Deception Point (Titik Muslihat)
"Senator Sexton, jawab pertanyaan saya. Menjelajahi luar
angkasa adalah bisnis yang berbahaya dan mahal. Ini hampir
seperti membuat pesawat jet yang mengangkut banyak orang.
Kita harus melakukannya dengan benar atau tidak melakukannya
sama sekali. Risikonya terlalu besar. Pertanyaan saya masih sama:
Jika Anda menjadi presiden, dan Anda dihadapkan pada keputusan
untuk melanjutkan pendanaan NASA sebesar yang
sekarang ini atau menghapuskan program ruang angkasa Amerika
sepenuhnya, mana yang akan Anda pilih?"
Kurang ajar. Sexton melirik Gabrielle melalui kaca. Ekspresi
perempuan muda itu memantulkan sesuatu yang sudah diketahui
Sexton. Kau sudah berkomitmen. Langsung saja. Jangan berteletele.
Sexton mengangkat dagunya. "Ya, saya akan memindahkan
anggaran NASA yang sekarang ini langsung ke sistem sekolah kita
kalau saya harus membuat keputusan. Saya akan memberikan
suara saya untuk anak-anak kita daripada untuk ruang angkasa."
Raut wajah Tench terlihat sangat terkejut. "Saya terperangah.
Apakah saya tidak salah dengar? Sebagai presiden, Anda akan
memilih untuk menghapuskan program ruang angkasa negara?"
Sexton merasa kemarahannya muncul. Sekarang Tench seperti
mendiktenya. Sexton mencoba untuk melawan, tetapi
Tench sudah mulai berbicara lagi.
"Jadi, maksud Anda, Senator, Anda akan menutup lembaga
yang telah mengirim orang ke bulan?"
"Saya berkata bahwa perjalanan ke ruang angkasa sudah
selesai. Waktu telah berubah. NASA tidak lagi dapat berperan
penting dalam kehidupan sehari-hari rakyat Amerika, tetapi kita
masih saja mendanainya seolah badan itu adalah lembaga yang
berguna."
"Jadi, Anda tidak menganggap ruang angkasa itu masa
depan?"
"Jelas, ruang angkasa itu masa depan, tetapi NASA adalah
dinosaurus. Lembaga itu sudah usang! Mari kita biarkan swasta
menjelajahi ruang angkasa. Para pembayar pajak Amerika tidak
seharusnya membuka dompet mereka setiap kali insinyur di
Washington ingin mengambil foto Jupiter yang berharga semiliar
dolar itu. Rakyat Amerika sudah letih mengorbankan masa depan
anak-anak mereka untuk mendanai sebuah Iembaga kuno yang
menghasilkan sangat sedikit dibandingkan dengan pengeluaran
mereka yang sangat besar itu."
Tench mendesah dengan berat. "Menghasilkan sangat sedikit?
Kecuali program SETI, NASA telah memberikan hasil yang
besar sekali."
Sexton sangat terkejut ketika SETI keluar dari bibir Tench.
Ini adalah kesalahan besar. Terima kasih telah mengingatkan aku.
Search of Extraterrestrial Intelligence atau SETI adalah pemborosan
uang di tubuh NASA yang luar biasa besar. Walau
NASA sudah berusaha untuk melakukan "penggantian wajah"
dengan memberinya nama baru "Origins" dan mengatur-ulang
beberapa sasarannya, tetapi tetap saja proyek tersebut merupakan
pertaruhan yang memberikan kerugian.
"Marjorie," ujar Sexton untuk mengambil kesempatannya, "saya
ingin membicarakan SETI karena Anda telah menyebutnya."
Anehnya, Tench juga tampak bersemangat mendengarnya.
Sexton berdehem. "Umumnya orang tidak sadar bahwa
NASA telah mencari makhluk bernama ET selama 35 tahun
hingga saat ini. Dan ini merupakan perburuan harta karun
yang memakan banyak biaya ... pemasangan satelit, peralatan
penerima gelombang berukuran raksasa, jutaan dolar untuk
membayar gaji para ilmuwan yang duduk di tempat gelap dan
mendengarkan kaset rekaman kosong. Ini adalah penghamburhamburan
sumber daya yang memalukan."
"Anda ingin mengatakan bahwa sesungguhnya tidak ada
apa-apa di atas sana?"
"Saya ingin mengatakan bahwa jika ada lembaga milik
negara lain yang menghamburkan uang 45 miliar dolar selama
lebih dari 35 tahun dan tidak mendapatkan satu hasil pun,
maka lembaga itu pasti sudah ditutup sejak lama." Sexton
berhenti sejenak untuk membiarkan pernyataannya itu merasuk
ke pemikiran para pemirsa dengan baik. "Setelah 35 tahun,
kupikir sudah cukup jelas kita tidak akan menemukan kehidupan
di luar bumi."
"Dan jika Anda salah?"
Sexton mengarahkan bola matanya ke atas dan menukas
dengan nada kesal, "Oh, demi Tuhan, Ms. Tench, potong kepala
saya jika saya salah."
Marjorie Tench menatap tajam ke arah Senator Sexton. "Saya
akan mengingat perkataan Anda tadi, Senator." Dan untuk
pertama kalinya, perempuan itu tersenyum. "Saya pikir kita
semua akan mengingatnya."
Enam mil jauhnya dari studio CNN, di dalam Ruang Oval,
Presiden Zach Herney mematikan televisinya dan menuangkan
minuman untuk dirinya sendiri. Seperti yang dijanjikan Marjorie
Tench, Senator Sexton telah memakan umpan tersebut mentahmentah—
mulai dari pengait, tali, sampai batu pemberatnya. []
24
MICHAEL TOLLAND tersenyum penuh empati ketika Rachel
Sexton ternganga membisu ketika melihat meteorit berfosil di
tangannya. Kecantikan di wajah perempuan itu sekarang tampak
berubah menjadi ekspresi kekaguman yang polos, seperti anak
kecil yang baru pertama kali melihat Sinterklas.
Aku mengerti apa yang kaurasakan, kata Tolland dalam hati.
Tolland juga sama terkejutnya, namun itu sudah sejak 48
jam yang lalu. Dia juga begitu terkejutnya hingga terdiam.
Bahkan sampai sekarang, implikasi ilmiah dan filosofis dari
meteorit itu masih membuatnya tercengang sehingga memaksanya
untuk memikirkan kembali tentang segala yang pernah
dipercayainya tentang alam ini.
Walaupun Tolland pernah menemukan beberapa spesies asing
di laut dalam, tetapi "serangga luar angkasa ini" membuat semua
penemuannya itu menjadi tidak ada apa-apanya. Walau Hollywood
memiliki kecenderungan untuk menampilkan makhluk
luar angkasa sebagai orang-orang kecil berwarna hijau, tetapi semua
ahli astrobiologi dan penggemar ilmu pengetahuan sepakat,
dengan mempertimbangkan jumlah dan kemampuan adaptasi
serangga bumi yang luar biasa, kehidupan asing di luar bumi,
seandainya ditemukan, memang akan menyerupai serangga.
Serangga merupakan anggota filum artbropoda—makhluk
yang memiliki cangkang keras dan kaki bersendi. Dengan lebih
dari 1,25 juta spesies yang sudah dikenali dan kira-kira masih
ada 500 ribu lagi yang belum digolongkan, jumlah "serangga"
bumi mengalahkan jumlah gabungan seluruh hewan lainnya.
Persentasi serangga adalah 95 persen dari keseluruhan jenis
hewan lain di bumi dan, yang menakjubkan lagi, merupakan
empat puluh persen dari biomassa di planet ini.
Yang paling mengagumkan tentang serangga, selain jumlahnya
yang berlimpah, adalah ketahanan hidup mereka. Dari
kumbang es di Antartika hingga kalajengking matahari di Death
Valley, segala jenis serangga tersebut tetap dapat hidup dengan
gembira pada temperatur, tingkat kekeringan, dan tekanan dalam
rentang yang mematikan. Mereka juga dapat bertahan terhadap
kekuatan yang paling mematikan di alam semesta ini—radiasi.
Dalam penelitian dampak bom nuklir pada 1945, para peneliti
dari Angkatan Udara Amerika sudah mengenakan pakaian antiradiasi
dan memeriksa tempat bom dijatuhkan hanya untuk
menemukan kecoa-kecoa dan semut-semut yang hidup dengan
bahagia, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di sana. Para
astronom menyadari bahwa cangkang luar yang melindungi
serangga arthropoda itulah yang membuatnya menjadi satu-
satunya makhluk yang memiliki potensi untuk bertahan hidup
di berbagai planet yang telah tercemar oleh radiasi.
Tampaknya para ahli astrobiologis itu benar, pikir Tolland.
ET adalah seekor serangga.
KAKI RACHEL serasa lemas. "Aku tidak dapat ... memercayainya,"
katanya sambil membalik fosil di tangannya. "Aku tidak
pernah mengira ...."
"Beri dirimu waktu untuk mencernanya," kata Tolland sambil
tersenyum. "Aku sendiri butuh 24 jam untuk menenangkan
diri."
"Sepertinya kita memiliki pendatang baru," kata seorang
lelaki Asia bertubuh jangkung ketika dia mendekat untuk bergabung
dengan mereka.
Corky dan Tolland tampak langsung kecewa dengan kehadiran
lelaki itu. Tampaknya saat-saat keajaiban mereka telah
dibuyarkan oleh orang yang ingin ikut nimbrung ini.
"Dr. Wailee Ming," kata orang itu ketika memperkenalkan
diri. "Kepala Paleontologi di UCLA."
Pembawaan lelaki ini layaknya seorang bangsawan zaman
Renaissance yang kaku dan sombong. Dr. Ming terus-menerus
mengusap-usap dasi kupu-kupunya yang tidak cocok dengan
tempat ini. Dia juga mengenakan mantel sepanjang lutut dari
bulu kulit onta. Wailee Ming tampaknya tidak mau membiarkan
keadaan tempatnya berada kini yang terpencil itu menghalanginya
untuk tampil prima.
"Aku Rachel Sexton." Tangan Rachel masih gemetar ketika
menjabat tangan Ming yang halus. Ming jelas adalah ilmuwan
sipil yang juga direkrut Presiden.
"Aku akan senang sekali, Ms. Sexton," kata ahli paleontologi
itu, "kalau diberi kesempatan untuk menceritakan apa pun yang .
ingin kau ketahui tentang fosil itu."
"Dan banyak hal lain yang tidak ingin kau ketahui," Corky
menggerutu.
Ming kembali menyentuh dasi kupu-kupunya dengan jarinya.
"Keahlian paleontologiku adalah tentang arthropoda dan
mygalomorphae yang sudah punah. Jelas, sifat yang paling mengesankan
pada organisme yang kita temukan ini adalah—"
"—karena ia berasal dari planet lain!" Corky menyela.
Ming cemberut dan berdehem. "Sifat yang paling mengesankan
dari organisme ini adalah bahwa ia sangat cocok dengan
klasifikasi dan taksonomi untuk makhluk asing menurut sistem
Darwin."
Rachel menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Mereka
dapat mengklasifikasikan benda ini? "Maksudmu kerajaan, filum,
spesies ... klasifikasi semacam itu?"
"Tepat," sahut Ming. "Jenis ini, jika ditemukan di bumi,
akan digolongkan isopoda dan akan masuk ke dalam salah satu
kelas di antara dua ribu jenis caplak."
"Caplak?" tanya Rachel. "Tetapi ini besar sekali."
"Taksonomi tidak memerdulikan pada ukuran. Contohnya
kucing rumah dan harimau, mereka saling berhubungan. Klasifikasi
adalah tentang fisiologi. Jenis seperti ini sudah pasti seekor
caplak: tubuhnya gepeng, tujuh pasang kaki, dan kantung reproduksi
serupa dengan bentuk kantung reproduksi caplak kayu,
kumbang pohon, belalang pantai, serangga kayu, dan binatang
lain yang sejenis. Fosil lainnya jelas menunjukkan kekhususan
yang lebih—"
"Fosil lainnya?"
Ming menatap Corky dan Tolland. "Dia belum tahu?"
Tolland menggelengkan kepalanya.
Wajah Ming pun langsung berubah menjadi cerah. "Itu
berarti Ms. Sexton, kau belum mendengar bagian yang bagus."
"Ada beberapa fosil lagi," sela Corky, jelas mencoba mencuri
perhatian Rachel dari Ming. "Lebih banyak lagi." Lalu Corky
bergegas mengambil secarik amplop dari kertas manila dan
mengeluarkan selembar kertas berukuran besar yang terlipat dari
dalam amplop tersebut. Dia melebarkannya di atas meja di
depan Rachel. "Setelah kami mengebor beberapa bagian di inti
meteorit, kami menurunkan kamera sinar X ke bawah. Ini adalah
grafik yang menggambarkan bagian potongan itu."
Rachel melihat cetakan sinar X di atas meja dan segera merasa
harus duduk. Bagian dalam meteorit yang terlihat tiga dimensi
itu dipenuhi lusinan serangga seperti yang dilihatnya tadi.
"Itu peninggalan zaman paleolitik," kata Ming, "biasanya
ditemukan dalam jumlah besar. Sering kali, lumpur memerangkap
organisme yang hidup dalam kelompok, menutupi sarang
atau keseluruhan komunitas organisme tersebut."
Corky tersenyum. "Kami berpikir, kumpulan serangga dalam
meteorit itu melambangkan sebuah sarang makhluk-makhluk
itu." Lalu dia menunjuk ke salah satu serangga pada kertas
cetakan itu. "Dan itu ibunya."
Rachel melihat spesimen itu dengan mulut ternganga. Serangga
itu kira-kira panjangnya dua kaki.
"Caplak yang besar, ya?" kata Corky.
Rachel mengangguk dan terpaku ketika dia membayangkan
ada seekor caplak seukuran roti tawar sedang berjalan-jalan di
sebuah planet lain.
"Di bumi," kata Ming, "serangga kita relatif lebih kecil
karena gravitasi mengendalikan mereka. Mereka tidak dapat tumbuh
lebih besar daripada yang dapat ditopang kerangka luar
mereka. Tetapi di planet dengan gravitasi yang lebih kecil,
serangga dapat berkembang menjadi jauh lebih besar."
"Bayangkan memukul nyamuk sebesar burung kondor pemakan
bangkai," Corky bergurau sambil mengambil sampel inti meteor
dari tangan Rachel dan menyimpannya ke dalam sakunya.
Ming berkata dengan nada tidak senang, "Sebaiknya kau
tidak mencurinya!"
"Tenang," kata Corky. "Toh, kita masih punya delapan ton
lagi di dalam sana."
Pikiran analitis Rachel mulai bekerja untuk mengolah data
di depannya. "Tetapi bagaimana kehidupan dari ruang angkasa
dapat begitu serupa dengan kehidupan di bumi? Maksudku,
kau tadi mengatakan serangga ini cocok dalam kiasifikasi Darwin?"
"Sempurna," kata Corky. "Dan percaya atau tidak, banyak
ahli astronomi telah memperkirakan bahwa kehidupan di luar
bumi serupa dengan kehidupan di bumi."
"Tetapi kenapa?" tanya Rachel. "Spesies ini berasal dari lingkungan
yang sama sekali berbeda."
"Panspermia," kata Corky sambil tersenyum lebar.
"Maaf?"
"Panspermia adalah teori yang mengatakan bahwa kehidupan
di bumi ini ditebarkan dari planet lain."
Rachel berdiri. "Aku sangat bingung."
Corky menoleh ke arah Tolland. "Mike, kau kan ahli kelautan
purba."
Tolland tampak gembira ketika mengambil alih. "Bumi pernah
menjadi planet tanpa kehidupan, Rachel. Kemudian tiba-tiba,
seolah hanya terjadi dalam semalam, kehidupan meledak di sini.
Banyak ahli biologi berpendapat ledakan kehidupan itu adalah
hasil ajaib dari percampuran ideal berbagai elemen dalam laut di
masa purba. Tetapi kami belum pernah dapat mereka-ulang proses
tersebut di dalam laboratorium sehingga para ilmuwan religius
menganggap kegagalan itu sebagai bukti adanya Tuhan. Menurut
mereka, kehidupan tidak mungkin ada kecuali Tuhan menyentuh
laut di masa purba dan mengisinya dengan kehidupan."
"Tetapi kami, para ahli astronomi," jelas Corky, "memiliki
penjelasan berbeda tentang ledakan kehidupan di bumi yang
berlangsung dalam semalam itu."
"Panspermia," kata Rachel, sekarang sudah mengerti apa
yang mereka bicarakan. Dia sudah pernah mendengar teori panspermia
itu, tetapi tidak tahu namanya. "Teori yang mengatakan
bahwa meteorit jatuh ke dalam primordial soup* dan membawa
serta benih pertama kehidupan mikro organisme ke bumi."
*Campuran gas dan zat yang diperkirakan terjadi ketika bumi baru
terbentuk—penyunting.
"Tepat," seru Corky. "Di mana benih-benih tersebut kemudian
merembes keluar dan menjadi hidup."
"Dan jika itu benar," kata Rachel, "maka nenek moyang
yang mendasari bentuk kehidupan di bumi dan bentuk kehidupan
di luar bumi memang serupa."
"Tepat dua kali."
Panspermia, pikir Rachel. Dia masih belum dapat memahami
implikasinya. "Jadi, fosil itu tidak hanya memastikan bahwa
kehidupan juga ada di tempat lain di alam semesta ini, tetapi
juga membuktikan teori panspermia ... bahwa kehidupan di
bumi ditebarkan dari kehidupan di tempat lain di alam semesta
ini.
"Tepat tiga kali," Corky mengangguk bersemangat pada
Rachel. "Secara teknis, kita mungkin saja merupakan makhluk
ekstraterestrial." Dia kemudian meletakkan kedua jarinya di atas
kepala seperti sepasang antena, menjulingkan matanya, lalu
mengoyangkan lidahnya seperti serangga.
Tolland menatap Rachel dengan senyuman kasihan. "Dan
orang ini adalah puncak dari evolusi kita."[]
RACHEL SEXTON merasa kabut seperti dalam mimpi berputar
di sekitarnya ketika dia berjalan menyeberangi habisphere, didampingi
Michael Tolland. Corky dan Ming mengikuti tidak
jauh di belakang mereka.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Tolland sambil mengamatinya.
Rachel menoleh sambil tersenyum lemah. "Terima kasih.
Ini hanya ... terlalu banyak bagiku."
25
Pikirannya kembali pada penemuan NASA tahun 1997 yang
memalukan: ALH84001, sebuah meteorit Mars yang diakui
NASA berisi fosil sisa bakteri hidup. Celakanya, hanya dalam
beberapa minggu setelab NASA mengadakan konferensi pers
untuk mengumumkan kemenangannya, beberapa ilmuwan sipil
maju dengan bukti bahwa "tanda-tanda kehidupan" itu tidak
lebih dari kerogen yang dihasilkan oleh kontaminasi ketika
dibawa ke bumi. Kredibilitas NASA terpukul telak karenanya.
Harian New York Times bahkan mengambil kesempatan untuk
menyindir keras lembaga itu dengan memelesetkan mengolokolok
kepanjangan NASA menjadi Not Always Scientifically Accurate,
tidak selaku akurat secara ilmiah.
Pada edisi yang sama, ahli paleobiologi bernama Stephen
Jay Gould melengkapi masalah yang terjadi pada ALH84001
dengan menunjukkan bahwa bukti di dalam batu tersebut hanyalah
berupa bahan kimia dan masih merupakan dugaan, bukan
zat "padat," seperti sebuah tulang atau cangkang yang sudah
jelas.
Sekarang, Rachel sadar NASA telah menemukan bukti yang
tidak dapat dibantah lagi. Tidak ada ilmuwan skeptis yang akan
melangkah maju dan mempertanyakan fosil-fosil ini. NASA tidak
lagi menggembar-gemborkan sesuatu yang belum jelas dan memperbesar
foto-foto bakteri mikroskopis yang mereka anggap sudah
pasti. Sekarang mereka akan menyajikan sampel meteorit yang
mengandung organisme hidup yang terlihat jelas oleh mata
telanjang. Caplak seukuran dua kakil
Rachel merasa geli ketika ingat saat masih kecil dulu, dia
pernah sangat menyukai lagu David Bowie tentang "laba-laba
dari Mars". Mungkin hanya sedikit orang yang dapat mengira
bahwa bintang pop Inggris yang eksentrik itu dapat meramal
momen terbesar ahli astrobiologis ini dengan nyaris tepat.
Ketika lagu itu samar-samar terdengar dalam benak Rachel,
Corky tergopoh-gopoh mendekatinya. "Rachel, apakah Mike
sudah membual tentang film dokumentasinya?"
Rachel menjawab. "Belum, tetapi aku akan senang mendengarnya."
Corky menepuk punggung Tolland. "Ceritakanlah, Kawan.
Ceritakan padanya mengapa Presiden memutuskan momen sejarah
yang paling penting itu harus diserahkan pada seorang
bintang televisi yang pintar snorkeling."
Tolland mengerang. "Bagaimana kalau kau saja?"
"Baiklah. Aku yang akan menjelaskan," kata Corky sambil
berusaha berdiri di antara Tolland dan Rachel. "Mungkin kau
sudah tahu, Ms. Sexton, Presiden akan mengadakan konferensi
pers malam ini untuk mengabarkan tentang meteorit itu kepada
dunia. Karena mayoritas orang di planet ini terdiri atas orangorang
yang memiliki kecerdasan rata-rata, maka* Presiden meminta
Mike untuk bergabung dan menyampaikan segalanya
dengan cara sederhana bagi mereka."
"Terima kasih, Corky," sahut Tolland dengan sebal. "Bagus
sekali." Kemudian, dia menatap Rachel dan berusaha menjelaskan,
"Maksud Corky adalah, karena ada begitu banyak data
ilmiah yang harus disampaikan, maka Presiden berpikir menggunakan
fdm dokumentasi tentang meteorit akan membuat
informasi ini lebih mudah ditangkap oleh sebagian besar orang
Amerika, yang tidak memiliki pengetahuan luas tentang astrofisika."
Corky kemudian berkata kepada Rachel, "Kau tahu tidak
kalau aku baru saja tahu, ternyata Presiden adalah fans berat
Amazing Seas?" Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan
sebal. "Zach Herney, presiden seluruh dunia, ternyata menyuruh
sekretarisnya untuk merekam acara Mike sehingga dia dapat
menontonnya setelah seharian bekerja keras."
Tolland mengangkat bahunya. "Ya, bagaimana lagi? Lelaki
itu mempunyai selera tinggi."
Rachel sekarang mulai menyadari betapa hebatnya rencana
Presiden. Politik merupakan permainan media, dan Rachel sudah
dapat membayangkan antusiasme dan kredibilitas ilmiah yang
akan dibawa oleh wajah Michael Tolland di layar kaca dalam
konferensi pers tersebut. Zach Herney telah memilih seseorang
yang tepat untuk mendukung serangan kecilnya. Keraguan untuk
menentang data-data Presiden akan sulit diajukan jika informasi
tersebut disampaikan seorang bintang televisi yang sudah dikenal
secara luas bersama beberapa ilmuwan sipil lainnya.
Corky menimpali, "Mike sudah merekam kami semua dalam
videonya, orang-orang sipil, juga ilmuwan-ilmuwan top di NASA.
Dan aku mempertaruhkan Medali Nasional-ku bahwa kau juga
ada dalam daftarnya."
Rachel menoleh dan menatapnya. "Aku? Apa maksudmu?
Aku tidak punya keahlian apa pun. Aku hanya seorang penghubung
intelijen."
"Lalu mengapa Presiden mengirimmu ke sini?"
"Dia belum mengatakannya padaku."
Seulas senyuman senang terkembang di bibir Corky. "Kau
seorang penghubung intelijen Gedung Putih yang mengurus
klarifikasi dan pengesahan data, kan?"
"Ya. Tetapi bukan data ilmiah."
"Dan kau putri seorang lelaki yang berkampanye dengan
mengkritik pemborosan NASA untuk program luar angkasa?"
Rachel tahu hal itu akan keluar dari mulut Corky.
"Kau harus mengakuinya, Ms. Sexton," Ming menimpali,
"keberadaanmu akan memberi film dokumentasi ini dimensi
kepercayaan yang benar-benar baru. Jika Presiden mengirimmu
ke sini, dia pasti ingin agar kau berperan serta juga."
Sekali lagi, Rachel teringat dengan firasat William Pickering
akan kemungkinan dirinya digunakan Presiden untuk kepentingan
politik.
Tolland melihat jam tangannya. "Kita harus bergegas," katanya
sambil menunjuk ke arah tengah-tengah habisphere. "Mereka
pasti sudah bersiap-siap."
"Bersiap-siap?" tanya Rachel.
"Waktu pengangkatan. NASA akan membawa meteorit itu
ke permukaan. Sebentar lagi, kurasa."
Rachel terpaku. "Kalian benar-benar akan memindahkan batu
seberat delapan ton dari dalam es yang tebalnya dua ratus kaki?"
Corky tampak gembira. "Kau tidak berpikir bahwa NASA
akan membiarkan sebuah penemuan terkubur di dalam es, bukan?"
"Tidak, tetapi ...," Rachel tidak melihat tanda-tanda peralatan
untuk memindahkan benda besar di mana pun di dalam
habisphere ini. "Bagaimana rencana NASA untuk mengeluarkan
meteorit itu?"
Corky semakin senang. "Bukan masalah. Kau berada di dalam
sebuah ruangan yang dipenuhi oleh ilmuwan-ilmuwan pintar."
"Omong kosong," gerutu Ming sambil riienatap Rachel.
"Dr. Marlinson hanya senang menggoda orang lain. Sebenarnya
semua orang di sini bingung tentang cara mengeluarkan meteorit
itu. Dr. Mangor-lah yang mengusulkan solusi yang masuk akal."
"Aku belum bertemu dengan Dr. Mangor."
"Dia seorang ahli glasiologi dari University of New Hampshire,"
sahut Tolland. "Ilmuwan keempat dan terakhir yang dipilih
Presiden. Dan Ming benar, Dr. Mangor-lah yang mengusulkan
cara itu."
"Baik," kata Rachel. "Jadi, bagaimana cara yang diusulkan
oleh lelaki itu?"
"Perempuan," kata Ming mengoreksi. Suaranya terdengar
melembut. "Dr. Mangor itu seorang perempuan."
Corky hanya menggerutu. Dia kemudian menatap Rachel.
"Ngomong-ngomong, Dr. Mangor pasti akan membencimu."
Tolland melotot dengan marah kepada Corky.
"Memang dia akan membenci Rachel!" Corky membela diri.
"Dia itu benci dengan kompetisi."
Rachel merasa bingung. "Maaf? Kompetisi?"
"Abaikan dia," kata Tolland. "Sayangnya, kenyataan bahwa
Corky itu orang bodoh, entah bagaimana, terlewatkan oleh
National Science Committee. Kau dan Dr. Mangor akan bergaul
dengan baik. Dia orang yang profesional dan dianggap sebagai
salah satu dari ahli glasiologi teratas di dunia. Sebenarnya, dia
pindah ke Antartika beberapa tahun yang lalu untuk mempelajari
pergerakan es di sana."
"Aneh," kata Corky. "Yang kudengar, Univeristy of New
Hampshire memberikan donasi dan mengirimnya ke sana agar
mereka dapat bekerja dengan tenang di kampus."
"Hati-hati," hardik Ming. Tampaknya dia tersinggung karena
komentar Corky itu. "Dr. Mangor hampir tewas di sana! Dia
tersesat saat badai dan hidup hanya dengan memakan lemak
anjing laut selama beberapa minggu hingga seseorang menemukannya."
Corky berbisik pada Rachel, "Yang kudengar, tidak seorang
pun mencarinya."[]
PERJALANAN DARI studio CNN menuju kantor Sexton terasa
lama bagi Gabrielle Ashe. Sang senator sedang duduk di depannya
dan menatap ke luar jendela. Jelas dia merasa sangat senang
karena debat tadi.
"Mereka mengirimkan Tench untuk acara siang hari di televisi
kabel," kata Senator Sexton sambil berpaling ke arah Gabrielle
untuk memberikan senyumannya yang menawan. "Gedung Putih
benar-benar sedang panik."
Gabrielle mengangguk. Dia tidak ingin berkomentar. Gabrielle
dapat merasakan kesan puas yang tersembunyi di wajah Marjorie
Tench ketika perempuan itu keluar tadi. Itu membuat Gabrielle
tidak tenang.
26
Ponsel pribadi Sexton berdering, dan dia merogoh sakunya
untuk mengeluarkan ponsel tersebut. Seperti sebagian besar
politisi, sang senator memiliki tingkatan nomor telepon yang
dapat menghubunginya, tergantung pada seberapa penting si
penelepon itu. Siapa pun yang sekarang meneleponnya, pastilah
itu orang yang berada di daftar teratas. Telepon itu masuk ke
nomor pribadi Sexton, sebuah nomor yang bahkan Gabrielle
sendiri pun tidak berani menghubunginya.
"Senator Sedgewick Sexton," sahut Sexton untuk menekankan
namanya yang yang berima.
Gabrielle tidak dapat mendengar suara si penelepon karena
deru suara mesin limusin, tetapi Sexton mendengarkannya dengan
saksama, kemudian menjawabnya dengan bersemangat. "Hebat
sekali. Aku senang kau menelepon. Bagaimana jika pukul enam?
Bagus. Aku punya sebuah apartemen di di D.C. Private sini.
Itu tempat yang nyaman. Kau sudah punya alamatnya, bukan?
Baik. Aku sangat ingin bertemu denganmu. Sampai jumpa nanti
malam kalau begitu."
Sexton menutup teleponnya.
"Penggemar Sexton yang baru?" tanya Gabrielle.
"Jumlahnya berlipat ganda," sahut Sexton. "Lelaki ini orang
penting."
"Pasti. Kau menemuinya di apartemenmu?" Sexton biasanya
sangat melindungi rumah pribadinya seperti seekor singa melindungi
satu-satunya tempat persembunyiannya.
Sexton mengangkat bahunya. "Ya. Kupikir aku ingin memberinya
sentuhan pribadi. Orang ini mungkin akan merasa
nyaman ketika berada di rumah. Aku harus terus memantapkan
hubungan pribadi. Tahu sendirilah. Ini semua soal kepercayaan."
Gabrielle mengangguk sambil menarik keluar agenda Sexton.
"Kaumau memasukkannya ke dalam jadwalmu?"
"Tidak perlu. Lagi pula aku sudah merencanakan untuk
melewatkan malam ini di rumah saja."
Gabrielle melihat halaman agenda untuk malam ini. Di
situ sudah terisi tulisan tangan Sexton dengan huruf besar "P.E."
Itu adalah singkatan yang dibuat Sexton entah untuk personal
event (acara pribadi), private evening (malam pribadi), atau pissoff
everyone (peduli setan dengan semua orang)—tidak ada yang
tahu dengan pasti. Dari waktu ke waktu, sang senator menjadwalkan
malam "P.E." untuk dirinya sendiri sehingga dia dapat
beristirahat di apartemennya, mematikan teleponnya, dan melakukan
hal yang paling dinikmatinya—menikmati brandy dengan
teman-teman lamanya, dan berpura-pura lupa akan dunia politik.
Gabrielle menatapnya dengan heran. "Jadi, kau membiarkan
urusan dengan orang itu menyela jadwal P.E. yang sudah kauatur
sebelumnya? Aku terkesan."
"Orang ini kebetulan ingin bertemu denganku pada malam
hari jika aku punya waktu. Aku akan berbicara sebentar dengannya.
Aku mau tahu apa yang ingin dikatakannya."
Gabrielle ingin bertanya siapa penelepon misterius itu, tetapi
Sexton jelas tampak tidak ingin memberi tahu dirinya. Gabrielle
juga sudah belajar untuk tidak memancing-mancing.
Ketika mereka meninggalkan jalan lingkar luar dan kemudian
melanjutkan ke arah gedung kantor Sexton, Gabrielle
menatap ke halaman agenda itu lagi, ke arah huruf P.E. yang
sudah ditentukan dalam agenda Sexton. Tiba-tiba, Gabrielle
mendapat firasat kalau Sexton sudah tahu kalau si penelepon
itu akan menghubunginya hari ini. []