Bintang Kaisar
Oct 25 2009, 12:14 AM
sebelumnya ane mhn maaf... jadi gini.. anekan dpt tgs.. diKasih pertanyaan seperti ini.
"Kenapa mata uang Indonesia meningkat,pemerintahpun jd khawatir..??"ane ud cari jawabannya diGoogle,tp masih bnyk jwbnnya yg ngambang... mohon bantuannya ya brader..

kl perlu jawaban dr bro2 semua diSertai dg sumber nya..
Terimakasih..
Orangutan
Oct 25 2009, 12:35 AM
ane coba jawab yah.
Maksud bro dengan peningkatan mata uang tuh deflasi kan?
Dulu salah satu pengajar gua pernah nanya: mana yang lebih baik: inflasi atau deflasi?
sekilas tampak deflasi lebih baik karena mata uang menguat dan masyarakat dapat membeli barang dengan harga yang lebih murah.
Namun perekonomian suatu negara tentu saja disokong oleh industri. Darimana orang dapat penghasilan? Tentu dari bekerja atau berwirausaha. Oleh karena itu sumber penghasilan ini yang menjadi penekanan.
Sekarang kita lihat dari sisi bisnis. Tujuan dari bisnis adalah memperoleh keuntungan.
Apa yang terjadi ketika deflasi? Yang pasti harga barang atau jasa yang dihasilkan akan lebih murah harganya. Tapi untuk memproduksi barang atau jasa tersebut bisnis tersebut kan memerlukan bahan baku. Disinilah masalahnya. Ketika terjadi deflasi, maka harga bahan baku yang dibeli menjadi lebih mahal, bahkan bila deflasi sangat ekstrem maka harga bahan baku akan jauh lebih mahal daripada harga jual hasil produksinya. Darisini terlihat kalau deflasi terjadi, keuntungan bisnis akan menurun, malah bisa rugi bila deflasinya terlalu besar. Belum lagi bila bisnis tersebut mengekspor hasil produksinya, maka bila harganya dikonversi ke mata uang asing, akan menjadi lebih mahal di negara tujuan ekspor dan menjadi tidak kompetitif.
Bila bisnis rugi, maka karyawannya bisa di phk dan bisnis akan gulung tikar. Terbayang kan apa yang akan terjadi kalau hal ini terjadi dalam skala luas?
Jadi inflasi (dalam batas wajar) masih lebih baik daripada deflasi karena dengan inflasi, bisnis akan memperoleh insentif / laba karena harga bahan baku akan lebih murah dan harga jual bisa lebih tinggi. Harga memang akan naik karena inflasi. Tapi secara teori, penghasilan individu kan juga bertambah karena insentif / laba yang diterima bisnis tersebut.
Semoga bisa membantu.
botz
Oct 25 2009, 01:46 AM
salah satu alesannya: pendapatan kita salah satunya dari expor, dan expor rata-rata pake dolar bro. jadi dengan harga dolar yang sama, elu bakal dapet duit lebih sedikit setelah di kurs ke rupiah. gitu...
GODStalker
Oct 25 2009, 09:48 AM
QUOTE (Orangutan @ Oct 25 2009, 12:35 AM)

ane coba jawab yah.
Maksud bro dengan peningkatan mata uang tuh deflasi kan?
Dulu salah satu pengajar gua pernah nanya: mana yang lebih baik: inflasi atau deflasi?
sekilas tampak deflasi lebih baik karena mata uang menguat dan masyarakat dapat membeli barang dengan harga yang lebih murah.
Namun perekonomian suatu negara tentu saja disokong oleh industri. Darimana orang dapat penghasilan? Tentu dari bekerja atau berwirausaha. Oleh karena itu sumber penghasilan ini yang menjadi penekanan.
Sekarang kita lihat dari sisi bisnis. Tujuan dari bisnis adalah memperoleh keuntungan.
Apa yang terjadi ketika deflasi? Yang pasti harga barang atau jasa yang dihasilkan akan lebih murah harganya. Tapi untuk memproduksi barang atau jasa tersebut bisnis tersebut kan memerlukan bahan baku. Disinilah masalahnya. Ketika terjadi deflasi, maka harga bahan baku yang dibeli menjadi lebih mahal, bahkan bila deflasi sangat ekstrem maka harga bahan baku akan jauh lebih mahal daripada harga jual hasil produksinya. Darisini terlihat kalau deflasi terjadi, keuntungan bisnis akan menurun, malah bisa rugi bila deflasinya terlalu besar. Belum lagi bila bisnis tersebut mengekspor hasil produksinya, maka bila harganya dikonversi ke mata uang asing, akan menjadi lebih mahal di negara tujuan ekspor dan menjadi tidak kompetitif.
Bila bisnis rugi, maka karyawannya bisa di phk dan bisnis akan gulung tikar. Terbayang kan apa yang akan terjadi kalau hal ini terjadi dalam skala luas?
Jadi inflasi (dalam batas wajar) masih lebih baik daripada deflasi karena dengan inflasi, bisnis akan memperoleh insentif / laba karena harga bahan baku akan lebih murah dan harga jual bisa lebih tinggi. Harga memang akan naik karena inflasi. Tapi secara teori, penghasilan individu kan juga bertambah karena insentif / laba yang diterima bisnis tersebut.
Semoga bisa membantu.
Setuju.
Contoh : Para pemilik kebun sawit pada berharap supaya tetep inflasi
Bintang Kaisar
Oct 25 2009, 12:37 PM
hmm.. gt ya bro..

nah jika Kurs rupiah masih di atas fundamental, tentunya akan semakin Menguat nilai tukar rupiah otomatis akan membuat kalangan eksportir menjadi resah dong bro... karena nilai kontrak merekakan dalam dolar AS akhirnya menjadi turun ketika dikonversi ke dalam negeri. Gmn ya tindakan Bank Indonesia sendiri??
hehehe... bnyk tanya gw bro...

makasi ya... (kl mo diJelasin lagi bgs jg...

)
Orangutan
Oct 25 2009, 01:35 PM
QUOTE (Bintang Kaisar @ Oct 25 2009, 12:37 PM)

hmm.. gt ya bro..

nah jika Kurs rupiah masih di atas fundamental, tentunya akan semakin Menguat nilai tukar rupiah otomatis akan membuat kalangan eksportir menjadi resah dong bro... karena nilai kontrak merekakan dalam dolar AS akhirnya menjadi turun ketika dikonversi ke dalam negeri. Gmn ya tindakan Bank Indonesia sendiri??
hehehe... bnyk tanya gw bro...

makasi ya... (kl mo diJelasin lagi bgs jg...

)
Menurut gua, BI bisa melakukan:
1. Menurunkan suku bunga sehingga investor kurang tertarik mendepositokan uangnya dalam rupiah sehingga menurunkan permintaan terhadap mata uang rupiah
2. Membeli mata uang asing dengan menggunakan mata uang rupiah
Kayaknya masih ada yang lain yang BI bisa lakukan. Tapi gampangnya sih bagaimana caranya supaya mata uang rupiah tidak begitu menarik (ingat hukum permintaan dan penawaran kan?).
Mohon dikoreksi jika ane salah.
1ndr4p4ng3r4n
Nov 2 2009, 10:40 AM
Permisi, mohon izin ikut urun rembug. Terkait dg penguatan mata uang dimana Pemerintah justru khawatir, itu benar sekali. Dua alasan yg telah disampaikan terkait dg aspek biaya produksi dan daya saing komoditi kita (ekspor) di pasar internasional juga sangat benar. Ada satu lagi alasan yaitu terkait dengan finansial market, khususnya utang piutang. Seperti yg kita tahu bahwa hampir semua dunia usaha, penyedia barang dan jasa, dari level paling kecil hingga level konglomerat semuanya di jalankan dengan utang. Ada yg utang kecil (kredit mikro / UMKM) hingga utang yg ratusan trilyun rupiah. Ada utang dg mekanisme sederhana (loan) hingga mekanisme pasar (sekuritas spt obligasi), bahkan yg campuran (sophisticated, financial engineering). Pokoknya intinya utang. Nah dalam utang kan kita tahu baik dalam konsep konvensional ataupun syariah, ada yg namanya return / keuntungan yg diperoleh pihak kreditor sebagai pemberi utang. Bahasa sederhananya bunga atau imbal hasil dlm konsep syariah. Nah berapa besar return yg harus dibayarkan peminjam (debitor) kpd kreditor itu ditentukan melalui suku bunga. Secara sederhananya, adanya inflasi pd tingkat yg reasonable, akan "mengikis" tingkat bunga dan return yg harus dibayarkan kreditor kepada debitor dlm jangka menengah dan panjang. Contoh gampang misalnya kita beli rumah BTN dg kredit 20 tahun misalnya. Taruhlah kita ambil kredit rumah tsb pada tahun 1995, dengan nilai cicilan 200 rb perbulan. Pada saat itu, 200 rb perbulan tentunya bukan nilai yg kecil. Coba ingat, pd tahun tsb PNS gol III aja gajinya sktr 500 rb. Kalo ada peg yg gajinya sejutaan aja waktu itu orang sudah takjub. Tp 15 tahun kemudian, cicilan rumah 200 rb perbulan tentunya sudah jauh lebih ringan, apalagi secara real, nilai rumah yg dicicil sudah naik berlipat lipat kali. Jadi keuntungan nominal dan real bagi orang yg ambil kredit 20 th tsb sangat besar. Begitu analogi sederhananya. Tentunya dalam kenyataannya mekanisme dan instrumennya lebih rumit, tp prinsipnya sama. Jadi kesimpulannya inflasi itu adalah sahabat karib pengutang. Berhubung hampir semua dunia usaha pasti punya utang, termasuk Pemerintah, maka sudah tentu inflasi yg (reasonable) lebih diharapkan dibanding deflasi yg terlalu drastis.
Demikian, kurang lebihnya mohon maaf...
pandjul
Nov 3 2009, 02:36 PM
pengusaha ekspor bakalan nerima pembayaran dalam dollar yg kalo ditukarin ke rupiah nilainya menyusut.
akibatnya ongkos produksi nggak ketutup sama harga jual/ekspor.
trus kalo dollar terlalu murah Indonesia bakal kebajiran produk impor