WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Malaikat Maut Berambut Salju
SATU
Gubuk di tengah rima belantara itu tenggelam dalam kesunyian dan kegelapan
malam. Satu pertanda tidak ada orang atau penghuni di dalamnya. Seekor burung
hantu mengepakkan sayapnya di cabang sebuah pohon lalu mengeluarkan suara aneh
menggidikkan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Pada saat itulah lapat-lapat di kejauhan terdengar suara langkah-langkah kaki
kuda. Agaknya binatang ini tidak berlari kencang melainkan berjalan perlahan dalam
kegelapan malam.
Binatang itu sampai di depan gubuk. Penunggangnya ternyata seorang lelaki
dan seorang perempuan. Yang lelaki turun lebih dahulu lalu membantu yang
perempuan. Perempuan ini tampak menggendong sesuatu yang ternyata adalah
seorang bayi terbungkus dalam kain tebal.
“Kau masuklah lebih dulu. Aku akan menyembunyikan kuda ……” berkata
yang lelaki. Suaranya hampir berbisik.
Setelah istri dan anak dalam gendongan masuk ke dalam gubuk, lelaki itu
cepat-cepat menuntun kudanya, membawanya ke satu tempat berpohon dan bersemak
belukar rapat. Kuda itu ditambatkannya pada sebatang pohon. Lalu dia kembali ke
gubuk. Baru saja orang ini sampai di depan gubuk, belum sempat melangkah masuk
tiba-tiba satu bayangan hitam berkelebat. Dilain kejap sosok bayangan ini telah
berdiri di hadapannya. Ternyata seorang kakek bertubuh tinggi kurus tapi bungkuk
hingga bentuk tubuhnya hampir menyerupai huruf L terbalik. Hembusan napas si tua
bungkuk ini menyambar keras dan memerihkan mata. Orang tua ini membuka mulut.
Ucapannya didahului suara bergemeletukkan seperti barisan giginya atas dan bawah
saling bergesekan.
“Mana anak itu!” tiba-tiba si bungkuk membentak.
Bentakan membuat lelaki tadi ketakutan dan bersurut mundur beberapa
langkah. Mukanya tampak pucat.
“Mana anak itu!” kembali si bungkuk menghardik. “Dua kali sudah aku
bertanya! Kalau sampai tiga kali kau tidak menjawab, putus nyawamu Jinggosuwu!”
“An….anak…..anak mana maksudmu. Kau ini siapa orang tua ….?”
“Siapa aku kau tak layak bertanya! Jangan berpura-pura! Yang aku tanya
adalah anakmu! Bayi delapan bulan yang kau beri nama Pandu itu!”
“Pan…. Pandu….?”
Orang tua bungkuk tertawa mengekeh. Lewat mulutnya yang terbuka lebar
tampak gigi-giginya besar-besar dan mencuat panjang.
“Jangan kira aku tidak tahu apa yang kau lakukan bersama istrimu! Kalian
meninggalkan desa Talangwaru dua hari lalu! Melarikan diri dan menyembunyikan
diri di rimba belantara ini!”
“Aku…..aku memang menyembunyikan diri di hutan ini. Tapi….tapi istri dan
anakku tidak ikut!” jawab lelaki bernama Jinggosuwu.
“Hem…..begitu?” si bungkuk tersenyum. “Sekarang di mana anak dan istrimu
itu?”
“Pandu dan ibunya pergi ke rumah orang tuanya di desa Puputan…..”
“Bagus! Kau tahu apa akibatnya ucapan dusta itu?!”
“Aku ….aku tidak berdusta. Aku yang mengantarkan istri dan anakku ke
Puputan. Lalu baru menuju kemari ….”
Bukkk!
Tubuh Jinggosuwu terpental tiga tombak. Dari mulutnya keluar jerit kesakitan.
Tapi tidak hanya jerit kesakitan. Dari mulut itu juga menyemburkan busah bercampur
darah. Jinggosuwu merasakan dadanya seperti dihantam batu besar. Sakit dan susah
bernafas.
Di dalam gubuk, istri Jinggosuwu menggeletar sekujur tubuhnya karena
ketakutan. Bayinya di peluk erat-erat. Dia mendengar jelas suara pukulan. Lalu suara
jeritan suaminya. Lalu kembali terdengar suara membentak dan mengancam.
“Sekali lagi kuberi kesempatan padamu Jinggosuwu! Dimana anakmu…..?”
“Orang tua…… aku sudah bilang padamu. Apa perlunya kau mencari anakku?
Mencari bayi usia delapan bulan itu? Apa urusan dan maksudmu sebenarnya….?”
Praak!
Tidak terdengar suara jawaban keluar dari mulut si orang tua. Yang terdengar
adalah suara hantaman yang membuat rengkah batok kepala Jinggosuwu. Kali ini
tanpa jeritan, sosok tubuhnya yang tadi berusaha bangkit terbanting ke tanah, tak
berkutik lagi. Nyawanya lepas saat itu juga!
Orang tua bertubuh bungkuk meludah ke tanah.
“Manusia tolol!” katanya lalu memandang berkeliling. Waktu dia sampai di
tempat itu tadi memang Jinggosuwu dilihatnya muncul seorang diri. Tanpa kuda,
tanpa istri dan anaknya. Apa benar kedua orang itu tidak diajaknya bersama ke gubuk
persembunyian di dalam hutan itu?
“Aku tidak percaya!” si bungkuk menghentak dan bantingkan kaki kanannya.
Dia memandang ke gubuk di samping kanan. Gelap. Pintu kayunya tertutup rapat.
“Sebelum angkat kaki dari tempat ini aku harus memeriksa gubuk itu!” Lalu
orang tua itu melangkah menuju pintu gubuk. Belum sempat dia mendorong daun
pintu, mendadak ada suara berdesing dan sambaran angin di belakangnya. Secepat
kilat orang tua ini jatuhkan diri, berlutut di depan pintu.
Sebatang pisau hitam bergagang putih melesat di atas kepalanya dan
menancap di daun pintu!
“Manusia pisau terbang keparat! Unjukkan dirimu! Jangan hanya berani
membokong!” bentak si bungkuk marah, lalu putar tubuh dan melompat bangun.
Sejarak sepuluh langakh dari hadapannya, orang tua ini lihat seorang nenek
berambut oanjang tergerai tegak bertolak pinggang. Bajunya yang berwarna hitam
penuh dengan deretan pisau-pisau kecil hitam bergagang putih.
“Pendekar Bungkuk! Jangan terlalu cepat naik darah! Apakah kau tidak
menyadari dunia ini terlalu sempit buat kita berdua jika kau punya jalan pikiran
bahwa seorang bayi calon pendekar agung tidak mungkin dibagi dua?!”
“Perempuan sundal! Masih berani kau muncul di hadapanku!” Orang tua yang
dipanggil dengan gelaran Pendekar Bungkuk keluarkan makian keras.
“Eh ….eh….eh….! Mulut kotormu itu memberikan restu padaku untuk
membunuhmu saat ini juga!”
“Ilmumu tidak setinggi gunung tidak sedalam lautan! Perempuan tua bangka
nenek keriput! Kau boleh menyandang gelar Pisau Maut Tanpa Bayangan! Kau akan
mampus tidak berkubur!”
Nenek berambut panjang tekap mulutnya dengan tangan kiri lalu tertawa
cekikikan.
“Kalau aku mati, memang tak bakal minta kau yang mengubur. Tubuh patah
bungkuk sepertimu itu mana bisa menggali lubang untukku…..!” Si nenek kembali
tertawa cekikikan.
Di dalam gubuk istri Jinggosuwu memeluk bayinya erat-erat. Ketakutan
mencengkam ibu muda ini. Dia hanya dapat mendengar bicara dua orang di luar sana.
Namun dia tahu betul bahaya apa yang mengancam anak lelaki dalam gendongannya
itu. Bersama suaminya dia sengaja melarikan diri ke tempat itu. Ternyata bahaya
besar terus menguntit.
“Kasihan anakku …… Pandu, apa sebenarnya yang ada dalam dirimu hingga
begitu banyak manusia-manusia aneh menginginkan dirimu….” Begitu kata hati si
ibu muda. Dia tidak tahu kalau suaminya telah mati.
Di luar gubuk, dalam kegelapan malam Pendekar Bungkuk keluarkan suara
berkereketan dari dalam mulutnya lalu mendengus.
“Pelajaran masa lau rupanya tidak membuat kau jera! Sungguh tolol! Apakah
cacat panjang di pipi kirimu tidak memberi peringatan padamu….?!”
Ucapan Pendekar Bungkuk membuat si nenek menyeringai. Tangan kirinya
bergerak mengusap pipi kirinya di mana terdapat cacat luka dalam memanjang dari
mata sampai ke dagu melewati pipi. Dua tahun silam dua tokoh persilatan ini pernah
bentrokan lalu terlibat dalam perkelahian selama sembilan puluh jurus. Si nenek kalah
dengan mendapat cidera pada pipinya. Pendekar Bungkuk sendiri mengalami
penderitaan sakit dada selama 40 hari akibat satu jotosan si nenek sempat menggebuk
dadanya. Sejak perkelahian itu kedua orang ini sama-sama mendalami ilmu silat dan
kesaktian masing-masing. Tidak dinyana malam ini mereka bertemu dalam rimba
belantara. Ternyata keduanya memliki maksud yang sama!
“Pendekar Bungkuk, justru mengingat pelajaran masa lalu itulah aku sengaja
menghadangmu di sini! Malam ini aku yang bakal ganti memberi pelajaran. Dan
tentunya berikut bunga tanda terima kasihku. Hik…hik…hik! Aku berjanji kau akan
mati dengan tenang. Bukankah kematian lebih baik bagimu dari pada hidup menderita
selamanya. Apakah anggota rahasiamu sudah mempu menjalankan tugasnya….?
Hik…hik….hik. aku kasihan padamu Pendekar Bungkuk. Tapi malaikat maut jauh
lebih kasihan. Karena itu dia datang menjemputmu malam ini….”
Pendekar Bungkuk memang pernah mendengar sejak dua tahun belakangan ini
bagaimana si nenek yang bergelar Pisau Maut Tanpa Bayangan itu telah sangat maju
ilmu kepandaiannya.
“Perempuan jelek besar mulut. Jika kau mau melupakan anak itu dan pergi
dari sini, aku bersedia mengampuni selembar nyawa busukmu….. Ayo pergilah dari
sini!”
Nenek berambut panjang tergerai tertawa mengekeh.
“Tampaknya kau merubah jalan pikiranmu Pendekar Bungkuk! Kau takut
padaku….? Hik….hik….hik?!”
“Tua Bangka keparat! Siapa takut padamu!” teriak Pendekar Bungkuk.
Tubuhnya yang bungkuk secara aneh menekuk ke bawah hingga kepalanya hampir
menyentuh tanah. Tubuh itu kemudian berjumpalitan dan berguling laksana sebuah
roda-roda, menyambar ke arah si nenek. Inilah jurus serangan aneh bernama
“gelinding kematian”. Jurus inilah yang dulu berhasil mengalahkan si nenek dengan
membuat cacat wajahnya. Tahu keganasan seangan ini Pisau Maut Tanpa Bayangan
cepat melompat ke kiri dan dari sini gerakkan tangan kiri kanannya ke tubuhnya
dimana lusinan pisau hitam bergagang putih tersisip di pakaiannya. Namun gerakan
ini terpaksa dibatalkan karena tubuh lawan yang berguling membuat gerakan berputar
dan tahu-tahu tangn Pendekar Bungkuk sebelah kiri menyembur ke wajah si nenek!
Wuut!
Secara wajar sambaran tangan itu sulit menemui sasarannya karena masih
terpisah cukup jauh. Namun karena bersamaan dengan itu tubuh yang tadi bergulung
tiba-tiba seperti terpental dan tegak kembali, maka jarak yang tadi jauh mendadak
sontak hanya tinggal setengahnya saja!
Si nenek berseru kaget ketika tangan lawan tahu-tahu sudah ada di depan
matanya! Dalam keterkejutan peempuan tua ini tidak kehilangan akal. Kaki kirinya
digebrakkan ke tanah. Tubunya miring ke belakang. Sambaran tangan lawan yang
dapat merobek mukanya lewat hanya sujung jari. Bersamaan dengan itu kaki
kanannya melesat ke depan.
Kini Pendekar Bungkuklah yang tersentak kaget!
Bahaya maut mengancam karena tendangan kaki kanan si nenek mencari
sasaran di selangkangan Pendekar Bungkuk! Kalau si kakek mampu mengelakkan
serangan itu maka tendangan lawan yang tidak menemui sasarannya akan meluncur
menghantam dadanya. Ini bisa terjadi karena bentuk tubuhnya yang bungkuk. Dan
kali ini, jika sampai dadanya kena dihantam lagi untuk kedua kalinya, mungkin dia
akan cacat seumur hidup!
“Perempuan Iblis!” rutuk Pendekar Bungkuk. Dia kerahkan tenaga dalamnya
sepenuhnya pada kedua tangannya. Begitu tendangan lawan hampir sampai ke bawah
perut, dengan cepat Pendekar Bungkuk tangkap pergelangan kaki si nenek. Dia
berhasil melakukan, berhasil menyelamatkan dirinya dari kematian tetapi tendangan
yang sangat keras itu membuat tulang telapak tangan kirinya remuk! Tubuhnya
mental beberpapa langkah. Sebelum sempat mengimbangi diri, lawan di hadapannya
telah menggerakkan tangan ke tubuh lalu wutt….wutt……
Enam pisau hitam bergaganng putih melesat ke arah Pendekar Bungkuk!
“Putus nyawamu Pendekar Bungkuk!” ujar si nenek lalu tertawa mengekeh.
Dalam keadaan jatuh seperti itu Pendekar Bungkuk hantamkan dua tangannya
ke atas. Tapi tangan kirinya yang cidera tidak dapat lagi melepaskan pukulan tangan
kosong yang mengandung tenaga dalam. Karena ketika tenaga dalam menjalar ke
tangan kiri itu, si kakek merasakan telapaknya seperti disengat bara panas. Dia
menjerit kesakitan tapi masih terus memukul dengan tangan kanan, lalu cepat
berguling ke kiri.
Tiga pisau terbang berhasil dipukul mental. Dua lainnya sempat dielakkan.
Hanya pisau ke enam yang tidak mampu dihantam mental ataupun dikelit. Senjata ini
menancap di mata kiri Pendekar Bungkuk dengan mengeluarkan suara menggidikkan!
Pendekar Bungkuk melolong kesakitan. Nenek berambut panjang tertawa
gelak-gelak memandangi wajah Pendekar Bungkuk yang kini tampak berlumuran
darah. Orang ini bangkit terbungkuk-bungkuk. Wajahnya benar-benar mengerikan.
Bukan saja karena darah yang terus mengucur, tapi juga karena pisau yang masih
menancap di mata kirinya!
“Iblis…..! Perempuan Iblis!” suara Pendekar Bungkuk bergeletar oleh hawa
amarah dan penderitaan rasa sakit. “Kau tunggulah pembalasanku kelak….!”
Setelah mengucapkan kata-kata itu Pendekar Bungkuk balikkan tubuh,
tinggalkan tempat itu dengan langkah setengah lari seradak seruduk.
“Ganas sekali nenek itu….” stu suara terdengar berbisik halus di atas sebaang
pohon besar.
“Saatnya kita turun sekarang adikku. Sebelum kedahuluan…..” menjawab
kawan bicaranya yang juga berada di atas pohon.
“Tapi bukankah belum ada tanda-tanda bayi itu berada di dalam gubuk?”
“Itulah sebabnya kita harus turun, menghalangi si nenek ganas dan sekaligus
menyelidik isi gubuk!”
“Kalau begitu katamu, mari!”
DUA
Ternyata di atas pohon dalam rimba belantara gelap itu bersembunyi dua sosok
tubuh. Keduanya merupakan sepasang muda-mudi yang mengenakan pakaian putih
ringkas, memiliki gerakan gesit yang setiap bergerak hampir tidak mengeluarkan
suara.
Mereka turun ke tanah pada saat Pisau Maut Tanpa Bayangan hendak
melangkah ke pintu gubuk.
Dia segera maklum meskipun dua orang di hadapannya itu masih muda-muda
namun jelas mereka merupakan orang-orang persilatan yang tidak memiliki
kepandaian rendah.
Si pemuda menjawab dengan cepat “Kami murid-murid perguruan silat
Teratai Putih dari gunung Lawu! Kakek guru yang bernama Jati Laksono dan
mendapat gelar kehormatan Tumenggung Wiro Sakti dari Kerajaan mengutus kami
untuk menjemput seorang bayi lelaki bernama Pandu!”
“Ah….mereka juga ternyata mempunyai ujuan yang sama! Dua cacing
ingusan ini mungkin tidak perlu ditakuti. Tapi Tumenggung Wiro Sakti dari gunung
Lawu itu harus diperhitungkan baik-baik…..” membatin si nenek. Otaknya yang
cerdik cepat diputar. Maka diapun berkata “Sungguh aneh…. Sepasang muda-mudi
melakukan perjalanan jauh-jauh dimalam buta begini mengatakan mencari seorang
bayi! Seorang bayi di dalam rimba belantara? Hik…hik…hik! Bukankah lebih baik
waktu kalian dihabiskan saja untuk saling bercumbu rayu….?”
“Manusia bermulut kotor!” Yang membentak adalah sang dara. Mukanya
tampak merah dalam gelap. “Kami berdua adalah kakak adik! Sekalipun kami tidak
bersaudara darah, apa yang kau katakan tadi tidak bakalan kami lakukan! Muridmurid
perguruan silat Teratai Putih menjunjung tinggi nama perguruan dan
kehormatan diri!”
“Hemmmm….begitu?” ujar si nenek pula. “Bagus, aku suka pada muridmurid
yang taat dn berbakti pada perguruan serta gurunya. Tapi terus terang
kukatakan adalah tolol kalau kalian mau saja disuruh mencari seoarang bayi dalam
rimba belantara ini! Paling untung kau hanya akan menemukan anak harimau, paling
sial kalian hanya mendapatkan anak kodok alias kecebong! Hik….hik….hik…..!”
“Kami sudah menyelidiki. Anak yang kami cari pasti berada di tempat ini
sebelum matahari terbit. Itu gubuk yang bakal jadi tempat persembunyiannya!”
“Hai, tidak sangka mereka tahu banyak tentang bayi itu….” kata si nenek
dalam hati. “Kalau begitu…..” ujar si nenek. “Kalian kembali saja besok pagi.
Malam-malam begini menyelidiki tentu sulit bagi kalian. Besok biarlah aku ikut
membantu….”
“Tidak, kami tidak akan meninggalkan tempat ini!” jawab si pemuda.
“Dan bukankah kemunculanmu di sini juga mencari anak yang sama?” sang
dara langusng menceploskan ucapannya terang-terangan.
“Apa urusanku disini tidak perlu kalian ketahui atau tanyak. Hanya saja perlu
kuberi ingat, siapapun kalian adanya aku tidak suka kalian berdua ada di tempat ini.
Silkahkan pergi…..”
“Kaulah yang harus pergi! Kau telah melakukan pembunuhan keji terhadap
ayah anak itu! Kau juga yang mencelakai Pendekar Bungkuk dengan lemparan
pisaumu!”
“Hei….jadi kalian berdua sudah sejak tadi mengintip di tempat ini!” si nenek
unjukkan suara dan mimik tidak senang. “Nah….nah! Jika kalian sudah menyadari
betapa nyawa manusia tidak ada artinya bagiku, mengapa tidak lekas-lekas tinggalkan
tempat ini?”
“Kami baru mau pergi setelah menyelidiki lebih dulu ke dalam gubuk itu!”
berkata si pemuda. Sikap dan caranya bicara lebih sabar pada adiknya.
“…..ooooo…..oooo! Gubuk itu di bawah pengawasan dan kekuasaanku! Kalian
berdua tidak punya hak untuk menyelidiki atau memeriksa! Lekaslah pergi. Sayang
kalau terjadi apa-apa dengan kalian yang masih muda-muda ini…..”
“Jika kau melaran, kami terpaksa bertindak! Gubuk itu bukan milikmu! Kami
tahu betul!”
Mendengar ucapan si pemuda, sang nenek jadi marah. Sambil berkacak
pinggang dia berkata “Jika kalian berani bergerak masuk dan memeriksa gubuk,
kalian akan jadi bangkai menemani Jinggasuwu!”
“Adikku, aku akan menghalangi nenek ini jika dia berani mencegahmu!”
Maka dara berpakaian putih ringkas segea melangkah menuju pintu gubuk.
Pisau Maut Tanpa Bayangan sekali berkelebat telah menghadang jalan sang dara.
Tapi tak klah cepatnya, sekali berkelebat pula maka sang pemuda sudah tegak di
hadapan si nenek. Sementara itu gadis adiknya terus melangkah ke pintu gubuk.
Melihat hal ini nenek berambut panjang benar-benar merasa ditantang. Kedua
tangannya kiri kanan membagi pukulan. Satu ditujukan ke arah si pemuda, lainnya
dihantamkan ke si pemudi. Dua rangkum angin dahsyat menderu.
Murid-murid perguruan silat Teratai Putih dari gunung Lawu itu berseru keras
dan berkelebat kelitkan serangan. Perkelahianpun tak dapat dihindari lagi, cepat dan
sebat. Lima jurus berlalu. Meskipun dirinya telah mengecap adam garam rimba
persilatan, memiliki pengalaman luas serta menyandang nama besar namun dugaan si
nenek bahwa dia bakal dapat menggebuk para pengeroyoknya dalam waktu singkat
tidak dapat dilaksanakannya. Ternyata dua cucu Tumenggung Wiro Sakti dari gunung
Lawu itu memiliki tingkat kepandaian yang mengejutkan si nenek. Memang
kenyataan sebenarnya Jalma dan Jalmi demikian nama sepasang kakak beradik itu
merupakan murid-murid di tingkat paling tinggi dalam perguruan. Selain menguasai
ilmu silat luar, mereka juga telah digembleng untuk memiliki ilmu silat dalam berupa
tenaga dalam dan kesaktian.
Si nenek katupkan rahang rapat-rapat ketika menyadari dirinya telah menjadi
bulan-bulanan serangan berbahaya, membuatnya tidak mampu untuk membalas
serangan. Didahului oleh tteriakan keras, perempuan tua ini robah permainan silatnya.
Tubuhnya berkelebat sengat cepat hingga sesuai dengan julukannya, Jalma dan Jalmi
seperti berkelahi menghadapi bayangan. Setiap memukul atau menendang, mereka
hanya menghantam tempat kosong. Kini keadaan jadi berbalik. Dua muda-mudi itu
mulai terdesak.
“Adikku, mari kita keluarkan jurus ke tiga belas. Gabung dengan jurus tujuh
belas!” berbisik Jalma.
“Kau mainkan jurus tiga belas lebih dulu. Aku jurus tujuh belas. Lalu kita
selang seling biar tua bangka ini bingung!” menyahuti Jalmi.
“Kau cerdik! Mari kita serbu!”
Maka kedua muda-mudi itu kembali menyerbu. Jurus tiga belas dan jurus
tujuh belas dari ilmu silat perguruan Teratai Putih adalah jurus-jurus yang saling
bertolak belakang. Jika orang diserang dengan jurus tiga belas, bila dia berhasil
menghindar maka dia akan diserbu dengan jurus tujuh belas yang merupakan lawan
dari jurus tiga belas. Akibatnya lawan menjadi bingung karena setiap gerakan
menghindar atau mengelak yang dilakukannya akan menemui jalan buntu.
Dua jurus mendapat serbuan gerakan-gerakan silat yang aneh ini, si nenek
langsung terdesak hebat. Sepasang tangan lawan mulai berdesir di depan dada dan
wajahnya. Jurus berikutnya satu gebukan mendarat di pinggangnya hingga si nenek
menggerang kesakitan. Gerakannya dipercepat. Sosok tubuhnya kini tidak lagi hanya
merupakan bayangan, tapi hanya berupa desiran angin yang menyambar kian kemari.
Setelah saling gebrak dua jurus, murid-murid perguruan Teratai Putih melihat lawan
secara teratur bergerak mundur menjauh. Jalma maklum apa artinya ini. Dia cepat
memberi ingat adiknya.
“Awas, dia pasti merencanakan untuk mulai melepaskan pisau-pisau
terbangnya, Jalmi. Lekas merangkak maju. Jangan berikan jarak melempar padanya!”
Jalma dan Jalmi melompat menyergap. Tapi si nenek lebih cepat. Dua
tangannya bergerak. Enam pisau kemudian melesat dalam gelapnya malam, hampir
tidak kelihatan. Hanya desingannya saja yang terdengar. Tiga menyambar ke
arahJalma, tiga lagi melesat ke jurusan adiknya. Dua anak murid Teratai Putih ini
tidak sanggup berkelit dan terlambat untuk menangkis.
“Celaka!” keluh Jalma.
Lalu didenganya adiknya menjerit ketika pisau terdepan menancap di bahunya.
Gadis ini terjajar ke samping. Justru ini menyelamatkannya dari dua pisau yang
seharusnya menyambar ke arah dada dan bahu kanannya.