Di sebuah seminar seorang pembicara menanyakan satu pertanyaan kepada para peserta seminar
"Siapa yang menginginkan uang ini?" tanya pembicara sambil melambaikan lembaran uang 100 dolar
Tentu saja hampir seluruh peserta mengacungkan tangan mereka.
Si pembicara tersenyum lalu ia mengenggam lembaran uang itu dan mulai meremas lembaran 100 dolar tsb sampai kucel. Lalu ia kembali menanyakan hal yang sama, dan tetap hampir semua peserta mengacungkan jari mereka.
Pembicara kemudian mulai berjalan ke meja lalu mengambil gelas berisi air dan mulai menyiram lembaran uang tsb sampai basah.
Setelah itu ia menanyakan kembali siapa yang masih menginginkan uang tsb, tentu saja masih banyak orang yg mengacungkan jari mereka.
Untuk kesekian kalinya si pembicara bertanya hal yg sama namun kali ini uang tsb ia letakan di lantai dan diinjak.
Namun tetap saja para peserta mengacungkan jari mereka meskipun uang 100 dolar itu sekarang telah kotor dan basah.
pembicara memungut uang itu dan berkata "kalian lihat uang 100 dolar ini, meskipun uang ini saya remas hingga lecek lalu saya siram dengan air hingga basah dan terakhir saya injak pula, uang ini tetap diingini banyak orang"
"Apa yang menyebabkan uang ini masih diingini? lanjut si pembicara. "karena uang ini memiliki nilai yang sama meskipun diperlakukan dengan cara yang tidak baik"
Adakah kita memandang sesama kita "bernilai" meskipun kondisi dan keadaan membuat mereka seakan berbeda?
Seperti uang yang selalu memiliki nilai saat mulai dicetak di Bank Negara, demikian juga kita selalu bernilai saat kita mulai di ciptakan Tuhan.