TAIKO I 1
“MONYET! MONYET!”
“ITU tawonku!”
“Bukan, punyaku!”
“Pembohong!”
Bagai angin puyuh, tujuh atau delapan bocah laki-laki berlari melintasi ladang. Mereka mengayun-ayunkan tongkat ke hamparan kembang sesawi berwama kuning dan kembang lobak berwarna putih bersih untuk mencari tawon-tawon dengan kantong madu, yang biasa disebut tawon Korea. Anak Yaemon, Hiyoshi, baru berusia enam tahun, tapi wajahnya yang berkerut-kerut tampak seperti buah prem yang diasamkan. la lebih kecil dibandingkan anak-anak lainnya, namun sifatnya yang ugal-ugalan dan liar tak tertandingi.
“Bodoh!” ia berseru ketika jatuh terdorong oleh anak yang lebih besar, saat mereka memperebutkan seekor tawon. Sebelum sempat bangun, ia terinjak oleh anak lain. Hiyoshi menjegal kaki anak itu.
“Tawon itu milik siapa saja yang bisa menangkapnya! Kalau kau bisa menangkapnya, tawon itu jadi milikmu!” katanya sambil melompat berdiri dan menangkap seekor tawon yang sedang terbang. “Yow! Yang ini milikku!”
Dengan tangan terkepal, Hiyoshi maju sepuluh langkah, kemudian membuka kepalannya. Ia membuang kepala dan kedua sayap tawon yang ditangkapnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Perut tawon itu penuh madu manis. Anak-anak itu, yang tak pernah mengenal gula, betul-betul takjub bahwa ada sesuatu yang begitu manis. Sambil setengah memejamkan mata, Hiyoshi membiarkan madu itu mengalir ke kerongkongannya, lalu mengecap-ngecapkan bibir. Anak-anak lain hanya bisa menonton.
“Monyet!” seru seorang bocah besar yang dijuluki Ni’o, satu-satunya yang tak dapat diimbangi oleh Hiyoshi. Karena mengetahui hal ini, yang lainnya ikut-ikutan.
“Babon!”
“Monyet!”
“Monyet, monyet, monyet!” mereka mengejek. Bahkan Ofuku, bocah yang bertubuh paling kecil, ikut bergabung. Meski usianya sekitar delapan tahun, ia hanya sedikit lebih besar dari Hiyoshi yang berumur enam tahun.
Tapi penampilannya berbeda jauh; kulitnya putih, dan mata serta hidungnya menempati posisi yang pantas di wajahnya. Sebagai putra warga desa yang kaya, Ofuku-lah satu-satunya yang mengenakan kimono sutra. Nama sebenarnya mungkin Fukutaro atau Fukumatsu, namun namanya telah disingkat dan diberi awalan o, seperti kebiasaan di antara putra-putra orang berada.
“Kau selalu ikut-ikutan!” ujar Hiyoshi sambil melotot ke arah Ofuku. Ia tak peduli dipanggil monyet oleh yang lain, tapi dengan Ofuku masalahnya sedikit berbeda. “Kau sudah lupa bahwa akulah yang selalu membelamu, dasar pengecut!”
Diingatkan seperti itu, Ofuku tak bisa berkata apa-apa. Keberaniannya mendadak lenyap, dan ia menggigit-gigit kukunya. Meski masih kanak-kanak, dituduh tidak tahu terima kasih membuatnya lebih malu daripada dimaki sebagai pengecut. Yang lainnya mengalihkan pandangan, perhatian mereka berpindah dari tawon madu ke awan debu kuning yang terlihat diseberang ladang-ladang.
“Lihat, ada pasukan!” salah seorang bocah berteriak.
“Samurai!” anak lain berkata. “Mereka baru pulang perang.”
Semua anak melambaikan tangan dan bersorak-sorai.
Penguasa Owari, Oda Nobuhide, dan tetangganya, Imagawa Yoshimoto, merupakan musuh bebuyutan. Situasi ini menimbulkan pertempuran-pertempuran kecil yang tak ada habisnya di sepanjang perbatasan. Suatu ketika, pasukan Imagawa menyeberangi perbatasan, membakar desa-desa, dan menghancurkan hasil panen. Pasukan Oda keluar dari benteng-benteng di Nagoya dan Kiyosu, menyergap pasukan musuh dan membaritai mereka sampai keorang terakhir. Pada musim dingin berikutnya, baik pangan maupun tempat berteduh tidak tersedia dalam jumlah mencukupi, tapi rakyat tidak menyalahkan penguasa mereka. Kalau mereka harus kelaparan, mereka menanggungnya; kalau mereka harus kedinginan, mereka menanggungnya juga. Berlawanan dengan perkiraan Yoshimoto, penderitaan mereka justru
mempertebal kebencian mereka terhadapnya.
Anak-anak itu telah melihat dan mendengar hal-hal seperti itu sejak mereka lahir. Ketika melihat pasukan penguasa mereka, mereka seperti melihat diri sendiri. Tak ada yang lebih mengasyikkan bagi mereka daripada melihat prajurit-prajurit bersenjata lengkap.
“Ayo, kita tonton mereka!”
Anak-anak itu bergegas ke arah para serdadu, kecuali Ofuku dan Hiyoshi yang masih saling memelototi. Ofuku, si pengecut, sebenarnya ingin ikut dengan yang lain, namun tatapan Hiyoshi memaksanya untuk tetap ditempat.
“Aku menyesal.” Dengan takut-takut Ofuku menghampiri Hiyoshi, lalu melingkarkan lengannya pada bahu anak itu. “Maafkan aku, ya?”
Wajah Hiyoshi menjadi merah karena marah, dan ia menyentakkan bahunya. Tapi, melihat Ofuku sudah hampir menangis, ia berusaha menahan diri. “Kenapa kau harus ikut-ikutan mengata-ngataiku?” ia menyalahkan
Ofuku. “Yang lain selalu mengejekmu dengan memanggilmu ’si anak Cina’.
Tapi pernahkah aku mengolok-olokmu?”
“Tidak.”
“Anak Cina pun, kalau sudah jadi anggota kelompok kita, adalah salah satu dari kita. Itulah yang selalu kukatakan, bukan?”
“Ya.” Ofuku menggosok-gosok mata. Lumpur larut oleh air matanya, menimbulkan bintik-bintik di sekitar mata.
“Bodoh! Justru karena kau cengeng kau dipanggil ’si anak Cina. Ayo, kita lihat para prajurit itu. Kalau kita tidak cepat-cepat, mereka keburu lewat.” Sambil menggandeng tangan Ofuku, Hiyoshi berlari menyusul yang lain.
Pejuang-pejuang kawakan dan panji-panji kebesaran menyembul di atas awan debu. Pasukan itu terdiri atas sekitar dua puluh samurai berkuda dan dua ratus prajurit infanteri. Di belakang mereka menyusul gerombolan pembawa tombak, lembing, dan busur. Setelah melintasi Dataran Inaba dari Jalan Atsuta, mereka mulai mendaki tanggul Sungai Shonai. Anak-anak itu melewati kuda-kuda dan menaiki pematang dengan tergesa-gesa. Dengan
mata berbinar-binar Hiyoshi, Ofuku, Ni’o, dan semua teman mereka memetik bunga mawar, bunga violet, dan bunga-bunga liar lainnya dan melemparkannya ke udara, sambil terus berseru-seru sekuat tenaga, “Hachiman! Hachiman!” memanggil-manggil dewa perang, dan, “Kemenangan untuk prajurit-prajurit kita yang gagah berani!” Baik di desa-desa maupun di jalan-jalan, anak-anak selalu berseru seperti ini jika melihat prajurit-prajurit.
Sang jendral, para samurai berkuda, dan para prajurit biasa yang berjalan dengan langkah berat, semuanya membisu. Wajah-wajah mereka yang keras menyerupai topeng. Mereka tidak memperingatkan anak-anak agar tidak terlalu mendekati kuda-kuda, mereka juga tidak melemparkan senyuman.
Pasukan ini rupanya bagian dari bala tentara yang dipukul mundur dari Mikawa, dan penampilan mereka membuktikan bahwa pertempuran berlangsung sengit. Baik kuda-kuda maupun para prajurit tampak lelah.
Orang-orang yang terluka dan berlumuran darah bersandar pada bahu rekan-rekan mereka. Darah kering tampak berkilauan, hitam seperti pernis, pada baju tempur dan gagang-gagang tombak. Wajah para prajurit tertutup debu bercampur keringat, sehingga hanya mata mereka yang masih tampak
“Beri air untuk kuda-kuda,” seorang perwira memberi perintah. Para samurai di atas kuda meneruskan perintah itu dengan suara lantang.
Perintah pertama itu disusul oleh perintah untuk beristirahat. Para penunggang kuda turun dari kuda masing-masing, sedangkan para prajurit infanteri segera berhenti di tempat. Sambil menarik napas lega, mereka menjatuhkan diri ke rumput tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Di seberang sungai, Benteng Kiyosu tampak kecil. Salah seorang samurai adalah adik laki-laki Oda Nobuhide, Yosaburo. la duduk di sebuah kursi Oda Nobuhide dan menatap langit, dikelilingi oleh setengah lusin pembantunya yang membisu.
Orang-orang membalut luka-luka di kaki dan tangan. Dari raut wajah mereka terlihat jelas bahwa mereka mengalami kekalahan yang menyesakkan.
Tapi ini tidak penting bagi anak-anak. Waktu melihat darah, mereka membayangkan diri sebagai pahlawan-pahlawan bermandikan darah; waktu melihat kilauan lembing dan tombak, mereka yakin bahwa musuh berhasil dihancurkan. Karena itu, mereka tampak besar hati dan berseri-seri.
“Hachiman! Hachiman! Kemenangan!”
Setelah kuda-kuda selesai minum, anak-anak juga melempar bunga kearah binatang binatang itu sambil bersorak-sorak memberi semangat.
Seorang samurai yang berdiri di samping kudanya melihat Hiyoshi dan memanggil, “Anak Yaemon! Bagaimana kabar ibumu?”
“Siapa? Aku?”
Hiyoshi menghampiri pria itu dan menatap lurus ke wajahnya yang kotor. Sambil mengangguk, si samurai meletakkan satu tangannya ke kepala Hiyoshi yang basah oleh keringat. Usia samurai itu tidak lebih dari dua puluh tahun. Karena kepalanya dipegang oleh orang yang baru kembali dari medan pertempuran, Hiyoshi dihinggapi rasa bangga yang meluap-luap.
Apa betul keluargaku mengenal samurai seperti ini? ia bertanya-tanya.
Teman-temannya, yang menyaksikan adegan itu dari dekat, melihat betapa bangganya Hiyoshi.
“Kau Hiyoshi, bukan?”
“Ya.”
“Nama yang bagus. Ya, nama yang bagus.”
Si samurai muda sekali lagi menepuk kepala Hiyoshi, lalu bertolak pinggang, menegakkan tubuh sambil terus mengamati wajah anak itu.
Sesuatu membuatnya tertawa.
Hiyoshi selalu cepat berteman, bahkan dengan orang-orang dewasa.
Kenyataan bahwa kepalanya ditepuk-tepuk oleh orang asing—seorang samurai pula—membuat kedua matanya berbinar-binar. Dalam sekejap segala rasa canggungnya menguap.
“Tapi asal tahu saja, tak ada yang memanggilku Hiyoshi. Nama itu hanya dipakai oleh ayah dan ibuku.”
“Mungkin karena tampangmu mirip…”
“Mirip monyet?”
“Hmm, untung saja kau sadar.”
“Semua orang memanggilku begitu.”
“Ha, ha!” Si samurai memiliki suara keras dan tawa yang sepadan.
Orang-orang di sekitar mereka ikut tertawa, sementara Hiyoshi, sambil berlagak tak peduli, mengeluarkan potongan batang padi-padian dari jaketnya dan mulai mengunyahnya. Sari tanaman yang berbau rumput itu terasa manis.
Dengan acuh tak acuh ia meludahkan sisa batang yang telah terkunyah
habis.
“Berapa umurmu?”
“Enam.”
“Betul?”
“Tuan, dari mana Tuan berasal?”
“Aku kenal baik dengan ibumu.”
“Hah?”
“Adik perempuan ibumu sering datang ke rumahku. Kalau kau sampai di rumah nanti, sampaikan salamku pada ibumu. Katakan padanya, Kato Danjo berharap dia selalu dalam keadaan sehat.”
Seusai istirahat, para prajurit dan kuda kembali berbaris, lalu menyeberangi Sungai Shonai di suatu tempat dangkal. Sambil melirik ke belakang, Danjo cepat-cepat menaiki kudanya. Dengan pedang dan baju tempur yang dikenakannya, ia memancarkan kesan agung dan penuh kuasa.
“Katakan padanya bahwa seusai perang aku akan berkunjung ke rumah Yaemon.” Danjo melepaskan seruan, memacu kudanya, dan memasuki air sungai yang dangkal untuk bergabung dengan pasukannya.
Hiyoshi, dengan sisa sari padi-padian tadi masih terasa di mulut, menatap-nya seperti sedang bermimpi.
***
Setiap kunjungan ke gudang penyimpanan membuat ibu Hiyoshi bertambah sedih dan tertekan. Ia pergi ke sana untuk mengambil acar, beras, atau kayu bakar, dan setiap kali ke sana, ia jadi diingatkan bahwa persediaan mereka semakin menipis. Bayangan tentang masa depan menyebabkan tenggorokannya bagai tersumbat. Ia hanya mempunyai dua anak, Hiyoshi, enam tahun, dan kakak perempuan Hiyoshi yang berumur sembilan tahun,
Otsumi—namun keduanya belum cukup besar untuk melakukan pekerjaan berarti. Suaminya, yang terluka dalam suatu pertempuran, tak dapat melakukan apa-apa selain duduk di depan perapian, menatap ketel teh yang tergantung pada sebuah kait besi dengan pandangan kosong, sekalipun dimusim panas, pada waktu api tidak menyala.
Barang-barang itu… aku akan merasa lebih baik kalau semuanya dibakar saja, perempuan itu berkata dalam hati.
Pada salah satu dinding gudang tersandar sebatang tombak dengan gagang dari kayu ek hitam. Di atasnya ada helm prajurit infanteri dan beberapa benda yang sepertinya merupakan bagian dari sebuah baju tempur tua. Waktu suaminya masih berangkat ke medan perang, inilah perlengkapan terbaik yang dimilikinya. Tapi sekarang semuanya telah tertutup jelaga dan tak berguna lagi, sama seperti suaminya. Setiap kali melihat barang-barang itu, ia merasa muak. Bayangan akan perang membuatnya merinding.
Tak peduli apa kata suamiku, Hiyoshi takkan kuizinkan jadi samurai, ia memutuskan.
Ketika menikah dengan Kinoshita Yaemon, ia menganggap paling baik memilih seorang samurai sebagai suami. Meski kecil, rumah tempat ia lahir di Gokiso merupakan rumah samurai, dan walaupun Yaemon hanya prajurit infanteri, ia pengikut Oda Nobuhide. Ketika mereka menjadi suami-istri, dengan bersumpah bahwa “di masa depan kita akan memperoleh seribu ikat padi”, baju tempur itu merupakan lambang harapan mereka, dan lebih penting artinya daripada peralatan rumah tangga yang diinginkannya. Tak dapat disangkal bahwa baju itu menyimpan banyak kenangan indah. Namun membandingkan impian masa muda mereka dengan kenyataan yang kini mereka hadapi hanyalah membuang-buang waktu. Suaminya keburu cacat sebelum sempat mencatat prestasi di medan perang. Karena ia hanya prajurit biasa, ia terpaksa mengakhiri pengabdiannya pada Oda Nobuhide. Mencari nafkah terasa berat selama enam bulan pertama, dan akhirnya ia
menjadi petani. Tapi sekarang pekerjaan itu pun tak sanggup ia tekuni.
Terpaksalah istrinya turun tangan. Dengan membawa kedua anak mereka, istri Yaemon memetik daun mulberry, membajak ladang-ladang, menggiling padi, dan menangkal kemiskinan selama bertahun-tahun. Namun bagaimana dengan masa depan? Dalam hati ia bertanya-tanya, seberapa lama tenaga dikedua lengannya masih dapat bertahan, dan hatinya terasa sedingin dan sesuram gudang penyimpanan mereka. Akhirnya ia memasukkan bahan-bahan untuk makan malam—padi-padian, beberapa irisan lobak yang di-keringkan ke dalam keranjang bambu dan meninggalkan gudang. Usianya belum mencapai tiga puluh tahun, tapi kelahiran Hiyoshi bukan kelahiran yang mudah, dan sejak itu warna kulitnya pucat bagaikan buah persik yang belum matang.
“Ibu.” Itu suara Hiyoshi. Anak itu muncul dari bagian samping rumah, mencari ibunya. Ibunya tertawa lembut. Ia masih menyimpan satu harapan membesarkan Hiyoshi dan menjadikannya putra dan pewaris yang cepat dewasa, sehingga sanggup menyediakan sedikit sake bagi suaminya, setiap hari. Pikiran itu membuatnya terhibur.
“Hiyoshi, Ibu di sebelah sini.”
Hiyoshi berlari ke arah suara ibunya, lalu menggenggam lengan yang memegang keranjang itu.
“Tadi, di tepi sungai, aku ketemu seseorang yang kenal Ibu.”
“Siapa?”
“Seorang samurai! Kato… siapa begitu. Dia bilang dia kenal Ibu, dan dia kirim salam. Dia menepuk-nepuk kepalaku dan menanyaiku macam-macam.”
“Hmm, itu pasti Kato Danjo.”
“Dia ikut pasukan besar yang baru pulang perang. Dan dia naik kuda yang bagus! Siapa dia?”
“Hmm, Danjo tinggal di dekat Kuil Komyoji.”
“Terus?”
“Dia bertunangan dengan adik Ibu.”
“Bertunangan?”
“Ya ampun, kenapa kau terus bertanya?”
“Tapi aku tidak mengerti.”
“Mereka akan menikah.”
“Hah? Maksud Ibu, dia akan menjadi suami adik perempuan ibuku?”
Hiyoshi tampak puas, dan tertawa.
Meskipun berhadapan dengan anaknya sendiri, ketika melihat senyum Hiyoshi yang kurang ajar dan seakan-akan memamerkan semua gigi, ibunya pun langsung mendapat kesan bahwa Hiyoshi bocah nakal yang terlalu cepat dewasa.
“Ibu, di gudang ada pedang yang kira-kira sepanjang ini, bukan?”
“Ya. Kenapa memangnya?”
“Boleh aku minta? Pedang itu kan sudah tua, dan Ayah tidak memakainya lagi.”
“Kau main perang-perangan lagi?”
“Boleh, kan?”
“Sama sekali tidak!”
“Kenapa tidak?”
“Apa jadinya kalau anak petani terbiasa membawa pedang?”
“Hmm, suatu hari nanti aku bakal jadi samurai.” Hiyoshi mengentakkan kakinya seperti anak manja, dan menganggap pembicaraan mereka sudah selesai. Ibunya memelototinya, matanya mulai berkaca-kaca.
“Bodoh!” ia memarahi Hiyoshi, dan sambil menghapus air matanya dengan kikuk, ia menarik tangan anak itu. “Lebih baik kau membantu kakakmu mengambil air.” Ia kembali ke rumah sambil menyeret anaknya.
“Tidak! Tidak!” Hiyoshi melawan sekuat tenaga. “Tidak! Aku benci Ibu! Ibu bodoh! Tidak!”
Tapi ibunya terus menarik. Tiba-tiba suara batuk, bercampur asap dari perapian, keluar dari jendela yang ditutupi anyaman bambu. Mendengar suara ayahnya, Hiyoshi langsung terdiam. Usia Yaemon baru sekitar empat puluh tahun, namun karena mesti melewatkan hari-harinya sebagai orang cacat, suara batuknya yang parau lebih kedengaran seperti suara laki-laki yang umurnya sudah lebih dari lima puluh tahun.
“Ibu akan memberitahu ayahmu bahwa kau selalu membuat masalah,” ibunya berkata sambil mengendurkan genggaman tangannya. Hiyoshi menutupi wajah dengan kedua tangannya, dan mengusap matanya sambil menangis tertahan.
Ketika menatap bocah yang sukar diatur ini, ibunya bertanya-tanya bagaimana masa depannya kelak.
“Onaka! Kenapa kau membentak-bentak Hiyoshi lagi? Tidak seharusnya kau berbuat begitu. Untuk apa kau bertengkar sampai menangis dengan anakmu sendiri?” Yaemon bertanya dari balik jendela.
“Kalau begitu, kau saja yang memarahinya,” ujar Onaka dengan nada menyalahkan.
Yaemon tertawa. “Kenapa? Karena dia mau bermain dengan pedang tuaku?”
“Ya.”
“Dia hanya ingin bermain.”
“Justru karena itu.”
“Dia anak laki-laki, dan dia anakku. Apa salahnya? Berikan pedang itu padanya.”
Terheran-heran Onaka menatap ke arah jendela, dan menggigit bibirnya dengan geram.
Aku menang! Hiyoshi bersuka ria, menikmati kemenangannya, tapi hanya untuk sesaat. Begitu ia melihat ibunya berurai air mata, kemenanganŽnya mendadak terasa hambar.
“Oh, jangan menangis! Aku sudah tidak menginginkan pedang itu. Aku akan membantu kakakku.” Ia bergegas ke dapur. Kakaknya sedang membungkuk sambil meniupkan udara lewat potongan bambu, untuk menyalakan api di dalam tungku yang terbuat dari tanah liat.
Hiyoshi melompat masuk dan berkata, “Hei, apa aku perlu ambil air?”
“Tidak, terima kasih,” jawab Otsumi. Ia menatap adiknya dengan heran, lalu menggelengkan kepala sambil bertanya-tanya apa gerangan maksudnya.
Hiyoshi menyingkap tutup tempat air dan mengintip ke dalam. “Oh, sudah penuh. Kalau begitu, aku akan merendam kedelai.”
“Jangan, kau tidak perlu merendam apa-apa. Jangan mengganggu.”
“Mengganggu? Aku hanya mau membantumu. Aku ambilkan acar, ya?”
“Ibu kan baru saja pergi ke gudang untuk mengambil acar.”
“Hmm, kalau begitu, apa yang bisa kulakukan?”
“Kalau saja kau mau berkelakuan baik, Ibu pasti senang.”
“Bukankah aku sedang berkelakuan baik sekarang? Api di tungku sudah menyala? Biar kuhidupkan untukmu. Coba geser sedikit.”
“Aku tidak perlu bantuan!”
“Ayo, geser sedikit….”
“Lihat apa yang kaulakukan! Kau membuat apinya mati!”
“Bohong! Kau yang membuatnya mati!”
“Bukan!”
“Banyak omong!”
Hiyoshi, kesal karena kayu bakar tidak mau menyala, menampar pipi kakaknya. Otsumi menangis dan mengadu pada ayahnya. Karena mereka berada di sebelah ruang keluarga, dalam sekejap suara ayah mereka sudah menggemuruh di telinga Hiyoshi.
“Jangan pukul kakakmu. Laki-laki tidak pantas memukul perempuan!
Hiyoshi, kemari sekarang juga!”
Di balik dinding pemisah, Hiyoshi menelan ludah dan memelototi Otsumi. Ibunya masuk dan berdiri di ambang pintu. la cemas karena kejadian ini sudah terulang untuk kesekian kali.
Yaemon memang menakutkan. Dia ayah yang paling menakutkan diseluruh dunia. Hiyoshi tidak berani membantah. la duduk tegak dan menatap ayahnya.
Kinoshita Yaemon sedang duduk di depan perapian. Di belakangnya terlihat tongkat yang ia perlukan untuk berjalan. Tanpa tongkat itu, ia tidak sanggup pergi ke mana-mana, bahkan ke kamar mandi pun. Sikunya bersandar pada sebuah peti kayu yang dipergunakannya untuk memintal dan mengumpulkan rami, sebuah pekerjaan sampingan yang kadang-kadang ditekuninya. Meski cacat, ia bisa berbuat sedikit untuk membantu keuangan
keluarga.
“Hiyoshi!”
“Ya, Ayah?”
“Jangan menyusahkan ibumu.”
“Ya.”
“Dan jangan bertengkar dengan kakakmu. Pikirkan apa kata orang.
Bagaimana seharusnya sikapmu sebagai laki-laki, dan bagaimana kau harus memperlakukan perempuan yang mesti dilindungi?”
“Ehm… aku… aku tidak…”
“Diam! Aku punya telinga. Aku tahu di mana kau berada dan apa yang kaukerjakan, biarpun aku tidak pernah keluar dari ruangan ini.”
Hiyoshi gemetar. Ia percaya pada apa yang dikatakan ayahnya.
Namun Yaemon tidak dapat menutupi kasih sayangnya pada putra satu-satunya ini. Lengan dan tangannya sendiri tak mungkin kembali ke keadaan semula, tapi ia percaya bahwa melalui putranya, darahnya akan terus mengalir selama seratus tahun. Kemudian ia kembali menatap Hiyoshi, dan suasana hatinya berubah. Seorang ayah merupakan penilai terbaik untuk putranya, tapi dalam angan-angannya yang paling muluk pun, Yaemon tak dapat membayangkan bagaimana bocah ingusan bertampang aneh ini akan mengangkat harkat keluarga dan menghapus aib dari nama mereka. Meski demikian, Hiyoshi tetap satu-satunya putra yang ia miliki, dan Yaemon menaruh harapan besar pada anak itu.
“Pedang di dalam gudang… kau menginginkannya, Hiyoshi?”
“Ehm…” Hiyoshi menggelengkan kepala.
“Kau tidak berminat?”
“Aku menginginkannya, tapi…”
“Kalau begitu, kenapa kau tidak berterus terang?”
“Ibu melarangku.”
“Itu karena perempuan benci pedang. Tunggu di sini.”
Yaemon meraih tongkatnya, lalu berjalan pincang ke mang sebelah.
Berbeda dengan rumah petani miskin, rumahnya terdiri atas beberapa ruangan. Keluatga ibu Hiyoshi pernah tinggal di sini. Kerabat Yaemon tidak banyak, tapi istrinya mempunyai saudara di sekitar situ.
Meski tidak dimarahi, Hiyoshi tetap merasa tidak enak. Yaemon kembali, membawa pedang pendek terbungkus kain. Pedang ini bukan pedang berkarat dari gudang.
“Hiyoshi, ini milikmu. Pakailah kapan saja kau suka.”
“Milikku? Betul?”
“Tapi, mengingat umurmu, aku lebih suka kau tidak memakainya ditempat umum. Bisa-bisa kau ditertawakan orang-orang. Kau harus cepat besar, supaya bisa memakai pedang ini tanpa jadi bahan tertawaan. Pedang ini dibuat atas pesanan kakekmu….” Setelah terdiam sejenak, Yaemon kembali angkat bicara. Sorot matanya sayu dan lidahnya terasa kaku.
“Kakekmu petani. Waktu dia mencoba mengangkat derajatnya, dia memesan pedang ini pada seorang pandai besi. Keluarga besar Kinoshita pernah memiliki gambar silsilah, tapi gambar itu musnah dalam suatu kebakaran.
Dan jauh sebelum kakekmu sempat berbuat sesuatu, dia sudah mati terbunuh. Zaman itu penuh keguncangan, dan banyak orang mengalami nasib sama.”
Sebuah lampu dihidupkan di ruang sebelah, namun ruang tempat mereka berada diterangi oleh api di dalam tungku. Hiyoshi mendengarkan ayahnya sambil menatap lidah api yang merah. Entah Hiyoshi memahaminya atau tidak, Yaemon merasa ia tidak dapat membicarakan hal-hal seperti ini dengan istri atau anak perempuannya.
“Kalau saja gambar silsilah Kinoshita masih utuh, aku bisa bercerita mengenai para leluhur kita. Tapi masih ada silsilah lain, dan silsilah itu sudah diteruskan padamu. Ini.” Yaemon mengusap pembuluh biru di pergelangan tangannya. Darah.
Hiyoshi mengangguk, lalu menggenggam pergelangan tangannya sendiri.
Ia pun mempunyai darah seperti itu dalam tubuhnya. Semuanya sudah jelas! Tak ada silsilah keluarga yang lebih hidup dari ini.