Help - Search - Members - Calendar
Full Version: W I R O S A B L E N G
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
Pages: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15
IZRO'IL
WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212


Malaikat Maut Berambut Salju


SATU
Gubuk di tengah rima belantara itu tenggelam dalam kesunyian dan kegelapan
malam. Satu pertanda tidak ada orang atau penghuni di dalamnya. Seekor burung
hantu mengepakkan sayapnya di cabang sebuah pohon lalu mengeluarkan suara aneh
menggidikkan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Pada saat itulah lapat-lapat di kejauhan terdengar suara langkah-langkah kaki
kuda. Agaknya binatang ini tidak berlari kencang melainkan berjalan perlahan dalam
kegelapan malam.
Binatang itu sampai di depan gubuk. Penunggangnya ternyata seorang lelaki
dan seorang perempuan. Yang lelaki turun lebih dahulu lalu membantu yang
perempuan. Perempuan ini tampak menggendong sesuatu yang ternyata adalah
seorang bayi terbungkus dalam kain tebal.
“Kau masuklah lebih dulu. Aku akan menyembunyikan kuda ……” berkata
yang lelaki. Suaranya hampir berbisik.
Setelah istri dan anak dalam gendongan masuk ke dalam gubuk, lelaki itu
cepat-cepat menuntun kudanya, membawanya ke satu tempat berpohon dan bersemak
belukar rapat. Kuda itu ditambatkannya pada sebatang pohon. Lalu dia kembali ke
gubuk. Baru saja orang ini sampai di depan gubuk, belum sempat melangkah masuk
tiba-tiba satu bayangan hitam berkelebat. Dilain kejap sosok bayangan ini telah
berdiri di hadapannya. Ternyata seorang kakek bertubuh tinggi kurus tapi bungkuk
hingga bentuk tubuhnya hampir menyerupai huruf L terbalik. Hembusan napas si tua
bungkuk ini menyambar keras dan memerihkan mata. Orang tua ini membuka mulut.
Ucapannya didahului suara bergemeletukkan seperti barisan giginya atas dan bawah
saling bergesekan.
“Mana anak itu!” tiba-tiba si bungkuk membentak.
Bentakan membuat lelaki tadi ketakutan dan bersurut mundur beberapa
langkah. Mukanya tampak pucat.
“Mana anak itu!” kembali si bungkuk menghardik. “Dua kali sudah aku
bertanya! Kalau sampai tiga kali kau tidak menjawab, putus nyawamu Jinggosuwu!”
“An….anak…..anak mana maksudmu. Kau ini siapa orang tua ….?”
“Siapa aku kau tak layak bertanya! Jangan berpura-pura! Yang aku tanya
adalah anakmu! Bayi delapan bulan yang kau beri nama Pandu itu!”
“Pan…. Pandu….?”
Orang tua bungkuk tertawa mengekeh. Lewat mulutnya yang terbuka lebar
tampak gigi-giginya besar-besar dan mencuat panjang.
“Jangan kira aku tidak tahu apa yang kau lakukan bersama istrimu! Kalian
meninggalkan desa Talangwaru dua hari lalu! Melarikan diri dan menyembunyikan
diri di rimba belantara ini!”
“Aku…..aku memang menyembunyikan diri di hutan ini. Tapi….tapi istri dan
anakku tidak ikut!” jawab lelaki bernama Jinggosuwu.
“Hem…..begitu?” si bungkuk tersenyum. “Sekarang di mana anak dan istrimu
itu?”
“Pandu dan ibunya pergi ke rumah orang tuanya di desa Puputan…..”
“Bagus! Kau tahu apa akibatnya ucapan dusta itu?!”
“Aku ….aku tidak berdusta. Aku yang mengantarkan istri dan anakku ke
Puputan. Lalu baru menuju kemari ….”
Bukkk!
Tubuh Jinggosuwu terpental tiga tombak. Dari mulutnya keluar jerit kesakitan.
Tapi tidak hanya jerit kesakitan. Dari mulut itu juga menyemburkan busah bercampur
darah. Jinggosuwu merasakan dadanya seperti dihantam batu besar. Sakit dan susah
bernafas.
Di dalam gubuk, istri Jinggosuwu menggeletar sekujur tubuhnya karena
ketakutan. Bayinya di peluk erat-erat. Dia mendengar jelas suara pukulan. Lalu suara
jeritan suaminya. Lalu kembali terdengar suara membentak dan mengancam.
“Sekali lagi kuberi kesempatan padamu Jinggosuwu! Dimana anakmu…..?”
“Orang tua…… aku sudah bilang padamu. Apa perlunya kau mencari anakku?
Mencari bayi usia delapan bulan itu? Apa urusan dan maksudmu sebenarnya….?”
Praak!
Tidak terdengar suara jawaban keluar dari mulut si orang tua. Yang terdengar
adalah suara hantaman yang membuat rengkah batok kepala Jinggosuwu. Kali ini
tanpa jeritan, sosok tubuhnya yang tadi berusaha bangkit terbanting ke tanah, tak
berkutik lagi. Nyawanya lepas saat itu juga!
Orang tua bertubuh bungkuk meludah ke tanah.
“Manusia tolol!” katanya lalu memandang berkeliling. Waktu dia sampai di
tempat itu tadi memang Jinggosuwu dilihatnya muncul seorang diri. Tanpa kuda,
tanpa istri dan anaknya. Apa benar kedua orang itu tidak diajaknya bersama ke gubuk
persembunyian di dalam hutan itu?
“Aku tidak percaya!” si bungkuk menghentak dan bantingkan kaki kanannya.
Dia memandang ke gubuk di samping kanan. Gelap. Pintu kayunya tertutup rapat.
“Sebelum angkat kaki dari tempat ini aku harus memeriksa gubuk itu!” Lalu
orang tua itu melangkah menuju pintu gubuk. Belum sempat dia mendorong daun
pintu, mendadak ada suara berdesing dan sambaran angin di belakangnya. Secepat
kilat orang tua ini jatuhkan diri, berlutut di depan pintu.
Sebatang pisau hitam bergagang putih melesat di atas kepalanya dan
menancap di daun pintu!
“Manusia pisau terbang keparat! Unjukkan dirimu! Jangan hanya berani
membokong!” bentak si bungkuk marah, lalu putar tubuh dan melompat bangun.
Sejarak sepuluh langakh dari hadapannya, orang tua ini lihat seorang nenek
berambut oanjang tergerai tegak bertolak pinggang. Bajunya yang berwarna hitam
penuh dengan deretan pisau-pisau kecil hitam bergagang putih.
“Pendekar Bungkuk! Jangan terlalu cepat naik darah! Apakah kau tidak
menyadari dunia ini terlalu sempit buat kita berdua jika kau punya jalan pikiran
bahwa seorang bayi calon pendekar agung tidak mungkin dibagi dua?!”
“Perempuan sundal! Masih berani kau muncul di hadapanku!” Orang tua yang
dipanggil dengan gelaran Pendekar Bungkuk keluarkan makian keras.
“Eh ….eh….eh….! Mulut kotormu itu memberikan restu padaku untuk
membunuhmu saat ini juga!”
“Ilmumu tidak setinggi gunung tidak sedalam lautan! Perempuan tua bangka
nenek keriput! Kau boleh menyandang gelar Pisau Maut Tanpa Bayangan! Kau akan
mampus tidak berkubur!”
Nenek berambut panjang tekap mulutnya dengan tangan kiri lalu tertawa
cekikikan.
“Kalau aku mati, memang tak bakal minta kau yang mengubur. Tubuh patah
bungkuk sepertimu itu mana bisa menggali lubang untukku…..!” Si nenek kembali
tertawa cekikikan.
Di dalam gubuk istri Jinggosuwu memeluk bayinya erat-erat. Ketakutan
mencengkam ibu muda ini. Dia hanya dapat mendengar bicara dua orang di luar sana.
Namun dia tahu betul bahaya apa yang mengancam anak lelaki dalam gendongannya
itu. Bersama suaminya dia sengaja melarikan diri ke tempat itu. Ternyata bahaya
besar terus menguntit.
“Kasihan anakku …… Pandu, apa sebenarnya yang ada dalam dirimu hingga
begitu banyak manusia-manusia aneh menginginkan dirimu….” Begitu kata hati si
ibu muda. Dia tidak tahu kalau suaminya telah mati.
Di luar gubuk, dalam kegelapan malam Pendekar Bungkuk keluarkan suara
berkereketan dari dalam mulutnya lalu mendengus.
“Pelajaran masa lau rupanya tidak membuat kau jera! Sungguh tolol! Apakah
cacat panjang di pipi kirimu tidak memberi peringatan padamu….?!”
Ucapan Pendekar Bungkuk membuat si nenek menyeringai. Tangan kirinya
bergerak mengusap pipi kirinya di mana terdapat cacat luka dalam memanjang dari
mata sampai ke dagu melewati pipi. Dua tahun silam dua tokoh persilatan ini pernah
bentrokan lalu terlibat dalam perkelahian selama sembilan puluh jurus. Si nenek kalah
dengan mendapat cidera pada pipinya. Pendekar Bungkuk sendiri mengalami
penderitaan sakit dada selama 40 hari akibat satu jotosan si nenek sempat menggebuk
dadanya. Sejak perkelahian itu kedua orang ini sama-sama mendalami ilmu silat dan
kesaktian masing-masing. Tidak dinyana malam ini mereka bertemu dalam rimba
belantara. Ternyata keduanya memliki maksud yang sama!
“Pendekar Bungkuk, justru mengingat pelajaran masa lalu itulah aku sengaja
menghadangmu di sini! Malam ini aku yang bakal ganti memberi pelajaran. Dan
tentunya berikut bunga tanda terima kasihku. Hik…hik…hik! Aku berjanji kau akan
mati dengan tenang. Bukankah kematian lebih baik bagimu dari pada hidup menderita
selamanya. Apakah anggota rahasiamu sudah mempu menjalankan tugasnya….?
Hik…hik….hik. aku kasihan padamu Pendekar Bungkuk. Tapi malaikat maut jauh
lebih kasihan. Karena itu dia datang menjemputmu malam ini….”
Pendekar Bungkuk memang pernah mendengar sejak dua tahun belakangan ini
bagaimana si nenek yang bergelar Pisau Maut Tanpa Bayangan itu telah sangat maju
ilmu kepandaiannya.
“Perempuan jelek besar mulut. Jika kau mau melupakan anak itu dan pergi
dari sini, aku bersedia mengampuni selembar nyawa busukmu….. Ayo pergilah dari
sini!”
Nenek berambut panjang tergerai tertawa mengekeh.
“Tampaknya kau merubah jalan pikiranmu Pendekar Bungkuk! Kau takut
padaku….? Hik….hik….hik?!”
“Tua Bangka keparat! Siapa takut padamu!” teriak Pendekar Bungkuk.
Tubuhnya yang bungkuk secara aneh menekuk ke bawah hingga kepalanya hampir
menyentuh tanah. Tubuh itu kemudian berjumpalitan dan berguling laksana sebuah
roda-roda, menyambar ke arah si nenek. Inilah jurus serangan aneh bernama
“gelinding kematian”. Jurus inilah yang dulu berhasil mengalahkan si nenek dengan
membuat cacat wajahnya. Tahu keganasan seangan ini Pisau Maut Tanpa Bayangan
cepat melompat ke kiri dan dari sini gerakkan tangan kiri kanannya ke tubuhnya
dimana lusinan pisau hitam bergagang putih tersisip di pakaiannya. Namun gerakan
ini terpaksa dibatalkan karena tubuh lawan yang berguling membuat gerakan berputar
dan tahu-tahu tangn Pendekar Bungkuk sebelah kiri menyembur ke wajah si nenek!
Wuut!
Secara wajar sambaran tangan itu sulit menemui sasarannya karena masih
terpisah cukup jauh. Namun karena bersamaan dengan itu tubuh yang tadi bergulung
tiba-tiba seperti terpental dan tegak kembali, maka jarak yang tadi jauh mendadak
sontak hanya tinggal setengahnya saja!
Si nenek berseru kaget ketika tangan lawan tahu-tahu sudah ada di depan
matanya! Dalam keterkejutan peempuan tua ini tidak kehilangan akal. Kaki kirinya
digebrakkan ke tanah. Tubunya miring ke belakang. Sambaran tangan lawan yang
dapat merobek mukanya lewat hanya sujung jari. Bersamaan dengan itu kaki
kanannya melesat ke depan.
Kini Pendekar Bungkuklah yang tersentak kaget!
Bahaya maut mengancam karena tendangan kaki kanan si nenek mencari
sasaran di selangkangan Pendekar Bungkuk! Kalau si kakek mampu mengelakkan
serangan itu maka tendangan lawan yang tidak menemui sasarannya akan meluncur
menghantam dadanya. Ini bisa terjadi karena bentuk tubuhnya yang bungkuk. Dan
kali ini, jika sampai dadanya kena dihantam lagi untuk kedua kalinya, mungkin dia
akan cacat seumur hidup!
“Perempuan Iblis!” rutuk Pendekar Bungkuk. Dia kerahkan tenaga dalamnya
sepenuhnya pada kedua tangannya. Begitu tendangan lawan hampir sampai ke bawah
perut, dengan cepat Pendekar Bungkuk tangkap pergelangan kaki si nenek. Dia
berhasil melakukan, berhasil menyelamatkan dirinya dari kematian tetapi tendangan
yang sangat keras itu membuat tulang telapak tangan kirinya remuk! Tubuhnya
mental beberpapa langkah. Sebelum sempat mengimbangi diri, lawan di hadapannya
telah menggerakkan tangan ke tubuh lalu wutt….wutt……
Enam pisau hitam bergaganng putih melesat ke arah Pendekar Bungkuk!
“Putus nyawamu Pendekar Bungkuk!” ujar si nenek lalu tertawa mengekeh.
Dalam keadaan jatuh seperti itu Pendekar Bungkuk hantamkan dua tangannya
ke atas. Tapi tangan kirinya yang cidera tidak dapat lagi melepaskan pukulan tangan
kosong yang mengandung tenaga dalam. Karena ketika tenaga dalam menjalar ke
tangan kiri itu, si kakek merasakan telapaknya seperti disengat bara panas. Dia
menjerit kesakitan tapi masih terus memukul dengan tangan kanan, lalu cepat
berguling ke kiri.
Tiga pisau terbang berhasil dipukul mental. Dua lainnya sempat dielakkan.
Hanya pisau ke enam yang tidak mampu dihantam mental ataupun dikelit. Senjata ini
menancap di mata kiri Pendekar Bungkuk dengan mengeluarkan suara menggidikkan!
Pendekar Bungkuk melolong kesakitan. Nenek berambut panjang tertawa
gelak-gelak memandangi wajah Pendekar Bungkuk yang kini tampak berlumuran
darah. Orang ini bangkit terbungkuk-bungkuk. Wajahnya benar-benar mengerikan.
Bukan saja karena darah yang terus mengucur, tapi juga karena pisau yang masih
menancap di mata kirinya!
“Iblis…..! Perempuan Iblis!” suara Pendekar Bungkuk bergeletar oleh hawa
amarah dan penderitaan rasa sakit. “Kau tunggulah pembalasanku kelak….!”
Setelah mengucapkan kata-kata itu Pendekar Bungkuk balikkan tubuh,
tinggalkan tempat itu dengan langkah setengah lari seradak seruduk.
“Ganas sekali nenek itu….” stu suara terdengar berbisik halus di atas sebaang
pohon besar.
“Saatnya kita turun sekarang adikku. Sebelum kedahuluan…..” menjawab
kawan bicaranya yang juga berada di atas pohon.
“Tapi bukankah belum ada tanda-tanda bayi itu berada di dalam gubuk?”
“Itulah sebabnya kita harus turun, menghalangi si nenek ganas dan sekaligus
menyelidik isi gubuk!”
“Kalau begitu katamu, mari!”

DUA
Ternyata di atas pohon dalam rimba belantara gelap itu bersembunyi dua sosok
tubuh. Keduanya merupakan sepasang muda-mudi yang mengenakan pakaian putih
ringkas, memiliki gerakan gesit yang setiap bergerak hampir tidak mengeluarkan
suara.
Mereka turun ke tanah pada saat Pisau Maut Tanpa Bayangan hendak
melangkah ke pintu gubuk.
Dia segera maklum meskipun dua orang di hadapannya itu masih muda-muda
namun jelas mereka merupakan orang-orang persilatan yang tidak memiliki
kepandaian rendah.
Si pemuda menjawab dengan cepat “Kami murid-murid perguruan silat
Teratai Putih dari gunung Lawu! Kakek guru yang bernama Jati Laksono dan
mendapat gelar kehormatan Tumenggung Wiro Sakti dari Kerajaan mengutus kami
untuk menjemput seorang bayi lelaki bernama Pandu!”
“Ah….mereka juga ternyata mempunyai ujuan yang sama! Dua cacing
ingusan ini mungkin tidak perlu ditakuti. Tapi Tumenggung Wiro Sakti dari gunung
Lawu itu harus diperhitungkan baik-baik…..” membatin si nenek. Otaknya yang
cerdik cepat diputar. Maka diapun berkata “Sungguh aneh…. Sepasang muda-mudi
melakukan perjalanan jauh-jauh dimalam buta begini mengatakan mencari seorang
bayi! Seorang bayi di dalam rimba belantara? Hik…hik…hik! Bukankah lebih baik
waktu kalian dihabiskan saja untuk saling bercumbu rayu….?”
“Manusia bermulut kotor!” Yang membentak adalah sang dara. Mukanya
tampak merah dalam gelap. “Kami berdua adalah kakak adik! Sekalipun kami tidak
bersaudara darah, apa yang kau katakan tadi tidak bakalan kami lakukan! Muridmurid
perguruan silat Teratai Putih menjunjung tinggi nama perguruan dan
kehormatan diri!”
“Hemmmm….begitu?” ujar si nenek pula. “Bagus, aku suka pada muridmurid
yang taat dn berbakti pada perguruan serta gurunya. Tapi terus terang
kukatakan adalah tolol kalau kalian mau saja disuruh mencari seoarang bayi dalam
rimba belantara ini! Paling untung kau hanya akan menemukan anak harimau, paling
sial kalian hanya mendapatkan anak kodok alias kecebong! Hik….hik….hik…..!”
“Kami sudah menyelidiki. Anak yang kami cari pasti berada di tempat ini
sebelum matahari terbit. Itu gubuk yang bakal jadi tempat persembunyiannya!”
“Hai, tidak sangka mereka tahu banyak tentang bayi itu….” kata si nenek
dalam hati. “Kalau begitu…..” ujar si nenek. “Kalian kembali saja besok pagi.
Malam-malam begini menyelidiki tentu sulit bagi kalian. Besok biarlah aku ikut
membantu….”
“Tidak, kami tidak akan meninggalkan tempat ini!” jawab si pemuda.
“Dan bukankah kemunculanmu di sini juga mencari anak yang sama?” sang
dara langusng menceploskan ucapannya terang-terangan.
“Apa urusanku disini tidak perlu kalian ketahui atau tanyak. Hanya saja perlu
kuberi ingat, siapapun kalian adanya aku tidak suka kalian berdua ada di tempat ini.
Silkahkan pergi…..”
“Kaulah yang harus pergi! Kau telah melakukan pembunuhan keji terhadap
ayah anak itu! Kau juga yang mencelakai Pendekar Bungkuk dengan lemparan
pisaumu!”
“Hei….jadi kalian berdua sudah sejak tadi mengintip di tempat ini!” si nenek
unjukkan suara dan mimik tidak senang. “Nah….nah! Jika kalian sudah menyadari
betapa nyawa manusia tidak ada artinya bagiku, mengapa tidak lekas-lekas tinggalkan
tempat ini?”
“Kami baru mau pergi setelah menyelidiki lebih dulu ke dalam gubuk itu!”
berkata si pemuda. Sikap dan caranya bicara lebih sabar pada adiknya.
“…..ooooo…..oooo! Gubuk itu di bawah pengawasan dan kekuasaanku! Kalian
berdua tidak punya hak untuk menyelidiki atau memeriksa! Lekaslah pergi. Sayang
kalau terjadi apa-apa dengan kalian yang masih muda-muda ini…..”
“Jika kau melaran, kami terpaksa bertindak! Gubuk itu bukan milikmu! Kami
tahu betul!”
Mendengar ucapan si pemuda, sang nenek jadi marah. Sambil berkacak
pinggang dia berkata “Jika kalian berani bergerak masuk dan memeriksa gubuk,
kalian akan jadi bangkai menemani Jinggasuwu!”
“Adikku, aku akan menghalangi nenek ini jika dia berani mencegahmu!”
Maka dara berpakaian putih ringkas segea melangkah menuju pintu gubuk.
Pisau Maut Tanpa Bayangan sekali berkelebat telah menghadang jalan sang dara.
Tapi tak klah cepatnya, sekali berkelebat pula maka sang pemuda sudah tegak di
hadapan si nenek. Sementara itu gadis adiknya terus melangkah ke pintu gubuk.
Melihat hal ini nenek berambut panjang benar-benar merasa ditantang. Kedua
tangannya kiri kanan membagi pukulan. Satu ditujukan ke arah si pemuda, lainnya
dihantamkan ke si pemudi. Dua rangkum angin dahsyat menderu.
Murid-murid perguruan silat Teratai Putih dari gunung Lawu itu berseru keras
dan berkelebat kelitkan serangan. Perkelahianpun tak dapat dihindari lagi, cepat dan
sebat. Lima jurus berlalu. Meskipun dirinya telah mengecap adam garam rimba
persilatan, memiliki pengalaman luas serta menyandang nama besar namun dugaan si
nenek bahwa dia bakal dapat menggebuk para pengeroyoknya dalam waktu singkat
tidak dapat dilaksanakannya. Ternyata dua cucu Tumenggung Wiro Sakti dari gunung
Lawu itu memiliki tingkat kepandaian yang mengejutkan si nenek. Memang
kenyataan sebenarnya Jalma dan Jalmi demikian nama sepasang kakak beradik itu
merupakan murid-murid di tingkat paling tinggi dalam perguruan. Selain menguasai
ilmu silat luar, mereka juga telah digembleng untuk memiliki ilmu silat dalam berupa
tenaga dalam dan kesaktian.
Si nenek katupkan rahang rapat-rapat ketika menyadari dirinya telah menjadi
bulan-bulanan serangan berbahaya, membuatnya tidak mampu untuk membalas
serangan. Didahului oleh tteriakan keras, perempuan tua ini robah permainan silatnya.
Tubuhnya berkelebat sengat cepat hingga sesuai dengan julukannya, Jalma dan Jalmi
seperti berkelahi menghadapi bayangan. Setiap memukul atau menendang, mereka
hanya menghantam tempat kosong. Kini keadaan jadi berbalik. Dua muda-mudi itu
mulai terdesak.
“Adikku, mari kita keluarkan jurus ke tiga belas. Gabung dengan jurus tujuh
belas!” berbisik Jalma.
“Kau mainkan jurus tiga belas lebih dulu. Aku jurus tujuh belas. Lalu kita
selang seling biar tua bangka ini bingung!” menyahuti Jalmi.
“Kau cerdik! Mari kita serbu!”
Maka kedua muda-mudi itu kembali menyerbu. Jurus tiga belas dan jurus
tujuh belas dari ilmu silat perguruan Teratai Putih adalah jurus-jurus yang saling
bertolak belakang. Jika orang diserang dengan jurus tiga belas, bila dia berhasil
menghindar maka dia akan diserbu dengan jurus tujuh belas yang merupakan lawan
dari jurus tiga belas. Akibatnya lawan menjadi bingung karena setiap gerakan
menghindar atau mengelak yang dilakukannya akan menemui jalan buntu.
Dua jurus mendapat serbuan gerakan-gerakan silat yang aneh ini, si nenek
langsung terdesak hebat. Sepasang tangan lawan mulai berdesir di depan dada dan
wajahnya. Jurus berikutnya satu gebukan mendarat di pinggangnya hingga si nenek
menggerang kesakitan. Gerakannya dipercepat. Sosok tubuhnya kini tidak lagi hanya
merupakan bayangan, tapi hanya berupa desiran angin yang menyambar kian kemari.
Setelah saling gebrak dua jurus, murid-murid perguruan Teratai Putih melihat lawan
secara teratur bergerak mundur menjauh. Jalma maklum apa artinya ini. Dia cepat
memberi ingat adiknya.
“Awas, dia pasti merencanakan untuk mulai melepaskan pisau-pisau
terbangnya, Jalmi. Lekas merangkak maju. Jangan berikan jarak melempar padanya!”
Jalma dan Jalmi melompat menyergap. Tapi si nenek lebih cepat. Dua
tangannya bergerak. Enam pisau kemudian melesat dalam gelapnya malam, hampir
tidak kelihatan. Hanya desingannya saja yang terdengar. Tiga menyambar ke
arahJalma, tiga lagi melesat ke jurusan adiknya. Dua anak murid Teratai Putih ini
tidak sanggup berkelit dan terlambat untuk menangkis.
“Celaka!” keluh Jalma.
Lalu didenganya adiknya menjerit ketika pisau terdepan menancap di bahunya.
Gadis ini terjajar ke samping. Justru ini menyelamatkannya dari dua pisau yang
seharusnya menyambar ke arah dada dan bahu kanannya.
IZRO'IL
Malaikat Maut Berambut Salju


Khawatir akan keselamatan adiknya Jalma memutar tubuh, tidak sadar lagi
bahwa pisau terbang saat itu menderu ke arah tenggorokan, dada dan pelipis kirinya!
Saat itulah tiba-tiba dari kegelapan melayang patahan ujung ranting berdaun
lebat. Ranting ini menyapu deras di depan dada dan kepala Jalma, melindungi si
pemuda dari hantaman maut tiga bilah pisau dan jatuh di tempat gelap.
Bersama dengan itu Jalma mendengar ada suara halus mengiang di kedua
liang telinganya.
“Anak-anak Teratai Putih tinggalkan tempat ini. Nenek itu bukan tandingan
kalian. Beritahu pada kakek gurumu Tumenggung Wiro Sakti, anak bernama Pandu
itu tidak berjodoh dengan dirinya….”
Jalma yang tengah menolong adiknya terkejut mendengar suara itu. Dia
berbisik pada adiknya “Ada orang pandai memberi peringatan….”
“Ya, aku juga mendengar. Bahuku sakit sekali. Jalma tolong aku. Cabut pisau
di bahuku….”
Jalma totok urat-urat di sekitar bahu adiknya lalu baru mencabut pisau yang
menancap hingga tak ada darah mancur keluar. Sesaat kakak adik ini memandang
penuh amarah pada nenek berambut panjang di hadapannya. Lalu tanpa berkata apaapa
keduanya memutar tubuh tinggalkan tempat itu diiringi gelak tawa si nenek.
Masih untung kalian pergi masih membawa nyawa masing-masing. Anakanak
muda tolol…..!”
Meki hati mereka panas mendengar ejekan itu tapi Jalma dan Jalmi tidak bisa
berbuat apa-apa. Sambil menuntun adiknya, Jalma berkata “Orang pandai itu bukan
saja memberi peringatan, tapi dia juga telah menyelamatkanku. Aku merasa pasti
dialah yang melempar patahan ranting, menangkis tiga pisau hitam yang dilemparkan
nenek keparat itu….”
“Nasib kita memang sial…..” jawab Jalmi hampir tanpa ada penyesalan. “Ini
satu pengalaman berharga bagi kita. Aku hanya bertanya-tanya siapa orang pandai
yang telah menolong kita itu…..”

TIGA
Begitu dua anak murid perguruan Teratai Putih itu lenyap dalam kegelapan malam,
Pisau Maut Tanpa Bayangan hentikan tawanya. Dia mendingak ke atas. Meki tahu
ada seseorang bersembunyi di sekitar tempat itu namun dia tidak dapat memastikan di
sebelah mana orang itu berada. Maka nenek inipun berseru
“Berani ikut campur urusan orang jangan bertindak pengecut tidak mau
unjukkan tampang!”
Si nenek mengira bakal ada suara keras yang menjawab atau berkelebat
munculnya orang yang tadi melemparkan patahan ranting. Namun justru yang datang
adalah suara mengiang halus di kedua telinganya.
“Nenek pandai bergelar Pisau Maut Tanpa Bayangan. Sadarilah kenyataan
bahwa anak yang kau cari tidak berjodoh dengan dirimu. Sebaiknya ku lekas
meninggalkan tempat ini. Aku……”
Suara ngiangan halus lenyap mendadak.
Di atas pohon sangat tinggi, hampir di sebelah pucuknya, terdengar suara
perlahan “Astaga……apa yang terjadi!”
Di atas atap gubuk terdengar suara hiruk pikuk ketika atap yang terbuat dari
rumbai itu bobol. Sesosok tubuh entah dari mana datangnya tahu-tahu telah menjebol
atap itu dan menerobos masuk.
Sesaat kemudian terdengar suara jeritan perempuan di dalam gubuk, disusul
oleh tangis bayi.
Pisau Maut Tanpa Bayangan kaget bukan main. Secepat kilat dia menendang
pintu gubuk hingga berantakan lalu melompat masuk. Tapi perempuan tua itu
terlambat. Saat itu sosok tubuh yang tadi menerobos masuk telah melompat kembali
ke atas atap, siap untuk melarikan diri. Di tangan kirinya dia mendukung bayi lelaki
yang terus menangis sedeang di lantai gubuk terbujur tubuh ibu si bayi dalam keadaan
tak sadar…… “Penculik bayi! Tinggalkan anak itu kalau tidak mau mampus!” teriak
Pisau Maut Tanpa Bayangan. Dia melompat ke atas atap sambil lepaskan tiga pisau
terbang.
Plak….plak…..plak….!
Luar biasa sekali. Orang tengah melompat ke atas atap sambil mendukung
bayi hanya lambaikan lengan pakaian hitamnya yang lebar tiga kali beruturut-turut
dan tiga pisau hitam bergagang putih itupun runtuh ke bawah!
Meskipun hatinya tercekat melihat kehebatan orang naun si nenek yang
inginkan bayi itu teruskan lompatannya dan mengejar. Sampai di atas atap dia masih
sempat melihat orang yang dikejarnya lari ke balik sebatang pohon besar. Si nenek
kembali hamburkan pisau lalu laksana terbang melompat ke arah pohon. Gerakan
perempuan tua ini memang hebat sekali. Saat itu juga dia berhasil menghadang
larinya orang yang membawa bayi. Begitu melihat orang itu, Pisau Maut Tanpa
Bayangan jadi terkesiap dan berdesah.
“Dewi Kerudung Hitam……”
Orang yang membawa bayi itu ternyata seorang perempuan yang wajahnya
ditutup dengan sehelai kain hitam tipis mulai dari hidung ke bawah. Rambutnya
digelung, dihias dengan sebuah tusuk kundai perak. Dari keseluruhan wajahnya hanya
kening dan sepasang matanya yang bersinar saja kelihaan. Perempuan ini
mengenakan pakaian ringkas hitam dengan ujung lengan yang sangat lebar.
“Setelah tahu siapa aku, apakah kau masih berani menghalangi?!” pereempuan
bercadar menegur. Suaranya halus tapi tegurannya itu jelas mengandung ancaman.
Si nenek batuk-batuk beberapa kali.
“Aku menghormati nama besarmu Dewi. Hanya saja bai dalam dukunganmu
itu sudah ditakdirkan menjadi milikku. Akan kujadikan murid….”
Perempuan berkerudung yang dipanggil dengan sebutan Dewi tertawa
perlahan.
“Kalau aku boleh bertanya, sapa yang menakdirkan bahwa anak ini
milikmu…..?”
“Guratan tangan ini….” sahut si nenek. Lalu dia melangkah mendekat dan
angsurkan tangan kirinya dengan telapak tangan dikembangkan. “Kau bisa melihat
sendiri. Bukankah kau juga seorang peramal ahli….?”
“Tarik tanganmu kembali. Aku jijik melihat tanganmu!” sang Dewi
membentak.
Kembali si nenek batuk-batuk.
“Jika kau berkata begitu baiklah. Hanya saja…..” Tiba-tiba tangan kiri si
nenek menyambar ke arah bayi dalam bungkusan kain tebal yang saat itu masih terus
menangis.
Dewi Kerudung Hitam hanya menggeser kakinya sedikit dan itu sudah cukup
untuk menyelamatkan bayi dalam dukungannya dari rampasan si nenek.
“Apapun yang kau lakukan, kau tak bakal mendapatkan anan ini. Pergilah!”
Perempuan berkerudung dorongkan tangan kanannya. Si nenek merasa seperti
ada batu besar menekan. Dia kerahkan tenaga dalam. Ketika dia berhasil
membuyarkan tekanan, sang Dewi sudad lenyap dari hadapannya. Naun dia masih
sempat melihat kemana larinya orang itu. Maka diapun mengejar dan kecepatannya
bergerak lagi-lagi membuat dia berhasil mengejar dan menghadang!
“Hem….rupanya kau benar-benar ingin melihat aku marah Pisau Maut!” Dewi
Kerudung Hitam tampak jengkel.
“Sebelum kau serahkan bayi itu padaku, kemanapun kau pergi pasti akan
kukejar dan kuikuti!” jawab Pisau Maut Tanpa Bayangan.
“Tua bangka keras kepala! Akan kulihat apakah kepalamu benar-benar keras!”
Habis berkata begitu Dewi Kerudung Hitam kibaskan ujung lengan baju hitam
tangan kanannya. Wutt! Angin deras dan tajam menderu ke arah kepala si nenek.
Dengan cepat Pisau Maut Tanpa Bayangan merunduk. Sambil merunduk dedua
tangannya bergerak. Enam pisau hitam berkelebat dalam jarak yang sangat pendek itu.
Bukan saja berbahaya bagi sang Dewi. Tapi juga mengancam keselamatan bayi dalam
dukungannya!
Mulut sang Dewi yang terlindung di balik cadar hitam menggembung lalu
meniup keras. Bersamaan dengan itu kembali kibasan lengan baju yang tadi ditujukan
ke arah kepala kini dihantamkan ke bawah, ke arah datangnya serbuan enam pisau
maut!
Tiga pisau meluncur berbalik dan menancap amblas ke tanah. Tiga lagi mental,
dua diantaranya tampak menjadi bengkok sebelum menghantam pohon dan jatuh!
Melihat kejadian ini nyali si nenek menjadi lumer. Jika dia nekad melanjutkan
perkelahian pasti dia akan celaka. Untuk menutupi rasa malu atas kekalahannya itu si
nenek berkata “Saat ini aku sengaja mengalah, tapi lain kali jika aku melihat
tampangmu lagi, jangan harap aku akan memberi pengampunan padamu!”
Dewi Kerudung Hitam tertawa dingin.
“Kau boleh pergi.Tapi aku tetap akan menguji kekerasan kepalamu!” Lalu
cepat sekali perempuan ini gerakkan tangan kanannya.
Wutt!
Pisau Maut Tanpa Bayangan cepat berkelebat. Sekali ini dia tak mampu
mengelak. Dari mulutnya terdengar pekik kesakitan sekaligus terkejut. Mukanya
pucat pasi. Keningnya terasa sakit. Ketika dipegang terasa ada darah mengucur.
Daging dan tulang keningnya telah bocor seperti dicoblos paku! Tanpa menunggu
lebih lama perempuan tua yang sudah habis nyali ini segera putar tubuh dan
melarikan diri dari tempat itu.
Dewi Kerudung Hitam tertawa mengekeh.
“Ternyata batok kepalamu sama lunaknya dengan nyalimu. Ha…ha…ha…!”
Lalu sang Dewi bagi perhatian pada bayi dalam gendongannya yang masih
terus menangis. Disibakkannya sedikit kain tebal yang menutup wajah si bayi.
Kelihatan pipinya yang merah dan wajahnya yang mungil lucu.
“Anak manis, cep…cepp…cepp! Jangan menangis. Kau aman berada dalam
dukunganku. Akan kubawa kau terbang menuju bukit Merak….”
Perempuan itu rapikan kain yang enutupi si bayi. Dia mengayun-ayun tubuh
anak itu beberapapa kali tapi bayi itu terus saja menangis. Akhirnya Dewi
memutuskan untuk segera pergi dari situ.
Baru saja dia bergerak dua langkah mendadak terdengar suara mengaum yang
sangat dahsyat. Dari dalam gelap muncul dua titik biru menyala!
EMPAT
Dua titik biru itu semakin dekat semakin tampaklah satu sosok tubuh
seekor harimau yang luar biasa besarnya. Mulutnya menganga memperlihatkan gigi
dan taringnya yang besar. Ekornya mengibas-ngibaskan tiada henti. Bulunya yang
sangat tebal berwarna hitam berbelang kuning!
Menghadapi manusia bagaimanapun hebatnya bukan suatu hal yang
menakutkan bagi Dewi Kerudung Hitam. Tapi berhadapan dengan seekor binatang
buas seperti ini baru menjadi kecut. Dia mundur dua langkah sambil berkata “Aku
tidak menganggumu, jangan mengganggu aku…..”
Binatang itu keluarkan suara mengaum sebgai jawaban. Dewi Kerudung
Hitam merasakan tanah yang dipijaknya bergetar. Karena tidak mungkin meneruskan
langkahnya ke depan, perempuan ini berbalik ke kanan. Saat itulah dia melihat ada
seseorang berdiri di samping kanan itu.
Yang tegak dalam kegelapan itu adalah seorang lelaki kurus tinggi berjubah
putih dalam, mengenakan penutup kepala seperti sorban. Di bawah sorban menjulai
samapi ke punggung rambutnya yang panjang berwarna seputih kapas! Di tangan
kirinya orang tua ini memegang seuntai tasbih kayu dan mulutnya tiada henti
melafatkan zikir.
“Hem….. Jadi kau rupanya yang membawa harimau besar ini, orang tua!”
Sang Dewi menegur. “Mengapa kau dan makhluk binatang peliharaanmu ini berusaha
menghadang maksudku untuk meninggalkan tempat ini?”
“Aku tidak menghadang siapapun. Aku tahu kau orang baik-baik, sahabat
kaum jelata, penolong mereka yang tertindas. Kita orang-orang satu golongan. Dan
kebetulan sama-sama punya satu tujuan….” Begitu orang tua bersorban menjawab
lalu kembali dia berzikir.
“Satu tujuan? Tujuan apa maksudmu?” tanya Dewi Kerudung Hitam.
“Bayi dalam dukunganmu itu…..” jawab si tinggi kurus berjubah putih.
“Petunjuk Tuhan dalam tiga kali mimpi membawaku kepadanya….”
Dewi Kerudung Hitam tatap wajah orang tua di hadapannya itu sesaat lalu
berkata “Mendengar logat bicaramu jelas kau bukan orang sini. Siapa kau sebenarnya
dan datang dari mana?” Dengan bertanya begitu sang Dewi berusaha mengalihkan
pembicaraan. Hatinya tidak enak ketika mengetahui orang tua berjubah dan bersorban
putih itu berbicara soal anak dalam dukungannya.
Aku memang bukan orang Jawa. Aku datang dari jauh. Dari seberang. Dari
sebuah pulau bernama Swarna Dwipa yang juga dikenal dengan nama pulau Andalas.
Tiga bulan lebih aku menempuh perjalanan menurut petunjuk mimpi. Menurut
kepercayaan orang sini itu adalah wangsit. Menurutku sendiri mimpi itu adalah
petunjuk Tuhan. Akhirnya, setelah tiga bulan aku sampai di sini…..”
Dewi Kerudung Hitam mengangguk-angguk lalu dia mengingatkan dangan
berkata “Kau belum memberi tahu namamu orang tua…..”
“Di tanah kelahiranku ada yang memberikan nama dan memberikan gelar.
Ketekbanamo, gadang bagala…..”
“Eh, apa itu. Ketek siapa maksudmu?”
Orang tua itu tersenyum mendengar pertanyaan Dewi Kerudung Hitam.
“Ketek bukan berarti ketiak,” katanya. “Ketek dalam bahasa kelahiranku
artinya kecil. Maksud ucapanku tadi, seorang anak lelaki pada waktu kecil diberi bernama. Setelah besar diberi gelar. Begitu juga diriku. Sewaktu aku kecil orang tuaku memberiku nama Syahrudin Mustakim. Setelah besar aku dikenal dengan gelar Datuk Perpatih Alam Sati.”
“Ah, kiranya aku berhadapan dengan seorang Datuk! “ ujar Dewi Kerudung
Hitam. “Sungguh satu kehormatan bisa bertemu denganmu. Hanya saja mohon
dimaafkan aku tidak punya waktu berbincang-bincang lebih lama denganmu. Mudahmudahan
di lain waktu kita bisa berjumpa lagi. Aku minta diri….”
“Mengapa terburu-buru Dewi? Justru pertemuan ini sangat penting bagiku!”
kata Datuk Perpatih Alam Sati pula. Kedua matanya melirik sekilas pada anak dalam
dukungan Dewi Kerudung Hitam, membuat perempuan ini tambah tak enak. Sang
Dewi diam-diam sudah menimbang-nimbang dan menukur samapi dimana tingkat
kepandaian dan kesaktian orang tua berjubah putih ini. Jika dia tidak sanggup muncul
dangan membawa seekor harimau besar peliharaan, sudah dapat dipastikan orang ini
lebih tinggi ilmunya dari Pisau Maut Tanpa Bayangan.
“Maafkan, aku harus pergi sekarang!” berkata Dewi Kerudung Hitam. Dia
bergerak ke kiri.
Tapi tahu-tahu orang tua berjubah dan bersorban putih situ sudah ada di
hadapannya hingga langkahnya tertahan.
“Jika kau memaksa pergi, akupun tidak memaksa menahan. Hanya
kuharapkan kau sudi menyerahkan bayi itu padaku…..”
Dewi Kerudng Hitam menyeringai. Kedua pelipisnya tampak menggembung
tanda perempuan ini mulai dirasuk hawa amarah.
“Aku datang lebih dulu darimu, aku lebih dulu mendapatkan orok ini.
Mengapa kau enak saja meminta….?”
“Aku meminta dengan segala hormat dan segala kerendahan hati….”
“Maafkan aku. Apapun alasanmu aku tetap akan membawa anak ini!”
“Percayalah, anak itu tidak berjodoh denganmu, Dewi.”
“Siapa bilang!” sentak Dewi Kerudung Hitam. Lalu kembali dia berkelebat.
Kali ini ke sebelah kanan. Namun lagi-lagi orang tua tinggi kurus itu lebih cepat
seperti menghadang gerakannya. Dari dua kali dihadang seperti itu saja, Dewi
Kerudung Hitam sudah maklum bagaimana hebatnya orang tua di hadapannya itu.
Namun bukan berarti dia merasa jerih.
“Orang tua! Jika kau terus-terusan menghadangku, jangan salahkan kalau aku
melepaskan tangan keras!” Dewi Kerudung Hitam membentak dan mengancam.
Orang tua berjubah putih tertawa. Lalu berkata “Coba kau lihat sekali lagi
sebelum pergi. Yang kau gendong itu bukan bayi tapi seekor anak harimau….!”
“Setan! Jangan coba menipuku!” tukas Dewi Kerudung Hitam.
“aku tidak menipu. Silahkan kau lihat sendiri! Yang kau bawa adalah anak
harimau. Anak harimau. Anak harimau…..Anak harimau….!”
Jengkel, marah tapi juga ragu-ragu, Dewi Kerudung Hitam singkapkan kain
tebal penutup bayi dalam dukungannya. Ketika kain tersibak, menjeritlah perempuan
ini. Kepala seekor anak harimau mengeliat, mulutnya terbuka lebar dan sepesang
matanya yang biru memancarkan sinar sperti menusuk. Binatang ini menggereng
menakutkan!
Tanpa pikir panjang Dewi Kerudung Hitam lemparkan benda yang berada
dalam dukungannya itu. Lalu bersurut mundur dengan muka hampir tak berdarah.
Saat itulah si jubah putih bergerak. Ketika Dewi Kerudung Hitam memandang ke
depan, orang tua itu tak ada lagi di hadapannya. Memandang berkeliling harima besar
bermata biru yang tadi menghadang di depannya lenyap. Dan lebih dari itu, bayi
dalam dukungannya yang tiba-tiba entah bagaimana berubah menjadi seekor anak
harimau juga ikut lenyap. Padahal bayi atau apapun adanya setelah dilemparkan pasti
jatuh ke tanah!
“Dewi Kerudung Hitam, terima kasih atas kebaikanmu memberikan bayi
ini…..!”
Tiba-tiba terdengar suara orang tua berjubah putih tadi. Kaget sekali Dewi
Kerudung Hitam memandang ke arah pohon besar sepuluh langkah di sebelah
kanannya. Di situ tampak Dauk Perpatih Alam Sati duduk di atas punggung harimau
besar, tidak beda seperti menunggang seekor kuda. Dalam dukungan tangan kirinya
tampak bayi dalam kain tebal yang dilemparkan sang Dewi.
“bangs*t penipu! Kau memperdayaiku dengan ilmu sihir celaka!
Mampuslah!” teriak Dewi Kerudung Hitam. Dia hantamkan kedua tangannya ke
depan. Dua larik angin tajam menderu dahsyat ke arah kepala dan perut Datuk
Perpatih Alam Sati. Pukulan sakti seperti inilah yang tadi membuat kepala Pisau Maut
Tanpa Bayangan sampai berlobang dan mengucurkan darah. Kini sang Dewi
melepaskan dua pukulan sekaligus.
Datuk Perpatih Alam Sati tepuk pinggul harimau besar tunggngannya.
Binaang ini mengaum dahsyat lalu melompat ke depan. Sang Datuk goyangkan
kepalanya. Rambut putih panjangnya bergerak seperti menabas. Sinar putih aneh
berkiblat. Dua larik pukulan Dewi Keudung Hitam buyar!
“Edan!” maki sang Dewi marah. Dia lepaskan lagi satu pukulan. Selarik sinar
berwarna hitam mencua dari ujung lengan pakaiannya yang lebar. Datuk Perpatih
Alam Sati tampak tenang saja di atas punggung harimaunya. Sinar hitam menghantam
bagian paha kaki kiri belakang harimau besar. Dewi Kerudung Hitam sengaja
menghantam binatang itu agar sang Datuk tidak bisa melarikan diri lebih jauh. Tapi
apa yang disaksikannya membuat perempuan ini terkejut. Jika sebuah batu besar
terkena hajaran sinar hitam itu pastilah akan hancur dan hangus. Tapi begitu sinar
melabrak kaki si harimau, sinar itu seperti tidak mampu menembus kelebatan bulubulu
binatang itu, terpental kembali dan bertabur menjadi beberapa bagian yang sama
sekali tidak mempunyai kekuatan apa-apa lagi!
Harimau besar dan Datuk Perpatih Alam Sati lenyap di balik deretan pohonpohon,
hilang ditelan kegelapan malam. Dewi Kerudugn Hitam mengejar. Namun dia
hanya menemui kegelapan malam. Perempuan ini pukul-pukul jidat dan bantingbanting
kaki karena kesalnya.

LIMA
Puncak Merapi diselimuti udara dingin abadi. Hal ini saja sudah cukup
membuat tidak ada manusia yang berkeinginan untuk naik ke puncak, belum lagi
sulitnya untuk mendaki. Namun hari itu justru nampak satu bayangan putih berkelebat
cepat laksana terbang. Sesaat dia muncul di sebelah timur, di lain saat dia sudah
berada di sebelah barat punack gunung. Orang ini bertubuh tinggi kurus, mengenakan
jubah dan sorban putih. Rambutnya yang menjulai panjang di bawah sorban putih
seperti kapas; Dari ciri-cirinya jelas si orang tua ini adalah Datuk Perpatih Alam Sati,
seorang tokoh silat dan agama yang diam di puncak gunung Merapi di pulau Andalas.
Di ppuncak gunung sang Datuk berhenti sesaat, mendongak ke langit tinggi
dimana sang surya bersinar terang, tapi sama sekali tidak terasa panas teriknya. Setiap
hembusan nafas sang Datuk menimbulkan uap tebal di udara yang sangat dingin itu.
Di udara sangat dingin begitu wajahnya tampak keringatan! Pertanda bahwa tubuhnya
memiliki kemampuan untuk menolak hawa dingin yang darang dari luar!
Datuk Perpatih pejamkan matanya. Tangan kanan memegang tasbih, perlahanlahan
mulutnya meluncurkan ucapan “Terima kasih Tuhan. Kau telah mengabulkan
semua permintaanku. Hari ini adalah hari terakhir anak itu berada di sini. Delapan
belas tahun lebih dia bersamaku. Dengan keridohanMu, apa yang aku inginkan
tercapai. Kalaupun aku mati maka kematianku bakal tenteram….”
Datuk Perpatih usap wajahnya. Masukkan tasbih ke dalam saku jubah, lalu
berbalik, melangkah ke sebuah gundukan batu yang berwarna putih karena tertutup
cairan putih tipis beku. Salju!
Sampai di hadapan gundukan batu Datuk Perpatih acungkan jari yang
diluruskan itu kemudian ditusukkannya ke pertengahan gundukan batu. Terdengar
suara mendesis yang disusul dengan kepulan asap, pertanda hawa dingin beradu
dengan hawa panas. Perlahan-lahan salju tipis pada gundukan batu meleleh cair,
kemudian tampaklah sebuah lobang. Makin banyak salju yang meleleh semakin besar
lobang yang tampak. Ternyata lobang itu adalah mulut sebuah goa yang cukup besar,
berukuran tinggi, lebar dan panjang sekitar dua tombak.
Di dalam goa tampak duduk seorang pemuda berkulit coklat. Karena hanya
mengenakan sehelai cawat jelas kelihatan badannya yang penuh otot. Pemuda ini
duduk bersila dengan mata terpejam. Di tangan kanannya ada seuntai tasbih. Bibirnya
tampak bergerak terus menerus tanda dia melafatkan sesuatu.
Selain terasa aneh melihat si pemuda yang mampu berthan tersekap dalam goa
yang sangat dingin itu dengan hanya mengenakan sehelai cawat, juga ada keanehan
lain. Di bagian atas goa dimana pemuda itu duduk bersila menetes cairan salju yang
setiap tetesannya jatuh tepat di atas kepala pemuda itu. Sulit diduga entah berapa lama
dalam setahun dia duduk bersila seperti itu. Yang jelas rambutnya yang panjang
menjela punggung tampak basah dan berwarna seputih salju.
IZRO'IL
Malaikat Maut Berambut Salju


Untuk beberapa lamanya Datuk Perpati Alam Sati menatap pemuda dalam goa
sambil tersenyum dan angguk-anggukkan kepala.
“Pandu, hentikan apa yang kau lakukan. Lakukan solat Zuhur lalu temui aku
di puncak sebelah selatan…”
Pemuda yang ada dalam goa perlahan-lahan buka kedua matanya. Baru saja
kedua metanya terbuka Datuk Perpati Alam Sati keluarkan seperangkat pakaian putih
yang masih baru dari balik jubahnya lalu menyerahkannya pada si pemuda.
“Kenakan pakaian ini….. Pergi sembahyang. Selesai sembahyang cepat temui
aku di puncak selatan!”
“Akan saya lakukan ayah,” menyahuti si pemuda. Dia mendatangi pakaian
putih yang diletakkan Datuk Perpatih di atas pangkuannya lalu bertanya “Pakaian
putih dan baru ini, apa artinya ayah….?”
Sang Datuk sesaat tampak seperti tercekat oleh pertanyaan itu. Lalu dia coba
tersenyum dan berkata “Pergilah bersembahyang. Apa yang jadi pertanyaan dalam
hatimu akan terjawab jika kau sudah menemuiku di puncak selatan nanti…..!” Lalu
tanpa berkata apa-apa lagi Datuk Perpatih tinggalkan tempat ini.
Orang tua ini berjalan menuju puncak gunung sebelah selatan. Kelihatannya
dia seperti melangkah biasa saja. Tapi dalam beberapa kejapan mata dia sudah lenyap
dikejauhan.
Di bagian selatan puncak gunung Merapi terdapat sebuah bangunan kayu yang
atapnya terbuat dari ijuk tebal berbentuk tanduk kerbau. Bangunan tanpa dinding ini
berlantai batu gunung berwarna hitam dan sangat bersih.
Datuk Perpaih Alam Sati masuk ke bawah atap lalu menghadap kiblat dan
mulai bersembahyang Zuhur. Sesaat setelah dia mengucapkan salam pemuda itu
dilihatnya sudah duduk di bawah atap bangunan.
“Duduk lebih dekat di hadapanku Pandu….” Memanggil Datuk Perpatih.
Beringsut-ingsut pemuda bernama Pandu itu mendekati sang Datuk yang
dipanggilnya dengan sebutan ayah.
“Pandu, sekarang kau dengarkan baik-baik apa yang akan kututurkan.
Menurut perhitunganku kau berada di puncak Merpati ini bersamaku sekitar delapan
belas tahun. Usiamu mendekati sembilan belas tahun. Aku bersyukur kepada Tuhan
bahwa aelama itu aku telah mengajarkan padamu ilmu baca tulis, ilmu agama dan
tentunya tidak terlupa ilmu silat luar dan dalam. Hari ini aku dan kau berhasil
merampungkan satu ilmu baru yang menurut hematku tak ada duanya dalam ribma
dunia persilaan baik di pulau Andalas ini maupun di kawasan dunia persilatan lainnya.
Rambutmu yang putih dan panjang itu, di situlah letak kehebatan ilmu yang kau
miliki. Rambut itu bisa menjadi tameng pelindung dirimu, dapat pula menjadi senjata
tanpa tandingan yang akan merobohkan lawan yang bagaimanapun tangguhnya.
Karena semua ilmu itu kau dapat dari keredohan Tuhan, maka wajib kau pergunakan
untuk dan di jalan Tuhan pula. Tadi kau bertanya soal pakaian putih baru yang kini
kau kenakan. Apa artinya. Bukan begitu pertanyaanmu tadi….?”
“Betul ayah,” jawab Pandu.
Sang Datuk tersenyum. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyum itu dan
ini dirasakan oleh Pandu.
“Pakaian baru itu satu pertanda bahwa hari ini kau akan mulai satu perjalanan
jauh. Meninggalkan puncak gunung Merpati untuk satu tujuan yang hanya kau sendiri
yang bakal memilih, entah ke utara, entah ke timur, barat atau selatan….”
“Maksud ayah kita sama-sama meninggalkan puncak Merapi ini……?”
Datuk Perpatih menggeleng, membuat wajah Pandu berubah.
“Hari ini hari perpisahan bagi kita berdua. Kalau umur panjang satu ketika
pasti kita bisa bertemu. Aku melepas keergianmu dengan perasaan bahagia karena
ilmu yang kuciptakan berhasil aku wariskan padamu….”
“Tak mungkin saya meninggalkan ayah sendiri di dini…..” kata Pandu pula.
“Aku dilahirkan di sini dan aku meninggal menghadap Tuhanku di sini. Tak
usah kau pikirkan badan tua ini. Yang harus kau pikirkan adalah langkahmu
selanjutnya. Dunia luas terkembang di depan mata dan di hadapan kakimu…”
Untuk beberapa lamanya Pandu tidak dapat berkata apa-apa. Dia menyadari
kenyataan ini. Dalam usia menanjak dewasa seperti saat itu memang tak mungkin dia
menetap terus di puncak Merapi, tinggal bersama ayahnya.
“Satu hal yang harus kau ingat baik-baik Pandu yaitu jika kau sudah
menapakkan kaki di dunia luas nanti, dunia ini tidak berbeda dengan panggung sandi
wara. Ada seribu kebaikan, tapi ad juga sejuta kejahatan. Ada seratus orang yang baik
namun juga ada seribu yang busuk. Sesuatu yang kau lihat bagus belum tentu baik.
Sesuatu yang baik mungkin kau rasakan tidak bagus. Karena itu kau harus
menanamkan rasa berhati-hati dalam setiap melangkah dan bertindak, bahkan juga
dalam setiap membuka mulut mengatakan sesuatu. Akhirnya dapat kukatakan bahwa
ilmu yang paling tinggi di dunia ini adalah kebenaran. Namun setan punya seratus
tangan untuk memutar kebenaran menjadi kejahatan dan kejahatan seolah-olah
menjadi kebenaran. Karenanya jangan ikutkan bujukan setan. Pagari hatimu dan
pikiranmu dengan ajaran-ajaran agama yang telah kau terima dariku. Pagari tubuhmu
dari lawan-lawan yang setiap saat bisa muncul mencelakaimu. Tapi jangan terlalu
percaya pada seorang kawan. Nah, jika tak ada lagi yang bakal kau tanya, kau boleh
pergi sekarang juga Pandu….”
“Tentu saja ada yang akan saya katakan ayah. Sebenarnya sudah berapa kali
saya tanyakan padamu. Namun tidak pernah terjawab. Mudah-mudahan hari ini ayah
bisa memberitahunya….”
“Aku sudah maklum apa pertanyaanmu itu,” memotong Datuk Perpatih Alam
Sati. “Kau ingin tahu dimana ibumu bukan?”
Pandu mengangguk.
Datuk Perpatih pegang bahu Pandu lalu berkata “Aku memang sudah
merencana. Sekalipun tidak bakal kau tanya, hari ini kurasa sudah saatnya kuberitahu
padamu. Pandu, sebenarnya aku ini bukan ayahmu….”
Sang Datuk merasakan tubuh pemuda yang dipegangnya itu bergetar keras.
“Lalu……saya tidak mengerti ayah…. Dan tampaknya kau seperti tidak
bergurau…”
“Aku memang tidak bergurau Pandu. Aku tidak tahu siapa nama ibumu.
Ayahmu bernama Jinggosuwu. Kedua orang tuamu berasal dari desa Talangwaru.
Suatu desa subur di Jawa Tengah, sangat jauh dari sini. Aku tidak tahu banyak
tentang ibumu. Kecuali bahwa kau punya seorang kakak perempuan yang satu tahun
lebih tua darimu. Siapa nama kakakmu aku tidak tahu…”
“Lalu bagaimana saya bisa sampai berada di sini……?” tanya Pandu tidak
mengerti.
“Sudah saatnya pula aku ceritakan riwayat aku mendapatkanmu Pandu. Waktu
itu, delapan belas tahun yang silam, tersiar kabar dalam rimba persilatan tentang
seorang bayi bernama Pandu yang memiliki ruas dan bentuk tubuh yang luar biasa
sempurnanya. Para tokoh silat keluar dari sarang masing-masing untuk bisa
mendapatkan anak itu yaitu kau adanya, guna dijadikan murid. Banyak korban
berjatuhan. Aku ternyata paling beruntung karena akulah yang mendapatkanmu….”
“Apakah ayah kandungku dari dunia persilatan juga….?”
Datuk Perpatih menggeleng. “Ayahmu tewas di tangan seorang tokoh silat
ketika terjadi perebutan dirimu…..”
Lalu Datuk Perpatih Alam Sati menceritakan apa yang terjadi pada malam
delapan belas tahun lalu di dalam rimba belantara sebagaimana yang telah dituturkan
sebelumnya.
“Manusia bernama Pendekar Bungkuk itu, orang yang membunuh ayah
kandungku, apakah dia masih hidup….?” Tanya Pandu begitu Datuk Perpatih
mengakhiri penuturannya.
Sang Datuk tidak langsung menjawab pertanyaan muridnya yang sudah
menganggapnya sebagai ayah itu. Dia berkata “Dalam agama kita dilarang keras
untuk hidup membawa dendam, apalagi membalas dendam. Kau sudah cukup dewasa
untuk mengambil keputusan sendiri. Walau aku tidak menganjurkan kau untuk
mencari Pendekar Bungkuk nemun seperti kukatakan, kau layak mengambil
keputusan. Karena jangan tanyakan dimana tempat kediaman orang itu…”
Habis berkata begitu Datuk Perpatih tepuk-tepuk punggung muridnya. “Walau
aku bukan ayahmu sungguhan, tapi aku tetap menganggapmu sebagai anak dan
sekaligus murid.”
“Saya tidak berubah. Akan tetap menganggapmu Datuk sebagai ayah
kandungku….” Kata Pandu pula dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan menangis Pandu. Air mata adalah kelemahan orang perempuan!”
berkata Datuk Perpatih Alam Sati. Tapi kedua matanya sendiri saat itu kelihatan juga
berkaca—kaca.

ENAM
Diluar kedai makanan di pinggir jalan berdebu terdengar riuh suara anak-anak
tiada putus-putusnya meneriakkan “Orang gila rambut putih…..orang gila rambut
putih! Gila …..hai orang gila…..!”
Beberapa orang tengah makan siang di kedai itu tentu saja sama mengangkat
kepala. Ssalah seorang diantaranya, seorang pemuda berambut gondrong bermulut
celemongan menyibakkan kain lebar penutup bagian depan kedai, memandang ke tepi
jalan. Di situ dilihatnya seorang pemuda melangkah diikuti oleh hampir selusin anakanak
yang berteriak-teriak. Dari keadaan dan potongan pemuda itu sama sekali tidak
ada kelainan, apalagi kalau sampai dikatakan gila. Pakaiannya putih, wajahnya
tampan agak berdebu. Hanya saja memang dia memiliki rambut berwarna putih
panjang menjulai sampai ke punggung. Rambut ini bukan saja sangat putih tetapi juga
tampak seperti setengah basah setengah kering.
“Dasar anak-anak, orang tidak gila tidak apa diteriaki gila….” Pemuda rambut
gondrong dalam kedai menggerendeng sendiri.
Sebaliknya pemuda berambut putih terus saja melangkah tidak
memperdulikan teriakan dan ejekaan anak-anak itu, seperti tidak mendengar apa yang
diteriakkan.
“Anak-anak nakal!” si rambut gondrong dalam kedai membentak. “Pergi sana!
Mengapa mengganggu orang baik-baik!”
“Orang gila! Orang gila rambut putih….”
“Kalau kalian tidak pergi kujejali sambal mulut kalian!” teriak si rambut
gondrong dalam kedai. Lalu dia bergerak bangkit. Tangan kirinya menyambar cobek
berisi sambal yang tengah disantapnya. Melihat hal ini anak-anak yang sejak tadi
mengikuti si rambut panjang putih sambil berteriak-teriak jadi ketakutan. Mereka
mundur, lalu lari berserabutan sewaktu si gondrong berteriak seolah-olah hendak
mengejar mereka. Setelah anak-anak itu lenyap di kelokan jalan, pemuda berambut
putih panjang menoleh pada si gondrong yang masih tegak di depan kedai. Mulutnya
tersenyum tapi sepasang matanya menatap lekat-lekat. Dan si gondrong di depan
kedai merasakan tatapan mata itu begitu aneh, tidak berkedip dan seperti
memancarkan satu sinar. Saat itu juga dia merasa tubuhnya seperti diselimuti angin
dan hawa yang sejuk. Dia balas tersenyum.
“Saudara, anak-anak dimana-mana sama saja. Suka mengganggu oarng. Dari
debu yang melekat di pakaian dan wajahmu, jelas kau habis berjalan jauh….” Si
gondrong di muka kedai menegur.
“Terima kasih kau telah mengusir anak-anak itu.” menyahut si rambut putih
panjang. “Biarlah aku meneruskan perjalanan…”
“hai, berjalan jauh di bawah panas terik matahari kau pasti haus dan lapar.
Mari masuk ke dalam kedai untuk makan dan minum…”
“Ah…. Terus terang aku memang haus dan lapar. Tapi aku tak punya uang
untuk membeli minuman apalagi makanan….”
Si gondrong di muka kedai tertawa lebar dan garuk-garuk kepalanya. “Aku
juga tidak punya banyak uang. Tapi kalau untuk membayar sepiring nasi dan segelas
teh untukmu kau tak usah khawatir….. Mari masuk!”
“Ah, kau baik sekali!” Sesaat si rambut putih panjang agak ragu-ragu. Tapi
akhirnya masuk juga ke dalam kedai setelah pemuda yang mengajaknya melambaikan
tangan.
Begitu masuk dan duduk di dalam kedai, beberapa orang yang tengah
bersantap langsung berdiri. Wajah mereka menunjukkan rasa takut. Orang gila yang
diteriaki anak-anak tadi ternyata kini masuk ke dalam kedai, beegitu mereka
berpendapat. Tanpa menghabiskan makan, orang-orang itu mengeluarkan uang lalu
pergi cepat-cepat.
Pemilik kedai menjadi tidak enak. Dia memandang agak jengkel pada si
rambut putih panjang. Jika orang gila ini lama-lama berada dalam kedainya pasti tak
ada pengunjung yang bakal masuk untuk membeli makanan. Untuk menegur secara
keras dan kasar pemilik kedai ini seorang lelaki gemuk bermata juling agak takut. Dia
khawatir kalau “orang gila” itu mengamuk dalam kedainya. Maka dangan agak takuttakut
dia bertanya “Orang muda, apakah kau punya uang untuk membayar harga
makanan?”
Karena matanya yang juling, meski dia bertanya pada pemuda yang barusan
masuk tapi kedua matanya mengarah pada pemuda rambut gondrong yang telah lebih
dulu berada dalam kedai dan masih belum menghabiskan makannya. Si gondrong
tampak agak jengkel, lalu menjawab “Eh, aku sudah setengah makan, mengapa baru
sekarang menegur? Kau kira….”
“Harap maafkan anak muda, aku bertanya pada pemuda ini, nukan
padamu…..” buru-buru pemilik kedai berkata.
“Ah!” si rambut gondrong garuk-garuk kepalanya. “Matamu yang uling
menipuku! Soal pemuda ini punya uang atau tidak kau tak usah khawatir. Aku
temannya dan aku yang akan membayar apa yang dimakan dan diminumnya. Kau
hidangkan saja sepiring nasi dan lauk pauknya!”
Mendengar ucapan itu pemilik kedai tak berkata apa-apa lagi lalu meulai
menghidangkan makanan.
“Terima kasih. Kau baik sekali….” Berkata si rambut putih panjang pada si
gondrong di sebelahnya. Yang diajak bicara hanya tertawa lalu meneruskan
makannya yang tadi tertunda. “Namaku Pandu, kau siapa saudara….?”
Yang ditanya telan nasinya, tegak minumannya lalu menjawab. “Aku Wir
Sableng….”
“Wiro Sableng…. Maksudmu….eh Sableng itu nama belakangmu…?”
“iyya. Nama aneh ya? Seharusnya aku yang diteriaki gila oleh anak-anak tadi.
Bukannya kau….’
Kedua pemuda itu sama tertawa elak-gelak.
“Kita baru kenal, tapi kau begitu akrab!”
Wiro Sableng seka mulutnya. “Aku suka berteman dengan siapa saja. Cuma
terus terang baru kali ini aku memiliki seorang sahabat berambut putih seperti kapas.
Sangat panjang seperti rambut perempuan. Tetapi kenapa seperti basah? Kau pasti
tidak kehujanan di tengah jalan karena pakaianmu tidak basah. Mungkin kau habis
mandi di sungai dan tidak sempa mengeringkan rambutmu yang panjang….”
Pandu hanya tertawa. Sementara itu pemilik kedai datang membawakan
makanan. Kedua pemuda itu lalu sama-sama menyantap hidangan masing-masing.
Selesai makan, sambil menyeka keringatnya Wiro memandang pada Pandu
dan berkata “Tadi sebelum kau datang kedai ini terasa panas. Setelah kau masuk
mengapa tiba-tiba kedai ini berubah sejuk….?”
Air muka pemuda bernama Pandu yang adalah murid dan anak angkat Datuk
Perpatih Alam Sati dari puncak gunung Merapi di Pulau Andalas tampak berubah.
Tapi pemuda ini cepat menguasai diri. Sambil tersenyum dia menjawab “Tadi terlalu
banyak orang dalam kedai sempit ini. Tentu saja udara jadi panas. Kini hanya tinggal
kita berdua. Dan angin bertiup dari luar. Tentu saja udara jadi sejuk….”
Wiro tertawa lebar.
“Kenapa kau tertawa?”
“Sobat baruku. Aku tak bisa ditipu. Hawa sejuk ini memancar dari tubuh dan
rambutmu yang putih basah itu!”
Terkejutlah Pandu.
“Aku…..eh! Matamu tajam sekali sahabat. Rupanya aku berhadapan dengan
seorang pandai dari dunia persilatan!”
Wiro geleng-geleng kepala. Dia memutar pembicaraan. “Logat bicaramu
menandakan kau bukan orang sini. Logat bicaramu seperti hanya dipunyai oleh
orang-orang dari pilau Andalas. Kau berasal dari sana….?”
“Kau betul….”
“Mengadakan perjalanan sejauh itu, tentu ada urusan penting….”
“Kau tengah menyelidikiku saudara?” tanya Pandu tapi dengan tersenyum.
“Sama sekali tidak. Jangan kau tersinggung.” Dari balik pakaiannya Wiro lalu
mengeluarkan sehelai sapu tangan hitam lebar. Sapu tangan itu dilipatnya memanjang
lalu diberikannya pada Pandu. “Ikat kening dan kepalamu sebelah belakang dengan
kain itu….”
“Untuk apa….?” Tanya Pandu.
“Tidak untuk apa-apa. Hanya…..agar kau jangan kelihatan seperti
perempuan….Ha…ha…ha…!”
Pandu ikut tertawa mendengar kata-kata Wiro itu. Lalu dia bertanya. “kau
penduduk disini?”
Wiro menggeleng.
“Sudah kuduga. Kau pasti pengembara sepertiku. Bedanya melihat kulitmu
yang kecoklatan kau pasti sudah malang melintang selama bertahun-tahunkeberbagai
penjuru. Sedangkan aku baru mulai belajar mengembara….”
“Kemana tujuanmu sebenarnya sahabat?”
“Sebuah desa bernama Talangsewu. Menurut keterangan terletak di tenggara,
di kaki gunung Sumbing. Kau tahu desa itu?”
Wiro menggeleng. “kalau gunung Sumbing, hanya sehari perjalanan dari sini.
Aku punya tujuan ke jurusan itu. Jika kau tak keberatan, karana kita sama searah,
bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan sama-sama?”
Pandu tak menjawab. Setelah diam sesaat dia malah bertanya “Kau pernah
mendengar seorang tokoh silat golongan hitam bernama Pendekar Bungkuk….?”
Wiro garuk-garuk kepalanya lalu mengangguk.
“Kau tahu dimana tempat kediamannya?”
“Eh, rupanya kau mencari manusia satu itu?”
“Betul”
“Pasti ada silang sengketa antara kalian!”
“Dia membunuh ayahku,” jawab Pandu.
Keterangan Pandu itu mengingatkan Wiro pada ayahnya sendiri yang juga
tewas dibunh orang. Lama dia terdiam. Agaknya jalan nasib pemuda yang barusan
dikenalnya ini ada persamaan dengan dirinya.
“Menurut kabar yang pernah kudengar, sekitar lima tahun dia lenyap dari
dunia persilatan. Ketika muncul dia menjadi momok nomor datu di timur. Ada yang
mengatakan dia jadi tangan kanan seorang pangeran yang hendak memberontak.
Pangeran itu sendiri berhasil ditangkap tapi terbunuh ketika berusaha melarikan diri.
Pendekar Bungkuk sempat kabur.Ada satu keluar biasaan pada manusia itu. Aku
sendiri belum pernah bertemu atau melihatnya. Tapi kata orang, salah satu matanya
ditancapi pisau kecil berhulu putih. Kabarnya pisau itu ditancapkan salah seorang
musuhnya. Kabarnya lagi Pendekar Bungkuk bersumpah, sebelum dia berhasil
membunuh lawan yang mencelakainya itu, pisau di matanya tak akan dicabutnya!”
“Keteranganmu cocok dengan keterangan guruku!” ujar Pandu pula.
“Kalau begitu siapa gurumu?” tanya Wiro.
Pandu sadar kalau sudah ketelepasan bicara. Dia menjawab dengan cerdik
“Kuberitahukanpun kau tidak bakal mengenalnya….”
“Apakah kau ke Talangsewu mencari pembunuh ayahmu itu?” Kau tak bakal
menemukan Pendekar Bungkuk di sana.”
“Talangsewu tempat kediaman ibuku! Aku akan mencarinya disana. Mudahmudahan
Tuhan mempertemukan kami….”
“Aku ikut mendoaakan.”
“Terima kasih. Wiro, aku menerima usulmu. Kita melanjutkan perjalanan
bersama-sama….”
“Memang itu yang kuharaokan agar kita bisa bertukar pengalaman….”
“Melihat gerak gerikmu serta ucapan-ucapanmu kau m,endalami seluk beluk
agama. Nah, aku ini pemuda kurang ajar! Jadi ada baiknya kalau aku belajar ilmu
agama padamu. Ha….ha….ha….!

TUJUH
Pandu duduk termenung di tepi kali. Di sebelahnya duduk Pendekar 212 Wiro
Sableng.
“Setelah mengetahui ibumu tidak lagi tinggal di Talangsewu, apa yang akan
kau lakukan Pandu?” bertanya Wiro.
Meski hati dan pikirannya saat itu kacau, murid Datuk Perpatih Alam Sati itu
menjawab, suaranya perlahan. “Akan kuarungi pulau Jawa ini. Akan kucari manusia
bernama Pendekar Bungkuk itu. Arwah ayahku meungkin tidak pernah tentram
sebelum aku melakukan pembalasan!” Pandu diam sesaat. Lalu dia berpaling pada
Wiro “Sahabat, berhari-hari kita mengadakan perjalanan bersama-sama. Aku sangat
berterima kasih pada kebaikanmu. Hanya saja, mulai saat ini aku berasa adalah lebih
baik aku meneruskan perjalanan seorang diri. Aku tak mau menyusahkan seorang
kawan sebaikmu…”
Wiro garuk kepalanya lalu menjawab “Aku tidak akan memaksa ikut
bersamamu. Mudah-mudahan kau menemui orang yang kau cari. Juga aku berdoa
agar kau dapat bertemu dan bersatu kembali dengan ibu serta kakak perempuanmu.
Kita berpisah di sini sahabat. Jika umur panjang pasti kita dapat bertemu lagi….”
Pandu berdiri, memegang bahu Wiro, melafatkan kata-kata dalam bahasa Arab
yang tidak dimengerti murid Sinto Gendeng itu. Ketika Pandu mengucapkan kata
“Assalaamualaikum” Wiro menjawab sambil tertawa geli “Waalaiku salam….”
“Kenapa kau tertawa Wiro?” bertanya Pandu.
“Seingatku, seumur hidup baru sekali ini aku mengucapkan salam seperti tadi.
Soalnya aku bukan orang santri sepertimu!” Wiro mengangkat tangannya ke kening
lalu dua sahabat itupun berpisah.
Pandu meneruskan perjalanan menuju ke timur. Tepat katika matahari
terbenam memasuki sebuah kampung. Ada keanehan dilihatnya. Meski saat itu hari
masih terang dan malam belum lagi datang tapi seluruh pintu dan jendela rumah
penduduk berada dalam keadaan tertutup. Namun mata dan perasaan Pandu yang
tajam membuat dia mengetahui bahwa dari balik celah jendela atau mengintip gerak
geriknya.
Pemuda itu terus melangkah. Dia sama sekali tidak berniat menginap di
kampung itu. Pada saat dia hendak melintas sebuah jembatan bambu yang melintang
di atas kali kecil, tiba-tiba dari balik rerumpunan pohon bambu berkelebat hampir
selusin orang sambil menghunus berbagai macam senjata. Ada yang membawa
pentungan besi berujung runcing seperti tombak, ada uang mencekal golok atau
kelewang, banyak pula yang menggenggam keris. Di saat yang sama di seberang
jembatan kecil muncul tiga sosok tubuh berpakaian hiram.
Gerakan ketiga orang ini gesit sekali dana sebelum dua belas orang yang tadi
keluar dari balik pohon bambu mencapai dapan jembatan, tiga orang di sebelah sana
telah lebih dahulu melesat melintas jembatan dan menghadang rombongan orang
yang lebih banyak.
Pandu tidak dapat melihat wajah dua belas lelaki yang membelakanginya
namun dia dapat melihat jelas tampang tiga orang berpakaian hitam di seberang sana.
Rata-rata mereka memiliki rambut gondrong awut-awutan. Wajah mereka tidak
satupun yang semenggan dan rata-rata membersitkan kekejaman. Salah seorang dari
ketiganya, yang berada paling depan, usap-usap dagunya yang penuh dirambasi
jenggot liar dan satu tangan lainnya berkacak pinggang.
“Jadi benar-benar kalian berani menghadang kami! Manusia-manusia tolol!
Lebih sayang harta dari nyawa!”
Dari rombungan yang dua belas orang terdengar suara jawaban. “Harta kami
sudah habis kalian kuras! Memang kini hanya nyawa yang kami punya! Tapi kami
tidak takut mati! Sudah saatnya kalian harus ditumpas!”
Lelaki berpakaian hitam yang tegak bertolak pinggang tertawa gelak-gelak.
Dia berpaling pada kedua kawannya lalu berkata “Kalian dengar ucapan anjing buduk
tolol ini!”
“Dia yang akan kubunh pertama sekali!”
“Kalau begitu kau bunuhlah dia Jombang!”
Lelaki bernama Jombang langsung melompat ke depan. Dengan
mengandalkan tangan kosong dia menghantamkan tinjunya ke kepala sasarannya.
Tapi serangannya disambut dengan tebasan golok.
“Heyyaa….!” Jombang putar kedua kakinya. Tubuhnya miring ke kiri.
Sambaran golok lewat, serentak dengan itu tinju kanannya meluncur ke depan!
Buukk!
Orang yang memegang golok terpental beberapa langkah. Tubuhnya terlipat.
Kepalanya yang terhuynung ke depan langsung disambut dengan tendangan oleh
Jombang.
Praak!
IZRO'IL
Malaikat Maut Berambut Salju


Korban pertama jatuh, meregang nyawa denagn kening rengkah. Sebelas
kawannya berteriak marah lalu serempak menyerbu. Sebelas macam senjata
berserabutan ke arah tubuh Jombang. Orang ini ganda tertawa. Sekali dia berkelebat
dua sosok tubuh terpelanting, dua bilah senjata tajam terpental lepas. Melihat
Jombang mulai mengamuk, dua kawannya jadi ikut terangsang. Maka tiga lelaki
berpakaian hitam itu seolah-olah tiga ekor harimau yang mempermainkan kucingkucing
tidak berdaya! Ini hanya bisa terjadi karena ketiganya memang memiliki ilmu
silat yang tinggi. Satu demi satu korban jatuh susul menyusul. Ada yang langusng
menemui ajal, banyak yang cidera parah! Jerit maut, erang kesakitan bergabung jadi
satu di saat malam mulai turun itu!
Ketika hanya tinggal empat orang saja lagi yang masih sanggup menghadapi
amukan tiga manusia berpakaian serba hitam itu, Pandu murid Datuk Perpatih Alam
Sati dari puncak Merapi melompat menghadang seraya berseru “Tahan!”
Tiga orang berpakaian hitam langsung terdorong. Sesaat ketiganya setengah
tertegun namun mata masing-masing membeliak besar dan tampang menunjukkan
kemarahan. Mereka melihat seorang pemuda berambut putih panjang sampai ke bahu
berdiri di hadapan mereka sementara empat orang yang berada di belakang Pandu
tampak terheran-heran melihat munculnya seorang penolong yang tidak dikenal.
“Monyet berambut putih dari mana yang berani mencampuri urusan orang!”
“Hemm…. Dia pasti salah seorang dari penduduk kampung yang ikut
berkomplot melawan kita!”
“Kalau begitu mari kita siangi tubuhnya!”
Tiga lelaki berpakaian hitam sama-sama menyerang sembil berteriak garang.
Namun untuk kedua kalinya mereka terpental beberapa langkah. Ketika yang dua
hendak menyerang lagi, kawannya yang bernama Dardiri cepat memberi isyarat. Lalu
dia maju ke hadapan Pandu.
“Monyet berambut putih! Siapa kau sebenarnya?!”
“Katakan dulu siapa kalian bertiga adanya! Mengapa menurunkan tangan jahat
terhadap orang-orang kampung yang tidak berdaya?!”
“Hooo….! Jadi monyet ini belum tahu siapa kita adanya!” ujar Dardiri sambil
usap-usap dadanya yang berbulu dan tidak tertutup pakaian. “Jembel tolol sepertimu
tidak layak menanyai kami! Kalau masih penasaran biar roh busukmu saja nenti yang
gentayangan bertanya-tanya!”
Habis berkata begitu Dardiri lalu kirimkan satu jotosan ke dada si pemuda.
Pandu gerakkan kepalanya sedikit.
Wuutt!
Rambut putih yang panjang berkelebat dan tahu-tahu tangan kanan Dardiri
yang barusan melancarkan pukulan terjirat pada pergelangannya! Orang ini menjerit
bukan saja karena terkejut tapi juga disebabkan rambut itu tidak bedanya seperti
jiratan kawat!
“Kurang ajar berani mempermainkan!” teriak Jomabang. Dia memungut
sebatang golok yang tergeletak di tanah lalu membabat ke arah rambut putih Pandu.
Pemuda ini gerakkan kepalanya sedikit.
Craasss!
Dardiri menjerit setinggi langit begitu golok yang dihantamkan kawannya
sendiri membabat putus tangan kanannya! Melihat kejadian ini Jombang dan
kawannya yang satu lagi jadi tersentak kaget. Kini baru mereka menyadari bahwa
mereka berhadapan dengan seorang berkepandaian tinggi. Rasa sadar ini membuat
keduanya menjadi ketakutan setengah mati. Tanpa pikir panjang mereka balikkan
tubuh, siap melarikan diri dengan meninggalkan Dardiri yang terduduk di tanah
sambil tiada hentinya berteriak kesakitan sementara darah terus memancur fari
tangannya yang buntung!
Saat itu mendadak udara terasa dingin luar biasa. Jombang dan kawannya
merasakan sekujur tubuh mereka menjadi kaku saking dinginnya. Sepasang kaki
mereka tidak sanggp digerakkan seolah-olah telah berubah menjadi kayu. Dari mulut
mereka terdengar suara berkereketan akibat rasa dingin luar biasa. Anehnya, empat
orang penduduk kampung yang berada di belakang Pandu tidak merasakan udara
dingin itu. Inilah kehebatan ilmu “tenung salju” yang dilepaskan oleh Pandu untuk
membuat Jombang dan kawannya tidak dapat melarikan diri!
Begitu melihat dua orang itu tidak berdaya, empat penduduk kampung
langsung menyerbu. Sebelum Pandu sempat mencegah, golok dan pentungan besi
sudah berkebat. Jombang dan kawannya langusng roboh mandi darah. Dardiri sudah
sejak tadi meregang nyawa kehabisan darah!
“Kalian bertindak kejam! Mengapa itu kalian lakukan?!” bertanya Pandu
“Mereka jauh lebih kejam dari kami. Apa yang kami lakukan adalah untuk
membalas dendam!” menyahut salah seorang dari empat penduduk kampung.
“Mereka pantas mampus seperti ini!” Anak muda, kau saksikan sendiri
kawan-kawan kami yang bergeletakan di tempat ini!”
“itu baru sebagian saja!” menambahkan yang lain. “Sebelumnya mereka sudah
berulang kali mendatangi kampung kami, juga kampung-kampung di sekitar sini.
Merampok, membunuh dan menculik anak gadis atau istri penduduk!”
“Siapa ketiga manusia ini sebenarnya? Perampok-perampok biadab?!” tanya
Pandu pula.
“Lebih dari itu! Mereka adalah anak buah iblis jahanam bergelar Pendekar
Bongkok!”
Mendengar orang menyebut nama itu Pandu tersentak kaget. “Lekas terangkan
dimana aku bisa menemui Pendekar Bongkok!”
“Heh!”
Empat penduduk kampung bersurut ketakutan. “Apakah kau….kau sahabat
Pendekar Bongkok?” salah seorang bertanya gagap dan ketakutan.
“Aku justru mencarinya untuk membunuhnya!” jawab Pandu.

DELAPAN
Bukit Tapal Kuda sesuai namanya berbentuk seperti ladam kuda, membujur
setengah lingkaran dari timur ke barat. Bukit ini jarang didatangi manusia karena
selain gersang juga hanya ditimbuni oleh batu-batu besar berwarna kecoklatan. Di
bagian tangah bukit yaitu bagian yang melekuk anehnya justru terdapat empat buah
bangunan kayu. Tiga agak kecil sedang yang besar terletak di sebelah tengah.
Ketika murid Datuk Perpatih Alam Sati samapi ke Bukit Tapal Kuda hari
masih gelap. Udara dingin menyelimuti tampat itu. Didalam kegelapan malam
menjelang pagi itu Pandu melihat sebuah bangunan aneh di samping rumah kayu
besar. Bangunan ini baratap ijuk. Bentuk bangunan di bawah atap tidak beda seperti
sebuah kerangkeng besar. Tak ada pelita yang menyala hingga Pandu tidak dapat
melihat apa yang berada dalam bengunan. Hanya sepasang telinganya sayup-sayup
mendengar suara orang mengerang lalu suara seseorang menangis.
Sewaktu hari mulai terang-terang tanah, empat bangunan kayu masih
diselimuti kesunyian. Namun dia segera dapat melihat apa yang ada dalam bangunan
berbentuk kerangkeng. Bukan saja membuat ini jadi tercekat tetapi sekaligus bergetar
sekujur tubuhnya dilanda amarah. Jadi benar apa yang dikatakan penduduk kampung
yang ditolongnya itu!
Di dalam kerangkeng tampak terbaring sosok tubuh perempuan muda yang
rata-rata tidak terbungkus pakaian dengan sempurna. Salah seorang diantaranya
duduk di sudut kerangkeng sambil menangis. Kedua matanya tampak bengkak tanda
perempuan ini tentu sudah sejak lama menangis tiada henti. Kain yang melekat di
tubuhnya hanya dapat menutupi auratnya sebatas pinggang ke bawah.
Di sudut kerangkeng yang lain menggeletak seorang pemuda dalam keadaan
sekarat mengerikan. Tubhnya tanpa pakaian sama sekali. Erangan pemuda inilah yang
didengar Pandu sejak malam tadi.
Pandu beringsut dari balik pohon besar dimana dia berlindung. Tiba-tiba pintu
bangunan kayu di sebelah kiri terbuka. Seorang lelaki berbadan tinggi besar, hanya
mengenakan sehelai celana panjang hitam melangkah ke luar terhuyung-huyung. Di
tangan kanannya tampak sebuah kendi kecil. Setiap kali dia berhenti melangkah dia
mendekatkan bibir kendi ke mulutnya lalu meneguk minuman keras yang ada dalam
kendi itu. Kemudian dia melangkah kembali, menuju kerangkeng besar. D depan
pintu kerangkeng orang ini campakkan kendi yang telah kosong. Matanya
memandang menjelajah ke dalam kerangkeng. Lalu dia mengeluarkan sebuah benda
kecil berbentuk kunci. Dengan benda ini dia membuka pintu kerangkeng yang diikat
dangan rantai besi dan dihubungkan dengan sebuah kura-kura besi.
Pintu kerangkeng terbuka. Si tinggi masuk ke dalam. Sesaat dia tegak di
hadapan pemuda yang mengerang sekarat.
“Huh! Belum mampus juga keparat ini!” Dia menyeka mulutnya, komat kamit
sebentar lalu kembali menyambung ucapannya tadi, “Hiduppun kau tidak bakalan.
Biar kubantu lebih cepat menghadap malaikat maut! Matilah manusia yang berani
manggagahi perempuan milik pimpinan!” orang itu tendangkan kaki kanannya ke
kepala si pemuda. Terdengar suara gebukan mengerikan. Suara erangan lenyap.
Pemuda itu mati sudah dengan kepala pecah. Si pembunuh lalu tertawa mengekeh.
Puas tertawa dia melangkah mendekati perempuan muda yang duduk menangis
sementara enam orang perempuan lain yang ada di dalam kerangkeng saat itu sudah
tersentak sama-sama mendekam ke sudut kiri kerangkeng.
Diantara semua perempuan yang ada dalam kerangkeng memang yang
menangislah yang paling cantik dan bagus bentuk tubuhnya. Lelaki bercelana panjang
hitam begitu samapi di hadapan perempuan muda ini langsung tanggalkan celananya.
Perempuan yang menangis kini menjerit. Dia melompat bangkit ketakutan tetapi
orang di hadapannya langsung merangkul dan merebahkan tubuhnya ke atas lantai
kerangkeng yang tertutup jerami.
“Manusia biadab! Begini rupanya kerjaan kalian setiap hari! Merampok,
menculik dan memperkosa!” Pandu merutuk dalam hati. Dua kali lompatan saja dia
sudah berada dalam kerangkeng besar. Lalaki yang hendak menggagahi perempuan
muda itu tiba-tiba merasakan tubuhnya menggigil kedinginan. Gigi-giginya sampai
bergemeletukan.
“Gila!” makinya. “Mengapa udara tiba-tiba jadi dingin begini rupa!” Dia
memandang berkeliling dan pandangannya membentur sosok tubuh Pandu!
“bangs*t! Siapa kau!” dia menghardik.
“Aku malaikat maut yang kau sebut-sebut tadi!” sahut si pemuda. Tangan
kanannya memukul ke depan. Yang dipukul coba tangkis tapi langsung menjerit
ketika bentrokan lengan itu membuat tangan kanannya patah!
“Haram jadah! Kowe minta mampus!” teriak si tangan patah. Dengan tangan
kirinya dia berusaha mencekik Pandu. Namun murid Dauk Perpatih telah lebih dulu
menghantam selangkangan orang ini dengan tendangan kaki kiri. Untuk kedua
kalinya orang itu menjerit. Tubhnya terpental ke sudut kerangkeng dimana enam
orang perempuan saling berdekapan ketakutan. Mereka tentu saja sama-sama menjerit
ketika tubuh yang telanjang dengan selangkangan hancur itu jatuh di tengah-tengah
mereka!
Suara jeritan hiruk pikuk itu membuat para penghuni empat bangunan kayu
terbangun dari tidur masing-masing. Ternyata mereka semuanya adalah orang lakilaki
yang berpakaian serba hitam. Mereka berhamburan keluar dari bangunan dan
langsung lari ke arah kerangkeng! Semuanya berjumlah hampir dua lusin. Sesaat
mereka tertegun melihat pemuda berpakaian serba putih dan berambut panjang putih
yang tidak dikenal itu.
“bangs*t dari mana yang berani menyelinap masuk ke markas Pendekar
Bungkuk!” salah seorang dari mereka membentak.
“Ah, ternyata aku tidak datang ke tempat yang tidak salah! Jadi ini rupanya
sarang Pendekar Bungkuk! Mana tua bangka keparat itu!”
“Haram jadah! Berani memaki pimpinan kami!”
“Dia pasti telah membunuh Ggaimo!” seorang lain berteriak. Gaimo adalah
nama lelaki yang tadi hendak memperkosa.
“Kalau begitu mari kita cincang dia samapi lumat!”
Terdengar suara senjata tajam dicabut dari sarungnya. Banyak sekali. Ternyata
dua lusin orang rata-rata membawa sebilah golok! Namun mereka berdiri dengan
tubuh seperti menggigil. Udara pada peralihan malam memasuki pagi itu terasa dingin
luar biasa! Inilah kehebatan murid Datuk Perpatih Alam Sati. Tubuhnya dapat
menebar hawa sakti yang diserapnya selama delapan belas tahun di puncak gunung
Merapi!
“Kalian semua dengar baikbaik!” Pandu berseru. “Aku kemari bukan untuk
mencari kalian tapi mencari pemimpin kalian! Lekas suruh Pendekar Bungkuk
keluar!”
Beberapa orang tertawa mengejek.
“Lagakmu hebat amat rambut putih!”
“Siapa kau sebenarnya?!”
“Ada keperluan apa mencari pemimpin kami?!”
Aku Pandu dari pulau Andalas! Pemimpin kalian membunuh ayahku delapan
belas tahun lalu. Aku datang untuk menagih hutang nyawa itu!”
“Ah! Bapakmu mampus di tangan pemimpin kami rupanya! Dan kau juga
minta mampus….”
Baru saja orang itu berkata begitu, kepala Pandu tampak bergerak. Rambutnya
yang putih panjang menderu. Terdengar jeritan lelaki yang tadi bicara. Dia tampak
terbungkuk-bungkuk sambil pegangi mulutnya yang mengucurkan darah! Mulut itu
laksana dipotong pisau, robek dari pipi kiri sampai pipi kanan! Dan tiba-tiba tangan
kirinya telah mencekik tenggorokan lelaki yang berada dekat pintu kerangkeng.
“Agamamku melarang manusia membunuh sesama manusia! Tapi manusiamanusia
semacam kalina tidak masuk hitungan!”
Kraak!
Terdengar suara tulang leher patah. Lidah mencelat, mata melotot. Ketika
Pandu melepaskan cekikannya, tubuh tak bernafas itu langsung roboh ke lantai
kerangkeng.
“Masih tidak ada yang mau memberi tahu?!”
Empat belas orang yang ada di tempat itu tiba-tiba sama balikkan tubuh lalu
menghambur lari. Namun dua diantara mereka sempat dicekal oleh Pandu. Tangan
keduanya dilipat ke belakang lalu disentakkan keras-keras hingga mereka menjerit
kesakitan setengah mati.
“Jika kalian mau memberi keterangan, kalian akan selamat….” Pandu
sentakkan lagi cekalannya hingga untuk kedua kalinya kedua orang itu terpekik
kessakitan. Pemuda ini tidak hanya sampai disitu. Tangan orang yang di sebelah
kanan dipuntirnya kuat-kuat hingga tanggal persendian bahunya. “Kau boleh pergi!”
kata Pandu lalu mendorong orang itu kuat-kuat ke depan. Yang didorong terbanting
dan terguling di tanah. Masih menjerit-jerit kesakitan dia melarikan diri mencari
selamat. Tinggal kini yang seorang. Yang satu ini benar-benar sudah meleleh nyalinya.
Mukanya sepucat kertas. Sebelum Pandu melakukan sesuatu dia sudah buru-buru
membuka mulut.
“Ampun, jangan siksa! Jangan bunuh diriku! Aku akan katakan dimana
pemimpin kami Pendekar Bungkuk berada!”
Sebelum meninggalkan sarang Pendekar Bungkuk Pandu memeriksa seluruh
bangunan kayu yang ada di kaki bukit Tapal Kuda. Apa yang dilihat pemuda ini
sungguh luar biasa menusuk mata dan perasaan. Di setiap bangunan ditemuinya
banyak perempuan-perempuan muda. Wajah mereka Pucat. Mungkin karena
ketakutan tetapi mungkin juga karena terlalu lama disekap dalam bangunan itu. Di
rumah kayu paling besar, dalam sebuah kamar yang sangat bagus, Pandu menemui
seorang gadis paling tinggi berusia enam belas tahun menggeletak di atas ranjang.
Tangn dan kakinya terikat ke tiang ranjang. Gadis ini berada dalam keadaan pingsan
dan auratnya sama sekali tidak tertutup barang selembar benangpun!
Dimana-mana dalam kamar itu bertaburan barang-barang berharga seperti
perhiasan terbuat dari perak dan banyak pula yang dari emas serta bertahtakan batubatu
permata. Pandu tendangi barang-barang yang ada di lantai lalu melangkah
menghampiri ranjang. Secarik kain jendela ditariknya lalu menutupkannya ke tubuh si
gadis di atas ranjang. Satu demi satu kemudian ikatan pada kaki dan tangan gadis itu
dilepaskannya. Saat itu diluar kamar banyak orang-orang perempuan bergerombol.
Salah seorang diantara mereka langsung menerobos masuk dan memeluk tubuh si
gadis seraya menangis “Adikku…. Adikku….” Dia menyangka gadis itu sudah mati.
Pandu pegang bahunya seraya berkata “Tak usah khawatir. Dia hanya pingsan. Saat
itu juga gadis itu siuman dan membuka kedua matanya.
Karena risih berada dalam kamar yang dipenuhi perempuan dan rata-rata tidak
berpakaian sebagaimana wajarnya pemuda ini segera meninggalkan kamar itu.
“Siapa orang yang menolong adikku itu….?” bertanya perempuan yang tadi
managis disela isaknya.
Tentu saja tidak ada yang bisa menjawab. Namun salah seorang berkata “Dia
pasti malaikat yang dikirimkan Gusti Allah untuk menolong kita…” Ucapan itu serta
merta tersebar dan semua perempuan yang berada disitu benar-benar percaya bahwa
Pandu adalah Malaikat!.
Di halaman rumah besar Pandu mengumpulkan semua perempuan setelah
lebih dulu menyuruh mereka mencari pakaian atau apa saja utnuk dapat menutupi
tubuh masing-masing.
“Hari ini kalian semua bebas dari cengkeraman Pendekar Bungkuk dan anak
buahnya!” Pandu berkata dengan suara lantang. “Semua harta yang ada di tempat ini
boleh kalian ambil dan bagi-bagi. Setelah itu kalian boleh kembali ke kampung atau
ke desa masing-masing!”
Tak ada yang menjawab. Tak ada yang bersuara. Semua perempuan itu seperti
tidak percaya akan apa yang mereka dengar. Selama berbulan-bulan mereka telah
disekap, dijadikan budak nafsu oleh Pendekar Bungkuk dan komplotannya.
Seharusnya mereka bergembira menerima kenyataan itu.
Bahkan merasa seperti tidak memilki lagi harga diri dan masa depan. Mereka
masih tertegun setelah Pandu meninggalkan tempat itu dan tersentak kaget ketika satu
bentakan keras merobek kesunyian di awal pagi itu.
“Kurang ajar! Apa yang terjadi di sini!”

SEMBILAN
“Celaka! Anak angkat Pendekar Bungkuk datang….!” Seseorang berseru. Dan
kelompok perempuan-perempuan muda yang berjmulah sekitar dua puluh enam orang
itu serta merta bubar. Banyak yang segera melarikan diri.
“Siapa yang berani lari akan kubunuh!” teriak orang yang barusan datang. Dia
adalah seorang pemuda bertubuh tegap, bermuka buruk dan memelihara cambang
bawuk yang meliar menutupi seantero wajahnya. Di lehernya tergantung sebuah
kalung berupa tulang tangan kanan manusia sungguhan! Seperti yang diucapkan tadi
pemuda ini memang adalah anak angkat Pendekar Bungkuk. Bernama Jaroantunda.
Kekejamannya melebihi Pendekar Bungkuk dan kebiadabannya terhadap perempuan
melebihi ayah angkatnya.
“Hemm…. Jadi tak ada yang mau membuka mulut memberi jawaban eh….”
Jaroantunda usa-usap janggut liarnya. Matanya memandang berkeliling. Bukan saja
memperhatikan perempuan-perempuan muda yang tegak ketakutan itu, tapi sekaligus
menyaksikan belasan mayat yang tergelimpang di halaman bangunan.
“Kau!” tiba-tiba Jaroantunda berteriak seraya menunjuk pada seorang
perempuan yang tegak di depannya. Perempuan itu menggigil ketakutan. “Maju ke
hadapannku!”
Meski takut perempuan itu melangkah juga ke hadapan Jaroantunda. Begitu
samapi di depannya si pemuda langsung meremas keras-keras dadanya sebelah kiri
hingga perempuan itu menjerit kesakitan.
“Jika kau tidak mau mengatakan apa yang terjadi akan kusaya-sayat
payudaramu! Juga yang lain-lainnya!”
“ka…kami tidak mengetahui apa yang terjadi. Waktu itu masih pagi dan kami
semua masih di dalam. Kami….kami hanya menemui seorang malaikat….”
“Malaikat?!” teriak Jaroantunda dengan mata membeliak. “Jangan bicara
ngacok padaku!” Dan plaak! Jaroantunda tampar muka orang hingga perempuan itu
melintir dan jatuh kesakitan. Ketika dia hendak menjambak rambut perempuan yang
jatuh, sebuah benda melesat di udara dan menghantam sambungan sikunya. Pemuda
itu terpekik. Ketika diperiksa sambungan siku tangan kanannya ternyata sudah lepas
dan tangannya kini terkulai-kulai. Selagi pemuda itu menanggung rasa sakit yang
bukan alang kepalang terdengar suara tertawa mengejek.
“Kenapa tanganmu monyet berewok? Kasihan, kau tentu tak dapat lagi
meremas payudara”
“Setan alas!” maki Jaroantunda. Memandang ke depan dia melihat seorang
pemuda tak dikenal. Berpakaian putih, berambut gondrong, tegak sambil menyeringai.
“Siapa kau?!” Pasti kau yang melemparku tadi!”
“Aku sahabat malaikat yang pagi buta tadi mengamuk di markasmu ini! Dan
memang aku yang barusan melemparmu! Bukankah tidak pantas menganiaya
perempuan lemah…?!”
“Biar kubeset mulut besar kurang ajarmu!” teriak Jaroantunda marah sekali.
Dengan tangan kirinya dihunusnya sebilah pedang pendek dari balik punggungnya.
Karan dia memang seorang kidal maka begitu pedang dikiblatkan, bertaburlah
serangan ganas berupa babatan dari kiri ke kanan disusul dengan tusukan ke arah
perut!
Orang yang diserang mundur sambil terus cengar cengir, membuat
Jaroantunda semakin marah sementara perempuan-perempuan yang sebelumnya
ketakutan dengan munculnya anak angkat Pendekar Bungkuk itun kini menjadi lega.
Namun dapatkah pemuda gondrong tak dikenal yang sikapnya seperti bermain-main
ini mampu menghadapi Jaroantunda yang dikenal memiliki ilmu pedang tingkat
tinggi yang ganas?
“Lihat pedang!” tiba-tiba si gondrong berseru. Begitu seruan berakhir
tangannya menyusup di bawah sambaran pedang, dilain kejap pasti dia berhasil
merampas atau memukul pedang di tangan lawannya. Tapi Jaroantunda memang
memiliki kepandaian mengagumkan. Hanya dengan memutar pergelangan tangan
kirinya, pedang dalam genggamannya membalik deras dari kanan ke kiri. Si gondrong
terkesiap kaget, keluarkan seruan tertahan dan melompat mundur.
Breet….!
Walaupun sudah melompat tetap saja ujung pedang sempat menyambar robek
dada pakaian putihnya. Dan bukan itu saja, ada bagian kulit dadanya yang ikut
tersayat! Si gondrong kertakkan rahang, hampir tak percaya kalau lawan yang dalam
keadaan cidera itu sanggup melukainya!
“Edan!” maki si gondrong lalu cepat usap dadanya yang baret dengan tangan
kiri.
Jaroantunda tertawa bergelak. “Sebentar lagi ususmu akan membusai!”
katanya sambil putar-putar pedang pendeknya. Lalu dia membuat gerakan aneh.
Seperti hendak memballik pergi namun tahu-tahu kembali berbalik.Sambil meloncat
pedangnya membabat dari atas ke bawah. Jika serangan ini berhasil pastilah tubuh
pemuda gondrong itu akan terbelah dua.
Hanya saja sekali ini si gondrong tidak lagi bisa diperlakukan seenaknya.
Sambil bersuit nyaring pemuda ini berkelebat ke kiri, lalu ke kanan, ke kiri lagi dan
kembali ke kanan. Jaroantunda penuh nafsu memburu dengan pedangnya. Tapi setiap
sambaran, tebasan ataupun tusukan yang dilakukannya hanya mengenai tempat
kosong. Sementara itu setiap satu gerakan menyerang dibuatnya setiap itu pula
dirasakannya ada orang yang menjambret robek pakaiannya. Mula-mula bajunya, lalu
celananya. Pada akhirnya anak angkat Pendekar Bungkuk ini hanya mengenkan
celana kolor saja. Itupun sudah robek-robek pula hingga auratnya yang terlarang
tersingkap. Meski menyadari keadaan dirinya yang hampir telanjang namun
Jaroantunda tidak menghentikan serangannya. Amarahnya semakin menjadi-jadi,
apalagi didengarnya orang-orang perempuan yang ada di situ mulai berteraik-teriak
mengejek dan mencaci makinya.
“Telanjangi terus!”
“Potong anunya!”
“Pateni saja cepat-cepat!”
Semakin mendidih amarah Jaroantunda, semakin ganas serangan pedangnya.
Namun itu tak berlangsung lama. Napasnya mulai menyengal. Tangan kirinya mulai
terasa kaku dan pegangannya pada gagang pedang menjadi licin oleh keringat
sementara tangan kanannya yang cidera parah bertambah-tambah sakitnya. Ketika
satu tendangan melanda pinggulnya, pemuda ini langsung roboh. Saat itulah orangorang
perempuan yang pernah disiksa dan diperkosanya datang menyerbu. Mereka
memukuli tubuh anak angkat Pendekar Bungkuk itu dengan tangan kosong, dengan
batu, dengan kayu atau benda apa saja yang bisa mereka dapat. Pemuda gondrong
yang tadi menjadi lawan Jaroantunda hanya bisa menyaksikan sambil garuk-garuk
kepala. Akhirnya dia berseru “Sudah! Sudah! Manusia itu sudah mampus….!
Teriakan itu membuat perempuan-perempuan yang seperti kesetanan karena
dendam tersadar lalu campakkan benda yang mereka pakai untuk memukul.
“Saudara berambut gondrong, siapa kau ini dan bagaimana bisa muncul di
tempat ini….?” Salah seorang dari perempuan-perempuan yang ada di situ bertanya.
Yang ditanya menatapi wajah-wajah pucat dan tubuh-tubuh yang rata-rata
tidak tertutup sewajarnya itu. Kalau saja bukan di tempat itu, pemandangan asyik
seperti itu tentu tak akan ditemui seumur hidupnya.
“Siapa aku tidak penting. Kalau kalian kecewa, sebut saja aku kawan lelaki
berambut putih yang kalian anggap malaikat itu……”
“Tapi kau bukan malaikat!”
Si gondrong tertawa geli. “Tentu saja aku bukan malaikat! Mana ada malaikat
gondrong dan jelek sepertiku ini!” Habis berkata begitu pemuda ini yang bukan lain
adalah Wiro Sableng adanya lantas membalikkan diri. Di belakang terdengar
perempuan-perempuan itu tertawa mendengar ucapannya tadi.
Wiro berlari ke jurusan timur. Sebetulnya dia sampai di tempat itu sesaat
setelah Pandu mendapat jawaban dari anak buah Pendekar Bungkuk, memberitahu
dimana pemimpinnya berada. Karena iro cukup kenal dengan daerah yang dikatakan
maka dia dapat mengambil jalan memintas yang kelak membuatnya samapi lebih dulu
dari Pandu.
IZRO'IL
Malaikat Maut Berambut Salju


SEPULUH
Telaga itu terletak di kawasan lembah yang sangat sunyi. Saking sunyinya, riak air
telaga yang tertiup angin sedikit saja dapat terdengar jelas. Pohon-pohon tinggi
dengan dedaunan beraneka warna membuat air telaga seperti berwana-warni.
Di tengah telaga tampak sebuah pondok bambu terapung-apung dalam
kesunyian. Pintu dan jendelanya tertutup. Tak ada jembatan atau perahu penyebrang
di sekitar situ. Lalu bagaimana penghuni telaga pergi dan datang ke pondok bambu?
Di sebelah telaga, pada cabang sebatang pohon, mendekam sesosok tubuh.
Kerimbunan daun pohon membuat sulit bagi siapa saja untuk dapat melihat orang itu
dari jurusan manapun juga. Sosok tubuh ini seperti tengah duduk berjuntai. Tapi
sebenarnya potongan tubuhnya yang seperti huruf L terbalik itulah yang membuat dia
kelihatan seolah-olah duduk berjuntai. Orang di atas pohon ini bukan lain adalah
Pendekar Bungkuk, yang sejak beberapa belas tahun silam bukan saja mendalami
ilmu silat dan kesaktiannya, tetapi juga telah membentuk sebuah gerombolan ganas,
merampok, membunuh dan menculik dengan markas di bukit Tapal Kuda.
Saat itu Pendekar Bungkuk tengaah memata-matai rumah kayu di tengah
telaga yang diketahuinya adalah tempat kediaman nenek sakti berjuluk Pisau Maut
Tanpa Bayangan, musuh besar dengan siapa dia mendekam dendam besar sejak
delapan belas tahun silam.
Wajah tua Pendekar Bungkuk tampak sangat seram karena adanya sebelah
pisau hitam bergagang putih menancap di mata kirinya. Pisau inilah yang ditancapkan
Pisau Maut Tanpa Bayangan delapan belas tahun silam sewaktu terjadi perkelahian
ketika mereka memperebutkan Pandu yang waktu itu masih seorang bayi berusia
beberapa bulan. Pisau di mata kiri Pendekar Bungkuk kini diselimuti karat mulai dari
bagiannya yang tajam samapi ke gagang.
“Sialan! Dua hari lebih aku mengunggu di sini, bangs*t tua itu masih belum
muncul! Kalau sampai siang nanti dia tidak kembali, akan kubakar saja rrumahnya
itu!” Begitu Pendekar Bungkuk mengomel dan mengancam.
Tibaa-tiba dari arah bawah pohon dia mendengar suara menggeresek.
Pendekar Bungkuk cepat meneliti dengan matanya yang tinggal satu. Di bawah pohon,
di antara semak belukar dan tanaman-tanaman pendek dilihatnya seseorang
berpakaian serba hitam, melangkah mengendap-endap menuju telaga. Pendekar
Bungkuk segera mengenali orang itu, bukan lain adalah salah seorang anak buahnya.
Rahangnya menggembung tanda marah. Sekali dia menggenjotkan kaki, tubuhnya
melayang ke bawah.
“bangs*t! Apa yang kau lakukan di sini?!” bentak Pendekar Bungkuk
membuat yang dibentak kaget setengah mati. Tapi begitu mengetahui siapa yang
membentak orang ini segera jatuhkan diri dan berkata “Pemimpin….. Celaka…..”
“Keparat! Apa yang celaka!” Pendekar Bungkuk jambak rambut anak buahnya.
“Markas kita….. Markas kita diserbu malaikat berambut putih….”
“Haram jadah! Apa yang kau ucapkan ini!” Plak! Plak! Dua tamparan
dilayangkan Pendekar Bungkuk ke muka anak buahnya. “Bicara yang jelas. Katakan
mengapa kau datang menyusulku kemari! Apa yang terjadi di markas kita?!”
Sambil pegangi mukanya yang masih sangat sakit akibat tamparan, si anak
buah menceritakan apa yang terjadi di markas di bukit Tapal Kuda tiga hari lalu.
“Belasan kawan-kawan menemui kematian! Yang lainnya melarikan diri entah
kemana. Yang datang itu jelas bukan manusia. Saya mendengar sendiri orang-orang
perempuan yang dibebaskan menyebutnya sebagai malaikat. Tubuh dan rambutnya
mengeluarkan hawa sedingin salju!”
“Manusia tolol!” kata Pendekar Bungkuk hampir berteriak saking marahnya.
“Mana ada malaikat turun ke bumi masa ini! Kau lekas kembali ke markas. Aku
segera datang setelah urusanku di sini selesai! Pergi!”
Tanpa berani menolak anak buah Pendekar Bungkuk mengiyakan perintah
pemimpinnya lalu tinggalkan tempat itu. Tapi dia tidak pernah kembali ke Bukti
Tapal Kuda.
Pendekar Bungkuk kembali naik ke atas pohon. Ketika matahari mulai
menggelincir ke arah barat, habislah kesabaran orang ini. Dikumpulkannya daun-daun
kering lalu membuntalnya membentuk sebuah bola sebesar buah kelapa.
Dinyalakannya api dan dibakarnya bola daun itu. Begitu api membakar bola daun,
bola itu dilemparkannya ke arah telaga, tepat jatuh di atas atap pondok bambu. Dalam
waktu singkat atap itu segera dikobari api. Akhirnya bangunan bambu di tangah
telaga itu lenyap, berubah menjadi reruntuhan hitam yang perlahan-lahan tenggelam
ke dalam telaga.
“Mampuslah!” ujar Pendekar Bungkuk sambil usap-usap tangannya satu sama
lain tada puas.
Tiba-tiba dari balik kerapatan pepohonan di sebelah selatan telaga muncul
seorang berpakaian seba biru sambil memegang lengan seorang perempuan separuh
baya. Si baju biru ternyata adalah seorang gadis berwajah jelita sedang yang
dipegangnya adalah ibunya sendiri. Begitu mereka sampai di tepi telaga, keduanya
sama terkejut ketika menyaksikan pondok di tengah telaga kini telah berubah menjadi
reruntuhan hitam yang masih mengepulkan asap.
“Ranti anakku, apa yang terjadi!” sang ibu berseru.
“Ada yang membakar pondok guru….” Jawab sang dara. “Ibu tunggu di sini,
biar saya menyelidik!”
Dara berbaju biru itu mendekati sebatang pohon kecil. Tangan kanannya
bergerak. Kraak!. Batang pohon sebesar paha itu patah. Patahan pohon
dilemparkannya ke tepi telaga lalu dia melompat ke atas batang patah dengan hanya
kaki kanannya saja yang menginjak batang sementara kaki kirinya dicelupkan ke
dalam air lalu digoyangkan seperti orang mendayung perahu! Batang kayu meluncur
cepat ke tengah telaga!
Di atas pohon Pendekar Bungkuk sempat leletkan lidah. Bukan saja karena
kagum melihat kehebatan ilmu meringankan tubuh si baju biru itu, melainkan juga
karena kecantikan wajahnya. Nafsu bejatnya langsung membakar darah. Sambil
menduga-duga siapa adanya gadis itu, Pendekar Bungkuk turun dari atas pohon, tepat
di saat mana sang dara juga kembali ke tepi telaga menemui ibunya.
“Tak ada tanda-tanda guru berada di sana. Agaknya beliau memang belum
kembali. Siapa yang sejahat itu membakar tempat kediaman beliau?!”
“Apa yang kita akan lakukan sekarang?” bertanya si ibu. “Kita tidak memiliki
rumah tinggal lagi….”
“Itulah yang tengah saya pikirkan, bu,” jawab si gadis.
“Kita harus waspada. Ingat pesan gurumu Ranti. Musuh besar yang pernah
diceritakannya itu bisa muncul setiap saat di tempat ini…..”
Baru saja ibu si gadis berkata begitu, semak belukar di samping kanan mereka
tersibak, menyusul terdengar suara tawa mengekeh. Lalu muncullah tubuh bungkuk
seperti kursi terbalik. Bukan saja kemunculan yang mendadak itu yang membuat ibu
serta anak terkejut, tapi potongan tubuh Pendekar Bungkuk di tambah pisau yang
menancap di mata kirinya membuat Ranti bersama ibunya tersurut dan tercekat ngeri.
“Pendekar Bungkuk…..” desis Ranti. Meski belum pernah bertemu tapi dari
ciri-ciri manusia itu si gadis segera dapat menerka siapa adanya orang tua di hadapan
mereka.
“Hah! Kau tahu diriku!” si bungkuk berkata datar dan diam-diam
sembunyikan keterkejutannya. “Pasti ada seseorang yang telah menceritakan diriku
padamu! Katakan siapa orangnya!”
“Jangan beritahu!” berbisik ibu Ranti.
Tapi sang dara merasa tidak ada yang peru disembunyikan. Maka dia lalu
menjawab “Guruku yang memberi tahu ciri-cirimu. Dan beliau adalah nenek sakti
berjuluk Pisau Maut Tanpa Bayangan!”
Mendengar jawaban itu Pendekar Bungkuk mendengus.
“Aku memang mencari perempuan sundal itu. Ternyata tidak datang di tempat
yang salah! Lekas katakan dimana gurumu!”
“Babi tua! Mulutmu kotor amat!” memaki Ranti. Dia jadi marah karena si
bungkuk menyebut nama gurunya dengan kotor. “Apa perlumu mencari guruku?!”
“Delapan belas tahun yang lalu dia melakukan kesalahan besar! Menghinaku
dengan menancapkan pisau celaka ini ke mataku! Hari ini aku datang untuk menagih
hutang piutang lama itu!”
Ranti tertawa mengejek. “Kalau delapan belas tahun lalu saja kau sudah
dipecundangi dan diberi hadiah pisau di mata kirimu, betul-betul tolol saat ini kau
berani unjukkan tampang dan mencari furu! Atau mungkin kau sudah memiliki bekal
tambahan ilmu? Jangan-jangan kau bakal dapat tambahan satu pisau lagi di mata
kananmu!”
Pendekar Bungkuk langsung merah mengelam mukanya mendengar ucapan
sang dara. “Mulutmu sama besar dan legekmu sama sombongnya dengan nenek
keparat itu!”
“Tua bangka bungkuk jelek! Jika kau terus-terusan bicara kotor, kurobek
mulut perotmu!”
Pendekar Bungkuk menyeringai. Semakin marah si gadis dia merasakan
semakin berkobar nafsu kejinya untuk dapat memperkosa.
“Aku memang bungkuk dan jelek,” katanya. “Tapi aku pandai bercumbu rayu.
Sekali kau meladeniku, seumur hidup kau akan membuntutiku seperti kerbau dicucuk
hidung! Ha…ha…ha…” Habis berkata begitu Pendekar Bungkuk tanggalkan bajunya.
Kelihatan tubhnya yang kurus kerempeng. Tulang dada, tulang bahu dan tulangtulang
iganya bertonjolan. Ketika orang uta ini siap menanggalkan pakaiannya, ibu si
gadis memeberi ingat “Anakku, lebih baik kita tinggalkan tampat ini. Iblis itu
bermaksud keji terhadapmu!”
Tapi Ranti justru menolak pergi. Sebelum Pendekar Bungkuk meloloskan
celananya gadis itu telah menyerbu dengan melemparkan tiga pisau terbang. Kalau
gurunya menyisipkan pisau-pisaunya di pakaian sebelah luar maka Ranti menyimpan
senjatanya di balik pakaian.
Tiga pisau melesat deras. Satu menjurus ke leher, satu ke dada dan lainnya ke
perut. Semula Pendekar Bungkuk menganggap sepele serangan itu. Tapi melihat daya
lesat pisau yang luar biasa disertai suara derunya yang angker, mau tak mau dia harus
selamatkan diri dan batalkan menanggalkan celana.
Sejak dikalahkan Pisau Maut Tanpa Bayangan dulu, selama delapan belas
tahun Pendekar Bungkuk telah mengkhususkan diri mempelajari seluk beluk dan
kelemahan pisau terbang. Karenanya saat itu tidak heran kalau tiga serangan pisau
yang ganas dapat dimusnahkannya. Dengan memiringkan tubuhnya ke kiri, pisau
yang mengarah leher lewat di sampingnya. Dua pisau lainnya dihantam dengan
pukulan tangan kosong hingga mental dan jatuh ke dalam telaga!
“Anak gadis….Kalau ilmu baru sejengkal jangan berani kurang ajar pada
Pendekar Bungkuk! Lebih baik kita main kurang ajaran di atas ranjang!
Ha…ha…ha….!”
“Manusia dajal! Jangan ganggu anakku! Pergi dari sini!”
Mata kanan Pendekar Bungkuk melirik sesaat. Dia menyeringai. “Perempuan,
melihat pada usiamu, tubuhmu pasti sudah mulai a lot. Tapi melihat wajahmu yang
lumayan aku besedia membagi kesenangan padamu setelah berpuas-puas dengan
anakmu!”
“Iblis laknat!” teriak Ranti. Kedua tangannya bergerak. Enam pisau menderu.
Erangannya itu disusul pula dengan pukulan tangan kosong mengandung hawa tenaga
dalam dahsyat.
“Bagus!” Pendekar Bungkuk memuji. Tubuhnya melsat ke atas.
Ranti menjadi penasaran ketika melihat sengah lusin pisaunya hanya
menembus udara kosong. Maka dia lipat gandakan pukulan tangan kosong. Namun
gadis ini terpekik ketika dari atas lawan balas dengan dua pukulan tangan kosong pula.
Tubuh si gadis bergetar. Ada hawa panas yang menyelubunginya. Dia coba bertahan.
Tapi kedua kakinya goyah. Akhirnya gadis ini rubuh terguling. Dalam keadaan
terguling itu Pendekar Bungkuk yang melayang turun langsung menindih dan
merangkul tubuh si gadis. Keduanya bergulingan lagi lalu jatuh ke dalam telaga. Pada
saat bergulingan dengan cepat Pendekar Bungkuk pergunakan kesempatan untuk
menotok tubuh Ranti. Meskipun totokannya kurang tepat tapi sudah cukup membuat
tangan dan kaki gadis iotu menjadi kaku!
Dalam keadaan tak berdaya seperti itu, Ranti diseret ke tepi telaga. Di sini
Pendekar Bungkuk yang sudah dilamun nafsu bejat, terlebih melihat pakaian biru si
gadis yang basah membuat liku-liku tubuhnya jadi menonjol, merobek baju Ranti lalu
siap menarik celana sang dara. Saat itulah ibunya berlari mendatangi dan berusaha
menendang punggung Pendekar Bungkuk. Tapi dengan tanpa berpaling Pendekar
Bungkuk tangkap kaki yang menendang lalu mendorong keras-keras. Perempuan itu
terpental dan terguling-guling, merintih kesakitan tak kuasa bangkit.
“Ha…ha…..! Gadis cantik! Tubuhmu sebelah atas sungguh bagus! Akan
kulihat bagian yng lain!” ujar Pendekar Bungkuk sambil tertawa bejat. Kedua
tangannya lalu menarik kaki celana biru si gadis. Celana itu merosot dengan cepat ke
bawah. Namun sebelum merosot lebih jauh satu bayangan putih berkelebat disusul
oleh menyambarnya satu gelombang angin deras sekali, membuat Pendekar Bungkuk
terbanting ke kanan sedang Ranti terguling jauh ke kiri. Hantaman angin ini bukan
saja menyelamatkan Ranti dari malu besar tapi sekaligus membuyarkan totokan yang
menguasai dirinya. Begitu bebas Ranti segera menghampiri menolong ibunya.
Penuh marah Pendekar Bungkuk ,elompat bangun dan memaki. “Siapa yang
minta mampus berani mengganggu kesenanganku!” Lalu dilihatnya seorang pemuda
berambut gondrong yang tidak dikenalnya, tegak bertolak pinggang sambil
menyeringai seenaknya!

SEBELAS
Tua bangka bau comberan! Apa tidak tahu kalau sebentar lagi Malaikat Maut
Berambut Salju akan datang menjemput byawa busukmu?!” Pemuda berambut
gondrong membentak.
“Anjing kurap! Kau yang akan kubunuh lebih dulu! Katakan siapa kau?!”
teriak Pendekar Bungkuk marah sekali.
“Kalau kau ingin bicara denganku, berpakaianlah yang benar! Auratmu
sebelah bawah jauh lebih buruk dari tampangmu!”
Sadar kalau saat itu celananya sudah merosot ke bawah, Pendekar Bungkuk
cepat tarik celananya dan ikatkan tali celana kuat-kuat.
“Nah, itu baru bagus….”
“Memang bagus! Sekarang bersiaplah untuk menerima mampus!”
Pendekar Bungkuk jatuhkan diri, berguling di tanah lalu lancarkan serangan
aneh. Inilah jurus “gelinding maut” yang selama bertahun-tahun diperdalamnya.
Pemuda yang diserang yakni bukan lain adalah Wiro Sableng, cepat melompat
untuk menghindar. Tapi hebatnya tubuh orang tua yang bungkuk itu tiba-tiba ikut
melesat ke atas mengikuti arah lompatan Wiro dan begitu melayang tangan dan
kakinya bergerak aneh. Wiro merasakan ada empat alur angin melabrak tubuhnya dari
empat jurusan. Mendadak sontak bandannya terasa ngilu dan panas. Pendekar ini
segera mempertahankan diri dengan lepaskan pukulan “tameng sakti menerpa hujan”.
Kini Pendekar Bungkuk yang jadi kaget. Empat alur angin sakti serangannya
seperti menerjang tempbok baja yang tak mungkin ditembus. Ketika dia lipat
gandakan tenaga dalamnya dadanya mendenyut sakit. Sebelum angin serangannya
bergerak membalik ke arah dirinya sendiri, dengan cepat orang tua ini susupkan diri
ke bawah lalu menghantam lagi ke atas!
Wiro berseru keras dan terpaksa jungkir balik di udara untuk dapat
mengelakkan serangan yang datang dari bawah itu. Kedua kakinya masih terasa ngilu
ketika menjejak telaga!
“Anakku, siapa pemuda berpakaian putih berambut gondrong itu……?” Ibu
Ranti berbisik pada anaknya.
“Sayapun tidak kenal. Lagaknya aneh kalau tidak mau dikatakan konyol……”
“Ibu khawatir dia pun tidak sanggup menghadapi iblis tua itu. Kita bisa celaka
semua…….”
“Jangan kawatir ibu,” jawab Ranti coba meyakinkan ibunya walau hatinya
juga agak kawatir.
Di sebelah sana, di kalangan perkelahian, jengkel dua kali serangannya
menemui kegagalan, Pendekar Bungkuk keluarkan suara menggembor. Kedua
tangannya diangkat ke dekat kepala. Dana tangan itu tampak menjadi ungu serta
mengepulkan asap. Ranti dan ibunya tercekat. Pendekar 212 tegak dan memandang
tak berkesip. Diam-diam dia segera menyiapkan pukulan “sinar matahari” di tangan
kanan hingga tangan itu sampai sebatas siku jadi tampak si putih perak berkilauan.
Lagi-lagi hal ini membuat Pendekar Bungkuk tertegun. Tapi hanya sesaat. Dia yakni
yakin, ilmu apapun yang dimiliki pemuda itu tak bakal sanggup menahan pukulan
sakti yang digodoknya selama delapan belas tahun dan diberi nama “jalur ungu
kematian!”
Perlahan-lahan kedua tangan Pendekar Bungkuk naik ke atas. Wiro mengikuti
dengan menggerakkan tangan kanannya. Ketika si orang tua siap mengahanam tibatiba
satu bayangan melesat. Satu sosok tubuh perempuan tua dengan pakaian penuh
disisipi pisau-pisau kecil bergagang putih tegak di hadapan kiri Pendekar Bungkuk.
Rambutnya yang panjang hitam tergerai lepas dan wajahnya ada cacat luka
memanjang.
“Pisau Maut Tanpa Bayangan!” berseru Pendekar Bungkuk tanpa menurunkan
kedua tangannya. Matanya yang hanya satu seperti menyala. Wajahnya membesi
tegang. “Akhirya kau muncul juga! Ingat penghinaanmu delapan belas tahun lalu?!
Hari ini kau harus membayarnya dengan nyawa busukmu!”
Nenek Pisau Maut Tanpa Bayangan tertawa pendek. Pandangannya tidak
lepas dari kedua tangan Pendekar Bungkuk. “Anjing tua ini rupanya telah memiliki
kepandaian baru yang berbahaya!” membatin si nenek. Lalu dia berkata “Pendekar
Bungkuk! Pelajaranku tempo hari rupanya tidak cukup membuatmu bertobat! Malah
membentuk komplotan rampok ganas. Merampas harta penduduk, emmbunuh dan
merampok! Dan saat ini kau berani muncul dengan omongan besar! Tidak sadar kalau
tubuh sudah bau tanah….!”
“Akupun tadi sudah bilang padanya bahwa sebentar lagi Malaikat Maut
Berambut Salju akan muncul mengambil nyawa busuknya. Nah….nah, sekarang
mungkin dia baru percaya!” yang menyeletuk adalah Pendekar 212 Wiro Sableng.
Sekilas Pisau Maut Tanpa Bayangan melirik pada pemuda yang tak
dikenalnya itu. Pendekar Bungkuk pergunakan kelengahan si nenek untuk
menghantam. Kedua tangannya dipukulkan.
“Guru! Awas!” terdengar Ranti berseru memperingatkan.
Dua jalur sinar ungu yang sangat menusuk mata menderu dahsyat. Di sebelah
bawah kedua sinar ini mengepul asap berbau busuk. Jelas pukulan sakti itu
mengandung racun sangat jahat!
“Semua tutup jalan pernafasan!” teriak Pendekar 212 Wiro Sableng. Dari
tempatnya berdiri berkiblat sinar putih. Udara di tempat itu serentak menjadi panas
luar biasa. Lalu terdengarlah suara ledakan dahsyat dua kali berturut-turut! Dua jalur
sinar ungu dan satu jalur sinar perak pukulan “sinar matahari” amblas buyar dengan
meninggalkan dua lobang besar di tepi telaga!
Semua orang terbatuk-batuk. Si nenek tampak pucat wajahnya. Pendekar
Bungkuk usap-usap dadanya yang mendenyut sakit sedang Ranti dan ibunya saling
berpelukan. Asap dan pasir membumbung ke udara. Ketika asap dan bubungan pasir
lenyap, tampaklah sesosok tubuh berpakaian serba putih, mengenakan ikat kepala
sapu tangan hitam pemberian Wiro. Di bawah ikat kepala, lebih panjang dari rambut
si nenek Pisau Maut Tanpa Bayangan. Saat itu pula semua orang di situ merasakan
ada hawa dingin sejuk. Asap ungu yang mengandung racun langsung sirna!
Kecuali Wiro, yang lain-lain tidak mengenali siapa adanya pemuda ini. Sambil
memandang tak berkesip ke arah Pendekar Bungkuk pemuda ini berkata “Delapan
belas tahun lalu, kau membunuh seorang lelaki bernama Jinggsuwu di sebuah rimba
belantara! Ingat….?!”
“Setan! Tentu saja aku ingat!” jawab Pendekar Bungkuk masih sambil
mengusapi dadanya yang terasa sakit. “Apa sangkut pautmu dengan peristiwa itu?!”
“Aku adalah anak orang yang kau bunuh itu….!”
Berkata sampai disitu terdengar jeritan ibu Ranti “Pandu…….anakku!”
Si pemuda berambut pituh merasakan tubuhnya bergetar. Matanya hanya
melirik cepat ke arah perempuan yang berteriak. Hatinya ingin langsung menghambur
menjatuhkan diri dalam pelukan ibu kandungnya. Tapi hal itu tidak dapat
dilakukannya sebelum dia menyelesaikan urusan dengan Pendekar Bungkuk. Kalau
Wiro hanya bisa tegak tertegun melihat hal yang tidak disangka-sangka itu maka
Pisau Maut Tanpa Bayangan hanya bisa berkomat-kamit memuji kebesaran Tuhan.
Delapan belas tahun lalu dia ingin mendapatkan anak itu. Kini dia muncul sebagai
seorang pemuda dan aaknya membekal ilmu kepandaian tinggi. Kalau tidak mana
mungkin dia berani datang untuk membuat perhitungan dengan si bungkuk. Walau
urusannya sendiri dengan Pendekar Bungkuk belum selesai namun si nenek merasa
lebih rela kalau pemuda yang ayahnya dibunh itu menyelesaikan urusannya lebih dulu
dengan iblis bungkuk itu.
Walau hatinya sangat terkejut namun Pendekar Bungkuk menjawab dingin
“Hem…..jadi kau orok yang diperebutkan dulu itu! Lantas apa maumu sekarang?!”
“Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa! Itu aturan hidup dunia
persilatan!”
“Ah! Rupanya kau sekarang sudah jadi kerak dunia persilatan!”
“Pendekar Bungkuk!” seru Wiro. “Dialah Malaikat Maut Berambut Salju yang
akan mengambil nyawamu. Aku sudah bilang tadi-tadi!”
Pendekar Bungkuk tidak perdulikan ucapan Wiro. “Jika kau benar Malaikat
Maut, aku terpaksa mengirimmu kembali ke akhirat!” ujar Penekar Bungkuk pula.
“Pandu, Dia sudah siap untuk mampus! Tunggu apalagi!” seru Wiro.
Pendekar Bungkuk mengangguk-angguk dengan sikap penuh mengejek.
“Sebelum kau ku bunuh agar dapat menyusul ayahmu, katakan siapa orang yang telah
mengambilmu jadi murid!”
“Namanya Datuk Perpatih Alam Sati dari puncak Merapi di pulau Andalas!”
jawab Pandu.
“Ah! Nama yang tidak dikenal! Gelar yang tak pernah didengar! Majulah
kalau kau memang ingin mampus cepat!” kata Pendekar Bungkuk pula.
“Justru aku memberi kesempatan padamu! Perlihatkan bagaimana dulu cara
kau membunuh ayahku!” jawab Pandu tanpa bergerak dari tempatnya tegak.
“Kalau itu maumu kau akan melihat dan menerima kematian yang sama!”
teriak Pendekar Bungkuk marah. Tangan kanannya dikepalkan. Tangan kanan itu
serta merta berubah menjadi ungu dan berasap. Didahului satu gemboran keras
Pendekar Bungkuk menerjang ke depan. Pandu gerakkan kepalanya. Udara luar biasa
dingin membungkus tempat itu. Gerakan Pendekar Bungkuk menyerang seperti
tertahan. Rambut putih yang tergerai di belakang punggung tiba-tiba berpilin dan
membabat ke depan, menghantam ke arah Pendekar Bungkuk.
“Mampus!” teriak Pendekar Bungkuk teruskan serangannya.
Terdengar suara ces….ces….ces….ces….sess….cessss lima kali berturut-turut.
Terdengar pekik Pendekar Bungkuk. Lima jalur sinar pukulan saktinya musnah. Lima
jari tangannya serta merta menjadi kaku terbungkus hawa dingin luar biasa!
Bagaimanapun dia mengerahkan hawa panas dalam aliran darahnya tetap saja dia
tidak mempu menggerakkan lagi jari-jari tanan kanannya. Rasa dingin itu perlahanlahan
merambas ke atas, membuat lengannya kini ikut kaku. Lalu bahunya. Ketika
hawa dingin itu menjalar ke leher, Pendekar Bungkuk jadi kelabakan. Dia berusaha
melakukan totokan di bagian tubuh yang penting. Hawa dingin berkurang sedikit tapi
masih terasa menjalar seperti berusaha menerobos totokan!
“Pemuda keparat! Jangan kira kau sudah menang!” Dari balik pakaiannya
orang tua ini keluarkan sebuah senjata aneh berupa tombak pendek yang ujungnya
bercabang tiga. Matanya berkilat-kilat. Senjat di tangannya itu merupakan senjata
baru yang menghabiskan waktu lima belas tahun utnuk membuatnya. Beberapa tokoh
persilatan telah menemui ajalnya oleh senjata itu. Kini dia mearas yakin pemuda di
hadapannya itupun tak akan sanggup menghadapi senjata saktinya. Kembali Pendekar
Bungkuk menggembor. Lalu melesat sambil kiblatkan senjatanya. Terdengar suara
bergaung. Tubuh Pandu serta merta dihujani serangan. Tiga jurus berlalu pemuda itu
tampak terdesak hebat. Semua orang menahan nafas ketika salah satu mata senjata
sempat merobek pakaiannya di bagian perut. Pendekar Bungkuk menyerbu terus
sementara hawa dingin dirasakannya semakin menjadi-jadi membuat tulangtulangnya
terasa ngilu sampai ke sumsum. Memasuki jurus ke enam Pandu mulai
mainkan rambut putihnya. Maka berubahlah rambut ini seolah-olah menjadi sebilah
pedang yang dapat membabat, menusuk dan membacok. Arus serangan Pendekar
Bungkuk terbendung mengendur dan kini dia yang balik terdesak.
“Celaka! Ilmu apa yang dimiliki keparat ini!” keluh Pendekar Bungkuk.
Gerakannya bertahan semakin kacau. Lututnya yang diserang hawa dingin terasa bertambah kaku hingga gerakannya utnuk mengelak menjadi lamban. Dan pada puncaknya ketika rambut putih [panjang itu membabat ke arah tangannya yang memegang senjata, orang tua ini terlambat selamtkan diri.
Craasss!
Lengan itu laksana ditebas benda tajam. Putus dan menyemburkan darah. Senjata yang dipegangnya bersama kutungan tangan mental jatuh ke dalam telaga. Pendekar Bungkuk melolong setinggi langit. Tubuhnya bertambah bungkuk. Saat itulah Pandu melompat dari depan. Tangan kanannya menderu ke arah batok kepala Pendekar Bungkuk
Praak!
Tepat seperti yang terjadi delapan belas tahun lalu ketika Pendekar Bungkuk memukul pecah kepala Jinggosuwu. Tubuhnya terkapar. Nyawanya lepas! “Pandu anakku!”
Sang ibu yang sejak tadi tidak dapat menahan diri Ranti mengikuti dari belakang. Pandu jatuhkan diri ke tanah, berlutut sambil memeluki ibunya. Sang ibu menangis keras. Lalu ingat pada anak gadisnya. “Pandu, ini kakakmu Ranti.
Ranti……pemuda ini adalah adikmu…..”
Langsung saja ibu dan kedua kakak beradik itu saling berangkulan dan bertangisan disaksikan oleh si nenek Pisau Maut Tanpa Bayangan dan Pendekar 212 Wiro Sableng. Penuh haru Pisau Maut Tanpa Bayangan hampiri ketiga orang itu. Sambil pegangi kepala Ranti, nenek ini berkata “Jadi ini orok yang dulu diperebutkan orang itu! Tuhan Maha Besar. Aku gembira sekali bisa berkumpul kembali. Aku pernah menceritakan bahwa Pendekar Bungkuk adalah musuh besarku. Tapi tak pernah menceritakan bahwa adalah dia juga yang menjadi pembunh ayah kalian…..”
Ibu Ranti usap wajahnya lalu berkata “Pandu, anakku berikan sungkemmu pada nenek sakti ini. Dialah yang selama delapan belas tahun memelihara kami dan mengambil kakakmu menjadi muridnya….”
Mendengar itu Pandu segera membalikkan diri dan menjura hormat sambil pegangi betis Pisau Maut Tanpa Bayangan. Si nenek tampak berkaca-kaca kedua matanya.
Ketika Pisau Maut Tanpa Bayangan melangkah menghampiri tiga anak itu, Pendekar 212 Wiro Sableng melangkah ke tepi telaga dan duduk di sini sambil memandangi air telaga. Bukan saja dia sangat terharu menyaksikan keadaan sahabatnya Pandu dan kakak seta ibunya itu, namun apa yang dilihatnya itu membuat jiwanya terpukul karena ingat akan nasib dirinya sendiri. Bagaimanapun sedihnya kisah perjalanan mereka namun mereka masih bisa berkumpul. Jauh berbeda dengan nasib dirinya. Ayahnya dibunh orang. Ibunya kemudian menemui kematian. Seumur hidup dia tidak pernah bertemu dan mengenali orang tuanya. Wiro tidak tahu entah berapa lama dia termenung di tepi telaga itu sampai satu tangan yang halus memegangi bahunya.
“Sahabatku, mengapa kau memisahkan diri dan termenung di tempat ini….”
Wiro berpaling. Yang memegang bahu dan bicara padanya adalah gadis itu.
Ranti kakak Pandu. Si gadis lalu memegang lengannya, menariknya agar berdiri.
Wiro usap-usapkan mukanya lalu berusaha tersenyum. Sambil bergandengan tangan
dua sahabat baru itu melangkah ke arah Pisau Maut Tanpa Bayangan, Pandu serta
ibunya yang tegak menunggu.

TAMAT

IZRO'IL
WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212


Badai Di Parang Tritis


1
SIANG ITU laut selatan tampak cerah. Ombak memecah tenang di pantai Parangtritis. Burungburung laut terbang berkelompok-kelompok dan angin bertiup membendung teriknya sinar sang surya. Belasan perahu tampak berjejer di tepi pasir. Para nelayan sibuk memperbaiki dan membenahi jaring masingmasing untuk persiapan turun ke laut malam nanti. Di tepi pantai, dibawah jejeran pohon-pohon kelapa anak-anak ramai bermain-main. Baik nelayan-nelayan maupun anak-anak itu semuanya serta merta memalingkan kepala ketika telinga mereka menangkap suara tiupan seruling yang keras dan merdu. Yang meniup seruling ternyata adalah seorang bocah bertelanjang dada. Anak ini meniup suling bambunya sambil duduk di atas punggung seekor kerbau yang melangkah di sepanjang jalan di teluk.
"Anak si Kantolo itu pandai sekali meniup suling. Mengalahi kepandaian ayahnya...." berkata salah seorang nelayan lalu menyedot rokok kawungnya dalam-dalam.
Ketika anak dan kerbau bergerak menjauhi tepi pasir seorang nelayan berseru, "Bocah pintar! Berhenti saja di bawah pohon kelapa sana! Teruskan meniup sulingmu agar kami terhibur!"
Anak di atas punggung kerbau tertawa lebar. Dia mengacungacungkan suling di tangan kanannya dan terus berlalu, tidak mengacuhkan permintaan orang.
Saat itu tiba-tiba terdengar suara ringkik kuda keras dan berkepanjangan. Dari arah berlawanan jalannya kerbau, muncul sebuah delman ditarik seekor kuda coklat yang lari kencang seperti dikejar setan sambil tiada hentinya meringkik dan melejang-lejangkan kaki. Anak yang tadi meniup suling cepat-cepat membawa kerbaunya ke tepi jalan. Ketika delman itu lewat di depannya si anak tiba-tiba keluarkan pekik ketakutan, melompat turun dari punggung kerbau dan lari sekencang-kencangnya ke arah nelayan-nelayan yang ada di sepanjang jejeran perahu. Mukanya pucat dan nafasnya memburu. "Ada apa Kambali?!" bertanya seorang nelayan.
"Del.... delman itu " bocah bernama Kambali menunjuk dengan muka masih pucat dan tangan gemetar ke arah delman yang saat itu hampir lenyap di kelokan teluk. Semua orang memandang ke jurusan yang ditunjuk. Memang ada keanehan. Di atas delman, dari kejauhan para nelayan sama sekali tidak melihat kusir ataupun penumpang.
Tetapi Kambali yang tadi sempat dilewati kendaraan itu melihat jelas tiga sosok tubuh bersimbah darah malang melintang di atas delman!
"Kenapa delman itu Kambali?" tanya nelayan yang lain. Nelayan Satunya ikut bicara, "Bukankah itu delman milik Ageng Lontar, juragan kita?"
"Eh, kau betul! Kambali katakan lekas! Kau melihat sesuatu!
Mengapa wajahmu pucat dan tubuhmu menggigil anak?!"
"Ada tiga orang.... ada tiga orang di atas delman itu," menerangkan Kambali.
"Semuanya rebah malang melintang. Tubuh mereka penuh luka bergelimang darah.... Saya takut ...."
"Anak ini tidak dusta! Sesuatu telah terjadi!"
"Jangan-jangan...."
"lebih baik kita berlari mengejar delman! Kuda itu tampaknya lari
ke jurusan rumah kediaman Ageng Lontar!"
Tanpa diberi aba-aba lagi, semua nelayan yang ada di teluk serta
merta lari berhamburan ke arah lenyapnya kuda penarik delman tadi.
Mereka lari menuju rumah kediaman Ageng Lontar, juragan ikan yang
memiliki belasan perahu sekaligus juragan ternak yang mempunyai
puluhan kerbau dan sapi, belum lagi kambing itik dan ayam. Di kaki
bukit sebelah timur sawahnya puluhan petak. Ageng Lontar memang
dikenal sebagal orang kaya raya di pantai selatan. Dia terkenal bukan
saja karena kekayaannya tetapi karena sikap pemurahnya kepada
orang-orang yang bekerja untuknya, juga orang-orang lain yang
sewaktu-waktu membutuhkan pertolongan apa saja. Karena itulah
penduduk setempat telah sama-sama bersepakat umuk memilihnya
sebagal Kepala Desa pada pergantian jabatan bulan di muka.
Ketika nelayan-nelayan teluk Parangtritis itu sampai di rumah
kediaman Ageng Lontar, halaman rumah itu telah penuh dengan
kerumunan manusia. Selusin lelaki tampak menjirat leher dan empat
kaki kuda coklat hingga binatang yang tadi seperti gila ini kini
angsrok ke tanah tak berkutik. Dan di dalam delman yang tersungkur
miring ke tanah, tampaklah pemandangan yang mengerikan.
Seperti yang sebelumnya dilihat dan diterangkan bocah bernama
Kambali, di dalam delman menggeletak tiga sosok tubuh bersimbah
luka dan darah mulai dari kepala hingga ke tubuh. Meskipun wajahwajah
itu rusak mengerikan namun semua orang masih dapat
mengenali dengan jelas siapa adanya ketiga orang itu.
Yang pertama, yang menggeletak paling bawah lantal delman
adalah Ageng Lontar sendiri. Pakaiannya yang berwana kelabu
tampak merah dan basah oleh darah. Pakaian itu robek-robek di
beberapa tempat menyingkapkan luka-luka mengerikan. Muka Ageng
Lontar seperti dicincang. Hancur mengerikan. Hidungnya hampir
sumplung dan salah sebuah dari matanya tak ada lagi di rongganya!
Orang kedua yang bernasib malang di atas delman adalah istri
Ageng Lontar. Luka-luka pada wajahnya tidak seberapa dan tubuhnya
hampir seperti tidak berpakaian lagi. Mungkin dirobek sebelum atau
sesudah dia dibunuh. Dan berat dugaan orang banyak, perempuan
yang jauh lebih mudah dari Ageng Lontar ini telah diperkosa karena
pakaiannya di sebelah bawah tersingkap menusuk mata!
Korban ketiga yang menggeletak di lantai delman sebelah depan
adalah pemuda yang dikenal dengan nama Jajamat, orang yang telah
bekerja lebih dari lima tahun sebagai kusir kereta keluarga Ageng
Lontar.
Semua orang yang berkerumun di tempat itu merasakan kuduk
merinding dan tubuh menggeletar. Siapa yang telah melakukan
pembunuhan keji biadab seperti ini? Dan hampir tak dapat dipercaya
ada orang yang mau membunuh orang sebaik Ageng Lontar, bahkan
juga istri serta kusir delman! Siapa pelaku jahanam itu? Gerombolan
rampok? Tak ada rampok malang melintang di teluk Parangtritis
bahkan di pantal selatan waktu itu. Musuh? Semua orang tahu Ageng
Lontar tak pernah punya musuh! Lalu siapa ?!
Pertanyaan itu belum lagi terjawab. Tiba-tiba dari arah rumah
besar terdengar pekik perempuan. Seorang gadis menghambur lari ke
arah delman sambil tiada henti berseru memanggil. "Ayah.... ayah!"
Tapi begitu sampai di depan delman dan menyaksikan pemandangan
di dalam kereta, si gadis langsung pingsan dan rubuh setelah lebih
dahulu memiawik dahsyat! Beberapa orang segera menggotongnya ke
dalam rumah.
"Mayat-mayat ini harus diurus! Ambil usungan dan bawa ke
dalam rumah!" terdengar seorang berbicara. Namun belum ada yang
bergerak, satu suara laln terdengar lantang.
"Menyingkir! Apa yang terjadi disini?"
Orang banyak yang berkerumun di sekitar delman palingkan
kepala. Mereka melihat munculnya seorang laki-laki bertubuh kekar,
berambut kelabu dan memegang sebuah tongkat sepanjang tiga
jengkal. Orang ini adalah Ki Demang Wesi, Kepala Desa Parangtritis.
"Ki Demang! Untung sampean datang!" seorang nelayan
membuka mulut.
"Juragan Ageng Lontar dan istrinya dibunuh orang. Juga kusir
Jajamat!"
Ki Demang Wesi mendorong dan menyeruak diantara kerumunan
orang. Langkahnya terhenti didepan delman. Parasnya berubah dan
rahangnya menggembung.
"Hanya iblis yang bisa melakukan kekajaman seperti ini!" desis
Kepala Desa itu. "Kalian semua harus membantu atau menemukan si
pembunuh!"
"Kami akan membantumu Kepala Desa!" jawab orang banyak.
Ki Demang memandang berkeliling. Sepasang matanya berhenti
bergerak dan pandangannya tertancap pada seorang pemuda
bertampang tolol, berambut awut-awutan dan tegak memandang ke
arah delman sambil tiada henti geleng-gelengkan kepala. Pakaian
putihnya yang lusuh di bagian dada lampak ada warna merah.
Percikan darah.
"Kurasa kalian tidak perlu bersusah payah membantuku! Aku
sudah tahu siapa pembunuhnya!" ujar Ki Demang yang membuat
semua orang terkejut dan memandang tak berkesip pada Kepala Desa
mereka itu. Ki Demang angkat tangan kanannya, menunjuk tepat-tepat
pada pemuda berpakaian putih lalu berseru, "Tangkap pemuda
gondrong itu!"
Beberapa orang dengan cepat mencekal kedua tangan si pemuda.
Ada yang menelikung lehernya, ada pula yang menjambak rambutnya.
"Hai! Apa-apaan in?!" teriak si pemuda sambil coba meronta
untuk lepaskan pegangan orang banyak. Tapi tidak bisa, dan saat itu
semakin banyak orang yang ikut mencekalnya.
"Kepala Desa! Apa-apaan ini?!" pemuda itu kembali bertanya.
"Jangan banyak tanya! Kaulah pembunuh suami istri Ageng
Lontar dan juga kusir delman!"
"Tuduhan gendeng!" teriak si pemuda tampak marah. "Aku
barusan saja sampai di tempat ini! Bagaimana enak saja kau
menuduhku?!"
"Kau orang asing di sini! Siapa kau akan segera aku usut. Noda
darah di pakaianmu menjadi bukti bahwa kau ada sangkut pautnya
dengan kematian ketiga orang dalam delman!"
Si pemuda memperhatikan percikan darah di pakaiannya. Lalu
berkata, "Darah ini memang darah…"
"Nah apalagi! Kau sudah mengaku!" ujar Ki Demang.
"Kata-kataku belum habis! Darah ini memercik dari lantai
delman, tepat ketika delman rubuh dan aku sampal didekatnya! Lihat
saja, saat inipun masih ada darah yang menetes dari lantai delman!"
"Siapa percaya ucapanmu!" sahut Ki Demang ketus. "Sebagian
dari kalian bawa pembunuh itu ke Balai Desa. Selebihnya segera
mengurus jenazah-jenazah ini!"
Melihat orang tetap menuduh, si pemuda jadi penasaran. Kaki
kanannya bergerak. Dua orang yang mencekalnya jatuh tergelimpang.
"Pembunuh biadab! Sekali lagi kau berani melawan akan kusuruh
semua orang di sini mencingcangmu!" Ki Demang Wesi berteriak
marah dan mengancam.
"Aku tidak bersalah! Aku bukan pembunuh! Siapa yang berani
melarang aku membela diri!"
Mendengar ucapan itu KI Demang Wesi jadi beringas. Lalu
berteriak, "Bunuh pemuda itu!"
Orang banyak berteriak ikut terangsang marah. Berbagai senjata
dihunus.
"Kepala Desa, kalau kau tidak menyuruh orang-orang ini
melepaskanku, jangan salahkan aku apa akibat yang terjadi!"
Ki Demang menyeringai. "Manusia biadab! Lagakmu hebat
sekali! Biar aku yang pertama sekali menghajarmu!" Habis berkata
begitu Ki Demang Wesi tusukan tongkat di tangan kanannya ke arah
mata kiri pemuda yang berada dalam keadaan dicekal orang banyak.
Jauh sebelum menjadi Kepala Desa, Ki Demang Wesi adalah
murid keempat seorang guru silat di Bukit Tunggul. Kabarnya guru
silat itu juga memiliki berbagai kesaktian yang kemudian diturunkan
pada Ki Demang Wesi. Lalu ada pula kabar bahwa Ageng Lontar
masih punya kaitan atau hubungan dengan guru silat tersebut karena
Ageng Lontar pernah pula berguru pada adik guru di Bukit Tunggul.
Dengan kata lain antara Ageng Lontar dan KI Demang Wesi ada
hubungan dekat lewat guru masing-masing.
Pemuda yang diserang dengan tongkat ke arah mata kirinya tentu
saja terkejut melihat bahaya yang mengancamnya. Apalagi dia dapat
merasakan adanya sambaran angin mendahului tusukan itu.
Gerahamnya bergemelatakan menahan marah namun marah itu
akhirnya meledak juga. Didahului satu bentakan si pemuda
menyikutkan kedua tangannya. Bersamaan dengan itu tubuhnya dia
jatuhkan ke belakang. Kaki kanannya menendang ke depan.
Empat orang mencekal si pemuda terpelanting dan jatuh
bergelimpangan di tanah. Meskipun mereka tidak cidera namun
masing-masing mereka merasakan mereka seperti diserang demam
panas.
Untuk beberapa lamanya ke empatnya terhampar ke liangan.
Ki Demang Wesi sendiri yang tidak menyangka si pemuda dapat
loloskan diri dari begitu banyak orang yang mencekalnya jadi lebih
terkejut ketika tusukan tongkatnya yang sanggup menembus mata dan
batok kepala si pemuda dapat dielakan bahkan kini satu tendangan
mematikan menghantam ke arah selangkangannya!
Maklumlah kini Kepala Desa itu bahwa pemuda yang dituduhnya
sebagai pembunuh suaml istri Ageng Lontar dan kusir delman Jajatma
bukanlah seorang pemuda sembarangan, tapi pasti sekali memiliki
"isi".
"Bagus! Rupanya kau mengusal ilmu silat! Jangan harap dengan
kepandaianmu itu kau bisa lolos dari tempat ini!" Lalu KI Demang
Wesi susul ucapannya itu dengan teriakan agar semua orang yang ada
di tempat itu melakukan pengurungan, jangan sampai si pembunuh
lolos.
"Kepala Desa, aku bilang sekali lagi padamu!" sentak pemuda
berpakaian putih itu. "Aku tidak melakukan pembunuhan!"
"Siapa percaya padamu!" tukas Ki Demang Wesi. Tongkat di
tangan kanannya diputar seperti titiran dan mengeluarkan suara
menderu. Dengan senjata ini kembali dia menyerang pemuda itu.
Yang diserang tak tinggal diam. Dia berkelebat beberapa kali.
Memasuki jurus kedua terdengar pemuda ini berseru, "Lihat tongkat!"
Ki Demang Wesi tidak perdulikan bentakan orang. Sebagai orang
silat yang berpengalaman dia tidak mau tertipu oleh berbagai gerak
ataupun ucapan lawan. Tongkatnya menderu ke arah dada lalu
menusuk ke arah leher. Tapi Kepala desa ini jadi kaget ketika
dirasakan dan dilihatnya sendiri tangan kiri lawan tahu-tahu sudah
memegang ujung tongkatnya padahal ujung senjata itu hanya tinggal
seujung kuku dari tenggorakan lawan!
Kepala Desa Parangtritis coba selamatkan senjatanya dari
rampasan lawan, tetapi si pemuda telah lebih dulu membetot! Kini
giliran si pemuda yang jadi kaget. Karena ketika dia merasa sudah
berhasil merampas senjata lawan, ternyata yang dipegangnya hanyalah
bagian tongkat yang berupa sarung belaka. Sedang di tangan kanan Ki
Demang saat itu tampak bagian lain dari tongkat yang berbentuk hulu
lengkap dengan mata pisaunya yang panjang. Ternyata tongkat itu
adalah sebuah golok pendek yang tajam berkilauan!
Ki Demang Wesi menyeringai mengejek.
"Pembunuh, kau telah tolong membukakan sarung senjataku.
Berarti kau memang sudah siap untuk menerima kematian sesuai
dosamu!"
Si pemuda balas mengejek. "Lagakmu seperti malaikat maut saja!
Aku tidak mau meneruskan perkelahian ini karena aku memang bukan
pembunuh!" Habis berkata begitu pemuda ini bantingkan sarung golok
ke tanah. Benda itu menancap di tanah sampai setengahnya.
"Kau kira aku takut dengan pertunjukanmu! Di tempat lain kau
boleh pamer ilmu anak muda! Tapi di hadapanku kau harus serahkan
nyawa!" Ki Demang Wesi lalu menyerbu dengan golok pendeknya.
Senjata ini mengeluarkan angin deras menebar hawa dingin. Pastilah
ini sebuah senjata mustika andalan.
Lima jurus Kepaia Desa itu menyerbu dengan ganas. Goloknya
menyambar dan menusuk ke sana ke mari. Tetapi dia seolah-olah
berkelahi sendiri karena setiap serangannya hanya mengenai tempat
kosong. Lawannya ternyata gesit sekali dan seperti dapat membaca
serangannya, dia mendahului bergerak untuk menghindari tusukan
atau sambaran golok. Kepala Desa itu jadi marah dan juga malu. Dia
merasa dipermainkan di sekian banyak mata penduduk Parangtritis.
Didahului oleh bentakan garang dia rubah permainan silatnya.
Tubuhnya kini melompat-lompat ke udara seperti bola karet yang
membal. Golok di tangan kanannya berkiblat secara aneh. Dua jurus
berlalu terdengar suara brettt! Dada pakaian si pemuda robek besar.
Pemuda ini berseru kaget dan melompat mundur! Golok Ki Demang
Wesi bukan saja merobek pakaiannya di bagian dada, tapi kulit
dadanya juga ada yang ikut tergurat!
"Kepala Desa sialan…" maki sipemuda. "Kau merobek
pakaianku! Kau harus menelannya sekalian!" Lalu semua orang
melihat pemuda itu merobek sendiri pakaiannya di bagian depan.
Robekan kain pakaian dibuntalnya lalu dia melangkah mendekati
Kepala Desa itu. Tentu saja Ki Demang Wesi kembali menyambutnya
dengan serangan golok dalam gerakan melompat-lompat yang aneh
seperti tadi. Hanya saja kali ini dia kecele. Kehebatan dan keanehan
ilmu silatnya itu menjadi tidak berguna karena pemuda lawannya kini
telah pula mengeluarkan jurus dan gerakan aneh. Tubuhnya sepertl
orang mabuk sempoyangan kian kemari. Bagi Ki Demang keadaan
tubuh lawan seperli itu merupakan sasaran serangan yang ernpuk.
Tapi sungguh aneh, setiap dia menyerang, tubuh atau kepala lawan
sudah bergerak ke jurusan lain sementara tangannya yang memegang
buntalan kain bergerak-gerak berusaha menggapai ke arah mulutnya!
Ki Demang merangsak sekali lagi. Inilah kali terakhir dia mampu
menyerang. Karena sesudah itu terdengar suaranya seperti tercekik.
Sesaat kemudian halaman rumah Ageng Lontar jadi ramai oleh suara
tawa orang banyak, padahal di situ masih tergelimpang tiga jenazah
yang belum sempat diurus!
Apa yang terjadi dan apa yang kini disaksikan penduduk desa? Di
depan mereka tampak Ki Demang Wesi berdiri dengan mata melotot
dan mulut tersumpal potongan kain. Lalu celana luar dan celana
dalamnya kelihatan merosot sampai ke lutut hingga aurat terlarangnya
tersingkap dengan jelas. Kepala Desa ini sadar penuh apa yang terjadi
dengan dirinya, tapi dia tak bisa menggerakan tangan untuk menarik
buntalan kain yang menyumpal mulutnya, juga tidak mampu untuk
menarik celananya ke atas. Kepala Desa ini ternyata berada dalam
keadaan kaku tegang akibat satu totokan yang bersarang di pangkal
lehernya. Karena perhatian orang banyak hampir semuanya tertuju
pada sang Kepala Desa, tidak satupun menyadari kalau pemuda
berpakaian putih dan berambut gondrong awut-awutan tadi tak ada
lagi di tempat itu.
***
2
MESKIPUN HATINYA kini lega dapat meninggalkan desa di
Parangiritis itu namun masih ada satu tanda tanya yang mengganjal
hati si pemuda. Siapa yang telah membunuh Ageng Lontar dan
istrinya serta kusir delman secara biadab seperti itu. Ingin sekali ia
menyingkap tabir rahasia pembunuhan itu. Namun selama orang desa
masih mencurigainya sebagai pembunuh akan sulit baginya untuk
bergerak. Apalagi dia masih ada satu keperluan penting di timur.
"Kepala Desa sialan! Enak saja dia menuduhku!" Si pernuda
memaki sendirian. Diperhatikannya pakaian putihnya yang robek
besar di bagian dada, kotor bernoda debu dan darah sambil jalan
akhirnya pakaian itu dibuka lalu dilemparkannya ke semak-semak di
tepi jalan. Pada saat itu pula tiba-tiba terdengar suara orang
mendamprat.
"Manusia sial dangkalan! Siapa kau yang berani melemparkan
pakaian busuk ke atas kepala orang!"
Sf pemuda yang telah berjalan beberapa langkah serta merta
berhenti dan palingkan kepalanya. Astaga! Di pinggir jalan yang
barusan dilewatinya tampak berjongkok seorang berpakaian serba
hitam. Tak dapat dia duga apakah orang ilu lelaki atau perempuan
karena sekujur kepalanya sampai ke wajah tertutup oleh pakaian putih
yang tadi dilemparkannya!
"Aneh! Tadi waktu lewat di situ tak kulihat ada orang sama
sekali! Mengapa tahu-tahu dia muncul di situ dan gila betul! Masakan
aku mau-mauan mencampakkan bajuku menutupi kepalanya begitu
rupa!"
Buru-buru pemuda yang kini bertelanjanq dada itu melangkah
mendekati orang yang jongkok di tepi jalan, lalu mengambil
pakaiannya. Begitu pakaian diangkat tampaklah wajah orang itu.
Ternyata dia seorang nenek bermuka hitam yang ketika menyeringai
tampaklah deretan gigi-giginya yang terbuat dari emas berwarna
kuning berkilat-kilat.
"Hai! Pendekar 212 Wiro Sableng rupanya!" si nenek menegur,
membuat si pemuda yang memang Wiro Sableng menjadi terkejut
karena tidak menyangka nenek itu mengenal dirinya sedang ia sendiri
tidak pernah bertemu perempuan tua itu sebelumnya. "Aku sudah
lama mendengar kekonyolanmu pendekar muda. Hanya saja tidak
menduga kalau begini kurang ajar perilakunya terhadap orang tua!
Berani melemparkan pakalan busuk sampai-sampai menutupi muka
dan kepalaku!
Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya. Dia cepat-cepat duduk di
hadapan si nenek, memberi hormat membungkukkan tubuh lalu
berkata, "Aku terima salah nek! Bukan maksudku berlaku kurang ajar.
Tapi waktu lewat tadi sama sekali tidak melihatmu di sini. Kalau kau
memang ada di sini masakan aku berani berlaku sekurang ajar itu!"
Si nenek tertawa tergelak-gelak. Gigi-gigi emasnya kembali
tampak berkilat-kilat terkena sinar matahari. Wiro sendiri tak habis
pikir bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Jangan-jangan si nenek
sengaja mempermainkannya dan tampaknya dia memang bukan
sembarang orang tua.
"Pendekar utama tidak memiliki mata tajam! Sungguh tak bisa
kupercaya!" berkata si nenek sambil geleng-geleng kepala. Ucapannya
bernada keras tapi wajahnya yang keriput terus saja mengumbar
senyum. "Kalau golok terbang atau panah beracun yang menyambar
dari balik semak belukar dan kau tidak sempat melihatnya berarti kau
akan mati konyol anak muda."
IZRO'IL
Badai Di Parang Tritis


Wiro yang tak mau berdebat dengan si nenek dan menganggap
diri merasa salah hanya manggut-manggut saja lalu berkata, "Harap
maafkan diriku..."
Si nenek balas mengangguk. "Aku terima maafmu, kulihat kau
tidak berbaju, apa sengaja hendak memamerkan senjata mustika
Kapak Maut Naga Geni 212 itu.... ?"
Astaga! Wiro baru sadar. Dengan membuang pakaian dan
setengah telanjang seperti itu dia tidak menyadari senjata saktinya
Kapak Maut Naga Geni tersembul dari balik pinggang celana. Karena
tidak membawa bekal pakaian mau tak mau dia harus mengenakan
kembali pakaiannya yang sudah kotor dan robek besar. Ketika dia
hendak mengambil pakaian itu dari tanah, si nenek tertawa lalu
berkata,
"Aku memiliki sehelai pakaian putih. Masih baru. Ukurannya
kurasa pasti cocok dengan tubuhmu!" lalu perempuan tua itu
menggerakkan tangan kanannya ke balik punggung. Sesaat kemudian
dia menarik sehelai pakaian putih yang memang ternyata masih sangat
baru. Pakaian itu dilemparkannya ke pangkuan Wiro. "Pakailah!"
"Ah, pakaian bagus!" seru Wiro sambil mengembangkan pakaian
putih berlengan panjang dengan potongan kerah yang menarik. "Kau
baik sekali nek. Terima kasih… " Wiro segera berdiri dan kenakan
pakaian putih itu. Ternyata memang cocok sekali dengan tubuhnya.
Pakaian putih itu terasa enak dipakai. Pada bagian dada sebelah kiri
tampak sulaman benang merah bergambarkan mahkota dan keris
silang.
"Kau senang mengenakan pakaian itu pendekar muda?" si nenek
bergigi emas bertanya.
"Senang sekali nek, sedap dipakainya. Tapi kalau aku boleh
bertanya apa arti sulaman gambar mahkota dan keris bersilang ini?"
"Ah, itu hanya sekedar gambar yang disukai pembuatnya. Apakah
mahkota, keris atau gambar ular tak ada bedanya…" Sambil bicara si
nenek mematahkan sepotong belukar kering di samping jalan lalu
dengan potongan kayu itu dia menggurat-gurat di tanah. Ada garis
panjang, ada yang berbentuk bola, garis bersilang dan terakhir sekali
si nenek membuat garis panjang mulai dari tepi jalan di sebelah
depannya sampai tepi jalan di dekat dia duduk.
"Lukisan apa yang kau buat nek?" Wiro bertanya.
"Ah, hanya iseng saja. Orang sepertiku mana pandai melukis.
Aih kulihat kau benar-bener gagah dengan pakaian itu pendekar muda.
Aku jadi teringat pada Suto Engging. Wajah dan potongan tubuhmu
banyak kesamaannya dengan dirinya di masa muda."
"Siapa orang bernama Suto Engging itu nek?"
"Kekasihku di masa muda, Lima tahun yang lalu kami berpisah.
Dia ke barat aku ke timur. Tak pernah kudengar lagi kabar tentang
dirinya. Tapi aku yakin dia masih hidup!"
"Ah, pengalaman hidupmu tentu banyak sekali nek. Dan aku
yakin di masa muda kau pasti memiliki paras cantik jelita.
Sekarangpun kau masih kulihat cantik."
Si nenek tampak merah mukanya. Tapi hatinya berbunga-bunga
mendapat pujian itu dan tertawalah dia mengekeh. "Pendekar muda,
kau pandai menyenangkan hati orang. Pangalaman hidup jadi bekal
pelajaran masa depan bagi setiap orang. Pengalaman hidup itu pula
yang mengajarku agar tidak melakukan perkawinan dengan siapapun!
Dan percaya atau tidak anak muda sampai hari ini aku yang tua renta
masih seorang perawan sejati! Hik… hik... hik...!"
Wiro merasa tenggorokannya seperti tercekik dengan keterangan
si nenek. Dia cepat-cepat mengangguk dan berkata, "Aku percaya nek.
Dan aku melihat buktinya. Meskipun tua kulihat tubuhmu masih
kencang, tak banyak guratan di wajahmu…"
Si nenek tertawa panjang sampai keluar air mata.
"Nek, aku harus melanjutkan perjalanan. Kau tahu namaku dan
pasti tahu banyak tentang diriku. Sebelum kita berpisah maukah kau
mengatakan siapa dirimu ini?"
"Waktu kecil aku diberi nama Tuwini Jenti. Sudah tua begini
orang-orang memanggilku Nenek Hitam Bergigi Emas.
Hik...hik..hik..."
"Terima kasih kau telah menerangkan siapa dirimu. Juga terima
kasih lagi atas pemberian pakaian ini. Aku minta diri sekarang!" Wiro
menjura dua kali berturut-turut. Ketika dia hendak melangkah pergi
dan pada saat kaki kanannya mendekati garis panjang yang tadi dibuat
si nenek dengan belukar kering, mendadak Wino merasakan seperti
ada satu kekuatan yang mendorong kaki kanan itu hingga dia tidak
bisa meneruskan langkah, malah kakinya terbanting ke belakang.
Dicobanya sekali lagi, sekali lagi, sekali lagi lalu dengan
mengerahkan seluruh tenaga tetapi tetap saja dia tidak mampu
melewati garis di tanah itu! Maka diapun berpaling pada nenek yang
saat itu masih tetap jongkok di tepi jalan sambil senyum-senyum.
"Kau memiliki ilmu kesaktian yang mengagumkan, mataku jadi
terbuka betapa luas dan tingginya ilmu kepandaian dan kesaktian di
atas dunia ini. Dan apa yang aku miliki sekarang hanya merupakan
satu tetesan kecil belaka! Nek, aku mau jalan. Mohon diberikan
petunjuk...."
Si nenek tersenyum. Dalam hati dia berkata, "Pemuda ini begitu
sopan penuh peradatan. Mengapa banyak orang mengatakannya
kurang ajar, konyol dan bersifat seenaknya? Ah, lama-lama aku bisa
jatuh hati padanya"
"Nek, kau seperti melamun. Aku minta petunjuk bagaimana harus
melewati garis aneh yang kau gurat di tanah ini..."
"Oh itu! Mudah saja anak muda. Pergunakan tangan kirimu
menghapus garis itu. Setelah garis hapus kau bisa lewat.... " menjawab
Nenek Hitam Bergigi Emas.
Wiro lakukan apa yang dikatakan si nenek. Dia membungkuk.
Dengan telapak tangan kirinya dihapusnya guratan garis yang
memanjang di tanah jalanan. Setelah hapus dia coba melangkah.
Ternyata dia kini bisa melangkah. Kekuatan aneh yang tadi
mendorong tak ada lagi.
"Kau luar biasa nek!" memuji Wiro.
Si nenek tertawa. Dia gerakkan tangan kanannya ke mulut.
terdengar suara kraak. Apa pula yang dilakukan perempuan ini, pikir
Wiro. Tiba-tiba si nenek ulurkan tangannya seraya berkata,
"Ambillah! Mungkin ada gunanya di saat kau kesusahan..."
Wiro ulurkan tangannya. Si nenek letakkan sesuatu ke telapak
tangan si pemuda. Ketika diteliti ternyata sebuah gigi emas yang
masih basah oleh ludah! Wiro kerenyitkan kening.
"Aku tidak berani menerima pemberianmu ini nek," kata
Pendekar 212.
"Kau jijik?!"
"Tidak..." jawab Wiro agak gagap karena memang walau gigi
palsu itu terbuat dari emas namun ada rasa jijik dalam dirinya. "Jika
ini kau berikan berarti kau akan kehilangan salah satu gigimu!"
"Ambil saja! Aku punya banyak persediaan gigi seperti itu!"
berkata si nenek. "Lihatlah!"
Lalu dari dalam sebuah kantung perempuan tua ini mengeluarkan
beberapa potong gigi emas. Dia mengambil tiga buah lalu
mecocokkannya dengan baglan giginya yang ompong. Gigi kedua
ternyata bisa menempel dengan baik. Dia tersenyum sambil
menunjukkan barisan gigi emasnya. "Lihat, gigi-gigiku utuh
kembali."'
Wiro garuk-garuk kepala. "Terima kasih atas pemberian gigi
emas ini nek. Aku minta diri sekarang!" Wiro menjura lalu melangkah
pergi sambil menggenggam gigi emas di tangan kanannya.
***
TIGA HARI setelah suami isrti Ageng Lontar dimakamkan,
Kepala Desa Parangtritis Ki Demang Wesi mendatangi rumah
kediaman orang kaya di daerah selatan itu bertemu dan bicara dengan
puteri yang merupakan anak tunggal mendiang suami istri yang
Malang itu, yakni Winayu Tindi.
"Anakku Winayu...." Begitu Ki Demang Wesi memulai
pembicaraan. Dia memang biasa memanggil gadis itu dengan sebutan
anak mengingat hubungannya dengan Ageng Lontar yang terkait pada
hubungan guru mereka masing-masing. "Kedatanganku malam ini
guna menyambung pembicaraan kita dua hari lalu."
"Apakah pakde Wesi sudah mengetahui siapa pembunuh ayah
dan ibu saya?" Winayu langsung ajukan pertanyaan. Dan gadis ini
terbiasa memanggil Kepala Desa dengan sebutan pakde begitu.
"Belum Winayu. Tapi kita akan mengetahuinya. Ada orang atau
kelompok yang akan dapat membongkar rahasia pembunuhan ayah
dan ibumu. Namun kita harus berlaku hati-hati serta bersedia
memberikan sesuatu sumbangan untuk menunjang perjuangan
kelompok tersebut..."
Sulit bagi Winayu untuk mencerna ucapan Ki Demang Wesi itu.
Maka diapun bertanya, "Apa maksud Pakde? Kelompok mana yang
pakde katakan tadi? Lalu sumbangan bagaimana. Pakde juga
menyebut-nyebut perjuangan. Saya tidak mengerti. Kepala saya
pusing...."
"Jika kau merasa kurang sehat, pembicaraan ini bisa kita tunda
sampai beberapa hari di muka."
"Tapi saya ingin mengetahui pembunuh biadab itu pakde! Malam
ini juga! Bahkan saat ini juga kalau bisa!"
"Itu tidak mungkin aku lakukan, anakku. Kelihatannya ada
masalah besar di balik kematian kedua orang tuamu. Dan satu-satunya
yang bisa membongkar tabir rahasia ini lalu membekuk pembunuh itu
adalah kelompok yang aku katakan tadi. Aku akan menerangkan
siapa-siapa yang ada dalam kelompok itu...."
"Tunggu dulu pakde. Hari ketika ayah dan ibu ditemukan tewas di
atas delman bukankah pakde telah mencurigai seorang pemuda. Pakde
menyuruh tangkapnya tapi gagal. Orang itu berhasil melarikan diri..."
"Memang berat dugaanku saat itu bahwa pemuda tersebutlah
yang melakukan pembunuhan. Kepandaiannya terlalu tinggi hingga
aku tidak berdaya menghadapinya. Namun aku yakin dia tidak bekerja
seorang diri. Aku telah menyebar mata-mata untuk mencari tahu di
mana pemuda itu berada. Pimpinan pasukan wilayah juga telah
bersedia untuk mengirimkan sejumlah pasukan guna membantu
menangkap pemuda itu."
Winayu Tindi menyeka peluh di keningnya. "Sekarang ceritakan
kelompok yang pakde katakan tadi!"
Ki Demang Wesi mengangguk. "Aku akan terangkan Winayu,
asal kau mau berjanji untuk merahasiakan apa-apa yang kita bicarakan
selanjutnya. Ini menyangkut masalah Kerajaan...."
Bertambah tidak mengerti jadinya gadis itu. Namun karena ingin
mendapatkan keterangan dan lebih dari itu ingin mengetahul siapa
pembunuh kedua orang tuanya maka Winayu anggukkan kepala dan
berkata, "Saya berjanji akan merahasiakan apa-apa yang bakal kita
bicarakan."
"Baik kalau begitu. Aku akan mulai. Dengar baik-baik dan jangan
bertanya sebelum keteranganku selesai," kata Ki Demang Wesi pula.
"Seperti kau sendiri mengetahui anakku, saat ini Baginda terbaring
sakit. Raja kita sedang gering. Di dalam keraton tersiar kabar bahwa
ada kemungkinan orang-orang tertentu tengah menyiapkan calon
pengganti yang sebenarnya belum sampai haknya atau tidak syah
menurut jenjang usia maupun kedudukan ibunya. Dikawatirkan Sri
Baginda telah membuat surat wasiat. Sebelum baginda wafat, sebelum
orang yang tidak berhak menduduki tahta kerajaan, maka sekelompok
pejabat Kerajaan yang didukung oleh enam orang Adipati bermaksud
mencalonkan pangeran Adi Bintang Sasoko sebagai pewaris tahta.
Menurut silsilah saat ini dialah yang berhak memegang tampuk
kerajaan karena dia putera tertua meskipun bukan dari istri pertama
Sri Baginda
"Tetapi bukankah Pangeran itu diketahui menderita penyakit
kurang ingatan sejak dia berusia empat belas tahun..?" ujar Winayu
pula.
"Itu hanya titnah yang sengaja disebar ke mana-mana dan
perjuangan kelompok yang mendukung Pangeran Adi Bintang ini
mendapat dukungan pula dari Keraton Sura, ditambah oleh banyak
sekali tokoh-tokoh rimba persilatan. Jika semua rencana berjalan baik,
kelompok itu bersama ribuan rakyat yang menjadi pendukungnya
akan masuk ke Kotaraja. Begitu tahta jatuh ke tangan Pangeran Adi,
semua para pendukungnya termasuk aku dan kau tidak akan
dilupakan. Jabatan tinggi apa saja bisa kau minta pada Sri Baginda
nanti..."
"Saya tidak menginginkan jabatan tinggi pakde. Saya hanya ingin
mengetahui siapa pembunuh ayah dan ibu. Lalu menuntuk balas. Itu
saja!" Kata Winayu Tindi.
"Betul, betul… Aku juga tidak melupakan hal itu anakku. Justru
itulah sebabnya kuterangkan panjang lebar mengenai kelompok
orang-orang penting ini. Hanya mereka yang bisa membongkar
rahasia pembunuh orang tuamu!"
"Jadi pakde adalah salah seorang anggota kelompok tersebut?"
"Ya, juga ayahmu. Begitu rencananya. Tapi dia tewas sebelum
masuk. Kini kaulah yang menjadi penggantinya. Kau harus bergabung
dengan kelompok kami, Winayu!"
"Harus katamu pakde?"
"Harus. Demi meneruskan cita-cita ayahmu. Jika kau sudah
masuk kelompok banyak yang akan membantu mencari tahu siapa
pembunuh ayah dan ibumu! Sebaliknya saat ini kelompok sangat
membutuhkan bantuan dana. Baik dalam bentuk uang, senjata dan
makanan! Kau bisa menyumbangkan dua hal. Uang dan makanan!"
Winayu tegak dari duduknya. Setelah melangkah mundar-mandir
gadis yang berusia delapan belas tahun ini berkata, "Saya tidak mau
ikut campur urusan kelompok pakde itu. Soal bantuan saya tidak
keberatan...."
"Terima kasih anakku. Kalau kau bersedia membantu kelompok
kami sudah sama artinya kau telah bergabung dengan kami...." Ki
Demang Wesi ikut berdiri. Dia menyerahkan sebuah bungkusan pada
Winayu.
"Apa ini pakde?"
"Kebaya dalam berwarna biru muda polos. Budemu sendiri yang
menjahitkannya untukmu. Aku pergi sekarang Winayu. Jaga dirimu
baik-baik..."
Sesaat setelah Kepala Desa itu meninggalkan rumahnya Winayu
Tindi membuka Wungkusan yang tadi diserahkan Ki Demang. Ketika
dibuka ternyata memang sehelai kebaya panjang berwarna biru muda,
polos dengan renda-renda di bagian dadanya. Lalu ketika kebaya itu
dibentang, Winayu melihat sulaman gambar mahkota dan keris
bersilang dari benang merah, terletak di bagian dada kiri kebaya itu
***
3
PENDEKAR 212 Wlro Sableng terheran-heran sejak dia mulai
memasuki pinggiran Wonosari. Semua orang yang ditemuinya dan
dipapasinya pasti menjura hormat, paling tidak menganggukkan
kepala atau merendahkan bahu.
"Eh, jadi siapa aku hari ini rupanya! Semua orang memberi
hormat. Seolah-olah aku ini seorang pangeran!" begitu murid Sinto
Gendeng tak habis pikir dalam hati.
Ketika perutnya terasa lapar dan pendekar ini memasuki sebuah
kedai makanan, penyambutan orang kedai dan tamu-tamu yang ada di
situ membuat Wiro jadi salah tingkah. Semua orang yang sedang
makan langsung tegak berdiri begitu dia muncul di pintu kedai.
Pemilik kedai bersama istri dan seorang pelayannya buru-buru datang
menyambut dan mempersilahkannya duduk di kursi paling bagus, di
ujung meja besar.
"Raden, maafkan keadaan kedai yang sangat sederhana ini. Orang
seperti raden tidak pantas makan di sini. Ini satu kehormatan besar
bagi kami suami istri mendapat kunjungan raden..." begitu pemilik
kedai berkata.
"Raden...Aku dipanggil raden ...." ujar Wiro dalam hati sambil
garuk-garuk kepala dan tertawa lebar. "Bintang apa yang jatuh di
kepalaku hari ini..."
"Raden, silahkan duduk menunggu. Tidak lama. Kami akan
hadiahkan makanan paling enak dan segar. Apakah raden ingin
minum tuak nomor satu...?" bertanya istri pemilik kedai.
"Terima kasih. Beri aku air putih biasa saja. Uangku tak cukup
banyak untuk membeli tuak nomor satu..." Jawab Wiro polos.
"Ah, jangan berkata begitu raden, " kata pemilik kedai. "Kami
mana berani memungut bayaran untuk orang seperti dan sepenting
raden. Semua demi perjuangan raden..."
Lalu suami istri pemilik kedal itu masuk ke dalam menyiapkan
hidangan. Wiro memandang berkeliling. Setiap orang yang kebetulan
melihat kejurusannya buru-buru menganggukkan kepala.
"Aku ini dikatakan orang penting...Gila! Apa sebenarnya yang
terjadi di kota ini. Jangan-jangan mereka salah sangka. Jangan-jangan
ada seorang terhormat yang tampangnya mirip wajahku yang jelek ini.
Ha..ha..Eh, tadi orang kedai itu mengatakan perjuangan! Perjuangan
apa...? Ah perduli setanlah! Perutku lapar, makan dan bayar lalu pergi.
Tapi orang kedai itu bilang aku tak usah bayar! Rejeki besar kalau
begitu! Tapi bagaimana semua ini bisa terjadi...?!"
Tak lama menunggu hidanganpun diletakkan di atas meja. Mulai
dari sebakul nasi putih harum mengepul, dua potong ikan mas bakar,
satu panggang ayam, sayur semangkuk besar lalu masih ada kerupuk
tempe dan sayur segar lengkap dengan sambal terasi di cobek besar.
"Silahkan makan raden, silahkan..." Kata pemilik kedai berulang
kali sambil membungkuk-bungkuk sementara istrinya meletakkan
sebuah cangkir tanah dan buli-buli berisi tuak harum.
Tanpa tunggu lebih lama Wiro menyantap makanan yang
dihidangkan. Selesai makan dia meneguk tuak nikmat dan harum, lalu
duduk terperangah kekenyangan. Kedua matanya setengah terpejam
saking enaknya tapi juga mengantuk.
Istri pemilik kedai mendatangi dan berkata, "Raden, jika kau
mengantuk dan ingin istirahat, kami sudah menyiapkan kamar
untukmu... "
Wiro menguap lebar-lebar, tersenyum dan menjawab, "Terima
kasih, aku harus melanjutkan perjalanan saat ini juga." Lalu Wiro
mengeruk saku celananya dan meletakkan sejumlah uang di atas meja
untuk membayar makanan dan minuman yang telah disantapnya.
Melihat hal ini suami istri pemllik kedai cepat mendatangi dan
berkata, "Raden, jangan! Ambil kembali uang itu. Semua yang kau
telah makan dan minum tidak usah dibayar..."
Wiro geleng-geleng kepala. "Aneh...aneh..." katanya dalam hati.
"Tidak usah bayar demi perjuangan. Begitu...?
"Betul sekali raden."
"Kalian keliru. Justru demi perjuangan aku harus bayar!" Lalu
Wiro cepat-cepat tinggalkan kedai itu. Ketika dia pergi semua orang
berdiri dan membungkuk memberi hormat.
Suami istri pemilik kedai saling pandang satu sama lain. Sang
suami berkata, "Baru sekali ini aku menemui yang seperti dia. Benarbenar
pejuang yang tidak mau memberatkan rakyat. Simpan baik-baik
uang itu istriku. Jangan sampai terlihat dan diketahui oleh orang-orang
Pangeran Adi Bintang Sasoko. Bisa-bisa kita dituduh menghambat
perjuangan!"
Di luar Wonosari terdapat sebuah bukit kecil. Di sini tumbuh
pohon-pohon jati muda. Karena ingin mengambil jalan pintas agar
lebih cepat, Wiro sengaja mendaki bukit. Perjalanan ini menarik sekali
karena semakin tinggi ke atas semakin bagus pemandangan tampak di
bawah bukit. Wiro berlari-lari kecil sambil bersiul-siul. Suara
siulannya bergema di hutan jati itu. Tiba-tiba pendekar kita hentikan
siulannya. Ada suara derap kaki kuda di belakangnya. Ketika
berpaling, Wiro melihat ada delapan penunggang kuda mendaki bukit
jati dengan cepat. Dalam waktu singkat delapan orang itu sudah
berada di sekelilingnya. Dari sikap mereka jelas mereka sengaja
mengurung Wiro. Dan ternyata mereka adalah tujuh orang prajurit
kerajaan, dipimpin oleh seorang perwira muda
Perwira itu memperhatikan Wiro sesaat. matanya tertuju pada
sulaman mahkota dan keris bersilang di dada kiri pakaian putih sang
pendekar lalu diapun berkata, "Kami tidak ingin membunuhmu,
kecuali jika kau tidak mau menyerah secara baik-baik'"
Seorang prajurit bersenjatakan kelewang maju mendekati perwira
Itu dan berkata, "Kenapa tidak dibunuh saja bangs*t yang satu ini?"
"Kelihatannya dia mempunyai kedudukan yang tinggi. Kita bisa
menguras banyak keterangan darinya. Kembali ke tempatmu prajurit!"
Jawab sang perwira dengan suara agak berbisik.
"Kalian ini mau mengapakan aku?" Wiro bertanya sambil garukgaruk
kepala. Baru saja beberapa waktu lalu mendapatkan
penghormatan dan perlakuan yang membuatnya merasa seperti
seorang pangeran, kini tahu-tahu dia menghadapi perlakuan yang jauh
berlainan. Agaknya bintang terangnya sedang redup!
IZRO'IL
Badai Di Parang Tritis


"Karena kau masih bertanya dengan baik maka aku akan
menjawab dengan baik pula," menyahuti si perwira muda. "Kau kami
tangkap dan akan dibawa ke Kotaraja!"
"Eh, apa salahku sampai ditangkap? Aku tidak membunuh, tidak
mencuri dan merampok!"
Perwira di atas kuda tertawa lalu keluarkan suara mendengus.
"Jangan berpura-pura tolol!" dia mulai keluarkan suara keras.
"Perbuatanmu lebih jahat dari membunuh, merampok atau mencuri!
Kau mau menyerah secara baik-baik atau terpaksa aku menurunkan
tangan kasar?!"
"Gila! Tidak bersalah tidak apa-apa disuruh menyerah! Apaapaan
ini!"
"Kalau begitu kau minta digebuk dulu!" Perwira muda itu tampak
marah lalu berterlak pada anak buahnya untuk menangkap Wiro.
Tujuh prajurit melompat turun dari kuda masing-masing. Tiga orang
menghunus senjata untuk melindungi empat kawannya yang ingin
meringkus Wiro.
Pendekar 212 tegak tak bergerak sambil bertolak pinggang.
"Perwira, suruh prajurit-prajurit ini mundur! Kalian mungkin keliru
menangkapku!"
"Tidak! Gerak-gerikmu sudah kami kuntit sejak di Wonosari!
Dan dari pakaianmu itu jelas kau adalah salah seorang pentolan
berbahaya yang tengah dicari-cari!"
"Pentolan? Aku pentolan? Pentolan apa...?"
"Masih berani berpura-pura!" gertak perwira muda tadi lalu sekali
laqi dia berteriak memberi perintah anak buahnya agar segera
menangkap Wiro. Maka tujuh prajurit itu kembali bergerak. Kali ini
mereka bergerak dengan cepat. Empat orang berusaha mencekalnya
sementara yang tiga todongkan senjata masing-masing.
"Gila!" Wiro mulai jengkel. Prajurit terdekat yang hendak
mencekal lehernya dihantamnya dengan satu jotosan sehingga orang
ini terpental dan menjerit kesakitan. Dua kawannya balas menggebuk,
tapi mengalami nasib sama karena lebih dahulu diterjang jotosan
pendekar 212. Melihat ini prajurit-prajurit yang memegang senjata
tanpa menunggu perintah lagi langsung tusukkan senjata masingmasing
ke tubuh dan muka Wiro!
Saat itu Wiro sudah mencekal tubuh salah seorang prajurit yang
tadi dihantamnya dan kini mengerang kesakitan sambil pegangi
perutnya yang kena tonjok. Ketika tiga senjata datang menusuk Wiro
lemparkan prajurit yang dicekalnya ke arah tiga prajurit bersenjata.
Melihat hal ini tentu saja mereka yang menyerang dengan senjata
terpaksa menarik pulang serangan masing-masing agar tidak melukai
kawan sendiri.
"Kurang ajar! Kau berani melawan dengan mengandalkan
kepandaianmu!" Perwira muda di atas kuda marah sekali. Dia
melompat turun dari atas kuda sambil menghunus sebilah golok
pendek yang menjadi senjatanya. Belum lagi kakinya menjejak tanah,
senjata di tangan kanannya itu sudah berkesiuran membabat ke arah
kepala Pendekar 212 Wiro Sableng. Ini satu pertanda bahwa perwira
ini memang terlatih dan memiliki ilmu bela diri yang tinggi.
Begitu kedua kakinya menjejak tanah, perwira itu kirimkan
serangan susulan yang sangat ganas tanda dia memang ingin
membunuh lawannya saat itu juga. Wiro berkelebat mengelak dengan
cepat. Lima jurus menempur habis-habisan sang perwira hanya
menghantam tempat kosong.
"Perwira! Sebaiknya lekas pergi dari sini. Bawa semua anak
buahmu! Aku tidak ada silang sengketa denganmu!"
"Kau memang tidak ada silang sengketa denganku secara pribadi!
Tapi kau punya silang sengketa besar dengan Kerajaan!" Menyahuti
perwira itu lalu kembali memburu dengan serangan-serangan gencar.
"Gila! Silang sengketa apa maksudmu?!" tanya Wiro.
"Kau yang gila! Berkomplot menjatuhkan Raja kini bertanya
pura-pura tidak tahu!"
Kagetlah murid Sinto Gendeng dari gunung Gede itu. Dia hendak
berseru ajukan satu pertanyaan lagi namun terpaksa bungkam karena
di depannya kembali perwira muda itu menyerbu. Gerakan goloknya
tampak berubah dan serangan senjata itu benar-benar berbahaya kini.
Wiro sadar dia tak bisa bertahan dan mengelak terus-terusan. Satu kali
senjata lawan pasti akan mencelakai dirinya. Ketika dia bersiap untuk
kirimkan serangan balasan tiba-tiba seorang prajurit muncul
menunggang kuda dan berteriak.
"Perwira! Bahaya mengancam di bawah bukit!"
Perwira muda itu melompat mundur, melintangkan golok di
depan dada dan berpaling pada prajurit yang barusan datang. "Ada
apa?!"tanyanya.
"Serombongan pasukan musuh bersenjata lengkap, berjumlah
sekitar lima puluh orang tengah menuju kemari. Mereka dipimpin
oleh dua orang tokoh silat dari timur. Kita harus menyingkir dari sini.
Kekuatan sangat tidak berimbang!" Begitu prajurit yang datang
memberikan laporan.
"Kalian semua lekas menghadang di lereng bukit. Aku akan
bergabung dengan kalian setelah menamatkan riwayat pemberontak
yang satu ini!" jawab Perwira muda itu.
"Perwira! Kita semua akan mati konyol jika berani menghadapi
kekuatan lawan yang begitu besar!" jawab prajurit yang datang
melapor.
"Aku yang memerintah di tempat ini! Kalian jangan berani
menampik!"
Mendengar itu delapan prajurit yang ada di tempat itu tidak berani
membuka mulut lagi. Mereka segera naik ke atas kuda masingmasing,
padahal beberapa di antaranya berada dalam keadaan terluka
di dalam akibat gebukan Wiro tadi. Kedelapan prajurit itu segera
menuruni buklt, menyongsong gerakan pasukan basar yang datang
dari bawah.
"Perwira tolol! Kau menyuruh anak buahmu bunuh diri!"
"Mereka memang pantas untuk mampus! Kau! Mari hadapi
golokku beberapa jurus lagi!"
"Edan! Perwira macam apa kau ini!" teriak Wiro penasaran.
Da1am hatinya kini muncul niat untuk menghajar perwira itu habishabisan.
Tapi sebelum menghajarnya dia ingin mempermainkan lebih
dulu agar si perwira benar-benar tahu rasa.
Dengan tangan kirinya Wiro patahkan sebatang ranting. Lalu
ranting ini dia pergunakan sebagai senjata untuk menghadapi golok
lawan.
"Jika kau punya senjata sebaiknya dikeluarkan saja agar kau tidak
mati percuma!"
Wiro menyeringai mendengar ucapan perwra itu dan menjawab:
"Menghadapi perwira tolol sepertimu mengapa harus pakai segala
macam senjata. Ranting ini sudah lebih dari cukup!"
"bangs*t! Kau akan menyesal sampai ke liang kubur!"
"Mulutmu terlalu besar. Jangan menganggap rendah semua
orang!" sahut Wiro. Ranting di tangan kirinya diputar berlawanan arah
dengan putaran golok si perwira. Perwira ini merasakan adanya
sambaran angin deras mengepung gerakannya.
Angin yang keluar dari ranting bukan saja membuat goloknya
terbendung, tapi tubuhnya sampai bergoyang keras.
"Lepas!" tiba-tiba Wiro membentak. Ranting di tangan kirinya
menusuk ke arah tenggorokan lawan. Sewaktu si perwira berkelit ke
samping rnurtd Sinto Gendeng cepat pukulkan ranting ke kiri.
Terdengar suara sang perwira terpekik kesakitan ketika ranting itu
menghantam belakang tangannya yang memegang golok. Senjatanya
benar-benar lepas mental. Dia coba melompat untuk menyambar
golok itu, tapi kakinya tiba-tiba dihantam ranting. Untuk kedua
kalinya perwira itu menjerit kesakitan. Sewaktu dia turun ke tanah
kembali dilihatnya Wiro sudali tegak dengan senyum mengejek
sambil bolang-bolangkan golok milik si perwira yang kini berada di
tangan kanannya.
"Memalukan! Perwira totol! Kalau aku jadi Raja, manusia
macammu tak akan terpakai! Ini, ambil kembali golokmu!"
Habis berkata begitu Wiro lemparkan golok di tangan kanannya
ke tanah. Senjata ini menancap satu jengkal di depan kaki sang
perwira dan menghujam tanah sampai setengahnya.
Merasa malu dan marah karena dipermainkan dan diejek begitu
rupa, perwira muda itu cabut goloknya dari tanah. Dengan senjata itu
dia hendak menyerbu lawannya habis-habisan. Tetapi alangkah
kagetnya dia ketika golok yang menancap di tanah itu tak sanggup
dicabutnya. Dia kerahkan tenaga dalam sekuat-kuatnya, lalu
pergunakan pula tenaga dalam. Sekujur tubuhnya mandi keringat.
Golok di tanah sama sekali tak bergeming! Tak sanggup dicabutnya.
"Memalukan! Benar-benar memalukan! Ayo kerahkan tenagamu
lebih besar perwira muda! Kalau mencabut golok saja tidak sanggup
bagaimana mau berperang melawan musuh!"
"Keparat kurang ajar!" maki si perwira. Dia kerahkan seluruh
tenaganya untuk mencabut golok. Ternyata senjata itu kini mudah
sekali dicabut. Hingga tak dapat dicegah, begitu golok tercabut
perwira itu langsung jatuh terjengkang di tanah. Wiro tertawa
tergelak-gelak. Merah padam muka si perwira. Golok yang ada dalam
pegangannya dilemparkannya ke arah Wiro. Senjata ini menderu
dengan ujungnya yang runcing tajam menyambar ke arah dada sang
pendekar. Murid Sinto Gendeng angkat tangan kirinya yang
memegang ranting. Begitu golok dan ranting menempel, Wiro putar
tangannya. Golok membalik ke kanan, berputar di pertengahan ranting
seperti sebuah titiran.
"Manusia keparat, jangan kira aku sudah kalah! Mari kita
berkelahi dengan tangan kosong!" teriak perwira muda itu lalu sekali
lompat dia sudah menerjang dengan tendangan dan jotosan.
Untuk sesaat Wiro masih asyik memutar-mutar golok di ujung
ranting. Tiba-tiba pendekar ini tarik ranting dari badan golok. Senjata
ini mental ke bawah, gagangnya menghantam kening si perwira
dengan keras. Sang perwira menjerit kesakitan, mundur terhuyunghuyung
sambil pegangi keningnya yang mengucurkan darah!
Pada saat itulah dua orang berpakaian hitam menunggang kuda
muncul di tempat itu diikuti oleh hampir lima puluh penunggang kuda
lainnya yang kebanyakan berpakaian kelabu.
Dua penunggang kuda di sebelah depan adalah dua orang kakek
berwajah hampir mirip satu sama lain. Pada dada pakaian hitam yang
mereka kenakan tampak ada gambar mahkota dan keris bersilang yang
disulam dengan benang merah. Anggota rombongan lainnya juga
memiliki gambar itu pada pakaian masing-masing tetapi terbuat dari
sulaman benang berwarna biru.
Dua kakek berpakaian hitam yang membekal sebitah senjata
berbentuk tombak pendek di pinggangnya masing-masing, tampak
sama manggut-manggutkan kepala. Yang di sebelah kanan keluarkan
ucapan" "Ah..ah..ah...! Kalian berdua baru saja selesai berlatih!"
Kakek yang satu menimpali, "Latihan kalian pasti berat dan
keras! Buktinya kulihat salah satu dari kalian sampai-sampai
mengucurkan darah di kening!"
Perwira muda itu hanya berdiam diri. Sesaat dia tampak masih
sibuk menyeka luka darah yang masih mengucur dari luka di
keningnya. Sementara Wiro bertanya-tanya dalam hati siapa pula dua
kakek yang datang membawa rumbongan manusia begini banyak.
Tadi jelas dia mendengar sendiri bahwa orang-orang yang baru datang
ini adalah serombongan pasukan musuh. Tetapi kini setelah
berhadapan satu sama lain dengan perwira muda itu, mereka sama
sekali tidak nampak sebagai bermusuhan. Wiro memandang
berkeliling. Dia tidak melihat delapan prajurit yang tadi dikirimkan
untuk melakukan penghadangan.
"Saudara-saudara, kita tidak punya waktu banyak. Malam ini ada
pertemuan penting. Pangeran tidak ingin melihat ada yang datang
terlambat! Mari...."
"Eh, apakah kau bicara denganku juga?!" tanya Wiro pada si
kakek yang barusan bicara.
"Apa kau kira aku bicara dengan penghuni gaib bukit Jati ini?!"
sahut si kakek.
Wiro perhatikan gambar mahkota dan keris bersilang di dada
pakalan si kakek. Untuk pertama kali dia ingat akan gambar yang
sama di dada pakaiannya sebelah kiri.
"Eh ...apa artinya gambar-gambar itu. Mengapa sulaman di
dadaku sama dengan sulaman di dada pakalan mereka. Apakah
mereka juga mendapat pakaian itu dari Nenek Hitam bergigi Emas...?"
Wiro tak dapat menjawab pertanyaannya sendiri. Untuk bertanyapun
dia merasa tak enak. Lalu mengapa kakek tadi mengajaknya ikut
serta? Melihat gambar-gambar yang sama di dada pakaian mereka dan
di dada pakaiannya sendiri apakah ini berarti mereka berada dalam
satu kelompok yang sama? Selagi Pendekar 212 Wiro Sableng
berpikir-pikir seperti itu dilihatnya perwira muda tadi membuka
pakaian seragam Kerajaannya. Ketika pakaian itu dibuka dan
dilemparkannya ke tanah ternyata di balik pakalan itu kini tampak
sehelai pakaian biasa, berwarna hitam yang juga ada sulaman benang
merah bergambar dan keris bersilang di dada kirinya! Wiro jadi
memandang lagi pada gambar yang sama yang ada di dada
pakaiannya.
"Berikan dua kuda pada sahabat-sahabat ini!" Salah seorang
kakek berseru. Dua orang lalu maju menuntun dua kuda besar. Satu
diserahkan pada si perwira, satu lagi pada Wiro. Sesaat Wiro dan si
perwira saling pandang.
"Kita berangkat!" terdengar kakek tadi berteriak memberi abaaba.
Si perwira muda langsung melompat ke atas punggung kuda.
Wiro masih tegak terheran-heran.
"Eh, kenapa kau tampak seperti orang bingung, sahabat?!"
bertanya si kakek hitman di samping kiri.
"Kalian mau mengajakku kemana?!" tanya Wiro sambil garukgaruk
kepala.
"Kemana lagi kalau bukan ke Parangtritis, markas Pangeran Adi
Bintang Sasoko. Apakah kau masih mau bertanya? Kita orang-orang
satu golongan! Aku sudah melupakan kejadian tadi! Anggap benarbenar
sebagal latihan!" Yang bicara adalah perwira muda itu
"Gila!" desis Wiro sambil meinandang berkeliling. "Apa yang
sebenarnya terjadi saat ini! Apa arti semua ini! Dan sulaman gambar
mahkota serta keris bersilang ini…! Gila ! Hanya ada satu cara
mencari jawaban. Aku harus ikut dengan mereka!" Wiro lalu
melompat ke atas kuda. Rombongan bergerak menuruni bukit Jati. Di
satu lereng bukit Who melihat delapan sosok tubuh berseragam
prajurit kerajaan menggeletak di tanah. Semuanya sudah meregang
nyawa dengan tubuh penuh luka. Wiro melirik ke arah perwira muda
yang kini mengenakan pakaian hitam, yang menunggang kuda tak
jauh di sampingnya. Di saat yang sama perwira itu juga berpaling ke
arahnya, tersenyum kecil dan kedipkan mata!
***
4
DALAM perjalanan ke Parangtritis tak satupun anggota rombongan
ada yang membuka mulut atau bicara. Tampaknya mereka diperintahkan
untuk membungkam diri. Dua kakek berpakaian serba hitam
bergerak di sebelah depan lalu menyusul perwira muda yang ternyata
adalah seorang pembelot. Di belakang ke tiga orang ini bergerak
puluhan penunggang kuda berpakaian kelabu. Dan Pendekar 212 Wiro
Sableng sengaja menyatu di tengah-tengah mereka. Walau ada hasrat
untuk menyelinap dan kabur dari rombongan itu, namun lebih besar
lagi niatnya untuk ikut terus guna mengetahui siapa sebenarnya orangorang
itu. Siapa pula Pangeran Adi Bintang Sasoko. Lalu apakah dia
akan bertemu lagi dengan Nenek Hitam Bergigi Emas yang
memberikan pakalan putih bersulam mahkota dan keris bersilang itu?
Karena rombongan tidak mau menempuh jalan umum maka
perjalanan menjadi satu setengah kali lebih panjang dan lama. Maka
menjelang matahari tenggelam mereka baru sampal di tujuan yakni
bagian teluk Parangtritis yang agak terpencil dan jarang didatangi
orang. Disini ternyata sudah terdapat ratusan orang yang kebanyakan
berpakaian kelabu. Banyak pula yang berseragam perajurit Kerajaan.
Kelompok ini tangsung memberi hormat ketika melihat kemunculan
perwira muda yang mereka kenal. Semua kuda ditambatkan, ada yang
dibawa ke kandang darurat untuk diberi makan dan minum. Angin
laut bertiup kencang.
Salah seorang dari dua kakek berpakalan hitam memandang
berkeliling, mencari-cari Wiro Sableng yang saat itu duduk
memencilkan diri di bawah sebatang pohon kelapa. Kakek ini segera
menghampirinya lalu memberi isyarat untuk mengikuti. Bersamasama
dengan perwira muda dan kakek yang satu lagi, Wiro melangkah
mengikuti orang tua itu. Mereka bergerak ke bagian teluk yang penuh
ditumbuhl pohon-pohon bakau. Setelah merancah air laut sebatas mata
kaki dan menyibak kelebatan pohon-pohon bakau keempat orang itu
sampai di sebuah gundukan tanah keras bercampur batu yang di
bagian tengahnya merupakan sebuah lobang besar atau mulut goa
selebar dan setinggi tiga tombak. Kakek yang memimpin memandang
sesaat pada perwira muda itu, lalu pada Wiro dan akhirnya memberi
isyarat agar mengikutinya memasuki goa.
Bagian dalam goa merupakan satu tanjakan yang terbuat dari
batu, mulai dari bagian bawah sampai dinding dan langit-langitnya.
Kira-kira sepeminuman teh berjalan Wiro melihat ada cahaya terang
di sebelah depan. Tak lama kemudian mereka sampai pada ujung goa
yang ternyata tertetak pada sebuah bukit kecil yang penuh ditumbuhi
semak belukar dan pepohonan rapat. Sinar matahari yang hendak
tenggetam masih sempat menyeruak di antara dedaunan. Beberapa
belas tombak dari luas bukit kecil itu sengaja dirambas dan di situ
dibangun sebuah gubuk panjang tanpa dinding.
Sepanjang gubuk terdapat meja papan kasar yang diapit oleh
bangku-bangku panjang yang juga terbuat dari kayu hutan, setiap sisi
meja memiliki dua lapis bangku. Dan di situ Wiro melihat kira-kira
selusin orang duduk memandang ke arah mereka sementara di kepala
meja sebelah kanan tampak duduk seorang pemuda berpakaian sangat
mewah, bermuka agak pucat dan setiap saat selalu tersenyum-senyum
menyunggingkan gigi-giginya yang tonggos.
Di samping pemuda itu duduk seorang lelaki gemuk yang terus
menerus menyedot sebatang pipa panjang. Bau tembakau yang
terbakar memenuhi tempat itu. Di atas meja, terutama di kepala meja
terdapat banyak makanan. Kendi-kendi tanah berisi tuak tak terbilang
banyaknya. Tampaknya makanan dan tuak itu belum disentuh sama
sekali. Mungkin masih menunggu sesuatu.
Wiro memandang berkeliling, mencari-cari. Namun orang yang
dicarinya yakni si Nenek Hitam Bergigi Emas tak tampak hadir di
tempat itu. Kakek berpakaian hitam memberi isyarat pada Wiro dan
perwira muda itu. Lalu keempat orang yanog baru datang ini
mengambil tempat duduk. Dua kakek di kepala meja sebelah kiri
sedang Wiro dan si perwira di bangku panjang lapis belakang bagian
tengah.
Lelaki gemuk yang menghisap pipa, sesaat memangdang
berkeliling lalu lepas pipanya, berpaling pada pemuda berpakaian
mewah yang sebentar-bentar tertawa dan berkata, "Semua yang
ditunggu sudah hadti. Apakah pertemuan penting ini bisa kita mulai
Pangeran Adi?"
Pemuda berpakaian mewah yang rupanya adalah Pangeran Adi
Bintang Sasoko mengangguk lalu tertawa gelak-gelak. "Aku sudah
lama menunggu. Kalian juga! Sudah lapar dan haus! Sebelum
memulai pembicaraan kita makan dan minum dulu sekenyangkenyangnya!
Ha...ha...ha...! Eh, kau setuju calon patih Kerajaan?!"
Si gemuk yang disebut sebagal calon patih membuka mulut dan
setengah berteriak menjawab, "Setuju!"
Maka semua orang yang ada di situ langsung menyambar
hidangan dan meneguk minuman yang ada di atas meja.
"Hai! Sampean tidak lapar dan haus? Mengapa melongo seperti
patung tolol?!" seorang lelaki berpakaian penuh tambalan menegur
Wiro yang sampal saat itu masih duduk berdiam diri.
"Atau mungkin dia menunggu sampai calon patih kita marah?!"
seseorang berseru. Lalu orang itu tertawa gelak-gelak, diikuti tawa
beberapa orang lainnya.
Wiro akhirnya mengulurkan tangan juga menjangkau piring besar
berisi ketan kunlng yang dihiasi goreng paha ayam. Sebentar saja
makanan itu sudah berpindah ke dalam perutnya. Ketika dia hendak
mengambil cangkir dan menuang tuak ke dalamnya tiba-tiba dia
mendengar suara halus seperti nyamuk mengiang di telinganya.
"Pendekar muda.... Kau boleh sumpal perutmu dengan semua
makanan yang ada di atas meja! Tapi jangan sekali-kali kau minum
tuak itu! Minuman yang nikmat itu telah berubah menjadi minuman
celaka! Minuman itu beracun!"
IZRO'IL
Badai Di Parang Tritis


Wiro tersentak kaget. Kedua matanya berputar memandang
berkeliling. Siapa gerangan yang barusan bicara jarak jauh dengannya
itu? Satu persatu dipandanginya wajah orang-orang yang ada di
tempat itu. Semua mereka, termasuk Pangeran Adi Bintang Sasoko
sibuk menyantap makanan masing-masing. Wiro memperhatikan terus
sambil melahap paha ayam. Semua orang termasuk Pangeran Adi
meneguk tuak yang dihidangkan, malah ada yang begitu lahap hingga
berceceran menumpahi dagu dan pakaiannya. Wiro melihat bahwa ada
dua di antara orang-orang yang ada di situ hanya berpura-pura minum.
Tuak yang diteguknya hanya dilelehkan ke bawah dagu!
"Semua sudah kenyang dan puas mlnum?!" tiba-tiba si gemuk
yang disebut calon patih berseru.
"Kenyang! Puas!" orang banyak menyahuti. Si gemuk berpaling
pada Pangeran Adi. "Pangeran, saatnya kita mulai melakukan
pembicaraan!"
Pangeran Adi mengangguk, matanya berputar-putar lalu Pangeran
yang berotak tidak waras ini tertawa gelak-gelak.
Si gemuk berdiri dari bangkunya. Ujung pipa diselipkannya ke
sela bibir. Dia memandang berkeliling dengan sepasang matanya yang
sipit lalu berkata, "Sebelum pembicaraan penting dimulai, tempat
pertemuan ini harus benar-benar dijaga kerahasiaannya! Pohon di
sekitar sini bisa jadi telinga musuh! Apalagi manusia penyusup!"
Sekali lagi si gemuk memandang berkeliling. Tatapan kedua
matanya sesaat tak berkedip ke arah Pendekar 212 membuat murid
Sinto Gendeng jadi menahan nafas.
"Sebelum pembicaraan dimulai setiap yang hadir harus
memperkenalkan diri agar kita saling kenal satu sama lain!" Si gemuk
berteriak. "Pertama akan kuperkenalkan dulu Pangeran Adi Bintang
Sasoko. Beliau adalah calon Raja kita semua, calon pemimpin tunggal
Kerajaan! Pangganti satu-satunya Raja yang saat ini sedang gering!
Bukan begitu Pangeran Adi?!"
Pangeran Adi berdiri dari duduknya, menjura dan berteriak.
"Betul! Aku yang bakal memegang kekuasaan dan menduduki tahta
Kerajaan! Hanya aku! Ha… ha...hal…!"
Si gemuk kembali membuka mulut. "Aku sendiri adalah Suto
Gunoto, bergelar Si Tapak Api. Sesuai dengan kehendak Pangeran
Adi, bakal menduduki jabatan Patih Kerajaan!" Habis berkata begitu
si gemuk usap-usapkan kedua telapak tangannya satu sama lain.
Terdengar suara meletup dan lidah api mencuat keluar dari celah dua
telapak tangan itu.
Semua orang berdecak kagum melihat hal itu dan sambil tertawa
mengakeh Suto Gunoto kembali duduk. Dia memberi isyarat pada
orang di sebelahnya. Orang ini berdiri dari duduknya, menjura lalu
memperkenaikan diri.
"Aku Jaliteng Teguh, Adipati Klaten, siap berjuang di pihak
Pangeran Adi. Seratus orang perajuritku siap sedia di timur
Patrangtritis!"
Orang ketiga tegak pula dari bangku kayu. Seperti Adipati Klaten
tadi dia juga menjura, mendongak sebentar lalu membuka mulut.
"Namaku jelek, tampangku jelek, pakaianku jelek dan pekerjaanku
juga jelek. Ha-ha-ha…! Aku Sumo Kandil, diberi julukan Pengemis
Kaki Kayu! Aku berjuang bersama Pangeran Adi! Di usia tua ini aku
ingin menghabiskan sisa hidup dengan tenang menjadi pejabat
Kerajaan!" Habis berkata begitu Pengemis Kaki Kayu melompat ke
atas meja. Ternyata kaki kanannya memang terbuat dari kayu. Dengan
satu gerakan seperti asal-asalan saja orang ini hantamkan kaki
kayunya ke meja. Papan meja yang terbuat dari kayu hutan yang tebal
dan kasar itu langsung hancur dan berlobang besar! Orang banyak
bertepuk tangan. Sumo Kandil kembali ke tempat duduknya.
Orang keempat berdiri dari bangkunya. Dia seorang kakek
bermuka cekung, mengenakan baju hijau yang kebesaran dengan
sulaman mahkota dan keris bersilang di dada kiri. Sulaman seperti ini
juga terdapat pada semua pakaian para yang hadir di tempat itu,
termasuk Wiro Sableng sendiri. Ketika orang ini meletakkan kedua
tangannya di atas meja, tampaklah sepuluh jari tangan yang memiliki
kuku-kuku panjang berbentuk aneh seperti seperti pisau-pisau kecil!
"Aku tua bangka jelek ini sudah lama lupa nama sendiri. Tapi
orang memanggilku. Si Pengupas Kepala! Itu saja. Aku tidak mau
banyak cerita. Kelak kalian akan melihat sendiri siapa aku ini
adanya!" dengan tenang lalu si kuku panjang ini duduk kembali ke
bangkunya.
Orang kelima sampai ke sembilan ternyata adalah Adipati dari
daerah utara dan barat. Setelah menyebutkan nama masing-naasing
dan berasal dari Kadipaten mana, sambil tak lupa mengatakan bahwa
desekia puluh atau sekian ratus perajuritnya sudah bersiap sedia, maka
masing-masing kembali duduk di bangku panjang.
Orang yang ke sepeluh adalah satu dari dua kakek berpakaian
hitam. "Aku juga ikut-ikutan pikun. Lupa nama. Bersama adikku
ini…" Si kakek menunjuk pada kakek satunya yang duduk di
sebelahnya, "Kami dikenal dengan julukan Sepasang Tombak Dewa!
Aku mendapat kepercayaan menjadi Panglima Pasukan Kerajaan dan
adikku menjadi wakilnya. Panggil saja aku ini Tombak Dewa! Kesatu
dan adikku Tombak Dewa Kedua! Soal kepandaian kami pernah
merajai rimba persilatan di pantai selatan ini. Tapi saat ini kami tidak
enak badan, tak mau pamer kepandaian! Ha-ha-ha!"
Orang kedua belas adalah perwira muda yeng duduk di samping
Wiro Sableng. Setelah mengerling sesaat pada Wiro, orang ini berdiri
dan memperkenalkan diri.
"Namaku Aryo Ladam. Jabatan terakhir Perwira Muda pada
pasukan kerajaan. Tapi mulai detik ini jabatan itu tidak kupakai lagi
karena ingin menyumbangkan bakti pada calon Raja kita yang baru
yaitu Pangeran Adi Bintang Sasoko. Soal kepandaian mungkin banyak
di antara para hadirin memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dariku.
Sebelum berangkat ke mari aku telah berhasii membina sekitar enam
puluh perajurit dan dua perwira muda untuk berjuang di pihak kita.
Mereka semua berada di Kotaraja. Mereka akan melakukan gerakan
menyusup dan menghantaan lawan di pusat Kota. Mereka siap
menunggu perintah!"
Suto Gunoro mengangguk-anggukkan kepala sementara Pangeran
Adi Bintang Sasoko tersenyum-senyum sambil meneguk tuak.
Sambil mengangkat kendi tuak Pangeran itu berkata, "Sesuai
janji, kau akan aku angkat sebagal Kepala Pengawal Raja. Pangkatmu
dinaikkan dua tingkat!"
"Terima kasih Pangeran," kata Aryo Ladam dengan senang hati
seraya menjura lalu duduk ke tempatnya kembali.
Kini giliran Pendekar 212 Wiro Sableng memperkenalkan diri.
Setelah menggaruk kepala lebih dulu, pendekar ini berdiri dan
menjura ke arah Pangeran Adi serta Si Tapak Api. Sikap ini membuat
kedua orang itu merasa senang karena sebelumnya tidak ada
seorangpun yang memberikan penghormatan ketika memperkenalkan
diri.
"Mohon dimaaafkan kalau namaku jelek didengar. Aku Wiro
Sableng! Pendekar pengangguran yang dicap berotak kurang waras.
Apa yang menjadi tujuan para tokoh yang hadir di sini menjadi
tujuanku pula! Kita bersama-sama berjuang!" Wiro lalu duduk
kembali. Dalam hati dia menyumpah. "Persetan dengan perjuangan
gila ini? Aku ingin buru-buru pergi dari sini! Edan, mengapa aku
sampai terdampar di antara para pengkhianat ini!"
Terdengar suara batuk-batuk beberapa kali, lalu disusul suara
orang bicara. Yang bicara adalah Sumo Kandil alias Pengemis Kaki
Kayu. "Sungguh luar biasa! Tidak disangka-sangka kalau tokoh silat
muda terkenal sepertimu ikut berada di antara kita Pendekar 212,
apakah keikutsertaanmu bersama kami mendapat restu dari gurumu di
puncak Gunung Gede...?!"
"Ah, si kaki kayu ini rupanya tahu banyak tentang diriku dan
guruku," membatin Wiro. Pendekar ini agak gugup mendapat
pertanyaan itu tapi cepat kuasai diri dan menjawab, "Ketika aku
melapor, guru sedang tidak di tempat. Aku hanya meninggalkan pesan
tertulis memberitahu apa yang aku lakukan..." Wiro berdusta.
"Bagus...bagus... Sebetulnya kau bisa mengajak beberapa tokoh
utama lainnya menyertai kita. Tapi yang ada sekarangpun sudah
cukup!" kata Pengemis Kaki Kayu pula.
Orang ke empat belas yang duduk di samping kiri Wiro
memperkenalkan diri sebagai Tumenggung Gandana Jipang. Seperti
Aryo Ladam dia juga menerangkan bahwa ada sejurnlah besar
pasukan kawal Istana yang berhasil ditariknya.
Orang terakhir atau yang ke lima belas adalah yang paling lucu,
paling konyol gerak-geriknya. Dia mengenakan baju merah menyala
yang sangat besar tetapi seperti yang lainnya di dada pakaiannya juga
tersulam gambar mahkota dan keris bersilang. Rambutnya yang
panjang digulung ke atas dan pada ujung gulungan diberi pita merah.
Mukanya dirias secara seronok yaitu bedak tebal bertotol-totol, lalu
gincu berlepotan dari bibir sampai ke pipi dan dagu sedang alis mata
diberi jelaga hitam bercelemongan. Orang ini berdiri dengan sikap
malu-malu seperti perempuan. Suaranya kecil ketika memperkenalkan
diri,
"Namaku Tatata t*t*ti. Aku tidak bergelar tidak berjuluk! Tidak
punya kepandaian silat! Tapi pandai bermain sulap, kalau perlu
menyihir. Lihaat!" Orang itu menunjuk pada sepiring makanan di atas
meja. "Saat ini kalian melihat ada makanan di alas piring itu! Tapi
coba pejamkan mata kalian sekejapan! Lalu buka dan lihat lagi ke
arah piring! Kalian tidak akan melihat makanan lagi! Nah
lakukanlah!"
Karena tertarik, hampir semua orang yang ada di tempat itu
termasuk Wiro pejamkan matanya. Ketika kedua mata dibuka dan
mereka memandang ke arah piring! Astaga! Memang diatas piring itu
kini yang mereka lihat bukan lagi makanan, tapi seonggok tahi
kerbau! Semua orang mengerenyit jijik. Tak percaya pada
pemandangan masing-masing dan banyak yang mengusap-usap kedua
matanya!
"Jadi tadi kalian bukan bersantap enak. Tapi makan tahi
kerbau...hik…hik..hik!" orang bermuka celemongan itu tertawa
cekikikan. "Aku hanya bergurau! Hanya bergurau. Lihat sekali lagi.
Apa yang ada di piring memang makanan!"
Dan ketika semua orang memandang lagi ke arah piring, memang
di situ kini tampak makanan seperti semula. Terdengar orang tadi
berkata, "Jika aku bisa merubah makanan jadi tahi kerbau, aku juga
bisa merubah wajah Sri Baginda menjadi tahi kerbau! Hik...hik...hik!"
"Tukang sulap!" tiba-tiba Suto Gunoro alias Si Tapak Api
berseru. "Coba terangkan, kau ini lelaki atau perempuan!"
"Hik..hik..hik! Aku bukan lelaki bukan perempuan!" jawabnya
Tatata t*t*ti.
"Maksudmu....?!" Pangeran Adi Bintang yang kini ajukan
pertanyaan.
"Aku banci! Hik..hik..hik!"
"Jangan melantur! Kau berhadapan dengan calon Sri Baglnda!"
Membentak SI Tapak Api.
"Hik..hik..hik! Aku tidak melantur. Aku memang banci. Jika tidak
percaya akan kusingkapkan pakaianku! Mau melihat...?!"
Pangeran Adi Bintang tertawa gelak-gelak dan goyanggoyangkan
tangannya ketika Tatata t*t*ti hendak menyingkapkan
pakalannya yang lebar.
"Sudah! Kami percaya padamu siapapun kau adanya. Kau telah
menjadi satu kelompok dengan kami!" ujar Pangeran Adi sambil
senyum-senyum. "Silahkan duduk Tatiti...."
"Maaf, namaku Tatata t*t*ti, Pangeran. Bukan Tatiti .... !"
"Oh, ya aku kesalahan!" Pangeran Adi tertawa gelak-gelak. Lalu
dia berpaling pada Suto Gunoro dan berbisik, "Saatnya untuk
melakukan pembersihan, patih!"
Suto Gunoro mengangguk lalu cabut pipanya dan berdiri.
Sepasang matanya yang sipit tampak tambah sipit ketika dia
memandangi satu persatu semua orang yang ada di tempat Itu.
"Saudara-saudara satu perjuangan. Sebelum pembicaraan amat
rahasia kita mulai, tempat ini harus dibersihkan darl penyusup matamata
musuh!"
"Eh…! Apakah ada mata-mata kerajaan disini?!" angkat bicara
Pengemis Kaki Kayu alias Sumo Kandil.
Suto Gunoro menyeringal buruk. Dia berpaling pada kakek
bermuka cekung yang tadi memperkenalkan diri dengan juiukan Si
Pengupas Kepala. Lalu Suto anggukkan kepalanya.
Melihat isyarat ini Si Pengupas Kepala bangkit dart kursinya.
Kedua matanya memandang menyorot satu persatu pada orang-orang
yang ada di sekitar meja. Kedua tangannya sailing digosok-gosokkan.
Kuku-kukunya yang beradu satu sama lain mengeluarkan suara
bergemericik, tidak beda seperti pisau-pisau saling bergesekan,
menggidikkan kedengarannya. Orang ini melangkah memutari meja,
mengitari lima belas orang yang duduk laksana terpaku. Wiro
merasakan tengkuknya dingin ketika menyadari bahwa Si Pengupas
Kepala berhenti melangkah dan tegak tepat dibelakangnya.
"Jangan-jangan orang ini mencurigaiku. Pasti aku yang
dimaksudkannya dengan mata-mata musuh tadi! Celaka!" Wiro segera
pusatkan tenaga dalam ke tangan kanan, diam-diam menyiapkan
pukulan sakti "sinar matahari". Kedua telinganya dipasang tajamtajam.
Begitu terdengar orang bergerak maka serta merta dia akan
menghantam.
Dibelakangnya Si Pengupas Kepala dengan gerakan sebat dan
tiba- tiba mengangkat tangannya, mencekal leher orang yang duduk di
sebelah kiri Wiro. Dia adalah Tumenggung Gandana Jipang! Wiro
menarik nafas lega.
"Mata-mata keparat! Berani kau menyusup ke sarang harimau!"
teriak Si Pengupas Kepala.
Tumenggung Gandana Jipang tampak kaku sekujur tubuhnya.
Mukanya seputih kertas. Suaranya tercekik ketlka bicara. "Lepaskan!
Jangan! Kau salah tuduh! Aku bukan mata-mata Kerajaan! Aku
datang kemari justru untuk bergabung! Bukankah aku yang
memberikan berita-berita rahasia tentang sakitnya Raja....?!"
Si Tapak Api tertawa mengekeh. Si Pengupas Kepala menimpali
dengan suara menggereng. Cekalannya mengencang. Tubuh
Tumenggung Gandana Jipang dilemparkannya ke atas meja besar.
Begitu orang ini terpentang di atas meja, sepuluh jari tangannya yang
memillki kuku sekuat dan setajam pisau bergerak cepat seperti
menggerlnda. Terjadilah satu pemandangan luar biasa mengerikan.
Tumenggung Gandana Jipang menjerit setinggi langit, melolong dan
menghempas-hempaskan tubuhhya sementara kepalanya mulai dari
kulit kepala sampai kulit muka dikelupas oleh kuku-kuku maut itu!
Hanya beberapa kejapan mata saja kepala itu kini tinggal tengkorak
berselimut darah! Tubuh Tumenggung Gandana Jipang tak berkutik
lagi.
"Gusti Allah…" bisik Wiro dalam hati dan membuang muka ke
jurusan lain.
Kesunyian yang dicengkam ketegangan menggantung di tempat
itu. Dan Kesunyian ini dirobek oleh suara tawa mengekeh Pangeran
Adi Bintang dan Suto Gunoro alias Si Tapak Api sementara Si
Pengupas Kepala sibuk membersihkan tangan dan kukunya yang
bersimbah darah. Sambil membersihkan tangannya dia memandang
berkeliling, lalu berkata, "Manusia ini bukan Tumenggung Gandana
Jipang! Dia mata-mata Kerajaan yang coba menyusup. Tumenggung
Gandana Jipang yang sebenarnya berada dalam penjara!"
Wiro tidak perduli apa yang diucapkan oleh orang itu. Ingin
sekali dia meninggalkan tempat itu. Ketika dia hendak bergerak
bangkit tiba-tiba Si Tapak Api berseru.
"Ada tamu datang! Bersihkan meja!"
Pengemis Kaki Kayu cepat berdiri. Kaki kayunya bergerak ke
atas meja. Tubuh Tumenggung Gandana Jipang mencelat mental dan
lenyap diantara pohon-pohon lebat yang mulal tenggelam dalam
gelapnya malam yang baru turun.
***
5
YANG DATANG ternyata ada dua orang. Yang pertama seorang
lelaki tinggi kekar berambut kelabu dan memegang sebuah tongkat
sepanjang tiga jengkal di tangan kanannya. Di samping orang ini,
agak ke belakang sedikit berjalan seorang gadis berkebaya panjang
biru dangan sulaman gambar mahkota serta keris bersilang di dada
kirinya. Gadis ini tampak agak ragu-ragu untuk melangkah lebih dekat
ke arah meja besar dimana berkeliling belasan orang yang sama sekali
tidak dikenalnya. Tapi lelaki berambut kelabu cepat berbisik dan
memegang tangannya. "Tak ada yang harus ditakutkan, anakku. Kita
berada di tengah-tengah teman seperjuangan…"
"Aha! Ki Demang Wesi! Akhirnya kau datang juga! Untung
pembicaraan rahasia belum dimulai!" Si Tapak Api berseru. Sesaat
matanya jelalatan menatap wajah cantik gadis di samping lelaki
berambut kelabu yang ternyata adalah Ki Demang Wesi, Kepala Desa
Parangtritis.
"Harap maafkan.... "sahut Ki Demang Wesi sambil menjura.
"Aku terlambat karena harus meyakinkan anakku ini dulu bahwa
perjuangan kita adalah perjuangan yang besar. Bahwa masa depannya
akan seribu kali lebih baik begitu perjuangan selesai! Aku
perkenalkan putriku, Winayu Tindi. Sebenarnya dia adalah puteri
almarhum Ageng Lontar, orang paling kaya di Parangtritis. Tapi aku
sudah menganggapnya sebagai anak sendiri dan dia sudah
menganggap aku sebagal ayah! Dan yang penting, Winayu Tindi telah
memutuskan untuk menyumbang kekayaannya bagi perjungan kita!"
"Hebat!" seru Si Tapak Api.
Pangeran Adi Bintang Sasoko tiba-tiba bangkit dari kursinya.
Matanya memandang tak berkesip pada Winayu Tindi. Tangan
kanannya diangkat. Jari telunjuknya diarahkan tepat-tepat pada gadis
itu, tenggorokannya turun naik. "Cantik! Cantik sekali puterimu ini Ki
Demang! Sumbangannya untuk perjuangan sangat besar! Apakah
balas jasa yang paling baik harus kita berikan pada si cantik jelita
ini...?!"
Tak ada yang menjawab. Mungkin tak ada yang berani
menjawab. Tapi tiba-tiba Wiro berdiri. "Menurut pendapatku, dia
pantas menjadi istri pangeran. Menjadi permaisuri begitu pangeran
dinobatkan jadi Raja!"
"Hah?! Tepat! Tepat sekali!" teriak Pangeran Adi lalu tetawa
gelak-gelak.
Yang lain-lainnya ikut bertepuk tangan dan mengatakan setuju.
Di antara tepuk tangan dan suara riuh itu tiba-tiba Wiro mendengar
ada suara seperti nyamuk mengiang dikedua telinganya, "Anak tolol!
mengapa mulutmu selancang itu mengatur perjodohan orang?!
Sableng!"
Wiro merasakan mukanya jadi merah dan panas. Dia memandang
berkeliling, mencari-cari siapa diantara yang hadir yang barusan
mengirimkan ucapan itu. Sulit baginya untuk menduga. Mungkin
Pengemis Kaki Kayu atau mungkin Si Tapak Api.
Atau mungkin pula salah satu dari Sepasang Tongkat Dewa?
Ketika tepuk tangan dan suara riuh lenyap, terdengar suara
Winayu Tindi. Wajah gadis ini tampak sangat merah.
"Sesuai janji, saya memberikan sumbangan demi untuk mencari
tahu siapa pembunuh ayah dan ibu saya…!"
"Oh begitu? Urusan gampang!" sahut Si Tapak Api.
"Calon permaisuriku! Kau tak usah kawatir! Jangankan mencari
tahu siapa pembunuh orang tuamu! Mencari tahu beberapa banyak
bintang di langitpun akan kulakukan!" berkata Pangeran Adi yang
disambut dengan suara riuh rendah oleh orang banyak.
Ki Demang Wesi membimbing Winayu lalu keduanya duduk di
bagian meja yang masih kosong ini adalah di samping Wiro. Begitu
melihat si pemuda kening Ki Demang Wesi jadi berkerut.
"Eh, anak muda! Kau…"
"Rupanya kita orang-orang satu golongan. Apakah kau masih
menduga aku yang melakukan…?" Wiro mendahului.
"Tidak, tentu saja tidak!" jawab Ki Demang Wesi cepat.
Winayu Tindi tidak mengerti apa yang dibicarakan kedua orang
itu. Tapi sejak mendengar ucapan Wiro tadi, gadis ini sudah sempat
sebal lebih dulu. Begitu Wiro memandang padanya gadis ini segera
menempelak dengan ucapan, "Mulutmu lancang benar! Apa
keuntunganmu mengatakan itu tadi…"
Untuk kedua kalinya Wiro merasa wajahnya menjadi merah.
Sadar kalau mulutnya ketelepasan.
"Maafkan aku sahabat. Aku tidak bermaksud lancang. Tapi katakataku
tadi memang tidak pada tempatnya. Kurang ajar! Aku tahu
jangankan gadis secantikmu, kambing betina yang bengekpun tidak
mau jadi istri Pangeran gila itu…!"
Suto Gunoro sang calon patih Kerajaan bangkit dari tempat
duduknya. Setelah menghisap pipanya panjang-panjang diapun
menyatakan bahwa pembicaraan rahasia segera dimulai. Adapun
pembicaraan itu menyangkut rencana penyerbuan Kraton dari tiga
jurusan dengan kekuatan hampir seribu orang. Lalu melakukan
penculikan terhadap Sri Baginda dan menculik atau membunuh
Pangeran Ikronegoro yakni Pangeran yang diduga akan diangkat dan
dinobatkan menjadi Raja begitu Sri Baginda mangkat. Setelah itu
dilakukan penggantian terhadap pucuk pimpinan Kerajaan, termasuk
para Adipatl, kecuali Adipati yang berpihak dan membantu Pangeran
Adi bintang Sasoko.
IZRO'IL
Badai Di Parang Tritis


Diatur pula taktik bahwa penyerbuan akan dilakukan dua harl
dimuka, dinihari menjelang subuh. Sebelum itu, pada permulaan
malam akan dilakukan pembunuhan terhadap para tokoh silat Istana.
Dan ini dilaksanakan oleh tiga orang yaitu Si Pengupas Kepala,
Pengemis Kaki Kayu dan Pendekar 212 Wiro Sableng!
Menjelang tengah malam pertemuan rahasia itu berakhir, Ki
Demang Wesi meneguk tuak sampaii sekendi penuh. Winayu Tindi
sama sekali tidak menyentuh minuman ini, dan juga tidak mencicipi
makanan. Ini kelak menyelamatkan dari racun mematikan yang ada
dalam minuman.
Selain bangunan panjang tanpa dinding yang dijadikan tempat
pertemuan itu, ternyata masih ada tiga bangunan lain yang dibuat
berpencar di tiga tempat dan merupakan rumah-rumah kecil. Salah
Satu rumah itu ditempatl oleh Pangeran Adi Bintang Sasoko bersama
Si Tapak Api. Rumah kedua dan ketiga tadinya dibagi-bagi untuk para
anggota komplotan pemberontak itu namun yang satu kemudian harus
diberikan pada Winayu Tindi karena sudah diputuskan bahwa sejak
kedatangan mereka malam itu ke tempat itu, tidak satu orangpun
diperkenankan meninggalkan tempat rahasia itu. Penjagaan ketat
dilakukan di setiap sudut.
Malam itu Wiro pura-pura tidur mendengkur di bangku panjang.
Udara dingin sekali dan suara deburan ombak di pantai terdengar
mengerikan. Setelah pertemuan berakhir tadi, Wiro sempat melihat
Pangeran Adi, Si Tapak Api dan Ki Demang Wesi melakukan
pembicaraan singkat. Lalu ketiganya menuju rumah kecil di sebelah
kanan. Murid Sinto Gendeng yakin sekali pasti ada pembicaraan.
Ketika dilihatnya gelagat baik, Pendekar 212 cepat mengendap-endap,
menyelinap di kegelapan malam lalu melompat ke atas pohon yang
salah satu cabangnya menjuntai tepat di atas rumah di mana ketiga
orang itu berada. Dari atas pohon Wiro dapat mendengar pembicaraan
orang-orang itu cukup jelas.
"Ki Demang Wesi, malam dingin begini aku ingin berada dekat
puterimu yang cantik itu. Apa jawabmu Ki Demang?" terdengar suara
Pangeran Adi.
"Pangeran, gadis itu masih terguncang jiwanya akibat kematian
kedua orang tuanya. Tunggulah beberapa hari. Dia akan menjadi
permaisuri Pangeran jika Pangeran memang menyukainya…" Begitu
jawaban Ki Demang Wesi.
"Tentu saja aku menyukainya! Ha..ha...ha! Seperti aku menyukai
sarapan pisang goreng dan kopi hangat pada pagi hari! Ha.. ha.. ha.. !"
"Ki Dernang, tadi aku mendengar gadis itu menyatakan bahwa
sumbangan diberikannya dengan imbalan kita harus mencari tahu
siapa pembunuh kedua orang tuanya. Bukankah persoalan itu sudah
kuserahkan agar kau selesaikan dengan tuntas?" Yang bicara adalah Si
Tapak Api.
"Telah aku usahakan Suto. Hanya sayang aku salah menjatuhkan
tuduhan. Aku tidak tahu kalau pemuda asing yang aku tuduh itu
adalah Pendekar 212 Wiro Sableng, orang kita sendiri.... "
"Terus terang aku menaruh curiga pada pendekar satu itu. Meski
orangnya keblinger dan kepandaiannya tinggi namun sejak lama dia
dikenal sebagai tokoh bersih dari golongan putih...."
"Dunia bisa berubah, apalagi manusia!" ujar Ki Demang Wesi.
"Tapi tak ada salahnya untuk menyelidiki, siapa yang
membawanya masuk dalam kelompok kita…"
Melihat hal ini Ki Demang Wesi minta diri untuk meninggalkan
tempat itu. Sebelum Ki Demang membuka pintu terdengar Si Tapak
Api berkata, "Kau jaga baik-baik Winayu Tindi itu, Ki Demang! Dia
calon Permaisuri!"
"Akan aku lakukan Sumo. Tentu saja!"
"Satu hal lagi haruss kau jaga baik-baik, Ki Demang!"
"Apa itu...?"
"Jangan sampai dara itu mengetahui kalau kaulah pembunuh
kedua orang tuanya…"
Ki Demang Wesi mengangguk perlahan. Ada rasa tidak enak di
hatinya mendengar kata-kata Sumo Gunoro itu. Maka diapun berkata,
"Kalau bukan demi perjuangan, sebenarnya aku tidak akan mau
berlaku sekeji itu Sumo... Lagi pula dia menolak untuk diajak serta.
Bahkan mengancam akan melaporkan komplotan kita ke Istana!"
"Memang manusia seperti dia pantas disingkirkan. Tapi kudengar
istrinya telah dirusak kehormatannya sebelum dibunuh! Apa yang kau
lakukan Ki Demang?"
"Ya, ceritakan apa yang kau lakukan Ki Demang!" terdengar
suara sang Pangeran.
Terdengar Ki Demang Wesi menarik nafas. Lalu terdengar
jawabannya. "Perempuan itu terlalu cantik dan masih sangat muda
untuk dihabisi. Sayang dia banyak tahu dari suaminya tentang
komplotan kita. Juga kusir kereta.... "
"Aku tidak bertanya si kusir delman itu! Tapi apa yang situ
lakukan terhadap istri Ageng Lontar! Ha... ha...ha.... ! Ceritakan saja
saja Ki Demang.... "
"Aku memang dirasuk nafsu. Perempuan itu kutiduri baru
kubunuh. Untuk menutup rahasia kusir delman terpaksa pula
kubunuh!"
"Kau makan sendirian Ki Demang! Tidak membagi-bagi kami!
Ha...ha.... ha....!"
"Kau boleh pergl Ki Demang! Dan janjiku padamu pasti akan
kutepati! Kau bukan saja akan terus jadi Kepala Desa Parangtritis, tapi
akan kuangkat jadi Adipati!"
"Terima kasih Pangeran. Aku minta izin mengundurkan diri...."
Terdengar suara pintu dibuka lalu ditutupkan kembali.
Di atas pohon Pendekar 212 Wiro Sableng tersentak kaget seperti
disengat kalajengking mendengar rentetan pembicaraan yang terakhir.
"Manusia setan haram jadah! Jadi dia pembunuh kedua orang tua
gadis itu! Benar-benar dajal!" Amarah membuat murid Sinto Gendeng
ini lupa berada dimana dia saat itu. Begitu melihat sosok tubuh Ki
Demang Wesi keluar dari dalam rumah dia segera hendak melompat
turun guna menghajar manusia itu. Tapi gerakannya tertahan ketika
tiba-tiba ada suara mengiang di telinganya.
"Jangan tolol! Kendalikan amarahmu! Belum saatnya! Belum
saatnya untuk memamerkan kehebatan!"
"Sialan! Dia lagi!" maki Wiro. Matanya dibuka lebar-lebar dan
dia memandang berkeliling. Tidak nampak seorangpun, kecuali Ki
Demang Wesi yang melintas dibawah pohon. Saat itu pintu rumah terdengar
terbuka kembali. Lalu tampak Si Tapak Api keluar dan
bergegas menyusul Ki Demang. Kedua orang ini sama berhenti di
bawah pohon, tepat di atasnya Wiro mendekam.
"Sumo, aku perlu bertanya. Apakah tuak itu benar-benar kau
campur racun?"
"Seperti yang kita rencanakan, sobatku! Dalam waktu dua minggu
yang minum akan mampus! Putus dan hancur ususnya! Dan kita
memang tidak memerlukan mereka lagi! Juga tidak Pangeran gila dan
tolol itu!"
"Kalau begitu lekas berikan padaku obat penawar racun itu! Aku
tidak mau mati konyol!"
S! Tapak Api tertawa mengekeh. Lalu dikeluarkan sebutir benda
putih dari dalam saku pakalannya dan diserahkan pada Ki Demang.
Kepala Desa ini cepat menelan obat penawar racun itu.
"Jadi kau tetap akan menghabisi Pangeran Adi begitu tahta
direbut?" terdengar Ki Demang bertanya.
"Bukankah itu yang kita rencanakan? Aku jadi Raja, kau menjadi
Patih...! Nah, hari hampir pagi. Kau pergilah tidur. Mudah-mudahan
mimpi enak..." Si Tapak Api menepuk bahu Ki Demang Wesi.
Keduanya berpisah.
"Jahanam! Benar-benar manusia-manusia jahanam! Jadi benar
bisikan orang itu. Minuman itu ternyata beracun!"
Wiro memandang lagi berkeliling. Sangat halus, tapi dia masih
sempat mendengar ada suara bergeresek di belakangnya. Dia cepat
berpaling. Tapi terlambat. Dia hanya sempat melihat bayangan dalam
gelap. Dia coba memburu. Bayangan itu lenyap! Tapi dari sosok
tubuh yang sekelebatan itu dia rasa rasa bisa menduga siapa adanya
orang itu. Wiro memperhatikan suasana sekeliling seolah-olah tengah
meronda. Dilihatnya tokoh silat yang mengaku banci dan bernama
Tatata t*t*ti tengah tidur mengorok dekat kaki meja besar. Tadi dia
tidak melihat orang itu tidur di sana, Bagaimana kini tahu-tahu dia
bisa ada di situ? Wiro melangkah mendekati orang ini.
Memperhatikannya sejenak. Dia melihat ada kotoran kehijauan pada
pakaian merah Tatata t*t*ti. Lalu diperhatikannya tangan sendiri.
Noda yang sama juga terdapat pada kedua telapak tangannya. Kotoran
Itu adalah lumut pohon yang dipanjatnya. Pendekar 212 tersenyum.
Dalam hati dia berkata, "Hemmm... Jadi dia rupanya!" Wiro manggutmanggut
dan diam-diam merasa lega.
Paling tidak dia tahu kalau dia tidak sendirian ditempat yang
sangat berbahaya itu.Ada seorang teman bersamanya walau dia masih
tidak dapat memastikan siapa adanya orang itu. Sambil garuk-garuk
kepala Wiro melangkah ke bangku panjang di mana dia berbarlng
sebelumnya. Dibelakangnya Tatata t*t*ti yang masih keluarkan suara
mengorok tampak membuka mata kirinya. Ada sekelumit senyum
dimulutnya yang celemongan oleh gincu itu. Dalam hati dia berkata,
"Ah, pemuda itu sudah tahu rupanya…"
***
6
SEJAK SIANG hujan turun terus. Menjelang sore reda sebentar tetapi
begitu matahari menggelincir ke ufuk tenggelamnya hujan menderas
menggila. Air laut bergelombang menggemuruh. Suaranya
menakutkan. Ombak memecah di teluk bergulung-gulung setinggi
rumah. Di kejauhan terdengar suara angin menderu mengerikan.
Tampak kilat sambar-menyambar lalu suara guntur menggelegar
seperti hendak membalikan isi laut. Beberapa pohon kelapa di tepi
pasir patah berderak, tumbang ke laut. Ringkik kuda yang ketakutan
terdengar berulang kali.
Di dalam rumah kecil Si Tapak Api tampak melangkahi mundar
mandir sementara Pangeran Adi tegak di sudut sambil tersenyumsenyum
lalu menyanyi-nyanyi kecil seolah-olah mengiringkan deru
hujan dan angin serta gemuruh air laut. Sepasang Tombak Dewa
berdiam diri sedang Pengemis Kaki Kayu duduk manggut-manggut
sambil permainkan kaki kayunya. Tokoh aneh bernama Tatata t*t*ti
berdiri dekat pintu rumah, memegang sehelai kapas berwana merah.
Tengah berhias rupanya si banci ini! Si Tapak Api diam-diam memaki
melihat tingkah laku orang-orang yang ada disitu. Terutama jengkel
terhadap Pangeran Adi dan Tatata t*t*ti.
"E… Hujan celaka !" akhirnya meledak kejengkelan Si Tapak
Api, alias Buto Gunoro sang calon Patih Kerajaan. "Mengapa justru
turun saat pasukan kita siap bergerak!"
"Tenang saja Suto. Sebentar lagi hujan pasti berhenti. Begitu
berhenti kita segera bergerak menuju Kotaraja," berkata Pengemis
Kaki Kayu.
"Kalau segera berhenti, kalau tidak…? Kita bisa terlambat dan
kesiangan sampai di sasaran!"
"Kalaupun hujan tidak berhenti, apakah kita takut menempuh
malam dan hujan?" bertanya Dewa Tongkat Kesatu.
"Tidak ada yang perlu kita takuti di dunia ini, tapi jangan tolol.
Cuaca bisa membuat kacau gerakan kita!" kata Si Tapak Api tambah
jengkel. "Apa sebenarnya yang terjadi di luar sana? Siapa yang pandai
melihat cuaca?! Tatata t*t*ti, kau pasti tahu soal cuaca. Coba lihat
keluar, apakah hujan akan reda atau tidak?!"
Tatata t*t*ti tampak terkejut. Dia hentikan membenahi wajahnya
dengan bedak merah itu, memandang Si Tapak Api dan tersenyum.
Lalu terdengar suaranya yang kecil.
"Kalau aku berhujan-hujan keluar, bedakku, gincuku, alisku...
semua akan luntur! Hik...hik! Mukaku akan lebih buruk dari pantat
kuali! Suruh saja yang lain…"
Si Tapak Api menjadi sewot perintahnya ditampik begitu rupa.
Dia menjangkau sebuah caping lebar dari bambu dan melemparkarnya
pada Tatata t*t*ti. "Pakai caping itu! Wajahmu tak akan kehujanan!
Ingat! Kekuasaan dan perintah tertinggi ada pada Pangeran Adi. Dan
aku mewakilinya. Jadi jangan ada yang berani menolak perintah…"
Tatata t*t*ti batuk-batuk beberapa kali. Caping yang dilemparkan
orang terpaksa disambutnya dan dikenakannya di atas kepalanya. Lalu
dibukanya pintu rumah. Saat itu udara di luar mulai gelap. Hujan lebat
seperti tidak bisa ditembus dengan pandangan mata. Dengan langkah
terhuyung-huyung Tatata t*t*ti berjalan menuju bagian bukit yang
agak tinggi. Seharusnya dari situ dia bisa melihat teluk dan laut. Tapi
malam yang mulai turun dan derasnya hujan membuat
pemandangannya terbatas hanya sampal dua tombak saja. Sambil
menggigil kedinginan Tatata t*t*ti memandang berkeliling, mencaricari
pohon yang baik dan mudah untuk dipanjat. Dia menemukan
sebatang pohon yang tidak terlalu tinggi dengan cabang-cabang yang
berdekatan satu sama lain. Sekali lagi orang yang mengaku banci ini
memandang berkeliling. Lalu sekali dia menggenjot kaki maka
tubuhnya pun melayang ke atas cabang kedua. Walaupun dia kini
berada di atas pohon, tetap saja dia tidak papat melihat jauh ke arah
laut. Yang kelihatan hanya sambaran-sambaran kilat lalu suara guntur
yang seperti hendak merobek langit. Namun sebenarnya bukan untuk
dapat melihat laut yang menjadi tujuan si muka celemong ini untuk
naik ke atas pohon. Dari dalam sakunya dia mengeluarkan sebuah
benda bulat panjang sebesar ibu jari. Bagian atas benda ini ada
sumbunya sedang sebelah bawah ditancapi sepotong bambu kecil
sebesar lidi. Dari sakunya yang lain dia mengeluarkan sepasang batu
api.
"Celaka, batu api ini basah…!" Lalu Tatata Titi gosok-gosokkan
dua batu api itu kepakaiannya agar kering. Sementara itu di dalam
rumah kecil, Si Tapak Api terdengar marah-marah karena sepasang
batu apinya lenyap entah kemana. Padahal yang kini berada di tangan
Tatata t*t*ti itulah batu api miliknya, dicuri oleh si muka seronok!
Setelah sepasang batu api kering dan dia berusaha sedapat
mungkin melindungi benda bulat bersumbu agar tidak terkena air
hujan, maka Tatata t*t*ti mulai menggosok sepasang batu api itu satu
sama lain. Karena dia menggosok dengan ketakutan kuat dan keras
maka sebentar saja apipun memerclk. Tetapi ketika lidah api
didekatkan ke sumbu benda bulat panjang, tiupan angin yang keras
mematikanya.
"Setan alas!" maki Tatata t*t*ti. Sampai empat kali dia mencoba
akhirnya baru sumbu itu dapat dibakarnya dengan nyala api. Karena
terbuat dari sejenis kain yang cepat dimakan api, sumbu itu serta
merta terbakar. Api menyulut ke bagian benda bulat. Terdengar suara
mendesis panjang. Tatata t*t*ti lepaskan pegangannya pada bambu
kecil. Seperti didorong oleh sesuatu kekuatan yang keras, dalam
keadaan menyala benda bulat panjang itu melesat ke udara. Siapapun
yang berada di delapan penjuru angin pasti akan melihat nyala
terangnya, walaupun hanya seketika yakni sebelum padam diterpa air
hujan dan udara dingin. Tatata t*t*ti untuk sesaat masih mendekam di
atas pohon itu. Dia lebih banyak mempergunakan ketajaman
telinganya dari pandangan mata.
"Ada badai yang bakal turun. Air laut akan segera naik. Pasang
pasti akan menenggelamkan goa...."
Lalu dia turun dari atas pohon kembali ke dalam rumah.
"agaimana? Apa yang bisa kau laporkan…?!" Si Tapak Api
langsung bertanya begitu Tatata t*t*ti muncul di pintu.
"Kita harus berangkat saat ini juga. Ada badai besar berkecamuk
di laut. Dalam waktu cepat air laut akan pasang dan goa panjang satusatunya
jalan menuju ke pantai akan terendam air!"
Mendengar keterangan Tatata t*t*ti itu Pangeran Adi Bintang
Sasoko melompat dan memegang lengan Si Tapak Api kuat-kuat.
Wajahnya menunjukkan ketakutan. "Aku tak mau mati ditabrak badai!
Aku tak mau mampus tenggelam di tempat ini! Aku harus hidup
karena aku harus jadi Raja! Dan permaisuriku itu.... Dia yang nomor
satu harus diselamatkan…!"
"Tenang Pangeran... tenang! Semua akan kita atur dengan cepat.
Kita akan segera meninggalkan tempat ini!" Si Tapak Api lalu
memanggil semua tokoh silat dan para Adipati yang ikut dalam
pertemuan malam tadi, termasuk Pendekar 212 Wiro Sableng.
"Kita semua akan beprangkat saat ini juga. Kalian harus
mengambil kedudukan dan tanggung jawab sesuai yang sudah diberi
tahu. Aryo Ladam, kau dan Tongkat Dewa Kedua serta dua orang
Adipati bertugas mengawal dan menjaga keselamatan pangeran Adi
dan Winayu Tindi! Ingat, sebelum mencapai jembatan di dukuh
Sitomulyo, mereka harus kalian bawa ke tempat rahasia yang sudah
ditetapkan dan menunggu di sana sampai ada utusan datang! Aryo,
cepat kau jemput gadis itu bersama Ki Demang Wesi…"
Aryo Ladam cepat tinggalkan tempat itu, berlari di bawah hujan
menuju rumah kecil di mana Winayu Tindi dan Ki Demang Wesi
berada. Tak lama kemudian calon Kepala Pegawal Raja ini kembali
dengan muka pucat.
"Ada apa.... ? Mana kedua orang itu...?!" tanya Si Tapak Api.
"Gadis itu tak ada di dalam rumah sana. Ki Demang Wesi
kutemui dalam keadaan tertotok. Aku berusaha melepaskan
totokannya tapi tidak bisa!"
Pangeran Adi Bintang Sasoso keluarkan suara seperti meraung
menangis lalu lari menghambur keluar, diikuti oleh yang lain-lain.
Ketika sampai di rumah sebelah memang di situ hanya ditemul Ki
Demang Wesi tegak kaku tak bergerak di tengah ruangan, menghadap
ke dinding membelakangi pintu. Winayu Tindi sama sekali tak ada di
tempat itu.
Si Tapak Api memeriksa keadaan Ki Demang Wesi sesaat lalu
menusukkan dua ujung jari tangan kanannya ke punggung untuk
melepaskan totokan di tubuh orang itu. Tapi gagal. Totokan itu tidak
musnah. Paras Si Tapak Api tampak berubah.
"Ini bukan totokan sembarangan! Tak mungkin gadis itu yang
melakukannya lalu melarikan diri! Ada pengkhlanat di antara kita!
Musuh telah menyusup di tempat ini!" kata calon Patih itu dengan
mata berapi-api lalu menatap semua orang yang ada di situ satu
persatu.
"Ka1au begitu pendapatmu, berarti calon permaisuri telah diculik
orang!" kata Dewa Tongkat Kesatu.
Mendengar ini kembali Pangeran Adi Bintang Sasoko meraung
dan jatuhkan diri ke lantai lalu menangis seperti anak kecil.
"Manusia gila! Sedeng!" maki Si Tapak Api dalam hati. Dia sama
sekali tidak memperdulikan sang Pangeran. Beberapa kali dia
berusaha melepaskan totokan di tubuh Ki Demang Wesi, tapi tetap
saja tak berhasil.
"Biar aku yang tolol dan banci ini mencobanya!" berkata Tatata
t*t*tl. Dia maju mendekati Ki Demang Wesi, menelitinya sesaat lalu
tiba-tiba sekali dia menarik celana Kepala Desa Parangtritis itu hingga
melorot ke bawah. Di sebelah muka tampak perut dan pusatnya yang
penuh bulu, di sebelah belakang tampak pantatnya yang jelek hitam.
"Manusia banci! Apa yang kau lakukan ini?!" teriak Si Tapak Api
sementara yang lain-lain tampak senyum-senyum dan Wiro sendiri
hanya garuk-garuk kepala.
"Jangan berpikir yang bukan-bukan!" Sahut Tatata t*t*ti. "Pusat
pengunci totokan aneh ini ada dipusarnya!" Lalu Tatata t*t*ti menusuk
pusar Ki Demang Wesi kuat-kuat dengan jari telunjuk tangan
kanannya. Ki Demang menjerit.
Duuutttt!
Angin busuk keluar dari bagian bawah Ki Demang Wesi
membuat semua orang menyumpah dan menekap hidung karena
baunya yang seperti hendak meruntuhkan bulu hidung. Namun di saat
itu pula Ki Demang Wesi tampak bergerak lalu menggeliat dan
akhirnya membuat gerakan seperti meronta. Ternyata dia kini telah
bebas dari totokan aneh luar biasa itu.
"Ki Demang! Ceritakan apa yang terjadi ?!" tanya Si Tapak Api.
"Aku mendengar suara angin bersiur, lalu tubuhku terdorong ke
depan dan ketika aku sadar, kudapati tubuhku sudah kaku, tak bisa
bergerak, tak bisa bersuara. Winayu Tindi lenyap!"
"Kau sama sekali tidak melihat siapa yang melakukan?" tanya
Dewa Tongkat Kedua.
Ki Demang Wesi menggeleng.
"Permaisuriku… Permaisuriku!" Kembali terdengar raungan
Pangeran Adi Sasoko.
"Pangeran tenanglah. Kita pasti menemukan gadis itu...." kata
Tatata t*t*ti. Tapi sang Pangeran terus meraung seperti anak kecil.
Tiba-tiba seseorang muncul di pintu. Dia adalah salah seorang
yang ditugasi memimpin satu kelompok pasukan.
"Ada apa?!" membentak Si Tapak Api.
"Saya datang untuk melaporkan keadaan di luar. Air laut mulai
menggenangi mulut goa. Badai dari laut mulai menerjang tepi pantai.
Pohon-pohon bertumbangan. Banyak kuda yang terlepas dan lari.
Anggota pasukan mulai resah…"
Si Tapak Api mendekati Sepasang Dewa Tongkat. Ketiga orang
ini bicara berbisik-bisik. Lalu Si Tapak Api berkata pada orang yang
melapor. "Kembali ke tempatmu. Beritahu semua orang untuk
bersiap-siap. Kita akan segera meninggalkan tempat ini. Langsung
menuju Kotaraja! Atur pasukan dan siapkan senjata masing-masing!
Aryo Ladam, kuminta kau pergi bersama orang ini... "
Aryo Ladam mengangguk lalu tinggalkan tempat itu, tetapi si
pelapor masih tetap berdiri di tempatnya. "Ada lagi satu hal penting
terjadi di luar sanal Dua orang pengintai melihat ada tiga rombongan
besar pasukan Kerajaan. Mereka datang dari timur, utara dan barat,
menuju ke arah teluk, mengurung semua jalan keluar!"
Terkejutlah semua orang yang ada di situ. Suasana berubah
tegang sementara Pangeran Adi masih terus meraung-raung sambil
jambaki rambutnya sendiri.
"Kurang ajar! Bagalmana ini bisa terjadi kalau tidak ada
ponghianatan diantara kita! Musuh dalam selimut! Penyusup
keparat…!" teriak Si Tapak Api sambil kepalkan kedua tangannya.
"Lekas mengaku! Siapa di antara kalian yang jadi penghianat di
tempat ini! Siapa di antara kalian yang jadi mata-mata Kerajaan!
Kalau tidak ada, masakan pasukan Kerajaan tahu-tahu sudah berada di
sekitar teluk! Berarti mereka paling tidak sejak satu hari lalu sudah
bersembunyi di luar sana!"
IZRO'IL
Badai Di Parang Tritis


Tak ada yang bergerak. Tak ada yang menjawab.
"Baik!" ujar Si Tapak Api dengan rahang menggembung, mata
berapi-api dan suara bergetar saking marahnya. "Tidak apa kalau tidak
ada yang mau mengaku! Tapi dengar kalian semua! Malam lalu kalian
telah berpesta pora dengan tuak harum! Tapi tuak itu mengandung
racun ganas. Dalam dua minggu kalau tidak dapat obat penawarnya,
kalian akan mampus dengan usus hancur dan rasa sakit luar biasa!
Siapa yang ketahuan menjadi pengkhianat, begitu Kotaraja jatuh dan
tahta Kerajaan direbut, jangan harap akan kuberikan obat penawar
racun!"
Mendengar kata-kata Si Tapak Api itu tentu saja semua orang
yang ada di situ jadi terkejut dan marah. Beberapa di antaranya segera
melompat ke hadapan Si Tapak Api. Si Pengupas Kepala angkat
kedua tangannya. Si Tapak Api mundur selangkah. Sambil
menyeringai dia berkata, "Aku tidak takut mati! Kalian boleh
membunuhku sekarang juga! Tapi kalian sendiri akan mampus dua
minggu kemudian! Silahkan pilih! Ikut bersamaku meneruskan
rencana semula dan kuberi obat penawar atau kalian memilih bunuh
diri sendiri-sendiri dengan racun yang ada dalam perut dan darah
kalian!"
"Jahanam kau Tapak Api!" mendamprat Pengemis Kaki Kayu.
"Kami sudah percaya padamu dan ikut bersamamu! Mengapa harus
menipu dan mencelakai kami dengan racun dalam minuman?!"
"Manusia keparat! Pasti dia menyembunyikan satu maksud yang
tidak baik terhadap kita! Jangan-jangan kita hanya dijadikan alat
belaka!" Membuka mulut Tatata t*t*ti.
"Tidak satupun di antara kalian yang akan mati, kecuali para
penghianat. Aku akan memberikan obat penawar pada hari ke tiga
belas! Jabatan dan hadiah yang telah dijanjikan tetap akan menjadi
bagian kalian! Sekarang bukan saatnya bicara panjang lebar. Lekas
tinggalkan tempat ini... "
Baru saja Si Tapak Api mengakhiri kata-katanya, tiba-tiba angin
dahsyat menderu. Bangunan kecil di mana mereka berada terdengar
berderak. Lalu terdengar suara gemuruh ketika atap rumah itu terbang
dihantam angin bersama sebagian dinding bangunan. Beberapa pohon
di sekitar tempat itu terdengar berderak bertumbangan.
"Badai sudah sampai di sini!" teriak Tombak Dewa Kesatu.
Semua orang melompat keluar darl runtuhan rumah kecuali
Pangeran Adi Bintang Sasoko. Dia masih saja menjelepok di lantai
dan meraung. Si Tapak Api cepat angkat tubuhnya namun sang
Pangeran meronta sambil berteriak-teriak. "Aku tidak mau pergi!
Mana permaisuriku! Cari dulu dia! Aku harus pergi bersamanya!"
"Pangeran! Permaisurimu pasti akan kita temui! Yang penting
saat ini kita harus tinggalkan tempat ini! Sebentar lagi badai akan
menghancurkan semua yang ada di bukit ini! Air laut akan semakin
naik dan jalan menuju goa akan tertutup!" berkata Si Tapak Api.
Tapi Pangeran berotak miring itu malah menjerit, dan
menggembor lalu menyerang Si Tapak Api. Si Tapak Api tak dapat
menahan kejengkelannya lagi. Begitu sang Pangeran sampai di
hadapannya serta merta ditotoknya hingga kaku dan gagu.
"Pendekar 212! Tugasmu memanggul tubuh calon Raja kita!"
memerintah Si Tapak Api.
"Bukankah tugasku bersama Pengemis Kaki Kayu dan Si
Pengupas Kepala berangkat duluan menuju Kotaraja untuk
menghabisi tokoh-tokoh silat Istana?" menjawab Wlro.
"Jangan toloi! Jangan berani menampik perintahku!" bentak Si
Tapak Api dengan mata mendelik. "Kalau pasukan Kerajaan sudah
muncul di Parangtritis apa kau kira para tokoh itu masih buta tidak
mengetahul apa yang terjadi? Apa kau kira mereka enak-enakan tidur
dan ngorok?! Jalankan perintahku!"
Wlro garuk-garuk kepala lalu memanggul tubuh Pangeran Adi.
"Bebanku berat! Aku tak bisa berjalan cepat! Kalian berangkatlah
duluan!" ujar murid Sinto Gendeng pula.
Ketika orang-orang itu berjalan menuruni bukit dan satu demi
satu memasuki goa panjang menuju ke pantai, Pandekar 212 dengan
cepat turunkan beban sang Pangeran lalu menyandarkannya ke sebuah
pohon. Dengan mempergunakan akar gantung Wiro mengikat tubuh
pangeran itu ke pohon tersebut!
Selesai mengikat Pangeran Adi Wiro lari ke bagian timur bukit,
menyelinap ke balik serumpun semak belukar. Sesosok tubuh
perempuan berpakaian biru yang basah kuyup oleh air hujan, tampak
dalam kegelapan malam. Kedua matanya terpejam. Perempuan ini
ternyata adalah Winayu Tindi yang sebelumnya telah dilarikan oleh
Wiro untuk diselamatkan lalu disembunyikan di semak belukar itu.
Dengan tangan kanannya Wiro mengurut melepas totokan pada
tengkuk Winayu Tindi. Kedua mata gadis ini tampak bergerak lalu
membuka. Mulutnya terbuka dan siap untuk menjerit. Wiro cepat
menutup mulut sang dara.
"Anak manis... jangan menjerit. Jangan takut. Kita bisa selamat
dari tangan-tangan pemberontak itu asalkan kau mau menuruti
nasihatku..."
"Kau! Kau menyebut mereka pemberontak, kau sendiri salah
seorang dari mereka!" tukas Winayu Tindi.
Wiro menyeringai. "Kau tidak beda dariku, anak manis..."
"Jangan sebut aku anak manis! Aku bukan anak-anak…"
Tapi kalau orang-orang Kerajaan tahu kau membantu kaum
pemberontak, nasibmu akan lebih buruk dariku. Sekarang dengar
baik-baik! Aku tahu siapa pembunuh kedua orang tuamu dan kusir
delman itu!"
Paras Winayu Tindi berubah. Dia berdiri dengan cepat. "Siapa?!"
tanyanya menjerit di antara deru hujan dan angin. Sementara malam
tambah gelap dan udara dingin bukan main.
"Aku akan katakan itu nanti. Yang penting mari tinggalkan
tempat celaka ini!"
Gadis itu tidak menolak lagi ketika Wiro menarik tangannya.
Ketika melewati pohon di mana Pangeran Adi terikat sang dara
berbunyi. "Apa yang terjadi dengan Pangeran gila itu?!"
"Dia sedang mimpi jadi raja! Dan kau permaisurinya!" jawab
Pendekar 212.
"Kau sama saja saja sablengnya dengan Pangeran itu! Dalam
keadaan seperti ini masih bisa bergurau! Keterlaluan!" Winayu
merengut jengkel tapi dalam hati dia merasa geli juga melihat tingkah
laku pemuda itu.
Di mulut goa dengan susah payah Wiro berhasil mendapatkan dua
ekor kuda yang sebelumnya memang ditambatkan di sekitar situ.
"Aku akan berangkat lebih dulu menyusul orang-orang itu. Kau
berjalan di sebelah belakang. Tapi ingat, harus mengatur jarak. Meski
hujan dan gelap, tokoh-tokoh silat itu punya mata setajam setan!
Jangan sampai kau terlihat oleh mereka!"
***
7
WIRO MEMACU kudanya meninggalkan Winayu Tindi. Saat itu
hujan mulai mereda tetapi tiupan angin tambah menggila dan malam
semakin pekat. Air laut naik terus. Di bagian tepi pantai yang tertinggi
mencapai sebatas kuku kuda. Di sebelah depan ratusan pasukan
pemberontak bergerak di bawah pimpinan Aryo Ladam dan tiga orang
Adipati. Menyusul di sebelah belakang masing-masing menunggang
kuda adalah Si Tapak Api, Sepasang Tombak Dewa lalu Ki Demang
Wesi. Di belakang ketiga orang ini bergerak Pengemis Kaki Kayu dan
Si Pengupas Kepala. Sedang Tatata t*t*ti yang memakai caping
menunggang kuda agak jauh di ujung kanan pasukan.
Pasukan pemberontak bergerak perlahan. Bukan saja karena hujan
dan angin badai tetapi juga karena semuanya kini diliputi
kebimbangan. Rasa bimbang ini berasal pada apa yang kini mereka
katahui dan hadapi yaitu munculnya tiga kelompok besar pasukan
Kerjaan secara tidak terduga dan menjepit mereka dari tiga jurusan.
Padahal sebelumnya mereka penuh semangat den harapan untuk
menyerbu Kotaraja dengan serangan mendadak di mana pasti lawan
berada dalam keadaan lengah. Kini sebaliknya malah pasukan
Kerajaan yang datang muncul dan menyerbu di pusat markas mereka
di teluk Parangtritis. Dua badai harus mereka hadapi kini. Badai alam
berupa hujan dan angin serta pasukan musuh!
Wiro mengusap mukanya yang basah oleh air hujan lalu memacu
kudanya mendekati Tatata t*t*ti. Sejarak lima belas langkah dari banci
berbaju gombrang merah itu mendadak Wiro mendengar suara
mengiang. "Dalam setiap urusan dan kesempatan, selalu perempuan
cantik saja yang jadi perhatianmu. Kau lemparkan kemana Pangeran
Gila itu? Hik...hik...hik…"
"Eh, suara itu lagi..." desis Wiro. Dia memandang ke arah orang
bercaping itu lalu bergerak mendekatinya. "Hanya dia tokoh silat yang
terdekat denganku..." Begitu berada di samping Tatata t*t*ti. Wiro
menegur. "Aku sudah curiga sejak sehari lalu, kau pasti orang yang
mengirimkan ucapan jarak jauh itu! Dan aku yakin kau bukan banci!
Siapa kau ini sebenarnya badut celemongan?!"
Orang yang ditegur tertawa haha-hihi. Kedua tangannya bergerak
lalu bret-bret-breettt dia merobeki pakaian merah yang dikenakannya.
"Hai! Kau mau menelanjangi diri sendiri?!" seru Wiro. Dalam
hati dia berkata, "Lain pula cara gila manusia satu ini!"
Tatata t*t*ti terus saja merobeki pakaiannya lalu mencampakkan
pakaian itu ke tanah yang telah digenangi air laut. Ternyata di balik
pakaian merah yang ada sulaman mahkota dan keris bersilang itu dia
masih mengenakan sehelai pakaian berwarna hitam. Selagi Wiro
keheranan melihat kelakuan orang ini, si muka celemongan angkat
capingnya dari atas kepala lalu acuh tak acuh tapi lebar dari bambu ini
dilemparkannya ke arah kiri. Benda ini melesat deras di udara,
menembus hujan dan angin lalu menghantam Adipati Klaten Jaliteng
Teguh. Ternyata lemparan caping itu merupakan satu totokan yang
hebat. Karena begitu caping itu menghantam punggungnya, serta
merta Jaliteng Teguh menjadi kaku dan gagu tanpa orang-orang di
sekitarnya menyadari kejadian itu. Mereka hanya melihat sang Adipati
tetap duduk di atas punggung kuda yang terus bergerak.
Karena kepalanya tidak lagi memakai caping maka air hujan
mengguyur wajah Tatata t*t*ti membuat luntur bedak tebal, gincu dan
alis yang celemongan itu. Kini kelihatanlah wajah yang asli. Wajah
itu berkulit hitam pekat!
"Hai!" Wiro berseru kaget."Jadi kau Nenek Hitam Bergigi Emas!
Tapi mengapa gigi-gigimu tampak putih?!"
Si nenek tertawa pendek. Lalu buka mulutnya lebar-lebar dan
masukkan jari-jari tangannya ke dalam mulut itu. Dia seperti menarik
sesuatu berbentuk lapisan kenyal tipis berwarna putih. Begitu lapisan
tipis itu tanggal, kelihatan barisan gigi-giginya yang terbuat dari emas.
Selagi Wiro tercengang-cengang, si nenek berkata, "Anak muda,
kalau orang-orang Kerajaan melihatmu dalam pakaian bersulamkan
lambang pemberontak mahkota dan keris bersilang itu, kau akan
mereka cincang habis-habisan! Lekas kau tanggalkan pakaian itu!"
"Hem mm… Jadi itu sebabnya kau membuang baju merahmu
tadi, nek...!" Wiro berkata. "Baju darimu ini cukup bagus, sayang
kalau dibuang. Biar sulamannya saja yang aku robek!" Wiro angkat
bagian dada kiri pakaian ke mulutnya, lalu menggigit sulaman benang
merah dan sekalipus menariknya. Breeett! Dada kiri pakaian itu kini
bolong sebesar telapak tangan. Sulaman mahkota dan keris bersilang
lenyap.
"Aku tak mau kedinginan...." kata Wiro. "Nek, aku tak tahu
banyak tentang dirimu. Tapi karena kau yang memberikan pakaian
bersulam ini beberapa hari yang lalu, apakah kau bukannya salah
seorang dari pentolan pemberontak itu?"
Nenek Hitam Bergigi Emas menyeringai. "Anak muda, aku
adalah salah seorang tokoh silat Istana yang berhasil menyusup ke
dalam komplotan dan markas pemberontak. Kita sama satu haluan.
Apa salahnya aku mengajakmu membantuku, berbakti kepada
Kerajaan!"
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Sebentar lagi dua
pasukan akan bertemu muka dan beradu senjata!"
"Kita harus berusaha menangkap hidup-hidup. Terutama Si Tapak
Api. Dialah dalang dari pemberontakan ini. Dia punya rencana keji.
Berpura-pura merebut tahta untuk Pangeran gila itu, padahal begitu
dia menang, Pangeran itu akan dibunuhnya lalu mengangkat diri
sebagai Raja..."
"Aku sudah tahu hal itu. Apakah dua malam yang lalu kau ikut
mencuri dengar pembicaraan rahasia antara Si Tapak Api dengan Ki
Demang Wesi?" bertanya Wiro.
Si nenek tertawa. "Aku berada di pohon satunya ketika kau
mendekam di pohon yang lain .... Dengar, kita tidak punya waktu
lama. Usahakan Pengemis Kaki Kayu dan Si Tapak Api. Yang lainlainnya
bagianku!"
Namun terlambat. Di depan sana dua ujung tombak pasukan
sudah saling bertamu. Pertempuran hebat tidak dapat dielakkan lagi.
Dua pasukan yang berkekuatan hampir sama baku hantam. Suara
beradu senjata, pekik kesakitan dan kematlan ditimpal oleh ringkikan
kuda serta deru hujan dan angin. Darah mengucur, membuat genangan
air laut tampak merah dalam kegelapan malam.
Di ujung sebelah depan pasukan pemberontak, Aryo Ladam dan
tiga Adipati mengamuk ganas. Belasan prajurit Kerajaan tewas di
tangan mereka. Seorang penunggang kuda bertubuh tinggi besar
merangsek ke depan menghadang gerakan Aryo Ladam. Dia
membentak, "Manusia pengkhianat, kau kuberi kesempatan menyerah,
kecuali kalau menginginkan mampus dengan noda memalukan!"
Si tinggi besar itu adalah perwira tinggi atasan langsung Aryo
Ladam.
"Majurai! Jangan bicara besar di depan malaikat mautmu! Aku
tawarkan kau menyebrang ke pihakku atau akan mampus percuma!"
Majurai si perwira tinggi mendengus marah lalu sabatkan
kelewang di tangan kanannya. Bekas bawahan dan atasan itu langsung
terlibat dalam pertempuran satu lawan satu yang seru. Namun setelah
beberapa kali gebrakan Aryo Ladam tak dapat menandingi kehebatan
atasannya yang memang terlatih dalam pertempuran di atas kuda.
Kelewang Majurai mercbek dada Aryo Ladam. Perwira muda yang
memberontak karena mengharapkan jabatan dan pangkat yang lebih
tinggi ini terhuyung-huyung dengan dada bersimbah darah lalu
terjungkal ke tanah. Terdengar sesaat suara erangannya, sesudah itu
nafasnyapun berhenti!
Majurai putar kudanya. Namun gerakannya tertahan. Tiga Adipati
bersenjata golok panjang mengurungnya. Tanpa memberi banyak
kesempatan ketiga Adipati langsung menyarang. Kali ini kehebatan
Majurai tidak sanggup menghadapi keroyokan salah seorang dari tiga
lawannya namun dirinya sendiri kemudian menderita dua bacokan
parah, membuatnya menjadi korban pertama berpankat tinggi di pihak
Kerajaan.
Dari arah belakang barisan pasukan Kerajaan, tiga penunggang
melesat dengan sebat. Satu di antaranya langsung menuju dua Adipati
yang tadi mengeroyok si perwira tinggi. Empat prajurit pemberontak
yang juga menunggang kuda cepat menyongsong. Dua hantamkan
tombak, satu tusukkan pedang dan yang keempat membabat dengan
golok. Yang dikeroyok tampak gerakkan tangan ke pinggang. Dalam
kegelapan berkilat sinar biru hampir kehitaman. Terdengar suara
menderu lalu suara senjata berdentrangan dan terakhir suara jeritan
empat penyerang. Tubuh mereka sesaat tergontai di atas punggung
kuda masing-masing. Senjata tak lagi tergenggam di tangan. Ada luka
yang mengeringkan di dada, leher, perut dan kepala. Darah mengucur.
Satu demi satu tubuh yang tergontai itu rubuh dan jatuh ke tanah yang
digenangi air laut.
"Iblis Pedang Biru!" desis Si Tapak Api dengan suara bergetar
ketika mengenali siapa adanya penunggang kuda yang barusan
membabat empat prajurit dengan satu gebrakan saja! "Dia bukan
tokoh silat Istana! Bagaimana tahu-tahu muncul dan berada di pihak
Kerajaan...?!"
Si Tapak Api berpaling ke kiri. Pada saat itu dua penunggang
kuda yang tadi melesat ke depan bersama Iblis Pedang Biru sudah
berada pula di sekitar situ. Melihat dua orang itu kembali Si Tapak
Api jadi tergetar. Yang muncul lagi-lagi bukan tokoh silat Istana,
tetapi dua datuk dunia persilatan golongan putih yang sama sekali
tidak diduga akan muncul di pihak Kerajaan. Mereka adalah Si
Benang Malaikat lalu Pendekar Paku Beracun. Seperti Iblis Pedang
Biru, kedua datuk persilatan inipun sudah tua renta dan sama-sama
berambut putih panjang. Ketika memandang ke jurusan lain, Si Tapak
Apt melihat dua tokoh silat Istana muncul dengan membawa senjata
aneh di tangan yakni satu berupa cakra besi yang diberi bertongkat
hingga berbentuk payung kecil dan satunya lagi sebuah kelewang
yang memiliki rantai-rantai kecil. Pada setiap ujung rantai terdapat
potongan besi berbentuk mata tombak! Si Tapak Api sama sekali
tidak takutkan dua tokoh silat Istana ini. Tapl kemunculan tiga tokoh
silat lainnya tadi benar-benar membuatnya harus memutar akal dengan
cepat. Dia memandang ke arah Ki Demang Wesi. Kepala Desa
Parangtritis ini tak bakal sanggup menghadapi salah satupun dari
tokoh silat Istana itu. Maka dia berseru dan memberi isyarat pada
Sepasang Tombak Dewa, bahkan berteriak ke arah Si Pengupas
Kepala.
"Hadapi tiga orang di sebelah depan itu! Aku akan menghadang
dua tokoh silat Istana. Ki Demang minta Pendekar 212 dan Pengemis
Kaki Kayu membantu! Cepat!"
Ki Demang Wesi segera menghambur ke arah di mana Wiro
Sableng berada. Tapi begitu dia menghampiri pendekar ini, belum
sempat membuka mulut, satu totokan keras menghantam pangkai
lehernya. Kepala Desa Parangtritis ini terhuyung lalu menelungkup
kaku di atas punggung dan leher kuda.
"Bagus!" memuji Tatata t*t*ti alias Nenek Hitam Bergigi Emas.
Lalu perempuan ini tarik leher tunggangan Ki Demang Wesi hingga
binatang ini menghadap ke arah pantai. "Pergi ke tepi pasir dan
tunggu di sana!" Si nenek usap kepala binatang itu, lalu tepuk
pinggulnya. Seolah-olah mengerti perintah itu, si kuda berlari menuju
ke pantai, tepat dari arah mana Winayu Tindi mendatangi.
"Tapak Api, kulihat urusan bisa jadi kapiran tidak karuan!"
terdengar suara Pengemis Kaki Kayu.
"Apa maksudmu?!" tanya Si Tapak Api.
"Aku tidak takut menghadapi lima musuh kelas berat itu! Yang
aku khawatirkan justru dirimu! Jika kau mampus di tangan mereka,
bagaimana dengan obat penawar racun itu! Kami tidak ingtn mati
konyol di hari ke tiga belas sedangkan kau sudah mampus duluan!"
"Aku tidak akan mati lebth cepat darimu, Pengemis Kaki Kayu!
Mari kita serbu mereka!" Terdengar suara bergemerincing. Ternyata
itu adalah suara kuku-kuku jari SI Pengupas Kepala yang seperti
potongan-potongan besi tipis dan tajam.
"Kau saja yang menyerbu mereka sendirian Tapak Api!" berkata
Sf Pengupas Kepala. "Tetapi berikan dulu obat penawar racun itu!
Aku mendapat kisikan dari Tatata t*t*ti bahwa kau dan Ki Demang
Wesi punya maksud busuk tersembunyi. Perjuangan yang katamu
untuk menobatkan Pangeran Adi adalah sandiwara keji belaka. Bila
Kotaraja jatuh kau akan membunuh Pangeran itu lalu mengangkat diri
jadi Raja. Dan kami yang membantumu dan semua yang sudah kau
racuni secara keji akan kau biarkan mati konyol!"
Paras Si Tapak Api berubah. "Dusta keji! Manusia banci itu
ternyata seorang tukang fitnah!"
Terdengar suara tertawa gelak. Semua orang berpaling dan
melihat Pendekar 212 beserta seseorang yang sebelumnya tak pernah
mereka lihat.
"Sahabatku Tatata t*t*ti tidak pernah dusta dan tidak pernah
fitnah! Dua malam lalu aku turut mencuri dengar rencana kejimu itu
waktu kau bicarakan dengan Ki Demang Wesi seusai pertemuan!"
"bangs*t keparat! Ada komplotan busuk dalam perjuangan ini!
Mana manusia banci Tatata t*t*ti itu!"
Si nenek di samping Wiro tertawa ngekeh. "Dia bukan banci.
Namanya bukan Tatata t*t*ti tapi Nenek Hitam Bergigi Emas! Tokoh
silat Istana! Dan akulah orangnya"
"Penyusup pengkhianat! Sepasang Tombak Dewa! Bunuh tua
bangka keparat bermuka hitam itu! Dan kau! Biar aku yang menghajar
Pendekar Sableng ini! Sejak semula aku memang sudah curiga
padanya!"
Sepasang Tombak Dewa serta merta menyerbu Nenek Hitam
Bergigi Emas sedang Si Tapak Apt gosokkan kedua tangannya keraskeras.
Terdengar suara meletup. Lidah api keluar dari sela kedua
tangan yang digosokkan, langsung menyambar ke arah Wiro Sableng!
Murid Sinto Gendeng itu melompat dari punggung kuda sambil
cabut Kapak Naga Gent 212. Terdengar kuda yang tadi
ditungganginya meringkik keras, disusul bau daging hangus terbakar.
Kuda itu tampak rebah ke tanah. Sebagian tubuhnya hangus dihantam
lidah api serangan Si Tapak Api!
IZRO'IL
Badai Di Parang Tritis


Sepasang Tombak Dewa sebelumnya sudah tahu betul siapa
adanya Nenek Hitam Bergigi Emas, maka begitu menyerang,
keduanya sudah pergunakan tombak pendek masing-masing.
Tiga tokoh silat yaitu Iblis Pedang Biru, Si benang Malaikat dan
Pendekar Paku Beracun tampak terheran-heran ketika melihat di
antara sesama pentolan pemberontak saat itu terjadi saling serang!
Lain halnya dengan dua tokoh silat Istana yang membekal senjata
aneh. Mereka sudah mengetahui bahwa Nenek Hitam bergigi Emas
memang sengaja disusupkan ke dalam komplotan pemberontak,
namun mereka tidak mengenal siapa adanya pemuda yang saat itu
diserang Si Tapak Api dengan lidah apinya yang ganas.
Iblis Pedang Biru mengambil sebuah terompet yang tergantung di
leher kuda lalu meniupnya kuat-kuat. Mendengar tiupan terompet itu,
seluruh pasukan Kerajaan hentikan pertempuran dan cepat mundur
sampai sejarak lima tombak dari pasukan pemberontak, membuat
pasukan pemberontak terheran-heran.
"Kalian akan diberikan pengampunan jika menyerah!" teriak Iblls
Pedang Biru.
Teriakan ini dikumandangkan lagi oleh beberapa perwira
Kerajaan. Demiklah sambung menyambung hingga seluruh pasukan
pemberontak mendengar dan diam-diam mereka merasa gembira. Saat
itu sebenarnya kedudukan mereka telah terjepit dari tiga arah.
Semangat hampir patah, apalagi ketika melihat para pimpinan mereka
kini malah baku hantam satu sama lain! Setelah berhasil menguasai
keadaan, Iblis Pedang Biru memberi isyarat pada kawan-kawannya.
Tokoh-tokoh silat Kerajaan itu bersama belasan perwira langsung
membentuk lingkaran, mengurung kalangan pertempuran.
Nenek Hitam Bergigi Emas tertawa gelak ketika dapatkan dirinya
diserang oleh Sepasang Tombak Dewa.
"Pengkianat-pengkhianat tolol! Apakah kalian tidak punya senjata
lain hingga menyerangku dengan ular-ular laut?!" Si nenek berseru.
"Jangan lihat pedang!" teriak Pengemis Kaki Kayu.
Tapil terlambat. Sepasang Tombak Dewa dalam keterkejutan
mereka sama melihat pada pedang masing-masing. Justru inilah
kesalahan mereka karena di situ kekuatan sihir si nenek muka hitam.
Tombak itu sebenarnya tidak berubah, tetapi di mata Tombak Dewa
Kesatu dan adiknya Tombak Dewa Kedua, senjata mereka tampak
benar-benar seperti seekor ular laut. Panjang hijau dan licin berkilat!
Keduanya sama menjerit dan kepretkan senjata masing-masing.
Begitu senjata itu jatuh ke air laut ternyata kini mereka melihat
kembali bentuk astinya. Sadarlah mereka kalau sudah tertipu. Cepatcepat
keduanya melompat dari alas kuda untuk mengambil senjata
masing-masing. Tetapi terlambat. Sebilah pedang biru menempel di
leher Tombak Dewa Kesatu sedang Tombak Dewa Kedua dapatkan
dirinya tergulung oteh benang putih halus tapi semakin dicobanya
membebaskan diri, semakin kencang tubuhnya teriris. Itulah
kehebatan senjata tokoh silat bergelar Si Benang Malaikat! Dua
pentolan pemberontak itu jadi tak berdaya. Beberapa perwira Kerajaan
segera meringkusnya setelah Iblis Pedang Biru menotok keduanya.
Kini semua mata tertuju pada pertempuran yang terjadi antara
Pendekar 212 Wiro Sableng dengan Si Tapak Api. Iblis Pedang Biru
menanyakan pada Pendekar Paku Beracun siapa adanya pemuuda
tanpa pakaian yang bersenjatakan kapak tengah menghadapi SI Tapak
Api itu.
"Apa kau buta?" sahut Pendekar Paku Beracun. "Tadinya akupun
tidak mengenali siapa dia. Tapi coba kau lihat angka 212 di kapak
berkilat di tangan kanannya...!"
"Astaga! Jadi dia Pendekar 212! Murid nenek sakti dari gunung
Gede itu...!" berucap Iblis Pedang Biru. "Tidak disangka dia muncul
di sini dan ikut berbakti pada Kerajaan...!"
Si Tapak Api menghujani Wiro dengan serangan-serangan
dahsyat. Setiap pukulan atau jotosan atau gerakan apapun yang dibuat
tangannya maka lidah api yang panas berkiblat. Wiro merasakan
tubuhnya panas seperti terpanggang. Setelah berkelebat kian kemari
dan menyadari kalau dia tak bisa bertahan lebih lama maka pendekar
ini segera putar Kapak Naga Geni 212. Sinar putih menyilaukan
membelah kegelapan malam. Terdengar suara bergaung seperti seribu
lebah mengamuk. Lidah api serangan SI Tapak Api terpental dan
membalik menghantam ke arah Si Tapak Api sendiri. Orang ini
berteriak kaget dan kesakitan. Lidah api membakar muka dan sebagian
dadanya! Dia jatuhkan diri ke tanah dan celupkan kepala serta
tubuhnya ke air laut saking tidak sanggup menahan panas. Tapi begitu
luka bakar itu terkena air lout, rasa sakitnya malah semakin menggila.
Si Tapak Api meraung. Dia buka matanya lebar-lebar, tapi dia tidak
dapat melihat apa-apa. Kedua matanya yang terbakar lidah apinya
sendiri ternyata kini telah menjadi buta! Kembali orang ini meraung
lalu lari menghambur merancah air laut.
Iblis Pedang Biru berpaling pada Pendekar Paku Beracun lalu
anggukkan kepala. Melihat isyarat ini Pendekar Paku Beracun segera
mengeruk saku pakalannya. Gerakan ini terlihat oleh Si Pengupas
Kepala dan Si pengemis Kaki Kayu. Keduanya yang kawatirkan
ancaman maut yang bakal merenggut nyawa mereka jika tidak
mendapatkan obat penawar, padahal obat itu ada pada Si Tapak Api,
Mereka sama-sama berteriak, "Jangan bunuh dia!"
Namun terlambat. Dua buah paku beracun sudah keburu melesat.
Satu menacap di batok kepala Si Tapak Api, satunya lagi menembus
pinggangnya. Orang ini tersungkur ke dalam genangan air laut. Racun
paku membuat tubuhnya serta merta menjadi biru!
Pengemis Kaki Kayu dan Si Pengupas Kepala sama-sama
terbelalak. Keduanya melompat ke arah mayat Si Tapak Api dengan
menggeledah pakaiannya. Tapi mereka tidak menemukan obat itu!
"Celaka!" seru Pengemis Kaki Kayu.
"Apakah ini yang kalian cari...?" terdengar orang bertanya disusul
suara tawa mengekeh. .
Si Pengupas Kepala dan Pengemis Kaki Kayu sama berpaling.
Dia melihat Nenek Hitam Bergigl Emas menimang dua benda bulat
berwarna putih. Keduanya jadi beringas lalu melompati si nenek. Tapi
maksud mereka mengambil obat-obat penawar itu tidak berhasil
karena si nenek cepat tarik tangannya.
"Aku bersumpah membunuhmu jika kau tidak berikan obat
penawar racun itu!" teriak Pengemis Kaki Kayu lalu angkat kaki
kayunya yang merupakan senjata.
"Tunggu dulu!" berteriak SI Pengupas Kepala. "Bagaimana aku
yakin itu memang obat penawar?!"
Nenek Hitam Bergigi Emas tertawa. "Kalau aku sanggup mencuri
batu api milik Si Tapak Api, apa susahnya mencuri obat ini? Dan
padaku bukan cuma ada dua! Tapi lima belas butir! Hik..hik..hik...!
Aku akan berikan obat ini pada kalian, tapi dengan satu syarat! Kalian
harus menyerahkan diri pada pasukan Kerajaan. Dibawa ke Kotaraja
dan diadili sesuai dengan dosa-dosa kalian berkomplot memberontak
melawan Kerajaan!"
"Kalau begitu biar kami memilih mati bersamamu!" teriak Si
Pengupas Kepala. Lalu dia menyerbu Nenek Hitam Bergigi Emas.
Begitu juga Pengemis Kaki Kayu.
Terdengar suara bergemerincing jari-jari kuku Si Pengupas
Kepala ketika berkelebat menyambar ke arah batok kepala si nenek.
Sekali kena pastilah kulit kepala dan kulit muka perempuan tua itu
akan terkelupas dan kepalanya akan berubah jadi tengkorak. Tapi dari
samping saat ituu menyambar sinar putih yang sangat menyilaukan.
"Anjing kurap! Berani kau ikut campur!" teriak Si Pengupas
Kepala begitu melihat Wiro menghantamkan kapaknya memapasi
serangannya. Sepuluh jari tangannya kini diarahkan untuk menangkap
tangan dan lengan kanan Wiro. Murid Sinto Gendeng putar kapaknya.
Tring-tring-tring.... Si Pengupas Kepala berseru kaget dan melompat
mundur. Tiga kuku jarinya yang sekeras besi itu somplak!
"Pendekar gagah! Serahkan dia padaku! Sudah lama aku ingin
menjajal tukang kupas kelapa ini! Ha…ha...hah....!" Yang berseru
adalah Si Benang Matalkat. Dia putar-putar gulungan benang halus
berwarna putih. Melihat ada lagi yang hendak menyerangnya, Si
Pengupas Kepala jadi makin gusar. Dia menggereng ketika melihat
benang halus di tangan Si kakek berambut putih bergulung-gulung ke
arahnya. Si Pengupas Kepala menyambar ujung benang itu dengan
tujuh kuku jarinya yang masih utuh.
Des ...des...des...
Ujung benang sakti berputusan. Si Pengupas Kepala menyeringai
merasa menang dan yakin dapat membunuh lawannya itu. Namun dia
kecele. Benang yang putus kini diulur dan tampak makin panjang. Si
Pengupas Kepala kembali menggebrak dengan kedua tangannya.
Sekali ini serangannya luput. Malah ujung benang menyelinap ke
bawah dan tahu-tahu kedua tangannya sudah terlibat mulai dari
pergelangan tangan sampai ke bawah bahu!
"Setan haram jadah!" maki Si Pengupas Kepala. Dia kerahkan
tenaga untuk lepaskan ikatan benang. Tapi kulitnya serta merta teriris
dan darah mulal mengucur. Sadar kalau dirinya tak bisa lolos, tokoh
silat sesat ini jatuhkan diri dan duduk menjelepok di tanah tanda
menyerah!
"Hebat sekali kekuatan benang itu!" membatin Wiro di dalam
hati. Ini mengingatkannya pada benang sutera halus yang menjadi
senjata Dewa Tuak.
Setelah berhasil meringkus Si Pengupas Kepala yang merupakan
tokoh silat sangat berbahaya itu Si Benang Malaikat turun dari
kudanya. Maksudnya untuk menotok tubuh Si Pengupas Kepala lalu
menyerahkannya pada pasukan untuk dibawa ke Kotaraja. Tapi tidak
diduga, begitu Si Pengupas Kepala berada di hadapannya, tubuh yang
duduk menjelepok di tanah itu tiba-tiba melesat. Kaki kanannya
menendang dengan deras.
Dukk!
Tendangan keras itu menghantam dada si Benang Malaikat tanpa
pendekar tua ini sempat mengelak. Tubuhnya terpental dan lalu
terjengkang di pasir. Dari mulutnya menyembur darah segar.
"Pembokong jahanam!" teriak Iblis Pedang Biru. Pedang
mustikanya langsung membabat. Sinar biru pekat berkiblat di
gelapnya malam. Sesaat kemudian kepala Si Pengupas Kepala
menggelinding di atas pasir.
Melihat kejadian itu Pengemis Kaki Kayu. Merasakan
tengkuknya dingin. Begitu banyak tokoh-tokoh silat kelas satu di
sekelilingnya. Tak mungkin baginya untuk menghadapi mereka
semua. Tapi untuk menyerah begitu saja tentu tak mungkin
dilakukannya. Maka diapun berpaling pada Nenek Hitam Bergigi
Emas.
"Jika kau berikan obat penawar racun itu padaku, aku bersedia
meninggalkan teluk ini dan melupakan semua silang sengketa di
antara kita!"
"Silang sengketa katamu?!" si nenek tertawa
"Ini bukan silang sengketa kaki kayu! Kau memberontak terhadap
Kerajaan! Kau berkomplot untuk merebut tahta Sri Baginda!
Memimpin pembunuhan terhadap prajurit dan perwira serta kami
tokoh-tokoh silat Kerajaan. Dosamu setinggi langit sedalam lautan!"
"Jika kami berikan obat penawar racun itu, apa yang bisa kau
berikan kepada kami?!" Iblis Pedang Biru bertanya.
Pengemis Kaki Kayu menggerendeng. "Apa yang kau minta?!"
sentaknya.
"Satu tanganmu dan satu matamu!" sahut Iblis Pedang Biru.
"Aku memilih bertempur melawanmu sampai ada yang mati di
antara kita!"
Sebagal jawaban Iblis Pedang Biru melintangkan pedangnya di
depan dada melompat turun dari kuda. Pengemis Kaki Kayu susul
melompat. Begitu berhadapan dengan lawan, kaki kayunya yang
terbuat dari kayu yang merupakan senjata langsung ditusukkan ke
bawah perut Iblis Pedang Biru. Yang diserang babatkan pedangnya ke
bawah.
Traang!
Pedang dan kaki kayu beradu keras. Sungguh hebat, pedang sakti
dan tajam itu tidak sanggup memutus ataupun merusak kaki kayu itu!
Sadarlah Iblis Pedang Biru kalau kaki kayu lawan tidak bisa dianggap
sepele. Maka diapun mengirimkan serangan kilat pada titik kelemahan
lawan yakni tubuh sebelah kiri yang menjadi tumpuan kekuatan
Pengemis Kaki Kayu. Berkelahi di alas pasir yang digenangi air laut
ternyata bukan hal yang mudah bagi Pengemis Kaki Kayu. Meskipun
dia memiliki keentengan tubuh yang tinggi namun tak jarang kaki
kirinya yang menjadi tumpuan bobot tubuhnya melesat ke dalam pasir
sedangkan kaki kayunya beberapa kali terseok akibat lekatan pasir dan
genangan air. Ketika lawannya mengajak bertempur berputar-putar,
tokoh silat yang ikut terbujuk memberontak ini jadi kerepotan dan
keteter. Lalu sewaktu satu tusukan pedang melukai pinggul kirinya,
Pengemis Kaki Kayu mulai kehilangan akan kepercayaan diri. Hal ini
membuatnya menjadi nekat dan coba menyerang dengan segala
kekuatan dan kemampuan yang ada. Akibatnya dengan mudah dia
dijadikan bulan-bulanan ujung pedang oleh Iblis Pedang Biru.
Pengemis Kaki Kayu hanya sanggup bertahan satnpai empat belas
jurus di muka bahkan sempat menggebuk kakek berambut putih itu
dengan kaki kayunya walau tidak tepat. Namun untuk itu dia harus
membayar mahal dengan jiwanya sendiri. Ujung pedang menembus
dada kirinya, tepat di arah jantung!
Teluk yang gelap kini diselimuti kesunyian. Hujan telah berhenti,
angin badai mulai mereda. Pertempuran antara dua pasukan juga
sudah berhenti meninggalkan puluhan korban. Mulai dari prajurit
rendah sampal perwira dan tokoh silat.
Pendekar 212 melompat ke atas kuda. Dia menjura ke arah Nenek
Hitam Bergigi Emas dan para tokoh silat Istana.
"Ada satu urusan lagi yang harus kuselesaikan. Aku minta diri.
Dan kau nek, aku sangat berharap di lain waktu dapat bertemu lagi
denganmu...!"
"Hai! Kau mau ke mana pendekar gagah? Ikut kami dulu ke
Kotaraja!" berseru iblis Pedang Biru. Namun Wiro telah menggebrak
kudanya.
"Astaga! Aku baru ingat dia! Di mana Pangeran pemberontak
itu?!" berseru Iblis Pedang Biru.
Yang menjawab adalah Nenek Hitam Bergigi Emas. "Menurut
Pendekar 212 tadi, dia telah menotok lalu mengikat Pangeran itu pada
sebatang pohon di bukit tak berapa jauh dari mulut goa sebelah
selatan. Sebelum air pasang naik lebih tinggi, sebelum goa terendam,
kita harus mengirimkan orang untuk menyelamatkannya. Pangeran
gila itu tidak tahu apa-apa. Dia hanya dipakai sebagai alat oleh Si
Tapak Api dan Ki Demang Wesi...."
"Kepala Desa Pemberontak itu! Aku baru ingat! Dia tidak
kelihatan!" ujar Iblis Pedang Biru.
Si nenek muka hitam mengangguk. "Justru itulah yang hendak
diurus oleh Pendekar 212. Kewajlban kita saat ini adalah mengurus
jenazah kawan-kawan...."
Semula Winayu Tindi berniat hendak menjauh ketika seekor kuda
dengan penunggang yang terbujur menelungkup bergerak
mendekatunya. Namun ketika tinggal beberapa langkah saja lagi dan
dia mengenali siapa orang yang tertetungkup di atas punggung
binatang itu, kagetlah gadis ini.
"Pakde!" teriak si gadis. Dia melompat dari atas kudanya, lalu lari
ke arah orang di atas kuda. "Pakde! Kau pingsan atau bagaimana...?"
Tubuh dan wajah Ki Demang Wesi ditepuk-tepuknya. Tapi tubuh itu
tidak bergerak dan dipanggil-panggil tetap tidak menjawab. Dengan
susah payah Winayu Tindi menurunkan tubuh Ki Demang Wesi,
Karena di bagian itu air laut telah mencapai ketinggian di atas mata
kaki, gadis terpaksa menarik tubuh lelaki yang dianggapnya sebagai
ayah sendiri itu ke bagian yang agak ketinggian, lalu
membaringkannya di situ. Kebetulan ada sebatang pohon kelapa.
Punggung dan kepala Ki Demang Wesi disandarkannya ke batang
kelapa. Lalu kembali dia berusaha membangunkan orang yang
disangkanya pingsan itu karena dia tidak melihat adanya bekas-bekas
luka. Setelah berusaha berulang kali tak juga berhasil akhirnya
Winayu Tindi mulai keluarkan suara sesenggukan menahan tangis.
Winayu Tindi tidak tahu entah berapa lama dia tegak menangis di
tempat itu ketika di kejauhan dilihatnya ada seorang penunggang kuda
muncul dan memacu kudanya ke arah tempat dia berada.
Yang datang ternyata adalah pemuda yang dikenalnya sebagai
penculik dirinya dan yang sebelumnya juga telah menyuruhnya agar
menjauh dari daerah pertempuran. Wiro melompat turun dari kuda
lalu menghampiri Winayu Tindi.
"Anak manis, kau kulihat menangis. Apakah kau menangisi orang
itu? Dia cuma pingsan karena ditotok."
"Saudara lekas kau tolong dia. Lepaskan totokannya!" berkata
Winayu Tindi.
"Kecintaanmu pada Ki Demang Wesi besar sekali, bukan?"
"Tentu saja! Dia adalah pakdeku! Orang yang kuanggap seperti
ayahku sendiri!" sahut sang dara.
"Justru dia adalah manusia paling keji dan paling terkutuk dalam
hidupmu!" ujar Wiro.
"Maksudmu.... ?" tanya Winayu Tindi tak mengerti.
"Ingat, aku berjanji akah menerangkan padamu siapa pembunuh
kedua orang tuamu dan juga kusir delman itu? Dialah orangnya!"
Winayu Tindi seperti disambar petir. Tak percaya pada apa yang
didengarnya. "Aku tidak percaya. Kau berdusta. Memfitnah. Dia
orang yang aku anggap seperti ayah sendiri? Pakdeku!"
"Jika kau tidak percaya kau tanya sendiri!" jawab Wiro lalu
lepaskan jalan suara Ki Demang Wesi tapi tubuhnya tetap dalam
keadaan tertotok.
"Pakde...Benar kau yang membunuh ayah dan ibu...?" Winayu
Tlndi bertanya begitu melihat Ki Demang Wesi gerakkan mulut.
"Siapa yang mengatakan fitnah dan bohong besar itu, anakku?"
Winayu Tindi menuding ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng. Ki
Demang Wesi meludahi pemuda itu. "bangs*t! Kau memang tidak
kupercaya sejak semula! Dialah yang membunuh ke dua orang tuamu
Winayu! Dia pemuda yang hendak kutangkap tempo hari tapi berhasil
melarikan diri!"
"Keparat kalau begitu...!"
"Tunggu dulu saudari, jangan mudah tertipu!" kata Wiro cepat
begitu dilihatnya sang dara menjadi galak dan melangkah ke
hadapannya. "Aku punya saksi hidup jika kau tidak percaya padaku.
Kedua orang tuamu dibunuh karena mereka menolak untuk bergabung
dengan komplotannya, memberontak pada Kerajaan. Ayahmu
mengancam akan melaporiaan kamplotan itu ke Kotaraja. Ki Demang
Wesi lalu membunuh ayahmu, juga ibumu dan kusir delman itu untuk
menutup rahasa. Bahkan ibumu... dia merusak kehormatan Ibumu
sebelum membunuhnya!"
"Dusta! Fitnah!" teriak Ki Demang Wesi.
"Apa yang dikatakan sahabat mudaku itu tidak dusta! Kau
memang manusia paling busuk di dunia ini Ki Demang Wesi. Aku
menjadi saksi atas apa yang diucapkan Pendekar 212 tadi!" Tahu-tahu
di tempat itu telah muncul Nenek Hitam Bergigi Emas.
"Winayu anakku! Jangan percaya pada omongannya. Dia juga
sama dustanya dengan pemuda itu!" teriak Ki Demang Wesi.
Si nenek ganda tertawa lalu lemparkan segulung kertas pada
Winayu Tindi seraya berkata, "Bacalah! Itu surat Perintah dari Sri
Baginda untuk menangkap Ki Demang Wesi. Surat itu sudah lama
kusimpan. Hanya saja keadaan tidak memungkinkan aku mengeluarkannya lebih cepat!"
Winayu Tindi membuka gulungan kertas lalu membaca tulisan yang tertera di situ. Di sebelah bawah terdapat cap Kerajaan.
Perlahan-lahan surat itu terlepas dari tangan Winayu Tindi, melayang jatuh ke dalam air laut. Tiba-tiba gadis itu menjerit dan lari ke hadapan Wiro. Sebelum pendekar itu sadar apa yang dilakukan Winayu, Wiro merasa Kapak Naga Gent 212 yang terselip tersibak di pinggangnya ditarik lepas. Lalu ada sinar putih berkiblat disertai gaungan keras.
"Winayu! Jangan!" seru Wiro ketika melihat gadis itu menghantamkan kapak ke batok kepala Ki Demang Wesi. Dia berusaha melompat untuk menangkap tangan gadis itu. Tapi Nenek Hitam Bergigi Emas memegang bahunya hingga gerakannya tertahan.
Di depan sana terdengar pekik Ki Demang Wesi. Darah muncrat dari batok kepalanya yang hampir terbelah.
Winayu Tindi menyusul menjerit ketika melihat dan menyadari apa yang barusan dilakukannya. Lalu gadis ini berdiri terhuyung. Satu tangan menekap wajah, tangan yang lain melepaskan Kapak Naqa Geni 212. Wiro cepat menyambut senjata mustika itu sebelum jatuh ke air lalu menopang tubuh sang dara agar tidak terjungkal.
Pasang semakin naik. Malam bertambah gelap dan udara dingin menusuk tulang. Wiro menuntun gadis itu lalu menaikkannya ke atas punggung kuda. Jiwa yang tergoncang membuat Winayu menjadi lemas dan limbung. Terpaksa Pendekar 212 ikut naik ke punggungkuda dan duduk di sebelah belakang sang dara, menjaganya agar jangan sampai jatuh.
Tiba-tiba ada suara mengiang. "Pendekar muda, aku merasa cemburu pada gadis cantik itu. Kapan kira-kira aku bisa naik kuda berdua-dua denganmu! Hik…hik...hik...!"
Wiro berpaling. Astaga! Nenek Hitam Bergigi Emas tak ada lagi di tempat itu. Tapi pasti sekali dialah yang barusan mengirimkan ucapan jarak jauh itu. Murid Sinto Gendeng hanya bisa menyerigai. Dan hidungnya jadi kembang kempis ketika Winayu Tindi menyandarkan kepalanya ke dadanya.

TAMAT

IZRO'IL
WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212


Dewi Lembah Bangkai


LIMA PERAJURIT berkuda berderap memasuki halaman rumah yang penuh ditumbuhi pohon singkong. Mereka memiliki tampang-tampang galak, membekal golok besar di pinggang masing-masing. Begitu sampai di depan rumah papan beratap rumbia, kelimanya langsung melompat turun. Yang didepan sekali menendang pintu rumah sambil berteriak:
“Adi Sara! Kami perajurit Kadipaten datang membawa surat perintah penangkapan!”
Pintu rumah terpental tanggal. Perajurit yang menendang langsung masuk diikuti dua orang temannya. Dua lagi menunggu di luar berjaga-jaga dengan tangan menekan hulu golok.
Di dalam rumah, ketika dikejauhan terdengar derap kaki lima perajurit Kadipaten itu, seorang lelaki tua berambut putih memegang bahu seorang pemuda berusia dua puluh tahun seraya berkata:
“Anakku Adi! mimpiku semalam mungkin akan menjadi kenyataan. Aku dengar suara derap kaki-kaki kuda dikejauhan. Menuju ke rumah kita ini. Hampir pasti itu adalah orang-orang Kadipaten. Aku tidak menyesali perbuatanmu bercinta dengan puteri Adipati itu. Namun jurang antara dirimu dengan dirinya terlalu besar. Kalaupun kau bisa melompatinya, masih ada bahaya lain yang menghadang ditepi jurang lainnya. Dan ternyata kau tidak mampu melompati jurang itu anakku. Aku ayahmu juga tidak berkekuatan untuk menolongmu. Adipati pasti akan menyuruh anak-anak buahnya untuk menangkapmu...”
“Menangkapku ayah? Apa salahku? Apakah seseorang bisa ditangkap karena mencinta dan dicintai oleh orang lain?!” Adi Sara pemuda berwajah tampan itu bertanya.
Sang ayah tertawa, tapi wajahnya menunjukkan kemuraman “Adipati bisa mempergunakan seribu alasan untuk menangkapmu, Adi.
Bisa atau tidaknya seseorang ditangkap tergantung siapa yang memegang kekuasaan. Dan kekuasaan itu ada di tangan Adipati Sawung Glingging. Cepat kau tinggalkan rumah ini. Tinggalkan desa.
Menghilanglah, tinggalkan desa dan jangan kembali-kembali lagi...”
“Aku tidak akan melakukan hal itu ayah! Kalaupun aku harus pergi, kita musti pergi sama-sama!” jawab Adi Sara.
“Jangan turutkan pikiran tololmu anakku! Pergilah! Sekarang juga! Selamatkan dirimu! Cepat...!” Wajah Adi Sara tampak bimbang.
Dia tahu bahaya besar yang mengancamnya. L-alu dia bertanya:
“Bagaimana dengan dirimu sendiri ayah?”
“Jangan pikirkan tua bangka ini! Pergi lekas! Sambangi makam ibumu sebelum meninggalkan desa! Lekas Adi!”
Di luar sana lima penunggang kuda sudah memasuki pekarangan.
Adi Sara memegang tangan ayahnya, mencium tangan orang tua itu lalu bergerak meninggalkan rumah lewat pintu belakang. Sebelum menghilang dibalik pohon-pohon besar di belakang rumah dia masih sempat mendengar suara pintu depan ditendang bobol. Hal ini membuat langkahnya terhenti. Dia menyelinap dibalik sebatang pohon besar.
Di dalam rumah Sara Jingga ayah Adi keluar dari kamar tepat pada saat tiga perajurit bersenjatakan golok masuk dan sampai dihadapannya.
“Kami mencari Adi Sara! Mana pemuda itu?!” perajurit di sebelah depan membentak.
“Anak itu tidak ada disini! Sejak semalam dia tidak pulang!” jawab Sara Jingga.
“Jangan dusta!”
“Sarungkan golok kalian! Bicara biasa-biasa saja! Senjata tidak akan membantu kalian menemukan anak itu! Karena dia memang tidak ada disini!”
“Kami membawa surat perintah dari Adipati Tawang Merto untuk menangkap pemuda itu!”
Terkejutlah Sara Jingga mendengar keterangan si perajurit.
“Wilayah ini dibawah kekuasaan Adipati Sawung Glingging! Mengapa
Adipati Tawang Merto yang mengeluarkan surat perintah penangkapan?
Dan aku perlu tahu apa salah anakku hinggaxtia mau ditangkap!”
Si perajurit mendengus. “Siapa saja yang mengeluarkan surat perintah penangkapan bukan soal! Adipati Sawung Glingging dan Adipati Tawang Merto toh akan saling menjadi besan!”
Mendengar keterangan itu pahamlah kini Sara Jingga. Rupanya benar putera Adipati Tawang Merto hendak dijodohkan dengan puteri Adipati Sawung Glingging. Disitu pula pangkal sebabnya mengapa anaknya hendak ditangkap.
“Kalian boleh geledah rumah ini Adi Sara tak ada disini! Katakan apa salah anak itu. Kalian belum menjelaskan!”
“Anakmu diketahui menjadi anggota kelompok garong Warok Bekontoro! Apa perlu ditanya lagi mengapa kami datang menangkapnya?!”
“Fitnah! Anakku keluar desapun belum pernah. Bagaimana mungkin dia jadi anak buah Bekontoro!”
Si perajurit tidak menjawab. Dia memberi isyarat pada dua kawannya. Kedua orang ini lalu melakukan penggeledahan. Adi Sara tidak ditemukan. Keduanya kembali dan memberi tahu kawannya tadi.
“Kalau pemuda itu tidak ada disini, kau jadi gantinya orang tua!
Kau kami tangkap!”
“Aku tidak bersalah, tidak berdosa! Jangan pergunakan kekuasaan kalian untuk berlaku semena-mena!” ujar Sara Jingga dengan suara tandas. Namun untuk ucapannya itu satu hantaman gagang golok harus diterimanya di bagian kepala. Orang tua ini menjerit kesakitan, lalu terhuyung antara sadar dan tiada. Tubuhnya kemudian di seret ke luar rumah.
Saat itulah terdengar bentakan penuh marah disertai berkelebatnya seseorang.
“Perajurit-perajurit biadab! Lepaskan ayahku!”
Lima perajurit cepat berpaling.
“Adi Sara!” seru perajurit yang jadi pimpinan. “Akhirnya muncul juga anak yang katanya tidak pulang sedari tadi malam! Kau tak usah kawatir! Ayahmu akan kami lepaskan, tapi kau harus kami tangkap!”
Adi Sara melihat bagian kening ayahnya terkoyak dan ada darah yang mengucur. Ini membuatnya kalap.
“bangs*t! Kalian apakan ayahku!” teriak pemuda ini lalu melompati perajurit terdekat. Pemuda ini tidak memiliki kepandaian bela diri apapun, apalagi ilmu silat tinggi. Modalnya hanya keberanian dan kenekatan yang dibakar oleh kemarahan. Dia berhasil merampas golok salah seorang perajurit. Namun sebelum senjata itu sempat dihunusnya, dua hantaman pada punggung dan belakang kepalanya membuat Adi Sara tersungkur ke depan. Lalu datang tendangan bertubi-tubi menghajar muka dan tubuhnya. Wajahnya bengkak membiru. Dari hidung dan mulutnya mengucur darah. Dua tulang iganya patah. Pemuda ini terguling pingsan di samping sosok tubuh ayahnya.
“Kita bunuh saja pemuda ini!” berkata seorang perajurit.
“Jangan! Ingat perintah Adipati Tawang Merto. Dia.harus kita buang ke Lembah Bangkai!”
“Kenapa mencapaikan diri membuangnya jauh-jauh kesana?” salah seorang perajurit membuka mulut bertanya.
“Kau pergilah tanyakan sendiri pada Adipati Tawang Merto! Jika kau tidak mau menjalankan perintah, bersiaplah untuk dihukum dan dipecat!”
Dalam keadaan pingsan tubuh Adi Sara akhirnya dinaikkan ke atas kuda. Lima perajurit itu kemudian segera tinggalkan tempat tersebut.

“AKU mulai mencium bau busuk itu. Kita segera sampai ditempat tujuan! Tutup hidung kalian!”
Perajurit yang berkuda di sebelah depan memberi tahu dan cepat keluarkan sehelai sapu tangan dari saku pakaiannya. Sapu tangan ini diikatkannya ke mukanya hingga menutupi hidung dan mulutnya. Empat kawannya segera mengikuti apa yang dilakukannya. Bau busuk semakin keras setiap langkah mereka maju bergerak. Jalan yang mereka tempuh mulai mendaki. Di ujung pendakian, kelimanya berhenti. Disitu menghadang sebuah lembah yang lebih tepat dikatakan sebuah jurang sedalam lima belas tombak. Batubatu besar menyembul dian-tara kerapatan pepohonan dan semak belukar. Bau busuk menghampar santar. Bau busuknya bangkai! Lima perajurit itu merasakan nafas masing-masing seperti sesak. Tengkuk menjadi dingin oleh rasa angker yang muncul sejak tadi.
“Lemparkan pemuda itu ke lembah, lalu lekas tinggalkan tempat ini!” perajurit pemimpin memberi perintah. Dia memandang berkeliling, berusaha mencari-cari dimana sumber yang menebar bau busuknya mayat itu. Jika memang ada bangkai binatang atau mayat manusia, mengapa dia tidak melihatnya dibawah sana? Mendadak tubuhnya bergetar dan sekujur badannya keluarkan keringat dingin. Dibalik kerapatan dedaunan pepohonan dan semak belukar di dalam lembah, dia melihat belasan sosok tubuh yang telah membusuk, ada yang hanya tinggal tulang-belulang saja, tergantung di cabang-cabang pohon!
Mayat-mayat manusia! Itulah bangkai yang menebar bau busuk menyesakkan jalan pernafasan! “Lekas lemparkan pemuda itu!” teriak perajurit itu.
Rupanya empat kawannya juga sudah melihat mayat-mayat busuk bergantungan di pepohonan itu dan langsung dirasuk ketakutan setengah mati hingga melupakan apa yang harus mereka kerjakan. Dua diantara mereka segera menurunkan tubuh Adi Sara. Satu mencekal kedua kakinya, yang lain menjambak bahu pakaiannya. Tubuh pemuda itu kemudian dilemparkan ke dalam lembah. Adi Sara terguling-guling ke bawah, lenyap diantara semak belukar dan lebatnya daun-daun pepohonan.
“Lekas tinggalkan tempat ini!” teriak perajurit yang jadi pimpinan.
Dua perajurit segera melompat ke atas punggung kuda masing-masing. Pada saat itulah tiba-tiba dari dalam lembah terdengar suara sesuatu. Suara ini mempunyai pengaruh yang amat hebat karena ke lima perajurit itu begitu mendengar begitu terpukau dan seperti tidak ingat lagi untuk bergerak meninggalkan tempat itu. Atau memang karenatiba-tiba saja mereka tidak mampu bergerak, termasuk ke lima ekor kuda yang mereka tunggangi!

“Suara itu... Suara apa itu...?” bisik seorang perajurit.
“Suara kecapi...” yang lain balas berbisik.
“Aneh, siapa yang main kecapi di lembah itu?”
Wajah lima perajurit mendadak sontak menjadi pucat! Makin lama suara petikan kecapi semakin jelas. Pada puncaknya tiba-tiba ada suara nyanyian yang mengalun ditimpali suara kecapi tadi. Suara nyanyian itu terdengar merdu sekali. Tetapi syair yang dibawakan membuat lima perajurit Kadipaten jadi berdiri bulu tengkuk mereka.
Lembah Bangkai lembah kematian.
Jangankan menjejakkan kaki.
Melihatnya sajapun sudah cukup alasan Untuk mati!
Tak ada yang datang dan bisa pergi
Tak ada yang pergi membawa nyawa di badan
Lembah Bangkai lembah kematian
Siapa yang datang tak bisa kembali pulang!
Suara nyanyian lenyap, tapi suara kecapi terus berdentringan.
“Hai! Lihat...! Apa itu yang melesat di udara?!” tiba-tiba salah seorang perajurit berteriak seraya menunjuk ke arah lembah. Saat itu dari bawah lembah melesat seutas tali yang ujungnya dibuhul berbentuk lingkaran. Baru saja perajurit itu berteriak begitu, tahu-tahu ujung tali yang berbentuk lingkaran telah melesat ke arahnya lalu menjirat batang lehernya. Sebelum dia bisa berbuat apa-apa, tubuhnya sudah terbetot dari atas kuda, jatuh ke bibir lembah lalu tertarik dan terseret sepanjang lereng lembah akhirnya lenyap diantara semak belukar dan kerapatan pepohonan.
Melihat hal ini empat perajurit lainnya merasakan seperti putus nyawa masing-masing. Serentak mereka baru sadar dan cepat membedal kuda tinggalkan tempat itu. Namun tiga orang terlambat, hanya satu yang sempat kabur. Dari bawah lembah tampak melesat sebat empat utas tali yang ujungnya berbentuk lingkaran. Tiga tali maut ini langsung menjirat leher tiga perajurit, satunya membentur pohon dan ini menyelamatkan perajurit ke empat tadi. Di lain saat tubuh tiga perajurit tersentak keras lalu jatuh dari punggung kuda masing-masing.
Selanjutnya tampak tiga tubuh itu terseret ke dasar lembah dan lenyap!
Bersamaan dengan itu suara petikan kecapi lenyap. Lembah angker kembali diselimuti kesunyian. Hanya bau busuk bangkai yang masih terus menghampar bersama siliran angin. Dan bau ini tak akan pernah lenyap selama lembah angker itu berada disitu!

DARA BERPAKAIAN hijau itu mengetuk dinding gua sebelah luar tiga kali berturut-turut. Dia menunggu sesaat. Lalu dari dalam gua menggema suara halus. Suara perempuan. “Masuklah...”
Di atas sebuah kesetan dara berpakaian hijau membersihkan kedua kakinya terlebih dahulu, lalu baru masuk ke dalam gua batu. Ternyata gua itu tidak panjang. Melangkah sebelas langkah sang dara sampai di sebuah ruangan kecil yang diterangi oleh sebuah pelita. Di tengah gua tampak duduk seorang perempuan berpakaian hijau.
Wajahnya sulit untuk dilihat karena tertutup sehelai kain hijau tipis. Namun dari balik cadar yang tipis itu, sepasang matanya seperti menyorotkan sinar tajam yang membuat siapa saja merasa risih untuk berani menatap. Di atas pangkuannya terletak sebuah kecapi. Rupanya orang inilah tadi yang memetik kecapi, mungkin dia juga yang menyanyi.
Kalau seluruh lembah dibuncah oleh bau busuknya bangkai, maka di dalam gua ini sama sekali tidak tersentuh oleh bau busuk yang menyesakkan nafas itu. Malah disitu merambas bau harum semerbak seperti harumnya bau bunga mawar dipagi yang cerah dan segar.
“Hijau Satu, berita apa yang hendak kau sampaikan padaku...?”
Dara berpakaian hijau yang dipanggil dengan nama Hijau Satu menjura hormat lalu duduk bersimpuh di hadapan perempuan yang memangku kecapi.
“Kita mendapatkan empat tambahan pajangan untuk pepohonan di lembah, Dewi...”
Wajah dibalik cadar hijau tersenyum. “Bagus... Siapa orang-orang itu?”
“Mereka adalah perajurit-perajurit Kadipaten. Saya tidak mengetahui dari Kadipaten mana. Sebetulnya mereka muncul lima orang. Tapi yang satu sempat kabur. Harap maafkan atas kelalaian ini
Dewi... Kebetulan hanya saya sendiri yang ada di Lembah. Hijau Dua dan Hijau Tiga masih belum kembali...”
Sang Dewi anggukkan kepala. “Dalam waktu singkat lembah ini akan menjadi momok nomor satu dalam dunia persilatan. Lalu tokohtokoh persilatan akan muncul disini! Mereka datang dengan alasan untuk membasmi angkara murka, menghancurkan kejahatan! Tapi mereka akan kita sapu habis-habisan! Memang tidak semua mereka melakukan kesalahan dan berdosa besar terhadap diriku!
Tapi dendamku setinggi langit sedalam lautan! Mereka yang katanya ingin menegakkan kebenaran, menolong orang-orang tertindas, ternyata semua omong kosong belaka! Aku telah jadi korban dari omong kosong itu!”

Sang Dewi tutup kata-katanya dengan menjentikkan jari-jari tangannya diatas kawat-kawat kecapi. Terdengar suara berdentringan disertai berkiblatnya enam sinar yang menyilaukan. Goa kecil itu terasa bergetar. Hijau Satu merasakan tubuhnya terhuyung-huyung dan cepat mengimbangi diri agar tidak jatuh. Setelah getaran dalam gua berhenti, Hijau Satu baru membuka mulut kembali.
“Ada kejadian lain yang perlu saya beritahukan Dewi.”
“Ya, katakanlah...”
“Sebelum perajurit-perajurit Kadipaten itu muncul membawa seorang pemuda. Dalam keadaan pingsan pemuda ini mereka lemparkan ke dalam lembah. Pemuda itu berada dalam keadaan sakarat. Mukanya babak belur dan berselimut darah. Beberapa tulang iganya patah. Bagian belakang kepalanya ada luka besar. Saya tidak berani berbuat suatu apa tanpa izin Dewi...”
“Hijau Satu, bukankah ketentuan yang sudah kuberikan begitu pasti? Siapa saja yang berani berada didekat lembah, apalagi kalau sampai masuk ke dalam lembah harus dibunuh dan digantung mayatnya dipepohonan?!”
“Saya mengerti Dewi dan tahu sekali akan aturan itu. Maafkan saya kalau sudah bertindak salah. Saya tidak membunuh pemuda itu karena dia muncul dilembah bukan karena kemauannya sendiri. Dia dibawa oleh perajurit-perajurit Kadipaten dan dilemparkan ke lembah dalam keadaan pingsan...”
“Bagaimana kalau kemudian pemuda itu sadar dari pingsannya, melihat wajahmu yang cantik dan tubuhmu yang bagus dibalik pakaian hijaumu yang tipis itu. Lalu dia merayumu dan memperkosamu seperti kejadian dulu atas dirimu, atas Hijau Dua dan Hijau Tiga, juga atas diriku!”
Mendengar ucapan itu Hijau Satu terdiam. Wajahnya sesaat pucat. Lalu dengan suara perlahan dia berkata: “Maafkan saya Dewi.
Saya mengaku bersalah tidak menuruti perintah...”
“Katakan, apa ada alasan lain sampai kau tidak membunuh pemuda itu...”
Hijau Satu tidak bisa menjawab. Tapi sang Dewi diam-diam sudah dapat meraba apa yang menjadi alasan anak buahnya itu. Maka diapun berkata: “Bawa pemuda itu kemari...!”
Walaupun terkejut mendengar ucapan pimpinannya, namun Hijau Satu cepat berdiri dan tinggalkan tempat itu. Tak lama kemudian dia muncul kembali mendukung sosok tubuh Adi Sara lalu membujurkannya di atas lantai gua, dihadapkan sang Dewi.
Sesaat perempuan bercadar itu menatap wajah si pemuda yang tertutup darah mengering. “Ambil kain basah dan bersihkan wajahnya...” sang Dewi memerintah. Hijau Satu kembali keluar dari dalam gua. Ketika masuk dia sudah membawa sehelai kain basah dan langsung membersihkan darah yang mengering di wajah Adi Sara.
Begitu wajah itu menjadi bersih kelihatanlah wajah Adi Sara. Sang Dewi
terkesiap dan terdengar menarik nafas kaget. Hijau Satu ingin sekali
melihat apa yang terjadi, namun dia tak berani menatap wajah
pimpinannya itu.
“Sekarang aku tahu. Dugaanku tidak meleset. Hijau Satu tidak
membunuh pemuda ini karena dia memiliki wajah begini tampan. Dan
ya Tuhan...Mengapa wajahnya begitu mirip dengan...Kalau saja dia ada
disini pasti akan sulit dilihat perbedaannya! Ah, bagaimana ini?
Bagaimana aku harus mengambil keputusan...?!”
Lama sang Dewi terdiam. Lalu dia berpaling pada Hijau Satu.
“Hijau Satu. Kau harus melakukan sesuatu terhadap pemuda ini!”
terdengar suara sang Dewi.
“Saya siap untuk membunuhnya dan menggantung mayatnya di
pepohonan, Dewi...”
“Tidak...”, berucap sang Dewi dengan suara perlahan. “Kali ini kau
kuperintahkan untuk mengobati dirinya!”
Hijau Satu angkat kepalanya tapi cepat-cepat menunduk.
“Perintahmu akan saya laksanakan Dewi...” katanya. Lalu cepat-cepat
dia mendukung tubuh Adi Sara dan meninggalkan gua itu,
membawanya kesebuah gua lain yang tidak jauh dari gua dimana sang
Dewi berada.

KETIKA pimpinan perajurit itu muncul, Adipati Tawang Merto dan
Adipati Sawung Glingging saling pandang sesaat. Lalu Tawang Merto
membuka mulut.
“Rundono, melihat tampang dan gerak gerikmu muncul saat ini,
agaknya ada yang tidak beres! Apakah kau sudah menjalankan
tugasmu? Lalu mana empat orang anak buahmu?!”
“Sesuai perintah, Adi Sara berhasil kami ringkus. Dalam keadaan
pingsan pemuda itu kami bawa ke timur dan lemparkan ke Lembah
Bangkai! Namun sebelum kami meninggalkan tempat itu, dari bawah
lembah melesat sebuah tali berbentuk jiratan. Seorang perajurit
langsung terjirat lehernya dan tubuhnya kemudian tertarik ke dasar
lembah! Lalu ada empat tali lagi yang datang melesat. Saya masih
sempat menyelamatkan diri. Namun tiga anak buah saya menemui
nasib sama. Mereka kena dijirat dan lenyap di tarik ke dalam lembah!”
Kalau bukan saja Rundono yang menjadi orang kepercayaan
mereka yang menuturkan keterangan itu, Adipati Tawang Merto dan
Sawung Glingging mungkin tak akan mau mempercayainya. Kembali
kedua Adipati ini saling pandang.
“Aku sendiri belum pernah berada di sekitar Lembah Bangkai itu,”
berkata Tawang Merto. Namun berita yang sampai ketelingaku mengenai
Lembah Bangkai itu macam-macam. Mulai dari baunya yang busuk
sampai pada adanya mayat-mayat yang bergelantungan di cabangcabang
pohon. Lalu suara-suara aneh dan angker pada siang apalagi
malam hari. Apakah semua itu benar-benar ada. Bukan hanya lamunan
seorang penakut?!”
“Rundono telah menyaksikan sesuatu yang mengerikan. Dia telah
mencium sendiri bau busuk yang luar biasa! Semua itu bukan lamunan
atau cerita bohong sahabatku. Aku punya niat untuk menyelidiki sendiri
keadaan lembah yang disebut Lembah Bangkai itu. Ada suatu keanehan
di tempat itu. Siapa tahu dibalik keanehan itu ada satu
keberuntungan...”
“Calon besanku,” menukas Sawung Glingging. “Kau bicara ngacok!
Apa maksudmu dengan keberuntungan?”
“Bukan mustahil disitu ada seorang berkepandaian tinggi. Jika
aku bertemu dengannya siapa tahu aku kebagian ilmu yang aneh-aneh!”
sahut Adipati Tawang Merto pula.
Sawung Glingging tahu betul sifat sahabat dan calon besannya
itu. Sejak muda Tawang Merto memang gemar berkelana untu mencari
dan belajar berbagai ilmu, mulai dari ilmu silat sampai ilmu kesaktian.
Bahkan dia juga memiliki banyak ilmu hitam. Termasuk benda-benda
sakti mandraguna.
“Siapapun tidak melarangmu untuk mencari ilmu kepandaian
walau saat ini kau sudah memilikinya sekarung penuh! Tapi menyelidik
dan pergi ke Lembah Bangkai kurasa terlalu besar bahayanya
sahabatku!”
“Tawang Merto tidak pernah takut dengan siapapun!” jawab sang
sahabat sambil menyeringai dan usap-usap dadanya.
“Maksudku bukan soal takut dan berani sahabat. Tapi ingat, kita
tengah merencanakan pesta besar. Pesta perkawinan anak-anak kita!
Apakah kau mau membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak
berguna seperti itu...?”
“Hemm... Sebenarnya ini bukan suatu hal yang tidak berguna.
Tapi baiklah. Pada saat hendak mengatur hari perkawinan anak-anak
kita, tidak pada tempatnya memang kalau aku mempunyai rencana lain.
Biar maksudku menyelidiki Lembah Bangkai itu diundur dulu sampai
hari perkawinan anak-anak kita...”
Adipati Sawung Glingging tersenyum gembira.
Sambil menepuk bahu sahabat yang akan menjadi besannya itu
dia berkata: “Seharusnya memang begitu. Sekarang mari kita masuk
untuk membicarakan rencana besar ini bersama istri-istri kita. Jangan
biarkan orang orang perempuan itu menunggu terlalu lama. Nanti bisabisa
mereka mengatur rencana sendiri!”
***
ADI SARA duduk di depan gua. Udara pagi terasa segar. Embun di
dedaunan masih belum pupus. Dia mengusap dadanya yang masih
diberi lapisan papan tipis untuk menjaga agar tulang iganya yang telah
dipertautkan tidak bergeser. Pemuda itu menghirup udara dalam-dalam.
Namun cepat sekali jalan nafasnya menjadi sesak begitu bau bangkai
merasuk masuk ke dalam penciumannya. Ketika dia beranjak untuk
masuk kembali ke dalam gua, dara berpakaian hijau itu tahu-tahu
sudah berada di hadapannya.
“Hijau Satu!” seru Adi Sara seraya cepat bangkit.
“Kau sudah bisa keluar goa sendiri. Itu tanda kau sudah mulai
sembuh. Benar begitu...?”
“Aku harapkan begitu Hijau Satu. Sembuh dan cepat bisa
meninggalkan tempat ini. Aku tidak mau membuatmu susah lebih
lama...”
“Susah bagaimana maksudmu?”
“Ah, apakah bukan susah namanya karena selama ini kau
merawat luka-lukaku? Menyediakan makanan dan buah-buahan...”
“Semua itu bukan suatu kesusahan bagiku. Lagi pula semua
sesuai perintah...”
“Pasti perintah dari Dewimu itu, bukan?”
Hijau Satu mengangguk.
“Aku sangat berterima kasih padamu Hijau Satu. Aku ingin sekali
bertemu dengan Dewimu itu...”
“Belum saatnya Adi Sara. Belum saatnya. Tunggu sampai kau
sembuh benar.”
“Berarti berapa lama lagi aku harus berada disini?”
“Aku tidak tahu. Dewi nanti yang akan menentukan,” jawab Hijau
Satu. Dalam hatinya dara ini berkata: “Aku kawatir Adi Sara, janganjangan
Dewi tidak mengizinkanmu meninggalkan lembah...”
“Hijau Satu... Aku ada beberapa pertanyaan!” Adi Sara berkata.
“Tanyakanlah. Jika aku bisa menjawab akan aku jawab. Jika
kurasa Dewi tidak berkenan aku memberi jawaban, maka aku tidak
akan menjawab.”
“Baiklah, Dewimu itu tentu seorang yang sangat agung dan
berkuasa. Hingga segala sesuatunya kau harus tunduk padanya.”
“Dia pimpinan kami disini. Siapa saja harus tunduk pada
pimpinan.”
“Kami...? Maksudmu kau tidak sendirian disini?” tanya Adi Sara.
“Aku tidak melihat siapa-siapa disini!”
“Dewi punya tiga orang anak buah. Aku Hijau Satu, Hijau Dua
dan Hijau Tiga...”
IZRO'IL
“Hemm...Semua bernama Hijau...Hijau. Mana kawanmu yang dua
orang itu?”
“Mereka tengah menjalankan tugas di luar...”
“Kau menyebut dirimu Hijau Satu. Siapa namamu sebenarnya?
Apakah kau tidak punya nama? Ah, pasti kau punya nama. Kikuk
bagiku memanggilmu dengan nama Hijau Satu itu!”
Hijau Satu tersenyum. “Apa artinya nama? Aku tidak punya nama
lain. Namaku ya itu. Hijau Satu...”
Adi Sara geleng-geleng kepala. “Pasti Dewimu itu lagi yang
melarangmu memberi tahu nama aslimu. Tapi baiklah, tak jadi apa.
Sekarang pertanyaanku berikutnya. Dimana aku ini berada
sebenarnya?”
“Kau berada di Lembah Bangkai,” memberi tahu Hijau Satu.
“Lembah Bangkai! Nama aneh dan menggidikkan. Pantas sejak
keluar dari gua aku mencium bau yang sangat busuk. Bau bangkai...
Nafasku menjadi sesak dan dadakku mendenyut sakit jika aku
menghirup udara dalam-dalam...”
“Sebetulnya kau belum boleh keluar dari dalam gua itu, Adi Sara.
Dan ingat satu pesanku. Ini perintah Dewi. Kau tidak boleh
meninggalkan gua lebih dari sepuluh langkah...”
“Eh, kenapa begitu?”
“Itu perintah dan tidak semestinya ditanya!” sahut Hijau Satu.
Lalu dari balik pakaian hijaunya dia mengeluarkan sebuah benda kecil,
ternyata potongan batang bambu kuning sebesar ibu jari sepanjang satu
jengkal. Pada ujung bambu terdapat penyumpal terbuat dari kayu kecil.
Hijau Satu tarik kayu penyumpal lalu menyuruh Adi Sara mengulurkan
tangan kirinya. Hijau Satu kemudian menempelkan ujung bambu ke
balik telapak tangan si pemuda. Sejenis minyak yang sangat harum
leleh ke atas permukaan tangan Adi Sara.
“Gosokkan minyak itu kelobang hidungmu. Seumur-umur kau tak
akan mencium lagi bau busuknya bangkai!” Hijau Satu menutup bambu
kecil lalu menyimpannya kembali ke balik pakaiannya. Adi Sara
melakukan apa yang dikatakan. Telapak tangannya yang berminyak
diusapkannya ke lobang hidungnya. Tercium bau yang sangat harum.
Perlahan-lahan bau itu sirna. Tapi kini Adi Sara tidak lagi mencium
busuknya bau bangkai.
“Minyak ajaib!” ujar Adi Sara sambil memandang keheranan pada
Hijau Satu.
“Jika kau tak ada lagi pertanyaan, masuklah kembali ke dalam
goa. Dan jangan sekali-kali keluar jika tidak kuizinkan...”
“Masih kurang jelas bagiku, mengapa tahu-tahu aku berada
disini. Yang aku ingat adalah kemunculan lima orang perajurit
Kadipaten. Mereka menganiaya ayahku. Aku menyerang mereka. Setelah
itu aku tak ingat lagi...”
“Memang perajurit-perajurit Kadipaten itulah yang telah
membawamu ke sini lalu melemparkan tubuhmu ke dalam Lembah
Bangkai... Katakan mengapa mereka melakukan hal itu terhadapmu...?”
Adi Sara tidak menjawab. Ada dua bayangan wajah yang muncul
dipelupuk matanya saat itu. Pertama wajah ayahnya yang tua. Dia ingat
sekali karena melihat bagaimana orang tua itu diseret dan dipukuli oleh
lima perajurit Kadipaten. Bagaimana keadaan ayahnya saat ini? Dibawa
ke Kadipaten, dipenjarakan atau sudah dibunuh oleh orang-orang
Tawang Merto?! Lalu wajah yang kedua adalah wajah Ningrum, kekasih
yang sangat dicintainya dan juga mencintai dirinya. Hanya sayang
percintaan mereka dan rencana untuk membangun rumah tangga
terhalang oleh jurang lebar. Ningrum adalah puteri Adipati Sawung yang
oleh orang tuanya ternyata dijodohkan dengan Tubagus Kolokaping,
putera Adipati Tawang Metro, sahabat Sawung. Ketika Ningrum menolak
untuk dikawinkan dengan Tubagus dan dengan berani menyatakan
bahwa calon suaminya satu-satunya hanyalah Adi Sara, putera petani
miskin di desa Sumber Urip itu, maka marahlah Tawang Merto.
Bersama Adipati Sawung Glingging dia menyusun rencana untuk
menangkap, menghukum dan memenjarakan Adi Sara dengan tuduhan
sebagai ikut terlibat menjadi anak buah kelompok garong Warok
Bekontoro. Tapi dalam pelaksanaannya kemudian Adi Sara tidak
ditangkap dan dipenjarakan, melainkan dibuang ke Lembah Bangkai
karena dengan demikian jejak kematian dan lenyapnya pemuda itu tidak
akan diketahui orang lain.
“Aku harus meninggalkan tempat ini!” kata Adi Sara.
Bagaimanapun juga dia harus menolong ayahnya.
“Itu tidak mungkin dilakukan!” jawab Hijau Satu.
“Mengapa tidak? Hemm... Aku tahu. Kalau begitu apakah kau bisa
menemukan aku pada Dewimu itu?”
Hijau Satu menggeleng. “Selain aku dan Hijau Dua serta Hijau
Tiga tidak orang lainpun boleh menemui Dewi. Kecuali Dewi memberi
tahukan lain...”
“Jika begitu aku terpaksa melarikan diri dari sini!” jawab Adi Sara
tandas.
Hijau Satu tersenyum. “Tidak satu orangpun bisa keluar hiduphidup
dari Lembah Bangkai...” katanya. Ketika dia hendak beranjak
pergi, dua sosok bayangan hijau berkelebat dan tahu-tahu di tempat itu
sudah berdiri dua orang dara berpakaian hijau seperti yang dikenakan
Hijau Satu. Wajah keduanya tak kalah cantik dengan wajah Hijau Satu.
“Hijau Dua dan Hijau Tiga” Bagus, kalian sudah kembali. Dewi
menunggu kedatangan kalian!”
Dua dara yang baru datang tidak segera menjawab teguran
sahabatnya itu, keduanya justru menatap tajam-tajam pada Adi Sara.
Hijau Tiga bertanya: “Siapa pemuda berwajah pucat ini?!”
“Namanya Adi Sara. Seminggu lalu dia dilemparkan orang-orang
Kadipaten ke daiam lembah” menerangkan Hijau Satu.
“Lalu kenapa dia dibiarkan hidup? Tidak segera dibunuh?!” tanya
Hijau Dua.
“Dewi memerintahkan aku untuk tidak membunuhnya malah
merawatnya,” jawab Hijau Satu.
Hijau Dua dan Hijau Tiga saling pandang. “Hmmm... sungguh
sulit dipercaya kalau Dewi yang memerintahkan begitu!” Dua dara itu
menatap tajam-tajam pada Hijau Satu. “Aku yakin ada hubungan
tertentu antara kau dan pemuda ini, Hijau satu...”
“Maksudmu?!”
“Kau bisa menjawabnya sendiri!
Kau berlaku tidak jujur! Kau menyukai pemuda ini! Betul kan?!”
“Kau bicara melantur! Jika kau menuduhku begitu berarti kau
juga menuduh Dewi seperti itu. Jaga mulutmu Hijau Dua!”
Hijau Dua terdiam dan ada rasa takut dalam hatinya karena telah
ketelepasan bicara seperti itu. Kawannya Hijau Tiga mengusap wajahnya
sesaat lalu berkata: “Rupanya peraturan di Lembah Bangkai sudah
berubah...?”
“Dengar kalian berdua. Yang berkuasa disini adalah Dewi dan dia
pimpinan kita. Hitam katanya berarti hitam! Putih harus putih!
Sebaiknya kau tidak menghabiskan waktu untuk mengobrol yang
bukan-bukan di tempat ini! Lekas melapor pada Dewi!”
Walau Hijau Dua dan Hijau Tiga tidak suka atas ucapan Hijau
Satu itu, bagaimanapun juga kedudukan Hijau Satu adalah diatas
mereka maka mau tak mau keduanya segera meninggalkan tempat itu
setelah sekali lagi mengerling pada Adi Sara.
“Jangan-jangan Dewi terpikat pada pemuda itu,” bisik Hijau Dua.
“Wajahnya memang tampan...”
“Sssst... Jangan bicara terlalu keras. Kalau Dewi sempat
mendengar celaka kita berdua...” ujar Hijau Tiga pula.

DI HADAPAN DEWI bercadar hijau dan memangku kecapi, Hijau Dua
dan Hijau Tiga menjura memberi hormat lalu duduk dengan khidmat.
Hijau dua kemudian membuka mulut bertindak sebagai juru bicara
pemberi laporan.
“Sesuai perintah kami telah menyerbu markas Datuk Sora
Gamanda. Tapi orang itu tidak ada di sana. Kami disambut oleh enam
anak muridnya. Semua kami musnahkan. Tak ada yang bersisa hidup
dan markas Datuk itu kami bakar!”
“Bagus!” Dewi bercadar hijau diam sejenak. “Apakah kalian juga
meninggalkan pesan disana”!”
“Sesuai perintah Dewi, pesanpun kami tancapkan pada sebatang
pohon, diatas secarik kain hijau bertulis huruf-huruf putih...”
“Coba sebutkan pesan yang kalian tinggalkan itu bunyinya
bagaimana?” tanya Dewi pula.
“Jika ingin menuntut balas datanglah ke Lembah Bangkai!”
Dewi bercadar angguk-anggukkan kepala. “Mulai sekarang kita
bersiap-siap untuk menyambut munculnya Datuk keparat itu. Lalu
bagaimana dengan dua tugas kalian yang lain?”
“Itupun sudah kami laksanakan Dewi. Pendekar Kaki Satu kami
buntungkan kakinya yang masih utuh sedang kaki kayunya kami
hancurkan. Tiga muridnya tewas. Dua melarikan diri. Sehabis
menyelesaikan urusan dengan Pendekar Kaki Satu kami tidak lupa
menancapkan pesan. Setelah itu kami menyerbu bukit Walang di
selatan namun tidak menemui Si Pedang Iblis. Kami justru disambut
oleh perempuan simpanannya yang dikenal dengan julukan Nenek
Kelabang Biru...”
Wajah Dewi dibalik cadar tampak berubah. “Pendekar Pedang Iblis
yang berusia tiga puluh tahun itu, kumpul kebo dengan seorang neneknenek
berusia hampir tujuh puluh tahun? Sulit kupercaya!” Sebenarnya
bukan itu yang mengejutkan sang Dewi. Diam-diam dia mengetahui
kalau Nenek Kelabang Biru adalah salah seorang momok golongan
hitam yang sejak sepuluh tahun terakhir ini malang melintang di daerah
selatan. Kabarnya dia juga mengepalai para bajak yang gentayangan di
pantai selatan.
“Kalian bentrokan dengan nenek itu?” tanya Dewi.
Hijau Dua mengangguk. “Kami kemudian mengundurkan diri.
Bukan saja karena memang tidak ada urusan dengan dia, tapi ternyata
ilmu kepandaiannya sungguh luar biasa. Kami mengeroyoknya berdua.
Dalam tiga jurus dia bisa mendesak dengan serangan-serangan
berbahaya...”

Dewi mengusap dagunya lalu berkata: “Itu sebabnya aku harus
cepat-cepat menurunkan lima jurus ilmu silat Lembah Bangkai. Kalian
harus sudah menguasainya sebelum para tetamu yang minta mampus
itu berdatangan di lembah ini. Dan jangan lupa, lipat gandakan
meminum ramuan kulit pohon yang kuberikan agar tenaga dalam kalian
meningkat dengan cepat!”
“Kami perhatikan hal itu Dewi dan terima kasih atas maksudmu
menurunkan lima jurus ilmu silat Lembah Bangkai.”
“Jika tak ada lagi yang hendak kalian sampaikan atau tanyakan,
aku ingin beristirahat dulu...”
“Ada satu hal yang ingin kami tanyakan Dewi,” sahut Hijau Dua.
“Katakan!”
“Apakah aturan di Lembah Bangkai ini mengalami perubahan?”
bertanya Hijau Dua. “Maksudmu?”
“Waktu sampai kemari tadi, kami menemui seorang pemuda
bernama Adi Sara tengah berbincang-bincang dengan Hijau Satu.
Menurut aturan pemuda itu siapapun dia dan bagaimanapun caranya
dia sampai disini haruslah dibunuh. Justru menurut Hijau Satu dia
telah menyelamatkannya bahkan merawatnya dari luka-lukanya...”
Sesaat sang Dewi agak terkesiap juga mendengar pertanyaan itu,
namun akhirnya dia menjawab juga: ‘Tak ada peraturan yang berubah
di Lembah Bangkai ini. Orang luar yang datang harus dibunuh,
terutama kaum laki-laki. Namun untuk maksud dan tujuan kita, ada
kalanya kita harus memperhatikan keadaan. Lagi pula...”
Belum selesai Dewi Lembah Bangkai mengucapkan kata-katanya
tiba-tiba ditempat itu muncul Adi Sara. Melihat kedatangan si pemuda
Hijau Dua dan Hijau Tiga cepat berdiri. Salah satu dari mereka
membentak.
-”Manusia lancang! Apakah kau tidak tahu bahwa tidak
seorangpun boleh masuk ke tempat ini tanpa izin Dewi?!”
Hijau Tiga menimpali: “Lagi-lagi Hijau Satu berlaku teledor!
Pemuda ini berada dibawah pengawasannya. Mengapa bisa masuk
kemari?!”
Saat itu pula Hijau Satu muncul disitu.
“Apa penjelasanmu Hijau Satu?!” Dewi bertanya. Suaranya tetap
halus tapi mengandung ancaman.
“Maafkan saya Dewi. Ketika pemuda ini sudah masuk ke dalam
goa, saya kira dia tak akan keluar lagi. Karena saya sudah memesankan
aturan di Lembah Bangkai ini. Tapi ternyata dia menyelinap dan tahutahu
sudah ada disini. Saya siap menerima hukuman!”
Hijau Dua dan Hijau Tiga yang rupanya pada dasarnya memang
tidak senang terhadap Hijau Satu mencibirkan bibir, berharap sang
Dewi segera menjatuhkan hukuman. Tapi diluar dugaan pimpinan
mereka itu justru berpaling pada Adi Sara dan berkata: “Pemuda, kau
menyalahi aturan. Memasuki tempat orang tanpa izin. Memasuki
Lembah Bangkai saja berarti mati! Apalagi berani memasuki tempat ini.

Apa kepentinganmu? Lekas katakan!”
“Pertama harap jangan salahkan Hijau Satu. Sesuai perintah Dewi
dia telah merawatku hingga saat ini meski belum sembuh tapi
keadaanku jauh lebih baik! Aku berhutang budi dan nyawa bukan saja
padanya, tetapi terutama sekali pada Dewi. Setelah Dewi menyelamatkan
nyawaku, aku tidak yakin Dewi kemudian akan mengambilnya
kembali dengan jalan membunuhku!”
“Dewi! Pemuda ini pandai bicara! Mulutnya berbisa!” teriak Hijau
Dua.
Dewi lambaikan tangan. “Dia belum menjawab pertanyaanku
mengapa dia berani masuk kemari!”
“Untuk itu aku mohon maafmu Dewi! Aku mengerti bahwa tempat
ini adalah sangat pribadi. Apalagi semua yang ada disini adalah orangorang
perempuan. Hijau Satu sudah memberi tahu dan melarangku
keluar dari gua perawatan. Namun aku terpaksa kemari karena harus
memberi tahu bahwa aku akan meninggalkan tempat ini untuk
menolong ayahku! Orang-orang Kadipaten telah menganiayanya. Aku
harus mengetahui bagaimana keadaannya sekarang...”
“Mengapa orang-orang Kadipaten menganiaya ayahmu?” tanya
sang Dewi pula.
“Waktu itu mereka sebenarnya hendak menangkapku. Tapi
karena yang ada di rumah cuma ayah, maka mereka menyeret dan
memukuli orang tua itu. Aku harus pergi. Terima kasih atas...”
“Tunggu dulu! Kau harus menerangkan mengapa orang-orang
Kadipaten hendak menangkapmu?!”
“Yang jadi biang racunnya adalah Adipati Tawang Merto dan
Adipati Sawung Glingging. Semua gara-gara aku bermaksud mengawini
Ningrum, puteri Adipati Sawung yang ternyata diam-diam sudah
dijodohkan ayahnya dengan putera Adipati Tawang yang bernama
Tubagus Kolokaping. Aku lalu difitnah sebagai ikut berkomplot dengan
Warok Bekontroro, ditangkap, dianiaya lalu dibuang ke Lembah Bangkai
ini...”
“Apakah kau sangat mencintai gadis bernama Ningrum itu?” tanya
Dewi.
“Kami benar-benar saling mencinta. Aku akan menempuh cara
apa saja untuk mendapatkannya. Tetapi kemampuan dan kekuatanku
tidak mungkin untuk menghadapi kekuasaan kedua Adipati itu...”
Paras dibalik cadar hijau itu tampak berubah sesaat, begitu juga
paras Hijau Satu.
“Hemm...” terdengar sang Dewi menggumam. “Kapan hari
perkawinan Ningrum dengan Tubagus itu?”
“Hari ke lima bulan enam. Jadi tiga hari lagi. Begitu yang aku
dengar,” sahut Adi Sara.
Sang Dewi tampak berpikir-pikir. Akhirnya terdengar kembali
suaranya: “Mengenai diri Ningrum kau tidak usah kawatir. Gadis itu
akan dibawa kemari...”

Terkejutlah Adi Sara. Dan lebih terkejut lagi adalah ketiga gadis
berpakaian hijau. Sang Dewi sebaliknya tetap tenang. “Hijau Dua,
tugasmu untuk menculik gadis itu dan membawanya kemari. Untuk
menghadapi para tetamu yang bakal datang menyerbu kita masih
membutuhkan satu atau dua gadis lagi sebagai anak buahku. Ningrum
kujadikan Hijau Empat... Ada yang berkeberatan?”
Baik Hijau Satu maupun Dua dan Tiga tidak berani membuka
mulut. Justru yang terdengar adalah suara Adi sara. “Dewi, jika
maksudmu itu sungguhan, aku benar-benar mengucapkan banyak
terima kasih...Tapi jika gadis itu diculik, ayahku akan jadi sasaran.
Keadaannya sekarang entah bagaimana, dia pasti akan disiksa dan
dibunuh seperti yang mereka lakukan terhadapku!”
“Hijau Tiga akan mengurus orang tuamu itu,” jawab Dewi pula.
Lalu dia berpaling pada Hijau Satu. “Bawa dia ke dalam goamu kembali!
Sekali ini aku tidak ingin melihatnya meninggalkan goa itu tanpa
izinku!”
Hijau Satu menjura. Lalu dia memberi isyarat pada Adi Sara
untuk mengikutinya. Sebelum meninggalkan goa kediaman sang Dewi,
Adi Sara menjura pada gadis bercadar itu, juga pada Hijau Dua dan
Hijau Tiga.
“Terima kasih. Ternyata kalian adalah manusia-manusia berbudi
tinggi. Aku siap berbakti pada kalian...”
“Lupakan hal itu! Disini tidak diperlukan bakti orang laki-laki!”
sahut Dewi pula.
Setelah Hijau Satu dan Adi Sara tak ada lagi di situ sang Dewi
berpaling pada Hijau Dua dan berkata: “Penculikan itu harus kau
lakukan pada malam pesta perkawinan. Jangan lupa meninggalkan
pesan. Adipati Tawang dan Sawung Glingging termasuk kaum laki-laki
yang harus dibasmi. Aku tahu betul Tawang Merto memiliki tiga istri
dan lebih dari setengah lusin gundik peliharaan! Sawung Glingging tidak
lebih baik dari pada calon besannya itu. Walau tidak punya istri lebih
dari satu dan tidak punya gundik, tapi anak istri orang banyak yang
digerayanginya! Malam ini pelajaran lima jurus ilmu silat Lembah
Bangkai akan kita mulai. Sampaikan pada Hijau Satu. Dan kalian harus
punya waktu untuk beristirahat karena pelajaran itu akan sangat
menguras tenaga...”
“Kami mohon diri dulu Dewi,” kata Hijau Dua dan Hijau Tiga
berbarengan.
IZRO'IL
Dewi Lembah Bangkai


=6
PESTA perkawinan putera-puteri Adipati itu berlangsung sangat meriah
dan penuh kemewahan. Tamu-tamu yang datang bukan orang
sembarangan, bukan saja kaum bangsawan dan hartawan tapi banyak
pula pejabat-pejabat serta tokoh-tokoh penting dari Kotaraja. Hiburan
yang menyemarakan pesta perkawinan itupun merupakan hiburan kelas
satu yaitu serombongan pemain gamelan terkenal yang pada menjelang
tengah malam akan disambung dengan permainan wayang kulit oleh ki
dalang Ronggo Suwito dari Madiun.
Selagi para tetamu siap untuk mengambil santap malam yang
disediakan di sebuah bangsal besar, perhatian banyak orang tertarik
oleh munculnya seorang tetamu gadis jelita berpakaian hijau. Hampir
semua orang terutama kaum lelaki merasakan nafas mereka seperti
tertahan. Bukan saja oleh kecantikan dan kemulusan kulit sang dara,
tetapi lebih banyak oleh pakaian hijau yang dikenakannya. Pakaian itu
begitu tipis sehingga liku-liku bentuk auratnya terlihat dengan jelas!
Sepasang pengantin dan orang-tua masing-masing yang mengapit
mereka ikut terkesiap dan tahu-tahu tamu tunggal itu sudah berada di
depan pelaminan!
“Bidadari dari manakah yang turun ketempat pesta perkawinan
anakku ini!” ujar Adipati Tawang Merto. Kedua bola matanya terbuka
lebar menggerayangi dada dan bagian perut yang membayang dibalik
pakaian hijau tipis itu. Tenggorokannya tampak turun naik. Adipati
yang memang mata keranjang ini basahi bibirnya dengan ujung lidah.
Ketika Tawang Merto hendak menegur, sang tamu jelita lebih dulu
membuka mulut.
“Aku datang bukan untuk memberi ucapan selamat. Tapi untuk
menjemput pengantin perempuan. Ningrum tidak layak menjadi suami
istri Tubagus Kolokaping!”
Bersamaan dengan itu lampu besar di tengah bangsal hancur
berantakan. Dalam keadaan yang tiba-tiba menjadi redup gelap
terdengar pekik pengantin perempuan. Lalu suara bentakan disusul
dengan mentalnya beberapa sosok tubuh.
“Penculik! Kejar!”
“Pengantin perempuan diculik!”
Adipati Tawang Merto yang barusan terjajar hampir jatuh ke lantai
cepat berdiri dan mengejar. Dua kali membuat lompatan dia sudah
berada di ujung bangsal dan menghadang si baju hijau.
“Gadis gila! Berani kau mengacaukan pesta perkawinan anakku!
Berani kau menculik puteriku! Rasakan!”
Seperti diketahui Tawang Merto memang memiliki ilmu silat dan
kesaktian. Maka sekali dia menggebrak serangannya yang mengeluarkan
angin keras membuat Hijau Dua terkejut! Gadis ini cepat mengelak
dan susupkan satu tendangan. Tapi dengan mudah Tawang Merto
menghindari tendangan itu malah kini tinjunya berkelebat ke arah
kepala Hijau Dua. Sang dara segera maklum kalau Adipati itu memiliki
kepandaian silat tinggi, Dalam pada itu beberapa orang sudah mendatangi
tempat itu dan mengurung. Beberapa pengawal yang bertugas
berjaga-jaga disitu telah pula menghunus senjata masing-masing.
Sebagai anak buah Dewi Lembah Bangkai, Hijau Dua tidak takut
menghadapi orang-orang itu. Namun yang lebih penting baginya adalah
menyelesaikan tugas dengan baik yaitu membawa Ningrum dalam
keadaan selamat ke Lembah Bangkai sesuai perintah pimpinannya.
Memikir sampai disitu Hijau Dua putar tubuhnya dan menghantam ke
kiri dimana Adipati Tawang Merto berada. Sang Adipati yang berada
dalam keadaan kalap langsung menyongsong serangan si gadis dengan
satu jotosan keras. Dua pukulan saling beradu. Tawang Merto mengeluh
kesakitan. Hijau Dua terhuyung hampir jatuh. Disaat itu dari samping
ada yang menyerang dengan hantaman kursi. Ternyata Adipati Sawung
Glingging.
Melihat keadaan tidak menguntungkannya, apalagi setelah
mengetahui bahwa Tawang Merto memiliki tenaga dalam jauh lebih
tinggi darinya, Hijau Dua memutuskan untuk melarikan diri saja.
Kursi kayu yang dihantamkan sawung Glingging tidak
mengenai.sasaran karena Hijau Dua cepat mengelak. Sambil keluarkan
suara tertawa aneh, dara ini kebutkan lengan baju hijaunya yang
panjang. Serta merta menghamparlah bau busuk yang amat sangat di
tempat itu. Semua orang merasakan nafas menjadi sesak dan dada sakit
mendenyut. Satu demi satu mereka tampak terhuyung-huyung lalu
berjatuhan, tergelimpang dalam keadaan tubuh lemas lunglai. Satusatunya
yang masih mampu tegak berdiri walaupun dengan nafas
menyengat adalah Adipati Tawang Merto. Adipati ini memburu Hijau
Dua dengan satu jotosan ke arah dada. Namun yang diserang sudah
memutar tubuh dan berkelebat pergi meninggalkan tempat itu.
“bangs*t penculik! Jangan kira kau bisa kabur!” teriak Tawang
Merto. Dia hantamkan tangan kanannya. Serangkum angin deras
menderu. Tapi kekuatan pukulan sakti ini hanya mencapai setengahnya
saja karena keadaan tubuhnya yang menjadi lemas akibat kebutan
lengan pakaian Hijau Dua yang menyebarkan bau mayat busuk tadi.
Saat itu Hijau Dua sendiri sudah lari jauh. Yang terdengar hanya
teriakannya dalam kegelapan malam.
“Tawang Merto! Kalau kau masih inginkan anak mantumu,
datanglah ke Lembah Bangkai!”
“Kurang ajar haram jadah!” kertak Adipati Tawang Merto dengan
dua tangan terkepal. Perlahan-lahan tubuhnya terduduk di tanah.
Pesta perkawinan yang tadinya begitu semarak dan penuh
kemewahan kini berubah menjadi kacau dan geger!
***
RASA takut disertai goncangan jiwa yang keras membuat Ningrum
jatuh pingsan selama dilarikan oleh Hijau Daun setengah malaman.
Sebelum mata hari terbit anak buah Dewi Lembah Bangkai itu berharap
sudah bisa sampai di lembah, namun dalam berlari digelapnya malam
ada satu kegelisahan merasuk dirinya. Dia merasa ada seseorang yang
membuntutinya dan dia yakin siapapun adanya orang ini bukanlah
orang dari Kadipaten karena si penguntit muncul setelah dia jauh
meninggalkan Kadipaten. Dan kesanggupan menguntit sejauh itu hanya
bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, paling
tidak mempunyai ilmu lari yang ampuh. Namun yang membuat Hijau
Dua menjadi sebal ialah setiap dia menoleh ke belakang, dia sama sekali
tidak melihat si pengejar. Seolah-olah orang itu sengaja menyembunyikan
diri. Maka timbullah niat dalam diri dara itu untuk menjebak.
Di sebuah tikungan jalan, Hijau Dua jatuhkan selendang milik
pengantin perempuan yang sejak tadi terlibat di leher Ningrum. Lalu dia
merambas semak belukar di kanan jalan kemudian secepatnya
menyeberang ke kiri jalan dan mendekam di balik serumpunan pohon
bambu. Menunggu dengan mempertajam telinga dan sepanjang mata
tak berke-sip.
Ternyata Hijau Dua tidak menunggu lama. Mula-mula terdengar
suara kaki berlari. Perlahan sekali padahal orang itu berlari kencang. Ini
sudah satu pertanda bahwa dia bukan saja memiliki ilmu lari cepat tapi
sekaligus ilmu meringankan tubuh. Sesaat kemudian muncul satu
sosok tubuh berpakaian putih. Orang ini berbadan tegap tanda usianya
masih mudah. Rambutnya gondrong menjulai bahu. Dia mengenakan
ikat kepala putih. Sambil menggaruk-garuk kepala orang ini
memandang berkeliling. Ketika berpaling ke jurusan pohon bambu Hijau
Dua segera dapat melihat raut wajahnya yang setengah terlindung oleh
kegelapan.
“Hemm...Seorang pemuda bertampang keren. Tapi lagaknya
celangak celinguk seperti orang tolol!” berkata Hijau Dua dalam hati.
Lalu dilihatnya pemuda itu membungkuk memungut selendang
pengantin.
Hijau Dua mengomel dalam hati ketika melihat si pemuda
menciumi selendang itu berulang kali. “Jangan-jangan pemuda ini salah
seorang yang tergila-gila pada Ningrum,” pikir Hijau Dua. Dia
memperhatikan terus.
Pemuda berpakaian putih tampak melangkah ke arah semak
belukar yang tadi dirambas Hijau Dua. Dia masuk ke balik semak
belukar itu, memandang berkeliling. Tapi tidak menemukan apa yang
dicarinya.
“Aneh, tak mungkin si jelita itu amblas ke dalam bumi! Tapi
kemana perginya? Mengapa bisa lenyap? Dan selendang ini, apakah
sengaja ditinggal sebagai tanda dia memang suka diikuti...?!”
“Pemuda geblek! Siapa suka padamu! Kenalpun tidak!” Hijau Dua
mendamprat dalam hati. Kemudian didengarnya lagi pemuda tak
dikenal itu berkata.
“Biasanya pemuda yang menculik gadis. Sekarang malah gadis
menculik gadis! Mau dijadikan apa? Ha...ha... ha... Semakin aneh dunia
ini rupanya!”
“Pemuda sialan! Dikiranya aku ini menculik Ningrum untuk
dijadikan apa!” Kembali Hijau Dua mengomel. Kalau diperturukannya
hatinya yang memberingas mau dia keluar dari balik pohon bambu saat
itu juga dan menghajar pemuda bermulut seenaknya itu.
“Ah, nasibku sial! Mungkin dia sudah kabur! Baiknya aku kembali
saja ke Kadipaten...!” Si gondrong kalungkan selendang pengantin di
lehernya lalu berbalik dan tinggalkan tempat itu ke arah mana dia
datang sebelumnya. Setelah menunggu beberapa lama dan yakin
pemuda tadi benar-benar telah meninggalkan tempat itu, Hijau Dua
keluar dari balik rerumpunan pohon bambu lalu meneruskan
perjalanan menuju Lembah Bangkai.
Dibalik sebatang pohon jati tua, terdengar suara tertawa perlahan.
Lalu keluar sosok tubuh pemuda tadi.
“Penipu tertipu! Mana ada pemuda sepertiku ini bisa ditipu
semudah itu...!” Dia kembali tertawa lalu mulai mengejar ke jurusan
lenyapnya Hijau Dua yang memanggul tubuh Ningrum.

UDARA PAGI yang seharusnya penuh kesegaran itu justru sama sekali
tidak dirasakan Pendekar 212 Wiro Sableng ketika pengejarannya
berakhir di pinggir lembah yang merupakan jurang dalam penuh semak
belukar dan batu-batu besar bertonjolan disana-sini. Hidungnya
mencium bau busuk yang amat sangat. Wiro memandang ke arah
lembah.
“Gadis ini lenyap di sekitar tempat ini! Apakah dia kabur
menuruni lembah busuk ini?” Murid Sinto Gendeng dari puncak
Gunung Gede itu meneliti kembali. Kemudian melengaklah sang
pendekar ketika kedua matanya melihat sosok-sosok mayat yang
bergelantungan di cabang-cabang pepohonan!
“Gila! Tempat apa inir Siapa yang digantung dan siapa yang
menggantung?!” Dia berpikir-pikir apakah akan segera saja menuruni
lembah meneruskan penyelidikan. Selagi dia menimbang-nimbang
begitu rupa tiba-tiba terdengar suara nyanyian dari arah lembah,
ditimpali petikan kecapi.
Lembah Bangkai lembah kematian
Jangankan menjejakkan kaki
Melihatnya sajapun sudah cukup alasan untuk mati!
Tak ada yang datang dan bisa pergi
Tak ada yang pergi membawa nyawa di badan
Lembah Bangkai lembah kematian
Siapa yang datang tak bisa kembali pulang!
“Ah, ini baru kejutan!” ujar Wiro sambil garuk kepala. Kedua
matanya memandang tajam ke arah lembah. “Ada mahluk bermukim di
dasar lembah sana. Mungkin jin mungkin manusia aneh! Petikan
kecapi, suara nyanyian... Jelas mengandung tenaga dalam. Kalau tidak
mana bisa sampai terdengar sejauh ini...!”
Selagi Wiro bicara sendirian seperti itu tiba-tiba dia melihat
sesuatu melesat sangat cepat dari dasar lembah. Ketika diperhatikan
benda itu ternyata seutas tali yang ujungnya berbentuk buhul besar.
Dalam waktu sekejapan saja buhul besar itu telah menyambar ke arah
kepala Wiro. Dalam keterkejutannya masih untung pemuda ini sempat
jatuhkan diri. Tali lewat di atas kepalanya, jatuh melibat sebatang pohon
kecil. Begitu tali melibat pohon, terdengar suara berderak. Batang pohon
terangkat ke atas, akarnya tercabut berserabutan. Sesaat kemudian
pohon itu terbetot ke bawah, meluncur ke dalam lembah! Wira dapat
membayangkan kalau batang lehernya tadi sempat dilibat tali aneh itu!
“Ada orang sakti di dalam lembah yang pergunakan kepandaian
nya untuk mencelakai dan membunuh sesama manusia!” ujar Wiro
dalam hati. “Gadis berbaju hijau yang menculik pengantin perempuan
itu...?!” Menduga sampai disitu membuat semakin bulat tekad sang
pendekar untuk turun ke dalam lembah. Sementara itu dari bawah sana
kembali terdengar suara nyanyian dan petikan kecapi. Wiro menunggu
sampai suara nyanyian dan petikan kecapi itu berhenti. Lalu pendekar
ini pentang mulut keluarkan suara nyanyian. Nadanya sungguh tidak
sedap karena sumbang. Tapi syair seenaknya yang dinyanyikannya
justru membuat penghuni lembah dibawah sana menjadi tidak enak dan
marah.
Lembah indah ciptaan Tuhan
Berselimut bau busuk ciptaan insan
Sungguh memalukan pekerjaan yang kau lakukan
Bukan mensyukuri keindahan alam ciptaan Tuhan
Tapi rnengotori dengan mayat dan kebusukan
Urusan kematian adalah urusan Gusti Allah
Manusia jangan sombong merasa perkasa
Bila ajal sampai sudah
Kaupun akan berkubur di liang tanah
Lembah Bangkai diselimuti kesunyian begitu gema nyanyian
Pendekar 212 lenyap. Tapi sepasang mata murid Sinto Gendeng tak bisa
ditipu. Tersamar diantara kehijauan daun-daun pepohonan dia melihat
dua bayangan hijau bergerak cepat menuju bagian atas lembah. Wiro
menunggu. Tapi dua bayangan itu mendadak berhenti di lereng lembah,
dan mendekam di suatu tempat seolah-olah menunggu sesuatu.
Di saat yang sama Wiro mendengar suara derap kaki kuda di
belakangnya. Ketika dia berpaling dilihatnya Adipati Tawang Merto dan
Adipati Sawung Glingging sudah berada di tepi lembah beserta lebih dari
dua puluh perajurit bersenjata lengkap.
“Orang muda! Siapa kau?! Apakah kau penghuni di tempat ini?!”
Tawang Merto mendekati Wiro sambil menutup hidung, tak tahan
mencium bau busuknya mayat.
“Aku baru saja sampai di lembah ini!” jawab Wird. “Hemmm, apa
yang kau lakukan pagi-pagi disini?!” yang bertanya kini adalah Adipati
Sawung Glingging.
“Aku mencari seseorang,” jawab Wiro lagi.
“Hemm...gerak gerikmu mencurigakan! Jangan-jangan kau
anggota komplotan penculik anakku!”
Wiro tersenyum dan menyahuti: “Adipati, jangan asal menuduh
saja. Kau saksikan sendiri tempat ini. Angker dan menebar bau busuk!
Inilah Lembah Bangkai!”
“Nah, kau tahu nama lembah ini, pasti kau penghuni disini!”
“Ayah! Aku yakin manusia satu ini terlibat dalam penculikan
istriku!” seorang pemuda yang juga menunggang kuda menyeruak ke
depan lalu berteriak: “Pusaka Kadipaten! Tangkap pemuda ini!”
Sepuluh perajurit segera melompat turun dari kuda mereka.
“Kalian gila semua atau bagaimana? Tidak ada ujung pangkal
hendak menangkapku?!” teriak Wiro jadi gusar. Tapi sepuluh perajurit
itu merangsak maju.
“Bunuh dia kalau berani melawan!” berkata pemuda diatas kuda.
Dia bukan lain adalah Tubagus Kolokaping, putera Adipati Tawang
Merto. Kehilangan istrinya disaat bersanding dipelaminan membuatnya
ingin membunuh siapa saja saat itu.
Ketika perajurit-perajurit Kadipaten itu hanya tinggal tiga langkah
lagi dari hadapan Wiro, tiba-tiba dari dasar lembah terdengar alunan
nyanyian dan petikan kecapi. Adipati Tawang Merto dan calon besannya
Sawung Glingging terkesiap dan saling pandang. Sepuluh perajurit yang
hendak meringkus Wiro seolah-olah terpukau dan hentikan gerakan
mereka.
“Betul apa yang dikatakan Rundono tempo hari. Lembah Bangkai.
Ada bau busuk. Ada suara nyanyian aneh dan petikan kecapi yang
menggidikkan...” berbisik Sawung Glingging.
“Jangan kita terpengaruh oleh pendengaran yang bukan-bukan.
Tidak ada jin atau setan yang pandai menyanyi dan main kecapi! Itu
pasti manusia juga. Aku yakin ini markas penculik keparat itu!” ujar
Tawang Merto. Dia bersiap-siap mencari jalan untuk menuruni lembah
dan memberi isyarat pada perajurit-perajurit yang ada dibelakangnya.
“Perajurit-perajurit tolol! Mengapa kalian diam saja?! Lekas
tangkap pemuda gondrong itu!” terdengar Tubagus Kolokaping berteriak
marah ketika dilihatnya perajurir-perajurit yang tadi sudah siap untuk
meringkus Wirio kini malah tegak seperti terpukau!
Dibentak begitu rupa sepuluh perajurit itu seperti sadar. Sambil
berteriak mereka melompati Pendekar 212 Wiro Sableng.
Adipati Tawang Merto yang sudah siap menuruni bibir lembah jadi
menahan tali kekang kudanya ketika dia melihat enam dari sepuluh
perajurit Kadipaten yang hendak menangkap pemuda berambut gondrog
itu mencelat dan berkaparan di tepi lembah sambil mengerang
kesakitan. Empat lainnya tertegun ketakutan.
Marahlah orang-orang Kadipaten itu, terutama Tawung Merto,
anaknya Tubagus Kolokaping dan Adipati Sawung Glingging. Langsung
saja Tawang Merto memerintahkan agar Wiro dibunuh saat itu juga!
Belasan senjata dihunus. Tubagus Kolokaping mencekal sebilah, golok
panjang erat-erat. Selain ayahnya, dialah yang paling mendendam atas
penculikan terhadap Ningrum.
Tawang Merto melompat dari kudanya. Justru inilah yang
menyelamatkannya dari seutas tali yang tiba-tiba melesat dari dasar
lembah. Buhul besar yang tadinya akan menyambar kepalanya, kini
hanya sempat menjirat leher kuda tunggangan. Binatang ini meringkik
keras, melejang-lejangkan keempat kakinya. Lalu dalam keadaan seperti
itu tubuhnya terseret menggelinding ke dalam lembah!
Walau apa yang terjadi dengan kuda tunggangannya itu sempat
membuat kuduk Tawang Merto mengkirik, namun saat itu dia lebih
mementingkan pada tekadnya bersama yang lain-lain untuk membunuh
Pendekar 212 Wiro Sableng.,
Disaat yang menegangkan itu tiba-tiba muncul dua bayangan
hijau. Udara di bibir lembah serta merta menjadi busuk luar biasa.
Semua orang merasakan nafas menjadi sesak. Yang memiliki
kepandaian tinggi seperti dua Adipati dan puteranya serta Wiro Sableng
segera menutup jalan penciuman. Tetapi perajurit-perajurit yang
belasan jumlahnya mulai batuk-batuk, sakit mendenyut pada dada
masing-masing dan kedua kaki bergetar lemas, hampir tak kuasa lagi
menunjang tubuh mereka. Sementara itu puluhan kuda tunggangan
yang ada disitu mulai resah, meringkik tiada henti bahkan ada yang
sudah menghambur lari dari tempat itu.
Melihat munculnya dua gadis berpakaian tipis berwarna hijau,
perhatian semua orang terhadap Wiro Sableng menjadi beralih.
“bangs*t penculik! Dikejar kau datang sendiri! Mana puteriku?!”
teriak Adipati Sawung Glingging.
Hijau Dua, dara berpakaian hijau tipis yang tegak berkacak
pinggang tersenyum mencibir. “Kau rupanya ayah gadis itu! Sesuai
permohonan anakmu, Dewi telah memberi putusan mengampuni
jiwamu! Nah, kau tunggu apa lagi! Lekas minggat dari sini!”
“Dewi...Dewi siapa maksudmu, penculik keparat?!” teriak Tubagus
Kolokaping.
Plaakk!
Satu tamparan keras melabrak pipi pengantin yang kecurian istri
itu. Tubuhnya berputar terhuyung-huyung lalu terbanting ke tanah.
Bibirnya pecah mengucurkan darah. Melihat hal ini sang Ayah, Adipati
Tawang Merto menggerung marah dan lepaskan satu jotosan ke wajah
Hijau Dua. Dari samping Hijau Satu memapasi serangan Adipati itu
dengan satu tendangan ke arah perut. Membuat Tawang Merto terpaksa
batalkan serangannya pada Hijau Dua lalu membalik, maksudnya
untuk menggebuk Hijau Satu. Akibatnya bentrokan dua lengan tidak
terhindarkan. Hijau Satu terpekik. Tubuhnya terhuyung, lengan
kanannya terasa seperti patah. Sebaliknya Tawang Merto jatuh duduk di
tanah. Wajahnya pucat. Adipati ini cepat melompat bangkit. Kalau tadi
dia mengerahkan hanya setengah bagian saja dari tenaga dalamya,
maka kini dia kerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam yang
dimilikinya.
Akan halnya Wiro, karena merasa orang sudah melupakan dirinya
maka pemuda ini melompat ke cabang sebatang pohon dan
memutuskan untuk menonton saja apa yang terjadi dibibjr Lembah
Bangkai itu!
IZRO'IL
Dewi Lembah Bangkai


Tidak percuma Tawang Merto mempelajari berbagai ilmu silat dan
kesaktian selama belasan tahun. Serangan-serangan yang
dilancarkannya menimbulkan deru angin, dibelakang kedua kakinya
debu beterbangan. Dalam waktu singkat dia berhasil mendesak Hijau
Dua. Sebetulnya dalam ilmu silat gadis muda anak buah Dewi Lembah
Bangkai itu tidak berada dibawah tingkat kepandaian sang Adipati.
Namun tenaga dalam yang dikerahkan penuh oleh lawan membuat
Hijau Dua harus berhati-hati dan memilih lebih baik mundur atau
berkelit pada saat dia merasakan tidak mungkin mengadu kekuatan.
Berlainan dengan Tawang Merto yang menunjukkan kehebatannya
maka Adipati Sawung Glingging yang dibantu oleh tubagus
Kolokaping sama sekali tidak berdaya menghadapi serangan-serangan
Hijau Satu. Sesuai dengan pesan yang diterimanya dari sang Dewi,
Hijau Satu tidak mau menciderai Sawung Glingging yang ayah Ningrum
itu, sebaliknya serangannya dititikberatkan pada sang calon pengantin
pria yang sial. Akibatnya Tubagus Kolokaping menjadi bulan-bulanan
hantaman Hijau Satu. Dalam empat jurus saja pemuda itu sudah babak
belur dan tergelimpang di tanah.
Sawung Glingging yang menjadi kecut berteriak pada perajuritperajurit
Kadipaten. Setengah lusin perajurit maju. Keenam perajurit ini
dibikin babak belur dalam tiga jurus. Sawung Glingging melompat
mundur dengan muka pucat.
“Sekali lagi aku memberi kesempatan. Apakah kau masih tidak
mau minggat dari tempat ini?!”
Mendengar ucapan Hijau Satu dan menyadari bahwa dia tidak
memiliki kemampuan untuk menghadapi gadis baju hijau itu sendirian.
Adipati Sawung Glingging melompat ke atas punggung seekor kuda lalu
menggebrak binatang itu meninggalkan lembah. Beberapa perajurit yang
juga sudah meleleh nyalinya termasuk Tubagus Kolokaping melakukan
hal yang sama. Hingga kini tinggallah Adipati Tawung Merto seorang
diri, masih ditunggui oleh sebelas perajurit yang rata-rata berada dalam
keadaan ketakutan.
Perkelahian antara Hijau Dua dan Tawang Merto semakin hebat.
Masing-masing mengeluarkan kepandaian. Tawang Merto andalkan
tenaga dalam yang tinggi dan pukulan-pukulan sakti tangan kosong.
Sebaliknya Hijau Dua andalkan kegesitan serta pukulan-pukulan ujung
lengan baju hitamnya yang membersitkan angin deras mengandung
hawa busuk menyesakkan. Meskipun dia dapat membendung semua
serangan lawan namun lama-lama Hijau Dua yang kurang pengalaman
itu mulai terdesak dan beberapa kali dia hampir kena hantaman
pukulan lawan yang mengandung jebakan-jebakan mematikan.
Melihat hal ini, Hijau Satu keluarkan suara suitan nyaring. Dari
dalam lembah tiba-tiba melesat seutas tali yang ujungnya membentuk
lingkaran maut. Ujung tali ini menderu ke arah kepala Tawang Merto
yang saat itu sama sekali tidak menyadari karena dengan segala
dendam dan kemarahan berusaha menghabisi Hijau Dua. Ketika tali
maut itu hampir lolos melewati kepalanya untuk menjirat lehernya, tibatiba
sebatang patahan cabang kecil melayang ke udara. Tali yang siap
menjirat dan menyeret tubuh Tawang Merto terpukul mental. Sang
Adipati selamat dari maut.
“Bedebah minta mampus! Siapa yang berani mencampuri urusan
orang-orang Lembah Bangkai!” teriak Hijau Satu marah. Sebagai
jawaban terdengar suara tawa mengekah. Hijau Satu berpaling dan
kagetlah gadis ini!

TEGAK sepuluh langkah di sebelah kirinya, Hijau Tiga melihat seorang
nenek berpakaian kuning bermuka hitam. Didada pakaiannya
terpampang gambar kelabang berwarna biru. Inilah Nenek Kelabang
Biru tokoh silat golongan hitam yang ditempur Hijau Tiga dan Hijau Dua
beberapa waktu lalu. Kehebatan si nenek membuat dua anak buah Dewi
Lembah Bangkai terpaksa mengundurkan diri. Disamping si nenek
berdiri seorang lelaki berwajah tampan tapi bersikap sombong. Sebilah
pedang tersisip di pinggangnya sebelah kanan. Orang inilah yang
diketahui hidup sebagai suami istri dengan si nenek dan bergelar
Pendekar Pedang Iblis.
Si nenek masih terus tertawa mengekeh. Ketika hentikan tawa
terdengar suaranya yang nyaring.
“Begini-begini saja keadaan Lembah Bangkai! Busuk bau!
Ternyata tidak ada apa-apanya. Kecuali mayat-mayat tak berguna
bergelantungan disana sini untuk menakuti binatang hutan! Hik...
hik...hik! Beberapa waktu lalu kalian berdua mengunjungiku di bukit
Walang. Menjajal kehebatanku lalu lari. Hik...hik...hik! Saat ini aku
membawa serta kekasihku! Bukankah dia yang kalian cari?!”
“Kalian berdua tunggulah sampai kami menyelesaikan urusan
dengan Adipati Tawang Merto! Jangan mencoba kabur! Sekali datang di
Lembah Bangkai tak ada lagi jalan pulang!” menjawab Hijau Tiga. Lalu
dia berkelebat membantu Hijau Dua yang tengah didesak oleh Tawang
Merto. Mendapat dua lawan tangguh begitu rupa betapapun hebatnya
sang Adipati, dalam waktu tiga jurus dia segera terdesak hebat. Dengan
mengertakkan geraham Tawang Merto cabut senjata mustika yang
disimpannya dibalik pakaian. Senjata ini adalah sebilah pisau bermata
dua yang berlobang di bagian badannya, memancarkan sinar redup
kehitaman tanda mengandung racun jahat.
Melihat lawan keluarkan senjata berbahaya Hijau Dua dan Hijau
Tiga segera loloskan selendang yang dijadikan ikat pinggang. Selendang
hijau ini dikebut demikian rupa sehingga setiap Tawang Merto menikam
atau membabatkan pisaunya dia merasakan seperti ada dorongan angin
keras menderanya. Lama-lama Adipati ini menjadi kalang kabut sendiri.
Beberapa kali ujung selendang kedua lawannya berhasil menghantam
tubuhnya. Sang Adipati merasakan ada hawa aneh yang menjalari
dirinya. Keringat dingin mengucur disekujur badannya.
Selagi terdesak seperti itu, dia berteriak pada sebelas perajurit
yang masih ada disitu agar membantu. Namun semua perajurit tidak
ada yang berani bergerak!
“Perajurit-perajurit pengecut! Kelak kalian akan kuhukum
gantung satu persatu “teriak Tawang Merto marah.
“Jika kami berdua menjadi perajurit-perajurit yang berani, hadiah
apa yang akan kau berikan pada kami Adipati?!” terdengar suara nenek
Kelabang Biru.
Adipati Tawang Merto melompat mundur menjauhi kedua lawannya
dan berpaling. Dia tidak mengenali siapa adanya lelaki disamping si
nenek. Tetapi melihat si nenek dia rasa-rasa pernah berjumpa
sebelumnya. Berpikir sejenak lalu dia ingat.
“Hai, orang tua keren, bukankah kau Nenek Kelabang Biru yang
dulu pernah membantu pasukan Kerajaan ketika membasmi kaum
pemberontak di selatan?!”
“Ah...a h...ah! Kau masih tidak melupakan jasa yang dibuat
kekasihku!” menyahuti Si Pedang Iblis. “Kau belum menjawab
pertanyaannya tadi!”
“Aku...Sekotak penuh perhiasan emas dan batu-batu permata,
sepuluh ringgit emas menantimu di Kadipaten jika kau dan kekasihmu
itu mau membantuku menyingkirkan dua gadis keparat ini!”
“Nenek Kelabang Biru! Jangan kau berani mencampuri urusan
kami!” teriak Hijau Dua memperingatkan.
“Ah, sudah terlanjur! Sudah terlanjur! Seharusnya kau memberi
kehormatan pada kami. Bukankah secara tidak langsung kalian berdua
telah mengundang kami untuk datang kemari?!”
Kawatir si nenek dan kekasihnya akan berubah pikiran maka
Adipati Tawang Merto cepat berkata: “Tidak perlu bertutur cakap dengan
gadis-gadis sesat ini! Mari kita sama-sama membasminya!”
“Aku sudah siap!” jawab si Nenek Kelabang Biru. Dia merangkul
Pedang Iblis, mencium pipinya lalu bertanya: “Kekasihku! Kau sudah
siap pula?!”
“Tentu, tentu! Sahut Pedang Iblis. Lalu mengecup bibir si nenek
lumat-lumat, membuat Hijau Dua dan Hijau Tiga merasa jijik melihatnya.
Di atas pohon Pendekar 212 Wiro Sableng hampir tidak dapat
menahan tawa melihat kelakuan lelaki muda dan nenek renta itu!
“Gila gendeng! Tapi biar aku ikut-ikut gila bersama orang orang
sedeng itu!” kata Wiro. Ketika Nenek Kelabang Biru dan Pedang Iblis
bergerak maju mengurung, Wiro melompat turun dari atas cabang
pohon.
Saat itu sebenarnya Hijau Dua dan Hijau Tiga diam-diam merasa
bimbang apakah mereka berdua mampu menghadapi tiga lawan
sekaligus. Yang mereka risaukan bukannya Adipati Tawang Merto, tapi
justru si nenek dan kekasih mudanya itu!
“Berkelahi tiga lawan dua bukan saja tidak seimbang tapi bisa
dianggap pengecut main keroyok! Biar aku membantumu gadis-gadis
jelita!” Wiro berseru lalu di udara dia membuat jumpalitan dua kali
berturut-turut. Ketika menjejakkan kaki di tanah, pendekar ini tegak
diantara Hijau Dua dan Hijau Tiga.
“Eh, tadi kulihat dua kekasih itu berciuman dulu sebelum masuk
kalangan pertempuran. Apakah kita bertiga tidak berciuman pula?!” ujar
Wiro seraya berpaling pada Hijau Dua dan Hijau Tiga lalu tertawa gelakgelak.
Tentu saja paras Hijau Dua dan Hijau Tiga menjadi merah.
Sebaliknya si nenek dan kekasihnya yang merasa tersinggung dengan
ejekan itu sama membesi wajah masing-masing.
“Pemuda bertampang tolol!” bentak si nenek. “Aku berani
bertaruh, dua gadis itu tidak akan mau menciummu. Tubuhmu saja
apeknya tercium sampai kemari!” Lalu Nenek Kelabang Biru tertawa
gelak-gelak.
Meskipun hatinya dongkol setengah mati, namun kehadiran
pemuda tak dikenal itu mau tak mau dirasakan sebagai pertolongan
yang tidak terduga oleh Hijau Dua dan Hijau Tiga. Melihat caranya tadi
melompat dari atas cabang pohon yang tinggi jelas dia memiliki
kepandaian. Tapi sampai ditingkat mana kepandaiannya itu? Apakah
mampu menghadapi tiga lawan, terutama si Nenek Kelabang Biru yang
berbahaya dan ganas itu?!
“Soal cium mencium dengan dua gadis ini kita lupakan saja!” ujar
Wiro. “Tapi kalau kalian bertiga nanti sampai jatuh di tangan kami,
apakah kau akan mau menciumku nek?!” Lagi-lagi Wiro mengejek.
Si nenek terdengar menggereng. “Jangankan mukamu,
pantatmupun akan kucium jika aku sampai kalah olehmu!” kata si
nenek saking marahnya.
“Ha...Ha! Bagus! Semua mendengar! Semua jadi saksi!” seru Wiro.
Nenek Kelabang Biru memberi isyarat pada kekasihnya. Pedang
Iblis segera hunus senjata andalannya yakni sebilah pedang panjang
yang berkilat-kilat ditimpa sinar matahari pagi. Senjata itu diputar dua
kali berturut-turut! Dan terjadilah hal yang hebat! Belasan daun
pepohonan yang terkena sambaran pedang runtuh ke tanah. Gaganggagang
daun tampak putus seperti ditebas benda tajam!
Melihat hal ini diam-diam Pendekar 212 Wiro Sableng mau tak
mau jadi tercekat juga sedang Hijau Dua dan Hijau Tiga merasa gelisah.
Dari apa yang dipamerkan Pedang Iblis ternyata lelaki itu memiliki
kepandaian diatas si nenek kekasihnya.
Padahal beberapa waktu lalu mereka berdua pernah menempur si
nenek dan mengundurkan diri sebelum mendapat celaka. Hijau Dua
berusaha membangkitkan semangat diri sendiri dan semangat
kawannya dengan berbisik: “Tak usah takut Hijau Tiga! Ini saatnya kita
mengeluarkan lima jurus ilmu silat Lembah Bangkai yang diajarkan
Dewi!”
Hijau Tiga mengangguk. Keduanya alirkan tenaga dalam ke lengan
kanan, terus disalurkan ke selendang hijau yang mereka pegang.
Selendang yang tadi lemah gemulai itu tiba-tiba berubah seperti sebuah
pentungan besi. Tapi bila dikehendaki dalam sekejap mata kembali
menjadi lemas dan bisa membelit atau menjirat! Inilah salah satu
kehebatan ilmu silat yang diajarkan Dewi Lembah Bangkai pada ke dua
anak buahnya itu.
“Kekasihku, apa lagi yang ditunggu! Mari kita berpesta pora!” seru
Nenek Kelabang Biru. Dia berpaling pada Tawang Merto. “Adipati,
jangan bengong saja! Pilih salah satu dara jelita itu jadi lawanmu. Yang
satu lagi biar kekasihku yang melayani! Pemuda tolol bau apak ini biar
aku yang akan menguliti tubuhnya!”
Habis berkata begitu Nenek Kelabang Biru melompat ke arah Wiro
Sableng. Murid Sinto Gendeng sempat melihat bagaimana kedua tangan
si nenek yang tadinya hitam keriputan tiba-tiba berubah menjadi biru
kelam tanda sudah dialiri tenaga dalam yang menyalurkan racun jahat!
Dua tangan menggapai kedepan. Cepat sekali. Satu tangan tahu-tahu
sudah mencengkeram ke arah tenggorokan sedang satunya menusuk ke
jurusan perut!
Pendekar 212 berkelit ke kiri lalu putar tubuhnya dan mainkan
ilmu silat orang gila yang didapatnya dari tua gila karena menurutnya
jurus-jurus silat yang seperti orang mabuk itulah yang sanggup
menghadapi serangan lawan yang mengandalkan sepasang tangan
beracun.
Hijau Tiga tanpa menunggu lebih lama langsung menghambur ke
arah Tawang Merto. Selendangnya berkelebat kian kemari, berusaha
mementahkan setiap tusukan atau sambaran pisau di tangan sang
Adipati.
Sementara itu Hijau dua sudah terlibat dalam perkelahian yang
hebat dengan Pedang Iblis, Keganasan ilmu pedang lelaki berusia tiga
puluh tahun itu seolah-olah terbendung oleh kehebatan selendang di
tangan Hijau Dua yang bisa meliuk mematuk seperti ular atau menderu
membelit siap menjirat tangan atau senjata lawan tapi juga bisa
berubah seperti sebuah tongkat baja yang keras.
Pedang Iblis kertakkan rahang. Dia tidak menyangka sama sekali
kalau gadis jelita yang hanya bersenjatakan sehelai selendang hijau itu
akan sanggup menghadapi pedang mustikanya yang tersohor di delapan
penjuru angin! Maka sambil membentak garang, Pedang Iblis rubah
permainan pedangnya. Senjata itu kini lenyap berubah menjadi sebuah
sinar yang menusuk, membabat atau membacok dalam gerakan kilat
yang sulit diduga. Beberapa kali Hijau Dua terpekik karena ujung
selendangnya berhasil dirobek atau dibabat putus oleh senjata lawan.
Lambat laun selendang itu hanya tinggal tiga jengkal saja lagi. Hijau
Dua mulai terdesak. Dalam keadaan kepepet begitu rupa Hijau Dua
segera keluarkan lima jurus ilmu silat Lembah Bangkai yang baru saja
dipelajarinya dari Dewi Lembah Bangkai. Setiap kedua lengannya
bergerak, dari ujung lengan pakaian hijaunya menghambur angin deras
yang mengeluarkan hawa dingin disertai sambaran bau busuk luar
biasa! Pedang Iblis merasakan kepalanya pusing dan nafasnya sesak.
Sepasang matanya mulai kabur. Cepat-cepat lelaki ini menutup
penciumannya lalu kerahkan tenaga dalam untuk meredam hawa
beracun yang coba menguasai dirinya. Pedang saktinya diputar dengan
sebat, namun sampai lima jurus dimuka tetap saja dia tidak sanggup
menerobos pertahanan Hijau Dua. Marahlah lelaki ini. Tangan kirinya
diangkat. Setiap dia melancarkan serangan dengan pedang, tangan
kirinya ikut menggempur. Hijau Dua merasa seolah-olah dia dijepit dari
kiri kanan, Ilmu silat Lembah Bangkai yang baru dikuasainya menjadi
kacau. Perlahan-lahan tetapi pasti dara ini terpaksa bertindak mundur
terus-terusan dan bertahan mati-matian.
Lain halnya perkelahian antara Tawang Merto dengan Hijau Tiga.
Empat jurus berlalu. Mula-mula terlihat perkelahian berjalan seimbang.
Namun memasuki jurus kelima Adipati berkepandaian tinggi itu
membuat gebrakan-gebrakan beruntun. Hijau tiga terpekik ketika pisau
di tangan lawan merobek besar dada pakaiannya. Payu daranya yang
putih dan kencang tersingkap lebar membuat sesaat Tawang Merto yang
memang doyan perempuan itu jadi terkesiap, Dengan cepat Hijau Tiga
tutupi dadanya dengan selendang hijau, Akibatnya dia kini tidak
bersenjata. Didalam hati Adipati Tawang Merto timbullah maksud kotor.
Dengan pisaunya dia akan merobek-robek seluruh pakaian gadis itu.
Maka dia menyerbu kembali. Tapi sang Adipati kecele. Saat itu Hijau
Tiga sudah mulai keluarkan lima jurus ilmu silat Lembah Bangkai. Bau
busuk menghampar dan melabrak kearah Tawang Merto membuat
Adipati ini sulit bernafas.
“Edan!” teriak Tawang Merto marah. Tangan kirinya dipukulkan
ke depan. Serangkum angin panas menderu. Hijau Tiga menekuk kedua
lututnya. Berbarengan dengan itu kedua tangannya dipukulkan ke
depan menyongsong serangan lawan. Kedua pihak yang mengadu
kekuatan tenaga dalam lewat pukulan sakti sama-sama keluarkan
seruan tinggi. Tawang Merto terjajar beberapa langkah. Dadanya mendenyut
sakit. Wajahnya sepucat kertas. Di depannya Hijau Tiga jatuh
terduduk di tanah dengan wajah juga pucat pasi dan ada darah
membersit disela bibirnya. Melihat lawan terluka di dalam Tawang Merto
cepat memburu. Pisau beracun di tangan kanannya ditusukkan ke leher
Hijau Tiga. Gadis ini tak mampu mengelak. Dia coba memukul tangan
lawan yang memegang senjata maut dengan tangan kiri karena tangan
kanan dipakai bersrtekan ketanah agar tidak jatuh. Pukulan tangan kiri
itupun luput! Ujung pisau beracun terus meluncur deras ke arah
lehernya!
Terdengar pekik Hijau Tiga menyambut kematian yang tak bisa
dihindarinya. Sebaliknya Tawang Merto sendiri tiba-tiba saja merasakan
seperti ada satu tembok besar yang menghantam tubuhnya hingga dia
tersapu ke kiri dan jatuh teguling di tanah! Itulah pukulan sakti
“benteng topan melanda samudera” yang dilepaskan Pendekar 212 Wiro
Sableng yang masih sempat melihat bahaya maut mengancam Hijau Tiga.
Tawang Merto berdiri tertatih-tatih, Sebagian tubuhnya terasa
seperti hancur. Dalam keadaan seperti itu dia sadar benar tak ada
gunanya meneruskan pertempuran. Maka Adipati ini cepat menghampiri
seekor kuda besar. Namun sebelum dia sempat naik ke atas punggung
binatang ini, tiba-tiba seutas tali menyambar dari belakang. Terdengar
suara patahnya tulang leher Adipati ini ketika jeratan tali menyentak
dan tubuhnya diseret oleh satu kekuatan besar masuk terjerumus ke
dalam Lembah Bangkai!

KARENA berusaha menolong Hijau tiga, berarti Wiro tidak dapat
memusatkan seluruh pematiannya dalam menghadapi Nenek Kelabang
Biru. Kesempatan ini tidak disia-siakan lawan. Dengan gerakan kilat
perempuan tua itu melesat ke depan. Dua tangan kembali
mencengkeram sedang lutut kanan dilipat dan sesaat kemudian kaki
kanan itu menendang ke arah dada. Pendekar 212 terkesiap. Dari tiga
serangan lawan dia tahu pasti cengkeraman tangan kiri kanan si nenek
adalah yang paling berbahaya karena mengandung racun kelabang yang
ganas dan mematikan. Dengan gerakan ilmu silat orang gila yang aneh
Wiro berhasil selamatkan kepala dan lehernya dari serangan dua
tangan. Untuk menghindarkan tendangan ke arah dada pendekar ini
jatuhkan diri ke belakang. Ketika si nenek memburu dengan geram
karena tiga serangannya luput, Wiro angkat kakinya sebelah kiri dan
selusupkan ke selangkangan si nenek “Manusia kurang ajar!” teriak
Nenek Kelabang Biru marah sekali. Sambil membuang diri kesamping
dia menghantam dengan tangan kanan. Satu sinar biru menderu
bergemuruh!
“Mampus!” teriak si nenek karena yakin dengan pukulan sakti
yang selama ini tidak bisa dihadapi siapapun dia akan mampu
menamatkan riwayat Pendekar 212.
Mencium bau amis dan angkernya sinar pukulan sakti itu, murid
Sinto gendeng sudah maklum keganasan serangan lawan. Maka tanpa
pikir panjang lagi dia balas menghantam dengan pukulan sakti “orang
gila mengebut lalat”. Tangan kanannya bergerak tiada henti ke kiri dan
ke kanan. Sinar biru pukulan Nenek Kelabang Biru seolah-olah terbelah
dan terpental ke samping, menghantam pepohonan dan sebuah
gundukan tanah. Pohon itu langsung menjadi biru sedang gundukan
tanah muncrat beterbangan laksana dilanda angin puyuh. Karena masih
berusaha bertahan untuk melancarkan serangan susulan, si nenek
merasakan tubuhnya terhuyung ke kiri dan ke kanan. Sebelum jatuh,
sambil memaki perempuan tua ini cepat melompat mundur.
“bangs*t! Siapa kau sebenarnya?!” teriak Nenek Kelabang Biru.
Seumur hidup baru sekali ini dia menghadapi musuh begini luar biasa
dan masih sangat muda pula hingga dia merasa dipermalukan. Dan
didepan mata kekasihnya pula!
“Kau barusan memanggilku bangs*t! Nah, anggap saja itu
namaku!” sahut Wiro seraya pasang kuda-kuda baru. “nek, sebelum kau
kurobohkan lebih baik cepat-cepat saja mencium pantatku lalu bawa
pacarmu itu meninggalkan tempat ini!”
“Sombongnya!” teriak Nenek Kelabang Biru lalu meludah ke
tanah. “Aku bersumpah akan membunuhmu dan memperkosa
mayatmu!”
“Ih. ” Wiro berseru. Dia hendak tertawa gelak-gelak mendengar
ucapan si nenek tapi dia melihat sinar yang memancarkan maut di
kedua mata si nenek. “Tua bangka jelek ini tidak main-main agaknya,”
pikir Wiro. Baru saja dia bersiap-siap untuk menghadapi lawan tiba-tiba
si nenek sudah berteriak nyaring dan hantamkan tangan kanannya.
Tidak terdengar suara deru kekuatan tenaga dalam. Tidak
terdengar siuran angin sakti. Namun saat itu Wiro melihat ada tiga buah
benda aneh berwarna biru menyerbu ke arahnya. Ketika diperhatikan
kagetlah murid Sinto Gendeng ini. Tiga benda itu ternyata adalah tiga
ekor kelabang berwarna biru!
IZRO'IL
Dewi Lembah Bangkai


Karena tidak menduga akan mendapat serangan senjata rahasia
berupa binatang-binatang beracun begitu rupa, Pendekar 212 tidak
mampu menyelamatkan diri. Kelabang pertama sempat dihantamnya
dengan pukulan tangan kosong mengandung aji kesaktian hingga
hancur bermentalan di udara. Kelabang kedua terlempar ke samping
tapi secara aneh tiba-tiba membalik dan menancap di bahu kirinya.
Selagi pemuda ini berteriak kesakitan, kelabang ketiga melesat ke arah
dada kirinya, searah jantung. Inilah serangan yang sangat berbahaya!
Dan Wiro tak dapat menyelamatkan diri sama sekali!
Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba terdengar suara jentringan
kecapi. Selarik sinar putih menyilaukan berkiblat. Kelabang biru yang
sesaat lagi akan menancap di dada Wiro terus menembus jantungnya
hancur berantakan dihantam sinar putih tadi, Wiro selamat namun
racun kelabang yang menancap di bahunya mulai bekerja. Tubuhnya
mulai terasa panas. Pandangan matanya mengabur. Samar samar dia
melihat ada dua sosok bayangan hijau berkelebat di tempat itu. Lalu
lapat-lapat sebelum jatuh pingsan dia mendengar suara perempuan
berkata: “Hijau Satu! Tolong pemuda itu! Bawa ke guaku dan berikan
obat penawar racun!”
Wiro melihat wajah cantik mendekati dirinya. Samar-samar sekali.
Lalu ada totokan di dadanya, keras dan sakit. Setelah itu dia tak ingat
apa-apa lagi!
Di hadapan Nenek Kelabang Biru tegak berdiri seorang dara yang
wajahnya ditutup cadar hijau tipis.
Pakaian hijau yang menutupi tubuhnya yang tinggi semampai
bergoyang-goyang ditiup angin pagi. Di tangan kirinya dara ini memeluk
sebuah kecapi.
Nenek Kelabang Biru memperhatikan sejenak. Lalu terdengar
kekehannya disusul ucapan: “Ah! Jadi inilah Dewi Lembah Bangkai itu!
Gadis tolol yang ingin menyombongkan diri dengan perbuatannya yang
aneh-aneh! Sungguh tidak disangka ternyata dia hanya seorang
pengamen yang kemana-mana bernyanyi dan main kecapi! Hai, cobalah
kau menyanyi dan mainkan kecapimu! Pasti aku akan membayar
mahal! Hik...hik...hik...!”
“Tua bangka dajal! Jangan kau kira aku tidak tahu siapa kau
sebenarnya!” Dewi Lembah Bangkai menyeringai dibalik cadarnya.
“Diluar kau memang tampak seperti nenek! Tapi didalam kau adalah
dajal lelaki yang berbuat mesum dimana-mana, menyukai sesama lelaki
tapi juga memperkosa orang-orang perempuan!”
Nenek Kelabang Biru tersurut dua langkah. Wajahnya membesi.
Tubuhnya bergetar. Kedua matanya membeliak dan memandang tak
berkesip ke arah Dewi Lembah Bangkai. Yang dipandang tetap berlaku
tenang. Malah tanpa berpaling dia berkata pada anak buahnya yang
tengah didesak habis-habisan oleh Pedang Iblis.
“Hijau Dua mundurlah. Tidak ada gunanya menghabiskan waktu
melayani lelaki yang menyediakan auratnya untuk si tua bangka yang
sama jenisnya ini!”
Mendengar ucapan pimpinannya itu, Hijau Dua melompat
mundur sementara Pendekar Pedang Iblis sambil berteriak marah
hendak menyerbu Dewi Lembah Bangkai, tapi cepat dicegah oleh
kekasihnya.
“Betina bercadar! Mulutmu kotor! Jalan pikiranmu busuk
sebusuk tempat kediamanmu! Sebelum kau mampus dalam kebusukan
itu, katakan siapa kau sebenarnya?!” Nenek Kelabang Biru bertanya
sementara kedua tangannya disilangkan di depan dada.
Dewi Lembah Bangkai melihat bahwa kedua tangan si nenek
masih berwarna biru tanda setiap saat dia bisa saja melepaskan senjata
rahasianya yaitu kelabang-kelabang maut berwarna biru.
“Siapa aku tidak penting. Yang lebih penting ialah apa yang
menjadi tugas dan tujuan hidupku di dunia ini...!”
“Sompret!” memaki Pedang Iblis. “Kau bicara seperti malaikat
saja!”
“Mungkin aku memang malaikat maut yang bakal mencabut
nyawamu! Manusia yang suka bercampur dengan manusia sejenisnya
kabarnya paling cocok jadi kayu neraka!”
Si Pedang Iblis tak dapat lagi menahan amarahnya. Tanpa bisa
dicegah oleh si nenek, lelaki ini menyerbu ke depan. Pedang iblisnya
berkiblat ke arah batang leher Dewi Lembah Bangkai. Sang Dewi angkat
kecapinya. Jari tangannya bergerak. Terdengar suara berjentringan. Tiga
sinar putih menyilaukan membelah udara.
Trang!
Pedang di tangan kekasih Nenek Kelabang Biru terpental dan
patah dua! Si Pedang Iblis sendiri terbanting ke kiri, sempoyongan.
Tangan kanannya terasa panas dan kaku. Mukanya sepucat kain kafan.
Nenek Kelabang Biru tertegun tak berkesip menyaksikan kejadian
itu.
“Gadis semuda ini, tidak dikenal dalam dunia persilatan,
bagaimana bisa memiliki ilmu kepandaian sehebat ini?!” Memikir
sampai disitu si nenek mendekati kekasihnya dan berbisik. “Aku tidak
yakin betina bercadar ini memiliki kepandaian silat. Andalannya adalah
kecapi itu. Kita serbu dia dan rampas kecapinya...!”
Si Pedang Iblis mengangguk tanda setuju. Lalu dengan serentak
keduanya menyerbu. Si nenek lepaskan enam kelabang beracun sedang
sang kekasih menyusupkan dua pukulan sakti sambil coba merampas
kecapi di tangan Dewi Lembah Bangkai!
Sang Dewi kebutkan ujung lengan pakaiannya sebelah kiri.
Tampak sinar hijau membubung ke udara disertai hawa busuk luar
biasa. Pedang Iblis terpental sambil pegangi dada. Nafasnya sesak.
Disaat yang bersamaan ketika tadi dia mengebutkan lengan kiri,
Dewi Lembah Bangkai petik tali-tali kecapinya dengan jari-jari
tangan kanan. Enam kawat kecapi berdenting. Enam sinar putih
berkiblat ke udara. Enam kelabang biru maut hancur berkeping-keping!
Putuslah nyali si nenek dan kekasihnya melihat kejadian ini. Si
nenek cepat menarik lengan Pedang Iblis seraya berbisik: “Kita kabur
saja. Tak ada jalan lain...”
Kedua kekasih itu lalu putar tubuh dan ambil langkah seribu.
Tapi dari dasar lembah saat itu tiba-tiba tampak melesat dua gulungan
tali yang ujungnya berbentuk jiratan. Pedang Iblis keluarkan teriakan
tercekik. Lalu tubuhnya tertarik kebelakang, terguling di tanah dan
terseret masuk ke dalam lembah. Si Nenek Kelabang Biru berteriak
menggerung. Dia lari mengejar kekasihnya. Tapi salah satu kakinya
sudah masuk dalam jiratan. Lalu seperti sang kekasih, tubuhnyapun
terseret ke dalam lembah. Pekiknya terdengar menggema. Pakaiannya
hancur robek-robek. Ketika kemudian mayatnya digantung kaki ke atas
kepala kebawah dicabang pohon, jelaslah dia memang seorang laki-laki,
bukan seorang nenek sebagaimana penampilannya yang palsu!

DEWI LEMBAH BANGKAI menatap ayah dan anak itu beberapa lama
lalu berkata: “Adi Sara, aku menghargai maksudmu yang tidak ingin
meninggalkan lembah ini setelah kau berkumpul lagi dengan ayahmu,
bahkan mendapatkan kembali kekasihmu Ningrum. Memang tidak satu
orangpun boleh meninggalkan tempat ini sebelum semua urusan
selesai. Dan kau Ningrum, berlatihlah dengan keras agar kau mampu
menguasai lima jurus ilmu silat itu. Dan minum ramuan perangsang
penimbul tenaga dalam itu pada waktu waktu yang telah ditentukan...”
“Akan saya perhatikan Dewi. Kami bertiga bukan saja berhutang
budi tapi juga berhutang nyawa dan masa depan,” menjawab Ningrum.
Sebelumnya dia sudah diberi tahu bahwa ayahnya Adipati Sawung
Glingging telah kembali ke Kadipaten dalam keadaan tidak kurang suatu
apa sedang Adipati Tawang Merto telah menemui ajal.
Dewi Lembah Bangkai tinggalkan ketiga orang itu, masuk ke
dalam guanya. Selama tiga hari dia tidak tidur di dalam gua yang
dijadikan tempat perawatan Pendekar 212 Wiro Sableng.
Hijau Satu yang bertugas merawat Wiro mendatangi sang Dewi.
“Bagaimana keadaannya?” bertanya Dewi Lembah Bangkai.
“Panasnya masih tinggi. Dia masih sering mengigau. Tapi racun
yang berbahaya itu telah musnah oleh obat yang Dewi berikan...”
menerangkan Hijau Satu.
“Apakah igauannya masih menyebut-nyebut pemuda bernama
Panji Kondang itu...?”
“Masih...Walau tidak sesering satu hari sebelumnya,” jawab Hijau
Satu pula. “Saya mohon petunjukmu lebih lanjut Dewi...”
“Bergabunglah bersama kawan-kawanmu yang lain. Lanjutkan
melatih lima jurus ilmu silat Lembah Bangkai itu. Hari pembalasan yang
aku tunggu-tunggu akan segera datang, cepat atau lambat!”
Hijau Satu menjura lalu tinggalkan gua tersebut. Diluar sana
dilihatnya Adi Sara tengah bercakap-cakap dengan ayah dan
kekasihnya.
“Kasihan Dewi... Aku tahu dia menyukai pemuda itu. Tapi
anehnya dia sendiri yang mengatur penculikan atas diri Ningrum hingga
dua kekasih itu berkumpul kembali...”
Di dalam gua Dewi Lembah Bangkai memandangi Kapak Naga
Geni 212 milik Wiro Sableng yang digantungkan di dinding gua. Lalu dia
menatap kecapi miliknya yang disandarkan tak jauh dari situ. “Satu
kesaktian dari satu sumber yang sama tapi berbeda wujud...” sang Dewi
membathin. Lalu dua berpaling memandangi Pendekar 212 yang
terbaring di lantai gua beralaskan sehelai tikar jerami tebal.
Ketika malam tiba Wiro bangun dari tidurnya. Dirabanya bahunya
sebelah kiri. Masih ada bekas luka mengering dan masih terasa adanya
denyutan sakit, namun hatinya lega karena panas ditubuhnya jauh
berkurang. Dan ketika dia mencoba bangun kepalanya tidak pusing lagi
serta pemandangannya tidak pula berkunang-kunang. Kemudian
disadarinya dia tidak berada sendirian dalam gua yang diterangi pelita
kecil itu. Berpaling ke kiri dilihatnya Dewi Lembah Bangkai tegak
bersandar ke dinding, sepasang mata dibalik cadar menatap ke arahnya.
Dua pasang mata saling bertemu untuk beberapa saat. Wiro coba
mengingat-ingat sementara perutnya terasa lapar dan tenggorokannya
kering. Dimana dia berada saat itu dan sudah berapa lama dia berada
disitu. Lalu perempuan bercadar yang mengenakan pakaian tipis hijau
itu...? Dia ingat apa yang terjadi. Pertempuran itu! “Ah, jangan-jangan
inilah Dewi Lemoah Bangkai yang mendadak tersohor sejak beberapa
bulan belakangan ini. Dimana gadis-gadis cantik lainnya...?” Lalu
dilihatnya senjata mustika miliknya tergantung di dinding gua. Dia
berdiri hendak mengambil senjata itu. Tapi gadis bercadar cepat
berkata: “Tak ada yang akan mengambil kapak mustikamu. Kau berada
di tempat aman...”
Wiro menatap sang Dewi sesaat lalu memandang ke bahu kirinya.
“Kau pasti Dewi Lembah Bangkai yang cantik dan perkasa itu...”
“Aku tidak suka dipuji!” kata sang Dewi dingin.
“Bagaimanapun itu adalah kenyataan yang aku lihat. Juga dilihat
semua orang. Aku yakin kau dan anak buahmu telah menyelamatkan
diriku dari kelabang maut nenek keparat itu. Aku menghaturkan terima
kasih dan tak tahu bagaimana harus membalas budi.”
“Kaupun telah menyelamatkan salah seorang anak buahku.
Walau tidak saling mengharapkan di dunia ini sudah lumrah budi
dibalas budi, hutang nyawa dibalas nyawa.” Sang Dewi diam sesaat lalu
kembali berkata: “Lembah Bangkai memiliki peraturan. Siapa yang
berani datang kemari berarti sudah siap untuk mati. Datang berarti
tidak pernah pulang!”
“Rupanya itu yang bakal terjadi dengan diriku?” tanya Wiro.
Dewi Lembah Bangkai tak segera menjawab. Jari-jari tangannya
digerakkan diatas kawat-kawat kecapi. Suara kecap menggema dalam
gua itu. Dinding terasa bergetar dan api pelita bergoyang-goyang.
“Sampai beberapa waktu lalu aturan itu memang masih berlaku.
Namun keadaan menentukan lain. Kau akan menemui beberapa orang
lain di luar sana. Mereka juga tidak kubunuh. Aku ada beberapa
pertanyaan untukmu Pendekar 212...”
“Jadi kau sudah tahu siapa aku?”
“Kapak itu yang memberi tahu,” sahut Dewi Lembah Bangkai.
“Pertanyaan pertama Kau mengikuti anak buahku Hijau Dua dari
Kadipaten! Apa maksudmu?! Apakah ada yang membayarmu untuk
membebaskan pengantin perempuan itu?!”
Wiro garuk-garuk kepala. Perutnya lapar sekali dan tenggorokannya
kering serta haus. Maka dia terus terang berkata: “Aku tidak tahu
berapa lama aku terbaring pingsan atau tidur. Tapi saat ini yang
kuketahui perutku sangat lapar dan haus sekali...”
“Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan setelah menjawab
pertanyaan-pertanyaanku!” jawab Dewi Lembah Bangkai.
“Hemm... Rupanya aku tidak ada pilihan lain. Tinggal di tempat
orang harus tahu diri. Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu tadi.
Maksudku mengikuti Hijau Dua hanya ingin tahu saja. Aku berada di
Kadipaten secara kebetulan. Sama sekali bukan tamu pesta perkawinan.
Ketika pengantin perempuan diculik oleh seorang perempuan muda
yang cantik jelita, bagiku ini adalah satu keanehan. Pertama ternyata
gadis itu memiliki kepandaian tinggi. Kedua biasanya lelaki yang
menculik gadis. Kini nyatanya gadis menculik gadis! Nah, ini
membuatku ingin tahu apa sesungguhnya yang terjadi. Dan
pertanyaanmu yang lain, sama sekali tidak ada yang membayar atau
menyuruhku mengejar anak buahmu!”
“Apakah bukan karena kau mempunyai maksud kotor terhadap
anak buahku? Karena dia mengenakan pakaian yang begitu tipis
merangsang...?”
Wiro tertawa lebar. “Lelaki normal memang harus terangsang
melihat yang begituan. Tapi tidak selalu. Buktinya aku mengagumi
wajahmu yang tersembunyi dibali cadar tipis itu. Juga bentuk tubuhmu
yang bagus dan dapat kulihat karena ditembus cahaya pelita...”
Dewi Lembah Bangkai lambaikan tangannya. Api pelita padam
dan ruangan gua itu serta merta menjadi gelap gulita.
“Dewi, apakah pembicaraan kita habis sampai disini?” bertanya
Wiro.
“Manusia bicara dengan mulut, bukan dengan mata. Walaupun
gelap kau bisa meneruskan kata-katamu...”
Dalam gelap Wiro garuk-garuk kepala. “Baiklah Dewi, kau dengar
baik-baik. Wajahmu yang cantik, auratmu yang bagus sama sekali tidak
merangsangku. Mengapa? Karena aku menghormatimu, karena kau dan
anak buahmulah maka aku masih hidup saat ini. Masakan aku
mempunyai pikiran kotor yang tidak-tidak?”
“Jika kami tidak menolongmu, berarti pikiran itu akan menancap
di benakmu!” ujar Dewi Lembah Bangkai dalam gelap.
Wiro menarik nafas dalam. “Aku bukan manusia suci, apalagi
malaikat. Tapi seingatku tak pernah aku memperkosa anak gadis orang,
tak pernah aku merusak kehormatan istri orang!”
“Siapa yang bisa membuktikan omonganmu!”
“Memang tidak! Namun paling tidak aku telah membuktikannya
ditempat ini! Jika Dewi menganggapku manusia kotor, aku siap untuk
pergi. Apapun prangsangka burukmu terhadapku, itu tetap tidak
mengurangi rasa hormatku terhadapmu. Tidak menghilangkan rasa
terima kasih atas jasa dan budi besarmu menolongku!”
Habis berkata begitu, walaupun tubuhnya masih lemah, Wiro
Sableng berdiri dengan cepat lalu melangkah ke dinding gua dimana
Kapak Naga Geni 212 tergantung. Ketika dia mengulurkan tangan
hendak mengambil senjata itu, satu tangan memegang lengannya.
Tangan itu terasa halus dan dingin sejuk. Tapi bagaimanapun dia
mencoba, Wiro tak mampu melepaskan pegangan tersebut hingga dia
tak bisa mengambil kapaknya.
“Jangan pergi dulu. Masih ada satu pertanyaan penting yang ingin
kudapatkan jawabannya dari mu...”
Wiro berpaling. Saat itu dia tegak dekat sekali dengan sang Dewi,
hingga dia dapat merasakan hembusan nafas yang hangat dan bau
tubuh yang luar biasa harumnya. Dilain keadaan mungkin sang
pendekar bisa terangsang. Tapi saat itu justru dia berkata: “Dewi aku
tidak terangsang dengan keharuman tubuhmu! Aku tetap
menghormatimu. Izinkan aku pergi...”
Pegangan tangan sang Dewi tidak lepas. Dia juga tidak berusaha
menjauh. “Ini sangat penting Pendekar 212. Aku perlu jawabanmu atas
satu hal...”
“Katakanlah!”
“Selama kau terbaring sakit dan dilanda demam panas akibat
racun kelabang, kau mengigau berulang kali. Diantara kata-kata yang
kau ucapkan dalam igauanmu adalah seorang sahabat bernama Panji
Kondang. Berulang kali kau mengatakan bahwa sahabatmu itu harus
mencari kekasihnya sampai dapat dan mengatakan agar mengawininya,
apapun yang telah terjadi. Katakan apa kau kenal dengan orang
bernama Panji Kondang itu?!”
Wiro terdiam sesaat. Dia berpikir-pikir. “Memang aku kenal
padanya. Tapi tidak lama. Kami bertemu disebuah rumah makan. Saat
itu keadaannya seperti orang linglung. Pakaiannya kumal, mukanya tak
tercukur dan dia kehabisan bekal. Dia menceritakan tentang kekasihnya
yang memiliki kepandaian silat tinggi. Tapi kemudian melenyapkan diri
karena ternyata gurunya telah merusak kehormatannya...”
“Apakah Panji Kondang menyebutkan siapa nama kekasihnya
itu?”
“Ya... Kalau tidak salah kekasihnya itu bernama Prantisari. Ya,
Prantisari...”
Wiro merasakan pegangan sang Dewi di tangannya lepas.
Bersamaan dengan itu sang Dewi meluncur jatuh terduduk di lantai
gua.
“Eh, ada apa denganmu Dewi? Kau mendadak jatuh. Apakah kau
sakit...?”
“Tidak. Katakan Pendekar 212... Apalagi yang dikatakan Panji
Kondang dalam pertemuan yang singkat itu...”
“Katanya dia berniat untuk mengarungi seluruh jagat ini guna
mencari kekasihnya itu. Kalau bertemu dia tetap akan mencintainya dan
akan mengawininya...”
“Tetapi apakah...apakah Panji Kodang mengetahui kalau
kekasihnya itu kini telah berbadan dua...?!”
“Heh... Bagaimana kau bisa berkata begitu Dewi?!” tanya Wiro
heran.
“Karena..Karena akulah Prantisari itu...!” Habis berkata begitu
Dewi Lembah Bangkai terdengar sesenggukan. Lalu suara tangisnya
memenuhi gua itu.
Lama Wiro termenung mendengar pengakuan sang dara
disampingnya. Lalu dengan suara meyakinkan dia berkata: “Melihat
kesungguhan hati kekasihmu itu mencarimu aku yakin sekali dia tetap
mencintaimu! Tetap akan memperistrikanmu sekalipun kemudian dia
mengetahui bahwa kau hamil akibat perbuatan bejat gurumu itu!
Aneh...benar-benar aneh. Bagaimana aku bisa berada dalam semua
kejadian ini?” Wiro lalu ikut-ikutan duduk dilantai gua disamping Dewi
Lembah Bangkai.
“Terakhir sekali menurut katamu Panji berada, di Kadipaten.
Sekarang entah dimana dia berada...”
“Dia mengatakan tujuannya padaku. Jika kau mau aku bersedia
mengantarkanmu kesana...”
“Tidak, aku tidak akan meninggalkan Lembah ini sebelum
mencabut nyawa manusia terkutuk itu!”
“Kau, kau akan membunuh gurumu sendiri?!” tanya Wiro pula.
“Ya! Dan manusia terkutuk itu pasti akan datang mengantarkan
nyawanya sendiri kemari! Aku dan anak buahku telah menyiapkan
penyambutan. Hijau Satu, Dua dan Tiga adalah gadis-gadis yang
mengalami nasib sama sepertiku. Bedanya mereka dirayu oleh kekasih
masing-masing lalu ditinggal begitu saja. Mereka masih untung karena
tak satupun yang hamil. Namun itu tidak mengurangi dendam kesumat
mereka terhadap laki-laki. Karenanya jangan coba berlaku usil terhadap
mereka!”
“Bagaimana kalau mereka yang berlaku usil terhadapku?!” tanya
Wiro.
“Mungkin mulutmu perlu ditampar agar tidak bergurau dalam
keadaan seperti ini!” tukas Dewi Lembah Bangkai yang bernama
Prantisari.
“Apakah kau bakal sanggup mengalahkan gurumu jika terjadi
perkelahian?” bertanya Wiro. “Bagaimanapun dia pasti lebih tinggi ilmu
kepandaiannya!”
“Kau benar. Tapi aku memijiki sesuatu yang tidak mudah
dikalahkan!”
“Apa itu? Keberanian atau kenekatan?” tanya Wiro pula.
Dalam gelap Dewi Lembah Bangkai mengambil kecapinya,
meletakkan dipangkuan dan memetiknya beberapa kali. Alat bebunyian
itu mengeluarkan suara berjentringan yang menggetarkan seantero gua,
membuat telinga sakit dan ada sinar putih menyilaukan serta panas
keluar dari setiap kawat kecapi.
“Sinar panas yang menyilaukan itu berasal dari sumber yang
sama dengan ilmu pukulan sinar matahari yang kau miliki. Bedanya
pukulan sinar matahari disalurkan melalui tangan sedang yang ini
melalui tali-tali kawat sebanyak enam buah...”
Wiro berdecak kagum mendengarketerangan itu. Dia memamg
menyaksikan bagaimana Dewi Lembah Bangkai menghajar patah
pedang milik Pendekar Pedang Iblis, dan juga kelabang-kelabang maut si
nenek sakti itu sebelum pingsan.
Dewi Lembah Bangkai menyeka air matanya lalu berdiri. “Hijau
Satu akan membawakan makanan serta minuman untukmu.”
“Terima kasih. Juga jangan lupa katakan padanya untuk
menyalakan pelita di dalam gua ini. Hanya tikus yang suka makan di
tempat gelap!” jawab Wiro lalu tertawa sendirian walau sang Dewi sudah
berlalu dari situ.
IZRO'IL
Dewi Lembah Bangkai


SIANG ITU teriknya matahari bukan alang kepalang. Seolah-olah
hendak membakar bumi dan membuat busuknya bau mayat di dalam
lembah menjadi jadi. Satu Hijau yang sedang berlatih jurus lima
bersama Hijau Dua Hijau Tiga dan Ningrum mendadak hentikan latihan.
“Ada apa?” tanya Hijau dua. Yang menjawab adalah Wiro Sableng yang
berada tak jauh dari situ bersama Adi Sara dan Sara Jingga ayah Adi
Sara.
“Ada orang datang!”
Semuanya memandang ke arah yang ditunjuk Pendekar 212. Di
ujung lembah sebelah timur tampak tiga orang penunggang kuda duduk
di punggung kuda masing-masing, memandang tajam ke dalam lembah
sambil menutup hidung masing-masing dengan telapak tangan. Salah
seorang diantara mereka tampak batuk-batuk karena tak tahan oleh
busuknya udara.
“Aku akan beri tahu Dewi. Kalian semua tetap disini dan berpurapura
tidak melihat rombongan di atas sana!”
Hijau Satu tinggalkan tempat itu.
Ketika laporan kemunculan tiga orang di tepi lembah disampaikan
pada Dewi Lembah Bangkai, gadis ini melangkah keluar gua dan
memandang jauh-jauh ke arah timur lembah. Dia segera mengenali
sosok penunggang kuda yang disebelah tengah.
“Hijau Satu! Orang yang kita tunggu sudah tiba. Kau dan Hijau
tiga lakukan penyambutan seperti yang sudah aku atur. Hijau Dua dan
Ningrum agar berjaga-jaga di pedataran. Yang lain-lainnya jangan ada
yang berani ikut campur urusan ini!”
Hijau Satu menjura dan cepat berkelebat tinggalkan tempat itu.
Di atas lembah tiga orang penunggang kuda masih duduk di kuda
masing-masing sambil tiada hentinya meneliti. Yang di sebelah kanan
adalah seorang kakek yang buntung kedua kakinya. Dia kini
mengenakan kaki palsu dari kayu. Dua batang tongkat kayu tergantung
di leher kudanya. Orang kedua yang disebelah tengah mengenakan
jubah putih, bertutup kepala putih. Meskipun usianya sudah lanjut tapi
kumis dan janggutnya masih tetap berwarna hitam. Lelaki yang ketiga
juga seorang kakek berwajah klimis, berpakaian biru muda yang
pinggangnya dililit seutas rantai perak berwarna putih.
“Aku yakin inilah Lembah Bangkai yang membuat geger dunia
persilatan itu. Bau busuknya sudah tercium sampai kemari. Tapi
mengapa orang yang katamu mengundang tidak melakukan
penyambutan?!” membuka suara kakek berpakaian biru muda.
Baru saja dia berucap begitu, dua bayangan hijau berkelebat dan
dua gadis berpakaian hijau tipis berwajah cantik tetapi galak muncul di
depan mereka, seolah-olah keluar dari dalam perut lembah!
“Ah...ah...ah! Panjang umurnya! Baru disebut sudah datang!
Kaliankah penghuni Lembah Bangkai ini?!” kakek yang berjubah putih
bertanya. Matanya berkilat-kilat melihat pakaian yang tembus pandang
itu.
“Kami berdua memang mendapat tugas menyambut para tetamu
dari jauh! Silahkan turun dari kuda! Kami akan membawa kalian
menemui Dewi!”
“Dewi...? Ha...Ha...Ha! Ingin sekali aku melihat bagaimana
tampang Dewi kalian Ku!” kata si jubah putih pula lalu turun dari
kudanya.
Kakek kaki kayu tampak sedari tadi membeliak. Bukan karena
melihat tubuh dua gadis yang kentara jelas dibalik pakaian hijaunya
yang tipis, tapi karena dia mengenali. “Hai! Tunggu dulu! Salah satu dari
kalian adalah yang dulu menyerbu markasku dan membuntungi kakiku!
Rupanya kau yang punya kerja. Kau harus ganti kaki kayuku dengan
kedua kakimu yang mulus bagus!” Lalu kakek ini sambar dua tongkat
dileher kuda dan dengan gerakan cepat dia melompat turun dari
punggung binatang itu. Begitu menjejak tanah langsung menyerang
Hijau tiga!
“Pendekar Kaki Kayu... Harap bersabar dulu! Saat pembalasan
pasti tiba! Apa sulitnya bagi kita untuk menarik lepas sepasang kaki
yang bagus itu pengganti kedua kakimu. Biarkan kita bertemu dengan
sang Dewi dulu. Ingin aku melihat siapa dia sebenarnya? Berbulanbulan
membuat kegegeran di dunia persilatan. Membunuh dan
membunuh! Menculik...!”
“Orang tua berjubah putih! Jika kau bicara terus satu harian di
tempat ini kau tak akan segera bertemu pimpinan kami! Percayalah,
penyambutan untukmu pribadi pasti yang paling meriah!” ujar Hijau
Satu pula. Dia menunjuk ke sebuah jalan kecil berbatu-batu yang
selama ini tersembunyi dikerimbunan semak belukar. “Ikuti jalan
menurun itu sampai kalian mencapai sebuah pedataran di dasar
lembah. Selama perjalanan kebawah akan kami perlihatkan
pemandangan yang indah dimana kalian dapat bertemu dengan
beberapa sahabat. Hanya sayang kalian tidak bisa bertanya apa-apa
pada sahabat-sahabat itu. Mereka semua sudah jadi mayat busuk!”
Kakek berpakaian biru tampak kerenyitkan kening. Si kaki kayu
mengomel panjang pendek sedang si jubah putih dengan tenang mulai
melangkah turun mengikuti Hijau Satu disusul Si Kaki Kayu lalu si
pakaian biru. Disebelah belakang mengikuti Hijau tiga.
Menjelang mencapai dasar lembah mereka mulai melihat sosoksosok
tubuh yang bergelantungan. Ada yang hanya tinggal tulang
belulang alias jerangkong, ada yang sudah hancur membusuk, tapi
masih ada yang baru-baru.
“Yang ini manusia kotor berjuluk Nenek Kelabang Biru!” ujar
Hijau Satu sambil menunjuk pada mayat yang tergantung di cabang
pohon kaki ke atas kepala kebawah.
Kakek berbaju biru seperti mau muntah. Berulang kali dia coba
menutup jalan penciuman tapi tetap saja bau busuk menembus
hidungnya. Kini melihat mayat itu perutnya mendadak menjadi mual. Si
jubah putih tetap tenang walau hatinya terasa berdebar sedang si kaki
kayu seperti tak acuh. Sesekali dia berpaling kebelakang seperti hendak
menyerbu Hijau Tiga saat itu juga.
“Yang itu jagoan keji bergelar Pendekar Pedang Iblis! Kekasih
nenek Kelabang Biru!” kembali Hijau Satu membuka mulut seraya
menunjuk ke sebuah cabang pohon dimana tergantung mayat Pedang
Iblis yang sudah membusuk dan belatungan kedua rongga matanya.
“Tempat ini seperti neraka!” bisik kakek baju biru.
“Yang disitu mayat Adipati Tawang Merto, kalian pasti tak
mengenalinya karena sudah sangat rusak...” Kembali Hijau Satu
menjelaskan seraya menunjuk pada mayat yang tergantung di pohon
sebelah kiri jalan menurun. “Yang di ujung sana, yang hanya tinggal
gumpalan-gumpalan potongan daging adalah mayat Warok Suro Blebek,
raja diraja rampok di utara! Lalu’yang itu... yang hanya tinggal tulang
belulang putih adalah mayat Sabrang Lor, seorang pendekar yang lebih
dikenal dengan sebutan Pendekar Cabul Pemetik Bunga! Ah, sayang
jalan begini pendek. Kita sudah sampai di pedataran yang dituju!”
Saat itu mereka memang sudah sampai di dasar lembah dimana
terdapat sebuah pedataran batu selebar delapan tombak persegi, diapit
oleh tiga mulut goa. Disitu telah menunggu Hijau Dua dan Ningrum.
Begitu melihat Hijau Dua, Pendekar Kaki Kayu segera saja
berteriak: “Ini dia iblis betina satunya! Kau tunggulah! Sebentar lagi aku
akan mengambil kedua kakimu!”
Orang tua berjubah putih memandang berkeliling. Di salah satu
mulut gua dia melihat ada tiga orang lelaki. Mereka bukan lain adalah
Adi Sara, Sara Jingga dan Pendekar 212 Wiro Sableng.
“Ha...ha... Ternyata disinipun terdapat orang-orang lelaki untuk
memberi kehangatan pada kalian di tempat yang busuk ini!” berteriak si
jubah putih.
Baru saja suaranya sirap, dari salah satu mulut goa terdengar
sahutan halus.
“Memang disini ada orang laki-laki! Tapi bukan bangsa manusia
keji bernafsu kotor yang tega memperkosa murid sendiri” lalu terdengar
suara jentringan kecapi.
Paras si jubah putih berobah merah. Dia memandang ke mulut
goa sebelah kanan. Saat itu tampak sesosok tubuh berpakaian hijau,
memakai cadar tipis dan membawa sebuah kecapi keluar dari mulut
goa.
“Hemm... Jadi ini rupanya Dewi Lembah Bangkai yang tersohor
itu?!” ujar si jubah putih.
“Orang-orang memanggilku Dewi. Tapi aku tetap manusia biasa!
Datuk Sora Gamanda, apakah kau tidak mengenali diriku?!”
“Siapa kenal pada dirimu yang ditutup dengan cadar begitu rupa!”
jawab kakek berjubah putih dengan rasa kaget dalam hati karena orang
mengetahui namanya. “Hanya satu yang kuketahui, kau membunuh
seluruh murid perguruanku! Hari ini aku datang memenuhi
undanganmu! Hutang darah dibayar darah, hutang nyawa dibayar
nyawa!”
“Bagaimana dengan hutang kehormatan? Apakah kau bisa
membayarnya Datuk cabul?!”
“Perempuan bermulut kotor! Apa maksudmu dengan kata-kata
itu?!” teriak Datuk Sora Gamanda. Tubuhnya bergetar karena marah.
Dewi Lembah Bangkai tertawa panjang. Tutup tawanya dengan
jentringan kecapi. Lalu perlahan-lahan dia membuka cadar hijau yang
menutupi wajahnya.
“Prantisari!” teriak sang Datuk terkejut bukan kepalang.
Dewi Lembah Bangkai kembali tertawa panjang.
Ternyata kau belum lupa siapa aku! Pasti kau juga belum lupa
apa yang telah kau lakukan terhadapku! Memperkosa murid sendiri!
Manusia terkutuk! Apakah kau sudah bersiap untuk mati?!”
“Muridku...”
“Tua bangka bangs*t! Aku bukan muridmu!” bentak Dewi Lembah
Bangkai.
“Dengar...dengar dulu. Aku mengaku bersalah. Aku mengaku
berdosa. Waktu itu aku benar-benar khilaf. Malam itu aku bermaksud
membangunkanmu untuk menyuruh berlatih jurus-jurus silat baru.
Kutemui kau terbaring di atas ranjang dengan kain tersingkap. Aku
dihasut setan... Aku melakukan itu diluar sadar, muridku. Maafkan
gurumu ini...” Datuk Sora Gamanda melangkah hendak mendekati
muridnya tapi Dewi Lembah Bangkai menyambutnya dengan
menjentikkan kecapi. Benda itu berjentring keras, sinar putih
menyilaukan menyambar dan pedataran batu di depan kaki DatuK Sora
Gandama terbongkar. Hancuran batu dan debu berhamburan mengotori
jubah putih sang datuk.
“Enak betul hidup didunia ini jika semuanya berakhir dengan
maaf! Datuk bejat! Jika kau masih punya Tuhan minta maaflah pada
Tuhanmu. Tapi pada aku anak manusia tak ada ampun dan maaf
bagimu!”
“Urusan apa sebenarnya yang berlangsung saat ini?!” kakek
berbaju biru menyeletuk.
Segera saja dia mendapat dampratan dari Dewi Lembah Bangkai.
“Orang tua pakaian biru, aku tahu kau adalah Pendekar Alam Sakti
yang datang kemari karena diajak oleh manusia sundal bergelar Datuk
Sora Gamanda ini! Aku juga tahu kehidupanmu selama ini bersih tiada
cacat. Karenanya kuberikan waktu padamu untuk meninggalkan
Lembah Bangkai saat ini juga!”
“Alam Sakti! Jangan dengarkan ocehannya! Kita tidak bisa
dilecehkan begitu saja! Serahkan tukang pengumpul mayat ini padaku!”,
teriak Kaki Kayu.
Dewi Lembah Bangkai berpaling pada Hijau Satu dan Hijau Dua.
“Habisi manusia kotor satu itu!” memerintah sang Dewi. Maka Hijau
Satu dan Hijau Dua segera berkelebat, perkelahian pertama berkecamuk
di pedataran batu itu. Begitu menyerbu kedua anak buah sang Dewi
langsung mainkan lima jurus ilmu silat Lembah Bangkai. Dua pasang
lengan baju menghantam tiada henti. Bau bangkai menghampar di
tempat itu. Dibakar oleh dendam kesumat si Kaki Kayu berkelahi luar
biasa. Kedua kaki palsunya yang terbuat dari kayu setiap saat berubah
menjadi senjata yang berbahaya. Belum lagi sepasang tongkat yang
berada di kedua tangannya. Tiga jurus berlalu dua anak buah sang Dewi
belum mampu mendesak. Namun begitu mereka memainkan jurus ke
empat dan ke lima dari ilmu silat yang baru mereka pelajari, terdengar
pekik si Kaki Kayu.
Satu tendangan keras membuat kaki kayunya sebelah kiri patah.
Tubuhnya terbanting ke pedataran batu. Dia berusaha menusuk perut
Hijau Dua dengan tongkat di tangan kanannya namun saat itu
kepalanya yang masih menempel di pedataran batu sudah keburu
dihantam tendangan Hijau Satu. Kepala ini tanggal dari lehernya,
mencelat mental sejauh beberapa tombak.
Pendekar Alam Sakti merasakan tengkuknya dingin. Datuk Sora
Gamanda tercekat tak bergerak. Jelas kepandaian dua gadis berbaju
hijau itu luar biasa. Tidak dapat tidak pastilah bekas muridnya yang
mengajarkan. Tapi dari mana si murid mendapatkan kepandaian itu?
“Bersihkan pendataran!” Dewi Lembah Bangkai berseru.
Hijau Tiga cepat maju. Mayat si Kaki Kayu dilemparkannya
kesemak belukar.
“Pendekar Alam Sakti, waktumu hanya tinggal sedikit!” Dewi
Lembah Bangkai memberi ingat.
“Dewi... Maafkan diriku. Kau benar, aku kemari karena diajak
oleh Datuk Sora. Apa urusan kalian baru disini aku ketahui! Sebagai
teman aku tak mungkin meninggalkannya sendirian. Tapi aku tak ingin
mencampuri urusan kalian. Biarkan aku tetap disini. Kalau terjadi apaapa
dengan dirinya izinkan aku membawa jenazahnya!”
Dewi Lembah Bangkai tertawa perlahan. “Kau kuizinkan. Tapi
ketahuilah. Kau tak akan mendapatkan jenazah utuh!” Lalu sang Dewi
berpaling pada Datuk Sora Gamanda. “Waktunya sudah tiba guru
bejat!” Dewi Lembah Bangkai melangkah ke tengah pedataran. Kedua
kakinya terkembang. Sepasang matanya memandang tak berkesip ke
arah bekas gurunya itu. Tak ada jalan lain bagi sang guru selain
menerima tantangan sang murid.
“Lakukan apa maumu Prantisari! Aku tak akan melawan!”
terdengar Datuk Sora Gamanda berkata. Suaranya bergetar.
“Manusia pengecut! Keluarkan kepandaianmu! Bagaimanapun
bejatnya dirimu, aku berikan hakmu untuk membela diri! Sudah bejat
jangan jadi manusia pengecut pula!”
Terbakar oleh kata-kata Dewi Lembah Bangkai maka Datuk Sora
Gamanda menerkam ke depan. Jurus ilmu silat yang dilancarkan sang
datuk sudah terbaca dan diketahui jelas oleh Dewi Lembah Bangkai.
Bukan saja dia mampu mengelakkannya dengan mudah, tapi sebelum
lawan sempat memasang kuda-kuda baru gadis itu telah menyerbu
dengan jurus silat yang pernah diterimanya dari sang datuk. Hanya saja
gerakannya lebih cepat dan ganas. Ketika sang guru membuat gerakan
mengelak, Dewi Lembah Bangkai langsung menyerbu dengan jurus
pertama ilmu silat Lembah Bangkai ciptaannya.
Sewaktu menjatuhkan si Kaki Kayu tadi Datuk Sora Gamanda
telah melihat jurus-jurus ilmu silat itu dimainkan oleh Hijau Satu dan
Hijau Tiga. Meski mampu mempelejarinya secara singkat namun sang
datuk tidak dapat mengandalkan pengetahuan singkatnya itu untuk
dapat menghadapi bekas muridnya itu. Maka sang datuk keluarkan
jurus-jurus silat yang selama ini tak pernah diturunkannya pada muridmuridnya,
termasuk Prantisari.
“Bagus! Ternyata kau memiliki ilmu simpanan! Keluarkan semua
kepandaianmu datuk cabul!” teriak Dewi Lembah Bangkai.
Semakin terbakar amarah sang datuk. Dari mulutnya keluar
suara menggembor. Tangannya kiri kanan bergerak. Angin serangannya
menderu-deru. Tubuhnya hanya tinggal bayang-bayang putih saja. Sang
Dewi tampak seperti terkurung. Tiba-tiba terdengar Dewi lembah
Bangkai berteriak keras, tubuhnya berputar setengah lingkaran. Tangan
kirinya menyambar seperti pedang sedang kaki kanan menghantam
laksana palu godam. Inilah jurus ketiga ilmu silat Lembah Bangkai.
Guru dan murid bertempur hebat dengan niat saling bunuh. Yang satu
karena dendam yang satu lagi demi untuk menyelamatkan diri!
Ketika Dewi Lembah Bangkai mainkan jurus ke empat dan kelima,
Datuk Sore Gamanda tak sanggup lagi bertahan. Dia melompat mundur
sambil keluarkan senjatanya, sebilah golok pendek berhulu gading.
Sebagai bekas murid, Dewi Lembah Bangkai tahu betul kehebatan golok
tersebut yang merupakan sebuah senjata mustika sakti. Tapi sang dara
tidak takut. Dia yakin akan kehebatan kecapi yang dimilikinya. Dia
sengaja tegak di tengah pedataran batu, menunggu lawan menyerang.
Datuk Sora Gamanda sendiri hampir tidak mempercayai penglihatannya.
Sang bekas murid hendak menghadapi senjata saktinya dengan
alat bebunyian itu. Tapi dia tak mau berpikir lama. Perlahan-lahan sang
datuk angkat tangan kanannya yang memegang golok. Sinar matahari
memantul membuat senjata itu berkilau-kilau. Ketika senjata ini
diayunkan ada sinar terang menyambar disertai letupan keras seperti
petir menyambar dikejauhan!
Dewi Lembah Bangkai menunggu sampai sang guru datang lebih
dekat. Begitu sinar golok menyambar dijarak lima jengkel dihadapannya,
Dewi Lembah Bangkai acungkan kecapinya, sekaligus memetik dua tali
kawat di sebelah depan. Dua sinar putih panas dan menyilaukan
menyambar!
Terdengar jeritan Datuk Sora Gamanda. Tubuhnya terpental.
Lengan kanannya putus sebatas siku laksana ditabas senjata tajam.
Golok mustikanya tampak seperti meleleh dan jatuh berdentringan di
pedataran batu.
“Prantisari...Ampuni selembar nyawaku! Aku mengaku berdosa!
Aku mengaku bersalah!” Datuk Sora mencoba berdiri sambil
menyembah-nyembah.
“Sudah kukatakan minta ampun pada Tuhanmu. Tapi jangan
minta ampun pada diriku!” ujar Dewi Lembah Bangkai dengan
pandangan mata dan air muka ganas. Perlahan-lahan dia melangkah
mendekati sang guru. Putus harapan berubah jadi ketakutan. Datuk
Sora melangkah mundur. Mundur dan mundur terus. Disatu tempat dia
membalikkan diri lalu lari menuju lereng lembah sebelah selatan.
“Manusia bejat! Tak ada tempat lari bagimu...” desis Dewi Lembah
Bangkai.
Kecapi itu terdengar berdering! Sinar putih menyambar. Jauh di depan sana terdengar pekik Datuk Sora Gamanda ketika tangan kirinya sebatas bahu putus dihantam sinar putih yang menyambar keluar dari kawat kecapi. Seperti orang gila kakek ini meraung. Tubuhnya melorot kebawah. Tapi dengan segala kekuatan yang ada dia coba mendaki lereng lembah. Kecapi berdentring lagi. Kembali sinar putih menerpa ganas. Kali ini kaki kanan DatukSora yang putus. Tubuhnya terguling ke dasar lembah. Dalam keadaan mengerikan seperti itu dia berusaha menggapai-gapai dengan kakinya yang tinggal satu. Lalu kecapi dipetik sekali lagi.
Jeritan Datuk Sora setinggi langit. Tubuhnya hanya merupakan gelondongan saja kini. Kaki kirinya putus. Pendekar Alam Sakti tundukkan kepala. Tak sanggup menyaksikan kengerian ini, sementara tubuh kawannya menyangsrang diantara semak belukar.
Dewi Lembah Bangkai petik tiga tali kecapi sekaligus. Terjadilah hal yang luar biasa. Tiga sinar panas menyilaukan menyambar tubuh Datuk Sora yang menyangsang disemak belukar. Seperti agar-agar yang dibanting ke lantai tubuh itu hancur berkeping-keping!
“Pendekar Alam Sakti, seperti kukatakan tadi, kau tak akan mendapatkan jenazah sahabatmu dalam keadaan utuh. Aku tak ingin melihatmu lebih lama disini. Silahkan pergi!”
Mendengar kata-kata Dewi Lembah Bangkai kali ini, kakek berpakaian biru tak mau berlaku ayal lagi. Cepat-cepat dia mengambil golok bengkok milik Datuk Sora lalu tinggalkan tempat itu melalui jalan yang ditempuhnya sewaktu datang tadi. Kuduknya terasa dingin, hatinya berdebar. Kawatir kalau-kalau Dewi Lembah Bangkai akan menghantam tubuhnya dengan sinar ganas kecapi sakti itu!
Di pedataran batu saat itu Dewi Lembah Bangkai justru terduduk bersimpuh dan tekapan kedua tangannya ke wajah. Dia terdengar sesenggukan. Tak ada yang berani bergerak, tak ada yang berani berbuat sesuatu sampai akhirnya Pendekar 212 mendatangi dan bersimpuh di hadapan sang dewi. Setelah menunggu sampai isakan tangis gadis itu mereda murid Eyang Sinto Gendeng ini lantas berkata.
“Dewi, apa yang kau inginkan telah kau dapati. Saatnya kita semua meninggalkan tempat ini...”
Dewi Lembah Bangkai turunkan kedua tangannya. Dipandanginya wajah pemuda itu sejenak lalu berkata: “Aku tak tahu harus pergi kemana sekarang...”
“Jangan berkata begitu. Apa kau lupakan janjiku? Aku akan membawamu ke tempat dimana Panji Kondang berada. Lebih cepat lebih bagus supaya jangan terlalu jauh kita mengejarnya...”
“Pendekar 212, kau sungguhan mau mengantarku?” tanya Dewi Lembah Maut alias Prasanti.
“Mungkin hanya itu yang bisa kulakukan sebagai pembayar hutang budi dan hutang nyawa padamu Dewi...”
“Dewi...,” desis sang dara. “Aku tak ingin mendengar panggilan itu lagi. “Cerita tentang Lembah Bangkai sudah berakhir sampai disini!”
Ketika Wiro berdiri sambil mengulurkan tangan, sang dara memegang lengan pemuda itu lalu tegak pula sambil mengempit kecapinya. Dia memandang berkeliling lalu berpaling ke arah anak buahnya. “Hijau Satu, Hijau Dua dan Hijau Tiga! Bersama yang lain-lainnya mari kita tinggalkan tempat ini. Kalian semua bebas kemana mau pergi...”
“Tidak Dewi...” kata Hijau Satu.
“Lupakan panggilan itu. Sebut namaku Prantisari!”
“Kami tetap akan ikut kemana kau pergi. Tentu saja kalau De... maksudku kalau kau mengizinkan...Bukan begitu kawan-kawan?” Hijau Dua dan Hijau Tiga sama menganggukkan kepala.
Prantisari tersenyum dan usap air matanya yang berderai. “Kalau
begitu apa yang aku cita-citakan kan menjadi kenyataan...”
“Eh, apa cita-citamu itu?” bertanya Wiro.
“Aku akan membuka perguruan silat di puncak gunung Lawu.
Maksudku aku dan dua orang gadis sahabatku itu!”
“Kalau begitu aku akan menjadi muridmu yang pertama!” kata Wiro pula lalu menggandeng tangan Prantisari menuju ke lereng lembah sebelah timur, ketika sampai di puncak lembah sebelah timur Wiro berpaling pada Prantisari. Boleh kulihat kecapimu?”
“Boleh saja. Apakah kau pandai memainkannya?” tanya Prantisari sambil menyerahkan kecapinya.
“Entahlah. Mungkin bisa. Tapi petikan kecapiku pasti tidak semerdu petikanmu!”
Wiro ambil kecapi itu dari tangan sang dara. Dia mengarahkannya ke Lembah Bangkai. Diam-diam perutnya mengeras tanda pendekar ini mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Lalu dia memetik ke enam tali kawat kecapi sekaligus! Terjadilah hal yang luar biasa! Enam sinar putih menyambar laksana enam petir menghantam bumi. Suaranya menggemuruh seperti hendak meruntuhkan langit. Udara panas membakar bumi. Dibawah sana enam larik sinar kecapi menghantam lereng dan dasar terbawah dari Lembah Bangkai. Tanah, pepohonan dan batu-batu mental setinggi beberapa tombak. Tempat itu laksana kiamat.
Masing-masing merasakan tubuh dan lutut mereka bergetar. Lembah Bangkai seperti sirna kini berubah menjadi timbunan tanah dan batu!
Wiro garuk-garuk kepalanya. Sambil menyerahkan kecapi itu kembali kepada Prantisari dia berkata: “Ah, petikan kecapiku ternyata memang tidak semerdu petikanmu. Memalukan saja! Ini aku kembalikan padamu kecapi ini...”
Prantisari tersenyum. “Aku gembira atas apa yang barusan kau lakukan Wiro. Lembah Bangkai lenyap dan benar-benar akan dilupakan orang...”

TAMAT

IZRO'IL
WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212


Topeng Buat Wiro Sableng


SATU
Kuda coklat yang ditunggangi gadis jelita berpakaian biru tiba-tiba meringkik keras sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Si gadis cepat rangkul leher binatang itu dengan tangan kiri sementara tangan kanan mengusap-usap tengkuknya.
“Tenang Guci……tenang! Tak ada yang perlu ditakutkan!” berkata si gadis.
“Tak ada binatang buas di hutan ini. Tak ada binatang berbisa di rimba belantara ini!
Ayo jalan lagi. Kita……”
Baru saja si gadis berucap begitu tiba-tiba terdengar suara bergemerisik di atas pohon di samping kirinya. Bersamaan dengan itu terdengar suara tawa bergelak, disusul suara bentakan keras lantang.
“Di rimba ini memang tak ada binatang buas! Tak ada binatang berbisa! Yang ada aku!”
Dua sosok tubuh melayang turun dari atas pohon besar. Begitu menjejak tanah langsung berkacak pinggang sambil menatap tajam pada sang dara yang berada di atas kuda. Orang di sebelah kanan memiliki tubuh ramping tinggi, berkulit hitam gelap, memelihata kumis melintang dan cambang bawuk. Pada kedua lengannya terdapat gelang bahar hitam besar. Pada lehernya tergantung kalung yang juga terbuat dari akar bahar berwarna hitam. Lelaki kedua lebih pendek, beralis tebal, mukanya cekung, kulitnya juga sangat hitam. Kedua orang ini sama mengenakan pakaian kuning dengan ikat pinggang besar berwarna merah darah.
Walau jelas dari tampang dan gerak-gerik menyatakan mereka bukan orang baik-baik, apalagi menghadang seperti itu tetapi gadis di atas kuda sama sekali tidak menunjukkan wajah cemas ataupun takut. Setelah menatap dengan pandangan dingin, dia lalu menegur.
“Huh! Kalian ini siapa?!”
“Adikku! Orang sudah bertanya, lekas jelaskan siapa adanya kita!” si tinggi ramping berkumis dan bercambang bawuk di sebelah kanan berkata.
Yang dipanggil adik tersenyum lebar. Kedip-kedipkan matanya pada sang dara lalu membuka mulut.
“Kami adalah penguasa rimba belantara ini……”
“Hebat!” sang dara berseru seperti memuji tapi pandangan kedua matanya tetap dingin dan mimiknya menunjukkan betapa dia memandang rendah pada kedua orang itu.
“Syuuuukkuuuurrr kalau di situ tahu kami hebat! Terima kasih atas pujianmu Mirasani…..”
“Eh! Bagaimana kau bisa tahu namaku?!” jelas nada suara sang dara menunjukkan rasa terkejut. Tapi wajahnya tetap saja tidak mengalami peubahan.
“Siapa yang tidak tahu Mirasani. Gadis maha cantik di kawasan ini.
Memilih…..”
“Sudah! Lekas katakan apa mau kalian!” sang dara memotong ucapan orang dengan bentakan.
“Sabar…..sabar Mira. Apa mau kami pasti akan kami jelaskan. Hanya aku belum selesai dengan penjelasan tentang diri kami berdua,” menyahut si muka cekung.
“Kami dikenal dengan julukan Sepasang Malaikat Kuning…..”
“Apa? Sepasang Malaikat Kuning?!” seru sang dara lalu dia tertawa gelakgelak.
“Aku sih memang belum pernah melihat wajahnya malaikat! Tapi aku yakin betul tampang-tampang malaikat tidak seperi muka kalian! Ha…ha…ha…! Malaikat
Kuning? Apa kalian yang kuning? Baju….. Ya itu betul! Kurasa gigi kalian juga kuning hah?!”
Dua orang di depan sang dara tampak kerrenyitkan kening lalu ikut-ikutan tertawa gelak-gelak. Si cekung mengangkat tangannya. Lalu pegang bahu si tinggi ramping di sampingnya seraya berkata “Ini kakakku. Namanya Tumapel Kuning. Dan yang ini….” si muka cekung tudingkan ibu jari tangan kirinya ke dadanya sendiri, “Adalah Kunapel Kuning! Dan perlu kujelaskan aku adalah calon suamimu!”
Untuk pertama kalinya terlihat wajah si gadis berubah, tapi hanya sekilas.
Pandangannya kembali dingin. “Jadi itu rupanya maksud kalian menghadangku!
Ketika bulan tujuh diadakan perlombaan mencari jodoh mengapa kau tidak muncul?!”
Kunapel Kuning manggut-manggut. “Waktu itu kami ada keperluan penting!
Lagi pula aku bukan bangsa pemuda-pemuda tolol yang mau direndahkan dengan segala macam perlombaan konyol itu!”
“Karena itu kau sengaja menghadangku di sini!”
“Tepat sekali Mira…..”
“Jangan sebut namaku! Kau tidak pantas jadi suamiku!” bentak Mirasani.
“Hai!” Kunapel Kuning melengak sementara Tumapel hanya sungingkan seringai. “Tampangku tidak jelek. Lihat, alis mataku saja tebal! Kata orang laki-laki
beralis tebal dapat menyenangi istri di atas ranjang! Ha….ha….ha….!”
“Di mataku kau tak lebih dari seekor kambing bodoh! Pergilah! Kau tidak layak jadi suamiku! Banyak pemuda yang jauh lebih keren darimu dan semua tidak kupandang sebelah mata!”
“Bisa jadi! Tapi kau belum tahu bagaimana bahagianya kalau bermesraan dengan diriku! Jangan bandingkan aku dengan pemuda-pemuda tolol itu Mira….”
“Mungkin kau pandai merayu perempuan…..”
“Nah…..nah! Kalau kau sudah tahu….”
“Tapi ingat! Calon suami yang aku inginkan bukan yang punya tampang gagah atau pandai merayu! Aku hanya akan memandang kemampuannya dalam ilmu bela diri! Dan mataku melhat kau tidak memiliki kemampuan itu Katapel!”
“Sialan! Nama adikku Kunapel! Bukan Katapel!” membentak Tumapel Kuning.
“Kunapel atau Katapel sama saja! Sama jelek sama tololnya!” jawab Mirasani.
“Kau belum tahu siapa adikku! Selama tiga tahun terkahir sejak dia ikut bersamaku tak seorang lawanpun sanggup menjatuhkannya! Kalau kau berusaha menghindar berarti kau menyalahi sumpah yang selama ini kau gembar-gemborkan!”
“Terus terang sebetulnya aku memberi kesempatan pada adikmu untuk tidak berlaku sembrono dan mampu mengukur diri sendiri. Tapi kalau dia memang mau dibikin babak belur kedua tanganku inipun memang sudah gatal sejak tadi!” jawab Mirasani.
“Kalau adikku sanggup menjatuhkanmu, kau tak akan mengingkari sumpah dan kawin dengannya?!” tanya Tumapel Kuning.
“Itu sumpahku dan itu yang harus kupenuhi!” jawab Mirasani pula.
“Kalau begitu kau turunlah dari kudamu! Biar cepat urusan ini diselesaikan dan kita bisa duduk di pelaminan!” kata Kumapel Kuning pula sambil tertawa lebar.
Sang dara ikut tertawa tapi tawa penuh mengejek. “Untuk mengahdapi orang sepertimu tidak perlu harus turun dari kuda! Lakukan apa maumu! Silahkan menyerang! Jika kau sanggup menjatuhkan aku ke tanah aku akan menyerahkan diri sebagai calon istrimu!”
“Menghina sekali! Terlalu menganggap rendah!” ujar Tumapel Kuning tidak senang.
“Tenang saja kakakku! Aku suka calon istri yang seperti ini! Sekali dia
kujatuhkan ke tanah akan kurangkul, kupeluk dan kuciumi sekujur auratnya!
Ha….ha….ha!”
Di atas kuda Mirasani mengelus-elus kuduk kuda tunggangannya, membuat agar binatang itu tetap tenang, tidak takut atau terpengaruh oleh serangan orang.
“Tenang Guci…. Jangan takut. Ikuti isyarat dan perintah yang aku berikan….”
“Mira! Lihat jurus pertama!” Tiba-tiba Kumapel Kuning berseru. Tubuhnya yang kekar melesat ke depan dalam satu lompatan di mana kaki kanan langsung melancarkan serangan tendangan. Orang ini berlaku cerdik. Yang diserangnya bukanlah kaki atau tubuh Mirasani, melainkan tulang-tulang rusuk kuda tunggangan san gdara. Menurut perhitungannya, jika tendangannya membuat amblas tulangtulang rusuk binatang itu hingga tergelimpang jatuh, dengan sendirinya Mirasani akan terbawa jatuh. Di situ dia lalu akan menubruk dan merangkul sang dara, membuatnya tak berdaya! Apa yang ada dalam benak dan rencana Kunapel Kuning memang masuk akal dan akan berhasil jika saja lawan memiliki kepandaian lebih rendah. Tapi yang kemudian terjadi adalah berlainan dari yang diharapkan si muka cekung itu.
Tendangan Kunapel Kuning datang menderu deras, mengarah rusuk kiri kuda coklat bernama Guci. Di saat yang sama Mirasani tekankan tumit kirinya ke badan kuda. Binatang ini maju satu langkah ke depan dan tiba-tiba sekali kaki belakang sebelah kirinya melesat ke samping.
Kunapel Kuning berseru kage ketika melihat kaki kuda menyapu ke bawah, laksana pedang membabat ke arah betisnya! Cepat-cepat lelaki ini tarik pulang tendangannya karena begaimanapun betisnya tak akan tahan menghadapi benturan keras dengan kaki kuda. Bersamaan dengan itu tangan kanannya bergerak. Dua jari menusuk ke arah pangkal paha Guci. Ini merupakan satu totokan ganas karena bukan saja dapat membuat kaku sebagian tubuh Guci, malah bisa membuatnya lumpuh seumur hidup!
“Totokan jahat!” desis sang dara dalam hati yang rupanya juga sudah memaklumi bahaya tusukan dua jari kanan lawan. Kembali tumit kirinya bergerak menekan badan Guci dua kali berturut-turut. Kuda besar coklat itu mendadak memutar tubuhnya setengah lingkaran. Pinggul yang besar dan keras binatang itu menghantam pinggul dan bahu kanan Kunapel Kuning, membuat orang ini terbanting keras dan hampir jatuh tunggang langgang kalau tidak cepat mengimbangi diri dengan gerakan jungkir balik di udara.
Dengan wajah mengelam dan dada turun naik Kunapel Kuning berdiri di samping kakaknya. Kedua tangannya terkepal. Mulutnya bergetar dan pelipisnya menggembung.
“Kehebatan gadis ini bukan omong kosong. Tapi dia hanya menggunakan kudanya. Kekuatannya sendiri belum kujajal!” berkata Kunapel Kuning dalam hati.
Maka kini dia siap membuka jurus ketiga dengan menyerang langsung ke arah si gadis. Yang ditujunya adalah bagian pinggang Mirasani. Tetapi ketika si gadis cepat berkelit, lebih cepat lagi Kunapel Kuning merubah gerakan serangannya. Yang diincarnya kini ialah kaki kiri sang dara. Kedua tangannya melesat ke depan untuk merengut betis Mirasani dan melontarkan gadis itu dari punggung kudanya ke tanah!
Di atas kuda sang dara tusuk badan Guci dengan tumit kiri kuat-kuat hingga binatang ini meringkik lalu sabatkan kaki depan sebelah kiri ke belakang.
Bukkk!
Kunapel Kuning yang tidak menduga akan mendapat serangan berbalik seperti itu tak punya kesempatan untuk mengelak. Lelaki ini mencelat mental dan menjerit keras. Tubuhnya terhantar ke tanah, sulit bergerak ataupun bagkit karena tulang pinggulnya retak besar!
“Aku sudah memperingatkan sebelumnya!” berkata Mirasani. “Kau tidak punya tampang dan kemampuan untuk menjadi calon suamiku! Jadi jangan menyesal!”
Kunapel Kuning keluarkan suara menggereng, entah karena sakit entah karena marah. Dia berpaling pada kakaknya seolah-olah memberi isyarat agar si kakak melakukan sesuatu.
“Adikku!” ujar Tumapel Kuning, “Nasibmu sial sekali. Agaknya akulah yang berjodoh dengan gadis berbaju biru itu….”
“Sial! Kau yang sialan Tumapel!” teriak si adik. Sebelumnya tak ada rencana bahwa kakaknya itu berhasrat terhadap sang dara. Rupanya setelah melihat kecantikan Mirasani Tumapel Kuning tertarik juga dan jadi blingsatan.
“Mirasani!” berseru Tumapel Kuning. “Aku mendapat firasat bahwa kau berjodoh jadi istriku! Maksudku istri paling muda karena sampai saat ini aku sudah punya empat istri dan lebih dari setengah lusin simpanan!”
“Kau laki-laki hebat!” mulut si gadis memuji tapi air mukanya menunjukkan rasa jijik. “Apa yang terjadi dengan adikmu tidak membuka matamu! Kalau kau ingin mengambilku jadi istrimu, majulah cepat!”
“Ha….ha….! Akan kurasakan kehangatan tubuhmu jika bersentuhan!” ujar Tumapel Kuning. Dia kencangkan ikat pinggang merahnya. Lalu melangkah maju mendekat. Dia sengaja datang dari arah kepala kuda. Kedua kakinya menekan ke tanah kuat-kuat, tubuhnya melesat ke udara melewati kepala kuda. Ketika menukik turun tangan kanannya meluncur cepat ke arah dada Mirasani.
“Manusia cabul kurang ajar!” sang dara membentak marah. Pandangan matanya berkilat.
“Aku bukan manusia cabul! Pantas kalau seorang calon suami menjajaki dulu sampai di mana kencangnya tubuh calon istrinya!” menyahuti Tumapel Kuning. Dan gerakan orang ini memang luar biasa cepatnya hingga tahu-tahu ujung jarinya sudah menempel di pakaian biru sang dara. Ketika tangan itu hendak meremas, di atas punggung kuda Mirasani jatuhkan dirinya ke belakang sama rata di atas punggung kuda. Bersamaan dengan itu kaki kirinya menendang ke atas.
Tumapel Kuning rupanya sudah tahu gelagat. Tangan kanan yang tadi dipergunakannya untuk menjamah payu dara Mirasani kini dipakai sebagai tumpuan pada lutut si gadis. Begitu lutut Mirasani sempat dipegangnya maka lutut itu dipergunakan sebagai tumpuan untuk membuat lompatan ke depan, meluncur sama rata dengan tubuh Mirasani, malah dia berada di sebelah atas!
“Kurang ajar!” teriak sang dara ketika dapatkan tubuhnya hampir kena tindih oleh Tumapel Kuning. Secepat kilat kedua tinjunya dipukulkan ke atas. Satu menghantam ulu hati, satu lagi menderu ke arah dada lawan.
Bluk-bluk!
Dua jotosan keras itu tidak dapat mengenai sasarannya karena keburu tertangkap dalam telapak tangan kiri kanan Tumapel Kuning.
“Setan!” maki Mirasani. Perutnya mengumpul tenaga dalam, ketika dia menyentak ke atas tak ampun lagi tubuh Tumapel Kuning yang ada di atasnya terpental, jatuh dua tombak di sebelah kiri. Mirasani sendiri ikut jatuh merosot ke samping kiri sosok tubuh kudanya.
“Curang! Kau menggunakan tenaga dalam!” teriak Tumapel Kuning marah.

DUA
Mirasani tertawa dingin. “Tak ada perjanjian mempergunakan tenaga dalam atau tidak. Yang jelas kau sudah kujatuhkan! Jadi lekas angkat kaki dari sini. Bawa adikmu yang meringis seperti monyet terbakar ekor itu!”
“Aku tidak akan pergi! Apa kau lupa kalau kau adalah bakal istri mudaku yang kelima?!”
“Tolol dan keras kepala!” maki Mirasani.
Tumapel Kuning menyeringai. Kencangkan ikat pinggang lalu melangkah memutari sang dara. Mirasani menepuk pinggul kudanya. Binatang ini melangkah menjauh hingga kini dia berhadapan langsung dengan Tumapel Kuning di tengah kalangan perkelahian.
“Ayo seranglah!” teriak Mirasani.
Kembali lelaki itu menyeringai. Dia bergerak mendekat. Saat itu didengarnya adiknya berseru. “Tumapel, jika kau berhasil mengalahkan gadis itu, berikan dia padaku. Aku akan mengganti dengan apa saja yang kau minta!”
“Boleh-boleh saja Kunapel! Tapi malam pertamanya tetap bersamaku!” sahut Tumapel pula lalu dia membuka serangan yang disambut sang dara dengan cepat. Perkelahian berkecamuk hebat. Ternyata Tumapel Kuning memiliki ilmu silat luar yang tangguh. Dalam empat jurus saja Mirasani tampak terdesak hebat. Hanya saja karena Tumapel menyadari kalau sang dara memiliki kekuatan tenaga dalam lebih tinggi maka dia tak berani melakukan bentrokan langsung. Namun dia yakin paling lambat dalam sepuluh jurus di muka dia akan berhasil merobohkan sang dara.
Sebaliknya sang dara sendiri walau terdesak hebat tampak tenang-tenang saja. Memasuki jurus kedelapan tiba-tiba terjadi perubahan total. Gempurangempuran Tumapel Kuning amblas dalam pertahanan tangguh sang dara lalu di jurus kesembilan Tumapel mulai terdesak. Serangan-serangan kaki dan tangan Mirasani merajalela membuat lelaki tinggi ramping itu harus bertahan mati-matian. Di jurus kesebelas tinju kanan Mirasani mendarat di dadanya, membuat Tumapel Kuning terjajar ke belakang dan mengeluh menahan sakit. Jurus kedua belas pelipisnya kena dihantam dari samping hingga mencucurkan darah.
“Gadis binal! Akan kutelanjangi kau di sini juga!” teriak Tumapel Kuning marah. Tangan kirinya bergerak ke balik punggung pakaian kuningnya. Sesaat kemudian sebilah golok sepanjang tiga jengkal lebih melintang berkilat di depan dadanya. “Kau pilih mati atau menyerah!”
“Begini rupanya kemampuanmu! Mengandalkan senjata menghadapi perempuan!”
“Tak ada perjanjian apakah harus dengan tangan kosong atau pakai senjata!
Kalau kau punya senjata keluarkan saja!”
“Senjataku hanya ini!” jawab Mirasani seraya mengangkat tangan kanannya.
Sekilas Tumapel Kuning melihat tanda merah pada telapak tangan kanan si gadis itu. Mendadak ada rasa tidak enak ketika melihat tanda itu. Namun karena sudah ditimbun amarah maka dia langsung saja menyerbu dengan goloknya. Senjata itu mengeluarkan suara menderu-deru ketika membelah udara, menghambur serangan ke arah Mirasani.
Dara berbaju biru itu mundur beberapa langkah lalu sambil miringkan tubuh dia kirimkan tendangan terobosan ke arah lambung lawan. Tumapel Kuning membabat ke bawah. Sekali golokny menabas kaki sang dara pastilah kaki itu terputus kutung! Tapi Mirasani tidak semudah itu dipecundangi. Sejak masih berumur lima tahun gadis ini telah mendalami ilmu silat yang diramu dari tujuh perguruan terkenal di tanah jawa. Dia membuat gerakan yang menyebabkan mata golok hanya
lewat seujung kuku di samping betisnya. Begitu tabasan senjata lawan least kaki yang menendang terus mencua ke atas, terdengarlah pekik Tumapel Kuning disertai suara kraakk!
Tulang ketiak lelaki tinggi ramping itu remuk dan lengan kanannya kini terkulai. Sakitnya bukan main sementara goloknya mental entah ke mana!
“Manusia-manusia tolol! Kalian sudah menerima bagian masing-masing!” kata sang dara lalu melangkah mndekati kudanya.
“Tunggu! Kita belum mengadu kekuatan tenaga dalam!” tiba-tiba terdengar seruan Kunapel Kuning. Lelaki ini telah berdiri sambil memasang kuda-kuda, siap untu menghimpun tenaga dalam di tangan kanan.
Mirasani mencibir. “Kudaku saja tak sanggup kau hadapi! Masih berani menantang!” Lalu si gadis itu melompat ke punggung Guci dan membedal kudanya meninggalkan tempat itu.
Suto Klebet duduk berhadap-hadapan dengan istrinya di ruang tengah gedung kediamannya yang besar. Dari wajah mereka jelas kedua suami istri ini sedang diselimuti rasa gundah kalau tidak mau dikatakan cemas.
Setelah berdiam diri beberapa lamanya akhirnya Rayu Komala, sang istri, membuka pembicaraan.
“Yang aku kawatir kangmas, kalau-kalau anak kita itu akan menjadi perawan tua karena ulahnya sendiri…..” Karena suaminya tidak menyahuti maka Rayu Komala meneruskan ucapannya. “Aku tak habis pikir, apa sebenarnya yang menjadi tujuan Mira. Mengapa dia jadi sampai membawa sifat seperti itu. Ada satu lagi kekawatiranku. Jika muncul seorang jago silat dari golongan hitam, atau tua bangka jahat yang sanggup merobohkannya, apa jadi nasib anak itu bersuamikan orang seperti itu…..”
Suto Klebet masih diam saja. Istrinya jadi merengut dan berkata “Jangan diam saja kangmas. Kita harus mencari jalan. Jangan cuma berpangku tangan…….”
“Aku sama sekali tidak berpangku tangan Rayu. Akupun sebenarnya cemas. Ingat apa kata-kata perempuan tua dukun beranak yang menolongmu melahirkan Mira sembilan belas tahun lalu…..?
Ketika lahir anak itu membawa tanda merah pada telapak tangan kanannya. Dukun beranak itu lalu membisikkan penjelasan bahwa kelak bayimu akan menjadi seorang pesilat ampuh, memiliki watak aneh dan kalau punya suami hanya memilih seorang yang mempunyai kepandaian lebih tinggi dari dia. Ucapan dukun beranak itu sekarang terbukti benar. Seharusnya setelah kita mendapat penjelasan itu kita tidak menyuruhnya berguru pada Ki Demang Juru Gampit. Hampir sebelas tahun orang sakti itu menggemblengnya hingga dia menjadi pendekar perempuan yang tangguh. Kita tak bisa menyalahkan Ki Demang….”
“Betul ucapanmu kangmas. Kita tak bisa menyalahkan orang tua itu. Tapi jika kita bisa bicara dengannya dan meminta pendapatnya, lalu dia memberi petunjuk pada Mira mungkin gadis itu bisa merubah segala tabiatnya. Terutama yang menyangkut perjodohan dirinya. Gadis seusia dia seharusnya sudah bersuami. Paling tidak sudah memiliki calon suami. Dan sekarang kau lihat saja kangmas. Di luar sana ada lagi dua orang pemuda yang menunggunya, berminat untuk menjajal ilmu silatnya. Bukan untuk merendahkan orang, tapi kalau anak kita sampai kawin dengan lelaki yang tidak tahu juntrungan dan keturunannya apa tidak malu. Kita turunan bangsawan, masih punya hubungan dekat dengan Keraton karena salah seorang adikku jadi garwo dalem (istri) Sultan, apa tidak malu kangmas…..?”
“Aku sudah berusaha mencari Ki Demang Juru Gampit. Tapi orang tua sakti itu lenyap entah ke mana. Mungkin dia tengah mengelana atau bertapa di satu tempat tersembunyi. Dan tentang dua pemuda yang datang itu, mengapa tidak kau katakan saja anak kita tak ada di rumah, lalu menyuruh mereka pergi?”
“Bukan Mira berulang kali menyampaikan pesan. Jika ada yang datang harus diminta menunggu sampai dia kembali walau itu bisa satu atau dua hari. Kalau kita abaikan pesannya dan dia mengetahui, kita bisa kesalahan lagi…..”
Suto Klebet hanya bisa geleng-gelengkan kepala lalu kedua suami istri itu berdiam diri sampai di halaman terdengar suara derap kaki kuda.
“Mira datang…..” kata Rayu Komala lalu bangkit dari kursinya. Suto Klebet mendahului menuju ruang depan.
Begitu sampai di langkan depan Mirasani segera melihat dua orang pemuda yang sejak lama berada dan menungu di situ. Pemuda pertama mengenakan pakaian hitam, berikat kepala merah, membekal sebilah keris dipinggangnya. Wajahnya cukup tampan dan potongannya menyatakan dia memang seorang ahli silat.
Pemuda kedua berkulit putih. Sikapnya tampak halus. Karena memelihara rambut panjang wajahnya hampir seperti perempuan. Dia mengenakan pakaian putih sederhana dan memegang sepotong bambu kuning sebesar ibu jari. Sudah tahu apa maksud kedatangan orang, Mira tidak terus ke dalam. Dia langsung menegur.
“Siapa di antara kalian yang datang lebih dulu?”
Pemuda berkulit putih cepat berdiri dan menjura. “Namaku Suryo Kemikis.
Aku datang dari selatan gunung Merapi. Anak murid perguruan silat Teratai Putih.
Guruku…..”
Mira mengangkat tangannya. “Aku tidak butuh keterangan panjang lebar. Aku hanya ingin tahu apakah kau mampu menghadapiku sampai sepuluh jurus! Jika aku kalah aku akan tunduk dan menjadi istrimu…..”
Sepasang mata pemuda bernama Suryo Kemikis berkilat-kilat karena dua hal.
Pertama karena merasa dianggap enteng menengar Mirasani menyediakan sepuluh jurus untuknya. Kedua karena melihat kenyataan bahwa gadis yang namanya tersiat ke mana-mana itu bukan saja cantik tetapi juga memiliki potongan tubuh yang menggiurkan. Betapa bahagianya kalau dapat memperistrikannya. Dan turunan bangsawan serta hartawan pula!
Ketika Mirasani mendahului melompat ke halam depan saat itulah kedua orang tuanya muncul. Ibunya langsung berseru.
“Mira….. Kau pergi dari pagi. Sebaiknya kau membersihkan diri dulu lalu makan. Kau perlu istirahat….anakku!”
“Melayani tamu dua orang ini tidak akan makan waktu lama ibu. Aku akan membuktikannya…..” Lalu Mirasani melambaikan tangna, memberi isyarat pada Suryo Kemikis untuk turun ke halaman depan.
“Sebelum kita mulai…. “ Suryo Kemikis berkata begitu berhadapan dengan Mirasani “apakah saya berhadapan dengan den ayu Mirasani? Saya tak mau kesalahan tangan…..”
“Bagus! Sikapmu tak mau gegabah, kau memang berhadapan dengan Mirasani.
Calon istrimu jika kau mampu mengalahkanku. Kulihat kau membawa tongkat bambu. Apakah kau akan bertanding mengandalkan tongkat itu….?”
Si pemuda tersenyum. “Tongkat ini hanya bawaan iseng saja den ayu. Aku akan mengadu nasib dengan tangan kosong saja.” Lalu Suryo Kemikis sisipkan tongkat bambu kuningnya ke pinggang dan pasang kuda-kuda. “Mohon petunjuk, apakah saya yang mulai menyerang atau den ayu lebih dulu.”
“Karena kau yang minta digebuk, maka kaulah yang harus menyerang lebih dulu!” sahut Mirasani.
Suryo Kemikis tersenyum tapi hati pemuda ini mulai terbakar karena ucapanucapan sang dara berbaju biru selalu merendahkannya.
Pemdua dari kaki gunung Merapi ini telah mendalami ilmu silat selama empat belas tahun pada perguruan silat yag cukup terkenal yakni Teratai Putih. Perguruan ini merupakan pecahan dari sebuah perguruan silat yang sangat rahasia di mana kabarnya hanya orang-orang yang ada angkut pautnya dengan Keraton yang boleh berguru. Ketika Suryo Kemikis bergerak melangkah, membuat gerakan meliuk yang indah pada pinggang sementara kedua tangannya diayun-ayunkan seperti penari maka itulah jurus pertama!
Mirasani menunggu sampai si pemuda berada cukup dekat. Lalu lengan kirinya dikibaskan, memotong gerakan lawan. Dia sengaja mencari bentrokan karena hendak menjajal kekuatan orang. Tapi Suryo Kemikis yang sudah mendengar banyak tentang kehebatan dara ini cepat menarik tangan kanan dan bersamaan dengan itu susupkan tangan kirinya dalam gerakan satu sodokan ke arah ulu hati sang dara.
Mirasani yang diserang tiba-tiba memutar tubuh, bergerak satu lingkaran penuh dan wuut! Kaki kiri sang dara membabat ke atas, menghantam ke arah kepala Suryo Kemikis!
Pemuda itu tersentak kaget. Tidak menyangka daya capai kaki lawan jauh dan begitu cepat pula gerakannya. Secepat kilat dia rundukkan kepala. Kaki lawan least setengah jengkal dari batok kepalanya. Sambil miringkan tubuh ke kiri, selagi kaki kiri lawan masih berkelebat di udara dan seluruh berat tubuh Mirasani hanya bertumpu pada kaki kanan, Suryo Kemikis hantamkan kaki kanannya untuk menyapu kaki lawan yang menginjak tanah. Memang kalau labrakan ini mengenai sasaran, tubuh Mirasani pasti akan jatuh!
Tapi betapa terkejutnya Suryo Kemikis ketika kaki yang hendak diterjangnya
itu tiba-tiba melompat ke atas. Bersamaan dengan itu tubuh sang dara ikut melesat
lalu ada suara menderu di atas kepalanya. Mendongak ke atas si pemuda melihat
tangan kanan lawan yang membentuk tinju menjotos deras ke arah batok kepalanya.
Untuk kedua kalina Suryo Kemikis tundukkan kepala dan selamat. Namun pukulan
lawan ternyata terus mengejar ke kanan dan bersarang di bahunya tanpa dia dapat
mengelak lagi. Meskipun Suryo Kemikis memiliki sejenis ilmu bertahan yang disebut
“Meredam Pukulan Membendung Tendangan” sehingga ketika pukulan atau
tendangan lawan mengena, daya hantamnya yang keras dapat dikurangi, tetapi tetap
saja pemuda ini terbanting ke kanan. Untuk mencegah agar tubuhnya tidak terbanting
mencium tanah Suryo Kemikis cabut tongkat bambunya, menunjang tubuhnya dengan
tongkat itu lalu berjumpalitan. Di lain kejap dia sudah tegak enam langkah di depan
Mirasani. Tangan kiri memegang tongkat dengan tubuh tampak miring ke kanan.
Mungkin tulang bahunya yang patah, paling tidak retak akibat hajaran sang dara tadi.
“Kau sanggup mengelakkan jurus Kincir Berputar tapi tidak mampu
menghindar jurus Alu Besi Membobol Lesung!” kata Mirasani menyebutkan dua
jurus yang tadi dikeluarkannya untuk menempur si pemuda. Mulutnya
menyunggingkan senyum mengejek. “Saatnya kau meninggalkan tempat ini Suryo
Kemikis!”
“Tidak! Aku belum kalah! Aku belum jatuh menyentuh bumi!” sahut Suryo
Kemikis. “Bukankah syaratmu adalah kalau bagi siapa yang tubuhnya roboh
menyentuh tanah….?!”
Mirasani tertawa pendek. “Matamu buta melihat kenyataan! Otakmu tumpul
menilai keadaan! Manusia macammu memang tak layak jadi suamiku! Majulah jika
kau ingin meneruskan pertandingan! Jangan ragu-ragu mempergunakan tongkat
bambumu sebagai senjata!”
Ditantang begitu Suryo Kemikis jadi panas. Rahangnya menggembung.
Didahului satu bentakan pemud aini menyerbu sambil putar tongkat ambunya
demikian rupa hingga mengeluarkan suara menderu dan cahay kekuningan bertebar.
“Hemm….Jurus Tabir Kipas itu tak ada gunanya bagimu! Apalagi untuk
merobohkanku!” ujar Mirasani.
IZRO'IL
Topeng Buat Wiro Sableng


Suryo Kemikis terkejut ketika mendengar lawan mengetahui bahkan
menyebut jurus serangan yang tengah dilancarkannya. Segera dia robah jurus yang
baru dilancarkan setengahnya itu. Gerakan tongkatnya kini langsung menghujam
lurus ke arah kepala sang dara. Sedikit lagi akan sampai tiba-tiba tongkat itu menukik
ke bawah menghujam dada!
“Jurus Gendewa Jatuh!” seru Mirasani menyebut jurus yang dimainkan lawan.
Lagi-lagi hal itu membuat Suryo Kemikis terkesiap sehingga gerakannya
menyerang agak terpengaruh. Saat itulah sang dara berkelebat ke depan. Tangan
kanannya berputar lurus tapi dalam gerakan agak melintir. Inilah jurus Alu Besi
Membobol Lesung yang dilancarkan dalam gerakan lurus. Suryo Kemikis melihat
jelas serangan itu namun sama sekali tidak berkesempatan untuk selamatkan dadanya
yang jadi sasaran.
Buukk!
Terdengar keluhan tinggi disertai mentalnya tubuh Suryo Kemikis. Pemuda ini
tergelimpang di dekat tangga gedung. Tak berkutik beberapa lamnya. Ketika dia
mencoba bangkit dari mulutnya menyembur darah segar. Suryo Kemikis kembali
tergelimpang, kali ini pingsan tak sadarkan diri lagi!

TIGA
Mirasani sama sekali tidak memperdulikan apa yang dialami Suryo Kemikis. Dia
berpaling pada pemuda berpakaian hitam berikat kepala merah yang tegak di anak
tangga gedung memandangi sang dara dengan pandangan entah kagum entah kecut.
“Giliranmu sekarang!” berseru Mirasani.
Si baju hitam melangkah tenang. Empat langkah di hadapan Mirasani dia
menjura lalu berkata. “Harap maafkan kalau aku terlalu bodoh memberanikan diri
mencoba nasib…..”
Mirasani tersenyum kecil. “Aku senang melihat sikapmu yang merendah. Tapi
kalau bicara soal nasib, ketahulah nasibmu tak bakal lebih baik dari oemuda bernama
Suryo Kemikis itu!” Mirasani melangkah pulang balik sambil berkacak pinggang.
“Kuliaht kau membawa keris! Kau boleh menggunakan senjata itu menghadapiku!”
“Aku lebih suka kalau diberi petunjuk dengan tangan kosong saja…..”
“Hemmmm Pemuda satu ini sopan sekali sikapnya. Hanya saying dia pasti tak
bisa mengalahkanku,” membatin Mirasani. Lalu dia bertanya “Siapa namamu, kau
datang dari mana dan siapa guru silatmu?!”
“Namaku buruk saja den ayu. Jalak Turonggo. Aku datang dari pantai urata.
Soal siapa guruku, mohon maaf, aku sidah dipesan untuk tidak menjual nama guru ke
mana-mana. Lagi pula kehadiranku di sini adalah kemauanku sendiri….”
“Bagus! Kau memang orang silat sejati. Majulah!”
Meskipun agak sungkan namun pemuda bernama Jlaka Turonggo ini bergerak
juga melancarkan serangan pertama. Meski sikap dan tutur bicaranya sangat sopan
namun serangannya ternyata ganas. Jurus pertama itu dibukanya dengan mengelilingi
tubuh si gadis secara cepat lalu tiba-tiba luncurkan serangan ke arah samping kiri
Mirasani. Walau tidak seperti tadi yakni cepat dapat menebak dan menyebut jurus
serangan lawan, namun mata Mirasani yang tajam sudah dapat melihat keganasan
serangan lawan. Di balik keganasan itu matanya yang jeli dan otaknya yang tajam
sekaligus dapat pula melihat sudur kelemahan serangan si pemuda. Maka diapun
keluarkan seruan tinggi dan berkelebat. Perkelahian berkecamuk hebat. Tiga jurus
berlalu cepat. Memasuki jurus keempat mendadak Jalak Turonggo berseru kaget
ketika dia mendaptkan keris yang sebelumnya terselip di pinggangnya lenyap!
Memandang ke depan dilihatnya senjata itu sudah berada dalam genggaman tangan
kiri Mirasani! Sadarlah si pemuda, jika sang dara mau pasti dia sudah dapat
menyusupkan pukulan berbahaya. Maka Jalak Turonggo rapatkan kedua kakinya,
membungkuk sambil merapatkan kedua belah tangan dan berkata “Terima kasih atas
petunjukmu. Jelas bagiku den ayu bukan tandinganku. Aku terlalu bodoh bercita-cita
mendapatkan istri sepertimu…..” Pemuda itu membungkuk sekali lagi.
Mirasani tersenyum. Hatinya cukup senang meliha pemuda yang sangat sopan
dan tahu diri ini. Maka dikembalikannya keris Jalak Turonggo seraya berkata. “Kau
menerima kekalahan dengan hati lapang. Aku suka bersahabat denganmu. Sebagai
seorang sahabat aku layak minta tolong….”
“Maksud den ayu?” tanya Jalak Turonggo.
“Tolong bawa tubuh pemuda bernama Suryo Kemikis itu dari sini…..”
Jalak Turonggo sebenarnya merasa tidak senang dengan permintaan itu,
namun akhirnya dia mengangguk juga lalu memanggul tubuh Suryo Kemikis yang
masih pingsan dan pergi dari situ. Baru saja Jalak Turonggo lenyap di kelokan jalan
dan Rayu Komala berseru memanggil anaknya agar segera masuk kedalam, Mirasani
melangkah cepat ke arah sebuah arca dekat pintu gerbang halaman sebelah kiri. Di
situ tampak duduk seorang pemuda berpakaian seba putih, ikat kepalanya juga putih.
Rambutnya yang panjang menjela bahu. Dia duduk sambil menopangkan dagunya
pada kedua tangan. Wajahnya sebetulnya gagah tapi lagaknya yang aneh membuat dia
seperti seorang pemuda tolol.
“Sejak tadi aku melihat kau duduk di sini. Apa keperluanmu?!” Mirasani
menegur.
Si pemuda cepat berdiri, menjura hormat, menggaruk kepalanya, tertawa lebar
lalu menjawab. “Maafkan saya datang tidak memberi salam. Semua karena kagum
melihat perkelahian hebat tadi…..”
“Sudah, tak perlu bicara panjang lebar. Jawab saja apa yang aku tanya!” tukas
Mirasani.
“Aku yang tolol ini berniat mengikuti jejak dua pemuda tadi. Siapa tahu…..”
“Memang hanya orang tolol yang mau digebuk! Bersiaplah!” sahut sang dara.
Pemuda berpakaian putih itupun tegak bersiap-siap. Caranya berdiri tampak
lucu. Tubuh agak miring dan kaki kanan setengah bersilang dengan kaki kiri.
Sikapnya ini membuat Mirasani jadi jengkel.
“Silahkan menyerang!” hardiknya.
Si pemuda garuk kepalanya. “Tadi di situ yang berkata mau menggebuk. Biar
di situ saja yang lebih dulu menyerang!”
Gusarlah Mirasani. Sekali lompat saja tubuhnya melesat ke depan lalu
membalik berputar satu lingkaran dengan kaki menendang deras.
“Jurus Kincir Berputar yang bagus!” seru si gondrong menyebut jurus
serangan yang dilakukan sang dara. Terkejutlah Mirasani. Dara ini langsung hentikan
serangannya, bertolak pinggang dan memandang tajam pada si pemuda.
“Kau mengenali jurus yang kumainkan! Siapa kau sebenarnya?!”
“Aku pemuda tolol bernama Wiro Sableng, datang kesasar dari puncak
gunung Gede di ujung barat pulau Jawa. Guruku seorang nenek benama Sinto
Gendeng…. Harap dimaafkan kalau aku membuatmu tidak senang…..”
“Jadi kau….. kau Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212?!”
“Begitulah orang memberi gelar pada diriku yang jelek dan tolol ini!”
Berubahlah paras Mirasani. Dia pernah mendengar dari gurunya Ki Demang
Juru Gampit bahwa di tanah Jawa ini ada beberapa tokoh silat yang berkepandaian
sangat tinggi. Banyak di antara mereka yang mengucilkan diri tidak mau dikenal,
tidak mau terlalu mencampuri urusan dunia persilatan. Namun ada pula di antara
mereka yang malang melintang berbuat kebajikan, menolong orang-orang yang
tertindas, membasmi kejahatan. Salah satu di antaranya adalah yang dikenal bernama
Wiro Sableng, seorang yang kabarnya berperangai aneh lucu dan bergelar Pendekar
Kapak Maut Naga Geni 212. Namun tidak pernah disangkanya kalau sang pendekar
ternyata adalah seorang pemuda padahal sebelumnya dia menduga pendekar itu
pastilah seorang yang sudah kakek tua renta!
“Hai! Kau seperti melamun! Bagaimana ini? Apakah urusan ini bisa
diteruskan….?” Wiro berseru.
“Ah, hari ini mungkin hari terakhirku bertanding. Aku punya firasat tak bakal
menang menghadapi pemuda ini!” Mirasani membatin. Lalu dengan menabahkan hati
dia melangkah menekat. Dari jarak tiga langkah gadis ini langsung menyerbu,
menhujani Pendekar 212 dengan serangan-serangan cepat dan ganas.
“Jurus Alu Besi Membobol Lesung….ah itu jurus Elang Mematuk Puncak
Menara…..Eit! Jurus Ular Keluar Sarang Memagut Mangsa dan ini jurus Bintang
Memagar Rembulan….. Hebat…. Semua hebat! Tapi lihat akupun bisa
memainkannya! Terdengar seruan Wiro berulang kali yang membuat Mirasani kaget
tidak kepalang dan lebih kaget lagi ketika dilihatnya pemuda itu memainkan jurusjurus
yang dikelaurkannya hingga dirinya menjadi terdesak dan ketika satu sapuan
pada salah satu kakinya membuat dia kehilangan keseimbangan, tak ampun lagi dara
inipun jatuh terlentang di tanah!
Di langkan rumah Suto Klebet dan Rayu Komala terbeliak menyaksikan
kejadian itu. keduanya saling pandang sesaat.
“Kangmas…..Agaknya…..”
“Ya…..ya! Ini akhir dari segala-galanya. Anak kita telah menentukan
pilihannya sendiri!” kata Suto Klebet menyamung ucapan istrinya lalu keduanya
turun ke halaman.
Saat itu Mirasani sudah bangkit berdiri sambil merapikan pakaiannya.
Wajahnya tampak kemerahan bukan karena malu dikalahan tapi karena jengah
menghadapi pemuda yang kini sudah resmi menjadi calon suaminya sesuai dengan
apa yang selama ini menjadi kaulnya.
“Kau tahu semua jurus-jurus seranganku! Kau sanggup memainkannya, malah
meredam dalam bentuk bertahan dan kalau dipakai menyerang jauh lebih hebat dari
yang kumiliki. Apakah kau pernah menjadi murid guruku Ki Demang Juru Gampit?!”
Pendekar 212 Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya lalu menggeleng. “Ki
Demang Juru Gampit, gurumu itu adalah seorang tua yang bersih dan alim, hampir
mendekati kesucian seorang Wali. Aku yang brandalan ini mana mungkin jadi
muridnya!”
“Lalu bagaimana kau bisa tahu semua jurus-jurusku malah memainkannya dan
bahkan merubuhkanku dengan jurus Meniup Pelita Mendorong Pohon!”
“Semua hanya kira-kira saja. Tak tahunya kebetulan tepat. Semua jurus itu
kumainkan lain tidak karena hanya melihat saja lalu menirukan. Kalau gurumu ada di
sini pasti dia melihat kekurangan jurus-jurusku itu!”
“Pemuda ini pandai, tapi dia selalu bersikap merendah. Agaknya dia sengaja
menutupi kepandaiannya dengan sikap ketolol-tololan….” Begitu Mirasani berkata
dalam hati. Lalu tanpa sungkan-sungkan dia memegang lengan Wiro dan membawa
pemuda ini ke arah kedua orang tuanya yang turun dari langkan gedung.
Atas permintaan Wiro pernikahan dilangsungkan dua hari kemudian. Sama
sekali tidka ada pesta susulan. Karenanya tidak ada tokoh persilatan termasuk Ki
Demang Juru Gampit dan Eyang Sinto Gendeng. Mirasani berulang kali meminta
pada suaminya aga tetap diadakan pesta besar-besaran karena sebagai istri dan juga
kedua orang tuanya merasa bangga memiliki seorang suami yang merupakan
pendekar terkenal dalam dunia persilatan. Tapi karena Wiro menolak dengan keras
terpaksa akhirnya sama sekali tidak ada pesta ataupun selamatan diadakan, kecuali
acara pernikahan yang berlangsung cepat dan sangat sederhana.

EMPAT
Kebahagiaan Mirasani sebagai seorang istri hanya berlangsung selama satu bulan.
Setelah itu suaminya mulai menunjukkan tindak tanduk aneh. Berkali-kali Wiro pergi
meninggalkannya tanpa pesan atau mengatakan ke mana tujuan ataupun keperluannya.
Dua atau tiga minggu kemudian baru sang suami pulang. Meskipun Mira tak pernah
mengadukan keadaan suaminya pada kedua orang tuanya, Suto Klebet dan Rayu
Komala diam-diam sudah mengetahui apa yang berlangsung dalam rumah tangga
baru itu.
Suatu malam Wiro Sableng muncul kembali setelah selama dua minggu
menghilang entah ke mana. Sebelum sempat ditanya Wiro meletakkan sebuah kotak
berukir di atas meja dan berkata pada istrinya “Bukalah. Semuanya untukmu
Mira…..”
Meskipun hatinya tak suka melihat sikap suaminya itu namun Mira membuka
juga kotak kayu berukir yang terletak di meja. Begitu dibuka kelihatanlah isi kotak.
Sejumput perhiasan emas bertahta permata serta sejumlah ringgit emas!
“Dari mana kau mendapatkan ini kangmas Wiro?”
Yang ditanya tertawa lebar dan usap-usap hidung lalu garuk-garuk kepala.
“Pemberian seorang kaya raya di Tegalrojo yang kutolong,” sahut Wiro. Dia
menatap paras istrinya sesaat lalu berkata “Kelihatannya kau tidak suka menerima
pemberian itu?”
“Tentu saja aku suka kangmas Wiro. Hanya saja sebetulnya yang aku lebih
suka adalah jika kau selalu berada di rumah bersamaku. Kita masih pengatin baru.
Malam-malam sering kulewati dengan sepi tanpamu. Apakah kau tidak bisa menunda
segala kepergian itu….?’
“Kau tahu sendiri Mira. Aku seorang pendekar pengelana. Mana mungkin aku
mengeram lama-lama di rumah….”
“Aku mengerti kangmas Wiro. Karena itu aku selalu meminta padamu agar
jika kau pergi aku diajak serta…..”
“Pengelanaan seperti yang kulakukan bukan pekerjaan seorang istri cantik
jelita sepertimu Mira….”
“Tapi kita sama-sama orang persilatan!”
“Tidak Mira. Aku tak akan pernah mengizinkanmu ikut bersamaku. Terlalu
besar bahayanya….”
“Jika itu yang kangmas cemaskan, bagaimana dengan usulku tempo hari?
Membuka perguruan silat….”
“Itu usul baik. Namun tidak saat ini Mira, urusanku di luaran masih banyak.”
“Jika memikirkan urusan, perguruan itu tak akan pernah jadi. Apa susahnya?
Yang akan dijadikan murid hanya orang-orang tertentu. Dari Keraton Salad an
Jogja….. Bahkan guruku bersedia membantu…..”
“Kalau begitu biar kau saja dengan Ki Demang yang melakukannya. Aku pasti
membantu……”
“Justru aku ingin menonjolkan dirimu. Siapa tahu penguasa Keraton tertarik
padamu dan memberikan satu jabatan penting. Kepala Pasukan Kotaraja
misalnya…..”
Wiro Sableng tertawa lalu merangkul dan menciumi istrinya. “Kau istri yang
baik, mau memikirkan masa depan suami, tapi Mira ketahulah, aku tidak suka segala
macam jabatan di Keraton atau di Kerajaan. Aku tetap seperti ini. lelaki bernama
Wiro Sableng, tolol dan gendeng, mengelana ke mana yang diinginkan, berbuat
kebajikan bagi orang banyak. Dengar Mira, aku letih, ingin istrahat dan bermesraan
denganmu. Aku begitu kangen. Aku akan mandi lebih dulu lalu kita naik ke atas
ranjang.
Mirasani hanya bisa mengangguk.
“Besok…..pagi-pagi sekali aku harus pergi ke selatan. Kabarnya banyak
terjadi kejahatan di wilayah itu. ada tokoh silat golongan hitam yang ikut membantu
para penjahat…..”
Peringatan seribu hari meninggalnya Tumenggung Campak Wungu dihadiri
oleh banyak tetamu terutama dari pihak pejabat Keraton termasuk beberapa orang
Pangeran. Di antara para tamu yang datang turut hadir hartawan Suto Klebet dan
istrinya berseta puteri mereka Mirasani, istri Pendekar 212 Wiro Sableng. Malam itu
Mira tampak cantik sekali, mengenakan kebaya panjang ungu gelap, kain batik tulis,
sanggul berhias tusuk kundai emas dilengkapi giwang besar serta seuntai kalung emas
berbetuk bunga mawar dengan sebuah permata di tengah-tengahnya.
Selama upacara selamatan berlangsung sepasang mata janda almarhum
Tumenggung Campak Wungu tidak henti-hentinya mengerling pada kalung besar
yang melingkar di leher Mirasani. Begitu upacara resmi selesai, sang janda mendekati
Mirasani dan kedua orang tuanya, bersalam-salaman sambil bicara berbasa-basi.
Suatu saat Sularesmi, begitu nama sang janda berkata pada Mirasani “Anakku
Mira sungguh bagus kalung emasmu. Di mana kau membelinya? Ah, jika kau bisa
memberi tahu siapa pembuatnya tentu aku mau membuat yang seperti ini….”
Mirasani hanya tersenyum tersipu. Yang menjawab adalah ibunya “Jeng
Sularesmi terlalu memuji. Kalung itu biasa-biasa saja. Suaminya yang
memberikan….”
“Ah, suami Mira…..” ujar Sularesmi seraya memandang berkeliling seperti
mencari-cari.
“Suaminya tidak hadir jeng Sula. Harap dimaafkan. Dia masih bertugas di
selatan…..”
Sularesmi mengangguk-angguk mendengar penjelasan Rayu Komala itu.
Dua hari kemudian, pada suatu siang, dengan mengendarai sebuah kereta,
janda almarhum Tumenggung Campak Wungu muncul di rumah kediaman hartawan
Suto Klebet, langsung disambut oleh Rayu Komala karena memang saat itu hanya dia
sendiri yang berada di gedung besar itu.
“Tidak memberi kabar terlebih dahulu, tahu-tahu sudah datang berkunjung
sungguh satu kerhormatan besar bagi saya jeng Sula….” Kata Rayu Komala seraya
memeluk tamunya lalu membawanya ke ruangan tamu yang besar dan bagus.
“Apakah jeng Rayu ada baik dan sehat-sehat….?”
“Berkat doa jeng Sula. Terima kasih. Saya akan menyediakan minuman….”
“Tidak usah repot. Saya hanya sebentar jeng.”
“Ah, kenapa begitu buru-buru…..”
“Kedatangan saya hanya ingin menyampaikan sesuatu.”
“Sesuatu mengenai apa jeng Sula?”
“Menyangkut kalung bunga mawar itu….”
“Kalung bunga mawar…..? Oooo…..maksud jeng Sula kalung yang malam
selamatan itu dipakai oleh puteri saya?”
“Betul sekali.”
“Ah, rupanya jeng Sula selalu mengingat-ingat perhiasan itu…..”
Sularesmi tersenyum lalu berkata dengan suara lebih perlahan seolah-olah
takut ada yang bakal mendengar. “Ketahuilah jeng. Kalung itu sama betul dengan
kalung milik saya yang hilang dua minggu lalu…..”
Paras Rayu Komala serta merta berubah.
“Saya tidak mengerti maksud jeng Sularesmi.”
“Dua minggu lalu rumah kediaman kami dibobol maling. Seorang penjaga
terbunuh. Sekotak perhiasan dan uang emas amblas dari lemari yang dibongkar paksa.
Termasuk kalung emas bunga mawar bertahta permata tunggal itu….”
“Maksud jeng Sula kalung itu….”
“Saya tidak mengatakan bahwa kalung itu adalah milik saya yang hilang. Tapi
di dunia ini saya yakin hanya ada satu kalung seperti itu. jika saya boleh tahu jeng
Rayu, dari mana Mirasani mendapatkan perhiasan itu? Kalau tidak salah kata jeng
Rayu malam itu…. perhiasan itu pemberian suaminya, pendekar gagah bernama Wiro
itu. Betul begitu….?”
Rayu Komala mengangguk. Hatinya tiba-tiba saja menjadi tidak enak di
samping ada rasa malu yang membuat wajahnya menjadi merah.
“Jeng Rayu….” Kata Sularesmi. “Saya tidak menyangka apalagi menuduh
yang bukan-bukan. Hanya saya ingin jeng Rayu membantu saya mencari tahu dari
mana asal muasalnya perhiasan itu…..”
“Menurut Mira ketika suaminya menghadiahkan perhiasan itu, suaminya
menyebut perhiasan itu adalah hadiah dari hartawan di Tegalrejo yang pernah
ditolongnya…..”
“Tegalrejo daerah tandus. Tak ada seorang hartawanpun diam di sana!” kata
Sularesmi pula.
Semakin beubah wajah Rayu Komala, semakin tidak enak hatinya.
“Jeng Rayu….” Kata Sularesmi sambil memegang lengan perempuan itu.
“Mungkin saya keliru besar. Anggap saja saya tidak pernah datang kemari. Lupakan
semua pembicaraan kita barusan. Saya mohon diri….” Lalu janda Tumenggung itu
cepat-cepat berdiri.
Ketika suatu malam Mirasani menuturkan peremuan Sularesmi dengan ibunya
yang menyangkut kalung emas bermata berlian itu, sesaat Pendekar 212 Wiro
Sableng tampak berubah wajahnya. Namun di lain kejap dia tertawa lebar dan berkata.
“Ada ujar-ujar di dunia ini Mira. Ujar-ujar itu mengatakan Jika kita tidak
punya maka kita akan dihina. Tapi jika kita punya maka kita akan difitnah! Itulah
agaknya yang terjadi pada diriku. Aku ingin membahagiakan istri sendiri dengan
hadiah berupa perhiasan. Tapi orang lain menuduh dan memfitnah yang bukanbukan….”
“Menurut ibu, janda Tumenggung itu sama sekali tidak menuduh ataupun
memfitnah….”
IZRO'IL
Topeng Buat Wiro Sableng


“Lalu apa maksudnya datang kemari dan sengaja menebarkan cerita tak masuk
akal itu. Apa cuma dia yang meiliki perhiasan di dunia ini? Jelas dia hendak
memecah belah rumah tangga kita. Memberi malu pada diriku! Perempuan macam
apa janda Tumenggung itu!”
Mirasani terdiam beberapa lamanya. Lalu dia bekata “Ada baiknya kangmas
memberi penjelasan beserta bukti-bukti pada janda Tumenggung itu mengenai asal
usul perhiasan itu. kalau perlu pergi bersama hartawan yang kata kangmas
menghadiahkan sekotak perhiasan dan uang itu…”
Wiro menggeleng. Tinjunya yang terkepal diletakkan di atas meja.
“Dia telah memberi malu diriku! Menghina dan merendahkan. Memberi malu
pada dirimu juga! Memberi malu seisi rumah ini! Aku tidak akan menemuinya,
apalagi membawa hartawan itu dan bicara padanya! Ambil kotak berisi perhiasan dan
ringgit emas itu Mira! Aku akan melakukan sesuatu menurut caraku sendiri!”
“Apa yang akan kangmas lakukan?!” tanya Mirasani cemas.
“Kau tak usah kawatir istriku! Aku akan melakukan sesuatu yang dapat
menghapus malu besar yang dicorengkan perempuan tak berbudi itu! Di mana kotak
itu kau simpan. Ambil dan bawa kemari. Jangan ada yang kurang isinya!”
Mau tak mau Mirasani pergi juga mengambil kotak kayu yang diminta Wiro
Sableng itu.
Keesokan paginya terjadi kehebohan yang menggegerkan di rumah kediaman
almarhum Tumenggung Campak Wungu. Seorang pelayan menemukan Sularesmi
telah jadi mayat, menggeletak di atas lantai kamar tidur. Ada bekas cekikan pada
lehernya. Perempuan yang malang ini mati dengan lidah agak terjulur dan mata
mendelik. Di atas lantai dekat jenazahnya tergeletak, tampak kotak kayu berukir berisi
perhiasan dan ringgit emas. Pada dinding kamar yang putih bersih tertera besar-besar
tiga deretan angka : 2 1 2.

LIMA
Ki Demang Juru Gampit merapikan jubah putihnya lalu mengambil buntalan kecil
yang ada di atas balai-balai. Dia berpaling pada anak lelaki berusia sekitar dua belas
tahun yang duduk di sudut rumah dan berkata “Kaiman, aku pergi sekali ini cukup
lama. Jaga rumah ini baik-baik dan jangan lupa berlatih terus. Jika kau rajin pasti kau
akan menguasai seluruh kepandaian yang kuberikan. Seperti pandainya kakakmu
yang bernama Mirasani itu….”
“Ucapan itu akan saya perhatikan kek. Sebetulnya ingin sekali saya ikut
bersama kakek. Ingin bertemu dengan kakak seperguruan yang kabarnya cantik sekali
itu…..”
Ki Demang tersenyum. “Belum saatnya muridku. Suatu ketika kau pasti akan
bertemu dengannya. Apakah kudaku sudah kau siapkan….?”
“Sudah kek. Hai….betulkan kakak Mirasani itu mempunyai seorang suami
yang gagah perkasa. Memiliki ilmu silat dan kesaktian luar biasa? Bergelar Pendekar
Kapak Maut Naga Geni 212…..?”
Ki Demang Juru Gampit mengangguk. “Begitu yang kudengar. Aku sendiri
belum pernah bertemu muka. Namun nama besarnya menjulang setinggi gunung
Merapi. Itulah sebabnya aku berhasrat menyambangi muridku. Bisa bertemu dengan
Mirasani dan berjumpa dengan suaminya. Aku pergi sekarang Kaiman. Jaga rumah
baik-baik. Jangan lupa sembahyang!”
Habis berkata begitu Ki Demang menuruni tangga kayu rumah kayu
sederhana yang terletak di puncak bukit itu. langkahnya tetap dan tegap ketika menuju
pohon di mana kudanya ditambatkan. Tetapi langkah ini serta merta tertahan ketika
memandang ke depan dia melihat di atas kuda miliknya yang masih tertambat di
pohon tampak duduk seorang pemuda berpakaian putih berikat kepala putih,
berambut gondrong dan sebatang rokok terselip di sela bibirnya.
Setelah pandangi pemuda tak dikenalnya itu beberapa ketika maka Ki
Demangpun menegur.
“Anak muda, enak sekali dudukmu di atas punggung kudaku. Siapakah
dirimu….?”
“Apakah aku berhadapan dengan orang tua bernama Ki Demang Juru
Gampit?” Pemuda yang di tanya bukannya menjawab malah balik bertanya.
Dengan sabar si orang tua menjawab “Benar. Kau tidak salah. Aku adalah Ki
Demang Juru Gampit. Kau datang sengaja mencariku!”
“Aku Wiro Sableng. Bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Murid
Sinto Gendeng dari gunung Gede!”
“Astaga!” kagetlah Ki Demang Juru Gampit. “Aku justru tengah bersiap-siap
untuk menyambangimu dan muridku! Tahu-tahu kau muncul di sini! Sungguh senang
hatiku bertemu dengan Wiro….” Meski mulutnya berkata senang tapi hati si orang tua
merasa tidak senang melihat tindak tanduk dan cara bicara si pemuda yang dilihatnya
tidak sopan, berbau kurang ajar.
“Turun dari kuda itu. mari masuk ke rumah agar kita bisa berbincang-bincang.
Mungkin kita bisa bersama-sama menuju tempat kediaman kau dan istrimu….” Ki
Demang mengundang.
Wiro cabut rokok yang terselip di sela bibirnya lalu mencampakkannya ke
tanah. Sekali bergerak saja dia sudah melompat dan turun ke tanah.
“Ki Demang, aku kemari bukan untuk berbincang-bincang….”
“Kalau begitu….. Apa yang bisa kulakukan . Langsung saja sama-sama pergi
saat ini?!”
Wiro gelengkan kepalanya. Sepasang matanya memandang tak berkesip pada
orang tua itu. Mulutnya membuka dan meluncurlah ucapannya “Aku datang untuk
membunuhmu!”
Ki Demang Juru Gampit sesaat terkesiap lalu terdengar gelak tawanya
berderai.
“Ada-ada saja kau ini Wiro. Kau sadar apa yang kau ucapkan barusan? Pasti
kau bergurau!”
“Mengenai urusan kematian, aku tidak pernah bergurau Ki Demang….” Jawab
Wiro sambil menyeringai dan garuk-garuk kepalanya.
“Eh, orang satu ini tampaknya memang tida bergurau….” Kata Ki Demang
Juru Gamp[it dalam hati. Maka diapun memancing. “Soal kematian anak manusia
adalah di tangan Tuhan. Kalau hari ini memang takdirku sampai umur, aku akan
menerima dengan pasrah. Hanya saja ingin kutanyakan alas an apa yang membuatmu
muncul sebagai malaikat pencabut nyawa?”
Wiro tertawa bergelak. “Kalau kau tanya soal alasan, jawabannya bisa seribu
satu orang tua. Apakah kau sudah bersiap untuk mati…..?”
“Aku sudah siap sejak tadi anak muda! Aku mempunyai firasat kau
sebenarnya bukan….”
Sebelum Ki Demang menyelesaikan kalimatnya Pendekar 212 Wiro Sableng
telah menyergapnya dengan serangan. Tak bisa berbuat lain Ki Demang Juru Gampit
segera menghadapi serangan itu dengan tenang. Mula-mula dia bertahan sampai dua
jurus. Pada jurus ketiga guru Mirasani ini mulai balas menyerang. Inilah yang
ditunggu Wiro Sableng. Matanya yang tajam memperhatikan gerakan lawan,
meredam dan meniru gerakan itu sambil menyebutkan jurus yang dikeluarkan si
orang tua. Ki Demang Juru Gampit tidak kaget melihat lawan bisa menyebut dan
mengenali jurus-jurus yang dimainkannya. Karena pastilah semua itu diketahui Wiro
dari istrinya. Tetapi orang tua ini merasa kaget sekali ketika dilihatnya Wiro Sableng
balas menyerang dengan jurus-jurus ilmu silat yang diciptakannya sendiri! Dan
celakanya jurus-jurus serangan yang dilancarkan lawan ternyata lebih ganas dan
disertai aliran tenaga dalam tinggi hingga orang tua itu terdesak hebat!
“Luar biasa! Tak bisa dipercaya!” kata Ki Demang Juru Gampit dalam hati.
“Terpaksaaku mengeluarkan kesaktian!” Namun orang tua ini tak mendapat
kesempatan untuk mengeluarkan pukulan-pukulan saktinya karena serangan lawan
datang tiada henti seperti curahan hujan!
“Jurus Alu Besi Membobol Lesung!” teriak Wiro dan tiba-tiba sekali tangan
kirinya meluncur menembus pertahanan Ki Demang.
Ki Demang Juru Gampit melihat jelas datangnya serangan itu. dia menangkis
dengan menghantamkan lengan ke atas. Tapi kalah cepat. Jotosan Pendekar 212 Wiro
Sableng melabrak dadanya denga keras. Orang tua ini terpental, jatuh terlentang di
tanah. Tulang dadanya remuk. Dua tulang iganya ikut patah!
Melihat hal ini Kaiman murid Ki Demang yang sejak tadi menyaksikan
pertempuran berteriak marah dan berlari ke arah Wiro sambil mengacungkan tinju.
“Manusia jahat tak berbudi! Aku akan membalas apa yang kau lakukan
terhadap guru!”
Wiro berpaling dan menyeringai.
“Bocah tolol! Jadi kau muridnya tua bangka ini! bagus! Guru dan murid akan
kubunuh bersama!”
Mendengar ucapan Wiro dan melihat sorotan mata pendekar itu Ki Demang
maklum apa yang bakal terjadi. Maka diapun berteriak “Kaiman! Lari…. Lekas lari!
Selamatkan dirimu! Dia bukan tandinganmu!”
Sesaat anak berusia dua belas tahun itu hentikan langkahnya. Tapi bila
dilihatnya darah yang mengucur di sela bibir gurunya, amarahnya memuncak kembali.
Dia tidak takut terhadap Wiro. Dia rela mari bersama gurunya.
“Kaiman! Dengar ucapanku! Lari! Lekas lari!”
“Muridmu hanya akan lari ke neraka Ki Demang!” ujar Wiro. Lalu dia
melompat untuk menyergap anak itu. Ki Demang Juru Gampit kumpulkan sisa
kekuatannya, melompat dan menangkap salah satu kaki Wiro Sableng hingga kedua
orang itu kemudian sama-sama jatuh bergulingan. Dengan satu sentakan keras Wiro
lepaskan kakinya dari cengkeraman orang. Saat itu dilihatnya anak lelaki tadi tak ada
lagi di situ. Dengan geram Wiro melangkah mendekati Ki Demang. Orang tua yang
dalam keadaan tak berdaya itu kerahkan tenaga dalamnya. Tangannya bergetar.
Mulutnya berkomat-kamit membaca sesuatu. Begitu Wiro datang lebih dekat Ki
Demang hantamkan tangan kanannya!
Wuut!
Angin berwarna kebiruan menderu, menghantam deras ke arah Wiro. Terasa
hawa dingin menggidikkan. Pendekar 212 cepat melompat ke samping. Dari samping
dia balas menghantam dengan pukulan tangan kanan. Tampak cahaya putih
berkilauan. Udara panas menebar. Cahaya itu laksana tombak raksasa menderu
menghantam tubuh Ki Demang.
Orang tua itu terpekik. Tubuhnya sebelah bawah hangus. Gerahamnya
bergemelatakan menahan sakit.
“Pukulan Sinar Matahari….” Desisnya. Dia sudah lama mendengar kehebatan
pukulan sakti itu. Siapa menduga kalau hari itu dia akhirnya menemui ajal dengan
pukulan itu. Setelah mengerang panjang Ki Demang Juru Gampit tampak tak
bergeming lagi. Nafasnya melayang sudah!

ENAM
Pesantren Tunggul Kencono merupakan pesantren paling besar di Jawa Tengah
pada masa itu. Ratusan muridnya bermukiMn di kaki gunung Sumbing, dekat sebuah
lembah yang subur.
Saat itu baru lepas Maghrib dan anak-anak murid pesantren tengah bertadarus
mengaji di bangsal besar bangunan induk sambil menunggu saat sembahyang Isya.
Kiai Bangil Menggolo pimpinan pesantren duduk di tengah bangsal. Kedua
matanya terpejam sedang tangan kanannya memegang tasbih. Walau dia tengah
berzikir khusuk namun telinganya yang tajam senantiasa dapat mendengar bacaan
murid-muridnya yang salah maka sang kiai memberi tahu kesalahan itu dan meminta
si murid mengulang kajinya sampai betul.
Di antara ramainya gema suara para murid mengaji tiba-tiba terdengar suara
kraak yang disusul oleh patahnya tiang bangsal di ujung kanan serta miringnya atap
bangsal di bagian itu!
Suara para murid yang mengaji serta merta sirap. Semua kepala dipalingkan
ke arah tiang yang patah dan semua mata ditujukan pada sosok tubuh seorang pemuda
berambut gondrong, mengenakan pakaian putih yang tegak berkacak pinggang di
bawah atap yang miring.
Kiai Bangil Menggolo terus saja duduk bersila dan berzikir seolah-olah sama
sekali tidak terpengaruh atau terganggu oleh apa yang terjadi namun sebenarnya
semua keadaan yang berubah itu tidak lepas dari mata hatinya.
“Apa yang terjadi….?” Sang Kiai bertanya.
“Seorang pemuda tak dikenal memukul patah tiang bangsal!” salah seorang
murid menjawab.
Perlahan-lahan sepasang mata Kiai Bangil Menggolo terbuka dan langsung
beradu pandang dengan pemuda berpakaian putih berambut gondrong yang tegak
dekat tiang bangsal yang patah.
“Anak muda, betulkah kau yang mematahkan tiang itu?” bertanya Kiai Bangil
Menggolo. Suaranya datar dan tenang.
“Memang aku yang melakukannya!” menjawab si pemuda dengan tandas,
pongah dan jelas bernada menantang.
“Hemmm….” Kiai Bangil Menggolo bergumam dan angguk-anggukkan
kepalanya beberapa kali.
“Apa salah tiang itu hingga kau memukulnya sampai patah dan
merusakbangunan kediaman kami?!”
Yang ditanya menyeringai lalu menjawab “Tiang itu memang tidak punya
salah! Tapi pimpinan pesantren Tunggul Kencono ini yang punya salah dan dosa
besar!”
Semua anak murid pesantren terkesiap mendengar ucapan si gondrong tak
dikenal itu.
Setelah mengusap janggut putihnya beberapa kali Kiai Bangil Menggolo lalu
berucap “Yang namanya manusia itu tak akan pernah luput dari dosa dan kesalahan.
Tapi apakah kau bisa mengatakan dosa dan kesalahanku, anak muda?”
“Kua diketahui berkomplot dengan pemberontak di daerah timur untuk
merebut tahta, menghancurkan Kerajaan!” jawab si pemuda.
“Masya Allah!” berucap Kiai Bangil Menggolo. “Menuduh tanpa bukti sama
saja dengan memfitnah. Selama bertahun-tahun aku tak pernah meninggalkan
pesantren. Selama bertahun-tahun aku tak pernah berhubungan dengan dunia luar.
Bagaimana tiba-tiba saja aku dituduh begitu keji? Berkomplot dengan kaum
pemberontak!”
“Untuk menyatakan tuduhan saat ini tak perlu aku membawa segala macam
bukti. Karena semua bukti sudah berada di tangan Sri Baginda!”
“Kalau begitu, apakah kau utusan Sri Baginda? Alat Negara?”
“Bukan hanya sekedar utusan Kiai! Tapi sekaligus membawa perintah untuk
menghukum matimu saat ini juga!”
Mendengar kata-kata si pemuda, puluhan murid pesantren serta merta berdiri
dengan sikap siap melindungi pemimpin mereka bahkan kalau perlu meringkus
pamuda tak dikenal itu. Perlu diketahui pesantren Tunggul Kencono adalah pesantren
di mana para murid belajar berbagai ilmu agama serta dakwah. Sama sekali tidak
mengajarkan ilmu silat apalagi segala macam kesaktian. Namun demikian melihat
pimpinan mereka berada dalam ancaman, para murid pesantren menjadi marah dan
bersiap-siap untuk menjaga segala kemungkinan. Melihat hal ini Kiai Bangil
Menggolo cepat memberi isyarat, menyuruh muridnya tenang dan duduk kembali.
“Anak muda,” kata Kiai Bangil Menggolo seraya berdiri dari duduknya. “Jika
Kerajaan ingin menangkap seseorang apalagi hendak menjatuhkan hukuman, terlebih
dulu orang itu dibawa kepersidangan pengadilan. Dia akan ditangkap dengan surat
resmi bercap Kerajaan. Dan yang membawa surat penangkapan itu paling tidak
adalah sejumlah perajurit berseragam resmi, bersenjata lengkap! Kau datang seorang
diri seperti gelandangan tak tahu juntrungan. Siapa sebenarnya kau ini, anak muda?!”
Si gondrong tampakberubah wajahnya mendengar kata-kata Kiai Bangil
Menggolo itu. namun kemudian dia keluarkan suara tertawa bergelak.
“Kalau ingin tahu siapa aku, dengar baik-baik Kiai! Namaku Wiro Sableng!
Murid tunggal Eyang Sinto Gendeng dari puncak gunung Gede. Bergelar Pendekar
Kapak Maut Naga Geni 212!”
Mendengar keterangan si pemuda terkejutlah Kiai Bangil Menggolo.
“Nama besarmu memang sudah lama kudengar. Akupun pernah berbincangbincang
dengan gurumu dalam suatu pertemuan beberapa tahun yang silam. Aku
yakin ada kekeliruan….”
“Aku yakin tidak ada kekeliruan!” memotong Wiro Sableng. “Apakah kau
sudah siap untuk mati?!”
Wiro Sableng turunkan tangan kanannya yang sejak tadi bertolak pinggang.
“Kiai!” puluhan murid pesantren berseru tegang dan tanpa depat dicegah
mereka sudah mengelilingi Kiai Bangil Menggolo, menghadap ke arah si pemuda
dengan pandangan beringas.
“Semua mundur!” seru Kiai Bangil. “Tak ada yang perlu ditakutkan!” orang
tua itu lalu mendorong murid-muridnya ke samping sambil melangkah ke arah Wiro
berdiri. Saat itu tiba-tiba Wiro Sableng pukulkan tangan kanannya ke depan sereaya
berteriak “Kiai Bangil! Ajalmu sudah sampai! Terima pukulan Sinar Matahari ini
sebagai hukumanmu!”
Sinar putih menderu dari tangan kanan Wiro. Kiai Bangil terpental dua
tombak, jatuh ke lantai bangsal dalam keadaan hangus sekujur badannya!
Anak murid pesantren yang puluhan orang itu berpekikan. Sebagian memburu
ke arah guru mereka, sebagian lagi melompat ke arah Wiro. Tapi pemuda itu telah
lenyap!

TUJUH
Pagi cerah, langit bersih membiru, sang surya bersinar lembut. Embun masih
tampak melekat di dedaunan. Dalam udara segar itu di kejauhan terdengar suara orang
bersiul. Keras tetapi entah membawakan lagu apa. Tiba-tiba suara siulan itu lenyap
ketika dari berbagai arah terdengar suitan keras saling bersahutan. Orang yang bersiul
pertama tadi hentikanlangkahnya dan memandang berkeliling. Suara suitan terdengar
lagi berulang kali, jelas saling bersahut-sahutan seperti memberi suatu tanda.
Orang yang tadi bersiul kembali memandang berkeliling. “Aneh! Suitan
seperti itu biasanya tanda-tanda yang dibuat oleh orang-orang persilatan! Agaknya
ada sesuatu terjadi di sekitar sini!” begitu orang ini membatin sambil menggarukgaruk
kepalanya yang gondrong. Ketika suara suitan-suitan lenyap. Si gondrong siap
melanjutkan perjalanan, namun langkahnya tertahan ketika tiba-tiba pula kembali
terdengar suara suitan bersahut-sahutan, lebih keras tanda lebih dekat dan lebih riuh
tanda lebih banyak.
“Edan! Ada apa ini! suitan itu keras menggetarkan gendang-gendang telinga!
Suitan yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi!” si gondrong tepuk-tepuk
telinganya.
Terdengar suara bergemirisik. Si gondrong cepat membalik. Dari sebatang
pohon besar melayang turun sesosok tubuh. Yang muncul ternyata seorang tua renta
berjanggut putih sampai ke dada. Dia membawa dua bumbung bambu. Satu dipanggul
satunya lagi ditenteng. Melihat orang tua ini si gondrong cepat-cepat menubruk dan
jatuhkan diri seraya berkata “Dewa Tuak. Sungguh pertemuan yang tidak didugaduga!
Ah, kau tidak seperti tambah tua! Tak pernah tambah tua! Luar biasa!”
Si orang tua tertawa tapi si gondrong melihat ada sesuatu tersembunyi di balik
tawa itu.
“Pendekar 212 Wiro Sableng! Aku senang bertemu denganmu! Hanya saja
keadaan hari ini tidak terlalu menggembirakan. Berdirilah….”
Si gondrong yang ternyata Pendekar 212 Wiro Sableng berdiri perlahan.
“Dewa Tuak, apakah kau sehat-sehat saja….?”
“Aku sehat dan baik,” jawab si orang tua yang disebut dengan gelar Dewa
Tuak itu, yang merupakan seorang tokoh silat sangat disegani. “Apakah kau juga
baik-baik?”
“Aku sehat, segar bugar!” jawab Wiro seraya mengacungkan kedua tangan
tinggi-tinggi dengan jari terkepal.
“Syukur kalau begitu. Tapi sehat tubuhmu tidak sehat bagi banyak orang lain.
Dunia persilatan telah geger oleh tindak tandukmu!”
“Apa maksudmu Dewa Tuak….?” Wiro Sableng terkejut mendengar ucapan
Dewa Tuak.
“Kau masih bisa bertanya Pendekar 212? Bertanya setelah apa yang kau
lakukan, setelah segala sesuatunya terlambat karena saat ini lebih dari setengah lusin
tokoh silat telah mengurung tempat ini! Siap untuk membantaimu?!”
Wiro memandang berkeliling. Astaga! Apa yang dikatakan Dewa Tuak
ternyata tidak dusta. Di sekelilingnya tampak tegak tujuh orang, memandang tak
berkesip ke arahnya. Beberapa di antaranya orang-orang itu dikenalnya. Yang
pertama adalah seorang kakek yang mata kirinya picak. Wiro kenal sekali dengan
orang tua ini yaitu Lor Gambir Seta, murid tokoh silat nomor satu Si Raja Penidur.
Yang kedua juga seorang kakek bertubuh tinggi langsing, dikenal dengan gelar
Malaikat Tangan Besi Dari Puputan, merupakan tokoh paling ditakuti di kawasan
timur. Orang yang ketiga seorang nenek bermata juling, mencekal arit di tangan kiri.
Wiro ingat pernah bertemu dengan perempuan tua ini sebelumnya tapi lupa entah di
mana. Orang keempat seorang pemuda berwajah tirus, memegang tongkat besi di
tangan kiri, seorang sahabat yang dikenal Wiro dengan gelar Pendekar Besi Hitam.
Yang kelima seorang lelaki bertubuh kekar bertelanjang dada bermuka angker karena
penuh cambang bawuk dan guratan bekas luka di kedua pipinya. Wiro tak kenal
manusia satu ini.
Orang yang keenam berdiri di bawah sebatang pohon, berpakaian serba hitam.
Wajahnya tidak kelihatan karena tertutup caping bambu. Tapi dari hulu golok
berbentuk kepala harimau yang tersisip di pinggangnya, murid Sinto Gendeng segera
mengenalnya yakni seorang tokoh silat dari kawasan barat bernama Menak Jalantra,
bergelar Harimau Pemakan Jantung. Orang yang terakhir seorang nenek bermuka
garang. Rambutnya putih jarang, kepalanya hampir sulah. Dia mengenakan jubah
putih dekil penuh tambalan dan memegang sebuah kaleng rombeng yang sudah
karatan “Pengemis Hantu….” Desis Wiro Sableng ketika mengenali nenek berwajah
angker seperti hantu itu. Dia tahu betul semua orang yang ada di situ adalah tokohtokoh
silat golongan putih, satu aliran dengan dirinya sendiri. Tetapi mengapa semua
mereka memandang dengan air muka yang menunjukkan permusuhan. Sementara
Dewa Tuak dilihatnya beberapa kali menarik nafas panjang.
“Dewa Tuak…. Ada apa ini sebenarnya?” tanya Wiro Sableng. “Aku
mencium hawa pembunuhan….”
Dewa Tuak kembali menghela nafas dalam-dalam lalu membuka mulut. “Aku
tak kuasa menjawab pertanyaanmu, Wiro. Biar para tokoh itu saja ang memberi
tahu….”
Lor Gambir Seta maju selangkah. “Empat bulan yang lalu kau membunuh
Kiai Bangil Menggolo. Orang tua itu masih keponakan guruku si Raja Penidur. Guru
menugaskanku untuk meminta pertanggung jawabmu….”
“Aku membunuh Kiai Bangil Menggolo….?!” Wiro kaget besar dan gelenggelengkan
kepala. Ketika dia hendak membuka mulut kembali, Malaikat Tangan Besi
Dari Puputan seudah lebih dulu memotong.
“Tujuh bulan lalu kau membunuh sahabatku Ki Demang Juru Gampit!
Nyawanya adalah nyawaku juga! Jika kau membunuhnya maka aku minta kau
membunuhku sekalian!”
“Hai! Apa-apaan ini?! Dua orang menuduhku yang bukan-bukan…..!” seru
Wiro.
IZRO'IL
Topeng Buat Wiro Sableng


Pemuda berwajah tirus maju dua langkah dan tancapkan tongkat besi
hitamnya ke tanah. “Aku Pendekar Besi Hitam! Delapan bulan silam kau merampok
rumah kediaman bibiku janda almarhum Tumenggung Campak Wungu! Beberapa
minggu kemudian kau membunuh perempuan itu dan terang-terangan meninggalkan
tanda 212 di dinding rumah!”
“Oooladalah!” Wiro garuk-garuk kepalanya dengan kedua tangan. “Tuduhan
keji apalagi yang akan kuterima hari ini….?!” Murid Sinto Gendeng berpaling pada
orang-orang yang belum angkat bicara.
Nenek bersenjata arit ayunkan senjatanya beberapa kali lalu bicara dengan
suara membentak “Kau memperkosa dan membunuh murid tunggalku Sintorukmi!
Deretan angka 212 kau torehkan di sekujur tubuhnya yang telanjang….! Aku akan
menicincang tubuhmu dengan arit ini. Kenalkan diriku Arit Sakti Pencabut Raga!”
“Gusti Allah!” seru Wiro. Hampir jatuh duduk dia mendengar tuduhan itu.
“Memperkosa dan membunuh keji itu tak pernah aku lakukan. Demi Tuhan….!”
“Sumpah pendekar murtad sepertimu siapa yang mau percaya!” satu bentakan
terdengar. Yang membentak adalah lelaki bertelanjang dada yang wajahnya penuh
cambang bawuk dan guratan luka. “Kau membunuh adik kembarku ketika dia
bersama rombongan pasukan Kerajaan mengejar dua tokoh pemberontak di selatan
lima bulan lalu! Jangan berani membantah! Aku sendiri menyaksikan kejadian itu!”
“Mati aku…..! Ya Tuhan urusan gila apa ini semua?!” seru Wiro dengan
mulut bergetar.
Harimau Pemakan Jantung gerakkan tangan kanannya ke pinggang. Sreet!
Golok berhulu kepala harimau terhunus telanjag dari sarungnya.
“Golokku sudah lama tidak minum darah langsung dari jantung! Hari ini kau
akan memberinya minuman, Pendekar 212….?”
“Apa…..apa pula dosaku padamu….?” Tanya Wiro.
“Kau mengobrak-abrik perguruan silatku dua bulan lalu. Membunuh enam
orang muridku. Ingat peristiwa di Lembah Merak Putih….?”
“Lembah Merak Putih?! Mendengarnyapun baru sekali ini, apalagi pernah
datang dan melakukan pembunuhan di tempat itu….!”
Harimau Pemakan jantung tertawa. Suara tertawanya seperti harimau
menggereng!
Wiro berpaling pada orang ketujuh. Nenek sulah bergelar Pengemis Hantu.
“Dan kau nenek….. Apa pula yang hendak kau tuduhkan padaku….?” Tanya Wiro.
“Satu bulan lalu kau merampas satu karung uang hasilku mengemis selama
bertahun-tahun. Uang itu tidak jadi soal bagiku karena mungkin bukan rejekiku. Tapi
kau membunuh serta tiga orang pengemis anak buahku! Menggurat angka 212 di
kening mereka! Keji dan sombong!”
“Jika aku membunuh orang tidak mungkin aku berlaku tolol meninggalkan
tanda yang mudah dikenal seperti itu….!”
“Tolol atau cerdik yang jelas ketololan dan kecerdikanmu berakhir pada
kematian!” jawab si nenek sambil sunggingkan serangai aneh.
“Dewa Tuak!” terdengar suara Lor Gambir Seta. “Kami ingin tahu di mana
kau berdiri. Kau telah menolong kami mencari pendekar sesat ini. setelah bertemu
apakah kau juga akan turun tangan bersama kami sesuai dengan sumpah ksatria para
pendekar golongan putih? Menegakkan keadilan menghancurkan angkara murka?!”
Dewa Tuak mengeuk tuaknya beberapa kali lalu batuk-batuk. “Aku sudah
tua…. Terlalu tua untuk ikut turun tangan bersama kalian. Kalian bertujuh saja sudah
cukup, biar aku yang bangka ini menjadi saksi kematian seorang sahabat yang sudah
kuanggap anak sendiri. Mati karena perbuatannya yang keji!”
“Jadi kalian semua hendak membunuhku?!” Wiro bertanya sambil
memandang berkeliling.
“Seharusnya tadi-tadi kau sudah menyadari bahwa hari ini ada Pendekar
212!” sahut si nenek bergelar Arit Sakti Pencabut Sukma.
“Kalian semua gila!” teriak murid Sinto Gendeng. Tanpa sadar tenaga
dalamnya ikut mengalir. Akibatnya suaranya terasa menggetarkan tanah. Tujuh orang
tokoh silat terkejut, tapi hanya sesaat. Di lain kejap ke tujuhnya sudah menyerbu, tiga
senjata berkiblat. Empat orang menyerang dengan tangan kosong. Dalam keadaan
seperti itu tangan kosong bisa membunuh lebih cepat dari pada senjata!
Murid Eyang Sinto Gendeng berseru keras. Kedua kakinya dijejakkan ke
tanah. Tubuhnya melesat setinggi dua tombak ke udara.
“Ke langitpun kau lari kami kejar!” teriak Arit Sakti Pencabut Raga seraya
susul melompat dan babatkan senjatanya ke arah dua kaki Wiro. Pendekar 212
terpaksa membuang diri berjumpalitan ke kiri. Tapi dari jurusan ini menderu lengan
besi Malaikat Tangan Besi Dari Puputan, mencari sasaran di batok kepalanya. Wiro
lepaskan pukulan Orang Gila Mengebut Lalat. Malaikat Tangan Besi merasakan
tangannya bergetar dan tubuhnya hampir terjengkang ketika angin sakti melabrak
lengan dan sebagian tubuhnya. Cepat dia turunkan diri ke bawah sementara Wiro saat
itu harus pula menghadapi sambaran golok Harimau Pemakan Jantung yang ganas
sekali menusuk tepat ke arah jantungnya. Di saat yang bersamaan Pengemis Hantu
gerakkan kaleng rombeng berkaratnya ke atas. Sepuluh uang logam menderu mencari
sasaran di tubuh Pendekar 212.
“Mati aku….!” Teriak Wiro dalam hati. Tangan kirinya segera melepaskan
pukulan pertahanan membentengi tubuh yakni Benteng Topan Melanda Samudera.
Pemuda cerdik ini sadar sekali kalau pukulan sakti itu tidak mungkin
menyelamatkannya dari tujuh serangan maut. Maka secepat kilat tangan kanannya
bergerak ke pinggang. Maka berkiblatlah sinar putih menyilaukan di udara pagi yang
cerah itu desertai suara gaungan laksana seribu lebah mengamuk!
“Kapak Maut Naga Geni 212! Awas!” teriak Lor Gambir Seta murid si Raja
Penidur.
Tring….tring….tring….tring…. Empat uang logam yang ditabur Pengemis
Hantu sempat dihantam Kapak Naga Geni 212. Enam lainnya luruh terkena sambaran
angin senjata mustika itu. menyusul suara trang! Kapak sakti beradu badan dengan
golok mustika di tangan Harimau Pemakan Jantung. Kagetlah tokoh silat ini ketika
dia merasakan tubuhnya bergoncang keras hampir terjungkal. Goloknya bahkan
nyaris lepas. Ketika dia meneliti masih untung senjatanya tidak ada yang rompal.
“Kurung yang ketat! Jangan biarkan tukang perkosa, pembunuh dan rampok
ini lolos!” teriak Arit Sakti Pencabut Raga. Di antara semua penyerang nenek ini yang
paling besar dendam kesumatnya terhadap Wiro.
Wiro putar Kapak Naga Geni dengan sebat. Tenaga dalamnya dikerahkan
penuh. Tubuhnya laksana batu karang membendung ombak raksasa. Tampaknya dia
akan sanggup menghadapi badai serangan itu. namun tujuh lawannya adalah tokohtokoh
silat kelas satu yang kepandaian masing-masing rata-rata sama tingginya.
Dikeroyok begitu tupa, meskipun murid Sinto Gendeng sempat menghantam roboh
Pendekar Besi Hitam dengan tendangan kaki kanan hingga pemuda itu pingsan
dengan empat tulang iga patah, namun dalam kecamuk yang luar biasa hebatnya itu
dia tak sempat mengelak atau menangkis bacokan arit si nenek bergelar Arit Sakti
Pencabut Sukma! Bahu kanannya luka besar. Darah mengucur deras. Kapak Baga
Geni 212 terlepas dan jatuh ke tanah! Langsung disambar oleh Harimau Pemakan
Jangtung.
Pendekar dari gunung Gede itu sadar apa artinya ini. dengan tangan kirinya
dia cepat lepaskan pukulan Sinar Matahari yang terkenal dahsyat itu. Tujuh orang
penyerang serta merta menyingkir begiut melihat ada cahaya putih menyilaukan
berkiblat diserta tebaran hawa panas luar biasa. Ketika sinar putih dan hawa panas
sirna tujuh orang yang mengejar sama mengumpat dan memaki. Pendekar 212 telah
lenyap dari tempat itu. Semuanya memandang ke arah Dewa Tuak dan diam-diam
menyesalkan mengapa kakek sakti itu tidak mau turun tangan membantu!

DELAPAN
Kuda coklat itu akhirnya sampai juga ke puncak gunung Gede. “Kita berhenti di
sini Guci. Aku sudah melihat gubuk kediaman guru manusia keparat itu. Kau tunggu
di sini….” Mirasani elus-elus tengkuk kudanya lalu melompat turun. Ketika gubuk
kayu di puncak gunung itu diperiksanya ternyata kosong.
“Keparat! Tak ada siapa-siapa di sini!” maki Mirasani. Saking jengkelnya
hendak ditendangnya pintu gubuk. Namun tiba-tiba saja ada suara menegur.
“Gadis elok, siapa yang kau cari! Mengapa marah-marah dan hendak
menendang pintu gubukku?!”
Mirasani cepat berpaling. Suara itu datang dari atas pohon besar enam langkah
di samping kirinya. Ketika mendongak ke atas tampaklah sesosok tubuh kurus kering
berbaring di atas cabang pohon, seolah-olah tengah bergolek berleha-leha di atas
ranjang. Padahal cabang pohon itu hanya sebesar lengan manusia. Melihat sosok
tubuh yang tergolek di cabang pohon itu Mirasani lantas berteriak “Kau pasti Sinto
Gendeng, guru Pendekar 212 Wiro Sableng!”
Tubuh di atas cabang pohon tampak bergerak bangkit. Dari sikap berbaring
kini tubuh itu duduk berjuntal. Ternyata dia adalah seorang nenek bertubuh tinggi,
berkulit sangat hitam. Tubuhnya boleh dikatakan hanya tinggal kulit pembalut tulang
saking kurusnya. Kekurusan dan kehitaman yang luar bisa ini membuat wajahnya
angker hampir menyerupai tengkorak. Apalagi mukanya dan kedua rongga matanya
sangat cekung sementara rambut dan alis matanya putih. Rambut di kepalanya
sebenarnya tidak dapat lagi dikatakan rambut karena sangat jarang. Anehnya enek
angker ini mengenakan lima buah tusuk kundai terbuat dari perak yang disisipkan
bukan pada rambut tetapi langsung menancap di kulit kepalanya!
“Ada apa kau mencariku?!” si nenek bertanya. Ternyata dia meamng Eyang
Sinto Gendeng. Nenek yang berusia hampir seratus tahun dan merupakan tokoh silat
paling ditakuti karena ketinggian ilmu dan kesaktiannya.
“Siapa bilang aku mencarimu!” jawab Mirasani dengan ketus dan merengut.
“Aku mencari suamiku!”
“Edan! Apa kau kira aku menyembunyikan atau menyekap suamimu di sini?
Kau kesasar atau kurang waras?!”
“Muridmu yang tidak waras! Gila! Busuk! Jahat dan keji!”
“Eh, muridku siapa maksudmu?!” sepasang mata Sinto Gendeng berkilat
tanda si nenek mulai marah.
“Masih bisa bertanya! Siapa lagi kalau bukan si sableng bernama Wiro itu!
apa ada muridmu yang lain?!”
Tubuh yang duduk di cabang pohon tiba-tba saja meluncur ke tanah seolaholah
ada tali penggelantungnya. Begitu sampai di tanah, si nenek bukannya berdiri
tapi duduk menjelepok.
“Mendekat ke sini gadis bermulut sembrono!” ujar Sinto Gendeng seraya
mengoyang-goyangkan jari telunjuknya.
Mirasani hanya mendekat dua langkah.
“Kau mencari muridku atau suamimu?! Bicara yang betul!”
“Muridmu itu ya suamiku itu!”
“Gila! Muridku masih perjaka! Belum kawin! Enak saja kau mengakuinya
sebagai suami!”
“Nenek pikun! Kau tahu apa tentang muridmu! Dia mengawiniku sembilan
bulan yang lalu! Ternyata dia bukan pendekar sejati. Tapi perampok! Pembunuh dan
pemerkosa….”
Plaak!
Satu tamparan mendarat di pipi Mirasani. Gadis ini sampai terpekik. Bukan
karena sakit tapi karena kaget bercampur heran. Si nenek dan dirinya terpisah hampir
tiga langkah dan perempuan tua itu dalam keadaan duduk pula. Bagaimana tangannya
tiba-tiba bisa menampar sejauh itu padahal tubuhnya tidak bergerak barang
sedikitpun!
“Berani kau bicara tak karuan, kupecahkan batok kepalamu!” mengancam
Sinto Gendeng. “Kau telah mengganggu ketenanganku di puncak gunung ini. lekas
pergi dari sini. Tempat ini bukan tempat tamasya orang-orang sinting macammu!”
“Guru dan murid sama sedengnya!” damprat Mirasani.
Tangan kanan Sinto Gendeng kembali berkelebat. Tapi kali ini Mirasani lebih
waspada. Begitu tangan bergerak dia cepat mengelak lalu lancarkan serangan balasan
berupa tendangan ke arah dada si nenek. Yang diserang tertawa mengekeh. “Aku
sudah lama tidak berolah raga! Serang sepuasmu! Cari tempat yang empuk.
Hik….hik….hik….!”
Ketika tendangannya hampir sampai mendadak Mirasani merasa seperti ada
tenaga yang mendorong kakinya sehingga tendangannya tidak mengena. Dia lipat
gandakan tenaganya. Kekuatan yang mendorong berubah berlipat ganda pula.
Akibatnya Mira jadi terpental dan jatuh ke tanah!
“Ah…. kau bukan kawan yang baik untuk berolah raga! Kalau begitu duduk
saja di tanah sana! Dan ceritakan padaku mengapa kau muncul di sini seperti orang
gila. Memaki dan bicara yang bukan-bukan tentang muridku!”
Panas dan marahnya Mirasani bukan kepalang. Cepat dia bergerak bangkit
tapi astaga! Seperti yang dikatakan si nenek dia hanya bisa duduk di tanah seolah-olah
pantatnya menjadi lengket! Betapapun dia berusaha mengerahkan tenaga untuk
berdiri tetap saja dia terduduk begitu rupa! Saking kesal akhirnya Mira hanya bisa
terisak menangis!
“Itu saja kepandaian kaum perempuan! Menangis! Sungguh memalukan!”
mengejek si nenek. “Tubuhmu boleh kaku tapi mulutmu tidak bisu! Ayo katakan
maksud kedatanganmu ke mari!”
“Aku mencari muridmu nek….” Jawab Mirasani sesenggukan. “Sembilan
bulan lalu kami kawin….”
“Sembilan bulan lalu! Lantas apa sekarang kau jadi bunting!
Hik….hik….hik?!”
Mirasani menggeleng. “Kalau sempat aku hamil, rasanya lebih baik mati
saja!”
“Eh, mengapa begitu?!” tanya Sinto Gendeng.
“Aku menyesal menerimanya sebagai suami. Kalau saja aku tidak berkaul,
tidak dikalahkannya dalam pertandingan itu….”
“Tunggu dulu! Kau bilang kau dikawini muridku sembilan bulan lalu!
Betul….?”
“Betul….”
“Muridku si Wiro Sableng itu?!”
Mirasani mengangguk.
“Dusta gila! Muridku betapapun edannya tak akan dia kawin begitu saja tanpa
memberi tahuku seperti anjing kawin di jalanan saja!”
“Kau boleh tidak percaya! Tapi demi Tuhan aku tidak berdusta!” Lalu
Mirasani menuturkan bagaimana asal muasalnya sampai dia kawin dengan Pendekar
212 Wiro Sableng.
“Seribu kali kau berkata aku tetap tidak percaya! Muridku tidak segila itu….”
“Terserah padamu nek. Penuturanku belum habis. Beberapa bulan setelah
kami kawin baru kuketahui kalau dia ternyata seorang perampok dan pembunuh keji!
Salah seorang korbannya adalah guruku sendiri. Ki Demang Juru Gampit!”
“Ah! Ki Demang Juru Gampit katamu?! Dia adalah sahabat lamaku!”
“Dan bukan cuma guruku yang jadi korbannya. Banyak lagi tokoh-tokoh silat.
Bahkan dia juga membunuh Kiai Bangil Menggolo, ketua pesantren Tunggul
Kencono! Merampok! Menculik anak gadis orang lalu memperkosa dan
membunuhnya…..!”
“Tidak…. Muridku tidak akan pernah jadi dajal seperti itu!” teriak Sinto
Gendeng. Tubuhnya yang sejak tadi duduk tiba-tiba saja berdiri. Ternyata nenek itu
tinggi sekali. Setelah berdiam diri sesaat maka Sinto Gendeng ajukan pertanyaan
“Apa maksudmu mencarinya….?!”
“Apalagi kalau bukan membunuhnya! Dia meninggalkan diriku begitu saja!
Membuat malu kedua orang tuaku! Membunuh guruku…..”
“Kalau begitu kau bermaksud hendak membunuh suamimu sendiri?!”
“Dia bukan lagi suamiku, tapi iblis yang harus disingkirkan dari muka bumi!”
jawab Mirasani.
“Keliru…. Kau pasti keliru….” Si nenek gelengkan kepalanya. “Ada yang
tidak beres. Pasti ada yang tidak beres!”
“Kalau ada yang tidak beres, itu adalah muridmu sendiri!” tukas Mirasani.
“Lepaskan diriku dari pengaruh yang membuatku kaku ini!”
Sinto Gendeng tidak acuhkan permintaan orang. Dia mendongak ke langit
seolah-olah merenung. “Kau tidak dapat membunuhnya.