Help - Search - Members - Calendar
Full Version: DECEPTION POINT (TITIK MUSLIHAT)
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
IZRO'IL
Deception Point (Titik Muslihat)



PROLOG
KEMATIAN, DI tempat yang terpencil seperti ini, dapat terjadi dalam berbagai cara yang tak terhitung jumlahnya.
Sebagai seorang geologis, Charles Brophy mampu hidup di daerah liar yang menawan ini selama bertahun-tahun, namun tidak ada yang mampu mempersiapkan dirinya untuk menghadapi takdir yang kejam dan aneh seperti yang sebentar lagi akan menimpanya.
Ketika keempat anjing husky-nya menarik kereta luncur salju yang berisi peralatan peraba geologis menyeberangi tundra, tiba-tiba saja anjing-anjing tersebut memperlambat lari mereka dan menatap langit.
"Ada apa, Anak-anak?" tanya Brophy sambil turun dari kereta luncurnya.
Di antara kumpulan awan badai, sebuah helikopter bermesin ganda muncul dan menurunkan ketinggiannya.
Pesawat itu kemudian menyusuri puncak gunung bersalju di sekitarnya dengan ketangkasan layaknya pesawat militer.
Ini aneh, pikir Brophy. Dia tidak pernah melihat helikopter di kawasan utara yang terpencil ini. Helikopter tersebut mendarat lima puluh yard darinya, menerbangkan butiran salju yang tajam di sekitar situ. Anjing-anjing Brophy mendengking-dengking dan tampak waspada.

Ketika pintu helikopter bergeser terbuka, dua orang lelaki turun. Mereka mengenakan pakaian berwarna putih yang sangat tebal, masing-masing bersenjatakan sepucuk senapan, dan bergerak ke arah Brophy dengan cepat.
"Dr. Brophy?" seru seorang di antaranya.
Ahli geologi itu tercengang. "Bagaimana kautahu namaku?
Siapa kalian?"
"Maaf? Aku tidak mengerti."
"Lakukan sajalah."
Dengan kebingungan, Brophy mengeluarkan radionya dari dalam mantel bulunya.
"Kami ingin kau mengirimkan pesan darurat. Turunkan frekuensi radiomu menjadi seratus kilohertz."
Seratus kilohertz? Saat itu Brophy betul-betul merasa bingung.
Tidak ada yang dapat menerima gelombang serendah itu. "Memangnya telah terjadi kecelakaan?"
Lelaki kedua mengangkat senapannya dan mengarahkannya ke kepala Brophy. "Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kerjakan saja!"
Dengan gemetar, Brophy mengatur frekuensi transmisi radionya.
Lelaki pertama menyerahkan sebuah kartu catatan dengan beberapa baris kalimat terketik di atasnya. "Kirimkan pesan ini. Sekarang."
Brophy melihat kartu itu. "Aku tidak mengerti. Informasi ini tidak benar. Aku tidak—"
Lelaki itu menekankan senapannya dengan keras di pelipis ahli geologi tersebut.
Suara Brophy terdengar gemetar ketika mengirimkan pesan aneh itu.
"Bagus," kata lelaki pertama. "Sekarang masuk ke helikopter.
Bawa anjing-anjingmu juga."
Di bawah todongan senapan, Brophy mengatur anjinganjingnya yang enggan bergerak itu dan juga kereta luncurnya, "Silakan keluarkan radiomu."
menaiki jalur landai menuju bagian kargo helikopter. Begitu mereka sudah masuk, helikopter tersebut langsung mengudara dan membelok ke arah barat.
"Siapa kalian?" tanya Brophy. Berada di bawah todongan senjata untuk melakukan sesuatu yang tidak dimengerti dan dipaksa menaiki helikopter asing menuju entah ke mana membuat keringatnya mulai muncul di balik mantel bulunya. Dan apa arti pesan tadi!
Orang-orang itu tidak berkata apa-apa.
Ketika helikopter terbang semakin tinggi, angin mulai memukul-mukul melalui pintu yang terbuka. Anjing-anjing husky Brophy, yang masih terpasang pada kereta luncurnya, mulai mendengking-dengking lagi.
"Paling tidak, tutuplah pintu itu," pinta Brophy. "Kau tidak lihat kalau anjing-anjingku ketakutan?"
Orang-orang itu tidak menjawab.
Ketika helikopter itu naik hingga ketinggian empat ribu
kaki, pesawat tersebut membelok tajam melewati serangkaian jurang es dan celah-celah curam. Tiba-tiba, kedua lelaki asing itu berdiri. Tanpa banyak bicara, mereka mencengkeram kereta luncur yang bermuatan berat itu dan mendorongnya keluar pintu helikopter yang terbuka. Brophy menyaksikan dengan ketakutan ketika anjing-anjingnya yang berusaha melawan dengan sia-sia itu tertarik kereta luncur yang berat. Dalam sekejap hewan-hewan itu menghilang, terseret sambil melolong-lolong, melayang keluar dari helikopter.
Brophy langsung berdiri sambil berteriak ketika kemudian kedua lelaki itu juga mencengkeramnya. Mereka menggiringnya ke dekat pintu. Dengan rasa takut yang amat sangat, Brophy mengibaskan lengannya dan berusaha menepis tangan-tangan kuat yang mendorongnya ke luar tanpa ampun.
Tapi tidak ada gunanya. Beberapa saat kemudian, Brophy sudah jatuh ke arah jurang di bawahnya.
RESTORAN TOULOS, yang berdekatan dengan Capitol Hill, menjagokan menu yang secara politis tidak benar: daging anak lembu yang lunak dan carpaccio kuda. Walau demikian, restoran tersebut adalah tempat makan pagi yang strategis meski ironis bagi para politisi tertentu yang saat ini sedang berkuasa di Washington.
Pagi ini restoran Toulos ramai—bunyi riuh dentingan sendokgarpu dan pisau dari perak, mesin pembuat espresso, dan percakapan melalui ponsel.
Sang maitre d' sedang menyesap Bloody Mary paginya secara diam-diam ketika seorang perempuan memasuki restoran. Sang maitre d' kemudian memandang perempuan itu sambil melayangkan senyuman terlatihnya.
"Selamat pagi. Bisa saya bantu?"
Penampilan perempuan itu menarik. Dia berusia pertengahan tiga puluh tahun, mengenakan celana panjang flanel berlipit berwarna kelabu, blus berwarna gading rancangan Laura Ashley, dan sepatu gaya klasik dengan hak datar. Pembawaannya tegak dengan dagu terangkat sedikit sehingga tidak mengesankan kesombongan, hanya keteguhan pendirian. Rambutnya berwarna cokelat muda dan ditata dalam gaya yang paling populer di Washington: gaya seorang "wanita penyiar" dengan gelombang lembut dan indah di bagian bawah dan menyentuh bahunya ...
cukup panjang untuk dikatakan seksi, namun cukup pendek
untuk mengingatkan bahwa mungkin saja dia lebih pandai dibandingkan Anda.
"Aku agak terlambat," perempuan itu berkata dengan nada datar. "Aku ada janji makan pagi bersama Senator Sexton."
IZRO'IL
Deception Point (Titik Muslihat)


1
Tiba-tiba sang maitre d' merasa tergelitik. Senator Sedgewick Sexton. Senator itu adalah pelanggan restoran ini dan sekarang dia merupakan salah satu lelaki yang paling terkenal di negeri ini. Minggu lalu, setelah mengalahkan secara telak kedua belas calon presiden dari partai Republik pada Super Tuesday,* sang senator jelas dicalonkan partainya sebagai kandidat Presiden Amerika Serikat. Banyak orang percaya bahwa sang senator memiliki kesempatan besar untuk merebut Gedung Putih dari presiden saat ini dalam pemilu di musim gugur yang akan datang. Akhir-akhir ini wajah Sexton muncul di setiap majalah nasional, dan slogan-slogan kampanyenya tertempel di seluruh Amerika: "Hentikan penghamburan uang. Mulailah perbaikan."
"Senator Sexton sudah ada di tempat duduknya," ujar sang maitre d'. "Dan nama Anda?"
"Rachel Sexton. Putrinya."
Bodohnya aku, pikir lelaki itu. Kemiripan mereka jelas terlihat.
Perempuan itu memiliki mata setajam mata sang senator dan pembawaan yang halus—aura ketabahan yang terlatih dari seorang bangsawan. Jelas, wajah tampan sang senator merupakan warisan turun-temurun, walau Rachel Sexton tampaknya menyandang keunggulan tersebut dengan keanggunan dan kerendahan hati yang seharusnya dicontoh ayahnya.
"Kami senang Anda berkunjung ke sini, Ms. Sexton."
Ketika sang maitre d' membimbing putri sang senator itu melintasi ruang makan, dia merasa malu dengan lirikan para lelaki di ruangan tersebut yang mengikuti tamunya ... beberapa di antaranya mengerling diam-diam, namun yang lainnya tampak lebih terang-terangan. Hanya segelintir perempuan yang makan di Toulos dan lebih sedikit lagi yang terlihat seperti Rachel Sexton, sehingga kunjungannya kali ini menarik minat laki-laki yang makan di sana.
*Hari Selasa di awal bulan Maret dalam tahun pemilihan presiden, di
mana hampir seluruh negara bagian di AS mengadakan pemilihan awal calon presiden secara serentak—penerjemah.
"Tubuh yang indah," bisik salah seorang tamu. "Sexton sudah punya istri baru?"
"Itu putrinya, bodoh," jawab yang lainnya.
Lelaki itu terkekeh. "Seperti tidak kenal Sexton saja. Dia mungkin akan menidurinya juga."
KETIKA RACHEL tiba di depan meja ayahnya, sang senator sedang menggunakan ponselnya dan berbicara dengan lantang tentang keberhasilannya baru-baru ini. Dia menatap Rachel
sekilas dan kemudian mengetuk jam tangan Cartier-nya untuk mengingatkan putrinya bahwa dia terlambat.
Aku juga rindu padamu, Ayah, kata Rachel, sinis.
Sesungguhnya nama depan ayahnya adalah Thomas, tetapi dia kemudian menggunakan nama tengahnya sejak lama. Rachel menduga itu karena ayahnya menyukai nama depan dan nama belakang dengan huruf awal yang sama seperti orang-orang terkenal itu. Senator Sedgewick Sexton, begitulah namanya sekarang.
Lelaki itu berambut perak, seorang politisi yang juga ber-"lidah perak" alias pintar bicara, dan diberkahi dengan wajah cerdik layaknya pemeran dokter dalam opera sabun. Peran tersebut sepertinya cocok mengingat bakatnya yang pandai menirukan karakter orang lain.
"Rachel!" Ayahnya kemudian mematikan ponselnya dan berdiri untuk mencium pipi putrinya.
"Hai, Ayah." Rachel tidak membalas ciuman ayahnya.
"Kau tampak letih."
Yah, mulai lagi deh, katanya dalam hati. "Aku menerima pesanmu. Ada apa?"
"Memangnya aku tidak boleh mengajak putriku keluar untuk makan pagi?"
Rachel sudah tahu sejak lama, ayahnya jarang sekali minta ditemani olehnya kecuali jika ada maksud tersembunyi.
Sexton menyesap kopinya. "Jadi, apa kabarmu?"
"Sibuk. Kulihat, kampanye Ayah berjalan baik sekali."

"Oh, jangan bicara soal pekerjaan." Sexton mencondongkan tubuhnya ke depan, dan merendahkan suaranya. "Bagaimana dengan lelaki dari Departemen Luar Negeri yang kukenalkan padamu itu?"
Rachel menarik napas dengan kesal. Sejak tadi dia sudah berusaha keras agar tidak melirik jam tangannya. "Ayah, aku betul-betul tidak punya waktu untuk meneleponnya. Dan kuharap Ayah akan berhenti berusaha untuk—"
"Kau harus menyempatkan diri untuk melakukan hal-hal penting, Rachel. Tanpa cinta, semuanya akan tidak berarti."
Sejumlah kenangan terlintas dalam benak Rachel, tetapi dia memilih diam. Sepertinya, berakting seperti orang besar tidak sulit bagi ayahnya. "Ayah, kau bilang ingin bertemu denganku.
Ayah bilang ada hal penting."
"Benar." Sexton menatap Rachel dengan lebih saksama.
Rachel merasa sebagian pertahanan dirinya meleleh di bawah tatapan tajam ayahnya, sehingga dia mengutuki kekuatan lelaki itu dalam hati. Tatapan tajam adalah bakat sang senator, bakat yang menurut Rachel mungkin akan membawa ayahnya ke Gedung Putih. Pertama-tama ayahnya dapat membuat matanya dibanjiri air mata, sesaat kemudian mata tersebut akan menjadi jernih, seolah-olah pemiliknya membuka jendela jiwa yang penuh ketulusan, sehingga membangkitkan kepercayaan pada semua orang. Semua ini adalah tentang kepercayaan, begitu ayahnya selalu mengatakan. Walau sang senator telah kehilangan kepercayaan putrinya bertahun-tahun yang lalu, dengan cepat dia dapat memperoleh kepercayaan negerinya.
"Aku punya sebuah tawaran untukmu," kata Senator Sexton.
"Biar aku tebak," sahut Rachel sambil berusaha membangun kembali ketenangannya. "Seorang duda-cerai sedang mencari istri yang masih muda?"
"Jangan bercanda, Sayang. Kau sendiri sudah tidak semuda itu."
Rachel merasa hatinya menjadi ciut seperti yang sering dirasakannya setiap kali bertemu dengan ayahnya.
"Aku ingin memberimu sekoci penyelamat," kata sang senator.
"Aku tidak merasa sedang tenggelam."
"Kau memang tidak sedang tenggelam. Presiden yang sedang tenggelam. Kau harus terjun meninggalkan kapal itu sebelum terlambat."
"Kita sudah pernah membicarakan ini, bukan?"
"Pikirkan masa depanmu, Rachel. Kau bisa bekerja untukku."
"Kuharap itu bukan alasan Ayah mengajakku makan pagi."
Kesan tenang di wajah sang senator berubah walau sedikit
sekali. "Rachel, memangnya kamu tidak tahu bahwa dengan bekerja pada Presiden, kau memberikan citra buruk kepadaku?
Dan kepada kampanyeku?"
Rachel mendesah. Dia dan ayahnya sudah pernah membicarakan hal ini. "Ayah, aku tidak bekerja pada Presiden. Aku bahkan belum pernah berjumpa dengannya. Aku bekerja di Fairfax."
"Dalam politik, kesan sangat penting, Rachel. Kau terkesan bekerja untuk Presiden."
Rachel menghela napas dan berusaha untuk tetap tenang.
"Aku sudah berjuang terlalu keras untuk mendapatkan pekerjaan ini, Ayah. Aku tidak akan berhenti."
Mata sang senator menyipit. "Kautahu, kadang-kadang sifat keras kepalamu itu betul-betul—"
"Senator Sexton?" Seorang wartawan muncul di samping meja mereka.
Dengan cepat sikap sang senator melunak. Rachel mengerang dalam hati dan mengambil sepotong croissant dari sebuah keranjang kecil di atas meja.
"Ralph Sneeden," kata wartawan itu. "Washington Post. Boleh saya mengajukan beberapa pertanyaan?"
Sang senator tersenyum, lalu mengusap mulutnya dengan selembar serbet. "Dengan senang hati, Ralph. Singkat saja, ya.
Saya tidak mau kopi saya dingin."

Si wartawan hanya tertawa. "Tentu saja, Pak." Lalu dia mengeluarkan sebuah alat perekam kecil dan menyalakannya.
"Senator, iklan kampanye Anda di televisi menuntut pengesahan hukum untuk memastikan persamaan upah kerja bagi perempuan ... demikian juga pemotongan pajak bagi keluarga-keluarga muda.
Dapatkah Anda memberikan pernyataan tentang alasan tuntutan Anda itu?"
"Tentu. Saya hanya seorang pengagum fanatik perempuan yang ulet dan keluarga yang kuat."
Rachel benar-benar tersedak dengan croissant-aya.
"Lalu mengenai topik keluarga," lanjut wartawan itu, "Anda berbicara banyak tentang pendidikan. Anda mengusulkan pemotongan anggaran yang tinggi dan kontroversial untuk dialokasikan sebagai tambahan bagi sekolah-sekolah negeri."
"Saya percaya bahwa anak-anak merupakan masa depan kita."
Rachel tidak dapat percaya ayahnya begitu noraknya sehingga harus mengutip syair lagu-lagu pop.
"Yang terakhir, Pak," kata si wartawan. "Menurut jajak pendapat, perolehan angka Anda melonjak tinggi selama beberapa minggu terakhir ini. Presiden pasti merasa khawatir. Anda memiliki pendapat tentang keberhasilan Anda baru-baru ini?"
"Saya kira itu ada hubungannya dengan kepercayaan. Rakyat Amerika mulai melihat bahwa Presiden tidak dapat dipercaya untuk membuat keputusan yang kuat bagi bangsa ini. Pengeluaran negara yang tidak terkendali membuat hutang menjadi semakin bertumpuk setiap hari, dan rakyat Amerika mulai sadar bahwa sudah saatnya mereka berhenti mengeluarkan uang dan memperbaiki keadaan."
Seperti mengakhiri retorika ayahnya, penyeranta di dalam tas Rachel berbunyi. Biasanya, suara alat elektronik itu mengganggunya, namun kali ini suaranya terdengar sangat merdu.
Sang senator melotot marah ke arah Rachel karena merasa terganggu.

Rachel merogoh-rogoh tasnya untuk mencari penyerantanya, lalu menekan kode yang terdiri atas lima digit untuk memastikan bahwa dialah yang memegang penyeranta itu. Bunyi penyeranta itu berhenti, dan lampu LCD-nya mulai berkedip. Dalam lima belas detik, dia akan menerima sebuah pesan dari jalur aman.
Sneeden tersenyum pada sang senator. "Putri Anda pasti orang yang sangat sibuk. Senang melihat Anda berdua masih menyisipkan acara makan bersama dalam jadwal Anda yang padat."
"Seperti yang saya katakan tadi, keluarga selalu nomor satu."
Sneeden mengangguk, dan kemudian tatapannya mengeras.
"Boleh saya bertanya, Pak. Bagaimana Anda dan putri Anda mengatasi konflik kepentingan di antara Anda berdua?"
"Konflik?" Senator Sexton menegakkan kepalanya dengan wajah polos untuk menunjukkan ekspresi kebingungan. "Maksudmu konflik apa?"
Rachel melirik ayahnya dan merasa jijik dengan sikap munafik seperti itu. Dia tahu dengan pasti, ke mana arah semua ini.
Wartawan sialan, pikir Rachel. Setengah dari mereka merupakan orang-orang bayaran untuk kepentingan politik tertentu. Pertanyaan-pertanyaan wartawan itu disebut para jurnalis sebagai pertanyaan buah anggur—sebuah pertanyaan yang terlihat sulit tetapi sebenarnya hanya merupakan skenario demi keuntungan sang senator sendiri—sebuah pukulan lob lambat yang dapat dikembalikan ayahnya dengan smash ke bidang lawan untuk menjernihkan beberapa hal tertentu.
"Begini, Pak ...." Si wartawan terbatuk, berpura-pura merasa tidak enak karena pertanyaannya tadi. "Pertentangan karena putri Anda bekerja pada lawan politik Anda."
Tawa Senator Sexton meledak, dan dengan cepat mengaburkan pertanyaan itu. "Ralph, pertama-tama, Presiden dan saya bukan lawan politik. Kami hanyalah dua orang patriot yang memiliki dua gagasan berbeda tentang bagaimana membangun negara yang kami cintai ini."

Si wartawan berseri-seri wajahnya. "Lalu yang kedua?"
"Kedua, putri saya tidak bekerja untuk Presiden. Rachel hanya bekerja pada komunitas inteiijen. Dia mengunipulkan laporan-laporan inteiijen dan mengirimkannya ke Gedung Putih.
Itu bukan jabatan yang terlalu penting." Sang senator berhenti sejenak dan menatap Rachel. "Aku juga tidak yakin kau sudah pernah bertemu dengan Presiden, ya kan, Sayangku?"
Rachel menatap ayahnya dengan mata melotot.
Penyeranta itu berbunyi lagi, sehingga tatapan Rachel berpindah pada pesan yang muncul di layar LCD.
—RPT DIRNRO STAT—
Rachel mengartikan pesan itu dengan cepat, lalu mengerutkan keningnya. Pesan itu tidak terduga, dan jelas merupakan kabar buruk. Tapi paling tidak dia memiliki alasan untuk pergi sekarang.
"Bapak-bapak," katanya, "saya sangat menyesal, tetapi saya harus pergi. Saya terlambat bekerja."
"Ms. Sexton," ujar wartawan itu dengan cepat, "sebelum pergi, dapatkah Anda memberikan komentar tentang kabar angin bahwa Anda diundang makan pagi ini untuk membicarakan kemungkinan Anda meninggalkan kedudukan Anda sekarang demi kampanye ayah Anda?"
Rachel merasa seolah-olah seseorang telah menyiramkan kopi panas ke wajahnya. Dia betul-betul tidak siap menerima pertanyaan itu. Rachel menatap ayahnya dan merasakan, dari seringai sang ayah, bahwa pertanyaan wartawan itu telah diatur.
Dia sangat ingin naik ke atas meja dan menusuk ayahnya dengan garpu. Si wartawan menyodorkan perekamnya ke arah wajah Rachel.
"Miss Sexton?"
Rachel menatap mata wartawan itu dengan tajam. "Ralph, atau siapa pun namamu, dengar ini baik-baik: Aku tidak punya niat meninggalkan pekerjaanku untuk bekerja pada Senator Sexton, dan jika kau memutar balik pernyataanku, kau akan memerlukan pencungkil sepatu untuk mengeluarkan perekam ini dari anusmu."
Mata wartawan itu terbelalak. Dia lalu mematikan perekamnya sambil diam-diam tersenyum. "Terima kasih, Anda berdua."
Kemudian dia menghilang.
Rachel segera menyesali luapan kegusarannya tadi. Dia rupanya telah mewarisi sikap buruk ayahnya, dan mungkin karena itulah dia membenci ayahnya. Bagus, Rachel. Sangat bagus.
Ayahnya melotot ke arahnya dengan tatapan tidak setuju.
"Kau betul-betul harus belajar bersikap lebih baik."
Rachel mulai mengumpulkan barang-barangnya. "Pertemuan ini sudah selesai."
Tampaknya urusan sang senator dengan putrinya itu juga sudah selesai. Dia lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang. "Dah, Sayang. Mampirlah ke kantorku sering-sering.
Dan menikahlah! Ingat, kau sudah 33 tahun sekarang."
"Tiga puluh empat," sergah Rachel. "Sekretaris Ayah saja ingat."
Senator Sexton berdecak dengan nada menyesal. "Tiga puluh empat. Hampir jadi perawan tua. Kautahu, ketika aku berusia 34, aku sudah—"
"Menikahi Ibu dan berselingkuh dengan tetangga?" Katakata itu terucap lebih keras dari yang dimaksudkan sehingga merusak ketenangan di restoran itu. Para tamu yang duduk di dekat mereka menoleh ke arah ayah dan anak ini.
Senator Sexton memandangnya dengan dingin, sehingga Rachel merasa ada dua pedang es kristal yang menancap di tubuhnya. "Berhati-hatilah kau, Nona."
Rachel beranjak menuju pintu. Tidak, berhati-hatilah kau,
Senator.

2
TIGA ORANG lelaki duduk diam-diam di dalam tenda badai Therma Tech mereka. Di luar, angin sedingin es menamparnampar tenda mereka, seakan berusaha mencabutnya dari tanah tempatnya bertambat. Tidak seorang pun dari mereka yang peduli; mereka semua pernah mengalami keadaan yang jauh lebih berbahaya dari saat ini.
Tenda mereka berwarna putih, didirikan pada cerukan yang dangkal, dan tidak terlihat. Peralatan komunikasi, transportasi, dan persenjataan mereka semuanya serba mutakhir. Nama kode pemimpin kelompok itu adalah Delta-One. Lelaki itu berotot dan cekatan dengan sorot mata sesuram keadaan lingkungan tempatnya ditugaskan kali ini.
Jam tangan chronograph di pergelangan tangan Delta-One mengeluarkan suara bip yang tajam. Suara itu berbunyi tepat bersamaan dengan bunyi yang dikeluarkan jam tangan dua anggota lainnya dalam kelompok itu.
Tiga puluh menit telah berlalu lagi.
Inilah waktunya. Lagi.
Seperti gerak refleks, Delta-One meninggalkan kedua rekannya dan melangkah ke luar tenda, memasuki kegelapan dan angin yang memukul-mukul. Dia menatap cakrawala yang diterangi sinar rembulan dengan teropong infra merahnya. Seperti biasa, dia memusatkan perhatiannya pada bangunan itu. Bangunan tersebut terletak seribu meter jauhnya—sebuah bangunan raksasa dan luar biasa yang menjulang di atas dataran tandus. Dia dan kelompoknya telah mengamatinya selama sepuluh hari, sejak bangunan itu berdiri. Delta-One yakin informasi dari dalam sana akan mengubah dunia. Sudah banyak nyawa melayang untuk melindungi informasi tersebut.

Pada saat itu, segalanya tampak tenang di luar bangunan itu.
Namun, pertanyaan yang sesungguhnya adalah apa yang terjadi di dalam bangunan tersebut.
Delta-One kembali masuk ke dalam tenda dan berkata kepada kedua rekannya. "Waktunya mendekat."
Kedua lelaki itu mengangguk. Lelaki yang lebih jangkung, Delta-Two, membuka sebuah komputer laptop, kemudian menyalakannya.
Sambil menempatkan dirinya di depan layar, Delta-Two meletakkan tangannya di atas joystick mekanis dan menyentakkannya cepat. Seribu meter dari situ, tersembunyi jauh di dalam gedung itu, sebuah robot pengintai seukuran seekor nyamuk menerima perintahnya dan kemudian meloncat hidup.
RACHEL SEXTON masih merasa marah ketika mengemudikan Integra putihnya menuju Leesburg Highway. Pepohonan maple yang masih gundul di kaki bukit Falls Church, berdiri menjulang ke langit di bulan Maret dengan hawanya yang kering. Namun pemandangan yang penuh kedamaian itu tidak dapat meredakan kemarahan Rachel. Kemenangan ayahnya dalam jajak pendapat pasti membuat sang senator sedikit bangga, dan sepertinya hal itu hanya menyulut kepongahannya.
Kebohongan ayahnya membuat Rachel menjadi lebih sakit hati lagi, mengingat lelaki itu kini merupakan satu-satunya keluarga yang tersisa baginya. Ibu Rachel telah meninggal tiga
tahun lalu, sebuah kehilangan yang sangat menghancurkan dirinya sehingga kesedihannya masih terasa di hatinya. Satu-satunya yang dapat menenteramkan hatinya adalah, dia tahu bahwa kematian itu membebaskan ibunya dari derita mendalam atas perkawinannya yang tidak bahagia dengan sang senator. Dia sadar, pemikiran itu cukup ironis.
Penyeranta Rachel berbunyi lagi, mengembalikan perhatiannya pada jalan di hadapannya. Pesan yang masuk sama dengan pesan sebelumnya.
—RPT DIRNRO STAT—
Report to the director of NRO stat. Lapor ke direktur NRO segera. Rachel menghela napas dengan tidak sabar. Ya, aku segera datang. Huh!
Dengan perasaan yang semakin tidak menentu, Rachel melaju menuju jalan keluar tol yang biasa diambilnya, lalu membelokkan mobilnya memasuki jalan khusus, kemudian berhenti di depan pos keamanan yang dijaga para petugas bersenjata.
Tempat ini beralamat di 14225 Leesburg Highway dan merupakan salah satu tempat yang paling rahasia di Amerika.
Ketika penjaga memindai mobil Rachel untuk mencari penyadap yang mungkin ada, Rachel menatap bangunan raksasa yang tampak di kejauhan. Kompleks seluas satu juta kaki persegi itu berdiri dengan megah di tengah-tengah hutan seluas 68 ekar, persis di luar Washington D.C., di Fairfax, Virginia. Bagian depan bangunan itu terdiri atas dinding tebal dengan kaca satu arah yang memantulkan cakram satelit tentara, antena-antena, dan peralatan keamanan yang terdapat di sekelilingnya.
Dua menit kemudian, Rachel memarkir mobilnya lalu menyeberangi halaman yang terawat ke arah pintu masuk utama, di mana terletak sebuah batu granit dengan tulisan:
NATIONAL RECONNAISSANCE OFFICE (NRO)
Dua orang anggota marinir bersenjata berdiri di kedua sisi pintu putar tahan peluru dan menatap lurus ke depan ketikaRachel berlalu di hadapan mereka. Rachel merasakan sensasi yang sama setiap kali dia berjalan melewati pintu depan itu ...
dia merasa seperti memasuki perut raksasa yang sedang tidur. Di dalam ruang lobi dengan langit-langit berbentuk kubah, Rachel merasakan gema samar-samar dari bisik-bisik di sekitarnya, seolah kata-kata itu berasal dari kantor-kantor yang teletak di lantai atas. Di lobi itu terdapat sebuah mosaik keramik besar yang bertuliskan moto NRO:
MEMASTIKAN SUPERIORITAS INFORMASI AS DI TINGKAT GLOBAL, SELAMA MASA DAMA1 DAN PERANG.
Dinding-dinding di sini dihiasi dengan foto-foto besar yang menggambarkan peluncuran roket-roket, peresmian kapal-kapal selam, dan instalasi-instalasi pesawat roket tempur—pencapaianpencapaian luar biasa yang hanya dapat dirayakan di dalam gedung ini.
Seperti biasanya, pada saat ini Rachel merasa masalahmasalah dari dunia luar mulai memudar di belakangnya. Dia sekarang sedang memasuki dunia bayang-bayang. Sebuah dunia di mana masalah-masalah bergemuruh masuk seperti kereta api barang, sementara solusi-solusi disebarkan ke luar dalam bentuk bisikan yang hampir tidak terdengar.
Ketika Rachel tiba di tempat pemeriksaan terakhir, dia bertanya-tanya masalah seperti apa yang telah menyebabkan penyerantanya berdering dua kali dalam tiga puluh menit terakhir tadi.
"Selamat pagi, Ms. Sexton." Penjaga itu tersenyum ketika Rachel mendekati ambang pintu dari baja.
Rachel membalas senyuman itu ketika penjaga tersebut mengulurkan korek dengan ujung dari kapas.
"Anda tahu peraturannya," kata penjaga itu.
Rachel mengambil korek yang masih tersegel itu, lalu merabuka penutup plastiknya. Kemudian, dia memasukkan bagian ujung yang berkapas itu ke dalam mulutnya seperti memasukkan sebuah termometer. Dia meletakkannya di lidahnya selama dua detik. Kemudian, sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, dia membiarkan penjaga tadi mengambil benda itu. Si penjaga memasukkan korek dengan ujung yang sudah basah tadi ke dalam sebuah celah sempit di sebuah mesin yang berada di belakangnya. Hanya membutuhkan waktu empat detik bagi mesin tersebut untuk memastikan DNA dalam air liur itu cocok dengan DNA Rachel. Lalu sebuah monitor menyala dan menampilkan foto Rachel bersama dengan izin masuknya.
Penjaga tadi mengedipkan matanya. "Tampaknya Anda masih tetap yang dulu." Setelah itu, si penjaga menarik korek tadi dari mesin lalu menjatuhkannya ke dalam sebuah lubang, dan korek itu pun langsung terbakar. "Semoga harimu menyenangkan,"
katanya memberikan salam. Lalu penjaga itu menekan sebuah tombol, dan sebuah pintu besi berukuran besar pun terbuka di hadapan Rachel.
Ketika Rachel berjalan melewati koridor-koridor sibuk yang simpang-siur di depannya, dia merasa heran sendiri. Bahkan setelah enam tahun bekerja di sini, dia masih saja merasa takut dengan betapa luasnya bidang operasi badan ini. Badan ini mencakup enam instalasi AS lainnya, mempekerjakan lebih dari sepuluh ribu agen, dan biaya operasinya lebih dari sepuluh miliar dolar.
Dalam kerahasiaan yang sangat rapi, NRO membangun dan memelihara sebuah gedung yang mengagumkan. Dalam gedung tersebut tersimpan peralatan teknologi mata-mata yang canggih,
seperti alat penyusupan elektronik untuk menyadap seluruh dunia; satelit pengintai; penanaman chip penyiaran dalam peralatan telekomunikasi yang dilakukan secara diam-diam; bahkan terdapat sebuah jaringan pendeteksi-maritim global yang dikenal sebagai Classic Wizard—sebuah jaringan rahasia dari 1.456 hydrophone yang ditanam di dasar laut di seluruh dunia, dan mampu memantau pergerakan kapal-kapal di mana pun di planet ini.
Teknologi NRO tidak hanya membantu AS memenangkan konflik-konflik militer, tetapi juga memberikan data-data saat damai secara terus-menerus kepada badan-badan seperti CIA, NSA, dan Departemen Pertahanan, membantu mereka menumpas terorisme, menemukan perusakan lingkungan, dan memberikan data yang dibutuhkan para pembuat kebijakan untuk membuat keputusan yang tepat mengenai berbagai macam hal.
Rachel bekerja di tempat ini sebagai seorang "gister", pegawai yang bertugas membuat intisari, atau pengurangan data, dengan menganalisis laporan yang rumit dan kemudian meringkasnya menjadi laporan sepanjang satu halaman. Rachel merasa dirinya berbakat. Mungkin karena sering membuat ringkasan omong kosong Ayah, pikirnya.
Sekarang Rachel menduduki posisi gister kepala dan bertugas sebagai penghubung intelijen ke Gedung Putih. Dia bertanggung jawab untuk memilah-milah semua laporan intelijen harian NRO, memutuskan laporan mana yang relevan dengan Presiden, meringkas laporan-laporan tersebut menjadi satu halaman, kemudian meneruskan materi yang sudah tersaring itu kepada Penasihat Presiden untuk bidang Keamanan Nasional. Dalam istilah NRO, pekerjaan Rachel Sexton adalah "merakit barang jadi dan melayani sang pelanggan."
Walau pekerjaan itu sulit dan menuntut jam kerja panjang, kedudukan tersebut merupakan sebuah kehormatan tersendiri bagi Rachel dan merupakan cara untuk menegaskan kemandiriannya dari ayahnya. Senator Sexton sudah berkali-kali menawarkan diri untuk membiayai hidupnya jika dia mau meninggalkan pekerjaannya itu, tetapi Rachel tidak ingin menjadi tawanan keuangan bagi seorang lelaki seperti Sedgewick Sexton.
Ibunya merupakan saksi baginya mengenai apa yang akan terjadi ketika seorang lelaki seperti ayahnya memegang terlalu banyak kendali. Sekali lagi bunyi penyeranta Rachel bergema di dalam lorong berdinding pualam itu.
Lagi? Dia bahkan tidak merasa perlu memeriksa pesan yang masuk.
Sambil bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, Rachel memasuki lift, melewati lantai ruang kerjanya sendiri, dan langsung menuju ke lantai teratas.[]

MENYEBUT DIREKTUR NRO sebagai lelaki sederhana saja sudah berlebihan. Direktur NRO, William Pickering, adalah seorang lelaki bertubuh kecil, berkulit pucat, berwajah biasabiasa saja sehingga mudah untuk dilupakan, botak, dan mata berwarna kecoklatan, yang walaupun sedang melihat rahasiarahasia negara yang paling dalam sekalipun tampak seperti sepasang kolam dangkal saja. Walau begitu, siapa saja yang bekerja di bawah Pickering sangat menghormatinya. Kepribadiannya yang tenang dan fdosofi-filosofi sederhananya sangat melegenda di NRO. Ketekunan yang tenang dari lelaki itu, digabungkan dengan pakaiannya yang hanya jas hitam sederhana, membuatnya mendapat julukan "the Quaker." Sebagai seorang ahli strategi yang pandai dan contoh dari efisiensi, the Quaker mengelola divisinya dengan kejernihan yang tidak ada bandingnya. Mantranya: "Temukan kebenaran dan bertindaklah atas dasar tersebut."
Ketika Rachel tiba di kantor atasannya, sang direktur sedang berbicara di telepon. Rachel selalu terkejut pada penampilan direkturnya: William Pickering sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang cukup berkuasa untuk membangunkan Presiden pada jam berapa pun.

4
Pickering meletakkan teleponnya dan melambai ke arah Rachel untuk menyuruhnya masuk. "Agen Sexton, duduklah." Suaranya terdengar serak namun jernih.
"Terima kasih, Pak." Rachel lalu duduk.
Walau kebanyakan orang merasa tidak nyaman berada di dekat William Pickering yang senang bersikap blak-blakan, Rachel sejak dulu selalu menyukai bosnya ini. Lelaki ini betul-betul merupakan kebalikan dari ayahnya ... secara fisik tidak mengagumkan, sama sekali tidak karismatik, melaksanakan kewajibannya dengan semangat patriotisme yang tidak mementingkan
diri sendiri, dan menghindari sorotan media yang sangat dicintai ayah Rachel.
Pickering melepas kacamatanya dan menatapnya. "Agen Sexton, kira-kira setengah jam lalu Presiden meneleponku. Dia menyebutmu secara langsung."
Rachel mengubah posisi duduknya. Pickering terkenal tak suka berbasa-basi. Sungguh sebuah topik pembuka yang hebat, pikir Rachel. "Saya harap bukan karena ada masalah dengan salah satu ringkasan saya." "Justru sebaliknya. Presiden berkata, Gedung Putih terkesan dengan pekerjaanmu." Rachel menarik napasnya dengan perlahan. "Jadi, apa yang diinginkan Presiden?"
"Bertemu denganmu. Pribadi. Segera."
Kecemasan Rachel meningkat. "Pertemuan pribadi? Mengenai apa?"
"Pertanyaan yang sangat bagus. Presiden tidak mau mengatakannya padaku."
Sekarang Rachel merasa bingung. Merahasiakan informasi dari Direktur NRO sama seperti menyembunyikan rahasia Vatikan dari Sri Paus. Lelucon dalam komunitas intelijen adalah seperti
ini: jika William Pickering tidak tahu tentang sesuatu, maka sesuatu itu tidak ada.

Pickering berdiri dan berjalan di depan jendelanya. "Presiden memintaku menghubungimu segera dan mengirimmu untuk bertemu dengannya."
"Sekarang?"
"Presiden sudah mengirim kendaraan ... sudah menunggu di luar."
Rachel mengerutkan keningnya. Permintaan Presiden membuatnya tidak mampu untuk menolaknya, tetapi kesan prihatin di wajah Pickering itulah yang membuatnya khawatir. "Anda pasti merasa keberatan."
"Tentu saja!" Pickering kembali memperlihatkan perasaannya dengan jelas. "Waktu yang dipilih Presiden untuk bertemu denganmu tampak tidak cerdas karena sangat mudah terlihat maksudnya. Kau adalah putri dari lelaki yang kini sedang menantangnya dalam berbagai jajak pendapat, dan sekarang dia memintamu untuk bertemu secara pribadi? Menurutku ini sangat tidak pantas. Tidak diragukan lagi, ayahmu pasti akan menyetujuinya," katanya seperti menyindir.
Rachel tahu, Pickering benar—bukan karena Rachel peduli pada apa yang dipikirkan ayahnya. "Anda tidak mencurigai niat
Presiden memanggil saya?"
"Sumpahku adalah memberikan dukungan intelijen kepada pemerintahan Gedung Putih yang sedang menjabat, bukan menilai sikap politik mereka."
Jawaban khas Pickering, kata Rachel dalam hati. William Pickering dengan tegas memandang para politisi sebagai tokohtokoh pemimpin temporer yang melintas dengan cepat di atas papan catur, sementara pemain-pemain yang sesungguhnya adalah orang-orang seperti Pickering sendiri—orang berpengalaman yang telah cukup lama malang melintang di dunianya sehingga mengerti permainan tersebut dengan beberapa sudut pandang tertentu. Pickering sering mengatakan, dua kali masa pemerintahan di Gedung Putih masih belum cukup untuk mengerti kerumitan yang sesungguhnya dari situasi politik global.
"Mungkin ini permintaan yang tidak berbahaya," ujar Rachel sambil berharap Presiden cukup terhormat untuk tidak melakukan semacam aksi kampanye rendahan. "Mungkin juga dia hanya membutuhkan pengurangan pada beberapa data sensitif."
"Tanpa bermaksud menyepelekanmu, Agen Sexton, Gedung Putih memiliki akses ke banyak pegawai gister jika mereka membutuhkannya.
Kalau ini merupakan pekerjaan internal Gedung Putih, Presiden seharusnya tahu yang lebih baik daripada hanya menghubungimu. Dan kalau bukan, Presiden seharusnya tahu cara yang lebih baik daripada meminta seorang aset NRO dan menolak untuk mengatakan padaku apa yang dikehendakinya."
Pickering selalu menganggap para pegawainya sebagai aset, sebuah gaya bicara yang sering dianggap tidak berperasaan bagi banyak orang.
"Ayahmu sedang memenangkan momen politis," kata Pickering.
"Memenangkannya dengan nyaris telak. Gedung Putih pasti sedang panik sekarang." Dia mendesah. "Politik adalah bisnis keputusasaan. Ketika Presiden meminta pertemuan rahasia dengan putri saingannya, kukira tidak hanya ringkasan laporan intelijen yang ada di dalam pikirannya."
Rachel merasa agak cemas. Firasat Pickering biasanya ada benarnya juga sehingga tidak pantas untuk diabaikan. "Dan Anda khawatir Gedung Putih merasa cukup putus asa sehingga harus melibatkan saya ke dalam pergaulan politis?"
Pickering tidak segera menjawab. "Aku tahu, kau tidak menutup-nutupi perasaanmu kepada ayahmu, dan aku agak ragu kalau staf kampanye Presiden tidak mengetahui celah tersebut.
Menurutku, mereka mungkin ingin menggunakanmu untuk melawan ayahmu."
"Jadi, di mana saya harus tanda tangan?" kata Rachel dengan nada setengah bercanda.
Pickering terlihat tidak terkesan. la memandang Rachel dengan tajam. "Satu kata peringatan, Agen Sexton. Kalau kau merasa masalah pribadimu dengan ayahmu akan memperkeruh
penilaianmu ketika berurusan dengan Presiden, aku menyarankan agar kau menolak permintaan Presiden untuk bertemu." "Menolak?" Rachel tersenyum lemah. "Saya jelas tidak bisa menolak Presiden."
"Kau tidak bisa," kata sang direktur, "tetapi aku bisa."
Pickering sedikit bergumam ketika berbicara tadi sehingga mengingatkan Rachel akan alasan lain mengapa dia dijuluki "the Quaker." Walaupun William Pickering bertubuh kecil, dia dapat menimbulkan gempa bumi politis jika dikhianati. "Sebenarnya kekhawatiranku di sini sederhana saja," Pickering berkata. "Aku memiliki tanggung jawab untuk melindungi orang-orang yang bekerja untukku, dan aku tidak menghargai adanya kesan tersamar sekalipun bahwa ada anak buahku yang mungkin digunakan sebagai pion dalam permainan politik."
"Jadi apa saran Anda?"
Pickering menghela napas. "Saranku, kau boleh bertemu dengannya, tapi jangan menjanjikan apa-apa. Begitu Presiden memberi tahu apa pun yang ada di pikirannya, telepon aku.
Kalau aku merasa Presiden sedang menjalankan permainan politis denganmu, akan kutarik kau keluar dengan cepat sehingga dia sendiri tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Percayalah kepadaku."
"Terima kasih, Pak." Rachel merasakan adanya aura pelindung dari sang direktur yang sering ia harapkan dari ayahnya sendiri. "Tadi Anda bilang Presiden sudah mengirimkan mobil ke sini?"
"Sebetulnya tidak persis sebuah mobil." Pickering mengerutkan wajahnya dan menunjuk ke luar jendela. Dengan ragu, Rachel mendekat dan melemparkan pandangan ke arah yang ditunjukkan jari tangan Pickering.
Sebuah helikopter PaveHawk MH-60G dengan hidungnya yang mancung sedang diparkir di halaman rumput. Dikenal sebagai salah satu helikopter tercepat yang pernah dibuat, PaveHawk ini dihias dengan lambang Gedung Putih. Pilotnya sedang berdiri di dekat pesawat tersebut sambil melihat jam tangannya.
Rachel menoleh ke arah Pickering dengan pandangan tidak percaya. "Gedung Putih mengirimkan sebuah PaveHawk untuk mengantarkanku ke D.C. yang hanya berjarak lima belas mil?" "Sepertinya Presiden berharap kau terpesona atau terintimidasi." Pickering menatap Rachel lurus ke matanya. "Kusarankan jangan kedua-duanya." Rachel mengangguk. la merasakan kedua-duanya.
EMPAT MENIT kemudian, Rachel Sexton meninggalkan NRO dan masuk ke dalam helikopter yang sedang menunggunya itu.
Bahkan sebelum ia selesai memasang sabuk pengaman, helikopter tersebut sudah melayang naik, dan meliuk tajam menyeberangi hutan Virginia. Rachel memandang bayangan pepohonan di bawahnya dan merasakan jantungnya berdetak dengan cepat. Denyut jantungnya akan berdetak lebih cepat lagi seandainya ia tahu bahwa helikopter ini tidak akan pernah mencapai Gedung Putih. []
ANGIN SEDINGIN es memukul-mukul kain tenda Therma Tech, tetapi Delta-One hampir tidak menghiraukannya. Dia dan Delta-Three sedang memusatkan perhatian pada rekan mereka yang sedang mengoperasikan joystick dengan ketangkasan seorang ahli bedah. Layar monitor di depan mereka menayangkan transmisi video langsung dari sebuah kamera mini yang dipasang pada sebuah microbot, robotmikro. Alat pengintaian yang luar biasa, pikir Delta-One sambil masih terkagum-kagum setiap kali mereka mengaktifkannya.

5
Akhir-akhir ini di dalam dunia mikromekanis, fakta tampaknya sudah lebih maju dan mengalahkan fiksi. Micro Electro Mechanical System (MEMS) atau microbot merupakan peralatan terbaru dalam sistem pengintaian berteknologi tinggi. "Teknologi terbang di dinding," begitu mereka menyebutnya.
Walaupun robot-robot mikro yang dikendalikan dari jarak jauh terdengar seperti fiksi ilmiah, pada kenyataannya robot-robot itu sudah ada sejak tahun 1990-an. Majalah Discovery sudah menurunkan berita utama pada Mei 1997 tentang microbot, dan mengulas model "terbang" dan "berenang." Robot-robot model "berenang", yang berbentuk kapal selam mini seukuran butiran garam, dapat disuntikkan ke dalam aliran darah manusia dengan cara seperti dalam film Fantastic Voyage. Sekarang robotrobot ini digunakan di berbagai fasilitas medis tingkat tinggi untuk membantu para dokter menjelajahi arteri dengan menggunakan kendali jarak jauh, mengamati langsung melalui video transmisi yang dimasukkan ke dalam urat nadi, dan menemukan penyumbatan arteri tanpa mengangkat sebilah pisau bedah pun.
Berlawanan dengan yang diperkirakan semula, membuat sebuah microbot model terbang ternyata lebih mudah. Teknologi aerodinamis untuk membuat mesin itu terbang sudah ada sejak pesawat Kittyhawk diciptakan, sedangkan teknologi lainnya hanyalah masalah meminiaturkan ukurannya. Microbot terbang yang pertama, yang dirancang NASA sebagai alat eksplorasi tanpa awak untuk misi masa depan ke Mars, berukuran beberapa inci lebih panjang. Sekarang, kemajuan dalam teknologi-nano, bendabenda penyerap energi yang ringan, dan mikromekanis telah membuat microbot menjadi kenyataan.
Terobosan yang sesungguhnya berasal dari bidang baru yang bernama biomimics atau ilmu yang meniru makhluk-makhluk di alam. Ternyata capung miniatur merupakan prototipe yang paling ideal bagi microbot terbang yang tangkas dan efisien. Model PH2 yang sekarang sedang diterbangkan Delta-Two hanya memiliki panjang satu sentimeter, atau kira-kira seukuran seekor nyamuk, dan menggunakan sepasang sayap yang terbuat dari bahan silikon berbentuk daun yang tembus pandang dan dipasangkan dengan engsel, sehingga robot ini memiliki mobilitas dan efisiensi yang tiada bandingnya ketika bergerak di udara.
IZRO'IL
Deception Point (Titik Muslihat)


Mekanisme pengisian ulang bahan bakar pada microbot merupakan teknologi terobosan lainnya. Prototipe microbot yang pertama dapat mengisi-ulang baterainya hanya dengan melayanglayang
tepat di bawah sumber cahaya yang terang. Tetapi cara ini tidak cocok bagi pengintaian diam-diam atau dalam penggunaan di tempat gelap. Namun, prototipe yang lebih baru dapat mengisi-ulang energinya hanya dengan berhenti beberapa inci di dekat sebuah medan magnet. Di lingkungan modern seperti saat ini, medan magnet terdapat di mana-mana, seperti di stopkontak, monitor komputer, motor listrik, speaker audio, dan ponsel, sehingga robot ini tidak akan pernah kekurangan tempat untuk mengisi-ulang baterainya karena dapat dilakukan hampir di mana pun. Begitu sebuah microbot telah berhasil dituntun ke suatu tempat, robot tersebut dapat menyiarkan
audio dan video dalam jangka waktu yang nyaris tak terbatas.
Sekarang, microbot PH2 milik Delta Force telah melakukan transmisi selama lebih dari satu minggu tanpa mengalami kendala apa pun yang berarti.

SEPERTI SEEKOR serangga yang melayang-layang di dalam
sebuah gudang besar, sebuah microbot terbang tanpa suara di
tengah-tengah ruangan bangunan tersebut. Dengan pandangan
setajam burung ke arah ruangan di bawahnya, microbot itu
terbang mengelilingi ruangan tanpa menimbulkan suara dan
tanpa disadari orang-orang di bawahnya—beberapa orang teknisi,
ilmuwan, dan para ahli dalam berbagai bidang studi yang tidak
terbatas. Ketika PH2 berkeliling, Delta-One melihat dua raut
wajah yang dikenalnya sedang berbincang-bincang. Mereka dapat
menjadi sumber informasi. Lalu Delta-One meminta Delta-Two
untuk menurunkan capung mereka dan mendengarkan percakapan
kedua orang tersebut.
Delta-Two segera mengatur pengendali dengan menyalakan
sensor suara pada robot, mengarahkan amplifier parabolis robot,
dan mengurangi ketinggiannya hingga menjadi sepuluh kaki di
atas kepala kedua ilmuwan tersebut. Transmisinya tidak jelas,
namun masih dapat ditangkap.
"Aku masih tidak dapat memercayainya," salah satu dari
ilmuwan itu berkata. Kesan kegairahan dalam suaranya masih
belum berkurang sejak kedatangannya ke tempat itu 48 jam
yang lalu.
Lelaki yang diajaknya bicara jelas memiliki antusiasme yang
sama. "Selama hidupmu ... pernahkah kau berpikir akan menyaksikan
hal seperti ini?"
"Tidak pernah," jawab ilmuwan itu sambil berseri-seri. "Ini
semua seperti mimpi yang mengagumkan."
Delta-One sudah cukup mendengar. Jelas, semua yang berlangsung
di dalam sana berjalan sesuai dengan yang diharapkannya.
Delta-Two mengendalikan microbot tersebut menjauh
dari percakapan itu dan menerbangkannya kembali ke tempat
persembunyiannya. Delta-Two memarkir robot mini itu di tempat
yang tidak terdeteksi, di dekat sebuah silinder generator
listrik. Baterai PH2 mulai mengisi-ulang untuk misi berikutnya. []

6
RACHEL SEXTON sedang tenggelam dalam lamunannya mengenai
peristiwa aneh yang terjadi pagi ini ketika PaveHawk yang
ditumpanginya membelah langit. Dan setelah helikopter itu
membubung dan melintasi Chesapeake Bay, barulah ia menyadari
bahwa mereka sedang menuju ke arah yang salah. Kebingungan
yang awalnya ia rasakan segera berubah menjadi waswas.
"Hey!" Rachel berseru pada si pilot. "Apa yang kaulakukan?"
Suaranya hampir tidak terdengar karena ditimpali suara rotor
helikopter yang menderu-deru. "Kau seharusnya membawaku
ke Gedung Putih!"
Si pilot menggelengkan kepalanya. "Maaf, Bu. Presiden
sedang tidak berada di Gedung Putih pagi ini."
Rachel mencoba mengingat-ingat apakah Pickering tadi
menyebut-nyebut Gedung Putih secara khusus atau dia sendiri saja
yang mengiranya demikian. "Jadi, Presiden sedang ada di mana?"
"Anda akan bertemu dengannya di tempat lain."
Kurang ajar. "Di tempat lain di mana?"
"Tidak jauh dari sini."
"Bukan itu yang kutanyakan."
"Enam belas mil lagi."
Rachel mengumpat dalam hati. Lelaki ini seharusnya menjadi
politisi saja. "Apa kau pintar menghindari peluru sebaik kau
menghindari pertanyaan?"
Pilot itu tidak menjawab.
HELIKOPTER ITU membutuhkan kurang dari enam menit
untuk melintasi Chesapeake. Ketika daratan sudah terlihat lagi,
si pilot membelokkan pesawatnya ke arah utara dan menelusuri
sebuah semenanjung sempit. Di sana Rachel melihat serangkaian
landasan pacu dan gedung-gedung militer. Pilot itu menurunkan
helikopternya ke tempat tersebut, dan kemudian Rachel baru
menyadari tempat apa itu. Enam tempat peluncuran dan menara
roket yang sudah hangus sudah menjadi petunjuk yang bagus,
tetapi jika itu tidak cukup, atap salah satu gedung tersebut
dicat dengan huruf besar dan memberi petunjuk yang gamblang:
WALLOPS ISLAND.
Pulau Wallops merupakan tempat peluncuran roket NASA
yang paling tua. Hingga kini pulau itu masih digunakan untuk
meluncurkan satelit dan menguji pesawat-pesawat percobaan.
Pulau Wallops adalah basis NASA yang jauh dari perhatian
banyak orang.
Presiden sedang berada di Pulau Wallops? Ini tidak masuk akal.
Pilot helikopter itu mengarahkan helikopternya menuju
rangkaian tiga landasan pacu yang membujur di sepanjang
semenanjung sempit itu. Mereka tampaknya sedang menuju ke
ujung landasan pacu yang berada di tengah.
Si pilot mulai memperlambat terbangnya. "Anda akan bertemu
dengan Presiden di kantornya."
Rachel menoleh, bertanya-tanya apakah lelaki itu sedang
bergurau. "Presiden Amerika Serikat memiliki kantor di Pulau
Wallops?"
Tetapi tampang pilot itu terlihat sangat serius. "Presiden
Amerika Serikat memiliki kantor di mana pun dia suka, Bu."
Dengan ekspresi dingin, si pilot menunjuk ke arah ujung
landasan pacu. Rachel melihat sesuatu yang berkilauan di kejauhan,
dan jantungnya hampir berhenti berdetak. Walau dari
jarak tiga ratus yard, dia masih dapat mengenali lambung pesawat
berwarna biru muda yang merupakan modifikasi dari
Boeing 747 itu.
"Aku akan bertemu dengan Presiden di atas pesawat ...."
"Betul, Bu. Itu rumahnya ketika sedang jauh dari rumah."
Rachel menatap pesawat terbang raksasa itu. Nama militer
yang tidak terlalu sering terdengar bagi pesawat bergengsi ini
adalah VC-25-A, walau seluruh dunia mengenali pesawat tersebut
sebagai Air Force One.
"Tampaknya pagi ini Anda akan diterima di pesawat Air
Force One yang baru," ujar si pilot sambil menunjuk ke arah
angka yang tertera pada sirip belakang pesawat tersebut.
Rachel mengangguk tanpa sadar. Hanya sedikit orang Amerika
yang tahu bahwa sebenarnya ada dua pesawat Air Force One
yang digunakan. Ada dua pesawat yang identik dan dibuat
khusus dari model 747-200-Bs. Pesawat yang satu memiliki
nomor ekor 28000 dan yang satunya lagi 29000. Keduanya
memiliki kecepatan terbang 600 mph dan telah dimodifikasi
agar mampu mengisi bahan bakar sambil terbang, sehingga
jelajah kedua pesawat tersebut menjadi tidak terbatas.
Ketika PaveHawk mendarat di landasan pacu di samping
pesawat kepresidenan itu, barulah Rachel mengerti mengapa
Air Force One disebut sebagai "rumah portabel yang menguntungkan"
bagi panglima tertinggi negeri ini. Penampilan pesawat
itu saja sudah membuat Rachel merasa terintimidasi.
Ketika Presiden terbang ke luar negeri untuk bertemu dengan
berbagai kepala negara, demi keamanan dia sering meminta
agar pertemuan itu berlangsung di landasan pacu tempat pesawat
jet tersebut mendarat. Walau alasannya adalah demi keamanan,
tentu saja alasan lainnya adalah untuk mendapatkan keuntungan
negosiasi melalui penampilan pesawat itu sendiri yang intimidatif.
Kunjungan ke dalam Air Force One jauh lebih menakutkan
daripada kunjungan ke Gedung Putih. Di sana terdapat hurufhuruf
setinggi enam kaki yang tertulis di badan pesawat dan
bertuliskan "UNITED STATES OF AMERICA." Seorang perempuan
anggota kabinet Inggris pernah menuduh Presiden
Nixon "memamerkan kemaluannya di hadapannya" ketika sang
presiden mengundangnya masuk ke dalam pesawat Air Force
One. Semenjak itu, para awak pesawat sambil bergurau menjuluki
pesawat tersebut dengan "BIG DICK."
"Ms. Sexton?" Seorang petugas Secret Service dengan setelan
muncul di luar helikopter dan membuka pintu untuk Rachel.
"Presiden sedang menunggu Anda."
Rachel keluar dari helikopter dan menatap tangga curam
yang menempel di tubuh pesawat raksasa di depannya. Ini seperti
memasuki phallus terbang saja. Dia pernah dengar, "Ruang Oval"
terbang ini memiliki luas lebih dari empat ribu kaki persegi,
termasuk empat kamar tidur pribadi yang terpisah, tempat tidur
bagi 26 awak pesawat, dan dua buah dapur yang mampu
menyediakan makanan bagi lima puluh orang.
Sambil menaiki tangga pesawat, Rachel merasa petugas Secret
Service itu mengikutinya di belakang, menyuruhnya agar cepat
naik. Di atas, pintu kabin terbuka dan terlihat seperti luka
kecil yang menganga di sisi tubuh paus perak yang besar sekali.
Rachel menapaki jalan masuk yang gelap dan merasa kepercayaan
dirinya mulai surut.
Tenang, Rachel. Ini hanya sebuah pesawat terbang.
Begitu sampai di atas pesawat, petugas Secret Service itu
dengan sopan menggandeng tangan Rachel dan membawanya
memasuki sebuah koridor yang sempit sekali. Mereka kemudian
membelok ke kanan, berjalan sebentar, dan sampai di sebuah
kabin yang mewah dan luas. Rachel segera mengenalinya dari
foto-foto yang pernah dilihatnya.
"Tunggu di sini," kata petugas itu, kemudian dia menghilang.
Rachel berdiri sendirian di dalam kabin Air Force One
yang terkenal itu dengan dindingnya yang dilapisi kayu. Ruangan
ini biasanya digunakan sebagai ruang rapat, menjamu tamutamu
terhormat, dan tampaknya juga untuk menakut-nakuti
tamu yang baru pertama kali masuk. Ruangan itu menggunakan
seluruh lebar tubuh pesawat. Permadani berwarna cokelat terhampar
di bawahnya. Perabotannya sangat indah. Terdapat kursikursi
berlengan yang dilapisi kulit cordovan yang diatur di sekitar
meja rapat dari kayu maple berbentuk mata burung, lampu
berdiri yang terbuat dari campuran kuningan dan tembaga yang
diletakkan di samping sebuah sofa bergaya klasik, dan gelasgelas
dari kristal yang diukir dengan tangan dan diatur di atas
bar dari kayu mahoni.
Tampaknya, para desainer Boeing telah merancang kabin
di bagian depan ini dengan cermat untuk memberikan "perpaduan
antara keteraturan dan ketenangan" bagi para penumpangnya.
Walau demikian, ketenangan adalah hal yang paling
tidak dirasakan Rachel saat ini. Satu-satunya hal yang dapat
dipikirkannya adalah jumlah kepala negara yang pernah duduk
di ruangan ini dan membuat berbagai keputusan yang mampu
mengubah dunia.
Segala yang ada di dalam ruangan itu mengesankan kekuasaan,
dari aroma tembakau yang samar-samar tercium hingga
simbol kepresidenan yang terlihat di mana-mana. Simbol yang
berupa elang mencengkeram anak panah dan tangkai zaitun
tersulam di atas bantal-bantal kecil, ada juga yang diukirkan
pada ember es, dan bahkan dicapkan pada tatakan gelas dari
gabus di atas meja bar. Rachel mengambil sebuah tatakan dan
mengamatinya.
"Sudah mulai mencuri kenang-kenangan?" sebuah suara yang
berat bertanya di belakangnya.
Rachel terkejut, dan saat dia memutar tubuhnya, dia menjatuhkan
tatakan gelas itu ke atas lantai. Dengan gugup Rachel
memungutnya. Ketika dia meraih tatakan gelas tersebut, dia
mendongak dan melihat Presiden Amerika Serikat sedang menatap
ke bawah, ke arahnya yang sedang berlutut, sambil tersenyum
gembira.
"Aku bukan seorang bangsawan, Ms. Sexton. Tidak perlu
berlutut seperti itu."[]

7
SENATOR SEDGEWICK Sexton sedang menikmati privasinya
di dalam mobil limusin Lincoln-nya yang panjang ketika mobil
itu berkelok-kelok di antara lalu lintas pagi di Washington untuk
menuju ke kantornya. Di depannya, duduk Gabrielle Ashe,
asisten pribadinya yang berusia 24 tahun, dan sedang membacakan
jadwal hariannya. Sexton hanya mendengarkannya sambil
lalu.
Aku mencintai Washington, pikir Sexton sambil mengagumi
bentuk tubuh sempurna asistennya di balik sweater-nya. dari
bahan cashmere. Kekuasaan adalah perangsang berahi yang paling
hebat dari semuanya ... dan kekuasaan sanggup membawa sekumpulan
perempuan seperti ini ke D. C.
Gabrielle adalah alumni salah satu universitas di New York
yang masuk dalam kelompok Ivy League* dengan mimpi dapat
menjadi seorang senator juga kelak. Dia juga akan berhasil,
pikir Sexton. Gabrielle memiliki penampilan yang menawan
dan sangat cerdas. Dan yang paling penting, dia mengerti aturan
permainan di dunia politik.
Gabrielle Ashe adalah perempuan berkulit hitam, namun
warna kulitnya yang kecoklatan itu lebih mendekati warna kayu
manis yang gelap atau kayu mahoni. Ini jenis warna kulit yang
tidak terlalu "ekstrem", dan Sexton tahu kulit seperti ini masih
dapat diterima kaum kulit putih tanpa membuat mereka merasa
rendah diri apabila sedang bersamanya. Sexton menggambarkan
Gabrielle kepada kawan-kawannya sebagai perempuan berparas
Halle Berry dengan otak dan ambisi seperti Hillary Clinton.
Namun demikian, Sexton kadang merasa bahkan penggambaran
seperti itu pun kurang memadai.
Gabrielle sudah menjadi aset berharga bagi kampanyenya
sejak Sexton mengangkat gadis itu menjadi asisten pribadi kampanye
tiga bulan yang lalu. Dan yang paling hebat adalah,
Gabrielle bekerja tanpa dibayar. Kompensasi yang dimintanya
untuk enam belas jam kerjanya per hari adalah mempelajari selukbeluk
politik bersama seorang politisi kawakan pada saat itu.
*Sebuah asosiasi yang terdiri atas delapan universitas ternama dan
bergengsi di Amerika karena dikenal atas prestasi akademisnya yang sangat
baik—penerjemah.
Tentu saja, kata Sexton dalam hati dengan riang, aku juga
membujuknya untuk melakukan sesuatu yang sedikit lebih dari
sekadar bekerja. Setelah mengangkat Gabrielle, Sexton juga mengundang
perempuan itu ke "sesi orientasi" pada larut malam di
kantor pribadinya. Seperti yang diharapkan, asisten mudanya
itu datang dengan sangat gembira dan bersemangat untuk menyenangkan
hati si bos. Dengan kesabaran yang telah dikuasainya
selama puluhan tahun, Sexton menerapkan kesaktiannya ...
membangkitkan rasa percaya Gabrielle padanya, lalu dengan
berhati-hati melucuti hambatan di diri perempuan itu, memperlihatkan
pengendalian diri yang menggoda, hingga akhirnya
merayu perempuan itu di kantor pribadinya.
Sexton yakin, hubungan intim mereka pada saat itu merupakan
sebuah pengalaman seksual yang paling memuaskan dalam
hidup perempuan muda tersebut. Tetapi pada siang harinya,
Gabrielle dengan jelas menyesali perbuatannya yang tidak bijak
itu. Karena merasa malu, Gabrielle mengajukan pengunduran
diri. Namun Sexton menolaknya. Gabrielle setuju untuk tetap
bekerja padanya, tetapi dia menyatakan tujuannya dengan sangat
jelas. Sejak itu hubungan mereka betul-betul merupakan hubungan
pekerjaan saja.
Bibir sensual Gabrielle masih bergerak. "... tidak ingin kau
menjadi lesu ketika menghadiri debar di CNN siang ini. Kita
masih tidak tahu siapa yang akan dikirim Gedung Putih sebagai
lawanmu. Kau mungkin mau mengikuti catatan yang kuketik
ini." Lalu Gabrielle menyerahkan sebuah map.
Sexton menerima map itu, dan menikmati aroma parfum
Gabrielle yang bercampur dengan aroma kulit jok yang empuk.
"Kau tidak menyimakku," kata Gabrielle.
"Tentu saja aku menyimak." Sexton tersenyum. "Lupakan
tentang debat CNN itu. Skenario terburuk adalah, Gedung
Putih menghinaku dengan mengirimkan pegawai rendahannya.
Skenario terbaik adalah, mereka mengirim seseorang yang penting
dan aku akan melumatnya tanpa ampun."
Gabrielle mengerutkan keningnya. "Baik. Aku sudah memasukkan
daftar topik yang paling mungkin mengancammu ke
dalam sini."
"Pasti prasangka-prasangka yang biasa."
"Dengan satu tambahan baru. Menurutku kau akan menghadapi
pukulan berbahaya dari kaum homoseksual karena komentarmu
tadi malam dalam acara Larry King."
Sexton hanya mengangkat bahunya seperti tidak peduli. "Ya.
Perkawinan sesama jenis kelamin."
Gabrielle menatapnya dengan tatapan tidak setuju. "Kau
betul-betul mengecamnya dengan keras saat itu."
Perkawinan sesama jenis kelamin, pikir Sexton dengan jijik.
Jika aku yang menentukan, orang-orang homoseksual itu bahkan
tidak akan memiliki hak untuk memilih. "Baiklah, aku akan
memperlunaknya."
"Bagus. Kau juga sudah memberikan tekanan yang berlebihan
untuk beberapa topik hangat akhir-akhir ini. Jangan
terlalu pongah. Masyarakat bisa berubah pendapat dalam sekejap.
Kau sekarang sedang menang, dan kau menikmati momentum.
Kendalikan dengan baik. Tidak perlu memukul bola terlalu keras
hingga keluar lapangan hari ini. Usahakan saja agar tetap dapat
terus bermain dengan cantik."
"Ada kabar dari Gedung Putih?"
Gabrielle tampak heran bercampur senang. "Mereka masih
tetap diam. Resminya, lawanmu sudah menjadi 'Invisible Man'."
Sexton hampir tidak dapat memercayai kemujurannya akhirakhir
ini. Selama berbulan-bulan Presiden harus bekerja keras
dalam kampanyenya. Lalu tiba-tiba, satu minggu yang lalu,
Presiden mengunci diri di Ruang Oval, dan tidak seorang pun
melihat atau mendengarnya lagi. Seolah Presiden tidak dapat
menerima jumlah pendukung Sexton yang semakin membengkak.
Gabrielle mengusap rambut hitamnya yang diluruskan itu.
"Kudengar staf kampanye Gedung Putih juga sama bingungnya
dengan kita. Presiden tidak menjelaskan apa-apa kenapa dia
menghilang seperti itu, dan semua orang di sana marah."
"Ada teori?" tanya Sexton.
Gabrielle menatap Sexton melalui kacamata yang membuatnya
tampak cerdas. "Sepertinya, aku mendapatkan data yang
menarik pagi ini dari seorang informanku di Gedung Putih."
Sexton mengenali tatapan Gabrielle itu. Gabrielle Ashe
berhasil mendapatkan informasi lagi dari orang dalam Gedung
Putih. Sexton bertanya-tanya apakah Gabrielle memberikan pelayanan
seks oral untuk para pembantu kampanye Presiden agar
mendapatkan beberapa rahasia kampanye? Tapi Sexton tidak
peduli ... selama informasi yang dibutuhkan itu terus berdatangan.
"Ini kabar angin," kata asistennya sambil merendahkan suaranya.
"Semua perilaku aneh Presiden ini dimulai minggu lalu
setelah sebuah rapat kilat mendadak dengan administrator NASA.
Saat itu, Presiden keluar dari ruang rapat dengan wajah tertegun.
Dia segera membebaskan diri dari segala jadwalnya, dan sejak
itu Presiden tampak berhubungan dekat dengan NASA."
Sexton jelas senang mendengar berita itu. "Kaupikir mungkin
NASA mengirimkan berita buruk lagi?"
"Tampaknya itulah penjelasan logisnya," kata Gabrielle penuh
harap. "Ini pasti masalah yang begitu penting sehingga
membuat Presiden menunda segalanya."
Sexton menimbang-nimbang. Jelas, apa pun yang terjadi di
NASA pasti merupakan berita buruk. Jika tidak, pasti Presiden
sudah melawanku dengan sengit. Akhir-akhir ini, Sexton mengkritik
Presiden dengan keras tentang pendanaan NASA. Serangkaian
misi yang gagal dan pendanaan yang luar biasa besar bagi
lembaga penelitian luar angkasa itu telah membuat NASA menjadi
sasaran empuk kecaman Sexton. Dia menjuluki lembaga
itu sebagai lambang ketidakefisiensian dan pembelanjaan negara
yang berlebihan, yang seharusnya bisa lebih bermanfaat untuk
anak-anak. Harus diakui, menyerang NASA, yang merupakan
salah satu simbol terbesar kebanggaan Amerika, bukanlah cara
yang digunakan kebanyakan politisi untuk memenangkan perolehan
suara. Namun Sexton memiliki sebuah senjata yang hanya
dimiliki segelintir politisi—Gabrielle Ashe, berikut instingnya
yang tanpa cela.
Perempuan muda yang sangat cerdas ini telah menarik
perhatian Sexton beberapa bulan lalu ketika masih bekerja pada
seorang koordinator di kantor kampanye Sexton di Washington.
Karena kampanye Sexton tidak berhasil dengan baik pada jajak
pendapat pertama dalam pemilihan awal di partainya dan isunya
tentang pemerintah yang boros tidak dihiraukan, Gabrielle Ashe
menulis sebuah catatan untuk Sexton. Perempuan muda itu
menyarankan sebuah sudut kampanye baru yang radikal. Dia
mengatakan bahwa Sexton harus menyerang pendanaan NASA
yang luar biasa, dilanjutkan dengan serangan pada pengeluaran
Gedung Putih yang dianggap sebagai sebuah contoh penting
dari pengeluaran Presiden Herney yang boros dan ceroboh.
"NASA mengeruk uang Amerika," tulis Gabrielle dengan
menyertakan sebuah daftar yang menggambarkan perhitungan
keuangan, kegagalan, dan pengeluaran. "Para pemilih tidak tahu
akan hal itu. Kalau kita menggunakan isu ini, para penasihat
kampanye Presiden pasti akan ketakutan. Saya pikir Anda harus
menjadikan NASA sebagai isu politik."
Sexton mengerang dalam hati karena kenaifan Gabrielle.
"Ya, dan ketika aku menyerang NASA, aku juga akan menyerang
kumandang lagu nasional di pertandingan-pertandingan baseball,"
sahutnya dengan tidak peduli.
Seminggu kemudian, Gabrielle masih terus mengirimkan
informasi tentang NASA di atas meja sang senator. Semakin
sering Sexton membacanya, semakin dia sadar bahwa Gabrielle
Ashe muda itu benar. Bahkan dengan standar lembaga negara
lainnya pun, NASA merupakan sebuah lubang penghisap uang
yang mengejutkan—mahal, tidak efisien, dan pada tahun-tahun
terakhir ini tidak mampu berbuat apa-apa.
Pada suatu sore, Sexton menghadiri acara bincang-bincang
di radio tentang pendidikan yang disiarkan secara langsung.
Sang penyiar mendesak Sexton dengan pertanyaan dari mana
dia akan mendapatkan dana untuk mewujudkan janjinya dan
memperbaiki sekolah-sekolah umum. Ketika menjawab pertanyaan
itu, Sexton ingin menguji teori Gabrielle tentang NASA
dengan nada agak bergurau. "Uang untuk pendidikan?" tanyanya.
"Wah, mungkin saya akan memotongnya dari program angkasa
luar hingga separuhnya. Saya pikir, jika NASA dapat membelanjakan
lima belas miliar setahun untuk angkasa luar, seharusnya
kita dapat membelanjakan tujuh setengah miliar untuk anakanak
di bumi."
Di sudut ruang siaran, para manajer kampanye Sexton
terkesiap ketakutan karena pernyataan sembrono itu. Bagaimanapun,
hasil kampanye mereka tidak cukup baik sehingga tidak
harus ditambah lagi dengan komentar ceroboh tentang NASA.
Sesaat kemudian, saluran telepon di stasiun radio itu mulai
menyala. Manajer kampanye Sexton merasa ngeri. Para pahlawan
pendukung ruang angkasa pasti sedang berkumpul untuk mencecar
mereka.
Kemudian sesuatu yang tidak terduga terjadi.
"Lima belas miliar setahun?" tanya penelepon pertama,
suaranya terdengar terkejut sekali. "Miliar? Maksud Anda, kelas
matematika anak saya dijejali terlalu banyak murid karena sekolah
tidak memiliki jumlah guru yang cukup, dan NASA bisa
menghabiskan lima belas miliar dolar setahun hanya untuk
memotret debu angkasa luar?"
"Mm ... betul," jawab Sexton hati-hati.
"Sungguh tidak masuk akal! Apakah Presiden memiliki kewenangan
untuk melakukan sesuatu terhadap masalah itu?"
"Pasti," jawab Sexton dengan rasa percaya diri yang bertambah.
"Seorang presiden dapat menolak permintaan anggaran
sebuah lembaga yang dianggapnya berlebihan."
"Jika begitu, saya akan memilih Anda, Senator Sexton. Lima
belas miliar untuk penelitian angkasa luar, sementara anak-anak
kita tidak memiliki cukup guru. Itu keterlaluan! Semoga berhasil,
Pak. Saya harap kampanye Anda akan lancar."
Kemudian penelepon berikutnya tersambung. "Senator, saya
baru saja membaca bahwa Stasiun Ruang Angkasa Internasional
NASA sudah mendapatkan anggaran yang sangat berlebihan
dan Presiden masih memikirkan untuk memberikan dana darurat
kepada NASA agar proyek mereka itu tetap dapat berjalan.
Apakah benar begitu?"
Sexton seperti meloncat karena pertanyaan itu. "Betul!"
Sexton lalu menjelaskan bahwa stasiun angkasa luar itu pada
awalnya merupakan proyek bersama dengan biaya yang ditanggung
oleh dua belas negara. Tetapi setelah pembangunannya
dimulai, anggaran stasiun itu membengkak tak terkendali, dan
banyak negara mengundurkan diri karenanya. Walau demikian,
Presiden tidak menghentikan proyek tersebut, bahkan memutuskan
untuk menalangi pengeluaran yang semestinya ditanggung
negara-negara yang mengundurkan diri itu. "Biaya untuk proyek
Stasiun Ruang Angkasa Internasional," Sexton mengutarakan,
"telah meningkat dengan sangat mengejutkan. Dari delapan
miliar yang diajukan menjadi seratus miliar dolar!"
Penelepon itu terdengar marah sekali. "Kenapa Presiden
tidak menghentikan saja proyek itu!"
Sexton sangat ingin mencium penelepon itu. "Pertanyaan
yang sangat bagus. Sayangnya, sepertiga dari perlengkapan untuk
pembangunan stasiun ruang angkasa itu telah mengorbit, dan
Presiden sudah membelanjakan pajak Anda untuk mengirim
semua peralatan itu ke sana. Jadi, kalau Presiden menghentikannya,
itu berarti dia mengaku dirinya telah membuat kesalahan
besar senilai miliaran dolar dengan uang Anda."
Telepon terus berdering. Untuk pertama kalinya, masyarakat
Amerika seperti terjaga dengan gagasan bahwa NASA hanyalah
sebuah proyek pilihan dan bukan proyek wajib nasional.
Ketika siaran tersebut selesai, dengan pengecualian dari
beberapa pendukung sejati NASA yang berpendapat bahwa pencarian
manusia akan ilmu pengetahuan tidak akan ada akhirnya,
mayoritas penelepon mendukung pemikiran mengenai pemborosan
di NASA. Wawancara Sexton telah berubah menjadi
sebuah kampanye yang sungguh ajaib. Ini adalah "topik hangat"
baru, sebuah isu kontroversial yang belum pernah tersentuh,
dan dapat mengusik hati para pemilih.
Minggu-minggu berikutnya, Sexton mengalahkan dengan
telak lawan-lawannya di Partai Republik dalam lima pemilihan
pendahuluan yang penting. Lalu dia mengumumkan bahwa
Gabrielle Ashe menjadi asisten pribadi kampanye yang baru,
juga memuji usaha perempuan muda itu karena telah mengajukan
isu NASA kepada para pemilih. Dalam sekejap, Sexton
telah membuat perempuan muda berdarah Afrika-Amerika ini
menjadi seorang bintang politik yang sedang naik daun. Bersamaan
dengan itu, isu rasis dan gender dalam catatan pengumpulan
suara Sexton menghilang dalam sekejap.
Sekarang, ketika mereka duduk bersama di dalam limusin,
Sexton tahu Gabrielle sedang menunjukkan kehandalannya sekali
lagi. Informasi baru dari Gabrielle tentang pertemuan rahasia
antara Administrator NASA dan Presiden minggu lalu jelas
memperlihatkan bahwa masalah NASA menjadi semakin gawat.
Mungkin ada negara lain lagi yang mengundurkan diri dari
pendanaan pembangunan stasiun ruang angkasa itu.
Ketika limusin mereka melewati Washington Monument,
Senator Sexton tidak dapat menahan perasaan bahwa takdir
telah memilihnya untuk memenangkan pemilu ini.[]
WALAU MENDUDUKI lembaga politis yang paling berkuasa
di dunia, Presiden Zachary Herney hanyalah seorang lelaki
dengan tinggi rata-rata, bertubuh ramping, dan memiliki bahu
yang tidak terlalu lebar. Wajah Presiden Herney berbintik-bintik.
Dia mengenakan kacamata bifokal, dan rambutnya berwarna
hitam dan terlihat mulai menipis. Walau memiliki fisik yang
biasa-biasa saja, dia terlihat menonjol di antara orang-orang
yang mengenalnya. Kata orang, jika Anda bertemu dengan Zach
Herney satu kali saja, Anda pasti mau berjalan ke ujung dunia
demi dirinya.
"Aku senang kaumau datang," kata Presiden Herney sambil
mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Rachel. Jabatan
tangannya terasa hangat dan tulus.
Rachel berusaha berbicara dengan lebih lancar, tetapi tidak
berhasil. "Ten ... tu saja, Pak Presiden. Bertemu dengan Anda
merupakan kehormatan bagi saya."
Presiden tersenyum hangat padanya, dan Rachel dapat merasakan
secara langsung keramahan Presiden Herney yang legendaris
ini. Lelaki ini memang memiliki sikap ramah yang disukai
para kartunis politik. Betapa pun anehnya para kartunis itu
menggambar wajah sang presiden, semua orang masih akan dapat
melihat senyumannya yang hangat dan ramah yang selalu muncul
tanpa dibuat-buat itu. Matanya senantiasa memantulkan
ketulusan dan harga diri.
"Jika kau mengikutiku," kata Presiden dengan suara riang,
"akan kusiapkan secangkir kopi untukmu."
"Terima kasih, Pak."
Presiden menekan interkom dan meminta ajudannya membawakan
kopi ke kantornya.
IZRO'IL
Deception Point (Titik Muslihat)


8
Ketika Rachel mengikuti Presiden berjalan di dalam pesawat
itu, dia merasa heran melihat sang presiden tampak begitu
gembira dan tenang untuk ukuran seseorang yang sedang kalah
dalam jajak pendapat. Presiden juga berpakaian dengan sangat
santai—celana jeans, kemeja polo, dan sepatu hiking merek L.L.
Bean.
Rachel berusaha membangun percakapan. "Anda ... senang
mendaki gunung, Pak Presiden?"
"Sama sekali tidak. Para penasihat kampanyeku memutuskan
beginilah penampilan baruku. Bagaimana pendapatmu?"
Rachel berharap Presiden tidak bersungguh-sungguh dengan
ucapannya itu. "Sangat ... mm ... gagah, Pak."
Raut wajah Herney tidak berubah. "Bagus. Kami pikir, ini
akan membantu kami meraih kembali suara dari perempuanperempuan
yang mendukung ayahmu." Setelah beberapa detik,
Presiden tersenyum lebar. "Ms. Sexton, itu hanya gurauan. Kita
berdua pasti tahu, aku membutuhkan lebih dari sekadar celana
jeans dan kemeja polo untuk memenangkan pemilihan umum
ini.
Keterbukaan dan kejenakaan Presiden dengan cepat menghapus
ketegangan yang dirasakan Rachel karena berada di tempat
ini. Walaupun fisiknya biasa-biasa saja, hal itu mampu ditutupi
Herney dengan keunggulan diplomasinya. Diplomasi adalah
keahlian untuk berhubungan dengan orang lain, dan Zach
Herney memiliki bakat tersebut.
Rachel mengikuti Presiden hingga ke bagian belakang pesawat.
Semakin ke dalam mereka melangkah, semakin tidak mirip
pesawat interiornya. Dia dapat melihat koridor yang melengkung,
dinding berlapis wall-paper, bahkan sebuah ruangan olah
raga, lengkap dengan StairMaster dan mesin dayung. Anehnya,
pesawat itu begitu lengang.
"Anda bepergian sendirian, Pak Presiden?"
Presiden menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya aku baru
saja mendarat."
Rachel terheran-heran. Mendarat dari mana? Ringkasan laporan
intelijen yang dibuatnya minggu ini tidak menyebutnyebut
adanya rencana perjalanan Presiden. Tampaknya Presiden
menggunakan Pulau Wallops untuk melakukan perjalanan diamdiam.
"Stafku meninggalkan pesawat ini tepat sebelum kau datang,"
kata Presiden. "Aku sebentar lagi akan menuju ke Gedung
Putih untuk bertemu kembali dengan mereka di sana, tetapi
aku ingin menemuimu di sini saja."
"Anda sedang berusaha mengintimidasi saya?"
"Sebaliknya. Aku hanya berusaha untuk menghormatimu,
Ms. Sexton. Gedung Putih tidak tepat untuk pertemuan pribadi,
dan berita tentang pertemuan kita ini akan menempatkan dirimu
pada posisi yang canggung dengan ayahmu."
"Saya menghargai itu, Pak."
"Tampaknya kau mampu mempertahankan sikapmu yang
tidak memihak itu dengan anggun, dan aku tidak punya alasan
untuk mengusik itu."
Sekilas Rachel teringat akan pertemuan makan pagi bersama
ayahnya tadi dan meragukan apakah sikapnya tadi pagi itu dapat
dikategorikan sebagai "anggun". Rachel tahu, Zach Herney hanya
bersikap sopan kepadanya walau dia tidak harus seperti itu.
"Boleh aku memanggilmu Rachel?"
"Tentu saja." Boleh aku memanggilmu Zach?
"Ini kantorku," kata Presiden sambil mengantar Rachel
melewati pintu dari kayu maple yang dihiasi dengan ukiran.
Kantor di dalam pesawat Air Force One ini jelas lebih
nyaman daripada yang ada di Gedung Putih, walau perabotannya
masih tetap terlihat kaku. Meja kerjanya dipenuhi dengan kertaskertas,
dan di belakangnya tergantung sebuah lukisan klasik
dari cat minyak yang indah yang menggambarkan sebuah kapal
bertiang tiga dengan layar terkembang yang sedang terombangambing
dalam amukan badai. Lukisan itu tampak mencerminkan
masa kepresidenan Zach Herney saat ini dengan cukup tepat.
Presiden menunjuk ke salah satu dari tiga kursi dengan sandaran
tinggi yang diatur menghadap mejanya untuk memberi
isyarat kepada tamunya. Rachel pun duduk. Dia mengira Presiden
akan duduk di balik meja kerjanya, tetapi ternyata Zach menarik
salah satu kursi tersebut dan duduk di sampingnya.
Sengaja menempatkan diri sejajar denganku, kata Rachel
dalam hati. Presiden memang pintar menyanjung orang lain.
"Baik, Rachel," kata Herney sambil mendesah letih ketika
dia sudah duduk dengan nyaman. "Aku bisa membayangkan,
kau begitu bingung ketika duduk di sini bersamaku, bukan?"
Sikap jaga jarak yang dimiliki Rachel segera memudar ketika
mendengar suara Presiden yang terasa tulus. "Sebenarnya, Pak,
saya bahkan tidak mampu berkata-kata."
Herney tertawa terbahak-bahak. "Hebat. Tidak setiap hari
aku dapat membuat orang NRO tidak mampu berkata-kata."
"Dan tidak setiap hari juga orang NRO diundang masuk
ke dalam Air Force One oleh seorang presiden yang memakai
sepatu hiking."
Presiden tertawa lagi.
Ketukan ringan di pintu kantor seperti mengatakan kalau
kopi yang diminta Presiden sudah datang. Salah seorang awak
pesawat masuk dengan membawa poci yang terbuat dari logam
dengan uap yang mengepul-ngepul dan dua mug dari bahan
yang sama di atas sebuah nampan. Atas permintaan Presiden,
perempuan itu meletakkan nampannya di atas meja dan kemudian
pergi.
"Krim dan gula?" tanya Presiden sambil berdiri untuk menuangkan
kopi.
"Krim saja, terima kasih." Rachel menikmati aroma kopi
yang kental itu. Presiden Amerika Serikat melayaniku minum
kopi secara pribadi?
Zach Herney menyerahkan sebuah mug yang berat untuk
Rachel. "Ini buatan Paul Revere," katanya. "Salah satu kemewahan
kecil."
Rachel menyesap kopinya. Itu kopi terbaik yang pernah
diminumnya.
"Rachel," kata Presiden sambil menuangkan kopi untuk
mugnya sendiri dan duduk kembali. "Waktuku terbatas di sini.
Karena itu, mari kita langsung bicarakan urusan kita." Presiden
menjatuhkan sekotak gula batu ke dalam kopinya dan menatap
Rachel. "Aku membayangkan, Bill Pickering sudah memperingatkanmu
bahwa satu-satunya alasan aku mengundangmu adalah
untuk menggunakanmu demi kepentingan politikku, ya kan?"
"Memang persis itulah yang dikatakannya, Pak."
Presiden terkekeh. "Dia memang selalu sinis."
"Jadi, dia salah?"
"Kau bercanda?" Presiden masih tertawa. "Bill Pickering
tidak pernah salah. Dia selalu benar, seperti biasa."[]
GABRIELLE ASHE menatap dengan kosong ke luar jendela
limusin Senator Sexton ketika mobil tersebut bergerak di antara
lalu lintas di pagi hari untuk menuju kantor Sexton. Dia bertanya-
tanya bagaimana dia bisa sampai di titik ini dalam kehidupannya.
Menjadi asisten pribadi Senator Sexton. Memang
inilah yang diinginkannya, bukan?
Aku sedang duduk di dalam sebuah limusin bersama seorang
calon Presiden Amerika Serikat.
Gabrielle menatap sang senator yang duduk di hadapannya
di atas jok empuk mobil yang mewah ini. Tampaknya dia juga
sedang melamun. Gabrielle mengagumi wajah tampan dan pakaian
sang senator yang sempurna. Ini penampilan yang tepat
untuk seorang presiden.

9
Gabrielle pertama kali melihat Sexton ketika dia masih
duduk di bangku kuliah di fakultas ilmu politik di Cornell
University, tiga tahun yang lalu. Dia tidak akan pernah melupakan
bagaimana mata Sexton menatap para hadirin, seolah mata
itu mengirimkan pesan langsung padanya—percayalah padaku.
Setelah pidato Sexton berakhir, Gabrielle rela mengantri untuk
bertemu dengannya.
"Gabrielle Ashe," kata sang senator sambil membaca kartu
nama yang terpasang di dada Gabrielle. "Nama yang indah
bagi seorang perempuan muda yang cantik." Mata sang senator
sangat meyakinkan.
"Terima kasih, Pak," sahut Gabrielle sambil merasakan kekuatan
lelaki itu ketika mereka berjabatan tangan. "Saya betulbetul
terkesan oleh pidato Anda."
"Aku senang mendengarnya!" Sexton kemudian menyodorkan
kartu namanya ke tangan Gabrielle. "Aku selalu mencari
orang-orang muda yang cerdas dan mengerti visiku. Ketika kau
sudah lulus, cari aku. Mungkin orang-orangku memiliki pekerjaan
untukmu."
Gabrielle hendak membuka mulutnya untuk berterima kasih,
tetapi sang senator sudah berbicara dengan orang berikutnya.
Walau demikian, selama bulan-bulan berikutnya, Gabrielle selalu
mengikuti perjalanan karier Sexton melalui televisi. Dia menatap
Sexton dengan penuh kekaguman ketika sang senator berbicara
bagaimana dia menentang pemborosan pemerintah, memelopori
pemotongan anggaran, merampingkan IRS agar dapat bekerja
lebih efektif dalam mengumpulkan pajak, mengurangi pegawai
DEA, dan bahkan menghapus program-program pelayanan masyarakat
yang berlebihan. Kemudian, ketika istri senator itu tibatiba
meninggal dalam kecelakaan mobil, Gabrielle menyaksikan
dengan perasaan kagum bagaimana Sexton mengubah kejadian
menyedihkan itu menjadi sesuatu yang positif. Sexton bangkit
dan berusaha mengatasi kesedihan pribadinya dan menyatakan
kepada semua orang bahwa dia akan mencalonkan diri sebagai
presiden dan mempersembahkan pengabdiannya itu untuk mengenang
istrinya. Saat itu, Gabrielle langsung memutuskan untuk
terlibat secara dekat dalam kampanye Senator Sexton untuk
pemilihan presiden ini.
Sekarang dia sudah berada di tempat terdekat dengan sang
senator.
Gabrielle ingat malam yang dilewatkan bersama sang senator
di kantornya yang mewah itu. Dia merasa ngeri, dan berusaha
mengusir bayangan memalukan itu dari benaknya. Apa yang
kupikirkan waktu itu? Dia tahu, seharusnya dia dapat menolaknya,
tetapi entah bagaimana, dia tidak sanggup. Sedgewick
Sexton telah lama menjadi idolanya ... dan dia berharap sang
senator menginginkannya.
Limusin itu menerjang gundukan di jalan sehingga membuyarkan
lamunan Gabrielle dan mengembalikannya ke masa kini.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sexton sambil menatapnya.
Gabrielle dengan cepat tersenyum. "Aku tidak apa-apa."
"Kau tidak sedang memikirkan tindakan kasar itu lagi,
bukan?"
Gabrielle hanya mengangkat bahunya. "Aku masih agak
cemas. Ya, aku masih memikirkannya."
"Lupakanlah. Tindakan kasar itu justru merupakan hal terbaik
bagi kampanyeku."
Seperti yang dipelajari Gabrielle dengan susah payah, dalam
dunia politik tindakan kasar berarti membocorkan informasi
bahwa saingan Anda menggunakan alat pembesar penis atau
berlangganan majalah Stud Muffin. Menggunakan informasi
tentang kelemahan lawan bukanlah taktik yang elegan, tetapi
jika itu berhasil, hasil yang diberikan juga sangat besar.
Namun, ketika hal tersebut menjadi senjata makan tuan ....
Dan itulah yang terjadi pada Gedung Putih. Kira-kira sebulan
yang lalu, karena merasa tidak tenang akibat hasil jajak
pendapat yang buruk, staf kampanye Presiden memutuskan
untuk bertindak agresif dan menggunakan bocoran yang mereka
anggap benar. Berita itu adalah tentang hubungan gelap antara
Senator Sexton dengan asisten pribadinya, Gabrielle Ashe. Sayangnya,
mereka tidak memiliki bukti yang kuat. Sementara itu,
Senator Sexton, sebagai orang yang sangat percaya pada pernyataan
"pertahanan yang paling baik adalah menyerang dengan
kuat," menggunakan momen itu untuk balas menyerang. Sexton
mengadakan konferensi pers untuk menyiarkan bahwa dia tidak
bersalah. Sang senator tampil dengan kemarahan yang luar biasa.
Saya tidak percaya, katanya dengan mata memandang kamera
untuk memperlihatkan tatapan terluka, Presiden tega merendahkan
kenangan mendiang istri saya dengan kebohongan keji ini.
Penampilan Senator Sexton di televisi begitu meyakinkan
sehingga bahkan Gabrielle sendiri percaya bahwa mereka tidak
pernah tidur bersama. Melihat betapa mudahnya sang senator berdusta,
Gabrielle baru sadar kalau orang ini memang berbahaya.
Akhir-akhir ini, walau Gabrielle sadar dia sedang mendukung
calon terkuat dalam kampanye pemilihan presiden kali ini, dia
mulai bertanya-tanya apakah dia sedang mendukung calon terbaik.
Terlibat secara langsung dengan Sexton telah membuka
matanya. Ini seperti seorang anak yang mengikuti 'tur belakang
layar' di Universal Studio lalu berkurang kekagumannya terhadap
film karena ternyata Hollywood tidaklah seajaib itu.
Walau Gabrielle tetap percaya pada pesan-pesan Sexton, dia
mulai meragukan si pembawa pesan.[]

10
"APA YANG ingin kubicarakan denganmu, Rachel," kata Presiden,
"masuk klasifikasi 'UMBRA', gelap. Ini jauh melampaui izin
keamananmu."
Rachel merasa dinding Air Force One seakan menyempit
di sekitarnya. Presiden menerbangkannya ke Pulau Wallops,
mengundangnya masuk ke dalam pesawatnya, menuangkan kopi
untuknya, mengatakan secara terus terang bahwa niatnya memanggil
Rachel ke sini adalah memanfaatkannya untuk melawan
ayahnya, dan sekarang berkata bahwa dia ingin memberikan
informasi rahasia secara ilegal. Walau Zach Herney tampak
ramah dari luar, Rachel Sexton baru saja mengetahui sesuatu
yang penting tentang diri sang presiden. Lelaki itu cepat sekali
mengambil kendali.
"Dua minggu yang lalu," kata Presiden sambil menatap
Rachel. "NASA mengungkap suatu penemuan."
Kata-kata itu itu tidak langsung dapat dicerna Rachel dengan
mudah. Sebuah penemuan NASA? Informasi intelijen terkini
menyatakan, tidak ada hal baru yang terjadi pada lembaga ruang
angkasa itu. Tentu saja, hari-hari terakhir ini "penemuan NASA"
berarti mereka baru menyadari telah menganggarkan dana yang
terlalu kecil untuk beberapa proyek baru.
"Sebelum kita berbicara lebih jauh," kata Presiden melanjutkan,
"aku ingin tahu apakah kau sependapat dengan sikap
sinis ayahmu tentang eksplorasi ruang angkasa."
Rachel tidak senang dengan komentar itu. "Saya sungguh
berharap Anda tidak mengundang saya ke sini hanya untuk
meminta saya mengerem bombardir ayah saya terhadap NASA."
Presiden tertawa. "Tentu saja tidak. Aku sudah cukup lama
bekerja sama dengan Senat sehingga aku tahu dengan pasti
tidak seorang pun dapat mengendalikan Sedgewick Sexton."
"Ayah saya seorang oportunis, Pak, seperti juga kebanyakan
politisi yang berhasil. Dan sayangnya NASA membuat dirinya
menjadi sasaran empuk bagi ayah saya." Rentetan kesalahan
NASA yang terbaru sangat tidak dapat termaafkan sehingga
orang-orang tidak tahu harus tertawa atau menangis—satelitsatelit
yang keluar dari orbitnya, penjelajahan pesawat ruang
angkasa yang tidak pernah menghasilkan apa-apa, anggaran
Stasiun Ruang Angkasa Internasional yang naik sepuluh kali
lipat, dan negara-negara lain yang mengundurkan diri dari
pendanaan proyek ini seperti tikus-tikus yang berusaha kabur
meninggalkan kapal yang tenggelam. Miliaran dolar hilang begitu
saja, dan Senator Sexton menggunakan momen itu seperti sedang
menunggangi ombak, ombak yang ditakdirkan akan membawanya
ke 1600 Pennsylvania Avenue—Gedung Putih.
"Harus aku akui," Presiden melanjutkan, "NASA akhir-akhir
ini menjadi 'bencana berjalan. Setiap kali aku menoleh, orangorang
di Kongres masih saja memberiku alasan lain untuk
memotong anggaran mereka."
Rachel melihat kesempatan baik ini dan kemudian mempergunakannya.
"Tapi, Pak, kalau tidak salah minggu lalu Anda
memberi mereka tambahan tiga juta dolar sebagai dana darurat
agar NASA dapat membayar utang-utang mereka?"
Presiden terkekeh. "Ayahmu pasti senang dengan informasi
tersebut, bukan?"
"Sama senangnya dengan menekuk Anda dalam berbagai
jajak pendapat."
"Ngomong-ngomong, kau menontonnya pada acara Nightline?
Dia bilang, 'Zach Herney adalah pecandu ruang angkasa, dan
para wajib pajak harus mendanai kegemarannya itu.'"
"Tetapi Anda terus saja membiarkan ayah saya membuktikan
bahwa dirinya benar."
Herney mengangguk. "Aku tidak akan menutup-nutupi kalau
aku memang fans berat NASA. Aku selalu begitu. Sejak kecil,
aku sudah menyukai ruang angkasa—Sputnik, John Glenn,
Apollo 11—dan aku tidak pernah merasa ragu untuk mengungkapkan
kekaguman dan kebanggaan nasionalku karena kita
memiliki program ruang angkasa. Menurutku, para lelaki dan
perempuan yang bekerja di NASA merupakan pionir-pionir
sejarah modern. Mereka menguji ketidakmungkinan, menerima
kegagalan, dan kembali lagi ke meja gambar, sementara kita
hanya dapat berdiam diri dan mengkritik mereka."
Rachel tetap diam. Dia merasakan bahwa di balik penampilan
Presiden yang tenang tersimpan kemarahan atas retorika
anti-NASA yang dilontarkan ayahnya secara terus-menerus. Rachel
bertanya-tanya apa sebenarnya yang telah ditemukan NASA.
Sepertinya Presiden betul-betul tidak mau tergesa-gesa untuk
mengatakannya.
"Hari ini," kata Herney dengan suara yang terdengar bersemangat,
"aku bermaksud mengubah seluruh pendapatmu tentang
NASA."
Rachel menatapnya dengan tatapan sangsi. "Tenang saja,
Pak. Saya akan memilih Anda. Yang harus Anda pikirkan adalah
pendapat orang-orang lain di negeri ini."
"Aku pun bermaksud begitu." Dia menghirup kopinya dan
tersenyum. "Dan karena itulah aku ingin minta tolong padamu."
Presiden berhenti sejenak, lalu mencondongkan tubuhnya ke
arah Rachel. "Dengan cara yang paling tidak biasa."
Sekarang Rachel dapat merasakan tatapan penuh selidik dari
Zach Herney dalam setiap gerakannya, seperti seorang pemburu
yang sedang mencoba mengukur apakah mangsanya akan lari
atau melawannya. Sayangnya, Rachel tidak tahu mau lari ke
mana.
"Aku kira, kautahu tentang proyek NASA yang bernama
EOS?" tanya Presiden sambil menuangkan kopi lagi ke dalam
mug mereka berdua.
Rachel mengangguk. "Earth Observation System. Saya yakin
ayah saya pernah menyebutkan EOS satu atau dua kali."
Sindiran Rachel yang diperhalus itu membuat Presiden
mengerutkan keningnya. Sebenarnya ayah Rachel menyebutkan
Earth Observation System setiap kali dia memiliki kesempatan.
Proyek NASA tersebut adalah salah satu proyek spekulasi terbesar
yang kontroversial. Proyek ini terdiri atas sekumpulan satelit
yang dirancang untuk melihat bumi dari ruang angkasa dan
menganalisis lingkungan di planet ini, seperti penipisan lapisan
ozon, es di kutub yang mencair, pemanasan global, dan peng-
gundulan hutan tropis. Tujuannya adalah memberikan data
makro yang belum pernah ada selama ini kepada para ahli
lingkungan hidup sehingga mereka dapat membuat perencanaan
yang lebih baik bagi masa depan bumi.
Sayangnya, proyek EOS gagal. Seperti juga beberapa proyek
NASA akhir-akhir ini, proyek itu dibangun dengan dana yang
terlalu besar sejak program itu dimulai. Dan Zach Herney adalah
satu-satunya orang yang terkena getahnya. Sebelumnya, dia
menggunakan dukungan dari lobi lingkungan hidup agar Kongres
mengucurkan 1,4 miliar dolar bagi proyek EOS. Tetapi
bukannya memberikan kontribusi yang menjanjikan untuk perkembangan
ilmu pengetahuan tentang bumi secara global, dengan
cepat EOS malah berubah menjadi mimpi buruk—kegagalan
peluncuran-peluncuran satelit, tidak berfungsinya komputer, dan
konferensi pers NASA yang muram. Satu-satunya wajah yang
tersenyum kemudian adalah wajah Senator Sexton yang diamdiam
selalu mengingatkan para pemilih tentang bagaimana Presiden
telah menghamburkan uang mereka untuk EOS dan bagaimana
uang mereka telah menguap dengan sia-sia.
Presiden kembali menjatuhkan sekotak gula batu ke dalam
mugnya. "Ini akan terdengar sangat mengherankan. Penemuan
NASA yang kukatakan tadi sebenarnya adalah penemuan EOS."
Sekarang Rachel menjadi bingung. Jika EOS memberikan
keberhasilan baru-baru ini, NASA seharusnya mengumumkannya,
bukan? Ayahnya sudah menyerang EOS dengan gencar di
berbagai media, dan badan luar angkasa itu seharusnya menggunakan
keberhasilan mereka ini untuk menangkis serangan
Senator Sexton.
"Saya belum mendengar apa-apa tentang penemuan EOS,"
kata Rachel berkilah.
"Aku tahu. NASA lebih senang menyimpan kabar baik itu
untuk sementara waktu."
Rachel meragukannya. "Dalam pengalaman saya, Pak, bagi
NASA tidak ada kabar yang betul-betul buruk." Menahan infor-
masi bukanlah keahlian bagian hubungan masyarakat NASA.
Lelucon di NRO adalah, NASA bahkan mengadakan konferensi
pers setiap kali ada ilmuwan mereka yang buang angin.
Presiden mengerutkan keningnya. "Ah, ya. Aku lupa kalau
sedang berbicara dengan salah satu anak buah Pickering. Apakah
dia masih mengeluh dan menggerutu karena bibir NASA yang
tidak dapat ditutup?"
"Keamanan adalah urusannya, Pak. Dan dia selalu bersungguh-
sungguh ketika menanganinya."
"Dia memang seperti itu. Aku hanya sulit percaya bagaimana
dua lembaga yang memiliki begitu banyak persamaan ini terusmenerus
menemukan sesuatu untuk dipertengkarkan."
Rachel sudah tahu sejak pertama kali bekerja di bawah
William Pickering, walaupun NASA dan NRO adalah dua
lembaga yang terkait dengan ruang angkasa, mereka memiliki
filosofi yang sangat bertolak belakang. NRO adalah lembaga
pertahanan dan merahasiakan segala kegiatan mereka, sementara
NASA adalah lembaga akademis dan sangat bersemangat untuk
mengumumkan semua terobosan mereka kepada dunia. William
Pickering sering tidak setuju dengan pengumuman tersebut
karena pertimbangan keamanan nasional. Beberapa teknologi
NASA yang paling canggih, seperti lensa beresolusi tinggi untuk
teleskop satelit, sistem komunikasi jarak jauh, dan peralatan
pencitraan radio, malah muncul di gudang senjata intelijen
negara-negara musuh dan digunakan untuk balik memata-matai
Amerika. Bill Pickering sering menggerutu bahwa para ilmuwan
NASA memang berotak besar ... tetapi mulut mereka lebih
besar lagi.
Tetapi masalah yang lebih penting di antara kedua lembaga
itu adalah, NASA menangani peluncuran satelit NRO. Jadi,
kegagalan demi kegagalan NASA akhir-akhir ini langsung berpengaruh
pada NRO. Tidak ada kegagalan yang lebih dramatis
dibandingkan dengan peristiwa pada 12 Agustus 1998 ketika
roket NASA/Air Force Titan 4 meledak hanya empat puluh
detik setelah diluncurkan dan menghancurkan muatannya—
satelit NRO dengan kode Vortex 2 seharga 1,2 miliar dolar.
Pickering tampaknya masih belum sudi melupakan peristiwa
itu.
"Jadi, kenapa NASA tidak mau mengumumkan keberhasilan
barunya ini?" tantang Rachel. "Sekarang ini berita bagus pasti
sangat berguna bagi orang-orang NASA."
"NASA tetap diam karena aku menyuruhnya begitu," jawab
Presiden.
Rachel bertanya-tanya apakah pendengarannya tidak salah.
Kalau telinganya masih beres, itu berarti Presiden melakukan
harakiri politis yang tidak dimengertinya.
Presiden melanjutkan, "Penemuan ini adalah ... yah, bisa
kita sebut ... hasil tak terduga yang sangat mengejutkan."
Rachel tiba-tiba merasa tidak nyaman. Di dunia intelijen,
"hasil tak terduga yang mengejutkan" jarang berarti berita baik.
Dia sekarang bertanya-tanya apakah rahasia EOS ini berhubungan
dengan sistem satelit yang menemukan suatu bencana
lingkungan yang akan segera terjadi. "Ada masalah?"
"Tidak ada masalah sama sekali. Apa yang ditemukan EOS
justru cukup mengagumkan."
Rachel langsung terdiam.
"Rachel, seandainya aku mengatakan padamu bahwa NASA
baru saja menghasilkan sebuah penemuan ilmiah yang begitu
penting ... yang mampu menggemparkan dunia ... sehingga
membenarkan setiap dolar yang telah dikeluarkan rakyat Amerika
bagi ruang angkasa, apa pendapatmu?"
Rachel tidak dapat membayangkannya.
Presiden berdiri. "Ayo kita jalan-jalan."[]
RACHEL MENGIKUTI Presiden Herney menuju tangga keluar
yang bermandikan cahaya matahari. Ketika mereka menuruni
tangga, Rachel merasakan udara dingin bulan Maret menjernihkan
pikirannya. Sayangnya, kejernihan itu hanya membuat pengakuan
Presiden menjadi tampak lebih aneh dari sebelumnya.
NASA membuat sebuah penemuan ilmiah yang begitu penting
sehingga membenarkan setiap dolar yang telah dikeluarkan
rakyat Amerika bagi ruang angkasa?
Rachel hanya dapat membayangkan bahwa penemuan hebat
itu terpusat pada satu hal: kontak dengan kehidupan asing di luar
bumi. Celakanya, Rachel cukup tahu tentang mimpi NASA itu
untuk menyimpulkan bahwa hal itu sama sekali tidak mungkin.
Sebagai seorang analis intelijen, Rachel terus-menerus menjawab
berbagai pertanyaan teman-temannya tentang dugaan bahwa
pemerintah menutup-nutupi kontak dengan makhluk luar angkasa.
Dia merasa bosan dengan berbagai teori yang diyakini
teman-temannya yang "berpendidikan" itu, seperti adanya pesawat
luar angkasa yang rusak dan disembunyikan pemerintah di
bawah tanah, mayat-mayat makhluk ruang angkasa yang dibekukan,
bahkan manusia yang diculik dan dibedah oleh makhlukmakhluk
angkasa luar untuk diteliti oleh mereka.
Tentu saja, semua itu tidak masuk akal. Tidak ada makhluk
ruang angkasa. Tidak ada hal yang ditutup-tutupi.
Semua orang yang bekerja pada komunitas intelijen tahu,
tanggapan mayoritas orang tentang penampakan dan penculikan
oleh makhluk luar angkasa hanyalah produk khayalan yang
terlalu liar atau ciptaan para penipu yang ingin mencari keuntungan.
Ketika foto asli UFO betul-betul ada, anehnya benda
asing tersebut muncul di dekat pangkalan udara militer Amerika

11
Serikat yang sedang menguji pesawat rahasia canggih. Ketika
perusahaan produsen pesawat Lockheed mulai melakukan pengujian
udara sebuah pesawat jet yang disebut the Stealth Bomber,
penampakan UFO di sekitar Edwards Air Force Base meningkat
menjadi lima belas kali lipat.
"Kau sepertinya tidak percaya," kata Presiden yang sedang
mengamati kecurigaan Rachel.
Suara Presiden mengejutkan Rachel. Dia balas memandang,
tapi tidak yakin harus menjawab apa. "Well...," katanya dengan
nada ragu-ragu. "Kalau saya boleh menyimpulkan, Pak, kita
tidak sedang membicarakan pesawat luar angkasa atau orangorang
hijau kerdil itu, kan?"
Presiden tampak agak geli. "Rachel, tadinya aku kira kau
menganggap penemuan ini lebih menarik dibandingkan flksi
ilmiah murahan seperti itu."
Rachel merasa lega karena ternyata NASA tidak begitu putus
asa sehingga harus menjual cerita ten tang makhluk ruang angkasa
kepada Presiden. Tetapi, komentar Presiden itu justru membuat
semuanya menjadi semakin misterius. "Well," kata Rachel, "apa
pun yang ditemukan NASA, saya harus mengatakan bahwa
waktunya sangat cocok."
Herney berhenti sejenak di tengah anak tangga. "Cocok?
Bagaimana bisa begitu?"
Bagaimana bisa begitu? Rachel berhenti dan menatap Herney.
"Pak Presiden, NASA akhir-akhir ini sedang berada dalam pertempuran
hidup dan mati untuk membenarkan keberadaannya,
dan Anda sedang diserang karena terus-menerus membiayainya.
Terobosan NASA yang besar sekarang ini pasti akan menjadi
dewa penolong bagi NASA dan sekaligus kampanye Anda. Para
pengkritik Anda jelas akan menganggap ini sebagai rekayasa
semata."
"Jadi ... kau menyebutku seorang penipu atau bodoh?"
Rachel merasa tenggorokannya tercekat. "Saya tidak bermaksud
tidak hormat, Pak. Saya hanya—"
"Tenang." Seulas senyuman tipis terkembang di bibir Herney.
Dia mulai menuruni tangga lagi. "Ketika Administrator NASA
untuk pertama kalinya memberitahuku tentang penemuan itu,
aku menolaknya mentah-mentah karena kedengaran tidak masuk
akal. Aku bahkan menuduhnya mendalangi kepura-puraan politis
terbesar dalam sejarah."
Rachel merasa tenggorokannya sudah tidak terlalu tercekat
lagi.
IZRO'IL
Deception Point (Titik Muslihat)


Di anak tangga terbawah, Herney berhenti dan menatap
Rachel. "Satu alasan mengapa aku meminta NASA agar menyimpan
penemuannya itu adalah untuk melindungi mereka. Dampak
penemuan ini jauh lebih besar daripada apa pun yang pernah
diumumkan mereka. Penemuan ini akan membuat keberhasilan
orang mendarat di bulan menjadi tidak ada artinya. Karena
semua orang, termasuk aku sendiri, akan mendapatkan begitu
banyak keuntungan—dan kerugian—dari penemuan ini, kupikir
lebih baik kita berhati-hati dengan meminta orang lain agar
memeriksa ulang data NASA sebelum kita mengumumkannya
secara resmi."
Rachel terpaku. "Anda pasti tidak bermaksud bahwa orang
itu adalah saya kan, Pak?"
Presiden tertawa. "Tidak, ini bukan keahlianmu. Lagi pula,
aku sudah memperoleh bukti melalui saluran-saluran di luar
pemerintahan."
Rachel menjadi bingung lagi. "Di luar pemerintahan, Pak?
Maksudnya, Anda menggunakan lembaga swasta? Untuk urusan
yang begitu rahasia?"
Presiden mengangguk dengan yakin. "Aku membentuk sebuah
tim konfirmasi eksternal yang terdiri atas empat ilmuwan
sipil dari luar NASA. Mereka memiliki nama besar dan reputasi
serius yang harus dijaga. Mereka menggunakan peralatan mereka
sendiri saat meneliti dan menarik kesimpulan mereka sendiri.
Selama 48 jam terakhir, ilmuwan-ilmuwan sipil itu telah memastikan
bahwa penemuan NASA tersebut tidak dapat diragukan lagi."
Sekarang Rachel terkesan. Presiden berhasil melindungi dirinya
dengan cara yang begitu khas. Dengan merekrut tim hebat
yang terdiri atas orang-orang yang tak mudah percaya, orangorang
luar yang tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa
ketika harus membenarkan penemuan NASA itu, Herney dapat
menangkis kecurigaan orang-orang bahwa ini hanyalah usaha
NASA yang sudah begitu putus asa untuk mendapatkan dana,
lalu membuat presiden yang pro-NASA itu terpilih kembali,
dan mematahkan serangan Senator Sexton.
"Malam ini, pukul delapan," lanjut Herney, "aku akan
mengadakan konferensi pers di Gedung Putih untuk mengungkapkan
penemuan itu kepada dunia."
Rachel merasa frustrasi. Sesungguhnya Herney belum memberi
tahu apa-apa padanya. "Dan penemuan itu apa, tepatnya?"
Presiden tersenyum. "Hari ini kau akan tahu bahwa kesabaran
adalah kebajikan yang sesungguhnya. Penemuan itu harus
kaulihat sendiri. Aku ingin kau mengerti keadaan yang sesungguhnya
sebelum kita melanjutkan. Administrator NASA
sedang menunggumu untuk memberikan penjelasan. Dia akan
memberi tahu semua yang harus kautahu. Setelah itu kau dan
aku akan membicarakan peranmu selanjutnya."
Rachel merasakan niat tersembunyi di dalam mata Presiden
sehingga membuatnya teringat pada firasat Pickering yang berkata
bahwa Gedung Putih pasti sedang menyembunyikan sesuatu.
Seperti biasa, Pickering sepertinya benar.
Herney menunjuk ke arah hanggar pesawat di dekat mereka.
"Ikuti aku," katanya sambil berjalan ke arah hanggar itu.
Rachel mengikuti Presiden dengan bingung. Gedung di
depan mereka tidak memiliki jendela, dan pintu-pintunya yang
besar untuk memasukkan pesawat terlihat tertutup. Satu-satunya
jalan masuk tampaknya dari sebuah jalan kecil di samping
gedung dengan pintunya yang terbuka sedikit. Presiden mengantar
Rachel hingga beberapa kaki di depan pintu itu dan
kemudian berhenti.
"Hanya sampai di sini batasku," kata Presiden sambil menunjuk
ke arah pintu. "Masuklah ke dalam melalui pintu itu."
Rachel ragu-ragu. "Anda tidak masuk dengan saya?"
"Aku harus kembali ke Gedung Putih. Aku akan segera
berbicara lagi denganmu. Kaupunya ponsel?"
"Tentu saja, Pak."
"Berikan padaku."
Rachel mengeluarkan dan memberikan ponselnya kepada
Presiden. Dia mengira Presiden ingin memasukkan nomor pribadi
ke ponselnya. Tetapi, Herney malah memasukkan ponsel
Rachel ke dalam sakunya.
"Kau sekarang bebas," kata Presiden. "Segala tanggung jawabmu
di tempat kerja telah diambil alih. Kau tidak akan berbicara
dengan siapa pun hari ini tanpa meminta izin dariku sendiri
atau dari Administrator NASA. Kau mengerti?"
Rachel memandang lelaki di hadapannya dengan tatapan
tidak percaya. Ampun! Presiden baru saja mencuri ponselku?
"Setelah Administrator NASA memberimu pengarahan singkat
tentang penemuan itu, dia akan menghubungkanmu denganku
melalui saluran yang aman. Aku akan segera berbicara denganmu.
Semoga berhasil."
Rachel menatap pintu hanggar dan merasa semakin cemas.
Presiden Herney meletakkan tangannya di atas bahu Rachel
untuk meyakinkan perempuan itu dan kemudian mengangguk
ke arah pintu tersebut. "Tenanglah, Rachel. Kau tidak akan
menyesal karena mau membantuku dalam masalah ini."
Tanpa berkata-kata lagi, Presiden kemudian berbalik dan
berjalan ke arah PaveHawk yang tadi membawa Rachel ke pulau
ini. Dia lalu masuk ke dalamnya, dan terbang. Presiden tidak
pernah menoleh ke belakang lagi.[]
RACHEL SEXTON berdiri sendirian di ambang pintu di sisi
hanggar Wallops yang sepi dan menatap ke dalam kegelapan di
hadapannya. Dia merasa sedang berada di batas dunia lain.
Semilir angin dingin yang lembap mengalir keluar dari ruang
bagian dalam yang luas tersebut, seolah gedung itu bernapas.
"Halo?" Rachel berseru, suaranya terdengar agak bergetar.
Tidak ada jawaban.
Dengan kekhawatiran yang semakin meningkat, dia melangkah
melewati ambang pintu itu. Sesaat dia tidak melihat
apa-apa, tetapi perlahan-lahan matanya dapat menyesuaikan diri
dengan keremangan di sekitarnya.
"Ms. Sexton, ya?" tanya seorang lelaki, terdengar dari jarak
beberapa yard dari tempatnya berdiri.
Rachel terlonjak dan segera berputar ke arah suara. "Ya, Pak."
Sesosok tubuh seorang lelaki yang tidak terlihat begitu jelas
berjalan mendekatinya.
Ketika penglihatan Rachel sudah jelas, dia sadar dirinya
berhadapan dengan seorang pemuda dengan rahang persegi dan
mengenakan seragam penerbang NASA. Tubuhnya tegap dan
berotot, sementara bagian dada seragamnya dipenuhi dengan
berbagai macam emblem.
"Komandan Wayne Loosigian," katanya. "Maaf jika saya
mengejutkan Anda, Bu. Di sini memang gelap sekali. Saya belum
sempat membuka pintu hanggar." Sebelum Rachel sempat menjawab,
lelaki itu menambahkan, "Saya merasa terhormat untuk
menjadi pilot Anda pagi ini."
"Pilot?" tanya Rachel sambil menatapnya. Aku baru saja
memiliki seorang pilot. "Aku ke sini untuk berjumpa dengan
Administrator."
12
"Ya, Bu. Perintah yang saya terima adalah mengantar Anda
untuk menemuinya segera."
Rachel membutuhkan beberapa saat untuk mencerna pernyataan
itu. Ketika dia akhirnya mengerti, dia merasa diperdaya.
Tampaknya perjalanannya belum selesai. "Di mana dia?" tanya
Rachel dengan nada penuh kewaspadaan.
"Saya tidak memiliki informasi tentang hal itu," jawab si
pilot. "Saya akan menerima koordinat arahnya setelah kita berada
di udara."
Rachel merasa lelaki itu mengatakan yang sebenarnya. Tampaknya
bukan hanya dirinya dan Direktur Pickering yang dibuat
bertanya-tanya pagi ini. Presiden menangani masalah keamanan
dengan sangat serius, dan Rachel merasa malu karena betapa
cepat dan mudahnya Presiden "menguasainya". Baru setengah
jam di lapangan, dan sekarang peralatan komunikasiku sudah
dilucuti, sementara direkturku tidak tahu di mana aku berada.
Sambil memandang punggung pilot NASA yang berjalan
menjauhinya itu, Rachel merasa rencana untuk dirinya di pagi
ini memang sudah dirancang dengan begitu sempurna. Perjalanan
ini akan membawanya pergi entah ke mana, tidak peduli
apakah dia menyukainya atau tidak. Satu-satunya pertanyaan
adalah, ke mana tujuan mereka.
Si pilot berjalan ke arah dinding dan menekan sebuah
tombol. Sisi lain hanggar itu mulai bergeser dengan suara berisik,
dan cahaya matahari menerobos dari luar sehingga menampakkan
sesuatu yang besar di tengah-tengah hanggar.
Mulut Rachel ternganga. Tuhan, tolong aku.
Di tengah-tengah hanggar terparkir sebuah jet tempur berwarna
hitam yang terlihat begitu menyeramkan. Itu pesawat
paling ramping yang pernah dilihat Rachel.
"Kau tidak becanda, kan?" tanya Rachel.
"Itu reaksi pertama yang biasa timbul, Bu. Tetapi F-14
Tomcat Split-tail ini adalah pesawat yang sangat handal."
Ini sih rudal bersayap.
Si pilot menuntun Rachel menuju pesawat itu. Dia menunjuk
ke arah kokpit dengan dua tempat duduk. "Anda duduk
di belakang."
"Oh ya?" Rachel berusaha tersenyum. "Tadinya kukira kau
akan membiarkan aku mengemudi."
SETELAH MENGENAKAN baju terbang tahan panas di luar
pakaiannya sendiri, Rachel kemudian memanjat masuk ke dalam
kokpit. Dengan canggung, Rachel mengatur pinggulnya di tempat
duduk yang sempit itu.
"NASA pasti tidak punya pilot dengan pantat gemuk," kata
Rachel.
Si pilot tersenyum ketika dia membantu Rachel mengenakan
sabuk pengaman. Lalu dia juga memasangkan helm ke kepala
Rachel.
"Kita akan terbang sangat tinggi," kata si pilot. "Anda akan
membutuhkan oksigen." Dia lalu menarik topeng oksigen dari
panel di sisi pesawat dan mulai memasangkannya ke helm Rachel.
"Aku bisa sendiri," kata Rachel sambil mengulurkan tangannya
dan mengambil alih.
"Tentu saja, Bu."
Rachel mencoba-coba mengenakan masker yang dirancang
dengan sangat pas itu, sampai akhirnya dia dapat memasangnya
dengan baik. Berada di balik masker seperti itu membuatnya
merasa tidak nyaman.
Sang komandan menatapnya lama, dan tampak agak geli.
"Ada yang salah?" tanya Rachel.
"Sama sekali tidak, Bu." Dia terlihat berusaha menyembunyikan
senyumannya. "Kantong muntah berada di bawah
tempat duduk Anda. Kebanyakan orang akan merasa mual ketika
pertama kali naik pesawat ini."
"Aku akan baik-baik saja," kata Rachel untuk meyakinkan
si pilot. Suaranya terdengar samar-samar di balik topeng maskernya.
"Aku tidak punya kecenderungan untuk mudah muntah."
Pilot itu hanya mengangkat bahunya. "Banyak anggota Navy
Seal juga berkata seperti itu, tetapi ternyata saya sering membersihkan
muntahan mereka dari kokpit saya."
Rachel hanya dapat mengangguk.
"Ada pertanyaan sebelum kita terbang?"
Rachel ragu-ragu sejenak dan kemudian dia mengetukngetuk
masker oksigen yang menghalangi dagunya. "Ini justru
menghambat pernapasanku. Bagaimana kau mengenakan benda
ini dalam penerbangan jangka panjang?"
Si pilot tersenyum dengan sabar. "Bu, kami biasanya tidak
mengenakannya secara terbalik seperti itu."
PESAWAT ITU bersiap di ujung landasan pacu. Dengan mesin
yang menyala di bawahnya, Rachel merasa seperti menjadi
sebutir peluru di dalam sepucuk pistol yang sedang menunggu
seseorang untuk menarik pelatuknya. Ketika si pilot mendorong
tongkat pengendali pesawat ke depan, mesin ganda Lockheed
345 yang dirancang untuk pesawat Tomcat itu mulai menderuderu,
dan seluruh dunia seolah bergetar. Ketika rem dilepas,
Rachel terhempas ke belakang kursinya. Jet itu seolah merobek
landasan pacu dan meninggalkannya dalam hitungan beberapa
detik saja. Di luar sana, dataran tertinggal di bawah dengan
tingkat yang membuat kepala pusing.
Rachel memejamkan matanya ketika pesawat itu membubung
ke langit. Dia bertanya-tanya apa yang salah dengan
dirinya pagi ini. Dia seharusnya berada di depan mejanya dan
menulis ringkasan. Tetapi sekarang dia malah berada di dalam
sebuah torpedo berkecepatan tinggi dan bernapas melalui masker
oksigen.
Ketika pesawat Tomcat itu melewati ketinggian 45 ribu
kaki, Rachel mulai merasa mual. Dia memaksakan diri untuk
memusatkan perhatian pada hal lain. Ketika dia menatap ke
bawah, ke arah samudra yang berada sembilan mil di bawahnya,
tiba-tiba dia merasa begitu jauh dari rumah.
Di depannya, si pilot sedang berbicara dengan seseorang
melalui radio. Ketika percakapan itu berakhir, si pilot meletakkan
radionya, dan tiba-tiba membelokkan Tomcat itu ke kiri dengan
tajam. Pesawat itu menanjak hampir tegak lurus ke atas. Dengan
manuver seperti itu, Rachel merasa perutnya jungkir-balik. Akhirnya,
pesawat itu kembali ke posisi mendatar.
Rachel mengerang. "Terima kasih atas atraksi akrobatnya,
Bung."
"Maaf, Bu, tetapi saya baru saja menerima koordinat rahasia
menuju tempat pertemuan Anda dengan Administrator NASA."
"Biar aku tebak," kata Rachel. "Kita ke arah utara?"
Si pilot tampak bingung. "Bagaimana Anda tahu?"
Rachel mendesah. Dasar pilot yang biasa menggunakan peralatan
canggih! "Sekarang pukul sembilan pagi, Kawan, dan
matahari berada di sebelah kanan kita. Itu artinya kita sedang
terbang ke utara."
Sunyi sesaat. "Ya, Bu. Kita terbang ke utara pagi ini."
"Dan berapa jauh kita akan terbang ke utara?"
Si pilot memeriksa koordinatnya. "Kira-kira tiga ribu mil."
Rachel terlonjak tegak di tempat duduknya. "Apa!" Dia
berusaha membayangkan jarak sejauh itu di peta, tapi dia tidak
dapat membayangkan ke mana mereka pergi dalam jarak sejauh
itu ke utara. "Itu empat jam penerbangan!"
"Jika dengan kecepatan kita sekarang, Anda benar," jawab
si pilot. "Mohon berpegangan."
Sebelum Rachel dapat menjawab, lelaki itu menarik masuk
sayap-sayap pesawat F-14 ke posisi low-drag. Sekejap kemudian,
Rachel kembali merasa dirinya terhempas ke belakang kursinya
ketika pesawat itu melesat ke depan dengan kecepatan begitu
tinggi. Dalam semenit, mereka sudah terbang dengan kecepatan
hampir 1.500 mil per jam.
Sekarang Rachel merasa pusing. Ketika langit terbelah oleh
pesawat yang menderu dalam kecepatan seperti itu, dia merasa
sangat mual. Samar-samar suara Presiden menggema di telinga-
nya. Tenanglah, Rachel. Kau tidak akan menyesal karena mau
membantuku dalam masalah ini.
Rachel mengerang, lalu meraih kantung muntahnya. Jangan
pernah memercayai seorang politisi.[]

13
WALAU SENATOR Sedgewick Sexton tidak menyukai taksi
umum yang murah dan kotor, tapi dia belajar bagaimana sesekali
menikmati keadaan yang bersahaja seperti itu dalam usahanya
menuju kemenangan. Taksi Mayflower jelek yang baru saja
menurunkan Sexton di tempat parkir bawah tanah Hotel Purdue
itu ternyata memberikan sesuatu yang tidak dapat diberikan
limusin kepadanya—anonimitas.
Dia merasa senang ketika tahu tempat parkir itu lengang.
Dia hanya melihat beberapa mobil berdebu yang terparkir di
antara pilar-pilar semen. Saat berjalan menyeberangi tempat
parkir itu secara diagonal, Sexton melirik arlojinya.
11:15 pagi. Sempurna.
Orang yang akan ditemuinya ini sangat sensitif dengan
ketepatan waktu. Tetapi sekali lagi Sexton mengingatkan dirinya,
mengingat sekelompok orang yang diwakili lelaki itu, dia bisa
sensitif dengan berbagai hal sesuai keinginannya.
Sexton melihat sebuah minivan Ford Windstar putih diparkir
di tempat yang sama setiap kali mereka mengadakan pertemuan—
di sebelah timur garasi, di balik sederetan tong sampah.
Sexton sesungguhnya lebih senang bertemu dengan orang ini
di sebuah kamar hotel di atas tempat parkir itu, tetapi dia
tentu saja memahami betapa pentingnya kehati-hatian. Teman-
teman orang itu tidak akan berada di posisi seperti sekarang
jika mereka tidak berhati-hati.
Ketika Sexton berjalan mendekati van itu, dia merasakan
ketegangan yang selalu dialaminya setiap kali mengadakan pertemuan
ini. Sambil memaksa dirinya agar tetap tenang, Sexton
masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang sambil
melambaikan tangannya dengan ceria. Seorang pria berambut
hitam duduk di kursi pengemudi. Dia tidak tersenyum. Lelaki
itu berusia hampir tujuh puluh tahun, tetapi di balik kulitnya
yang sudah keriput, terpancar ketangguhan yang sesuai dengan
posisinya sebagai pimpinan sekumpulan visioner gila dan para
pengusaha kejam ini.
"Tutup pintunya," kata lelaki itu dengan kasar.
Sexton mematuhinya dan menerima kekasaran lelaki itu
dengan lapang dada. Walau bagaimana, lelaki ini mewakili orangorang
yang mengendalikan uang dalam jumlah yang sangat besar.
Uang itulah yang akhir-akhir ini telah banyak diberikan untuk
memastikan posisi Sedgewick Sexton sebagai kandidat orang
paling berkuasa di dunia. Sexton tahu, pertemuan-pertemuan
ini bukanlah sekadar untuk membicarakan strategi. Pertemuanpertemuan
ini lebih sebagai pengingat bulanan bagaimana sang
senator sudah terikat oleh para pemberi dananya. Orang-orang
ini mengharapkan imbalan yang bagus dari investasi yang sudah
mereka tanamkan. Sexton harus mengakui, "imbalan" itu adalah
permintaan yang sangat berani, namun hal tersebut akan berada
dalam pengaruhnya begitu dia mengambil alih Ruang Oval
kelak.
"Aku kira, dananya sudah ditransfer ke rekeningku, ya?"
kata Sexton tanpa basa-basi karena mengetahui lawan bicaranya
itu senang untuk langsung ke pokok permasalahan.
"Betul. Dan seperti biasanya, kau akan menggunakan dana
ini hanya untuk kampanyemu. Kami senang melihat pergerakan
perolehan angkamu dalam jajak pendapat, dan tampaknya manajer
kampanyemu sudah menggunakan uang kami dengan efektif."
"Kami menang dengan cepat."
"Seperti yang telah kukatakan di telepon tadi," orang tua
itu melanjutkan, "aku sudah membujuk enam orang lagi untuk
bertemu denganmu malam ini."
"Bagus sekali." Sexton sudah mengosongkan jadwalnya untuk
pertemuan itu.
Orang tua itu menyerahkan sebuah map kepada Sexton.
"Di sini ada informasi tentang mereka. Pelajari. Mereka ingin
kau mengerti apa yang menjadi perhatian mereka secara khusus.
Mereka ingin tahu apakah kau bersimpati dengan hal tersebut.
Kusarankan kau menemui mereka di rumahmu."
"Rumahku? Tetapi aku biasa bertemu—"
"Senator, keenam orang ini mengelola perusahaan dengan
sumber daya yang jauh melebihi pemilik-pemilik perusahaan
lain yang selama ini pernah kautemui. Mereka kelas kakap, dan
mereka orang-orang yang waspada. Mereka memiliki potensi
untuk untung lebih banyak, dan karena itu juga memiliki
potensi rugi lebih banyak. Aku sudah berusaha keras untuk
membujuk mereka agar bertemu denganmu. Mereka membutuhkan
perlakuan khusus. Sebuah sentuhan pribadi."
Sexton mengangguk dengan cepat. "Pasti. Aku dapat mengatur
pertemuan di rumahku."
"Tentu saja, mereka menginginkan privasi secara total."
"Aku juga begitu."
"Semoga berhasil," kata lelaki tua itu. "Jika malam ini
semuanya berjalan baik, itu akan menjadi pertemuan terakhirmu.
Keenam orang ini sudah cukup untuk memberikan apa yang
kauperlukan untuk mendorong kampanyemu hingga ke puncak."
Sexton senang mendengarnya. Dia memberi senyuman penuh
keyakinan pada lelaki tua itu. "Dengan nasib baik, Kawanku,
saat pemilu tiba, kita semua akan meraih kemenangan itu."
"Kemenangan?" Lelaki itu memandang Sexton dengan tatapan
mencemooh dan mencondongkan tubuhnya ke arah Sexton
untuk memandang langsung ke mata sang senator. "Menempat-
kanmu di Gedung Putih baru merupakan langkah pertama
menuju kemenangan, Senator. Kukira kau belum melupakan
hal itu."[]
GEDUNG PUTIH merupakan salah satu gedung kediaman
presiden terkecil di dunia dengan panjang 170 kaki dan lebar
85 kaki, dan berdiri di atas lahan yang hanya seluas 18 ekar.
Rancangan arsitek James Hoban yang berupa bangunan batu
berbentuk kotak dengan atap yang menonjol dan pintu depan
berpilar-pilar itu, walaupun jelas tidak orisinal, terpilih sebagai
pemenang sayembara karena para juri memujinya sebagai rancangan
yang "menarik, bergengsi, dan luwes."
Presiden Zach Herney jarang merasa nyaman tinggal di
Gedung Putih walau sudah tinggal di sana selama tiga setengah
tabun. Ini karena dia selalu dikelilingi oleh lampu-lampu kristal,
barang-barang antik, dan pasukan marinir bersenjata. Tapi anehnya,
ketika dia berjalan menuju Sayap Barat pada hari ini, dia
merasa segar dan nyaman. Kakinya melangkah dengan ringan
di atas permadani tebal di bawahnya.
Beberapa anggota staf Gedung Putih mendongak ketika
presiden mereka mendekat. Herney melambaikan tangannya dan
menyapa mereka dengan memanggil nama mereka satu per satu.
Jawaban mereka, walau tetap sopan, terdengar pelan dan disertai
senyuman yang dipaksakan.
"Selamat pagi, Pak Presiden."
"Senang bertemu dengan Anda, Pak Presiden."
"Selamat pagi, Pak."

14
Ketika Presiden melanjutkan perjalanan menuju ruang kantornya,
dia merasakan bisikan-bisikan di belakangnya. Ada rencana
pemberontakan di dalam Gedung Putih. Selama dua minggu
terakhir ini, kekecewaan yang terasa di gedung beralamat 1600
Pennsylvania Avenue itu telah meningkat hingga ke titik di
mana Herney mulai merasa seperti Kapten Bligh yang memimpin
sebuah kapal perang di mana para awaknya sedang mempersiapkan
pemberontakan.
Presiden tidak menyalahkan mereka. Para stafnya sudah
bekerja keras tanpa kenal lelah untuk mendukungnya dalam
pemilu yang akan datang, dan sekarang tiba-tiba Presiden terlihat
seperti tidak mampu melakukan apa-apa.
Mereka akan segera mengerti, kata Herney kepada dirinya
sendiri. Aku akan segera menjadi pahlawan lagi.
Dia merasa menyesal telah begitu lama menyimpan rahasia
ini dari para stafnya, tetapi kerahasiaan adalah hal yang sangat
penting. Dan untuk urusan menyimpan rahasia, Gedung Putih
terkenal sebagai kapal yang paling mudah bocor di Washington.
Herney sampai di ruang tunggu di luar Ruang Oval dan
melambaikan tangannya dengan ramah kepada sekretarisnya.
"Kau tampak cantik pagi ini, Dolores."
"Anda juga terlihat tampan, Pak," jawab perempuan itu
sambil menatap pakaian Presiden yang begitu santai dengan
tatapan tidak setuju yang tidak disembunyikannya.
Herney merendahkan suaranya. "Aku ingin kau mengatur
sebuah rapat untukku."
"Dengan siapa, Pak?"
"Seluruh staf Gedung Putih."
Sekretaris itu menatapnya dengan tidak percaya. "Semua
staf Gedung Putih, Pak? 154 orang?"
"Tepat."
Dolores tampak kebingungan. "Baik. Boleh saya adakan di
... Briefing Room?"
Herney menggelengkan kepalanya. "Jangan. Sebaiknya diadakan
di kantorku saja."
Sekarang Dolores melotot. "Anda ingin bertemu dengan
seluruh staf Anda di dalam Ruang Oval?"
lepat.
"Semuanya sekaligus, Pak?"
"Mengapa tidak? Aturlah untuk pukul empat sore."
Sekretaris itu mengangguk, seolah sedang menyenangkan
seorang pasien sakit jiwa. "Baiklah, Pak. Dan rapat itu akan
membicarakan ...?"
"Ada hal penting yang harus kusampaikan kepada rakyat
Amerika malam ini. Dan aku ingin staiku mendengarnya terlebih
dahulu."
Tiba-tiba Dolores terlihat sedih, seolah-olah selama ini diamdiam
dia sudah mengkhawatirkan peristiwa ini. Dia kemudian
merendahkan suaranya. "Pak, apakah Anda akan menarik diri
dari pertarungan ini?"
Herney tertawa terbahak-bahak. "Tentu saja tidak, Dolores!
Aku malah sedang menambah tenaga untuk bertempur!"
Dolores tampak ragu. Media-media memberitakan bahwa
Presiden Herney akan menyerah sebelum pemilu tiba.
Herney mengedipkan matanya untuk meyakinkan sekretarisnya.
"Dolores, kau sudah bekerja dengan sangat baik sebagai
sekretarisku dalam tahun-tahun terakhir ini, dan kau akan bekerja
dengan baik sebagai sekretarisku lagi selama empat tahun
mendatang. Kita akan pertahankan Gedung Putih. Aku bersumpah."
Sang sekretaris tampak ingin memercayai kata-kata yang
didengarnya itu. "Baiklah, Pak. Saya akan memberi tahu semua
staf. Pukul empat sore."
KETIKA ZACH Herney memasuki Ruang Oval, dia tidak dapat
menahan senyumannya saat membayangkan seluruh stafnya berdesakan
di ruangan kecil ini.
Walau ruang kantor yang hebat ini sudah memiliki banyak
nama julukan yang aneh-aneh selama bertahun-tahun, seperti
the Loo, Dick's Den, dan Clinton Bedroom, nama julukan
yang paling disukai Herney adalah "Lobster Trap." Baginya nama
itu paling tepat. Setiap kali seorang pendatang baru memasuki
Ruang Oval, dia akan langsung kebingungan sehingga sulit
untuk menemukan jalan keluar apalagi melarikan diri. Kesimetrisan
ruangan tersebut, dinding-dindingnya yang melengkung
dengan lembut, dan pintu-pintu untuk masuk dan keluar yang
tersamar, membuat semua pengunjung merasa pusing, seolaholah
mata mereka ditutup dan kemudian diputar di dalam
ruangan tersebut. Bahkan sering kali beberapa tamu penting
yang berkunjung ke ruangan ini berdiri, bersalaman dengan
Presiden, dan langsung berjalan ke pintu ruang penyimpanan.
Bergantung bagaimana pertemuan mereka tadi berlangsung,
Herney akan menghentikan sang tamu tepat pada waktunya
atau memerhatikan dengan geli ketika sang tamu mempermalukan
dirinya sendiri karena salah membuka pintu.
Herney percaya, hal yang paling mendominasi Ruang Oval
adalah gambar burung elang Amerika yang menghiasi permadani
di lantai ruangan tersebut. Cakar kiri elang tersebut mencengkeram
ranting zaitun dan cakar kanannya mencengkeram
seikat anak panah. Hanya sedikit orang luar yang tahu bahwa
selama masa damai, si elang menoleh ke kiri, ke arah ranting
zaitun, tetapi dalam masa perang, secara misterius si elang
menoleh ke kanan, ke arah anak-anak panah. Bagaimana hal
itu terjadi sudah menjadi sumber spekulasi tersendiri di kalangan
staf Gedung Putih, karena hal itu hanya diketahui oleh presiden
dan kepala pengurus rumah tangga. Apa yang sebenarnya terjadi
di balik kepala elang yang bisa berganti arah dengan misterius
itu sesungguhnya sederhana saja, dan Herney baru mengetahui
hal itu setelah dia menjadi presiden. Di ruang penyimpanan di
lantai bawah tanah tersimpan karpet Ruang Oval yang kedua,
dan pengurus rumah tangga hanya tinggal menggantinya saja
secara diam-diam.
Sekarang, ketika Herney menatap ke bawah ke arah si elang
yang dengan damai menoleh ke kiri, dia tersenyum. Dia berpikir,
mungkin dia seharusnya mengganti permadani itu sebagai penghormatan
bagi sebuah perang kecil yang akan digelarnya melawan
Senator Sedgewick Sexton. []
15
U.S. DELTA FORCE adalah satu-satunya satuan tempur yang
dalam kegiatannya mendapat jaminan kekebalan hukum yang
lengkap dari lembaga kepresidenan.
Presidential Decision Directive 25 (PDD 25) memberikan
"kebebasan dari segala pertanggungjawaban hukum" kepada semua
pasukan Delta Force, termasuk pengecualian dari 1876
Posse Comiatus Act, sebuah undang-undang yang menghukum
siapa saja yang menggunakan kekuatan militer, penegakan hukum
daerah, atau operasi tersembunyi tanpa izin untuk kepentingan
pribadi. Anggota Delta Force merupakan pasukan terpilih
dari Combat Applications Group (CAG), sebuah organisasi
rahasia dalam Special Operations Command yang berpangkalan
di Fort Bragg, North Carolina. Pasukan Delta Force adalah
para pembunuh yang terlatih. Mereka ahli dalam operasi-operasi
SWAT, penyelamatan sandera, penyerangan mendadak, dan penghancuran
kekuatan lawan yang tersembunyi.
IZRO'IL
Deception Point (Titik Muslihat)


Karena misi-misi Delta Force biasanya menyangkut operasi
yang sangat rahasia, maka rantai komando tradisional yang multi
lapisan sering tidak digunakan, digantikan dengan sistem "mono-
caput" di mana hanya satu orang yang memiliki kewenangan
untuk mengendalikan unit yang dianggapnya tepat. Pengendali
itu cenderung berasal dari militer atau tokoh penting pemerintahan
yang memiliki kedudukan atau pengaruh yang cukup
untuk menjalankan misi tersebut. Siapa pun pengendali misi
mereka, misi-misi Delta Force adalah misi rahasia tingkat tinggi,
dan begitu sebuah misi selesai, pasukan Delta Force tidak pernah
membicarakannya lagi, baik dengan sesamanya maupun dengan
komandan mereka di Special Operations Command.
Terbang. Bertempur. Lupakan.
Tetapi tim Delta yang saat ini ditempatkan di atas Delapan
Puluh Dua Derajat Lintang Utara ini tidak sedang terbang atau
bertempur. Mereka hanya mengamati.
Delta-One harus mengakui, sejauh ini misi mereka kali ini
adalah misi yang paling tidak lazim. Tetapi dia sudah belajar
sejak lama, dia tidak boleh terkejut dengan apa yang harus
dikerjakannya. Dalam lima tahun terakhir ini, dia telah terlibat
dalam berbagai penyelamatan sandera di Timur Tengah dan
pelacakan serta penumpasan kelompok-kelompok teroris kecil
yang bekerja di dalam Amerika Serikat. Bahkan dia juga sudah
pernah terlibat dalam operasi menyingkirkan beberapa orang
yang dianggap membahayakan kepentingan Amerika di seluruh
dunia.
Baru sebulan yang lalu tim Delta-nya menggunakan sebuah
microbot yang menyebabkan seorang raja obat bius yang kejam
asal Amerika Latin terkena serangan jantung. Dengan menggunakan
microbot yang dilengkapi dengan jarum titanium setipis
rambut dan berisi zat ampuh yang dapat menyempitkan pembuluh
darah, Delta-Two menerbangkan alat tersebut ke dalam
rumah si penjahat melalui jendela yang terbuka di lantai dua,
menemukan kamar tidur si penjahat, dan kemudian menusuk
bahunya ketika dia sedang tidur. Lalu microbot itu kembali
terbang ke luar jendela dan "menghilang tanpa jejak" sebelum
orang itu terbangun dengan rasa sakit di dadanya. Tim Delta
sudah terbang pulang ke rumah ketika istri si penjahat menelepon
paramedis.
Tidak ada pendobrakan dan penyerbuan.
Korban dinyatakan meninggal dengan wajar.
Sungguh sebuah kematian yang indah.
Dalam misinya yang terbaru, sebuah microbot lainnya ditempatkan
di dalam kantor seorang senator ternama untuk
memonitor rapat-rapat pribadi dan kemudian memotret fotofoto
hubungan seks yang tidak patut. Tim Delta dengan nada
bercanda menyebut misi itu sebagai "penyusupan ke garis belakang
musuh."
Sekarang, setelah terperangkap dalam tugas pengintaian di
dalam tenda selama sepuluh hari terakhir, Delta-One ingin tugas
ini segera berakhir.
Tetap bersembunyi.
Pantau gedung itu, baik di bagian dalam dan luar.
Laporkan pada pengendalimu setiap kali ada perkembangan
yang tidak terduga.
Delta-One sudah terlatih untuk tidak pernah melibatkan
perasaannya ketika berhubungan dengan tugasnya. Walau begitu,
misi ini berhasil membuat jantungnya berdebar-debar dengan
keras ketika dia dan timnya menerima pengarahan untuk pertama
kalinya. Pengarahan singkat itu tidak dilakukan dalam
pertemuan langsung seperti layaknya pengarahan-pengarahan
biasa. Setiap tahap dalam misi ini dijelaskan melalui saluran
elektronik yang aman. Delta-One tidak pernah bertemu langsung
dengan pengendali yang bertanggung jawab atas misi ini.
Delta-One sedang memasak makanan berprotein yang dikeringkan
ketika jam tangannya mengeluarkan suara "bip" bersamaan
dengan jam tangan teman-temannya yang lain. Beberapa
detik kemudian, alat komunikasi CrypTalk di sebelahnya berkedip.
Delta-One menghentikan apa yang sedang dikerjakannya
dan mengangkat alat komunikasi yang dapat digenggam itu.
Kedua temannya menatapnya tanpa bersuara.
"Delta-One," katanya pada alat komunikasi itu
Kedua kata itu langsung dikenali oleh perangkat lunak
pengenal suara di dalam alat tersebut. Kemudian, setiap kata
diubah menjadi kode-kode tersembunyi dan dikirim melalui
satelit ke si penelepon. Di tempat si penelepon, di peralatan
yang serupa, kode-kode tadi dibuka, diterjemahkan kembali ke
dalam kata-kata dengan menggunakan kamus elektronik, dan
kemudian kata-kata tadi diucapkan oleh suara sintetis yang mirip
suara robot. Total jeda adalah delapan puluh mili detik.
"Pengendali di sini," kata seseorang yang mengawasi operasi
itu. Suara robot dari mesin CrypTalk terdengar menakutkan,
tidak mirip manusia, dan tidak jelas apakah itu suara perempuan
atau suara laki-laki. "Bagaimana operasi kalian?"
"Semuanya berjalan seperti yang direncanakan," jawab Delta-
One.
"Bagus sekali. Aku memiliki perkembangan terbaru. Informasi
itu akan diumumkan pada pukul delapan malam Waktu
Bagian Timur."
Delta-One menatap jam tangan chronograph-nya.. Tinggal
delapan jam lagi. Pekerjaannya di sini akan segera berakhir. Itu
kabar yang menyenangkan.
"Tetapi ada perkembangan baru," kata si pengendali. "Seorang
pemain baru telah memasuki arena."
"Pemain baru apa?"
Delta-One mendengarkan penjelasan dari pengendali misinya.
Pertaruhan yang menarik. Seseorang di luar sana sedang
berusaha mempertahankan sesuatu. "Menurutmu, perempuan itu
bisa dipercaya?"
"Dia harus diawasi dengan sangat saksama."
"Dan jika ada masalah?"
Tidak terdengar adanya keraguan dari suara di saluran itu.
"Itu wewenangmu."[]
RACHEL SEXTON sudah terbang ke arah utara selama lebih
dari satu jam. Selain pemandangan sekilas ketika mereka melewati
Newfoundland, selama penerbangan itu dia tidak melihat
apa-apa kecuali air di bawah pesawat F-14 yang ditumpanginya.
Mengapa harus air? katanya dalam hati sambil meringis.
Saat berusia tujuh tahun Rachel pernah terperosok ke dalam
air ketika sedang bermain ice-skating di sebuah kolam. Ternyata
lapisan es di permukaan kolam itu belum cukup padat. Dia
terperangkap di balik lapisan es dan yakin akan mati. Untunglah
ibunya menolongnya dengan menariknya keluar dari air. Sejak
kejadian yang mengerikan itu, Rachel harus berjuang melawan
hydrophobia yang dirasakannya. Dia selalu ketakutan dengan
permukaan air yang luas, terutama air dingin. Hari ini, di mana
hanya Atlantik Utara yang dapat terlihat oleh pandangannya,
ketakutan lama itu kembali muncul.
Ketika si pilot memeriksa posisinya dengan menghubungi
Thule Air Force Base di sebelah utara Greenland, barulah Rachel
sadar sudah seberapa jauh mereka terbang. Aku berada di atas
Lingkar Kutub Utara? Kesadaran itu membuatnya bertambah
cemas. Ke mana mereka akan membawaku? Apa yang sudah
ditemukan NASA? Tidak lama setelah itu, warna biru laut yang
terbentang luas di bawahnya berubah menjadi hamparan yang
diwarnai ribuan titik putih.
Gunung es.
Rachel baru melihat gunung es itu satu kali dalam hidupnya,
yaitu enam tahun yang lalu. Ketika itu ibunya membujuknya
untuk bergabung bersamanya dalam pelayaran ke Alaska. Rachel
sudah mengusulkan berbagai macam pilihan tempat liburan lainnya
di darat, namun ibunya bersikeras. "Rachel sayang," kata
16
ibunya, "dua pertiga dari planet ini tertutup air. Cepat atau
lambat, kau harus belajar menghadapinya." Mrs. Sexton berasal
dari New England dan berkeinginan untuk membesarkan anak
perempuannya itu agar bermental kuat, sesuai dengan asal-usulnya.
Ternyata pelayaran itu merupakan liburan terakhir Rachel
bersama ibunya.
Katherine Wentworth Sexton. Tiba-tiba Rachel merasa sangat
kesepian. Seperti deru angin di luar jendela pesawatnya, kenangan
itu datang dan mengusik dirinya seperti yang selalu
terjadi setiap kali dia memikirkannya. Percakapan terakhir mereka
berlangsung melalui telepon di pagi hari saat perayaan Thanksgiving.
"Maafkan aku, Bu," kata Rachel ketika dia menelepon
rumah orang tuanya dari bandara O'Hare yang tertimbun salju.
"Aku tahu keluarga kita tidak pernah merayakan hari Thanksgiving
secara terpisah seperti ini. Tampaknya kali ini adalah
yang pertama bagi kita." Rachel tidak dapat terbang karena
bandara tertutup salju.
Suara ibu Rachel terdengar kecewa sekali. "Aku sangat ingin
bertemu denganmu."
"Aku juga begitu, Bu. Bayangkan aku sedang makan makanan
bandara, sementara Ibu dan Ayah berpesta kalkun."
Ada jeda sejenak dalam sambungan telepon tersebut. "Rachel,
aku sebenarnya tidak ingin mengatakannya padamu hingga kau
sampai di sini. Ayahmu bilang dia terlalu banyak pekerjaan
sehingga tidak dapat pulang dalam perayaan tahun ini. Dia
akan menginap di suite-nya. di D.C. selama akhir pekan ini."
"Apa!" Keheranan Rachel segera berubah menjadi kemarahan.
"Tetapi ini hari Thanksgiving. Senat tidak ada kegiatan! Tidak
lebih dari dua jam untuk sampai ke rumah. Ayah seharusnya
bersama Ibu!"
"Aku tahu. Ayahmu bilang, dia letih ... terlalu letih untuk
mengemudi. Dia memutuskan untuk melewatkan akhir pekannya
dan berkutat dengan pekerjaannya yang menumpuk."
Pekerjaan? Rachel ragu-ragu. Dugaan yang lebih mungkin
adalah, Senator Sexton akan berkutat dengan perempuan lain.
Ketidaksetiaan ayahnya, walau disembunyikan dengan rapi, telah
berlangsung selama bertahun-tahun. Mrs. Sexton bukanlah orang
bodoh, tetapi perselingkuhan suaminya selalu disertai dengan
alibi yang meyakinkan. Fakta bahwa suaminya bisa tidak setia
sungguh melukai kehormatan dirinya. Akhirnya, Mrs. Sexton
tidak memiliki pilihan lain kecuali mengubur rasa sakit hatinya
dengan berpura-pura tidak melihat perbuatan suaminya. Walau
Rachel telah mengusulkan perceraian pada ibunya, namun Katherine
Wentworth Sexton adalah orang yang memegang katakatanya.
Hingga kematian memisahkan kita, begitu dia memberi
tahu Rachel. Ayahmu telah memberkatiku dengan kehadiranmu,
seorang putri yang cantik, dan untuk itu aku berterima kasih
padanya. Dia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya itu
kepada Tuhan suatu hari kelak.
Saat itu Rachel sedang berdiri di bandara. Kemarahannya
mendidih. "Tetapi itu berarti Ibu akan sendirian pada hari
Thanksgiving ini!" Rachel tidak hanya merasa marah, tetapi
juga jijik. Tindakan sang senator meninggalkan keluarganya pada
hari Thanksgiving merupakan tindakan yang tercela, bahkan
untuk ukuran ayahnya yang bejat itu.
"Yah ...," kata Mrs. Sexton. Suaranya terdengar kecewa walau
dia berusaha untuk menyembunyikannya. "Aku jelas tidak dapat
membiarkan makanan ini terbuang sia-sia. Aku akan mengantarnya
ke rumah Bibi Ann. Selama ini dia selalu mengundang
kita setiap hari Thanksgiving. Aku akan meneleponnya sekarang."
Rachel jadi merasa sedikit bersalah. "Baiklah. Aku akan
pulang secepatnya. Aku sayang padamu, Bu."
"Hati-hati, Sayangku."
Saat itu pukul 10:30 malam ketika taksi yang ditumpangi
Rachel menepi di pinggir jalan di depan rumah keluarga Sexton
yang mewah. Rachel langsung tahu ada yang tidak beres. Tiga
buah mobil polisi terparkir di jalan masuk menuju rumahnya.
Beberapa van media massa juga ada di sana. Semua lampu di
rumah menyala. Rachel berlari masuk, jantungnya berpacu.
Seorang petugas polisi Negara Bagian Virginia menemuinya
di depan pintu. Wajahnya muram. Polisi itu tidak perlu mengatakan
apa-apa. Rachel sudah tahu, ada yang mengalami kecelakaan.
"Route Twenty-five menjadi licin karena hujan yang sangat
dingin," kata polisi itu. "Ibumu tergelincir ke luar jalan dan
masuk ke jurang. Aku turut berduka. Dia tewas di tempat."
Tubuh Rachel menjadi mati rasa. Ayahnya segera pulang
begitu dia mendengar berita itu. Sekarang dia berada di ruang
tamu, sedang mengadakan konferensi pers kecil, dan dengan
tenang mengumumkan kepada masyarakat bahwa istrinya telah
meninggal dunia dalam kecelakaan mobil ketika pulang dari
perayaan Thanksgiving bersama keluarga.
Rachel berdiri di sisi rumah, terisak-isak selama konferensi
itu berlangsung.
Ayahnya berkata kepada media dengan mata penuh air mara,
"Andai saja aku berada di rumah pada akhir minggu ini, ini
pasti tidak akan terjadi."
Kau seharusnya sudah memikirkan hal itu bertahun-tahun
yang lalu, seru Rachel dalam hati. Kebencian terhadap ayahnya
menjadi semakin dalam.
Sejak saat itu, Rachel memisahkan diri dari ayahnya dengan
cara yang tidak pernah dilakukan Mrs. Sexton. Sang senator
sepertinya tidak menyadari hal itu. Tiba-tiba saja dia menjadi
sangat sibuk dan menggunakan kekayaan mendiang istrinya
untuk mulai mencari dukungan partainya sebagai kandidat presiden.
Bahwa suara yang didapat adalah semata-mata karena
rasa kasihan publik dengan kematian istrinya tidaklah menjadi
masalah baginya.
Dan tiga tahun kemudian, dengan kejamnya ayahnya secara
tidak langsung membuat hidup Rachel semakin kesepian. Kegiatan
ayahnya berkampanye untuk menduduki Gedung Putih
telah menunda mimpi Rachel untuk mendapatkan seorang lelaki
dan memulai hidup berkeluarga, entah sampai kapan. Menurut
Rachel, lebih mudah baginya untuk menarik diri dari kehidupan
sosial daripada harus berurusan dengan para lelaki Washington
yang haus kekuasaan dan berharap dapat menikahi "putri presiden"
saat si putri masih lajang.
DI LUAR pesawat F-14, sinar matahari mulai memudar. Saat
itu adalah akhir musim salju di Kutub Utara,. saat kegelapan
terus-menerus menyelimuti. Rachel sadar dia sedang menuju ke
tempat di mana malam hari terus berlangsung.
Ketika menit-menit berlalu, matahari meredup dan terbenam
ke balik garis cakrawala. Rachel dan sang pilot masih terus
terbang ke utara. Bulan tiga-perempat dengan warnanya yang
putih muncul di atas hamparan yang berisikan es yang gemerlap
seperti kristal. Jauh di bawahnya, ombak samudra berkilauan
dan gunung-gunung es tampak bagaikan permata yang dijahitkan
pada rajutan manik-manik berwarna gelap.
Akhirnya, Rachel melihat garis berkabut di daratan. Tetapi
itu bukanlah yang diperkirakannya. Menjulang dari atas laut di
hadapan pesawat yang ditumpanginya terlihat serangkaian pegunungan
dengan puncak yang bersalju.
"Pegunungan?" tanya Rachel dengan bingung. "Ada pegunungan
di sebelah utara Greenland?"
"Tampaknya begitu," kata si pilot. Suaranya terdengar sama
terkejutnya.
Ketika hidung F-14 mengarah ke bawah, Rachel merasakan
sensasi tanpa bobot yang menakutkan. Di antara denging di
telinganya, dia dapat mendengar dentingan elektronik berulangulang
dari arah kokpit. Tampaknya si pilot sedang berhubungan
dengan semacam mercusuar penunjuk arah dan sedang mengikuti
instruksi dari sana.
Ketika mereka terbang pada ketinggian di bawah tiga ribu
kaki, Rachel menatap kawasan di bawah mereka yang diterangi
sinar rembulan yang indah. Di kaki pegunungan itu terhampar
dataran bersalju yang luas. Dataran itu membentang dengan
anggun kira-kira sepuluh mil ke arah laut dan dibatasi tebing
curam dari es padat yang menukik dengan curam ke samudra.
Saat itulah Rachel melihatnya. Sebuah pemandangan yang
belum pernah dia lihat di mana pun di muka bumi ini. Pada
awalnya dia mengira sinar bulan pasti sedang mempermainkan
penglihatannya. Rachel menyipitkan matanya dan menatap ke
arah lapangan bersalju di bawahnya, tetapi dia masih tidak
sanggup untuk memahami apa yang sedang dilihatnya itu.
Semakin pesawat itu merendah, semakin jelas gambaran tersebut.
Apa itu?
Dataran di bawah mereka bergaris-garis ... seolah seseorang
telah melukisi salju di permukaan dataran tersebut dengan tiga
garis dari cat perak. Garis-garis yang berkilauan itu tergores
sejajar ke arah tebing di sisi pantai. Ilusi penglihatan tersebut
akhirnya menjadi jelas ketika pesawat itu terbang serendah lima
ratus kaki. Ketiga garis perak itu adalah ceruk yang dalam dan
panjang dengan lebar masing-masing tiga puluh yard. Cerukceruk
itu terisi air yang membeku, membentuk tiga saluran air
berwarna keperakan yang terbentang sejajar membelah dataran
itu. Pinggiran berwarna putih di antara ceruk-ceruk itu adalah
gundukan salju yang membentuk tanggul.
Ketika mereka menukik ke arah dataran itu, pesawat itu
mulai terombang-ambing naik-turun dalam gelombang angin
yang kuat. Rachel mendengar roda pendaratan keluar dengan
suara keras, tetapi dia masih belum melihat landasan untuk
mendarat. Ketika si pilot berjuang untuk mengendalikan pesawatnya,
Rachel melongok ke luar dan melihat dua deret lampu
yang berkedip-kedip dan mengapit sisi paling luar dari cerukan
es tersebut. Rachel menjadi ketakutan ketika dia tahu apa yang
akan dilakukan pilotnya.
"Kita akan mendarat di atas es?" tanya Rachel.
Si pilot tidak menjawab. Dia sedang memusatkan perhatiannya
pada angin yang bertiup keras. Rachel merasakan nyalinya
ciut ketika pesawat itu turun dan menukik ke arah saluran es
di bawahnya. Tanggul dari salju yang menumpuk tinggi itu
berterbangan di kedua sisi pesawat, dan Rachel menahan napasnya
karena dia tahu kesalahan perhitungan sekecil apa pun
dalam pendaratan di saluran sempit itu berarti kematian. Pesawat
itu terayun-ayun semakin rendah di antara tanggul es itu, dan
turbulensi yang tadi muncul tiba-tiba menghilang. Karena terlindung
dari angin, pesawat itu dapat mendarat dengan sempurna
di atas landasan es.
Mesin jet di bagian belakang Tomcat masih meraung keras
ketika pesawat itu memperlambat lajunya. Rachel mengembuskan
napas dengan lega. Jet tersebut masih berjalan kira-kira seratus
yard lagi dan berhenti pada garis yang dicat dengan warna
merah di atas es.
Pemandangan di sebelah kanan hanyalah tembok es yang
disinari rembulan. Itu adalah tanggul salju yang dilihatnya di
atas tadi. Pemandangan di sebelah kiri juga serupa. Hanya
melalui jendela di depan mereka Rachel dapat melihat sesuatu
... sebuah hamparan es yang tidak berbatas. Dia merasa seperti
mendarat di planet yang tidak ditinggali satu makhluk hidup
pun. Selain garis di atas es itu, tidak ada lagi tanda-tanda
kehidupan.
Kemudian Rachel mendengar sesuatu. Di kejauhan, bunyi
mesin yang lain mendekat dengan lengkingan yang lebih tinggi.
Bunyi itu menjadi semakin keras ketika mesin itu muncul di
hadapannya. Mesin itu adalah sebuah traktor salju berukuran
besar yang bergerak di atas tanggul es dan menuju ke arah mereka.
Dengan bentuknya yang tinggi dan kurus, traktor itu terlihat
seperti serangga futuristik yang menjulang tinggi dan bergerak
ke arah mereka dengan kakinya yang berputar-putar. Jauh
di bagian atasnya terlihat kabin yang tertutup kaca plexi dengan
lampu-lampu benderang yang menyinari jalan di depannya.

Mesin itu bergetar lalu berhenti tepat di sisi F-14. Ketika
pintu kabin dari kaca plexi itu terbuka, seorang lelaki menuruni
tangga dan mendarat di atas es. Lelaki itu terbungkus jumpsuit
berwarna putih dari kepala hingga ujung kakinya. Pakaian itu
terlihat menggembung sehingga terkesan orang itu baru saja
dipompa dari dalam.
Rachel merasa lega karena planet aneh ini setidaknya ada
penghuninya juga. Lelaki itu memberi tanda kepada si pilot
untuk membuka atap pesawat. Si pilot mematuhinya.
Ketika kokpit itu terbuka, embusan udara dingin yang
menerpa tubuh Rachel membuat dirinya membeku.
Tutup atap sialan itu!
"Ms. Sexton?" orang itu berseru padanya dengan aksen
Amerika. "Atas nama NASA, aku menyambutmu."
Rachel menggigil. Terima kasih banyak.
"Silakan buka sabuk pengamanmu, tinggalkan helm di atas
pesawat, dan turunlah dengan menggunakan tangga di tubuh
pesawat. Ada pertanyaan?"
"Ya," seru Rachel. "Di mana aku?"[]
MARJORIE TENCH, penasihat senior Presiden, terlihat seperti
kerangka berjalan. Tubuhnya yang setinggi enam kaki itu mirip
menara konstruksi yang dilengkapi dengan lengan dan kaki. Di
atas tubuhnya yang kerempeng itu bertengger sebuah wajah
getir dengan kulit yang keriput dan mata tanpa emosi. Pada
usia lima puluh tahun, Marjorie Tench terlihat seperti berusia
tujuh puluh tahun.

17
Di Washington, Tench dianggap sebagai dewi dalam kancah
politik. Kabarnya dia memiliki keahlian analitis yang hanya
dimiliki ahli nujum. Pengalamannya selama puluhan tahun
memimpin Biro Intelijen dan Penelitian di Departemen Luar
Negeri telah mengasah pikirannya sehingga menjadi tajam dan
kritis. Sayangnya, di samping kecerdasan politisnya, dia juga
memiliki karakter yang dingin seperti es sehingga hanya segelintir
orang yang mampu bertahan lebih dari beberapa menit dengannya.
Marjorie Tench memang memiliki otak super seperti komputer,
namun kehangatannya pun seperti komputer juga. Tetapi
Presiden Zach tidak mengalami kesulitan untuk menerima Marjorie
apa adanya. Bisa dikatakan, intelektualitas dan kerja keras
perempuan tersebut merupakan penyebab utama Herney menjadi
orang nomor satu di negeri ini.
"Marjorie," kata Presiden sambil berdiri untuk menyambutnya
di Ruang Oval. "Apa yang dapat kubantu?" Dia tidak
mempersilakan Marjorie duduk. Sopan santun biasa tidak cocok
bagi perempuan seperti Marjorie Tench. Kalau dia ingin duduk,
dia pasti akan duduk tanpa diminta.
"Aku tahu kau akan mengadakan pengarahan singkat pada
pukul empat sore nanti." Suara Marjorie terdengar serak akibat
rokok yang biasa dihisapnya. "Bagus sekali."
Tench diam sesaat, dan Herney dapat merasakan otak perempuan
itu kembali bekerja dengan cepat. Presiden bersyukur
untuk itu. Marjorie Tench adalah salah satu dari sedikit staf
pilihan Presiden yang sangat mengerti tentang penemuan NASA,
dan keahliannya di bidang politik membantu Presiden dalam
menyusun strategi.
"Debat di CNN pukul satu siang hari ini," kata Tench
sambil terbatuk. "Siapa yang akan kita kirim untuk menghadapi
Sexton?"
Herney tersenyum. "Seorang juru kampanye junior kita."
Taktik politik untuk membuat kecewa "sang pemburu" dengan
tidak pernah mengirimkan umpan besar adalah taktik klasik.

"AJku punya gagasan yang lebih baik," kata Tench. Sorot
matanya yang dingin menatap Presiden. "Biarkan aku yang
menghadapinya sendiri."
Zach Herney tersentak. "Kau?" Apa yang kaupikirkan? "Marjorie,
kau tidak perlu berurusan dengan media. Lagi pula, itu
hanya siaran televisi kabel di siang hari. Jika aku mengirim
penasihat seniorku, apa kata orang? Kita akan tampak panik."
"Tepat sekali."
Herney mengamatinya. Skema apa pun yang dipikirkan
Tench, dia tidak akan mengizinkan perempuan itu muncul di
CNN. Siapa pun yang pernah melihat Marjorie Tench pasti
tahu mengapa perempuan itu bekerja di balik layar. Tench adalah
wanita dengan wajah menakutkan, bukan orang yang pantas
dikirim Presiden untuk menyampaikan pesan Gedung Putih.
"Aku yang akan menangani debat CNN ini," kata Tench
mengulangi pernyataannya. Kali ini dia tidak minta izin.
"Marjorie," potong Presiden dengan cepat, "staf kampanye
Sexton jelas akan menganggap kemunculanmu ini sebagai bukti
bahwa Gedung Putih sudah lari ketakutan. Mengirimkan senjata
besar yang kita punya akan membuat kita tampak putus asa."
Perempuan itu mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah
kata dan menyalakan rokoknya. "Semakin putus asa kita terlihat,
semakin baik."
Kemudian selama enam puluh detik berikutnya, Marjorie
Tench menjelaskan mengapa Presiden harus mengirim dirinya
dan bukannya seorang staf kampanye rendahan untuk menghadiri
debat CNN. Ketika Tench selesai, Presiden hanya dapat
menatap perempuan itu dengan kagum.
Sekali lagi, Marjorie Tench membuktikan dirinya sebagai
orang yang jenius dalam politik. []

MILNE ICE SHELF merupakan dataran es terapung yang
terbesar di Kutub Utara. Terletak di atas Delapan Puluh Dua
Derajat Lintang Utara di pantai utara Pulau Ellesmere di Arktika,
Milne Ice Shelf memiliki lebar empat mil dengan ketebalan
lebih dari tiga ratus kaki.
Ketika Rachel memanjat ke kotak kaca Plexi di atas traktor
itu, dia merasa bersyukur menemukan mantel dan sarung tangan
ekstra yang telah menunggunya di atas jok, dan juga untuk
angin hangat yang mengalir keluar dari lubang angin traktor
tersebut. Di luar, di landasan pacu es, mesin pesawat F-14
menderu-deru, lalu pesawat itu mulai berjalan menjauh.
Rachel menatap dengan was-was. "Dia pergi?"
Tuan rumah barunya ikut masuk ke dalam traktor sambil
mengangguk. "Hanya ilmuwan dan anggota tim pendukung
NASA yang berkepentingan saja yang boleh berada di sini."
Ketika F-14 akhirnya terbang ke langit tanpa matahari itu,
Rachel tiba-tiba merasa seperti terdampar.
"Kita akan menggunakan IceRover dari sini," kata lelaki
itu. "Administrator NASA sedang menunggu."
Rachel menatap ke luar, ke jalan es berwarna keperakan di
hadapan mereka, dan berusaha membayangkan apa yang dikerjakan
Administrator NASA di sini.
"Berpeganganlah," seru lelaki NASA itu sambil mengatur
beberapa tongkat pengungkit. Dengan suara keras, mesin traktor
itu berputar sembilan puluh derajat di tempat, seperti tank
militer. Sekarang mereka menghadap ke tanggul es yang tinggi
itu.
Rachel melihat tanjakan yang terjal itu dan mulai merasa
ketakutan. Dia tidak mungkin kan bermaksud untuk—

18
"Rock and roll!" Pengemudi itu melepas rem, dan kendaraan
tersebut langsung maju ke arah sisi tanggul yang miring itu.
Rachel berteriak tertahan dan berpegangan. Ketika mereka melaju
di tanjakan itu, roda bergerigi traktor itu menghujam ke dalam
salju, dan kendaraan aneh itu mulai mendaki. Rachel yakin
mereka akan terjungkal ke belakang, tetapi ternyata kabin mereka
tetap dalam posisi horizontal saat mereka menggelinding menaiki
lereng itu. Ketika kendaraan besar itu naik ke atas puncak
tanggul, si pengemudi menghentikan mesinnya dan menatap
penumpangnya yang pucat pasi dengan berseri-seri. "Coba lakukan
itu pada mobil SUV! Kami meniru rancangan shock-system
dari Mars Pathfinder dan menerapkannya pada mesin ini! Kau
lihat sendiri, kan, betapa hebatnya."
Rachel mengangguk lemah. "Hebat."
Dari atas puncak gundukan salju, Rachel melihat keluar, ke
arah pemandangan yang tidak masuk akal baginya. Satu lagi
gundukan salju yang besar terlihat depan mereka, dan setelah
itu habis. Dari kejauhan terlihat salju yang mendatar membentuk
sebuah lapangan luas berkilauan yang sangat landai. Hamparan
es yang diterangi cahaya bulan itu terentang hingga jauh, dan
akhirnya menyempit dan berkelok naik ke pegunungan.
"Itu Milne Glacier," kata pengemudi itu sambil menunjuk
ke pegunungan. "Mulai dari atas sana dan mengalir ke bawah
hingga ke area luas yang kita injak sekarang ini."
Lalu si pengemudi menyalakan mesinnya lagi, dan Rachel
berpegangan ketika kendaraan itu menuruni jalur yang curam
itu. Setelah sampai di bawah, mereka menyeberangi cerukan es
lagi dan menaiki gundukan berikutnya. Setelah mendaki hingga
ke puncak lalu dengan cepat meluncur ke bawah di sisi lainnya,
mereka akhirnya tiba di hamparan es itu dan mulai menyusurinya.
"Seberapa jauh?" tanya Rachel ketika dia tidak melihat hal
lainnya kecuali es di depan mereka.
"Kira-kira dua mil ke depan."
Rachel merasa itu jauh. Angin di luar memukul-mukul tanpa
ampun seakan ingin mendorong mereka kembali ke laut.
"Itu angin katabatic" teriak si pengemudi. "Biasakanlah!"
Dia lalu menjelaskan bahwa kawasan ini memiliki angin laut
yang kencang yang selalu bertiup yang disebut katabatic, berasal
dari bahasa Yunani yang artinya mengalir menuruni bukit. Angin
yang terus-menerus menderu itu tampaknya adalah hasil dari
udara yang sangat dingin yang "mengalir" ke bawah menuju
permukaan es seperti sungai yang bergolak menuruni bukit.
IZRO'IL
Deception Point (Titik Muslihat)


"Ini adalah satu-satunya tempat di bumi," tambah si pengemudi
sambil tertawa, "di mana neraka pun membeku!"
Beberapa menit kemudian, Rachel mulai melihat sebuah
bentuk yang kabur di kejauhan di depan mereka, siluet sebuah
kubah putih besar yang muncul dari salju. Rachel menggosok
matanya. Apa itu ....?
"Eskimo besar di atas sini, ya?" kata lelaki itu bergurau.
Rachel mencoba memahami bangunan apa itu. Bangunan
itu terlihat seperti Houston Astrodome dalam skala lebih kecil.
"NASA mendirikannya sepuluh hari yang lalu," katanya lagi.
"Dibuat dengan plexipolysorbate multi-tahap yang dapat dipompa.
Pompa bagian-bagiannya, susun bagian-bagian itu satu sama lain,
kemudian hubungkan semuanya di es dengan pasak dan kabel.
Dari luar terlihat seperti atap tenda besar yang tertutup, tetapi
itu sebenarnya sebuah prototipe NASA untuk tempat tinggal
yang dapat dipindah-pindahkan yang kami harap dapat digunakan
di Mars suatu hari kelak. Kami menyebutnya 'habisphere."
"HabisphereT
"Ya. Tahu kenapa? Karena itu bukan whole sphere, 'lingkungan
menyeluruh,' tetapi hanya habi-sphere, 'lingkungan terbatas.
Rachel tersenyum dan menatap gedung aneh yang sekarang
tampak makin dekat di atas dataran es itu. "Dan karena NASA
belum pernah pergi ke Mars, kalian memutuskan untuk berkemah
secara besar-besaran di sini, begitu?"
Lelaki itu tertawa. "Sebenarnya aku lebih memilih Tahiti,
tetapi nasib telah menentukan lokasi ini."
Rachel menatap dengan perasaan tidak yakin pada bangunan
itu. Bagian luarnya yang keputih-putihan itu tampak seperti
hantu ketika disandingkan dengan langit yang gelap. Ketika
IceRover mendekati bangunan kubah itu, kendaraan itu berhenti
di depan sebuah pintu kecil di sisi bangunan tersebut yang
sekarang terbuka. Cahaya dari dalam menerangi salju di luar.
Kemudian seseorang melangkah keluar. Lelaki itu seperti raksasa
gemuk yang mengenakan sweater hitam dari kulit domba yang
semakin memperbesar ukuran tubuhnya dan membuatnya tampak
seperti beruang. Dia bergerak mendekati IceRover.
Rachel tidak ragu siapa lelaki besar itu. Dia adalah Lawrence
Ekstrom, Administrator NASA.
Si pengemudi tersenyum menenteramkan. "Jangan tertipu
dengan ukuran tubuhnya yang besar. Orangnya sangat ramah
seperti kucing."
Lebih tepat seperti harimau, kata Rachel dalam hati yang
mengetahui betul reputasi Ekstrom yang selalu menerkam mereka
yang mencoba-coba menghalangi impiannya.
Ketika Rachel menuruni IceRover, angin hampir saja menerbangkannya.
Dia merapatkan mantelnya dan bergerak ke arah
kubah itu.
Administrator NASA menyambutnya di tengah jalan sambil
mengulurkan tangannya yang bersarung tangan sangat besar.
"Ms. Sexton, terima kasih mau datang."
Rachel mengangguk ragu-ragu dan berseru untuk mengalahkan
deru angin. "Terus terang, Pak, saya tidak yakin punya
pilihan lain."
Seribu meter jauhnya dari tempat itu, Delta-One menatap
melalui teropong infra merah dan mengamati Administrator
NASA mengajak Rachel masuk ke dalam kubah itu.[]

ADMINISTRATOR NASA Lawrence Ekstrom bertubuh besar,
berkulit kemerah-merahan dan kasar, seperti dewa Norwegia
yang sedang marah. Rambut pirangnya yang tegak dipangkas
pendek gaya militer dengan alis yang berkerut di bawahnya,
sementara hidungnya yang bulat dihiasi urat-urat berwarna kemerahan.
Pada saat itu, matanya yang bersinar dingin terlihat
sayu karena tidak tidur selama beberapa malam. Sebagai mantan
ahli strategi ruang angkasa dan penasihat operasi di Pentagon
sebelum menjabat di NASA, reputasi Ekstrom yang galak sebanding
dengan dedikasinya untuk mengerjakan misi yang ditenmanya.
Ketika Rachel Sexton mengikuti Lawrence Ekstrom memasuki
habisphere, perempuan itu merasa sedang berjalan memasuki
jalinan lorong-lorong tembus cahaya yang mengerikan.
Jaringan labirin itu tampak dihiasi lembaran plastik tembus
cahaya yang digantung pada untaian kabel-kabel kaku. Lantainya
sebetulnya semu—hanya berupa es beku yang ditutupi dengan
karpet bergaris-garis dari karet agar tidak licin ketika ditapaki.
Mereka melewati ruang tamu utama dan kemudian beberapa
tempat tidur serta toilet kimia.
Untungnya, udara di dalam habisphere itu hangat, walau
bercampur dengan aroma pengap yang biasa muncul ketika
sekelompok orang berada di dalam lingkungan yang sempit. Di
suatu tempat terdengar sebuah generator berdengung. Tampaknya
generator itu merupakan sumber tenaga listrik untuk menyalakan
bola-bola lampu yang bergantungan di lorong itu.
"Ms. Sexton," Ekstrom bergumam sambil mengantar Rachel
dengan langkah cepat ke tujuan yang belum jelas. "Izinkan saya
untuk berterus terang sejak awal." Nada suaranya menyampaikan
19
ketidaksenangannya akan kedatangan Rachel ke tempatnya. "Anda
ada di sini karena Presiden ingin Anda ada di sini. Zach Herney
adalah teman baik saya dan pendukung setia NASA. Saya menghormatinya.
Saya berhutang budi padanya. Dan saya memercayainya.
Saya tidak mempertanyakan perintah langsungnya,
bahkan ketika saya tidak menyukai perintah itu. Supaya tidak
ada salah paham, ketahuilah bahwa saya tidak seantusias dia
untuk melibatkan Anda dalam hal ini."
Rachel hanya dapat menatap sang administrator. Aku baru
menempuh perjalanan tiga ribu mil hanya untuk menerima keramahan
seperti ini? Orang ini betul-betul tidak hangat. "Dengan
segala hormat," kata Rachel balas menyerang, "saya juga ke sini
atas perintah Presiden. Saya belum diberi tahu untuk apa saya
di sini. Saya melakukan perjalanan ini atas dasar prasangka baik."
"Baiklah," kata Ekstrom. "Kalau begitu saya akan berbicara
terus terang."
"Anda sudah memulainya dengan sangat jelas."
Jawaban Rachel yang tangguh sepertinya mengagetkan sang
administrator. Langkahnya melambat sesaat. Matanya menjadi
begitu terfokus ketika mengamati Rachel. Kemudian, seperti
ular yang melepas lilitannya, dia mendesah panjang dan melanjutkan
langkahnya.
"Mengertilah," Ekstrom mulai lagi, "Anda ada di sini untuk
proyek rahasia NASA, walaupun saya kurang menyetujuinya.
Bukan saja karena Anda mewakili NRO yang direkturnya senang
menghina orang-orang NASA sebagai anak-anak yang tidak dapat
menyimpan rahasia, tetapi juga karena Anda putri dari seorang
lelaki yang memiliki misi pribadi untuk menghancurkan lembaga
saya. Seharusnya saat ini adalah masa-masa kegemilangan NASA.
Orang-orang saya telah menerima banyak kritikan akhir-akhir
ini dan mereka berhak atas masa kejayaan ini. Tetapi, karena
arus keraguan yang dipelopori dan dipimpin ayah-mu, NASA
menjadi terlibat dalam situasi politik di mana orang-orang saya
yang telah bekerja keras itu terpaksa berbagi sorotan publik
dengan para ilmuwan sipil lain dan putri dari seorang lelaki
yang sedang berusaha menghancurkan kami."
Aku bukan ayahku. Rachel ingin meneriakkan itu, tetapi
ini sama sekali bukan waktunya untuk berdebat politik dengan
pimpinan NASA. "Saya ke sini tidak untuk mendapatkan sorotan
itu, Pak."
Ekstrom melotot. "Anda mungkin akan tidak punya pilihan
lain."
Ko men tar itu mengejutkan Rachel. Walau Presiden Herney
belum mengatakan dengan jelas bantuan apa pun yang bersifat
"publik" yang ingin dimintanya dari Rachel, namun William
Pickering telah jelas mengatakan kecurigaannya tentang kemungkinan
Rachel akan menjadi pion politik. "Saya ingin tahu apa
yang akan saya lakukan di sini," tuntut Rachel.
"Anda dan saya ... kita berdua tidak tahu tentang hal itu."
"Maaf?"
"Presiden hanya meminta saya untuk memberikan pengarahan
lengkap tentang penemuan kami begitu Anda tiba. Apa
pun peran Anda yang diinginkan Presiden dalam sirkus ini, itu
urusan antara Anda dan Presiden."
"Kata Presiden, Earth Observation System telah berhasil
menemukan sesuatu."
Ekstrom melirik ke arah Rachel. "Seberapa jauh pengetahuan
Anda tentang proyek EOS?"
"EOS adalah konstelasi lima satelit NASA yang mengawasi
bumi dalam berbagai cara, seperti pemetaan samudra, analisa
geologi bawah tanah, observasi pencairan es, pencarian tempat
persediaan bahan bakar fosil-—"
"Bagus," kata Ekstrom dengan nada yang terdengar tidak terkesan.
"Jadi, kau sudah tahu satelit terbaru EOS? Namanya PODS."
Rachel mengangguk. Polar Orbiting Density Scanner dirancang
untuk mengukur dampak pemanasan global. "Sejauh
pemahaman saya, PODS mengukur ketebalan dan kekerasan
lapisan atas kutub es?"
"Efeknya memang begitu. PODS menggunakan teknologi
rentang spektrum untuk melakukan pemindaian kepadatan gabungan
dari kawasan yang luas guna menemukan anomali terkecil
di dalam es, seperti titik-titik lumpur salju, pencairan di
bagian dalam, dan retakan besar, yang merupakan gejala-gejala
pemanasan global."
Rachel tidak asing lagi dengan pemindaian kepadatan gabungan.
Teknologi ini mirip gelombang ultrasonik bawah-tanah.
Satelit NRO juga menggunakan teknologi serupa untuk mencari
varian kepadatan di bawah permukaan tanah di Eropa Timur
dan menemukan lokasi-lokasi pemakaman masal yang meraberikan
konfirmasi kepada Presiden bahwa pemusnahan etnis
memang telah terjadi.
"Dua minggu lalu," kata Ekstrom, "PODS melewati dataran
es ini dan menemukan anomali kepadatan yang jauh di luar
dugaan kami. Dua ratus kaki di bawah permukaan, tertanam
dengan sempurna dalam sebuah lapisan es yang padat, POD
melihat sesuatu yang mirip bulatan yang tidak berbentuk, kirakira
berdiameter sepuluh kaki."
"Sebuah kantung air?" tanya Rachel.
"Bukan. Ini tidak cair. Anehnya, anomali ini lebih keras
daripada es di sekitarnya."
Rachel berhenti sejenak. "Sebuah batu besar atau semacamnyar
Ekstrom mengangguk. "Intinya begitu."
Rachel menunggu kelanjutan penjelasan dari Ekstrom. Tetapi
itu tidak pernah terjadi. Jadi, aku di sini karena NASA menemukan
sebuah batu besar di dalam es?
"Kami menjadi gembira setelah PODS menghitung kepadatan
batu itu. Kami langsung menerbangkan sebuah regu
ke sini untuk menganalisisnya. Ternyata, batu di dalam es di
bawah kita ini jauh lebih padat daripada jenis batu mana pun
yang kami temukan di Pulau Ellesmere. Bahkan sebenarnya
lebih padat daripada jenis batu apa pun yang kami temukan
dalam radius empat ratus mil dari tempat ini."
Rachel menatap ke bawah ke arah es di bawah kakinya dan
membayangkan bongkahan batu besar di suatu tempat di bawah
sana. "Anda ingin berkata bahwa batu itu dipindahkan ke sini?"
Ekstrom terlihat agak geli. "Batu itu beratnya lebih dari
delapan ton. Dan tertanam sejauh dua ratus kaki di bawah es
padat. Artinya, batu itu sudah ada di sana dan tidak tersentuh
selama lebih dari tiga ratus tahun."
Rachel merasa letih ketika mengikuti sang administrator
memasuki mulut sebuah lorong yang panjang dan sempit, apalagi
ditambah dengan penjelasan bertubi-tubi ini. Mereka kemudian
melewati dua pekerja NASA bersenjata yang sedang berdiri
menjaga. Rachel menatap Ekstrom. "Saya pikir pasti ada penjelasan
logis tentang keberadaan batu itu di sini ... dan semua
kerahasiaan ini."
"Kemungkinan yang paling pasti adalah, batu yang ditemukan
PODS itu adalah meteorit," kata Ekstrom tanpa emosi.
Rachel tiba-tiba berhenti di lorong itu dan menatap sang
adminstrator. Sebuah meteorit? Gelombang kekecewaan menerpa
dirinya. Sebuah meteorit jelas merupakan antiklimaks setelah
Presiden mengatakannya sebagai sesuatu yang luar biasa. Penemuan
ini akan membenarkan semua pengeluaran NASA dan
kesalahannya di masa lalu? Apa yang dipikirkan Herney? Meteorit
memang diakui sebagai batu terlangka di bumi, tetapi NASA
sudah sering menemukannya selama ini.
"Ini adalah meteorit terbesar yang pernah kami temukan,"
kata Ekstrom sambil berdiri kaku di depan Rachel. "Kami
percaya, batu itu adalah pecahan dari meteorit' yang lebih besar
yang tercatat pernah menghantam Samudra Arktika pada tahun
1700-an. Perkiraan yang paling mendekati adalah, meteorit
tersebut terlempar sebagai pecahan dari meteorit utama yang
menabrak lautan, mendarat di Milne Glacier, dan perlahanlahan
terkubur oleh salju selama lebih dari tiga ratus tahun."

Rachel mengumpat. Penemuan ini tidak mengubah apa pun.
Rachel merasa semakin curiga bahwa dirinya sedang menyaksikan •
sebuah isu yang sengaja dibesar-besarkan NASA dan Gedung
Putih yang sedang putus asa—dua lembaga yang sedang berjuang
untuk mengangkat temuan yang berguna sampai ke tingkat
yang dapat menunjukkan kemenangan NASA yang menggemparkan
dunia.
"Kelihatannya Anda tidak terlalu terkesan," ujar Ekstrom.
"Rasanya saya mengharapkan sesuatu ... yang lain."
Mata Ekstrom menyipit. "Sebongkah meteorit berukuran
sebesar itu sangat langka, Ms. Sexton. Hanya ada sedikit saja
yang bisa sebesar ini."
"Saya tahu—"
"Tetapi bukan ukuran meteorit itu yang membuat kami
gembira."
Rachel menatapnya dengan pandangan tidak mengerti.
"Jika Anda membiarkan saya menjelaskannya sampai selesai,"
kata Ekstrom, "Anda akan tahu bahwa meteorit ini menunjukkan
beberapa sifat yang agak mencengangkan yang belum pernah
terlihat pada meteorit lainnya. Baik yang besar maupun yang
kecil." Ekstrom kemudian menunjuk ke arah terusan di depan
mereka. "Sekarang, jika Anda mau mengikuti saya, saya akan
memperkenalkan Anda dengan seseorang yang lebih cakap untuk
mendiskusikan temuan itu."
Rachel merasa bingung. "Seseorang yang lebih cakap daripada
Administrator NASA?"
Mata khas Skandinavia milik Ekstrom menatap tajam ke
dalam mata Rachel. "Yang saya maksudkan dengan lebih cakap,
Ms. Sexton, adalah ilmuwan sipil. Karena Anda seorang analis
data yang profesional, saya kira Anda akan lebih senang mendapatkan
data dari sumber yang tidak bias."
Touche. Rachel memilih untuk mengalah.
Dia lalu mengikuti sang administrator memasuki lorong
tersebut hingga akhirnya mereka terhenti di depan sebuah tirai
berwarna hitam yang berat. Rachel dapat mendengar gumaman
yang bergenia dari orang-orang yang bercakap-cakap di balik
tirai itu, seolah orang-orang iru sedang berada dalam sebuah
ruangan terbuka yang besar sekali.
Tanpa kata-kata, sang administrator meraih dan menyingkap
tirai itu. Rachel merasa begitu silau karena sinar yang tiba-tiba
melingkupinya. Dengan ragu, dia melangkah ke depan sambil
menyipitkan matanya ke dalam ruangan yang berkilauan itu.
Ketika matanya sudah mampu menyesuaikan diri, dia menatap
ke arah sebuah ruangan besar di hadapannya. Rachel terkesiap.
"My God!" bisiknya. Tempat apa ini?[]
FASILITAS PRODUKSI CNN yang berada di luar Washington
D.C. merupakan satu dari 212 studio di seluruh dunia yang
terhubung via satelit ke kantor pusat global Turner Broadcasting
System di Atlanta.
Saat itu pukul 1:45 siang ketika limusin Senator Sedgewick
masuk di tempat parkir. Sexton merasa puas saat keluar dari
mobil dan berjalan memasuki pintu gedung itu. Di dalam
gedung, Sexton dan Gabrielle disambut produser CNN berperut
buncit yang tersenyum amat ramah.
"Senator Sexton," sapa produser itu. "Selamat datang. Kabar
baik. Kami baru saja mengetahui siapa yang dikirim Gedung
Putih sebagai lawan debat Anda." Produser itu memberikan
senyuman yang sarat makna. "Saya harap Anda mempersembahkan
kehandalan Anda dalam berdebat." Dia lalu menunjuk ke
arah kaca ruang produksi di dalam studio.
20
Sexton melihat ke arah kaca itu dan hampir terjatuh. Sosok
itu membalas tatapan Sexton di balik kepulan asap rokoknya.
Sexton melihat seraut wajah terburuk yang pernah dilihatnya di
dalam dunia politik.
"Marjorie Tench?" tanya Gabrielle dengan gusar. "Apa yang
dia lakukan di sini?"
Sexton tidak tahu, tetapi apa pun alasannya, kehadiran
Marjorie Tench di sini merupakan kabar gembira. Ini tanda
yang jelas bahwa Presiden sudah putus asa. Alasan apa lagi
yang membuatnya mengirimkan penasihat seniornya itu ke garis
depan? Presiden Zach Herney mengeluarkan senjata besarnya,
dan Sexton menyambut kesempatan itu.
Semakin besar musuh, semakin keras juga mereka jatuh.
Sang senator tidak meragukan kalau Tench akan menjadi
lawan tangguh. Tetapi ketika Sexton melihat perempuan itu
lagi, dia merasa yakin bahwa Presiden telah membuat langkah
yang sangat salah. Marjorie Tench berparas sangat mengerikan.
Dia sekarang sedang membenamkan diri di atas kursinya, sementara
tangan kanannya yang memegang rokok bergerak ke depan
dan belakang dengan irama tertentu ke arah bibirnya yang tipis
seperti seekor belalang raksasa yang sedang makan.
Tuhan, kata Sexton dalam hati, wajah ini hanya cocok untuk
siaran radio.
Sedgewick Sexton hanya beberapa kali melihat wajah getir
penasihat senior Gedung Putih ini di majalah, dan sekarang dia
tidak percaya kalau dirinya sedang menatap salah satu wajah
yang paling berkuasa di Washington.
"Aku tidak suka ini," bisik Gabrielle.
Sexton hampir tidak mendengar Gabrielle. Semakin dia
menganggap ini sebagai sebuah kesempatan bagus, semakin dia
menyukainya. Selain wajah Tench tidak cocok untuk tampil di
media, perempuan ini mempunyai reputasi mengenai satu isu
kunci yang lebih menguntungkan Sexton lagi: Marjorie Tench
sangat lantang menyuarakan bahwa peran kepemimpinan Amerika
di masa mendatang hanya dapat dicapai melalui superioritas di
bidang teknologi. Tench adalah pendukung fanatik programprogram
pengembangan dan penelitian teknologi tinggi pemerintah,
dan yang paling penting dia juga pendukung utama NASA.
Banyak yang percaya bahwa tekanan Tench di belakang layarlah
yang membuat Presiden tetap begitu setia membela lembaga
ruang angkasa yang sedang terpuruk itu.
Sexton bertanya-tanya dalam hati apakah Presiden sekarang
sedang menghukum Tench atas semua saran buruk yang telah
diberikannya untuk terus mendukung NASA. Apakah dia sedang
melemparkan penasihat seniornya itu ke tengah-tengah kumpulan
serigala?
GABRIELLE ASHE menatap melalui kaca ke arah Marjorie
Tench dan merasa semakin tidak tenang. Sang penasihat senior
terkenal sangat pandai dan ahli dalam memutarbalikkan katakata
secara tak terduga. Kedua fakta itu menggelitik naluri
Gabrielle. Mengingat kesetiaan Marjorie Tench pada NASA,
Presiden terlihat seperti mengambil langkah yang tidak bijaksana
dengan mengirim perempuan itu untuk berhadapan dengan
Senator Sexton. Tetapi Presiden jelas bukan orang bodoh. Gabrielle
memiliki firasat, wawancara ini akan berdampak buruk.
Gabrielle mulai merasa kalau sang senator sedang menatap
lawannya dengan penuh nafsu, dan itu membuat Gabrielle agak
khawatir. Sexton biasanya menjadi tidak terkendali ketika terlalu
percaya diri. Isu NASA memang menjadi penarik suara dalam
jajak pendapat, tetapi Sexton telah mendorong isu itu sangat
keras akhir-akhir ini, pikir Gabrielle. Banyak kampanye berakhir
berantakan karena kandidatnya berusaha terlalu keras, padahal
yang mereka butuhkan hanyalah menyelesaikan babak itu dengan
cantik.
Si produser tampak bersemangat karena akan ada pertandingan
berdarah siang ini. "Mari kami persiapkan Anda,
Senator."

RUANG UTAMA habisphere NASA yang besar itu mungkin
merupakan pemandangan aneh yang ada di planet ini. Namun,
kenyataan bahwa ruangan itu berada di dataran es Arktika
semakin membuat Rachel Sexton sulit menerima keanehan itu.
Sambil menatap kubah bergaya futuristik yang tersusun oleh
bidang-bidang berbentuk segitiga putih yang saling mengunci
itu, Rachel merasa seperti sedang memasuki sebuah sanatorium
kolosal. Dindingnya melengkung ke bawah hingga ke lantai
yang berupa lapisan es yang keras, di mana lampu halogen
militet berdiri seperti penjaga di sekeliling garis luarnya dan
memancarkan sinar hingga ke langit-langit, membuat ruangan
itu terang benderang. Di atas lantai es, karpet busa berwarna
hitam berkelok-kelok dan terlihat seperti papan berjalan di
stasiun ilmiah portabel ini. Di antara peralatan-peralatan eletronik,
tiga puluh atau empat puluh pegawai NASA berpakaian
putih sedang tekun bekerja, berunding dengan gembira, dan
berbicara dengan nada bersemangat. Rachel langsung mengenali
semangat yang mengalir di ruang itu.
Itu adalah kegembiraan karena penemuan baru mereka.

Ketika Sexton bergerak menuju studio, Gabrielle menarik
lengan bajunya. "Aku tahu apa yang kaupikirkan," bisiknya.
"Tapi bijaksanalah. Jangan berlebihan."
"Berlebihan? Aku?" Sexton tersenyum.
"Ingat, perempuan ini sangat andal di bidangnya."
Sexton memberi Gabrielle senyuman meyakinkan. "Dan
begitu pula aku."[]
21
Ketika Rachel dan sang administrator mengelilingi sisi luar
kubah itu, dia melihat tatapan tidak senang dari beberapa
ilmuwan yang mengenalinya. Bisikan-bisikan mereka menggema
dengan jelas di dalam ruangan itu.
Bukankah itu putri Senator Sexton?
Apa yang sedang DIA lakukan di sini?
Aku tidak percaya Pak Administrator mau berbicara dengannya!
Rachel setengah menduga akan melihat boneka voodoo ayahnya
bergantungan di mana-mana. Tetapi kebencian bukanlah
satu-satunya perasaan yang menebar saat itu. Rachel juga menangkap
perasaan puas yang tersamar, seolah NASA tahu dengan
pasti siapa yang akan tertawa penuh kemenangan pada akhirnya.
Sang administrator membawa Rachel menuju ke serangkaian
meja, tempat seorang lelaki duduk sendirian di hadapan sebuah
komputer. Orang itu mengenakan turtleneck berwarna hitam,
celana kurduroi lebar, dan sepatu bot berat, bukan pakaian
NASA yang tampak dikenakan semua orang lainnya. Lelaki itu
sedang membelakangi mereka.
Sang administrator meminta Rachel untuk menunggu. Lalu
dia pergi untuk berbicara dengan orang asing itu. Beberapa saat
kemudian, lelaki yang mengenakan turtleneck itu mengangguk
setuju dan mematikan komputernya. Sang administrator kembali.
"Mr. Tolland akan menemani Anda mulai dari sini," katanya.
"Dia juga salah satu dari orang-orang yang direkrut Presiden,
jadi kalian berdua akan bisa akrab. Saya akan bergabung dengan
kalian sebentar lagi."
"Terima kasih."
"Saya kira Anda sudah pernah mendengar nama Michael
Tolland?"
Rachel mengangkat bahunya. Otaknya masih terpana karena
keadaan sekelilingnya yang luar biasa ini. "Nama itu tidak
mengingatkan saya pada siapa pun."
Lelaki berpakaian turtleneck itu tiba, lalu tersenyum. "Tidak
mengingatkan pada siapa pun?" Suaranya terdengar jernih dan
ramah. "Itu kabar terbaik yang kudengar sepanjang hari ini.
Sepertinya aku tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk
membuat kesan pertama lagi."
Ketika Rachel menatap pendatang baru itu, kakinya seperti
membeku di tempat. Dia segera mengenali wajah tampan itu.
Semua orang di Amerika juga mengenalinya.
"Oh," kata Rachel, pipinya memerah ketika lelaki itu menjabat
tangannya. "Anda Michael Tolland yang itu."
Ketika Presiden berkata kepada Rachel bahwa dia telah merekrut
ilmuwan sipil terkenal untuk melakukan otentifikasi pada
penemuan NASA, Rachel membayangkan sekelompok kutu buku
keriput yang membawa-bawa kalkulator monogram. Michael
Tolland adalah sebaliknya. Sebagai salah satu "ilmuwan terkenal"
di Amerika masa kini, Tolland membawakan acara dokumentasi
mingguan televisi yang disebut Amazing Seas. Pada acara itu,
Tolland membawa penonton untuk berhadapan langsung dengan
fenomena samudra yang memesona, seperti gunung-gunung
berapi di dasar laut, cacing laut yang panjangnya sepuluh kaki,
dan ombak pasang yang sangat berbahaya. Media mengeluelukan
Tolland sebagai percampuran antara Jacques Cousteau
dan Carl Sagan. Mereka memuji pengetahuannya, semangatnya
yang tidak dibuat-buat, dan hasratnya akan petualangan sebagai
formula yang telah meroketkan Amazing Seas ke peringkat puncak.
Tentu saja kritikus pada umumnya mengakui bahwa wajah
Tolland yang jantan dan tampan serta kharismanya yang tidak
ingin menonjolkan diri mungkin ikut mengundang simpati para
penonton perempuan.
"Mr. Tolland ...," kata Rachel dengan agak tergagap. "Saya
Rachel Sexton."
Tolland mengembangkan senyum nakal yang menyenangkan.
"Hai Rachel. Panggil aku Mike."
Tidak seperti biasanya, Rachel merasa lidahnya kelu. Indranya
terasa terlalu penuh ... ada habisphere, meteorit, rahasiarahasia,
lalu, tanpa terduga, pertemuan langsung dengan seorang
bintang televisi. "Aku terkejut melihatmu di sini," katanya sambil
mencoba mengembalikan ketenangannya. "Ketika Presiden berkata
telah merekrut ilmuwan sipil untuk otentifikasi penemuan
NASA, kukira aku ...," dia ragu-ragu.
"Akan bertemu dengan ilmuwan sesungguhnya?" sambung
Tolland sambil tersenyum.
Pipi Rachel menjadi kemerahan karena sangat malu. "Bukan
itu maksudku."
"Jangan khawatir," sahut Tolland. "Hanya itulah yang kudengar
sejak aku tiba di sini."
Sang administrator morion diri dan berjanji akan bergabung
dengan mereka nanti. Tolland sekarang berpaling pada Rachel
dengan latapan ingin tahu. "Pak Administrator bilang ayahmu
adalah Senator Sexton, betul begitu?"
Rachel mengangguk. Sayangnya benar.
"Seorang mata-mata Sexton di garis belakang musuh?"
"Garis pertempuran tidak selalu ditarik di tempat yang
kaukira."
Mereka terdiam dengan rasa kikuk.
"Jadi katakan padaku," kata Rachel dengan cepat, "apa yang
dilakukan seorang ahli kelautan terkenal di kutub bersama sekelompok
ilmuwan NASA?"
Tolland tertawa terkekeh. "Sebenarnya, ada seorang lelaki
yang sangat mirip Presiden dan dia minta tolong padaku. Aku
sebetulnya ingin membuka mulutku untuk berkata, 'Peduli setan,'
tetapi entah bagaimana, yang terucap adalah, 'Ya, Pak.'"
Rachel tertawa untuk pertama kalinya sejak pagi tadi. "Selamat
bergabung."
Walau kebanyakan selebritis kelihatan lebih pendek ketika
bertemu langsung, Rachel merasa Michael Tolland terlihat lebih
tinggi. Mata cokelatnya bersinar-sinar penuh semangat seperti
yang terlihat di televisi, begitu pula dengan suaranya yang
terdengar rendah hati dan antusias. Masih tampak atletis dan
berpengalaman pada usia 45 tahun, Michael Tolland memiliki
rambut hitam yang berjatuhan di sekitar keningnya. Dagunya
kekar dan sikapnya cuek yang memancarkan rasa percaya diri
yang tinggi. Ketika Rachel menjabat tangannya, kulit lelaki itu
yang kasar mengingatkan Rachel bahwa dia bukanlah bintang
televisi yang "lembek," melainkan seorang pelaut ulung dan
peneliti yang sangat aktif.
"Sejujurnya," Tolland mengakui dengan nada terdengar malumalu,
"aku direkrut lebih karena kemampuan humasku daripada
pengetahuan ilmiahku. Presiden memintaku untuk datang dan
membuat dokumentasi untuknya."
"Sebuah dokumentasi? Tentang sebongkah meteorit? Tetapi
kau kan ahli kelautan."
"Itulah juga yang kukatakan padanya! Tapi dia bilang, dia
tidak mengenal seseorang yang ahli dalam mendokumentasikan
meteorit. Menurutnya, keterlibatanku dapat memberikan keyakinan
kuat pada penemuan itu. Tampaknya Presiden berencana
untuk menyiarkan film dokumentasi yang kubuat saat dia mengumumkan
penemuan tersebut dalam konferensi pers besar malam
ini.
Seorang juru bicara dari kalangan selebritis. Rachel merasa,
manuver politik yang hebat dari Zach Herney mulai beraksi.
IZRO'IL
Deception Point (Titik Muslihat)


NASA sering dituduh mencekoki pendapat umum, tetapi tidak
untuk kali ini. Mereka sekarang merekrut seorang pembicara
yang ahli dalam bidang ilmiah dan wajah yang telah dikenal
dan dipercaya masyarakat Amerika untuk urusan ilmu pengetahuan.
Tolland menunjuk ke arah sudut di seberang kubah itu, ke
arah sebuah tempat yang sedang disiapkan untuk area pers. Di
sana terdapat permadani biru di atas es, kamera televisi, lampulampu
media, dan sebuah meja panjang dengan beberapa buah
mikrofon di atasnya. Seseorang sedang menggantung sehelai
bendera Amerika berukuran besar sebagai latar belakangnya.
"Itu untuk nanti malam," jelas Tolland. "Administrator NASA
dan beberapa ilmuwan top akan terhubung langsung via satelit
ke Gedung Putih sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam
siaran Presiden pukul delapan malam nanti."
Tindakan yang tepat, pikir Rachel. Dia merasa senang karena
tahu bahwa Zach Herney tidak berencana untuk sama sekali
mengabaikan NASA dalam pengumuman itu.
"Jadi," kata Rachel sambil mendesah, "apa ada orang yang
dapat mengatakan padaku apa istimewanya meteorit itu?"
Tolland menaikkan alisnya dan tersenyum misterius. "Sebenarnya,
keistimewaan meteorit tersebut harus dilihat, bukan
dijelaskan." Lalu dia menggerakkan tangannya dan mengajak
Rachel mengikutinya ke arah area kerja di dekat mereka. "Seorang
lelaki yang ditempatkan di sana memiliki banyak sampel
yang dapat diperlihatkan padamu."
"Sampel? Kalian benar-benar memiliki sampel meteorit itu?"
"Tentu. Kami telah mengebor beberapa di antaranya. Bahkan,
itu adalah sampel pertama yang membuat NASA tahu bahwa
itu adalah penemuan yang penting."
Karena tidak yakin dengan apa yang akan dilihatnya, Rachel
mengikuti saja ketika Tolland menuju area kerja tersebut. Area
itu tampak sunyi. Secangkir kopi terletak di atas meja yang
dipenuhi oleh sampel batuan yang berserakan, jangka lengkung,
dan peralatan diagnostis lainnya. Kopi itu masih mengepulkan
asap.
"Marlinson!" seru Tolland sambil melihat ke sekelilingnya.
Tidak ada jawaban. Dia mendesah kesal, lalu berpaling pada
Rachel. "Mungkin dia tersesat ketika mencari krim untuk kopinya.
Ngomong-ngomong, aku pernah kuliah pascasarjana di
Princeton bersama orang ini dan dia sering tersesat di gedung
asramanya sendiri. Walau linglung begitu, dia adalah penerima
National Medal of Science dalam bidang astrofisika. Hebat
bukan?"
Rachel tercengang. "Marlinson? Yang kaumaksud tidak mungkin
Corky Marlinson yang terkenal itu, bukan?"
Tolland tertawa. "Satu-satunya Marlinson."
Rachel terpaku. "Corky Marlinson ada di sini?" Gagasan
Marlinson tentang bidang gravitasi merupakan legenda di antara
para insinyur satelit NRO. "Marlinson adalah ilmuwan sipil
yang direkrut Presiden?"
"Ya. Nah, dia itu baru betul-betul ilmuwan."
Dia memang betul-betul ilmuwan, pikir Rachel. Corky Marlinson
adalah orang yang sangat pandai dan terhormat.
"Paradoks yang hebat tentang Corky: dia dapat menghitung
jarak menuju Alpha Centauri dalam milimeter tetapi tidak dapat
mengikat dasinya sendiri," kata Tolland sambil bergurau.
"Aku mengenakan dasi tempel!" suara sengau dan ramah
terdengar keras di dekat mereka. "Efisiensi lebih penting daripada
gaya, Mike. Bintang Hollywood sepertimu tidak akan mengerti
itu!"
Rachel dan Tolland menoleh ke arah seorang lelaki yang
sekarang muncul dari balik umpukan peralatan elektronik. Dia
pendek dan gemuk, mirip anjing pug. Matanya berkaca-kaca,
sedangkan rambutnya yang sudah menipis disisir ke belakang.
Ketika lelaki itu melihat Tolland berdiri di samping Rachel, dia
menghentikan langkahnya.
"Ya ampun, Mike! Kita sekarang sedang berada di Kutub
Utara yang beku dan kau masih saja berhasil menggaet perempuan
cantik. Mungkin aku seharusnya masuk televisi saja!"
Michael Tolland terlihat malu. "Ms. Sexton, maafkan Dr.
Marlinson. Sikapnya yang tidak sopan ini tidak sebanding dengan
kelebihannya dalam biner acak, sebuah pengetahuan yang
sungguh tidak berguna tentang alam semesta kita," kata Tolland
setengah bergurau.
Corky mendekat. "Sungguh sebuah kehormatan, Bu. Sepertinya
kita belum berkenalan."
"Rachel," sahutnya. "Rachel Sexton."
"Sexton?" Corky mengeluarkan pekikan lucu. "Kuharap tidak
ada hubungannya dengan senator bejat berpikiran picik itu!"
Tolland mengedipkan matanya. "Corky, Senator Sexton adalah
ayah Rachel."
Corky berhenti tertawa. Tubuhnya mengerut. "Mike, tidak
heran kalau aku tidak pernah beruntung dengan perempuan,"
bisiknya malu-malu. []
22
CORKY MARLINSON, sang pemenang penghargaan astrofisika,
mengajak Rachel dan Tolland ke tempat kerjanya, dan mulai
menyingkirkan peralatan dan sampel bebatuan yang berserakan
di sana. Lelaki itu bergerak dengan begitu cekatan.
"Baiklah," katanya sambil gemetar karena bersemangat, "Ms.
Sexton, kau sebentar lagi akan melihat pertunjukan perdana
selama tiga puluh detik tentang meteorit karya Corky Marlinson.
Tolland mengedipkan matanya, meminta Rachel untuk bersabar.
"Sabarlah dengannya. Orang ini betul-betul ingin menjadi
aktor."
"Ya dan Mike ingin menjadi ilmuwan terhormat." Corky
mencari-cari di dalam sebuah kotak sepatu dan kemudian mengeluarkan
tiga sampel batu berukuran kecil, lalu menyusunnya
berjajar di atas mejanya. "Ini adalah tiga jenis utama dari
meteorit di dunia."
Rachel menatap ketiga sampel batu tersebut. Semuanya tampak
seperti bulatan yang aneh, kira-kira seukuran bola golf. Masingmasing
dibelah dua untuk memperlihatkan bagian dalamnya.
"Semua meteorit," kata Corky, "terdiri atas campuran nikel
dan besi, silikat, dan sulfida dalam tingkatan yang bervariasi.
Kami mengelompokkan mereka berdasarkan rasio logam-silikat
yang dimilikinya."
Rachel sudah memiliki firasat, pertunjukan perdana Corky
Marlinson tentang meteorit itu akan berlangsung lebih dari tiga
puluh detik.
"Sampel pertama ini," kata Corky sambil menunjuk sebuah
batu berwarna hitam pekat dan berkilat, "adalah meteorit berinti
besi. Sangat berat. Meteorit ini mendarat di Antartika beberapa
tahun yang lalu."
Rachel mengamati meteorit itu. Betul-betul tampak seperti
benda dari dunia lain—sebongkah besi berat berwarna kelabu
yang lapisan luarnya hangus dan kehitaman.
"Lapisan seperti arang di luarnya itu disebut kulit fiisi,"
kata Corky lagi. "Itu hasil dari pemanasan yang luar biasa ketika
meteor itu jatuh menembus atmosfir kita. Semua meteorit memperlihatkan
kulit yang hangus seperti itu." Lalu Corky bergerak
cepat ke sampel berikutnya. "Yang berikut ini kami sebut meteorit
batu-besi."
Rachel mengamati sampel tersebut, dan dia juga melihat
lapisan yang hangus di bagian luarnya. Sampel ini memiliki
warna kehijauan dan bagian dalamnya tampak seperti kolase
potongan persegi berwarna-warni yang mirip kaleidoskop."
"Cantik," ujar Rachel.
"Yang benar saja! Batu ini sungguh menawan." Lalu Corky
berbicara selama kurang lebih satu menit tentang kandungan
olivine* yang tinggi yang dimiliki batu ini sehingga menghasilkan
kilau kehijauan seperti itu. Kemudian Corky meraih sampel
ketiga, lalu memberikannya kepada Rachel.
Rachel memegang sampel meteorit terakhir itu di atas telapak
tangannya. Yang ketiga ini berwarna cokelat kelabu, serupa
dengan batu granit. Terasa lebih berat dibandingkan batu bumi,
tetapi tidak terlalu jauh berbeda. Satu-satunya indikasi bahwa
*Mineral berwarna kehijauan yang terdiri dari campuran silikat
magnesium dan besi—penyunting.
batu itu berbeda dari batu biasa adalah kulit fusinya—permukaan
bagian luarnya yang hangus.
"Ini," kata Corky dengan nada penuh keyakinan, "disebut
meteorit batuan. Ini jenis meteorit yang paling biasa. Lebih
dari sembilan puluh persen meteorit yang ditemukan di bumi
termasuk dalam kategori ini."
Rachel heran. Dia selalu membayangkan meteorit berbentuk
seperti sampel pertama—memiliki kandungan metal dan berpenampilan
luar angkasa. Sementara, meteorit di tangannya itu
seperti batu bumi biasa. Kecuali bagian luarnya yang hangus,
benda itu tampak seperti batu yang bisa saja terinjak olehnya
di pantai.
Mata Corky membesar karena bersemangat. "Meteorit yang
terkubur di dalam es di Milne sini merupakan meteorit batuan.
Sangat mirip dengan yang kaupegang itu. Meteorit batuan
tampak hampir mirip batuan bumi, sehingga sulit untuk dikenali.
Biasanya berupa campuran silikat ringan, seperti feldspar,
olivine, pyroxin. Tidak ada yang terlalu istimewa."
Memang tidak terlalu istimewa, pikir Rachel sambil menyodorkan
kembali sampel di tangannya. "Yang ini tampak seperti
batu yang ditinggalkan orang di perapian dan hangus terbakar."
Tawa Corky meledak. "Wah, perapian itu harus sangat hebat!
Tungku yang paling panas yang pernah dibuat manusia pun
tidak mampu menghasilkan panas seperti yang menghantam
meteorit saat memasuki atmosfir kita. Meteorit itu hancur!"
Tolland memberi senyuman empati kepada Rachel. "Inilah
bagian yang seru."
"Bayangkan ini," kata Corky sambil mengambil meteorit
yang sedang dipegang Rachel. "Mari bayangkan kawan kecil
kita ini dalam ukuran sebesar rumah." Dia lalu memegang
sampel itu di atas kepalanya. "Batu ini berada di luar angkasa
... melayang-layang menyeberangi tata surya kita ... batu itu
membeku karena temperatur ruang angkasa yang bisa mencapai
minus seratus derajat celsius."
Tolland tertawa sendiri. Tampaknya dia sudah pernah melihat
Corky memeragakan jatuhnya meteorit di Pulau Ellesmere
sebelumnya.
Corky mulai menurunkan ketinggian sampel yang sedang
dipegangnya itu. "Meteorit kita ini sedang bergerak ke arah
bumi ... dan ketika sudah menjadi sangat dekat, gravitasi bumi
menariknya ... membuatnya bergerak dengan begitu cepat ...
begitu cepat ...."
Rachel melihat Corky mempercepat lintasan sampel itu
sambil menirukan percepatan gravitasi yang terjadi.
"Sekarang meteorit itu bergerak semakin cepat," Corky
berseru. "Lebih dari sepuluh mil per detik. Itu berarti 36.000
mil per jam! Pada ketinggian 135 km di atas permukaan bumi,
meteor itu mulai mengalami pergesekan dengan atmosfir." Corky
mengguncang-guncang sampel itu dengan keras sambil menurunkannya
ke arah lantai es di bawahnya. "Jatuh hingga di bawah
ketinggian seratus kilometer ... dia mulai menyala! Sekarang
kepadatan atmosfir meningkat, dan gesekan menjadi luar biasa!
Udara di sekitar meteorit itu menjadi berpijar sehingga permukaannya
mencair karena panas." Corky mulai mengeluarkan
efek suara terbakar dan berdesis-desis. "Sekarang meteor itu
meluncur turun melewati ketinggian delapan puluh kilometer,
dan bagian luarnya terpanggang hingga lebih dari 1.800 derajat
celsius!"
Rachel menatap dengan tatapan tidak percaya bagaimana
lelaki yang memenangkan penghargaan astrofisika itu mengguncang-
guncang meteor dengan lebih keras sambil mulutnya
mengeluarkan efek suara seperti anak-anak yang sedang menirukan
pesawat yang mau jatuh.
"Enam puluh kilometer!" sekarang Corky berteriak. "Meteorit
kita ini bersentuhan dengan dinding atmosfir. Udara terlalu
padat! Kepadatan itu memperlambat kecepatannya hingga tiga
ratus kali gravitasi!" Corky mengeluarkan suara berdecit seperti
rem dan memperlambat gerakan jatuhnya meteorit secara dra-
matis. "Dengan segera meteorit ini menjadi dingin dan tidak
menyala lagi. Kita telah sampai pada fase di mana meteorit itu
melambat dan padam! Permukaan meteorit itu mengeras setelah
lunak karena terbakar tadi dan menciptakan lapisan kulit fusi
yang gosong."
Rachel mendengar Tolland mendesah lucu ketika Corky
berlutut di atas lantai es untuk memperlihatkan bagaimana nasib
meteorit itu pada akhirnya—menabrak bumi.
"Sekarang," lanjut Corky, "meteorit kita yang besar sekali
itu melintas sangat cepat menerobos lapisan atmosfir kita yang
lebih rendah ...." Sambil berlutut, Corky mengarahkan meteorit
itu ke lantai dengan kemiringan yang landai. "Meteorit itu
menuju ke Samudra Arktika ... dengan sudut miring ... jatuh
... ia terlihat seperti hampir melewati samudra ... jatuh ... dan
...." Corky menyentuhkan sampel itu ke lantai es. "BUM!"
Rachel terloncat.
"Tabrakan itu membuat perubahan besar! Meteorit itu meledak.
Pecahan-pecahannya berterbangan, berloncatan, dan berputar
melintasi samudra." Sekarang Corky melanjutkan dengan
gerakan lambat, menggulung sampel itu dan menjatuhkannya
berguling-guling melintasi samudra imajiner ke arah kaki Rachel.
"Dan ada satu bagian yang masih tetap berloncatan, bergulingan
ke arah Pulau Ellesmere ...." Corky membawa batu itu sampai
ke ujung kaki Rachel. "Batu itu melewati samudra, memantul
naik ke daratan ...," Corky menggerakkannya hingga ke ujung
sepatu Rachel dan menggulingkannya melewati ujung sepatu
tersebut sampai berhenti di bagian atas kaki Rachel di dekat
mata kakinya. "Dan akhirnya berhenti di Milne Glacier. Di
situ salju dan es dengan cepat menutupinya, melindunginya
dari erosi atmosfir." Corky berdiri sambil tersenyum.
Mulut Rachel terbuka. Dia tertawa karena terkesan. "Wah,
Dr. Marlinson, penjelasan itu sangat luar biasa ...." Rachel tidak
dapat menyelesaikan kalimatnya.
"Jelas?" Corky berusaha membantu.
Rachel tersenyum. "Sepertinya begitu."
Corky menyerahkan sampel itu kembali pada Rachel. "Lihat
bagian dalamnya."
Rachel mengamati bagian dalam batu itu sesaat, dan tidak
melihat apa pun.
"Angkat ke arah cahaya," Tolland menyela. Suaranya hangat
dan ramah. "Dan tatap lebih dekat."
Rachel membawa batu itu lebih dekat ke matanya dan
mengarahkannya ke lampu-lampu halogen yang bersinar benderang
di atasnya. Sekarang dia melihatnya: tetesan-tetesan kecil
metalik berkilauan di dalam batu itu. Belasan tetes itu seperti
tetesan kecil merkuri yang tersebar di permukaan potongan
meteorit tersebut dengan jarak antara masing-masing tetesan
kurang lebih hanya satu milimeter.
"Gelembung-gelembung kecil itu disebut 'chondrules'," kata
Corky. "Dan gelembung itu hanya terdapat pada meteorit."
Rachel menyipitkan matanya untuk memerhatikan tetesantetesan
itu lebih saksama. "Aku tidak pernah melihat yang seperti
ini di batu yang berasal dari bumi."
"Dan tidak akan pernah!" seru Corky. "Chondrules merupakan
struktur geologis yang tidak kita temukan di bumi. Beberapa
chondrules berusia sangat tua ... mungkin terbuat dari materimateri
terawal di alam semesta ini. Beberapa chondrules lainnya
berusia jauh lebih muda, seperti yang sekarang berada di meteorit
di tanganmu itu. Chondrules di dalam meteorit itu kira-kira
berusia 190 tahun."
"190 tahun, kau sebut masih muda?"
"Tentu saja! Dalam pengertian kosmologis, waktu 190 tahun
itu disebut kemarin. Intinya di sini adalah sampel itu berisi
chondrules sehingga menjadi bukti meteorit yang meyakinkan."
"Baik," kata Rachel. "Chondrules bukti yang meyakinkan.
Aku paham."
"Dan akhirnya," kata Corky sambil mengembuskan napasnya,
"jika kulit fusi bagian luar dan chondrules itu tidak dapat
meyakinkanmu, kami, para ahli astronomi, memiliki metode
yang sangat mudah untuk memastikan bahwa batu ini adalah
meteorit."
"Bagaimana caranya?"
Corky mengangkat bahunya dengan santai. "Kami hanya
menggunakan sebuah mikroskop polarisasi petrografis, sebuah
spektrometer pijar sinar X, sebuah penganalisis aktivasi neutron,
atau sebuah spektometer plasma yang digabungkan dengan induksi
untuk mengukur rasio ferromagnetis."
Tolland mengerang. "Sekarang dia mulai pamer. Apa yang
dimaksud Corky adalah, kami dapat membuktikan sebuah batu
sebagai meteorit atau bukan hanya dengan mengukur kandungan
kimianya saja."
"Hey, Anak laud" Corky menyergah. "Biarkan ilmu pengetahuan
dijelaskan oleh ilmuwan yang sesungguhnya, ya?" Dia
lalu segera kembali memandang Rachel. "Pada batuan bumi,
mineral nikel terbentuk dalam persentase tinggi ataupun rendah
yang ekstrem, tidak pernah setengah-setengah. Tetapi pada meteorit,
kandungan nikel jatuh pada kisaran tengah dari suatu
rentang nilai. Karena itu, ketika kami menganalisis sebuah
sampel dan menemukan kandungan nikel yang memperlihatkan
nilai di kisaran tengah, kami dapat memastikan dengan seyakinyakinnya
bahwa sampel itu adalah meteorit.
Rachel merasa mulai jengkel. "Baiklah, Bapak-bapak, kulit
fusi, chondrules, kandungan nikel pada kisaran tengah, semuanya
membuktikan bahwa batu itu berasal dari luar angkasa. Aku
paham." Dia lalu meletakkan kembali sampel itu di atas meja
Corky. "Tetapi mengapa aku ada di sini?"
Corky menghela napas panjang. "Kauingin melihat sampel
meteorit yang ditemukan NASA di dalam es di bawah kita?"
Sebelum aku mati di sini, ya.
Kali ini Corky merogoh saku di dadanya dan mengeluarkan
sebuah batu berbentuk cakram. Irisan batu itu berbentuk seperti
sebuah CD audio, kira-kira tebalnya setengah inci, dan dari
komposisinya, tampak serupa dengan meteorit batuan yang baru
saja dilihat Rachel.
"Ini potongan dari sampel inti yang kami bor kemarin."
Corky menyerahkan cakram itu kepada Rachel.
Penampilannya jelas tidak seperti pecahan batuan dari bumi.
Seperti sampel yang sudah dilihat Rachel sebelumnya, batu itu
berwarna putih kejinggaan, dan berat. Bagian tepinya hangus
dan hitam, tampaknya merupakan bagian dari kulit luar meteorit
itu. "Aku melihat kulit fusinya," kata Rachel.
Corky mengangguk. "Ya. Sampel ini diambil dari bidang
di dekat bagian luar meteorit itu sehingga bagian kulitnya masih
terbawa."
Rachel mengangkat cakram itu ke arah cahaya dan melihat
gelembung-gelembung metalik. "Dan aku melihat chondrules di
dalamnya."
"Bagus," kata Corky. Suaranya tegang karena semangatnya
yang menggebu-gebu. "Dan setelah aku memeriksanya di bawah
mikroskop polarisasi petrografik, aku dapat mengatakan padamu
bahwa kandungan nikelnya berada pada kisaran tengah ... tidak
seperti batuan bumi. Selamat, kau telah berhasil meyakinkan orangorang
bahwa batu di tanganmu itu berasal dari luar angkasa."
Rachel mendongak dengan tatapan bingung. "Dr. Marlinson,
ini sebongkah meteorit. Batu ini memang berasal dari luar
angkasa. Lalu apa lagi?"
Corky dan Tolland saling pandang dengan tatapan penuh
arti. Tolland meletakkan tangannya di atas bahu Rachel dan
berbisik. "Balikkan batu itu."
Rachel membalik cakram itu sehingga dia dapat melihat
sisi di baliknya. Dan sesaat kemudian, otaknya mencerna apa
yang dilihatnya.
Lalu kebenaran itu menghantamnya seolah-olah tubuhnya
terhantam truk.
Tidak mungkin! Rachel terperangah. Tetapi ketika dia menatap
batu itu, dia sadar definisinya tentang istilah "tidak mung-
kin" baru saja berubah untuk selamanya. Di batu itu menempel
sebentuk benda yang bagi batuan bumi bisa dianggap biasa
saja, tapi kalau itu ditemukan pada sebuab meteorit, ini betulbetul
aneh.
"Ini ...." Rachel tergagap. Dia nyaris tidak dapat berkatakata.
"Ini ... seekor serangga! Meteorit ini berisi fosil seekor
serangga!"
Tolland dan Corky berseri-seri. "Selamat datang," kata
Corky.
Luapan perasaan yang menguasai Rachel, membuatnya terpana
hingga dia tidak mampu berkata-kata. Tetapi bahkan ketika
dalam keadaan seperti itu, dia dapat melihat dengan jelas dan
tidak dkagukan lagi bahwa fosil itu dulunya merupakan organisme
biologis yang hidup. Sosok yang terbujur kaku itu berukuran
panjang kira-kira tiga inci dan sepertinya adalah bagian
perut dari sejenis kumbang besar atau serangga. Tujuh pasang
kaki menempel di bawah cangkang luar pelindungnya yang
bersisik seperti binatang armadillo.
Rachel merasa pusing. "Seekor serangga dari luar angkasa
"Itu seekor isopoda," kata Corky. "Serangga yang memiliki
tiga pasang kaki, bukan tujuh."
Rachel tidak mendengarnya. Kepalanya seperti berputar saat
mengamati fosil di depannya.
"Kau dapat melihat dengan jelas," kata Corky lagi, "bahwa
cangkang di atas punggung itu bersisik seperti kumbang pohon
dari planet luar, tapi dua anggota badan yang menyerupai ekor
itulah yang membedakannya sehingga membuatnya lebih mirip
seekor caplak."
Rachel sibuk dengan pikirannya dan tidak menghiraukan
penjelasan Corky. Penggolongan spesies tersebut sama sekali
tidaklah penting. Sekarang potongan-potongan teka-teki itu
mulai terlihat lebih jelas—kerahasiaan Presiden, kegembiraan
NASA ....
Ada fosil menempel di sebuah meteorit! Bukan hanya setitik
bakteri atau mikroba, tetapi sebentuk kehidupan yang lebih maju
daripada itu! Ini adalah bukti otentik bahwa ada kehidupan di
tempat lain di alam semesta kita! []
SEPULUH MENIT sebelum acara debat di CNN, Senator
Sexton bertanya-tanya bagaimana mungkin dia akan merasa
cemas. Marjorie Tench jelas merupakan lawan yang tidak sebanding.
Walau Tench memiliki reputasi sebagai penasihat senior
yang memiliki kebijakan tanpa perasaan, tetapi saat ini dia
terlihat lebih mirip seekor domba korban daripada seorang lawan
yang layak bagi Senator Sexton.
Benar saja. Sejak awal perdebatan Tench sudah menyerang
dengan menghantam riwayat program Sexton yang dianggapnya
berat sebelah karena merugikan kaum perempuan. Tetapi kemudian
ketika dia tampak mulai memperketat cengkeramannya,
dia berbuat ceroboh. Saat dia menanyakan bagaimana caranya
Senator Sexton menaikkan dana pendidikan tanpa menaikkan
pajak, dia membuat sindiran menghina karena Sexton terusmenerus
mengambing-hitamkan NASA.
Walau Sexton ingin mengemukakan topik NASA pada akhir
perdebatan, tetapi Tench sudah membuka pintu sebelum waktunya.
Dasar idiot!
"Ngomong-ngomong tentang NASA," kata Sexton melanjutkan
dengan tenang. "Dapatkah Anda menanggapi kabar angin
yang terus-menerus saya dengar bahwa NASA telah gagal lagi
akhir-akhir ini?"
23
Marjorie Tench terlihat tidak gentar. "Rasanya, saya tidak
pernah mendengar kabar angin itu." Suaranya yang serak karena
rokok terdengar begitu kering.
"Jadi, Anda tidak memiliki tanggapan?"
"Saya rasa tidak."
Sexton tampak berseri-seri. Di dalam dunia media, kata
"tidak ada tanggapan" itu dapat diterjemahkan secara bebas
sebagai "bersalah seperti yang dituduhkan."
"Baiklah," kata Sexton. "Dan bagaimana dengan kabar angin
tentang sebuah rahasia ... rapat darurat antara Presiden dan
Administrator NASA?"
Kali ini Tench tampak heran. "Saya tidak tahu rapat apa
yang Anda maksudkan. Presiden mengadakan banyak rapat."
"Tentu saja." Sexton memutuskan untuk langsung menyerangnya
dengan bertanya, "Ms. Tench, Anda adalah pendukung
fanatik lembaga ruang angkasa itu, bukan?"
Tench mendesah dan terdengar bosan karena isu-isu Sexton
yang sepele seperti itu. "Saya percaya akan pentingnya mempertahankan
keunggulan teknologi Amerika, seperti di bidang
militer, industri, intelijen, dan telekomunikasi. NASA jelas bagian
dari itu semua. Ya, saya adalah pendukung NASA."
Di ruang produksi, Sexton dapat melihat mata Gabrielle
menyuruhnya untuk mundur dari topik itu, tetapi Sexton sudah
dapat mencium bau darah. "Saya ingin tahu, Bu, apakah Anda
berada dibalik usaha Presiden yang terus-menerus untuk mendukung
lembaga yang jelas sedang mengalami kesulitan itu?"
Tench menggelengkan kepalanya. "Tidak. Presiden juga sangat
percaya pada NASA. Dia membuat keputusannya sendiri."
Sexton tidak dapat memercayai telinganya. • Dia baru saja
memberi Marjorie Tench kesempatan untuk agak membebaskan
Presiden dari masalah pendanaan NASA yang terlalu besar itu
dengan secara pribadi menerima kesalahan ini. Tetapi Tench
justru melemparkan dosa itu langsung kepada Presiden. Presiden
membuat keputusannya sendiri. Tampaknya Tench berusaha untuk
memisahkan diri dari kampanye sang presiden yang bermasalah.
Bukan kejutan besar. Lagi pula, ketika semuanya sudah usai,
Marjorie Tench harus mencari pekerjaan baru.
Beberapa menit berikutnya, Sexton dan Tench saling mengelak
dan menangkis. Tench berusaha untuk mengubah topik
walaupun tidak berhasil, sementara Sexton terus menekannya
pada isu pendanaan NASA.
"Senator," debat Tench, "Anda ingin memotong anggaran
NASA, tetapi apakah Anda tahu berapa banyak lapangan kerja
di bidang teknologi tinggi yang akan hilang?"
Sexton hampir tertawa di depan wajah perempuan itu.
Perempuan inikah yang dianggap sebagai otak terpandai di Washington?
Tench jelas harus belajar tentang demografi negeri ini.
Lapangan kerja di bidang teknologi tinggi jumlahnya tidak
seberapa dibandingkan dengan sejumlah besar rakyat Amerika
yang bekerja sebagai pekerja kasar.
Sexton menerjang, "Kita berbicara tentang penghematan
sebesar miliaran dolar di sini, Marjorie, dan jika hasilnya adalah
sejumlah ilmuwan NASA harus pergi dengan mobil BMW
mereka dan membawa keahlian mereka yang tidak dapat dipasarkan
itu ke tempat lain, maka biarlah hal itu terjadi. Saya
berkomitmen untuk bersikap keras terhadap pemborosan."
Marjorie Tench terdiam, seolah terhuyung karena pukulan itu.
Pembawa acara CNN berkata, "Ms. Tench? Komentar Anda?"
Akhirnya perempuan itu berdehem dan berbicara. "Saya
rasa, saya hanya heran mendengar bagaimana Mr. Sexton ingin
memastikan dirinya sebagai orang anti-NASA dengan sangat
bersemangat."
Mata Sexton menyipit. Usaha yang bagus, Nona. "Saya bukan
anti-NASA, dan saya tidak senang pada tuduhan itu. Saya hanya
mengatakan bahwa anggaran NASA menunjukkan adanya pemborosan
yang tidak terkendali yang dilakukan Presiden. NASA
berkata, mereka dapat membuat pesawat dengan biaya lima
miliar, tetapi ternyata biayanya menjadi dua belas miliar. Mereka
mengaku dapat membuat stasiun ruang angkasa dengan delapan
miliar, tetapi sekarang menjadi seratus miliar."
"Amerika adalah pemimpin," kata Tench, "karena kita memiliki
tujuan mulia dan kita akan terus mempertahankannya
walau keadaan menjadi sulit."
"Pidato tentang kebanggaan nasional itu tidak berpengaruh
bagi saya, Marge. NASA telah memboroskan dananya sebanyak
tiga kali dalam dua tahun terakhir ini dan kembali mengemis
kepada Presiden dan meminta uang lebih banyak untuk memperbaiki
kesalahannya. Apakah itu kebanggaan nasional? Jika Anda
ingin berbicara tentang kebanggaan nasional, bicaralah tentang
sekolah-sekolah yang kuat. Bicaralah tentang perawatan kesehatan
yang merata. Bicaralah tentang anak-anak pandai yang besar di
negara penuh kesempatan ini. Itulah kebanggaan nasional!"
Tench melotot. "Boleh saya mengajukan pertanyaan secara
langsung, Senator?"
Sexton tidak menjawab. Dia hanya menunggu.
Lalu kata-kata perempuan itu terucap dengan jelas dengan
cengkeraman yang lebih dalam lagi. "Senator, kalau kita tidak
dapat menjelajahi ruang angkasa dengan biaya yang lebih sedikit
dari yang telah dikeluarkan NASA sekarang ini, apakah Anda
akan menghapuskan lembaga ruang angkasa itu secara keseluruhan?"
Pertanyaan itu terasa seperti batu besar yang mendarat di
atas pangkuan Sexton. Mungkin Tench sama sekali tidak bodoh.
Dia baru saja mengejutkan Sexton dengan sebuah pertanyaan
"pendobrak-pertahanan." Ini adalah pertanyaan ya/tidak yang
dirancang dengan hati-hati untuk memaksa seorang lawan yang
masih setengah-setengah agar memilih satu sisi yang jelas dan
meneguhkan posisinya untuk seterusnya.
Secara naluriah Sexton mencoba menghindar. "Saya tidak
ragu bahwa dengan pengelolaan yang baik, NASA dapat menjelajahi
ruang angkasa dengan biaya yang jauh lebih sedikit
daripada sekarang—"
IZRO'IL
Deception Point (Titik Muslihat)


"Senator Sexton, jawab pertanyaan saya. Menjelajahi luar
angkasa adalah bisnis yang berbahaya dan mahal. Ini hampir
seperti membuat pesawat jet yang mengangkut banyak orang.
Kita harus melakukannya dengan benar atau tidak melakukannya
sama sekali. Risikonya terlalu besar. Pertanyaan saya masih sama:
Jika Anda menjadi presiden, dan Anda dihadapkan pada keputusan
untuk melanjutkan pendanaan NASA sebesar yang
sekarang ini atau menghapuskan program ruang angkasa Amerika
sepenuhnya, mana yang akan Anda pilih?"
Kurang ajar. Sexton melirik Gabrielle melalui kaca. Ekspresi
perempuan muda itu memantulkan sesuatu yang sudah diketahui
Sexton. Kau sudah berkomitmen. Langsung saja. Jangan berteletele.
Sexton mengangkat dagunya. "Ya, saya akan memindahkan
anggaran NASA yang sekarang ini langsung ke sistem sekolah kita
kalau saya harus membuat keputusan. Saya akan memberikan
suara saya untuk anak-anak kita daripada untuk ruang angkasa."
Raut wajah Tench terlihat sangat terkejut. "Saya terperangah.
Apakah saya tidak salah dengar? Sebagai presiden, Anda akan
memilih untuk menghapuskan program ruang angkasa negara?"
Sexton merasa kemarahannya muncul. Sekarang Tench seperti
mendiktenya. Sexton mencoba untuk melawan, tetapi
Tench sudah mulai berbicara lagi.
"Jadi, maksud Anda, Senator, Anda akan menutup lembaga
yang telah mengirim orang ke bulan?"
"Saya berkata bahwa perjalanan ke ruang angkasa sudah
selesai. Waktu telah berubah. NASA tidak lagi dapat berperan
penting dalam kehidupan sehari-hari rakyat Amerika, tetapi kita
masih saja mendanainya seolah badan itu adalah lembaga yang
berguna."
"Jadi, Anda tidak menganggap ruang angkasa itu masa
depan?"
"Jelas, ruang angkasa itu masa depan, tetapi NASA adalah
dinosaurus. Lembaga itu sudah usang! Mari kita biarkan swasta
menjelajahi ruang angkasa. Para pembayar pajak Amerika tidak
seharusnya membuka dompet mereka setiap kali insinyur di
Washington ingin mengambil foto Jupiter yang berharga semiliar
dolar itu. Rakyat Amerika sudah letih mengorbankan masa depan
anak-anak mereka untuk mendanai sebuah Iembaga kuno yang
menghasilkan sangat sedikit dibandingkan dengan pengeluaran
mereka yang sangat besar itu."
Tench mendesah dengan berat. "Menghasilkan sangat sedikit?
Kecuali program SETI, NASA telah memberikan hasil yang
besar sekali."
Sexton sangat terkejut ketika SETI keluar dari bibir Tench.
Ini adalah kesalahan besar. Terima kasih telah mengingatkan aku.
Search of Extraterrestrial Intelligence atau SETI adalah pemborosan
uang di tubuh NASA yang luar biasa besar. Walau
NASA sudah berusaha untuk melakukan "penggantian wajah"
dengan memberinya nama baru "Origins" dan mengatur-ulang
beberapa sasarannya, tetapi tetap saja proyek tersebut merupakan
pertaruhan yang memberikan kerugian.
"Marjorie," ujar Sexton untuk mengambil kesempatannya, "saya
ingin membicarakan SETI karena Anda telah menyebutnya."
Anehnya, Tench juga tampak bersemangat mendengarnya.
Sexton berdehem. "Umumnya orang tidak sadar bahwa
NASA telah mencari makhluk bernama ET selama 35 tahun
hingga saat ini. Dan ini merupakan perburuan harta karun
yang memakan banyak biaya ... pemasangan satelit, peralatan
penerima gelombang berukuran raksasa, jutaan dolar untuk
membayar gaji para ilmuwan yang duduk di tempat gelap dan
mendengarkan kaset rekaman kosong. Ini adalah penghamburhamburan
sumber daya yang memalukan."
"Anda ingin mengatakan bahwa sesungguhnya tidak ada
apa-apa di atas sana?"
"Saya ingin mengatakan bahwa jika ada lembaga milik
negara lain yang menghamburkan uang 45 miliar dolar selama
lebih dari 35 tahun dan tidak mendapatkan satu hasil pun,
maka lembaga itu pasti sudah ditutup sejak lama." Sexton
berhenti sejenak untuk membiarkan pernyataannya itu merasuk
ke pemikiran para pemirsa dengan baik. "Setelah 35 tahun,
kupikir sudah cukup jelas kita tidak akan menemukan kehidupan
di luar bumi."
"Dan jika Anda salah?"
Sexton mengarahkan bola matanya ke atas dan menukas
dengan nada kesal, "Oh, demi Tuhan, Ms. Tench, potong kepala
saya jika saya salah."
Marjorie Tench menatap tajam ke arah Senator Sexton. "Saya
akan mengingat perkataan Anda tadi, Senator." Dan untuk
pertama kalinya, perempuan itu tersenyum. "Saya pikir kita
semua akan mengingatnya."
Enam mil jauhnya dari studio CNN, di dalam Ruang Oval,
Presiden Zach Herney mematikan televisinya dan menuangkan
minuman untuk dirinya sendiri. Seperti yang dijanjikan Marjorie
Tench, Senator Sexton telah memakan umpan tersebut mentahmentah—
mulai dari pengait, tali, sampai batu pemberatnya. []
24
MICHAEL TOLLAND tersenyum penuh empati ketika Rachel
Sexton ternganga membisu ketika melihat meteorit berfosil di
tangannya. Kecantikan di wajah perempuan itu sekarang tampak
berubah menjadi ekspresi kekaguman yang polos, seperti anak
kecil yang baru pertama kali melihat Sinterklas.
Aku mengerti apa yang kaurasakan, kata Tolland dalam hati.
Tolland juga sama terkejutnya, namun itu sudah sejak 48
jam yang lalu. Dia juga begitu terkejutnya hingga terdiam.
Bahkan sampai sekarang, implikasi ilmiah dan filosofis dari
meteorit itu masih membuatnya tercengang sehingga memaksanya
untuk memikirkan kembali tentang segala yang pernah
dipercayainya tentang alam ini.
Walaupun Tolland pernah menemukan beberapa spesies asing
di laut dalam, tetapi "serangga luar angkasa ini" membuat semua
penemuannya itu menjadi tidak ada apa-apanya. Walau Hollywood
memiliki kecenderungan untuk menampilkan makhluk
luar angkasa sebagai orang-orang kecil berwarna hijau, tetapi semua
ahli astrobiologi dan penggemar ilmu pengetahuan sepakat,
dengan mempertimbangkan jumlah dan kemampuan adaptasi
serangga bumi yang luar biasa, kehidupan asing di luar bumi,
seandainya ditemukan, memang akan menyerupai serangga.
Serangga merupakan anggota filum artbropoda—makhluk
yang memiliki cangkang keras dan kaki bersendi. Dengan lebih
dari 1,25 juta spesies yang sudah dikenali dan kira-kira masih
ada 500 ribu lagi yang belum digolongkan, jumlah "serangga"
bumi mengalahkan jumlah gabungan seluruh hewan lainnya.
Persentasi serangga adalah 95 persen dari keseluruhan jenis
hewan lain di bumi dan, yang menakjubkan lagi, merupakan
empat puluh persen dari biomassa di planet ini.
Yang paling mengagumkan tentang serangga, selain jumlahnya
yang berlimpah, adalah ketahanan hidup mereka. Dari
kumbang es di Antartika hingga kalajengking matahari di Death
Valley, segala jenis serangga tersebut tetap dapat hidup dengan
gembira pada temperatur, tingkat kekeringan, dan tekanan dalam
rentang yang mematikan. Mereka juga dapat bertahan terhadap
kekuatan yang paling mematikan di alam semesta ini—radiasi.
Dalam penelitian dampak bom nuklir pada 1945, para peneliti
dari Angkatan Udara Amerika sudah mengenakan pakaian antiradiasi
dan memeriksa tempat bom dijatuhkan hanya untuk
menemukan kecoa-kecoa dan semut-semut yang hidup dengan
bahagia, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di sana. Para
astronom menyadari bahwa cangkang luar yang melindungi
serangga arthropoda itulah yang membuatnya menjadi satu-
satunya makhluk yang memiliki potensi untuk bertahan hidup
di berbagai planet yang telah tercemar oleh radiasi.
Tampaknya para ahli astrobiologis itu benar, pikir Tolland.
ET adalah seekor serangga.
KAKI RACHEL serasa lemas. "Aku tidak dapat ... memercayainya,"
katanya sambil membalik fosil di tangannya. "Aku tidak
pernah mengira ...."
"Beri dirimu waktu untuk mencernanya," kata Tolland sambil
tersenyum. "Aku sendiri butuh 24 jam untuk menenangkan
diri."
"Sepertinya kita memiliki pendatang baru," kata seorang
lelaki Asia bertubuh jangkung ketika dia mendekat untuk bergabung
dengan mereka.
Corky dan Tolland tampak langsung kecewa dengan kehadiran
lelaki itu. Tampaknya saat-saat keajaiban mereka telah
dibuyarkan oleh orang yang ingin ikut nimbrung ini.
"Dr. Wailee Ming," kata orang itu ketika memperkenalkan
diri. "Kepala Paleontologi di UCLA."
Pembawaan lelaki ini layaknya seorang bangsawan zaman
Renaissance yang kaku dan sombong. Dr. Ming terus-menerus
mengusap-usap dasi kupu-kupunya yang tidak cocok dengan
tempat ini. Dia juga mengenakan mantel sepanjang lutut dari
bulu kulit onta. Wailee Ming tampaknya tidak mau membiarkan
keadaan tempatnya berada kini yang terpencil itu menghalanginya
untuk tampil prima.
"Aku Rachel Sexton." Tangan Rachel masih gemetar ketika
menjabat tangan Ming yang halus. Ming jelas adalah ilmuwan
sipil yang juga direkrut Presiden.
"Aku akan senang sekali, Ms. Sexton," kata ahli paleontologi
itu, "kalau diberi kesempatan untuk menceritakan apa pun yang .
ingin kau ketahui tentang fosil itu."
"Dan banyak hal lain yang tidak ingin kau ketahui," Corky
menggerutu.
Ming kembali menyentuh dasi kupu-kupunya dengan jarinya.
"Keahlian paleontologiku adalah tentang arthropoda dan
mygalomorphae yang sudah punah. Jelas, sifat yang paling mengesankan
pada organisme yang kita temukan ini adalah—"
"—karena ia berasal dari planet lain!" Corky menyela.
Ming cemberut dan berdehem. "Sifat yang paling mengesankan
dari organisme ini adalah bahwa ia sangat cocok dengan
klasifikasi dan taksonomi untuk makhluk asing menurut sistem
Darwin."
Rachel menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Mereka
dapat mengklasifikasikan benda ini? "Maksudmu kerajaan, filum,
spesies ... klasifikasi semacam itu?"
"Tepat," sahut Ming. "Jenis ini, jika ditemukan di bumi,
akan digolongkan isopoda dan akan masuk ke dalam salah satu
kelas di antara dua ribu jenis caplak."
"Caplak?" tanya Rachel. "Tetapi ini besar sekali."
"Taksonomi tidak memerdulikan pada ukuran. Contohnya
kucing rumah dan harimau, mereka saling berhubungan. Klasifikasi
adalah tentang fisiologi. Jenis seperti ini sudah pasti seekor
caplak: tubuhnya gepeng, tujuh pasang kaki, dan kantung reproduksi
serupa dengan bentuk kantung reproduksi caplak kayu,
kumbang pohon, belalang pantai, serangga kayu, dan binatang
lain yang sejenis. Fosil lainnya jelas menunjukkan kekhususan
yang lebih—"
"Fosil lainnya?"
Ming menatap Corky dan Tolland. "Dia belum tahu?"
Tolland menggelengkan kepalanya.
Wajah Ming pun langsung berubah menjadi cerah. "Itu
berarti Ms. Sexton, kau belum mendengar bagian yang bagus."
"Ada beberapa fosil lagi," sela Corky, jelas mencoba mencuri
perhatian Rachel dari Ming. "Lebih banyak lagi." Lalu Corky
bergegas mengambil secarik amplop dari kertas manila dan
mengeluarkan selembar kertas berukuran besar yang terlipat dari
dalam amplop tersebut. Dia melebarkannya di atas meja di
depan Rachel. "Setelah kami mengebor beberapa bagian di inti
meteorit, kami menurunkan kamera sinar X ke bawah. Ini adalah
grafik yang menggambarkan bagian potongan itu."
Rachel melihat cetakan sinar X di atas meja dan segera merasa
harus duduk. Bagian dalam meteorit yang terlihat tiga dimensi
itu dipenuhi lusinan serangga seperti yang dilihatnya tadi.
"Itu peninggalan zaman paleolitik," kata Ming, "biasanya
ditemukan dalam jumlah besar. Sering kali, lumpur memerangkap
organisme yang hidup dalam kelompok, menutupi sarang
atau keseluruhan komunitas organisme tersebut."
Corky tersenyum. "Kami berpikir, kumpulan serangga dalam
meteorit itu melambangkan sebuah sarang makhluk-makhluk
itu." Lalu dia menunjuk ke salah satu serangga pada kertas
cetakan itu. "Dan itu ibunya."
Rachel melihat spesimen itu dengan mulut ternganga. Serangga
itu kira-kira panjangnya dua kaki.
"Caplak yang besar, ya?" kata Corky.
Rachel mengangguk dan terpaku ketika dia membayangkan
ada seekor caplak seukuran roti tawar sedang berjalan-jalan di
sebuah planet lain.
"Di bumi," kata Ming, "serangga kita relatif lebih kecil
karena gravitasi mengendalikan mereka. Mereka tidak dapat tumbuh
lebih besar daripada yang dapat ditopang kerangka luar
mereka. Tetapi di planet dengan gravitasi yang lebih kecil,
serangga dapat berkembang menjadi jauh lebih besar."
"Bayangkan memukul nyamuk sebesar burung kondor pemakan
bangkai," Corky bergurau sambil mengambil sampel inti meteor
dari tangan Rachel dan menyimpannya ke dalam sakunya.
Ming berkata dengan nada tidak senang, "Sebaiknya kau
tidak mencurinya!"
"Tenang," kata Corky. "Toh, kita masih punya delapan ton
lagi di dalam sana."
Pikiran analitis Rachel mulai bekerja untuk mengolah data
di depannya. "Tetapi bagaimana kehidupan dari ruang angkasa
dapat begitu serupa dengan kehidupan di bumi? Maksudku,
kau tadi mengatakan serangga ini cocok dalam kiasifikasi Darwin?"
"Sempurna," kata Corky. "Dan percaya atau tidak, banyak
ahli astronomi telah memperkirakan bahwa kehidupan di luar
bumi serupa dengan kehidupan di bumi."
"Tetapi kenapa?" tanya Rachel. "Spesies ini berasal dari lingkungan
yang sama sekali berbeda."
"Panspermia," kata Corky sambil tersenyum lebar.
"Maaf?"
"Panspermia adalah teori yang mengatakan bahwa kehidupan
di bumi ini ditebarkan dari planet lain."
Rachel berdiri. "Aku sangat bingung."
Corky menoleh ke arah Tolland. "Mike, kau kan ahli kelautan
purba."
Tolland tampak gembira ketika mengambil alih. "Bumi pernah
menjadi planet tanpa kehidupan, Rachel. Kemudian tiba-tiba,
seolah hanya terjadi dalam semalam, kehidupan meledak di sini.
Banyak ahli biologi berpendapat ledakan kehidupan itu adalah
hasil ajaib dari percampuran ideal berbagai elemen dalam laut di
masa purba. Tetapi kami belum pernah dapat mereka-ulang proses
tersebut di dalam laboratorium sehingga para ilmuwan religius
menganggap kegagalan itu sebagai bukti adanya Tuhan. Menurut
mereka, kehidupan tidak mungkin ada kecuali Tuhan menyentuh
laut di masa purba dan mengisinya dengan kehidupan."
"Tetapi kami, para ahli astronomi," jelas Corky, "memiliki
penjelasan berbeda tentang ledakan kehidupan di bumi yang
berlangsung dalam semalam itu."
"Panspermia," kata Rachel, sekarang sudah mengerti apa
yang mereka bicarakan. Dia sudah pernah mendengar teori panspermia
itu, tetapi tidak tahu namanya. "Teori yang mengatakan
bahwa meteorit jatuh ke dalam primordial soup* dan membawa
serta benih pertama kehidupan mikro organisme ke bumi."
*Campuran gas dan zat yang diperkirakan terjadi ketika bumi baru
terbentuk—penyunting.
"Tepat," seru Corky. "Di mana benih-benih tersebut kemudian
merembes keluar dan menjadi hidup."
"Dan jika itu benar," kata Rachel, "maka nenek moyang
yang mendasari bentuk kehidupan di bumi dan bentuk kehidupan
di luar bumi memang serupa."
"Tepat dua kali."
Panspermia, pikir Rachel. Dia masih belum dapat memahami
implikasinya. "Jadi, fosil itu tidak hanya memastikan bahwa
kehidupan juga ada di tempat lain di alam semesta ini, tetapi
juga membuktikan teori panspermia ... bahwa kehidupan di
bumi ditebarkan dari kehidupan di tempat lain di alam semesta
ini.
"Tepat tiga kali," Corky mengangguk bersemangat pada
Rachel. "Secara teknis, kita mungkin saja merupakan makhluk
ekstraterestrial." Dia kemudian meletakkan kedua jarinya di atas
kepala seperti sepasang antena, menjulingkan matanya, lalu
mengoyangkan lidahnya seperti serangga.
Tolland menatap Rachel dengan senyuman kasihan. "Dan
orang ini adalah puncak dari evolusi kita."[]
RACHEL SEXTON merasa kabut seperti dalam mimpi berputar
di sekitarnya ketika dia berjalan menyeberangi habisphere, didampingi
Michael Tolland. Corky dan Ming mengikuti tidak
jauh di belakang mereka.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Tolland sambil mengamatinya.
Rachel menoleh sambil tersenyum lemah. "Terima kasih.
Ini hanya ... terlalu banyak bagiku."
25
Pikirannya kembali pada penemuan NASA tahun 1997 yang
memalukan: ALH84001, sebuah meteorit Mars yang diakui
NASA berisi fosil sisa bakteri hidup. Celakanya, hanya dalam
beberapa minggu setelab NASA mengadakan konferensi pers
untuk mengumumkan kemenangannya, beberapa ilmuwan sipil
maju dengan bukti bahwa "tanda-tanda kehidupan" itu tidak
lebih dari kerogen yang dihasilkan oleh kontaminasi ketika
dibawa ke bumi. Kredibilitas NASA terpukul telak karenanya.
Harian New York Times bahkan mengambil kesempatan untuk
menyindir keras lembaga itu dengan memelesetkan mengolokolok
kepanjangan NASA menjadi Not Always Scientifically Accurate,
tidak selaku akurat secara ilmiah.
Pada edisi yang sama, ahli paleobiologi bernama Stephen
Jay Gould melengkapi masalah yang terjadi pada ALH84001
dengan menunjukkan bahwa bukti di dalam batu tersebut hanyalah
berupa bahan kimia dan masih merupakan dugaan, bukan
zat "padat," seperti sebuah tulang atau cangkang yang sudah
jelas.
Sekarang, Rachel sadar NASA telah menemukan bukti yang
tidak dapat dibantah lagi. Tidak ada ilmuwan skeptis yang akan
melangkah maju dan mempertanyakan fosil-fosil ini. NASA tidak
lagi menggembar-gemborkan sesuatu yang belum jelas dan memperbesar
foto-foto bakteri mikroskopis yang mereka anggap sudah
pasti. Sekarang mereka akan menyajikan sampel meteorit yang
mengandung organisme hidup yang terlihat jelas oleh mata
telanjang. Caplak seukuran dua kakil
Rachel merasa geli ketika ingat saat masih kecil dulu, dia
pernah sangat menyukai lagu David Bowie tentang "laba-laba
dari Mars". Mungkin hanya sedikit orang yang dapat mengira
bahwa bintang pop Inggris yang eksentrik itu dapat meramal
momen terbesar ahli astrobiologis ini dengan nyaris tepat.
Ketika lagu itu samar-samar terdengar dalam benak Rachel,
Corky tergopoh-gopoh mendekatinya. "Rachel, apakah Mike
sudah membual tentang film dokumentasinya?"
Rachel menjawab. "Belum, tetapi aku akan senang mendengarnya."
Corky menepuk punggung Tolland. "Ceritakanlah, Kawan.
Ceritakan padanya mengapa Presiden memutuskan momen sejarah
yang paling penting itu harus diserahkan pada seorang
bintang televisi yang pintar snorkeling."
Tolland mengerang. "Bagaimana kalau kau saja?"
"Baiklah. Aku yang akan menjelaskan," kata Corky sambil
berusaha berdiri di antara Tolland dan Rachel. "Mungkin kau
sudah tahu, Ms. Sexton, Presiden akan mengadakan konferensi
pers malam ini untuk mengabarkan tentang meteorit itu kepada
dunia. Karena mayoritas orang di planet ini terdiri atas orangorang
yang memiliki kecerdasan rata-rata, maka* Presiden meminta
Mike untuk bergabung dan menyampaikan segalanya
dengan cara sederhana bagi mereka."
"Terima kasih, Corky," sahut Tolland dengan sebal. "Bagus
sekali." Kemudian, dia menatap Rachel dan berusaha menjelaskan,
"Maksud Corky adalah, karena ada begitu banyak data
ilmiah yang harus disampaikan, maka Presiden berpikir menggunakan
fdm dokumentasi tentang meteorit akan membuat
informasi ini lebih mudah ditangkap oleh sebagian besar orang
Amerika, yang tidak memiliki pengetahuan luas tentang astrofisika."
Corky kemudian berkata kepada Rachel, "Kau tahu tidak
kalau aku baru saja tahu, ternyata Presiden adalah fans berat
Amazing Seas?" Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan
sebal. "Zach Herney, presiden seluruh dunia, ternyata menyuruh
sekretarisnya untuk merekam acara Mike sehingga dia dapat
menontonnya setelah seharian bekerja keras."
Tolland mengangkat bahunya. "Ya, bagaimana lagi? Lelaki
itu mempunyai selera tinggi."
Rachel sekarang mulai menyadari betapa hebatnya rencana
Presiden. Politik merupakan permainan media, dan Rachel sudah
dapat membayangkan antusiasme dan kredibilitas ilmiah yang
akan dibawa oleh wajah Michael Tolland di layar kaca dalam
konferensi pers tersebut. Zach Herney telah memilih seseorang
yang tepat untuk mendukung serangan kecilnya. Keraguan untuk
menentang data-data Presiden akan sulit diajukan jika informasi
tersebut disampaikan seorang bintang televisi yang sudah dikenal
secara luas bersama beberapa ilmuwan sipil lainnya.
Corky menimpali, "Mike sudah merekam kami semua dalam
videonya, orang-orang sipil, juga ilmuwan-ilmuwan top di NASA.
Dan aku mempertaruhkan Medali Nasional-ku bahwa kau juga
ada dalam daftarnya."
Rachel menoleh dan menatapnya. "Aku? Apa maksudmu?
Aku tidak punya keahlian apa pun. Aku hanya seorang penghubung
intelijen."
"Lalu mengapa Presiden mengirimmu ke sini?"
"Dia belum mengatakannya padaku."
Seulas senyuman senang terkembang di bibir Corky. "Kau
seorang penghubung intelijen Gedung Putih yang mengurus
klarifikasi dan pengesahan data, kan?"
"Ya. Tetapi bukan data ilmiah."
"Dan kau putri seorang lelaki yang berkampanye dengan
mengkritik pemborosan NASA untuk program luar angkasa?"
Rachel tahu hal itu akan keluar dari mulut Corky.
"Kau harus mengakuinya, Ms. Sexton," Ming menimpali,
"keberadaanmu akan memberi film dokumentasi ini dimensi
kepercayaan yang benar-benar baru. Jika Presiden mengirimmu
ke sini, dia pasti ingin agar kau berperan serta juga."
Sekali lagi, Rachel teringat dengan firasat William Pickering
akan kemungkinan dirinya digunakan Presiden untuk kepentingan
politik.
Tolland melihat jam tangannya. "Kita harus bergegas," katanya
sambil menunjuk ke arah tengah-tengah habisphere. "Mereka
pasti sudah bersiap-siap."
"Bersiap-siap?" tanya Rachel.
"Waktu pengangkatan. NASA akan membawa meteorit itu
ke permukaan. Sebentar lagi, kurasa."
Rachel terpaku. "Kalian benar-benar akan memindahkan batu
seberat delapan ton dari dalam es yang tebalnya dua ratus kaki?"
Corky tampak gembira. "Kau tidak berpikir bahwa NASA
akan membiarkan sebuah penemuan terkubur di dalam es, bukan?"
"Tidak, tetapi ...," Rachel tidak melihat tanda-tanda peralatan
untuk memindahkan benda besar di mana pun di dalam
habisphere ini. "Bagaimana rencana NASA untuk mengeluarkan
meteorit itu?"
Corky semakin senang. "Bukan masalah. Kau berada di dalam
sebuah ruangan yang dipenuhi oleh ilmuwan-ilmuwan pintar."
"Omong kosong," gerutu Ming sambil riienatap Rachel.
"Dr. Marlinson hanya senang menggoda orang lain. Sebenarnya
semua orang di sini bingung tentang cara mengeluarkan meteorit
itu. Dr. Mangor-lah yang mengusulkan solusi yang masuk akal."
"Aku belum bertemu dengan Dr. Mangor."
"Dia seorang ahli glasiologi dari University of New Hampshire,"
sahut Tolland. "Ilmuwan keempat dan terakhir yang dipilih
Presiden. Dan Ming benar, Dr. Mangor-lah yang mengusulkan
cara itu."
"Baik," kata Rachel. "Jadi, bagaimana cara yang diusulkan
oleh lelaki itu?"
"Perempuan," kata Ming mengoreksi. Suaranya terdengar
melembut. "Dr. Mangor itu seorang perempuan."
Corky hanya menggerutu. Dia kemudian menatap Rachel.
"Ngomong-ngomong, Dr. Mangor pasti akan membencimu."
Tolland melotot dengan marah kepada Corky.
"Memang dia akan membenci Rachel!" Corky membela diri.
"Dia itu benci dengan kompetisi."
Rachel merasa bingung. "Maaf? Kompetisi?"
"Abaikan dia," kata Tolland. "Sayangnya, kenyataan bahwa
Corky itu orang bodoh, entah bagaimana, terlewatkan oleh
National Science Committee. Kau dan Dr. Mangor akan bergaul
dengan baik. Dia orang yang profesional dan dianggap sebagai
salah satu dari ahli glasiologi teratas di dunia. Sebenarnya, dia
pindah ke Antartika beberapa tahun yang lalu untuk mempelajari
pergerakan es di sana."
"Aneh," kata Corky. "Yang kudengar, Univeristy of New
Hampshire memberikan donasi dan mengirimnya ke sana agar
mereka dapat bekerja dengan tenang di kampus."
"Hati-hati," hardik Ming. Tampaknya dia tersinggung karena
komentar Corky itu. "Dr. Mangor hampir tewas di sana! Dia
tersesat saat badai dan hidup hanya dengan memakan lemak
anjing laut selama beberapa minggu hingga seseorang menemukannya."
Corky berbisik pada Rachel, "Yang kudengar, tidak seorang
pun mencarinya."[]
PERJALANAN DARI studio CNN menuju kantor Sexton terasa
lama bagi Gabrielle Ashe. Sang senator sedang duduk di depannya
dan menatap ke luar jendela. Jelas dia merasa sangat senang
karena debat tadi.
"Mereka mengirimkan Tench untuk acara siang hari di televisi
kabel," kata Senator Sexton sambil berpaling ke arah Gabrielle
untuk memberikan senyumannya yang menawan. "Gedung Putih
benar-benar sedang panik."
Gabrielle mengangguk. Dia tidak ingin berkomentar. Gabrielle
dapat merasakan kesan puas yang tersembunyi di wajah Marjorie
Tench ketika perempuan itu keluar tadi. Itu membuat Gabrielle
tidak tenang.
26
Ponsel pribadi Sexton berdering, dan dia merogoh sakunya
untuk mengeluarkan ponsel tersebut. Seperti sebagian besar
politisi, sang senator memiliki tingkatan nomor telepon yang
dapat menghubunginya, tergantung pada seberapa penting si
penelepon itu. Siapa pun yang sekarang meneleponnya, pastilah
itu orang yang berada di daftar teratas. Telepon itu masuk ke
nomor pribadi Sexton, sebuah nomor yang bahkan Gabrielle
sendiri pun tidak berani menghubunginya.
"Senator Sedgewick Sexton," sahut Sexton untuk menekankan
namanya yang yang berima.
Gabrielle tidak dapat mendengar suara si penelepon karena
deru suara mesin limusin, tetapi Sexton mendengarkannya dengan
saksama, kemudian menjawabnya dengan bersemangat. "Hebat
sekali. Aku senang kau menelepon. Bagaimana jika pukul enam?
Bagus. Aku punya sebuah apartemen di di D.C. Private sini.
Itu tempat yang nyaman. Kau sudah punya alamatnya, bukan?
Baik. Aku sangat ingin bertemu denganmu. Sampai jumpa nanti
malam kalau begitu."
Sexton menutup teleponnya.
"Penggemar Sexton yang baru?" tanya Gabrielle.
"Jumlahnya berlipat ganda," sahut Sexton. "Lelaki ini orang
penting."
"Pasti. Kau menemuinya di apartemenmu?" Sexton biasanya
sangat melindungi rumah pribadinya seperti seekor singa melindungi
satu-satunya tempat persembunyiannya.
Sexton mengangkat bahunya. "Ya. Kupikir aku ingin memberinya
sentuhan pribadi. Orang ini mungkin akan merasa
nyaman ketika berada di rumah. Aku harus terus memantapkan
hubungan pribadi. Tahu sendirilah. Ini semua soal kepercayaan."
Gabrielle mengangguk sambil menarik keluar agenda Sexton.
"Kaumau memasukkannya ke dalam jadwalmu?"
"Tidak perlu. Lagi pula aku sudah merencanakan untuk
melewatkan malam ini di rumah saja."
Gabrielle melihat halaman agenda untuk malam ini. Di
situ sudah terisi tulisan tangan Sexton dengan huruf besar "P.E."
Itu adalah singkatan yang dibuat Sexton entah untuk personal
event (acara pribadi), private evening (malam pribadi), atau pissoff
everyone (peduli setan dengan semua orang)—tidak ada yang
tahu dengan pasti. Dari waktu ke waktu, sang senator menjadwalkan
malam "P.E." untuk dirinya sendiri sehingga dia dapat
beristirahat di apartemennya, mematikan teleponnya, dan melakukan
hal yang paling dinikmatinya—menikmati brandy dengan
teman-teman lamanya, dan berpura-pura lupa akan dunia politik.
Gabrielle menatapnya dengan heran. "Jadi, kau membiarkan
urusan dengan orang itu menyela jadwal P.E. yang sudah kauatur
sebelumnya? Aku terkesan."
"Orang ini kebetulan ingin bertemu denganku pada malam
hari jika aku punya waktu. Aku akan berbicara sebentar dengannya.
Aku mau tahu apa yang ingin dikatakannya."
Gabrielle ingin bertanya siapa penelepon misterius itu, tetapi
Sexton jelas tampak tidak ingin memberi tahu dirinya. Gabrielle
juga sudah belajar untuk tidak memancing-mancing.
Ketika mereka meninggalkan jalan lingkar luar dan kemudian
melanjutkan ke arah gedung kantor Sexton, Gabrielle
menatap ke halaman agenda itu lagi, ke arah huruf P.E. yang
sudah ditentukan dalam agenda Sexton. Tiba-tiba, Gabrielle
mendapat firasat kalau Sexton sudah tahu kalau si penelepon
itu akan menghubunginya hari ini. []
IZRO'IL
Deception Point (Titik Muslihat)


27
LANTAI ES di tengah-tengah habispbere NASA didominasi
perancah kaki-tiga dengan tinggi delapan belas kaki, yang tampak
menyerupai sebuah kombinasi antara kilang minyak dan model
menara Eiffel yang aneh. Rachel mengamati peralatan tersebut,
namun tidak dapat membayangkan bagaimana benda itu dapat
digunakan untuk menarik meteorit yang luar biasa besar itu.
Di bawah menara tersebut, beberapa mesin pengerek dipasang
dengan baut-baut berat pada lempengan-lempengan besi
yang terpasang di lantai es. Tersangkut pada mesin-mesin pengerek
itu, kabel-kabel besi terpasang ke atas melalui serangkaian
kerekan di atas menara itu. Dari sana, kabel-kabel itu terjun
vertikal ke bawah ke dalam lubang sempit yang dibor ke dalam
es. Beberapa lelaki NASA bertubuh besar bergantian mengencangkan
mesin pengerek tersebut. Setiap kali mesin pengerek
dikencangkan, kabel-kabel itu merayap beberapa inci ke atas
melalui lubang bor tersebut, seolah para lelaki itu sedang menarik
sebuah jangkar.
Jelas, ada yang tidak kumengerti, pikir Rachel ketika dia dan
yang lainnya bergerak mendekati area penarikan. Para lelaki itu
seolah sedang menarik meteorit itu langsung menembus lapisan es.
"TARIKAN SEIMBANG! BODOH!" terdengar suara seorang
perempuan berteriak di dekat mereka.
Rachel menatap ke depan dan melihat seorang perempuan
mungil mengenakan pakaian salju berwarna kuning cerah yang
dikotori oli mesin. Dia memunggungi Rachel. Walau demikian,
Rachel tidak merasa kesulitan untuk menerka bahwa perempuan
mungil itu adalah pemimpin operasi penarikan tersebut. Sambil
membuat catatan di papan tulis kecilnya, perempuan itu berjalan
maju dan mundur seperti seorang pelatih yang menyebalkan.
"Jangan bilang kalian sudah letih, Ibu-ibu!" semburnya.
Corky berseru, "Hey, Norah, berhentilah memerintah orangorang
NASA yang malang itu dan kemarilah bercumbu denganku.
Perempuan itu bahkan tidak menoleh. "Itu kau, Marlinson?
Aku mengenali suaramu yang cempreng itu. Datanglah lagi
jika kau sudah puber."
Corky menoleh kepada Rachel. "Norah membuat kami tetap
hangat dengan pesonanya."
"Aku dengar itu, Anak ruang angkasa," Dr. Mangor balas
berteriak sambil masih terus mencatat. "Dan jika kau terpesona
dengan bokongku, jangan tertipu. Celana salju ini menambah
beratku tiga puluh pon."
"Jangan khawatir," seru Corky. "Bukan bokong sebesar gajah
mamot-mu yang membuatku tergila-gila, tetapi kepribadianmu
itu.
"Omong kosong."
Corky tertawa lagi. "Aku punya berita besar, Norah. Tampaknya
kau bukan satu-satunya perempuan yang direkrut Presiden."
"Jelas itu. Dia merekrutmu, bukan?"
Tolland mengambil alih pembicaraan. "Norah? Punya waktu
sebentar untuk berkenalan dengan seseorang?"
Ketika suara Tolland terdengar, Norah segera menghentikan
pekerjaannya dan menoleh. Penampilannya yang keras langsung
menghilang. "Mike!" Lalu dia bergegas dan berseri-seri. "Aku
sudah tidak melihatmu sejak beberapa jam yang lalu."
"Aku tadi menyunting film dokumentasi."
"Bagaimana bagianku?"
"Kau tampak sangat pandai dan cantik."
"Dia menggunakan efek khusus," sela Corky.
Norah mengabaikan kata-kata Corky, lalu menatap Rachel
dengan senyuman sopan namun menjaga jarak. Lalu dia kembali
menatap Tolland. "Kuharap kau tidak mengkhianatiku, Mike."
Wajah Tolland yang jantan menjadi agak memerah ketika
dia memperkenalkan Rachel. "Norah, aku ingin kau berkenalan
dengan Rachel Sexton. Ms. Sexton bekerja untuk komunitas
intelijen dan dia di sini atas permintaan Presiden. Ayahnya
adalah Senator Sedgewick Sexton."
Perkenalan itu membuat wajah Norah tampak bingung.
"Aku bahkan tidak mau berpura-pura mengerti apa maksudnya
itu." Norah tidak melepas sarung tangannya ketika dia mengulur-
kan tangannya kepada Rachel dan memberikan jabatan tangan
setengah hati. "Selamat datang di ujung dunia."
Rachel tersenyum. "Terima kasih." Dia terkejut juga ketika
melihat Norah Mangor. Walau suaranya menggelegar, perempuan
mungil itu memiliki wajah yang menyenangkan dan nakal.
Rambutnya berwarna cokelat dengan sedikit guratan uban dan
dipotong sangat pendek, sementara itu matanya bersemangat
dan tajam—setajam dua kristal es. Ada rasa percaya diri yang
tinggi di dalam diri Norah yang disukai Rachel.
"Norah," kata Tolland. "Kaupunya sedikit waktu untuk
bercerita kepada Rachel mengenai apa yang sedang kaukerjakan?"
Norah menaikkan alisnya. "Kalian sudah saling memanggil
dengan nama depan? Wah, wah."
Corky mengerang. "Apa kubilang, Mike."
NORAH MANGOR memperlihatkan kepada Rachel area di
sekitar dasar menara, sementara Tolland dan yang lainnya mengikuti
mereka sambil bercakap-cakap.
"Kaulihat lubang-lubang hasil pengeboran ke dalam es di
bawah kaki-tiga itu?" tanya Norah sambil menunjuk. Suara yang
semula terdengar keras sekarang melunak karena menjelaskan
salah satu pekerjaan yang mengasyikkan dan menggairahkannya.
Rachel mengangguk sambil melihat ke bawah pada lubanglubang
di es di bawah kakinya. Masing-masing lubang berdiameter
kira-kira satu kaki dan ada kabel baja yang dimasukkan
ke dalamnya.
"Lubang-lubang itu merupakan sisa pengeboran kami ketika
mengambil sampel-sampel inti dan untuk memasang sinar X di
meteorit itu. Sekarang kami menggunakannya untuk jalan masuk
untuk menurunkan mata bor yang berat ke bawah lubang terusan
tersebut dan menyekrupkannya ke dalam meteorit. Setelah
itu, kami menurunkan kabel pilin sejauh seratus kaki ke bawah
setiap lubang, mengaitkan mata bor tersebut dengan beberapa
pengait yang biasa digunakan untuk kebutuhan industri, dan
sekarang kami tinggal mengereknya ke atas. Ibu-ibu di sini
membutuhkan beberapa jam saja untuk menaikkan meteorit
itu ke permukaan, tetapi sudah mulai terlihat hasilnya."
"Aku bingung," kata Rachel. "Meteorit itu berada di bawah
ribuan ton es. Bagaimana kau mengangkatnya?"
Norah menunjuk ke arah puncak perancah, di mana secercah
cahaya tipis berwarna merah bersinar vertikal ke arah bawah
menuju es di bawah perancah kaki-tiga itu. Rachel tadi sudah
melihatnya namun mengira cahaya itu hanyalah semacam penunjuk
visual—sebuah penunjuk untuk memberi tanda tempat
meteorit tersebut terkubur.
"Itu adalah sinar laser dengan semikonduktor galium arsenik,"
Norah menjelaskan.
Rachel melihat sinar itu lebih dekat. Sinar itu benar-benar
mencairkan lubang kecil di es dan menembus ke bawah memasuki
kegelapan.
"Sinar yang sangat panas," Norah melanjutkan. "Kami memanaskan
meteorit itu ketika mengangkatnya."
Ketika Rachel memahami kecerdasan rencana yang mudah
dimengerti dari perempuan itu, dia terkesan. Norah hanya mengarahkan
sinar laser itu ke bawah, mencairkan es hingga akhirnya
sinar itu bertemu dengan meteorit. Batu tersebut, karena terlalu
padat untuk dicairkan sinar laser, mulai menyerap panas laser itu.
Akhirnya, batu itu menjadi panas dan mencairkan es di sekitarnya.
Ketika orang-orang NASA menarik meteorit yang panas
tersebut, batu panas yang digabungkan dengan tarikan ke atas
itu mencairkan es di sekelilingnya sehingga membuat jalan untuk
naik ke permukaan. Es yang mencair yang berada di bagian
atas meteorit mengalir ke bawah melalui sisi meteorit dan mengisi
kembali lubang yang kosong setelah meteorit itu terangkat.
Seperti sebilah pisau panas yang menembus sebatang mentega
beku.
Norah menunjuk ke arah orang-orang NASA di dekat mesinmesin
pengerek tersebut. "Generator tidak dapat mengatasi
ketegangan seperti itu, jadi aku menggunakan tenaga manusia
untuk mengangkatnya."
"Bohong!" salah satu pekerja itu berseru. "Dia menggunakan
tenaga manusia karena dia senang melihat kami berkeringat!"
"Jangan berisik," Norah balas berteriak. "Kalian gadis-gadis,
terus berkeluh kesah kedinginan selama dua hari ini. Aku sudah
menyembuhkan kalian. Sekarang, tariklah terus."
Para pekerja itu tertawa.
"Kerucut-kerucut itu untuk apa?" tanya Rachel sambil menunjuk
ke arah beberapa kerucut berwarna jingga yang ditempatkan
secara acak di sekitar menara pada beberapa tempat. Rachel
juga melihat kerucut-kerucut serupa disebarkan di sekitar kubah
di bagian lain di habispshere ini.
"Penanda daerah es yang rawan," sahut Norah. "Kami menyebutnya
SHABA. Singkatan dari step here and break ankle, 'silakan
injak di sini, dan patahkan pergelangan kakimu.'" Norah kemudian
mengambil salah satu kerucut itu dan memperlihatkan
lubang bundar seperti sumur tidak berdasar di kedalaman es.
"Tempat yang buruk untuk diinjak." Dia kemudian mengembalikan
kerucut itu. "Kami mengebor lubang-lubang di segala
tempat di atas es untuk keperluan pemeriksaan struktural berkelanjutan.
Seperti dalam ilmu arkeologi biasa, lamanya sebuah
benda terkubur ditunjukkan dengan seberapa dalam benda itu
ditemukan. Semakin dalam penemuan itu terkubur, semakin
lama juga benda itu telah berada di sana. Ketika sebuah benda
ditemukan di bawah es, kami dapat menentukan tanggal benda
itu sampai di tempat tersebut dengan cara melihat berapa jumlah
es yang terkumpul di atasnya. Untuk meyakinkan pengukuran
waktu itu akurat, kami memeriksa banyak tempat di atas lapisan
es untuk memastikan bahwa bidang itu merupakan irisan yang
padat dan belum diganggu gempa bumi, peretakan, longsor es,
dan Iain-lain."
"Jadi, bagaimana daratan es di sini?"
"Sempurna," sahut Norah. "Sebuah irisan yang sempurna,
padat. Tidak ada garis-garis yang tidak wajar atau lapisan es
yang terbalik. Meteorit ini adalah meteorit yang kami sebut
sebagai 'kejatuhan yang statis. Batu itu sudah berada di dalam
es tanpa tersentuh dan terpengaruh sejak mendarat pada 1716."
Rachel terperangah. "Kautahu tahun jatuhnya secara pasti?"
Norah tampak heran karena pertanyaan itu. "Tentu saja.
Karena itulah mereka mengundangku. Tugasku membaca es."
Dia lalu menunjuk pada tumpukan tabung-tabung silinder es
di dekatnya. Masing-masing tampak seperti kotak telepon tembus
pandang dan ditandai dengan label berwarna jingga terang. "Intiinti
es itu adalah catatan geologi yang beku." Dia membawa
Rachel mendekati tabung-tabung itu. "Jika kau mengamati dari
dekat, kau dapat melihat lapisan-lapisan individual di dalam es
itu."
Rachel berjongkok. Dia dapat melihat bahwa tabung itu
diisi lapisan es dengan perbedaan kilauan dan kejernihan yang
halus. Tebal lapisan-lapisan itu bervariasi, antara seukuran kertas
tipis hingga kira-kira seperempat inci.
"Setiap musim salju membawa hujan salju yang lebat pada
lapisan es," kata Norah menjelaskan, "dan setiap musim semi
lapisan itu mencair sebagian. Jadi terbentuklah sebuah lapisan
timpaan untuk setiap musimnya. Kami hanya memulai dari
puncak—lapisan dari musim salju yang paling baru—dan menghitung
ke belakang."
"Seperti menghitung cincin pada batang pohon."
"Tidak semudah itu, Ms. Sexton. Ingat, kami menghitung
ketebalan es sebesar beberapa kaki yang berisi ribuan lapisan.
Kami harus membaca tanda-tanda klimatologis untuk menandai
pekerjaan kami—catatan-catatan tentang hujan salju, polusi di
udara, hal-hal semacam itu."
Tolland dan yang lainnya bergabung dengan mereka sekarang.
Tolland tersenyum pada Rachel. "Dia tahu banyak tentang
es, bukan?"
Anehnya, Rachel merasa senang bertemu lagi dengan Tolland.
"Ya, dia mengagumkan."
"Dan harap dicatat," Tolland mengangguk, "angka 1716-
nya Dr. Mangor itu benar. NASA mendapatkan tahun yang
sama, jauh sebelum kami sampai di sini. Dr. Mangor mengebor
inti meteorit itu sendiri, menjalankan pengujiannya sendiri, dan
kemudian mengukuhkan perhitungan NASA."
Rachel terkesan.
"Dan kebetulan," tambah Norah, "1716 adalah tahun yang
sama ketika para penjelajah di masa lalu mengaku telah melihat
bola api di langit di sebelah utara Kanada. Meteor itu menjadi
terkenal dengan nama Jungersol Fall, mengikuti nama pemimpin
penjelajahan itu."
"Jadi," tambah Corky, "kenyataan bahwa tanggal yang didapat
dari penelitian dan catatan sejarah cocok merupakan bukti
yang nyata bahwa kita sedang melihat pecahan meteor yang
sama dengan yang dicatat Jungersol pada 1716."
"Dr. Mangor!" salah satu pekerja NASA memanggil. "Kaitan
pertama mulai tampak!"
"Tur sudah berakhir, Teman-teman," kata Norah. "Sekarang
saatnya kebenaran terungkap." Dia lalu menyambar sebuah kursi
lipat, kemudian menaikinya, dan berteriak dengan sangat keras.
"Ke permukaan dalam lima menit, kawan-kawan!"
Di sekitar kubah tersebut, seperti anjing-anjing Pavlovia
menjawab panggilan lonceng makan malam, para ilmuwan bergegas
menuju area penarikan.
Norah Mangor meletakkan tangannya di pinggulnya dan
memeriksa daerah kekuasaannya. "Baik, ayo kita naikkan kapal
Titanic." []

"MINGGIR!" NORAH meneriakkan perintahnya sambil bergerak
melewati kerumunan yang semakin besar. Para pekerja
berpencar. Norah mengambil kendali, memeriksa ketegangan
kabel-kabel dan kesejajarannya.
"Tarik!" salah satu pekerja NASA itu berseru. Pekerja-pekerja
lainnya mempererat mesin pengerek, dan kabel-kabel itu tertarik
lagi ke atas kira-kira enam inci keluar lubang.
Ketika kabel-kabel tersebut terus bergerak ke atas, Rachel
merasa kerumunan orang bergerak mendekat sedikit-sedikit dengan
penuh harap. Corky dan Tolland ada di dekatnya, dan tampak
seperti anak-anak pada hari Natal. Jauh dari lubang, tubuh
besar Administrator NASA Lawrence Ekstrom muncul dan mengambil
tempat untuk menonton penarikan itu.
"Tolong gembok-gemboknya!" salah satu pekerja NASA
berseru. "Mata rantainya mulai terlihat!"
Kabel-kabel baja itu naik melalui lubang-lubang bor dan
berubah dari kabel berwarna keperakan menjadi rantai-rantai
berwarna kuning.
"Enam kaki lagi! Jaga agar tetap stabil!"
Kelompok di sekitar perancah itu menjadi hening, seperti
para hadirin pada sebuah acara pertemuan spiritual yang sedang
menunggu kemunculan roh. Semua menjadi begitu tegang untuk
melihat pada pandangan pertama.
Lalu Rachel melihatnya.
Muncul dari lapisan es yang menipis, bentuk tidak jelas
dari meteorit itu mulai terlihat. Bayangan itu berbentuk persegi
panjang dan gelap. Kabur pada awalnya, tetapi kemudian
menjadi lebih jelas setiap saat meteorit itu mencairkan es di
atasnya.
28
"Lebih ketat!" seorang teknisi berteriak. Orang-orang itu
mempererat pengerek, dan perancah itu mulai berderak.
"Lima kaki lagi! Jaga ketegangan tetap seimbang!"
Sekarang Rachel dapat melihat lapisan es di atas batu itu
mulai menggelembung seperti binatang hamil yang sebentar
lagi akan melahirkan. Pada puncak bongkahan itu, di sekeliling
sinar laser yang menunjuk ke lubang, sebuah lingkaran kecil
dari permukaan es mulai membuka jalan, mencair, melarutkan
es hingga akhirnya membentuk sebuah lubang es yang lebar.
"Leher rahim sudah membuka!" seseorang berteriak. "Sembilan
ratus sentimeter!"
Tawa tegang memecah kesunyian di sekitar mereka.
"Baik. Matikan lasernya!"
Seseorang mematikan tombol, dan sinar itu pun menghilang.
Lalu terjadilah hal itu.
Seperti kedatangan dewa purba yang sedang marah, batu
besar itu memecah permukaan dengan desisan uap. Di balik
kabut yang berputar, bentuk raksasa itu naik keluar dari es.
Para lelaki yang menarik pengerek, menarik lebih keras lagi
hingga akhirnya batu itu benar-benar terangkat keluar dari
penjara bekunya. Meteorit itu terayun-ayun, panas, dan lapisan
es di sekelilingnya menetes-netes. Sementara itu, lubang di
bawahnya terbuka dan berisi air yang mendidih.
Rachel terpesona.
Bergantungan di kabel-kabelnya dengan lapisan es yang
masih menetes-netes, permukaan meteorit yang kasar itu berkilau
tertimpa cahaya lampu yang benderang. Batu itu hangus dan
tidak rata dengan penampilan seperti buah prune yang besar
sekali. Di salah satu sisinya, batu itu halus dan membulat.
Bagian ini tampaknya meledak karena gesekan ketika meteorit
itu menembus lapisan atmosfir.
Ketika melihat permukaan kulit batu yang hangus itu,
Rachel dapat membayangkan bagaimana meteor itu meluncur
deras ke arah bumi dalam bentuk bola api yang mengerikan.
Luar biasa. Itu terjadi beberapa abad yang lalu. Sekarang, binatang
itu sudah tertangkap dan tergantung di atas kabel, sementara
cairan menetes-netes dari tubuhnya.
Perburuan sudah selesai.
Drama dari semua kejadian itu baru betul-betul menghantam
Rachel saat ini, ketika batu itu sudah terangkat keluar.
Benda yang tergantung di depannya itu berasal dari dunia lain,
jutaan mil jauhnya. Dan ada fakta yang terperangkap di dalam
batu itu—bukan fakta, tetapi bukti— dan menunjukkan bahwa
manusia tidak sendirian di alam semesta ini.
Kegembiraan saat itu tampak memengaruhi semua orang
pada waktu yang bersamaan, dan kerumunan itu tiba-tiba bersorak
sorai dan bertepuk tangan. Bahkan sang administrator
pun tampak terbawa juga. Dia menepuk punggung anak buahnya.
Melihat hal itu, Rachel tiba-tiba merasa gembira atas
keberhasilan NASA ini. Mereka memang tidak begitu beruntung
di masa lalu. Akhirnya berbagai hal mulai berubah. Mereka
berhak mendapatkan kegembiraan ini.
Lubang menganga di permukaan es itu tampak seperti
sebuah kolam renang kecil di tengah-tengah habisphere. Permukaan
kolam yang dalamnya dua ratus kaki dan berupa es
yang meleleh itu bergolak sebentar dan akhirnya menjadi tenang.
Permukaan air di lubang itu berjarak empat kaki di bawah
permukaan es. Perbedaan tersebut terjadi karena perpindahan
massa meteorit dan pengerutan es ketika mencair.
Norah Mangor segera mengatur kerucut-kerucut SHABA
di sekitar lubang itu. Walau lubang besar itu jelas terlihat, siapa
pun yang datang terlalu dekat dan tidak sengaja terpeleset akan
celaka. Dinding terowongan itu adalah es yang padat dan tidak
memiliki pijakan sehingga tidak mungkin keluar dari lubang
itu tanpa bantuan orang lain.
Lawrence Ekstrom datang bergabung ke arah mereka. Dia
langsung menuju Norah Mangor dan menjabat tangannya dengan
erat. "Bagus sekali, Dr. Mangor."
"Aku mengharapkan banyak pujian di media massa," sahut
Norah.
"Kau akan mendapatkannya." Sang administrator sekarang
berpaling pada Rachel. Dia tampak lebih bahagia karena merasa
lega. "Nah, Ms. Sexton, apakah skeptisme profesionalmu itu
sudah teryakinkan sekarang?"
Rachel tidak dapat menahan senyumannya. "Tercengang,
itulah perasaan yang lebih tepat."
"Bagus. Jika begitu, ikut aku."
RACHEL MENGIKUTI sang administrator melintasi habisphere
untuk menuju ke kotak metal besar yang serupa dengan sebuah
kontainer pengiriman yang biasa digunakan, dunia industri.
Kotak itu dicat dengan gaya kamuflase militer dan dicap dengan
huruf-huruf: P-S-C.
"Kau akan menelepon Presiden dari sini," kata Ekstrom.
Portable Secure Comm, pikir Rachel. Alat komunikasi portabel
itu merupakan perlengkapan standar dalam perang, walau
Rachel tidak mengira akan menggunakannya pada misi NASA
di masa damai. Tetapi kalau diingat-ingat, latar belakang Administrator
Ekstrom adalah Pentagon, sehingga dia tentu saja
mempunyai kemudahan untuk memiliki mainan seperti ini. Dari
wajah dua orang penjaga bersenjata di depan PSC, Rachel
memperoleh kesan bahwa hubungan dengan dunia luar hanya
boleh dilakukan atas izin dari Administrator Ekstrom saja.
Tampaknya aku bukan satu-satunya orang yang terputus hubungan
dengan dunia luar.
Ekstrom berbicara singkat dengan penjaga-penjaga di luar
kontainer itu, lalu berpaling pada Rachel. "Semoga berhasil,"
katanya. Kemudian dia pergi.
Salah satu dari penjaga mengetuk pintunya, dan seseorang
membukanya dari dalam. Seorang teknisi muncul dan memberi
tanda kepada Rachel untuk masuk. Rachel kemudian mengikutinya.
Bagian dalam PSC itu gelap dan sempit. Dari cahaya kebiruan
sebuah monitor komputer, Rachel dapat melihat peralatan
telepon, radio, dan alat-alat telekomunikasi satelit. Dia mulai
merasakan claustrophobia. Udara di dalam kotak itu dingin,
seperti ruang bawah tanah di musim salju.
"Silakan duduk di sini, Ms. Sexton." Teknisi itu mengeluarkan
sebuah kursi beroda dan menempatkan Rachel di depan
sebuah monitor berlayar datar. Lelaki itu kemudian mengatur
sebuah mikrofon di depan Rachel dan menempatkan sepasang
headphone AKG yang menggembung di kepala tamunya itu.
Teknisi itu lalu memeriksa sebuah buku catatan yang berisi
kata kunci pembuka kode, kemudian mengetikkan serangkaian
panjang kata kunci di peralatan di dekatnya. Selanjutnya Rachel
melihat penunjuk waktu yang muncul di layar di hadapannya.
00:60 DETIK
Teknisi itu mengangguk puas ketika penunjuk waktu itu
mulai menghitung mundur. "Enam puluh detik kemudian akan
terhubung." Lalu dia berputar dan pergi sambil membanting
pintu di belakangnya. Setelah itu Rachel mendengar suara gerendel
dikunci dari luar.
Hebat
Ketika dia menunggu dalam kegelapan sambil melihat angka
enam puluh detik tersebut perlahan menghitung mundur, dia
sadar bahwa ini adalah saat privasinya yang pertama sejak pagi
hari ini. Dia terjaga pagi ini tanpa prasangka sedikit pun pada
apa yang sekarang terjadi di hadapannya. Kehidupan luar angkasa.
Mulai hari ini, mitos modern yang paling populer itu tidak
lagi menjadi mitos.
Rachel mulai merasakan betapa meteorit .ini akan betulbetul
mengacaukan kampanye ayahnya. Walaupun soal pendanaan
NASA secara politis sebenarnya tidak sebanding dengan
isu-isu lain, seperti hak untuk menggugurkan kandungan, kesejahteraan,
dan pemeliharaan kesehatan, tetapi ayahnya telah
membuat NASA menjadi isu. Sekarang isu tersebut akan meledak
tepat di depan wajah ayahnya.
Dalam beberapa jam ke depan, rakyat Amerika sekali lagi
akan merasakan getaran luapan kegembiraan dari sebuah kemenangan
NASA. Akan ada para pemimpi dengan mata berkacakaca.
Para ilmuwan akan ternganga. Imajinasi anak-anak akan
berlarian bebas. Isu tentang dolar dan sen akan memudar menjadi
seperti hal yang sepele jika dibandingkan dengan saat yang
luar biasa ini. Presiden akan tampil seperti seekor phoenix dan
mengubah dirinya sebagai seorang pahlawan, sementara di tengahtengah
perayaan itu seorang senator yang berpenampilan seperti
seorang usahawan tiba-tiba akan tampak sebagai orang yang
berpikiran sempit, orang yang sangat pelit tanpa memiliki semangat
petualang Amerika.
Komputer itu berbunyi, dan Rachel menatapnya.
00:05 DETIK.
Tiba-tiba layar monitor di depannya berkedip-kedip, dan
lambang Gedung Putih yang tidak terlalu jelas, muncul pada
layar. Setelah sesaat, gambar itu menghilang dan berubah menjadi
wajah Presiden Herney.
"Halo, Rachel," sapanya, matanya bersinar nakal. "Aku yakin
kau telah menikmati sore yang menyenangkan, bukan?"[]
29
KANTOR SENATOR Sedgewick Sexton terletak di Philip A.
Hart Senate Office Building di C Street di sebelah timur laut
Capitol. Gedung itu bergaya neo-modern berbentuk segi empat
berwarna putih yang menurut para kritikus lebih mirip penjara
daripada gedung kantor. Banyak orang yang bekerja di gedung
itu juga merasakan hal yang sama.
Di lantai tiga, kaki Gabrielle Ashe yang ramping berjalan
mondar-mandir di depan komputernya. Di layar terdapat sebuah
email baru. Dia tidak yakin apa yang harus dilakukannya dengan
pesan tersebut.
Dua baris pertama email itu berbunyi:
SEDGEWICK SANGAT MENGESANKAN DI CNN.
AKU PUNYA INFORMASI LAGI UNTUKMU.
Gabrielle sudah menerima pesan-pesan seperti ini dalam
beberapa minggu terakhir. Alamatnya palsu, walaupun dia dapat
melacak bahwa alamat tersebut masih berada dalam domain
"whitehouse.gov." Tampaknya informan misteriusnya itu adalah
orang dalam Gedung Putih, dan siapa pun orang itu, dia sudah
menjadi sumber dari semua informasi politik terbaru, termasuk
informasi tentang pertemuan tertutup antara Administrator NASA
dengan Presiden.
Awalnya, Gabrielle mencurigai email-email itu, namun ketika
dia memeriksa petuniuk-petunjuk yang diberikan, dia kagum
karena informasi itu selalu akurat dan berguna. Informasi yang
diterimanya berupa informasi rahasia tentang pendanaan NASA
yang berlebihan, misi berikutnya yang memakan banyak biaya,
data yang memperlihatkan bahwa penelitian NASA mengenai
kehidupan di luar angkasa menyedot terlalu banyak dana dan
tidak menghasilkan apa-apa, dan bahkan tentang jajak pendapat
internal yang memeringatkan bahwa NASA adalah isu yang
dapat menjauhkan para pemilih dari Presiden.
Untuk meningkatkan gengsinya di depan sang senator, Gabrielle
tidak memberi tahu kalau dia menerima bantuan lewat
email yang tiba-tiba menghampirinya tanpa diminta dari orang
dalam Gedung Putih sendiri. Dia hanya menyampaikan informasi
tersebut dengan mengatakan bahwa data itu berasal dari "salah
satu sumbernya." Sexton selalu menghargainya dan sepertinya
dia tahu sebaiknya dia tidak bertanya siapa sumber Gabrielle
itu. Gabrielle tahu, Sexton mengira dirinya menukar informasi
itu dengan pelayanan seks. Anehnya, Sexton sama sekali tidak
tampak keberatan dengan hal itu.
Gabrielle berhenti berjalan hilir mudik dan melihat lagi
email yang baru diterimanya itu. Tujuan dari semua email itu
jelas. Seseorang di dalam Gedung Putih ingin Senator Sexton
memenangkan pemilihan dan membantunya dengan cara menolongnya
menyerang NASA.
Tetapi siapa? Dan kenapa?
Seekor tikus besar dari sebuah kapal yang akan tenggelam, demikian
akhirnya Gabrielle mengambil kesimpulan. Di Washington,
sama sekali tidak aneh bagi seorang pegawai Gedung Putih
untuk merasa khawatir presidennya sebentar lagi akan diusir
dari kantornya, sehingga dia menawarkan pertolongan secara
diam-diam pada calon penggantinya dengan harapan kedudukannya
atau kekuasaannya akan tetap terselamatkan setelah pergantian
itu. Tampaknya ada seseorang yang telah mencium
kemenangan Sexton sehingga dia mengambil langkah lebih awal.
Tetapi pesan yang sekarang terpampang di layar komputernya
sekarang membuat Gabrielle panik. Email yang satu ini
berbeda dengan email-email yang pernah dia terima sebelumnya.
Dua baris pertama dari email itu tidak terlalu dipikirkannya,
tetapi dua baris terakhirnya yang membuatnya gelisah. Pesan
selanjutnya berbunyi:
EAST APPOINTMENT GATE, 4:30 SORE
DATANG SENDIRI
Informannya selama ini belum pernah meminta untuk bertemu
secara pribadi dengannya. Dan kalaupun informan itu
memintanya, Gabrielle mengharapkan di tempat yang tidak
semencolok itu. East Appointment Gate? Sejauh yang diketahui-
nya, hanya ada satu East Appointment Gate di Washington. Di
luar Gedung Putih? Apakah ini semacam lelucon?
Gabrielle tahu dia tidak bisa membalas pesan itu melalui email
juga. Pesan yang dia kirimkan ke alamat email si pengirim selalu
kembali sebagai surat yang tidak dapat terkirim. Alamat email
si pengirim yang sesungguhnya tersembunyi. Tidak mengherankan.
Haruskah aku menanyakan hal ini terlebih dahulu kepada
Sexton? Dengan cepat dia memutuskan untuk tidak melakukannya.
Sexton sedang mengadakan rapat. Lagi pula, jika dia mengatakan
kepada Sexton tentang email ini, berarti dia juga harus
menceritakan email-email yang lainnya. Dia lalu memutuskan
bahwa tawaran informannya untuk bertemu di tempat umum
dan di sore hari pastilah untuk membuat Gabrielle merasa aman.
Lagi pula, orang ini tidak melakukan apa-apa. Dia hanya menolong
Gabrielle selama dua minggu terakhir ini. Orang ini
jelas teman.
Gabrielle membaca email itu sekali lagi untuk terakhir
kalinya, lalu melihat jam. Dia masih punya waktu satu jam.[]
IZRO'IL
Deception Point (Titik Muslihat)


30
ADMINISTRATOR NASA merasa ketegangannya berkurang
sekarang setelah meteorit itu berhasil dikeluarkan dari dalam
timbunan es. Segalanya berjalan sesuai rencana, katanya pada
diri sendiri ketika berjalan menyeberangi kubah menuju ke area
kerja Michael Tolland. Tidak ada yang dapat menghentikan kami
sekarang.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Ekstrom sambil berjalan mendekat
di belakang ilmuwan yang juga bintang televisi itu.
Tolland mengalihkan tatapannya dari komputer. Dia tampak
letih namun tetap bersemangat. "Proses penyuntingan hampir
selesai. Aku hanya melakukan overlaying pada sebagian rekaman
saat penarikan yang dikerjakan orang-orangmu. Ini akan selesai
sebentar lagi."
"Bagus." Presiden sudah meminta Ekstrom untuk mengirimkan
film dokumentasi yang dibuat Tolland ke Gedung Putih
secepat mungkin.
Walau Ekstrom agak sinis terhadap keinginan Presiden untuk
menggunakan Michael Tolland dalam proyek ini, tetapi setelah
melihat potongan-potongan kasar dari film dokumentasi Tolland,
dia berubah pikiran. Narasi penuh semangat dari bintang televisi
ini, dikombinasikan dengan wawancaranya dengan ilmuwanilmuwan
sipil, terpadu dengan cerdas menjadi sebuah acara
ilmiah lima belas menit yang menegangkan dan mengasyikkan.
Dengan mudah Tolland mencapai apa yang selama ini gagal
dilakukan NASA: menjelaskan penemuan ilmiah dengan jelas
sesuai dengan tingkat kecerdasan rata-rata orang Amerika tanpa
kesan menggurui.
"Ketika kau selesai menyunting," kata Ekstrom, "bawa film
jadi itu ke bagian pers. Aku akan menyuruh seseorang untuk
meng-upload salinan digitalnya ke Gedung Putih."
"Baik, Pak," sahut Tolland. Dia lalu kembali bekerja.
Ekstrom melanjutkan perjalanannya. Ketika dia tiba di dinding
utara, dia merasa senang ketika melihat "area pers" di
habisphere itu telah tertata dengan baik. Selembar karpet biru
besar dibentangkan di atas permukaan es. Di tengah-tengah
permadani itu diletakkan sebuah meja simposium dengan beberapa
mikrofon, sebuah bendera NASA, dan bendera besar Amerika
sebagai latar belakangnya. Untuk melengkapi drama visual tersebut,
meteorit itu telah dipindahkan dengan sebuah kereta
luncur ke posisi kehormatannya, tepat di depan meja simposium.
Ekstrom merasa senang ketika melihat orang-orang di sekitar
area pers. Mereka tampak seperti sedang merayakan sesuatu.
Beberapa orang stafnya sekarang sedang mengerumuni meteorit
itu dan mengulurkan tangan mereka di sekeliling batu yang
masih panas itu seperti orang-orang yang sedang berkemah di
sekitar api unggun.
Ekstrom memutuskan inilah saat yang tepat untuk merayakannya.
Dia berjalan ke arah beberapa kardus yang terletak di
atas permukaan es di belakang area pers. Dia memesan karduskardus
itu dan menerbangkannya dari Greenland pagi tadi.
"Minuman ini aku yang traktir!" dia berseru sambil menyodorkan
kaleng-kaleng bir pada staf-stafnya yang sedang bergembira.
"Hey, Bos!" seseorang berseru. "Terima kasih! Masih dingin,
lho.
Ekstrom tersenyum. Itu hal yang jarang terjadi. "Selama ini
aku menyimpannya di dalam es."
Semua orang tertawa.
"Tunggu sebentar!" seorang lainnya berteriak, berpura-pura
marah. "Ini buatan Kanada! Mana semangat patriotismu?"
"Anggaran kita di sini terbatas, Kawan-kawan. Ini yang
termurah yang dapat kutemukan."
Mereka tertawa lagi.
"Perhatian, teman-teman" salah satu petugas televisi NASA
berseru melalui sebuah megafon. "Kami akan mengganti penerangan
dengan lampu media. Akan gelap sebentar."
"Dan jangan berciuman dalam gelap," seseorang berteriak.
"Ini acara keluarga!"
Ekstrom terkekeh sambil menikmati canda tawa anak buahnya
ketika mereka melakukan pengaturan terakhir pada lampulampu
sorot dan pencahayaan khusus.
"Pergantian ke lampu media dalam lima, empat, tiga, dua ...."
Bagian dalam kubah itu gelap gulita dengan cepat ketika
lampu-lampu halogen dipadamkan. Dalam beberapa detik, semua
lampu itu padam. Kegelapan yang pekat pun menyelimuti orangorang
di dalam sana.
"Siapa mencubit bokongku?" seseorang berseru dan kemudian
tertawa.
Kegelapan itu hanya berlangsung sesaat. Setelah itu menjadi
sangat benderang karena lampu-lampu sorot media dinyalakan.
Semua orang menyipitkan matanya. Pergantian itu sekarang
sudah sempurna. Seperempat habisphere NASA di bagian utara
telah menjadi studio televisi. Dan sisa daerah kubah itu sekarang
tampak seperti lumbung yang terbuka pada malam hari. Satusatunya
cahaya di daerah itu hanyalah dari pantulan lampu-lampu
media dari langit-langit yang melengkung dan menampakkan
bayangan-bayangan panjang di area kerja yang sekarang kosong.
Ekstrom mundur ke balik kegelapan dan merasa senang
ketika melihat timnya minum-minum di sekitar meteorit yang
bercahaya itu. Dia merasa seperti seorang ayah pada hari Natal
yang sedang menatap anak-anaknya bersenang-senang di sekitar
pohon terang.
Tuhan tahu, mereka berhak mendapatkan kegembiraan itu,
pikir Ekstrom tanpa pernah menduga malapetaka apa yang
sedang menunggu di depan mereka. []
31
CUACA BERUBAH.
Seperti pertanda yang menyedihkan akan terjadinya konflik,
angin katabatic mengeluarkan suara melolong dan bertiup keras
di tempat perlindungan Delta Force. Delta-One selesai mempersiapkan
pelindung badai dan kembali ke dalam untuk menemui
kedua orang rekannya. Mereka pernah mengalami badai seperti
ini. Badai ini akan segera berakhir.
32
Delta-Two sedang menatap tayangan langsung dari video
yang dipancarkan microbot. "Kau sebaiknya melihat ini," katanya.
Delta-One mendekat. Bagian dalam habisphere betul-betul
gelap, kecuali bagian utara kubah di dekat panggung yang
bersinar terang. Bagian lain habisphere tampak remang-remang.
"Itu bukan apa-apa," kata Delta-One. "Mereka hanya sedang
mencoba pencahayaan televisi untuk acara malam ini."
"Bukan pencahayaan yang jadi masalahnya." Lalu Delta-
Two menunjuk bagian yang gelap di tengah-tengah es: lubang
yang berisi air tempat meteorit itu dikeluarkan tadi. "Itu yang
jadi masalahnya."
Delta-One menatap lubang itu. Lubang itu masih dikelilingi
kerucut-kerucut jingga, dan permukaan air itu tampak tenang.
"Aku tidak melihat apa-apa."
"Lihat lagi." Delta-Two menggerakkan joystick-nya. dan membuat
microbot turun ke arah permukaan lubang itu.
Ketika Delta-One mengamati kolam gelap yang berisi air
dari es yang mencair itu dengan lebih saksama, dia melihat
sesuatu yang membuatnya terhenyak. "Apa itu ...?"
Delta-Three mendekat dan melihat. Dia juga jadi terpaku.
"Tuhanku. Apakah itu sumur tempat penarikan tadi? Apakah
airnya memang harus seperti itu?"
"Tidak," sahut Delta-One. "Aku yakin sekali, tidak seperti
itu."[]
WALAU RACHEL Sexton sekarang sedang duduk di dalam
sebuah kotak metal besar dan berada ribuan mil dari Washington,
D.C., dia masih merasakan perasaan tertekan yang sama seolah
dia diundang ke Gedung Putih. Monitor videophone di hadapannya
menayangkan gambar Presiden Zach Herney dengan jernih
sekali. Sang presiden sedang duduk di ruang komunikasi Gedung
Putih di depan lambang kepresidenan. Sambungan audio digital
ini sempurna. Dengan jeda yang nyaris tidak terasa, Rachel
merasa dia sedang berbicara dengan Presiden di ruangan sebelah.
Percakapan mereka cepat dan tidak bertele-tele. Presiden tampak
senang, walau sama sekali tidak merasa heran, ketika Rachel
memberikan penilaian yang baik tentang penemuan NASA dan
memuji pilihan Presiden yang menunjuk Michael Tolland sebagai
juru bicara yang memesona. Suasana hati Presiden saat itu
menjadi senang dan dia sering melontarkan komentar lucu.
"Aku yakin kau akan setuju," kata Herney, suaranya terdengar
lebih bersungguh-sungguh sekarang, "bahwa di dunia
yang sempurna, dampak dari penemuan ini adalah murni ilmiah."
Dia berhenti sejenak, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan,
sehingga wajahnya memenuhi layar. "Sayangnya, kita tidak hidup
di dunia yang sempurna, dan kemenangan NASA ini akan
menjadi pertarungan politik begitu aku mengumumkannya."
"Dengan mempertimbangkan bukti yang meyakinkan dan
orang-orang yang telah Anda pilih untuk mengesahkannya, saya
tidak dapat membayangkan bagaimana masyarakat atau pihak
oposisi dapat bereaksi selain menerima penemuan ini sebagai
fakta yang sahih."
Herney tertawa sedih. "Lawan politikku mungkin akan
percaya pada apa yang mereka lihat, Rachel. Yang menjadi
keprihatinanku adalah, mereka tidak akan menyukai apa yang
mereka lihat."
Rachel merasakan betapa Presiden berhati-hati untuk tidak
menyebut nama ayahnya. Presiden hanya menggunakan katakata
"pihak oposisi" atau "lawan politik" dalam pembicaraannya.
"Dan Anda pikir pihak oposisi akan menuduh Anda melakukan
konspirasi demi mendapatkan keuntungan politis?" tanya Rachel.
"Itu sifat permainan ini. Yang akan mereka lakukan hanyalah
menimbulkan keraguan, mengatakan bahwa penemuan ini adalah
semacam kebohongan politis yang diciptakan NASA dan Gedung
Putih. Dan tiba-tiba aku akan menghadapi penyelidikan. Korankoran
akan lupa bahwa NASA telah menemukan bukti kehidupan
di luar angkasa, dan media mulai memusatkan perhatian
mereka pada usaha menemukan bukti-bukti konspirasi. Sedihnya,
setiap pernyataan tidak langsung tentang konspirasi yang berhubungan
dengan penemuan ini akan berakibat buruk bagi
ilmu pengetahuan, Gedung Putih, NASA, dan juga bagi negara."
"Karena itulah Anda menunda pengumuman itu hingga
Anda mendapatkan konfirmasi penuh dan dukungan dari beberapa
ilrrfuwan sipil terkemuka?"
"Tujuanku adalah mengajukan data ini dengan cara yang
sangat tidak mungkin diperdebatkan sehingga semua kesinisan
akan terbungkam. Aku ingin penemuan ini dirayakan dengan
kehormatan yang selayaknya. NASA berhak atas itu semua."
Intuisi Rachel tergelitik sekarang. Apa yang diinginkannya
dariku?
Presiden melanjutkan, "Jelas kau berada dalam posisi yang
tepat untuk menolongku. Pengalamanmu sebagai seorang analis
dan juga keterikatanmu dengan oposisiku akan memberimu
kredibilitas yang besar berkaitan dengan penemuan ini."
Rachel merasa semakin bingung. Dia ingin menggunakanku
... tepat seperti yang dikatakan Pickering!
"Maksudku," kata Herney melanjutkan, "aku memintamu
untuk mendukung penemuan itu secara pribadi sebagai seorang
penghubung Gedung Putih ... dan sebagai putri lawan politikku."
Jelas sudah. Kartu itu sudah terbuka di atas meja.
Herney ingin aku mendukung penemuan itu.
Sebelum ini, Rachel mengira Herney adalah politisi yang
tidak mungkin melakukan politik tercela semacam ini. Sebuah
dukungan terbuka dari Rachel akan membuat meteorit ter-
sebut menjadi isu pribadi bagi ayahnya dan membuat sang
senator tidak dapat menyerang kredibilitas penemuan tersebut
tanpa harus menyerang kredibilitas putrinya sendiri—sebuah
hukuman mati bagi seorang calon presiden yang "mengutamakan
keluarga."
"Sejujurnya, Pak," kata Rachel sambil menatap monitor di
hadapannya, "saya tercengang Anda meminta saya untuk melakukan
itu."
Presiden tampak terkejut. "Kukira kau akan sangat senang
membantu."
"Sangat senang? Pak, terlepas dari perbedaan saya dengan
ayah saya, permintaan ini menempatkan saya pada posisi yang
sulit. Saya sudah cukup punya masalah dengan ayah saya tanpa
harus duel dengannya di depan umum. Walau terus terang saya
tidak menyukainya, tetapi dia adalah ayah saya, dan mengadu
saya dengannya di depan forum publik, jujur saja, akan tampak
seperti hal yang terlalu rendah untuk dilakukan oleh orang
seperti Anda."
"Tunggu dulu!" Herney mengangkat tangannya seperti gerakan
menyerah. "Siapa yang mengatakan tentang forum publik?"
Rachel terhenti sejenak. "Saya mengira Anda ingin saya
bergabung bersama Administrator NASA di atas panggung dalam
acara konferensi pers pukul delapan nanti."
Tawa terbahak-bahak Herney meledak di depan pengeras
suara. "Rachel, orang seperti apa kaupikir aku ini? Kau benarbenar
mengira aku akan meminta seseorang untuk menusuk
punggung ayahnya di televisi nasional?"
"Tetapi Anda tadi bilang—"
"Dan kaupikir aku akan meminta Administrator NASA
duduk bersamamu, putri musuh bebuyutannya, di depan televisi?
Tanpa bermaksud merendahkanmu, Rachel, konferensi pers ini
adalah presentasi ilmiah. Aku tidak yakin pengetahuanmu tentang
meteorit, fosil, atau struktur es akan membuat acara itu
menjadi lebih dipercaya."
Rachel merasa malu. "Kalau begitu ... dukungan apa yang
Anda maksudkan?"
"Dukungan yang lebih tepat untuk posisimu."
"Maaf, Pak?"
"Kau adalah intelijen penghubungku di Gedung Putih. Kau
akan memberikan pengarahan singkat pada stafku mengenai isu
kepentingan nasional."
"Anda ingin saya mendukung ini di hadapan rfa/"Anda?"
Herney masih merasa geli dengan kesalahpahaman tadi. "Ya,
benar. Keraguan yang akan kuhadapi di luar Gedung Putih
bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan keraguan yang
sedang kuhadapi dari para stafku sekarang. Aku sedang berada
di tengah-tengah pemberontakan di sini. Kredibilitasku di dalam
gedung ini sedang dipertanyakan. Stafku memohon padaku
untuk memotong pendanaan NASA. Aku mengabaikan mereka,
dan ini merupakan bunuh diri politik."
"Hingga sekarang."
"Tepat. Seperti yang telah kita diskusikan tadi pagi, waktu
terjadinya penemuan ini akan tampak mencurigakan bagi para
politisi yang sinis, dan untuk saat ini tidak ada yang lebih sinis
daripada stafku sendiri. Karena itu, ketika mereka mendengar
informasi ini untuk pertama kalinya, aku ingin itu berasal dari—"
"Anda belum mengatakan tentang meteorit itu kepada para
staf kepresidenan?"
"Hanya kepada para penasihat tinggi saja. Merahasiakan
penemuan ini merupakan prioritas tertinggi."
Rachel terpaku. Tidak heran jika dia sekarang menghadapi
pemberontakan. "Tetapi ini bukan keahlian saya. Sebongkah
meteorit sulit untuk dianggap sebagai ringkasan yang berkaitan
dengan dunia intelijen."
"Tidak dalam artian tradisional, tetapi jelas ini memiliki
semua elemen dari pekerjaan sehari-harimu—data rumit yang
harus disaring, dampak politis yang penting—"
167
"Saya bukan ahli meteorit, Pak. Bukankah seharusnya staf
Anda mendapatkan pengarahan dari Administrator NASA?"
"Kau bercanda? Semua orang di sini membencinya. Menurut
stafku, Ekstrom adalah pedagang licik yang membujukku agar
menyetujui satu transaksi buruk ke transaksi buruk lainnya."
Rachel mengerti maksudnya. "Bagaimana dengan Corky
Marlinson? Pemenang National Medal dalam bidang Astrofisika?
Dia lebih memiliki kredibilitas dibandingkan saya."
"Stafku terdiri atas para politisi, Rachel, bukan ilmuwan.
Kau pasti sudah bertemu dengan Dr. Marlinson. Aku pikir dia
bagus, tetapi jika aku membiarkan seorang ahli astrofisika berceramah
di hadapan stafku yang skeptis, yang terjadi adalah
malapetaka. Aku membutuhkan seseorang yang dapat mereka
terima. Kaulah orangnya, Rachel. Stafku tahu pekerjaanmu, dan
mengingat nama keluargamu, kau akan dianggap sebagai juru
bicara yang tidak bias."
Rachel merasa dirinya sedang terseret oleh gaya Presiden
yang ramah. "Setidaknya Anda mengakui, kondisi saya sebagai
putri lawan Anda ada kaitannya dengan permintaan Anda ini."
Presiden tertawa malu. "Tentu saja. Tetapi, seperti yang
dapat kaubayangkan, bagaimanapun juga stafku harus mendapat
pengarahan, tidak peduli apa keputusanmu nanti. Kau bukanlah
kuenya, Rachel. Kau hanya hiasan kue itu. Kau adalah orang
yang paling tepat untuk memberikan pengarahan ini dan kebetulan
kau masih memiliki hubungan darah dengan seseorang
yang ingin menendang stafku keluar dari Gedung Putih pada
pemerintahannya nanti. Kau memiliki kredibilitas yang lebih
tinggi dalam hal ini."
"Anda seharusnya bekerja di bidang penjualan."
"Aku memang bekerja di bidang itu. Sama seperti ayahmu.
Dan sejujurnya, aku ingin menyelesaikannya sekarang." Presiden
melepaskannya kacamatanya dan menatap ke mata Rachel. Rachel
dapat merasakan kekuatan ayahnya di dalam diri Presiden. "Aku
sedang meminta bantuanmu, Rachel, dan juga karena aku per-
caya ini adalah bagian dari pekerjaanmu. Jadi, bagaimana? Ya
atau tidak? Maukah kau memberikan pengarahan singkat pada
para stafku tentang hal ini?"
Rachel merasa terjebak di dalam kotak metal PSC yang
kecil itu. Benar-benar permintaan yang sulit untuk ditolak. Walau
dari jarak tiga ribu mil, Rachel dapat merasakan kekuatan tekad
Presiden yang menekannya melalui layar video. Dia juga tahu
ini betul-betul merupakan permintaan yang masuk akal, tidak
penting apakah dia menyukainya atau tidak.
"Saya punya persyaratan," kata Rachel.
Herney mengangkat alisnya. "Apa itu?"
"Saya akan bertemu dengan staf Anda secara pribadi dan
tertutup. Tidak ada wartawan. Ini pengarahan singkat yang
tertutup, bukan merupakan dukungan publik."
"Aku berjanji. Pertemuanmu sudah disiapkan di tempat yang
sangat tertutup."
Rachel mendesah. "Baiklah kalau begitu."
Presiden berseri-seri. "Bagus sekali."
Rachel melihat jam tangannya dan kaget ketika melihat
waktu sudah menunjukkan pukul empat lebih sedikit. "Tunggu
sebentar," katanya bingung, "jika Anda ingin siaran konferensi
pers berlangsung pada pukul delapan malam, kita tidak punya
waktu. Sekalipun Anda mengirimkan pesawat yang tidak menyenangkan
yang tadi mengantar saya ke sini, saya hanya dapat
kembali ke Gedung Putih paling cepat dalam dua jam. Saya
harus mempersiapkan pidato saya dan—"
Presiden menggelengkan kepalanya. "Rupanya aku tidak
menjelaskan padamu dengan baik. Kau akan memberikan pengarahan
singkat itu dari tempatmu sekarang berada melalui konferensi
video."
"Oh," Rachel ragu-ragu. "Pada pukul berapa menurut rencana
Anda?"
"Sebenarnya," sahut Herney sambil tersenyum. "Bagaimana
kalau sekarang? Semua orang sudah berkumpul, dan sekarang
mereka sedang menatap sebuah layar televisi berukuran besar
yang kosong. Mereka menunggumu."
Tubuh Rachel terasa kaku. "Pak, saya betul-betul tidak siap.
Saya tidak mungkin bisa—"
"Katakan saja yang sebenarnya. Tidak terlalu sulit, bukan?"
"Tetapi—"
"Rachel," kata Presiden sambil mendekatkan wajahnya ke
arah layar. "Ingat, pekerjaanmu adalah menyusun dan mengirimkan
data. Itu juga yang harus kaukerjakan sekarang. Katakan
saja apa yang sedang terjadi di sana." Presiden kemudian mengulurkan
tangannya untuk menekan tombol pada peralatan transmisi
videonya, tapi urung dilakukannya. "Dan kupikir kau akan
merasa senang karena aku akan menempatkahmu pada posisi
penguasa."
Rachel tidak mengerti maksud Presiden, tetapi sudah terlambat
untuk bertanya. Presiden telah menekan tombol dan
mematikan sambungan videophone.
Layar monitor di depan Rachel menjadi kosong sesaat.
Ketika muncul gambar lagi, Rachel melihat gambar yang paling
menakutkan. Tepat di depannya adalah Ruang Oval di Gedung
Putih. Ruangan itu sekarang penuh sesak. Sebagian besar staf
harus berdiri karena semua tempat duduk sudah terisi. Seluruh
staf Gedung Putih tampaknya hadir di sana. Dan semua orang
sedang menatapnya. Rachel sekarang sadar bahwa sudut pandang
yang dia lihat adalah dari meja kerja Presiden.
Berbicara dari posisi penguasa. Rachel mulai berkeringat.
Dari kesan yang tertangkap dari wajah para staf Gedung
Putih itu, Rachel melihat bahwa mereka heran ketika melihat
Rachel di sana, sama seperti Rachel heran ketika melihat mereka.
"Ms. Sexton?" suara serak seseorang memanggilnya.
Rachel mencari suara itu di tengah lautan wajah dan kemudian
menemukan siapa pemilik suara itu. Dia adalah perempuan
kurus yang baru saja mengambil tempat duduk di barisan ter-
depan. Marjorie Tench. Penampilannya yang unik dapat dikenali
dengan jelas, walau dalam kerumunan orang sekalipun.
"Terima kasih karena mau bergabung bersama kami, Ms.
Sexton," ujar Marjorie. Suaranya terdengar angkuh. "Presiden
berkata Anda punya berita untuk kami?"[]
33
SAMBIL MENIKMATI kegelapan, ahli paleontologi Wailee
Ming duduk sendirian dengan tenang di area kerja pribadinya.
Perasaannya menjadi sangat bersemangat ketika menanti-nanti
peristiwa besar malam ini. Aku akan segera menjadi ahli paleontologi
yang paling ternama di dunia. Dia berharap Michael
Tolland berbaik hati padanya dengan menampilkan komentarnya
dalam film dokumenter.
Ketika Ming menikmati kemasyhurannya yang akan segera
terwujud itu, sebuah getaran lemah bergetar dari es di bawahnya
sehingga membuatnya terlonjak. Naluri gempa bumi yang dimilikinya
sejak dia tinggal di Los Angeles membuatnya sangat
peka terhadap getaran bumi sekecil apa pun. Namun Ming
merasa bodoh ketika sadar bahwa getaran itu adalah sesuatu
yang normal. Itu hanyalah longsoran es, dia mengingatkan dirinya
sendiri sambil mengembuskan napas. Dia masih saja belum
terbiasa. Setiap beberapa jam, sebuah ledakan di kejauhan menggemuruh
pada malam hari ketika di suatu tempat di sepanjang
batas sungai es, sebongkah besar es terbelah dan meluncur masuk
ke laut. Norah Mangor mempunyai istilah bagus untuk menjelaskan
hal itu. Sebuah gunung es baru telah lahir ....
Ming berdiri sambil merentangkan kedua lengannya. Dia
menatap ke sekeliling habisphere. Di kejauhan, di bawah cahaya
benderang beberapa lampu sorot televisi, dia dapat melihat
sebuah perayaan sedang berlangsung. Ming tidak terlalu menyukai
pesta dan beranjak ke arah yang berlawanan, ke seberang
habisphere.
Labirin area kerja yang ditinggalkan itu sekarang tampak
seperti kota hantu, dan keseluruhan bidang di bawah kubah itu
menjadi hampir seperti kuburan. Ming merasa kedinginan, lalu
mengancingkan mantel panjangnya yang terbuat dari bulu unta.
Di depannya, dia melihat lubang penarikan—titik tempat
fosil yang paling mengagumkan dalam sejarah manusia ditarik
keluar dari tempat persembunyiannya. Kaki-tiga raksasa telah
disingkirkan sehingga kolam itu hanya dikelilingi kerucut-kerucut
seperti lubang yang ingin dihindari di sebuah tempat parkir
yang luas dari es. Ming berjalan menuju lubang penarikan
tersebut, lalu berdiri di jarak aman, dan melongok ke dalam
kolam air yang sangat dingin sedalam dua ratus kaki di bawahnya.
Sebentar lagi air itu akan kembali membeku dan menghapus
jejak keberadaan semua orang di sini.
Kolam air tersebut adalah sebuah pemandangan yang indah,
pikir Ming. Bahkan dalam kegelapan.
Terutama dalam kegelapan.
Ming menjadi ragu-ragu dengan pikirannya. Kemudian dia
tersadar.
Ada sesuatu yang salah.
Ketika Ming menatap air itu dengan lebih dekat, dia merasa
kepuasannya tadi tiba-tiba berubah menjadi kebingungan yang
berputar-putar seperti angin puyuh. Dia mengedipkan matanya,
lalu menatap lagi, kemudian dengan cepat mengalihkan tatapannya
ke seberang kubah ... lima puluh yard dari tempatnya
berdiri, ke kerumunan orang yang sedang berpesta di area pers.
Dia tahu mereka tidak dapat melihatnya dalam kegelapan dengan
jarak sejauh ini.
Aku harus memberi tahu seseorang tentang hal ini, bukan?
Ming melihat air itu lagi sambil bertanya-tanya apa yang
akan dikatakannya kepada mereka. Apakah dia hanya sedang
melihat ilusi penglihatan? Mungkinkah sejenis pantulan aneh?
Dengan tidak yakin, Ming melangkah melewati kerucutkerucut
itu dan berjongkok di tepi sumur yang dalam itu.
Jarak antara permukaan air dan permukaan es adalah empat
kaki, dan dia membungkuk untuk melihat dengan lebih jelas.
Ya, betul-betul ada sesuatu yang aneh. Sesuatu seperti ini tidak
mungkin terlewatkan, tetapi keanehan itu memang tidak terlihat
hingga semua lampu dipadamkan.
Ming berdiri. Harus ada orang yang mendengar tentang
ini. Dia beranjak dengan tergesa-gesa menuju ke area pers. Tetapi
baru beberapa langkah, tiba-tiba Ming menghentikan niatnya.
Ya, ampun! Dia lalu berputar kembali ke arah lubang itu, lalu
matanya membelalak karena tersadar. Dia baru saja mengerti.
"Tidak mungkin!" serunya keras.
Namun Ming tahu, hanya itulah satu-satunya penjelasan.
Berpikirlah dengan hati-hati, dia memeringatkan dirinya sendiri.
Pasti ada satu alasan yang lebih masuk akal. Namun semakin
keras Ming berpikir, semakin dia yakin dengan apa yang dilihatnya
itu. Tidak ada penjelasan lainnya! Ming tidak dapat percaya
bahwa NASA dan Corky Marlinson, entah bagaimana, tidak
berpikir akan melihat hal yang menakjubkan ini, tetapi dia
tidak keberatan.
Ini adalah penemuan Wailee Ming sekarang!
Dengan tubuh bergetar dengan kegembiraan, Ming berlari
ke area kerja terdekat dan menemukan sebuah gelas kimia. Apa
yang diperlukannya hanyalah sedikit sampel air. Tidak seorang
pun akan memercayai ini![]

IZRO'IL
Deception Point (Titik Muslihat)


"SEBAGAI INTELIJEN penghubung untuk Gedung Putih,"
kata Rachel sambil berusaha menjaga suaranya agar tidak gemetar
ketika berbicara pada kerumunan orang yang terlihat di layar
di hadapannya, "tugas saya termasuk di antaranya melakukan
perjalanan ke tempat-tempat penting yang memiliki nilai politis
di seluruh dunia, menganalisis situasi yang dapat berubah-ubah,
dan melaporkannya kepada Presiden dan staf Gedung Putih."
Keringat mulai terbentuk di dahinya. Rachel mengusapnya
sambil diam-diam mengutuk Presiden karena telah menyuruhnya
memberikan ceramah singkat ini tanpa peringatan sebelumnya.
"Saya belum pernah melakukan perjalanan ke tempat yang
sangat eksotis seperti ini." Dengan Rachel kaku menunjuk ke
arah trailer sempit di sekelilingnya. "Percaya atau tidak, saya
sedang berbicara kepada Anda sekalian dari Lingkar Kutub Utara
di atas lapisan es yang tebalnya lebih dari tiga ratus kaki."
Rachel merasa, kebingungan memenuhi wajah-wajah di dalam
layar di depannya. Mereka jelas tahu bahwa mereka dikumpulkan
di Ruang Oval untuk suatu hal, tetapi jelas tidak seorang pun
membayangkan kalau itu akan berhubungan dengan perkembangan
di atas Lingkar Kutub Utara.
Peluhnya mulai muncul lagi. Konsentrasi, Rachel. Ini memang
pekerjaanmu. "Saya duduk di depan Anda sekalian malam ini
dengan perasaan sangat terhormat, bangga, dan ... yang terpenting,
sangat gembira."
Rachel hanya menerima tatapan kosong dari orang-orang
dihadapannya.
Sialan, pikirnya. Lalu dengan marah dia mengusap peluhnya
lagi. Aku tidak melamar untuk menjalankan tugas seperti ini.
Rachel tahu apa yang akan dikatakan ibunya jika ibunya ada di
sini sekarang: Jika kau dalam keraguan, keluarkan saja! Pepatah
Yankee kuno itu adalah salah satu keyakinan dasar yang dipegang
ibunya: semua tantangan dapat dilalui dengan mengatakan kebenaran,
tidak peduli bagaimana akibatnya.
Sambil menarik napas panjang, Rachel duduk tegak dan
menatap langsung ke kamera. "Maaf, Kawan-kawan, kalian pasti
bertanya-tanya, bagaimana saya bisa berkeringat sebanyak ini
sementara saya berada di Lingkar Kutub Utara .... Jujur saja,
saya agak gugup."
Wajah-wajah di depannya tampak tersentak sejenak. Lalu
terdengar tawa tertahan.
"Lagi pula," Rachel melanjutkan, "bos kalian hanya memberi
waktu sepuluh detik sebelum berkata bahwa saya harus berhadapan
dengan seluruh stafnya. Peristiwa menegangkan seperti
ini bukanlah seperti yang saya harapkan untuk kunjungan pertama
saya ke Ruang Oval."
Kali ini terdengar tawa lebih banyak lagi.
"Dan," tambahnya sambil melihat ke bagian bawah layar,
"jelas saya tidak pernah membayangkan akan duduk di belakang
meja Presiden ... apa lagi di atasnya!"
Tawa lepas kini terdengar dan juga senyuman lebar tersungging
di bibir beberapa staf. Rachel merasa otot-ototnya
mulai mengendur. Katakan saja langsung kepada mereka.
"Begini keadaannya." Suara Rachel sekarang terdengar wajar.
Tenang dan jelas. "Presiden Herney menghilang dari sorotan
media seminggu terakhir ini bukan karena dia tidak tertarik
pada kampanyenya, tetapi lebih karena dia disibukkan dengan
masalah lain. Masalah yang dianggapnya jauh lebih penting."
Rachel berhenti sebentar, matanya menatap langsung ke
arah penontonnya sekarang.
"Ada penemuan ilmiah yang ditemukan di sebuah lokasi
yang disebut Milne Ice Shelf. Tempat ini berada di Arktika.
Presiden akan memberi tahu seluruh dunia tentang penemuan
itu dalam konferensi pers pukul delapan malam ini. Penemuan
tersebut ditemukan oleh sekelompok warga Amerika yang bekerja
keras, yang telah mengalami kekurangberuntungan akhir-akhir
ini dan sekarang berhak untuk mendapatkan sedikit kelonggaran.
Yang saya maksudkan adalah NASA. Kalian boleh merasa bangga
karena mengetahui bahwa Presiden kalian, dengan keyakinan
layaknya seorang peramal, telah melakukan hal yang benar
dengan berdiri di sisi NASA, baik dalam suka maupun duka.
Sekarang, tampaknya kesetiaan Presiden akan mendapatkan imbalan."
Tepat pada saat itu Rachel tahu bahwa ini adalah saat yang
sangat bersejarah. Dia merasakan tenggorokannya seperti tercekat.
Dia berjuang menyingkirkannya dan terus berbicara.
"Sebagai petugas intelijen dengan spesialisasi analisis dan
verifikasi data, saya adalah salah satu dari beberapa orang yang
dipanggil Presiden untuk memeriksa data NASA. Saya telah
memeriksanya secara pribadi dan juga bertukar pikiran dengan
beberapa ahli, baik dari kalangan pemerintahan maupun sipil,
yang kredibilitasnya tidak tercela dan reputasinya tidak terpengaruh
oleh politik. Menurut pendapat profesional saya, data
yang akan saya bawakan kepada kalian adalah asli dan tidak
bias. Dan menurut pendapat pribadi saya, Presiden, dengan
iktikad baik terhadap lembaga kepresidenan dan rakyat Amerika,
telah menunjukkan kepedulian dan pengendalian diri yang luar
biasa untuk menunda sebuah pengumuman yang, saya tahu,
akan membuatnya lebih beruntung jika diumumkan minggu
lalu."
Rachel menatap kerumunan orang di depannya yang saling
bertukar pandang dengan wajah kebingungan. Lalu mereka
semua kembali menatap Rachel. Dia tahu sekarang dia mendapatkan
perhatian penuh mereka.
"Ibu-ibu dan Bapak-bapak, kalian akan mendengarkan berita
yang aku yakini sebagai salah satu informasi yang paling menarik
yang pernah diumumkan di kantor ini."[]
PEMANDANGAN DARI atas yang sedang disiarkan microbot
yang berputar-putar di dalam habisphere untuk Delta Force
tampak seperti sebuah film yang pantas memenangkan penghargaan
dalam festival film avant-garde: pencahayaan remangremang,
lubang penarikan yang berkilauan, dan seorang Asia
berpakaian apik yang berbaring di atas es sehingga mantel dari
bulu untanya terbentang di sekitarnya seperti sepasang sayap
besar. Dia jelas sedang berusaha untuk mengambil sampel air.
"Kita harus menghentikannya," kata Delta-Three.
Delta-One setuju. Milne Ice Shelf menyimpan rahasia yang
harus dijaga timnya, dan mereka diberi kewenangan untuk
melakukan kekerasan demi menjaga rahasia itu.
"Bagaimana kita menghentikannya?" Delta-Two bertanya
sambil masih memegang joystick. llMicrobot ini tidak dipersenjatai."
Delta-One menggerutu. Microbot yang sekarang melayanglayang
di dalam habisphere itu merupakan model untuk mengintai.
Persenjataannya telah dilucuti agar dapat terbang lebih
lama. Akibatnya, microbot tersebut sama sekali tidak berbahaya
dan mirip lalat rumah saja.
"Kita harus memanggil Pengendali," Delta-Three memutuskan.
Delta-One menatap dengan saksama ke arah gambar Wailee
Ming yang sedang berbaring sendirian di pin'ggir lubang penarikan
yang berbahaya itu. Tidak ada seorang pun di dekatnya
dan air yang sedingin es itu memiliki kemampuan untuk membungkam
teriakan orang. "Berikan pengendalinya."
"Apa yang kaulakukan?" tanya tentara yang memegang joystick
itu.
35
"Apa yang sudah kita latih selama ini," bentak Delta-One
sambil mengambil alih. "Improvisasi."[]
36
WAILEE MING berbaring di atas perutnya di sisi lubang
penarikan, sementara lengan kanannya terjulur ke arah tepian
sumur dan berusaha untuk mengambil sampel air. Dia yakin
matanya jelas tidak menipunya. Wajahnya sekarang hanya berjarak
kira-kira satu yard dari air sehingga dia dapat melihat
segalanya dengan sempurna.
Ini hebat sekali!
Dia lalu menjulurkan lengannya lebih jauh lagi dan menggerakkan
gelas kimia di dalam tangannya untuk meraih permukaan
air. Yang dibutuhkan adalah mendekat beberapa inci saja.
Karena tidak dapat mengulurkan lengannya lebih jauh lagi,
Ming memosisikan tubuhnya sehingga lebih dekat lagi ke bibir
lubang itu. Dia menekankan ujung s.epatunya pada es dan
dengan keras mencengkeramkan tangan kirinya di bibir lubang
untuk menopang tubuhnya yang terjulur ke bawah. Sekali lagi,
dia mengulurkan lengan kanannya sejauh mungkin. Hampir.
Dia bergeser mendekat sedikit lagi. Ya! Bibir gelas itu menyentuh
permukaan air. Ketika air memasuki gelas kimia itu, Ming
menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
Kemudian, tiba-tiba, sesuatu yang tidak dapat dijelaskan
terjadi. Dari kegelapan, meluncur seperti sebutir peluru, sebuah
titik kecil dari logam terbang ke arahnya. Ming hanya melihatnya
kurang dari sedetik sebelum benda itu menabrak mata
kanannya.
Naluri manusia untuk melindungi matanya sudah tertanam
begitu alamiah, sehingga walaupun otak Ming memberi tahu
dirinya, sebuah gerakan tiba-tiba akan membahayakan keseimbangannya,
dia justru tersentak. Reaksi tersentak itu lebih
terpicu karena rasa terkejut, bukan karena rasa sakit. Tangan
kiri Ming, yang dalam posisi terdekat dengan wajahnya, bergerak
secara refleks untuk melindungi bola matanya yang terserang.
Saat tangannya bergerak, Ming tahu dia telah berbuat kesalahan.
Dengan seluruh berat tubuh Wailee Ming yang maju ke depan,
dan satu-satunya penopang tubuhnya tiba-tiba hilang, dia menjadi
limbung. Ming berusaha mengembalikan keseimbangannya,
namun sudah terlambat. Dia menjatuhkan gelas kimia itu dan
mencoba meraih es yang licin untuk mencari pegangan, namun
pegangannya lepas karena es itu terlalu licin. Ming terjatuh dan
masuk ke lubang gelap di bawahnya.
Jarak dari permukaan es ke permukaan air hanya empat
kaki, tapi Ming terjatuh ke dalam air yang sangat dingin dengan
posisi kepala di bawah. Dia merasakan wajahnya seperti menimpa
tepian jalan dengan kecepatan lima puluh mil per jam.
Cairan yang menyelimuti wajahnya itu begitu dingin sehingga
terasa seperti larutan asam yang membakar. Hal itu membuatnya
begitu panik.
Terjungkir balik dalam kegelapan, untuk sesaat Ming merasa
bingung dan tidak tahu ke arah mana untuk mencapai permukaan.
Mantel berat dari kulit unta itu memang melindungi
tubuhnya dari serangan dinginnya es, tetapi hanya untuk satu
atau dua detik saja. Akhirnya, Ming dapat meluruskan tubuhnya
dan muncul ke permukaan untuk mencari udara, tetapi bersamaan
dengan itu, air merembes masuk menyentuh dada dan
punggungnya dan menyelimuti tubuhnya dalam suhu dingin
yang meluluhlantakkan ketahanan tubuhnya.
"To ... long," dia megap-megap, tetapi Ming hanya mampu
mengeluarkan suara seperti rengekan. Dia merasa angin yang
dingin di tempat itu sudah mengalahkan suaranya yang berteriak
untuk meminta bantuan.
"Tooo ... long!" Teriakannya tidak dapat terdengar, bahkan
oleh dirinya sendiri. Ming berusaha mencapai tepian sumur itu
dan mencoba mengangkat tubuhnya keluar. Dinding di depannya
adalah dinding vertikal dari es. Tidak ada bagian yang
dapat dicengkeramnya. Di bawah air, sepatunya menendang sisi
dinding untuk mencari pijakan kaki, tetapi dia tidak menemukan
apa pun. Ming berusaha meregangkan tubuhnya ke atas, mencoba
meraih tepian lubang. Dia tidak berhasil. Jangkauannya
kurang satu kaki lagi.
Otot-otot Ming mulai mengalami kesulitan untuk merespon
karena dingin yang menyelimutinya. Dia menendajigkan kakinya
lebih keras dan mencoba untuk menaikkan tubuhnya lebih tinggi
lagi untuk mencapai tepian lubang. Tubuhnya terasa kaku seperti
batang kayu dan paru-parunya seperti mengerut, seolah dililit
ular piton. Mantelnya yang sudah menyerap air, menjadi semakin
berat dan membuatnya tertarik ke bawah. Ming berusaha melepaskan
mantel itu dari tubuhnya, tetapi bahan yang berat itu
sudah melekat di tubuhnya.
"To ... long aku!"
Rasa takut itu sekarang datang seperti aliran air yang begitu
deras.
Ming ingat dia pernah membaca bahwa mati tenggelam
adalah kematian yang paling mengerikan. Dia tidak pernah
bermimpi akan mengalaminya sendiri. Otot-ototnya menolak
untuk bekerja sama dengan pikirannya, dan yang mampu dia
lakukan hanyalah berusaha untuk menahan kepalanya agar tetap
berada di atas air. Pakaiannya yang basah menariknya ke bawah
ketika jari-jarinya yang beku mencakari sisi lubang itu.
Teriakannya sekarang hanya terjadi di dalam benaknya saja.
Lalu terjadilah.
Ming tenggelam. Dia tidak pernah membayangkan akan
merasakan pengalaman menakutkan seperti ini: menjemput ke-
matian sendiri secara sadar. Tetapi itulah yang terjadi sekarang
... tubuhnya pelan-pelan tenggelam di antara dinding es yang
membentuk lubang sedalam dua ratus kaki. Berbagai kenangan
melintas di depan matanya. Saat-saat di masa kanak-kanaknya.
Kariernya. Dia bertanya-tanya apakah akan ada orang yang akan
menemukannya di bawah sini. Atau dia hanya akan tenggelam
ke dasar dan membeku di sana ... terkubur di bawah es selamanya.
Paru-paru Ming berteriak meminta oksigen. Dia berusaha
menahan napasnya dan masih mencoba menendang-nendang
untuk menuju ke atas permukaan air. Bernapaslah! Dia melawan
gerak refleksnya untuk bernapas, dan mengatupkan mulutnya
keras-keras. Bernapaslah! Dia terus mencoba berenang ke atas
walau gagal. Bernapaslah! Pada saat itu, dalam pertempuran
antara gerak refleks manusia melawan pikiran sadarnya, naluri
Ming untuk bernapas mengalahkan kemampuannya untuk terus
menutup mulutnya.
Wailee Ming akhirnya menarik napas.
Air yang menyerbu masuk ke dalam paru-parunya terasa
seperti minyak panas yang menyentuh lapisan paru-parunya yang
peka. Ming merasa seperti terbakar dari dalam ke luar. Kejamnya,
air tidak langsung membunuhnya. Ming menghabiskan tujuh
detik yang menyeramkan ketika dia terus menelan air es itu.
Setiap tarikan napas menjadi lebih menyakitkan daripada yang
sebelumnya, dan sama sekali tidak memberikan apa yang dibutuhkan
tubuhnya.
Akhirnya, ketika merosot ke dalam kegelapan yang dingin,
Ming merasa dirinya mulai kehilangan kesadarannya. Dia menyambut
pembebasan itu. Di dalam air, Ming melihat titik-titik cahaya
yang bersinar di sekitarnya. Itu adalah hal terindah yang pernah
dilihatnya. []
EAST APPOINTMENT Gate di Gedung Putih terletak di East
Executive Avenue di antara Departemen Keuangan dan East
Lawn. Pagar yang kuat dan pos penjagaan dari semen yang
dipasang setelah kejadian penyerangan pada barak marinir di
Beirut memberikan kesan yang tidak ramah pada tempat ini.
Di luar gerbang itu, Gabrielle Ashe melihat jam tangannya,
dan kecemasannya semakin meningkat. Saat itu pukul 4:30 sore,
dan masih belum ada yang menghubunginya. ,
east appointment gate, 4.30 sore, datang sendirian.
Aku sudah di sini, pikirnya. Di mana kau?
Gabrielle meneliti wajah-wajah para turis yang berlalu-lalang
sambil berharap ada seseorang yang menangkap tatapannya.
Beberapa lelaki melirik ke arahnya, lalu berlalu. Gabrielle mulai
bertanya-tanya apakah menemuinya informannya adalah gagasan
yang bagus. Dia merasakan mata seorang anggota Secret Service
di pos penjaga mulai mengawasinya sekarang. Gabrielle memutuskan
bahwa informannya takut untuk menemuinya. Sambil
menatap untuk terakhir kalinya melalui pagar berat yang membatasi
Gedung Putih, dia mendesah dan beranjak pergi.
"Gabrielle Ashe?" petugas Secret Service yang tadi memerhatikannya
memanggil di belakangnya.
Gabrielle berputar, jantungnya langsung berdegup dengan
keras. Ya?
Lelaki di dalam pos penjagaan itu melambai padanya. Lelaki
itu ramping dan wajahnya terlihat kaku layaknya penjaga. "Kawanmu
siap bertemu denganmu sekarang." Dia lalu membuka
kunci pintu gerbang utama dan memberinya isyarat untuk
masuk.
Kaki Gabrielle menolak untuk bergerak.
37
Penjaga itu mengangguk. "Aku disuruh meminta maaf karena
relah membuatmu menunggu."
Gabrielle menatap pintu yang terbuka itu dan masih tetap
tidak dapat bergerak. Apa yang sedang terjadi? Ini sama sekali
tidak seperti yang diduganya.
"Kau Gabrielle Ashe, bukan?" tanya penjaga itu. Sekarang
dia tampak tidak sabar.
38
DUA HARI tanpa sinar matahari telah mengacaukan jam biologis
Michael Tolland. Walau jam tangannya menyatakan saat
itu sore hari, tubuhnya bersikeras bahwa saat itu adalah tengah
malam. Setelah memberikan sentuhan terakhir pada film dokumenternya,
Michael Tolland memindahkan seluruh file video
itu ke piringan disk video digital. Sekarang dia berjalan menyeberangi
kubah yang gelap itu. Ketika tiba di area pers yang
terang benderang, dia segera memberikan piringan disk itu pada
teknisi NASA yang bertugas meninjau presentasi itu.
"Terima kasih, Mike," kata si teknisi sambil mengedipkan
matanya ketika menerima piringan video itu.
"Kuharap Presiden menyukainya."
"Pasti. Ngomong-ngomong, pekerjaanmu sudah selesai. Duduklah
dan nikmati pertunjukannya."
"Kalau begitu, sebaiknya kauikuti aku."
Kedua kaki Gabrielle tersentak, lalu bergerak. Ketika dia
melangkah ragu-ragu melewati ambang pintu, pintu gerbang
terbanting menutup di belakangnya. []
"Ya, Pak, tetapi—"
"Terima kasih." Tolland berdiri di area pers yang terangbenderang
itu dan mengamati orang-orang NASA yang sedang
beramah-tamah sambil bersulang dengan bir kaleng buatan Kanada
untuk merayakan meteorit itu. Walau Tolland ingin merayakannya
juga, dia merasa letih. Otaknya sudah begitu terkuras.
Dia mencari-cari Rachel Sexton, tetapi tampaknya Rachel masih
berbicara dengan Presiden.
Presiden ingin menyiarkan Rachel, pikir Tolland. Dia tidak
menyalahkan Presiden. Rachel akan menjadi tambahan yang
sempurna bagi para ilmuwan yang membicarakan tentang meteorit
di hadapan jutaan rakyat Amerika. Selain penampilannya
yang cantik, Rachel memancarkan sikap yang ramah dan rasa
percaya diri yang jarang terlihat dalam diri perempuan-perempuan
yang dikenalnya. Lagi pula, umumnya perempuan yang
dikenal Tolland adalah mereka yang ada di televisi—perempuanperempuan
berkuasa yang tidak memiliki perasaan atau wanitawanita
yang menawan saat di kamera tapi tidak semenawan itu
saat di luar kamera.
Tolland diam-diam menyelinap pergi dari kerumunan pegawai
NASA yang sedang sibuk itu. Dia lalu berjalan menyeberangi
kubah sambil bertanya-tanya ke mana para ilmuwan sipil lainnya
menghilang. Jika mereka merasa seletih dirinya, pastilah mereka
berada ada di 'kamar tidur' untuk tidur sebentar sebelum acara
besar itu dimulai. Di hadapannya, di kejauhan, Tolland dapat
melihat lingkaran kerucut-kerucut SHABA yang mengelilingi
sumur penarikan meteorit yang sekarang sudah ditinggalkan.
Kubah kosong di atasnya seolah bergema dengan suara-suara
hampa dari kenangan lama. Tolland mencoba mengusirnya.
Lupakan hantu-hantu itu, katanya pada diri sendiri. Hantuhantu
itu sering mengganggunya pada saat-saat seperti ini, ketika
dia letih atau sendirian, ketika mengalami kemenangan pribadi
atau perayaan. Dia seharusnya bersamamu sekarang, suara itu
berbisik. Sendirian di dalam kegelapan, Tolland merasa dirinya
berputar memasuki masa lampau.

Celia Birch sudah menjadi kekasihnya sejak masa kuliah.
Pada suatu malam di hari Valentine, Tolland mengajaknya ke
restoran kesukaan kekasihnya itu. Ketika pelayan membawakan
makanan penutup bagi Celia, ternyata yang dibawakannya adalah
setangkai mawar dan sebentuk cincin berlian. Celia langsung
mengerti. Dengan air mata di matanya, dia mengucapkan satu
kata yang membuat Michael Tolland begitu bahagia.
"Ya."
Penuh harapan, mereka membeli sebuah rumah kecil di dekat
Pasadena, kota tempat Celia mendapat pekerjaan sebagai guru
ilmu pasti. Walau gajinya tidak terlalu besar, itu merupakan
awal yang baik. Letak rumah mereka juga dekat dengan Scripp's
Institute of Oceanography di San Diego, tempat Tolland mewujudkan
impiannya: bekerja di kapal penelitian geologi. Pekerjaan
Tolland menuntutnya untuk terkadang pergi selama tiga atau
empat hari dalam seminggu, tetapi pertemuannya kembali dengan
Celia selalu menjadi reuni yang menggairahkan dan menyenangkan.
Ketika berada di laut, Tolland mulai membuat rekaman
video dari beberapa petualangannya untuk Celia dan membuatkannya
film dokumenter mini tentang pekerjaannya di atas
kapal. Setelah menyelesaikan sebuah ekspedisi, dia pulang dengan
membawa sebuah kaset video dengan hasil yang agak buram
yang direkamnya dari sebuah jendela kapal selam. Ini adalah
rekaman pertama yang pernah dibuat tentang ikan chemotropic
cuttlefish yang aneh, yang bahkan keberadaannya pun belum
pernah diketahui orang sebelumnya. Di depan kamera, ketika
membuat narasi dalam videonya, Tolland menceritakan kejadian
itu dengan antusiasme yang menggebu-gebu.
Ada ribuan jenis makhluk yang belum ditemukan yang hidup
di kedalaman seperti ini, ujarnya dengan bersemangat. Kami
bahkan baru menyentuh permukaannya! Padahal ada banyak misteri
yang tidak terbayangkan di bawah sini!
Celia sangat gembira ketika mendengarkan penjelasan ilmiah
ringkas yang dibuat suaminya dengan semangat yang meluapluap
itu. Kemudian Celia memperlihatkan rekaman itu di kelas
ilmu pastinya, dan ternyata rekaman itu menjadi sangat menggemparkan.
Guru-guru lainnya ingin meminjamnya. Para orang
tua ingin membuat salinan rekamannya. Tampaknya semua orang
menanti-nanti rekaman Michael Tolland berikutnya dengan penuh
semangat. Tiba-tiba Celia memiliki ide cemerlang. Dia
menelepon seorang teman kuliahnya yang bekerja di NBC dan
mengirimkan rekaman video itu.
Dua bulan kemudian, Michael Tolland menemui Celia dan
mengajaknya jalan-jalan di pantai Kingman. Pantai itu adalah
tempat khusus mereka, tempat mereka selalu berjalan-jalan sambil
berbagi harapan dan impian.
"Ada yang ingin kukatakan padamu," kata Tolland.
Celia berhenti melangkah, lalu memegang tangan suaminya
ketika ombak memukul-mukul kaki mereka. "Apa itu?"
Tolland bercerita dengan bersemangat. "Minggu lalu aku
mendapat telepon dari NBC. Mereka berpikir, aku harus membawakan
acara serial dokumentasi kelautan. Itu tawaran yang
sempurna. Mereka ingin mencoba tayangan perdananya tahun
depan! Sulit dipercaya, kan?"
Celia menciumnya dan kemudian memandangnya dengan
wajah berseri-seri. "Aku percaya padamu. Kau akan jadi hebat."
Enam bulan kemudian, Celia dan Tolland sedang berlayar
di dekat Catalina ketika Celia mulai mengeluhkan rasa sakit di
bagian dalam tubuhnya. Mereka mengabaikannya selama beberapa
minggu, tetapi akhirnya rasa sakit itu menjadi tak tertahankan
lagi. Kemudian, Celia pergi memeriksakan masalah
itu ke dokter.
Dalam sekejap, impian Tolland yang indah hancur berkeping-
keping menjadi mimpi yang sangat buruk. Celia dinyatakan
sakit. Sangat sakit.
"Ranker sel darah putih stadium tinggi," dokter itu menjelaskan.
"Jarang menimpa orang seusianya, walau ada juga yang
terkena."
Celia dan Tolland menemui berbagai klinik dan rumah sakit
untuk berkonsultasi dengan para ahli hingga tak terhitung jumlahnya.
Jawaban mereka selalu sama. Tidak dapat disembuhkan.
Aku tidak akan menerima itu! Tolland langsung berhenti
dari pekerjaannya di Scripp's Institute, melupakan segalanya
tentang film dokumenter NBC, dan memusatkan energi dan
cintanya untuk memulihkan Celia. Celia juga berusaha keras
untuk sembuh dan menahan rasa sakit dengan ketabahan yang
membuat Tolland semakin mencintainya. Tolland membawanya
berjalan-jalan di sepanjang Pantai Kingman, memasakkan makanan
sehat untuknya, dan menceritakan hal-hal yang akan mereka
lakukan begitu Celia menjadi lebih baik.
Tetapi Celia tidak menjadi lebih baik.
Hanya dalam waktu enam bulan, Tolland sudah duduk di
samping istrinya yang sekarat di sebuah kamar rumah sakit
yang sederhana. Dia sudah tidak dapat mengenali wajah istrinya
lagi. Kebuasan sel kanker sebanding dengan kebrutalan kemoterapi.
Celia sekarang tampak kurus kering seperti tengkorak.
Jam-jam terakhirnya adalah saat yang terberat bagi Tolland.
"Michael," kata Celia, suaranya terdengar serak. "Saatnya
membiarkan aku pergi."
"Aku tidak bisa," sahut Tolland dengan mata basah.
"Kau seorang pejuang," kata Celia. "Kau harus menjadi
seorang penjuang. Berjanjilah padaku, kau akan mencari cinta
yang lain."
"Aku tidak akan menginginkan yang lain," kata Tolland
bersungguh-sungguh.
"Kau harus belajar."
Celia meninggal dunia pada Minggu pagi yang begitu cerah
di bulan Juni. Michael Tolland merasa seperti sebuah perahu
yang tercabut dari tambatannya lalu terlempar dan terombang-
ambing di tengah laut yang mengamuk. Kompasnya terhempas
pecah. Selama berminggu-minggu Tolland kehilangan kendali.
Teman-temannya mencoba menolong, tetapi harga dirinya tidak
mau menerima rasa kasihan mereka.
Kau punya pilihan, akhirnya dia sadar. Bekerja atau mati.
Dengan menguatkan tekadnya, Tolland mulai kembali menekuni
acara Amazing Sea.
Acara itu dapat dibilang cukup menyelamatkan hidupnya.
Empat tahun berikutnya, acara yang dibintangi Tolland itu
menjadi sangat terkenal. Walau teman-temannya berusaha mencarikan
teman hidup baginya, Tolland hanya dapat menikmati
separuh dari kencan-kencan yang diatur teman-temannya itu.
Semua kencannya itu berakhir dengan kekacauan atau ketidakpuasan
yang dirasakan kedua belah pihak. Tolland akhirnya
menyerah dan menyalahkan jadwal bepergiannya yang padat
sebagai penyebab dari kesulitannya untuk bergaul. Sahabat karibnya
tahu, sebenarnya Michael Tolland hanya belum siap untuk
memulai lagi.
Lubang penarikan meteorit itu tampak di depannya dan
mengalihkan perhatiannya dari lamunan yang menyakitkan itu.
Dia mengusir kenangan yang tidak menyenangkan itu dan mendekati
lubang terbuka tersebut. Di dalam ruangan berkubah
yang gelap, air yang mencair di dalam lubang itu berubah menjadi
sangat indah, seperti dalam mimpi. Permukaan kolam itu
berkilauan seperti danau di bawah sinar bulan. Mata Tolland
tertarik pada titik-titik cahaya di atas permukaan air, seolah
seseorang telah menyebarkan percikan cahaya berwarna hijau dan
biru di atas permukaannya. Dia menatap lama pada kilauan itu.
Ada sesuatu yang aneh di sana.
Pada tatapan pertama, Tolland mengira kilauan air itu hanyalah
pantulan dari sinar lampu-lampu sorot dari ruangan di
seberang sana. Namun sekarang dia tahu penyebabnya sama
sekali bukan itu. Kilatan itu berwarna kehijauan dan sepertinya
berdenyut dengan teratur, seolah permukaan air itu hidup dan
mengeluarkan cahayanya dari bawah.
Dengan ragu, Tolland melangkah melewati kerucut-kerucut
tersebut untuk dapat melihat dengan lebih jelas.
Di seberang habisphere, Rachel Sexton keluar dari kotak
PSC dan melangkah memasuki kegelapan. Dia berhenti sejenak
dan menjadi agak bingung karena ruangan menjadi remangremang
di sekitarnya. Habisphere itu kini menjadi seperti gua.
Hanya diterangi sinar hasil pantulan secara kebetulan dari lampulampu
sorot media yang dipasang di dinding utara. Merasa
agak takut dengan kegelapan di sekitarnya, Rachel secara naluriah
bergerak menuju ke area pers yang terang.
Rachel merasa senang dengan hasil pengarahan singkatnya
kepada staf Gedung Putih. Begitu merasa terbebas dari pengaruh
Presiden, Rachel dengan lancar menyampaikan apa yang diketahuinya
tentang meteorit itu. Ketika dia berbicara, dia melihat
perubahan kesan dari wajah para staf Presiden, dari sangat
terkejut menjadi percaya dan penuh harap, dan akhirnya menerima
kenyataan itu dengan terpesona.
"Kehidupan di ruang angkasa?" Rachel mendengar salah
seorang dari mereka berseru. "Kautahu apa itu artinya?"
"Ya," seseorang yang lainnya menjawab. "Artinya, kita akan
memenangkan pemilihan ini."
Ketika Rachel mendekati area pers yang mengesankan itu,
dia membayangkan pengumuman yang akan segera digelar di
sana. Dia bertanya-tanya apakah ayahnya benar-benar pantas
dilindas oleh serangan Presiden yang akan menghancurkan kampanyenya
dalam satu kali pukulan ini.
Jawabannya, tentu saja, ya.
IZRO'IL
Deception Point (Titik Muslihat)


Setiap kali Rachel Sexton merasa iba kepada ayahnya, yang
harus dia lakukan adalah mengingat ibunya. Katherine Sexton.
Luka dan aib yang telah dibawa Sedgewick Sexton pada ibunya
sungguh tercela ... pulang terlambat setiap malam, terlihat puas,
dan wangi parfum wanita tercium dari tubuhnya. Ayahnya selalu
bersembunyi di balik kepatuhan pura-puranya pada agama dan
selama itu dia terus berbohong dan berkhianat. Dia tahu Katherine
tidak akan pernah meninggalkannya.
Ya, Rachel memutuskan. Senator Sexton sebentar lagi akan
mendapatkan apa yang layak didapatkannya.
Kerumunan di area pers sedang bergembira. Semua orang
memegang kaleng bir. Rachel bergerak di antara kerumunan
itu dan merasa seperti orang asing. Rachel bertanya-tanya ke
mana Michael Tolland menghilang.
Corky Marlinson muncul di sampingnya. "Kau mencari
Mike?"
Rachel terkejut. "Well... tidak juga ...."
Corky menggelengkan kepalanya dengan sebal. "Aku sudah
bisa menebaknya. Mike baru saja pergi. Kurasa dia hanya pergi
untuk memejamkan mata sebentar." Corky menyipitkan matanya
ketika menatap sisi lain dari kubah yang berada dalam keremangan
itu. "Tapi kelihatannya kau masih bisa menyusulnya."
Dia tersenyum kepada Rachel dan menunjuk. "Mike sering
terhanyut setiap kali dia melihat air."
Rachel mengikuti arah jari Corky yang sedang menunjuk
ke arah tengah kubah. Di sana Rachel dapat melihat bayangan
Michael Tolland yang sedang berdiri dan melihat ke air di
bawahnya di dalam lubang penarikan.
"Apa yang dilakukannya?" tanya Rachel. "Di situ agak berbahaya."
Corky tersenyum. "Mungkin pipis. Ayo kita dorong dia."
Rachel dan Corky menyeberangi kegelapan kubah dan berjalan
menuju ke arah lubang penarikan. Ketika mereka semakin
mendekati Michael Tolland, Corky berseru.
"Hei, Manusia laut! Kau lupa bawa celana renangmu?"
Tolland berpaling. Walau dalam keremangan, Rachel dapat
melihat raut wajah Tolland yang tidak seperti biasanya. Dia
tampak muram. Wajahnya tertimpa cahaya, seolah diterangi dari
bawah.
"Semuanya baik-baik saja, Mike?" tanya Rachel.
"Tidak juga," sahut Tolland sambil menunjuk air di bawahnya.
Corky melangkah melewati kerucut-kerucut SHABA dan
bergabung dengan Tolland di tepi lubang. Suasana hati Corky
yang jenaka seketika berubah menjadi serius ketika melihat air
di bawahnya. Rachel bergabung dengan mereka, melangkah
melewati kerucut-kerucut itu, dan menuju tepi lubang. Ketika
dia melongok ke dalam lubang, dia terkejut ketika melihat sinar
biru kehijauan yang berkilauan di permukaan air seperti partikelpartikel
debu neon yang mengambang di air. Mereka tampak
seperti titik-titik berwarna hijau yang berdenyut-denyut. Efek
yang dihasilkannya sungguh indah.
Tolland memungut serpihan es di lantai dan melemparkannya
ke dalam air. Akibatnya air tersebut memendarkan sinar
berkilauan dengan percikan berwarna hijau ketika es itu memukul
permukaan air.
"Mike," kata Corky dengan nada tidak tenang, "tolong
katakan padaku, kautahu apa itu."
Tolland mengerutkan keningnya. "Aku pasti tahu apa itu.
Pertanyaanku adalah, apa yang mereka lakukan di sini?"[]
39
"KITA MENEMUKAN flagelata," kata Tolland sambil menatap
air yang bercahaya di bawahnya itu.
"Bohong!" seru Corky. "Yang benar saja."
Rachel merasa Michael Tolland tidak sedang ingin bercanda
pada saat ini.
"Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi," kata Tolland,
"tetapi air ini berisi bioluminescent dinoflagellate."
"Bioluminescent apa?" tanya Rachel bingung. Coba gunakan
bahasa yang sederhana saja.
"Plankton bersel tunggal yang mampu mengoksidasi katalis
bercahaya yang disebut luceferin."
Itu yang kau anggap sebagai bahasa yang sederhana?
Tolland menghela napas dan berpaling pada temannya.
"Corky, apakah ada kemungkinan meteorit yang tadi kita tarik
itu mengandung organisme hidup di dalamnya?"
Tawa Corky meledak. "Mike, seriuslah!"
"Aku serius."
"Tidak mungkin, Mike! Percayalah padaku, jika NASA memiliki
prasangka sedikit saja bahwa ada organisme hidup dari
angkasa luar pada batu itu, kau boleh yakin mereka tidak akan
mengangkatnya ke udara terbuka seperti sekarang."
Tolland tampak hanya sedikit teryakinkan. Kelegaannya
tampaknya diliputi sebuah misteri yang lebih dalam. "Aku tidak
dapat meyakininya tanpa melihatnya dengan mikroskopku," kata
Tolland, "tetapi bagiku itu seperti plankton bercahaya dari filum
Pyrrophyta. Nama itu artinya tanaman api. Samudra Arktika
penuh dengan jenis plankton itu."
Corky mengangkat bahunya. "Lalu mengapa kau tadi menanyakan
apakah organisme itu berasal dari ruang angkasa?"
"Karena," sahut Tolland, "meteorit itu terkubur di bawah
es beku—air segar yang berasal dari salju. Air di dalam lubang
itu merupakan hasil pencairan es yang sebelumnya telah membeku
selama tiga abad. Bagaimana mungkin makhluk laut bisa
masuk ke situ?"
Rachel berdiri di tepi lubang dan berusaha mencerna apa
yang dilihatnya. Plankton bercahaya di dalam lubang tempat
penarikan meteorit. Apa itu artinya?
"Pasti ada retakan di suatu tempat di bawah sana," kata
Tolland. "Hanya itu satu-satunya penjelasan. Plankton-plankton
itu pasti telah masuk ke dalam lubang ini melalui retakan pada
dinding es yang memungkinkan air laut meresap ke dalam."
Rachel tidak mengerti. "Meresap ke dalam? Dari mana?"
Dia ingat pada perjalanan panjangnya menumpangi IceRover
dari tempat pendaratannya tadi. "Pantai jaraknya dua mil dari
sini.
Baik Corky maupun Tolland menatap Rachel dengan tatapan
aneh. "Sesungguhnya," kata Corky, "samudra itu berada tepat
di bawah kita. Lempengan es yang kita injak ini mengambang
di atas air laut."
Rachel menatap dua lelaki itu dan merasa sangat heran.
"Mengambang? Tetapi ... kita berada di atas sebuah dataran es."
"Ya.' Kita memang berada di atas dataran es," kata Tolland,
"tetapi kita tidak berada di atas daratan yang terdiri dari tanah.
Dataran es kadang-kadang mengambang lepas dari benua dan
menyebar di samudra. Karena es lebih ringan daripada air,
dataran es terus mengambang di samudra seperti rakit besar.
Inilah yang dimaksud dengan ice shelf ... bagian yang mengambang
dari sebuah dataran es." Tolland berhenti sebentar. "Saat
ini kita berada di laut, kira-kira satu mil jaraknya dari garis
DcllltcLl.
Rachel sangat terkejut. Ketika dia membayangkan sekelilingnya,
dia menjadi takut karena memikirkan sedang berdiri di
atas Samudra Arktika.
Tolland tampaknya merasakan kecemasan Rachel. Dia lalu
menghentakkan kakinya di atas es untuk meyakinkan Rachel.
"Jangan khawatir. Es ini tebalnya tiga ratus kaki, dengan dua
ratus kaki mengambang di dalam air seperti es batu di dalam
segelas air. Hal itu membuat lempengan es ini menjadi stabil.
Kau bahkan dapat membangun sebuah pencakar langit di atasnya
Rachel mengangguk lesu, tetapi tidak sepenuhnya yakin.
Ketika perasaan was-was itu hilang, dia sekarang memahami
teori Tolland mengenai asal plankton-plankton itu. Dia berpikir
ada retakan yang terus menurun menembus samudra, sehingga
memungkinkan plankton-plankton menyusup ke atas ke dalam
lubang itu. Itu mungkin saja, pikir Rachel, namun hal ini
melibatkan sebuah paradoks yang mengganggunya. Norah Mangor
telah memastikan kemurnian dataran es ini. Dia telah mengebor
sedemikian banyak lubang untuk menguji inti lempengan es
ini dan memastikan kepadatannya.
Rachel menatap Tolland. "Kupikir kesempurnaan dataran
es ini menjadi dasar dari seluruh catatan mengenai tingkatan
usianya. Bukankah Dr. Mangor tadi mengatakan bahwa dataran
es ini tidak memiliki retakan ataupun celah?"
Corky mengerutkan keningnya. "Tampaknya ratu es itu
tidak mengujinya dengan baik."
Jangan keras-keras, kata Rachel dalam hati, atau punggungmu
akan ditusuk pedang es olehnya.
Tolland mengusap dagunya ketika dia menatap makhlukmakhluk
yang memendarkan cahaya fosfor itu. "Benar-benar
tidak ada penjelasan lain. Pasti ada retakan di sini. Berat dataran
es di atas samudra ini pasti telah menekan air laut yang kaya
akan plankton sehingga memasuki lubang penarikan."
Benar-benar satu retakan yang dalam, pikir Rachel. Jika es
di sini tebalnya tiga ratus kaki dan lubang itu dalamnya dua
ratus kaki, maka retakan yang masih berupa dugaan ini panjangnya
harus lebih dari seratus kaki melalui es yang padat.
Padahal pengujian inti lempengan es yang dilakukan Norah Mangor
membuktikan tidak ada retakan.
"Tolong aku," kata Tolland kepada Corky. "Cari Norah.
Mari kita berdoa semoga dia tahu sesuatu tentang dataran es
ini yang tidak ia beri tahukan pada kita. Dan cari Ming juga,
mungkin dia dapat menjelaskan kepada kita tentang hewan
berkilauan ini.
Corky beranjak pergi.
"Cepatlah," seru Tolland di belakangnya sambil melirik lagi
ke lubang itu. "Kurasa cahaya dari plankton ini mulai memudar."
Rachel melihat lubang itu. Terlihat jelas bahwa warna hijau
dari makhluk-makhluk itu sudah tidak terlalu cemerlang lagi.
Tolland menanggalkan mantelnya dan berbaring di atas es
di dekat lubang itu.
Rachel menatapnya dengan bingung. "Mike?"
"Aku ingin tahu apakah air laut benar-benar masuk ke sini."
"Dengan cara berbaring di atas es tanpa mantel?"
"Ya." Tolland merayap di atas perutnya dan menuju ke tepi
lubang. Dengan memegangi satu lengan mantelnya, dia membiarkan
lengan mantel yang lainnya menjulur ke bawah lubang
itu hingga bagian pergelangan tangan mantel tersebut menyentuh
air. "Ini adalah pengujian salinitas air yang sangat akurat yang
digunakan para ahli kelautan kelas dunia. Disebut 'menjilat jaket
basah'."
Di luar, Delta-One berjuang menggerakkan alat pengendalinya
dan berusaha untuk membuat microbot yang rusak itu tetap
terbang di atas sekelompok orang yang sekarang berkumpul di
sekitar lubang penarikan. Dari suara percakapan di bawah sana,
dia tahu hal ini telah terungkap dengan cepat.
"Hubungi pengendali," katanya. "Kita punya masalah serius."[]
GABRIELLE ASHE pernah mengikuti tur ke Gedung Putih
berkali-kali saat masih remaja. Ketika itu, dia diam-diam bermimpi
kalau suatu hari kelak dia dapat bekerja di dalam rumah
kepresidenan itu dan menjadi bagian dari kelompok elite yang
merencanakan masa depan bangsanya. Namun, pada saat ini,
dia merasa lebih senang bila berada di tempat lain.
40
Ketika petugas Secret Service dari East Gate itu membawa
Gabrielle masuk ke ruang depan dengan dekorasi yang rumit,
dia bertanya-tanya apa yang sedang ingin dibuktikan oleh informan
yang tidak diketahui namanya itu. Mengundang Gabrielle
ke Gedung Putih adalah tindakan yang gila. Bagaimana jika
aku terlihat?
Gabrielle sudah cukup sering terlihat akhir-akhir ini di
media sebagai tangan kanan Senator Sexton. Pasti ada seseorang
yang mengenalinya di sini.
"Ms. Ashe?"
Gabrielle mendongak. Wajah seorang penjaga yang terlihat
ramah di ruang depan itu tersenyum menyambutnya. "Mohon
lihat ke sana." Dia menunjuk.
Gabrielle melihat ke arah yang ditunjuknya dan menjadi
silau karena lampu jepretan kamera.
"Terima kasih, Bu." Prajurit itu mengantarnya ke sebuah
meja dan menyerahkan sebuah pena padanya. "Harap mengisi
buku tamu." Lalu lelaki itu menyodorkan sebuah buku bersampul
kulit yang berat ke depan Gabrielle.
Gabrielle melihat buku catatan itu. Halaman buku di depannya
masih kosong. Dia pernah mendengar semua pengunjung
Gedung Putih menandatangani halaman kosong untuk merahasiakan
kunjungan mereka dari orang lain. Dia kemudian menandatanganinya.
Susah sekali untuk sebuah pertemuan rahasia.
Gabrielle berjalan melalui sebuah gerbang pendeteksi metal,
dan kemudian punggungnya ditepuk sekilas oleh penjaga itu.
Penjaga itu tersenyum. "Selamat menikmati kunjungan Anda,
Ms. Ashe."
Gabrielle mengikuti petugas Secret Service yang menyambutnya
di gerbang depan tadi dan menelusuri sebuah koridor
berlantai keramik sejauh lima puluh kaki menuju ke meja
keamanan berikutnya. Di sini, penjaga yang lain mengeluarkan
tanda masuk tamu yang baru saja keluar dari sebuah mesin
laminating. Dia lalu melubanginya, memasang seutas tali, dan
mengalungkannya di leher Gabrielle. Plastik itu masih terasa
hangat. Foto di kartu pengenal itu adalah foto yang diambil
lima belas detik yang lalu di ujung koridor.
Gabrielle terkesan. Siapa bilang pemerintah tidak efisien?
Mereka melanjutkan perjalanan. Petugas Secret Service itu
mengantarnya masuk lebih dalam lagi ke Gedung Putih. Gabrielle
merasa semakin tidak tenang setiap kali kakinya melangkah. Siapa
pun pengundang misterius ini, dia sepertinya tidak mau repotrepot
menjaga kerahasiaan pertemuan ini. Sejauh ini, Gabrielle
telah diberi izin masuk resmi, telah menandatangani buku tamu,
dan sekarang dituntun menuju lantai pertama Gedung Putih
ke tempat di mana kelompok tur bagi umum sedang berkumpul.
"Dan ini adalah China Room," seorang pemandu mengatakan
kepada sekelompok wisatawan itu, "tempat Nancy Reagan
menyimpan porselen dengan pinggiran berwarna merah yang
satu setnya seharga 952 dolar sehingga memicu perdebatan
mengenai pemborosan pada 1981."
Petugas Secret Service itu membawa Gabrielle melewati
sekelompok wisatawan tersebut dan berjalan ke arah tangga
pualam besar. Di sana ada kelompok wisatawan lain yang sedang
menaiki tangga tersebut. "Anda sekalian akan memasuki East
Room yang berukuran 3.200 kaki persegi," cerita pemandu itu,
"tempat Abigail Adams pernah menggantung pakaian John Adams
yang baru dicuci. Kemudian kita akan melewati Red Room di
mana Ibu Negara Dolley Madison menjamu para pemimpin
negara bagian dengan minuman keras sebelum James Madison
bernegosiasi dengan mereka."
Para wisatawan tertawa.
Gabrielle kembali melewati sekelompok turis itu dan tangga
serta serangkaian tali dan barikade untuk memasuki bagian yang
lebih pribadi dari gedung itu. Kemudian mereka memasuki
sebuah ruangan yang hanya pernah dilihat Gabrielle dalam buku
atau di televisi. Tiba-tiba napasnya menjadi sesak.
Tuhanku, ini Map Room!
Tidak ada tur wisata yang boleh masuk hingga ke sini.
Dinding ruangan itu dapat dibuka lapis demi lapis untuk memperlihatkan
peta dunia. Di sinilah Roosevelt merencanakan strategi
Perang Dunia II. Celakanya, di ruangan ini juga Clinton
mengaku berselingkuh dengan Monica Lewinsky. Gabrielle mengusir
pikiran itu. Tapi yang paling penting adalah ruangan itu
merupakan jalan menuju ke Sayap Barat—kawasan di Gedung
Putih di mana para penguasa yang sesungguhnya bekerja. Ini
adalah tempat terakhir dalam pikiran Gabrielle Ashe yang akan
dikunjunginya. Selama ini dia membayangkan email-email yang
diterimanya berasal dari seorang anak magang atau sekretaris
yang bekerja di dalam salah satu ruang kantor yang lebih
sederhana. Ternyata tidak.
Aku akan masuk ke Sayap Barat....
Petugas Secret Service kemudian membawanya ke bagian
paling ujung dari sebuah koridor berlapis permadani, dan berhenti
di depan sebuah pintu tanpa nama. Lelaki itu mengetuk
pintu tersebut. Jantung Gabrielle berdegup dengan kencang.
"Tidak dikunci," seseorang terdengar berseru dari dalam.
Lelaki itu membuka pintu dan memberi isyarat kepada
Gabrielle untuk masuk.
Gabrielle melangkah masuk. Tirai ruangan itu ditutup, sehingga
ruangan tersebut menjadi remang-remang. Dia dapat
melihat sosok samar-samar yang duduk di belakang meja di
balik kegelapan.
"Ms. Ashe?" Suara itu datang dari balik asap rokok. "Selamat
datang."
Ketika mata Gabrielle sudah terbiasa dengan kegelapan, dia
mulai dapat melihat seraut wajah yang sudah dikenalnya, dan
otot-ototnya menjadi tegang karena terkejut. INI-kah orang yang
selama ini mengirimkan email untukku?
"Terima kasih kau mau datang," Marjorie Tench berkata,
suaranya terdengar dingin.
"Ms. ... Tench?" Gabrielle tergagap. Tiba-tiba dia tidak bisa
bernapas.
"Panggil aku Marjorie." Perempuan mengerikan itu berdiri
sambil mengembuskan asap rokok dari hidungnya sehingga
terlihat seperti seekor naga. "Kau dan aku akan menjadi sahabat
karib."[]
41
NORAH MANGOR berdiri di tepi lubang penarikan di sebelah
Tolland, Rachel, dan Corky, dan menatap lubang meteorit yang
gelap gulita itu. "Mike," katanya, "kau memang manis, tetapi
kau gila. Tidak ada sinar dari plankton bercahaya di sini."
Tolland berharap dia merekamnya dalam video tadi ketika
Corky pergi mencari Norah dan Ming karena plankton bercahaya
tersebut mulai memudar dengan cepat. Dalam beberapa
menit saja, semua kedipan cahaya itu berhenti.
Tolland melemparkan serpihan es lagi ke dalam air, tetapi
tidak ada yang terjadi. Tidak ada percikan air berwarna hijau
seperti tadi.
"Ke mana mereka pergi?" tanya Corky.
Tolland memiliki gagasan yang cukup bagus. Cahaya yang
dikeluarkan tubuh hewan itu, yang merupakan mekanisme pertahanan
diri paling primitif yang dimilikinya, merupakan respon
alamiah yang dimiliki para plankton yang sedang tertekan.
Plankton-plankton itu merasa akan dimakan organisme yang
lebih besar sehingga mereka mulai mengeluarkan sinarnya dengan
tujuan untuk menarik perhatian pemangsa yang lebih besar lagi
agar mengusir pemangsa yang ingin memakannya. Dalam hal
ini, plankton-plankton yang menyusup masuk ke lubang ini
tiba-tiba menyadari dirinya telah berada di lingkungan air tawar
dan kemudian dengan panik mengeluarkan sinar ketika air tawar
ini pelan-pelan membunuh mereka. "Aku pikir mereka sudah
mati."
"Mereka dibunuh," ejek Norah. "Kelinci Paskah berenang
masuk ke sana dan memakan mereka."
Corky melotot ke arahnya. "Aku juga melihat cahaya itu,
Norah."
"Sesudah atau sebelum kau minum obat?"
"Untuk apa kami berbohong tentang hal itu?" tanya Corky
kesal.
"Lelaki biasa berbohong."
"Ya, kalau mereka baru tidur dengan perempuan lain, tetapi
tidak kalau itu berhubungan dengan plankton bercahaya."
Tolland mendesah. "Norah, kau pasti tahu plankton memang
hidup di samudra di bawah es."
"Mike," sahut Norah dengan tatapan galak, "tolong jangan
ajari aku tentang pekerjaanku. Untuk dicatat, ada lebih dari
dua ratus jenis ganggang bersel satu yang hidup di bawah lapisan
es di Arktika. Empat belas jenis nanoflagelata autotropi, dua
puluh flagelata heterotropi, empat puluh dinoflagelata heterotropi,
dan beberapa Metazoa, termasuk.Polychaeta, Amphipoda,
Copepoda, Euphausiacea, dan ikan. Ada pertanyaan?"
Tolland mengerutkan keningnya. "Jelas, kau mengenal hewan
Arktika lebih baik daripada aku, dan kau setuju ada makhiuk
hidup di bawah kita. Jadi, kenapa kau ragu kami melihat
plankton bercahaya tadi?"
"Karena, Mike, lubang ini tersegel. Di sini adalah lingkungan
air tawar yang tertutup. Tidak ada plankton yang mungkin
masuk ke dalamnya!"
"Aku merasakan adanya garam di dalam air itu," Tolland
berkeras. "Sangat samar, tetapi ada. Air laut telah masuk ke
dalam sini, entah bagaimana caranya."
"Baik," kata Norah dengan sikap skeptis. "Kau merasakan
adanya garam. Kau menjilat lengan mantel bulu usangmu yang
penuh keringat itu dan kau berpendapat bahwa alat pemindai
kepadatan PODS dan lima belas sampel inti yang kuambil
secara acak itu tidak akurat."
Tolland menyodorkan lengan mantelnya sebagai bukti.
"Aku tidak akan menjilat jaket jelekmu itu." Dia lalu melihat
ke dalam lubang di bawahnya. "Boleh aku bertanya, kenapa
sekumpulan plankton seperti dalam dugaanmu itu memutuskan
untuk berenang masuk ke retakan di dalam es yang sekali lagi
juga merupakaan dugaanmu?"
"Panas mungkin?" sahut Tolland mencoba-coba. "Banyak
hewan laut tertarik pada energi panas. Ketika kita menarik
meteorit itu, kita memanaskannya. Mungkin saja planktonplankton
itu secara naluriah tertarik ke arah lingkungan yang
lebih hangat di dalam terowongan itu pada saat dipanaskan."
Corky mengangguk. "Masuk akal juga."
"Masuk akal?" sergah Norah sambil memutar bola matanya.
"Sebagai pemenang penghargaan fisika dan ahli kelautan terkenal
di dunia, kalian adalah sepasang makhluk yang bodoh. Bahkan
sekalipun ada retakan—yang dapat aku pastikan tidak ada—air
laut tidak mungkin masuk ke dalam lubang itu." Dia menatap
kedua lelaki itu dengan pandangan merendahkan.
"Tetapi, Norah ...," Corky mulai ingin berdebat.
"Bapak-bapak! Kita sedang berdiri di atas permukaan laut."
Norah menghentakkan kakinya di atas es. "Sadarlah! Lempengan
es ini menjulang setinggi seratus kaki dari permukaan laut.
Kalian mungkin ingat tebing besar di ujung dataran es ini,
bukan? Kita lebih tinggi dari samudra. Jika ada retakan memasuki
lubang ini, air hanya akan mengalir keluar dari lubang
ini, bukan ke dalamnya. Itu yang disebut gravitasi."
Tolland dan Corky saling menatap.
"Sialan," kata Corky, "aku tidak berpikir hingga ke sana."
Norah kemudian menunjuk ke arah lubang yang berisi air
tersebut. "Kalian mungkin juga menyadari kalau ketinggian
permukaan air itu tidak berubah?"
Tolland merasa seperti orang idiot. Norah sangat benar.
Jika ada retakan, air akan mengalir ke luar, bukan ke dalam.
Tolland berdiri diam, lama, sambil bertanya-tanya apa yang
harus dilakukan setelah ini.
"Baik," kata Tolland akhirnya sambil mendesah. "Tampaknya,
teori tentang retakan itu tidak masuk akal. Tetapi kami
melihat plankton bercahaya di dalam air. Satu-satunya kesimpulan
adalah ini bukanlah lingkungan yang sama sekali tertutup.
Aku tahu, sebagian besar data penanggalan es yang kaubuat
dibangun berdasarkan perkiraan bahwa dataran es ini padat,
tetapi—"
"Perkiraan?" Norah jelas menjadi semakin kesal. "Ingat, ini
bukan hanya dataku, Mike. NASA juga menemukan hal yang
sama. Kami semua telah memastikan bahwa dataran es ini padat.
Tidak ada retakan sama sekali."
Tolland menatap ke seberang kubah ke arah kerumunan
orang di sekitar area pers. "Apa pun yang terjadi, sebaiknya kita
harus memberi tahu administrator dan—"
"Omong kosong!" desis Norah. "Aku katakan kepadamu,
matriks es ini murni. Aku tidak mau data intiku dipertanyakan
oleh seorang penjilat garam dan orang-orang yang berhalusinasi."
Lalu Norah berjalan dengan cepat ke arah area suplai dan mulai
mengumpulkan beberapa peralatan. "Aku akan mengambil sampel
air yang tepat, dan memperlihatkan pada kalian bahwa air ini
tidak mengandung plankton laut di dalamnya—hidup atau mati!"
RACHEL DAN yang lainnya menatap Norah yang sedang
menggunakan pipet steril yang diikatkan pada tali untuk mengambil
sampel air dari kolam dari es yang mencair itu.
Setelah itu, Norah meletakkan beberapa tetes air itu ke atas
peralatan yang menyerupai teleskop miniatur. Dia melihat ke
dalam melalui teropongnya, dan mengarahkan alat tersebut ke
cahaya yang berasal dari seberang kubah. Beberapa detik kemudian
dia b erseru.
"Ya, ampun!" Norah menggoyang-goyangkan alat itu dan
melihat kembali. "Sialan! Ada yang salah dengan refractometer
ini!"
"Air asin?" tanya Corky dengan senang.
Norah mengerutkan keningnya. "Sebagian. Di sini menunjukkan
ada tiga persen air asin yang tentunya sangat tidak
mungkin. Dataran es ini merupakan salju padat. Murni air
tawar. Seharusnya tidak ada garamnya." Norah membawa sampel
itu ke dekat mikroskop dan memeriksanya. Dia lalu menggeram.
"Plankton?"
"G. polyhedra," sahut Norah. Sekarang suaranya terdengar
melunak. "Plankton itu adalah jenis yang biasa dilihat para ahli
glasiologi di dalam samudra di bawah lapisan es." Dia menatap
Tolland. "Sekarang mereka sudah mati. Jelas mereka tidak dapat
bertahan lama di dalam lingkungan yang hanya mengandung
tiga persen air asin."
Mereka berempat sekarang berdiri diam di tepi lubang yang
dalam tersebut.
Rachel bertanya-tanya akibat apa yang akan timbul dari
paradoks ini terhadap keseluruhan penemuan itu. Dilema yang
timbul tampaknya kecil saja dibandingkan dengan penemuan
meteorit ini secara keseluruhan, namun, sebagai seorang analis
intelijen, Rachel sudah sering menyaksikan hancurnya keseluruhan
teori akibat kesulitan yang lebih kecil dari ini.
"Ada apa di sana?" Suara laki-laki yang berat terdengar di
belakang mereka.
Semuanya menoleh. Sosok Administrator NASA yang seperti
beruang itu muncul dari kegelapan.
"Ada sedikit hal yang membingungkan menyangkut air di
dalam lubang ini," sahut Tolland. "Kami sedang berusaha untuk
menyelesaikannya."
"Data es Norah kacau," ujar Corky dengan nada gembira.
"Kau baik sekali, Corky," Norah mendesis.
Sang administrator mendekat, alis lebatnya berkerut. "Apa
yang salah pada data es itu?"
Tolland mendesah ragu. "Kami melihat ada kandungan air
asin sebanyak tiga persen tercampur dalam air di lubang meteorit.
Hal itu berlawanan dengan laporan glasiologi yang menyatakan
bahwa meteorit terkubur di dalam lempengan es yang terdiri
dari air tawar." Tolland berhenti sejenak. "Kami juga melihat
kehadiran plankton di sini."
Ekstrom tampak hampir marah. "Itu jelas tidak mungkin.
Tidak ada celah pada dataran es ini. Pemindai PODS memastikan
hal itu. Meteorit tersebut terkubur di dalam 'es padat."
Rachel tahu Ekstrom benar. Menurut pemindai kepadatan
NASA, lapisan es ini sepadat batu. Dataran es setebal ratusan
kaki menyelimuti meteorit ini selama tiga ratus tahun. Tidak
ada retakan. Namun, ketika Rachel membayangkan bagaimana
pemindaian kepadatan dilakukan, sebuah pikiran aneh terlintas
dalam benaknya ....
"Lagi pula," tambah Ekstrom, "sampel inti lempengan yang
diambil Dr. Mangor telah memastikan kepadatan dataran es
ini.
"Tepat!" seru Norah sambil melemparkan refraktometer ke
atas meja. "Pembuktian ganda. Tidak ada retakan pada es. Jadi,
tidak ada yang dapat kita jelaskan mengenai kandungan garam
dan plankton tersebut."
"Sebenarnya," kata Rachel. Keberanian dalam suara Rachel
mengejutkan semua orang, bahkan dirinya sendiri juga. "Ada
kemungkinan lain." Ilham itu seperti muncul dari ingatannya
yang paling tidak terduga.
Semua orang menatapnya. Keraguan tampak jelas pada wajah
mereka.
Rachel tersenyum. "Tampaknya keberadaan garam dan plankton
itu sangat wajar." Lalu Rachel menatap Tolland sambil ter-
"PLANKTON MEMBEKU di dalam dataran es?" Suara Corky
Marlinson terdengar sama sekali tidak percaya dengan penjelasan
Rachel. "Aku tidak ingin menghancurkan teorimu, Rachel, tetapi
biasanya jika makhluk hidup membeku, dia pasti akan mati.
Ingat serangga yang baru kita lihat tadi?"
"Tetapi," kata Tolland sambil memandang Rachel dengan
tatapan kagum, "mungkin Rachel ada benarnya juga. Ada banyak
jenis makhluk hidup yang mati suri ketika lingkungannya mengharuskannya
begitu. Aku pernah membahas satu episode tentang
fenomena itu."
Rachel mengangguk. "Kau pernah memperlihatkan ikan pike
utara yang membeku di danau tapi kemudian dapat berenang
kembali setelah danau mencair. Kau juga mengatakan tentang
mikroorganisme yang disebut 'beruang air' yang mengering di
gurun pasir, dan terus seperti itu selama beberapa dekade,
kemudian dapat hidup kembali setelah hujan turun."
Tolland tertawa terkekeh. "Jadi, kau betul-betul menonton
acaraku?"
Rachel mengangkat bahunya dengan agak malu.
"Apa maksudmu, Ms. Sexton?" tanya Norah.
"Maksudnya," sahut Tolland, "dan ini seharusnya kusadari
lebih awal, adalah salah satu jenis organisme yang kusebutkan
dalam acaraku itu adalah sejenis plankton yang membeku di
puncak kutub es setiap musim salju, tidur panjang di dalam es,
senyum lemah. "Dan terus terang, Mike, aku heran kau tidak
sadar akan hal itu."[]
IZRO'IL
Deception Point (Titik Muslihat)


42
dan kemudian berenang lagi setiap musim panas ketika puncak
es tersebut menipis." Tolland berhenti sejenak. "Aku jamin, jenis
yang kucontohkan dalam acaraku itu bukanlah plankton bercahaya
yang tadi kita lihat, tetapi mungkin saja hal yang sama
bisa terjadi di sini."
"Plankton beku," lanjut Rachel dengan perasaan senang
karena Michael Tolland begitu antusias dengan gagasan yang
diberikannya, "dapat menjelaskan semua yang kita lihat tadi di
sini. Karena satu alasan tertentu, di masa lalu, celah-celah dapat
saja terbuka di dataran es ini, dan segera terisi dengan air asin
yang mengandung plankton, lalu membeku lagi. Bagaimana jika
ada kantung-kantung air asin yang membeku di dataran es ini?
Air asin beku yang berisi plankton beku? Bayarigkan, jika saat
kau menaikkan meteorit yang dipanaskan itu melewati es, meteorit
tersebut melewati kantung air asin beku. Es air asin itu pasti
mencair, membebaskan plankton dari tidur panjang mereka,
dan memberi kita campuran air asin dalam persentase kecil
pada air tawar itu."
"Ya, ampun!" seru Norah dengan rasa ngeri. "Tiba-tiba
semua orang menjadi ahli glasiologi!"
Corky juga tampak ragu. "Tetapi PODS seharusnya dapat
menemukan setiap kantung air asin ketika memindai kepadatan
di sini, bukan? Lagi pula, es air asin dan es air tawar memiliki
kepadatan yang berbeda."
"Hampir tidak berbeda," kata Rachel.
"Empat persen merupakan perbedaan yang berarti," tantang
Norah.
"Ya, di dalam lab," sahut Rachel. "Tetapi PODS melakukan
pengukuran itu dari jarak 120 mil di ruang angkasa. Komputernya
dirancang untuk membedakan antara benda-benda yang
jelas, seperti es dan lumpur salju, batu granit dan batu gamping."
Lalu Rachel berpaling pada sang administrator. "Apakah dugaanku
benar ketika PODS mengukur kepadatan dari ruang angkasa,
alat pemindai itu mungkin memiliki kekurangan di bidang
resolusi sehingga sulit untuk membedakan es air asin dari es air
tawar?"
Sang administrator mengangguk. "Benar. Perbedaan empat
persen berada di bawah ambang toleransi PODS. Satelit itu
akan melihat air asin dan air tawar sebagai jenis air yang sama."
Tolland sekarang tampak tertarik. "Ini juga menjelaskan
ketinggian permukaan air yang statis di dalam terowongan itu."
Lalu dia menatap Norah. "Kau tadi mengatakan bahwa jenis
plankton yang kaulihat di terowongan penarikan itu sebagai
jenis—"
"G. polyhedra," sahut Norah. "Dan sekarang kau bertanyatanya
apakah G. polyhedra mampu tidur panjang di dalam es?
Kau akan senang karena jawabannya adalah ya. G. polyhedra
biasanya ditemukan berkelompok di sekitar ice shelf. Dia adalah
plankton bercahaya, dan dia dapat tidur panjang di dalam es.
Ada pertanyaan lagi?"
Semua orang saling pandang. Tapi dari nada bicara Norah,
jelas tersembunyi kata "tetapi" yang belum terucap. Walau begitu,
Norah seolah hanya ingin memastikan teori Rachel.
"Jadi," Tolland mencoba-coba, "kau mengatakan bahwa hal
itu mungkin saja, kan? Bahwa teori itu masuk akal?"
"Tentu," kata Norah, "jika kau betul-betul memiliki keterbelakangan
mental."
Rachel melotot. "Maaf?"
Norah Mangor balas menatap Rachel. "Dalam pekerjaanmu,
bukankah pengetahuan yang sedikit dapat menjadi hal yang
berbahaya? Nah, kalian bisa percaya padaku bahwa hal yang
sama juga berlaku dalam glasiologi." Sekarang mata Norah
beralih dan menatap ke setiap orang di sekelilingnya. "Izinkan
aku menjelaskan ini pada semuanya satu kali saja. Kantungkantung
air asin yang diperkirakan Ms. Sexton memang bisa
saja terjadi. Para ahli glasiologi menyebut kantung es itu interstices.
Tetapi, interstices tidak berbentuk kantung air asin tetapi
lebih berbentuk seperti jaringan es air asin yang memiliki cabang
banyak dengan sulur-sulur setebal rambut manusia. Meteorit
itu harus melalui serangkaian interstices yang amat sangat padat
agar bisa mencairkan air asin beku yang cukup banyak sehingga
dapat menciptakan campuran kadar garam sebesar tiga persen
di kolam sedalam itu."
Ekstrom menggerutu. "Jadi, hal itu mungkin atau tidak?"
"Sama sekali tidak," kata Norah datar. "Sama sekali tidak
mungkin. Kalau ada, aku sudah menemukan kantung-kantung
es air asin itu dalam sampel-sampel intiku."
"Sampel inti dataran es ini dibor pada titik-titik yang ditentukan
secara acak, bukan?" tanya Rachel. "Apakah mungkin
pemilihan tempat inti tersebut tidak mengenai sebuah kantung
es air asin?"
"Aku mengebor tepat di atas meteorit. Kemudian, aku
mengebor inti-inti lainnya hanya beberapa yard di setiap sisinya.
Itu sudah dekat, Bu."
"Aku hanya bertanya."
"Intinya adalah, teorimu dapat diperdebatkan," kata Norah.
"Interstices air asin hanya terjadi di dalam seasonal ice atau es
yang terbentuk dan mencair pada setiap musim. Sementara Milne
Ice Shelf adalah fast ice atau es yang terbentuk di pegunungan
dan terus berada di sana hingga berpindah ke zona yang rentan
terhadap longsor dan jatuh ke laut. Walaupun plankton beku
adalah teori yang bagus untuk menjelaskan fenomena kecil yang
misterius ini, tetapi dapat aku pastikan, tidak ada jaringan
tersembunyi dari plankton beku di dalam dataran es ini."
Sekelompok orang itu menjadi diam lagi.
Walau ada bantahan yang tajam pada teori plankton beku
itu, analisis Rachel yang sistematis terhadap data tersebut menolak
untuk menerima sanggahan dari Norah. Secara naluriah
Rachel tahu bahwa keberadaan plankton beku dalam dataran es
di bawah mereka merupakan jawaban yang paling sederhana
bagi teka-teki yang sekarang mereka hadapi. Law of Parsimony,
pikirnya. Instrukturnya di NRO yang mengajarkan tentang hal
ini. Ketika ada begitu banyak penjelasan, yang paling sederhanalah
yang biasanya benar.
Norah Mangor jelas akan sangat malu jika data inti esnya
salah, dan Rachel bertanya-tanya apakah mungkin Norah sudah
melihat plankton itu, menyadari bahwa dia salah karena sudah
menyatakan dataran es ini padat, dan sekarang hanya sedang
mencoba menutupinya saja.
"Yang pasti," kata Rachel, "aku baru saja memberikan keterangan
ringkas bagi seluruh staf Gedung Putih dan mengatakan
kepada mereka bahwa meteorit ini telah ditemukan di dalam es
murni dan telah terkubur di sana, tidak tersentuh dunia luar
sejak 1716, saat dataran es ini terpecah oleh meteor yang disebut
Jungersol dalam catatannya. Sekarang fakta ini sepertinya masih
belum pasti."
Administrator NASA terdiam dengan wajah muram.
Tolland berdehem. "Aku harus setuju dengan Rachel. Memang
ada air asin dan plankton di dalam kolam itu. Tidak
penting bagaimana penjelasannya, lubang itu jelas bukan tempat
yang tertutup. Kita tidak dapat mengatakan yang sebaliknya."
Corky terlihat merasa tidak nyaman. "Mm, kawan-kawan,
aku tidak bermaksud menonjolkan diri sebagai ahli astrofisika
di sini, tetapi dalam pekerjaanku, ketika kami membuat kesalahan,
kami biasanya mengabaikannya kecuali fakta yang ternyata
salah tersebut berusia miliaran tahun. Maksudku, kesempurnaan
dari es yang menyelimuti meteorit ini sama sekali tidak
memengaruhi meteorit itu sendiri, bukan? Kita masih memiliki
fosil itu. Tidak seorang pun mempertanyakan keaslian mereka.
Jika ternyata kita berbuat salah mengenai data inti es, tidak
seorang pun yang betul-betul memerdulikannya. Apa yang mereka
pedulikan adalah bahwa kita menemukan bukti kehidupan
di planet lain."
"Maafkan aku, Dr. Marlinson," kata Rachel, "sebagai seorang
analis data, aku tidak sependapat. Satu kesalahan kecil di dalam
data NASA yang akan diperlihatkan malam ini memiliki potensi
untuk memicu keraguan pada kredibilitas keseluruhan penemuan
NASA. Termasuk keaslian fosil-fosil tersebut."
Corky ternganga. "Apa maksudmu? Fosil-fosil itu tidak dapat
diperdebatkan lagi!"
"Aku tahu itu. Kau juga tahu itu. Tetapi jika masyarakat
mendengar bahwa NASA telah memperlihatkan data inti es
yang masih diragukan, percayalah padaku, mereka akan segera
mulai bertanya-tanya kebohongan apa lagi yang masih disembunyikan
NASA."
Norah melangkah ke depan. Matanya menyala-nyala. "Data
inti esku tidak perlu diragukan." Lalu dia berpaling pada sang
administrator. "Aku dapat membuktikan padamu, secara pasti,
tidak ada air asin yang terperangkap di mana- pun di dalam
lapisan es ini!"
Sang administrator menatapnya, lama. "Bagaimana caranya?"
Norah menjelaskan rencananya. Ketika dia selesai, Rachel
harus mengakui bahwa gagasan Dr. Mangor terdengar masuk akal.
Sang administrator tidak tampak begitu yakin. "Dan hasilnya
akan pasti?"
"Kepastian seratus persen," kata Norah meyakinkan. "Jika
ada satu ons saja air asin beku di dekat lubang tempat penarikan
meteorit ini, kau pasti akan melihatnya. Bahkan beberapa tetes
saja akan terlihat menyala di peralatanku seperti Times Square
di malam Natal."
Alis sang administrator berkerut di bawah rambutnya yang
bergaya militer itu. "Tidak ada banyak waktu lagi. Konferensi
pers akan mulai dalam beberapa jam lagi."
"Aku dapat kembali dalam waktu dua puluh menit."
"Berapa jauh kau harus pergi?"
"Tidak jauh. Dua ratus yard sudah cukup."
Ekstrom mengangguk. "Kauyakin itu aman?"
"Aku akan membawa senter," sahut Norah. "Dan Mike akan
ikut denganku."
Kepala Tolland tersentak. "Aku?"
"Ya, kau, Mike! Kita akan bekerja sama. Aku akan sangat
membutuhkan tangan yang kuat di bawah sana jika ada angin
kencang.
"Tetapi—"
"Dia benar," kata Ekstrom sambil berpaling pada Tolland.
"Jika Norah pergi, dia tidak bisa pergi sendirian. Aku bisa saja
mengirimkan beberapa orangku, tetapi, terus terang, aku lebih
suka menyimpan isu plankton ini di antara kita saja hingga
kita dapat memastikan apakah itu memang sebuah masalah atau
bukan."
Tolland mengangguk dan terlihat enggan.
"Aku juga ingin ikut," kata Rachel.
Norah berputar dengan cepat. "Tidak boleh."
"Sebenarnya," kata Ekstrom, seolah sebuah gagasan tibatiba
muncul di kepalanya. "Kupikir aku akan merasa lebih aman
jika kita menggunakan konfigurasi tali pengaman kuartet yang
standar. Empat orang akan jauh lebih aman daripada dua orang."
Dia berhenti dan menatap Corky. "Itu berarti salah satu di
antara kau dan Dr. Ming." Ekstrom melihat ke sekeliling habisphere.
"Ngomong-omong, di mana Dr. Ming?"
"Aku sudah agak lama tidak melihatnya," kata Tolland.
"Mungkin dia tidur sebentar."
Ekstrom berpaling pada Corky. "Dr. Marlinson, aku tidak
dapat memintamu untuk ikut bersama mereka, tapi—"
"Mengapa tidak?" kata Corky. "Toh semua orang sudah
menjadi akrab, bukan?"
"Tidak!" seru Norah. "Empat orang akan memperlambat
pekerjaan kita. Mike dan aku akan pergi berdua saja."
"Kalian tidak akan pergi berdua saja." Suara sang administrator
terdengar tegas ketika memutuskan. "Ada alasannya
mengapa konfigurasi tali pengaman terdiri dari empat simpul, dan
kita akan melakukannya seaman mungkin. Hal terakhir yang
aku butuhkan adalah sebuah kecelakaan yang terjadi beberapa
jam menjelang konferensi pers terbesar dalam sejarah NASA."[]
43
GABRIELLE ASHE merasakan ketidakpastian yang berbahaya
ketika dia duduk di dalam kantor Marjorie Tench yang beraura
tidak menyenangkan itu. Apa yang mungkin diinginkan perempuan
ini dariku? Di belakang satu-satunya meja dalam ruangan
itu, Tench bersandar pada kursinya. Wajahnya yang keras tampak
memancarkan kegembiraan ketika melihat Gabrielle merasa tidak
tenang.
"Apakah asap rokok mengganggumu?" tanya Tench sambil
mengeluarkan rokok baru dari kotaknya dengan mengetukkannya
ke meja.
"Tidak," sahut Gabrielle berbohong.
Lagi pula Tench sudah mulai menyulutnya. "Kau dan kandidatmu
sangat tertarik dengan NASA selama kampanye ini."
"Betul," sahut Gabrielle keras tanpa berusaha menyembunyikan
kemarahannya, "terima kasih atas doronganmu yang
kreatif. Aku ingin penjelasan."
Tench mencibir seolah tidak bersalah. "Kauingin tahu mengapa
aku mengirimkan informasi lewat email kepadamu untuk menyerang
NASA?"
"Informasi yang kaukirimkan merugikan Presidenmu."
"Untuk sementara, ya."
Nada tak menyenangkan dalam suara Tench membuat Gabrielle
tidak tenang. "Apa maksudnya itu?"
"Tenang, Gabrielle. Pesan-pesan dalam emailku tidak banyak
membuat perubahan. Senator Sexton sudah mengkritik NASA
jauh sebelum aku masuk. Aku hanya membantunya menjelaskan
pesan kampanyenya. Memperkuat posisinya."
"Menguatkan posisinya?"
"Tepat." Tench tersenyum. Giginya yang ternoda nikotin
terlihat sekilas. "Yang mana harus aku akui, sudah dilakukannya
dengan sangat baik siang tadi di CNN."
Gabrielle ingat reaksi Senator pada 'pertanyaan pendobrak
pertahanah yang disampaikan Tench. Ya, aku akan menghapuskan
NASA. Sexton sudah terpojok, tetapi dia mampu mengatasi
kesulitan dengan kekuatannya. Apa yang dilakukannya benar.
Betulkah begitu? Dari kesan puas di wajah Tench, Gabrielle
merasa ada informasi yang hilang.
Tiba-tiba Tench berdiri. Tubuhnya yang tinggi kurus mendominasi
ruang sempit itu. Dengan sebatang rokok tergantung
di bibirnya, dia berjalan ke brankas yang tertanam di dalam
dinding- ruangan kerjanya, menarik sebuah amplop dari kertas
manila yang berisi berkas-berkas yang tebal, lalu kembali ke
kursinya dan duduk.
Gabrielle menatap amplop yang tebal itu.
Tench tersenyum sambil menimang-nimang amplop tersebut
di atas pangkuannya seperti seorang pemain poker ketika sedang
memegang kartu kerajaan. Ujung jarinya yang kekuningan menjentiki
sudutnya dan membuat suara goresan berulang-ulang
yang mengganggu, seolah dia menikmati penantian yang menyiksa
Gabrielle ini.
Gabrielle tahu, yang dia rasakan sekarang hanyalah rasa
bersalah, tetapi ketakutan pertamanya adalah jika amplop itu
berisi semacam bukti hubungan seksualnya yang sembrono bersama
sang senator. Menggelikan, pikirnya. Kejadian itu terjadi
setelah jam kantor di kantor sang senator yang terkunci. Dan
lagi, jika Gedung Putih benar-benar memiliki bukti, mereka
pasti sudah menyebarkannya pada masyarakat sejak lama.
Mereka mungkin curiga, pikir Gabrielle, tetapi mereka tidak
punya bukti.
Tench mematikan rokoknya. "Ms. Ashe, entah kau menyadarinya
atau tidak, kau terperangkap di tengah-tengah pertempuran
yang telah berkobar di balik layar di Washington sejak 1996."
Gerakan pembuka ini sama sekali di luar dugaan Gabrielle.
"Maaf?"
Tench menyulut sebatang rokok baru. Bibir tipisnya menjepit
rokok itu, lalu ujung rokok tersebut menjadi merah ketika
disulut. "Apa yang kau ketahui tentang undang-undang yang
disebut Space Commercialization Promotions Act atau 'Undang-
Undang Komersialiasi Ruang Angkasa'?"
Gabrielle tidak pernah mendengar tentang itu. Dia menggerakkan
bahunya dengan bingung.
"Betulkah?" tanya Tench. "Aku terkejut. Padalah kau adalah
juru bicara kandidatmu. Undang-Undang Komersialiasi Ruang
Angkasa diajukan pada 1996 oleh Senator Walker. Undangundang
itu, pada intinya mengutarakan ketidakmampuan NASA
untuk melakukan hal-hal yang berguna sejak mendaratkan manusia
di bulan. Undang-undang ini merencanakan privatisasi NASA
dengan cara menjual segera aset-aset NASA kepada perusahaanperusahaan
ruang angkasa swasta dan membiarkan sistem pasar
bebas menjelajahi ruang angkasa dengan lebih efisien, sehingga
menghilangkan beban NASA yang sekarang diletakkan pada
bahu para pembayar pajak."
Gabrielle pernah mendengar para pengkritik menyarankan
privatisasi sebagai penyelesaian untuk permasalahan NASA. Tetapi
Gabrielle tidak tahu kalau gagasan itu dikembangkan dari undangundang
resmi.
"Undang-undang komersialisasi ini," kata Tench, "telah diajukan
kepada Kongres sebanyak empat kali. Ini serupa dengan undangundang
yang telah berhasil mengubah berbagai industri milik
negara menjadi industri swasta, seperti pabrik uranium. Kongres
telah mengesahkan Undang-undang Komersialisasi Ruang Angkasa
tersebut sebanyak empat kali. Syukurlah, Gedung Putih memveto
semuanya. Zachary Herney sendiri memvetonya dua kali."
"Maksudmu?"
"Maksudku adalah, undang-undang ini akan didukung Senator
Sexton jika dia kelak menjadi presiden. Aku punya alasan
untuk percaya bahwa Sexton tidak akan ragu untuk menjual
aset-aset NASA kepada penawar-penawar komersial begitu dia
mendapat kesempatan. Pendek kata, kandidatmu akan mendukung
privatisasi daripada melanjutkan program eksplorasi
ruang angkasa dengan menggunakan pajak rakyat Amerika."
"Setahuku, Senator Sexton belum pernah mengatakan di
depan umum tentang dukungannya terhadap Undang-Undang
Komersialisasi Ruang Angkasa."
"Betul. Tetapi, dengan melihat platform-nya, aku menyimpulkan
kau tidak akan terkejut jika dia mendukungnya."
"Sistem pasar bebas cenderung menghasilkan efisiensi."
"Aku menganggap itu sebagai ya.'" Tench menatap Gabrielle
lurus ke matanya. "Sayangnya, privatisasi NASA merupakan
gagasan yang sangat buruk, dan ada banyak alasan kenapa setiap
presiden yang menjabat di Gedung Putih, sejak undang-undang
itu dilahirkan, selalu menolaknya."
"Aku pernah mendengar alasan yang menentang privatisasi
ruang angkasa itu," kata Gabrielle, "dan aku mengerti keprihatinanmu."
"Betulkah?" Tench mencondongkan tubuhnya ke arah Gabrielle.
"Alasan yang mana yang kaudengar?"
Gabrielle bergerak dengan gelisah. "Yah, yang paling ditakuti
oleh akademis standar. Yang paling mungkin terjadi adalah jika
kita menjadikan NASA lembaga swasta, eksplorasi ilmiah tentang
ruang angkasa akan dengan cepat ditinggalkan dan digantikan
dengan usaha untuk mencari keuntungan."
"Betul. Ilmu pengetahuan tentang ruang angkasa akan mati
dalam sekejap. Bukannya mengeluarkan uang untuk mempelajari
alam semesta, perusahaan-perusahaan swasta akan menjadikan
asteroid-asteroid itu sebagai tambang uang, membangun hotelhotel
wisata di ruang angkasa, dan juga menawarkan pelayanan
peluncuran satelit. Kenapa perusahaan-perusahaan swasta memedulikan
usaha untuk mempelajari asal mula alam semesta
jika itu akan membuat mereka harus membayar miliaran dolar
dan tidak terlihat adanya keuntungan materi?"
"Mereka tidak akan bertindak seperti itu," bantah Gabrielle.
"Lagi pula, National Endowment for Space Science, Dana Nasional
bagi Ilmu Ruang Angkasa, dapat didirikan untuk mendanai
misi-misi ilmiah seperti itu."
"Kita sudah memiliki lembaga seperti itu. Namanya NASA."
Gabrielle terdiam.
"Pengabaian ilmu pengetahuan demi keuntungan adalah isu
sampingan," kata Tench. "Hampir tidak relevan jika dibandingkan
dengan kekacauan luar biasa jika sektor swasta diizinkan
untuk mengurus ruang angkasa dengan bebas. Kita akan mengalami
kegemparan yang sama seperti ketika nenek moyang kita
menemukan dunia baru di Amerika ini. Kita akan melihat
orang-orang memancangkan tanda kepemilikan mereka di bulan
dan asteroid, dan melindungi apa yang mereka akui sebagai
milik mereka itu dengan kekuatan. Aku sudah mendengar petisipetisi
dari beberapa perusahaan yang ingin membangun papan
iklan dengan lampu neon yang berkedip pada malam hari di
langit. Aku juga sudah melihat petisi-petisi dari hotel ruang
angkasa yang ingin mengundang banyak turis ke sana dengan
mengusulkan berbagai kegiatan termasuk membuang sampah
mereka di ruang angkasa yang kosong dan menciptakan pengorbitan
tumpukan sampah. Bahkan kenyataannya, kemarin aku
baru saja membaca sebuah pengajuan rencana dari sebuah perusahaan
yang ingin menjadikan ruang angkasa sebagai makam
dengan meluncurkan mayat-mayat ke orbit. Dapat kaubayangkan
satelit-satelit komunikasi kita saling bertabrakan dengan tubuh
orang yang sudah meninggal? Minggu lalu aku menerima kunjungan
seorang CEO miliarder di kantorku yang mengajukan
permohonan untuk meluncurkan sebuah misi menuju asteroid
terdekat, menariknya agar lebih dekat ke bumi dan menambang
mineral-mineralnya yang berharga. Aku sampai harus mengingatkan
lelaki itu bahwa menarik asteroid mendekati orbit bumi
akan menimbulkan potensi risiko malapetaka global! Ms. Ashe,
aku dapat yakinkan kau, jika undang-undang itu lolos, sekumpulan
pengusahalah yang akan berlomba ke ruang angkasa,
bukan lagi ilmuwan-ilmuwan. Mereka adalah pengusaha-pengusaha
yang berkantong tebal tetapi berotak dangkal."
"Argumen yang persuasif," kata Gabrielle, "dan aku yakin
Senator Sexton akan mempertimbangkan isu tersebut dengan
hati-hati jika dia berada pada posisi untuk mendukung undangundang
tersebut. Boleh aku bertanya apa hubungan semua ini
denganku?"
Mata Tench menyipit. "Banyak orang bersedia mengeluarkan
uang untuk ruang angkasa, dan lobi politik meningkat untuk
menghilangkan semua batasan dan membuka penghalang itu.
Kekuatan veto lembaga kepresidenan adalah satu-satunya penghalang
yang menahan privatisasi itu ... menahan anarki total di
ruang angkasa."
"Kalau begitu aku sarankan agar Zach Herney untuk menolak
undang-undang tersebut."
"Yang aku takutkan adalah kandidatmu tidak akan begitu
bijak jika kelak dia terpilih."
"Sekali lagi, aku kira sang senator akan mempertimbangkan
semua hal dengan berhati-hati jika dia berada dalam posisi untuk
menimbang-nimbang undang-undang itu."
Tench tidak terlihat percaya sepenuhnya. "Kautahu berapa
banyak uang yang dikeluarkan Senator Sexton untuk iklan di
media?"
Pertanyaan itu tidak terduga. "Jumlah itu sudah diketahui
umum."
"Lebih dari tiga juta dolar sebulan."
Gabrielle mengangkat bahunya. "Terserah katamu saja."
Perkiraan jumlah itu hampir benar.
"Itu jumlah uang yang banyak untuk dikeluarkan."
"Dia mempunyai banyak uang untuk dikeluarkan."
"Ya, dia merencanakannya dengan baik. Atau lebih bagus
jika kukatakan, menikah dengan baik." Tench berhenti sejenak
untuk mengembuskan asap rokoknya. "Menyedihkan juga tentang
istrinya, Katherine. Kematiannya membuat Sexton sangat
sedih." Lalu terdengar desahan sedih yang jelas dibuat-buat.
"Kematiannya belum lama, bukan?"
"Katakan segera maksudmu atau aku pergi."
Tench terbatuk keras, dan meraih amplop dari kertas manila
itu dengan isinya yang tebal itu. Dia kemudian mengeluarkan
setumpukan kecil lembaran-lembaran kertas yang dijepit dan
memberikannya kepada Gabrielle. "Catatan keuangan Sexton."
Gabrielle mempelajari dokumen itu dengan kagum. Catatan
itu dimulai dari beberapa tahun yang lalu. Walau Gabrielle bukan
asisten yang mengurus keuangan pribadi Sexton, dia merasa
data ini asli. Di sana terdapat catatan rekening bank, tagihan
kartu kredit, berbagai pinjaman, aset dalam bentuk saham, aset
dalam bentuk lahan yasa, hutang-hutang, keuntungan dan kerugian
modal. "Ini data pribadi. Di mana kau mendapatkannya?"
"Sumberku bukan urusanmu. Tetapi jika kaumau meluangkan
waktu untuk mempelajari angka-angka itu, kau akan tahu
dengan jelas bahwa Senator Sexton tidak memiliki uang sebanyak
yang dia keluarkan akhir-akhir ini. Setelah Katherine meninggal,
Senator menghamburkan uang warisannya untuk investasi yang
hanya memberikan kerugian, kesenangan pribadi, dan membeli
barang-barang yang pada awalnya terlihat menguntungkan, tetapi
kemudian berubah menjadi kerugian yang besar. Enam bulan
yang lalu, dia jatuh bangkrut."
Gabrielle merasa ini pasti hanya gertak sambal Marjorie
Tench saja. Jika Sexton memang benar bangkrut, dia jelas tidak
akan terlihat seperti itu saat ini. Dia justru membeli blok
penayangan iklan yang semakin besar setiap minggunya.
"Pengeluaran kandidatmu," lanjut Tench, "sekarang sudah
melebihi pengeluaran Presiden. Empat banding satu. Padahal,
dia tidak memiliki uang pribadi."
"Kami mendapatkan banyak bantuan."
"Ya, dan hanya beberapa di antaranya yang sah secara hukum."
Kepala Gabrielle tersentak. "Maaf?"
Tench mencondongkan tubuhnya ke depan, dan Gabrielle
dapat mencium aroma napas nikotin dari mulutnya. "Gabrielle
Ashe, aku akan mengajukan sebuah pertanyaan, dan aku sarankan
kau memikirkannya dengan saksama sebelum menjawabnya.
Pertanyaan ini dapat menentukan apakah kau akan menghabiskan
beberapa tahun mendatang di penjara atau tidak. Tahukah
kau bahwa Senator Sexton menerima uang suap secara tidak
resmi dari perusahaan-perusahaan ruang angkasa yang menginginkan
keuntungan miliaran dolar dari privatisasi NASA?"
Gabrielle menatapnya. "Itu tuduhan konyol!"
"Maksudmu, kau tidak tahu aktivitasnya?"
"Kukira aku akan tahu jika sang senator menerima suap dari
perusahaan-perusahaan besar yang kausebutkan itu."
Tench tersenyum dingin. "Gabrielle, aku mengerti Senator
Sexton sudah begitu banyak menceritakan dirinya denganmu,
tetapi aku yakinkan kau, ada banyak hal lain yang tidak kau
ketahui tentang lelaki itu."
Gabrielle berdiri. "Pertemuan ini sudah selesai."
"Sebaliknya," kata Tench sambil mengeluarkan sisa dari isi
amplop itu dan menebarkannya di atas meja. "Pertemuan ini
baru saja mulai. []
IZRO'IL
Deception Point (Titik Muslihat)


44
DI "RUANG perlengkapan" di dalam habisphere, Rachel Sexton
merasa seperti seorang astronot ketika dia mengenakan pakaian
pertahanan iklim mikro Mark IX milik NASA. Pakaian terusan
berwarna hitam dan berpenutup kepala itu serupa dengan pakaian
selam yang digembungkan. Bahan dengan lapisan ganda
yang terbuat dari memory-foam itu memilik saluran-saluran kosong,
di mana saluran tersebut dilalui gel padat yang dipompakan
untuk menolong pemakainya agar dapat mengatur suhu
tubuhnya dalam lingkungan dingin ataupun panas.
Sekarang Rachel memasang penutup kepala di atas kepalanya
sambil menatap Ekstrom. Lelaki itu tampak seperti penjaga yang
berdiri diam di depan pintu. Dia jelas tidak senang dengan
keharusan misi kecil ini.
Norah Mangor menggumamkan kata-kata tidak sopan ketika
mempersiapkan ketiga kawannya itu dengan pakaian mereka.
"Ini dia untuk si bantet," katanya sambil melemparkan pakaian
untuk Corky.
Tolland hampir siap.
Begitu Rachel sudah selesai mengenakan pakaiannya, Norah
memegang katup di sisi pakaian Rachel dan menghubungkan
Rachel dengan sebuah selang infusi yang tergulung pada tabung
perak yang serupa dengan tabung oksigen untuk penyelam.
"Tarik napas," kata Norah sambil membuka katupnya.
Rachel mendengar suara mendesis dan merasakan gel yang
disuntikkan ke dalam pakaiannya. Kain yang terbuat dari memoryfoam
itu mengembang, dan sisi dalam pakaian astronot tersebut
memadat di sekitarnya dan menekan pakaian yang tadi dikenakannya.
Sensasi yang dia rasakan mengingatkannya pada saat
dia memasukkan tangannya yang bersarung tangan karet ke
dalam air. Ketika tutup kepala Rachel mengembang di sekitar
kepalanya, tutup kepala itu menekan telinganya, sehingga semuanya
terdengar tidak jelas. Aku berada dalam kepompong.
"Hal terbaik dari Mark IX," kata Norah, "adalah pelindung
tubuhnya. Kau bisa saja jatuh terduduk tanpa merasakan sakit
sama sekali."
Rachel memercayainya. Dia merasa seperti terperangkap di
dalam matras.
Norah memberikan seperangkat peralatan kepada Rachel
yang terdiri atas sebuah kapak es, tali pengaman, dan carabiner,1
yang dipasangkan di ikat pinggang Rachel.
"Semuanya?" tanya Rachel sambil menatap peralatannya.
"Untuk pergi sejauh dua ratus yard saja?"
Mata Norah menyipit. "Kau mau ikut atau tidak?"
Tolland mengangguk untuk menenangkan Rachel. "Norah
hanya ingin berhati-hati."
Corky sudah terhubung dengan tangki infusi dan pakaiannya
kemudian terpompa. Dia tampak senang. "Aku merasa seperti
mengenakan kondom raksasa."
Norah mengerang jijik. "Memangnya kautahu apa itu kondom,
Perjaka?"
Tolland duduk di sebelah Rachel. Dia tersenyum lemah ke
arah Rachel ketika putri Senator Sexton itu mengenakan sepatu
bot dan crampon2-nya. "Kauyakin mau ikut?" Mata Tolland memancarkan
kepedulian yang membuat Rachel terhanyut.
Rachel berharap anggukan dengan sikap yang dikuat-kuatkannya
itu sanggup menyembunyikan kecemasannya yang semakin
bertambah. Hanya dua ratus yard ... sama sekali tidak
jauh. "Kaupikir kau hanya dapat menemukan kegembiraan di
laut terbuka saja."
Tolland terkekeh. Dia berbicara sambil memasang cramponnya
sendiri. "Aku lebih menyukai air dibandingkan es beku
ini.
1Gelang metal berbentuk agak lonjong dengan engsel pegas yang dapat
dibuka di sisinya, digunakan dalam pendakian gunung, dan berguna untuk
menyerap hentakan seandainya pemanjat jatuh—penerjemah.
2Kerangka luar penyangga sepatu bot yang terbuat dari logam, dan
bagian bawahnya terdiri atas gerigi-gerigi tajam untuk mencengkeram salju—
penerjemah.
"Aku tidak pernah menyukai keduanya," kata Rachel. "Aku
pernah jatuh ke dalam es ketika masih kecil. Sejak itu air
membuatku panik."
Tolland menatapnya. Matanya bersinar simpatik. "Aku prihatin.
Jika ini sudah selesai, kau harus pergi dan mengunjungiku
di Goya. Aku akan mengubah pendapatmu tentang air. Aku janji."
Undangan itu mengejutkan Rachel. Goya adalah kapal penelitian
Tolland yang terkenal karena perannya dalam acara Amazing
Seas maupun reputasinya sebagai salah satu kapal dengan
bentuk paling aneh di samudra. Walau kunjungan ke Goya
akan membuatnya agak takut, dia tahu undangan itu sayang
untuk dilewatkan. "Goya berlabuh dua belas mil dari pantai
New Jersey saat ini," kata Tolland sambil masih berusaha keras
untuk mengikat tali crampon-nya..
"Terdengar seperti tempat yang tidak biasa."
"Sama sekali tidak. Daerah pesisir Atlantik adalah tempat
yang mengagumkan. Kami sedang mempersiapkan pengambilan
gambar untuk sebuah film dokumenter baru ketika aku diganggu
Presiden."
Rachel tertawa. "Film dokumenter tentang apa?"
"Sphyrna mokarran dan megaplume."
Rachel mengerutkan keningnya. "Aku senang sudah bertanya."
Tolland sudah selesai memasang crampon-nya, kemudian
menatap Rachel. "Sungguh. Aku akan membuat film dokumenter
di sana selama dua minggu. Washington tidak begitu jauh
dari pantai Jersey. Datanglah ke sana. Kau tidak bisa terusmenerus
takut terhadap air. Anak buahku akan menggelar karpet
merah untukmu."
Suara Norah Mangor terdengar menyambar dengan keras.
"Kita akan pergi keluar atau aku harus mengambil beberapa
batang lilin dan sampanye untuk kalian?" []
45
GABRIELLE ASHE tidak tahu apa yang harus dia lakukan
dengan dokumen yang sekarang terhampar di atas meja Marjorie
Tench. Tumpukan itu termasuk fotokopi surat-surat, faks, dan
transkrip pembicaraan telepon. Dokumen-dokumen tersebut
tampak mendukung dugaan bahwa Senator Sexton sedang berdialog
dengan perusahaan-perusahaan ruang angkasa swasta.
Tench lalu mendorong dua lembar foto hitam-putih ke
arah Gabrielle. "Kukira ini penting untukmu?"
Gabrielle melihat foto-foto tersebut. Yang pertama, diambil
dengan kamera tersembunyi dan memperlihatkan Sexton sedang
keluar dari sebuah taksi di suatu garasi bawah tanah. Sexton
tidak pernah menggunakan taksi. Gabrielle lalu melihat foto
kedua, sebuah foto yang diambil dari jarak jauh dan memperlihatkan
Sexton sedang memasuki sebuah mobil van kecil
berwarna putih. Seorang lelaki tua yang berada di dalam van
tersebut sedang menunggunya.
"Siapa itu?" tanya Gabrielle sambil merasa curiga kalaukalau
foto itu hanya rekayasa.
"Seorang tokoh penting dari SFE"
Gabrielle ragu-ragu. "Space Frontier Foundation?"
SFF adalah semacam "persatuan" perusahaan-perusahaan ruang
angkasa swasta. Persatuan itu mewakili para kontraktor pesawat
ruang angkasa, wiraswasta, pemodal bersama atau entitas swasta
apa pun yang ingin pergi ke ruang angkasa. Mereka cenderung
kritis pada NASA dan beragumen bahwa lembaga ruang angkasa
Amerika Serikat itu melaksanakan praktik bisnis yang tidak adil
dengan mencegah perusahaan-perusahaan swasta meluncurkan
misi ke ruang angkasa.
"SFF," kata Tench, "sekarang mewakili lebih dari seratus
perusahaan besar yang bersemangat untuk menunggu Undang-
Undang Komersialisasi Ruang Angkasa disahkan."
Gabrielle mempertimbangkannya. Untuk alasan yang pasti,
SFF terang-terangan mendukung kampanye Sexton, walau sang
senator telah berhati-hati untuk tidak terlalu dekat dengan
mereka karena taktik lobi mereka yang kontroversial. Akhirakhir
ini SFF telah mengutarakan keluhan mereka dengan menuduh
NASA sebagai "monopoli ilegal" karena rela merugi untuk
satu transaksi tertentu tetapi masih terus dipertahankan sehingga
memperlihatkan adanya persaingan yang tidak adil. Menurut
SFF, kapanpun AT&T ingin meluncurkan satelit telekomunikasi,
beberapa perusahaan ruang angkasa swasta menawarkan jasa
dengan biaya yang masuk akal sebesar 50 juta dolar. Celakanya,
NASA selalu menyela dan menawarkan peluncuran satelit milik
AT&T dengan biaya paling tinggi 25 juta dolar, walau itu
berarti NASA harus mengeluarkan biaya lima kali untuk menyelesaikan
pekerjaan itu! Beroperasi dalam keadaan rugi adalah
satu cara NASA untuk tetap menguasai ruang angkasa, seorang
pengacara SFF menuduh. Dan para pembayar pajak yang harus
menambal kerugian itu.
"Foto-foto ini membuktikan," kata Tench, "kandidatmu
melakukan pertemuan rahasia dengan organisasi yang mewakili
perusahaan-perusahaan besar ruang angkasa. Lalu Tench menunjuk
pada dokumen lainnya di atas meja. "Kami juga memiliki
beberapa catatan internal SFF yang menghimbau para anggotanya
agar mengumpulkan sejumlah besar uang—dalam jumlah
yang proporsional dengan nilai bersih perusahaan mereka—dan
uang tersebut ditransfer ke rekening yang dikontrol Senator
Sexton. Akibatnya, berbagai perusahaan ruang angkasa swasta
ini berjasa mengantarkan Sexton ke tampuk kekuasaan. Aku
dapat menduga, Sexton sudah setuju untuk meloloskan undangundang
komersialisasi dan privatisasi NASA jika dia terpilih
kelak."
Gabrielle melihat tumpukan kertas itu, namun dia tidak
percaya. "Apakah kau berharap aku percaya bahwa Gedung Putih
memiliki bukti bahwa lawannya terlibat masalah pendanaan
kampanye ilegal yang besar, tapi, karena satu dan lain hal, kau
merahasiakannya?"
"Apa yang ingin kaupercaya?"
Gabrielle melotot. "Terus terang, dengan mempertimbangkan
keahlianmu dalam memanipulasi, sebuah jawaban yang tampaknya
lebih masuk akal adalah kau mencoba menyodoriku dokumen-
dokumen dan foto-foto palsu yang dibuat staf Gedung
Putih dan komputernya."
"Aku akui itu memang mungkin. Tetapi itu tidak betul."
"Tidak? Lalu bagaimana kau bisa mendapatkan semua dokumen
internal dari perusahaan-perusahaan itu? Sumbermu harus
mencuri semua bukti ini dari begitu banyak perusahaan yang
jelas berada di luar jangkauan Gedung Putih."
"Kau benar. Tetapi informasi-informasi itu berada di sini
sebagai pemberian tanpa diminta."
Gabrielle sekarang bingung.
"Oh, ya," kata Tench, "kami mendapatkan banyak informasi
seperti ini. Presiden memiliki banyak sekutu politik yang senang
melihatnya tetap berada di lembaga ini. Ingat, Senator Sexton
mengusulkan pemotongan anggaran di seluruh departemen dan
banyak dari departemen itu yang berada di sini, di Washington.
Dia jelas tidak segan-segan menyebutkan anggaran FBI yang
membengkak sebagai contoh pemborosan pemerintahan. Dia
juga menuduh IRS secara sembrono. Mungkin seseorang dalam
departemen-departemen tersebut merasa agak terganggu."
Gabrielle mengerti maksud Tench. Orang-orang di FBI dan
IRS memiliki cara untuk mendapatkan informasi-informasi seperti
itu. Mungkin mereka kemudian mengirimkan semua informasi
tersebut ke Gedung Putih sebagai bentuk dukungan untuk
membantu Presiden dalam menghadapi pemilu. Tetapi yang
tidak dapat dipercaya Gabrielle adalah, Senator Sexton mungkin
terlibat dengan pendanaan kampanye yang ilegal. "Jika datadata
ini benar," tantang Gabrielle, "yang mana sangat kuragukan,
kenapa kau tidak mengumumkannya saja?"
"Menurutmu kenapa?"
"Karena kau mengumpulkan semua data ini dengan cara
tidak sah."
"Bagaimana kami mendapatkannya tidak jadi soal."
"Tentu saja ada artinya. Semua data tersebut tidak akan
diterima dalam pemeriksaan hukum."
"Pemeriksaan hukum apa? Kami hanya tinggal membocorkan
semua data ini ke surat kabar dan mereka akan mencetaknya
sebagai cerita dari 'sumber yang dapat dipercaya' berikut foto
dan dokumentasinya. Sexton akan bersalah hirigga dia terbukti
tidak bersalah. Pendirian Sexton yang menentang NASA dengan
keras itu akan menjadi bukti jelas bahwa dia menerima suap."
Gabrielle tahu itu benar. "Baik. Lalu mengapa kau belum
membocorkan informasi tersebut?" tanya Gabrielle menantang.
"Karena ini adalah hal yang negatif. Presiden sudah berjanji
untuk tidak melakukan kampanye negatif dan dia ingin tetap
menjaga janjinya selama dia mampu."
Memangnya aku percaya! "Maksudmu, Presiden begitu bermoralnya
hingga dia tidak akan mengumumkannya kepada
masyarakat karena hal itu akan dianggap sebagai kampanye
negatif?"
"Cara itu buruk bagi bangsa ini. Langkah seperti itu akan
melibatkan belasan perusahaan yang banyak di antaranya didirikan
oleh orang-orang jujur. Langkah seperti itu juga akan menodai
lembaga Senat Amerika Serikat dan buruk bagi moral
bangsa. Beberapa politisi yang tidak jujur akan mencoreng semua
politisi. Masyarakat Amerika harus memercayai pemimpin mereka.
Ini akan menjadi penyelidikan yang berisiko dan sangat
memungkinkan seorang senator Amerika Serikat dan sejumlah
eksekutif perusahaan pesawat ruang angkasa masuk penjara."
Walau uraian Tench masuk akal, Gabrielle masih meragukan
dugaan itu. "Apa hubungan ini semua denganku?"
"Gampangnya begini, Ms. Ashe. Jika kami melepaskan dokumen-
dokumen ini, kandidatmu akan didakwa menggunakan
dana kampanye yang tidak sah, kehilangan kursi di Senat, dan
mungkin sekali, masuk penjara." Tench bethenti sejenak. "Kecuali
...."
Gabrielle melihat kilatan licik seperti mata ulat di mata
Tench. "Kecuali apctf"
Tench menghisap rokoknya dalam-dalam. "Kecuali kau memutuskan
untuk membantu kami menghindari semua itu."
Ruangan itu menjadi sunyi dan suram.
Tench tetbatuk serak. "Gabrielle, dengar. Aku memutuskan
untuk membagi informasi yang tidak menyenangkan ini denganmu
karena tiga alasan. Pertama, untuk memperlihatkan padamu
bahwa Zach Herney adalah seorang lelaki terhormat yang menempatkan
kebaikan pemerintahan di atas kepentingan pribadi.
Kedua, untuk memberitahukan bahwa kandidatmu itu tidak
sejujur seperti yang kaukira. Dan yang ketiga, untuk merabujukmu
menerima tawaran yang akan kuajukan padamu."
"Tawaran apa?"
"Aku akan menawarimu kesempatan untuk melakukan hal
yang benar. Hal yang patriotis. Entah kau menyadarinya atau
tidak, kau berada pada posisi yang unik untuk menghindarkan
Washington dari berbagai jenis skandal yang tidak menyenangkan
ini. Jika kau dapat melakukan apa yang akan kuminta, mungkin
kau akan memperoleh jabatan dalam tim Presiden."
Jabatan dalam tim Presiden? Gabrielle tidak dapat memercayai
telinganya. "Ms. Tench, apa pun rencanamu, aku tidak
suka diperas, dipaksa, atau diperintah. Aku bekerja untuk kampanye
sang senator karena aku percaya pada politiknya. Dan
jika apa yang terjadi di sini adalah indikasi bagaimana Zach
Herney menggunakan pengaruh politiknya, aku tidak tertarik
berhubungan dengannya! Jika kau mempunyai informasi tentang
Senator Sexton, kusarankan kau bocorkan saja kepada pers. Terus
terang, kupikir semua ini tipuan."
Tench mendesah muram. "Gabrielle, pendanaan kampanye
Sexton yang tidak sah itu merupakan fakta. Maafkan aku. Aku
tahu kaupercaya padanya." Dia lalu merendahkan suaranya.
"Begini. Ini intinya. Presiden dan aku akan mengumumkan isu
pendanaan itu jika terpaksa, tetapi itu akan berakibat buruk
dalam skala yang besar. Skandal ini melibatkan beberapa perusahaan
besar Amerika Serikat yang melanggar hukum. Banyak
orang tidak bersalah akan terkena akibatnya." Tench menghisap
rokoknya, lama, lalu mengembuskannya. "Apa yang diharapkan
Presiden dan aku di sini ... adalah cara yang berbeda untuk
mencemarkan etika senator. Sebuah cara yang kurang berakibat
buruk ... cara yang tidak akan menyakiti orang yang tidak
bersalah." Tench meletakkan rokoknya dan melipat tangannya.
"Gampangnya, kami ingin kau mengakui di depan umum bahwa
kau mempunyai hubungan gelap dengan sang senator."
Seluruh tubuh Gabrielle menjadi kaku. Tench terdengar
begitu yakin. Tidak mungkin, kata Gabrielle dalam hati. Tidak
ada bukti. Hubungan seks itu hanya terjadi satu kali di balik
pintu tertutup di kantor Senator Sexton. Tench tidak punya
bukti apa-apa. Dia hanya memancing-mancing saja. Gabrielle
berusaha menjaga suaranya agar tidak gemetar. "Kau banyak
menduga-duga, Ms. Tench."
"Yang mana? Bahwa kaupunya hubungan gelap? Atau bahwa
kau akan meninggalkan kandidatmu?"
"Keduanya."
Tench tersenyum sekilas dan berdiri. "Baik. Mari kita singkirkan
salah satu dari keduanya itu sekarang." Dia lalu berjalan
ke brankas di dindingnya lagi dan kembali dengan membawa
map merah dari kertas manila. Di atasnya ada cap lambang
Gedung Putih. Tench membuka pengaitnya, membalikkan map
itu, dan menjatuhkan semua isinya ke atas meja di depan
Gabrielle.
Ketika belasan lembar foto berwarna itu berjatuhan di atas
meja, Gabrielle melihat seluruh kariernya hancur berkepingkeping
di hadapannya. []
46
DI LUAR habisphere, angin katabatic yang menderu-deru di
atas dataran es sama sekali tidak sama dengan angin samudra
yang biasa dirasakan Tolland. Di samudra, angin dihasilkan dari
gelombang pasang dan tekanan dari dua jenis udara yang memiliki
temperatur berbeda, dan datang dalam wujud embusan
yang kadang-kadang menguat dan mereda. Sementara angin
katabatic sangat dipengaruhi fisika sederhana: udara dingin yang
berat, mengalir menuruni kemiringan lereng es seperti ombak
pasang. Ini merupakan kekuatan angin terkencang yang pernah
dialami Tolland. Jika kecepatan angin katabatic adalah pada dua
puluh knot, angin itu akan menjadi mimpi indah bagi para
pelaut, tetapi pada arus delapan puluh knot, angin itu dengan
cepat dapat menjadi mimpi buruk, bahkan bagi mereka yang
berada di tanah yang padat. Tolland tahu, jika dia berhenti dan
menegakkan tubuhnya, angin kencang itu dapat dengan mudah
menerbangkannya.
Yang membuat aliran udara yang deras itu menjadi begitu
menakutkan bagi Tolland adalah kemiringan dataran es yang
searah dengan turunnya angin. Dataran es tersebut menurun
walau sangat landai ke arah lautan yang berjarak dua mil. Walau
gerigi-gerigi crampon Pitbull Rapido menempel kuat pada sepatu
botnya, Tolland masih merasa cemas kalau-kalau dia salah melangkah
sehingga mungkin akan membuatnya tertiup angin
kencang dan menggelincir ke bawah lereng es yang curam.
Kursus selama dua menit untuk keamanan di lereng es yang
diberikan Norah Mangor sekarang tampak tidak memadai.
Kapak Piranha Ice, kata Norah sambil mengencangkan peralatan
ringan berbentuk T itu di setiap ikat pinggang mereka
ketika mereka bersiap-siap di habisphere tadi. Berbagai jenis kapak,
palu, dan sabit. Yang perlu kalian ingat adalah, jika terpeleset
atau terperangkap dalam tiupan angin, pegang kapakmu dengan
satu tangan di mata kapaknya dan satu tangan lagi di tangkainya.
Tancapkan kapak tersebut ke dalam es, dan jatuhkan tubuhmu
secara tiarap sambil menjejakkan crampon-mu.
Dengan kata-kata yang meyakinkan itu, Norah Mangor
memasangkan tali pengaman YAK dari kulit ke pinggang mereka
semua. Mereka semua mengenakan kacamata ski, dan berjalan
memasuki kegelapan sore.
Sekarang, keempat sosok itu menuruni lereng es sambil
berbaris lurus dengan tali penyelamat yang menghubungkan
mereka masing-masing dengan jarak sepuluh yard. Norah berjalan
paling depan, diikuti Corky, kemudian Rachel dan Tolland
sebagai jangkar.
Ketika mereka bergerak semakin jauh dari habisphere, Tolland
merasa semakin cemas. Di dalam pakaiannya yang dipompa,
walau terasa hangat, dia merasa seperti seorang pengembara di
ruang angkasa yang sedang berjalan tidak tentu arah menyeberangi
planet yang jauh. Bulan telah menghilang di balik awan
badai yang tebal dan menyebar, menjadikan dataran es itu gelap
gulita. Angin katabatic tampaknya bertiup semakin kuat setiap
menitnya dan menekan punggung Tolland secara konstan. Ketika
matanya mencoba menembus kabut melalui kacamata skinya
untuk melihat kehampaan yang meluas di sekitar mereka, dia
mulai merasakan bahaya yang sebenarnya di tempat ini. Entah
ini bisa disebut sebagai tindakan pengamanan tambahan NASA
atau tidak, Tolland heran kenapa sang administrator mau membahayakan
empat nyawa di luar sini, bukan dua saja, terutama
jika tambahan nyawa itu adalah putri seorang senator dan
seorang ahli astrofisika yang terkenal. Tolland tidak terkejut
ketika merasa khawatir untuk melindungi Rachel dan Corky.
Sebagai seseorang yang telah menjadi kapten dari sebuah kapal,
dia terbiasa merasa bertanggung jawab dengan orang-orang di
sekitarnya.
"Tetaplah di belakangku," teriak Norah, suaranya terdengar
tertelan angin. "Biarkan kereta luncur ini memimpin jalan."
Kereta luncur salju dari aluminum yang memuat peralatan
pengujian Norah serupa dengan Flexible Flyer besar. Kendaraan
itu sebelumnya telah dipenuhi dengan peralatan diagnostik dan
perlengkapan penyelamatan yang telah digunakannya di lereng
es beberapa hari yang lalu. Semua peralatannya—termasuk sekotak
baterai, senter pengaman, dan lampu sorot yang amat
terang yang dipasang di depan-—diikat di bawah penutup plastik
yang aman. Walau muatannya banyak, kereta luncur itu meluncur
lurus dengan mudah seperti pada jalan yang rata. Bahkan
pada kecuraman yang hampir tidak terasa, kereta luncur itu
meluncur turun secara otomatis, dan Norah hanya menahannya
sedikit saja, seolah membiarkan kereta itu meluncur memimpin
jalan.
Merasa mereka sudah semakin jauh dari habispehere, Tolland
menoleh ke belakang. Mereka baru berjalan lima puluh yard,
tapi bentuk melengkung dari kubah pucat itu telah menghilang
di balik kegelapan dalam embusan angin yang kuat.
"Kau tidak mengkhawatirkan cara kita menemukan jalan
pulang?" teriak Tolland. "Habisphere sudah hampir tidak terli—"
Kata-kata Tolland terpotong desisan keras dari obor yang menyala
di tangan Norah. Tiba-tiba sinar merah-putih menerangi lapisan
es dalam radius sepuluh yard di sekitar mereka. Norah menggunakan
ujung kakinya untuk menggali lekukan kecil di permukaan
salju, kemudian membuat tumpukan salju sebagai pelindung
obor itu pada sisi yang tertiup angin. Setelah itu dia
menancapkan obor itu ke dalam cerukan tersebut.
"Remah-remah roti berteknologi tinggi," teriak Norah.
"Remah-remah roti?" tanya Rachel sambil melindungi matanya
karena sinar yang tiba-tiba muncul itu.
"Dongeng Hansel dan Gretel," teriak Norah lagi. "Obor
ini akan tahan hingga satu jam. Banyak waktu untuk menemukan
kembali jalan pulang."
Setelah itu Norah kembali bergerak, memimpin mereka
menuruni lereng es—memasuki kegelapan sekali lagi. []
47
GABRIELLE ASHE berlari keluar dari kantor Marjorie Tench
dan nyaris menabrak seorang sekretaris. Dengan rasa malu yang
amat sangat, yang dapat dilihat Gabrielle dalam benaknya hanyalah
foto-foto yang memperlihatkan lengan dan kaki laki-laki
dan perempuan yang saling berangkulan dengan wajah-wajah
yang penuh kepuasan.
Gabrielle tidak tahu bagaimana foto-foto itu diambil, tetapi
dia tahu dengan pasti foto-foto itu asli. Foto-foto itu telah
diambil di kantor Senator Sexton dan tampaknya dari atas
dengan kamera tersembunyi. Tuhan tolong aku. Salah satu foto
itu memperlihatkan Gabrielle dan Sexton bercinta di atas meja
kerja Senator—tubuh mereka terlentang di atas tebaran dokumen-
dokumen resmi yang berserakan.
Marjorie Tench menghadang Gabrielle di luar Map Room.
Tench membawa map merah berisi foto-foto itu. "Dari reaksimu,
aku menduga kaupercaya bahwa foto-foto ini asli?" Penasihat
senior Presiden itu betul-betul tampak seperti sedang menikmati
saat ini. "Aku berharap foto-foto ini dapat membuatmu percaya
bahwa data-data lainnya yang kami miliki itu juga asli. Datadata
itu berasal dari sumber yang sama."
Gabrielle merasa seluruh tubuhnya memerah karena malu
ketika dia berjalan melintasi koridor. Di mana pintu keluarnya?
Kaki Tench yang panjang tidak menemui kesulitan untuk
mengejar Gabrielle. "Senator Sexton bersumpah kepada semua
orang bahwa hubungan kalian berdua hanyalah sebatas rekan
kerja saja. Pernyataannya yang disiarkan di televisi sesungguhnya
sangat meyakinkan." Tench bergerak perlahan di belakang bahu
Gabrielle. "Aku juga punya kaset rekamannya di kantorku jika
kauingin menyegarkan ingatanmu?"
Gabrielle tidak membutuhkan penyegar ingatan. Dia ingat
konferensi pers tersebut dengan sangat baik. Penyangkalan Sexton
begitu kukuh sekaligus tulus.
"Sayang sekali," kata Tench tanpa terdengar kecewa sama
sekali, "Senator Sexton memandang masyarakat Amerika tepat
pada mata mereka dan mengatakan kebohongan dengan sangat
jelas. Masyarakat memiliki hak untuk tahu. Dan mereka akan
tahu. Aku sendiri yang akan memastikannya. Satu-satunya pertanyaan
sekarang adalah bagaimana mereka akan tahu. Kami
percaya, yang terbaik adalah jika itu dari dirimu sendiri."
Gabrielle terpaku. "Kau benar-benar mengira aku akan membantu
menjegal kandidatku sendiri?"
Wajah Tench mengeras. "Aku hanya berusaha untuk mempermudah
masalah ini untukmu, Gabrielle. Aku memberimu
kesempatan untuk menyelamatkan semua orang dari rasa malu
dengan cara menegakkan kepalamu dan mengatakan yang sesungguhnya.
Yang kuperlukan hanyalah pernyataan tertulis yang
mengakui hubungan gelap kalian itu dengan tanda tanganmu
di atasnya."
Gabrielle berhenti. "Apa!"
"Tentu saja. Sebuah pernyataan yang ditandangani akan
memudahkan kami untuk menangani Senator Sexton secara
diam-diam, dan menghindarkan negara ini dari skandal yang
memalukan. Tawaranku sederhana saja: tandatangani pernyataan
itu untukku, maka foto-foto ini akan musnah sebelum matahari
terbit esok hari.
"Kauingin sebuah pernyataan?"
"Secara teknis, aku membutuhkan sebuah pernyataan tertulis
yang sah, tetapi kami memiliki seorang notaris di gedung ini
yang akan—"
"Kau gila," kata Gabrielle. Dia lalu berjalan lagi.
Tench masih tetap mengikuti di sampingnya. Suaranya terdengar
marah sekarang. "Senator Sexton akan jatuh. Itu sudah
pasti, Gabrielle. Dan aku menawarimu kesempatan untuk keluar
dari kemelut ini tanpa harus melihat bokong telanjangmu sendiri
di koran pagi! Presiden adalah lelaki terhormat dan tidak mau
foto-foto ini dipublikasikan. Jika kau memberiku surat pernyataan
resmi dan mengakui hubungan gelap kalian dengan
caramu sendiri, maka kita semua akan tetap memiliki sedikit
harga diri."
"Aku bukan barang dagangan."
"Wah, tetapi kandidatmu seperti itu. Dia berbahaya, dan
melanggar hukum."
"Melanggar hukum? Kalianlah yang menyusup dan mengambil
foto tanpa izin! Pernah mendengar kasus Watergate?"
"Kami tidak ada hubungannya dengan pengumpulan informasi
ini. Foto-foto ini berasal dari sumber yang sama seperti
juga informasi yang mengatakan bahwa SFF mendanai kampanye
Sexton. Seseorang telah mengamati kalian berdua dengan sangat
saksama."
Gabrielle melewati meja keamanan tempat dia tadi mengambil
tanda keamanan. Dia merobek tanda pengenalnya dan
melemparkannya ke arah penjaga yang terbelalak. Tench masih
terus mengikutinya.
"Kau harus cepat mengambil keputusan, Ms. Ashe," kata
Tench ketika mereka mendekati pintu keluar. "Jika kau tidak
memberiku surat pernyataan resmi yang mengakui kau tidur
dengan sang senator, maka dalam konferensi pers pukul delapan
malam nanti Presiden akan terpaksa membeberkan semuanya di
depan publik: keuangan Sexton, foto-fotomu, dan pengumpulan
dana kampanyenya yang ilegal. Dan percayalah, ketika publik
melihat kau hanya diam saja ketika Sexton berbohong tentang
hubungan kalian, kau akan jatuh bersamanya."
Gabrielle melihat pintu dan menuju ke sana.
"Di atas mejaku pukul delapan malam ini, Gabrielle. Bijaksanalah."
Lalu Tench melemparkan map itu padanya. "Simpanlah,
Sayang. Kami masih punya banyak."[]
IZRO'IL
Deception Point (Titik Muslihat)


48
RACHEL SEXTON merasa semakin kedinginan di dalam pakaiannya
ketika dia berjalan di atas salju dan memasuki malam
yang semakin larut. Bayangan-bayangan yang mencemaskan
berputar-putar di dalam benaknya: meteorit, plankton bercahaya,
dan dampak yang dihasilkan jika Norah Mangor salah saat
melakukan pengujian inti es.
Sebuah matriks padat dari es air tawar, begitu argumentasi
Norah. Norah juga mengingatkan mereka semua bahwa dia
telah mengebor inti lempengan es ini di seluruh area dan juga
tepat di atas meteorit. Jika dataran es itu mengandung kantung
air asin beku yang penuh plankton, Norah pasti akan melihatnya,
bukan? Walau begitu, intuisi Rachel kembali teringat pada
fakta yang paling sederhana.
Ada plankton beku di dalam dataran es ini.
Setelah sepuluh menit dan empat obor berikutnya di tancapkan
di es, Rachel dan kawan-kawannya berada kira-kira 250
yard dari habisphere. Tiba-tiba, Norah berhenti. "Ini tempatnya,"
katanya. Suaranya terdengar seperti peramal mata air yang secara
mistis mampu menentukan letak mata air untuk mengebor
sebuah sumur.
Rachel menoleh dan melihat lereng di belakang mereka.
Habisphere sudah sejak lama menghilang di balik keremangan
malam yang disinari rembulan. Tetapi barisan obor itu masih
tetap terlihat. Obor yang paling jauh berkedip meyakinkan
seperti bintang yang bersinar samar. Obor-obor itu dipasang
dalam garis yang lurus sempurna, seperti sebuah landasan pacu
yang dibuat dengan perhitungan cermat. Rachel terkesan pada
keahlian Norah.
"Satu lagi alasan mengapa kita membiarkan kereta luncur
itu berjalan memimpin kita," teriak Norah ketika melihat Rachel
mengagumi garis lurus obor-obor itu. "Kaki kereta luncur itu
lurus. Jika kita membiarkan gravitasi membimbing kereta dan
kita tidak mencampurinya, dijamin, kita akan berjalan dalam
garis lurus."
"Kiat yang hebat," seru Tolland. "Kuharap ada juga yang
seperti itu di laut lepas."
"INI laut lepas, pikir Rachel sambil membayangkan samudra
di bawah mereka. Tetapi tak lama kemudian, obor terjauh
menarik perhatian Rachel. Obor itu menghilang, seolah cahaya
itu telah dimatikan oleh sesuatu yang lewat. Sesaat kemudian,
cahaya itu muncul lagi. Tiba-tiba Rachel merasa cemas. "Norah,"
dia berteriak melawan angin. "apa kau pernah bilang ada beruang
kutub di sini?"
Ahli glasiologi itu sedang mempersiapkan obor terakhirnya
dan tampaknya dia tidak mendengar Rachel atau sengaja mengabaikannya.
"Beruang kutub," teriak Tolland, "adalah predator anjing
laut. Mereka hanya menyerang manusia jika kita memasuki
daerah mereka."
"Tetapi ini adalah negerinya beruang kutub, bukan?" Rachel
tidak pernah ingat, kutub yang mana yang ditinggali beruang
dan yang mana yang ditinggali pinguin.
"Ya," jawab Tolland juga berteriak. "Nama Arktika sebenarnya
berasal dari beruang kutub. Arktos adalah bahasa Yunani
yang artinya beruang."
Bagus sekali. Rachel menatap dengan panik ke dalam kegelapan.
"Antartika tidak ditinggali beruang kutub," lanjut Tolland.
"Jadi mereka menamakannya Anti-arktos."
"Terima kasih, Mike," teriak Rachel. "Cukup tentang beruang
kutubnya."
Tolland tertawa. "Baik. Maaf."
No rah memasang obor terakhirnya ke dalam salju. Seperti
sebelumnya, mereka berempat dikelilingi cahaya kemerahan dan
tampak menggembung di dalam pakaian penahan cuaca mereka
yang berwarna hitam. Di luar cahaya yang memancar dari obor,
seluruh daerah menjadi tidak terlihat, seolah-olah sebuah selubung
hitam menyelimuti mereka.
Ketika Rachel dan yang lainnya memerhatikan ahli glasiologi
itu, Norah menjejakkan kakinya dan dengan berhati-hati menggunakan
tangannya untuk menarik kembali kereta luncur itu
beberapa yard ke atas ke arah tempat mereka berdiri. Kemudian,
sambil mempertahankan agar tali pengaman mereka tetap kencang,
Norah berjongkok dan secara manual mengaktifkan rem
kereta luncur itu yang berbentuk paku di keempat sisinya yang
ditancapkan ke dalam es untuk menjaga agar kereta itu supaya
tidak meluncur sendiri. Setelah itu, dia berdiri dan membersihkan
dirinya. Tali di sekitar pinggangnya terlihat menjadi longgar.
"Baik," teriak Norah. "Waktunya bekerja."
Ahli glasiologi itu berputar menuju bagian depan kereta
luncur, membelakangi arah angin, dan mulai melepaskan tali
simpul yang menahan kain kanvas pelindung perlengkapannya.
Rachel yang merasa selama ini telah memperlakukan Norah dengan
kurang ramah, bergerak untuk membantunya dengan melonggarkan
ikatan kain kanvas di bagian belakang kereta luncur.
"JANGAN!" teriak Norah. Kepalanya tersentak. "Jangan
pernah melakukan ltu!
Rachel mundur dengan bingung*.
"Jangan pernah melonggarkan ikatan pada sisi arah datangnya
angin!" kata Norah. "Kau akan membuat gada-gada! Dan
kereta luncur ini akan terbang seperti payung dalam terowongan
angin!"
Rachel mundur. "Maaf. Aku ...."
Norah melotot. "Kau dan Anak ruang angkasa itu seharusnya
tidak ikut ke sini."
Tidak seorang pun dari kita yang seharusnya berada di sini,
pikir Rachel.
DASAR AMATIR! Norah marah sekali, dan merasa kesal dengan
tuntutan Ekstrom untuk mengirimkan Corky dan Sexton bersama
dengannya. Badut-badut ini akan membuat seseorang terbunuh
di sini. Yang paling Norah tidak inginkan saat ini adalah
menjadi pengasuh mereka.
"Mike," katanya, "Aku perlu bantuan untuk mengangkat
GPR dari kereta itu."
Tolland membantunya mengeluarkan Ground Penetrating
Radar, dan meletakkannya di atas salju. Peralatan itu tampak
seperti tiga buah bilah penggali salju mini yang telah ditempelkan
sejajar pada bingkai aluminum. Keseluruhan peralatan itu
panjangnya tidak lebih dari satu yard dan dihubungkan dengan
kabel ke sebuah alat pelemah gelombang arus listrik dengan
baterai yang diletakkan di atas kereta luncur.
"Itu radar?" tanya Corky sambil berseru melawan angin.
Norah mengangguk. Ground Penetrating Radar jauh lebih
mampu mendeteksi es air asin dibandingkan PODS. Transmiter
GPR mengirimkan gelombang energi elektromagnetis menembus
es, dan gelombang itu terpantul kembali dengan gelombang
yang berbeda bergantung pada struktur kristal yang memantulkannya.
Air tawar murni membeku dalam pola-pola geometris
yang bulat dan pipih. Namun, air laut membeku dalam bentuk
yang lebih menyerupai pola-pola geometris yang bercabangcabang
atau seperti anyaman jaring. Ini dikarenakan oleh kandungan
sodiumnya yang mengakibatkan gelombang GPR memantui
kembali secara acak sehingga mengurangi jumlah refleksi.
Norah menyalakan mesin itu. "Aku akan mengambil semacam
foto lokasi gema yang bersilangan dari lapisan es di sekitar
sumur penarikan," serunya. "Piranti lunak yang ada di dalam
mesin ini akan mengirimkan gambar ^bagian persilangan dari
dataran es dan kemudian mencetaknya. Semua es dari air laut
akan tercetak sebagai bayangan."
"Cetakan?" Tolland tampak terkejut. "Kau dapat mencetak
dari sini?"
Norah menunjuk ke sebuah kabel yang menjulur dari GPR
ke sebuah alat yang masih berada di atas kereta luncur di bawah
penutupnya. "Tidak ada pilihan lain, harus dicetak. Layar monitor
komputer memerlukan terlalu banyak tenaga baterai yang
berharga, jadi ahli glasiologi lapangan mencetak data ke printer
beat-transfer. Warnanya memang tidak cemerlang, tetapi lebih
baik dibandingkan tinta toner printer laser yang menggumpal
dalam suhu di bawah minus dua puluh derajat. Aku belajar
dari pengalaman burukku di Alaska."
Kemudian Norah meminta semua orang untuk berdiri di
balik GPR, sementara dia bersiap untuk mengatur posisi transmiter
sedemikian rupa sehingga alat tersebut dapat memindai
area yang mengelilingi lubang meteorit. Luas area yang dipindai
tersebut hampir tiga kali lipat lapangan futbal. Tetapi ketika
Norah melihat ke belakang ke arah mereka tadi datang, dia
tidak dapat melihat lokasi yang diinginkannya. "Mike, aku harus
menyejajarkan transmiter GPR dengan area meteorit, tetapi obor
ini membuatku silau. Aku akan kembali naik ke lereng untuk
menghindar dari cahaya itu. Aku akan merentangkan lengan-
lenganku sejajar dengan obor, dan kau menyesuaikan kesejajaran
GPR itu."
Tolland mengangguk. Dia kemudian berlutut di samping
peralatan radar tersebut.
Norah menjejakkan crampon-nya. ke dalam es dan mencondongkan
tubuhnya ke depan dan melawan arah angin ketika
dia berjalan mendaki tanjakan menuju habisphere. Angin katabatic
hari ini bertiup jauh lebih kuat daripada yang dibayangkannya,
dan dia merasakan badai akan segera datang. Itu bukan
masalah. Semua ini akan selesai dalam beberapa menit saja.
Mereka akan tahu aku benar. Norah berjalan sejauh dua puluh
yard ke arah habisphere. Dia tiba di batas kegelapan tepat ketika
tali pengamannya menegang.
Norah menatap kembali ke dataran es. Ketika matanya
sudah menyesuaikan dengan kegelapan, perlahan-lahan garis obor
itu mulai tampak beberapa derajat di sebelah kirinya. Dia menggeser
posisinya hingga betul-betul sejajar dengan obor-obor itu.
Kemudian dia merentangkan lengannya seperti kompas, lalu
memutar tubuhya untuk menunjukkan vektor yang tepat. "Aku
sudah sejajar dengan obor-obor itu sekarang!" serunya.
Tolland memperbaiki letak alat GPR, kemudian melambai
ke arah Norah. "Semua siap!"
Norah melihat untuk terakhir kalinya, dan merasa bersyukur
karena jalan pulang mereka masih menyala. Ketika dia memandang
ke arah lereng, ada hal aneh yang terjadi. Untuk sesaat,
obor terdekat menghilang dari pandangannya. Sebelum Norah
menjadi khawatir, obor itu menyala lagi. Jika Norah belum
punya pengalaman di tempat ini, dia pasti sudah mengira ada
sesuatu yang lewat di antara obor itu dan tempatnya berdiri.
Tentu saja tidak ada orang lain di sini ... kecuali jika Ekstrom
mulai merasa berdosa telah mengirim mereka dan kemudian
mengirimkan regu NASA untuk mencari mereka. Namun, Norah
meragukan hal itu. Mungkin bukan apa-apa, dia memutuskan.
Tiupan angin mungkin saja memadamkan sinar obor itu sesaat.
Norah kembali menuju GPR. "Semua sudah sejajar?"
Tolland mengangkat bahunya. "Kukira begitu."
Norah menghampiri peralatan kendali di atas kereta luncur
dan menekan sebuah tombol. Bunyi dengungan tajam keluar
dari dalam GPR, lalu berhenti. "Baik," kata Norah. "Selesai."
"Begitu saja?" tanya Corky.
"Semua pekerjaan ini sudah selesai. Pengambilan gambar
itu hanya memerlukan waktu satu detik saja."
Di atas kereta luncur, mesin printer heat-transfer sudah mulai
berdengung dan mengeluarkan bunyi klik. Alat pencetak itu
terbungkus plastik bening dan perlahan-lahan mulai mengeluarkan
kertas yang tebal. Norah menunggu hingga alat itu
selesai mencetak, kemudian dia merogoh ke balik penutup plastik
itu, dan mengambil hasil cetakan. Mereka akan lihat, pikirnya
sambil membawa kertas hasil cetakan itu ke dekat obor sehingga
semua orang dapat melihat hasilnya. Tidak akan ada air asin.
Semuanya berkumpul mengelilingi Norah ketika ahli glasiologi
itu berdiri di dekat obor sambil memegang erat kertas
hasil cetakan dengan tangannya yang terbungkus sarung tangan.
Dia menghela napas dalam-dalam dan membuka gulungan kertas
itu untuk memeriksanya. Gambar yang tertera di atas kertas itu
membuatnya tersentak ketakutan.
"Oh, Tuhan!" serunya sambil menatap kertas itu dan tidak
percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Seperti yang diharapkan,
hasil cetakan tersebut memperlihatkan bagian di daerah
lubang penarikan meteorit yang terisi air dengan jelas. Tetapi
yang tidak pernah diduga Norah adalah gambar buram berwarna
keabuan yang tampak seperti bentuk manusia yang mengambang
di tengah lubang. Darah Norah seperti memheku. "Oh, Tuhan
... ada mayat di dalam lubang penarikan."
Semuanya menatap dengan terpaku dan diam.
Tubuh seperti hantu itu mengambang dengan kepala di
bawah di dalam terowongan sempit itu. Terlihat gambaran mengerikan
seperti sayap yang terentang di belakang mayat tersebut.
Sekarang Norah menyadari apa sebenarnya gambaran itu. GPR
telah menangkap jejak samar dari mantel berat si korban yang
terlihat panjang dan berbulu unta lebat.
"Itu ... Ming," Norah berbisik. "Dia pasti terpeleset ...."
Norah Mangor tidak pernah membayangkan melihat tubuh
Ming di dalam sumur penarikan akan menjadi kurang penting
dibandingkan dengan kejutan lain yang diperlihatkan hasil cetakan
itu. Tetapi matanya kemudian menelusuri gambar lubang
itu, lalu dia melihat yang lainnya.
Es di bawah terowongan penarikan ....
Norah menatap. Pikiran pertamanya, ada yang salah dengan
hasil pemindaian itu. Lalu semakin dia mempelajari gambar itu
lebih dekat, kesadaran yang mencemaskan itu semakin meningkat,
seperti badai yang mengelilingi mereka. Tepi kertas itu
berkibar liar ditiup angin ketika Norah berputar dan melihat
kertas itu dengan lebih saksama.
Tetapi... itu tidak mungkin!
Tiba-tiba, Norah tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kesadaran
itu terasa seperti akan menguburnya. Norah lupa akan Ming.
Sekarang Norah mengerti. Air asin di dalam terowongan!
Dia jatuh berlutut di atas salju di samping obor. Dia hampir
tidak dapat bernapas. Dia menggenggam kertas itu dalam tangannya,
dan tubuhnya mulai gemetar.
Tuhanku ... ini bahkan tidak pernah terpikirkan olehku.
Kemudian, dengan kemarahan yang tiba-tiba meledak, dia
memalingkan kepalanya ke arah habisphere NASA. "Bajingan
kalian!" dia menjerit, suaranya terbawa angin. "Bajingan terkutuk
kalian!"
DI DALAM kegelapan, hanya berjarak lima puluh yard saja
dari Norah dan kawan-kawannya, Delta-One memegang peralatan
CrypTalk di dekat mulutnya dan mengatakan dua kata
saja kepada pengontrolnya. "Mereka tahu."[]
NORAH MANGOR masih berlutut di atas salju ketika Michael
Tolland yang kebingungan mengambil kertas hasil cetakan Ground
Penetrating Radar itu dari tangan Norah yang gemetar. Walau
merasa terguncang ketika melihat mayat Ming yang mengambang,
Tolland berusaha memusatkan pikirannya untuk memahami
gambar di depannya.
Dia* melihat bagian di lubang penarikan meteorit itu. Kemudian,
dia menatap turun mulai dari permukaan lubang hingga
ke bawah sedalam dua ratus kaki di dalam es. Dia kemudian
melihat tubuh Ming mengambang di dalam terowongan. Mata
Tolland mengarah lebih ke bawah lagi, dan dia merasa ada
yang salah. Tepat di bawah terowongan penarikan, terlihat
semacam pilar gelap dari es air laut yang memanjang lurus ke
bawah menuju ke samudra lepas di bawahnya. Pilar vertikal
dari es air asin itu sangat besar. Diameternya sama dengan
diameter lubang di atasnya.
"My God!" seru Rachel ketika dia melongok melalui bahu
Tolland. "Tampaknya terowongan penarikan meteorit itu berlanjut
terus ke bawah dan menembus lapisan es menuju ke
lautan!"
Tolland berdiri terpaku. Otaknya tidak dapat menerima apa
yang dia ketahui adalah satu-satunya alasan yang masuk akal
untuk misteri ini. Corky juga tampak sama terkejutnya.
Norah berteriak, "Seseorang telah mengebor dari bawah
lapisan es!" Matanya menjadi liar karena sangat marah. "Seseorang
sengaja menyisipkan batu itu dari bawah es!"
Walau keyakinan di dalam diri Tolland ingin menolak katakata
Norah, jiwa ilmuwan di dalam dirinya tahu Norah bisa
49
saja benar. Keadaan Milne Ice Shelf yang mengambang di atas
samudra memberikan banyak akses bagi kapal selam untuk
masuk. Karena semua benda menjadi jauh lebih ringan ketika
berada di bawah air, bahkan sebuah kapal selam kecil seperti
kapal Triton berkapasitas satu orang yang selalu digunakan
Tolland untuk menjelajah laut, dapat dengan mudah membawa
meteorit tersebut dengan lengan pengangkutnya. Kapal selam
itu mungkin mendekati samudra, menyelam ke bagian bawah
dataran es, dan mengebor ke atas menembus es. Kemudian,
kapal selam itu bisa menggunakan lengan pengangkut yang lebih
panjang atau balon yang berisi udara untuk mengangkat meteorit
itu ke atas. Begitu meteorit itu sudah ada di tempatnya, air
laut yang masuk ke atas hingga ke terowongan di belakang
meteorit itu akan mulai membeku. Begitu terowongan tersebut
sudah cukup tertutup untuk menyangga meteorit itu, kapal
selam tersebut dapat menarik kembali lengannya dan menghilang
dan membiarkan alam menutup sisa terowongan itu dan menghapus
semua jejak muslihat tadi.
"Tetapi mengapal" tanya Rachel sambil mengambil kertas
cetakan itu dari tangan Tolland dan mengamatinya. "Mengapa
mereka lakukan itu? Kauyakin GPR itu bekerja dengan benar?"
"Tentu saja, aku yakin! Dan hasil cetakan itu dapat dengan
sempurna menjelaskan keberadaan makhluk bersel satu itu di
dalam air!" jawab Norah.
Tolland harus mengakui, logika Norah masuk akal walaupun
menakutkan. Dinoflagelata bercahaya itu mungkin saja telah
mengikuti naluri mereka dan berenang ke atas memasuki terowongan
meteorit, lalu terperangkap tepat di bawah meteorit
dan membeku di dalam es. Kemudian, ketika Norah memanaskan
meteorit itu, es yang tepat berada di bawah batu itu mencair
sehingga membebaskan plankton-plankton itu. Sekali lagi, mereka
berenang ke atas, dan kali ini mereka mencapai permukaan
air di dalam habisphere. Tetapi mereka akhirnya mati karena
kekurangan air asin.
"Ini gila!" teriak Corky. "NASA memiliki meteorit dengan
fosil serangga ruang angkasa di dalamnya. Mengapa mereka
harus repot-repot merekayasa tempat di mana mereka menemukannya?
Mengapa mereka mau bersusah payah menguburkannya
di bawah lapisan es?"
"Siapa yang tahu," Norah balas berteriak, "tetapi hasil cetakan
GPR tidak pernah berbohong. Kita diperdaya. Meteorit itu
bukanlah meteorit yang tercatat dalam catatan Jungersol. Meteorit
itu disisipkan ke dalam es baru-baru ini. Mungkin dalam
setahun ini karena jika tidak begitu, plankton-plankton itu pasti
sudah mati!" Norah kemudian mengumpulkan peralatan GPR
dan menaikkannya ke atas kereta luncur, lalu mengikatnya
dengan' erat. "Kita harus kembali dan melaporkan ini pada
seseorang! Presiden akan menyiarkan sebuah data yang salah.
NASA memperdayanya!"
"Tunggu sebentar!" teriak Rachel. "Setidaknya kita harus
memindai sekali lagi untuk mendapatkan kepastian. Semua ini
tidak masuk akal. Siapa yang akan percaya?"
"Semua orang," kata Norah sambil mempersiapkan kereta
luncurnya. "Saat aku memasuki habisphere dan mengebor sampel
inti dari bagian bawah lubang penarikan dan menemukan keberadaan
es air laut, aku jamin kalian semua akan memercayainya!"
Norah melepaskan rem kereta luncur yang membawa perlengkapannya,
mengarahkannya kembali ke habisphere, dan mulai
menaiki lereng itu sambil menjejakkan crampon-nya. ke dalam
es sambil menarik kereta luncur di belakangnya dengan mudah
sekali. Dia adalah perempuan yang tahu apa yang dikerjakannya.
"Ayo!" teriak Norah sambil menarik sekelompok orang yang
terikat di belakangnya dengan tali pengaman ketika dia berputar
balik menuju ke jalan yang disinari cahaya obor. "Aku tidak
tahu apa yang dikerjakan NASA di sini, tetapi aku betul-betul
tidak suka dipergunakan sebagai pion bagi—"
Leher Norah Mangor tersentak ke belakang seolah dahinya
baru terbentur dengan sebuah kekuatan yang tak terlihat. Norah
mengeluarkan suara terengah kesakitan. Dia kemudian limbung,
lalu terjengkang ke atas tanah. Seketika itu juga, Corky menjerit
dan berputar seolah bahunya di dorong ke belakang. Dia jatuh
ke atas es dan mengerang kesakitan.
RACHEL SEGERA melupakan semua yang tercetak pada kertas
yang berada di dalam tangannya, Ming, meteorit, dan terowongan
aneh di bawah es. Dia baru saja merasakan proyektil
kecil menyerempet telinganya dan nyaris mengenai pelipisnya.
Secara naluriah, dia berlutut dan menarik Tolland ke bawah
bersamanya.
"Ada apa ini!" teriak Tolland.
Hujan es adalah satu-satunya jawaban yang'dapat dibayangkan
Rachel—embusan butir-butir es dari atas lereng es—namun
melihat kekuatan yang tadi menghantam Corky dan Norah,
Rachel tahu hujan es itu pasti berkecepatan seratus mil per
jam. Yang menakutkan adalah, tiba-tiba semburan benda-benda
seukuran kelereng itu sekarang sepertinya terfokus pada Rachel
dan Tolland, berterbangan di sekitar mereka, dan menghasilkan
ledakan butir-butir es. Rachel berguling, menjejakkan cramponnya
ke dalam es, dan bergegas bergerak ke arah satu-satunya
perlindungan yang ada—kereta luncur. Tolland sampai tidak
lama kemudian dengan susah payah, dan kemudian mengambil
posisi berlindung di sisi Rachel.
Tolland melihat Norah dan Corky yang tidak terlindung di
atas es. "Tarik tali mereka!" Tolland berteriak sambil meraih tali
dan mencoba menarik mereka.
Tetapi tali penyelamat mereka tertahan oleh kaki kereta
luncur.
Rachel memasukkan kertas cetakan tadi ke dalam saku
Velcro pakaian Mark IX yang dikenakannya, merangkak dengan
segala upaya keluar dari balik kereta luncur, lalu mencoba
melepaskan lilitan tali dari kaki kereta luncur itu. Tolland berada
tepat di belakang
Tiba-tiba hujan es itu menghambur ke arah kereta tersebut,
seolah serangan alam itu telah melupakan Corky dan Norah
dan sekarang langsung mengarah pada Rachel dan Tolland. Satu
dari proyektil itu menghantam tutup plastik kereta, sebagian
dari butiran salju itu menempel di sana, tetapi kemudian terpantul
kembali, dan mendarat di lengan mantel Rachel.
Ketika Rachel melihatnya, dia langsung tertegun. Dalam
sekejap, kebingungan Rachel berubah menjadi ketakutan. "Hujan
es" ini adalah buatan manusia. Bola-bola es itu berbentuk bulat
sempurna seukuran buah ceri. Permukaannya halus dan mengilap.
Namun bagian tepinya tidak terlalu halus sehingga tampak
seperti peluru senapan kuno yang dicetak dengan mesin. Dapat
dipastikan kalau peluru-peluru es itu adalah buatan manusia.
Peluru es ....
Sebagai seseorang yang memiliki pengetahuan militer, Rachel
sangat mengenal senjata hasil percobaan baru yang bernama
"IM" atau Improvised Munitions. Ini adalah senapan salju yang
dapat menggunakan salju sebagai peluru es, senapan gurun yang
dapat memampatkan pasir sehingga menjadi proyektil kaca, dan
senjata berbasis air yang dapat menembakkan air yang sangat
kuat sehingga dapat mematahkan tulang. Senjata Improvised
Munitions memiliki banyak keuntungan dibandingkan dengan
senjata biasa karena senjata-senjata IM ini menggunakan sumber
daya yang ada dan amunisinya betul-betul dapat dibuat di
tempat, sehingga memberikan peluru yang tak terbatas bagi
para tentara yang menggunakannya sehingga mereka tidak harus
membawa peluru biasa yang berat. Rachel tahu, peluru es yang
ditembakkan ke arah mereka sekarang telah dipadatkan "sesuai
dengan kebutuhan" dari salju yang dijejalkan .ke dalam bagian
belakang senapan.
Seperti yang biasa terjadi dalam dunia intelijen, semakin
banyak yang diketahui seseorang, skenario yang ada menjadi
semakin menakutkan. Saat ini bukanlah pengecualian. Rachel
lebih suka mengabaikannya, tetapi pengetahuannya tentang
senjata IM dengan cepat membawanya pada satu kesimpulan
yang menakutkan: mereka sedang diserang pasukan Operasi
Khusus Amerika Serikat, satu-satunya kesatuan militer di negara
ini yang baru-baru ini diizinkan menggunakan senjata percobaan
IM di lapangan.
Kehadiran pasukan khusus membawa kesimpulan kedua
yang bahkan lebih mengerikan lagi: kemungkinan untuk menyelamatkan
diri dari serangan ini hampir mendekati nol.
Pikiran tentang kematian itu terhenti ketika sebutir peluru
es menemukan area terbuka, menerjang melalui tumpukan peralatan
yang diletakkan di atas kereta luncur tanpa ampun, dan
menembak perutnya. Bahkan dalam pakaian Mark IX yang tebal
ini, Rachel merasa perutnya baru saja ditinju., Matanya mulai
berkunang-kunang dan dia terhuyung-huyung ke belakang, dan
secara refleks merenggut peralatan di atas kereta luncur untuk
mendapatkan keseimbangan. Michael Tolland menjatuhkan tali
penyelamat Norah dan mendorong tubuhnya ke depan untuk
menghambat kejatuhan Rachel. Namun dia terlambat. Rachel
jatuh ke belakang, dan menarik tumpukan peralatan bersamanya.
Dia dan Tolland jatuh berguling-guling di atas salju bersama
tumpukan peralatan elektronik itu.
"Itu ... peluru ...." Rachel megap-megap. Udara di paruparunya
untuk sejenak terasa sesak. "Lari!"[]
50
KERETA BAWAH tanah Washington MetroRail yang sekarang
meninggalkan stasiun Federal Triangle sepertinya tidak dapat
melesat cukup cepat dari Gedung Putih seperti yang diharapkan
Gabrielle Ashe. Dia duduk membeku di sudut kosong kereta
api itu ketika bayangan-bayangan gelap di luar melintas dengan
cepat. Map merah besar dari Marjorie Tench yang tergeletak di
atas pangkuan Gabrielle, terasa menekan seperti beban sepuluh
ton.
Aku harus berbicara dengan Sexton! pikirnya. Kereta api itu
sekarang mempercepat lajunya ke arah gedung kantor Sexton.
Segera!
Sekarang, di dalam keremangan cahaya yang silih berganti
masuk ke dalam kereta, Gabrielle merasa seperti sedang mengalami
perjalanan halusinasi yang disebabkan oleh obat. Barisan
cahaya yang sunyi datang silih berganti di atasnya seperti lampulampu
diskotik dalam gerak lambat. Terowongan yang membosankan
tampak muncul dari segala sisi seperti jurang yang dalam.
Katakan ini tidak terjadi.
Dia melihat ke bawah, ke arah map di atas pangkuannya.
Ketika dia membuka tutupnya, Gabrielle merogoh ke dalam
dan menarik selembar foto. Lampu di dalam kereta api berkedip
sesaat dan sekilas sinar yang menyilaukan itu menerangi gambar
yang mengejutkan: Sedgewick Sexton terbaring tanpa busana di
kantornya. Wajahnya yang terlihat puas, menghadap dengan
sempurna ke kamera, sementara tubuh Gabrielle yang gelap
berbaring tanpa busana di sebelahnya.
Gabrielle gemetar. Dengan cepat dia memasukkan foto tadi
ke dalam, dan dengan gugup menutup kembali tutup mapnya.
Habis sudah.
Begitu kereta api itu keluar dari terowongan dan menuju
ke rel di atas tanah di dekat L'Enfant Plaza, Gabrielle merogoh
ponselnya dan menelepon nomor pribadi ponsel sang senator.
Terdengar suara mesin penjawab. Karena merasa bingung, dia
menelepon kantor sang senator. Sekretarisnya yang menjawab.
"Ini Gabrielle. Dia ada?"
Suara sekretaris itu terdengar jengkel. "Ke mana saja kau?
Dia mencarimu.
"Aku tadi ada rapat yang berlangsung lama. Aku harus
berbicara dengannya segera."
"Kau harus menunggu hingga besok pagi. Dia sedang di
Westbrooke."
Westbrooke Place Luxury Apartements adalah gedung tempat
tinggal Sexton di D.C. "Dia tidak menjawab nomor pribadinya,"
kata Gabrielle.
"Malam ini adalah P.E.," sekretaris itu mengingatkan. "Dia
pulang lebih awal."
Gabrielle menggerutu. Personal Event, acara pribadi. Karena
terlalu gugup, Gabrielle lupa Sexton telah menjadwalkan sore
ini untuk sendirian di rumahnya. Sexton menjelaskan dia betulbetul
tidak ingin diganggu selama menikmati acara P.E-nya.
Gedor pintuku hanya jika gedung ini terbakar, katanya. Selain
hal itu, semua harus menunggu hingga besok pagi.
Sekarang Gabrielle memutuskan bahwa gedung tempat tinggal
Sexton memang sedang terbakar. "Aku ingin kau menghubunginya
untukku."
"Tidak mungkin."
"Ini serius, aku betul-betul—"
"Tidak bisa. Itu betul-betul tidak mungkin. Dia meninggalkan
penyerantanya di atas mejaku ketika berjalan pulang tadi
dan mengatakan padaku dia tidak boleh diganggu malam ini.
Dia bersungguh-sungguh." Sekretaris itu berhenti sejenak. "Lebih
dibandingkan biasanya."
IZRO'IL
Deception Point (Titik Muslihat)


Sialan. "Baik, terima kasih." Gabrielle menutup teleponnya.
"L'Enfant Plaza," suara rekaman mengumumkan di dalam
gerbong kereta api bawah tanah itu. "Menghubungkan semua
stasiun."
Gabrielle menutup mata dan berusaha menjernihkan pikirannya,
tetapi gambar-gambar yang menghancurkan itu menyerbu
masuk ... foto-foto mengerikan dirinya dan sang senator ...
tumpukan dokumen yang mendukung bahwa Sexton menerima
suap. Gabrielle masih dapat mendengar suara serak Tench tadi.
Lakukan hal yang benar. Tandatangani pengakuan resmi itu. Akui
hubungan gelap kalian.
Ketika kereta mengerem memasuki stasiun, Gabrielle memaksakan
dirinya untuk membayangkan apa yang akan dilakukan
sang senator jika foto-foto itu sampai pada pers. Hal
pertama yang muncul dalam benaknya mengejutkan sekaligus
membuatnya malu.
Sexton akan berbohong.
Apakah ini perkiraannya semata tentang kandidat yang dijagokannya?
Ya. Dia akan berbohong ... dengan sangat pandai.
Jika foto-foto ini sampai ke media tanpa Gabrielle mengakui
hubungan gelap itu, sang senator akan dengan mudah mengatakan
bahwa foto-foto itu adalah hasil rekayasa yang kejam.
Sekarang ini adalah zamannya penyuntingan foto secara digital.
Semua orang yang pernah online pasti pernah melihat fotofoto
tipuan yang sempurna di mana kepala para selebritis ditempelkan
ke tubuh orang lain secara digital dan tubuh yang
sering kali dipakai adalah tubuh bintang film porno yang sedang
beraksi. Gabriel pernah menyaksikan kemampuan sang senator
untuk menatap kamera televisi dan berbohong dengan begitu
meyakinkan tentang hubungan gelap mereka. Gabrielle tidak
ragu sang senator dapat meyakinkan semua orang bahwa fotofoto
itu adalah usaha yang sia-sia saja untuk menggagalkan
kariernya. Sexton akan menyerang dengan kemarahan besar,
bahkan mungkin menyindir Presiden sendirilah yang memerintahkan
pemalsuan foto-foto tersebut.
Tidak aneh jika Gedung Putih belum mengeluarkan foto-foto
itu kepada umum. Gabrielle berpikir, foto-foto tersebut dapat
menjadi senjata makan tuan, seperti yang terjadi sebelumnya.
Sejelas-jelasnya foto-foto tersebut, foto-foto itu tetap tidak dapat
membawa kesimpulan apa pun.
Gabrielle merasa tiba-tiba ada harapan baru.
Gedung Putih tidak dapat membuktikan semua foto ini asli.
Kekuatan permainan yang dilakukan Tench pada Gabrielle
dapat dikatakan kejam walau disampaikan secara sederhana: akui
hubungan gelapmu atau saksikan Sexton masuk penjara. Tibatiba
semuanya menjadi sangat masuk akal. Gedung Putih membutuhkan
Gabrielle untuk mengakui hubungan gelapnya atau
foto-foto itu tidak akan ada artinya. Sepercik rasa percaya diri
tiba-tiba mencerahkan suasana hatinya.
Ketika kereta api berhenti dan pintu-pintu bergeser terbuka,
ada pintu lain yang tampaknya terbuka di dalam benak Gabrielle
dan menyingkapkan sebuah kemungkinan tak terduga yang
menggembirakan .
Mungkin semua yang dikatakan Tench padaku tentang penyuapan
itu hanyalah kebohongan.
Lagi pula, apa yang benar-benar telah Gabrielle lihat? Sekali
lagi, tidak ada yang meyakinkan: beberapa fotokopi dokumen
bank, selembar foto buram Sexton di sebuah garasi. Semuanya
ada kemungkinan dipalsukan. Tench bisa saja secara cerdik
memperlihatkan kepada Gabrielle catatan-catatan keuangan palsu
yang digabungkan secara bersamaan dengan foto-foto perselingkuhan
mereka yang asli. Tench berharap Gabrielle akan mengakui
keseluruhan paket itu sebagai dokumen asli. Strategi ini
disebut "pengesahan karena adanya keterkaitan," dan para politisi
selalu menggunakannya untuk menjual konsep-konsep yang
meragukan.
Sexton tidak bersalah, kata Gabrielle pada dirinya sendiri.
Gedung Putih sudah putus asa, dan mereka memutuskan untuk
mengambil risiko dengan cara menakut-nakuti Gabrielle dan
mengancam akan memublikasikan hubungan gelap mereka.
Mereka ingin Gabrielle meninggalkan Sexton secara terangterangan—
dengan skandal yang sudah mereka perbuat. Keluar
selagi kau bisa, begitu Tench mengatakan padanya. Waktumu
hingga pukul delapan malam nanti. Tekanan terakhir seperti yang
dilakukan orang-orang di bagian penjualan. Semuanya cocok,
pikirnya.
Kecuali satu hal....
Satu-satunya bagian yang membingungkan dari teka-teki
ini adalah Tench telah mengirimkan email anti-NASA padanya.
Ini jelas mengesankan NASA betul-betul ingin Sexton menegaskan
posisi anti-NASA-nya sehingga Gedung Putih dapat menggunakannya
melawan Sexton sendiri. Atau bukan begitu? Gabrielle
sadar bahwa pesan-pesan dalam email itu memiliki penjelasan
masuk akal yang sempurna.
Bagaimana jika pesan-pesan itu tidak betul-betul dari Tench?
Mungkin saja Tench menangkap seorang pengkhianat di
dalam staf Gedung Putih yang mengirimkan data-data bagi
Gabrielle, lalu dia memecat orang itu, dan memanggil Gabrielle
untuk mengadakan pertemuan. Tench bisa saja berpura-pura
bahwa dia membocorkan rahasia NASA dengan sengaja—untuk
menjebak Gabrielle.
Pintu hidrolik kereta bawah tanah itu sekarang mendesis di
stasiun L'Enfant Plaza. Pintu bersiap menutup.
Gabrielle menatap peron, pikirannya bergerak dengan cepat.
Dia tidak tahu apakah kecurigaan-kecurigaannya ini masuk akal
atau apakah ini semua hanya imajinasinya saja. Tetapi apa pun
yang terjadi, dia tahu, dia harus berbicara dengan sang senator
segera—malam RE. atau bukan.
Sambil mengepit map berisi foto-fotonya, Gabrielle bergegas
turun dari kereta begitu pintu berdesis akan menutup. Dia
memiliki tujuan baru.
Westbrooke Place Apartements.[]
51
BERTARUNG ATAU lari.
Sebagai seorang ahli biologi, Tolland tahu perubahan fisiologi
yang besar akan terjadi ketika suatu organisme merasakan adanya
bahaya. Adrenalin membanjiri lapisan luar otak, memompa
denyut jantung dengan kuat, dan memerintahkan otak untuk
membuat keputusan paling purba dan paling naluriah dari semua
keputusan biologis lainnya— bertempur atau melarikan diri.
Naluri Tolland memerintahkannya untuk melarikan diri, namun
akal sehatnya mengingatkan dia masih terikat oleh tali pengaman
yang menghubungkannya dengan Norah Mangor. Lagi
pula tidak ada tujuan untuk lari. Satu-satunya tempat hanyalah
habisphere yang jaraknya bermil-mil jauhnya, dan para penyerangnya,
siapa pun mereka, berada di puncak lereng es sehingga
menghilangkan pilihan itu. Di belakang Tolland, dataran es
yang luas itu terbentang sepanjang dua mil dan berakhir di
lereng curam yang menuju samudra yang sangat dingin. Melarikan
diri ke arah itu artinya mati. Selain itu, ada yang menghambatnya
untuk melarikan diri. Tolland tahu dia tidak bisa
meninggalkan yang lainnya. Norah dan Corky masih terbaring
di tempat terbuka, terhubung kepada Rachel dan Tolland.
Tolland tetap merunduk di dekat Rachel ketika pelurupeluru
es itu terus menerjang sisi kereta luncur yang ditumpuki
peralatan. Dia memungut peralatan yang berserakan, mencaricari
senjata, pistol api, radio ... apa saja.
"Lari!" teriak Rachel. Napasnya masih tersengal.
Lalu, anehnya hujan peluru es itu tiba-tiba berhenti. Bahkan
dalam deru angin yang kuat, malam itu tiba-tiba terasa tenang
... seolah badai telah mereda secara tak terduga.
Namun kemudian, Tolland menyaksikan pemandangan paling
menakutkan yang pernah dia lihat dan muncul dengan
hati-hati di sekitar kereta luncur.
Meluncur dengan mudah, keluar dari kegelapan memasuki
batas cahaya dari obor yang ditinggalkan Norah, tiga sosok
seperti hantu muncul dan bergerak tanpa suara di atas sepatu
ski. Sosok-sosok itu mengenakan pakaian putih. Mereka tidak
membawa tongkat ski, tetapi membawa senapan besar yang
tidak tampak seperti senjata yang pernah dilihat Tolland sebelumnya.
Sepatu ski mereka juga aneh, pendek dan futuristik, lebih
mirip Rollerblades panjang.
Dengan tenang, seolah mereka tahu mereka telah memenangkan'pertempuran
ini, ketiga sosok itu berhenti di samping
korban terdekat mereka—Norah Mangor yang pingsan. Tolland
bangkit dengan gemetar, lalu mengintai penyerang mereka dari
balik kereta luncur. Para pengunjung itu balas menatap Tolland
melalui kacamata ski elektronik yang mengerikan. Tampaknya
mereka tidak tertarik padanya.
Setidaknya untuk saat itu.
DELTA-ONE tidak merasa kasihan ketika menatap ke bawah
ke arah perempuan di depannya yang terbaring tidak sadarkan
diri di atas es. Dia telah dilatih untuk melaksanakan perintah,
bukan untuk menanyakan motif perintah itu.
Perempuan itu mengenakan setelan hangat berwarna hitam
dan tebal, dan kini di sisi wajahnya terlihat jejak bilur. Napasnya
pendek-pendek dan sesak. Salah satu senapan es IM milik anak
buahnya telah mengenai sasaran dan membuatnya pingsan.
Sekarang waktunya menyelesaikan pekerjaannya.
Ketika Delta-One berlutut di samping perempuan yang tidak
sadarkan diri itu, kawan-kawan satu timnya sedang mengarahkan
senapan mereka ke target lainnya—satu pada seorang lelaki kecil
yang tidak sadarkan diri yang terbaring di atas es di dekat si
perempuan, dan satu lagi pada kereta luncur yang terbalik yang
menjadi tempat persembunyian bagi dua orang korban lainnya.
Walau kawan-kawan Delta-One dapat dengan mudah menyelesaikan
pekerjaan itu, ketiga korban yang tersisa itu tidak
bersenjata dan mereka tidak dapat lari ke mana-mana. Tergesagesa
menghabisi mereka semua sekaligus merupakan tindakan
sembrono. Jangan pernah memecah perhatianmu kecuali sangat
dibutuhkan. Hadapi musuh satu per satu. Tepat seperti yang
selama ini mereka pelajari, Delta Force akan membunuh orangorang
ini satu per satu. Ajaibnya, mereka tidak akan meninggalkan
jejak yang dapat memberikan informasi tentang bagaimana
korban-korban ini tewas.
Delta-One berjongkok di sebelah perempuan yang pingsan
itu, kemudian dia melepas sarung tangan tebalnya dan mengambil
segenggam salju. Setelah salju dipadatkan, dia membuka
mulut perempuan itu dan mulai menjejalkan salju padat tadi
ke dalam mulut korban hingga masuk ke tenggorokannya. Dia
menyumpal mulut perempuan itu hingga penuh dan menekan
salju hingga mengisi saluran udaranya. Perempuan itu akan tewas
dalam tiga menit.
Cara pembunuhan ini diciptakan kelompok mafia Rusia,
dan disebut byelaya smert atau kematian putih. Korban ini akan
kehabisan udara jauh sebelum salju di dalam tenggorokannya
mencair. Begitu tewas, tubuhnya masih tetap hangat dalam
waktu yang cukup lama untuk mencairkan penyumbat di tenggorokannya.
Bahkan walaupun permainan kotor ini dicurigai,
tidak ada senjata pembunuhan atau bukti kekerasan yang akan
segera terlihat. Pada akhirnya seseorang mungkin akan mengetahuinya,
tetapi itu akan membutuhkan waktu. Peluru es akan
berbaur dengan alam sekitarnya, terkubur di dalam salju, dan
memar di kepala perempuan itu akan tampak seperti memar
karena terjatuh—sesuatu yang tidak mengejutkan dalam embusan
angin yang amat kencang ini.
Ketiga orang lainnya akan dilumpuhkan dan dibunuh dengan
cara yang sama. Kemudian Delta-One akan menaikkan
semuanya ke atas kereta luncur, menarik mereka ke atas beberapa
ratus yard, melepaskan tali yang mengikat mereka semua, dan
kemudian mengatur tubuh mereka secara terpencar. Beberapa
jam kemudian, keempatnya akan ditemukan dalam keadaan
membeku di salju dan kelihatan seperti korban hipotermia
karena terlalu lama berada dalam suhu yang amat dingin. Tentu
saja, orang-orang yang menemukan para korban akan bingung
apa yang dilakukan keempat orang tersebut di tempat seperti
ini, tetapi tidak seorang pun dari mereka yang akan terkejut
jika korban-korban itu tewas. Lagi pula, obor-obor yang mereka
pasang telah mati, cuaca di tempat itu sangat berbahaya, dan
tersesat di Milne Ice Shelf dapat segera membawa kematian.
Delta-One sekarang telah selesai menjejalkan salju di tenggorokan
perempuan itu. Sebelum dia mengalihkan perhatiannya
pada yang lainnya, Delta-One melepaskan tali penyelamat perempuan
itu. Dia dapat memasangnya lagi nanti, tetapi saat
ini, dia tidak mau dua orang yang masih bersembunyi di belakang
kereta luncur itu memiliki gagasan untuk menyelamatkan
perempuan itu dengan menariknya.
MICHAEL TOLLAND baru saja menyaksikan sebuah pembunuhan
yang lebih aneh dari yang dapat dibayangkan pikirannya
yang paling gelap sekalipun. Setelah melepaskan tali Norah,
ketiga penyerang itu sekarang mengalihkan perhatian mereka
pada Corky.
Aku harus melakukan sesuatu!
Corky sudah sadar dan mengerang, lalu mencoba untuk
duduk. Tetapi salah satu dari tentara itu mendorongnya hingga
terbaring kembali, lalu berlutut di atasnya, dan menjepit lengan
Corky di atas es dengan cara menekannya dengan lutut. Corky
berteriak kesakitan. Suaranya tertelan deru angin.
Dalam kengerian yang amat sangat, Tolland mengais-ngais
peralatan yang berserakan di dalam kereta luncur yang terbalik.
Pasti ada sesuatu di sini! Sepucuk senjata! Sesuatu! Semua yang
dilihatnya hanyalah peralatan diagnostik es dan sebagian besar
telah rusak karena tembakan peluru es tadi. Di sampingnya,
Rachel yang merasa pusing, sedang berusaha duduk dan menggunakan
kapak esnya untuk menopangnya. "Lari ... Mike ...."
Tolland menatap kapak yang dipasang di pinggang Rachel.
Itu bisa menjadi senjata. Tolland menimbang-nimbang kemungkinan
yang dimilikinya jika dia menyerang tiga orang bersenjata
dengan sebuah kapak kecil.
Itu namanya bunuh diri.
Ketika Rachel berguling dan duduk, Tolland melihat sesuatu
di belakang Rachel. Sebuah tas yang menggembung dari bahan
vinyl. Sambil berdoa tas tersebut berisi pistol api atau radio,
Tolland merangkak melewati Rachel dan meraih tas itu. Di
dalamnya Tolland menemukan lembaran bahan kain Mylar yang
terlipat rapi. Tidak ada gunanya. Tolland juga memiliki sesuatu
yang mirip itu di kapal penelitiannya. Sebuah balon cuaca kecil
dan dirancang untuk membawa peralatan pengamat cuaca yang
tidak lebih berat daripada komputer pribadi. Balon Norah itu
tidak akan membantu, apalagi tanpa tangki gas helium.
Mendengar suara erangan Corky yang makin kencang, Tolland
merasakan perasaan tidak berdaya yang tidak pernah dirasakannya
sejak bertahun-tahun. Rasa putus asa yang luar biasa. Rasa
kehilangan yang tidak ada bandingannya. Seperti kilasan perjalanan
hidup seseorang yang muncul sebelum dia mati, tibatiba
pikiran Tolland beralih ke pengalaman masa kecilnya. Pada
saat itu dia sedang berlayar di San Pedro dan mempelajari cara
terbang dengan menggunakan layar kapal laut berbentuk segitiga
seperti yang dilakukan pelaut kuno—bergantungan pada tali
yang bersimpul, melayang di atas samudra, menceburkan diri
ke dalam air dan tertawa-tawa, melayang naik, dan kemudian
turun kembali seperti seorang anak yang bergantungan pada
seutas tali penarik lonceng. Saat itu nasibnya ditentukan oleh
layar kapal laut yang terkembang dan embusan angin samudra.
Mata Tolland segera kembali pada balon Mylar di tangannya.
Dia sadar, pikirannya belum mau menyerah, tetapi malah mencoba
mengingatkannya akan sebuah solusi! Terbang dengan layang
gantung.
Corky masih berjuang melawan penangkapnya ketika Tolland
menarik tas pelindung di sekitar balon itu hingga terbuka.
Tolland menyadari benar bahwa rencana ini mungkin sia-sia
saja, tetapi dia tahu jika mereka tetap berada di sini, mereka
semua pasti mati. Dia mengenggam balon Mylar yang masih
terlipat itu. Kancing penguncinya memeringatkan: PERHATIAN:
JANGAN DIGUNAKAN SAAT ANGIN BERKECEPATAN
LEBIH DARI SEPULUH KNOT
Peduli setan dengan itu! Sambil memegang kain balon tersebut
dengan erat supaya tidak terkembang, Tolland merangkak
melewati Rachel yang sedang bersender menyamping. Tolland
dapat melihat tatapan bingung Rachel ketika Tolland merapatkan
dirinya pada perempuan itu, "Pegang ini!"
Tolland memberi Rachel bahan yang terlipat itu lalu menggunakan
tangannya yang masih bebas untuk menyelipkan kancing
pengunci balon itu melalui salah satu carabiner di tali
pinggang pengamannya. Kemudian, dia berguling, dan menyelipkan
alat pengunci tersebut pada carabiner milik Rachel.
Sekarang Tolland dan Rachel menyatu.
Menempel di pinggul.
Di antara tubuh mereka, tali pengaman terbentang di atas
salju menuju Corky yang masih berjuang ... dan sepuluh yard
lebih jauh lagi, ke pengait yang sudah lepas di samping tubuh
Norah Mangor.
Norah sudah tewas, kata Tolland pada dirinya sendiri. Tidak
ada yang dapat kaulakukan.
Para penyerang itu berjongkok di dekat tubuh Corky yang
masih menggeliat. Salah satu di antaranya mulai memadatkan
segenggam salju, dan bersiap untuk menjejalkannya ke dalam tenggorokan
Corky. Tolland tahu, mereka hampir kehabisan waktu.
Tolland merampas balon yang masih terlipat dari tangan
Rachel. Bahan balon itu berupa bahan setipis kertas tisu, tapi
jelas tidak dapat robek. Semoga berhasil. "Berpeganglah!"
"Mike?" kata Rachel. "Apa—"
Tolland menebarkan bahan kain Mylar yang masih terlipat
rapi itu ke udara di atas kepala mereka. Tiupan angin yang
deras langsung menyambarnya dan mengembangkannya seperti
sebuah parasut dalam badai. Lembaran kain itu segera mengembang
terbuka sambil mengeluarkan suara keras.
Tolland merasa sentakan kuat di tali pengamannya, dan dia
menyadari dirinya terlalu menganggap remeh kekuatan angin
katabatic. Dalam waktu sangat singkat, Tolland dan Rachel sudah
setengah terbang, tertarik menuruni lereng es. Sesaat kemudian,
Tolland merasa sebuah hentakan lagi ketika tali pengamanannya
tertarik karena terhubung dengan Corky Marlinson. Dua puluh
yard ke belakang, temannya yang ketakutan tertarik lepas dari
kuncian penyerangnya yang terkejut karena kejadian yang tibatiba
ini sehingga menyebabkan salah satu dari mereka terjengkang
ke belakang.
Corky mengeluarkan teriakan ketakutan ketika dia juga
terseret dengan cepat menyeberangi es, hampir membentur kereta
luncur yang terbalik, dan kemudian terombang-ambing sambil
terus melaju. Tali kedua ikut terseret di samping tubuh Corky
... itu tali yang tadi terhubung dengan tubuh No rah Mango r.
Tidak ada yang dapat kaulakukan, kata Tolland pada dirinya
sendiri.
Seperti boneka-boneka manusia yang saling terkait, mereka
meluncur menuruni lereng es. Peluru-peluru es beterbangan,
tetapi Tolland tahu para penyerang itu telah kehilangan kesempatan
mereka. Di belakang Tolland, prajurit-prajurit berbaju
putih itu tampak semakin memudar, mengerut menjadi titiktitik
yang diterangi obor-obor.
Tolland sekarang merasa es menggesek bagian bawah pakaian
tebalnya dengan kecepatan tinggi seolah ingin merobeknya, dan
perasaan lega karena sudah terbebas memudar dengan cepat.
Kurang dari dua mil, tepat di depan mereka, Milne Ice Shelf
tiba-tiba saja berakhir dan berganti dengan karang yang sangat
curam—dan setelah itu ... terjun seratus kaki ke bawah menuju
gelegak gelombang ombak Samudra Arktika yang sanggup membun
uh siapa saja yang berani berhadapan dengannya.[]
52
MARJORIE TENCH tersenyum ketika menuruni tangga menuju
White House Communications Office yang merupakan
fasilitas penyiaran terkomputerisasi yang mengatur penyebaran
siaran pers yang disusun di lantai atas, di ruang Communication
Bullpen. Pertemuan dengan Gabrielle Ashe telah berjalan dengan
baik. Apakah Gabrielle cukup takut atau tidak untuk menandatangani
pernyataan hubungan gelapnya, itu tidak pasti. Tetapi
tidak ada salahnya untuk mencoba.
Gabrielle akan bertindak pandai dengan melarikan diri dari
Sexton, pikir Tench. Gadis malang itu tidak tahu betapa kerasnya
Sexton akan jatuh.
Dalam beberapa jam lagi, konferensi pers Presiden tentang
meteorit akan menumbangkan Sexton. Itu sudah pasti. Gabrielle
Ashe, jika dia mau bekerja sama, akan menjadi pukulan mematikan
yang membuat Sexton merangkak pergi dengan malu. Keesokan
harinya, Tench akan mengeluarkan pernyataan pengakuan
Gabrielle kepada pers berikut rekaman penyangkalan Sexton
terdahulu.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Lagi pula, politik tidak hanya tentang memenangkan pemilu,
tetapi juga tentang menang secara meyakinkan—memiliki momentum
untuk menjalankan visi seseorang. Menurut sejarah,
setiap presiden yang berhasil memasuki Gedung Putih dengan
perbedaan suara yang tipis, tidak akan mencapai banyak hal.
Dia akan dilemahkan Kongres dan orang-orang di Capitol Hill
sepertinya tidak ingin Presiden melupakannya.
Idealnya, perusakan kampanye Senator Sexton harus menyeluruh—
sebuah serangan ganda yang menyerang baik dari segi
politiknya maupun segi etikanya. Strategi ini, dikenal di Washington
sebagai "high-low," diambil dari taktik peperangan militer.
Paksa musuh untuk bertempur di dua garis pertempuran. Ketika
seorang kandidat memiliki satu informasi negatif tentang lawannya,
dia sering menunggu hingga mendapatkan dua informasi,
lalu menyebarkan kedua informasi tersebut ke masyarakat secara
bersamaan. Sebuah serangan ganda selalu lebih efektif daripada
serangan tunggal, khususnya ketika serangan ganda itu dapat
menggabungkan aspek-aspek yang terpisah dalam kampanyenya—
serangan pertama pada politiknya, dan yang kedua melawan
karakternya. Bantahan dari sebuah serangan politik membutuhkan
logika, sementara bantahan pada serangan karakter
memerlukan perasaan. Membantah keduanya dalam waktu yang
bersamaan akan menjadi tindakan yang sulit untuk menjaga
keseimbangan.
Malam ini, Senator Sexton akan berjuang keras untuk keluar
dari mimpi buruk politiknya karena kemenangan NASA yang
mengejutkan itu, tetapi saat dia berusaha untuk mempertahankan
posisi kampanyenya mengenai NASA, dia juga harus menghadapi
tuduhan kebohongan publik yang akan ditegaskan oleh pengakuan
salah seorang anggota tim kampanyenya yang berpengaruh.
Sesampainya di ambang pintu Communications Office, Marjorie
merasa bersemangat dengan ketegangan dalam pertempuran
ini. Politik adalah peperangan. Dia menarik napas panjang dan
melihat jam tangannya. 6:15 malam. Tembakan pertama akan
diletuskan.
Dia masuk.
Kantor Comunications Office kecil saja. Bukan karena kekurangan
ruangan, tetapi karena mereka tidak membutuhkan
ruangan besar. Kantor ini merupakan salah satu dari stasiun
komunikasi massa yang paling efisien di dunia dan hanya mempekerjakan
hanya lima orang staf. Pada saat itu, kelima pegawai
itu sedang berdiri di dekat kumpulan peralatan eletronik seperti
para perenang yang bersiap mendengar tembakan untuk memulai
pertandingan.
Mereka sudah siap, pikir Tench ketika melihat tatapan mereka
yang bersemangat.
Fakta yang selalu mengagumkan bagi Tench tentang kantor
kecil ini adalah, dengan hanya diberikan waktu dua jam lebih
awal, mereka sudah dapat menghubungi berbagai negara di lebih
dari sepertiga dunia. Dengan koneksi elektronik yang terhubung
dengan puluhan ribu sumber berita global—dari konglomeratkonglomerat
televisi terbesar hingga koran-koran daerah terkecil—
White House Communications Office dapat menjangkau
dunia hanya dengan menekan beberapa tombol saja.
Komputer-komputer di sana dapat mengirimkan siaran pers
ke stasiun-stasiun radio, televisi, koran-koran, dan media internet
dari Maine hingga Moskow. Email-email dikirimkan ke jaringan
berita online. Telepon-telepon secara otomatis menghubungi
content manager dari berbagai media dan memutar pengumuman
yang sudah direkam. Halaman situs mereka menyediakan berita
terkini dengan isi yang sudah diformat sebelumnya. Sumbersumber
yang menyiarkan berita secara langsung, seperti CNN,
NBC, ABC, CBS, dan sindikasi kantor berita asing, akan diserang
dari semua sudut dan dijanjikan siaran televisi langsung
secara gratis. Apa pun yang sedang disiarkan oleh jaringanjaringan
besar ini akan segera dihentikan untuk menayangkan
pengumuman Presiden.
Penetrasi sepenuhnya.
Seperti seorang jenderal memeriksa pasukannya, Tench berjalan
tanpa berkata-kata ke arah meja di mana mesin printer
berada dan dia mengambil hasil cetakan yang bertuliskan "Siaran
Pers Terbaru" yang sekarang disiapkan di semua mesin transmisi
seperti tempat peluru yang sudah terisi pada senapan.
Ketika Tench membacanya, dia tertawa dalam hati. Untuk
standar siaran pers biasa, siaran pers ini ditangani dengan sungguh-
sunggh dan lebih mirip iklan dibandingkan pengumuman.
Tetapi Presiden telah memerintahkan kantor komunikasi ini agar
mengerahkan upaya semaksimal mungkin. Dan mereka sudah
melakukannya. Teks ini sempurna, kata kuncinya kaya, dan isinya
ringan. Kombinasi yang berbahaya. Bahkan jaringan kantor berita
yang menggunakan program "mengendus kata kunci" otomatis
untuk memilah-milah surat yang masuk pun akan melihat tanda
seru dalam surat yang satu ini:
Dari : White House Communications Office
Perihal : Pidato Darurat Presiden.
Presiden Amerika Serikat akan mengadakan konferensi pers
darurat malam ini pada pukul 8:00 malam Waktu Bagian
Timur dari Briefing Room Gedung Putih. Topik pengumuman
ini sampai sekarang masih rahasia. Siaran langsung
A/V akan dapat disaksikan melalui saluran biasa.
Sambil meletakkan kembali kertas tadi di atas meja, Marjorie
Tench melihat ke sekeliling Communications Office dan mengangguk
kepada stafnya sebagai isyarat dia puas. Mereka tampak
bersemangat.
Tench menyalakan rokoknya, lalu menghisapnya sebentar,
dan membiarkan mereka semua menunggu. Akhirnya, dia tersenyum.
"Ibu-ibu dan Bapak-bapak. Nyalakan mesin kalian."[]
IZRO'IL
Deception Point (Titik Muslihat)


SEMUA ALASAN masuk akal telah menguap dari benak Rachel
Sexton. Dia tidak lagi memikirkan meteorit, hasil cetakan GPR
yang ada di dalam sakunya, Ming, dan serangan mengerikan di
atas lapisan es. Hanya ada satu hal dalam benaknya.
Dorongan untuk bertahan hidup.
Dataran es di bawahnya melintas cepat dalam pandangan
yang kabur seperti jalan raya halus yang tidak pernah berakhir.
Rachel merasa tubuhnya mati rasa. Apakah itu karena rasa takut
atau karena terbungkus pakaian pelindung, dia tidak tahu, tetapi
dia tidak merasakan sakit. Dia tidak merasakan apa-apa.
Belum.
Berbaring menyamping dan terikat ke tubuh Tolland di
bagian pinggang, Rachel berbaring berhadapan dengannya dalam
posisi pelukan yang aneh. Di atas mereka, tidak pasti tepatnya
di mana, sebuah balon mengembang, penuh berisi angin, seperti
parasut di belakang mobil balap. Corky terseret di belakang
mereka, berkelok-kelok dengan liar seperti sebuah kendaraan
traktor yang tidak terkendali. Obor-obor yang menandai titik
tempat mereka tadi diserang telah menghilang di kejauhan.
Suara mendesis yang berasal dari bahan nylon pakaian Mark
IX mereka yang menggesek es, terdengar semakin tajam ketika
mereka terus meluncur semakin cepat. Rachel tidak tahu berapa
kecepatan mereka meluncur sekarang, tetapi' kecepatan angin
paling tidak mencapai enam puluh mil per jam, dan landasan
pacu yang sempurna di bawah mereka tampak membuat mereka
meluncur semakin cepat setiap detiknya. Balon Mylar yang kedap
air itu tampaknya tidak akan sobek atau melepaskan pegangannya.
53
Kita harus melepaskan diri, pikir Rachel. Mereka berhasil
melarikan diri dari mulut singa dan sekarang sedang menuju ke
mulut buaya. Samudra mungkin jaraknya kurang dari satu mil
ke depan sekarang! Bayangan tentang air sedingin es mengingatkan
Rachel kembali pada kenangan yang sangat menakutkan
dari masa kecilnya.
Angin bertiup lebih kencang, dan kecepatan mereka semakin
bertambah. Di belakang mereka, tidak pasti di mana, Corky
berteriak ketakutan. Dalam kecepatan seperti ini, Rachel tahu
mereka hanya memiliki waktu beberapa menit sebelum mereka
terseret melewati tebing dan terjun ke samudra yang dingin
sekali.
Tolland tampaknya memiliki pemikiran yang sama karena
sekarang dia berjuang untuk membuka kancing pengunci yang
menyatukan mereka.
"Aku tidak dapat melepaskan ikatan kita!" dia berteriak.
"Terlalu tegang!"
Rachel berharap tiupan angin bisa mereda sejenak sehingga
dapat membuat Tolland melonggarkan ikatannya. Tetapi angin
katabatic terus menarik mereka dengan kecepatan yang konstan.
Rachel mencoba membantu. Dia memutar tubuhnya dan memukulkan
ujung crampon-nya. ke dalam es sehingga es yang
terpecah beterbangan ke udara. Kecepatan mereka sedikit berkurang.
"Sekarang!" Rachel berteriak sambil mengangkat kakinya.
Untuk sesaat tali balon itu agak mengendur. Tolland menyentaknya,
mencoba mengambil keuntungan dari tali yang mengendur
itu untuk membuka kancing pengunci dari carabiner mereka.
Masih belum dapat bergerak sama sekali.
"Lagi!" Tolland berteriak.
Kali ini mereka berdua berusaha menggeliat dan menjejakkan
sepatu mereka ke es, sehingga mengakibatkan es beterbangan
lebih banyak lagi. Kali ini usaha mereka lebih terasa
ada dampaknya.
"Sekarang!"
Dengan isyarat dari Tolland, mereka berdua berusaha menahan
laju mereka dengan menghentakkan kaki ke atas es.
Ketika balon itu mulai menarik mereka ke depan lagi, Tolland
menekankan ibu jarinya ke dalam selot pengunci carabiner,
memuntir kaitannya, dan mencoba melepaskan kancing pengunci
balon tersebut. Walau kali ini hampir berhasil, Tolland masih
memerlukan tali yang mengendur sedikit lagi. Kairan itu, seperti
yang pernah dibanggakan Norah, adalah pengait nomor satu.
Kait pengaman Joker khusus dibuat dengan lubang tambahan
di dalam metalnya sehingga kait tersebut tidak akan dapat
terbuka jika ada ketegangan sedikit saja.
Terbunuh karena kancing pengaman, pikir Rachel dan tidak
merasa terhibur sedikit pun oleh ironi ini.
"Satu kali lagi!" Tolland berteriak.
Dengan mengumpulkan kekuatan dan harapannya, Rachel
berputar sejauh yang dia bisa dan memukulkan kedua ujung
sepatunya ke dalam es. Dengan melengkungkan punggungnya,
dia berusaha memindahkan semua berat tubuhnya ke ujung
sepatunya. Tolland mengikuti cara Rachel hingga perut mereka
bertumbukan dan sambungan pada ikat pinggang mereka membuat
tali pengaman mereka menegang. Tolland memukulkan
ujung sepatunya lagi dan Rachel melengkung lebih dalam.
Getaran itu mengirimkan gelombang yang mengejutkan di kakinya.
Rachel merasa pergelangan kakinya akan patah.
"Tahan ... tahan ...." Tolland mengubah posisinya untuk
melepaskan kait pengaman Joker itu ketika kecepatan mereka
berkurang. "Hampir ...."
Crampon di sepatu bot Rachel hancur. Kerangka dari metal
itu terlepas dari sepatu botnya dan terlempar memasuki kegelapan
malam, memantul melewati Corky. Balon itu segera
meluncur lagi ke depan membuat Rachel dan Tolland terseret
mengikutinya. Tolland kehilangan pegangannya pada kaitan itu.
"Sialan!"
Seolah marah karena tadi dihentikan, balon Mylar itu meluncur
lagi ke depan sekarang, bahkan menarik lebih kuat, dan
menyeret mereka menuruni lereng es menuju laut. Rachel tahu
mereka mendekati tebing itu dengan cepat, dan sekarang mereka
menghadapi bahaya lain sebelum jatuh sedalam seratus kaki ke
Samudra Arktika. Tiga gundukan salju berdiri di tengah jalan
mereka. Walau dilindungi penebal di dalam pakaian Mark IX
mereka, pengalaman meluncur pada kecepatan tinggi dan melewati
gundukan salju membuat Rachel merasa takut sekali.
Masih berjuang dengan putus asa untuk membuka tali
pengamannya, Rachel mencoba mencari jalan untuk melepaskan
diri dari balon itu. Saat itu lah dia mendengar bunyi "tik-tik"
yang berirama di atas es—bunyi menghentak yang cepat dari
metal ringan di atas es terbuka.
Kapak itu.
Dalam ketakutannya, Rachel sudah melupakan kapak yang
terpasang dengan tali ke ikat pinggangnya. Alat dari metal ringan
itu sekarang memantul-mantul di samping kakinya. Dia melihat
tali balon. Tali itu terbuat dari nylon tebal dan terjalin dengan
kuat. Rachel meraih ke bawah, dan meraba-raba mencari kapak
yang memantul-mantul itu. Dia menangkap pegangan kapak
itu dan menariknya. Masih dalam posisi menyamping, Rachel
berjuang untuk menaikkan lengannya ke atas kepalanya, lalu
meletakkan sisi kapak yang tajam bergerigi itu di atas tali tebal
tersebut. Dengan kaku, dia mulai menggergaji tali balon yang
tebal dan tegang itu.
"Ya!" seru Tolland sambil sekarang mulai meraba-raba dan
mencari kapaknya sendiri.
Sambil terus meluncur dengan posisi menyamping, Rachel
meregang. Dia mengangkat lengannya dan menggergaji tali
tegang itu. Tali itu kuat, dan serat-seratnya perlahan mulai
terurai. Tolland menggenggam kapaknya sendiri, lalu memutar
tubuhnya, dan mengangkat lengannya ke atas kepalanya. Setelah
itu, dia berusaha untuk menggergaji di tempat yang sama dengan
yang digergaji Rachel, namun dari sisi yang berlawanan. Kapak
mereka beradu ketika mereka bekerja sama seperti penebang
pohon. Tali itu mulai berjumbai di kedua sisinya sekarang.
Kita akan selamat, pikir Rachel. Tali ini akan putusl
Tiba-tiba, balon Mylar berwarna perak di depan mereka
tersapu ke atas seolah menabrak udara yang bergerak ke atas.
Rachel sadar dan dia menjadi ketakutan karena balon itu hanya
mengikuti kontur permukaan tanah saja.
Mereka sudah sampai.
Di gundukan-gundukan itu.
Dinding berwarna putih menjulang di depan mereka hanya
sebentar saja sebelum akhirnya mereka tiba di sana. Hantaman
yang menerpa sisi tubuh Rachel ketika mereka menabrak gundukan
yang menjulang itu, mendorong angin dari paru-parunya
dan kapak di tangannya terlepas. Seperti seorang pemain ski air
yang terseret tali, Rachel merasa tubuhnya terseret ke atas gundukan
itu dan kemudian meluncur. Dia dan Tolland tiba-tiba
terlontar dengan sentakan ke atas yang membuat mereka pusing.
Cerukan di antara gundukan-gundukan itu terentang jauh di
bawah mereka, tetapi tali balon yang sudah berjumbai itu
menahan mereka dengan kuat, mengangkat tubuh mereka yang
meluncur tadi ke atas, dan terus membawa mereka ke udara
melewati palung pertama. Untuk sesaat, Rachel melihat apa
yang ada di depan mereka. Dua gundukan lagi, sebuah dataran
pendek, dan kemudian laut lepas.
Seolah memperkuat ketakutan Rachel, teriakan Corky Marlinson
yang keras menembus udara. Di belakang mereka, dia
terseret melewati gundukan pertama. Mereka bertiga melayang
ke udara, sementara balon itu terus berjuang ke atas seperti
seekor hewan liar yang mencoba melepaskan diri dari rantai
penangkapnya.
Tiba-tiba, seperti letusan senjata api di malam hari, ada
bunyi hentakan menggema di atas kepala mereka. Tali berjumbai
itu putus, ujung tali pengamannya jatuh mengenai wajah Rachel.
Seketika itu juga mereka jatuh. Di atas mereka, balon Mylar
mengembara tak terkendali ... berputar-putar melayang menuju
laut.
Tersangkut pada carabiner dan tali pengaman di pinggang,
Rachel dan Tolland jatuh berguling-guling kembali ke tanah.
Ketika gundukan salju dari gundukan kedua menjulang ke arah
mereka, Rachel bersiap untuk mengalami tabrakan. Setelah melalui
gundukan kedua, mereka terhempas ke sisi belakang gundukan
tersebut. Pakaian busa dan permukaan gundukan yang
menurun meredakan hantaman mereka. Ketika dunia di sekeliling
Rachel berubah menjadi bayangan buram yang terdiri
dari lengan-lengan, kaki-kaki, dan es, dia merasa dirinya meluncur
turun dengan cepat melaju ke tengah-tengah lembah di
antara gundukan es itu. Secara naluriah dia merentangkan lengan
dan kakinya, mencoba untuk memperlambat laju mereka sebelum
mereka menabrak gundukan berikut. Dia merasakan
luncuran mereka melambat, walau hanya sedikit. Dan tampaknya
hanya beberapa detik kemudian Rachel dan Tolland sudah
kembali tertiup naik ke atas gundukan terakhir. Sesampainya di
puncak, mereka merasakan tubuh mereka seperti tanpa beban
seiring mereka melewati puncak gundukan itu. Kemudian, dengan
penuh ketakutan, Rachel merasa mereka mulai meluncur
turun lagi ke sisi belakang gundukan tersebut dan keluar ke
daratan yang terakhir ... delapan puluh kaki terakhir dari Milne
Glacier.
Ketika mereka menggelincir ke arah lereng, Rachel dapat
merasakan seretan Corky pada tali pengamannya dapat menahan
mereka, dan dia tahu mereka semua meluncur lebih lambat.
Namun dia juga tahu itu agak terlambat. Ujung dataran es
seperti dengan cepat mendatangi mereka, dan Rachel berteriak
putus asa.
Lalu terjadilah.
Mereka tergelincir keluar dari tepi dataran es. Hal terakhir
yang Rachel ingat adalah jatuh. []
54
WESTBROOKE PLACE Apartments terletak di 2201 N Street
NW dan mempromosikan dirinya sebagai satu dari sedikit alamat
yang terhormat Washington. Gabrielle bergegas melalu pintu
putar yang berkilap dan memasuki lobi dari lantai pualam di
mana terdapat sebuah air mancur dengan bunyi gemericik yang
memiawakkan telinga.
Penjaga pintu di meja depan tampak terkejut melihat Gabrielle.
"Ms. Ashe? Saya tidak tahu Anda akan singgah malam
ini."
"Aku sudah terlambat." Gabrielle dengan cepat menandatangani
buku tamu. Jam dinding di atasnya menunjukkan
6:22 malam.
Penjaga pintu itu menggaruk kepalanya. "Pak Senator memberiku
daftar, tetapi Anda tidak termasuk—"
"Mereka selalu melupakan orang yang paling banyak menolong
mereka." Lalu Gabrielle tersenyum menggoda kemudian
berjalan melewati lelaki itu menuju lift.
Sekarang penjaga pintu itu tampak cemas. "Aku sebaiknya
menelepon ke atas."
"Terima kasih," kata Gabrielle ketika dia memasuki lift dan
naik. Telepon sang senator kan dimatikan.
Setelah menaiki lift hingga ke lantai sembilan, Gabrielle keluar
dan menyusuri lorong yang tampak anggun. Di ujung
lorong, di depan pintu apartemen Sexton, dia dapat melihat
seorang pengawal keamanan pribadi—istilah yang lebih terhormat
untuk tukang pukul—yang bertubuh besar sedang duduk.
Dia tampak bosan. Gabrielle heran ketika melihat ada
penjaga bertugas, walau tampaknya tidak seheran penjaga itu
ketika melihat Gabrielle datang. Dia terlonjak berdiri ketika
Gabrielle mendekat.
"Aku tahu," seru Gabrielle masih di tengah-tengah lorong.
"Ini malam P.E. Dia tidak mau diganggu."
Penjaga itu mengangguk mengerti. "Senator memberiku
perintah keras tidak ada tamu—"
"Ini darurat."
Penjaga itu sekarang menghalangi pintu dengan tubuhnya.
"Senator sedang ada rapat pribadi."
"Begitukah?" Gabrielle mengeluarkan map merah dari bawah
lengannya. Dia memperlihatkan cap Gedung Putih di depan
wajah penjaga itu. "Aku baru saja dari Ruang Oval. Aku harus
memberikan informasi ini kepada Senator. Betapa pun dekatnya
hubungan tamu itu dengan Sexton, dia harus menunggu Senator
untuk beberapa menit saja. Sekarang biarkan aku masuk."
Penjaga itu agak pucat karena melihat lambang Gedung
Putih di atas map itu.
Jangan buat aku membukanya, pikir Gabrielle.
"Tinggalkan map itu," kata lelaki itu. "Aku akan merabawanya
ke dalam untuknya."
"Enak saja. Aku memiliki perintah langsung dari Gedung
Putih untuk menyerahkan ini secara pribadi. Jika aku tidak
berbicara dengannya segera, kita semua harus mulai mencari
pekerjaan besok pagi. Kau mengerti?"
Penjaga itu tampak sangat bingung, dan Gabrielle merasa
sang senator, tidak seperti biasanya, betul-betul berkeras untuk
tidak mau menerima tamu malam ini. Dia mendekati lelaki itu
dengan mengancam. Sambil mendekatkan map Gedung Putih
itu ke arah wajah si penjaga, Gabrielle merendahkan suaranya
ketika membisikkan empat kata yang paling ditakuti semua
petugas keamanan di Washington.
"Kau tidak mengerti keadaannya."
Petugas keamanan yang bekerja pada para politisi tidak
pernah mengerti keadaan yang sedang terjadi, dan mereka mem-
benci kenyataan itu. Mereka hanya seperti senjata sewaan, harus
bersembunyi di balik kegelapan, tidak pernah yakin apakah harus
patuh pada perintah atau mengambil risiko kehilangan pekerjaan
mereka karena bersikeras mengabaikan situasi krisis yang sedang
terjadi.
Penjaga tersebut menelan ludahnya, dan melihat map berlambang
Gedung Putih itu lagi. "Baik, tetapi aku akan bilang
pada Pak Senator kalau kau yang meminta masuk."
Lelaki itu membuka kunci pintu, dan Gabrielle mendorong
melewatinya sebelum lelaki itu berubah pikiran. Gabrielle memasuki
apartemen dan diam-diam menutup pintu lagi, lalu
menguncinya.
Sekarang ketika dia berada di ruang depan, Gabrielle dapat
mendengar suara-suara tidak jelas dari ruang baca Sexton di
dalam—suara beberapa orang lelaki. Malam RE. kali ini jelas
bukan pertemuan pribadi seperti yang tersirat dari telepon yang
diterima Sexton siang tadi.
Ketika Gabrielle berjalan di gang menuju ke ruang baca,
dia melewati sebuah lemari yang terbuka. Di dalamnya dia
melihat enam mantel lelaki mahal yang tergantung di sana.
Semuanya dari bahan wol dan tweed yang unik. Beberapa tas
kerja diletakkan di lantai. Tampaknya mereka sedang bekerja
malam ini. Gabrielle seharusnya ingin langsung berjalan melewati
tas-tas kerja itu, tetapi satu dari tas kerja itu menarik perhatiannya.
Pelat nama yang tertempel menunjukkan logo perusahaan
yang istimewa. Sebuah roket berwarna merah terang.
Dia berhenti, lalu berlutut untuk membacanya:
SPACE AMERICA, INC.
Gabrielle bingung, lalu dia memeriksa tas-tas kerja lainnya.
BEAL AEROSPACE. MICROSCOM, INC. ROTARY
ROCKET COMPANY. KISTLER AEROSPACE.
Suara serak Marjorie Tench menggema dalam pikirannya.
Tahukah kau bahwa Sexton menerima suap dari perusahaan luar
angkasa swasta?
Denyut nadi Gabrielle mulai meningkat ketika dia melihat
ke gang gelap yang menuju ke pintu lengkung yang membawanya
ke ruang baca senator. Dia tahu dia seharusnya berbicara
dan memberitahukan kedatangannya. Namun, kenyataannya
dia merasakan dirinya diam-diam berjalan mendekat ke
depan. Dia maju beberapa kaki lagi mendekati pintu itu dan
berdiri diam dalam kegelapan ... mendengarkan percakapan di
ruang baca itu.[]
SEMENTARA DELTA-three tetap berada di belakang untuk
mengambil jenazah Norah Mangor dan kereta luncurnya, kedua
prajurit lainnya berlari mengejar buruan mereka.
Mereka menggunakan sepatu ski bertenaga ElektroTread.
Dengan model yang mirip sepatu ski bermotor Fast Trax, Electro-
Tread rahasia ini merupakan sepatu ski salju dengan tambahan
telapak roda bergerigi seperti roda tank versi mini dan mirip
roda pada mobil salju. Kecepatannya dapat dikendalikan hanya
dengan menekankan ujung ibu jari dan telunjuk yang mengakibatkan
tekanan pada dua lempengan kecil di dalam sarung
tangan kanan. Sebuah baterai diletakkan di sekitar kaki, berfiingsi
sebagai insulator, dan memungkinkan sepatu-sepatu ski itu berlari
tanpa suara. Hal yang jenius di sini adalah, energi kinetik yang
dihasilkan oleh gravitasi dan telapak roda bergerigi yang berputar
ketika penggunanya meluncur menuruni bukit, secara otomatis
diambil untuk mengisi-ulang baterai itu ketika menempuh tanjakan
berikutnya.
55
Dengan menjaga posisi angin tetap di belakang mereka,
Delta-One membungkuk rendah, dan melihat ke arah laut ketika
mempelajari dataran es di depannya. Sistem penglihatan malamnya
jauh berbeda dari model Patriot yang digunakan marinir.
Delta-One melihat melalui alat yang tidak perlu dipegang. Alat
tersebut ditempelkan pada wajahnya dengan lensa enam elemen
berukuran 40 x 90 mm, tiga elemen Magnification Doubler,
dan Super Long Range IR. Ketika menggunakan alat itu, lingkungan
di sekitarnya akan terlihat kebiruan, bukan kehijauan
seperti biasa—skema warna yang khusus dirancang bagi daerah
berefleksi tinggi seperti di Arktika.
Ketika Delta-One tiba di gundukan es pertama, kacamata
ski-nya itu memperlihatkan beberapa garis terang dari salju yang
baru saja diinjak, dan naik melewati gundukan seperti panah
neon di malam hari. Tampaknya ketiga buronannya itu tidak
berpikir untuk melepaskan layar darurat mereka atau tidak
mampu. Jika mereka tidak dapat melepaskan diri pada gundukan
salju terakhir, mereka sekarang pasti sudah berada di samudra
lepas. Delta-One tahu pakaian pelindung buruannya itu akan
memperpanjang harapan hidup mereka di air, tetapi ombak di
lepas pantai akan menyeret mereka ke laut. Tidak terelakkan
lagi, mereka pasti akan tenggelam.
Walau Delta-One merasa yakin, dia telah dilatih untuk tidak
pernah menyimpulkan sesuatu. Dia harus melihat mayat mereka.
Sambil membungkuk rendah, dia menekan kedua jarinya sehingga
sepatu skinya bergerak lebih cepat, dan melaju ke
tanjakan pertama.
MICHAEL TOLLAND tergeletak tidak bergerak dan merasakan
luka-lukanya di tubuhnya. Dia babak-belur, tetapi dia tidak
merasakan adanya patah tulang. Dia agak meragukan pakaian
Mark IX berisi gel yang dipakainya ini dapat menghilangkan
traumanya yang parah. Ketika dia membuka matanya, pikirannya
dengan lambat mulai terfokus. Semuanya terasa lebih lembut
di sini ... lebih tenang. Angin masih menderu, tetapi tidak
terlalu ganas.
Kita sudah melampaui tepian itu, bukan?
Setelah memusatkan pikirannya, Tolland mendapati dirinya
sedang berbaring di es dan menindih tubuh Rachel Sexton
dengan carabiner mereka yang saling mengunci dan terpelintir.
Dia dapat merasakan napas Rachel di bawahnya, tetapi tidak
dapat melihat wajahnya. Dia berguling dari atas tubuh Rachel,
namun otot-ototnya hampir tidak mampu bergerak.
"Rachel ...?" Tolland tidak yakin apakah bibirnya tadi mengeluarkan
suara atau tidak.
Tolland ingat detik-detik terakhir saat mereka meluncur.
Mereka terangkat naik oleh balon itu, lalu tali penghubung
mereka yang putus membuat tubuh mereka terjatuh ke sisi
belakang gundukan kedua, kemudian terseret lagi ke atas dan
melewati gundukan terakhir, dan melintas cepat ke arah tepian—
dataran es terakhir. Tolland dan Rachel telah jatuh, tetapi anehnya,
mereka tidak jatuh terlalu jauh. Bukan seperti dugaan
mereka jatuh tercebur ke laut, mereka jatuh hanya dari ketinggian
kurang lebih sepuluh kaki sebelum mereka menghantam
lapisan es berikutnya dan menggelincir hingga berhenti beserta
tubuh Corky yang terseret di belakang mereka.
Sekarang, Tolland mengangkat kepalanya, dan melihat ke
arah laut. Tidak jauh dari situ, es berakhir pada tebing curam,
dan dari tempatnya berbaring dia dapat mendengar bunyi lautan.
Ketika menatap kembali ke arah lereng es, Tolland berusaha
menatap menembus malam. Dua puluh yard ke belaka