Pendekar Pedang Akhirat
10
SAMBIL bersiul-siul membawakan lagu tak menentu Pendekar 212 Wiro Sableng melangkah lenggang
kangkung. Kadang-kadang sesungging senyum muncul di ujung bibirnya. Saat itu bukan dia tidak tahu
kalau sudah sejak tadi ada seseorang yang mengikutinya dari belakang dalam jarak tertentu. Namun
pura-pura tak tahu dia jalan terus memasuki rimba belantara di kaki bukit yang menurut keadaannya
mungkin belum pernah didatangi manusia sebelumnya.
Di satu tempat tiba-tiba laksana seekor burung, dengan gesit dan tanpa suara sama sekali dia
melompat ke sebuah cabang pohon yang tingginya hampir tiga tombak. Di sini dia mendekam di balik
rerumputan daun dan menunggu. Tak lama kemudian di bawah sana dilihatnya ranting-ranting dan
semak-semak bersibakan dan sesosok tubuh menyeruak mencari jalan.
Pendekar kita tersenyum. Dia memang sudah menduga dari semula. Orang yang mengikutinya itu
ternyata adalah gadis cantik yang tempo hari dicuri kudanya. Cuma sedikit yang menimbulkan tanda
tanya dalam hati Wiro di mana gadis itu meninggalkan kudanya dan dari mana pula dia mendapat pesalin
pengganti pakaian merahnya yang dulu robek-robek. Tepat ketika sang dara yang kini berpakaian putih
ringkas dan rambut digulung di atas kepala sampai di bawah pohon.
Wiro melayang turun hingga si nona menjadi kaget.
"Ah, sungguh menyenangkan dapat bertemu denganmu kembali, Nona. Kurasa kau pun demikian
pula bukan?" Wiro menegur sambil garuk-garuk kepala dan cengar-cengir.
"Siapa sudi bertemu dengan kau!" sang dara melengos.
"Eh, kalau tak sudi ketemu kenapa dari pagi tadi kau diam-diam mengikuti? Bukankah itu
maksudnya pingin ketemu...?"
Si Nona tadi merah wajahnya karena jengah.
"Nah, sekarang ringkas saja, Nona. Kenapa kau mengikutiku?"
"Aku tak mengikutimu, hanya kebetulan saja kita satu jurusan dan kau di sebelah depan."
"Begitu? Baiklah. Sekarang kau silahkan jalan di sebelah depan dan aku di belakang!"
Nona itu kelihatan geregetan sekali mendengar kata dan melihat tingkah Wiro. "Dengar," katanya
serius. "Kau dan aku mempunyai kepentingan yang sama. Kita sama menuju gunung Hun-tiong di mana
markas komplotan Hun-tiong Houw-mo berada. Kau tak tahu jalan dan aku butuh bantuan. Sekali lagi
kutawarkan bagaimana kalau kita kerja sama?"
Wiro merenung sejenak lalu tersenyum.
"Aku kurang begitu percaya padamu. Sebelumnya kau hendak menebas batang leherku. ingat?"
"Itu... itu karena kau telah mencuri kuda kesayanganku dan... dan...."
"Sudahlah, Nona, kalau kau kepingin jalan sama-sama denganku aku tak keberatan. Tapi
sesampainya di Hun-tiong san kita urus persoalan sendiri-sendiri...."
"Aku belum pernah bertemu laki-laki sesombongmu!" desis nona itu.
"Aku belum pernah bertemu gadis secantikmu!" jawab Wiro pula dan membuat si nona jadi betulbetul
kepingin menggebuk pemuda itu.
"Kau... kau terlalu..." kata gadis itu perlahan dan menggigit bibirnya keras-keras agar air matanya
jangan sampai keluar karena rasa kesal yang amat sangat itu.
Wiro jadi kasihan juga melihat gadis itu.
"Sudahlah, aku tadi cuma bergurau. Bagaimana persoalannya sampai saudara laki-lakimu dibunuh
oleh komplotan Hun-tiong Houw-mo?"
"Suatu hari dia diculik oleh anggota komplotan itu, hendak dipersembahkan pada Ketua Hun-tiong
Houw-mo yang kabarnya seorang gadis berparas jelita tetapi mempunyai nafsu terkutuk luar biasa dan
suka menyimpan pemuda-pemuda gagah di markasnya. Jika dia sudah bosan, pemuda-pemuda itu
dibunuhnya satu persatu dan cari yang lain...."
"Jadi Ketua Hun-tiong Houw-mo itu adalah seorang gadis, seorang perempuan?"
Sang dara mengangguk.
"Seorang gadis cantik dan berkepandaian tinggi luar biasa."
"Aneh..." Ujar Wiro.
"Apa yang aneh?"
"Jika dia berkepandaian tinggi dan banyak tokoh-tokoh persilatan yang jatuh di tangannya
sedangkan usianya demikian muda, sejak umur berapa dia sudah menguasai ilmu silat dan kesaktian?"
"Aku pun tidak mengerti," menyahut si nona. "Kira-kira sebulan sesudah saudaraku diculik,
mayatnya ditemukan dalam keadaan rusak di pinggiran kota...."
"Bagaimana kau tahu bahwa komplotan Hun-tiong Houw-mo yang membunuhnya?!" tanya Wiro
pula.
"Ada piauw kepala harimau dari emas menancap di keningnya."
Wiro manggut-manggut.
"Bagaimana sekarang?" si nona ajukan pertanyaan.
"Apa yang bagaimana?"
"Kau masih tak mau bekerja sama denganku?"
"Apa yang kau ketahui tentang Hun-tiong Houw-mo?" balik bertanya Wiro.
"Pertama aku tahu jalan terpendek ke puncak Hun-tiong san tanpa diketahui oleh penghuni markas
komplotan itu."
"Tapi kabarnya markas komplotan itu dipagari dengan tembok luar biasa tingginya sedang di
pelbagai tempat penuh dengan senjata rahasia!"
"Itu adalah persoalan kedua," jawab si nona. "Semasa kecil aku sering diajak kakek guruku ke
puncak Hun-tiong san. Waktu itulah kutemui sebuah terowongan rahasia yang jika diikuti akan sampai
di salah satu bagian dalam halaman markas Hun-tiong Houw-mo...."
"Ah, itu bagus sekali!" ujar Wiro. "Lantas apa lagi yang kau ketahui...."
"Di samping Ketua Hun-tiong Houw-mo yang terkenal sakti itu, di sana terdapat juga beberapa
orang pembantunya yang terdiri dari gadis-gadis cantik dan rata-rata berkepandaian tinggi!"
"Lain hal...?"
"Tak ada lagi yang kuketahui."
Wiro usap-usap dagunya. "Kau belum menerangkan siapa namamu, Nona."
Kembali paras sang dara menjadi merah. Tapi dia menyahut juga. "Panggit aku Pek Lan...."
"Pek Lan...? Ha, kalau tak salah itu artinya Anggrek Putih! Nama yang bagus! Nah sekarang
mari kita sama-sama lanjutkan perjalanan.... "
"Kau silahkan jalan duluan," kata Pek Lan pula. "Eh, bagaimana ini? Katanya bekerja sama, jalan
sama-sama tidak mau...!"
"Jalan saja duluan, aku tunjukkan arah dari belakang. Sekeluarnya dari rimba ini, puncak Hun-tiongsan
akan segera terlihat!"
Wiro tarik nafas panjang dan geleng-geleng kepala. Akhirnya dia melangkah juga. Pek Lan mengikutinya
sejauh lima belas langkah di belakang.
Ketika hampir akan keluar dari hutan belantara itu tiba-tiba Wiro tersentak kaget menyaksikan pemandangan
beberapa langkah di hadapannya. Seorang nenek-nenek tak dikenal, berambut putih
berpakaian compang-camping duduk menjelepok di tanah. Di tangannya ada sepotong ranting kering.
Dengan ranting ini dia menggurat-gurat tanah.
Gerakan tangannya acuh tak acuh dan tampaknya perlahan saja namun guratan yang terlihat di
tanah demikian dalamnya tanpa mempergunakan tenaga dalam yang tinggi tak bakal seseorang mampu
melakukan hal itu.
Wiro sudah mengetahui baik di tanah airnya maupun di Tiongkok, orang-orang atau tokoh persilatan
itu banyak yang bersifat aneh. Karenanya dia sudah menduga kalau nenek tak dikenal ini pun
tentu salah seorang dari tokoh-tokoh golongan aneh itu. Maka menjuralah dia dengan penuh hormat
dan menegur dengan lembut.
"Nenek tua rambut putih, maafkan siauwte mengganggu ketentramanmu. Sudilah nenek memberi
jalan sedikit agar aku dapat melanjutkan perjalanan."
Sementara itu Pek Lan yang mengikutinya, dari belakang, begitu melihat ada orang lain di depan,
cepat hentikan langkah, menyelinap ke balik semak belukar dan menghilang.
Anehnya, ditegur oleh Wiro si nenek seolaholah tak mendengar dan terus saja menggurat-gurat
tanah dengan ujung ranting kering. Memikir kalau-kalau pendengaran si nenek kurang baik maka Wiro
menegur lagi. Kali ini dengan suara lebih keras.
Si nenek tiba-tiba angkat kepalanya. Kelihatan jelas kini wajah yang mengeriput. Di lain pihak Wiro
melihat bagaimana sepasang mata si nenek bening bercahaya, bukan seperti mata seorang yang sudah
lanjut usia. Si nenek sendiri begitu matanya membentur wajah Wiro, hatinya tercekat dan dalam hati dia
membatin, "Ah... tak kusangka kalau yang harus kubunuh ini seorang pemuda asing berparas gagah
meskipun tindak tanduknya macam orang tolol dan lucu.... " Kemudian nenek ini cepat-cepat
tundukkan kepalanya kembali. Pandangan mata Wiro Sableng membuat hatinya bergetar.
"Nenek, beri jalan padaku.... " Wiro berkata lagi.
Tiba-tiba si nenek melompat. Mimiknya jadi bengis dan dia membentak garang. "bangs*t, kapan
aku kawin dengan kakekmu kau panggil aku nenek!"
Mendengar ini Wiro hendak meledak tawanya. Tapi batal karena sambil membentak dilihatnya si
nenek tusukkan ranting kering di tangannya ke arah dada Wiro. Meskipun cuma sepotong ranting kering
namun bisa mendatangkan maut karena dialiri tenaga dalam yang hebat. Wiro berkelit ke samping dan
menghantam dengan tangan kanannya.
"Buk!"
Pukulan tepi telapak tangannya tepat mengenai lengan si nenek. Ranting terlepas mental dan si
nenek menggigit bibir menahan sakit. Wiro sendiri merasakan tangannya seperti kesemutan. Diam-diam
pendekar ini kaget juga dan mulai berlaku lebih hati-hati.
"Aku tiada permusuhan denganmu Nenek, kenapa kau menyerangku?"
"Mulutmu terlalu kurang ajar. Orang sepertimu pantas dilenyapkan!"
"Eh, bukankah kau yang duluan bicara segala macam kawin dengan kakekku. Kau yang buktinya
bermulut usil, Nek!"
Si nenek yang bukan lain adalah si Putih Koan-koan sebenarnya merasa geli juga mendengar
ucapan Wiro itu, namun berhubung dia mendapat tugas dari ketuanya untuk membunuh pemuda asing
ini, maka itu tak dapat ditawar-tawar lagi. Dia tahu kalau pemuda itu dikabarkan memiliki kepandaian
tinggi dan telah sanggup membunuh Siang Mo Kiam, dua anggota komplotan Hun-tiong Houw-mo
yang berkepandaian tinggi. Karenanya dalam serangan kedua dia sengaja keluarkan jurus hun-in toan-san
(Awan Melintang Mernutus Bukit) yakni jurus pertama yang sebelumnya telah mengantar kematian dua
paderi Siauw lim-si berkepandaian tinggi itu.
Wiro kaget ketika melihat bagaimana seolah-olah lawan dipisahkan oleh satu jarak gaib yang tak
bisa dicapainya padahal si nenek kelihatan dekat saja di depan matanya.
"Ah, nyatanya kepandaiannya cuma rendah saja," kata nenek rambut putih alias Koan-koan begitu
melihat jurus yang dikeluarkannya itu membuat lawan tidak berdaya. Segera dia keluarkan jurus kedua
yakni "Matahari Dan Rembulan Tidak Bersinar" atau jit-gwat-bu-kong.
Ketika menghadapi jurus aneh yang pertama tadi Wiro memang terkesiap namun itu bukanlah
berarti dia menjadi tak berdaya seperti yang disangka oleh Koan-koan. Secepat kilat tangan kanannya
mendorong ke depan melancarkan pukulan sakti bernama "Benteng Topan Melanda Samudera".
Setiup angin bertiup dengan dahsyat seolah bumi ditiup badai. Kini Koan-koanlah yang menjadi
kaget. Bukan saja dia tak mendapat kesempatan untuk mengeluarkan jurus "jit gwat-bu-kong" tetapi
jurus "hun-in-toan-san"nya pun dilabrak musnah sedang dirinya sendiri terhuyung-huyung beberapa
langkah ke belakang.
Melihat lawan nyatanya memiliki kepandaian tinggi, tidak serendah yang diduganya, Koan-koan
menjadi marah dan naik pitam. Baginya jika menghadapi lawan seperti ini hanya ada satu pilihan, dia
yang bakal konyol atau lawan yang akan meregang nyawa. Karenanya Koan-koan tanpa tunggu lebih
lama lagi segera keluarkan kesaktiannya yang paling tinggi yaitu "Ilmu Jari Kelabang Hijau".
Ketika Pek Lan yang mengintip di balik belukarmelihat si nenek rambut putih jentikkan lima jarinya
yang disusul dengan berkiblatnya lima larik sinar hijau yang menggidikkan maka dara itu tersentak kaget
dan berseru memperingati Wiro. "Saudara, awas! Itu pukulan Ilmu Jari Kelabang Hijau yang ganasl
Lekas menyingkir!"
Wiro tertegun mendengar peringatan itu sedang Koan-koan sendiri terheran-heran karena tak
menyangka kalau ada orang ketiga di tempat itu.
Karena belum tahu sampai di mana kehebatan Ilmu Jari Kelabang Hijau, Wiro turuti juga peringatan
Pek Lan, menyingkir dua langkah ke samping dan menghantam dengan pukulan "Angin Puyuh",
tapi apa lacur, pukulan sakti yang dialiri setengah bagian tenaga dalamnya itu ternyata punah dilabrak
sinar hijau pukulan lawan. Di lain kejap sinar hijau terus menyambar ke arah Wiro.
Pek Lan menjerit kaget, "Celaka!" dan dia sendiri tidak punya kemampuan untuk menolong Wiro.
Meskipun demikian dia cabut pedangnya dan menyerang ke arah Koan-koan seraya membentak garang.
"Nenek keparat, jadi kau adalah salah seorang dari pembantu ketua Hun-tiong Houw-mo terkutuk
itu! Jangan coba mungkir sekalipun kau bisa menyamar jadi setan! Hanya orang-orang dari Hun-tiong
san yang memiliki ilmu laknat itu!"
Koan-koan sendiri sebenarnya mengeluh dan menyesal dalam hatinya telah lepaskan pukulan
Ilmu Jari Kelabang Hitam yang ganas yang dilihatnya telah membuat si pemuda tak berdaya dan
bakal meregang nyawa. Pada dasarnya dia tak ingin membunuh pemuda yang menarik hatinya ini.
Namun untuk menarik pukulan tersebut sudah kasip dan dalam pada itu satu serangan pedang dari
seorang gadis cantik tak dikenalnya datang pula dari samping, membuat dia terpaksa berkelit, selamatkan
batang lehernya.
Melihat pukulan tangkisannya musnah Wiro kaget sekali dan sebelum sinar hijau melabrak
kepalanya pendekar ini hantamkan tangan kirinya ke atas. Selarik sinar putih menyilaukan berkelit ganas
dan terdengarlah suara berdentum!
Nenek rambut putih atau Koan-koan mencelat mental sampai tiga tombak. Dengan jungkir balik
susah payah baru dia bisa berdiri di atas kedua kakinya. Dadanya terasa sakit dan jari-jari tangannya
seperti hendak putus. Wajahnya sepucat kain kafan. Sedang di depannya Wiro Sableng dilihatnya berdiri
tegak dengan kaki melesak ke tanah sampai sedalam sepertiga jengkal. Di bagian lain beradunya dua
pukulan sakti itu telah membuat Pek Lan terbanting ke samping dan jatuh duduk di tanah. Tapi gadis ini
cepat bangun kembali. Pungut pedangnya dan kembali menyerbu Koan-koan.
"bangs*t dari Hun-tiong san! Kau harus tebus nyawa kakakku dengan nyawa anjingmu!" Pedangnya
berkelebat. Tapi saat itu Koan-koan yang sudah maklum tidak bakal sanggup menghadapi Wiro sudah
putar langkah dan hendak kabur. Cuma sayang Wiro lebih cepat menghadangnya.
"Nenek manis, kau mau merat ke mana? Makan dulu jariku ini."
Sekali totok saja nenek rambut putih alias Koan-koan tertegun jadi patung, tak bisa bergerak lagi!
"Hem, sekarang mampuslah!" seru Pek Lan. Pedangnya turun laksana kilat. Koan-koan hanya bisa
pejamkan mata terima nasib.
"Pek Lan tahan dulu!" Wiro tiba-tiba berseru dan memegang lengan Pek Lan.
Gadis ini coba berontak. "Apa-apaan kau! bangs*t ini adalah musuh besarku, yang telah
membunuh kakakku! Musuh besar setiap orang-orang golongan putihl Kenapa kau cegah aku
membunuhnya?"
"Sabar dulu Pek Lan. Dari dia kita bisa mengorek beberapa keterangan penting.... "
"Aku tak butuh segala macam keterangan! Aku butuh nyawanya!" sentak Pek Lan.
"Itu bisa kau lakukan nanti. Tapi aku pun mempunyai kepentingan sendiri," tukas Wiro pula. Dia
berpaling pada si nenek rambut putih dan bertanya, "Betul kau anggota Hun-tiong Houw-mo?"
"Terlu apa itu ditanya !agi! Lihat aku akan buktikan sendiri!" kata Pek Lan dan dengan kedua
tangannya dirobeknya pakaian luar Koan-koan. Kini kelihatan pakaiannya sebelah dalam, pakaian
ringkas warna putih sedang di lehernya tergantung kalung emas kepala harimau. "Dan ini tampang iblis
ini yang asli!" seru Pek Lan selanjutnya seraya menanggalkan topeng tipis dari wajah Koan-koan, Wiro
sampai ternganga bengong waktu menyaksikan wajah di balik topeng nenek-nenek buruk keriput tadi
ternyata adalah paras yang demikian jelitanya!
"Nona, aku tak mengerti. Kau demikian cantik. Kenapa menyia-nyiakan hidup dengan masuk menjadi
anggota Hun-tiong Houw-mo?"
Ditegur oleh Wiro selembut itu, Koan-koan jadi sesenggukan dan tak dapat lagi menahan air
matanya.
"Eh, kenapa jadi menangis?" tanya Wiro.
"Awas, jangan sampai kita termakan tipunya!" ujar Pek Lan tetap bernafsu.
Wiro bertanya sekali lagi. Sekali ini Koan-koan membuka mulut memberi keterangan dengan terisak-
isak, "Aku dan juga empat kawanku yang lain tak pernah menginginkan untuk hidup sebagai murid
Ketua Hun-tiong Houw-mo. Kami semua terpaksa. Diculik beberapa tahun yang silam dan tak mungkin
lagi keluar dari genggaman Ketua kami kecuali kalau kami ingin buru-buru mati!"
"bangs*t! Kau pandai main sandiwara! Toh kau yang menculik dan membunuh kakakku!?"
"Apakah kakakmu itu masih muda...?" tanya Koan-koan dengan pandangan rawan.
"Ya."
"Orang-orang muda ditangani sendiri oleh Ketua kami. Dia yang menyuruh culik kemudian dia
pula yang membunuhnya bila telah bosan. Aku dan kawan-kawan hanya menjalankan tugas secara terpaksa
karena kami tak punya daya."
"Kenapa tidak melarikan diri?!" bertanya Wiro.
"Tak ada gunanya. Kami akan segera tertangkap dan disiksa seumur-umur...."
"Apakah kau punya niat untuk kembali ke jalan yang benar?" Wiro tanya lagi.
"Aku dan juga kawan-kawan selalu mengharapkan hal itu. Namun sampai saat ini kesempatan itu
belum ada. Kalaupun ada tokoh golongan putih tentu siang-siang sudah membunuh kami. Padahal
mereka banyak yang tidak tahu kehidupan kami yang boleh dikatakan tersiksa batin sepanjang hari...."
"Siapakah namamu Nona?"
Koan-koan menerangkan namanya.
"Dengar, jika kami berdua membebaskan kau saat ini...."
"Siapa sudi melepaskan dial" Pek Lan nyerobot.
Wiro memberi isyarat agar gadis itu diam.
"Rupanya kau sudah tertarik pada kecantikannya Wiro! Kau akan ditipunya dan kelak akan dibunuhnya!"
Wiro tak perdulikan kata-kata Pek Lan. "Dengar Koan-koan," katanya. "Segala apa yang terjadi
antara kita bisa dilupakan, dan kami berdua mengampuni dirimu. Tapi dengan syarat kau harus membantu
kami. Dan kelak mengajak pula kawan-kawanmu kembali ke jalan yang benar. Bertobat dan hidup
secara baik-baik."
Koan-koan tertawa rawan. "Seolah-olah mimpi ini semua bagiku," katanya. Lalu, "Kau belum tahu
siapa Ketua Hun tiong Houw-mo. Jika kau bermaksud hendak memusnahkannya itu adalah satu kesiasiaan
belaka..."
"Kita harus coba dan kau musti membantu. Menghadapi kita beramai-ramai masakan dia bisa
menang...?"
Koan-koan menghela nafas dalam. "Baiklah, aku berjanji. Tapi apakah kau percaya pada diriku?"
Wiro memandang sepasang mata sang dara. Dan pandangan keduanya saling bertemu. "Aku
percaya padamu!" kata Wiro lalu lepaskan totokan Koan-koan.
Begitu Wiro tepaskan totokan Koan-koan, Pek Lan kontan berkata, "Mulai saat ini aku tak mau
kenal lagi padamu, Wiro! Kau dengan urusanmu dan aku dengan urusanku!"
"Pek Lan, kau mau ke mana?" seru Wiro. Namun gadis yang keras hati itu sudah berkelebat pergi.
Wiro cuma geleng-geleng kepala.
"Adatnya keras..." kata Wiro.
"Kekasihmu...?" bertanya Koan-koan.
Wiro berpaiing. Sepasang mata mereka kembali saling bertemu. Koan-koan merasakan dadanya
berdebar dan perlahan-lahan tundukkan wajahnya. Wiro gelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kuharap kau betul-betul dapat dipercaya dan tidak menipuku," berkata Wiro.
Koan-koan angkat wajahnya yang jetita. "Asalkan kau bersungguh hati membawaku ke jalan yang
benar, kau suruh apa pun aku pasti akan melakukan."
"Apakah kau akan lakukan jika aku meminta kau menciumku saat ini?" kata Wiro pula bergurau.
Tapi di luar dugaan Koan-koan melompat ke muka, memeluk pemuda itu dan mencium sang pendekar
pada kedua pipinya.
"Aku sudah buktikan!" kata Koan-koan pula meski wajahnya bersemu merah.
Wiro usap-usap kedua pipinya. "Aku tadi cuma bergurau. Tapi tak apa.... Ini pertama kali seorang
gadis menciumku lebih dahulu. Terima kasih untuk ciumanmu itu..."
"Di lain hari aku akan memberikan lebih dari...!" kata Koan-koan dengan setulus hatinya. Entah
mengapa dia demikian terpikat pada si gondrong yang baru beberapa saat saja dikenalnya itu.
"Aku akan lebih berterima kasih," jawab Wiro pula. "Nah, sekarang mari kita atur siasat."
***
11
KEADAAN terowongan rahasia seperti yang diketahui Pek Lan di masa kanak-kanaknya ternyata kini
sudah jauh berubah sejak puncak Hun-tiong-san dipergunakan sebagai markas oleh komplotan Huntiong
Houw-mo. Perubahan-perubahan ini telah menyesatkan Pek Lan dan tanpa diketahuinya beberapa
kali dia telah menyentuh alat-alat rahasia di dalam terowongan itu.
Melihat adanya tanda dari alat-alat rahasia, Dewi Siluman Harimau segera memberi perintah pada
dua orang murid atau pembantunya yakni si Ungu Lan-lan dan si Biru Bwe-bwe. Meskipun Pek Lan
memiliki ilmu pedang yang tidak rendah, namun menghadapi kedua gadis tangguh itu, dengan hanya
mempergunakan tangan kosong dalam tempo dua jurus dia sudah kena diringkus dan dihadapkan pada
Dewi Siuman Harimau.
"Nona, parasmu cantik dan keberanianmu patut dipuji untuk bernyali masuk ke sarang kematian
ini. Siapakah namamu dan bagaimana kau bisa tahu terowongan rahasia di bawah tanah itu?!" Ketua
Hun-tiong Houw-mo ajukan pertanyaan.
Pek Lan yang memang seorang gadis pemberani, apalagi dihantui dendam kesumat kematian
saudaranya tegak berkacak pinggang diapit dan diawasi oleh si Biru Bwe-bwe dan si Ungu Lan-lan.
Ditanya bukannya dia menjawab, malah balas bertanya dengan sikap congkak nada sinis,
"Hemm.., jadi inilah Ketua Hun-tiong Houw-mo yang dipanggil dengan sebutan Dewi itu?" Pek
Lan kemudian tertawa panjang. "Tampangmu juga cantik. Cuma sayang hatimu lebih busuk dari
comberan dan kejahatanmu lebih ganas dari iblis."
"Dewi! Biar kurobek mulut gadis kurang ajar ini!" teriak si Hitam Ling-ling.
Ketua Hun-tiong Houw-mo lambaikan tangan dan berkata, "Nyalinya cukup mengagumkan Lingling.
Dan potongan tubuhnya menunjukkan bakat silat yang bagus. Kau ada harapan untuk kujadikan
murid serta pembantuku seperti nona-nona yang lain ini."
Pek Lan keluarkan suara mendengus dari hidung. "Aku datang kemari bukan untuk menghambakan
diri pada iblis macammu ini!"
"Lantas, apa perlumu datang kemari dan lewat terowongan rahasia segala?"
"Untuk mencincangmu. Kau bertanggung jawab atas penculikan dan kematian kakak laki-lakiku."
"Apakah kakakmu yang bernama Oel Siong Ang itu...? Ah, dia sungguh cakap dan amat pandai
melayaniku di atas tempat tidurt"
"Perempuan cabul! Mampuslah!" teriak Pek Lan marah sekali dan melompat ke muka hendak
kirimkan tendangan ke kepala Ketua Hun-tiong Houw-mo. Namun maksudnya ini tidak kesampaian
karena Ling-ling dan Lan-Ian cepat mencegahnya.