Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Cerita Pelarian Zuhri dan Syahrir
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Cafe > Fresh News
OhYesOhNo
Source: Kompas.com Rabu, 14 Oktober 2009 | 16:45 WIB
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/200...bagai.pengantin

Cerita Pelarian Zuhri dan Syahrir (1)
Mereka Nyaris Jadikan ML sebagai "Pengantin"



KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO
Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Nanan Sukarna menunjukkan foto dua orang teroris yaitu Mohamad Syahrir alias Aing dan Syaifudin Zuhri bin Djaelani saat jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Senin (12/10). Kedua tersangka teroris tersebut meninggal saat penyergapan di Ciputat, Tangerang, Jumat (9/10) lalu.


QUOTE
JAKARTA, KOMPAS.com — Taktik Syaifudin Zuhri merekrut "pengantin" untuk persiapan bom pascasukses meledakkan Hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton kelihatannya terus dilakukan. Meski menyandang status sebagai buron, Zuhri dan Syahrir tak pantang mundur dalam merekrut kader dan calon pengantin.

Di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, Zuhri bersama kakaknya, M Syahrir, berhasil merekrut tiga mahasiswa dan alumninya, yakni Fajar Firdaus, Sonny Jayadi, dan Afham Ramadhan. Merekalah yang menyediakan persembunyian berupa kamar kos dan memberi makan kedua teroris tersebut.

Selama bersembunyi, duet tersangka teroris ini ternyata mulai merayu calon pengantin. Salah satu calon pengantin yang sudah diincar adalah mahasiswa baru UIN yang berinisial ML. Itulah yang sekarang dirasakan ML dalam perbincangan dengan Persda Network.

"Saya sempat percaya mereka berdua," tegas ML kepada Persda Network. Zuhri-Syahrir mengaku tinggal di Ciputat, tetapi tidak mengatakan alamat lengkapnya.

ML mengaku bertemu dengan dua orang tersebut sejak pertengahan bulan Ramadhan atau bulan September lalu. Ia mengaku sempat bertemu kedua orang tersebut beberapa kali dan bertukar pikiran soal Islam. Kedua orang tersebut juga sering mengajaknya pergi dan mendatangi kosnya.

Beruntung, mahasiswa semester satu tersebut belum banyak didoktrin lantaran Zuhri-Syahrir terlebih dulu tewas pada penggerebekan di rumah kos Cempaka, Ciputat Timur, Tangerang, Banten pada Jumat (9/10). Ia tak menyangka sebelumnya kalau keduanya adalah tersangka teroris. (YOG)

Sumber : Persda Network


Peace.gif peace Peace.gif
OhYesOhNo
Source: Kompas.com Rabu, 14 Oktober 2009 | 17:34 WIB
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/200...n.perang.dingin

Cerita Pelarian Zuhri dan Syahrir (2)
Zuhri Lihai Cerita Revolusi Perancis dan Perang Dingin



KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO
Selain hasil tes DNA, Syaifudin Zuhri juga dikenali dari ciri fisik berupa sobekan di telinga bagian kiri.


QUOTE
JAKARTA, KOMPAS.com — Dua tersangka teroris yang baru tewas dalam penggerebekan, Syaifudin Zuhri dan M Syahrir, ternyata sudah tinggal di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, sejak bulan Ramadhan lalu. Keduanya menyamar dengan nama lain dan mengaku sebagai teknisi komputer dan penjual es campur.

Hal tersebut diceritakan ML, seorang mahasiswa baru di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN) yang merasa selama ini mungkin dijadikan target sebagai "pengantin" oleh kedua buron tersebut. Kepada Persda Network, ML mengaku bertemu Zuhri dan Syahrir di kawasan Ciputat sejak pertengahan bulan Ramadhan atau bulan September lalu.

Teroris kakak beradik tersebut sejak bulan Ramadhan sering tarawih di Masjid As Salam, yang hanya berjarak 100 meter dari rumah kos Zuhri dan Syahrir. Di Masjid itulah awalnya Zuhri-Syahrir bertemu dengan Z, pemuda asal Jawa Timur yang sedang mencari pekerjaan di Jakarta. Z adalah teman dari ML. Pertemuan itu persisnya terjadi malam ke-20 bulan Ramadhan.

Kepada Z, Zuhri yang pandai mendoktrin membuka pembicaraan soal hukum-hukum Islam. Z, yang pernah mondok di pesantren, merasa obrolannya nyambung. Ketika itu Zuhri bersama dengan Syahrir. Karena percaya, Z memberitahukan tempat tinggal sementaranya kepada Zuhri-Syahrir.

Bak gayung bersambut, Zuhri dan Syahrir mendatangi tempat tinggal sementara Z yang menumpang di rumah kos temannya di kawasan Ciputat. Layaknya tamu, saat bertandang ke rumah kos Z, Zuhri-Syahrir menyalami penghuni kos lainnya yakni R dan ML. Kepada mereka, Zuhri mengaku bernama Rahman, sedangkan Syahrir bernama Sidik.

Di kosan tersebut, hanya ML yang membuka diri kepada Syahrir-Zuhri. Kepada ML, Zuhri membuka obrolan soal mitos tujuh abad Islam (Islam maju abad 7-14, Islam mundur abad 14-21, dan Islam maju lagi abad 21-seterusnya). Kepadanya, Zuhri berkata, "Islam akan mengalami kemajuan kembali. Pertanyaannya apakah kita mau sebagai penonton atau pelaku juga," tiru ML.

Sebagai mahasiswa baru, ML sempat kagum dan terpesona. Apalagi, Zuhri juga lihai bercerita panjang soal Revolusi Perancis dan Perang Dingin di Eropa. "Nada bicaranya halus banget. Saya kagum dengan pengetahuannya saat berbicara pada malam pertemuan pertama itu," ujar ML.

Kepada ML, Rahman alias Zuhri mengaku bekerja sebagai teknisi komputer di Pasar Ciputat. Sedangkan Sidik alias Syahrir mengaku berjualan es campur di Ciputat. Zuhri-Syahrir mengaku tinggal di Ciputat, tetapi tidak mengatakan alamat lengkapnya. Ia tidak menyangka kalau dua tamunya tersebut adalah teroris buronan Densus 88 Antiteror.(YOG)

Sumber : Persda Network


Peace.gif peace Peace.gif
OhYesOhNo
Source: Kompas.com Rabu, 14 Oktober 2009 | 19:30 WIB
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/200...ampai.ketakutan

Cerita Pelarian Zuhri dan Syahrir (3)
ML Sampai Ketakutan



FRANS AGUNG
Kos-kosan yang menjadi sarang 2 teroris, Zuhri dan Syarir, masih dijaga oleh pihak kepolisian, Minggu (11/10).


QUOTE
JAKARTA, KOMPAS.com - Meski buron, tersangka teroris Syaifudin Zuhri dan M Syahrir ternyata masih bersemangat merekrut anggota baru. Seperti diakui ML, seorang mahasiswa baru Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, kedua orang yang baru dikenalnya sejak Ramadhan lalu itu, sampai berkali-kali mendekatinya.

ML mengenal keduanya sebagai Rahman dan Sidik yang mengaku teknisi komputer dan penjual es campur. Ia mengenalnya dari rekan satu kosnya bernama Z yang bertemu pertam kali dengan Zuhri dan Syahrir di Masjid As Salam, yang hanya berjarak 100 meter dari kosan Zuhri dan Syahrir saat Ramadhan lalu.

Meski Z yang pertama mengenal, Zuhri dan Syahrir ternyata lebih akrab dengan ML. Saat Zuhri dan Syahrir pertama kali bertandang, Z dan satu rekan lainnya R sibuk bermian PlayStation, sementara ML menyambut obrolan keduanya. Di akhir pembicaraan, Syahir menanyakan nomor ponsel ML.

"Saya minta nomor handpone mu. Siapa tahu besok-besok ada keperluan atau kepentingan lain," ujar Syahir seperti ditirukan ML kepada Persda Network.

Selanjutnya, ML memberikan nomor handphone kepada Sidik atau Syahrir. Malam itu pembicaraan berakhir sampai pukul 23.00 WIB. Keduanya lantas pulang entah ke mana.

Setelah diceramahi Zuhri, ML mengaku sempat terbawa secara emosional untuk ikut sebagai aktor perubahan bagi kemajuan Islam.

"Saya terbawa omongan dia dan merasa yakin sekali untuk menjadi aktor perubahan Islam. Sebagai mahasiswa, saya luluh dan meragukan untuk meneruskan studi saya," kata ML mengenang.

Terus datangi

Tak hanya sekali Zuhri-Syahrir menemui ML. Malam berikutnya, ia datang lagi ke rumah kos ML. Selanjutnya, ML dan Zuhri-Syahrir mengobrol di luar rumah kos. "Saat itu saya ngobrol di bangku panjang di depan," ujarnya. Namun obrolan kedua tidak berlangsung panjang karena ML ikut bermain PS.

Gagal menjadikan ML sebagai pendengar setia malam itu, giliran Syahrir yang merayunya sebelum mereka pulang. "Besok ada acara enggak? Saya mau ngundang kamu buka puasa bersama di Ciputat," kata Sidik. ML membalas ajakan Syahrir engan bertanya, "Ada acara apa?" "Silaturahmi," jawab Syahrir.

Merasa diajak, ML pun mengatakan kepada keduanya akan mengajak teman-temannya seperti Z dan R. Namun permintaan ML ditolak Syahrir. "Enggak usah sama yang lain. Kamu saja sendiri," pinta Syahrir. ML pun sempat heran dan menanyakan kenapa Z dan R tidak diajak. "Padahal Z adalah orang yang kenalan sama mereka berdua pertama kali," kata ML keheranan.

Akhirnya, ML pun menyanggupi akan hadir silaturahmi jika tidak ada acara. Mendengar akan datang, Syahrir berpesan, "Ya udah, kalau mau hadir besok ke Ciputat dan SMS saya. Nanti saya telepon balik," urai Syahrir. ML tidak mengetahui pasti detil acara silaturahmi nanti seperti apa. Namun esoknya, ML tidak hadir seperti yang dijanjikannya malam itu.

Malam ketiga Rahman dan Sidik mendatangi lagi rumah kos ML Merasa bosan mengobrol, ML malam itu tidak berada di kos karena merasa akan didatangi lagi oleh keduanya. Namun pada malam kesekian berikutnya, ML didatangi lagi Zuhri-Syahrir. Meski ada Z dan R, hanya ML yang diajak ngobrol oleh Zuhri-Syahrir. "Bos, ayo ngobrol-ngobrol lagi," pinta Syahrir dengan bahasa gaul. ML pun lalu mengamini permintaan Zuhri dan mereka ngobrol di teras.

Syahrir yang jarang bersuara, ketika itu ikut bertanya,"Kapan mudik?" ML menjawab, "Tanggal 17." ML lantas bertanya kepada keduanya soal di mana mencari tas bekas yang bagus. Mendengar ini, Syahrir membalasnya, "Di Senen. Bagus-bagus. Kalo mau beli tas kebetulan saya juga mau ke Senen, bareng sama saya sekalian." ML pun menjawab tawaran Syahrir dan berkata, "Ya sudah. Kalau jadi saya bareng ke sananya."

Keesokan harinya, Syahrir mengirim pesan kepada ML soal keinginannya pergi ke Senen. "Jadi enggak mau ke Senen? Saya anterin ke tempat tas. Kualitasnya bagus dan harganya murah," tulis Syahrir dalam SMS kepada ML. Namun ML tidak menjawab pesan pendek Syahrir tersebut. Namun pada malam harinya, Zuhri-Syahrir datang lagi ke kosan, tapi ML tidak berada di kos.

Interaksi ML dengan Zuhri-Syahrir berlanjut lagi seminggu setelah lebaran. Entah tahu dari mana, Zuhri mengirim pesan ke ML pada Minggu sore, hari kedatangan ML ke Jakarta, setelah sepekan menghabiskan libur lebaran di Jawa Timur. "Sudah datang ke Jakarta belum? Ini Rahman yang ke main ke kos waktu itu," tulis Rahman alias Zuhri. Dijawab oleh ML, "Ya. Gue udah di Jakarta tadi pagi." Lantas Zuhri pun membalas dan mengajaknya ketemuan. Tapi ML malas menjawab.

Dikatakan ML, Zuhri rela mengganti kartu telepon dengan XL agar sama dengan kartu milik ML. dengan tujuan bisa berkomunikasi secara murah. Padahal, sebelumnya Zuhri memiliki kartu Simpati.

Tidak mendapat jawaban ML, menjelang magrib sekitar pukul 17.30 WIB, Zuhri menelpon ML dan mengajaknya ketemuan di rental Playstation (PS). "Bisa ketemuan di PS? Ada kepentingan yang mau diomongin," pinta Zuhri. Akhirnya, ML pun bersedia menemuinya di rental PS. Lantas Rahman mengatakan, "Ya udah saya tunggu di PS saja." Belum sempat bicara banyak, ML mematikan teleponnya.

Ajakan pertemuan di rental PS tidak dilakukan ML. Ia merasa ketakutan dan menghindar untuk tidak balik ke kosannya dan memilih mendatangi komunitas forum diskusinya. "Gue takut kalau diajak ke mana-mana," kata ML.

Dua hari berselang, tepatnya tanggal 6 September, Rahman alias Zuhri mengirim pesan lagi. "Bisa ketemuan enggak di PS? Ini si Rahman yang kemarin ke PS," tulis Rahman dalam pesannya yang dikirimkan pukul 12.00 WIB. Merasa curiga dan ketakutan, ML tidak membalas pesan Rahman.

ML pun sempat beberapa hari tidak ada di kosannya untuk menghindari mereka. Namun Rahman dan Sidik tetap mencarinya ke rumah kos dan PS. Hal ini diketahuinya dari R yang satu kos dengan ML. "Ada teman kamu ke sini. Sampai tiga kali dari jam 13.00-14.00," kata R kepada ML.

Tidak berhasil menemui ML, menjelang Magrib pukul 17.30, Rahman mengirim pesan kepada ML, "Entar malam mau main ke PS. Kamu di mana?" Kali ini ML pun tidak membalas. Dikatakan ML, pesan Rahman yang dikirimkan untuknya hari itu adalah pesan terakhir Rahman selama berhubungan dengannya.

Sampai hari penggrebekan tiba, Jumat (9/10), ML tidak pernah mendengar kabar lagi tentang Rahman dan Sidik. Saat penggrebekan, Laili ada di tempat forum studinya. Ia mendengar ada penggrebekan di Semanggi II dari omongan ibu-ibu yang lalu lalang melewati depan kamarnya menyebut ada dua orang teroris tertangkap. "Dalam hati, pikiran gue langsung menuju Rahman dan Sidik. Gue udah ada firasat kalau dua orang itu mereka," kata ML membatin saat itu.

Untuk memastikan benar tidaknya Rahman dan Sidik yang tertembak, ML mencoba menelepon nomor HP Rahman. "Setelah saya telpon, HP nya tidak aktif. Kalau itu bukan Rahman dan Sidik, pastinya teleponnya aktif. Dan kalau aktif, mereka pasti SMS gue," kata ML. Setelah melihat foto kedua teroris tersebut, ML membenarkan bahwa keduanya yang sering mendatanginya.(YOG)

Sumber : Persda Network


Peace.gif peace Peace.gif
CilGobang
oke buanget beritanya... jadi tau sedikit modus pencarian 'pengantin'

Thank's atas infonya bro...

monyet.gif
benqwick
sampe segitunya... untuk ML nggak jadi pengantin, kalo dah jadi pengantin kan ML.... suicide_anim.gif
swastika indonesia
wah make lover dong...!
VPN-IP
Be Ware The NEXT Target... Sel-sel mereka masih hidup.. dan skali lagi aku cuma pengen tegaskan bahwa mereka itu penganut Islam Sempalan.. Islam Cinta damai ... dan yang jadi korban mereka adalah anak muda yang terlalu memiliki jiwa heroisme namun tanpa memiliki fondasi pemahaman yang kuat... dan rata-rata dari para terorisme itu faham benar akan Islam, namun pemahaman mereka itu dari sudut pandang yang salah.. dan buat para Teroris fish Off... You Are Not A Moslem...
rheinhardt
bagus nih ceritanya bwt sinetron
swastika indonesia
sinetron heroik apa terorik..?
manstein
hmm.. untung aja nggak jadi ikutan.. kasihan orang lain.. dan terutama keluarganya..
chacoure
Mari kita berantas terorisme...
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.