THE 47 RONIN STORY
by John Allyn
Kisah 47 Ronin 1

—Pepatah Jepang ––
Among flowers, the cherry blossom; Among men, the samurai
PENDAHULUAN
Di awal abad ke-18, Jepang dilanda kekacauan. Pada masa itu, istana Shogun yang berada di Edo (sekarang Tokyo), marak dengan pameran keme-wahan, korupsi, serta pesta-pora di kota tua Kyoto. Sama sekali jauh dari aturan sosial. Kesenian makin berkembang; teater populer mulai lahir. Dengan makin berkuasanya klas pedagang, masa itu juga merupakan awal dari berakhirnya pengaruh prajurit bayaran, atau samurai. Hilangnya pengaruh ini sa-ngat mereka rasakan, terutama karena para samurai sangat membenci segala bentuk usaha yang ber-tujuan mencari keuntungan.
Di tengah perubahan yang membingungkan itu, kekacauan sering muncul. Kekacauan utama terjadi akibat petani dikenakan pajak di luar batas kemam-puan mereka oleh Shogun, penguasa di seluruh Jepang. Samurai jarang sekali menimbulkan kekerasan, suatu sikap yang merupakan bentuk penghor-matan atas tingginya latihan serta disiplin mereka.
Namun bahkan seorang samurai pun memiliki batas kesabaran. Khususnya bagi seorang daimyo muda yang terpaksa harus berurusan dengan tradisi istana yang sama sekali tak bermanfaat.
Peristiwanya terjadi di Edo tahun 1701. Dalam keadaan marah dan kecewa, Lord Asano dari Ako menyerang seorang pejabat istana yang korup se-hingga memicu serangkaian peristiwa yang berakhir dengan balas dendam paling berdarah dalam sejarah kekaisaran Jepang. Rangkaian peristiwa ini menge-jutkan seluruh negeri sehingga Shogun pun mengha-dapi kebuntuan hukum dan moral. Ketika semuanya berakhir, Jepang memiliki pahlawan baru - yaitu empat puluh tujuh ronin (mantan samurai) dari Ako.
Fakta sejarah atas tindakan mereka sangat jelas; tapi keterangan rinci tentang peristiwa itu sangat kabur. Berbagai versi telah dikisahkan dalam bentuk lagu, cerita, drama dan film.
Buku ini dimaksudkan untuk menyampaikan sebuah catatan tentang apa yang mungkin terjadi di masa itu, ketika Jepang dikucilkan oleh dunia dan tradisi lama masih mengatur kehidupan manusia.*
SATU
13 Maret, 1701.
Matahari yang mulai tenggelam membuat perairan di sekeliling kepulauan Jepang me-merah. Di barat daya, di jalan dekat Laut Peda-laman, seorang laki-laki tinggi menunggang kuda yang tidak terawat. Dia melindungi mata dari sinar matahari sambil berkuda melewati hutan pinus.
Namanya Oishi Kuranosuke Yoshitaka; kepala samurai Klan Asano. Dia dalam perjalanan kembali ke kastil di Ako setelah berkeliling kota bersama putri majikannya yang menunggang kuda poni di sebelahnya. Surai kuda poni itu dibiarkan panjang tanpa dipotong.
Mereka merupakan pasangan yang aneh. Oishi adalah laki-laki tampan berumur empat puluhan dengan dahi menonjol, rahang persegi, dan sikap yang tenang berwibawa. Rambut, sarung hakama serta dua bilah pedang menunjukkan bahwa dia samurai, klas ksatria. Sedangkan anak itu mungil dan periang, bercahaya laksana kupu-kupu dalam balutan kimono dan obi. Keduanya tampak nyaman. Si gadis merasa terbebas dari disiplin ketat yang diterapkan orangtuanya; sedangkan Oishi merasa bebas bersama anak kecil, terutama anak orang lain, untuk melepas sikap resmi dan bahkan sedikit bercanda.
Sekarang, dalam perjalanan pulang, mereka tak banyak bicara seperti sebelumnya. Oishi terkejut dengan apa yang dilihatnya di kota.
Seumur hidupnya Oishi selalu menentang keke-rasan sesuai ajaran Budha, meskipun kadang dia terpaksa membunuh untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, atau membunuh hewan untuk mendapat makan. Secara pribadi, dia .menyesalkan kekejaman yang terjadi dalam pertandingan mema-nah anjing dan dia tidak keberatan bila olahraga semacam itu dilarang. Akan tetapi, Undang-Undang Pelestarian Hidup yang dikeluarkan Shogun ternyata sangat merugikan. Sekarang ini binatang lebih ber-untung dibanding manusia, dan ini membuat negeri berada di tepi jurang kekacauan ekonomi.
Di kota, Oishi melihat petani yang dulu sangat berhasil kini mengemis mencari kerja karena dilarang membunuh hama yang merusak tanaman. Serigala, musang, burung dan serangga berkeliaran dengan bebas di ladang, sementara petani hanya dapat melihat tanpa dapat berbuat apa-apa.
Oishi tahu bahwa unggas diperdagangkan secara diam-diam di ruang belakang beberapa toko ter-kenal, namun pelanggaran atas undang-undang ini hanya sedikit. Bukan saja karena perangkat adminis-tratif pemerintahan Shogun sangat berhasil dalam menangkap para pelanggar hukum, tapi juga karena denda bagi mereka yang melukai makhluk hidup sangat besar. Dan bila membunuh binatang, "pelaku kejahatan" itu akan dihukum mati.
Ada golongan lain yang senasib dengan petani. Para pemburu, pemasang jerat, dan penyamak kulit juga beramai-ramai memenuhi kota untuk mencari nafkah. Dan yang membuat mereka tidak berdaya adalah lapangan kerja yang tersedia sangat sedikit sementara harga makanan tak terjangkau oleh rakyat biasa karena hasil panen tidak mencukupi. Satu-satunya yang bisa diperoleh dengan murah adalah gadis untuk menemani tidur karena makin banyak petani yang menjual anak gadis mereka ke rumah pelacuran.
Oishi sering menyusuri pusat-pusat hiburan itu ketika menemani putri Lord Asano berkeliling kota, tapi kini rumah pelacuran telah menyebar hingga ke jalan utama.
Sebenarnya, golongannya kurang merasakan kesulitan ekonomi ini, tapi dampak dari keputusan Shogun memengaruhi mereka dalam bentuk lain.
Kini tak ada lagi latihan atau pertandingan me-manah karena mereka tak boleh mencabuti bulu angsa untuk panah. Juga tak ada lagi lomba burung elang karena semua burung harus dilepas bebas. Bahkan Burung Elang Utama milik Shogun pun dilepas. Lomba ketangkasan berkuda menjadi seni yang hilang karena kuku kuda tidak boleh dipotong dan surainya tidak boleh dipangkas. Dan, menurut Oishi, yang paling parah dari semua itu adalah menurunnya nilai-nilai moral yang menyebar mulai dari ibukota Shogun hingga ke propinsi.
Dia mendengar berbagai laporan bahwa tari-tarian dan sandiwara yang membanjiri ibukota Shogun Tokugawa Tsunayoshi mulai memengaruhi samurai di kota ini. Dia bahkan mendengar desas-desus bahwa ada samurai yang datang ke teater kabuki di Kyoto, kota hiburan sekaligus kota kuil, meskipun dia tidak memercayai berita ini.
Sebenarnya hal itu sudah berlangsung beberapa lama, tapi Oishi belum menyadari betapa hal-hal buruk telah merambah sampai ke kota ini. Saat memikirkan laporan yang akan disampaikan pada Lord Asano, dia menoleh ke gadis kecil yang berkuda di sampingnya. Gadis itu tersenyum kepadanya tapi kemudian terlihat lebih serius. Sang anak juga telah memerhatikan perubahan yang terjadi di daerah.
"Paman," tanyanya "mengapa pertanian ini tidak dirawat? Apakah tidak sebaiknya Paman laporkan pada ayah karena para petani tidak melakukan tugas sebagaimana mestinya?"
Oishi tertawa perlahan. Belum sempat dia men-jawab, gadis cilik itu melanjutkan, "Mungkin sebaiknya kita jangan menyalahkan para petani sebelum mendengar penjelasan mereka. Tapi apa alasan mereka menelantarkan ladang seperti itu?"
"Mereka terpaksa, gadis kecil, karena berdasar-kan Undang-Undang Pelestarian Hidup, mereka di-larang membunuh binatang yang merusak ladang."
"Kenapa ada larangan membunuh binatang -terutama yang benar-benar mengganggu?"
"Karena Shogun sudah melarang membunuh binatang. Dan, karena kami setia pada ayahmu sehingga kami tak berpikir untuk mempermalukan beliau dengan melanggar perintah pemimpin-nya, yaitu Shogun."
"Tapi kenapa dia membuat undang-undang yang keras itu?"
Oishi menghela napas panjang. Walaupun me-nyakitkan, dia bisa memahami alasan Tsunayoshi memberlakukan undang-undang itu.
"Karena dia sangat ingin punya anak. Anak manis sepertimu. Kau tahu, dia pernah kehilangan seorang anak - putranya yang berusia empat tahun meninggal dunia. Dan pendetanya mengatakan bah-wa untuk bisa punya putra lagi, dia harus bertobat
- mungkin dia pernah menghilangkan nyawa bebe-rapa makhluk hidup. Kau sudah tahu kalau kita tidak lagi menggunakan anjing dalam pertandingan
- itu karena Shogun dilahirkan pada Tahun Anjing, Sekarang, membunuh anjing akan dihukum mati."
"Walaupun saat kita diserang?"
Oishi diam beberapa saat. "Dalam hal itu, membunuh anjing mungkin dapat dibenarkan - tapi akan lebih baik bila ada saksi bahwa anjing itu yang menyerang lebih dulu."
Oishi tersenyum. Si gadis membalas senyumnya, meskipun tidak yakin apakah Oishi bergurau atau tidak. Dia memutuskan untuk menaijyakan hal ini bila ayahnya sudah kembali dari Edo.
Sambil berteriak, dia menghentakkan kaki ke panggul kuda yang segera berlari kencang. "Aku akan mendahului Paman sampai di rumah," teriaknya yang sudah sepuluh langkah di depan Oishi. Rambut panjangnya yang tergerai melambai-lambai.
Oishi berteriak dahsyat laksana seorang ksatria yang hendak menyerang lalu berpacu mengejar gadis itu. Dia tetap mempertahankan jarak, dan bersama-sama mereka melewati jalan berliku menuju bukit terakhir. Dari puncak bukit mereka dapat melihat kastil yang jauh di bawah, di tengah dataran yang luas. Letak kastil begitu strategis hingga penyerang takkan dapat mendekat tanpa diketahui. Peman-dangan itu selalu tampak luar biasa, dengan tembok yang tinggi serta menara yang beratap putih. Namun kali ini mereka tidak berhenti untuk mengagumi keindahan tersebut.
Matahari yang terbenam memantulkan bayangan panjang saat mereka berlomba menuruni bukit menuju kastil. Terlintas di benak Oishi bahwa bila matahari yang sama terbit kembali esok pagi, maka itu akan menjadi awal dari hari terakhir Lord Asano di Edo. la berharap seluruh upacara akan berjalan lancar di ibukota Shogun. Ketika si gadis memasuki gerbang, dan Oishi mengikuti dari belakang untuk menerima penghormatan dari penjaga, pikiran itu datang lagi; besok akan menjadi hari terakhir Lord Asano di Edo.*
DUA
Fajar yang dingin tiba menyelimuti Edo, ibukota Jepang kuno. Hari itu akan menjadi hari yang suram tanpa matahari. Angin dingin yang bertiup dari puncak gunung yang bersalju menghentak atap rumah di daerah pinggiran kota, menghembuskan debu di sepanjang jalan pos dari barat daya lalu memasuki kota.
Dalam perjalanannya, angin membawa serta bau kotoran manusia dari daerah persawahan, bau batu bara dari dapur, serta bau garam dari perairan asin di Lembah Edo.
Angin kehilangan kekuatannya di dataran ren-dah saat melewati lorong-lorong sempit yang berke-lok-kelok di antara bangunan-bangunan kayu yang merupakan tempat tinggal dan tempat usaha bagi sekitar tujuh ratus ribu pedagang dan seniman. Di atas atap bangunan, angin terus bertiup keras ke dataran tinggi di tengah kota, menukik menye-berangi saluran air yang terbuat dari susunan batu lalu melewati menara-menara pengawas dan istana-istana di Kastil Edo tempat Shogun Tsunayoshi, pemimpin tertinggi.
Angin berhembus begitu kencang hingga me-nimbulkan bunyi keras. Menyapu pemakaman dan lapangan tempat pelaksanaan hukuman mati. Deru angin membuat seekor anjing kampung menyalak lalu diikuti anjing lain. Deru angin kian kencang dan menakutkan ketika berhembus melewati gubuk para pengemis dan istana-istana bangsawan, memiawak-kan telinga baik orang miskin maupun kaya....
Lord Asano bersama Oishi sedang berkuda di padang rumput yang berkabut. Mereka melompati bangkai seekor babi hutan yang selalu mengancam para petani. Ketika mereka masuk ke kabut yang tebal, suara yang menakutkan membuat kuda Lord Asano gelisah. Oishi berhenti di belakangnya, tapi dengan tidak sabar Lord Asano semakin memacu kuda dan menghilang dari pandangan.
"Tuanku Asano!" teriak Oishi dengan rasa kuatir, "kembalilah, kembali!"
Rasa bangga Lord Asano takkan membuatnya berbalik dan kembali. Dia terus maju menembus kabut sampai bunyi yang aneh itu berubah menjadi lengkingan lalu terdengar lolongan yang memiawakkan telinga. Dia merasakan kengerian yang mence-kam ketika makin terbawa suara itu dan kehilangan arah. Dalam kabut putih yang menyilaukan itu, dia tak bisa melihat sehingga kehilangan keseimbangan lalu jatuh. Suara itu makin keras. Dia tahu bahwa dia harus berjuang untuk tetap hidup dan melepas-kan diri dari setan-setan yang sedang menantinya. Dia berteriak minta tolong, dan pada saat itulah dia terbangun. Ternyata dia berada di rumah peristira-hatannya yang terletak di dekat kastil Shogun. Lolongan anjing itu menghilang terbawa angin.
"Suamiku!" teriak istrinya ketika dia bangkit melihat suaminya hendak menarik pedang yang ada di sampingnya. "Ada apa?"
Setelah benar-benar terbangun, Lord Asano lalu menggelengkan kepala dan melempar pedangnya. "Anjing itu," gumamnya. "Anjing-anjuig sialan itu."
"Kembalilah tidur," kata istrinya dengan senyum menenangkan. "Seharusnya kau sudah mulai ter-biasa dengan mereka."
"Aku takkan terbiasa dengan lolongan anjing-anjing itu dan semua yang berhubungan dengan tempat suram ini."
"Satu hari lagi," istrinya mengingatkan. "Setelah itu kita akan kembali ke Ako."
"Satu hari lagi," ulangnya dengan nada penuh harap sekaligus sedih. "Satu hari lagi yang tidak menyenangkan."
la berusaha kembali tidur namun jantungnya masih berdebar karena mimpi buruk. Matanya tak bisa terpejam. Dengan gelisah dia menatap mentari pagi yang menyelinap melalui tirai. Lord Asano mengeluh dan keluar dari selimut tebalnya lalu berdiri dengan menggigil dalam pakaian dalam. la mengenakan jubah tebal, mendorong pintu kertas lalu berjalan keluar di lorong yang dingin.
Dia berjalan dengan langkah panjang di lantai kayu yang licin akibat tergosok kaus kaki orang yang melewatinya. Satu sisi lorong itu ditopang tiang kayu cedar wangi yang dibatasi papan shoji yang dicat; di sisi yang lain ada kerai untuk memisahkan koridor dari taman yang ada di luar, dan Lord Asano menggigil saat angin menggoyangkan tirai-tirai itu. Dia seakan kembali mendengar gonggongan anjing dalam mimpinya tadi.
Dia membuka pintu sorong menuju dapur lalu melangkah masuk. Dapur itu besar, lantainya ter-buat dari papan dengan perapian dari tanah liat yang tertanam di dalam lantai. Dua orang samurai yang berasal dari rombongannya sedang duduk menghangatkan diri. Ketika dia mendekat sambil menggumamkan salam, mereka langsung berlutut dan membungkuk.
Kataoka, samurai yang kurus tapi kuat dengan wajah mirip kera, hendak bergurau, tapi mengurung-kan niatnya setelah melihat wajah majikannya. Lord Asano adalah orang yang kaku, namun pagi ini dia kelihatan lebih kaku dari biasa. Samurai yang lain berwajah garang berumur lima puluhan. Namanya Hara. Matanya sayu dan kurang cerdik; dia hanya mengikuti sikap Kataoka yang duduk dengan posisi bersila di tepi perapian ketika sang majikan duduk.
"Kau tidak perlu bangun sepagi ini," kata Lord Asano pada Hara. "Aku hanya memerlukan Kataoka hari ini, dan yang akan dia lakukan hanyalah berdiri di luar kastil sambil memandangi menara dan mela-mun tentang rumahnya."
Hara menggerutu dan melirik sebentar, kemu-dian menunduk kembali lalu mengangkat mangkuk nasi dan makan. Kataoka menunduk sambil menye-ringai seperti kera, senang atas kehormatan itu, tapi kemudian dia terbatuk karena asap perapian yang menyerbu wajahnya. Saat Lord Asano meraih teko yang tergantung di atas perapian, asap masuk ke matanya hingga dia memaki sambil mengembalikan teko ke tempatnya.
"Mimura!" dia memanggil, dan bunyi langkah yang diseret dari dapur kecil menandakan bahwa Mimura mendengar panggilannya.
Pelayan itu, pemuda bertubuh tinggi dan kaku, cepat-cepat memasuki dapur dan menunduk ke arah majikannya. Saat mengangkat kepala, dia melihat asap yang menyebar ke segala arah, tidak ke lubang asap. Dia segera meraih ke dalam tungku untuk mengambil kayu bakar berwarna hijau yang menye-babkan asap.
"Siapa yang meletakkan kayu itu di sana?" tanya Lord Asano dengan marah. "Kau seharusnya lebih tahu, Mimura. Tidak bisakah kau bantu mengawali hari yang suram ini dengan lebih baik?"
Mimura memohon maaf dalam kata-kata yang sangat sopan dan menggumam soal kebodohan pelayan api yang baru. Setelah itu dia berjalan ke pintu dapur kecil lalu memanggil.
Setelah beberapa kali memanggil barulah pelayan itu datang. Mimura memarahi atas kelalaian pelayan itu, tapi jika dia mengharapkan permintaan maaf maka dia akan kecewa. Pelayan itu, dengan suara keras, mengatakan bahwa Mimura dapat me-nyalakan perapian jika tidak banyak bicara, lalu dia pergi sambil membanting pintu dapur.
Semua yang berada dekat perapian kaget. Hara langsung berdiri dan mengambil pedang.
"Apa maksudnya bicara seperti itu?" serunya sambil melangkah ke pintu dapur.
"Jangan, tunggu," kata Lord Asano pelan namun berwibawa. "Dia hanya anak-anak. Lagi pula, kau akan mendapat masalah bila melukai anak itu. Hukum di sini berbeda; kita tidak bisa bertindak seperti di daerah kita."
"Tapi menghina pelayan Anda berarti menghina Anda," Hara bersikeras. "Setidaknya aku potong lidahnya, bila Anda tidak mengizinkan aku me-menggal kepalanya."
"Duduk dan minumlah teh. Kau harus mulai belajar kebiasaan di Edo. Di sini, kedatangan dan kepergian daimyo dari berbagai propinsi adalah hal yang biasa sehingga mereka tidak takut, bahkan bagi seorang pelayan."
Masih menggerutu, Hara menyingkirkan pedang-nya lalu duduk. Dia memerhatikan dengan hati-hati ketika Mimura membuka pintu dapur kecil dan melangkah keluar. Tak lama kemudian terdengar bunyi tamparan dan teriak kesakitan. Hara ter-senyum ketika Kataoka tertawa keras.
"Itu akan membuat monyet kecil itu kapok," teriaknya dan menyeringai mirip kera. Yang lain tertawa dan Kataoka senang bahwa dia telah mem-bantu majikannya terhibur, walaupun hanya untuk sesaat.
"Seandainya orang Edo tidak susah diatur," kata Lord Asano sambil menghela napas dan mengambil nasi. "Terutama dengan mereka yang memiliki se-dikit kekuasaan."
Kedua samurai saling pandang. Mereka tahu maksud majikan mereka.
"Semua pesolek istana seharusnya disingkir-kan," Hara menggeram, dan Kataoka mengangguk setuju. "Mereka berbicara dan berpakaian seperti perempuan, dan sama-sama merepotkan."
"Tapi, semuanya akan berakhir besok," kata Lord Asano. "Setelah itu kita pulang ke Ako dan melupa-kan tempat ini. Coba pikirkan bagaimana rasanya ketika daimyo seperti ayahku harus tinggal di sini selama enam bulan setiap tahun."
Mereka setuju bahwa aturan yang sekarang ini lebih baik daripada dulu, dan mereka pun makan. Dengan sedih Hara menatap mangkuknya dan Lord Asano tahu apa yang sedang dia pikirkan.
"Setidaknya dulu kita bisa makan nasi dengan sedikit daging dan ikan, bukan begitu Hara? Yah, mungkin kelak kita bisa makan daging dan ikan lagi bila Undang-undang Pelestarian Hidup dibatalkan. Undang-undang itu mungkin menguntungkan bina-tang tapi tidak untuk kita, manusia." Dia meletak-kan mangkuk dan menghela napas lagi. "Sebagian besar undang-undang tampaknya hanya dimaksud-kan untuk menyiksa kita. Dan peraturan istana soal etika tak bisa kumengerti. Seandainya aku tak ber-gantung pada perintah orang seperti Kira!"
Dia mengutuk orang itu. Sekali lagi Hara dan Kataoka saling menatap dengan cemas. Mereka tahu kalau sang majikan takkan menjelaskan masalah ini - tak pantas baginya untuk mengutarakan kepri-hatinan pribadinya pada mereka - tapi mereka tahu bahwa Kira, Pemimpin Upacara Istana, membuat Lord Asano menjadi susah. Dan mereka juga tahu tak ada yang dapat mereka lakukan.
Nama Kira tertancap di benak Lord Asano se-perti tulang yang tersangkut di tenggorokannya. Dia tak pernah menikmati kunjungan ke tempat ini. Tapi kali ini dia terpaksa turut dalam tugas resmi, bukan sekadar penonton, dan harus selalu berhubungan dengan bawahan Shogun. Sebenarnya Kira bukan daimyo, karena dia tidak punya wilayah dan juga bukan penguasa. Tapi kenyataan bahwa dia pernah diutus ke Kyoto untuk belajar tata upacara di istana Kaisar telah memberi gengsi dan kekuasaan yang dimanfaatkannya untuk memperoleh keuntungan lewat suap dari orang yang terpaksa belajar darinya.
Malam sebelumnya Lord Asano sudah menulis surat tentang Kira untuk kepala pengawalnya, Oishi. Dalam suratnya, Lord Asano seolah ingin mena-warkan saran soal cara bersikap di kota itu.
"Kau harus berhati-hati pada Kira. Dia menikmati kepercayaan Shogun dan seolah dia orang yang setia, tapi sebenarnya dia suka meminta suap serta memanfaatkan jabatannya. Tampak-nya hanya ada satu cara bila berurusan dengan orang seperti itu, yaitu ikut dalam permainan-nya, tapi aku menolak cara seperti itu meski-pun Kira selalu menyulitkan aku. Tapi, tak peduli apa yang terjadi, aku takkan membayar jasanya yang sudah seharusnya disediakan Shogun. Mungkin ini sikap keras kepala, tapi sepengetahuanku, ini sikap terhormat yang harus dilakukan para samurai. Mungkin aku takkan bisa mengembalikan kemerosotan yang telah melingkupi istana, tapi setidaknya aku akan berusaha bertahan semampuku."
Dia ragu bahwa kata-katanya dapat dianggap seba-gai nasihat, tapi setidaknya dia dapat mengeluarkan isi hatinya.
Dia menyelesaikan makan dan bangkit sambil menghela napas.
"Sudah waktunya memakai pakaian 'badut',"' katanya pada Kataoka. Mereka lalu keluar dari dapur sementara Hara duduk dengan perasaan marah pada kekuatan yang telah membuat majikannya risau.
Di kastil, Kira juga bangun pagi. Sebagai Pemimpin Upacara untuk semua acara di istana, dia wajib tampil tak tercela, baik dalam berpakaian maupun dalam bersikap. Jubah yang disediakan untuknya memiliki gaya yang sama dengan para daimyo dan pejabat istana yang datang, namun warna hitam gelap dengan hiasan warna putih di bagian atas lengannya yang sangat lebar membuat penampilan-nya menonjol.
Kira selalu berusaha terlihat lebih tua agar, menurutnya, itu akan membuatnya lebih bermarta-bat. Namun, selain dua garis di dahi, tidak ada keriput di wajahnya. Badannya yang gemuk pun masih terlihat kuat dan gesit. Giginya, sesuai kebia-saan mutakhir, dihitamkan agar pada saat bicara, orang hanya akan melihat lubang gelap yang tidak bergigi.
Saat ini Kira mencemaskan sikap salah seorang daimyo. Lord Asano adalah samurai yang dididik dengan cara lama dan tidak tahu kalau menyuap orang yang tepat akan menguntungkan. Dan karena alasan inilah dia menjadi ancaman bagi gaya hidup Kira.
Sudah tiga hari Kira mencoba lewat bujukan, isyarat dan akhirnya lewat penghinaan untuk me-nyampaikan pada Lord Asano bahwa sudah biasa memberi uang kepada Pemimpin Upacara atas jasa-jasanya. Kira khawatir sikap Lord Asano itu akan membawa pengaruh buruk. Gajinya sebagai pegawai istana tidaklah besar dan dia tak ingin kehilangan satu pun keuntungan tambahan karena sikap keras kepala Lord Asano. Dia mencari untuk menying-kirkan daimyo ini. Sejak dulu dia selalu mendapat-kan keinginannya dari para bangsawan muda dan dia bertekad bahwa sekarang pun bukan penge-cualian.
Seorang pelayan datang dengan terengah-engah dan memberitahukan bahwa Shogun Tsunayoshi ingin bertemu. Kira cepat-cepat memakai jubah sambil mengumpat karena tidak bisa berpakaian dengan santai. Lalu, dengan tergesa-gesa dia keluar dan menyeberangi halaman menuju istana sambil memikirkan apa yang mengganggu Shogun di pagi hari seperti ini.
Selama dua puluh satu tahun memerintah, Tsunayoshi memiliki semua alasan untuk merasa senang. Tidak ada pemberontakan, terutama karena para pendahulunya telah bersungguh-sungguh menyatu-kan negeri ini. Pertama dengan menaklukkan lalu menempatkan penguasa di lokasi yang strategis untuk saudara sedarah. Para pendahulunya juga telah membantu mengusir orang asing kecuali seke-lompok kecil pedagang Belanda di pulau yang ter-letak di ujung selatan. Pengaruh Kristen tetap hidup selama beberapa waktu setelah pengusiran. Tapi enam puluh tahun sebelumnya, di Shimabara, pembunuhan besar-besaran atas mereka yang menyim-pang telah membuat negeri itu terbebas dari gang-guan kecil seperti itu.
Kini, setelah bertahun-tahun dalam kedamaian, kota-kota dan kesenian makin berkembang, dan para pedagang kian maju. Memang benar harga beras makin mahal karena kurangnya pasokan dari petani, namun secara keseluruhan Tsunayoshi bebas dari berbagai masalah kenegaraan yang berat.
Saat Kira masuk dengan napas lebih terengah-engah dari yang seharusnya, dia dapat melihat Tsunayoshi sedang gelisah. Kira membungkuk seren-dah mungkin lalu mengangkat kepala untuk melihat laki-laki kurus tinggi berusia lima puluh tahun yang sedang mondar-mandir di ruang penerimaan tamu.
Ternyata, yang menjadi perhatian Tsunayoshi bukan masalah kenegaraan yang berat, melainkan tentang kelompok tarinya. Tsunayoshi yang memilih dan melatih anak-anak itu dan berkeinginan agar mereka bisa tampil sebaik mungkin. Dia ingin Kira memanggil para penari ke Ruang Seribu Tikar sece-pat mungkin agar dapat berlatih lagi sebelum tamu kehormatan tiba.
"Kau tak tahu betapa berartinya hal ini bagiku," katanya pada Kira, sambil melambaikan lengan kimono. "Aku sudah bekerja keras agar penampilan ini berhasil - tarian ini harus sempurna!"
Kira menunduk. "Hamba mengerti Yang Mulia, tapi Tuanku tak perlu cemas. Upacara akan dilak-sanakan dengan lancar."
"Upacaranya, ya - tapi yang paling penting adalah tarian ini. Ini sesuatu yang baru, dan bila gagal, aku akan ditertawakan semua orang."
"Tak seorang pun akan melakukan itu," Kira menenangkan.
"Orang-orang akan tertawa di belakangku," kata Tsunayoshi. "Tapi sudahlah - semuanya sudah beres, kan? Tidak ada masalah, kuharap?"
"Masalah selalu ada, Yang Mulia, tapi semuanya dapat hamba atasi."
"Bagus," Shogun tersenyum. "Itulah yang ingin kudengar dari bawahanku. Kuharap yang lain juga sama efisiennya sepertimu."
Kira membalas senyum Shogun, menunjukkan giginya yang hitam. "Semua yang hamba tahu, hamba pelajari dari teladan Tuanku."
Dia membungkuk lalu beranjak pergi, tapi kemu-dian dia ragu-ragu dan berbalik dengan pura-pura enggan. "Ada satu daimyo muda yang bermasalah, namun hamba berharap dapat memperbaiki keka-kuannya sebelum membuat Tuanku malu."
"Maksudmu Asano? Aku perhatikan dia memang tidak setenang yang lain. Apakah kau ingin aku bicara padanya?"
"Tidak - hamba rasa itu tidak perlu. Dia akan baik-baik saja setelah hamba memberi pengertian."
"Yah - kalau begitu, aku serahkan padamu. Tapi bisakah kau panggil anak-anak itu segera?"
"Baik," jawab Kira sambil membungkuk, dan segera pergi. Dia tahu kalau Tsunayoshi bukanlah orang yang sabar.
Setelah memakai jubah upacara yang setiap bagian-nya diperiksa berulang kali, Lord Asano pergi ke kastil Shogun dengan menggunakan tandu. Kataoka, yang juga berpakaian lebih bagus dari biasanya, baru saja akan memerintahkan pada delapan pengusung untuk mengangkat tandu ketika istri Lord Asano muncul di pintu sambil memanggil. Kataoka memerintahkan para pengusung menyingkir agar majikannya dapat berbicara dengan istrinya secara pribadi.
"Kumohon," katanya pada suaminya sambil ber-sandar ke jendela, "Berjanjilah bahwa kau akan menjaga sikap. Tunjukkan pada istana Edo bahwa kita juga tahu aturan. Mungkin - mungkin belum terlambat untuk meletakkan beberapa koin ke ta-ngan yang benar...."
Lord Asano menunjukkan sikap tidak sabar, tapi raut wajahnya melembut ketika melihat keprihatinan istrinya. Kata-kata Lord Asano bernada mema-rahi, namun sikapnya lembut.
"Dalam acara yang khidmat seperti ini, memberi lebih dari yang seharusnya pada Pemimpin Upacara adalah tindakan yang rendah. Aku menolak untuk merendahkan diriku seperti itu. Semua penasihat setuju..."
"Mereka setuju karena kau sudah menentukan sikap dan mereka tahu tak ada gunanya menentang-mu. Aku tahu bahwa jika kau tak bisa... Setidaknya berjanjilah padaku bahwa kau akan menerima pe-tunjuknya dengan baik dan tidak akan kehilangan kendali. Maukah kau?"
"Aku berjanji," jawab Lord Asano.
Sang istri mundur dan memberi senyum selamat jalan. Lord Asano memberi tanda pada Kataoka dan para pengusung tandu diberi isyarat untuk berjalan.
Ketika berbelok di sudut rumah, Kataoka melihat Hara mengawasi kepergian mereka dan menang-kap peringatan yang terpancar dari matanya: "Jaga majikan kita." Kataoka mengangguk ketika mele-watinya.
Mereka melewati taman luas yang mengelilingi kediaman itu. Lord Asano merasa taman itu tetap indah dalam cahaya mentari pagi, meskipun pohon-pohonnya tak berdaun. Tak ada keistimewaan yang menonjol, hanya ketenangan alami yang dirancang dengan sangat cermat oleh kakeknya. Kediaman itu digunakan ketika ada perang atau ancaman perang sehingga para daimyo diminta tinggal di ibukota untuk waktu yang lama. Kini, tentu saja, keadaan sudah berbeda. Seingat Lord Asano, belum pernah ada pemberontakan bahkan yang terkecil sekali pun. Terpikir olehnya bahwa hidup pasti lebih menarik di zaman kakeknya, ketika pedang digunakan untuk menyelesaikan perbedaan, bukan sekadar tanda kepangkatan.
Tandu itu dibawa dengan cepat melewati ger-bang. Kataoka mengikuti dari samping. Namun saat memasuki daerah yang hiruk-pikuk, para pengusung segera melambatkan langkah. Sebagian besar orang dan pedagang yang berlalu-lalang menyingkir untuk memberi jalan ketika melihat tandu berlambang daimyo. Sebagian lagi pura-pura tak melihat dan tetap sibuk dengan urusan mereka sampai akhirnya mereka terdorong ke tepi.
Lord Asano tidak pernah terbiasa dengan kum-pulan orang dari berbagai klas seperti di Edo ini. Bangsawan hingga orang rendahan berkumpul di pusat perdagangan ini untuk berbelanja pada pedagang yang semakin kaya. Ada juga golongan masya-rakat lain yang hadir di sana, termasuk beberapa ronin atau samurai tak bertuan. Para petani juga datang ke kota untuk mencari pekerjaan. Jumlah mereka banyak dan mereka tidak mau mengemis. Sangat berbeda dengan para pengemis profesional yang dengan sombong berteriak minta sedekah. Lord Asano teringat pada pelayan yang melakukan kesa-lahan dengan api tadi pagi. Mungkin pelayan itu sudah dikeluarkan, tapi kelihatannya dia tak peduli. Orang kurang ajar seperti itu hanya perlu sedikit pelatihan agar dapat turun ke jalan untuk minta sedekah atau menjadi pendeta gadungan lalu mengemis dengan alasan yang mulia.
Keramaian kian bertambah, namun ada suara lain yang mengatasi hiruk-pikuk itu. Nyanyian bagi orang mati. Kataoka mengarahkan para pengusung tandu minggir agar rombongan itu bisa lewat. Dari tandu, Lord Asano melihat bahwa rombongan itu hanya terdiri dari dua orang, keduanya pelayan, dan peti jenazah yang dipikul pada sebatang tongkat itu berukuran sangat kecil. Kataoka yang sedang berdiri kebingungan di samping tandu terkejut ketika Lord Asano berkata, "Bukan pertanda yang baik untuk memulai hari ini, benarkan Kataoka?"