Help - Search - Members - Calendar
Full Version: W I R O S A B L E N G
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
Pages: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14
IZRO'IL
DAFTAR ISI + UPDATE...!!!Click to open spoiler!

Judul Pertama EMPAT BREWOK DARI GOA SANGGRENG sudah pernah di post di room Roman, jd Ane terusin episode berikutnya.

Daftar Judul:
  1. MAUT BERNYANYI DI PAJAJARAN
  2. Dendam Orang-Orang Sakti
  3. KERIS TUMBAL WILAYUDA
  4. NERAKA LEMBAH TENGKORAK
  5. PENDEKAR TERKUTUK PEMETIK BUNGA
  6. Tiga Setan Darah dan Cambuk Api Angin
  7. Dewi Siluman Bukit Tunggul
  8. Rahasia Lukisan Telanjang
  9. Banjir Darah Di Tambun Tulang
  10. RAJA RENCONG DARI UTARA
  11. Pembalasan Nyoman Dwipa
  12. Kutukan Empu Bharata
  13. Sepasang Iblis Betina
  14. Mawar Merah Menuntut Balas
  15. Hancurnya Istana Darah
  16. Lima Iblis Dari Nanking
  17. Pendekar Pedang Akhirat
  18. Pendekar Dari Gunung Naga
  19. Hidung Belang Berkipas Sakti
  20. Neraka Puncak Lawu
  21. Siluman Teluk Gonggo
  22. Cincin Warisan Setan
  23. Penculik Mayat Hutan Roban
  24. Cinta Orang-orang Gagah
  25. Iblis Iblis Kota Hantu
  26. Khianat Seorang Pendekar
  27. Petaka Gundik Jelita
  28. Bencana DI Kuto Gede
  29. Dosa Dosa Tak Berampun
  30. Pangeran Matahari dari Puncak Merapi
  31. Bajingan dari Susukan
  32. Panglima Buronan
  33. Munculnya Sinto Gendeng
  34. Telaga Emas Berdarah
  35. Dewi Dalam Pasungan
  36. Maut Bermata Satu
  37. Iblis Berjanggut Biru
  38. Kelelawar Hantu
  39. Setan dari Luar Jagat
  40. Malaikat Maut Berambut Salju
  41. Badai Di Parang Tritis
  42. Dewi Lembah Bangkai
  43. Topeng Buat Wiro Sableng
  44. Manusia Halilintar
  45. Serikat Setan Merah
  46. Pembalasan Ratu Laut Utara
  47. Memburu SI Penjagal Mayat
  48. Srigala Iblis
  49. Mayat Hidup Gunung Klabat
  50. Raja Sesat Penyebar Racun
  51. Guna-Guna Tombak Api
  52. Kutukan dari Liang Kubur
  53. Pembalasan Pendekar Bule
  54. Misteri Dewi Bunga Mayat
  55. Ratu Mesum Bukit Kemukus
  56. Nyawa Yang Terhutang
  57. Bahala Jubah Kencono Geni
  58. Peti Mati Dari Jepara
  59. Serikat Candu Iblis
  60. Makam Tanpa Nisan
  61. KAMANDAKA SI MURID MURTAD
  62. Neraka Krakatau
  63. Betina Penghisap Darah
  64. Hari Hari Terkutuk
  65. Singa Gurun Bromo
  66. Halilintar di Singosari
  67. Pelangi Di Majapahit
  68. Ki Ageng Tunggul Keparat
  69. Ki Ageng Tunggul Akhirat
  70. Bujang Gila Tapak Sakti
  71. Purnama Berdarah
  72. Guci Setan
  73. Dendam Di Puncak Singgalang
  74. Harimau Singgalang
  75. Ku Tunggu Di Pintu Neraka
  76. Kepala Iblis Nyi Gandasuri
  77. Pendekar Gunung Fuji
  78. Ninja Merah
  79. Sepasang Manusia Bonsai
  80. Dendam Manusia Paku
  81. Dewi Ular
  82. Wasiat Iblis
  83. Wasiat Dewa
  84. Wasiat Sang Ratu
  85. Delapan Sabda Dewa
  86. Muslihat Para Iblis
  87. Muslihat Cinta Iblis
  88. Geger Di Pangandaran
  89. Kiamat Di Pangandaran
  90. Tua Gila Dari Andalas
  91. Asmara Darah Tua Gila
  92. Lembah Akhirat
  93. Pedang Naga Suci 212
  94. Jagal Iblis Makam Setan
  95. Utusan Dari Akhirat
  96. Liang Lahat Gajahmungkur


[Close]



WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212


MAUT BERNYANYI DI PAJAJARAN


SATU
Di bawah terik panasnya matahari di siang bolong itu maka bertiuplah angin kencang dan gersang. Debu pasir di pedataran beterbangan ke udara, memiawat tebal, menutup pemandangan beberapa saat lamanya.
Suara siulan aneh yang melengking-lengking membawakan lagu tak menentu terdengar di lereng bukit di ujung pedataran. Siulan aneh ini seperti mau menerpa dan menumbangkan hembusan angin gersang yang datang dari pedataran.
Tiba-tiba sekali suara siulan aneh ini terhenti!
Sebagai gantinya mengumandangkan suara tertawa mengekeh di seantero bukit. Pemuda berpakaian putih yang ada di puncak bukit saat itu memandang ke samping. Sebelum jelas telinganya menangkap suara tertawa tadi sejenis cairan harum telah melesat ke arahnya. Kalau saja dia tidak cepat-cepat melompat ke belakang pastilah sebagian mukanya kena disambar cairan itu. Cairan yang tak mengenai si pemuda baju putih rambut gondrong ini menghatam pohon besar. Bukan olah-olah hebatnya semburan cairan aneh tadi itu!....
Si pemuda sendiri kejutnya bukan kepalang. Baru saja setengah harian berjalan tahutahu sudah ada orang lain yang inginkan nyawanya! Dia memandang ke arah datangnya semburan cairan aneh tadi. Baru saja dia palingkan kepala mendadak dari atas menderulah ratusan tetes cairan tadi laksana air hujan yang deras ditiup badai!
Pemuda itu berseru nyaring dan hantamkan tangan kanannya ke atas. Ratusan tetes cairan itu muncrat kembali ke atas dan ratusan lagi menyibak ke samping. Daun-daun pohon tembus berlubang-lubang sedang batang-batang kayu seperti kena tusukan paku!
Gelak mengekeh menggema lagi di seantero puncak bukit. Anehnya si pemuda belum juga dapat mencari dengan matanya, manusia yang telah mengeluarkan suara tertawa itu. Padahal jelas dekat sekali kedengarannya.
Hatinya penasaran sekali. Sambil garuk kepala dia memandang berkeliling. Kedua matanya kemudian tertuju lekat-lekat pada sebatang pohon raksasa yang tinggi menjulang ke langit, mungkin lebih dari tiga puluh meter tingginya. Suara tertawa itu datang dari atas pohon tapi orangnya masih tak kelihatan. Mungkin tertutup oleh daun-daun pohon yang lebar-lebar dan lebat.
“Manusia di atas pohon!,” bentak pemuda itu: “Kalau berani buka urusan, berani unjuk diri!” Sehabis berkata begitu pemuda itu pukulkan telapak tangan kanannya ke atas. Serangkum angin yang dahsyatnya laksana topan melanda pohon raksasa itu. Ranting dan cabang berpatahan.
Daun-daun berguguran. Hampir sekejapan mata saja maka pohon raksasa yang menjulang ke langit itu sudah menjadi ranggas gundul!
Dan di puncak batang pohon yang masih utuh kelihatanlah duduk seorang laki-laki tua berselempang kain putih. Karena tingginya pohon itu tampangnya tak kentara betul. Tapi jenggotnya yang panjang sampai ke dada dilihat jelas berkibar-kibar ditiup angin gersang dari pedataran. Pada pangkuannya ada sebuah bumbung bambu yang panjangnya sekira satu meter.
Bumbung bambu seperti itu masih ada satu iagi tergantung di belakang punggungnya. Dan kedua bumbung bambu itu berisi tuak murni yang harum sekali dan lezat rasanya. Tuak itulah tadi yang telah disemburkannya kepada pemuda yang di bawah pohon!
Pukulan tangan kosong si pemuda yang telah meluruhkan cabang-cabang dan daun-daun pohon mau tak mau akan membuat mental si orang tua berjanggut putih diatap pohon. Sekurangkurangnya akan membuat terluka tubuhnya di sebelah dalam. Tapi anehnya saat itu si janggut putih tetap saja duduk enak-enak berpangku kaki di puncak pohon yang gundul itu, bahkan sambil meneguk tuaknya dan tertawa-tawa, seakan-akan tak ada terjadi apa-apa!
Bukan main geramnya pemuda itu. Tapi untuk bertindak gegabah dia tidak mau. Manusia tua di puncak pohon tinggi berjanggut putih dengan dua buah bumbung tuak itu pernah diceritakan oleh gurunya waktu dia masih di puncak Gunung Gede. Dia adalah seorang pendekar sakti dari empat puluh tahun yang lalu jarang memperlihatkan diri dan dia adalah golongan persilatan putih, artinya yang mempergunakan ilmu silat dan kesaktian untuk maksud-maksud baik. Tapi mengapa tadi dia telah mempergunakan tuaknya untuk menyerang adalah tidak dimengerti si pemuda rambut gondrong.
“Orang tua!” seru si pemuda. Bibirnya bergetar tanda ucapannya disertai tenaga dalam agar dapat sampai ke puncak pohon raksasa yang tingginya lebih dari tiga puluh meter. “Kalau aku tidak salah lihat bukankah hari ini aku berhadapan dengan seorang tokoh terkenal di dunia persilatan yang digelari Dewa Tuak?”
Orang tua di puncak pohon elus jenggotnya sebentar, teguk tuak lalu tertawa lagi macam tadi. “Orang muda! Matamu sangat tajam dapat mengenali aku yang sudah delapan puluh tahun ini! Tapi apakah kau mau terima undanganku untuk datang ke puncak pohon ini dan meneguk tuak harum dari Kahyangan bersamaku?” Begitulah. Dewa Tuak menamakan tuaknya dari “kahyangan”. Memang soal rasa dan harumnya tuak itu sukar dicari tandingan.
Si pemuda tersenyum. “Orang tua, kau baik sekali. Hari ini aku ada keperluan mendesak. Mungkin di lain kali aku bisa terima undanganmu.... Terima kasih atas kebaikanmu dan sungguh senang rasanya dapat kenal dengan seorang tokoh persilatan yang selama ini namanya dikenal di delapan penjuru angini”
“Ah, kau keliwat memuji, orang muda,” jawab Dewa Tuak pula. “Aku sudah lihat kau sejak dari ujung pedataran gersang sana. Kutunggu kau sampai kesini. Tapi sampai di hadapanku kau menolak undanganku. Mungkin tuakku ini kurang baik? Tidak harum.. .?”
Si pemuda berpikir sebentar. Agaknya tak menjadi halangan kalau dia menerima undangan Dewa Tuak dan bicara-bicara dengan orang tua itu di puncak pohon. Mulutnya dikatup rapat-rapat, kedua tangan mengembang ke samping dan kedua kaki menghenjot bumi maka laksana seekor elang melayanglah pemuda itu ke puncak pohon. Puncak pohon itu selebar meja bundar luasnya. Meski tidak beranting dan bercabang serta tak berdaun lagi namun ditempat setinggi itu sejuk juga rasanya.
“Aku terima undanganmu. Dewa Tuak,” kata si pemuda seraya duduk disatu bagian yang menonjol bekas patahan cabang pohon.
“He... he... he...,” Dewa Tuak girang sekali. “Memang tak ada ruginya menerima undanganku orang muda. Tuak enak, tempat duduk bagus. Seantero daerah sini bisa kau tihat dengan jelas!”
Memang ketika duduk di atas pohon itu si pemuda dapat melihat pemandangan indah sejauh mata memandang. Dewa Tuak segera ambil salah satu bumbung tuaknya dan memberikannya pada tamunya.
“Kau biasa minum tuak, anak muda?”.
Si pemuda itu menjawab. “Pernah juga”. Padahal seumur hidupnya baru hari itu dia melihat dan membual serta akan merasakan minuman yang bernama tuak itu. Disambutinya bumbung bambu itu dari tangan Dewa Tuak sementara Dewa Tuak mengambil bumbung yang satu lagi dia masih juga berpura-pura menikmati pemandangan sekelilingnya.
“Ayo orang muda, silahkan minum!”. Dewa Tuak memperbasakan: “Kau harus tahu, tuakku tuak murni. Kalau belum biasa nanti kau bisa mabuk atau pusing dan menggelinding dari pohon ini!”
Si pemuda tertawa. Ditempelkannya bibimya ke tepi bumbung bambu. Sedikit saja tuak itu menjalari tenggorokannya maka seluruh badannya menjadi hangat, pemandangannya menjadi jernih sedang pikirannya terasa tenang!
“Bagaimana rasanya?”.
“Tuakmu betul-betul bagus sekali, orang tua. Tak salah kalau kau namakan tuak dari kahyangan!“.
Dewa Tuak tertawa senang.
“Kau ini datang dari mana, anak muda?”.
“Barusan dari Jatiwalu...”.
“Jatiwalu kampung jelek. Banyak rampok...,” kata Dewa Tuak pula. “Dan rampoknya orang situ-situ juga”
Si pemuda berpikir kalau Dewa Tuak tahu apa yang terjadi di Jatiwalu kenapa dia tidak turun tangan?
Dewa Tuak agaknya maklum apa yang terpikir oleh si pemuda. Lantas dia berkata: “Aku malas dan bosan dengan urusan-urusan tengik macam begituan. Karenanya kubiarkan saja apa yang terjadi di kampung itu. Orang kampung sana agaknya tidak mau perduli dengan nasib mereka. Lebih senang ditindas. Nanti keadaan di sana akan baik sendirinya...” Dewa Tuak meneguk tuaknya kembali.
Setelah diam beberapa lamanya bertanyalah si pemuda: “Dewa Tuak, apakah pohon besar ini tempat kediamanmu?”
“Kenapa kau tanya begitu?”
“Karena kalau betul berarti aku yang muda telah turun tangan semena-mena membuat pohon ini jadi gundul begini! Dan aku harus haturkan maaf kepadamu... !”
Dewa Tuak tertawa mengekeh sampai tuaknya berlelehan di tepi mulut.
“Aku senang pada pemuda macammu. Tak percuma satu tahun aku duduk di sini menunggu. Kau cocok buat jodoh muridku!”
Dewa Tuak meneguk tuaknya lagi tapi sambil meneguk matanya melirik pada si pemuda.
Akan tetapi si pemuda tentu saja kagetnya tiada terkira, mendengar ucapan DewaTuak itu. Mukanya merah karena jengah. Rupanya dunia ini terlalu banyak manusia-manusia aneh, pikirnya. Diteguknya sedikit lagi tuak harum dalam bumbung. Kemudian bumbung bambu itu
diserahkannya kepada pemiliknya kembali.
“Dahagaku sudah lepas Dewa Tuak. Tuakmu enak sekali. Aku ucapkan terima kasih dan sekarang aku minta diri untuk meneruskan perjalanan.,..”
“Ah, orang muda, matahari masih belum bergeser, angin masih sejuk dan pemandangan indah masih banyak yang belum kau lihat. Kenapa musti kesusu?”.
Si pemuda tersenyum. “Kurasa sudah cukup. Di lain hari jika ada kesempatan aku yang muda ini pasti akan membalas undangan serta suguhan tuakmu yang enak itu...”.
Dewa Tuak letakkan kedua bumbung tuaknya di pungggung. Ditepuknya bahu pemuda itu. “Kau tak boleh pergi anak muda. Kau musti ketemu dulu dengan muridku. Kau berjodoh dengan dia! Mari kita turun!”.
Dewa Tuak menarik lengan si pemuda dan keduanya loncat turun ke tanah laksana dua ekor burung rajawali. Tapi sampai di tanah si pemuda segera lepaskan tangannya yang dipegang dengan halus. Dia menjura hormat: “Lain kali kita bertemu lagi, Dewa Tuak. Terima kasih atas suguhanmu!”
Tapi baru saja si pemuda berlalu beberapa tombak, tubuhnya sudah terhenti dan tertarik ke belakang kembali. Seutas benang sutera halus telah melilit pinggangnya. Ternyata Dewa Tuaklah yang empunya benang itu dan menariknya.
“Anak muda, aku sudah bilang kenapa buru-buru. Kau belum ketemu dengan muridku... Mari...”
Kalau bukan berhadapan dengan Dewa Tuak mungkin si pemuda sudah keluarkan semprotan memaki. Namun saat itu dengan menahan hati berkatalah si pemuda: “Dewa tuak, kita baru saja berkenalan hari ini. Manusia bodoh dan jelek macam aku ini mana pantas dijodohkan dengan seorang murid pendekar besar macam kau! Masih banyak lain orang yang lebih pantas!”
Pemuda itu hendak berlalu lagi tapi benang sutera halus itu masih juga melilitipinggangnya. Meneliti sutera halus itu si pemuda bukan tak mampu untuk memutuskannya. Tapi dia khawatir itu akan membuat Dewa Tuak tidak bersenang hati. Sementara itu didengarnya Dewa Tuak mengeluarkan Suara suitan aneh.
Sesosok bayangan ungu muncui di hadapan pemuda itu dan nyatanya adalah seorang gadis berpakaian ungu dan berpita ungu. Metihat paras gadis ini mau tak mau pemuda rambut gondrong itu tertarik juga.
“Orang muda? Kau lihat sendiri. Muridku toh tidak jelek?! Bagaimana...?”
Paras si pemuda jengah sekali. Gadis baju ungu lebih lagi. Ditundukkannya kepalanya sampai dagu dan dadanya hampir menempel. “Muridmu memang cantik Dewa Tuak,” kata si pemuda. “Tapi tampangku yang terlalu buruk sehingga tidak cocok! Sebaiknya cari pemuda yang dia sukai sendiri.
Dewa Tuak. Selamat tinggal!” Habis berkata demikian si pemuda sentil benang sutera yang melilit pinggangnya.
Benang itu putus! “Pemuda geblek! Dikasih perawan malahan kabur!,” maki Dewa Tuak. Dia berseru: “Hai pemuda! Tunggu dulu! Kau masih belum terangkan nama!”. Orang tua ini keluarkan segulung tali rotan dan dilemparkannya ke arah pinggang pemuda yang tengah larikan diri. Si pemuda yang tahu dirinya hendak dilibat kembali pukulkan telapak tangan kanannya ke belakang. Sesiur angin kencang menderu deras, menahan lontaran tali rotan, terus menyambar ke arah si orang tua. Dewa Tuak terpaksa loncatkan diri ke atas karena maklum angin yang datang menyambar itu bukan angin biasa. Sambaran angin memberantakkan semak-belukar rendah kemudian menghantam pohon kayu besar. “Krak”
Tak ampun lagi pohon raksasa itu tumbang patah dua dengan suara berisiknya hampir terdengar di seluruh lereng bukit. Dewa Tuak geleng-gelengkan kepalanya. “Sayang... sayang...,” katanya. “Sayang aku tak dapatkan itu pemuda...”. Ketika dia memasukkan tali rotannya ke balik pakaiannya, orang tua ini terkejut. Pada bagian pohon besar yang masih berdiri di tanah tapi akar-akarnya hampir berserabutan ke luar, kelihatan tertera tiga buah angka 212. Dewa Tuak memandang pada gadis baju ungu disampingnya lalu memandang lagi pada tiga buah angka dibatang pohon dan leletkan lidah kemudian merenung.
Tiga deretan angka itu telah menggemparkan dunia persilatan pada dua puluh tahun yang lalu. Tiga deretan angka yang berarti maut bagi kaum persilatan itu golongan hitam! Apakah kini angka 212 itu telah muncui kembali?! Dunia persilatan pasti akan gempar seperti masa dua puluh tahun yang lalu! Tapi yang menjadi tanda tanya besar di kepala Dewa Tuak saat itu ialah siapa adanya pemuda gagah tadi. Apakah dia muridnya Eyang Sinto Gendeng? Kalau betul berarti munculnya kembali seorang tokoh gagah dengan gelar: “Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212...”! Dewa Tuak palingkan kepala pada anak muridnya.
“Anggini! Kau telah lihat kehebatan itu pemuda. Kau musti cari dan kejar dia! Musti dapat! Kalau tidak dapat jangan kembali kepertapaan...”
“Tapi guru...”
“Tidak ada tapi-tapian. Anggini! Kejar pemuda itu. Kau ... dengan jalan apa pun musti bisa ambil dia jadi kawan hidupmu karena dia akan menguasai dunia persilatan dalam waktu yang singkat!” Anggini si gadis baju ungu berdiri termanggu.
“Tunggu apa lagi?” tanya gurunya. Gadis ini tak bisa berkata apa-apa lagi melainkan segera meninggalkan tempat itu ke jurusan lenyapnya si pemuda yang telah menerakan angka 212 pada batang pohon!

DUA
Sang surya sudah lama bergeser ke ufuk barat. Warnanya yang tadi demikian terik menyilaukan kini memudar merah kekuningan seperti tiada sanggup menahan diinya dirampas oleh kedatangan sore. Sore yang akan dirampas oleh senja dan senja yang akan bertekuk lutut di pintu malam. Jalan yang ditempuh pemuda itu semakin sukar. Berliku dan menanjak. Di kiri kanan senantiasa mengapit batu karang putih yang tiada berubah dari zaman ke zaman atas kerasnya. Mendadak dari puncak batu karang di sebelah timur melengking suara suitan aneh yang menusuk sepasang gendang-gendang telinga si pemuda. Dengan waspada pemuda ini putar kepala dan mendongak ke atas. Puncak karang itu tingginya sekira dua puluh lima tombak. Curam dan terjal sukar didaki. Tapi mata si pemuda yang tajam dapat melihat bekas cungkilan-cungkilan pada sepanjang lereng karang mulai dari bawah sampai ke atas. Cungkilan-cungkilan itu merupakan tangga penolong. Meski demikian, jangan harap manusia biasa bisa mempergunakannya. Sekali tergelincir tubuh akan amblas ke bawah, ditunggu oleh unggukan batu karang runcing! Suara suitan aneh itu terdengar lagi lebih keras dan nyaring dari yang pertama.
Dan sesaat mata si pemuda berputar kembali ke puncak batu karang itu dia terkejut melihat kemunculan seorang tua bermuka brewok yang kaki kanan dan tangan kanannya buntung. Anggota badan yang buntung ini disambung dengan kayu. Pada ujung kayu dari lengan menancap sebuah benda berbentuk arit yang bergemerlap ditimpa sinar matahari di ambang sore itu! Di tangan kirinya ada sebuah tongkat biru dari besi murni.
Karena puncak karang di mana manusia berewok ini berdiri tinggi sekali maka si pemuda tak dapat mengenali dengan jelas potongan muka orang ini, apalagi tertutup berewok. Hanya samar-samar bisa dilihatnya bahwa manusia ini adalah seorang tua yang bertampang angker. Melihat kepada berewok yang memenuhi mukanya keraslah hati si pemuda bahwa dia sudah dekat ketempat tujuannya. Mungkin juga sudah sampai. Dipandang tajam-tajam demikian rupa, si muka angker berewok juga memandang pada si pemuda secara tajam menyorot. Tapi sebegitu jauh tidak buka suara. Si pemuda yang menjadi tak sabar lambaikan tangan dan menjura hormat sedikit. “Orang tua, aku yang muda ini mau tanya apakah ini jalannya ke Gua Sanggreng?!”. Orang yang ditanya kerutkan kening.
“Bocah gondrong, apakah kau yang dijuluki Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212...?!”. Pemuda yang berada di bawah batu karang terkejut sekali. Siapakah orang tua berewok bermuka angker ini? Apakah guru atau kakak seperguruannya Bergola Wungu yaitu musuh yang telah mengundangnya untuk datang ke Gua Sanggreng?. “Aku merasa tak ada orang yang menjuluk demikian, orang tua...!,” menyahuti si pemuda yang tak lain dari Wiro Sableng adanya. . Si muka berewok masih memandang menyorot pada pemuda itu. Memang adalah tak dapat dipercayanya kalau pemuda ini adalah Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 karena angka 212 telah menggetarkan dunia persilatan pada dua puluh tahun yang lalu. Tapi ciri-ciri yang diterangkan muridnya tentang pemuda ini cocok betul. Akhirnya si berewok bersuit lagi.
Kali ini suara suitannya lain dari dua kali tadi. Dan sesaat kemudian muncullah sosok tubuh berpakaian hitam. Orang ini mukanya juga berewok dan Wiro dapat mengenalinya sebagai orang yang dulu telah menantangnya yaitu Bergola Wungu! Kini dia yakin bahwa si kaki buntung itu punya sangkut-paut erat dengan Bergola Wungu. Dari bawah dilihatnya kedua orang itu bercakap-cakap sedang si buntung sekali-kali menunjuk-nunjuk dengan tongkat birunya ke arah Wiro. Tiba-tiba mengumandanglah tawa bergelak dari si kaki buntung. Daerah sekitar situ seperti dirobek oleh suara tertawanya. Sambil tertawa diketuk-ketukkannya tongkat di tangan kirinya ke atas batu karang. Batu karang itu bergetar dan bagian yang kena ketuk lebur menjadi pasir! Kemudian kedua mata orang tua buntung itu kembali memandang tajam pada Wiro Sableng. “Kalau kau bukan Pendekar 212 palsu pastilah kau muridnya si Sinto Gendeng...:
Ah, kiranya kau tak ubah seperti bocah-bocah ingusan lainnya. Tak ubah seperti gurumu sendiri! Bego dan keblinger...!” “Jaga mulutmu, orang tua!,” bentak Wiro marah karena gurunya dimaki. Tapi diamdiam dia juga heran kalau si muka berewok yang satu ini tahu nama gurunya. Melihat kepada umur mungkin kira-kira dia seumur dengan Eyang Sinto Gendeng. Berewok buntung itu tertawa lagi. Tongkatnya diketuk-ketukkannya lagi.
“Muridku Bergola Wungu bicara terlalu hebat tentang kau. Tapi setelah berhadapan muka nyatanya kau hanya kosong melompong! Tadinya mendengar kematian tiga muridku aku ingin mengajaknya bertempur sampai seratus jurus. Hendak kupecahkan kepalanya dengan tongkat biru besi murni ini! Tapi nyatanya dia adalah seorang bocah pitit, masih pantas ngempeng! Pakai baju pun belum becus! Pendekar potongan macammu ini sekali aku ayunkan tongkat saja pasti sudah kelojotan!” Panas hati Wiro Sableng tiada terkirakan. Darah mudanya menggeru dalam pembuluhnya. “Orang tua!,” serunya. “Bicaramu terlalu sombong! Apakah kau tahu bahwa semut itu sanggup mengalahkan gajah? Apakah kau juga tahu bahwa manusia itu bisa terpeleset oleh sebutir batu kecil berlumut...?!” Si berewok kaki buntung tertawa dingin. “Barangkali kau belum tahu kebalikan ucapanmu itu, orang muda! Tahukah kau bahwa semut itu sekali dipijak oleh gajah akan mejret amblas ke dalam tanah?! Tahukah kau kerikil kecil itu kalau ditendang akan mental jauh tiada daya?”
Wiro Sableng keluarkan suara mendengus dari hidung. “Kadangkala manusia keliwat pintar jadi bicara terbalik-balik macam kau!,” sahutnya. “Tapi tak apa... aku tak ada urusan dengan kau. Biar aku bicara dengan Bergola Wungu!”. Si orang tua tertawa berkekeh.
“Jangan sebut soal tak ada urusan, geblek! Muridku mati tiga orang...” “Bukan aku yang bunuh...!”.
“Tapi kau turut bertanggung jawab!” Menukas Bergola Wungu.
“Buset!,” kata Wiro.”Di depan hidung gurumu kau bisa buka bacot keras Bergola! Aku sudah datang untuk menerima tantanganmu!”
Bergola Wungu tertawa mengejek. “Ini bukan Gua Sanggreng, Wiro! Bukan di sini ajalmu harus kau pasrahkan!” “Keren betul kau Bergola! Manusia kalau sudah lupa nasib memang persis macam kau! Kau tahu bahwa kau dulu anak kampung Jatiwalu kentut?! Yang sekarang punya sedikit ilmu lantas jadi kepala rampok! Tapi lantas menantang aku dengan lari kepada gurunya? Kalau aku jadi kau lebih baik terjun dari atas puncak karang itu ke bawah, mampus bunuh diri!” Merah muka Bergola Wungu sampai ke telinga dan ke kuduk. Mulutnya terkatup rapat. Gerahamnya bergemeletakkan. Namun tak ada suara jawaban dari dia. Maka berkatalah si berewok tua kaki buntung. “Bocah 212, karena kau bicara begitu congkak tentu kau punya sedikit ilmu yang diandalkan. Aku yang sudah tua ingin sekali bertukar pengalaman!”.
Wiro Sableng tertawa-tawa. “Kau yang sebenarnya congkak orang tua! Apakah umurmu yang sudah bangkotan itu masih belum cukup puas untuk melakukan pertempuran? Tapi kalau kau berkeras hati mau iseng-iseng tukar pengalaman katamu, aku yang muda tidak keberatan....” Wiro gosok-gosokkan telapak tangannya satu sama lain “Tapi aku ingin tahu nama dan siapa kau lebih dahulu.:..”.
Si orang tua kembali tertawa macam tadi yang menggetarkan seantero daerah batu karang itu.
“Aku adalah penghuni Gua Sanggreng yang sudah empat puluh tahun malang melintang dalam rimba persilatan! Kau dengar itu bocah? Dan kalau kau perlu tahu namaku... akulah yang bernama Bladra Wikuyana Angin Topan Dari Barat!”.
Tentu saja Wiro Sableng terkejut mendengar nama asli serta nama julukan si berewok kaki buntung itu karena dari gurunya dia mengenai bahwa Angin Topan Dari Barat adalah satu tokoh persilatan sakti yang memimpin sebuah perguruan di Jawa Barat, yang namanya cukup tenar tapi dicurigai adalah kaki tangan golongan hitam (golongan jahat). Namun demikian pemuda ini sama sekali tidak unjukkan paras kecut. Malah dia tertawa bergelak: “Julukanmu hebat juga, orang tua! Tapi setahuku angin itu hanyalah satu benda kosong belaka dan berbau busuk bila ke luar dari pantat!” Bladra Wikuyana bersuit marah.
“Bocah setan! Kau berani kurang ajar terhadap Angin Topan Dari Barat! Terima ini...!”.
“Wuuuuuutt”!
Tongkat birunya disapukan ke bawah!

TIGA
Angin sedahsyat topan melanda Pendekar 212. Pemuda ini balas dengan hantaman tangan ke udara mengirimkan putaran lengan yang mengandung serangkum angin puyuh! Hal yang hebat sekali terjadilah.
Dua pukulan angin yang sama mengeluarkan suara mengaung itu begitu bentrokkan menimbulkan letupan udara yang kerasnya bukan kepalang. Bukit-bukit dan puncak-puncak, karang bergetar. Semak-belukar dan pohon-pohon rambas ke tanah. Pukulan angin puyuh Wiro Sableng telah membuyarkan pukulan angin topan dari tongkat Bladra Wikuyana. Namun demikian Wiro Sableng masih kena juga diterpa kipratan angin pukulan lawan sehingga sesaat tubuhnya menjadi limbung huyung! Bladra Wikuyana terbeliak kaget.
Hantaman tongkat birunya tadi telah mempergunakan hampir sepertiga bagian tenaga dalamnya. Dia sudah memastikan kalau tidak mampus pastilah sekurang-kurangnya pemuda itu kelojotan muntah darah! Tapi kepastiannya itu tidak berkenyataan. Di bawahnya Wiro Sableng ditihatnya masih berdiri utuh!
Maka berserulah Bladra Wikuyana: “Orang muda! Ilmumu cukup bagus untuk diandalkan! Aku tunggu kau di Perguruan Gua Sanggreng!” Habis berkata begitu manusia ini menarik lengan Bergola Wungu. Sekejapan saja guru dan murid itu lenyap dari pemandangan Wiro Sableng.
Si pemuda garuk kepala. “Tongkat itu hebat sekali!,” katanya dalam hati. Tapi dia tak menunggu lebih lama. Segera dia lompatkan diri ke atas puncak karang yang tingginya puluhan tombak itu. Puncak karang itu ternyata licin sekali. Kalau saja ilmu meringankan tubuhnya dari kelas rendahan pastilah kakinya akan tergelincir! Wiro memandang berkeliling mencari jejak ke mana larinya kedua orang tadi. Matanya yang tajam segera menangkap bayangan Bladra Wikuyana dan muridnya di balik karang sebelah Timur. Tanpa buang waktu Pendekar 212 segera lompat ke karang yang terdekat. Laksana seekor rajawali demikianlah dia melompat kian kemari sampai akhirnya orang yang dikejamya itu lenyap di sebuah jurang batu karang yang dalam sekali! Wiro berdiri di tepi jurang batu itu, memandang ke bawah. Untuk melompat turun tidak mungkin. Jurang itu dalamnya lebih dari seratus tombak. Berarti tidak mungkin pula Bladra Wikuyana dan Bergola Wungu lenyap turun ke jurang batu itu. Tapi tiba-tiba Wiro melihat sebuah tangga tali yang kuat di tepi jurang sebelah Selatan. Segera dia menuju ke sana dan memeriksa tangga tali itu. Dia berpikir sebentar, kemudian dengan cepat menuruni tangga tali. Bagian bawah jurang batu itu hampir merupakan pedataran batu yang sedikit sekali tetumbuhannya. Penuh waspada Pendekar 212 segera memeriksa keadaan. Tiba-tiba menggema suara suitan dari arah Utara yang dibalas pula oleh suara suitan dari arah barat. Wiro segera menuju ke Barat!

Sementara itu di atas jurang, sesosok tubuh yang sudah sejak lama menguntit Wiro Sableng hentikan langkahnya dekat tangga tali, tak berani terus ikut menuruni tangga tali itu. Wiro berdiri di balik sebuah batu karang berbentuk pilar. Sekurang-kurangnya batu karang itu bisa menjadi tameng baginya dari musuh yang menyerang dengan diam-diam. Dari balik batu berbentuk pilar ini dia memandang ke muka. Tepat di antara dua batang kayu besar yang sangat rendah maka beberapa puluh tombak di mukanya dilihatnya sebuah gua besar.
Kemudian didengarnya lagi suara suitan. Kali ini dari sebelah belakangnya. Suitan ini disambut oleh suitan yang menggema ke luar dari dalam gua. Pemuda ini menunggu dengan tidak sabar. Ke mana perginya kedua orang tadi? Apakah masuk ke dalam gua itu? Dan apakah gua Itu yang bernama Gua Sanggreng? Lalu apakah saat itu dia sudah berada di Perguruan Gua Sanggreng? Tiba-tiba terdengar suara suitan yang lebih hebat dari suitan-suitan tadi. Dan Wiro melihat dari mulut gua ke luar dua lusin manusia, semuanya laki-laki, ada yang berewokan ada yang tidak dan semuanya mengenakan pakaian hitam dengan ikat pinggang kain putih. Pada pinggang masing-masing tersisip sebatang tongkat biru yang sama bentuknya dengan milik Bladra Wikuyana. Keduapuluh empat orang itu membentuk dua barisan panjang mulai dari mulut gua sampai ke pelataran batu. Tak lama kemudian muncullah Bladra Wikuyana diiringi oleh Bergola Wungu.
“Pendekar Kapak Naga Geni 212 tak usah sembunyi di balik pilar! Keluarlah!,” seru Bladra Wikuyana.
Pemuda itu segera ke luar dari balik tiang batu karang dan berdiri waspada di ujung pelataran. “Angin Topan Dari Barat! Sandiwara atau tari-tarian apakah yang akan kau pertunjukkan kepadaku?!”
IZRO'IL
Maut Bernyanyi Di Pajajaran


Bladra Wikuyana tertawa hambar. “Dasar manusia tolol! Ajal sudah di depan mata masih juga mau jadi badut! Tahukah kau bahwa siapa-siapa yang sudah masuk ke mari berarti tak ada lagi jalan keluar! Berarti mampus di sini?!”.
Wiro Sableng menyengir. Katanya: “Kalau begitu kalian semua di sini juga samasama ikut mampus dengan aku!”.
Kembali Bladra Wikuyana tertawa hambar. Ditepukkannya kedua tangannya. “Turunkan tangga tali,” perintahnya.
Dua orang anak murid Perguruan Gua Sanggreng segera melaksanakan tugas itu. Bladra Wikuyana berkemik. “Tangga tali telah diturunkan berarti umurmu semakin singkat. Tapi ada syarat jika kau kepingin hidup terus...”
“Apa?” tanya Wiro Sableng kepingin tahu. “Berlutut minta ampun di hadapanku dan bergabung denganku!”. Wiro Sableng tertawa meledak. “Muridmu Bergola Wungu menantang aku datang kemari untuk bertempur! Tahutahu kini diajak bergabung, disuruh berlutut malah! Enak betul bikin aturan...!” “Kalau begitu kau datang ke sini betul-betul untuk antarkan jiwa!” kata Bladra Wikuyana pula. Habis berkata begini dia bertepuk tangan satu kali. “Bereskan dia dengan gebrakan enam tongkat merenggut nyawa!” bentak Bladra Wikuyana dengan geram sekali.
Maka enam orang muridnya segera melompat mengurung Pendekar 212 dengan tongkat di tangan. “Ketahuilah:..” kata Bladra Wikuyana pula. “Yang akan kalian hajar itu adalah seorang bocah yang mengaku bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212! Mulai!” Bladra Wikuyana bersuit keras. Keenam muridnya juga bersuit keras dan dengan serentak menyerang Wiro Sableng! Enam larik sinar biru mengambang di udara kian ke mari dalam gerakan yang sangat tak menentu, mengeluarkan suara bersiuran dan kesemuanya menyerang pendekar bertangan kosong itu. Wiro lompat ke udara dan berteriak: “Angin Topan Dari Barat! Kerapa anak muridmu yang tak ada sangkut paut dengan aku kau suruh.maju? Apa kau tidak punya nyali?!”. Biadra Wikuyana menyahut dengan membentak: “Kalau kau ada urusan dengan salah seorang di sini berarti kau berurusan dengan Perguruan Gua Sanggreng...!” Saat itu keenam murid Perguruan Gua Sanggreng melompat pula ke udara dan menyerang Wiro Sableng dengan sebat. Tapi dengan pergunakan jurus: Belut Menyusup Tanah, maka Pendekar 212 yang diserang oleh mereka telah berdiri di pelataran batu kembali. Maka bentrokkanlah enam tongkat biru itu di udara! “Tolol,” makl Bladra Wikuyana pada murid-murudnya: “Aku beri kesempatan tiga jurus lagi pada kalian! Kalau tak berhasil merubuhkan bangs*t itu kalian musti
mundur dan terima hukuman!”.
Ternyata gebrakan enam tongkat merebut nyawa yang dikeluarkan enam murid Perguruan Gua Sanggreng tadi tidak mampu merubuhkan Pendekar 212. Kini karena takut terima hukuman dari guru mereka, keenamnya segera putar tongkat dengan sebat dan lancarkan enam tusukan pada enam bagian tubuh Wiro Sableng! “Ciaaat!”
Bentakan dahsyat menggema dan menggetarkan jurang batu itu. Bulu-bulu tengkuk anak-anak murid Perguruan Gua Sanggreng meremang, bukan saja oleh kedahsyatan bentakan tadi tapi juga menyaksikan bagaimana enam kawan mereka kini berdiri kaku tegang di tengah pelataran karena tubuh masing-masing sudah kena ditotok lawan. Sedang Pendekar 212 berdiri saat itu berdiri tenang-tenang bahkan bersiul-siul! Rasa tak percaya membuat Bladra Wikuyana buka matanya lebar-lebar. Dan hatinya merutuk. Tiba-tiba dicabutnya tongkat birunya dari pinggang dan disapukannya ke muka. Keenam tubuh muridnya berpelantingan laksana daun kering tapi sekaiigus angin topan dashyat yang keluar dari tongkat ampuh itu telah melepaskan keenamnya dari totokan! Kemudian Pemimpin atau Ketua Perguruan Gua Sanggreng itu berkata pada Bergola Wungu: “Kau majulah, pimpin semua muridku yang ada di sini! Bentuk-lingkaran pasang surut!”.
Mendengar ini Bergola Wungu segera melangkah ke muka seraya cabut golok panjang dan bersuit keras tiga kali berturut-turut. Maka dua puluh empat manusia berpakaian hitam-hitam dengan tongkat di tangan di bawah pimpinan Bergola Wungu yang memegang golok panjang segera membentuk dua lapis lingkaran yang disebut lingkaran pasang surut, mengurung Wiro Sableng di tengah-tengah. Gilanya, yang mau diserang malah tetap berdiri tenang-tenang, kemak kemik dan sambil bersiul-siul. Tiba-tiba Bergola Wungu bersuit nyaring. Maka berputarlah barisan lingkaran yang sebelah dalam ke kiri sedang barisan lingkaran sebelah luar berputar ke kanan. Mula-mula lambat pelahan kemudian makin lama makin kencang, makin kencang sampai tubuh kedua puluh empat. manusia berpakaian hitam itu tidak jelas iagi, hanya merupakan bayang-bayang. Debu yang menutupi pelataran menggebu ke atas dan sambil berputar-putar itu Bergola Wungu dan kawankawannya tiada henti berteriak melengking-lengking.
Karena putaran dua barisan lingkaran itu makin cepat dan saling berlawanan serta diiringi lengking pekik hiruk pikuk yang memiawakkan dan mengacaukan pikiran lambat laun kedua pandangan mata Pendekar 212 menjadi berkunang. Kepalanya terasa pusing. Dia tertegun beberapa jurus lamanya. Dan dua baris lingkaran itu kini kelihatan semakin menciut mendekatinya! Bergola Wungu melihat lawan muiai terpengaruh dengan bentakan lantang menyerbu dan tebaskan goloknya ke kepala lawan yang terkurung ditengah lingkaran. Serangan ini datangnya secara pengecut yaitu dari belakang! Dan Wiro Sableng dalam tertegunnya itu masih juga bersiul-siul seperti orang lupa diri!

EMPAT
Dia hanya merasakan datangnya sambaran angin dari arah belakang. Lalu cepat-cepat menggeser kaki ke muka, bergerak ke samping dan sambil bungkukkan diri balikkan badan! Golok panjang Bergola Wungu lewat satu setengah jengkal di atas kepalanya, mengibarkan rambutnya yang gondrong! “Dasar pengecut! Sudah main keroyok menyerang dari belakang!,” bentak Wiro Sableng. Kedua tangannya bergerak ke muka untuk merampas golok lawan. Namun hampir hal itu terlaksana, tahu-tahu dua belas ujung tongkat menderu menyerang kedua lengannya.
“Sialan!” maki Pendekar 212 dan terpaksa tarik pulang tangannya sambil hantamkan kaki membabat ke arah beberapa orang pengeroyok dari barisan sebelah muka. Mereka yang diserang tendangan kaki anehnya tidak melakukan sesuatu apa, tapi tiba-tiba dari belakang menyeruak kawan-kawan mereka dari barisan kedua, dan menangkis tendangan Wiro Sableng. Sejurus kemudian barisan muka kembali menyerang dengan dua belas tongkat biru mengarah pada dua belas bagian tubuh Wiro Sableng! Sementara itu dari atas laksana alap-alap golok Bergola Wungu kembati membabat! Ini lah kehebatannya lingkaran pasang surut! Ciptaan Bladra Wikuyana! Dua tahun dia melatih murid-muridnya untuk betul-betul memahami jurus tersebut. Meski belum begitu sempurna tapi hasilnya tidak mengecewakan! Sambil senyumsenyum dia berdiri menunggu saat di mana matanya akan menyaksikan tubuh Wiro Sableng terpancung belasan senjata muridnya, telinganya bakal mendengar pekik kematian pemuda itu! Tapi tiada kelihatan, Pendekar 212 terpancung meregang nyawa di tengah pelataran itu! Tiada terdengar pekik kematian Wiro Sableng! Dengan kecepatan luar biasa yang tiada terlihat oleh mata Bladra Wikuyana maka tahu-tahu Wiro Sableng sudah berada di luar serangan anakanak muridnya, berdiri dengan tenang dan kembali bersiul-siul! Sebenamya pemuda bermata tajam ini sudah dapat melihat di mana letak kelemahan barisan lingkaran pasang surut yang mengeroyoknya saat itu. Dengan merobohkan dua atau tiga orang pengeroyok dari salah satu barisan maka pastilah lingkaran pasang surut itu akan menjadi kacau balau! Bisa juga sebagian atau seluruh pengeroyoknya ditumpasnya dengan hantaman pukulan angin puyuh atau dinding angin berhembus tindih menindih! Tapi ini pemuda inginkan cara lain yang lebih disukainya sendiri.
Maka berserulah Pendekar 212.
“Angin Topan Dari Barat! Apakah kau pernah iihat manusia dipakai jadi senjata untuk menyerang manusia...?!” “Bocah gila! Jangan banyak bacot! Nyawamu sudah di depan hidung! Anak-anak ciutkan lingkaran dalam sepertiga jurus!,” teriak Bladra Wikuyana dengan penasaran sekali.
Siulan Pendekar 212 tiba-tiba lenyap berganti dengan suara tertawa aneh yang menegakkan bulu tengkuk. Tubuhnya berkelebat tak kelihatan. Dan tiba-tiba pula Bergola Wungu merasakan kedua pergelangan kakinya dicengkeram erat sekali. Dicobanya untuk meronta dan menendang tapi cengkeraman itu laksana japitan besi tak mungkin untuk di1epaskan. Sementara itu tubuhnya menjadi limbung dan terasa terangkat ke atas! Dicobanya membabatkan goloknya! Terdengar satu pekikan! Pekikan kawannya sendiri yang, kemudian roboh mandi darah! Sesudah itu Bergola Wungu tak tahu apa-apa lagi! Wiro Sableng dengan tertawanya yang aneh memegang erat-erat kedua pergelangan kaki Bergola Wungu lalu memutar tubuh manusia itu laksana kitiran! Pekik jerit serta seruan-seruan tertahan terdengar di mana-mana! Barisan lingkaran pasang surut hancur berantakan. Beberapa orang yang masih tak mau menyingkir dan terpukau oleh kedahsyatan itu terpaksa dihantam kitiran dari tubuh Bergola Wungu! Belasan anak murid Perguruan Gua Sanggreng bergeletakan di pelataran batu karang dalam keadaan tubuh luka-luka parah tanpa nyawa. Suara erangan terdengar tiada hentinya. Yang masih hidup yaitu sekira sembilan orang menyingkir jauh-jauh ke dinding batu karang. Suara tertawa Pendekar 212 berhenti. “Angin Topan Dari Barat! Ini terima bangkai muridmu!”. Tubuh Bergola Wungu
yang tadi dibuat menjadi kitiran untuk melabrak kawan-kawannya sendiri melesat ke arah Bladra Wikuyana. Orang tua ini lambaikan tangan kirinya dan tubuh Bergola Wungu terpelanting ke dinding samping. Tentu saja sudah tanpa nyawa lagi karena sudah sejak tadi kepalanya nyenyar macam pepaya busuk! Bau anyirnya darah yang mengantarkan regangan-regangan nyawa manusia menyesak lobang hidung. Wiro Sableng meludah ke tanah. Dan memandang pada Angin Topan Dari Barat.
“Angin Topan Dari Barat! Murid-muridmu menemui kematian dengan cara yang tentu kau tidak senangi! Dan mereka mati tanpa ada sangkut-paut kesalahan apa-apa terhadapku! Kau yang tanggung-jawab semuanya kalau malaekat maut tertanya di liang kubur!” “Pemuda iblis!” bentak Bladra Wikuyana. “Tak usah banyak bacot! Terimalah kematianmu dalam tiga jurus!”. Tampang manusia ini kelihatan membesi dan tambah angker. Dia melangkah ringan ke hadapan Wiro Sableng dan cabut tongkat birunya! Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan selarik sinar biru melanda Pendekar 212. Pemuda ini egoskan diri ke samping dengan cepat. Tapi dari samping menderu tangan kanan Bladra Wikuyana yang disambung-dengan kayu dan ujungnya mempunyai senjata berbentuk Arit! “Heyyaaa!”.
Pendekar 212 membentak keras. Empat dinding jurang tergetar hebat. Tubuhnya lenyap dan sambil jatuhkan diri berjongkok pemuda ini hantamkan tangannya ke muka lancarkan pukulan Kunyuk Melempar Buah! Tapi tongkat biru Bladra Wikuyana sungguh hebat! Pukulan Kunyuk Melempar Buah yang dilancarkan Pendekar 212 mempergunakan sebahagian tenaga dalamnya namun sambaran angin tongkat biru membuat angin pukulan Pendekar 212 tersibak ke samping dan menghantam dinding karang! Dinding karang itu retak-retak pecah! Kepingan-kepingan karang menghambur ke udara berpelantingan! Wiro Sableng penasaran sekali. Tenaga dalamnya dilipat-gandakan sampai tangannya tergetar hebat namun tetap pukulan Kunyuk Melempar Buah yang dilancarkannya masih sanggup disapu oleh angin tongkat biru lawan! “Edan!” maki pemuda ini dalam hati. Dia menjerit setinggi langit dan berkelebat lagi. Kini Pendekar 212 keluarkan jurus Orang Gila Mengebut Lalat! Kedua tangannya kiri kanan memukul kian kemari dan mengeluarkan angin keras laksana badai! Untuk dua jurus lamanya Bladra Wikuyana terdesak hebat bahkan kepepet ke
dinding jurang sebelah Timur. Anak-anak murid Perguruan Gua Sanggreng yang ada di jurusan ini terpaksa menyingkir kecuali kalau mau mampus terkena sambaran-sambaran angin dahsyat kedua manusia sakti yang bertempur itu! Angin Topan Dari Barat mengeluh dalam hati! Puluhan tahun hidup di dunia persilatan baru hari ini menghadapi lawan yang tangguhnya bukan olah-olah! Dan gilanya lawan itu adalah anak muda hijau yang baru berumur tujuh belas tahun! Orang tua ini kertakkan gerahamnya. Dari tenggorokkannya keluar suitan kencang.
Dengan serta merta permainan tongkat dan jurus-jurus silatnya berubah. Tongkat biru di tangan kirinya menderu dan mencurah taksana hujan badai, laksana menjadi ratusan banyaknya!
Wiro Sableng terkejut sekali melihat keganasan serangan tawan ini! Cepat dia lompat tiga tombak ke udara. “Ho-ho! Mau kabur hah?!” bental Bladra Wikuyana. Dan segera manusia ini susul melompat. “Angin Topan Dari Barat!,” seru Pendekar 212. “Antara kita sebenarnya tak ada permusuhan yang berarti...”. Bladra Wikuyana tertawa buruk. “Ketika nyawa sudah di tenggorokan kau baru ribut-ribut segata permusuhan yang tak berarti! Sudah kepepet-mulai bicara rendah diri! Sebaiknya sebut nama Tuhanmu sebentar tagi roh busuk manusia yang mengaku bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 akan minggat ke neraka!” Bladra Wikuyana menyerang lagi dengan ganas membuat Wiro Sableng kembali terpaksa lompatkan diri tiga tombak ke belakang.
“Kalau kau yang tua tetap berkeras kepata maka sambutlah pukulanku ini!” Bladra Wikuyana terbeliak kaget ketika melihat tangan kanan Wiro Sableng berwarna sangat putih sedang kuku-kuku jarinya memerah menyilaukan! “Pukulan Sinar Matahari!” teriaknya dengan keras. Sekaligus dia menyerukan pada murid-muridnya untuk mencari perlindungan sedang seturuh tenaga dalamnya dialirkannya ke tongkat biru! Selarik sinar putih yang menyilaukan mata melesat ke depan. Bladra Wikuyana lompat ke udara sampai tujuh tombak dan sapukan tongkatnya ke bawah! Dua angin keras beradu hebat. Bladra Wikuyana berseru keras. Tongkatnya hampir terlepas mental sedang tangan kirinya tergetar hebat! Tiada nyana tenaga dalam lawan yang muda belia itu lebih tinggi beberapa tingkat dari padanya. Dengan jungkir balik di udara jago tua ini jauhkan diri untuk atur jatan nafas serta darahnya dengan cepat! Ketika bola matanya berputar memandang berkeliling terkejutlah ia! Seluruh sisa anak muridnya yang tadi masih hidup menggeletak bergelimpangan dipelataran batu karang itu. Tubuh mereka semuanya termasuk yang sudah menemui ajal lebih dahulu di tangan Wiro Sableng mengepulkan asap dan udara dalam jurang itu kini pengap bau daging manusia yang hangus! Ketika Pendekar 212 lepaskan pukulan sinar matahari tadi. Bladra Wikuyana berhasil mengelakkannya. Angin pukulan menghantam dinding karang di sebelah tenggara. Bukan saja dinding karang itu menjadi pecah tapi juga hancur berantakan. Bagian atasnya longsor ke bawah sedang pukulan Sinar Matahari memantul dua kali berturut-turut di dinding karang. Hawa panas angin pukulan ini telah melabrak sisa-sisa anak murid Bladra Wikuyana sehingga tubuh mereka tersambar hangus dan menggeletak mati di situ juga! .Dan sementara itu di tepi jurang sebelah atas, sesosok tubuh berpakaian ungu menyaksikan apa yang terjadi di dalam jurang batu karang itu dengan mulut menganga dan mata terbeliak sedang bulu kuduk merinding.... Kembali ke dalam jurang.
Air muka Bladra Wikuyana kelihatan kelam membeku. Tubuhnya laksana patung berdiri di tengah pelataran. Cambang bawuk atau berewoknya kelihatan meranggas kaku sedang sepasang matanya menjadi merah angker. “Pendekar 212!” desis Bladra Wikuyana. “Detik ini jangan harap nyawamu akan selamat...!” Tongkat birunya diacungkan ke muka lurus-lurus dan kini tongkat itu berubah menjadi hitam legam. Sinar hitam yang memancar dari senjata ampuh Itu menggidikkan sekali...
“Bersiaplah untuk minggat ke neraka!” teriak Bladra Wikuyana. Serentak dengan itu menyerbulah dia ke muka. Seluruh bagian tenaga dalamnya telah mengalir ke dalam tongkat dan serangannya kini luar biasa ganasnya! Sambil menyerang itu Bladra Wikuyana tiada hentinya bersuit-suit aneh, menggetarkan telinga dan raga! Wiro Sableng begitu merasakan tekanan serangan yang hebat luar biasa segera percepat gerakannya. Namun ilmu mengentengi tubuhnya yang sudah sangat tinggi itu masih sangat terasa lamban ditindih oleh sinar pukulan Angin Hitam yang ke luar dari tongkat lawan.
“Breet”!
Tersirap darah Pendekar 212. Nyawanya serasa iepas! Ujung tongkat lawan telah merobek pakaiannya di bagian dada. Angin tongkat membuat tulang-tulang dadanya seperti melesak! Pendekar ini berteriak nyaring dan jungkir balik ke belakang ke luar dari kalangan pertempuran!

LIMA
“Ho ho.... Mau merat ke mana?!” tanya Bladra Wikuyana. “Aku sudah bilang, sekali masuk ke sini musti lepas nyawa di sini!” Wiro Sableng tak berikan sahutan. Kalau saja ada sepuluh manusia jahat sesakti Bladra Wikuyana ini di atas jagat pastilah dunia akan tenggelam dalam kekalutan pikirnya. Ketika lawan menyerang kembali Pendekar 212 sambut dengan pukulan Benteng Topan Melanda Samudera. Untuk beberapa ketika lamanya serangan tongkat Bladra Wikuyana terbendung dan kesempatan ini dipergunakan oleh Wiro Sableng untuk melompat ke udara, menukik kembali dan lancarkan pukulan Kunyuk Melempar Buah. Dentuman yang dahsyat terdengar. Wiro terpaksa turun ke pelataran batu karang kembali karena pukulannya kena disapu aliran angin hitam tongkat lawan. Pemuda ini kepepet ke dinding jurang sebelah Timur!
Pemuda ini merutuk sendiri dalam hatinya. Dalam merutuk itu tongkat lawan menyapu di atas kepalanya. Wiro lompat ke samping. Tongkat menghantam dinding karang sampai hancur berantakan! Ketika Bladra Wikuyana balikkan tubuh siap untuk menyerang kembali, langkahnya tertahan. Kedua matanya yang merah memandang tak berkedip pada senjata berbentuk kapak bermata dua yang ada di tangan lawannya.
Bergidik juga Angin Topan Dari Barat melihat senjata tersebut. Dua puluh tahun yang silam dia pernah saksikan sendiri kehebatan Kapak Maut Naga Geni 212. Kini apakah sanggup dia menghadapinya?! “Angin Topan Dari Barat,” Pendekar 212 buka mulut. “Baiknya kau lekas-lekas minta tobat atas kejahatanmu selama ini. Sebentar lagi tentu sudah tak keburu.... !” Angin Topan Dari Barat atau Bladra Wikuyana tindih rasa jerihnya dengan tertawa bergelak. Tahu akan kehebatan senjata di tangan lawan maka dia segera menyerang lebih dahulu! Sinar hitam bergulung-gulung ke arah Pendekar 212.
Pemuda ini sambut serangan lawan dengan pergunakan jurus: Orang Gila Mengebut Lalat. Kapak Naga Geni 212 di tangannya berkelebat cepat ke kiri dan ke kanan, mengeluarkan suara berdengung macam suara ribuan tawon! Terkejutnya Bladra Wikuyana bukan kepalang ketika merasa bagaimana kini tongkat saktinya tak dapat lagi bergerak leluasa, tertindih, terbendung dan terpukul angin kapak bermata dua di tangan lawan! Bladra Wikuyana percepat permainan tongkatnya dan menyerang dengan jurus-jurus lihay mematikan. Namun tetap saja tak dapat ke luar dari tindihan senjata lawan. Dan kini sesudah bertempur di jurus yang kesembilan puluh delapan maka mulailah jago tua ini
terdesak hebat! Diam-diam Bladra Wlikuyana cucurkan keringat dingin. Ditahannya sedapatdapatnya serangan senjata lawan. Satu kali tongkatnya beradu dan tak ampun ujung tongkat terbabat puntung! Bladra Wikuyana tak berani lagi bentrokan senjata! Matanya kini liar mencari kesempatan untuk kabur. Dia menggeram karena telah menyuruh murid-muridnya menurunkan tangga gantung karena tangga dari tali itulah satu-satunya jalan untuk kabur ke luar jurang batu karang! Karena pikirannya bercabang dua, satu memikir jalan untuk lari, kedua memusatkan pada serangan lawan maka pertahanan Bladra Wikuyana sering-sering melompong. Hal ini bukan tak dilihat oleh Pendekar 212, kalau saja dia mau maka sudah sejak tadi dia melabrak manusia berewok bertangan dan kaki buntung itu.
Dari mulut Pendekar 212 mulai terdengar siulan membawakan lagu tak menentu! Sambil kirimkan bacokan ke pinggang, Wiro Sableng putar gagang kapak. Kedua mata kapak membuat setengah lingkaran, salah satu dari padanya memapas pergelangan tangan kanan Bladra Wikuyana yang terbuat dari kayu! Tangan palsu yang ujungnya berbentuk arit itu kutung dan lepas! Mental ke udara! Bladra Wikuyana melompat ke belakang. Mukanya pucat pasi. Dia mengerang karena aliran aneh yang berhawa panas dari senjata lawan merembes melalui kutungan tangan kayu ke dalam tubuhnya! “Cuma lengan kayumu saja. Angin Topan Dari Barat! Kenapa musti pucat macam mayat?” Wiro Sableng tertawa gelak-gelak. “Sekarang aku minta kaki kayumu!” Habis berkata begitu. Wiro Sableng bersiul dan melompat ke muka. Kapaknya membabat ke kepala Bladra Wikuyana. Jago tua ini yang tak berani lakukan bentrokan senjata cepat-cepat melompat berkelit dan lancarkan serangan balasan dengan pukulan tangan kosong yang menimbulkan angin hebat. Namun dengan Kapak Naga Geni 212 di tangan, segala pukulan tangan kosong bagaimanapun hebatnya dari manusia berewok yang bergelar Angin Topan Dari Barat itu tiada artinya lagi! Kapak Naga Geni 212 membacok ke bahu, berbalik merambas pinggang, menderu lagi ke kepala membuat tokoh silat tua dan berpengalaman luas itu menjadi sangat sibuk. Dan ketika tiba-tiba sekali senjata lawan membabat ke bawah, dia tak punya kesempatan lagi untuk mengelak!
Untuk kedua kalinya mata kapak membabat anggota badannya yaitu kaki kayu Bladra Wikuyana sebelah kanan! Meski huyung-huyung tapi laki-laki ini masih sempat lompatkan diri ke luar dari kalangan pertempuran. Mukanya pucat sekali dan keningnya penuh keringat! Di dalam dadanya menggelegak rasa benci, dendam dan nafsu untuk membunuh! Dengan tahan tubuhnya pada ujung tongkat, Bladra Wikuyana pejamkan mata. Mulutnya komat kamit.
“Ilmu apa yang kau mau keluarkan Angin Topan Dari Barat? Sebaiknya dengar omonganku! Aku yang muda ini masih mau kasih ampun kepada kau jika kau berjanji untuk bertobat dan hidup di jalan yang benar, tidak lagi berbuat kejahatan tapi mempergunakan iimumu buat menolong sesama manusia. Bagaimana...?!” Bladra Wikuyana buka sepasang matanya sedikit. Mulutnya berkemik mengejek. “Jangan kira kau sudah menang bocah hijau! Aku masih jauh dari kalah! Lihat mukaku bocah hijau... lihat mukaku.... “ Mata Wiro Sableng menyipit. Ketika diperhatikannya tampang Bladra Wikuyana terkejutlah dia. Kepala tokoh silat itu kini rnenjadi enam dan berwarna hitam, gigi-giginya merupakan caling-caling yang mengerikan, bola-bola matanya besar sedang lidahnya panjang menjulai sampai ke dada. Dari dua belas mata yang ada di enam kepala itu memancar sinar hijau.
“Ah... ilmu siluman macam begini hanya pantas untuk menakut-nakuti anak kecil!” ejek Wiro Sabteng. Disapukannya Kapak Naga Geni 212 ke muka. Angin deras membuat Bladra Wikuyana terpelanting tapi muka silumannya masih juga seperti tadi malah semakin menyeramkan. Tiba-tiba dengan menggereng keras laksana harimau terluka menerjanglah tokoh silat itu didahului oleh dua belas sinar hijau yang ke luar dari mata silumannya! “Tua bangka geblek! Dikasih ampun malah keluarkan Ilmu yang bukan-bukan!” rutuk Wiro Sableng. Ditunggunya beberapa detik. Sesaat kemudian berkiblatlah kapak mautnya dari atas ke bawah!
Angin Topan Dari Barat terkapar di pelataran batu karang tanpa berkutik, juga tanpa menjerit. Kepalanya sampai ke dada terbelah dua. Darah membanjir! Tamatlah riwayat tokoh silat dari golongan hitam itu yang selama hidupnya telah menebar benih kejahatan dan mendidik manusia-manusia untuk disesatkan! Wiro Sableng garuk rambut gondrongnya dan meludah. Jijik juga dia melihat darah yang membanjir dari tubuh Bladra Wikuyana. Dipandangnya Kapak Maut Naga Geni 212 di tangan kanannya. Mata kapak itu berlumuran darah. Pemuda ini goleng-goleng kepala. “Kapak hebat... kapak hebat....” katanya. Kemudian sekali hembus saja maka noda darah pada mata kapak pun lenyaplah! Senjata sakti pemberian Eyang Sinto Gendeng itu segera dimasukkannya ke balik pinggang kembali. Selama setengah jam Wiro Sableng memasuki dan menggeledah isi Gua Sanggreng. Di sini ditemuinya banyak sekali persediaan makanan dan uang serta barang-barang perhiasan. Menurut pikiran Wiro uang serta perhiasan itu mungkin sekali hasil rampokan yang ditimbun menjadi milik Perguruan Gua Sanggreng. Wiro mengambil sejumlah uang dan perhiasan sekedar bekal di perjalanan. Kemudian pemuda ini duduk di sebuah kursi besar dan menikmati makanan yang ada di dalam gua itu. Waktu dia ke luar dari gua dilihatnya langit sudah sangat merah kekuningan tanda matahari hampir tenggelam. Pemuda ini segera mencari tangga tali. Tangga tali itu kemudian dilemparkannya pada patok runcing batu karang di tepi jurang sebelah atas dan mulailah pendekar ini menaiki anak tangga demi anak tangga menuju ke atas. Dari atas sebelum berlalu dilayangkannya pandangannya untuk terakhir kali ke dalam jurang batu.
IZRO'IL
Maut Bernyanyi Di Pajajaran


Duapuluh enam mayat bergelimpangan di mana-mana. Pemuda ini garuk dan goleng-goleng kepala. Dan mulailah dia melangkah sepembawa kakinya. Malam tiba nanti entah di mana dia akan berada. Suara siulannya mengumandang di belantara batu-batu karang. Sambil terus berjalan. bernyanyilah pendekar ini:
Langit merah angin silir....
Surya tenggelam di ufuk Barat....
Malam yang datang tentu dingin dan gelap....
Berjalan seorang diri memang tidak enak....
Tapi selalu diikuti orang lain juga tidak enak....

Nyanyian ini tiada menentu nadanya dan diulang-ulang sampai beberapa kali. Akhirnya disatu penurunan curam Pendekar 212 hentikan nyanyiannya dan duduk di sebuah unggukan batu. Sambil tertawa-tawa berkatalah dia: “Manusia yang ikuti aku kenapa sembunyi di belakang batu? Coba ke luar unjukkan jidat, apa betul manusia atau hantu...?” Wiro memandang pada celah batu karang yang tadi dilewatinya. Suasana hening saja.
“Ah, manusia di belakang batu tentu seorang pemalu,” katanya. “Biarlah aku sendiri yang lihat tampangnya!”
Habis berkata begitu Wiro Sableng hantamkan tangan kanannya ke arah celah batu. Sebagian lagi terguling ke bawah. Dan dari balik batu terdengar seruan tertahan! Apa yang tidak diduga oleh Pendekar 212 ternyata bahwa penguntitnya sejak dari jurang Gua Sanggreng tadi adalah seorang gadis!

ENAM
“Aha… Nyatanya seorang gadis molek! Pantas malu-malu unjukkan diri…!” kata Wiro Sableng pula dengan tertawa lebar. melihat kepada pakaian ungu yang
dikenakan gadis itu segera pemuda ini mengenali bahwa gadis itu adalah anak murid Dewa Tuak. “Gadis molek, ada apa kau menguntit aku sejak dari lereng bukit sampai ke jurang maut sana...?” bertanya Wiro. Anggini, si gadis baju ungu, tak memberikan jawaban. Mukanya merah karena malu dan jengah. Wiro Sableng tertawa lagi dan berkata: “Mungkin ada mengandung suatu maksud tidak baik .... “ “Saudara... a...aku...” Anggini gugup sekali. Apa yang harus dikatakannya pada pemuda itu? “Apakah gurumu si Dewa Tuak itu juga ikut bersamamu saat ini? Barangkali juga kalian hendak menjebakku...?”
“Saudara dengarlah...” kata Anggini pula. “Aku sebenarnya tidak mau dengan semuanya ini...” “Semuanya ini apa...?” potong Wiro Sableng. Anggini menggigit bibir. “Gurumu bersamamu?”
“Tidak....”
“Gurumu yang menyuruh untuk menguntit aku?” Gadis itu anggukkan kepala.
“Perlu apa gurumu menyuruh demikian?” Kembali Anggini menggigit bibir.
“Apa dia belum puas dengan sedikit pertempuran siang tadi...?” Anggini tetap membungkam. Ya, bagaimana dia harus mengatakan pada si pemuda bahwa gurunya menyuruhnya mengejar untuk kemudian berusaha menjadi kawan hidup pemuda itu? Bagaimana dia harus terangkan semua itu! Ingin dia menangis
dan lari dari hadapan pemuda itu. Tapi kepada Dewa Tuak gadis ini takut sekali! Pendekar 212 kerutkan kening. Mendadak mukanya menjadi merah, semerah
langit yang disaputi sinar sang surya yang mau tenggelam di saat itu. Dia ingat akan ucapan Dewa Tuak yang mengatakan bahwa dirinya cocok untuk jadi jodoh muridnya! Pendekar muda ini melirik pada gadis baju ungu. Anggini berparas bujur telur dan molek. Kulitnya kuning dan potongan tubuhnya sedap dipandang mata. Tapi urusan jodoh mana ini pemuda berpikir sampai di situ. Tak ada ingatannya sampai sejauh itu. Bahkan kewajiban berat yang dipikulkan gurunya ke pundaknya, hutang nyawa dendam seribu karat terhadap Suranyali alias Mahesa Birawa sampai hari ini masih belum lunas! Masih belum dilaksanakannya! Wiro Sableng berdiri dari duduknya. Dipandanginya gadis baju ungu itu seketika lalu mengumandanglah gelak tawanya. “Saudari... apakah penguntitan ini ada sangkut pautnya dengan ucapan gurumu si Dewa Tuak?” Paras Anggini semakin merah. “Tadi aku sudah bilang... sebenarnya aku tak
senang dengan semua ini. Tapi guru memaksaku...” “Memaksa bagaimana?!”
“Katanya aku harus mengejarmu sampai dapat. Kalau tak berhasil tak usah kembali kepertapaan. Katanya lagi aku harus... harus...” Anggini tak dapat meneruskan ucapannya.
“Kurasa gurumu itu sudah sinting! Sekurang-kurangnya seperempat sintingl” Meski Anggini memang tak suka menjalankan apa yang diperintahkan Dewa
Tuak namun mendengar nama gurunya dicaci demikian rupa gadis ini jadi marah. “Jangan hina guruku, saudara!” bentaknya.
Wiro Sableng garuk kepala. “Ah... guru dan murid sama saja gebleknya!” kata ini pemuda. “Kalau gurumu suruh kau makan beling dan minum racun, apakah kau juga akan ikuti ucapannya itu...?!” “Guruku tidak segila itu!” bentak si gadis. “Aku memang tidak bilang gurumu gila, tapi sinting!” menukasi Wiro Sableng.
“Sekali lagi kau berani menghina guruku, kutampar mulutmu!” ancam Anggini. Wiro Sableng keluarkan suara bersiul! “Gurumu memang sinting!” katanya lagi.
Anggini telah menyaksikan kehebatan ilmu silat dan ketinggian kesaktian Pendekar 212 waktu terjadi pertempuran di jurang Sanggreng beberapa saat yang lalu. Dari situ dia dapat menyimpulkan bahwa gurunya sekali pun belum tentu akan dapat mengalahkan pemuda itu dengan mudah. Namun saat itu kegemasannya tak dapat ditahan lagi. Tangan kanannya bergerak cepat. Sebaliknya Wiro Sableng malah angsurkan pipi ke muka!
“Plaak!”
Tamparan mendarat di pipi Wiro Sableng. Pendekar muda ini tertawa. “Betapa lembutnya jari-jarimu mengelus pipiku..,” katanya dengan pejamkan mata. “Ayo, tamparlah sekali lagi... dua kali lagi... tiga kali lagi... sesuka hatimulah...!” Wiro menunggu tapi tamparan berikutnya tak datang dan pemuda ini bukakan kedua matanya 'kembali. Dilihatnya Anggini berdiri dengan hidung kembang kempis menahan geram yang menyesaki dadanya. Pendekar 212 tertawa. “Kenapa tidak mau tampar?” tanyanya sinis. Karena digemasi terus-terusan Anggini jadi penasaran sekali. Segera dibukanya selendang ungu yang melilit di pinggangnya yang berpinggul besar. “Eh... saudari kau ini apa mau buka pakaian di depanku?” tanya Wiro Sableng sambil kedip-kedipkan mata dengan ceriwis.
“Pemuda rendah terima selendangku ini!” bentak Anggini. Tangan kanannya bergerak. Ujung selendang berputar pelahan dan lamban ke arah kepala Wiro Sableng. Selendang terbuat dari kain yang halus. Bila benda itu bergerak lamban berarti benda itu dialiri oleh aliran tenaga halus. Dan Wiro tahu bahwa kadangkala tenaga halus lebih berbahaya daripada tenaga kasar yang di luarnya kelihatan hebat. Pemuda ini tak mau menyambuti liuk liku selendang itu. Dia menggeser kedua kaki dan menjauhkan kepalanya. Masih tertawa dia mengejek: “Saudari, tarianmu bagus sekali! Apakah ini juga dari gurumu kau pelajari?!”
Dugaan Pendekar 212 memang tepat. Kalau sekiranya dia mencoba memapasi selendang yang meliuk-liuk itu maka dengan satu sentakan cepat Anggini akan menarik selendang dan melesatkan ujungnya ke mata si pemuda. Ini pun sebenarnya belum ketentuan Wiro Sableng akan kena dihajar begitu saja. Tapi demikianlah kenyataannya bahwa kadangkala ilmu halus dan lembut harus dihadapi dengan kehalusan dan kelembutan pula.
Melihat si pemuda geser kaki menjauh tapi masih dengan sikap mengejek maka kini Anggini rubah permainan selendangnya. Laksana seekor naga selendang ungu itu meliuk dan mematuk kian ke mari. Dan kini barulah Wiro menghadapinya dengan kekasaran pula.
“Saudari, permainan selendangmu patut dikagumi!” memuji Pendekar 212. “Tapi tak cukup pasal kalau kau sampai menyerangku begini rupa. Aku...” Ucapan Wiro Sableng terpotong oleh bentakan Anggini. “Tutup mulut pemuda ceriwis! Lihat selendang!” Ujung selendang ungu dengan sangat tiba-tiba mematuk ke arah mata kiri Wiro Sableng. Ganda tertawa pemuda ini tundukkan kepala untuk mengelak. Sejak tadi meski dia menghadapi serangan-serangan lawan dengan cara kasar tapi sesungguhnya Pendekar 212 terus-terusan mengambil sikap mengelak. Tapi pada saat Wiro Sableng mengelak, pada detik itu pula ujung selendang dengan sangat cepat turun dan melibat leher! Setengah libatan Pendekar 212 cepat-cepat pergunakan tangan kiri untuk rnengibaskan selendang ujung tapi ini tak bisa dilakukannya karena serentak dengan itu Anggini kirim satu tusukan dua ujung jari tangan kiri ke dada kiri Wiro Sableng.
Hebat sekali serangan ini sehingga kalau dilihat dari atas maka serentakan dengan serangan selendangnya tadi, maka sepasang serangan Anggini tak ubahnya seperti sebuah gunting besar yang hendak menggerus tubuh dan leher si pemuda! “Ah... ah... bagus, bagus sekali saudari! Tak percuma kau jadi murid si Dewa Tuak!” memuji Wiro Sableng. Tangan kirinya terpaksa dipalangkan untuk menunggu tusukan jari tangan lawan. Anggini yang tahu bahwa tenaga dalam pemuda itu jauh lebih tinggi darinya batalkan serangan sebaliknya tangan kanannya siap menyentakkan selendang ungu yang ujungnya telah melibat setengah leher Wiro Sableng. Pendekar 212 cepat angsurkan lehernya ke muka untuk mengendurkan selendang sehingga kalaupun detik itu disentak, sentakan itu tak akan mencelakainya. Kemudian dengan tangan kanannya, cepat sekali disampoknya bagian tengah selendang! Anggini sama sekali tak dapat melihat cepatnya tangan kanan lawan yang menyampoki senjatanya. Dia hanya tahu tiba-tiba saja bagaimana selendangnya menjadi menegang dan tertarik ke muka!
Sesaat mengetahui bahwa selendangnya kena terpegang lawan terkejutlah gadis ini, tapi juga penasaran sekali. Dibetotnya selendang itu namun mana Wiro Sableng mau lepaskan, malahan sebaliknya pemuda ini tarik selendang tersebut sehingga tubuh Anggini sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah ikut tertarik ke hadapannya. Anggini memaki dalam hati.
“Sambut paku perakku, rnanusia rendah!” bentak gadis itu. Sekali dia gerakkan tangan kirinya maka selusin benda yang besarnya setengah jengkal, berbentuk paku dan berwarna putih perak mendesing ke arah Wiro Sableng. Karena jarak mereka terpisah dekat sekali maka dua belas senjata rahasia ini sangat berbahaya bagi keselamatan si pemuda. Anggini sendiri tiba-tiba merasa menyesal melepaskan senjata rahasia itu karena kawatir si pemuda tak dapat berkelit atau memapakinya, karena bukankah gurunya telah berpesan bahwa pemuda itu adalah cocok bakal jadi jodohnya...?! Sebaliknya yang diserang tenang-tenang saja. Bahkan sambil bersiul dilambaikannya tangan kirinya. Delapan paku perak luruh ke tanah sedang yang empat lagi dielakkan dengan berkelit sedikit ke samping.
Kalau tadi dia merasa menyesal menyerang pemuda itu dengan senjata rahasianya maka kini setelah si pemuda berhasil selamatkan diri, kembali Anggini menjadi penasaran. Dia memiawik keras, lompat ke atas dan kirimkan dua tendangan jarak dekat susul rnenyusul. “Ah, tak sangka gadis molek begini galak sekali!” kata Wiro Sableng pula. Dia melompat ke samping. Membuat gerakan satu putaran, dan sebelum Anggini turun ke tanah, kedua kaki gadis itu sudah terlibat selendangnya sendiri! Membuatnya berdiri dengan terhuyung-huyung tak bisa melangkah!
Wiro tertawa gelak-gelak. “Ayo, kenapa berhenti galaknya?” tanyanya mengejek. Karena sampai saat ini Anggini masih memegang ujung yang lain dari selendangnya maka dengan cepat dia dapat membukanya kembali. Paras gadis ini merah sekali. Matanya menyorot memandang kepada Wiro Sableng, sebaliknya Pendekar 212 dengan ceriwis mengedip-ngedipkan matanya!
“Senjata apa lagi yang bakal kau keluarkan?!” tanya Wiro.
“Lepaskan selendangku!” teriak Anggini.
Wiro hanya tertawa.
“Lepaskan!” teriak gadis itu lagi. Dicobanya menyentakkan selendang itu tapi Wiro memegangnya erat sekali. Kalau ditariknya keras pasti selendang kain itu akan robek. Kesal dan gemas akhirnya dengan menghentakkan kaki Anggini lepaskan selendangnya, putar tubuh dan lari ke balik sebuah batu besar. Di sini menangislah gadis itu. “Heh... kenapa jadi nangis?” tanya Wiro ketika dia melangkah dan datang di balik batu besar. Pemuda ini jadi garuk-garuk kepala. Lalu katanya: “Saudari, lihat, hari sudah senja. Sebaliknya kau kembalilah ke tempat gurumu! Kalau tidak pasti kau akan sesat di malam yang gelap nanti!”
“Aku tak mau kembali! Tak bisa kembali ke pertapaan!” jawab Anggini di antara tangis sesungguhnya.
“Kenapa tak mau? Kenapa tak bisa?”
“Guruku akan marah!”
“Marah kenapa?” tanya Wiro tagi.
“Sudah... sudah! Kau tidak tahu!” Dan tangis Anggini semakin mengeras.
“Lalu kalau kau tak mau kembali ke tempat gurumu, apa kau bakal nginap di sini?!”
“Tak usah perdulikan aku! Biar aku mau malang mau melintang tak usah ambil pusing!
Pergi dari sini kau...!” Anggini menyeka mata dan pipinya.
“Tak perlu bicara keras macam begitu, Saudari. Antara kita tak ada permusuhan. Ini
semua adalah gara-gara gurumu yang berotak sinting itu!”
“Jangan hinakan guruku!” hardik Anggini.
“Kau seorang murid yang baik. Patuh terhadap guru dan juga hormati Tapi sayang kau juga turut-turutan bertindak tidak pakai pikiran sehat. Sekarang sudah, kembalilah ke pertapaan gurumu sebelum hari menjadi malam...”
“Tidak!”
Wiro Sableng melangkah ke belakang Anggini. Kasihan-kasihan lucu dia merasa saat itu. Akhirnya pemuda ini berkata juga: “Ini selendangmu. Kalau kau banyak berlatih pasti kau menjadi seorang gadis yang hebat....” Wiro lantas menyampirkan selendang ungu itu di pundak si gadis. Ketika dia memandang ke langit dilihatnya bintang-bintang sudah bermunculan dan bulan sabit kelihatan samarsamar di balik awan. “Sudah malam....” desis pemuda ini. Kemudian dia memandang pada gadis yang berdiri di depannya dengan membelakang itu. “Pergilah cepat, saudari. Nanti kau kemalaman di jalan....”
Anggini gelengkan kepala. “Guruku akan marah... akan marah kalau aku kembali.... “
“Kalau begitu ya tak usah kembali saja...” ujar Wiro Sableng.
“Aku memang tak bakal kembali...” kata Anggini pula.
“Hem... dan kau mau pergi ke mana?”
“Apa urusanmu tanya-tanya?”
“Ah...” Wiro tertawa. Dia melangkah ke hadapan si gadis. Kemudian dipegangnya pundak Anggini. Si gadis dengan serta merta hendak menyibakkan tangan itu. Tapi tubuhnya sudah keburu dijalari perasaan aneh yang menggelora-gelora sampai ke lubuk hatinya. Tak kuasa dia menyibakkan pegangan tangan pada bahu itu. “Saudari, dengarlah…” kata Wiro pula. Tangannya masih memegang bahu si gadis malahan meremas-remasnya dengan lembut. “Dalam hubungan guru dan murid walau bagaimana pun kau musti kembali ke pertapaan. Kau tak boleh tempuh jalan sehdiri. Kalau kau tak kembali malah gurumu akan marah sekali. Kau pasti akan dihukumnya!” “Tapi bagaimana aku mungkin bisa kembali? Tidak bisa saudara.., kau tidak tahu....”
“Apa yang aku tidak tahu?” tanya Wiro.
Tak mungkin bagi Anggini untuk mengatakannya dengan terus terang. Namun terluncur juga ucapan dari mulutnya: “Kalau aku musti kembali kata guruku... aku harus bersamamu...”
Wiro tertawa. Suara tertawanya menggema di daerah sepi dingin di permulaan malam itu.
“Saudari... namamu siapa?” bertanya Wiro Sableng. Dan karena tadi gadis itu diam saja diremas bahunya maka tangan Wiro kini meluncur ke pipi, membelai pipi yang masih belum kering dengan air mata itu. Rasa yang menyentak-nyentak mendebarkan dada si gadis kini tambah keras dari tadi. Lagi-lagi tak kuasa dia menyibakkan tangan yang membelai-belai itu. Ditundukkannya kepalanya.
“Siapa namamu, saudari...?” tanya Wiro lagi.
“Anggini,” jawab si gadis perlahan.
“Nama bagus... nama bagus,” puji Pendekar 212 dan tangannya semakin berani membelai muka Anggini. “Dengar Anggini, orang tua macam gurumu itu memang suka bicara ngelantur. Sekarang kau kembali saja ke pertapaannya dan katakan bahwa kau tak berhasil mengejar atau menemui aku. Habis perkara. Atau kalau tidak katakan saja kau telah menemuiku dalam keadaan tak bernyawa mati di jurang Sranggreng!”
“Aku tak bisa berdusta... kalau aku berdusta dia selalu mengetahuinya!” kata Anggini pula.
“Wah berabe kalau begini!” ujar Pendekar 212 dengan garuk-garuk kepala. Dia berpikir-pikir apa yang akan diperbuatnya. Kalau ditinggalkannya gadis itu sendirian di situ, tak tega pula hatinya. Pemuda ini hela nafas panjang. Akhirnya diajaknya gadis itu duduk di sebuah batu datar. Daerah belantara di mana mereka berada saat itu serba asing baginya. Mungkin sampai ratusan tombak bahkan ribuan tombak perjalanan belum menemui rumah penduduk.
Apakah dia dan gadis itu terpaksa tinggal terus di tempat itu malam ini? Angin bertiup dari celah-celah batu-batu yang meruncing memenuhi tempat itu. “Dingin...?” bisik Pendekar 212. Anggini mengangguk. Dan tangan kiri Pendekar 212 bergerak di balik punggung si gadis untuk kemudian merangkul bahu Anggini. Suasana berubah hangat. Dan untuk beberapa lamanya mereka tiada bicara.
Wiro memecah kesunyian. “Kalau kau tak mau kembali ke pertapaan dan aku tak bisa pula meninggalkan kau sendirian maka kita terpaksa bermalam di sini. Tunggulah sebentar aku akan cari tempat yang baik....”
“Nanti sajalah.... “ kata Anggini. Diletakkannya tangan kanannya di paha Pendekar 212 dan dia memandang ke angkasa.
“Langit cerah,” kata Wiro. “Kalau nanti turun hujan, memang. kita yang sialan.... !” Anggini tertawa. Manis sekali tertawa itu. Hati Pendekar 212 sejuk sekali jadinya. Dan diperketatnya rangkulannya. Kemudian dengan beraninya pendekar ini menggelitiki tengkuk si gadis dengan hidungnya.
“Jangan begitu ah....” kata Anggini menggeliat kegelian. Tapi tubuh dan tengkuknya tidak dijauhkannya. Malam itu Wiro Sableng sengaja tidak membuat, perapian. Dia khawatir kalau-kalau nyala api hanya akan mengundang datangnya hal-hal yang tidak diingini. Apalagi kalau yang datang itu adalah Dewa Tuak adanya. Meskipun dingin, meskipun mereka hanya terbaring di balik batu besar hitam itu dan beratapkan langit luas namun tubuh mereka yang berada berdekatan itu saling memberi kehangatan. Pendekar 212 ingat pada suatu malam ketika dia berada berdua-duaan di sebuah dangau di tengah sawah dengan Nilamsuri. Malam ini tak ada bedanya dengan malam yang dulu itu. Sama-sama ada seorang gadis di sampingnya. Tapi terhadap Anggini, Pendekar 212 masih punya pikiran panjang dan sehat: Meski saat itu Anggini sudah berbaring pasrahkan seluruh tubuhnya untuknya dan memang sudah hampir setiap bagian dari tubuh Anggini disentuh oteh Pendekar 212, namun untuk berbuat lebih jauh dari itu pemuda ini tidak mau. Tubuh perawan itu laksana bara hangatnya, tangannya menggapai punggung Wiro dan pahanya melejang-lejang halus. Tapi Pendekar 212 hanya merangkuli tubuh itu, hanya mengecupi bibirnya yang basah, hanya menciumi matanya yang sayu kuyu tapi menyembunyikan hasrat yang meluap itu.

Sinar matahari yang menyapu mukanya membuat gadis ini terbangun dari kenyenyakan tidurnya. Dibukanya kedua matanya dengan pelahan, digosoknya beberapa kali kemudian dipalingkannya kepalanya ke samping. Dia terkejut mendapatkan pemuda itu tak ada di sampingnya, la segera bangun duduk, lalu berdiri dan memandang ke belakang. Tapi pemudaitu tidak kelihatan.
“Wiro,” panggilnya.
Tak ada yang menyahut.
“Wiro.... !” panggilnya sekali lagi lebih keras. Hanya gaung suaranya yang menjawab. Tiba-tiba ketika matanya memandang ke batu besar di samping pembaringan di mana dia dan Wiro tidur semalam terbentur olehnya tulisan. Tulisan. Anggini Maafkan kalau aku pergi tanpa pamit. Aku terpaksa meninggalkan kau. Kalau ada umur kita pasti bertemu lagi. Kembalilah ke tempat gurumu. Terima kasih untuk segala-galanya malam tadi.
212
Anggini merasakan dadanya menyesak. Digigit-gigitnya bibirnya. Nyatanya pemuda itu sudah pergi. Tubuhnya masih terasa hangat oleh pelukan Wiro malam tadi. Seperti masih terasa jari-jari tangan pemuda itu mengelusi kulit tubuhnya. Juga kecupan-kecupan yang disertai gigitan-gigitan kecil.
Terima kasih untuk segala-galanya malam tadi Anggini membaca lagi tulisan itu. Termangu dia. Diputarnya tubuhnya, parasnya ke kemerahan, ditambah lagi sentuhan sinar matahari pagi. Tak mungkin baginya untuk mengejar pemuda itu kembali. Dia tak tahu apakah Wiro pergi larut malam tadi atau dinihari, atau pagi tadi sebelum dia bangun. Gadis ini tarik nafas panjang dan dalam. Ketika dia membetulkan ikatan selendang ungunya yang di pinggang, maka pada ujung selendang itu dilihatnya sederetan angka: 212. Sekali lagi gadis ini tarik nafas dalam dan panjang. Lalu dengan langkah gontai ditinggalkannya tempat itu.

TUJUH
Kerajaan Pajajaran… Pada masa itu Kerajaan Pajajaran masih belum luas pengaruhnya di Jawa Barat. Bahkan dengan kesultanan Banten di pantai Utara masih terdapat hubungan baik, belum ada silang sengketa. Di bawah pemerintahan Prabu Kamandaka maka Kerajaan Pajajaran aman tenteram. Penduduk hidup berkecukupan. Tapi di dunia ini selalu saja ada manusia yang berbusuk hati, yang iri dan dengki. Yang tidak senang dengan kebahagiaan orang lain, yang tidak suka dengan keberuntungan orang lain, yang tidak suka akan kekuasaan orang lain dan ingin meruntuhkan kekuasaan orang lain itu lalu
ganti menguasainya! Saat itu satu-satunya manusia di seiuruh Pajajaran yang paling membenci Prabu Kamandaka ialah Werku Alit. Dalam tambo keturunan raja-raja Pajajaran maka Prabu Purnawijaya adalah satu-satunya raja pajajaran yang tidak mempunyai keturunan kandung dari permaisurinya. Mungkin ini sudah menjadi takdir Dewa-dewa di Kahyangan, dan ini jugalah yang menjadi pangkal sebab buntut daripada terjadinya banjir darah di Pajajaran. Ketika Prabu Purnawijaya mangkat maka tokoh-tokoh istana, ahli-ahli agama dan orangorang tua kerajaan menyepakati untuk menobatkan Kamandaka, adik kandung Prabu Purnawijaya, menjadi raja Pajajaran. Kamandaka memang seorang yang bijaksana, pandai serta berilmu tinggi, disegani dan dihormati. Memang dia telah menunjukkan bakat untuk menjadi seorang pemimpin agung. Lagi pula memang tak ada manusia lain di Pajajaran saat itu yang punya hak dan pantas untuk dinobatkan sebagai pengganti mendiang Prabu Purnawijaya.
Dari seorang selirnya, Prabu Purnawijaya mempunyai seorang anak yang bernama Werku Alit. Werku Alit ini tua beberapa bulan dari Kamandaka. Ketika masih orok keduanya sama-sama disusukan pada seorang perempuan penyusu istana sehingga boleh dikatakan antara Werku Alit dan Kamandaka terjalin sudah satu pautan tali persaudaraan! Namun ketika Kamandaka dinobatkan sebagai Prabu Pajajaran timbullah dengki di hati Werku Alit. Bukankah Kamandaka hanya adik Prabu Purnawijaya; bukan anak kandungnya? Dan bukankah dia sebagai anak dari Prabu Purnawijaya, lebih mempunyai hak untuk memegang tahta kerajaan? Werku Alit dalam dengkinya, apalagi sesudah kena hasutan oleh golongangdongan tertentu yang memang tidak suka pada Kamandaka, lupa bahwa dirinya hanyalah seorang anak yang dilahirkan dari selir Prabu Pumawijaya, yang sama sekali tidak punya hak untuk menjadi raja Pajajaran. Demikianlah, secara diam-diam Werku Alit meMnggalkan istana Pajajaran, mengembara menuntut ilmu dan menghubungi beberapa orang tertentu. Ketika dia kembali ke istana maka saat itu dia sudah menyusun suatu rencana besar. Yaitu untuk merebut takhta kerajaan dengan jalan kekerasan! Dengan pertempuran, dengan peperangan! Dalam pengembaraan itulah Werku Alit bertemu dengan Suranyali atau Mahesa Birawa. Tahu bahwa Mahesa Birawa seorang manusia sakti luar biasa maka Werku Alit mengambilnya sebagai tangan kanan dengan perjanjian bila kerajaan berhasil digulingkan maka Mahesa Birawa akan dijadikan Perdana Menteri!
Dalam menjadi tangan kanan membantu rencana busuk Werku Alit. Mahesa Birawa mempunyai rencana sendiri, rencana dalam selimut. Jika kerajaan jatuh dan Werku Alit menang, maka Mahesa dan kawan-kawannya akan menyingkirkan Werku Alit untuk kemudian dia sendiri yang akan menampilkan diri menduduki tahta kerajaan Pajajaran.

Di hutan belantara di sekitar kaki Gunung Halimun kelihatan bertebaran ratusan buah kemah. Inilah pusat balatentara pemberontak yang hendak merebut tahta kerajaan Pajajaran di bawah pimpinan Werku Alit. Sementara Werku Alit kembali ke Pajajaran maka pimpinan dipegang langsung oleh tangan kanannya yaitu Mahesa Birawa. Di sini berhimpun sekitar seribu prajurit. Kebanyakan dari pasukan-pasukan ini didapat Werku Alit dan Mahesa Birawa dari Adipati-adipati kecil yang bernaung di bawah Pajajaran tapi yang kena dipengaruhi dan dihasut oleh kedua orang itu. Bahkan saat itu Mahesa Birawa masih menunggu beberapa orang Adipati lagi yang telah dihubunginya.
IZRO'IL
Maut Bernyanyi Di Pajajaran


Jika Adipati-adipati ini datang dan menyerahkan beberapa ratus prajurit tambahan maka dapatlah diatur kapan dilaksanakan penyerangan terhadap Pajajaran. Sementara waktu menunggu maka semua prajurit senantiasa dilatih perang-perangan. Para kepala-kepala pasukan diberi tambahan ilmu silat dan kesaktian yang lumayan oleh Mahesa Birawa sedang para Adipati yang saat itu sudah bergabung Mahesa Birawa menurunkan beberapa ilmu kesaktiannya. Mahesa merasa sangat menyesal sekali ketika mendapat kabar bahwa tiga orang anak buahnya yang; diam di Jatiwalu telah menemui ajal akibat bentrokan dengan anak-anak murid Perguruan Gua Sanggreng sedang Kalingundii hilang lenyap tak tentu rimbanya. Kalau saja keempat manusia itu ada di sana tentu tak usah payah-payah dia menggembleng kepala-kepala pasukan dan Adipatiadipati itu. Tapi tak apa payah sedikit. Nanti dia akan memetik hasilnya sendiri!
Di dalam kemah besar yang terletak di tengah-tengah ratusan kemah di kaki Gunung Halimun itu, mengelilingi sebuah meja bulat telur maka duduklah empat orang laki-laki. Yang pertama tak lain dari Mahesa Birawa, kumis melintang dan badan semakin gemuk. Yang kedua Adipati Karangtretes yaitu Jakaluwing, bercambang bawuk lebat, potongan tubuhnya tegap kekar. Yang ketiga, yang duduk di samping kiri Mahesa Birawa ialah seorang berbadan tinggi kurus bermuka licin bernama Surablabak. Dia adalah Adipati Manganreja. Yang terakhir seorang laki-laki berbadan gemuk pendek, berkepala sulah. Sinar lampu dalam kemah membuat kepalanya itu berkilat seperti bersinar-sinar. Manusia ini bernama Lanabelong, Adipati Kendil.
Di atas meja, di hadapan keempatnya terletak masing-masing segelas tuak murni dan harum.
Ketiga Adipati itu telah kena dihasut oleh Mahesa Birawa dan Werku Alit untuk memberontak terhadap Pajajaran dan kepada mereka dijanjikan kedudukan sebagai Menteri kerajaan bila pemberontakan mereka berhasil kelak.
“Silahkan diteguk tuaknya, saudara-saudara Adipati,” kata Mahesa Birawa pula sesudah keheningan mengungkungi kemah itu beberapa lamanya. Masing-masing kemudian meneguk tuak yang enak itu. Di malam yang dingin minum tuak memang enak menghangatkan tubuh. Jakaluwing raba cambang bawuknya. Lalu bertanya:'“Kapan kira-kira saatnya kita akan menggempur Pajajaran, adimas Mahesa Birawa?”
“Soal penggempuran itu kangmas Jakaluwing, sebenarnya saat ini pun kita sudah sanggup melakukannya. Jumlah prajurit cukup, tenaga pimpinan, rata-rata sudah berpengalaman dan dapat diandalkan. Cuma kita tak enak kalau meninggalkan saudara-saudara Warok Gluduk dan Tapak Ireng. Kedua Adipati itu telah berjanji akan bergabung dengan kita bersama beberapa ratus prajurit-prajurit mereka. Ada baiknya jika kita tunggu kedatangan mereka. Sesudah itu baru kita hubungi Raden Werku Alit untuk menentukan kapan saat yang baik untuk penyerangan....”
Adipati Jakaluwing manggut-manggut.
“Begitu memang bagus,” kata Lanabelong. Adipati berkepala sulah. Lalu diteguknya
tuaknya.
“Di samping itu, mengingat bahwa di Pajajaran tentunya terdapat tokoh-tokoh pelindung yang berilmu tinggi maka kita musti tidak pula menyia-nyiakan bantuan yang hendak diberikan oleh Begawan Sitaraga yang diam di puncak Gunung Halimun!” “Ah, hebat sekali kalau Begawan yang tersohor ini ikut di pihak kita!” kata Surablabak sambil pukul meja.
“Sebenarnya,” kata Mahesa Birawarpula. “Begawan Sitaraga ini mempunyai dendam kesumat yang masih belum terbalaskan terhadap toa Pajajaran yaitu kakek dari Kamandaka....”
“Kalau Begawan ini setingkat umurnya dengan kakek Kamandaka, tentu kini kira-kira sudah seratusan usianya...” kata Lanabelong.
“Kira-kira begitutah,” sahut Mahesa Birawa. Kemudian laki-laki ini berseru memanggil
pelayan untuk menyuruh tambah tuak di keempat gelas itu.
Sesudah pelayan pergi Mahesa Birawa buka mulut kembali. “Besok aku akan kirimkan dua orang kurir ke Pajajaran untuk menemui Raden Werku Alit. Kuminta kepadanya untuk menyebar mata-mata lebih banyak, terutama di dalam istana guna mengetahui perkembangan terakhir, terutama mencari kabar selentingan apakah gerakan kita ini bocor atau tidak.... “
“Dan jangan lupa pula untuk meneliti pertahanan Pajajaran di mana yang lemah,” kata Lanabelong.
Mahesa Birawa mengangguk. “Saudara-saudara Adipati, agaknya pertemuan kita malam ini cukup. Sampai besok pagi.”
Keempat orang itu saling menjura kemudian satu demi satu meninggalkan kemah besar khusus untuk tempat perundingan, menuju ke kemah masing-masing.
-- == 0O0 == --
DELAPAN
Laki-laki itu berjalan di liku-liku lorong bagian belakang istana dengan menundukkan kepala. Sekali-sekali dilewatinya para pengawal. Pengawal-pengawal istana tidak menegur atau menahan laki-laki ini karena semuanya tahu bahwa laki-laki itu adalah Udayana, pembantu Prabu Kamandaka. Segala urusan rumah tangga sang Prabu dialah yang mengurusnya. Di pintu besar gedung istana sebelah belakang laki-laki ini berhenti sebentar lalu menyeberangi halaman kecil dan masuk ke pintu sebuah bangunan kecil yang bagus bentuknya.
Justru di sini dua orang pengawal memalangkan tombak menghentikannya.
“Aku mau ketemu Raden Werku Alit,” kata Udayana.
“Ada keperluan apa?” tanya salah seorang pengawal.
“Beliau sudah tahu.”
“Tunggu di sini,” Pengawal itu masuk yang seorang tetap di tempatnya.
Tak lama kemudian pengawal yang masuk muncul kembali. “Kau dipersilahkan menghadap.” katanya memberi tahu.
Udayana mengangguk dan memasuki pintu gedung.
Di dalam sebuah kamar yang luas, Werku Alit menyambut kedatangannya. Ditepuktepuknya bahu Udayana. “Bagaimana? Ada perkembangan baru...?” Werku Alit berbadan tinggi langsing dan me-melihara kumis panjang menjulai seperti tali, seperti raja-raja Tiongkok!
“Perkembangan baru belum ada Raden.... Cuma ada satu berita. Mungkin sedikit banyak nya ada perlunya juga saya sampaikan kepada Raden...”
“Bagus, katakanlah Udayana....”
“Rara Murni adik Kamandaka siang besok akan berangkat ke Kalijaga untuk
menyambangi adik neneknya. Dia akan pergi dengan kereta dan dikawal secukupnya.... “
“Hem....” Werku Alit menggumam dan mengusut-usut kumis talinya. “Aku belum melihat adanya hubungan keteranganmu ini dengan rencanaku. Tapi tunggu sebentar, coba kupikir....” Tangan yang tadi mengusut kumis ini memijit-mijit kening. Dan tangan itu tiba-tiba menepuk bahu Udayana sampai laki-laki ini terkejut. “Aku telah melihat kegunaan keteranganmu ini Udayana. Suruh seorang mata-mata kita menghubungi Kalasrenggi. Katakan bahwa aku akan bicara dengan dia malam ini di pondok tua di luar tembok kerajaan.” Udaya menjura.
“Perintah Raden akan saya jalankan,” katanya lalu cepat-cepat meninggalkan kamar itu.
* * *
Seluruh balatentara kerajaan Pajajaran dibagi atas lima kelompok pasukan dan tiap-tiap pasukan dibagi dual masing-masing bagian dikepalai oleh seorang yang disebut kepala prajurit, Kalasrenggi adalah salah seorang dari kepala pasukan balatentara Pajajaran. Sebagai kepala pasukan tentu saja dia memiliki ilmu dan pengalaman yang dapat diandalkan. Dan memang banyak orang yang mengatakan bahwa diantara lima kepala pasukan Pajajaran maka Kalasrenggi adalah yang paling tinggi ilmunya. Tapi sayang kepala pasukan ini, telah pula terseret ke dalam rencana busuk Werku Alit dan Mahesa Birawa. Telah kena bujuk dan dihasut untuk memberontak dan menggulingkan pemerintahan Prabu Kamandaka!
Siang tadi seorang suruhan Raden Werku Alit telah menemui Kalasrenggi dan
menyampaikan pesan bahwa Werku Alit akan bicara dengan dia malam ini di pondok tua di luar tembok kerajaan. Maka malamnya dengan seorang diri berangkatlah Kalasrenggi ke ternpat yang ditentukan itu. Dia sampai ke pondok tua itu. Sebenarnya tak pantas disebut pondok karena sama sekali bangunan tua itu tiada mempunyai dinding dan atapnya pun sudah sebagian melompong dimakan umur. Pondok atau lebih tepat teratak itu sunyi saja. Tak seorang pun kelihatan di sana.
Kalasrenggi berpikir tentu Raden Werku Alit belum sampai ke sana, maka dia pun menunggulah. Dinyalakannya sebatang rokok. Dia memandang ke angkasa. Langit kelihatan mendung. Bintang-bintang mulai tertutup awan. Bulan menghilang dan angin bertambah besar serta dingin. Dia tak sabaran menunggu. Rokok yang dihisapnya sudah hampir habis. Berbarengan ketika rokok itu dibuangnya ke tanah maka dipengkolan muncul tiga sosok bayangan. Dua dari sosok bayangan itu berhenti sedang yang satu terus melangkah ke arah teratak itu.
“Sudah lama kau...?” bertanya orang yang datang ini yang tak lain dari Werku Alit adanya.
“Sudah juga,” sahut Kalasrenggi. “Raden mau bicara apa dengan saya?”
Sementara itu hujan rintik-rintik mulai turun. Angin tambah kencang. “Ada tugas buatmu besok Kalasrenggi,” kata Werku Alit.
“Tugas apakah, Raden?”
Hujan rintik-rintik berubah menjadi lebat. Guruh menggelegar. Kilat menyambar.
Sesosok bayangan putih dibawah penerangan kilat yang hanya sedetik saja terangnya, kelihatan berlari sangat cepat menuju teratak tua itu. Werku Alit dan Kalasrenggi terkejut sekali dan tangan-tangan mereka segera meraba hulu senjata di pinggang masing-masing!
“Hujan sialan!” Terdengar orang yang baru datang ini merutuk. Kemudian dia berpaling pada Werku Alit dan Kalasrenggi dan berkata: “Saudara-saudara, aku numpang mondok samasama kalian.”
Werku Alit dan Kalasrenggi memandang tajam pada laki-laki yang baru datang ini. Dia masih muda, berbadan kekar dan berambut gondrong. Kedatangannya mau tidak mau mencurigakan kedua orang itu meski ada alasan bahwa dia datang ke sana untuk berteduh karena hari hujan lebat.
“Kau siapa?!” tanya Kalasrenggi membentak garang. Pandangannya buas sekali. Tangan kirinya menyelinap ke pinggang.
Laki-laki muda yang dibentak memandang dengan keheran-heranan. “Memangnya apa aku tidak boleh mondok di sini, Saudara?!”
“Aku tanya kau siapa dan jangan banyak tanya!” hardik Kalasrenggi.
Pemuda itu bersiul dan menyeringai. “Tak usahlah bicara pakai membentak segala.
Urusan kecil kalau dipersoalkan dengan kasar bisa menimbulkan gara-gara yang tidak diingini!”
Kalasrenggi dengan tidak sabar melangkah ke hadapan pemuda itu dan hendak
menempelaknya. Tapi langkahnya dihentfkan ketika dalam kegelapan dan masih sempat rnelihat isyarat yang diberikan oleh Werku Alit. Werku Alit tak ingin terjadi keributan yang buntutbuntutnya bisa membocorkan rencana besamya. Karena itu dengan terancam dia melangkah mendekati pemuda itu.
“Saudara,” kata Werku Alit sambil memegang bahu si pemuda. “Harap maafkan.
Kawanku memang lagi kasar berangasan habis kalah judi! Sudahlah, tak ada yang harus kita
ributkan di malam buta begini, mana hujan, mana dingin. Bukankah begitu...?”
“Ah... tepat sekali saudara....” jawab si pemuda. Werku Alit tersenyum. Tiba-tiba laksana kilat cepatnya, dua jari tangan kirinya menusuk ke muka menghantam urat besar di bagian kiri tubuh si pemuda. Tak ampun lagi pemuda itu rebah ke tanah. Sebagian kakinya terjulur lewat atap dan segera diguyur oleh air hujan!
Werku Alit tertawa mengekeh. “Pemuda konyol mau banyak tingkah!”
“Tapi siapa tahu dia bukan pemuda biasa. Raden. Mungkin mata-mata....”
“Ah, tampangnya saja geblek, dogol, bagaimana bisa jadi mata-mata? Buktinya sekali totok saja sudah rubuh!”
Kalasrenggi memandang sosok tubuh yang menggeletak menelungkup itu. Dia bermaksud untuk menggeledah pemuda itu namun didengarnya Werku Alit berkata:
“Sudah, tak perlu perdulikan kunyuk itu! Mad kita muiai pembicaraan. Menurut keterangan pembantu rahasiaku, besok siang Rara Murni akan berangkat dengan kereta ke Kalijaga. Tugasmu culik gadis itu, sekap di kuil tua di lembah Limanaluk. Bila sudah beri laporan sama aku biar aku tentukan langkah selanjutnya!”
“Itu tugas mudah, Raden,” kata Kalasrenggi. “Tapi saya ingin tahu siapa-siapa saja yang ikut dengan Rara Murni...?”
“Aku tak mendapat keterangan tentang hal itu. Yang penting kau harus tangkap Rara Murni hidup-hidup. Yang lainnya kalau melawan bereskan saja, habis perkara!”
“Baiklah Raden. Sebelum malam tiba besok, saya akan mengirimkan seseorang untuk memberitahukan bahwa tugas sudah selesai....”
Werku Alit menepuk bahu kepala pasukan itu. “Nah, aku pergi sekarang!”
Kalasrenggi memperhatikan sampai ketiga orang itu lenyap di kejauhan dalam kegelapanmalam. Kemudian laki-laki ini memutar tubuh dan kembali matanya memandangi manusia yang menelungkup di bawah teratak itu. Dia membungkuk hendak menggeledah, meneruskan niatnya yang tadi batal, tapi kemudian terpikir olehnya, perlu apa susah-susah dengan diri orang lain.
Dengan seenaknya Kalasrenggi menendang tubuh laki-laki yang menggeletak itu sehingga tubuh
itu terlontar sampai beberapa tombak! Kalasrenggi kemudian berlalu pula dari teratak tua itu.
-- == 0O0 == --
SEMBILAN
Hanya beberapa ketika saja Kalasrenggi meninggalkan teratak tua itu maka orang yang tadi ditotok dan ditendang anehnya tiba-tiba berdiri dengan cepat. Dia melangkah kembali ke bawah teratak. Disekanya mukanya yang basah oleh air hujan dan berselomotan lumpur. Diperhatikannya pakaiannya, kotor semua. Ditepuk-tepuknya pinggul kirinya yang tadi bekas kena ditendang Kalasrenggi.
“Sialan betul! Sakit juga tendangan kunyuk itu!” makinya seorang diri. “Di lain hari aku akan balas keramah tamahannya tadi!”
Sesungguhnya sewaktu Werku Alit menotoknya tadi, orang ini sudah dapat menduga gerakan dan maksud Werku Alit. Sebelum totokan datang cepat-cepat bagian tubuh di samping kiri dialirkan dengan tenaga dalam. Kemudian ketika totokan Werku Alit mendarat di tubuhnya, taki-laki ini pura-pura jatuh tak sadarkan diri. Demikian juga ketika Kalasrenggi menendangnya, dia dalam meneiungkup pura-pura pingsan masih sempat melihat gerakan kaki orang itu dan bersiap menjaga diri sehingga waktu ditendang tubuhnya hanya terasa pegal-pegal sedikit! Dan apa yang telah dibicarakan kedua orang itu dapat didengarnya dengan jelas.
Orang ini duduk bergelung lutut dan berpikir-pikir. Siapakah gerangan kedua orang tadi?
Siapa yang dipanggil dengan sebutan “raden” dan siapa yang satu lagi? Mengapa mereka bicara di tempat terpencil dan di malam hari berudara buruk seperti ini? Dan tugas yang diberikan oleh orang yang dipangglkan “raden” itu? Siapakah Rara Murni? Apakah keduanya bukan gerombolan-gerombolan rampok pengacau? Yang hendak menculik Rara Mumi kemudian melakukan pemerasan terhadap orang tua gadis itu?
Orang itu usut-usut dagunya. Banyak yang tak dimengertinya atas apa yang telah dialaminya tadi. Tapi esok bila hari sudah siang dia bisa mencari keterangan di Kotaraja. Sejak pagi sampai saat itu sudah beberapa jam dia mengelilingi Kotaraja. Berbagai tempat dan pelosok didatanginya. Namun tampang-tampang manusia yang dua orang yang ditemuinya malam tadi tak berhasil dicarinya. Akhimya masuklah dia ke dalam sebuah kedai. Memang saat itu tenggorokannya sudah seperti terbakar oleh rasa haus dan perutnya perih keroncongan.
Sambil makan dia terus juga berpikir-pikir. Rasanya tak mungkin kedua orang yang semalam itu gerombolan-gerombolan rampok. Seorang rampok tak akan dipanggil “raden”. Pasti yang dipanggil “raden” itu seorang bangsawan kaya. Lalu kenapa bangsawan kaya mau menculik gadis orang? Mungkin pernah melamar tapi tak diterima?
Dia menyudahi makanannya. Ketika dia memandang berkeliling ternyata kedai itu sudah penuh dengan tamu-tamu yang makan siang. Dengan perut kenyang dia kemudian melangkahmendekati pemilik kedai. Ditanyakannya berapa jumlah yang harus dibayarkannya lalu
diberikannya sejumiah uang.
“lni kembalinya, Nak,” kata orang kedai. Dia sudah tua. Rambutnya sudah putih semua.
“Ah, tak usah. Ambil saja....” kata pemuda.
Si orang tua jadi keheranan. Demikian juga beberapa orang yang duduk di dekat sana.
Pemuda yang berambut gondrong, berpakaian lusuh serta bertampang keren tapi macam anakanak itu berlagak seperti seorang kaya raya yang punya banyak uang, sok tak mau terima uang kembalian! Tapi perhatian orang hanya sebentar tertuju kepada si pemuda. Masing-masing kemudian sibuk mengurusi mulut dan perutnya sendiri.
Si pemuda mendekati pemilik kedai dan berkata pelahan: “Uang yang kulebihkan itu untuk membayar beberapa keterangan darimu, Bapak,” katanya.
“Keterangan?” Si orang tua kerenyitkan kening. “Keterangan apa...?”
“Bapak sudah lama tinggal di Kotaraja ini?”
“Dari masih orok sampai punya buyut!” jawab pemilik kedai pula. Hatinya masih
bertanya-tanya dan heran. “Kenapa anak tanya begitu?”
“Oh tak apa-apa.... Mungkin bapak kenal dengan seorang perempuan bernama Rara
Murni?” Pertanyaan ini membuat si orang tua lebih heran. “Semua orang di Pakuan ini tahu siapa
Rara Murni,” katanya.
“Oh pantas.. pantas... Rara Murni yang kau tanyakan itu adalah adik Sang Prabu
Kamandaka!” Tentu saja si pemuda mendengar ini jadi kaget sekali. Siapa sangka kalau Rara
Murni adik dari raja Pajajaran?! Namun dengan pandainya dia menyembunyikan kekagetannya
itu. Kemudian terdengar suara orang kedai bertanya.
“Anak muda, ada maksud apakah kau bertanyakan adik Sang Prabu itu...?”
“Oh tidak apa-apa. Tidak apa-apa....”
“Kalau kau bermaksud buruk ketahuilah bahwa di Kotaraja ini banyak sekali hulubalanghulubalang Sang Prabu yang bertelinga tajam!”
Si pemuda sunggingkan senyum.
“Kau terlalu bercuriga terhadapku, orang tua. Aku hanya seorang pemuda desa yang mendengar kabar disampaikan dari mulut ke mulut bahwa Rara Murni adalah seorang yang cantik jelita. Biasa bukan laki-laki tanya perempuan...?” Pemuda ini kemudian tertawa geli.
Namun tawa gelinya itu diputuskan oleh suara bentakan dari arah pintu.
“Manusia yang berani bicara seenaknya tentang adik Sang Prabu coba putar tubuh! Aku mau lihat tampangnya!” .Suara itu keras dan garang.
Si pemuda melihat bagaimana orang tua di hadapannya menjadi gemetar ketakutan. “Aku sudah bilang apa... aku sudah bilang apa...” katanya berulang kali.
Pemuda itu dengan perlahan memutar tubuh. Di pintu dilihatnya berdiri seorang prajurit
berhadapan tegap bersenjata tombak.
“Bagus! Tampangmu memang mirip kunyuk. Jadi cukup pantas untuk pengisi kerangkeng istana!” Prajurit ini melambaikan tangannya. Dua orang prajurit lagi muncul di ambang pintu. “Tangkap pemuda rambut gondrong itu! Dia telah menghina adik Sang Prabu!”
Dengan tombak terhunus kedua prajurit itu melangkah ke hadapan pemuda rambut gondrong. “Sebentar saudara... sebentar!” kata si pemuda sambil pentangkan kedua telapak tangannya ke muka. Selarik sinar halus berhembus ke arah jalan darah kedua prajurit itu. Dan semua mata dalam kedai yang tak tahu menahu ha1 itu hanya menyaksikan bahwa kedua prajurit itu hentikan langkah karena memenuhi permintaan si pemuda. Padahal dua prajurit itu sudah kena ditotok dari jarak jauh dan berdiri kaku tak bisa bergerak tak bisa bicara! “Sebentar, aku mau bicara dulu!” kata pemuda rambut gondrong kini pada prajurit yang di pintu. “Bicara apa?! Lekas? Katakan!”
Seekor lalat terbang dan hinggap di lengan kiri si rambut gondrong.
“Ah lalat ini! Mengganggu aku yang hendak bicara!” kata si rambut gondrong. Dengan jari-jari tangan kanannya disentilnya lalat itu. Namun tujuan sebenarnya bukan binatang itu. Sang lalat memang terpental mati dengan tubuh hancur tapi angin sentilan terus menotok jalan darah prajurit yang berdiri di pintu kedai. Orang-orang tetap melihat dia berdiri sebagaimana biasa tapi sesungguhnya tubuhnya sudah kaku tegang!
Si rambut gondrong datang ke hadapannya, pura-pura membisikkan sesuatu lalu menepuk bahu prajurit itu dan berlalu. Orang-orang mulai menjadi heran. Dan beberapa ketika saja sesudah pemuda aneh tadi lenyap tiba-tiba: “Bluk... bluk... b!uk.... !” Ketiga prajurit itu rebah ke tanah susul menyusul! Begitu mencium lantai begitu mereka kembali sadarkan diri!
Kedai itu menjadi hiruk pikuk. Tiga prajurit dengan rasa malu, geram dan amarah meluap memburu ke luar kedai tapi si rambut gondrong sudah lama lenyap!
Tiga prajurit ini tiada lain adalah anak buah Kalasrenggi. Sewaktu pemuda rambut
gondrong mengeliling Kotaraja mencari dua manusia yang ditemuinya malam tadi di teratak tua
di luar tembok kerajaan maka tanpa setahunya sepasang mata telah menguntitnya. Yang
menguntit tiada lain dari Kalasrenggi yang saat itu tengah bersiap-siap untuk melaksanakan tugas
yang diberikan oleh Werku Alit. Ketika si rambut gondrong masuk kedai maka dikirimnya tiga
orang prajurit ke sana. Diperintahkannya untuk menangkap pemuda itu dengan alasan yang
dibuat-buat. Bila sudah ditangkap, maka pengusutan lebih lanjut siapa adanya pemuda ini akan
dilakukan Kalasrenggi sesudahnya dia selesai melakukan tugas dari Werku Alit.
Ketika mereka masuk dengan diam-diam mereka telah mencuri dengar apa yang
dipercakapkan si rambut gondrong dengan orang kedai. lni mereka jadikan alasan untuk menalngkap pemuda itu. Namun karena tiga prajurit ini hanyalah mengandalkan tenaga-tenaga lahir yang kasar, tak mempunyai ilmu dalam maka dengan mudah si rambut gondrong
“mempermainkannya!”

SEPULUH
“Kalau Rara Murni adalah adiknya Raja Pajajaran...” kata pemuda itu sambil terus juga menyusuri jalan di bawah panas teriknya matahari musim kemarau, “Pasti peristiwa penculikannya mempunyai latar belakang yang besar dan buntut panjang!” Dia menengadah ke langit.
“Ah, cepat benar bergesernya matahari....” katanya lagi. Dan ketika dia berpapasan
dengan seorang penjual sayur mayur maka bertanyalah dia, “Bapak, manakah jalan yang menuju
ke lembah Limanaluk?”
Penjual sayur mayur itu menyeka peluh di keningnya terlebih dahulu. Diputarnya badannya sedikit dan dia menunjuk ke ujung jalan.
“Ikuti saja terus jalan ini, jangan mengkol. Limanaluk sekira setengah hari perjalanan dari sini.”
Pemuda yang bertanya mengucapkan terima kasih lalu metanjutkan perjalanannya kembali....
Kereta itu bagus dan mungil potongannya. Dua ekor kuda coklat yang menariknya berlari
kencang. Empat prajurit terpercaya mengawal kereta ini. Dua orang di depan, dua lainnya di
belakang. Debu menggebubu sepanjang jalan yang mereka lalui.
Setelah dua jam perjalanan meninggalkan Kotapraja jalan yang ditempuh mulai banyak
lobang-lobang dan batu-batunya. Kusir memperlambat jalan kereta terutama ketika melewati satu
pengkolan tajam. Selewatnya sebuah penurunan jalan yang mereka lalui baik kembali dan
menyusuri tepi sebuah kali kecil berair jernih.
Prajurit di depan sebelah kanan melambaikan tangan memberi tanda berhenti. Ketika kereta itu berhenti maka tersibaklah tirai jendela dan sebuah kepala berparas jelita remaja munculkan diri ke luar.
“Ada apa berhenti?” Suara gadis ini bertanya begitu merdu.
Kepala pengawal menjura sedikit dan menjawab: “Kuda-kuda kita perlu diberi minum, Tuan Puteri...”
Rara Murni menutupkan tirai jendela kembali. Kusir turun dari kereta dan membawa kedua ekor kuda coklat ke tepi kali. Enam ekor binatang itu kemudian seperti berebutan memasukkan mulutnya ke datam air kali yang bening sejuk. Beberapa ketika berlalu maka rombongan bersiap-siap untuk melanjutkan kembati. Namun belum lagi kusir naik ke atas kereta empat orang penunggang kuda muncul di tempat itu. Badan tegap-tegap dan muka mereka tak dapat dikenali karena kepala masing-masing tertutup dengan kerudung kain hitam yang dilubangi di bagian matanya.
“Perjalanan kalian hanya sampai di sini!” kata penunggang kuda paling depan. Suaranya berat dan parau, disertai dengan tenaga dalam sehingga tak mungkin untuk mengenali suaranya yang asli.
Empat pengawal kereta yang tahu bahwa manusia-manusia berkerudung kain hitam itu datang bukan dengan membawa maksud baik segera cabut pedang! Melihat ini orang yang tadi bicara tertawa mengekeh.
“Kalian kunyuk-kunyuk Pajajaran kalau masih ingin selamatkan batang leher segeralah tinggalkan tempat ini!”
“bangs*t rendah! Berani menghina prajurit kerajaan! Terima pedangku!” bentak kepala
pengawal. Dia melompat ke muka dan pedangnya berkelebat, berkilauan ditimpa sinar matahari!
Manusia berkerudung sentakkan tali kekang kuda dan miringkan badan. Berbarengan
dengan itu kaki kanannya meluncur dengan sangat cepat. Kepala pengawal kereta terpekik.
Pedangnya lepas dan mental sedang sambungan sikunya yang dimakan tendangan tanggal dari
persendian! Dia mengeluh kesakitan, terbungkuk-bungkuk sambil memegangi sambungan sikunya yang copot!
IZRO'IL
Maut Bernyanyi Di Pajajaran


Tiga pengawa! yang lain tanpa banyak bicara segera menyerbu dan disambuti oleh tiga
laki-laki lainnya yang memakai kerudung. Setelah terlibat dalam dua jurus pertempuran maka
terdesaklah ketiga pengawal kereta.
Sementara itu di dalam kereta, mendengar suara ribut-ribut dan disusul dengan suara
beradunya senjata dengan hati cemas Rara Mumi singkapkan tirai jendela. Dia terkejut sekali
melihat ada sesosok tubuh berkerudung melangkah mendekati kereta. dan mengulurkan tangan
untuk membuka pintu kereta!
“Rara Murni... kau tak usah cemas! Apa yang terjadi di,sini hanya pertunjukan biasa saja.
Silahkan turun...!”
“Kalian siapa...?!”
“Siapa kami itu tidak penting. Turunlah....”
“Rampok-rampok biadab! Kalau kalian tahu siapa aku segeralah tinggalkan tempat ini
sebelum pasukan kerajaan datang menumpas kalian!” Laki-laki berkerudung tertawa bergelak.
Dibukanya pintu kereta dan diulurkannya tangan kanan untuk menarik Rara Murni keluar dari
kereta.
Kusir kereta yang sejak tadi seperti terpukau melihat pertempuran yang berkecamuk di depan matanya, ketika mengetahui bahwa Rara Murni hendak diperlakukan secara kasar segera mengambil cambuk kereta dan menderu punggung laki-laki berkerudung.
“Rampok laknat! Berani mengganggu adik Sang Prabu!” Dan cambuk itu mendera lagi beberapa kali.
Laki-laki berkerudung memutar tubuh. Sekali dia gerakkan tangan maka berhasillah dia merampas cambuk itu. Dan kini cambuk itu dipakainya untuk melecuti muka kusir kereta. Kusir ini menjerit-jerit. Kemudian dengan kalap mencabut golok pendeknya dan menyerang si muka berkerudung. Namun hanya dengan mengelak dan sekali tendang saja maka kusir kereta itu terpelanting ke tebing kali, masuk ke dalam kali. Tubuhnya segera hanyut terbawa air, tenggelam timbul karena sebelum jatuh ke dalam kali tendangan laki-laki berkerudung telah membuatnya pingsan terlebih dulu!
Pertempuran antara tiga prajurit pengawal dan tiga laki-laki berkerudung lainnya tak berjalan lama. Ketiga pengawal itu menggeletak di tanah bermandikan darah. Sementara itu di atas kereta Rara Murni berusaha melawan dan meronta-ronta, menerjang dan meninju laki-laki yang hendak menyeretnya turun secara paksa. Namun apalah kekuatan seorang perempuan. Dalam waktu sebentar saja segera laki-laki berkerudung itu dapat membekuknya. Rara Murni dinaikkan ke atas kuda.
“Lemparkan ketlga mayat itu ke dalam kali!” perintah laki-laki berkerudung yang sudah
naik ke atas punggung kudanya. “Juga kereta itu!”
Tiga mayat pengawal dilemparkan ke dalam kali. Kuda penarik kereta melonjak-lonjak dan
meringkik keras ketika tiga manusia berkerudung itu mendorong kereta ke dalam kali!
Dalam waktu yang singkat keempat orang itu segera berlalu. Yang tinggal kini di tempat
itu hanya bekas-bekas pertempuran, darah, mayat, kereta dan kuda yang masih terus meringkikringkik
sementara tubuhnya dengan perlahan tapi pasti tenggelam ke dalam kali!
-- == 0O0 == --
SEBELAS
Lembah Limanaluk satu daerah yang jarang didatangi manusia. Daerah ini sunyi sepi,
ditumbuhi pohon-pohon raksasa dan semak belukar lebat. Ke sinilah keempat manusia
berkerudung itu membawa Rara Murni. Di hadapan sebuah kuil tua mereka berhenti dan
menurunkan gadis itu yang sampai saat itu masih terus juga melawan dengan segala daya yang
ada.
“Rara Murni, kalau kau tak banyak cingcong aku tak akan perlakukan kau dengan
kekerasan...”
“Lepaskan aku!” teriak Rara Murni.
“Masuklah ke dalam kuil sana!”
“Tidak!” dan Rara Murni berusaha hendak lari namun tangannya segera kena dicekat.
Laki-laki berkerudung yang bertindak sebagai pemimpin tiga orang lainnya berpaling,
lalu katanya pada ketiga orang itu: “Kalian kembalilah. Beritahukan bahwa tugas kita berhasil
baik!”
Tiga laki-laki berkerudung segera lompat kembali ke atas punggung kuda masing-masing
dan meninggalkan tempat itu. Yang seorang tadi menyeret Rara Murni ke dalam kuil.
Kuil itu sebuah kuil tua yang sudah tak dipakai lagi. Batu dindingnya sudah pada luruh
dimakan umur. Sebuah arca besar yang terdapat di pojok kuil sebagian mukanya rusak dan
tangan serta kakinya sudah buntung.
“Lepaskan aku dari sini!” teriak Rara Murni untuk kesekian kalinya. Suaranya mulai
parau.
“Kau terlalu banyak cerewet, Rara Murni.” kata laki-laki berkerudung. Kedua bola
matanya berkilat-kilat memandangi paras dan tubuh gadis itu. “Tapi...” kata orang ini kemudian,
“Kau mungkin tak akan banyak ulah bila mengetahui siapa aku.”
Habis berkata begitu laki-laki ini membuka kerudung penutup mukanya. Kaget Rara
Murni bukan kepalang. Seperti tak percaya dia akan pandangan kedua matanya. Betapakah tidak!
Laki-laki berkerudung itu ternyata adalah salah seorang kepala pasukan kerajaan yang cukup
dikenalnya.
“Kalasrenggi!”
Kalasrenggi tertawa mengekeh. “Kau sudah lihat mukaku dan tahu siapa aku. Apa kau
juga masih mau cerewet?”
“Apa maksudmu dengan semua ini, Kalasrenggi?!',
“Apa maksudku? Kau akan lihat saja nanti!”
“Pengkhianat! Pengkhianat terkutuk kau Kalasrenggi! Kau sadar apa akibatnya kalau
kakakku mengetahui perbuatanmu ini?!”
“Kakakmu tak akan pernah mengetahuinya!”
“Aku akan adukan dan kau akan dibuang ke pulau Neraka! Tempat pengkhianatpengkhianat
kerajaan!”
Kalasrenggi tertawa lagi. Matanya semakin berkilat-kilat memandangi paras Rara Murni.
Memang sesungguhnya sudah sejak lama laki-laki ini secara diam-diam merasa tertarik dan jatuh
hati terhadap Rara Murni. Kini berada berdua-dua di tempat sunyi itu, hasrat yang terpendam itu
menjadi berkobar-kobar memanasi darah dan tubuhnya.
“Mungkin kau tak akan pernah punya kesempatan untuk mengadu Rara Murni.
Kepalamu cukup bagus untuk jadi benda persembahan kepada kakakmu sendiri!”
Rara Murni terkejut.
“Apa maksudmu?”
Kalasrenggi tertawa. Tawa yang menjijikkan Rara Murni. Katanya: “Kalau kau mau
menuruti apa yang aku katakan, mungkin aku masih bisa menyelamatkan kau dari kematian....”
“Kau benar-benar pengkhianat terkutuk! Terkutuk!”
Masih dengan tertawa yang menjijikkan itu Kalasrenggi melangkah maju mendekati Rara
Murni. Matanya berkilat-kilat, cuping hidung kembang kempis dan dadanya bergejoiak. Melihat
ini Rara Murni segera melangkah mundur. Mundur sampai punggungnya membentur dinding
kuil. Sebelum dia sempat lari ke pintu jari-jari tangan Kalasrenggi yang besar-besar dan panas
digelorai nafsu telah mencekal lengannya.
“Kenapa musti takut...?” ujar laki-laki itu. Nafasnya yang keras dan panas menghembushembus
ke muka Rara Murni.
“Keparat! Lepaskan tanganku! Lepaskan!” teriak Rara Murni.
Tiba-tiba Kalasrenggi menyentakkan tangan itu. Rara Murni tenggelam ke dalam
pelukannya yang beringas dan ganas. Ciumannya bertubi-tubi di paras jelita gadis itu. Rara
Murni memiawik. Meronta dan memiawik! Badannya ditekan erat-erat ke dinding kuil oleh
Kalasrenggi, membuatnya hampir tak bisa meronta dan menghindarkan kepalanya dan ciumanciuman
laki-laki itu. Bahkan Rara Murni tak bisa berbuat sesuatu apa ketika Kalasrenggi dengan
beringasnya menarik kain yang menutupi dadanya!
Rara Murni memiawik lagi ketika badannya digulingkan ke lantai kuil. Kedua kakinya
dilejang-lejangkannya. Namun lejangan-lejangan ini hanya membuat kain yang dipakainya
menjadi turun sampai ke paha. Pemandangan ini membuat nafsu yang sudah menggejolak dalam
diri Kalasrenggi jadi mengamuk dengan dahsyat.
Rara Mumi menjerit tiada henti-hentinya. Menjerit meski dia tahu bahwa jeritan itu tak
ada artinya bagi Kalasrenggi, menjerit meskipun tahu bahwa dia dalam keadaan begitu rupa tak
akan mungkin lagi menyelamatkan diri dan kehormatannya!
Dalam nafsu yang mengamuk itu mendadak Kalasrenggi merasakan sesuatu menyambar
di atas punggungnya. Belum lagi dia sempat palingkan kepala untuk melihat benda apa yang
menyambar itu maka terdengarlah suara bergedebukan di lantai kuil! Dan sesaat bila Kalasrenggi
memalingkan kepala maka terkejutlah dia, terkejut seperti melihat setan berkepala tujuh! Tiga
sosok tubuh bergeletakkan di lantai kuil!
Bukan saja tiga sosok tubuh yang bergeletakkan itu yang mengejutkan Kalasrenggi tapi
terlebih lagi ialah ketika mengenali bahwa ketiga manusia ini adalah anak buahnya sendiri, yang
tadi disuruhnya kembali ke Kotaraja untuk memberikan laporan pada Raden Werku Alit bahwa
tugas penculikan atas diri Rara Mutni telah dilaksanakan.
Nafsu yang membara di tubuh Kalasrenggi dengan serta merta mengendur dan lenyap
sama sekali. Perlahan-lahan laki-laki ini berdiri dan meninggalkan Rara Murni yang tadi hampir
saja menjadi mangsa kebejatannya.
Ketika diperhatikannya ketiga anak buahnya itu ternyata tidak bernafas lagi alias sudah
menjadi mayat! Muka-muka mereka membiru sedang pada kening masing-masing dilihatnya tiga
deretan angka-angka 212. Muka yang biru itu diketahuinya adalah akibat pukulan atau tamparan
yang ampuh sekali. Tapi adanya angka-angka 212 pada kening ketiga orang ini adalah tidak
dimengerti sama sekali oleh Kalasrenggi!
Pada saat dirinya dilepaskan oleh Kalasrenggi maka pada saat itu pula dengan serta merta
Rara Murni bangkit berdiri dan hendak lari ke pintu kuil. Namun baru tiga langkah kedua
kakinya bergerak, gadis ini hentikan langkah, darahnya tersirap dan mukanya memucat. Pada
pintu kuil sesosok tubuh yang memakai kerudung hitam berdiri dengan bertolak pinggang. Tak
bisa tidak pastilah manusia ini anak buah Kalasrenggi juga, pikir Rara Murni...
Kalasrenggi sendiri ketika melihat bayangan seseorang di pintu kuil cepat menoleh dan
kembali mukanya dilanda rasa terkejut! Dia tidak kenal dengan manusia berkerudung di pintu
itu, tapi dia pasti betul bahwa laki-laki ini bukanlah orangnya, tapi kerudung hitam yang
dikenakannya adalah kerudung salah seorang anak buahnya yang telah menemui ajal dengan cara
yang aneh itu! Bukan tidak mustahil manusia ini pulalah yang telah menamatkan riwayat tiga
anak buahnya itu!
Meski amarahnya tidak terkirakan namun Kalasrenggi tidak mau bertindak gegabah.
Sepasang matanya memandang tajam-tajam seperti mau menembus kerudung yang menutupi
kepala sosok tubuh manusia yang berdiri di pintu kuil itu!
“Tamu tak diundang, silahkan buka kerudung!” kata Kalasrenggi.
Orang yang di pintu menyeringai di balik kerudung hitamnya. Lalu terdengarlah suara
tertawanya, mula-mula mengekeh perlahan, tapi kemudian menjadi tawa bergelak yang
menggetarkan gendang-gendang telinga serta menggetarkan dinding-dinding kuil tua itu!
Kalasrenggi bersiap-siap dengan tenaga dalamnya dan berlaku waspada. Kalau suara
tertawa manusia ini dapat menggetarkan gendang-gendang telinga bahkan menggetarkan dinding
kuil, maka ini suatu pertanda bahwa siapa pun adanya manusia ini, dia bukanlah orang
sembarangan! Dan semakin yakin Kalasrenggi bahwa orang inilah yang telah menewaskan
ketiga anak buahnya.
Akan Rara Murni, kalau tadi hatinya kecut dan takut melihat munculnya manusia
berkerudung ini, maka setelah mengetahui bahwa dia bukanlah di pihaknya Kalasrenggi, diamdiam
Rara Murni menjadi sedikit lega hatinya. Tapi dia tak tahu apakah manusia yang baru
datang ini adalah tuan penolongnya ataukah seseorang yang lebih bejat dan terkutuk dari
Kalasrenggi! Dalam pada itu dia sendiri masih belum dapat melihat tampang orang ini.
Hati Kalasrenggi serasa dibakar karena ucapannya disahuti dengan suara tertawa macam
begitu oleh si kerudung hitam. Maka berkatalah dia dengan menunjukkan nyali besar:
“Kalau kau tak mau buka kerudung, terpaksa aku turun tangan....”
Orang berkerudung hentikan tertawanya. Dan dia buka mulut menyahuti: “Diri manusia
tidak diukur dari tampangnya, tapi dari hatinya! Bila dia seorang prajurit, maka kejujuran hati,
kesetiaan dan baktinya pada kerajaanlah yang menjadi ukuran!” Merah paras Kalasrenggi
mendengar kata-kata ini.
Si kerudung hitam tertawa bergumam dan berpaling pada Rara Murni dan berkata:
“Bukan begitu Tuan Puteri Rara Murni...?”
Rara Mumi tak menyahuti. Tapi dia menjadi terkejut karena tak menyangka kalau lakilaki
itu tahu namanya. Dan beratlah dugaannya bahwa laki-lakl ini adalah orang dalam juga.
Orang kerajaan juga, entah pengkhianat entah seorang penolong. Tapi kalau dia bermaksud
menolong, mengapa musti pakai kerudung hitam segala?
“Tapi...” kata laki-laki yang di pintu pula melanjutkan bicaranya, “Kalau kau memang
kepingin melihat tampangku, baiklah! Aku tak keberatan untuk membuka kerudung hitam ini.
Tampangku memang buruk. Namun jika dibandingkan dengan tampangmu, masih mendingan
aku ke mana-mana!” Sambil tertawa-tawa laki-laki ini membuka kerudung hitam yang menutupi kepalanya.
-- == 0O0 == --

DUABELAS
Bila Rara Murni memandang ke muka maka di balik kerudung yang telah dibuka itu
ternyata laki-iaki yang berdiri di pintu adalah seorang pemuda gagah berambut gondrong. Meski
tertawanya tadi mengekeh dan bergelak namun parasnya yang gagah itu condong kepada paras
anak-anak.
Sebaliknya begitu menyaksikan tampang manusia di depannya, kedua mata Kalasrenggi
menyipit, kulit mukanya mengerenyit. Otaknya berputar dengan cepat, mengingat-ingat di mana
dia pernah melihat pemuda ini sebelumnya. Dan secepat dia ingat maka menggeramlah
Kalasrenggi. Pemuda yang ada di hadapannya saat itu tak lain daripada pemuda yang malam tadi
telah berteduh di teratak di luar Kotaraja sewaktu hari hujan lebat dan sewaktu dia tengah bicara
dengan Werku Alit! Juga pemuda inilah yang kemudian ditotok Werku Alit! Dan dia sendiri
menghadiahkan satu tendangan!
“Ingat siapa aku...?”
“Saudara, apa urusanmu dalam hal ini?!” bentak Kalasrenggi garang. Tangan kirinya
menyelinap ke balik pinggang di mana tersisip sebilah keris.
“Ah... tentu ada saja, Saudara. Pertama, kau telah menghadiahkan tendangan padaku
malam tadi. Enak juga tendangan itu. He,.. he... he.... Lalu, aku tidak begitu suka pada manusiamanusia
yang bersifat ular kepala dua, pengkhianat besar serta tukang rusak kehormatan
perempuan.... Apa itu kurang cukup untuk bikin urusan denganmu?!”
“Hem....” Kalasrenggi menggumam. “Jadi hari ini aku berhadapan dengan seorang
pendekar budiman huh?! Satu hal yang menyenangkan sekali!” Habis berkata begini Kalasrenggi
keluarkan suara berdengus dari hidungnya. “Terangkan dulu siapa kau punya nama!” katanya
kemudian.
“Ah, kau keliwat ramah tanya-tanya segala nama. Namaku sudah kutuliskan pada kening
ketiga anak buahmu!” jawab si pemuda pula.
Kalasrenggi tertawa mengejek. “Baru kali ini aku bertemu manusia yang namanya adalah
tiga buah angka. Angka-angka gila!”
Si pemuda tertawa. “Angka-angka itu mungkin gila! Tapi tidak segila pengkhianat
macam kau Kalasrenggi!”
“Kau sudah tahu namaku. Kenapa tidak lekas kabur tinggalkan tempat ini?!”
“Apa kabur dari sini? L.alu kau teruskan maksud busukmu terhadap Tuan Puteri Rara
Murni? Aku tidak sebodoh dan sepengecut yang kau sangka, Kalasrenggi!”
“Kalau betul kau punya nyali, tahan ini!” bentak Kalasrenggi garang.
Dengan satu lompatan cepat Kalasrenggi lancarkan serangan tangan kosong. Tapi
serangan yang hebat ini dapat dielakkan lawan dengan mudah bahkan sambil bersiul dan tertawatawa.
“Kalasrenggi, kalau mau baku jotos jangan di dalam sini, mari keluar!” kata si pemuda
rambut gondrong atau pendekar 212 Wiro Sableng. Sengaja dia berkata begitu karena khawatir
dalam pertempuran nanti Rara Murni yang juga berada di ruangan itu akan mendapat celaka.
“Tak usah banyak mulut! Kau harus mampus disaksikan ketiga mayat anak buahku!”
bentak Kalasrenggi pula. Untuk kedua kalinya kepala pasukan Pajajaran yang berkhianat ini
menyerang, lebih hebat dari tadi. Tiba-tiba orang yang diserangnya lenyap dari hadapannya.
Kemudian di belakangnya terdengar suara siulan. “Aku di sini Kalasrenggi, mengapa
menyerang tempat kosong?!”
Kalasrenggi kertakkan rahang. Dia berbalik dengan cepat dan menyerang lebih ganas.
Tangannya bergerak cepat, tendangan kaki bertubi-tubi. Keseluruhannya mengeluarkan angin
yang keras dan bersiuran.
Agaknya permainan silat tangan kosong Kalasrenggi tidak dari tingkat rendahan. Dari
angin pukulan dan tendangannya Wiro sudah dapat menjajaki kehebatan lawan. Karena tak mau
ambil resiko pemuda ini segera bergerak cepat. Dalam waktu yang singkat tiga jurus berlalu
sebat. Pada saat memasuki jurus keempat Wiro Sableng melihat Rara Murni melarikan diri
keluar kuil.
Sambil rundukkan kepala mengelakkan hantaman tinju Kalasrenggi, Wiro Sableng
berseru: “Rara, tunggu! Jangan pergi dulu!”
Tapi mana si gadis mau dengar. Sambil menyingsingkan kainnya ke atas Rara Murni
mempercepat larinya. Terpaksa pendekar 212 lepaskan pukulan tangan kanan ke arah kedua kaki
gadis itu. Serangkum angin melesat deras dan dingin. Rara Murni merasa kedua kakinya seperti
disiram air es, kemudian kedua kakinya itu kaku tak bisa lagi digerakkan. Larinya dengan serta
merta terhenti.
Melihat lawan melakukan dua gerakan sekaligus maka kesempatan ini dipergunakan oleh
Kalasrenggi untuk membobolkan pertahanan lawan. Tendangan kaki kanan dan tinju kiri kanan
menyerang susul menyusul ke tempat-tempat terlemah dari Wiro Sableng!
Namun dengan membentak keras dan berkelebat cepat ketiga serangan lawan dapat
dikelit oleh pendekar 212. Penasaran sekali Kalasrenggi memburu lagi dengan satu serangan
berantai. Kali ini, pada saat tangan kanan Kalasrenggi memukul ke muka, pendekar 212 sengaja
menyongsong datangnya lengan lawan. Maka beradulah lengan dengan lengan!
Kalasrenggi terpekik. Tubuhnya terpelanting ke belakang sampai punggungnya
menghantam dinding kuil. Lengan kanannya yang beradu dengan lengan lawan kelihatan biru
dan bengkak besar. Sakitnya bukan alang kepalang! Karena tadi Wiro Sableng melayaninya
seperti acuh tak acuh, Kalasrenggi tidak menduga kalau kehebatan lawan demikian lihainya.
Sesudah mengurut lengannya yang bengkak biru serta mengalirkan tenaga dalam ke bagian yang
terpukul itu maka kemudian Kalasrenggi dengan tangan kirinya mencabut sebilah keris dari balik
pinggang. Senjata ini sebuah senjata pusaka juga rupanya karena memancarkan sinar membiru.
Tanpa banyak bicara kepala pasukan Pajajaran itu segera lancarkan serangan dahsyat.
Kalasrenggi memang seorang kidal dan permainan kerisnya juga sudah mencapai tingkat yang
matang. Apalagi dengan mempergunakan tangan kiri itu maka serangan-serangannya sukar
diduga.
Namun demikian pendekar 212 sudah punya rencana sendiri terhadap manusia kepala
dua ini! Dibiarkan dan dielakkannya saja untuk beberapa lamanya serangan-serangan keris
Kalasrenggi. Kepala pasukan pengkhianat ini semakin gemas dan geram. Dipercepatnya
gerakannya namun tetap saja tiada mencapai hasil yang dikehendakinya.
“Pegang senjatamu erat-erat, Kalasrenggi.” kata pendekar 212 memberi ingat.
Kalasrenggi masih belum mengerti apa maksud ucapan lawannya itu. Bahkan dia sama
sekali tidak dapat melihat dengan jelas gerakan kedua tangan Wiro Sableng. Tahu-tahu saja
dirasakannya keris pusakanya terlepas dari tangan. Laki-laki ini mengeluarkan seruan tertahan.
Memandang dengan tak percaya pada tangan kirinya yang kosong!
Wiro Sableng tertawa mengekeh dan melompat ke muka. Tangan kanannya terkembang
seperti hendak mencengkeram muka Kalasrenggi. Yang diserang cepat merunduk dan berusaha
menyodokkan lipatan sikunya ke perut lawan. Tapi kali ini Kalasrenggi tertipu. Tangan yang
menyerang dan hendak mencengkeram itu hanya gerakan palsu belaka. Tanpa dapat dikelit lagi
oleh Kalasrenggi maka dua ujung jari tangan kanan Wiro Sableng meluncur ke rusuk kirinya.
Mendadak sontak detik itu juga tubuh Kalasrenggi menjadi kaku tegang. Tangan dan kakinya tak
bisa digerakkan lagi, tapi mulutnya masih sanggup bicara, telinganya masih bisa mendengar,
demikian juga indera-inderanya yang lain masih tetap seperti biasa. Pendekar 212 sengaja
menotok laki-laki itu demikian rupa, sesuai dengan rencananya.
Sambil tertawa-tawa dan garuk-garuk kepalanya yang berambut gondrong Wiro Sableng
memandangi Kalasrenggi beberapa lamanya. Kemudian pendekar muda ini melangkah
mendapatkan Rara Murni. Dilepaskannya totokan yang telah memakukan kedua kaki gadis itu.
Rara Murni begitu merasa kakinya bebas segera hendak lari namun tangannya cepat dipegang
oleh Wiro Sableng.
“Lepaskan tanganku!” teriak Rara Murni. “Terhadapku tak usah takut, Rara Murni.” kata
pendekar 212 pula.
“Kau siapa?!” tanya Rara Murni dan berusaha melepaskan tangannya yang dipegang.
“Siapa aku itu soal nanti. Tapi apakah kau akan tinggalkan begitu saja Kalasrenggi tanpa
memberikan satu hukuman yang setimpal terhadapnya?!”
“Aku akan laporkan kejahatannya terhadap Sang Prabu. Pasukan Kerajaan akan
menyeretnya ke Pakuan! Dia pasti akan dibuang ke pulau Neraka! “
Pendekar 212 tersenyum. “Kuil ini juga bisa menjadi tempat neraka baginya, Rara Murni.
Mari, aku akan tunjukkan cara yang bagus untuk menghukum pengkhianat dan manusia bejat
macam dia!” Dengan seutas tali pendekar 212 mengikat kedua pergelangan kaki Kalasrenggi.
Kalasrenggi yang saat itu meski tubuhnya kaku tapi masih bisa merasa, melihat dan bicara:
“Keparat! Kau mau buat apa terhadapku?!”
“Ah, kau masih bilang keparat, Saudara...” jawab pendekar 212 dengan tertawa.
“Pernahkah kau melihat dunia terbalik?! Melihat dengan kaki ke atas kepala ke bawah?!”
“Apa maksudmu?!” bentak Kalasrenggi. Tapi dalam hatinya dia sudah dapat menduga
apa yang bakal dilakukan oleh Wiro Sableng dan tubuhnya mengucurkan keringat dingin.
“Apa maksudku kita akan saksikan sama-sama, Kalasrenggi,” kata Wiro Sableng pula.
Sekali saja tali yang mengikat kedua pergelangan kaki Kalasrenggi ditariknya maka
terbantinglah laki-laki itu ke lantai kuil. Kutuk serapah dan keluh kesakitan bersemburan dari
mulut Kalasrenggi.
“Sudahlah, jangan memaki-maki juga, tak ada gunanya,” kata pendekar 212. Dia
memandang ke atas atap kuil dan dilihatnya sebuah tiang yang membentang memalang di bawah
atap. Ujung tali yang dipegangnya dilemparkannya ke atas. Bila ujung tali itu menjuntai ke
bawah kembali setelah terlebih dahulu menyangkut di tiang palang maka pendekar 212 mulai
mengerek badan Kalasrenggi.
Gelap dunia ini bagi Kalasrenggi. Dalam tempo yang singkat mukanya menjadi sangat
merah karena darah -yang mengalir turun memberati mukanya. Laki-laki ini coba meronta, tapi
tubuhnya kaku tak bergerak, hanya terbuai-buai saja macam karung diisi pasir dan digantung!
Yang bisa dilakukan Kalasrenggi hanya memaki dan memaki tiada habisnya dia menjadi letih
sendiri.
Pendekar 212 tertawa mengekeh macam kakek-kakek. Dia berpaling pada Rara Murni
sebentar lalu bertanya pada Kalasrenggi: “Bagaimana, indahkah dunia ini bila dilihat terbalik...?”
“Demi setan bila bebas aku bersumpah untuk mencincang tubuhmu keparat...!” hardik
Kalasrenggi.
“Sumpahmu terlalu hebat Kalasrenggi. Tapi bisakah kau membebaskan dirimu dari jarijari
tanganku ini...?” Dengan senyum-senyum Wiro Sableng melangkah mendekati Kalasrenggi.
Kemudian sepuluh jari-jari tangannya menggerayang menggelitiki tulang rusuk Kalasrenggi!
Laki-laki ini menjerit, melolong setinggi langit sampai suaranya menjadi serak!
Wiro Sableng tertawa senang. Rara Murni sendiri hampir-hampir tak dapat menahan
gelinya. Dan Kalasrenggi terus juga berteriak, menjerit, melolong dan memiawik dengan suaranya
yang serak parau itu!
“Rara Murni, ayo mengapa diam saja? Kalau kau ingin membalaskan sakit hatimu
terhadapnya, inilah saatnya,” kata Wiro Sableng pula.
Meski amarahnya memang masih meluap terhadap Kalasrenggi namun berada lebih lama
di situ menimbulkan kekhawatiran bagi Rara Murni. Gadis ini walau bagaimanapun tak dapat
memastikan manusia yang bagaimana adanya pemuda rambut gondrong itu, meskipun dianya
telah menolong dan menyelamatkan diri serta kehormatannya. Karenanya tanpa banyak bicara
menyahuti ucapan Wiro Sableng tadi, juga tanpa membuang waktu, Rara Murni segera lari
meninggalkan kuil itu. Kali ini Wiro Sableng tidak berbuat apa-apa lagi untuk menahan Rara
Murni, diikutinya saja gadis itu dengan pandangan mata.
“Gadis tolol!” gerendeng pendekar 212 dalam hati. “Dikiranya Kotaraja dekat dari sini!”
Kemudian ketika Rara Murni lenyap di balik kelebatan pohonpohon di lembah Limanaluk itu
maka pendekar 212 segera angkat kaki pula, menyusul dengan diam-diam dari belakang....
-- == 0O0 == --
IZRO'IL
Maut Bernyanyi Di Pajajaran


TIGA BELAS
Begitu keluar dari lembah Limanaluk maka sesaklah nafas Rara Murni karena telah
berlari itu. Sebelumnya jangankan berlari, berjalan sejauh itu pun tak pernah dilakukannya! Dia
berhenti dan berdiri bersandar ke sebatang pohon rindang. Saat itulah baru disadarinya keadaan
pakaiannya yang tidak menutupi badannya, terutama letak kain di bagian dadanya. Segera
dibetulkannya letak pakaiannya, dirapikannya pula rambutnya. Dia menunggu sampai nafasnya
yang memburu dan dadanya yang sesak pulih seperti sedia kala. Saat itu kedua kakinya pun
terasa sakit.
Rara Murni merasa bahwa dia tidak sendirian di tempat itu. Dipalingkannya kepalanya.
Darahnya tersirap karena begitu kepalanya diputar maka kedua matanya membentur sesosok
tubuh yang berada dekat sekali di sampingnya. Orang ini ternyata adalah pemuda rambut
gondrong yang di kuil tua tadi!
“Letih?” tanya Wiro Sableng dengan senyum-senyum.
Rara Murni tak menjawab.
“Kotaraja tidak dekat dari sini, Rara...”
“Aku tahu...”
“Lalu, mengapa lari-lari macam begini? Mungkin juga aku membuat kau jadi takut?
Rambutku yang gondrong ini barangkali ya?”
“Saudara, kau ini siapa sebenarnya?”
“Aku? Aku ya aku...” jawab Wiro pula.
“Kalau kau hendak bermaksud jahat pula terhadapku sebaiknya berlalunya saat ini juga!”
“Ah... tampangku memang jelek, tapi aku tidak sejahat yang kau sangkakan Rara Murni.
Aku hanya tak ingin melihat kau musti lari setengah mati sampai di Kotaraja! Mungkin
seperempat jalan kau sudah mengeletak pingsan!”
Rara Murni terdiam. Tapi kemudian dia berkata: “Walau bagaimanapun aku musti
kembali ke Kotaraja selekas mungkin...”
“Itu memang betul. Tapi bukan dengan lari caranya. Mari ikut aku...”
“Ikut ke mana?”
“Dengar Rara, kau tak perlu terlalu bercuriga terhadapku. Di tepi sungai sana ada
beberapa ekor kuda. Kau bisa naik kuda?”
Gadis itu menggeleng.
Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya. “Kalau begitu...” katanya, “Kau terpaksa naik
kuda bersama-samaku!”
Maka merahlah paras Rara Mumi. “Jangan bicara seenak perutmu, saudara!” bentak
gadis ini.
“Heh... aku toh tidak bicara usil. Habis kalau kau tak bisa naik kuda sendiri
bagaimana?”
“Aku lebih baik jalan kaki!” sahut Rara Murni dengan hati dan suara keras.
Wiro Sableng tertawa. “Dengar Rara Murni, aku mempunyai firasat bahwa peristiwa
penculikanmu ada ekornya. Ekor yang panjang dan besar. Kalau Kalasrenggi berkhianat
terhadap Sang Prabu, terhadap kerajaan Pajajaran, bahkan bukan hanya sekedar berkhianat tapi
juga hendak bikin celaka terhadap kau, maka tidak mustahil masih ada pejabat-pejabat tinggi
kerajaan lainnya yang turut terlibat dalam pengkhianatan ini...”
Ucapan Pendekar 212 itu memang terpikir ada benarnya oleh Rara Murni. Tapi
menunggang kuda bersama pemuda itu, tentu saja dia merasa malu sekali. Apa akan kata orang
bila melihat hal itu nanti?
Kemudian didengarnya pula oleh gadis ini suara Wiro Sableng kembali: “Makin cepat
kau sampai ke Kotaraja semakin baik...”
Rara Murni termenung sejurus. Tapi hatinya tetap keras tak mau naik kuda bersama
pemuda itu. Tanpa banyak bicara gadis ini kemudian putar tubuhnya dan bergegas
meninggalkan tempat itu.
Wiro Sableng menggerutu dalam hatinya. “Gadis keras kepala! Kalau sudah lecet kulit
kakinya baru tahu rasa!” Dia geleng-geleng kepala dan melangkah pula mengikuti.
Beberapa lama kemudian mereka sampai di tepi sebuah jalan umum. Selama itu tak satu
pun dari keduanya yang buka mulut.
“Rara,” kata Wiro ketika mereka sampai di jalan umum itu. “Ada baiknya kita berhenti
istirahat di sini. Siapa tahu ada kereta atau gerobak yang lewat dan kita bisa menumpang.”
Gadis itu tak menjawab. Tapi dia menghentikan langkah karena memang kedua kakinya
sudah letih. Hampir sepuluh menit mereka berdiri di tepi jalan itu tapi tak satu kendaraan pun
yang lewat.
“Rara Murni...” kata Wiro Sableng. “Agaknya kau tidak senang terhadapku...? Tak mau
bicara denganku?”
Rara Murni diam saja. Sebenarnya memang tak ada yang harus ditidaksenangkannya
terhadap pemuda itu. Hanya segala apa yang tadi terjadi dan segala apa yang hampir menimpa
dirinyalah yang membuat dia jadi tak banyak bicara dan merasa bercuriga terhadap pemuda
berambut gondrong yang sampai saat itu masih belum juga diketahuinya siapa adanya.
Wiro Sableng memandang ke ujung jalan. Sepi tiada bermanusia. “Kita berangkat lagi,
Rara...?”
“Saudara....” kata Rara Murni untuk pertama kalinya sesudah sedemikian lama berdiam
diri. “Kau sendiri siapa sebenarnya dan mau menuju ke mana?”
“Ah... ini pertanyaan yang bagus sekali. Bagus sekali.” kata pendekar 212 dengan
senyum-senyum. “Siapa aku, kurasa tidak penting. Dan ke mana aku mau menuju... aku sendiri
sebenarnya juga tidak tahu... !”
Rara Murni memandang dengan sudut matanya memperhatikan pemuda itu.
Jawabannya seperti jawaban orang yang tidak betul pikirannya, atau mungkin pula jawaban itu
hanya sekedar jawaban belaka. Tiba-tiba keduanya memalingkan kepala ke ujung jalan sebelah
kanan. Di kejauhan kelihatan muncul sebuah gerobak, ditarik oleh dua ekor lembu. Di bagian
depan gerobak yang terbuka itu duduk dua orang laki-laki. Mereka berpakaian petani sedang
setengah dari gerobaknya sarat dengan sayur mayur.
“Nasib kita baik juga rupanya Rara,” kata Wiro Sableng. Dan ketika gerobak itu datang
mendekat, pemuda ini segera lambaikan tangannya. Gerobak berhenti.
“Saudara, apakah kalian menuju ke Kotaraja?” Kedua orang di atas gerobak tak
menjawab pertanyaan Wiro Sableng melainkan memandang lekat-lekat pada gadis di
sampingnya.
“Kalau kami tak salah lihat,” kata laki-laki yang mengemudikan gerobak, “Agaknya
kami berhadapan dengan Tuan Puteri Rara Murni, adik Sang Prabu Pajajaran...”
Rara Murni mengangguk dan kedua orang itu segera turun dari kereta lalu menjura.
“Ada hal apakah sampai Tuan Puteri berada di tempat ini...?” tanya laki-laki yang
memegang kemudi gerobak. Kedua matanya kemudian melirik sekilas pada Wiro Sableng, lalu
melirik pada kawannya.
Rara Murni hanya menarik nafas panjang. Karena mengira pemuda rambut gondrong
dan berpakaian sederhana itu adalah hamba sahaya atau pembantu Rara Murni maka yang
ditanya menjawab dengan anggukan kepala acuh tak acuh. Seorang dari mereka kemudian
berkata pada Rara Murni: “Jika Tuan Puteri bermaksud hendak kembali ke Pakuan, kami tentu
saja bersedia bahkan merasa berkewajiban untuk membawa Tuan Puteri. Tapi maafkanlah
keadaan kereta kami, kotor dan penuh sayuran...”
“Itu tak menjadi apa, pokoknya asal sampai ke Kotaraja.” Yang menjawab adalah Wiro
Sableng. Ini mengesalkan kedua orang itu. Kemudian mereka menolong Rara Murni naik ke
atas gerobak. Gadis itu duduk di sebelah muka, di samping pengemudi sedang kawannya
bersama Wiro Sableng duduk di sebelah belakang, di samping tumpukan sayur. Tak lama
kemudian gerobak itu pun bergeraklah.

-- == 0O0 == --
EMPAT BELAS
Kesunyian sepanjang jalan itu kini dipecahkan oleh suara deru roda gerobak. Sekalisekali
diselingi dengan gemeletakkan- gemeletakkan bila roda gerobak menggilas bebatuan atau
suara kayu-kayu kendaraan itu bergerobyakan ketika salah satu rodanya memasuki lobang
jalanan.
Saat itu masih cukup jauh dari Kotaraja, Pendekar 212 duduk melunjurkan kedua
kakinya di bagian belakang kereta. Matanya terpejam-pejam oleh hembusan angin siang yang
sejuk. Beberapa kali dia sudah menguap. Orang yang duduk di hadapannya senantiasa
membuang muka, segan atau tepatnya tak senang memandang pada pemuda ini yang sebentarsebentar
menguap, sebentar-sebentar menggaruk kepalanya yang berambut gondrong.
Beberapa saat kemudian Wiro Sableng membuka juga kedua matanya. Dia menggeliat.
Ini menambah ketidaksenangan orang yang di hadapannya.
“Saudara, aku minta mentimunmu satu....” kata Wiro Sableng. Dan tidak menunggu
jawaban pemilik sayuran itu langsung saja Wiro Sableng mengambil sebuah mentimun besar
dan menggerogotinya.
Orang yang di depan Wiro Sableng memaki dalam hati. Rahangnya terkatup rapat-rapat.
“Rara Murni...” seru Wiro Sableng tiba-tiba. “Apakah kau suka makan mentimun?”
Di bagian depan kereta Rara Murni berpaling sebentar tapi tak menjawab.
“Panas-panas begini enak sekali makan mentimun, untuk pelepas haus dan
mendapatkannya tak usah susah payah...”
“Terima kasih... aku tidak haus, Saudara....” Terdengar jawaban gadis itu.
“Hem....” Wiro Sableng menggumam dan terus juga mengunyah mentimun dalam
mulutnya, dan gerobak terus juga bergerak menempuh jalan berdebu dan berlobang serta
berbatu-batu.
Di bagian belakang kereta Wiro Sableng mengusap-usap perutnya. Telah tiga butir ketimun amblas ke dalam perut itu dan betapa asamnya tampang orang yang di hadapannya.
Kini kembali Wiro Sableng memejamkan matanya. Kalau perut sudah kenyang memang kantuk segera datang.
Mendadak gerobak itu dibelokkan ke sebuah jalan buntu yang menuju sungai oleh
pengemudinya. Begitu gerobak berhenti maka terdengarlah suara Rara Murni bertanya:
“Saudara, kenapa ke sini dan berhenti di sini?”
Pengemudi gerobak tertawa mengekeh. Tiba-tiba tertawanya yang menjijikkan itu
lenyap dan diganti dengan teriakan Rara Murni. Dan di bagian belakang kereta sendiri petani
yang duduk dihadapan Wiro Sableng tiba-tiba mencabut sebatang golok dari balik pinggang.
Begitu golok tercabut keluar dari sarungnya tanpa menungu lebih lama segera dibacokkan ke
kepala Wiro Sableng yang saat itu masih pejamkan mata, keenakan tidur-tidur ayam tertiup
angin sejuk sepanjang perjalanan!
Satu jengkal lagi mata gotok yang tajam akan membelah batok kepala pendekar 212,
maka terdengarlah bentakan menggeledek.
“Ciaaat!”
Tubuh petani yang menyerang terpental ke luar gerobak. Goloknya lepas dan tubuh itu
kemudian tergelimpang di tanah dengan perut pecah dihantam tendangan! Manusia ini
hembuskan nafas tanpa keluarkan sedikit suara pun!
Pandangan bola mata pendekar 212 menyorot bersinar. “Kentut betul!” makinya dan
meludahi muka mayat petani ini. “Orang lagi enak-enak tidur mau dibacok, rasakan sendiri!
Puah...!” Diludahinya lagi muka mayat itu kemudian dipalingkannya kepalanya dengan cepat.
Rara Murni tengah meronta-ronta melepaskan cekalan petani yang mengemudikan
gerobak sayur.
“Saudara, tolong aku!” teriak gadis itu pada Wiro Sableng.
“Petani sialan!” gerendeng Wiro Sableng seraya melompat dari atas gerobak.
“Budak hina! Pergi dari sini atau kutebas batang lehermu!” teriak laki-laki yang
mencekal Rara Murni. “Sreet!” Dicabutnya sebuah golok dari batik pinggang.
“Hemmm... jadi kau hanyalah seorang rampok bejat yang berkedok sebagai petani huh?
Seekor serigala yang berbulu domba.... Lepaskan gadis itu atau jidatmu kubikin rengkah!”
“Anjing buduk tak tahu diri, dikasih kebebasan malah minta mampus!”
Dengan tangan kirinya pengemudi gerobak itu totok tubuh Rara Murni. Melihat
kelihayan totokan laki-laki itu pendekar 212 segera maklum bahwa orang itu bukanlah seorang
petani biasa atau pengemudi gerobak yang bodoh, tapi seorang pendekar lihay yang tengah
menyamar!
Maka ketika senjata lawan berkelebat ke arah kepalanya pendekar 212 bergerak cepat
dan tak mau kasih peluang lagi. Pengemudi gerobak itu buka matanya lebih lebar sewaktu
melihat orang yang diserangnya tenyap dari hadapannya. Sambaran goloknya yang deras
mengenai tempat kosong. Ini membuat laki-laki itu terdorong ke muka dan pada saat inilah
kedua matanya melihat sosok tubuh kawannya yang menggeletak di tanah dengan perut pecah!
Berdiri bulu kuduk laki-laki ini. Tapi hanya sebentar saja. Rasa ngeri ini segera digantikan
dengan rasa geram dan amarah yang meluap. Tubuhnya diputar kembali, untuk kedua kalinya
berkiblatlah senjatanya menyerang Wiro Sableng.
Tapi kali yang kedua ini justru adalah saat kematiannya! Senjatanya lagi-lagi
menghantam angin kosong dan sebelum dia sempat mengirimkan serangan berikutnya maka
lima jari tangan dilihatnya berkelebat dekat sekali ke arah keningnya, tak bisa dipapaki dengan
golok, tak bisa dikelit dengan kecepatan yang bagaimanapun!
“Plaaak!”
Telapak tangan kanan pendekar 212 mendarat di kening laki-laki itu, disusul dengan
suara jerit kesakitan. Laki-laki itu terguling ke tanah tidak sadarkan diri lagi. Kulit keningnya
hitam seperti terbakar dan di bagian tengah kulit kening itu terteralah angka 212. Laki-laki ini
bernasib masih untung dari kawannya karena pendekar 212 tidak menamatkan riwayatnya.
Wiro Sableng melepaskan totokan yang mengakukan tubuh Rara Murni. “Hari ini
nasibmu sial terus-terusan rupanya, Rara,” kata pemuda itu dengan senyum-senyum. Si gadis
tak berkata apa-apa. Mukanya masih agak pucat. Dan Wiro Sableng berkata lagi: “Tapi ada juga
untungnya. Gerobak ini sekarang jadi milik kita. Ayo kita teruskan perjalanan. Rara Murni naik
kembali ke atas gerobak. Wiro Sableng mengemudikan gerobak itu. Sepanjang perjalanan gadis
itu tak habis pikir. Pemuda yang duduk di sampingnya itu bertampang gagah, tapi aneh dan juga
lucu. Dan di samping itu kehebatan yang telah disaksikan sendiri olehnya tadi diam-diam
membuat dia mengagumi si pemuda. Dan sampai saat ini Rara Murni tidak tahu sama sekali
siapa nama pemuda itu!
Beberapa jauh di luar tembok kerajaan, Wiro Sableng menghentikan gerobak. Dia
berpaling ke samping. Lalu berkata: “Rara, Pakuan sudah di depan mata. Aku mengantarkan
kau hanya sampai di sini. Kau bawalah terus gerobak ini, tak susah untuk
mengemudikannya....”
“Kau sendiri hendak ke mana, Saudara?” tanya Rara Murni heran.
Pendekar 212 tertawa. “Ke mana aku mau pergi itulah satu hal yang aku tidak bisa
jawab,” ujar Wiro Sableng pula. “Cuma pesanku, jangan lupa untuk mengatakan segala
kejadian yang kau alami pada Sang Prabu. Kurasa peristiwa-peristiwa yang kau alami itu
mempunyai latar belakang. Dan bukan mustahil kalau masih ada pembesar-pembesar istana
lainnya yang menjadi pengkhianat macam Kalasrenggi....”
Rara Murni mengangguk.
Kemudian Wiro Sableng berkata lagi: “Juga jangan lupa mengirimkan sepasukan
prajurit ke kuil di lembah Limanaluk itu untuk membekuk Kalasrenggi....”
Rara Murni mengangguk untuk kedua kalinya. Ketika dilihatnya pemuda rambut
gondrong itu memutar tubuh hendak berlalu, gadis ini cepat-cepat berkata: “Saudara... tunggu
dulu.”
Pendekar 212 putar tubuhnya kembali. “Ada apakah Rara...?”
“Aku belum bilang terima kasih pada kau...”
“Ah....” Wiro Sableng goyangkan tangannya, “Tak usah... tak usah. Itu hanya
kebetulan saja....”
“Sang Prabu mungkin akan banyak bertanya tentang kau. Kurasa lebih baik kau ikut
sama-sama ke istana.”
“Terima kasih. Tapi aku ada urusan lain Rara....” jawab Wiro Sableng.
“Lalu kalau hem... kalau Sang Prabu bertanya siapa namamu, bagaimana aku musti
menerangkannya?”
Wiro Sableng tertawa. “Nama itu sebenarnya tidak ada arti apa-apa. Rara. Kita semua
dilahirkan tidak bernama. Orang-orang tua kita yang memberi nama dan itu hanya kebiasaan
saja....”
“Jadi, apakah kau tidak punya nama?” tanya Rara Mumi pula.
Wiro Sableng tertawa lagi. “Namaku tidak penting Rara. Tapi kalau kau penasaran
ingat-ingat angka ini....” Habis berkata begitu ditariknya saja ujung bawah kain yang dikenakan
Rara Murni. Dan dengan ujung jari tangannya, dengan mempergunakan tenaga dalam tentunya,
maka dituliskannya tiga rentetan angka 212.
Rara Murni memperhatikan angka itu. “Dua satu dua...:” desisnya. Diangkatnya
kepalanya hendak mengatakan sesuatu pada pemuda itu. Namun dia terkejut dan tak habis
heran. Si pemuda sudah tak ada lagi di hadapannya, seakan-akan gaib lenyap ditelan bumi. Rara
Murni memandang berkeliling. Tapi pendekar 212 tetap saja tidak kelihatan.
Gadis itu menghela nafas panjang. “Pemuda aneh... agak ceriwis... tapi berhati polos....”
kata Rara Murni dalam hati. Dicambuknya sapi-sapi penarik gerobak. Gerobak itu pun
bergeraklah menuju pintu gerbang Kotaraja.
Tentu saja Prabu Kamandaka sangat terkejut ketika mendapat keterangan dan
mengetahui apa yang telah terjadi atas diri adiknya. Sepasukan prajurit kerajaan segera dikirim
ke lembah Limanaluk. Tapi mereka datang terlambat karena saat itu pengkhianat Kalasrenggi
sudah tak bernafas lagi, mati tergantung dengan darah bercucuran dari hidung, mata serta
telinga!
Rara Murni sendiri, secara diam-diam menyuruh beberapa orang kepercayaannya untuk
mencari jejak Wiro Sableng si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, namun usaha mereka siasia
belaka.
Hari itu juga di seluruh Kerajaan diadakan pembersihan, termasuk di dalam istana. Tapi
hasilnya tidak memuaskan sama sekali. Bahkan biang racun pengkhianat yaitu Raden Werku
Alit tetap tenang-tenang saja di tempatnya di dalam gedungnya yang mewah di lingkungan
istana. Siapa yang menduga kalau saudara sepenyusuan dari Sang Prabu sendiri yang menjadi
tokoh pengkhianat terbesar?
Satu-satunya orang yang ditangkap dalam pembersihan yang diadakan ialah petani yang
menggagahi Rara Murni di tengah jalan sewaktu naik gerobak. Namun sebelum dibawa ke
hadapan Sang Prabu, petani ini berhasil merampas pedang seorang perajurit dan
menghunjamkannya ke batang lehernya. Tak ampun lagi manusia itu meregang nyawa di situ
juga. Siapakah petani ini sesungguhnya? Siapa pula kawannya yang telah ditamatkan
riwayatnya oleh pendekar 212 sebelumnya? Mengapa pula petani yang satu itu memutuskan
untuk membunuh diri sendiri? Dia dan kawannya tiada lain adalah mata-mata kaki tangan kaum
pemberontak yang dikirimkan oleh Mahesa Birawa untuk menemui Raden Werku Alit dan
menyelidiki suasana di Pajajaran menjelang saat-saat penyerangan total diadakan! Seperti yang
diceritakan di atas, dalam perjalanan menuju ibu kota kerajaan yaitu Pakuan, mereka telah
bertemu dengan Rara Murni, adik Sang Prabu, bersama seorang laki-laki gondrong yang
mereka sangkakan hamba sahaya Rara Murni. Maka saat itu timbullah niat mereka untuk
menculik gadis itu dan membawanya ke tempat persembunyian kaum pemberontak di kaki
Gunung Halimun.
Namun maksud mereka itu membawa celaka kepada diri mereka sendiri. Yang satu mati
dihajar pendekar 212. Yang satu lagi roboh pingsan di tengah jalan kemudian ditangkap oleh
serdadu-serdadu kerajaan tapi berhasil bunuh diri sebelum dibawa ke hadapan Sang Prabu,
sebelum dipaksa untuk memberikan keterangan!
-- == 0O0 == --
LIMA BELAS
Malam itu untuk kesekian kalinya di dalam kemah besar diadakan pertemuan
kali ini sangat penting sekali rupanya karena di luar kemah itu dijaga dengan ketat
oleh para pengawal. Pertemuan ini bukan saja penting karena datangnya dua tokoh
sekutu dari kaum pemberontak yaitu Adipati Warok Gluduk dari Rajasitu dan Adipati
Tapak Ireng dari Ratujaya, tapi juga karena kabar yang dibawa oleh seorang kurir
Raden Werku Alit dari Kotaraja.
Sebagaimana biasa pertemuan penting ini di:pimpin oleh Mahesa Birawa yang
duduk di kepala meja. Setelah mempersilahkan kelima Adipati meneguk minuman
masing-masing maka Mahesa Birawa segera membuka pembicaraan.
“Pertama sekali perkenankanlah saya atas nama Adipati-Adipati yang terdahulu
datang ke sini dan juga atas nama Raden Werku Alit, mengucapkan selamat datang
pada Adipati Warok Gluduk dan Adipati Tapak Ireng. Kemudian kami juga
mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas tekad
Adipati-Adipati berdua untuk bersedia membantu dan bersekutu dalam perjuangan
mencapai cita-cita kita yang besar yaitu menggulingkan Pajajaran, menumbangkan
Kamandaka dari takhta kerajaannya karena sesungguhnya selama Raden Werku Alit
masih hidup maka Kamandaka tidak punya hak sama sekali untuk menjadi Raja
Pajajaran....”
Mahesa Birawa memuntir-muntir kumisnya yang melintang dua tiga kali lalu
melanjutkan bicaranya: “Kedua kalinya, pertemuan ini adalah juga untuk membahas
keterangan yang telah disampaikan kurir dari Kotaraja. Diterangkan bahwa dua orang
mata-mata kita tertangkap. Yang satu terbunuh dan yang satu lagi bunuh diri. Mayat
mereka dibuang ke kali. Mengenai peristiwa ini ada sedikit keterangan yang bersimpang
siur sehingga belum dapat saya menarik satu kesimpulan bagaimana sampai kedua matamata
kita itu mengalami nasib demikian rupa. Kabar keterangan yang paling buruk ialah
bahwa salah seorang pembantu utama kita yaitu kepala pasukan Kalasrenggi juga telah
menemui kematiannya. Dia digantung di sebuah kuil tua di lembah Limanaluk.
Mengenai kematian Kalasrenggi ini ada hal-hal aneh dan keterangan yang agak
bersimpang siur. Menurut kurir Raden Werku Alit, ketika pasukan kerajaan datang ke
kuil itu, Kalasrenggi sudah tidak bernafas, digantung kaki ke atas kepala ke bawah dan
pada keningnya tertera guratan-guratan yang membentuk tiga buah angka yaitu angka
212....”
Mahesa Birawa memandang berkeliling dan melihat paras-paras Adipati itu
keheran-heranan.
“Sukar diduga siapa sebenarnya yang membunuh Kalasrenggi dan juga tak dapat
ditafsirkan apa arti angka 212 itu! Di samping itu, sesudah kejadian itu Sang Prabu
memerintahkan pembersihan besar-besaran di kerajaan. Namun semua orang kita sudah
menyingkir. Dan menurut Raden Werku Alit sampai saat dia mengirimkan kurir itu
masih belum ada kecurigaan terhadap dirinya. Namun demikian dalam sehari dua ini dia
akan segera berangkat ke sini untuk berunding terakhir kali, menentukan kapan penyerangan
dilakukan terhadap Pajajaran. Raden Werku Alit berharap agar kita terus dalam
kesiap siagaan.....”
Sunyi sebentar, Adipati Lanabelong dari Kendil yang berkepala sulah meneguk
tuaknya, mengumur-ngumurkan minuman itu dalam mulutnya beberapa lama, lalu
bertanya: “Sampai saat ini berapakah kekuatan balatentara Pajajaran?”
“Menurut keterangan Kalasrenggi sebelum menemui kematiannya tempo hari sekitar
dua ribu lebih. Memang jumlah kekuatan mereka lebih dari kita. Kita cuma sekitar seribu enam
ratusan. Tapi janganlah itu menjadi kekhawatiran para Adipati sekalian. Mengapa aku katakan
tak usah khawatir sebabnya begini. Pertama, dalam peperangan itu jumlah yang besar tidak
selamanya menentukan untuk mencapai kemenangan. Sering pasukan yang lebih sedikit
sanggup mengalahkan pasukan yang lebih besar. Ini adalah disebabkan bahwa sesungguhnya
unsur kekuatan atau jumlah tidak terlalu menentukan tapi unsur taktiklah yang lebih
menentukan. Dengan taktik yang tinggi serta matang, dengan mengetahui di mana kelemahankelemahan
pertahanan pasukan Pajajaran, pasti kita dalam sekejapan mata bisa mengobrakabrik
mereka!
Kedua, dalam peperangan kecepatan tempur atau waktu penyerangan yang tepat adalah
sangat menentukan. Bila lawan sedang lengah, meskipun jumlahnya besar, sanggup dikacau
balaukan dan disapu bersih oleh sepasukan kecil saja. Demikian pula dengan kita. Kita akan
menyerang dengan tiba-tiba, dengan menyergap! Pajajaran hanya baru akan mengetahui bila
balatentara kita sudah berada di depan mata hidung mereka! Dan saat itu mereka tak akan ada
waktu lagi untuk mempersiapkan diri. Aku rasa dengan berpegang teguh pada dua hal itu, tidak
sukar bagi kita untuk membereskan Pajajaran. Apalagi para Adipati di sini bukan pula manusia manusia berilmu rendah. Sedikit banyaknya adalah murid-murid dari perguruan-perguruan silat
yang ternama juga, bukankah demikian?”
Kelima Adipati itu sama mengulum senyum. Memang rata-rata mereka dalah pewaris
ilmu-ilmu silat dari pelbagai cabang dan aliran dan ilmu-ilmu mereka tidaklah dapat dianggap
ilmu pasaran yang rendah belaka!
“Di samping itu,” kata Mahesa Birawa pula, “Jangan pula kita lupakan bantuan yang
akan diberikan oleh seorang tokoh dunia persilatan yang terkenal yakni Begawan Sitaraga....”
“Oh, jadi Begawan sakti yang diam di puncak Gunung Halimun itu membantu kita
pula?” tanya Warok Gluduk, Adipati dari Rajasitu.
“Ya,” sahut Mahesa Birawa.
“Bagaimana sampai Begawan ini mau membantu perjuangan kita?” tanya Tapak Ireng.
“Setahuku dia mempunyai pertikaian dengan Toa Kamandaka.... “ jawab Mahesa
Birawa pula. “Kalau benar begitu, satu hari saja Pajajaran pasti sudah sama rata dengan
tanah....” kata Warok Gluduk sambil mengusap-usap dagunya. Dan dibayangkannya kedudukan
yang bakai diterimanya bila pemberontakan mereka berhasil nanti!
* * *
Waktu itu hari hujan rintik-rintik. Angin malam bertiup kencang dan dingin. Sosok
tubuh itu berjalan dengan acuh tak acuh. Tidak perduli hujan rintik-rintik, tidak perduli angin
kencang, tidak perduli segala rasa dingin yang menyembilui tulang-tulang sumsum. Dia
berjalan terus bahkan sambil bersiul-siul. Sesampainya di ujung jalan itu maka disusurinya
tembok tinggi dan sekali-sekali, dalam jarak-jarak tertentu dilewatinya seorang pengawal bersenjata
lengkap.
Di hadapan sebuah pintu gerbang yang dikawal oleh delapan orang perajurit berhentilah
pemuda itu. Dia memandang ke kiri dan ke kanan, memandang ke atas pintu gerbang lalu
memandang pada barisan pengawal dengan pandangan orang bodoh. Pengawal-pengawal pintu
gerbang mula-mula memandang saja dengan penuh curiga namun kemudian salah seorang
daripadanya membentak: “Pemuda gondrong! Ada apa kau celangak celinguk di sini?!”
Dibentak malahan pemuda itu tersenyum.
“Apa kau tidak tahu berada di mana saat ini?!” bentak prajurit pengawal yang lain.
“Ah... itulah yang aku mau tanya, saudara. Apakah ini istananya Sang Prabu Raja Pajajaran?”
Delapan pasang mata prajurit pengawal memandang dari atas ke bawah. Tak ada kesimpulan lain bagi mereka daripada berpendapat bahwa tentulah pemuda berambut gondrong itu seorang yang kurang ingatan.
IZRO'IL
Maut Bernyanyi Di Pajajaran


Seorang prajurit yang agak berumur maju ke muka. “Orang muda, ini memang istana
Raja Pajajaran. Siapapun tak diperkenankan berdiri lama-lama di sekitar sini....”
Pemuda itu garuk-garuk kepalanya. “Kalau berdiri di sini tidak boleh... tentu masuk
lebih tidak boleh lagi.... “ katanya perlahan seperti pada dirinya sendiri.
“Berlalulah dari sini,” kata prajurit tadi.
“Tapi, aku mau bertemu dengan Rara Murni....” kata si pemuda.
Prajurit tua itu tertawa. “Tak seorang pun yang diizinkan bertemu dengan Tuan P.uteri,
apalagi kau....”
“Ini urusan penting sekali, Saudara!” desak si pemuda.
Salah seorang prajurit yang lain, yang sudah tak sabaran berkata: “Pemuda gila,
berlalulah dari sini. Atau pangkal tombakku akan membenjutkan kepalamu!”
Tapi si pemuda tidak memperdulikan ancaman itu. “Saudara pengawal, dengarlah,”
katanya. “Aku pernah kenal dengan Rara Murni. Mungkin aku lebih kenal padanya dari kalian
semua di sini. Aku musti ketemu dengan dia. Katakan saja bahwa ada seorang pemuda
berambut gondrong bernama 212 mau bertemu dengan dia. Pasti dia tahu dan mengizinkan aku
masuk....”
Kedelapan prajurit pengawal itu tertawa membahak. Beberapa di antaranya malah
mencibir.
Dan seseorang di antara mereka berkata: “Kau salah alamat, kawan. Mustinya kau
datang ke rumah dukun Gendong di kampung Andawa, minta obat kepadanya agar otakmu
yang geblek sinting itu bisa diperbaikinya!”
“Siapa bilang aku sinting?!” radang si pemuda rambut gondrong.
“Kau memang tidak sinting! Tapi berotak miring atau setengah gila!”
Dan gelak membahak terdengar lagi di depan pintu gerbang istana itu!
“Kalau kalian tidak mau kasih aku masuk, tak apa,” kata si pemuda yang tiada lain
daripada pendekar 212 Wiro Sableng. “Tapi satu hal aku katakan, aku tidak gila. Kalianlah
semua yang gila tertawa tiada pangkal sebab!” Habis berkata begini pemuda itu berlalu,
melangkah sambil bersiul-siul.
Rara Murni seperti tidak percaya pada pemandangannya ketika melihat pintu terbuka
dan dua sosok tubuh masuk ke dalam. Yang seorang adalah inang pengasuhnya, seorang
perempuan tua, sedang yang satu lagi adalah pemuda rambut gondrong yang pernah
menolongnya tempo hari.
“Kita bertemu lagi, Rara,” kata Wiro Sableng. “Di pintu gerbang aku tak diperbolehkan
masuk, terpaksa lompat lewat tembok dan memaksa perempuan tua ini untuk memberitahukan
kamarmu.... “
“Ada apakah kau datang ke sini, Saudara 212?” tanya Rara Murni.
“Ah... rupanya kau masih belum melupakan angka itu. Bagus sekali! Mengapa aku
datang ke sini.... Untuk bertemu dengan kau tentunya.” kata pendekar 212 pula seraya
menyandarkan punggungnya ke pintu yang tadi ditutupkannya.
Merah paras Rara Murni mendengar kata-kata Wiro Sableng. Tentang diri penolongnya
ini memang tak pernah dilupakannya, terutama mengingat kehebatannya. Maka bertanya pula dia:
“Mengapa kau ingin ketemu aku...?”
“Oh, jadi tak boleh ketemu?”
“Bukan begitu maksudku, Saudara....”
“Dengar Rara, aku musti bertemu dan bicara dengan Sang Prabu malam ini juga....”
Rara Murni terkejut.
“Ada urusan apa...?”
“Urusan penting. Penting sekali....”
Rara Murni berpikir-pikir. Pemuda ini selama dikenalnya meski ceriwis dan suka bicara
ngelantur tapi hatinya polos. Namun demikian dia masih belum tahu siapa adanya pemuda ini.
Bukan mustahil dia adalah seorang pengkhianat macam Kalasrenggi tapi yang menjalankan taktik
secara lain. Purapura menolong pertama kali, kemudian bila tiba saatnya akan menggolong.
“Katakan saja urusan pentingmu itu, saudara. Nanti aku yang sampaikan kepada Sang
Prabu....”
“Ini bukan urusan perempuan, Rara Murni.” kata Wiro Sableng pula.
Rara Murni yang lebih mementingkan keselamatan kakak kandungnya Prabu Kamandaka
menjawab: “Maaf, walau bagaimanapun aku tak dapat mempertemukan kau dengan Sang
Prabu....”
Wiro Sableng tak berkata apa-apa. Digaruknya kepalanya. “Sukar memang untuk percaya
pada manusia macamku. Tapi biarlah, bertemu dengan kau puas juga hatiku.” Pendekar itu
tertawa dan kembali melihat bagaimana kedua pipi Rara Murni menjadi merah. Tiba-tiba tangan
kirinya dihantamkan ke muka dengan telunjuk terpentang lurus-lurus. Tanpa keluarkan suara
inang pengasuh yang tadi berlutut kini rebah tiada sadarkan diri.
Rara Murni hendak menjerit. Tapi mulutnya ditekap oleh Wiro Sableng. Pemuda ini
berkata: “Rara, perempuan itu tak apa-apa. Aku hanya menotoknya agar jangan sampai dia
membocorkan rahasia. Ketahuilah, istanamu ini kini penuh dengan pengkhianat-pengkhianat. Aku
tak tahu siapa yang menjadi biang pengkhianat! Kalau tahu siang-siang sudah kupuntir kepalanya
dan kubawa ke hadapan Sang Prabu. Kuharap besok pagi atau malam ini juga kau bawalah Sang
Prabu ke kamarmu ini dan baca pesanku ini?”
Habis berkata demikian pendekar 212 melangkah ke dinding dan pergunakan jari
telunjuknya untuk menulis. Menulis serentetan syair yang mengandung nasihat dan peringatan.
Dalam waktu yang dekat akan pecah pemberontakan
Pemberontakan menggulingkan Sang Prabu dari takhta
kerajaan
Istana penuh dengan pengkhianat-pengkhianat bermuka
jujur tapi berhati seculas setan Siapkan bala tentara di
luar tembok kerajaan
212
“Samapi ketemu lagi Rara Murni.” kata pendekar 212 Wiro Sableng sehabis menulis
rentetan syair itu. Lalu cepat-cepat ditinggalkannya kamar itu. Rara Murni memburu ke pintu
tapi si pemuda sudah lenyap.
Ketika malam itu juga Rara Murni menemui Sang Prabu dan menerangkan tentang
kedatangan pemuda aneh itu maka terkejutlah Prabu Kamandaka. Dengan langkah besar-besar
dan tanpa pengawal sama sekali Raja Pajajaran itu bersama adiknya pergi ke kamar. Dan
memang apa yang tertulis di dinding kamar cocok seperti apa yang diterangkan adiknya.
Dinding kamar itu dari batu dan dilapisi dengan marmer putih yang sangat keras. Dengan
pahat sekalipun akan sukar menuliskan rentetan syair itu. Tapi si pemuda aneh telah
menuliskannya dengan ujung jari!
“Bagaimana pendapat Kanda?” tanya Rara Murni kepada kakaknya.
“Pemuda itu tentu seorang yang sakti luar biasa.” kata Prabu Kamandaka. “Tapi apa
yang dituliskannya di dinding ini, adalah satu hal yang aku belum bisa percaya. Tentara
kerajaan telah mengadakan pembersihan. Dan tak seorang pengkhianat pun ditemukan....”
“Mungkin mereka semua sudah menyingkir dan mempersiapkan diri di satu tempat
yang tersembunyi di luar kerajaan,” kata Rara Murni pula.
Prabu Kamandaka mengusap-usap dagunya. Lalu katanya: “Rahasiakan tentang tulisan
ini, Dinda. Meski aku tak percaya, aku akan mengadakan penyelidikan juga.”
Sesudah itu, keluarlah Kamandaka dari kamar adiknya.
-- == 0O0 == --
ENAM BELAS
“Berhenti!”
“Tahan!”
Enam prajurit maju ke muka, enam ujung tombak ditujukan ke dada dan punggung
manusia berpakaian putih itu.
“Siapa kau?!”
“Aku mau bertemu dengan Mahesa Birawa!”
“Keparat, aku tanya siapa, menjawabnya lain” bentak prajurit itu.
Laki-laki itu menggeram dalam hati. “Tunjukkan kemah Mahesa Birawa. Kalau tidak
antarkan aku kepadanya!”
“ Manusia bau tengik! Kau kira kami ini budakmu? “
“Kau mata-mata Pajajaran ya?!” bentak prajurit yang paling kanan sekali. Ujung
tombaknya kini digeser ke tenggorokan laki-laki asing itu.
“Kalian sontoloyo semua! Aku bicara baik-baik, dibalas dengan bentakan-bentakan!
Sialan!”
Enam ujung tombak dengan serta merta bergerak ke muka. Laki-laki yang hendak
menjadi bahan sasaran ujung senjata itu berkelebat cepat. Satu kali gebrakan saja maka
mentallah keenam prajurit itu! Empat tergelimpang di tanah tak bangun lagi. Satu berdiri nanar,
sedang yang satu sambil memegang perutnya yang kesakitan, masih sanggup berteriak
memanggil kawan-kawannya. Maka dalam sekejapan mata saja puluhan prajurit dengan senjata
terhunus sudah mengurung tempat itu, mengurung ketat laki-laki berpakaian serba putih. Oborobor
menerangi tempat itu dan jelaslah tampang manusia yang telah menggeprak enam prajurit
tadi.
Dia memandang berkeliling dengan air muka melontarkan senyum mengejek.
“'Inikah tampangnya manusia-manusia yang hendak memberontak pada
kerajaan....?” Laki-taki itu tertawa mengekeh. “Kalian manusia dogol semua. Mau saja
diperalat oleh segelintir manusia yang hendakkan kekuasaan secara keji! Kalau kalian kalah,
kalian dan dipancung semua! Kalau kalian menang, kalian dapat apa?!”
Seorang laki-laki berbadan tinggi kekar dan berkulit hitam maju ke hadapan orang
asing itu. Dia adalah seorang pelatih prajurit-prajurit yang hendak memberontak itu. Satu
tangan bertolak pinggang, satu lagi menuding tepat-tepat ke muka si orang asing, dia berkata:
“Kurasa kau masih belum buta untuk melihat kenyataan, di mana kau berada saat ini!”
kata laki-laki tinggi besar itu.
Si orang asing masih tertawa seperti tadi, mengekeh mengejek. Si tinggi kekar yang
merasa dihina di hadapan orang banyak dengan gemas sekali hantamkan tinju kanannya ke
perut si orang asing.
Apa yang terjadi kemudian terlalu cepat untuk dilihat oleh mata orang banyak di tempat
itu. Tubuh kepala pelatih yang tinggi besar itu jungkir balik di udara dan jatuh punggung di
tanah. Untuk beberapa lamanya tak dapat bergerak-gerak! Kesunyian karena terkejut dan
keheranan hanya berlangsung beberapa ketika saja. Begitu terdengar seseorang berteriak maka
menyerbulah puluhan prajurit itu. Suara beradunya senjata riuh dan kacau balau.
“Tahan!,” Seorang prajurit berteriak. “Lihat! Kita menghantam sesama kita! Kunyuk itu
sudah ada di sana!”
Dan ketika semua mata memandang ke jurusan yang ditunjuk maka kelihatanlah orang
asing tadi berjalan seenaknya di sela-sela kemah prajurit!
Sewaktu dirinya diserang, secara bersama-sama tadi, laki-laki itu dengan kecepatan luar
biasa jatuhkan diri di tanah dan lolos di antara selangkangan para penyerangnya. Keadaan
malam yang gelap menolongnya untuk lolos dan melangkah seenaknya di sela-sela kemah.
Metihat bahwa orang yang mereka serang sudah berada di tempat lain, di samping
terkejut tentu saja prajurit-prajurit itu menjadi geram sekali. Apa lagi kepala pelatih yang tadi
dibikin menggeletak di tanah dalam satu kali gebrakan. Dia berseru memanggil prajurit-prajurit
lainnya.
“Kurung bangs*t itu! Kalau tak mungkin ditangkap hidup-hidup, cincang sampai
lumat!,” perintahnya. Kepala pelatih ini kemudian cabut kerisnya.
Sebelum menyerbu di antara anak buahnya dia memberi perintah pada seorang prajurit
yang kebetulan berada di dekatnya: “Beri tahu hal ini pada Mahesa Birawa....!”
Di dalam kemah besar itu tengah berlangsung perundingan. Mahesa Birawa tengah
berkata: “Besok Raden Werku Alit sudah berada di sini dan agaknya.... “
Ucapan Mahesa Birawa terputus. Kepalanya berpaling ke kanan dan dari mulutnya
keluarlah suara bentakan: “Pengawal! Apa kamu orang tidak tahu bahwa tidak siapa pun boleh
masuk ke dalam kemah ini? Keluar.... !”
“Mohon maaf Raden… kata pengawal kemah seraya menjura dua kali. “Seorang
prajurit memberitahukan bahwa terjadi kerusuhan di sebelah timur...”
“Kerusuhan....?!” Mahesa Birawa berdiri dari kursinya.
“Ya, seorang asing diketahui memasuki perkemahan. Ketika dikurung dan ditanyai
dia melawan. Dia merubuhkan enam prajurit! Memukul kepala pelatih Suto Rande dan kini
tengah dikeroyok oleh puluhan prajurit di bawah pimpinan Suto Rande!”
“Hanya seorang asing nyasar ke sini saja kalian tidak bisa membereskan?!
Memalukan sekali!” kertak Mahesa Birawa. Tapi dalam hatinya dia sebagai seorang yang
sudah berpengalaman dalam dunia persilatan memaklumi, kalau seseorang sanggup
merubuhkan enam lawan sekaligus, bahkan memukul jatuh kepala pelatih prajurit ini suatu
tanda bahwa dia bukanlah orang sembarangan, pasti mempunyai ilmu yang diandalkan. Tapi
siapa adanya orang asing yang.berani datang seorang diri ke perkemahan itu, inilah satu hal
yang ingin diketahui Mahesa Birawa.
Mahesa Birawa berpaling pada Adipati-Adipati yang ada dalam kemah itu dan
berkata: “Harap maafkan. Aku terpaksa meninggalkan persidangan sebentar untuk
membereskan keonaran...”
Semua Adipati menganggukkan kepala. Adipati Tapak Ireng berkata: “Mungkin sekali
perusuh ini seorang mata-mata Pajajaran...”
“Boleh jadi,” sahut Mahesa Birawa seraya menindak ke pintu kemah.
Dan saat itu pengawal kemah berkata: “Orang asing itu berkata bahwa dia ingin
bertemu dengan Raden...”
“Dengan aku?” Mahesa Birawa menuding dadanya sendiri.
Pengawal mengangguk.
Ini membuat Mahesa Birawa tambah ingin lekas-lekas mengetahui siapa adanya
perusuh itu.
Pertempuran berkecamuk seru ketika Mahesa Birawa sampai ke sana bersama seorang
prajurit. Prajurit ini hendak berseru tapi diberi isyarat oleh Mahesa Birawa agar diam saja. Akan
disaksikannya dengan mata kepala sendiri beberapa jurus kehebatan pertempuran itu. Pekik dan
jeritan terdengar hampir setiap saat. Setiap pekikan musti disusul dengan menggeletaknya tubuh
seorang pengeroyok. Menurut taksiran Mahesa Birawa saat itu ada sekitar tiga puluh prajurit di
bawah pimpinan Suto Rande yang mengeroyok si orang asing.
Diam-diam Mahesa Birawa mengagumi juga kehebatan orang asing itu. Masih muda
belia, bertampang keren dan senjatanya sebuah tombak yang diputar seperti kitiran, menderu
dan setiap saat meminta korban dari pihak pengeroyok! Mahesa Birawa tahu betul, tombak
yang di tangan pemuda itu adalah tombak rampasan. Dan yang membuat Mahesa Birawa
terpaksa leletkan lidah ialah meski dikeroyok puluhan manusia, si pemuda itu dengan
seenaknya saja melayani sambil tertawa dan bersiul!
Beberapa orang lagi rubuh menggeletak dengan perut atau dada terluka parah disambar
ujung tombak. Kemudian terdengar lagi satu pekikan dahsyat. Sesosok tubuh mental, jatuh tepat
di hadapan Mahesa Birawa. Ketika diteliti oleh Mahesa Birawa ternyata sosok tubuh itu adalah
sosok tubuh Suto Rande, kepala pelatih prajurit! Nyawanya sudah minggat dan pada keningnya
kelihatan guratan angka 212…!
Angka ini sekaligus mengingatkan Mahesa Birawa pada keterangan kurir Raden Werku
Alit tentang kematian Kalasrenggi secara aneh, digantung kaki ke atas kepala ke bawah dan
juga ada angka 212 pada kulit keningnya! Tanpa menunggu lebih banyak korban lagi yang jatuh
maka berserulah Mahesa Birawa!
-- == 0O0 == --
TUJUH BELAS
“Aku Mahesa Birawa memerintahkan untuk hentikan pertempuran ini!”
Suara yang hampir menggeledek itu dengan serta merta menghentikan pertempuran.
Prajurit-prajurit yang mengeroyok melompat ke luar dari kalangan pertempuran. Si pemuda
asing masih berdiri di tempat dengan tombak di tangan. Teriakan Mahesa Birawa tadi
membuat dia putar kepala ke arah datangnya suara itu. Dan sepasang matanya segera
membentur sesosok laki-laki berbadan tegap berkumis lebat melintang, berpakaian bagus.
Pada pinggangnya terselip keris.
Dalam hatinya pemuda itu menggumam: “Hem... jadi inilah dia manusianya yang
bernama Mahesa Birawa itu...”. Selagi dia menggumam begitu laki-laki itu melangkah
mendatanginya.
“Orang asing!,” kata Mahesa Birawa dengan nada keren dan lantang. “Meski kau punya
sedikit ilmu yang diandalkan, tapi di sini bukanlah tempat untuk memamerkannya!”
Si pemuda keluarkan suara bersiul. “Betul aku berhadapan dengan Mahesa Birawa saat
ini...?” tanyanya.
“Kau siapa?!,” membentak Mahesa Birawa.
“Namaku tertulis di kening anak buahmu itu!” Si pemuda pendekar 212 menunjuk ke
mayat Suto Rande.
“Hem... bagus kalau begitu!” Mahesa Birawa puntir kumisnya. “Kau yang membunuh
Kalasrenggi, bukan?”
“Tidak! Aku hanya menggantungnya dan Tuhan kemudian mengambil rohnya....”.
Habis berkata begitu pendekar 212 Wiro Sableng tertawa mengekeh.
“Kau tahu Mahesa, manusia macam Kalasrenggi itu tak layak hidup lama-lama di
dunia! Masih kebagusan ada kali untuk tempat pembuang mayatnya! Dan kau tahu... di atas
bumi ini masih banyak manusia-manusia macam Kalasrenggi malahan lebih terkutuk dari
Kalasrenggi yang musti dilenyapkan!”
Di sini bukan tempat pidato, budak hina!,” bentak Mahesa Birawa.
“Oh, begitu…? Kalau demikian mari kita bicara empat mata Mahesa Birawa. Aku
memang sudah lama mencari kau!”
Mahesa Birawa menyeringai. Kemudian kelihatan bagaimana mukanya menjadi kelam
membesi. “Kalau aku bicara dengan kau maka biar aku terangkan padamu bahwa
kedatanganmu ke sini hanyalah untuk mengantar nyawa!”
Habis berkata demikian Mahesa Birawa hantamkan tangan kanannya ke muka. Setiup
angin yang bukan olah-olah panasnya menggebubu ke arah pendekar 212! Pendekar 212 lompat
tiga tombak ke atas. Angin pukulan lewat di bawahnya dan menghantam sebuah pohon kayu.
“Buum!”
“Kraak!”
Pohon itu bukan saja tumbang dilanda angin pukulan tapi juga berwarna hitam karena
hangus! Kedua orang itu sama-sama terkejut. Pendekar 212 terkejut melihat kehebatan
pukulan dan tenaga dalam lawan sedang Mahesa Birawa heran tidak menyangka kalau
pukulannya itu dapat dielakkan dengan satu lompatan enteng ke udara!
Dengan penuh waspada Wiro Sableng jejakkan kedua kakinya kembali ke tanah.
“Mahesa Birawa,” katanya, “Soal pertempuran soal mudah. Mudah dimulai, mudah
diakhiri. Tapi aku bilang, aku mau bicara dengan kau! Empat ma....”
“Budak hina! Siapa sudi bicara dengan kau!” potong Mahesa Birawa membentak.
Sekali lagi tangan kanannya dipukulkan ke muka. Kalau tadi dia hanya mempergunakan
sepertiga dari tenaga dalamnya maka kini dialirkan ke dalam pukulannya itu setengah dari
tenaga dalamnya! Namun untuk kedua kalinya pula Mahesa Birawa dibuat gemas karena
Pendekar 212 berhasil pula mengelakkan serangannya yang dahsyat itu.
“Mahesa Birawa, apakah kau yang lebih tua tidak memberikan kesempatan padaku
untuk bicara empat mata?!”tanya Wiro Sableng pula. Kesabarannya mulai terkikis dari hatinya.
Kalau saja dia tiada ingat pesan gurunya Eyang Sinto Gendeng pastilah saat itu juga dibalasnya
serangan-serangan Mahesa Birawa tadi!
Untuk tidak terlalu kehilangan muka karena dua pukulannya berhasil dielakkan lawan
maka berkatalah Mahesa Birawa: “Percuma saja kau bicara, toh nantinya nyawamu akan aku
bikin merat juga dari kau punya badan!”
Pendekar 212 tertawa.
“Dengar Mahesa Birawa…” kata pendekar ini. Rahang-rahangnya bertonjolan.
Pelipisnya bergerak-gerak tanda dia menekan amarahnya dan berusaha mempertahankan
kesabarannya. “Aku membawa pesan dari Eyang Sinto Gendeng…”
Maka terkejutlah Mahesa Birawa mendengar nama itu.
“Kau ini siapa kalau begitu?!” tanyanya.
“Siapa aku masih belum penting. Aku tunggu kau malam ini di bukit Jatimaleh. Seorang
diri, Mahesa Birawa. Datanglah seorang diri....”
“Kau bisa bicara di sini!”
Pendekar 212 menggeleng. “Di bukit Jatimaleh...” desisnya.
“Aku bilang di sini!,” bentak Mahesa Birawa. “Takutkah kau datang ke bukit itu
malam-malam gelap begini? Atau mungkin takut pada dinginnya udara? Atau mungkin takut
pada roh-roh manusia yang selama ini membayangimu....?!”
Mahesa Birawa kertakkan geraham. Dia memberi isyarat. Bersama puluhan prajurit
yang ada di situ maka menyerbulah dia! Pendekar 212 melompat sampai setinggi tujuh tombak.
Dia berpegangan pada ujung sebuah cabang pohon, membuat satu kali putaran pada saat mana
Mahesa Birawa lemparkan sejenis senjata rahasia.
Mahesa Birawa berseru tertahan ketika melihat senjata rahasianya membalik kembali
menyerang dirinya sendiri. Dikebutkannya tangan kirinya. Senjata rahasia itu bermentalan,
menghantam prajurit-prajurit di sekitarnya. Empat orang menggerang dan rebah ke tanah!
Bayangan Wiro Sableng lenyap namun masih terdengarsuara seruannya mengiangi anak
telinga. “Bukit Jatimaleh, Mahesa! Malam ini. Ingat, seorang diri.... !”
-- == 0O0 == --
DELAPAN BELAS
Bukit Jatimaleh tertetak tidak berapa jauh dari perkemahan pemberontak. Ketika
Mahesa Birawa hendak meninggalkan perkemahan, beberapa prajurit menyatakan hendak ikut
serta tapi Mahesa berkata: “Biar aku sendiri yang membereskan urusan ini! Kalian semua di sini
bersiap siagalah. Perkuat penjagaan dan lipat gandakan prajurit-prajurit peronda!”
Cuaca malam di atas bukit Jatimaleh gelap gulita. Di langit tiada rembulan tiada
bintang. Udara yang dingin mencucuki daging menyembilui tulang-tulang sampai ke sungsum.
Dalam kegelapan inilah kelihatan dua sosok tubuh berdiri berhadap-hadapan.
Yang satu membentak lantang: “Cepat terangkan siapa kau adanya budak hina!”
“Ah... jangan bicara memaki terus-terusan Mahesa Birawa. Belum tentu aku lebih hina
dari kau!,” jawab Pendekar 212.
Marahlah Mahesa Birawa. Dia menggeser langkahnya ke muka. Tapi langkahnya segera
pula terhenti ketika didengarnya pemuda di hadapannya berkata: “Pesan Eyang Sinto Gendeng
ialah agar kau segera kembali ke puncak Gunung Gede dalam waktu secepat-cepatnya!”
“Kembali ke puncak Gunung Gede.... ?!”
“Yeah... Untuk menerima hukuman atas perbuatan-perbuatan jahatmu sejak kau turun
gunung tujuh belas tahun yang silam!”
“Jangan bicara ngaco belo! Ada hubungan apa kau dengan Eyang Sinto Gendeng?!”
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 tertawa datar. “Aku hanya pesuruh buruk saja,
Mahesa....” jawabnya.
“Dusta!,” bentak Mahesa Birawa menggeledek. “Kalau kau tak mau bicara yang
sebetulnya jangan menyesal bila kepalamu kupuntir sampai putus!”
Wiro Sableng bersiul. “Aku tak tahu segala urusan puntir kepala. Aku hanya
menyampaikan perintah Eyang Sinto Gendeng agar kau menghadapnya di puncak Gunung
Gede! Kau dengar Mahesa.... He... he... he....”
Jari-jari tangan Mahesa Birawa mengepal membentuk tinju.
“Aku ingin tahu saat ini juga. Apakah kau bersedia memenuhi perintah itu atau
tidak…?”
“Aku tanya dulu! Apa hubunganmu dengan Eyang Sinto Gendeng? Jangan bikin
kesabaranku habis!”
“Kurasa akulah yang mustinya kehabisan rasa sabar melihat tampangmu saat ini!” tukas
Wiro Sableng. “Katakan saja terus terang bahwa kau tak mau menghadap Eyang Sinto
Gendeng! Itu lebih baik dan lebih jelas....!”
IZRO'IL
Maut Bernyanyi Di Pajajaran


Mahesa Birawa busungkan dada. Katanya: “Kalau orang tua geblek itu butuh ketemu
dengan aku, suruh dia datang ke sini!”
Suara menggeram jelas terdengar di tenggorokan Pendekar 212. Mukanya kelam
membesi. Tanah yang dipijaknya melesak sampai tiga senti!
“Bicaramu terlalu besar Mahesa Birawa! Terlalu pongah! Dosamu sendiri sudah lebih
dari takaran! Hari ini kau hina gurumu sendiri! Guru yang bertahun-tahun telah memeliharamu,
mengajarmu segala ilmu kepandaian! Guru yang telah kau nodai nama baiknya! Kau
mengandalkan apakah, Mahesa Birawa..... ?! “
“Bocah gila! Terpaksa mulutmu kurobek detik ini juga!” bentak Mahesa Birawa.
Secepat kilat, belum lagi habis bicaranya maka lima jari-jari tangan kanannya bergerak
mencengkeram ke muka. Pendekar 212 tertawa. Tertawa dan bersiul. Bentakan nyaring
menggeledek dari mulutnya dan dia lompat ke samping sambil hantamkan tangan
kirinya. Mahesa Birawa terkejut ketika merasakan satu angin yang deras mendorong
tubuhnya. Cepat-cepat dia pergunakan tangan kanan untuk memapasi dorongan angin itu
tapi tak urung tubuhnya menjadi gontai juga! Maka kini keringat dingin memercik di
kening laki-laki itu!
“Urusan kekerasan urusan mudah, Mahesa!,” kata Wiro Sableng. “Tapi bicaraku
masih belum habis. Tujuh belas tahun yang lewat kau pernah malang melintang di
Jatiwalu. Ingat.... ?”
“Pemuda sedeng! Darimana....”
“Ah... kau masih ingat! Bagus... bagus sekali! Apa kau juga ingat bahwa pada
masa tujuh belas tahun itu kau telah membunuh Ranaweleng, Kepala Kampung
Jatiwalu?! Apakah kau juga masih ingat bahwa pada masa itu kau juga merusak
kehormatan seorang perempuan bernama Suci, isteri Ranaweleng, kemudian karena
malu perempuan itu bunuh diri?! Apa kau juga masih ingat dan sanggup menghitung
berapa banyak jiwa penduduk yang kau renggut, kau bunuh?!”
Mulut Mahesa Birawa terkatup rapat-rapat.
Dan pendekar 212 buka mulut lagi: “Kalau aku tidak ingat pesan Eyang Sinto
Gendeng, pada detik aku melihat tampangmu aku sudah bertekad untuk mengermus
kepalamu! Kini setelah tahu bahwa kau tidak mau diperintahkan untuk menghadap ke
puncak Gunung Gede maka tak ada lagi halangan bagiku untuk membalaskan dendam
kesumat seribu karat, untuk membalaskan sakit hati yang berurat berakar sejak tujuh
belas tahun yang lewat! Ketahuilah Mahesa Birawa, aku adalah anak Ranaweleng. Dan
aku adalah juga murid Eyang Sinto Gendeng! Adik seperguruanmu sendiri, tapi yang
akan memisahkan roh busukmu dengan tubuh bejatmu!” Habis berkata begini maka
tertawalah pendekar 212. Suara tertawanya keras dan panjang, menegakkan bulu roma.
Bergetar hati Mahesa Birawa mendengar suara tertawa yang menegakkan bulu
kuduknya itu. Terbayang olehnya masa tujuh belas tahun yang silam. Begitu cepat waktu
berlalu dan tahu-tahu kini dia berhadapan dengan kenyataan yang pahit! Berhadapan
dengan anak laki-laki dari suami isteri yang pernah menjadi korbannya. Seperti tak
percaya dia akan kenyataan ini!
“Orang muda...!,” kata Mahesa Birawa pula. Suaranya diperbawa dengan aliran
tenaga dalam agar tidak kentara getaran hatinya. “Kuharap kau cepat-cepat saja bangun
dari mimpimu dan tahu berhadapan dengan siapa...!”
Pendekar 212 tertawa lagi seperti tadi. Lebih seram malah! Dan didengarnya
suara Mahesa Birawa, musuh besarnya itu berkata pongah: “Jangankan kau... Eyang
Sinto Gendeng sekalipun tak akan sanggup turun tangan terhadapku! Kalau kau teruskan
niat edanmu, ketahuilah bahwa kedatanganmu sejauh ini dari puncak Gunung Gede
hanyalah untuk mencari mampus sendiri!”
“Kita akan lihat Mahesa Birawa! Kita akan saksikan! Darah siapa di antara kita
yang akan dihisap oleh tanah! Kau telah menentukan kematian ibu bapakku di siang
hari! Disaksikan oleh langit siang dan matahari! Karena itu besok, bila matahari tepat
sampai di puncak ubun-ubun, aku tunggu kau di atas bukit ini! Biar langit dan matahari
yang dulu menyaksikan kematian ibu bapakku, besok menyaksikan pula kematianmu,
menyaksikan pembalasan dendam kesumat seribu karat!”
Mahesa Birawa keluarkan suara mendengus. “Aku bukan manusia yang bisa
menunggu, apa lagi terhadap keroco macam kau! Tapi dengar orang muda... daripada
kau mati tiada guna, aku ada usul baik bagimu. Ikut bersamaku menghancurkan Pajajaran,
niscaya kau akan kuangkat kelak menjadi seorang pejabat berpangkat tinggi.... !”
Wiro Sableng bersiul. “Aku tidak butuh usul, Mahesa Birawa, juga tidak butuh
apa-apa. Saat ini aku hanya butuh roh busukmu! Besok siang di tempat ini. Mahesa.
Darahmu atau darahku, nyawamu atau nyawaku!”
Maka kini Mahesa Birawa tidak dapat lagi menahan hatinya. “Tak perlu tunggu
sampai besok! Sekarang pun aku bersedia melayani! Terima pukulan seribu badai ini!”
Mahesa Birawa menerjang ke muka. Tangan kanannya memukul dan gelombang
angin yang sangat hebat menderu menyambar ke arah pendekar 212. Yang diserang
tanpa tunggu lebih lama berkelebat dan melompat setinggi tujuh tombak. Kedua kakinya
tergetar dan linu ketika angin pukulan lawan dalam jarak setinggi itu masih sanggup
menyapu kedua kakinya!
Dengan kerahkan setengah dari tenaga dalamnya Wiro Sabteng hantamkan tangan
kanan ke bawah melancarkan pukulan Benteng Topan Melanda Samudera!
Mahesa Birawa berseru tertahan melihat datangnya angin laksana badai ke
arahnya. Cepat-cepat dia melompat ke samping. Tubuhnya hampir terpelanting
diserempet angin pukulan lawan. Dengan kerahkan tenaga dalamnya dia masih sanggup
berdiri di tempat setelah mengelak tadi. Namun demikian kedua kakinya melesak sampai
lima senti ke dalam tanah!
Dalam keterkejutan melihat kehebatan lawan Mahesa Birawa mendengar suara
tertawa pendekar 212. “Kutunggu besok siang Mahesa Birawa. Di sini,di puncak bukit
ini! Satu hal perlu kukatakan. Besok aku menghadapimu bukan sebagai manusia bernama
Mahesa Birawa, tapi sebagai Suranyali!”
Wiro Sableng berkelebat.
“Budak hina! Jangan lari!” teriak Mahesa Birawa alias Suranyali. Namun
pendekar 212 sudah lenyap dari pemandangannya ditelan kegelapan malam.
-- == 0O0 == --
SEMBILAN BELAS
Malam itu Mahesa Birawa tak dapat memicingkan mata. Dia gelisah sekali.
Sebentar-sebentar di atas pembaringan dalam kemah dia membalik ke kiri, membalik ke
kanan. Ingatannya mengawang kembali pada masa tujuh belas tahun yang silam.
Terbayang olehnya kematian Ranaweleng. Terbayang olehnya Suci, perempuan yang
bunuh diri itu. Dan ketika ingatannya berpindah pada pemuda yang mengaku anak dari
Ranaweleng itu, tubuhnya seperti dijalari hawa dingin. Meski sudah dapat mengukur
kehebatan lawan namun Mahesa Birawa tidak takut sama sekali untuk menghadapi
pemuda itu. Cuma kemunculan si pemuda yang tidak terdugalah yang benar-benar mengejutkan
dan menyirapkan semangatnya.
Hati kecilnya mengutuki kebodohannya sendiri. Pada masa tujuh belas tahun
yang silam itu dia tahu kalau Ranaweleng dan Suci mempunyai seorang putera. Kenapa
dia tidak sekaligus membunuh orok Ranaweleng itu? Tapi saat itu tentu saja dia tidak
mempunyai pikiran panjang seperti waktu sekarang ini.
Mahesa Birawa membalikkan tubuhnya kembali. Dia memandang ke dinding
kemah. Dan pada dinding kemah itu seperti terbayang oleh matanya rentetan kalimat
yang pernah dibacanya pada dinding tempat kediamannya tujuh belas tahun yang lalu
yaitu ketika dia baru saja berhasil melarikan Suci dan memasukkannya ke kamarnya. Di
sana... di dalam ingatan Mahesa Birawa alias Suranyali, seperti tertera kembali rentetan
kalimat itu. Rentetan kalimat yang menjadi kenyataan:
“Apa yang kau lakukan hari ini akan kau terima balasannya
pada tujuh belas tahun mendatang!”
Mahesa Birawa akhirnya turun dari pembaringan. Beberapa lama dia mondar
mandir di dalam kemah besarnya itu. Kemudian teringat dia pada kematian Kalasrenggi
dan dua orang mata-mata yang dikirim ke Kotaraja tempo hari. Mereka menemui
kematian akibat turun tangannya seorang manusia aneh. Kalasrenggi mati dengan
guratan angka 212 pada keningnya. Dan tadi dia juga saksikan sendiri kematian Suto
Rande dalam cara yang sama! Kalau begitu sedikit banyaknya atau mungkin pasti... pasti
sekali pemuda yang mengaku anak Ranaweleng itu, yang sesungguhnya adalah adik
seperguruannya sendiri, pastilah mempunyai sangkut paut atau hubungan dengan
Pajajaran. Dan kalau sudah begini berarti bocornya rencana untuk menggulingkan Prabu
Kamandaka, bocornya rencana untuk memberontak terhadap Kerajaan!
Mahesa Birawa melangkah lagi mondar mandir sambil mengepalkan tinjunya.
Dia harus bertindak cepat sebelum Pajajaran benar-benar tahu keseluruhan rencananya.
Bukan mustahil saat itu balatentara Pajajaran tengah menuju ke perkemahan mereka
untuk menyapu mereka!
Malam itu juga Mahesa Birawa berunding dengan kelima Adipati. Dan malam itu
pula diputuskan untuk menggerakkan seluruh pasukan ke Kotaraja.
Dua orang kurir dikirim terlebih dahulu. Yang pertama untuk menemui Raden
Werku Alit di Kotaraja, memberitahukan bahwa karena sesuatu hal yang mendesak
maka pasukan diberangkatkan malam itu dan direncanakan untuk menggempur Pajajaran
selambat-lambatnya satu dua jam sesudah fajar menyingsing! Kurir yang kedua
berangkat menuju puncak Gunung Halimun, menemui Begawan Sakti Sitaraga yang
sebelumnya telah mengatakan bersedia turun tangan membantu kaum pemberontak! Tapi
kurir ini kemudian tertawan oleh prajurit-prajurit Pajajaran di perbatasan.
Meski tetap berhati bimbang akan kebenaran peringatan yang dibacanya di dinding kamar
adiknya, namun Prabu Kamandaka tak urung menyiapsiagakan balatentara Pajajaran secara diamdiam.
Dan ketika dini hari itu dia dibangunkan secara mendadak, dilaporkan tentang terlihatnya
sepasukan besar mendatangi Kotaraja. Raja Pajajaran ini benar-benar menjadi kaget. Benar juga
peringatan itu, katanya dalam hati. Kepada Kepala-Kepala Pasukan Kerajaan segera diberikan
perintah kilat: “Kalau pasukan yang datang itu adalah benar pasukan pemberontak, hadapi mereka
di luar tembok Kerajaan!”
Manakala sinar fajar pertama memancar di ufuk timur maka pada saat itu pulalah mulainya
berkecamuk pertempuran yang dahsyat di sepanjang tembok besar yang mengelilingi Kotaraja.
Yang paling seru adalah pertempuran pada dua buah pintu gerbang. Pihak pemberontak menyerang
habis-habisan untuk dapat membobolkan pintu gerbang Kotaraja itu. Yang diserang bertahan matimatian!
Suara beradunya senjata, pekik kematian, lolong manusia-manusia yang terbabat senjata,
bau anyirnya darah, semuanya menjadi satu menimbulkan suasana yang mengerikan.
Agaknya serangan lawan mulai tak dapat dibendung. Hal ini kelihatan sesudah pertempuran
berkecamuk hampir setengah jam lebih.
Prabu Kamandaka dengan teriakan-teriakan hebat berkelebat kian ke mari memberi
semangat pasukan Pajajaran. Prabu ini menunggangi seekor kuda putih dan di tangannya
tergenggam sebilah golok panjang yang berlumuran darah!
Prabu Kamandaka seperti terpukau dan tak mau percaya akan kedua matanya ketika dia
bergerak ke medan pertempuran sebelah timur, dia langsung berhadap-hadapan dengan Werku Alit,
saudara sepenyusuan sendiri!
“Matakukah yang terbalik atau benarkah kau yang ada di hadapanku ini, Alit?” ujar Sang
Prabu.
Raden Werku Alit tertawa membesi. “Matamu masih belum terbalik, Kamandaka! Cuma
otakmu yang miring sehingga mengambil hak orang lain....!”
“Hak apakah yang aku telah ambil dan siapakah orang lain itu?!”
“Takhta Kerajaan adalah hak syah diriku, Kamandaka!” jawab Werku Alit garang.
Prabu Kamandaka tertawa dingin. “Kau mengigau di slang hari Alit! Tak kusangka, kau
sendiri yang menjadi biang racun pentolan pemberontak yang memberikan perintah untuk
mengeroyok Raja Pajajaran itu!”
Prabu Kamandaka dengan teriakan-teriakan hebat berkelebat kian ke mari memberi
semangat pasukan Pajajaran. Prabu ini menunggangi kuda putih dan di tangannya tergenggam
golok panjang yang berlumuran darah!
Agaknya serangan lawan mulai tak dapat dibendung. Hal ini kelihatan sesudah pertempuran
berkecamuk hampir setengah jam lebih.
Yang diserang bertahan mati-matian! Suara beradunya senjata, pekik kematian, lolong
manusia-manusia yang terbabat senjata bau anyirnya darah, semuanya menjadi satu menimbulkan
suasana yang mengerikan.
Satu demi satu prajurit yang bertempur bersama rajanya itu gugur bergelimpangan. Keadaan
Sang Prabu sangat kritis sekali sedang di sebelah barat balatentara pemberontak di bawah
pimpinan Mahesa Birawa sudah hampir berhasil membobolkan pertahanan pintu gerbang!
-- == 0O0 == --
DUA PULUH
Pada saat pertempuran berkecamuk dengan serunya, pada saat pintu gerbang Kotaraja di
sebelah barat hampir bobol dan pada saat keselamatan Prabu Kamandaka sendiri terancam
maka pada saat itulah terdengar suara yang keras laksana guntur mengatasi segala kecamukan
perang yang mendatangkan maut itu!
“Manusia-manusia bodoh! Hentikan pertempuran ini!”
Hampir semua mereka yang bertempur di medan sebelah timur itu jadi terkejut dan
hampir semua mata pula memandang ke atas tembok Kotaraja di mana kelihatan berdiri seorang
pemuda berpakaian putih-putih berambut gondrong!
Mungkin sekali Raden Werku Alit adalah orang yang paling terkejut melihat pemuda di
atas tembok itu. Manusia ini tampangnya sama betul dengan pemuda yang tempo hari
ditotoknya sewaktu hujan-hujan di teratak tua!
“Orang-orang mati inginkan hidup, kalian yang hidup mau bertempur sampai mati!
Goblok betul!” terdengar lagi pemuda yang di atas tembok berkata dengan suaranya yang
mengguntur.
Werku Alit kertakkan rahang. Hatinya gusar terhadap si pemuda. Diam-diam dia tahu
bahwa suara yang mengguntur itu pastilah menandakan bahwa si pemuda yang memiliki tenaga
dalam yang sangat tinggi. Namun bila dia melirik ke samping dan detik itu melihat Prabu
Kamandaka berada dalam keadaan lengah maka kesempatan ini dipergunakan Werku Alit
dengan sebaik-baiknya. Senjatanya berkelebat cepat dan ganas. Satu ujung tajam dari toja
menyambar ke leher sedang ujung yang lain menyapu ke kaki Prabu Kamandaka!
Melihat datangnya serangan itu Prabu Kamandaka sadar akan keteledorannya berbuat
lengah. Sangat terlambat baginya untuk dapat mengelakkan senjata lawan yang menyerang
dua tempat itu sekaligus. Salah satu ujung tajam dari senjata lawan pastilah akan mengenai
badannya. Prabu Kamandaka lemparkan diri ke belakang meski dia tahu bahwa kakinya akan
disapu ujung toja lawan.
Tapi pada saat itu pula dari atas tembok melesat satu benda putih sekali laksana
bercahaya. Benda ini berbentuk bintang dan mengeluarkan suara mendesing, menghantam
pertengahan toja Werku Alit dengan tepatnya. Toja itu patah dua. Salah satu patahannya
menggores dada Werku Alit sendiri!
Laki-laki ini menjerit kesakitan dan lompat mundur namun diburu dengan sebat oleh
Prabu Kamandaka. Dalam keadaan terluka, bersama orang-orangnya Werku Alit bertahan
dengan hebat. Dua Adipati lainnya yang melihat terdesaknya Werku Alit segera berikan
bantuan sehingga Prabu Kamandaka dan orang-orangnya kembali terdesak hebat!
Werku Alit mengamuk dahsyat. Mengamuk dengan patahan tojanya. Namun keadaan
dirinya mulai payah akibat luka yang dideritanya. Gerakan-gerakannya mulai menjadi lamban
sehingga dia terpaksa mengambil posisi bertahan dan membiarkan pembantu-pembantunya
menyerang pihak lawan.
Adipati Tapak Ireng mendekati Werku Alit dan sodorkan sebuah pil. “Telanlah cepat
Raden Alit dan alirkan tenaga dalammu ke bagian yang terluka....”
Werku Alit cepat-cepat telan pil yang berwama hitam itu lalu kerahkan tenaga
dalamnya. Obat yang diberikan oleh Adipati Tapak Ireng memang manjur sekali. Sesaat
kemudian darah pada luka Werku Alit berhenti dan tiada terasa sakit lagi. Maka dengan cabut
kerisnya Werku Alit kembali maju menghadapi Prabu Kamandaka. Ketika Adipati Lanabelong
dengan ruyung besi putihnya turut pula membantu Werku Alit maka lebih buruk dari tadi
keadaan Prabu Kamandaka kembali terdesak hebat.
“Kaum pemberontak! Hentikan pertempuran ini!” teriak orang yang di atas tembok.
Tapi tak ada yang memperdulikan malah Adipati Jakaluwing dari Karangtretes menantang:
“Orang gila berambut gondrong kalau mau rasakan toja besiku, turunlah!”
Orang di atas tembok menggerutu penasaran. Dari balik pinggangnya dikeluarkannya
sebuah kapak bermata dua! Mata kapak itu berkilat-kilat ditimpa sinar matahari pagi. Kemudian
dengan satu gerakan yang sangat enteng dia melompat turun. Dan begitu sampai di tanah
ditempelkannya ujung gagang kapak ke bibirnya. Maka sesaat kemudian menggemalah suara
seperti seruling. Mula-mula pelahan, kemudian makin keras dan melengking-lengking!
Telinga pihak pemberontak yang mendengar suara lengkingan seruling itu seperti
ditusuk-tusuk sakit sekali. Prajurit-prajurit rendahan menjadi terpukau dan dengan mudah
menjadi korban senjata prajurit-prajurit Pajajaran! Werku Alit dan lima Adipati sekutunya
terkejut ketika merasa bagaimana sakitnya telinga mereka sedang jalan darah mereka tidak lagi
teratur tapi sesak tersendat-sendat. Dan ketika mereka memandang berkeliling mereka melihat
bagaimana pasukan mereka di bagian medan mayat prajurit dengan dada mandi darah!
Werku Alit dan Adipati-Adipati yang masih hidup terkejutnya bukan main. Serangan
mereka di samping dijuruskan kepada Prabu Kamandaka kini juga dititikberatkan pada Wiro
Sableng! Namun bila sekali lagi Kapak Naga Geni 212 berkelebat maka kini giliran Adipati
Jakaluwing pula yang meregang nyawa dengan kepala hampir terbelah dual
Werku Alit dan Adipati-Adipati yang masih hidup menjadi kecut. Mereka saling
berlirikan tajam dan beri isyarat namun pada saat itu pula pendekar 212 yang sudah tahu
maksud mereka membuat gerakan cepat. Rujung besi Ranabelong mental puntung dua ke
udara disusul dengan jerit kematiannya!
Satu-satunya Adipati yang masih hidup yaitu Warok Gluduk boleh dikatakan
sudah tak ada daya lagi sesudah lengan kanannya tadi dibabat puntung oleh Prabu
Kamandaka. Dia memutuskan untuk kabur saja tapi tombak seorang kepala pasukan
Pajajaran lebih dahulu menancap di punggungnya terus menembus sampai ke dada!
Nyali Werku Alit semakin luntur menciut. Di medan pertempuran sebelah timur itu
hanya dia sendiri kini yang menjadi pucuk pimpinan. Kalau tadi dia dan anak-anak
buahnya merupakan pihak penyerang yang mendesak maka kini keadaan terbalik! Di
mana-mana puluhan prajurit-prajuritnya bergeletakan mati. Yang masih hidup bertempur
dengan setengah hati, mundur terus-terusan dan kacau balau! Suara seruling Kapak Naga
Geni 212 yang terus menerus melengking seperti melumpuhkan sekujur tubuh Raden
Werku Alit. Dicobanya mengerahkan tenaga dalamnya namun tenaga dalamnya terasa
laksana punah! Telinganya sakit dan kemudian dirasakannya ada yang meleleh pada kedua
liang telinganya itu! Darah!
-- == 0O0 == --
DUA PULUH SATU
Mahesa Birawa yang ada di medan pertempuran sebelah barat, yang saat itu sudah
hampir berhasil mendesak pasukan Pajajaran dan membobolkan pintu gerbang pertahanan
menjadi terkejut ketika selintas kepalanya dipalingkan ke arah timur! Pasukan pihaknya di
jurusan ini dilihatnya bertempur dengan kacau, malah sebagian besar mundur terdesak
hebat! Beberapa kelompok pasukan bahkan dilihatnya melarikan diri kucar kacir! Dan di
antara semua apa yang disaksikannya itu sayup-sayup telinganya mendengar lengkingan
suara seruling! Jaraknya dengan medan pertempuran sebelah timur terpisah puluhan
tombak tapi suara seruling itu seperti menerpa-nerpa kulit tubuhnya, menyendatkan jalan
darahnya dan menyakitkan anak telinganya. Dan saat demi saat jumlah prajurit yang
bertempur di medan sana itu semakin berkurang juga, banyak yang lari dan banyak yang
tergelimpang mati!
Mahesa Birawa serahkan pimpinan kepada seorang kepala pasukan yang
dipercayainya. Kemudian dengan gerakan sebat dia menuju ke medan pertempuran
sebelah timur. Begitu sampai di medan pertempuran ini dia disambut oleh satu pemandangan
yang cukup membuat bulu kuduknya merinding. Saat itu, Raden Werku Alit sudah
terdesak hebat dan tak sanggup mengelakkan sambaran pedang Prabu Kamandaka. Dalam
jarak yang jauh Mahesa Birawa masih berusaha untuk membokong Prabu Kamandaka
dengan pukulan tangan kosong. Namun angin pukulannya yang dahsyat itu diterpa hebat
oleh satu gelombang angin ganas dari samping! Ketika dia berpaling maka sepasang
matanya membentur pemuda yang tak asing lagi baginya.
Maka membentaklah Mahesa Birawa. Namun bentakannya belum lagi keluar, tahu-tahu
satu benda menggelinding ke arah tempatnya berdiri, dan ketika diperhatikan benda itu adalah
kepala Raden Werku Alit yang sesaat sebetumnya lehernya kena ditebas pedang Prabu
Kamandaka!
Kemarahan Mahesa Birawa tiada terperikan. Dengan keris di tangan kanan dan gada
berduri yang mempunyai tiga mata rantai berduri pula dia menyerbu ke hadapan Prabu
Kamandaka!
Namun setiup angin dahsyat memotong serangannya itu dari samping. Dan ketika dia
berpaling ternyata lagi-lagi pemuda itu yang menghalanginya!
“Aku lawanmu, Mahesa Birawa!,” teriak pendekar 212 dengan bola mata bersinar-sinar.
“Kutunggu kau di bukit Jatimaleh!”
“Budak hina! Kuburmu adalah di antara tumpukan mayat di tempat ini juga!,” bentak
Mahesa Birawa.
Sementara itu Prabu Kamandaka yang tahu bahwa yang tadi hendak menyerangnya
adalah tokoh pemberontak kaki tangan Werku Alit yang berbahaya segera berteriak berikan
perintah: “Kurung bangs*t-bangs*t pemberontak ini!”
Dua lusin prajurit, tiga kepala pasukan dan Prabu Kamandaka sendiri segera mengurung
Mahesa Birawa. Namun pada saat itu pula Wiro Sableng melompat ke muka dan berseru:
“Prabu Kamandaka! Kau memang punya hak untuk menangkap dan membunuh manusia karena
dia adalah pentolan pemberontak musuh Pajajaran! Tapi aku merasa lebih punya hak untuk
membereskannya karena dialah pembunuh ayahku dan penyebab kematian ibuku! Serahkan dia
padaku Prabu Kamandaka!”
Raja Pajajaran meski amarahnya hampir tak dapat dikendalikan lagi, tapi mendengar
ucapan Wiro Sableng itu menahan juga serangannya dan bertanya: “Orang muda gagah, kau
siapakah?!”
Wiro Sableng senyum sedikit. Diacungkannya kapak yang di tangan kanannya. Dan
pada kedua mata kapak itu jelas kelihatan tiga rentetan angka. 212! Terkejutlah Sang Prabu!
Tak disangka pemuda itulah kiranya manusia aneh yang telah memberikan peringatan
kepadanya sebelumnya tentang akan pecahnya pemberontakan. Tahu kalau si pemuda gagah
betul-betul berada di pihaknya sendiri maka Prabu Pajajaran itu tidak keberatan mengabulkan
permintaan Wiro Sableng. Dia beri isyarat agar prajurit-prajuritnya mundur kembali. Sementara
itu boleh dikatakan pertempuran sudah hampir berakhir. Balatentara pemberontak yang kini
tidak berpimpinan lagi sudah mundur jauh dari tembok Kerajaan dan terus dikejar oleh pasukan
Pajajaran sehingga lari kucar kacir. Dan di antara gelimpangan mayat manusia di atas tanah
yang banjir darah, di udara yang masih hangat oleh baunya maut maka berhadapanlah dua
musuh besar, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 dengan Suranyali alias Mahesa Birawa!
Pendekar 212 baru saja pasang kuda-kuda dan melintangkan kapak Naga Geni di
muka dada ketika dengan membentak dahsyat Suranyali menerjang ke muka. Keris menusuk
ke kepala dan gada rantai berduri menyapu ke perut!
“Ciaat!”
Wiro Sableng tak kalah sebat. Tubuhnya berkelebat, Kapak Naga Geni berputar
dahsyat menimbulkan gelombang angin dan mengeluarkan suara mengaung laksana suara
ratusan tawon! Gelombang angin itu sekaligus membentur senjata-senjata Suranyali membuat
kedua tangan-tangannya laksana kena dipukul mental!
Suranyali alias Mahesa Birawa kini tidak bisa bertempur tanggung-tanggung lagi.
Seluruh tenaga dalamnya dikerahkan dan untuk kedua kalinya dia menyerbu ke muka!
Serangan kali ini lebih dahsyat dari yang pertama namun pendekar 212 menunggu dengan tenang!
Setengah tombak tubuh lawan mengapung ke arahnya Wiro Sableng sapukan Kapak Maut Naga Geni ke muka dalam jurus Orang Gila Mengebut Lalat. Suranyali merasakan badannya seperti membentur dinding yang tak kelihatan! Dengan andalkan ilmu mengentengi tubuh yang sudah sempurna sekali, laki-laki ini lompat ke samping. Kapak Naga Geni melesat di bawahnya dan pada detik itu pula Suranyali kembali menukik dan babatkan gada berdurinya!
Yang diserang sama sekali tidak mau mengelak, tapi putar Kapak Naga Geninya di atas kepala. Maka dua senjata bentrokanlah dengan hebat, mengeluarkan suara nyaring!
Kapak Naga Geni memancarkan bunga api, dua dari rantai besi berduri yang bergandul pada gada berduri di tangan kiri Suranyali putus! Membuat pemiliknya jadi terkejut sekali! Dan dalam saat itu pula laksana topan Kapak Naga Geni membalik membabat ke arah selangkangannya! Suranyali berseru keras dan jungkir balik di udara! Keringat dingin mengucur di kuduknya!
Prabu Kamandaka leletkan lidah melihat pertempuran yang hebat itu.
Dalam waktu yang singkat kedua orang itu telah bertempur dua puluh jurus! Dan kentara sekali bagaimana kini Suranyali alias Mahesa Birawa mulai mendapat tekanantekanan hebat! Dan pada saat laki-laki ini terpaksa buang penggada berdurinya karena senjata itu dibabat puntung oleh kapak lawan!
Dengan penasaran Suranyali cabut senjatanya yang lain yaitu sebuah tongkat besi yang ujungnya bercagak dua. Tongkat besi ini memancarkan sinar kehijauan tanda bukan senjata sembarangan dan menggndung racun yang hebat! Dengan keris di tangan kanan dan tongkat besi bercagak di tangan kiri berkelebatlah Suranyali. Kedua senjatanya memancarkan sinar dahsyat yang membungkus lawannya.
Namun yang dihadapi Suranyali saat itu bukan manusia berilmu rendah dan bukan pula yang bersenjatakan senjata biasa! Kapak Naga Geni 212 menderu-deru mengaung mengeluarkan sinar putih menyilaukan. Tubuh kedua orang itu hanya merupakan bayangbayang saja dan tiba-tiba terdengar teriakan Suranyali. Keris di tangan kanannya terlepas mental patah dua. Kalau saja dia tidak cepat-cepat tarik tangan kanannya pastilah tangan itu kena pula dibabat kapak lawan! Suranyali melompat ke luar dari kalangan pertempuran! Mukanya memucat laksana salju! Cepat-cepat dia atur jalan nafasnya.
Ketika dia melangkah ke muka maka kelihatanlah tangan kanannya sampai ke pangkal siku berwarna sangat hijau dan bergetar.
“Pemuda hina dina! Kau lihat lengan kananku ini?!” tanya Suranyali sambil acungkan tangan kanannya. “Tujuh belas tahun yang lalu bapakmu meregang nyawa oleh pukulan Kelabang Hijau-ku! Kini anaknya akan menerima bagian yang sama pula!”
Wiro Sableng tahu. kalau tujuh belas tahun yang lalu musuh besarnya itu telah memiliki ilmu pukulan Kelabang Hijau itu maka kini kehebatannya tentu tak dapat dibayangkan. Namun hal ini sama sekali tidak menggetarkan hatinya! Kapak Naga Geni 212 dipindahkan ke tangan kiri dan tiga perempat bagian tenaga dalamnya dialirkan ke tangan kanan. Dan kelihatanlahtangan kanan itu menjadi sangat putih sedang kuku-kuku jarinya bersinar memerah menyilaukan!
Terkejutlah Suranyali melihat hal ini. Hatinya tergetar. “Pukulan sinar matahari…,” desisnya. Pendekar 212 tertawa menggumam. “Silahkan mulai dahulu, Suranyali...,” katanya menantang! Diam-diam Suranyali alirkan teluruh tenaga dalamnya ke lengan kanan. Mulutnya komat-kamit. Kedua kakinya amblas lima senti ke dalam tanah yang basah oleh genangan darah. Dan sambil lompat sembilan tombak ke atas kemudian laki-laki ini hantamkan tangan kanannya ke muka!
Pendekar 212 tetap tak bergerak di tempatnya. Sinar hijau dari pukulan lawan melesat ke arahnya dan disambutinya dengan pukulan tangan kanan! Dua pukulan dahsyat beradu di udara mengeluarkan suara berdentum! Sinar hijau dan putih saling nyambar dan memecah ke samping! Pekik jerit dari orang-orang yang berdiri di tepi kalangan pertempuran terdengar di mana-mana. Tubuh mereka tergelimpang mati. Ada yang menjadi hijau akibat racun pukulan Kelabang Hijau Suranyali dan banyak yang menjadi hangus hitam tersambar pukulan sinar matahari Wiro Sableng! Prabu Kamandaka sendiri jika tidak cepat-cepat melompat pastilah akan menjadi korban pula!
Ketika dua sinar itu beradu keras Suranyali merasakan badannya menjadi panas. Celaka!
Keluhnya. Pukulannya kelabang Hijaunya bukan saja musnah oleh pukulan lawan tapi juga kena dihantam dikembalikan ke arah kedua kakinya. Cepat-cepat laki-laki ini ambil sebuah pil dari sabuk di pinggangnya dan menelannya. Kemudian sesaat sesudah itu laksana seekor elang dia menukik ke bawah, tusukan besi bercagaknya ke leher Wiro Sableng. Wiro memapasi dengan kapaknya. Suranyali coba menjepit gagang kapak dengan gagakan besi. Tapi “trang!”
Sekali kapak itu berkiblat maka patahkan senjata Suranyali. Sebelum dia sempat menjejakkan kaki di tanah, sebelum dia sanggup menjauhi lawan maka Kapak Naga Geni 212 menderu lagi kali ini tiada ampun membabat kuntung bahu kanan Suranyali! Laki-laki ini melolong seperti srigala haus darah! Tubuhnya limbung menghuyung!
Wiro Sableng tertawa mengekeh.
“Itu dari ayahku, Suranyali!” katanya. “Dan ini dari ibuku!” Kapak Naga Geni berkiblat lagi. Suranyali coba menghindar dengan segala daya tapi tak berhasil. Bahu kirinya terpapas mental. Darah menyembur! Sungguh mengerikan menyaksikan tubuh Suranyali yang tanpa lengan itu!
“Yang ini dari Eyang Sinto Gendeng, Suranyali!” kata Wiro Sableng pula dengan masih tertawa mengekeh seperti tadi. Kapak Naga Geni sekali lagi menderu. Tubuh Suranyali mental tersandar ke tembok Kerajaan! Dadanya sampai ke perut robek besar. Darah membanjir dan ususnya menjela-jela. Pendekar 212 masih belum puas.
“Yang terakhir ini dariku sendiri, Suranyali!,” katanya.
Ketika Kapak Maut Naga Geni 212 itu membelah kepala Suranyali alias Mahesa Birawa itu, tiada terdengar pekikan atau keluh kematian dari mulutnya.
Tubuhnya masih tersandar sesaat lamanya pada tembok Kerajaan, kemudian merosot ke bawah dan tergelimpang di atas mayat-mayat pemberontak lainnya. Tapi tubuh itu tak berada lama menggeletak di sana. Sekali kaki kanan Wiro Sableng menendang maka mentallah tubuh musuh bebuyutannya itu sampai belasan tombak!
Wiro Sableng tertawa mengekeh, lama dan panjang. dimasukkannya Kapak Naga Geni 212 ke balik pinggangnya. Kemudian seperti tak ada kejadian apa-apa, seperti dia bukan berada di antara hamparan ratusan mayat, pemuda ini melangkah seenaknya bahkan dengan bersiul!
“Saudara muda!,” Prabu Kamandaka memburu. “Tunggu dulu.... !”
Pendekar 212 berpaling.
“Ah.... aku sampai lupa minta diri padamu Prabu Kamandaka....”
“Saudara, kau tak boleh pergi dulu...”
“Kenapa?”
“Ikutlah ke istana. Kau telah berjasa besar dan....”
“Jasa hanyalah jasa Sang Prabu. Hanya sekedar kenang-kenangan indah. Bagiku jasa tidak berarti mengharapkan balas imbalan. Selamat tinggal....”
Prabu Kamandaka memegang bahu pemuda itu. “Kuharap kau sudi datang ke istana terlebih dahulu, saudara,” katanya.
“Terima kasih Sang Prabu, terima kasih....,” sahut pendekar 212.
“Kalau begitu beri tahu saja namamu....”
Wiro Sableng tersenyum. “Namaku tidak penting Sang Prabu. Cuma ingatlah angka 212.
Mungkin suatu ketika angka itu akan kembali lagi ke Pajajaran ini.... Dan satu hal.... jangan lupa sampaikan salamku buat adikmu.... Rara Murni....”
“Akan kusampaikan” kata Prabu Kamandaka pula., Dan semua mata kemudian menyaksikan kepergian pendekar muda itu. Prabu Pajajaran akhirnya geleng-geleng kepala dan tarik nafas panjang. “Pemuda hebat.... pemuda gagah....,” katanya. “Pajajaran berhutang besar kepadamu. Jasamu tak akan dilupakan sampai turun temurun....”.

TAMAT
IZRO'IL
WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212


Dendam Orang-Orang Sakti


SATU

LUKA besar di bekas kutungan tangan kanannya itu membuat tenaganya semakin lama semakin mengendur. Kalau tadi dengan segala tenaga yang ada macam manusia dikejar setan dia melarikan diri dari pekuburan Djatiwalu itu, maka kini jangankan lari, berjalan melangkahpun dia sudah tidak sanggup. Tubuhnya terhuyung-huyung. Nafasnya megapmegapseperti mau sekarat!
Saat itu dia berada di tepi sebuah jurang. Dalam larinya tadi dia tak memperhatikan lagi ke mana tujuannya sehingga di mana dia berada saat itu adalah satu tempat yang jarangdidatangi manuisia. Sunyi senyap mencengkam menegakkan bulu roma. Matanya yang berkunang-kunang, pemandangannya yang semakin mengelam dan daya tenaga yang sudah habis sampai ke batasnya membuat tubuhnya tak ampun lagi jatuh terperosok ke dalam jurang ketika salah satu kakinya terserandung di bebatuan yang menonjol di tepi jurang.
Masih untun jurang itu bukanlah jurang batu, tapi jurang yang penuh ditumbuhi semak belukar. Tubuhnya menggelinding ke bawah membentur semak belukar mengait rantingranting pepohonan rendah. Sakit tubuhnya bukan main, apalagi bekas luka kutungan di tangankanannya. Ketika dia terhampar di dasar jurang, dia tiada sadarkan diri lagi!
Bila dia sadarkan diri maka saat itu matahari sudah hamper tenggelam. Keadaan di dasar jurang sunyi itu gelap dan dingin karena pantulan sinar matahari yang terakhir tidaksampai menyaputi dasar jurang di mana dia berada. Dia berpikir-pikir di mana dia terbujur saat itu. Kemudian denyutan rasa sakit yang amat sangat pada bahu kanannya yang bunting dan masih melelehkan darah itu, membuat dia ingat segala sesuatunya apa yang telah terjadi.
Dia – Kalingundil – beberapa jam yang lalu telah bertempur melawan seorang pemuda sakti bernama . Dalam pertempuran itu bukan saja dia terpaksa melarikan diri tapi juga terpaksa kehilangan tangan kanannya karena telah dibetot puntung oleh lawannya!
Dan mengingat ini, diantara rasa sakit yang tiada terkirakan, memerih pula rasa dendam kesumat yang amat sangat. Walau bagaimanapun dia musti dapat meneruskan hidupnya, meski cuma bertangan sebelah. Meski bagaimanapun dia harus dapat membalaskan dendam kesumat akibat perbuatan pemuda yang telah membuat dia cacat seumur hidup itu.
Ketika kedua matanya melihat bintang-bintang yang bermunculan di langit di atasnya barulah disadarinya bahwa hari sudah menjadi malam. Kalingundil tahu bahwa semalammalaman itu dia tak akan bisa terus terbujur di situ. Dipalingkannya kepalanya ke kanan.
Hanya semak belukar dan pohon-pohon berdaun lebar yang dilihatnya dalam kegelapan. Kemudian dipalingkannya pula kepalanya ke samping kiri. Mula-mula juga hanya kegelapan yang dilihat lelaki itu. Namun samar-samar kemudian diantara semak belukar dalam kegelapan itu matanya masih dapat melihat satu legukan batu di dasar jurang. Jaraknya dengan tempat dia terbujur saat itu kira-kira sepuluh tombak. Dari pada terbujur di tempat terbuka begitu, Kalingundil berpikir lebih baik pindah tempat ke cegukan batu itu.
Tapi dengan keadaan dan kekuatan badan seperti itu tidak mudah bagi Kalingundil untuk berpindah tempat. Jangankan untuk berdiri, merangkakpun tidak bisa. Jangankan untuk beringsut, bergerak sedikitpun sekujur tubuhnya terasa sakit bukan main, tulang-tulang anggotanya serasa bertanggalan! Namun dengan keyakinan penuh untuk bisa menyelamatkan diri, dengan mengumpulkan segala sisa tenaga yang masih ada, seingsut demi seingsutakhirnya berhasil juga Kalingundil mencapai legukan batu itu. Ternyata legukan ini adalah mulut sebuah goa. Dan pada saat itu dia berhasil mencapai mulut goa itu, untuk kedua kalinya Kalingundil jatuh pingsan kembali.
Kalingundil sadarkan diri pada keesokan paginya. Beberapa jam sesudah matahari terbit. Anehnya tubuhnya terasa lebih mendingan dibandingkan dengan keadaan hari kemarin.
Kalingundil tak habis pikir, kenapa hal ini bisa terjadi. Bahkan ketika dia coba menggerakkan badan dirasakannya kekuatannya yang malam tadi sudah habis sampai ke batas terakhir kini mulai berangsur kembali. Dia duduk bersandar ke dinding goa. Pada saat itulah dirasakannya bahwa dari dalam goa keluar semacam hawa yang lembab ngilu-ngilu kuku. Hawa inilah agaknya yang telah mempengaruhi keadaan diri Kalingundil yang telah memberikankepulihan kekuatan kepadanya.
Kemudian sewaktu dia memandang meneliti ke dinding goa di sekelilingnya, samarsamar, tertutup oleh debu yang menebal, tergugus oleh ketuaan zaman, Kalingundil melihat banyak sekali tulisan-tulisan. Tulisan-tulisan ini kacau balau tak teratur, tapi bila dibaca dan disambung satu persatu, akan merupakan rentetan kalimat yang memberi pengertian pelajaran ilmu silat! Semakin lebar Kalingundil membuka kedua matanya. Apa yang dibaca olehnya itu memang sulit dimengerti mula-mula, ini lain tidak karena tulisan itu menerangkan tentang pelajaran silat yang memang mempunyai dasar-dasar aneh serta tak diketahui dari cabang aliran mana. Semakin naik matahari, semakin baikan terasa oleh Kalingundil keadaan badannya.
Dengan mebungkuk-bungkuk dan tertatih-tatih, setelah habis dibacanya sekalian apa yang tertulis dibagian goa sebelah luar itu maka Kalingundil memasuki goa lebih jauh.
Semakin ke dalam semakin terasa hawa lembab yang hangat-hangat ngilu-ngilu kuku tadi. Menghirup udara itu Kalingundil merasakan tubuhnya segar, dadanya lega. Dan semakin ke dalam semakin banyak banyak dilihat Kalingundil tulisan-tulisan. Apa yang tertulis kini adalah mengenai pelajaran ilmu pedang yang aneh dan tak pernah didengar oleh Kalingundil sebelumnya. Tapi sayang sebagian besar tulisan-tulisan yang bersifat pelajaran itu sudah tidak
kelihatan atau kabur tak dapat dibaca lagi.
Hawa hangat ngilu-ngilu kuku semakin santar terasa. Kalingundil terus juga masuk ke dalam goa itu sampai akhirnya langkahnya terhenti pada satu pemandangan yang hampir tak dapat dipercayainya.
Goa itu berakhir pada sebuah telaga kecil. Telaga ini lebih tepat disebut kolam karena tepinya dikelilingi oleh batu-batu. Air telaga berwarna biru gelap dan mengepulkan asap kebiruan. Asap inilah yang berhawa hangat ngilu-ngilu kuku dam mempunyai kekuatan ajaib yang menyegarkan tubuh Kalingundil! Di tengah kolam itu terdapat sebuah batu licin yang juga berwarna biru dan diatas batu ini terletak sebuah pedang yang telah buntung, yangpanjangnya cuma dua jengkal. Seperti air kolam dan batu licin, senjata ini juga berwarna dan memancarkan sinar biru. Mengapa pedang itu tinggal buntung sedemikian rupa, kemana bagian yang lancip lainnya? Dan mengapa sampai benda itu berada di situ?
Berdiri beberapa lama di tepi kolam itu Kalingundil merasakan badannya semakin segar. Sedang ketika diteliti luka di bahu kanannya yang buntung itu, luka itupun kelihatannya lebih sembuhan dari saat-saat sebelumnya.
“Air kolam ini mengandung khasiat yang hebat..,” pikir Kalingundil. Dia
membungkuk untuk menyiduknya dan sekaligus untuk melihat lebih dekat pedang buntung yang di atas batu. Namun setengah membungkuk, gerakannya terhenti. Di dinding goa di sebelah belakang kolam, di balik kepulan asap samar-samar terlihat barisan huruf-huruf yang sudah agak sukar untuk dibaca tapi masih dapat dikira-kirakan oleh Kalingundil.

Di situ tertulis:
GOA INI “GOA SILUMAN BIRU”
KOLAM INI “KOLAM SILUMAN BIRU,”
PEDANG DI ATAS BATU “PEDANG SILUMAN BIRU,”
CUMA SAYANG KINI HANYA TINGGAL HULU DAN BUNTUNG,
SIAPA BISA MENDAPATKAN UJUNG PEDANG YANG HILANG DAN
MENYAMBUNGNYA,
SIAPA YANG MEMPELAJARI ILMU PEDANG DALAM GOA INI, AKAN
MENJADI “RAJA PEDANG” SEUMUR HIDUPNYA.


Membaca rangkaian kalimat itu, Kalingundil kemudian memandang berkeliling. Apa-apa yang telah dibacanya tadi sejak dari mulut goa sampai ke tepi kolam yaitu tulisan-tulisan di dinding goa semuanya memang merupakan suatu ilmu silat dan ilmu pedang yang aneh.
Segala sesuatu yang ditemuinya di dalam goa itu memberikan kenyataan kepada Kalingundil bahwa dulunya goa itu adalah tempat kediaman seorang sakti yang bersenjatakan pedang bernama “Pedang Siluman Biru” itu. Tapi kenapa pedang itu kini hanya tinggal begitu rupa, dan ke mana buntungnya yang lain?
Untuk keda kalinya Kalingundil membungkuk. Dengan tangan kirinya dijangkaunya pedang Siluman Biru. Pada detik jari-jari tangannya memegang hulu senjata itu maka aneh sekali mengalirlah suatu aliran yang membuat kekuatan Kalingundil dan keadaan tubuhnya benar-benar pulih seperti sediakala! Bahkan bukan itu saja, kini tubuhnya juga terasa lebih enteng. Dan ketika dicobanya menyiduk air kolam, lebih banyak kekuatan-kekuatan dan keanehan-keanehan baru yang dialaminya!
Kalingundil gembira sekali.
Tanpa menunggu lebih lama dia berlutut di tepi kolam dan berkata: “Pemilik Goa Siluman Biru, dimanapun kau berada, siapapun kau adanya, aku Kalingundil mengucapkan terima kasih karena apa yang ada dalam goamu ini telah menyembuhkan aku dari sakit dan luka yang aku alami. Hari ini aku – Kalingundil – mengharapkan segala kerelaanmu untuk sudi mengangkat kau sebagai guru. Apa-apa yang tertulis di goamu ini akan kupelajari dengan
tekun…”
Demikianlah mulai hari itu dengan seorang diri dia menekuni setiap apa yang tertulis di dinding goa. Ilmu silat dan ilmu pedang yang coba dipelajarinya seorang diri itu yang hilang dan tak terbaca sehingga dari keseluruhan Ilmu Pedang Siluman yang dipelajari Kalingundil, hanya sepertiganya saja yang berhasil didapat dan difahami oleh Kalingundil.
Namun demikian itupun sudah luar biasa sekali. Sehingga empat bulan kemudian ketika dia keluar dari Goa Siluman itu, maka Kalingundil yang kini sudah berobah seratus delapan puluh derajat dalam ilmu persilatan! Dan ini menambah keyakinan Kalingundil bahwa dia akan berhasil menuntutkan sakit hatinya terhadap pendekar 212, !

-- == 0O0 == --
DUA
MENCARI seorang musuh di daratan pulau Jawa yang luas bukan suatu pekerjaan
mudah. Ratusan kilometer harus dijalani, puluhan bukit harus didaki dan dituruni, belasan
sungai musti diarungi, diseberangi belasan rimba belantara harus dimasuki dan diantara
semua itu puluhan halangan harus dihadapi. Halangan atau bahaya yang ditimbulkan alam
sendiri serta yang ditimbulkan oleh manusia-manusia yang hidup dalam itu, terutama sekali
dalam rimba dunia persilatan! Mungkin berbulan-bulan, mungkin pula bertahun-tahun baru
musuh besar itu berhasil dicari. Tapi sebaliknya mungkin pula itu tak pernah berhasil,
mungkin si pencari musuh besar itu akan tertimpa bahaya lebih dahulu dalam perjalanan dan
meregang nyawa sebelum dendam kesumat terbalaskan.
Kalingundil tahu semua itu. Tapi dia tidak khawatir. Dengan ilmu baru yang kini
dimilikinya, meski tidak sempurna, dia yakin akan sanggup untuk menghadapi segala sesuatu
dalam perjalanannya mencari pendekar 212, musuh besar yang telah membuat
tangannya buntung, yang telah membuat dia cacat seumur hidup! Disamping itu Kalingundil
memang sudah punya rencana tersendiri untuk menjelaskan persoalan dendamnya dengan
pendekar 212. Dia yakin akan dapat menemui pemuda sakti itu dan dia yakin pula bahwa
rencana besarnya untuk menuntut balas akan berhasil!
Pertama sekali ditemuinya Mahesa Birawa atau Suranyali di Pajajaran karena terakhir
sekali diketahuinya bekas pemimpin dan guru silatnya itu tengah berada di kerajaan itu.
Namun sampai di sana Kalingundil kecewa besar. Bahkan juga dendam yang ada di dalam
hatinya jadi tiada terkirakan bahwa Mahesa Birawa telah menemui ajalnya, mati ditangan
, sewaktu terjadi pemberontakan besar-besaran tempo hari.
Dengan segala dendam kesumat yang semakin dalam berurat berakarnya itu
Kalingundil meninggalkan Pajajaran. Diseberanginya sungai Kendang, diteruskannya
perjalanan ke bukit Siharuharu yang terletak tak berapa jauh dari kaki gunung.
Pada masa itu di puncak bukit Siharuharu terdapat sebuah perguruan silat yang
bernama Perguruan Teratai Putih. Perguruan ini baru tiga tahun berdiri tapi sudah
mendapat nama tenar di di sapanjang daerah perbatasan Jawa barat dan Jawa Timur. Bukan
saja karena Perguruan Teratai Putih ini didirikan untuk menolong kaum yang lemah dan
menghancurkan golongan hitam penimbul segala kebejatan dan malapetaka serta kemaksiatan
tapi juga adalah karena perguruan silat ini dipimpin oleh seorang tokoh yang sejak sepuluh
tahun belakangan ini mendapat nama tenar dalam dunia persilatan. Tokoh ini ialah
Wirasokananta, seorang tokoh silat yang berumur lebih dari setengah abad.
Pada saat itu Wirasokananta berada di puncak Gunung Galunggung tengah bertapa
memperdalam ilmu bathin dan dan mempersuci diri dari segala kekhilafan-kekhilafan dan
dosa-dosa yang pernah dibuatnya selama hidupnya. Pimpinan perguruan diserahkannya pada
murid tertua, terpandai dan yang paling dipercayainya yaitu Gagak Kumara.
Perguruan Teratai Putih saat itu kelihatan diselimuti suasana ketenangan. Di dalam
rumah besar murid-murid perguruan yang berjumlah delapan orang, enam laki-laki dan dua
perempuan duduk bersila dengan khidmat mendengarkan apa uyang tengah dibacakan oleh
Gagak Kumara yaitu sebuah kitab yang ditulis oleh guru mereka, mengenai sastra hidup,
kerohanian, kebathinan dan keduniaan.
Suara Gagak Kumara terang dan jelas, sedap didengarnya sehinga setiap nasihat dan
pelajaran yang dibacakannya dapat segera dimengerti oleh saudara-saudara seperguruannya
yang tujuh orang itu.
“Dalam hidup ini…,” membaca Gagak Kumara, “setiap manusia akan dan musti
melalui tiga tahap kehidupan. Pertama saat atau dimana dia dilahirkan dari rahim ibunya ke
atas dunia ini. Kedua tahap selama umur kehidupannya di dunia dan ketiga tahap dia
meninggalkan dunia ini, kembali pada asalnya atau mati….”.
Samapi di situ pembacaan Gagak Kumara maka di luar rumah besar terdengar suara
tertawa bergelak yang disusul dengan ucapan: “Tepat… tepat… sekali! Lahir, hidup dan mati!
Dibrojotkan ke duni malang melintang di dunia ini, dan akhirnya mampus! Ha… ha… ha….”.
Tentu saja suara yang lantang mengumandang berisi tenaga dalam yang tinggi dan
yang bernada menghina ini mengejutkan semua anak murid Perguruan Teratai Putih,
termasuk Gagak Kumara sendiri! Semuanya sama memalingkan kepala ke pintu pada saat
mana seorang laki-laki berpakaian lusuh, kotor, bermuka angker dan tangna kanannya
buntung berdiri diambang pintu.
“Sasudara, kau siapa…?” Tanya Gagak Kumara sesudah meneliti sebentar diri tamu
tak dikenal itu. Dia tetap duduk tenang di tempatnya dengan kitab masih terus di atas
pangkuannya.
“Tak perlu tanya dulu!,” menyahuti laki-laki diambang pintu seraya menyeringai
buruk. “Bicaraku belum habis…!”
Beberapa orang diantara murid-murid Perguruan Teratai Putih kelihatan menjadi
penasaran dan menggeser duduk mereka. Namun dengan membrei isyarat diam-diam Gagak
Kumara memberi kisikan agar jangan bertindak dulu.
Dan orang yang diambang pintu meneruskan ucapannya. Terlebih dahulu dengan jari
telunjuk tangan kirinya ditunjukkannya kitab yang ada dipangkuan Gagak Kumara. “Apa
yang tertulis di sana, apa yang kau baca tadi betul sekali! Lahir, hidup, mati! Tapi apa kalian
di sini tahu bahwa segala apa yang tertulis dan apa yang dibaca tadi itu hari ini akan kalian
alami sendiri…?”
“Apa maksudmu saudara?,” tanya Gagak Kumara. Masih tetap dengan tenang dan
tidak beringasan.
Si tangan buntung tertawa mengekeh. “Percuma saja kalau kalian memiliki kitab itu,
percuma saja kalian memilikinya kalau kalian tidak tahu apa mkasud kata-kataku! Kalian
sudah dilahirkan, kalian sudah pernah hidup malang melintang di dunia ini, tapi kalian masih
belum pernah merasakan kematian, belum pernah mencoba mampus! Nah… hari ini, untuk
membuktikan kebenaran isi kitab butut itu, aku –Kalingundil – akan bersedia menolong
kalian untuk mengetahui bagaimana rasanya mampus itu! Ha… ha… ha…!”
Maka kini berdirilah Gagak Kumara dari duduknya. Kitab yang dipangkuannya dilipat
dan diserahkan pada salah seorang saudara seperguruannya.
“Saudara,” kata Gagak Kumara pula. “Di dunia ini memang banyak orang-orang yang
berotak miring. Aku khawatir kau adalah salah seorang dari mereka dan kesasar datang ke
sini!”
Kekehan Kalingundil terhenti. Mukanya membesi. Rahang-rahangnya bergemeletuk.
Tangan kirinya bergerak ke pinggang dan sekejapan mata kemudian tangan itu telah
memegang sebilah pedang buntung yang memancarkan sinar biru. Pedang Siluman Biru!
Sekali lihat saja, meski senjata itu buntung, namun murid-murid Perguruan Teratai
Putih sama memaklumi bahwa pedang yang ditangan manusia tak dikenal dan mengaku
bernama Kalingundil itu adalah sejenis senjata sakti, sekalipun puntung tapi tetap berbahaya!
Tiba-tiba Kalingundil berteriak nyaring. Tubuhnya melompat ke muka, pedang
buntung bergerak, sinar biru membabat ke samping dan kini tidak sungkan-sungkan lagi
melepaskan pukulan tangan kosong yang mengandung tenaga dalam yang tinggi. Namun
betapa terkejutnya Gagak Kumara ketika sambaran pedang buntung di tangan lawannya
membuat angin pukulan tenaga dalamnya terpental ke samping!
“Saudara-saudara!,” seru salah seorang anak murid Perguruan Teratai Putih. “Manusia
kesasar macam begini tak perlu dihadapi satu demi satu. Mari kita tumpas beramai-ramai!”
“Semuanya tetap ditempat!,” teriak Gagak Kumara. “Walau bagaimanapun kita harus
jaga naman Perguruan dan jangan mencemarkan nama guru! Pegang teguh sifat ksatria dunia
per…”. Kata-kata Gagak Kumara tak dapat diteruskan karena saat itu Kalingundil kembali
datang menyerang dalam satu jurus yang aneh. Bagaimanapun Gagak Kumara yang sudah
berilmu tinggi ini mengelak namun tetap saja ujung yang buntung dari pedang biru di tangan
lawan berhasil membabat pakaiannya dan menggores kulit dadanya! Pada detik goresan itu
maka Gagak Kumara merasakan badannya menjadi panas.
Kalingundil terkekeh.
“Pedang buntung ini Pedang Siluman Biru… mengandung racun yang jahat. Dalam
tiga jam nyawamu akan melayang! Ha… ha… ha…!”.
Terkejutlah Gagak Kumara. Demikian juga saudara-saudara seperguruannya yang
lain. Gagak Kumara cabut sebilah keris dari pingganngnya. Saudara-saudara seperguruannya
yang lainpun segera cabut keris pula dan kali ini Gagak Kumara tidak berkata apa-apa lagi.
Maka delapan anak murid Perguruan Teratai Putih dengan sebilah keris di tangan masingmasing
mengurung Kalingundil yang bersenjatakan sebilah pedang buntung sakti itu!
Kalingundil hanya tertawa buruk melihat hal ini.
“Sebaiknya kalian bunuh diri saja dari pada mampus di ujung patahan Pedang
Siluman-ku ini!”
“Pedang Siluman…,” desis anak-anak murid Perguruan Teratai Putih dalam hati.
Mereka pernah mendengar tentang kehebatan pedang ini dari guru mereka. Tapi dikabarkan
sejak beberapa tahun yang silam pedang itu lenyap dan kini muncul dalam keadaan buntung,
tapi benar-benar tidak mempengaruhi kehebatannya! Namun apapun senjata yang di tangan
lawan saat itu anak-anak murid Wirasokananta tidak mempunyai rasa gentar atau kecut
sedikitpun!
Kedelapannya menyerbu ke muka. Delapan keris berkiblat kearah delapan bagian dari
tubuh Kalingundil! Yang diserang menyeringai lalu membentak keras. Tubuhnya berkelebat,
sinar biru dari pedangnya menderu seputar badan! Tiga jeritan terdengar hampir bersamaan
dan tiga saudara seperguruan Gagak Kumara roboh mandi darah, nyawanya putus di situ juga!
Gagak Kumara kertakkan geraham. Darahnya mendidih oleh amarah. Namun goresan
luka telah membuat tubuhnya menjadi kehilangan tenaga. Dikerahkannya seluruh tenaga
dalam yang ada di tubuhnya. Dan mengamuklah gagak Kumara dengan segala kehebatannya.
Namun permainan pedang lawan benar-benar hebat, sulit dan sukar diduga jurus-jurusnya.
Satu jurus dimuka, dua orang saudara seperguruannya lagi roboh tanpa nyawa. Melihat ini
Gagak Kumara segera berseru pada dua orang saudara seperguruannya yang perempuan.
“Wurnimulan, Nyiratih… kalian segeralah tinggalkan tempat ini! Cepat lari
selamatkan diri…!”
Tapi kedua gadis itu meski betina adalah betina yang berhati jantan! Wurnimulan
menyahuti: “Hidup mati kita bersama kakak Gagak Kumara!.” Gadis ini itu berkelebat cepat
dan kirimkan satu tusukan cepat ke leher lawan.
Kalingundil tertawa. Dielakkannya tusukan keris itu dengan miringkan badan dan di
saat itu pula kaki kirinya bergerak.
“Bluk!”
Saudara seperguruan Gagak Kumara laki-laki yang terakhir terpelanting ke dinding.
Tulang dadanya melesak ke dalam dihantam tendangan Kalingundil. Jantung dan paruparunya
pecah! Nyawanya lepas!
Gagak Kumara sendiri saat itu sudah kehabisan tenaga. Luka di dadanya dan racun
pedang siluman sangat mempengaruhi keadaan tubuhnya ke segenap pembuluh darah! Dia
tahu sebentar lagi dia pasti akan menyusul saudara-saudara seperguruannya yang lain. Karena
itu sekali lagi dia berseru memberi ingat: “Wurnimulan! Nyiratih! Larilah sebelum
terlambat!”
“Gadis-gadis caritik ini tak akan bisa pergi jauh! Nasib kematian kalian sudah ada di
ujung Pedang Siluman-ku! Tapi sebelum mati keduanya akan kuhadiahkan dunia terlebih
dahulu!”
Kalingundil tertawa mengekeh! Gagak Kumara yang tahu maksud dan arti kata-kata
lawannya itu untuk kesekian kalinya berteriak memberi ingat namun kedua gadis itu tak mau
ambil perduli malahan menyerang dengan hebat! Kalingundil mengelak gesit beberapa kali.
Kemudian dengan kecepatan yang luar biasa, dengan mempergunakan hulu belakang senjata
di tangan kirinya laki-laki itu menotok Wurnimulan dan Nyiratih! Keduanya kini kaku tak
bergerak. Tahu malapetaka apa yang bakal menimpa kedua saudara seperguruannya itu,
dengan sisa tenaga yang ada, dengan segala kehebatan yang masih dimilikinya Gagak
Kumara menyerbu Kalingundil dari samping.
Yang diserang sambil putar badan berkata: “Ajalmu sudah di depan mata, maut sudah
di depan hidung! Baiknya bunuh diri saja…!”
“Terima kerisku lebih dulu, manusia durjana! Kami tidak ada permusuhan dengan
kau. Kenapa kekejamanmu lewat takaran macam begini…?!”
“Akh… sudahlah! Biar mulutmu kututup saja saat ini!,” kata Kalingundil pula.
Pedang Siluman Biru membabat ke perut Gagak Kumara, dialakkan dengan melompat
oleh murid Wirasokananta itu namun begitu melompat, senjata lawan kembali memburu lebih
cepat, kini menderu ke muka Gagak Kumara, tak sanggup lagi dikelit oleh laki-laki ini!
-- == 0O0 == --
TIGA
USAHA terakhir yang dilakukan Gagak Kumara untuk menyelamatkan dirinya ialah
melintangkan keris dimukanya. Pedang Siluman Biru buntung terus membabat, senjata
masing-masing beradu keras, bunga api memercik dan keris Gagak Kumara patah dua sedang
senjata lawan terus membabat mukanya!
Murid tertua dari Perguruan Teratai Putih itu terhuyung ke belakang. Mukanya banjir
oleh darah dan mengerikan sekali. Perlahan-lahan lututnya tertekuk dan pinggangnya meliuk.
Gagak Kumara terduduk di lantai, sebelum tergelimpang dan menghembuskan nafas
penghabisan, buntungan keris yang masih tergenggam di tangannya dengan segala tenaga
yang ada dilemparkannya ke arah Kalingundil. Tapi serangan yang hampir tiada artinya ini
dengan mudah dielakkan oleh Kalingundil.
Kalingundil tertawa mengekeh. Noda darah yang membasahai Pedang Siluman Biru
yang buntung itu disekakannya kembali ke balik pinggang. Kemudian laki-laki ini memutar
tubuh. Sepasang matanya kini berkilat-kilat memandangi tubuh dan paras Wurnimulan serta
Nyiratih yang saat itu berdiri kaku tak berdaya karena ditotok tadi.
“He… he… he… kalian berdua tak perlu mati buru-buru….,” kata Kalingundil. Ujung
lidahnya dijulurkannya untuk membasahi bibirnya. Dia melangkah mendekati Wurnimulan.
Tangan kirinya bergerak dan “bret!” Robeklah baju perguruan yang dipakai oleh gadis itu.
Dadanya terbuka lebar, putih dan mulus padat. Kalingundil menjadi terbakar tubuhnya oleh
nafsu yang menggelegak. Tangan kirinya bergerak lagi…. bergerak lagi… bergerak lagi….
SEMENTARA itu di puncak Gunung Galunggung…
Dalam tapanya yang sudah berjalan sembilan belas hari itu tiba-tiba saja
Wirasokananta tak dapat meneruskan memusatkan segenap jalan pikirannya. Satu demi satu
panca inderanya mulai terganggu. Walau bagaimanapun usahanya untuk memusatkan pikiran
dan tenaga bathin serta menutup segenap pancainderanya namun sia-sia saja. Semuanya
membuyar kembali. Semakin dipaksanya semakin sulit. Mau tak mau akhirnya tokoh silat
yang sudah setengah abad ini umurnya terpaksa buka kedua matanya yang sejak sembilan
belas hari telah dipejamkannya.
Kedua matanya itu memandang jauh ke muka, memandang ke luar pintu goa dimana
dia bertapa. Segala apa yang dilihatnya saat itu, rimba belantara, bukit sunga, matahari, langit
dan awan… semuanya masih seperti sebelumnya dia datang ke situ, tak ada perubahan.
Namun hatinya tidak enak, nalurinya membawanya ke satu hrasat yang mendebarkan dada
dan menggelisahkan dirinya. Dan meski ujud kenyataan dari benda-benda dihadapannya yang
dapat dilihatnmya dari puncak Gunung Galunggung itu tiada perubahan, namun orang tua
yang sudah banyak pengalaman dan mengecap ragam kehidupan itu tahu, bahwa dibalik
semua itu pasti telah terjadi apa-apa di dunia luar sana. Diusapnya wajahnya dengan kedua
tangannya. Dia merenung, sejurus kemudian perlahan-lahan turun dari batu hitam di mana dia
sebelumnya duduk bertapa. Batu hitam yang diduduki orang tua ini kelihatan berbekas leguk.
Ini cukup memberi pertanda bagaimana kehebatan tenaga dalan dan luar Wirasokananta.
Diusapnya lagi mukanya. “Mungkin ada apa-apa terjadi di Perguruan…,” kata
Wirasokananta dalam hatinya. Dengan mempergunakan ilmu lari “seribu angin” maka sekali
berkelebat lenyaplah sosok tubuh orang tua itu dari mulut goa dan kemudian kelihatanlah dia
berlari menuruni puncak Gunung Galunggung cepat sekali laksana angin!
Karena sangat terkejutnya, di ambang pintu rumah besar itu sampai-sampai
Wirasokananta berdiri mematung untuk beberapa lamanya! Kemudian tubuh yang mematung
ini sekujurnya jadi bergetar.
“Demi Tuhan… siapakah yang punya pekerjaan ini?,” desisnya.”Dosa besa apakah
yang telah kami perbuat sampai menerima malapetaka begini rupa…?”
Murid-muridnya bergeletakan di mana-mana. Semuanya tanpa nyawa dan
bergelimang darah. Namun apa yang sangat menusuk mata Ketua Perguruan Teratai Putih itu
ialah akan keadaan diri dua orang murid perempuannya, Wurnimulan dan Nyiratih. Keduanya
menggeletak di lantai rumah besar tanpa tertutup selembar benangpun. Keris milik masing-masing menancap ditenggorokan dan darah mengelimangi hampir sekujur tubuh kedua gadis
itu, dari leher sampai ke dada terus ke selangkangan….
Wirasokananta pejamkan kedua matanya, tak tahan memandangi lebih lama apa yang
membentang dihadapannya itu. Bagaimana juga.dikuatkannya hatinya, namun air mata meleleh
juga dari. sela-sela kelopak mata yang dipejamkannya itu. Tenggorokannya turun naik menahan
keluarnya suara isakan. Beberapa tahun dia telah mendidik kedelapan muridnya itu, beberapa tahun
mereka telah berjuang bersama-sama untuk menegakkan kebenaran dan menghancurkan
kebathilan beberapa tahun mereka bersama-sama telah berjuang untuk menghancurkan
kemaksiatan dan memusnahkan kebejatan serta kejahatan. Namun hari ini mereka semua menemui
nasib semacam itu. Menemui kematian dengan cara yang mengenaskan di luar dugaan
Wirasokananta.
Dalam masih pejamkm kedua matanya itu. Ketua Perguruan Teratai Putih ini coba berpikir dan menduga-duga siapakah kiranya manusia yang telah menjatuhkan malapetaka yang begini kejam terhadap anak-anak muridnya, tak bisa diduganya, tak bisa dipikirkannya karena seingatnya dia tak pernah mempunyai seorang musuhpun dalam dunia persilatan.Wirasokananta membuka kedua matanya kembali. Pada saat inilah, di balik pandangan matanya yang masih digenangi air mata itu pandangannya membentur buku besar buah tulisannya sendiri yang dipantek dengan sebilah keris milik salah seorang muridnya! Serentetan kalimat yang ditulis dengan darah tertera dikulit buku itu.

Kepada Ketua:
“Perguruan Teratai Putih “
Kalau ingin menuntut balas kematian murid-muridmu datanglah ke puncak Gunung Tangkuban perahu pada hari 13 bulan 12.
Pendekar Kapak Maut
Naga Geni 212


Mata yang digenangi air mata dari Wirasokananta menyipit, membuat air mata yang tadi
mengambang menjadi turun meleleh membasahi pipinya.
IZRO'IL
Dendam Orang-Orang Sakti


Ingatannya kembali pada masa puluhan tahun yang silam: Dulu, dunia persilatan memang
pemah dibikin geger oleh seorang tokoh utama yang digjaya tiada tandingan. Tokoh yang telah
merajai dunia persilatan selama bertahun-tahun ini adalah Eyang Sinto Gendeng, seorang pendekar
perempuan yang bersenjatakan sebuah kapak sakti bernama Kapak Maut Naga Geni 212. Namanya
harum dikalangen tokoh-tokoh silat golongan putih karena Pendekar 212 adalah pembasmi
kejahatan dan penolong kaum lemah. Sedang bagi golongan hitam, tokoh ini sudah barang tentu
menjadi momok besar yang sangat ditakuti!.
Pada masa kehidupan Pendekar 212 itu, di mana saat itu Wirasokananta masih belum
mendirikan Perguruan Teratai Putih, karena sama-sama dari golongan putih yang sehaluan dalam
perjuangan maka dengan sendirinya tiada permusuhan atau silang sengketa antara dia dengan
Pendekar 212.
Tapi hari ini terjadi peristiwa berdarah itu, peristiwa maut yang diakhiri dengan
meninggalkan pucuk surat tantangan, dan surat ini justru ditandatangani dengan nama
“”…! Tentu saja ini satu hal yang tidak dimengerti
Wirasokananta. Kemudian apa pula arti dan hubungannya nama. “” itu ?!
Ketua Perguruan Teratai Putih itu coba merenung.
Renungannya ini menyangkut pada masa puluhan tahun yang silam itu. Di masa
dunia persilatan geger oleh kehebatannya Pendekar 212, tiba-tiba entah kemana perginya
Pendekar 212 lenyap! Tentang kelenyapannya ini banyak tokoh-tokoh persilatan
memberikan tanggapan, Mungkin Pendekar 212 sendiri yang sengaja lenyap mengundurkan
diri dari dunia persilatan, mungkin juga tokoh itu telah menemui kematiannya dengan cara
yang tak bisa diduga, meski tanggapan yang kemudian ini agak diselimuti rasa keraguraguan.
Tapi kini dengan adanya kejadian maut di Perguruan Teratai Putih itu,
Wirasokananta merasa yakin bahwa sesuatu memang telah terjadi dengan diri Eyang Sinto
Gendeng atas Pendekar 212. Dia berkesimpulan bahwa Pendekar 212 dalam satu
pertempuran hebat dan tak diketahui oleh dunia luar telah dikalahkan oleh seorang
pendatang baru bernama . Kemungkinan sekali Pendekar 212 menemui
ajalnya di tangan itu, merampas Kapak Maut Naga Geni 212 yang kemudiannya
malang melintang di dunia persilatan dengan memakai gelar Pendekar Kapak Maut
Naga Geni 212!
Dan kelanjutan renungan Ketua Perguruan Teratai Putih itu ialah siapa manusia
ini sebenarnya. Nama itu satu nama baru baginya. Namun meski nama baru
satu hal diyakini oleh Wirasokananta bahwa dengan itu manusia baik dia maupun Perguruan
Teratai Putih, tak pernah mempunyai permusuhan dan menanam dendam kesumat! Apa
yang menjadi latar belakang pembunuhan besar-besaran atas murid-muridnya benar-benar
sangat gelap bagi Wirasokananta. Dan bila matanya membentur lagi tulisan berdarah yang
menyatakan tantangan itu, benar-benar Ketua Perguruan Teratai Putih ini merasa dibakar
hatinya! Bulan 12 masih sembilan bulan lagi! Apakah dia akan menunggu sampai sekian
lama untuk kemudian baru bertemu muka dan membuat perhitungan dengan ?
Ataukah detik itu juga ia meninggalkan Perguruan dan mencari musuh durjana itu ?
Namun, Wirasokananta tahu, bahwa apa yang musti dilakukannya saat itu ialah
menguburkan jenazah-jenazah ke delapan orang muridnya di halaman Perguruan.
-- == 0O0 == --

EMPAT
ANTARA sungai Cidangkelok di sebelah timur dan sungai Cimanuk di sebelah
barat, terbentanglah satu daerah yang sangat subur. Ladang-ladang menghijau oleh hasil
yang menakjubkan. Sawah-sawah menguning laksana hamparan permadani emas.
Lumbung-lumbung padi petani penuh, tak akan habis dimakan selama satu dua tahun.
Penduduknya sendiri hidup dalam tingkat kehidupan yang jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan penduduk daerah sekitar lainnya. Mereka sehat-sehat, ramah dan rajin bekerja.
Desa Bojongnipah adalah desa yang paling utama pada daerah yang membentang
antara sungai Cidangke!ok dan sungai Cimanuk itu. Hasil ladang, hasil sawah dan hasil tebattebat
pemeliharaan ikan penduduk tumpah ruah tiada terkirakan dan desa ini dikepalai oleh
seorang Lurah yang bijaksana dan cakap bernama Ki Lurah Kundrawana. Begitu bijaksana
dan pandainya Ki Lurah Kundrawana mengatur desa dan penduduknya sehingga banyak
Lurah-lurah dari desa lain yang datang untuk meminta bantuan Kundrawana dalam hal yang
ada hubungannya dengan kehidupan penduduk , dan pengaturan hidup agar bisa makmur serta
tenteram.
Di satu malam yang mendung gelap dan berangin kencarig dingin, Ki Lurah
Kundrawana masih kelihatan duduk-duduk di langkan rumahnya yang sederhana, bercakapcakap
dengan isterinya Warih Sinten. Di sela bibir Ki Lurah Kundrawana yang sudah berumur empat puluh lima tahun itu terselip sebuah pipa yang api tembakaunya hampir mati.
“Dingin di luar ini, kakang…,” kata Warih Sinten sambil, merapatkan kainnya yang agak menyingkapkan betisnya yang putih bagus.
“Ya. Tampaknya mau hujan. Kita masuk saja…,” sahut Ki Lurah Kundrawana seraya berdiri.
Namun belum lagi kedua suami isteri itu melangkah ke pintu mendadak sekali tiga sosok bayangan hitam berkelebat. Tubuh mereka rata-rata tinggi kekar dan tampang-tampang mereka buruk serta angker !
Melihat ini, Ki Lurah Kundrawana yang tahu gelagat segera ulurkan tangan kanan ke pinggang di mana kerisnya tersisip. Namun dengan kecepatan yang luar biasa salah seorang dari manusia-manusia berpakaian hitam itu tahu-tahu sudah melintangkan sebatang golok di batang leher. Ki Lurah Kundrawana! Warih Sinten yang hendak berteriak ditekap mulutnya oleh laki-laki yang laini
Ki Lurah Kundrawana maklum bahwa ketiga orang itu tentulah dari satu komplotan rampok terkutuk. Tapi ini adalah untuk pertama kalinya desanya didatangi rampok-rampok macam begini pada hal sejak selama dalam pegangannya desa senantiasa aman tenteram.
Namun demikian Ki Lurah Kundrawana dengan mempertenang diri coba bicara.
“Kalian siapa, ada maksud apa datang ke sini…?!”
Orang yang melintang golok di leher Lurah Bojongnipah itu menyeringai
menggidikan. Giginya yang tersungging kelihatan hitam, sehitam pakaian yang
dikenakannya.
“Aha… bagus kau tanya begitu. Tapi sebelum aku berikan jawaban kau musti ingat
satu hal. Jika kau banyak tingkah dan membantah segala apa yang kami perintahkan, jangan
menyesal bila melihat anak laki-lakimu yang tidur di dalam sana ku pantek di tiang rumah!”
Terkejutlah Ki Lurah Kundrawana. Warih Sinten sendiri menggigil. Laki-laki
berpakaian hitam menyeringai lagi.
“Sekarang tentang siapa kami. Kau pernah dengar nama Komplotan Tiga Hitam dari
Kali Comel?”
Paras Ki Lurah Kundrawana memucat.
“Saat ini kau berhadapan dengan mereka, Kundrawana. Aku Tapak Luwing adalah
pemimpin mereka !”
Ki Lurah Kundrawana tahu betul dan sering mendengar tentang Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel itu. Mereka adalah tiga rampok jahat dan ganas yang malang melintang disepanjang Kali Comel bahkan sampai ke perbatasan. Kali Comel jauh sekali dari desa Bojongnipah, kenapa tiga manusia bejat ini bisa sampai ke sini, demikian pikir Kundrawana.
'Tapak Luwing! Kalau kau mau merampok, lakukanlah! Bawa apa yang kalian bisa ambil dan berlalu dari sini dengan cepat !”
Kepala Komplotan Tiga Hitam itu tertawa. “Kami selama ini memang dikenal sebagai perampok. Tapi dengan Ki Lurah Kundrawana, hari ini kami datang bukan untuk melakukan perampokan!”
Tentu saja ucapan ini mengherankan Ki Lurah Kundrawana. “Jadi apa mau kalian ?!” tanyanya.
“Kami datang untuk bikin perjanjian dengan kau !”
“Perjanjian apa…?”
“Mulai hari ini, kau musti tunduk kepada segala apa yang kami atur dan perintahkan, mengerti!”
Ki Lurah Kundrawana menelan ludahnya. “Aturan dan perintah macam mana maksudmu?” tanyanya. Sementara itu diam-diam tangan kanannya kembali bergerak dan menyusup ke pinggangnya: Kepala desa Bojongnipah ini sudah bertekat bulat untuk melakukan perlawanan meski saat itu golok Tapak Luwing masih menempel di batang lehernya sedang isterinya sendiri masih disekap oleh salah seorang anak buah Tapak Luwing”.
Ki Lurah Kundrawana berhasil memegang hulu kerisnya. Secepat kilat senjata itu
ditusukkannya ke perut Tapak Luwing. Namun Kepala Komplotan Tiga Hitam ini tidaklah
sebodoh dan selengah yang diperkirakan oleh Ki Lurah Kundrawana. Sekali tangan
kanannya bergerak turun menyapu ke bawah maka terdengarlah suara beradunya senjata dan
percikan bunga api. Disusul oleh jeritan tertahan dari Warih Sinten, yang mulutnya disekap.
Golok Tapak Luwing membuat mental keris di tangan Ki Lurah Kundrawana sedang
ibu jari laki-laki ikut terbabat putus ujungnya sampai ke kuku. Ki Lurah Kundrawana
merintih kesakitan. Darah mengucur dari ibu jarinya yang putus. Sementara itu golok Tapak
Luwing telah menempel kembali pada batang lehernya !
“Agaknya kau minta batang lehermu cepat-cepat ditebas huh?,” bentak Tapak
Luwing.
“Tebaslah, aku tidak takut! Kalian manusia, manusia lak….”
Tamparan tangan kiri Kepala Komplotan Tiga Hitam itu menghajar pipi
Kundrawana. Pandangannya berkunang, pipinya merah sekali dan sudut bibirnya pecah
berdarah!
“Masih mau buka mulut?!” tanya Tapak Luwing.
Ki Lurah Kundrawana menggeram dalam hatinya. Tapi tak berkata apa-apa.
“Kau mau dengar dan turut perintahku atau pilih mati?!”
“Aku tidak takut mati! Isteriku juga tidak takut mati” jawab Ki Lurah pula.
Tapak Luwing menyeringai. “Kalian memang tak takut mati. Tapi apa kalian
sanggup menyaksikan anakmu yang di dalam sana kubikin menggelinding kepalanya di
lantai ini?!”
Ki Lurah Kundrawana terdiam.
Tapak Luwing kemudian mendorong, laki-laki itu ke dalam dan memerintahkan
duduk di kursi. “Demi nyawamu dan nyawa keluargamu, ada bagusnya kita bicara baikbaik
Ki Lurah! Dengar, mulai hari ini ke atas kau harus tunduk kepadaku. Aku tanya
kapan pemungutan pajak penduduk kau lakukan setiap bulan…?”
Ki Lurah Kundrawana tak mengerti maksud pertanyaan ini tapi dia menjawab juga:
“Hari Senin minggu pertama”.
“Bila pajak-pajak itu sudah terkumpul, ke mana kau serahkan?,” tanya Tapak
Luwing lagi.
“Pada Adipati di Linggajati dan Adipati itu kemudian meneruskannya ke
Kotaraja”.
“Hem… begitu ... Itu satu aturan yang bagus. Tapi mulai penarikan pajak bulan
yang akan datang jumlah pajak yang harus dipungut adalah sepuluh kali lebih besar dari
yang sudah-sudah…!”
Ki Lurah Kundrawana terkejut.
Dia tambah terkejut lagi ketika Tapak Luwing menyambung kalimatnya tadi:
“Pajak itu harus kau pungut tiga kali dalam satu bulan! Mengerti…?!”
“Aturan macam mana ini ?!”
“Tak usah tanya aturan macam mana, yang penting lakukan perintahku!,” sahut
Tapak Luwing,
“Kau tak bisa berbuat seenaknya, Tapak Luwing! Salah-salah kau bisa berurusan
dengan Adipati Linggajati, bisa berurusan dengan Kerajaan!”
“Urusan dengan Adipati, itu urusanmu, juga urusan dengan Kerajaan. Tapi jika kau
berani mengadukan hal ini kepada siapa saja, kulabrak seluruh keluargamu! Mengerti?!”
“Kalian bisa melabrak keluargaku. Tapak Luwing, tapi kalian tak bisa melabrak
Adipati dan Kerajaan!”
“Aku sudah bilang urusan dengan Adipati adalah urusanmu, juga dengan
Kerajaan! Aku hanya tahu bahwa tiga kali dalam satu bulan aku harus terima sejumlah uang yang besarnya sepuluh kali besar pajak yang kau pungut selama ini dari penduduk desa!”
“Keterlaluan! Keterlaluan kau Tapak Luwing! Tak satu pendudukpun yang sanggup membayar pajak sekian besarnya itu !”
“Penduduk di sini kaya-kaya! Punya sawah, punya ladang, punya kerbau, sapi, kambing dan ayam serta itik!!”
“Tapi sepuluh kali, mana mereka…”
Tapak Luwing memotong dengan cepat: “Apa aku musti paksa kau memungut lima belas kali lebih banyak, atau dua puluh kali?!”
“Aku tak akan lakukan perintahmu ini Tapak Luwing! Aku tak sanggup memeras rakyat!”
“Perduli amat! Kalau tak saggup memeras rakyat apa kau sanggup menyaksikan
kematian anak laki-laki mu?”
Kalau Kepala Komplotan Tiga Hitam itu sudah mengancam demikian rupa, mau
tak mau Ki Lurah Kundrawana terdiam bungkam.
Tapak Luwing menggoyangkan kepalanya pada anak buahnya yang berdiri dekat
pintu. Melihat isyarat ini laki-laki itu segera masuk ke dalam kamar tidur Ki Lurah
Kundrawana. Kundrawana berdiri dari kursinya. “Kau mau buat apa…!,” bentaknya.
Tapak Luwing mendorong laki-laki itu hingga Kundrawana terduduk kembali ke
kursi. Tak lama kemudian anak buah Tapak Luwing yang masuk kamar muncul di
ruangan itu kembali dengan mendukung anak laki-laki Ki Lurah Kundrawana. Anak
laki-laki ini baru berumur empat tahun. Dalam di dukung itu dia masih tertidur nyenyak,
tak tahu apa yang terjadi atas dirinya.
Kecemasan segera terbayang diparas Warih Sinten dan Kundrawana.
“Kalian mau bikin apa dengan anakku?!” tanya Kundrawana.
“Selama kau mengikuti perintahku, anakmu akan selamat tak kurang suatu apa.
Dia kubawa untuk sementara sebagai jaminan bahwa kau tidak akan mengadukan
persoalan ini pada siapa pun! Kau dengar Ki Lurah Kundrawana!”
Laki-laki itu tak menjawab.
“Dengar?!” ulang Tapak Luwing membentak. Ki Lurah Kundrawana mau tak mau
terpaksa mengangguk pelahan.
“Hasil-hasil pungutan pajak itu selambat-lambatnya harus kau serahkan kepadaku
satu hari sesudah terkumpulnya. Antarkan ke satu pondok tua di persimpangan jalan yang
menuju ke Linggajati. Aku sendiri yang akan menunggu kau di sana pada tengah hari
tepat!”
“Aku tak akan mengantarkannya!” kata Ki Lurah Kundrawana. “Silahkan datang
sendiri kesini!”
Tapak Luwing tertawa dingin. “Jangan lupa keselamatan anakmu, Ki Lurah,”
katanya. Kemudian Kepala Komplotan Tiga Hitam dari. Kali Comel ini berikan isyarat
dan bersama kedua anak buahnya segera meninggalkan rumah Ki Lurah. Kundrawana.
-- == 0O0 == --

LIMA
SEMALAM-MALAMAN itu Warih Sinten tiada hentinya menangis. Matanya sudah merah
dan bengkak. Ki Lurah. Kundrawana sendiri yang juga tak bisa tidur, melangkah mundar mandir tak
berketentuan. Hatinya gelisah dan cemas, memikirkan diri anaknya yang telah dibawa oleh komplotan
Tapak Luwing. Tapi hatinya juga gemas dan geram tiada terperikan!
Baginya keselamatan diri dan isterinya tidak begitu penting jika dia ingat nasib anak lakilakinya
itu, anak satu-satunya yang mereka miliki. Dan soal pajak itu, benar-benar membuat Ki Lurah
Kundrawana seperti mau gila memikirkannya. Dia tak akan bisa mengadukan persoalan ini pada
Adipati di Linggajati atau kepada Raja demi keselamatan anaknya. Satu-satunya jalan hanyalah
mengikuti aturan dan perintah gila Tapak Luwing. Tapi bagaimana nanti sikap rakyat terhadapnya?
Bukan saja pajak itu sangat berat bagi mereka, tapi penduduk .pasti akan mencapnya sebagai tukang
peras dan mungkin akan timbul kemarahan di kalangan penduduk!
Kalau dia musti memungut sepuluh kali jumlah pajak yang harus diserahkan pada Tapak
Luwing, maka ditambah dengan yang harus diserahkan pada Adipati di Linggajati akan menjadi
sebelas kali dari yang sudah-sudah! Kalau tidak ingat-ingat kepada Tuhan maulah Lurah Bojongnipah
itu ambil kerisnya dan menusuk diri dengan senjata itu! Namun dia tahu ini bukanlah penyelesaian
yang baik.
Keesokan paginya terpaksa juga dia melalui seorang pembantunya mengirimkan kabar
berkeliling penduduk desa bahwa mulai bulan depan pemungutan pajak besarnya sebelas kali dari
yang sudah-sudah. Ini adalah sesuai dengan garis kebijaksanaan Raja demi untuk, pembangunan dan
memelihara balatentara yang kuat, demikian alasan yang dibuat-buat oleh Ki Lurah Kundrawana
untuk menutupi apa yang sebenarnya.
Bila berita itu sudah sampai ke seluruh pelosok maka dalam sikap penduduk Bojongnipah
mulai kelihatan pertentangan-pertentangan. Rata-rata mereka mengatakan bahwa ini adalah satu
penindasan. satu pemerasan terang-terangan. Demi pembangunan dan demi balatentara yang kuat
apakah rakyat harus dkekik lehernya dengan pajak yang besar tiada terkirakan lihat gandanya itu?!
Beberapa orang tua-tua desa menemui Ki Lurah Kundrawana tapi Ki Lurah tak bersedia
berhadapan dengan mereka. Orang tua-tua desa tentu saja heran kali melihat sikap Lurah mereka yang
dulunya itu begitu baik bijaksana dan ramah tapi kini, jangankan untuk bicara tentang persoalan
kenaikan pajak itu, bahkan untuk bertemu sajapun dia tidak mau! Disamping itu ketika mereka berada
di rumah Ki Lurah, telinga mereka mendengar terus-terusan suara tangis Warih Sinten, isteri Lurah.
Ada apa pula dengan diri perempuan itu? Betul-betul banyak hal yang tidak mengerti orang tua-tua
desa saat itu! Dan ketika tiba saat pemungutan pajak yang pertama, banyak di antara.penduduk yang
tak mau membayar. Dengan menekan pertentangan yang senantiasa melekat dihatinya Ki Lurah
terpaksa mengancam orang-orang itu. Siapa-siapa penduduk yang tak mau membayar pajak dalam
jumlah yang telah ditentukan, akan ditangkap dan dibawa ke Kotaraja! Akhirnya terpaksa juga
penduduk membayar.
Dalam pemungutan pajak-yang kedua terjadi kekacauan namun masih sanggup
diatasi oleh Ki Lurah Kundrawana. Menjelang pemungutan pajak yang ketiga Ki Lurah
Kundrawana mendengar kabar bahwa penduduk akan mengadakan pemberontakan! Lakilaki
ini tak bisa menyalahkan penduduk. Suatu malam dengan diam-diam pergilah Ki Lurah
Kundrawana ke Linggajati untuk menemui Adipati Boga Seta. Kepada Adipati ini
dilaporkannya segala apa yang terjadi. Boga Seta kelihatan terkejut sekali. Ketika Ki Lurah
Kundrawana minta diri, Boga Seta berjanji akan mengirimkan serombongan pasukan
Kadipaten selekas mungkin. Namun menjelang semakin dekatnya hari pemungutan pajak
yang ketiga itu tak satu prajurit Kadipatenpun yang muncul!
Ki Lurah Kundrawana kehabisan akal, betul-betul bingung. Sementara itu tandatancia
bakal terjadinya pemberontakan semakin jelas dan santar. Dalam kebingungannya di
waktu yang sempit itu Ki Lurah Kundrawana akhimya berhasil menemui Tapak Luwing di
luar desa.
“Ada keperluan apa, kau menemui aku, Ki Lurah ?” bertanya Tapak Luwing sambil
menggerogoti daging panggang yang barusan dipanggang oleh anak-anak buahnya. Saat itu
Tiga Hitam dari kali Comel berada di pinggiran hutan.
“Ada kesulitan katamu ? Hem… Apa kau tahu bahwa besok adalah hari pemungutan
uang pajak itu dan lusanya menyerahkan pada kami di persimpangan jalan yang menuju ke
Linggajati?”
“Aku tahu Tapak Luwing. Justru kesulitan ini ada sangkut pautnya dengan
pemerasanmu!” jawab Ki Lurah Kundrawana pula.
Tapak Luwing tertawa dan melemparkan tulang daging yang dimakannya ke dekat
kaki kepala desa Bojongnipah itu.
“Tentang kesulitan ini, apakah kau sudah pergi kepada Adipati Boga Seta di
Linggajati?,” Tanya Tapak Luwing seraya tertawa dan berdiri dari duduknya di batang kayu
tumbang.
Ki Lurah Kundrawana terkejut dan berubah parasnya. Dalam hati dia bertanya-tanya
apakah kepala perampok ini mengetahui kepergiannya ke Linggajati menemui Adipati
Boga Seta itu?
Suara tertawa Tapak Luwing semakin keras. Tampangnya kelihatan tambah angker
dan tiba-tiba, tak terduga oleh Ki Lurah Kundrawana, tamparan tangan kanan kepala
rampok itu mendarat di pipinya.
“Tapak Luwing kau…”
“Plak!”
Untuk kedua kalinya tamparan Tapak Luwing menghajar muka Kundrawana.
“Berbacot lagi,” bentaknya, “Kurobek mulutmu!”.
“Tapi Tapak Luwing…”
“Aku sudah bilang agar jangan mengadukan persoalan ini kepada siapapun! Dan kau
telah pergi kepada Adipati Boga Seta! Apa kau lupa hukuman yang bakal diterima
anakmu?!”
Maka pucatlah muka Ki Lurah Kundrawana!
“Kau… kau apakan anakku, Tapak Luwing…?
“Sekarang kau ketakutan sendiri ya? Sialan! Adipati Boga Seta telah rnengirimkan
lima orang prajuritnya ke Bojongnipah, tapi aku telah mencegatnya ditengah jalan dan
kelimanya telah menemui ajal akibat kebodohanmu!”
“Anakku… anakku bagaimana…?” tanya Ki Lurah Kundrawana setengah menangis
setengah merengek!
“Aku masih berbaik hati untuk kasih ampun kesalahanmu kali ini! Di lain hari,
jangan harap aku bakal mau memaafkan kau…”
Legalah dada Ki Lurah Kundrawana. Tapi jika dia mau berpikir panjang sedikit dan
tidak keliwat gelisah maka dia akan melihat adanya keganjilan dengan ucapan Tapak
Luwing hari ini dengan tiga minggu yang lalu. Dulu Tapak Luwing mengancam akan
membunuh anaknya bila dia mengadu kepada Adipati atau Raja. Dan dia telah mengadukan
hal itu kepada Adipati Boga Seta dan anehnya Tapak Luwing mau memberikan ampun
kepadanya, padahal dengan demikian persoalan kejahatannya bukan saja telah sampai ke
tangan Adipati tapi pasti akan diteruskan ke Kotaraja, apalagi sesudah pembunuhan atas
lima prajurit Kadipaten itu !
“Sekarang terangkan mengenai kesulitan yang kau katakan itu, Ki Lurah!,” kata
Tapak Luwing pula.
“Penduduk desa akan melakukan pemberontakan besok kalau aku masih juga
memungut pajak gila itu!,” kata Ki Lurah Kundrawana pula.
“Begitu? Dulu kau bilang tidak takut mampus! Kini ada bahaya yang mengancam
jiwamu kenapa terbirit mencari aku…?!”
Ki Lurah Kundrawana mengatupkan rahangnya rapat-rapat.
“Kembalilah ke Bojongnipah. Ki Lurah, Besok kami akan datang ke sana…” berkata
Tapak Luwing.
“Kuharap jangan sampai terjadi kekerasan”.
“Soal itu urusan kami. Kau tak perlu ikut campurl,” kata Tapak Luwing pula.
“Bisa aku ketemu anakku, Tapak Luwing ?” tanya Ki Lurah Kundrawana.
“Kali ini tidak dulu,” jawab kepala rampok itu. Kepala desa Bojongnipah itu
termenung sejurus. Kemudian dengan langkah gontai dia berjalan ke kudanya dan naik ke
atas punggung binatang itu
Sebelum berlalu Ki Lurah Kundrawana bertanya, 'Tapak Luwing, sampai kapan
kebejatanmu ini kau timpakan padaku…?”
Tapak Luwing tertawa. “Tak usah banyak tanya ! Lebih baik pikirkan.nasibmu
besok hari. Mungkin penduduk desa sudah mencincang tubuhmu sebelum kami datang…!”
* * *
DI pelosok-pelosok desa terdengar kokokan-kokokan ayam bersahut-sahutan.
Puncak dinginnya malam telah lewat dan kesegaran pagi yang ditandai oleh terangnya langit di ufuk timur menyatakan bahwa malam sudah sampai ke ujungnya untuk digantikan kini oleh kehadiran pagi.
Ki Lurah Kundrawana menyalakan tembakau pipanya. Mukanya sudah cekung dan matanya kelihatan kuyu sedang parasnya pucat. Namun dibalik keredupan wajahnya itu tersembunyi sesuatu yang seperti menyala. Sesuatu itu ialah amarah dan rasa geram yang tiada terperikan!
Di sedotnya pipa itu. Mulutnya terasa tak enak. Dia meludah ke tanah lewat langkan.
Sejak dulu apalagi sejak beberapa hari terakhir ini lidahnya memang terasa tidak enak, pahit.
Makannya boleh dikatakan dapat dihitung suapnya. Semakin terang hari semakin gelisah dia, semakin kuatir Lurah Bojongnipah ini. Yang dikhawatirkannya ialah kalau-kalau penduduk akan datang lebih dahulu dari pada Tiga Hitam dari Kali Comel! Sebentar-sebentar matanya memandang ke luar halaman. Namun segala sesuatunya dipagi itu masih diliputi oleh kesunyian. Dan kesunyian ini pula justru tidak menyenangkan hati Ki Lurah Kundrawana !
Ditempelkannya lagi ujung pipa ke bibirnya. Disedotnya dalam-dalam kemudian
dihembuskannya asap pipa itu. Sekali lagi dia meludah ke tanah lalu mengusap-usap bibimya.
Dia terkejut dan memutar kepalanya mendengar langkah-langkah kaki di belakangnya. Yang
datang temyata isterinya sendiri. Badan perempuan ini sudah jauh susut, lebih kurus dari dahulu. Seperti suaminya, parasnya juga pucat. Warih Sinten seorang perempuan berwajah ayu, namun keayuan itu kini tiada kelihatan lagi karena tertutup mendung kegelisahan. Gelisah memikirkan nasib anaknya, gelisah memikirkan nasib suaminya jika sebentar lagi pen.duduk benar-benar datang.
Hari itu adalah hari pemungutan pajak yang ketiga. Semestinya pembantu Lurah Bojongnipah
yang biasa berkeliling di seluruh desa memungut pajak itu sudah datang. Tapi kali ini tak kelihatan mata hidungnya. Bagaimana dia akan berani memunculkan diri jika sudah tahu kalau hari ini penduduk akan berontak!.
“Mudah-mudahan saja penduduk tidak datang…”
Ki Lurah Kundrawana menggigit bibirnya. Dia tahu bicara isterinya itu hanya sekedar bicara saja. Memang apa yang diharapkan isterinya itu juga menjadi harapannya. Namun dia tahu betul bahwa harapan itu adalah satu hal yang mustahil! Rakyat akan datang. Penduduk akan datang! Dia tahu, dia pasti!
Warih Sinten memandang lagi ke luar halaman. Lalu berkata lagi: “Kalaupun mereka datang, kurasa kita tak bisa lagi menyembunyikan kebejatan ketiga manusia terkutuk itu, Kakang! Kita musti katakan terus terang pada penduduk sebelum penduduk membunuh kita beramai-ramai!”
“Nyawaku tak ada harganya, Warih…,” ujar Ki Lurah Kundrawana. “Demi segala-galanya
aku rela mati! Tapi percuma saja arti kematian jtu, kalau keselamatan jiwa anak tunggal kita sendiri akan tersia-sia pula....”
Kesepian berjalan beberpa lamanya.
Tiba-tiba.
“Kakang…”. Warih Sinten memegang lehernya dengan kedua tangan. “Mereka… mereka
datang…”
Ki Lurah Kundrawana mengangkat kepalanya dan memandang ke luar halaman. Apa yang
dikatakan isterinya memang betul. Serombongan laki-laki penduduk, desa kelihatan rnuncul di
tikungan jalan dibalik pohon-pohon bambu. Rombongan yang muncul ini merupakan kepala saja dari barisan penduduk yang jumlahnya tak kurang dari seratus orang. Dari jauh tak kelihatan mereka membawa senjata. Tapi Ki Lurah Kundrawana tahu bahwa di antara mereka pasti, ada yang membawa dan menyembunyikan senjata!
Sesaat kemudian halaman luas itupun penuhlah oleh penduduk desa. Suasana
menjadi bising kini. Ki Lurah Kundrawana dan isteranya berdiri mematung di atas fangkan.
Hanya kedua bola mata mereka yang berputar memandangi penduduk Bojongnipah itu.
Seorang di antara penduduk kemudian menyeruak ke muka dan naik ke langkan,
berdiri beberapa langkah dihadapan Kundrawana. Kundrawana kenal baik dengan laki-laki
ini. Dia adalah seorang petani yang diam di desa sebelah timur. Namanya Kratomlinggo.
Sewaktu laki-laki ini bertindak naik ke langkan, maka suasana di tempat itu sehening di
pekuburan.
IZRO'IL
Dendam Orang-Orang Sakti


“Ki Lurah…, Kratomlinggo buka mulut merobek keheningan itu. “Kau tentu sudah
tahu maksud kedatangan kami bukan…?”
Kundrawana tak menjawab. Pada wajah Kratomlinggo dilihatnya senyum mengejek.
“Ketahuilah bahwa aku berdiri dihadapanmu saat ini adalah, sebagai wakil dari sekian
banyak penduduk Bojongnipah…,” Kratomlinggo menunding ke belakang lalu meneruskan:
“penduduk Bojongnipah yang sejak satu bulan belakangan ini telah menjadi korban
pemerasan, korban penindasan, korban pengisapan, dkekik oleh pajak sebelas kali lipat!
Penduduk Bojongnipah…”
“Saudara Kratomlinggo,” memotong Ki Lurah Kundrawana. “Ringkaskan saja
bicaramu. Katakanlah apa yang kalian mau”.
Dan lagi-lagi Kundrawana melihat senyum mengejek tersungging di mulut
Kratomlinggo.
“Apa mau kami…? Itu semua sudah kami katakan pada saat pertama kali kau
memungut pajak gila itu!”
“Aku pribadi memang tak ingin berbuat begitu. Tapi ini adalah perintah atasan.
Perintah Raja, untuk pembangunan dan pemeliharaan pasukan…”
“Perintah atasan tinggal perintah atasan! Apakah kalau atasan menyuruh kau cebur
ke sumur lantas kau akan berbuat begitu? Nyemplung ke sumur?! Setiap perintah harus
berdasarkan pertimbangan otak Ki Lurah!”
Merah muka Kundrawana.
Sementara itu Warih Sinten mulai menangis terisak-isak.
“Saudara Krato, mungkin pemungutan pajak itu hanya bersifat sementara saja…”
“Ya sementara! Sementara! Baru dihentikan bila semua penduduk Bojongnipah ini
mati dkekik pajak ?1” .
“Aku tahu pajak sebesar itu memang berat…”
“Kalau berat mengapa dilaksanakan?!” tukas Kratomlinggo.
Ki Lurah Kundrawana lagi-lagi menggigit bibirnya. lngin saja saat itu dia
mengatakan apa sesungguhnya yang menjadi latar belakang dari pemungutan pajak itu.
Ingin saja saat itu dia menerangkan siapa sebenarnya yang menjadi dalang pemungutan
pajak gila itu! Tapi bila diingatnya anak tunggalnya yang ada di tangan Tiga Hitam dari
Kali Comel itu…
“Kami penduduk desa Bojongnipah ingin agar peraturan pajak gila itu dkabut
kembali!” berkata Kratomlinggo.
“Aku tak punya wewenang untuk melakukan hal itu, saudara Krato”.
“Kau bisa menyampaikan kepada Adipati di Linggajati. Adipati meneruskannya ke
Kotaraja. Dan kalau kau tidak mau melakukan hal itu, kami tidak ragu-ragu untuk bertindak
berdasarkan apa yang kami rasa benar…!”
“Apakah ini suatu ancaman?”
“Kau boleh bilang begitu., Ki Lurah!”
“Saudara Krato…,” terdengar suarar Warih Sinten. “Kau… kau dan semua penduduk
Bojongnipah tidak tahu… tidak tahu…”
“Kami lebih dari tahu!” geretus Kratomlinggo. “Meskipun apa yang kini kami ketahui itu
adalah hal yang tak pernah kami duga! Kami tahu bahwa suamimu, Ki Lu.rah Kundrawana tak lebih dari seorang tukang peras! Yang menjilat ke atas dan menggilas ke bawah! Yang cari nama ke atas dan menjerat leher penduduk di bawah! Kami lebih dari ta….”
“Kuharap bicara sepantasnyalah Kratomlinggol” memotong Ki Lurah Kundrawana karena
panas hati dan telinganya mendengar dkap sebagai penjilat dan pemeras demikian rupa.
Kratomlinggo berpaling ke arah orang banyak. Kemudian dia tertawa bergelak. Sementara itu
salah seorang pendduk berteriak: “Buat apa bicara sepanjang lebar dengan biang lintah darat itu?!
Sumpal saja mulutnya dengan golok !”
Kratomlinggo berpaling pada Kundrawana kembali. “Kau dengar teriakan itu Ki Lurah?” tanyanya.
Mulut Kundrawana komat kamit. “Kalau kalian ingin pajak itu dkabut, silahkan. pergi sendiri menghadap Raja di Kotaraja…”
“Lantas, apa perlunya kau jadi Lurah di sini'?!” teriak seorang penduduk pula.
“Apa hanya untuk ongkang-ongkang ?!” teriak penduduk yang lain.
“Ongkang-ongkang dan memeras?!” teriak yang lain lagi.
“Kemudian penduduk lainnya berteriak pula: “Kami tidak percaya ini aturan dari Raja!
Bukan mustahil pajak itu adalah aturan gila yang, kau buat sendiri !” .
Masih banyak lagi teriakan-teriakan yang membuat muka Kundrawana menjadi merah dan
tebal rasanya: Telinganya berdesing. “Kratomlinggo, kuharap kau bawalah orang-orang itu
meninggalkan tempat ini,” kata Kundrawana.
“Begitu ...?,” ujar Kratomlinggo dengan lontarkan senyum sinis. “Kami semua baru akan
pergi sesudah kau menyatakan blak-b!akan bahwa mulai saat ini aturan pajak gila itu dkabut!”
“Tak satupun yang bisa mencabut segala keputusan Raja!,” jawab Kundrawana. Suaranya
saja yang keras namun ucapannya itu sama sekali tiada dengan kesungguhan hati.
“Kalau begitu agaknya kami terpaksa menggunakan kekerasan…”
“Kau menentang Kerajaan, Kratomlinggo?” tanya Ki Lurah Kundrawana. Pertanyaan yang
setengah menggertak ini dimaksudkannya untuk dapat ke luar dari keadaan yang terdesak saat itu.
Namun jawaban Kratomlinggo adalah lontaran seringai mengejek. “Jangan takuti
penduduk Bojongnipah dengan kata-kata Kerajaan, Ki Lurah! Kami semua yakin bahwa pajak gila
itu adalah kau punya bisa! Kerajaan selama ini selalu bertindak adil dan bijaksana…!”
Kratomlinggo melangkah kehadapan Ki Lurah Kundrawana dengan kedua tinju terkepal.
Beberapa penduduk Bojongnipah melangkah pula naik ke atas langkan.
Ki Lurah Kundrawana mundur beberapa langkah ke belakang. Warih Sinten menjerit.
“Kratomlinggo, kau… kalian mau bikin apa…?”
“Kami coba minta keadilan dengan cara wajar, tapi kau maukan kekerasan…!” jawab
Kratomlinggo. Tangan kanannya bergerak.



Tiba-tiba terdengar ringkikan kuda dan suara hiruk pikuk. Penduduk di halaman muka
berhamburan.cerai berai.
“Atas nama Kerajaan, yang tidak mau mati, minggirlah !”
Terdengar jeritan beberapa orang yang terserampang kuda !
* * *
TIGA penunggang kuda melompat dari punggung kuda masing-masing. Gerakan mereka
enteng sekali dan sekejapan mata saja ketiganya sudah berada antara Kratomlinggo dan Ki Lurah
Kundrawana. Ketiganya berpakaian seragam prajurit dan tampang-tampang mereka angker buruk.
Baik Ki Lurah Kundrawana maupun Kratomlinggo dan penduduk Bojongnipah, semuanya sama
terkejut. Dalam keterkejutannya itu Ki Lurah Kundrawana merasa lega juga karena dia segera
mengenali ketiga orang itu tak lain adalah Tapak Luwinng dan dua orang anak buahnya! Namun apa
yang tidak dimengerti oleh Lurah Bojongnipah itu ialah mengapa ketiga orang komplotan rampok itu
mengenakan pakaian keprajuritan.
Sementara itu Tapak Luwing yang berdiri tepat dihadapan Kratomlinggo dengan bertolak
pinggang dan membentak maju ke muka: “Kami prajurit-prajurit Kadipaten Linggajati! Kamu jadi
biang keribuan di sini ya?!”
Terkejutlah Kratomlinggo dan penduduk Bojongnipah sedang Ki Lurah Kundrawana dan
isterinya merutuk dalam hati melihat betapa lihaynya Kompolotan Tiga Hitam itu menjalankan peran
sebagai prajurit-prajurit Kadipaten palsu untuk mengelabui mata penduduk dan juga
menyembunyikan rahasia besar latar belakang pemerasan mereka! Kratomlinggo menindih rasa
terkejutnya. Dia merasa tak perlu takut terhadap ketiga prajurit Kadipaten itu bahwa bukankah ini
kesempatan di mana dia bisa sekaligus menerangkan pemerasan pajak yang dilakukan oleh
Kundrawana itu?
“Saudara,” kata Kratomlinggo, “jika kalian adalah prajurit-prajurit Kadipaten, kebetulan
sekali kalau begitu…!
“Kebetulan apa maksudmu?!” bentak Tapak Luwing.
Kratomlinggo kemudian menerangkan sejelas-jelasnya mengenai soal pajak itu kepada
Tapak Luwing. Namun dia begitu kaget ketika mendengar jawaban Tapak Luwing.
“Jadi kau sengala pimpin penduduk Bojongnipah untuk mengikuti maumu sendiri?! Untuk
menepuh jalan kekerasan! Ini namanya, satu pemberontakan! Ini namanya satu penantangan terhadap Kerajaan, satu pembangkangan terhadap peraturan-perraturan Raja karena soal pajak itu memang datang dari Raja disampaikan melalui Adipati di Linggajati!”
“Tapi mengapa hanya penduduk Bojongnipah saja yang dipajaki segila ini!,” kata salah seorang penduduk yang berdiri di samping Kratomlinggo: “Ya, desa-desa lain tidak!” seru yang lain dari luar halaman.
“Kamu semua tahu apa!” semprot Tapak Luwing. “Ini adalah keputusan Raja! Bojongnipah yang subur tak bisa disamakan dengan desa-desa lain. Karenanya sudah pantas kalau dibebani pajak yang agak besaran…”
“Agak besaran…,” gerendeng seorang penduduk mengejek.
Kratomlinggo kemudian mengetengahi suasana panas itu. “Kami merasa sama sekali tidak
menentang Raja, sama sekali tidak membangkang apalagi memberontak. Kami hanya inginkan agar pajak dikembalikan sebesar yang lama…”
“Tapak Luwing meludah ke lantai langkan. “Kau memang biang racun pemberontak yang
pintar omong! Terhadap Lurah kalian, kalian boleh bicara kasar dan seenaknya, tapi terhadap kami prajurit-prajurit Kadipaten jangan coba-coba! Pimpin seluruh penduduk untuk angkat kaki dari sini !
Cepat!”
Maka berkatalah Kratomlinggo: “Kami penduduk Bojongnipah datang ke sini untuk menegakkan keadilan. Kalau kami harus angkat kaki dari sini maka keadilan itu musti sudah berhasil ditegakkan!”
“Hem... begitu…?”. Tapak Luwing menyeringai. Gigi-giginya yang hitam kecoklatan serta besar-besar ketihatan menjijikkan. “Sebelum kau dan yang lain-lainnya menegakkan keadilan itu, coba terima tangan kananku ini !”
Sesudah berkata demikian Tapak Luwing hantamkan tangan kanannya ke dada Kratomlinggo. Yang dipukul dengan cepat melompat ke samping.
Namun ! “Buukk !”
Tangan kiri Tapak Luwing bersarang di perut Kratomlinggo. Nyatanya pukulan tangan kanan Tapak Luwing tadi hanyalah satu tipuan belaka! Kratomtinggo melintir dan terjajar ke belakang. Perutnya sakit- sekali, mual seperti mau muntah, nafasnya menyesak.
Laki-laki ini rupanya bukanlah hanya sekedar seorang petani saja, namun juga seorang yang pernah mempelajari ilmu silat. Dengan cepat dia atur nafas dan jalan darah. Lalu dengan sebat rnenyerang ke muka. Enam orang penduduk ikut menyertai serangannya inir Maka dengan demikian pertempuranpun pecahlah.
Empat penduduk terjerongkang ke lantai langkan. Dua pingsan, dua lagi patah tulang iganya
serta terlepas sambungan sikunya. Sedang Kratomlinggo terhempas ke tiang langkan. Dadanya kena dipukul oleh Tapak Luwing. Dia berusaha berdiri mengimbangi badan kembali dan siap melancarkan serangan balasan. Tapi apa lacur, belum lagi kakinya menindak pemandangannya sudah gelap dan dari mulutnya bermuntahan darah kental berbuku-buku! Sesaat kemudian tubuh laki-laki ini tergelimpang ke lantai!
Melihat ini sebagian penduduk menjadi kalap. Mereka menyerbu berserabutan ke atas langkan dengan berbagai macam senjata.
“Siapa yang mau mampus, majulah!” teriak Tapak Luwing seraya melintangkan golok.
Mereka yang menyerbu menjadi ragu-ragu kini namun beberapa orang diantaranya yang tetap kalap menyerang dengan membabi buta. Maka terjadilah hal yang mengerikan. Orang-orang ini bergelimpangan bermandikan darah, dibabat dan dipapas oleh senjata Tapak Luwing dan anak-anak buahnya! Yang lain-lainnya kini tak berani lagi bertindak lebih jauh meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak!
Warih Sinten sudah sejak lama lari ke dalam rumah sambil menjerit-jerit ketakutan sedang Kundrawana menggigit bibir dan pejamkan mata melihal kengerian itu. Kalau saja tidak ingat akan keselamatan anaknya, sudah sejak tadi dia mencabut keris dan turut menyerbu!
“Siapa lagi yang mau berkenalan dengan golokku, silahkan maju!,” kata Tapak
Luwing tolakkan tangan kirinya ke pinggang kiri.
Tapak Luwing tertawa. “Nah, kalau kalian masih belum punya nyali untuk masuk
ke liang kubur, gotong kunyuk-kunyuk yang malang melintang di langkan rumah ini
kemudian angkat kaki dari sini cepat !”
Kemarahan penduduk meluap-luap. Namun apa yang terjadi di depan mata mereka
membuat nyali mereka menjadi ciut dan bulu kuduk meremang. Ki Lurah Kundrawana
sendiri berdiri mematung. Rahangnya terkatup rapat-rapat. Kegeramannya tiada
terlukiskan. Kebenciannya terhadap Tiga Hitam dari Kali Comel tiada terkirakan lagi!
Namun seperti penduduk Bojongnipah, dia juga tak dapat berbuat suatu apa!
Penduduk menggotong Kratomlinggo dan korban-koban lainnya. Sebelum mereka
berlalu berserulah Tapak Luwing.
“Aku tak ingin melihat keonaran macam begini untuk kedua kalinya, kecuali kalau
kalian sendiri yang sengaja minta dibereskan macam kawan-kawan kalian itu! Siapa yang
mau berontak boleh saja! Golakku memang sudah sejak lama haus darah!”
Tak ada yang menyahuti ucapan Tapak Luwing itu.
Dan Tapak Luwing yang menyamar sebagai prajurit Kadipaten itu berseru lagi:
“Jangan lupa, paling lambat tengah hari besok, kalian semua sudah harus melunasi pajak
itu! Jika ada yang membantah untuk membayarnya, kalian cukup tahu apa akibatnya!”
ketika seturuh penduduk Bojongnipah sudah meninggalkan tempat itu maka Tapak
Luwing menyarungkan goloknya kembali dan berpaling pada Ki Lurah Kundrawana.
“Kau harus berterima kasih padaku yang telah selamatkan kau punya batang leher,
Ki Lurah...!” Ki Lurah Kundrawana berkemik. Rahang-rahangnya bertonjolan. Tapak
Luwing tertawa mengekeh. “Selambat-lambatnya senja besok uang pungutan pajak harus
sudah kau antarkan ke pondok tua dipersimpangan jalan yang menuju ke Linggajati!”
Kundrawana masih diam.
“Eh, apa kau sudah tuli!” tanya Tapak Luwing.
Dan Lurah Bojongnipah itu masih juga diam. Maka membentaklah Tapak
Luwing. “Kamu tuli hah?!”
“Aku tidak tuli, Tapak Luwing…”
“Lalu mengapa ditanya diam saja? Mungkin gagu?!”
Dua orang anak buah Tapak Luwing cengar cengir.
“Sesenja-senjanya hari uang itu sudah harus ku terima. Kau dengar…?!” .
“Bagaimana kalau penduduk tak mau membayamya ?”
“Aku tak perlu pertanyaan itu! Bayar atau tidak bayar, pokoknya besok aku cuma tahu terima
uang!”
Tapak Luwing memberi isyarat pada kedua anak buahnya. Ketiganya menuruni langkan
rumah dan melangkah menuju ke kuda masing-masing.
Malam itu, dengan segala daya dan sedikit ilmu pengetahuan yang dimilikinya, Kratomlinggo
berhasil menyembuhkan luka di dalam yang dideritanya akibat pukulan Tapak Luwing. Pada
dasarnya bukan daya dan pengetahuan silat Kratomlinggolah yang menolong melainkan adalah
karena pukulan Tapak Luwing pagi tadi tidak mempergunakan keseluruhan tenaga dalamnya.
Dendam terhadap Tapak Luwing dan kawan-kawannya, kebencian yang tak terkendalikan
terhadap Ki Lurah Kundrawana serta pajak yang tetap harus dibayar esok hari, semuanya itu
bertumpuk menjadi satu sehingga malam itu, rneskipun baru saja sembuh dari luka namun tekat
Kratomlinggo sudah bulat untuk berangkat ke Kotaraja! Niatnya ini diberitahukannya pada beberapa
kawannya. Dan malam itu bersama empat orang lainnya, dengan menunggangi kuda maka
berangkatlah Kratomlinggo ke Kotaraja.
Malam gelap. Sinar bintang dan cahaya bulan sabit tak dapat mengalahkan kegelapan itu.
Kratomlinggo dan empat orang kawannya memacu kuda masing-masing, melewati sebuah tikungan
dan sampai di sebuah jembatan yang menghubungkan kedua tepi sebuah anak sungai.
Pada saat itu pulalah Kratomlinggo dan kawan-kawannya melihat serombangan penunggang
kuda di seberang jembatan. Mereka berjumlah tiga orang dan ketiganya menghentikan kuda di
seberang jembatan itu. Melihat gelagat yang tidak baik ini. Kratomlinggo segera hentikan kudanya.di
tengah-tengah jembatan dan memberi isyarat pada keempat kawannya. Malam memang gelap namun
mata Kratomlinggo masih sanggup, mengenali penunggang kuda yang paling depan dihadapannya.
Manusia itu ternyata adalah prajurit Kadipaten yang siang tadi menanganinya!.
“Celaka,” bisik Kratomlinggo. “Bagaimana bangs*t-bangs*t Kadipaten ini bisa tahu
keberangkatanku ke Kotaraja?!” Sampai saat itu baik dia mau pun kawan-kawannya sama sekali
masih tidak mengetahui siapa ketiga manusia yang menghadang di ujung jembatan itu!
Penunggang kuda sebelah muka yang tiada lain dari Tapak Luwing adanya tertawa
mengekeh. “Rupanya pelajaran dan peringatanku siang tadi masih belum cukup huh!,” sentak Tapak
Luwing. Kratomlinggo -tak menjawab. Namun dia diam tangan kanannya menyelinap ke balik
pinggang meraba hulu golok. Hal yang sama dilakukan juga oleh keempat kawannya. Dan di
seberang jembatan kembali terdengar kekehan Tapak Luwing.
Begitu kekehannya berhenti maka terdengar bentakannya. “Kalian kunyuk-kunyuk mau ke
mana?!”
“Kami tak ada permusuhan dengan kalian. Karena itu minggirlah, beri jalan…” kata
Kratomlinggo pula.
“Minta jalan? Boleh… lewatlah!,” kata Tapak Luwing pula sambil pinggirkan kudanya.
Dipersilahkan begitu rupa malah membuat Kratomlinggo dan kawan-kawannya menjadi terpatung,
tak bergerak di punggung kuda masing-masing. “Ayo, kenapa tidak mau lewat?!,” tanya Tapak
Luwing.
Kratomlinggo bimbang.
Dan Tapak Luwing buka suara lagi: “Kalau begttu roh busuk kalian yang akan lewat
jembatan ini !”
“Sret !”
Tapak Luwing cabut goloknya. Terdengar lagi dua kali suara “sret” yaitu dari golok-golok
yang dkabut oleh anak buah Tapak Luwing. Melihat ini Kratomlinggo dan kawan-kawannya segera pula menghunus golok masing-masing !
“Aku tahu kalian hendak ke Kotaraja…,” berkata Tapak Luwing seraya larik tali kudanya,
“Tapi ketahuilah hanya roh-roh busuk kalian yang akan menghadap Raja di istana!”
Dalam jarak dua tombak, dengan satu sentakan keras maka kuda Tapak Luwing melompat ke muka. Dua anak buahnya menyusul. Tiga golok berkelebat di bawah cahaya redup bulan sabit. Lima golok menyambutinya !
“Trang ..... trang ..... trang….!”
Bunga api memercik. Suara beradunya golok-golok itu disusul oleh seruan kesakitan. Dua kawan Kratomlinggo rebah dari atas punggung kuda. Yang satu terbabat perutnya, yang lain puntung lengan kanannya!
Dalam gebrakan kedua, Tiga Hitam dari Kali Comel yang saat itu masih mengenai pakaian,
prajurit-prajurit Kadipaten, kembali mengirimkan serangan hebat tanpa memberikan kesempatan pada lawan! Dua orang lagi menjerit dan roboh, tubuh salah satu dari padanya kemudian kecebur ke dalam sungai. Kratomlinggo sendiri dibikin terjerongkang dari atas punggung kuda, goloknya lepas. Masih untung sarripai saat itu dia belum cidera apa-apa. Dan memaklumi bahwa untuk melawan terus adalah satu kesia-siaan maka laki-laki ini segara putar tubuh ambil langkah seribu!
Tapak Luwing tertawa bergelak. “Dasar manusia kintel! Kamu mau lari ke mana?!” Dari
balik sabuknya kepala Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel ini keluarkan sebilah pisau belati.
Senjata ini melesat dengan mengeluarkan suara berdesing! Kratomlinggo yang tak tahu dirinya
tengah dikejar maut, terus juga lari.
Hanya satu jengkal saja lagi belati yang mengandung racun itu akan menancap di
punggungnya maka pada saat itu pulalah dari jurusan semak belukar gelap di tepi sungai melesat
sebuah benda berbentuk bintang berwarna putih perak !
“Tring !”
Bunga api memercik.
Bukan saja benda berbentuk bintang ini berhasil membuat pisau beracun Tapak Luwing
mental, tapi juga membuat pisau itu patah dua !
Terkejutlah Tapak Luwing. Lupa dia pada niatnya hendak membunuh Kratomlinggo. Dengan
serta merta diputarnya tubuhnya. Matanya yang tajam telah melihat dari arah mana datangnya
sambaran benda putih perak berbentuk bintang itu. Dan memakilah kepala Komplotan Tiga Hitam
dari Kali Comel itu.
“Setan alas yang ikut campur urusan orang ke luar dari persembunyianmu dan terima pisaupisau
ku ini !”
Habis bilang demikian Tapak Luwing lemparkan sekaligus tiga bilah pisau beracunnya ke
arah semak belukar di kegelapan.
Terdengar suara siulan yang disusul oleh suara tertawa bergelak.
“Aku di sini bung! Kenapa serang tempat kosong?!,” kata, manusia yang muncukan diri itu
dengan nada mengejek.
“bangs*t betul!,” maki Tapak Luwing. Di lemparkannya lagi dengan tangan kiri
sepasang pisau belati ke arah laki-laki yang berdiri sekira enam tombak di tepi sungai.
-- == 0O0 == --
ENAM
ORANG yang berdiri di tepi sungai sambuti serangan itu dengan melambaikan tangan
kirinya. Sekali lambai saja maka kedua pisau beracun itupun mentallah.
Kaget Tapak Luwing membuat- laki-laki ini keluarkan seruan tertahan.
“Manusia yang sengaja cari penyakit, siapa kau!” tanyanya membentak dan diam-diam
memberikan isyarat pada kedua anak buahnya untuk bersiap-siap dan mengambil posisi
mengurung.
Yang ditanya. “Ada ribut-ribut apa di sini?!”.
“Ee kunyuk gondrong!,” maki salah seorang, anak buah Tapak Luwing. “Kau berani. bicara
edan sama prajurit-prajurit Kadipaten?!”
“Oh.... jadi kalian prajurit-prajurit Kadipaten…”. Laki-laki di tepi sungai, keluarkan suara
mendengus. “Setahuku prajurit-prajurit Kadipaten tidak suka urusan kekerasan, apalagi membunuh
manusia begini rupa…!”.
Sementara itu. Kratomlinggo yang tadi hendak larikan diri, mendengar ada keributan baru
di belakangnya perlahan-lahan palingkan kepala lalu putar tubuh dan berhenti di belakang sebuah
pohon. Apa yang disaksikannya kemudian sungguh tidak diduganya.
“Kita tak perlu sembunyikan siapa kita terhadap monyet bermuka manusia ini!'', kata Tapak
Luwing.
“Nah, terus terang lebih bagus!” menimpali laki-laki di tepi sungai. “Katakan saja siapa
kalian!”.
“Sebelum tahu siapa kami sebaiknya lekas-lekaslah berlutut minta ampun!” kata Tapak
Luwing pongah.
“Eh, kenapa begitu?''.
Karena menyangka bahwa Kratomlinggo sudah larikan diri dan tak ada lagi di tempat
itu, maka berkatalah Tapak Luwing;”Ketahuitah. Tiga Hitam dari Kali Comel tidak pernah
membiarkan terus bernafasnya seorang biang runyam yang ikut campur urusan!”
“Ooo… jadi kalian Tiga Hitam dari Kali Comel, rampok-rampok ganas tiada kernanusiaan
itu? Pantas… pantas tampang-tampang kalian hitam macam arang…”
“Haram jadah! Terima golokku!,” teriak anak buah Tapak. Luwing yang di samping
kanan. Dengan gerakan enteng dia melompat dari punggung kuda, derngan sebat goloknya
berkelebat ke arah batok kepala laki-laki muda yang berdiri tetap tenang malahan dengan
tertawa-tawa!
Tiba-tiba dengan kecepatan yang luar biasa laki-laki muda itu melompat ke belakang.
Serangan anak buah Tapak Luwing mengenai tempat kosong. Karena begitu kesusu dan sebatnya
maka laki-laki itu jadi terhuyung-huyung sendiri. Sebelum dia sempat mengimbangi badan, satu
tendangan menghantam pantatnya!
“Manusia tidak tahu peradatan! Orang bicara dipotong seenaknya! Rasakan sendiri
olehmu!”
Melihat kawan dan anak buahnya dipermainkan begitu rupa sampai tersungkur di tanah.
Tapak Luwing dan anak buahnya yang satu lagi segera loncat dari kuda.
“Beri tahu namamu lebih dulu, kunyuk!,” bentak Tapak Luwing. “Kalau tidak rohmu akan
minggat percuma!”
“Bicaramu terlalu tinggi! Kalau mau tahu namaku majulah…!”.
Dengan tertawa bergelak Tapak Luwing menyerbu ke muka. Sambaran goloknya deras
sedang tangan kirinya laksana palu godam membabat ke arah ulu hati lawan. Inilah jurus “angin
mengamuk pohon tumbang” yang memang bukan olah-olah dahsyatnya.
“Ah, rupanya kau punya ilmu yang diandalkan juga eh?” ejek lawan yang diserang. Dia
merunduk untuk elakkan sambaran golok lalu lompat ke samping guna hindarkan sodokan tinju
lawan dan dengan secepat kilat kemudian tangan kanannya yang terbuka menyeruak di antara
kedua serangan lawan tadi, menderas ke arah kening Tapak Luwing.
Kepala Tiga Hitam dari Kali Comel itu bukan orang yang berilmu rendah. Kalau tidak
percuma saja dia menjadi kepala komplotan yang ditakuti selama bertahun-tahun disepanjang
Kali Comel dan perbatasan.
Dengan sebat, dengan keluarkan bentakan dahsyat Tapak Luwing membuat satu gerakan
yang luar biasa. Tubuhnya mencelat satu tombak ke atas dan dalam lompatan itu kaki kanannya
menderu muka lawan dan disaat yang sama pula dari sebelah belakang menderu golok anak buah
Tapak Luwing ke arah punggung laki-laki muda itu.
Yang diserang bersiul. “Akh… kalian rupanya betul-betul maui jiwaku! Tapi kurasa saat ini belum waktunya!”. Pemuda ini berkelebat. Lututnya menekuk kedua tangannya berputar seperti kitir dan: “bluk ....... buk”!.
Anak buah Tapak Luwing terjerongkang ke belakang, muntah darah dan menggeletak,di tanah. Tapak Luwing sendiri merintih kesakitan sewaktu lengan lawan menghantam tepat tulang keringnya!
Di saat itu anak buah Tapak Luwing yang tadi ditendang pantatnya sudah bangun kembalidan dengan ganas lancarkan serangan dahsyat. Namun nasibnya juga sial. Sekali lawannya berkelebat maka goloknya kena dihantam sikut lawan! Yang satu inipun roboh pula menyusul kawannya Merasakan sakit pada kakinya, melihat kedua anak buahnya dibuat begitu rupa, benar-benar Tapak Luwing hampir-hampir merasa seperti orang mimpi. Apakah agaknya kali, ini komplotan yang dipimpinnya menemui “batunya”? Selama bertahun-tahun bertualang dan menjadi Pemimpin Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel baru hari itu dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua anak buahnya dibikin menggeletak hanya dalam satu gebrakan saja! Bahkan dia sendiri merasakan pula bekas tangan lawannya. Lawan yang masih muda belia dan sama sekali tidak dikenalnya.
IZRO'IL
Dendam Orang-Orang Sakti


Dengan penuh geram_Tapak Luwing salurkan tenaga dalamnya lewat lengan kanan terus
kegolok sedang tangan kirinya saat itu sudah memegang tiga pisau beracun. Kedua kakinya
terpentang, pinggangnya sedikit membungkuk ke muka. Tangan yang memegang pisau dinaikkan ke
atas agak ke belakang sedang tangan kanan memegang golok lurus-lurus ke muka.
“Kenalkah kau jurus ini, pemuda keparat?!”.
“Ah… hanya jurus -- menyebar bunga menusuk buah -- nenek-nenek keriputpun bisa
mengenalnya!,” sahut si pemuda.
Bukan saja Tapak Luwing menjadi geram diajek demikian rupa namun dia juga kaget
melihat bahwa lawannya bisa menerka jurus yang bakal dikeluarkannya itu!
Untuk menutupi keterkejutannya Tapak Luwing berkata: “Kau sudah tahu nama jurus ini, baik
sekali!. Tapi juga ketahuilah ini adalah jurus kematianmu! Bagusnya kasih tahu namamu sekarang
juga agar kau mampus tidak dengan penasaran!”.
“Sudahlah…. jangan banyak bacot! Buktikanlah kehebatan jurus yang kau andalkan itu!”.
Tapak Luwing tertawa dingin. Tubuhnya semakin membungkuk. Hampir tak kelihatan dia
menggerakkan tangan kirinya maka tiga pisau yang dipegangnya tahu-tahu sudah meluncur sebat
sekali ke arah si pemuda. Yang pertama menjurus batang leher, yang kedua mencuit ke dada dan yang
terakhir menggebubu ke bawah perut!
Bukan saja daya lesat pisau itu hebat sekali mengingat hanya di lemparkan dengan tangan kiri,
namun juga tempat-tempat yang diserangnya juga adalah tempat-tempat yang berbahaya mematikan.
Pada detik pisau-pisau beracun itu melesat ke muka, pada saat itu pulaTapak Luwing
menerjang dan putar goloknya dengan sebat. Dorongan angin golok yang. menderu menambah
kencangnya daya lesat tiga pisau itu. Maka itulah jurus “menyebar bunga rnenusuk buah”. Pisau dan
golok datang susul menyusul!
“Akh jurusmu ini boleh juga!,” kata si pemuda. “Tapi coba terima dulu telapak tanganku!”.
Si pemuda pukulkan tangan kirinya ke muka. Angin dahsyat melanda dan mementalkan ketiga
pisau. Tapak Luwing berseru kaget karena dua dari pisau itu akibat dorongan angin pukulan
lawan berbalik menyerang ke arahnya. Mau tak mau Tapak Luwing terpaksa pergunakan
goloknya untuk meruntuhkan dua pisau itu.
“Tring..... tring!”
Dua pisau beracun patah-patah dan terlempar jauh. Gerakan untuk menangkis dua
pisau ini membuat Tapak L.uwing melupakan pertahanan dirinya seketika. Ketika dia
memasang kuda-kuda baru maka telapak tangan kanan lawan sudah berada dekat sekali ke
kepalanya. Kepala Tiga Hitam dari Kali Comel ini pergunakan goloknya untuk membabat
lengan lawan namun kurang cepat karena lengan kiri si pemuda lebih cepat menyusup
membentur sambungan sikunya.
“Krak”!
“Plak”!
Tapak Luwing mengeluh dan huyung kebelakang.
Lengannya patah.
Keningnya yang kena dihantam telapak tangan lawan sakit dan panas bukan main.
Pada kulit kening itu kini kelihatan tertera angka 212! Tapak Luwing coba alirkan tenaga
dalam dan atur jalan darahnya. Namun kekuatannya seperti punah. Keringat dingin
membasahi sekujur tubuhnya. Keningnya panas, sakit dan pemandangannya berkunang,
lututnya gontai!
“Keparat…,” desis Tapak Luwing.
“Ee… masih bisa memaki?”
“Kalau hari ini aku kena kau celakai jangan anggap kau sudah mempecundangi aku,
orang muda. Suatu hari kelak aku akan mencarimu dan mematahkan batang lehermu!”.
Tapak Luwing ambil tiga pisau terbang dengan tangan kirinya. Cepat sekali senjata
itu dilemparkannya ke arah si pemuda lalu secepat itu pula dia putar tubuh untuk larikan
diri. Si pemuda melompat ke samping. Dua pisau lewat di kiri kanannya. Pisau ketiga
diluruhkannya dengan lambaian tangan kiri! Kemudian sambil totokkan dua jari tangan
kanannya mengirimkan totokan jarak jauh berserulah si pemuda: “Kenapa pergi buru-buru?!
Bicaraku tadi padamu belum habis!”
Kontan saat itu juga tubuh Tapak Luwing menjadi kaku tegang tak bisa bergerak
lagi! Si pemuda tertawa dan berpaling pada pohon besar di tepi sungai.
“Saudara yang sembunyi di belakang pohon. keluarlah. Aku mau bicara juga dengan
kau!”.
Kratomlinggo, yang berdiri di belakang pohon itu terkejut. Namun karena tahu
bahwa itu pemuda bukanlah dari golongan jahat maka tanpa ragu-ragu dia segera keluar.
Lagi pula penuturan Tapak Luwing tadi yang mengaku bahwa dia.dan kawan-kawannya
adalah Komplotan Tiga Hitam dari Kalkomel membuat dia merasa perlu melakukan penyelidikan
lebih jauh.
“Saudara, apakah yang telah terjadi di sini sebelumnya dengan kau dan kawankawan...?”.
“Panjang ceritanya, saudara. Tapi sebelumnya kalau aku boleh tahu siapa
namamu…?”
“Aku Wiro…,” jawab si pemuda.
“Aku Kratomlinggo. Aku dan kawan-kawanku yang malang itu sama-sama dari desa
Bojongnipah. Kami bermaksud pergi ke Kotaraja…”
Maka Kratomlinggopun menuturkan segala sesuatunya, mulai dari soal pajak gila yang dilarik
oleh Ki Lurah Kundrawana sampai dengan kematian keempat kawannya itu.
Wiro atau alias Pendekar 212 geleng-gelengkan kepalanya. “Aku memang
sudah lama dengar nama Komplotan bejat mereka. Yang satu ini kalau tak salah bernama Tapak
Luwing. Pantas saja selama beberapa waktu terakhir ini tak kelihatan mereka malang melintang di
sepanjang Kali Comel. Rupanya tengah bikin kejahatan di sini…”.
“Dan pastilah penjahat-penjahat ini bekerjasama atau jadi- kaki tangan Ki Lurah
Kundrawana…”.
“Boleh jadi,” sahut pendekar 212. “Tapi mungkin juga merekalah biang runyam yang
melakukan pemerasan terhadap Ki Lurah!”
Kratomlinggo mengangguk.
“Supaya jelas biar bangs*t yang satu ini kita tanyai,” kata pula. Dia melangkah
mendekati Tapak Luwing untuk melepasakan totokan di tubuh kepala Komplotan Tiga Hitam itu.
Namun baru saja satu tindak dia melangkah tiba-tiba sekali berkelebatlah satu sosok tubuh dari
kegelapan. Makhluk ini langsung meraih pinggang Tapak Luwing dan membopong melarikannya!
Kratomlinggo terkejut
berteriak: “Maling tengik! Berhenti!”.
Sebagai jawaban, terdengar suara tertawa bekakakan dari orang yang melarikan Tapak Luwing
itu.
“, pemuda gendeng! Jangan sangka cuma kau sendiri yang jago dan sakti di jagat
ini! Aku tunggu kau besok siang di Rawasumpang! Kuharap kau punya nyali unhuk menerima
undangan kematianmu ini! Ha… ha… ha …!”
“Sompret betul! Siapa kau! Berhentil”.
“Besok siang. Wiro!” “
Dengan, geram pendekar 212 lepaskan pukulan “kunyuk melempar buah”! ke arah manusia
tak dikenal itu! Deru angin yang tiada terkirakan dahsyatnya menyerang si orang asing. Pada saat itu
pula terlihat selarik sinar biru. Dan angin pukulan terbendung laksana membentur
dinding baja! Terkejutlah pendekar 212. Pukulan yang dilancarkannya tadi disertai hampir sepertiga
dari tenaga dalamnya. Namun manusia yang tak dikenal itu berhasil meruntuhkan pukulan tersebut!
Besarlah dugaan bahwa orang yang memboyong Tapak Luwing itu adalah guru
Tapak Luwing., setidak-tidaknya kakak seperguruannya. Atau mungkin juga seorang sakti dari
golongan hitam yang berkawan dengan Tapak Luwing.
-- = 0O0 == --
TUJUH
HALAMAN rumah lurah bojongnipah penuh oleh penduduk. Suasana malam terang benderang oleh puluhan obor. Agaknya penduduk Bojongnipah sudah tak dapat menahan ke sabarannya lagi untuk mencincang dengan segala senjata yang mereka bawa, kedua manusia yang saat itu terikat ke tiang langkan rumah. Mereka tiada lain daripada anak-anak buah Tapak Luwing yang telah dirobohkan oleh Pendekar 212. Keduanya telah siuman. Di samping terikat ke tiang, keduanya juga berada dalam pengaruh totokan .
Kratomlinggo berdiri di samping Ki Lurah Kundrawana. Beberapa tombak dari mereka berdiritenang-tenang . Kratomlinggo barusan saja menerangkan apa yang diketahuinya tentang
kedua orang itu kepada Ki Lurah dan juga apa yang telah terjadi di tepi sungai dekat jembatan.
Bola mata Ki Lurah Kundrawaana pulang balik memandangi dan kedua anak buah Tapak Luwing. Saat itu Lurah Bojongnipah ini tak dapat lagi menahan hati dan mengendalikan amarahnya. Untuk sesaat lupa dia bahwa anaknya masih berada di dalam tawanan Tapak Luwing dan Tapak Luwing sendiri saat itu tidak berhasil ditangkap!
“Saudara-saudaraku se-Bojongnipah…,” kata Kundrawana seraya maju beberapa langkah ke
hadapan penduduk yang berdesak-desakan. “Sekarang kurasa sudah waktunya untuk menerangkan
kepada kalian apa sesungguhnya latar belakang timbulnya pajak gila itu! Aku dengan hati hancur dan
seribu satu kepahitan telah terpaksa menerima segala kata-kata dan cap yang kalian lemparkan
padaku! Kalian mencap aku sebagai tukang peras, aku telah terima. Kalian cap aku sebagai lintah
darat, sebagai tukang tindas... sebagai ini, sebagai itu, semuanya aku terima! Namun hari ini, malam
ini kalian terimalah juga satu penuturan dariku, satu kenyataan yang menyebabkan terjadinya
pemungutan pajak berat itu. Dulu aku pernah berkata bahwa pajak itu dipungut atas perintah Raja!
Untuk pembangunan dan pemeliharaan balatentara Kerajaan. Kini kuakui itu semua hanya alasan
belaka, hanya dusta besar yang aku karang-karang demi untuk menyelamatkan keluargaku dan juga
menyelamatkan kalian semua dari keganasan dan kejahatan yang kalian tidak ketahui ...”
PendudukBojongnipah saling pandang memandang satu sama lain penuh ketidak mengertian.
Ki Lurah Kundrawana menyapu wajah mereka seketika lalu meneruskan bicaranya.
“Tadi kalian sudah dengar semua keterangan Kratomlinggo. Ini satu kenyataan bagus yang
dengan sendirinya telah mencuci diriku. Tapi biar aku beri penjelasan lebih lengkap. Dua manusia
yang terikat itu adalah anak buah Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel, komplotan rampok-rampok
bejat yang dikepalai oleh Tapak Luwing yang berhasil melarikan diri ditolong oleh seorang tak
dikenal. Jadi ketiganya sama sekali bukanlah prajurit-prajurit Kadipaten seperti yang mereka sengaja
menyamar pagi tadi! Tiga minggu yang lewat, di satu malam mereka telah datang ke rumahku dan
memaksaku untuk menarik pajak sepuluh kali lebih besar dari yang sudah-sudah. Jadi berarti aku harus
menarik pajak sebanyak sebelas kali terhadap kalian. Yang sepuluh bagian harus kuserahkan pada
mereka sedang yang satu bagian sebagaimana biasa diserahkan ke Linggajati di mana Adipati
Linggajati kemudian meneruskan ke Kotaraja…
Aku coba untuk melawan. Tapi di samping mereka bertiga berilrnu tinggi aku tak bisa berbuat
apa-apa karena anakku satu-satunya mereka bawa! Anakku akan mereka bunuh kalau pajak itu tidak
aku pungut dari penduduk di sini! Kalian bisa merasakan dan mengetahui sendiri kini. Tak ada jalan
lain bagiku untuk membantah, kecuali kalau ingin putera tunggalku rnenemui kematiannya…!”.
Suasana malam sesepi dipekuburan kini! Penduduk sama menganga dan terlongong-longong.
Tentu saja hal ini tiada diduga sama sekali oleh mereka. Dan serentak pula dengan itu maka
menggelegaklah kemarahan penduduk. Ketika seseorang di antara mereka berseru: “Cincang dua
bangs*t ini!,” maka menyerbulah penduduk Bojongnipah dengan senjata masing-masing. Namun
disaat itu pendekar 212 maju ke muka dan berseru nyaring. Sengaja seruannya itu disertai tenaga dalam
untuk mempengaruhi. penduduk yang tengah marah itu.
“Saudara-saudara, jangan ceroboh! Kunyuk-kunyuk ini akan dapat bagiannya juga! Tapi
kalian harus ingat pada nasib anak Lurah kalian! Karena itu biarkan aku bicara sebentar dengan salah
satu dari mereka… !”
Kalau saja penduduk tidak mendapat keterangan dari Kratomlinggo siapa adanya pemuda
berambut gondrong itu, pastilah penduduk tak akan mau ambil perduli akan ucapan , lagi
pula tenaga dalam si pemuda diam-diam sudah meresap mempengaruhi mereka!
Wiro mendekati anak buah Tapak Luwing yang terikat di tiang langkan sebelah kanan.
“Namamu siapa, sobat?,” tanyanya.
Laki-laki itu diam saja. Hanya kedua bola matanya berputar menyorot melontarkan
pandangan sangat membenci dan mendendarn.
“Eeeh rupanya bekas tanganku membuat kau jadi tuli, huh!”.
“Keparat! Tak usah banyak bicara… Kelak hari pembalasan dari pemimpinku Tapak Luwing
akan tiba! Kalian semua di sini akan dikirim ke neraka!”.
menyeringai.
“Mungkin kau dan kawanmu yang akan lebih dahulu dkincang penduduk sampai lumat!” kata
pula. “Tak usah banggakan pemimpinmu! Dia sudah kabur bersama seorang
kawannya!”.
Keterangan ini mengejutkan kedua anak buah Tapak Luwing. Memang sejak mereka siuman
tadi mereka tidak melihat pemimpin mereka dan tak tahu berada di mana.
Dan Wiro berkata lagi: “Aku mempunyai dugaan bahwa kau ada sangkut pautnya dengan
Adipati di Linggajati. Katakan saja terus terang .... Anak buah Tapak Luwing diam.
“Katakan!,” bentak Wiro.
Sebaliknya laki-laki itu meludah ke lantai. “Beset saja mulutnya!,” teriak Kratomlinggo yang
sudah tak sabaran.
“Kau tak mau kasih keterangan?” tanya pendekar 212.
Anak buah Tapak Luwing itu meludah sekali lagi ke lantai langkan!
Wiro tertawa.
Dijangkaunya sebuah obor yang dipegang oleh seorang penduduk.
“Pernah rasa panasnya api?,” tanya pendekar ini dengan tertawa-tawa. “Tampangtampang
macammu ini akan lebih keren bila disundut begini rupa!”.
lantas menyorongkan api obor ke muka laki-laki itu. Anak buah
Tapak Luwing tak sanggup gerakkan kepalanya karena tertotok. Keluhan kesakitan
terdengar tiada henti. Udara malam kini berbau hangusnya bulu mata, alis dan sebagian
rambut laki-laki itu. Kulit mukanya kelihatan merah terbakar.
“Mau sekali lagi?!,” tanya Wiro dengan tertawa-tawa.
“Aku bersumpah kalau lepas akan membunuhmu dan tujuh keturunanmu!,” kata
anak buah Tapak Luwing penuh penasaran.
“Jangan ngaco! Kau tak akan lepas dari sini. Kalaupun lepas mungkin cuma rohmu
saja! Dan aku belum punya keturunan…!”. Pendekar muda itu tertawa mengekeh. Mau tak
mau orang banyak yang menyaksikan itu jadi ikut-ikutan geli.
“Ayo, katakan apa hubunganmu dengan Adipati Linggajatit,” bentak Wiro seraya
mendekatkan api obor ke muka laki-laki itu.
“Tak ada hubungan apa-apa…!,” jawab anak buah Tapak Luwing.
“Ah… ini satu kebohongan atau kedustaan?!”.
“Aku tidak dusta. Tidak bohong!”.
“Lantas apa perlumu pagi tadi menyamar bertiga-tiga menjadi prajurit-prajurit
Kadipaten…?”.
“Itu bukan urusanmu!”.
“Oh begitu? Memang bukan urusanku. Tapi urusan api obor ini!”. Dan sekali lagi
api obor menjilati muka laki-laki itu. Dia menjerit-jerit. Wiro rnenunggu sampai beberapa
detik di muka. “Mau kasih keterangan apa tidak?” tanyanya.
“Aku akan terangkan… !” berkata juga laki-laki itu pada akhirnya.
Wiro tersenyum. Dilariknya obor kembali. “Nah bicaralah. Biar kerasan agar semua
orang dengar!”.
Maka anak buah Tapak Luwing itupun memberikan penuturan: “Adipati Seta Boga
dari Linggajati mengirimkan seorang utusan pada kami. Dia telah membuat rencana untuk
melakukan pemerasan di sini. Kami ditawarkannya pekerjaan untuk menarik pajak itu
dengan perjanjian hasilnya dibagi dua. Pemimpin kami menerimanya dan… dan…”.
“Sudah. Itu sudah cukup terang!” kata pula.
Ki Lurah Kundrawana maju ke muka. “Jadi ini semua dibiangi oleh Adipati Seta
Boga ...?”.
“Ya...”.
“Kita harus tangkap Adipati itu!” teriak penduduk.
“Gantung saja bersama kunyuk-kunyuk yang dua ini!” teriak yang lain.
Pendekar 212 angkat tangan kirinya. “Soal Adipati itu serahkan padaku,” katanya.
“Yang penting kini ialah menyelamatkan anak laki-laki Ki Lurah…”.
Tersiraplah darah Ki Lurah Kundrawana bila dia ingat kembali akan anaknya.
Dijambaknya rambut anak buah Tapak Luwing. “Anakku di mana kalian sekap?!”
tanyanya.
Laki-laki itu tertawa buruk. Sangat buruk, apalagi melihat mukanya yang hangus
dan merah mengelupas. “Jangan harap anakmu akan selamat Kundrawana!”
Kundrawana menyentakkan kepala laki-laki itu. “Dimana?!”.
“Mungkin sudah mampus di tangan pemimpinku!”
Kundrawana mengambil obor dari tangan . Anak buah Tapak Luwing
menjerit keras ketika obor itu disodokkan ke mata kanannya, Mata itu pecah dan darah
meleleh di kulit mukanya yang mengelupas hangus!
“Kedua matanya akan kubikin buta keparat! Kecuali, kalau kau segera
menerangkan di mana anakku kalian sekap!”.
Laki-laki itu sebenarnya menyadari bahwa kalau sudah tertangkap demikian rupa
dirinya tak akan mungkin lagi bisa selamat. Adalah percuma saja baginya untuk
memberikan keterangan. Namun dalam diri manusia yang berkeadaan seperti anak buah
Tapak Luwing saat itu, walau bagaimanapun senantiasa selalu terdapat sekelumit harapan
untuk bisa menyelamatkan diri sehingga ancaman matanya akan dibutakan kedua-duanya
itu mau tak mau mengerikannya juga!
Maka diapun memberikan keterangan : “Anak itu disekap di satu kuil tua di Parit
Kulon…”.
Lega sedikit hati Kundrawana. “Tapi,” katanya, “bila aku datang ke sana anakku
tidak ada atau kutemui dia dalam keadaan sudah mati jangan harap kau bisa melihat dunia
ini sampai esok lusa!”. Kini pendekar 212 yang buka suara : “Saudara-saudara apapun
yang kalian lakukan terhadap dua kunyuk ini, itu bukan urusanku lagi. Tapi sedapatdapatnya
jangan diapa-apakan dulu dia sebelum anak Ki Lurah ketemu dalam keadaan
selamat. Soal Adipati Seta Boga di Linggajati, serahkan padaku. Besok kalian bisa
mengambil sosok tubuhnya di Kadipaten Linggajati. Cuma aku tak dapat memastikan
apakah dalam keadaan masih bernafas atau tidak. Itu tergantung pada sikapnya sendiri!
Sekiranya dia masih hidup, ada baiknya kalian giring saja ke Kotaraja… Nah, selamat
tinggal!”.
“Saudara tunggu dulu!” seru Kratomlinggo dan Kundrawana hampir berbarengan.
Namun sudah berkelebat lewat langkan, lewat
kepala-kepala penduduk Bojongnipah lalu lenyap ditelan kegelapan malam.
* * *
HANYA sebentar suasana sepi menyeling. Bila bayangan sosok tubuh pendekar
212 sudah lenyap ditelan kegelapan malam maka lupalah penduduk Bojongnipah akan
pesan pendekar itu. Beramai-ramai mereka menyerbu kedua anak buah Tapak Luwing
yang berada dalam keadaan tak berdaya, terikat ketiang langkan dan tertotok. Puluhan
senjata laksana hujan bertubi-tubi mampir ke kepala dan tubuh kedua orang itu. Tiada
terdengar suara jeritan kedua orang ini, rintihanpun tidak! Mereka telah menemui nasib
pembalasan atas kejahatan mereka. Keduanya menghembuskan nafas dengan tubuh mandi
darah dan muka hancur tak bisa dikenali lagi. _
Ki Lurah Kundrawana tidak menyaksikan lagi apa yang diperbuat penduduk
Bojongnipah itu. Bersama Kratomlinggo dan tiga orang lainnya, dengan menunggangi kuda, dia
meninggalkan Bojongnipah menuju Parit Kulon, sebuah pesawangan yang jarang didatangi manusia,
terletak kira-kira ernpat kilometer dari desa. Satu-satunya bangunan di Parit Kulon adalah kuil tua yang
diterangkan anak buah Tapak Luwing. Karenanya meskipun malam tak sukar untuk mencarinya.
Ki Lurah Kundrawana menyalakan obor yang dibawa. Diiringi oleh keempat orang lainnya dia
masuk ke dalam kuil tua itu. Meski dia menemui anaknya dalam keadaan menyedihkan namun
Kundrawana merasa. lega dan gembira karena anak satu-satunya itu ternyata masih bernafas. Anaknva
tidur di ubin kotor dengan pakaian yang juga kotor. Tubuhnya kurus dari parasnya pucat karena tak
terurus. Tangan dan kakinya diikat. Kundrawana bertutut lalu memeluk anaknya itu. Kratomlinggo
membuka tali yang mengikat tangan serta kaki si anak yang saat itu sudah bangun. Tetesan air mata
mengalir di pipi Ki Lurah Kundrawana. Tapi air mata kali ini adalah air mata gembira.
Sementara itu di tempat lain ....
Tapak Luwing merasa tubuhnya yang kaku karena ditotok itu dibawa lari dalam kegelapan
malam oleh seseorang. Bila sinar bulan yang tidak begitu terang menyeruaki pohon-pohon sepanjang
jalan yang mereka lalui dan menyinari paras laki-laki itu samar-samar. Tapak Luwing terheran dan
berpikir-pikir. Laki-laki yang membawanya berlari itu tidak dikenalnya sama sekali. Siapa dia dan ke
mana manusia ini mau membawanya! Kemudian apakah dia seorang yang akan menolongnya atau
bukan? Tapi melihat gelagat dan ucapannya terhadap pemuda berambut gondrong tadi Tapak Luwing
bisa sedikit memastikan bahwa laki-laki ini tidak bermaksud jahat terhadapnya. Diam-diam hatinya
merasa lega. Maka bertarryalah dia: “Sobat, kau siapakah?”.
“Jangan banyak tanya dulu!” menjawab orang yang memanggulnya. Suaranya besar dan
parau, larinya laksana angin.
“Kita ini kemanakah?,” tanya Tapak Luwing lagi.
“Aku bilang jangan bertanya apa-apa dulu. Apa tidak mengerti?!”
Tapak Luwing penasaran sekali. Namun dia menurut dan menutup mulutnya. Sepanjang
perjalanan itu, satu hal saja yang diketahui oleh Tapak Luwing tentang orang yang memanggul dan
membawa larinya yaitu laki-laki itu puntung tangan kanannya sampai sebatas bahu!
Ketika sampai di sebuah telaga kecil akhirnya laki-laki bertangan buntung itu menghentikan
larinya. Tapak Luwing diturunkan dan disandarkan ke sebatang pohon di tepi telaga. Kemudian
dilepaskannya totokan di tubuh Tapak Luwing.
“Atur nafas dan jalan darahmu. Kerahkan tenaga dalam!” berkata si tangan buntung.
Tapak Luwing segera melakukan hal itu. Tidak disuruhpun memang semustinya dia sudah
bermaksud demikian, sesuai dangan setiap ajaran ilmu silat dari aliran dan golongan manapun.
Kemudian dengan tangannya yang cuma satu laki-laki itu dangan cekatan mengobati lengan
Tapak Luwing yang patah dan membalutnya dangan secarik kain.
“Aku berhutang budi dan nyawa padamu sobat,” kata Tapak Luwing.
Laki-laki yang menolongnya tertawa. “Ada hutang ada piutang…,” katanya di antara
tertawanya, “ada budi ada balas”.
“Maksudmu sobat?” tanya Tapak Luwing. “Di satu hari kelak pertolongan yang
kuberikan padamu ini akan kutagih…”.
Tapak Luwing kerenyitkan kening. “Tidak kau tagihpun, jika ada kesempatan aku pasti
akan membalasnya. Bahkan jika aku sudah sembuh dan kau bersedia ikut ke Kali Comel, aku
akan hadiahkan kepadamu harta benda, perhiasan dan uang seberapa saja kau suka”
Si tangan buntung menyeringai. Gigi-giginya hitam kecoklatan. “Aku tidak butuh
semua itu,” desisnya. Dipegangnya balutan di lengan Tapak Luwing. Sesaat kemudian Tapak
Luwing merasakan aliran tenaga dalam yang ampuh merembas ke dalam tubuhnya. Tubuhnya
menjadi segar kini dan rasa sakit pada lengannya yang patah itu berkurang.
“Terima kasih,” kata Tapak Luwing. “Apa sudah boleh aku kenal padamu. Aku Tapak
Luwing...”
“Aku tahu siapa kau. Aku sudah lama dengar tentang komplotanmu yang malang
melintang di sepanjang Kali Comel. Dan ketika tahu bahwa kau berada di sekitar sini, timbul
satu maksud untuk menemuimu”.
“Apakah maksud itu?” bertanya Tapak Luwing. “Tadi aku sudah bilang, ada hutang
ada piutang, ada budi ada balas. Satu hari kelak aku membutuhkan tenagamu…!”.
“Jangan kawatir, aku pasti bersedia. Tapi untuk keperluan apakah?”.
“Kau tak usah tahu untuk keperluan apa. Kau nanti akan tahu juga. Dengar, nanti pada
hari tigabelas bulan dua belas kau harus dating ke Gunung Tangkuban Perahu…”
“Gunung Tangkuban Perahu…?”.
“Ya. Masih kira-kira delapan bulan dari sekarang. Dan satu hal harus kau ingat. Jangan
sekali-kali coba kembali ke desa Bojongnipah untuk buat perhitungan dengan Ki Lurah
Kundrawana, salah-salah kau bisa ketemu dangan bangs*t yang telah mencelakaimu tadi!
Walau bagaimanapun untuk saat ini kau tak akan mampu menghadapinya! Ada saat untuk
menyelesaikan urusan dangan dia. Karena itu kau musti datang ke Tangkuban Perahu pada
hari tiga belas bulan dua belas nanti. Dengar?”
Tapak Luwing mengangguk. “Kau tahu siapa bangs*t itu agaknya?,” dia bertanya.
“Angka pengenalnya telah dituliskannya dikeningmu”.
Terkejutlah Tapak Luwing. Dirabanya keningnya. Tak ada rasa sakit tapi memang kulit
kening itu agak kesat dari sebelumnya.
“Berkacalah ke telaga itu”.
Tapak Luwing merangkak ke tepi telaga. Dia membungkuk dekat-dekat ke air telaga
yang jernih itu dan di bawah penerangan sinar bintang-bintang serta bulan sabit samar-samar
dilihatnya tertera tiga buah angka. Angka 2 1 2 ! Tapak Luwing memandang keheran-heranan
pada si tangan buntung lalu memperhatikan lagi mukanya di air telaga. Diusapnya keningnya.
Diusapnya lagi sampai beberapa kali tapi angka 212 itu tidak mau hilang. Dibasahinya
keningnya dangan air telaga lalu diusapnya lagi berulang kali. Tetap saja angka 212 itu tidak
mau hilang!
“Dengan. apapun dan cara bagaimanapun angka itu tak akan bisa pupus dari
keningmu Tapak Luwing! Angka itu ditera dengan telapak tangan yang mengandung tenaga
dalam dan kesaktian yang luar biasa. Sekalipun kulit keningmu dikelupas sampai ke batok
kepalamu maka pada tulang batok kepalamupun angka itu sudah meresap!”
“Siapa sesungguhnya manusia muda berambut gondrong dengan angka pengenal 212
itu…” tanya Tapak Luwing pula.
“Namanya . Dia sakti sekali…” jawab si tangan buntung. “Tapi,”
katanya kemudian menambahkan, “dihari tiga belas bulan dua belas nanti, kelak ajalnya
akan sampai!”.
Diam-diam, meskipun si tangan buntung tidak menerangkan tapi Tapak Luwing tahu,
kini bahwa antara si tangan buntung dan pemuda rambut gondrong yang telah
mencelakainya itu terdapat sangkut paut dendam kesumat.
“Selama waktu delapan bulan mendatang,” berkata lagi si tangan buntung,
“kuanjurkan kepadamu untuk berlatih ilmu silat yang telah kau miliki agar lebih hebat.”
Tapak Luwing mengangguk.
Si tangan buntung berkata: “Sekarang kita berpisah. Jangan lupa hari tiga belas bulan
dua belas itu. Dan jangan coba-coba untuk tidak memenuhi perintahku ini…”
“Kau mau kemana sobat?”
“Urusanku masih banyak…”
“Tapi kau masih belum menerangkan namamu”.
“Namaku Kalingundil!”
-- == 0O0 == --
IZRO'IL
Dendam Orang-Orang Sakti


DELAPAN
LINGGARJATI sudah agak sepi ketika dia sampai ke sana karena hari sudah menjelang
larut malam dan udara dingin mencucuki kulit tubuh sampai ke tulang-tulang. Di
sebuah kedai dia berhenti untuk membasahi tenggorokan dan menghangatkan tubuhnya
dengan segelas bandrek. Di kedai ini juga dia telah menanyakan di mana letak tempat
kediaman Adipati Seta Boga.
Tak sukar mencari tempat kediaman Adipati Seta Boga. Rumahnya adalah sebuah
gedung yang paling bagus dan paling besar di Linggarjati. Saat itu gedung tersebut berada
dalam suasana tenang tenteram. Dua orang pengawal berdiri di pintu masuk dan di ruang
tamu kelihatan beberapa orang laki-laki. Rupanya Adipati Seta Boga tengah menerima
beberapa orang tamu.
Laki-laki itu melangkah seenaknya di depan kedua pengawal Kadipaten. “Di sini
rumahnya Adipati Seta Boga ?” tanyanya pada salah seorang pengawal.
“Betul. Ada apa…?” balik menanya si pengawal.
“Ah tidak apa-apa. Aku cuma tanya…,” jawab si pemuda. Digaruknya rambutnya
yang gondrong.
“Adipatinya ada .... ?”
“Ada sedang merierima tamu. Kau siapa? Perlu apa tanya-tanya…?”
“Cuma tanya,” jawab si pemuda. Digaruknya lagi rambutnya lalu tanpa bilang apaapa
dia melanjutkan langkahnya.
“Sialan . . . ,” maki pengawal itu.
Yang dimaki jalan terus.
Pengawal yang satu berkata “orang gendeng…” Keduanya memandang sampai
pemuda tadi lenyap di tikungan jalan yang gelap.
Setengah jam kemudian, ketika pemuda itu kembali maka tamu-tamu di Kadipaten
sudah tak kelihatan lagi. Lampu besar di ruang depan sudah diganti dengan lampu kecil.
Melihat kedatangan si pemuda dan yang seperti tadi berhenti di depan mereka maka
membentaklah salah seorang dari pengawal.
“Orang sinting! Ada apa kau datang lagi ke sini?!”
“Pergi sebelum kepalamu kupentung dengan gagang tombak ini!,” menghardik yang
seorang lagi.
Si pemuda menyeringai.
“Dengar sobat-sobatku,” katanya. Kedua tangannya diacungkan ke muka. Jari-jari
telunjuk dan jari jari tengah diluruskan. “Kalian lihat jari-jari tanganku ini .... ?,” tanyanya.
“Kunyuk gendeng! Berlalulah atau kuremukkan kepalamu!” bentak pengawal sambil
acungkan tombaknya.
“Ah… jangan buru-buru marah tak karuan. Bicaraku masih belum habis!,” menyahuti
si pemuda tanpa acuhkan ancaman pengawal. Jari jari tangannya masih diluruskan. “Coba
kalian hitung jari-jari tangan yang kuacungkan ini,” katanya.
Tentu saja kedua pengawal jadi tambah mengkal melihat tingkah dan mendengar
ucapan si pemuda. Maka dua gagang tombakpun meluncur deras ke kepala pemuda itu.
Namun lebih cepat lagi dari luncuran kedua tombak itu, maka kedua tangan si pemuda tahutahu
sudah menotok urat di pangkal leher pengawal-pengawal. Kontan keduanya menjadi
gagu dan kaku menegang.
Si pemuda tertawa. Kedua pengawal itu sekaligus dipanggulnya di bahu kiri kanan
kemudian dimasukinya halaman Kadipaten. Pengawal-pengawal yang dipanggul kemudian
dilemparkannya ke kandang kuda di belakang rumah. Lewat pintu belakang dia masuk ke
dalam gedung Kadipaten yang saat itu belum dikunci. Seorang perempuan separuh umur,
yang bekerja sebagat pembantu rumah tangga dan yang saat itu tengah mencuci piring
terkejut melihat munculnya seorang pemuda berambut gondrong yang tak dikenalnya. Dan
pemuda itu tersenyum kepadanya.
“Kau... kau siapa...?” tanyanya.
Si pemuda masih senyum. Tangan kirinya dilambaikan. Selarik angin tajam
menyambar ke leher si perempuan. Perempuan ini hendak berteriak. Namun saat itu
mulutnya sudah gagu, lidahnya sudah kelu sedang tubuhnya tak bisa lagi digerakkan akibat
totokan jarak jauh yang lihay sekali. Si pemuda kemudian memasukkan perempuan itu ke
dalam sebuah bilik kosong di bagian belakang gedung.
Saat itu Adipatit Seta Boga tengah membuang hajat kecil di kamar mandi. Ketika dia
masuk kembali ke dalam gedung maka terkejutlah Adipati Linggarjati ini. Betapa tidak!
Di atas kursi goyang, di mana dia sering dudak bila melepaskan lelah, kini dilihatnya
duduk enak-enakan sambil memejam-mejamkan mata seorang pemuda berbadan kekar dan
berambut gondrong yang sama sekali tidak dikenalnya!
“Setan atau manusia dari mana yang kesasar ke gedungku ini…?” ujar Adipati Seta
Boga di dalam hati. Dan pemuda di atas kursi terus juga menggoyang-goyangkan badannya dan
kedua matanya masih dipejamkan.
“Siapa kau?!” bentak Adipati itu dengan suara menggeledek dan menggema di empat dinding
ruangan.
Kursi goyang itu bergoyang-goyang juga. Pemuda yang duduk di atasnya masih terus duduk
enak-enakan dan memejamkan mata. Geram sekali Adipati Seta Boga jadinya. Dengan langkah besar besar dia maju mendekat kursi goyang dan orang yang mendudukinya. Telapak tangan kanan terkembang dan detik itu juga maka melayanglah tamparannya!
Beberapa saat lagi tangan kanan itu akan mendarat di pipi si pemuda tiba-tiba si pemuda bukakan kedua matanya. Dan seperti alas kursi itu mempunyai per yang melesatkan si pemuda ke atas demikianlah tubuh pemuda itu melayang enteng sampai dua tombak dari kursi yang didudukinya! Dan sebagai akibatnya maka tangan kanan Adipati Seta Boga kini menghantam sandaran kursi goyang.
Sandaran kursi itu pecah. Kayunya berkeping-keping berantakan. Dapat dibayangkan bagaimana jika seandainya tamparan itu mendarat di pipi si pemuda karena tamparan itu tidak boleh tidak tentu mengandung tenaga dalam yang luar biasa!
“Ah.... kau rupanya Seta Boga…,” kata si pemuda sambil mengusap matanya. “Aku sedang
enak-enakan tidur, kau mengganggu saja…!”
“Anjing kurap kenapa kau bisa kesasar ke mari? Apa minta ditebas batang lehermu?!,” radang
Adipati Seta Boga. Geram sekali dia. Selama menjadi Adipati baru hari ini ada seseorang yang
memanggilnya dengan “Seta Boga,” saja !
Sipemuda tertawa dan seperti tak ada hal apa-apa dia duduk kembali seenaknya di atas kursi
goyang, kembali bergoyang-goyang dan memejamkan matanya.
“Setan alas betul!,” damprat Seta Boga. Sekali kaki kanannya bergerak maka mental dan
hancurlah kursi goyang itu. Tapi si pemuda sekejapan sebelum itu sudah melompat dan berdiri di sudut
ruangan dekat sebuah meja kecil.
“Kursi bagus ditendang sampai hancur. Kau sudah sinting rupanya Seta Boga?,” tanya si
pemuda sambil menyengir.
Sementara itu karena suara ribut-ribut di ruang tengah maka istri Seta Boga ke luar dan
disamping heran dia juga terkejut melihat apa yang terjadi.
“Kakang ada apakah? Siapa manusia ini?!” tanya perempuan itu.
“Pergi, panggil pengswal!,” teriak Seta Boga pada istrinya. Perempuan itu berteriak
memanggil pengawal. Namun tiada pengawal yang datang. Dua pengawal Kadipaten sebelumnya
sudah dibikin “mendengkur” oleh si pemuda di kandang kuda!
Kegeraman Seta Boga tak terkirakan lagi ketika dilihatnya pemuda berambut gondrong itu
mengambil sebatang serutu miliknya dan dalam kotak serutu yang terletak di atas meja kecil di sudut
ruangan lalu menyalakannya sekaligus!
Rahang-rahang Seta Boga bertonjolan. Jari-jari tangan kanannya diremas-remaskannya satu
sama lain. Sesaat kemudian kelihatanlah jari-jari tangan itu menjadi merah. Warna merah terus
menjalar sampai sebatas siku.
“Anjing kurap yang kesasar, hari ini terima nasibmu harus mampus oleh pukulan wesi
geniku!” Tangan kanan yang merah itu dipukulkan ke muka. Selarik angin yang tidak terkirakan
panasnya menggebubu ke arah si pemuda.
Tubuh si pemuda berkelebat.
“Wuss!”
“Brak!”
Istri Seta Boga menjerit.
Dinding di muka mana pemuda itu tadi berdiri hancur berlubang dan menjadi hitam hangus!
Orang yang diserang kelihatan disudut ruangan sebelah kanan, asyik-asyikan menyedot serutu!
Dada Seta Boga menjadi sesak oleh amarah yang meluap. “Siapa kau sebenarnya ?!” bentak
Adipati Linggarjati ini,
Si pemuda batuk-batuk lalu cabut serutunya dari sela bibir. “Namaku ... ?,” ujarnya. “Masakan
kau tidak tahu ?!”
“Setan alas .... !”
Si pemuda tertawa menanggapi makian itu.
“Namaku Tapak Luwing,” katanya. “Aku datang untuk menyerahkan sebagian dari uang
pungutan pajak di desa Bojongnipah. Ini terimalah…!”
Si pemuda mengeruk saku bajunya. Sesuatu dalam genggamannya kemudian dilemparkannya
ke arah Adipati Seta Boga. Laki-laki ini cepat menghindar dan lambaikan tangan kanannya. Benda
yang dilemparkan ternyata adalah kira-kira selusin kalajengking yang saat itu sudah mati dan
bertebaran di lantai. Istri Seta Boga memiawik lalu lari ke dalam kamar. Si pemuda tertawa bekakakan!
Adipati Seta Boga tak menunggu lebih lama menyambar sebuah tombak yang dipanjang di
dinding. Dengan senjata ini dia kemudian menyerang si pemuda! Si pemuda tenang-tenang selipkan
serutunya ke bibir, menghisapnya dengan cepat lalu menghembuskan asapnya ke arah Seta Boga.
Adipati ini terpaksa melompat ke samping sekali lagi karena asap serutu itu mengandung tenaga dalam
dan menyambar ke arah kedua matanya!
Dari samping kini Seta Boga melancarkan serangan. Tombak di tangannya membabat kian
kemari. Tangan kiri melakukan pukulan-pukulan tangan kosong jarak jauh beberapa kali berturutturut!
Inilah jurus “kitiran dan alu sabung menyabung” Jurus ini biasanya dilaksanakan dengan
memakai pedang. Tapi dengan tombakpun kehebatannya tidak olah-olah.
Tapi betapa terkejutnya Seta Boga ketika si pemuda dengan tertawa-tawa berkata : “Ah, cuma
jurus kitiran dan alu sabung menyabung, siapa takut? Sambuti serangan balasan ini, Seta Boga!”
Demikianlah, meskipun diserang tapi si pemuda bukannya mengelak malahan menyambut
dengan serangan pula!
“Ini jurus membuka jendela memanah rembulan Seta Boga!,” kata si pemuda. Lengan kirinya
dipukulkari melintang dari atas ke bawah sedang tangan kanan meluncur ke atas dalam gerakan yang
cepat sekali dan sukar dilihat oleh mata !
“Ngek”
“Buk !”
Tombak di tangan Seta Boga terlepas mental karena lengannya kena dibabat oleh lengan
lawan. Suara ngek yang ke luar dari tenggorokannya adalah akibat urat besar di bawah dagunya telah
kena ditotok oleh sipemuda. Di saat itu pula tubuhnya tak bergerak lagi alias kaku tegang! Karena
sebelum ditotok Seta Boga telah menyeringai kesakitan akibat benturan lengan lawan maka di saat
tubuhnya menjadi kaku itu, mimik parasnya sungguh tak sedap untuk dipandang!
Si pemuda cabut serutu dari sela bibirnya don meniupkan asap serutu itu ke muka
Seta Boga. “Sayang sekali,” katanya. “Jurus kitiran dan alu sabung menyabungmu terpaksa
bertekuk lutut di bawah jurus membuka jendela memanah rembulan-ku…”.
Ditiupkannya lagi asap serutu ke muka Seta Boga. Totokan pada urat besar di bawah
dagu Seta Boga tetah melumpuhkan tubuhnya, membuat mulutnya menjadi gagu dan,
perasaannya menjadi tumpul. Cuma telinganya saja saat itu yang masih sanggup mendengar.
Maka berkatalah si pemuda. “Dengar Seta Boga… besok Ki Lurah Kundrawana dan
penduduk Bojongnipah akan datang ke sini. Kalau nasibmu baik kau akan mereka seret ke
hadapan Raja di Kotaraja. Tapi kalau nasibmu buruk, mereka akan mengeremusmu beramairamai!
Dan sebelum aku pergi, terima hadiah kenang-kenangan ini dariku....”.
Si pemuda acungkan jari telunjuk tangan kanannya. Dengan mempergunakan ujung
jari itu diguratnya tiga buah angka di kening Seta Boga, 212 ...!
Ketika pada keesokan harinya Ki Lurah Kundrawana dan dua lusin penduduk
Bojongnipah bersenjata lengkap datang ke gedung Kadipaten di Linggarjati, mereka heran
menemui gedung itu dalam keadaan kosong. Tak satu manusiapun ada di dalamnya.
“Pasti Adipati keparat itu sudah melarikan diri!,” Kata Kundrawana geram.
Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak dari belakang gedung. Ketika Kundrawana
dan yang lain-lainnya pergi ke belakang gedung mereka hampir tak percaya dengan
penglihatan mereka. Lima orang kelihatan berdiri tak bergerak-gerak di kandang kuda. Di
sebelah muka adalah Adipati Seta Boga dan istrinya. Di kiri kanan mereka pengawalpengawal
Kadipaten dan di sebelah belakang perempuan yang menjadi pembantu rumah
tangga! Ketika diperiksa kelimanya masih dalam keadaan bernafas dan ditotok urat darah
mereka.
Ki l:urah Kundrawana memandang pada angka 212 yang tertera di kening Adipati
Seta Boga. “Dua satu dua . . . . ,” desisnya. Dia hanya goleng-goleng kepala lalu
memerintah: “Perempuan-perempuan dan pelayan lepaskan totokannya. SetaBoga kita seret
ke Kotaraja!”
* * *
melangkah pelahan menuju ke
tepi sungai. Di tempat yang agak kelindungan dia membuka pakaian dan mandi
membersihkan diri Sambil mandi itu kadang-kadang dia tertawa sendiri bila mengingat
kejadian malam tadi di Kadipaten Linggarjati. Mungkin pagi itu Kundrawana sudah sampai
di Linggajati, mungkin masih dalam perjalanan. Satu manusia jahat, satu kejahatan telah
berakhir. Tapi pendekar 212 tahu bahwa selama dunia terbentang, selama itu pula kejahatan
tak pernah akan berakhir !
Selesai mandi badannya terasa segar. Matahari sudah mulai tinggi. Suara siulan ke
luar dari sela bibirnya sedang pikirannya mengingat-ingat pertempurannya dengan Tapak
Luwing dan laki-laki yang telah melarikan Tapak Luwing serta menantangnya itu.
Tantangan ini mengingatkannya pada pertempurannya di Gua Sanggreng dengan
Bergola Wungu tempo hari. Kali ini untuk kedua kalinya dia ditantang. Siapa pula gerangan
kali ini yang menantangnya ?
“Hidup ini memang penuh tantangan? Tantangan yang timbul dari diri kita sendiri
dan dari diri manusia-manusia lain… Sungguh gila kehidupan ini! Tapi kegilaan inilah yang
mendatangkan kenikmatan…”. Maka siulan pendekar 212 itu semakin meninggi dan
melengking membawakan lagu tak menentu.
Tentang diri manusia yang telah melarikan Tapak Luwing itu hanya dua hal yang
diketahui oleh . Pertama, dalam kegelapan malam dia melihat bahwa manusia
itu buntung tangan kanannya. Kedua, ketika dia melancarkan pukulan kunyuk melempar
buah dengan mempergunakan sepertiga bagian dari tenaga dalamnya, manusia bertangan
buntung itu telah menyambuti pukulan tersebut dengan selarik sinar biru! Dan pukulan
kunyuk melempar buah telah terbendung oleh selarik sinar biru itu! Ini membawa pertanda
bahwa si tangan buntung itu siapapun adanya pastilah memiliki ilmu yang tinggi. Pendekar
212 menduga manusia ini mungkin sekali guru atau kakak seperguruan Tapak Luwing.
Dikenakannya pakaiannya kembali dan diteruskannya perjalanannya.
Rawasumpang satu daerah tandus penuh rawa-rawa maut yang menghisap setiap
benda apa saja yang masuk ke dalamnya. Daerah ini terletak empat kilo di sebelah timur
Linggajati. Kesinilah menuju.
Angin dari utara bertiup kencang membuat pakaian dan rambutnya yang gondrong
berkibar-kibar. Dia memandang ke bawah. Pedataran luas penuh rawa-rawa maut itu sunyi
sepi. Tak satu manusiapun yang dilihatnya. Wiro memandang ke langit. Matahari tengah
bergerak dalam gerakan yang tidak kelihatan menuju ke titik tertingginya.
Tiba-tiba dari arah timur terdengar suara bergelak yang santar sekali! Pendekar kita
berpaling ke arah itu. Sesosok tubuh laksana anak panah berlari kencang sekali di pedataran
luas di sela-sela tebaran rawa-rawa. Begitu suara gelaknya hilang maka tubuhnya sudah
berada di bawah bukit di mana pendekar 212 berada. Bukit itu tidak berapa tinggi dan dalam
jarak sejauh itu segera dapat mengenali siapa adanya manusia yang bertangan
buntung itu.
“Kalau dia yang menjadi penantangku malam tadi, pastilah dia telah memiliki ilmu
yang tinggi dan sangat diandalkan…,” kata dalam hati. “Tapi...,” ujarnya lagi,
“bagaimana mungkin dalam tempo beberapa bulan saja kepandaiannya sudah seluar biasa
ini...?”.
“Manusia yang merasa bernama , merasa bergelar Pendekar Kapak
Maut Naga Geni 212, turunlah! Atau aku yang musti naik ke atas bukit itu?!”. Terdengar
suara laki-laki di bawah bukit.
Pendekar kita keluarkan suara bersiul.
“Tikus buduk cacingan kalau sudah jadi kucing dapur memang berabe!,” katanya.
“Ada kabar apa kau mengundang aku ke sini kucing dapur...?”.
Paras Kalingundil kelam membesi. Dengan suara keras dia menyahuti: “Tadinya aku
kira kau tak punya nyali untuk datang ke sini pendekar edan! Hitungan kita tempo hari
masih belum selesai…”
“Oho, jadi untuk maksud itukah kau kehendaki pertemuan ini? Bagus sekali
Kalingundil. Memang urusan yang belum selesai harus diselesaikan. Benang kusut harus
diurai baik-baik kembali!”.
“Tepat sekali,” jawab Kalingundil. “Cuma satu hal pendekar gila. Kalingundil yang
dulu tidak sama dengan yang kau lihat hari ini!”.
tertawa bergelak. “Tentu saja. Tadipun aku sudah bilang bahwa dari
tikus buduk cacingan kau sudah berubah menjadi kucing dapur. Tapi kau tak banyak
berbeda Kalingundil! Tanganmu yang dulu buntung sekarang masih tetap buntung!
Seharusnya kau cari tukang kayu yang pandai untuk membuat tangan palsu…!”.
Mendidih darah di kepala Kalingundil. Tangan kirinya bergerak, memukul ke atas.
Setiup angin biru deras menyambar ke arah . Pendekar itu lompat ke samping
dengan sebat dan menyaksikan bagaimana tanah bukit tempatnya berdiri tadi terpupus
berhamburan laksana longsor dihantam angin pukulan Kalingundil! Diam-diam Wiro
Sableng menjadi kagum juga terhadap lawannya itu. Kepada siapakah Kalingundil telah
menuntut ilmu selama beberapa bulan ini?
“Pendekar gila, jangan petatang peteteng juga! Turunlah ke pedataran rawa-rawa
ini!,” teriak Kalingundil. “Turun untuk terima kematianmu!”.
“Setiap undangan baik dan buruk pantang kuelakkan, Kalingundil,” sahut Wiro
Sableng. Laksana seekor burung garuda dia melompat ke bawah.
Dalam keadaan tubuh melayang di udara itu, Kalingundil kirimkan tiga pukulan
tangan kosong sekaligus, beruntun hebat sekali. Pendekar 212 sambut pukulan ini dengan
pukulan “benteng topan melanda samudera”!
Maka beradulah pukulan-pukulan dahsyat yang mengandung tenaga dalam yang
tinggi itu sehingga menimbulkan suara meletus hebat. Untuk sesaat pendekar 212 merasakan
tubuhnya yang melayang di udara laksana tertahan oleh sebuah dinding yang tak kelihatan
sedang di bawah sana Kalingundil melesak kedua kakinya sampai dua dim ke dalam tanah!
Sungguh pendekar 212 tidak menyangka kehebatan tenaga dalam Kalingundil
berlipat ganda banyak sekali dari beberapa bulan yang lalu! Di lain pihak Kalingundil
sendiri mengeluh dalam hati. Waktu melancarkan tiga pukulan beruntun tadi dia telah
mengerahkan tiga perempat bagian tenaga dalamnya: Meski dia telah memiliki ilmu silat,
yang aneh dan tinggi mutunya namun nyatanya lawan itu masih lebih tangguh!
Kalingundil kertakkan geraham.
“Pemuda gila, terima pukulan jotos siluman biru ini!,” bentak Kalingundil. Tangan
kanannya dipukulkan ke muka. Sinar biru berkiblat menyambar ke arah pendekar 212 yang
saat itu baru saja injakkan kaki kanannya di tanah dekat tepian rawa!
Pendekar kita lompat setinggi empat tombak dan dari atas ganti mengirimkan
pukulan balasan yang tak kalah hebatnya.
Pukulan angin menimbulkan suara seperti ratusan seruling yang ditiup secara
bersamaan. Debu berputar-putar ke udara, lumpur rawa-rawa seperti mendidih. Kalingundil
kerahkan tenaga dalamnya ke kaki untuk mempertahankan diri. Tubuhnya bergetar dilanda angin
pukulan lawan namun sepasang kakinya laksana baja tetap bertahan ditempatnya. Penasaran sekali,
dengan membentak. Pendekar 212 lipat gandakan tenaga dalamnya dalam pukulan itu!
Kini Kalingundil tak dapat lagi bertahan dengan segala kehebatan yang dimilikinya itu. Kedua
kakinya laksana akar pohon berserabutan dari dalam tanah, terlepas dari pertahanannya. Tubuhnya
terhuyung keras ke belakang ke arah rawa-rawa maut. Dihantamkannya tangannya ke muka untuk
membendung angjn pukulan lawan dan serentak dengan itu dia jungkir balik di udara melompati
sebuah rawa kecil dan berdiri di bagian lain dari pedataran! Dengan demikian kedua manusia itu
berhadapan satu sama lain. terpisah oleh sebuah rawa-rawa!
Laki-laki bertangan buntung itu tertawa dingin. Tangan kirinya bergerak ke balik pakaian..
Sesaat kemudian di tangan kiri itu tergenggam sebuah pedang buntung yang berwarna biru. Meskipun
buntung, melihat kepada kilauan sinar biru dari senjata itu maklum bahwa pedang di
tangan lawannya adalah sebuah pedang mustika.
“Kau lihat pedang ini, pemuda edan?!” bentak Kalingundil. “Nyawamu ada diujung senjata
ini!”. Pendekar 212 tertawa mengekeh.
“Orang dan. senjatanya sama saja! Sama-saama buntung!” mengejek murid Eyang Sinto
Gendang itu,
Merah padam muka Kalingundil.
“Mengejek memang mudah. Tapi ketahuilah, membunuhmu dengan senjata ini jauh lebih
mudah lagi!,” kata Kalingundil pula. “Buka matamu lebar-lebar orang gila dan lihat ini!”.
Kalingundil menyapukan pedang buntungnya ke arah rawa-rawa di hadapannya. Lumpur rawa
itu muncrat ke atas sampai tujuh tombak. Sebagian besar menyibak laksana terbelah sehingga dasar
rawa yang hitam legam terlihat jelas beberapa detik lamanya !
“Senjata hebat,” ujar dalam hati. “Dalam keadaan buntung demikian luar
biasanya. Apalagi kalau dalarn keadaan. Sempurna. Bagaimana ini kucing dapur dapatkan senjata
itu...?”
“Kau sudah lihat pendekar gila?!,” terdengar bentakan Kalingundil.
“Senjatamu boleh juga, Kalingundil. Tapi dari pada dipakai buat kejahatan lebih baik ditempa
untuk membikin sambungan tangan palsumu!”.
Marahlah Kalingundil. Disapukannya senjata itu ke arah pendekar 212. Maka berkiblatlah
sinar biru yang menyilaukan!
Pendekar 212 tidak bodoh. Dengan cepat dialirkannya tenaga dalamnya ke kedua telapak
tangan. Dia melompat ke udara.
“Ciat!”
Didahului oleh bentakan yang menggeledek itu maka lepaskan pukulan dinding
angin berhembus tindih menindih. Begitu pukulan ini melesat memapasi serangan lawan maka Wiro
susul dengan pukulan kunyuk melempar buah yang perbawanya disertai aliran tenaga dalam sampai
setengah bagian dari yang dimilikinya!
Pukukan yang pertama membuat serangan Kalingundil tertahan laksana menumbuk dinding
karang yang atos. Pukulan yang kedua bukan saja membuat buyar sinar biru dari pukulan Kalingundil,
tapi sekaligus melabrak pukulan tersebut sehingga kini Kalingundil yang berada dalam keadaan
diserang! Ini memaksa Kalingundil menyingkir dua tombak ke samping. Kemudian tanpa membuang
waktu lebih lama laki-laki ini menerjang ke muka. Pedangnya membabat deras, sinar biru yang
menghamburkan hawa dingin serta tajam menyambar ke arah pendekar 212!
membentak nyaring! Suara bentakannya ini membuat gendang-gendang telinga
Kalingundil tergetar. Pedangnya melabrak ke arah perut lawan tapi dalam kejapan itu pula lawannya
berkelabat dan lenyap dari pemandangan! Penasaran sekali Kalingundil putar pedang buntungnya
demikian rupa. Maka sinar birupun bergulung-gulung mengurung !.
IZRO'IL
Dendam Orang-Orang Sakti


Sebagaimana kebiasaan pendekar 212, dalam setiap pertempuran yang mulai menghebat maka
disaat itu pula mulai terdengar suara siulannya melengking-lengking membawakan lagu tak menentu!
Tubuhnya hanya merupakan bayang-bayang kini. Karena sukar untuk menentukan mana tubuh yang
sebenarnya dan mana yang hanya baying-bayang, maka hampir keseluruhan serangan-serangan
Kalingundil menghantam tempat kosong. Namun demikian memang permainan silat siluman yang
didapat Kalingundil di Gua Siluman tempo hari meskipun cuma sepertiganya saja yang dikuasainya,
benar-benar patut dikagumi.
Pendekar 212 tahu bahwa lawannya sampai dua puluh jurus dimukapun tak akan dapat
mendesaknya, apalagi melukainya. Tapi di samping itu, pihaknya sendiri sukar pula melakukan
serangan balasan karena setiap serangan yang dilancarkan Kalingundil merupakan jurus pertahanan!
Demikianlah kehebatan ilmu silat siluman yang dimiliki oleh manusia bertangan buntung itu!
Tapi adalah percuma saja menjadi murid dan digembleng selama tujuh belas
tahun oleh nenek-nenek sakti Eyang Sinto Gendeng kalau dia tak bisa menghadapi lawan begitu rupa
satu lawan satu!
Maka segera robah permainan silatnya. Jurus-jurus
yang tak terduga dari Kalingundil dihadapinya dengan jurus-jurus tak teratur yang gerabak gerubuk
kian kemari. Kedua tangannya terkembang di kedua sisi laksana sayap burung garuda sedang dari
mulutnya senantiasa terdengar suara siulan melengking yang menyamaki liang telinga Kalingundil!
Saat itu kedua orang ini sudah bertempur sampai tiga puluh jurus! Sungguh hebat! Tiga puluh
jurus seperti tidak terasa! Dan kini kentara sekali bagaimana Kalingundil terdesak hebat.
Bagaimanapun Kalingundil mempercepat jurus-jurus permainan silatnya, bagaimanapun dia
merobah gerakan-gerakannya dan mengamuk laksana banteng terluka, namun tetap saja dia berada
dibawah angin, malahan kini terdesak ke arah rawa-rawa maut!
“Ha... ha.... rupanya jalan ke nerakamu harus melalui rawa-rawa maut ini, Kalingundil!”.
“Budak hina dina jangan ngaco! Sambut bintang silumanku ini!”.
Sambil melompat jauh, dengan masih memegang pedang buntung, Kalingundil gunakan
tangan kirinya untuk mengirimkan selusin benda berbentuk bintang yang berwarna biru ke
arah lawannya.
“Akh... mainan anak-anak ini kenapa musti dipertontonkan?!” ejek pendekar 212.
Tangan kanannya diputar ke udara. Serangkum angin puyuh menggebubu dan bintangbintang
siluman itupun berhamburanlah kian ke mari tiada mengenai sasarannya.
Pada detik gunakan tangannya untuk menyambuti senjata rahasia
lawan maka kesempatan ini dipergunakan oleh Kalingundil untuk melompat ke seberang
rawa-rawa kecil.
“Kucing dapur! Kau mau lari ke mana....?!” teriak .
Sebagai jawaban Kalingundil lemparkan segulung benda putih ke arah pendekar 212.
Mulanya Wiro menyangka benda itu sebuah senjata rahasia, tapi ketika diketahuinya hanya
secarik kertas putih yang digulung maka segera ditangkapnya dan di saat itu pula
Kalingundil pergunakan kesempatan sekali lagi untuk melompat jauh lalu dengan ilmu
larinya yang lihay ditinggalkannya tempat itu.
Wiro tidak punya maksud untuk mengejar laki-laki bertangan buntung itu. Dengan
penuh tanda tanya dibukanya gulungan kertas di tangannya. Ternyata selembar surat yang
ditujukan oleh Kalingundil kepadanya.
Cacat di tubuhku tak akan terlupa seumur hidup. Kematian
kawan-kawanku dan kematian Mahesa Birawa tak akan
terlupa selama hayat. Semua itu kau yang menjadi biang
sebab.
Hari pembalasan akan tiba! Berani berbuat berani tanggung
jawab!
Hari tiga belas bulan dua belas kutunggu kau di puncak
Gunung Tangkuban Perahu. Kalau kau tak punya nyali
untuk datang lebih baik bunuh diri sekarang juga!
Pendekar 212 penasaran sekali. Diremasnya surat itu. “Sialan betul kucing dapur
itu!,” gerendang . Dia lari ke bukit. Namun bayangan Kalingundil sudah tak
kelihatan lagi.
Tantangan yang dibuat Kalingundil di Rawasumpang itu hanyalah sekedar untuk
menjajaki sampai di mana kehebatan ilmu silat silumannya bisa menghadapi musuh
besarnya itu. Nyatanya masih tetap jauh lebih digjaya dari dia. Namun dia
tidak kecewa. Pada hari yang telah direncanakannya itu, kelak dendam kesumatnya akan
kesampaian. Dan sekaligus di Rawasumpang itu dia te!ah menyampaikan surat undangan
kematian bagi musuh besamya itu. Dia yakin pendekar 212 akan datang ke puncak Gunung
Tangkuban Perahu!
-- == 0O0 == --
SEMBILAN
PUNCAK Gunung Halimun….
Puncak gunung ini kelihatan diselimuti awan putih. Bila angin barat bertiup maka beraraklah
awan itu kejurusan timur dan Puncak Gunang Halimun kembali kelihatan dengan jelas dan megah.
Selewatnya tengahari, sesosok tubuh berlari laksana angin, menuju ke puncak gunung.
Semakin ke puncak udara semakin sejuk serta segar. Laki-laki itu mempercepat larinya seakan-akan
tak sabar untuk lekas-lekas sampai ke tempat yang ditujunya. Maka lewat sepeminuman teh
sarnpailah dia ke puncak tertinggi dari gunung itu.
Dia memandang berkeliling. Kernana mata memandang hanya bebatuan saja yang
kelihatan. Mulai dari kerikil-kerikil kecil sampai kepada unggukan-unggukan batu besar sebesarbesar
rumah! Di kaki-kaki batu-batu besar yang rata-rata licin berlumut itu tumbuh rumput-rumput
liar. Laki-laki itu bertangan bunting. Dia tak lain adalah Kalingundil. Mengapa dia berada di puncak
gunung ini ialah dalam meneruskan rencana besarnya yaitu membalaskan dendam kesumat terhadap
pendekar 212 .



Kalingundil dengan gerakan yang enteng melompat ke salah satu batu besar. Seseorang yang
tidak memiliki ilmu meringani tubuh yang ampuh pasti tak akan sanggup mernbuat lompatan lihay
itu, kalaupun dapat mungkin begitu menginjak batu, kakinya akan terpeleset karena lincinnya lumut!
Kalingundil memandang keseantero puncak gunung yang telah mati itu. Di antara unggukanunggukan
batu-batu rnaka di tengah-tengah kelihatanlah kawah yang besar yang sudah padam.
Kawah ini berbentuk kerucut dan dalarn sekali. Kalingundil melompat lagi ke batu besar
yang lebih tinggi. Sekali lagi dilayangkannya pandangannya ke seantero puncak gunung. Bila dia
sudah yakin betul bahwa tempat kediaman orang yang hendak ditemuinya itu bukalah di permukaan
puncak gunung maka segeralah dia melompat ke tepi kawah. Dari sini dia terus turun ke dalam
kawah.
Selain dalam, kawah Gunung Halimun sukar sekali untuk dituruni. Tapi Kalingundil dengan
cekatannya lompat sana lompat sini sehingga dalam waktu yang singkat dia sudah berada di
dasar kawah.
Udara di dalam dasar kawah gunung ini pengap dan menyesakkan pernafasan. Karenanya
Kalingundil segera atur jalan nafasnya. Begitu dirinya dapat menguasai kepengapan, itu maka dia
segera meneliti keadaan dasar kawah di mana dia berada. Luas dasar kawah yang merupakan pusat
kerucut itu hanya beberapa kali lebih besar dari sebuah sumur. Seluruh dasar kawah merupakan pasir
campur tanah yang sudah membeku den mengeras selama berabad-abad sesudah gunung itu meletus.
Putaran bola mata Kalingundil terhenti pada sebuah lobang yang besarnya selebar bahu manusia.
Laki-laki ini segera mendekati lobang itu. Menelitinya sesaat lalu tanpa ragu-ragu segera
memasukinya. Mula-mula dia hanya bisa merangkak. Tapi semakin ke dalam lobang itu semakin
besar sehingga dari merangkak kini dia dapat membungkuk-bungkuk dan akhirnya berjalan seperti
biasa.
Kalingundil sampai ke sebuah ruang empat persegi berdindingkan batu-batu hitam yang kasar.
Dari keempat sudut ruangan ini keluar empat liukan asap tipis yang berwarna hitam. Begitu,
hidungnya mencium bau yang disebar oleh asap ini mendadak sontak kepala Kalingundil menjadi
pusing. Cepat-cepat Kalingundil kerahkan tenaga dalam dan tutup jalan nafasnya.
Kalingundil tahu bahwa ruangan batu itu bukanlah ruangan buntu. Tapi matanya tiada melihat
adanya pintu atau sebuah celahpun. Laki-laki ini menengadah ke atas. Maka kelihatanlah di langitlangit
ruangan sebuah liang tangga batu. Dia memandang berkeliling lalu enjot kedua kaki dan
melompat ke tepi liang, terus menaiki tangga batu. Anehnya, bagaimanapun tingginya ilmu
mengentengi tubuh yang dimilikinya namun setiap iangkah yang dibuatnya di tangga batu itu berbunyi
dan bergema keras!



Begitu sampai di anak tangga yang teratas maka sampailah Kalingundil ke satu ruangan putih
yang sangat bersih. Demikian bersih dan berkilatan putihnya dinding-dinding serta lantai dan langitlangit
ruangan itu, sehingga tak ubahnya seperti berada di satu ruangan kaca.
Tepat di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah batu besar dan di atas batu besar ini sesosok
tubuh laksana patung tengah bersemedi jungkir balik, kaki ke atas kepala ke bawah di atas batu. Sosok
tubuh ini mengenakan sehelai kain putih yang dibalutkart sekujur badan mulai dari betis sampai ke
dada. Kepala dan paras orang yang bersemedi tiada kelihatan karena tertutup oleh janggut putih yang
panjang, hampir menyamai panjangnya rambut yang menjulai di lantai dan juga berwarna putih!
Sungguh hebat cara manusia ini bersemedi!
Namun pandangan Kalingundil segera terbagi pada seekor harimau besar belang tiga yang
berbaring di samping laki-laki yang tengah bersemedi. Begitu melihat kemunculan Kalingundil,
makhluk ini berdiri dan menggereng. Mututnya membuka lebar. Gigi dan taringnya kelihatan besarbesar
serta runcing mengerikan. Didahului dengan auman yang dahsyat dan menggetarkan ruangan
putih itu maka melompatlah binatang itu. Kedua kaki terpentang ke muka, kuku-kuku yang tajam dan
panjang siap merobek tubuh Kalingundil!
Kalingundil yang maklum bahwa harimau itu bukan binatang biasa tapi peliharaan seorang
sakti dengan cepat segera melompat ke samping hindarkan diri. Namun meskipun demikian
cepatnya, sang harimau lebih cepat lagi! Laksana seorang jago silat kawakan, masih melayang di udara
binatang itu putar tubuh, ekornya berkelebat!
Ekor yang panjang laksana cambuk itu menghantam bahu Kalingundil yang buntung.
Pakaiannya robek. Bahunya sakit tiada terkirakan. Kalingundil kerahkan tenaga dalam dan disaat itu
terpaksa segera melompat pula ke samping karena si belang sudah menyerangnya kembali!
Hanya dengan berkelabat-kelabat cepat dan sigaplah maka Kalingundil berhasil mengelakkan
setiap serangan. Dia menghitung-hitung, sampai saat itu telah dua puluh jurus dia bertempur
menghadapi sang harimau. Dan selama itu Kalingundil terus-terusan bersikap mengelak, sama sekali
tak mau menyerang! Kalau dia mengelak terus, di satu ketika mungkin sekali harirmau itu berhasil
juga mengoyak daging tubuhnya! Kalau dia melawan, sedangkan binatang itu adalah peliharaan orang
sakti dengan siapa dia ingin bertemu dan bicara! Inilah yang menyulitkan Kalingundil! Dan sementara
dia bertempur demikian rupa, orang yang bersemedi masih juga terus bersemedi, seperti tiada
terganggu, seperti tak mengetahui adanya pertempuran yang dahsyat itu!
Satu-satunya jalan bagi Kalingundil untuk tidak mendapat celaka dan tidak mencelakai ialah
meninggalkan ruangan putih itu, menghindar keluar untuk sementara, menunggu sampai orang yang
bersemedi menyelesaikan semedinya.



Maka ketika harimau itu mengaum dan menyerang, Kalingundil jatuhkan diri ke lantai lalu
bergulingan ke arah tangga. Pada saat harimau itu hendak menubruknya sekali lagi. Kalingundil sudah
lenyap ke bawah tangga…
Telah tiga hari Kalingundil menunggu di dasar kawah itu. Telah tiga kali pula dia masuk ke
dalam ruang putih dan mengintai dari balik anak tangga teratas, namun sampai saat itu orang yang
bersemedi masih juga belum meninggalkan batu persemediannya.
Menunggu sampai satu minggupun bagi Kalingundil bukan suatu apa, tapi yang
menyusahkannya ialah untuk mendapatkan bahan makanan selama hari-hari penungguan itu.
Empat hari kemudian, pada kali yang ke tujuh Kalingundil mengintai dari balik anak tangga,
orang itu dilihatnya masih juga bersemedi. Dengan hati kesal Kalingundil menuruni tangga kembali.
Tapi begitu dia keluar dari liang tangga dan sampai di ruang bawah maka mendadak terdengar suara
menggema dari ruang putih.
“Manusia yang berani-beranian menginjakkan kaki kotor di tempatku cepat datang
menghadap untuk terima hukuman!”.
Terkesiap Kalingundil mendengar ini.
“Ayo cepat! Tunggu apa lagi?!,” kata suara dari ruang putih.
Kalingundil memutar langkahnya kembali. Dalam melangkah kembali ke liang tangga,
terdengar lagi suara tadi.
“Hemm… seorang bertangan buntung macammu sungguh tak pantas masuk ke tempatku!
Hukumanmu lipat ganda hai manusia!”.
Tentu saja Kalingundil terkejut mendengar ini. Bagaimana orang di dalam ruangan putih itu
bisa mengetahui bahwa tubuhnya cacat? Meski dia sakti luar biasa tapi mereka belum pernah bertemu
muka dan tak mungkin menurut pikiran Kalingundil orang itu mengetahui hal keadaan dirinya!
Kalingundil lupa bahwa dinding dan langit-langit ruangan putih di atas sana tak ubahnya seperti kaca
sehingga orang yang ada di ruangan putih akan mudah melihat siapa saja yang ada di ruang bawah!
Kalingundil melompat ke atas dengan gerakan enteng lalu menaiki tangga. Ketika dia muncul
di ruangan putih anehnya harimau yang berbaring tidak lagi menyerangnya. Sedang manusia
berselempang kain putih masih tetap berdiri dengan kepala di atas batu kaki ke atas! Seperti hari-hari
sebelumnya parasnya masih tertutup oleh julaian janggut putihnya yang panjang menjela-jela.
Meski. harimau belang tiga itu tidak rnenyerangnya, namun Kalingundil berdiri dengan
waspada. “Kau siapa?!” membentak si kepala ke bawah kaki ke atas.
“Namaku Kalingundil. Apakah saat ini aku berhadapan dengan Begawan
Sitaraga?,” tanyaKalingundil setelah terangkan dia punya nama.
Yang ditanya tak menjawab melainkan ajukan pertanyaan: “Perlu apa kau datang
mengotori tempatku ini, manusia tangan buntung?!”.
“Harap dimaafkan kalau kedatanganku rnengotori tempatmu. Tapi sesungguhnya
aku tiada maksud demikian,” kata Kalingundil pula. “Aku...”
“Sudah! Jangan berbacot juga! Melangkahlah lebih dekat untuk terima
hukumanmu!”.
Sebaliknya justru Kalingundil hentikan langkah. Diperhatikannya manusia yang
berdiri jungkir balik di atas batu itu.
“Melangkah lebih dekat!” bentak orang itu. Suaranya menggaung di ruangan putih
sedang harimau di sampingnya menggeram tak kalah hebat. “Begawan…”.
Kalingundil putuskan kalimatnya. Kaki kiri manusia dihadapannya dilihatnya
bergerak. Serangkum angin yang sangat deras melanda ke arah Kalingundil. Ruangan itu
bergetar. Dengan jungkir balik secepat yang bisa dilakukannya Kalingundil berhasil
elakkan serangan dahsyat itu!
Terdengar suara gelak mengekeh. “Pantas... pantas kau berani petatang peteteng
datang ke sini untuk bikin kotor tempatku. Rupanya kau memiliki ilmu yang diandalkan
juga! Aku mau lihat apakah kau juga sanggup mempertahankan diri dengan jurus kaki
selaksa baja ini?!”.
Kepala yang di atas batu itu berputar. Kedua kaki bergerak. Tahu kalau dirinya
hendak diserang lagi dengan tendangan jarak jauh yang lebih dahsyat dari tadi,
Kalingundil cepat mendahului berseru.
“Begawan! Tahan! Aku datang membawa kabar untukmu!”.
Oleh ucapan yang lantang ini maka orang. itu hentikan maksudnya untuk kirimkan
serangan: “Aku tidak kenal padamu! Kabar apa yang kau bawa?! Cepat katakan!”
hardiknya. Dia masih juga berdiri, dengan kepala ke bawah kaki ke atas seperti tadi.
“Kabar ini kabar buruk Begawan…”
“Sialan! Buruk atau baik cepat katakan! Jangan habiskan, kesabaranku monyet
alas!”
Kalingundil pada dasarnya sangat tidak senang mendengar kata-kata makian seperti
itu. Namun dia menjawab juga. “Sobat kentalmu Mahesa Birawa menemui kematiannya di
tangan seorang manusia keparat…”
Tubuh di atas batu kelihatan bergerak dan tahu-tahu manusia itu kini sudah tegak
dengan kedua kakinya di atas batu. Maka kini kelihatannya parasnya yang sejak tadi
tertutup oleh geraian janggut putih panjang. Kulit mukanya sangat pucat seperti tiada
berdarah. Pipinya cekung dan rongga matanya lebih cekung lagi membuat wajahnya
angker sekali untuk dipandang. Rambutnya putih panjang sampai ke bahu sedang
janggutnya menjulai sampai ke perut.
Kalingundil menjura memberi hormat. “Jadi betul saat ini aku berhadapan dengan
Begawan Sitaraga..?” tanyanya.
Si muka pucat. tidak ambil perduli pertanyaan itu.
“Siapa yang bunuh dia dan dari mana kau bisa tahu?!”
Kalingundil segera buka mulut berikan keterangan. “Mahesa Birawa dan beberapa
orang Adipati memimpin sejumlah batatentara untuk memerangi Pajajaran. Tapi mereka kalah.
Semua Adipati menemui ajalnya. Mahesa Birawa sendiri tewas di tangan seorang pemuda sakti “
Maka kelihatanlah kerutan-kerutan muncul di paras Begawan Sitaraga yang membuat
parasnya menjadi tambah angker. Kedua matanya menyipit, pandangannya setajam mata pedang!
Rencana untuk memerangi Pajajaran memang dia sudah tahu lama bahkan sebagaimana
perundingannya dengan Mahesa Birawa, dia sendiri telah menjanjikan akan turun tangan membantu
pemberontakan Mahesa Birawa karena memang sejak lama dia mempunyai dendam kesumat dengan
keluarga istana Pajajaran! Di puncak Gunung Halimun dia hanya menunggu kabar dari Mahesa
Birawa kapan penyerangan dilakukan. Tapi hari ini datang seseorang yang membawa kabar bahwa
pemberontakan gagal dan Mahesa Birawa sendiri menemui kematian! Tehtu saja ini tak bisa
dipercayainya.
“Aku tidak percaya pada kau punya bicara, manusia tangan buntung!” bentak Begawan
Sitaraga.
“Demi apapun aku berani sumpah bahwa aku tidak dusta, Begawan” jawab Kalingundil
dengan suara merendah meskipun hatinya gusar karena dipanggil dengan nama “manusia tangan
buntung” itu.
“Namamu siapa…”
“Kalingundil”.
“Punya hubungan apa kau dengan Mahesa B irawa?”.
“Dia adalah pemimpin dan sobat kentalku sejak tahunan, Begawan…”
“Baik! Tapi aku tidak tahu apa itu betul atau tidak. Jawab pertanyaanku untuk membuktikan
kebenaran keteranganmu! Siapa nama Mahesa Birawa sebenarnya…?”.
Kalingundil tertawa. “Kau keliwat tidak percaya pada pihak sendiri, Begawan…”.
“Siapa akui kau pihakku...? Tampangmu yang jelek inipun baru kali ini aku lihat!”.
Kalingundil menggerutu dalam hati.
“Ayo jawab pertanyaanku! Siapa nama asli Mahesa Birawa?!”.
“Suranyali!” jawab Kalingundil.
“Hem…” Sitaraga merenung, “Mahesa Birawa seorang berkepandaian tinggi. Tidak semudah
itu untuk merenggut nyawanya…”
“Di luar langit ada langit lagi Begawan! Kesaktian pemuda tandingannya melebihi kesaktiannya…”.
Begawan Sitaraga kerutkan kening.
Dan Kalingundil teruskan ucapannya. “Aku sendiri pernah menghadapinya. Masih untung
cuma tanganku yang dimintanya, bukan nyawaku!”
“Ho-o… jadi maksudmu datang ke sini untuk mengadu dan merengek macam anak kecil agar
aku turun tangan…?”.
Merah muka Kalingundil. “Itu adalah terserah padamu Begawan. Sebagai sobat dan bekas
pemimpinku, aku telah cari pemuda yang membunuh Mahesa Birawa. Namun dia lebih tinggi ilmu
silatnya dan lebih tinggi…”.
“Siapa nama bangs*t itu?!” tanya Sitaraga pula.
“. Tapi dia lebih dikenal dengan julukan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212...”
Mendengar ini maka terkejutlah Begawan Sitaraga. “Kau bilang dia bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212…?”.
“Ya…”
“Kalau begitu dia adalah nenek-nenek keriput si Sinto Gendeng!”.
“Tidak... dia adalah seorang pemuda. Masih sangat muda, bahkan tampangnya macam anakanak, berambut gondrong dan berotak miring sinting!”
Sitaraga merenung lagi. Kemudian desisnya: “Kalau begitu mungkin sekali dia adalah murid nenek-nenek itu yang diam di puncak Gunung Gede. Tapi setahuku Sinto Gendeng tidak punya murid sejak puluhan tahun berselang…” Sitaraga tarik nafas dalam. “Kalau betul dia murid Sinto Gendeng, tidak salah Mahesa Birawa dipecundangi…” Sitaraga memandang jauh ke muka seperti pandangannya itu mau menembus dinding putih di belakang Kalingundil.
Melihat ini maka Kalingundil mulai masukkan jarum hasutannya. “Sewaktu aku bertempur dengan dia di Rawasumpang aku beri peringatan bahwa kelak sobat-sobat Mahesa Birawa yang terdiri dari tokoh-tokoh silat utama akan turun tangan untuk menuntut balas. Dan mengumbar bahwa terhadap siapapun dia tidak takut! Bahkan dia menantang untuk bikin perhitungan di puncak
Gunung Tangkuban Perahu pada hari tigabelas bulan duabelas nanti!”.
Mata Begawan Sitaraga menyipit lagi. “Pongah betul,” desisnya. “Rupanya sudah kepingin cepat-cepat merasakan gelapnya liang kubur! Sudah cepat-cepat ingin minggat ke neraka!”.
“Betul Begawan. Bukan saja kepongahannya itu yang menyakitkan hati, tapi tantangannya itu adalah juga sangat menghina dan tiada memandang sebelah matapun terhadap tokoh-tokoh silat utama macam Begawan....”.
Sitaraga manggut-manggut. “Manusia-manusia macam begitu musti dilenyapkan dengan lekas. Kalau tidak akan menjadi biang runyam golongan dan aliran kita....”
Hati Kalingundil menjadi gembira karena tahu hasutannya sudah menyamaki dan mengobari dendam serta amarah Begawan itu.
“Tantangan itu...,” kata Kalingundil pula meneruskan hasutannya, “sekaligus menghina terhadap guru Mahesa Birawa yang diam di Gunung Lawu... Aku bermaksud untuk menemuinya dan meminta langkah-langkah yang segera akan kita laksanakan”.
“Kalau cuma untuk memecahkan batok kepala pemuda sedeng itu, aku sendiripun menyanggupinya!”
IZRO'IL
Dendam Orang-Orang Sakti


“Betul Begawan. Tapi untuk tidak mengecewa kan guru Mahesa Birawa di kemudian hari, ada baiknya kematian muridnya itu diberi tahu...''
“ltu urusanmu,” jawab Sitaraga. Matanya. memandang tepat-tepat ke pinggang Kalingundil.
Sesungguhnya sejak tadi matanya itu memperhatikan secara diam-diam ke pinggang Kalingundil.
“Coba aku mau lihat apa yang kau simpan di balik pinggangmu,” katanya tiba-tiba.
Kalingundil kaget sekali. Dia melirik ke pinggangnya. Dia telah menyimpan senjatanya baikbaik namun mata Sitaraga yang tajam masih sanggup mengetahuinya.
“Ah, tidak apa-apa Begawan. Cuma…”
“Cuma apa?!” Sitaraga pelototkan mata.
“Cuma sebilah pedang buruk…” sahut Kalingundil.
“Keluarkan!”
“Begawan....”
“Jangan banyak bicara. Keluarkan!”
Kalau bukan berhadapan dengan Begawan Sitaraga dan kalau tidak mengingat kepada rencana besarnya, maka pastilah saat itu Kalingundil akan beset mulut manusia yang dihadapannya itu. Dia memang mengharapkan bantuan Sitaraga tapi kalau dirinya dianggap remeh terus menerus dan dihina dimaki serta dibentak, siapa yang bisa sabarkan diri?! .
“Kau membangkang Kalingundil?!”
Penasaran sekali Kalingundil cabut Pedang Siluman buntungnya. Maka sinar birupun memancarlah di ruangan putih itu. Begawan Sitaraga terkejut.
“Pedang Siluman Biru..,” desisnya. Dia di samping terkejut juga heran melihat pedang
sakti itu kini hanya merupakan sebuah puntungan belaka. “Dari mana kau dapat senjata itu?
Bagaimana bisa buntung? Apakah kau muridnya Siluman Biru?!”
Kalingundil menyeringai mendengar pertanyaan-pertanyaan menyerocos itu. “Itu semua adalah urusanku Begawan. Yang penting hari ini kita telah berjumpa dan kau telah mengetahui nasib Mahesa Birawa. Sampai bertemu di puncak Gunung Tangkuban Perahu!”.
Kalingundil berkelebat ke arah tangga.
“Tunggu!” teriak Sitaraga.
Tapi Kalingundil tak mau ambil perduli.
Maka marahlah Begawan Sitaraga. “Kalau tidak memikir kau bekas anak buah Mahesa Birawa, sudah terlalu pantas aku minta nyawamu, Kalingundil! Tapi saat ini cukup kau tinggalkan saja salah satu dari daun telingamu!”
Sebuah senjata rahasia melesat ke arah telinga kanan Kalingundil. Laki-laki ini segera lambaikan tangan kirinya. Tapi celaka senjata rahasia itu tak sanggup dibuat mental dengan pukulan tenaga dalam! Terpaksa Kalingundil cabut pedang saktinya kembali. Namun gerakanini tentu saja sudah terlambat!
Kalingundil mengeluh kesakitan. Darah membasahi pipi dan bahu pakaiannya. Daun telinganya sebelah kanan terbabat buntung oleh senjata rahasia Sitaraga! Kalau tidak mengingat-ingat akan rencana pembalasan dendamnya, maulah Kalingundil menyerang Begawan itu dengan kalap, lebih-lebih ketika didengarnya kekehandak Sitaraga yang menusuk liang telinganya!
Dalam waktu yang singkat Kalingundil sudah berada di luar Kawah Gunung Halimun.
Dibersihkannya darah yang membasahi pipi kemudian dengan sehelai kain dibalutnya kepalanya tepat pada batasan telinga yang buntung. Kemudian diambilnya sebuah pil lalu ditelan untuk menolak racun senjata rahasia Sitaraga itu.
Di dasar kawah Gunung Halimun, tak lama sesudah Kalingundil lenyap, kembali Sitaraga merenung.
Siapa Kalingundil sebenarnya masih agak samar baginya. Tapi itu tidak begitu penting.
Yang menjadi tanda tanya besar ialah siapa itu pemuda yang bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212? Apa betul murid Sinto Gendeng? Kalau Kalingundil telah menghadapinya dengan Pedang Siluman dan berhasil dikalahkan oleh si pemuda, maka sudah dapat dijajaki oleh Sitaraga sampai di mana ketinggian ilmu pendekar 212 itu! Ini membuat dia ingin lekas-lekas
berhadapan dengan sang pendekar muda. Namun dia musti menunggu beberapa bulan di muka sampai saat yang ditentukan yaitu hari tigabelas bulan duabelas!
* * *
SIAPA penduduk desa bukit tunggul yang tidak tahu dengan Asih Permani. Tanyakan pada
yang tua-tua, mereka akan tahu, tanyakan pada yang muda-muda mereka akan lebih dari tahu.
Tanyakan pada anak-anak kecil yang mengangon bebek atau menggembala kerbau, mereka juga akan tahu. Jika.ditanyakan bagaimana paras Asih Permani maka semua mulut akan memuji. Semua mulut akan mengatakan: Asih Permani gadis yang tercantik se-Bukit Tunggul. Mukanya bujur telur.
Hidungnya kecil mancung bak daun tunggal. Bibirnya seperti delima merekah, merah dan segar.
Matanya bening bercahaya laksana bintang di angkasa raya. Dagunya seperti lebah bergantung, leher jenjang dan suaranya halus merdu, serasa digelitik liang telinga jika kita mendengar suara Asih Permani. Dan keseluruhan tubuhnya yang montok padat itu dibungkus oleh kulit yang halus mulus.
Asih Permani memang cantik seperti perbandingan di atas. Kawannya sesama gadis di desa
Bukit Tunggul banyak yang merasa iri dengan kecantikan yang dimiliki gadis itu. Pemuda-pemuda banyak yang tergila. Tapi semua mereka bertepuk sebelah tangan. Karena pada bulan di muka, tepat di
waktu bulan rembulan empat belas hari. Asih Permani akan dinikahkan dengan Ranggasastra, anak lurah Bukit Tunggul. Memang di samping kaya raya, banyak harta dan sawah berlimpah kerbau berkandang, maka Ranggasastra cocok dan pantas menjadi suami Asih Permani. Pemuda ini gagah.
Badannya tegap, hatinya polos dan ramah kepada setiap orang. Sehingga kalau bersanding dengan Asih Permani di pelaminan nanti tentulah tak ubahnya seperti pinang dibelah dua!
Semakin lama, semakin dekat juga hari pernikahan itu. Tentu sama dapat dibayangkan
bagaimana perasaan kedua calon pengantin itu menjelang hari perkawinan mereka. Hari yang
bersejarah dan tak dilupakan seumur hidup mereka. Hari di mana mereka akan sama-sama membuka suatu “rahasia kebahagiaan hidup”.
Saat itu Ranggasastra tengah duduk-duduk di depan rumahnya memandangi bintang-bintang
yang bertaburan. Entah mengapa malam itu hatinya gelisah saja. Dan dia tak tahu apa sebenarnya yang digelisahkannya itu. Larut matam baru dia dapat tertidur. Tapi menjelang fajar dia tersentak.
Ranggasastra adalah seorang yang pernah menuntut ilmu silat dan kesaktian pada seorang guru di pantai utara. Nalurinya menyatakan bahwa ada seseorang lain di dalam kamarnya saat itu. Dibukanyakedua kelopak matanya. Dia terkejut melihat sesosok tubuh manusia sangat kate berdiri dekat tempat tidur. Manusia ini berkepala botak sudah licin berkilat ditimpa kelap-kelip sinar lampu pelita dalam kamar.
Manusia kate ini memiliki hidung yang sangat besar. Hidungnya yang besar itu seperti
mau menutupi mukanya yang kecil. Ketika dia menyeringai dan mengeluarkan suara
mendesau, maka kelihatanlah giginya yang cuma satu di sebelah atas.
Ranggasastra segera melompat dari tempat tidur.
“Manusia kate! Siapa kau?!” bentak si pemuda. Matanya meneliti manusia dihadapannya dengan tajam. Dan meskipun cahaya lampu minyak di dalam kamar tidak begitu terang, namun Ranggasastra dapat melihat bahwa manusia kate itu mempunyai telapak kaki yang lebar dan besar sekali. Tapak kaki itu sampai sebatas mata kaki sama sekali tidak merupakan tapak kaki manusia, tapi seperti kaki seekor gajah!
“He... he... he…”. Manusia kate berkaki besar tertawa berkemik. “Kau manusianya
yang bernama Ranggasastra, yang bakal jadi penganten minggu depan...?!”.
Tentu saja apa yang ditanyakan manusia itu, mengejutkan Ranggasastra. “Itu bukan
urusanmu! Jawab dulu siapa kau!”
“He... he... he…”. Tamu tak diundang itu mengekeh lagi. “Maksudmu untuk menjadi
penganten, untuk menjadi suami Asih Permani tidak akan kesampaian Ranggasastra...!”.
“Manusia kate, jangan ngaco pagi-pagi buta!,” bentak Ranggasastra dengan marah.
“Keluar dari kamarku!”. Pemuda itu kepalkan tinjunya.
“Kau tak akan pernah menjamah tubuh Asih Permani, anak muda. Karena mulai detik
ini ke atas, dia adalah milikku dan akan kubawa ke mana aku suka, akan kuperbuat apa aku
senang!”. Manusia kate ini mengekeh lagi.
“Kalau kau mau mengigau, pergilah mengigau di liang kubur!”. Habis berkata
demikian Ranggasastra menerjang ke muka. Tinju kanannya menderu! Tapi dia hanya
memukul tempat kosong. Hampir tak terlihat oleh matanya, manusia kate itu telah berkelebat
dan lenyap dari pemandangannya!
Tinggal seorang diri di dalam kamar Ranggasastra merasa seperti orang yang tertidur
dan tersentak oleh mimpi. Digosok-gosoknya kedua matanya dengan telapak tangan berulang
kali. Tidak, dia tidak mimpi! Dia yakin betul bahwa dia tidak mimpi! Dan ketika dia
memandang ke lantai kamar yang terbuat dari papan, maka pada lantai itu jelas dilihatnya
bekas-bekas telapak kaki manusia kate tadi.
Ketika ingat akan ucapan-ucapan orang kate berkepala sulah tadi maka khawatirlah
Ranggasastra. Segera dijangkaunya tongkat besi berujung runcing yang tersisip di dinding.
Senjata ini adalah pemberian gurunya. Tanpa menunggu lebih lama, pemuda ini segera
tinggalkan rumahnya menuju ke desa sebelah timur di mana terletak rumah orang tua Asih
Permani.
Sepuluh tombak akan sampai ke halaman muka rumah gadis calon isterinya, mendadak
Ranggasastra melihat sesosok tubuh melompat keluar dari jendela samping rumah! Sosok
tubuh ini tak lain dari manusia kate yang telah mendatanginya tadi. Dan pada bahu manusia itu
kelihatan sosok tubuh seorang perempuan. Meskipun halaman samping gelap tapi
Ranggasastra tahu betul, perempuan yang dipanggul itu adalah calon isterinya. Asih Permani!
“bangs*t rendah! Pencuri busak! Lepaskan perempuan itu!,” bentak Ranggasastra.
Si kate kepala sulah tertawa dingin. “Sekali aku bilang bahwa gadis ini jadi milikku,
tak satu manusia lainpun yang bisa menghalanginya!”.
“Kalau begitu terpaksa kukermus kepalamu!”. Maka tongkat besi di tangan
Ranggasastra menderu ke kepala si kate. Gesit sekali yang diserang melompat ke samping.
Ranggasastra susul dengan satu tusukan ke dada kiri. Namun dengan kecepatan yang luar
biasa orang kate itu gerakkan kaki kanannya!
Tendangan yang keras menghajar tangan kanan si pemuda. Besi panjangnya lepas.
Tangannya hancur dan jeritan kesakitan keluar dari mulut Ranggasastra. Pemuda ini
terhuyung sebentar lalu mental sampai beberapa tombak ketika tendangan lawan terus
menyerempet perutnya! Perut si pemuda robek besar. Tubuhnya menggeletak tanpa nyawa.
Si kate tertawa buruk.
“Maling hina dina!! Nyawamu di ujung golokku!” teriak seseorang yang melompat
dari dalam rumah lewat jendela.
Si kate berkepala botak cepat putar badan pada saat sebuah golok berkiblat memapasi
batok kepalanya!
“He... he... Kau juga inginkan mampus Ki Lurah!” ujar si kate. Manusia yang
menyerangnya itu adalah Tanuwira, ayah Asih Permani.
“Kau yang akan mampus lebih dahulu manusia laknat!”. Golok Tanuwira berkelebat
lagi. Tapi si kate sungguh luar biasa. Serangan itu dihadapinya dengan tertawa tawar. Sekali
dia gerakkan kaki kanannya maka hancurlah dada Ki Lurah Tanuwira.
Si kate tertawa mengekeh.
“Calon mantu dan calon mertua sama-sama bernasib sial! Kasihan…”. Dihirupnya
udara segar menjelang pagi itu sejurus lenyaplah dia dari tempat itu.

KETIKA dia sampai kepertapaannya di puncak Gunung Lawu maka terkejutlah
manusia kate berkepala botak itu sewaktu melihat ada seorang bertangan buntung yang tak
dikenalnya berdiri dekat pintu. Orang yang bertangan buntung agaknya juga terkejut melihat
kedatangan si kepala botak yang membawa seorang gadis cantik di pundak kirinya. Tapi dia
cepat-cepat menjura.
“Pastilah saat ini aku berhadapan dengan tokoh silat terkemuka yang bernama Tapak
Gajah…”
Laki-laki kate yang memang bernama Tapak Gajah turunkan tubuh Asih Permani
dari pundaknya. Matanya meneliti tajam orang di hadapannya lalu bertanya: “Kau sendiri
siapa? Apakah datang kesini membawa maksud baik atau buruk?”. Sambil bertanya
demikian Tapak Gajah memperhatikan telinga kanan tamunya yang juga buntung tiada
berdaun.
“Namaku Kalingundil. Aku datang dengan maksud baik, tapi membawa berita
buruk”.
“Aku tidak kenal padamu sebelumnya. Berita buruk apakah yang kau bawa...?” tanya
Tapak Gajah.
Maka Kalingundil segera mulai pasang jarum penghasutnya. “Pembunuhan atas diri
seorang murid adalah satu hal yang pahit bagi gurunya! Begitu pahit sehingga menanamkan
dendam kesumat…”.
“Jangan bicara berbelit!,” potong Tapak Gajah. “Katakan langsung berita buruk itu!”
“Muridmu dibunuh orang, Tapak Gajah…”
Berubahlah paras si tubuh kate kepala sulah. Sedang Kalingundil saat itu melirik
memperhatikan Asih Permani yang berdiri tak bergerak, “Pastilah tubuhnya ditotok'', pikir
Kalingundil dan dalam hatinya dia bertanya-tanya: “Siapa gerangan gadis cantik ini…”.
Sesak nafas Kalingundil melihat kejelitaan Asih Permani.
“Aku mempunyai beberapa orang murid yang telah turun ke dalam rimba persilatan.
Murid yang mana yang kau maksudkan?!” tanya Tapak Gajah.
Kalingundil memalingkan mukanya kepada laki-laki itu kembali. “Mahesa Birawa...”
“Aku tak punya murid bernama Mahesa Birawa!” berkata Tapak Gajah.
Kalingundil kaget. Dia berpikir-pikir seketika. Kemudian dia ingat. “Maksudku
muridmu Suranyali…”
Sekali lagi berubah paras Tapak Gajah. Di hatinya timbul kesyakwasangkaan.
“Apakah kau bicara, ngelantur atau bagaimana...?”.
“Demi setan dan iblis aku tidak bicara dusta, Tapak Gajah!”.
“Suranyali bukan manusia sembarangan. Ilmu kesaktiannya tinggi!”
“Tapi manusia yang membunuhnya lebih sakti lagi!”.
“Siapa ?!”
“Pendekar 212....”.
Tapak Gajah merenung. Kedua tangannya terkepal. “Kau dusta Pendekar 212 Sinto
Gendeng sudah sejak puluhan tahun lenyapkan diri dari dunia persilatan!”.
“Tapi....”
“Tutup mulut! Terima hukuman dariku bangs*t bermulut bohong!”.
Tapak Gadjah hantamkan kaki tangannya ke muka.
“Wutt !”
Angin sedahsyat badai yang ke luar dari tendangan itu lebih dahulu menyerang ke
arah Kalingudil sebelum tendangannya sendiri sampai !
Kalingundil tak mau ambil risiko. Dia berteriak nyaring dan lompat delapan tombak
ke udara.
“Byur!”
Kaligundil palingkan kepala ke belakang. Tersekat rasanya tenggorokannya sewaktu
melihat bagaimana angin tendangan Tapak Gadjah menghancurkan batu besar di
belakangnya!
Sewaktu manusia kate itu hendak lancarkan serangan kedua Kalingundi cepat
berseru: “Tahan! Kita berada di pihak yang sama!”
Tapak Gadjah tarik serangannya.
“Apa maksudmu kita di pihak yang sama huh?”
“Aku adalah bekas anak buah Suranyali sewaktu kami masih sama-sama di
Jatiwalu!”
“Jangan coba kelabui aku!,” membentak Tapak Gadjah.
“Perlu dan untung apa aku mengelabuimu!” baias membentak Kalingundil dengan
beringas.
“Berikan bukti bahwa muridku yang satu itu benar-benar dibunuh orang!”
Kalingundil tertawa dingin. “Tidak mau percaya pada orang sepihak akan merugikan
diri sendiri Tapak Luwing…” Lalu Kalingundil memberikan keterangan selengkapnya.
Kini mulai kelihatan bayangan rasa percaya di paras Tapak Gadjah. Namun apa yang
meragukannya ialah keterangan Kalingundil mengenai Pendekar 212 . Satusatunya
kesimpulan bagi Tapak Gadjah ialah bahwa pemuda bernama itu
adalah murid Sinto Gendeng.
“Golongan hitam memang sejak dulu menaruh dendam pada itu nenek-nenek
sialan…,” ujar Tapak Gadjah pula. “Tapi sebelum kami bersepakat untuk menghabiskan
jiwanya, dia sudah lenyapkan diri! Kini muridnya muncul dan membunuh muridku! Benarbenar
laknat!”
“Aku sendiri telah tantang dia di Rawasumpang demi untuk menuntut balas kematian
Suranyali atau Mahesa Birawa. Tapi… itu pemuda keparat memang luar biasa tinggi
ilmunya. Kalau aku kalah dalam pertempuran di Rawasumpang itu bukan suatu apa tapi ada
satu hal yang benar-benar menyakiti hatiku Tapak Gadjah…”
Kalingundil menunjukkan paras yang mengandung dendam. Sepasang matanya
memandang lurus-lurus jauh ke muka. .
“Katakan apa yang menyakiti hatimu itu!,” kepingin tahu Tapak Gadjah.
“Sebelum mengundurkan diri dari Rawasumpang aku bilang pada itu pemuda keparat
bahwa kelak pembalasan dari guru Sunranyali akan tiba! Pemuda itu ketawa bekakakan dan
berkata bahwa sekalipun ada seribu guru Suranyali, akan diterabasnya sama rata dengan
tanah!”
Rahang-rahang Tapak Gadjah mengembung. “Begitu keparat itu bilang…?”
Kalingundil manggut.
“Meski dia murid si Sinto Gendeng, tapi jangan merasa sudah setinggi langit
kepandaiannya! Katakan di mana bangs*t itu berada! Aku Tapak Gadjah akan pecahkan
kepalanya!”
“Kau tak perlu susah-susah mencarinya Tapak Gadjah,” menjawab Kaligundil.
“Bukankah tadi aku sudah katakan bahwa dia sudah umbar mulut menentangmu? Katanya
dia tunggu kau pada hari tigabelas bulan duabelas di puncak Gunung Tangkuban Perahu!”
“Anjing kurap betul itu manusia!”. Tapak Gadjah meludah ke tanah.
Dan Kalingundil berkata lagi: “Beberapa tokoh silat utama yang ditantang pendekar
212 itu juga telah kuberi tahu! Mereka sudah memastikan untuk datang ke Tangkuban
Perahu guna mengkeremus si pemud !”
“Seribu tokoh utama boleh datang ke sana. Namun kematian anjing kurap itu aku
yang tentukan!” Kaligundil manggut-manggut. Hatinya gembira. Memang itulah yang
diharapkannya. Sudah terbayang bagaimana akan berhasilnya dia purrya rencana nanti.
Seorang diri dia memang tak sanggup untuk menghadapi . Tapi kalau Tapak
Gadjah, Begawan Sitaraga, Wirasokananta. dan Tapak Luwing yang berkumpul jadi satu
untuk membuat perhitungan, tiga Pendekar 212-pun tak bakal sanggup!
“Aku gembira mendengar keputusanmu itu. Tapak Gadjah. Akupun pasti pula akan
datang ke puncak Tangkuban Perahu…”
Tapak Gadjah tertawa dingin. “Kalau kau punya nyali tapi punya sedikit ilmu untuk
diandalkan sebaiknya tak usah datang ke sana!”
Merah padam paras Kalingundil.
“Sekarang aku tak ada urusan lagi dengan kau! Silakan angkat kaki dari sini!” bentak
Tapak Gadjah.
Kelingundil melirik pada Asih Permani. Kemudian katanya pada Tapak Gadjah:
“Jangan terlalu memandang rendah terhadap sesama kawan Tapak Gadjah. Aku memang tidak
dikenal dalam dunia persilatan tapi untuk menghancurkan batu besar sepertimu tadi, aku
masih sanggup!”. Kalingundil gerakkan tangan kanannya ke pingaang. Kemudian selarik sinar
biru melesat ke arah batu besar yang terletak sekira sembilan tombak dari hadapannya.
“Byur!”
Batu itu hancur berkeping-keping dan bayangan Kalingundil sendiri sesudah itu lenyap
dari pemandangan!
Terkejutlah Tapak Gadjah! Tiada disangkanya kalau manusia bertangan buntung
bertelinga sumpung itu memiliki kehebatan demikian rupa! Tapi manusia kate ini tidak
berpikir lebih lama. Begitu matanya membentur paras dan tubuh Asih Permani maka lupalah
dia pada Kalingundil. Segera diboyongnya gadis itu ke dalam pertapaan. Apa yang kemudian
dilakukannya terhadap gadis suci itu tak seorang manusiapun yang tahu. Namun pada hari itu
satu kesucian telah lenyap dirampas oleh kebejatan!
-- == 0O0 == --

SEPULUH
PUNCAK gunung tangkuban perahu. Hari tigabelas bulan duabelas…
Angin dari utara bertiup kencang, mengalahkan tiupan angin barat yang menghembus
sepoi-sepoi basah. Puncak Gunung Tangkuban Perahu diselimuti kesunyian abadi. Tapi hari
itu agaknya kesunyian abadi itu akan sirna oleh kedatangan manusia-manusia pembuat perhitungan.
Akan pupus di landa dendam kesumat orang sakti! Kawah gunung yang lebar
mengepulkan tiada henti asap tipis berbau belerang.
Beberapa puluh kaki dari tepi kawah berderet pohpn-pohon cemara berdaun lebat
subur, menjulang tinggi dan lurus! Saat itu matahari pagi sudah naik tepat antara titik tertinggi
dan titik permulaan terbitnya.
Angin utara bertiup lagi dengan kencang, Daun-daun pohon cemara melambai-lambai.
Dan diantara kerisikan-kerisikan geseran daun pohon-pohon cemara itu maka terdengarlah
suara siulan yang mengumandangi seluruh puncak Gunung Tangkubanperahu. Suara siulan itu
juga seperti mau menggelegaki kawah belerang dan menampar-nampar kabut belerang yang
meliuk-liuk kepermukaan kawah. Suara siulan itu tidak teratur, tidak membawakan sebuah
lagu atau tembang, nadanya tak menentu. Namun ketidakteraturan dan ketidakmenentuan itu
anehnya bila didengar dengan seksama akan merupakan suatu lagu aneh bernada ajaib! Suara
siulan itu membuat pendengarnya akan terkatung-katung ke dalam satu dunia khayal. Tapi di
pagi yang menjelang siang itu di puncak Gunung Tangkuban Perahu itu tak satu orang pun yang
ada selain manusia yang mengeluarkan suara siulan tadi. Dan siapakah manusia ini adanya?
Suara siulan itu datang dari pohon cemara yang paling tinggi tanda bahwa manusianyapun
berada di sana. Dan manusia ini tiada lain dari pada , si Pendekar Kapak Maut Naga
Geni 212! Mengapa dia sampai berada di puncak gunung itu adalah sehubungan dengan tantangan
musuh lamanya Kalingundil. Namun pendekar muda itu sampai saat itu tak pernah menyangka bahwa
yang bakal ditemuinya di puncak gunung itu kelak bukan hanya Kalingundil seorang tapi juga
beberapa tokoh dunia persilatan yang terkenal serta sakti!
Wiro terus juga bersiul-siul sambil sekali-sekali layangkan pandangannya ke seantero puncak
gunung. Sepi dan suasana tenang-tenang saja. Dilayangkannya pandangan ke kaki dan lereng gunung.
Juga segala sesuatunya masih diselimuti kesunyian dan ketenangan. Dua kali sepeminuman teh lewat.
Telinga pendekar 212 yang tajam dan terlatih baik itu sayup-sayup mendengar suara sesuatu. Segera
pemuda ini hentikan siulannya. Kepalanya diputar ke arah timur puncak gunung dari mana datangnya suara itu. Masih belum kelihatan apa-apa tapi suara yang didengarnya tambah nyaring. Beberapa
ketika kemudian dari balik gundukan tanah keras tepi kawah sebelah timur kelihatan muncul kepala
seseorang, menyusul dada dan badannya. Sosok tubuh manusia ini ternyata bukanlah Kalingundil
karena tangannya tidak buntung!
“Lain yang ditunggu, lain yang datang !” desis dalam hati. Kedua matanya terus
memandang tak berkesip pada manusia yang baru datang ini. Orang ini dilihatnya memandang
berkeliling agaknya mencari-cari sesuatu, mungkin mencari seseorang. Umurnya sudah lanjut.
Menurut taksiran Wiro paling rendah lima puluh tahun. Meskipun tua tapi tubuhnya kekar. Pada
pinggangnya kelihatan tersisip sebilah keris emas. Dari gerak geriknya yang enteng dan tenang Wiro
tahu bahwa orang tua ini pastilah seorang yang menguasai ilmu silat dari tingkat tinggi.
“Mungkin sekali dia diam di sekitar puncak gunung Tangkuban Perahu atau mungkin pula
kedatangannya ke situ hanya satu kebetulan saja dengan hari di mana aku akan membuat perhitungan
dengan Kalingundil…,” demikianlah Pendekar 212 berpikir-pikir di dalam hatinya. Sementara itu si
orang tua tak dikenal dilihatnya berdiri di tepi kawah memandang ke bawah lalu memutar tubuh dan
menjelajahi seluruh permukaan gunung dengan sepasang matanya yang kecil tetapi tajam. Kemudian
orang tua ini pada akhirnya melangkah ke arah deretan pohon-pohon cemara dan di sini duduk
melepaskan lelah. Wiro maklum kini bahwa orang tua ini datang ke situ adalah mencari seseorang dan
ketika orang itu tak ditemuinya dia memutuskan untuk menunggu. Karena merasa tak punya urusan
dengan si orang tua. Wiro tetap saja berada di tempatnya, di atas pohon cemara tinggi.
Matahari bergerak juga menuju ke puncak tertingginya. Wiro masih terus memperhatikan si
orang tua. Mendadak diputarnya kepalanya ke arah selatan. Sesosok tubuh kelihatan berkelebat.
Kedatangan manusia ini boleh dikatakan tidak terdengar atau tak tertangkap oleh telinga Wiro
Sableng. Nyatanya kehebatan ilmu lari dan ilmu mengentengkan tubuhnya. Apa yang menarik
pendekar 212 ialah bahwa manusia ini bukanlah Kalingundil yang tengah ditunggunya!
Orang ini berbadan kate. Kepalanya sulah licin dan berkilat-kilat ditimpa sinar matahari.
IZRO'IL
Dendam Orang-Orang Sakti


Kedua telapak kakinya bukan saja lebar tapi juga tebal seperti kaki gajah. Tiba-tiba pendekar 212 ingat
akan keterangan gurunya Eyang Sinto Gendeng. Menurut gurunya itu di puncak Gunung Lawu
berdiam seorang tokoh silat utama bernama Tapak Gadjah. Kehebatan Tapak Gadjah ialah telapak
pada sepasang kakinya yang berbentuk kaki gajah. Jangankan manusia, batupun kalau ditendang akan
hancur lebur. Dan memang pada saat itu Wiro menyaksikan sendiri bagaimana tanah gunung yang
diinjak kedua kaki laki-laki itu meninggalkan bekas amblas sampai setengah dim!
“Mungkin sekali manusia ini adalah Tapak Gadjah,” membatin . “Tapi kenapa
pula dia jauh-jauh bisa muncul di sini...?”
Selagi dia membatin begitu rupa terkejut pula melihat bagaimana siorang tua?
yang duduk di bawah pohon cemara tiba-tiba berdiri tegak menyambuti kedatangan simanusia kate!
kedua orang itu saling pandang seketika. Sekali melompat maka si kate sudah berada dua tombak di
hadapan si orang tua berkeris emas! Kembali keduanya saling pandang dan meneliti. Kemudian
terdengar suara si kate membentak.
“Jadi kau sudah datang duluan pendekar gila ?! Rupanya memang kau betulbetul
ingin mati lekas-lekas!” Kemarahan yang meluap membuat Tapak Gadjah lupa akan keterangan
Kalingundil bahwa adalah seorang muda! Bukan saja siorang tua nampak terkejut dan
heran, tapi Pendekar 212 di atas puncak pohon cemara jedi kernyitkan kulit kening waktu mendengar
bentakan si manusia kate itu !
Sebelum si orang tua sempat bicara maka si kate sudah bertanya dengan membentak:
“Mampus cara mana yang kau kehendaki Pendekar 212! Aku Tapak Gadjah segera
melaksanakannya!”
“Kalau betul aku berhadapan dengan Tapak Gadjah, tokoh silat terkenal dari Gunung Lawu
saat ini…,” menyahuti si orang tua, “maka dugaanmu meleset sekali!”
Tapak Gadjah pelototkan mata. “Meleset bagaimana maksudmu?” Dan Tapak Gadjah ingat
akan keterangan Kalingundil. Lalu diajukan pertanyaan: “Apakah kau bukannya si
manusia geblek bergelar Pendekar 212 itu...?!”
Si orang tua gelengkan kepata. “Aku adadalah Wirasokananta, Ketua Perguruan Teratai Putih
di bukit Siharuharu…”
“Ah... tak disangka datang dari jauh kiranya akan berjumpa dengan tokoh silat ternama,”
Tapak Gadjah pula ramah. Mengingat Wiasokananta adalah tokoh silat dari golongan putih dating dia
sendiri dari golongan hitam maka bertanyalah Tapak Gadjah: “Gerangan apakah yang membuat
Ketua Perguruan Teratai Putih sampai datang ke sini...”
“Panjang ceritanya Tapak Gadjah,” menyahuti si orang tua berkeris emas. “Ringkasrrya adalah
untuk mencari den memenuhi undangan seorang manusia bejat bernama bergelar
Pendekar 212!”
“'Ah... ah... ah...! Kalau begitu kita sama-sama datang untuk maksud yang serupa. Dan pastilah
mempunyai tujuan terakhir yang serupa-pula yaitu menamatkan riwayat manusia terkutuk itu.
Bukankah demikin?”
Meskipun heran bagaimana Tapak Gadjah bias tahu hal itu namun Wirasokananta
mengangguk juga.
“Maksud sama, tujuan terakhir sama tapi latar belakang tentu lain. Kalau aku boleh
tanya, apakah sebabnya Ketua Perguruan Teratai Putih sampai turun tangan dan bukan
menyuruh anak-anak murid Perguruan...?”
“Semua murid-muridku musnah di tangan manusia laknat itu! Dua diantaranya
diperkosa!” jawab Wirasokananta. Suaranya bergetar. Kemudian dituturkannyalah apa yang
telah menimpa Perguruan dan murid-muridnya.
Di atas pohon cemara Pendekar 212 pentang telinga buka mata tak
berkesip. Penuturan Wirasokananta tentu saja sangat mengejutkannya.
Semenjak turun gunung bukan saja dia tidak pernah mendengar nama Perguruan
Teratai Putih, bahkan bertemu muka dengan Wirasokanantapun baru hari ini. Dan hari ini pula
Ketua Perguruan itu menuturkan bahwa dia -- -- telah melakukan pembunuhan
besar-besaran atas diri murid-murid Perguruan Teratai Putih! Ini adalah satu hal yang sama
sekali tidak benar! Kalau ini bukan satu kekeliruan tentu ini adalah fitnah. Dan bila ini juga
bukan fitnah, apakah yang telah menyebabkan Wirasokananta merasa yakin bahwa Pendekar
212 lah yang telah memusnahkan Perguruannya ?
“Nasibmu dan nasibku rupanya tidak banyak beda Ketua Teratai Putih,” terdengar
suara Tapak Gadjah. “Muridku Suranyali juga kunyuk sedeng itu yang membunuh!”
Kini tahulah . Tapak Gadjah rupanya adalah guru Suranyali alias Mahesa
Birawa ! “Tapi muridmu cuma seorang yang mati di tangannya sedang aku keseluruhannya,”
menjahuti Wirasokananta.
“Yang penting bukan soal jumlah. Ketua Teratai Putih. Yang penting ialah bahwa
kunyuk sedeng itu seorang manusia bejat yang musti kita lenyapkan dari muka bumi ini!”
Wirasokananta mengangguk.
Tapak Gadjah hendak buka mulutnya kembali. Tapi batal karena saat itu sudut
matanya melihat sesosok tubuh berkelebat dan tahu-tahu sudah berada di hadapan mereka.
“Siapa lagi yang datang ini…?” membatin .
Sedang sesat kemudian didengarnya suara Tapak Gadjah berkata sambil menjura:
“Sungguh pertemuan yang tak terduga. Tokoh silat dari Gunung Halimun kenapa bisa muncul
di sini…?”
Orang yang baru datang tertawa lebar. Dia berpakaian kain putih. Rambutnya panjang
diriap seperti perempuan, janggutnya menjela sampai ke perut. Rambut dan janggut itu
berwarna putih dan melambai-lambai tertiup angin.
“Kau sendiri mengapa bisa nongkrong di sini…?” balik menanya si janggut putih, dia
melirik pada Wirasokananta.
Tapak Gadjah mula-mula perkenalkan si janggut putih pada Wirasokananta. Ternyata
si janggut putih itu adalah Begawan Sitaraga, seorang sakti dari Gunung Halimun.
Setelah mendengar penuturan Tapak Gadjah yang juga sekalian menuturkan tentang
Wirasokananta maka Sitaraga tarik nafas dalam dan berkata “Betul-betul tak bisa diduga kalau
kedatangan kita ke sini tiga-tiganya adalah membawa maksud yang sama! Aku kenal baik
dengan Mahesa Birawa. Aku telah berjanji untuk membantu perjuangannya menghancurkan
Pajajaran karena memang aku tejak lama punya permusuhan dengan itu Kerajaan! Tapi
nyatanya Mahesa mendahului aku! Ini kuketahui dari seorarg anak buahnya yang datang
ke tempatku! Rupanya sebelum pecah perang Mahesa ada mengirim kurir. Kurir itu
tertangkap peronda Pajajaran!”
Kesunyian menyeling seketika. Di atas pohon camera masih tak
bergerak di tempatnya. Dengan munculnya ketiga orang itu dan dengan penuturan masingmasing
mereka Wiro kini bisa menjajaki bahwa ada sesuatu yang tak bares. Dan ketidak
beresan ini ditimpakan kepadanya. Siapa yang menjadi dalang ketidakberesan ini tak susah
untuk diterka yaitu Kalingundil ! Tapi Kalingundil sendiri ke mana mana? Yakin bahwa
bukan hanya tiga orang itu saja yang bakal muncul maka Wiro memutuskan untuk
menunggu. Dugaannya rnemang betul. Lewat sepeminum teh maka dari jurusan barat
kelihatanlah dua soaok tubuh berlari cepat laksana angina! Yang satu bertangan buntung
dan segera dikenali oleh sebagai Kalingundil adanya. Yang seorang lagi
pendekar 212 lupa-lupa ingat. Tapi metihat angka 212 pada keningnya Wiro baru ingat
bahwa manusia ini adalah Tapak Luwing, kepala komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel
yang tempo hari bertempur melawannya tapi kemudian dilarikan oleh Kalingundil!
Begitu sampai dihadapan Tapak Gadjah, Wirasokananta dan Begawan Sitaraga
keduanya segera menjura. Kalingundil memandang berkeliling. “Harap maafkan kalau
kami datang agak terlambat”. Dia memandang lagi berkeliling. Orang-orang yang
diundangnya sudah lengkap. “Pendekar gila itu masih belum muncul!”
Tapak Luwing berdehem. “Aku mempunyai firasat bahwa itu manusia tak
bernyali untuk datang antarkan nyawa kemari!”
“Kalau dia berani menantang, dia berani datang,” menyahuti Kalingundil.
“Kita tunggu saja,” buka suara Begawan Sitaraga.



“Dan kalaupun nanti ternyata silaknat itu tidak muncul, ke pintu nerakapun aku
akan cari dia!” berkata Ketua Perguruan Teratai Putih.
Gembira sekali Kalingundil mendengar katakata Wirasokananta itu. Nyatalah
bagaimana dendam kesumat si orang tua terhadap .
Sementara itu dari atas pohon cemara pendekar 212 memperhatikan
ke bawah dengan seksama. Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa segala sesuatunya
sampai tiga tokoh silat utama itu berada di sana adalah Kalingundil yang punya rencana.
Lima orang yang akan dihadapinya. Kalingundil dan Tapak Luwing sudah bisa dijajakinya
ketinggian ilmu kedua orang itu, tapi bagaimana dengan tiga orang lainnya? Sanggupkah
dia menghadapi mereka berlima sekaligus? Pendekar 212 diam-diam tarik nafas dalam.
Dia memandang ke langit. Matahari sudah sampai ke puncak tertingginya. Apakah dia
segera unjukkan diri atau menunggu sampai saat yang dirasakannya tepat?
Di saat itu di bawah didengamya suara Tapak Gadjah berkata: “Aku masih belum
yakin kalau kunyuk ingusan itu benar-benar murid Sinto Gendeng. Itu nenek-nenek keriput
sudah sejak lama minggat dari dunia persilatan...!”
Panaslah hati mendenger gurunya, disebut demikian rupa. Tiada
terasakan lagi, didorong oleh naluri yang telah membuat dia menjadi bisa maka keluarlah
suara siulan dari sela bibirnya.
Lima manusia di bawah pohon terkejut dan.menengadah ke atas.
“Kurang ajar, rupanya kunyuk sedeng itu sudah lama mendekam di atas!,” maki
Kalingundil.
“Pendekar gila turunlah untuk terima mampus!” teriak Wirasokananta.
Pendekar 212 tertawa bergelak. “Ketua Perguruan Teratai Putih, aku kasihan pada
kau! Tidak tahu bahwa kau telah kena dikelabui oleh manusia tangan buntung itu!”
Kalingundil cepat membentak. “Agaknya kau memilih kematian di atas pohon itu.
?! Memang pohon itu cukup tinggi untuk mempercepat roh busukmu terbang
ke neraka!”
Wiro tertawa lagi seperti tadi.
“Biar aku paksakan dia turun !” buka mulut Tapak Luwing. Tangan kanannya
bergerak. Maka tiga pisau terbang beracun melesat ke puncak pohon cemara di mana
pendekar 212 herada !

TAPAK Luwing! Kalau merasa sudah berilmu tinggi, biar kukembalikan pisaumu!”
teriak Wiro dari atas pohon.
Sesaat sesudah dia berkata begitu maka menderulah angin deras. Tiga pisau terbang
kembali ke bawah menyerang pemiliknya sendiri!
Dua buah masih sanggup dielakkan oleh Tapak Luwing tapi yang ketiga sangat cepat
sekali meleset ke arah batok kepalanya.
“Awas!” seru Begawan Sitaraga. Sekali dia lambaikan tangan maka mentallah pisau
itu dan Tapak Luwing yang diam-diam keluarkan. keringat dingin terlepaslah dari bahaya
kematian!
kini tertawa membahak. “Kau terlalu bodoh untuk ikut-ikutan datang
ke mari Tapak Luwing ! Seharusnya saat ini kau cuci kaki dan pergi tidur!”
Saat itu Wirasokananta tak dapat lagi menahan kesabarannya. Dengan tangan kanan
dipukulnya batang pohon cemara.
“Kraaak!”
Pohon itu tumbang.
Wiro melompat ke samping dan melayang ke bawah dengan gerakan enteng. Sambil
melayang itu dia berkata: “Musuh penantang cuma satu, mengapa sekarang bisa jadi lima?
Apakah kau bisa beranak, Kalingundil?” Lalu pada tiga tokoh silat utama itu Wiro berseru:
“Kalian sudah tua bangka masih saja mau derigan urusan dunia dan nafsu membunuh! Apa
tidak malu kena dihasut oleh kunyuk tangan buntung itu?”
“Jangan banyak bacot manusia gelo! Ajalmu hanya tinggal sekejapan mata saja!”
bentak Tapak Gadjah. Dia maju ke muka dan kirimkan tendangan kaki kanan di saat
Pendekar 212 masih juga belum menjejakkan kaki di tanah!
Angin tendangan kerasnya bukan main. Debu beterbangan. Untuk menjajaki sampai
kemana kehebatan tenaga dalam lawan Wiro sengaja tidak mengelak tapi memapasi
serangan tersebut dengan lancarkan pukulan “kunyuk melernpar buah”. Ketika dua angin
pukulan itu beradu terkejutlah Tapak Gadjah! Kedua kakinya melesak sampai tiga senti ke
tanah sedang angin tendangannya yang sanggup menghancurkan batu itu buyar! Ternyata
tenaga dalam Pendekar 212 tidak berada di bawahnya!
Dengan membuat dua kali jungkir balik di udara, pada jungkiran yang ketiga Wiro
sudah berdiri di atas kedua kakinya. Lima manusia dihadapannya segera mengurung.
“Kalian kunyuk-kunyuk tua bangka apa tidak malu main keroyok begini rupa?!”
Pendekar 212 masih sanggup bertanya sambil sunggingkan senyum mengejek.
“Seekor anjing kurap macam kau sudah terlalu pantas untuk dijagal bersama-sama!”
menyahuti Wirasokananta.
“Ah, kau orang tua... Rupanya masih belum tahu kalau dikelabui orang lain! Demi
kebenaran aku sama sekali tak pernah mendatangi Perguruanmu. Apa yang terjadi di
Perguruanmu aku tidak tahu menahu. Itu semua adalah fitnah. Seseorang lain yang
bertanggung jawab. Kurasa manusianya adalah si tangan buntung ini!,” Wiro menuding ke
arah Kalingundil.
“Ha... ha! Bukan saatnya untuk cuci tangan pendekar gila!” seru kalingundil seraya
main-mainkan pedang buntung di tangan kirinya. “Tak perlu kambing hitamkan orang lain!
Tak perlu lempar batu sembunyi tangan....!”
“Aku memsng tak mengambinghitamkan kau orang buntung. Tapi eoba berkaca di
cermin Begawan Sitaraga, kau akan melihat bagaimana tampangmu memang persis seperti
kambing!”.
Merah padam muka Kalingundil.
Wiro tertawa mengekeh.
Begawan Sitaraga yang merasa dihina segera maju ke muka. “Sobat-sobat, tak perlu
bicara panjang lebar dengan orang sedeng ini! Mari kita kermus dia!”. Habis berkata begitu
Sitaraga gerakkan tangannya. Sinar putih yang panas dan menyilaukan menyambar ke arah
muka . Begitu matanya tersambar sinar tersebut gelaplah pemandangan
pendekar 212.
“Celaka!” kata Wiro dalam hati. Tenaga dalamnya dialirkan ke kepala dan dia melompat cepat ke salah satu pohon cemara untuk berlindung dari serangan lawan.
Tapak Gajah juga tidak berdiam diri. Tendangannya menggebubu. Pohon cemara patah dah disaat itu Wiro sudah berpindah ke tempat lain. Dengan mata masih terpejam dia putar kedua tangannya di udara. Maka menderulah angin pukulan “benteng topan melanda samudera”. Meski pukulan ini hanya mempergunakan sebagian tenaga dalam karena yang sebagian masih tetap dialirkan ke muka tapi kehebatannya cukup membuat lima penyeranghindarkan diri ke samping. Ketika matanya dibuka kembali maka pemandangannya sudah terang seperti semula.
Begawan Sitaraga terkejut ketika melihat kedua mata lawannya tidak menjadi buta oleh kilapan sinar cerminnya. Di lain pihak Wiro menganggap bahwa senjata yang paling berbahaya di antara penyerang-penyerangnya ialah cermin di tangan Sitaraga itu. Maka dia memutuskan untuk menghancurkan senjata itu terlebih dahulu.
Namun dikurung lima begitu rupa tidak mudah bagi untuk melaksanakan niatnya. Serangan lima tawan bertubi-tubi. Setiap dia coba untuk menghancurkan senjata di tangan Sitaraga maka pedang Kalingundil atau golok Tapak Luwing atau keris emas ataupun tendangan Tapak Gajah datang pula menyerangnya, kadangkala berbarengan sekaligus! Dengan bergerak gesit, dengan lancarkan seranganserangan balasan, dengan hanya bertangan kosong itu, pendekar 212 cuma sanggup bertahan sampai duabelas jurus. Jurus-jurus selanjutnya dia didesak hebat Golok besar empat peregi berkali-kali membabat ke arah dada dan perutnya. Sinar biru Pedang Siluman di tangan Kalingundil tiada henti berkiblat ke sekujur tubuhnya sedang keris emas Wirosokananta laksana hujan mengirimkan tusukan-tusukan mematikan. Dan di antara itu tendangantendangan
Tapak Gajah tiada terkirakan ditambah yang paling berbahaya cermin di tangan Sitaraga berkata-kali menyambar kemukanya, masih untung sanggup dialakkannya!
Jurus kelima belas murid Eyang Sinto Gendeng itu terdesak ke tepi kawah. Sinar cermin menyambar kemukanya. Di saat itu pula tendangan Tapak Gajah menyeruak ke arah selangkangan. Dari atas menderu Pedang Siluman Biru, keris emas menikam ke dada dan golok besar Tapak Luwing menggebubu ke perut!
“Tamatlah riwayatmu pemuda gila!” teriak Kalingundil.
“Jangan lupa sampaikan salamku pada setan-setan neraka!” menimpali Wirasokananta.
“Bret”!
Ujung Pedang Siluman Biru menyambar lewat dada, merobek pakaian pendekar 212!
“Sialan!” maki .
“Memakilah sekenyangmu setan alas! Setan-setan neraka memang paling suka pada manusia-manusia tukang maki macammu!” teriak Kalingundil kertakkan geraham. Kedua pipinya menggembung. Sedetik kemudian meledaklah bentakan yang keras, demikian kerasnya sehingga menggema sampai ke dasar kawah Gunung Tangkuban Perahu! Tubuh pendekar 212 lenyap! Serentak dengan itu terdengarlah suara siulan yang melengking-lengking. Dan di antara lengkingan siulan itu menderu suara laksana ratusan tawon, mendengung menyamaki liang telinga! Sinar putih bergulung-gulung! Lima penyerang tersurut mundur.
“Kapak Naga Geni!” seru Begawan Sitaraga ketiga melihat senjata di tangan Wiro Sableng. Belum lagi habis gaung seruannya itu sudah menyusul suara jeritan setinggi langit.
Satu tubuh angsrok terpelanting di tanah mandi darah, kepala terbelah dua! Korban Maut Naga Geni 212 yang pertama itu ialah Tapak Luwing!
“Kurung biar rapat!” teriak Tapak Gajah. Dia melompat tinggi. Kedua kakinya menendang susul menyusul. Dua senjata lainnya menderu pula ke arah .
“Ketua Perguruan Teratai Putih!” berseru pendekar 212. “Antara kau dan aku tak ada permusuhan. Sebaiknya undurkan diri saja!”
“Jangan bicara melangit pemuda sedeng! Delapan arwah muridku minta roh busukmu!”. Wirasokananta percepat tusukan kerisnya. Maka keris emas, Pedang Siluman Biru dan Kapak Naga Geni 212 beradu dengan mengeluarkan suara nyaring.
Wirasokananta berseru kaget. Tangannya tergetar hebat dan pedas panas. Keris saktinya terlepas mental. Cepat-cepat Ketua Perguruan Teratai Putih ini melompat mundur.
Kalingundil sendiri tak kalah kagetnya. Bagian yang tajam dari pedang buntungnya gompal sedang tangannya menjadi seperti kaku. Kalau tidak sinar cermin Sitaraga menyambar ke arah lawan pastilah Kapak Maut Naga Geni 212 membabat perutnya. Kalingundil keluarkan keringat dingin!
Suara siulan Pendekar 212 kini sekali-sekali diselingi oleh suara tawa mengekeh!
Tubuhnya hampir tak kelihatan lagi. Kapak Naga Geni mengaung mencari maut. Keempat lawan menjadi sibuk. Merasa mulai terdesak, Tapak Gadjah segera keruk saku pakaiannya.
Tanpa memberi peringatan lagi tokoh silat ini segera lepaskan seratus senjata rahasia yang berupa jarum-jarum hitam ke arah . Tapi angin putaran Kapak Naga Geni yang ampuh sekaligus meluruhkan jarum-jarum beracun itu. Malahan Tapak Gajah dan kawankawan menjadi sibuk karena harus mengelakkan jarum-jarum hitam yang terdorong berbalik
menyerang mereka sendiri!
“He.. he.. he..,” Pendekar 212 tertawa mengekeh. “Wirasokananta, untuk penghabisan kali aku kasih peringatan padamu. Mundur atau mampus dengan percuma!”.
Ketua Perguruan Teratai Putih menjadi bimbang. Dia membatin “Adakah seorang musuh yang sehebat ini sampai memberi dua kali peringatan kepadaku?”.
“Wirasokananta jangan bodoh!” teriak Kalingundil. “Manusia yang telah membunuh delapan muridmu, ape hendak kau lepaskan begitu sa… akh.....”
Kata-kata Kalingundil tak sampai pada ujungnya. Salah satu dari mata kapak di tangan membabat putus lengan kirinya. Tangan dan pedang buntung mental masuk kawah. Darah muncrat. Laki-laki ini terhuyung ke belakang kesakitan. Akhirnya ketika dia kehabisan darah nafasnya megap-megap dan dia jatuh menelentang di tanah tapi belum mati!
Tapak Gajah dan Begawan Sitaraga tertegun seketika. Namun sesaat kemudian serentak pula keduanya menyerang sebat. Serangan ini disambut dengan siutan dan tawa mengejek oleh Wiro Sabteng. “Kalian berdua adalah tokoh-tokoh silat dari golongan hitam!
Manusia-manusia macam kalian pantas menjadi umpan cacing di liang neraka!”.
Pendekar 212 putar kapaknya.
“Buyar!”
Cermin di tangan Sitaraga pecah berhamburan. Begawan itu keluarkan seruan tertahan dan memandang senjatanya yang hancur dengan rasa tak percaya.
“Begawan awas!” teriak Tapak Gajah. Tapi terlambat!
Kapak Maut Naga Geni 212 datangnya tiada sanggup lagi untuk dielakkan.
“Crras”!
Putuslah leher Begawan Sitaraga. Darah seperti air mancur muncrat ke udara. Kepala yang buntung mengelinding seperti bola terus masuk ke dalam kawah Gunung Tangkuban Perahu!
Melihat kematian sobatnya ini, si kate kepala sulah Tapak Gajah menciut nyalinya!
Tanpa buang waktu dia segera putar tubuh.
“Eit orang kate, mau minggat ke mana?!” berseru. “Ayo berhenti!”.
Tapi mana Tapak Gajah mau berhenti. Malahan ini manusia tancap gas dan lari lintang pukang. Wiro menyeringai. Tangan kanannya bergerak menekan bagian dekat hulu kapak yang berbentuk kepala naga-nagaan. Maka mengaunglah 212 batang jarum putihberacun ke arah Tapak Gajah. Tapak Gajah coba melompat ke samping namun dia kurangcepat. Hampir keseluruhan jarum-jarum putih itu menembus daging tubuhnya. Tapak Gajah meraung setinggi langit! Begitu racun jarum merembas jantungnya maka tubuhnya kelojotan seketika lalu menggeletak di tanah tanpa bergerak lagi!
Wirasokananta leletkan lidah melihat kehebatan pendekar; tapi diam-diam bulu tengkuknya merinding karena ngeri! Sedang ketika dia berpaling pada pendekar itu, dilihatnya berdiri sambil garuk-garuk rambutnya yang gondrong! Wiro tarik nafas dalam lalu putar tubuh dan memandang pada Wirasokananta. “Ketua Perguruan
Teratai Putih,” katanya. “Kenyataan yang kita tidak saksikan dengan mata kepala sendiri adalah terlalu sukar untuk dipercaya. Demikian juga dengan peristiwa di perguruanmu.
Sama sekali tak ada sangkut pautnya denganku! Aku yakin manusia inilah yang jadi biang racun!”.
Wiro mendekati Kalingundil yang tengah megap-megap. Dari dalam sakunyadikeluarkannya sebuah pil. Dia senyum-senyum dan menimang-nimang obat itu. “Kau masih inginkan hidup Kalingundil?” tanyanya.
Kalingundil diam saja.
“Obat ini bisa menyembuhkan lukamu dan memunahkan racun Kapak Naga Geni yang mengalir di darahmu. Aku akan berikan kepadamu jika kau menerangkan dan mengaku bahwa kaulah yang telah membunuh delapan anak murid Perguruan Teratai Putih...”.
Kalingundil masih diam.
“Kau tak mau hidup..... ?”.
Kalingundil memandang dengan matanya yang berbinar-binar pada pil di tangan Wiro. Dalam diri setiap manusia yang tengah meregang nyawa akan selalu datang harapan untuk dapat terus hidup. Demikian juga dengan Kalingundil.
“Masukkan dulu pil itu ke dalam mulutku,” katanya.
Wiro memasukkan obat itu ke dalam mulut Kalingundil dan Kalingundil cepat-cepat menelannya. “Sekarang terangkan cepat!”.
Kalingundil buka mulut mengakui apa-apa yang telah diperbuatnya terhadap Perguruan Teratai Putih. Akan Wirasokananta begitu mendengar penuturan tersebut, takdapat lagi menahan luapan amarahnya. Tanpa banyak cerita dengan kaki kanan ditendangnya Kalingundil. Demikian kerasnya sehingga tak ampun lagi tubuh Kalingundil mencelat beberapa tombak ke udara dan malang baginya tubuhnya terlempar tepat ke kawah.
Masih terdengar jeritan laki-laki itu menggaung ketika tubuhnya melayang ke bawah sebelum amblas di dalam kawah belerang!
Sekali lagi pendekar 212 hela nafas dalam dan berpaling pada Wirasokananta. Satu senyum terlukis di bibir pendekar muda itu. Ketua Teratai Putih belas tersenyum.
“Orang muda, apakah kau betul-betul muridnya Sinto Gendeng?”.
“Ah.... murid siapapun aku butan menjadi soal, Ketua Perguruan Teratai Purih”
menyahuti Pendekar 212. “Orang-orang mencap aku pemuda edan, sinting, gila, geblek...
Kurasa memang suatu ketika kegilaan itu ada perlunya. Hanya manusia-rnanusia gila semacam kita inilah yang sanggup membunuh manusia-manusia bejat dan menghancurkan kebejatan. Coba saja kau pikir mana ada manusia waras mau membunuh sesama manusia...?”.
Wirasokananta tertawa. “Ucapanmu benar juga, pendekar,” katanya.
Wiro mendongak ke langit. “Ah, matahari sudah tinggi. Banyak urusan baru yang menunggu kita. Ketua Perguruan Teratai Putih, pertemuan kita hanya sampai di sini. Aku senang bisa berkenalan dengan kau. Semoga kita bisa jumpa lagi....”.
“Pendekar 212, tunggu dulu...!” seru Wirasokananta. Tapi percuma saja. Sangpendekar saat itu sudah berkelebat dan lenyap! Wirasokananta goleng-goleng kepala.
“Pemuda hebat sikapnya seperti betul-betul gila tapi hatinya polos, ilmunya……. ah, aku yang sudah tua ini mungkin tak pernah bisa mencapai ilmu setinggi yang dimilikinya. Belum lagi sempat mengucapkan terima kasih, dia sudah lenyap...”
Wirasokananta memandang ke dasar kawah lalu mengikuti jejak meninggalkan tempat itu.

T A M A T
IZRO'IL
WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212


Keris Tumbal Wilayuda


PROLOG
SUARA beradunya berbagai macam senjata, suara bentakan garang ganas yang menggeledek di berbagai penjuru, suara pekik jerit kematiansera suara mereka yang merintih dalam keadaan terluka parah dan menjelang meregang nyawa, semuanya menjadi satu menimbulkan suasana maut yang menggidikkan!
Di mana-mana darah membanjir! Di mana-mana bertebaran sosok-sosok tubuh tanpa nyawa! Bau anyir darah memegapkan nafas, menggerindingkan bulu roma! Pertempuran itu berjalan terus, korban semakin banyak yang bergelimpangan, mati dalam cara berbagai rupa.
Ada yang terbabat putus batang lehernya. Ada yang robek besar perutnya sampai ususnya menjela-jela. Kepala yang hampir terbelah, kepala yang pecah, dada yang tertancap tombak.
Kutungan-kutungan tangan serta kaki!
Di dalam istana keadaan lebih mengerikan lagi. Mereka yang masih setia dan berjuangmempertahnkan tahta kerajaan, yang tak mau menyerah kepada kaum pemberontak meski jumlah mereka semakin sedikit, terpaksa menemui kematian, gugur dimakan senjata lawan!
Istana yang pagi tadi masih diliputi suasana ketenangan dan keindahan, kini tak beda seperti suasana dalam neraka! Mayat dn darah kelihatan di mana-mana. Pekik jerit kematian tiada kunung henti. Perabotan istana yang serba mewah porak poranda. Pihak yang bertahansemakin terdesak. Agaknya dalam waktu sebentar lagi mereka akan tersapu rata dengan lantaiyang dulu licin berkilat tapi kini dibanjiri oleh darah!
“Wira Sidolepen dan Braja Paksi, menyerahlah!,” teriak seorang laki-laki berbadan kekar dan berkumis melintang. Seperti kedua orang yang dibentaknya itu diapun mengenakanpakaian perwira kerajaan.
Bradja Paksi -- kepala balatentara Banten -- menggerang dan balas membentak.
"bangs*t pemberontak! Meski nyawaku lepas dari tubuh, terhadapmu aku tak akan menyerah!”
Parit Wulung -- laki-laki yang berkumis melintang itu -- tertawa bergelak. Sebelumnya dia adalah perwira pembantu atau wakil kepala balatentara Banten tapi yang hari itu telahtersesat dan memberontak terhadap kerajaan !
"Mengingat hubungan kita sebagai ipar, aku masih mau tawarkan keselamatan buat roh busukmu! Tapi jika kau sendiri yang hendaki kematian, jangan menyesal!”
Parit Wulung menerjang ke muka. Pedangnya menyambar mengirimkan satu serangan yang cepat dan dahsyat. Tapi dengan sebat Bradja Paksi menangkis dengan Pedangnya pula.
“Trang!”
Bunga api berkilauan.
Tangan Parit Wulung tergetar hebat. Dia mundur selangkah namun lawan menyusuli dengan dua rangkai serangan berantai yang membuat gembong pemberontak ini terdesak ke tiang besar di ujung kanan. Sebagai kepala Balatentara Banten maka ilmu silat dan kesaktian Bradja Paksi lebih tinggi dari wakilnya yang memberontak itu. Bagaimanapun cepat dan sebatnya Parit Wulung putar pedang tetap saja dia tak bisa ke luar dari serangan-serangan lawan, apalagi ketika dengan kalap Bradja Paksi sertai serangan-serangan pedangnya denganpukulan-pukulan tangan kosong. Namun itu tak berjalan lama.
Seorang berbadan kate, berselempang kain putih yang kulit mukanya sangat hitam dan berkilat serta berambut awut-awutan berkelebat ke muka. Tampangnya seperti singa.
"Parit Wulung! Biar aku yang bereskan bangs*t ini!"
Melihat siapa yang berkata itu maka Parit Wulung dengan tidak menunggu lebih lama segera ke luar dari kalangan pertempuran. "Resi Singo Ireng, rnemang dia pantas sekali untukjadi korbanmu! Cepat rampaslah nyawanya!"
Manusia muka hitam berbadan kate yang bernama Resi Singo Ireng tertawa buruk. Tangan kanannya dihantamkan ke muka. Secarik sinar putih melesat ke arah kepalabalatentara Banten.
Bradja Paksi lompat tiga tombak ke atas. "Bergundal pemberontak!". makinya.
"Nyawamu di ujung pedangku!,” Bradja Paksi menukik ke bawah. Pedangnya berkelebat
cepat sekali.
"Bret !"
Robeklah pakaian putih Singo Ireng !
Maka marahlah Resi ini. "Manusia hina dina!. Kalau kau punya Tuhan berteriaklah menyebut nama Tuhanmu! Ajalmu hanya sampai di sini!".
Tangan kiri Singo Ireng terangkat tinggi-tinggi ke atas dan kini berwarna hitam legam.
"Bradja Paksi awas! Itu pukulan wesi item!,” terdangar teriakan seseorang yang tengah bertempur dengan segala kehebatannya dekat pintu besar yang menuju ke ruang tengah istana.
Umurnya sudah agak lanjut namun gerakannya benar-benar tangguh dan. enteng gesit mengagumkan! Dia adalah Wira Sidolepen, Patih Kerajaan Banten !
Terkejutlah Bradja Paksi mendangar teriakan peringatan itu. Seluruh tenaga dalam segera dikerahkan. Pada saat tangan kiri Resi Singo Ireng turun cepat ke bawah maka sinar hitam menyambar ke muka. Dan di saat itu pula Bradja Paksi melompat ke samping, putar pedang dan hantamkan tangan kiri ke depan.
Namun meskipun berilmu tinggi, untuk saat itu Bradja Paksi masih belum sanggup menerima pukulan wesi item lawan. Tubuhnya mencelat kena disambar sinar hitam, terlempar ke dinding istana lalu terhampar di lantai penuh darah tanpa bisa berkutik lagi. Sekujur pakaian dan tubuhnya hangus hitam!
Resi singo Ireng tertawa senang menjijikkan untuk dipandang!
Melihat kematian Bradja Paksi maka kalaplah patih Wira Sidolepen. Sekali dia menerjang, tiga prajurit pemberontak yang menyerangnya berpelantingan dengan tubuh patahpatah!
Sebagai patih kerajaan, tingkat kepandaian Wira Sidolepen memang sudah sempurna dan hampir setingkat dengan Singo Ireng. Gesit sekali maka tubuhnya sudah berada di hadapan Resi itu.
"Ha… ha… kau juga mau antarkan nyawa, Wira Sidolepen…”
"Tak perlu banyak mulut. Terima ini…!" hardik sang patih. Pedangnya bergulung dengan sebat. Putaran pedang mengeluarkan angin bersiuran yang melanda tubuh Resi Singo Ireng. Terkejutlah Resi ini. Cepat-cepat dia gerakkan badan berkelit. Tahu bahwa tingkatkepandaian lawan tidak berada di bawahnya rnaka pagi-pagi Singo Ireng segera keluarkanpukulan "wesi ireng"-nya.
Melihat lawan keluarkan ilmu yang ampuh itu, Wira Sidolepen segera pindahkan pedang ke tangan kiri. Mulutnya komat kamit dan jari tangannya mendadak sontak berubah rnenjadi putih berkilau. Inilah ilmu pukulan "mutiara penabur nyawa!" Parit Wulung yangtahu kehebatan ilmu pukulan ini segera pergunakan ilmu menyusupkan suara memberi peringatan pada Singo Ireng.
"Awas, itu pukulan mutiara penabur nyawa, Resi Singo Ireng !"
Mendengar ini maka sang Resi lipat gandakan tenaga dalamnya. Dua bentakan nyaring sama-sama terdangar menggeledek dari mulut Singo Ireng dan Wira Sidolepen. Sinar hitamdan sinar putih berkiblat saling papas.
“Akh....”
Tubuh patih itu terlempar keras ke tiang istana. Sampai di lantai tubuhnya berkelojotan seketika lalu diam tak bergerak tanda nyawanya sudah lepas meninggalkan tubuh.
Sambil gosok-gosok tangan kirinya. Singo Ireng putar kepala ke pintu di sampingnya. Di situ melangkah ke arahnya seorang berselempang kain biru. Mukanya coreng moreng berbelang tiga yaitu hitam, kuning dan merah. Rambutnya tersisir licin-lincin ke belakang.
Inilah dia Resi Macan Seta, kakak kandung Resi Singo Ireng. Kalau Singo Ireng memiliki tampang seperti singa maka kakaknya sesuai dengan namanya, memiliki tampang persis seperti macan!
"Kau tak bakal kuat menerima pukulan mutiara penabur nyawa itu Singo Ireng, sekalipun kau pergunakan ilmu wesi item! Sekurang-kurangnya kau akan terluka di dalam Singo Ireng tertawa buruk! Dia tak berkata apaapa karena maklum bahwa ucapan kakaknya itu adalah betul. Dan diam-diam dia bersyukur karena Macan Seta telah menolongnya dengan pukulan "sinar surya tenggelam" tadi!


________________________________________

SATU
PADA abad ke 15, Kerajaan Demak diperintah oleh Baginda Trenggono. Di bawah Trenggono maka Demak mencapai puncak kejayaannya. Di masa itu pula adik perempuan Trenggono kawin dengan Fatahillah.
Untuk meluaskan daerah perdagangan serta kekuasaan Demak maka Trenggono merasa perlu untuk menduduki Banten. Maka pada tahun 1527, di bawah pimpinan Fatahillah menyerbulah balatentara Demak. Banten jatuh, pelabuhan Sunda Kelapa diduduki dan sebagai wakil Demak memerintahlah Fatahillah di Banten. Sebenarnya kurang tepat kalau dikatakan bahwa Fatahillah bertindak sebagai wakil Trenggono atau wakil kerajaan Demak karena luas lingkup kekuasaan serta pengaruh Fatahillah tak ubahnya seperti Raja. Disamping itu, terlepas dari Demak, Fatahillah membentuk balatentara tersendiri. Nama Fatahillah menjadi besar dandihormati. Namun demikian kesetiaannya terhadap kerajaan induk yaitu Demak tetap sepertisediakala.
Sultan Hasanuddin dalam menjalankan roda pemerintahan kerajaan Banten dibantu oleh penasihat utama seorang tua bijaksana bernama Mangkubumi Mitra serta patih Wira Sidolepen. Disamping itu bantuan kepala balatentara Banten yang bernama Bradja Paksi patut pula disebutkan karena segala sesuatu yang bersangkutan dengan keamanan dan keselamatan kerajaan terletak pada tanggung jawabnya sepenuhnya. Apalagi mengingat pada masa itu sering kali terjadi bentrokan-bentrokan dengan pihak Pajajaran. Bradja Paksi tadinya adalah seorang prajurit biasa di kerajaan Demak. Tapi karena keberanian, kejujuran dan kepandaiannya maka dia menjadi orang kesayangan Fatahillah. Ketika Fatahillah pindah ke Banten, Bradja Paksi ikut serta. Kemudian dia diangkat jadi kepala balatentara Banten.
Pangkat itu terus dijabatnya sampai pada suatu hari di mana dia terpaksa mengorbankan jiwanya sendiri untuk keselamatan kerajaan dan demi kesetiaan pengabdiannya pada atasan!
Saat itu belum lagi satu bulan Hasanuddin yang muda belia dinobatkan sebagai Sultan atau Raja Banten. Baik patih Wira Sidolepen, maupun penasihat tua Mangkubumi Mitra serta kepala balatentara Bradja Paksi, ataupun Sultan sendiri, mereka tak satupun yang tahu kalau di batang tubuh kerajaan saat itu terdapat musuh dalam selimut yang berbahaya, yang bergeraksecara diam-diam!
Dan siapa yang akan menyangka kalau musuh dalam selimut itu adalah Parit Wulung,perwira yang menjadi wakil langsung dari kepala balatentara kerajaan! Hubungan ParitWulung dengan Bradja Paksi bukan saja sebagai bawahan dengan atasan, tetapi juga sebagai
ipar karena adik perempuan Bradja Paksi kawin dengan Parit Wulung.
Tapi Parit Wulung telah tersesat. Lupa dia bahwa jabatan yang dipangkunya itu adalah berkat diangkat atas kebijaksanaan Bradja Paksi. Lupa dia bahwa kerajaan yang telah memberipangkat kedudukan serta kehormatan dan kehidupan mewah. Nafsu hendak berkuasa sendiri,nafsu hendak duduk ditakhta kerajaan sebagai Raja telah merangsang segenap hati dari jiwaraganya!
Dalam mencapai usahanya merebut takhta Kesultanan Banten itu sudah barang tentu dia tak bisa bergerak sendiri. Disamping itu dia tahu pula bahwa untuk mencari pengikutpengikutdari kalangan pihak dalam yaitu perwira-perwira dan menteri-menteri istana tidak mungkin karena semua perwira dan menteri, apalagi patih Wira Sidolepen sangatlah setianya kepada Kerajaan dan Sultan Hasanuddin. Karenanya maka perwira pengkhianat itupun mencari sekutu di luar Banten. Peluang yang sangat baik dilihatnya datang dari kerajaan tetangga yaitu Pajajaran. Beberapa perwira Pajajaran secara diam-diam ditemuinya dan perwira-perwira itu sesudah diberikan janji yang muluk-muluk bersedia mengirimkan ratusan prajurit untuk membantu pemberontakan bila saatnya sudah tiba kelak.
Ratusan prajurit masih belum dirasa mencukupi bagi Parit Wulung. Pengkhianat ini kemudian mendatangi seorang sakti yaitu Resi Singo Ireng yang berdiam di pantai selatan.
Resi ini bukan saja mau membantu maksud busuk Parit Wulung karena dijanjikan akan dilimpahkan harta kekayaan yang tiada terkira banyaknya, tapi juga mengikut sertakan kakak kandungnya yang juga seorang Resi yaitu Resi Matjan Seta. Matjan Seta diam di TelukKeletawar. Tokoh silat ini baru saja membentuk satu partai silat yang dinamainya Partai Api Selatan. Meski keduanya adalah Resi namun mereka telah terperangkap oleh kesenangan duniawi sehingga masuk ke datam golongan hitam!
Pada hari yang telah ditentukan maka pecahlah pemberontakan menggulingkan kerajaan itu! Ratusan pasukan dari Pajajaran menyerbu. Pertempuran hebat terjadi di seantero Kotaraja dan yang paling hebat adalah sekitar halaman istana.
Sebentar saja kaum pemberontak sudah membobolkan pertahanan Banten. Istana dikepung, prajurit-prajurit pemberontak di bawah pimpinan Parit Wulung, Singo Ireng dan Matjan Seta menyerbu ke dalam istana. Menteri-menteri dan orang-orang cerdik pandai yangterkurung dan tak dapat diselamatkan semuanya menemui ajal dipancung secara kejam.
Kepala balatentara Banten, patih Wira Sidolepen dan beberapa orang penting lainnya turut serta menjadi korban keganasan kaum pemberontak itu !
Banten jatuh sebelum hari rembang petang. Prajurit-prajurit Banten yang masih hidup dan terpaksa menyerah bersama-sama rakyat disuruh membersihkan semua mayat-mayat yang bergeletakan di setiap pelosok. Sedangkan di satu ruangan dalam istana Banten terjadi
pertemuan panting. Pertemuan penting ini diketuai oleh Parit Wulung. Yang hadir ialah Resi Singo Ireng, Resi Matjan Seta, Karma Dipa dan Djuanasuta. Kedua orang terakhir ini adalah penrwira-perwira Pajajaran sekutu Parit Wulung !
"Resi Singo Ireng, Resi Matjan Seta dan saudara-saudara Karma Dipa, Djuapasuta.
Kalian lihat sendiri, berkat kerjasama kita maka apa yang kita rencanakan telah berhasil. Kini Banten adalah milik kita bersama. Namun ada beberapa hal yang mengecewakan dilaporkan oleh seorang perwira penghubung pihak kita. Sultan Hasanuddin lenyap tak diketahui ke mana perginya. Kemungkinan besar bersama penasihat tua Mangkubumi Mitra karena orang tua inipun tak diketahui di mana dia berada saat ini…".
Sampai di situ maka Karma Dipa buka suara. "Kalau mereka hendak melarikan diri dari Banten adalah mustahil. Seluruh perbatasan dijaga ketat oleh prajurit-prajurit kita!"
"Itu betul sekali,” jawab Parit Wulung. "Disamping orang-orang kita terus melakukan penyelidikan atas jejak kedua orang itu maka kita juga telah menangkap tiga orang yang diduga keras mengetahui di mana bersembunyinya Sultan!"
Parit Wulung bertepuk tiga kali. Pintu ruangan perundingan terbuka. Seorang pengawal masuk. "Bawa ke sini Said Ulon !,” kata Parit Wulung pada pengawal itu. Pengawal ke luar dengan cepat. Sesaat kemudian masuk lagi bersama seorang kawannya membawa seorang laki-laki tua berambut putih. Dialah Said Ulon, kepala rumah
tangga istana. Kedua pengawal ke luar lagi.
"Said Ulon, kau tahu dimana Sultan sembunyi, bukan?!" ujar Parit Wulung.
Orang tua itu memandang ke muka sebentar. Hatinya geram sekali melihat tampang Parit Wulung. Dua orang anaknya telah menjadi korban akibat pemberontakan manusia itu. Seperti hendak ditelannya bulat-bulat tubuh Parit Wulung saat ini. Kedua tangannya berusaha melepaskan ikatan tali tapi tak berhasil.
Melihat ini Parit Wulung segera berkata. "Jangan khawatir, kau akan kulepaskan dankujamin keselamatanmu bila memberi keterangan di mana Sultan berada...!"
"Ya… memang aku tahu...” berkata Said Ulon.
"Haaaa…” Parit Wulung tertawa lebar. "Di mana?," tanyanya.
Orang tua itu maju ke hadapan Parit Wulung. "Di sini," katanya. Dan habis
mengucapkan perkataan itu maka diludahinya muka Parit Wulung!
"Jahanam hina dina!" suara Parit Wulung menggeledek.
"Sret!" Pedangnya dicabut dan "cras!” maka putuslah leher Said Ulon. Kepalanya
menggelinding di lantai tepat di muka pintu. Darah muncrat membasahi permadani yang
menutupi sebagian dari lantai ruangan !
Resi Matjan Seta tertawa mengekeh melihat peristiwa itu.
Karma Dipa berkata dengan suara datar. "Seharusnya kita tak perlu membunuh
sekaligus manusia itu, Parit Wulung. Kita bisa siksa dia sampai mengaku di mana adanya
Sultan Hasanuddin!"
Parit Wulung tak menjawab. Noda darah dipedangnya disapukannya kepakaian Said
Ulon lalu dimasukkannya ke dalam sarungnya kembali. Kemudian Parit Wulung bertepuk lagi
tiga kali.
Pintu terbuka. Pengawal yang masuk tergagau melihat adanya kepala manusia di muka
pintu. "Bawa masuk tukang kuda itu!" kata Parit Wulung.
Tak lama kemudian pengawal membawa masuk seorang pemuda bermuka pucat pasi.
Baik Parit Wulung maupun pemuda ini sebelumnya sudah saling mengenal.
"Siman Tjonet, kau lihat mayat dan kepala di lantai itu?!"
Siman Tjonet si tukang urus kuda-kuda milik istana mengangguk.
"Tentunya kau tak ingin bernasib demikian, bukan? Nah coba terangkan di mana
Sultan bersembunyi...!”
"Aku tak tahu…".
"Ah kau musti tahu. Mungkin sekali Sultan telah melarikan diri bersama beberapa
orang dengan menunggangi kuda. Betul..."
"Aku tidak tahu..," jawab Siman Tjonet lagi seperti tadi.
Maka. marahlah Parit Wulung. "Dangar Siman…,” desisnya. "Aku tahu bahwa
beberapa bulan di muka kau akan kawin. Kalau kau tetap ingin merasakan kenikmatan
perkawinanmu itu, cepat beri tahu di mana Sultan berada…”
"Kalau kau kasih keterangan...," menyambung Djuanasuta, "kami akan berikan uang
serta perhiasan! Kau akan beruntung seumur hidup…"
"Aku tidak tahu…"
"Betul-betul tidak tahu...?!"
"Kalaupun tahu aku tidak akan kasih keterangan pada bergundal pemberontak dan
pengkhianat macam kau!"
Parit Wulung tertawa buruk. Pelipisnya bergerak-gerak. Tangan kanannya bersitekan
pada hulu pedang. "Jangan jadi orang tolol Siman Tjonet!" berkata Karma Dipa sementara
Resi Matjan Seta dan adiknya asyik-asyik makan buah anggur yang terhidang di atas meja.
"Bicaralah, kau akan selamat dan jadi orang kaya!"
Siman Tjonet diam saja.
"Agaknya kau lebih suka mati daripada hidup senang. Siman…?" tanya Parit Wulung.
"Disangkanya kalau dia mati akan masuk surga dan ketemu bidadari!" berkata Resi
Matjan Seta sambil tertawa dan mengunyah buah anggur dalam mulutnya.
"Aku masuk surga atau tidak itu bukan urusan kalian! Sebaliknya kalian semua kelak
akan menjadi puntung api neraka!" jawab Siman Tjonet dengan beraninya.
"Wah… kau benar-benar tidak takut mati, anak muda. Tapi bagaimana kalau sebelum
mati aku siksa kau lebih dahulu, heh?!"
"Kalian boleh siksa aku tapi di mana Sultan berada tetap kalian tak bisa tahu!"
"He... he... he..,” Resi Matjan Seta berdiri dari duduknya. Mulutnya masih mengunyah
buah anggur. Dia melangkah ke hadapan Siman Tjonet, Tangan kanannya diletakkannya di
atas kepala pemuda itu.
"Manusia bermuka setan, pergi!" hardik Siman Tjonet. Pemuda ini pergunakan kaki
kanannya untuk menendang tulang kering Resi Matjan Seta. Tapi aneh! Kedua kakinya terasa
sangat berat dan sukar digerakkan. Sementara itu kepalanya yang dipegang terasa panas bukan
main. Disamping panas kepalanya juga terasa seperti dicucuki oleh ratusan jarum! Dari kepala
rasa sakit menjalar ke sekujur tubuh si pemuda.
Pemuda ini merintih kesakitan. Bila rasa sakit tak tertahankan lagi maka mulailah dia
menjerit-jerit setinggi langit. Betapa mengerikan suara jeritan itu terdangarnya. Peluh dingin
membasahi seluruh tubuh Siman Tjonet.
"Masih belum mau bicara?!" bentak Parit Wulung.
"Pengkhianat terkutuk! Pembalasan akan datang untuk kalian semua!".
"Bikin mampus dia Resi Matjan Seta!,” perintah Parit Wulung.
Sang Resi mengekeh, telapak tangannya semakin keras menekan batok kepala pemuda
tukang kuda. Asap mengepul dari telapak tangan laki-laki sakti itu.
Jeritan Siman Tjonet terdangar semakin keras dan berubah menjadi suara erangan.
Dari telinga, dari mata dan dari lubang hidung serta mulutnya mengalir darah kental. Kedua
lututnya terlipat dan sesaat kemudian tubuh pemuda itu terhempas ke lantai, nyawanya lepas!
Resi Matjan Seta mengekeh lagi!
Dan Parit Wulung bertepuk lagi. Maka tawanan yang ketigapun dibawa masuklah.
Tawanan ini ternyata seorang perempuan muda berparas rupawan.
Begitu dia masuk ke, ruangan itu maka menjeritlah dia. Kedua tangannya yang tidak
terikat dipakai untuk menutupi muka dan matanya. Kengerian membuat tubuhnya gemetar
ketika menyaksikan kepala dan tubuh Said Ulon serta tubuh pemuda tukang kuda!
Resi Singo Ireng menunda anggur yang hendak disuapkannya ke dalam mulut.
Matanya menjalari si perempuan muda mulai dari ujung rambut sampai ke kaki.
"Ah... ah... ah…! Yang satu ini tak boleh dibunuh, Parit Wulung. Dia cukup pantas
untuk jadi peliharaanku!,” kata Resi bertampang singa itu.
Parit Wulung tak ambil perhatian ucapan itu. Dia berkata pada si perempuan muda.
"Suri Intan, kau tak usah khawatir atau takut. Tidak ada yang akan menyakiti kau…”
"Aku tak percaya pada kalian! Keluarkan aku dari sini!,” teriak perempuan itu. Suri
Intan adalah istri Braja Paksi kepala balatentara Banten yarig telah gugur dalam
mempertahankan kerajaan. Karena adik Bradja Paksi kawin dengan si pemberontak Parit Wulung
maka dengan sendirinya antara Parit Wulung dengan Suri Intan terdapat hubungan
keluarga yang dekat.
Parit Wulung coba tersenyum mendangar ucapan perempuan itu. "Suri, apakah kau
tahu di mana Sultan Hasanuddin bersembunyi? Juga penasihat tua Mangkubumi Mitra...?!"
Si perempuan tiada peduli dengan pertanyaan itu. "Keluarkan aku dari sini!" teriaknya.
"Dewiku manis...!"kata Singo Ireng mengetengahi. "Kau akan ke luar dari sini, aku
yang akan bawa kau dan kita berdua akan senang-senang di tempatku di pantai utara. Tapi apa
salahnya sebelum pergi kau suka kasih penuturan apa yang kau ketahui mengenai Sultan…"
"Aku tidak tahu apa-apa mengenai Sultan. Yang aku tahu ialah bahwa kalian semua
manusia-manusia pengkhianat terkutuk! Balasan Tuhan akan datang kelak atas diri kalian!"
"Ah... ah... ah! Bicaramu hebat sekali manisku...!" kata Singo Ireng. Dia berdiri dari
kursinya. Sambil melangkah mendekati Suri Intan dia meneruskan. "Aku suka pada
peremppan-perempuan yang pandai bicara…". Dia berdiri dua langkah di hadapan Suri Intan.
Bola matanya berkilat-kilat memandangi perempuan berparas rupawan itu lalu dia berpaling
pada Parit Wulung. "Aku yakin betul," katanya pada Parit Wulung. "perempuan ini pasti tidak
dusta dengan keterangannya. Dia tak tahu apa-apa tentang Sultan. Parit Wulung, biar aku
minta diri saja siang-siang untuk membawa dia ke kamar sebelah.... he... he... he…!"
"Singo Ireng! Jangan ribut soal lampiaskan nafsu saja. Kita harus cari dulu Sultan
Hasanuddin sampai dapat...!" Yang bicara ini adalah Matjan Seta, kakak Singo Ireng.
"Ladalah..," menyahuti Singo Ireng. "Itu urusan kalian. Aku sudah letih. Tubuhku
pegal-pegal. Perempuan ini pasti lihay sekali memijit. Bukankah begitu dewiku…?" Dan
Singo Ireng mencubit dagu Suri Intan.
"Tua bangka hidung belang!" memaki Suri Intan. Tangannya bergerak hendak
mencakar muka Singo Ireng. Tapi sekali cekal saja maka perempuan itu sudah tak bisa
berdaya lagi!
"Lepaskan aku, lepaskan!,” Suri Intan meronta sekuat tenaga. Entah cekalan Singo
Ireng yang kemudian agak kurang ketat, entah karena rontakan Suri Intan yang memang
sangat keras maka perempuan itu berhasil melepaskan diri dari cekalan Singo Ireng. Kemudian
secepat kilat dia lari ke pintu. Tapi nyatanya pintu dikunci dari luar oleh pengawal.
Dalam bingung dan ketakutan sementara itu Suri melihat Singo Ireng mendatanginya dengan
menyeringai dan bola mata berkilat-kilat sedang hidung kembang kempis.
"Singo Ireng! Biarkan dulu perempuan itu!" bentak Matjan Seta.
"Sudah diam sajalah Seta!,” menggerendang Singo Ireng. "Sekarang kau terlalu
banyak ribut, nanti kalau aku lagi asyik kau dobrak pintu kamar dan minta diberi bagian!
Puh...!"
Singo Ireng maju ke muka dan ulurkan tangan. "Jangah jamah aku!,” teriak Suri Intan.
Dia lari seputar ruangan dan Singo Ireng mengejarnya. Mengejar dengan tertawa terkekehkekeh.
"Manisku, kenapa musti main kucing-kucingan? Tampangku memang buruk. Tapi
nantilah, kalau kau sudah rasakan bagaimana pandainya aku di atas tempat tidur, kau akan
ketagihan… ha... ha... ha...!"
Suri Intan semakin kepepet ke sudut ruangan.Tiba-tiba terjadilah hal yang tidak diduga
oleh Singo Ireng dan siapapun yang ada di ruangan itu.
Suri Intan melompat ke samping, membenturkan kepalanya ke dinding ruangan!
Semua orang yang ada di ruangan itu sudah biasa dengan segala macam pemandangan maut,
sudah biasa melihat kematian manusia. Tapi mendangar suara beradunya kepala perempuan
itu dengan dinding yang keras, menyaksikan bagaimana kemudian Suri lntan terkapar di lantai
dengan kepala rengkah berlumuran darah, semuanya sama menjadi merinding bulu
tengkuknya! Suasana di ruangan itu seperti di pekuburan sunyinya!
Kesunyian itu kemudian dipecahkan oleh suara Matjan Seta. "Aku bilang apa, Singo
Ireng! Kau lihat sendiri sekarang. Apa kau masih bernafsu terhadap perempuan itu?!"
Singo Ireng tak menjawab. Diputarnya badannya. Dia duduk kembali ke tempatnya.
Dan seperti tak ada apa-apa dia mulai lagi mengunyah buah anggur yang terhidang di atas
meja!
Sesudah para pengawal diperintahkan menyeret ketiga mayat itu maka Parit Wulung
melanjutkan pertemuan dengan membuka pembicaraan.
IZRO'IL
Keris Tumbal Wilayuda


"Kurasa mengenai Sultan tak perlu kita bicarakan panjang lebar. Cepat atau lambat orang-orang kita akan segera menangkapnya. Tapi apa yang menjadi pikiranku ialah lenyapnya keris pusaka kerajaan Tumbal yang menjadi syahnya kedudukanku sebagai seorang Raja, nanti!"
"Keris itu pasti dibawa kabur oleh Sultan Hasanuddin!" kata Resi Matjan Seta pula.
"Mungkin, tapi mungkin pula dicuri atau dilarikan oleh seorang lain!"
Singo Ireng mengetengahi. "Tanpa itupun tak akan seorang yang bisa menolak penobatanmu sebagai Raja Banten, Parit Wulung! Kecuali kalau mereka mau terima nasib digerogoti cacing di liang kubur!"

"Soal itu aku tak khawatir. Tapi dalam hal ini kita berhadapan dengan rakyat. Rakyat hanya akan mengakui aku sebagai raja, bila ada di tanganku!"
"Kenapa ambil pusing dengan rakyat?,” tukas Singo Ireng. Mereka mau terima atau tidak, mereka mau mampus sekalipun, kita tak perlu ambil peduli! Rakyat tidak lebih dari domba-domba yang bisa kita halau sesuka hati !"
"Tapi, disamping itu adalah satu senjata sakti dan keramat…,” ujar Parit Wulung.
"Sakti aku percaya, tapi kalau dikatakan keramat itu adalah takhyul!,” menyahut Singo Ireng. Parit Wulung tak berkata apa-apa namun dalam hati dia merasa tidak senang. Maka berkatalah dia. "Aku minta pada kalian, terutama Resi Matjan Seta dan Singo Ireng untuk mencari Sultan dan menemukan itu sampai dapat!"
Singo Ireng mengunyah anggurnya lambat-lambat lalu berkata. "Ini tak termasuk dalam hitungan kita Parit Wulung. Tempo hari kau hanya minta aku dan kakakku membantu pemberontakan sampai terlaksana. Kini Banten sudah jatuh dan berada di tangamu, perjanjian kita beres dan kami sudah saatnya menerima balas jasa!"
"Mengenai soal balas jasa Resi berdua tak usah cemas, kalian berdua boleh membawa segala harta kekayaan apa saja dari Banten ini sebanyak yang kalian bisa bawa. Tapi bila kalian bersedia pula membantu mencari dan menangkap Sultan serta menemukan keris pusaka Tumbal kerajaan itu, maka bagian kalian tentu akan lipat ganda !"
Singo Ireng manggut-manggut. "Baiklah,” katanya. "Soal harta aku tidak begitu temahak. Tapi setiap perempuan cantik di Banten ini adalah milikku!"
-- == 0O0 == --

DUA
HARI itu adalah hari kedua sesudah jatuhnya takhta kerajaan Banten ke dalam tangan kaum pemberontak pimpinan Parit Wulung. Suasana di Kotaraja yang sehari sebeIumnya senantiasa diliputi kepanikan kini mulai mereda. Namun di mana-mana kelihatan berkeliaran tentara-tentara pemberontak sedang di setiap tempat yang dianggap penting terutama di sepanjang perbatasan senantiasa dijaga ketat oleh tentara.
Pagi itu, pagi ketiga dari berkuasanya kaum pemberontak kelihatanlah dua orang berjalan kaki. Yang satu sudah tua dan terbungkuk-bungkuk. Yang satu lagi masih muda.
Keduanya mengenakan pakaian bertambal-tambal serta kotor. Kulit badan dan muka merekapun coreng moreng dan rambut awut-awutan. Dari keadaan kedua orang ini, sepintas lalu saja orang segera berkesimpulan bahwa mereka adalah pengemis-pengemis. Dan setiap orang yang memapasi mereka tentu saja tak akan mau ambil peduli! Namun siapa nyana kalau kedua orang ini adalah dua orang penting yang tengah dicari oleh Parit Wulung dan pentolanpentolan
pemberontak lainnya!
Yang tua adalah penasehat istana yaitu Mangkubumi Mintra sedang yang masah sangat
muda tiada lain daripada Sultan Banten sendiri yakni Hasanuddin! Sewaktu maletusnya
pemberontakan, sewaktu istana sudah dikepung, dengan melalui jalan rahasia kedua orang ini
telah berhasil menyelamatkan diri. Dan bukan keselamatan mereka saja yang penting, tapi
keduanya juga berhasil menyelamatkan keris pusaka tumbal kerajaan yaitu keris Tumbal
Wilayuda, keris yang menjadi lambang dan ketentuan bahwa siapa pemiliknya maka dialah
pewaris syah dari takhta kerajaan Banten. Dan juga keris inilah yang pula dicari-cari oleh Parit
Wulung bersama pemberontak-pemberontak lainnya! Masing-masing mereka sama membawa
buntalan kecil. Sebenarnya baik Mangkubumi Mintra maupun Sultan Hasanuddin adalah orangorang
yang berkepandaian silat dan kelas tinggi. Namun menghadapi sekian banyak
pemberontakan dan demi untuk menyelamatkan keris tumbal kerajaan, keduanya memutuskan
dengan terpaksa dan berat hati untuk mengundurkan diri.
Demikianlah, dengan menyamar kedua orang itu meninggalkan Kotaraja. Matahari pagi
masih belum sanggup memupuskan butiran-butiran embun di daun-daun, namun panasnya
terasa sudah memerihkan kulit kedua orang itu. Mereka berhasil melewati pintu gerbang
Kotaraja tanpa halangan sesuatu apa meski pintu gerbang itu dijaga ketat oleh duapuluh orang
prajurit.
Si orang tua Mangkubumi Mintra menarik nafas lega demikian juga Sultan. Namun
penasehat tua ini kemudian berkata dengan perlahan. "Kita masih jauh dari selamat, Sultan.
Cuma satu pesanku, bila terjadi apa-apa yang tak diingini kau lekaslah menghindar dan lari ke
tempat keluarganya Wirya Pranata di Ujung Kulon....”
Si pemuda anggukkan kepala. Namun pada parasnya kelihatan sekelumit rasa jengah
yang memerahkan kedua pipinya yang kotor itu. lni suatu pertanda bahwa ada sesuatu hubungan
antara dia dengan keluarga Wirya Pranata di Ujung Kulon itu.
Pemuda atau Sultan menghela nafas lagi. "Mudah-mudahan saja kita bisa terus selamat,
bapak Mangkubumi,” katanya.
"Memang itulah yang kita harapkan. Semoga Tuhan melindungi kita". Mereka
mendekati perbatasan kini. Di sepanjang perbatasan dijumpai prajurit yang mengawal semakin
banyak. Keduanya diperiksa oleh beberapa orang prajurit. Bungkusan masing-masing digeledah.
Untunglah Sultan Hasanuddin telah menyembunyikan di dalam lipatan
pakaiannya yang dikenakannya saat itu ! Dan kedua orang inipun selamat pula dari
pemeriksaan. Mereka bergegas menjauhi perbatasan.
"Aman sekarang…" kata Sultan Hasanuddin. Tapi baru saja dia habis berkata begitu
maka muncullah serombongan pasukan berkuda. Pimpinan rombongan, seorang perwira
pemberontak lambaikan tangan memberi isyarat berhenti pada anak-anak buahnya. Perwira ini
membawa kudanya ke hadapan kedua orang tersebut."
"Pengemis-pengemis hina dina!,” bentak perwira itu. "Apa kalian lihat dua orang
pelarian melintas di sini? Keduanya adalah Mangkubumi Mintra penasihat istana dan Sultan
Hasanuddin". Sambil bertanya begitu mata sang perwira menyorot meneliti kedua orang di
hadapannya.
Si orang tua menjawab . "Tak satu orangpun yang kami lihat, Yang mulia…”
Jawaban yang hormat dan mempergunakan tutur kata yang halus tinggi dari si orang tua
mencurigakan sang perwira. Biasanya pengemis-pengemis macam mereka bicara dalam bahasa
rendahan. Maka, terbitlah sekelumit kecurigaan di hati perwira itu. "Kami akan geledah kalian!"
katanya,
"Ah…, kami hanya pengemis-pengemis yang hina dan terlantar. Apa untungnya
menggeledah kami?"
"Memang tak perlu menggeledah manusia-manusia ini raden,” berkata seorang prajurit
yang berada di samping sang perwira. "Hanya akan mengotorkan tangan saja! Bau mereka
sangat menusuk hidung!"
Si perwira memang menganggap betul katakata bawahannya itu. Tapi bila sepasang
matanya yang tajam melihat bagaimana telapak dan jari-jari tangan kedua orang yang
dihadapannya sangat halus, bukan seperti tapak dan jari-jari tangan yang biasa dilihatnya pada
diri pengemis-pengemis maka memerintahlah dia. "Tangkap manusia-manusia hina dina ini!"
Mangkubumi Mintra yang tahu bahwa penyamamaran mereka pasti akan terbuka, tanpa
membuang waktu segera maju ke muka dan berkata "Kalian keterlaluan, manusia-manusia
macam kamipun masih hendak kalian ganggu!" Bentakan ini, adalah juga terdorong rasa
dendam kesumat terhadap kaum pemberontak.
"Kurang ajar kau berani bicara kasar terhadapku huh!" dengus perwira itu dan segera
hunus pedangnya sementara setengah lusin bawahannya segera mengurung mereka.
Mangkubumi Mintra tidak tinggal diam. Dari balik pakaian pengemisnya dikeluarkannya
sebilah pedang.
"Hemm… bagus! Sekarang lebih jelas siapa kau adanya kunyuk tua hina-dina!"
Perwira itu tetakkan pedangnya ke kepala Mangkubumi Mintra. Si orang tua membentak
nyaring dan mundur beberapa langkah sementara enam prajurit lainnya begitu cabut pedang
masing-masing segera pula menyerbu.
Mangkubumi Mintra putar pedang dengan deras. Sinar pedang bergulung-gulung.
Trang… trang… trang... trang Terdengar suara beradunya pedang susul menyusul! Waktu
pedangnya beradu dengan pedang prajurit-prajurit, Mangkubumi Mintra tak terasa suatu apa,
tapi ketika membentur senjata sang perwira maka terkejutlah orang tua itu. Tangannya tergetar
keras. dan panas! Mangkubumi Mintra mengeluh. Nyatanya sang perwira mempunyai kepandaian
tingkat atas!
Maka berserulah Mangkubumi Mintra pada Su1tan Hasanuddin. "Sultan larilah
selamatkan diri. Biar aku yang hadapi bergundal-bergundal pemberontak ini!"
"Tidak!" jawab Sultan Hasanuddin. "Mati hihidup kita berdua, bapak!"
"Jangan bodoh Sultan! Lari kataku!". Si orang tua putar pedangnya lebih sebat. Seorang
lawan yang mengurung menjerit keras dan melompat nanar dengan dada robek dimakan ujung
pedang!
"Keparat!,” maki perwira pemberontak. Dia melompat dari kudanya. Sambil melompat,
laksana seekor alap-alap dia mengirimkan serangan ganas.
Pedangnya menderu memepas ke arah batang leher Mangkubumi Mintra. Di saat itu si
orang tua sedang menangkis serangan seorang prajurit. Tangkisan ini terpaksa dibatalkannya
dengan melompat dan sebagai gantinya pedangnya diputar untuk menangkis pedang si perwira!
Tapi si perwira rupanya memiliki ilmu pedang dari Cabang Pantai Selatan yang terkenal
tangguh karena dengan tak terduga dan sangat cepat sekali serangan yang tadi merupakan satu
tebasan dengan tiba-tiba sekali berubah menjadi satu tusukan tajam dan cepat!
Si perwira tertawa mengekeh. Itulah jurus mematikan dari ilmu pedang yang dianutnya,
yang dinamakan jurus "menabas gunung menusuk bukit!"
Tentu saja tangkisan Mangkubumi Mintra tidak mempunyai arti apa-apa. Orang tua ini
cepat rubah posisi senjatanya namun sia-sia karena ujung pedang lawan lebih dahulu
menghunjam di dadanya! Maka terdengarlah keluhan mengerikan dari tenggorokan orang tua
malang itu.
Di saat itu, Sultan Hasanuddin sudah berhasil ke luar dari kurungan prajurit-prajurit
pemberontak dan meskipun hatinya berat namun dia terpaksa melarikan diri, bukan saja untuk
menyelamatkan diri sendiri, tapi juga menyelamatkan keris pusaka Tumbal Wilayuda demi
untuk menegakkan kembali kelak Kerajaan Banten! Namun sewaktu telinga mendengar keluhan
Mangkubumi Mintra, Sultan hentikan lari dan putar badan. Maka naik pitamlah dia ketika menyaksikan
bagaimana orang tua itu tersungkur di tanah bermandikan darah.
"Pemberontak-pemberontak durjana! Aku mengadu jiwa dengan kalian!,” seru Sultan
Hasanuddin. Dia menyerbu ke muka namun belum lagi dia melancarkan serangan maka
terdengarlah suara mengaung seperti suara tawon. Enam benda putih aneh dan berbentuk
bintang yang berkilauan melesat deras ke arah pemberontak-pemberontak. Lima prajurit pemberontak
coba hindarkan diri atau menangkis benda itu namun tiada ampun! Kelimanya menjerit
keras, rebah ke tanah, kelojotan seketika lalu kaku tegang tiada nyawa!
Perwira pemberontak dalam terkejutnya dan dengan kepandaiannya yang lebih tinggi
pergunakan pedang untuk memapaki benda bintang berkilau itu.
"Trang !"
Tampang perwira itu menjadi pucat. Pedangnya memang bisa membuat mental benda
maut yang menyerangnya namun senjatanya sendiri putung dua dihantam benda tersebut !
Baik sang perwira maupun Sultan Hasanuddin serentak putar kepala ke arah atas pohon
besar dari arah mana datangnya senjata-senjata rahasia tadi.
"Iblis keparat di atas pohon turunlah! Jangan sembunyikan diri!,” bentak sang perwira.
Sebagai jawaban terdengar suara tertawa bergelak kemudian sesosok tubuh dengan
entengnya melayang turun ke tanah dari atas pohon besar itu. Nyatanya dia adalah seorang
pemuda bertampang keren dan berambut gondrong. Umurnya mungkin tiada banyak beda
dengan Sultan sendiri. Saat itu bajunya tiada terkancing dan angin yang bertiup agak kencang
menyibak-nyibakkan baju putihnya sehingga jelaslah kelihatan angka 212 tertera di dada
kanannya Pendekar 212.
Melihat si pemuda ini menghadapinya dengan tertawa mengejek demikian rupa maka
membentaklah perwira tadi. "Rupanya kau masih belum tahu dengan siapa berhadapan! Masih
belum tahu apa akibat campur tanganmu dalam uru...” Ucapan sang perwira cuma sampai di
situ. Hampir tak kelihatan Pendekar 212 telah gerakkan tangan dan lemparkan bintang 212 ke
arah perwira pemberontak yang sedang bicara itu. Maka "heggg,” terdengarlah suara tercekik
dari rangkungan si perwira ketika senjata rahasia 212 dengan tepatnya masuk ke dalam mulut.
Senjata rahasia itu lenyap dan darah segera muncrat ke luar dari mulut sang perwira. Nasibnya
kemudian tidak beda dengan nasib bawahannya yang terdahulu!
Sultan Hasanuddin segera dekati Pendekar 212. "Saudara, kau telah tolong. Aku…”
Pendekar 212 memberi isyarat. Dia melangkah cepat dan membungkuk di hadapan
Mangkubumi Mintra. Ternyata orang tua itu masih bernafas satu-satu. Mulutnya bergerak-gerak.
"Sultan… mungkin dia mau bicara padamu,” memberi tahu Pendekar 212 atau Wiro
Sableng. Mendengar itu Sultan Hasanuddin segera pula berlutut di samping tubuh si orang tua
Mangkubumi Mintra dengan sisa-sisa tenaga yang ada buka kedua matanya yang berbinar-binar.
Bila pandangannya menyentuh paras Sultan Hasanuddin maka tersenyumlah dia.
"Sultan, kau tak apa-apa...?"
"Tidak bapak…". Sultan membelai rambut orang tua itu dan menyeka keringat di
keningnya. Keringat dan kening itu sangat dingin seperti es.
"Syukurlah..," desis Mangkubumi Mintra. "Aku yakin di bawahmu Kerajaan Banten
yang syah akan bisa ditegakkan kembali…"
Sultan Hasanuddin mengangguk. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi tak jadi karena
dilihatnya orang tua itu memalingkan kepalanya kepada pemuda yang telah menolongnya.
"Pendekar muda... aku gembira kau datang. Lebih gembira lagi karena kau telah berhasil
menyelamatkan Sultan. Tuhan kelak akan membalas jasamu yang besar ini...” Orang tua itu
terhenti bicaranya sejenak. Agaknya dia tengah mengumpulkan tenaga baru dari sisa-sisa
tenaganya yang terakhir. Lalu mulutnya terbuka kembali.
"Yang pasti adalah, bila takhta Banten telah kembali pada pemiliknya yang syah, maka
Kerajaan dan rakyat Banten tak akan melupakan pertolongan atau jasamu ini...”
Pendekar 212 coba tersenyum. Dia tahu bahwa keadaan orang tua itu tak mungkin lagi
untuk ditolong. Maka berkatalah dia. "Menyesal orang tua, aku tak bisa berbuat sesuatu apa
dengan lukamu…”
"Ah diriku yang sudah rongsokan ini tak perlu diambil peduli. Aku gembira menemui
kematian dengan cara begini rupa… Gembira karena di saat menjelang kematian ini aku telah
dapat melihat sinar terang bahwa Banten pasti akan kembali kepada pewarisnya yang syah…"
Mangkubumi memutar matanya pada Sultan Hasanuddin. Mulutnya terbuka untuk
mengatakan sesuatu namun malaekat maut meminta nyawanya lebih dahulu. Air mata
menggenang di kedua mata Sultan Hasanuddin. Digigitnya bibir sendiri untuk menahan
keluarnya suara isakan.
Tiba-tiba kening Pendekar 212 kelihatan mengerenyit. Kepalanya diputar ke jurusan
timur. "Ada apa…?" tanya Sultan yang saat itu masih belum mendengar suara apa-apa.
"Cecunguk-cecunguk pemberontak itu kurasa...” ujar Pendekar 212.
Beberapa ketika kemudian barulah Sultan mendengar suara derap kaki kuda yang
banyak sekali, mendatangi ke arah di mana mereka berada saat itu. Disusul beberapa saat lagi
maka diantara pohon-pohon dan semak-semak belukar tinggi kelihatanlah kira-kira dua puluh
prajurit pemberontak yang dipimpin oleh seorang berselempang kain putih bermuka sangat
hitam dan berambut gondrong acak-acakan. "Sultan, tinggalkan tempat ini cepat!"
"Tidak bisa sobat! Mangkubumi Mintra terbujur begini rupa dan adalah pengecut sekali
meninggalkan kau seorang diri. Apalagi kau adalah tuan penolongku !,” membantah Sultan
ketika dia diminta pergi. "Ini bukan soal pengecut Sultan! Yang penting adalah keselamatan
dirimu dan keselamatan yang ada di tanganmu."
Tentu saja Sultan Hasanuddin menjadi kaget mendengar ucapan Pendekar 212. Sewaktu
pertama kali pemuda itu memanggilnya dengan sebutan "Sultan" dia telah terkejut dan kini
bahkan dia mengetahui pula bahwa berada di tangannya!
Sementara itu rombongan penunggang-penunggang kuda semakin dekat.
atau Pendekar 212 berkata lagi. "Pergilah cepat sebelum terlambat! Soal jenazah orang tua ini
aku yang akan urus. Selama gunung masih hijau, kelak kita akan bertemu kembali!"
Mendengar itu dan lagi memang tak ada lain hal yang bisa diperbuatnya maka Sultan
Hasanuddin segera tinggalkan tempat itu.
Begitu dia lenyap di balik semak-semak maka dua puluh prajurit pemberontak di bawah
pimpinan si muka hitam sampai di tempat itu. Dia memberi isyarat. Prajurit-prajurit menyebar.
Dan kini terkurung di tengah lingkaran dua puluh prajurit
bersenjata lengkap, di bawah pimpinan seorang tokoh silat yang kosen!
-- == 0O0 == --
TIGA
DIKURUNG begitu rupa Pendekar 212 tetap tenang-tenang saja seperti saat itu cuma
dua sendirian saja berada di situ. Si muka hitam yang tak lain Resi Singo Ireng kaki tangan Parit
Wulung adanya, menyapu tebaran-tebaran mayat di hadapannya dengan pandangan sedingin
salju. Yang agak mengherankan Resi muka hitam ini ialah mengapa di antara mayat-mayat
pasukan Parit Wulung juga terdapat mayat Mangkubumi Mintra. Tak mungkin si pemuda
rambut gondrong itu yang telah menebar mayat kecuali jika dia mempunyai dendam kesumat
terhadap kedua belah pihak yaitu pihak pasukan dan Mangkubumi Mintra. Disamping itu
dengan adanya mayat si orang tua tergeletak di situ, pastilah sebelumnya Sultan Hasanuddin
juga berada di situ! Singo lreng memang berpikiran tajam. Melihat kepada pakaian
Mangkubumi Mintra tahulah dia bahwa penasihat istana itu berusaha melarikan diri dari Banten
dengan menyamar sebagai pengemis!
"Mana Sultan?" bertanya Singo Ireng derrgan suara lantang kasar.
Pendekar 212 tidak menjawab. Malahan dia memandang seperti tiada melihat apa-apa
berada-disekelilingnya saat itu! Dia menengadah ke atas memperhatikan matahari yang menaik
tinggi.
Melihat sikap yang sangat menghina ini, apa lagi di hadapan sekian banyaknya prajurit
tentu saja Resi Singa Ireng menjadi sangat penasaran serta malu. Mukanya yang hitam kelihatan
semakin tambah hitam. "Bocah gondrong! Apa kau tuli atau gagu? Orang bertanya tidak
dijawab?!"
Pendekar 212 masih tidak menyahut. Malah kini jari-jari tangan kirinya mencungkilcungkil
tepi lubang hidungnya kemudian dia berbangkis dua kali berturut-turut!
"Keparat!" bentak Singo Ireng dengan- suara menggeledek.
"Eeeeh… kau memaki pada siapakah?!" bertanya Pendekar 212 sambil putar kepala
seperti baru saat itu disadarinya bahwa dia tidak berada sendirian di tempat itu!
"Prajurit-prajurit! Tangkap bocah edan ini perintah Resi Singo Ireng dengan geramnya.
Maka dua puluh prajurit pemberontak melompat turun dari kuda masing-masing, hunus
senjata dan bergerak cepat mendekati Pendekar 212.
"Bergundal pemberontak," berseru atau Pendekar 212. "Kalau kau ingin
tangkap aku mengapa tidak turun tangan sendiri?!"
Di saat itu dua puluh prajurit sudah menyerbu untuk menangkap Pendekar 212.
"Kalian kunyuk-kunyuk pemberontak hanya datang minta digebuk!" ujar Pendekar 212
dengan tersenyum. Tapi bila senyumnya itu putus maka mengumandanglah bentakan dahsyat.
Lima prajurit yang paling dekat dan hendak turun tangan menangkapnya terpelanting dan
bergetimpangan di tanah tiada nyawa lagi!
Tersiraplah darah Resi Singo Ireng! Tiada disangkanya pemuda gondrong bertampang
bodoh itu mempunyai kehebatan demikian rupa! Maka berserulah dia! "Tak perlu budak hina
dina ini ditangkap hidup-hidup. Cincang di tempat!"
Maka lima belas senjata tajam berkiblat ke arah Pendekar 212.
"Heiyaaah !"
Tubuh Siro Sableng mencelat tiga tombak ke atas, Seluruh serangan senjata lawan lewat
di bawah kakinya. Detik senjata-senjata itu menderu memapas angin kosong maka detik itu pula
dengan kecepatan yang hampir tak sanggup disaksikan oleh mata Pendekar 212 menukik ke
bawah merampas pedang salah seorang prajurit. Dan ketika pedang itu menderu laksana kitiran
maka lima prajurit meregang nyawa mandi darah, dua lainnya luka parah!
Dalam kejutnya menyaksikan gebrakan yang dahsyat itu Resi Singo Ireng melihat satu
bayangan berkelebat ke arahnya. Dia tarik tali kekang kuda dengan cepat. Namun sebelum
binatang tunggangannya itu sempat bergerak, tubuh kuda ini sudah angsrok ke tanah! Keempat
kakinya terbabat putus. Binatang ini berguling di tanah melejang-lejangkan kakinya yang
buntung dan meringkik tiada henti! Untung saja Resi yang kosen ini Cepat menyadari apa yang
terjadi sehingga lekas-lekas dia melompat ke samping dan berdiri dengan muka kelam membesi,
mata menyorot!
Pendekar 212 tertawa gelak-gelak sementara prajurit-prajurit yang masih hidup dengan
nyali menciut segera menjauhi ini pemuda yang dianggap mereka sangat berbahaya.
"Pemuda gondrong! Kehebatanmu cukup untuk dikagumi! Tapi bila kau tahu dengan
siapa saat ini berhadapan, maka lekaslah berlutut minta ampun!" berkata Singo Ireng.
"Uh! Sama manusia jelek macam kau buat apa perlu takut!". ujar dan
tawanya semakin menjadi-jadi!
"Ah... kalau begitu kau sebutkanlah nama! Terhadap manusia-manusia yang punya
sedikit ilmu, aku tidak begitu senang jika membunuhnya tanpa tahu namanya terlebih dahulu!"
"Kalau butuh namaku aku tak keberatan. Majulah biar kutulis dijidatmu!" kata Wiro
Sableng pula sambil acungkan jari telunjuk!
Menggeramlah sang Resi bermuka hitam itu. Selama dunia terbentang, selama malang
melintang dalam dunia persilatan, baru hari itulah dia dihina dan direndahkan terus-terusan oleh
seseorang! Oleh seorang yang berusia jauh lebih muda dari padanya. Dari balik pakaian Resi ini
keluarkan sebuah senjata berbentuk aneh yaitu sebuah besi panjang yang ujungnya berbentuk
Iingkaran.
"Kalau kau punya senjata pusaka, sebaiknya lekas keluarkan supaya mampus tidak
rnenyesal!"
"Tak perlu banyak cerewet!" semprot Pendekar 212. "Majulah! Senjataku cukup pedang
butut milik cecungukmu yang sudah mampus itu!"
Resi Singo Ireng yang berbadan kate ini segera maju dan hamburkan serangan dahsyat.
Senjata anehnya mengeluarkan suara menderu, menimbulkan angin yang deras dan tajam. Ujung
senjata yang berbentuk lingkaran itu berubah laksana ratusan banyaknya! Searang lawan yang
berilmu tanggung dan bermata tidak awas akan sulit membedakan mana lingkaran senjata yang asli
dan mana yang bukan. Dalam lawan kebingungan maka senjata itu akan menyeruak lewat kepalanya
dan sekali putar saja pastilah patah dan putus batang leher dibuatnya! Inilah kehebatan senjata sang
Resi dari pantai selatan itu!
Namun yang dihadapi Singo Ireng dihari itu bukanlah seorang lawan berilmu tanggung,
bukan seorang pemuda yang hanya mengenal sejurus dua ilmu silat! Begitu senjata lawan membadai
menghampiri kepalanya, cepat merunduk dan selinapkan satu tusukan deras kearah
perut sang Resi!
Kaget Singo Ireng bukan olah-olah! Cepat dia undur dua langkah dan papasi pertengahan
senjata lawan dengan tongkat besi lingkarannya.
"Trang" !
Dua senjata beradu
Karena senjata ditangan Singo Ireng adalah senjata mustika sedang pedang ditangan Wiro
hanya pedang biasa maka patahlah pedang itu! Tapi sebaliknya Singo Ireng merasakan bagaimana
tangannya tergetar hebat dan panas pada bentrokan itu! Maklumlah dia bahwa pemuda itu
mempunyai tingkat tenaga dalam yang hebat sekali! Karenanya sang Resi tanpa memberi peluang
segera lancarkan serangan-serangan dahsyat! Sengaja dikeluarkannya jurus-jurus yang hebat yaitu
jurus "memetik bunga membelah buah" lalu disusul dengan jurus "delapan gunung meletus gegap
gempita"! Diserang dengan dua jurus ini berikut pecahan-pecahannya yang tak kalah dahsyat maka
Pendekar 212 menjadi repot juga.
Namun bila dia sudah mempercepat gerakannya, bila suara siulan sudah menggema melesat
dari sela bibirnya maka kelihatanlah kini bagaimana Resi Singo Ireng menjadi terdesak. Meski
terdesak, Resi ini dengan segala kelihayannya sanggup pertahankan diri sampai sepuluh jurus
dimuka!
"Manusia bermuka jelek! Permainan silatmu baleh juga. Tapi apa kau sanggup menerima
pukulanku ini?!" tanya Pendekar 212. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi ke atas, kedua mata
dipejam. Kemudian kedua tangan itu mulai berputar-putar dengan sebat! Maka menggemuruhlah
suara angin. Debu dan pasir beterbangan, membuat gelap pemandangan!
"Pukulan angin puyuh!" seru Resi Singo Ireng sambil bersurut mundur. Mulutnya komat
kamit membaca aji penangkis. Kedua kakinya melesak kedalam tanah sampai dua dim!
Tubuhnya tergetar hebat. Pakaian putih serta rambutnya yang awut-awutan berkibar-kibar!
Tiba-tiba Pendekar 212 hantamkan kedua tangannya kemuka. Tubuh
Singo Ireng mencelat kebelakang sampai lima tombak. Ketika dia berdiri maka tubuhnya
terbungkuk tertatih-tatih, hidungnya kembang kempis tanda nafasnya memburu tak teratur.
Nyatalah bahwa Resi kosen ini telah menderita luka parah didalam akibat pukulan
tadi. Senjatanya mental entah kemana! Wiro tertawa mengekeh.
Sebaliknya lawannya menggeram laksana harimau terluka. Mulut terkatup rapat-rapat,
rahang bertonjolan, pelipis bergerak-gerak sedang mata menyorot merah!
"Pemuda, hari ini aku Resi Singo Ireng biarlah mengadu jiwa pada kau!". Sang Resi
angkat tangan kirinya tinggi-tinggi. Detik demi detik tangannya itu menjadi hitam legam.
Tangan ini bergetar karena seluruh tenaga dalamnya dipusatkan kesitu!
tertawa mengejek. "Rupanya kau sengaja mau bunuh diri manusia kate
bertampang jelek! Dalam keadaan terluka di dalam, melancarkan pukulan demikian rupa kau
akan konyol sendiri!".
IZRO'IL
Keris Tumbal Wilayuda


Singo Ireng memang memaklumi hal itu. Tapi dia sudah kepalang tanggung, sudah
teramat malu dan sudah meluap amarahnya! "Aku mati tapi kau juga mampus ditanganku,
keparat!" bentaknya.. Maka tangan kirinyapun turun kebawah dengan cepat. Selarik sinar hitam
yang menggidikkan menyambar kearah Pendekar 212! Itulah ilmu pukulan "wesi item" yang
telah membinasakan Braja Paksi, kepala balatentara Banten!
Pendekar 212 melompat ke atas sampai enam tombak. Angin pukulan "wesi item" terasa
panas seperti mau melumerkan kedua kakinya. Pendekar ini gigit bibir menahan perih lalu
1ancarkan serangan balasan yaitu pukulan yang tak asing lagi. "kunyuk melempar buah"!
Di seberang sana tubuh Resi Singo Ireng kelihatan jungkir balik kemudian jatuh duduk
di tanah dan muntah darah, lalu rebah tiada sadarkan diri!
Sebenarnya pukulan "kunyuk melempar buah" itu belum tentu akan mencelakai sang
Resi. Namun karena dalam keadaan terluka di dalam dia telah rnelancarkan pukulan yang keras dengan mengandalkan seluruh tenaga dalam maka dia rasa sendiri akibatnya. Masih untung nyawanya tidak terbang!
tertawa mengekeh. Dia melangkah mendekati tubuh Resi itu. Prajuritprajurit
yang masih hidup, yang dedikkan mata melihat bagaimana jago mereka dibikin babak
belur demikian rupa segera bersurut menjauh.
"Resi muka arang!,” kata Pendekar 212. "Kau tanya siapa aku. Inilah kutuliskan aku
punya nama!". Dan habis berkata demikian pendekar ini segera guratkan angka 212 dikulit
kening yang hitam dari Singo Ireng. Kemudian nendekar ini berdiri kembali. "Kerak-kerak
pemberontak!,” katanya pada perajurit-perajurit yang masih hidup. "Kalian boleh menggotong
manusia bermuka pantat kuali ini ke Kotaraja! Jika hari ini aku tiada cabut nyawanya dan nyawa
kalian, maka di lain hari bila bertemu kembali jangan harap aku akan lepaskan nyawa kalian!
Sampaikan ini padanya bila dia sudah siuman!". Dan sesudah bicara demikian
segera tinggalkan tempat itu dengan membawa mayat Mangkubumi Mintra.
-- == 0O0 == --
EMPAT
DENGAN hati penuh duka sedih mengenang kematian Mangkubumi Mintra yang sengaja
korbankan nyawa untuk selamatkan dirinya, Sultan Hasanuddin berlari sepanjang tepi rimba
belantara dikaki bukit. Perjuangan memang membutuhkan pengorbanan. Dan ini bukan saja
menambah besarnya dendam kesumat di hati Sultan terhadap Parit Wulung dan benggolanbenggolan
pemberontak lainnya tapi juga mempertebal tekatnya bahwa di suatu ketika dia pasti akan
kembali ke Banten dan membangun Kerajaan Banten yang syah!
Menjelang senja dia mencapai sebuah kota kecil yang terletak di timur Banten. Kota ini
bernama Asoka. Dulunya hanya merupakan pangkalan-pangkalan pemberhentian para pedagang
dari pelbagai penjuru sekitar situ. Kemudian pedagang-pedagang itu banyak yang mendirikan
gudang-gudang untuk barang-barang dagangannya, kemudiannya lagi mereka juga mendirikan
rumah-rumah sehangga lambat laun dari pangkalan dagang maka berobahlah Asoka menjadi sebuah
kota. Sebagai kota dagang tentu saja sepanjang hari Asoka selalu sibuk. Kesibukan dan keramaian
ini terus berlangsung sampai jauh malam.
Sehabis mendapatkan sebuah penginapan, Sultan mengelilingi kota melihat-lihat keramaian
dan mengisi perut disatu kedai. Ketika bulan sabit di atas langit tertutup oleh awan tebal berwarna
gelap maka Sultanpun kembali kepenginapannya. Matanya yang tajam segera melihat adanya
ketidakberesan dalam kamar dimana dia menginap. Seperai agak kusut bantal-bantal tidak terletak
ditempatnya semula sedang bungkusan kecil yang berisi beberapa potong pakaian serta sejumlah
uang yang diletakkannya di kolong tempat tidur nyata sekali bekas dibuka dan digeledah orang.
Namun tidak sepotong barang-barangnyapun yang hilang!
Sultan merasa masygul. Dia memandang berkeliling. Di dinding sebelah sana terdapat
sebuah jendela. Jendela itu masih tetap sebagaimana tadi ditinggalkannya. Tak ada tanda-tanda
bekas pengrusakan. Siapa gerangan yang telah masuk ke dalam kamar dan melakukan
penggeledahan? Mungkin seseorang, mungkin beberapa orang? Kalau dia atau mereka itu dari
golongan si tangan panjang atau pencuri, mengapa tidak sepotong barang dan tak sepeser
uangnyapun yang hilang? Kekhawatiran Sultan Hasanuddin semakin besar karena dia berkesimpulan
bahwa siapapun manusianya yang telah memasuki kamarnya pastilah untuk mencari
dan mencuri keris pusaka Tumbal Wilayuda!
Sultan Hasanuddin merasa bersyukur karena sewaktu pergi tadi dia telah membawa keris
tumbal kerajaan itu. Kalau tidak pastilah senjata itu sudah lenyap dilarikan orang!
Malam itu Sultan sengaja tidur dengan mematikan lampu minyak di dalam kamarnya.
Matanya hampir terpicing ketika lapat-lapat sepasang telinganya mendengar suara gemerisik di atas
loteng bangunan. Suara itu pasti sekali bukan suara kucing. Sultan pasang telinganya