Kelihatannya bukan jubah pendeta.”
“Memang bukan. Itu kain pembalut.”
“Kain pembalut? Eksentrik. Berapa umurnya?”
“Katanya tiga puluh satu tahun, tapi kadang-kadang aku merasa seperti kakaknya; dia begitu tolol. Salah seorang pendeta mengatakan, biarpun kelihatannya begitu, dia biarawan hebat.”
“Mungkin saja. Kita tak dapat selalu menilai orang dari tampangnya.”
“Dari mana dia itu?”
“Dia lahir di Provinsi Tajima, dan mulai mempersiapkan diri menjadi pendeta ketika umur sepuluh tahun. Kemudian dia masuk kuil sekte Zen Rinzai, kira-kira empat tahun kemudian. Pergi dari sana dia menjadi pengikut pendeta sarjana dari Daitokuji dan melakukan perjalanan bersamanya ke Kyoto dan Nara. Belakangan dia belajar dengan pimpinan Gudo dari Myoshinji, Itto dari Sennan, dan satu deretan panjang orang suci lain yang terkenal. Dia menghabiskan banyak sekali waktu untuk belajar!”
“Barangkali itu sebabnya dia agak lain.”
Otsu melanjutkan ceritanya. “Dia diangkat menjadi pendeta tetap di Nansoji dan ditunjuk sebagai kepala biara Daitokuji dengan maklumat Kaisar. Tak pernah aku tahu alasannya dari siapa pun. Dia sendiri tak pernah menceritakan masa lalunya. Tapi, karena beberapa alasan, tiga hari sesudahnya dia melarikan diri.”
Ogin menggelengkan kepala.
Otsu melanjutkan. “Orang bilang jenderal-jenderal terkenal seperti Hosokawa dan orang-orang bangsawan macam Karasumaru sudah berulang-ulang mencoba meyakinkannya untuk tinggal menetap. Mereka malahan sudah menawarkan membangun kuil untuknya dan menyumbangkan uang untuk perawatannya, tapi dia tidak tertarik. Dia bilang lebih suka mengembara di pedesaan seperti pengemis, hanya berteman kutu-kutunya. Kurasa dia agak sinting.”
“Barangkali menurut anggapannya kita ini yang aneh.”
“Memang begitu yang dikatakannya.” “Berapa lama dia akan tinggal di sini?”
“Mana bisa tahu? Dia biasa muncul suatu hari, dan menghilang hari berikutnya.”
Seraya berdiri di dekat beranda, Takuan berseru, “Aku bisa mendengar semua yang kalian bicarakan!”
“Tapi rasanya kami tidak membicarakan yang jelek,” jawab Otsu riang.
“Kalaupun kalian membicarakan yang jelek, aku tak peduli, kalau itu menghibur kalian, tapi setidak-tidaknya kalian dapat memberiku kue manis untuk teman minum teh ini.”
“Itu dia,” kata Otsu. “Dia memang seperti itu sejak dulu.”
“Apa maksudmu, aku seperti itu?” Mata Takuan pun berseri-seri. “Dan kau sendiri? Kau kelihatannya saja tidak tega melukai seekor lalat, tapi tindakanmu jauh lebih kejam dan bengis daripadaku.”
“O, betul begitu? Dan bagaimana saya bisa kejam dan bengis begitu?”
“Kau meninggalkan aku di luar sini tanpa daya, tanpa apa-apa kecuali teh, sedangkan kau duduk merintihkan kekasihmu yang hilang. Kejam!”
Di kuil Daishoji dan Shippoji lonceng berdentang-dentang. Lonceng mulai berdentang selewat subuh, dan kadang-kadang masih terdengar dentangnya sampai jauh lepas tengah hari. Pada pagi hari orang-orang berduyun-duyun ke kuil: gadis-gadis dengan obi merah, istri-istri pedagang dengan warna kimono yang lebih lembut, dan di sana-sini wanita tua dengan kimono warna gelap menggandeng tangan cucu-cucu mereka. DI kuil Shippoji, ruang utama yang kecil penuh dengan umat. Tetapi para pemudanya kelihatannya lebih tertarik mencuri-curi pandang ke Otsu daripada mengikuti upacara keagamaan ini.
“Dia ada di sini,” bisik seorang pemuda.
“Semakin cantik saja,” bisik pemuda lain.
Di dalam ruang itu ada sebuah kuil mini. Atapnya dari daun-daun potion jeruk dan tiang-tiangnya dililit bunga-bunga liar. Di dalam “kuil bunga” ini ada patting Budha berwarna hitam, setinggi kira-kira setengah meter. Tangannya yang satu menunjuk ke langit dan satunya lagi ke tanah. Patting ini berdiri di dalam semacam baskom dari tanah liar. Orang-orang melewati patung itu sambil mengguyurkan teh manis ke kepalanya dengan menggunakan sendok besar dari bambu. Takuan berdiri di dekatnya, membawa minyak suci dan mengisikannya ke dalam tabung-tabung bambu kecil untuk dibawa pulang para pengunjung sebagai pembawa berkah. Sambil menuangkan minyak ia menghimbau mereka untuk memberikan sumbangan.
“Kuil ini miskin, maka tinggalkan sumbangan sebanyak yang Anda sanggup. Terutama Anda-anda yang kaya. Saya tahu siapa Anda, Anda memakai sutra halus dan obi bersulam. Anda punya banyak uang. Anda pasti punya banyak kesusahan juga. Jika Anda meninggalkan uang sebanyak lima puluh kilo, kesusahan Anda akan berkurang lima puluh kilo juga.”
Di sebelah lain kuil bunga itu, Otsu duduk menghadap meja berplitur hitam. Wajahnya memancarkan rona merah muda, seperti bunga-bunga yang ada di sekitarnya. Ia mengenakan obi baru. Ketika menuliskan kata-kata pesona di atas kertas lima warna, ia memainkan kuas dengan terampilnya. Sekali-sekali ia mencelupkannya ke dalam kotak tinta berlak emas di sebelah sana. la menulis:
Dengan cepat dan saksama,
Pada hari yang sebaik-baiknya ini, Yaitu tanggal delapan bulan empat, Jatuhlah hukuman bagi
Para serangga yang menghabiskan panen.
Entah sejak kapan orang di daerah ini menganggap bahwa menggantungkan sajak bernada praktis itu di dinding akan melindungi mereka dari hama, penyakit, dan juga nasib siaL Otsu menuliskan sajak itu sudah berpuluh kali-ya, sudah demikian seringnya, hingga pergelangan tangannya mulai berdenyut dan tulisan tangannya mulai mencerminkan kelelahan.
Setelah berhenti sejenak, ia pun menegur Takuan, “Hentikanlah usaha merampok orang-orang ini. Terlalu banyak Bapak mengambil.”
“Aku bicara kepada mereka yang sudah terlalu banyak harta. Itu jadi beban mereka. Itulah inti amal, yaitu meringankan mereka dari beban,” jawab Takuan.
“Dengan jalan pikiran itu, pencuri biasa pun bisa jadi orang suci semuanya.”
Takuan terlalu sibuk mengumpulkan mata uang emas untuk menjawab. “Sini, sini,” katanya kepada orang banyak yang berdesak-desak. “Jangan berdesakan, pelan-pelan, antrelah. Anda sekalian akan segera mendapat kesempatan mengosongkan pundi-pundi Anda.”
“Hei, Pendeta!” kata seorang pemuda yang mendapat peringatan karena mendesakkan diri ke tengah.
“Maksud Anda saya?” kata Takuan sambil menunjuk hidungnya.
“Ya. Bapak terus menyuruh kami menunggu giliran, tapi Bapak mendahulukan perempuan.”
“Saya suka perempuan sama dengan lelaki di belakangnya.”
“Bapak ini mestinya salah seorang biarawan bejat yang selalu kami dengar ceritanya itu.”
“Cukup, berudu! Kaukira aku tidak tahu kenapa kau di sini! Kau tidak datang untuk menghormat sang Budha atau membawa pulang kebaikan. Kau datang untuk bisa memandang Otsu lebih jelas! Nah, akuilah sekarang betul, kan? Tak bakal kau mendapat perempuan, kalau kau berlaku seperti orang kikir.”
Wajah Otsu berubah merah tua. “Takuan, hentikan. Hentikan sekarang juga, kalau tidak, saya betul-betul marah!”
Untuk mengistirahatkan matanya, Otsu kembali menghentikan pekerjaannya, lalu melayangkan pandang kepada orang banyak. Tiba-tiba terpandang olehnya sesosok wajah.
Murka Janda Bangsawan
KELUARGA Matahachi, Hon’iden, anggota kebanggaan kelompok bangsawan desa yang masuk kelas samurai. Mereka juga mengerjakan tanah. Kepala sesungguhnya dari keluarga itu adalah ibu Matahachi, seorang perempuan yang sangat keras kepala bernama Osugi. Sekalipun sudah hampir enam puluh tahun umurnya, tiap hari ia memimpin keluarga dan petani penyewanya ke ladang dan bekerja sama kerasnya dengan mereka. Di musim tanam ia mencangkul ladang, dan sesudah panen la menebah butir-butirnya dengan menginjak-injaknya. Kalau senja memaksanya berhenti bekerja, ada saja yang dapat ditemukannya untuk disandangkan ke punggungnya yang bungkuk dan diangkutnya pulang ke rumah. Sering kali yang dipanggulnya adalah ikatan daun murbei yang demikian banyak, hingga tubuhnya yang hampir melipat dua itu nyaris tidak kelihatan. Pada malam hari, biasanya ia dapat ditemui sedang mengurus ulat sutranya.
Sore pada hari pesta bunga itu, Osugi menghentikan kerjanya di petak kebun murbei ketika melihat cucu lelakinya yang masih ingusan berlari-lari telanjang kaki melintas ladang.
“Dari mana kamu, Heita?” tanyanya tajam. “Dari kuil, ya?”
“He-eh.”
“Otsu ada di sana?”
“Ya,” jawab anak itu girang. Napasnya masih terengah-engah. “Dan dia pakai obi yang bagus sekali. Dia membantu pesta.”
“Kamu bawa pulang teh manis dan mantra pengusir hama, tidak?”
“Tidak.”
Mata perempuan tua yang biasanya tersembunyi di antara lipatan dan kerut-kerut itu kini terbelalak karena jengkel. “Kenapa tidak?”
“Otsu bilang, tidak usah repot dengan hama-hama itu. Dia bilang, saya mesti lari pulang dan mengatakan pada Nenek.” “Mengatakan apa?”
“Takezo, dari seberang kali. Otsu bilang melihat dia di pesta.”
Suara Osugi turun satu oktaf. “Betul? Betul-betul dia melihatnya, Heita?”
“Ya, Nek.”
Tubuh kekar itu pun seperti lumpuh seketika, dan matanya menjadi kabur oleh air mata. Pelan-pelan ia menoleh, seakan-akan berharap melihat anak lelakinya berdiri di belakangnya. Ketika tak dilihatnya seorang pun, ia pun memutar badannya kembali. “Heita,” katanya sekonyong-konyong, “ambili daun murbei ini.”
“Nenek mau ke mana?”
“Pulang. Kalau Takezo kembali, Matahachi pasti pulang juga.”
“Saya ikut.”
“Tak usah. Jangan nakal, Heita.”
Wanita tua itu pun enyah, meninggalkan anak kecil itu sendirian, seperti anak yatim. Rumah pertanian yang dikitari pohon ek tua berbonggolbonggol itu adalah rumah yang besar. Osugi melewatinya saja dan berlari langsung ke lumbung, di mana anak perempuannya dan beberapa petani penyewa sedang bekerja. Masih di kejauhan ia sudah berseru pada mereka dengan agak histeris.
“Apa Matahachi sudah pulang? Apa dia sudah di sini?”
Orang-orang itu terkejut, dan memandangnya seakan-akan la telah kehilangan akal. Akhirnya seorang dari mereka mengatakan “belum”, tapi perempuan tua itu seperti tidak mendengarnya. Seakan-akan, karena sudah terlalu lelah, la menolak menerima jawaban “belum”. Ketika mereka terus memperlihatkan pandangan kosong, ia pun mulai menyebut mereka semua dungu, dan ia menjelaskan apa yang telah didengarnya dari Heita. Kalau Takezo kembali, Matahachi pasti kembali juga. Kemudian ia pun kembali berperan sebagai komandan tertinggi. Diperintahkannya mereka pergi ke semua arah untuk menemukan Matahachi. la sendiri tinggal di rumah, dan tiap kali dirasanya ada orang mendekat, ia berlari ke luar dan bertanya apakah mereka belum menemukan anaknya.
Pada waktu matahari terbenam, masih dengan semangat tinggi ia meletakkan lilin di depan tanda peringatan nenek moyang suaminya. la duduk seperti patung. Karena semua orang masih melakukan pencarian, tak ada makan malam di rumah itu. Ketika malam tiba dan masih juga belum ada berita, Osugi pun akhirnya bergerak. Seperti sedang kesurupan ia keluar pelan-pelan dari rumah, menuju gerbang depan. Di sana ia menanti, tersembunyi dalam kegelapan. Bulan bersinar menembus ranting-ranting pohon ek, sedangkan pegunungan yang membayang di depan dan di belakang rumah terselimut kabut putih. Bau harum kembang pit mengambang di udara.
Waktu pun mengapung lewat tanpa terasa. Sesosok tubuh terlihat mendekat, menyusuri sisi luar kebun pit. Melihat bayangan Otsu, Osugi pun memanggilnya, dan gadis itu berlari. Sandalnya yang basah berdetap-detap berat di tanah.
“Otsu! Orang bilang kau melihat Takezo. Betul?”
“Ya, saya yakin. Saya melihatnya di tengah orang banyak di luar kuil.”
“Kau tidak lihat Matahachi?”
“Tidak. Saya lari ke luar untuk menanyai Takezo, tapi ketika saya memanggil, dia melompat seperti kelinci ketakutan. Saya lihat matanya sesaat, kemudian dia hilang. Sejak dulu dia memang aneh, tapi saya tak bisa mengerti, kenapa dia lari seperti itu.”
“Lari?” tanya Osugi keheranan. la mulai bertanya-tanya pada dirinya, dan semakin ia bertanya, semakin terbentuk kecurigaan yang mengerikan di dalam otaknya. Menjadi jelaslah baginya bahwa anak lelaki Shimmen, si bangs*t Takezo yang sempat dibencinya karena memikat Matahachi yang sangat disayanginya untuk pergi perang, sekali lagi telah berbuat sesuatu yang tidak baik.
Akhirnya berkatalah ia mengancam, “bangs*t! Barangkali dia sudah meninggalkan Matahachi yang malang mati entah di mana, kemudian mencuri-curi pulang dalam keadaan sehat walafiat. Pengecut!” Osugi pun mulai gemetar karena berang, dan suaranya meninggi menjadi jeritan, “Tidak bisa dia sembunyi dariku!”
Otsu tetap tenang. “Ah, saya pikir dia tak akan berbuat begitu. Biarpun dia harus meninggalkan Matahachi, pasti dia menyampaikan pesan untuk kita, atau paling tidak tanda mata dari dia.” Kata-kata Otsu terdengar gemetar karena tuduhan perempuan tua yang tergesa-gesa itu.
Namun Osugi waktu itu sudah yakin benar akan pengkhianatan Takezo. la menggeleng-gelengkan kepala dengan mantapnya, dan berkata lagi, “Ah, dia tak akan berbuat begitu! Aku kenal iblis itu! Dia tidak sebaik itu. Matahachi mestinya tak perlu bergaul dengannya.”
“Nek…,” kata Otsu meredakan.
“Apa?” bentak Osugi yang sama sekali tidak reda marahnya.
“Saya pikir, kalau pergi ke rumah Ogin, kita mungkin menemukan Takezo di sana.”
Kemarahan perempuan tua itu pun mereda sedikit. “Barangkali kau benar. Ogin kakak perempuannya, dan memang tak seorang pun di kampung ini yang akan menerima Takezo.”
“Kalau begitu, mari kita melihat ke sana. Berdua saja.”
Osugi menolak keras. “Tak ada alasan untukku ke sana. Dia tahu adiknya yang menyeret anakku pergi perang, tapi tak pernah sekali pun dia datang minta maaf atau menunjukkan sikap hormat. Sekarang pun, ketika Takezo datang, dia tidak memberitahu aku. Kenapa aku harus pergi mendatanginya? Itu merendahkan martabat. Aku tunggu dia di sini.”
“Tapi ini bukan keadaan biasa,” jawab Otsu. “Dan lagi, yang pokok sekarang menemui Takezo secepatnya. Kita mesti bertanya, apa yang sudah terjadi. Ayolah, Nek, kita pergi. Nenek tak perlu melakukan apa-apa. Saya yang melakukan semua formalitas, kalau Nenek mau.”
Osugi menerima desakan Otsu dengan segan-segan. Tentu saja ia sama inginnya dengan Otsu untuk mengetahui apa yang terjadi, tapi lebih baik ia mati daripada mengemis pada seorang Shimmen.
Rumah Ogin kira-kira satu mil jauhnya. Sebagaimana keluarga Hon’iden, keluarga Shimmen adalah bangsawan desa, clan kedua keluarga itu berasal dari wangsa Akamatsu beberapa generasi sebelumnya. Mereka menempati kedua tepi sungai yang berhadapan, dan diam-diam mereka selalu mengakui hak hidup masing-masing pihak. Hanya sampai di situlah keakraban mereka.
Sampai di gerbang depan, mereka mendapati gerbang itu terkunci. Pepohonan demikian lebat, hingga tak mungkin terlihat cahaya lampu rumah. Otsu hendak berjalan memutar ke pintu belakang, tapi Osugi mogok.
“Rasanya tidak pantas kalau kepala keluarga Hon’iden masuk rumah keluarga Shimmen dari pintu belakang. Itu menurunkan derajat.”
Melihat Osugi tak hendak beranjak, Otsu melanjutkan berjalan ke pintu belakang sendirian. Akhirnya lampu pun muncul di sebelah dalam gerbang. Ogin sendiri yang keluar menyambut perempuan tua itu, yang tiba-tiba berubah dari seorang perempuan buruk pembajak ladang menjadi seorang wanita bangsawan besar dan menyapa nyonya rumah dengan nada-nada tinggi.
“Maafkan saya mengganggu Nona pada waktu seperti ini, tetapi urusan saya ini betul-betul tak bisa ditangguhkan. Nona sangat bermurah hati telah datang dan menyilakan saya masuk!” la pun cepat melewati Ogin dan langsung masuk rumah, dan seperti utusan dewa-dewa ia pun segera menuju tempat yang paling terhormat di dalam ruangan itu, di depan ceruk. la duduk dengan angkuhnya. Tubuhnya diapit perkamen yang tergantung dan satu karangan bunga. la pun berkenan mendengarkan katakata sambutan yang setulus-tulusnya dari Ogin.

Basa-basi telah berakhir, lalu Osugi langsung pada persoalan. Senyuman palsunya lenyap ketika ia menatap perempuan muda di depannya. ”Saya mendengar kabar, setan kecil rumah ini sudah merangkak pulang. Saya minta dia dibawa kemari.”
Walaupun lidah Osugi terkenal tajam, kedengkian yang tak disembunyisembunyikan ini terdengar bagai guncangan bagi Ogin yang halus.
“Siapa yang Ibu maksud dengan ’setan kecil’ itu?” tanya Ogin, jelas menahan diri.
Seperti bunglon, Osugi pun mengubah taktiknya. “Oh, lidah saya sudah tergelincir tadi,” katanya sambil tertawa. “Itulah nama yang diberikan orang kampung kepadanya. Saya ketularan orang-orang itu. ‘Setan kecil’ itu Takezo. Dia bersembunyi di sini, bukan?”
“Ah, tidak,” jawab Ogin yang benar-benar terkejut. Karena malu mendengar adiknya disebut demikian, ia pun menggigit bibirnya.
Dan karena kasihan kepadanya, Otsu pun menjelaskan bahwa ia telah melihat Takezo dalam pesta. Kemudian, untuk meluruskan perasaan-perasaan yang sudah terganggu, ia pun menambahkan, “Aneh juga, bukan, bahwa dia tidak langsung datang ke sini?”
“Tapi betul dia tidak datang,” kata Ogin. “Ini pertama kali saya mendengarnya. Tapi kalau dia kembali seperti Ibu katakan itu, saya yakin dia akan mengetuk pintu sebentar lagi.”
Osugi yang duduk resmi di bantalan lantai, dan kakinya tersimpuh rapi, melipat tangan di pangkuan. Dengan gaya seorang mertua yang sedang meradang ia pun melancarkan badai umpatan.
“Apa artinya semua ini? Jadi, apa kau ingin aku percaya kau belum dengar berita tentang dia? Apa kau tidak tahu, akulah ibu anak yang telah diseret pergi perang oleh pemuda sampah itu? Apa kau tidak tahu, Matahachi itu ahli waris dan anggota terpenting keluarga Hon’iden? Adikmu yang membujuk anakku pergi dan terbunuh. Kalau anakku mati, berarti adikmu yang membunuhnya, dan kalau dirasanya dia dapat pulang diamdiam sendiri dan beres semuanya…”
Cukup lama perempuan tua itu berhenti untuk mengatur napas, kemudian matanya menyala kembali dalam keberangan. “Lalu kau sendiri bagaimana? Sejak dia jelas berbuat tak pantas dengan pulang diam-diam sendirian, kenapa kau yang menjadi kakak perempuannya tidak lekas menyuruhnya datang padaku? Aku muak dengan kalian berdua. Memperlakukan seorang perempuan tua tanpa sopan sama sekali. Kalian pikir siapa aku ini?”
Dan sesudah menelan napas sekali lagi, ia pun berkaok-kaok kembali. “Kalau Takezo memang pulang, bawa Matahachi padaku. Kalau tak bisa, paling tidak suruh setan kecil itu ke sini sekarang, untuk menjelaskan padaku apa yang terjadi dengan anak kesayanganku dan di mana dia sekarang-sekarang juga!”
“Bagaimana saya bisa melakukan itu? Dia tak ada di sini.”
“Bohong besar!” jerit Osugi. “Kau pasti tahu di mana dia!”
“Saya sudah bilang tidak tahu!” protes Ogin. Suaranya bergetar dan matanya basah oleh air mata. la pun membungkuk, mengharap setengah mati ayahnya masih hidup.
Tiba-tiba dari pintu yang terbuka ke beranda terdengar bunyi berderak, diikuti bunyi kaki berlari.
Mata Osugi berkilat, dan Otsu mulai berdiri, tetapi bunyi berikutnya yang terdengar adalah pekikan yang menegakkan bulu roma. Suara manusia yang mirip sekali dengan lolongan binatang.
Seorang lelaki berteriak, “Tangkap dia!”
Kemudian terdengar bunyi lebih banyak kaki, lalu lebih banyak lagi, berlarian di sekitar rumah, diiringi kertak ranting-ranting dan gemeresik pohon bambu.
“Itu Takezo!” teriak Osugi. la melompat berdiri, menatap Ogin yang berlutut, dan menyemburkan kata-kata. “Aku tahu dia di sini!” katanya garang. “Itu sama terangnya dengan hidung di mukamu. Tak mengerti aku, kenapa kau mencoba menyembunyikan dia dariku, tapi ingatlah, aku tak akan melupakannya.”
la pun menuju pintu dan mendorongnya dengan keras. Tapi apa yang dilihatnya di luar membuat wajahnya yang sudah pucat itu menjadi lebih putih lagi. Seorang pemuda yang mengenakan pelindung kaki telentang di tanah, mati. Darah segar masih mengalir dari mata dan hidungnya. Melihat tengkoraknya yang berantakan, pastilah ia dibunuh dengan satu hantaman pedang kayu.
“Ada… ada… ada orang mati di situ!” katanya terbata-bata.
Otsu membawa lampu ke beranda dan berdiri di samping Osugi yang membelalak ketakutan ke arah mayat itu. Bukan mayat Takezo atau Matahachi, tapi mayat samurai yang tidak mereka kenali.
Osugi berbisik, “Siapa yang melakukan ini?” Sambil menoleh cepat kepada Otsu, ia berkata, “Ayo kita pulang, sebelum terlibat.”
Otsu tak dapat memaksa dirinya pergi. Perempuan tua itu sudah mengucapkan banyak kata keji. Akan terasa tidak adil bagi Ogin, kalau la pergi sebelum memberikan salep kepada luka-luka itu. Kalaupun Ogin berdusta, menurut perasaan Otsu, ia tentunya punya alasan yang baik. Karena merasa harus tinggal untuk menyenangkan hati Ogin, maka Otsu pun mengatakan kepada Osugi bahwa la akan menyusul kemudian.
“Semaumulah,” bentak Osugi sambil bersiap-siap pergi.
Dengan sopan Ogin menawarkan lentera, tapi Osugi menolak keras. “Ketahuilah, kepala keluarga Hon’iden belum begitu pikun hingga membutuhkan lampu untuk berjalan.” la pun melipat keliman kimononya, meninggalkan rumah itu dan berjalan tegap menempuh kabut yang menebal.
Tidak jauh dari rumah itu, seorang lelaki menyuruhnya berhenti. Pedangnya terhunus, dan tangan serta kakinya terlindung zirah. Ia jelas samurai profesional yang tidak bisa ditemukan di kampung itu.
“Ibu kan baru datang dari rumah Shimmen?” tanyanya.
“Ya, tapi…”
“Apa Ibu anggota keluarga Shimmen?”
“Tentu saja bukan!” bentak Osugi sambil mengibaskan tangan sebagai tanda protes. “Saya kepala keluarga samurai di seberang kali.”
“Jadi, Ibu ini ibu Hon’iden Matahachi yang pergi dengan Shimmen Takezo ke Medan Sekigahara?”
“Ya, tapi anak saya pergi ke sana bukan karena ingin. Dia diperdaya setan kecil itu.”
“Setan?”
“Itu… si Takezo!”
“Saya dengar Takezo itu tidak begitu disukai di kampung ini.”
“Disukai? Menggelikan. Belum pernah kau melihat penjahat seperti dia! Tak dapat kaubayangkan kesulitan yang kami alami dalam keluarga, sejak anak saya bergaul dengan dia.”
“Anak Ibu itu barangkali meninggal di Sekigahara. Saya…”
“Matahachi! Meninggal?”
“Eh, sebetulnya saya tidak begitu yakin. Tapi barangkali akan menjadi hiburan sedikit bagi Ibu dalam kesedihan Ibu, kalau saya katakan, saya akan melakukan segala yang mungkin untuk membantu Ibu membalas dendam.”
Osugi memandang ragu-ragu. “Siapa Anda ini?”
“Saya dari garnisun Tokugawa. Sesudah pertempuran, kami pergi ke Puri Himeji. Atas perintah pimpinan saya, saya membuat rintangan di perbatasan Provinsi Harima untuk menyaring semua orang yang lewat.
“Takezo yang berasal dari rumah itu,” sambungnya sambil menunjuk, “sudah menembus rintangan dan lari ke Miyamoto. Kami mengejarnya sampai tempat ini. Dia memang cukup ulet. Kami mengira sesudah beberapa hari berjalan dia akan ambruk, tapi sampai sekarang kami belum dapat menyusulnya. Tapi dia takkan dapat terus begitu selamanya. Kami akan menangkapnya.”
Dengan mengangguk-angguk sadarlah Osugi sekarang, kenapa Takezo tidak muncul di Shippoji, dan yang lebih penting lagi, ia sadar bahwa Takezo barangkali tidak pulang ke rumah, karena itulah tempat pertama yang akan digeledah tentara. Tapi sementara itu, karena Takezo melakukan perjalanan sendirian, kemarahan Osugi tidak mereda. Berita kematian Matahachi pun tidak dipercayainya.
“Saya tahu, Takezo bisa sekuat clan selicik binatang liar,” katanya malu-malu. “Tapi saya tak percaya samurai sekaliber Anda sulit menangkapnya.”
“Nah, terus terang, itulah pendapat saya semula. Tapi jumlah kami tak banyak, dan dia baru saja membunuh seorang anak buah saya.”
“Izinkanlah perempuan tua ini memberikan sedikit nasihat pada Anda.” Sambil membungkuk ia pun membisikkan sesuatu ke telinga samurai itu. Kata-katanya agaknya sangat menyenangkan.
Samurai itu mengangguk-angguk tanda setuju, dan dengan bersemangat berkata, “Gagasan bagus! Hebat!”
“Jangan tanggung-tanggung melaksanakan tugas itu,” dorong Osugi sambil berangkat pulang.
Tak lama sesudahnya, samurai itu mengumpulkan kelompoknya yang terdiri atas empat belas atau lima belas orang di belakang rumah Ogin. Sesudah ia memberikan keterangan ringkas, mereka pun melompati dinding, mengepung rumah, dan memblokir semua pintu keluar. Lalu beberapa orang serdadu menyerbu ke dalam rumah, meninggalkan jejak-jejak berlumpur. Mereka masuk ke kamar dalam, di mana dua perempuan muda sedang duduk berkabung, menghapus-hapus wajah yang berurai air mata.
Menghadapi serdadu-serdadu itu Otsu ketakutan dan pucat lesi. Namun Ogin yang bangga menjadi anak Munisai tetap tak gentar. Dengan mata tenang dan tajam, la tatap dengan berangnya para penyerbu itu.
“Bajingan! Binatang!” geramnya. Karena tak ada sasaran nyata bagi kemarahannya, ia pun mengayunkan pedang ek hitamnya hingga mendecit di udara, menebas cabang sebuah pohon besar. Getah putih yang memancar dari luka pohon itu mengingatkannya akan air susu ibu yang sedang menyusui. la berdiri dan pandangannya nyalang. Tanpa ibu tempatnya mengadu, yang ada di dunia ini hanya kesepian. Kali-kali kecil yang mengalir cepat dan bukit-bukit yang berombak-ombak di tempat tinggalnya sendiri pun seperti mengejek, bukan memberikan hiburan.
IZRO'IL
Musashi I (Tanah)

Musashi I 4


“Kenapa semua orang kampung memusuhiku?” tanyanya. “Begitu melihatku, langsung mereka lapor pada pengawal di gunung. Dan cara mereka lari waktu melihatku itu, seperti aku ini orang gila saja.”
Sudah empat hari ia bersembunyi di Pegunungan Sanumo. Kini, lewat tabir kabut tengah hari, ia dapat melihat rumah ayahnya, rumah yang didiami kakak perempuannya sendirian. Kuil Shippoji bersarang di bukit di bawahnya. Atapnya muncul dari antara pepohonan. la tahu bahwa ia tidak dapat mendekati satu pun dari kedua tempat itu. Ketika ia memberanikan diri mendekati kuil itu pada hari lahir sang Budha, ia telah membahayakan hidupnya, sekalipun kuil itu penuh orang. Ketika didengarnya namanya dipanggil orang, tidak ada pilihan lagi baginya kecuali melarikan diri. Disamping ingin menyelamatkan lehernya sendiri, ia tahu kalau ia ditemukan orang di sana, Otsu pun akan mendapat kesulitan.
Malam itu, ketika diam-diam ia pergi ke rumah kakak perempuannya, kebetulan sekali ibu Matahachi ada di sana. Sejenak ia hanya berdiri di luar, mencoba mengarang-ngarang penjelasan di mana Matahachi berada, tapi ketika sedang mengawasi kakak perempuannya lewat celah pintu, serdadu-serdadu melihatnya. Sekali lagi ia terpaksa lari tanpa mendapat kesempatan bicara dengan siapa pun. Sejak itu, tampak dari tempat perlindungannya di pegunungan, samurai Tokugawa mencari-cari secara gencar sekali. Mereka merondai setiap jalan yang mungkin ditempuhnya, dan orang kampung bergabung membentuk kelompok-kelompok pencari, menjelajahi pegunungan.
la bertanya-tanya bagaimana kiranya pendapat Otsu tentangnya. Ia mulai curiga Otsu pun telah memusuhinya. Karena merasa orang sekampungnya sendiri menganggapnya musuh, ia pun jadi serba sulit.
Pikirnya, “Sukar sekali mengatakan pada Otsu alasan sebenarnya tunangannya tidak pulang. Barangkali sebaiknya kusampaikan pada perempuan tua itu…. Betul! Kalau kujelaskan semua itu kepadanya, dia nanti dapat pelanpelan menyampaikannya pada Otsu. Sesudah itu tak ada lagi alasanku untuk berkeliaran di sini.”
Setelah membulatkan tekad, Takezo pun kembali berjalan, tapi ia tahu, ia tak boleh mendekati kampung sebelum gelap. Dengan sebuah karang besar ia pecahkan karang lain menjadi pecahan-pecahan kecil, lalu ia lemparkan sebuah di antaranya ke burung yang sedang terbang. Burung itu jatuh, dan belum lagi selesai mencabuti bulunya ia sudah membenamkan gigi-giginya yang setengah kelaparan ke daging yang masih mentah dan hangat itu. Sambil melahap burung, ia mulai lagi berjalan. Tapi tiba-tiba ia mendengar jeritan tertahan. Memang, siapa saja yang melihatnya selalu berlari menghindar penuh ketakutan melintasi hutan. Marah karena dibenci dan ditakuti, dikejar-kejar tanpa alasan, ia pun berteriak, “Tunggu!” Dan ia mulai berlari, seperti seekor macan tutul mengejar mangsa yang kabur.
Orang itu bukanlah tandingan Takezo, dan dengan mudah terkejar. Ternyata ia penduduk kampung yang datang ke pegunungan untuk membuat arang. Takezo tahu orang itu, walau tidak kenal. Takezo mencengkeram kerahnya dan menyeretnya kembali ke tempat terbuka.
“Kenapa kau lari? Apa kau tidak kenal aku? Aku seorang dari kalian, Shimmen Takezo dari Miyamoto. Tak bakal aku memakanmu hidup-hidup. Kau tahu kan, tidak sopan lari begitu saja dari orang yang dikenal tanpa mengucapkan salam!”
“Y y-y-y-ya, Tuan!”
“Duduk!”
Takezo melepaskan cengkeramannya dari lengan orang itu, tapi makhluk malang itu hendak lari, hingga terpaksa Takezo menendang pantatnya dan berbuat seolah-olah hendak memukulnya dengan pedang kayunya. Orang itu merangkak-rangkak di tanah seperti anjing, menguik-nguik sambil tangannya memegangi kepala.
“Jangan bunuh saya!” jeritnya mengiba-iba.
“Jawab saja pertanyaan-pertanyaanku.”
“Akan saya jawab semuanya-tapi jangan bunuh saya! Saya punya istri dan keluarga.”
“Tak ada yang mau membunuhmu. Apa betul bukit-bukit ini penuh serdadu?”
“Ya.”
“Apa mereka mengawasi Kuil Shippoji juga?”
“Ya.”
“Apa orang kampung memburuku lagi hari ini?”
Diam.
“Kau seorang dari mereka?”
Orang itu mendadak berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepala seperti orang bisu-tuli
“Tidak, tidak, tidak!”
“Cukup!” teriak Takezo. Dan sambil mencengkeram erat leher orang itu, ia pun bertanya, “Bagaimana dengan kakak perempuanku?”
“Kakak perempuan mana?”
“Kakak perempuanku, Ogin, dari Keluarga Shimmen. Jangan pura-pura bodoh. Kau tadi janji akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku tak 1amdak menyalahkan orang kampung yang mencoba menangkapku. Samurai yang memaksa mereka, tapi aku yakin mereka tak akan mengapa-apakan kakak perempuanku. Apa anggapanku ini keliru?”
Orang itu pun memberikan jawaban yang terlampau polos. “Saya tidak tahu apa-apa soal itu. Sama sekali tidak tahu.”
Takezo cepat mengangkat pedangnya ke atas kepala orang itu, siap memukul. “Awas! Kedengarannya mencurigakan. Ada yang sudah terjadi dengan dia, kan? Jangan pura-pura lagi, atau kuhancurkan tengkorakmu!”
“Tunggu! Jangan! Saya akan bicara! Akan saya katakan semuanya!”
Dengan tangan terlipat tanda memohon, pembuat arang itu gemetaran dan ia bercerita bahwa Ogin telah ditawan, dan bahwa telah disebarkan perintah di kampung, yang isinya setiap orang yang memberikan makanan atau perlindungan kepada Takezo otomatis akan dianggap anteknya. la mengatakan bahwa tiap hari para serdadu mengerahkan orang kampung ke pegunungan, dan tiap keluarga diminta menyediakan seorang pemuda dua hari sekali untuk keperluan itu.
Keterangan tersebut membuat Takezo tegak bulu romanya. Bukan karena takut, melainkan marah. Untuk meyakinkan diri bahwa yang didengarnya benar ia pun bertanya, “Tuduhan apa yang dijatuhkan atas kakak perempuanku?” Matanya berkilat-kilat oleh air mata.
“Tak seorang pun dari kami tahu soal itu. Kami takut pada Kepala Distrik. Kami cuma melakukan apa yang diperintahkan, itu saja.”
“Di mana mereka menahan kakakku?”
“Desas-desusnya mereka menahan dia di benteng Hinagura, tapi saya tidak tahu apa itu betul.”
“Hinagura…,” ulang Takezo. Matanya pun menoleh ke jajaran pegunungan yang menandai perbatasan provinsi. Tulang punggung pegunungan itu telah diwarnai bayang-bayang awan petang yang kelabu.
Takezo membiarkan orang itu pergi. Melihat orang itu bergegas pergi karena senang hidupnya yang tak berarti itu selamat, perut Takezo pun bergolak memikirkan sifat pengecut manusia-sifat pengecut yang telah memaksa samurai mengusik seorang wanita malang tak berdaya. la senang kini seorang diri lagi. la harus berpikir.
Segera kemudian ia mengambil keputusan. “Aku harus menyelamatkan Ogin, itu harus. Kakakku yang malang. Akan kubunuh mereka semua, kalau mencelakakan dia.” Sesudah memilih arah tindakannya, ia pun berjalan tegak ke arah kampung dengan langkah-langkah jantan.
Beberapa jam kemudian, kembali Takezo mencuri-curi mendekati Shippoji. Lonceng malam baru saja berhenti berdentang. Hari sudah gelap dan cahaya lampu kelihatan menyorot dari kuil itu sendiri, juga dari dapur dan petak-petak pendeta, di mana orang nampaknya mondar-mandir.
“Kalau saja Otsu keluar,” pikirnya.
Ia pun meringkukkan badan tanpa bergerak-gerak di bawah lorong tinggi beratap, tapi tak berdinding, yang menghubungkan kamar-kamar pendeta dengan kuil utama. Bau makanan yang sedang dimasak mengambang di udara, menimbulkan bayangan tentang nasi dan sop mengepul. Beberapa hari terakhir ini ia tidak makan apa-apa kecuali daging burung mentah dan umbut rumput. Perutnya kini berontak. Kerongkongannya terasa panas ketika getah lambungnya naik, pahit rasanya, dan dalam kesengsaraan itu ia pun menghirup napas keras-keras.
“Apa itu?” terdengar suara.
“Barangkali kucing,” jawab Otsu yang keluar membawa baki makan malam dan mulai menyeberang lorong, tepat di atas kepala Takezo. Takezo mencoba memanggilnya, tapi ia begitu mual, hingga tak berhasil memperdengarkan suara jelas.
Ternyata nasib baik, karena justru saat itu suara lelaki tepat di belakang Otsu terdengar bertanya, “Mana jalan ke kamar mandi?”
Orang itu mengenakan kimono pinjaman dari kuil, diikat dengan sabuk sempit, di mana tergantung handuk kecil. Takezo mengenalnya sebagai salah seorang samurai dari Himeji. Jelas ia berpangkat tinggi, cukup tinggi, hingga dapat menginap di kuil dan menghabiskan waktu malamnya dengan makan dan minum sekenyang-kenyangnya, selagi anak buahnya dan orang kampung harus menjelajahi sisi-sisi gunung siang-malam, mencari si pelarian.
“Kamar mandi?” kata Otsu. “Mari saya tunjukkan.”
la menurunkan baki dan mengantar orang itu menyusuri lorong. Tibatiba samurai itu menghampirinya dan merangkul Otsu dari belakang.
“Bagaimana kalau ikut aku ke kamar mandi?” sarannya garang.
“Hentikan! Lepaskan saya!” teriak Otsu, tapi orang itu membalikkan badan Otsu, memegang wajahnya dengan kedua tangannya yang besar dan menyapukan bibirnya ke pipi Otsu.
“Apa salahnya?” bujuknya. “Apa kau tak suka lelaki?”
“Hentikan! Tak boleh begitu!” protes Otsu yang tak berdaya. Serdadu ini pun menutupkan tangannya ke mulut Otsu.
Lupa akan bahaya, Takezo melompat ke lorong seperti kucing, dan mendaratkan tinjunya ke kepala orang itu dari belakang. Pukulan itu keras. Sekejap tak berdaya, samurai itu pun jatuh telentang, tapi masih terus berpegangan pada Otsu. Otsu mencoba melepaskan diri dan genggamannya dan memperdengarkan jeritan nyaring. Orang yang terjatuh itu berteriak, “Itu dia! Itu Takezo! Dia di sini! Ayo tangkap dia!”
Dari dalam kuil terdengar derap kaki dan raungan suara orang. Lonceng kuil mulai memberikan isyarat bahaya bahwa Takezo telah ditemukan, dan dari hutan berbondong-bondong orang mulai berkumpul di pekarangan kuil. Tapi Takezo sudah pergi, dan tak lama kemudian kelompok-kelompok pencari sekali lagi dikirimkan untuk menjelajahi perbukitan Sanumo. Takezo sendiri hampir tidak ingat bagaimana ia menyelinap lewat jaring yang dengan cepat mengetat itu. Ketika pengejaran sedang sengit-sengitnya, ia sudah berdiri di tempat jauh, di pintu masuk dapur besar berlantai kotor milik keluarga Hon’iden.
Melongok ke dalam rumah berpenerangan suram itu ia berseru, “Nenek!” “Siapa?” terdengar jawaban serak. Osugi berjalan pelan keluar dari kamar belakang. Diterangi dari bawah oleh lentera kertas yang dipegangnya, wajah Osugi yang sudah berkeriput itu memucat melihat tamunya. “Kau!” teriaknya.
“Ada berita penting yang mau saya sampaikan pada Nenek,” kata Takezo buru-buru. “Matahachi tidak mati, dia masih segar bugar. Dia tinggal bersama seorang perempuan. Di provinsi lain. Itu saja yang dapat saya sampaikan, karena cuma itu yang saya tahu. Saya minta Nenek menyampaikan berita ini pada Otsu. Saya tak bisa menyampaikannya sendiri.”
Dengan perasaan puas luar biasa karena telah bebas dari berita yang menjadi beban baginya, ia segera pergi, tapi perempuan itu memanggilnya kembali.
“Mau pergi ke mana kau sekarang?”
“Saya mesti masuk ke benteng Hinagura, menyelamatkan Ogin,” jawab Takezo sedih. “Sudah itu saya akan pergi entah ke mana. Saya cuma mau menyampaikan pada Nenek dan keluarga Nenek, juga pada Otsu, bahwa tidak saya biarkan Matahachi mati. Selain itu, tak ada alasan lagi bagi saya untuk tinggal di sini.”
“0, begitu.” Osugi memindahkan lentera dari tangan yang satu ke tangan yang lain untuk mengulur waktu. Kemudian ia memberi isyarat pada Takezo, “Kau pasti lapar, kan?”
“Berhari-hari saya tidak mendapat makanan yang pantas.”
“Kasihan! Tunggu! Aku sedang masak tadi, sebentar lagi aku kasih kamu makan malam yang hangat dan enak. Buat hadiah selamat jalan. Dan lagi apa kau tak ingin mandi selagi aku menyiapkan makanan?” Takezo tak bisa bicara.
“Tak usah terkejut begitu. Takezo, keluargamu dan keluarga kami selalu berdampingan sejak wangsa Akamatsu. Menurut pendapatku, kau seharusnya, jangan meninggalkan tempat ini, tapi yang pasti tak akan kubiarkan kau pergi tanpa diberi makan enak dan cukup!”
Sekali lagi Takezo tak dapat menjawab. la mengangkat sebelah tangannya dan menghapus matanya. Sudah begitu lama tak seorang pun bersikap begitu baik kepadanya. Sesudah menjadi orang yang selalu curiga dan tidak mempercayai siapa saja, tiba-tiba sekarang ia teringat bagaimana rasanya diperlakukan sebagai manusia.
“Lekas sana ke kamar mandi,” desak Osugi dengan nada seorang nenek. “Bahaya sekali berdiri di sini-orang bisa melihatmu. Akan kuambilkan kimono dan pakaian dalam Matahachi untukmu. Sekarang tenang-tenang saja dan mandilah yang baik.”
la pun menyerahkan lentera itu pada Takezo dan menghilang ke belakang rumah. Hampir pada waktu itu juga menantu perempuannya meninggalkan rumah, lari melintasi halaman dan hilang ditelan malam.
Dari kamar mandi, di mana lentera itu berayun-ayun, terdengar suara air berkecipak.
“Nah, bagaimana?” seru Osugi riang. “Cukup panas?”
“Cukup! Saya menjadi orang baru,” sahut Takezo.
“Tenang-tenang saja dan hangatkan badanmu. Nasi belum matang.”
“Terima kasih. Kalau saya tahu begini macamnya, mestinya saya datang lebih cepat. Saya yakin Nenek akan menerima saya!” la bicara lagi dua-tiga kali, tapi suaranya tenggelam oleh bunyi air, dan Osugi tidak menjawab. Tak lama kemudian menantu itu muncul kembali di gerbang, kehabisan napas. la diikuti serombongan samurai dan barisan sukarela. Osugi keluar rumah, menyambut mereka dengan bisikan.
“0, jadi Ibu suruh dia mandi. Cerdik sekali,” kata salah seorang dari mereka dengan kagum. “Ya, itu bagus sekali! Pasti kena dia kali ini!” Sesudah memecah diri menjadi dua kelompok, orang-orang itu pun merunduk dan bergerak hati-hati seperti kelompok katak ke arah api yang menyala terang di bawah kamar mandi.
Ada sesuatu-sesuatu yang tak dapat dijelaskan-menggelitik naluri Takezo, dan ia mengintip lewat celah pintu. Maka tegaklah bulu romanya. “Aku dijebak!” pekiknya. Ia telanjang bulat, dan kamar mandi itu pun kecil. Tak ada waktu untuk berpikir.
Di luar pintu ia melihat gerombolan orang bersenjata tongkat, lembing, dan pentung, namun ia tak gentar. Rasa takut apa pun yang mungkin dimilikinya hapus oleh rasa berangnya terhadap Osugi.
“Baik, bajingan-bajingan, awas,” geramnya.
Ia sudah tak peduli lagi dengan banyaknya mereka. Dalam keadaan itu, seperti dalam keadaan yang lain-lain juga, satu-satunya yang menurutnya barns dilakukan adalah menyerang daripada diserang. Ketika calon-calon penangkapnya sedang mengatur langkah di luar, dengan tiba-tiba ia tendang pintu sampai terbuka dan ia pun melompat ke udara, disertai teriakan perang yang menakutkan. Dalam keadaan masih telanjang clan rambut terburai ke sana kemari, ia tangkap dan rebut tangkai lembing pertama yang ditusukkan kepadanya, hingga pemiliknya terpental ke semak-semak. Senjata itu digenggamnya erat-erat, lalu ia menyerang ke sekitarnya seperti gasing yang berpusing. Begitu saja diayunkannya senjata itu dan dihantamkannya pada siapa saja yang datang mendekat. Ia mengambil pelajaran dari Sekigahara bahwa cara ini amat sangat efektif bagi orang yang kalah dalam jumlah. Tangkai lembing sering dapat lebih jitu dipergunakan daripada matanya.
Para penyerang terlambat sadar bahwa mereka telah membuat kesalahan besar, karena tidak dari semula mengirim tiga-empat orang menyerbu kamar mandi. Kini mereka hanya dapat berteriak saling menyemangati. Namun jelas mereka telah lumpuh.
Sekitar sepuluh kali senjata Takezo mengenai tanah, dan senjata itu patah. Maka ia pun mengambil karang besar dan melontarkannya kepada orang-orang yang sudah memperlihatkan tanda-tanda mundur itu.
“Lihat, dia lari masuk rumah!” seru seorang dari mereka, hampir bersamaan dengan keluarnya Osugi dan menantu perempuannya dari rumah ke halaman belakang.
Dengan suara ingar-bingar Takezo mengacak-acak seluruh rumah. Pekiknya, “Mana pakaian saya? Kembalikan pakaian saya!”
Di tempat itu berserakan pakaian kerja, juga lemari kimono yang besar. Tapi Takezo tidak memperhatikannya. la hanya menajamkan matanya dalam cahaya lampu samar-samar untuk menemukan pakaiannya sendiri yang compang-camping. Akhirnya dilihatnyaa pakaian itu di sudut dapur, dicengkeramnya dengan sebelah tangan, dan begitu memperoleh pijakan kaki di atas tungku tanah yang besar, ia pun merangkak keluar dari jendela kecil yang tinggi. Ketika la merangkak ke atas, para pengejarnya yang sudah sama sekali bingung itu tinggal mengutuk dan saling menyesali, karena gagal menjerat Takezo.
Berdiri di tengah atap, tanpa tergesa-gesa Takezo mengenakan kimononya. Disobeknya sedikit kain ikat pinggang dengan giginya dan diikatnya rambutnya yang masih basah ke belakang, dekat pada pangkalnya, dan demikian erat hingga alisnya dan sudut-sudut matanya tertarik.
Langit musim semi penuh dengan bintang.
Seni Perang

PENCARIAN yang dilakukan setiap hari di pegunungan berlangsung terus, dan kerja pertanian pun mengendur. Orang kampung tak dapat mengerjakan ladangnya atau merawat ulat sutranya. Papan-papan besar dipasang di depan rumah kepala kampung dan di setiap persimpangan: pengumuman hadiah besar bagi siapa saja yang berhasil menangkap atau membunuh Takezo. Juga imbalan memadai untuk informasi apa pun yang bisa menghasilkan tertangkapnya Takezo. Pemberitahuan itu ditandatangani secara resmi oleh Ikeda Terumasa, yang dipertuan di Puri Himeji.
Di kediaman Hon’iden berkecamuk suasana panik. Osugi dan keluarganya mengunci gerbang utama dan merintangi semua jalan masuk. Mereka ketakutan setengah mati, jangan-jangan Takezo datang membalas dendam. Para pencari, dengan petunjuk pasukan Himeji, menyusun rencana-rencana baru untuk menjerat pelarian itu. Tapi ternyata usaha mereka tidak membawa hasil.
“Dia membunuh satu orang lagi!” seru satu orang kampung. “Di mana? Siapa kali ini?”
“Seorang samurai. Belum jelas siapa.”
Mayat itu ditemukan di dekat jalan setapak di luar kampung. Kepalanya tergeletak dalam rumpun rumput yang tinggi, kedua kakinya mencuat ke langit dalam kedudukan tak wajar. Orang kampung terus datang-pergi dan berkasak-kusuk antarsesamanya. Mereka ketakutan, tapi sangat ingin tahu. Tengkorak orang itu hancur, jelas akibat hantaman salah satu papan tanda hadiah. Papan itu tergeletak melintang di tubuh yang basah oleh darah. Orang-orang yang melongo melihat pemandangan itu, tidak dapat tidak, membaca daftar hadiah yang dijanjikan itu. Beberapa orang tertawa muram melihat ironi mencolok itu.
Wajah Otsu mengerut pucat ketika ia muncul dari tengah-tengah kerumunan. Menyesal karena telah melihat, ia pun bergegas menuju kuil dan mencoba menghapus gambaran wajah orang mati yang terus terbayang di depan matanya. Di kaki bukit ia berpapasan dengan kapten yang menginap di kuil dan lima-enam anak buahnya. Mereka telah mendengar pembunuhan yang mengerikan itu dan sedang dalam perjalanan untuk menyelidikinya. Melihat gadis itu, sang kapten menyeringai.
“Dari mana kau, Otsu?” tanyanya dengan sikap akrab menyenangkan.”
“Belanja,” jawab Otsu pendek. Tanpa melirik orang itu, la pun bergegas mendaki anak tangga kuil. Otsu sejak semula tidak suka kepadanya. Kumisnya seperti tali. Itu yang paling tidak disukainya. Tapi sejak malam orang itu mencoba memaksanya, melihatnya saja sudah membuat ia jijik.
Takuan sedang duduk di depan ruang utama, bermain dengan seekor anjing kampung. Otsu bergegas lewat agak jauh dari situ untuk menghindari binatang kotor itu, ketika Takuan melihatnya clan memanggil, “Otsu, ada surat buatmu.”
“Buat saya?” tanya Otsu tak percaya.
“Ya, kau sedang pergi ketika pesuruh datang, karena itu dia tinggalkan surat itu padaku.” Dikeluarkannya sebuah gulungan kecil dari lengan kimononya dan diserahkannya pada Otsu. Katanya, “Kau kelihatan kurang sehat. Ada apa?”
“Saya mual. Tadi saya lihat orang mati menggeletak di rumput. Matanya masih terbuka, dan darah…”
“Kau tak perlu melihat hal-hal seperti itu. Tapi kalau melihat keadaan sekarang, terpaksa kau mesti menutup mata kalau pergi ke mana-mana. Hari-hari ini aku selalu bertemu mayat. Ha! Padahal tadinya kudengar kampung ini seperti surga kecil!”
“Kenapa Takezo membunuh orang?”
“Supaya mereka tidak membunuhnya, tentu saja. Mereka tak punya alasan sama sekali untuk membunuhnya, jadi kenapa pula dia mesti membiarkan mereka?”
“Takuan, saya takut!” kata Otsu memohon. “Apa yang mesti kita lakukan kalau dia datang kemari?”
Mendung gelap bergumpal-gumpal di atas pegunungan. Otsu menerima surat misterius itu clan pergi menyembunyikan diri di kamar tenun. Pada alat tenun terpasang secarik kain kimono lelaki yang belum selesai. Sejak tahun lalu selalu ia menggunakan waktu luangnya dengan memintal benang sutra untuk pakaian itu. Itu untuk Matahachi. la merasa senang bahwa nantinya dapat menjahit semua bagian kain itu menjadi satu kimono lengkap. la menenun setiap helainya dengan sangat cermat, seakan-akan menenun itu sendiri mendekatkan Matahachi padanya. la ingin pakaian itu kekal selamanya.
Sambil duduk di depan alat tenun, ia menatap surat itu dengan saksama. “Siapa yang mengirim?” bisiknya pada diri sendiri. la merasa surat itu tentunya ditujukan pada orang lain. Berulang kai ia baca alamatnya untuk mencari kesalahannya.
Surat itu jelas sudah menempuh jalan panjang sebelum sampai kepadanya. Bungkusannya sudah sobek-sobek dan lusuh, penuh dengan noda bekas jari dan titik air hujan. Ketika segelnya dibuka, yang jatuh ke pangkuannya bukannya satu, melainkan dua surat. Yang pertama ditulis seorang wanita yang tak dikenal, seorang wanita yang sudah agak tua, begitulah terkanya cepat.
Saya menulis hanya untuk membenarkan apa yang tertulis dalam surat satunya. Karenanya saya tidak akan berbicara terperinci.
Saya sudah kawin dengan Matahachi dan menerimanya dalam keluarga saya. Meskipun begitu, dia rupanya masih memikirkan Anda. Saya kira, salahlah kalau kita membiarkan saja hal itu. Karena itu Matahachi dengan ini mengirimkan penjelasan, dan saya memberikan kesaksian atas kebenaran penjelasan itu.
Harap lupakan Matahachi.
Hormat saya, Oko
Surat satunya berisi tulisan cakar ayam Matahachi dan berisi penjelasan panjang yang menjemukan, mengenai semua alasan kenapa ia tidak mungkin pulang. Intinya tentu saja permintaan agar Otsu melupakan pertunangan dengannya dan agar menemukan suami lain. Matahachi menambahkan, karena “sukar” baginya menulis langsung kepada ibunya tentang persoalan itu, ia akan berterima kasih apabila Otsu mau membantu. Kalau Otsu kebetulan bertemu dengan ibunya, ia diminta menyampaikan bahwa Matahachi masih hidup dan sehat, serta tinggal di provinsi lain.
Otsu merasa sumsum tulang punggungnya berubah menjadi es. la duduk terpukau, terlampau terguncang untuk dapat berteriak atau sekadar mengedip. Kuku-kuku jarinya yang memegang surat itu berubah sewarna dengan kulit orang mati yang dilihatnya kurang dari sejam sebelumnya.
Jam-jam berlalu. Semua orang di dapur mulai bertanya-tanya di mana gerangan Otsu. Kapten yang diserahi tugas melakukan pencarian merasa puas dapat memerintahkan orang-orangnya yang kelelahan itu tidur di hutan, tapi ketika ia sendiri kembali ke kuil pada senja hari, ia pun menuntut kenikmatan yang sesuai dengan statusnya. Air mandi harus dipanaskan sepantasnya. Ikan segar dari kali harus disiapkan menurut petunjuk-petunjuknya, dan satu orang harus mengambil sake mutu terbaik dari salah satu rumah kampung. Banyak sekali pekerjaan harus dilakukan untuk menyenangkan orang itu, dan sebagian besar pekerjaan itu jatuh pada Otsu. Karena Otsu menghilang, makan malam si kapten terlambat.
Takuan pun pergi mencarinya. la sama sekali tidak memikirkan si kapten. Yang dikhawatirkannya adalah Otsu. Bukan kebiasaan gadis itu untuk pergi tanpa memberitahu. Sambil memanggil-manggil namanya, biarawan itu melintasi pekarangan kuil dan melewati kamar tenun beberapa kali. Karena pintu kamar itu tertutup, tak mau la bersusah-susah melihat ke dalam.
Beberapa kali pendeta kuil keluar lorong tinggi dan berseru kepada Takuan, “Belum juga ketemu? Mestinya di sini-sini saja.” Tapi lama kelamaan ia pun bingung, dan serunya, “Cepat temukan dia! Tamu kita bilang tak bisa minum sake kalau bukan Otsu yang menuangkan.”
Pembantu kuil disuruh menuruni bukit untuk mencari Otsu sambil membawa lentera. Hampir bersamaan waktunya dengan keberangkatan pembantu itu, Takuan pun akhirnya membuka pintu kamar tenun.
Apa yang dilihatnya di dalam sungguh mengejutkannya. Otsu terkulai di atas alat tenun, jelas dalam keadaan dirundung kesedihan. Karena tak ingin mengganggu, Takuan diam saja memandang kedua surat yang kusut dan sobek di tanah. Surat itu telah diinjak-injak seperti sepasang boneka jerami.
Takuan memungutnya. “Apa ini bukan yang dibawa pesuruh hari ini?” tanyanya lembut. “Kenapa kau tidak menyimpannya?”
Otsu menggeleng lesu.
“Semua orang sudah setengah gila mengkhawatirkanmu. Aku sendiri sudah mencari ke mana-mana. Ayo pulang, Otsu. Aku tahu kau enggan, tapi kau betul-betul harus kerja. Yang jelas, kau mesti melayani Kapten. Pendeta tua itu sudah hilang akal.”
“Kepala saya… kepala saya sakit,” bisik Otsu. “Bapak, apa tak bisa mereka meliburkan saya… malam ini saja?”
Takuan mengeluh. “Otsu, aku pribadi berpendapat kau tak usah menghidangkan sake untuknya malam ini atau malam kapan pun. Tapi pendeta itu lain pendapatnya. Dia manusia dari dunia ini. Dia bukan orang yang dapat merebut rasa hormat atau dukungan daimyo bagi kuilnya lewat kebesaran jiwa semata-mata. Dia percaya bahwa dia mesti menghidangkan anggur dan makanan agar Kapten senang selalu.” Takuan menepuk punggung Otsu. “Lagi pula, dia sudah menerima dan membesarkanmu, jadi kau berutang budi padanya. Kau tak boleh tinggal terlalu lama di sini.”
Dengan enggan Otsu pun menurut. Ketika Takuan membantunya berdiri, ia menengadahkan wajahnya yang basah oleh air mata kepada Takuan dan berkata, “Saya akan pergi, asal Bapak berjanji menemani saya.”
“Aku tidak keberatan, tapi si Jenggot Jarang tua itu tak suka padaku. Tiap kali aku melihat kumis konyol itu, aku jadi ingin sekali mengatakan bahwa kumis itu lucu sekali. Aku tahu perasaan itu kekanak-kanakan, tapi ada beberapa orang yang memang begitu pengaruhnya terhadapku.”
“Tapi sava tak mau ke sana sendirian!”

“Tapi Pendeta ada di sana, kan?”
“Ya, tapi dia selalu pergi kalau saya datang.”
“Hmmm. Itu kurang baik juga. Baiklah, aku akan mengawanimu. Sekarang jangan pikirkan lagi, dan basuh mukamu.”
Ketika akhirnya Otsu muncul di petak pendeta, kapten yang sudah membongkok mabuk itu jadi gembira. la meluruskan topinya yang dari tadi sudah sangat miring. la jadi sangat riang dan berkali-kali minta dituangkan sake lagi. Segera kemudian mukanya jadi merah padam, dan sudut-sudut matanya yang melotot itu mulai turun.
Sekalipun demikian, tidak sepenuhnya ia merasa senang, dan sebabnya adalah hadirnya satu orang yang tidak dikehendakinya di kamar itu. Di sebelah lampu, Takuan duduk membungkuk seperti pengemis buta, asyik membaca buku yang terbuka di atas lututnya.
Biarawan itu dikira pembantu pendeta, dan si kapten menudingnya sambil berteriak, “Hei, yang di sana itu!”
Takuan terus juga membaca, sampai Otsu menyodoknya. Ia mengangkat matanya yang kosong dan memandang ke sekitar, katanya, “Kapten memanggil saya?”
Kapten menjawab pedas, “Ya, kamu! Aku tak ada urusan denganmu. Pergi dari sini!”
“Oh, tapi saya tidak keberatan di sini,” jawab Takuan polos. “Oh, tidak keberatan, ya?”
“Sama sekali tidak,” kata Takuan dan kembali membaca buku.
“Tapi aku keberatan,” gertak si kapten. “Rasa sake jadi rusak karena ada orang membaca.”
“Oh, maaf,” jawab Takuan bernada ejekan. “Saya ini sungguh tidak sopan. Kalau begitu, akan saya tutup buku saya.”
“Melihat buku itu saja aku sudah jengkel.”
“Baiklah. Akan saya minta Otsu menyingkirkannya.”
“Bukan… bukan itu, tapi kau sendiri, goblok! Kau ini bikin rusak suasana.”
Wajah Takuan menjadi sungguh-sungguh. “Wah, kalau begitu sulit juga, ya. Soalnya karena saya bukan Wuk’ung yang suci dan dapat mengubah diri menjadi kepulan asap, atau menjadi serangga, lalu hinggap di baki Kapten,”
Leher kapten yang merah itu pun menggembung dan matanya melotot. la jadi tampak seperti ikan buntal. “Keluar kamu, bodoh! Enyah dari mukaku!”
“Baik,” kata Takuan tenang sambil membungkuk. Sambil memegang tangan Otsu ia pun berkata pada gadis itu, “Tamu bilang dia lebih suka seorang diri. Cinta kesendirian adalah tanda kebijaksanaan. Kita tak boleh mengganggunya lagi. Ayo.”
“Kenapa… kenapa, kamu… kamu…”
“Ada apa rupanya?”
“Siapa bilang Otsu mesti pergi denganmu, orang pandir jelek?”
Takuan pun melipat kedua tangannya. “Sudah bertahun-tahun saya memperhatikan, tidak banyak pendeta atau biarawan yang tampan. Tapi samurai juga begitu, saya kira. Anda sendiri, umpamanya.”
Mata si kapten hampir saja melompat dari ceruknya, “Apa!”
“Apa Kapten sudah mengamati kumis Kapten? Maksud saya, apa Kapten sungguh-sungguh menyediakan waktu untuk menatapnya dan menilainya secara objektif?”
“Anak haram jadah!” teriak Kapten seraya mengambil pedang yang tersandar di dinding. “Jaga dirimu!” Takuan berdiri, dan sambil memandang Kapten dengan sebelah matanya ia pun bertanya tenang, “Hmm. Bagaimana saya mesti menjaga diri saya sendiri?”
Kapten pun memiawik sambil memegang pedangnya yang masih tersarung,
“Sudah cukup aku diejek. Sekarang giliranmu menerima akibatnya!”
Takuan jadi tertawa. “Itu berarti Kapten mau memenggal kepala saya? Kalau begitu, lupakan saja. Membosankan sekali.”
“Ha?”
“Membosankan. Tak bisa saya membayangkan hal yang lebih membosankan daripada memenggal kepala seorang biarawan. Kepala itu akan jatuh begitu saja ke lantai dan menggeletak di situ menertawakan Kapten. Itu bukan prestasi besar. Apa gunanya buat Anda?”
“Hah,” geram Kapten, “kalau begitu aku puas bila bisa membungkam mulutmu. Biar sukar buatmu melanjutkan bualan kurang ajar!” Dengan keberanian yang biasa dimiliki orang hanya karena memegang senjata, ia pun tertawa terbahak-bahak jelek sekali dan maju dengan sikap mengancam.
“Kapten!”
Tingkah laku Takuan yang asal saja itu membuatnya demikian berang, hingga tangannya yang memegang sarung pedang bergetar hebat. Otsu menengahi kedua orang itu, berusaha melindungi Takuan.
“Apa pula bicara Bapak ini?” katanya dengan maksud mengendurkan perasaan dan melambatkan tindakan. “Bukan begitu caranya bicara dengan prajurit. Coba sekarang katakan Bapak menyesal,” mohonnya. “Ayolah, minta maaf pada Kapten.”
Tapi Takuan sama sekali tidak mundur.
“Minggir, Otsu. Aku tak apa-apa. Apa kaupikir akan kubiarkan diriku dipenggal oleh orang tolol macam ini? Memang dia mengepalai berpuluh orang yang terampil bersenjata, tapi dua puluh hari dibuangnya hanya untuk menemukan tempat seorang pelarian yang sudah kecapekan dan setengah kelaparan. Kalau dia tak punya cukup akal buat menemukan Takezo, akan mengherankan sekali kalau dia dapat mengalahkanku!”
“Jangan bergerak!” perintah Kapten. Mukanya membengkak menjadi warna lembayung ketika ia bergerak menarik pedangnya. “Minggir, Otsu! Biar kupotong pembantu pendeta bermulut besar ini menjadi dua!”
Otsu menjatuhkan diri ke kaki Kapten dan memohon, “Kapten cukup punya alasan untuk marah, tapi saya minta Kapten bersabar. Dia orang yang tidak begitu beres. Bicaranya memang begitu dengan semua orang. Dia tidak bermaksud apa-apa, sungguh!” Air mata bercucuran dari matanya.
“Apa katamu, Otsu?” kata Takuan keberatan. “Tak ada yang salah dengan otakku, dan aku bukannya melucu. Aku hanya mengemukakan kebenaran, tapi rupanya orang tak suka mendengarnya. Dia tolol, makanya kusebut dia tolol. Apa maumu aku berdusta?”
“Lebih baik jangan kauulangi,” guntur samurai itu.
“Aku akan bicara sesukaku. Memang rasanya tak ada bedanya buat kalian para serdadu, berapa pun waktu yang kalian hamburkan buat mencari Takezo. Tapi itu beban luar biasa buat petani. Apa kalian menyadari apa yang kalian lakukan terhadap mereka? Mereka tak bisa makan kalau kalian teruskan ini. Barangkali malahan tak terpikir oleh kalian, bagaimana mereka terpaksa menelantarkan sama sekali kerja ladangnya untuk mengikuti perburuan angsa liar kalian yang berantakan itu. Dan tanpa upah pula! Sungguh memalukan!”
“Jangan sembarangan kamu, pengkhianat. Itu fitnah besar terhadap pemerintah Tokugawa!”
“Bukan pemerintah Tokugawa yang kukritik, tapi pejabat-pejabat birokrat seperti kamu yang berdiri antara daimyo dan rakyat jelata ini, yang bisa saja mencuri upah yang mestinya mereka terima. Satu hal lagi, kenapa kau bermalas-malasan di sini malam ini? Siapa yang memberimu hak bersantai pakai kimono yang manis dan enak, nyaman dan hangat, mandi seenaknya dan minum sake sebelum tidur dengan layanan seorang gadis manis? Apa itu yang kausebut mengabdi kepada atasan?”
Kapten itu bungkam.
“Apa bukan tugas samurai untuk mengabdi kepada atasan dengan jujur dan tak kenal lelah? Apa bukan tugas Kapten menunjukkan kebajikan kepada rakyat yang membanting tulang demi daimyo? Coba lihat diri sendiri, Kapten! Kau menutup mata pada kenyataan bahwa kau menarik para petani dari kerja yang menghasilkan makanan mereka sehari-hari. Kau bahkan tidak memikirkan sama sekali anak buahmu. Kau mestinya melakukan misi resmi, tapi apa yang kaulakukan? Setiap ada kesempatan, kaulahap makanan dan minuman orang lain yang diperoleh dengan susah payah, clan kaugunakan kedudukanmu untuk mendapat penginapan yang paling menyenangkan. Aku berani mengatakan, kau adalah contoh korupsi yang klasik. Kauselimuti diri dengan kekuasaan atasanmu untuk menghamburkan tenaga rakyat jelata, untuk tujuan-tujuan pribadimu sendiri.”
Kini Kapten sudah demikian terpesona, hingga tak dapat menutup mulutnya yang menganga. Takuan mendesak terus.
“Sekarang cobalah potong kepalaku dan kirimkan kepada Yang Dipertuan Ikeda Terumasa! Percayalah, dia akan kaget. Barangkali dia akan berkata, ‘Hai, Takuan! Jadi, hanya kepalamu yang datang menghadap hari ini? Di mana bagian badanmu yang lain?’
“Pasti kau berminat mengetahui bahwa Yang Dipertuan Terumasa dan aku biasa bersama-sama ambil bagian dalam upacara minum teh di Myoshinji. Kami berdua pun berkali-kali mengobrol lama dan hangat di Daitokuji, Kyoto.”
IZRO'IL
Musashi I (Tanah)

Musashi I 5


Kegarangan si Jenggot Jarang menguap dalam sekejap. Mabuknya pun sudah sedikit berkurang, sekalipun tampaknya ia masih belum dapat menilai apakah yang dikatakan Takuan itu benar atau tidak. la tampak lumpuh, dan tidak tahu mau bertindak bagaimana.
“Pertama-tama, lebih baik kau duduk dulu,” kata biarawan itu. “Kalau kaupikir aku bohong, aku senang bisa pergi bersamamu ke puri dan menghadap Yang Dipertuan sendiri. Sebagai hadiah, aku bisa membawakannya tepung soba lezat, yang bisa dibikin orang sini. Beliau suka sekali tepung itu.
“Tapi tak ada yang lebih capek, dan tak ada yang paling tidak kusukai daripada mendatangi seorang daimyo. Dan lagi, kalau orang-orang yang menjadi korban tindakanmu di Miyamoto kebetulan datang selagi kami mengobrol sambil minum teh, aku tak dapat berbohong. Kejadiannya barangkali akan berakhir dengan kau bunuh diri gara-gara ketidakmampuanmu.
“Sudah dari semula kukatakan supaya jangan mengancamku, tapi kalian para prajurit ini memang sama saja. Kalian tak pernah berpikir tentang konsekuensi. Dan inilah kekurangan kalian yang terbesar.
“Sekarang turunkan pedang itu; akan kuceritakan hal lain.”
Kapten yang sudah tak berdaya itu pun menurut.
“Kau tentu kenal dengan buku Seni Perang karangan Jenderal Sun-tzu, yang merupakan karya klasik Cina tentang strategi militer? Aku yakin prajurit setarafmu kenal sekali dengan buku yang demikian penting. Aku menyebutnya karena aku ingin memberikan satu pelajaran yang menggambarkan salah satu prinsip utama buku itu. Aku mau menunjukkan kepadamu bagaimana menangkap Takezo tanpa kehilangan lagi anak buah atau menyebabkan orang kampung mendapat kesulitan lebih dari yang sudah kauberikan. Ini ada hubungannya dengan kerja resmimu, karena itu kau mesti benar-benar memperhatikannya.” la menoleh pada sang gadis. “Otsu, tolong tuangkan secangkir sake lagi untuk Kapten.”
Kapten itu lelaki umur empat puluhan, kira-kira sepuluh tahun lebih tua daripada Takuan, tapi jelas dari wajah mereka waktu itu bahwa kekuatan watak tak ada urusannya dengan umur. Cacian lisan Takuan telah merendahkan orang yang lebih tua itu, dan keangkuhannya pun menguap.
Dengan takut-takut ia berkata, “Tidak, saya tak mau lagi sake. Saya minta Anda memaafkan saya. Saya tak tahu sama sekali bahwa Anda teman Yang Dipertuan Terumasa. Maaf, saya telah berlaku terlalu kasar.” la jadi begitu tertekan, hingga tampak menggelikan, tapi Takuan menahan diri untuk tidak lebih memojokkannya lagi.
“Mari kita lupakan saja. Yang ingin kubicarakan adalah bagaimana menangkap Takezo. Itulah yang harus Anda lakukan untuk melaksanakan perintah dan menjaga kehormatan Anda sebagai samurai.”
“Ya.”
“Tentu saja aku juga tahu bahwa buat Anda tidak penting berapa lama dibutuhkan untuk menangkap orang itu. Bukankah makin lama waktu itu, makin lama Anda bisa tinggal di kuil ini, makan, dan mengerling Otsu?”
“Saya minta jangan membawa-bawa lagi soal itu. Terutama di depan Yang Dipertuan.” Serdadu itu pun tampak seperti seorang anak yang akan menangis.
“Aku bersedia menganggap seluruh peristiwa ini sebagai rahasia. Tapi kalau pencarian di pegunungan sepanjang hari itu berjalan terus, para petani akan mengalami kesulitan besar. Tidak hanya para petani, tetapi juga penduduk kampung terlalu limgung dan ketakutan untuk melakukan pekerjaan yang biasa. Menurut penglihatanku, kesulitannya adalah Anda tidak menggunakan strategi yang sewajarnya. Bahkan menurut pendapatku Anda tidak menggunakan strategi sama sekali. Apa betul anggapanku, bahwa Anda tidak mengenal Seni Perang?”
“Saya malu mengakuinya, tapi memang demikian.”
“Nah, Anda harus merasa malu. Karena itu tak akan kaget kalau aku sebut Anda tolol. Anda bisa saja seorang pejabat, tapi menyedihkan sekali, Anda orang yang tidak berpendidikan dan sama sekali tidak efektif. Tapi tak ada gunanya membikin pusing Anda. Aku hanya akan mengusulkan sesuatu. Aku pribadi menawarkan diri untuk menangkap Takezo dalam tiga hari.”
“Anda menangkap dia?”
“Apa Anda kira aku berkelakar?”
“Tidak, tapi…”
“Tapi apa?”
“Tapi kalau dihitung tenaga bantuan dari Himeji dan semua petani serta prajurit itu, lebih dari dua ratus orang sudah menjelajahi pegunungan itu hampir tiga minggu lamanya.”
“Aku paham betul.”
“Dan karena sekarang ini musim semi, Takezo beruntung. Banyak yang bisa dimakan pada musim ini.”
“Kalau begitu, apa Anda merencanakan untuk menunggu sampai turun saiju? Kira-kira delapan bulan lagi?”
“Tidak, saya pikir tak bisa.”
“Tentu saja tidak bisa. Justru karena itu aku menawarkan diri menangkapnya untuk Anda. Aku tidak membutuhkan bantuan; aku dapat melakukannya sendiri. Tapi pikir-pikir, barangkali aku akan membawa serta Otsu. Ya, kami berdua cukuplah.”
“Anda main-main saja, kan?”
“Diam dulu! Apa menurut Anda, Takuan Soho menghabiskan seluruh waktunya buat bikin lelucon?”
“Maaf.”
“Seperti kukatakan tadi, Anda tidak mengenal Seni Perang, padahal menurut pendapatku, itulah sebab terpenting kegagalan Anda yang memalukan. Sebaliknya, mungkin saja aku hanya seorang pendeta sederhana, tapi aku memahami Sun-tzu. Sekarang tinggal satu syarat lagi. Kalau Anda tak setuju, aku terpaksa duduk lagi dan melihat saja Anda terus membuat kesalahan besar, sampai salju jatuh, dan barangkali juga kepala Anda.”
“Apa syaratnya?” tanya Kapten hati-hati.
“Kalau aku berhasil membawa pulang pelarian itu, akulah yang menentukan nasibnya.”
“Apa maksud Anda?” Kapten menarik-narik kumisnya. Berbagai pikiran berkecamuk dalam kepalanya. Bagaimana mungkin ia bisa yakin biarawan aneh ini tidak akan menipunya? Walau ia bicara lancar, ada kemungkinan ia sama sekali tidak waras. Mungkinkah ia teman Takezo, seorang anteknya? Mungkinkah ia tahu di mana orang itu bersembunyi? Tapi kalaupun tidak tahu-rasanya memang tidak-apa salahnya memberinya kesempatan, sekadar untuk melihat apakah ia berhasil dengan rencana gilanya. Setidak-tidaknya barangkali ia dapat memetik hasil pada saat terakhir. Dengan pikiran itu, Kapten mengangguk tanda setuju. “Baiklah kalau begitu. Kalau Anda menangkapnya, Anda dapat memutuskan apa hukumannya. Tapi bagaimana kalau Anda tidak dapat menemukannya dalam tiga hari?”
“Aku akan gantung diri pada pohon kriptomeria di kebun itu.”
Pagi harinya pembantu kuil dengan wajah sangat gelisah berlari ke dapur. Terengah-engah ia berseru, “Apa Takuan sudah gila? Saya dengar dia berjanji mencari Takezo sendiri!”
Mata orang-orang di dapur terbelalak. “Tidak!”
“Tidak, sungguh-sungguh gila!”
“Bagaimana dia akan menangkapnya?”
Jawaban-jawaban konyol clan ketawa mengejek pun terdengar, tapi terdengar juga bisikan terpendam yang mengandung kekhawatiran.
Ketika berita itu sampai ke telinga pendeta kuil, ia mengangguk bijaksana dan mengatakan bahwa mulut manusia itu pintu bencana. Tetapi yang betul-betul paling khawatir adalah Otsu. Hanya sehari sebelumnya surat selamat tinggal Matahachi melukainya. Lukanya lebih perih dibanding berita kematiannya. Ia mempercayai tunangannya itu, dan bahkan bersedia menenggang Osugi yang dahsyat itu sebagai mertua tukang perintah, demi Matahachi. Kepada siapa ia harus berpaling kini?
Bagi Otsu yang sudah tercebur dalam kegelapan dan keputusasaan, Takuan merupakan titik terang dalam hidup ini. Sinar harapannya yang terakhir. Sehari sebelumnya, ketika ia menangis sendirian di kamar tenun, ia mengambil pisau tajam dan mengiris-iris sampai lumat kain kimono yang sungguh-sungguh telah disulami jiwanya. la juga sudah bermaksud menghunjamkan bilah tajam itu ke dalam tenggorokannya. la sangat tergoda untuk melakukan hal itu, namun munculnya Takuan akhirnya membuyarkan maksud itu dari kepalanya. Takuan menghiburnya dan meyakinkannya agar setuju menuangkan sake, clan Takuan akhirnya menepuk punggungnya. Ia masih dapat merasakan hangatnya tangan kokoh biarawan itu ketika membimbingnya ke luar kamar tenun.
Dan sekarang Takuan membuat perjanjian yang sinting.
Otsu tidak begitu memedulikan keselamatannya sendiri. Yang lebih dipedulikannya adalah kemungkinan satu-satunya teman di dunia ini akan hilang juga karena usul tololnya. la merasa putus asa dan sangat tertekan. Akal sehatnya menyatakan aneh kalau ia dan Takuan dapat menemukan tempat Takezo dalam waktu sesingkat itu.
Takuan bahkan sudah berani bertukar sumpah dengan si Jenggot Jarang di hadapan altar Hachiman, dewa perang. Ketika Takuan kembali, Otsu menegurnya dengan keras karena sikapnya yang terburu-buru itu, tetapi Takuan berkeras tak ada yang mesti dikhawatirkan. Katanya, tujuannya adalah meringankan beban kampung, mengamankan kembali lalu lintas di jalan raya, dan mencegah berlangsungnya terus pemborosan hidup manusia. Mengingat jumlah nyawa yang dapat diselamatkan kalau Takezo bisa cepat ditangkap, nyawanya sendiri tidaklah begitu penting. Takuan pun meminta agar Otsu beristirahat sebanyak-banyaknya menjelang malam hari berikutnya, saat mereka berangkat. Otsu harus ikut tanpa mengeluh, dan percaya penuh padanya. Otsu sudah terlampau bingung untuk menolak, lagi pula pilihan untuk tinggal di kuil clan selalu gelisah lebih buruk lagi dibanding dengan pergi.
Petang hari berikutnya Takuan masih tidur bersama kucing di sudut bangunan utama kuil. Wajah Otsu cekung. Baik pendeta, pesuruh, maupun pembantu pendeta mencoba meyakinkannya untuk tidak pergi. “Pergi saja sembunyi,” itulah nasihat praktis mereka, tapi karena alasan-alasan yang hampir tak dapat dimengertinya sendiri, Otsu sama sekali tidak tergerak untuk berbuat demikian.
Matahari tenggelam dengan cepat, dan bayang-bayang malam yang pekat mulai menyelimuti celah-celah jajaran gunung yang menandai alur Sungai Aida. Kucing melompat turun dari emperan kuil, dan akhirnya Takuan sendiri keluar ke beranda. Seperti si kucing, ia pun meregangkan anggota badannya sambil menguap lebar.
“Otsu,” panggilnya, “lebih baik kita berangkat sekarang.”
“Sudah saya kemasi semuanya-sandal jerami, tongkat, pembalut kaki, obat-obatan, kertas minyak polonia.”
“Ada yang kamu lupa.”
“Apa? Senjata? Apa kita mesti bahwa pedang atau lembing, atau yang lain?”
“Tentu saja tidak! Aku mau bawa bekal makanan.”
“0, maksud Bapak beberapa kotak makan siang?”
“Bukan, makanan yang enak. Aku mau bawa nasi, bumbu kacang, clan… o, ya, sedikit sake. Apa saja yang enak bolehlah. Aku juga butuh kuali. Pergi ke dapur sana, bikin bungkusan yang besar. Dan bawa pikulan.”
Pegunungan dekat tempat itu kini lebih hitam dibanding pernis yang paling hitam, sedangkan pegunungan yang di kejauhan lebih pucat daripada mika. Waktu itu musim semi sudah hampir usai, angin berbau wangi dan hangat. Bambu bergaris dan tumbuhan jalar wistaria menjerat kabut. Makin jauh Takuan dan Otsu meninggalkan kampung, pegunungan dengan dedaunan yang berkilat-kilat lemah oleh cahaya suram makin tampak seakan bermandikan hujan petang hari. Mereka berjalan beriringan menembus kegelapan, masing-masing memikul ujung pikulan bambu yang digantungi bungkusan yang terikat baik-baik.
“Malam yang bagus buat jalan-jalan, ya?” kata Takuan sambil menoleh ke belakang.
“Rasanya kurang begitu indah,” gerutu Otsu. “Ke mana kita pergi?”
“Aku belum tahu,” jawab Takuan, tampak berpikir sedikit, “tapi mari kita jalan lebih jauh lagi sedikit.”
“Saya sih tidak keberatan jalan.”
“Apa kau capek?”
“Tidak,” jawab gadis itu, tapi pikulan itu jelas menyakitinya, karena setiap kali ia memindahkannya dari bahu satu ke bahu lain.
“Di mana saja orang-orang ini? Tak seorang pun kulihat.”
“Kapten tidak memperlihatkan muka di kuil sepanjang hari tadi. Saya berani bertaruh, dia menyuruh pulang para pencari, supaya kita dapat sendirian saja tiga hari ini. Pak Takuan, bagaimana caranya menangkap Takezo?”
“0, jangan khawatir. Cepat atau lambat dia akan muncul.”
“Tapi dia belum pernah menemui siapa pun. Kalau nanti dia muncul, apa yang akan kita lakukan? Sesudah diburu orang banyak begitu lama, tentunya dia nekat sekarang. Dia berjuang demi hidupnya, dan dia sangat kuat. Memikirkan itu saja kaki saya sudah gemetar.”
“Hati-hati! Awas kakimu!” seru Takuan tiba-tiba.
“Oh!” teriak Otsu ketakutan, langkahnya langsung terhenti. “Ada apa? ‘ Kenapa Bapak bikin takut saya?”
“Jangan khawatir. Bukan Takezo. Aku cuma mau mengingatkan kamu supaya jalan yang balk. Banyak wistaria dan perangkap semak sepanjang pinggir jalan ini.”
“Apa para petani itu yang memasangnya di sini buat menangkap Takezo?” “He-eh. Tapi kalau kita tidak hati-hati, kita yang akan masuk kedalamnya.”
“Takuan, kalau Bapak bicara soal itu, saya jadi gugup dan tak bisa melangkah.”
“Apa yang kau khawatirkan? Kalaupun kita terperangkap, aku yang lebih dulu Tak perlu kau menyusulku.” la menyeringai pada Otsu. “Menurutku, sia-sia saja mereka menempuh banyak kesulitan.” Sesudah diam sekejap, ia pun menambahkan, “Otsu, apa menurutmu jurang ini tidak makin sempit?”
“Tak tahulah saya, tapi sisi belakang Sanumo sudah kita lewati beberapa waktu lalu. Ini tentunya Tsujinohara.”
“Kalau begitu, kita terpaksa jalan sepanjang malam ini.”
“Ah, saya bahkan tak tahu ke mana kita ini. Kenapa bicara soal jalan pada saya?”
“Mari kita turunkan beban ini sebentar.” Habis meletakkan bungkusan itu ke tanah, Takuan pergi menuju karang yang berdekatan.
“Bapak mau ke mana?”
“Mau buang air.”
Seratus kaki di bawah Takuan, kali-kali kecil yang bergabung menjadi Sungai Aida mengguntur dari batu ke batu. Bunyi itu menderu menuju dirinya, memenuhi telinganya, dan menembus seluruh dirinya. Sambil buang air kecil, ia memandang ke langit, seakan-akan menghitung-hitung bintang. “Oh, nikmat rasanya!” katanya bersuka hati. “Aku menyatu dengan alam semesta, atau alam semesta menyatu denganku?”
Akhirnya ia kembali dan jelasnya, “Ketika di sana tadi, aku membuka-buka Buku Perubahan, dan sekarang aku tahu pasti tindakan apa yang akan kita ambil. Sudah jelas sekarang.”
“Buku Perubahan? Bapak tidak membawa buku.”
“Bukan yang tertulis, tapi yang ada dalam diriku. Buku Perubahan asli milikku sendiri. Dia ada dalam hati, atau perut, atau di tempat lain. Ketika berdiri di sana tadi, aku memikirkan letak tanah, penampilan air, dan keadaan langit. Kemudian aku menutup mata, dan ketika aku membukanya, ada yang mengatakan, ‘Pergi ke gunung di sana itu.” la menunjuk ke puncak yang dekat.
“Maksud Bapak, Gunung Takateru?”
“Aku tidak tahu namanya. Pokoknya, yang setengahnya dataran terbuka.” “Orang menyebutnya padang rumput Itadori.”
“0, jadi ada namanya?”
Ketika mereka sampai, padang rumput itu ternyata sebuah dataran kecil yang melandai ke tenggara dan memberikan pemandangan indah daerah sekitar. Para petani biasa menggiring kuda dan lembunya ke sana untuk merumput, tapi malam itu tak seekor binatang pun kelihatan atau terdengar. Ketenangan di situ hanya terpecahkan oleh angin musim semi yang hangat membelai rerumputan.
“Kita berkemah di sini,” ucap Takuan. “Takezo, musuh itu, akan jatuh ke tanganku tepat seperti Jenderal Ts’ao dari Wei jatuh ke tangan Ch’u-ko K’ung-ming.”
Ketika mereka sudah menurunkan beban, Otsu bertanya, “Apa yang kita lakukan di sini?”
“Duduk,” jawab Takuan mantap.
“Bagaimana kita bisa menangkap Takezo kalau hanya duduk di sini?” “Dengan jaring pun kita dapat menangkap burung terbang tanpa mesti terbang sendiri.”
“Tapi kita belum memasang jaring sama sekali. Apa Bapak yakin tidak kesurupan rubah atau yang lain?’
“Kalau begitu, mari bikin api. Rubah takut api, jadi kalau aku kesurupan, aku bisa lekas bebas.”
Mereka mengumpulkan kayu kering, dan Takuan membuat api. Semangat Otsu tampak naik.
“Api yang baik membuat gembira orang, betul tidak?”
“Yang jelas menghangatkan. Tapi, apa kau sedang sedih?”
“Oh, Takuan, Bapak sudah lihat sendiri bagaimana perasaan saya selama ini. Dan saya rasa tak ada orang yang betul-betul suka menginap di pegunungan seperti ini. Apa yang akan kita lakukan, seandainya sekarang ini turun hujan?”
“Dalam perjalanan ke atas tadi, aku melihat gua dekat jalan. Kita dapat berteduh di sana sampai hujan berhenti.”
“Itulah barangkali yang dilakukan Takezo pada malam hari dan kalau udara buruk. Mestinya banyak tempat macam itu di seluruh gunung ini. Di situ barangkali dia menyembunyikan diri selama ini.”
“Barangkali. Dia sebetulnya tidak begitu cerdik, tapi tentunya dia cukup cerdik untuk berteduh dalam gua jika hujan.”
Otsu jadi tercenung. “Pak Takuan, kenapa orang kampung begitu benci pada Takezo?”
“Para penguasa itu yang membuat mereka membencinya. Otsu, mereka itu orang-orang sederhana. Mereka takut kepada pemerintah; begitu takutnya, sampai kalau pemerintah yang menitahkan, akan mereka halau orang-orang sekampungnya, bahkan juga sanak mereka sendiri.”
“Jadi, menurut Bapak, mereka cuma berkepentingan melindungi diri sendiri.”
“Sebetulnya bukan salah mereka. Mereka itu sama sekali tak berdaya. Kau mesti memaafkan mereka karena mendahulukan kepentingan sendiri, karena ini masalah mempertahankan diri. Yang mereka kehendaki sebetulnya cuma sekadar tidak diganggu.”
“Tapi bagaimana dengan samurai? Kenapa mereka ribut mempersoalkan orang tak penting macam Takezo?”
“Karena dia lambang kekacauan, orang di luar hukum. Mereka harus menjaga ketenangan. Sesudah perang Sekigahara, Takezo selalu merasa dikejar-kejar musuh. Kesalahan besar pertamanya adalah menerobos rintangan di perbatasan. Dia mestinya menggunakan otaknya sedikit, kabur malam hari atau menyamar. Apa saja. Tapi Takezo tidak begitu! Dia merasa harus masuk dan membunuh seorang pengawal, dan kemudian membunuhi orang-orang lain lagi. Sesudah itu ya seperti bola salju yang menggelinding. Dia harus terus membunuh untuk melindungi hidupnya sendiri. Tapi dialah yang memulai. Seluruh keadaan yang tak menguntungkan itu akibat satu hal saja: Takezo sama sekali tak punya akal sehat.”
“Apa Bapak membencinya juga?”
“Aku jijik! Aku tidak menyukai kebodohannya! Kalau aku penguasa di provinsi ini, akan kubikin dia menanggung hukuman paling buruk yang dapat kutemukan. Sesungguhnya, untuk pelajaran bagi orang banyak, akan kusuruh orang mempreteli anggota badannya. Bagaimanapun, dia tak lebih dari binatang liar, kan? Penguasa provinsi tidak boleh bermurah hati pada orang-orang macam Takezo, walaupun dia sendiri bagi sejumlah orang tak lebih dari seorang bajingan. Tindakannya merugikan hukum dan ketertiban, dan itu tidak baik, terutama pada masa-masa yang tak menentu ini.”
“Selama ini saya selalu menganggap Bapak orang baik, tapi di dasar hati ternyata Bapak sangat keras. Saya tak menyangka Bapak mengurusi hukumhukum daimyo itu.”
“Memang. Yang baik harus diganjar dan yang jahat harus dihukum, dan aku datang kemari justru dengan kekuasaan untuk melaksanakannya.”
“Oh, apa itu?” teriak Otsu sambil meloncat bangun dari tempatnya dekat api. “Apa Bapak tidak dengar? Kedengaran bunyi gemeresik, seperti langkah-langkah kaki, di pohon-pohon sana itu?”
“Langkah-langkah kaki?” Takuan pun bersikap waspada. Tapi sesudah mendengarkan baik-baik beberapa saat lamanya, pecahlah tawanya. “Ha, ha! Itu kan cuma beberapa ekor monyet. Lihat!” Dan tampaklah bayangan seekor monyet besar dan monyet kecil yang berayun-ayun di antara pepohonan.
Otsu kelihatan lega, dan duduk kembali. “Uh, saya setengah mati ketakutan!”
Selama beberapa jam berikutnya, keduanya hanya duduk diam menatap api. Tiap kali api akan mati, Takuan mematahkan ranting-ranting kering dan membakarnya.
“Otsu, apa yang kaupikirkan?”
“Saya?”
“Ya, kamu. Meski sering melakukannya, tapi sebetulnya aku benci percakapan dengan diri sendiri.”
Mata Otsu sudah bengkak oleh asap. Sambil menengadah ke langit berbintang, Ia berkata lirih, “Saya pikir aneh sekali dunia ini. Semua bintang di kegelapan kosong di sana itu…. Tidak, bukan itu maksud saya. Malam telah penuh. Merangkum segala-galanya. Kalau Bapak memandang bintang-bintang itu lama-lama, kelihatan mereka bergerak. Bergerak pelan, pelan. Kesimpulannya tak bisa lain bahwa seluruh dunia ini bergerak. Saya merasakannya. Sedangkan diri saya hanya satu rink kecil di dalam semua itu-satu titik yang dikendalikan oleh kekuatan mengagumkan yang tak dapat saya lihat. Bahkan selagi saya duduk di sini sambil merenung, nasib saya pun berubah sedikit demi sedikit. Pikiran saya terasa berputar-putar dalam lingkaran.”
“Kau tidak bicara yang sebenarnya!” kata Takuan tajam. “Pikiran-pikiran itu memang betul masuk kepalamu, tapi ada pikiran lain yang jauh lebih khusus di otakmu.”
Otsu diam.
“Aku minta maaf telah melanggar rahasia pribadimu, Otsu. Aku telah membaca surat-surat yang kauterima itu.”
“Betul? Tapi laknya tidak rusak!”
“Aku membacanya sesudah melihatmu di kamar tenun itu. Ketika kaubilang tidak membutuhkannya, kumasukkan surat itu dalam lengan bajuku. Kupikir sikapku itu keliru, tapi kemudian ketika aku ada di kamar kecil, kukeluarkan surat-surat itu dan kubaca, sekadar membuang waktu.”
“Bapak jelek! Bagaimana mungkin Bapak melakukan itu! Dan buat membuang waktu pula!”
“Untuk alasan apa sajalah. Tapi setidak-tidaknya sekarang aku tahu, apa yang bikin banjir air mata itu. Apa yang bikin kau kelihatan setengah mati waktu itu. Dengarkan, Otsu, kupikir kau beruntung. Lama-kelamaan kupikir lebih baik jalannya peristiwa justru seperti sekarang. Kaupikir aku jelek? Lihatlah dia!”
“Apa maksud Bapak?”
“Matahachi itu, dulu maupun sekarang, tak kenal tanggung jawab. Kalau kau kawin dengan dia, dan kemudian suatu hari dia mengejutkanmu dengan surat seperti itu, apa yang akan kaulakukan? Tak usahlah kaukatakan, aku kenal kau. Kau akan menceburkan diri ke laut dari karang yang terjal. Aku senang semua itu sudah lewat sebelum sampai di situ.”
“Wanita tidak berpikir seperti itu.”
“Betul begitu? Bagaimana pikiran mereka?”
“Saya marah betul. Rasanya ingin menjerit!” Dan dengan marahnya ia pun menarik lengan kimononya dengan giginya. “Suatu hari nanti akan saya temukan dia! Saya bersumpah, pasti saya temukan! Saya tak akan berhenti, sebelum saya mengatakan langsung padanya pendapat saya tentang dia. Termasuk tentang perempuan Oko itu.”
Air mata Otsu bercucuran karena marahnya. Takuan menatapnya dengan bergumam samar-samar, “Sudah mulai, ya?”
Otsu tampak tercengang. “Apa?”
Takuan menatap tanah, seperti sedang menyusun pikirannya. Kemudian katanya, “Otsu, aku betul-betul mengharapkan bahwa kau, lebih dari orang-orang lain, terhindar dari hal-hal yang jahat dan sikap muka dua di dunia ini. Kuharap dirimu yang manis dan polos itu dapat melewati semua tahap kehidupan tanpa cela dan tanpa luka.” Tapi kelihatannya angin nasib sudah sepenuhnya gila? Kadang-kadang orang yang tidak begitu beres otaknya dianggap jenius oleh orang lain. Takuan kemungkinan orang semacam itu. Otsu mulai merasa yakin akan hal ini.
Tenang seperti biasanya, biarawan itu terus memandang kosong ke api. Akhirnya ia bergumam, seakan-akan baru melihatnya, “Sudah larut sekarang, ya?”
“Tentu saja! Sebentar lagi fajar,” sambar Otsu dengan nada getir yang memang disengaja. Kenapa ia mempercayai orang gila yang mau bunuh diri ini?
Tanpa menghiraukan tajamnya jawaban Otsu, Takuan berkomat-kamit, “Aneh, ya?”
“Apa yang dikomat-kamitkan?”
“Aku baru saja menyadari bahwa Takezo harus segera muncul.”
“Ya, tapi barangkali dia tidak merasa kalian berdua punya janji.” Melihat wajah biarawan yang tegang itu, Otsu pun melunak. “Apa betul menurut Bapak dia akan muncul?”
“Tentu saja!”
“Tapi kenapa dia mau langsung masuk perangkap?”
“Ah, tidak persis begitu. Soalnya, hanya sifat manusia, itu saja. Manusia hatinya tidak kuat, mereka itu lemah. Kesendirian bukan alamnya, terutama kalau kesendirian itu disertai pengepungan tentara clan pengejaran dengan pedang. Kau bisa saja menganggap itu wajar, tapi aku akan heran sekali kalau Takezo bisa menolak godaan untuk mendatangi kita clan menghangatkan diri dekat api.”
“Apa itu bukan sekadar impian? Dia barangkali sama sekali tidak di dekat-dekat sini.”
Takuan menggelengkan kepala dan katanya, “Bukan, ini bukan sekadar impian. Ini malahan bukan teoriku sendiri. Ini milik seorang ahli strategi.” Ia berbicara demikian yakin, hingga Otsu jadi merasa puas bahwa penolakan Takuan itu demikian pastinya.
“Aku perkirakan Shimmen Takezo berada dekat sekali di sini, tapi belum lagi bisa memutuskan, kita ini kawan atau lawan. Anak malang itu barangkali sedang dilanda keraguan, dan dia sedang bergelut dengannya, tak dapat maju atau mundur. Dugaanku dia sedang bersembunyi di dalam bayangan kegelapan sekarang ini, memandang kita dengan mencuri-curi, dan bertanya-tanya habis-habisan, apa yang harus dilakukannya. 0, begini. Coba kemarikan suling yang kausimpan dalam obi-mu itu.”
“Suling bambu saya?”
“Ya, biar kumainkan sebentar.”
“Tidak. Tak mungkin. Tak pernah saya mengizinkan siapa pun menyentuhnya.”
“Kenapa?” desak Takuan.
“Tak peduli kenapa!” teriak Otsu sambil menggeleng.
“Apa ruginya kalau aku memainkannya? Suling bertambah baik kalau imainkan. Aku tak akan merusaknya.”
“Tapi….” Dan Otsu pun mencengkeramkan tangan kanannya kuat-kuat ke suling dalam obi-nya.
Ia selalu menyimpan suling itu dekat tubuhnya, dan Takuan tahu betapa berharga barang itu untuknya. Namun tak pernah Takuan membayangkan bahwa Otsu akan menolak meminjamkannya.
“Betul, aku tak akan merusakkannya, Otsu. Sudah berlusin-lusin suling aku mainkan. Ayolah, aku pegang saja.”
“Tidak.”
“Apa pun yang terjadi?”
“Apa pun yang terjadi.”
“Keras kepala!”
“Biar saya keras kepala.”
Takuan pun mengalah. “Nah, kalau begitu kamulah yang memainkannya. Mainkanlah untukku sedikit.”
“Itu pun saya tak mau.”
“Kenapa?”
“Karena saya akan menangis, dan saya tak dapat main suling kalau saya menangis.”
“Hmm.” Takuan berpikir. la merasa kasihan akan sifat gigih bercampur keras kepala yang khas anak yatim. Tapi ia pun sadar akan kehampaan yang ada dalam hati mereka yang tegar itu. Menurutnya hati itu sudah ditakdirkan untuk mati-matian merindukan apa yang tidak bisa diperolehnya, merindukan cinta orangtua yang tidak pernah mereka kenyam.
Otsu selalu merindukan orangtua yang tidak pernah dikenalnya dan mereka pun merindukannya, tapi ia tak mengenal cinta asli orangtua. Suling itulah satu-satunya barang peninggalan orangtuanya baginya, satu-satunya gambaran yang pernah ia punyai tentang mereka. Ketika ia belum lagi cukup umur untuk melihat cahaya matahari, dan ditinggalkan seperti anak kucing telantar di emperan Kuil Shippoji, suling itu bukan sekadar gambaran tentang ibu dan ayah yang tak pernah dilihatnya, tetapi juga . merupakan suara mereka.
“Jadi, dia menangis kalau memainkannya!” pikir Takuan. “Tidak heran dia begitu enggan meminjamkannya pada orang lain, malahan juga memainkannya sendiri.” Dan ia pun merasa kasihan pada Otsu.

Pada malam ketiga ini, untuk pertama kali bulan indah berkilau-kilau di langit, dan sekali-sekali larut di balik awan berkabut. Angsa liar yang selalu bermigrasi ke Jepang pada musim gugur dan pulang pada musim semi kini tampak dalam perjalanan kembali ke utara. Kadang-kadang suara kuak mereka terdengar di telinga kedua orang itu dari tengah awan-awan.
Bangun dari lamunannya, Takuan berkata, “Apinya mati, Otsu. Masukkan sedikit kayu lagi…. Nah, ada apa? Ada yang tidak beres?”
Otsu tidak menjawab.
“Apa kau menangis?”
Otsu tetap diam.
“Maaf aku telah mengingatkan masa lalu padamu. Bukan maksudku mengganggumu.”
“Tidak apa-apa,” bisik Otsu. “Mestinya saya tak boleh begitu keras kepala. Ambillah suling ini dan mainkanlah.” la pun mengeluarkan suling itu dari obi-nya dan mengulurkannya pada Takuan lewat atas api. Suling itu terbungkus dalam kain brokat yang sudah tua dan aus. Kainnya sobek-sobek, talinya rantas, namun masih tampak keanggunan yang antik.
“Boleh kulihat?” tanya Takuan.
“Ya, lihatlah. Saya tidak keberatan lagi.”
“Tapi kenapa tidak kaumainkan sendiri? Lebih baik aku mendengarkan saja. Aku duduk saja di sini seperti ini.” la memutar ke samping dan memelukkan tangannya ke lutut.
“Baiklah. Saya tidak begitu pandai,” kata Otsu merendah, “tapi akan saya coba.”
la berlutut dengan sikap formal di atas rumput, menegakkan leher kimononya dan membungkuk ke arah suling yang terletak di depannya. Takuan tidak bicara apa-apa lagi. Yang ada hanyalah alam semesta yang besar dan diam terselimut malam. Tubuh biarawan yang seperti bayangan itu tampak seperti batu karang yang telah berguling turun dari sisi bukit dan menetap di dataran.
Otsu, wajahnya yang putih menoleh sedikit ke samping, meletakkan barang pusaka yang dipujanya itu ke bibir. la membasahi pipit suling clan membulatkan jiwa untuk bermain. la tampak berbeda dari Otsu yang biasanya. Otsu yang mewakili kekuatan dan keluhuran seni. Ia menoleh pada Takuan. Dengan santun sekali lagi ia mengingkari bahwa ia cakap bermain. Takuan mengangguk acuh tak acuh.
Suara basah suling mulai mengalun. Jemari pipih gadis itu menari di atas ketujuh lubang alat musik tersebut. Buku-buku jarinya tampak seperti kurcaci yang sedang tenggelam dalam tarian lambat. Terdengar bunyi, rendah, seperti gemericik kali kecil. Takuan merasa dirinya berubah menjadi air mengalir yang berkecipak menyusuri jurang, dan bermain-main di tempat yang dangkal. Ketika nada-nada tinggi terdengar, ia merasa semangatnya terembus ke langit, meloncat-loncat bersama awan-awan. Bunyi bumi dan gaung langit bercampur dan berubah menjadi rintihan sayu angin yang berembus melintas pepohonan cemara, meratapi ketidakabadian dunia ini.
Ia asyik mendengarkan dengan mata tertutup. Takuan pun teringat akan legenda Pangeran Hiromasa yang sedang bercengkerama pada suatu malam terang bulan di Gerbang Suzaku, Kyoto, sambil memainkan sulingnya, diselarasi oleh suling lain. Pangeran mencari-cari pemain suling itu, dan menemukannya di tingkat atas gerbang itu. Mereka bertukar suling dan bermain musik bersama sepanjang malam. Baru kemudian pangeran itu mengetahui bahwa teman bermainnya itu setan dalam bentuk manusia.
–Setan pun tergerak hatinya oleh musik,” pikir Takuan, “apalagi manusia yang punya lima macam nafsu, betapa dalam dia akan terpengaruh bunyi suling yang dimainkan gadis cantik ini!” Ia ingin menangis, tapi air matanva tidak keluar. Wajahnya terbenam lebih dalam lagi di antara lututnya, yang secara tak sadar dipeluknya lebih erat lagi.
Ketika cahaya api sedikit demi sedikit surut, pipi Otsu berubah jadi merah tua. la begitu menyatu dalam musiknya, hingga sukar membedakannya dari alat musik yang dimainkannya.
Apakah ia sedang memanggil ibu dan ayahnya? Apakah bunyi-bunyi yang mendaki langit itu betul-betul melantunkan, “Di manakah engkau!” Apakah jeritan ini tidak tercampur rasa benci yang sangat dari seorang perawan yang ditinggalkan dan dikhianati lelaki tak setia?
Otsu agaknya sudah mabuk oleh musik dan tenggelam dalam emosinya. Napasnya mulai menunjukkan tanda-tanda lelah. Butir-butir keringat muncul di dahi, di sekitar anak rambutnya. Air mata menuruni wajahnya. Sekalipun terputus-putus oleh sedu sedan tertahan, terasa lagu itu bagai berlanjut terus untuk selamanya.
Dan tiba-tiba terlihat gerakan di rumput. Jaraknya tidak lebih dari lima atau enam meter dari api. Terdengar seperti binatang yang sedang melata. Kepala Takuan mendongak. la memandang langsung ke benda hitam itu. Diam-diam ia mengangkat tangan clan melambaikan salam.
“Hai, kamu yang di sana! Tentu dingin rasanya di tengah embun. Datanglah ke dekat api sini dan hangatkan badanmu. Ke sinilah, clan mari kita bicara.”
Otsu terkejut dan berhenti bermain. Katanya, “Pak Takuan, apa Bapak bicara sendiri lagi?”
“Apa kau tidak lihat?” tanya Takuan sambil menuding. “Takezo ada di sana tadi, beberapa waktu lamanya. Dia mendengarkan kau main suling.”
Otsu menoleh, kemudian sambil menjerit ia melemparkan sulingnya ke sosok hitam itu. Memang itu Takezo. la melompat seperti kijang yang terperanjat dan lari.
IZRO'IL
Musashi I (Tanah)

Musashi I 6


Takuan sama kagetnya seperti Takezo karena jeritan Otsu. la merasa seakan-akan jaring yang dengan hati-hati direntangkannya telah sobek clan ikan pun lolos. la melompat dan memanggil sekuat paru-parunya, “Takezo! Berhenti!”
Di dalam suara itu terasa ada kekuatan yang perkasa, kekuatan yang memerintah, yang tidak dapat begitu saja diabaikan. Pelarian itu berhenti seakan terpaku di tanah, dan menoleh ke belakang, sedikit terpesona. la memandang Takuan dengan mata curiga.
Biarawan itu tidak bicara. Disilangkannya tangannya pelan-pelan ke dada. Ditatapnya Takezo semantap tatapan Takezo padanya. Kedua orang itu tampaknya bahkan menyatu dalam tarikan napas mereka.
Sedikit demi sedikit di sudut-sudut mata Takuan muncul kerut-merut yang menandai mulainya senyuman bersahabat. la membuka lipatan tangannya dan memberikan isyarat kepada Takezo. Katanya, “Kemarilah!”
Mendengar kata-kata itu, Takezo mengedip. Wajahnya yang gelap memperlihatkan ekspresi aneh.
“Kemarilah,” desak Takuan, “dan kita dapat saling tukar pikiran.” Menyusul sunyi penuh tanda tanya.
“Di sini banyak makanan. Malahan kami juga punya sake. Kami bukan musuhmu. Datanglah ke dekat api ini. Mari kita bicara.” Sunyi lagi.
“Takezo, apa kau tidak membuat kesalahan besar? Ada tempat yang menyediakan api, makanan, dan minuman, bahkan juga simpati manusia. Tapi kau berkeras menyeret dirimu ke dalam neraka pribadimu sendiri. Kau mengukuhi pandangan yang cukup menyesatkan tentang dunia ini. Tapi aku tak akan berdebat lagi denganmu. Dalam keadaanmu sekarang, memang hampir tidak dapat kau mendengar suara akal sehat. Sudahlah, datang ke dekat api sini. Otsu, panaskan kentang rebus yang kaubuat tadi. Aku pun sudah lapar.”
Otsu meletakkan kuali di atas api, dan Takuan meletakkan guci sake di dekat api untuk menghangatkannya. Adegan penuh kedamaian ini menghapuskan rasa takut Takezo, dan ia beringsut mendekat. Ketika hampir berada di atas mereka, ia berhenti dan tegak diam, agaknya terhambat oleh semacam rasa malu di dalam dirinya.
Takuan menggelindingkan sebuah batu karang ke dekat api clan menepuk punggung Takezo. “Duduklah di sini,” katanya.
Takezo mendadak duduk. Otsu tidak dapat memandang langsung kepada teman bekas tunangannya itu. la merasa seolah-olah berada di dekat binatang liar tak terantai.
Sambil membuka tutup kuali, Takuan berkata, “Rupanya sudah matang.” la tusukkan ujung sumpitnya ke kentang, ia keluarkan kentang itu, clan ia masukkan ke dalam mulutnya. la mengunyah lahap, katanya, “Manis sekali dan empuk. Mau coba sedikit, Takezo?”
Takezo mengangguk dan untuk pertama kali ia menyeringai, memperlihatkan sederetan gigi yang sempurna putihnya. Otsu memasukkan kentang ke dalam mangkuk clan memberikannya kepada Takezo. Takezo sekali-sekali mengembus makanan yang masih panas itu dan melahapnya dengan suapan besar-besar. Tangannya gemetar dan giginya gemerincing mengenai tepi mangkuk. Karena lapar yang luar biasa, geletar itu tidak terkendalikan lagi. Mengerikan.
“Enak, ya?” tanya biarawan itu sambil meletakkan sumpitnya. “Bagaimana kalau mencoba sake?”
“Saya tak mau sake.”
“Tidak suka?”
“Saya tak mau sekarang.” Sesudah sekian lama berkeliaran di pegunungan, ia takut sake akan membuatnya sakit.
Segera ia berkata dengan cukup sopan, “Terima kasih untuk makanan ini. Saya merasa hangat sekarang.” “Apa sudah cukup?”
“Sudah, terima kasih.” Ketika mengembalikan mangkuk kepada Otsu, ia bertanya, “Kenapa kau datang kemari? Kemarin malam kulihat juga apimu.”
Pertanyaan Takezo itu mengejutkan Otsu, clan ia tak siap dengan jawaban, tetapi Takuan menyelamatkannya dengan langsung mengatakan, “Terus terang saja, kami datang kemari untuk menangkapmu.”
Takezo tidak memperlihatkan sikap kaget secara khusus, sekalipun agaknya ia ragu-ragu menerima ucapan Takuan itu demikian saja. la diam saja dan menundukkan kepala. Kemudian ganti la memandang kedua orang itu.
Takuan menyadari bahwa waktu untuk bertindak sudah tiba. Sambil berputar langsung menghadap Takezo ia pun berkata, “Bagaimana pendapatmu? Kalau kau akan ditangkap, apa tidak lebih baik kalau kau diikat dengan ikatan Hukum Budha? Peraturan daimyo itu hukum dan Hukum Budha pun hukum, tapi dari antara dua itu, ikatan Budha-lah yang lebih lembut dan berperi- kemanusiaan.”
“Tidak, tidak!” kata Takezo, menggeleng-geleng marah.
Takuan melanjutkan dengan nada lunak. “Dengar dulu sebentar. Aku mengerti bahwa engkau bertekad untuk bertahan sampai mati, tapi pada akhirnya apa engkau bisa betul-betul menang?”
“Apa maksudmu, aku dapat menang itu?”
“Maksudku, apakah engkau dapat berhasil bertahan terhadap rakyat yang membencimu, terhadap hukum provinsi, dan terhadap musuhmu terbesar, dirimu sendiri?”
-Aku tahu aku sudah kalah,” rintih Takezo. Wajahnya berubah penuh kesedihan, dan matanya basah. “Akhirnya aku akan terbunuh, tapi sebelumnva akan kubunuh dulu perempuan Hon’iden tua itu dan serdadu-serdadu Himeji, juga semua orang yang kubenci! Akan kubunuh orang sebanyak vang aku bisa!”
“Dan apa yang hendak kaulakukan untuk kakak perempuanmu?”
„Ha …”
“Ogin. Apa yang akan kaulakukan untuknya? Dia dikurung di benteng Hinagura!”
Takezo tak dapat menjawab, sekalipun sebelumnya ia berketetapan untuk membebaskan kakaknya.
“Apa engkau tidak mesti mulai memikirkan nasib wanita yang baik itu? Sudah demikian banyak yang dilakukannya untukmu. Dan bagaimana dengan kewajibanmu melanjutkan nama ayahmu. Shimmen Munisai? Apa engkau sudah lupa bahwa nama itu berasal dari keluarga Hirata, bahkan selanjutnya dari wangsa Akamatsu dari Harima yang terkenal itu?”
Takezo menutup mukanya dengan kedua tangannya yang hitam dan kini berkuku panjang itu. Bahunya yang tajam mencuat ke atas ketika berguncang bersama gemetarnya tubuhnya yang kurus. la tersedu-sedu sedih. “Aku… aku… tidak tahu. Apa… apa bedanya sekarang ini?”
Melihat itu, Takuan tiba-tiba mengepalkan tinjunya clan menghantam keras-keras rahang Takezo.
“Sinting!” guntur suara biarawan itu.
Karena terkejut, Takezo pun terhuyung-huyung oleh pukulan itu, tapi sebelum sempat pulih dari pukulan itu ia sudah menerima pukulan lain di sisi lain.
“Orang bebal tak bertanggung jawab! Orang bodoh tak kenal terima kasih. Karena ayah-ibumu dan nenek moyangmu tak ada di sini untuk menghukummu, akulah yang melakukannya atas nama mereka. Terimalah ini!” Biarawan itu pun memukulnya lagi, kali ini hingga Takezo jatuh ke tanah. “Sakit?” tanyanya sengit.
“Ya, sakit,” rengek pelarian itu.
“Bagus. Kalau sakit, artinya kau masih punya sedikit darah manusia dalam nadimu. Otsu, berikan ke sini tali itu. Nah, tunggu apa lagi? Bawa ke sini tali itu! Takezo sudah tahu aku akan mengikatnya. Dia sudah siap. Ini bukan tali kekuasaan, tapi tali cinta. Tidak ada alasan bagimu untuk takut atau kasihan padanya. Cepat berikan tali itu!”
Takezo diam menelungkup di tanah, tidak berusaha bergerak. Takuan pun dengan mudah menduduki punggungnya. Kalau mau melawan, bisa saja Takezo menendang Takuan ke udara, seperti bola kertas kecil. Mereka berdua pun tahu itu. Namun Takezo hanya terbaring pasif, kaki dan tangannya terulur, seakan-akan akhirnya ia menyerah pada suatu hukum alam yang tak kelihatan.
Pohon Kriptomeria Tua
SEKALIPUN pagi itu bukan saat biasanya lonceng kuil dibunyikan, namun gema suara lonceng yang berat teratur itu terdengar mendayu-dayu di seluruh kampung dan menggaung sampai jauh ke pegunungan. Hari itu hari perhitungan. Batas waktu yang diberikan pada Takuan sudah habis. Penduduk kampung bergegas menuju bukit, untuk melihat apakah Takuan berhasil melakukan tugas yang mustahil itu. Berita keberhasilannya menyebar seperti api liar.
“Takezo sudah tertangkap!”
“Betul? Siapa yang menangkap?”
“Takuan!”
“Ah, tak percaya aku! Tanpa senjata? Tak mungkin!”
Orang membanjir ke Shippoji clan memandang ternganga ke arah penjahat yang relah tertangkap itu. la diikat seperti binatang ke pagar tangga di depan bangunan suci utama. Beberapa orang menahan napas dan terengah-engah melihat pemandangan itu, seakan-akan mereka sedang menyaksikan wajah jin Gunung Oe yang ditakuti. Seakan-akan untuk mengecilkan reaksi mereka yang dibesar-besarkan itu, Takuan pun duduk sedikit ke atas tangga sambil bertelekan pada sikunya, dan menyeringai dengan sikap bersahabat.
“Orang-orang Miyamoto,” serunya, “sekarang kalian dapat kembali ke ladang kalian dengan damai. Tentara akan segera pergi!”
Bagi orang kampung yang biasa ditakut-takuti itu, Takuan pun segera menjadi pahlawan, pembebas, dan pelindung dari yang jahat. Beberapa orang membungkuk rendah, kepala hampir menyentuh tanah di halaman kuil. Yang lain mendesakkan diri ke depan untuk menyentuh tangan atau jubahnya. Yang lain lagi berlutut di kakinya. Ngeri oleh sikap mendewakan diri ini, Takuan pun menarik diri dari kerumunan itu dan mengangkat tangan untuk menenangkan mereka.
“Dengar, penduduk Miyamoto. Ada yang mau kukatakan kepada kalian, sesuatu yang penting.” Tepik sorak orang banyak pun mereda. “Bukan aku yang berjasa atas penangkapan Takezo. Bukan aku yang melaksanakannya, tapi hukum alam. Orang yang melanggar hukum alam akhirnya akan kalah. Hukum itulah yang harus kalian hormati.”
“Jangan melucu begitu! Anda yang menangkapnya, bukan alam!”
“Jangan merendahkan diri, Biarawan!”
“Kami hanya memberikan penghargaan yang pada tempatnya!”
“Lupakan hukum itu. Kami mau berterima kasih pada Anda!”
“Nah, kalau begitu berterima kasihlah padaku,” lanjut Takuan. “Aku tidak keberatan. Tapi kalian mesti menghormati hukum. Baiklah, yang sudah, sudahlah, dan sekarang ini ada sesuatu yang sangat penting, yang hendak kuminta dari kalian. Aku membutuhkan bantuan kalian.”
“Bantuan apa?” terdengar pertanyaan dari kerumunan yang ingin tahu.
“Cuma ini: apa yang akan kita lakukan terhadap Takezo sekarang? Janjiku kepada wakil Keluarga Ikeda, aku yakin kalian pernah melihatnya, adalah kalau aku tidak membawa pulang pelarian itu dalam tiga hari, aku akan menggantung diri di potion kriptomeria besar itu. Tapi kalau aku berhasil, akulah yang menentukan nasibnya.”
Orang banyak mulai berbisik-bisik.
“Kami tahu!”
Takuan kembali mengambil sikap hakim. “Nah, kalau begitu apa yang akan kita lakukan dengan dia? Seperti kalian lihat, binatang yang ditakuti ini sudah ada di sini dalam keadaan hidup. Dia tidak begitu mengerikan, kan? Sebetulnya, dia sampai kemari ini tanpa perkelahian, si orang lembek ini. Akan kita bunuh dia, atau kita lepaskan?”
Terdengar suara heboh tanda tak setuju dengan gagasan untuk melepaskan Takezo. Satu orang berteriak, “Mesti kita bunuh dia! Dia tak berguna, dia jahat! Kalau kita biarkan hidup, dia akan jadi kutukan buat kampung ini.”
Selagi Takuan berhenti bicara dan tampaknya sedang memikirkan kemungkinan-kemungkinannya, suara-suara marah dan tak sabaran terdengar dari belakang, “Bunuh dia! Bunuh dia!”
Pada saat itu, seorang perempuan tua mendesakkan diri ke depan dan menyingkirkan orang-orang lelaki yang badannya dua kali lebih besar darinya dengan tusukan-tusukan tajam sikunya. Tak salah lagi, dialah Osugi si pemarah itu. Sampai di tangga, ia membelalak pada Takezo sejenak, kemudian menoleh pada orang-orang kampung. Sambil mengacungkan ranting pohon arbei ke udara ia pun berteriak, “Aku tak akan puas kalau dia hanya dibunuh! Biar dia menderita dulu! Lihat saja mukanya yang mengerikan itu!” Sambil kembali menoleh kepada tawanan, ia mengangkat ranting pohon itu, dan pekiknya, “Kamu makhluk rendah, memuakkan!” Dan ia pun menyabetkan ranting di tangannya beberapa kali kepada Takezo, sampai akhirnya la kehabisan napas dan tangannya jatuh ke samping tubuhnya. Takezo menyeringai kesakitan, sementara Osugi menoleh kepada Takuan dengan pandangan mengancam.
“Apa yang Ibu inginkan dariku?” tanya biarawan itu.
“Karena pembunuh inilah hidup anakku hancur.” Badan Osugi berguncang hrbat. dan ia menjerit, “Padahal tanpa Matahachi tak ada yang akan meneruskan nama keluarga kami!”
“Yah,” balas Takuan. “Matahachi itu, kalau boleh aku mengatakannya, sebetulnya cuma kroco belaka. Apa tak akan lebih baik kalau kelak Ibu mengangkat menantu lelaki Ibu sebagai ahli waris dan memberikan padanya nama Hon’iden yang terhormat itu?”
“Berani betul kamu berkata seperti itu!” Tiba-tiba janda bangsawan yang sombong itu meledak sedu sedannya. “Aku tak peduli dengan pendapatmu. Memang tak ada orang yang mengerti dia. Sebetulnya dia tidak jelek, buah hatiku itu.” Kemarahannya timbul lagi, dan ia menunjuk Takezo. “Dialah yang menyesatkan anakku, dia yang membuat anakku jadi brengsek seperti dia sendiri. Aku punya hak untuk membalas dendam.” Ia meminta kepada khalayak, “Biarkan aku yang memutuskan. Beri aku kesempatan. Aku tahu apa yang mesti dilakukan terhadapnya!”
Tepat pada saat itu satu teriakan keras dan marah menghentikan perempuan itu. Kerumunan orang terbelah menjadi dua seperti kain sobek, dan orang yang baru datang itu pun berjalan cepat ke depan. Orang itu si Jenggot Jarang. Kemarahannya sedang menjulang.
“Ada apa di sini? Ini bukan pertunjukan ekstra! Pergi semua dari sini! Kembali kerja. Pulang. Cepat!” Terdengar kaki-kaki diseret, tapi tak seorang pun mau pergi. “Kalian sudah dengar apa kataku! Ayo jalan! Apa yang kalian tunggu?” Ia melangkah dengan sikap mengancam ke arah mereka. Tangannya tertumpang di pedang. Orang-orang yang ada di depan mundur dengan mata melotot.
“Tidak!” sela Takuan. “Tak ada alasan mengusir orang-orang baik ini. Aku mengundang mereka kemari justru untuk dengan cepat membicarakan apa yang harus dilakukan terhadap Takezo.”
“Diam kamu!” perintah Kapten. “Kau tak perlu bicara dalam soal ini.” la berdiri tegak dan membelalak kepada Takuan, kemudian kepada Osugi, dan akhirnya kepada orang banyak. la pun berkata dengan suara menggelegar, “Shimmen Takezo ini tidak hanya sudah melakukan kejahatan-kejahatan berat dan serius terhadap hukum provinsi, dia juga pelarian dari Sekigahara. Hukumannya tidak bisa ditentukan oleh rakyat. Dia harus dikembalikan kepada pemerintah!”
Takuan menggelengkan kepala. “Omong kosong!” Melihat si Jenggot Jarang sudah siap menjawab, ia pun mengangkat jari menyuruhnya diam. “Bukan itu yang sudah kausetujui!”
Merasa martabatnya terancam, Kapten mulai mencari-cari alasan. “Takuan, kau pasti akan menerima uang yang sudah ditawarkan pemerintah sebagai hadiah. Tapi sebagai wakil resmi Yang Dipertuan Terumasa, adalah kewajibanku untuk mengambil tanggung jawab atas tawanan ini. Nasib tawanan ini tidak lagi menjadi kepentinganmu. Tidak usah kau menyusahkan diri. Memikirkan dia pun tak perlu.”
Takuan tidak berusaha menjawab, tapi tertawa terpingkal-pingkal. Tiap kali tawa itu seperti akan berhenti, tapi lalu meningkat lagi.
“Perhatikan tingkahmu, Biarawan!” kata Kapten memperingatkan. la mulai meludah dan menggerutu, “Apanya yang lucu? Hah? Kaupikir semua ini lelucon?”
“Tingkahku?” ulang Takuan, dan tawanya pun pecah lagi. “Tingkahku? Dengar. Jenggot Jarang, apa kau bermaksud melanggar persetujuan kita dan tidak memenuhi janjimu yang suci? Kalau benar demikian, kuperingatkan, akan kulepaskan Takezo sekarang juga di tempat ini!”
Terengah-engah orang kampung serentak mulai menyingkir.
“Siap?” tanya Takuan sambil menjangkau tali yang mengikat Takezo.
Kapten bungkam.
“Dan kalau kulepaskan dia akan kusuruh dia pertama-tama menyerangmu. Kalian dapat menyelesaikan perkelahian itu berdua. Lalu tahanlah dia kalau kau bisa!”
“Tunggu dulu… sebentar saja!”
“Aku sudah memegang janjiku,” Takuan terus berlalu, seolah akan melepaskan belenggu tawanan itu.
“Tunggu.” Di dahi samurai itu bermunculan titik-titik keringat.
“Kenapa?”
“Ya, karena… karena…” la hampir menggagap. “Dia sudah terikat. Tak boleh dia dilepaskan. Cuma akan bikin kesulitan lagi. Dengarlah! Kau bisa membunuh Takezo sendiri. Ini… ini pedangku. Cuma, berikan kepalanya padaku untuk kubawa pulang. Adil, kan?” •
“Kepalanya untukmu! Tak bakalan! Urusan kependetaan antara lain memimpin upacara pemakaman. Tapi membuang mayat atau bagian-bagiannya… itu akan memberikan nama jelek pada kami para pendeta, betul tidak? Tak seorang pun akan mempercayakan mayat keluarga mereka, kalau kami hanya akan membuangnya, dan kuil-kuil akan bangkrut dalam waktu singkat.” Walau tangan samurai itu sudah mencengkeram gagang pedang, Takuan tidak tahan untuk tidak mengejeknya.
Menghadap kepada khalayak, biarawan itu mengambil sikap sungguhsungguh lagi. “Kuminta kalian bicarakan hal ini sekali lagi di antara kalian, dan berikan jawabannya padaku. Apa yang akan kita lakukan? Perempuan itu bilang, tidak cukup membunuhnya seketika, kita harus menyiksanya dulu. Bagaimana kalau dia diikatkan ke cabang pohon kriptomeria itu beberapa hari: Kita dapat mengikat tangan dan kakinya, dan dia akan merasakan cuaca siang dan malam. Burung-burung gagak barangkali akan mematuk bola-bola matanya. Bagaimana?”
Usul biarawan itu terdengar sangat kejam oleh para pendengarnya, tak berperikemanusiaan, hingga mula-mula tak seorang pun dapat menjawab.
Kecuali Osugi, yang mengatakan, “Takuan, gagasanmu itu menunjukkan kau sungguh-sungguh bijaksana. Tapi kupikir kita harus menggantungnya seminggu lamanya-o, tidak, lebih! Biar dia tergantung di sana sepuluh atau dua puluh hari. Lalu aku sendiri akan datang memberikan pukulan maut.”
Tanpa panjang kata, Takuan pun mengangguk, “Baik. Jadi!”
Ia memegang tall yang sudah dilepasnya dari pagar, dan diseretnya Takezo seperti seekor anjing menuju pohon. Tawanan itu berjalan tanpa perlawanan, kepalanya tertunduk tanpa kata-kata. la tampak begitu menyesal, hingga beberapa orang yang berhati lunak merasa sedikit kasihan kepadanya. Namun kegembiraan karena telah menangkap “binatang liar” itu tidak juga usai, dan dengan penuh semangat semua orang ikut serta dalam kesenangan itu. Beberapa potong tali disambung-sambungkan menjadi satu. Takezo dinaikkan ke sebuah cabang, sekitar sepuluh meter tingginya dari tanah, dan diikat erat. Dalam keadaan terikat, ia lebih mirip boneka jerami besar daripada seorang manusia hidup.
Sekembalinya ke kuil dari pegunungan itu, Otsu mulai merasakan kesenduan yang aneh dan amat sangat apabila ia berada sendirian di dalam kamar. Ia bertanya-tanya kenapa demikian. Tinggal sendirian bukanlah hal baru baginya. Dan lagi di sekitar kuil selalu ada beberapa orang. la memiliki segala yang menyenangkan di rumah. Namun ia merasa lebih sepi kini daripada sewaktu tiga hari lamanya berada di sisi bukit terpencil, hanya berteman Takuan. Duduk bertopang dagu menghadap meja rendah di dekat jendela, ia menimbang-nimbang perasaannya setengah hari lamanya, sebelum akhirnya sampai pada satu kesimpulan.
la merasa pengalaman ini telah memberikan pemahaman ke dalam hatinya sendiri. Ia menyadari, kesepian ternyata seperti rasa lapar. Bukan di luar, tapi di dalam diri seseorang. Kesepian berarti merasa kekurangan sesuatu. Sesuatu yang harus ada, namun tak tahu ia apakah itu.
Baik. Orang-orang di sekitarnya maupun keramahan hidup di kuil tidak dapat meredakan perasaan terpencil yang sekarang ia rasakan. Di pegunungan yang ada hanya kesunyian, pepohonan, dan kabut, tapi waktu itu ada juga Takuan. Kesadaran datang bagai wahyu. Takuan tidak sama sekali berada di luar dirinya. Kata-kata Takuan masuk langsung ke dalam hatinya, menghangatkan dan meneranginya. Api atau lampu mana pun tak dapat menandingi. Kemudian sampailah ia kepada kesadaran polos bahwa ia kesepian karena Takuan tidak ada di dekatnya.
Sadar akan penemuan ini, ia pun berdiri, tapi pikirannya masih terus digeluti oleh masalah itu. Sesudah memutuskan hukuman untuk Takezo, hampir sepanjang waktu Takuan rapat di kamar tamu dengan samurai Himeji. Karena harus mondar-mandir ke kampung untuk menyampaikan ini-itu, Takuan tak punya waktu lagi untuk duduk bercakap-cakap dengan Otsu seperti yang ia lakukan di pegunungan itu. Otsu duduk kembali.
Oh, sekiranya ia punya seorang teman! la tidak membutuhkan banyak. Satu saja yang mengenalnya dengan baik. Satu orang yang dapat disandarinya. Satu orang yang kuat dan sepenuhnya dapat dipercayai. Itulah yang ia rindukan, itulah yang ia dambakan sekali sampai ia hampir gila.
Memang selalu ada suling itu. Tapi pada saat seorang gadis mencapai umur enam belas tahun, ada soal-soal clan hal-hal tak menentu di dalam dirinya yang tidak dapat dijawab oleh sebatang bambu. la membutuhkan keakraban clan rasa kebersamaan, bukan sekadar hidup yang mengamati, yang nyata.
“Semua memuakkan!” katanya keras. Tapi menyuarakan perasaannya itu sama sekali tidak meredakan kebenciannya kepada Matahachi. Air matanya tumpah ke meja kecil yang dipernis itu. Darah yang bergejolak di dalam nadinya membuat pelipisnya biru. Kepalanya berdenyut.
Diam-diam pintu di belakangnya bergeser terbuka. Di dapur kuil, api untuk memasak makan malam menyala terang.
“Ah ha! Jadi, di sinilah kamu sembunyi! Duduk di sini dan membiarkan hari lewat sia-sia!”
Tubuh Osugi muncul di pintu. Terkejut dari lamunannya, sesaat Otsu ragu-ragu sebelum menyambut perempuan tua itu dan meletakkan bantal tempat duduk. Tanpa menunggu kata-kata tuan rumah, Osugi langsung duduk.
“Menantuku yang baik…,” Osugi memulai dengan nada-nada megah.
“Ya, Bu,” jawab Otsu. Karena takutnya, ia membungkuk rendah di hadapan perempuan tua jelek itu.
“Karena kau sudah mengakui ada hubungan di antara kita, ada satu hal kecil yang ingin kubicarakan denganmu. Tapi ambilkan dulu teh untukku. Aku baru saja bicara dengan Takuan dan samurai Himeji itu, tapi pembantu pendeta tidak menyuguhkan minuman. Tenggorokanku kering!”
Otsu menurut dan mengambilkan teh.
“Aku ingin bicara tentang Matahachi,” kata perempuan tua itu tanpa pendahuluan lagi. “Tentu saja bodoh kalau aku percaya kata-kata Takezo si tukang bohong itu, tapi rupanya Matahachi masih hidup dan tinggal di provinsi lain.”
“Betul?” kata Otsu dingin.
“Aku tak yakin. Tapi yang jelas, pendeta yang bertindak sebagai pelindungmu di sini sudah menyetujui perkawinanmu dengan anakku, dan keluarga Hon’iden sudah menerimamu sebagai istri anakku. Apa pun yang terjadi nanti, aku percaya kamu tak punya pikiran buat melanggar janji.”
“Eh….
“Kamu tak akan melakukan hal seperti itu, kan?”
Otsu mengeluh pelan.
“Baiklah kalau begitu, aku gembira!” Ia berbicara seolah-olah menangguhkan suatu pertemuan. “Kamu tahu omongan orang. Tak ada berita kapan Matahachi kembali. Karena itu aku ingin kamu tinggalkan kuil ini dan menetap bersamaku. Pekerjaanku banyak sekali. Tak dapat kukerjakan sendiri. Dan karena menantuku juga repot dengan keluarganya sendiri, tak bisa aku terlalu banyak memaksanya. Jadi, aku perlu bantuanmu.”
“Tapi saya…”
“Siapa lagi yang bisa masuk rumah Hon’iden, kalau bukan istri Matahachi?”
“Tak tahu saya, tapi…”
“Apa kamu mau bilang keberatan? Apa kamu tak ingin tinggal di rumahku? Kebanyakan gadis-gadis akan melompat mendapat kesempatan itu!”
“Bukan, bukan itu. Tapi…”
“Nah, kalau begitu jangan membuang-buang waktu lagi! Kumpulkan barang-barangmu!”
“Sekarang juga? Apa tidak lebih baik menunggu?” “Tunggu apa?”
“Sampai… sampai Matahachi kembali.”
“Sama sekali jangan!” Nada Osugi terdengar pasti. “Bisa-bisa kamu mulai memikirkan lelaki lain. Tugasku menjaga supaya kamu tidak berlaku tak senonoh. Sementara itu, aku perlu mengatur supaya kamu belajar melakukan pekerjaan ladang, memelihara ulat sutra, menjahit lurus keliman, dan berlaku seperti nyonya bangsawan.”
“0… begitu.” Otsu tak berdaya untuk membantah. Kepalanya masih berdenyut. Pembicaraan tentang Matahachi itu membuat dadanya sesak. la takut bicara lagi, jangan-jangan air matanya membanjir.
“Dan ada satu hat lagi,” kata Osugi. Tanpa menghiraukan bingungnya gadis itu, la mengangkat kepala dengan angkuhnya. “Aku masih belum merasa pasti, apa yang hendak dilakukan biarawan yang tak bisa diduga itu atas Takezo. Aku khawatir. Aku ingin kamu mengawasi baik-baik kedua orang itu, sampai kita yakin bahwa Takezo mati. Siang dan malam. Kalau kamu tidak khusus berjaga malam hari, tak bisa diketahui apa yang mungkin dilakukan Takuan. Mereka bisa bersekongkol!”
“Jadi, Ibu tidak keberatan saya tinggal di sini?”
“Sementara tidak. Kamu tak bisa tinggal di dua tempat sekaligus, kan? Kamu datang dengan barang-barangmu ke rumah keluarga Hon’iden nanti, waktu kepala Takezo sudah terpisah dari badannya. Mengerti?”
“Ya, saya mengerti.”
“Jangan sampai lupa!” salak Osugi seraya mendesis keluar dari ruangan itu.
Sesudah itu, seakan-akan sudah lama menanti kesempatan, muncullah sebuah bayangan di jendela yang tertutup kertas itu. Suara lelaki memanggil pelan, “Otsu! Otsu!”
Karena berharap orang itu Takuan, Otsu tak lagi memandang bentuk bayangannya dan langsung bergegas membuka jendela. Ketika jendela dibuka, ia tersentak mundur karena kagetnya. Mata yang menyambutnya ternyata mata Kapten. Kapten mengulurkan tangan, menangkap tangan Otsu dan meremasnya keras-keras.
“Kau sudah berbuat baik padaku,” katanya, “tapi aku baru saja terima perintah dari Himeji untuk pulang.”
“0, sayang sekali.” Otsu berusaha menarik tangannya, tapi cengkeraman kapten itu terlalu kuat.
“Rupanya mereka sedang melakukan penyelidikan tentang kejadian di sini,” jelasnya. “Kalau saja aku bisa memperoleh kepala Takezo, aku bisa mengatakan telah melaksanakan tugas dengan penuh kehormatan. Aku akan mendapat nama baik. Tapi Takuan yang gila dan keras kepala itu tidak membiarkan aku memilikinya. Dia tak mau mendengarkan apa pun yang kukatakan. Kupikir kau ada di pihakku; itu sebabnya aku datang kemari. Ambil surat ini, dan baca kemudian kalau tak ada orang melihatmu.”
Kapten memasukkan surat itu ke tangan Otsu, dan pergi seketika itu juga. Otsu dapat mendengarnya bergegas menuruni tangga, ke jalanan.
Barang itu ternyata lebih dari sekadar surat, karena di dalamnya terdapat sepotong besar uang emas. Namun isi tulisannya sendiri cukup jelas: ia minta Otsu memotong kepala Takezo dalam beberapa hari itu dan membawanya ke Himeji. Si penulis akan memperistrinya, dan Otsu akan hidup di tengah kekayaan dan kemuliaan selama hidupnya. Surat itu ditandatangani oleh “Aoki Tanzaemon”, nama yang menurut pengakuan si penulis sendiri termasuk salah satu prajurit paling ternama di daerah itu. Otsu ingin tertawa terbahak-bahak, tapi ia terlalu murka waktu itu.
Ketika ia selesai membaca,Takuan memanggil, “Otsu, kau belum makan?”
Otsu mengenakan sandal dan keluar.
“Rasanya saya tak ingin makan. Kepala saya sakit.”
“Apa yang kaupegang itu?” ,
“Surat.”
“Lain lagi?”
“Ya.”
“Dari siapa?”
“Bapak ini mau campur tangan saja!”
“Ingin tahu, Nak, dan ingin menyelidiki. Bukan mau campur tangan!”
“Apa Bapak mau lihat?”
“Kalau kau tidak keberatan.”
“Cuma buat mengisi waktu?”
“Itu alasan yang sama baiknya dengan alasan yang lain.”
“Ini. Saya tidak keberatan sama sekali.”
Otsu menyerahkan surat itu, clan sesudah membacanya Takuan pun tertawa dengan riangnya. Otsu tidak bisa berbuat lain kecuali tersenyum.
“Kasihan! Dia begitu putus asa, sampai-sampai mencoba menyuapmu dengan cinta dan uang sekaligus. Surat ini sungguh surat yang lucu! Sesungguhnya dunia kita ini beruntung karena diberkati dengan samurai yang demikian terkemuka dan jujur! Dia demikian berani, hingga seorang gadis dia minta menggantikannya memotong kepala. Dan demikian bodohnya, hingga dia menuliskannya.”
“Surat itu tidak merisaukan saya,” kata Otsu, “tapi apa yang akan saya lakukan dengan uang ini?” Ia menyerahkan kepingan emas itu kepada Takuan.
“Barang ini cukup besar nilainya,” kata Takuan sambil menimbang-nimbang barang itu dengan tangannya.
“Itulah yang merisaukan saya.”
“Jangan khawatir. Aku pintar membuang uang.”
Takuan pun pergi ke depan kuil, di mana terdapat kotak derma. Sebelum memasukkan mata uang itu ke dalamnya, ia sentuhkan uang itu ke dahinya, sebagai tanda hormat kepada sang Budha. Tapi kemudian ia berubah pikiran. “Kalau dipikir sekali lagi, lebih baik ini kausimpan. Aku berani mengatakan, ini tak akan mengganggu.”
“Saya tak mau. Cuma akan bikin sulit. Saya bisa ditagih kemudian hari. Lebih baik saya berpura-pura tak pernah melihatnya.”
“Emas ini bukan lagi milik Aoki Tanzaemon, Otsu. Ini sudah menjadi persembahan bagi sang Budha, dan sang Budha menyerahkannya kepadamu. Simpanlah untuk keberuntunganmu.”
Tanpa protes lagi Otsu memasukkan mata uang itu ke dalam obi-nya. Kemudian, sambil menengadah ke langit, ia berkata, “Angin, ya? Akan hujan malam ini barangkali. Sudah berabad-abad lamanya tidak hujan.”
“Musim semi sudah hampir lewat, jadi sudah waktunya turun hujan lebat. Kita membutuhkannya untuk membersihkan semua bunga mati, termasuk menghilangkan kebosanan orang.”
“Tapi kalau hujan itu lebat, apa yang akan terjadi dengan Takezo?”
“Hmmm. Takezo….” Takuan termenung.
Baru saja kedua orang itu menoleh ke arah pohon kriptomeria, terdengar panggilan dari cabang-cabangnya di atas. •
“Takuan! Takuan!”
“Apa? Kamu yang memanggilku, Takezo?”
Ketika Takuan menjeling untuk melihat ke atas pohon, Takezo pun menghujankan kutukan-kutukannya. “Biarawan babi kamu! Penipu kotor! Coba berdiri di bawah sini! Ada yang mau kukatakan padamu!”
Angin menerpa deras cabang-cabang pohon itu. Suara Takezo terdengar patah-patah dan putus-putus. Daun-daun berguguran di sekitar pohon dan mengenai wajah Takuan yang menengadah.
Biarawan itu tertawa. “Kulihat kau masih segar bugar. Bagus, cocok betul buatku. Kuharap itu bukan sekadar daya palsu, karena kau tahu akan segera mati.”
“Diam kamu!” teriak Takezo, yang tidak segar-bugar, melainkan sangat marah. “Kalau aku takut mati, kenapa pula aku mesti diam saja ketika kau mengikatku?”
“Kau melakukan itu karena aku kuat dan kamu lemah!”
“Itu bohong, dan kau tahu itu!”
“Kalau begitu, akan kukatakan dengan cara lain: aku pandai dan kamu bodoh.”
IZRO'IL
Musashi I (Tanah)

Musashi I 7


“Kau mungkin benar. Aku betul-betul bodoh membiarkan kau menangkapku.”
“Jangan menggeliat terlalu banyak, hai, monyet pohon! Itu tak baik buatmu, cuma bikin kau berdarah, kalau memang masih ada sisa darahmu. Dan terus terang, itu sangat tak pantas.”
“Dengar, Takuan!”
“Aku dengarkan.”
“Kalau aku mau melawanmu di gunung itu, aku bisa dengan mudah melumatkanmu seperti ketimun dengan sebelah kakiku.”
“Itu bukan persamaan yang sangat menyanjung. Tapi biar bagaimanapun kau tidak melakukannya, jadi lebih baik kau meninggalkan jalan pikiran itu. Lupakan yang sudah terjadi. Sudah terlambat untuk menyesal.”
“Kau mengecohku dengan khotbahmu yang muluk-muluk. Sungguh menjijikkan, bajingan! Kau menyuruhku percaya padamu, tapi kau berkhianat. Kubiarkan kau menangkapku karena kupikir kau lain dart yang lain. Aku tak mengira akan dihina seperti ini.”
“Langsung saja pada soalnya, Takezo,” kata Takuan tak sabar.
“Kenapa kau melakukan lm?” bungkah jerami itu menjerit. “Kenapa tidak kaupenggal saja kepalaku, habis perkara! Kupikir, kalau aku memang harus mati lebih baik kaupilih cara menghukumku daripada membiarkan orang banyak yang haus darah itu melakukannya. Walau kau seorang biarawan, katamu kau mengerti juga Jalan Samurai.”
“0, memang aku mengerti, hai, orang sesat yang malang. Jauh lebih mengerti daripada kamu!”
“Rasanya lebih baik kalau orang-orang kampung itu yang menangkapku. Paling tidak, mereka manusia.”
“Itukah kesalahanmu satu-satunya, Takezo? Apa segala yang pernah kau lakukan itu bukan kesalahan? Selagi kau di atas, kenapa tidak kaucoba memikirkan masa lalu sedikit?”
“0, diam kamu, munafik! Aku tidak malu! Ibu Matahachi boleh menyebutku apa saja semaunya, tapi Matahachi temanku, temanku yang terbaik. Kewajibankulah untuk datang menyampaikan kepada perempuan setan tua itu apa yang terjadi dengan Matahachi, tapi apa yang dia lakukan? Dia mencoba menghasut orang banyak untuk menyiksaku! Membawa berita untuknya tentang anak yang disayanginya, itulah satu-satunya sebab kenapa aku menerobos rintangan dan datang kemari. Apa itu pelanggaran atas tata krama prajurit?”
“Bukan itu soalnya, pandir! Susahnya, berpikir pun kamu tak bisa. Kau rupanya salah mengerti. Perbuatan berani semata-mata seakan-akan dapat membuatmu menjadi samurai. Padahal tidak begitu! Kau merasa yakin bahwa tindak kesetiaanmu itu benar. Semakin kau yakin, semakin kau merugikan dirimu clan semua orang lain. Dan sekarang, di mana kau berada? Tertangkap dalam perangkap yang kaupasang sendiri!” Takuan berhenti sebentar. “Tapi omong-omong, bagaimana pemandangan dari atas, Takezo?”
“Babi kamu! Tak akan kulupakan perbuatanmu ini!”
“Kau akan segera lupa segalanya. Sebelum kau berubah jadi daging kering, Takezo, cobalah pandang dunia luas di sekitarmu. Perhatikan dunia manusia, clan ubahlah cara berpikirmu yang cuma mementingkan diri sendiri. Kemudian, kalau kau sampai di dunia sana clan bersatu dengan nenek moyangmu, katakan pada mereka bahwa tepat sebelum kau mati, ada orang bernama Takuan Soho yang mengatakan hal ini padamu. Mereka akan girang sekali mengetahui bahwa kau sudah memperoleh bimbingan yang begitu baik, walau kau mempelajari hakikat hidup ini sudah terlambat sekali, hingga yang kaudapat untuk keluargamu hanyalah aib.”
Otsu yang selama itu berdiri terpaku tidak jauh dari situ datang berlarilari dan menyerang Takuan dengan suara nyaring.
“Pak Takuan, ini sudah keterlaluan! Saya dengar. Saya dengar semuanya. Bagaimana Bapak bisa begitu kejam pada orang yang mempertahankan diri pun tak bisa? Bapak kan orang saleh, atau mestinya begitu! Takezo benar, waktu dia mengatakan percaya pada Bapak dan membiarkan Bapak menangkapnya tanpa perlawanan.”
“Lho, apa pula ini? Apa teman seperjuanganku sudah berbalik melawanku?”
“Kasihan, Pak! Kalau mendengar Bapak bicara seperti itu, sungguh saya benci pada Bapak. Kalau Bapak bermaksud membunuh dia, bunuh saja, habis perkara! Takezo sudah pasrah untuk mati. Biarlah dia mati dengan damai!” Begitu berangnya Otsu, hingga disambarnya dada Takuan dengan kalut.
“Diam kamu!” kata Takuan dengan sikap brutal, tidak seperti biasanya. “Perempuan tak tahu apa-apa soal ini. Tahan mulutmu; atau akan kugantung juga kamu bersama dia di sana.”
“Tidak, saya tak mau, tak mau!” pekik Otsu. “Tapi saya mesti dikasih kesempatan bicara juga. Saya sudah ikut Bapak ke pegunungan dan tinggal di sana tiga hari tiga malam, bukan?”
“Tak ada hubungannya itu. Takuan Soho yang akan menghukum Takezo dengan hukuman yang menurut dia cocok.”
“Kalau begitu, hukumlah dia! Bunuh dia! Sekarang. Tidak betul kalau Bapak menertawakan kesengsaraannya selagi dia terbaring setengah mati di sana.”
“Kebetulan itulah satu-satunya kelemahanku, menertawakan orang-orang tolol macam dia.”
“Itu tidak berperikemanusiaan.”
“Pergi dari sini, sekarang! Pergi, Otsu; tinggalkan aku sendiri.”
“Saya tak mau!”
“Jangan kamu keras kepala lagi,” seru Takuan sambil menyikut Otsu dengan keras.
Begitu sadar, Otsu sudah tertelungkup di pohon. la menempelkan muka dan dadanya ke batang pohon dan mulai meratap. Tak pernah ia membayangkan bahwa Takuan bisa demikian kejam. Orang kampung percaya bahwa kalaupun biarawan itu mengikat Takezo sementara waktu, akhirnya ia akan melunakkan dan meringankan hukuman itu. Sekarang Takuan mengaku bahwa kelemahannya adalah menikmati Takezo menderita! Otsu menggigil melihat kebuasan manusia ini.
Jadi, kalau Takuan yang ia percayai dengan sepenuh hati saja dapat menjadi orang yang tak berhati, seluruh dunia ini tentunya jahat luar biasa. Dan kalau tak ada seorang pun yang dapat la percayai…
la merasakan kehangatan aneh pada pohon ini. Batangnya kuno dan besar, demikian besar hingga sepuluh orang tidak dapat mencakupnya dengan rentangan tangan. Dalam batang itu la merasakan darah Takezo beredar, mengalir turun dari penjaranya yang genting di cabang-cabang pohon di atas itu.
Sungguh ia mirip anak seorang samurai! Sungguh ia berani! Ketika Takuan pertama kali mengikatnya, dan sekali lagi belum lama mi, Otsu melihat kelemahan Takezo. Takezo dapat menangis. Sampai saat ini Otsu terbawa arus pendapat orang banyak, terbuai olehnya, tanpa memiliki gambaran nyata tentang manusianya sendiri. Apakah yang membuat orang banyak itu membencinya seperti iblis dan memburunya seperti binatang?
Punggung dan bahu Otsu naik-turun karena sedu sedannya. Masih bergayut erat pada batang pohon, la menggosokkan pipinya yang basah oleh air mata ke kulit pohon. Angin bersiul keras lewat cabang-cabang atas yang berayun-ayun lebar ke sana kemari. Titik-titik air besar jatuh di leher kimononya dan mengalir menuruni punggung, membuat dingin tulang punggungnya.
“Ayolah, Otsu,” seru Takuan sambil memayungi kepalanya dengan tangan. “Kita basah kuyup nanti.”
Otsu tidak menjawab.
“Semua ini salahmu, Otsu! Kau ini bayi cengeng! Kau menangis, langit menangis juga.” Kemudian nada ejekan itu hilang dari suaranya, “Angin makin keras, clan kelihatannya akan datang badai besar, karena itu ayo masuk. Jangan buang-buang air matamu untuk orang yang biar bagaimanapun akan mati! Ayo!” Sambil menutupkan ujung kimononya ke kepala, Takuan berlari ke tempat berteduh di kuil.
Dalam beberapa saat saja hujan deras turun. Titik-titik hujan menimbulkan titik-titik putih saat menghunjam tanah. Sekalipun air sudah mengaliri punggungnya, Otsu tidak juga beranjak. la tak sanggup pergi, sekalipun kimononya yang basah kuyup sudah menempel ke kulitnya dan ia kedinginan sampai ke tulang sumsum. Ketika pikirannya tertuju kepada Takezo, hujan jadi tak berarti lagi. Tidak terpikir olehnya kenapa ia mesti menderita semata-mata karena Takezo menderita. Otaknya dipenuhi gambaran yang baru terbentuk tentang bagaimana seharusnya seorang lelaki. Diam-diam ia berdoa agar hidup Takezo terselamatkan.
la berjalan berputar-putar mengelilingi pangkal potion dan berkali-kali memandang ke Takezo, tapi tak dapat melihatnya karena badai. Serta-merta ia memanggil namanya, tapi tidak ada jawaban. Timbul kecurigaan dalam benaknya, jangan-jangan ia dianggap salah seorang anggota keluarga Hon’iden, atau sekadar orang kampung yang memusuhinya.
“Kalau dia terus kehujanan,” demikian pikirnya putus asa, “pasti dia mati sebelum pagi. Oh, apa tak ada orang di dunia ini yang dapat menyelamatkan dia?”
Ia berlari sekencang-kencangnya, sebagian terdorong angin yang menggila. Bangunan dapur dan petak pendeta di belakang kuil utama tertutup rapat. Air yang melimpah dari talang menimbulkan selokan-selokan yang dalam di tanah ketika menderas menuruni bukit.
“Pak Takuan!” pekiknya. la sudah sampai di pintu kamar Takuan dan mulai menggedor-gedornya sekuat tenaga. “Siapa?” terdengar suara Takuan dari dalam. “Saya-Otsu!”
“Kenapa masih di luar saja?” Takuan cepat membuka pintu dan memandang Otsu keheranan. Bangunan itu memiliki tepi atap yang panjang, namun hujan menyiram Takuan juga. “Cepat masuk!” serunya sambil langsung mencengkeram lengan Otsu, tapi Otsu menariknya kembali.
“Tidak. Saya datang untuk minta tolong, bukan untuk mengeringkan badan. Saya mohon, Bapak, turunkan dia dari pohon itu!”
“Apa? Tak akan aku melakukannya!” kata Takuan bersikeras.
“Saya motion, Pak, turunkanlah dia. Saya akan berterima kasih pada Bapak untuk selama-lamanya.” la pun berlutut di lumpur dan mengangkat kedua tangannya memohon. “Tentang saya sendiri tak usah dipikirkan, tapi Bapak mesti menolongnya! Ayolah, Pak! Bapak tak bisa membiarkannya mati-tak bisa!”
Bunyi air yang menderas hampir menenggelamkan suaranya yang bercampur tangis. Dengan tangan masih diacungkan ke depan la tampak seperti seorang penganut Budha yang sedang menjalani latihan ketahanan dengan berdiri di bawah air terjun dingin.
“Saya sembah Bapak. Saya mohon. Akan saya lakukan apa saja untuk Bapak, tapi saya minta, selamatkan dia!”
Takuan diam. Matanya terpejam erat, seperti pintu-pintu bangunan suci tempat penyimpanan Budha yang rahasia. la menarik keluh panjang. la membuka mata dan menyemburkan api.
“Tidur sana! Sekarang juga! Badanmu lemah! Dan berada di luar pada cuaca seperti ini sama saja dengan bunuh diri.”
“Tolong, Pak, tolong,” mohon Otsu mendekati pintu.
“Aku mau tidur. Dan aku nasihati kamu tidur juga.” Suaranya seperti es.
Pintu pun mengatup keras.
Tapi Otsu tetap tidak menyerah. la merangkak di bawah rumah sampai mencapai tempat yang menurut perkiraannya tempat tidur Takuan. la panggili Takuan lagi. “Saya mohon, Pak Takuan. Ini soal paling penting di dunia buat saya! Pak, apa Bapak dengar suara saya? Jawab, Pak! 0, sungguh Bapak binatang! Jahanam tak berhati dan berdarah dingin!”
Untuk sesaat lamanya biarawan itu mendengarkan saja dengan sabar tanpa menjawab, tapi tindakan Otsu itu membuatnya tak bisa tidur. Akhirnya dalam ledakan kemarahan ia pun melompat keluar clan tempat tidur, dan serunya, “Tolong! Pencuri! Pencuri di bawah lantai! Tangkap!”
Otsu merangkak ke luar menuju badai lagi dan mundur kalah. Tapi ia belum menyerah

Batu Karang dan Pohon

PAGI harinya, angin clan hujan telah menghalau musim semi tanpa jejak. Matahari panas melecut bumi dengan garangnya. Hanya sedikit orang kampung yang berjalan tanpa mengenakan caping pelindung.
Osugi mendaki bukit menuju kuil, dan tiba di pintu Takuan dalam keadaan haus dan kehabisan napas. Titik-titik keringat muncul di atas rambutnya dan menyatu menjadi alur-alur keringat yang mengalir langsung menuruni hidungnya yang lurus. la tidak memperhatikannya, karena sudah tak sabar ingin mengetahui nasib korbannya.
“Takuan,” panggilnya, “apa Takezo tetap hidup kena badai itu?”
Biarawan itu muncul di beranda. “Oh, Ibu. Mengerikan sekali hujan kemarin, ya?”
“Ya.” Osugi tersenyum licik. “Bisa bikin mati.”
“Tapi saya yakin Ibu tahu, tidak terlalu sukar satu-dua malam menahan hujan yang terderas pun. Tubuh manusia mampu menahan banyak lecutan. Mataharilah yang bisa membunuh.”
“Maksud Anda, dia masih hidup?” kata Osugi tak percaya, dan seketika ia menolehkan mukanya yang keriput itu ke pohon kriptomeria tua. Matanya yang seperti jarum menciut dalam cahaya matahari yang menyilaukan. la mengangkat tangan untuk melindungi matanya clan sesaat ia pun lega sedikit. “Menunduk dia seperti gombal basah,” katanya dengan harapan baru. “Tentunya sudah tak mungkin dia hidup lagi, tak mungkin.”
“Saya belum lihat burung gagak mematuk mukanya,” kata Takuan tersenyum. “Saya pikir itu artinya dia masih bernapas.”
“Terima kasih. Orang terpelajar seperti Anda pasti lebih tahu daripada saya tentang hal-hal seperti itu.” la pun menjulurkan lehernya dan mengintip ke dalam ruangan. “Saya tak melihat menantu saya di mana-mana. Tolonglah Anda panggilkan.”
“Menantu Ibu? Saya tak pernah bertemu dengannya. Paling tidak, saya tak kenal namanya. Jadi, bagaimana mungkin saya memanggilnya?”
“Panggil dia, kataku!” ulang Osugi tak sabaran. “Siapa pula yang Ibu bicarakan ini?”
“Lho, tentu saja Otsu!”
“Otsu? Kenapa Ibu sebut dia menantu Ibu? Dia belum masuk keluarga Hon’iden, kan?”
“Belum, tapi aku punya rencana memasukkannya segera, sebagai istri Matahachi.”
“Sukar dibayangkan. Bagaimana mungkin dia mengawini seseorang, kalau orang itu tidak ada?”
Osugi jadi lebih naik darah lagi. “Dengar, gelandangan! Ini tak ada hubungannya denganmu! Katakan saja, di mana Otsu!”
“Rasanya masih di tempat tidur.”
“O ya, mestinya tadi aku menyangka begitu,” gerutu perempuan tua itu, setengah kepada dirinya. “Aku memang menyuruhnya mengawasi Takezo malam hari, jadi mestinya dia capek juga slang hari. Apa kamu tidak harus mengawasinya kalau siang?” tanyanya mengandung tuduhan.
Tanpa menanti jawaban, ia sudah balik kanan dan berjalan menuju bawah pohon. Di sana ia menatap ke atas lama-lama, seakan-akan kesurupan. Ketika akhirnya selesai, ia berjalan tertatih-tatih ke kampung, bertopang tongkat kayu arbei.
Takuan kembali ke kamar dan tinggal di situ sampai malam.
Kamar Otsu tidak jauh dari kamarnya, di bangunan yang sama. Pintunya tertutup juga sepanjang hari, kecuali apabila dibuka oleh pembantu pendeta. Beberapa kali pembantu membawakan obat atau mangkuk tanah berisi bubur betas kental. Ketika orang menemukan Otsu dalam keadaan setengah mati di tengah hujan malam sebelumnya, orang terpaksa menyeretnya masuk dan memaksanya minum sedikit teh. la menendang-nendang dan menjerit-jerit. Pendeta melancarkan cacian keras kepadanya, tapi ia duduk bisu bersandar di dinding. Pagi harinya ia demam hebat, hampir tidak dapat mengangkat kepala untuk makan buburnya.
Malam tiba. Bertentangan sekali dengan malam sebelumnya, bulan bersinar terang, seperti lubang yang dibuat dengan rapi di langit. Ketika semua orang sedang tidur nyenyak, Takuan meletakkan buku yang sedang dibacanya, mengenakan bakiak, dan keluar ke halaman.
“Takezo!” panggilnya.
Jauh di atas kepalanya satu cabang bergoyang, dan titik-titik embun yang berkelipan jatuh.
“Kasihan. Mungkin dia tak punya tenaga lagi buat menjawab,” kata Takuan sendiri. “Takezo! Takezo!”
“Apa maumu, biarawan bajingan?” terdengar jawaban garang.
Takuan orang yang selalu waspada, tapi kali itu la tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. “Keras juga suaramu, untuk ukuran orang yang sudah mau mati. Yakin kau betul-betul bukan seekor ikan atau sejenis monster laut? Kalau begini caranya, kau butuh lima atau enam hari lagi. Tapi omong-omong, bagaimana perutmu? Cukup kosong, ya?”
“Lupakan omongan tetek-bengek ini, Takuan, potong kepalaku, habis perkara.”
“O, tidak! Tidak secepat itu! Orang mesti hati-hati menghadapi hal-hal seperti itu. Kalau kupotong kepalamu sekarang juga, barangkali dia akan terbang ke bawah dan berusaha menggigitku.” Suara Takuan melemah, dan ia memandang ke langit. “Indah sekali bulan itu! Kau beruntung dapat melihatnya dari tempat yang begitu menguntungkan.”
“Baiklah, pandangilah aku, biarawan anjing kampung kotor! Akan kutunjukkan apa yang aku bisa, kalau aku mau!” Dengan segenap kekuatan yang masih tersisa dalam tubuhnya mulailah ia menggoyangkan badannya sehebat-hebatnya, mengempaskan bobot tubuhnya ke atas ke bawah, hingga hampir patah cabang yang menjadi gantungannya. Kulit kayu dan dedaunan menghujani orang yang di bawah. Namun Takuan tetap tenang, atau agak berpura-pura bodoh.
Biarawan itu dengan tenang mengusap bahunya, dan ketika selesai, ia pun menengadah lagi. “Itulah yang dinamakan semangat, Takezo! Memang baik marah seperti kau sekarang ini. Teruskan! Rasakan kekuatanmu sepenuhpenuhnya, tunjukkan bahwa kau manusia sejati, tunjukkan pada kami, terbuat dari apakah kau ini! Orang zaman sekarang menyangka bahwa mampu menahan marah adalah tanda kebijaksanaan dan kepribadian, tapi menurut pendapatku mereka itu bodoh. Aku benci melihat orang muda yang menahan diri, yang sopan santun. Mereka memiliki lebih banyak semangat daripada orang-orang tua, dan mereka harus menunjukkannya. Jangan menahan-nahan diri, Takezo! Makin gila kamu, makin baik!”
“Tunggu, Takuan, tunggu! Kalau aku memang mesti mengunyah tali ini dengan gigi telanjang, aku akan mengunyahnya supaya aku dapat menangkapmu dan mempreteli anggota tubuhmu!”
“Itu janji atau ancaman? Kalau menurutmu kau memang dapat melakukannya, aku akan tinggal di bawah sini, menanti. Apa kau yakin bisa mengerjakannya tanpa membunuh dirimu sendiri, sebelum tali itu putus?”
“Diam!” pekik Takezo parau.
“Kau memang betul-betul kuat, Takezo! Seluruh pohon bergoyang. Tapi maaf saja, tidak kulihat tanah bergetar. Susahnya, kenyataannya kamu itu lemah. Kemarahanmu itu tidak lebih dari kedengkian pribadi. Kemarahan lelaki sejati adalah ungkapan kemarahan moral. Kemarahan karena tetek-bengek emosional yang tak ada artinya adalah untuk perempuan, bukan lelaki.”
“Sebentar lagi,” ancam Takezo. “Aku akan langsung ke lehermu!”
Takezo berjuang terus, tapi tali besar itu tidak menunjukkan tanda-tanda melemah. Takuan memandang terus sejenak, kemudian memberikan nasihat persahabatan. “Kenapa kau tidak menyerah saja, Takezo, kau tidak bakal berhasil. Kau cuma melelahkan dirimu, dan apa gunanya untukmu? Biar kau menggeliat-geliat seperti apa pun, tak bakalan kau bisa mematahkan satu pun cabang pohon ini, apalagi membuat penyok alam semesta ini.”
Takezo memperdengarkan erangan keras. Kemarahannya sudah lewat. Ia sadar bahwa biarawan itu benar.
“Kurasa kekuatan itu lebih baik digunakan bekerja untuk kebaikan negeri. Kau mesti mencoba berbuat sesuatu untuk orang lain, Takezo, biarpun sudah sedikit telat untuk mulai sekarang. Kalau kau mencoba, kau akan punya kesempatan menggerakkan dewa-dewa atau bahkan alam semesta, belum lagi orang-orang biasa yang sederhana.” Suara Takuan kini ganti jadi sedikit bernada petuah. “Sayang, sayang sekali! Biarpun kau dilahirkan sebagai manusia, kau lebih mirip binatang, tidak lebih baik daripada babi hutan atau serigala. Sungguh menyedihkan bahwa seorang pemuda tampan seperti kau mesti menemui ajal di sini, tanpa pernah menjadi manusia sebenarnya! Sungguh sia-sia!”
“Kausebut dirimu sendiri manusia?” Takezo meludah.
“Dengar, orang barbar! Kau percaya betul dengan kekuatan kasarmu sendiri, dan mengira kau tak ada tandingannya di dunia ini. Tapi coba lihat, di mana kau sekarang!”
“Tak ada yang perlu kumalukan. Ini pertarungan tak adil.”
“Pada akhirnya tak ada bedanya, Takezo. Kau bukannya kena hajar, tapi kena diakali dan dibikin bungkam. Kalau kalah, kalah sajalah. Suka atau tidak, sekarang aku duduk di batu karang ini, sedangkan kau terbaring di atas situ tanpa daya. Apa kau tak bisa lihat perbedaan antara kau dan aku?”
“Ya. Tapi kau curang. Kau penipu dan pengecut!”
“0, sungguh gila aku, kalau aku mencoba menangkapmu dengan kekuatan. Tubuhmu terlalu kuat. Manusia tak punya banyak kesempatan menang bergulat dengan macan. Tapi untunglah jarang manusia mesti bergulat dengan macan, karena dia lebih pandai. Tidak banyak orang yang membantah kenyataan bahwa macan lebih rendah daripada manusia.”
Tak ada petunjuk bahwa Takezo masih mendengarkan.
“Itu sama saja dengan yang kaunamakan keberanianmu itu. Tingkah lakumu sampai sekarang ini tidak lebih dari keberanian binatang, jenis keberanian yang tak menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan. Itu bukan jenis keberanian yang menciptakan seorang samurai. Keberanian sejati mengenal rasa takut. Dia tahu bagaimana takut pada apa yang harus ditakuti. Orang-orang yang tulus menghargai hidup dengan penuh kecintaan. Mereka mendekapnya sebagai permata yang berharga. Dan mereka memilih waktu dan tempat yang tepat untuk menyerahkannya. Mati dengan penuh kemuliaan.”
Tetap tak ada jawaban.
“Itulah yang kumaksud, kalau kukatakan kau ini payah. Kau dilahirkan dengan kekuatan fisik dan keuletan, tapi kau kurang pengetahuan dan kebijaksanaan. Kau berhasil menguasai beberapa ciri kurang baik dari Jalan Samurai, tapi kau tidak berusaha mencapai pengetahuan atau kebajikan. Orang bicara tentang bagaimana mencampurkan Jalan Pengetahuan dengan Jalan Samurai, padahal kalau dicampurkan dengan balk keduanya itu bukan dua-keduanya itu satu. Hanya ada satu jalan, Takezo.”
Pohon itu diam, sediam batu karang yang diduduki Takuan. Kegelapan itu pun diam. Beberapa waktu kemudian, Takuan bangkit pelan-pelan dan berhati-hati. “Pikirkan satu malam lagi, Takezo. Sesudah itu, akan kupotong kepalamu seperti kauminta.” la meninggalkan tempat itu dengan langkahlangkah panjang penuh pikiran, kepala menunduk. Belum lagi dua puluh langkah, suara Takezo mendering keras clan terasa mendesak.
“Tunggu!”
Takuan menoleh, dan serunya, “Apa maumu sekarang?”
“Kembalilah.”
“Mm. Apa kau mau mendengar lebih banyak lagi? Apa kau akhirnya mulai berpikir?”
“Takuan! Selamatkan aku!” Teriakan minta tolong Takezo itu keras dan sedih. Cabang pohon itu mulai bergetar, seakan-akan seluruh pohon itu menangis.
“Aku mau jadi orang yang lebih baik. Aku sadar sekarang, betapa penting dan istimewanya lahir sebagai manusia. Aku hampir mati, tapi aku mengerti apa artinya hidup. Dan pada saat aku sadar, hidupku hanya tinggal terikat pada pohon ini! Tak dapat aku menghapuskan apa-apa yang telah kulakukan.”
“Akhirnya kau sadar. Untuk pertama kali dalam hidupmu kau bicara sebagai manusia.”
“Aku tak mau mati, Takuan!” teriak Takezo, “Aku mau hidup. Aku mau pergi, mencoba lagi, dan melakukan semuanya baik-baik.” Tubuhnya mengejang-ngejang karena sedu sedan. “Takuan… aku mohon! Tolonglah aku… tolong!”
Biarawan itu menggelengkan kepala. “Maaf, Takezo. Itu di luar kekuasaanku. Itu hukum alam. Kau tak bisa mengulangnya. Itulah hidup. Segala yang terjadi adalah untuk selamanya. Segalanya! Kau tak bisa mengembalikan kepalamu di tempatnya sesudah musuh memenggalnya. Begitulah adanya. Tentu saja aku kasihan padamu, tapi aku tak dapat melepaskan tali itu, karena bukan aku yang mengikatkannya. Kau sendirilah yang mengikatkannya. Yang dapat kulakukan hanyalah memberikan nasihat padamu. Hadapilah maut dengan berani dan tenang. Ucapkan doa dan berharaplah ada orang yang mau mendengarkan. Dan demi nenek moyangmu, Takezo, matilah dengan layak, dengan wajah damai!”
Gemeratak sandal Takuan menghilang di kejauhan. Takuan telah pergi, dan Takezo tidak berteriak lagi. Mengikuti nasihat biarawan itu, ia menutup mata yang baru saja mengalami kesadaran luar biasa dan melupakan segalanya. la lupakan kehidupan dan kematian, dan di bawah sejuta bintang kecil ia terbaring diam. Angin malam berdesir melintas pohon. la merasa dingin, dingin sekali.
Sejenak kemudian ia merasa ada orang di pangkal pohon. Orang itu, entah siapa, mendekap batang pohon yang lebar itu dan berusaha setengah mati naik ke dahan terendah. Terasa ia tidak begitu cakap. Takezo dapat mendengarkan bagaimana si pemanjat itu tergelincir hampir di tiap usahanya untuk naik. la pun dapat mendengar potongan-potongan kulit pohon berguguran ke tanah, dan ia yakin bahwa tangan-tangan itu jauh lebih terkelupas daripada pohonnya. Tetapi si pemanjat meneruskan usahanya dengan tabah, mencoba berkali-kali lagi menempel pada pohon, sampai akhirnya dahan yang pertama dapat dicapai. Kemudian sosok itu naik dengan agak mudah ke tempat Takezo terbaring dalam keadaan kehabisan tenaga. Tubuh Takezo hampir tak bisa dibedakan dari dahan tempatnya terikat. Suara terengah-engah membisikkan namanya.
Dengan susah payah Takezo membuka mata dan ternyata ia berhadapan dengan kerangka. Hanya matanya yang hidup dan tampak bersemangat. Wajah itu bicara. “Ini aku!” katanya dengan keluguan kanak-kanak.
“Otsu?”
“Ya, aku. Takezo, ayo kita lari! Aku dengar kau memiawik ingin sekali hidup.”
“Lari? Kau akan melepas ikatanku dan membebaskan aku?”
“Ya. Aku juga tak tahan lagi diam di kampung ini. Kalau aku tinggal di sini… oh, aku tak ingin lagi memikirkan itu. Aku punya alasan sendiri. Aku cuma mau keluar dari tempat yang bodoh dan kejam ini. Aku akan menolongmu. Takezo! Kita dapat saling menolong!” Otsu sudah mengenakan pakaian perjalanan, dan semua miliknya sudah bergantung pada bahunya, dalam sebuah kantong kain kecil.
“Cepat putuskan tali! Apa lagi yang kautunggu? Potong!”
“Takkan makan waktu lama.”
Otsu menghunus belati kecilnya, dan dalam sekejap mata ia sudah meretas ikatan tahanan itu. Beberapa menit berlalu sebelum rasa berdenyut pada kaki-tangan Takezo mereda dan ia dapat melenturkan otot-ototnya. Otsu mencoba mendukung seluruh bobot Takezo, tapi akibatnya, ketika Takezo tergelincir, Otsu pun terperosok bersama. Kedua tubuh itu saling bergayutan, lalu lepas terpelanting, berputar di udara clan jatuh ke tanah.
Takezo berdiri. Kepalanya pusing karena jatuh dari ketinggian sepuluh meter, dan badannya lemah dan kaku, namun ia menjejakkan kaki di tanah mantap-mantap. Otsu merangkak, menggeliat kesakitan.
“O-o-h-h,” erangnya.
Takezo merangkulnya clan membantunya berdiri. “Ada yang patah?”
“Entah, tapi rasanya aku masih bisa jalan.”
“Kita jatuh menimpa cabang-cabang itu, jadi barangkali lukamu tidak seberapa.”
“Kau sendiri bagaimana? Tidak apa-apa?”
“Ya… Aku… Aku… tidak apa-apa, aku…” la berhenti sedetik-dua, kemudian ucapnya, “Aku hidup! Aku betul-betul hidup!”
“Tentu saja kau hidup!”
“Itu bukan ‘tentu saja’.”
“Mari kita lekas pergi dari sini. Kalau ada yang menemukan kita di sini, celaka nanti.”
Otsu berjalan terpincang-pincang, dan Takezo mengikutinya… pelan-pelan, diam-diam, seperti dua ekor serangga rapuh terluka sedang berjalan di udara dingin musim gugur.
Mereka berjalan sedapat-dapatnya, terpincang-pincang dalam diam. Kediaman yang lama kemudian baru terpecahkan, ketika Otsu berteriak, “Lihat! Sudah mulai terang di arah Harima.”
“Di mana kita ini?”
“Di puncak Celah Nakayama.”
“Apa betul sudah begitu jauh?”
“Ya.” Otsu tersenyum lemah. “Mengagumkan memang apa yang dapat dilakukan orang, kalau sudah bertekad. Tapi, Takezo…” Otsu kelihatan khawatir. “Kau tentunya kelaparan. Kau tidak makan apa-apa berhari-hari.”
Mendengar kata makanan, Takezo tiba-tiba menyadari bahwa perutnya yang kisut kejang kesakitan. Begitu ia sadar, keadaan jadi menyiksa. Terasa berjam-jam lamanya, sebelum akhirnya Otsu dapat membuka kantongnya dan mengeluarkaan makanan. Hadiah kehidupan Otsu adalah kue bakpao yang dipadati kacang manis. Ketika rasa manis kue itu menurun lembut dalam kerongkongannya, kepala Takezo pun menjadi pusing. Jari-jari yang memegang kue itu bergetar. “Aku hidup,” pikirnya berulang-ulang. la bersumpah sejak saat itu akan hidup secara berbeda sama sekali.
Awan yang kemerah-merahan pagi itu membuat pipi mereka berwarna merah muda. Ketika Takezo bisa memandang wajah Otsu dengan lebih jelas, dan rasa laparnya berganti menjadi tenang karena kenyang, terasa olehnya seperti mimpi bahwa ia kini duduk di sini, sehat walafiat, bersama Otsu.
“Kalau hari terang, kita harus sangat hati-hati. Kita hampir sampai perbatasan provinsi,” kata Otsu.
Mata Takezo melebar. “Perbatasan! Betul, aku lupa. Aku harus pergi ke Hinagura.”
“Hinagura? Kenapa?”
“Di sana kakak perempuanku dikurung. Aku harus mengeluarkannya dari sana. Kukira aku terpaksa mengucapkan selamat tinggal.”
Otsu memandang wajah Takezo dengan tajam, diam terpukau. “Kalau memang itu yang kaurasakan, pergilah! Tapi kalau aku tahu kau akan meninggalkan aku, tak akan aku meninggalkan Miyamoto.”
“Apa lagi yang dapat kulakukan? Membiarkan dia dl benteng sana?”
Dengan pandangan menghunjam, Otsu menggenggam tangan Takezo. Wajah dan seluruh tubuhnya menyala oleh cinta. “Takezo,” mohonnya, “akan kukatakan padamu bagaimana perasaanku kemudian, kalau ada waktu, tapi kuminta jangan tinggalkan aku di sini sendiri! Bawa aku ke mana saja kau pergi!”
“Tapi aku tak bisa!”
“Ingatlah”-Otsu mencengkeram tangan Takezo erat-erat-”suka atau tidak, aku akan ikut. Kalau kau berusaha menyelamatkan Ogin, aku akan pergi ke Himeji dan menanti.”
“Baiklah,” kata Takezo langsung setuju.
“Kau pasti akan datang, kan?”
“Tentu.”
“Aku menunggu di Jembatan Hanada, di pinggiran Himeji. Kutunggu kau di sana, biar sampai seratus atau seribu hari.”
Dengan jawaban anggukan kecil, Takezo berangkat tanpa banyak berkatakata lagi. la bergegas menyusuri pegunungan yang membujur dari celah itu ke pegunungan di kejauhan. Otsu mengangkat kepala untuk memperhatikannya, sampai tubuh Takezo menyatu dengan pemandangan.
Sementara itu di kampung, cucu Osugi berlari-lari naik ke rumah besar Hon’iden, sambil berseru, “Nek! Nenek!”
Sambil menghapus hidung dengan punggung tangan, la melongok ke dapur dan katanya ribut, “Nek, apa Nenek sudah dengar? Ada kejadian hebat!”
Osugi yang sedang berdiri di depan tungku dan menghidupkan api dengan kipas, hampir tidak memperhatikan cucunya.
“Apa sih ribut-ribut ini?”
“Nek, Nenek belum tahu? Takezo lari!”
“Lari!” Dan kipas pun jatuh ke api. “Apa katamu?” “Pagi ini dia tak ada di pohon. Talinya putus.”
“Heita, kau ingat apa kata Nenek kalau orang bohong?” “Ini betul, Nek, sumpah! Semua orang bilang begitu.” “Kau yakin betul?”
“Ya, Nek. Dan di kuil orang mencari Otsu. Dia hilang juga. Semua orang lari ke sana kernari berteriak-teriak.”
Akibat berita itu sungguh penuh warna. Muka Osugi memutih, penuh bayang-bayang nyala kipasnya yang terbakar itu, yang berubah warna dari merah ke biru dan lembayung. Segera wajah itu seolah-olah kehilangan darah, sedemikian rupa hingga Heita mengerut ketakutan.
“Heita!”
“Ya?”
“Lari secepat-cepatnya. Jemput ayahmu, lalu pergilah ke pinggir kali dan panggil Paman Gon! Cepat!” Suara Osugi menggeletar.
Sebelum Heita sampai di gerbang, sejumlah orang kampung sudah datang. Mereka ramai berbicara sendiri. Di antara mereka terdapat menantu lelaki Osugi, Paman Gon, sanak keluarga yang lain, dan sejumlah petani penyewa.
“Jadi, Otsu lari juga, ya?”
“Dan Takuan juga tidak kelihatan lagi!” “Pasti mereka kerja sama.”
“Apa yang dilakukan perempuan tua itu nanti? Kehormatan keluarganya jadi taruhan!”
Menantu Osugi dan Paman Gon yang membawa lembing turun-temurun dari nenek moyang, memandang kosong ke arah rumah. Mereka belum dapat melakukan sesuatu. Mereka butuh petunjuk. Karena itu mereka berdiri saja di sana dengan gelisah, menanti Osugi keluar memberikan perintah-perintahnya.
“Nek!” seru seseorang akhirnya. “Apa Nenek belum dengar?”
“Aku akan datang segera ke sana,” terdengar jawabannya. “Kalian semua tenang saja, dan tunggu.”
Osugi segera bertindak. Ketika ia mengetahui bahwa berita mengerikan itu benar, darahnya pun mendidih, tapi ia berusaha mengendalikan dirinya dengan berlutut di depan altar keluarga. Sesudah menyampaikan doa permohonan dengan diam, ia mengangkat kepala, membuka mata, dan menoleh ke sekitar. Tenang ia membuka tutup peti pedang, menarik lacinya dan mengeluarkan senjata simpanannya. la kenakan pakaian yang cocok untuk memburu orang, ia selipkan pedang pendek itu dalam obi-nya, dan pergilah ia ke pintu gerbang. Di situ ia ikatkan tall sandal baik-baik pada pergelangan kakinya.
Keheningan penuh pesona yang menyambutnya ketika ia mendekati gerbang jelas menunjukkan bahwa orang-orang itu sudah tahu untuk apa ia berpakaian demikian. Perempuan tua yang keras kepala itu memang bermaksud bertindak, dan ia lebih dari siap untuk membalas dendam atas penghinaan terhadap keluarganya.
“Semuanya akan beres,” ucapnya dengan nada pendek-pendek. “Akan kuburu sendiri perempuan jalang yang tak kenal malu itu, dan mengaturnya supaya dia mendapat hukuman setimpal.” Rahangnya mengatup.
la sudah berjalan cepat di jalan, barulah akhirnya seorang dari antara orang banyak itu memperdengarkan suaranya. “Kalau perempuan tua itu pergi, kita harus pergi juga.” Semua sanak keluarga dan penyewa pun berdiri dan serentak mengikuti bunda mereka yang gagah berani itu. Bersenjatakan tongkat, dan sambil membuat tombak bambu dalam perjalanan, mereka beriring-iring menuju Celah Nakayama, tanpa berhenti untuk istirahat. Mereka sampai di sana tepat sebelum tengah hari, tapi sudah terlambat.
“Mereka sudah berhasil lolos!” seru seseorang. Orang banyak itu pun menggelegak marahnya. Kekecewaan mereka ditambah lagi dengan penjelasan seorang pejabat perbatasan bahwa rombongan sebesar itu tidak bisa lewat.
Paman Gon maju ke depan clan memohon dengan sangat kepada pejabat itu. la melukiskan Takezo sebagai seorang “penjahat”, Otsu “setan”, dan Takuan “gila”. “Kalau tidak kami selesaikan soal ini sekarang,” jelasnya, “nama nenek moyang kami akan ternoda. Dan kami tak akan pernah bisa menegakkan kepala. Kami akan menjadi bahan tertawaan orang kampung. Bahkan keluarga Hon’iden bisa terpaksa meninggalkan tanahnya.”
Pejabat itu mengatakan dapat memahami keadaan sulit tersebut, tapi ia tak dapat berbuat apa-apa untuk menolong. Hukum adalah hukum. Barangkali la dapat melakukan penyelidikan di Himeji dan memintakan izin khusus untuk menyeberang perbatasan bagi mereka, tapi itu akan makan waktu.
Sesudah berunding dengan sanak saudara dan petani penyewa, Osugi maju ke hadapan pejabat itu dan bertanya, “Kalau begitu, apa ada alasan kenapa kami berdua, yaitu saya sendiri dan Paman Gon, tidak bisa jalan terus?”
“Sampai lima orang bisa diizinkan.” Osugi mengangguk setuju. Kemudian kelihatannya ia hendak mengucapkan kata-kata perpisahan yang mengharukan. Tapi akhirnya ia hanya menyuruh para pengikutnya berkumpul dengan singkat. Mereka berbaris di depannya, memandang penuh perhatian kepada mulutnya yang berbibir tipis clan giginya yang besar merongos.
Ketika mereka semua sudah diam, la berkata, “Tak usah kalian bingung. Sejak sebelum berangkat pun aku sudah membayangkan ini akan terjadi. Ketika aku mengambil pedang pendek ini, salah satu pusaka Hon’iden yang paling berharga, aku berlutut di depan tanda peringatan nenek moyang kita dan mengucapkan selamat berpisah secara resmi pada mereka. Aku juga mengucapkan dua sumpah.
“Satu, aku akan mengejar dan menghukum perempuan kurang ajar yang sudah mencoreng nama kita dengan lumpur. Yang kedua, aku harus memastikan-bahkan sampai mati-apakah anakku Matahachi masih hidup. Dan kalau dia masih hidup, akan kubawa dia pulang untuk melanjutkan nama keluarga. Aku bersumpah melakukan ini, dan akan kulaksanakan, biarpun misalnya aku terpaksa mengikat lehernya clan menyeretnya pulang. Dia punya kewajiban tidak hanya kepadaku dan kepada mereka yang sudah pergi, tapi juga kepada kalian. Baru sesudah itu dia akan mencari seorang istri yang seratus kali lebih baik dari Otsu dan menghapuskan aib ini selamanya, supaya orang kampung sekali lagi mengakui keluarga kita sebagai keluarga yang mulia dan terhormat.”
Ketika mereka bertepuk tangan dan bersorak-sorai, seorang lelaki mengucapkan sesuatu yang kedengaran seperti erangan. Osugi menatap tajam menantunya.

TAMAT

IZRO'IL
Musashi II (Air)

Musashi II 1




Perguruan Yoshioka

HIDUP hari ini, yang tak kenal hari esok….
Di Jepang, pada awal abad tujuh belas, kesadaran orang mengenai hidup yang hanya selintas terdapat pada orang kebanyakan maupun pada golongan elite. Jenderal terkenal Oda Nobunaga, yang telah meletakkan dasar-dasar bagi Toyotomi Hideyoshi dalam mempersatukan Jepang, menyimpulkan pandangan ini dalam sebuah sajak pendek:
Umur manusia yang lima puluh tahun Tidak lebih dari impian maya Dalam perjalanan lewat Perpindaban perpindahan abadi.
Kalah dalam suatu pertempuran kecil dengan salah seorang jenderalnya sendiri, yang menyerangnya secara mendadak dalam usaha balas dendam, Nobunaga bunuh diri di Kyoto pada umur empat puluh delapan.
Tahun 1605, sekitar dua dasawarsa kemudian, perang yang tak kenal henti antara para daimyo pada pokoknya sudah lewat. Tokugawa Ieyasu telah memerintah sebagai shogun dua tahun lamanya. Lentera di jalan-jalan Kyoto dan Osaka bersinar terang sebagaimana pada masa kejayaan zaman ke-shogun-an Ashikaga. Suasana umumnya riang dan penuh pesta.
Tapi hanya sedikit orang yang yakin bahwa perdamaian itu akan kekal. Perang saudara selama lebih dari seratus tahun telah demikian mewarnai pandangan hidup rakyat, hingga mereka beranggapan bahwa ketenangan yang sedang berlangsung itu rapuh belaka dan bakal berumur pendek. Ibu kota memang berkembang, tetapi ketegangan akibat tidak diketahuinya berapa lama keadaan itu akan berlangsung lebih merangsang keinginan rakyat untuk bersuka ria.
Sekalipun masih memegang kekuasaan, Ieyasu secara resmi sudah mengundurkan diri dari kedudukan shogun. Selagi masih cukup kuat untuk menguasai daimyo lain dan mempertahankan hak keluarga untuk berkuasa, ia menyerahkan gelarnya kepada anak lelakinya yang ketiga, Hidetada. Ada desas-desus bahwa shogun baru akan segera mengunjungi Kyoto untuk menyatakan hormatnya kepada Kaisar, tapi semua orang tahu bahwa perjalanannya ke barat itu akan lebih dari sekadar kunjungan kesopanan. Saingan terbesarnya yang potensial, Toyotomi Hideyori, adalah anak Hideyoshi, penerus Nobunaga. Hideyoshi telah berbuat sebisa-bisanya agar kekuasaan tetap berada di tangan keluarga Toyotomi sampai Hideyori cukup umur, tetapi pemenang di Sekigahara adalah Ieyasu.
Hideyori masih bersemayam di Puri Osaka. Meskipun Ieyasu tidak menying-kirkannya, malahan mengizinkannya menikmati penghasilan tahunan yang besar jumlahnya, ia sadar bahwa Osaka merupakan ancaman besar. Tempat ini bisa menjadi titik kumpul yang mungkin dipakai untuk perlawanan. Banyak penguasa feodal lainnya juga mengetahui hal ini. Mereka memasang taruhan yang jumlahnya sama untuk kemenangan kedua belah pihak. Mereka pun berbaik-baik dengan Hideyori maupun shogun untuk mengamankan diri. Sering orang mengatakan bahwa Hideyori memiliki cukup banyak puri dan emas hingga bisa membeli semua samurai tak bertuan atau ronin di negeri itu, jika ia mau.
Spekulasi kosong mengenai masa depan politik negeri itu merupakan bahan utama pergunjingan di udara Kyoto.
“Perang pasti pecah, cepat atau lambat.”
“Tinggal masalah waktu.”
“Lentera-lentera jalan ini bisa padam besok.” “Kenapa mesti pusing? Apa yang terjadi, terjadilah.” “Mari kita bersuka ria selagi bisa!”
Kehidupan malam yang sibuk dan tempat-tempat hiburan yang semakin meriah merupakan bukti nyata bahwa kebanyakan penduduk memang melakukannya.
Di antaranya adalah sekelompok samurai yang kini sedang berjalan membelok masuk Jalan Shijo. Di samping mereka berdiri tembok panjang berplester putih yang berakhir pada sebuah gerbang mengesankan dan beratap mengagumkan. Sebuah papan kayu yang sudah hitam warnanya karena usia, memuat tulisan yang hampir tak terbaca lagi:
Yoshioka Kempo dari Kyoto. Instruktur Militer bagi para Shogun Ashikaga.
Kedelapan samurai muda itu kelihatannya selesai berlatih pedang terus-menerus sepanjang hari. Sebagian mengenakan pedang kayo sebagai pelengkap pedang baja yang biasa, dan sebagian lagi membawa lembing. Mereka tampak kuat, jenis orang pertama yang melihat tumpahnya darah pada saat pertarungan senjata meletus. Wajah mereka sekeras batu dan mata mereka penuh ancaman, seakan selamanya berada di ambang letusan kemarahan.
“Ke mana kita pergi malam ini, Tuan Muda?” tanya mereka beramai-ramai sambil mengelilingi guru mereka.
“Ke mana lagi kalau bukan ke tempat kemarin malam?” jawab sang guru dengan muram.
“Ah! Perempuan-perempuan itu semuanya jatuh hati kepada Tuan! Mereka hampir tidak memandang kami.”
“Barangkali dia benar,” yang lain menyela. “Kenapa tidak kita coba tempat lain yang baru, di mana tak ada orang mengenal Tuan Muda atau salah seorang dari kita?” Sambil berteriak-teriak dan ribut tak keruan, tampaknya mereka benar-benar tenggelam dalam persoalan ke mana akan pergi minum dan melacur.
Mereka masuk daerah yang berpenerangan balk di sepanjang tepi Sungai Kamo. Bertahun-tahun tanah itu kosong dan penuh ditumbuhi rumput, benar-benar lambang kehancuran perang. Tetapi bersamaan dengan datangnya damai, nilainya pun melonjak. Rumah-rumah rapuh tersebar di sana-sini, tirai-tirai merah dan kuning pucat tergantung melengkung di pintu masuk. Di situ kupu-kupu malam menjalankan usahanya. Gadis-gadis dari Provinsi Tamba dengan muka berpupur sembarangan menyiuli calon pelanggan. Perempuan-perempuan malang yang dibeli secara berkelompok itu memetik shamisen, alat musik yang belum lama populer. Mereka menyanyikan lagulagu mesum dan tertawa-tawa antara sesamanya.
Nama tuan muda itu Yoshioka Seijuro. Kimono cokelat tua yang bagus potongannya menutup tubuhnya yang jangkung. Begitu mereka memasuki daerah pelacuran, ia menoleh ke belakang dan katanya kepada salah seorang dari kelompoknya, “Toji, belikan aku topi anyaman.”
“Yang dapat menyembunyikan wajah Anda?”
“Ya.”
“Anda membutuhkannya bukan untuk di sini, bukan?” jawab Gion Toji.
“Aku takkan minta kalau tidak membutuhkannya di sini!” decap Seijuro tak sabar. “Aku tak suka orang melihat anak Yoshioka Kempo berkeliaran di tempat seperti ini.”
Toji tertawa. “Tapi itu justru menarik perhatian. Semua perempuan di sini tahu bahwa kalau Anda menyembunyikan wajah dengan topi, tentunya Anda dari keluarga baik-baik, dan barangkali dari keluarga kaya. Tentu saja ada alasan lain kenapa mereka suka pada Anda, tapi itu salah satu di antaranya.”
Toji, sebagaimana biasa, sedang menggoda dan sekaligus menjilat tuannya. Ia menoleh dan memerintahkan salah seorang untuk mencari topi yang dimaksud, lalu ia berdiri menanti orang yang disuruh itu pergi melewati lentera-lentera dan orang-orang yang sedang bersuka ria. Ketika orang yang disuruh itu kembali, Seijuro mengenakan topi dan merasa lebih santai.
“Dengan topi itu,” ucap Toji, “Anda lebih tampak seperti orang yang tahu mode.” Sambil menoleh kepada yang lain-lain, ia melanjutkan jilatannya secara tak langsung.
“Lihat, perempuan-perempuan itu semua melongok dari pintu, supaya dapat benar-benar melihatnya.”
Tanpa jilatan Toji pun, Seijuro memang memiliki tubuh yang bagus. Dengan dua sarung pedang bersemir mengilat yang tergantung di sisinya, ia memancarkan kemuliaan dan kelas yang memang pantas bagi anak keluarga kaya. Maka tak ada topi jerami yang dapat menghentikan perempuanperempuan itu menegurnya ketika ia lewat.
“Hei, tampan! Kenapa sembunyi di bawah topi jelek?”
“Ayolah kemari! Saya ingin lihat yang di bawahnya.”
“Ayo, jangan malu-malu. Biar kami melihat.”
Seijuro menanggapi ajakan-ajakan menggoda ini dengan berusaha kelihatan lebih tinggi dan lebih mulia lagi. Sikap ini diambilnya belum lama setelah ia, untuk pertama kalinya, berhasil dibujuk Toji untuk menginjakkan kaki di daerah itu, dan ia masih malu dilihat orang di sana. Terlahir sebagai anak tertua pemain pedang terkenal, Yoshioka Kempo, tak pernah ia kekurangan uang, tapi sampai waktu belum lama berselang ia tak kenal dengan sisi buruk kehidupan ini. Perhatian yang ditunjukkan orang kepadanya membuat detak darahnya berpacu. Masih ada rasa malu yang disembunyikannya. Sebagai anak manja dari keluarga kaya, ia selalu suka pamer. Jilatan pengiringnya tak kalah ampuhnya dengan cumbuan perempuan, menyokong kesombongannya seperti racun yang manis. “Oh, itu tuan dari Jalan Shijo!” ujar salah seorang perempuan itu.
“Kenapa Anda menyembunyikan wajah? Anda tidak bisa mengecoh siapa pun.”
“Bagaimana perempuan itu bisa tahu siapa aku?” geram Seijuro kepada Toji, pura-pura tersinggung.
“Mudah sekali,” kata perempuan itu, sebelum Toji dapat membuka mulut. “Semua orang tahu, orang dari Perguruan Yoshioka suka memakai warna cokelat tua. Namanya ‘warna Yoshioka’. Warna itu populer sekali di sini.”
“Betul. Tapi seperti kaukatakan, banyak orang lain yang memakainya juga.”
“Ya, tapi mereka tidak mengenakan hiasan tiga lingkaran pada kimononya.”
Seijuro menunduk memandang lengan kimononya, “Aku mesti lebih hati-hati,” katanya. Saat itu juga sebuah tangan dari belakang kisi-kisi terulur dan menarik pakaian itu.
“Wah, wah,” kata Toji. “Menyembunyikan wajah, tapi tidak menyembunyikan hiasannya. Tentunya dia memang ingin dikenali. Jadi, saya kira, betul-betul tak mungkin sekarang untuk tidak singgah.”
“Semaumulah,” kata Seijuro yang tampak tak enak, “tapi suruh perempuan ini melepaskan lengan bajuku.”
“Lepaskan, perempuan!” raung Toji. “Beliau bilang, kami akan masuk!” Para siswa itu pun berkerumun masuk ke bawah tirai warung. Kamar yang mereka masuki itu, hiasannya tanpa selera sama sekali. Gambar-gambar kampungan dan bunga-bungaan disusun morat-marit, hingga sukar bagi Seijuro untuk merasa senang. Namun yang lain-lain tidak memperhatikan joroknya lingkungan.
“Keluarkan sake!” perintah Toji, yang juga memesan beberapa penganan pilihan.
Sesudah makanan datang, Ueda Ryohei yang menjadi tandingan Toji dalam permainan pedang berteriak, “Keluarkan perempuan!” Perintah itu diberikan dengan nada yang sama masamnya dengan nada yang dipakai Toji untuk memesan makanan dan minuman.
“Hei, Ueda tua bilang, keluarkan perempuan!” kata yang lain-lain serentak menirukan suara Ryohei.
“Aku tak suka disebut tua,” kata Ryohei, memberengutkan muka. “Memang aku lebih lama dari yang lain-lain belajar di perguruan ini, tapi kalian takkan menemukan uban dalam rambutku.”
“Kau menyemirnya barangkali.”
“Siapa yang mengatakan itu, maju ke depan dan minum satu sloki sebagai hukuman!”
“Susah-susah amat. Lemparkan ke sini!” Sloki sake pun melayang di udara.
“Dan ini balasannya.” Dan satu sloki lagi terbang. “He, siapa yang menari!”
Seijuro berseru, “Kau menari, Ryohei! Menarilah, dan tunjukkan kau masih muda.”
“Boleh. Lihat!” Ryohei pergi ke sudut beranda. Di situ diikatkannya celemek merah milik pelayan ke belakang kepalanya, ditusukkannya kembang prem ke dalam simpulnya, dan diambilnya sapu.
“Lihat! Dia mau menarikan tarian Perawan Hida! Mari kita dengarkan nyanyiannya juga, Toji!”
Ia mengajak mereka semua menggabungkan diri, dan mulailah mereka, mengetuk-ngetuk piring secara berirama dengan sumpitnya, sedangkan satu orang mendentang-dentangkan penjepit api ke pinggir anglo.
Di balik pagar bambu, pagar bambu, pagar bambu, Kulihat kimono berlengan panjang, Kimono berlengan panjang di salju….
Tenggelam dalam tepuk tangan sesudah bait pertama, Toji pun membungkuk, dan perempuan-perempuan melanjutkannya dengan iringan shamisen.
Gadis yang kulihat kemarin Tak ada lagi hari ini. Gadis yang kulihat hari ini
Takkan datang lagi esok hari.
Tak tahulah apa yang terjadi esok, Aku ingin mencumbunya hari ini
Di sebuah sudut, seorang siswa mengangkat mangkuk sake yang besar untuk rekannya. Katanya, “Bagaimana kalau minum ini sekali teguk?”
“Tidak, terima kasih.”
“Terima kasih? Katanya kau samurai, tapi tak bisa kau menghabiskan ini?”
“Tentu saja bisa. Tapi kalau aku minum, kau juga mesti!”
“Ya, itu adil!”
Pertandingan pun dimulai. Mereka minum seperti kuda di palungan, dan sake mengucur dart sudut-sudut mulut mereka. Kira-kira sejam kemudian, beberapa orang di antaranya sudah mulai muntah, sedang lain-lainnya tak bisa bergerak lagi dan hanya melotot kosong dengan mata merah.
Satu orang yang punya kebiasaan bicara keras, dan semakin lantang bicaranya kalau makin banyak minumnya, menyatakan, “Apakah di negeri ini, di luar Tuan Muda, ada yang benar-benar mengerti teknik-teknik Delapan Gaya Kyoto? Kalau ada-hik-ingin aku ketemu dengannya…. Hups!”
Seorang anggota perguruan yang duduk dekat Seijuro tertawa. Bicaranya tersendat-sendat, cegukan, “Dia mengumbar jilatan karena Tuan Muda ada di sini. Ada perguruan lain di samping delapan yang ada di Kyoto ini, dan Perguruan Yoshioka ini tidak lagi yang terbesar. Di Kyoto saja ada Perguruan Toda Seigen di Kurotani, dan Ogasawara Genshinsai di Kitano. Dan jangan lupa Ito Ittosai di Shirakawa, walaupun tidak menerima siswa.”
“Apa istimewanya mereka itu?”
“Maksudku, kita tidak boleh merasa kita ini satu-satunya pemain pedang di dunia.”
“Bajingan picik kamu!” seru seorang yang merasa tersinggung harga dirinya. “Maju!”
“Begini?” jawab si pengecam dengan tajam sambil bangkit.
“Kau anggota perguruan ini, tapi kau mengecilkan Gaya Yoshioka Kempo?”
“Aku tidak mengecilkannya! Sekarang ini tidak seperti dulu, ketika guru mengajar para shogun dan dianggap pemain pedang terbesar. Sekarang jauh lebih banyak orang yang mempraktekkan Jalan Pedang, tidak hanya di Kyoto, tapi juga di Edo, Hitachi, Echizen, provinsi-provinsi dalam, provinsiprovinsi barat, Kyushu-di seluruh negeri ini. Ketenaran Yoshioka Kempo tidak berarti Tuan Muda dan kita semua ini pemain-pemain pedang terbesar masa kini. Itu sama sekali tidak benar, kenapa pula mesti membohongi diri sendiri?”
“Pengecut! Kau pura-pura jadi samurai, tapi kau takut pada perguruan lain!”
“Siapa yang takut? Aku cuma ingin kita menjaga diri dari rasa puas diri.”
“Tapi siapa kau ini, berani-berani memberi peringatan?”
Murid yang tersinggung itu meninju dada lawannya hingga terjatuh.
“Kau ingin berkelahi?” geram orang yang jatuh.
“Ya. Ayo.”
Murid-murid senior, Gion Toji dan Ueda Ryohei, menengahi.
“Berhenti kalian!” Keduanya melompat, memisahkan yang berkelahi, dan mencoba meredakan kemarahan mereka. “Tenang!”
“Kami semua mengerti perasaan kalian.”
Beberapa sloki sake lagi dituangkan untuk mereka yang berkelahi, dan akhirnya keadaan normal kembali. Si penghasut sekali lagi memuji-muji dirinya dan lain-lainnya, sedang si pengecam, sambil menangis memeluk Ryohei, mempertahankan pendapatnya.
“Aku cuma mengemukakan pendapat untuk kebaikan perguruan ini,” sedannya. “Kalau orang terus menyemburkan jilatan, nama baik Yoshioka Kempo akhirnya akan runtuh. Percayalah, runtuh!”
Hanya Seijuro yang tetap paling tenang. Melihat ini, Toji berkata,
“Apakah Anda tidak menikmati pesta ini?”
“Ah. Apa mereka itu betul-betul menikmatinya? Rasanya tidak.”
“Tentu. Inilah cara mereka bergembira.”
“Aku tak percaya kalau kelakuan mereka seperti itu.”
“Bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang lebih tenang? Saya sendiri sudah bosan di sini.”
Seijuro tampak sangat lega dan segera saja setuju. “Aku ingin pergi ke tempat kemarin malam.”
“Maksud Anda Yomogi?”
“Ya.”
“Di sana memang jauh lebih baik. Tadinya saya kira Anda memang ingin pergi ke sana, tapi di sana cuma buang-buang uang saja kalau membawa gerombolan orang bebal ini. Itu sebabnya saya giring mereka kemari-murah.”
“Mari kita pergi diam-diam. Biar Ryohei mengurus orang-orang ini.”
“Anda pura-pura pergi ke belakang. Saya akan menyusul beberapa menit lagi.” Seijuro menghilang dengan lihainya. Tak seorang pun melihat.
Di luar rumah, tak jauh dari situ, seorang perempuan sedang berdiri berjinjit, mencoba menggantungkan kembali lentera ke pakunya. Angin mengembus lilin lentera itu, dan ia menurunkannya untuk menyalakannya kembali. Punggungnya tegak di bawah tepi atap, dan rambutnya yang baru dikeramas tergerai di sekitar wajahnya. Untaian rambut dan cahaya lentera menimbulkan bayang-bayang yang terus berubah-ubah di kedua tangannya yang terulur. Semerbak kembang prem mengambang di angin petang.
“Oko! Biar kugantungkan lampunya.”
“Oh, Tuan Muda,” kata Oko kaget.
“Tunggu.” Ketika orang itu mendekat ternyata bukan Seijuro, tapi Toji. “Cukup?” tanya Toji.
“Ya, bagus. Terima kasih.”
Tetapi Toji melirik lentera itu, menganggapnya miring, dan menggantungkannya kembali. Oko heran, kenapa sebagian lelaki bisa begitu suka menolong dan penuh perhatian bila sedang mengunjungi tempat seperti mi, padahal di rumah sendiri mereka sama sekali menolak mengulurkan tangan. Sering kali mereka membuka dan menutup jendela sendiri, mengeluarkan bantal-bantal sendiri, dan melakukan selusin pekerjaan kecil lain yang tak terbayang akan mereka lakukan di rumah sendiri.
Toji berpura-pura tidak mendengar, dan mempersilakan tuannya masuk. Begitu duduk, Seijuro berkata, “Tenang sekali di sini.”
“Saya buka pintu ke beranda,” kata Toji.
Di bawah beranda sempit itu berdesir air Sungai Takase. Di sebelah selatan, di seberang jembatan kecil di Jalan Sanjo, menghampar halaman luas Zuisenin, jajaran hitam Teramachi atau “Kota Kumpulan Kuil”, dan padang miskantus. Tempat ini berada dekat Kayahara. Di sini pasukan Toyotomi Hideyoshi membantai istri, gundik-gundik, dan anak-anak kemenakannya, regent Hidetsugu yang kejam. Suatu peristiwa yang masih segar tersimpan dalam kenangan banyak orang.
Toji jadi gugup. “Masih terlalu sepi di sini. Di mana saja perempuan perempuan sembunyi? Rupanya tak ada pelanggan lain malam ini.” la gelisah sedikit. “Saya heran, kenapa Oko lama betul. Dia malahan tidak membawakan kita teh.” Ketika akhirnya ketidaksabaran itu berubah jadi kegelisahan, ia tidak dapat lagi duduk tenang. Ia berdiri mencari tahu, kenapa teh tidak dihidangkan.
Waktu melangkah ke beranda, hampir saja ia bertumbukan dengan Akemi yang sedang membawa baki berpernis emas. Giring-giring kecil pada obi-nya berdering ketika ia berseru, “Awas! Bisa tumpah teh ini!”
“Kenapa kau begitu lambat? Tuan Muda di sini. Kurasa kau suka dia.”
“Lihat, tumpah sebagian. Ini salahmu. Ayo ambilkan lap.”
“Ha! Lancang kamu, ya? Di mana Oko?”
“Berhias tentu saja.”
“Jadi, dia belum selesai?”
“Ya, siang hari kami sibuk sekali.”
“Siang? Siapa yang datang siang-siang?”
“Itu bukan urusanmu. Biarkan aku lewat.”
Toji minggir, dan Akemi masuk kamar menyalami tamunya. “Selamat malam. Terima kasih atas kedatangan Anda.”
Seijuro berpura-pura acuh tak acuh, memandang ke samping, dan katanya,
“Oh, kamu, Akemi. Terima kasih atas yang semalam.” Ia merasa jengah.
Dari baki itu Akemi menurunkan guci yang menyerupai pedupaan dan meletakkan di atasnya sebuah pipa yang bagian pengisap dan kepalanya terbuat dari keramik.
“Anda ingin merokok?” tanyanya sopan.
“Rasanya tembakau baru-baru ini dilarang.”
“Memang, tapi semua orang masih juga merokok.”
“Baiklah, aku akan merokok.”
“Saya nyalakan apinya.”
Akemi mengambil sejumput tembakau dari sebuah kotak kecil dari kerang mutiara dan memasukkannya ke dalam pipa dengan jari-jarinya yang mungil dan molek. Kemudian diselipkannya pipa itu ke mulut Seijuro. Karena tidak terbiasa, Seijuro memegang pipa itu dengan kaku.
“Hmm, pahit, ya!” katanya.
Akemi mengikik.
“Toji ke mana?”
“Barangkali di kamar Ibu.”
“Rupanya dia suka Oko. Paling tidak, begitulah kelihatannya. Kukira dia sering datang kemari tanpa aku. Betul?” Akemi tertawa, tapi tidak menjawabnya.
“Apanya yang lucu? Kupikir ibumu suka dia juga.”
“Saya betul-betul tidak tahu.”
“Tapi aku yakin! Betul-betul yakin! Pertemuan yang menyenangkan, ya? Dua pasangan bahagia-ibumu dengan Toji, kau dengan aku.”
Berusaha selugu mungkin, Seijuro meletakkan tangannya ke tangan Akemi yang terletak di pangkuan. Akemi menyingkirkan tangan itu dengan santun, tetapi tindakan ini malah membuat Seijuro menjadi lebih berani. Ketika Akemi berdiri, ia melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Akemi dan menariknya.
“Tak usah lari,” katanya. “Aku tak akan menyakitimu.”
“Lepaskan!” protes Akemi.
“Baik, asalkan kau duduk lagi.”
“Sake…. Saya cuma mau ambil sake.”
”Aku tak mau sake.”
“Tapi kalau saya tidak ambil, Ibu marah.”
“Ibu di kamar lain, sedang asyik ngobrol dengan Toji.”
Seijuro mencoba menggosokkan pipinya ke wajah Akemi yang tertunduk, tapi Akemi mengelak dan berteriak-teriak meminta tolong. “Ibu! Ibu!” Seijuro melepaskannya, dan Akemi lari ke belakang rumah.
Seijuro jadi gundah. Ia kesepian, tapi tak ingin memaksakan kehendaknya pada gadis itu. Tak tahu apa yang hendak dilakukannya, ia menggerutu keras, “Aku pulang sekarang,” dan turun ke gang luar. Semakin jauh ia melangkah, semakin merah tua mukanya.
“Tuan Muda, mau ke mana? Tuan Muda belum mau pulang, kan?” Entah dari mana datangnya, Oko muncul begitu saja di belakangnya, berlari lewat ruang depan. Ia memeluk pinggang Tuan Muda, dan tampak rambut Oko sudah rapi dan riasannya sudah beres. Oko minta pertolongan Toji, dan bersama-sama mereka membujuk Seijuro untuk kembali duduk.
Oko membawakan sake dan mencoba menggembirakan Seijuro, kemudian Toji mendatangkan kembali Akemi ke kamar itu. Melihat betapa kecewanya Seijuro, gadis itu pun melontarkan senyuman.
“Akemi, tuang sedikit sake untuk Tuan Muda.”
“Ya, Bu,” kata Akemi patuh.
“Tuan lihat sendiri,” kata Oko. “Tingkahnya seperti anak kecil saja.”
“Itulah daya tariknya-dia masih muda,” kata Toji sambil menggeser bantalnya ke dekat meja.
“Tapi dia sudah dua puluh satu umurnya.”
“Dua puluh satu? Tak kukira sudah setua itu. Dia begitu kecil. Kelihatannya baru sekitar enam betas atau tujuh belas.”
Akemi tiba-tiba jadi kembali hidup seperti ikan, dan katanya, “Betul? Oh, saya senang sekali. Saya ingin tetap umur enam belas selamanya. Sesuatu yang indah terjadi, ketika saya umur enam betas.”
“Apa?”
“Oh,” katanya sambil menangkupkan tangannya ke dada. “Saya tak bisa menceritakan pada siapa pun. Tapi betul. Waktu itu tahun pertempuran di Sekigahara.”
Dengan pandangan mengancam, Oko berkata, “Tukang bual! Kau jangan bikin kami bosan di sini. Pergi sana ambil shamisen-mu.”
Sambil cemberut sedikit, Akemi berdiri dan pergi mengambil alat musiknya. Ketika kembali, ia mulai bermain dan menyanyi, tapi kelihatannya ia lebih cenderung menghibur diri sendiri daripada menyenangkan hati para tamu.
Malam ini,
Kalau berawan, Biarlah ia berawan, Menyembunyikan bulan
Yang hanya terlihat lewat air mataku.
Ia berhenti menyanyi, dan tanyanya, “Anda paham, Toji?”
“Aku tak yakin. Teruskanlah.”
Bahkan di malam yang tergelap pun Tak hilang jalanku. Tapi oh! Betapa kau memikatku!
”Yah, bagaimanapun dia memang sudah dua puluh satu tahun,” kata Toji. Seijuro yang selama ini duduk diam sambil menyandarkan dahi di tangan kini tergugah lagi, dan katanya, “Akemi, ayo minum sake sama-sama.”
Ia mengulurkan sloki pada Akemi dan mengisinya dari tempat pemanasannya. Akemi mereguknya tanpa menolak-nolak lagi dan cepat menyerahkan kembali sloki itu pada Seijuro.
Seijuro agak heran, katanya, “Bisa juga kau minum, ya?”
Selesai meneguk bagiannya, Seijuro menawarkan lagi pada Akemi, yang diteguk lagi dengan cekatan. Rupanya karena tak puas dengan ukuran sloki itu, ia mengambil sloki lain yang lebih besar, dan selama setengah jam sesudah itu ia terus menandingi Seijuro, sloki demi sloki.
Seijuro kagum. Gadis yang tampaknya berumur enam belas tahun, dengan bibir yang tidak pernah dicium dan mata yang memejam malu, ternyata dapat mereguk sake seperti lelaki. Ke mana saja perginya sake itu dalam tubuh mungil itu?
“Anda sebaiknya berhenti saja,” kata Oko pada Seijuro, “Entah kenapa, anak itu dapat minum semalam suntuk tanpa mabuk. Sebaiknya biarkan dia main shamisen saja.”
“Tapi ini benar-benar menyenangkan!” kata Seijuro yang kini betul-betul merasa senang.
Karena merasa suaranya sudah terdengar aneh, Toji bertanya, “Anda tak apa-apa? Tidak kebanyakan minum?”
“Tak apa-apa. Malam ini aku tidak pulang, Toji!”
“Bisa saja,” jawab Toji. “Anda dapat tinggal di sini selama Anda maubetul kan, Akemi?”
Toji mengedip pada Oko, kemudian menuntun Oko ke kamar lain, di mana ia mulai berbisik-bisik cepat. Ia mengatakan pada Oko bahwa kalau Tuan Muda sudah demikian bersemangat, berarti ia ingin tidur dengan Akemi. Akan susah jadinya kalau Akemi menolak. Tapi tentu saja perasaan seorang ibulah yang terpenting dalam hal-hal seperti itu-atau dengan kata lain, berapa bayarannya?
“Nah?” desak Toji mendadak.
Oko menempelkan jarinya ke pipi yang berbedak tebal itu, berpikir.
“Ya, ya, pikirlah!” desak Toji. Sambil semakin mendekati Oko, katanya, “Bukan pasangan yang jelek! Dia guru seni bela diri yang terkenal, dan keluarganya punya banyak uang. Ayahnya punya murid yang jumlahnya lebih banyak daripada murid siapa pun di negeri ini. Dan lagi, dia belum kawin. Dari segala segi, ini tawaran menarik.”
“Nah, aku juga pikir begitu, tapi…”
“Tak ada tapi-tapian. Pokoknya jadi! Kami berdua akan menginap disini. “
Tak ada penerangan di kamar itu. Dengan seenaknya Toji meletakkan tangan ke bahu Oko. Justru pada waktu itu terdengar suara keras di kamar sebelah, di belakang.
“Apa itu?” tanya Toji. “Ada langganan lain?”
Oko mengangguk, kemudian meletakkan bibirnya yang basah ke telinga Toji, bisiknya, “Nanti.” Keduanya lalu mencoba bersikap biasa saja dan kembali ke kamar Seijuro, dan mendapati Seijuro seorang diri, tidur nyenyak.
Toji mengambil kamar sebelahnya, merebahkan diri di kasur jerami. Ia berbaring di sana sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke tatami, menantikan Oko. Oko lama tidak juga muncul. Akhirnya pelupuk mata Toji menjadi berat dan berlayarlah ia ke alam mimpi. Sudah siang ketika ia bangun esok harinya, wajahnya masam.
Seijuro sudah bangun dan sedang minum di kamar yang menghadap sungai. Baik Oko maupun Akemi tampak cerah dan gembira, seolah-olah mereka telah lupa malam sebelumnya. Mereka sedang membujuk Seijuro agar mau berjanji.
“Jadi, Tuan akan ajak kami?”
“Baiklah, kita pergi. Siapkan beberapa kotak makan siang dan bawa juga sedikit sake.”
Mereka bicara tentang Kabuki Okuni yang sedang mengadakan pertunjukan di tepi sungai di Jalan Shijo. Kabuki adalah tarian jenis baru yang disertai kata-kata dan musik, yang sedang digemari orang di ibu kota. Diciptakan oleh seorang biarawati bernama Okuni di Kuil Izumo. Kepopulerannya menyebabkan banyak orang lain meniru. Di daerah ramai sepanjang sungai itu berdiri panggung berderet-deret. Di sana kelompok-kelompok pemain wanita berlomba-lomba memikat penonton. Masing-masing berusaha mencapai taraf kepribadian sendiri dengan menambahkan tari-tarian dan lagu-lagu daerah yang istimewa ke dalam repertoarnya. Para aktris itu sebagian besar mulai sebagai wanita malam. Namun kini sesudah naik panggung, mereka biasa dipanggil untuk mengadakan pertunjukan di rumahrumah orang paling kaya di ibu kota. Banyak di antara mereka menggunakan nama pria, mengenakan pakaian pria, dan mengadakan pertunjukan-pertunjukan yang menggetarkan sebagai prajurit yang gagah berani.
Seijuro duduk memandang ke luar pintu. Di bawah jembatan kecil di Jalan Sanjo perempuan-perempuan sedang mengelantang kain di sungai; pria-pria berkuda mondar-mandir di jembatan.
“Apa kedua orang itu belum juga siap?” tanyanya kesal. Sudah lewat tengah hari. Lebam karena minum dan lelah karena menanti, sudah tak ingin lagi ia melihat Kabuki.
Toji, yang merasa jengkel karena pengalaman malam sebelumnya, tidak bersemangat seperti biasanya. “Memang menarik membawa perempuan ke luar,” gerutunya, “tapi kenapa justru waktu kita sudah siap berangkat, tiba-tiba mereka mulai ribut soal apa rambutnya sudah benar atau obi-nya sudah lurus? Brengsek betul!”
Pikiran Seijuro melayang ke perguruannya. Ia seakan mendengar bunyi pedang kayu dan detak gagang-gagang lembing. Apa kata para siswanya tentang ketidakhadirannya? Tidak sangsi lagi, pasti adiknya, Denshichiro, mendecap mengecamnya.
“Toji,” katanya, “Aku tidak betul-betul ingin membawa mereka itu melihat Kabuki. Mari kita pulang.”
“Sesudah Tuan berjanji?”
“Yaaa…”
“Mereka sudah begitu gembira! Mereka akan marah besar kalau kita ingkar janji. Saya akan menyuruh mereka buru-buru.”
Dari gang rumah, Toji melayangkan pandang ke kamar tempat pakaian para wanita itu berserakan. Alangkah herannya ia, karena kedua wanita itu tidak kelihatan.
“Ke mana pula mereka itu?” tanyanya tak habis pikir.
Di kamar sebelah pun mereka tak ada. Di sebelahnya lagi terdapat kamar kecil yang suram, tidak tembus matahari dan berbau apak kain seprai. Toji membuka pintu, disambut oleh raungan kemarahan, “Siapa itu?”
Melompat mundur, Toji menatap ke dalam kamar sempit yang gelap itu; kamar itu beralas tikar rombeng, lain sekali dengan kamar-kamar depan yang menyenangkan, seperti malam dengan siang bedanya. Seorang samurai jorok tergeletak di lantai, pedangnya terletak sembarangan di atas perutnya; pakaian dan penampilannya tak bisa disangsikan lagi menunjukkan bahwa ia salah seorang ronin yang sering kelihatan bergelandangan di jalan-jalan. Telapak kakinya yang kotor menghadap muka Toji. Ia tidak berusaha bangun; terbaring saja di situ setengah sadar.
Toji berkata, “Oh, maaf. Saya tidak tahu di sini ada tamu.”
“Aku bukan tamu!” pekik orang itu ke langit-langit, memancarkan bau sake. Toji tidak tahu siapa orang itu, dan juga tak ingin berurusan dengannya.
“Maaf, mengganggu,” katanya cepat, dan membalik pergi.
“Tunggu!” kata orang itu dengan kasar sambil bangkit sedikit. “Tutup pintu!”
Kaget oleh kekasaran itu, Toji pun melakukan apa yang diminta, dan pergi.
Begitu Toji pergi, muncullah Oko. Dandanannya habis-habisan, jelas ingin kelihatan sebagai nyonya besar. Seakan-akan sedang mengomeli anak kecil, ia berkata pada Matahachi, “Nah, marah apa lagi sekarang?”
Akemi yang baru saja berdiri di belakang ibunya, bertanya, “Tak mau ikut kami?”
“Ke mana?”
“Lihat Kabuki Okuni.”
Mulut Matahachi mencibir muak. “Suami macam apa yang mau jalan bersama lelaki lain yang sedang mengejar-ngejar istrinya?” tanyanya pahit.
Oko merasa wajahnya bagai disiram air dingin. Matanya menyala marah, dan katanya, “Ini omongan apa? Apa maksudmu antara aku dan Toji ada apa-apa?”
“Siapa bilang ada apa-apa?”
“Kata-katamu itu yang bilang.”
Matahachi tidak menjawab lagi.
“Katanya kamu lelaki!” Walaupun Oko melontarkan kata-kata itu dengan penuh kejijikan, Matahachi tetap diam dengan muka cemberut. “Tapi kau membuatku muak!” desisnya. “Kau selalu cemburu tanpa alasan! Ayo, Akemi. Kita jangan buang-buang waktu untuk orang gila ini.”
Matahachi mengulurkan tangan, mencekal kimono Oko. “Siapa yang kausebut orang gila? Apa maksudmu bicara begitu pada suamimu?”
Oko melepaskan diri darinya. “Kenapa tidak?” katanya kejam. “Kalau kau seorang suami, kenapa tidak bertindak seperti suami? Siapa menurutmu yang memberimu makan, gelandangan tak berguna?”
“Heh!”
“Kau hampir tidak menghasilkan apa-apa sejak kita meninggalkan Provinsi Omi. Kau cuma menggantungkan diri padaku, minum sake dan malas-malasan. Mengeluh apa lagi?”
“Aku sudah bilang mau pergi dan kerja! Aku sudah bilang, menyeret batu pun aku mau buat dinding puri. Tapi itu tak cukup baik buatmu. Kaubilang tak bisa makan ini, tak bisa memakai itu, tak bisa tinggal di rumah kecil yang kotor-tak ada yang kausukai. Lalu tidak kaubolehkan aku melakukan kerja yang jujur, dan kau mulai membuka kedai minum yang busuk ini. Nah, tutup itu, ya, tutup itu!” pekiknya. Badannya pun mulai gemetar.
“Tutup apa?”
“Tutup kedai minummu.”
“Dan kalau kututup, mau makan apa besok?”
“Aku bisa dapat cukup uang untuk hidup kita, biar dengan menyeret batu karang. Cukup untuk kita bertiga.”
“Kalau ingin angkat batu atau potong kayu, kenapa tidak pergi saja? Sana, jadilah buruh, atau yang lain, tapi kalau begitu, hidup sendiri saja! Susahnya, kau dilahirkan sebagai orang goblok, dan selamanya kau akan jadi orang goblok. Mestinya kau tetap tinggal di Mimasaka! Percayalah, aku tidak minta kau tinggal terus di sini. Kau bebas pergi, kapan saja!”
Selagi Matahachi berusaha menahan air mata kemarahan, Oko dan Akemi berpaling meninggalkannya. Tapi lama sesudah mereka tidak kelihatan, ia masih juga menatap pintu. Ketika Oko menyembunyikannya di rumahnya dekat Gunung Ibuki dulu itu, ia merasa beruntung telah menemukan orang yang akan mencintai dan mengurusnya. Tapi sekarang rasanya sama saja seperti ditangkap musuh. Mana yang lebih baik? Menjadi tawanan, atau menjadi piaraan seorang janda jalang, dan tidak lagi menjadi lelaki sejati? Apakah lebih buruk merana di dalam penjara daripada menderita di sini, dalam kegelapan, dan selalu menjadi sasaran hinaan perempuan pemberang? Dulu ia pernah punya harapan besar pada masa depan, namun telah dibiarkannya sundal berbedak dan bernafsu garang ini menurunkan derajatnya hingga sama tingkatannya dengan dia.
“Sundal!” Matahachi menggigil karena berang. “Anjing betina busuk!”
Air mata meluap langsung dari dasar hatinya. Kenapa, oh, kenapakah ia dulu tidak kembali ke Miyamoto? Kenapa ia tidak kembali kepada Otsu? Ibunya ada di Miyamoto. Saudara perempuannya juga, iparnya juga, Paman Gon juga. Mereka semua begitu baik padanya.
Lonceng di Shippoji tentunya berdentang hari ini. Seperti dentangnya pada hari-hari lain. Dan Sungai Aida menghilir menyusuri alurnya, sepertibiasa. Bunga-bunga berkembang di tepi sungai dan burung-burung erkicau menyambut datangnya musim semi.
“Sungguh tolol aku ini! Sungguh aku si tolol gila, goblok!” Matahachi memukul-mukul kepalanya dengan tinjunya.
Di luar, ibu dan anak perempuannya, disertai kedua tamu yang bermalam itu sudah berjalan sambil mengobrol dengan riangnya.
“Kelihatannya sudah seperti musim semi!”
“Orang bilang shogun sebentar lagi akan datang ke ibu kota. Kalau dia datang nanti, kalian berdua tentunya dapat uang banyak, ya?”
“Ah, tidak, saya yakin tidak.”
“Kenapa? Apa samurai dari Edo tak suka main?”
“Mereka terlalu kurang ajar.”
“Ibu, bukankah itu musik Kabuki? Aku mendengar suara giring-giring. Juga suling.”
“Coba dengar anak ini! Dia selalu seperti itu. Dia pikir dia sudah di tempat pertunjukan.”
“Tapi, Bu, aku sudah mendengarnya.”
“Sudahlah. Bawakan topi Tuan Muda ini.”
IZRO'IL
Musashi II (Air)

Musashi II 2


Langkah-langkah kaki dan suara-suara orang itu mengambang sampai Yomogi. Dengan mata masih merah karena marah, Matahachi mencuri pandang dari jendela pada keempat orang yang bahagia itu. Ia merasa pemandangan itu sangat menghinanya, karena itu ia sekali lagi menjatuhkan diri di tatami di kamar yang gelap itu sambil mengutuki dirinya.
“Apa kerjamu di sini? Apa tak ada lagi harga dirimu? Bagaimana mungkin kau membiarkan segalanya seperti itu? Idiot! Lakukanlah sesuatu!” Kata-kata itu ditujukan pada diri sendiri, ia begitu marah pada kelemahannya sendiri yang seperti pengecut itu.
“Dia bilang pergi. Baiklah, aku pergi!” demikian kilahnya. “Buat apa duduk di sini menggemerutukkan gigi. Umurmu baru dua puluh dua. Kau masih muda. Pergilah dan lakukan sesuatu sendiri.”
Ia merasa tak bisa tinggal lebih lama lagi dalam rumah kosong dan lengang itu, tapi entah kenapa, tak mau ia berangkat. Kepalanya sakit karena bingung. Ia sadar bahwa cara hidupnya beberapa tahun belakangan ini telah membuatnya kehilangan kemampuan berpikir dengan jelas. Bagaimana ia dapat menahan diri? Istrinya menghabiskan malam-malamnya menghibur lelaki lain, menjual kepada mereka pesona yang dahulu dicurahkan kepadanya. Malam ia tak dapat tidur, sedang di siang hari tak ada semangat untuk pergi. Tinggal diam di dalam kamar gelap ini, tak ada yang dapat dilakukannya kecuali minum.
Dan semua itu demi sundal tua itu! pikirnya. Ia pun muak dengan dirinya sendiri. Ia tahu bahwa jalan satu-satunya untuk keluar dari hidup sekarat ini adalah meninggalkan segalanya dan kembali kepada aspirasi masa mudanya. Ia harus menemukan jalannya yang telah hilang.
Namun… namun…
Ada daya tarik ajaib yang mengikatnya. Jenis pesona jahat apakah yang mengikatnya di sini? Apakah perempuan itu setan yang menyamar? Perempuan itu bisa memakinya, menyuruhnya enyah, bersumpah bahwa ia cuma beban, tapi kemudian di tengah malam ia akan meleleh seperti madu dan mengatakan bahwa semua itu cuma gurauan dan ia sama sekali tidak bermaksud demikian. Lagi pula, sekalipun perempuan itu sudah hampir empat puluh tahun, bibirnya itu, oh… bibir merah cemerlang yang sama merangsangnya dengan bibir anaknya.
Namun ini belum cerita seluruhnya. Pada dasarnya Matahachi tak punya nyali untuk dilihat Oko dan Akemi bekerja sebagai buruh harian. Ia telah menjadi malas dan lembek; pemuda berpakaian sutra yang dari rasa saja dapat membedakan sake Nada dari bikinan setempat, berbeda sekali dengan Matahachi sederhana yang compang-camping, yang pernah ikut pertempuran di Sekigahara. Yang paling parah adalah bahwa hidupnya yang aneh dengan perempuan yang lebih tua itu telah merampas kebeliaannya. Dalam umur ia masih muda, tapi dalam semangat ia cabul dan pendengki, malas dan penggerutu.
“Tapi akan kulakukan!” janjinya. “Aku akan pergi sekarang!” Sesudah menjatuhkan pukulan kemarahan terakhir ke kepalanya, ia pun melompat bangkit, dan pekiknya, “Aku akan pergi dari sini hari ini juga!”
Ia mendengar sendiri suaranya tertahan karena menyadari bahwa tak ada orang lain yang akan menahannya pergi, dan tak ada sesungguhnya yang mengikatnya di rumah ini. Satu-satunya barang yang sungguh-sungguh miliknya dan tidak dapat ia tinggalkan adalah pedangnya, maka cepat-cepat ia selipkan pedang itu dalam obi-nya. Sambil menggigit bibir, ia berkata dengan penuh kepastian. “Biar bagaimana, aku seorang lelaki.”
Sebetulnya ia dapat menderap keluar lewat pintu depan, melambaikan pedang bagai seorang jenderal yang menang perang, tapi karena kebiasaan, ia sorongkan kaki ke sandalnya yang kotor dan keluar lewat pintu dapur.
Sejauh ini belum ada masalah. Ia sudah di luar rumah! Tapi mau apa sekarang? Kedua kaki itu berhenti. Ia berdiri tak bergerak-gerak dalam angin musim semi yang menyegarkan. Bukan cahaya menyilaukan yang menahannya. Persoalannya adalah, ke mana ia pergi?
Pada saat itulah terasa oleh Matahachi betapa dunia ini bagai lautan luas yang bergejolak, tiada pegangan tempat bergayut. Di luar Kyoto, penga-lamannya hanya meliputi kehidupan di kampung dan satu pertempuran. Selagi terombang-ambing oleh situasi, suatu pikiran lain mendadak datang dan membuatnya bergegas sepeti anak anjing, pulang kembali melalui pintu dapur.
“Aku butuh uang,” katanya pada diri sendiri. “Aku pasti akan butuh uang.”
Ia langsung menuju kamar Oko, digeledahnya kotak-kotak kosmetik, gagang cermin, peti laci, dan apa saja yang terpikir olehnya. Ia obrak-abrik tempat itu, tapi tak ada uang sama sekali. Tentu saja seharusnya ia sudah dapat mengira-ngira bahwa Oko bukanlah jenis perempuan yang tidak bakal mengambil tindakan berjaga-jaga terhadap hal-hal seperti ini.
Dengan kecewa Matahachi menjatuhkan diri ke atas pakaian yang masih tersebar di lantai. Bau Oko mengambang seperti kabut tebal di sekitar pakaian dalamnya yang terbuat dari sutra merah, di sekitar obi Nishijinnya, dan di sekitar kimononya yang celupan Momoyama. Terbayang olehnya, kini Oko sedang berada di lapangan pertunjukan di tepi sungai, menonton tari-tarian Kabuki di samping Toji. Ia pun membayangkan kulitnya yang putih dan wajahnya yang kenes merangsang.
“Sundal iblis!” teriaknya. Pikiran-pikiran pahit dan kejam bangkit langsung dari isi perutnya.
Kemudian, tanpa diduga-duga, timbul padanya kenangan pedih akan Otsu. Sesudah lama berpisah, barulah ia dapat memahami kemurnian dan bakti gadis ini, yang telah berjanji akan menantikannya. Dengan senang hati ia akan bersedia berlutut dan mengangkat tangan memohon di hadapannya jika kiranya gadis itu man memaafkannya. Tapi ia sudah putus dengan Otsu, menelantarkannya demikian rupa, hingga mustahil baginya untuk menemui gadis itu lagi.
“Semuanya gara-gara perempuan ini,” pikirnya sedih. Sekarang, ketika sudah terlambat, segalanya menjadi jelas baginya; mestinya ia tidak memberitahukan apa-apa tentang Otsu kepada Oko. Ketika Oko pertama kali mendengar tentang gadis itu, ia tersenyum kecil dan berpura-pura tidak acuh sama sekali, padahal sebetulnya ia sangat cemburu. Kemudian, apabila mereka bertengkar, ia selalu mengungkit soal itu dan mendesak agar Matahachi menulis surat untuk memutuskan pertunangannya. Dan ketika akhirnya Matahachi menyetujui dan melakukannya, perempuan itu secara tak tahu malu melampirkan satu surat dengan tulisannya sendiri yang jelas bergaya perempuan, dan tanpa perasaan sama sekali menyampaikan surat resmi itu melalui seorang pesuruh yang tidak dikenal.
“Lalu apa pikir Otsu tentang diriku?” rintih Matahachi dengan sedih. Bayangan wajah Otsu yang masih polos itu tergambar di depan matanyawajah yang penuh gugatan. Sekali lagi terbayang olehnya pegunungan dan sungai di Mimasaka. Ingin ia memanggil ibunya, sanak keluarganya. Mereka semua begitu baik. Tanah di sana pun kini agaknya hangat dan menyenangkan.
“Tak akan bisa lagi aku pulang!” pikirnya. “Aku sudah membuang semua itu untuk… untuk…” Kembali dilanda kemarahan, dikeluarkannya semua pakaian Oko dari peti-peti pakaian, dirobek-robeknya, kemudian serpihanserpihan dan sobekan-sobekan itu dihamburkannya di seluruh rumah.
Perlahan-lahan kemudian sadarlah ia bahwa ada orang memanggil dari pintu depan.
“Maafkan,” kata suara itu. “Saya dari Perguruan Yoshioka. Apakah Tuan Muda dan Toji ada di sini?”
“Bagaimana aku tahu?” jawab Matahachi pedas.
“Mereka tentunya di sini! Saya tahu, memang tidak pantas mengganggu mereka selagi sedang mencari kesenangan, tapi ada satu kejadian yang sangat penting. Ini menyangkut nama baik Keluarga Yoshioka.”
“Pergi sana! Jangan ganggu aku!”
“Tapi apa tak bisa setidak-tidaknya Anda menyampaikan berita ini pada mereka? Tolonglah katakan bahwa seorang pemain pedang bernama Miyamoto Musashi sudah datang di perguruan, dan yah, tak seorang pun dari kami dapat mengunggulinya. Dia menunggu Tuan Muda kembali dan menolak pergi sebelum mendapat kesempatan menghadapinya. Tolonglah sampaikan pada mereka supaya lekas-lekas pulang!”
“Miyamoto? Miyamoto?”

Roda Keberuntungan

HARI itu adalah hari aib yang tak terlupakan bagi Perguruan Yoshioka. Tak pernah sebelumnya pusat seni bela diri yang bernama besar ini menderita penghinaan yang begitu tandas.
Murid-murid yang biasanya bersemangat kini duduk berkeliling dalam keputusasaan yang mengenaskan; wajah mereka murung dan buku-buku jari mereka yang putih mencerminkan penderitaan dan frustrasi. Sebagian besar dari mereka ada di kamar depan yang berlantai kayu, sedangkan sebagian kecil di kamar samping. Hari sudah senja; biasanya mereka sudah berangkat pulang atau pergi minum. Tak seorang pun beranjak pergi. Senyap bagai kuburan. Suasana itu hanya dipecahkan oleh derit gerbang depan yang sesekali berbunyi.

“Diakah itu?”
“Apa Tuan Muda sudah kembali?”
“Belum.” Ini diucapkan oleh seorang lelaki yang sudah setengah sore itu bersandar putus asa pada tiang pintu masuk.
Dan setiap kali pula orang-orang itu lebih dalam lagi terbenam dalam rawa kemuraman. Lidah-lidah berdecap putus asa, dan pelupuk mereka melelehkan air mata pedih.
Dokter keluar dari kamar belakang dan berkata kepada orang yang bersandar di pintu masuk, “Saya tahu Seijuro tak ada di sini. Tapi apa Anda tidak tahu di mana dia?”
“Sedang dicari. Barangkali sebentar lagi kembali.” Dokter mendeham dan pergi.
Di depan perguruan itu, lilin altar pemujaan Hachiman dikitari lingkaran sinar yang melantunkan bencana.
Tak seorang pun akan membantah bahwa pendiri, dan guru pertama, Yoshioka Kempo, adalah orang yang jauh lebih besar daripada Seijuro atau adik lelakinya. Kempo memulai hidup hanya sebagai pedagang, seorang pencelup kain, tetapi dari tak henti-henti mengulang irama dan gerak pencelupan anti luntur, akhirnya ia menemukan cara baru memainkan pedang pendek. Sesudah mempelajari cara menggunakan tombak-kapak dari salah seorang prajurit-pendeta yang cakap di Kurama dan kemudian mendalami Delapan Seni Pedang Gaya Kyoto, ia pun menciptakan gaya yang sepenuhnya orisinal. Teknik pedang pendeknya kemudian dipergunakan oleh shogun-shogun Ashikaga yang mendatangkannya sebagai guru resmi. Kempo adalah seorang ahli besar, orang yang kearifannya setara dengan keterampilannya.
Sekalipun kedua anaknya, Seijuro dan Denshichiro, menerima latihan sekeras ayahnya, mereka telah mewarisi kekayaan yang besar dan kemasyhuran ayahnya, dan menurut pendapat beberapa orang itulah sebab dari kelemahan mereka. Seijuro biasa dipanggil “Tuan Muda”, tapi sebenarnya ia belum benar-benar mencapai taraf keterampilan yang dapat memikat banyak pengikut. Para siswa datang ke sekolah itu karena di bawah pimpinan Kempo, Gaya Yoshioka telah menjadi demikian termasyhur, hingga bisa masuk sekolah itu saja sudah berarti diakui oleh masyarakat sebagai prajurit terampil.
Sesudah runtuhnya ke-shogun-an Ashikaga tiga dasawarsa sebelum itu, Keluarga Yoshioka tidak lagi memperoleh tunjangan resmi, tetapi pada masa hidup Kempo yang hemat, keluarga itu sedikit demi sedikit telah berhasil memupuk kekayaan besar. Selain itu ia memiliki bangunan besar di Jalan Shijo, dengan siswa yang jumlahnya lebih besar daripada perguruan mana pun di Kyoto; Kyoto waktu itu adalah kota terbesar di negeri ini. Tetapi sebenarnya sekolah yang menduduki taraf puncak di bidang seni pedang itu tinggal namanya saja.
Dunia dl luar dinding perguruan yang putih besar ini telah berubah lebih dari yang disadari oleh kebanyakan orang di dalamnya. Bertahun-tahun mereka telah menepuk dada, bermalas-malasan, dan hanya bermain-main, dan waktu pun melangkahi mereka. Hari ini mata mereka terbuka oleh kekalahan yang memalukan, setelah bertanding dengan seorang pemain pedang pedesaan yang tak dikenal.
Menjelang tengah hari, salah seorang pesuruh datang ke dojo untuk melaporkan bahwa seorang yang menamakan dirinya Musashi berdiri di pintu, mohon diizinkan masuk. Ketika ditanya macam apa orang itu, pesuruh menjawab bahwa orang itu seorang ronin, datang dari Miyamoto di Mimasaka, umur dua puluh satu atau dua puluh dua, kira-kira 1,83 meter tingginya, dan kelihatannya agak bodoh. Rambutnya yang tidak disisir setidak-tidaknya satu tahun diikat sembarangan saja dengan kain gombal yang kemerah-merahan, sedangkan pakaiannya begitu kotor, hingga susah ditentukan hitam atau cokelatkah warnanya, poloskah atau berpola kembang. Pesuruh merasa mencium bau orang itu, tapi mengakui bahwa mungkin juga ia keliru. Tamu itu menyandang kantong kulit beranyam yang biasa disebut orang tas belajar prajurit; ini barangkali berarti ia seorang shugyosha, salah seorang dari para samurai yang banyak jumlahnya waktu itu, yang kerjanya mengembara dan menghabiskan waktu di luar tidurnya untuk mempelajari seni pedang. Namun demikian, kesan umum yang didapat pesuruh itu adalah bahwa orang yang namanya Musashi itu jelas janggal hadir di Perguruan Yoshioka tersebut.
Kalau orang itu hanya minta makan, tidak masalah. Tapi ketika orang-orang mendengar bahwa pengganggu bulukan itu datang ke gerbang besar untuk menantang Yoshioka Seijuro yang termasyhur itu bertanding, mereka pun terbahak-bahak. Beberapa orang berpendapat lebih baik mengusirnya saja tanpa banyak ribut, sedang yang lain-lain mengatakan mereka harus melihat dulu, gaya apa yang dipakainya dan siapa nama gurunya.
Pesuruh, yang sama merasa geli seperti yang lain-lain, pergi dan kembali lagi dengan kabar bahwa tamu itu sewaktu masih kanak-kanak belajar menggunakan pentung dari ayahnya, dan kemudian memungut pelajaran dari prajurit mana saja yang lewat di kampungnya. Meninggalkan rumah ketika berumur tujuh belas, dan “karena alasan-alasan pribadi” ia pun menenggelamkan diri dalam mempelajari ilmu pengetahuan pada umur delapan belas, sembilan belas, dan dua puluh. Sepanjang tahun sebelum itu, ia hanya sendirian tinggal di pegunungan, melulu berguru pada pepohonan dan keheningan gunung. Oleh karena itu, tidak dapat ia menyebutkan suatu aliran khusus atau nama seorang guru. Tapi di masa depan ia berharap akan mempelajari ajaran-ajaran Kiichi Hogen, ahli hakikat Delapan Gaya Kyoto, dan akan berusaha meniru Yoshioka Kempo yang agung dengan menciptakan gayanya sendiri, yang menurut keputusannya akan dinamakannya Gaya Miyamoto. Memang ia memiliki banyak kekurangan, tapi itulah tujuannya, dan untuk itulah ia berhasrat bekerja dengan sepenuh hati dan jiwanya.
Pesuruh mengakui bahwa semua itu merupakan jawaban yang jujur dan tidak dibuat-buat, tetapi orang itu beraksen kampung dan hampir tiap kata ia ucapkan dengan menggagap. Pesuruh dengan senang hati menirukannya untuk para pendengarnya, dan mereka pun sekali lagi terpingkal-pingkal.
Orang itu tentunya sudah sinting. Menyatakan tujuannya menciptakan gaya sendiri benar-benar gila. Untuk memberikan sedikit ajaran kepada orang sombong itu, para siswa menyuruh pesuruh keluar lagi, kali ini dengan pertanyaan apakah tamu itu sudah menunjuk orang untuk mengambil mayatnya sesudah pertandingan nanti.
Musashi memberikan jawaban, “Kalau kebetulan saya terbunuh, tak ada bedanya, apakah Anda membuang tubuh saya ke Gunung Toribe atau melemparkannya ke Sungai Kamo bersama sampah. Baik untuk yang pertama maupun yang kedua, saya berjanji tak akan menuntut balas.”
Menurut pesuruh, caranya menjawab kali ini sangat jelas, tidak mengandung kekakuan seperti jawaban-jawaban sebelumnya.
Sesudah ragu-ragu sebentar, akhirnya satu orang berkata, “Suruh dia masuk!”
Itulah awal mulanya; para siswa menyangka mereka akan berhasil menyayat pendatang baru itu sedikit, kemudian melemparkannya ke luar. Namun pada pertandingan pertama saja juara perguruanlah yang keluar sebagai pihak yang kalah. Tangannya putus. Hanya sedikit kulit yang masih menghubungkan pergelangan dengan tangan.
Satu demi satu yang lain-lain pun menerima tantangan orang asing itu, dan satu demi satu pula mereka kalah secara memalukan. Beberapa orang luka parah, dan pedang kayo Musashi bergelimang darah. Sesudah kekalahan kesekian kali, para siswa berubah jadi ingin membunuh; kalaupun mereka semua harus terbunuh, tak akan mereka membiarkan orang gila biadab ini pergi dalam keadaan hidup, membawa serta kehormatan Perguruan Yoshioka.
Musashi sendirilah yang mengakhiri pertumpahan darah itu. Sejak tantangannya diterima, tak ada rasa kuatir padanya tentang jatuhnya korban, tapi ia menyatakan, “Tak ada gunanya melanjutkan ini sebelum Seijuro kembali,” dan ia menolak untuk bertempur lagi. Karena tak ada pilihan lain, atas permintaannya sendiri ia dipersilakan masuk ke sebuah kamar untuk menunggu. Baru pada waktu itulah satu orang tersadar dan memanggil dokter.
Tak lama sesudah dokter pergi, suara-suara yang memiawikkan nama dua orang yang terluka menyebabkan selusin orang masuk kamar belakang. Mereka mengerumuni kedua samurai itu dengan sikap tak percaya bercampur takjub; wajah mereka kelabu dan napas mereka tidak tetap. Kedua orang itu tewas.
Langkah-langkah kaki bergegas melintas dojo dan masuk ke kamar mati. Para siswa memberikan jalan bagi Seijuro dan Toji. Keduanya pucat, seakan-akan baru saja keluar dari air terjun yang dingin.
“Apa yang terjadi di sini?” tanya Toji. “Apa arti semua ini?” Nada bicaranya gusar seperti biasa.
Seorang samurai yang berlutut dengan wajah tercekam di camping bantal salah seorang kawannya yang mati melontarkan pandangan penuh tuduhan kepada Toji, dan katanya, “Kau yang mesti menjelaskan apa yang sedang terjadi. Kau yang membawa Tuan Muda minum-minum. Nab, kali ini kau sudah bertindak terlalu jauh.”
“Jaga lidahmu, atau kupotong nanti.”
“Ketika Tuan Kempo masih hidup, tak ada hari lewat tanpa dia ada di dojo”,
“Lantas mau apa? Tuan Muda ingin bersenang-senang sedikit, dan kami pergi ke Kabuki. Apa maksudmu bicara demikian di depannya? Kaupikir siapa kau ini?”
“Apa untuk melihat Kabuki saja dia mesti tinggal di luar sepanjang malam? Bisa-bisa Tuan Kempo bangkit dari kuburnya.”
“Cukup!” teriak Toji sambil menyerang orang itu.
Ketika yang lain-lain campur tangan pula dan mencoba memisahkan serta menenangkan kedua orang itu, satu suara berat karena beban sakit terdengar sedikit mengungguli suara percekcokan itu. “Kalau Tuan Muda sudah kembali, sudah waktunya menghentikan percekcokan. Terserah kepadanya untuk mengembalikan kehormatan perguruan. Ronin itu tidak boleh meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup.”
Beberapa di antara yang luka menjerit dan memukul-mukul lantai. Tindakan itu merupakan celaan yang seterang-terangnya terhadap mereka yang belum menghadapi pedang Musashi.
Bagi samurai zaman itu, yang terpenting di dunia ini adalah kehormatan. Sebagai golongan, mereka benar-benar saling berlomba mencari jalan untuk mati lebih dulu dalam mempertahankannya. Pemerintah sampai hari-hari terakhir terlampau sibuk dengan perang, hingga tak ada waktu untuk menyusun sistem administrasi yang memadai bagi suatu negeri yang damai, bahkan Kyoto pun hanya diatur dengan seperangkat peraturan yang longgar dan bersifat tambal sulam. Toh pentingnya kehormatan pribadi bagi golongan prajurit itu tetap dihargai, baik oleh kaum petani maupun orang-orang kota, dan ini besar artinya dalam menjamin ketenteraman. Pendapat umum mengenai mana tindakan terhormat dan mana yang tidak telah memungkinkan rakyat mengatur diri sendiri, sekalipun hanya dengan undangundang yang tidak memadai.
Sekalipun tidak terpelajar, orang-orang dari Perguruan Yoshioka sama sekali bukan orang-orang rendah yang tak kenal malu. Ketika mereka sadar kembali sesudah menderita guncangan kekalahan itu, hal pertama yang terpikir oleh mereka adalah kehormatan, yaitu kehormatan perguruan, kehormatan guru, kehormatan pribadi mereka sendiri.
Dengan menyingkirkan permusuhan perseorangan, sebagian besar dari mereka berkumpul di sekitar Seijuro, memperbincangkan apa yang harus diperbuat. Sayang sekali, kebetulan hari itu Seijuro sedang kehilangan semangat juangnya. Pada saat itu, ia yang seharusnya berada dalam keadaan prima, justru loyo, lemah, dan kehabisan tenaga.
“Di mana orang itu?” tanyanya seraya mengikatkan lengan kimononya dengan tali kulit.
“Dia di kamar kecil di samping kamar terima tamu,” kata seorang murid sambil menunjuk ke seberang kebun.
“Panggil dia!” perintah Seijuro. Mulutnya kering karena tegang. Ia pun duduk di tempat guru, sebuah mimbar kecil, dan bersiap-siap menerima salam dari Musashi. Dipilihnya salah satu pedang kayu yang disodorkan para muridnya, dan dipegangnya tegak di samping.
Tiga-empat orang menerima perintah dan mulai meninggalkan tempat, tetapi Toji dan Ryohei menyuruh mereka menanti.
Menyusullah bisik-bisik lama, jauh dari pendengaran Seijuro. Konsultasi diam-diam itu berpusat pada Toji dan murid-murid senior lain perguruan itu. Tak lama kemudian, para anggota keluarga dan beberapa orang lain menggabungkan diri, begitu banyak yang hadir di situ, hingga kerumunan itu terpecah dalam kelompok-kelompok. Meski berlangsung seru, perdebatan dapat diselesaikan dalam waktu cukup singkat.
Sebagian besar tidak hanya memprihatinkan nasib perguruan, melainkan juga menyadari benar kekurangan Seijuro sebagai seorang pejuang, dan mereka pun menyimpulkan bahwa tidak bijaksana membiarkannya menghadapi Musashi satu lawan satu, waktu itu juga dan di tempat itu juga. Dua orang sudah tewas dan beberapa orang terluka. Kalau Seijuro pun menderita kekalahan, krisis yang mengancam perguruan akan berat luar biasa. Itu tindakan yang terlampau riskan.
Kebanyakan orang itu berpendapat, walaupun tidak diucapkan, bahwa jika waktu itu Denshichiro hadir, tidak banyak yang perlu dikuatirkan. Pada umumnya ada anggapan bahwa ia lebih cocok untuk melanjutkan kerja ayahnya, tapi karena ia anak kedua dan tidak mempunyai tanggung jawab serius, maka ia pun menjadi orang yang berwatak sangat santai. Pagi itu ia sudah meninggalkan rumah dengan teman-temannya ke Ise, dan bahkan tidak merasa perlu berpesan kapan akan pulang.
Toji mendekati Seijuro, dan katanya, “Kami sudah mencapai kesimpulan.”
Mendengar laporan yang disampaikan dengan bisikan itu, Seijuro tampak semakin berang, sampai akhirnya ia pun tersengal-sengal dan hampir tidak dapat mengendalikan kemarahannya lagi. “Mengakali dia?”
Toji mencoba meredakan dengan gerakan mata, tapi Seijuro tidak dapat diredakan. “Aku tak setuju dengan tindakan seperti itu! Itu pengecut. Bagaimana kalau sampai kedengaran orang bahwa Perguruan Yoshioka takut pada seorang prajurit tak dikenal, dan menyembunyikan diri, lalu menyergapnya?”
“Tenanglah,” Toji memohon, tapi Seijuro terus juga membangkang. Maka Toji pun mengungguli suaranya, dan katanya keras, “Serahkan pada kami. Kami yang akan mengurus.”
Namun Seijuro tak juga bisa menerima. “Apa menurutmu aku, Yoshioka Seijuro, akan kalah dengan si Musashi atau siapa pun namanya itu?”
“Oh, tidak, sama sekali tidak begitu,” kata Toji berbohong. “Cuma kami tak percaya Anda dapat memperoleh kehormatan dengan mengalahkan dia. Kedudukan Anda terlalu tinggi untuk menghadapi gelandangan kurang ajar seperti itu. Lagi pula, tidak ada alasan kenapa orang di luar rumah ini mesti tahu soal itu, bukan? Hanya satu yang penting, yaitu tidak membiarkan dia pergi dalam keadaan hidup.”
Belum selesai mereka beradu pendapat, jumlah orang yang berada di dalam ruangan sudah berkurang lebih dari setengahnya. Diam-diam, seperti kucing, mereka menghilang ke kebun, ke arah pintu belakang dan ke kamar-kamar dalam, dan secara hampir tidak kelihatan menghilang ke kegelapan.
“Tuan Muda, kita tak dapat menangguhkannya lagi,” kata Toji tegas, lalu memadamkan lampu. Ia pun melonggarkan pedang dalam sarungnya dan menaikkan lengan kimononya. Seijuro tetap duduk. Sekalipun dalam batas-batas tertentu ia puas karena tidak harus bertempur melawan orang asing itu, namun ia sama sekali tidak merasa senang. Menurut pengertiannya, dengan mengambil langkah itu, berarti para muridnya menilai rendah kemampuannya. Ia pun terkenang bagaimana ia telah mengabaikan latihan sejak meninggalnya ayahnya, dan ini membuatnya sangat sedih.
Rumah itu semakin dingin dan senyap seperti dasar sumur. Karena tak dapat duduk tenang, Seijuro pun bangkit dan berdiri dekat jendela. Lewat pintu-pintu kamar Musashi yang tertutup kertas ia dapat melihat cahaya lampu yang berkelap-kelip lembut. Itulah satu-satunya cahaya yang ada di sekitar tempat itu.
Banyak juga mata lain mengintip ke arah yang sama. Para penyerang meletakkan pedangnya di tanah di hadapan mereka, menahan napas dan mendengarkan baik-baik setiap bunyi yang dapat mengungkapkan kepada mereka sedang apakah Musashi.
Apa pun kekurangan Toji, ia telah memperoleh latihan sebagai seorang samurai. Mati-matian sekarang ia mencoba membayang-bayangkan apa yang mungkin diperbuat Musashi. “Dia sama sekali tak dikenal di ibu kota, tapi dia seorang pendekar hebat. Mungkinkah dia sekadar duduk diam di kamar itu? Pengepungan kami cukup hati-hati, tapi dia tentunya merasa bahwa orang banyak sedang mendesaknya sekarang. Setiap orang yang mencoba hidup sebagai prajurit pasti mengetahuinya; kalau tidak, dia sudah mati sekarang.
“Mm, barangkali dia sudah tertidur. Agaknya itulah yang terjadi. Memang sudah lama juga dia menanti.
“Di pihak lain, dia sudah membuktikan dirinya cerdik. Kemungkinan dia sedang berdiri di sana dalam keadaan siap tempur, membiarkan lampu menyala untuk membuat orang-orang ini kehilangan kewaspadaan dan tinggal menanti serangan pertama.
“Mestinya begitu. Betul begitu!”
Orang-orang itu menanti dengan gelisah, karena orang yang menjadi sasaran nafsu membunuh mereka juga sama inginnya membantai mereka. Mereka pun bertukar pandang, diam-diam saling menanyakan, siapa yang pertama-tama akan maju menyerbu dan mempertaruhkan nyawanya.
Akhirnya Toji yang licik dan persis berada di luar kamar Musashi, berseru, “Musashi! Maaf membiarkanmu lama menunggu! Boleh aku bertemu sebentar?”
Karena tak ada jawaban, Toji menyimpulkan bahwa Musashi memang sudah siap menanti serangan. Sambil bersumpah tak akan membiarkan Musashi meloloskan diri, Toji pun memberikan isyarat ke kanan dan ke kiri, kemudian menerjang ke arah pintu. Bagian bawah pintu bergeser sekitar dua kaki ke dalam kamar, terlepas dari lekuknya akibat hantaman itu. Mendengar bunyi itu, orang-orang yang seharusnya menyerbu ke dalam kamar secara tak sengaja mundur selangkah. Tapi dalam beberapa detik saja seseorang menyerukan serang, dan semua pintu lain dalam kamar itu pun gemerantang terbuka.
“Dia tak ada!”
“Kamar kosong!”
Suara-suara yang mencerminkan pulihnya keberanian pun terdengar menggerutu menyatakan tak percaya. Musashi masih duduk di sana sejenak sebelum itu, ketika seseorang membawakan lampu. Lampu masih menyala, bantalan yang tadi didudukinya masih di sana, anglo masih menyala dengan baik, dan masih ada cangkir teh yang belum disentuh. Tapi Musashi tak ada!
Satu orang berlari ke beranda, memberitahukan kepada yang lain-lain bahwa Musashi sudah pergi. Dari. bawah beranda dan dari tempat-tempat gelap di kebun para murid dan pesuruh pun berkumpul, mengentakkan kaki dengan marah dan memaki-maki orang yang menjaga kamar yang kecil itu. Namun para penjaga tetap menyatakan bahwa Musashi tak mungkin pergi. Ia memang pergi ke kamar kecil kurang dari sejam sebelum itu, tapi segera kembali ke kamarnya lagi. Tak ada jalan baginya untuk pergi tanpa terlihat.
“Apa maksudmu dia tidak kelihatan, seperti angin?” satu orang bertanya dengan nada mencemooh.
Tepat waktu itu satu orang yang selama itu celingukan di kamar kecil berseru, “Dari sini dia pergi! Lihat, papan-papan lantai ini sudah lepas.”
“Belum lama lampu itu tadi dirapikan. Tak mungkin dia sudah pergi jauh!”
“Kejar dia!”
Kalau Musashi memang melarikan diri, pasti dalam hatinya ia seorang pengecut! Jalan pikiran ini mengobarkan kembali semangat para pengejarnya yang beberapa lama sebelumnya sudah sangat kehilangan semangat. Baru saja mereka berduyun-duyun keluar dari gerbang depan, belakang, dan samping, satu orang memiawik, “Itu dia!”
Dekat gerbang belakang, satu sosok melejit keluar dari bayangan, menyeberang jalan, dan masuk lorong gelap di sisi lain. Sosok itu berlari seperti kelinci, melenceng ke satu sisi ketika hampir mencapai dinding di ujung lorong. Dua-tiga orang murid berhasil mengejarnya antara Kuyado dan puing-puing kebakaran Honnoji.
“Pengecut!”
“Mau lari, ya?”
“Sesudah tindakanmu hari ini?”
Terdengar bunyi tonjokan dan tendangan keras, juga lolongan menantang. Orang yang terkepung itu memperoleh kembali kekuatannya dan membalik menghadapi para penangkapnya. Dalam sekejap ketiga orang yang menjambak tengkuknya terjerembap ke tanah. Pedang orang itu sudah mau ditebaskan kepada mereka, ketika orang keempat datang berlari dan berseru, “Tunggu! Salah! Ini bukan orang yang kita kejar.”
Matahachi menurunkan pedangnya, dan orang-orang itu pun berdiri.
“Hei, kau benar! Bukan Musashi!”
Selagi mereka berdiri di sana dengan kebingungan, Toji sampai di tempat kejadian. “Sudah kalian tangkap?” tanyanya.
“Uh, orang lain-bukan orang yang bikin ribut itu.”
Toji memperhatikan tangkapan itu dengan lebih saksama, dan katanya heran, “Ini orang yang kalian kejar?”
“Ya. Kau kenal dia?”
“Baru tadi siang aku melihatnya di Warung Teh Yomogi.”
Sementara mereka memandangnya dengan diam dan curiga, Matahachi tenang-tenang merapikan rambutnya yang kusut clan meratakan kimononya. “Apa dia pemilik Yornogi?”
“Tidak, nyonya rumah mengatakan padaku bukan. Rupanya dia cuma semacam benalu.”
“Kelihatannya memang mencurigakan. Apa kerjanya di dekat-dekat gerbang ini? Memata-matai?”
Tapi Toji sudah mulai bergerak. “Kalau kita menghabiskan waktu dengan dial kita akan kehilangan Musashi. Sekarang kita berpencar saja dan jalan. Paling tidak, kita bisa tahu di mana dia tinggal.”
Terdengar suara-suara mengiakan, dan mereka pun berangkat.
Menghadapi parit Honnoji, Matahachi berdiri diam dengan kepala menunduk, sementara orang-orang itu lewat berlarian. Ketika orang terakhir lewat, ia pun berseru kepadanya.
Orang itu berhenti. “Ada apa?” tanyanya.
Matahachi mendekatinya, dan tanyanya, “Berapa umur orang yang namanya Musashi itu?”
“Mana aku tahu?”
“Apa kira-kira seumurku?”
“Kira-kira begitu. Ya.”
“Apa dia dari Desa Miyamoto di Provinsi Mimasaka?”
“Ya.”
“Kukira ‘Musashi’ itu cara lain untuk membaca dua huruf yang bisa dipakai menuliskan ‘Takezo’, kan?”
“Kenapa kau menanyakan sernua itu? Apa dia temanmu?”
“Ah, tidak. Aku cuma heran.”
“Nah, lain kali apa tidak lebih baik kau jauh-jauh saja dari tempat-tempat yang bukan tempatmu? Kalau tidak, kau bisa mendapat kesulitan besar hari-hari ini.” Sesudah menyampaikan peringatan itu, orang itu pun lari.
Matahachi lalu berjalan pelan-pelan di samping parit gelap itu, dan sekali-sekali berhenti untuk memandang bintang-bintang. Ia rupanya tidak mempunyai tujuan khusus.
“Pasti dialah itu!” demikian kesimpulannya. “Dia tentunya sudah mengubah namanya menjadi Musashi dan menjadi pemain pedang. Boleh jadi dia lain sekali dengan dahulu.” Maka disurukkannya tangannya ke dalam obi, dan mulailah ia menendang-nendang sebuah batu dengan jari sandalnya. Tiap kali menendang, ia pun merasa melihat wajah Takezo di hadapannya.
“Ini bukan waktu yang tepat,” gumamnya. “Aku akan malu kepadanya kalau dia melihatku dalam keadaan seperti ini. Aku cukup punya harga diri dan takkan membiarkan dia memandang rendah kepadaku…. Tapi kalau gerombolan Yoshioka itu berhasil mengejarnya, kemungkinan mereka akan membunuhnya. Di mana dia berada kira-kira? Paling tidak, ingin aku memperingatkannya.”

Berhadapan dan Mundur

SEPANJANG jalan setapak berbatu yang menuju Kuil Kiyomizudera berdiri sederetan rumah kumuh dengan atap papan yang tersusun seperti gigi rusak, demikian tuanya hingga lumut sudah menumbuhi tepi-tepi atapnya. Di bawah sinar matahari siang yang panas, jalan itu semerbak oleh bau ikan asin yang dibakar di atas arang.
Sebuah piring melayang keluar dari pintu salah satu gubuk bobrok itu dan pecah berantakan di jalan. Seorang lelaki umur sekitar lima puluh tahun, yang agaknya seorang pekerja tangan, menyusul terhuyung ke luar. Sekejap kemudian menyusul pula istrinya yang bertelanjang kaki, rambutnya awut-awutan dan payudaranya tergantung-gantung seperti tetek sapi.
“Apa kaubilang, orang udik?” jeritnya serak. “Kau pergi meninggalkan istri dan anak kelaparan, lalu datang lagi merangkak seperti cacing!”
Dari dalam rumah terdengar suara anak-anak menangis, dan tidak jauh dari situ seekor anjing menggonggong. Perempuan itu akhirnya berhasil mengejar suaminya, menangkap gelung rambutnya, dan mulai memukulinya.
“Sekarang mau pergi ke mana kamu, orang sinting tua?”
Para tetangga bergegas datang dan mencoba melerai.
Musashi tersenyum ironis dan membalikkan badan menuju toko barang tembikar. Beberapa waktu sebelum pecahnya pertengkaran keluarga itu, ia sudah berdiri di luar, mengamati para pembuat tembikar dengan kegairahan kanak-kanaknya. Dua lelaki yang ada di dalam tidak menyadari kehadirannya. Karena mata mereka terpaku kepada pekerjaan, mereka seakan-akan sudah menyatu dengan tanah liat itu. Konsentrasi mereka sungguh bulat.
Musashi sebetulnya ingin mencoba bekerja dengan tanah liat itu. Sejak kecil ia menyukai pekerjaan tangan; menurut pendapatnya, paling tidak ia akan dapat membuat mangkuk teh sederhana. Namun justru pada waktu itu salah seorang tukang tembikar yang umurnya hampir enam puluh tahun mulai membuat mangkuk teh. Melihat betapa cekatan orang itu menggerakkan jari-jarinya clan memainkan kape-nya, Musashi pun sadar bahwa ia terlalu tinggi menilai kemampuannya sendiri. “Ternyata diperlukan banyak teknik untuk membuat barang sederhana itu saja,” demikian kagumnya.
Hari-hari itu sering kali ia merasa amat kagum pada kerja orang lain. Ia merasa menghargai teknik, seni, bahkan kemampuan melakukan tugas yang sederhana dengan baik, terutama jika itu adalah keterampilan yang tidak dikuasainya.
Di sebuah sudut toko itu, di sebuah meja panjang darurat yang terbuat dari papan pintu tua, berderet-deret piring, sloki sake, clan kendi. Barangbarang itu dijual untuk tanda mata dengan harga dua puluh atau tiga puluh sen saja kepada orang-orang yang pergi atau datang dari kuil. Sesuatu yang bertentangan sekali dengan kesungguh-an para tukang tembikar pada pekerjaan mereka adalah hina-dinanya pondok papan mereka. Terpikir oleh Musashi, apakah mereka selalu dapat makan cukup. Hidup ini agaknya tidak semudah kelihatannya.
Memikirkan keterampilan, konsentrasi, dan kesetiaan yang dicurahkan untuk membuat barang-barang semurah itu, Musashi pun merasa jalannya sendiri masih panjang, jika ia ingat bagaimana ia mencapai taraf kesempurnaan dalam seni pedang yang diinginkannya itu. Pikiran itu sungguh pikiran yang menyadarkan, karena dalam tiga minggu terakhir itu ia telah mengunjungi pusat-pusat latihan terkenal lain di Kyoto disamping Perguruan Yoshioka, dan sempat bertanya-tanya kepada dirinya apakah ia tidak terlampau kritis terhadap diri sendiri semenjak dikurung di Himeji dulu. Keinginannya semula adalah melihat Kyoto sebagai tempat penuh orang yang telah menguasai seni bela diri. Bukankah kota itu ibu kota kekaisaran dan dahulu menjadi pusat ke-shogun-an Ashikaga, dan sudah lama menjadi tempat berkumpulnya jenderal-jenderal ternama dan prajurit-prajurit legendaris? Namun selama berada di sana, belum pernah ia menemukan satu pun pusat latihan yang mengajarkan kepadanya sesuatu yang benar-benar pantas diberi ucapan terima kasih. Sebaliknya, hanya kekecewaan yang diperolehnya di setiap perguruan itu. Sekalipun selalu memenangkan pertandingan, tak dapat ia menetapkan apakah itu disebabkan ia yang bagus atau lawan-lawannya yang jelek. Baik dalam hal yang pertama maupun kedua, kalau para samurai yang dijumpainya itu memang gambaran dari samurai masa kini, berarti negeri itu berada dalam keadaan memprihatinkan.

Tergugah oleh keberhasilannya, ia pun sampai kepada pemikiran untuk merasa bangga akan keahliannya. Tetapi sekarang, ingat akan bahaya puas diri, ia pun merasa bersalah dan patut dihukum. Dalam hati ia merasa sangat hormat kepada orang-orang tua bergelimang tanah liat yang sedang bekerja pada rodanya itu, dan mulailah ia mendaki lereng terjal Kiyomizudera.
Belum lagi jauh, terdengar suara memanggilnya dari bawah. “Hei, tuan yang di sana! Ronin!’
“Maksud Anda… saya?” tanya Musashi sambil menoleh.
Melihat pakaian katunnya yang berlapis, kakinya yang telanjang, dan tongkat yang dibawanya, orang itu adalah pemikul joli. Dari balik jenggotnya ia berkata, cukup sopan untuk orang yang kedudukannya serendah itu, “Tuan, apa nama Tuan Miyamoto?”
“Ya.”
“Terima kasih.” Orang itu pun membalik dan turun ke Bukit Chawan.
Musashi melihatnya memasuki rumah yang nampaknya warung teh. Sewaktu melewati daerah itu tadi, ia memang melihat satu rombongan besar kuli dan pemikul joli sedang berdiri di sana-sini di bawah sinar matahari. Tak dapat ia memperkirakan, siapa yang kini telah menyuruh salah seorang dari mereka itu untuk menanyakan namanya, tapi ia mengira, siapa pun yang telah menyuruh itu pasti akan segera datang menemuinya. Ia pun berdiri dulu di sana sebentar, tapi karena tak seorang pun muncul, ia kembali mendaki.
IZRO'IL
Musashi II (Air)

Musashi II 3


Di sepanjang jalan itu ia berhenti menjenguk kuil-kuil terkenal, dan di tiap kuil ia membungkukkan badan dan mengucapkan dua doa. Doa pertama: “Lindungilah kakak perempuanku dari bahaya.” Yang kedua: “Ujilah Musashi yang hina ini dengan kesulitan. Jadikanlah dia pemain pedang terbesar di negeri ini, atau biarlah dia mati.”
Sampai di tepi tebing karang ia jatuhkan topi anyaman yang dipakainya ke tanah dan duduk. Dari situ ia dapat memandang seluruh kota Kyoto. Sementara ia duduk merangkul lutut, bergejolaklah ambisi yang sederhana namun kuat dalam dadanya yang masih muda.
“Aku ingin menempuh hidup yang berarti. Aku mau menempuhnya, karena aku lahir sebagai manusia.”
Ia pernah membaca bahwa pada abad sepuluh, dua pemberontak bernama Taira no Masakado dan Fujiwara no Sumitomo yang sama-sama ambisius telah bergabung dan bersepakat, kalau menang perang, mereka akan membagi Jepang di antara mereka berdua. Sukar memastikan kebenaran cerita itu, tapi Musashi ingat, waktu itu ia berpendapat alangkah bodoh dan tidak realistis sekiranya mereka percaya bisa melaksanakan rencana gila-gilaan semacam itu. Namun sekarang ia merasa hal itu tidak lagi menggelikan. Impian yang dimilikinya lain jenisnya, tapi ada beberapa persamaan. Kalau orang muda tidak dapat menggantungkan cita-cita besar dalam jiwanya, siapa lagi yang dapat? Saat itu Musashi pun membayangkan bagaimana ia dapat menciptakan tempatnya sendiri di dunia ini.
Ia berpikir tentang Oda Nobunaga dan Toyotomi Hideyoshi, tentang visi mereka untuk mempersatukan Jepang dan tentang banyak pertempuran yang telah mereka lakukan untuk mencapai tujuan itu. Tetapi jelas, jalan menuju kebesaran itu kini tidak lagi terletak dalam memenangkan perang. Sekarang rakyat hanya menginginkan perdamaian yang telah begitu lama mereka rindukan. Merenungkan perjuangan panjang yang harus ditempuh Tokugawa Ieyasu dalam mengubah keinginan itu menjadi kenyataan, Musashi pun sadar sekali lagi, betapa susahnya berpegang teguh pada cita-cita.
“Ini zaman baru,” pikirnya. “Sisa hidupku masih ada di hadapanku. Memang terlambat aku menempuh jalan yang dilalui Nobunaga atau Hideyoshi, tapi masih dapat aku memimpikan dunia yang harus kutaklukkan sendiri. Tak seorang pun dapat menghentikanku melakukan itu. Pemikul joli tadi pun mempunyai impiannya sendiri.”
Sesaat ia singkirkan gagasan-gagasan itu dari pikirannya dan mencoba meninjau keadaan dirinya secara objektif. Ia memiliki pedang, dan jalan Pedang adalah jalan yang telah dipilihnya. Kiranya bagus juga menjadi seorang Hideyoshi atau Ieyasu, tetapi zaman tidak lagi membutuhkan orang-orang dengan bakat seperti mereka. Ieyasu sudah mengatur segala hal; tidak lagi ada keperluan akan perang-perang berdarah. Di Kyoto yang terhampar di bawah sana kehidupan tidak lagi soal untung-untungan.
Bagi Musashi, yang penting sejak sekarang dan untuk seterusnya adalah pedangnya dan masyarakat sekitarnya, juga seni pedang yang dikuasainya dalam hubungan kehadirannya sebagai manusia. Pada saat memperoleh pemahaman mendalam itu, ia pun puas karena telah menemukan hubungan antara seni bela diri dan visinya mengenai kebesaran.
Sementara ia duduk tenggelam dalam pemikiran itu, wajah pemikul joli muncul kembali di bawah tebing karang. la menudingkan tongkat bambunya kepada Musashi, clan serunya, “Itu dia di sana!”
Musashi memandang ke bawah, ke arah kuli-kuli yang sedang bergerak ke sana kemari sambil berteriak-teriak. Mereka mulai mendaki bukit menuju ke arahnya. Ia pun bangkit; sambil mencoba mengabaikan mereka, ia berjalan terus mendaki bukit. Tetapi tak lama kemudian ia melihat jalannya tercegat. Dengan bergandengan tangan dan mengacung-acungkan tongkat, sejumlah besar orang telah mengepungnya dari jauh. Ketika ia menoleh, tampak olehnya orang-orang di belakangnya itu berhenti. Seorang dari mereka menyeringai memperlihatkan giginya dan memberitahukan kepada yang lain-lain bahwa Musashi rupanya “sedang memperhatikan tanda peringatan atau entah apa”.
Musashi yang kini berada di depan tangga Hongando memang sedang menengadah memperhatikan tanda peringatan yang sudah dimakan cuaca, yang tergantung pada blandar pintu masuk kuil. Ia merasa gelisah dan bertanya-tanya dalam hati apakah ia sebaiknya menakut-nakuti mereka dengan teriakan perang. Walaupun ia tahu dapat membereskan mereka dengan cepat, tak ada gunanya ribut dengan gerombolan pekerja kasar itu. Lagi pula, barangkali ada kekeliruan. Kalau demikian, lambat atau cepat mereka akan bubar. Ia pun berdiri saja di sana dengan sabar, sambil membaca dan membaca sekali lagi kata-kata pada tanda peringatan itu: “Kaul sejati”.
“Ini dia datang!” salah seorang kuli berteriak.
Mereka pun mulai bicara antara sesamanya dengan suara tertahan-tahan. Kesan Musashi adalah mereka sedang saling merangsang semangat. Pekarangan dalam gerbang barat kuil itu dengan segera penuh orang, dan sekarang para pendeta, peziarah, dan tukang jualan menajamkan mata untuk melihat apa yang sedang terjadi. Penuh rasa ingin tahu, mereka membentuk kelompok-kelompok di luar lingkaran kuli-kuli yang mengepung Musashi.
Dari arah Bukit Sannen kedengaran nyanyian berirama pengatur langkah oleh orang-orang yang membawa beban. Suara itu makin lama makin dekat, sampai akhirnya dua orang memasuki pekarangan kuil dengan menggendong seorang perempuan tua dan seorang samurai desa yang tampak agak lelah.
Dan punggung pengusungnya Osugi melambaikan tangan dengan gerakan cepat, dan katanya, “Di sini saja.” Si pengusung melipat kakinya dan Osugi pun melompat sigap ke tanah sambil mengucapkan terima kasih. Sembari menoleh kepada Paman Gon, ia berkata, “Kali ini kita takkan membiarkannya lepas, kan?” Pakaian dan sepatu kedua orang itu mengesankan seolah-olah mereka hendak menghabiskan sisa hidupnya dalam perjalanan.
“Mana dia?” seru Osugi.
Salah seorang kuli pikul menjawab, “Itu di sana,” dan menuding bangga ke arah kuil.
Paman Gon membasahi gagang pedangnya dengan ludah, dan kedua orang itu pun menerobos lingkaran manusia tersebut.
“Tenang saja,” salah seorang kuli pikul mengingatkan. “Orangnya tampak tangguh,” kata yang lain.
“Pastikan dulu apa Anda sudah betul-betul siap,” nasihat yang lain. Sementara para pekerja memberikan dorongan dan dukungan bagi Osugi, para penonton merasa cemas.
“Apa perempuan tua ini betul-betul mau menantang duel ronin itu?” “Kelihatannya begitu.”
“Tapi dia sudah begitu tua! Malah pengiringnya juga sudah goyah kakinya! Mestinya ada alasan kuat, mengapa mereka mencoba menghadapi orang yang begitu jauh lebih muda.”
“Tentulah sekitar permusuhan keluarga!”
“Lihat tuh! Dia memarahi lelaki tua itu. Ada memang nenek-nenek tua yang betul-betul gagah berani.”
Seorang kuli berlari datang membawa segayung air untuk Osugi. Sesudah minum seteguk besar, Osugi menyerahkan gayung itu kepada Paman Gon dan berkata tegas kepadanya, “Sekarang jaga jangan sampai kau bingung, sebab tak ada yang perlu dibingungkan. Takezo itu cuma manusia jerami. Bisa saja dia belajar sedikit cara memakai pedang, tapi tak mungkin dia belajar banyak. Tenang saja kamu!”
Untuk memelopori, ia pun langsung menuju tangga depan Hongando dan duduk di tangga, tak sampai sepuluh langkah dari Musashi. Tanpa memperhatikan Musashi atau orang banyak yang memandangnya, ia mengeluarka tasbihnya dan memejamkan mata, lalu mulai menggerak-gerakkan bibir. Diilhami oleh semangat keagamaannya, Paman Gon menangkupkan kedua tangannya dan berbuat demikian pula.
Pemandangan itu ternyata agak terlampau melodramatis, dan salah seorang penonton mulai tertawa terkekeh. Seketika itu juga salah seorang kuli memutar badan dan katanya menantang, “Siapa menganggap ini lucu? Ini bukan bahan tertawaan, orang sinting! Jauh-jauh perempuan tua ini datang dari Mimasaka untuk mencari manusia sampah yang melarikan istri anaknya. Saban hari selalu dia berdoa di kuil ini selama hampir dua bulan, dan akhirnya hari ini orang itu muncul.”
“Orang-orang samurai ini lain dengan kita,” kata kuli yang lain. “Pada umur seperti itu, perempuan tua ini mestinya dapat hidup senang di rumah, bermain dengan cucu-cucunya; tapi tidak, dia malah di sini menggantikan anaknya menuntut balas atas penghinaan terhadap keluarganya. Melulu karena itu saja patutlah dia kita hormati.”
Orang ketiga mengatakan, “Kita bukan membantu dia karena dia memberi kita uang. Dia punya semangat, sungguh! Sudah tua, tapi tidak takut berkelahi. Menurutku, kita mesti membantunya sedapat-dapatnya. Membantu pihak yang lemah itu benar! Kalau nanti dia kalah, mari kita hadapi sendiri ronin itu.”
“Kau benar! Tapi mari kita lakukan sekarang saja! Tak dapat kita berdiri saja di sini dan membiarkan dia terbunuh.”
Ketika orang banyak mengetahui sebab-sebab Osugi berada di situ, kegairahan pun meningkat. Beberapa penonton mulai mendorong kuli-kuli itu maju.
Osugi memasukkan tasbih ke dalam kimononya dan keheningan pun mencekam pekarangan kuil. “Takezo!” seru Osugi keras, sambil meletakkan tangan kirinya ke pedang pendek di pinggangnya.
Selama itu Musashi hanya berdiri tak bergerak. Bahkan ketika Osugi memanggil namanya pun ia berbuat seolah-olah tidak mendengarnya. Tak gentar oleh hal itu, Paman Gon yang berdiri di samping Osugi memilih saat itu untuk mengambil sikap menyerang, clan sambil mendongakkan kepala ke depan ia pun meneriakkan tantangan.
Sekali lagi Musahi tidak menjawab. Ia tak dapat menjawab. Betul-betul tak tahu ia bagaimana akan menjawab. Ia ingat peringatan Takuan di Himeji bahwa ia kemungkinan akan bertemu dengan Osugi. Sebetulnya ingin ia mengabaikan saja perempuan itu sama sekali, tapi ia sangat tersinggung oleh pembicaraan para kuli yang tersebar di tengah orang banyak itu. Lagi pula, sukarlah baginya mengekang kekesalan terhadap rasa benci yang disimpan keluarga Hon’iden terhadapnya selama ini. Seluruh perkara itu tidak lebih dari soal kecil Miyamoto, suatu salah paham yang dapat dengan mudah dijelaskan, jika saja Matahachi ada.
Namun demikian, ia sungguh bingung mengenai apa yang hendak diperbuat di sini, sekarang ini. Bagaimana kita mesti menjawab tantangan seorang perempuan tua yang sudah reyot dan seorang samurai yang sudah kisut wajahnya? Musashi tetap diam memandang, pikirannya serba ragu.
“Lihat bajingan itu! Dia takut!” seorang kuli berseru.
“Bersikaplah jantan! Beri kesempatan perempuan ini membunuhmu!” cemooh yang lain.
Tak satu orang pun tidak berada di pihak Osugi.
Perempuan itu mengedipkan mata dan menggelengkan kepala, kemudian memandang para pemikul dan mendecap merah. “Diam kalian! Kalian cuma saksi. Kalau kami berdua nanti terbunuh, kalian yang mengirim mayat kami kembali ke Miyamoto. Di luar itu aku tak butuh omongan kalian, juga bantuan kalian!” Sambil menarik pedang pendeknya setengah jalan dari sarungnya, ia pun bergerak beberapa langkah mendekati Musashi.
“Takezo!” katanya lagi. “Takezo itu selamanya namamu di kampung, jadi kenapa kamu tidak menjawab? Kudengar kau sudah mengambil nama baru yang bagus-Miyamoto Musashi, betul? Tapi bagiku tetap saja kamu Takezo! Ha, ha, ha!” Leher keriput itu menggetar selagi ia tertawa. Agaknya ia mau membunuh Musashi dengan kata-kata, sebelum pedang dihunus.
“Apa kaukira dapat mencegahku mencari jejakmu, hanya karena kau mengubah nama? Bodoh sekali! Dewa-dewa di langit sudah memimpinku menemukanmu, dan aku tahu dewa-dewa pasti berbuat begitu. Ayo sekarang berkelahi! Akan kita lihat, apa kubawa kepalamu pulang, atau kau berhasil lagi tetap hidup!”
Dengan suaranya yang sudah layu, Paman Gon pun mengeluarkan tantangannya sendiri, “Sudah empat tahun kau selalu meloloskan diri, dan kami selalu mencarimu selama ini. Sekarang doa kami di Kiyomizudera sudah memasukkanmu dalam genggaman kami. Memang aku sudah tua, tapi tak bakal aku kalah dengan orang macam kamu! Siap-siap saja kau mati!” Sambil menarik pedangnya ia pun berteriak kepada Osugi, “Minggir kau!”
Osugi menoleh kepadanya dengan marah, “Apa maksudmu, orang sinting tua? Kau sendiri yang menggigil!”
“Tidak apa! Bodisatwa kuil ini akan melindungi kita!”
“Betul, Paman Gon. Dan nenek moyang orang Hon’iden juga beserta kita! Tak ada yang perlu ditakutkan.”
“Takezo! Maju dan ayo berkelahi!”
“Apa yang kau tunggu?”
Musashi tidak beranjak. Ia berdiri saja seperti orang bisu-tuli, memandang dua orang tua itu dan pedang mereka yang sudah terhunus.
Osugi berteriak, “Ada apa, Takezo! Kau takut?”
Ia pun maju dengan badan dimiringkan dan siap menyerang, tapi tiba-tiba ia terantuk batu dan jatuh ke depan, mendarat tengkurap hampir di kaki Musashi.
Orang banyak terkesiap, dan seseorang menjerit, “Bisa terbunuh dia!” “Cepat selamatkan dia!”
Tetapi Paman Gon hanya menatap muka Musashi, terlalu takjub, hingga tak dapat bergerak.
Kemudian perempuan tua itu mengejutkan semua orang, karena ia mencekal lagi pedangnya dan berjalan kembali ke sisi Paman Gon, lalu kembali mengambil sikap menantang. “Kenapa kamu, orang udik?” teriak Osugi. “Apa pedang di tanganmu itu cuma hiasan? Apa tak tahu kamu menggunakannya?”
Wajah Musashi seperti topeng, tapi akhirnya ia pun berkata dengan suara mengguntur, “Aku tak dapat melakukannya.”
Mulailah ia berjalan ke arah mereka, dan Paman Gon dan Osugi pun seketika undur ke sisi masing-masing.
“Ke-ke mana kamu pergi, Takezo?”
“Tak bisa aku menggunakan pedangku.”
“Berhenti! Kenapa tidak berhenti dan berkelahi?”
“Sudah kukatakan! Tak bisa aku!”
Ia berjalan terus ke depan, tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan. Ia langsung melintasi orang banyak, tanpa sekali pun membelok.
Begitu tersadar kembali, Osugi pun berteriak, “Dia lari! Jangan biarkan dia lolos!”
Orang banyak pun sekarang bergerak mengepung Musashi, tapi ketika mereka kira telah mengimpitnya, ternyata ia tidak lagi di sana. Bukan main bingungnya mereka. Mata mereka menyala keheranan, tapi kemudian jadi tertegun.
Mereka pun memecah diri menjadi kelompok-kelompok kecil dan terus juga hilir-mudik sampai matahari tenggelam, mencari dengan kalutnya di bawah lantai-lantai bangunan kuil dan di tengah hutan untuk menemukan mangsa mereka yang telah lenyap itu.
Kemudian, ketika orang pulang lewat lereng bukit-bukit Sannen dan Chawan yang gelap, seseorang bersumpah telah melihat Musashi melompat, ringan bagai kucing ke atas dinding setinggi hampir dua meter di gerbang barat dan menghilang.
Tak seorang pun percaya, terutama Osugi dan Paman Gon.


Peri Air

DI sebuah dusun sebelah barat laut Kyoto, dentam-dentam berat alu penumbuk padi menggetarkan bumi. Hujan salah musim menembus atap lalang. Tempat itu semacam tanah tak bertuan yang terletak antara kota dan daerah pertanian. Kemiskinannya demikian sarat, hingga waktu senja asap api dapur hanya mengepul dari beberapa rumah saja.
Sebuah topi anyaman tergantung di bawah tepian atap sebuah rumah kecil. Rumah itu bertuliskan huruf-huruf tebal dan kasar, menyatakan rumah itu sebuah penginapan, walau dari jenis yang termurah. Musafir yang berhenti di situ hanya orang-orang melarat yang cuma menyewa lantai. Untuk sewa kasur jerami, mereka harus bayar lagi. Hanya sedikit yang dapat membeli kemewahan itu.
Di dapur yang kotor lantainya, di samping pintu masuk, seorang anak lelaki melongok dengan tangan bertumpu pada tatami kamar sebelah yang lebih tinggi letaknya. Di tengah kamar itu terdapat perapian yang hampir man.
“Halo!… Selamat malam!… Ada orang di sini?” Ia anak suruhan toko minuman, sebuah tempat kotor lain di jalan itu.
Melihat orangnya, suara anak itu terlalu keras kedengarannya. Umurnya. tak lebih dari sepuluh atau sebelas tahun. Rambutnya yang basah oleh hujan dan menjurai menutupi telinga membuat ia tampak tak lebih besar dari peri air dalam lukisan khayal. Pakaiannya pun sesuai untuk peran itu: kimono yang hanya sampai paha dengan lengan berbentuk tabung, dan seutas tali besar pengganti obi. Lumpur yang memercik tidak mengotori punggung ketika ia berlari dengan bakiaknya.
“Kamu itu, Jo?” seru pak tua pemilik penginapan dari kamar belakang.
“Ya. Bapak mau menyuruh saya ambil sake?”
“Tidak hari ini. Tamuku belum kembali. Aku belum butuh.”
“Kalau dia kembali, tentunya dia perlu sake. Akan saya bawakan nanti, sejumlah biasanya.”
“Kalau dia kembali, nanti aku ambil sendiri.”
Enggan pergi tanpa membawa pesanan, anak itu pun bertanya, “Apa yang Bapak kerjakan?”
“Aku lagi nulis surat; akan kukirimkan lewat kuda beban ke Kurama besok. Tapi ini sedikit sukar. Dan punggungku pun sakit. Diamlah, jangan ganggu aku.”
“Oh, lucu juga. Bapak sudah begitu tua, sampai sudah mulai bungkuk, tapi masih belum bisa menulis!”
“Cukup! Kalau sampai kudengar kamu lancang lagi, kuambilkan pentung kayu api.”
“Mau saya tuliskan?”
“Sok bisa kamu!”
“Bisa,” ucap anak itu sambil masuk kamar. la memandang surat itu dari atas bahu orang tua itu, dan pecahlah tawanya. “Bapak mau nulis ‘kentang’, ya? Huruf yang Bapak tulis itu artinya ‘tongkat’.”
“Diam!”
“Saya akan diam, kalau Bapak suruh. Tapi tulisan Bapak itu salah. Bapak mau mengirim kentang atau tongkat kepada teman-teman Bapak?”
“Kentang.”
Anak itu pun membaca sedikit lebih lama, kemudian katanya, “Ah, ini kurang baik. Tak ada yang dapat menduga maksud surat ini, kecuali Bapak sendiri.”
“Nah, kalau kamu memang pintar, coba kamu yang tulis.”
“Baik. Sekarang katakan apa yang mau Bapak tuliskan.” Jotaro duduk dan mengambil kuas.
“Keledai kikuk kamu!” ucap orang tua itu.
“Kenapa Bapak sebut saya kikuk? Bapak sendiri yang tak bisa menulis!”
“Hidungmu menetesi kertas.”
“Oh, maaf. Tapi Bapak boleh berikan ini pada saya untuk bayarannya.” Ia membuang ingusnya dengan kertas yang sudah kotor itu. “Sekarang, apa yang mau Bapak katakan?” Dengan pegangan kuas yang mantap, anak itu menulis dengan lancarnya apa-apa yang didiktekan orang tua itu.
Baru saja surat itu selesai ditulis, tamu pulang, dan begitu saja melemparkan karung arang yang baru diambilnya di suatu tempat dan tadi dibawa di atas kepalanya.
Musashi berhenti di pintu dan memeras air dari lengan bajunya, dan gerutunya, “Kukira inilah akhir musim bunga prem.” Lebih dari dua puluh hari Musashi berada di situ. Penginapan itu telah terasa seperti rumahnya. Ia memandang ke luar, ke arah pohon di dekat gerbang depan. Bunga-bunga mesh muda menyambutnya tiap pagi semenjak ia datang. Daun bunga jatuh berserakan di lumpur.
Ketika masuk dapur, ia heran melihat anak toko sake itu duduk akrab dengan pemilik penginapan. Karena ingin tahu apa yang sedang mereka lakukan, diam-diam ia berdiri di belakang orang tua itu dan mengintip dari atas bahunya.
Jotaro menengadah ke wajah Musashi, kemudian buru-buru menyembunyikan kuas dan kertas di belakangnya. “Tidak boleh memata-matai orang macam itu,” keluhnya.
“Lihat, dong,” kata Musashi mengganggu.
“Jangan,” kata Jotaro menggeleng.
“Ayolah tunjukkan,” kata Musashi.
“Asal Kakak mau beli sake.”
“Oh, jadi itu yang kamu mainkan, ya? Baik, aku beli.”
“Lima gelas?’
“Tidak sebanyak itu yang kubutuhkan.”
“Tiga gelas?”
“Masih kebanyakan.”
“Kalau begitu, berapa? Jangan kikir, ah!”
“Kikir? Kau tahu, aku cuma pemain pedang miskin. Kaukira aku banyak uang buat dihamburkan?”
“Balk. Saya yang menakarnya sendiri nanti. Saya beri seharga uangmu. Tapi janji, Kakak mesti mendongengkan beberapa cerita.”
Tawar-menawar berakhir. Jotaro berkecipak dengan riangnya menempuh hujan.
Musashi memungut surat itu dan membacanya. Sesaat-dua saat kemudian ia menoleh kepada pemilik penginapan, dan tanyanya, “Betul-betul dia yang menulis ini?”
“Ya. Mengagumkan, ya? Kelihatannya pintar sekali anak itu.”
Sementara Musashi pergi ke sumur, mandi air dingin dan mengenakan pakaian kering, orang itu menggantungkan kuali di atas api dan mengeluarkan acar serta mangkuk nasi. Musashi kembali dan duduk dekat perapian.
“Apa pula kerja bajingan kecil itu?” gerutu pemilik penginapan. “Lama sekali dia ambil sake.”
“Berapa umur anak itu?”
“Sebelas, kalau tak salah. Pernah dikatakannya.”
“Terlalu dewasa untuk anak seusianya, bukan?”
“Mm. Mungkin karena dia bekerja di toko sake ini sejak umur tujuh tahun. Di situ dia bertemu dengan segala macam orang-kusir kereta, pembuat kertas di ujung jalan sana, para musafir, dan siapa saja.”
“Saya heran, bagaimana dia bisa menulis begitu baik.”
“Apa memang baik betul?”
“Ya, tulisannya memang ada sifat kekanakannya, tapi ada juga-apa, ya, namanya-semacam sifat terus terang yang menggugah. Sekiranya saya sedang memikirkan seorang pemain pedang, bisa saya katakan tulisan itu memperlihatkan keluasan spiritual. Anak itu nantinya bisa jadi orang.”
“Maksud Anda?”
“Maksud saya, menjadi manusia sejati.”
“Oh?” Orang tua itu pun mengerutkan kening, mengangkat tutup kuali, dan meneruskan gerutuannya. “Belum juga kembali. Saya berani bertaruh, dia lagi ngeluyur sekarang.”
Baru saja ia hendak mengenakan sandal untuk pergi mengambil sake itu sendiri, Jotaro kembali.
“Ke mana saja kamu?” tanyanya pada anak itu. “Kau bikin tamuku ini lama menunggu.”
“Saya tak bisa apa-apa. Ada pembeli datang ke toko, mabuk sekali. Saya dipegangnya erat-erat, dan ditanyai macam-macam.”
“Pertanyaan apa?”
“Dia tanya tentang Miyamoto Musashi.”
“Dan kamu mengoceh, kan?”
“Tak ada salahnya, kalaupun saya ngoceh. Semua orang di sini tahu apa yang terjadi di Kiyomizudera hari itu. Perempuan sebelah rumah dan anak tukang pernis, keduanya ada di kuil hari itu. Mereka lihat sendiri kejadiannya.”
“Tak usah lagi kamu bicara itu!” kata Musashi, hampir-hampir dengan nada memohon.
Anak yang bermata tajam itu menaksir sikap Musashi, dan tanyanya,
“Boleh saya tinggal di sini sebentar dan bicara dengan Kakak?”
Dan mulailah ia membasuh kaki dan bersiap-siap masuk kamar perapian. “Aku sih boleh saja, kalau majikanmu tidak keberatan.”
“Oh, dia tidak butuh saya sekarang.”
“Baiklah.”
“Akan saya panaskan sake Kakak. Saya mahir sekali soal itu.” Ia memasukkan guci sake ke dalam abu hangat di sekitar api, dan tak lama kemudian ia pun menyatakan sudah siap.
“Cepat, ya?” kata Musashi dengan nada menghargai.
“Kakak senang sake?”
“Ya.”
“Tapi karena miskin, saya kira Kakak tak banyak minum, ya?”
“Betul.”
“Tadinya saya mengira orang yang pintar dalam seni bela diri dapat mengabdi tuan-tuan besar dengan gaji besar. Seorang pengunjung toko pernah bilang pada saya, Tsukahara Bokuden selalu berkeliling dengan tujuh puluh atau delapan puluh pesuruh, dan mendapat penggantian kuda dan burung elang juga.”
“Itu betul.”
“Dan saya mendengar prajurit kenamaan, bernama Yagyu, yang mengabdi Keluarga Tokugawa, mempunyai pendapatan lima puluh ribu gantang padi.”
“Itu betul juga.”
“Kalau begitu, kenapa Kakak begitu miskin?”
“Aku masih belajar.”
“Mesti umur berapa dulu, sebelum Kakak punya banyak pengikut?”
“Tak tahu aku, apa akan punya pengikut.”
“Kenapa? Apa Kakak kurang pandai?”
“Kamu sudah dengar apa yang dikatakan orang yang melihatku di kuil. Bagaimana juga kamu menilainya, aku lari waktu itu.”
“Itulah yang dikatakan semua orang; kata mereka, shugyosha di penginapan itu—yaitu Kakak—orang lemah. Tapi sungguh jengkel saya mendengarkan mereka itu.” Bibir Jotaro mengatup menjadi garis lurus.
“Ha, ha! Kenapa pula kamu risau? Mereka tidak bicara tentang dirimu.”
“Yah, tapi saya kasihan pada Kakak. Kakak tahu, anak pembuat kertas, anak tukang kaleng, dan beberapa pemuda itu kadang-kadang berkumpul di belakang toko pernis buat latihan main pedang. Kenapa Kakak tidak berkelahi dengan salah seorang dari mereka dan mengalahkannya?”
“Baiklah. Kalau itu yang kaukehendaki, akan kulakukan.” Musashi merasa sukar menolak apa saja yang diminta anak itu. Sebagian karena ia sendiri dalam banyak hal masih kanak-kanak dalam hatinya, dan karena itu bersimpati kepada Jotaro. Selamanya ia mencari, sebagian besar secara tak sadar, pengganti kasih sayang keluarga yang semenjak kanak-kanak tak pernah dimilikinya.
“Mari kita bicara soal lain saja,” katanya. “Di mana kamu lahir?”
“Di Himeji.”
“Oh, jadi kamu dari Harima.”
“Ya, dan Kakak dari Mimasaka, ya? Ada orang mengatakan demikian.”
“Betul. Apa kerja ayahmu?”
“Dia dulu samurai. Samurai yang betul-betul setia pada kebaikan!”
Semula Musashi tampak kaget, tapi baginya jawaban itu telah membikin jelas beberapa persoalan, walaupun sama sekali bukan soal betapa baiknya anak itu menulis. Ia menanyakan nama ayah anak itu.
“Namanya Aoki Tanzaemon. Dulu dia punya gaji dua ribu lima ratus gantang padi, tapi ketika saya umur tujuh tahun, dia tinggalkan kerjanya dan pergi ke Kyoto sebagai ronin. Sesudah semua uangnya habis, dia tinggalkan saya di toko sake itu dan pergi ke kuil untuk menjadi biarawan. Tapi saya tak man tinggal di toko itu. Saya ingin menjadi samurai seperti ayah saya, dan saya ingin belajar main pedang seperti Kakak. Apa bukan jalan terbaik menjadi samurai?”
Anak itu berhenti, kemudian melanjutkan dengan sungguh-sungguh. “Saya ingin menjadi pengikut Kakak—keliling negeri, belajar dengan Kakak. Apa Kakak tak mau mengajak saya jadi murid?”
Selesai mengungkapkan maksudnya itu, Jotaro pun memperlihatkan wajah yang jelas-jelas mencerminkan tekadnya untuk tidak mendapat jawaban tidak. Tentu saja ia tidak tahu bahwa orang tempatnya memohon itu adalah orang yang telah menjadi sebab ayahnya mendapat kesulitan bertubi-tubi. Adapun Musashi, ia tak dapat menolak permintaan itu mentah-mentah. Namun yang benar-benar dipikirkannya bukan soal mengatakan ya atau tidak, melainkan tentang Aoki Tanzaemon dan nasibnya yang tidak beruntung. Dalam hal ini tak bisa tidak ia bersimpati pada orang itu. Jalan Samurai memang perjudian tanpa henti, dan seorang samurai harus siap sepanjang waktu untuk membunuh atau dibunuh. Memikirkan contoh perubahan hidup ini, Musashi menjadi sedih dan efek sake yang diminumnya lenyap secara tiba-tiba. Ia merasa kesepian.
Jotaro mendesak terus. Ketika pemilik penginapan mencoba menyuruhnya meninggalkan Musashi, ia menjawab secara kurang ajar, lalu melipatgandakan usahanya. Dipegangnya pergelangan tangan Musashi erat-erat, kemudian dipeluknya, dan akhirnya ia berurai air mata.
Karena tak melihat jalan lain, Musashi pun berkata, “Baiklah, baiklah, cukup. Kau boleh menjadi pengikutku, asal kau pergi dan bicara dulu dengan majikanmu.”
Karena akhirnya terpenuhi keinginannya, Jotaro lari menderap ke toko sake.
Pagi berikutnya Musashi bangun pagi-pagi, berpakaian, dan berkata kepada pemilik penginapan, “Tolong siapkan kotak makan siang untuk saya. Saya senang tinggal di sini beberapa minggu ini, tapi saya pikir saya harus terus pergi ke Nara sekarang.”
“Begitu cepat?” tanya pemilik penginapan yang tidak mengharapkan tamunya pergi begitu mendadak. “Apa karena anak itu terus mendesak Anda?”
“Oh, tidak, bukan salah dia. Saya memang sudah lama bermaksud pergi ke Nara-bertemu dengan pemain-pemain tombak terkenal di Hozoin. Saya harap dia tidak terlalu menyulitkan Bapak, kalau dia tahu saya sudah pergi.”
“Jangan kuatir. Dia masih anak-anak. Dia akan menjerit dan memiawik sebentar, kemudian akan melupakannya sama sekali.”
“Dan lagi, tak mungkin rasanya tukang sake itu akan mengizinkannya pergi,” kata Musashi ketika sudah turun ke jalan.
Badai sudah lewat, seakan-akan tersapu bersih, dan angin sepoi-sepoi mengelus kulit Musashi dengan lembut, berlainan sekali dengan angin ganas sehari sebelumnya.
Sungai Kamo naik, airnya berlumpur. Di salah satu ujung jembatan kayu di Jalan Sanjo, samurai memeriksa orang-orang yang datang dan pergi. Ketika Musashi bertanya kenapa ada inspeksi itu, ia mendapat jawaban, karena akan datang kunjungan shogun baru. Barisan depan kaum feodal berpengaruh dan juga feodal-feodal kecil sudah datang. Langkah-langkah sedang diambil untuk menyingkirkan samurai tak bertuan dan berbahaya ke luar kota. Musashi juga seorang ronin, tapi ia sudah menyiapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dan ia dibolehkan lewat.
Pengalaman memaksanya memikirkan statusnya sendiri sebagai prajurit tak bertuan yang mengembara, tak terikat ikrar kepada Tokugawa ataupun para saingannya di Osaka. Ketika berangkat ke Sekigahara dan berpihak pada pasukan Osaka melawan kaum Tokugawa, itu soal warisan. Soalnya adalah kesetiaan ayahnya yang tidak pernah berubah semenjak ia mengabdi pada Yang Dipertuan Shimmen dari Iga. Toyotomi Hideyoshi sudah meninggal dua tahun sebelum pertempuran. Para pendukungnya, yang setia kepada anaknya, membentuk fraksi Osaka. Di Miyamoto, Hideyoshi dianggap pahlawan terbesar. Musashi ingat betapa dahulu ia duduk di dekat perapian, mendengarkan cerita-cerita tentang kegagahan prajurit besar itu semasa ia kanak-kanak. Gambaran ini semakin terbentuk di masa remajanya dan terus merasuk dalam dirinya. Sekarang pun, apabila didesak untuk mengatakan pihak mana yang dipilihnya, barangkali ia akan mengatakan Osaka.
Sejak itu Musashi mulai paham, dan sekarang ia menyadari bahwa tindakan-tindakannya pada umur tujuh belas itu kurang pertimbangan dan tanpa hasil. Untuk orang yang hendak mengabdi kepada tuannya dengan setia, tidaklah cukup hanya dengan melompat membabi-buta ke tengah keributan dan mengacungkan lembing. Ia harus melewati jalan panjang menuju maut.
“Kalau seorang samurai mati sambil mengucapkan doa bagi kemenangan tuannya, berarti dia telah melakukan sesuatu yang indah dan bermakna,” demikian jalan pikiran Musashi sekarang. Tetapi pada waktu itu ia maupun Matahachi tidak memiliki rasa setia. Yang mereka hausi hanyalah kemasyhuran dan kemuliaan, atau lebih tepat lagi, usaha memperoleh penghidupan tanpa pengorbanan.
Sungguh ganjil dulu mereka dapat berpikir seperti itu. Sesudah belajar dari Takuan bahwa hidup adalah permata yang harus ditimang-timang, Musashi sadar bahwa waktu itu mereka tidak hanya menyia-nyiakan, bahkan juga tanpa pikir panjang mengorbankan milik mereka yang paling berharga. Secara harafiah mereka mempertaruhkan segala yang dipunyai, dengan harapan akan memperoleh gaji tetap yang tak berarti sebagai samurai. Merenungkan masa lalu itu ia heran, bagaimana mungkin ia bertindak demikian tolol.
Musashi melihat bahwa kini ia sudah mendekati Daigo, bagian selatan kota. Karena keringatnya mengucur, ia memutuskan untuk berhenti dan beristirahat.
Dari jauh didengarnya suara berseru-seru, “Tunggu! Tunggu!” Ketika menatap jalan gunung yang curam itu, tampaklah olehnya sosok si peri air kecil Jotaro, yang sedang berlari sekuat-kuatnya. Pandangan mata anak itu menghunjam marah ke mata Musashi.
“Kakak bohong!” seru Jotaro. “Kenapa Kakak lakukan itu!” Napasnya megap-megap karena berlari dan wajahnya merah. Ia berbicara dengan sikap bermusuhan, meski kelihatan hampir menangis.
Musashi hampir tertawa melihat pakaiannya. Anak itu membuang pakaian kerja sehari sebelumnya, dan menggantinya dengan kimono biasa. Tapi kimono itu dua kali lebih kecil dari badannya, hingga roknya hampir tak sampai lututnya dan lengannya hanya sampai siku. Pada pinggangnya tergantung pedang kayu yang lebih panjang dari tinggi badannya, dan di punggungnya tergantung topi anyaman sebesar payung.
Selagi masih berseru-seru kepada Musashi karena sudah meninggalkannya, ia berurai air mata. Maka Musashi mendekapnya dan berusaha menyenangkan hatinya, tapi anak itu terus juga rnelolong. Agaknya karena merasa bahwa di pegunungan tak ada orang, ia dapat melepaskan perasaannya.
Akhirnya Musashi berkata, “Kau senang berlaku seperti bayi cengeng?”
“Saya tak peduli!” sedan Jotaro. “Kakak orang dewasa, tapi Kakak membohongi saya. Kakak bilang mau menerima saya jadi pengikut, tapi Kakak meninggalkan saya. Apa orang dewasa memang suka begitu?”
“Maafkan aku,” kata Musashi.
Permintaan maaf yang sederhana ini mengubah tangis anak itu menjadi rengekan.
“Diam sekarang,” kata Musashi. “Aku tidak bermaksud berbohong padamu, tapi kamu kan masih ada ayah, dan kamu punya majikan? Aku tak bisa membawamu, kecuali kalau majikanmu menyetujui. Kuminta kamu pergi bicara dengannya, bukan? Kurasa waktu itu dia tak akan setuju.”
“Kenapa Kakak tidak tunggu sampai mendapat jawabannya, paling tidak?”
“Itu sebabnya aku minta maaf padamu sekarang. Apa betul kamu membicarakannya dengan dia?”
“Ya.” Jotaro mengendalikan sedu-sedannya, kemudian ia tarik dua lembar daun dari sebuah pohon. Dengan daun itu ia membuang ingusnya.
“Dan apa katanya?”
“Dia bilang saya boleh pergi.”
“Lalu?”
“Dia bilang, tak ada prajurit terhormat atau perguruan yang mau menerima anak seperti saya. Tapi karena samurai di penginapan itu orang lemah, tentunya dia orang yang tepat untuk saya. Katanya, barangkali saja Kakak dapat memakai saya untuk membawakan barang, dan dia memberi saya pedang kayu ini sebagai hadiah perpisahan.”
Musashi tersenyum mendengar jalan pikiran orang itu.
“Sudah itu,” kata anak itu melanjutkan, “saya pergi ke penginapan. Orang tua itu tak ada, jadi saya pinjam saja topinya dari sangkutannya di bawah pinggiran atap.”
“Tapi itu kan papan nama tempat itu? Di situ tertulis ‘Penginapan’.”
“Ah, biar saja. Saya butuh topi, siapa tahu hujan.”
Jelaslah dari sikap Jotaro bahwa segala janji dan sumpah yang diperlukan telah dilaksanakan. Sekarang ia menjadi murid Musashi. Merasakan hal ini, Musashi terpaksa menerima kenyataan bahwa ia kurang-lebih sudah terikat pada anak itu. Tapi terpikir juga olehnya bahwa ini semua demi kebaikan. Memang, ketika ia merenungkan peranannya sendiri dalam peristiwa hilangnya status Tanzaemon, ia menyimpulkan bahwa barangkali ia mesti berterima kasih atas kesempatan yang diperolehnya untuk membentuk masa depan anak ini. Itulah agaknya yang harus dilakukannya.
Sesudah tenang dan tenteram, Jotaro tiba-tiba ingat akan sesuatu dan merogoh kimononya. “Saya hampir lupa. Ada sesuatu untuk Kakak. Ini dia.” ia mengeluarkan sepucuk surat.
Memandang surat itu dengan rasa ingin tahu, Musashi bertanya, “Di mana kamu mendapatkannya?”‘
“Kakak ingat, tadi malam saya bilang ada seorang ronin minum di toko, dan mengajukan banyak pertanyaan.”
“Ya.”
“Waktu saya pulang, dia masih ada di sana. Dia terus juga bertanya tentang Kakak. Dia tukang minum juga-satu botol penuh sake diminumnya sendiri! Kemudian dia menulis surat ini dan minta saya memberikannya pada Kakak.”
Musashi menelengkan kepala keheranan, lalu membuka meterai surat tersebut. Mula-mula ia melihat bagian bawahnya, dan tahulah ia bahwa surat itu dari Matahachi yang memang dalam keadaan mabuk. Huruf-hurufnya pun tampak agak mabuk. Membaca gulungan itu, Musashi tercengkeram nostalgia dan kesedihan menjadi satu. Tidak saja karena tulisan itu kalut, tapi juga karena pesan yang disampaikannya pun melantur dan tidak pasti.

Sejak meninggalkanmu di Gunung Ibuki, aku tak lupa desa kita. Dan tak lupa aku pada teman lamaku. Kebetulan kudengar namamu di Perguruan Yoshioka. Waktu itu aku bingung dan tak bisa memutuskan, apa aku harus menjumpaimu. Sekarang aku di toko sake. Aku banyak minum.

Sampai di situ maknanya cukup jelas, tapi mulai dari situ surat itu sukar diikuti maksudnya.
IZRO'IL
Musashi II (Air)

Musashi II 4


Semenjak berpisah denganmu, aku terkurung dalam sangkar nafsu, dan kemalasan memakan tulangku. Lima tahun lamanya aku menghabiskan waktu dalam keadaan setengah sadar, tanpa melakukan sesuatu. Di ibu kota, kau sekarang terkenal sebagai pemain pedang. Aku minum untukmu! Beberapa orang mengatakan Musashi pengecut, bisanya cuma lari. Beberapa lagi bilang kau pemain pedang yang tak ada tandingannya. Tak peduli aku mana yang benar. Aku cuma senang bahwa pedangmu sudah bikin orang ibu kota bicara tentangmu. Kau cakap. Kau mesti bisa menempuh jalanmu lewat pedang. Tapi kalau aku menoleh ke belakang, aku heran dengan diriku, seperti sekarang ini. Aku memang orang sinting! Bagaimana mungkin orang sial macam aku ini bertemu dengan teman bijaksana seperti kamu tanpa mati karena malu?
Tapi nanti dulu! Hidup ini panjang, dan terlalu dini sekarang untuk dikatakan apa yang akan terjadi di masa depan. Aku tak ingin bertemu denganmu sekarang, tapi akan tiba waktunya, aku mau bertemu.
Aku berdoa untuk kesehatanmu.

Kemudian menyusul tambahan yang ditulis cepat bagai cakar ayam, yang isinya panjang-lebar, memberitakan kepadanya bahwa Perguruan Yoshioka memandang sangat serius kejadian yang baru lalu itu, dan bahwa mereka sedang mencarinya ke mana-mana; karena itu ia mesti hati-hati dengan tindakannya. Tambahan itu berakhir dengan: Kau tak boleh mati sekarang, karena kau baru mulai menciptakan nama. Kalau nanti aku pun sudah melakukan sesuatu untuk diriku, ingin aku bertemu denganmu dan bicara tentang masa lalu. Jagalah dirimu, tetaplah hidup, supaya kau bisa mengilhami diriku.
Tidak sangsi lagi Matahachi punya maksud baik, tapi ada sesuatu yang tak beres dengan sikapnya. Kenapa ia mesti menyanjung Musashi sedemikian rupa dan berikutnya bicara sedemikian rupa tentang kegagalan-kegagalan sendiri? “Yah,” Musashi heran, “apa tak bisa dia sekadar menulis bahwa sudah lama waktu berlalu, dan kenapa kita tidak bertemu dan ngobrol sepuasnya?”
“Jo, apa kau menanyakan alamat orang ini?”
“Tidak.”
“Apa dia sering datang ke sana?”
“Tidak, ini yang pertama kali.”
Terpikir oleh Musashi bahwa kalau ia tahu di mana Matahachi tinggal, pasti ia akan kembali ke Kyoto sekarang juga untuk bertemu dengannya. Ingin ia bicara dengan kawan masa kecilnya itu, mencoba menyadarkannya, membangkitkan kembali semangat yang pernah dimilikinya. Karena ia masih menganggap Matahachi sebagai temannya, ingin ia menariknya keluar dari suasana hatinya yang sekarang, yang jelas cenderung menghancurkan diri sendiri. Tentu saja ia juga ingin Matahachi menjelaskan kepada ibunya betapa salah perbuatan ibunya itu.
Kedua orang itu berjalan terus dalam diam. Mereka menuruni Gunung Daigo. Persimpangan Rokujizo sudah tampak di bawah mereka.
Mendadak Musashi menoleh kepada anak itu, clan katanya, “Jo, aku mau minta tolong.”
“Apa?”
“Menyampaikan pesanku.”
“Ke mana?”
“Kyoto.”
“Itu berarti balik kanan dan kembali ke tempat yang baru saja saya tinggalkan.”
“Betul. Aku ingin kamu menyampaikan suratku kepada Perguruan Yoshioka di Jalan Shijo.”
Dengan kecewa Jotaro menendang batu dengan jari kakinya.
“Tak mau, ya?” tanya Musashi sambil menatap anak itu.
Jotaro menggelengkan kepala tak menentu. “Saya tidak keberatan, tapi apa Kakak menyuruh saya ini buat menyingkirkan saya?”
Kecurigaan anak itu membuat Musashi merasa bersalah, karena bukankah ia sendiri yang telah menghilangkan kepercayaan itu pada orang dewasa?
“Tidak!” katanya tegas. “Seorang samurai tidak berbohong. Maafkan aku atas kejadian pagi tadi. Itu cuma kesalahan.”
“Baik, saya pergi.”
Mereka masuk warung teh di persimpangan yang dikenal dengan nama Rokuamida, memesan teh, dan makan siang. Kemudian Musashi menulis surat yang dialamatkan kepada Yoshioka Seijuro:

Saya mendapat kabar bahwa Anda dan murid-murid Anda sedang mencari saya. Sekarang saya berada di jalan raya Yamato, karena saya bermaksud mengadakan perjalanan keliling di kawasan Iga dan Ise sekitar setahun lamanya untuk melanjutkan pelajaran saya dalam ilmu pedang. Saya tak ingin mengubah rencana waktu ini, tapi karena saya sama kecewanya dengan Anda berhubung tidak dapat bertemu dengan Anda selama kunjungan saya ke perguruan Anda, maka ingin saya memberitahukan bahwa saya pasti akan kembali ke ibu kota pada bulan pertama atau kedua tahun depan. Dari sekarang sampai waktu itu saya berharap akan dapat memperbaiki teknik saya sebaik-baiknya. Saya percaya Anda sendiri tak akan mengabaikan latihan Anda. Akan merupakan aib besar jika Perguruan Yoshioka Kempo yang sedang mekar itu harus menderita kekalahan kedua seperti kekalahan di waktu lalu. Sebagai penutup, saya sampaikan harapan penuh hormat agar Anda selalu dalam keadaan sehat walafiat.
Shimmen Miyamoto Musashi Masana.


Surat itu memang sopan, namun jelas nampak keyakinan Musashi pada diri sendiri. Sesudah mengubah alamat surat itu agar tidak hanya mencakup Seijuro saja, melainkan juga semua murid di sekolah itu, ia letakkan kuasnya dan ia serahkan surat itu kepada Jotaro.
“Apa bisa saya masukkan saja surat ini di perguruan itu, lalu pergi?” tanya anak itu.
“Tidak. Kamu mesti menyapa dulu di pintu depan, lalu menyerahkan surat itu langsung kepada pembantu di sana.”
“Baik.”
“Ada hal lain lagi yang harus kamu lakukan, tapi barangkali agak sukar.” “Apa?”
“Apakah kamu dapat menemukan orang yang memberikan surat padamu itu? Namanya Hon’iden Matahachi. Dia teman lamaku.”
“Oh, itu sama sekali tidak sukar.”
“Betul? Bagaimana caramu?”
“Ah, saya tanyakan saja di semua toko minuman.”
Musashi tertawa. “Boleh juga pikiranmu itu. Tapi menurut surat Matahachi itu, dia kenal orang di Perguruan Yoshioka. Kupikir lebih cepat kalau tanya tentang dia di sana.”
“Apa yang harus saya lakukan kalau sudah menemukan dia?”
“Aku ingin kamu menyampaikan pesan. Katakan padanya, dari hari pertama sampai hari ketujuh tahun baru nanti, tiap pagi aku akan ke jembatan besar di Jalan Gojo menantikan dia. Suruh dia datang menemuiku pada salah satu hari itu.”
“Cuma itu?”
“Ya, tapi sampaikan juga kepadanya bahwa aku ingin sekali bertemu dengannya.”
“Baik, saya mengerti. Lalu Kakak ada di mana, kalau saya kembali nanti?” “Kuterangkan sekarang. Kalau nanti aku sampai Nara, akan kuatur supaya kamu dapat mengetahui tempatku dengan bertanya di Hozoin. Hozoin adalah kuil terkenal karena permainan lembingnya.”
“Sungguh?”
“Ha, ha! Kamu masih curiga, ya? Jangan kuatir. Kalau aku tidak memenuhi janjiku kali ini, boleh kamu memotong kepalaku.”
Musashi masih juga tertawa ketika meninggalkan warung teh. la berangkat menuju Nara, sedangkan Jotaro ke arah yang berlawanan, ke arah Kyoto.
Di persimpangan jalan itu bercampur aduk orang banyak yang mengenakan topi anyaman, burung layang-layang, dan kuda-kuda meringkik. Sementara melintasi gerombolan orang banyak itu, Jotaro menoleh ke belakang dan melihat Musashi masih berdiri di tempat semula dan memperhatikannya. Mereka tersenyum dari jauh sebagai tanda perpisahan, lalu masing-masing menempuh jalannya sendiri.
Angin Musim Semi
DI tepi Sungai Takase, Akemi mencuci sepotong kain sambil menyanyikan lagu yang dipelajarinya di Kabuki Okuni. Setiap kali ia menarik kain berpola kembang itu, tercipta bayangan bunga ceri yang terbang berputar-putar.
Angin cinta
Menyentak-nyentak lengan kimonoku.
Oh, lengan jadi terasa berat!
Apakah angin cinta itu berat?
Jotaro berdiri di atas tanggul. Matanya yang lincah mengamati pemandangan, dan ia tersenyum ramah, dan ia tersenyum ramah. “Bagus nyanyinya, Bi,” serunya.
“Apa?” tanya Akemi. Ia memandang anak yang seperti orang cebol mengenakan pedang kayu panjang dan topi anyaman besar itu.
“Kamu siapa?” tanyanya. “Dan apa maksudmu memanggilku Bibi? Aku masih muda!”
“Baik, gadis manis! Bagaimana kalau begitu?”
“Diam kamu!” kata Akemi tertawa. “Kau masih terlalu kecil buat merayu. Lebih baik kau buang ingusmu.”
“Saya cuma mau tanya sedikit.”
“Oh, oh!” teriak Akemi ketakutan. “Kainku!”
“Sebentar saya ambilkan.”
Jotaro mengejar kain itu dari tepi sungai, kemudian memancingnya dari air dengan pedangnya. Paling tidak, pedang ini bisa dipakai buat keadaan seperti ini, demikian pikirnya. Akemi mengucapkan terima kasih, lalu bertanya, apa yang hendak ditanyakan Jotaro.
“Apa ada warung teh di sekitar sini yang namanya Yomogi?”
Oh, ya, itu rumahku, di sana itu.”
“Oh, senang sekali aku mendengarnya! Lama sekali aku mencarinya.”
“Kenapa? Kamu datang dari mana?”
“Dari jalan itu,” jawab Jotaro sambil menuding tak jelas.
“Dari mana itu kira-kira?”
Jotaro ragu-ragu. “Aku sendiri tidak begitu yakin.”
Akemi terkikik. “Tak apalah. Tapi kenapa kamu tertarik pada warung teh kami?”
“Saya mencari orang yang namanya Hon’iden Matahachi. Orang Perguruan Yoshioka bilang, kalau saya pergi ke Yomogi, saya akan menemukannya.”
“Dia tidak di situ.”
“Bohong!”
“Tidak. Betul. Dulu dia memang tinggal dengan kami, tapi dia sudah pergi beberapa waktu lalu.”
“Ke mana?”
“Aku tidak tahu.”
“Tapi orang serumahmu pasti ada yang tahu.”
“Tidak. Ibuku juga tidak tahu. Dia minggat.”
“Oh.” Anak itu memerosotkan badannya dan menatap air dengan gelisah. “Sekarang apa yang mesti kulakukan?” keluhnya.
“Siapa yang menyuruhmu kemari?”
“Guruku.”
“Siapa gurumu?”
“Namanya Miyamoto Musashi.”
“Apa kamu membawa surat?”
“Tidak,” kata Jotaro sambil menggeleng.
“Bagus sekali kamu jadi suruhan! Tak tahu dari mana datang, dan tidak membawa surat pula.”
“Tapi saya membawa pesan.”
“Pesan apa itu? Barangkali orang itu tak akan kembali lagi, tapi kalau dia kembali akan kusampaikan pesanmu itu.”
“Saya kira tak boleh saya mengatakannya. Ya, kan?”
“Jangan tanya aku. Putuskan olehmu sendiri.”
“Kalau begitu, barangkali juga boleh. Dia bilang ingin sekali bertemu dengan Matahachi. Dia minta saya menyampaikan pada Matahachi bahwa dia akan menanti di jembatan besar Jalan Gojo tiap pagi, dari hari pertama sampai hari ketujuh tahun baru nanti. Matahachi mesti menjumpai dia di sana, di salah satu hari itu.”
Akemi pecah ketawanya, tak dapat dikendalikan lagi. “Tak pernah aku mendengar pesan seperti itu! Jadi, maksudmu, sekarang dia mengirim pesan, minta Matahachi menjumpainya tahun depan? Gurumu itu mestinya sama anehnya dengan kamu! Ha, Ha!”
Sikap mencemooh tampak pada wajah Jotaro, dan bahunya tegang karena marah. “Apanya yang lucu?”
Akhirnya Akemi berhasil menghentikan tawanya. “Jadi, sekarang kamu marah, ya?”
“Tentu saja. Saya minta tolong dengan sopan, tapi kamu ketawa seperti orang gila.”
“Maaf, aku betul-betul minta maaf. Aku tak akan ketawa lagi. Dan kalau Matahachi kembali, akan kusampaikan pesan itu kepadanya.
“Janji?”
“Ya, aku bersumpah.” Sambil menggigit bibir untuk menghindari senyum, Akemi bertanya, “Siapa namanya tadi? Orang yang menyuruhmu menyampaikan pesan itu?”
“Ingatanmu tidak begitu baik rupanya. Namanya Miyamoto Musashi.”
“Bagaimana kamu menuliskan Musashi itu?” Jotaro mengambil bilah bambu, lalu mengguratkan dua huruf di pasir.
“Lho, itu huruf-huruf yang bunyinya Takezo!” ucap Akemi.
“Namanya bukan Takezo, tapi Musashi.”
“Ya, tapi bisa juga dibaca Takezo.”
“Kamu keras kepala rupanya, ya?” decap Jotaro sambil melemparkan bilah bambu itu ke sungai.
Akemi menatap tajam-tajam huruf-huruf di pasir itu, dan tenggelam dalam renungan. Akhirnya ia menengadah memandang Jotaro, mengamat-amatinya dari kepala sampai jari kaki, lalu tanyanya dengan suara lembut,
“Apa ini bukan Musashi dari daerah Yoshino di Mimasaka?”
“Ya. Saya dari Harima. Dia dari Kampung Miyamoto di Provinsi Mimasaka, tak jauh dari sana.”
“Apa orangnya tinggi, kelihatan jantan? Dan apa bagian atas kepalanya tidak dicukur?”
“Ya. Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Aku ingat dia pernah cerita, ketika masih kecil dia bisulan di puncak kepalanya. Kalau dia mencukurnya seperti biasa dilakukan samurai, akan kelihatan bekas lukanya yang buruk.”
“Pernah cerita? Kapan?”
“Oh, sudah lima tahun lalu.”
“Jadi, kamu sudah begitu lama kenal guru saya?”
Akemi tidak menjawab. Kenangan hari-hari itu membangkitkan kenikmatan di dalam hatinya, hingga bicara pun jadi sukar. Yakin dari berita kecil vang disampaikan anak itu bahwa Musashi adalah Takezo, ia jadi tercengkeram hasrat untuk bertemu Musashi kembali. Ia sudah melihat cara hidup ibunya, dan ia juga sudah melihat Matahachi semakin memburuk perkembangannya. Sejak semula ia lebih menyukai Takezo. Dan semenjak itu semakin yakin ia akan benarnya pilihan atas Takezo. Ia gembira karena masih sendiri. Takezo. Ia begitu lain dari Matahachi.
Sering kali ia mengambil sikap tidak menghanyutkan diri dengan para leaki yang selalu minum di warung tehnya. Ia mencemooh mereka dan terus berpegang teguh pada gambarannya tentang Takezo. Jauh di lubuk hatinya ia selalu bermimpi akan menemukan Takezo kembali. Takezo, hanya Takezo-lah kekasih di dalam hatinya, ketika ia menyanyikan lagu-lagu cinta untuk dirinya sendiri.
Karena tugasnya selesai, Jotaro berkata, “Nah, lebih baik saya pergi sekarang. Kalau kamu bertemu dengan Matahachi, betul-betullah sampaikan apa yang sudah saya katakan tadi.” Ia pergi, menderap sepanjang puncak tanggul sempit itu.
Kereta sapi itu penuh bermuatan karung-karung yang barangkali berisi betas, kacang merah, atau hasil bumi setempat yang lain. Di puncak tumpukan ada tulisan yang menyatakan bahwa barang itu sumbangan kaum Budhis yang setia untuk Kofukuji yang agung di Nara. Jotaro kenal kuil itu karena namanya identik dengan Nara.
Wajah Jotaro menyala menyatakan kegembiraan kanak-kanaknya. Dikejarnya kendaraan itu, lalu naiklah ia ke atasnya. Jika ia menghadap ke belakang, masih ada cukup ruangan untuk duduk. Dan sebagai tambahan kenikmatan, ada pula karung-karung buat bersandar.
Di kiri-kanan jalan, bukit-bukit landai terselimut barisan semak teh yang rapi. Pohon-pohon ceri mulai berbunga, dan para petani sudah membajak gerst-sejenis gandum. Mereka pasti berharap agar tahun itu ladang terhindar dari pijakan para serdadu dan kuda. Perempuan-perempuan berlutut di pinggir kali, mencuci sayur-sayuran. Jalan raya Yamato terasa damai.
“Untung sekali!” pikir Jotaro sambil bersandar dan bersantai. Karena enaknya tempat itu, ia selalu tergoda untuk tidur, tapi ia harus berpikir dua kali. Karena takut kereta akan sampai di Nara selagi ia masih tidur, maka ia merasa bersyukur setiap roda kereta menggilas batu dan berguncang. Itu membantu matanya tetap terbuka. Tak ada yang lebih menyenangkan baginya daripada berjalan terus seperti ini menuju tujuannya.
Di luar sebuah kampung, Jotaro dengan malas meraih dan memetik selembar daun dari pohon kamelia. Diletakkannya daun itu di atas lidahnya dan mulailah ia menyiulkan sebuah lagu.
Kusir kereta menoleh ke belakang, tapi tidak melihat apa-apa. Karena siulan terus juga berbunyi, ia menoleh ke kiri, kemudian ke kanan, dan berkali-kali lagi. Akhirnya dihentikannya kereta, dan pergilah ia memutar ke belakang. Melihat Jotaro, ia marah bukan kepalang. Pukulan tinju yang dijatuhkannya demikian keras, hingga anak itu berteriak kesakitan.
“Apa kerjamu di sini?” gertaknya.
“Tak apa-apa, kan?”
“Enak saja kau!”
“Kenapa? Bapak kan tidak menariknya sendiri?”
“Oh, bajingan kurang ajar kamu!” seru tukang kereta sambil melontarkan Joraro ke tanah, seperti bola. Jotaro terpelanting dan kemudian terguling ke pangkal sebatang pohon. Kereta berjalan kembali, bunyi rodanya gemeretak, seakan-akan menertawakannya.
Ketika Jotaro sadar kembali, ia mulai mencari-cari dengan teliti di tanah sekitarnya. Ia sadar tabung bambu berisi jawaban dari Perguruan Yoshioka untuk Musashi hilang. Tadi barang itu Ia gantungkan di leher dengan seutas tali, tapi sekarang lenyap.
Ketika anak itu sangat kebingungan dan sedikit demi sedikit melebarkan wilayah pencariannya, seorang perempuan muda berpakaian perjalanan berhenti memperhatikannya; ia bertanya, “Kamu kehilangan sesuatu, ya?”
Jotaro memandang wajahnya yang sebagian tertutup topi bertepi lebar, mengangguk, dan kembali mencari.
“Kamu kehilangan uang?”
Karena terlampau asyik, Jotaro tidak begitu memperhatikan pertanyaan itu, dan hanya memperdengarkan gerutuan tak senang.
“Apa tabung bambu yang panjangnya kira-kira satu kaki dan bertali?” Jotaro tersentak. “Ya! Bagaimana Kakak bisa tahu?”
“Jadi, kamulah yang diteriak-teriaki kusir-kusir dekat Mampukuji tadi, karena mengganggu kuda mereka!”
“Ah-h-h… ya “
“Waktu kamu ketakutan dan lari, tali itu tentunya putus. Tabung itu jatuh di jalan, dan samurai yang sedang bicara dengan kusir-kusir tadi itu mengambilnya. Lebih baik kamu kembali menanyakan kepadanya.”
“Betul begitu?”
“Tentu.”
“Terima kasih.”
Tapi baru saja ia hendak berlari, perempuan muda itu memanggilnya. “Tunggu! Tak perlu kamu kembali ke sana. Kulihat samurai itu berjalan kemari. Itu, yang memakai hakama lapangan.” Ia menuding orang itu.
Jotaro berhenti dan menanti dengan mata terbuka lebar.
Samurai itu seorang lelaki yang mengesankan, berumur sekitar empat puluh tahun. Segala sesuatu yang ada padanya sedikit lebih besar dan yang biasa-tingginya, jenggotnya yang hitam legam, bahunya yang lebar, dadanya yang padat. la mengenakan kaus kaki kulit dan sandal jerami, dan apabila berjalan langkah-langkahnya yang mantap seakan memadatkan tanah. Dari pandangan sekilas, Jotaro merasa pasti bahwa orang itu prajurit besar yang mengabdi kepada salah seorang daimyo yang sangat penting, dan ia takut menyapanya.
Untunglah samurai itu yang bicara dulu memanggilnya. “Apa bukan kamu anak nakal yang menjatuhkan tabung bambu ini di depan Mampukuji?” tanvanva.
“Oh, betul! Tuan menemukannya!”
“Apa tak bisa kamu mengucapkan terima kasih?”
“Maaf. Terima kasih, Tuan!”
“Aku yakin ada surat penting di dalamnya. Kalau tuanmu menyuruh kamu, jangan kamu berhenti sepanjang jalan mengganggu kuda, membonceng-bonceng, atau bermalas-malas di pinggir jalan.”
“Ya, Tuan. Apa Tuan melihat isinya?”
“Sudah sewajarnya, kalau kita menemukan sesuatu, kita memeriksanya dan mengembalikannya kepada pemiliknya, tapi aku tidak merusak meterai surat itu. Sekarang, sesudah barang itu di tanganmu lagi, coba periksa dan lihat, apa masih baik keadaannya.”
Jotaro membuka tutup tabung dan melihat ke dalamnya. Puas karena surat itu masih ada, digantungkannya tabung itu kembali ke lehernya, dan ia bersumpah tak akan melepaskannya untuk kedua kali.
Perempuan muda itu tampak sama puasnya dengan Jotaro.
“Baik sekali Tuan telah menemukan barang itu,” katanya kepada si samurai, untuk memperbaiki sikap Jotaro yang tidak mampu menyatakan terima kasih dengan baik.
Samurai berjenggot itu mulai berjalan lagi bersama mereka berdua. “Apa anak itu bersamamu?” tanyanya kepada perempuan itu.
“Oh, tidak. Belum pernah saya bertemu dengan dia.”
Samurai itu tertawa. “Kupikir tadi kamu dan dia pasangan yang agak aneh. Anak itu seperti setan kecil yang lucu; apalagi ada kata ‘Penginapan’ pada topinya.”
“Barangkali kepolosan kanak-kanaknya itu yang membuat dia begitu menarik. Saya suka dia juga.” Sambil menoleh kepada Jotaro, ia bertanya, “Mau ke mana kamu?”
Karena berjalan bersama kedua orang itu, semangat Jotaro naik lagi. “Saya akan pergi ke Nara, ke Kuil Hozoin.” Sebuah benda panjang sempit yang terbungkus kain brokat emas dan tersimpan dalam obi gadis itu menarik perhatiannya. Sambil memperhatikannya, ia berkata, “Saya lihat Kakak membawa tabung surat juga. Hati-hati, jangan Kakak hilangkan.”
“Tabung surat? Apa maksudmu?”
“Itu, dalam obi Kakak.”
Gadis itu pun tertawa. “Ini bukan tabung surat, tolol! Ini suling.”
“Suling?” Dengan mata menyala-nyala karena rasa ingin tahu, tanpa malu-malu Jotaro melongokkan kepala ke pinggang gadis itu untuk memeriksa benda tersebut. Tiba-tiba suatu perasaan aneh datang kepadanya. Ia mundur dan seperti mengamat-amati gadis itu.
Anak-anak pun mempunyai selera terhadap kecantikan wanita, atau setidak-tidaknya mengerti secara naluriah, apakah wanita itu murni atau tidak. Jotaro terkesan sekali akan kecantikan gadis itu, dan ia menghargainya. Terasa olehnya sebagai keberuntungan tak terukir bahwa sekarang ia berjalan bersama orang yang begitu molek. Hatinya pun berdentum, dan ia merasa pusing.
“Oh. Suling… Apa Bibi bisa main suling?” tanyanya. Kemudian, karena ingat akan reaksi Akemi terhadap kata “Bibi” itu, ia cepat-cepat mengubah pertanyaannya, “Siapa nama Kakak?”
Gadis itu tertawa dan melemparkan pandangan senang kepada si samurai lewat kepala anak itu. Prajurit yang seperti beruang itu ikut tertawa, memperlihatkan barisan giginya yang putih kuat di belakang jenggotnya.
“Kamu anak baik, kan? Kalau kamu ingin tahu nama orang lain, yang sopan adalah kamu menyebutkan dulu namamu.”
“Nama saya Jotaro.”
Jawaban ini menimbulkan ketawa lebih banyak lagi.
“Itu tidak adil!” teriak Jotaro. “Tuan menyuruh saya menyebutkan nama saya, tapi saya belum tahu nama Tuan. Siapa nama Tuan?”
“Namaku Shoda,” kata samurai itu.
“Itu tentunya nama keluarga. Lalu nama Tuan yang lain apa?”
“Terpaksa aku minta diizinkan hanya menyebut nama itu.”
Dengan berani Jotaro menoleh kepada gadis itu, dan katanya, “Sekarang giliran Kakak. Kami sudah menyebutkan nama kami. Kurang sopan kalau Kakak tidak menyebutkan nama Kakak.”
“Nama saya Otsu.”
“Otsu?” Jotaro mengulang. la kelihatan puas sebentar, tapi kemudian mengoceh lagi. “Kenapa ke mana-mana Kakak menyimpan suling dalam obi?”
“Oh, aku butuh suling ini buat mencari makan.”
“Jadi, Kakak ini pemain suling?”
“Sebetulnya aku tidak yakin apa ada pemain suling profesional, tapi uang yang kudapat dengan main suling ini bisa buat melakukan perjalanan-perjalanan jauh macam ini. Bolehlah kamu menyebut itu pekerjaanku.”
“Apa musik yang Kakak mainkan seperti musik yang sudah saya dengar di Gion dan Kuil Kamo? Musik untuk tari-tarian suci?”
“Tidak.”
“Apa musik buat jenis tarian yang lain-misalnya Kabuki?”
“Tidak.”
“Kalau begitu, musik jenis apa?”
“Oh, lagu-lagu biasa saja.”
Sementara itu si samurai bertanya-tanya dalam hati mengenai pedang kayu panjang milik Jotaro itu. “Apa yang kamu pasang di pinggangmu itu?” tanyanya.
“Apa Tuan tak kenal pedang kayu kalau Tuan melihatnya? Saya pikir Tuan ini samurai.”
“Ya, aku memang samurai. Cuma aku heran melihat pedang begitu kamu bawa. Kenapa kamu membawanya?”
“Saya mau belajar ilmu pedang.”
“Oh, jadi kamu belajar sekarang? Apa kamu sudah punya guru?”
“Punya.”
“Apa dia yang akan menerima surat itu?” „
Ya. “
“Kalau dia itu gurumu, tentunya dia ahli yang sejati.”
“Dia sama sekali tidak sebaik itu.”
“Apa maksudmu?”
“Semua orang bilang dia lemah.”
“Apa kamu tidak keberatan punya guru lemah?”
“Tidak. Saya juga tidak pandai main pedang, jadi tak ada bedanya.”
Samurai itu hampir tak dapat menahan rasa geli. Mulutnya menggetar, seakan hendak pecah menjadi senyuman, tetapi matanya tetap muram. “Apa kamu sudah mempelajari beberapa teknik?”
“Belum bisa dikatakan begitu. Saya belum lagi belajar apa-apa.”
Tawa samurai itu pun akhirnya pecah berderai-derai, “Bicara dengan kamu ini bikin jalan lebih pendek. Lalu, Nona sendiri man pergi ke mana?”
“Ke Nara, tapi tepatnya Nara bagian mana, saya belum tahu. Ada seorang ronin yang sudah sekitar satu tahun saya cari, dan karena menurut pendengaran saya banyak ronin berkumpul di Nara sekarang ini, saya punya rencana ke sana, walaupun saya akui, tidak banyak berita yang terdengar.”
Jembatan Uji mulai tampak. Di bawah tepi atap sebuah warung teh, seorang tua yang sangat sopan memegang sebuah ketel teh besar. Ia sedang melayani para langganan yang duduk berkeliling di bangku. Melihat Shoda, ia menyalaminya dengan hangat, “Senang sekali bertemu dengan anggota Keluarga Yagyu!” serunya. “Silakan masuk, silakan!”
“Kami mau istirahat sebentar di sini. Bisa sediakan kue manis buat anak ini?”
Jotaro tetap berdiri, sementara teman-temannya duduk. Baginya duduk dan beristirahat itu membosankan. Begitu kue datang, ia segera mengambilnya dan larilah ia ke bukit rendah di belakang warung teh.
Sambil menghirup teh, Otsu bertanya kepada orang tua itu. “Apa Nara masih jauh dari sini?”
“Masih. Orang yang cepat jalannya pun barangkali takkan sampai lebih jauh dari Kizu sebelum matahari terbenam. Anak perempuan seperti Anda mesti menginap di Taga atau Ide.”
Shoda pun segera menyambung. “Nona ini sudah beberapa bulan mencari seseorang. Tapi terpikir juga oleh saya, apa menurut Bapak cukup aman hari-hari ini, kalau seorang wanita muda mengadakan perjalanan sendiri ke Nara, sedangkan dia belum tahu akan menginap di mana?”
Mendengar pertanyaan itu, orang tua itu membelalakkan matanya. “Oh, bahkan bermaksud saja jangan!” katanya pasti. Sambil menoleh ke Otsu, ia mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah, dlan katanya, “Lupakan keinginan itu sama sekali. Kalau Nona yakin ada teman untuk tinggal di sana, itu lain soal. Kalau tidak, Nara bisa jadi tempat yang sangat berbahaya.”
Pemilik warung menuangkan secangkir teh untuk diri sendiri, lalu bercerita kepada mereka mengenai apa yang diketahuinya tentang keadaan Nara. Rupanya kebanyakan orang mendapat kesan bahwa ibu kota lama itu tempat yang tenang, damai, di mana banyak kuil berwarna-warni dan rusarusa jinak-sebuah tempat yang tidak terganggu oleh perang atau kelaparan. Padahal kenyataannya kota itu tidak lagi seperti itu. Sesudah Pertempuran Sekigahara, tak tahulah orang, berapa banyak ronin dari pihak yang kalah telah datang bersembunyi di sana. Kebanyakan anggota partisan Osaka dari Tentara Barat dan Osaka, samurai-samurai yang kini tak punya penghasilan dan sedikit saja punya harapan akan memperoleh pekerjaan lain. Dengan semakin berkembangnya kekuasaan ke-shogun-an Tokugawa dari tahun ke tahun, disangsikan apakah para pelarian itu akan dapat lagi memperoleh penghidupan terang-terangan dengan pedangnya.
Menurut perkiraan kebanyakan orang, 120.000 atau 130.000 orang samurai kehilangan jabatannya. Sebagai pemenang, orang-orang Tokugawa menyita tanah-tanah milik yang seluruhnya menghasilkan 33 juta gantang padi tiap tahun. Walau jika dihitung juga tuan-tuan tanah feodal yang semenjak itu diizinkan menetap kembali dengan gaya yang lebih sederhana, maka setidak-tidaknya ada delapan puluh daimyo dengan penghasilan seluruhnya sekitar dua puluh juta gantang yang telah dicabut hak miliknya. Kalau dihitung untuk setiap lima ratus gantang padi ada tiga samurai yang telah dihentikan dari tempat kerjanya dan dipaksa bersembunyi di berbagai provinsi lain-terhitung keluarga dan pesuruhnya-maka jumlah mereka seluruhnya tidak akan kurang dari 100.000 orang.
Wilayah sekitar Nara dan Gunung Koya penuh kuil, karena itu sukar bagi angkatan bersenjata Tokugawa untuk mengadakan perondaan. Juga, karena merupakan tempat sembunyi yang ideal, para pelarian berbondongbondong bergerak ke sana.
“Misalnya,” kata orang tua itu, “Sanada Yukimura yang terkenal itu bersembunyi di Gunung Kudo, lalu Sengoku Soya kabarnya berada di luar Horyuji, dan Ban Dan’emon di Kofukuji. Banyak lagi yang dapat saya sebutkan.” Semua itu orang-orang yang punya nama, orang-orang yang akan dibunuh dengan seketika kalau mereka menunjukkan diri. Satu-satunya harapan mereka untuk masa depan adalah kalau perang pecah lagi.
Menurut pendapat orang tua itu, keadaan tidak begitu jelek kalau hanya para ronin terkenal itu yang menyembunyikan diri, karena mereka semua sedikit banyak punya prestise dan dapat hidup sendiri dengan keluarganya. Tetapi yang mempersulit keadaan adalah para samurai miskin yang berkeliaran di jalan-jalan belakang kota; keadaan mereka demikian sulit, hingga kalau bisa pedang pun akan mereka jual. Setengahnya lalu mulai berkelahi, berjudi, atau mengganggu ketenteraman, dengan harapan kerusakan yang mereka datangkan itu akan membuat angkatan bersenjata Osaka bangkit dan mengangkat senjata. Kota Nara yang dahulu tenang itu kini berubah menjadi sarang penjahat nekat. Untuk gadis manis seperti Otsu, pergi ke sana sama halnya dengan menuangkan minyak ke kimono dan menceburkan dirt ke dalam api. Tergerak oleh ceritanya sendiri, pemilik warung teh menutup ceritanya dengan minta amat sangat pada Otsu untuk mengubah maksudnya.
Otsu kini merasa ragu-ragu dan duduk diam sebentar. Kalau sekiranya ada sedikit saja petunjuk bahwa Musashi kemungkinan berada di Nara, tak akan ia berpikir panjang mengenai bahayanya. Tapi sayangnya la betul-betul tak punya alasan untuk terus. la sekadar berjalan ke arah Nara-tak ada bedanya dengan pengembaraannya ke berbagai tempat lain, semenjak Musashi meninggalkannya di Jembatan Himeji.
Melihat kebingungan pada wajahnya, Shoda berkata, “Tadi kaubilang namamu Otsu, bukan?”
“Ya.”
“Nah, Otsu, aku memang ragu-ragu mengatakan ini, tapi kenapa tidak kau batalkan saja maksudmu pergi ke Nara itu, dan sebagai gantinya kau pergi denganku ke tanah Koyagyu?” Karena merasa wajib memberikan keterangan lebih banyak tentang dirinya, dan meyakinkan Otsu bahwa maksudnya itu terhormat, ia melanjutkan, “Nama lengkapku Shoda Kizaemon, dan aku mengabdi kepada Keluarga Yagyu. Kebetulan tuanku yang sudah berumur delapan puluh tahun tidak lagi aktif. Dia menderita kebosanan luar biasa. Ketika kau berkata kau hidup dari main suling, terpikir olehku, akan senang sekali dia kalau kamu ada di dekatnya dan sekali-sekali main untuknya. Apa kau suka kerja begitu?”
Orang tua itu segera menimpali dengan pernyataan setuju. “Kamu lebih baik ikut dia,” desaknya. “Barangkali kamu tahu, yang dipertuan dari Koyagyu yang sudah tua itu adalah Yagyu Muneyoshi yang agung. Sesudah pensiun, ia memakai nama Sekishusai. Segera setelah ahli warisnya, Munenori, yaitu Yang Dipertuan dari Tajima, pulang dari Sekigahara, dia langsung dipanggil ke Edo dan ditunjuk menjadi instruktur dalam rumah tangga shogun. Tidak ada keluarga yang lebih besar di Jepang ini daripada Keluarga Yagyu. Diundang ke Koyagyu saja sudah merupakan kehormatan. Jangan sampai tidak diterima tawaran itu!”
Mendengar bahwa Kizaemon adalah pejabat dalam Keluarga Yagyu yang termasyhur itu, Otsu merasa beruntung, karena besar dugaannya, orang itu bukanlah samurai biasa. Namun ia merasa sukar menjawab tawaran itu.
Melihat Otsu masih juga diam, Kizaemon bertanya, “Tak suka kamu ke sana?”
“Bukan itu soalnya. Tak ada tawaran lain yang lebih baik dari itu. Cuma saya takut, nanti permainan saya tidak cukup baik untuk orang seperti Yagyu Muneyoshi.”
“Jangan panjang-panjang kamu memikirkan soal itu. Keluarga Yagyu itu lain sekali dengan daimyo lain. Khususnya Sekishusai, dia ahli upacara minum teh yang berselera sederhana, tenang. Dia akan lebih terganggu oleh sifat malu-malumu itu daripada bayanganmu bahwa kamu kurang terampil.”
Otsu sadar bahwa pergi ke Koyagyu lebih memberikan harapan, berapa pun kecilnya, daripada berkeliaran tanpa tujuan ke Nara. Sejak meninggalnya Yoshioka Kempo, Keluarga Yagyu dianggap banyak orang sebagai eksponen terbesar dalam seni perang di negeri ini. Dapat dipahami kalau para pemain pedang dari seluruh negeri akan datang ke pintu gerbangnya; di situ bahkan akan ada daftar tamu. Alangkah bahagianya kalau dalam daftar itu dapat ia temukan nama Miyamoto Musashi!

Terutama karena memikirkan kemungkinan itu, ia berkata riang, “Kalau menurut pendapat Tuan tak ada halangan apa-apa, saya mau ke sana.”
“Kamu mau? Bagus sekali! Terima kasih sekali…. Hmm, tapi aku ragu, apa seorang perempuan dapat jalan sejauh itu sebelum malam datang. Apa kamu bisa naik kuda?”
“Bisa.”
Kizaemon membungkuk ke bawah tepi atap dan mengangkat tangan ke arah jembatan. Tukang kuda yang menanti di sana datang berlari-lari membawa kuda; Kizaemon menyuruh Otsu naik ke atasnya, sedangkan ia sendiri berjalan di sampingnya.
Jotaro melihat mereka dari bukit di belakang warung teh, dan serunya, “Apa sudah mau berangkat?
“Ya, kami berangkat.”
“Tunggu saya!”
Mereka sudah setengah jalan menyeberang Jembatan Uji ketika Jotaro menyusul. Kizaemon bertanya kepadanya, apa yang dilakukannya tadi, dan Jotaro menjawab bahwa di sebuah semak di bukit itu terdapat banyak orang sedang main. la tidak tahu nama permainan itu, tapi kelihatannya menarik.
Tukang kuda tertawa. “Itu ronin-ronin jembel yang sedang berjudi. Mereka tak punya cukup uang untuk makan, karena itu mereka memikat musafir untuk main dengan mereka dan mengakali segala milik mereka. Memalukan!”
“Oh, jadi mereka itu berjudi untuk mata pencaharian?” tanya Kizaemon.
“Yang berjudi itu termasuk yang baik-baik,” jawab tukang kuda. “Banyak lagi lainnya yang menjadi tukang culik dan peras. Mereka begitu kasar, sampai tak ada orang yang dapat berbuat sesuatu untuk menghentikan mereka.”
“Kenapa Yang Dipertuan daerah ini tidak menangkap atau mengusir mereka?”
“Jumlah mereka terlalu banyak-jauh lebih banyak daripada yang dapat dihadapi. Kalau semua ronin dari Kawachi, Yamato, dan Kii bergabung jadi satu, mereka bisa lebih kuat daripada pasukan Yang Dipertuan sendiri.”
“Saya dengar Koga juga penuh dengan mereka itu.”
“Ya. Mereka datang dari Tsutsui. Mereka bertekad bertahan terus sampai perang berikutnya.”
“Bapak ini begitu terus bicaranya tentang ronin,” sela Jotaro, “tapi di antara mereka tentunya ada orang-orang yang baik.”
“Betul,” kata Kizaemon menyetujui.
“Guru saya seorang ronin!”
Kizaemon tertawa, dan katanya, “Maka itu kamu membela mereka. Cukup setia juga kamu…. Kaubilang akan pergi ke Hozoin tadi, ya? Apa di sana gurumu tinggal?”
“Saya tidak tahu betul, tapi dia bilang, kalau saya pergi ke sana, orang akan menunjukkan pada saya, di mana dia.”
“Apa gaya gurumu itu?”
“Saya tidak tahu.”
“Kamu muridnya, tapi kamu tak tahu gayanya?”
“Tuan,” sela tukang kuda, “ilmu pedang itu sekarang cuma iseng-iseng. Semua orang mempelajarinya. Kita dapat bertemu dengan lima atau sepuluh orang dari mereka yang berkeliaran di jalan ini setiap hari. Itu semua karena jauh lebih banyak ronin yang mengajar dibanding dahulu.”
IZRO'IL
Musashi II (Air)

Musashi II 5


“Itu cuma sebagian sebabnya.”
“Mereka tertarik, karena entah dari mana mereka itu mendengar, bahwa jika orang cakap bermain pedang, daimyo akan berlomba-lomba menyewanya dengan bayaran empat atau lima ribu gantang setahun.”
“Jalan pintas untuk menjadi kaya, ya?”
“Tepat. Mengerikan kalau kita memikirkannya. Coba, anak sekecil ini pun sudah pegang pedang kayu. Barangkali dia mengira bahwa dia hanya harus belajar memukul orang dengan pedang itu untuk menjadi manusia sejati. Kita melihat banyak orang macam itu, dan sedihnya, akhir-akhirnya kebanyakan mereka itu akan kelaparan.”
Kemarahan Jotaro sekilas bangkit. “Apa ini? Coba, kalau berani mengatakan begitu!”
“Coba dengar! Masih seperti kutu membawa cungkil gigi, tapi sudah membayang-kan dirinya prajurit besar.”
Kizaemon tertawa. “Hei, Jotaro, jangan marah, nanti kamu kehilangan tabung bambu lagi.”
“Tidak lagi! Tak usah menguatirkan saya!”
Mereka berjalan terus. Jotaro merajuk diam. Yang lain-lain memandang matahari yang pelan-pelan tenggelam. Akhirnya mereka sampai di pangkalan perahu tambangan di Sungai Kizu.
“Di sini kita berpisah. Nah, sebentar lagi gelap, jadi lebih baik kamu buru-buru. Dan jangan buang waktu di jalan.”
“Otsu?” kata Jotaro, yang mengira Otsu akan pergi bersamanya.
“O ya, aku lupa bilang tadi,” kata Otsu. “Aku sudah memutuskan pergi dengan Tuan ini ke puri di Koyagyu.” Jotaro tampak terenyak. “Jaga baik-baik dirimu,” kata Otsu tersenyum.
“Mestinya sudah sejak tadi aku tahu bakal sendiri lagi.” Ia memungut sebuah batu dan dilemparkannya batu itu bersilantar di permukaan air.
“Tapi kita akan bertemu lagi hari-hari ini. Rumahmu jalanan, sedangkan aku sendiri banyak jalan.”
Jotaro kelihatan tak ingin bergerak. “Tapi siapa yang Kakak cari itu?” canyanya. “Orang macam apa?”
Tanpa menjawab, Otsu melambaikan selamat berpisah.
Jotaro berlari sepanjang tepi sungai, lalu melompat ke tengah perahu tambangan kecil. Ketika perahu yang menjadi merah warnanya oleh matahari petang itu sudah setengah jalan menyeberangi sungai, ia menoleh ke belakang. Masih dapat ia mengenali kuda Otsu dan Kizaemon di jalan Kuil Kasagi. Mereka berada di lembah, di sisi bagian sungai yang tiba-tiba menyempit, dan sedikit demi sedikit ditelan oleh awal bayang-bayang gunung.

Hozoin

MURID seni bela diri umumnya mengenal Hozoin. Yang berani menganggap dirinya murid serius, tapi menganggap tempat itu sama saja seperti kuil-kuil yang lain, sudah cukup untuk dianggap penipu. Tempat itu juga terkenal di antara penduduk setempat, sekalipun aneh juga bahwa hanya sedikit orang yang kenal Gudang Shosoin yang justru lebih penting karena koleksi benda-benda seni kuno yang tak ternilai harganya.
Kuil itu terletak di Bukit Abura, di tengah hutan kriptomeria yang luas dan lebat. Pendeknya, itulah tempat tinggal jin-jin. Di sini pula terdapat sisa-sisa kebesaran zaman Nara-reruntuhan sebuah kuil, yaitu Kuil Ganrin’in, dan reruntuhan rumah mandi umum raksasa yang dibangun oleh Ratu Komyo untuk orang miskin. Tetapi sekarang yang tertinggal dari semua itu hanyalah serakan batu pondasi yang mengintip dari balik lumut dan rerumputan.
Musashi tidak mengalami kesulitan mencari arah Bukit Abura, tapi begitu sampai di sana ia berdiri memandang ke sekitar dengan kagumnya, karena di sana terdapat kuil-kuil lain yang bersarang di tengah hutan. Pohon-pohon kriptomeria telah menempuh musim dingin dengan selamat, dan kini bermandikan hujan awal musim semi. Warna daun-daunnya sedang gelap-gelapnya. Bersamaan dengan tibanya senja, di atas pepohonan itu tampak lekuk-lekuk feminin Gunung Kasuga. Gunung-gunung di kejauhan masih terang oleh sinar matahari.
Sekalipun di antara kuil-kuil itu tak ada yang mirip dengan yang dicarinya, Musashi mendatangi setiap gerbang untuk memeriksa papan namanya. Pikiran Musashi demikian penuh oleh Hozoin, hingga ketika ia melihat papan nama Kuil Ozoin, mula-mula ia salah baca, karena hanya huruf pertama, yaitu “0″, yang berlainan. Walaupun kemudian ia segera menyadari kesalahannya, pergi juga ia ke dalam untuk melihat. Ozoin rupanya milik Sekte Nichiren. Sepanjang pengetahuannya, Hozoin adalah kuil Zen yang tak ada hubungan-nya dengan Nichiren.
Selagi ia berdiri di sana, seorang biarawan muda yang baru kembali ke Ozoin melewatinya dan menatapnya penuh curiga.
Musashi melepas topi, dan katanya, “Boleh saya bertanya?”
“Tentang apa?”
“Kuil ini namanya Ozoin?”
“Ya, seperti yang tertulis di papan itu.”
“Kata orang, Hozoin ada di Bukit Abura. Betul?”
“Di belakang kuil ini. Anda mau ke sana buat bertanding?”
“Ya.”
“Kalau begitu dengarkan nasihat saya: Lupakan saja.”
“Kenapa?”
“Berbahaya. Saya bisa mengerti kalau orang yang dilahirkan pincang pergi ke situ untuk diluruskan kakinya, tapi saya tak melihat alasannya kalau orang yang anggota badannya baik dan lurus mesti pergi ke sana untuk dikutungi.”
Biarawan itu tegap tubuhnya, agak lain daripada biarawan Nichiren biasa. Menurut biarawan itu, jumlah calon prajurit telah mencapai angka yang oleh Hozoin pun sudah dianggap mengganggu. Kuil itu tempat suci untuk cahaya Hukum Sang Budha, seperti ditunjukkan oleh namanya. Perhatian utamanya terletak pada agama. Seni bela diri hanya sampingan, demikianlah kira-kira.
Kakuzenbo In’ei, kepala biara yang dulu, sering kali mengunjungi Yagyu Muneyoshi. Karena hubungannya dengan Muneyoshi dan dengan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise, teman Muneyoshi, kepala biara itu tertarik pada seni bela diri dan akhirnya mulai belajar ilmu pedang sebagai pelengah waktu. Lalu ia mengembangkan cara-cara baru dalam menggunakan lembing, dan sepengetahuan Musashi inilah yang menjadi cikal-bakal Gaya Hozoin yang sangat dihargai orang.
In’ei sekarang berumur delapan puluh empat tahun dan sudah sepenuhnya pikun. Ia hampir tidak pernah menjumpai siapa pun. Pada waktu menerima tamu pun ia sudah tidak dapat melakukan percakapan. Ia hanya duduk dan membuat gerakan-gerakan yang tak dapat dimengerti dengan mulutnya yang sudah ompong. Kelihatannya ia tidak dapat menangkap apa pun yang dikatakan orang kepadanya. Soal lembing sudah dilupakannya sama sekali.
“Jadi, begitulah,” simpul biarawan itu sesudah menjelaskan semuanya, “tak banyak faedahnya Anda pergi ke sana. Anda barangkali tak dapat bertemu dengan gurunya, dan kalaupun Anda bertemu dengannya, tak dapat Anda mempelajari sesuatu.” Sikap kasar orang itu menunjukkan bahwa ia ingin Musashi lekas pergi.
Walaupun sadar dianggap enteng oleh orang itu, Musashi mendesak terus. “Saya sudah mendengar tentang In’ei, dan saya tahu bahwa yang Anda katakan itu benar. Tapi saya mendengar juga bahwa seorang pendeta yang namanya Inshun telah mengambil alih kedudukannya dan menggantikannya. Orang bilang dia masih belajar, tapi dia sudah paham semua rahasia Gaya Hozoin. Menurut yang saya dengar, walaupun dia sudah punya banyak murid, tidak pernah dia menolak memberikan pelajaran pada siapa pun yang datang kepadanya.”
“Oh, Inshun,” kata biarawan itu dengan nada menghina. “Tak ada apa-apanya desas-desus itu. Inshun sebetulnya murid kepala biara Ozoin. Sesudah In’ei mulai memperlihatkan tanda-tanda ketuaan, kepala biara kami merasa sayang jika reputasi Hozoin tersia-sia begitu saja. Karena itu dia mengajarkan pada Inshun rahasia-rahasia permainan lembing yang pernah dia pelajari dari In’ei, dan kemudian dia atur pula agar Inshun menjadi kepala biara.”
“Oh, begitu,” kata Musashi.
“Tapi Anda masih juga ingin ke sana?”
“Yah, sudah sejauh ini saya pergi….”
“Tentu.”
“Tadi Anda bilang tempatnya di belakang ini. Lebih baik memutar ke kiri atau ke kanan?”
“Tak perlu memutar. Jauh lebih cepat jalan terus lewat kuil kami ini. Takkan salah lagi.”
Sesudah mengucapkan terima kasih kepadanya, Musashi berjalan melewati dapur kuil itu ke belakang pekarangan. Di situ terdapat gudang kayu, gudang empleng kacang, dan kebun sayur-sayuran yang luasnya sekitar satu ekar, mirip sekali dengan wilayah di sekitar rumah seorang petani kaya. Di sebelah kebun itu ia melihat Hozoin.
Selagi berjalan di tanah lunak di antara baris-baris lobak, rades, dan bawang, ia lihat di satu sisi seorang tua yang sedang mencangkuli sayursayuran. Sambil membungkuk mencangkul, ia memandang baik-baik lempengan cangkulnya. Yang kelihatan oleh Musashi pada orang itu hanyalah sepasang alisnya yang putih saiju. Kecuali dentang cangkul yang mengenai batu-batuan, keadaan betul-betul sepi.
Musashi menyimpulkan bahwa orang tua itu biarawan Ozoin. la hampir berbicara, tapi orang tua itu rupanya demikian tenggelam dalam pekerjaannya, hingga rasanya kurang sopan mengganggunya.
Namun ketika Musashi berlalu tanpa mengucapkan sesuatu, tiba-tiba sadarlah ia bahwa orang itu sedang menatap kakinya dari sudut matanya. Walaupun orang itu tidak bergerak ataupun berbicara, Musashi merasa diserang dengan kekuatan yang mengerikan-suatu kekuatan yang seperti kilat membelah awan. Ini bukan mimpi di siang bolong. Ia benar-benar merasakan kekuatan misterius itu menghunjam tubuhnya, dan ia meloncat ketakutan ke udara. Seluruh tubuhnya terasa panas, seolah-olah baru saja lolos dari pukulan pedang atau tombak yang mematikan.
Ketika ia menoleh, dilihatnya punggung yang bungkuk itu masih menghadapnya dan cangkul itu masih juga meneruskan iramanya yang tak terputus-putus. “Apa arti semua ini?” demikian ia terheran-heran, kagum oleh kekuatan yang baru saja menyerangnya.
Akhirnya sampailah ia di depan Hozoin, namun rasa ingin tahunya masih belum reda. Sambil menanti munculnya seorang pembantu, ia berpikir, “Inshun mestinya masih muda. Biarawan muda itu tadi mengatakan In’ei sudah pikun dan sudah lupa sama sekali akan tombak, tapi aku ingin tahu…” Kejadian di halaman itu masih terus menghantui pikirannya.
Ia berseru dua kali lagi, tapi jawaban satu-satunya yang diperolehnya adalah gema dari pepohonan di sekitar. Melihat ada sebuah gong besar di samping pintu masuk, ia memukulnya. Hampir seketika itu juga teriakan jawaban terdengar dari dalam kuil.
Seorang pendeta datang ke pintu. Orangnya besar dan berotot. Sekiranya ia salah seorang prajurit pendeta Gunung Hiei, pasti ia komandan batalion. Karena dari hari ke hari terbiasa menerima kunjungan orang-orang seperti Musashi, ia hanya melontarkan pandangan selintas, dan katanya, “Anda shugyosha?”
“Ya.”
“Ada keperluan apa ke sini?”
“Saya ingin bertemu dengan Guru.”
Pendeta itu berkata, “Silakan masuk,” dan memberikan isyarat ke kanan pintu masuk; maksudnya secara tak langsung adalah supaya Musashi membasuh kakinya dulu. Di situ terdapat sebuah tong penuh air yang disalurkan lewat pipa bambu. Di kanan-kirinya terdapat sekitar sepuluh pasang sandal yang usang dan kotor.
Musashi mengikuti pendeta itu menyusuri lorong yang lebar dan gelap, dan dipersilakan masuk ke kamar tunggu. Di situ ia diminta menanti. Bau dupa mengambang di udara. Lewat jendela ia dapat melihat daun-daun lebar pohon pisang. Selain sikap kasar si raksasa yang telah mengantarnya masuk itu, menurut penglihatan Musashi tak ada suatu pun yang menunjukkan bahwa ada yang luar biasa di kuil yang satu ini.
Ketika muncul kembali, pendeta itu menyerahkan daftar tamu dan kotak tinta kepadanya. Katanya, “Silakan tulis nama Anda, di mana Anda pernah belajar, dan gaya apa yang Anda gunakan.” Bicaranya seolah-olah sedang mengajar seorang anak.
Judul buku tamu itu: “Daftar Orang-orang yang Mengunjungi Kuil Ini untuk Belajar Pramugara Hozoin.” Musashi membuka buku itu dan memperhatikan nama-nama di dalamnya. Masing-masing ditulis di bawah tanggal berkunjungnya seorang samurai atau murid. Menuruti gaya masukan yang terakhir, Musashi menuliskan keterangan yang diminta, tanpa menyebutkan nama gurunya.
Pendeta itu tentu saja sangat tertarik pada hal ini.
Jawaban Musashi sama dengan yang pernah diberikannya di Perguruan Yoshioka. la belajar menggunakan pentung dengan pimpinan ayahnya, “tapi tidak terlalu rajin mempelajarinya.” Karena ada maksud belajar dengan sungguh-sungguh, maka ia berguru pada segala yang ada di alam semesta ini, demikian juga contoh-contoh yang diberikan oleh para pendahulu di negeri ini. Ia menutupnya dengan mengatakan, “Saya masih dalam taraf belajar.”
“Mm. Anda barangkali sudah tahu, tapi semenjak zaman guru kami yang pertama, Hozoin terkenal di mana-mana karena permainan tombaknya. Pertarungan di sini berlangsung kasar, dan tidak ada perkecualian. Sebelum Anda melanjutkan, barangkali lebih baik Anda membaca dulu apa yang tertulis di awal buku tamu itu.”
Musashi mengambil buku itu, membukanya, dan membaca persyaratan yang tadi ia lewati. Bunyinya: Karena saya datang kemari dengan tujuan belajar, maka saya membebaskan kuil dari segala tanggung jawab, manakala saya mendapat cedera badaniah ataupun terbunuh.

“Saya setuju,” kata Musashi sambil menyeringai sedikit—memang itu sudah sewajarnya bagi orang yang berniat menjadi prajurit.
“Baiklah. Silakan.”
Dojo itu besar sekali. Para biarawan tentunya telah mengorbankan sebuah ruangan kuliah atau bangunan besar lain untuk membuat dojo itu. Belum pernah Musashi melihat tiang-tiang yang demikian besar kelilingnya, dan ia juga melihat bekas-bekas cat, kertas emas, dan cat dasar Cina putih pada kerangka lubang angin. Semua itu hal-hal yang tidak biasa ditemukan dalam ruang latihan biasa.
Ia bukan tamu satu-satunya di situ. Lebih dari sepuluh calon prajurit duduk di kamar tunggu. Di situ ada juga murid pendeta yang sama jumlahnya. Disamping itu ada beberapa samurai yang hanya menjadi peninjau. Semuanya dengan saksama memperhatikan dua pemain tombak yang sedang melakukan latihan pertandingan. Tak seorang pun melontarkan pandangan kepada Musashi, ketika ia duduk di sebuah sudut.
Menurut papan pemberitahuan di dinding, jika seseorang ingin bertarung dengan tombak bertulang, tantangan akan diterima, tetapi para murid yang kini duduk di lantai itu hanya menggunakan tongkat latihan dari kayu ek panjang. Namun pukulan di sini bisa terasa sangat sakit, bahkan bisa juga mematikan.
Salah seorang yang berlatih terlontar ke udara dan berjalan terpincangpincang kembali ke tempat duduk. Kalah. Musashi melihat pahanya membengkak sampai sebesar batang pohon. Orang itu tak dapat lagi duduk, dan menjatuhkan diri dengan susah payah pada sebelah lututnya. Kakinya yang luka dijulurkannya ke depan.
“Berikutnya!” terdengar panggilan orang yang duduk di lantai, seorang pendeta yang sikapnya angkuh luar biasa. Lengan jubahnya diikatkan ke belakang, dan seluruh tubuhnya-kaki, tangan, bahu, dan bahkan dahinya seolah terdiri atas otot-otot menggelembung. Tongkat kayu ek yang dipegangnya tegak lurus itu panjangnya paling tidak sepuluh kaki.
Satu orang yang agaknya salah seorang dari yang datang hari itu menyam-butnya. la mengikat lengan kimononya dengan tali kulit dan berjalan menuju tempat latihan. Pendeta berdiri tak bergerak ketika si penantang pergi ke dinding, memilih tombak-kampak, dan datang menghadapinya. Mereka membungkuk seperti kebiasaan, tapi baru saja mereka selesai menghormat, si pendeta sudah memperdengarkan raungan anjing liar, dan bersamaan dengan itu ia menjatuhkan tongkatnya sekuat-kuatnya ke tengkorak si penantang.
“Berikutnya,” serunya, kembali pada posisi semula.
Selesai sudah. Penantangnya sudah kalah. Ia belum mati, tapi mengangkat kepala dari lantai pun ia sudah tak sanggup. Dua murid si pendeta keluar dan menyeretnya pergi pada lengan dan pinggang kimononya. Di lantai yang ditinggalkannya berceceran ludah bercampur darah.
“Berikutnya!” seru si pendeta lagi, tetap dengan wajah masam.
Semula Musashi mengira orang itu Inshun, guru generasi kedua, tapi orang-orang yang duduk di sekitarnya mengatakan bukan. Orang itu Agon, salah seorang murid senior yang dikenal sebagai “Tujuh Pilar Hozoin”. Mereka bilang Inshun sendiri tidak pernah bertarung, karena para penantang selalu dapat dijatuhkan oleh salah seorang dari mereka ini.
“Tidak ada lagi?” lenguh Agon yang memegang tombak latihannya mendatar.
Pramugara berotot itu pun mencocokkan daftar tamu dengan wajah orang-orang yang sedang menanti. Ia menunjuk seorang di antaranya.
“Tidak, jangan hari ini…. Saya datang lagi nanti.”
“Bagaimana kalau Anda?”
“Kalau Anda tidak keberatan.”
“Apa pula itu artinya?”
“Artinya, saya sedia bertarung.”
Semua mata menatap Musashi ketika ia bangkit. Agon yang congkak itu telah menyingkir dari lantai dan waktu itu sedang bercakap-cakap dan tertawa bersemangat dengan sekelompok pendeta, tapi ketika penantang baru muncul, pandangan bosan tampak kembali pada wajahnya. Katanya malas, “Gantikan saya.”
“Teruskan saja,” desak mereka. “Tinggal seorang lagi.”
Agon mengalah, lalu berjalan acuh tak acuh ke tengah lantai. Ia mencengkeram tongkat kayu hitam mengilat itu, yang agaknya sudah dikenalnya betul. Dengan cepat ia mengambil sikap menyerang, membelakangi Musashi, dan menyerang ke jurusan lain.
“Yah-h-h!” Sambil memiawik seperti burung garuda yang sedang berang, ia menderas ke arah dinding belakang dan dengan bengis menghunjamkan tombaknya ke bagian dinding yang dipergunakan untuk berlatih. Papan-papan di situ baru saja diganti, tapi sekalipun kayu baru itu liar, lembing Agon yang tidak bermata logam itu langsung melesak tembus.
“Yow-w-w!” Pekik kemenangannya menggema seram di seluruh ruangan ketika ia mencabut tombaknya dan mulai menari, bukan berjalan, kembali mendekati Musashi. Uap mengepul dari tubuhnya yang terselimut Ia mengambil posisi agak jauh. Ia menatap penantang terakhir itu dengan galak. Musashi maju bersenjatakan pedang kayu. Ia berdiri diam, kelihatan sedikit heran.
“Siap!” teriak Agon.
Terdengar tawa kering di luar jendela. Satu suara mengatakan, “Agon, jangan tolol! Lihat, orang bebal, lihat! Bukan papan yang kamu hadapi.”
Tanpa mengendurkan sikapnya, Agon memandang ke jendela. “Siapa kamu?” lenguhnya.
Tawa itu terdengar terus, kemudian tampak di ambang jendela kepala mengilat dan sepasang alis seputih salju, seakan-akan keduanya itu digantungkan di sana oleh seorang pedagang barang antik.
“Tak baik buatmu, Agon. Kali ini tidak. Biarkan saja orang itu menanti sampai lusa, jika Inshun sudah kembali.”
Musashi yang juga menoleh ke jendela itu, melihat bahwa wajah di jendela itu wajah orang tua yang tadi dilihatnya ketika menuju Hozoin. Tapi baru saja ia sadar, kepala itu sudah lenyap.
Peringatan orang tua itu hanya berpengaruh pada genggaman senjata Agon yang agak mengendur, tapi begitu matanya bertatap pandang dengan mata Musashi, ia menyumpah ke arah jendela yang kini kosong dan melupakan nasihat yang diterimanya.
Sementara Agon mengetatkan genggaman tombaknya, Musashi bertanya untuk basa-basi, “Anda siap?”
Basa-basi ini malah membikin Agon meradang. Otot-ototnya seperti baja, dan bila ia melompat, lompatannya bukan main ringannya. Kelihatan seolah kedua kakinya berada di lantai dan di udara sekaligus, menggeletar seperti cahaya bulan di atas gelombang samudra.
Musashi berdiri diam sepenuhnya, atau begitulah kelihatannya. Tak ada yang aneh pada sikapnya. Ia memegang pedang lurus ke depan dengan kedua belah tangannya, tapi karena hadannya sedikit lebih kecil dari lawannya dan tidak begitu berotot, ia tampak hampir biasa saja. Perbedaan terbesar adalah pada matanya. Mata Musashi setajam mata burung, sedangkan biji matanya seperti batu koral terang bergurat darah.
Agon menggelengkan kepala, barangkali untuk mengibaskan keringat yang mengucur dari dahinya, barangkali untuk mengibaskan kata-kara peringatan orang tua itu. Apakah kata-kata itu masih menempel? Apakah ia mencoba membuangnya ke luar pikirannya? Apa pun alasannya, ia tampak terganggu sekali. Berulang-ulang ia mengganti posisi dalam usaha memancing Musashi, tetapi Musashi tetap tak bergerak.
Sergapan yang dilancarkan Agon diiringi pekik tajam. Dalam sedetik yang menentukan itu Musashi menangkis dan sekaligus melancarkan serangan balasan.
“Apa yang terjadi?”
Para rekan pendeta Agon bergegas maju ke depan dan mengerumuninya dalam bentuk lingkaran hitam. Dalam suasana kacau-balau itu, beberapa orang menginjak tombak latihan dan jatuh tertelungkup.
Seorang pendeta bangkit berdiri, tangan dan dadanya berlumuran darah, dan serunya, “Obat! Ambil obat! Cepat!”
“Kalian tidak membutuhkan obat lagi.” Itu ucapan orang tua yang masuk dari pintu depan dan cepat menilai keadaan. Wajahnya masam. “Kalau obat dapat menyelamatkannya, tidak akan aku mencoba menghentikannya tadi. Goblok!”
Tak seorang pun memperhatikan Musashi. Karena tak ada lagi yang bisa dikerjakannya, Musashi berjalan ke pintu depan dan mengenakan sandalnya. Orang tua itu mengikutinya.
“Hai!” katanya.
Sambil menoleh Musashi menjawab, “Ya?”
“Saya mau bicara sedikit dengan Anda. Masuklah lagi.”
Ia mengantar Musashi ke sebuah kamar di belakang ruangan latihan, sebuah sel sederhana persegi empat. Pintu merupakan satu-satunya jalan ke luar.
Sesudah mereka duduk, orang tua itu berkata, “Sebetulnya lebih layak kalau Kepala Biara datang menyambut Anda, tapi dia sedang dalam perjalanan, dan baru kembali dalam dua atau tiga hari ini. Jadi, saya bertindak atas namanya.”
“Oh, Bapak sungguh baik hati,” kata Musashi membungkukkan kepala. “Saya berterima kasih atas latihan baik yang saya terima hari ini, tapi saya minta maaf atas terjadinya musibah tadi….”
“Kenapa? Hal seperti itu memang kadang-kadang terjadi. Anda harus siap menerimanya sebelum Anda mulai bertarung. Tak usah itu menggelisahkan Anda.”
“Bagaimana luka Agon?”
“Dia terbunuh seketika,” kata orang tua itu. Embusan napasnya terasa seperti angin dingin pada wajah Musashi.
“Dia mati?” Lalu kepada diri sendiri Musashi berkata, “Jadi, terjadi lagi sekarang.” Sekali lagi pedang kayunya membunuh orang. Ia memejamkan mata. Dalam hati ia menyerukan nama Sang Budha, seperti yang biasa dilakukannya dahulu dalam kejadian serupa.
“Anak muda!”
“Ya, Pak.”
“Apa namamu Miyamoto Musashi?”
“Betul.”
“Siapa gurumu belajar seni bela diri?”
“Saya tak pernah punya guru dalam arti biasa. Ayah saya mengajari saya menggunakan pentung ketika saya masih kecil. Sejak itu saya mengambil sejumlah pelajaran dari samurai yang lebih tua di berbagai provinsi. Saya juga menghabiskan sejumlah waktu mengitari pedesaan, belajar di gunung-gunung dan sungai-sungai. Saya menganggap semua itu guru juga.”
“Kamu rupanya memiliki sikap yang tepat. Tapi kamu begitu kuat! Terlalu amat kuat!”
Merasa sedang dipuji, wajah Musashi memerah, dan katanya, “Oh, tidak! Saya masih belum matang. Saya masih selalu berbuat kesalahan.”
“Bukan itu yang kumaksud. Kekuatanmu itulah yang menjadi masalah. Kau mesti mengendalikannya, mesti lebih lemah.”
“Bagaimana?” tanya Musashi bingung.
“Kau ingat, tadi kau lewat kebun sayur tempat aku bekerja?”
“Ya.”
“Ketika melihatku, kau melompat menyingkir, bukan?”
“Ya.”
“Kenapa begitu?”
“Wah, saya bayangkan waktu itu Bapak bisa menggunakan cangkul Bapak sebagai senjata dan menghantam kaki saya. Juga, walaupun perhatian Bapak kelihatannya terpusat ke tanah, seluruh tubuh saya terasa terpaku oleh pandangan Bapak. Saya merasa ada hawa pembunuhan dalam pandangan Bapak, seakan-akan Bapak sedang mencari tempat lemah dalam tubuh saya untuk diserang.”
Orang tua itu tertawa. “Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Kau masih lima puluh kaki jauhnya dariku, tapi sudah kutangkap apa yang dinamakan ‘hawa pembunuh’ itu di udara. Kurasakan itu di ujung cangkulku. Demikian kuat semangat juang dan ambisimu, sehingga muncul dalam setiap langkah yang kau ambil. Waktu itu aku merasa harus siap mempertahankan diri.
“Kalau yang lewat itu cuma salah seorang dari petani desa ini, aku sendiri tak akan lebih dari seorang tua yang sedang mengurus sayur-sayuran. Benar, kau merasakan sikap permusuhanku, tapi itu hanya pantulan sikapmu sendiri. “
Jadi, Musashi benar, ketika ia menduga orang itu bukan orang biasa, sekalipun mereka belum bersapa kata. Sekarang ia merasakan pendeta itu guru, dan ia sendiri murid. Sikapnya kepada orang tua bungkuk itu menjadi hormat.
“Saya mengucapkan terima kasih atas pelajaran yang Bapak berikan. Boleh saya menanyakan nama Bapak dan kedudukan Bapak di kuil ini?”
“Oh, aku bukan dari Kuil Hozoin. Aku Kepala Biara Ozoin. Namaku Nikkan.”
“Oh.”
“Aku teman lama In’ei, dan karena dia mempelajari seni tombak, kuputuskan untuk belajar bersamanya. Tapi belakangan aku punya pikiran lain. Sekarang tidak pernah lagi kusentuh senjata itu.”
“Jadi, Inshun yang jadi kepala biara ini murid Bapak.”
“Ya, dapat dianggap demikian. Tapi kaum pendeta tidak seharusnya menggunakan senjata, dan rasanya sayang bahwa Hozoin jadi terkenal justru karena seni bela dirinya, bukan karena semangat keagamaannya. Namun ada yang merasa sayang sekali kalau Gaya Hozoin itu lenyap. Karena itu aku mengajarkannya kepada Inshun. Tak ada orang lain lagi yang kuajari.”
“Kalau demikian, saya ingin tahu, apakah Bapak mengizinkan saya tinggal di kuil Bapak sampai Inshun kembali?”
“Apa kau berniat menantangnya?”
“Yah, selama saya berada di sini, ingin saya melihat bagaimana guru terkemuka itu memainkan tombak.”
Nikkan menggeleng mencela.
“Itu buang-buang waktu. Tak ada yang bisa dipelajari di sini.”
“Apa betul demikian?”
“Sudah kaulihat seni tombak Hozoin tadi, ketika menghadapi Agon. Apa lagi yang perlu disaksikan? Kalau ingin belajar lebih banyak, perhatikan aku. Pandang mataku.”
Nikkan menaikkan bahunya, memajukan sedikit kepalanya, dan menatap Musashi. Matanya seolah-olah melompat dari ceruknya. Sementara Musashi ganti memandangnya, biji mata Nikkan bersinar, mula-mula dengan nyala warna merah merjan, lalu berangsur-angsur berubah menjadi biru langit yang bening. Cahaya mata itu membakar dan menumpulkan pikiran Musashi. Ia melengos. Tawa Nikkan pun berderai-derai seperti derak papan sekering tulang.
Ia baru mengendurkan pandangannya ketika seorang pendeta muda masuk dan berbisik kepadanya. “Bawa sini,” perintahnya.
Segera pendeta muda itu kembali membawa baki dan wadah nasi dari kayu yang bulat bentuknya. Nikkan menyendok nasi dari wadah itu dan memasukkannya ke dalam mangkuk, lalu memberikannya kepada Musashi.
“Kusuguhkan nasi, teh, dan acar. Sudah biasa bagi Hozoin menyuguhkannya pada semua orang yang datang kemari untuk belajar, karena itu tak usah merasa telah merepotkan. Mereka membuat acarnya sendiri yang disebut acar Hozoin, yaitu mentimun yang diisi kemangi dan cabe merah. Kau akan merasakannya enak juga.”
Sementara Musashi mengambil sumpit, ia merasa mata Nikkan yang tajam itu terarah lagi kepadanya. Tapi kali ini tak dapat ia menyatakan apakah daya tembus mata itu berasal dari dalam diri si pendeta, ataukah jawaban atas sesuatu yang ia keluarkan sendiri. Baru ia menggigit acar itu, ada perasaan mencengkamnya bahwa tinju Takuan hendak menghantamnya lagi, atau barangkali tombak di dekat ambang pintu itu yang hendak melayang ke arahnya.
Ketika ia sudah menghabiskan semangkuk nasi dengan teh dan dua acar, Nikkan bertanya, “Mau lagi?”
“Tidak, terima kasih. Sudah cukup banyak.”
“Bagaimana rasa acarnya?”
“Enak sekali, terima kasih.”
Sesudah pergi pun sengatan cabe merah di lidah itulah yang terutama mengingatkan Musashi kepada rasa acar itu. Dan itu tidak merupakan satusatunya sengatan yang dirasakannya, karena ia meninggalkan tempat itu dengan keyakinan bahwa bagaimanapun ia sudah kalah. “Aku kalah,” demikian gerutunya ketika ia berjalan pelan-pelan melintasi rumpun kriptomeria. “Aku sudah diungguli!” Dalam cahaya remang-remang terlihat olehnya bayang-bayang sekejap melintasi jalannya. Bayang-bayang segerombolan kecil rusa yang ketakutan oleh langkah kakinya.
“Kalau bicara soal kekuatan fisik, aku menang, tapi aku tinggalkan tempat itu dengan perasaan kalah. Kenapa? Apa aku menang secara lahir, hanya untuk kalah secara batin?”
Tiba-tiba, karena ingat Jotaro, ia memutar langkah kembali menuju Hozoin, di mana lampu-lampu masih menyala. Ia menyebutkan namanya dan pendeta yang berjaga di pintu melongokkan kepala, dan katanya sambil lalu, “Ada apa? Ada yang lupa?”
“Ya. Besok atau lusa akan datang satu orang mencari saya kemari. Kalau dia datang, saya mohon disampaikan kepadanya bahwa saya tinggal di daerah Kolam Sarusawa. Dia harus menanyakan saya di rumah-rumah penginapan yang ada di sana.”
“Baik.”
Karena jawaban itu acuh tak acuh, Musashi merasa perlu menambahkan, “Yang datang itu anak lelaki. Namanya Jotaro. Dia masih kecil, karena itu tolong disampaikan pesan ini baik-baik kepadanya.”
Musashi kembali menempuh jalan yang tadi ditempuhnya sambil menggerutu, “Ini bukti aku kalah. Aku bahkan lupa meninggalkan pesan untuk Jotaro. Aku dikalahkan oleh kepala biara tua itu!” Kekesalan Musashi berlanjut terus. Walaupun ia sudah menang melawan Agon, namun ada satu hal yang mengganggu pikirannya, yaitu kementahan yang dirasakannya di hadapan Nikkan. Bagaimana mungkin ia menjadi pemain pedang besar, yang terbesar dari semuanya? Itulah persoalan yang terus merundungnya siang dan malam. Pertemuan hari ini telah membuatnya betul-betul murung.
Selama sekitar dua puluh tahun terakhir ini, wilayah antara Kolam Sarusawa dan bagian hilir Sungai Sai telah dibangun dengan mantapnya. Di sana sekarang terdapat bangunan campur aduk, rumah-rumah penginapan, dan toko-toko baru. Baru-baru ini Okubo Nagayasu datang memerintah kota itu atas nama Keluarga Tokugawa dan mendirikan kantor-kantor pemerintahan di dekat sana. Di tengah kota berdiri bangunan milik seorang Cina yang kabarnya adalah turunan Lin Ho-ching. Usahanya berjualan bakpau maju pesat, dan waktu itu sedang berlangsung perluasan tokonya ke arah Kolam Sarusawa.
Musashi berhenti di tengah hutan lampu di daerah paling ramai. Ia bingung di mana mesti tinggal. Ada banyak rumah penginapan di sana, tapi ia harus hati-hati mengeluarkan uang. Lagi pula ia ingin memilih tempat yang tidak terlampau jauh dari jalan yang banyak ditempuh orang, agar Jotaro dapat menemukannya dengan mudah.
Ia baru saja makan di kuil, tapi ketika tercium olehnya bau bakpau itu, ia merasa lapar lagi. Ia masuk toko itu, duduk dan memesan satu piring penuh. Ketika pesanan datang, ia melihat bahwa nama Lin dicetakkan di bagian bawah kue. Berlainan dengan acar pedas di Hozoin, rasa kue itu dapat dinikmatinya dengan senang.
Gadis yang menuangkan tehnya bertanya sopan, “Di mana Tuan mau menginap malam ini?”
Karena tidak kenal daerah itu, Musashi segera memanfaatkan kesempatan tersebut dengan menjelaskan keadaan dirinya dan sekalian minta nasihatnya. Gadis itu mengatakan bahwa salah seorang sanak pemilik toko itu mempunyai rumah pondokan. Di situ Musashi akan diterima dengan senang hati. Tanpa menantikan jawaban Musashi lagi, gadis itu sudah menderap pergi. Ia kembali lagi bersama seorang wanita yang masih agak muda. Alisnya yang dicukur menunjukkan bahwa ia sudah menikah; agaknya ia istri pemilik toko.
Rumah pondokan itu terdapat di lorong yang tenang, tidak jauh dari restoran. Agaknya itu tempat tinggal biasa yang kadang-kadang menerima tamu. Si nyonya tak beralis itu mengantar Musashi, mengetuk pintu pelanpelan, kemudian menoleh kepada Musashi, dan katanya pelan, “Ini rumah kakak perempuan saya, jadi tak usah susah-susah memberi tip atau apa pun.”
Pelayan keluar dari rumah, dan kedua orang itu saling berbisik beberapa waktu lamanya. Pelayan merasa puas dan mengantar Musashi ke lantai kedua.
Kamar dan perlengkapan kamar itu terlalu baik untuk sebuah rumah penginapan biasa, hingga Musashi merasa sedikit kurang enak. Ia heran, kenapa rumah sebaik itu menerima tumpangan. Maka ia bertanya kepada pelayan, tapi yang ditanya hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa. Sesudah makan, Musashi mandi dan pergi tidur, tapi persoalan itu masih terus terpikir olehnya, sampai ketika ia hampir tertidur.
Pagi berikutnya ia mengatakan kepada pelayan itu, “Akan ada orang datang mencari saya. Apa keberatan kalau saya menginap sehari-dua hari sampai dia datang?”
“Tentu saja tidak,” jawab pelayan tanpa bertanya lagi kepada nyonya rumah, yang segera datang sendiri berkunjung.
Nyonya rumah itu wanita berpakaian apik berumur sekitar tiga puluh tahun, berkulit indah, dan lembut. Ketika Musashi mencoba memuaskan rasa ingin tahunya dan bertanya kenapa nyonya itu menerima orang menginap, ia menjawab sambil tertawa, “Kalau mau terus terang, saya janda-suami saya dulu aktor No, namanya Kanze. Saya takut kalau tak ada lelaki di rumah ini. Maklum, banyak ronin yang kurang berpendidikan di sekitar sini.” Ia selanjutnya menjelaskan bahwa jalan-jalan penuh toko minuman dan pelacur. Banyak di antara samurai miskin tidak cukup puas dengan barang-barang hiburan itu. Mereka memeras keterangan dari pemudapemuda setempat dan menyerang rumah-rumah yang tak ada lelakinya. Operasi ini mereka namakan “kunjungan pada para janda.”
“Dengan kata lain,” kata Musashi, “Nyonya menerima orang seperti saya ini supaya saya dapat bertindak selaku pengawal, betul?”
“Yah,” kata nyonya itu tersenyum, “seperti saya katakan tadi, di rumah ini tak ada lelaki. Saya harap Tuan dapat merasa bebas tinggal di sini, selama Tuan suka.”
“Saya mengerti sepenuhnya. Saya harap Nyonya merasa aman, selama saya di sini. Hanya ada satu hal yang saya minta. Saya menantikan seorang tamu, karena itu apakah Nyonya dapat memasang tanda yang memuat nama saya di luar gerbang sana?”
Janda itu sama sekali tidak keberatan mengumumkan kepada orang banyak, bahwa ada lelaki di rumahnya, maka dengan patuhnya ia menuliskan nama “Miyamoto Musashi” pada secarik kertas yang kemudian ditempelkannya di tiang gerbang.
Jotaro tidak muncul hari itu, tapi hari berikutnya Musashi menerima kunjungan rombongan tiga samurai. Ketiganya memaksa masuk, walaupun diprotes oleh pelayan. Mereka langsung naik dan masuk ke kamar Musashi. Musashi segera tahu bahwa mereka sebagian dari orang-orang yang hadir di Hozoin ketika la membunuh Agon. Duduk di lantai mengitarinya, seolah-olah mereka telah mengenalnya sepanjang hidupnya, mereka mencurahkan kata-kata jilatan.
“Tak pernah saya melihat yang seperti itu dalam hidup saya,” kata yang seorang. “Saya yakin belum pernah hal semacam itu terjadi di Hozoin. Bayangkan saja! Seorang tamu tak dikenal datang, dan begitu saja dia langsung melumpuhkan salah satu dari Tujuh Pilar. Dan bukan orang biasa yang dilumpuhkannya, tapi Agon yang mengerikan itu sendiri. Sekali bentak saja dia sudah muntah darah. Jarang ada pemandangan seperti itu!”
Yang lain melanjutkan dengan nada yang sama. “Semua orang yang kami kenal bicara tentang itu. Semua ronin bertanya-tanya, siapa orang yang namanya Miyamoto Musashi ini. Hari itu hari buruk buat nama baik Hozoin.”
“Ya, Anda tentu pemain pedang terbesar di negeri ini!”
“Dan masih begitu muda lagi!”
“Tak sangsi lagi. Dan Anda akan menjadi lebih baik lagi nantinya.”
“Kalau Anda tidak keberatan, saya ingin bertanya, kenapa dengan kecakapan Anda yang demikian Anda hanya jadi ronin? Suatu pemborosan bakat bahwa Anda tidak mengabdi kepada seorang daimyo!”
Mereka berhenti agak lama hanya waktu menghirup teh dan melahap kue dengan rakusnya, hingga remah-remahnya berceceran ke pangkuan mereka dan ke lantai.
Malu mendapat pujian demikian melimpah, Musashi mengalihkan pandangan dari kanan ke kiri, dan sebaliknya. Untuk sementara ia mendengarkan saja dengan muka tenang, karena menurut pikirnya lambat atau cepat semangat mereka itu akan menurun. Tapi ketika mereka tidak memperlihatkan tanda-tanda akan mengubah pokok pembicaraan, ia mengambil prakarsa dengan menanyakan nama mereka.
“O, maaf, nama saya Yamazoe Dampachi. Saya mengabdi kepada Yang Dipertuan Gamo,” kata yang pertama.
IZRO'IL
Musashi II (Air)

Musashi II 6


Orang yang di sebelahnya berkata, “Saya Otomo Banryu. Saya menguasai Gaya Bokuden, dan saya banyak punya rencana untuk masa depan.”
“Saya Yasukawa Yasubei,” kata orang ketiga sambil tertawa kecil. “Saya belum pernah jadi apa-apa kecuali ronin, seperti ayah saya.”
Musashi heran, kenapa mereka membuang waktu untuk omongan yang tak ada artinya itu. Jelaslah ia tidak akan mengetahui sesuatu kalau ia tidak bertanya, karena itu ketika pembicaraan berhenti lagi, ia berkata, “Saya kira Anda sekalian datang kemari karena ada urusan dengan saya.”
Mereka pura-pura terkejut mendengar apa yang dikemukakan Musashi, tapi segera mereka membenarkan bahwa mereka memang datang untuk apa yang mereka anggap sebagai misi yang sangat penting. Sambil maju cepat ke depan, Yasubei berkata, “Memang kami ada urusan dengan Anda. Begini, kami punya rencana mengadakan ‘hiburan’ umum di kaki Gunung Kasuga, dan kami ingin bicara dengan Anda soal itu. Ini bukan permainan atau hal lain serupa itu. Kami ingin mengadakan serangkaian pertandingan yang akan memberikan pelajaran pada rakyat tentang seni bela diri, dan sekaligus memberikan kesempatan pada mereka untuk bertaruh.”
Ia melanjutkan bahwa arena sudah didirikan, dan prospeknya kelihatannya baik sekali. Namun mereka merasa butuh orang lain, karena kalau hanya mereka bertiga, samurai yang betul-betul kuat kemungkinan akan datang dan mengalahkan mereka semua. Itu berarti uang yang mereka peroleh dengan susah payah akan hilang percuma. Mereka menyimpulkan, Musashi yang paling tepat bagi mereka. Kalau ia mau menggabungkan diri dengan mereka, mereka tidak hanya akan membagi dengannya keuntungan mereka, melainkan juga membayar makanan dan penginapan Musashi selama pertandingan berlangsung. Dengan cara itu, ia dapat dengan mudah memperoleh uang cepat, untuk perjalanannya yang akan datang.
Musashi senang juga mendengar bujukan mereka itu, tapi segera kemudian ia lelah, dan tukasnya, “Kalau itu yang Anda sekalian inginkan, tak ada yang mesti dibicarakan. Saya tidak tertarik.”
“Kenapa tidak?” tanya Dampachi. “Kenapa tidak tertarik?”
Watak muda Musashi meletus. “Saya bukan penjudi!” katanya berang. “Dan saya makan dengan sumpit, bukan dengan pedang saya!”
“Apa itu?” mereka bertiga memprotes, karena terhina oleh sindiran Musashi. “Apa maksud Anda dengan itu?”
“Jadi, kalian tak mengerti, orang-orang sinting? Saya ini samurai, dan saya bermaksud tetap menjadi samurai, biarpun saya akan kelaparan karena itu. Sekarang enyah dari sini!”
Mulut salah seorang dari orang-orang itu memerot menjadi mata kayu yang keji, sedangkan seorang lagi menjadi merah karena marah, dan serunya, “Kamu pasti akan menyesal!”
Mereka tahu benar bahwa mereka bertiga jadi satu pun bukan tandingan Musashi. Tapi untuk menyelamatkan muka, mereka tinggalkan tempat itu dengan ribut, memberengut, dan berusaha keras menimbulkan kesan bahwa urusan dengan Musashi belum selesai.
Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, bulan tampak putih dan sedikit berawan. Nyonya rumah yang masih muda berusaha menyuguhkan makanan yang enak dan sake yang baik mutunya kepada Musashi, karena ia merasa bebas dari kekuatiran selama Musashi diam di sana. Musashi makan di bawah bersama keluarga, dan dalam acara makan itu ia minum sampai setengah mabuk.
Kembali ke kamarnya, ia menggeletakkan diri di lantai. Segera kemudian pikirannya pun terhenti pada Nikkan.
“Sungguh memalukan,” katanya pada diri sendiri.
Musuh-musuh yang telah dikalahkannya, bahkan juga yang sampai terbunuh atau setengah terbunuh, selalu menghilang dari pikirannya seperti buih. Tapi ia tidak dapat melupakan siapa pun yang berhasil lebih baik daripada dirinya, atau dalam hal ini siapa pun yang rasanya mengunggulinya. Orang-orang seperti itu terus menetap dalam pikirannya seperti roh yang hidup, dan ia selalu berpikir kapan dapat mengalahkan mereka.
“Memalukan!” ulangnya.
Ia mencengkeram rambutnya dan memeras otak bagaimana caranya mengungguli Nikkan, bagaimana caranya menghadapi pandangan yang menakutkan itu tanpa mengelak. Dua hari lamanya persoalan itu menggerogotinya. Bukan ia ingin mencelakakan Nikkan, tapi ia sangat kecewa terhadap dirinya sendiri.
“Apa betul diriku kurang baik?” tanyanya sedih kepada diri sendiri. Karena selama ini belajar ilmu pedang tanpa guru, ia kurang bisa menilai kekuatannya sendiri secara objektif. Tak bisa tidak, ia ragu, seperti yang dipancarkan pendeta tua itu.
Nikkan mengatakan ia terlampau kuat, sehingga harus belajar menjadi lebih lemah. Inilah yang membuat pikirannya terus bekerja keras, karena ia tidak dapat menduga maknanya. Apakah kekuatan itu bukan dasar terpenting seorang prajurit? Apakah bukan itu yang membuat seorang prajurit unggul atas prajurit lain? Bagaimana bisa Nikkan menyebutnya sebagai suatu kekurangan?
“Barangkali,” pikir Musashi, “bangs*t tua itu mempermainkan diriku. Barangkali dia memandang mudanya umurku, dan memilih bicara berteka-teki untuk membingungkan aku dan menyenangkan hatinya sendiri. Dan sesudah aku pergi, dia tertawa senang. Mungkin saja.”
Pada waktu-waktu seperti ini, Musashi bertanya-tanya apakah bijaksana membaca segala macam buku di Puri Himeji itu. Sebelum itu tak pernah ia susah-susah memikirkan persoalan, tapi sekarang, apabila sesuatu terjadi, tidak dapat ia beristirahat sebelum ditemukannya penjelasan yang memuaskan kecerdasannya. Dahulu ia hanya bertindak atas dasar naluri, sekarang ia harus memahami setiap hal-hal kecil, sebelum dapat menerimanya. Dan ini tidak hanya mengenai seni pedang, tapi juga mengenai cara memandang manusia dan masyarakat.
Benar, kenekatan di dalam dirinya sudah dijinakkan. Namun Nikkan mengatakan ia “terlalu kuat”. Musashi menyimpulkan bahwa yang dibicarakan Nikkan bukan kekuatan fisik, melainkan semangat juang liar yang menyertai kelahirannya. Apakah pendeta itu benar-benar dapat memahaminya, ataukah hanya menduga-duga?
“Pengetahuan yang berasal dari buku itu tidak ada gunanya buat prajurit,” demikian ia meyakinkan dirinya kembali. “Kalau orang terlalu menggubris apa yang dipikirkan atau dilakukan orang lain, bisa lambat tindakannya. Sekiranya Nikkan sejenak saja menutup mata dan salah langkah, dia pasti ambruk dan jatuh berantakan!”
Bunyi langkah kaki di tangga mengganggu renungannya. Pembantu muncul diiringi Jotaro yang kulitnya jadi lebih hitam lagi oleh debu yang menempel pada badannya selama perjalanan, tapi rambutnya yang seperti rambut peri itu putih oleh debu. Musashi benar-benar senang mendapat hiburan dengan datangnya teman kecilnya itu. Ia menyambut si anak dengan tangan terbuka.
Anak itu menjatuhkan diri ke lantai dan langsung meluruskan kedua kakinya yang kotor. “Oh, capeknya!” keluhnya.
“Apa sulit menemukan aku?”
“Sulit! Hampir saya putus asa. Sudah di seluruh tempat saya mencari!”
“Apa kamu tidak bertanya di Hozoin?”
“Ya, tapi mereka bilang tidak kenal Kakak sama sekali.”
“Oh, mereka kenal betul!” Mata Musashi menyipit. “Bahkan khusus kukatakan pada mereka, kamu bisa menemukan aku dekat Kolam Sarusawa. Tapi baiklah, aku senang kamu sudah melakukan semua itu.”
“Ini jawaban dari Perguruan Yoshioka itu.” Jotaro menyerahkan tabung bambu itu kepada Musashi. “Saya tak dapat menemukan Hon’iden Matahachi, jadi saya minta orang di rumahnya menyampaikan pesan kepadanya.”
“Bagus. Sekarang pergi mandi sana. Nanti mereka kasih kamu makan di bawah.”
Musashi mengeluarkan surat itu dari tabungnya dan membacanya. Isinya menyatakan bahwa Seijuro mengharapkan berlangsungnya “pertandingan kedua”. Jika Musashi tidak muncul seperti dijanjikan tahun berikutnya, dapat disimpulkan bahwa ia sudah kehilangan nyali. Kalau itu terjadi, Seijuro pasti akan menjadikan Musashi bahan tertawaan di Kyoto. Omongan besar ini disampaikan dengan tulisan tangan kaku yang agaknya dibuat orang lain, bukan Seijuro.
Musashi merobek-robek surat itu menjadi sobekan-sobekan kecil dan membakarnya, maka remah-remah hangus itu pun berterbangan ke udara, seperti kupu-kupu hitam.
Seijuro bicara tentang “pertandingan”, padahal jelas yang terjadi akan lebih lagi. Yang akan terjadi adalah pertarungan sampai mati. Tahun depan, akibat surat yang menghina ini, siapakah di antara kedua jago itu yang akan menjadi abu?
Musashi menganggap sudah sewajarnya seorang prajurit harus puas dengan hidup dari hari ke hari, dan tak pernah tahu di waktu pagi apakah ia akan terus hidup menyaksikan jatuhnya malam. Namun demikian, agak resah juga ia memikirkan bahwa tahun yang akan datang kemungkinan ia akan benar-benar mati. Begitu banyak hal yang masih ingin ia lakukan. Pertama-tama ia menyimpan keinginan menyala-nyala untuk menjadi pemain pedang besar. Dan bukan itu saja. Sebegitu jauh, demikian pikirnya, ia belum melakukan satu pun dari hal-hal yang biasa dilakukan orang dalam perjalanan hidupnya.
Pada umurnya sekarang, sebetulnya terlalu pagi ia punya pikiran ingin memiliki pegawai sendiri dalam jumlah besar, yang akan menuntun kudakudanya atau membawa burung elangnya, seperti Bokuden dan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. Ia ingin juga memiliki rumah yang pantas, dengan istri yang baik dan pelayan-pelayan setia. Ia ingin menjadi tuan yang baik dan menikmati kehangatan dan kesenangan hidup keluarga. Dan tentu saja, sebelum hidup menetap, diam-diam ingin juga ia mengalami percintaan menyala-nyala. Selama beberapa tahun berpikir semata-mata tentang Jalan Samurai, ia tetap perjaka, dan itu bukan tidak wajar. Namun terpesona juga ia melihat sebagian wanita di jalan-jalan Kyoto dan Nara. Dan yang menyenangkannya itu bukan hanya nilai-nilai keindahan mereka; mereka juga menggetarkannya secara fisik.
Pikirannya pun melayang kepada Otsu. Sekalipun gadis itu sekarang merupakan makhluk masa lalu yang jauh, ia merasa sangat terikat kepadanya. Beberapa kali sudah, ketika ia kesepian atau sedang gundah, kenangan samar-samar saja tentang gadis itu sudah dapat menyegarkannya kembali.
Tak lama kemudian angan-angan itu buyar. Jotaro datang kembali, sudah mandi, kenyang, dan bangga karena sudah melaksanakan kewajiban dengan berhasil. Tak lama sesudah bersila dan mengatur tangan di pangkuan, ia pun menyerah kepada lelah. Segera saja ia tertidur dengan nyenyaknya, mulutnya ternganga. Musashi menidurkannya ke tempat tidur.
Pagi tiba. Anak itu bangun bersama burung layang-layang. Musashi pun bangun pagi, karena ia bermaksud meneruskan perjalanan.
Ketika ia sedang berpakaian, janda itu muncul, dan katanya dengan nada menyesali, “Anda rupanya buru-buru akan pergi.” la membawa pakaian, yang kemudian diberikannya kepada Musashi. “Saya jahit pakaian ini untuk Anda sebagai hadiah perpisahan-sebuah kimono dengan jubah pendek. Tak tahulah saya, apa Anda menyukainya, tapi saya harap Anda memakainya.”
Musashi memandang heran. Pakaian itu terlalu mahal baginya, padahal ia tinggal di situ hanya selama dua hari. Ia mencoba menolaknya, tetapi janda itu berkeras. “Tidak, Anda mesti menerimanya. Dan lagi pakaian ini tidak begitu luar biasa. Saya banyak punya kimono lama dan pakaian No peninggalan suami saya. Barang-barang itu tak ada gunanya buat saya. Lebih baik kalau Anda memilikinya. Saya harap betul, Anda tidak menolak. Saya sudah mengubahnya, supaya cocok untuk Anda, jadi kalau Anda tidak menerimanya, akan sia-sia saja kerja saya.”
Ia pergi ke belakang Musashi dan mengangkat kimono itu supaya Musashi dapat memasukkan tangannya. Selagi mengenakan kimono itu, tahulah Musashi bahwa bahan sutranya dari mutu yang baik sekali, dan ia merasa lebih malu lagi dari sebelumnya. Jubah tak berlengan itu bagus sekali. Tentunya diimpor dari Cina. Kelimannya dari kain brokat emas, lapisannya dari kain krep sutra, dan tali pengikatnya terbuat dari kulit dicelup warna ungu.
“Kelihatan cocok sekali untuk Anda!” ucap janda itu.
Jotaro tampak iri, dan tiba-tiba katanya kepada janda itu, “Saya sendiri mau Ibu kasih apa?”
Janda itu tertawa. “Seharusnya kamu sudah senang mendapat kesempatan mengikuti tuanmu yang gagah.”
“Ah,” gerutu Jotaro, “siapa yang mau kimono lama?”
“Apa ada yang sungguh kamu inginkan?”
Anak itu lari ke dinding kamar tunggu dan mencopot topeng No dari sangkutannya, katanya, “Ya, ini!” Ia mendambakan barang itu sejak pertama kali mengamatinya malam sebelumnya, dan kini ia membelaikan topeng itu dengan mesranya ke pipi.
Musashi kagum akan selera bagus anak itu. Ia sendiri merasa topeng itu mengagumkan buatannya. Sukar diketahui siapa pembuatnya, tapi umurnya tentulah sudah dua atau tiga abad, dan jelas pernah dipakai dalam pertunjukan-pertunjukan No. Wajah yang diukir sangat halus itu wajah jin perempuan. Tetapi kalau biasanya topeng jenis ini dicat titik-titik warna biru mengerikan, maka topeng ini adalah wajah gadis cantik dan anggun.
Yang ganjil padanya hanyalah karena salah satu ujung mulutnya melengkung tajam ke atas, mengerikan sekali. Jelaslah bukan wajah khayalan yang diciptakan sang seniman, melainkan potret perempuan gila yang nyata dan hidup, yang cantik namun penuh pesona.
“Oh, itu tak boleh kamu miliki,” kata janda itu tegas, berusaha merebut topeng tersebut.
Jotaro menghindari jangkauan janda itu dan mengenakan topeng itu pada kepalanya dan menari sekeliling kamar sambil berseru-seru melawan, “Apa guna topeng ini buat Ibu? Sudah jadi milik saya sekarang. Akan saya ambil!”
Musashi berusaha juga menangkapnya, karena ia merasa kaget dan malu oleh kelakuan muridnya, tetapi Jotaro memasukkan topeng itu ke dalam kimononya, lalu turun tangga, dikejar janda itu. Janda itu memang tertawa, sama sekali tidak marah, tapi jelas kelihatan ia tidak ingin berpisah dengan topeng itu.
Sebentar kemudian Jotaro kembali naik tangga pelan-pelan. Musashi duduk menghadap pintu, siap mencacinya sehebat-hebatnya. Tapi ketika masuk, anak itu berteriak, “Booo!” dan menyorongkan topeng itu ke hadapannya. Musashi sangat terkejut; otot-ototnya menjadi tegang dan lututnya beralih-alih letak tanpa disadarinya.
Ia tidak tahu kenapa kelakar Jotaro menimbulkan akibat sedemikian padanya. Tapi ketika mengawasi topeng itu dalam cahaya remang-remang, mulailah ia memahaminya. Si pengukir telah memasukkan sesuatu yang sifatnya setani dalam ciptaannya. Senyuman bulan sabit yang disertai lengkungan ke atas pada bagian kiri wajah putih itu sungguh angker, mengandung setan.
“Kalau mau berangkat, mari kita berangkat,” kata Jotaro.
Tetap duduk, Musashi berkaca, “Kenapa belum kamu kembalikan topeng itu? Buat apa kamu barang macam itu?”
“Tapi dia bilang, boleh saya ambil! Dia berikan pada saya.”
“Bohong! Turun sana, dan kembalikan padanya.”
“Tapi dia sudah memberikannya pada saya! Waktu mau saya kembalikan, dia bilang, kalau saya memang ingin sekali, boleh saya memilikinya. Cuma dia pesan supaya saya merawatnya baik-baik. Tadi saya janji akan merawatnya.”
“Mau kuapakan kamu!” Musashi merasa malu, karena pertama ia menerima kimono itu, dan kemudian topeng yang agaknya sangat dihargai janda itu. Ingin ia berbuat sesuatu untuk membalasnya, tetapi janda itu rupaya tidak butuh uang-apalagi uang dalam jumlah kecil yang dapat disisihkan Musashi-sedangkan di antara miliknya yang tak seberapa itu tak ada yang sesuai untuk hadiah. Ia turun tangga untuk meminta maaf atas kekurangajaran Jotaro dan mencoba mengembalikan topeng itu.
Namun janda itu mengatakan, “Tidak. Makin saya timbang, makin terpikir oleh saya bahwa saya lebih bahagia tanpa topeng itu. Lagi pula dia ingin sekali memilikinya…. Tak usahlah begitu keras terhadap dia.”
Musashi menduga topeng itu memiliki makna tertentu bagi si janda, maka ia sekali lagi berusaha mengembalikannya, tetapi kali itu Jotaro sudah mengenakan sandal jeraminya dan sudah berada di luar, menanti dekat gerbang dengan pandangan puas. Karena sudah ingin pergi, Musashi mengalah pada kebaikan janda itu dan menerima hadiahnya. Kata janda muda itu, ia lebih berat melihat Musashi pergi daripada kehilangan topeng itu, dan beberapa kali ia minta kepada Musashi untuk datang kembali dan tinggal di sana, kapan saja ia berada di Nara.
Musashi sedang mengikatkan tali sandalnya ketika istri pembuat kue bakpau itu datang berlari-lari. “Oh,” kata nyonya itu kehabisan napas, “saya senang sekali Anda belum berangkat. Anda tak bisa pergi sekarang. Saya minta Anda balik ke atas. Mengerikan!” Suara perempuan itu gemetar, seakan-akan ada setan yang menakutkan hendak menyerangnya.
Musashi selesai mengikatkan sandalnya, dan tenang-tenang mengangkat kepala, “Ada apa? Apa yang mengerikan?”
“Pendeta-pendeta Hozoin mendengar bahwa Anda akan berangkat hari mi. Lebih dari sepuluh orang membawa tombak dan mengendap menanti Anda di Dataran Hannya.”
“Oh?”
“Ya, dan Kepala Biara, Inshun, ikut juga dengan mereka. Suami saya kenal salah seorang pendeta itu dan sudah bertanya kepadanya apa yang sedang terjadi. Pendeta mengatakan orang yang tinggal di sini beberapa hari terakhir ini, yaitu orang yang namanya Miyamoto, akan meninggalkan Nara hari ini, dan para pendeta akan mencegatnya di jalan.”
Wajah perempuan itu mengerinyut takut. Ia berusaha meyakinkan Musashi bahwa meninggalkan Nara pagi itu sama saja dengan bunuh diri. Dengan sangat ia minta Musashi untuk menanti sampai malam berikutnya. Menurut pendapatnya, akan lebih aman kalau Musashi mencoba pergi diam-diam hari berikutnya.
“Ya,” kata Musashi datar. “Jadi, menurut Ibu, mereka bermaksud menemui saya di Dataran Hannya?”
“Saya tidak tahu pasti di mana, tapi mereka pergi ke jurusan itu. Beberapa penduduk mengatakan yang ikut tidak hanya pendeta. Mereka bilang banyak ronin ikut juga berkumpul. Katanya mereka akan menangkap Anda dan mengembalikan Anda ke Hozoin. Apa Anda bicara jelek tentang kuil itu, atau menghina mereka, entah bagaimana caranya?”
“Tidak.”
“Nah, mereka bilang, pendeta-pendeta itu naik darah karena Anda sudah menyewa orang untuk memasang banyak poster dengan sajak-sajak yang isinva menertawakan Hozoin. Menurut mereka, itu berarti Anda bergendang paha, karena sudah membunuh seorang dari mereka.”
“Saya tidak melakukan hal-hal seperti itu. Semua itu kekeliruan.”
“Nah, kalau itu kekeliruan, tak perlu Anda pergi ke sana dan terbunuh karenanya.”
Dengan dahi bercucuran keringat Musashi memandang ke langit, merenung, dan teringatlah ia betapa marah ketiga ronin itu ketika ia menolak tawaran bisnis mereka. Barangkali merekalah sumber segalanya ini. Rasanya tidak mengherankan jika orang seperti mereka lalu memasang poster-poster yang sifatnya menghina dan kemudian menyebarkan kepada orang banyak bahwa dialah yang melakukan itu.
Mendadak sontak la berdiri. “Saya pergi sekarang,” katanya.
Ia menyandangkan tas perjalanannya ke punggung, mengambil topi anyaman, dan sambil menghadap kedua perempuan itu ia mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati mereka. Ketika ia berjalan menuju gerbang, janda itu mengikutinya sambil menangis dan memohon kepadanya agar tidak pergi.
“Kalau saya menginap semalam lagi,” jelasnya, “pasti akan timbul kesulitan di rumah Ibu. Saya tak ingin hal itu terjadi. Ibu sudah begitu baik pada saya.”
“Saya tak peduli,” desak janda itu. “Anda lebih aman di sini.”
“Tidak, saya pergi sekarang. Jo! Ucapkan terima kasih pada Ibu.”
Dengan patuhnya anak itu membungkuk dan melakukan hal yang disuruhkan kepadanya. Ia kelihatannya patah semangat, tapi bukan karena menyesal akan berangkat. Memang Jotaro belum betul-betul kenal Musashi. Di Kyoto ia mendengar bahwa tuannya itu lemah dan pengecut. Pikiran bahwa jago-jago tombak jahat Hozoin akan menyerang Musashi itulah yang sangat mematahkan semangatnya. Hatinya yang masih muda itu penuh kemurungan dan firasat.
Dataran Hannya

JOTARO berjalan sedih pelan-pelan di belakang gurunya, karena takut setiap langkah yang diambilnya akan semakin mendekatkan mereka kepada maut. Sebelum itu, di jalan yang lembap dan teduh di dekat Todaiji, sebutir embun yang menjatuhi kerahnya hampir saja membuatnya berteriak. Burung-burung gagak hitam yang dilihatnya sepanjang jalan ikut menimbulkan rasa ngeri padanya.
Nara sudah jauh mereka tinggalkan. Lewat baris-baris pohon kriptomeria di sepanjang jalan, mereka dapat melihat dataran yang melandai berombak-ombak menuju Bukit Hannya. Di sebelah kanan, mereka melihat puncak-puncak Gunung Mikasa. Di atasnya langit yang damai.
Bahwa ia dan Musashi sedang berjalan langsung menuju tempat pencegatan para jago tombak Hozoin baginya betul-betul tak masuk akal. Banyak tempat untuk bersembunyi kalau bermaksud demikian. Dapat saja mereka masuk salah satu kuil yang banyak jumlahnya di sepanjang jalan itu dan menanti kesempatan yang baik. Itu sudah tentu lebih masuk akal.
Ingin ia mengetahui, apakah Musashi bermaksud meminta maaf kepada para pendeta itu, sekalipun tak pernah ia berbuat salah kepada mereka. Jotaro sudah memutuskan, kalau Musashi minta maaf pada mereka, ia juga akan berbuat demikian. Sekarang bukan waktunya berdebat tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.
“Jotaro!”
Mendengar namanya dipanggil, anak itu terkejut. Alisnya naik ke atas dan tubuhnya jadi tegang. Karena merasa barangkali mukanya pucat akibat takut, dan karena tak ingin kelihatan kekanak-kanakan, ia menatapkan matanya dengan berani ke langit. Musashi memandang ke langit juga, dan anak itu merasa lebih kecil hati lagi.
Ketika Musashi melanjutkan bicaranya, kata-kata yang diucapkannya bernada gembira seperti biasanya. “Nyaman, bukan, Jo? Sepertinya kita sedang berjalan diiringi lagu burung bulbul.”
“Apa?” tanya anak itu kaget.
“Burung bulbul, kataku.”
“Oh, ya, burung bulbul. Ada beberapa ekor di sekitar tempat ini, kan?” Musashi dapat melihat dari pucatnya bibir anak itu bahwa ia sedih sekali. Ia merasa kasihan. Betapapun, bisa saja dalam beberapa menit lagi tiba-tiba anak itu menjadi sebatang kara di tempat yang asing. “Kita sudah dekat Bukit Hannya, ya?” kata Musashi.
“Betul.”
“Nah, lalu apa sekarang?”
Jataro tidak menjawab. Hanya nyanyian burung bulbul dingin saja yang terdengar oleh telinganya. Tak dapat ia mengusir firasat yang dirasakannya bahwa mereka berdua segera akan berpisah untuk selamanya. Mata yang pernah nyalang gembira ketika mengejuti Musashi dengan topeng itu kini tampak gelisah dan sedih.
“Lebih baik kau tinggal di sini,” kata Musashi. “Kalau kau jalan terus, kau bisa terluka. Tak ada alasan buatmu untuk membahayakan diri sendiri.”
Jotaro pun pecahlah tangisnya. Air mata meleleh di pipinya, seperti bendungan jebol. Punggung tangannya diusapkannya ke mata, dan bahunya menggeletar. Tangisnya ditambah pula dengan sentakan-sentakan kecil, seakan-akan ia sedang tersedak.
“Apa pula ini? Kaubilang mau belajar Jalan Samurai? Kalau nanti aku menerobos dan lari, kau mesti ikut lari ke jurusan yang sama. Kalau aku terbunuh, kau kembali ke toko sake di Kyoto. Tapi sekarang kau pergi ke bukit kecil di sana itu, dan perhatikan dari sana. Dari sana akan tampak segala yang terjadi.”
Sesudah mengusap air mata, Jotaro mencengkeram lengan kimono Musashi, dan ucapnya, “Ayo kita lari!”
“Bukan begitu cara samurai bicara! Kau mau jadi yang begitu, ya?”
“Saya takut! Saya tak mau mati!” Dengan tangan gemetar ia menariki lengan kimono Musashi agar kembali. “Pikirkan saya,” demikian ia memohon. “Ayolah pergi dari sini, mumpung masih bisa!”
“Kalau kamu bicara seperti itu, aku jadi ingin lari juga. Kamu tak punya orangtua yang akan mengurusmu, seperti aku ketika seumur kamu. Tapi…”
“Kalau begitu, ayolah. Apa yang kita tunggu?”
“Tidak!” Musashi membalikkan badan, dan sambil mengangkangkan kakinya ia menghadapi anak itu. “Aku samurai. Kamu anak samurai. Kita tak akan lari.”
Mendengar kepastian dalam nada Musashi itu, Jotaro menyerah dan duduk. Air mata kotor meleleh di pipinya ketika ia menghapus matanya yang merah bengkak dengan kedua tangannya.
“Jangan kuatir!” kata Musashi. “Aku tak mau kalah, aku harus menang! Segalanya akan beres nanti.”
Jotaro tidak sedikit pun senang mendengar kata-kata itu. Ia tak dapat percaya sepatah kata pun. Karena tahu bahwa para jago tombak Hozoin itu lebih dari sepuluh orang jumlahnya, ia sangsi apakah Musashi akan dapat mengalahkan mereka satu-satu, apalagi semuanya sekaligus. Apalagi Musashi terkenal sebagai orang lemah.
Musashi sendiri sudah mulai kehilangan kesabaran. Ia suka pada Jotaro dan kasihan kepadanya, tetapi sekarang ini bukan waktunya memikirkan anak-anak. Para jago tombak sudah menanti dengan satu tujuan: membunuhnya. Ia harus siap menghadapi mereka. Jotaro merupakan gangguan baginya sekarang.
Suaranya pun jadi tajam. “Jangan nangis lagi! Kalau begitu kelakuanmu, tak bakal kamu jadi samurai. Kenapa kamu tidak kembali saja ke toko sake itu?” Dengan tegas dan agak keras ditolaknya anak itu.
Jotaro terkena batunya dan tiba-tiba berhenti menangis dan berdiri regak, mukanya kelihatan kaget. Dilihatnya gurunya berjalan terus menuju Bukit Hannya. Ia ingin memanggil, tapi dilawannya dorongan keinginan itu. Sebaliknya ia paksa dirinya tinggal diam beberapa menit lamanya. Kemudian ia berjongkok di bawah sebuah pohon tak jauh dari situ, menutup muka dengan tangan, dan menggeretakkan giginya.
Musashi tidak menoleh, walaupun sedu-sedan Jotaro menggema di telinganya. Ia merasa dapat melihat anak kecil yang malang dan ketakutan itu melalui tengkuknya, dan ia menyesali telah membawanya serta. Melindungi diri sendiri saja sudah lebih dari cukup beratnya; dalam keadaan belum matang seperti sekarang, ia hanya bisa mengandalkan diri kepada pedang dan tak tahu ia apa yang bakal terjadi esok-jadi, apa perlunya teman baginya?
Pohon-pohon mulai menjarang. Ia mendapati dirinya sudah berada di tengah dataran terbuka. Sebuah datarannya agak tinggi dan pegunungan di kejauhan sana. Di jalan yang memecah menuju Gunung Mikasa, seorang lelaki mengangkat tangan menyapanya.
“Hei, Musashi! Mau ke mana?”
Musashi dapat mengenali orang yang datang ke arahnya itu. Dia Yamazoe Dampachi. Walaupun Musashi segera merasa bahwa tujuan Dampachi adalah menjebaknya, namun ia menyambut juga dengan sungguh-sungguh.
Dampachi berkata, “Aku senang bertemu denganmu. Aku ingin kau tahu bahwa aku sangat menyesali urusan kemarin itu.” Nada bicaranya wrlalu sopan, dan selagi bicara jelas ia memperhatikan wajah Musashi sebaik-baiknya. “Kuharap engkau bisa melupakannya. Semua itu kekeliruan.”
Dampachi sendiri belum begitu tahu bagaimana harus bersikap terhadap Musashi. Ia memang sangat terkesan oleh apa yang disaksikannya di Hazoin. Ya, mengingat hal itu saja sudah membuat tulang punggungnya dingin. Tapi biar bagaimana, Musashi hanyalah seorang ronin provinsi yang tidak akan lebih dari dua puluh satu atau dua puluh dua tahun umurnya. Dan Dampachi masih jauh dari siap untuk mengakui bahwa orang seumur dan dengan status seperti Musashi itu dapat lebih baik dari dirinya.
“Mau ke mana?” tanyanya lagi.
“Rencananya lewat Iga ke jalan raya Ise. Dan kau?”
“Oh, ada pekerjaan di Tsukigase.”
“Kalau tak salah, itu tidak jauh dari Lembah Yagyu?”
“Tidak, tidak jauh.”
“Di situlah kuil Yang Dipertuan Yagyu, kan?”
“Ya, dekat Kuil Kasagidera. Engkau mesti pergi ke sana nanti. Yang Dipertuan Muneyoshi sekarang hidup pensiun sebagai ahli upacara minum teh, dan anaknya Munenori ada di Edo, tapi kau mesti singgah di sana dan melihat keadaannya.”
“Tak yakin aku bahwa Yang Dipertuan Yagyu mau memberikan pelajaran kepada musafir seperti diriku.”
“Ada kemungkinan. Tentu saja lebih baik kalau kau punya pengantar. Kebetulan aku kenal seorang tukang senjata di Tsukigase yang bekerja pada Keluarga Yagyu. Kalau kau suka, aku bisa tanya, apa dia mau memperkenalkanmu.”
Dataran itu menghampar luas beberapa mil jauhnya. Garis langit di sana-sini diselingi pohon kriptomeria tunggal atau pinus hitam Cina Namun di sana-sini dataran itu menaik lembut, dan jalan pun ikut naik dan turun. Di dekat kaki Bukit Hannya, Musashi melihat asap api berwarna cokelat mengepul di belakang sebuah bukit rendah.
“Apa itu?” tanyanya.
“Apa yang apa?”
“Asap di sana itu.”
Selama itu Dampachi terus menempel di sisi kiri Musashi, dan ketika ia memandang wajah Musashi, wajahnya sendiri mengeras.
Musashi menuding, “Asap di sana itu mencurigakan,” katanya. “Apa menurutmu tidak begitu?”
“Mencurigakan? Mencurigakan bagaimana?”
“Yah, mencurigakan, seperti pandangan matamu sekarang ini,” kata Musashi tajam. Sekonyong-konyong ia menyapukan jarinya ke tubuh Dampachi.
Bunyi orang bersuit melengking memecahkan kesunyian dataran itu. Dampachi tersengal-sengal terkena hantaman Musashi. Karena perhatiannya tertuju pada jari Musashi, ia tak sadar bahwa Musashi sudah menarik pedangnya. Tubuhnya melambung, melayang ke depan, dan mendarat dengan wajah ke bawah. Dampachi tak akan bangkit lagi.
Dari kejauhan terdengar teriakan tanda bahaya. Dua orang muncul di puncak bukit. Seorang memiawik, lalu keduanya memutar badan dan angkat kaki, tangan diacung-acungkan di udara.
Pedang yang ditudingkan Musashi ke tanah berkilauan oleh sinar matahari. Darah segar menetes dari ujungnya. Ia berjalan langsung ke arah bukit itu. Sekalipun angin musim semi bertiup lembut ke kulitnya, Musashi merasa otot-ototnya menegang selagi mendaki. Dari puncak bukit ia melihat ke bawah, ke arah api yang menyala.
“Dia datang!” seru seorang dari kedua orang yang tadi lari menggabungkan diri dengan yang lain-lain. Semuanya ada sekitar tiga puluh orang. Musashi dapat mengenali pengikut Dampachi, yaitu Yasukawa Yasubei dan Otomo Banryu.
“Dia datang!” kata yang lain membeo.
Mereka tadi sedang bermalas-malasan di bawah sinar matahari. Sekarang semua bangkit berdiri. Setengahnya pendeta, dan setengahnya lagi ronin yang sukar dilukiskan. Ketika Musashi tampak, terdengar hiruk-pikuk hebat tanpa kata di tengah gerombolan itu. Mereka melihat pedang yang bernoda darah, dan tiba-tiba sadarlah mereka bahwa pertempuran sudah dimulai. Bukannya menantang Musashi, mereka malah cuma duduk-duduk mengitari api dan membiarkan Musashi yang menantang.
Yasukawa dan Otomo bicara cepat, menjelaskan dengan gerak-gerik cepat, bagaimana Yamazoe sudah terbantai. Ronin itu melolong berang, sementara para pendeta Hozoin menatap Musashi dengan pandangan mengancam. Mereka menyusun diri menghadapi pertempuran.
Semua pendeta itu membawa tombak. Dengan lengan baju hitam tersingsing mereka siap beraksi dengan tekad membalas kematian Agon dan memulihkan kehormatan kuil. Mereka tampak aneh, seperti setan-setan neraka.
Para ronin membentuk setengah lingkaran, hingga mereka dapat menyaksikan pertunjukan itu dan sekaligus mencegah Musashi melarikan diri.
Namun tindakan jaga-jaga itu ternyata tidak perlu, karena Musashi tidak memperlihatkan tanda-tanda akan lari atau mengundurkan diri. Sebaliknya, ia berjalan mantap dan langsung ke arah mereka. Pelan-pelan, langkah demi langkah, ia maju, seakan-akan siap menerkam setiap saat.
Untuk sesaat berkecamuk kesunyian yang menyesakkan. Kedua belah pihak menyadari semakin mendekatnya maut. Wajah Musashi menjadi pucat pasi. Lewat matanya menyorot mata dewa pembalasan dendam, berkilat-kilat penuh kesengitan. Ia sedang memilih korbannya.
Baik kaum ronin maupun kaum pendeta tidak setegang Musashi. Jumlah mereka yang besar memberikan keyakinan, dan optimisme mereka tak tergoyahkan. Namun tak seorang pun ingin menjadi orang pertama yang diserang.
Seorang pendeta di ujung barisan memberikan isyarat, dan tanpa merusak formasi mereka menderas mengepung Musashi dari kanan.
“Musashi! Aku Inshun,” seru pendeta itu. “Aku diberitahu bahwa kau datang ketika aku sedang pergi, dan kau membunuh Agon. Lalu kau secara terbuka menghina kehormatan Hozoin. Kau mengejek kami dengan memasang poster-poster di seluruh kota. Benar?”

“Tidak!” seru Musashi. “Kalau kau memang pendeta, kau tidak boleh hanya percaya pada yang kau lihat dan kau dengar. Kau mesti menimbang segala sesuatu dengan pikiran dan jiwamu.”
Kata-kata itu seperti menuangkan minyak ke dalam nyala api. Tanpa menghiraukan pemimpinnya, para pendeta mulai berteriak-teriak, menyatakan tak ada gunanya berbicara, dan sudah saatnya kini bertempur.
Mereka didukung penuh semangat oleh kaum ronin yang telah menyusun diri dalam formasi rapat di sebelah kiri Musashi. Sambil memiawik-mekik, memaki-maki, dan mengayun-ayunkan pedang ke udara, mereka mendesak para pendeta untuk bertindak.
Karena yakin para ronin cuma bermulut besar dan tak berani berkelahi, Musashi tiba-tiba menghadap mereka dan berseru, “Baik! Siapa di antara kalian akan maju dahulu?”
Kecuali dua-tiga orang, mereka semua mundur selangkah, karena masingmasing yakin bahwa mata setan Musashi mengarah kepadanya. Dua-tiga orang yang berani itu bersiap dengan pedang diacungkan, seraya mengumandangkan tantangan.
Dalam sekejap mata Musashi sudah menerpa seorang di antaranya, seperti jago aduan. Terdengar bunyi seperti letupan sumbat botol, dan tanah pun merah oleh darah. Kemudian terdengar suara mengerikanbukan teriakan perang, bukan kutukan, tetapi lolongan yang benar-benar membekukan darah.
Pedang Musashi mendesing ke sana kemari di udara, sedangkan gaung di dalam tubuhnya sendiri menjadi petunjuk bahwa ia sedang bertumbukan dengan tulang manusia. Darah dan otak berpercikan dari pedangnya. Jari dan tangan berterbangan di udara.
Kaum ronin itu rupanya datang untuk menyaksikan penyembelihan besar-besaran, bukan untuk ambil bagian di dalamnya. Kelemahan mereka telah menyebabkan Musashi menyerang mereka lebih dahulu. Mula-mula sekali mereka merapatkan diri dengan cukup baik, karena menurut pikiran mereka para pendeta akan segera datang menyelamatkan. Tapi ternyata para pendeta itu hanya berdiri diam tak bergerak, sementara Musashi dengan cepat membantai lima atau enam ronin serta membikin kacau yang lain-lain. Tak lama kemudian mereka saling menyerang ke segala jurusan dan saling melukai.
Hampir sepanjang waktu itu Musashi tidak sadar benar, apa yang sedang diperbuatnya. Ia seperti kesurupan, dalam mimpi penuh pembunuhan, di mana tubuh dan jiwanya terpusat hanya pada pedangnya yang semeter panjangnya. Tak disadarinya bahwa seluruh pengalaman hidupnya-mulai dari pengetahuan yang ditempatkan kepadanya oleh ayahnya, sampai pada apa yang dipelajarinya di Sekigahara, teori-teori yang pernah didengarnya di berbagai perguruan seni pedang, serta pelajaran-pelajaran yang diberikan kepadanya oleh pegunungan dan pepohonan-semuanya itu serentak bermain dalam gerak cepat tubuhnya. Ia menjadi tiupan angin pusaran yang menerjang kawanan ronin, yang karena kebingungan menjadi sasaran empuk serangan pedangnya.
Singkatnya pertarungan dihitung salah seorang pendeta dengan tankan dan embusan napasnya. Pertarungan sudah selesai sebelum ia sempat mengambil napas kedua puluh.
Musashi basah kuyup oleh darah korbannya. Beberapa ronin yang masih tinggal pun bermandikan darah kental. Tanah, dan bahkan udara, penuh dengan darah. Seorang di antara mereka menjerit, dan ronin yang masih hidup bertebaran di mana-mana.
Sementara pertarungan berlangsung, Jotaro tenggelam dalam doa. Kedua tangannya terlipat di dada dan matanya tertengadah ke langit. Ia memohon, “Ya, Tuhan yang di surga, bantulah dia! Guruku di dataran sana tak berdaya, karena kalah jumlah. Dia lemah, tapi dia bukan orang jahat. Tolonglah dia!”
Walaupun Musashi memerintahkannya pergi, tak dapat ia pergi. Tempat yang akhirnya dipilihnya untuk duduk, dengan topinya dan topeng di sampingnya, adalah sebuah bukit kecil. Dari situ ia memperhatikan pemandangan di sekitar api di kejauhan itu.
“Hachiman! Kompira! Dewa Kuil Kasuga! Lihat! Guruku langsung menyongsong musuh. Oh, dewa-dewa langit, lindungilah dia. Saat ini dia bukan dirinya. Biasanya dia lunak dan lembut, tapi dia sedikit aneh sejak tadi pagi. Dia tentunya gila. Kalau tidak, tak akan dilayaninya orang sebanyak itu sekaligus! Oh, aku mohon, aku mohon, tolonglah dia!”
IZRO'IL
Musashi II (Air)

Musashi II 7


Sesudah berseru-seru kepada para dewa seratus kali atau lebih, ia lihat usahanya itu tak ada hasil, dan mulailah ia marah. Akhirnya ia berseru, “Apa sudah tak ada dewa di negeri ini? Apa akan kalian biarkan orangorang jahat menang, dan membiarkan orang baik terbunuh? Kalau memang begitu, semua yang selalu dikatakan orang padaku tentang benar dan salah itu bohong! Kalian tak bisa membiarkan dia terbunuh! Kalau kalian biarkan, akan kuludahi kalian!”
Ketika dilihatnya Musashi terkepung, doa-doanya pun berubah menjadi kutukan yang diarahkannya tidak hanya kepada musuh, tapi juga kepada dewa-dewa sendiri. Kemudian, ketika disadarinya bahwa darah yang tertumpah di dataran itu bukan darah gurunya, mendadak ia mengubah lagu. “Lihat! Guruku ternyata bukan orang lemah! Dia menghajar mereka!”
Itulah pertama kali Jotaro menyaksikan orang bertempur seperti binatang, sampai mati, dan itulah pertama kali ia melihat darah sebanyak itu. la merasa seolah berada di sana, di tengah kancah, dan dirinya cemar juga oleh darah mengental. Hatinya berubah jungkir balik, ia merasa ringan dan pening.
“Lihat dia! Dia bisa melawan! Bukan main serangan itu! Dan lihat pendeta-pendeta tolol itu, yang cuma berbaris seperti gerombolan gagak berkaok-kaok, tetapi takut maju!”
Tapi yang terakhir itu terlalu dini diucapkannya, karena ketika ia mengucapkan itu, para pendeta Hozoin mulai menyerbu Musashi.
“Oh, oh! Gawat kelihatannya. Mereka ramai-ramai menyerang dia. Musashi gawat sekarang!” Lupa akan segalanya, semata-mata karena kecemasannya, Jotaro meluncur seperti bola api ke tengah kancah bencana yang sedang menghampiri itu.
Kepala Biara, Inshun, memberikan perintah menyerang, dan sesaat kemudian para jago tombak itu segera beraksi, diiringi raungan gegap gempita. Senjata mereka yang berkilauan bersuit-suit di udara, sementara para pendeta berpencar seperti tawon yang menghambur dari sarangnya. Kepala mereka yang gundul itu membuat mereka tampak lebih barbar lagi.
Tombak yang mereka bawa berlain-lainan, dan lempeng tombaknya pun sangat berbeda-beda-yang lancip, yang berbentuk kerucut, yang papak, yang berbentuk silang, atau yang bengkok-tiap pendeta menggunakan jenis yang paling disukainya. Hari ini mereka mendapat kesempatan untuk melihat bagaimana teknik-teknik yang mereka asah dalam latihan dapat mereka gunakan dalam perkelahian yang sebenarnya.
Sementara mereka maju menyebar, Musashi melompat mundur dan berdiri siap menantikan serangan muslihat. Letih dan sedikit pusing oleh pertarungan sebelumnya, dicengkeramnya gagang pedangnya erat-erat. Gagang pedang itu lengket oleh darah kental, campuran darah dan keringat mengaburkan pandangannya, tapi ia bertekad untuk mati dengan cemerlang, kalau memang ia harus mati.
Tetapi sungguh ia heran, serangan itu tidak juga datang. Para pendeta bukannya melakukan serangan yang memang dinanti-nantikan itu ke arahnya, melainkan menyerang bekas sekutunya seperti anjing gila. Mereka mengejar para ronin yang telah melarikan diri dan menyerang mereka tanpa kenal ampun, sementara para ronin menjerit-jerit memprotes. Para ronin yang tak menduga itu sia-sia saja mencoba mengerahkan para jago tombak agar melawan Musashi. Mereka diiris, ditusuk, ditikam mulutnya, dibelah dua, atau dibantai, sampai tak seorang pun di antaranya tetap hidup. Pembunuhan besar-besaran itu betulbetul sempurna dan sekaligus menunjukkan sifat haus darah.
Musashi tak percaya akan matanya. Kenapa para pendeta itu menyerang pendukung mereka? Dan kenapa demikian kejam? Baru beberapa saat sebelumnya ia berkelahi seperti binatang liar. Sekarang hampir tak dapat ia menahan diri melihat kebuasan para pendeta itu dalam menyembelih ronin. Setelah sesaat lamanya berubah menjadi seekor binatang yang tak berpikiran, sekarang ia pulih kembali pada keadaannya yang biasa, setelah melihat orangorang lain mengalami perubahan juga. Pengalaman itu membuatnya sadar.
Kemudian sadarlah ia bahwa tangan dan kakinya ditarik-tarik orang. Dan ketika ia melihat ke bawah, tampak olehnya Jotaro sedang mengucurkan air mata puas. Dan untuk pertama kali waktu itu la merasa santai.
Setelah pertempuran berakhir, Kepala Biara mendekatinya, lalu berkata dengan sikap sopan dan mulia, “Tentu Anda Miyamoto. Suatu kehormatan bertemu dengan Anda.” Kepala Biara itu jangkung dan berwajah cerah. Musashi agak terpengaruh oleh kehadirannya, juga oleh sikapnya yang tenang. Dengan sedikit bingung ia hapus pedangnya dan la sarungkan, tapi sesaat lamanya tak dapat ia mengucapkan kata-kata.
“Izinkan saya memperkenalkan diri,” sambung pendeta itu. “Saya Inshun, Kepala Biara Hozoin.”
“Jadi, Andalah ahli tombak itu,” kata Musashi.
“Sayang saya tak ada ketika Anda mengunjungi kami baru-baru ini. Saya juga merasa malu bahwa murid saya, Agon, memperlihatkan perkelahian yang demikian jelek.”
Menyayangkan perbuatan Agon? Musashi merasa barangkali telinganya perlu dibersihkan. Ia tetap diam sesaat lamanya, karena sebelum ia dapat memutuskan cara yang cocok untuk menjawab nada sopan Inshun itu, ia harus menghapuskan dahulu kekacauan dalam pikirannya. Ia masih belum dapat mengerti kenapa para pendeta itu kemudian melawan para ronin tak dapat ia mencari jawaban yang masuk akal. Ia bahkan sedikit heran bahwa dirinya masih hidup.
“Ayolah,” kata kepala biara itu, “bersihkan sebagian darah itu. Anda butuh istirahat.” Inshun mengantarnya ke dekat api, sedangkan Jotaro menguntit di belakang.
Para pendeta menyobek-nyobek secarik kain katun lebar menjadi potongan-potongan kecil dan menghapus lembing mereka. Berangsur-angsur mereka semua berkumpul di sekitar api, duduk bersama Inshun dan Musashi, seolah-olah tak suatu pun yang aneh telah terjadi. Dan mereka mulai mengobrol.
“Lihat ke sana,” kata seseorang, menunjuk ke atas.
“Aaa, gagak-gagak sudah mencium bau darah. Sudah berkaok-kaok mencari mayat mereka.”
“Kenapa burung-burung itu tidak turun?”
“Mereka akan turun nanti, begitu kita pergi. Dan mereka akan berebutan melahap makanan besar itu.”
Olok-olok mengerikan itu berlangsung terus dengan nada santai serupa. Musashi memperoleh kesan bahwa ia tak akan mendapatkan keterangan apa pun, kecuali kalau ia bertanya. Ia memandang Inshun, dan katanya, “Tadi saya pikir Anda dan orang-orang Anda datang kemari untuk menyerang saya, dan saya sudah bertekad mengirim sebanyak-banyaknya dari antara Anda sekalian ke negeri orang mati. Tak mengerti saya, kenapa Anda sekalian memperlakukan saya seperti ini.”
Inshun tertawa. “Nab, kami memang tak perlu menganggap Anda sekutu, tapi tujuan kami yang sebenarnya hari ini adalah sedikit ‘bersih rumah’.”
“Anda namakan semua ini ‘bersih rumah’?”
“Betul,” kata Inshun sambil menuding ke arah kaki langit. “Tapi saya pikir lebih baik kita menanti dan mempersilakan Nikkan menjelaskan pada Anda. Saya yakin titik hitam di tepi dataran itu dia.”
Pada saat itu juga, di sisi lain dataran itu berkatalah seorang penunggang kuda kepada Nikkan, “Anda cepat sekali berjalan kalau melihat umur Anda.”
“Bukan saya yang cepat. Anda yang lambat.”
“Anda lebih gesit daripada kuda.”
“Kenapa tidak? Saya lelaki.”
Pendeta tua yang berjalan kaki sendiri itu melangkah menyamai para penunggang kuda yang sedang maju ke arah asap api. Kelima penunggang kuda itu pejabat.
Ketika rombongan itu mendekat, para pendeta saling berbisik, “Itu Guru Tua.” Mereka membenarkan, mundur mengambil jarak yang sesuai, dan membariskan diri dengan penuh upacara, seakan-akan menghadapi suatu acara suci, untuk menyambut Nikkan dan pengiringnya.
Yang pertama dikatakan Nikkan adalah, “Sudah kalian urus semuanya?”
Inshun membungkuk dan menjawab, “Seperti Bapak perintahkan.” Kemudian ia menoleh kepada para pejabat, “Terima kasih atas kedatangan Tuan-tuan.”
Para samurai melompat turun satu demi satu dari kuda. Pimpinan mereka menjawab, “Tak apa-apa. Terima kasih, Anda sekalian sudah melaksanakan kerja hebat…. Mari kita periksa, kawan-kawan.”
Para pejabat berjalan ke sana kemari memeriksa mayat-mayat dan membuat beberapa catatan. Kemudian pimpinannya kembali ke tempat berdirinya Inshun. “Akan kami kirim kemari orang dari kota untuk membersihkan semua ini. Anda sekalian boleh merasa bebas meninggalkan segalanya ini sebagaimana adanya.” Dengan itu kelima orang tersebut menaiki kembali kuda mereka dan pergi.
Nikkan memberitahu para pendeta bahwa tenaga mereka tidak diperlukan lagi. Mereka membungkuk dan meninggalkan tempat itu diam-diam. Inshun mengucapkan selamat tinggal pada Nikkan dan Musashi, lalu meninggalkan tempat itu.
Begitu orang-orang itu berangkat, terdengarlah hiruk-pikuk besar. Burung-burung gagak turun, mengepak-ngepakkan sayap dengan riangnya.
Sambil menggerutu karena bunyi ribut itu, Nikkan berjalan ke sisi Musashi, dan katanya ringan saja, “Maafkan kalau saya sudah melukai hati Anda beberapa hari lain.”
“Sama sekali tidak. Bapak sudah berbuat baik sekali. Sayalah yang harus berterima kasih.” Musashi berlutut dan membungkuk dalam-dalam di depan pendeta tua itu.
“Bangkitlah,” perintah Nikkan. “Padang ini bukan tempat untuk membungkuk.”
Musashi bangkit berdiri.
“Apakah pengalaman di sini memberikan pelajaran kepadamu?” tanya pendeta itu.
“Saya bahkan tidak begitu mengerti, apa yang sudah terjadi ini. Apa Bapak dapat menceritakannya pada saya?”
“Dengan senang hati,” jawab Nikkan. “Para pejabat yang baru pergi tadi itu bekerja di bawah Okubo Nagayasu yang baru-baru ini dikirim kemari untuk memerintah Nara. Mereka masih asing dengan daerah ini, dan para ronin mengambil keuntungan dari asingnya mereka itu dengan tempat inimencegati musafir yang tak berdosa, memeras, berjudi, melarikan perempuan, memasuki rumah-rumah janda-menimbulkan segala macam kesulitan. Pemerintah tak dapat mengendalikan mereka, tapi mereka sudah tahu bahwa ada sekitar lima belas pentolannya, termasuk Dampachi dan Yasukawa.
“Kau tahu Dampachi dan pengikutnya tak suka padamu. Karena takut menyerangmu sendiri, mereka membuat rencana yang menurut mereka jitu. Para pendeta Hozoin-lah yang berkelahi untuk mereka. Pernyataan-pernyataan fitnah tentang kuil yang dituduhkan padamu itu pekerjaan mereka. Begitulah juga poster-poster itu. Mereka berjanji segalanya akan dilaporkan padaku, agaknya dengan perkiraan aku bodoh.”
Mendengar itu Musashi tertawa.
“Maka kupertimbangkan hal itu sebentar,” kata Kepala Biara, “dan terpikir olehku, ini kesempatan ideal untuk mengadakan ‘bersih rumah’ di Nara. Kubicarakan rencana itu dengan Inshun. Dia setuju menjalankan, dan sekarang semua orang pun senang-para pendeta, para pejabat, juga burung-burung gagak itu. Ha, ha!”
Ada satu orang lagi yang senang bukan buatan. Cerita Nikkan itu telah menghapuskan sama sekali segala kesangsian dan rasa takut Jotaro, dan anak itu gembira luar biasa. Ia menyanyikan lagu populer karangannya sendiri, sambil menari-nari seperti burung yang mengepak-ngepakkan sayapnya:
Bersih rumah, oh, Bersih rumah!
Mendengar suaranya yang tak dibuat-buat ini, Musashi dan Nikkan menoleh memandangnya. Jotaro waktu itu mengenakan topengnya sambil tersenyum ajaib clan menudingkan pedang kayunya ke tubuh-tubuh yang berserakan. Sambil sekali-sekali melayangkan pukulan ke arah burungburung, ia melanjutkan:
Ya, ya, burung gagak, Sekali-sekali
Memang perlu bersih rumah
Tidak hanya di Nara.
Memang kebiasaan alam
Membikin baru semuanya.
Supaya musim semi dapat naik dari bumi.
Kami bakar dedaunan.
Kami bakar ladangan.
Terkadang kami butuhkan salju turun.
Terkadang kami butuhkan bersih rumah.
Wahai, kalian, burung gagak!
Berpestalah! Dan memilihlah!
Sop langsung dari ceruk mata.
Juga sake merah pekat.
Tapi jangan terlalu banyak.
Sebab kalian bisa mabuk.

“Sini, Nak!” seru Nikkan tajam.
“Ya, Pak,” Jotaro berdiri diam memandang wajah Kepala Biara.
“Jangan seperti orang tolol. Ambilkan beberapa batu.”
“Macam ini?” tanya Jotaro, memungut sebuah batu yang terletak dekat kakinya dan mengacungkannya.
“Ya, macam itu. Ambil yang banyak!”
“Baik, Pak!”
Anak itu mengumpulkan batu-batu. Nikkan duduk dan menuliskan kata-kata Namu Myoho Renge-kyo, doa suci sekte Nichiren, pada tiap batu itu. Kemudian ia berikan batu-batu itu kembali pada anak itu dan ia perintahkan anak itu menyebarkannya di antara mayat-mayat. Sementara Jotaro melakukan suruhannya, Nikkan mengatupkan kedua tangannya dan menyanyikan bagian dari Sutra Bunga Teratai.
Selesai melakukan hal itu, ia menyatakan, “Doa itu akan melindungi mereka. Sekarang kalian berdua bisa jalan terus. Aku kembali ke Nara.” Dan sama mendadaknya dengan waktu ia datang, ia pun berangkat dengan kecepatan hebat, seperti kebiasaannya, sebelum Musashi sempat mengucapkan terima kasih atau membuat janji untuk bertemu lagi dengannya.
Sesaat Musashi hanya menatap tubuh yang makin menjauh itu, kemudian tiba-tiba ia melesat mengejarnya, “Bapak Pendeta!” panggilnya. “Apa tak ada yang Bapak lupakan?” Ia menepuk-nepuk pedangnya selagi mengatakan itu.
“Apa?” tanya Nikkan.
“Bapak belum memberikan petunjuk, dan karena tak ada jalan untuk mengetahui kapan kita akan bertemu lagi, saya akan senang jika mendapat sedikit nasihat dari Bapak.”
Mulut Kepala Biara yang tak bergigi itu memperdengarkan tawa terbahakbahak yang terkenal itu. “Jadi, kamu belum mengerti?” tanyanya. “Satu satunya yang harus kuajarkan padamu adalah kamu terlalu kuat. Kalau kamu terus juga membanggakan dirimu dengan kekuatanmu, kamu tak akan hidup sampai umur tiga puluh. Hari-hari ini mudah sekali kamu terbunuh. Pikirkan itu, dan putuskan sendiri bagaimana membawa diri nanti.”
Musashi diam.
“Kamu sudah melaksanakan sesuatu hari ini, tapi belum baik, sama sekali belum. Karena kamu masih muda, tak dapat aku menyatakan kamu benar, tapi suatu kesalahan besar kalau kamu menyangka Jalan Samurai itu hanya terdiri atas pameran kekuatan.
“Tapi aku sendiri cenderung memiliki kesalahan yang sama, karena itu aku tidak berhak bicara padamu tentang soal ini. Kamu mesti mempelajari jalan yang ditempuh oleh Yagyu Sekishusai dan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. Sekishusai dulu guruku, dan Yang Dipertuan Koizumi gurunya. Kalau kamu mencontoh mereka dan mencoba mengikuti jalan yang sudah mereka tempuh, kamu bisa mencapai kebenaran.”
Suara Nikkan tidak kedengaran lagi. Musashi, yang selama itu memandang ke tanah dan tenggelam dalam pemikiran, menengadah. Pendeta tua itu sudah menghilang.

Tanah Perdikan Koyagyu

LEMBAH Yagyu terletak di kaki Gunung Kasagi di sebelah timur Laut Nara. Di awal abad ketujuh belas, tempat itu merupakan wilayah kediaman masyarakat kecil yang sejahtera. Ia terlalu besar untuk dilukiskan sebagai kampung semata-mata, namun tidak cukup berpenduduk atau ramai untuk dapat disebut kota. Tentu saja ia dapat disebut Kampung Kasagi, tetapi penduduk tempat itu sendiri menyebutnya Kambe Demesne, sebuah nama yang diwarisi dari zaman tanah perdikan.
Di tengah masyarakat kecil itu berdiri Wisma Utama, sebuah puri yang menjadi lambang kemantapan pemerintah maupun pusat budaya daerah itu. Kubu-kubu batu, yang mengingatkan orang kepada benteng kuno, mengelilingi Wisma Utama. Rakyat wilayah itu, demikian juga nenek moyang Yang Dipertuan, hidup senang di sana semenjak abad kesepuluh. Penguasa yang sekarang seorang tuan tanah desa yang baik. Ia menyebarkan kebudayaan di antara rakyatnya, dan sepanjang waktu siap melindungi wilayahnya dengan taruhan nyawa. Namun, bersamaan dengan itu, secara hati-hati ia menghindari keterlibatan serius dalam perang dan permusuhan antara tuan-tuan feodal di daerah-daerah lain. Singkatnya tempat itu merupakan tanah perdikan yang damai d