Help - Search - Members - Calendar
Full Version: W I R O S A B L E N G
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
Pages: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15
IZRO'IL
Pendekar Pedang Akhirat


10
SAMBIL bersiul-siul membawakan lagu tak menentu Pendekar 212 Wiro Sableng melangkah lenggang
kangkung. Kadang-kadang sesungging senyum muncul di ujung bibirnya. Saat itu bukan dia tidak tahu
kalau sudah sejak tadi ada seseorang yang mengikutinya dari belakang dalam jarak tertentu. Namun
pura-pura tak tahu dia jalan terus memasuki rimba belantara di kaki bukit yang menurut keadaannya
mungkin belum pernah didatangi manusia sebelumnya.
Di satu tempat tiba-tiba laksana seekor burung, dengan gesit dan tanpa suara sama sekali dia
melompat ke sebuah cabang pohon yang tingginya hampir tiga tombak. Di sini dia mendekam di balik
rerumputan daun dan menunggu. Tak lama kemudian di bawah sana dilihatnya ranting-ranting dan
semak-semak bersibakan dan sesosok tubuh menyeruak mencari jalan.
Pendekar kita tersenyum. Dia memang sudah menduga dari semula. Orang yang mengikutinya itu
ternyata adalah gadis cantik yang tempo hari dicuri kudanya. Cuma sedikit yang menimbulkan tanda
tanya dalam hati Wiro di mana gadis itu meninggalkan kudanya dan dari mana pula dia mendapat pesalin
pengganti pakaian merahnya yang dulu robek-robek. Tepat ketika sang dara yang kini berpakaian putih
ringkas dan rambut digulung di atas kepala sampai di bawah pohon.
Wiro melayang turun hingga si nona menjadi kaget.
"Ah, sungguh menyenangkan dapat bertemu denganmu kembali, Nona. Kurasa kau pun demikian
pula bukan?" Wiro menegur sambil garuk-garuk kepala dan cengar-cengir.
"Siapa sudi bertemu dengan kau!" sang dara melengos.
"Eh, kalau tak sudi ketemu kenapa dari pagi tadi kau diam-diam mengikuti? Bukankah itu
maksudnya pingin ketemu...?"
Si Nona tadi merah wajahnya karena jengah.
"Nah, sekarang ringkas saja, Nona. Kenapa kau mengikutiku?"
"Aku tak mengikutimu, hanya kebetulan saja kita satu jurusan dan kau di sebelah depan."
"Begitu? Baiklah. Sekarang kau silahkan jalan di sebelah depan dan aku di belakang!"
Nona itu kelihatan geregetan sekali mendengar kata dan melihat tingkah Wiro. "Dengar," katanya
serius. "Kau dan aku mempunyai kepentingan yang sama. Kita sama menuju gunung Hun-tiong di mana
markas komplotan Hun-tiong Houw-mo berada. Kau tak tahu jalan dan aku butuh bantuan. Sekali lagi
kutawarkan bagaimana kalau kita kerja sama?"
Wiro merenung sejenak lalu tersenyum.
"Aku kurang begitu percaya padamu. Sebelumnya kau hendak menebas batang leherku. ingat?"
"Itu... itu karena kau telah mencuri kuda kesayanganku dan... dan...."
"Sudahlah, Nona, kalau kau kepingin jalan sama-sama denganku aku tak keberatan. Tapi
sesampainya di Hun-tiong san kita urus persoalan sendiri-sendiri...."
"Aku belum pernah bertemu laki-laki sesombongmu!" desis nona itu.
"Aku belum pernah bertemu gadis secantikmu!" jawab Wiro pula dan membuat si nona jadi betulbetul
kepingin menggebuk pemuda itu.
"Kau... kau terlalu..." kata gadis itu perlahan dan menggigit bibirnya keras-keras agar air matanya
jangan sampai keluar karena rasa kesal yang amat sangat itu.
Wiro jadi kasihan juga melihat gadis itu.
"Sudahlah, aku tadi cuma bergurau. Bagaimana persoalannya sampai saudara laki-lakimu dibunuh
oleh komplotan Hun-tiong Houw-mo?"
"Suatu hari dia diculik oleh anggota komplotan itu, hendak dipersembahkan pada Ketua Hun-tiong
Houw-mo yang kabarnya seorang gadis berparas jelita tetapi mempunyai nafsu terkutuk luar biasa dan
suka menyimpan pemuda-pemuda gagah di markasnya. Jika dia sudah bosan, pemuda-pemuda itu
dibunuhnya satu persatu dan cari yang lain...."
"Jadi Ketua Hun-tiong Houw-mo itu adalah seorang gadis, seorang perempuan?"
Sang dara mengangguk.
"Seorang gadis cantik dan berkepandaian tinggi luar biasa."
"Aneh..." Ujar Wiro.
"Apa yang aneh?"
"Jika dia berkepandaian tinggi dan banyak tokoh-tokoh persilatan yang jatuh di tangannya
sedangkan usianya demikian muda, sejak umur berapa dia sudah menguasai ilmu silat dan kesaktian?"
"Aku pun tidak mengerti," menyahut si nona. "Kira-kira sebulan sesudah saudaraku diculik,
mayatnya ditemukan dalam keadaan rusak di pinggiran kota...."
"Bagaimana kau tahu bahwa komplotan Hun-tiong Houw-mo yang membunuhnya?!" tanya Wiro
pula.
"Ada piauw kepala harimau dari emas menancap di keningnya."
Wiro manggut-manggut.
"Bagaimana sekarang?" si nona ajukan pertanyaan.
"Apa yang bagaimana?"
"Kau masih tak mau bekerja sama denganku?"
"Apa yang kau ketahui tentang Hun-tiong Houw-mo?" balik bertanya Wiro.
"Pertama aku tahu jalan terpendek ke puncak Hun-tiong san tanpa diketahui oleh penghuni markas
komplotan itu."
"Tapi kabarnya markas komplotan itu dipagari dengan tembok luar biasa tingginya sedang di
pelbagai tempat penuh dengan senjata rahasia!"
"Itu adalah persoalan kedua," jawab si nona. "Semasa kecil aku sering diajak kakek guruku ke
puncak Hun-tiong san. Waktu itulah kutemui sebuah terowongan rahasia yang jika diikuti akan sampai
di salah satu bagian dalam halaman markas Hun-tiong Houw-mo...."
"Ah, itu bagus sekali!" ujar Wiro. "Lantas apa lagi yang kau ketahui...."
"Di samping Ketua Hun-tiong Houw-mo yang terkenal sakti itu, di sana terdapat juga beberapa
orang pembantunya yang terdiri dari gadis-gadis cantik dan rata-rata berkepandaian tinggi!"
"Lain hal...?"
"Tak ada lagi yang kuketahui."
Wiro usap-usap dagunya. "Kau belum menerangkan siapa namamu, Nona."
Kembali paras sang dara menjadi merah. Tapi dia menyahut juga. "Panggit aku Pek Lan...."
"Pek Lan...? Ha, kalau tak salah itu artinya Anggrek Putih! Nama yang bagus! Nah sekarang
mari kita sama-sama lanjutkan perjalanan.... "
"Kau silahkan jalan duluan," kata Pek Lan pula. "Eh, bagaimana ini? Katanya bekerja sama, jalan
sama-sama tidak mau...!"
"Jalan saja duluan, aku tunjukkan arah dari belakang. Sekeluarnya dari rimba ini, puncak Hun-tiongsan
akan segera terlihat!"
Wiro tarik nafas panjang dan geleng-geleng kepala. Akhirnya dia melangkah juga. Pek Lan mengikutinya
sejauh lima belas langkah di belakang.
Ketika hampir akan keluar dari hutan belantara itu tiba-tiba Wiro tersentak kaget menyaksikan pemandangan
beberapa langkah di hadapannya. Seorang nenek-nenek tak dikenal, berambut putih
berpakaian compang-camping duduk menjelepok di tanah. Di tangannya ada sepotong ranting kering.
Dengan ranting ini dia menggurat-gurat tanah.
Gerakan tangannya acuh tak acuh dan tampaknya perlahan saja namun guratan yang terlihat di
tanah demikian dalamnya tanpa mempergunakan tenaga dalam yang tinggi tak bakal seseorang mampu
melakukan hal itu.
Wiro sudah mengetahui baik di tanah airnya maupun di Tiongkok, orang-orang atau tokoh persilatan
itu banyak yang bersifat aneh. Karenanya dia sudah menduga kalau nenek tak dikenal ini pun
tentu salah seorang dari tokoh-tokoh golongan aneh itu. Maka menjuralah dia dengan penuh hormat
dan menegur dengan lembut.
"Nenek tua rambut putih, maafkan siauwte mengganggu ketentramanmu. Sudilah nenek memberi
jalan sedikit agar aku dapat melanjutkan perjalanan."
Sementara itu Pek Lan yang mengikutinya, dari belakang, begitu melihat ada orang lain di depan,
cepat hentikan langkah, menyelinap ke balik semak belukar dan menghilang.
Anehnya, ditegur oleh Wiro si nenek seolaholah tak mendengar dan terus saja menggurat-gurat
tanah dengan ujung ranting kering. Memikir kalau-kalau pendengaran si nenek kurang baik maka Wiro
menegur lagi. Kali ini dengan suara lebih keras.
Si nenek tiba-tiba angkat kepalanya. Kelihatan jelas kini wajah yang mengeriput. Di lain pihak Wiro
melihat bagaimana sepasang mata si nenek bening bercahaya, bukan seperti mata seorang yang sudah
lanjut usia. Si nenek sendiri begitu matanya membentur wajah Wiro, hatinya tercekat dan dalam hati dia
membatin, "Ah... tak kusangka kalau yang harus kubunuh ini seorang pemuda asing berparas gagah
meskipun tindak tanduknya macam orang tolol dan lucu.... " Kemudian nenek ini cepat-cepat
tundukkan kepalanya kembali. Pandangan mata Wiro Sableng membuat hatinya bergetar.
"Nenek, beri jalan padaku.... " Wiro berkata lagi.
Tiba-tiba si nenek melompat. Mimiknya jadi bengis dan dia membentak garang. "bangs*t, kapan
aku kawin dengan kakekmu kau panggil aku nenek!"
Mendengar ini Wiro hendak meledak tawanya. Tapi batal karena sambil membentak dilihatnya si
nenek tusukkan ranting kering di tangannya ke arah dada Wiro. Meskipun cuma sepotong ranting kering
namun bisa mendatangkan maut karena dialiri tenaga dalam yang hebat. Wiro berkelit ke samping dan
menghantam dengan tangan kanannya.
"Buk!"
Pukulan tepi telapak tangannya tepat mengenai lengan si nenek. Ranting terlepas mental dan si
nenek menggigit bibir menahan sakit. Wiro sendiri merasakan tangannya seperti kesemutan. Diam-diam
pendekar ini kaget juga dan mulai berlaku lebih hati-hati.
"Aku tiada permusuhan denganmu Nenek, kenapa kau menyerangku?"
"Mulutmu terlalu kurang ajar. Orang sepertimu pantas dilenyapkan!"
"Eh, bukankah kau yang duluan bicara segala macam kawin dengan kakekku. Kau yang buktinya
bermulut usil, Nek!"
Si nenek yang bukan lain adalah si Putih Koan-koan sebenarnya merasa geli juga mendengar
ucapan Wiro itu, namun berhubung dia mendapat tugas dari ketuanya untuk membunuh pemuda asing
ini, maka itu tak dapat ditawar-tawar lagi. Dia tahu kalau pemuda itu dikabarkan memiliki kepandaian
tinggi dan telah sanggup membunuh Siang Mo Kiam, dua anggota komplotan Hun-tiong Houw-mo
yang berkepandaian tinggi. Karenanya dalam serangan kedua dia sengaja keluarkan jurus hun-in toan-san
(Awan Melintang Mernutus Bukit) yakni jurus pertama yang sebelumnya telah mengantar kematian dua
paderi Siauw lim-si berkepandaian tinggi itu.
Wiro kaget ketika melihat bagaimana seolah-olah lawan dipisahkan oleh satu jarak gaib yang tak
bisa dicapainya padahal si nenek kelihatan dekat saja di depan matanya.
"Ah, nyatanya kepandaiannya cuma rendah saja," kata nenek rambut putih alias Koan-koan begitu
melihat jurus yang dikeluarkannya itu membuat lawan tidak berdaya. Segera dia keluarkan jurus kedua
yakni "Matahari Dan Rembulan Tidak Bersinar" atau jit-gwat-bu-kong.
Ketika menghadapi jurus aneh yang pertama tadi Wiro memang terkesiap namun itu bukanlah
berarti dia menjadi tak berdaya seperti yang disangka oleh Koan-koan. Secepat kilat tangan kanannya
mendorong ke depan melancarkan pukulan sakti bernama "Benteng Topan Melanda Samudera".
Setiup angin bertiup dengan dahsyat seolah bumi ditiup badai. Kini Koan-koanlah yang menjadi
kaget. Bukan saja dia tak mendapat kesempatan untuk mengeluarkan jurus "jit gwat-bu-kong" tetapi
jurus "hun-in-toan-san"nya pun dilabrak musnah sedang dirinya sendiri terhuyung-huyung beberapa
langkah ke belakang.
Melihat lawan nyatanya memiliki kepandaian tinggi, tidak serendah yang diduganya, Koan-koan
menjadi marah dan naik pitam. Baginya jika menghadapi lawan seperti ini hanya ada satu pilihan, dia
yang bakal konyol atau lawan yang akan meregang nyawa. Karenanya Koan-koan tanpa tunggu lebih
lama lagi segera keluarkan kesaktiannya yang paling tinggi yaitu "Ilmu Jari Kelabang Hijau".
Ketika Pek Lan yang mengintip di balik belukarmelihat si nenek rambut putih jentikkan lima jarinya
yang disusul dengan berkiblatnya lima larik sinar hijau yang menggidikkan maka dara itu tersentak kaget
dan berseru memperingati Wiro. "Saudara, awas! Itu pukulan Ilmu Jari Kelabang Hijau yang ganasl
Lekas menyingkir!"
Wiro tertegun mendengar peringatan itu sedang Koan-koan sendiri terheran-heran karena tak
menyangka kalau ada orang ketiga di tempat itu.
Karena belum tahu sampai di mana kehebatan Ilmu Jari Kelabang Hijau, Wiro turuti juga peringatan
Pek Lan, menyingkir dua langkah ke samping dan menghantam dengan pukulan "Angin Puyuh",
tapi apa lacur, pukulan sakti yang dialiri setengah bagian tenaga dalamnya itu ternyata punah dilabrak
sinar hijau pukulan lawan. Di lain kejap sinar hijau terus menyambar ke arah Wiro.
Pek Lan menjerit kaget, "Celaka!" dan dia sendiri tidak punya kemampuan untuk menolong Wiro.
Meskipun demikian dia cabut pedangnya dan menyerang ke arah Koan-koan seraya membentak garang.
"Nenek keparat, jadi kau adalah salah seorang dari pembantu ketua Hun-tiong Houw-mo terkutuk
itu! Jangan coba mungkir sekalipun kau bisa menyamar jadi setan! Hanya orang-orang dari Hun-tiong
san yang memiliki ilmu laknat itu!"
Koan-koan sendiri sebenarnya mengeluh dan menyesal dalam hatinya telah lepaskan pukulan
Ilmu Jari Kelabang Hitam yang ganas yang dilihatnya telah membuat si pemuda tak berdaya dan
bakal meregang nyawa. Pada dasarnya dia tak ingin membunuh pemuda yang menarik hatinya ini.
Namun untuk menarik pukulan tersebut sudah kasip dan dalam pada itu satu serangan pedang dari
seorang gadis cantik tak dikenalnya datang pula dari samping, membuat dia terpaksa berkelit, selamatkan
batang lehernya.
Melihat pukulan tangkisannya musnah Wiro kaget sekali dan sebelum sinar hijau melabrak
kepalanya pendekar ini hantamkan tangan kirinya ke atas. Selarik sinar putih menyilaukan berkelit ganas
dan terdengarlah suara berdentum!
Nenek rambut putih atau Koan-koan mencelat mental sampai tiga tombak. Dengan jungkir balik
susah payah baru dia bisa berdiri di atas kedua kakinya. Dadanya terasa sakit dan jari-jari tangannya
seperti hendak putus. Wajahnya sepucat kain kafan. Sedang di depannya Wiro Sableng dilihatnya berdiri
tegak dengan kaki melesak ke tanah sampai sedalam sepertiga jengkal. Di bagian lain beradunya dua
pukulan sakti itu telah membuat Pek Lan terbanting ke samping dan jatuh duduk di tanah. Tapi gadis ini
cepat bangun kembali. Pungut pedangnya dan kembali menyerbu Koan-koan.
"bangs*t dari Hun-tiong san! Kau harus tebus nyawa kakakku dengan nyawa anjingmu!" Pedangnya
berkelebat. Tapi saat itu Koan-koan yang sudah maklum tidak bakal sanggup menghadapi Wiro sudah
putar langkah dan hendak kabur. Cuma sayang Wiro lebih cepat menghadangnya.
"Nenek manis, kau mau merat ke mana? Makan dulu jariku ini."
Sekali totok saja nenek rambut putih alias Koan-koan tertegun jadi patung, tak bisa bergerak lagi!
"Hem, sekarang mampuslah!" seru Pek Lan. Pedangnya turun laksana kilat. Koan-koan hanya bisa
pejamkan mata terima nasib.
"Pek Lan tahan dulu!" Wiro tiba-tiba berseru dan memegang lengan Pek Lan.
Gadis ini coba berontak. "Apa-apaan kau! bangs*t ini adalah musuh besarku, yang telah
membunuh kakakku! Musuh besar setiap orang-orang golongan putihl Kenapa kau cegah aku
membunuhnya?"
"Sabar dulu Pek Lan. Dari dia kita bisa mengorek beberapa keterangan penting.... "
"Aku tak butuh segala macam keterangan! Aku butuh nyawanya!" sentak Pek Lan.
"Itu bisa kau lakukan nanti. Tapi aku pun mempunyai kepentingan sendiri," tukas Wiro pula. Dia
berpaling pada si nenek rambut putih dan bertanya, "Betul kau anggota Hun-tiong Houw-mo?"
"Terlu apa itu ditanya !agi! Lihat aku akan buktikan sendiri!" kata Pek Lan dan dengan kedua
tangannya dirobeknya pakaian luar Koan-koan. Kini kelihatan pakaiannya sebelah dalam, pakaian
ringkas warna putih sedang di lehernya tergantung kalung emas kepala harimau. "Dan ini tampang iblis
ini yang asli!" seru Pek Lan selanjutnya seraya menanggalkan topeng tipis dari wajah Koan-koan, Wiro
sampai ternganga bengong waktu menyaksikan wajah di balik topeng nenek-nenek buruk keriput tadi
ternyata adalah paras yang demikian jelitanya!
"Nona, aku tak mengerti. Kau demikian cantik. Kenapa menyia-nyiakan hidup dengan masuk menjadi
anggota Hun-tiong Houw-mo?"
Ditegur oleh Wiro selembut itu, Koan-koan jadi sesenggukan dan tak dapat lagi menahan air
matanya.
"Eh, kenapa jadi menangis?" tanya Wiro.
"Awas, jangan sampai kita termakan tipunya!" ujar Pek Lan tetap bernafsu.
Wiro bertanya sekali lagi. Sekali ini Koan-koan membuka mulut memberi keterangan dengan terisak-
isak, "Aku dan juga empat kawanku yang lain tak pernah menginginkan untuk hidup sebagai murid
Ketua Hun-tiong Houw-mo. Kami semua terpaksa. Diculik beberapa tahun yang silam dan tak mungkin
lagi keluar dari genggaman Ketua kami kecuali kalau kami ingin buru-buru mati!"
"bangs*t! Kau pandai main sandiwara! Toh kau yang menculik dan membunuh kakakku!?"
"Apakah kakakmu itu masih muda...?" tanya Koan-koan dengan pandangan rawan.
"Ya."
"Orang-orang muda ditangani sendiri oleh Ketua kami. Dia yang menyuruh culik kemudian dia
pula yang membunuhnya bila telah bosan. Aku dan kawan-kawan hanya menjalankan tugas secara terpaksa
karena kami tak punya daya."
"Kenapa tidak melarikan diri?!" bertanya Wiro.
"Tak ada gunanya. Kami akan segera tertangkap dan disiksa seumur-umur...."
"Apakah kau punya niat untuk kembali ke jalan yang benar?" Wiro tanya lagi.
"Aku dan juga kawan-kawan selalu mengharapkan hal itu. Namun sampai saat ini kesempatan itu
belum ada. Kalaupun ada tokoh golongan putih tentu siang-siang sudah membunuh kami. Padahal
mereka banyak yang tidak tahu kehidupan kami yang boleh dikatakan tersiksa batin sepanjang hari...."
"Siapakah namamu Nona?"
Koan-koan menerangkan namanya.
"Dengar, jika kami berdua membebaskan kau saat ini...."
"Siapa sudi melepaskan dial" Pek Lan nyerobot.
Wiro memberi isyarat agar gadis itu diam.
"Rupanya kau sudah tertarik pada kecantikannya Wiro! Kau akan ditipunya dan kelak akan dibunuhnya!"
Wiro tak perdulikan kata-kata Pek Lan. "Dengar Koan-koan," katanya. "Segala apa yang terjadi
antara kita bisa dilupakan, dan kami berdua mengampuni dirimu. Tapi dengan syarat kau harus membantu
kami. Dan kelak mengajak pula kawan-kawanmu kembali ke jalan yang benar. Bertobat dan hidup
secara baik-baik."
Koan-koan tertawa rawan. "Seolah-olah mimpi ini semua bagiku," katanya. Lalu, "Kau belum tahu
siapa Ketua Hun tiong Houw-mo. Jika kau bermaksud hendak memusnahkannya itu adalah satu kesiasiaan
belaka..."
"Kita harus coba dan kau musti membantu. Menghadapi kita beramai-ramai masakan dia bisa
menang...?"
Koan-koan menghela nafas dalam. "Baiklah, aku berjanji. Tapi apakah kau percaya pada diriku?"
Wiro memandang sepasang mata sang dara. Dan pandangan keduanya saling bertemu. "Aku
percaya padamu!" kata Wiro lalu lepaskan totokan Koan-koan.
Begitu Wiro tepaskan totokan Koan-koan, Pek Lan kontan berkata, "Mulai saat ini aku tak mau
kenal lagi padamu, Wiro! Kau dengan urusanmu dan aku dengan urusanku!"
"Pek Lan, kau mau ke mana?" seru Wiro. Namun gadis yang keras hati itu sudah berkelebat pergi.
Wiro cuma geleng-geleng kepala.
"Adatnya keras..." kata Wiro.
"Kekasihmu...?" bertanya Koan-koan.
Wiro berpaiing. Sepasang mata mereka kembali saling bertemu. Koan-koan merasakan dadanya
berdebar dan perlahan-lahan tundukkan wajahnya. Wiro gelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kuharap kau betul-betul dapat dipercaya dan tidak menipuku," berkata Wiro.
Koan-koan angkat wajahnya yang jetita. "Asalkan kau bersungguh hati membawaku ke jalan yang
benar, kau suruh apa pun aku pasti akan melakukan."
"Apakah kau akan lakukan jika aku meminta kau menciumku saat ini?" kata Wiro pula bergurau.
Tapi di luar dugaan Koan-koan melompat ke muka, memeluk pemuda itu dan mencium sang pendekar
pada kedua pipinya.
"Aku sudah buktikan!" kata Koan-koan pula meski wajahnya bersemu merah.
Wiro usap-usap kedua pipinya. "Aku tadi cuma bergurau. Tapi tak apa.... Ini pertama kali seorang
gadis menciumku lebih dahulu. Terima kasih untuk ciumanmu itu..."
"Di lain hari aku akan memberikan lebih dari...!" kata Koan-koan dengan setulus hatinya. Entah
mengapa dia demikian terpikat pada si gondrong yang baru beberapa saat saja dikenalnya itu.
"Aku akan lebih berterima kasih," jawab Wiro pula. "Nah, sekarang mari kita atur siasat."
***
11
KEADAAN terowongan rahasia seperti yang diketahui Pek Lan di masa kanak-kanaknya ternyata kini
sudah jauh berubah sejak puncak Hun-tiong-san dipergunakan sebagai markas oleh komplotan Huntiong
Houw-mo. Perubahan-perubahan ini telah menyesatkan Pek Lan dan tanpa diketahuinya beberapa
kali dia telah menyentuh alat-alat rahasia di dalam terowongan itu.
Melihat adanya tanda dari alat-alat rahasia, Dewi Siluman Harimau segera memberi perintah pada
dua orang murid atau pembantunya yakni si Ungu Lan-lan dan si Biru Bwe-bwe. Meskipun Pek Lan
memiliki ilmu pedang yang tidak rendah, namun menghadapi kedua gadis tangguh itu, dengan hanya
mempergunakan tangan kosong dalam tempo dua jurus dia sudah kena diringkus dan dihadapkan pada
Dewi Siuman Harimau.
"Nona, parasmu cantik dan keberanianmu patut dipuji untuk bernyali masuk ke sarang kematian
ini. Siapakah namamu dan bagaimana kau bisa tahu terowongan rahasia di bawah tanah itu?!" Ketua
Hun-tiong Houw-mo ajukan pertanyaan.
Pek Lan yang memang seorang gadis pemberani, apalagi dihantui dendam kesumat kematian
saudaranya tegak berkacak pinggang diapit dan diawasi oleh si Biru Bwe-bwe dan si Ungu Lan-lan.
Ditanya bukannya dia menjawab, malah balas bertanya dengan sikap congkak nada sinis,
"Hemm.., jadi inilah Ketua Hun-tiong Houw-mo yang dipanggil dengan sebutan Dewi itu?" Pek
Lan kemudian tertawa panjang. "Tampangmu juga cantik. Cuma sayang hatimu lebih busuk dari
comberan dan kejahatanmu lebih ganas dari iblis."
"Dewi! Biar kurobek mulut gadis kurang ajar ini!" teriak si Hitam Ling-ling.
Ketua Hun-tiong Houw-mo lambaikan tangan dan berkata, "Nyalinya cukup mengagumkan Lingling.
Dan potongan tubuhnya menunjukkan bakat silat yang bagus. Kau ada harapan untuk kujadikan
murid serta pembantuku seperti nona-nona yang lain ini."
Pek Lan keluarkan suara mendengus dari hidung. "Aku datang kemari bukan untuk menghambakan
diri pada iblis macammu ini!"
"Lantas, apa perlumu datang kemari dan lewat terowongan rahasia segala?"
"Untuk mencincangmu. Kau bertanggung jawab atas penculikan dan kematian kakak laki-lakiku."
"Apakah kakakmu yang bernama Oel Siong Ang itu...? Ah, dia sungguh cakap dan amat pandai
melayaniku di atas tempat tidurt"
"Perempuan cabul! Mampuslah!" teriak Pek Lan marah sekali dan melompat ke muka hendak
kirimkan tendangan ke kepala Ketua Hun-tiong Houw-mo. Namun maksudnya ini tidak kesampaian
karena Ling-ling dan Lan-Ian cepat mencegahnya.
IZRO'IL
Pendekar Pedang Akhirat


"Dewi, sebaiknya gadis binal ini buru-buru saja disingkirkan. Kalau tidak bisa bikin berabe...!" berkata
Bwe-bwe.
"Menyingkirkannya soal mudah, muridku. Tapi bagaimana pendapatmu kalau mukanya kita cincang
hingga wajahnya yang cantik menjadi lebih buruk dan seram dari muka setan sehingga seumur-umur tak
satu pemuda pun ingin mendekatinya...."
"Perempuan gila!" sentak Pek Lan. "Jika kau punya nyali mari kita bertempur sampai seribu jurus!"
"Gadis sundel!" si Hitam Ling-ling, memaki. "Kau andalkan apakah berani bicara sombong terhadap
Ketua kami? Membunuhmu jauh lebih mudah dari pada membalikkan telapak tangan!"
"Hitam dan Biru! Seret dia ke kamar penyiksaan!" Dewi Siluman Harimau berteriak. Namun
sebelum kedua muridnya melakukan hat itu tiba-tiba dari luar berkelebat satu bayangan putih dan tahutahu
si Putih Koan-koan sudah tegak di ruangan itu. Di bahunya dia memanggul sesosok tubuh pemuda
berpakaian putih. Begitu melihat pemuda ini Pek Lan keluarkan seruan tertahan. Si pemuda yang bukan
lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng! Saat itu Koan-koan telah mengenakan kembali pakaian
samarannya dan topeng tipisnya. Dia meletakkan sosok tubuh Wiro di lantai, menjura di hadapan sang
Ketua dan berkata, "Dewi, tugas telah kujalankan, cuma mohon dimaafkan agak menyimpang sedikit
dari yang diperintahkan. Semula Dewi menugaskan agar aku membunuh pemuda ini, namun ketika
melihat dia memiliki paras yang cukup gagah maka dalam perkelahian aku cuma menotoknya lalu
membawanya kemari dengan harapan siapa tahu Dewi berkenan padanya!"
Ketua Hun-tiong Houw-mo kerenyitkan kening. Sepasang alis matanya naik ke atas. Dia bangkit
dari kursi emas dan melangkah mendekati sosok tubuh Wlro. Dongan ujung kakinya yang dibungkus
dengan kasut sutera merah dia membalikkan kepala Wiro untuk dapat menilai wajah pemuda itu lebih
jelas. Ternyata tampang Wiro memang membuat dia terpikat.
"Ah... aku memang belum pernah dapat pemuda asing. Kelihatannya dia kuat sekali!" Sang Dewi
tertawa dikulum dan meneguk ludahnya beberapa kali lalu dengan gembira menepuk-nepuk bahu Koankoan
yang saat itu sudah menanggalkan pakaian luar serta topeng tipisnya. "Kau memang muridku yang
bijaksana dan banyak berjasa. Panjang pikiran dan tahu bagaimana kesenangan guru serta Ketuamu ini!
Bagus sekali Koan-koan, bagus sekali. Kau gotonglah dia ke kamar tidurku sekarang juga...."
Baru saja sang Dewi berkata demikian tiba-tiba hampir tak kelihatan sepasang tangan Wiro bergerak
laksana kilat menangkap salah satu kaki Ketua Hun-tiong Houw-mo itu. Di lain kejap terdengar
satu bentakan dan tubuh sang Dewi mencelat mental ke udara! Semua orang terkejut bukan kepalang.
Ketua Hun-tiong Houw-mo kelihatan jungkir balik tiga kali di udara kemudian tegak di lantai
kembali. Wajahnya merah laksana bara. Sepasang matanya berapi-api, menatap pada Pendekar 212 Wiro
Sableng yang berdiri di samping Koan-koan sambil satu tangan tolak pinggang, tangan lain garuk kepala
dan tertawa gelak-gelak.
"Tiada dinyana ketua Hun-tiong Houw-mo begini cantiknya dan pandai main akrobat pula!" kata
Wiro masih terus tertawa-tawa.
"Jadah! Koan-koan kau berani menipuku! Kau telah bersekongkol untuk mengkhianatiku hah?!"
Ketua Hun-tiong Houw-mo meluap amarahnya bukan kepalang. Dia berpaling dan berteriak, "Ringkus
murid murtad itu! Aku akan hadapi bangs*t bernama Wiro Sableng ini!"
Melihat kawan-kawan atau saudara seperguruannya hendak bergerak, Koan-koan cepat berseru,
"Saudara-saudaraku tunggu dulu! Bukankah kita sudah sejak lama tersiksa hidup di puncak Hun-tiong
san ini? Bukankah kita sejak lama ingin meninggalkan tempat celaka ini dan menempuh hidup di dunia
luar secara wajar dan baik? Bukankah kita sering menyadari bahwa apa yang kita lakukan dan
diperintahkan oleh Dewi semua bertentangan dengan hati kecil kita dan perikemanusiaan? Apakah akan
kita rusakkan lebih jauh hidup kita yang cuma sekali ini di dunia? Hari inilah saat yang kita tunggutunggu
untuk mendapat kehidupan bebas yang kits rindukan. Hari ini kebenaran akan menghancurkan
malapetaka yang bersumber di puncak Hun-tiong san ini! Mari, ikutlah bersamaku untuk kembali pada
hidup yang benar dan keluar dari azab neraka ini!"
Mendengar kata-kata Koan-koan yang penuh semangat itu, empat saudara seperguruannya jadi
bimbang. Melihat ini marahlah Ketua Hun-tiong Houw-mo. Dia berteriak, "Lekas bunuh murid murtad
Itu. Kalau tidak kalian berempat akan mendapat hukuman berat!"
Empat murid sang Ketua semakin bingung.
"Kesempatan ini hanya sekali, saudara-saudaraku! Kalau sampai luput, kalian akan celaka sampai di
liang kubur!" berseru Koan-koan.
"Aku si geblek yang bernama Wiro Sableng ini akan membantu kalian!" Wiro pentang mulut.
"Aku juga!" teriak Pek Lan.
"Murid jadah! Kau layak mampus duluanl" Kemarahan Ketua Hun-tiong Houw-mo tak terkendalikan
lagi. Sekaligus dia jentikkan lima jari tangan kanannya yang sudah dialiri seluruh tenaga dalam
yang ada ke arah Koan-koan. Gadis ini berseru tegang dan secepat kilat menyingkir. Dalam pada itu
Wiro telah lepaskan pukulan Sinar Matahari yang membuat istana emas itu laksana dilabrak geledek.
Satu dentuman terdengar. Semua orang yang ada di sini terpental ke samping sedang salah satu dinding
ruangan yang terbuat dari emas meleleh dan berlobang besar!
Ketua Hun-tiong Houw-mo kaget bukan kepalang. Ternyata pemuda asing itu memiliki tenaga
dalam yang tidak berada di bawahnya. Namun dia sama sekali tidak gentar. Dengan satu lengkingan
nyaring dahsyat dia menerjang ke depan. Begitu cepatnya dia berkelebat hingga hanya bayangan , merah
pakaiannya saja yang kelihatan.
"Buk!"
Satu jotosan melabrak dada Wiro Sableng, Pendekar ini terpental sampai satu tombak. Darah kental
kelihatan meleleh di sebelah bibirnya. Melihat ini Koan-koan jadi bergeming. Jika sampai Wiro kalah
oleh Ketuanya pastilah dia bakal celaka pula. Dia melirik pada saudara-saudaranya. Sampai saat itu
mereka masih tertegun dalam kebimbangan.
Melihat serangannya berhasil Ketua Hun-tiong Houw-mo kembali melabrak ke depan, sosok
tubuhnya tak kelihatan. Kali ini Wiro bertindak gesit karena ternyata lawan memiliki ilmu yang disebut
Pek-pian-mo-ing atau Seratus Bayangan Iblis! Hal ini diketahui Wiro dari Koan-koan. Untung saja dia
telah mendapat tambahan kekuatan tenaga dalam dan ginkang dari orang tua misterius yang berjuluk
Pendekar Pedang Akhirat Long Sam Kun itu, kalau tidak pastilah dia bakal celaka. Mengingat si orang
tua tersebut, setelah menelan sebutir obat, Wiro segera hadapi musuhnya dengan jurus silat yang pernah
dipelajari dari kakek itu yakni jurus yang bernama "Cip-hian-jay-hong" atau "Tiba-tiba Muncul Pelangi".
Ketua Hun-tiong Houw-mo itu tersurut saking kagetnya ketika menyaksikan lawannya keluarkan
jurus tersebut bahkan kemudian mendesaknya dengan jurus yang dikenalnya bernama "Lo han-cianyau"
atau "Malaikat Menundukkan Siluman".
"Bedebah!" seru Ketua Hun-tiong Houw-mo seraya menyambut dengan jurus "Pit bun ki khek"
atau "Menutup pintu Menolak Tetamu", meskipun dia tahu jurus tersebut tak mungkin sanggup
menangkis serangan lawan. "Ada sangkut paut apa kau dengan Pendekar Pedang Akhirat?! Ayo lekas
jawab!"
"Ini jawabanku!" kata Wiro pula dan mainkan jurus terakhir setelah dua jurus pertama sanggup
menghantam Ketua Hun-tiong Houw-mo yang tangguh itu. Jurus ketiga ini bernama "Kui gok-sin ki"
atau "Setan Meratap Malaekat Menangis". Sang Dewi merasakan pemandangannya tertutup dan sebelum
dia sempat menjauhkan diri, dua buah pukulan telah menghantam di tubuhnya, membuatnya tak ampun
terguling-guling di lantai tapi hebatnya segera pula bangkit berdiri meskipun dengan terhuyung-huyung
dan muka pucat yang menandakan dia terluka di dalam.
Dewi Siluman Harimau itu tiba-tiba berteriak garang. Kedua tangannya bergerak ke pinggang dan
sesudah itu hampir tak kelihatan kapan dia melemparkannya, sepuluh piauw emas beracun berbentuk
kepala harimau meluncur pesat ke arah Wiro.
Dari Koan-koan Wiro sudah mengetahui kehebatan senjata rahasia ini, jangankan sampai
menancap di tubuh, sedikit saja kulit sampai keno diserempet pastilah korbannya akan meregang nyawa.
Karenanya tanpa tunggu lebih lama Wiro segera lepaskan pukulan "Dewa Topan Menggusur Gunung" .
Kehebatan pukulan ini membuat geger. Bukan saja ke sepuluh piauw emas beracun mencelat mental
tapi sebagian langit-langit gedung dan sebagian dinding amblas sedang lebih ke atas lagi atap bangunan
ambruk, salah satu tiang besar patah. Gedung yang berlapiskan emas itu bergetar dahsyat laksana
diguncang gempa. Koan-koan, Pek Lan, dan murid-murid Dewi Siluman jatuh berkaparan di lantai
sedang Wiro dan sang Dewi sendiri tergontai-gontai untuk beberapa lamanya. Wajah sang Dewi sepucat
kertas kini. Jika pemuda asing itu tidak lekas dapat dibunuhnya pasti dia bakal celaka pikirnya. Maka
diputuskannyalah untuk mengeluarkan ilmu simpanannya yang terakhir yakni ilmu siluman atau ilmu
sihir (hoatsut) yang selama ini tak satu orang pun sanggup menandingnya.
Koan-koan, begitu melihat mulut gurunya berkomat-kamit dan sepasang matanya laksana dikobari
nyala api, dengan ilmu menyusupkan suara segera memberi peringatan, "Awas, dia akan segera
mengeluarkan ilmu sihir silumannya! Hati-hati!"
Mendengar ini Wiro segera cabut Kapak Naga Geni 212. Namun sebelum dia sempat mempergunakan,
di depan sana Ketua Hun-tiong Houw-mo sudah membentak, "Naik!"
Wiro merasakan kedua telapak kakinya tidak lagi menginjak lantai. Tubuhnya perlahan-lahan naik
ke atas. Dengan sekuat tenaga dia coba bertahan. Satu pukulan sakti yakni pukulan "Sinar Matahari"
dilepaskan ke arah lawan kemudian menyusul dia kiblatkan senjatanya. Namun dua serangannya itu
hanya mengenai tempat kosong dan merusak gedung yang bagus itu sedang lawannya sendiri sudah
lenyap dari hadapannya.
Ketika Wiro berpaling ke kiri, segulung asap membuntal ke arahnya. Sedetik kemudian asap itu
berobah menjadi satu makhluk raksasa, badan manusia berbulu sedang kepala harimau bertampang
ganas dengan taring-taring luar biasa besarnya. Binatang ini menggereng. Bangunan itu terasa bergetar.
Koan-koan serta gadis-gadis lainnya sama-sama menjauhkan diri dengan perasaan ngeri.
"Pemuda itu tak akan sanggup memusnahkan ilmu siluman dari Ketua..." bisik si Hitam Ling-ling
dengan menggigil.
"Rampas kapak itu!" Dewi Siluman Harimau memberi perintah pada makhluk sihirnya. Makhluk ini
kembali menggereng dan sekali dia bergerak
Kapak Naga Geni 212 di tangan Wiro sudah kena dirampas. Wiro memukul dengan pukulan "Segulung
Ombak Menerpa Karang", namun pukulan itu seolah-olah lewat di tempat kosong, tidak menimbulkan
apa-apa pada diri manusia raksasa kepala harimau. Wiro keluarkan keringat dingin. "Celaka
sekarang mampuslah aku!" keluh pendekar ini.
Dan kembali terdengar Ketua Hun-tiong Houwmo memberikan perintah, "Bunuh dia dengan
kapak itu."
Makhluk sihiran itu menggereng dan mengangkat tangan kanannya yang memegang kapak tinggitinggi.
Wiro melompat selamatkan diri seraya lepaskan pukulan "Sinar Matahari", tapi tak mempan dan
dalam pada itu tangan kiri raksasa kepala harimau itu telah mencengkeram pundaknya hingga dia tak
bisa berkutik lagi.
Ketua Hun-tiong Houw-mo tertawa meninggi. "Bunuh," teriaknya.
Kapak Naga Geni 212 membacok turun ke arah batok kepala Wiro Sableng.
"Celaka, betul-betul aku mampus juga akhirnya.... " Wiro cuma bisa membathin demikian dan
tutupkan mata siap menerima kematian dengan tabah.
Justru di saat yang amat kritis itu terdengar satu suara berseru, "Siok Eng! Ilmu menakuti anak-anak
apakah yang kau keluarkan ini!"
Selarik sinar biru yang dingin melesat dari atas reruntuhan atap. Makhluk kepala harimau menggereng.
Kapak Naga Geni 212 lepas dari tangannya dan detik itu pula sosok tubuhnya lenyap punah!
Jika ada orang yang paling kaget di tempat itu, maka manusianya adalah Ketua Hun-tiong Houwmo
sendiri yang tadi dipanggil dengan nama aslinya yaitu Siok Eng!
Wiro juga kaget dan buka sepasang matanya lebar-lebar. Sesosok tubuh kurus kering macam
jerangkong dilihatnya melayang turun dari panglari dan segera dikenalinya. Pemuda ini kontan berteriak:
"Locianpwe!"
***
12
TERNYATA orang yang barusan melompat dari atas langit-langit ruangan bukan lain adalah kakekkakek
sakti bertubuh kurus kering macam jerangkong yang tempo hari secara kebetulan pernah ditolong
oleh Wiro dari ruangan batu di mana dia disekap. Dia yang dikenal dengan Pendekar Pedang Akhirat
Long Sam Kun.
Melihat munculnya si kakek di tempat itu, kaget Dewi Siluman bukan kepalang. Dia sudah tahu
kalau kakek itu terlepas dari penjara batu di mana dia disekap selama bertahun-tahun. Namun adalah
tidak diduganya sama sekali kalau dia akan muncul di situ demikian cepatnya!
Di lain pihak si kakek tertawa gelak-gelak lalu berpaling pada Wiro, "Budak, tidak dinyana bukan
kalau hari ini aku telah dapat membalas hutang nyawa tempo hari terhadapmu?"
Wiro cepat menjura dan menghaturkan terima kasih. Dia hendak mengatakan sesuatu namun saat
itu Pendekar Pedang Akhirat telah berpaling pada Ketua Hun-tiong Houw-mo.
"Siok Eng! Dosa kejahatanmu telah lewat takaran! Hari ini kau harus mempertanggungjawabkan
semua itu!"
Meskipun saat itu Ketua Hun-tiong Houw-mo boleh dikatakan sudah pecah nyalinya namun
dengan tetap angkuh dia bertolak pinggang dan mendamprat!
"Pengemis gila dari mana yang kesasar kemari! Lekas angkat kaki dari istanaku. Kalau tidak kubikin
berhamburan benakmu!"
Long Sam Kun cuma ganda tertawa mendengar kata-kata itu. "Kini semua jelas bagiku, Siok Eng!
Tiga tahun yang lalu kau sengaja menipuku dan menjebloskan diriku ke dalam liang penjara batu.
Dengan berbuat demikian kau merasa tak ada lagi yang menghalangi dirimu berbuat kejahatan seenak
perutmu, mendirikan komplotan Hun-tiong Houw-mo dengan maksud membunuh musnah tokohtokoh
persilatan hingga kau bisa merajai dunia kangouw! Kau lupa Siok Eng! Kejahatan tak akan pernah
menang dari kebenaran!"
"Tua bangka edan! Namaku bukan Siok Eng! Lekas minggat dari sini atau...."
Pendekar Pedang Akhirat tertawa bergelak. "Kau tak mau kupanggil dengan nama aslimu itu?! Kau
hendak menipu dirimu sendiri? Cukup sejak dari muda kau menipuku dengan kasih sayang palsu dan
penyelewengan. Hari ini jangan harap kau bisa berbuat lebih banyak!" Orang tua bertubuh jerangkong
itu maju satu langkah. "Sudah saatnya kau memperlihatkan tampangmu yang asli, Siok Eng!"
Habis berkata demikian Long Sam Kun menyerbu ke depan. Tubuhnya lenyap. Ketua Hun-tiong
Houw-mo membentak garang dan lepaskan sekaligus pukulan Ilmu Jari Kelabang Hijau dengan kedua
belah tangannya. Sepuluh larik sinar hijau menyambar ke arah tubuh Long Sam Kun. Justru di saat itu
pula terlihat satu cahaya merah menebas dan punahlah serangan Ketua Hun-tiong Houw-mo. Juga pada
detik yang bersamaan terdengar pekik sang Ketua dan gelak berderai Pendekar Pedang Akhirat!
"Nah sekarang semua orang bisa melihat tampangmu yang asli! Selama ini kau telah menipu dirimu
sendiri dan orang lain!"
Memandang pada Ketua Hun-tiong Houw-mo itu, baik Wiro maupun lima murid-muridnya bukan
kepalang terkejut mereka. Wajah gadis jelita yang selama ini mereka lihat ternyata hanyalah sebuah
topeng tipis belaka yang barusan telah direnggutkan oleh Pendekar Pedang Akhirat Long Sam Kun. Kini
wajah sang ketua yang asli hanyalah wajah peot cekung penuh kerut dari seorang nenek-nenek yang
berusia sekitar 80 tahun!
Long Sam Kun masih terus mengumbar tertawanya sambil melintangkan pedang merah tipis di
depan dada.
"Siok Eng! Kau juga punya pedang seperti yang kupegang ini. Lekas keluarkan dan aku beri kau
kesempatan untuk membela diri."
"Koko..." tiba-tiba membersit ucapan itu dari sela bibir Ketua Hun-tiong Houw-mo. Sepasang
matanya berkaca-kaca dan perlahan-lahan dia berlutut di hadapan Long Sam Kun.
Sesaat hati kakek ini jadi tergetar juga. Namun cepat dia mendongak, menguatkan hatinya dan
membentak, "Ini bukan panggung sandiwara, Siok Eng! Kalau kau tak mau kuberi kesempatan untuk
membela diri, kau bakal lebih menyesal sampai ke pintu gerbang kematianmu yang terkutuk! Jangan
mengemis cinta dan belas kasihan terhadapku! Apa kau tidak punya malu?!"
Ucapan itu membuat wajah Siok Eng alias Ketua Hun-tiong Houw-mo menjadi gelap. Tiba-tiba dia
melompat berdiri. Dari balik pakaian sutera merahnya nenek ini cabut sebilah pedang merah yang
bentuknya persis sama dengan pedang yang digenggam oleh Long Sam Kun!
"Bagus, kau telah menentukan kematianmu secara lebih rnenyenangkan!"
"Tua bangka keparatl Jangan terlalu takabur. Kepalamu akan menggelinding lebih dulu!" teriak Siok
Eng marah. Dia menerkam ke depan. Pedangnya bersuit. Segulung sinar merah menebas ganas ke arah
Long Sam Kun dalam jurus yang dinamakan hun-tin-coan-san atau Awang Melintang Memutus Bukit. Ini
merupakan satu jurus dari ilmu pedang naga kencana yang dimiliki oleh Siok Eng. Kehebatannya luar
biasa. Namun di mata si tua bangka Long Sam Kun itu bukan apa-apa. Dia segera sambut dengan jurus
ilmu pedangnya yang sejak 20 tahun silam telah menggegerkan dunia kangouw di Tiongkok yakni jurus
pertama dari ilmu pedang akhirat yang bernama "Tiba-tiba Muncul Pelangi" (Cip hian jay hong).
Wiro yang saat itu tegak sambil memegang Kapak Naga Geni 212 untuk menjaga segala
kemungkinan jadi geleng-geleng kepala. Dia telah diberi pelajaran jurus ilmu pedang itu oleh Long Sam
Kun dan bahkan telah pernah mencobanya sendiri menghadapi, musuh-musuh tangguh. Tapi jurus
"Tiba-tiba Muncul Pelangi" yang dimainkan si kakek boleh dikatakan hampir enam kali lebih hebat dari
yang dikuasainya. Mau tak mau pendekar ini jadi leletkan lidah saking kagum!
Siok Eng sudah tahu kehebatan ilmu pedang orang yang pernah menjadi kekasihnya, tetapi kemudian dikhianatinya itu bahkan dipenjarakannya di liang batu. Adalah tak bisa dipercayai olehnya kalau setelah tiga tahun mendekam dalam penjara batu tahu-tahu ilmu pedang si kakek kini semakindahsyat! Karenanya dalam jurus kedua Siok Eng segera lancarkan serangan dengan gerakan yang dinamakan Hek-houw wat sim atau Harimau Hitam Mengorek Hati yang kemudian disusul dengan gerakan ganas bernama Sin-liong-pok cui atau Naga Sakti Menyambar Air.
Pendekar Pedang Akhirat tetap tenang-tenang saja dan dengan satu gerakan yang sebat, setelah mengelakkan kedua serangan itu dia mainkan jurus kelima dari ilmu pedangnya yang disebut Tiang-hongkoan jit atau "Pelangi Menutup Matahari".
"Trang!"
Pedang merah di tangan Siok Eng terlepas mental dan sebelum senjata ini jatuh ke lantai, ujung pedang di tangan Long Sam Kun telah menusuk dada Siok Eng, tembus sampai ke punggung Ketua Komplotan Hun-tiong Houw-mo ini cuma keluarkan seruan pendek dan mati dengan mata membeliak.
Long Sam Kun tarik pedangnya dan tubuh Siok Eng lantas roboh ke lantai. Orang tua itu menarik nafas dalam, membungkuk mengambil pedang Siok Eng lalu memandang pada Wiro dan gadis-gadis yang ada di situ.
Sekali lagi dia menarik nafas dalam lalu berkata, "Ini satu pelajaran bagi kalian. Ada kalanya cinta itu harus dikorbankan untuk suatu kebenaran. Mudah-mudahan kalian tidak mengalami nasib sepahit diriku ini!" Habis berkata begitu Pendekar Pedang Akhirat Long Sam Kun balikkan tubuh.
"Locianpwe, tunggu dulu...." Wiro cepat memanggil.
"Ah, budak kau masih seperti dulu saja. Seialu banyak cerewet. Sudah, kau atur saja nona-nona manis itu. Aku percaya kau akan bakal bisa membawa mereka ke jalan yang benar, keluar dari neraka dunia di puncak Hun-tiong san!"
Si muka jerangkong itu tersenyum kedipkan matanya pada Wiro dan berkelebat pergi. Pendekar Kapak Maut 212 geleng-geleng kepala dan garuk-garuk rambutnya. "Ah, benar-benar di luar langit masih ada langit lagi…" katanya dalam hati dan seenaknya tangan kirinya kemudian sudah melingkar di pinggang si Putih Koan-koan.

TAMAT

IZRO'IL
Pendekar Pedang Akhirat


"Dewi, sebaiknya gadis binal ini buru-buru saja disingkirkan. Kalau tidak bisa bikin berabe...!" berkata
Bwe-bwe.
"Menyingkirkannya soal mudah, muridku. Tapi bagaimana pendapatmu kalau mukanya kita cincang
hingga wajahnya yang cantik menjadi lebih buruk dan seram dari muka setan sehingga seumur-umur tak
satu pemuda pun ingin mendekatinya...."
"Perempuan gila!" sentak Pek Lan. "Jika kau punya nyali mari kita bertempur sampai seribu jurus!"
"Gadis sundel!" si Hitam Ling-ling, memaki. "Kau andalkan apakah berani bicara sombong terhadap
Ketua kami? Membunuhmu jauh lebih mudah dari pada membalikkan telapak tangan!"
"Hitam dan Biru! Seret dia ke kamar penyiksaan!" Dewi Siluman Harimau berteriak. Namun
sebelum kedua muridnya melakukan hat itu tiba-tiba dari luar berkelebat satu bayangan putih dan tahutahu
si Putih Koan-koan sudah tegak di ruangan itu. Di bahunya dia memanggul sesosok tubuh pemuda
berpakaian putih. Begitu melihat pemuda ini Pek Lan keluarkan seruan tertahan. Si pemuda yang bukan
lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng! Saat itu Koan-koan telah mengenakan kembali pakaian
samarannya dan topeng tipisnya. Dia meletakkan sosok tubuh Wiro di lantai, menjura di hadapan sang
Ketua dan berkata, "Dewi, tugas telah kujalankan, cuma mohon dimaafkan agak menyimpang sedikit
dari yang diperintahkan. Semula Dewi menugaskan agar aku membunuh pemuda ini, namun ketika
melihat dia memiliki paras yang cukup gagah maka dalam perkelahian aku cuma menotoknya lalu
membawanya kemari dengan harapan siapa tahu Dewi berkenan padanya!"
Ketua Hun-tiong Houw-mo kerenyitkan kening. Sepasang alis matanya naik ke atas. Dia bangkit
dari kursi emas dan melangkah mendekati sosok tubuh Wlro. Dongan ujung kakinya yang dibungkus
dengan kasut sutera merah dia membalikkan kepala Wiro untuk dapat menilai wajah pemuda itu lebih
jelas. Ternyata tampang Wiro memang membuat dia terpikat.
"Ah... aku memang belum pernah dapat pemuda asing. Kelihatannya dia kuat sekali!" Sang Dewi
tertawa dikulum dan meneguk ludahnya beberapa kali lalu dengan gembira menepuk-nepuk bahu Koankoan
yang saat itu sudah menanggalkan pakaian luar serta topeng tipisnya. "Kau memang muridku yang
bijaksana dan banyak berjasa. Panjang pikiran dan tahu bagaimana kesenangan guru serta Ketuamu ini!
Bagus sekali Koan-koan, bagus sekali. Kau gotonglah dia ke kamar tidurku sekarang juga...."
Baru saja sang Dewi berkata demikian tiba-tiba hampir tak kelihatan sepasang tangan Wiro bergerak
laksana kilat menangkap salah satu kaki Ketua Hun-tiong Houw-mo itu. Di lain kejap terdengar
satu bentakan dan tubuh sang Dewi mencelat mental ke udara! Semua orang terkejut bukan kepalang.
Ketua Hun-tiong Houw-mo kelihatan jungkir balik tiga kali di udara kemudian tegak di lantai
kembali. Wajahnya merah laksana bara. Sepasang matanya berapi-api, menatap pada Pendekar 212 Wiro
Sableng yang berdiri di samping Koan-koan sambil satu tangan tolak pinggang, tangan lain garuk kepala
dan tertawa gelak-gelak.
"Tiada dinyana ketua Hun-tiong Houw-mo begini cantiknya dan pandai main akrobat pula!" kata
Wiro masih terus tertawa-tawa.
"Jadah! Koan-koan kau berani menipuku! Kau telah bersekongkol untuk mengkhianatiku hah?!"
Ketua Hun-tiong Houw-mo meluap amarahnya bukan kepalang. Dia berpaling dan berteriak, "Ringkus
murid murtad itu! Aku akan hadapi bangs*t bernama Wiro Sableng ini!"
Melihat kawan-kawan atau saudara seperguruannya hendak bergerak, Koan-koan cepat berseru,
"Saudara-saudaraku tunggu dulu! Bukankah kita sudah sejak lama tersiksa hidup di puncak Hun-tiong
san ini? Bukankah kita sejak lama ingin meninggalkan tempat celaka ini dan menempuh hidup di dunia
luar secara wajar dan baik? Bukankah kita sering menyadari bahwa apa yang kita lakukan dan
diperintahkan oleh Dewi semua bertentangan dengan hati kecil kita dan perikemanusiaan? Apakah akan
kita rusakkan lebih jauh hidup kita yang cuma sekali ini di dunia? Hari inilah saat yang kita tunggutunggu
untuk mendapat kehidupan bebas yang kits rindukan. Hari ini kebenaran akan menghancurkan
malapetaka yang bersumber di puncak Hun-tiong san ini! Mari, ikutlah bersamaku untuk kembali pada
hidup yang benar dan keluar dari azab neraka ini!"
Mendengar kata-kata Koan-koan yang penuh semangat itu, empat saudara seperguruannya jadi
bimbang. Melihat ini marahlah Ketua Hun-tiong Houw-mo. Dia berteriak, "Lekas bunuh murid murtad
Itu. Kalau tidak kalian berempat akan mendapat hukuman berat!"
Empat murid sang Ketua semakin bingung.
"Kesempatan ini hanya sekali, saudara-saudaraku! Kalau sampai luput, kalian akan celaka sampai di
liang kubur!" berseru Koan-koan.
"Aku si geblek yang bernama Wiro Sableng ini akan membantu kalian!" Wiro pentang mulut.
"Aku juga!" teriak Pek Lan.
"Murid jadah! Kau layak mampus duluanl" Kemarahan Ketua Hun-tiong Houw-mo tak terkendalikan
lagi. Sekaligus dia jentikkan lima jari tangan kanannya yang sudah dialiri seluruh tenaga dalam
yang ada ke arah Koan-koan. Gadis ini berseru tegang dan secepat kilat menyingkir. Dalam pada itu
Wiro telah lepaskan pukulan Sinar Matahari yang membuat istana emas itu laksana dilabrak geledek.
Satu dentuman terdengar. Semua orang yang ada di sini terpental ke samping sedang salah satu dinding
ruangan yang terbuat dari emas meleleh dan berlobang besar!
Ketua Hun-tiong Houw-mo kaget bukan kepalang. Ternyata pemuda asing itu memiliki tenaga
dalam yang tidak berada di bawahnya. Namun dia sama sekali tidak gentar. Dengan satu lengkingan
nyaring dahsyat dia menerjang ke depan. Begitu cepatnya dia berkelebat hingga hanya bayangan , merah
pakaiannya saja yang kelihatan.
"Buk!"
Satu jotosan melabrak dada Wiro Sableng, Pendekar ini terpental sampai satu tombak. Darah kental
kelihatan meleleh di sebelah bibirnya. Melihat ini Koan-koan jadi bergeming. Jika sampai Wiro kalah
oleh Ketuanya pastilah dia bakal celaka pula. Dia melirik pada saudara-saudaranya. Sampai saat itu
mereka masih tertegun dalam kebimbangan.
Melihat serangannya berhasil Ketua Hun-tiong Houw-mo kembali melabrak ke depan, sosok
tubuhnya tak kelihatan. Kali ini Wiro bertindak gesit karena ternyata lawan memiliki ilmu yang disebut
Pek-pian-mo-ing atau Seratus Bayangan Iblis! Hal ini diketahui Wiro dari Koan-koan. Untung saja dia
telah mendapat tambahan kekuatan tenaga dalam dan ginkang dari orang tua misterius yang berjuluk
Pendekar Pedang Akhirat Long Sam Kun itu, kalau tidak pastilah dia bakal celaka. Mengingat si orang
tua tersebut, setelah menelan sebutir obat, Wiro segera hadapi musuhnya dengan jurus silat yang pernah
dipelajari dari kakek itu yakni jurus yang bernama "Cip-hian-jay-hong" atau "Tiba-tiba Muncul Pelangi".
Ketua Hun-tiong Houw-mo itu tersurut saking kagetnya ketika menyaksikan lawannya keluarkan
jurus tersebut bahkan kemudian mendesaknya dengan jurus yang dikenalnya bernama "Lo han-cianyau"
atau "Malaikat Menundukkan Siluman".
"Bedebah!" seru Ketua Hun-tiong Houw-mo seraya menyambut dengan jurus "Pit bun ki khek"
atau "Menutup pintu Menolak Tetamu", meskipun dia tahu jurus tersebut tak mungkin sanggup
menangkis serangan lawan. "Ada sangkut paut apa kau dengan Pendekar Pedang Akhirat?! Ayo lekas
jawab!"
"Ini jawabanku!" kata Wiro pula dan mainkan jurus terakhir setelah dua jurus pertama sanggup
menghantam Ketua Hun-tiong Houw-mo yang tangguh itu. Jurus ketiga ini bernama "Kui gok-sin ki"
atau "Setan Meratap Malaekat Menangis". Sang Dewi merasakan pemandangannya tertutup dan sebelum
dia sempat menjauhkan diri, dua buah pukulan telah menghantam di tubuhnya, membuatnya tak ampun
terguling-guling di lantai tapi hebatnya segera pula bangkit berdiri meskipun dengan terhuyung-huyung
dan muka pucat yang menandakan dia terluka di dalam.
Dewi Siluman Harimau itu tiba-tiba berteriak garang. Kedua tangannya bergerak ke pinggang dan
sesudah itu hampir tak kelihatan kapan dia melemparkannya, sepuluh piauw emas beracun berbentuk
kepala harimau meluncur pesat ke arah Wiro.
Dari Koan-koan Wiro sudah mengetahui kehebatan senjata rahasia ini, jangankan sampai
menancap di tubuh, sedikit saja kulit sampai keno diserempet pastilah korbannya akan meregang nyawa.
Karenanya tanpa tunggu lebih lama Wiro segera lepaskan pukulan "Dewa Topan Menggusur Gunung" .
Kehebatan pukulan ini membuat geger. Bukan saja ke sepuluh piauw emas beracun mencelat mental
tapi sebagian langit-langit gedung dan sebagian dinding amblas sedang lebih ke atas lagi atap bangunan
ambruk, salah satu tiang besar patah. Gedung yang berlapiskan emas itu bergetar dahsyat laksana
diguncang gempa. Koan-koan, Pek Lan, dan murid-murid Dewi Siluman jatuh berkaparan di lantai
sedang Wiro dan sang Dewi sendiri tergontai-gontai untuk beberapa lamanya. Wajah sang Dewi sepucat
kertas kini. Jika pemuda asing itu tidak lekas dapat dibunuhnya pasti dia bakal celaka pikirnya. Maka
diputuskannyalah untuk mengeluarkan ilmu simpanannya yang terakhir yakni ilmu siluman atau ilmu
sihir (hoatsut) yang selama ini tak satu orang pun sanggup menandingnya.
Koan-koan, begitu melihat mulut gurunya berkomat-kamit dan sepasang matanya laksana dikobari
nyala api, dengan ilmu menyusupkan suara segera memberi peringatan, "Awas, dia akan segera
mengeluarkan ilmu sihir silumannya! Hati-hati!"
Mendengar ini Wiro segera cabut Kapak Naga Geni 212. Namun sebelum dia sempat mempergunakan,
di depan sana Ketua Hun-tiong Houw-mo sudah membentak, "Naik!"
Wiro merasakan kedua telapak kakinya tidak lagi menginjak lantai. Tubuhnya perlahan-lahan naik
ke atas. Dengan sekuat tenaga dia coba bertahan. Satu pukulan sakti yakni pukulan "Sinar Matahari"
dilepaskan ke arah lawan kemudian menyusul dia kiblatkan senjatanya. Namun dua serangannya itu
hanya mengenai tempat kosong dan merusak gedung yang bagus itu sedang lawannya sendiri sudah
lenyap dari hadapannya.
Ketika Wiro berpaling ke kiri, segulung asap membuntal ke arahnya. Sedetik kemudian asap itu
berobah menjadi satu makhluk raksasa, badan manusia berbulu sedang kepala harimau bertampang
ganas dengan taring-taring luar biasa besarnya. Binatang ini menggereng. Bangunan itu terasa bergetar.
Koan-koan serta gadis-gadis lainnya sama-sama menjauhkan diri dengan perasaan ngeri.
"Pemuda itu tak akan sanggup memusnahkan ilmu siluman dari Ketua..." bisik si Hitam Ling-ling
dengan menggigil.
"Rampas kapak itu!" Dewi Siluman Harimau memberi perintah pada makhluk sihirnya. Makhluk ini
kembali menggereng dan sekali dia bergerak
Kapak Naga Geni 212 di tangan Wiro sudah kena dirampas. Wiro memukul dengan pukulan "Segulung
Ombak Menerpa Karang", namun pukulan itu seolah-olah lewat di tempat kosong, tidak menimbulkan
apa-apa pada diri manusia raksasa kepala harimau. Wiro keluarkan keringat dingin. "Celaka
sekarang mampuslah aku!" keluh pendekar ini.
Dan kembali terdengar Ketua Hun-tiong Houwmo memberikan perintah, "Bunuh dia dengan
kapak itu."
Makhluk sihiran itu menggereng dan mengangkat tangan kanannya yang memegang kapak tinggitinggi.
Wiro melompat selamatkan diri seraya lepaskan pukulan "Sinar Matahari", tapi tak mempan dan
dalam pada itu tangan kiri raksasa kepala harimau itu telah mencengkeram pundaknya hingga dia tak
bisa berkutik lagi.
Ketua Hun-tiong Houw-mo tertawa meninggi. "Bunuh," teriaknya.
Kapak Naga Geni 212 membacok turun ke arah batok kepala Wiro Sableng.
"Celaka, betul-betul aku mampus juga akhirnya.... " Wiro cuma bisa membathin demikian dan
tutupkan mata siap menerima kematian dengan tabah.
Justru di saat yang amat kritis itu terdengar satu suara berseru, "Siok Eng! Ilmu menakuti anak-anak
apakah yang kau keluarkan ini!"
Selarik sinar biru yang dingin melesat dari atas reruntuhan atap. Makhluk kepala harimau menggereng.
Kapak Naga Geni 212 lepas dari tangannya dan detik itu pula sosok tubuhnya lenyap punah!
Jika ada orang yang paling kaget di tempat itu, maka manusianya adalah Ketua Hun-tiong Houwmo
sendiri yang tadi dipanggil dengan nama aslinya yaitu Siok Eng!
Wiro juga kaget dan buka sepasang matanya lebar-lebar. Sesosok tubuh kurus kering macam
jerangkong dilihatnya melayang turun dari panglari dan segera dikenalinya. Pemuda ini kontan berteriak:
"Locianpwe!"
***
12
TERNYATA orang yang barusan melompat dari atas langit-langit ruangan bukan lain adalah kakekkakek
sakti bertubuh kurus kering macam jerangkong yang tempo hari secara kebetulan pernah ditolong
oleh Wiro dari ruangan batu di mana dia disekap. Dia yang dikenal dengan Pendekar Pedang Akhirat
Long Sam Kun.
Melihat munculnya si kakek di tempat itu, kaget Dewi Siluman bukan kepalang. Dia sudah tahu
kalau kakek itu terlepas dari penjara batu di mana dia disekap selama bertahun-tahun. Namun adalah
tidak diduganya sama sekali kalau dia akan muncul di situ demikian cepatnya!
Di lain pihak si kakek tertawa gelak-gelak lalu berpaling pada Wiro, "Budak, tidak dinyana bukan
kalau hari ini aku telah dapat membalas hutang nyawa tempo hari terhadapmu?"
Wiro cepat menjura dan menghaturkan terima kasih. Dia hendak mengatakan sesuatu namun saat
itu Pendekar Pedang Akhirat telah berpaling pada Ketua Hun-tiong Houw-mo.
"Siok Eng! Dosa kejahatanmu telah lewat takaran! Hari ini kau harus mempertanggungjawabkan
semua itu!"
Meskipun saat itu Ketua Hun-tiong Houw-mo boleh dikatakan sudah pecah nyalinya namun
dengan tetap angkuh dia bertolak pinggang dan mendamprat!
"Pengemis gila dari mana yang kesasar kemari! Lekas angkat kaki dari istanaku. Kalau tidak kubikin
berhamburan benakmu!"
Long Sam Kun cuma ganda tertawa mendengar kata-kata itu. "Kini semua jelas bagiku, Siok Eng!
Tiga tahun yang lalu kau sengaja menipuku dan menjebloskan diriku ke dalam liang penjara batu.
Dengan berbuat demikian kau merasa tak ada lagi yang menghalangi dirimu berbuat kejahatan seenak
perutmu, mendirikan komplotan Hun-tiong Houw-mo dengan maksud membunuh musnah tokohtokoh
persilatan hingga kau bisa merajai dunia kangouw! Kau lupa Siok Eng! Kejahatan tak akan pernah
menang dari kebenaran!"
"Tua bangka edan! Namaku bukan Siok Eng! Lekas minggat dari sini atau...."
Pendekar Pedang Akhirat tertawa bergelak. "Kau tak mau kupanggil dengan nama aslimu itu?! Kau
hendak menipu dirimu sendiri? Cukup sejak dari muda kau menipuku dengan kasih sayang palsu dan
penyelewengan. Hari ini jangan harap kau bisa berbuat lebih banyak!" Orang tua bertubuh jerangkong
itu maju satu langkah. "Sudah saatnya kau memperlihatkan tampangmu yang asli, Siok Eng!"
Habis berkata demikian Long Sam Kun menyerbu ke depan. Tubuhnya lenyap. Ketua Hun-tiong
Houw-mo membentak garang dan lepaskan sekaligus pukulan Ilmu Jari Kelabang Hijau dengan kedua
belah tangannya. Sepuluh larik sinar hijau menyambar ke arah tubuh Long Sam Kun. Justru di saat itu
pula terlihat satu cahaya merah menebas dan punahlah serangan Ketua Hun-tiong Houw-mo. Juga pada
detik yang bersamaan terdengar pekik sang Ketua dan gelak berderai Pendekar Pedang Akhirat!
"Nah sekarang semua orang bisa melihat tampangmu yang asli! Selama ini kau telah menipu dirimu
sendiri dan orang lain!"
Memandang pada Ketua Hun-tiong Houw-mo itu, baik Wiro maupun lima murid-muridnya bukan
kepalang terkejut mereka. Wajah gadis jelita yang selama ini mereka lihat ternyata hanyalah sebuah
topeng tipis belaka yang barusan telah direnggutkan oleh Pendekar Pedang Akhirat Long Sam Kun. Kini
wajah sang ketua yang asli hanyalah wajah peot cekung penuh kerut dari seorang nenek-nenek yang
berusia sekitar 80 tahun!
Long Sam Kun masih terus mengumbar tertawanya sambil melintangkan pedang merah tipis di
depan dada.
"Siok Eng! Kau juga punya pedang seperti yang kupegang ini. Lekas keluarkan dan aku beri kau
kesempatan untuk membela diri."
"Koko..." tiba-tiba membersit ucapan itu dari sela bibir Ketua Hun-tiong Houw-mo. Sepasang
matanya berkaca-kaca dan perlahan-lahan dia berlutut di hadapan Long Sam Kun.
Sesaat hati kakek ini jadi tergetar juga. Namun cepat dia mendongak, menguatkan hatinya dan
membentak, "Ini bukan panggung sandiwara, Siok Eng! Kalau kau tak mau kuberi kesempatan untuk
membela diri, kau bakal lebih menyesal sampai ke pintu gerbang kematianmu yang terkutuk! Jangan
mengemis cinta dan belas kasihan terhadapku! Apa kau tidak punya malu?!"
Ucapan itu membuat wajah Siok Eng alias Ketua Hun-tiong Houw-mo menjadi gelap. Tiba-tiba dia
melompat berdiri. Dari balik pakaian sutera merahnya nenek ini cabut sebilah pedang merah yang
bentuknya persis sama dengan pedang yang digenggam oleh Long Sam Kun!
"Bagus, kau telah menentukan kematianmu secara lebih rnenyenangkan!"
"Tua bangka keparatl Jangan terlalu takabur. Kepalamu akan menggelinding lebih dulu!" teriak Siok
Eng marah. Dia menerkam ke depan. Pedangnya bersuit. Segulung sinar merah menebas ganas ke arah
Long Sam Kun dalam jurus yang dinamakan hun-tin-coan-san atau Awang Melintang Memutus Bukit. Ini
merupakan satu jurus dari ilmu pedang naga kencana yang dimiliki oleh Siok Eng. Kehebatannya luar
biasa. Namun di mata si tua bangka Long Sam Kun itu bukan apa-apa. Dia segera sambut dengan jurus
ilmu pedangnya yang sejak 20 tahun silam telah menggegerkan dunia kangouw di Tiongkok yakni jurus
pertama dari ilmu pedang akhirat yang bernama "Tiba-tiba Muncul Pelangi" (Cip hian jay hong).
Wiro yang saat itu tegak sambil memegang Kapak Naga Geni 212 untuk menjaga segala
kemungkinan jadi geleng-geleng kepala. Dia telah diberi pelajaran jurus ilmu pedang itu oleh Long Sam
Kun dan bahkan telah pernah mencobanya sendiri menghadapi, musuh-musuh tangguh. Tapi jurus
"Tiba-tiba Muncul Pelangi" yang dimainkan si kakek boleh dikatakan hampir enam kali lebih hebat dari
yang dikuasainya. Mau tak mau pendekar ini jadi leletkan lidah saking kagum!
Siok Eng sudah tahu kehebatan ilmu pedang orang yang pernah menjadi kekasihnya, tetapi kemudian dikhianatinya itu bahkan dipenjarakannya di liang batu. Adalah tak bisa dipercayai olehnya kalau setelah tiga tahun mendekam dalam penjara batu tahu-tahu ilmu pedang si kakek kini semakindahsyat! Karenanya dalam jurus kedua Siok Eng segera lancarkan serangan dengan gerakan yang dinamakan Hek-houw wat sim atau Harimau Hitam Mengorek Hati yang kemudian disusul dengan gerakan ganas bernama Sin-liong-pok cui atau Naga Sakti Menyambar Air.
Pendekar Pedang Akhirat tetap tenang-tenang saja dan dengan satu gerakan yang sebat, setelah mengelakkan kedua serangan itu dia mainkan jurus kelima dari ilmu pedangnya yang disebut Tiang-hongkoan jit atau "Pelangi Menutup Matahari".
"Trang!"
Pedang merah di tangan Siok Eng terlepas mental dan sebelum senjata ini jatuh ke lantai, ujung pedang di tangan Long Sam Kun telah menusuk dada Siok Eng, tembus sampai ke punggung Ketua Komplotan Hun-tiong Houw-mo ini cuma keluarkan seruan pendek dan mati dengan mata membeliak.
Long Sam Kun tarik pedangnya dan tubuh Siok Eng lantas roboh ke lantai. Orang tua itu menarik nafas dalam, membungkuk mengambil pedang Siok Eng lalu memandang pada Wiro dan gadis-gadis yang ada di situ.
Sekali lagi dia menarik nafas dalam lalu berkata, "Ini satu pelajaran bagi kalian. Ada kalanya cinta itu harus dikorbankan untuk suatu kebenaran. Mudah-mudahan kalian tidak mengalami nasib sepahit diriku ini!" Habis berkata begitu Pendekar Pedang Akhirat Long Sam Kun balikkan tubuh.
"Locianpwe, tunggu dulu...." Wiro cepat memanggil.
"Ah, budak kau masih seperti dulu saja. Seialu banyak cerewet. Sudah, kau atur saja nona-nona manis itu. Aku percaya kau akan bakal bisa membawa mereka ke jalan yang benar, keluar dari neraka dunia di puncak Hun-tiong san!"
Si muka jerangkong itu tersenyum kedipkan matanya pada Wiro dan berkelebat pergi. Pendekar Kapak Maut 212 geleng-geleng kepala dan garuk-garuk rambutnya. "Ah, benar-benar di luar langit masih ada langit lagi…" katanya dalam hati dan seenaknya tangan kirinya kemudian sudah melingkar di pinggang si Putih Koan-koan.

TAMAT

IZRO'IL
WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212


Pendekar Dari Gunung Naga


LEMBAH MERAK HIJAU yang terletak di propinsi Ciat-kang merupakan sebuah lembah subur dengan pemandangan yang indah. Lebih-lebihkarena di sebelah timur lembah ini terdapat daerah persawahan yang luas dan pada saat itu padi yang ditanam telah masak menguning hingga kemanapun mata memandang, seolah-olah hamparan permadaniemaslah yang kelihatan. Bila angin bertiup, padi-padi masak menguning itu bergoyang melambai-lambai mengalun lemah gemulai
Dipagi yang cerah ini diantara desau tiupan angin lembah yang segar terdengarlah suara tiupanseruling yang merdu sekali. Barang siapa yangmendengarnya, pastilah akan tertegun dan memasangtelinga baik-baik menikmati suara seruling itu.
Siapakah gerangan yang meniup seruling tersebut?
Tentunya seorang seniman pandai yang dapat menggambarkan keindahan pemandangan alam sekitarnya lewat hembusan napas yang disalurkannya ke dalam lobang seruling.
Tetapi adalah diiuar dugaan karena kenyataannya si peniup seruling bukanlah seorang seniman, bukan pula seorang dewasa. Melainkan seorang anak gembala yang baru berusia tujuh tahun danduduk di atas punggung seekor kerbau besar tegap berbulu bersih dan berkilat.
Perlahan-lahan kerbau besar itu melangkah menyusur tepi sawah, memasuki lembah Merak Hijau, kemudian mendaki bibir lembah di sebelah selatan.
Di atas punggungnya bocah berusia tujuh tahun itu demikian asyiknya meniup seruling hingga dia tidak perduli lagi ke mana pun kerbaunya membawanya.
Akan tetapi ketika binatang itu sampai di atas lembah sebelah selatan serta rnerta si bocah menghentikan permainan serulingnya. Mulutnya terngangadan sepasang matanya yang bening melotot begitudia menyaksikan pemandangan di hadapannya. Dua sosok tubuh yang hanya merupakan bayang-bayang hitam dan putih dilihatnya berkelebat hebat, terlibat dalam suatu perkelahian yang gencar dan seru.
Adalah aneh... memikir anak itu... di tempat yang begini indah dan segar, ada orang berkelahi. Memperhatikan dengan mata tak berkesip lama-lama membuat si bocah menjadi pusing sendiri. Beberapa kali dia memejamkan matanya, dibuka kembali, dipejamkan lagi, dibuka lagi. Ketika dia membuka sepasang matanya untuk yang kesekian kalinya,dilihatnya bayangan hitam mendesak bayangan putih dan tahu-tahu satu tendangan dahsyat dilancarkan oleh sosok tubuh bayangan hitam. Tapi bayanganputih dapat mengelak. Tendangan maut itu taksengaja terus melabrak kepala kerbau yang ditunggangi anak tadi.
Terdengar lenguhan keras. Kerbau besar itu mencelat sampai beberapa tombak, angsrok di tanah, mati dengan kepala pecah. Anak lelaki tadi terpelanting dan nyangsrang dalam semak-semak.
Pakaiannya habis koyak-koyak dan kulitnya baret luka-luka. Tapi suling Kesayangannya masih tergenggam di tangan kanannya. Dengan susah payah dia keluar dari semak-semak itu sambil mengomel marah ketika mengetahui apa yang terjadi dengan kerbau tunggangannya.
Di depan sana akibat kejadian yang tak disangka-sangka itu, dua orang yang tadi berkelahi mati-matian sama melompat mundur. Perkelahian terhenti dan keduanya memandang ke arah si bocah dan kerbaunya.
Kini barulah anak lelaki itu dapat melihat dengan jelas sosok tubuh dan tampak kedua bayangan hitam dan putih tadi.
Di depan sebelah kanan tegak seorang kakekkakek berjubah hitam berkepala botak plontos yang kilat-kilat ditimpa sinar matahari. Sepasang alisnya tebal, kumisnya jarang tapi tebal-tebal dan panjang. Tampangnya persis seperti anjing air!
Di sebelah kiri berdiri pula seorang kakek-kakek berpakaian putih. Rambutnya panjang putih meriap bahu. Dia memelihara kumis serta janggut lebat yang juga berwana putih. Sepasang matanya memandang tajam pada bocah yang memegang suling sedang kulit keningnya berkerut seolah-olah dia tengah memikirkan sesuatu. Meskipun tadi hanya melihat bayangannya saja. namun bocah pengembara itu yakin kakek berjubah hitam itulah yang telah melepaskan tendangan hingga mematikan kerbaunya. Bocah ini memang mempunyai dasar watak yang berani. Dengan mata melotot dan air muka menunjukkan kemarahan dia membentak pada kakek jubah hitam :
“Tua bangka botak! Kau telah membunuh kerbauku!
Aku pasti akan dirajam oleh majikanku! Kauharus menggantinya kalau tidak...."
Seumur hidupnya baru kali itu kakek berjubah hitam dimaki begitu rupa oleh seorang lain. Apalagi anak-anak yang masih ingusan pula! Tentu saja darahnya naik ke kepala
"Pergi kau dari sini. kalau tidak kepalamu akan kupecahkan seperti binatang itu!"
"Tidak! Kau harus ganti dulu kerbau yang mati itu!'
"Bocah sundal! Kau mampuslah!' teriak kakek jubah hitam marah sekali. Tangan kanannya dipukulkan ke depan. Serangkum angin menderu dahsyat.
Jangankan seorang anak kecil seperti pengembala itu, batu karang atos sekalipun kalau sampai dilabrak pukulan jarak jauh yang berkekuatan tenaga dalam Suar biasa itu pasti akan hancur lebur.
Tapi sebelum pukulan tangan kosong itu menghantam anak gembala, dari samping menderu angin pukulan lain, menggempur angin pukulan yang pertama hingga berantakan dan punah!
Ternyata kakek berpakaian putihlah yang telah menolong bocah itu!
Si anak yang tidak sadar kalau dirinya baru saja terlepas dari bahaya maut. dengan marah mengangkat sulingnya tinggi-tinggi dan lari ke arah kakek berjubah hitam.
"Tua bangka botak! Kugebuk kau dengan sulingku kalau kau tak mau ganti kerbau yang mati!"
Anak yang berani ini tidak menyadari sama sekali kalau perbuatannya itu bakal merenggut nyawa sendiri karena dalam kemarahannya kakek jubah hitam memang sudah berniat membunuh anak itu. Tapi lagi-lagi orang tua berpakaian putih menyelamatkannya Sekali bergerak, kakek yang satu ini tahu-tahu sudah telah mencengkram kerah pakaian bocah itu dan menariknya ke tempat yang aman!
"Budak! Keberanianmu luar biasa dan mengagumkanku!
Tapi si kepala botak itu bukan lawanmu!
Biar aku yang mewakilimu untuk menggebuknya!'
Sesaat anak gembala itu terdiam. Kemudian dengan merengut dia berkata : "Kalian tua-tua bangka tak tahu diri.-Berkelahi macam anak-anak!"
Kakek berjanggut putih tertawa gelak gelak. Tapi sebaliknya si jubah hitam kepala botak membentak garang dan menyerbu. Kembali kedua orang ini bertempur hebat Kembali tubuh mereka menjadi bayangbayanghitam putih dan kembali pula si bocah menjadi sakit mata dan pening kepalanya menyaksikan. Namundia memaksakan untuk memperhatikan kejadian hebat itu sambi! tiada hentinya berteriak : Janggut putih, ayo kau hajar kepala botak pembunuh kerbauku itu! Sikat!
Pecahkan kepalanya seperti dia memecahkan kepala binatang gembalaanku!"
Teriakan-teriakan anak ini seolah-olah memberi semangat pada kakek berpakaian pulih, sebaliknya membuat si botak jadi penasaran setengah mati!
Dari batik jubah hitamnya si botak ini keluarkan senjatanya berupa tongkat kayu berwarna hitam legam dan memancarkan sinar menggidikkan. Setelah bertempur hampir dua ratus jurus ternyata dia tak dapat merubuhkan lawan dengan iangan kosong maka kini dengan senjata itu dia berharap bakai dapat mengalihkan kakek janggut putih.
Diiain pihak lawannya begitu melihat musuh pegang senjata tidak pula menunggu lebih lama, segera keluarkan senjatanya yakni sebatang tombak pendek terbuat dari baja putih yang kedua ujungnya bercagak.
Sesaat kemudian keduanya sudah bertempur kembali dengan hebatnya. Kini bayangan pakaian mereka yang putih dan hitam dibuntali oleh sinar dari senjata masing-masing dan menderu-deru dengan dahsyatnya.
Bocah gembala yang berdiri jauh dari tempat itu merasakan bagaimana sambaran kedua senjata tersebut membuat lututnya guyah dan tubuhnya bergetar menggigil Terpaksa dia menjauh sampai satu tombak dari kalangan pertempuran sementara matadan kepalanya semakin sakit menyaksikan.
Dalam satu gebrakan hebat kakek janggut putih berhasil mendesak lawan dan setelah mengirimkan tusukan-tusukan gencar ke arah tawan tiba-tiba robah gerakan tongkatnya dengan satu kemplangan yang tidak terduga.
Kakek botak berseru kaget. Buru-buru dia melintangkan senjatanya di atas kepala. Tombak baja dan tongkat kayu mustika beradu dengan keras, me ngeluarkan suara nyaring. Tongkat kayu mental patah dua sedang tombak baja terlepas dari tangan kakek janggut putih! Nyatalah kedua kakek-kakek itu sama tangguh meskipun si janggut putih unggul sedikit dari lawannya.
Selagi kakek janggut putih melompat mengambil tongkatnya, si kepala botak rangkapkan dua tangan di depan dada, kaki terkembang dan kedua matanya dipejamkan. Mulutnya komat-kamit. Dari ubun-ubun kepalanya mengepul asap hitam. Kemudian terdengar kekehannya.
"Manusia keparat! Jangan harap kali ini kau bisa bernapas lebih lama!"
Kepulan-kepulan asap hitam itu sedetik kemudian berobah menjadi delapan buah tangan yang amat besar, berbulu dan berkuku-kuku panjang laksana cakar burung garuda dan mulai menggapaigapai ke arah kakek janggut putih.
"Ilmu hoatsut!" teriak si janggut putih dengan wajah berobah. (Hoatsut ilmu sihir hitam). Hatinya tercekat. Segala macam senjata sakti dan ilmu silat hebat bagaimana pun dia tidak gentar. Tapi menghadapi ilmu siluman mau tak mau hatinya berdebar juga. Dia mengambil keputusan nekad. Menghajar si kepala botak itu lebih dulu sebelum ilmu hitamnyamelancarkan serangan. Dengan memutar tombak bajanya sekeliling tubuh, dia menyusup diantarakepulan asap hitam!

AKAN TETAPI SEBELUM tongkat baja berkepala dua itu mampu mendekati kakek jubah hitam sampai jarak tiga jengkal, tiba-tiba delapan buah tangan mengerikantelah berserabutan menyerang kakek janggut putih!
Si kakek tersentak dan buru-buru menghindarkan diri. Tapi empat tangan berkuku panjang itu masihmemburunya dengan ganas. Si kakek kiblatkan tombak bajanya, sekaligus melabrak empat buah tangan yangmenyerang. Aneh, meskipun jelas dia berhasil menghantam empat tangan mengerikan itu namun tombaknya lewat begitu saja seolah-olah menghantam udara kosong! Dan dalam pada itu salah satu tangan tersebut telah berkelebat dengan cepat dan bret!
Pakaian dibagian dada si kakek robek besar. Kuku-kuku yang panjang masih sempat membuat baret daging dadanya dan kontan orang tua ini merasakan tubuhnya panas dingin. Buru-buru dia salurkan tenaga dalamnya kebagian dada yang cedera dan rasa sakit panas dingin berangsur-angsur berkurang.
Dalam pada itu di depan sana kakek jubah hitam kembali keluarkan suara tawa mengekeh dan delapan tangan siluman kembali menyerbu!
Kakek janggut putih maklum bahwa segala pukulan sakti dan tombaknya tak akan mampu meng hadapi ilmu sihir yang ganas itu. Dia hanya sanggup bertahan dengan mengandalkan ginkangnya yang sudah amat tinggi. Tapi sampai berapa lama dia bisa berbuat begitu? Seratus, dua ratus atau katakanlah sampai tiga ratus jurus di muka? Dalam umurnya yang sudah demikian lanjut, apakah dia mampu melaksanakannya? Cepat atau lambat dia bakal celaka juga! Hal ini membuat dia nekad dan mengamuk dengan hebat. Tapi ilmu siluman musuh betulbetul luar biasa. Dalam tempo beberapa jurus saja dia sudah didesak habis-habisan! Bocah penggembala yang mengharapkan agar kakek janggut putih bisa menghajar si botak yang telah membunuh kerbaunya itu, jadi kecewa dan penasaran ketika menyaksikan bagaimana justru kakek janggut putih itu terdesak hebat bahkan terancam jiwanya karena saat itu beberapa kali tangantangan iblis berkuku panjang telah memukul danmencakar tubuhnya hingga dalam tempo singkat kakek ini mandi darah akibat luka-luka yang dideritanya!
Dengan marah anak laki-laki itu mulai mengumpulkan
batu-batu sebesar kepalan dan melempari
kakek jubah hitam dari belakang. Tapi semua batubatu
yang dilemparkan jangankan mengenai, mendekati
tubuhnya saja pun tidak karena batu-batu itu
mental kembali akibat hawa sakti yang keluar dari
tubuh si jubah hitam kepala botak!
Hebatnya kakek janggut putih itu meskipun
sadar bahwa dirinya bakal celaka dan kematiannya
sudah ditentukan saat itu, namun dia masih saja
bertahan dan melawan mati-matian, sama sekali
tidak mau menyerah apalagi lari selamatkan dirinya!
Melihat keadaan kakek berjanggut putih itu dan
khawatir kalau tangan-tangan siluman itu bakal menyerangnya
pula, timbullah rasa takut dalam diri anak
penggembala. Tetapi anehnya dia sama sekali tidak
pula melarikan diri dari tempat ini. Malah untuk
menghilangkan rasa takut itu, anak ini ambil serulingnya
dan mulai meniup. Lagu yang dimainkannya
sama sekali tak menentu. Rasa takut dan
khawatir melihat keselamatan si kakek janggut putih
terancam membuat tiupan serulingnya melengkinglengking
tak karuan. Tetapi justru tiupan seruling
inilah yang mendadak sontak merubah keadaan di
dalam kalangan perkelahian hidup mati itu!
Delapan tangan iblis yang mengerikan kini kelihatan
berserabutan dalam gerakan-gerakan kacau.
semakin lama semakin mengecil akhirnya berubah
menjadi asap hitam. Kakek jubah hitam tersentak
kaget. Dia berkeras memusatkan pikirannya guna
mengumpulkan kekuatan bathin yang tercerai berai
namun tak berhasil bahkan tangan-tangan siluman
itu telah berubah jadi kepulan asap hitam dan lenyap.
"Celaka!" seru kakek botak ini. Dia buka kedua
matanya justru disaat itu musuhnya yang telah luka
parah laksana banteng terluka mengamuk melihat
perubahan yang mendadak dan adanya kesempatan
untuk menyerang, tanpa tunggu lebih lama lancer kan gerakan mematikan yang bernama "Joan hun-kigwat"
atau "menyusup awan mengambil rembulan."
Tongkat baja bermata dua itu menusuk laksana
kilat ke dada si jubah hitam dan tanpa dapat dielakkan
lagi tepat menembus jantungnya hingga tanpa
suara sedikit pun kakek berkepala botak itu minggat
nyawanya ketika itu juga!
Melihat si pembunuh kerbaunya mati, anak gembala
tadi bersorak gembira dan jingkrak-jingkrakan.
"Syukur! Mampuslah pembunuh kerbau! Baru
aku puas sekarang!" Tapi bila ingat apa yang akan
dikatakannya nanti pada majikannya akan ini lantas
jadi termenung murung.
Sementara itu si janggut putih yang tubuhnya
penuh luka-luka, dalam keadaan megap-megap segera
bersila di tanah. Atur jalan darah dan napas
serta salurkan hawa sakti tenaga dalam keseluruh
bagian tubuhnya. Beberapa saat kemudian dia keluarkan
dua macam obat yakni beberapa butir pel
dan sebungkus obat bubuk. Pel itu ditelannya sampai
habis sedang obat bubuk dituangkannya pada
luka-luka sekujur tubuhnya. Kemudian kembali dia
bersila. Sekitar seperminuman teh berlalu. Perlahanlahan
orang tua ini membuka kedua matanya dan
berdiri. Meski kini dia telah selamat dari kematian
namun kesehatannya belum pulih keseluruhannya.
ternyata cakar dari jari-jari tangan siluman yang
telah membuat dia cedera itu mengandung racun
yang berbahaya. Untung saja dia membawa persediaan
obat, kalau tidak meskipun dia berhasil
membunuh musuh namun racun, yang mengendap
bukan mustahil bakal membuat dia menemui ajalnya
pula dalam satu dua hari dimuka.
Orang tua ini kemudian ingat pada anak gembala
itu yang kini tengah duduk termangu-mangu di
bawah sebatang pohon. Meskipun kerbau gembalaannya
mati bukan karena kesalahannya dan si pembunuh
sudah pula menemui ajal namun majikannya
pasti tak mau perduli. Masih mending kalau dia
diberhentikan dari pekerjaan, kalau disuruh ganti?
Selagi dia termenung sudah begitu rupa tiba-tiba
satu bayangan putih berkelebat. Dia merasakan
tengkuk pakaiannya dicekal orang dan kemudian
dirasakannya tubuhnya laksana terbang. Memandang
ke samping ternyata dia telah dipanggul oleh
kakek berjanggut putih dan membawa lari dengan
kecepatan yang luar biasa, membuat dia gamang
dan ngeri.
"Orang tua kau mau bawa aku ke mana?!" seru
si bocah dengan suara gemetar.
"Budak... kau diam sajalah. Tak usah banyak
tanya!"
"Tapi aku harus kembali pada majikanku. Memberi
tahu tentang kerbau yang mati itu...."
Si kakek tertawa.
Kau anak baik yang tahu apa artinya tanggung
jawab. Tapi lupakan saja majikanmu dan kerbaumu
itu! Persetan! Potongan tubuh dan ruas tulangmu
kulihat bagus sekali! Sayang... sayang kalau disiasiakan!
Aku akan bawa kau ke puncak Liongsan!
Kau dengar? Puncak Liongsan!"
"Aku... aku...."
Si kakek mempercepat larinya dan kerena ngeri
si bocah tak berani lagi banyak bicara, malah kini
dia pejamkan kedua matanya. Tanpa sadar akhirnya
dia tertidur di atas pundak kakek yang membawanya
"terbang" itu!
Siapakah adanya kakek berambut putih ini?
Siapa pula musuh berjubah hitam itu dan apa tujuannya
sampai anak gembala tersebut hendak dibawanya
ke puncak Gunung Naga yang selama ini
dianggap angker dan jarang didatangi oleh manusia?
Kakek-kakek jubah hitam yang menemui ajalnya
itu dalam dunia persilatan di daratan Tongkok dikenal
dengan julukan angker Raja Setan Gunung Utara
atau Pak-san Kwi-ong. Pada masa itu diantara tokohtokoh
silat golongan hitam yang sesat Pak-san
Kwi-ong dianggap tokoh terlihay dan secara tidak
resmi dijadikan sebagai pimpinan. Dengan sendirinya
dia menjadi musuh nomor wahid dari orang
persilatan golongan putih.
Sekitar tiga tahun yang lalu antara Pak-san
Kwi-ong dengan kakek-kakek janggut putih yang
membawa lari anak gembala tadi, telah terjadi bentrokan.
Dalam perkelahian satu lawan satu yang seru
dan berlangsung seratus jurus, kakek janggut putih
berhasil mengalahkan Pak-san Kwi-ong. Kekalahan
bibit pangkal dendam kesumat sakit hati. Selama
tlya tahun Pak-san Kwi-ong melatih diri memperdalam
ilmu silat, tenaga dalam dan gingkangnya.
Disamping itu dia meyakini pula satu ilmu baru yakni
ilmu hitam atau sihir. Setelah dia merasa cukup
sanggup untuk melakukan penuntutan balas, maka
dicarinyalah kakek janggut putih tadi. Ternyata Paksa
n Kwi-ong memang berhasil menghadapi musuh
besarnya itu, bahkan ilmu hitamnya dia hampir saja
dapat membunuh lawan. Namun tiada disangkasangka,
ilmu sihirnya musnah berantakan hanya
karena tiupan seruling bocah penggembala kerbau.
Dan akhirnya secara penasaran dia terpaksa serahkan
jiwanya pada musuh!
Lalu siapa pulakah kakek janggut putih itu?

KALAU SEBELUMNYA telah dijelaskan bahwa Paksan
Kwi-ong merupakan tokoh silat golongan hitam
yang paling tinggi ilmu silat dan kesetiaannya pada
masa itu, maka dari golongan putih boleh dikatakan
kakek janggut putih itulah yang menjadi tokoh kelas
wahidnya. Dia dikena! dengan nama Kiat Bo Hosiang,
berusia 70 tahun dan bergelar Sin-jiu Thung ong atau
Raja Tongkat Tangan Sakti.
Meskipun Kiat Bo Hosiang teiah dianggap sebagai
jago nomor satu pada masa itu, namun tokohtokoh
persilatan bukan tidak mengetahui bahwa
sesungguhnya masih ada seorang tokoh yang luar
biasa kesaktiannya, yang sukar bahkan tak ada
tandingnya diseluruh Tiongkok. Namun sudah sejak
lama orang ini mengundurkan diri dari urusan duniawi
dan di mana beradanya sekarang tak seorang pun
yang mengetahui. Cuma diketahui bahwa tokoh luar
biasa itu adalah Suheng atau kakak seperguruan dari
Kiat Bo Hosiang. Namanya Ik Bo Hosiang dan sudah
berusia lebih dari 80 tahun, bergelar Kim-Bong-Kiam-
Khek atau Pendekar Pedang Pelangi Emas. Diduga
hanya Kiat Bo Hosiang sendirilah yang mengetahui
di mana suhengnya itu berada.
Sementara itu diketahui pula bahwa Ik Bo Hosiang
mempunyai dua orang pembantu rnasingmasing
berusia 60 tahun yang kepandaiannya hanya
satu tingkat saja di bawah kepandaian Kiat Bo
Hosiang. Jika baru pembantunya saja sudah memiliki
kepandaian tinggi demikian rupa, maka dapat
dibayangkan betapa luar biasanya Ik Bo Hosiang
sendiri.
Sebagaimana lazimnya yang terjadi dikalangan
kangouw, tokoh silat berkepandaian tinggi itu biasa
mempunyai sifat sifat yang aneh. Sifat ini tidak pula
terlepas dari diri Ik Bo Hosiang. Namun keanehannya
ini sudah melampaui batas-batas yang dianggapnya
wajar hingga banyak orang yang berpendapat bahwa
kakek sakti itu tidak sehat pikirannya alias berotak
miring atau setengah gila! Cuma untuk menyatakan
pendapat atau anggapan itu secara terang-terangan
tentu saja tak satu pun yang berani karena kalau
sampai terdengar oleh Ik Bo Hosiang, maka itu sama
saja dengan mengundang "penyakit".
Setelah lari hampir seratus iie dan siang telah
berganti dengan malam, Kiat Bo Hosiang baru berhenti.
Anak kecil yang didukungnya ternyata telah
tertidur. Perlahan-lahan bocah ini dibaringkannya di
tanah. Dia sendiri kemudian menelan beberapa pil
obat lalu duduk bersila di tanah. Mengatur jalan nafas
dan peredaran darah serta mengalirkan tenaga dalam
ke bagian tubuh yang baru saja sembuh dari
pada racun jahat ilmu siluman Pak-san Kwi-ong.
Beberapa saat kemudian kembali dia melanjutkan
perjalanan, lari dalam gelapnya malam persis seperti
setan yang berkelebat gentanyangan.
Menjelang pagi Kiat Bo Hosiang istirahat dan
tidur sebentar dan bila matahari terbit dia meneruskan
perjalanan kembali.'
Seringai gembira tersungging di mulutnya ketika
di hadapannya terlihat Gunung Naga (Liongsan)
yang menjulang tinggi. Penduduk disekitar tempat
itu menganggap gunung itu angker, tak satu orang
pun berani mendekati kaki gunung. Tapi Kiat Bo
Hosiang seperti orang tak perduli, dan terus mendaki
gunung yang menjulang ini. Sampai pertengahan
lereng jalan yang menuju puncak gunung masih mudah
ditempuh dan tidak berbahaya. Tapi selewatnya
pertengahan lereng, pepohonan dan semak belukar
mulai rapat. Ular-ular pohon kelihatan membelit dan
bergelantungan di mana-mana. Sekali seseorang
kena dipatuk, pasti dalam waktu dua atau tiga menit
nkan mati akibat bisanya yang jahat!
Kiat Bo Hosiang nampaknya tidak perduli akan
binatang-binatang itu. Bahkan ular-ular itu sendirilah
yang menjauh ketakutan karena dengan kesaktiannya
yang tinggi tubuh kakek ini mengeluarkan hawa
panas yang membuat takut ular-ular dalam hutan,
sama sekali tidak mengganggu bocah penggembala
yang sampai saat ini masih tertidur nyenyak di atas
pundak kirinya!
Selewatnya pertengahan lereng, perjalanan betul
betul sulit dan berbahaya. Di mana-mana menghilang
batu-batu karang raksasa runcing menjulang
langit, licin berlumut lembab. Disela batu-batu ka
rang Ini membentang jurang-jurang terjal yang gelap
sedang kabut bertebar menutupi pemandangan!
Akan tetapi hebatnya, seolah-olah dia berlari di
jalan yang rata dan seperti sepasang matanya dapat
menembus tebalnya kabut, kakek sakti Kiat Bo
Hosiang terus saja lari seenaknya. Melompat dari
atas batu karang yang satu ke batu karang yang
lainnya; melayang di atas jurang-jurang maut hingga
akhirnya sampai di puncak Uongsan!
Saat itu di salah satu puncak Liongsan yang
dingin, dua orang tua berpakaian putih-putih asyik
bermain tioki (catur). Yang pertama berambut putih
berbadan pendek. Usianya sekitar 60 tahun dan
dikenal dengan nama Toa Sin Hosiang. Yang seorang
lagi kurus tinggi, bermuka hitam juga berusia
sekitar 60 tahun. Keduanya bukan lain adalah pembantu-
pembantu Ik Bo Hosiaig yang berkepandaian
tinggi itu.
Sementara orang menyebut mereka sebagai
pembantu Ik Bo Hosiang karena memang sebegitu
jauh tokoh berkepandaian luar biasa itu tak pernah
mengangkat mereka sebagai murid, sekalipun se
gala kepandaian silat yang diperdapat dari Ik Bo
Hosiang sendiri. Disamping itu mereka dari sejak
dulu memang bertugas melayani dan memenuhi
apa apa keperluan Ik Bo Hosiang.
Seperti telah diterangkan sebelumnya Ik Bo
Hosiang mempunyai sifat-sifat aneh yang boleh
diKatakan seperti kurang sehat pikiran. Keanehan ini
dengan sendirinya menular pula pada kedua
pembantunya, meskipun tidak segawat Ik Bo Hosiang
sendiri.
Demikianlah, selagi asyik main tioki dan ketika
Toa Sin Hosiang baru saja hendak membunuh salah
satu bidak lawan, tiba-tiba Lo Sam Hosiang menggoyangkan
kepalanya dan berkata : "Heh ada orang
datang!"
Toa Sin Hosiang juga sudah mendengar. Sesaat
keduanya saling memandang heran. Memang
sudah sejak lama sekali tak pernah ada orang luar
yang naik ke puncak Liongsan. Jika hari itu ada
orang yang datang ini merupakan suatu yang luar
biasa.
IZRO'IL
Pendekar Dari Gunung Naga


Baru saja Lo Sam Hosiang bicara maka berke
lebat satu bayangan putih dan tahu-tahu di depan
mereka sudah tegak seorang kakek-kakek berpakaian,
janggut, kumis dan rambut serba putih. Di pundaknya
kirinya tidur nyenyak seorang bocah lelaki
berusia 7 tahun.
Begitu melihat siapa adanya kakek ini, secepat
kilat kedua pembantu Ik Bo Hosiang jatuhkan diri
dan berlutut hormat.
"Ah sungguh tak dinyana kalau puncak Liongsan
hari ini akan kedatangan tetamu yang bukan lain
adalah susiok kami sendiri!" (Susiok - paman guru).
Yang berkata ini adalah Lo Sam Hosiang.
Sang tetamu yang tentu saja sudah dapat diduga
yakni Kiat Bo Hosiang adanya menyeringai.
Apakah saudaraku Ik Bo Hosiang ada?'
"Tentu saja ada. Sudah sejak 20 tahun beliau tak
pernah meninggalkan puncak Liongsan ini “ menjawab
Lo Sam Hosiang.
Sementara itu Toa Sin Hosiang bertanya dengan
hormat: "Apakah susiok baik-baik saja selama ini?"
"Tentu... tentu saja."
Eh. susiok. Siapakah bocah yang kau bawa ini?"
kembali Toa Sin Hosia-ig bertanya. Lo Sarn Hosiang
pun kepingin pula mengetahui.
"Siapa namanya pun aku tidak tahu, aku cuma
kenal dia adalah anak gembala!
Selama belasan tahun Kiat Bo Hosiang tak
pernah datang dan sekali muncul membawa seorang
anak lelaki tentu saja ini mengherankan kedua pembantu
Ik Bo Hosiang itu.
"Sekarang lekas kalian beri tahu pada suhengku
itu bahwa aku ingin bertemu dengan dia untuk
utusan penting!
Sekilas dua pembantu \k Bo Hosiang saling lirik.
Lalu memperhatikan bocah di atas bahu susiok
mereka dan memperhatikan pula pakaian Kiat Bo
Hosiang yang robek-robek serta guratan-guratan
panjang pada kulit dadanya.
"Hai kalian berdua tunggu apa lagi? Cepat beri
tahu!"
Saat itu dua pembantu Ik Bo Hosiang sudah
bangkit dan berdiri kembali.
"Maaf susiok," Toa Sin memberikan jawaban.
Sebelumnya suhu telah berpesan untuk tidak di
ganggu. Jelasnya siapapun yang datang beliau sekaii-
kali tak boleh diganggu karena saat ini sedang
bersemedi."
"Sekalipun yang datang aku, sute-nya?!"
"Sekalipun susiok harap dimaafkan," sahut Toa
Sin.
Kiat Bo Hosiang mendungak ke langit lalu tertawa
gelak-gelak. Karena memiliki tenaga dalam
yang luar biasa, dengan sendirinya suara tawanya
dahsyat sekali!
Dua pembantu Ik Bo Hosiang terheran-heran.
Keduanya saling pandang. Dan karena mereka memang
kurang beres jalan pikirannya maka lantas saja
keduanya ikut tertawa gelak-gelak. Puncak Gunung
Naga itu seolah-olah bergetar dilanda gelombang
suara tertawa tiga manusia sakti ini!
Tiba-tiba Kiat Bo Hosiang hentikan tawanya.
Parasnya berobah kelam membesi. Sepasang matanya
membeiiak dan dari mulutnya keluar bentakan
garang.
"Kalian berdua kacung-kacung rendah berani
melarang aku Sin-jiu Thung-ong untuk menemui
suheng-ku sendiri?!"
Serta meria dua pembantu ini hentikan pula tawa
mereka. Toa Sin menyahut: "Bukan kami melarang,
susiok. Tapi suhu sendiri yang berpesan begitu.
Kami pembantu-pembantu yang rendah cuma menuruti
perintan."
Persetan dengan segala pesan dan perintah!
Aku tidak rnengenal segala aturan yang dibuat oleh
suhumu yang berotak miring itu!"
"Ah, susiok keliwat menghina. Suhu sama sekali
tidak miring otaknya. Cuma sedikit kurang sehat
pikirannya," kata Lo Sam Hosiang.
"Otak miring dan tidak sehat pikiran adalah sama
saja, goblok! Dasar gurunya gila, muridnya sinting.
Sekarang menyingkirlah kalian. Aku mau lewat."
"Mau lewat ke mana, susiok?" bertanya Toa Sin
macam orang tolol.
"Pendek! Jangan bikin aku marah. Lekas menyingkir
atau kau bakal menerima gebukan dariku!"
Kiat Bo Hosiang sudah tak dapat lag! menahan
marahnya.
"Ah, susiok. Kau tentu tahu kami ini bukan
anak-anak yang harus digebuk. Kami sudah tua
bangka dan menjalankan perintah dengan segala
tanggung jawab dan akibatnya."
Kiat Bo Hosiang menyeringai.
"Jadi kalian kacung-kacung geblek berani kurang
ajar pada paman guru sendiri ya! Bagus, mari
kuberi sedikit pelajaran!"
Habis berkata begitu Kiat Bo Hosiang kebutkan
ujung lengan bajunya yang lebar. Satu gelombang
angin menggebu dengari dahsyatnya. Toa Sin dan
Lo Sam bagusnya sudah berlaku waspada dan buruburu
menghindar ke samping. Namun tak urung
sambaran angin pukulan itu masih membuat mereka
terhuyung-huyung ke belakang.
“Susiok, kau pun nyatanya sinting! Hendak menurunkan
tangan jahat terhadap pembantu-pembantu
suhengmu. Tapi jangan kira kami takut! Demi
tugas, setan kepala seratus pun kami bakal hadapi!
Dan kau nyatanya cuma punya satu kepala!" Yang
bicara begitu adalah si pendek Toa Sin Hosiang yang
memang lebih keblinger dari pada rekannya. Bahkan
kemudian dia tertawa-tawa seenaknya.
Kutuk serapah menyembur dari mulut Kiat Bo
Hosiang dan langsung saja menerjang ke arah Toa Sin!

MESKIPUN cuma pembantu-pembantu dari Ik Bo
Hosiang namun dua orang tua dari Liongsan itu
memiliki ilmu kepandaian yang sudah amat tinggi. Jika
diukur maka kepandaian mereka rata-rata hanya satu
tingkat saja dibawah kepandaian Kiat Bo Hosiang.
Kalau saat itu mereka maju berbarengan dengan
sendirinya Kiat Bo Hosiang akan terdesak dan kalah.
Namun ada beberapa hal yang membuat Kiat Bo lebih
unggul dari kedua lawannya.
Pertama sebagai pembantu-pembantu Ik Bo
Hosiang kedua kakek itu boleh dikatakan jarang
sekali turun gunung hingga tidak banyak pengalaman
dalam pertempuran. Sekalipun memiliki kepandaian
tinggi namun kurang pengalaman merupakan
hal yang ikut menentukan. Kedua, sepasang
kakek-kakek dari Liongsan itu dikarenakan otaknya
yang miring menganggap bahwa mustahil sute dan
suhu mereka sendiri akan mau menurunkan tangan
jahat terhadap mereka. Karenanya mereka bertempur
seperti main-main saja dan sambil tertawatawa
haha-hihi! Ketiga, sampai saat itu Kiat Bo
Hosiang masih memanggul tubuh anak gembala di
atas pundak kirinya hingga dua kakek dari Liongsan
tidak mau menyerang dengan terlalu buas karena
khawatir akan mencelakai bocah itu.
Pertempuran dua lawan satu itu berlangsung
sampai seratus jurus. Pembantu-pembantu Kiat Bo
Hosiang mulai terdesak. Tiba-tiba salah seorang dari
mereka keluarkan satu teriakan keras dan serta merta
permainan silat dua kakek ini menjadi berobah. Kiat
Bo Hosiang menjadi kaget. Sebagai sute dari Ik Bo
Hosiang dia tahu betul setiap jurus ilmu silat dari
kakak seperguruannya. Namun permainan silat yang
dikeluarkan oleh dua lawannya saat itu aneh dan
tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Apakah si Ik Bo
Itu sudah menciptakan ilmu baru tanpa setahuku,
demikian Kiat Bo Hosiang membathin. Dan lebih
terkejut lagi begitu merasakan bagaimana permainan
silat dua lawannya itu kini menekan setiap gerakan
yang dibuatnya!
"Tua bangka-tua bangka Liongsan, jadi kalian
hendak pamer dan andalkan ilmu silat kalian yang
baru? Bagus! Aku mau lihat sampai di mana kehebatan
kalian!" berseru Kiat Bo Hosiang dengan penasaran.
Dari balik pinggang pakaiannya dia segera
keluarkan senjatanya yang ampuh yakni tongkat baja
yang ujung-ujungnya bercabang dua. Dengan tongkat
di tangan kanan dan bahu kiri masih mendukung
bocah penggembala Kiat Bo Hosiang yang bergelar
Hln jiu Tlmng-ong atau Raja Tongkat Tangan Sakti
Itu mengamuk hebat. Tubuhnya lenyap terbungkus
muai senjatanya dalam tempo singkat dia sudah
mendesak lawannya dengan hebat!
Haik Toa Sin maupun Lo Sam Hosiang sama-sama
kaget melihat serangan-serangan ganas yang
mematikan oleh susiok mereka itu. Permainan silat
mereka mulai kacau.
"Susiok, kami ini kau anggap musuhmusuhmukah?!"
berseru keras Lo Sam Hosiang.
"Tutup mulutmu manusia muka pantat dandang!"
tukas Kiat Bo dan tongkatnya dengan ganas
menderu ke arah kakek muka hitam dari gunung
Naga itu. Dan krak!
Lo Sam Hosiang menjerit. Dia melompat keluar
dari kalangan pertempuran sambil pegangi lengan
kiri yang kuntal-kantil kerena tulangnya telah patah!
"Susiok, kau sudah gilakah," teriak Toa Sin
namun kakek yang satu ini pun segera pula mendapat
bagiannya. Kalau kawannya patah tulang lengan
maka dia sendiri remuk tulang kakinya sebelah
kanan dan berguling di tanah sambil merintih. Tapi
dasar gila, sekali dia masih bisa juga tertawa hahahihi!
"Tua bangka-tua bangka tak tahu untung! Masih
bagus tidak kepala kalian yang kuremukkan! Lain
kali suhu kalian harus memberi pelajaran sopan
santun pada kalian! Bagaimana menghormat seorang
paman guru!"
"Paman guru sableng macammu mana patut
dihormati!" teriak Toa Sin lalu menunggingkan pantatnya
dan kemudian kentut! Untung saja Kiat Bo
Hosiang sudah tidak lagi ada di tempat itu. Kalau
tidak kakek ini pastilah akan marah setengah mati
dihina begitu rupa!

Dengan beberapa kali lompatan kilat Kiat Bo
Hosiang telah sampai ke puncak Liongsan. Anak
pengembara yang ada di bahu kirinya masih tertidur
nyenyak tanpa sadar apa yang telah terjadi
sebelumnya!
Kiat Bo melangkah menuju ke sebuah pondok
kayu Dia tak perlu susah-susah masuk ke dalam
pondok mencari suhengnya karena Ik Bo Hosiang
ditemuinya di halaman samping tengah bersemedi
dengan cara yang luar biasa!
Ik Bo Hosiang bersemedi di atas sebuah batu
hitam, kaki lurus ke atas sedang kepala di sebelah
bawah, pada batu hitam itu. Tubuhnya tak sedikit
pun bergerak sedang dua tangannya dirangkapkan
dldepan dada. Janggut dan kumis putihnya yang
panjang, menjulai menutup wajah dan sepasang
matanya.
Diam-diam Kiat Bo menjadi kagum juga melihat
nira bersemedi suhengnya ini. Dia yakin betul di
antara tokoh tokoh silat terkemuka di Tiongkok saat
itu hanya kakak seperguruannyalah yang sanggup
melakukan hal itu.
Kalau tadi Kiat Bo ingin buru-buru menemui
suhengnya, kini setelah bertemu dia jadi serba salah
bagaimana harus membangunkannya. Tiba-tiba anak
yang didukungnya menggeliat dan terbangun.
membuka matanya bocah ini terheran-heran melihat
di mana dia berada. Dan lebih heran lagi ketika
menyaksikan Ik Bo Hosiang yang bersemedi kaki ke
utas kepala ke bawah.
“Hai. patung atau manusiakah ini?!" si bocah
berseru lantas turun dari pundak Kiat Bo Hosiang.
"Aku sendiri tidak tahu, budak. Coba kau tarik
keras-keras janggutnya. Jika dia manusia tentu dia
akan menjerit kesakitan. Tapi kalau patung pasti
diam saja!" Berkata Kiat Bo yang nyatanya telah
mendapat akal bagaimana harus membangunkan
suhengnya.
Bocah penggembala mendekati Ik Bo Hosiang
yang disangkanya patung. Tangan kanannya diulurkan
untuk menarik janggut orang tua itu. Tapi mendadak
terjadi hal yang mengejutkan si bocah, termasuk
pula Kiat Bo Hosiang. Ketika tangan itu
hampir hendak menjenggut jenggot, tiba-tiba jang
gut panjang putih itu bergerak dan sesaat kemudian
tahu-tahu lengan anak itu terlibat erat!
"Hai!" si anak kaget. Dia gerakkan tangan kirinya,
namun tangan yang satu ini pun kemudian kena
dilibat. Bagaimana pun kerasnya dia berusaha berontak
untuk melepaskan kedua tangannya tetapi
sia-sia saja!
"Suheng! Kau bangunlah!" Kiat Bo Hosiang berseru.
Jika janggut-janggutnya bisa bergerak pasti Ik
Bo Hosiang sudah jaga dari samadinya, demikian
Kiat Bo berpikir.
Tiba-tiba si anak menjerit karena kedua lengannya
terasa sakit dan dilain kejap tahu-tahu tubuhnya
telah terpental ke arah Kiat Bo Hosiang. Kakek ini
melenggak kaget, untung masih sempat dia menangkap
tubuh si bocah, kalau tidak pasti akan jatuh
dengan keras di atas sebuah batu besar. Untuk
sesaat Kiat Bo Hosiang tertegun bengong. Membuat
mental seseorang dengan menggerakkan janggut
yang tentunya dialiri tenaga dalam betul-betul merupakan
satu hal yang amat luar biasa. Dan itulah
yang telah dilakukan oleh suhengnya!
"Kiat Bo! Belasan tahun kau tak muncul, begitu
unjuk tampang kau hanya mengganggu ketenteraman
puncak Liongsan ini saja!" terdengar suara halus
yang bukan lain adalah suara Ik Bo Hosiang. Memandang
ke depan Kiat Bo melihat suhengnya itu
sudah duduk tenang-tenang di atas batu hitam di
atas mana sebelumnya dia bersemedi.-Sepasang
mata Ik Bo memandang tajam pada adik seperguruannya.
Pandangan ini terasa seolah-olah menembus
dada dan jantung Kiat Bo.
"Ah suheng," menyahut Kiat Bo setelah terlebih
dahulu menjura. "Bukan maksudku untuk mengganggu
ketenteraman di puncak Liongsan ini. Tapi
aturan yang dibuat oleh kacung-kacungmulah yang
telah memaksaku berlaku keras...."
"Kekerasan itu memang harus ada. Tapi pada
waktu-waktu tertentu dan pada orang-orang tertentu.
Kekerasan yang dilakukan secara sembarangan adalah
satu kejahatan. Lo Sam dan Toa Sin memang
kacung-kacung tak berharga. Tapi betapa pun di
puncak Liongsan ini mereka adalah tuan rumah yang
harus dihormati oleh setiap tamu, siapa pun dia
adanya. Di sini, di puncak Liongsan ini tuan rumah
yang membuat aturan, bukan orang luar!"
Paras Kiat Bo kelihatan bersemu merah mendengar
kata-kata keras suhengnya itu.
"Sekarang katakan apa keperluanmu datang ke
mari."
"Budak itu, suheng...."
"Aku tidak tanya budak itu! Aku tanya keperluanmu!"
menukas Ik Bo Hosiang tanpa menoleh atau
melirik pada penggembala yang tegak di samping
sutenya.
"Begini suheng..." lalu Kiat Bo menerangkan
peristiwa perkelahiannya dengan Pak-san Kwi-ong
(Raja Setan Gunung Utara). "Jelas sekali, jika tidak
ada bocah penggembala yang pandai meniup suling
ini niscaya bukan saja aku kalah, malah jiwaku
akan melayang di tangan Pak-san Kwi-ong. Aku
berhutang nyawa pada budak ini dan wajib membalasnya!"
Memang betul apa yang dikatakan oleh Kiat Bo
Hosiang. Ketika berkelahi melawan Pak-san Kwi-ong
yang mengeluarkan ilmu hoatsut (sihir), Kiat Bo
Hosiang hampir-hampir saja menemui ajal jika saat
itu di tempat tersebut tidak ada anak penggembala
yang memainkan sulingnya. Padahal suara tiupan
seruling itu mengganggu pemusatan pikiran dan
bathin yang menjadi dasar dari kehebatan ilmu sihir
Pak-san Kwi-ong.
"Aku tidak tertarik pada ceritamu." Tidak tertarik
padamu ataupun budak tukang angon kerbau itu!
Nah sekarang silahkan angkat kaki dari puncak
Liongsan ini!"
"Suheng...I"
Tapi Ik Bo Hosiang tidak perdulikan lagi sutenya
itu, malah seenaknya dia membuka mulut dan menyanyi:
Puncak Liongsan tinggi sekali
Tapi lebih tinggi akal dan budi
Laut Selatan hijau dan dalam sekali
Namun lebih dalam perasaan hati sanubari
Yang tinggi gampang jatuh
Yang dalam sukar diselam
Akal dan budi terkadang tak berguna
Jika perasaan lebih menggelora.
Ik Bo Hosiang mengulang sekali lagi lagu itu.
Dilain pihak, bocah penggembala yang mendengar
merasa nyanyian itu cukup merdu dan terus saja
keluarkan sulingnya, meniup benda itu mengiringi
nyanyian si kakek. Mengetahui nyanyiannya ada
yang mengiringi Ik Bo Hosiang lantas saja mengulang-
ulang nyanyian sampai empat kali berturutturutl
Tiba-tiba tokoh aneh dari Liongsan ini hentikan
nyanyiannya, mendongak ke langit dan tertawa
gelak-gelak. Si bocah yang sedang asyik-asyiknya
meniup suling merasakan lututnya goyah oleh suara
tertawa itu dan sesaat kemudian dia pun terhuyung
jatuh ke tanah. Kiat Bo Hosiang sendiri pun jika tidak
lekas-lekas mengerahkan tenaga dalamnya pasti
akan menggeletar sekujur tubuhnya oleh kehebatan
suara tertawa suhengnya itu!
"Budak, siapakah namamu dan apa she-mu?!"
Ik Bo Hosiang tiba-tiba ajukan pertanyaan.
"kakek nyanyianmu bagus sekali. Kenapa berhenti?!"
"Budak kurang ajar! Ditanyai malah menyuruh
orang menyanyi. Apa kau kira kau ini biduan sandiwara
keliling?!" Ik Bo Hosiang membentak. Tiba-tiba
berkelebat jungkir-balik. Sedetik kemudian kepalanya
sudah terletak di atas batu di mana dia tadi
bersemedi dan kaki lurus-lurus ke atas! "Hai budak!
Kenapa kau menghentikan tiupan sulingmu! Ayo
lekas mainkan lagi!"
"Apa kau kira aku ini tukang tiup suling sandiwara
keliling?!" si bocah ngambek dan balik menyindir
Ik Bo Hosiang. Kiat Bo Sang khawatir kalaukalau
suhengnya bakai kumat otak miringnya
marah mendengar kata-kata si bocah itu, buru-buru
saja membuka mulut.
Suheng, kau tahu aku telah berhutang nyawa
padanya! Hutang dalam bentuk apa pun harus dibayar.
Kau saksikan sendiri keadaan budak ini.
Potongan tubuh dan susunan ruas-ruas tulangnya
amat baik. Rasanya sulit mencari bocah seperti dia
di delapan penjuru angin Tiongkok. Sebetulnya aku
berniat untuk mengambilnya jadi murid. Tapi kau
tahu sendiri. Sejak aku mengambil Li Bwe Hun jadi
murid tunggalku, aku sudah bersumpah untuk tidak
akan mengambil murid lain lagi dalam keadaan atau
alasan apapun juga. Memikir sampai saat ini kau
sendiri tidak pernah mempunyai murid yarig sebenarnya
bisa disebut murid, dan sekaligus untuk
membalas hutang nyawaku padanya, maka kuharap
kau sudi mengambil bocah ini menjadi muridmu!'
"Enak betul bicaramu. Kiat Bo!" tukas Ik Bo
Hosiang. "Anak penggembala yang tidak tahu asalusulnya,
tak dikenal bapak moyangnya, tak tahu
juntrungannya, eh tahu-tahu kau minta aku mengambilnya
jadi murid! Kau sudah gila atau otakmu
memang sudah rengat?"
"Suheng, kau bisa lihat sendiri. Anak ini lain dari
yang lain...."
"Apanya yang lain? Dia bertangan, berkaki,
punya mata dua, hidung satu, mulut satu, telinga
dua.... Itu kau bilang lain. Ah sute! Kau rupanya
betul-betul sudah gila! Kasihan...!"
"Suheng, aku memohon padamu...!"
"Kau keblinger, Kiat Bo. Bagaimana kalau kemudian
hari bocah itu mengecewakan aku?!"
"Kau boleh bunuh aku, suheng!"
"Buset! Dua tiga bulan di muka mungkin kau
sudah lebih dulu mampus! Apakah aku harus menggali
kuburmu lalu membunuhmu? Gila kau sute!"
Lama-lama berdebat begitu rupa Kiat Bo Hosiang
yang memang punya watak lekas jengkel jadi
penasaran juga. Dia berkata: "Sudahlah suheng, jika
kau tak sudi aku pun tak memaksa!"
"Dan aku pun tidak mengemis untuk jadi muridmu!"
menimpali si bocah.
IZRO'IL
Pendekar Dari Gunung Naga


"Bocah kurang ajar! Aku tidak bicara denganmu!"
hardik Ik Bo Hosiang. "Hai, kau masih belum
menerangkan nama dan she-mu!"
"Namaku Thian Ong, she Song. Dan sekarang
aku akan angkat kaki dari sini!" Anak penggembala
itu berpaling pada Kiat Bo Hosiang dan berkata:
"Kakek, kau punya tanggung jawab membawaku ke
mari. Sekarang kau punya kewajiban membawaku
turun dari tempat memuakkan ini!"
"Budak edan! Orang hendak membalas budi
malah bersikap konyol!" bentak Kiat Bo Hosiang.
"Aku tak perlu segala balas budi. Kalaupun...."
"Thian Ong anak kurang ajar, kau mendekatlah
ke mari," tiba-tiba Ik Bo Hosiang memanggil. Tapi si
bocah tak mau datang. Namun satu hawa aneh yang
keluar dari tubuh si kakek menyedotnya hingga
tubuhnya terseret sampai ke hadapan orang itu. Aku
sudah lihat susunan tubuhmu dari luar, tapi belum
pada bagian-bagian yang tertutup. Sekarang tanggalkan
seluruh pakaianmu. Telanjang!"
Kiat Bo Hosiang diam-diam merasa gembira
mendengar kata-kata suhengnya itu. Tapi sebaliknya
bocah yang bernama Song Thian Ong berkata
marah: "Kakek, kau betul-betul sudah gila, menyuruh
orang telanjang! Kau saja telanjang sendiri!"
"Anak kurang ajar! Kualat kau!" teriak Ik Bo
Hosiang. Dia mengulurkan kedua tangannya. Bret....
Bret.... Bret! Maka robeklah seluruh pakaian Thian
Ong hingga dia kini telanjang bulat. "Hem bagus....
Kau memang boleh!" Dan habis berkata begitu Ik Bo
Hosiang mencekal tengkuk Thian Ong, melemparkannya
ke udara, menyambutnya dengan kedua
kakinya, lalu dengan kaki-kaki itu tubuh Thian Ong
dipentalkan kembali ke atas, disambut lagi, dipentalkan
lagi demikian seterusnya. Anehnya Thian Ong
tidak merasa sakit barang sedikit pun. Tapi rasa
gamang membuat dia ngeri. Dan anak ini tak hentihentinya
menjerit.
Selagi Ik Bo Hosiang mempermainkan Thian
Ong seperti itu seolah-olah anak ini adalah sebuah
bola, tiba-tiba datanglah Lo Sam Hosiang dan Toa
Sin Hosiang. Masing-masing mereka telah membalut
lengan dan kaki yang cidera serta mengganjalnya
dengan potongan kayu. Menyaksikan guru mereka
"bermain-main" begitu rupa keduanya tertawa gelakgelak.
"Suhu," seru Toa Sin, "apakah kami berdua boleh
Ikut main bersamamu?"
Sebagai jawaban Ik Bo Hosiang berseru: "Pendek,
kau sambutlah!" Dan tahu-tahu tubuh Thian Ong
sudah melesat ke arah Toa Sin Hosiang. Dan kakekkakek
ini dengan gembira menyambut tubuh yang
terlempar itu dengan kaki kirinya. Tubuh Thian Ong
melayang ke arah Lo Sam Hosiang. Dengan gembira
kakek yang seorang ini menyambut pula dengan
tendangan. Tubuh Thian Ong kembali lagi melayang
ko arah Ik Bo Hosiang. Begitulah seterusnya. Tiga
kakek-kakek keblinger dari gunung Naga itu telah
asyik dengan permainan "bolanya". Tidak perduli lagi
akan jerit ketakutan si bocah. Apalagi terhadap Kiat
Bo Hosiang.
Kiat Bo Hosiang yang menyaksikan hal itu cuma
bisa geleng-geleng kepala. "Gila dasar manusia
manusia gila!" katanya dalam hati. Namun diam-diam
dia gembira sekalipun suhengnya tidak mengatakan
apakah dia mau mengambil Song Thian Ong menjadi
muridnya, namun secara tidak langsung. Dengan
cara main bola" seperti itu, Ik Bo Hosiang telah
menyatakan bahwa dia berkenan dengan bocah itu.
Dengan senyum puas Kiat Bo Hosiang berkelebat
pergi meninggalkan puncak Liongsan.

DUA BELAS TAHUN kemudian.... Pada permulaan
abad ke XV daratan Tiongkok sebelah utara jatuh ke
dalam cengkeraman bangsa mongol. Penjajahan oleh
bangsa manapun juga atas bangsa lain pastilah
mendatangkan penderitaan. Dan yang paling
sengsara seperti biasanya ialah rakyat jelata.
Di mana-mana kaum penjajah yang berkuasa
melakukan pemerasan, perkosaan, penindasan dan
seribu satu macam tindakan sewenang-wenang lainnya.
Pemerintah Tiongkok di selatan yang pada masa
itu beribu kota di Nanking tidak bisa berbuat apa-apa
menghadapi kaum penjajah. Selain selatan memang
memiliki balatentara dan persenjataan lemah, roda
pemerintahan pun sudah kacau-balau centangperentang.
Mulai dari kaisar sampai pada pejabatpejabat
yang terendah di desa-desa sibuk memupuk
kekayaan, harta dan uang, tanah dan sawah. Dalam
pada itu mereka terlena pula dalam bujuk rayu
perempuan-perempuan cantik hingga mana pula akan
terpikir untuk membebaskan negeri di utara dari
tangan penjajah Mongol.
Pedih sakitnya penderitaan yang melanda, lambat
laun merupakan cambuk bagi rakyat jelata untuk
bersatu dan secara diam-diam menyusun kekuatan.
Kekuatan tersebut dibagi dua. Yang pertama untuk
menghantam kaum penjajah di utara dan kedua
untuk menyingkirkan pejabat-pejabat pemerintahan
yang korup, keji sewenang-wenang dan sebagainya.
Pada masa itu bukan rahasia lagi kalau gerakan
rakyat yang menderita ini secara diam-diam dibantu
oleh orang-orang kangouw sehingga akibat yang
ditimbulkannya makin hari makin hebat dan membuat
kaum penjajah merasa terancam.
Namun tidak jarang pula rakyat yang berjuang
itu menemui nasib malang. Yaitu bilamana mereka
dihantam oleh pasukan Mongol berjumlah besar atau
diserang dan ditangkap oleh balatentara Kaisar dari
selatan. Pemimpin-Pemimpin mereka digantung di
tempat terbuka, prajurit-prajurit yang tak lain adalah
rakyat jelata biasa dibunuh secara massal!
Gerakan rakyat yang ingin membebaskan negeri
mereka dari penindasan bangsa Mongol serta sekaligus
mengikis para pejabat Pemerintah yang korup
dan memeras, dengan sendirinya menghadapi dua
lawan berat. Korban dan kerugian lebih banyak jatuh
dikalangan mereka, namun demikian semangat perjuangan
mereka tak kunjung padam. Jangankan
orang lelaki yang sudah dewasa, bahkan anak-anak
belasan tahun dan kaum wanita pun ikut turun ke
dalam kancah peperangan tanpa rasa takut sama
sekali!
Pada suatu hari di bulan kelima, malapetaka
telah pula menimpa serombongan pasukan rakyat
yang berjumlah 50 orang yang pada saat itu berada
di sebuah kaki bukit. Tanpa setahu pemimpin pasu
kan, salah seorang diantara anggotanya adalah
mata-mata. Pemerintah selatan yang berhasil menyusup.
Selagi pasukan itu tengah beristirahat di'
kaki bukit, diam-diam mata-mata tadi meninggalkan
tempat tersebut, langsung menuju tempat rahasia di
mana telah menunggu satu kelompok pasukan Pemerintah
yang terdiri dari lebih seratus orang
Dalam waktu singkat pasukan rakyat yang tengah
istirahat itu telah terkurung. Dan ketika mereka
diserbu dengan sendirinya mereka tidak berdaya.
Sedapat-dapatnya mereka mempertahankan diri dan
berjuang mati-matian. Namun jumlah lawan dua kali
lipat disamping itu serangan datangnya mendadak
sekali.
Dalam waktu sebentar saja dua puluh orang
anggota pasukan rakyat gugur. Komandan pasukan
seorang lelaki separuh baya bernama Pouw Keng In
berteriak kepada anak buahnya untuk lari menyelamatkan
diri dan membiarkan dia sendiri menghadapi
pasukan Pemerintah. Tekadnya biar dia mati
asal sisa-sisa anak buahnya masih bisa diselamatkan.
Akan tetapi mana ada diantara mereka yang
mau mengikuti perintah Pouw Keng In. Malah pasukan
rakyat itu bertempur makin hebat hingga 10
orang lagi diantara mereka menjadi korban.
"Bunuh semua anjing-anjing pemberontak ini.
Tangkap komandannya hidup-hidup!" teriak komandan
pasukan Pemerintah. Dia menyeringai puas
melihat bagaimana musuh porak-poranda dan berguguran
satu demi satu dalam waktu yang cepat.
Dan pandangan matanya rakyat yang berjuang itu
tak lebih dari pada anjing, yang dapat dibunuh secara
sewenang-wenang,
Pada saat yang gawat bagi pasukan rakyat itu.
dimana Pauw Keng In sendiri sudah luka parah dan
mandi darah, tiba-tiba berkelebatah satu bayangan
hijau disertai gulungan sinar coklat. Terdengar pekik
susul-menyusui. Dalam waktu amat cepat enam
anggota pasukan Pemerintah telah menjadi korban,
ada yang pecah kepalanya, remuk dada. bobol perut
dan sebagainya.
Tentu saja pasukan Pemerintah terkejut sekali
terutama Komandannya. PasuKan rakyat pun tak
kurang kagetnya. Namun karena menduga ada orang
kangouw yang telah turun tangan membantu mereka
meskipun mereka beium melihat jelas siapa adanya
orang itu karena saking cepatnya gerakannya maka
kembali mereka jadi bersemangat dan menempur
iawan berjumlah besar itu dengan hebatnya.
"Iblis dari mana yang berani mencari mati di
sini?!" berteriak Komandan prajurit Pemerintan. Namanya
Cu Lay Seng. Berbadan tinggi tegap bermata
sedikit juling dan punya tampang garang, lengkap
dengan kumis melintang serta cambang bawuk.
Bayangan hijau yang mengamuk tidak menyahuti
malah berkelebat makin cepat. Delapan orang
lagi pasukan Pemerintah berjungkalan mati! Kawan-
Kawannya yang lain jadi gentar dan tak berani
didekati bayangan hijau itu. Sebaliknya kelengahan
mereka itu merupakan sasaran baik bagi prajuritprajurit
rakyat hingga banyak diantara mereka berhasil
ditewaskan
"Setan alas." maki Cu La i Seng marah sekali.
Saat itu dia masih duduk di atas punggung kudanya.
Dengan tangan kanan dirampasnya pedang anak
buahnya yang terdekat. Perlu diketahui Cu Lay Seng
ini seorang yang amat lihay dalam ilmu menyambitkan
berbagai macam senjata. Sekali tangannya
mencari sasaran pastilah tak akan melesat! Begitu
tangan kanannya memegang pedang segera senjata
ini dilemparkan dan melesat deras ke arah bayangan
hijau yang tengah memporak-porandakan pasukan

Pemerintah.
Cu Lay Seng sudah dapat membayangkan bagaimana
tubuh bayangan hijau itu akan tertembus
oleh pedang yang dilemparkannya. Namun alangkah
kagetnya Komandan pasukan ini sewaktu menyaksikan
senjata yang dilemparkannya itu malah ditangkap
oleh lawan dengan tangan kirinya. Dan
dengan memegang senjata ini di tangan kirinya si
bayangan hijau mempergunakannya untuk membabat
musuh kian kemari hingga dalam waktu singkat
makin banyaklah anggota pasukan Pemerintah yang
tewas.
Cu Lay Seng maklum kini bahwa dia berhadapan
dengan seorang lawan yang berkepandaian amat
tinggi dan memiliki gingkang luar biasa hingga dia
sendiri sampai saat itu tidak dapat jelas melihat siapa
adanya bayangan hijau itu.
"Mundur semua", teriak Cu Lay Seng.
Prajurit-Prajurit Pemerintah yang memang sudah
sejak tadi-tadi merasa ngeri, tanpa disuruh dua
kali terus saja melompat mundur. Di pihak pasukan
rakyat Pouw Keng ln memberi isyarat agar anak
buahnya tidak terus memburu musuh. Dia sendiri
yang saat itu terluka parah, amat kagum melihat
kehebatan bayangan hijau. Dengan dipapah oleh
seorang anak buahnya dia menyaksikan apa yang
terjadi selanjutnya.
Saat itu Cu La y Seng telah melompat turun dari
kudanya dengan satu gerakan enteng tahu-tahu
sudah berada lima langkah di hadapan bayangan
hijau. Dan ketika bayangan hijau ini menghentikan
gerakannya yang luar biasa cepatnya itu, Cu Lay
Seng dan semua orang yang ada di situ jadi melotot
dan ternganga. Mereka semua melengak kaget! Betapa
tidak! Si bayangan hijau yang kini tegak tak
bergerak di tengah kalangan pertempuran itu nyatanya
adalah seorang gadis berparas elok jelita. Rambutnya
hitam panjang dan digelung di atas kepala
dengan sepasang cambang halus meliuk dikedua
pipinya! Menurut perkiraan paling banyak gadis ini
baru berusia sekitar 17 tahun. Secantik dan semuda
itu sudah memiliki kepandaian yang hebat, siapa
orang yang menyaksikan tak akan melengak kaget?
"Nona, kau telah menurunkan tangan ganas
terhadap prajurit-prajurit Kaisar. Terpaksa aku harus
menangkapmu dan membawamu ke Kotaraja!" berkata
Cu Lay Seng dengan nada keren dan keras.
"Aku?! Kau mau menangkap aku...?" si gadis
menjawab lalu tertawa merdu sekali.
"Kuharap kau tidak mengadakan perlawanan
dan menyerah dengan suka rela," berkata lagi Cu
Lay Seng.
"Begundal penjilat pantat kaisar!" tiba-tiba gadis
hijau membentak marah. Wajahnya merah dan justru
dalam keadaan marah ini dia kelihatan tambah cantik.
Jika kau bilang aku menurunkan tangan jahat
terhadap prajurit-prajurit Kaisar, lantas kau yang
telah membunuhi rakyat jelata pantas disebut apakah?!
Dosamu besar sekali Komandan! Sebaiknya
kaulah yang lekas menyerah dan cepat berlutut minta
ampun di hadapan Thian. Karena kalau kau terlalu
banyak mulut, aku tak segan-segan mengirimmu ke
akhirat!"
Cu Lay Seng tertawa sinis. Dia telah menyaksikan
kehebatan gadis itu, tapi jangan kira dia merasa takut.
Selain memiliki ilmu tinggi dia sudah berpengalaman
luas. Kalau baru gadis binal begini saja kenapa musti
jerih? Demikian dia menganggap enteng.
"Jika kau tak mau menyerah secara baik-baik,
jangan salahkan kalau aku menurunkan tangan
kasar," Cu Lay Seng mengeluarkan ancaman yang
disambut oleh sang nona dengan tertawa mengejek.
"Majulah! Aku mau lihat sampai dimana kehebatan
segala manusia pepesan macam kau!"
Dimaki "pepesan kosong" begitu rupa di hadapan
sekian banyak orang dan anak buahnya sendiri
betul-betul merupakan penghinaan luar biasa bagi
Cu Lay Seng. Dengan didahului bentakan dahsyat.
Komandan pasukan ini meloncat sebat ke arah nona
berbaju hijau dan saat itu juga berkiblatlah sinar
putih menyilaukan. Inilah sinai senjata di tangan Cu
Lay Seng yaitu sebuah ruyung perak.
"Nona baju hijau!" Pouw Keng In Komandan
pasukan rakyat berseru. Kau hati-hatilah dia lihay
sekali!"
Memang Pouw Keng In mengetahui betul kalau
Cu Lay Seng berkepandaian tinggi. Dibandingkan
dengan dirinya masih ketinggalan jauh. Meskipun
tadi dia sudah menyaksikan kehebatan si nona
namun tetap saja dia khawatir. Karena kalau sampai
Cu Lay Seng menang bukan saja dia dan seluruh
anggota pasukannya akan dibunuh, tetapi nasib si
nona pun akan jauh lebih buruk. Pouw Keng In cukup
mengenal kebejatan para anggota pasukan Kaisar
pada masa itu, apalagi Komandan-komandan mereka.
Tapi nona baju hijau justru malah tertawa mendengar
peringatan itu. Dia menjura pada Pouw Keng
in dan berkata: "Terima kasih atas peringatanmu.
Kau lihat sajalah bagaimana aku menghajar manusia
kecoak yang tidak berguna ini."
Sambil menjura tadi dengan tak acuh nona itu
gerakkan tongkat kayu di tangan kanannya ke atas
Cu Lay Seng yang saat itu tengah melancarkan
serangan hebat menjadi amat terkejut ketika tiba-tiba
dirasakannya ada sambaran angin dingin menderu
ke arah lengannya. Komandan yang berpengalaman
ini segera maklum kalau lawannya memiliki tenaga
dalam yang jauh lebih lihay dari dia Karenanya
secepat kilat Cu Lay Seng robah gerakannya, batalkan
serangan pertama dan menyusul dengan serangan
ruyung ke arah kaki sang nona.
Tapi lawan ternyata sudah mengetahui lebih
dulu gerakannya. Karena begitu ruyung perak menyamber
ke bawah si nona segera melintangkan
tongkat kayunya ke arah yang sama
Selain tak menyangka kalau lawan akan menolong
gerakannya seperti itu. Cu Lay Seng pun
kelewat yakin bahwa ruyung peraknya lebih ampuh.
Karenanya dia tidak berusaha menghindarkan bentrokan
senjatanya dengan tongkat lawan yang hanya
terbuat dari kayu coklat.
Tapi apa yang terjadi kemudian membuat Cu
Lay Seng berseru tegang dengan muka pucat. Pada
saat bentrokan senjata terjadi ruyung perak di tangan
Komandan itu patah dua dan mencelat mental!
Sedang tongkat kayu yang dianggap remeh oleh Cu
Lay Seng ternyata tidak cacat barang sedikit pun.
Dalam keadaan sang Komandan masih kaget
begitu rupa nona baju hijau yang sampai saat itu di
tangan kirinya masih memegang pedang yang tadi
dilemparkan oleh Cu Lay Seng sudah memburu ke
depan kirimkan satu tebasan kilat. Dan cras ! Cu Lay
Seng menjerit keras. Darah mancur dari tangan
kanannya yang kini sudah terbabat putus!
"Sekarang lekaslah kau menghadap Tuhan untuk
mempertanggung jawabkan dosa-dosamu.'' berseru
si nona seraya tusukkan pedang di tangan kirinya
tepat ke jantung si Komandan.
Hanya satu senti saja lagi ujung pedang akan
menembus dada Cu Lay Seng tiba-tiba terdengar
bentakan marah:
"Bwe Hun! Lagi-lagi kau! Lagi -lagi kau!"
Satu bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu
pedang di tangan kiri sang dara terdorong ke samping
selamatlah Cu Lay Seng dari kematian!

NONA BERBAJU HIJAU palingkan muka dan
berubahlah parasnya. Lalu gadis ini cepat jatuhkan diri,
berlutut pada seorang kakek-kakek berpakaian putih
yang tegak dihadapannya.
"Suhu...!"
"Bwe Hun. Berapa kali aku sudah bilang jangan
melakukan pengacauan! Jangan berani menentang
alat-alat kerajaan!" si kakek berkata dengan nada
keras.
"Suhu, murid sama sekali tidak mengacau, tidak
menentang siapapun. Murid hanya ingin mengikis
kejahatan, kekejaman dan ketidak adilan dari muka
bumi ini!"
"Dengan jalan membunuh seenakmu?!"
"Orang-orang jahat dan se-wenang-wenang
macam mereka layak dibunuh. Dan perjuangan rakyat
untuk membebaskan tanah air dari kaum penjajah
dan penindasan bangsa sendiri wajib dibantu!"
"Bwe Hun! Kau masih hijau dan tidak tahu
banyak artinya perjuangan. Sekarang lekas angkat
kaki dari sini. Lain kali jika aku memergoki kau
melakukan perbuatan begini, aku akan jatuhkan
hukuman berat padamu! Kau dengar?!"
Si nona yang bernama Li Bwe Hun gelengkan
kepalanya dan sikapnya gagah ketika menjawab:
"Suhu hukuman berat bagiku bukan apa-apa. Tapi
yang aneh adalah perbuatan Suhu sendiri. Kau
menetap si utara, ditengah-tengah bangsa Mongol
dalam kemewahan luar biasa. Tapi tanpa menyadari
bahwa Suhu sebenarnya telah diperalat oleh kaum
penjajah untuk menindas bangsa sendiri! Sebagai
murid aku...."
Belum sempat Li Bwe Hun meneruskan katakatanya
itu satu tamparan telah mendarat di pipinya,
membuat gadis itu terhuyung ke belakang satu
langkah. Keseluruhan wajahnya menjadi merah mengetam.
Bukan karena sakit tapi karena tak percaya
kalau suhunya sendiri-yang telah mendidik dan merawati
selama belasan tahun - tega-menamparnya
seperti itu dihadapan sekian banyak mata! Betul
suhunya telah berubah sejak masuk ke dalam bujuk
rayu bangsa Mongol!
"Sekali lagi kau berani bicara lancang seperti itu
kubunuh kau Bwe Hun!"
"Suhu, aku tidak takut mati di tanganmu! Aku
lebih rela mati dari pada menjadi murid Kiat Bo
Hosiang yang kenyataannya adalah seorang pengkhianat
bangsa dan negara!"
Cu Lay Seng, Pouw Keng In dan semua orang
yang ada di situ sama-sama kaget mendengar siapa
adanya nama kakek di hadapan mereka saat itu.
Ternyata Kiat Bo Hosiang, tokoh silat utama yang
boleh dikatakan tak ada tandingnya untuk masa itu
diseluruh penjuru Tiongkok!
Baik Komandan pasukan Kaisar maupun Komandan
pasukan rakyat masing-masing merasa gelisah
dan berdebar. Karena kini di hadapan mereka
berdiri tokoh silat berkepandaian tinggi yang sejak
beberapa waktu belakangan ini telah membantu
kaum penjajah Mongol. Jadi sekaligus merupakan
musuh besar pasukan rakyat dan juga Pemerintah!
Sepasang bola mata Kiat Bo Hosiang berkilatkilat
dan laksana dikobari api mendengar kata-kata
muridnya itu. Dia menggerung dahsyat dan berteriak:
"Li Bwe Huni Mulai hari ini aku bukan gurumu
lagi! Kau murid kualat! Murtad! Kau harus serahkan
seluruh ilmu yang kau dapat dariku!"
Habis berteriak demikian Kiat Bo Hosiang lantas
kirimkan satu serangan berupa totokan ke arah jalan
darah kian le hiat di dada dan jalan darah gi hay hiat
di punggung muridnya. Dua totokan ini bukan merupakan
totokan maut akan tetapi amat berbahaya. Jika
totokan-totokan itu sampai menemui sasarannya,
pembuluh-pembuluh darah di tubuh Li Bwe Hun akan
menjadi rusak. Dan yang paling hebat akibatnya ialah
bahwa dia akan kehilangan seluruh ilmu kepandaiannya
bahkan akan menderita gagu seumur hidup!
Bwe Hun kaget sekali melihat bagaimana suhunya
melancarkan totokan yang jahat itu. Kini nyata
kalau gurunya memang sudah gelap mata dan tidak
tedeng aling-aling untuk menurunkan tangan jahat.
Bagusnya dia berlaku waspada hingga cepat menghindar
selamatkan diri.
Melihat serangan dapat dikelit, Kiat Bo Hosiang
jadi penasaran. Kembali dia menyerbu dengan serangan-
serangan kilat secara berantai. Dan setiap
serangan senantiasa diserta totokan-totokan jahat
tadi. Sampai belasan jurus dimuka kakek-kakek sakti
ini walaupun membuat sibuk muridnya namun masih
belum sanggup merobohkan, ini membuat kemarahannya
semakin meluap!
"Perempuan sialan! Menyesal aku mengambilmu
jadi murid! Menyesal aku mewarisi segala macam
ilmu kepandaian padamu!" teriak Kiat Bo Hosiang
berulang kali.
"Aku malah seribu kali lebih menyesal dan malu
karena memiliki suhu jahat dan pengkhianat macammu!
Dan jangan lupa, aku tak pernah meminta untuk
dijadikan murid! Kau yang menculik aku dari tangan
orang tuaku!"
"Murtad! Laknat! Kubunuh kau sekalian biar
puas hatiku!" Maka Kiat Bo Hosiang lantas mempergencar
serangannya. Tubuhnya hanya tinggal
bayangan putih saja lagi, mengurung Bwe Hun dari
segala penjuru. Untuk menghadapi kehebatan suhunya
terpaksa gadis ini kerahkan pula seluruh kepandaiannya.
IZRO'IL
Pendekar Dari Gunung Naga


Karena masing-masing pihak mengetahui
betul jurus-jurus silat yang dimainkan, termasuk
tipu-tipu dan kelemahan-kelemahannya maka dengan
sendirinya pertempuran itu penuh ketegangan
dan seru sekali. Dalam hal Lweekang memang Bwe
Hun masih berada di bawah suhunya. Namun dalam
memainkan ilmu silat tangan kosong dan kegesitan
dia tidak kalah! Sampai seratus jurus dimuka Kiat
Bo Hosiang masih belum bisa berbuat apa-apa!
Bagaimanakah asal mulanya sampai Kiat Bo
Hosiang bentrokan dan hendak membunuh murid
nya sendiri! Dan apakah betul tokoh silat golongan
putih itu menjadi kaki tangan penjajah Mongol?
Seperti sudah sama dimaklumi jarang sekali
manusia yang betul-betul dapat membebaskan diri
dari daya tarik keindahan hidup di dunia yang seribu
satu macam ragamnya itu. Salah seorang diantaranya
adalah Kiat Bo Hosiang. Selagi dia masih memberi
pelajaran silat pada Li Bwe Hun. Kiat Bo yang
memang mempunyai dasar watak suka akan hidup
mewah di dunia dan disamping itu lemah iman dalam
menghadapi perempuan cantik, telah terjebak dalam
bujuk rayu orang-orang Mongol.
Kepadanya diberikan sebuah gedung besar bak
istana layaknya di Undur Khan. Harta benda dan
uang berlimpah ruah. Disamping itu tak lupa pula
perempuan-perempuan cantik yang dia tinggal pilih
saja berganti-ganti setiap hari. Semua ini membuat
Kiat Bo Hosiang lupa segala-galanya. Dan diam-diam
orang Mongol mulai memperalatnya. Memang banyak
gunanya tokoh lihay ini oleh kaum penjajah.
Pertama, jika Kiat Bo berada dalam genggaman
mereka berarti tak akan ada bahaya dari pihak
Pemerintah Tiongkok ataupun dari pergerakan rakyat
karena memang masa itu Kiat Bo seorang tokoh
sakti yang ditakuti oleh pihak Mongol. Kedua Kiat
Bo bisa dipergunakan untuk menghadapi orangorang
Pemerintah dan rakyat. Dan kenyataannya
memang Kiat Bo Hosiang telah berhasil mematahkan
perlawanan-perlawanan yang dibangkitkan oleh
bangsanya sendiri.
Disatu pihak Kiat Bo mendapat imbal kehidupan
yang mewah penuh kesenangan namun dilain pihak
dia menjadi momok kebencian rakyat dan juga
Pemerintah Tiongkok. Salah satu dari orang yang
membencinya ialah muridnya sendiri Li Bwe Hun
yang telah digemblengnya selama lebih dari sepuluh
tahun.
Gadis yang baru meningkat usia 17 ini begitu
memulai pengelanaannya di dunia kangouw telah
dihadapkan dengan kenyataan pahit yaitu gurunya
ternyata adalah seorang pengkhianat yang menjada
kaki tangan penjajah Mongol dan diperalat untuk
menghancurkan rakyat serta Pemerintahnya sendiri!
Sedangkan dia sendiri yang walaupun masih muda
tapi dapat membedakan mana yang betul dan mana
yang salah, telah memilih untuk berpihak perjuangan
rakyat tertindas. Karenanya dalam petualangannya,
gadis ini berulang kali membantu pasukan rakaat dan
disamping itu setiap dia mendengar ada pejabatpejabat
Pemerintah di daerah-daerah yang berlaku keji
serta semena-mena, pastilah dia turun tangan untuk
menghukum pejabat itu. Sekali dua diberi peringatan,
tapi bila masih tidak mau insyaf, Bwe Hun tak segansegan
untuk menebas batang lehernya.
Dalam melakukan hai yang dianggapnya se
bagai tugas kewajiban itu tentu saja Bwe Hun mendapat
tantangan dan menghadapi lawan-lawan berat.
Dan salah satu diantaranya adalah gurunya sendiri
yakni Kiat Bo Hosiang. Sebelumnya Kiat Bo Hosiang
telah memberi peringatan keras pada muridnya itu
untuk tidak ikut campur dalam kekalutan yang berkecamuk
akhir-akhir ini. Namun Bwe Hun tak mau
perduli karena dia yakin apa yang dilakukannya
adalah benar. Dia sadar ilmu kepandaian yang dimilikinya
bukanlah untuk membuat dia menjadi beo
atau berlepas tangan ataupun melakukan perbuatanperbuatan
yang salah, tapi justru guna menolong
orang-orang yang tertindas, untuk kebaikan dan
membela keadilan serta kebenaran. Dan nyatanya
hari ini kembali dia dipergoki oleh subangnya ketika
membela pasukan rakyat yang hendak dimusnahkan
oleh pasukan Pemerintah Tiongkok dibawah Komandannya
yang bernama Cu Lay Seng!
Sekali ini Kiat Bo Hosiang sudah jauh tersesat
hingga dia mempunyai tekad keji untuk mencelakakan
muridnya sendiri, membuat Bwe Hun menjadi
cacat seumur hidupnya. Akan tetapi karena sampai
begitu jauh dia masih belum sanggup menyerangkan
dua totokan ganas itu ke tubuh muridnya yang
dianggapnya murtad laknat, disamping itu ucapanucapan
Bwe Hun betul-betul membuat dia gelap
mata, maka dalam sesatnya Kiat Bo memutuskan
untuk membunuh saja gadis itu!
Li Bwe Hun tersirap darahnya ketika melihat
tiba-tiba suhunya mengeluarkan senjatanya yang
hebat yakni tongkat baja yang kedua ujungnya bercagak.
"Suhu...! Orang-orang Mongol betul-betul telah
membuat kau jadi buta mata dan hati serta pikiran!
Insyaflah Suhu!" berseru Bwe Hun.
Tapi seruan itu justru membuat Kiat Bo Hosiang
jadi semakin naik pitam. Tongkat bajanya berkiblat.
Sinar putih menderu-deru menyilaukan. Bwe Hun
terpaksa keluarkan tongkat kayu coklatnya yang tadi
telah diselipkannya di pinggang.
Namun dalam ilmu permainan tongkat, Bwe Hun
yang di mata Cu Lay Seng serta Pouw Keng In sudah
amat luar biasa, dihadapan Kiat Bo Hosiang dia
hanya sanggup bertahan sampai 5 jurus. Selewatnya
5 jurus, setelah tongkatnya dibabat patah oleh suhunya,
dia segera terdesak hebat. Kegesitannya tiada
berarti untuk menyelamatkan diri dari dua ujung
tongkat yang terus-menerus menyambar. Beberapa
bagian pakaiannya telah robek disambar senjata
sang suhu dan agaknya dalam dua jurus dimuka
gadis ini akan menemui kematian secara mengenaskan.
Menyaksikan ini semua orang jadi gelisah.
Lebih~lebih ketika satu-satu sodokan ujung tongkat
bersarang di dada Bwe Hun, membuat gadis ini
terpekik dan roboh terguling di tanah. Darah kental
mengalir disela bibirnya.
"Sekarang kau mampuslah, murid celaka!" teriak
Kiat Bo Hosiang seraya melompat dan tusukkan
ujung tongkatnya ke leher Bwe Hun.
"Tua bangka keji!" tiba-tiba terdengar bentakan.
"Kau yang lebih dulu layak mampus!" Dua orang
berkelebat ke depan. Ternyata adalah Cu Lay Seng
dan Pouw Keng In!"

BAGAIMANA pula sampai kedua Komandan
pasukan yang tadinya saling bermusuhan dan
bertempur itu kini bersatu menyerbu Kiat Bo
Hosiang? Ada beberapa hal yang membuat mereka
tiba-tiba saja turun tangan dalam keadaan yang kritis
itu tanpa memperduiikan keadaan dan tingkat kepandaian
mereka sendiri. Pertama bagaimana pun juga
Li Bwe Hun merupakan nona penolong bagi Pouw
Keng In sewaktu tadi dia luka parah menghadapi
pasukan Pemerintah di bawah pimpinan Cu Lay
Seng. Kedua, baik Cu Lay Seng maupun Pouw Keng
In tahu, yaitu jika Bwe Hun sampai kalah, maka Kiat
Bo Hosiang pasti akan membasmi mereka pula.
Karena itu sebelum si nona celaka lebih baik mereka
lekas-lekas turun tangan menolong. Ketiga Cu Lay
Seng seolah-olah sadar bahwa apa yang terjadi di
negerinya selama ini memang membawa penderitaan
bagi rakyat jelata. Dan dia merasa berdosa telah
melakukan pembasmian ganas terhadap rakyat yang
selama ini berjuang.
Akan tetapi, meski dibantu oleh dua orang Komandan
pasukan yang gagah berani Itu, keadaan
Bwe Hun tidak lebih baik Malah setelah membantu
dua jurus, Cu Lay Seng dan Pouw Keng In mulai
terdesak. Melihat ini Cu Lay Seng segera berteriak,
memerintah pada anak buahnya untuk mengeroyok.
Demikian pula Pouw Keng In. Kini Kiat Bo Hosiang
dikurung oleh lebih dari tujuh orang dengan Bwe
Hun, Lay Seng dan Keng ln sebagai pelopornya.
Namun keadaan bukannya lebih menguntungkan
Bwe Hun dan kawan-kawan, malah jalannya pertempuran
jadi sembrawutan-
Tongkat baja di tangan Kiat Bo Hosiang mulai
minta korban. Jerit sakit dan erang kematian terdengar
setiap tongkatnya berkiblat. Kemudian Cu
Lay Seng menenun ajalnya pula dengan kepala
pecah. Satu jurus kemudian menyusul Pouw Keng
In. Sesudah kedua orang ini roboh anggota-anggota
pasukan yang mengeroyok menjadi kecut. Keba
nyakan diantara mereka segera melarikan diri hingga
pada akhirnya Li Bwe Hun yang hanya mengandalkan
tangan kosong, tinggal sendirian menghadapi
suhunya. Dan boleh dikatakan ajalnya di depan mata
kini!
Disaat tongkat baja Kiat Bo Hosiang menderuderu
untuk menamatkan riwayat muridnya sendiri
tiba-tiba terdengarlah tiupan seruling yang keras tapi
merdu Li Bwe Hun yang tahu ajalnya sudah di depan
matanya sama sekali tidak perduli dengan suara itu,
lain halnya dengan Kiat Bo Hosiang, Serta merta
kakek ini melompat dari kalangan pertempuran dan
berpaling ke arah datangnya suara suling itu
Dan kelihatanlah satu pemandangan aneh tapi
juga luar biasa. Seorang pemuda berpakaian gombrang
mengaitkan kaki kirinya pada cabang sebuah
pohon yang tinggi hingga dia tergantung-gantung
dengan kaki ke atas kepala ke bawah. Sambil ber
gantung dia meniup seruling dan ayun-ayunkan
tubuhnya mengikuti irama seruling itu. Lagu yang
dimainkannya adalah lagu ketika 12 tahun yang lalu
Kiat Bo Hosiang hampir menerima kematian waktu
bertempur melawan Pak-san Kwi-ong! Meskipun kini
telah berlalu demikian lama namun Kiai Bo Hosiang
tak bisa pangling. Pasti inilah bocah penggembala
yang tempo hari telah menolongnya dan yang telah
dibawanya ke puncak Liongsan untuk diserahkan
pada suhengnya. Ternyata kini dia telah dewasa.
Tapi tingkahnya yang muncul secara aneh itu diamdiam
membuat Kiat Bo Hosiang merasa kurang enak.
Ah, pastilah dia telah pula mewariskan sifat gila
suhengku! Demikian Kiat Bo Hosiang membathin
lalu dia berseru :
"Thian Ong Kau! Ayo lekas turun!'
Pemuda berpakaian gornbrong yang berayunayun
di cabang pohon sambil meniup suling itu
memang adalah Song Thian Ong, bocah penggembala
yang 12 tahun yang lalu dibawa oleh Kiat Bo
kepada suhengnya di puncak Liongsan! Selama
bertahun-tahun menerima pelajaran ilmu silat dari
seorang sinting seperti Ik Bo Hosiang dan berada
diantara pembantu-pembantunya yang berotak
miring pula yakni Toa Si Hosiang dan Lo Sam
Hosiang, maka selain telah memiliki ilmu kepandaian
yang hebat luar biasa, ternyata pemuda itu juga
mewarisi sifat-sifat keblinger suhu serta dua pembantu
suhunya itu!
"Hai Thlan Ong. Turunlah! Apa kau tak kenal aku
lagi? Aku Kiat Bo Hosiang yang dulu membawamu
ke puncak Liongsan. Kau boleh panggil aku susiok!'
Tapi anehnya Thian Ong bukannya turun malah
terus saja mainkan serulingnya. Seolah-olah dia
tidak mendengar suruan susioknya itu. Sementara
Itu Li Bwe Hun yang begitu mendengar bahwa
pemuda aneh di atas pohon yang tentunya berkepandaian
tinggi adalah murid keponakan dari Kiat
Bo Hosiang, menyadari betapa makin sulit kedudukannya.
Barusan dia hampir menemui kematian
menghadapi Kiat Bo Hosiang seorang diri. Kini
ditambah munculnya murid keponakan suhunya,
pastilah tak ada harapan baginya untuk selamatkan
diri. Karenanya selagi kakek itu lengah berseru seru
memanggil Thian Ong. tanpa tunggu lebih lama lagi
Li Bwe Hun segera berkelebat kabur. Tapi dari atas
pohon tiba-tiba terdengar seruan:
"Nona baju hijau kau mau ke mana? Kenapa buruburu?
Aku belurn puas melihat kecantikan
wajahmu!' hampir tak kelihatan Thian Ong jentikkan
jari telunjuk tangan kirinya secara acuh tak acuh.
Inilah satu ilmu menotok jarak jauh yang amat lihay
dan jarang terlihat dalam dunia persilatan di Tiongkok
selama 40 tahun belakangan ini! Dan di bawah
sana tahu-tahu Li Bwe Hun merasakan kedua kakinya
Kaku tak sanggup untuk dibawa lari. Sekujur tubuhnya
menjadi kaku tak bisa digerakkan barang sedikit
pun. Malah bersuara pun dia tak sanggup!
Kiat Bo Hosiang yang menyaksikan ha! itu diamdiam
merasa terkejut. Dia sudah mengetahui kelihay
an suhengnya. Tetapi adalah hampir tak dapat
dipercaya kaiau murid suhengnya sehebat ini;
karena dia sendiri pun telah meyakini ilmu menotok
jarak jauh itu selama 10 tahun dan tak kunjung
berhasil mencapai kesempurnaannya.
"Thian Ong!" Kenapa kau masih belum mau
memberi hormat padaku?!"
Sebagai jawaban tiba-tiba terdengarlah nyanyian
dari atas pohon :
Menghormati memang satu kewajiban,
Dari vang muda kepada yang tua.
Kehormatan adalah satu yang berharga.
Terkadang lebih berharga dari nyawa,
Tetapi menghormat harus melihat orang dan tempat,
Karena terkadang si penghormat bisa jadi penjilat,
Apakah wajib menghormat seorang pengkhianat,
Apakah wajib menghormat seorang sesat,
Apakah wajib menghormat penindas dan pembunuh
rakyat?
Ataukah penghormatan itu satu hal yang bisa
dipaksakan?
Siapakah orangnya yang bisa membendung
arus sungai Yangtse menuju laut?
Siapakah orangnya yang bisa memindahkah
puncak gunung Thaysan?
Sekaiipun, seorang Kaisar yang gila hormat?
Mendengar nyanyian itu berubahlah paras Kiat
Bo Hosiang. Jelas semua syair dalam nyanyian yang
dibawakan oleh Thian Onq tadi merupakan sindiran
langsung atas dirinya. Tetapi dengan berpura-pura
tidak tahu, Kiat Bo Hosiang tertawa geiak-gelak lalu
berkata; "Bagua sekali nyanyianmu itu, Thian Ong!
Rupanya kau betul-betul telah mewarisi kepandaian
suhumu, lahir dan bathin!"
Baru saja Kiat Bo Hosiang habis berkata demikian,
kembali terdengar Song Thian Ong bernyanyi:
Lahir dan bathin dua hal yang berbeda,
Karenanya sering tidak sama dan serupa,
Malah kerap bertolak belakang,
Yang satu memalsukan yang lainnya,
lahir bagus belum tentu batinnya baik,
Bathin baik belum tentu lahirnya bagus,
Di luar kebijaksanaan di dalam mungkin culas,
Di luar culas di dalam mungkin bijaksana.
Menipu diri sendiri berarti tolol,
Menipu orang lain berarti jahat,
Menghormat orang lain adalah wajib,
Minta keliwat dihormat adalah otak rengat!

Kalau tadi Kiat 3o Hosiang masih bisa menahan
rasa dongkolnya maka kini sesudah sindiran Thian
Ong berterang-terangan begitu rupa, marahlah
kakek-kakek ini. Langsung dia membentak:
"Thian Ong! Apakah kau begitu berani bicara
lancang dan menghina terhadap susiokmu sendiri?!"
Dan jawaban Thian Ong lagi lagi berupa nyanyian
yang membuat hati Kiat Bo Hosiang laksana bara
panas.
Lancang adalah perbuatan salah,
Tetapi masih bisa diperbaiki.
Tak ada yang terhina kalau semua bersih,
Kekotoran itulah yang perlu diperbaiki,
Hinanya si miskin hal yang lumrah.
Tapi hinanya mereka yang tersesat harus cepat
diperbaiki,
Sudah tiba saatnya bertobat,
Sudah tiba saatnya mengambil pikiran sehat,
Atau apakah mau menunggu hari kiamat?
Tiba-tiba Kiat Bo Hosiang lepaskan satu pukulan
tangan kosong ke arah batang pohon di mana Thian
bergelantungan seenaknya Brak! Batang pohon besar
itu patah, lalu tumbang dengan suara gemuruh.
Suara gemuruh ini disertai gelak tertawanya Thian
Ong. Tubuhnya sesaat terlihat membuat beberapa
kali putaran mengelilingi cabang pohon, lalu lenyap
dan tahu-tahu sudah berada di hadapan Kiai Bo
Hosiang. Di depan susioknya ini, Thian Ong memandang
dengan kening berkernyit dan salah satu tangan
diletakkan di atas alis, seolah-olah dia tengah
memperhatikan sesuatu yang jauh dikesilauan sinar
matahari. Ditambah dencan bajunya serta celananya
yang gombrang sekali, maka sikap pemuda ini betul
menggelikan. Anggota-anggota pasukan kerajaan
dan pasukan rakyat yang masih ada di situ meskipun
tercekat tegang namun tak dapat menahan suara
tertawa masing-masing. Bwe Hun sendiri pun kalau
saja tidak dalam keadaan tertotok pastilah akan
tertawa pula cekikikan.

"Ah, Susiok! Kau rupanya! Kukira siapa!" tibatiba
Thian Ong berkata begitu, seolah-olah baru tahu
kalau orang di depannya adalah susioknya! Tentu
saja Kiat Bo Hosiang jengkel setengah mati diperlakukan
seperti itu.
"Anak setan! Kalau kau tidak berlutut minta
ampun atas semua kekurang ajaranmu ini, niscaya
aku akan menjatuhkan hukuman berat padamu!"
Air muka Song Thian Ong mendadak berubah
pucat dan sikapnya seolah-olah orang yang ketakutan
setengah mati mendengar ancaman susioknya
itu. Tiba-tiba dia jatuhkan diri berlutut.
Anehnya begitu kedua lututnya menyentuh tanah
itu jadi melesak dan merupakan lubang besar.
Dan tubuh Thian Ong lantas roboh jatuh. Tapi dia
bangun kembali, melangkah ke bagian tanah yang
rata lalu jatuhkan berlutut lagi. Namun begitu kedua
lututnya mencium tanah hal seperti tadi terjadi lagi.
Tanah itu melesak dalam, tubuhnya kembali jatuh.
Hal ini berkali-kali dilakukan Thian Ong dan pada
akhirnya dia berdiri terbungkuk-bungkuk di hadapan
susioknya seraya berkata:
“Mohon maafmu, Susiok. Semua tanah di sini
tak ada yang rata. Hingga setiap aku berlutut terus
jatuh. Aku tak dapat menghormatimu secara sempurna!"
Paras Kiat Bo Hosiang berubah mengejam. Dia
tahu betul semua yang dilakukan Thian Ong itu
bukanlah penghormatan melainkan kesengajaan untuk
mengejek mempermainkannya. Dan sekaligus
hendak menyombongkan kehebatan tenaga dalamnya
karena saat itu semua tanah di tempat itu telah
penuh dengan lobang-lobang dalam bekas hantaman
lutut Thian Ong! Tadipun Kiat Bo Hosiang merasakan
betapa setiap kedua lutut pemuda itu menyentuh
tanah, tanah jadi bergetar keras!
"Thian Ong keparat! Yang tak tahu membalas
budi! Kalau bukan aku yang membawamu pada Ik
Bo Hosiang mana mungkin kau berkepandaian sakti
mandraguna dan berilmu silat tinggi! Dan sekarang
ilmu itu yang hendak kau obral di depanku!"
"Ah, Susiok, budi yang bagaimanakah yang kau
bicarakan ini? Apakah orang menanam budi untuk
mengharap suatu pamrih dikemudian hari seperti
yang kau lakukan saat ini dalam kesempatanmu?"
Thian Ong tertawa gelak dan sampai saat itu masih
saja tegak terbungkuk-bungkuk. Susiok sekarang ini
zaman edan, banyak orang-orang sinting macam aku
ini, tapi tidak berbahaya. Yang berbahaya ialah
orang-orang pandai tapi yang mempergunakan kepandaiannya
untuk berbuat segala kesesatan yang
gila! Karenanya jika kau tidak buru-buru keluar dari
kesesatan itu, kau pasti akan dicap gila! Ketahuilah,
aku diminta oleh suhu untuk membawamu ke jalan
yang benar!"
"bangs*t rendah! Kau rupanya sudah lupa asal.
Anak gembala jembel hina dina hendak memberi
nasihat pelajaran kepadaku! Ingusmupun kau belum
mampu menyekanya!"
"Ah, kau salah susiok! Apakah kau lihat saat ini
aku sedang ingusan? Celaka, matamu rupanya sudah
mulai buram!"
Saat itu Kiat Bo Hosiang sudah tak dapat lagi
membendung kemarahannya. Dia berteriak dahsyat
dan gerakan tangan kanannya ke pinggang. Dilain
kejap berkiblatlah sinar putih menyilaukan ke arah
Thian Ong.
IZRO'IL
Pendekar Dari Gunung Naga


TERNYATA Kiat Bo Hosiang telah menyerang murid
suhengnya itu dengan senjatanya yang paling dahsyat
yakni tongkat baja yang ujung-ujungnya bercagak dua.
Sebelumnya 12 tahun yang lewat Thian Ong
telah menyaksikan kehebatan tongkat tersebut, bahkan
tadi pun Kiat Bo Hosiang telah mempergunakannya
melawan musuh-musuh tangguh serta hendak
dipakai membunuh muridnya sendiri. Dan kini
senjata yang sama dipergunakan pula untuk menghadapi
Thian Ong. Dalam waktu singkat pemuda itu
telah terkurung sinar tongkat namun dasar gendeng
dia masih saja tertawa-tawa.
Penasaran Kiat Bo Hosiang segera robah permainan
tongkatnya. Kini senjata itu bergerak lebih
cepat dan suaranya menderu dahsyat. Selama 10
jurus dimuka Thian Ong masih melayani seranganserangan
susioknya dengan tangan kosong dan
melancarkan serangan balasan dengan mengandalkan
kebutan-kebutan ujung lengan pakaiannya yang
gombrangi Karena tenaga dalamnya yang luar biasa
angin yang keluar dari ujung-ujung lengan pakaiannya
itu sanggup membuat mental tongkat di tangan
Kiat Bo setiap senjata itu mendekati Thian Ong.
Namun selewatnya 10 jurus pemuda itu mulai kerepotan.
Saat ini Kiat Bo Hosiang telah keluarkan
ilmu tongkatnya yang terhebat dan bernama "sin
eng-thunghoat" atau ilmu tongkat garuda sakti.
Serangan tongkat datang bertubi-tubi dan tidak
beda seperti burung garuda yang menyambar-nyambar
keseluruh bagian tubuh Thian Ong. Kadangkadang
menukik seperti hendak mematuk kepalanya,
kadang-kadang pula menusuk tajam ke perut
atau dada dan tak jarang berkelebat menggempur
tubuhnya sebelah bawah!
Diam-diam dalam marah dan penasarannya Kiat
Bo Hosiang mengagumi pemuda ganteng itu. Selama
ini jarang sekali dia mengeluarkan ilmu tongkatnya
dalam jurus-jurus yang lihay itu, bahkan ketika
menghadapi dua pembantu-pembantu suhengnya di
puncak Liongsan 12 tahun silam dia sama. sekali
tidak mengeluarkannya. Kini menghadapi murid dari
suhengnya ternyata dia terpaksa harus keluarkan
kepandaiannya yang paling diandalkan itu! Meskipun
Thian Ong kelihatan terdesak tapi nyatanya si
pemuda masih sanggup melayani sin-eng thonghoat
sampai sepuluh jurus. Padahal tokoh-tokoh silat
ternama yang pernah dihadapinya, paling bantar dua
jurus sudah pasti konyol di tangannya!
Mendapati kenyataan bahwa susioknya kini berhasil
mendesaknya dengan ilmu tongkatnya yang
amat lihay, Song Thian Ong anehnya malah perdengarkan
suara tertawa gelak-gelak.
"Bret!" ujung tongkat menyambar robek dada
pakaian Thian Ong. Sedikit saja tongkat itu lebih ke
depan dengan pasti dada pemuda ini akan kena
dilabrak hancur!
"Tertawalah terus pemuda sedeng!" teriak Kiat
Bo Hosiang. "Sebentar jagi perutmu yang akan kurobek!"
"Enak betul! Kamu musti ganti dulu bajuku yang
robek Tua bangka sesat!" balas berteriak Thian Ong.
Lalu sambil tertawa gelak-gelak dia jungkir balik di
udara tiga kali berturut-turut. Bagi orang yang tidak
berpengalaman, saat lawan berjungkir balik seperti
itu amat empuk untuk dijadikan sasaran serangan
mematikan. Tapi Kiat Bo Hosiang yang sudah berilmu
amat tinggi dan berpengalaman luas, serta
mengetahui pula sedikit seluk beluk ilmu suhengnya,
mengerti betul adalah bahaya besar jika dia melancarkan
serangan saat itu.
Setelah jungkir balik Thian Ong melayang turun
dengan kemudian kedua tangan menuju tanah lebih
dahulu. Sedetik kemudian dia sudah tegak lurus
dengan kepala menempel tanah sedang kedua kaki
dikeataskan. Kakinya yang di ke ataskan ini membuat
gerakan aneh dan mendatangkan siuran angin
keras. Kadang-kadang turun naik seperti orang mengayuh.
Sesekali menendang-nendang dengan dahsyatnya,
lalu berganti pula berputar-putar. Dan lebih
keblingernya lagi, sambil membuat gerakan aneh
dengan kedua kakinya itu, Thian Ong keluarkan
serulingnya lalu mulai meniup lagu-lagu yang tak
karuan. Terkadang merdu lembut, terkadang me
lengking-lengking menyakitkan telinga.
Melihat bagaimana tingkah Thian Ong dalam
pertempuran itu yang seolah-olah mengejek mem
permainkannya, semakin mendidihlah amarah Kiat
Bo Hosiang. Dia teringat pada masa 12 tahun yang
lalu ketika dia membawa Thian Ong ke puncak
Liongsan lalu suhengnya dan dua orang pembantupembantunya
membuat Thian Ong seperti bola,
ditendang kian kemari dari satu kaki ke kaki lain
sedang main-main mereka tegak dengan kepala di
bawah kaki ke atas!
"Pemuda keparat! Asalmu jembel tukang angon
kerbau! Kenapa kini keliwat sombong?!" teriak Kiat
Bo Hosiang. Lalu menyerbu dengan tongkatnya. Tapi
serta merta saja dia tersurut kembali. Ternyata gerakan-
gerakan kedua kaki Thian Ong yang aneh itu
merupakan benteng pertahanan yang kokoh dan
sekaligus dapat menjalankan serangan berbahaya!
Tapi Kiat Bo Hosiang masih jauh dari rasa gentar.
Meski dia tak dapat menyerang lawan dari sebelah
atas namun matanya yang tajam segera melihat
bahwa ilmu silat aneh Thian Ong itu memiliki kelemahan
di sebelah bawah. Jika dia melancarkan
serangan yang hebat antara pinggang sampai ke
bagian kepala lawan yang saat itu menempel di tanah
pastilah dia akan berhasil merobohkan Thian Ong,
sekurang-kurangnya membuat cidera pemuda itu!
Maka setelah menunggu kesempatan yang baik,
tiba-tiba Kiat Bo Hosiang membuat gerakan yang
bernama "sin-eng-tian-ci" atau garuda sakti pentang
sayap. Kaki kirinya melesat menghantam ke arah
selangkangan Thian Ong sedang dalam detik yang
sama tongkat bajanya menunjuk deras ke arah
tenggorokan si pemuda. Memang dua serangan
yang dilancarkan oleh Kiat Bo Hosiang sekali ini
betul-betul luar biasa. Dua-duanya sulit dikelit saking
cepatnya dan disamping itu merupakan serangan
maut total! Kiat Bo Hosiang yakin salah satu dari
serangan itu pasti akan mengenai sasarannya, ter
utama tusukan tongkat ke arah leher.
Tetapi adalah kecele kalau Kiat Bo berpikir
demikian. Didahului oleh lengkingan seruling yang
ditiup gila-gilaan kerasnya tiba-tiba tubuh Thian Ong
sebatas pinggang ke kaki melejit ke samping. Ini
membuat serangan kaki kiri Kiat Bo hanya mengenai
tempat kosong.
Disaat yang sama suling di tangan Thian Ong
tiba-tiba membeset laksana kilat dan bret! Robeklah
pakaian putih kakek-kakek itu di sebelah dada.
Kiat Bo Hosiang kaget sekali. Dia cepat membuat
gerakan untuk menjatuhkan tubuhnya yang setengah
melayang itu dari lawan. Namun masih kurang
lekas karena saat itu tubuh Thian Ong sudah melejit
lurus kembali dan tahu-tahu satu tendangan sudah
mendepak pantat si kekek! Tak ampun Kiat Bo
Hosiang mencelat mental sampai satu tombak. Untung
saja meskipun otaknya agak keblinger Song
Thian Ong tidak bermaksud jahat terhadap paman
gurunya itu, kalau tidak pastilah tendangan tadi akan
membuat Kiat Bo Hosiang celaka, sekurang-kurangnya
cacat seumur hidup.
Dilain pihak sambil tertawa haha hihi, Thian Ong
bergerak jungkir balik dan berdiri di atas kedua
kakinya kembali.
"Susiok! Harap maafkan aku. Kalau saja aku tahu
pantatmu itu sudah tak ada lagi dagingnya alias
tulang melulu, pastilah aku tak akan menendang
pantatmu itu!"
"Anjing jadah!" maki Kiat Bo Hosiang menggeledek.
"Aku mengadu jiwa denganmu!" Lalu kakek
ini secara menerjang ke depan. Namun gerakannya
terhenti karena saat itu mendadak terdengar suara
tawa bergelak :
"Kiat Bo Hosiangl Ada berapa nyawakah kau
punya hingga hendak mengadu jiwa dengan pemuda
itu?! Apa kau tak malu sudah dipermainkan begitu
rupa?!"
Kiat Bo Hosiang mengeram macam harimau
menggerang. Di sekitarnya tiba-tiba saja sisa-sisa
pasukan Kaisar dan pasukan rakyat yang tadi asyik
menonton pertempuran hebat luar biasa yang tak
pernah mereka saksikan sebelumnya, pada lari berserabutan,
ketakutan seolah-olah melihat setan kepala
sebelas!
Li Bwe Hun dan Thian Ong jadi terheran-heran
sementara Kiat Bo Hosiang cepat memutar kepala
ke arah datangnya seruan dan suara tertawa bergelak
tadi. Memandang ke jurusan itu mendadak wajahnya
yang beringas gemas kelihatan gembira dan dia
tertawa lebar. Kakek ini lalu menjura.
"Ah, kiranya Pengho lo-enghiong. Kukira siapal
Bagus sekali kau datang dan dapat membantu aku
meringkus pemuda pengacau ini!"
"Cuma meringkusnya?"
"Eh... tidak! Membunuhi" sahut Kiat Bo Hosiang
pula. "Aku tidak malu-malu meminta bantuanmu
untuk mengirimnya ke akhirat!"
Terdengar suara tertawa kembali. "Ahoi! Seorang
tokoh ternama yang katanya paling lihay di
seluruh Tionggoan hari ini tidak mampu untuk menghadapi
seorang pemuda otak miring! Percuma saja
kami orang-orang Mongol memeliharamu, memberikan
uang dan harta berlimpah, gedung mewah serta
perempuan cantik. Nyatanya kau sama sekali tidak
berguna bagi kami!"
Merahlah paras Kiat Bo Hosiang mendengar
kata-kata itu. Namun kali ini kenyataannya dia mati
kutu!
SAAT itu di hadapannya Kiat Bo Hosiang berdiri
seorang kakek kakek berambut pirang dan bermuka
merah macam kepiting rebus. Tubuhnya kurus tinggi
dan dia mengenakan jubah biru gelap. Dialah tokoh
kelas wahid dari Mongol yang dikenal dengan nama
Pengho. Dibandingkan dengan Kiat Bo Hosiang
ilmunya memang jauh lebih tinggi.
Di samping Pengho tegak pula seorang berpakaian
rombeng dekil, kurus kering dan bungkuk. Dia
memegang sebuah tongkat di tangan kiri untuk
menopang tubuhnya yang bungkuk tak seimbang
itu. Orang kedua ini adalah kawan kental Pengho,
bernama Wanglie dan bergelar Pengemis Sakti Tangan
Kidal, dan merupakan salah seorang tokohtokoh
ternama berasal dari Tibet.
Orang ketiga yang datang bersama dua tokoh
terdahulu itu ialah seorang pendek bermata juling
yang mukanya tembam selalu berkeringat. Yang
hebat dari menusia ini ialah sepasang lengannya
yang panjang sekali, hampir menyentuh ke tanah.
Dia juga seorang tokoh lihay dari Mongol, yang
kepandaiannya masih satu tingkat di atas Kiat Bo
Hosiang. Nama aslinya tak ada yang tahu. Dia dikenal
dengan gelar Sepasang Tangan Perenggut Jiwa!
Dengan hadirnya gembong-gembong besar
pihak Mongol ini, tak heranlah kenapa sisa pasukan
Pemerintah dan rakyat kontan ambil langkah seribu
begitu melihat dan mengenali mereka!
Li Bwe Hun yang saat itu masih tertegak mematung
dan tak bisa bersuara karena masih tertotok,
yang juga mengenali siapa adanya ketiga manusia
itu, diam-diam terkejut dan mengeluh. Dia sudah
dapat menduga walau betapapun lihaynya pemuda
berpakaian gombrong itu pastilah akan kalah jika
menghadapi Pengho, apalagi jika dikeroyok bersama-
sama!
Sambil rangkapkan tangan di muka dada,
Pengho berpaling pada Thian Ong dan gelenggeleng
kepala.
Hanya seorang pemuda gendeng begini kau tak
sanggup menghadapinya? Betul? Memalukan, Kiat
Bo!"
"Dia memang sedeng, Pengho Loenghiong,"
sahut Kiat Bo Hosiang dengan muka merah. "Tapi
kunasihatkan jangan terlalu dianggap remeh. Dia
adalah murid suhengku Ik Bo Hosiang dari Liongsan!"
"Cuma muridnya saja? Itu toh lebih memalukan,
Kiat Bo! Bagaimana lagi kalau suhunya yang jadi
pengacau. Tentu kau sudah modar!" ejek Pengho
pula. Memang pada masa itu bukan rahasia lagi
kalau orang-orang asli Mongol kurang menyenangi
bangsa Han yang dipelihara oleh Kaisar Mongol
secara mewah berlebih-lebihan untuk mengharapkan
imbal kepandaiannya dalam mencengkeram
Tiongkok. Seolah-olah pada kalangan orang-orang
Mongol sendiri tidak ada tokoh-tokohnya yang lihay.
Dalam pada Itu perlakuan Kaisar Mongol terhadap
orang-orang Han (Tiongkok) kelihatan menyolok
berlebih-lebihan.
Ejekan Pengho tadi membuat dada Kiat Bo
Hosiang panas dingin bergetar. Tapi dia tak bisa
berbuat lain dari pada berdiam diri.
Pengho berpaling pada Sepasang Tangan Perenggut
Jiwa. Diantara mereka bertiga memang yang
satu ini paling rendah ilmunya tapi dibandingkan
dengan Kiat Bo Hosiang masih lebih tinggi satu
tingkat.
"Sobatku Perenggut Jiwa, apakah kau bersedia
mengotorkan tanganmu membunuh monyet baju
gombrang yang katanya adalah murid dari Ik Bo
Hosiang?!"
Si muka tembam Sepasang Tangan Parenggut
Jiwa menyeringai dan basahkan bibir dengan ujung
lidah. Dia melirik dengan matanya yang juling ke
arah Li Bwe Hun, kemudian berpaling pada Kiat Bo
Hosiang.
"Kiat Bo-Lo Jianpwe, apakah aku ingin aku
membunuh murid suhengmu ini?" bertanya si Perenggut
Jiwa.
"Betul, lakukanlah cepat!" sahut Kiat Bo Hosiang.
Si Perenggut Jiwa goyangkan kepalanya ke arah
Kiat Bo Hosiang dan berkata lagi: "Nona cantik ini
kalau aku tak salah adalah muridmu, bukan?"

Kiat Bo Hosiang mengangguk.
"Ada satu syarat, Lotjianpwe. Jika aku ingin aku
turun tangan, upahnya kau harus hadiahkan nona
muridmu itu padaku!" Sepasang Tangan Perenggut
Jiwa memang seorang tokoh silat Mongol yang
terkenal hidung belang. Habis berkata demikian dia
melirik pada Bwe Hun, leletkan lidah lalu tertawa
mengekeh.
Tiba-tiba suara tawanya itu ditimpali lebih hebat
oleh suara seorang lainnya ternyata adalah Song
Thian Ong! Dan mendengar suara pemuda itu,
Pengho kernyitkan kening, Pengemis Sakti Tangan
Kidal mendongak ke langit sedang si Perenggut Jiwa
tertegun! Mereka sama terkesiap mendapatkan bagaimana
suara tertawa Thian Ong itu mereka rasakan
membuat tanah bergetar.
Masing-masing saling pandang sesaat, kemudian
Pengho berbisik: "Hanya pemuda edan macam
dia apa pula artinya tak perlu ditakutkan!"
Sepasang Tangan Perenggut Jiwa menggaruk
lalu berpaling pada Kiat Bo Hosiang.
"Bagaimana Lotjianpwe?"
Kiat Bo Hosiang memang sudah miring jalan
pikirannya, ditambah pula saat itu dia disungkup
amarah serta malu luar biasa. Karenanya menceplos
saja jawabannya:
"Terserah padamu kau mau buat apa atas diri
gadis laknat itu! Tadipun aku hendak membunuhnya!"
Mendengar jawaban ini si Perenggut Jiwa ternyata
puas.
"Ah rejekimu besar nian hari ini, Sobat," berkata
Pengho seraya menepuk bahu hambratnya itu.
Si Perenggut Jiwa basahi bibirnya dengan ujung
lidah. Sambil mengedipkan matanya yang juling
pada Li Bwe Hun dia berkata : "Nonaku, kau tunggulah
sebentar. Saksikanlah bagaimana aku menghajar
pemuda gila itu. Kemudian kita berdua tinggalkan
tempat ini, pergi bersenang-senang di atas
ranjang."
Li Bwe Hun benar-benar tak menyangka kalau
hati gurunya demikian bejatnya. Tapi apakah dayanya?
Harapannya satu-satunya kini terletak pada
Song Thian Ong. Dapatkah pemuda berotak miring
ini mengalahkan si Perenggut Jiwa? Kalaupun dapat
lantas apakah dia mampu pula melawan Pengemis
Sakti Tangan Kidal serta Pengho? Bagaimana kalau
orang-orang itu kemudian mengeroyoknya? Betapapun
lihaynya pemuda murid Ik Bo Hosiang itu namun
adalah mustahil dia akan sanggup menghadapi musuh-
musuh tangguh demikian rupa. Dan ini berarti
celakalah dirinya sendiri!
"Ah, mengapa Tuhan tidak mencabut saja
nyawaku saat ini!" keluh Li Bwe Hun dalam hati dan
air mata mulai menggenangi pelupuk-pelupuk matanya.
Dalam pada itu dengan mengumbar suara tertawa
mengekeh si Perenggut Jiwa melangkah mendekati
Thian Ong. Sebaliknya Thian Ong tampak
acuh tak acuh, malah membelakangi musuh yang
datang mendekat itu, berpaling menghadap Kiat Bo
Hosiang dan dengan jari telunjuk tangan kirinya
diacungkannya tepat ke hidung orang tua ini.
"Tua bangka sedengl Kau betul lebih sinting dari
manusia edan manapun di dunia ini. Hatimu bejat
dan keji. Bukannya memberi hajaran malah menyerahkan
bulat-bulat tubuh dan kehormatan murid
sendiri pada si pendek juling ini!"
Paras Kiat Bo Hosiang jadi merah saga. Dia
membentak: "Tutup mulutmu Bwe Hun bukan muridku
lagi! Kau hadapi saja musuh si Pendekar Perenggut
Jiwa untuk menerima mampusmu!"
"Kaulah yang lebih dulu layak mampus!" teriak
Thian Ong, lalu menggebrak tanah dengan kaki
kirinya hingga tanah itu tenggelam sampai satu
jengkal. Tubuhnya berkelebat ke depan melancarkan
hantaman satu pukulan tangan kosong yang hebat
namun saat itu belakangnya terdengar deru yang
deras. Ternyata Sepasang Tangan Perenggut Jiwa
telah ulurkan kedua tangannya dan dalam gerakan
kilat siap untuk menangkap batang leher Thian Ong
yang telah lengah membelakangi. Sekali leher itu
kena tertangkap nyawa murid Ik Bo Hosiang yang
agak berotak miring itu pastilah tak akan tertolong!
Memang sesuai dengan gelarnya yaitu Sepasang
Tangan Perenggut Jiwa maka tokoh silat
Mongol bermata juling itu memang memiliki sepasang
tangan yang luar biasa hebatnya. Selain
cepat dalam gerakan juga memiliki kekuatan atos
dan ampuh.
Baik Kiat Bo Hosiang maupun Wanglie (Pengemis
Sakti Tangan Kidal) serta Pengho sudah
dapat memastikan bahwa dengan sekali gerakan
kilat saja dan saat lawan dalam keadaan lengah, si
Perenggut Jiwa betul-betul akan dapat merenggut
lepas nyawa Thian Ong.
Pada saat itu, ketika merasakan sambaran angin
di belakangnya, Song Thian Ong maklum kalau
dirinya tengah diserang orang secara pengecut. Dia
menggerendeng dan rundukkan tubuh sedikit sambil
memutar dan serentak dengan itu tangan kirinya
yang tadi dipergunakan untuk menuding hidung Kiat
Bo Hosiang kini dipakainya sebagai kemplangan
menebas ke arah datangnya serangan!
Buk!
Terdengar suara bergedebukan yang keras ketika
lengan kiri Thian Ong beradu dengan lengan
kanan si Perenggut Jiwa.
Tokoh lihay dari Mongol ini merasakan tubuhnya
terbanting ke kiri sampai empat langkah tapi lengannya
sama sekali tidak cedera bahkan terasa sakit
pun tidak! Inilah kehebatan ilmu kebal sepasang
tangan yang dimilikinya. Padahal jangankan manusia,
batang pohon pun kalau sampai kena digebuk
lengan Thian Ong yang berisi kekuatan tanaga-dalam
luar biasa itu, pastilah akan remuk berantakan!
Kini Pengho dan Pengemis Sakti Tangan Kidal,
lebih-lebih si Perenggut Jiwa sendiri baru terbuka
matanya. Meskipun jago silat dari Mongol ini tidak
cidera namun tubuhnya yang terlempar sampai sejauh
empat langkah itu cukup membuktikan bahwa
Thian Ong meskipun gendeng tapi betul-betul tak
bisa dibuat main. Padahal sesungguhnya murid Ik
Bo Hosiang dari Gunung Naga itu hanya membuat
gerakan acuh tak acuh dan tidak pula disertai kekuatan
tenaga dalam yang berarti)
Walau dia tidak apa-apa, namun Perenggut Jiwa
merasa malu sekali karena lawan gila yang dianggapnya
remeh dan gila itu ternyata tak dapat dibereskannya
dalam satu gebrakan saja.
IZRO'IL
Pendekar Dari Gunung Naga


Didahului dengan bentakan galak dia sengaja
keluarkan jurus silatnya yang terlihay untuk menebus
rasa malunya yakni jurus yang bernama
siang-lui-guisan' atau sepasang petir membelah
gunung!
Kehebatan jurus ini memang luar biasa. Sepasang
tangan si Perenggut Jiwa kini hanya merupakan bayangan
sinar putih dan mengeluarkan suara keras
setiap serangan dilancarkan. Tampaknya Thian Ong
kerepotan dibuatnya meskipun dia sudah lancarkan
serangan balasan dengan kebutan ujung lengan pakaiannya
yang gombrong. Semakin lama pertempuran
semakin seru. Tiba-tiba Thian Ong membentak nyaring
dan tahu-tahu tubuhnya melayang ke atas, turun lagi
dengan kaki ke atas kepala ke bawah.
Pemuda ini agaknya merobah permainan silatnya
dan mengeluarkan ilmu yang tadi telah dipergunakannya
dalam menghadapi Kiat Bo. Namun
setiap tendangan yang dilancarkannya selalu dapat
dikelit atau ditangkis oleh tangan si Perenggut Jiwa.
Thian Ong jadi penasaran. Dia jungkir balik
kembali dan kini mainkan jurus silat baru. Memang,
si Siperenggut Jiwa jadi terdesak hebat namun
sekalipun tubuhnya terbanting atau tercelat mental
selama dia masih sanggup mempergunakan sepasang
tangannya yang benar-benar ampuh untuk
menangkis maka dia sama sekali tak mengalami
cidera. Lama-lama Thian Ong jadi beringas.
Murid Ik Bo Hosiang ini mencak-mencak macam
orang kemasukan setan. Tapi setiap tangannya digerakkan,
menghamburlah pukulan-pukulan ganas
yang dialiri tenaga dalam tinggi. Berkali-kali si Perenggut
Jiwa jatuh bangun dihantam pukulan tangan
kosong itu. Akan tetapi karena dia selalu mempergunakan
kedua lengannya untuk menangkap maka
setiap jatuh dia cepat bangun kembali dan balas
menyerang!
20 jurus berlalu. Si Perenggut Jiwa kelihatan
mandi keringat, pakaian kusut masai dan muka
celemongan karena berulang kali jatuh atau terguling-
guling di tanah. Sebaliknya Thian Ong masih
biasa saja, hanya suara menggerendeng tak hentinya
keluar dari mulutnya. Selagi dia berpikir-pikir bagaimana
dapat merobohkan lawan yang memiliki sepasang
tangan laksana benteng baja itu, tibat-tiba
terdengarlah siulan nyaring menusuk telinga yang
disusul dengan suara orang menyanyi.
20 jurus berlalu percuma
Hanya karena serangan membabi buta
Dua tangan memang laksana benteng baja
Untuk apa diserang menghabiskan tenaga?
Semua orang yang ada di situ terkejut, termasuk
Thian Ong. Pemuda ini melompat mundur dan mendongak
ke atas pohon, dari arah mana suara orang
menyanyi itu datang. Pada cabang sebuah pohon
tampak duduk seorang pemuda asing tak dikenal,
rambutnya gondrong dan mulutnya penuh berisi
buah apel yang digerogotinya.
Melihat pemuda di atas pohon, Thian Ong tibatiba
tertawa bergelak.
"Gondrong! Tampangmu tolol dan lagakmu juga
edan seperti aku! Jika kau merasa berkawan dengan
aku, silahkan turun beri petunjuk!"
Tapi orang di atas pohon tidak mau turun, malah
kembali bersiul-siul lalu menyanyi lagi:
Segala sesuatunya tidak sempurna
Otakmu tidak seluruhnya gila
Pergunakan bagian yang tidak gila
Untuk menduga dan mereka
Bahwa tidak seluruhnya sekeras baja
Diantara yang keras ada yang lemah
Pada kelemahan terdapat kelembutan
Dan kelembutan pangkal celaka.
Orang di atas pohon kunyah terus buah apel
dalam mulutnya lalu garuk-garuk kepala. Thian Ong
ikut-ikutan garuk-garuk kepalanya. Dia memandang
lagi pada si gondrong di atas pohon, lalu tertawa.
"Aku mengerti... aku mengerti sekarang cihuy
terima kasih! Kau memang kawanku, memang sobat
ku! Cihuyl" Thian Ong kelihatan girang sekali dan
sampai-sampai dia membuat gebrakan jungkir balik
di udara beberapa kali. Begitu kakinya menginjak
tanah kembali, langsung dia menuding si pendek
Perenggut Jiwa dan berkata keras.
"Mata juling, ayo kita bertempur lagi." Lalu dia
berpaling pada Pengho, Pengemis Sakti Tangan
Kidal dan Kiat Bo Hosiang. "Manusia-manusia penjajah,
sekarang kalian lihat bagaimana aku akan
merobohkan jagomu ini dalam satu jurus!'
Thian Ong tertawa lagi gelak-geiak. Selagi dia
tertawa begini si Perenggut Jiwa menyerbunya dengan
hebat. Serangannya datang bertubi-tubi selama
lima jurus. Di jurus keenam, Thian Ong melakukan
pembalasan. Dia lancarkan serangan ganas dengan
tangan kiri ke arah batok kepala Thian Ong demikian
rupa hingga tak bisa dikelit dan mau tak mau si
Perenggut Jiwa harus pergunakan lengannya untuk
menangkis. "Buk!"
Lagi-lagi sepasang lengan mereka beradu.
Namun disaat yang sama Thian Ong kirimkan jotosan
selusupan ke arah perut lawan. Dan perut si Perenggut
Jiwa tidaklah mempunyai ilmu kebal seperti yang
dimiliki kedua lengannya. Manusia ini menjerit setinggi
langit ketika tubuhnya terlempar empat meter,
menggeletak tak berkutik lagi, mati dengan perut
bobol!
"Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih sahabatku?"
teriak Thian Ong berulang kali sambil jingkrak-
jingkrakan lalu melesat ke cabang pohon di
mana pemuda gondrong yang makan buah apel itu
nongkrong.
"Eh, apakah kau doyan apel, Sahabatku!" berkata
si gondrong.
"Thian Ong manggut-manggut, lantas saja di
keruk saku pakaian si gondrong dan sambar dua
buah apel. Keduanya sambil tertawa-tawa kemudian
asyik mengunyah buah-buah apel itu seolah-oleh
tidak perduli di mana mereka berada, seolah-oleh
tidak ada terjadi apa-apa di situ!"
"Manusia-manusia sinting! Gila!" maki Pengho
dengan mata mendelik dan meludah ke tanah.
"Kalau tidak karena diberi tahu oleh si gondrong
itu kambrat kita si Perenggut Jiwa tak bakal mati di
tangannya 'Pengho Lo enghiong, apakah kau kenal
siapa bangs*t gila yang berambut gondrong itu?"
"Tak pernah kuketahui siapa dia adanya. Mungkin
sute atau suheng dari keparat bernama Thian
Ong itu?"
Kiat Bo Hosiang gelengkan kepala. Ik Bo
Hosiang tak pernah mengambil murid lain dari pada
Thian Ong bocah penggembala hina dina itu. Pemuda
yang gondrong ini jelas bukan orang Han!"
Sementara itu di atas pohon saking girangnya
Thian Ong begitu tenggak habis dua buah apel lantas
keluarkan serulingnya dan tiup benda itu keras
membawakan lagu gembira.
"Ah Sobat! Kau ternyata pandai sekali main
suling. Boleh aku ikut menimpali?!" bertanya si
gondrong.
"Tentu, tentu saja!" sahut Thian Ong gembira
sambil ongkang-ongkang kaki. "Silahkan! Silahkan!"
Si gondrong merogoh pinggang pakaiannya sesaat
kemudian terlihatlah sinar menyilaukan. Ternyata
pemuda ini keluarkan sebuah senjata berbentuk
kapak bermata dua yang pada mata-matanya
yang menyilaukan itu tertera angka 212. Kapak aneh
ini gagangnya terbuat dari gading dengan ukiran
kepala naga pada sebelah bawahnya, sedangkan
pada batang gagang terdapat lobang-lobang. Dan
ketika pemuda ini tempelkan bibirnya ke bibir naganagaan
lantas meniup, maka membersitlah suara
lengkingan seperti tiupan seruling, dahsyat luar
biasa.
Kiat Bo Hosiang, Pengho dan Pengemis Sakti
Tangan Kidal merasakan telinga masing-masing bergetar
sakit. Buru-buru mereka tutup indera pendengaran.
Tapi dada masing-masing masih saja
terasa bergetar. Hebat sekali. Sungguh belum pernah
mereka menyaksikan dan mendengar tiupan-tiupan
suling yang demikian luar biasa hingga. Menggetarkan
tanah yang mereka pijak dan mempengaruhi
mereka. Pengho, sebagai orang yang paling tinggi
ilmunya tahu betul kalau saja dia dan kawan-kawannya
masih merupakan jago silat kelas rendah pastilah
telinga masing-masing telah rusak berdarah
mendengar tiupan suling yang luar biasa karena
disertai aliran tenaga dalam dahsyat itu!
"Merdu sekali! Merdu sekali!" teriak Thian Ong.
Lalu tiup sulingnya lebih keras.
Pengho tokoh silat kelas wahid dari Mongol tak
dapat lagi menahan kejengkelannya. Amarahnya
meluap karena dia merasa seolah dipermainkan . Di
samping itu Thian Ong harus mati untuk menebus
nyawa si Perenggut Jiwa yang telah dibunuhnya!
"Thian Ong pemuda keparat! Turunlah untuk
menerima kematian!" teriak Pengho menggelegar
diantara hiruk-pikuknya tiupan-tiupan suling.
Tapi Thian Ong dan juga si gondrong tidak ambil
perduli malah kini ongkang-ongkang kaki dan terus
meniup suling masing-masing dalam lagu tanpa
nada tak karuan!
Mendidihlah amarah Pengho tokoh dari Mongol
ini angkat tangan kanannya dan menghantam ke
atas pohon!

SATU gelombang sinar hitam menggebu ke arah
cabang pohon di mana Thian Ong dan pemuda
gondrong yang bukan lain adalah Wiro Sableng si
Pendekar 212 tengah duduk ongkang-ongkang kaki
enak-enakan sambil tiup suling.
Terdengar suara keras hancurnya cabang pohon
serta rontoknya dedaunan yang kemudian disusul
oleh tumbangnya pohon besar itu.
Tapi suara tiupan dua suling sama sekali tidak
berhenti dan baik Wiro maupun Thian Ong tidaklah
menemui celaka dihantam pukulan sakti tadi karena
sebagai orang-orang berkepandaian tinggi tentu saja
mereka tahu bahaya dan siang-siang sudah berkelebat
turun ke tanah. Begitu sampai di tanah enak
saja mereka duduk menjelepok dan terus memainkan
suling!
Kiat Bo Hosiang melengak, Pengemis Sakti Tangan
Kidal naik turun tenggorokannya sedang
Pengho Lio Bwe Hun yang saat itu masih berada
dalam keadaan tertotok meskipun hatinya cemas
setengah mati namun melihat tingkah dua pemuda
yang agaknya sama-sama keblinger itu dalam hati
jadi tertawa geli. Menghadapi tiga tokoh silat begitu
lihay keduanya masih saja gila-gilaan, padahal maut
sudah di depan mata!
"Thian Ong manusia keparat. Lekas ke sini untuk
menerima kematian!" teriak Pengho.
"Ah, di sini banyak pengganggu. Bagaimana
kalau kita main suling di tempat lain saja?" ujar Thian
Ong seraya hentikan permainannya dan masukkan
sulingnya ke balik pinggang pakaiannya yang gom
brong. Wiro pun hentikan permainannya, masukkan
Kapak Naga Geni 212 ke balik pakaiannya.
"Mari!" kata Wiro pula seraya berdiri mengikuti
Thian Ong.
"Bangsa!, kau mau pergi ke mana?'" teriak
Pengho lalu berpaling pada Pengemis Sakti Tangan
kidal dan memerintah : "Bunuh dia!"
Pengemis Sakti Tangan Kidal mendongak ke

langit lalu tertawa melengking? Terima kasih
Pengho - twako, memang aku sudah lama tak membunuh
orang. Hari ini tanganku yang sudah gatai
akan dapat bagian!"
Sambil melintangkan tongkat kayu yang dipegangnya
di tangan kiri, Pengemis Sakti Tangan Kidal
maju mendekati Thian Ong.
"Thian Ong, kaum ditakdirkan mampus di tanganku.
Nah, bersiaplah untuk mati!"
"Eh, Sobat," ujar Thian Ong sambil menepuk
bahu Wiro. "Lagak kakek-kakek bungkuk itu seperti
malaikat maut saja. Apakah begini tampangnya
malaikat maut!"
Wiro garuk-garuk kepala.
"Entahlah, aku pun belum pernah melihat. Tapi
aku yakin malaikat maut tampangnya lebih cakepan
dari tua bangka keriputan ini' sahut Wiro pula sambil
cengar-cengir.
Kedua anak geblek itu lantas tertawa terpingkalpingkal.
Wut!
Entah kapan dia bergerak tahu-tahu tongkat di
tangan kiri Pengemis Sakti Tangan Kidal sudah
membabat ganas ke batok kepala Thian Ong. Meskipun
tadi kelihatannya acuh tak acuh namun begitu
diserang murid Kiat Bo Hosiang ini ternyata waspada
sekali. Secepat kilat dia jatuhkan diri, kedua tangan
lebih dulu mencapai tanah. Sesaat kemudian kedua
kakinya telah melancarkan serangan balasan. Satu
mendepak ke arah perut sedang lainnya menendang
ke tenggorokan lawan. Namun tingkat kepandaian
si kakek bungkuk ini lebih tinggi dari si Perenggut
Jiwa. Ilmu tongkatnya lebih lihay dari Kiat Bo
Hosiang. Dua serangan itu dikelitkannya dengan
mudah, bahkan kini tongkat di tangan kirinya menyapu-
nyapu dahsyat sekali.
Song Thian Ong dalam tingkahnya yang gilagilaan
itu beberapa kali hampir kena dihantam senjata
lawan. Dan masih saja dia bertingkah aneh yang
bukan-bukan sambil tak lupa mengejek dan mencaci
maki lawannya sehingga Wanglie alias Pengemis
Sakti Tangan Kidal penasaran setengah mati.
Dengan matanya yang tajam dan pengalaman
luas, Pengho si tokoh utama di Mongol segera
melihat bahwa sesungguhnya Thian Ong memiliki
dasar ilmu silat yang iebih hebat dari Pengemis Sakti
Tangan Kidal. Buktinya sampai 20 jurus di muka
pemuda ini masih melayani tokoh lihay yang berasal
dari Tibet itu dengan tangan kosong! Cuma karena
tingkahnya yang aneh dan gila-gilaan itulah yang
membuat dia seolan-olah tak mau menurunkan tangan
jahat dan hanya ingin mempermainkan musuh.
"Kiat Bo Hosiang! Kau bantulah Pengemis Sakti!'
berseru Pengho setelah 20 jurus lagi berlalu tanpa
kambratnya itu bisa melakukan sesuatu terhadap
Thian Ong.
Kiat Bo Hosiang cabut tongkat bajanya dan
menyerbu ke dalam kalangan pertempuran.
"Curangi" teriak Wiro marah.
"Orang asingi Tutup mulutmu!' sentak Pengho.
"Kau tak ada hak mencampuri urusan orang lain!
Lekas angkat kaki dari sini kaiau tidak ingin kugebuk!"
"Eit enak betui memerintah orang. Kau kira aku
ini kacungmukah?! Makan ini!" teriak Wiro sambil
keluarkan sisa satu buah apel dari dalam sakunya.
buah ini dilemparkannya dengan sebat. Pengho
bergerak cepat tapi dia kecele karena Wiro sama
sekali tidak menyerangnya, melainkan melemparkan
buah apel itu ke arah Li Bwe Hun yang masih tegak
tak berdaya karena ditotok.
"Buk!"
Buah apel itu mencerai tepat di tengkuk Li Bwe
Hun. Totokan yang sejak tadi menguasai si gadis
serta merta buyar karena memang disitulah sebelumnya
Thian Ong teiah menotok Bwe Hun yakni sewaktu
gadis ini hendak melarikan diri dari Kiat Bo
Hosiang yang hendak membunuhnya.
"Nona, tadi kau telah diselamatkan oleh pemuda
itu. Sekarang bantulah dia!" seru Wiro.
Li Bwe Hun katupkan bibirnya rapat-rapat. Kemudian
seolah-olah patuh, dia memungut sebilah
golok milik bekas seorang prajurit Kerajaan dan
tanpa banyak bicara terus ke kalangan pertempuran!
Sebenarnya Wiro merasa yakin kalau Thian Ong
tak akan mudah dikalahkan sekalipun dikeroyok dua
orang oleh Pengemis Sakti Tangan Kidal dan susioknya
sendiri. Namun Pendekar 212 ini yang sudah
gatal tangan ingin ikut bertempur, diam diam mendapat
akal Maka dilepaskannya totokan Bwe Hun
lalu disuruhnya gadis ini membantu Thian Ong.
Mendapat bantuan ini dengan sendirinya Thian Ong
semakin sulit untuk dirobohkan malah kebalikannya
dua lawannyalah kini yang berada dalam kedudukan
sulit!
Dan hal ini diketahui oleh Pengho si tokoh lihay
dari Mongol. Sebenarnya dia tidak perlu mengkhawatirkan
keselamatan Kiat Bo Hosiang. bahkan dia
ingin sekali kakek-kakek bangsa Han yang sejak
lama dibencinya itu mampus saat itu juga. Namun
dia sama sekali tak ingin kalau kambratnya dari Tibet
yakni Pengemis Sakti Tangan Kidal sampai celaka.
Maka tak menunggu lebih lama lagi, Pengho segera
menyerbu pula ke dalam kancah pertempuran.
Justru inilah yang dikehendaki Wiro!
"Tua bangka bermuka kepiting rebus!" teriak
Wiro memaki Pengho yang memang memiliki tampang
merah seperti kepiting rebus. "Aku lawanmu,
jangan main keroyok!
Mendengar makian itu dan melihat Wiro berkelebat
ke arahnya serta merta Pengho lepaskan
pukulan saktinya yang tadi telah dikeluarkannya
waktu menyerang Wiro dan Thian Ong di atas pohon.
Sinar hitam menderu ganas ke arah Pendekar
212. Wiro kaget juga karena tak menyangka begitu
mulai berkelahi lawan sudah lancarkan serangan
pukulan sakti itu. Memang Pengho tak mau kepalang
tanggung menghadapi lawan yang sudah diduganya
tidak berkepandaian rendah itu. Apalagi karena petunjuk
Wirolah sampai Thian Ong berhasil membunuh
si Perenggut Jiwa. Dengan sendirinya dendam
serta kebencian bertumpuk jadi kemarahan
yang bukan alang kepalang.
Wiro keluarkan siulan melengking lalu lepaskan
pukulan sinar matahari ke depan. Sedangkan sinar
putih panas dan menyilaukan bergemuruh memapas
sinar hitam serangan Pengho.
Bumi terasa bergetar ketika dua pukulan sakti
itu bentrokan di udara dengan mengeluarkan suara
yang hebat! Tubuh Pengho terhuyung sampai lima
langkah ke belakang sedang tangan kanannya sampai
sebatas pangkal bahu terasa sakit berdenyut
denyut. Diiain pihak sepasang kaki Pendekar 212
Wiro Sableng melesak sampai setengah jengkal dan
tubuhnya bergetar.
Paras Pengho berubah pucat. Sebagai tokoh
kelas satu di seluruh Mongol baru kali ini dia mengalami
bentrokan pukulan sakti yang hebat. Jelas
sudah bahwa pemuda rambut gondrong itu memiliki
kepandaian luar biasa dan agaknya tidak berada di
sebelah bawah sobatnva si orang Han yaitu Song
Thian Ong.
"Celaka! Naga-naganya aku bakal mendapat kesulitan!"
membathin Pengho dengan hati tidak enak.
Dan dia semakin tak enak lagi ketika melihat bagaimana
kambratnya Pengemis Sakti lengan Kidal yang
membantu Kiat Bo Hosiang berada dalam keadaan
terdesak, bahkan sesaat kemudian Thian Ong yang
mempergunakan serulingnya sebagai senjata dan
mainkan jurus-jurus silat aneh berhasil memukul
mental tongkat kayu Pengemis Sakti!
"Tahan, seru Pengho tiba-tiba seraya melompat
menjauhi Wiro. "Sobatku Pengemis Sakti, kurasa
cukup sudah kita main-main dengan orang-orang
ini. Kita masih ada urusan lain yang lebih penting
harus diselesaikan. Iain hari saja kita layani mereka
kembali. Mari!"
Pengemis Sakti Tangar» Kidal yang maklum apa
arti kata-kata Pengho itu dsn menyadari pula keadaan
mereka yang sulit bahkan bakal celaka jika bicara
lagi segera meninggalkan tempat itu menyusu!
Pengho yang telah berkelahi pergi lebih dulu tanpa
memperdulikan Kiat Bo Hosiang.
Kiat Bo Hosiang yang ditinggal sendirian, sesaat
jadi tertegun. Hendak menyusul kabur keadaannya
terjepit antara Thian Ong dan Bwe Hun. Dan saat itu
sambil menyeringai Thian Ong datang mendekati.
Kasihan kau tak mempunyai kesempatan kabur,
susiok ku yang sesat. Dan lebih kasihan lagi karena
suhu telah berpesan bahwa jika seseorang sesat tak
mau insaf dan tobat adalah layak untuk dibunuh'"
Sebagai penutup kata-katanya Thian Ong lantas
kirimkan tusukan dengan serulingnya ke arah dada
Kiat Bo Hosiang. Orang tua ini agak gugup. Meskipun
dia sempat berkelit tapi tak urung bahunya masih
kena keserempet hingga dagingnya terkelupas. De
ngan menggembor marah Kiat Bo Hosiang mengirimkan
serangan balasan. Tongkat bajanya bersuit
suit mengeluarkan sinar putih.
IZRO'IL
Pendekar Dari Gunung Naga


Tapi bagaimana pun juga tingkat kepandaian
Kiat Bo Hosiang tidak mampu menghadapi murid
keponakannya itu. Kalau dalam pertempuran sebelumnya
Thian Ong banyak mengejek dan main-main,
maka kini jurus silat yang dikeluarkannya betul-betu!
aneh dan tidak main-main lagi. Setelah perkelahian
berlangsung empat jurus tiba-tiba pendekar aneh
berbaju gombiong dari Gunung Naga ini berteriak:
"Awas tongkat!"
Baru saja kata-katanya itu berakhir, tahu-tahu
tongkat baja di tangan Kiat Bo Hosiang sudah
terlepas kena dirampas.
"Lihat suling/' terdengar lagi seruan Thian Ong.
Dan detik Itu pula suling di tangannya telah menyambar
ke arah leher si kakek tanpa sempat berkelit lagi.
Kiat Bo Hcsfanu hanya bisa mendelik kaget melihat
datangnya maut.
Sedetik lagi suling itu akan menusuk amblas
leher Kiat Bo Hosieng tiba-tiba terdengar teriakan
Bwe Hun :
"Tahan! Jangan bunuh dia!"
Thian Ong tersentak heran. Masih untung dia
sempat ubah arah tusukan sulingnya hingga benda
ini hanya menyambar robek bahu pakaian Kiat Bo
Hosiang.
"Eh, apa-apaan kau Nona Li?!" bertanya Thian
Ong. Sedang Wiro juga heran sambil garuk-garuk
kepala.
Yang paling heran tentu saja Kiat Bo Hosiang.
Seharusnya dia sudah menemui ajal saat itu.
"Nona, tadi kau hendak dibunuhnya dan malah
mencoba pula untuk menamatkan riwayatnya. Sekarang
kenapa kau mencegah aku membuat dia konyol?!"
bertanya kembali Thian Ong. "Ingat, manusia
sesat pengkhianat semacam ini amat berbahaya.
Ular berkepala dua seperti dia harus dibunuh!"
"Betapa pun sesat dan jahatnya, dia tetap adalah
suhuku," jawab Bwe Hun dengan suara bergetar.
Kiat Bo Hosiang terkesiap. Dadanya berdebar
dan wajahnya pucat. Apakah sebenarnya kehendak
Bwe Hun bekas muridnya itu? Hendak membalasnya
atau hendak turun tangan sendiri membunuhnya?
"Suhu!" tiba-tiba Bwe Hun melangkah ke depan
gurunya. "Kurasa kau masih bisa diperbaiki. Kurasa
kau masih bisa keluar dari segala macam comberan
busuk yang kau renangi selama ini. Jika kau sadar
dan berjanji untuk kembali ke jalan yang benar,
kurasa murid suhengmu ini pasti akan mengampunimu.
Bagaimana...."
Semakin pucat wajah Kiat Bo Hosiang. Tiba-tiba
saja sepasang matanya berkaca-kaca. "Tak mungkin,"
desisnya. "Aku telah terlalu jauh dalam kesesatan.
Aku pengkhianat paling terkutuk. Kau bunuhlah
aku sekarang. Aku.tak akan melawan. Thian
Ongl Bwe Hun! Bunuh aku sekarang juga!" Si kakek
lalu jatuhkan diri dan buang tongkat bajanya, menangis
tersedu-sedu.
"Suhu, tak ada dosa yang tak berampun. Kalaupun
kau merasa telah berbuat dosa dan kesalahan
besar kurasa masih ada jalan untuk menebusnya.
Yaitu bersama-sama kami memusnahkan kaum penjajah
Mongol yang selama ini mendatangkan malapetaka."
"Itu betul!" seru Thian Ong yang tiba-tiba saja
kasihan melihat susioknya itu.
"Tapi syaratnya satu," menyelinap Wiro. "Asal
jangan dia menipu kita. Kalau tidak bisa berabe
seumur-umur!"
"Kalau... kalau kalian memang bersedia memberikan
pengampunan dan ingin berjuang bersama,
aku rasa memang inilah kesempatan bagiku untuk
menebus dosa...."
"Berdirilah suhu, mari kita atur rencana," kata
Bwe Hun pula seraya memegang bahu Kiat Bo
Hosiang dan memungut senjata kakek ini.
Menurut Kiat Bo Hosiang yang paling tahu seluk
beluk kekuatan pasukan Mongol, adalah sulit untuk
menumpas habis pasukan-pasukan Mongol yang
kuat dan banyak disekitar perbatasan. Sebenarnya
bala tentara Mongol bukanlah apa-apa jika saja
mereka bisa memusnahkan pusat dan orang-orang
yang mengatur semua kekuatan itu, yang sekaligus
menjadi pengatur dari segala kegiatan penjajahan.
Pusat kekuatan dan pengaturan ini terletak di kota
Ansi, tak berapa jauh dari perbatasan. Di sini terdapat
sebuah gedung besar yang merupakan markas dari
pada tokoh-tokoh Mongol, terdiri dari "arsitek" dan
"pelaksana" pejajahan. Mereka adalah orang-orang
yang berkepandaian silat tinggi, diantaranya Pengho
sebagai kepala dan wakil Raja Mongol, lalu seorang
jenderal bernama Karfi Khan, kemudian Penghu,
sute dari Pengho, ditambah dengan Pengemis Sakti
Tangan Kidal dan kira-kira selusin perwira-perwira
tinggi yang lihay.
"Terus terang saja, sebelumnya aku pun menjadi
salah seorang diantara mereka di sana. Namun
syukur kalian telah membuka kedua mataku. Jika
kita sanggup mengobrak-abrik markas mereka itu
dan membunuh semua tokoh yang ada di situ kukira
hancurlah induk kekuatan kaum penjajah Mongol.
Balatentara Mongol yang banyak tak ada artinya. Tak
lebih dari serombongan anak ayam yang kehilangan
induk. Dalam pada itu aku tahu betul bahwa prajuritprajurit
Mongol telah muak dengan peperangan apalagi
kekejaman-kekejaman yang lewat batas kemanusiaan
yang selama ini diperlihatkan oleh pimpinan
mereka. Cuma satu hal yang diperhatikan,
markas tokoh-tokoh Mongol banyak alat rahasianya!"
Sesaat semua orang terdiam setelah mendengar
keterangan Kiat Bo Hosjang itu.
"Bagaimana...?" Bwe Hun bertanya.
"Kita menyerbu ke sana!" Thian Ong menyahut.
"Betul, kita menyerbu ke sana! ujar Wiro pula.
'Bagus! Sebaiknya kita berangkat sekarang
juga!" kata Kiat Bo Hosiang dan disetujui oleh semua
orang. Maka keempat menusia berkepandaian tinggi
itu pun berkelebat meninggalkan tempat itu. Kalau
tadi di tempat itu suasananya hiruk-pikuk maka kini
jadi sunyi tapi tetap saja mengerikan karena di sana
sini bertebaran puluhan mayat.
SETELAH melakukan perjalanan yang cukup sulit
hampir selama dua minggu akhirnya mereka sampai
juga diluar kota Ansi. Kota ini adalah kota Kerajaan
Tiongkok pertama yang direbut oleh bangsa Mongol
sewaktu pecah perang. Karena terletak di daerah yang
kini dikuasai bangsa Mongol maka suasananya tenang
dan aman, tak banyak prajurit-prajurit yang kelihatan
berkeliaran. Namun adalah berbahaya bagi Thian Ong,
Wiro dan Bwe Hun untuk memperlihatkan diri dan
memasuki kota pada siang hari sekalipun mereka
bersama Kiat Bo Hosiang yang oleh penduduk
setempat dianggap sebagai salah satu tokoh pimpinan
bangsa Mongol. Maka mereka mengatur rencana dan
baru pada malam hari rencana itu akan dijalankan.
Bila senja berganti dengan malam, gedung besar
yang menjadi markas para tokoh Mongol kelihatan
terang dan tenang. Di pintu depan lima orang pengawal
asyik bercakap-cakap sedang lainnya melakukan
perondaan sekeliling tembok halaman. Tadi sudah
dikatakan bahwa keadaan kota Ansi aman, namun
untuk gedung penting seperti markas itu tentu saja
harus mendapat pengawal yang cukup terjamin.
Di dalam gedung, pada sebuah ruangan besar
empat belas orang kelihatan duduk mengelilingi
meja. Mereka adalah Pengho di kepala meja, Jenderal
Karfi Khan di kepala meja yang lain, lalu Penghu
sutenya Pengho, Wanglie alias Pengemis Sakti Tangan
Kidal ditambah 10 orang perwira tinggi bangsa
Mongol.
Satu jam yang lalu Pengho dan Pengemis Sakti
baru saja kembali dan langsung mengumpulkan
orang-orang itu untuk mengadakan pembicaraan.
Yang jelas tentu saja Pengho menuturkan apa yang
telah terjadi dua minggu lalu antara dia dan murid
Ik Bo Hosiang.
"Pemuda itu lihay sekali dan yang lebih bahaya
adalah konconya, seorang pemuda asing berambut
gondrong," berkata Pengho.
"Bagaimana dengan Kiat Bo Hosiang?" bertanya
Jenderal Karfl Khan.
"Entahlah, kami tinggalkan saja dia sendirian.
Mungkin sudah mampus di tangan muridnya sendiri
atau si keparat Thian Ong itu," menyahuti Pengemis
Sakti.
"Bagiku lebih baik dia mampus. Aku tak begitu
senang padanya," kata Pengho pula blak-blakan.
Setelah membicarakan susunan dan keadaan
pasukan Mongol di beberapa tempat di selatan,
Pengho kemudian berkata: "Dengan adanya pengacau-
pengacau seperti Thian Ong dan pemuda asing
serta gadis murid Kiat Bo Hosiang itu pasti akan
banyak mempengaruhi keadaan kita. Dalam perjalanan
kemari aku dan Pengemis Sakti telah membicarakan
rencana untuk mendatangkan beberapa
tokoh utama Tibet guna membantu kita. Kalau sampai
Ik Bo Hosiang sendiri turun tangan keadaan kita
akan semakin sulit. Kita basmi dulu tiga kurcaci itu,
soal Ik Bo baru kita urus kemudian. Dengan ratusan
pasukan dan dipimpin oieh tokoh-tokoh lihay seperti
kita masakan Ik Bo Hosiang tak dapat kita gusur dan
puncak Longsan?! AKU hanya menunggu persetujuan
dari para hohan di sini saja.' (Hohan = orang
gagah).
Kurasa semua kita di sini dengan menyetujui
rencana Pengho lo enghiong dan Wanglie lo
enghiong." menjawab Jenderal Karfi Khan.
"Terima kasih kalau begitu aku dan Pengemis
Sakti akan berangkat bes....
Pengho tak meneruskan kata-katanya karena
saat itu matanya melihat alat rahasia yang terletak
di dinding bergerak-gerak.
Ada orang di atas genteng! Semua siap!" seru
Pengho.
Orang-orang yang ada dalam ruangan pertemuan
itu serta merta melompat dari kursi masingmasing
dan hunus senjata Pada saat itu pintu
ruangan tiba-tiba terbuka dan muncullah Kiat Bo
Hosiang.
"Eh, bukankah kau sudah mampus di tangan
murid keponakanmu!" Pengho berseru kaget.
"Belum, masih belum Pengho lo enghiong,"
sahut Kiat Bo Hosiang.
"Jadi kau berhasil lolos dari kepungan tiga orang
muda lihay itu?!" Pengemis Sakti kini yang ajukan pertanyaan.
Sebelum Kiat Bo Hosiang sempat menjawab
Pengho kembali buka mulut: "Apakah kau masih
punya muka untuk kembali kemari?!"
"Ah soal muka tak perlu kita bicarakan. Mukamu
atau muka siapapun di ruangan ini tidak lebih baik
dari mukaku!"
"Wah kau bicara keren amat Kiat Bo Hosiang!"
tukas Jenderal Karfi Khan. Sementara Pengho melirik
pada alat rahasia di dinding yang sampai saat
itu masih kelihatan bergerak sedikit.
"Ketahuilah aku datang bukan sebagai Kiat Bo
Hosiang yang dulu. Selama ini kalian orang-orang
Mongol telah memperdayaiku, membujuk dan merayu
hingga aku lupa daratan dan menindas, memusnahkan
bangsa sendiri!"
"Kiat Bo Hosiang! Kau bicara apakah! Dan apa
maumu sebenarnya," membentak Pengho.
"Kalian kaum penjajah terkutuk hari ini harus
bertanggung jawab atas kejahatan dan kekejian apa
yang telah kalian lakukan terhadap tanah air dan
bangsaku!" Habis berkata begitu Kiat bo Hosiang
lantas cabut tongkat bajanya lalu berseru: "Kawankawan
silahkan turuni"
Serentak dengan itu terdengar suara ribut di atas
atap. Loteng ruangan tiba-tiba bobol dan tiga sosok
tubuh melayang turun dalam gerakan yang sebat
luar biasa!
"Kurang ajar!' teriak Pengho. Dia sudah maklum
siapa-siapa adanya tiga manusia yang masuk menerobos
itu karenanya segera saja dia hantamkan
kedua tangannya ke atas. Dua larik sinar hitam
menderu memapaki Thian Ong, Bwe Hun dan Wiro
Sableng yang tengah melayang di udara.
Terdengar suara tertawa Thian Ong disusul dengan
berjumpalitannya tubuh pemuda Ini ke kiri dan
laksana seekor naga dia menukik ke arah Pengho
sambil lancarkan satu jotosan. Tokoh dari Mongol
ini cepat membuang diri ke samping hingga serangan
lawan mengenai tempat kosong.
Di atas sana pukulan sinar hitam Pengho telah
menghancur leburkan atap ruangan sementara Pendekar
212 Wiro Sableng yang membalas dengan
pukulan sinar matahari telah membuat lantai ruangan
hangus retak-retak, ubinnya pecah bermentalan!
"bangs*t!" memaki Pengho. "Penghu! Kau dan
Jenderal Karfi Khan hadapi murid gila Ik Bo Hosiang
itu. Wanglie locianpwe kau pimpin lima perwira tinggi
menghadapi bangs*t berambut gondrong. Aku sendiri
akan mencincang bangs*t pengkhianat ular
kepala dua Kiat Bo Hosiang. Yang lain-lainnya lekas
kepung gadis binal baju hijau itu!"
Pengho sengaja mencari lawan dan menghadapi
Kiat Bo Hosiang karena dia merasa jerih terhadap
Thian Ong apalagi Wiro Sableng.
Di dalam ruangan besar yang sudah porak
poranda itu maka terjadilah pertempuran yang amat
seru!
Dengan sebilah pedang berwarna ungu, Pengho
mengamuk yang dilayani oleh Kiat Bo Hosiang
dengan tongkat bajanya. Namun hanya lima jurus
saja Kiat Bo Hosiang segera terdesak hebat!
Li Bwe Hun yang menghadapi lima pengeroyok tidak mendapat kesulitan. Meski pengeroyok-pengeroyoknyaterdiri dari perwira-perwira berkepandaian tinggi namun dengan mainkan jurus-jurus ilmu tongkat yang dikuasainya dengan sempurna dalam tempo enam jurus saja sudah membuat lima pengeroyok bergeletakan mandi darah.
Pada saat gadis ini hendak menolong suhunya yang tengah didesak hebat oleh Pengho, tiba-tiba dari pintu menyerbulah selusin pengawal dipimpin oleh seorang perwira tinggi. Terpaksa Bwe Hun menghadapi mereka lebih dahulu. Setelah mengamuk hampir sepuluh jurus dan membuat lawan roboh satu demi satu, sisa yang masih hidup ambillangkah seribu, maka Bwe Hun menerjang ke depan membantu suhunya.
Dalam keadaan terdesak tadi, Kiat Bo Hosiang telah keluarkan ilmu tongkat yang paling hebat yaitu ilmu tongkat garuda sakti atau "sin-eng thunghoat".
Namun Pengho yang jauh lebih tinggi tingkat kepandaiannya hanya dua tiga jurus saja dibikin repot oleh ilmu tongkat itu. Dilain saat pedangnya sudah menggebu-gebu kembali melabrak ke arah lawan dan di satu kesempatan berhasil membabat bahu kiri Kiat Bo Hosiang hingga putus buntung dan darah menyerbu!
"Suhu!" seru Bwe Hun. Dengan kalap gadis ini menyerbu ke arah Pengho sementara Kiat BoHosiang menotok bahunya di beberapa tempat hingga darah berhenti memancur kemudian dengan gagah berani kembali dia menghadapi Pengho, bahu membahu dengan muridnya.
"Bagus! Kalian datang berdua! Hingga aku taksusah-susah membunuh guru dan murid sekaligus!" seru Pengho dengan seringai maut lalu kiblatkan pedang ungunya menghadapi dua lawan yang dia yakin dapat dirobohkan dalam waktu singkat.
Thian Ong yang dikeroyok oleh jago-jago lihay yakni Penghu (adik dari Pengho) dan Jenderal Kaili Khan untuk beberapa lamanya dibikin repot. Hal ini terutama karena dia sesekali masih saja kejangkitan penyakit keblingernya hingga menghadapi lawan lebih banyak mempermainkan dan mengejek. Tetapi ketika satu hantaman dari Penghu mendarat di dadanya
dan membuat dia kesakitan, pemuda sinting aneh ini baru sadar. Serta merta dia cabut sulingnya dan keluarkan jurus-jurus ilmu silat aneh dari Liongsan yang dipelajarinya selama 12 tahun dari Ik Bo Hosiang!
Menghadapi ilmu silat yang tak pernah dilihatnya sebelumnya, dengan sendirinya Penghu serta JenderalKarfi Khan kebingungan. Betapapun lihaynyamereka namun jurus demi jurus keduanya mulai terdesak. Dalam hebatnya kecamuk pertempuran itutiba-tiba Thian Ong keluarkan pekik nyaring. Serentak dengan itu tubuhnya berkelebat lenyap dan tahu-tahu terdengarlah pekik Penghu.
Tubuhnya mencelat lima langkah. Keningnya kelihatan berlubang dan mengucurkan darah. Sekali lagi adik dari Pengho ini berteriak mengerikan lalu roboh. Thian Ong telah menghantam keningnya dengan suling hingga berlobang dan membuat nyawanya lepas.
Melihat adiknya mati Pengho menggembor marah. Tubuhnya berkelebat dalam amukan yang hebat dan sesaat kemudian dia berhasil merobohkan Kiat Bo Hosiang. Kakek ini terjungkal dihantam tendangannya dan selagi sempoyongan pedang Pengho cepat menebas lehernya hingga Kiat Bo mati dengan kepala menggelinding!
Li Bwe Hun terpekik ngeri melihat kematian suhunya itu. Dengan kalap tanpa mempertimbangkan lagi kemampuan sendiri dia menyerbu Pengho seorang diri. Tapi sekali Pengho gerakkan pedangnya maka patah mentallah pedang di tangan si nona.
Dilain saat senjata Pengho membacok ganas ke kepala si nona tanpa dapat dikelit lagi ataupun
ditangkis oleh Bwe Hun. Disaat yang kritis itu tahu-tahu melesat sesosok tubuh antara kepala Bwe Hun dan pedang Pengho yang tengah turun dengan deras. Pengho melengakkaget. Dia tidak tahu tubuh siapa yang dilemparkan karena saking cepatnya lemparan dan di samping itu dia tak dapat pula menahan turunnya pedangnya.
"Cras!"
Pedang Pengho membacok tepat di pertengahan tubuh yang terlempar. Terdengar jeritan, tubuh itu terhampar ke lantai tak berkutik lagi dengan pinggang terbabat putus. Ketika diperhatikan ternyata dia bukan lain adalah Wanglie alias Pengemis Sakti Tangan Kidal! Bwe Hun sendiri selamat dan tertegun sedang Pengho dengan muka pucat berpaling ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng yang saat itu asyik "menggebuki" perwira-perwira Mongol yang tengah mengeroyoknya!
Apakah sebenarnya yang telah terjadi? Seperti diketahui sebelumnya Pengemis Sakti Tangan Kidal bersama dengan lima perwira tinggi Mongol telah mengeroyok Wiro. Kenyataannya lima perwira ini adalah lebih lihay dari lima perwira lain yang mengeroyok Bwe Hun hingga dipimpin oleh Pengemis Sakti mereka sempat membuat Wiro kalang kabut. Namun setelah keluarkan jurus-jurus silat yang dipelajarinya dari Pendekar Pedang Akhirat Long-sam-kun maka dalam satu gebrakan saja dia berhasil merobohkan dua perwira tinggi. Ketika dia menendang mental perwira yang ketiga matanya yang tajam menyaksikan bagaimana Pengho tengah melancarkan satu bacokan ganas ke arah kepala Bwe Hun tanpa si gadis bisa berkata apa-apa. Di saat yang sama Pengemis Sakti Tangan Kidal kirimkan satu sodokan dengan tongkat kayunya ke arah ulu hati Wiro. Dengan mainkan jurus bernama
"lo-han-ciang-yau" atau malaikat menundukkan siluman, Wiro sambar lengan kiri Pengemis Sakti dan tarik demikian rupa hingga tubuh kakek itu berputar di atas kepalanya lalu dilempar ke arah Pengho.
Seperti yang diperhitungkan oleh Wiro dan malang bagi Pengemis Sakti, tubuh kakek-kakek itu terlempar tepat antara kepala dan bacokan pedang hingga tak ampun lagi pedang di tangan Penghomenghantamnya tepat di pinggang I
Wiro tertawa gelak-gelak. "Pengho! Apakah kau sudah gila membacok mati kawan sendiri?!" ejek pendekar sableng ini lalu tertawa gelak-gelak. Sementara Thian Ong mendengar suara tertawa kambratnya itu ikut-ikutan pula tertawa dan membuat gerakan yang bernama "koay-liong-hoan-in" ataunaga aneh berjumpalitan. Tubuhnya seperti terjungkal kaki ke atas kepala ke bawah. Kaki menendang ke muka lawan dan begitu lawan mengelak tahu-tahu suling di tangan kanan memburu dengan cepat.
Terdengarlah jerit kematian Jenderal Karfi Khan sewaktu perutnya kena dikoyak oleh Suling Thian Ong hingga ususnya berbusaian keluar!
Dengan matinya Jenderal Karfi Khan maka kini Pengho jadi tinggal sendirian. Dan mau tak mau ini membuat nyalinya lumer. Tanpa tunggu lebih lama dia segera melompat ke pintu. Wiro memburu disusul oleh Thian Ong.
"Biang racun anjing penjajah kau mau kabur ke mana!" teriak Thian Ong.
Saat itu, sebelum keluar ruangan menghambur lari, Pengho masih sempat pergunakan tangannya untuk memutar sebuah tapel (ukiran kayu) kepala manusia di dinding dekat pintu. Serta merta terdengarlahsuara mendesir di Seantero ruangan.
"Awas senjata rahasia!" teriak Wiro memperingatkan.
"Lekas tiarap!" seru Thian Ong.
Wiro, Thian Ong dan Bwe Hun segera jatuhkandiri di lantai ruangan. Detik itu pula dari empat tembok ruangan yang dilapisi kayu melesatlah seratus pisau terbang berwarna hijau gelap. Bagaimanapun lihaynya seseorang, jika berdiri di tengah ruangan pastilah tak bakal dapat menyelamatkan jiwanya!
Begitu serangan pisau terbang berhenti, Wiro cepat melompat ke atas atap yang bobol. Dia sampai di sana dalam waktu yang tepat karena masih sempat melihat bayangan Pengho berkelebat di balik atap gedung sebelah kiri. Wiro segera memburu dan dalam waktu singkat berhasil menyusul pentolan kelas wahid gembong penjahat itu.
Pengho sadar dia tak akan bisa menang menghadapi Pendekar 212, tapi lari pun tak mungkin. Apalagi waktu itu berkelebat pula dua bayangan di atas genteng yakni Thian Ong dan Bwe Hun. Dan si nona belum apa-apa lantas saja sudah menyerangnya dengan sebuah golok besar yang diketahuinya adalah milik Jenderal Karfi Khan.
Tak ada hal lain yang bisa dilakukan Pengho daripada melawan mati-matian. Sebenarnya dalam tingkat ilmu kepandaian jelas sekali Bwe Hun jauh tertinggal dari tokoh kelas satu Mongol itu. Namun saat itu Pengho bertempur dalam pikiran kacau balau takut dan gugup. Pikirannya tak terpusat karena dia senantiasa mengintai kelengahan lawan untuk melarikan diri. Dalam pada itu Thian Ong dan Wiro meskipun tidak langsung turut pula ambil bagian dalam pertempuran.
Setiap Pengho mendesak Bwe Hun atau lancarkan serangan berbahaya maka tahu-tahu pantatnya ditendang oleh Thian Ong dari belakang. Terkadang Wiro menjambak rambutnya atau menarik turun celananya. Sambil berbuat begitu kedua pemuda sableng itu tertawa-tawa tiada henti. Akhirnya dalam keadaan penasaran, Pengho pergunakan pedangnya untuk tusuk dadanya sendiri!
Tokoh utama dari Mongol ini roboh, terguling dari atas genteng, jatuh ke tanah dengan pedang
masih menancap di dadanya!
Penyerbuan Thian Ong, Wiro Sableng, Li Bwe Hun serta Kiat Bo Hosiang ke markas besar pentolanpentolan tertinggi penjajah di Ansi itu betul-betul menggemparkan baik empat kalangan Pemerintah Mongol maupun Pemerintah Tiongkok.
Kalau orang Mongol merasa sangat terpukul maka pihak Tiongkok jadi mendapat semangat. Ribuan tentara Tiongkok dua minggu kemudian menyerbu ke perbatasan. Dan betullah seperti kata-kata mendiang Kiat Bo Hosiang. Jika markas sumber kekuatan penjajah itu dihancurkan maka balatentara Mongol meskipun berjumlah besar namun tak lebih dari anak-anak ayam yang kehilangan induknya.
Seluruh kekuatan Mongol disapu bersih dan bumi Tiongkok bebas lepas dari kaum penjajah yang selama ini telah mendatangkan 1001 macam kesengsaraan di kalangan rakyat. Namun agaknya tugas Song Thian Ong dan Li Bwee Hun masih belum selesai karena di selatan masih banyak pemimpinpemimpin yang tak tahu diri yang perlu disingkirkan. Sementara Pendekar 212 Wiro Sableng terus pula melakukan petualangannya.

TAMAT

IZRO'IL
WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212


Hidung Belang Berkipas Sakti


1

Matahari bersinar terik membakar jagat. Pemuda erpakaian sederhana itu melangkah menyusuri jalan berdebu. Di hadapan sebuah pintu gerbang yang dikawal oleh dua orang prajurit bersenjatakan tombak dia berhenti. Sesaat dengan sepasang matanya yang disipitkan diperhatikannya bangunan pintu gerbang yang kokoh itu. Lalu dia berpaling pada salah seorang pengawal yang berdiri di situ.
”Apakah ini gedung kediaman Adipati Kebo Panaran?” bertanya si pemuda.
Pengawal yang ditanya tidak segera menjawab. Dia memandang penuh curiga, meneliti pemuda itu dari kepala sampai ke kaki. Segera dia tahu kalau Si pemuda adalah seorang desa yang baru saja turun ke kota.
Dengan sikap meremehkan pengawal itu menjawab.
“Betul. Kau ada keperluan apa orang desa?!”
“Aku ingin bertemu Adipati,” jawab si pemuda.
“Ingin bertemu dengan Adipati Kebo Panaran? Heh....” Pengawal yang satu ini berpaling pada kawannya. Lalu tertawa bergelak. “Sobat,” katanya pada kawannya. “Kau dengar ucapan pemuda ini?”
Prajurit yang satu ikut-ikutan tertawa dan berkata. “Sebelum kami muak melihatmu, sebaiknya lekas pergi dari sini!”
“Tapi… aku ingin bertemu Adipati,” sahut Si pemuda pula.
“Heh, memaksa rupanya. Apa maumu sebenarnya?!” prajurit pertama maju selangkah sambil menggenggam tombaknya.
“Mau cari pekerjaan,” jawab si pemuda tanpa ragu-ragu.
“Buset! Tak ada pekerjaan untuk manusia macammu di sini. Adipati sudah punya tukang kebun. Sudah punya penjaga kuda....”
“Bukan pekerjaan macam begitu yang aku inginkan,” memotong pemuda desa tadi.
“Ahai! Lalu pekerjaan macam apa yang kau inginkan? Jadi juru masak barangkali?!”
Sepasang mata pemuda itu semakin menyipit. Tiba-tiba dia tersenyum.
“Prajurit pengawal pintu!” kata pemuda itu dengan suara tandas. “Kau dengar baik-baik.
Namaku Dipasingara. Katakan pada Adipatimu bahwa aku datang untuk mencari pekerjaan!”
“Sekalipun namamu Bapak Moyang Setan aku tidak perduli. Menyingkir dari sini atau batang tombak ini akan membuat kepalamu jadi benjol besar!”
Si pemuda masih saja tersenyum mendengar ancaman itu. Malah dia menyambuti dengan ucapan: “Rupanya suasana di kota benar-benar harus memakai segala macam kekerasan.
Sobat, aku minta tolong padamu agar memberi tahu Adipati, kalau tidak..”
“Kalau tidak kau mau apa?” Si prajurit jadi berang.
“Aku terpaksa nyelonong sendiri masuk ke dalam gedung!”
“Pemuda desa kurang ajar! Kau betul-betul minta digebuk!”
Tombak besi di tangan pengawal pintu gerbang menyambar ke arah pemuda yang mengaku bernama Dipasingara itu. Sesaat lagi pastilah remuk atau paling tidak benjol besar kepalanya.
Tapi apa yang terjadi kemudian membuat terkejut kawan prajurit yang satu ini.Hampir sama sekali tidak kelihatan bergerak, tahu-tahu pengawal yang mengemplangkan tombak telah terpental ke atas untuk kemudian jatuh bergedebuk di tanah tanpa sadarkan dirilagi. Tombak yang tadi dipakainya untuk memukul kini berpindah tangan digenggam Dipasingara!
“bangs*t rendah! Berani kau mencelakai kawanku!” teriak pengawal yang seorang lagi marah sekali. Dia melompat dan tusukkan mata tombaknya ke dada pemuda desa itu.
Dipasingara ulurkan tangan kirinya. Tahu-tahu bagian belakang mata tombak berhasildicekalnya lalu disentakkan kuat-kuat. Tak ampun lagi pengawal yang menyerang terbetot kencang ke depan, terguling di tanah dengan muka berkelukuran! Meski dia tidak jatuh pingsan namun luka-luka yang mengeluarkan darah memenuhi tubuhnya, sakitnya bukan kepalang. Dia terduduk di tanah tanpa bisa berbuat apa-apa selain mengerang kesakitan.
Dipasingara menimang-nimang dua batang tombak yang barusan dirampasnya. Satu demi satu tombak itu kemudian ditancapkannya di tanah tepat diantara kedua kaki prajuritKadipaten itu. Kemudian dia melangkah ke pintu gerbang. Baru saja dia menggerakkan tangan untuk membuka pintu, Sebuah kereta yang dikawal oleh serombongan penunggang kuda yang rata-rata berbadan kekar herbenti di situ.
Penunggang kuda paling depan yang berkumis melintang membentak dari punggung kuda tunggangannya.
“Apa yang terjadi di sini?!”
Bola matanya yang besar menyorot si pemuda. Kembali dia membentak: “Siapa kowe?!”
Dengan tenang pemuda itu menjawab. “Namaku Dipasingara. Aku ingin bertemu dengan Adipati Kebo Panaran. Untuk maksud baik. Mau cari pekerjaan. Aku sudah minta izin dan tolong
kedua pengawal ini. Tapi tanpa alasan mereka malah menurunkan tangan kasar terhadapku. Cuma sayang mereka terlalu kesusu!”
“Pemuda edan! Anak-anak tangkap pemuda ini!” teriak si kumis melintang. Rupanya dia yang jadi pimpinan.
Empat lelaki berpakaian seragam, bertubuh besar tegap melompat turun dari punggung kuda lalu serempak menyerbu Dipasingara untuk meringkusnya hidup-hidup.
Namun mereka cuma bisa menangkap angin. Karena pada detik itu Si pemuda telah lenyap dan tahu-tahu sudah berdiri di samping kereta.
Justru saat itu pula tirai kereta disingkapkan orang dari dalam. Sebuah kepala laki-laki kemudian muncul. Di sampingnya tampak kepala seorang perempuan muda berparas cantik luar biasa.
“Sura... ada apa ribut-ribut?” tanya lelaki dalam kereta. Suaranya besar parau, tak sedap didengar.
Suramanik, demikian nama lelaki berkumis melintang yang tadi berikan perintah untuk menangkap Dipasingara cepat menjawab:
“Tidak ada apa-apa Adipati. Tak perlu khawatir. Cuma seekor kecoak sinting kesasar kemari dan berbuat sedikit kerusuhan. Mohon maafmu. Kami akan segera mengenyahkannya dari sini!”
Dipasingara memalingkan kepalanya ke jendela kereta. Dilihatnya seorang lelaki berpakaian bagus, berkopiah tinggi, bermuka putih. Menurut taksirannya paling tidak orang ini berusia setengah abad. Di sebelahnya duduk seorang perempuan berparas rupawan yang membuat Dipasingara sejenak tertegun. Namun menyadari bahwa orang di dalam kereta itu pastilah Adipati Kebo Panaran dan istrinya maka cepat-cepat Dipasingara membuka mulut.
“Adipati Kebo Panaran. Mohon dimaafkan segala tindakanku. Semuanya terjadi karena terpaksa. Aku harus mempertahankan diri dari orang-orangmu yang menyerang secara sewenang-wenang. Aku datang dari jauh. Sengaja hendak menemuimu untuk minta pekejaan.
Bolehkah aku tolong membukakan pintu gerbang agar keretamu bisa lewat...?”
Sesaat Kebo Panaran menatap tampang pemuda itu. Wajahnya cakap. Sikapnya sederhana tetapi hormat tanda dia bukan seorang pemuda gelandangan tak karuan,
“Orang muda, kau siapa?” bertanya sang Adipati.
Sepasang mata Dipasingara mengerling sekilas pada perempuan yang duduk dalam kereta
di samping Adipati. Cuma sekilas, tetapi pandangan mata tajam pemuda ini membuat bergetar
hati serta dada Galuh Resmi, istri Kebo Panaran.
“Namaku Dipasingara” menjawab si pemuda. “Sengaja datang dari jauh untuk cari
pekerjaan.”
“Hemmm.. begitu?” ujar Kebo Panaran. Dia mengerling pada dua pengawal pintu gerbang
yang terkapar di tanah.
“Apakah menghantam dua prajurit Kadipaten itu salah satu pekerjaan yang kau
inginkan...?!”
“Mohon maaf Adipati. Bukan maksudku untuk berbuat kurang ajar. Tapi mana mungkin aku
berdiam diri jika yang satu dari mereka hendak mengemplang kepalaku, yang satu lagi hendak
menembus dadaku dengan tombak?!”
Kebo Panaran terdiam.
Sebaliknya Suramanik yang sejak tadi menahan amarah kini membentak: “Adipati, biar
kuhajar pemuda hina dina ini!”
Tapi sang Adipati melambaikan tangannya. Mencegah kepala pengawalnya untuk
melaksanakan maksudnya.
“Aku akan bukakan pintu gerbang untukmu,” kata Dipasingara tanpa mengacuhkan
Suramanik. Lalu didorongnya daun pintu gerbang lebar-lebar.
Kusir kereta memandang pada pemuda itu dengan air muka tidak senang. Tetapi Adipati
Kebo Panaran memberi isyarat agar kereta segera dimasukkan ke dalam.
Ketika Dipasingara ikut-ikutan hendak masuk ke dalam Suramanik mengusirnya dengan
beringas.
“Biarkan dia masuk Sura,” terdengar suara Adipati dari dalam kereta.
Dengan amat penasaran Suramanik terpaksa membiarkan Dipasingara memasuki halaman
Kadipaten.

2
dipati dan istrinya turun dari kereta. Dipasingara berdiri dekat tangga Kadipaten.
Sepasang matanya yang sipit menatap paras perempuan itu. Ketika itu Galuh Resmi
mengerling pula, sesaat pandangan mata mereka saling bertemu. Galuh Resmi
palingkan wajahnya dan cepat-cepat menaiki tangga lalu masuk ke dalam gedung. Bentrokan
pandangan ini sama sekali tidak diketahui Adipati Kebo Panaran. Sebaliknya Suramanik sempat
melihatnya sehingga semakin besar kegusarannya terhadap Dipasingara.
Kusir membawa kereta ke halaman samping. Kebo Panaran memberi isyarat pada
Dipasingara untuk mengikutinya ke langkan Kadipaten, sementara Suramanik dan anak
buahnya tetap berdiri di anak tangga sebelah bawah. Dua orang prajurit sebelumnya sudah
disuruhnya untuk menggotong dua pengawal pintu gerbang yang cidera.
“Nah sekarang katakan pekerjaan apa yang kau inginkan,” kata Adipati. Tapi dia tak
menunggu jawaban malah menambahkan: “Untuk mengurus kandang kuda aku sudah punya
orang. Tukang kebun juga sudah ada. Pengawal banyak. Kau mau kujadikan sebagal perawat
kuda-kuda kesayanganku?”
“Terima kasih Adipati. Terima kasih atas kepercayaanmu. Namun bukan pekerjaan macam
itu yang aku inginkan.”
Di bawah langkan gedung Suramanik menggertakkan rahangnya tanda marah. Sudah diberi
pekerjaan menolak pula. Dasar manusia kampung tidak tahu diri. Demikian kepala pengawal
Kadipaten itu mengumpat dalam hati.
“Lantas pekerjaan yang bagaimana yang kau inginkan?” tanya Adipati pula.
“Aku ingin menjadi kepala pengawal di Kadipaten ini, Adipati!”
Kebo Panaran tersentak kaget mendengar ucapan Dipasingara. Dia mulai berpikir apakah
pemuda ini sehat otaknya atau bagaimana. Suramanik sendiri sampai melotot kedua matanya.
Saat itu dia adalah kepala pengawal Kadipaten. Dan justru pekerjaan itulah yang diinginkan Si
pemuda sialan itu! Benar-benar membuat Suramanik menjadi panas dingin menahan amarah.
Kalau saja Adipati Kebo Panaran tidak ada di situ sudah sejak tadi dilabraknya pemuda lancang
mulut itu!
Kebo Panaran batuk-batuk beberapa kali. “Tentunya kau tidak bicara bertele-tele atau
ngaco, orang muda. Aku sudah memiliki kepala pengawal. Tak mungkin jabatan itu kuberikan
padamu.”
“Rasanya tak ada yang tak mungkin di dunia ini, Adipati,” jawab Dipasingara.
“Disamping itu untuk jadi kepala pengawal tidak sembarangan. Ada syarat-syaratnya.”
“Apakah syarat-syarat itu Adipati?”
Kebo Panaran merasa didesak dan jadi jengkel.
“Sudahlah orang muda. Aku tak punya waktu lama untuk bicara denganmu. Juga tak ada
pekerjaan lowong di sini untukmu. Kecuali jika kau mau bekerja sebagai perawat kuda-kudaku.
Kalau tidak silahkan pergi dan cari pekerjaan di tempat lain!”
Dipasingara terdiam sejenak. Lalu angkat bahu. Dia menjura “Jika begitu katamu baiklah
Adipati. Aku minta diri....”
Pemuda itu membalikkan tubuh dan siap untuk pergi. Tapi di belakangnya terdengar Kebo
Panaran berkata:

“Tunggu dulu!”
“Ada apa Adipati?” tanya Dipasingara.
Saat itu sang Adipati teringat akan dua pangawal pintu gerbang yang telah dipreteli
Dipasingara. Tak dapat tidak tentu pemuda ini memiliki kepandaian silat yang diandalkan.
Kalau tidak mana dia mampu dan punya keberanian untuk berbuat begitu. Dan jika dia
menginginkan jabatan kepala pengawal Kadipaten pasti dia tidak main-main.
“Dengar orang muda,” kata Kebo Pananan. “Aku akan memberikan jabatan yang cukup
layak untukmu. Asal saja kau mau menerangkan kepandaian apa saja yang kau miliki!”
“Maaf Adipati. Rahasia diriku tak mungkin kuberitahu. Aku hanya menginginkan jabatan
kepala pengawal. Lain tidak....”
Suramanik yang sejak tadi sudah kelangsangan dilanda amarah, serasa terbakar tubuhnya.
Dia merasa dihina oleh pemuda desa itu. Suramanik melompat ke langkan Kadipaten dan
berkata lantang:
“Adipati, aku bersedia menyerahkan jabatanku pada pemuda kurang ajar ini jika dia
sanggup menerima pukulanku satu kali saja pada dadanya!”
Suramanik memang bukan sembarang orang. Jika tidak memiliki kepandaian tinggi tentu
dia tak akan menjabat kepala pengawal Kadipaten.
Kebo Panaran terkesiap mendengar ucapan kepala pengawalnya itu. Urusan jadi ruwet jika
pemuda desa itu sampai kena dihantam tinju Suramanik apa jadinya? Sebaliknya dengan
tenang Dipasingara menyahuti:
“Kalau aku sanggup menahan pukulanmu, kau akan kehilangan jabatanmu, kepala
pengawal!”
“Mari kita buktikan!” bentak Suramanik dengan mata melotot dan amarah meluap. Dalam
hatinya dia berkata: “Sekali jotosanku mendarat di dadamu kau akan terbang ke neraka!”
Dipasingara berpaling pada Adipati Kebo Panaran.
“Adipati, apakah kau izinkan kami menjalankan pertaruhan ini?”
“Itu urusan kalian. Tapi kunasihatkan agar kau jangan menantang Suramanik. Lebih bagus
kau mencari selamat dan tinggalkan tempat ini!” Begitu jawaban Kebo Panaran karena dia tahu
kehebatan kepala pengawalnya.
“Karena aku tetap menginginkan jabatan kepala pengawal Kadipaten, mohon maafmu
Adipati kalau aku terpaksa melayani tantangannya.”
Dipasingara turun ke halaman. Di belakangnya menyusul Suramanik. Kebo Panaran yang
juga ingin menyaksikan adu tanding itu ikut turun sementara beberapa prajurit berdiri
membentuk lingkaran besar. Ditengah-tengah lingkaran Suramanik dan Dipasingara saling
berhadap-hadapan.
Di belakang tirai jendela depan gedung Kadipaten sepasang mata mengintai dengan hati
berdebar. Yang mengintip ini adalah Galuh Resmi, istri Kebo Panaran. Diam-diam dia telah
mendengar percakapan orang-orang itu dan kini ingin melihat apa yang bakal terjadi.
Entah mengapa dia sangat menyesalkan ketololan pemuda bertampang gagah itu yang mau
saja melayani tantangan Suramanik. Dia tahu Suramanik berilmu tinggi dan kabarnya memiliki
pukulan sakti.
“Dia pasti mati begitu pukulan Suramanik menghantam dadanya!” membathin Galuh Resmi.
Aneh. Perempuan ini merasa kawatir. Mengkawatirkan keselamatan pemuda yang tidak
dikenalnya itu.
“Sudah siapkah kau menerima pukulanku?!” terdengar suara Suramanik. Rahangrahangnya
tampak menonjol.
“Sebentar sobat,” jawab Dipasingara. “Biar kubuka dulu bajuku agar kau bisa mencari
bagian yang empuk untuk kau pukul!”
“Manusia takabur! Sebentar lagi akan kau rasakan akibat tingkahmu yang sembrono!” tukas
Suramanik.
Dengan tenang Dipasingara membuka bajunya. Kini dia berdiri bertelanjang dada.
Tubuhnya kelihatan bersih ramping.
“Nah kau carilah sasaran yang empuk!” kata pemuda itu pada Suramanik disertai senyum
sinis.
Seorang prajurit Kadipaten memaki dalam hatinya:
“Pemuda gendeng! Sudah mau mati masih saja bicara sombong!”
Dengan menyeringai geram Suramanik mengepalkan jari-jari tangan kanannya. Seluruh
tenaga dalamnya dialirkan ke situ. Dia sengaja mengerahkan keseluruhan kekuatannya karena
ingin melihat pemuda kurang ajar itu meregang nyawa dalam sekali pukul!
Sebagai kepala pengawal Kadipaten Suramanik memiliki beberapa pukulan sakti. Yang
paling hebat adalah pukulan “Wesi Ireng”. Selama lima tahun dia telah melatih diri untuk
menguasai ilmu pukulan dahsyat tersebut. Dan kini pukulan itulah yang akan dihadiahkannya
pada Dipasingara.
Perlahan-lahan tangan kanan Suramanik sampai sebatas pergelangannya berubah menjadi
kehitaman. Semua orang termasuk Dipasingara melihat perubahan yang mengerikan itu.
Adipati Kebo Panaran maklum kalau kepala pengawalnya benar-benar ingin menghabiskan
riwayat pemuda desa itu dengan pukulan Wesi Ireng. Dia tahu, jangankan dada manusia,
tembok tebal sekali pun akan hancur luluh dihantam pukulan itu. Dan yang mencengangkan
sang Adipati ialah bahwa si pemuda itu masih saja tenang-tenang bahkan selalu
menyunggingkan senyum mengejek terhadap Suramanik.
“Kasihan...” kata Kebo Panaran dalam hati. “Dia tak sadar kalau sebentar lagi akan
menemui kematian!”
Suramanik mundur selangkah. Tangan kanannya diangkat sebatas kepala.
“Kau sudah siap untuk mampus orang muda?” ujar Suramanik.
“Cepatlah, aku sudah siap sejak tadi!”
“Kalau begitu kau terimalah detik kematianmu!”
Didahului satu bentakan garang Suramanik menghantamkan tinju kanannya ke dada
Dipasingara.
“Buk!”
Tinju keras tepat menghantam dada Dipasingara di bagian jantung. Dan terdengarlah satu
pekikan dahsyat!

3
ubuh Dipasingara sedikit pun tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Didepannya
Suramanik terbungkuk-bungkuk memegangi tangan kanannya dengan tangan kiri.
Belasan kerut kesakitan muncul di kulit mukanya yang beringas. Semua orang kini
menyaksikan bagaimana tangan kanan Suramanik yang tadi sebatas pergelangan berwarna
hitam, kini menjadi gembung lecet. Dari mulut kepala pengawal ini tiada hentinya terdengar
suara rintihan.
Terkejutlah Adipati Kebo Panaran. Juga semua orang. Termasuk Galuh Resmi yang
mengintip di balik tirai jendela. Semula semua orang sudah sama memastikan bagaimana
pemuda itu akan terjengkang dilanda jotosan sakti Wesi Ireng, menggeletak di tanah tanpa
nyawa. Apa yang kemudian terjadi hampir tak dapat mereka percaya.
Suramanik masih mengerang. Lututnya terasa goyah. Dia coba bertahan tapi tak mampu.
Dia jatuh berlutut. Tangan kanannya tampak semakin merah. Dari bagian-bagian yang lecet
darah mulai membersit. Kebo Panaran geleng-gelengkan kepala. Setelah menarik nafas dalam
dia berkata:
“Suramanik, ternyata pemuda itu sanggup menahan pukulanmu....”
Rahang Suramanik menggembung. “Aku tahu maksud ucapanmu Adipati. Tak usah kawatir.
Aku bukan bangsa manusia yang tidak memegang janji. Kau terimalah pemuda hina dina itu
menjadi kepala pengawal Kadipaten!”
Habis berkata begitu Suramanik memutar tubuh untuk berlalu.
“Tunggu!” seru Dipasingara. Dari balik pakaiannya dikeluarkannya satu kantong kertas
kecil. Di dalam kantong ini terdapat sejenis obat mujarab.
“Taburkan obat ini di tanganmu. Lukamu pasti akan sembuh dalam waktu cepat!”
Suramanik mendengus dan menampik kantong kertas yang dilemparkan padanya.
“Aku tak butuh obatmu! Apa yang kau lakukan hari ini kelak akan kubalas berikut
bunganya! Bersiaplah dari sekarang. Karena aku pasti datang menemuimu!”
Suramanik membalikkan tubuh dan berlalu cepat. Ketika dia lenyap dikejauhan semua mata
kini ditujukan pada Dipasingara. Pada dasarnya prajurit-prajurit Kadipaten itu diam-diam
mengagumi kehebatan si pemuda. Namun masing-masing mereka juga merasa kurang senang
terhadap sikap dan tindak tanduk Dipasingara yang mereka anggap ombong.
Setelah beberapa lama kesunyian menggantung, akhirnya Kebo Panaran membuka mulut:
“Orang muda, sesuai perjanjianmu dengan Suramanik dan dengan kepergiannya dari sini
maka mulai saat ini jabatan kepala pengawal menjadi hakmu. Namun sebelum jabatan itu
kuberikan padamu, satu ujian lagi harus kau lewati....”
“Adipati, apa maksudmu?” tanya Dipasingara,
Sebagai jawaban Kebo Panaran melemparkan sebilah golok pada Dipasingara. Lalu pada
enam orang prajurit Kadipaten dia berseru:
“Cabutlah golok kalian dan serang dia!” Pada Dipasingara Kebo Panaran menambahkan
“Kau harus sanggup merobohkan mereka dalam waktu tiga jurus. Tapi ingat, tak satu pun
harus terluka!”
Dipasingara menyambut golok yang dilemparkan sambil tersenyum sementara enam
prajurit dengan golok terhunus menyebar berkeliling, mengurungnya!
Di belakang jendela Galuh Resmi yang masih mengintip kembali merasa cemas. Dikeroyok
oleh enam prajurit-prajurit kelas satu apakah pemuda itu sanggup bertahan?
Enam golok serentak berkelebat menyerang.
Dipasingara menekuk kedua lututnya. Golok di tangan kanannya dibabatkan ke atas dalam
bentuk lingkaran. “Trang... trang... trang....” Terdengar suara beradunya senjata sampai enam
kali berturut-turut. Lalu suara bergedebukan dan pekik kesakitan susul menyusul.
Dengan mata kepalanya sendiri Adipati Kebo Panaran menyaksikan bagaimana setelah
menangkis serangan enam golok si pemuda lantas pergunakan kaki dan tangan kirinya serta
gagang golok untuk menghajar ke enam pengeroyoknya hingga tiga orang terpelanting roboh,
dua kena di totok dan satu berdiri sambil pegangi hidungnya yang mengucurkan darah.
Di belakang jendela Galuh Resmi sampai ternganga takjub melihat kejadian itu.
Kebo Panaran memegang bahu Dipasingara. “Kau ternyata tidak mengecewakan. Kau
memang pantas menjadi kepala pengawal Kadipaten. Mulai hari ini kau menjalankan tugas di
Kadipaten Gombong!”
Dipasingara tersenyum dan menjura dalam-dalam.
“Terima kasih Adipati. Terima kasih.” Katanya seraya mengembalikan golok yang tadi
diberikan Kebo Panaran.
Ketika Adipati itu berlalu Dipasingara memalingkan kepalanya ke arah jendela. Meski cuma
sekilas tapi masih sempat dilihatnya wajah Galuh Resmi. Galuh Resmi merasakan wajahnya
bersemu merah dan bergegas masuk ke dalam kamar. Sesaat dia tegak di depan kaca menatap
wajahnya sendiri. Pemuda itu tahu kalau dia mengintip. Betapa malunya. Tetapi kenapa dia
begitu merasa tertarik padanya?
Kebo Panaran, Adipati yang berusia setengah abad itu menaruh kepercayaan penuh pada
kepala pengawalnya yang baru. Namun dia tidak menduga sama sekali kalau justru Dipasingara
sebenarnya adalah manusia biang racun yang bakal merusak rumah tangganya.
Tanpa setahu siapa pun di gedung Kadipaten itu, diam-diam Dipasingara mulai main api
dengan Galuh Resmi. Banyak hal yang membuat istri Adipati Gombong itu melayani kedipan
mata, lirikan nakal dan senyum berbisa Dipasingara. Pertama Dipasingara seorang pemuda
bertampang gagah. Pertemuan pertama dulu dengan ketinggian ilmunya telah mendatangkan
rasa kagum dalam diri Galuh Resmi. Kedua, karena kehidupan rumah tangga perempuan itu
dengan Kebo Panaran tidak berbahagia. Sebagai seorang lelaki berusia 50 tahun Kebo Panaran
tidak mungkin mempunyai kesanggupan untuk menjalankan kewajiban badaniah terhadap istri
yang cantik jelita dan baru berusia delapan belas tahun itu. Ketidak sanggupan ini ditambah
pula dengan seringnya sang Adipati melakukan kunjungan kerja ke desa-desa. Lalu pergi
menghadap pembesar-pembesar di Kotaraja untuk memberi laporan. Semua ini membuat
Galuh Resmi seperti terasing jauh dalam kesunyian.
Ketika Dipasingara muncul dengan keberaniannya yang nakal berbisa Galuh Resmi tak
kuasa untuk mengelak bahkan tanpa disadari dia sendiri senantiasa membalas setiap
senyuman kepala pengawalnya yang gagah itu.
Meskipun tidak merupakan kebiasaan tapi pada umumnya setiap pembesar di masa itu
mempunyai dua buah kamar tidur. Satu untuk dirinya sendiri dan satu lagi untuk istrinya.
Demikian pula dengan Kebo Panaran. Setiap malam dia selalu tidur di kamar besar di sebelah
depan gedung Kadipaten sedang istrinya di kamar lain yang bersebelahan. Antara kedua kamar
itu dihubungkan dengan sebuah pintu. Dengan adanya dua kamar inilah Dipasingara
mempunyal kesempatan untuk berbuat lebih berani.
Suatu malam, ketika seluruh gedung Kadipaten diselimuti kesunyisenyapan Dipasingara ke
luar dari kamarnya di bagian belakang gedung Kadipaten. Malam itu dia telah menyusun
rencana untuk melaksanakan niat terkutuk yang selama ini masih ditahan-tahannya. Dia yakin
Galuh Resmi tidak akan menolak. Kalau pun ternyata nanti perempuan cantik itu tidak bersedia
melayaninya akan dipaksanya dengan kekerasan, lalu menyingkir dari Gombong. Habis
perkara! Bukankah maksudnya meminta jabatan kepala pengawal Kadipaten itu sebenarnya
hanyalah kedok belaka? Karena yang diintainya bukan lain adalah istri Adipati Gombong yang
muda belia dan cantik rupawan itu!
Di hadapan pintu kamar yang diketahuinya adalah kamar tidur Galuh Resmi, kepala
pengawal itu berhenti, tegak sejenak memasang telinga. Semuanya serba sunyi. Dia
melangkah mendekati pintu satu lagi. Di sini didengarnya suara dengkur Adipati Kebo Panaran.
Dipasingara kembali ke pintu pertama dan mulai mengetuk daun pintu perlahan-lahan. Tak
selang beberapa lama didengarnya suara orang turun dari ranjang, disusul suara langkahlangkah
kaki. Lalu pintu di depannya terbuka sedikit. Wajah Galuh Resmi menyeruak di celah
pintu. Perempuan ini tampak agak kaget melihat Dipasingara.
“Ada apakah...?” tanya Galuh Resmi.
“Adipati telah tidur?”
“Ya, kenapa?”
“Boleh aku masuk?” tanya Dipasingara. Matanya memandang tajam. Lalu tanpa menunggu
jawaban dia mendorong daun pintu dan menyelinap masuk ke dalam. Sampai di dalam daun
pintu ditutupnya dengan cepat.
“Kepala pengawal, tindakanmu masuk ke dalam kamar dan malam-malam begini sangat
diluar kesopanan!” Suara Galuh Resmi bergetar.
Dipasingara tersenyum.
“Kau tau mengapa aku datang kemari, Galuh?” ujar Dipasingara pula. Suaranya setengah
berbisik dan senyum masih terus menyungging di bibirnya.
Galub Resmi merasakan dadanya berdebar. Pemuda yang selama ini selalu memanggilnya
dengan sebutan “jeng” kini langsung menyebut namanya.
IZRO'IL
Hidung Belang Berkipas Sakti


“Kau ingin bertemu dengan Adipati?”
Dipasingara menggeleng.
“Aku hanya ingin menemuimu. Bukankah pertemuan ini sudah sejak lama sama kita
nantikan?”
“Kepala pengawal. Jaga mulutmu..”
“Namaku Dipasingara.”
“Jika Adipati tahu kau masuk malam-malam ke sini, kau bisa celaka!”
“Dan agar suamimu tidak tahu boleh kukunci pintu yang menghubungkan kamar ini dengan
kamar sebelah?”
“Tidak! Kau harus ke luar dan sini Dipasingara. Saat ini juga!”
Kembali si pemuda tersenyum. Dia melangkah ke arah pintu penghubung lalu menguncinya.
“Kau...! Apa-apaan ini? Apa maksudmu Dipasingara?”
Kepala pengawal itu melangkah ke hadapan Galuh Resmi, membuat perempuan ini tersurut
mundur.
“Kalau kau berani melakukan sesuatu terhadap ku, aku akan menjerit!” Galuh mengancam.
“Galuh, jangan tipu dirimu sendiri,” bisik Dipasingara. “Jangan tipu perasaan hati
sanubarimu. Apakah layangan senyum dan lirikan mata mesramu selama ini hendak kau
musnahkan dengat satu teriakan yang akan membangunkan seluruh isi gedung Kadipaten ini?”
“Tapi….”
“Aku menyukaimu. Dan kau menyukaiku. Kita sama-sama tau hal itu. Atau masihkah kau
hendak berpura-pura?”
“Kalau semua itu terjadi tidak kuinginkan sampai sejauh ini. Kau berani masuk ke
kamarku!”
“Lagi-lagi kau menipu dirimu Galuh. Aku yakin bahwa kau sepenuhnya menyadari bahwa
satu saat pertemuan seperti ini pasti akan terjadi. Aku telah masuk ke mari menemuimu, orang
yang kukagumi kecantikannya, yang ku... yang kukasihi. Apakah semua itu hendak kau
hancurkan...?”
Gauh Resmi tundukkan kepala. Dadanya yang kencang bergoyang turun naik.
“Masih banyak kesempatan untuk bertemu Dipa. Jika memang kau inginkan. Bukan malammalam
begini. bukan di kamar....”
“Jadi kau inginkan aku keluar dari kamar ini?” tanya Dipasingara.
Galuh Resmi tak menjawab. Disadarinya bahwa diam-diam dia memang menyukai
Dipasingara pada saat pertama kali melihat pemuda ini. Tetapi tindakan Dipasingara masuk ke
dalam kamar seperti itu sangat berbahaya. Namun untuk menyuruh si pemuda ke luar dari
kamarnya hatinya terasa sangat berat. Sesaat dia hanya bisa berdiam diri. Kemudian
dirasakannya nafas pemuda itu menghembus hangat di wajahnya. Lalu terasa pegangan jarijari
tangan Dipasingara pada kedua bahunya.
“Kau izinkan aku bersamamu malam ini di sini Galuh?”
Pemuda itu mengusap dagu Galuh Resmi. Perlahan-lahan diangkatnya hingga perempuan
itu menengadah. Sepasang mata mereka saling bertatapan.
“Dipa, kau terlalu berani Dipa. Terlalu berani.” desis Galuh Resmi.
“Semuanya karena kau. Demi kau Galuh...” balas berbisik Dipasingara.
Perempuan itu menggeliat sewaktu lehernya disentuh ciuman Dipasingara. Ah, betapa
tubuhnya menjadi menggigil panas dingin tetapi nikmat. Betapa darahnya menyentak-nyentak.
Betapa lainnya terasa peluk dan ciuman pemuda itu dibanding dengan rangkulan suaminya
yang berusia setengah abad itu!
“Jangan di sini Dipa. Jangan di sini...” kata Galuh Resmi waktu pemuda itu membimbingnya
ke tempat tidur.
Tapi Dipasingara menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi pada pangkal lehernya.
Membuat perempuan itu bergelinjang, menggeliat dan mengeluarkan suara lirih. Nafasnya
memburu tetapi tersendat-sendat.
“Tidak di sini Dipa. Aku khawatir suamiku bangun....”
“Semua pintu telah kukunci. Tak ada yang harus kau takutkan,” kata Dipasingara. Dia
membungkuk, membenamkan hidungnya di celah antara kedua buah dada Galuh Resmi,
membuat perempuan itu mencengkeramkan kuku-kuku jarinya ke punggung Dipasingara.
Ketika tubuhnya diangkat, Galuh menggelungkan tangannya ke leher si pemuda.
Kini dia terbaring di atas tempat tidur. Dipa yang membaringkannya. Galuh memejamkan
matanya. Tak berani menatap wajah Dipasingara. Sesaat kemudian dirasakannya jari-jari
tangan Dipasingara menyelinap di balik pakaiannya. Galuh Resmi tersentak, menggeliat
kelangsangan. Selama ini hanya jari-jari tangan lelaki tua bernama Kebo Panaran yang
menggerayangi tubuhnya. Betapa lainnya dengan rabaan seorang pemuda.
Galuh Resmi menggeliat lagi, lagi dan lagi sampai akhirnya tiba-tiba dia membalikkan tubuh
dan menggigit dada Dipasingara. Pemuda itu mengeluh kesakitan tapi sekaligus menimbulkan
gelegak rangsangan. Tangan Dipasingara menggerayang lebih berani. Galuh Resmi merasa
seperti pembuluh-pembuluh darahnya meletus sewaktu pemuda itu mulai membuka
pakaiannya. Tidak berani dia membuka matanya. Tak berani dia membuka mulut. Desau
nafasnya membara. Dirasakannya tubuh Dipasingara meneduhi tubuhnya. Tubuh kukuh itu
dipeluk Galuh Resmi kuat-kuat.
Demikianlah malam itu telah terjadi hubungan gelap dan mesum antara Dipasingara dengan
Galuh Resmi. Antara seorang kepala pengawal dengan perempuan yang menjadi istri Adipati
atasannya sendiri! Apa yang terjadi malam itu baru merupakan permulaan saja dari
serangkaian panjang perbuatan mesum terkutuk diantara mereka berdua.

4
etapa pun suatu kejahatan tidak akan berlangsung selama-lamanya tanpa diketahui
orang. Bagaimana pun sesuatu yang berbau busuk itu tak mungkin dibungkus
disembunyikan. Lama kelamaan akan tercium dan ketahuan juga.
Demikian pula dengan segala perbuatan mesum yang dilakukan Dipasingara dan Galuh
Resmi.
Hanya dalam waktu dua bulan, entah bagaimana sebabnya, seisi gedung Kadipaten telah
mengetahui hubungan gelap dan kotor kedua orang itu. Hanya karena takut terhadap Galuh
Resmi, terlebih lagi ngeri akan tindakan yang bakal dilakukan Dipasingara yang berilmu tinggi
itu, maka tak ada seorang pun yang berani menyampaikan atau mengadukan kebusukan itu
pada Adipati Kebo Panaran. Namun pada akhirnya diam-diam Kebo Panaran merasakan adanya
kelainan pada tindak tanduk istrinya.
Kemudian diperhatikannya pula tingkah laku Dipasingara. Sikap Galuh Resmi jika berada di
dekat kepala pengawalnya itu, Pastilah ada hubungan tertentu antara kedua orang ini. Dan
hubungan antara lelaki muda dengan seorang perempuan jelita apalagi kalau bukan menjurus
pada hubungan hati dan badaniah? Sudah sampai sebegitu jauhkah hal itu terjadi?
Kebo Panaran berusaha mencari bukti-bukti. Tetapi gagal. Dicobanya memancing kedua
orang itu dengan pura-pura pergi menjalankan tugas ke kota atau ke desa-desa. Lalu diamdiam
bersama beberapa pengawal dia melakukan pengintaian. Tapi semuanya tetap tidak
membawa hasil.
Suatu ketika Kebo Panaran mendapat akal. Sengaja dicarinya satu kesempatan baik. Selagi
berdua-dua dengan Galuh Resmi berkatalah Adipati ini:
“Istriku Galuh, seingatku telah lebih dari tiga bulan dinda tak pernah menyambangi ibu
mertuamu di Karangtretes....”
“Memang betul kanda. Sudah tiga bulan kita tak pernah ke sana.” Menyahuti Galuh Resmi.
“Aku kawatir kalau-kalau nanti mereka kecewa dalam berharap-harap. Dan menganggapmu
sebagai seorang menantu yang tak punya perhatian...”
Galuh Resmi terdiam. Kebo Panaran melirik dan meneruskan:
“Bagaimana kalau besok kau berangkat ke Karangtretes?”
“Jika begitu kehendak kanda, saya akan berangkat besok. Kanda tentu akan ikut serta pula
bukan?”
“Ada urusan yang perlu kuselesaikan di Kotaraja. Penting sekali. Aku tak mungkin
menemanimu. Sampaikan saja salam hormatku pada orang tuaku....”
“Ah, mana enak pergi tanpa kanda. Kanda yang menyuruh saya pergi tapi kanda sendiri
tidak ikut,” mengajuk Galuh Resmi membuat Kebo Panaran agak bimbang apa benar
sedemikian besar perhatian serta kasih sayang istrinya.
“Lagi pula saat ini daerah yang bakal dilalui kabar-kabarnya kurang aman,” kata Galuh
Resmi lebih lanjut.
“Hal itu tak usah dinda kawatirkan. Dipasingara akan mengawalmu pulang pergi bersama
beberapa prajurit.”
“Meskipun demikian, jika urusan kakanda di Kotaraja cepat selesai, saya harap kanda mau
menjemput ke Karangtretes dan pulang bersama-sama.”
Kebo Panaran menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian suami istri itu pun masuk ke
kamar mereka. Di atas ranjang malam itu Galuh Resmi sangat bergairah. Ini agak mengherankan Kebo Panaran. Sebenarnya perempuan itu bergairah karena ingat saat berdua-dua dengan Dipasingara yang bakal dialaminya dalam perjalanan ke Karangtretes pulang pergi.
Karangtretes sebuah desa subur di tepi lembah yang jaraknya kira-kira satu setengah hari
perjalanan dari Gombong. Jika seseorang berangkat pagi hari dengan mengendarai kuda, pada
malamnya dia akan sampai di sebuah kampung pusat perdagangan yang terletak setengah hari
perjalanan dari Karangtretes.
Biasanya orang akan berhenti dan menginap di sana. Keesokan hari baru melanjutkan
perjalanan lagi.
Demikian pula dengan rombongan Galuh Resmi. Mereka sampai di kampung itu sewaktu
siang telah berganti malam. Dipasingara yang memimpin rombongan langsung membawa
rombongan ke sebuah penginapan. Di situ disewanya tiga buah kamar.
Kamar yang paling besar dan bagus serta bersih untuk Galuh Resmi. Kamar kedua yang
bersebelahan dengan kamar pertama ditempati oleh kusir kereta dan prajurit-prajurit yang
berjumlah tiga orang. Kamar terakhir yang terletak di sebelah kiri kamar Galuh Resmi
ditempati oleh Dipasingara seorang diri.
Mengetahui bahwa yang menginap adalah rombongan istri Adipati Gombong maka pemilik
dan pembantu-pembantunya memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya.
Karena perjalanan seharian penuh itu, sehabis makan para prajurit dan kusir kereta yang
keletihan langsung masuk kamar dan tertidur pulas. Sebelumnya kepada mereka Dipasingara
berkata bahwa malam itu dia sendiri yang akan berjaga-jaga. Tetapi semua orang sudah
maklum kalau pimpinan mereka itu akan mempergunakan kesempatan untuk bersenangsenang
berbuat mesum dengan istri Adipati. Karena mereka tidak perduli dan sudah muak
maka langsung saja ke tempatnya tertidur.
Di dalam kamarnya Galuh Resmi berdiri di depan kaca, memupuri wajahnya yang halus
dengan bedak harum. Di antara heningnya malam Galuh Resmi kemudian mendengar suara
ketukan halus di pintu kamar. Dia tersenyum. Diletakkannya kotak bedak di atas meja lalu
cepat-cepat membuka pintu.
“Aku masih belum selesai berhias, engkau sudab datang kemari,” kata Galuh Resmi dengan
senyum lebar memanaskan birahi Dipasingara.
Tanpa menunggu lebih lama Dipasingara masuk dan sekaligus mengunci pintu.
“Orang secantikmu tak perlu berdandan lagi Galuh,” ujar Dipasingara.
“Seorang permaisuri raja pun tetap memerlukan berhias. Apalagi aku…” sahut Galuh Resmi.
“Soalnya mungkin permaisuri itu jelek. Dan kau secantik bidadari. Tidak pernah
membosankan,...”
Tak sabar lagi Dipasingara langsung mengulurkan kedua tangannya dan memeluk Galuh
Resmi kencang-kencang.
Sebelumnya mereka telah biasa berbuat kemesuman di gedung Kadipaten. Kini karena
merasa lebih bebas serta aman maka masing-masing lebih terangsang oleh kobaran nafsu,
lebih hebat dari yang sudah-sudah. Dalam keadaan setengah telanjang keduanya bergulingguling
di atas tempat tidur. Tempat tidur besar itu kini berubah menjadi sebuah arena
pertandingan. Pertandingan mesum.
“Dipa...” bisik Galuh Resmi suaranya lirih. Matanya setengah terpejam. Jari-jarinya
mencengkam punggung si pemuda.
Dipasingara tahu betul apa arti bisikan itu. Satu demi satu segera ditanggalkannya pakaian
yang melekat di tubuh Galuh Resmi. Ketika lelaki ini hendak melepaskan pakaian terakhir yang
melekat di aurat Galuh, tiba-tiba pintu kamar ditendang dari luar hingga terpentang lebar dan
hancur berantakan!
Menyusul terdengar suara bentakan menggeledek.
“Manusia-manusia dajal! Malam ini kalian berdua akan mampus dalam kemesuman!”
Galuh Resmi memiawik. Dia mengenali suara itu. Juga Dipasingara.
“Wuutt!”
Satu sambaran angin keras menderu dekat kepala Dipasingara.
Pemuda ini cepat jatuhkan diri dan berpaling menghadapi. Adipati Kebo Panaran! Dia
berhadap-hadapan dengan Adipati itu! Di tangan kanan Kebo Panaran tergenggam sebilah
pedanq panjang. Parasnya kelam membesi, seram menggidikkan!
“Pemuda haram jadah! Jadi inilah balas jasamu terhadapku! Mampuslah!”
Untuk kedua kalinya Kebo Panaran membabatkan pedangnya ke arah kepala Dipasingara.
Untuk kedua kalinya pula kepala pengawal Kadipaten ini berhasil mengelak. Dengan kalap
karena diamuk amarah Kebo Panaran memburu dan hantamkan pedangnya bertubi-tubi.
“Kanda! Kanda Kebo Panaran! Hentikan... Hentikan...!” Galuh Resmi menjerit panjang
sambil menjangkau kain untuk menutupi auratnya yang polos.
“Perempuan laknat! Kau mampus duluan!”
Kebo Panaran tusukkan pedangnya ke dada telanjang istrinya.
Galuh Resmi menjerit.

5
Sebelum ujung pedang menembus dada yang putih telanjang itu, satu deru angin dahsyat
datang memapas dari samping. Kebo Penaran terhuyung-huyung, bahkan hampir
terpelanting jika dia tidak lekas-lekas memperkuat kuda-kuda kakinya. Tusukan
pedangnya meleset jauh.
Ternyata Dipasingara telah lepaskan satu pukulan tangan kosong yang dahsyat. Hal ini
membuat Adipati Gombong itu menjadi penasaran.
Sambil berbalik tangan kirinya dipukulkan ke depan.
Serangkum cahaya putih yang luar biasa panasnya berkiblat. lnilah pukulan sakti bernama
“Perak Mendidih” yang merupakan pukulan paling hebat yang dimiliki oleh Adipati Gombong itu.
Dia sengaja mengeluarkan pukulan sakti itu siang-siang karena ingin menamatkan riwayat
Dipasingara detik itu juga.
Dipasingara kaget bukan kepalang. Tidak disangkanya Adipati tua yang kelihatannya mulai
pikun itu ternyata memiliki ilmu pukulan tangan kosong yang demikian hebatnya. Buru-buru
dia melompat ke samping selamatkan diri. Tak urung hawa panas masih sempat menyambar
pundak kirinya hingga kelihatan menjadi merah dan perih.
Pukulan “Perak Mendidih” lewat, terus melanda dinding kamar hingga hancur hangus
berkeping-keping dengan suara gaduh, ini membuat terbangunnya seluruh isi penginapan.
“bangs*t!” bentak Adipati Kebo Panaran geram ketika melihat pukulannya tidak mengenai
sasaran. Dia pukulkan tangan kirinya sekali lagi untuk melancarkan serangan yang sama.
Namun saat itu Dipasingara sudah bersiap sedia. Dia tak ingin berada di tempat itu lebih
lama dalam keadaan hampir telanjang begitu rupa. Dari balik pakaiannya yang terletak di tepi
ranjang dikeluarkan sebuah benda hitam.
“Sreett!”
Benda hitam itu terbuka. Ternyata adalah sebuah kipas hitam legam. Sekali Dipasingara
menggoyangkan tangannya, bersiurlah larikan sinar hitam yang sangat menggidikkan. Pukulan
“Perak Mendidih” yang siap dilancarkan Kebo Panaran musnah tertindih. Sinar hitam terus
melabrak.
Kebo Panaran menjerit keras. Tubuhnya mental dan bergulingan di lantai, hangus hitam
tanpa nyawa. Laksana sepotong kayu dimakan api!
Galuh Resmi memiawik tiada henti.
Di luar kamar yang porak poranda itu penghuni penginapan datang berlarian
Dipasingara menggigit bibir. Cepat dia mengambil pakaiannya dan mengenakannya. Kipas
hitam diselipkannya dibalik pinggang. Lalu seperti tidak terjadi apa-apa di situ pemuda ini
balikan tubuh siap untuk berlalu.
“Dipa, kau mau ke mana...?” seru Galuh Resmi. Dipasingara tersenyum. Senyum aneh yang
lebih merupakan seringai sadis di mata Galuh Resmi.
“Ke mana aku mau pergi itu bukan urusanmu!” Kata-kata itu terluncur dari mulut
Dipasingara. Ini sangat mengejutkan Galuh Resmi.
“Jadi... jadi kau mau pergi begitu saja?!”
“Antara kita tak ada hubungan apa-apa sejak semula. Biar semua berakhir seperti itu!”
“Kau... jangan pergi Dipa! Bawa aku bersama mu!”
Kembali Dipasingara menyeringai buruk. Tiba-tiba dia tertawa mengekeh.
“Aku tidak butuh kau lagi Galuh. Aku telah mendapatkan segalanya darimu!’
“Mulutmu keji. Hatimu ternyata jahat! Kau manusia jahat!”
Dipasingara tertawa bergelak. Sekali dia berkelebat tubuhnya lenyap dari tempat itu. Hanya
suara tawanya saja yang sesaat masih terdengar menggema di kejauhan di malam yang dingin.
Galuh Resmi merasakan dadanya sesak. Dia menjerit keras lalu terkulai dan jatuh pingsan
di lantai kamar.
Tiga prajurit Kadipaten menghambur masuk ke dalam kamar diikuti oleh pemilik kedai dan
pembantu-pembantunya. Kesemuanya langsung terpaku di lantai begitu menyaksikan sosok
tubuh Adipati Kebo Panaran yang hangus hitam hampir tak dikenal menggeletak di lantai. Tak
jauh dan situ terkapar istrinya dalam keadaan tanpa sehelai benangpun menutupi auratnya.
Seseorang mengambil kain dan menutupi tubuh ini.
Untuk beberapa lamanya tak seorangpun melakukan sesuatu. Semuanya masih terpaku
oleh rasa tak percaya tetapi juga ngeri. Tiba-tiba tubuh Galuh Resmi kelihatan bergerak. Dua
prajurit segera mendekat untuk menolong. Tetapi perempuan muda ini tiba-tiba menjerit.
“Pergi! Jangan dekati aku! Jangan pegang!”
Perempuan itu melompat tegak. Dia seperti tidak menyadari kalau saat itu dia tidak
berpakaian sama sekali dan tegak di hadapan banyak orang. Tiba-tiba dia menjerit keras.
“Istri Adipati ini pasti sudah jadi gila...” kata pemilik penginapan dalam hati.
Didahului oleh satu raungan panjang, tiba-tiba Galuh Resmi lari ke tempat suaminya
terbujur. Tanpa ada satu orangpun yang dapat mencegah, perempuan ini mengambil pedang
milik Kebo Panaran lalu berteriak:
“Kanda Kebo Panaran! Ampuni istrimu! Aku menyusulmu kanda!”
Apa yang terjadi kemudan sangat cepat. Semua orang tertegun terkesiap. Tak seorangpun
sempat atau mampu mencegah tindakan Galuh Resmi. Mereka seolah-olah baru tersadar ketika
Galuh Resmi sudah terkapar mandi darah di lantai. Pedang Kebo Panaran menancap di
dadanya. Sungguh malang perempuan muda ini. Sisa hidupnya sejak beberapa bulan lalu
penuh kekotoran bergelimang dosa mesum. Dan kini kematiannyapun dalam jalan yang sesat
pula. Semua gara-gara Dipasingara. Pemuda terkutuk yang telah melarikan diri entah kemana!
6
Jika seseorang berdiri di puncak gunung Slamet, maka dia akan dapat melihat
pemandangan indah terbentang di bawahnya. Di mana-mana hutan menghijau segar, di
seling oleh sawah luas yang menghampar kuning laksana permadani emas. Beberapa
sungai kecil yang mengalir berkilau-kilau airnya ditimpa sinar matahari, tak ubah seperti ular
yang tengah melenggang lenggok.
Kita menuju ke lereng timur gunung Slamet yang menjulang tinggi itu.
Di hadapan sebuah pondok papan tampak berdiri seorang lelaki tua yang menurut taksiran
paling tidak usianya telah mencapai tuluhpuluhan. Di depan orang tua ini tegak seorang
pemuda bersama seorang gadis manis ayu, berkulit kuning langsat.
Setelah memandang pada pemuda yang berdiri di hadapannya itu beberapa lama maka
berkatalah si orang tua:
“Walau bagaimanapun kita tidak dapat menolak kenyataan, bahwa di antara seribu satu
peristiwa dalam kehidupan manusia, sepasang di antaranya adalah pertemuan dan perpisahan.
Setiap ada pertemuan tentu ada pula perpisahan. Pertemuan tidak kekal karena selalu adanya
perpisahan. Demikianlah sifat segala apa yang ada di alam ini. Semuanya tidak kekal. Tak ada
yang abadi. Hanya satu yaitu Yang Esa sajalah yang akan tetap kekal selama-lamanya.
Hari ini kalau aku tidak salah hitung tepat sewindu lamanya kau tinggal bersamaku dan
mengenyam segala macam ilmu pelajaran. Justru di hari ini pula kepadamu akan kuberikan
satu tugas. Tugas ini membuat kau harus berpisah denganku. Dan lebih dari itu terpaksa
berpisah dengan orang yang kau kasihi.
Tetapi aku yakin Sanjaya, perpisahan ini tentu sudah kau sadari sebelumnya. Karenanya
sebagai seorang lelaki kau tentu akan menunjukkan ketabahan hati dan kebesaran jiwa. Bila
nanti tugasmu telah selesai kau akan kembali kemari. Pertemuan kita nanti sekaligus akan
merupakan hari paling bahagia dalam hidupmu. Yakni perkawinanmu dengan Wulandari...”
Sampai di situ orang tua itu hentikan kata-katanya.
Dilihatnya Sanjaya menunduk agak tersipu maka sedang Wulandari juga menunduk dengan
wajah kemerahan.
“Sebagai seorang berilmu tinggi,” melanjutkan orang tua itu, “Harus kau sadari bahwa
setiap tugas adalah mahal. Dan memang adalah menjadi satu kewajiban bagi seseorang yang
telah berilmu untuk mengamalkan ilmunya itu. Ilmu yang tidak diamalkan tak ada gunanya.
Tak ada manfaatnya.
Nah Sanjaya, tak banyak nasihat atau petuah yang akan kuberikan pada saat ini. Segala
sesuatunya nanti akan terletak di tanganmu sendiri. Pergilah ke Kotaraja dan kembalilah bila
tugasmu sudah selesai. Berikan pengabdianmu yang tulus pada kerajaan. Aku gurumu dan
kekasihmu Wulandari akan menunggumu di sini”
Selesai berkata begitu si orang tua lantas mengundurkan diri masuk ke dalam pondok guna
memberikan kesempatan pada sepasang muda mudi yang merupakan murid-murid
kesayangannya.
Di bagian belakang pondok terdapat sebuah kebun kecil. Di ujung kebun terletak telaga
buatan berair jernih karena berasal dari pancuran air gunung yang segar. Wulandari melangkah
ke tepi telaga diikuti oleh Sanjaya.
Lama keduanya berdiri di tempat itu tanpa satu orangpun membuka mulut. Detik-detik
perpisahan yang menggugah hati itu membuat seolah-olah lidah mereka menjadi kelu,
membuat mulut masing-masing seperti terkunci, tak sanggup melafatkan kata-kata.
Namun setelah beberapa lama akhirnya Sanjaya memecah kesunyian walau suaranya agak
bergetar.
“Wulan, perpisahan ini merupakan satu ujian bagi kita....”
“Aku kawatir kak,” sahut Wulandari sambil memperhatikan air pancuran yang jatuh
memercik di atas batu hitam, baru mengalir ke dalam telaga.
“Apa yang kau kawatirkan?” tanya Sanjaya.
“Kotaraja ribuan lebih bagus segala-galanya dari pada di sini. Gadis-gadisnya cantik-cantik,
tidak seperti gadis buruk di puncak gunung Slamet ini. Akan sanggupkah kau menghadapi ujian
seperti itu?”
Sanjaya kontan tersenyum lebar. Dia maju mendekati gadis itu. Sambil memegang jari-jari
Wulandari dia berkata:
“Selama rimba masih hijau dan selama air sungai masih mengalir ke lautan lepas, selama
itu pulalah cintaku terhadapmu tak akan luntur. Selama itu pula aku setia pada cinta kita.”
Sunyi beberapa lamanya. Di kejauhan terdengar kicau burung-burung. Jari-jari tangan
mereka saling beremasan. Wulandari kemudian melihat paras pemuda itu mendekati wajahnya.
Dipejamkannya kedua matanya. Lalu dirasakannya satu ciuman lembut dan mesra pada
keningnya. Dan terdengar bisikan Sanjaya:
“Wulan, aku pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik…“
“Hati-hati. Dan lekas kembali.” bisik Wulandari. Lalu dicabutnya tusuk kundai perak di
rambutnya dan menyerahkannya pada Sanjaya seraya berkata:
“Bawalah ini, simpan baik-baik. Jika kau ingat aku ambil dia dan pandanglah. Mudahmudahan
rindumu akan terobat.”
“Terima kasih Wulan,” kata Sanjaya dengan terharu sambil menerima tusuk kundai perak
itu. Dia berpikir-pikir benda apa yang akan diberikannya pada Wulandari sebagai balasan. Tibatiba
dia teringat pada cincin berbatu biduri bulan di tangan kirinya. Ditanggalkannya benda itu
lalu berkata: “Pakai cincin ini sebagai pengganti diriku....”
Sanjaya kemudian memasukkan cincin tersebut ke jari manis tangan kanan Wulandari.
Setelah menyiapkan barang-barang yang perlu dibawa dan memasukkannya dalam sebuah
buntalan, Sanjaya lalu berpamitan pada gurunya. Selesai pamit pemuda itu segera menuruni
gunung Slamet. Wulandari mengantarkannya sampai di sebuah tikungan dan baru kembali ke
pondok bilamana pemuda yang dicintainya itu lenyap dari pandangan di kejauhan.
“Ya Tuhan, selamatkanlah dia dalam perjalanan. Lindungi dia dalam tugas mengabdi
Kerajaan. Selamatkan pula dia dalam perjalanan kembali...” demikian Wulandari berdo’a dalam
hati untuk kekasihnya.
Hari itu adalah hari kedua sejak Sanjaya meninggalkan pondok gurunya di gunung Slamet.
Wulandari mempersibuk diri dengan berbagai pekerjaan. Sehabis mengambil sayuran segar di
ladang, ditampungnya air pancuran dalam sebuah kendi besar. Sewaktu dia membawa kendi
serta sayuran itu kembali ke pondok, gadis ini dikejutkan oleh kemunculan seorang yang tak
dikenal di hadapannya.
Orang ini masih muda belia, mungkin seusia Sanjaya. Pakaiannya putih sederhana.
Rambutnya hitam tebal menyela bahu. Wajahnya yang cakap tampan itu memiliki sepasang
mata sipit yang mempunyai pandangan tajam.
Sebagaimana terkejutnya Wulandari demikian pula tampaknya pemuda asing itu. Dalam
keterkejutan untuk beberapa saat lamanya kedua orang ini saling berpandangan.
“Maaf saudari...” si pemuda akhirnya membuka mulut. Suaranya halus dan sikapnya sopan.
“Kalau aku boleh bertanya, apakah di sini tempat kediaman Eyang Wulur Pamenang?”
Wulandari tak segera menjawab. Dia meneliti pemuda itu sesaat baru menganggukkan
kepala.
“Apakah saat ini beliau ada di dalam?” Wulandari mengangguk lagi. “Dapatkah aku bertemu
dengan beliau?” Sebelum Wulandari menjawab dari dalam pondok terdengar suara gurunya.
“Tamu yang datang, silahkan masuk ke dalam pondokku yang buruk.”
IZRO'IL
Hidung Belang Berkipas Sakti


Wulandari memberi jalan. Si pemuda lalu masuk ke dalam pondok. Di bagian depan pondok
pemuda itu melihat seorang tua duduk bersila di atas sehelai kulit kambing putih.
Dipangkuannya ada seuntai tasbih warna kuning yang memancarkan sinar terang.
Begitu sampai di hadapan si orang tua, pemuda tadi jatuhkan diri berlutut. Eyang Wulur
Pamenang adalah seorang yang paling tidak senang dihormati secara berlebihan, apalagi pakai
berlutut segala. Buru-buru dia berkata:
“Duduklah di tikar. Katakan siapa kau, datang dari mana dan ada keperluan apa
mencariku.”
Si pemuda duduk bersila di hadapan Eyang Wulur Pamenang. Dia tidak segera membuka
mulut memberikan jawaban. Tampaknya ada sesuatu yang mengganjalnya.
“Anak muda, kau belum menjawab pertanyaanku,” menegur Wulur Pamenang.
“Eyang, saya bernama Handaka. Datang dari desa Kembiring, dua minggu perjalanan dari
sini. Saya....”
Si pemuda tak bisa meneruskan kata-katanya.
“Anak muda, tenanglah hatimu. Bicaralah biasa. Tak usah ragu-ragu. Tak ada yang
dikawatirkan di sini.”
“Saya, saya mencari Eyang karena malapetaka besar telah menimpa kampung saya
termasuk orang tua serta saudara-saudara saya.”
“Malapetaka apakah yang telah menimpa desa serta keluargamu?”
Si pemuda lantas menerangkan. “Sehari sebelum terjadinya malapetaka itu seorang
anggota gerombolan rampok yang dipimpin oleh Warok Grimbil telah kedapatan mati dalam
cara amat mengerikan. Mayatnya ditemukan dalam desa kami. Sekujur tubuhnya mulai dari
kepala sampai ke kaki hancur lumat bekas dicincang. Tak seorangpun tahu siapa yang
membunuhnya dan bagaimana bisa berada di desa kami. Kemudian datanglah malapetaka itu.
Warok Grimbil dan orang-orangnya menyangka bahwa penduduk Kembiringlah yang telah
membunuh anak buah dan teman mereka itu. Malam hari, ketika penduduk sedang tidur Warok
Grimbil dan anak buahnya datang menyerbu. Setiap bangunan di desa dibakar. Semua orang
dibunuh. Tak perduli orang tua, perempuan ataupun anak-anak yang tidak berdosa. Setelah
melakukan perbuatan biadab itu gerombolan rampok membawa harta benda dan ternak
penduduk lalu melarikan diri...”
Eyang Wulur Pamenang termenung. Memang sudah sejak lama mendengar kejahatan yang
dilakukan oleh gerombolan rampok pimpinan Warok Grimbil seorang jahat yang berkepandaian
tinggi.
“Kau sendiri bagaimana bisa menyelamatkan diri?” bertanya Wulur pamenang.
“Sewaktu bencana itu terjadi, saya berada di desa tetangga. Melihat kepulan asap dan
langit merah tanda ada kebakaran, saya cepat-cepat kembali ke Kembiring. Yang saya temui
hanya kemusnahan yang memilukan dan mengerikan. Di mana-mana mayat berkaparan,
Warok Grimbil dan anak buahnya telah melarikan diri di hadapan reruntuhan rumah saya, saya
temui kedua orang tua saya dan semua saudara-saudara menemui ajal dengan cara yang
mengerikan. Ketika saya menangis seperti orang gila, lapat-lapat saya dengar suara orang
menggerang sambil memanggil nama saya. Orang itu ternyata adalah sahabat dan tetangga
saya. Tubuhnya penuh luka bekas tusukan senjata tajam. Dalam keadaan sekarat Ia masih bisa
menerangkan bahwa Warok Grimbil bersama anak-anak buahnyalah yang telah melakukan
kebiadaban itu....”
Ketika Handaka mengakhiri ceritanya suasana dalam pondok ini menjadi sunyi sampai
akhirnya Eyang Wulur Pamenang membuka mulut:
“Setelah kejadian itu, kau langsung menuju kemari?”
“Betul Eyang.”
“Tentunya dengan mengandung sesuatu maksud.”
“Benar. Tentang maksud itu saya rasa Eyang tentu sudah maklum.”
“Ah, aku yang sudah tua ini terlalu pikun untuk meraba maksud seseorang.”
“Eyang... apa yang telah terjadi dengan orang tua dan saudara-saudara saya, telah
menimbulkan satu dendam kesumat yang berurat berakar dalam dada saya. Walau
bagaimanapun, dan sampai di manapun saya harus membalaskan sakit hati kematian orangorang
yang saya kasihi itu. Namun saya menyadari, seorang diri tak mungkin untuk melakukan
pembalasan. Apalagi mengingat saya tidak memiliki kepandaian apapun. Karena itulah saya
datang kemari untuk meminta bantuan Eyang. Sudilah kiranya Eyang mengambil saya jadi
murid. Perkenankan saya menerima sejurus dua jurus ilmu silat dari Eyang....”
Lama Wukir Pamenang termenung. Ada beberapa hal yang membuat dia tidak bisa
memberikan jawaban dengan segera.
Kejahatan orang-orang macam Warok Grimbil sudah semestinya ditumpas. Namun
menerima pemuda bernama Handaka itu untuk jadi muridnya terasa agak berat bagi orang tua
ini. Dia telah mempunyai dua orang murid yaitu Sanjaya dan Wulandari. Di samping itu usianya
telah terlalu tua untuk memberikan pelajaran-pelalaran dasar pada seorang murid baru.
Kemudian ada satu hal yang membuat dia merasa keberatan untuk mengambil Handaka jadi
muridnya. Dia melihat satu bayangan pada wajah pemuda ini.
Sepasang mata Wulur Pamenang yang tajam penuh pengalaman disertai perasaan hati
yang arif melihat bahwa ada sifat-sifat buruk tertentu mengendap dalam diri pemuda itu.
Namun untuk tidak mengecewakan Handaka, Wulur Pamenang tidak mau menyatakan
penolakannya secara terang-terangan. SebaliknYa dia berkata:
“Handaka, ketahuilah dari sekian banyak sifat-sifat buruk di dalam dunia ini satu di
antaranya adalah dendam dan balas dendam. Dendam yang selalu dilampiaskan tak akan
habis-habisnya sampai turun temurun. Warok Grimbil dan anak-anak buahnya telah membunuh
orang tuamu, saudara-saudaramu serta sahabat-sahabatmu sedesa. Layak kalau rasa sakit hati
dan dendam berurat berakar dalam tubuhmu. Satu-satunya tekad yang ada dalam hatimu saat
ini adalah balas dendam!
Katakanlah pembalasan berhasil kau lakukan. Warok Grimbil dan anak-anak buahnya
berhasil kau bunuh. Namun tanpa setahumu Warok Grimbil mungkin memiliki seorang putera
yang kelak kemudian hari akan menuntut balas pula atas kematian ayahnya. Demikian
seterusnya tiada henti.
Semua ini terjadi lain tidak karena manusia-manusia tidak dapat menahan nafsu untuk
balas dendam melampiaskan sakit hati dan pembalasan. Lalu bagaimanakah jadinya jika hal itu
berlangsung demikian rupa terus menerus? Dapat kau bayangkan sendiri Handaka.
Orang-orang yang tidak ada sangkut paut dan dosa apa-apa harus menemui kematian
dengan cara mengenaskan. Kemanusiaan dan kebenaran sudah tidak dipikirkan lagi oleh
manusia-manusia yang katanya beradab. Mereka berubah menjadi binatang. Malah lebih jahat
dari binatang. Karenanya kuharap kau bisa menahan diri. Bersabar menghadapi musibah atau
cobaan besar ini. Tidak terpengaruh untuk menempuh jalan sesaat yang akan merugikan
dirimu sendiri, bahkan banyak orang!”
Setelah berdiam diri beberapa lamanya baru Handaka membuka mulut memberikan
jawaban:
“Semua yang Eyang katakan itu memang benar. Tapi jika boleh saya menjawab, saya ingin
mengajukan satu pertanyaan. Apakah akan dibiarkan saja manusia-manusia macam Warok
Grimbil itu hidup terus malang melintang berbuat kejahatan, membunuh, merampok,
memperkosa?”
Wulur Pamenang tersenyum dan menjawab:
“Betul Handaka. Betul sekali kalau kau mengajukan pertanyaan seperti itu. Sebagai
jawabannya ingin kukatakan padamu bahwa di dunia ini bukan hanya manusia-manusia saja
yang bisa mengambil tindakan. Lebih dari itu kekuasaan Tuhan berada di mana-mana. Kelak
manusia macam Warok Grimbil dan anak-anak buahnya akan mendapat hukuman dan
pembalasan dari-Nya!”
Kini Handaka yang ganti tersenyum.
“Seorang manusia yang cuma berlepas tangan menunggu pembalasan Tuhan tanpa
mengadakan usaha sama sekali, sama saja dia mati dalam hidupnya. Dan apakah arti serta
gunanya hidup semacam itu?”
“Kepala sama berambut Handaka, rambut sama hitam. Tapi jalan pikiran orang berbeda
satu dengan lainnya...” kata Eyang Wulur Pamenang pula. Ucapan pemuda itu tadi telah
membuat wajahnya yang tua jadi berubah kemerahan,
“Betul Eyang, tetapi setiap manusia yang bijaksana akan berusaha mengambil jalan ke arah
yang benar. Mungkin Eyang kurang atau tidak dapat merasakan sakit hati seseorang yang
mengalami musibah matapetaka seperti saya ini. Karena Eyang tidak terlibat. Karena Eyang
tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana lusinan mayat manusia tak berdosa
berhamburan dalam keadaan mengerikan. Mayat perempuan-perempuan tua, perempuan
hamil, anak-anak bahkan bayi yang masih merahi”
Wulur Pamenang memandangi tasbih hijau di pangkuannya lalu berkata:
“Baiklah Handaka. Aku mengerti perasaan serta tekadmu. Semuanya kufahami. Namun bila
kau menghendaki aku mengambilmu jadi munid, sesungguhnya kau telah datang ke tempat
yang salah....”
“Salah bagaimana Eyang?” tanya Handaka tak mengerti.
“Orang tua pikun yang hampir masuk liang kubur macamku ini, ilmu kepandaian apakah
yang kumiliki dan bisa kuajarkan padamu?”
“Ah, Eyang terlampau merendahkan diri. Delapan penjuru angin dunia persilatan boleh
dikatakan sudah mengenal nama besar Eyang.”
“Akan lebih baik jika kau mencari guru lain yang lebih segala-galanya dariku. Hingga kelak
kau benar-benar menjadi seorang pemuda yang berilmu tinggi”
“Eyang,” sahut Handaka. “Saya telah datang kemari karena tekad saya sudah bulat hanya
akan berguru kepada Eyang, tidak kepada orang lain. Akan Eyang kecewakankah manusia
bernasib buruk ini?”
“Aku telah mempunyai dua orang murid. Tak mungkin aku harus menerimamu pula....”
“Tak mungkin? Mengapa tidak mungkin Eyang?” tanya Handaka.
Tapi orang tua itu tidak menjawab. Setelah menunggu dan tidak kunjung ada sahutan,
Handaka berkata:
“Baiklah Eyang, memaksa orang yang tidak mau adalah tidak baik. Seperti saya katakan,
saya tidak berniat mencari guru lain. Jika saya turun dari puncak gunung Slamet ini, dengan
ilmu yang bernama ketabahan hati dan kesabaran serta senjata sepasang tangan ini saya akan
mencari Warok Grimbil. Apakah saya bakal dapat membunuhnya atau kepala saya yang bakal
menggelinding lebih dulu, entahlah…”
Handaka menjura di hadapan Eyang Wulur Pamenang lalu berdiri.
“Sebelum saya pergi Eyang, pernah saya mendengar ucapan seorang tua di desa. Katanya
Seorang yang berilmu tetapi tidak mau mengamalkan dan mengajarkan ilmunya kepada orang
lain, sama artinya dengan seorang paling tolol di dunia ini. Dan kelak orang itu akan mati
dalam ketololannya. Apakah ucapan orang tua itu benar atau tidak harap Eyang sudi
merenungkannya…”
Sekali lagi pemuda itu menjura lalu membalikkan tubuh. Pada saat Handaka mencapai
ambang pintu dan siap untuk melangkah keluar pondok tiba-tiba didengarnya Eyang Wulur
Pamenang memanggil :
“Handaka, kembalilah! Aku akan mengambilmu jadi murid!”
7
Enam bulan telah berlalu sejak kedatangan Handaka dan sejak pemuda itu diambil
menjadi murid Eyang Wulur Pamenang di puncak gunung Slamet. Orang tua itu memang
merasa heran melihat Handaka dapat mengikuti setiap pelajaran silat yang diberikan
dengan cepat hingga hanya dalam waktu enam bulan dia benar-benar telah menguasai ilmu
silat yang diturunkan kepadanya.
Pemuda ini luar biasa, demikian Wulur Pamenang berpendapat. Dia merasa tidak kecewa
mendapatkan murid seperti Handaka.
Sebagai dua orang saudara seperguruan tentu saja hubungan Wulandari dengan Handaka
rapat sekali. Mereka sering berlatih berdua, sering bercakap-cakap. Sedikit demi sedikit rasa
sepi yang ada di hati Wulandari karena ditinggal Sanjaya menjadi berkurang bahkan akhirnya
pupus sama sekali. Harus diakui bahwa Handaka bukan saja lebih gagah parasnya dari Sanjaya
tetapi juga pandai bicara, suka bercerita dan sering melucu.
Pada mulanya hubungan mereka tidak lebih dari apa yang telah dilukiskan di atas. Namun
lambat laun Wulandari menyadari bahwa dari pihak Handaka hubungan itu telah dipandang
secara lain. Sampai pada suatu hari ketika mereka sedang berdua-dua di tepi telaga Handaka
mengatakan bahwa dia mencintal gadis itu.
Wulandari bukan seorang gadis yang mudah berubah haluan. Sekali dia mencintai
seseorang dia akan mencintai selama-lamanya. Akan tetapi sudah lumrah seorang gadis yang
kesepian kadangkala tidak sanggup menghadapi godaan dari pemuda lain. Apalagi dari seorang
pemuda setampan Handaka yang pandai bicara lihay merayu. Hubungan mereka sehari-hari
yang selalu berdekatan itu lambat laun membuat Wulandari menjadi mulai tertarik pada
Handaka,
Gadis ini mulai membanding-banding antara Handaka dengan Sanjaya yang jauh di
Kotaraja. Dan cinta, bilamana sudah sampai pada tingkat banding membandingkan tanda
umurnya tak akan lama lagi!
Demikianlah kalau dulu hampir setiap saat Wulandari tak pernah melupakan Sanjaya setiap
malam hampir tak pernah dia lupa berdoa untuk keselamatan kekasihnya itu, maka kini mulai
dilupakan Wulandari.
Sebagai seorang tua lanjut usia yang dalam waktu tidak lama lagi kelak bakal menutup
mata, sekali seminggu Wulur Pamenang pergi ke puncak Slamet paling tinggi dan sunyi untuk
bersemedi, bertafakur dalam sebuah goa.
Kesempatan-kesempatan seperti inilah yang memberikan peluang-peluang baik pada
Handaka dan Wulandari. Mula-mula hanya saling pandang memandang. Kemudian meningkat
saling beremesan tangan. Lalu lebih berani lagi, lebih berani lagi hingga keadaan keduanya
tidak beda dengan hubungan suami istri.
Bagaimanapun juga lambat laun Wulur Pamenang akhirnya mengetahui jalinan hubungan
antara kedua muridnya itu. Namun tak pernah diduganya sama sekali kalau hubungan mereka
sudah demikian rapatnya, melewati batas-batas hubungan adik dengan kakak, hubungan
saudara seperguruan, Wulur Pamenang memutuskan untuk menjauhkan kedua orang itu secara
halus. Handaka akan disuruhnya mendirikan sebuah pondok di lereng barat gunung Slamet.
Namun sebelum hal itu dilakukannya, Wulur Pamenang keburu mengetahui bahwa satu hal
luar biasa telah terjadi atas diri murid perempuannya itu. Rasa marah dan kecewa bertumpuk
di hati si orang tua. Menyesal mengapa dia dulu mengambil Handaka jadi murid. Kesemuanya
itu menumpuk menjadi kemarahan yang meluap.
Ketika Handaka sedang berlatih silat di tepi telaga Wulur Pamenang membawa Wulandari ke
ruang dalam pondok.
“Mungkin kau sudah bisa menduga kenapa aku memanggilmu, Wulan?”
Sang murid memandang wajah gurunya sejenak. Hatinya berdebar. Ada kelainan pada
wajah itu kini, juga kelainan pada nada suaranya.
“Mana mungkin saya menduganya Eyang,” kata Wulandari pula.
“Sejak beberapa lama ini aku merasa curiga melihat hubunganmu dengan Handaka.” Bicara
sampai di situ Wulur Pamenang dapat melihat perubahan pada wajah muridnya. Lalu dia
melanjutkan:
“Hari ini kupanggil kau karena jelas kulihat ada perubahan pada dirimu. Pada tubuh
jasmanimu.”
“Pe... perubahan apa maksud Eyang....” Wulandari gugup. “Saya merasa tidak ada
perubahan apa-apa....”
“Kau gugup Wulan....”
“Karena... karena saya terkejut mendengar ucapan Eyang tadi.”
Wulur Pamenang tersenyum rawan.
“Kau pandai bicara sekarang Wulan. Dan pandai serta berani pula berdusta kepadaku. Lebih
dari itu kau telah menipu dirimu sendiri. Selama bertahun-tahun kau di sini tak pernah
kuajarkan padamu ilmu berdusta dan menipu diri. Kenapa tahu-tahu sekarang kau bisa berbuat
begitu? Apakah Handaka yang telah mengajarkannya padamu?”
Sampai di situ mulut Wulan terkancing rapat. Kepalanya ditundukkan. Sepasang matanya
tidak dapat lagi menatap ke arah sang guru sedang wajahnya merah sampai ke telinga.
“Kau sudah ditunangkan dengan Sanjaya. Apa kau lupa hal itu?”
Kepala Wulandari semakin tertunduk.
“Jawab, kau lupa?”
“Tidak Eyang, saya tidak lupa....”
“Bagus. Kalau kau betul-betul tidak lupa. Lalu mengapa kau bermain api dengan pemuda
lain? Mengapa kau menjalin cinta dengan Handaka?”
“Eyang, saya... saya tidak....” Wulandari tak dapat meneruskan kata-katanya. Sebagai
gantinya dari mulutnya mulai terdengar isak tangis. Kedua tangannya ditutupkan ke wajah.
“Diam!” bentak Wulur Pamenang. “Aku paling benci melihat orang menangis. Terutama
yang menangis karena kesalahannya sendiri!”
Wulandari menyusut air matanya. Ditahannya tangis yang hendak meledak sedapatdapatnya.
“Sejak akhir-akhir ini kau tidak senang lagi dengan nasi dan sayuran. Kau jarang makan.
Lebih banyak makan asam-asaman dan buah-buahan. Pembawaan seperti itu hanya ada pada
diri perempuan yang sedang hamil! Apa kau juga hamil Wulan? Jawab pertanyaanku?“
“Eyang... saya... saya.”
“Katakan saja. Kau hamil atau tidak?!” hardik sang guru.
“Tidak Eyang... saya tidak hamil.. Hanya... hanya kurang enak badan sejak beberapa hari
ini....”
“Murid penipu!” bentak Wulur Pamenang seraya berdiri dari tikar kulit kambing yang
didudukinya. Dia menunjuk ke pintu. “Tidak kusangka akan sekotor itu hatimu. Tidak kusangka
kau berani bicara dusta terhadap gurumu! Pondok yang kudirikan ini kau nodai dengan
perbuatan mesum! Kau betul-betul terkutuk. Mulai hari ini kau tidak kusukai sebagai murid
lagi! Kau kuusir dan sini! Pergi!”
“Eyang...!” Wulandari jatuhkan diri. “Ampuni muridmu ini!”
“Jangan bersujud dihadapanku. Aku bukan Tuhanmu! Jangan minta ampun padaku! Karena
dosamu bukan padaku. Tapi pada Sanjaya, pada Tuhan! Aku tidak sudi melihatmu lagi! Aku
tidak sudi dalam pondok kelak lahir seorang anak haram!”
Wulandari yang tidak tahan lagi mendengar kata-kata gurunya itu menggerung dan lari ke
luar pondok.
Wulur Pamenang katupkan rahangnya rapat-rapat. Pelipisnya bergerak-gerak. Lalu dia
melangkah ke pintu dan cepat-cepat menuju ke telaga.
Di situ Handaka tengah melatih ilmu silatnya seorang diri.
“Pemuda keparat hidung belang! Hentikan latihanmu! Mulai detik ini kau tidak kuizinkan
mempergunakan ilmu silat yang kuajarkan padamu!”
Handaka tampak terkejut mendengar bentakan itu. Dihentikannya gerakannya dan
berpaling dengan cepat. Dilihatnya Eyang Wulur Pamenang berdiri tolak pinggang. Mukanya
merah laksana bara dan matanya berapi-api.
“Eyang, dengan siapakah Eyang bicara?” bertanya pemuda itu.
Justru pertanyaan ini membuat Wulur Pamenang tambah menggelegak amarahnya.
“bangs*t! Dengan siapa lagi kalau bukan dengan manusia dajal sepertimu!”
Sepasang mata Handaka yang sipit menjadi tambah sipit.
“Ada apakah hingga Eyang sampai marah begini rupa...?”
Wulur Pamenang mendengus.
“Kau masih bisa berpura-pura bertanya!”
“Saya tidak mengerti. Agaknya telah terjadi sesuatu…?”
“Memang telah terjadi sesuatu! Dan sesuatu itu kau yang menjadi biang keladinya! lngat
sewaktu kau dulu mengemis minta aku mengambilmu jadi murid! Setelah aku berbelas kasihan
mau menerimamu di sini, semua itu kini kau balas dengan noda besar! Kau main gila dengan
Wulandari. Padahal kau tahu gadis itu sudah ditunangkan dengan Sanjaya! Kau rayu dia! Kau
bujuk dan kau rusak kehormatannya. Kini gadis itu hamil! Kau benar-benar manusia bejat!”
“Eyang, sebaiknya kita panggil Wulandari ke sini agar kita....”
“Tak usah banyak bicara! Gadis itu sudah kuusir. Dan kaupun musti angkat kaki dari sini.
Tapi sebelumnya hukuman yang setimpal akan kujatuhkan atas dirimu. Ulurkan kedua tanganmu!”
“Eyang, kau mau bikin apa...?” tanya Handaka.
“Ulurkan kedua tanganmu manusia murtad. Jangan banyak tanya!” hardik Wulur Pamenang.
Karena Handaka tidak mau mengulurkan tangannya maka naik pitamlah si orang tua. Dari hidungnya ke luar suara mendengus. Rahangnya bergemeletak. Dia melompat. Tangannya kiri kanan dalam gerakan yang luar biasa cepatnya menyambar ke arah kedua tangan Handaka.
Wulur Pamenang yang telah banyak pengalaman dan memiliki ilmu tinggi yakin sekali bahwa sekali bergerak dia bakal dapat meringkus murid terkutuk itu.
Namun betapa terkejutnya ketika Handaka berhasil mengelakkan serangannya. Jika saja Handaka mengandalkan kecepatan bergerak untuk mengelakkan serangan tersebut, si orang tua tak akan demikian terkejutnya. Tapi disaksikannya sendiri si pemuda mengelakkan serangannya tadi dalam gerakan ilmu silat aneh yang sama sekali tak pernah diajarkannya pada Handaka!
Heran bercampur marah Wulur Pamenang kembali menyerang si pemuda. Dan sekali inipun Handaka berhasil berkelit dengan mempergunakan gerakan ilmu silat lain!
“Murid mesum! Jadi ternyata kau memiliki ilmu silat lain?! Bagus! Akan kuberi hajaran padamu dalam dua jurus!”
Habis berkata begitu Wulur Pamenang berkelebat lenyap. Di lain detik dua buah angin
pukulan tangan kosong yang dahsyat menderu ke arah dada dan perut Handaka.
Si pemuda keluarkan bentakan nyaring. Tubuhnyapun lenyap. Sesaat kemudian terdengar
seruan tertahan ke luar dari mulut Eyang Wulur Pamenang.
Betapakan tidak!
Serangan yang dilancarkan tadi merupakan salah satu dari beberapa buah serangan
terhebat yang dimilikinya, bernama “Dua Naga Sakti Berebut Mangsa.” Tak pernah seorang
musuhpun sebelumnya sanggup mengelakkan dua jotosan itu sekaligus. Karena
kedahsyatannya jarang dia mengeluarkan pukulan maut itu. Namun kini serangannya itu tidak
membawa hasil apa-apa. Bahkan dia merasakan kedua tangannya bergetar sewaktu dipapasi
serangan balasan yang dilancarkan Handaka! Bertambah terkejutlah orang tua ini. Mungkinkah
Handaka telah memiliki ilmu silat tinggi sebelum dia mengambilnya jadi murid?
Lalu apa maksud pemuda ini sesungguhnya datang kepadanya? Siapakah dia sebenarnya?
Melihat Wulur Pamenang tertegun di hadapannya, Handaka lalu keluarkan suara tertawa.
“Wulur Pamenang!” kata pemuda ini seenaknya memanggil tanpa sebutan Eyang, seolaholah
dia bicara dengan orang yang seusia dengan dirinya. “Kenapa kau tertegun? Bukankah kau
sendiri yang memerintahkan agar aku tidak boleh mempergunakan ilmu silat yang kupelajari
darimu? Mengapa heran kalau aku terpaksa mengeluarkan ilmu silat yang lebih hebat dan lebih
berguna dari ilmu silat jenis picisan yang kau ajarkan padaku?!”
Muka Wulur Pamenang merah sampai ke telinga. Seluruh tenaga dalamnya dialirkan ke
kedua telapak tangan. Tubuhnya bergetar, pelipisnya bergerak-gerak dan sepasang matanya
seperti mau melompat dari rongganya.
“Dajal bermuka manusia!” desis Wulur Pamenang. “Aku sudah berpantang dan bertobat
untuk tidak membunuh! Namun hari ini biarlah aku menanggung dosa asal aku dapat
mengirimmu ke dasar neraka!”
Wulur Pamenang tutup ucapannya dengan pukul kedua tangannya ke depan. Terdengar
suara menderu. Bumi laksana dilanda topan. Tanah bergetar. Debu dan pasir beterbangan.
Semak belukar rambas berhamburan. Daun-daun berguguran dan beberapa pohon rambas
tumbang.
Dikejap itu dua larik sinar hijau berkiblat mengerikan. Apapun yang ada di depan kedua
sinar itu pasti musnah!
Wulur Pamenang turunkan kedua tangannya dan memandang ke depan. Handaka tak
tampak lagi dihadapannya. Tak dapat tidak pemuda itu pasti sudah menemui kematian dengan
keadaan tubuh mengerikan.
Tapi laksana mendengar petir di liang telinganya, begitulah kagetnya Wulur Pamenang
ketika didengarnya suara tertawa bergalak. Orang tua ini memutar tubuhnya dengan cepat.
Handaka berdiri di depannya. Tangan kiri bertolak pinggang sedang tangan kanan memegang
sebuah kipas hitam yang dikibas-kibaskan di depan mukanya sambil tersenyum mengejek?
Kontan air muka Wulur Pamenang berubah total ketika melihat kipas hitam di tangan
Handaka itu.
“Kipas Pemusnah Raga...!” seru orang tua itu setengah tercekik. “Pemuda dajal dari mana
kau dapat kipas sakti itu?!”
Handaka tertawa gelak-gelak.
“Mukamu pucat melihat kipas ini? Ha... ha.... Dari mana aku mendapatkan itu bukan
urusanmu?!”
“Sret!”
Handaka menggoyangkan tangannya. Kipas hitam itu terkembang lebih lebar.
“Wulur Pamenang, karena kau benar-benar inginkan jiwaku, kalau tidak kuhabisi kau
sekarang di lain hari tentu kau hanya akan membikin repotku saja! Nah, selamat jalan ke alam
baka!”
Habis berkata begitu Handaka mengibaskan kipasnya ke arah Wulur Pamenang. Si orang
tua yang telah maklum akan kehebatan senjata sakti di tangan lawan secepat kilat
mengeluarkan senjata andalan nya yakni sebuah tasbih hijau. Ketika sinar hitam pekat yang
keluar dari Kipas Pemusnah Raga berkelebat deras kearahnya, orang tua ini cepat memapaskan
tasbih hijaunya dengan sebat. Sinar hijau berkelibat menangkis datangnya sambaran sinar
hitam.
Sesaat kemudian terdengarkan suara menggelegar!
Tasbih di tangan Wulur Pamenang hancur bertaburan. Orang tua ini sendiri terpelanting
jauh dan menyangsang di semak-semak. Sekujur tubuhnya hitam hangus seperti terpanggang.
Handaka memandang sebentar pada kedua kakinya yang amblas ke tanah sampai
seperempat jengkal,
“Hebat juga tenaga dalam monyet tua itu…” katanya dalam hati. Lalu sambil kipas-kipasan
senjatanya ditinggalkannya tempat itu. Dari mulutnya tiada henti keluar suara tertawa
mengakak.
IZRO'IL
Hidung Belang Berkipas Sakti



8
Serombongan pasukan bekuda kerajaan yang berjumlah tigapuluh orang dibawah pimpinan seorang perwira muda, kelihatan ke luar dari pintu gerbang tenggara, bergerak cepat menuju ke selatan. Perwira muda itu bukan lain adalah Sanjaya yang telah mengabdikan diri pada Kerajaan. Dia membawa pasukannya ke arah kaki gunung Slamet menuju hutan Walu dimana menurut keterangan disitulah bersarangnya gerombolan perampok jahat yang dipimpin oleh Warok Grimbil.
Karena Sanjaya mengetahui seluk-beluk daerah sekitar kaki gunung itu, maka Sri Baginda telah mempercayakannya untuk memimpin pasukan Kerajaan guna menumpas gerombolan Warok Grimbil.
Akhir-akhir ini memang kejahatan yang dilakukan oleh Warok Grimbil dan anak-anak buahnya sudah sangat di luar batas. Hampir setiap hari ada saja kampung atau desa yang menjadi korban keganasannya. Berkali-kali pasukan kerajaan mencoba melakukan penyergapan dan pengejaran, namun sampai sebegitu jauh semua usaha yang dilakukan untuk membasmi geromboan itu tak kunjung berhasil.
Kini dibawah pimpinan Sanjaya, murid Wulur Pamenang dari gunung Slamet kembali prajurit-prajurit Kerajaan turun tangan. Apakah akan berhasil atau tidak, kenyataanlah nanti yang akan menentukan.
Pada malam hari mereka berhasil mencapai tepi timur hutan Walu, Sanjaya memerintahkan pasukannya untuk berhenti dan berkemah di situ. Mereka berkemah tanpa menyalakan api unggun dan sengaja dicari tempat yang gelap pekat serta perlindungan oleh semak-belukar lebat. Karena jika mereka sampai terlihat oleh gerombolan Warok Grimbil pasti akan sia-sialah rencana pembasmian itu.
Malam itu, sebelum masuk ke dalam tendanya, lama sekali Sanjaya berdiri memandang ke sebelah utara, di mana dalam kegelapan malam, jauh di sana kelihatan menghitam lereng gunung Slamet. Telah sepuluh purnama dia meninggalkan gurunya dan tak pernah melihat kekasihnya Wulandari. Telah sekian lama dia membendung kerinduan. Dia yakin gadis itu tetap menantinya di puncak Slamet.
Masih terngiang ucapan perpisahan Wulandari sewaktu dia akan pergi dulu: “Hati-hati. Dan
lekas kembali…”
Dari balik pakaiannya Sanjaya mengeluarkan tusuk kundai perak yang tempo hari diberikan
oleh Wulandari. Setiap dia merindukan gadis itu, benda itu selalu dikeluarkannya, dipandang
dan ditimangnya, dibelai serta diciumnya. Namun perasaan rindu tak bisa dilenyapkannya
seluruhnya.
“Dua purnama lagi, bila Sri Baginda memberi izin aku akan menjengukmu Wulan...” bisik
Sanjaya. Lalu perwira muda ini masuk ke dalam tendanya.
Ketika malam yang gelap sampai pada saat sedingin dan sesunyi-sunyinya, mendadak
terdengar teriakan beberapa prajurit yang bertugas mengawal.
“Semua bangun Kita diserang!”
Suasana yang tadi sunyi-senyap kini menjadi hiruk pikuk kacau-balau. Beberapa buah
tenda tampak terbakar. Kira-kira dua lusin manusia berseragam hitam muncul dari tempattempat
gelap, langsung menyerbu dengan berbagai senjata tajam.
Sanjaya melompat bangun, menyambar pedang dan keluar dari tenda. Prajurit-prajurit
dilihatnya tengah bertempur melawan para penyerang. Dari pakaian serta tampang-tampang
mereka yang kotor tak terurus Sanjaya segera maklum bahwa penyerang adalah gerombolan jahat. Dari gerombolan mana lagi yang berada di sekitar tempat ini kalau bukan gerombolannya Warok Grimbil?
Sebuah benda melesat ke arah Sanjaya. Perwira muda itu cepat putar pedangnya. Anak panah yang hendak menghantam dadanya jatuh patah dua ke tanah. Sanjaya tak menunggu lebih lama, segera terjun ke tengah-tengah kancah pertempuran.
Pertempuran dalam gelap-gulita itu berjalan Seru. Suara beradunya senjata berselangseling dengan suara mereka yang terpekik karena luka. Korban mulai berjatuhan di kedua belah pihak. Sanjaya mengamuk hebat. Ini membuat penyerang menjadi kacau dan mulai mundur.
“Mana pemimpin kalian?!” teriak Sanjaya.
Sebagai jawaban terdengar satu suitan keras. Para penyerang serta-merta melompat
mundur dan melarikan diri ke dalam rimba belantara yang gelap.
“Jangan kejar!” seru Sanjaya ketika dilihatnya beberapa anak buahnya hendak melakukan
pengejaran.
Kerugian yang diderita pihak Sanjaya cukup besar. Enam tenda musnah dimakan api. Tujuh
prajurit menemui ajal. Di pihak penyerang delapan orang tewas, seorang tertangkap hiduphidup,
Namun sebelum sempat ditanyai orang ini keburu meninggal karena luka-luka parah
yang dideritanya.
Pagi harinya setelah prajurit-prajurit yang gugur dikuburkan di tepi hutan Walu, Sanjaya
kembali memimpin pasukannya memasuki rimba belantara itu. Mereka bergerak dengan sangat
hati-hati. Meskipun hutan itu liar dan rapat namun jelas kelihatan bekas-bekas yang dilalui
manusia.
Sanjaya menunggangi kudanya di depan sekali. Dengan adanya penyerbuan malam tadi
jelaslah bahwa kedatangan rombongannya telah diketahui oleh Warok Grimbil. Di satu tempat
Sanjaya membagi dua pasukannya. Yang pertama terdiri dari sepuluh orang langsung dibawah
pimpinannya. Sisanya sebanyak dua belas orang dibawah pimpinan seorang perwira. Kelompok
pertama bergerak di sebelah depan, kelompok kedua menyusul di belakang dalam jarak dua
ratus langkah.
Di satu tempat kelompok terdepan membelok ke kiri sedang kelompok kedua bergerak ke
jurusan kanan. Sesuai dengan rencana yang telah diatur Sanjaya dan orang-orangnya akan
lebih dulu menyerbu ke sarang Warok Grimbil. Jika pertempuran sudah berkecamuk baru
kelompok kedua menyerbu memberikan bantuan.
Sanjaya menghentikan kudanya dan memberi pada anak buahnva. Lima belas meter di
hadapan mereka kelihatan sebuah rumah. Rumah pertama dan terdekat dari perkampungan
perampok. Perwira muda ini meneliti suasana. Menurut taksirannya di perkampungan di tengah
hutan itu paling tidak terdapat sekitar tujuh sampai delapan rumah. Ditambah dengan sebuah
bangunan yang agak besar. Dapat dipastikan bangunan besar ini adalah tempat kediaman
Warok Grimbil selaku pimpinan gerombolan. Perkampungan itu tampak sunyi, tenang.
Seorang perempuan tengah menjemur pakaian di samping sebuah rumah. Dua orang
lainnya menumbuk padi di halaman. Tak seorang anggota rampokpun kelihatan. Mungkinkah
Warok Grimbil dan orang-orangnya tengah pergi melakukan perampokan? Ini sama sekali tak
masuk akal. Karena dengan tewasnya banyak anggotanya malam tadi serta bahaya akan
diserang pagi hari tentunya Warok Grimbil tidak akan melakukan hal itu. Sanjaya menduga
keras Warok Grimbil telah menyusun satu rencana jebakan. Seorang prajunit dikirim untuk
menyelidiki sekeliling kampung. Tak berapa lama kemudian prajurit ini kembali.
“Tak ada tanda-tanda bahwa Warok Grimbil dan orang-orangnya sembunyi di sekitar
kampung.” prajurit itu melapor.
“Aneh,” kata Sanjaya. “Kita tunggu sampai sepeminuman teh....”
Sepeminuman teh lewat. Sanjaya memberi isyarat pada anak buahnya. Mereka bergerak
dengan cepat ke tengah perkampungan. Orang-orang perempuan yang ada di luar tampak
terkejut melihat kedatangan prajurit-prajurit kerajaan. Ketakutan dan terbirit-birit mereka
masuk ke dalam rumah masing-masing.
“Kalian orang-orang perempuan tak usah takut!” seru Sanjaya dari atas kudanya. Dia
memandang tajam berkeliling. Masih belum kelihatan seorang rampok pun.
“Mana orang laki-laki? Apakah mereka dan Warok Grimbil bersembunyi dalan rumah?!”
berseru Sanjaya.
Tak ada yang menjawab. Setiap pintu rumah kelihatan tertutup. Sanjaya menunggu. Dia
jadi kesal. Didekatinya sebuah rumah dan digedor pintunya. Pintu terbuka. Dan keluarlah
perempuan yang tadi tampak menjemur pakalan.
“Lekas katakan di mana rampok-rampok yang tinggal di sini?!”
Perempuan itu menggelengkan kepalanya.
“Kau tidak tahu atau gagu?!” sentak Sanjaya.
“Warok Grimbil membawa mereka pagi-pagi tadi..” perempuan itu menerangkan.
“Semuanya?”
“Mereka menuju ke mana?” tanya Sanjaya lagi.
“Tidak tahu. Tak seorang pun diberitahu…”
Sanjaya menunjuk ke rumah paling besar di tengah kampung
“Itu rumahnya Warok Grimbil?”
“Benar.”
“Siapa yang ada di dalamnya…”
“Empat perempuan muda peliharaan Warok....” Sanjaya memberi isyarat pada anak-anak
buahnya lalu bergerak ke arah rumah besar. Suasana di dalam rumah besar itu kelihatan sunyi.
Sanjaya mendorong daun pintu. Ternyata tidak dikunci. Dari atas kudanya dia dapat melihat
empat orang perempuan duduk berjejer di ruangan dalam. Keempatnya masih muda dan
memiliki paras cantik. Yang membuat perwira muda ini jadi menahan napas ialah karena empat
perempuan tersebut duduk di tempat masing-masing tanpa mengenakan pakaian! Malah ketika
melihat Sanjaya dan prajurit-prajurit itu di pintu, mereka tersenyum, menggeser duduk
masing-masing hingga sikap mereka benar-benar menantang dan mengundang! Prajuritprajurit
Kerajaan jadi melotot tak berkesip dan teguk air liur!
Salah seorang dari empat perempuan bertelanjang itu melambaikan tangannya dan
berkata:
“Kalian petugas-petugas Kerajaan silakan masuk! Warok berpesan bahwa tamu mana saja
yang datang harus disambut dengan hormat dan hangat!”
Sepasang mata Sanjaya menyipit. Dari suasana yang dihadapinya sekarang ini semakin
yakin dia bahwa Warok Grimbil betul-betul tengah memasang satu jebakan berbahaya. Dia
memberi tanda pada orang—orangnya agar berlaku waspada.
“Mana Warok Grimbil dan anak buahnya?” tanya Sanjaya pada perempuan di dalam rumah.
“Masuklah. Mari kita bicara di dalam sini..” menjawab perempuan di ujung kiri.
Perempuan yang di sampingnya menyambung “Jauh-jauh dari Kotaraja kau tentu haus
perwira muda. Haus dan letih. Mari masuk minum anggur dan melemaskan otot-ototmu....”
Perempuan berikutnya menimpali:
“Masuklah, minum anggur dan bersenang-senang lalu tidur....”
Muka Sanjaya menjadi merah. Dia berkata “Kalian dengar baik-baik. Siapa saja yang ada di
sini bisa kami tangkap. Kami berjanji akan membebaskan kalian jika kalian mau mengatakan di
mana Warok Grimbil dan anak buahnya.”
Keempat perempuan itu tiba-tiba serentak berdiri. Tubuhnya yang telanjang bulat itu
kelihatan jelas dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Masukah perwira, tak pantas bicara dari luar saja...” kata salah seorang dari mereka
sambil membusungkan dadanya yang padat.
“Geledah rumah ini!” perintah Sanjaya.
Lima orang prajurit serentak hendak turun dari kudanya.
Justru pada saat itu entah dari mana datangnya, melayanglah sebuah anak panah dan
menancap tepat di samping pintu sebelah kanan. Pada ekor anak panah terikat sehelai kertas
yang ternyata sepucuk surat dan ditujukan pada pasukan Kerajaan.
Sanjaya merenggutkan surat tersebut lalu membaca isinya. Di situ hanya tertulis satu baris
kalimat dengan huruf-hurufnya berbunyi:
“SELAMAT DATANG DAN SELAMAT MAMPUS!”

9
Pada detik Sanjaya selesai membaca sebaris kalimat itu, pada saat itu pula di sekitarnya
terdengar suara pekik riuh rendah. Empat perempuan telanjang di dalam rumah lenyap
masuk ke dalam sebuah kamar. Seorang prajurit di samping Sanjaya mengeluarkan
seruan tertahan. Sebatang anak panah menancap di dadanya. Tak ampun lagi prajurit ini
meliuk dan jatuh dari punggung kuda.
Tiba batang anak panah dalam pada itu melesat ke arah Sanjaya. Murid Wulur Pamenang
ini dengan cekatan pergunakan ujung tali les kudanya untuk menghantam mental ketiga anak
panah itu! Ketika dia memandang berkeliling kelihatanlah sekitar dua lusin manusia
berseragam hitam bertampang ganas bersenjata pedang dan golok, bahkan ada yang
membawa kapak, menyerbu ke arah mereka.
Di belakang sana seorang lelaki bertubuh pendek katai berjalan lenggang kangkung
seenaknya. Di tangan kirinya dia memegang sebuah bumbung berisi puluhan anak panah.
Tanpa mempergunakan busur, tapi dengan jalan melemparkan anak-anak panah itu dengan
tangannya, dia melakukan serangan panah tiada henti, terutama sekali ke arah Sanjaya. Hebat
sekali daya lempar manusia ini. Meskipun belum pernah bertemu muka sebelumnya namun
Sanjaya telah menduga bahwa manusia katai bermata liar dan bercambang bawuk ini pastilah
si pemimpin rampok Warok Grimbil. Tanpa tunggu lebih lama Sanjaya segera cabut pedangnya.
Sembilan pajurit terpilih di bawah pimpinan murid Wulur Pamenang itu dengan gagah
berani baku hantam menghadapi dua puluh empat rampok ganas. Hebat sekali jalannya
pertempuran. Menghadapi lawan yang lebih banyak di atas kuda kurang memberikan
keleluasaan, malah amat membahayakan bagi yang punya diri. Menyadari hal ini setelah
bertempur dua jurus Sanjaya berteriak memberi aba-aba agar semua anak buahnya melompat
turun dari kuda masing-masing.
Seorang prajurit yang kurang hati-hati waktu melompat turun kena disambar perutnya oleh
ujung golok lawan hingga bobol dan ususnya membusai. Dengan demikian jumlah orang-orang
Kerajaan hanya tinggal delapan orang kini, sembilan dengan Sanjaya.
Walau hati geram tetapi mereka tetap memakai perhitungan sambil menunggu datangnya
bala bantuan kelompok kedua. Sanjaya mengamuk dengan pedangnya. Dua orang rampok
tergelimpang roboh. Satu lagi kemudian menjenit dengan leher hampir putus. Melihat ini para
perampok yang mengurung memperciut kurungannya hingga Sanjaya dan anak buahnya
terjepit di tengah kalangan pertempuran. Namun mereka terus menghadapi lawan dengan
semangat tinggi penuh ketabahan.
Dua prajunit Kerajaan roboh, dan ini harus diimbangi oleh empat nyawa anggota rampok.
Warok Grimbil yang sejak tadi hanya tegak menyaksikan jalannya pertempuran sambil sekalisekali
melemparkan panah, kini melompat ke muka. Lima batang anak panah terakhir yang
dipegangnya sekaligus dilemparkannya ke arah Sanjaya. Anak-anak panah ini melesat ke arah
lima bagian tubuh Sanjaya. Empat anak panah berhasil dihantam runtuh dengan putaran
pedang. Anak panah ke lima masih sempat menyerempet bahu kiri pemuda itu.
“Perwira keparat! Mari sini! Aku lawanmu!” teriak Warok Grimbil. Orangnya katai kecil. Tapi
suaranya besar luar biasa. Apalagi teriakannya tadi disertai dengan tenaga dalam hingga
terdengar hebat menggetarkan dada.
“Manusia kerdi!, jadi kau ini biang durjana yang bernama Warok Grimbi!?” tanya Sanjaya
sambil melintangkan pedang di muka dada.
“Anjing Kerajaan! Kurobek mulutmu!” bentak Warok Grimbil marah sekali. Tangan
kanannya bergerak dan tahu-tahu selusin senjata rahasia berbentuk paku rebana telah melesat
ke arah Sanjaya!
Murid Wulur Pamenang itu kaget bukan kepalang. Tak disangkanya kepala rampok itu
memiliki kecepatan luar biasa dalam melancarkan serangan mendadak. Untung saja saat itu dia
dalam sikap melintangkan pedang di depan dada. Hingga dengan sigap dia bisa pergunakan
senjata itu untuk melindungi diri. Delapan paku rebana berhasil dihantam mental, tiga buah
dapat dikelit tapi yang satu lainnya menancap di bahu kiri, dekat luka bekas serempetan anak
panah.
Sanjaya menggigit bibir menahan sakit dan cabut senjata rahasa itu dari bahunya. Di
hadapannya Warok Grimbil melompat, lima jari tangan kirinya bergerak ke mulut Sanjaya siap
untuk merobek tapi dapat dikelit.
Warok Grimbil ketawa mengekeh.
“Anjing Kerajaan, nyatanya tak seberapa kehebatanmu. Kau datang hanya untuk
mengantar nyawa!”
“Warok Grimbil manusia biadab! Jika kau masih ingin hidup menyerahlah. Niscaya Kerajaan akan mengurangi hukumanmu!” bentak Sanjaya.
“Hukum?” Sepasang ails mata Warok Grimbil mencuat naik. Lalu dia tertawa gelak-gelak.
“Seumur hidupku aku tak pernah kenal hukum! Persetan dengan segala hukum!”
“Jika begitu kematian memang pantas untukmu. Neraka sudah lama menantimu!”
Kembali Warok Grimbil tertawa gelak-gelak.
“Justru di sinilah bangkaimu akan menggeletak dan membusuk!” tukas pemimpin rampok hutan Walu itu.
“Perlawananmu akan sia-sia! Kau dan anak buahmu sudah terkurung. Perhatikan sekelilingmu!”
Bola mata Warok Grimbil berputar liar, memandang berkeliling. Saat itu memang dilihatnya kira-kira selusin prajurit Kerajaan yang menunggang kuda dan bersenjata lengkap menyeruak dari semak belukar, bergerak dalam posisi mengurung.
Warok Grimbil tertawa mengejek.
“Siapa takut pada kacoak-kacoak Kerajaan?” katanya. Lalu mendengus dan gerakan kedua tangannya sekaligus!
Tangan pertama melepaskan satu pukulan ke arah Sanjaya, yang satu lagi ke jurusan prajurit-prajurit yang baru datang.
Sanjaya yang memang sudah bersiap-siap denqan cepat melompat selamatkan diri.
Sebaliknya dua orang prajurit di muka sana, yang tidak menduga kalau bakal mendapat serangan, terjungkal dari kuda masing-masing, menggelepar-gelepar beberapa kali di tanah, lalu diam tak bergerak lagi.
“Warok Grimbil! Lihat pedang!” terdengar seruan Sanjaya. Dan sinar pedang berkiblat ke arah kepala rampok itu.
Warok Grimbil menyingkir sebat dan serentak membalas dengan pukulan tangan kosong lagi. Tapi Sanjaya tak mau memberi kesempatan, mengirimkan satu tebasan ganas ke arah tangan lawan hingga pemimpin rampok ini sambil memaki terpaksa tarik pulang tangannya.
Dalam jumlah kedua belah pihak kini tampak berimbang sehingga kecamuk pertempuran semakin menggila. Korban-korban berjatuhan hampir setiap dua jurus.
Beberapa bulan yang lalu Warok Grimbil dan anak buahnya pernah disergap pasukan Kerajaan dibawah pimpinan dua orang perwira. Bukan saja para penjahat itu berhasil menghadapi pasukan Kerajaan tapi bahkan tak seorangpun yang mereka biarkan hidup.
Semula Warok Grimbil menyangka bahwa pasukan yang datang kali ini juga bakal dapat dibereskannya dalam waktu singkat. Namun hatinya jadi tergetar ketika melihat kenyataan bahwa perwira muda yang memimpin pasukan Kerajaan itu bukan orang sembarangan.
Kepandaiannya jauh lebih tinggi dari dua perwira yang dulu pernah dibunuhnya! Karenanya sebelum mendapat celaka kepala rampok ini segera keluarkan senjata yang amat diandalkan yakni sebuah keris berwarna ungu yang ujungnya bercabang dua dan agak melengkung sedang gagangnya berukir kepala kelabang. Keris ini bernama “Kelabang Ungu”.
Dari sinar yang memancari di tubuh senjata itu Sanjaya segera maklum kalau keris lawan adalah sejenis senjata yang tidak boleh dianggap remeh. Cepat-cepat Sanjaya lancarkan serangan berantai. Warok Grimbil berkelit gesit. Tubuhnya yang katai itu lenyap dari pemandangan. Kini hanya sinar ungu kerisnya saja yang tampak bergulung-gulung, menyambar ganas kian kemari! Anginnya bersiur dan memerihkan kulit.
Meskipun keris di tangan Warok Grimbil merupakan senjata sakti berbahaya, namun menghadapi sebatang pedang d tangan Sanjaya, kepala rampok ini tidak bisa berbuat banyak.
Beberapa kali sudah senjatanya bentrokan dengan pedang lawan. Kepala rampok ini diam-diam mengeluh karena setiap bentrokan yang terjadi dia segera mengetahui bahwa tenaga dalam lawannya masih muda itu berada dua atau tiga tingkat di atasnya!
Tiba-tiba dari mulut Warok Grimbil keluar satu teriakan dahsyat. Permainan silatnya mendadak sontak berubah. Senjatanya bertabur laksana curahan hujan dan membuat Sanjaya menjadi bingung.
Sebelum perwira muda ini bisa mengimbangi jurus-jurus aneh yang dimainkan lawannya itu tiba tiba dirasakannya badan pedangnya telah terjepit di atas kedua ujung bercabang keris “Kelabang Ungu”
Cepat-cepat Sanjaya hendak menarik pedangnya. Namun jepitan itu ketat luar biasa. Sekali Warok Grimbil memutar lengannya maka patahlah pedang Sanjaya.
Warok Grimbil tertawa panjang.
“Ajalmu sudah di depan mata, perwira!” seru Warok Grimbil.
Tapi kepala rampok ini terlalu cepat bergembira.
Sanjaya yang sudah memaklumi bahaya apa yang dihadapinya, begitu pedangnya patah, pada kejap itu pula dia mengirimkan satu tendangan kilat ke depan!
Warok Grimbil kaget bukan main, tapi juga penasaran. Kelabang Ungu dibabatkannya ke bawah, ke arah kaki Sanjaya. Namun apa yang dilakukannya sudah tenlambat. Kaki kanan lawan datang lebih cepat. Sedapat-dapatnya Warok Grimbil jatuhkan diri ke samping secara nekat. Kenekatannya tidak membawa hasil yang diharapkan karena kaki kanan Sanjaya masih sempat menghantam siku tangan kanannya hingga siku itu bukan saja tanggal dari persendiannya tetapi juga hancur tulangnya.
Jeritan kepala rampok itu setinggi langit. Dia tak peduli lagi ke mana mental dan jatuhnya keris Kelabang Ungu. Dia melompat dua tombak menjauhi Sanjaya. Tak mungkin lagi baginya untuk meneruskan perkelahian. Anak-anak buahnya yang melihat keadaan pemimpin mereka jadi ciut nyalinya. Hendak lari merasa takut karena belum mendapatkan perintah.
“Ringkus dia!” penintah Sanjaya.
Lima orang prajurit segera bergerak. Untuk meringkus pemimpin rampok yang tak berdaya dan kesakitan setengah mati itu.
Tapi dalam detik itu terjadilah hal yang sangat mengejutkan laksana adanya geledek di siang bolong.
“Adikku Grimbil! Siapa yang berani kurang ajar menyakitimu?!”
Satu bentakan nyaring terdengar disusul oleh jeritan-jeritan mengerikan. Lima prajurit yang tadi hendak meringkus Warok Grimbil menjerit. Kelimanya berdiri terhuyung-huyung sambil pegangi leher masing-masing. Dari leher itu menyembur darah. Ketika Sanjaya memperhatikan dengan mata membelalak ternyata leher ke lima prajurit telah ditancapi sebuah pisau kecil!
Satu demi satu prajurit-prajurit yang malang ini roboh ke tanah dan tak bergerak lagi selamalamanya.
Apakah yang telah terjadi? Siapakah yang punya perbuatan membunuh lima prajurit itu hanya dalam sekejapan mata saja?

10
Suasana sehening di pekuburan. Semua yang bertempur laksana dipukau oleh satu kekuatan gaib. Semua sama memutar kepala, berpaling ke jurusan munculnya seorang nenek-nenek aneh bertubuh kurus kering, bermuka perot. Seperti Warok Grimbil, neneknenek ini pun memiliki tubuh pendek katai. Dia mengenakan jubah yang amat dalam hingga menjela sampai ke tanah. Setiap langkah yang dibuatnya menyebabkan debu mengepul ke udara.
Jubah yang dikenakannya bukan jubah sembarangan jubah. Pakaian ini mulai dari atas sampai ke bawah digantungi dengan puluhan bahkan mungkin ratusan pisau-pisau kecil. Pisaupisau seperti inilah yang telah mengakhiri nyawa lima prajurit Kerajaan tadi!
“Muning Kwengi!” seru Warok Grimbil. Suara dan wajahnya menunjukkan kegembiraan luar biasa. Semangat dan nyalinya tampak berkobar kembali ketika melihat siapa yang datang.
Demikian pula anggota-anggota rampok lainnya yang sebenarnya sudah siap-siap untuk ambil langkah seribu.
“Muning! Syukur kau datang! Lekas bunuh kerak-kerak Kerajaan itu! Perwira keparat ini lebih dulu!”
Muning Kwengi, demikian nama si nenek katai ternyata adalah kakak kandung Warok Grimbil. Dia bertempat tinggal di sebuah pulau di pantai utara. Dalam dunia persilatan karena kehebatannya memainkan pisau kecil nenek ini diberi julukan “Iblis Pisau Terbang.”
Seperti juga adiknya Muning Kwengi pun bukanlah manusia baik-baik. Ilmu kepandaiannya
dipergunakan untuk malang-melintang berbuat kejahatan sekehendak hatinya. Di samping itu
nenek tua yang hanya tinggal beberapa meter dari liang kubur ini juga ternyata masih genit,
suka daun muda alias senang pada laki-laki yang jauh lebih muda apalagi tampan. Memandang
kepada adiknya dan melirik pada Sanjaya si nenek muka perot cengar-cengir lalu berkata:
“Hanya seekor kucing dapur begini kau sudah tidak mampu menghadapinya Grimbil? Huh,
betul-betul membuat aku tidak punya muka menjadi kakakmu!”
Muning Kwengi memandang berkeliling. Lalu membentak pada anggota-anggota rampok
yang memandang angker padanya.
“Kalian kenapa melongo?! Ayo musnahkan prajurit-prajurit Kerajaan itu! Itu urusan kalian!”
Anak-anak buah Warok Grimbil yang sudah tahu siapa adanya nenek tua tersebut, timbul
kembali keberaniannya. Mereka serempak menyerbu prajurit-prajurit Kerajaan.
Muning Kwengi maju dua langkah, kedip-kedipkan mata kirinya lalu menuding dengan jari
telunjuk tangan kirinya tepat-tepat ke arah Sanjaya yang tegak delapan langkah di
hadapannya.
“Perwira, membunuhmu sama mudahnya dengan membalikkan telapak tanganku....”
“Begitu?!” tukas Sanjaya. Sejak tadi dia sudah berwaspada. Cara muncul dan gerak-gerik
nenek ini cukup menyatakan bahwa dia bukan sembarangan.
Tingkat ilmunya jauh lebih hebat dari Warok Grimbil, mungkin mendekati kepandaian
gurunya Eyang Wulur Pamenang.
Si nenek tertawa dan kedipkan lagi mata kirinya.
“Sangat mudah!” kata Muning Kwengi pula. “Tapi orang segagahmu terlalu sayang kalau
harus mati muda mati percuma. Jika kau bersedia ikut denganku dan jadi peliharaanku selama
lima tahun, akan kuampuni kau punya jiwa!”
Air muka Sanjaya menjadi gelap merah. Muning Kwengi tertawa gelak-gelak.
“Tua bangka peot! Tak tahu diburuk diri! Tak ingat liang kubur sudah menganga masih saja
punya otak kotor cabul!”
“Ahai! Orang muda, jangan bicara keliwat menghina!” sahut Muning Kwengi seraya usapusap
kedua pipinya yang kempot berkerut. “Aku memang sudah tua... sudah peot! Tapi bukan
tua sembarang tua. Bukan peot sembarang peot! Sekali kau merasakan kehangatan pelukanku,
sekali kau tidur bersamaku, seumur hidup kau akan mengekor ke mana aku pergi! Hik... hik...
hik... hik!”
Warok Grimbil yang tidak sabar melihat tingkah laku kakaknya itu berteriak “Muning! Kau
tunggu apa lagi? Bunuh bangs*t itu!”
“Sabar... sabar adikku! Kalau aku bisa mendapatkan keuntungan dari daun muda ini
bukankah lebih baik dia dibiarkan hidup untuk sementara?!”
Warok Grimbil mengomel panjang pendek. Dia maklum tak bakal dapat memaksa kakaknya
yang beradat aneh itu. Saking kesal akhirnya dia duduk menjelepok di tanah sambil coba
mengobati cedera di sikunya.
“Perwira,” kembali Muning Kwengi membuka mulut sambil kedipkan mata kiri dan
sunggingkan senyum di mulut yang perot. “Coba kau pikir baik-baik. Inginkan hidup berarti kau
bakal mendapat banyak kenikmatan dariku. Inginkan mati maka kau bakal menemul ajal
secara mengenaskan detik ini juga! Nah, pilih mana?”
“Aku lebih suka mati berkalang tanah daripada menjadi budak peliharaan manusia mesum
macammu!” jawab Sanjaya.
Si nenek geleng-geleng kepala.
“Apakah musti kubuktikan sekali lagi bahwa kematianmu itu nantinya benar-benar amat
mengerikan? Nah kau saksikanlah!”
Hampir tak terlihat kapan dia menggerakkan kedua tangannya tiba-tiba terdengar suara
bergemerincingan. Sedetik kemudian diikuti oleh pekik susul menyusul. Sanjaya memutar
tubuh ke belakang. Delapan prajurit Kerajaan yang tengah bertempur melawan anggota
rampok roboh menggeletak. Di kepala masing-masing menancap pisau kecil yang telah
dilemparkan Muning Kwengi!
Ketegangan yang menggantung di udara dirobek oleh suara tawa cekikikan Muning Kwengi!
“Indah atau sangat mengerikan kematian itu hai perwira muda?”
“Memang mengerikan perempuan iblis!” sahut Sanjaya dengan kertakkan rahang. “Tapi
tidak lebih mengerikan dari kematian yang bakal kau terima. Lihat!”
Sanjaya pukulkan tangan kanannya ke depan. Selarik sinar yang memiliki tiga warna yaitu
merah, biru dan kuning menderu ke arah Muning Kwengi.
“Pukulan Tiga Racun!” seru si nenek dan cepat-cepat menyingkir. “Ladalah! Apakah kau
muridnya si Wulur Pamenang?! Jadi si tua bangka perot itu masih juga belum mampus hah?!”
“Hatimu jahat dan mulutmu kotor!” teriak Sanjaya. Pemuda itu marah sekali karena
gurunya dihina dengan sebutan demikian rupa. Kali ini dia lancarkan lagi Pukulan Tiga Racun
dengan tangan kiri kanan.
Muning Kwengi jatuhkan diri sama rata dengan tanah. Serentak dengan itu dia cabut lima
buah pisau kecil dan melemparkannya ke arah Sanjaya. Karena saat itu dia tidak bersenjata
terpaksa pemuda ini jatuhkan diri ke tanah. Namun dari belakang sana Muning Kwengi kembali
melemparkan lima buah pisau. Sanjaya bergulingan di tanah. Tapi tak urung salah satu pisau
itu masih sempat menghantam tubuhnya, menancap di dada sebelah kanan!
Perwira muda itu mengeluh. Dengan menahan sakit dia cabut pisau tersebut langsung
menyerbu ke arah si nenek. Muning Kwengi alias Iblis Pisau Terbang menyambut dengan tawa
mengejek. Tubuhnya berkelebat lenyap. Dia sama sekali tidak melancarkan serangan. Agaknya
sengaja memamerkan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi. Dengan berkelebat kian kemari
laksana bayang-bayang semua serangan Sanjaya dielakkannya dengan gampang.
Di saat itu Sanjaya merasakan dadanya yang bekas ditancapi pisau lawan sakit sekali.
Nafasnya menyesak dan kerongkongannya panas seperti tersekat. Serangannya menjadi
kendor bahkan ketika pandangannya menjadi gelap pemuda ini hanya bisa berdiri terhuyunghuyung.
Bumi ini laksana terbalik di matanya.
Muning Kwengi tersenyum. “Racun pisau telah bekerja... racun pisau telah bekerja,”
katanya dalam hati lalu hentikan gerakannya. Dia maju beberapa langkah menghampiri
Sanjaya dan berkata:
“Orang muda, sekarang maut ada di depan hidungmu. Jika kau bersedia ikut denganku,
akan kuberikan obat penawar racun. Tapi jika kau tetap membandel, satu jam dimuka
nyawamu tak akan tertolong lagi...!”
“Lebih baik mati. Seribu kali lebih baik mati daripada menyerahkan diri ikut dengan iblis
macammu!” sahut Sanjaya. Suaranya demikian perlahan seperti berbisik. Kedua kakinya
tertekuk. Tubuhnya terkulai dan jatuh ke tanah. Dari mulutnya ke luar ludah membusah.
Dalam keadaan seperti itu dilihatnya Warok Grimbil memungut sebatang golok dan lari ke
arahnya seraya berteriak:
“Muning Kwengi! Jika kau tidak mau membunuhnya, biar aku yang bikin mampus bangs*t
ini!”
Sesaat kemudian golok di tangan kiri kepala rampok itu diayunkan ke arah batok kepala
Sanjaya. Si perwira muda ini tak mampu berbuat apapun selain diam menunggu kematian.
Sekujur tubuhnya panas dingin akibat racun pisau. Di saat kematian datang itu terbayang
olehnya wajah gurunya, wajah Wulandari. Terakhir sekali dia berseru menyebut nama Tuhan!
Selama seorang manusia tidak melupakan Tuhannya maka selama itu pula Tuhan ingat
kepadanya. Begitulah yang terjadi dengan Sanjaya.
Pada detik golok di tangan Warok Grimbil akan membelah batok kepala perwira muda itu,
entah dari mana datangnya, melayanglah sebuah batu sebesar kepalan. Terdengar pekik
kepala rampok itu. Sikut kirinya hancur. Golok terlepas dari tangannya. Dengan demikian
kedua sikut kiri kanan kepala rampok ini mengalami cedera parah.
Sebelum Sanjaya jatuh pingsan masih sempat dilihatnya kemunculan seorang pemuda
berambut gondrong, berpakaian serba putih, berdiri di bawah cucuran atap sebuah rumah
sambil bertolak pinggang dan cengar-cengir seenaknya seperti orang kurang waras!
IZRO'IL
Hidung Belang Berkipas Sakti



11
Anjing kurap! Setan alas! Siapa kau?!" bentak Muning Kwengi menggeledek dan marah
sementara adiknya Warok Grimbil terkapar di tanah mengerang kesakitan. Pemuda di
bawah cucuran atap kembali menyeringai dan keluarkan suara bersiul.
"Haram jadah!" maki Muning Kwengi.
Sekali tangannya bergerak lima pisau kecil terbang ke arah si pemuda. Di seberang sana
pemuda berambut gondrong itu kembali keluarkan suara bersiul. Dia telah lama mendengar
kehebatan nenek-nenek bertubuh katai itu. Karenanya begitu diserang segera dia pukulkan
tangan kirinya. Satu gelombang angin bersiur menerpa lima pisau terbang. Senjata-senjata
maut beracun itu mental dan hebatnya kini membalik menggempur pemiliknya sendiri!
Kagetnya Muning Kwengi bukan alang kepalang. Cepat dia menyingkir. Selama malang
melintang memegang gelar lblis Pisau Terbang hanya ada satu tokoh silat yang pernah
membendung bahkan mengembalikan serangan pisaunya. Tokoh silat itu adalah Dewi Siluman
Dari Bukit Tunggul yang kini sudah mati yaitu ketika terjadi perselisihan antara sesama tokohtokoh
golongan hitam. Dengan mata membeliak hatinya bertanya-tanya siapa gerangan adanya
pemuda berambut gondrong yang memiliki kepandaian bukan sembarangan ini!
"Muning Kwengi!" Tiba-tiba si pemuda berseru, membuat kaget si nenek.
"Ladalah! Kowe kenal namaku!" tukas lblis Pisau Terbang.
Tanpa acuhkan keterkejutan orang si rambut gondrong kembali berkata: "Seminggu lalu
secara biadab kau menghancurkan seluruh pesantren Bintang Hijau di lembah Beringin ...."
"Oh, jadi kau anak murid pesantren Bintang Hijau yang datang untuk menuntut balas?!"
sentak Muning Kwengi.
"Siapa aku, kau tak perlu tahu! Setiap orang yang berada di jalan kebenaran berhak
meminta pertanggungan jawabmu atas semua kejahatan yang telah kau lakukan!"
"Hebat sekali!" sahut Muning Kwengi lalu tertawa panjang. "Enam tokoh silat kelas satu
pernah mengeroyokku satu bulan lalu. Mereka juga bicara tentang segala macam kebenaran
dan tanggung jawab! Dan mereka semua mampus di tanganku!"
"Memang betul! Ada kalanya kejahatan itu dapat menghancurkan kebenaran, tapi tidak
selamanya...."
"Ah ucapanmu tinggi dan sombong. Melihat tampangmu yang tolol kau tentu bukan seorang
terpelajar, apalagi sastrawan! Disamping itu aku tidak terlalu suka mendengar obrolan panjang
lebar. Lekas terangkan siapa kau dan ilmu kepandaian apa yang hendak kau andalkan hingga
berani datang untuk jual tampang di hadapanku si lblis Pisau Terbang?"
"Aku utusan kematian! Mewakili malaikat maut untuk minta roh busukmu!" sahut pemuda
berambut gondrong.
Menggelegaklah kemarahan Muning Kwengi. Rahangnya bertonjolan dan matanya
membeliak. Didahului oleh pekikan keras nenek-nenek ini melompat ke muka seraya lancarkan
satu tendangan dan dua pukulan tangan kosong yang hebat!
"Ciat!"
Pemuda rambut gondrong membentak nyaring dan berkelebat ke samping. Tangannya yang
mengepal dipukulkan ke depan. Terdengar angin bersiur. Muning Kwengi tersentak kaget ketika
merasakan tubuhnya terapung di udara tak bisa maju lagi laksana ditahan oleh selapis dinding
yang amat atos!
"Dinding Angin Berhembus Tindih Menindih!" seru nenek katai itu begitu dia mengenali
pukulan pertahanan yang dilepaskan lawan. Melihat kenyataan ini tergetarlah hatinya. Mukanya
menjadi pucat. Kini dia sudah dapat memastikan siapa adanya pemuda gondrong itu!
Sebagai tokoh silat golongan yang sudah terkenal di delapan penjuru angin tentu saja
Muning Kwengi tidak mau memperlihatkan kegentarannya. Setelah melompat ke samping guna
menghindarkan terpaan angin pukulan lawan, secepat kilat dia lemparkan setengah lusin pisau
beracun. Serangan ini masih disusul lagi dengan satu pukulan tangan kosong yang
mengeluarkan sinar biru menggidikkan!
Baik pisau terbang maupun pukulan tangan kosong keduanya sama mengandung racun
yang amat jahat.
Pemuda rambut gondrong melompat, dua tombak ke udara. Dari atas dia lalu melepaskan
satu pukulan dahsyat yang selama ini merupakan pukulan yang telah menggetarkan dunia
persilatan.
lblis Pisau Terbang berseru tegang ketika melihat sinar putih menyilaukan laksana kilat dari
langit menyambar panas ke arahnya!
"Pukulan Sinar Matahari!"
Nenek-nenek itu membuang diri ke samping kiri, bergulingan di tanah untuk kemudian
berdiri dengan kedua tangan dipentangkan di depan dada, menjaga segala kemungkinan
sementara wajahnya yang keriput kelihatan bertambah pucat.
Pukulan Sinar Matahari yang dilepaskan si pemuda yang dengan demikian menyatakan
bahwa dia adalah bukan lain Wiro Sableng yang bergelar Pendekar Kapak Maut Geni 212, murid
Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede!
Seruan Muning Kwengi yang menyebut nama pukulan yang barusan dilepas lawan lenyap
ditelan gelegar suara beradunya sinar pukulan itu dengan sinar biru yang dilepaskan Muning
Kwengi untuk mempertahankan diri.
Dua pukulan itu laksana raksasa, berkecamuk, bergelungan, lalu memecah ke kiri untuk
kemudian menyerempet sisa-sisa prajurit-prajurit dan anggota-anggota rampok yang masih
bertempur. Terdengar pekik-pekik kematian. Semuanya berkaparan di tanah dengan tubuh
hangus laksana dipanggang!
Muning Kwengi merasakan dadanya berdenyut-denyut. Menggempur pemuda itu sampai
lima puluh atau seratus jurus sekalipun belum tentu dirinya akan sanggup mengalahkannya.
Karenanya daripada membuang-buang waktu dan bukan mustahil dia bisa celaka maka neneknenek
ini segera menyambar dan mendukung tubuh adiknya. Untuk tidak kehilangan muka dia
berkata:
"Pendekar 212! Sayang aku tak punya waktu banyak. Jika nyalimu benar-benar besar aku
tunggu kau! Malam bulan purnama besar di pekuburan Blumbung!"
"Nenek-nenek keriput! Kau mau ke mana?!" sentak Wiro Sableng. "Apa yang telah kau
mulai hari ini, harus diselesaikan hari ini juga!"
lblis Pisau Terbang pencongkan mulut. Uengan tangan kanannya dilemparkannya tiga buah
pisau ke arah Wiro Sableng. Pendekar ini cepat menghantam serangan lawan dengan pukulan
tangan kosong. Namun pisau-pisau yang dilemparkan si nenek kali ini bukan sembarangan
pisau. Karena begitu angin pukulan Wiro membentur badan pisau, ketiga pisau itu yang bagian
dalamnya mempunyai rongga, meledak dan tiga gulungan asap hitam menggebubu menutupi
pemandangan!
"Kurang ajar!" maki Wiro dan sadar kalau sudah tertipu. Tak menunggu lebih lama dia
segera lepaskan dua pukulan Sinar Matahari ke jurusan di mana Muning Kwengi sebelumnya
tadi berdiri. Tapi si nenek katai tidak roboh. Begitu asap bertabur dia melompat tiga tombak ke
samping kiri untuk kemudian lenyap di dalam rimba belantara bersama adiknya.
Wiro Sableng garuk-garuk kepala dan memandang berkeliling. Mayat bertaburan dimanamana.
Perkampungan di tengah hutan itu sesunyi di pekuburan. Wiro melangkah mendekati
sosok tubuh Sanjaya. Ditotoknya tubuh perwira yang malang itu di beberapa bagian kemudian
dipanggulnya meninggalkan tempat itu.
Di barat langit telah kuning kemerahan. Sebentar lagi sang surya akan segera tenggelam.
Pendekar 212 Wiro Sableng tinggalkan hutan Walu dengan berlari cepat ke jurusan selatan.
Telaga itu terletak di antara dua kaki bukit. Bulan sabit tampak menggantung tinggi di
langit, sebentar-sebentar tertutup angin kelabu yang berarak ke arah timur. Sebuah api
unggun menyala di salah satu tepian telaga. Tak berapa jauh dari api unggun kelihatan dua
orang lelaki duduk berhadap-hadapan.
"Sebaiknya kau berbaring saja perwira. Agar kau bisa istirahat dan jalan darahmu teratur
...."
"Ah, lagi-lagi kau memanggilku dengan sebutan perwira itu Wiro. Namaku Sanjaya ...."
Wiro cuma menyengir. "Berbaringlah..." katanya lagi.
Sanjaya gelengkan kepala. Dia memandang pada balutan di dadanya.
"Bubuk obat yang kau berikan ternyata mujarab sekali. Aku telah berhutang nyawa
terhadapmu...."
"Jangan kau sebut-sebut lagi hal itu ...."
"Menyebutnya atau tidak namun itu adalah kenyataan."
Sanjaya diam seketika. Lalu: "Bagaimana kau bisa muncul di perkampungan rampok itu?"
tanyanya kemudian.
"Aku memang sudah sejak lama memburu bangs*t tua berjuluk lblis Pisau Terbang itu.
Kejahatannya benar-benar telah lewat takaran. Terakhir sekali dia memusnahkan secara kejam
pesantren Bintang Hijau di lembah Beringin. Jejaknya kuikuti sampai ke dalam rimba belantara
Walu. Justru kuketahui di situ juga bersarang gerombolan rampok ganas pimpinan Warok
Grimbil. Menurut keterangan yang kudapat Warok Grimbil masih bersaudara kandung dengan
lblis Pisau Terbang. Kujelajahi rimba belantara dan akhirnya betul-betul bertemu dua manusia
jahat itu. Tapi sayang, keduanya berhasil meloloskan diri!" Lalu Wiro menerangkan bagaimana
dia telah tertipu oleh tiga pisau terbang Muning Kwengi.
Karena sudah merasa sangat dekat dengan Wiro maka tanpa ditanya Sanjaya menuturkan
pula tugas yang dijalankannya atas perintah Sri Baginda yakni untuk membasmi komplotan
rampok jahat Warok Grimbil, menangkap pemimpinnya hidup atau mati.
"Semua prajuritku menemui kematian," keluh Sanjaya. "Bagaimana aku bisa kembali ke
Kotaraja begini rupa?!"
"Tak usah kawatir, cepat atau lambat tentu ada orang lain yang akan membekuk kedua
manusia jahat itu."
"Betul, tapi aku yang ditugaskan untuk membasminya justru aku sendiri yang selamat.
Tidak mustahil orang akan berprasangka buruk padaku ...."
"Kalah atau menang dalam satu pertempuran adalah satu hal yang lumrah sobat,"
menghibur Wiro.
"Yah, kekalahan yang terlalu pahit untuk ditelan," desis Sanjaya. Dia teringat pada gurunya
dan menyambung dengan suara perlahan: "Yang akan mengalami kekecewaan besar adalah
Eyang Wulur Pamenang, guruku. Dia tentu malu mempunyai seorang murid yang tidak berguna
macamku ini. Aku sendiri tak punya muka untuk bertemu dengan dia ...."
Wiro Sableng garuk-garuk kepala dan tertawa. "Jangan putus asa Sanjaya. Kita harus ingat,
betapapun tingginya ilmu seseorang kelak ada lain orang yang lebih tinggi kepandaiannya. Di
luar langit ada langit lagi. Begitu orang memberi perumpamaan ...."
Sanjaya menghela nafas dalam dan memandang ke utara di mana dalam gelapnya malam
sepasang matanya masih mampu melihat puncak gunung Slamet menghitam di kejauhan.
Berada di situ pemuda ini sama sekali tidak mengetahui malapetaka yang telah menimpa
gurunya serta tunangannya dua bulan yang lewat.

12
Kedai Pak Tanu terletak di tengah pasar di pusat kota Bumiayu, merupakan kedai yang
buka siang malam di kota kecil itu. Karena Bumiayu menjadi pusat persimpangan lalulintas
dari lima jurusan maka meskipun kecil tapi sepanjang hari sampai malam kota ini
senantiasa ramai.
Kedai pak Tanu terkenal sampai ke mana-mana dan selalu ramai pengunjungnya.
Sebenarnya makanan yang dimasak bu Tanu tidak terlalu luar biasa. Namun orang selalu
datang ke sana untuk makan atau minum karena harganya murah. Dan ada hal lain lagi yang
membuat orang mengalir sepanjang hari masuk ke kedai tersebut.
Pak Tanu mempunyai dua orang anak. Satu lelaki seusia sepuluh tahun sedang satu lagi
perempuan yang sudah remaja puteri, berkulit hitam manis dan berparas cantik. Hidung
mancung, bibir kecil, dagu laksana lebih bergantung. Leher jenjang, alis laksana bulan sabit
dan bulu mata panjang melentik. Ditambah pula dengan lenggang lenggoknya ketika berjalan
serta sikapnya yang genit manja, semua itulah yang sebenarnya menjadi penyebab mengapa
kedai pak Tanu terkenal dan banyak dikunjungi orang.
Selaku pemilik kedai pak Tanu agaknya memang sengaja menyuruh anak gadisnya itu
duduk di kedai untuk melayani para tetamu.
Colak colek dan cubitan tangan lelaki-lelaki bagi Sri Wening -begitu nama puteri pak Tanu –
sudah merupakan hal-hal yang biasa, malah tak jarang banyaklah yang tergila-gila padanya.
Makin banyak yang tergila berarti tambah banyak tamu yang datang dan tambah penuh kocek
pak Tanu.
Sedemikian banyak para pemuda dan para pedagang yang terpikat namun sebegitu jauh
tak seorang pun yang bisa mendekatinya. Banyak yang melamar malah. Semua ditolak. Jinakjinak
merpati. Begitulah julukan yang diberikan orang pada Sri Wening.
Suatu malam hujan lebat sekali. Di kedai pak Tanu terdapat sekitar selusin tamu.
Kebanyakan di antara mereka minum teh atau kopi hangat sambil merokok dan tentunya tak
lupa melirik puteri pemilik kedai yang hitam manis itu. Kadang-kadang seseorang sengaja
menghabiskan minumannya cepat-cepat agar bisa minta minuman baru dan dengan demikian
berkesempatan untuk mengganggu, meraba atau mencolek Sri Wening yang datang melayani.
Pada saat hujan lebat berganti rintik-rintik, masuklah seorang tamu muda berpakaian
sederhana. Dia memandang dulu seputar kedai, lalu memilih tempat duduk di sudut yang agak
terpencil. Diusapnya wajahnya yang basah oleh air hujan. Sri Wening mendatangi dengan
lenggang-lenggok dan genit.
"Hai, kau datang lagi sahabat muda," sapa Sri Wening dan tak lupa melontarkan senyum
memikat.
"Ya ... ya ..." sahut si pemuda sambil garuk-garuk belakang kepalanya.
"Nah, kau pasti lupa apa yang kupesankan malam kemarin ketika kau datang ke mari ...."
"Apa ... ? Pesan apa ya?" balik bertanya sang tamu sambil coba mengingat-ingat dengan
tampang yang tolol.
Sri Wening tertawa berderai hingga semua orang memandang ke jurusannya. Diam-diam
banyak yang merasa iri pada tamu muda bertampang bodoh itu.
"Ah, kau seorang pelupa rupanya! Malam kemarin kupesankan padamu agar kau memotong
rambutmu yang gondrong tak karuan itu! Kau ingat?!"
"Ya ... ya, aku ingat sekarang. Tapi ... ngg .... Aku lebih suka gondrong begini!"
"Perempuan akan jijik melihatmu!" ujar Sri Wening.
"Biar, biar semua perempuan. Asal kau sendiri tidak," sahut si pemuda.
Kembali Sri Wening tertawa panjang.
"Kau ceriwis!" Sri Wening mencubit belakang tangan sang tamu. Si pemuda tersenyum dan
kedipkan matanya. "Kau genit. Ih!" Gadis itu menjauh.
"Katakan sekarang, kau mau pesan makanan apa?"
"Seperti yang semalam."
"Yang semalam?"
Sang tamu mengangguk. Sri Wening masuk ke bagian belakang kedai. Tak lama kemudian
dia ke luar kembali membawa makanan dan minuman yang dipesan.
Saat itu dua orang tamu lagi datang.
"Nah, habiskan makananmu ya!" kata gadis itu lalu siap melayani dua tamu yang barusan
masuk. Selesai makan pemuda berambut gondrong itu duduk mengulurkan kedua kaki
seenaknya. Tangannya mengusap-usap perutnya yang kenyak gembul sedang kedua matanya
setengah terpejam. Dia kelihatan agak terganggu ketika seorang yang sejak tadi duduk di
dekatnya mendekati dan bertanya:
"Mengantuk?" Suara bertanya ini sember dan tak sedap didengar.
Si pemuda palingkan kepala. Yang menegurnya ternyata seorang kakek-kakek berhidung
besar tapi pesek sekali. Demikian peseknya hingga hampir sama dengan pipinya yang cekung
keriput. Rambut serta sepasang alis matanya berwarna putih oleh kelanjutan usia.
"Hemm ..." pemuda yang ditanya menjawab dengan gumam segan-segan.
"Kau datang dari mana, rambut gondrong?" tanya si kakek.
"Desa ...."
"Desa mana?"
Yang ditanya membetulkan duduknya memperhatikan si kakek dengan pandangan meneliti.
Si kakek justru tertawa lebar. Waktu tertawa jelas kelihatan tak ada sepotong gigi pun yang
masih tumbuh di gusi atas mau pun bawah.
"Heh, aku bukan menyelidik ..." kata si kakek.
"Hanya orang-orang dengan maksud tertentu yang suka menyelidiki orang lain ...."
"Betul, kau betul sekali anak muda." Kakek hidung pesek angguk-anggukkan kepalanya.
Lalu dikeluarkannya sebuah dompet tikar pandan. "Kau merokok?"
Si pemuda menggeleng.
Orang tua itu mencabut sebatang rokok kawung, menyalakannya lalu duduk menyandarkan
punggung ke dinding kedai, memandang ke arah pintu.
"Kau sendiri siapa, kek?" kini pemuda rambut gondrong ganti bertanya.
"Sama sepertimu. Tamu di kedai ini. Hanya aku sudah kakek keriput dan kau masih muda
...."
"Tua bangka konyol ..." maki si gondrong dalam hati. Sementara si kakek menghembuskan
asap rokoknya tinggi-tinggi ke udara. Sesaat kemudian dia membuka mulut kembali.
"Kuperhatikan sudah empat malam ini kau datang ke mari. Apa kecantikan dan kegenitan anak
gadis pemilik kedai ini telah membuatmu tergila-gila? Kulihat kau tadi bercanda dengannya.
Bahkan kedipkan mata segala!"
"Ah, matamu yang tua itu ternyata belum lamur. Malah tajam sekali kek. Sudah kodrat
alam jika pemuda tertarik dengan gadis cantik. Tak dapat disalahkan. Tapi kau yang sudah
begini, apakah ikut tertarik dengan gadis itu kek? Kalau tak salah kaupun sudah empat malam
datang kemari!"
Si kakek tertawa mengekeh hingga hidungnya yang lebar itu jadi tambah lebar dan tambah
pesek.
"Sekalipun aku tergila padanya, mana mungkin dia suka padaku. Bisa aku keblinger
sendiri!" Habis berkata begitu si kakek kembali tertawa lalu menyambung: “Anak muda, aku
tak akan mengganggumu lagi. Aku juga mengantuk dan ingin tidur sebentar." Lalu dia kembali
ke tempat duduknya semula. Hanya sebentar sudah terdengar dengkurnya yang tidak sedap.
Wiro Sableng, si pemuda berambut gondrong tadi kembali melunjurkan kakinya dan kedua
matanya ditutupkan setengah terpejam. Hampir satu kaili peminuman teh berlalu ketika kedua
mata murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede itu tampak membesar dan memandang ke
arah pintu kedai.
Seorang pemuda bertampang keren masuk dengan langkah tegap. Dia langsung duduk di
belakang meja. Sepasang matanya yang sipit tidak berkesip dan selalu tertuju pada Sri
Wening. Si gadis yang merasa diperhatikan balas memandang dan tersenyum genit lalu
mendekati pemuda itu.
"Orang gagah, kau datang dari mana?" sapa Sri Wening.
Cuping hidung tamu yang ditegur tampak bergerak-gerak, kedua matanya membesar
sedikit.
"Datang dari jauh adik. Bukankah namamu Sri Wening?"
"Ah, kau sudah tahu namaku. Rupanya namaku diterbangkan angin sampai jauh ...." Anak
gadis pak Tanu itu kembali melayangkan senyum memikat.
"Tentu parasmu yang cantik jelita laksana harumnya bunga yang diterbangkan angin ke
mana-mana!"
"Kau pandai merayu. Siapa namamu sahabat muda?" tanya Sri Wening.
"Prana."
"Hanya Prana? Tak ada sambungannya?"
Si pemuda menggeleng.
"Pendek amat namamu. Tapi bagus, sebagus orangnya. Nah sekarang katakan kau mau
makan apa, mau minum apa."
Tamu itu menyebutkan makanan yang diinginkannya dan juga memesan tuak haruna satu
buli-buli penuh. Sambil menunggu pesanannya dia memandang berkeliling. Tak banyak yang
menarik perhatiannya dalam kedai itu. Juga terhadap Pendekar 212 yang tidur-tidur ayam
serta orang tua berhidung pesek yang mendengkur tak berapa jauh dari Wiro.
"Boleh aku menemanimu makan?" tanya Sri Wening manja begitu selesai meletakkan
hidangan di atas meja.
"Tentu, tentu saja," jawab Prana gembira.
Diambilnya sebuah kursi dan diletakkannya dekat-dekat ke kursinya lalu dipersilahkannya
Sri Wening duduk di situ. Tangan kanan menyuap makanan sedang tangan kiri memegangi
pinggul gadis pemilik kedai itu. Bagi Sri Wening yang genit hal ini belum pernah dilakukan lelaki
lain sebelumnya. Memang banyak yang suka mencubit tangannya, tapi memeluk begitu benarbenar
satu keberanian luar biasa. Bagi pak Tanu dan istrinya yang memang sengaja
memancing para tamu dengan kecantikan anaknya, hal sejauh itu tidak diharapkannya. Tamutamu
lain di kedai itu juga memperhatikan dengan mata melotot. Ada yang dongkol, ada yang
menganggap tindakan Prana kurang ajar tapi ada juga yang iri. Hanya dua orang tamu yang
sepertinya tidak perduli. Yakni Wiro Sableng dan si kakek hidung pesek.
Selesai makan Prana meneguk tuak dalam buli-buli sampai setengahnya. Wajahnya yang
putih kelihatan menjadi merah.
"Masakannya enak apa tidak?” tanya Sri Wening.
Dia juga merasa risih dan hendak berdiri. Tapi pelukan tangan Prana di pinggulnya kencang
sekali, membuat dia hampir tak bisa bergerak.
"Enak sekali. Pasti kau yang memasaknya bukan?"
Sri Wening mengangguk meski semua makanan yang dijual di kedai itu ibunyalah yang
memasak. Dia hanya tahu bersolek dan menunggu tamu. Prana menuang lagi tuaknya.
Mukanya makin merah. Tiba-tiba ditariknya kepala Sri Wening lalu diciumnya wajah gadis itu
bertubi-tubi. Si gadis menggeliat dan meronta serta berseru tegang setengah marah setengah
takut. Semua orang dalam kedai tampak terkejut. Pak Tanu dan istrinya terkesima saling
pandang.
Tiba-tiba pak Tanu berdiri dan melangkah cepat ke meja Prana dan membentak keras:
"Manusia kurang ajar! Lekas bayar makanan dan tuak itu. Lalu angkat kakimu dari
kedaiku!"
Dibentak begitu si pemuda tenang-tenang saja seperti tak mendengar. Malah tangannya
merayap lebih berani. Yang satu masih melingkar di pinggang Sri Wening, satunya lagi
bergerak ke dada. Pak Tanu cepat menarik anaknya dari pelukan Prana, tapi tak berhasil.
"Lepaskan anakku!" teriak pak Tanu.
Prana mengekeh.
"Bukankah kau sendiri yang sengaja menyuruh anakmu melayani tetamu, mengandalkan
kecantikan dan kegenitannya supaya dapat banyak uang. Sekarang dia tengah melayaniku,
kenapa kau justru jadi marah? Jangan takut aku tak akan lupa membayar harga makanan dan
tuak itu. Malah akan kutambah dengan harga kehangatan tubuh anakmu!"
Marah pak Tanu tak terbendung lagi. Diambilnya buli-buli arak dari atas meja lalu
mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Jika tak kau lepaskan anakku dan segera membayar, kupecahkan kepalamu!" ancam pak
Tanu.
Prana ganda tertawa. Dia sama sekali tidak perdulikan ancaman pemilik kedai malah kini
dengan kurang ajar tangan kanannya menyelinap di balik dada pakaian Sri Wening.
"Manusia bejat haram jadah!" maki pak Tanu.
Tangan kanannya bergerak menghantam buli-buli tuak ke kepala Prana. Tetapi pemilik
kedai ini jadi kaget ketika mendapatkan dirinya tahu-tahu sama sekali tidak dapat bergerak.
Tangan dan sekujur badannya kaku.
"Hai, kenapa diam saja?" tanya Prana. "Bukankah kau hendak menghancurkan kepalaku?"
"Setan alas! Aku tak bisa menggerakkan tanganku. Aku tak bisa bergerak!" seru pak Tanu
dengan mata melotot. Rasa takut lebih banyak dari pada rasa heran.
Semua orang yang menyaksikan dan mendengar ucapan pemilik kedai itu jadi melengak
kaget. Pada saat itu pula Sri Wening merasakan sesuatu tusukan pada punggungnya. Setelah
itu dia juga tak dapat bergerak. Dia hendak berteriak tapi mulutnya pun tak mau membuka.
Lidahnya seperti kelu! Dia sama sekali tak dapat mengeluarkan suara! Dari balik pakaiannya
Prana mengeluarkan beberapa keping uang dan dilemparkannya di atas meja.
"Uang ini cukup banyak untuk membayar makanan, tuak serta anak gadismu ini. Karenanya
aku berhak untuk membawanya sekarang ...."
Selesai berkata begitu Prana langsung berdiri dan memanggul Sri Wening di bahu kirinya.
"Kau mau bawa ke mana anakku?!" teriak bu Tanu seraya berlari mendatangi.
"Oh, kau ibunya?" ujar Prana. "Tak usah khawatir, aku akan membawa anakmu sebentar
saja dan tenang sajalah!" Prana lambaikan tangannya pada ibu Sri Wening yang tengah berlari
mendatangi langsung tertegun mematung tanpa bisa bergerak lagi di samping suaminya.
Kedua suami istri ini berteriak-teriak minta tolong. Kedai itu jadi hingar bingar.
Beberapa orang tamu muda segera menghadang di pintu depan.
"Eh, kalian mau menghalangiku?" tegur Prana dengan pandangan angker.
"Penculik! Lepaskan gadis itu kalau mau selamat!" teriak seorang pemuda bertubuh tinggi
besar.
Prana menyeringai.
"Aku muak melihat tampangmu. Pergilah!" hardik Prana seraya mendorongkan telapak
tangan kanannya ke depan. Pemuda itu kontan menjerit dan tubuhnya terlempar ke luar kedai,
jatuh di jalanan yang becek. Beberapa orang segera menghunus senjata dan mengurung Prana.
"Aku peringatkan pada kalian. Lebih baik menyingkir!" bentak Prana.
"bangs*t penculik! Makan pisauku ini!" Dari samping seorang menghujamkan pisau panjang
ke arah lambung Prana. Yang diserang menggeser tubuhnya dengan cepat. Di lain kejap
tempelengannya sudah menghantam kening penyerang. Pemegang pisau melintir dan jatuh di
lantai tanpa bisa bangun lagi. Beberapa tamu lain yang juga berusaha menyerbu mengalami
nasib sama, dihantam pingsan satu demi satu. Gerakan Prana cepat sekali tanda dia memiliki
kepandaian silat yang tidak sembarangan.
Sampai saat itu baik Pendekar 212 Wiro Sableng maupun si kakek hidung pesek tetap saja
duduk tenang-tenang di tempat masing-masing. Yang satu tidur-tidur ayam, yang lain
mengorok terus. Namun ketika Prana melangkah ke arah pintu, dengkur si kakek tiba-tiba
berhenti dan terdengar satu bentakan:
"Manusia bernama Prana, tunggu dulu! Jangan cepat-cepat pergi!"
Langkah si pemuda tertahan. Dia rasa-rasa sudah pernah mendengar suara mirip-mirip
seperti orang yang membentak itu. Dia berpaling. Dilihatnya orang tua pesek yang tadi
mendengkur berdiri dari kursi dan melangkah kehadapannya. Prana bertindak waspada. Jika si
kakek mengetahui apa yang terjadi berarti tadi dia tidak sesungguhnya tertidur pulas dan
mendengkur!
"Prana, kau kenal aku ... ?" tanya si kakek.
"Ada untung apa aku kenal dengan kakek-kakek perot macammu! Aku tak punya banyak
waktu untuk bicara!"
Prana memutar tubuh hendak berlalu. Tapi si kakek pesek memegang bahu kanannya.
Pegangan ini laksana tindihan batu besar. Terkejutlah si pemuda penculik.
"Orang tua, siapa kau sebenarnya ... ?" desis Prana. Sepasang matanya menyipit kejam.
"Pandanglah parasku yang buruk ini Prana. Pandang baik-baik ..." berkata si kakek.
Prana menatap wajah tua itu dalam-dalam.
"Aku tidak kenal kau dan jangan ikut campur urusanku!" kata Prana akhirnya dan siap
hendak berlalu.
Tiba-tiba orang tua itu menggerakkan tangan kanannya ke wajahnya. Sehelai kulit tipis
yang selama ini menutupi mukanya dan merupakan topeng tipis terbuka, kini kelihatan
wajahnya yang asli. Ternyata wajahnya putih bersih meskipun penuh dengan keriput ketuaan.
"Guru!" seru Prana tersentak kaget begitu dia melihat wajah asli orang dihadapannya.
Demikian kagetnya pemuda itu hingga sampai mundur beberapa langkah.

13
Hemmm ..." si orang tua bergumam. "Betul. Aku memang gurumu yang bernama Jagat
Kawung. Rupanya kau masih bisa mengenali guru yang telah kau nodai dengan segala
perbuatan-perbuatan terkutukmu selama ini. Warangas! Aku menyesal seumur-umur
telah mengambilmu jadi murid. Lepaskan gadis itu dan bersiaplah untuk menerima hukuman!"
"Guru, aku tak mengerti maksud ucapanmu!" tukas Prana yang oleh si kakek tadi disebut
dengan nama aslinya yaitu Warangas.
"Turunkan gadis itu!" bentak Jagat Kawung.
"Aku telah memutuskan untuk membawanya!" jawab Prana alias Warangas.
Sepasang mata si kakek berkilat-kilat karena kemarahan luar biasa. "Di situ jelas terlihat
kebejatanmu! Dan kau masih hendak berpura-pura di hadapanku. Kepandaian yang kuberikan
padamu kau pergunakan untuk berbuat kejahatan. Merusak rumah tangga orang.
Mempermainkan isteri orang, menodai gadis-gadis. Kau muncul dengan berbagai nama.
Sebagai Dipasingara. Sebagai Handaka. Sebagai Prana. Namun kau tetap Warangas, manusia
busuk terkutuk, pemuda hidung belang bejat di atas jagat ini! Turunkan gadis itu Warangas!"
"Tidak!"
"Kau membangkang perintah gurumu?"
"Jika kau berani menghukumku, mulai detik ini aku tidak menganggapmu sebagai guru
lagi!" jawab Prana alias Handaka alias Dipasingara alias Warangas.
"Kalau begitu bersiaplah untuk mampus!"
Jagat Kawung mencengkeramkan tangan kirinya ke muka muridnya yang aslinya bernama
Warangas itu. Tangannya yang satu lagi mencengkeram ke perut. lnilah yang disebut gerakan
maut "Sepasang Cengkeraman Garuda Sakti."
Warangas cepat menyingkir. Dia tahu kehebatan gurunya. Karena begitu berhasil
mengelakkan serangan tadi cepat-cepat dia menurunkan Sri Wening. Terlalu besar resikonya
menghadapi sang guru dengan masih memanggul gadis itu.
"Guru, kuharap kau mau membendung kemarahan dan tidak menurunkan tangan kasar!"
"Manusia laknat. Jangan panggil aku guru! Dan tak perlu mulut busukmu banyak bicara!"
Kembali Jagat Kawung berkelebat. Tapi kembali pula Warangas berhasil mengelakkan diri.
Di samping luapan amarah, Jagat Kawung juga jadi heran melihat ilmu yang dimiliki
Warangas jauh lebih maju dari kepandaiannya yang pernah diturunkannya dulu. Maka tanpa
membuang waktu Jagat Kawung segera keluarkan jurus-jurus serangan ampuhnya.
Serangannya datang bertubi-tubi laksana hujan mencurah. Kedai itu bergetar oleh sambaransambaran
angin kedua orang yang baku hantam.
Dalam kelebatan tubuh hanya merupakan bayang-bayang saja, tiba-tiba terdengar teriakan
Jagat Kawung. Teriakan ini disertai dengan berkiblatnya sinar merah menyala laksana lidah api,
menyambar ke arah tubuh Warangas. lnilah pukulan paling hebat yang dimiliki Jagat Kawung.
Selama lima belas tahun meyakini ilmu kesaktian tersebut tak satu kekuatan lawanpun yang
sanggup menghadapinya. Sudah dapat dibayangkan oleh orang tua itu bagaimana tubuh
muridnya yang terkutuk itu akan meleleh matang dihantam pukulan sakti bernama "Pukulan
Baja Merah" itu.
Namun sesaat kemudian jadi melengak sewaktu menyaksikan bagaimana dari dua telapak
tangan muridnya menderu ke luar larikan-larikan sinar putih yang sanggup menahan dan
menangkis pukulan Baja Merah!
Tidak dapat tidak pastilah Warangas telah berguru pada seorang sakti lainnya, pikir Jagat
Kawung.
Di lain pihak meskipun Warangas kelihatan sanggup menghadapi pukulan sakti gurunya
namun saat itu kedua telapak tangannya terasa panas laksana terpanggang dan berwarna
merah sedang dari mulutnya ke luar darah membuih.
Warangas cepat keluarkan beberapa butir obat dan menelannya lalu kerahkan tenaga
dalamnya ke bagian dada yang dirasakannya berdenyut sekali. Kedua matanya yang sipit
tampak merah. Pandangan buas beringas!
"Tua renta keparat! Kau rasakan pembalasanku!" kertak Warangas. Tangannya bergerak ke
balik pakaian.
"Sret!"
Sebuah benda hitam bertebar membentuk setengah lingkaran.
Paras Jagat Kawung kontan berubah melihat benda di tangan murid murtad itu. Jadi
benarlah kabar yang didengarnya selama ini bahwa Warangas memiliki senjata luar biasa,
sebuah kipas sakti berwarna hitam.
"Kipas Pemusnah Raga!" desis Jagat Kawung. "Murid keparat darimana kau dapatkan benda
itu?!"
"Ha ... ha ... nada pertanyaanmu jelas bahwa nyalimu menjadi ciut! Dari mana aku
dapatkan benda ini bukan urusanmu. Kalau kau tidak puas dengan jawabanku, silahkan tanya
nanti pada iblis-iblis di neraka!" Warangas lalu gerakan tangan kanannya yang memegang
kipas.
"Wut!"
Selarik sinar hitam pekat menggidikkan ke luar menyambar dari Kipas Pemusnah Raga.
Jagat Kawung berseru keras dan angkat kedua tangannya ke atas. Dua larik pukulan Baja
Merah menyembur. Orang tua ini tidak yakin bahwa ilmu kesaktiannya itu bakal dapat
melindungi dirinya dari serangan kipas sakti lawan. Tapi daripada tidak berbuat apa-apa sama
sekali lebih baik melepaskan pukulan itu.
IZRO'IL
Hidung Belang Berkipas Sakti



Ketidak yakinan Jagat Kawung memang beralasan. Terlihat dengan nyata bagaimana sinar
hitam pekat memukul dua larik sinar merah. Selanjutnya sinar hitam Kipas Pemusnah Raga
terus menggempur ke arah si orang tua.
"Celaka! Matilah aku sekarang!" keluh Jagat Kawung dalam hati. Dia berusaha membuang
diri ke samping namun kasip.
Di saat yang sangat kritis dari samping tiba-tiba terdengar suara menderu laksana bumi
dilanda air bah. Sinar hitam tampak bergoyang-goyang lalu terdorong keras ke samping dan
musnah tak berbekas.
Jagat Kawung yang merasa dirinya diselamatkan oleh gelambang angin yang datang dari
samping tadi menjadi amat terkejut. Lebih-lebih Warangas yang berdiri di seberang sana. Guru
dan murid serentak sama-sama berpaling. Di sudut sana Pendekar 212 Wiro Sableng perlahanlahan
bangkit berdiri dari kursinya seraya garuk-garuk kepala.
"Guru dan murid hendak saling berbunuhan! Sayang ... sayang sekali. Apalagi kalau sang
guru sampai celaka di tangan muridnya yang murtad. Orang tua, serahkan Warangas padaku.
Aku memang sudah lama mencarinya. Dosanya sudah lewat dari takaran!"
Sebelum Jagat Kawung sempat bicara, Warangas sudah membuka mulut: "Pemuda rambut
gondrong! Apa perlumu ikut campur urusan orang lain?!"
"Untuk membasmi manusia bejat macammu orang tak perlu mencari segala macam
alasan," sahut Wiro.
"Kalau begitu kau mencari mati!"
Lalu Warangas alias Handaka alias Dipasingara alias Prana mengebutkan Kipas Pemusnah
Raga. Sinar hitam pekat kembali berkiblat. Murid Eyang Sinto Gendeng tak tinggal diam. Untuk
kedua kalinya dia lepaskan pukulan sakti "Dewa Topan Menggusur Gunung."
Ketika kedua kekuatan sakti itu saling bentrokan, kedai pak Tanu tak sanggup lagi menahan
hebatnya getaran. Meja dan kursi berpelantingan. Dua buah tiang kedai patah, salah satu
dinding bobol. Orang-orang yang pingsan dan bergeletak di lantai mencelat. Beberapa
diantaranya putus nyawanya. Sri Wening dan kedua orangtuanya dalam keadaan tertotok juga
ikut mental ke luar kedai.
Warangas merasakan sekujur tubuhnya bergetar. Kipas saktinya hampir terlepas. Ketika dia
memandang ke bawah, ternyata kedua kakinya telah amblas sedalam sepertiga jengkal ke
lantai tanah kedai. Jagat Kawung sendiri terhuyung-huyung hampir jatuh.
"Kurang ajar! Siapa bangs*t gondrong ini sebenarnya?!" maki Warangas dalam hati. Diamdiam
hatinya jadi tergetar. Belum yakin kalau serangannya benar-benar bisa ditahan lawan
maka dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya kembali dia kebutkan kipas sakti. Sinar
hitam menggidikkan kembali menderu dan melabrak ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng.
Wiro melepaskan lagi pukulan Dewa Topan Menggusur Gunung. Keadaan kedai pak Tanu
semakin porak poranda. Warangas yang menyadari bahwa sinar hitamnya tak mampu
menandingi pukulan lawan yang menggemuruh cepat melompat jauh-jauh Wiro merasakan
dadanya berdenyut. Dia cepat memburu ketika di depan sana dilihatnya Warangas menangkap
tubuh Sri Wening. Jagat Kawung ikut mengejar. Tubuh Warangas lenyap di luar kedai,
menyelinap dalam kegelapan malam. Tapi baik mata Wiro maupun Jagat Kawung tak bisa
ditipu oleh kegelapan. Dalam waktu singkat keduanya berhasil mengejar dan berada di
belakang pemuda penculik itu.
"Keparat hidung belang! Tempat larimu satu-satunya adalah kematian!" tariak Wiro.
"Anjing kurap! Nyawa anjingmulah yang bakal minggat ke neraka malam ini!" Satu
bentakan garang menimpali.
Wiro terkejut.
Yang membentak bukanlah Warangas tapi orang lain. Tiga sosok tubuh berkelebat di
kegelapan. Pendekar 212 terpaksa hentikan pengejarannya. Demikian pula Jagat Kawung.
Gerakannya tertahan oleh hadangan tiga orang tak dikenal. Ini membuat Warangas lolos dan
lenyap bersama gadis boyongannya.
"Sialan! Kalian siapa?!" bentak Wiro pada tiga orang yang menghadang di hadapannya.
Kegelapan malam membuatnya tak dapat mengenali wajah mereka. Sewaktu ketiga orang ini
melangkah mendekati guru murid Eyang Sinto Gendeng ini mengenal mereka.
"Kerak-kerak neraka! Malam yang kalian janjikan masih dua hari dimuka! Apakah kalian
datang sebelurn waktunya karena sudah tak sabar lagi untuk mampus?!"
Dua orang di depan Wiro mendengus. Yang satu lagi rangkapkan tangan di muka dada.
"Malam terang bulan terlalu indah bagi kematian Pendekar 212! Kami memutuskan untuk
mengambil nyawamu pada malam mendung gelap ini. Apa kau sudah siap untuk mampus?"
"Warok Grimbil! Rupanya nyalimu telah dipompa hingga menggembung besar! Apakah
kedua sikutmu sudah sembuh? Dan kau nenek kontet Muning Kwengi yang dulu melarikan diri,
apakah datang kemari karena mengandalkan kambratmu yang berkepala botak itu? Apa si
botak ini sobat atau gendakmu?!" Wiro menuding pada laki-laki berkepala botak yang tegak di
samping Muning Kwengi hingga manusia ini kertakkan rahang menahan marah. Dia mengerling
pada orang tua di samping Wiro. Si botak ini telah mendengar kehebatan Wiro dari Muning
Kwengi. Tapi justru saat itu dia memandang rendah terhadap Wiro sebaliknya menganggap
kakek itulah yang harus diperhatikan. Kemelesetan dugaannya inilah yang justru bakal
membuat dirinya celaka.
"Jadi kalian bertiga datang kemari untuk melanjutkan perhitungan tempo hari? Bagus!
Kalian maju bertiga atau sendiri-sendiri?!"
"Bedebah!" maki Warok Grimbil bekas kepala rampok hutan Walu. Dicabutnya dua golok
besar dari pinggang lalu memberi isyarat pada Muning Kwengi alias lblis Pisau Terbang. Nenek
katai ini ganti memberi tanda pada si botak di sampingnya. Ketiga orang ini kemudian dengan
serentak menerjang ke arah Wiro.
Jagat Kawung yang merasa berhutang nyawa lantas ikut terjun dalam pertempuran seraya
berkata:
"Orang muda, aku bantu kau!"
"Grimbil! Kau berdua kakakmu hadapi kakek-kakek busuk ini. Aku biar melayani pemuda
sampah ini yang katamu tinggi ilmunya!"
Sebenarnya si botak merasa gentar menghadapi Jagat Kawung. Karena itu sengaja
disuruhnya kedua kakak beradik itu mengeroyok si kakek. Wiro yang diduganya tidak memiliki
kepandaian apa-apa akan dilayaninya seorang diri. Warok Grimbil dan Muning Kwengi yang
telah pernah dihajar Pendekar 212 tentu saja merasa gembira karena dengan demikian mereka
akan terhindar dari malapetaka!
"Monyet botak!" ejek Wiro. “Sebutkan dulu namamu supaya aku tidak sungkan-sungkan
menghadapimu!"
"Bocah ingusan! Mulutnya sombong. Tapi biarlah nanti akan kurobek!" Sambil menuding
dadanya si botak ini meneruskan: "Jika ingin tahu aku inilah manusianya yang bernama Lembu
Surah bergelar Maut Tangan Delapan!"
Wiro tertawa gelak-telak.
"bangs*t kenapa kau tertawa?" bentak si botak.
"Namamu seperti nama binatang. Gelarmu tangan delapan. Tapi mengapa kulihat
tanganmu Cuma dua? Kalau namamu Lembu sepantasnya gelarmu Maut Kaki Ernpat!"
Marahlah Lembu Surah diejek demikian. Seumur hidup baru sekali ini dia menerima
penghinaan seperti itu. Dia menerjang ke muka. Kedua tangannya bergerak cepat dan
tampaknya betul-betul seperti berubah jadi sebanyak delapan buah dan kesemuanya menyerbu
ke arah Wiro Sableng. Karena tidak tahu lengan mana yang asli dan mana yang hanya
bayangan belaka, Wiro tak mau bertindak gegabah.
Serangan lawan disambutnya dengan jurus "Kipas Sakti Terbuka". Kedua lengannya
dipentang ke atas. Sesaat kemudian terdengar pekik si Maut Tangan Delapan. Kedua
tangannya beradu keras dengan tangan Wiro. Salah satu tulang lengannya patah sedang
lengan yang lain menggembung merah kulitnya. Wiro sendiri merasakan kedua lengannya
panas dan perih.
Sekalipun memiliki ilmu kepandaian yang tidak rendah tetapi pada dasarnya si botak
berjuluk Maut Tangan Delapan ini adalah jenis manusia berhati pengecut. Mendapat celaka
pada jurus pertama telah membuat nyalinya lumer.
"Grimbil! Kwengi! Maaf saja! Aku masih ada urusan lain yang lebih penting untuk
diselesaikan. Aku betul-betul menyesal ikut kalian kemari!"
Selesai berkata begitu Lembu Surah cepat-cepat putar tubuh dan larikan diri dari tempat
itu. Wiro tak berniat mengejar karena antara dia dengan si botak itu sebenarnya tak ada silang
sengketa apa-apa. Kini dia hanya berdiri memperhatikan Jagat Kawung yang dikeroyok oleh
Warok Grimbil dan Muning Kwengi.
Pada saat Lembu Surah melarikan diri Warok Grimbil masih sempat melemparkan caci maki
pada si botak itu. Tiga jurus pertama meskipun mengandalkan tangan kosong Jagat Kawung
masih sanggup mengimbangi kedua lawan. Namun ketika Muning Kwengi mulai melancarkan
serangan-serangan pisau terbang sedang Warok Grimbil menggempur dengan sepasang golok
besarnya, mau tak mau orang tua itu jadi tertekan juga. Ini mernbuat Jagat Kawung jadi
jengkel.
"Manusia-manusia sialan! Kalau tidak karena kalian tentu murid keparat itu tidak akan
lolos!"
Warok Grimbil dan Muning Kwengi balas menjawab dengan tawa mengejek.
"Memakilah sepuasmu sebelum roh busukmu meninggalkan tubuh peotmu!" teriak Warok
Grimbil.
"Sombong! Kau yang lebih dulu pergi ke neraka!" sahut Jagat Kawung lalu dari salah satu
tangannya menyambar selarik sinar menyala merah.
"Grimbil awas!" teriak Muning Kwengi memperingatkan. Tapi sang adik berada dalam
keadaan yang sulit untuk mengelak. Kemudian terdengar pekik Warok Grimbil. Tubuhnya yang
katai terguling hangus laksana dipanggang. Tentu saja nyawanya tidak tertolong lagi!
"bangs*t! Rasakan pembalasanku!" bentak Muning Kwengi marah meluap melihat kematian
adiknya mengenaskan begitu rupa. Selusin pisau terbang dilemparkan ke arah Jagat Kawung,
tetapi sekali lagi sinar merah berkiblat. Selusin pisau terbang runtuh ke tanah. Ketika orang tua
itu hendak susul dengan pukulan kedua Wiro Sableng cepat berseru: "Kakek, yang satu ini
adalah bagianku!"
"Tahan! Jurus kematiannya harus di tanganku!" tiba-tiba terdengar suara lantang.
Sesosok tubuh melompat dari kegelapan. Terdengar deru sesiuran angin. Si katai Muning
Kwengi yang bingung karena berturut-turut ada tiga manusia yang inginkan jiwanya menjadi
gugup waktu mengelak. Sebilah pedang tajam berkelebat menyambar lehernya. Terdengar
suara seperti kambing disembelih dari tenggorokan perempuan bergelar lblis Pisau Terbang itu.
Darah menyembur dari lehernya yang hampir putus. Nenek katai ini bersungkur ke tanah, mati
di situ juga tanpa mengetahui siapa manusia yang telah membunuhnya.
Seorang lelaki muda berwajah liar tetapi lusuh berdiri termangu memandangi mayat Muning
Kwengi.
"Siapa dia ... ?" tanya Jagat Kawung pada Wiro Sableng.
"Sanjaya, perwira muda Kerajaan. Antara mereka memang ada dendam kesumat lama.
Memang pantas nenek rongsokan itu mati di tangannya. tengah menjalankan tugas Kerajaan."
Sanjaya melangkah ke arah Wiro seraya menyarungkan pedangnya.
"Kita jumpa lagi sobatku," kata perwira muda itu.
"Aku senang bertemu denganmu lagi Sanjaya." Wiro lalu memperkenalkan Sanjaya pada
Jagat Kawung.
"Wajahmu kulihat mendung. Tubuhmu lebih kurus. Agaknya ada sesuatu ganjalan dalam
dirimu Sanjaya?" tanya Wiro pula.
Sanjaya menghela napas panjang. Lalu mengangguk. "Kesulitan besar Wiro. Rasanya tak
sanggup kupikui lebih lama ...."
"Kami adalah sahabatmu," kata Jagat Kawung. "Jika kau mau mengatakan kesulitanmu itu,
mungkin kami bisa membantu."
Lama Sanjaya berdiam diri, baru menjawab: "Dua minggu lalu aku kembali ke gunung
Slamet. Apa yang kutemui disana benar-benar mengejutkan. Mayat guruku yang tinggal
tengkorak utuh hanya digumpali daging rusak di sana-sini kutemui menggeletak di semak
belukar. Tulang-tulangnya hangus hitam. Apa yang terjadi tidak kuketahui. Wulandari adik
seperguruanku juga merupakan tunanganku tak ada disitu. Seluruh puncak gunung Slamet
kuselidiki. Wulandari tetap tak kujumpai. Akhirnya aku turun gunung. Di satu tempat kudengar
suara tangis perempuan memilukan hati. Ketika kudatangi ternyata Wulandari. Aku terkejut
sekali melihat keadaannya. Pakaiannya kotor dan robek-robek. Matanya merah bengkak karena
terlalu banyak menangis. Dia menjerit pada detik melihatku. Dia seperti orang yang ketakutan
lalu melarikan diri. Di satu tempat aku berhasil mengejarnya dan pada saat itulah baru kulihat
dengan jelas perutnya. Menggembung besar, mengandung! Tapi yang paling menyedihkan
ialah ketika kuketahui bahwa Wulandari tidak lagi sehat otaknya. Kadang-kadang dia menangis.
Kadang-kadang tertawa. Sulit sekali. Dia menyebut-nyebut pembunuhan atas diri Eyang Wulur
Parmenang. Menyebut seseorang tak kukenal bernama Handaka. Lalu soal pengusiran dan anak
haram yang dikandungnya. Aku coba mempelajari semua keterangan dari keadaan dirinya itu
namun tetap sulit mengetahui apa sebenarnya yang telah terjadi. Kemudian Wulan berteriakteriak
dan lari. Kali ini aku tak dapat mengejarnya. Menurutku satu-satunya orang yang bisa
memberi keterangan adalah yang bernama Handaka yang disebut-sebut Wulan itu. Aku
berusaha melakukan penyelidikan tapi sia-sia belaka. Mau pecah rasanya kepalaku dan mau
gila rasanya otak ini!"
Lama kesunyian mencekam di tempat itu setelah Sanjaya mengakhiri kisahnya. Ketika
Jagat Kawung mengangkat kepala dilihatnya sepasang mata Pendekar 212 Wiro Sableng
memandang lekat-lekat kepadanya. Orang tua ini segera maklum apa arti pandangan ini.
"Wiro, kau jelaskan semuanya pada Sanjaya ..." kata Jagat Kawung perlahan.
Wiro berpaling pada Sanjaya. "Ketahuilah, orang bernama Handaka itu adalah orang yang
juga tengah kami kejar. Barusan saja dia berada di sini, tetapi berhasil meloloskan diri ...."
"Lolos?! Ke mana dia melarikan diri. Aku harus mengejarnya dan minta keterangan!" kata
Sanjaya.
"Sabar perwira, sabar ...."
"Aku sudah meletakkan jabatan. Aku bukan perwira Kerajaan lagi. Jangan panggil aku
dengan sebutan itu, Wiro."
Wiro manggut-manggut dan meneruskan keterangannya.
"Handaka adalah salah satu saja dari sekian banyak nama palsu yang dipakai orang itu.
Nama aslinya ialah Warangas. Dia pernah memakai nama Dipasingara. Muncul dengan nama
Handaka atau Prana dan sebagainya. Dia bukan manusia baik-baik. Kejahatan yang
dilakukannya adalah kejahatan paling terkutuk. Merusak kehormatan setiap perempuan cantik
yang ditemuinya, dengan berbagai cara dan akal. Tak perduli apakah perempuan itu istri orang,
apalagi masih gadis ...."
"Kalau begitu tunanganku Wulandari telah dirusak kehormatannya oleh pemuda itu. Hamil
dan rusak jiwa serta pikirannya."
"Mungkin sabatku, mungkin sekali. Mungkin pula dia jugalah yang telah membunuh
gurumu. Itu masih harus kita selidiki." Wiro lalu menerangkan peristiwa di kedai pak Tanu. "Dia
memiliki sebuah senjata dahsyat yaitu sebuah kipas sakti berwarna hitam. Karena itu dia
dijuluki Hidung Belang Berkipas Sakti." Sesaat Wiro terdiam. Lalu meneruskan: "Adalah satu
kenyataan pahit dan pasti mengejutkanmu...." Wiro tak meneruskan, melirik dulu pada Jagat
Kawung. Orang tua ini mengerti dan berkata: "Teruskan kalimatmu Wiro. Tak ada yang perlu
dirahasiakan."
"Satu kenyataan pahit bahwa Handaka itu bukan lain adalah murid orang tua ini sendiri."
"Apa?!" Suara Sanjaya seperti geledek. Tanpa pikir panjang lagi dia segera cabut
pedangnya. "Jadi dia muridmu?! Kalau begitu kau pantas kucincang lebih dulu!"
Tangan Sanjaya yang memegang pedang bergerak. Jagat Kawung hanya tundukkan kepala
seolah-olah menyerah pasrah untuk dibunuh saat itu juga. Tetapi Wiro Sableng cepat
memegang lengan bekas perwira Kerajaan itu dan berkata:
"Sabar sobatku. Sabar. Jangan kalap membabi buta. Jika kau punya dendam terhadap
muridnya adalah tolol membalaskan sakit hati pada gurunya yang juga pernah mencari-carinya
untuk menjatuhkan hukuman!"
Kata-kata Wiro itu mengendurkan kemarahan Sanjaya. Dengan tangan bergetar dan muka
keringatan disarungkannya pedangnya kembali. Kemudian didengarnya Jagat Kawung berkata:
"Biarkan dulu aku terus hidup untuk dapat menjatuhkan hukuman terhadap murid murtad itu.
Kelak jika dia sudah kusingkirkan dari dunia ini aku pasrah menerima kematian di tanganmu!
Memang terlalu memalukan untuk hidup lebih lama ...."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Sanjaya kemudian.
Sunyi sejenak.
"Apa lagi selain mencari keparat bernama Warangas itu!" sahut Jagat Kawung. Di malam
yang gelap ketiga orang itu segera meninggalkan tempat itu.

14
Kuda coklat itu dipacunya secepat-cepatnya menuju pantai selatan. Tiba-tiba si penunggang mendadak sontak tarik tali kekang dan berhenti memasang teiinga. Lapatlapat dikejauhan terdengar suara orang menangis. Suara tangis perempuan. Demikian memilukan suara tangis itu hingga penunggang kuda ini turun dari kudanya dan melangkah ke jurusan datangnya suara tangis tersebut.
Tak berapa lama kemudian, dari balik semak belukar dilihatnya seorang perempuan duduk menyelepok di tanah. Pakaiannya rombeng dan kotor. Rambutnya yang panjang tergerai awutawutan.
Dia tak dapat melihat jelas wajah perempuan ini karena ditutupi dengan kedua telapak tangannya. Yang lebih menarik perhatian lelaki ini ialah kenyataan bahwa perempuan yang menangis itu berperut besar alias sedang hamil. Paling tidak hamil enam bulan.
Tiba-tiba suara tangisan itu berhenti. Perempuan itu berdiri dan mencabut sebilah pedang.
Kini lelaki itu dapat melihat wajah perempuan itu. Cantik. Debu kotor tidak dapat menyembunyikan kecantikannya. Sepasang matanya tampak merah dan beringas berputar-putar.
Mendadak dia menjerit keras. Pedang di tangannya disabatkan kian kemari merambas pohon-pohon dan semak belukar disekelilingnya.
"Mampus! Mampuslah kau Handaka! Mampus! Kau musti mampus!"
"Perempuan gila ..." desis lelaki itu mengintip. "Bunting dan gila. Kasihan, kenapa dia jadi
Begitu ... ?" Sesaat kemudian dilihatnya perempuan itu lari ke arah pantai sambil terus
berteriak-teriak dan menyabatkan pedangnya kian kemari. Mula-mula dikiranya perempuan itu
hendak menceburkan diri ke dalam laut Tapi ternyata terus lari sepanjang tepi pasir ke arah
timur. Karena jurusan larinya perempuan itu kebetulan sama dengan arah yang hendak
ditujunya cepat-cepat dia kembali ke kudanya dan membuntuti dari kejauhan.
Siapakah adanya penunggang kuda yang bertubuh kekar dan berkumis melintang ini? Dia
bukan lain adalah Suramanik, bekas kepala pengawal Kadipaten Gombong yang terpaksa
melepaskan jabatannya secara menyakitkan hati gara-gara Dipasingara yaitu sebagaimana
yang telah dituturkan pada permulaan kisah.
Sejak meninggalkan Gombong sejak itu pula tertanam dendam kesumat terhadap
Dipasingara. Melakukan pembalasan berarti harus memiliki ilmu yang lebih tangguh. Ini
disadari sepenuhnya oleh bekas kepala pengawal itu. Maka setelah hampir satu setengah bulan
berkelana kian kemari akhirnya dia dapat juga berguru pada seorang tokoh silat tak terkenal di
timur. Meski tak terkenal dalam dunia persilatan namun ilmu yang dipelajari Suramanik dari
orang tersebut cukup tinggi.
Setahun lebih menuntut kepandaian maka Suramanik merasa sudah cukup dan minta diri
pada gurunya guna mencari Dipasingara. Ternyata pemuda itu tidak ada lagi di Kadipaten
Gombong. Peristiwa yang menimpa Adipati Kebo Panaran, yang diceritakan orang padanya
benar-benar mengejutkan Suramanik. Ternyata Dipasingara adalah pendekar bejat terkutuk
yang bergelar Hidung Belang Berkipas Sakti.
Dari keterangan-keterangan yang dapat dikumpulkan oleh Suramanik akhirnya dia
mengetahui bahwa musuhnya itu tidak mempunyai tempat kediaman tertentu tetapi sering
berada di sebuah goa di teluk yang tenang di pantai selatan. Maka Suramanik segera menuju
ke tempat itu. Dalam perjalanan ke selatan inilah dia bertemu dengan perempuan gila yang
sedang hamil dan bukan lain adalah Wulandari.
Selagi membuntuti Wulandari dari belakang, Suramanik melihat tiga buah titik hitam
bergerak cepat di samping bukit tandus sebelah kirinya. Makin lama tiga titik itu makin besar
tanda makin dekat dan menuju ke jurusannya. Ternyata tiga titik tadi adalah tiga orang yang
tengah berlari cepat. Kira-kira dua puluh tombak dari Suramanik ketiga orang itu berpencar.
Jelas bahwa ketiga orang tak dikenal itu sengaja mengurungnya.
"Berhenti!" satu bentakan mengumandang.
Suramanik tarik tali kekang kuda. Dia tahu kalau tiga orang itu memiliki ilmu lari cepat
berarti mereka bukan orang sembarangan. Dari atas punggung kudanya diperhatikan
ketiganya. Yang pertama seorang pemuda berpakaian putih berambut gondrong. Yang kedua
seorang kakek-kakek dan yang terakhir seorang lelaki muda berwajah gagah tapi pucat. Di atas
punggung kudanya Suramanik menunggu dengan sikap waspada.
"Bukan dia ..." kata pemuda berambut gondrong.
"Ya, memang bukan dia," menyahuti si kakek.
"Kalian bertiga siapa dan ada keperluan apa menyuruhku berhenti?" bertanya Suramanik.
"Harap maafkan," menjawab pemuda bermuka agak pucat. Dia adalah Sanjaya. "Kami kira
kau adalah orang yang tengah kami cari. Dapatkah kau menerangkan apakah Teluk Segara
Anakan masih jauh dari sini?"
Suramanik memandang ke tiga orang itu ganti berganti baru menjawab. "Kira-kira
sepenanakan nasi lagi. Akupun tengah menuju ke sana ...."
Sanjaya berpaling pada dua kawannya yaitu Wiro Sableng dan Jagat Kawung. Lalu bertanya
pada Suramanik: "Apakah kau tinggal di sana?"
Suramanik menggeleng.
"Seperti kalian akupun tengah mencari seseorang."
"Mencari seseorang? Boleh aku tanya siapa nama orang yang kau cari itu?" Yang bertanya
adalah Jagat Kawung.
Sesaat Suramanik merasa bimbang. Namun akhirnya menjawab juga. "Orang itu memiliki
beberapa nama. Tak tahu mana yang asli. Diantaranya yang kuketahui ialah Dipasingara dan
Handaka...."
"Kalau begitu kita mencari orang yang sama!" kata Sanjaya.
"Urusan apa sampai kau mencari orang itu?" kembali Jagat Kawung ajukan pertanyaan.
"bangs*t itulah yang menyebabkan aku kehilangan jabatan sebagai kepala pengawal di
kadipaten Gombong sekitar satu tahun silam. Kudapat keterangan dia melarikan istri Adipati
Kebo Panaran dan membunuh Adipati itu."
Jagat Kawung menghela nafas panjang. Dia memandang ke laut dan berkata: "Mari kita
cepat-cepat meneruskan perjalanan."
"Tunggu dulu," kini Suramanik yang menahan.
"Ada satu kejadian yang perlu kuterangkan pada kalian. Mungkin ada gunanya. Ketika
kalian hadang aku, sebenarnya aku tengah membuntuti seorang perempuan muda berotak
miring yang lari ke jurusan sana ...."
Dada Sanjaya sesak. Parasnya berubah.
"Apakah... apakah perempuan itu sedang hamil...?" tanya Sanjaya.
"Ya. Bagaimana kau bisa tahu?" Suramanik agak heran.
"Pasti Wulandari, pasti!" desis Sanjaya. Tanpa tunggu lebih lama dia segera berkelebat
meninggalkan tempat itu disusul oleh Jagat Kawung dan Wiro Sableng serta Suramanik yang
menunggangi kuda.
Berlari selama kira-kira sepenanakan nasi sampailah ke empat orang itu ke tempat yang
dituju yaitu Teluk Segara Anakan. Suasana tampak tenang. Ombak bergulung-gulung dari
tengah lautan menuju pantai dan memecah teratur di pasir, di antara batu-batu karang yang
banyak bertebaran di sana-sini.
"Inilah Teluk Segara Anakan. Dipasingara sering datang ke sebuah goa yang terdapat di
sekitar sini ...." Suramanik berkata.
"Kita cari goa itu sekarang juga," kala Sanjaya tidak sabaran.
"Tunggu dulu sobat-sobatku...” ujar Wiro sambil mengangkat tangan kanannya. “Aku
mendengar suara lelaki tertawa mengekeh diseling suara jeritan-jeritan perempuan ..."
Semua orang memandang pada Wiro. Tak satu pun di antara mereka mendengar suarasuara
yang dikatakan Pendekar 212 itu. Ini merupakan satu pertanda bagaimana jauh lebih
tajamnya pendengaran murid Eyang Sinto Gendeng itu.
Semua orang memasang telinga. Sesaat kemudian Jagat Kawung berkata. "Betul ... suara
itu. Aku kenal benar. Yang tertawa adalah si keparat murtad. Datangnya dari balik gundukan
batu karang besar di sebelah sana! Mari!"
Keempat orang itu dengan cepat segera menuju ke jurusan batu karang yang menjulang di
sebelah barat Teluk. Semakin dekat ke sana semakin jelas terdengar suara tawa mengekeh
serta jeritan perempuan. "Mampus! Mampuslah kau Handaka!"
Begitu sampai di balik batu karang, keempat manusia itu disambut oleh satu pemandangan
luar biasa. Seorang perempuan berambut panjang tergerai acak-acakan dan berperut besar
hamil dengan pedang di tangan menempur membabi buta seorang lelaki muda. Yang
perempuan ternyata adalah Wulandari, tunangan Sanjaya, sedang yang lelaki bukan lain
Warangas alias Dipasingara alias Handaka alias Prana dan banyak alias-alias lainnya.
Perkelahian terjadi di depan sebuah goa. Di mulut goa tegak seorang gadis berkulit hitam
manis dalam keadaan tubuh setengah telanjang, ikut menyaksikan jalannya pertempuran
dengan tegang. Perempuan hitam manis ini adalah Sri Wening, anak gadis pak Tanu yang telah
diculik dan disekap Warangas di goa itu sejak seminggu lalu. Ketika Wulandari sampai ke goa
itu Warangas tengah menggeluti tubuh Sri Wening.
Meskipun otaknya miring namun serangan pedang Wulandari bukan serangan sembarangan
dan amat berbahaya. Akan tetapi Warangas menyambuti dengan ganda tertawa dan andalkan
tangan kosong. Sebentar-sebentar tangannya merobek pakaian lusuh dan kotor yang melekat
di tubuh Wulandari hingga lambat laun perempuan muda yang malang ini hampir berada dalam
keadaan telanjang. Perutnya yang buncit dan urat-urat membiru jelas kelihatan.
Sanjaya tidak dapat menahan luapan amarahnya lagi. Dihunusnya pedangnya lalu
menghambur memasuki kalangan pertempuran.
"Manusia dajal terkutuk! Hari ini jangan harap kau bakal bisa lolos dari kematian!"
Warangas terkesiap kaget melihat kemunculan Sanjaya yang tidak dikenalnya itu. Lebih
kaget lagi ketika di seberang sana dilihatnya pula Suramanik, Jagat Kawung dan Wiro Sableng.
Wulandari yang tengah mengamuk dengan pedang di tangan ketika melihat Sanjaya
menjerit keras dan lari ke balik gundukan batu karang rendah. Di situ dia menangis dan
berteriak-teriak tak karuan.
Karena tidak merasa punya silang sengketa dengan Sanjaya heranlah Warangas ketika
Sanjaya menyerbunya dengan serangan-serangan gencar.
Dia tak punya kesempatan untuk tanya ini itu dan terpaksa harus kerahkan kepandaian
untuk menghindari sambaran-sambaran pedang lawan. Dalam pada itu dilihatnya Suramanik
telah turun dari kudanya dan langsung masuk ke kalangan pertempuran dengan sebilah golok
besar di tangan.
"Suramanik! Biar aku sendiri yang akan mencincang rnanusia terkutuk ini!" teriak Sanjaya.
Dia ingin melampiaskan dendam kesumatnya seorang diri.
"Aku juga punya hak untuk membelah batok kepalanya, Sanjaya!" tukas Suramanik.
"Akulah yang paling berhak untuk mematahkan batang lehernya!" yang berteriak kali ini
adalah si kakek Jagat Kawung dan serentak dengan itu dia menyerbu dengan tangan kosong,
menghantamkan pukulan Baja Merah!
Mendapat tiga serangan yang hebat luar biasa ini Warangas menyingkir satu tombak ke
samping lalu melompat tinggi ke udara. Ketika masih mengapung di atas, pemuda hidung
belang ini cepat keluarkan senjatanya yang amat diandalkan yakni Kipas Pemusnah Raga.
"Lekas menyingkir!" seru Wiro Sableng ketika dilihatnya kipas hitam di tangan Warangas
terkembang. Wiro yang berada sekitar enam belas langkah dari kalangan pertempuran segera
lepaskan pukulan Dewa Topan Menggusur Gunung untuk menangkis sinar hitam kipas sakti dan
guna memberi kesempatan pada Jagat Kawung, Suramanik serta Sanjaya menyingkir.
"Jika kalian bertiga bertengkar untuk saling dapat membantai manusia bejat ini, biar aku
saja yang mewakili kalian semua! Bagaimanapun mengeroyok adalah tindakan yang tidak
terpuji!" kata Wiro sarnbil bersiap dengan pukulan berikutnya.
"Bagi manusia puntung neraka macam dia tak perlu memakai segala tata cara persilatan.
Yang penting dia musti mampus!" teriak Sanjaya. Lalu pemuda ini melornpat ke udara seraya
kiblatkan pedangnya.
Sinar hitarn menggebu-gebu mernaksa Sanjaya menyingkir jauh-jauh. Dari samping kiri
kembali Jagat Kawung mengirimkan pukulan Baja Merah sedang Suramanik begitu dilihatnya lawan menjejakkan kaki di tanah cepat-cepat menyerbu dengan golok besarnya.
"bangs*t pengeroyok! Mampuslah semua!" teriak Warangas marah dan kalap melihat serangan yang datang tiada henti. Kipasnya dikembangkan lebih lebar lalu diputar dalam bentuk lingkaran. Sinar hitam menderu ke seluruh penjuru, menyapu dahsyat laksana topanprahara.
Di mulut goa terdengar jeritan Sri Wening ketika sinar hitam itu menyambarnya,membantingkan tubuhnya yang hangus tak bernyawa lagi ke dinding goa!
Wiro leletkan lidah. Ketika sinar hitarn itu berkelebat ke arahnya murid Sinto Gendeng ini menangkis dengan pukulan Dewa Topan Menggusur Gunung sedang tangan kanannya melancarkan pukulan Sinar Matahari.
Warangas merasakan tubuhnya laksana disambar angin puting beliung. Sinar hitam yang menggebu dari kipas saktinya musnah. Sebelum dia sempat mengimbangi diri dan membetulkan kuda-kuda kedua kakinya, pukulan Sinar Matahari telah menyambar kipas saktinya hingga senjata itu hancur berantakan!
Paras Warangas sepucat kain kafan. Tengkuknya sedingin salju. Tanpa senjata di tangan menghadapi empat lawan berkepandaian tinggi seperti itu membuat nyalinya meleleh. Maut telah di ambang pintu!
Tanpa tunggu lebih lama Warangas melompat tidak menduga kalau di balik batukarang itu justru ada Wulandari. Sebelum dia sempat bergerak untuk terus melarikan diri mendadak dirasakannya sambaran angin. Seolah-olah bumi yang dipijaknya roboh begitulah tubuh Warangas terbanting ke pasir ketika kedua kakinya sebatas betis buntung disambar pedang Wulandari.
Pemuda hidung belang itu menjerit setinggi langit. Tubuhnya terguling ke bawah. Dia rnenjerit lagi ketika dari kiri kanan Suramanik dan Sanjaya bersirebut cepat menghantarnkan golok dan pedang masing-masing ke tubuhnya! Pedang di tangan Sanjaya membabat robek dada Warangas sedang golok di tangan Suramanik membabat putus lengan kirinya sampai kebahu!
"Cukup! Sekarang giliranku orang-orang muda!" Terdengar suara Jagat Kawung. Tubuhnya berkelebat cepat. Tangannya menjambak rambut Warangas. Namun sebelum dia sempat memuntir kepala muridnya yang murtad itu, satu sinar putih menderu dari samping dan cras!
Kepala Warangas terpisah dari badannya. Lehernya putus dibabat pedang Wulandari. Darah rnenyernbur. Wulandari menjerit histeris dan lari ke arah laut.
"Aku terlambat ... aku terlambat ..." desis Jagat Kawung menyesali diri. Sekali dia meremas maka hancurlah kepala Warangas!
Ketika melihat Wulandari lari ke arah laut, Sanjaya cepat mengejar. Dia tahu apa yang bakal dilakukan, bekas tunangannya itu dan segera menyergapnya.
"Lepaskan aku! Lepaskan! Biar aku terjun ke dalam laut!" teriak Wulandari.
"Tenang Wulan. Sadarlah! Kenapa kau mau mati dengan cara sesat bunuh diri?"
"Aku memang sudah sesat! Lepaskan!" teriak Wulandari. Dia coba meronta melepaskan diri tapi tak bisa. Tiba-tiba dia ingat pada pedang berdarah yang masih tergenggam di tangannya.
Secepat kilat senjata itu ditusukkan ke dadanya.
"Wulan! Jangan!" jerit Sanjaya. Tapi terlambat. Pedang masuk jauh ke dada Wulandari.
Tubuh perempuan itu terkulai dalam pelukan Sanjaya.
"Wulan, kenapa kau lakukan ini. Aku ... aku masih mencintaimu. Kenapa kau tinggalkan aku Wulan...?" Suara Sanjaya serak menahan tangis. Air matanya membersit dan dadanya sesak.
Di saat kematian mendatang itu jalan pikiran Wulandari tampaknya kembali normal.
"Semuanya telah kasip kakak. Diriku terlalu kotor untuk terus hidup di dunia ini. Ampuni dosaku kakak. Aku telah mengkhianati janji walau sebenarnya akupun tetap mencintaimu ...."
"Wulan adikku ... !"
Kepala Wulandari terkulai. Wulandari hanya tinggal jasad kasar belaka kini. Jasad kasar yang ditancapi pedang dan dilumuri darah. Angin dari luar bertiup lembut dan sejuk. Ombak putih bergulung teratur dan memecah di depan kaki Sanjaya. Butir-butir air mata berlelehan di pipi pemuda ini. Dia berlutut membaringkan tubuh Wulandari di pasir pantai, memeluk dan menangisinya. Dia tak tahu entah berapa lama dia berada dalam keadaan seperti itu sampai akhirnya satu tangan memegang bahunya.
"Sobatku Sanjaya, Tuhan menghendaki segala sesuatunya berakhir sampai di sini, dalam cara begini rupa. Tabahkan hatimu, kuatkan iman. Akan lebih baik jika kita mulai menggali tempat peristirahatan terakhir baik Wulandari ...."
Sanjaya hanya menjawab dengan anggukan. Diangkatnya jenazah tunangannya itu. Diikuti oleh Wiro, Suramanik dan Jagat Kawung dia mendukung tubuh Wulandari ke bagian yang landai di bawah naungan batu karang. Di situ mereka mulai menggali kubur.
Bila sang surya menggelincir ke barat maka di pantai Teluk Segara Anakan kelihatan sebuah kubur. Empat orang lelaki berdiri di sekeliling kuburan itu. Tapi tanpa diketahui oleh tiga orang lainnya, salah seorang dari mereka yaitu Pendekar 212 Wiro Sableng tahu-tahu sudah berkelebat lenyap dari tempat itu.

TAMAT
IZRO'IL
WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212


Neraka Puncak Lawu


1
SAAT ITU MEMASUKI permulaan musim semi. Pohon-pohon yang dulu gundul tak berdaun kini kelihatan mulai menghijau segarkembali. Dibagian barat daratan Madiun yang leas menjulanglah pegunungan gunung Lawu dengan lebih dari setengah lusin puncakpuncaknya yang tinggi. Sebegitujauh hanya satu dua saja dari puncak pegunungan ini yang pernah diinjak kaki manusia.
Pegunungan Lawu membujur dari barat ke timur. Diapit disebelah utara oleh daerah Gondang dan pegunungan Kendeng. Disebelah selatan terletak daerah Jatisrana, Purwantara dan pegunungan Kidul serta dataran tinggi Tawangmangu.
Pegunungan Lawu bukan saja dikenal sebagai sebuah pegunungan terbesar di Madiun, namun juga merupakan pusat satu partai silat terkenal dan disegani pada masa itu yakni partai Lawu Megah.
Sejak Resi Kumbara mengundurkan diri lima tahun yang lalu maka tampuk jabatan ketua dipegang oleh adiknya yang juga merupakan adiknya seperguruan Resi Tumbal Soka. Adapun pengunduran diri Resi Kumbara, selain usianya yang sudah amat lanjut yakni hampir mencapai 100 tahun, paderi ini sudah jemu dengan segala macam urusan partai yang menyangkut 1001 macam masalah keduniaan.
Kalau Resi Kumbara dulu sempat dan berhasil mengangkat nama partai Lawu Megah menjadi satu partai besar yang dihormati dan disegani, maka agaknya tidak demikian dengan Resi Tumbal Soka. Sejak dia memegang jabatan ketua, banyak perobahan-perobahan yang dilakukannya di dalam partai. Keluarpun dia kurang mendapat tempat yang baik karena tindakan-tindakannya yang tidak tepat. Akibatnya partai Lawu Megah pernah berselisih faham dengan partai-partai silat-besar lainnya.
Bahkan satu telah terjadi bentrokan yang membawa korban dengan partai Merapi Indah.
Beberapa orang paderi tua pernah menemui Resi Kumbara di ruangan samadinya. Mereka melaporkan keadaan di dalam dan di luar partai dan meminta agar Resi Kumbara suka memegang jabatan ketua kembali. Sekurang-kurangnya untuk sementara sampai kemendungan selama ini bisa dipulihkan.
Cuma sayang Resi Kumbara menolak. Orang tua ini berkata, "Apa yang sudah kuserahkan pada orang lain tak boleh kuminta kembali. Demikian juga dengan jabatan ketua partai. Adik-adikku, sebenarnya kalian datang ke alamat yang salah. Bukan aku yang harus kalian temui, tapi kakak kalian, Resi Tumbal Soka. Bukankah kalian bisa berembuk dengan dia? Bukankah kalian pembantu-pembantunya? Temui dia dan carilah jalan yang sebaik-baiknya. Cuma satu hal aku ingin tekankan. Aku tidak suka melihat adanya keretakan di antara kalian. Tak ada yang paling baik dari pada musyawarah danpersatuan. Nah, sekarang kalian pergilah. Aku tak ingin diganggu lebih lama."
Kelanjutannya tak ada seorangpun diantara paderi-paderi tua itu yang menemui Resi Tumbal Soka. Mereka tahu sifat ketua mereka ini. Selain mempunyai pribadi yang tertutup, juga sulit untuk diajak berunding. Dia merasa bahwa hitam putih segalasesuatunya dalam partai adalah di tangannya. Dia bisa saja mendengarkan pendapatpendapat para pembantunya, namun apa maunya juga yang kelak akan dijalankan.
Akibatnya dalam tubuh para pimpinan partai terjadi kelompok-kelompok yang saling bertolak belakang. Kelompok pertama dipimpin oleh Resi Permana yang ingin melihat partai Lawu Megah kembali seperti masa sewaktu dipimpin oleh Resi Kumbara. Kukuh di dalam dan mempunyai hubungan baik diluar dalam kalangan persilatan.
Kelompok kedua dipimpin oleh Resi Godra. Ketidaksenangan paderi ini terhadap ketuanya lebih banyak ditimbulkan oleh hal-hal pribadi. Sesudah Resi Kumbara mengundurkan diri maka dengan usianya yang sudah 90 tahun paderi Resi Godramerupakan orang yang paling tua di partai Lawu Megah. Dengan sendirinya dia merasa mempunyai hak untuk menduduki jabatan ketua. Namun dia menjadi kecewa sekati ketika jabatan itu diserahkan pada Resi Tumbal Soka, padahal paderi ini 10 tahun lebih muda dari dia. Rupanya sang ketua yang lama lebih mementingkan hubungan darah Resi Tumbal Soka adik kandung Resi Kumbara dari pada tata cara yang berlaku.
Ditambah dengan sikap dan salah urus dari Resi Tumbal Soka, maka semakin tidak sukalah paderi yang satu ini terhadap ketuanya itu.
Kelompok ketiga ialah kelompok Resi Tumbal Soka sendiri bersama pendukungpendukungnya.
Meskipun di luaran paderi tiga kelompok tersebut masih menunjukkan sikap rukun dan saling hormat, namun diam-diam laksana api dalam sekam mereka saling bertentangan.
Pada pagi hari itu hujan rintik-rintik turun di puncak gunung Lawu. Menyaksikan keadaan puncak ini nyatalah bahwa ada satu peristiwa besar tengah terjadi di pusat partai terkenal ini.
Para pucuk pimpinan dan anak-anak murid partai semua berkumpul disebuah lapangan besar. Pada tengah-tengah lapangan ini berdiri sebuah tiang kayu setinggi tiga meter, lengkap dengan seutas tambang besar. Salah satu ujung tambang ini dibuhul demikian rupa membentuk lingkaran sedang ujungnya yang lain terikat kukuh pada palang kayu diatas tiang. Sebuah kursi terletak dekat tiang itu. Sekali memandang saja jelaslah bahwa benda-benda itu dipersiapkan untuk menggantung seseorang!
Sejak berdirinya Partai Lawu Megah hampir 200 tahun yang silam, tak pernah hal seperti ini berlangsung. Baru waktu Resi Tumbal Soka menjabat ketualah peristiwa ini terjadi. Gerangan siapakah yang hendak digantung pada pagi hari itu?
Ketua partai berdiri bersama pembantu-pembantunya sekitar dua puluh langkah sebelah kanan tiang gantungan. Disamping Resi Tumbal Soka tegak seorang dara berpakaian biru. Rambutnya kusut dan wajahnya yang cantik kelihatan mendung.
Sebentar-sebentar dia pergunakan sehelai sapu tangan untuk menyapu air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Sularwasih! Hentikan tangismu! Mana ketabahan hatimu sebagai seorang murid
Partai Lawu Megah?" Resi Tumbal Soka berkata pada gadis berpakaian biru. Gadis ini adalah murid kesayangannya.
"Guru⁄ kalau guru mengizinkan, murid lebih suka mati bunuh diri saat ini juga... "
Sularwasih tiba-tiba menyahut dengan suara parau.
"Jangan ngacol" Ketua Partai Lawu Megah kelihatan marah. "Bukan kau yang harus mati, tapi bangs*t terkutuk itu! Kau akan saksikan sendiri kematiannya di tiang gantungan sebentar lagi!"
Resi 'Tumbal Soka memandang berkeliling kemudian berseru, "Bawa pemuda laknat itu ke tiang gantungan!"
Suara teriakan sang ketua yang disertai hawa amarah den tenaga dalam amat tinggi laksana geledek menggetari seantero puncak gunung Lawu. Bila getaran teriakan itu sirna, kesunyian mencengkam menegangkan.
Dari arah rumah besar kelihatan seorang pemuda berkulit coklat keluar digiring oleh dua orang anak murid partai tingkat tertinggi.
Di sebelah depannya mendahului seorang Resi.
Pemuda berkulit coklat itu, memiliki rambut gondrong sampai ke bahu. Kedua tangannya diikat di sebelah belakang dengan sehelai benang aneh yang bagaimanapun diusahakannya tak sanggup diputuskan. Tampangnya tolol, tapi sikapnya gagah bahkan dia melangkah cengar cenqir. Seolah-olah tengah dalam perjalanan ke satu tempat yang bagus, bukan tengah menuju ke tiang gantungan yang telah disediakan untuk dirinya!
Murid-murid partai berkerumun di ssbelah timur menyeruak memberi jalan. Pemuda asing den pengiringnya sampai di depan tiang gantungan. Ketegangan semakinmemuncak. Kesunyian tambah tidak enak.
Resi Tumbal Soka menganggukkan kepala pada paderi yang menyertai pemuda berambut gondrong itu. Dan sang paderi lantas membalikkan diri, berpaling pada si pemuda.
"Orang asing yang mengaku bernama Wiro Sableng!" katanya dengan suara lantang hingga terdengar ke segenap penjuru. "Kami orang-orang Partai Lawu Megah masih bersedia memberikan sedikit kelonggaran padamu sebelum kau menjalani hukuman mati di tiang gantungan . . . ."
Tawanan yang hendak dihukum mati itu ternyata adalah Pendekar 212 Wiro Sableng, murid Eyang Sinto Gendeng dari gunung Gede yang sejak beberapa tahun belakangan ini bertualang di daratan Tiongkok. Wiro tersenyum mendengar ucapan paderi itu.
"Terima kasih. Kelonggaran apakah yang kalian hendak berikan padaku...?!" bertanya Wiro acuh tak acuh tanpa memandang pada paderi yang tadi berkata padanya. "Sebelum menjalani hukuman mati kau diperkenankan mengajukan satu permintaan atau menyampaikan pesan terakhir."
Kembali Wiro Sableng tertawa cengar cengir.
"Aku tak punya karib kerabat apa lagi sanak saudara disini. Pesan apa dan kepada
siapa pula aku kusampaikan... ?"
"Kalau begitu permintaan terakhir saja," kata paderi itu.
"Permintaan terakhir . . . ?" Wiro kerenyitkan kening. "Kalian sudah memutuskan
untuk membunuhku secara biadab, kini kenapa meributkan segala soal tetek bengek
begini rupa. Gantung saja aku detik ini juga habis perkara!"
Mendengar kata-kata Wiro itu, Resi Tumbal Soka menjadi marah wajahnya dan
berkata lantang, "Kau dihukum gantung secara biadab karena kau telah melakukan
kekejian yang biadab! Itu sudah pantas menjadi bagianmu! Jika kau tidak ada kata-kata
atau permintaan terakhir, itu lebih baik. Kau akan lebih cepat kami singkirkan dari
puncak Gunung Lawu ini!"
"Resi Tumbal Soka, mulut dan pendapat manusia itu tidak selamanya bisa dijadikan
hakim yang adil. Kudengarkan kau banyak melakukan hal-hal yang sembrono sebagai
ketua partai. Itu sebabnya ada yang tidak menyukaimu di pihak orang dalam sendiri
dan juga di dunia persilatan!" Habis berkata begitu Wiro tertawa mengekeh.
Marahlah ketua Partai Lawu Megah. Dia berteriak, "Gantung dia sekarang juga!"
Diam-diam dingin juga tengkuk Pendekar 212 dan bergetar juga dadanya. Ketika
bahulan tali hendak dilingkarkan ke lehernya lewat kepala, tiba-tiba dia berteriak,
"Tunggu dulul Aku ingin mengajukan satu permintaan terakhir!"
"Kurang ajar! Lekas katakan apa permintaanmu!" teriak Resi Tumbal Soka jengkel dan marah sekali. Dia memberi isyarat. Paderi yang hendak menjeratkan tali ke leher Wiro menurunkan tangannya kembali.
Sepasang mata Wiro Sableng bergerak ke arah gadis berpakaian biru yang masih
sibuk menyeka air matanya. Dia goyangkan kepalanya pada gadis ini seraya berkata:
"Aku ingin bicara dengan gadis itu!"
Semua orang saling pandang. Tentu saja mereka tidak menduga sang tawanan akan
mengajukan permintaan demikian. Semua orang memandang pada Resi Tumbal Soka,
menunggu keputusannya. Ketua partai ini sendiri kelihatan bergerak-gerak pelipisnya.
Dia berusaha menekan amarahnya dan kemudian berkata, "Kau kami beri kesempatan
untuk bicara dengan gadis itu. Tapi cepat dan singkat!"
"Adik, kau kemarilah mendekat!." Wiro berseru.
Sularwasih memandang melotot. Mulutnya terbuka, "Manusia terkutuk! Aku tidak
sudi bicara denganmu!"

2
SEPASANG ALIS MATA Wiro Sableng naik ke atas. Keningnya mengerenyit.
"Jika kau tak mau bicara denganku, berarti kelak kau bakal penasaran seumur
hidup," kata pendekar itu pula.
"Kaulah yang bakal jadi setan penasaran!" teriak Sularwasih.
"Sularwasih, kita harus memenuhi apa yang telah kita janjikan. Kau harus dengar
apa yang dikatakannya," ujar Resi Tumbal Soka, lalu berpaling pada Wiro. "Katakan
lekas apa yang ingin kau sampaikan padanya!"
"Apakah dia tidak boleh maju lebih dekat ke hadapanku?" tanya Wiro.
"Muridku, kau majulah sampai tiga langkah dari hadapannya," kata Resi Tumbal
Soka.
Karena diperintah gurunya, meskipun hati kecilnya membantah namun dia tak
berani menolak. Sularwasih melangkah ke hadapan Wiro Sableng.
"Sekarang bicaralah!" seru ketua Partai Lawu Megah tak sabaran karena dilihatnya
Wiro masih cengar-cengir.
"Adik, kau, cantik sekali jika menangis begini. Kedua pipimu jadi merah⁄. " Katakata
itu diucapkan oleh Wiro setengah berbisik hingga cuma nona Sularwasih saja yang
dapat mendengarnya. Dan si nona justru tiba-tiba menggerakkan tangan kanannya.
"Plak!"
Satu tamparan mendarat pipi Wiro. Demikian kerasnya hingga bibirnya luka dan
mengeluarkan darah. Selagi semua orang tercengang-cengang melihat kejadian itu, Wiro
kembali membuka mulut, "Nona Sularwasih, aku bersumpah bahwa aku sama sekali
tidak merusak kehormatanmu. Seorang lain yang melakukannya dan aku yang jadi
kambing hitamnya!" Kata-kata ini diucapkan Wiro dengan suara keras hingga semua
orang mendengar.
"Muridku, kembali ke tempatmu semula!" terdengar seruan paderi Resi Tumbal
Soka.
Sesaat Sularwasih masih tegak menatap tajam pada Wiro Sableng. Entah tertegun
dalam kemarahannya, entah terpukau dalam ketidakpercayaannya atas pengakuan
pemuda berambut gondrong itu. Kemudian sadar akan kata-kata suhunya, gadis ini
melangkah , mundur, kembali ke tempat semula.
"Laksanakan hukuman sekarang juga!" terdengar kembali seruan Resi Tumbal Soka.
Maka tali penggantung dilingkarkan ke leher Pendekar 212 Wiro Sableng. Dua
orang murid partai dengan paksa dan susah payah menaikkan pemuda itu ke atas kursi.
Mereka kemudian memegangi tawanan itu agar jangan berontak. Selagi perintah untuk
menyingkirkan kursi yang dipijak Wiro ditunggu, tiba-tiba dalam kesunyian yang amat
menegangkan itu terdengarlah suara nyanyian yang amat santar. Demikian santarnya
sehingga semua orang yang ada di situ termasuk Resi Tumbal Soka dan para pimpinan
partai lawu megah yang berkepandaian tinggi merasa liang telinga masing bergetar!
Semakin tinggi mendaki puncak Gunung Lawu
Semakin indah permai pemandangan
Semakin sembrono tindakan seorang pimpinan
Semakin jauhlah dia tersesat dalam aturan dunia persilatan
Keadilan sejati tidak ada di muka bumi ini
Hukum yang benar jarang ditemui
Semua orang bisa jadi hakim
Tapi tidak semua orang bisa menghakimi tindakan diri sendiri.
Kata-kata dalam nyanyian itu membuat paras Resi Tumbal Soka berobah. Dia
berpaling ke arah timur. Baru saja dia putar kepalanya, tahu-tahu sesosok tubuh
laksana bayangan kilat telah berkelebat di depan tiang gantungan. Seorang kakek-kakek
kini kelihatan berdiri di situ. Mukanya demikian kurus hingga hampir menyerupai
tengkorak hidup! Tubuhnya pun luar biasa kurusnya hingga kelihatan seperti
jerangkong.
Melihat kakek-kakek ini Wiro berseru keras. "Pendekar Pedang Akhirat! Kakek, aku
yang hendak dihukum mati ini rupanya masih diberi kesempatan untuk menghaturkan
hormat danmengucapkan selamat tinggal padamu. Apakah kau selama ini baik-baik
saja?"
Ternyata kakek yang datang ini adalah pendekar yang telah menggetarkan dunia
persilatan selama puluhah tahun, yang beberapa waktu lalu pernah diselamatkan Wiro
Sableng dari satu lobang sekapan yang hampir merenggutkan nyawanya.
Pendekar Pedang Akhirat mendongak pada Wiro yang tegak di atas kursi. Lalu
tertawa gelak-gelak. "Selama ini aku ada baik-baik saja, sobatku. Tampaknya kau sendiri
tidak berada dalam keadaan baik-baik heh? Nasibmu sungguh malang harus mampus di
tiang gantungan."
Wiro menyeringai kecut.
Si kakek kemudian celengak-celenguk seputar pedataran yang penuh oleh para
pimpinan dan murid-murid Partai Lawu Megah. Kemudian pandangannya tertumbuk.
Dia tertawa dan menjura lalu berkata:
"Ah sobatku Resi Tumbal Soka ⁄ Sudah hampir empat puluh tahun sejak aku
penghabisan sekali menginjakkan kaki di puncak Gunung Lawu ini dulu. Ternyata kini
banyak perubahan. Ada apakah sebenarnya saat ini di sini, sobatku?"
Sesaat Resi Tumbal Megah masih berdiam diri. Terkesiap oleh kedatangan si kakek
yang tidak diduganya, yang ternyata mengenal tahanan yang hendak digantung.
Kemudian dia ingat dan buru-buru balas menjura.
"Selamat datang di Partai Tumbal Soka, sobatku Pendekar Besar Pedang Akhirat."
"Hai, julukanku hanya Pendekar Pedang Akhirat, tak perlu ditambah dengan kata
Besar!" Dan ini membuat wajah Resi Tumbal Soka menjadi bersemu merah. Paderipaderi
yang lain tak berani membuka mulut, bahkan bergerak dari tempat masingmasing
pun tampaknya mereka takut. Semuanya tahu siapa adanya kakek bermuka
tengkorak ini. Seorang tokoh silat yang sampai hari itu masih dianggap sebagai
datuknya orang persilatan. Yang ilmu kepandaiannya sukar dijajagi. Bahkan Resi
Kumbara yang sudah mengundurkan diri belum tentu setingkat kepandaiannya dengan
kakek jerangkong ini. Apa lagi jika dibandingkan dengan Resi Tumbal Soka.
"Eh, aku tidak melihat sobat lamaku paderi Resi Kumbara⁄!" tiba-tiba Pendekar
Pedang Akhirat berseru lagi dan memandang celangak-celinguk kian kemari dengan
sikap lucu, tapi tak satu orang pun berani tertawa, kecuali murid Eyang Sinto Gendeng
yang terus-terusan saja cengar-cengir.
"Kakakku itu sudah mengundurkan diri dari segala urusan partai. Akulah kini yang
menjadi ketua Partai Lawu Megah," menyahuti Resi Tumbal Soka.
"Oh, begitu? Astaga! Kalau begitu aku harus sekali lagi memberi penghormatan!"
Dan kembali si kakek jerangkong itu menjura. Penghormatan yang sekali ini terasa satu
hinaan halus oleh Resi Tumbal Soka. Tapi dia tak mau memberikan reaksi apa-apa,
cuma wajahnya saja yang kembali kelihatan bertambah merah.
"Betul-betul banyak perubahan di puncak Gunung Lawu ini," kata Pendekar Pedang
Akhirat sambil geleng-gelengkan kepalanya. "Hai! Sobatku Resi Tumbal Soka, kau
belum jawab pertanyaanku tadi. Ada apakah ramai-ramai di sini?"
"Seperti kau seksikan sendiri. Pemuda asing itu akan menjalani hukuman mati.
Menilik gelagat kakek,gagah sebelumnya sudah kenal padanya⁄"
"Betul, aku memang kenal padanya. Tapi kenapakah dia hendak digantung?" ia
bertanya.
"Dia telah merusak kehormatan salah seorang murid gunung Lawu," jawab Resi
Tumbal Soka seraya goyangkan kepalanya ke arah Sularwasih.
"Aha⁄! Ini betul-betul urusan kapiran!" Eh Wiro, betulkah kau telah memperkosa
nona itu?!" Sepasang mata si kakek menyorot tajam laksana menembus batok kepala
Pendekar 212.
Wiro gelengkan kepala. "Aku bersumpah tidak melakukannya, kakek. Tapi mereka
tidak percaya. Jika saja anuku ini bisa bicara pasti dia akan mengatakan tidak!"
Pendekar Pedang Akhirat tertawa gelak-gelak.
"Jika saja anumu itu bisa bisa bicara! Hik....hik.... hik! Cuma sayang anumu tidak
bisa bicara heh! Tapi betul kau tidak mengganggu gadis itu? Maksudku memperkosanya?"
"Demi Tuhan tidak."
Si kakek mengangguk. "Aku percaya pada sumpahmu," kata kakek itu. Lalu berpaling
pada ketua partai. "Dia sudah bersumpah. Bagaimana ini?"
"Siapa sudi percaya sumpahnya. Mana ada maling yang mengaku."
"Tapi dia bukan maling."
"Penjahat keji terkutuk. Itu lebih pantas bukan?"
Si kakek tertawa. "Setahuku pemuda sobatku ini tak pernah mencari perempuan.
Justru perempuanlah yang pada mencarinya."
"Kakek gagah, apa dalam hal ini kau hendak mengatakan bahwa muridkulah yang
sengaja menyerahkan dirinya pada pemuda bajingan itu?!" kata paderi Tumbal Soka
dengan nada keras.
"Ooo, tentu saja tidak," sahut kakek muka tengkorak. "Tapi aku tak percaya kalau
sobatku ini telah memperkosa muridmu yang cantik itu."
"Itu urusanmu. Di sini kami melaksanakan urusan kami. Menjatuhkan hukuman
lengkap dengan bukti-bukti dan saksi!" kata Resi Tumbal Soka pula.
"Hemm begitu? Bolehkah aku mengetahui bukti atau mendengar saksi itu?"
Resi Tumbal Soka mengkal sekali. Tapi dia menganggukkan kepala pada seorang
pemuda bertampang keren yang tegak di samping Sularwasih. "Berikan kesaksianmu
padanya!"
"Waktu itu⁄" si pemuda yang merupakan seorang murid partai tingkat tertinggi,
mulai memberi keterangan tapi buru-buru dipotong oleh kakek muka tengkorak.
"Tunggu, beritahu dulu namamu!"
"Saya bernama Tandu Wiryo," jawab si pemuda lalu mulai mengulangi
keterangannya. "Waktu itu saya dan adik seperguruan ini tengah menjalankan tugas
dari ketua. Suatu malam dalam perjalanan pulang kami menginap di sebuah
penginapan. Di situ sebelumnya telah menginap pula pemuda itu. Selagi kami mendaftar,
saya saksikan sendiri dia mengedip-ngedipkan matanya mengganggu adik. Semula
adik hendak menghajarnya, tapi saya larang karena menganggap pemuda itu berotak
miring. Malam hari itu saya ke luar sendirian, maksudnya untuk melihat-lihat kota.
Ketika kembali pada tengah malam, saya temui adik menangis di dalam kamarnya.
Ternyata peristiwa keji itu telah terjadi. Saya mengadakan penyelidikan. Di dalam
kamar adik saya temukan sebuah kancing baju. Ketika dicocokkan, persis sama dengan
kancing baju pemuda asing itu!"
"Mana kancing baju itu sekarang?" tanya Pendekar Pedang Akhirat.
Tandu Wiryo mengeluarkan sebuah kancing baju dari dalam saku pakaiannya. Si
kakek mengamatinya dengan teliti. Ketika dia berpaling memperhatikan pakaian Wiro,
ternyata memang kancing itu sama dengan kancing pakaian si pemuda. Dan salah satu
dari kancing-kancing tersebut tanggal, tak ada lagi di tempatnya!

3
PENDEKAR Peciang Akhirat termenung sesaat. Kemudian dia berpaling pada
Sularwasih dan bertanya, "Sewaktu hal itu terjadi apakah kamarmu terang benderang?"
Yang menjawab adalah Tandu Wiryo, "Sesuai dengan kebiasaannya, adik
seperguruanku selalu tidur dengan lampu dipadamkan."
"Bagaimana kau bisa tahu kebiasaan adik seperguruanmu itu?" tanya Pendekar
Pedang Akhirat pula.
Tak menduga ditanya demikian. Tandu Wiryo jadi terkesiap diam. Saat itu Resi
Tumbal Soka membuka mulut, "Kakek gagah, aku tidak suka akan tanya jawab ini. Kau
seolah-olah sebagai seorang penyelidik. Sebagai seorang pembela. Jika kau ingin
menyaksikan pelaksanaan hukum gantung ini, silahkan. Jika tidak⁄ "
"Supaya aku angkat kaki dari sini?!" meneruskan kakek muka tengkorak sambil
tersenyum. "Tidak, sebelum persoalannya jelas begitu, aku tak akan pergi dari sini!" Si
kakek lalu berpaling pada Tandu Wiryo. "Orang muda, katakan padaku kota dan
penginapan di mana peristiwa itu terjadi."
Tandu Wiryo tidak segera menjawab sedang parasnya menunjukkan rasa tidak enak.
Dia menoleh pada Resi Tumbal Soka dan baru berkata, "Tanpa izin ketua aku tak akan
mau menjawab."
"Beritahukan saja padanya biar dia puas," ujar sang ketua pula.
"Penginapan Candi di Muntilan," Tandu Wiryo memberitahu.
"Kakek gagah, apakah kau puas sekarang?" tanya Resi Tunggal Soka.
"Puas. Tapi jadi tidak puas bila hukuman ini dilangsungkan!"
"Apa maksudmu?" tanya sang ketua partai seraya memandang tajam pada kakek
muka tengkorak."
"Puluhan tahun aku hidup dalam dunia persilatan, tak pernah kejadian orang
digantung karena urusan begini rupa. Apalagi sampai dilakukan oleh satu partai besar.
Mungkin perbuatan itu terkutuk dan keji. Tapi menggantungnya lebih terkutuk dan
lebih keji. Jika betul kau yakin pemuda asing ini salah, kenapa tidak dilaksanakan saja
pelaksanaan hukuman lewat perkelahian antara dia dengan muridmu ....?!"
"Kau bicara seenaknya saja, kakek gagah. Kau tahu, untuk menangkap pemuda
keparat itu kami membutuhkan selusin murid-murid tingkat tertinggi, enam orang
paderi utama dan membutuhkan waktu setengah hari!"
"Memang serba berabe," kata Pendekar Pedang Akhirat seraya usap-usap keningnya.
"Tapi akan lebih berabe lagi jika hukuman gantung itu dilaksanakan. Nama partai
Lawu Megah akan lebih cemar di dunia persilatan."
"Persetan dengan orang luar. Kami membuat sendiri dan menjalankan sendiri
aturan partai kami!" tukas Resi Tumbal Soka.
"Sekarang bagusnya begini saja," kata si kakek pula. "Serahkan pemuda ini padaku.
Jika nanti memang terbukti dia yang melakukan perbuatan keji itu, aku sendiri yang
bakal menghukumnya!"
Resi Tumbal Soka tertawa sinis.
"Dalam persoalan ini kau adalah orang luar, kakek gagah. Kedatanganmu ke sini
pun tidak kami undang."
"Kalau begitu biar aku pergi tanpa undangan pula dan harus bersama pemuda
sobatku ini!"
Resi Tumbal Soka hilang sabarnya. Dengan nada keras dia berkata, "Kakek gagah,
nama besarmu kami hormati. Harap kau juga menghormati kami. Kalau tidak terpaksa
kami berlaku tidak pada tempatnya terhadapmu!"
"Nah.... nah! Sekarang kau rupanya menantangku di sarang sendiri dan
mengandalkan jumlah banyak! Bagus .... bagus! Itu lebih baik. Mari kita main-main
barang sepuluh dua puluh jurus. Jika aku kalah kau boleh gantung aku bersama sama
pemuda itu. Tapi sebaliknya jika kau kalah, pemuda itu harus kau serahkan padaku.
Nah itu adil sekali bukan?!"
Resi Tumbal Soka sampai bergemeletukkan gerahamnya saking marah mendengar
ucapan Pendekar Pedang Akhirat itu.
Jika lain orang yang berkata demikian tanpa banyak tanya lagi pasti dilabraknya.
Namun dia menyadari kalau Pendekar Pedang Akhirat yang bertampang angker itu
bukan tandingannya. Jangankan dia, kakaknya sendiri belum tentu mampu menghadapi
tokoh-tokoh persilatan nomor satu ini. Untuk tidak memperlihatkan rasa jerihnya,
dengan seringai mengejek dia berkata, "Sayang Partai Lawu Megah sedang melaksanakan
urusan besar. Di lain kesempatan jangankan baru sepuluh dua puluh jurus. Sampai
seribu jurus pun aku tak keberatan melayanimu!"
Pendekar Pedang Akhirat tertawa jumawa dan menjawab, "Kalau kau merasa ragu
untuk maju sendirian, boleh saja mengajak beberapa paderi pembantumu."
"Kalau bicara jangan keterlaluan memandang rendah diriku!" kata Resi Tumbal
Soka marah sekali. Mukanya merah padam. "Kami harap kau segera meninggalkan
tempat ini!"
Kemudian tanpa mengacuhkan lagi kakek muka angker itu Resi Tumbal Soka
berpaling ke arah tiang gantungan dan berteriak, "Laksanakan penggantungan!"
Seorang paderi segera gerakkan kakinya untuk menendang kursi dimana Wiro tegak.
Namun sebelum kakinya menyentuh kursi tahu-tahu tubuhnya sudah tegang kaku
hingga dia tegak dalam keadaan seperti orang sedang menari. Jika semua orang merasa
kaget maka Pendekar Pedang Akbirat tertawa gelak-gelak.
Resi Tumbal Soka memaki dalam hati setengah mati. Dia yang berkepandaian
demikian tinggi tidak melihat kapan si kakek menggerakkan tangan mengirimkan
totokan jarak jauh yang amat lihay hingga tubuh paderi pembantunya serta-merta
menjadi kaku!
IZRO'IL
Neraka Puncak Lawu


"Itu cuma sekedar peringatan saja bagi kalian semua yang ada di sini. Sekali lagi ada
yang berani turun tangan terhadap sahabatku pemuda asing itu aku tak segan-segan
menurunkan tangan jahat!" memperingatkan Pendekar Pedang Akhirat.
"Kakek, kau betul-betul berani mencampuri urusan partai kamil Apa kau kira kami
takut terhadap jerangkong busuk macammu?" teriak Resi Tumbal Soka yang sudah
sampai pada puncak amarah dan kesabarannya. Sambil melangkah maju dia kibaskan
lengan jubahnya. Serta-merta buyarlah totokan pada tubuh paderi yang tadi hendak
menendang kursi. Tetapi di saat yang sama Pendekar Pedang Akhirat sudah berkelebat.
Demikian cepat gerakannya hingga di lain kejap semua orang menyaksikan Wiro
Sableng tak ada lagi di atas kursi dan kini tegak di samping si kakek. Keduanya tertawa
cengar-cengir.
"Kalian semua dengar!" teriak Pendekar Pedang Akhirat dengan mengerahkan
seluruh tenaga dalamnya hingga puncak gunung Lawu itu laksana disambar geledek.
"Aku akan tinggalkan tempat ini bersama sobatku si gondrong ini. Aku tak ingin
membuat kerusuhan dengan kalian orang-orang Partai Lawu Megah, apalagi sampai
timbul bentrokan kekerasan. Karenanya biarkan kami pergi dengan aman!"
"Mana bisa demikian, manusia muka setan! Kau telah mengacau di sini. Telah
melontarkan hina-hinaan. Dan menculik tawanan yang hendak dihukum gantung!
Tinggalkan pemuda itu atau kaupun akan kami gantung di puncak Lawu ini!"
"Kalau begitu sama-sama kita lihat apa yang akan terjadi," sahut Pendekar Pedang
Akhirat pula. Dia bergerak memanggul tubuh Pendekar 212 karena memaklumi
pemuda itu tak bakal bisa lari cepat dengan tangan terikat ke belakang.
Saat itu Resi Tumbal Soka memberi isyarat. Dua belas paderi-paderi utama dan
puluhan murid partai klas wahid segera mengurung kakek itu. Melihat ini Wiro
Sableng berbisik ke telinga Pendekar Pedang Akherat, "Lekas kau putuskan benang yang
mengikat lenganku. Kau tak bakal bisa menghadapi mereka sebanyak ini meskipun
ilmumu selangit."
"Huss, kau diam sajalah. Siapa pun takut menghadapi mereka. Benang sialan yang
mengikat tanganmu itu tak mungkin kulepaskan. Tak ada satu orang luar pun yang
sanggup melepaskannya kecuali Resi Tumbal Soka dan kakeknya!"
"Lalu apakah sampai kiamat aku akan terikat begini rupa?" tanya Wiro setengah
mengeluh.
"Kubilang kau diam sajalah! Serahkan persoalan padaku. Lihat, orang-orang partai
Lawu mulai menyerang kita!"
Saat itu atas perintah yang diberikan Resi Tumbal Soka melalui isyarat, beberapa
paderi utama terutama dari kelompok yang mendukung sang ketua telah bergerak
menyerang Pendekar Pedang Akherat dari segala penjuru.
"Hai, kalian ini betul-betul hendak menyerangku?" teriak si kakek memberi
peringatan yang terakhir.
"Bunuh keduanya!" yang berteriak adalah Resi Tumbal Soka ketua partai Lawu
Megah.
Maka datanglah sembilan serangan paderi laksana topan prahara.
Menghadapi serangan ini Pendekar Pedang Akherat tertawa mengekeh. Tiba-tiba dia
lenyap dari kalangan pertempuran. Pihak yang menyerang jadi kaget. Memandang ke
atas ternyata kakek itu sudah mumbul bersama Wiro ke atas. Sembilan angin pukulan
dasyat mengebubu. Kembali si kakek tertawa dan balas memukul ke bawah.
Terdengar seperti gunung meledak sewaktu sembilan pukulan patai Lawu Megah
dan satu pukulan si kakek beradu di udara pada ketinggian dua tombak.
Wiro merasakan tubuhnya dan si kakek terpental, sampai setengah tombak.
Sebaliknya di bawah sana dilihatnya sembilan paderi Lawu berkaparan di tanah jatuh
duduk. Empat diantaranya muntahkan darah segar.
"Kalian mencari penyakit," teriak Pendekar Pedang Akherat. Diam-diam Wiro
memuji kekuatan tenaga dalam kakek penolongnya ini. Padahal dua tahun yang silam
sepertiga dari tenaga dalamnya pernah dipindahkannya ke tubuhnya yakni sewaktu
Wiro selamatkan kakek ini dari liang batu.
"Kakek sombong! Kau kira kau dan pemuda terkutuk itu bakal bisa lolos dari sini?"
terdengar Resi Tumbal Soka berteriak. Dia tutup teriaknya ini dengan menghantamkan
lengan jubahnya ke atas. Memang lengan jubah ini bukan saja merupakan senjata lihai
bagi sang ketua, tetapi juga dipakai untuk melepaskan pukulan tangan kosong jarak
jauh yang disertai aliran tenaga dalam tinggi sekali.
Di atas udara, sambil putar tubuhnya, si kakek balas menghantam. Kembali
terdengar ledakan di pancak gunung Lawu itu. Tubuh si kakek terdorong ke samping
sedang di bawah Resi Tumbal Soka kelihatan pucat wajahnya setelah tubuhnya lebih
dulu bergoncang keras akibat bentrokan tenaga dalam tadi. Memandang ke atas, iawan
dan Wiro Sableng sudah tidak kelihatan lagi. Segera ketua partai Lawu Megah ini
berteriak, "Tutup semua jalan ke luar!"
Para paderi danmurid-murid partai segera bergerak laksanakan perintah ini.

4
DENGAN gerakan cepat laksana kilat dan hampir tak terlihat oleh tokoh-tokoh silat di
puncak gunung Lawu itu Pendekar Pedang Akherat berkelebat mendukung Wiro
Sableng. Keduanya mendekam di balik atap bangunan besar di ujung lapangan.
"Tutup semua jalan dan geledah seluruh tempat!" terdengar kembali seruan Resi
Tumbal Soka.
"Kakek, kita tak bisa sembunyi lama-lama di sini," bisik Wiro Sableng pada si kakek
bermuka tengkorak. "Orang-orang itu pasti akan menyelidiki ke mari. Sekali mereka
melihat kita."
"Tamatlah riwayat kita," menyambung si kakek sambil menyeringai yang membuat
wajahnya tambah buruk dan angker.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" bertanya Wiro.
"Kau tenang sajalah, Wiro. Jangan terlalu kawatir. Rasa takut membuat akal
manusia jadi pendek."
Setelah meneliti keadaan di bawah sana, Pendekar Pedang Akherat bergerak ke
samping kiri atap, terus hingga dia sampai di halaman belakang yang merupakan
sebuah taman kecil. Di sini dilihatnya dua orang berjaga-jaga. Seorang murid tingkat
tinggi dan seorang lagi paderi utama.
Sekali lagi kakek bermuka angker itu meneliti sekelilingnya. Lalu melompat ke
bawah, tepat di atas bahu paderi utama yang tegak berjaga-jaga di bawah cucuran air.
Buk!
Paderi itu serta-merta roboh begitu kedua bahunya diinjak sepasang kaki Pendekar
Pedang Akherat. Salah satu tulang belikatnya patah. Dia hendak menjerit, tapi kaki
kanan Wiro yang sedang di panggul itu, telah lebih dulu menutup mulutnya hingga dia
roboh bergedebukan tanpa sempat menjerit.
Suara jatuhnya paderi ini membuat murid Lawu yang berdiri kira-kira dua tombak
dari sana memutar tubuh dan berseru kaget. Namun seruannya pun tak keluar dari
mulutnya karena sekali Pendekar Pedang Akherat jentikkan jari-jari tangan kirinya
maka tubuhnya menjadi kaku tegang. Keadaannya lucu sekali. Berdiri dengan satu
tangan diangkat ke atas sedang mulut menganga!
Wiro Sableng hendak tertawa gelak-gelak melihat kejadian ini. Tapi untung lekas
Pendekar Pedang Akherat menotok jalan suaranya.
"Pemuda geblek! Kau kira kita dalam keadaan senang-senangkah maka kau hendak
tertawa bekakakan?!" desis kakek muka angker itu.
Dari sebuah gang di antara dua hangunan pada samping kiri taman terdengar suara
banyak orang mendatangi. Secepat kilat Pendekar Pedang Akhirat berkelebat dari
tempat itu, memasuki sebuah gang lain yang mendaki. Gang ini panjang sekali dan
menuju ke sebuah bangunan berbentuk bundar. Bangunan ini terpisah jauh dari
bangunan-bangunan lainnya. Tanpa ragu-ragu si kakek membawa Wiro masuk ke dalam
bangunan itu.
Di bagian dalam bangunan ini merupakan satu ruangan bulat yang keseluruhan
lantai, dinding dan langit-langitnya terbuat dari batu pualam. Ruangan ini diterangi
oleh sebuah lampu kecil. Pada sudut yang agak kelam kelihatan duduk seorang kakek
berpakaian serba putih. Kedua matanya terpejam. Tubuhnya kurus sekali. Wajahnya
kelimis dan kelihatan masih segar untuk usia yang telah mencapai 100 tahun.
Mendapatkan orang tengah bersamadi, Pendekar Pedang Akherat agak kecewa. Namun
sebagai manusia yang tahu peradatan, setelah menjura dia lantas duduk menunggu di
sudut lain yang gelap. Di luar didengarnya suara orang berlari kian kemari diseling
oleh suara teriakan aba-aba.
Hampir dua jam menunggu, kakek kurus yang bersamadi masih saja duduk tak
bergerak. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki mendatangi tertangkap oleh telinga
tajam Pendekar Pedang Akhirat. Kakek ini berangsur ke sudut ruangan yang lebih
gelap.
Kemudian di ambang pintu kelihatan muncul Resi Tumbal Soka. Karena habis dari
tempat terang sedang sudut-sudut ruangan itu gelap, maka dia hanya dapat melihat
kakek yang duduk bersamadi di belakang lampu.
Resi Tumbal Soka sesaat tampak ragu-ragu dan hendak berbalik. Namun dengan
memberanikan diri akhirnya dia membuka mulut.
"Kakang Resi Kumbara, mohon maafmu. Apakah kau mendengar seseorang
menyelusup ke ruangan pengasinganmu ini?"
Setelah ditegur berulang kali, barulah paderi yang tadi bersamadi buka sepasang
matanya. Ternyata dia adalah Resi Kumbara bekas ketua partai Lawu Megah, kakak
Resi Tumbal Soka yang kini berada dalam ruangan pengasingan. Hari demi hari
dilewatinya dengan bersamadi terus-menerus. Diganggu seperti itu tentu saja dia merasa
gusar.
"Tumbal Soka, apakah kau tidak tahu aturan hingga mengganggu orang yang sedang
bersamadi di ruangan yang tak satu orang lain pun boleh mendekati apalagi sampai
masuk!" Kakek kurus itu menegur. Pandangan matanya tajam sekali laksana sambaran
ujung pedang yang runcing.
"Mohon maafmu kakang. Adik dan saudara-saudara satu partai tengah menghadapi
kesukaran. Seorang pemuda yang telah merusak kehormatan anak murid partai telah
diculik dan dilarikan oleh tokoh silat Pendekar Pedang Akhirat. Adik telah menyuruh
tutup semua jalan ke luar danmenggeledah seluruh tempat. Tapi kedua orang itu tidak
kutemui. Satu-satunya tempat yang belum diperiksa adalah di sini."
"Jadi kau mengira aku menyembunyikan orang-orang itu? Sungguh lancang
mulutmu, adik!"
"Bukan, adik tidak berprasangka demikian. Cuma siapa tahu selagi kakak bersamadi
dia menyusup dan bersembunyi di sini," kata Resi Tumbal Soka pula.
"Sudahlah, jangan ganggu aku lebih lama. Aku akan meneruskan samadi. Jika kau
niasih kurang puas silahkan periksa ruangan ini!"
Tanpa mengacuhkan adiknya Resi Kumbara lantas pejamkan matanya kembali dan
lagi bersamadi.
Meskipun telah disuruh melakukan pemeriksaan namun Resi Tumbal Soka tak
berani melaksanakannya. Dia berpikir-pikir talk mungkin kakaknya tidak mengetahui
kalau ada orang yang masuk, sekalipun tengah tenggelam dalam alam samadi. Setelah
merenung sejenak dia lantas tinggalkan tempat itu.
Sesaat setelah Resi Tumbal Soka pergi, dari tempat gelap Pendekar Pedang Akhirat
buka suara, "Terima kasih sobat, kau telah melindungi kami berdua. Budimu tak akan
kulupakan. Apakah kau ikhlas menanam sedikit budi lagi pada kami?"
Terdengar helaan napas panjang. Kakek yang tadi hendak bersamadi kembali buka
kedua matanya. Sebetulnya dia sudah tahu kalau ada dua orang masuk ke dalam
ruangan tersebut.
"Agaknya terlalu banyak manusia yang tidak tahu peradaban di dunia ini. Masuk ke
rumah orang tanpa izin sudah menyalahi aturan. Apalagi masuk ke dalam ruangan
seperti ini danmengganggu orang yang bersamadi!"
"Harap dimaafkan sobatku Resi Kumbara. Semua terjadi karena terpaksa," sahut
Pendekar Pedang Akhirat.
"Siapa berani berbuat harus berani tanggung jawab. Pendekar Pedang Akhirat Batar
yang terkenal kawakan menyembunyikan diri di ruangan pengasingan Partai Lawu
Megah setelah terlebih dulu melakukan pengacauan .... Sungguh lucu!"
"Maaf, aku sama sekali tidak mengacau. Semula aku datang kemari untuk
menyambangimu. Tahu-tahu di sini terjadi satu hal yang luar biasa. Seorang kawanku
hendak digantung dengan cara biadab. Apa pun kesalahannya mana mungkin aku lepas
tangan."
"Kau tak berhak mencampuri urusan partai kami."
"Agaknya sobatku Resi Kumbara tidak tahu jelas persoalannya⁄"
"Aku sudah dengar semua apa yang terjadi di luar sana," kata Resi Kumbara pula.
Sungguh luar biasa pendengaran dedengkot Partai Lawu Megah ini. Meskipun
berada di ruangan pengasingan yang bertembok tebal dan jauh dari lapangan tempat
penggantungan namun dalam samadinya dia sanggup mendengar segala sesuatu yang
berlangsung di luar sana!
"Syukurlah kalau kau telah mengetahui persoalannya dengan jelas."
"Apakah kau yakin kalau pemuda kawanmu itu betul-betul tidak berdosa?" Resi
Kumbara bertanya.
"Aku tahu pribadinya. Namun memang sulit untuk menyatakan padamu kalau dia
betul tidak bersalah."
"Kalau begitu kau telah turun tangan secara sembrono!"
"Mungkin. Namun dengan menggantung secara biadab, orang-orang Partai Lawu
berarti melakukan kesembronoan yang lebih besar. Sekarang aku minta padamu agar
menunjukkan jalan keluar bagi kami berdua!"
Resi Kumbara tertawa perlahan dan elus janggutnya yang menjulai sampai ke dada.
"Pendekar Pedang Akhirat. Kau telah berani mencampuri dan mengacau urusan
orang. Sekarang kau menemui jalan buntu dan minta tolong padaku. Apa kah tidak
malu.... ?"
Kata-kata Resi Kumbara itu cukup memukul kakek muka tengkorak. Namun sambil
tertawa ayem dia menjawab. "Dalam dunia biasa satu sama lain saling bertolongan.
Hari ini kau menolongku. Lain ketika aku akan ganti menolongmu."
Resi Kumbara geleng-gelengkan kepalanya. "Tak mungkin kau menolongku. Usiaku
sudah lanjut. Mungkin aku sudah lebih dulu menutup mata sebelum pertolonganmu
datang."
"Turut pada bicaramu, kiranya kau tidak lebih baik dari adikmu yang tampaknya
telah banyak sesat dalam memimpin partai. Jika kawan satu golongan minta tolong,
dan si penolong mengharapkan balas jasa, sungguh aku tidak mengerti...."
Kini Resi Kumbaralah yang merasa terpukul.
"Sebetulnya aku sudah sejak lama tidak mau mencampuri urusan di luaran. Tapi
memandang persahabatan dan nama besarmu coba kau katakan pertolongan apa yang
kau kehendaki. Mungkin aku bias mempertimbangkan."
"Setahuku di puncak Lawu ini ada jalan rahasia menembus terowongan. Tunjukkan
padaku jalan itu dan aku tak bakal melupakan budi besarmu ini...."
Resi Kumbara tertawa mendengar kata-kata Pendekar Pedang Akhirat itu. "Rupanya
nyalimu meleleh menghadapi orang-orang Partai? Jika kau takut kenapa berani berlaku
sembrono.... ?"
"Dalam kamus hidupku tak ada kata takut, sobatku Resi Kumbara. Demi
persahabatan dan memandang namamu serta pimpinan partai lainnya, aku tak mau
bentrokan dalam kekerasan. Harap kau suka mempertimbangkan!"
Bekas ketua partai Lawu Megah itu merenung sejenak,
"Baiklah, akan kutunjukkan jalan rahasia itu padamu." kata Resi Kumbara pada
akhirnya.
Pendekar Pedang Akhirat menjura. "Terima kasihi sobat. Sekarang satu lagi kuminta
budi besarmu!"
"Eh, kau seperti lintah darat minta tanah. Diberi sejengkal minta sedepa...."
Si Pedang Akhirat menyengir. "Pertolongan kalau tanggung-tanggung sama saja
tidak tidak menolong bagiku," katanya.

5
RESI Kumbara balas tersenyum, "Katakan apa maumu!"
Si kakek menunjuk pada sepasang lengan Wiro Sableng yang terikat dengan sehelai
benang putih halus.
"Partai Lawu terkenal dengan ilmu yang aneh-aneh. Aku mengaku tolol tak mampu
membuka atau memutus benang yang mengikat lengan sahabatku itu. Kau tolonglah!"
Resi Kumbara lagi-lagi tersenyum. Memang benang sutera halus Partai Lawu itu
merupakan salah satu benda aneh dalam dunia persilatan pada masa itu. Tak satu
orang luar pun sanggup memutusnya.
Acuh tak acuh paderi tua itu cabut selembar janggutnya yang panjang putih lalu
memberi isyarat agar si kakek membawa Wiro Sableng ke dekatnya.
Acuh tak acuh pula, seperti main-main Resi Kumbara selusupkan janggutnya pada
celah sempit antara lengan dan benang yang mengikat. Ketika janggut itu kemudian
ditarik maka putuslah benang aneh yang mengikat kedua tangan Wiro.
Mau tak mau si kakek jadi melongo menyaksikan hal ini. Sebaliknya begitu
ikatannya lepas. Wiro gerakkan tangannya untuk garuk-garuk kepala.
"Hai, kau ucapkanlah terima kasih pada sahabatku ini!" kata si kakek sambil tepuk
punggung Wiro.
Wiro yang tahu peradatan buru menjura dan berulang kali mengucapkan terima
kasih pada Resi Kumbara.
"Sekarang dimanakah pintu terowongan rahasia itu, sobatku?"
"Tunggu dulu," sahut Resi Kumbara. "Sebelum kalian pergi aku harus punya
jaminan. Tanpa jaminan kalian tak bisa kubiarkan pergi."
"Heh, jaminan bagaimana maksudmu Resi Kumbara?" tanya Pendekar Pedang
Akhirat.
"Bagaimana kalau nanti sahabatmu yang gondrong itu ternyata benar-benar telah
merusak kehormatan murid Partai Lawu?"
"Kalau itu yang kau tanyakan, jika terbukti dia bersalah, aku sendiri yang akan
menghukumnya. Aku sendiri yang akan membawa kepalanya kemari dan kuserahkan
berikut kepalaku sendiri sebagai penebus keteledoranku."
Resi Kumbara menyeringai.
"Bagaimana mungkin kau menyerahkan kepalamu padaku karena itu berarti kau
sudah konyol!" tukasnya.
"Jangan berpura-pura tolol sobatku! Aku akan bunuh diri di hadapanmu. Kau
puas?"
Resi Kumbara menggeleng.
"Perjanjian jaminan ini hanya kita bertiga yang membuat dan mengetahui, tak ada
saksi. Aku kawatir setelah aku mati duluan dalam usia tua, kalian tidak akan menepati
janji."
"Kami bukan manusia-manusia yang ingkar janji," Wiro bicara dengan nada kesal.
"Aku percaya, tapi tetap aku tak dapat menerimanya. Kalian harus meninggalkan
sesuatu. Sesuatu yang kalian anggap berharga."
Wiro Sableng garuk-garuk kepala dan saling pandang dengan Pendekar Pedang
Akhirat.
"Apakah aku harus meninggalkan kepalaku saat ini?" tiba-tiba kakek muka
tengkorak itu bertanya.
"Tidak," sahut Reni Kumbara. "Saat ini kepalamu itu tidak ada harganya bagi aku
dan partai...."
"Lantas apa maumu?" tanya Wiro penasaran.
"Sesuatu yang berharga dan pantas dijadikan jaminan," sahut sang paderi Partai
Lawu.
Wiro kembali garuk2 kepalanya yang gondrong. Tiba-tiba diambilnya Kapak Naga
Geni 212. Begitu senjata ini keluar dari balik pakaiannya maka sinarnya yang
menyilaukan menerangi ruangan yang redup gelap itu. Diam-diam Resi Kumbara
terkesiap juga. Belum pernah dia melihat senjata mustika yang hebat begini rupa dan
aneh pula bentuknya. Sebuah kapak bermata dua bertuliskan angka 212.
"Ini kau ambillah kakek sebagai jaminan kami berdua. Tapi ingat aku tak ingin
senjata warisan guruku ini rusak atau cacat, apalagi sampai hilang. Kalau itu sampai
terjadi seluruh puncak Lawu ini akan kuterabas sama rata dengan tanah!"
Resi Kumbara tertawa dingin.
"Sejak ratusan tahun lalu Partai Lawu Megah berdiri sampai hari ini tak ada yang
sanggup melakukan hall itu. Apalagi manusia semacammu yang bukannya terima kasih
setelah menerima budi orang justru malah pergi dengan meninggalkan ancaman."
Tampang Pendekar 212 jadi mengelam merah tapi dari mulutnya yang menyeringai
keluar suara siulan.
"Senjata itu sama nilainya dengan nyawaku, Resi Kumbara. Kalau sampai hari ini
belum ada orang yang sanggup menggusur Partai Lawu Megah, jangan kira di
kemudian hari tak ada yang berani dan bisa melakukannya. Apalagi terhadap sebuah
partai yang kini nyata telah jauh sesat dalam tindak-tanduknya. Dan kau sebagai
dedengkotnya cuma bisa mengoceh, bersamadi yang sama sekali tak ada gunanya bagi
partai dan ketenteraman dunia persilatan. Kau berlepas tangan dengan berkedok
mengasingkan diri, bersamadi dan sudah tak mau ikut campur urusan dunia luar! Jika
tidak ada pendekar tua kawanku ini pasti telah berlangsung penggantungan biadab
terhadap diriku. Dan kau mengetahuinya tapi diam saja. Aku bukan bangsa manusia
yang takut mati jika memang punya salah dan dosa. Aku mungkin orang tolol, tapi aku
bersama kawanku ini mempunyai firasat bahwa dibalik kekalutan pimpinan di Lawu
ini ada tangan-tangan kotor yang hendak menjadikan aku kambing hitam yang pantas
digorok lehernia! Dengan cuma bersamadi sampai kiamat kau tak bakal dapat
melempangkan kembali orang-orangmu yang telah tersesat. Dan jangan kau takabur
Resi Kumbara, dalam keadaan seperti begini satu tangan jahil yang tak punya kekuatan
apa-apa bukan mustahil sanggup menggusur Partai Lawu. Bagaimana kalau orangorangmu
diadu domba? Apa bukan jadi berantakan nantinya?"
Wiro Sableng bakal nyerocos terus kalau tidak diberi isyarat kedepan mata oleh
Pendekar Pedang Akhirat.
Resi Kumbara sendiri saat itu merah padam wajahnya yang putih kelimis. Dia
hendak membuka mulut tapi si kakek buru-buru mendahului.
"Sudahlah, tak ada gunanya kita berdebat saat ini. Lain kali saja kita teruskan
obrolan ini dalam suasana yang lebih tenang sambil makan minum tentunya. Kau
sudah menerima barang jaminan yang amat berharga. Sekarang tunjukkanlah pintu
terowongan rahasia itu."
Dengan menindih rasa marahnya, Resi Kumbara lantas menekan salah satu ubin
ruangan itu. Tiba-tiba lantai ruangan sebelah kiri bergeser. Pada bekas geseran ini
kelihatanlah sebuah tangga batu yang menuju kebawah, memasuki mulut terowongan
yang gelap.
Tercekat juga kedua orang itu rnelihat terowongan yang gelap seram ini.
"Kalian tunggu apa lagi?!" texdengar suara Resi Kumbara.
Pendekar Pedang Akhirat Batara angkat bahu dan melangkah menuju tangga
menurun. Wiro Sableng sesaat garuk-garuk kepala, memandang pada paderi yang duduk
di hadapannya, angkat bahu dan akhirnya melangkah pula mengikuti kakek muka
angker.
Di dalam terowongan yang gelap itu tangan di depan matapun tak kelihatan. Wiro
dan si kakek yang melangkah sebelah depan berjalan dengan mengandalkan perasaan
dan pendengaran mereka yang tajam. Meskipun demikian tak jarang mereka terbentur
pada dinding terowongan pada tempat dimana terowongan itu membelok.
Yang menjengkelkan Wiro Sableng inilah karena sepanjang perjalanan melewati
terowongan itu si kakek selalu mengajaknya bicara.
"Omong-omong gadis anak murid Partai Lawu Megah yang bernarna Sularwasih itu
cantik juga heh..?" Batara berkata.
"Memangnya kenapa kau berkata begitu?" bertanya Wiro Sableng.
"Aku berpikir-pikir, apakah betul kau tidak memperkosa gadis itu. Soalnya aku yang
sudah tua ini bisa blingsatan juga melihatnya."
"Kakek tidak percaya padaku?"
"Oh tentu. Tentu aku percaya padamu. Tapi banyak hal-hal yang memberatkan
tuduhan atas dirimu."
Wiro memaki dalam hati.
"Tapi aku sudah bilang, kalau saja anuku ini bisa bicara⁄"
"Soal anumu itu tak usah diulangi lagi. Sampai kiamatpun tak ada anu yang bisa
bicara."
"Lalu, seandainya kakek merasa ragu, kenapa menolongku?"
"Dengan satu syarat sobat mudaku . . . ."
"Syarat apa?" tanya Wiro penasaran.
"Jika nanti terbukti kau memang bersalah, aku sendiri yang akan membawa
kepalarnu kepada ketua partai Lawu Megah" sahut Pendekar Pedang Akhirat.
Dalam hatinya Pendekar 212 Wiro Sableng kembali memaki.

IZRO'IL
Neraka Puncak Lawu


6
SETELAH kurang lebih dua jam menempuh terowongan gelap itu di sebelah depan
tiba-tiba terdengar suara Pendekar Pedang Akhirat mengeluh.
"Ada apakah ...?" tanya Wiro dari belakang seraya bersiap-siap. Melihat sikap Resi
Kumbara tadi diam-diam pendekar ini merasa curiga. Bukan mustahil terowongan itu
memiliki alat rahasia yang bakal mencelakakan dirinya dan si kakek.
"Terowongan ini buntu!" seru Batara.
"Hah?!" Wiro terkejut. Dia meraba ke depan.
Terasa olehnya dinding batu yang keras. "Bekas ketua partai itu menipu kita! Sialan
betul!"
Sesaat kedua orang itu sama-sama terdiam.
"Apa yang harus kita lakukan? Kembali ke tempat semula?"
"Kakiku letih. Sebaiknya kita duduk saja dulu melepaskan lelah sambil omongomong",
jawab si kakek.
Wiro Sableng garuk-garuk kepala dan jadi menggerendeng. Bagaimana si kakek
enak-enak saja bicara seperti itu dan bukannya mencari jalan keluar dari terowongan?
Namun karena tak tahu mau berbuat apa, akhirnya pemuda ini duduk menjelepok di
lantai terowongan, bersandar ke dinding yang lembab.
Dalam gelap itu Wiro merenung kejadian yang baru saja dialaminya di puncak
gunung Lawu. Kemudian dia bertanya. "Kakek.... Tadi kau mengatakan banyak hal-hal
yang memberatkan tuduhan atas diriku. Misalnya apa .... ?"
"Kau ketahuan mengedipkan mata sewaktu bertemu dengan Sularwasih itu di
penginapan. ..."
Wiro Sableng tertawa.
"Kurasa kau pernah muda sepertiku ini, kakek. Orang muda biasa suka iseng. Kau
sendiri tadi mengatakan sudah tua bangka begini masih blingsatan melihat gadis cantik
itu. Soal iseng dan mengedipkan mata apakah bisa dinilai sebagai memperkosa....?
Justru orang yang memperkosa sering mendapat kehormatan dipungut mantu!"
Si kakek tertawa gelak-gelak.
"Baiklah kalau kau bilang begitu, sobat mudaku. Lantas kancing bajumu yang
ditemui dalam kamar si Warsih itu ... ?"
"Akupun heran dan bertanya-tanya bagaimana kancing baju keparat itu bisa ada dan
ditemui disitu. Padahal aku ingat betul kancing itu putus sewaktu aku menabrak
keranjang sayur seorang perempuan yang kebetulan keluar dari penginapan. Aku tak
berusaha menemukan kembali kancing baju itu. Ini agaknya menjadi kesalahan yang
kini kusesalkan...."
"Sulit bagimu untuk membuktikan hal itu, bukan? Saksi-saksi hidup dan bukti kuat
berada di pihak Warsih!"
"Kelihatannya begitu. Apalagi jika mengikuti jaIan pikiran yang berat sebelah.
Namun kalau dari sudut pemandanganku yang kau anggaplah geblek, akupun menaruh
kecurigaan pada seseorang...."
"Siapa?" tanya Pendekar Pedang Akhirat.
"Aku tak dapat mengatakannya karena belum ada bukti-bukti."
"Kau hendak mencari kambing hitam ...?"
"Kalau kambing putih ada, buat apa cari kambing hitam?" ujar Wiro pula.
Si kakek tertawa bergelak. "Asalkan jangan aku saja yang kau curigai...."
"Bisa saja. Karena kenapa kau tahu-tahu muncul dipuncak gunung Lawu...." tukas
Wiro.
Si kakek memaki panjang pendek dan kini Wiro yang ganti tertawa gelak-gelak.
Tiba-tiba murid Eyang Sinto Gendeng ini hentikan tawanya dan menggamit bahu
Pendekar Pedang Akhirat.
"Aku mendengar sesuatu...."
Kedua orang itu berdiam diri dan sama-sama pasang telinga.
Suara tadi terdengar lagi sayup-sayup lalu hilang. "Suara kaki-kaki kuda." desis si
kakek.
"Juga ada suara orang berlari," menyahuti Wiro. Mereka menunggu. Namun suarasuara
itu tidak terdengar lagi.
St kakek berdiri dari duduknya. Dia merapatkan tubuhnya. pada dinding yang
menutup terowongan.
Ketika telinganya ditempelkan ke dinding batu itu, rapat-rapat dia kembali dapat
mendengar suara derap kaki kuda, lalu lenyap sama sekali.
Setelah meraba sana sini, Batara kerahkan seluruh tenaganya dan coba mendorong
dinding batu itu. Terasa dinding ini bergerak sedikit demi sedikit.
"Wiro! Bantu aku mendorong dinding buntu ini! Aku yakin kita sudah sampai di
mulut pintu keluar terowongan!"
Mendengar ucapan itu Wiro segera berdiri dan bantu Pendekar Pedang Akhirat
mendorong dinding. Oleh tenaga dorongan yang luar biasa dari dua manusia
berkepandaian tinggi ini, dinding dihadapan mereka bergeser. Tiba-tiba terdengar suara
keras. binding yang didorong roboh. Cahaya terang masuk menyilaukan mata kedua
orang itu. Tetumbuhan liar banyak menutupi mulut terowongan. Keduanya keluar
sambil menyibakkan tanam-tanaman itu. Berdiri diluar mereka dapatkan saat itu
berada di kaki sebelah timur gunung Lawu.
"Sialan! Akhirnya kita keluar juga dari terowongan celaka itu. Aku tadi sudah
berprasangka buruk terhadap ResiKumbara kata Wiro pula sambil yaruk-garuk kepala.
Keduanya mendorong dinding batu berat itu untuk menutupi terowongan rahasia.
Terlindung oleh tanaman-tanaman liar, orang yang tidak tahu sulit untuk membedakan
batu penutup terowongan itu dengan batu-batu besar yang berbentuk sama dan banyak
terdapat di kaki gunung Lawu itu.
"Nah sekarang bagaimana kakek? Aku masih memikul urusan berat dan hendak
berangkat ke selatan.
"Aku sendiri akan menuju ke barat. Tapi satu bulan dimuka aku akan tunggu kau
disini. Kurasa saat itu aku sudah dapat mengetahui apakah kau bersalah atau tidak ..."
Wiro Sableng menyeringai, dan menjawab, "Mudah-mudahan kau datang tepat pada
waktunya sebelum aku menerabas puncak Lawu ini. Selamat jalan dan terima kasih kau
telah memperpanjang umurku sampai satu bulan dimuka."
Setelah masing-masing menjura dan bergerak hendak pergi, satu keselatan lainnya
ke barat, tiba-tiba terdengar seruan lantang dari samping gunung sebelah kiri.
"Jangan harap kalian bisa pergi dari sini dengan masih membawa nyawa."
Wiro dan si kakek muka tengkorak sama-sama kaget. Memandang ke atas mereka
lihat belasan orang berlompatan turun dari lamping-lamping batu gunung ke tempat
mereka. Orang-orang ini bukan lain adalah paderi-paderi Lawu. Diantaranya Tandu
Wiryo, yang sebelumnya telah memberikan kesaksian sewaktu Wiro hendak di gantung.
"Digantung tidak maul Dicincang rupanya lebih pantas," terdengar hardikan dari
sebelah kiri. Memandang ke jurusan ini dua pendekar yang barusan keluar dari
terowongan melihat lima penunggang kuda. Empat orang paderi danseorang gadis
berpakaian biru yang bukan lain adalah Sularwarsih.
Dikurung demikian Wiro Sableng jadi melongo dan garuk-garuk kepala
gondrongnya sedang Pendekar Pedang Akhirat goleng-goleng kepala. Sekali memandang
berkeliling dia sudah dapat menghitung jumlah pengurungnya. Seluruhnya 21 orang!
"Kalian mau apa . . . ?!" Si kakek bertanya.
Tandu Wiryo mendengus.
"Orang datang minta nyawa masih berlagak tolol!" sentaknya.
"Minta nyawa....? Sungguh kaulah yang tolol orang muda. Mana ada didunia ini
orang yang suka menyedekahkan nyawanya!" Habis berkata demikian si kakek lalu
tertawa gelak-gelak. "Kalian semua cari penyakit. Lebih baik kembali ke puncak
Gunung Lawu. Aku sudah berjanji pada Resi Kumbara. Jika pemuda sobatku ini nanti
terbukti betul-betul bersalah, aku sendiri yang akan mengantarkan kepalanya pada
kalian!"
"Kami tidak butuh kepalanya! Kami ingin nyawanya saat ini juga!" teriak
Sularwarsih.
"Beranikah kau satu lawan satu dengan dia....?" tanya Pendekar Pedang Akhirat
dengan nada dan mimik mengejek.
"Manusia laknat seperti dia tak perlu dilayani satu persatu . . . !"
"Tapi sekurang-kurangnya kau pernah melayaninya satu persatu, bukan Warsih? Itu
jika betul-betul dia yang merusak kehormatanmu heh....?"
Merahlah paras Sularwasih. Dia menjerit keras dan cabut pedangnya, melompat
turun dari kuda seraya berteriak.
"Bunuh manusia-manusia haram jadah ini!"
Gerakan Warsih gesit dan cepat sekali. Pedangnya bersiuran menyambar ganas ke
arah Pendekar 212 Wiro Sableng. Jika murid Eyang Sinto Gendeng ini tak lekas
melompat ke belakang niscaya lehernya sudah kena dibabat putus.
Baru saja Wiro imbangi diri dari lompatan mengelak disamping kiri dilihatnya
empat paderi yang menemani Warsih telah turun dari kuda masing-masing sedang dari
kanan, Tandu Wiryo bersama saudara-saudara seperguruan dan paderi-paderi lainnya
telah menyerbu turut pula.
"Kalian cari penyakit! Betul-betul cari penyakit!" seru Pendekar Pedang Akhirat
seraya berpaling acuh tak acuh pada Wiro dan bertanya pada pendekar ini.
"Bagaimana pendapatmu, sobatku?!"
"Apa boleh buat!" sahut Wiro Sableng sambil angkat bahu. "Penyakit harus diobati.
Kalau tidak bisa berabe!"

7
DARI dua puluh satu orang partai Lawu Megah yang menyerbu itu yang menggempur
Pendekar 212 Wiro Sableng adalah empat paderi utama, dua paderi biasa, lima murid
kelas satu dan Sularwasih serta pemuda bernama Tandu Wiryo.
Sisanya sebanyak delapan orang yakni empat paderi biasa danempat murid kelas
satu mengurung dan menyerang Pendekar Pedang Akhirat.
Semua penyerang dari Lawu ini pergunakan pedang sedang dua yang jadi bulanan
serangan-serangan sampai satu jurus bergebrak masih andalkan tangan kosong.
Meskipun sering memperlihatkan sikap seperti orang tolol danmemiliki jalan pikiran
macam orang sinting namun kadang kadang Wiro Sableng tak jarang memiliki otak
yang jernih dancerdik. Dia merasa heran melihat orang-orang Partai Lawu lebih banyak
menyerangnya dan terdiri dari mereka yang berkepandaian tinggi. Semakin besarlah
kecurigaannya bahwa betul-betul ada yang tak beres dengan orang-orang itu.
Pendekar Pedang Akhirat sendiripun terheran-heran kenapa yang menyerangnya
cuma paderi-paderi biasa dan murid klas satu. Dan cara mereka menyerang jelas hanya
mengurung demikian rupa hingga dia terpisah jauh dari Wiro Sableng.
Empat paderi utama dan dua paderi biasa serta empat murid partai klas satu
dipimpin oleh Sularwasih dan Tandu Wiryo melancarkan serangan laksana air bah yang
betul-betul ganas hingga akan celakalah Pendekar 212 dalam waktu singkat apabila dia
masih mengandalkan tangan kosong.
Wiro sendiri merasa agak menyesal telah menyerahkan Kapak Naga Geni 212 pada
Resi Kumbara hingga saat itu dia menghadapi bahaya maut tanpa senjata sama sekali.
Dengan mainkan ilmu silat "orang gila" yang dipelajarinya dari Tua Gila di pulau
Andalas dulu, pendekar ini bergerak gesit kian kemari. Gerakan-gerakannya merupakan
sesuatu yang aneh bagi lawan hingga untuk sementar Wiro bisa selamat dari sera nga nsera
ngan maut lawannya. Dalam pada itu sesekali dia mainkan pula jurus-jurus silat
"tameng sakti menerpa hujan", "kincir padi memutar", "kipas sakti terbuka"
dansebagainya yang merupakan jurus-jurus pertahanan ampuh. Disamping itu Wiro
pun lepaskan pula pukulan-pukulan sakti "benteng topan melanda samudera", "orang
gila mengebut lalat" dan sebagainya yang membuat para penyerang berseru kaget dan
terpaksa mundur, tetapi kemudian menyerang lagi dengan ganas.
"Warsih!" teriak Wiro Sableng. "Jika kau dan yang lain-lainnya ini tidak hentikan
pertempuran jangan menyesal . . ."
"Kaulah yang menyesal bakal jadi setan kuburan!" teriak sang dara dan mendahului
kawan-kawannya menyerang Wiro Sableng. Pedangnya bersiur membabat ke leher
pendekar itu. Dua belas orang lainnya serentak menyerbu pula.
Wiro memaki panjang pendek dan lepaskan pukulan. "Segulung ombak menerpa
karang." Terdengar suara menderu.
"Lekas menyingkir!" teriak salah seorang paderi utama yang telah banyak
pengalaman dan terkejut melihat hebatnya pukulan sakti ini.
Dua orang murid partai tidak keburu menghindar. Tubuhnya mencelat dihantam
angin pukulan, jatuh ke tanah muntah darah tak berkutik lagi alias mati! Empat
paderi, melompat ke udara dan dari atas kebutkan lengan jubah masing-masing. Empat
gelombang angin deras menggebu menangkis dan menghantam pukulan sakti yang
dilepaskan Wiro Sableng.
Terdengar suara berdentum.
Empat paderi kelihatan pucat wajah masing-masing dan turun ketanah dengan
tubuh gemetaran. Mereka menyadari bahwa bentrokan pukulan sakti yang mengandung
hawa tenaga dalam dahsyat itu telah membuat tubuh mereka di sebelah dalam menjadi
tidak beres untuk beberapa ketika. Tandu Wiryo dan Warsih masih untung karena
mereka keburu menghindar dengan gerakan gesit.
Wiro sendiri yang terkena sapuan empat angin deras yang menggebu dari lengan
jubah paderi-paderi utama gunung Lawu itu tampak agak terhuyung-huyung. Dadanya
berdenyut-denyut seperti ditekan batu berat. Selagi dia berusaha mengimbangi diri, dari
belakang tiba-tiba terdengar suara menderu dingin.
Seseorang telah menyerangnya dari belakang secara licik. Hal ini diketahui betul
oleh Wiro. Seperti kilat dia jatuhkan diri ke depan seraya tundukkan kepala.
Gerakannya yang sepontan ini menyelamatkan kepalanya dari sambaran pedang
maut Tandu Wiryo yang datang dari belakang Namun demikian bahu kirinya masih
sempat kena bacok. Wiro mengeluh kesakitan. Dirasakannya perih yang amat sangat
lalu cairan panas meleleh deras keluar dari bacokan itu. Darah!
"Bunuh! Habisi dia!" teriak Sularwasih yang laksana jadi kesetanan melihat darah
membasahi pakaian dantubuh Wiro.
Sebaliknya rasa sakit akibat luka besar pada bahu kirinya itu membuat Pendekar
212 Wiro Sableng menjadi kalap. Seumur hidup barulah saat itu dia mendapat luka
yang demikian parah dan akibat serangan pengecut pula. Marahnya bukan alang
kepalang. Teriakan menggeledek keluar dari mulutnya. Dia putar tubuh menghadapi
Tandu Wiryo. Tangan kanannya bergetar oleh aliran tenaga dalam yang disalurkan
secara menyeluruh. Sesaat kemudian tangan itu sampai sebatas siku kelihatan berubah
menjadi putih perak.
"Awas! Dia hendak lepaskan pukulan sakti yang dasyat!" teriak salah seorang paderi
gunung Lawu dengan suara gemetar bergidik.
Dari samping Warsih kirimkan satu tusukan nekad ke tubuh Wiro Sableng dan
kesempatan ini dipergunakan oleh Tandu Wiryo untuk berpindah tempat Semula
meskipun diserang dengan pedang begitu rupa Wiro sudah bertekad untuk terus
lepaskan pukulan sinar matahari ke arah Tandu Wiryo. Namun karena si pemuda
sudah berpindah tempat maka Sularwasihlah yang kini jadi sasarannya.
Saat itu tusukan ujung pedang sudah dekat sekali hingga akan kasiplah jika Wiro
terus kalap untuk lancarkan pukulan "sinar matahari". Menyadari hal ini maka Wiro
melangkah mundur dan pergunakan tangan kanannya untuk mencengkeram lengan
Sularwasih. Si gadis terdengar menjerit kesakitan, melompat jauh sambil kibas-kibaskan
tangannya yang kelihatan merah gembung melepuh akibat hawa panas tenaga dalam
pukulan "sinar matahari" pada tangan Wiro. Pedangnya telah berpindah tangan, kena
di rampas oleh Pendekar 212. Dengan pedang ini Wiro Sableng kemudian mengamuk
hebat. Dua murid partai roboh mandi darah. Empat paderi datang menyongsong
sambil berteriak marah.
"Paderi-paderi tua tidak tahu diri! Seharusnya kalian memberi petunjuk pada orangorang
muda partaimu! Sekarang malah kalian sendiri yang ikut melibatkan diri!
Mampuslah!"
Karena paderi-paderi itu masih beberapa langkah di depannya, Wiro tidak
menggunakan pedang rampasannya untuk menyerang tetapi alirkan tenaga dalam ke
tangan kiri. Ketika tangan itu serta merta menjadi putih perak pendekar ini
menghantamkannya ke depan. Maka laksana topan prahara menderulah sinar putih
menyilaukan mata dan panas luar biasa.
Terdengar jerit kematian empat paderi utama partai Lawu Megah itu tatkala tubuh
mereka kena disapu pukulan "Sinar matahari". Mayat mereka terlempar sampai sepuluh
tombak, jatuh bergedebukan dalam keadaan hangus mengerikan!
Wiro sendiri sehabis melepaskan pukulan "Sinar matahari" tersebut tiba-tiba
mengeluh tinggi. Kedua lututnya goyah, pemandangannya mendadak gelap berkunangkunang.
Akhirnya pendekar dari gunung Gede ini roboh tak sadarkan diri.
Sewaktu siuman dari pingsannya Wiro Sableng rasakan kepalanya pusing dan berat
sedang tubuhnya panas dingin. Bahunya mendenyut sakit. Perlahan-lahan dibukanya
kedua matanya. Mula-mula segala sesuatunya tampak hitam dan gelap. Sesaat demi
sesaat pemandangannya menjadi pulih. Kini diketahuinya bahwa dirinya terbaring di
atas kasur jerami dalam sebuah ruangan terbuka dari satu bangunan tua. Sebuah lilin
terletak disudut ruangan. Tak seorangpun dilihatnya disitu. Dia berpikir, ingat pada
apa yang telah terjadi sebelumnya dan bertanya-tanya dimana gerangan Pendekar
Pedang Akhirat.
Tenggorokannya terasa sekat dan kering. Wiro batuk-batuk beberapa kali. Mendadak
diluar kamar didengarnya suara orang berseru.
"Hai, kau sudah siuman!"
Wiro tersirap. Suara itu bukan suara si kakek melainkan suara perempuan. Rasa
kawatir menggerayangi dirinya karena dia tak dapat memastikan apakah itu suara
Sularwasih murid Partai Lawu Megah yang berniat membunuhnya itu atau bukan.
Menyusul terdengar langkah-langkah kaki mendatangi. Wiro semakin tegang. Pada
puncak ketegangannya pintu ruangan terblika mengeluarkan suara berkereketan karena
engsel-engselnya sudah karatan. Satu tangan halus tampak mendorong pintu itu.
Kemudian kelihatan sosok tubuh seorang perempuan berpakaian biru. Persis warna
pakaian yang sebelumnya dilihat Wiro dikenakan oleh Warsih!
"Celaka!" keluh murid Sinto Gendeng dalam hati. "Pasti aku dibunuhnya saat ini
juga...!"

8
WIRO yang saat itu tak kuasa bergerak karena demam panas dan lemah menyerang dan
membuatnya seperti lumpuh, hanya bisa pejamkan mata menunggu kematian. Tetapi
maut yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Didengarnya suara orang berdiri dan
berlutut disampingnya. Lalu tangan halus sejuk meraba keningnya. Kemudian suara
perempuan berkata,
"Heh⁄ tadi kau sudah siuman, kenapa sekarang diam kembali?"
Perlahan-lahan Wiro Sableng buka sepasang matanya. Dibawah nyala api lilin yang
tidak seberapa terang pendekar ini lihat seorang gadis berpakaian biru bersimpuh
disebelahnya. Semula disangkanya Sularwasih ketika dilihat wajahnya ternyata bukan.
Gadis ini berwajah bujur telur, berkulit kuning. Rambutnya yang hitam digelung
diatas kepala ditancapi tusuk konde dari gading bergambar burung. Gerak-geriknya
sama sekali tidak kaku seolah-olah dia dan Wiro sudah akrab betul.
"Saudari⁄ " tegur Wiro Sableng agak tersendat, "kau ini siapakah? Aku berada di
mana saat ini....?"
"Ah.... rupanya kau betul-betul telah siuman. Cuma kau masih terserang demam.
Namaku Wilarani. Saat ini kau berada di sebuah Candi tua yang tak terpakai lagi dan
menjadi tempat kediaman aku beserta ayahku."
"Ayahmu?" Wiro kerenyitkan kening. Apa mungkin gadis ini puteri Pendekar
Pedang Akhirat? Mustahil. "Siapa nama ayahmu?" tanya Wiro kemudian.
"Panda Wisuna."
"Kau.... kau...." Wiro tak dapat teruskan kata-katanya. Tenggorokannya kesat dan
kering. "Air..." desisnya.
Wilarani ambil sebuah gelas. Isinya diminumkan pada Wiro.
"Racun apa ini?!" tukas Wiro Sableng begitu dirasakannya air yang diteguknya pahit
seperti empedu.
Wilarani tertawa geli.
"Ini bukan. racun pendekar. Tapi obat! Agar kau lekas sembuh."
"Kau... kau seorang tabib?" tanya Wiro.
Sang dara baju biru gelengkan kepala. "Tapi aku memang banyak mempelajari
berbagai macam ilmu pengobatan...."
"Baiklah, biar kuminum obat itu " kata Wiro pula. "Sekalipun racun aku tak
menyesal mati di hadapanmu." Lalu pendekar ini teguk cairan dalam gelas sampai
habis.
"Tahu berapa lama kau pingsan, pendekar?"
"Tak usah sebut aku pendekar. Namaku Wiro. Berapa lama aku pingsan?"
"Dua hari dua malam⁄"
Wiro kaget karena tidak menyangka sampai sedemikian lama dia jatuh pingsan.,
"Bagaimana aku sampai kemari? Apa hubunganmu dengan Pendekar Pedang
Akhirat?"
"Pendekar tua itu yang membawamu kesini. Tadinya untuk minta pertolongan ayah
agar kau diobati. Tapi ayah sedang ke Weleri. Aku berusaha sebisaku..."
"Terimakasih. Kau baik sekali. Aku berhutang besar padamu." kata Wiro pula
Wilarani tertawa.
"Dimana Pendekar Pedang Akhirat sekarang?"
"Dia pergi dua hari yang lalu tanpa memberi tahu kemana. Cuma dia pesankan agar
aku merawatmu baik-baik. Menurut orang tua itu kau pingsan akibat kehabisan darah
dankarena mempergunakan seluruh tenaga dalam untuk melepaskan pukulan sakti.
Menurut apa yang aku tahu jarang orang bisa selamat dari kematian jika mengalami
hal sepertimu ini."
Wiro Sableng menghela nafas panjang.
"Kapan aku akan sembuh danbisa meninggalkan tempat ini?"
"Tak dapat kupastikan. Mungkin seminggu atau dua minggu lagi. Luka dibahumu
parah sekali dan harus kering betul baru bisa dikatakan sehat. Disamping itu sebaiknya
kau tunggu sampai ayah datang agar dapat memeriksa tubuhmu bagian dalam."
"Mungkin aku tak dapat menunggu sekian lama," ujar Wiro pula.
"Kenapa?" tanya Wilarani.
"Ada urusan besar yang harus kulakukan "
"Urusan apa, kalau aku boleh tanya."
"Pendekar Pedang Akhirat tidak mengatakan kenapa aku sampai mendapat celaka
begini rupa..."
"Tidak," sahut Wilarani. "Justru aku ingin mendengarkan kisahnya dari kau
sendiri...."
Pada dasarnya Wiro Sableng tidak suka membeberkan persoalan. dirinya pada orang
lain, apalagi gadis itu baru dikenalnya. Namun setelah berpikir-pikir dan ingat kalau
bukan Wilarani yang menolong mungkin dia sudah mati saat itu atau paling tidak
tengah meregang ajal, maka akhirnya Wiro tuturkan juga nasib celaka yang menimpa
dirinya.
Selesai Wiro menuturkan riwayatnya, kedua orang itu kemudian saling berdiam diri
beberapa lamanya.
"Jika kau sudah sembuh, apa yang bakal kau lakukan?" bertanya Wilarani kemudian.
"Banyak dan berat sekali⁄." sahut Pendekar 212 Wiro Sableng. "Pertama aku harus
membersihkan diriku dari tuduhan keji itu. Ini berarti aku harus bias menemukan
siapa sebenarnya pemerkosa nona Warsih. Kemudian aku harus membawa orang itu
hidup-hidup kapuncak gunung Lawu untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Jika senjata warisan guruku sudah dikembalikan danaku dapat turun dari puncak Lawu
dengan aman barulah berarti selesai urusan. Yang sulit ialah orang-orang gunung Lawu
pasti akan menyerbuku begitu aku muncul disana. Gila betul! Kenapa aku jadi ketiban
nasib sial begini!"
"Kurasa itu adalah tantangan yang harus dihadapi oleh setiap pendekar petualang
macammu. Ketidak tabahan justru itulah yang membuat seseorang celaka sebelum
bahayanya sendiri datang menimpa."
Pendekar 212 Wiro Sableng merasa kena disentil oloh kata gadis itu. Diam-diam dia
jadi malu pada diri sendiri. Si gadis rupanya tahu bagaimana perasaan Wiro seat itu,
maka die buru-buru menghibur. "Memang begitulah keadaannya dunia. Yang kita
harapkan tidak terjadi, yang amit-amit minta dijauhkan justru nyelonong menyusahkan!"
"Berapa jauh Magelang dari sini⁄?" Wiro bertanya.
"Kira-kira dua hari perjalanan dengan kuda." jawab Wilarani.
"Kenapa?" si gadis kemudian bertanya.
"Besok aku akan berangkat ke sana guna memulai penyelidikan."
"Besok? Sekarang saja kau masih diserang demam. Lukamu masih basah. Apa mau
mencari mati hendak pergi besok?"
"Kalau dipikir-pikir sebenarnya aku ini sudah mati. Yaitu kalau tidak ditolong oleh
Pendekar Pedang Akhlrat dankau sendiri."
Wilarani tersenyum kecil.
"Hidup penuh, hal hal yang tak terduga bahkan kadang-kadang aneh..." kata gadis
itu pula lalu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil menatap wajah Pendekar
212 Wiro Sableng dia berkata, "Aku sendiri sebenarnya adalah anak murid partai Lawu
Megah."
IZRO'IL
Neraka Puncak Lawu


Wiro Sableng kaget bukan olah-olah. Kata-kata gadis itu laksana petir menyambar
sampai ketelinganya. Kalau saja dia tidak sakit parah saat itu niscaya dia sudah
melompat saking terkejutnya.
"Kalau begitu⁄ kalau begitu bukan mustahil kau memang hendak membunuhku
disini. Secara perlahan-lahan!" ujar Wiro pula dengan sepasang mata melotot pandangi
Wilarani.
Wilarani tertawa panjang.
"Kalau aku punya niat membunuhmu, tentu sudah sejak tadi-tadi kulakukan⁄"
"Lantas kenapa tidak kau lakukan?" tanya Wiro. "Tidakkah kau mengandung
dendam padaku setelah mendengar aku membunuh empat orang paderi utama gunung
Lawu, lalu murid-murid partai yang menjadi saudara sepergyruanmu.... ?"
"Aku cuma menyesalkan dan menyayangkan kejadian itu. Kehendak Tuhan rupanya
harus terjadi demikian. Dan pemuda-pemuda gunung Lawu dalam hal ini juga memiliki
kesalahan."
"Aku betul-betul tak mengerti kalau begini", ujar Wiro. "Tadi kau bilang anak tabib
Panda Wisuna. Sekarang kau katakan murid partai gunung Lawu. Bagaimana ini?!"
Kembali Wilarani tertawa.
"Saudari, jika kau betul murid partai Lawu Megah iebih baik bunuh saja aku saat
ini juga. Jangan aku dipermainkan. Maut didepan mata tapi diulVr-ulur agar aku
tersiksa⁄"
"Aku sudah bilang, kalau ingin membunuhmu dapat kulakukan tadi-tadi dan
semudah membalikkan telapak tangan saja. Tapi apa perlunya ?"
"Heh!" Wiro kerenyitkan kening. "Terangkan alasanmu."

9
ATAS desakan Wiro Sableng yang mau tak mau merasa was-was juga setelah mengetahui
kalau Wilarani adalah anak murid partai Lawu Megah, maka akhirnya gadis itu
memberikan keterangan.
Wilarani menjadi murid partai Lawu Megah sejak masih berusia delapan tahun.
Suatu hari Resi Kumbara turun gunung. Waktu itu tengah berjangkit penyakit menular
yang amat jahat. Siapa yang sampai kejangkitan pasti akan menemukan kernatian
dalam waktu dua hari. Resi Kumbara merupakan salah seorang yang kena terserang.
Pada saat-sat kritis Panda Wisuna (ayah Wilarani) menjumpai ketua partai itu,
menggeletak tak sadarkan diri di tepi sebuah anak suqgai. Segera dibawanya ketempat
kediamannya di bekas candi tua itu dan diobati sampai sembuh.
Sebagai balas budi Resi Kumbara kemudlan mengambil Wilarani jadi muridnya,
dibawa ke puncak gunung Lawu. Karena sang paderi sendiri yang memberikan
pelajaran silat pada anak itu maka 10 tahun kemudian jadilah Wilarani seorang gadis
berkepandaian amat tinggi. Jika dibandingkan dengan murid-murid gunung Lawu
Megah klas satu, kepandaiannya jauh lebih tinggi. Sularwasih dan Tandu Wiryo
sendiripun jauh tertinggal. Ada yang mempercayai bahwa dalam ilmu silat nona ini
kepandaiannya hampir mendekati Resi Kumbara sendiri. Cuma tenaga dalam dan ilmu
meringankan tubuhnya saja yang masih agak rendah. Tetapi bila dia rajin melatih diri
niscaya tidak sembarang orang mampu menghadapinya.
Beberapa tahun lewat akibat pengunduran diri Resi Kumbara sebagai ketua partai
maka terjadi banyak perobahan dalam tubuh partai. Hal ini diketahui oleh ayah
Wilarani. Maka dia naik ke puncak gunung Lawu, bicara dengan puterinya itu,
meminta agar dia meninggalkan partai Lawu Megah selagi belum terjadi hal-hal yang
tak diinginkan.
Dilain pihak Wilarani sendiri sejak Resi Kumbara yang sudah dianggapnya seperti
ayah sendiri itu mengundurkan diri, merasa dipencilkan oleh orang-orang disekitarnya.
Kalau dulu selagi Resi Kumbara menjabat ketua partai semua orang menghormati dan
menyayanginya. Tetapi sejak paderi itu melepaskan jabatannya, banyak paderi-paderi
dan saudara-saudara seperguruannya yang jelas-jelas memperlihatkan sikap mengejek
serta membencinya. Sering dia dihadapkan pada muka-muka asam, mendengar kata-kata
menyindir danmenghina hingga lambat laun gadis itu merasa tak betah lagi diam di
puncak gunung Lawu.
Dengan datangnya sang ayah memintanya pergi meninggalkan gunung Lawu maka
ini adalah satu hal yang paling baik bagi Wilarani. Berdua ayahnya dia menemui Resi
Kumbara untuk minta diri. Sebenarnya berat bagi paderi tua itu untuk melepas murid
kesayangannya itu. Namun diam-diam dia sudah mengetahui apa yang dialami
Wilarani sejak dia mengundurkan diri sebagai Ketua. Yang membuat Resi Kumbara
kagum danterharu ialah bahwa sampai saat Wilarani meninggalkan gunung Lawu gadis
ini tak pernah satu kalipun mengadukan keadaan dirinya itu. Semua dihadapinya
sendiri dengan tabah dari masih tetap tersenyum serta menghormati orang-orang di
sekitarnya, padahal didalam hatinya sakit bukan kepalang.
"Nyatanya keadaan di Partai Lawu Megah makin hari makin buruk. Untung sekali
aku sudah tidak disitu lagi."
"Tapi betapapun kau adalah anak murid Lawu Megah. Dan paderi-paderi yang kau
hormati serta saudara-saudara seperguruanmu itu banyak yang kubunuh," ujar Wiro.
Witarani geleng-gelengkan kepala. "Sejak aku meninggalkan gunung Lawu aku tidak
lagi merasa murid partai Lawu Megah, tapi murid Resi Kuinbara pribadi."
"Apakah tidak berniat untuk pergi lagi kesana?" tanya Wiro Sableng pula.
"Jika kudengar guru kenapa-kenapa, pasti aku akan naik ke puncak Lawu dan
memberi peringatan pada orang-orang yang kurang ajar itu."
"Sejak kau keluar dari partai apa saja yang kau lakukan?"
"Yaah... aku tinggal bersama ayah disini. Mempelajari berbagai macam ilmu
pengobatan...."
"Untung kau sempat mempelajari. Kalau tidak aku pasti tak akan tertolong." kata
Wiro pula.
Wilarani tersenyum. "Sebetulnya dalam sakit begini kau tak boleh banyak bicara.
Minumlah obat ini!" Gadis ini kemudian ambilkan secangkir obat lalu diminumkan
pada Wiro. Beberapa saat setelah minum itu Wiro merasakan mat8nya jadi berat sekali.
Akhirnya pendekar itu jatuh pulas.
Seminggu kemudian Wiro Sableng merasakan tubuhnya sudah segar. Cuma luka
dibahu kirinya masih belum kering dan sesekali terasa mendenyut sakit.
Suatu hari ketika Wiro tengah berkemas-kemas karena dia memang sudah
memutuskan untuk pergi, datanglah Wilarani dan menegurnya.
"Kau hendak pergi ke mana?"
"Magelang."
'Tapi kau masih belum sembuh. Kau harus menunggu paling cepat satu minggu
lagi. Balutan pada bahumu harus dibuka untuk diperiksa."
"Lukaku memang belum kering, Wilarani. Tapi tubuhku segar sekali. Semua berkat
bantuanmu. Aku ingin tinggal lebih lama di tempat yang tenang dengan pemandangan
indah di sekitarnya ini. Tetapi urusan besarku memerlukan penyeleseian dengan segera
"Jika kau' rrou menunggu sampai lukamu baik, aku bersedia membantu kau
menyelesaikan urusan itu."
Wiro garuk-garuk kepalanya. "Ah, budi besarmu menolong aku dalam sakit belum
dapat kubalas, jangen kau tanamkan budi baru padaku."
"Terserahlah padamu. Cuma⁄"
Wilarani tidak teruskan katanya.
"Cuma ape?", Wiro bertanya.
' Wilarani tak segera menjawab seolah-olah meragu.
"Cuma apa, Wilarani?" desak Wiro.
"Aku ingin agar kau mengetahui satu hal...."
"Apa?"
"Dua murid gunung Lawu yang bernama Sulawarsih dan Tandu Wiryo itu bukanlah
orang baik-baik...."
"Maksudmu?"
"Aku tak bisa menerangkan. Kau selidikilah sendiri." jawab Wilarani pula. "Kalau
kau hendak pergi, aku tak bisa menahan. Selamat jalan⁄" Lalu gadis itu putar tubuh
tinggalkan tempat itu.
Lima hari kemudian menjelang malam Pendekar 212 Wiro Sableng memasuki
Magelang. Kota yang membawa riwayat sial bagi dirinya. Setelah berkeliling meneliti
keadaan kota baru dia menuju penginapan Candi.
Dia tersenyum pada pelayan yang masih mengenalinya.
"Ingin menginap disini lagi raden?" Wiro mengangguk.
Ketika pelayan itu mengantarkannya ke kamarnya, Wiro bertanya. "Kau masih ingat
pertama kali aku menginap disini sekitar empat minggu yang lalu?"
"Ya.. saya masih ingat"
"Waktu itu ada sepasang muda mudi yang juga menginap disini⁄ Ingat?"
Pelayan itu berpikir sejenak. Lalu, "Ingat, saya ingat betul! Gadisnya cantik sekali
bukan? Ketika pergi saya dan Gundali diberinya masing-masing dua tail perak. Mudamudi
yang baik sekali.... ! Entah kapan mereka akan datang kemari lagi. Jarang sekali
tamu sebaik mereka."
"Mereka menyewa berapa kamar?" bertanya Wiro.
"Agaknya mereka bukan suami istri. Dua orang pengelana. Mereka masing-masing
menyewa satu kamar yang saling berdampingan. Eh, kenapa tuan bertanya begitu?"
"Tidak apa-apa. Tadi kau menyebut nama Gundali. Siapa orang itu⁄?"
"Gundali orang yang bekerja sebagai ronda dan penjaga keamanan di penginapan
ini......."
"Dia tinggal di Magelang ini?"
"Tentu saja⁄"
"Aku ingin bertemu dengan dia," kata Wiro pula.
"Tuan tak usah susah-susah. Sebentar lagi dia akan datang di sini. Tugasnya
memang khusus malam hari⁄."
Wiro tepuk bahu pegawai hotel itu dan ucapkan terima kasih. Dia langsung
berbarina di tempat tidur karena sekujur tubuhnya terasa letih. Tanpa disadari dia
jatuh pulas. Ketika bangun, yang pertama sekali diingatnya adalah orang bernama
Gundali itu. Namun sewaktu ditanyakan pada pelayan dia mendapat keterangan bahwa
Gundali belum datang.
"Tidak seperti biasanya. Seharusnya dia sudah berada di sini saat ini." kata pegawai
hotel itu.
Wiro garuk-garuk kepala. Setelah berpikir-pikir sejenak pendekar ini memutuskan
lebih baik mandi danmakan dulu, baru kemudian menunggu Gundali. Jika orang ini
masih belum datang juga dia akan minta bantuan pelayan itu Untuk mengantarkan ke
rumah Gundali. Dia harus menemui orang ini untuk minta beberapa keterangan.
Selesai membersihkan diri Wiro Sableng pergi makan di sebuah kedai tak berapa
jauh dari penginapan.
Tengah dia menyantap makanannya, masuklah tiga orang tetamu yang langsung
disambut oleh pemilik kedai. Setelah menyebutkan makanan yang mereka pesan, salah
seorang dari tetamu itu bertanya. "Apakah kau sudah dengar peristiwa pembunuhan
atas diri Gundali penjaga penginapan Candi."
"Gundali dibunuh orang .... ?!" kata pemilik kedai yang bertubuh gemuk setengah
berteriak. Karena kerasnya ucapannya ini Wiro yang berada jauh di sudut sampai
mendengar dan menjadi tersentak kaget. Dia hentikan makannya dan memandang pada
orang-orang itu sambil pasang telinga.
"Waktu itu dia tengah bersiap-siap hendak berangkat ke penginapan tempat dia
bekerja. Baru saja keluar pintu rumah tiba-tiba satu bayangan melompat dari atas atap,
sebilah pedang berkelebat dan putuslah kepala Gundali!"
Pemilik kedai menggigil ngeri. "Kapan terjadinya?" tanyanya.
"Barusan saja. Rumahnya ramai didatangi orang. Pembantu-pembantu Kadipaten
sudah ada di sana mengusut perkara pembunuhan ini!"
Sampai disitu Wiro berdiri dari kursinya, letakkan uang di atas meja dan tinggalkan
kedai. Karena peristiwa terbunuhnya Gundali cukup menggemparkan dan saat itu
banyak orang yang berdatangan ke sana, maka tidak sukar bagi Wiro Sableng untuk
mencari rumah Penjaga penginapan yang malang itu.

10
KETIKA WIRO SAMPAI dirumah Gundali, orang masih banyak berjubalan disana.
Beberapa petugas sibuk melakukan pengusutan. Wiro menyeruak diantara orang
banyak. Diruangan depan dari rumah yang kecil itu seorang wanita separuh baya
duduk memangku seorang anak perempuan sambil menangis tersedu-sedu. Perempuan
ini pastilah isteri Gundali yang malang, pikir Wiro. Segera dia mendekati perempuan
ini. Karena dia seorang asing dan berpakaian aneh, ditambah rambut gondrongnya,
tentu saja dia menjadi perhatian orang. Sebelumnya dia sampai ke dekat, istri Gundali,
seorang petugas menahannya.
"Orang asing, kau siapa?" petugas itu bertanya.
"Gundali adalah sahabat lamaku", sahut Wiro. "Aku datang kesini untuk
menyampaikan rasa duka citaku pada isterinya."
Setelah meneliti Wiro sejenak akhirnya petugas itu mengizinkan Wiro menemui
istri Gundali.
"Mbakyu, kau tentu tidak mengenal aku. Tapi aku adalah sahabat suamimu.
Terimalah rasa duka citaku yang sedalam-dalamnya."
Janda itu angkat kepalanya, memandang dengan agak heran pada pemuda berambut
gorldrong di hadapannya lalu tutup wajahnya dan kembali menangis tersedu-sedu.
"Dalam keadaan begini masih saja ada orang gila yang datang mengganggu. . . "
Wiro Sableng pencongkan mulut, garuk-garuk kepala. Meskipun jengkel penasaran
dia berkata. "Mbakyu, aku bukan orang gila. Aku sahabat suamimu. Aku ingin
menolongmu mencari siapa pembunuh suamimu itu dan menghukumnya. Asal saja saat
ini kau bersedia membantu berikan keterangan. . ." Wiro lantas keruk saku pakaiannya
dan masukan dua keping uang emas kedalam genggaman perempuan malang itu seraya
berbisik. "Jika kau tak keberatan sebaiknya kita bicara di dalam saja. . . ."
Meskipun dalam keadaan duka cita karena kematian suami, namun dua keping
uang emas itu membawa pengaruh juga bagi sang janda. Dipandanginya uang itu, lalu
pada Wiro, kemudian pada jenazah suaminya yang terbaring diatas ranjang bertutupan
seperai. Perlahan-lahan dia berdiri, mendukung anaknya dan masuk ke ruangan dalam,
"Ceritakanlah bagaimana kejadiannya sampai suamimu dibunuh orang," kata Wiro
begitu janda Gundali duduk di sebuah kursi diruangan dalam.
Janda malang itu keringkan dulu air matanya baru menjawab. "Seperti biasa setiap
suamiku hendak pergi ketempat pekerjaannya, aku selalu mengantarkan sampai pintu
depan. Waktu itu ruangan depan agak gelap karena aku belum sempat menyalakan
lampu. Suamiku mencium anak tunggalnya ini dulu, kemudian membuka pintu depan.
Begitu dia melangkahkan kaki dari ambang pintu tiba-tiba ada sesosok bayangan
melompat turun dari atas. Aku dan suamiku terkejut sekali. Kemudian kudengar
suamiku berseru. "Ah raden! Kau kiranya. Aku ..." Ucapan suamiku itu hanya sampai di
situ karena tiba-tiba orang yang disebutnya raden itu menghunus pedang dan menebas
lehernya hingga putus. Aku sendiri kemudian jatuh pingsan ..."
Sampai disini kembali janda Gundali menangis.
Setelah tangisnya reda Wiro Sableng bertanya. "Apakah kau kenal orang yang
membunuh suamimu itu?"
"Saat itu didepan gelap. Aku tak dapat melihat wajah si pembunuh. Cuma dari
perawakannya kuduga dia masih muda."
"Suaranya juga tak dapat kau kenali?" Istri Gundali menggeleng.
Wiro diam sejenak sambil tangannya tidak berkeputusan garuk-garuk kepalanya
yang berambut gondrong.
"Apakah suamimu punya musuh di kota Magelang ini atau di tempat lain...?"
"Setahuku tidak. Meskipun miskin tapi suamiku adalah orang baik-baik. . . ."
Wiro Sableng menghela nafas panjang. Dia berpikir apa lagi yang hendak
ditanyakannya. Kemudian dia ingat.
"Mungkin suamimu pernah menceritakan sesuatu sehubungan dengan pekerjaannya
sebagai penjaga keamanan di penginapan Candi? Coba kau ingat-ingat mbakyu."
"Sesuatu apa?" balik bertanya janda Gundali tak mengerti.
"Misalnya. . . mungkin suamimu pernah menceritakan tentang tamu-tamu di
penginapan...?"
Perempuan itu termenung sejenak, kemudian dia anggukkan kepala. "Memang
kadang-kadang dia pernah bicara soal tetamu-tetamu. Tapi apa sangkut pautnya itu
dengan kematian suamiku?"
Wiro Sableng tak perdulikan pertanyaan perempuan itu. Malah berkata. "Pernah
suamimu menerangkan tentang seorang tetamu lelaki muda, yang datang menginap
bersama seorang gadis cantik. Dan tamu lelaki itu kemudian memberikan dua tail
perak pada suamimu.... ?"
Sepasang mata istri Gundali membesar dan memandang lebar-lebar pada Wiro
Sableng.
"Memang ada," katanya, "dan pemuda itu memberi tambahan tiga tail lagi sewaktu
meninggalkan penginapan."
"Hemm... jarang orang yang sebaik itu."
"Kau lebih baik dari dia. Kau barusan memberikan dua keping uang emas padaku."
"Itu karena aku sahabat suamimu," jawab Wiro pula berdusta padahal sebetulnya dia
ingin mengorek keterangan di samping memang berniat membantu perempuan yang
kematian suami itu. "Apa saja yang diceritakan suamimu mengenai muda-mudi itu
selain hadiah lima tail perak tersebut."
"Aku tak bisa menceritakannya. Aku malu ..." kata janda Gundali pula.
Wiro kerenyitkan kening dan garuk-garuk kepala. "Memangnya kenapa. . . ? Dengar,
aku ingin membantumu menangkap dan menghukum pembunuh suamimu. Kurasa aku
bakal dapat mengetahui siapa orang nya. Tapi tanpa keterangan yang memberikan
bukti-bukti darimu sulit bagiku . . . ."
"Suamiku pernah menceritakan tentang seorang pemuda asing, berambut gondrong.
Dia meragukan kesehatan pikiran orang itu. Agaknya kaulah orangnya, bukan?"
Wiro Sableng jadi menggerendeng dalam hati.
"Mbakyu, siapa aku, apakah orang gila atau setengah gila kuharap tak usah
diperdulikan. Yang penting pembunuh suamimu itu harus dihukum. Kalau dia masih
berkeliaran di luar bukan mustahil keselamatanmu dan puteri tunggalmu ini akan
terancam pula."
Kelihatan bayangan rasa takut pada wajah janda Gundali.
"Baiklah," kata perempuan ini pada akhirnya. "Waktu itu sudah larut malam.
Suamiku mematikan lampu-lampu tertentu dalam penginapan. Sewaktu dia sampai di
ujung gang pada bagian mana muda-mudi itu menginap, dilihatnya si pemuda berdiri
di depan pintu kamar si pemudi, mengetuk perlahan-lahan. Kemudian pintu kamar
terbuka, tamu lelaki masuk ke dalam dan pintu dikunci kembali. Karena mengetahui
kalau sepasang muda-mudi itu adalah murid-murid Partai Lawu Megah yang berkepandaian
tinggi, dia tak berani berbuat apa-apa, apalagi menegur meskipun nyatanyata
masuk ke dalam kamar seorang gadis pada malam hari adalah perbuatan yang
tidak senonoh. Kemudian karena ingin tahu apa yang sebenarnya diperbuat oleh
murid-murid Lawu Megah itu suamiku keluar dan dari luar melakukan pengintaian
lewat celah-celah papan dinding. . . ."
Sampai disini janda Gundali terdiam.
"Bagaimana terusnya? Apa yang dilihat suamimu?" tanya Wiro tak sabaran.
"Dua orang itu betul-betul melakukan perbuatan yang tidak senonoh! Mereka
tengah berpeluk-pelukan. Kemudian pindah ke ranjang. Kemudian mereka kelihatan
menanggalkan pakaian di tubuh masing-masing. Dan melakukan perbuatan mesum
itu...!"
Wiro keluarkan suara bersiul dan mulutnya.
"Karena merasa jengah suamiku tidak meneruskan pengintaian. Tapi kira-kira satu
jam kemudian sewaktu dia kembali mengintai, didengarnya dua orang itu bicara
berbisik-bisik. Si gadis mengatakan perasaan kawatirnya karena saat itu katanya dia
telah hamil jalan tiga bulan. . . ."
Wiro melengak kaget. "Kalau begitu mereka melakukan hubungan sudah sejak
lama!"
Janda Gundali mengangguk. "Agaknya begitu. Rupanya mereka sudah mencoba
mencari obat untuk menggugurkan kandungan. Tapi sia-sia belaka. Kalau Tuhan punya
kuasa minum obat apapun kandungan itu tak bakal gugur! Suamiku mendengar si
pemuda berkata bahwa satu-satunya orang yang bisa menggugurkan kandungan itu
adalah Resi Kumbara, bekas ketua Partai Lawu Megah. Tetapi tentu saja mereka tidak
bisa melakukannya. Maka suamiku mendengar keduanya berunding. Yang pemuda
rupanya dapat akal keji. Dia menyebut-nyebut pemuda gondrong ceriwis yang juga
menginap di penginapan itu. Lalu tentang kancing baju milik orang itu yang tanggal
dan ditemuinya dekat kaki kursi. Dari pembicaraan jelas bahwa mereka tengah
mengatur rencana busuk, hendak mengambing hitamkan pemuda asing yang agaknya
adalah kau sendiri. Rupanya lelaki muda itu seperti mengetahui kalau ada orang di
dekat kamar karena dia kemudian membuka jendela. Untung saja suamiku cepat-cepat
meninggalkan tempat itu dan pura-pura buang air kecil di balik pohon. Namun
agaknya pemuda itu menaruh curiga. Itulah sebabnya dia menambahkan tiga perak lagi
ketika hendak pergi. Maksudnya agar suamiku tidak membuka rahasia malam itu."
"Cukup. . . . cukup dan terima kasih atas keteranganmu itu. Tahukah kau sekarang
siapa yang membunuh suamimu malam ini? Pemuda bangs*t itu. Namanya Tandu
Wiryo. Dan si gadis mesum itu bernama Sularwasihl"
Si janda terpekik kecil dan memandang melotot pada Wiro.
Pendekar 212 pegang bahu janda Gundali dan berkata. "Bila tiba nanti waktunya,
aku akan bawa kau kepuncak Lawu!" Habis berkata begitu Wiro tinggalkan perempuan
yang kemudian kembali menangis bersedu-sedu sambil peluki puterinya yang kini telah
jadi anak yatim.

IZRO'IL
Neraka Puncak Lawu


11
JEJAK pendekar Pedang Akhirat lolos dari puncak gunung Lawu bersama Wiro Sableng
timbullah kecurigaan penuh diantara para paderi dan semua anak murid partai yakni
jika tidak dengan bantuan Resi Kumbara, kedua orang itu pasti tidak bakal dapat
melarikan diri. Pintu rahasia dari terowongan yang menembus gunung ada dalam
tempat pengasingan bekas ketua partai itu. Nyata sudah bahwa Resi Kumbara telah
membantu Wiro dansi kakek muka tengkorak.
Hal ini membuat pihak-pihak yang memang tidak menyukai Resi Kumbara menjadi
marah, termasuk Resi Tumbal Soka sendiri. Suasana di gunung Lawu hari-hari
kelihatan tenang-tenang saja. Namun ketenangan ini tidak beda laksana api dalam
sekam yang sewaktu-waktu pasti meledak. Dan ledakan itu nyatanya terjadi juga yakni
empat minggu kemudian.
Atas perintah Resi Tumbal Soka semua paderi yang memegang pucuk pimpinan
dikumpulkan di gedung perundingan. Diluar gedung menjaga murid-murid partai kelas
satu.
"Saudara-saudara separtai yang aku cintai," Resi Tumbal Soka angkat bicara. "Kita
semua sama tahu bagaimana keadaan sesungguhnya dalam tubuh partai kita sejak
lolosnya dua orang manusia terkutuk itu. Rasanya tak perlu lagi dibentangkan panjang
lebar bagaimana mereka bisa lolos atau siapa yang memberi jalan pada mereka. Saat ini
aku mengumpulkan kalian semua adalah untuk membicarakan soal tanggung jawab
yang harus kita tuntut pada bekas ketua kita. Resi Kumbara meskipun adalah bekas
ketua yang kita hormati bahkan kakak kandungku sendir, namun jika berbuat
kesalahan bahkan penghianatan musti kita tuntut dan mintakan pertanggungan
jawabnya. Untuk itu mari kita beramai-ramai mendatangi tempat persamadiannya!"
Sebelum paderi-paderi itu berdiri, tiba-tiba salah seorang dari mereka mendahului
dan tegak menghadang di pintu. Paderi ini adalah Resi Permana yakni, paderi yang
memimpin mereka yang ingin melihat Partai Lawu Megah kembali pada masa jaya
seperti dibawah pimpinan Resi Kumbara dulu bahkan berharap agar Resi Kumbara
sudi memegang jabatan ketua kembali.
"Saudara-saudaraku separtai," kata Resi Permana sambil rangkapkan tangannya
didepan dada. "Sebelum bertindak pikirkan baik-baik lebih dulu. Mengganggu kakak
yang sedang bersamadi saja sudah merupakan perbuatan tidak sopan. Apalagi hendak
menuntutnya. Dan secara beramai-ramai seperti ini, seperti gerombolan yang datang
menggarong saja!"
Mendengar ucapan saudara seperguruannya itu merah padamlah wajah Resi Tumbal
Soka. Dia maju ke hadapan Resi Permana dan dengan nada keras marah menegur:
"Resi Permana! Kau sudah keblinger atau bagaimana sampai berkata dernikian?
Sudah terbukti kakak salah, kau masih hendak membela. Rupanya kau bersekongkol
jadi pengkhianat?!"
"Berkhianat suatu hal yang keji, aku tahu hal itu," sahut Resi Permana pula. "Dan
berlaku kurang ajar pada leluhur tidak jauh kejinya dari berkhianat. Jangan kau berani
menuduh Resi Kumbara telah berkhianat. Kesalahannya memang nyata. Tetapi aku rasa
kakak tidak akan terlalu bodoh meloloskan orangorang itu begitu saja. Aku yakin ada
perjanjian tertentu yang mengikat diantara mereka!"
"Berjanji dengan musuh-musuh partai justru adalah kesalahan yang harus
dipertanggung jawabkan pula!" tukas Resi Tumbal Soka. "Jika kau tidak ingin bersatu
dengan kami, menyingkirlah dari pintu itu!"
Resi Permana dalam hati marah setengah mati terhadap Resi Tumbal Soka. Jika saja
paderi itu tidak dihormatinya sebagai ketua niscaya dia tidak segan-segan untuk
berdebat mulut lebih jauh. Bahkan tidak gentar melakukan kekerasan. Diam-diam dia
menyesali kenapa Resi Kumbara dulu menyerahkan jabatan ketua pada paderi ini.
Resi Permana menghindar dari pintu. Tiga orang paderi lainnya, yang sama sefaham
dengan Resi Permana tegak disamping paderi ini, tak mau ikut bersama ketua Partai
Lawu Megah dan paderi lainnya.
Resi Tumbal Soka memandang pada mereka berempat dengan pandangan menyorot.
Lalu dengan nada sinis dia berkata.
"Bagus! Jadi inilah contohnya empat paderi yang jadi puntung-puntung pengSERIAL
khianat. Kelak para pucuk pimpinan akan mengadakan rapat untuk merundingkan
tindakan apa yang bakal dilakukan atas diri kalian!"
"Ketua, aku mohon sekali lagi agar kau suka memikirkan tindakan ini sebelum
melakukannya", kata Resi Permana merendah dan sabar.
Pelipis Resi Tumbal Soka kelihatan bergerakgerak saking marahnya. Dia
menyemprot.
"Sebaiknya kau pikirkan paderi-paderi dan murid murid partai yang mati dibunuh oleh
kedua keparat itu di kaki gunung begitu keluar dari terowongan rahasia!"
"Itu salah mereka sendiri. Kenapa menghadang dan mengeroyok dengan sengaja!"
sahut Resi Permana.
Jika tidak dapat menindih kemarahannya mungkin ketua Partai Lawu Megah sudah
menampar Resi Permana saat itu. "Kalau toh mereka yang terbunuh itu bisa datang dan
bicara, pasti mereka akan menyumpah dan mengutukmu habis-habisan!" Resi Tumbal
Soka bantingkan kakinya ke lantai hingga ubin ruangan amblas lalu putar tubuh
tinggalkan paderi Permana yang cuma tegak terdiam dan menarik nafas panjang
berulang kali.
***
SEPERTI biasanya Resi Kumbara yang sudah lanjut usia itu ketika didatangi oleh
adiknya bersama delapan paderi utama tengah tenggelam dalam kekhusukan samadi.
Namun begitu Resi Tumbal Soka dan paderipaderi lainnya sampai di hadapannya,
bekas ketua partai ini tiba-tiba saja buka matanya yang terpejam dan hentikan
samadinya. Dia memandang pada adiknya dan semua paderi yang ada di situ dengan
tersenyum. Dia tidak melihat paderi Permana dan tiga paderi lainnya, tetapi tak mau
bertanya.
"Adikku," Resi Kumbara justru yang lebih dulu buka pembicaraan. "Kau dan
saudara-saudara lainnya tak usah menerangkan lagi panjang lebar maksud kedatangan
kalian. Aku sudah de