Help - Search - Members - Calendar
Full Version: SENOPATI PAMUNGKAS
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
Pages: 1, 2
IZRO'IL
SENOPATI PAMUNGKAS I



Episode 1

Tokoh-Tokoh Berdasarkan Urutan Penyebutan
Sanggrama Wijaya, atau Naraya Sanggrama Wijaya, atau Raden Wijaya. Nama yang dikenal ketika mengalahkan Raja Jayakatwang, yang secara culas menguasai Keraton
Singasari dan mendepak Baginda Raja Kertanegara. Bersama dengan prajurit dan senopati yang setia, Wijaya berhasil menggempur balik pasukan Tartar dari negeri Cina. Menurut catatan sejarah, dinobatkan menjadi Raja Majapahit pada tanggal 15 bulan Kartika atau sekitar bulan Oktober-November 1298. Nama kebesarannya adalah Kertarajasa Jayawardhana. Nama ini menunjukkan rasa hormat terhadap leluhurnya, raja-raja Singasari.
Upasara Wulung, salah seorang ksatria hasil godokan Ksatria Pingitan. Ksatria Pingitan adalah semacam perguruan yang berusaha melahirkan ksatria sejati yang dilatih ilmu surat dan ilmu silat, atau kanuragan. Para ksatria yang terpilih, dilatih sejak lahir di Ksatria Pingitan. Menurut cerita ini, Ksatria Pingitan didirikan atas gagasan Baginda Raja Sri Kertanegara Raja Singasari yang terakhir, dengan tujuan menciptakan manusia yang selain jago silat juga mempunyai watak luhur, yang kelak diharapkan menjadi senopati utama yang melanjutkan kebesaran Keraton dan melindungi penduduk. Selama dua puluh tahun Upasara Wulung berada dalam Ksatria Pingitan, dilatih oleh Ngabehi Pandu, sebelum terjun ke medan persilatan.
Ilmu dasarnya adalah Banteng Ketaton, atau Banteng Terluka. Akan tetapi mengalami
perubahan besar sejak mempelajari Bantala Parwa atau Kitab Bumi yang berisi Dua Belas Jurus Nujum Bintang serta Delapan Jurus Penolak Bumi. Bantala Parwa dianggap babon segala kitab kanuragan. Merupakan puncak berbagai sumber ilmu silat yang ada di tanah Jawa.
Gayatri, atau Permaisuri Rajapatni, salah satu dari empat putri Baginda Raja Sri Kertanegara yang dipermaisurikan oleh Raja Majapahit. Menjelang penyerbuan ke Daha untuk menaklukkan Jayakatwang.
Gayatri pergi bersama Upasara Wulung untuk mengetahui kekuatan lawan. Di sinilah bibit-bibit daya asmara tumbuh. Dan berpuncak saat Gayatri ditawan di atas benteng dan Upasara maju menggempur tanpa memedulikan keselamatan dirinya. Akan tetapi Menurut perhitungan dan ramalan para pendeta, Gayatri harus menikah dengan Sanggrama Wijaya, karena inilah pasangan Dewi Uma dan Dewa Siwa, yang kelak kemudian hari akan menurunkan raja terbesar. Hubungan masa lalu ini ternyata banyak membebani tapi sekaligus juga mewarnai perjalanan hidupnya.
Mpu Renteng, salah seorang senopati Majapahit yang berjuang sejak awal. Ilmu andalannya ialah Bujangga Andrawina atau Ular Naga Berpesta Pora, dengan menggunakan ujung kain yang tersampir di pundaknya.
Mpu Sora, salah seorang senopati Majapahit yang berjuang sejak awal. Ilmu andalannya ialah Bramara Bekasakan, atau Lebah Hantu. Tokoh yang tangguh ini banyak mendapat dukungan untuk menjabat sebagai mahapatih. Mahapatih ialah jabatan tertinggi di Keraton sesudah raja. Namun ia sendiri merasa tidak berhak.
Pangkat yang disandang adalah adipati, semacam penguasa daerah, di Dahanapura. Tempat Kala Gemet, putra mahkota, berada.
Mpu Elam, salah seorang senopati Majapahit, yang menjadi prajurit telik sandi. Prajurit yang terpilih dalam pasukan telik sandi, atau pasukan rahasia, adalah prajurit pilihan yang tugasnya mengumpulkan semua laporan yang menyangkut keamanan. Dalam jajaran pemerintahan ditangani secara langsung oleh Mahapatih.
Dyah Palasir, salah seorang senopati muda Majapahit. Anak buah langsung Senopati Nambi, seperti juga Dyah Singlar yang bertugas menjadi prajurit pribadi Raja.
Bersama Dyah Pamasi, mereka Merupakan senopati-senopati muda yang dipersiapkan untuk menjadi pengganti. Klikamuka, tokoh yang selalu menutupi wajahnya dengan klika atau kulit kayu. Kelihatannya mempunyai hubungan dekat dengan Keraton.
Toikromo, penduduk biasa yang ingin mengangkat Upasara Wulung sebagai menantu.
Gendhuk Tri, calon penari Keraton Singasari yang menjadi anak murid Mpu Raganata
sebentar, lalu dilatih Jagaddhita. Ilmu andalannya menggunakan selendang seperti penari. Karena satu dan lain hal, seluruh darahnya teraliri racun sangat ganas. Dalam usianya yang masih belasan tahun, dan hidup di tengah pergolakan jago silat, adatnya memang rada aneh. Diam-diam sangat mengagumi Upasara Wulung, dan mencemburui setiap wanita yang mendekati Upasara.
Jaghana, salah seorang murid Perguruan Awan, perguruan yang dianggap sumber segala ilmu kanuragan di tanah Jawa. Kepalanya gundul pelontos, pakaian yang dikenakan asal menutup tubuh. Sabar dan welas asih. Namanya bisa diartikan sebagai "pantat".
Ini cara merendahkan diri sebagai "bukan apa-apa, bukan siapa-siapa", salah satu ciri ajaran Perguruan Awan.
Eyang Sepuh, lebih dikenal sebagai nama seorang empu yang mahasakti yang mendiami Perguruan Awan. Dari Eyang Sepuh-lah terdengar gema ajaran Kitab Bumi dengan jurus yang ampuh, yaitu Tepukan Satu Tangan. Ajaran yang sejajar dengan ajaran Budha, baik di negeri Hindia, Cina, maupun Jepun. Atau bahkan sampai ke negeri Turkana. Eyang Sepuh pula yang membuat para jago seluruh penjuru jagat datang ke Trowulan, untuk membuktikan siapa yang mewarisi ilmu sejati. Namun sejak semula, Eyang Sepuh tak pernah menampakkan diri. Hanya beberapa orang, Gayatri dan Upasara, yang pernah mendengar suaranya. Penguasaan ilmu Eyang Sepuh telah sampai ke tingkat moksa, lenyap bersama raga dan jiwanya.
Adipati Lawe, atau Ranggalawe, salah seorang senopati Majapahit yang besar jasanya. Putra Aria Wiraraja ini nama kecilnya seperti juga ayahnya, Aria Adikara. Ranggalawe, nama pemberian Raden Sanggrama Wijaya yang mungkin menjadi petunjuk kepangkatannya ketika itu. Rangga adalah jabatan yang sama dengan camat sekarang ini. Kuda hitam dan umbul-umbul bergambar kuda, menunjukkan kegagahannya ketika menjadi adipati, semacam patih penguasa suatu wilayah, di daerah Tuban. Sebutan yang lain ialah patih amancanegara, yaitu semacam kepala di wilayah luar Keraton. Patih amancanegara menunjukkan penguasaan di luar wilayah kekuasaan Keraton. Yang terbagi di daerah barat, timur, utara, maupun selatan letak Keraton.
Galih Kaliki, tokoh yang asal-usul ilmu silat dan perguruannya tidak gampang dimengerti. Senjata andalannya sebuah tongkat galih asam, bagian tengah atau hati pohon asam. Baru kemudian diketahui bahwa gaya permainannya mirip dengan ksatria pedang panjang dari Jepun. Orangnya keras, jujur, apa adanya. Dan sepanjang hidupnya kesengsem atau tergila-gila pada Nyai Demang.
Senopati Anabrang, atau Mahisa Anabrang. Salah seorang senopati zaman Keraton Singasari yang menjelajah sampai ke tlatah Melayu dan baru kembali dua puluh tahun kemudian. Melanjutkan pengabdian kepada Raja Majapahit, dengan membawa dua putri ayu yang salah satunya dipermaisurikan Baginda Raja.
Senopati Nambi, atau Mpu Nambi, salah seorang senopati Majapahit, pimpinan prajurit telik sandi, atau pasukan rahasia. Diangkat sebagai mahapatih, suatu jabatan tertinggi sesudah raja. Mahapatih menjalankan roda pemerintahan sehari-hari. Secara langsung membawahkan para senopati, pemerintahan sehari-hari. Secara langsung membawahkan para senopati, adipati, ataupun patih. Pengangkatannya sebagai mahapatih banyak mengundang pertentangan. Terutama dari Adipati Lawe, yang mengharapkan dirinya atau Mpu Sora yang memangku jabatan tersebut.
Wilanda, salah seorang murid Perguruan Awan yang kemudian melepaskan diri dan menjadi prajurit andalan Keraton Singasari, dan kemudian kembali lagi ke Perguruan Awan. Budinya luhur, dan menjadi pendamping Upasara sejak kecil. Ilmunya yang sulit ditandingi ialah cara mengentengkan tubuh seperti capung hinggap di ujung daun.
Kiai Sumelang Gandring, atau Mpu Sumelang Gandring, turunan seorang ahli pembuat keris yang mengembara sampai ke ujung barat tanah Jawa. Di sana meneruskan ilmunya. Seluruh muridnya berjumlah dua belas, dan semua memakai sebutan Gandring. Istimewanya ialah kedua belas Gandring ini bisa menyusun barisan yang luwes dan ampuh. Di antaranya gaya serangan Jiwandana Jiwana, atau Tembang Kehidupan.
Nyai Demang, satu-satunya tokoh wanita yang sering dinilai hanya karena mengobral asmara, serta bentuk tubuhnya yang montok. Menurut cerita, dulu istri seorang demang, pangkat setingkat Camat. Banyak para ksatria menjadi korban senyuman dan bentuk tubuhnya. Akan tetapi di balik segala daya tarik lahiriahnya, Nyai Demang selama ini tak tertandingi dalam soal kemampuannya mempelajari bahasa mancanegara. Dialah yang menjadi penyalin bahasa sewaktu pasukan Tartar mendarat.
Halayudha, salah seorang senopati Majapahit yang tak terlalu menonjol dalam peperangan. Gerak-geriknya penuh teka-teki, karena hubungannya yang sangat dekat dengan Raja Majapahit, dan kemampuannya untuk taktik yang dijalankan sangat culas, bergetah, tapi berhasil. Ilmu silatnya termasuk sangat tinggi karena ia murid langsung Paman Sepuh, ditambah berbagai ilmu yang diperoleh sendiri.
Tribhuana, putri Baginda Raja Sri Kertanegara yang dipermaisurikan oleh Raden Wijaya. Sebagai putri Keraton, Tribhuana dikenal memiliki pengetahuan yang luas dan cara berbicara yang ulung dalam menangkap suasana, sehingga digelari Mahalalila. Sebagai permaisuri pertama, sebenarnya Tribhuana berhak melahirkan putra mahkota. Akan tetapi nyatanya tidak, karena Raja Majapahit memilih permaisuri yang lain.
Mahadewi, adik Tribhuana yang juga dipermaisuri oleh Raja. Mahadewi dikenal sebagai putri landasan daya asmara Baginda.
Jayendradewi, atau Permaisuri Pradnyaparamita, adik Mahadewi yang juga dipermasurikan Baginda. Tidak secantik adiknya “Gayatri”, namun kesetiaan dan keluhuran budinya menjadi contoh teladan.
Dara Jingga, putri boyongan dari Melayu yang dipersembahkan Senopati Anabrang kepada Baginda. Namun kemudian menikah dengan salah seorang bangsawan Keraton yang melanjutkan pemerintahan di tlatah Melayu.
Dara Petak, adik Dara Jingga, yang dipermaisurikan Baginda dengan gelar Permaisuri Indreswari. Disebut sebagai istri tinuheng pura atau permaisuri yang dituakan.
Menggeser kedudukan Tribhuana dan dengan demikian berarti anak keturunannya yang bakal mewarisi takhta Baginda Kertarajasa.
Dewa Maut, tadinya menjadi tokoh yang ganas, setiap kali berperang harus mencabut nyawa lawan karena daya asmara kepada gadis pujaannya bertepuk sebelah tangan.
Hidup menyendiri hanya dengan sesama kaum pria, di atas perahu yang selalu berada di Kali Brantas. Dalam salah satu pertarungan ilmunya lenyap, dan gayanya seperti kehilangan ingatan. Seluruh rambutnya putih. Gendhuk Tri dianggap "kekasihnya" yang hilang dan selalu dipanggil Tole, panggilan untuk anak lelaki. Dewa Maut hanya mau mengikuti perintah Gendhuk Tri.
Kama Kalacakra, salah seorang ksatria Jepun yang mahir memainkan pedang panjang.
Kama Kalandara, saudara seperguruan Kama Kalacakra. Dua nama yang berbeda akan tetapi artinya sama, yaitu "benih matahari". Bila bergabung, keduanya menjadi disegani, karena bisa memindah serangan sambil berputar kencang.
Kama Kangkam, guru Kama Kalacakra maupun Kama Kalandara. Datang ke tanah Jawa untuk mengadu kekuatan dengan Eyang Sepuh, memperebutkan gelar sebagai ksatria lelananging jagat, atau ksatria yang paling lelaki yang paling tak terkalahkan.
Senopati Semi, salah seorang senopati Majapahit. Salah seorang dari tujuh dharmaputra, putra istana yang mendapat perlakuan istimewa dari Baginda. Senopati lain yang termasuk dharmaputra ialah Senopati Kuti, Senopati Pangsa, Senopati Wedeng, Senopati Yuyu, Senopati Tanca, serta Senopati Banyak.
Kala Gemet, putra mahkota Keraton Majapahit, putra Permaisuri Indreswari. Sejak muda telah diangkat menjadi calon pewaris takhta dengan mengambil tempat latihan kekuasaan di Dahanapura. Ketakutan disaingi saudaranya, ia melarang saudara lain ibu menikah.
Mahisa Taruna, putra Mahisa Anabrang, yang terbakar oleh dendam sejak kematian ayahnya di tangan Senopati Sora. Merasa pengabdian ayahnya kepada Keraton disiasiakan, Mahisa Taruna mudah dipermainkan orang lain.
Aria Wiraraja, tokoh yang dihormati dari Sumenep, Madura, inilah yang pertama kali mengulurkan tangan kepada Sanggrama Wijaya. Taktik dan strateginya jitu. Dengan kematian Lawe, putra kesayangannya, Aria Wiraraja sangat kecewa. Kemudian meninggalkan Keraton dan berdiam di Lumajang, yang membawahkan wilayah Majapahit sebelah timur.
Naga Nareswara, atau Raja Segala Naga, merupakan utusan tertinggi dari Tartar, yang masih menyimpan dendam, karena pasukannya yang mampu menaklukkan dunia dikalahkan oleh senopati-senopati Majapahit. Akan tetapi kedatangannya yang terutama untuk bertarung dengan Eyang Sepuh, dalam memperebutkan gelar ksatria lelananging jagat. Untuk membuktikan siapa pewaris suci dari ajaran yang sama sumbernya.
Kiai Sambartaka, atau Kiai Kiamat, seorang pendeta dari tanah Hindia. Datang ke tanah Jawa untuk mengadu ilmu sejati dengan Kama Kangkam, Naga Nareswara, serta Eyang Sepuh. Agaknya, lima puluh tahun lalu, para tokoh itu sudah berjanji untuk mengadakan pertempuran habis-habisan.
Paman Sepuh Dodot Bintulu, atau menyebut dirinya Bik Suka Bintulu karena menyamakan dirinya sebagai pendeta peminta-minta. Dodot Bintulu adalah nama untuk menunjukkan kesederhanaan sebagai rakyat jelata. Panggilan Paman Sepuh karena tokoh sakti ini saudara seperguruan Eyang Sepuh maupun Mpu Raganata, & yang sesungguhnya menuliskan Kitab Bumi atau Bantala Parwa bagian pertama, yaitu yang berisi Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Wajahnya hancur karena dikhianati dua muridnya yang durhaka, yaitu Ugrawe dan Halayudha. Kemunculannya kembali ke
dalam dunia persilatan untuk memenuhi undangan yang disebarkan Eyang Sepuh
lima puluh tahun yang lalu. Di mana akan berkumpul seluruh jago silat, jawara dari
jawara seluruh jagat. Salah satu gubahan ilmunya yang terkenal, selain Banjir Bandang Segara Asat yang disempurnakan Ugrawe, adalah jurus-jurus Timinggila Kurda, atau jurus-jurus Ikan Gajah Murka. Ikan gajah adalah sebutan untuk ikan paus pada masa lalu.
Kiai Gajah Mahakrura, nama lain Paman Sepuh yang dipakai oleh Halayudha, yang menggambarkan gurunya yang dianggap sebagai gajah mahabengis.
Ratu Ayu Bawah Langit, menunjukkan sebutan bahwa di seluruh kolong langit ini, dialah yang paling ayu tanpa tanding. Nama sesungguhnya Ratu Ayu Azeri Baijani, datang dari negeri Turkana. Suatu negeri yang disebut sebagai tlatah tapel wates, karena merupakan tapal batas dengan wilayah yang tak dikenal. Ratu Ayu berkelana ke tanah Jawa karena mendengar bakal ada pertemuan seluruh jago silat. Bersama para senopatinya, Ratu Ayu ingin mencari jodoh, yaitu yang bisa mengalahkannya.
Karena ia percaya bahwa bersama lelaki yang mampu mengalahkannya, ia bisa
membebaskan negerinya dan jajahan Raja Tartar. Repotnya, justru dalam pengelanaannya, tak ada yang mampu mematahkan ilmunya, yaitu Tathagati, atau ilmu Budha Wanita, yang dianggap sesat karena menyamakan sang Budha dengan wanita. Gerak langkah ilmu ini disebut Tathagata Pratiwimba atau gerakan Arca Budha yang Kaku, serupa dengan cara bergerak boneka.
Sariq, senopati utama Ratu Ayu Bawah Langit. Sariq berarti kuning, karena ketika memainkan ilmunya seakan tubuhnya berwarna kuning seluruhnya. Senopati lainnya ialah Uighur, Karaim, Wide, Chagatai, dan Kazakh. Bersama-sama mereka mampu memainkan barisan yang disebut Lompat Turkana, atau 64 Langkah Jong. Jong bisa berarti payung, bisa berarti tertutup. Barisan Lompat Turkana ini disusun sedemikian rupa, sehingga langkah ke belakang tertutup. Mereka selalu bergerak maju ke depan,
ke samping kanan, atau ke samping kiri. Konon ini merupakan permainan yang lazim di negeri Turkana.
Gajah Biru, senopati yang setia kepada Mpu Sora, baik di saat jaya maupun ketika tersisih, seperti juga: Juru Demung, Maha Singanada, gagah perkasa, wajah & penampilannya sangat mirip dengan Upasara Wulung. Hanya rambutnya dibiarkan tergerai dan sikapnya jauh lebih urakan, tak mengenal tata krama. Senopati ini termasuk dalam rombongan yang dikirim oleh Baginda Raja Sri Kertanegara dari Keraton Singasari (itu sebabnya masih memakai nama Singa) ke tlatah Campa, ke Keraton Caban. Untuk mengantarkan Dyah Ayu Tapasi, putri Baginda Raja, untuk dipermaisurikan Raja Campa. Senjata utamanya adalah kantar, atau tombak pendek.
Ilmunya bersumber pada Kitab Bumi, akan tetapi cara mengatur pernapasannya disebut Nawawidha, atau Mengatur Tenaga Dalam Lipat Sembilan. Jurus-jurusnya dikenal sebagai Nawagraha, atau Siasat Sembilan Bintang, yang kesemuanya berintikan kepada angka sembilan.
Pendeta Syangka, atau Pendeta Sidateka, berasal dari tanah Syangka atau Sri Langka.
Merupakan pendeta kesayangan Putra Mahkota Bagus Kala Gemet, sehingga kelak kemudian hari sang putra mahkota ini memakai gelar kebesaran sebagai Sri Sundarapandya Adiswara. Sebutan pandya berarti mengakui kebesaran dinasti Pandya
yang memerintah di Sri Langka. Sejak tata pemerintahan Keraton Sriwijaya, pendetapendeta dari Syangka mencoba menanamkan pengaruhnya, akan tetapi selalu gagal.
Sekali ini Pendeta Sidateka yang menguasai Pukulan Dingin, berhasil. Maha Singa Marutma, salah seorang senopati yang dikirim oleh Baginda Raja Sri Kertanegara ke Keraton Mon, di delta Sungai Saluen di tlatah Burma. Keraton Mon menjadi rebutan kekuasaan antara Keraton Burma dan Keraton Sukothai, dari bangsa Thai. Maha Singa Marutma kembali ke tanah Jawa mencari bantuan untuk membebaskan Keraton Mon dari serbuan Burma maupun Sukothai.
Pangeran Jenang, nama yang dimudahkan untuk menyebutkan Pangeran Che Nam, yang terdesak oleh bangsa Vietnam. Karena Keraton Campa merupakan wilayah yang dikuasai Singasari, Pangeran Jenang minta bantuan ke tanah Jawa. Hanya saja ketika
ia datang, yang memerintah bukan lagi Baginda Raja Sri Kertanegara. Oleh Bagus Kala Gemet, ditarik sebagai salah seorang pendukungnya.
Kebo Berune, oleh Upasara dipanggil dengan sebutan hormat Eyang Kebo Berune, sedangkan Nyai Demang memanggil dengan Kakek Kebo Berune. Salah seorang tokoh sakti yang hidup sezaman dan seangkatan dengan Paman Sepuh, Eyang Sepuh, maupun Mpu Raganata. Bahkan sama-sama merumuskan lahirnya Kitab Bumi. Kebo Berune hanyalah nama sebutan karena tokoh ini mengembara sampai ke tlatah Berune atau Brunei, dan baru kembali untuk bertanding menguji ilmu siapa yang paling unggul. Suatu pertemuan setiap lima puluh tahun sekali. Sayangnya, karena
cara berlatih tenaga dalam yang keliru, Kebo Berune selalu dibayangi maut, dan tak bisa bergerak. Salah satu ajiannya yang sejajar dengan ilmu Weruh Sadurunging Winarah Mpu Raganata, sejajar dengan ajian Tepukan Satu Tangan Eyang Sepuh, sejajar dengan Banjir Bandang Segara Asat Paman Sepuh, adalah Pukulan Pu-Ni yang diciptakannya. Pu-Ni sekadar untuk mengingatkan bahwa ilmu itu diciptakan di tanah Pu-Ni atau Berune atau Brunei. Konon ilmu-ilmu itu diciptakan untuk menjadi penangkal ilmu Dua Belas Jurus Nujum Bintang.
Pulangsih, atau Putri Pulangsih dalam sebutan Nyai Demang. Menurut cerita yang dituturkan Kebo Berune, Pulangsih adalah gadis yang diperebutkan oleh Mpu Raganata, Eyang Sepuh, Paman Sepuh, maupun Kebo Berune. Tokoh wanita yang masih serba samar ini memilih Eyang Sepuh yang disebut Bejujag atau si kurang ajar, namun justru pada saat itu Eyang sepuh mencampakkannya.
Penolakan itulah yang mengilhami lahirnya bagian terakhir Kitab Bumi, yang disebut Kitab Penolak Bumi, atau Tumbal Bantala Parwa. Pulangsih pastilah sebutan di antara keempat ksatria muda pada zamannya, karena arti pulangsih sesungguhnya adalah bersatunya daya asmara secara jasmani.
Cebol Jinalaya, si cebol berkulit hitam. Mewakili pemuja yang tetap mengagungkan Sri Kertanegara, sehingga menganggap bahwa bila mereka mati, bisa terus menjadi abdi Baginda Raja. Jinalaya sendiri nama yang dipakai untuk menunjukkan tempat untuk mati.
Senopati Agung Brahma, bangsawan tua yang dihormati oleh kalangan Keraton, tetapi juga jauh dari kekuasaan karena lebih suka menyepi. Kepedihan hatinya tetap tak terhibur dengan menikahi Dyah Dara Jingga, yang dengan demikian ia adalah kakak ipar Baginda. Termasuk salah seorang senopati yang dikirimkan ke seberang oleh Baginda Raja Sri Kertanegara. Hanya satu yang menyebabkan ia keluar dari "persembunyiannya", yaitu terutama karena mendengar berita datangnya utusan dari Keraton Caban di Campa, di samping keruwetan yang menimpa Keraton.


KOKOK ayam jantan pagi itu tak terdengar. Cengkerik juga tak sempat memperdengarkan musik akhir. Bahkan tetesan embun belum sepenuhnya mengental, ketika tiga ekor kuda melintas dengan tergesa. Suasana desa yang tenteram, hutan rimbun yang sunyi berubah serentak dengan suara bising. Tapak kuda menderap makin cepat dan rapat menyatu dengan dengusan napas kuda kelelahan. Ketiga penunggang kuda itu pun kalau diperhatikan cermat, sudah basah kuyup oleh keringat.
Robeknya alam pagi yang damai, seakan menandai terjadinya suatu peristiwa. Peristiwa yang berbeda dari sebelumnya, setidaknya puluhan tahun terakhir ini.
Jalan setapak di desa tanpa, nama itu tak pernah terusik apa-apa. Bahkan sangat jarang sekali terdengar langkah kaki manusia. Binatang pun hanya sesekali, pada malam hari.
Akan tetapi sekali, kali ini, dipecahkan oleh rombongan tiga ekor kuda yang tergesa. Sampai di ujung jalan, mereka tak bisa sejajar lagi. Terpaksa berurutan karena jalan terhalang dahan, ranting, dan pohon tumbang. Dari bawah menguap bau tanah.
Angin sangat bersih. Menyeberangi sungai kecil yang airnya dangkal, ketiga penunggang kuda itu kemudian memacu lagi. Kalau saja di sepanjang jalan itu ada rumah, pastilah penghuninya terheran-heran. Suatu pemandangan aneh dan baru; tiga ekor kuda perkasa melintas tergesa. Bau tubuh mereka seakan asing untuk suasana sekitar yang sepenuhnya berbau daun dan tumbuh-tumbuhan.
"Benarkah ini jalannya?" tanya salah seorang penunggang kuda yang nampaknya paling muda. Namun dari nada bicaranya kentara sekali ia yang menjadi pemimpin.
Setidaknya yang paling dihormati. Bukan karena wajahnya yang bersih yang membedakannya dari kedua penunggang yang lain, juga bukan karena alis matanya yang tebal dengan sorot mata memerintah, akan tetapi terutama sekali dari sikap hormat yang diajak bicara.
"Benar, Raden Mas. Tak ada yang berubah sejak lima belas tahun lalu hamba lewat di
sini."
Yang menjawab adalah seorang lelaki bertubuh gempal , gagah dengan kumis tebal.
Sikapnya amat sangat menghormati. Dan sekelebatan saja ketahuan bahwa jawaban ini keluar dari orang yang mempunyai ilmu.
Setidaknya dari caranya menunggang kuda yang seakan sama sekali tak menambah berat tunggangannya. Dibanding dengan bentuk tubuhnya, gerakannya sangat enteng. Bahkan ketika meloncat turun untuk memeriksa rumput dan kemudian meloncat kembali ke punggung kuda, dengan satu gerakan tak terputus, menegaskan sesuatu yang disembunyikan dengan sikapnya yang merendah.
Sebaliknya, penunggang ketiga yang berwajah sangat pucat sedemikian pucatnya sehingga kalau saja ia berhenti di air sungai dan mandi, tak akan kelihatan lagi.
Menyatu dengan warna air. Kehadirannya hanya ditandai dengan nampak gedombrangan. Kain yang dikenakan longgar di sana-sini. Nampaknya pemakainya tak peduli sama sekali. Juga tidak pada suasana sekitar. Pandangannya lurus ke arah belukar. Seakan ia sudah memperhitungkan dua tindak yang akan dilalui. Atau seperti
tak memperhitungkan apa-apa. Hanya mereka yang lama berkecimpung dalam dunia silat bisa melihat sesuatu yang luar biasa dari penunggang ketiga ini. Dari cara mengatur napasnya kelihatan bahwa simpanan tenaga dalamnya luar biasa.
Dibandingkan dua penunggang kuda yang lain, si wajah pucat ini nampak tetap segar. Berkuda sepanjang malam tanpa henti sama sekali tak mempengaruhi tarikan dan embusan napasnya. Bahkan juga tidak membuat kulitnya berubah warna.
"Kalau begitu kita sudah sampai," kata penunggang kuda yang dipanggil Raden Mas.
"Tapi tak ada apa-apa. Hmmm, mengherankan juga. Nama besar Nirada Manggala selama ini hanya kabar murahan saja. Percuma memakai nama Perguruan Awan kalau di markasnya tak ada apa-apanya. Tidak juga sepotong batu untuk duduk, selembar daun untuk berteduh, dan secangkir teh untuk menyambut tetamu."
"Maaf, Raden Mas," suara si penunggang kuda kedua nampak sangat berhati-hati. Dari nadanya terasakan kekuatiran tetapi juga teguran. Kekuatiran akan suasana yang bisa mendadak berubah.
Sebagai orang yang pernah mengenal dekat Nirada Manggala, ia tahu persis bagaimana perguruan ini bukan perguruan yang bisa dikatai seenaknya.
Nama besarnya juga bukan nama kosong belaka. Kalau nama sekadar nama, mereka tak akan datang kemari. Nada teguran lembut, karena walaupun, memegang jabatan yang penting, ia tak bisa begitu saja melarang atau mempengaruhi junjungan yang dipanggil Raden Mas.
"...memang beginilah hidup mereka."
"Seharusnya mereka tahu kita kemari. Bukan begitu, Pamanda Pandu ?"
Si muka pucat yang ditanyai sama sekali tak bereaksi.
"Ini sudah keterlaluan. Saya bisa memerintahkan agar hutan ini dibakar habis!"
Mendadak saja, sebelum ucapannya selesai, ia merasa ada yang menepuk pundaknya. Dan sebelum bisa mengerti apa yang terjadi, kuda yang ditungganginya sempoyongan.
Dengan sigap ia meloncat turun, dan langsung pasang kuda-kuda. Semuanya terjadinya dalam sekejap. Penunggang kuda yang berwajah pucat yang dipanggil Pamanda Pandu sudah turun di samping kudanya. Sementara si kumis juga sudah meloncat enteng. Begitu kakinya menginjak rumput, punggungnya menekuk dengan
sikap hormat.
"Kami utusan dan Keraton ingin bertemu dengan Eyang Sepuh yang terhormat. Nama saya Wilanda, bekas murid Nirada juga. Saya datang bersama Raden Mas Upasara Wulung, dengan Ngabehi Pandu. Kami datang menghaturkan sembah bakti kepada Eyang Sepuh dan membawa berita dari Keraton."
Upasara serasa tak percaya pada apa yang masuk di telinga. Ini hebat! Wilanda bukan prajurit sembarangan. Ia satu-satunya yang terpilih menyertai ke Perguruan Nirada ini di antara sekian puluh pemimpin pasukan yang lain. Ilmunya juga di atas rata-rata yang terpilih. Bahkan dalam kecepatan bergerak rasanya hanya satu-dua yang bisa menandinginya. Nama Wilanda adalah gelar kehormatan karena gerak meringankan tubuhnya bagai seekor capung. Yang sanggup hinggap di tangkai tanpa menggoyang ranting. Namanya itu sendiri adalah anugerah, dari wilala yang artinya capung. Maka cukup membuat Upasara agak bengong melihat Wilanda merendahkan diri.
Dalam sekejap saja Wilanda sudah menjelaskan semua. Bahkan secara langsung sudah menyebut-nyebut sebagai utusan resmi dan Keraton. Meskipun Upasara baru menginjak usia dua belas tahun, pengalamannya boleh dikatakan segudang. Ia mendengar nama Perguruan Nirada yang banyak disebut-sebut. Namun itu semua bukan berarti harus menghormat dengan cara seperti itu. Dan sebenarnya yang lebih mengherankan lagi ialah Ngabehi Pandu pun turut turun dari kudanya.
Selama ini Upasara mengenal pamannya sebagai seorang tokoh yang bergeming oleh gempa, tak terusik oleh badai. Di Keraton, tokoh ini boleh dikata tak peduli apa-apa.
Bahkan upacara sowan kepada Baginda Raja pun tak dilakukan. Ia lebih suka menyembunyikan diri di gua pertapaannya, dan secara terus-menerus berlatih ilmunya. Paling sebentar hanya keluar dan ruangan semadinya seratus hari sekali. Itu pun sekadar menemui Upasara untuk melihatnya berlatih silat. Upasara boleh dikatakan beruntung karena ia satu-satunya yang diajari secara langsung. Ia satu-satunya murid yang menerima ajaran dari Ngabehi Pandu. Ini saja sebenarnya sudah membuat Upasara bisa malang-melintang di Keraton. Ia merasa sedikit saja yang bisa menandinginya. Dan puncak kekagumannya memang pada Ngabehi Pandu, yang menurut perhitungannya orang yang paling sakti. kalau tokoh yang dikagumi sampai perlu turun dan kudanya, itu pasti bukan basa-basi belaka. Ngabehi Pandu bukan orang yang bisa dan biasa berpura-pura.
Ataukah mereka berdua juga "dipaksa" turun dari punggung kuda,
Seperti dirinya? Tak mungkin hal itu terjadi.
Upasara melihat secara lebih jelas. Kekuatannya dipersiapkan untuk satu serangan mendadak-baik untuk menyerang atau bertahan. Kuda-kudanya kuat mantap.
Lebih heran lagi, karena yang keluar dari semak-semak adalah seorang lelaki gundul yang praktis telanjang. Hanya kain gombal sekenanya menutup di bagian bawah
selebihnya tak ada apa-apanya. Tidak juga sehelai rambut. Yang membuat Upasara gusar adalah kenyataan bahwa lelaki itu seperti tidak melirik ke arah mereka.
Bahwa di Perguruan Awan banyak hal yang ganjil, itu Sudah lama didengar. Tapi kenyataannya ternyata lebih ganjil lagi. Tak ada bangunan rumah, tak ada sambutan.
Hanya tetumbuhan liar dan seorang lelaki setengah tua yang lebih mirip binatang hutan. Upasara merasa tak bisa menahan sabarnya.
"Bapak Gundul, saya ingin bertemu dengan pemimpin Nirada Manggala. Katakan kepadanya untuk menjemput saya. Katakan Raden Mas Upasara Wulung bersama Pamanda Ngabehi Pandu dan Wilanda sendiri yang datang.
"Paman Gundul, kau dengar apa yang saya katakan?"
"Saya...," jawab si gundul sambil menunduk hormat.
Upasara melihat Wilanda yang masih bersila seperti mengisyaratkan agar jangan kurang ajar. Tapi siapa yang peduli? Untuk apa menghormat lelaki setengah tua yang berpakaian saja tak sempurna?
"Paman Gundul, kau dengar?"
"Saya...."
Tapi selain jawaban yang diberikan, paman gundul itu tetap bergeming.
"Rupanya di perguruan ini banyak yang angkuh dan sok. Saya sudah bicara baik-baik, tapi kalian memperlakukan seperti ini. Jangan bilang anak muda berlaku kurang ajar."
Upasara menggeser kakinya.
"Saya..."
Seumur hidup, belum pernah Upasara mendapat perlakuan hina seperti ini. Di Keraton, semua menuruti keinginannya. Apa yang diharapkan bisa terlaksana. Tak ada yang membandel seperti ini.
"Maaf, Kisanak...," suara Wilanda tetap ramah. "Kami sudah mengenalkan diri. Bolehkah kami mengetahui nama besar Kisanak?"
"Saya... Saya bernama Jaghana, Kisanak."
Upasara tak bisa menahan diri lagi. Ini jelas cara mempermainkan yang keterlaluan. Bagaimana mungkin pertanyaan yang baik-baik, dengan rasa hormat, dijawab seenaknya ? Bagaimana mungkin seorang bernama Jaghana yang artinya pantat?
Tanpa memedulikan lirikan mata menahan, Upasara langsung menerjang. Jaraknya masih sekitar dua tombak, akan tetap hanya dengan sekali menginjak tanah, tubuhnya sudah melayang maju ke depan Persis di depan Jaghana yang gundul, dan langsung menyerang. Dua tangan, kiri dan kanan, maju secara serentak seperti menjepit tubuh Jaghana. Ini adalah gerakan dasar dari serangan banteng. Ilmu yang diandalkan selama ini. Kedua tangannya berfungsi sebagai pengganti tanduk. Kalau saja Jaghana
bisa dijepit, kepalanya bisa retak, sebelum tubuhnya berputar dan melayang ke atas.
Kunci utama dari serangan kilat ini adalah pada kekuatan besar yang mengunci gerak lawan, dan di samping itu juga tak memberi kesempatan lawan untuk menggagalkannya. Karena Upasara yang berarti banteng sangat kuat kuda-kudanya.
Persis seperti ketiga banteng menyerbu harimau. Ilmu ini boleh dikatakan ciptaan Ngabehi Pandu sendiri, yang disesuaikan dengan sifat-sifat Upasara yang masih berdarah panas bertenaga besar seperti banteng. Selama ini selalu terbukti bahwa jurus pembukaannya selalu membuat lawannya repot. Upasara sudah memperhitungkan.
Andai terpaksa menghindar, Jaghana harus mundur, paling sedikit dua tindak. Itu juga akan menempatkan Jaghana pada posisi yang sulit, karena dua tangan Upasara akan menyusul langsung. Dan kali ini sasarannya adalah pusar. Bagai tanduk sepasang yang menemukan sasaran empuk. Pukulan ini merupakan rangkaian. Hanya beberapa jago saja yang mampu menghindar dari rangkaian pukulan berantai ini, itu pun akan mempersulit posisinya kemudian.
Dalam beberapa latihan, hanya Wilanda yang secara berturut-turut mampu menghindar. Terutama karena ilmu meringankan tubuh yang satu kelas di atasnya.
Itu pun harus mengorbankan kedudukan kuda-kuda untuk tetap berada dalam sikap bertahan.
Ngabehi Pandu menciptakan jurus yang kelihatannya sederhana ini bukan sekadar bangun dari tidur. Walau kelihatannya sederhana, perubahannya cukup rumit.
Sederhana karena gerakannya seperti kaku. Lurus menerjang dengan dua tangan sekaligus. Namun sebenarnya ini juga merupakan inti untuk menjajal kekuatan lawan.
Seperti diketahui, untuk menghadapi jurus ini hanya tersedia dua pilihan.
Menghindar mundur atau langsung menggempur. Ini berarti secara langsung beradu tenaga. Saat itu juga, si penyerang sudah bisa memperkirakan kekuatan lawan. Karena saat beradu, dua tangan yang menjotos berputar arahnya ke bawah. Cara mengatur kekuatan lawan inilah yang disebut serangan efektif. Menerjang sekaligus menakar kekuatan lawan. Dengan mengetahui secara persis kekuatan lawan, si penyerang bisa mengatur siasat.
Ngabehi Pandu menciptakan rangkaian jurus ini terutama sekali untuk menerjang lawan yang belum dikenal seberapa kekuatannya. Namun dilihat dari kuda-kudanya, jurus ini tidak sekadar menjajal untuk coba-coba, akan tetapi sudah sekaligus menggilas.
Seekor kerbau liar pernah terjungkir dan terbanting kasar di tanah ketika Upasara mempraktekkannya.
Apakah Jaghana akan terbanting seperti seekor kerbau? Itulah yang akan terjadi karena Jaghana tidak menggempur langsung dan tidak menghindar. Seakan membiarkan saja. Jaghana seperti membiarkan dirinya diserang! Upasara serta-merta mengurangi kekuatan tenaganya. Ia ingin sekadar memberi pelajaran kepada lawan dan bukan ingin menghancurkan.
Akan tetap justru di saat seperti itu, dalam sepersekian detik yang bersamaan, Upasara
merasa kakinya bergetar. Seperti kesemutan. Aneh. Padahal Jaghana hanya menggeser sedikit posisi kakinya. Ini soal tenaga dalam. Dalam sekelebatan saja Jaghana sudah bisa membaca gerak dan inti serangan. Justru dengan sekali gebrak, Jaghana membalas pada posisinya yang paling kuat. Di arah kuda-kuda. Upasara berpikir cepat.
Membatalkan serangan utama, dan balik menggeser kaki kiri untuk mengurangi tekanan lawan. Sekaligus dengan itu tangan kirinya ditarik mundur untuk menampik lawan. Tanpa menggeser tubuh, Upasara kini melancarkan serangan berikut.
Tubuhnya sedikit meloncat, dengan cara menjatuhkan diri, Upasara ingin mengetok punggung lawan dari belakang. Tubuhnya melengkung bagai plastik yang bisa berubah menjadi lebih panjang. Lawan akan mengira ia masih bertahan di tempatnya, tetapi secepat kilat ia menyerang arah belakang.
Inilah salah satu kehebatan jurus Ngabehi Pandu. Dua jenis serangan yang mempunyai sifat berbeda, bisa dilakukan secara beruntun. Meskipun sebenarnya gerakan ini pada awalnya mengandalkan kekerasan, tapi di saat yang bersamaan bisa diubah menjadi luwes. Untuk mempraktekkan gerak semacam ini sebenarnya tak diperlukan latihan yang panjang. Kekuatan utamanya justru terletak pada mengatur dan menyalurkan tenaga sesuai yang dibutuhkan.
Jaghana seperti mengeluarkan seruan pujian dari hidungnya. Lagi-lagi, seperti pada mulanya, ia seperti membiarkan punggungnya dipatuk dari belakang. Caranya menghadapi justru dengan meneruskan serangan kakinya ke depan. Sehingga tubuhnya seperti jatuh.
IZRO'IL
SENOPATI PAMUNGKAS I


Upasara bersorak dalam hati. Sekuat-kuatnya badan manusia, tulang punggung bukan bagian yang boleh dibiarkan menerima pukulan. Secepat-secepatnya menjatuhkan diri, tak mungkin bisa menghindari pukulan. Memang begitu kenyataannya. Upasara merasa bahwa tangannya bukan mengenai punggung, tetapi kepala. Karena lawan menjatuhkan diri. Tetapi kepala juga sama lemahnya dalam penjagaan. Hanya saja di luar segala perhitungannya, kepala Jaghana ternyata sangat licin. Sehingga emposan tenaganya seperti makin mendorong dirinya. Tenaganya justru menyeret, seperti orang terpeleset. Tak ada jalan lain, selain menyelamatkan diri. Upasara berjumpalitan satu setengah agar bisa berdiri tegak.
Ia memang berhasil berdiri tegak. Akan tetapi ini pertanda surut. Dari menggempur, dalam satu gebrak saja sudah mundur dan bertahan. Perubahan mendadak yang secara serentak membalik situasi.
Upasara siap untuk menerima serangan. Tapi Jaghana, si pantat gundul, hanya memandang sambil tersenyum.
"Anak muda, sungguh luar biasa. Serangan yang mengagumkan. Saya tak pernah menyangka bahwa dunia sudah sedemikian majunya. Siapa mengira anak muda yang masih bau kencur ini mempunyai kepandaian luar biasa. Selamat, selamat."
Sebenarnya apa yang diucapkan Jaghana adalah ucapan yang jujur. Sesuatu yang nampaknya melekat sebagai sikap Perguruan Awan. Mereka memang sering dikatakan hidup dengan cara yang sangat ganjil dan tak menentu, akan tetapi mereka dikenal sebagai orang-orang yang jujur. Satu kata satu perbuatan. Apa yang putih tak bakal dibilang hitam. Pujian ini juga pujian yang jujur. Akan tetapi bagaimana mungkin Upasara bisa menelan kata-kata semacam itu?
Pertama, ia seorang bangsawan yang belum pernah mendapat perlakuan begitu "kurang ajar". Kedua, kata-kata "anak muda yang masih bau kencur" sangat menyinggung perasaannya. Ia tak menangkapnya sebagai pujian bahwa sesungguhnya anak seusianya belum tentu bisa menguasai jurus-jurus tadi dengan baik. Berarti masa depannya cukup bagus. Perbedaan latar belakang ini masih ditambah lagi bahwa Upasara tak cukup sabar.
"Kita lihat siapa yang bau kencur dan siapa yang bau bawang merah," ujarnya keras sambil terus menyeruduk. Karena merasa kalah dalam serangan pertama, Upasara menyerang dengan tenaga penuh. Kedua kakinya memancal tanah, jotosannya mengarah ke depan. Kedua-duanya. Hanya kali ini dalam perjalanan pergelangan tangan ini berputar seperti menyerap tenaga lawan. Menyerap, memutar, dan mengarahkan pada si pemilik sendiri.
Jaghana juga menjadi berhati-hati. Ia meloncat tinggi, tidak berusaha menghindar jarak pendek atau memapaki serangan. Sambil meloncat tinggi, seperti memantul, tubuhnya berputar. Serangan balasan yang dilancarkan dengan berputar bukan hanya berbahaya bagi lawan, tapi juga berbahaya bagi diri sendiri.
Wilanda yang pernah berada dalam perguruan yang sama, sedikitnya mengetahui hal ini. Harus diakui serangan sambil berputar adalah serangan yang mengandung risiko. Lawan memang bisa bingung, mau menyerang kepala bisa keliru pantat, mau menerjang dada bisa keliru kaki. Itu pun tenaganya tak akan mengena separuhnya, karena sebagian besar sudah dinetralisir dengan gerakan berputar. Akan tetapi menyerang berputar perlu mengerahkan tenaga dalam yang kelewat banyak. Ini bukan untuk pertempuran jangka panjang. Agaknya Jaghana ingin menyelesaikan pertandingan dalam waktu singkat. Kenyataan ini saja sebenarnya sudah harus membuat Upasara merasa bangga. Tak begitu banyak kesempatan seorang ksatria semacam dia menemukan lawan yang langsung mengeluarkan langkah-langkah rahasia berikut kuncinya.
Ditilik dari sudut ini, Upasara boleh dibilang sangat beruntung. Dalam usianya yang masih muda ia boleh dikatakan bisa mengimbangi lawan yang jauh lebih tua, lebih berpengalaman, dan sudah mempunyai nama besar.
Kalau pada gebrakan pertama tadi ia dibuat bertahan, itu semata-mata karena soal pengalaman. Bukan soal perbedaan ilmu.
Menghadapi lawan yang bergulung, Upasara mengubah gerakannya. Ia tak mau mengeluarkan tenaga keras, karena bisa terseret lawan. Ia melengkungkan tubuh, meloncat terbalik, dan kemudian masuk ke dalam pusaran lingkaran.
Wilanda mengeluarkan pekik tertahan.
Ia tak menyangka sama sekali bahwa Upasara akan mengimbangi lawan dengan gerakan yang sama. Dengan saling melibat diri, berarti pengurasan tenaga secara besar. Dan kalau sedikit saja alpa, satu jari saja menyentuh bagian lunak dari wajah bisa berakibat fatal seumur hidup. Lima kali kedua tangan lawan beradu.
Suaranya terdengar bagai dua batu ditumbukkan. Upasara kaget karena tangan lawan seperti mempunyai sengat. Setiap kali beradu, ia cepat menarik tangan dan mengganti dengan sabetan kaki. Namun ini pun mengalami hal yang sama. Yang tak diketahuinya ialah bahwa agaknya Jaghana pun mengalami hal sama.
Sengatannya seperti tak bisa menusuk langsung. Beberapa bagian tenaganya bisa ditolak.
Sepuluh jurus berlalu tanpa ada yang memisah.
Tanpa ada tanda-tanda kalah.
Tanpa ada yang menyerah.
"Kisanak Jaghana, maafkan kami..." Wilanda tetap bersujud. Suara perlahan tapi mengiang.
"Upasara, cukup." Terdengar suara mantap. Ngabehi Pandu mengucap seperti menggertak. Dan betapapun berangasan dan congkak, Upasara agaknya ada rasa takut kepada pamannya. Ia mengunci diri dan bergulung keluar satu tombak. Untuk bisa berdiri tetap, ia masih memerlukan beberapa tindak lagi.
Sementara Jaghana tetap berdiri tegak sambil tersenyum.
"Sudah kurang ajar, kalah, masih berlagak?" Pandu berteriak.
Upasara menghela napas. Lalu berjongkok menghaturkan sembah.
"Maaf, Paman Gundul. Saya terlalu lancang dan kurang ajar. Saya menerima kalah." Dari ucapannya terkesan bahwa Upasara sebetulnya masih belum mau menyerah. Sebutan Paman Gundul menandai kedongkolannya.
"Ah, jangan terlalu merendahkan diri dan mengangkat lawan terlalu tinggi.
Nama saya memang Jaghana, tak pantas dipanggil Paman Gundul. Walaupun antara pantat dan kepala gundul tak ada bedanya. Tapi letaknya yang satu di atas dan lainnya di bawah. Silakan berdiri, anak muda."
Ya, begitulah cara hidup Perguruan Nirada yang aneh. Bahkan untuk ngomong pantat atau gundul saja tak ada bedanya. Tak merasa risi sama sekali.
"Wilanda menyampaikan sembah bekti."
"Saya tak bisa menerima kehormatan ini," lalu sambil melirik ke arah Ngabehi Pandu, suaranya jadi penuh hormat. "Terima kasih atas pertolongannya. Kalau saja tidak dihentikan tadi, saya tak bisa mengelus kepala lagi. Ternyata nama besar Ngabehi Pandu terlalu kecil untuk menunjukkan hal yang sebenarnya. Terimalah salam saya."
Wilanda maju ke depan.
"Kisanak Wilanda, rasanya baru kemarin kita berpisah. Tapi kini Kisanak sudah hidup enak mempunyai pakaian bagus dan kuda bagus. Aha, kapan lagi mengajak saudara lama ini?"
Kalimatnya setengah menyindir setengah mengalem. Sulit dibedakan.
"Kerinduan saya tak bisa diutarakan lagi. Namun kali ini, saya datang membawa perintah Baginda Raja."
"O, jadi kalau punya pakaian dan kuda bagus harus begitu, ya? Siapa itu Baginda Raja?"
Upasara merasa darahnya mendidih lagi. Kalau tadi kurang ajar keterlaluan, sekarang ini sudah buyutnya keterlaluan. Tak ada ampunan. Maka sekarang ini tanpa bertanya ba atau bu langsung saja menerjang. Kali ini malah langsung dengan keris saktinya. Ujung keris tergetar karena menahan dendam. Yang diarah pun tak
kepalang tanggung. Tenggorokan.
Ini sebenarnya merupakan jurus pamungkas, atau jurus terakhir dari rangkaian serangan ilmu banteng yang disebut Banteng Ketaton, atau Banteng Terluka.
Serangan ini biasanya hanya muncul kalau keadaan sudah betul-betul kepepet, tak ada jalan keluar sama sekali. Seperti banteng yang terluka tak ada harapan lagi.
Dengan sekali gempur, bisalah mendahului lawan, atau setidaknya mati bersama.
Dengan jurus ini semua tenaga dihimpun ke ujung keris. Sehingga bagian yang lain tidak sepenuhnya terlindungi. Kalau saat itu lawan menyobek perut atau menotok urat nadi di leher, tak ada halangan yang berarti. Akan tetapi juga dengan demikian Upasara bisa meneruskan niatnya. Kalau lawan mengurungkan niatnya, berarti Upasara terbebas dari sergapan untuk sementara.
Dan Upasara mengeluarkan jurus Banteng Terluka meskipun sama sekali tidak dalam keadaan terjepit. Wilanda mengeluarkan seruan tertahan. Langsung bersamaan dengan itu tubuhnya meloncat keras dan menubruk Jaghana. Caranya sedemikian rupa sehingga punggungnya yang dibiarkan terbuka. Dalam detik yang pendek ia ternyata tak berpikir untuk nyawanya sendiri.
Jaghana sendiri nampaknya tidak memperhitungkan bahwa seorang anak muda bisa begitu telengas dan ringan tangan untuk mengeluarkan jurus maut. Alisnya berkerut tapi tak sempat menghindar.
Hanya karena Ngabehi Pandu bergerak lebih dulu. segalanya berakhir tanpa ada yang terluka. Sebagai tokoh yang menciptakan jurus itu. Ngabehi Pandu tahu kelemahannya. Dua jarinya menghadang pergelangan tangan Upasara, dan disertai entakan tenaga dalam, keris itu terloncat dan tangan Upasara. Melesat ke udara.
Ngabehi Pandu menggerakkan tubuhnya meloncat, menyambar keris, dan sebelum kakinya menyentuh tanah ia bisa mengembalikan lagi ke sarung keris yang terselip di punggung Upasara. Suatu gerakan indah bagai tarian yang memesona. Dengan sekali gebrak, tiga gerakan berbahaya dilakukan. Menggagalkan serangan dengan melontarkan keris ke udara, menangkap, dan mengembalikan ke sarungnya yang masih dipakai pemiliknya.
Ngabehi Pandu menunduk.
"Maafkan, kami yang tua ini tak bisa mendidik anak."
Jaghana berdiri tegak, lalu membalas hormat dan menghela napas.
"Yang tua makin arif, yang muda makin sulit dikendalikan. Anak muda, kau berbakat besar, mempunyai guru yang sungguh luar biasa. Di belakang hari nanti tanah Jawa menjadi ramai karenanya. Luar biasa. Sayang aku si pantat bulat tak bisa menyaksikan semua ini. Setelah nyawa yang tak berharga ini diselamatkan berkalikali rasanya tak pantas menjadi murid Nirada lagi." Suaranya berubah parau. "Eyang Sepuh, mohon ampun... murid Eyang memang tak pantas berdiam di sini." Lalu disertai helaan napas, Jaghana berlalu.
"Tunggu, Kisanak. Ada yang ingin kami ketahui."
"Kanjeng Ngabehi, nyawa yang hina telah Ngabehi tolong. Kalau ada yang bisa saya lakukan untuk Ngabehi, mati pun saya rela melakukannya."
"Jangan terlalu sungkan, Kisanak. Ini semua karena kesalahan kami.
Sesungguhnya kami datang untuk menemui Eyang Sepuh."
"Sedih sekali rasanya. Untuk permintaan yang tak berarti itu saya tak bisa menjawab. Saya sendiri tak tahu di mana beliau berada."
"Ah," Wilanda mengeluarkan suara tertahan.
Ngabehi Pandu menghela napas. Dengan pengalaman yang sudah setua umurnya, ia tahu bahwa Jaghana tidak berdusta sama sekali.
"Satu pertanyaan lagi. Apakah dalam sebulan ini ada Tamu dari Seberang datang kemari?"
Jaghana menampilkan senyum. Senyum getir.
"Entah kenapa begitu banyak yang menanyakan hal yang sama. Hal yang saya sendiri tidak tahu. Ketika Eyang Sepuh memilih desa tanpa nama ini rasanya sudah tak ada tempat lain yang lebih sunyi. Akan tetapi nyatanya sekarang ini jadi tempat berkumpul para jagoan di seluruh jagat. Oi, tak ada lagi tempat sepi."
Begitu selesai ucapannya, terlihat dua bayangan melesat datang. Seorang lelaki tua yang seluruh rambutnya putih nampak menjinjing kadut-kantong karung dari serat pohon-besar. Seorang lagi adalah seorang bocah, yang nampak ganjil karena wajahnya seperti merah membara. Dua manusia aneh yang berdiri berjajar aneh.
Lelaki tua berambut putih dan seorang bocah berwajah merah.
"Nah, kita di sini dulu, Tole. Mendengarkan orang bicara," kata lelaki tua berambut putih. Yang dipanggil sebagai tole-artinya anak lelaki kecil- tidak menjawab, hanya memandang selintas. Lalu duduk di rumput.
Wilanda seperti terbangun dari tidurnya. Memang aneh, di tempat yang kelewat sunyi ini tiba-tiba datang dua orang yang namanya pernah menggetarkan Kali Brantas. Yang dipanggil Tole adalah Padmamuka, alias Padmanaba, alias si Muka Merah. Yang tua berambut perak dipanggil Niriti, alias Dewa Maut yang Kekal Abadi.
Entah dari mana mereka mendapat sebutan itu dan apa alasannya. Selama ini Wilanda tak pernah mendengar. Karena selama ini keduanya hanya beroperasi di sepanjang Kali Brantas Menurut cerita, keduanya tak pernah berada di daratan, selalu saja tengah sungai. Bahkan menurut dongeng, mereka bertempat tinggal di salah satu kedung Brantas. Pasti ada sesuatu yang luar biasa kalau sampai turun ke darat. Apalagi berada di daerah terpencil.
"Tole, mereka tidak ngomong lagi. Apa perlu kita paksa?"
"Semaumulah. Kau dewa maut yang bisa berbuat sekehendakmu. Apa susahnya memaksa orang bicara mengenai Tamu dari Seberang?"
"Tole, siapa yang kita paksa pertama?"
"Siapa saja. Lebih baik dimulai dari yang paling jelek."
"Bagus. Bagus." Suara Niriti berubah gembira. Kadutnya bergoyang-goyang.
"Kalian semua sudah mendengar sendiri apa yang dikatakan cucuku ini. Ayo, mengaku saja. Siapa yang paling jelek harap menyembah."
Padmamuka terkekeh.
"Kalau ditanya begitu, mereka pasti akan berebutan. Karena semuanya memang jelek. Paksa saja semua."
"Itu juga bagus. Kalian semua sudah mendengar sendiri apa yang dikatakan cucuku ini. Dan sesungguhnya, aku tak pernah menolak apa yang diminta cucuku.
Baiklah. Kalian perlu kupaksa atau langsung berterus terang di mana Tamu dari Seberang itu?"
"Agaknya Kali Brantas sudah kering. Tak ada ikan kecil lagi, sehingga nelayan sungai cari makan di darat. Pengemis pun harus menunjukkan hormat kalau meminta sesuatu. Bukannya omong besar."
Upasara yang maju ke depan. Agaknya ia yang paling muak dengan segala kesombongan dan kecongkakan-barangkali juga karena ia memiliki sifat yang sama.
"Tole, ada yang berani berkata. Kau dengar?"
"Ya, tetapi tidak jelas maksudnya."
"Lalu bagaimana, Tole?"
"Suruh menjilat kakiku, agar lidahnya bisa ngomong ndak ngawur."
Niriti, si kakek berambut putih, tertawa terkekeh. "Nah, kamu dengar sendiri apa yang dikatakan cucuku. Ayo lekas, jilat kakinya. Biar dewa bermurah hati hanya memotong lidah bukan nyawamu. Lakukan, tunggu apa lagi?"
"Hanya karena merasa terantuk batu pengalaman yang keras, Upasara tidak segera menyerang. Coba saja tidak mengalami peristiwa yang baru saja terjadi, ia sudah langsung menerjang.
"Soal menjilat kaki apa susahnya. Tetapi kenapa harus melakukan itu, kalau ada soal lain?"
"Tole, kau dengar siapa itu yang ngomong?"
"Maaf, namaku yang rendah adalah Wilanda. Salam hormat untuk Dewa Maut dan Padmamuka."
"Bagus. Itu bagus. Kamu menjawab dengan baik. Apa kau dari Perguruan Mendung ini?"
Jelek-jelek Wilanda bekas murid Perguruan Nirada. Memang nirada bisa berarti awan, tetapi juga bisa berarti mendung. Namun cara si kakek merendahkan dalam sebutan cukup membuatnya panas.
"Saya hanya murid yang tak tercatat. Silakan memberi pelajaran."
Wilanda langsung mengambil kuda-kuda memberi hormat.
Ini berarti tantangan yang resmi. Tantangan seorang ksatria. Wilanda cukup menghormati lawan untuk memulai dengan gerakan pembukaan, menghormat ke arah lawan. Kakek tua itu langsung bergelak.
"Kalian manusia darat terlalu banyak sopan santun. Buka mulut di mana Tamu dari Seberang atau bakal jadi makanan cacing."
Niriti meluncur, dalam artian sebenarnya. Tiba-tiba saja tubuhnya tertekuk, seperti gerakan orang mau meloncat ke air. Dan benar-benar meloncat. Hanya bedanya kalau meloncat ke air, tubuhnya turun ke bawah, yang ini meluncur ke depan lurus. Kedua tangannya terbuka dan siap mencakar wajah. Wilanda menotol dengan ujung kakinya tanpa menekuk lebih dulu, atau memang tak terlihat saking cepatnya dan tubuhnya melayang ke atas. Dari atas, kedua kakinya ditekuk seakan ingin berdiri di punggung si kakek. Namun sebelum gerakan itu sempurna, bentuknya sudah diubah lagi, karena Niriti memutar kakinya. Sehingga tubuhnya menjauh dan cakar tangannya tetap mengarah ke lawan.
Meluncur bagai peloncat indah, sambil tetap menjinjing kadut besar dan dengan enak bisa memutar di tengah udara. Semua bisa dilakukan sambil tetap menyerang. Kalau Upasara yang disergap semacam itu, pasti sudah kelabakan.
Wilanda jauh lebih berhati-hati. Gaya capungnya dipertontonkan dengan indah. Tangan lawan yang mencakar dibentur keras, dan meminjam, tenaga benturan ia melayang tinggi berjumpalitan di udara, lalu turun di tanah, menotol lagi, menyerang ganti. Kakek berambut putih itu mengeluarkan suara di hidung. Kali ini kadutnya dipakai untuk memapak serangan.
Wilanda bisa menjajal kemampuan lawan. Tetapi ia cukup cerdik untuk memeras tenaga si kakek. Lagi-lagi ia meminjam tenaga kadut berputar untuk berjumpalitan, meluncur turun, menotol tanah, dan balik menyerang.
Taktik yang membuat Niriti terkesiap dan untuk beberapa kejap seperti bertempur dengan angin kosong. Namun sebagai jago kelas satu yang menguasai daerah tertentu, dengan cepat ia bisa menentukan cara untuk mengatasi. Kali ini ia menyerang dengan tenaga yang lembek, hanya dua persepuluh saja. Sehingga Wilanda tak mungkin meminjam tenaganya.
Memang ini sempat mengacau Wilanda, namun cara mengentengkan tubuhnya boleh dibilang sudah kelas satu. Sehingga meskipun tak terlalu keras, ia tetap bisa berjumpalitan, menotol tanah, dan tetap menyerang.
"Kakek tua tak tahu diri. Apa susahnya menangkap capung?"
"Bagus, Tole. Nih, aku tangkap."
Serentak dengan itu Niriti mengayunkan karungnya dengan keras ke atas. Kedua tangannya terentang lebar, lalu menutup dengan gerakan berputar, dan langsung menyerang lawan. Wilanda tak menduga bahwa tenaga dalam si kakek sedemikian saktinya. Sehingga hawa di sekitar dada dan wajahnya jadi panas dan sesak. Lalu secara cepat hawa panas dan menyesakkan itu musnah, dan Wilanda seperti berada dalam ruang tanpa udara. Kekuatannya jadi lenyap seketika. Tak ada jalan lain kecuali mengerahkan sisa kekuatan yang tersimpan di bawah pusar.
Tubuhnya berputar pendek, seirama dengan tangan yang melingkar ke depan dengan sangat cepat. Dalam setiap ajaran silat, gerakan ini sangat umum dan mudah dikenali sebagai gerakan untuk mencari tenaga dari bumi. Hanya dengan latihan yang keras dan konsentrasi penuh, "kekuatan bumi" ini bisa dipinjam. Kalau dasarnya tidak mempunyai tenaga dalam, yang diisap adalah tenaga kosong belaka. Sebenarnya ini gerakan yang sangat efektif. Hanya saja karena merupakan gerakan umum, lawan pun melakukan. Jadi boleh diartikan siapa yang lebih dulu mengambil tenaga dari bumi.
Niriti bukannya mengambil, melainkan membuyarkan dengan sapuan kakinya. Terkurung dalam lingkaran pukulan Niriti, Wilanda mengempos kekuatannya.
Ia menekuk lutut dan melompat ke atas. Dalam keadaan biasa hal itu tak perlu dilakukan. Seakan tanpa menekuk pun bisa meloncat, Akan tetapi kekuatan ini diperlukan, karena kedua tangan Niriti tak akan membiarkan bebas.
Ini berarti adu tenaga.
Wilanda mengegos sedikit untuk melunakkan tenaga lawan, dan tubuhnya mumbul ke atas. Agaknya ini pun sudah diperhitungkan Niriti ketika melemparkan kadutnya ke atas. Bersamaan dengan itu, kadut itu bakal menimpa tubuhnya. Paling tidak ia bisa menjotos. Hanya saja kesadarannya yang tinggi menahan gerakan itu.
Berarti kadut itu berisi manusia. Astaga. Siapa pula yang berada di dalamnya? Kalau seseorang yang sedang menderita, bisa saja menjadi luka atau bahkan meninggal dunia. Jiwa ksatria Wilanda menahan pukulan itu. Akibatnya memang gerakannya jadi terganggu. Apalagi ia justru berusaha menangkap kadut itu, menyebabkan pinggangnya terbuka. Niriti bersorak dingin.
"Kena!"
Sebenarnya, sejak Niriti datang, Jaghana sudah melihat sesuatu yang aneh.
Sesuatu yang mencurigakan dari kadut. Makin jelas ketika kadut itu dilemparkan ke atas. Mendengar suara rintihan, Jaghana bahkan mengenali nada rintihannya. Tak ayal lagi ia langsung menyerbu ke arah pertempuran. Hanya saja terlambat.
Kadut itu sudah ditangkap oleh Wilanda yang pinggangnya serasa patah Namun walau begitu dalam jatuhnya, ia masih membiarkan dirinya lebih dulu.
Wilanda tetap memegang karung itu dengan sakit yang serentak menjalar ke arah perutnya.
Niriti berbalik menghadapi Jaghana yang melancarkan pukulan dan samping kiri. Dewa Maut hanya menggeser kepalanya sedikit, lalu balas menyerang. Di luar dugaan, Jaghana tidak berusaha menghindar. Malah langsung menyapu lawan dengan keras. Jika mereka membiarkan diri, keduanya akan terkena pukulan lawan. Dewa Maut mengegos ke samping. Tak urung ikat kepalanya tercongkel sedikit. Lepas, dan rambutnya yang putih terurai ke depan. Jaghana menjambak rambut itu dan menarik ke bawah sekuatnya, sementara kedua lututnya terayun ke atas. Gaya membungkuk menyebabkan punggungnya terbuka. Namun seperti tidak peduli, Jaghana terus merangsek lawan. Dewa Maut mengeluarkan seruan tertahan dan menahan benturan lutut dengan kedua tangannya. Terdengar bunyi plak yang sangat keras.
Biarpun Dewa Maut sangat hebat tenaga dalamnya, tak urung terguncang pula.
Biar bagaimanapun, kekuatan kaki Jaghana lebih tangguh dari daya tahan tangannya.
Tubuhnya terdorong ke belakang. Segenggam rambutnya lepas. Belum berdiri lurus, Jaghana sudah memutar tubuhnya dan bagai pusaran angin beliung langsung menggulung lawan.
Baru kini Upasara sadar bahwa Jaghana bukan sembarang jago. Tadi ia sudah menyaksikan dan mengalami sendiri. Baru kini Upasara sadar bahwa tadi Jaghana tidak mengeluarkan seluruh tenaganya. Kalau tadi ia diserang dengan cara seperti ini, barangkali tubuhnya sudah terlipat bagai tali pelintiran.
Jaghana adalah tokoh yang mempunyai watak sabar, pikir Upasara. Bahwa ia menjadi begitu geram dan menyerbu tanpa memikirkan keselamatan dirinya, ini pasti ada yang menyebabkan. Tak mungkin orang yang begitu ramah, sabar, dan suka tersenyum menjadi nekat tanpa sebab. Hanya saja Upasara tidak mengetahui apa yang membuat Jaghana begitu bernafsu. Mungkin ia juga tetap tak tahu, kalaupun mengetahui, bahwa isi kadut itu salah seorang dari Perguruan Awan. Dasar-dasar yang kuat dari perguruan ini adalah rasa setia kawan sesama anggota perguruan.
Bahwa dasar ini berlaku di setiap perguruan, itu tak ada yang membantah. Hanya pada Perguruan Awan, dasar ini memperoleh bentuknya, yang kadang sangat ekstrem. Seperti diketahui, dalam perguruan ini tak ada perbedaan antara murid yang satu dan yang lain. Soal ilmu dibagi rata, soal pemilikan tak ada yang mempersoalkan.
Ini barangkali bedanya dari perguruan lain. Di Perguruan Awan tak ada tingkat yang berbeda. Tak ada yang dianggap senior atau yunior. Tak ada murid ketua atau wakil atau yang biasa. Bahkan Eyang Sepuh sendiri, yang dianggap ketua, mendapat perlakuan yang sama. Mereka semua hidup di hutan secara bersama. Eyang Sepuh pun harus menanam sayur atau mencari sendiri buah-buahan. Mereka berlatih bersama dan belajar bersama.
Hal ini mudah diduga kenapa Wilanda mau mengorbankan dirinya ketika mengetahui ada saudara seperguruan yang tersimpan dalam kadut. Walaupun itu sudah lewat bertahun-tahun dan ia hidup sebagai prajurit utama di Keraton, perasaannya masih sama.
Tak ada yang lebih mulia daripada membantu sesama. begitulah kira-kira salah satu ajaran dari Eyang Sepuh. Barangkali itu pula sebabnya perguruan ini tak pernah memiliki apa-apa. Pondok secuil pun tidak. Bahkan dalam bentuk yang juga berlebihan. mereka tak memerlukan pakaian penutup tubuh semuanya diberikan pada orang lain yang dianggap memerlukan.
Ajaran yang mendarah daging ini boleh dikatakan menjadi undang-undang tak tertulis. Barang siapa merasa perlu memiliki sesuatu apa pun, walau seikat rumput untuk kepentingan sendiri, ia tak diakui lagi sebagai anggota. Wilanda dulu juga begitu. Karena merasa perlu untuk memperdalam ilmu meringankan tubuh, ia perlu mencari guru di tempat lain. Ia merasa dirinya tak pantas menjadi murid lagi, dan minta keluar dari hutan. Sejak itu beberapa kali Wilanda ganti guru, menjajal kemampuan. Perjalanan hidup mempertemukannya dengan Ngabehi Pandu yang tertarik pada tekad besarnya.
Sementara itu di tengah lapangan, Jaghana terus berputar menggulung.
Sepertinya ia akan membelitkan tubuhnya ke tubuh Dewa Maut dan mereka berdua bakal terpelintir jadi satu. Dewa Maut terdesak menghadapi gempuran habis-habisan ini. Sejak ia masuk daratan, belum pernah bertemu lawan| setangguh dan senekat ini.
Lagi pula ia baru saja menghadapi Wilanda yang dalam beberapa hal ilmunya berbeda sekali dari Jaghana. Wilanda jauh lebih mengandalkan ilmu mengentengkan tubuh.
Berkelit ke sana. membelok kemari. Sementara Jaghana sama sekali mengandalkan kekuatan menggempur. Sebagai seorang yang tergolong kelas satu, hal ini sebenarnya bukan masalah utama. Hanya saja waktunya berurutan, dan lawan yang dihadapi sekarang seperti tidak ingin memperpanjang waktu. Dalam jangka pendek saja tanpa peduli menang atau kalah. hidup atau mati.
"Hei, tahu diri dikit," teriak Tole yang masih duduk di tanah. "Kalau berputar macam begitu kau bisa kentut. Dan aku tak suka."
Padmamuka menggelinding maju.
Wilanda masih merasa perutnya bagai ditusuk-tusuk. Jangan kata untuk bergerak, untuk mengambil napas pun sakitnya tak tertahankan. Akan tetapi melihat Tole maju, ia tak bisa menahan diri. Dengan mengempos tenaga terakhir ia meloncat untuk mencegat gelundungan Padmamuka. Keduanya bertemu, berbenturan, dan Wilanda terbanting. Muntah darah.
Upasara mencabut kerisnya. Dalam keadaan terluka Wilanda sekilas masih melihat Upasara menghalangi gelundungan Padmanaba dengan, lagi-lagi, rangkaian jurus Banteng Keraton.
Dalam banyak hal, Upasara adalah seorang yang boleh dikatakan congkak.
Kesombongannya karena lingkungan yang memanjakan. Namun sebagai seorang ksatria yang banyak menerima ajaran silat dan biasanya ajaran seperti ini tidak berdiri sendiri, selalu dengan sikap-sikap yang lain ia tak tega melihat Wilanda yang sudah muntah darah diserang. Pun kalau Wilanda bukan orang dekatnya, Upasara bisa maju menolong.
"Anak kecil, kau tak usah ikut."
Padmanaba meraih pergelangan tangan Upasara dengan gaya meyakinkan.
Yakin bahwa dengan sekali gebrak ia bakal bisa merebut keris lawan. Perhitungan ini cukup beralasan. Padmamuka bisa melihat sejak pertama tadi, bahwa di antara yang hadir Upasara paling lemah. Apalagi dandanannya sama sekali tidak mencerminkan seorang pendekar. Pakaian yang dikenakan terlalu bagus. Ikat kepalanya juga milik para pangeran yang biasa digunakan dalam upacara besar, mewah. Kerisnya bertatahkan intan. Gelang kakinya dibuat dari emas murni. Mana ada pendekar silat sempat berpakaian begitu necis?
Upasara sendiri memang sangat cerdik. Bahwa Ngabehi Pandu mau menerimanya sebagai murid tunggal, pasti ada alasan kuat. Ngabehi Pandu melihat bahwa Upasara mempunyai ketajaman yang luar biasa dalam membaca persoalan.
Ajaran yang diberikan Ngabehi tak pernah diulang. Sekali dengar bisa dipraktekkan dan dikembangkannya.
Menyadari dirinya sudah dibikin keok pada awal pertarungan tadi, Upasara memanfaatkan ini. Ia sengaja menyerang dengan cara yang tidak terlalu rumit.
Jebakannya berhasil. Lawan mencengkeram tangan kanannya dalam usaha merampas keris. Memang itu berhasil, akan tetapi yang tak diperhitungkan si wajah merah adalah bahwa tangan kiri Upasara bisa mengambil oper keris itu dan langsung menikam! Semua terjadi dalam satu gerakan tanpa putus. Ini merupakan rangkaian jurus Banteng Terluka, di mana Ngabehi Pandu menciptakan dari serangan banteng.
Tanduk kiri atau kanan sama saja!
Kalau yang kiri tak bisa, yang kanan akan sampai juga.
Padmamuka tak menduga bahwa "anak kecil" yang berpakaian model bangsawan pelesiran ini menguasai dengan baik perubahan secara mendadak. Cepat sekali ia mengibaskan tangan Upasara dengan maksud agar tangan Upasara sendiri yang menangkis kerisnya. Ini juga yang tak diduga olehnya. Tangan kanan Upasara memang bisa dikibaskan semaunya akan tetapi justru ini untuk menyambut keris dari tangan kiri dan sekaligus mengarah ke tengah dada. Harus diakui bahwa dalam soal bertempur, Upasara tidak memperhitungkan apakah serangannya terlalu ganas atau tidak. Pertimbangan semacam itu belum merasuk dalam dirinya. Kalau bisa menyerang, ia akan menyerang sepenuhnya. Kalau bisa menusuk dada kenapa harus dibelokkan ke arah lengan.
Ini karena Upasara masih berusia muda, di samping soal tenggang rasa, tak pernah dirasa perlu diperhatikan. Ia tak biasa mengalah. Bahkan untuk tunduk pada orang bin pun, rasanya ogah. Satu-satunya yang didengar dan dipatuhi hanya Ngabehi Pandu. Selama Ngabehi Pandu tidak melarang, ia merasa yang dilakukannya adalah benar.
Walau ilmunya lebih tinggi dan pengalamannya lebih kaya. saat ini Padmamuka tak mempunyai kesempatan untuk lolos dengan mulus. Sambil menggertak keras, ia paksa membuang tubuh sejauh mungkin. Tak urung keris lawan menyerempet baju bagian atas serta memotong kain. Kulit ari di dada teriris panjang ke bawah hingga paha! Kalau saja Upasara meloncat sekali dan menancapkan kerisnya, Padmamuka bisa berubah nama menjadi Pandumuka, alias si muka pucat karena jadi mayat.
Upasara sebenarnya tidak bermurah hati. Ia tak menyangka sama sekali lawan masih bisa lolos. Dalam perhitungannya kerisnya bakal amblas di dada lawan. Dasar cerdik, Upasara mengeluarkan suara mengejek di hidung sambil membanting kerisnya amblas ke tanah
"Hari ini aku masih bermurah hati. Kutitipkan nyawa tak berguna itu dalam dirimu. Hayo. masih bengong di situ? Kenapa tidak menghaturkan sembah dan lekas angkat kaki dari sini?"
Padmamuka memang tak tahu bahwa sebenarnya Upasara tidak bisa memperdaya dalam seketika. Keringat dingin mengucur dan wajahnya makin merah.
Ia berjongkok. Betul-betul menghaturkan sembah.
Kalau ada orang luar yang melihat kejadian ini pasti tak percaya pada apa yang dilihatnya.
"Saya mohon diri," kata Padmamuka sambil menggelinding pergi, dalam artian sebenarnya karena tubuhnya memang bergulung menggelinding.
"Tole, aku mau tangkap mainan ini," seru Dewa Maut yang terus mendesak Jaghana.
"Pulang...." Sayup-sayup terdengar jawaban Padmamuka. Dalam sekejap sajaternyata Padmamuka telah menggelinding jauh. Entah dengan cara bagaimana tubuhnya bisa menghindar dari onak dan duri.
"Baik, Tole. Aku tak pernah bisa membantah permintaanmu." Lalu dengan mengibaskan tangannya, Dewa Maut mendorong lawannya mundur. Ia sendiri meloncat ke atas dan berlalu. Di tengah udara it sempat mengayunkan tangannya ke segala penjuru.
Upasara tak menduga apa-apa bila saja Ngabehi Pandu tidak bergerak sangat cepat luar bisa. Tubuhnya berkelebat, kainnya dibuka. dan dengan kain itu ia menangkap apa yang dilemparkan oleh Dewa Maut. lalu mengembalikan ke arah lawan. Dewa Maut telah berlalu, dan yang menjadi sasaran adalah pohon di kejauhan.
Upasara melongok melihat perubahan yang menakjubkan. Pohon itu seperti bergoyang. Dan daunnya yang dekat dengan tanah melayu secara perlahan.
"Iblis jahat, Tunggu..."
"Tahan," seru Ngabehi Pandu yang kini berdiri lurus, kakinya hanya mengenakan celana sebatas lutut. Kainnya itu lalu dilemparnya jauh. Upasara baru bermaksud mengambil kain pengganti di kudanya ketika menyadari bahwa ketiga ekor kuda itu sudah lari menjauh. Berlari kencang sekali, dua di antaranya menabrak pohon hingga tunggang langgang, mengeluarkan pekikan keras, berkelojotan bangun, dan berlari terus.
Ngabehi Pandu berjalan mendekati Wilanda, memeriksa nadi dan pernapasannya.
Lalu mendekati orang yang berada dalam karung. Memeriksa, sambil mengernyitkan alisnya hingga beradu. Setelah memencet beberapa nadi, Ngabehi Pandu duduk bersila di tanah. Menempelkan telapak tangan ke dada orang yang masih mengerang perlahan itu. Erangan itu makin lama makin pelan.
Jaghana berlutut di sampingnya. Tenaganya seperti habis terkuras, dan ia sedang melakukan semadi untuk memulihkannya.
Suasana kembali sunyi. Sepi. Hanya bunyi napas teratur. Upasara melihat bahwa Wilanda masih terbaring pingsan. Ngabehi Pandu masih mengobati, dan Jaghana belum sepenuhnya bisa menguasai pergolakan tenaganya, karena masih tersengalsengal.
Kalau tadi terlambat beberapa saat saja, bukan tidak mungkin Jaghana akan mengalami jalan hidup yang berbeda.
Upasara berjaga kalau-kalau ada sesuatu yang tak diinginkan. Sementara itu otaknya berpikir keras, merangkai kejadian yang baru saja terjadi. Dewa Maut sambil meloncatpergi karena gusar, sempat melemparkan senjata rahasia, yang bisa ditangkis oleh Ngabehi Pandu. Tidak seluruhnya karena sebagian dari senjata rahasia itu mengenai kuda. Meski masih muda, secara teori Upasara telah menguasai banyak hal. Ia tahu bahwa senjata rahasia yang dilemparkan Dewa Maut mengandung bisa. Bukan sembarang bisa, karena pohon pun bisa layu secara perlahan, dan kuda jadi gila tak karuan. Lalu menabrak pohon dan nekat lari terus.
Samar-samar Upasara ingat bahwa pasangan Dewa Maut dengan Padmamuka adalah pasangan yang memang maut. Kalau mereka berkelahi tak pernah meninggalkan lawan tanpa membunuh! Itulah sebabnya gelar mereka Dewa Maut. Tak ada lawan yang pernah bertempur dengan mereka pulang dengan selamat.
IZRO'IL
SENOPATI PAMUNGKAS I


Mereka berdua terkenal sakti dan juga jahat. Dewa Maut memiliki senjata rahasia yang diramu dari segala macam bisa ikan sungai. Dengan ramuan khusus yang hanya diketahuinya sendiri, ia mengambil sari pati sengat dan bisa segala hewan air. Bisa itu dimasukkan ke dalam tulang ikan. Itulah yang tadi disambitkan ke arah lawan. Orang biasa yang terkena sengatan seekor ikan saja bisa demam panas-dingin tiga hari tiga malam! Apalagi yang sudah diramu. Apalagi yang memang dibuat sedemikian rupa untuk membunuh. Entah berapa ratus, atau ribu, binatang air yang di-korbankan oleh Dewa Maut untuk meramu senjata rahasia! Ini saja sudah pertanda betapa kejamnya mereka.
Dan kalau seekor kuda terkena menjadi gatal-gatal tak karuan, pohon perlahan bisa layu, bisa dibayangkan bagaimana sakitnya jika mengenai manusia. Dan pasti juga bukan satu atau dua senjata saja. Upasara merinding. Korban yang kena itu adalah yang dicoba untuk disembuhkan Ngabehi Pandu.
Dan sekarang Ngabehi Pandu menggelengkan kepalanya.
"Kenapa tak ditolong, Kisanak?"
Yang ditolong membuka mata tersenyum. "Tidak usah, Ngabehi. Sudah terlambat. Untuk apa Ngabehi membuang tenaga percuma? Ini semua tak mengurangi rasa hormat dan terima kasih kami."
Suaranya bening.
Jaghana menghela napas, membetulkan posisinya, dan duduk di dekat yang terluka.
"Jaghana, adikku..."
"Kakang, tenanglah. Saya akan..."
"Tak perlu. Aku memang tak tahan sakit. Ketika tadi Dewa Maut memaksakan duri ikan ke dalam mulutku, aku tak tahan rasa sakitnya.. Gatal luar biasa. Makanya kubuka semua jalan darah, dan kubiarkan semua racun mengalir. Biar aku segera mati. Adikku, jangan sedih. Kematian menjadi ada, bukan menjadi tidak ada."
Upasara tidak sepenuhnya mengerti kata-kata yang terakhir, tapi ia tak berani mengusik.
"Tak nyana, perguruan yang dibangun Eyang Sepuh puluhan tahun lenyap begitu saja. Ah, kita belum sempat membantu orang lain. Kamu yang harus meneruskan, Adik Jaghana."
"Kakang..."
"Dengar, adikku. Aku tak bisa bertahan lama. Tugas seluruh perguruan ini ada padamu. Sampai Eyang Sepuh bisa ditemukan kembali Usahanya tak boleh berhenti.
"Eyang Sepuh sangat luhur dan agung jiwanya. Bukankah Wilanda saja masih mau menolong sesama dan berani mengorbankan dirinya? Ia harus tetap kita akui sebagai saudara sendiri. Kita tak harus memanggilnya dengan sebutan kisanak. Ah, sebenarnya aku ingin menunggu ia siuman dan mengatakan ini. Akan tetapi aku kuatir tak bisa bertahan lama.
"Adikku..." Kalimat itu terhenti oleh batuk-batuk keras.
Upasara berlutut di samping, lalu menggeser duduknya. Tanpa sengaja ia memangku kepala yang terluka.
"Anak muda yang mempunyai masa depan hebat. Banyak ksatria yang akan menolong orang yang memerlukan. Yah, Eyang-andai masih ada akan merasa bahagia sekali. Sayang, kita tak tahu di mana Eyang... sayang, banyak yang jahat dan juga sakti. Aku dibokong, dipaksa mengaku di mana Tamu dari Seberang. Padahal kita semua tak tahu tamu yang mana... Tak kusangka sama sekali, dua tokoh kenamaan dalam dunia persilatan begitu curang. Eyang Sepuh mengatakan bahwa menolong orang lain, bahwa berbuat baik, adalah suatu kebajikan. Sesuatu yang harus dilakukan dengan rela. Bukan karena terpaksa oleh suatu ajaran. Sesuatu yang biasa. Tetapi justru yang dilakukan Eyang menjadi sesuatu yang istimewa- Istimewa kalau dibandingkan dengan perbuatan curang dan keji. Ah..."
Suaranya seperti menahan kesakitan yang lebih dalam dari sekadar mengamuknya racun dalam tubuh. Suaranya mengaduh keperihan.
Upasara melihat orang yang dipangkunya nampak mengerahkan sisa tenaga yang terakhir.
"Aku harus mengatakan ini semua, adikku. Ketika tadi Dewa Maut datang bersama Padmamuka, mereka menanyakan Eyang. Sambil membawa bingkisan persembahan. Katanya untuk menjamu Tamu dari Seberang. Aku mengatakan apa adanya bahwa Eyang Sepuh tak ada di tempat, bahwa kita tak mempunyai Tamu dari Seberang. Aku disergap serentak, dan sebelum sadar mereka telah bisa melumpuhkanku. Dan mengatakan kalau aku tak mengatakan di mana Eyang dan di mana Tamu dari Seberang, aku akan diracuni. Kalaupun tahu, aku tak mau membuka mulut. Tapi Dewa Maut memaksa aku membuka mulut dan menyambitkan senjata rahasianya. Kemudian aku dimasukkan ke dalam karung kulit kayu. Mereka berdua ingin mempraktekkan ilmu Pasangan Ikan dengan Keong pada tubuh mereka. Lalu mereka mendengar suara pertempuran kalian dan aku dibawa kemari.
"Adikku, jangan berpikir tentang balas dendam.
"Aku kalah dan mati karena kesalahanku.
"Yang harus dilakukan adalah mencari Eyang dan meneruskan ajarannya. Itu permintaanku. Dan aku akan mati dengan tenang.
"Ngabehi Pandu..."
Ngabehi Pandu menoleh dengan wajah dingin. Tetap dingin.
"Terima kasih atas budi baik Ngabehi. Anak muda, kau mempunyai ilmu yang hebat di usiamu yang masih muda. Mudah-mudahan..."
Suara batuknya menghentikan kata-katanya.
Terhenti untuk selamanya.
Ngabehi Pandu menghela napas. Jaghana memberi hormat dengan dalam. Lalu perlahan menutup mata saudara seperguruannya, sambil berbisik di telinga. Dan rasanya air sungai pun berhenti mengalir.
Hanya helaan napas yang berat.
Selebihnya sepi. Sepi yang diam membeku.
Angin kembali bertiup seperti sediakala.
Seperti tak ada yang berubah. Seperti tak ada yang terjadi. Semua kembali ke keadaan yang tenang, damai. Suatu perkampungan-yang tak bisa dinamai kampung karena tak ada rumah satu pun-dilingkari pohon-pohon tinggi, rumput yang lebih tinggi dari lutut.
Upasara tak menemukan perubahan. Juga tidak dengan adanya kuburan seorang anggota Nirada. Karena sesuai dengan kepercayaan Perguruan Awan, mereka yang meninggal dikubur tanpa nisan tanda pengenal. Bahkan tanah di atasnya diratakan seperti semula. Rumput dan ilalang yang tercongkel dikembalikan seperti keadaan aslinya.
Suasana memang seperti sebelumnya.
Hanya manusianya yang berbeda. Wilanda masih jauh dari pulih. Ia masih mengerang perlahan. Racun dari bisa ikan sungai yang dilepaskan oleh Dewa Maut tetap menyiksanya. Ngabehi Pandu berusaha menghentikan menjalarnya rasa sakit.
Tapi ia sendiri bukan tabib. Sementara Jaghana menunggui di sebelahnya. Selebihnya sunyi yang sama.
Ini pertama kalinya Upasara turun ke lapangan. Sebelumnya ia tak pernah meninggalkan dinding Keraton. Sebagai pemuda yang lagi mekar-mekarnya, rasa hausnya memang tak bisa dibendung. Segala apa ingin ditenggak kalau bisa sekaligus.
Pengalaman ini sudah lama ditunggu-tunggu. Sejak masih bocah, Upasara tertarik mempelajari ilmu silat. Tak ada yang lebih menyita perhatiannya selain ilmu silat. Pada usia belum ada sewindu, belum ada delapan tahun. Upasara mampu tapa pati geni. Bertapa hidup tanpa api. Berada di tempat gelap selama empat puluh hari
empat puluh malam. Boleh dikata setiap harinya dilalui dengan berbagai macam pantangan. Gemblengan dari Ngabehi Pandu yang dilakukan dengan keras dan secara maraton, membuatnya sebagai ksatria yang boleh dibilang komplet. Sejak usia dua belas tahun
Upasara hanya keluar dari tempat latihannya setahun sekali. Untuk menjajal ilmunya.
Dengan para prajurit yang lain. Baik satu lawan satu, ataupun dikeroyok. Dengan lawan perwira yang biasa-biasa, sampai dengan yang pilihan. Dan setiap 33 hari sekali, Ngabehi Pandu menemuinya untuk menurunkan ilmunya. Memberikan pelajaran satu-dua jurus baru. Selebihnya mengulang yang lama.
Meskipun boleh dibilang gila silat, Upasara jemu sekali. Itu sebabnya tanpa membantah ia mengatakan sanggup. Apalagi dikawal langsung oleh Ngabehi Pandu, dan Wilanda satu-satunya perwira Keraton yang mengenal Perguruan Nirada.
Upasara boleh dibilang tak menemukan lawan yang setanding di Keraton. Akan tetapi begitu terjun ke gelanggang, ia menyadari bahwa apa yang dimiliki selama ini masih tingkat awal sekali. Boleh dikatakan, sekali pun ia belum pernah menang. Malah boleh dikata kalah. Beberapa kali, malahan ditolong oleh gurunya sendiri untuk menyelamatkan nyawa.
Sebenarnya Upasara tak perlu menggetuni dirinya sendiri. Boleh dikatakan lawan yang ditemui adalah jagoan kelas tinggi. Dewa Maut dengan Padmamuka misalnya, adalah jagoan yang tersohor. Bukan nama sembarangan. Apalagi kini sekali masuk, ia berada di Perguruan Awan yang mempunyai pengaruh begitu luas.
Namun, mudah diduga, Upasara tidak merasa puas.
Justru sebaliknya sangat mendongkol. Darahnya serasa masih berdesir panas.
Makanya, ketika yang lainnya mempergunakan kesempatan untuk beristirahat dan bersemadi, Upasara melihat sekeliling.
Menemukan kudanya yang mati kaku. Lagi-lagi korban racun Dewa Maut.
Kalau beberapa saat lalu disaksikannya sendiri kuda itu lari pontang-panting menabrak cabang dan ranting tanpa peduli, kini sudah mati kering. Mata kuda itu membelalak, badannya kaku kejang. Dari bibirnya seperti keluar ringkik yang tak selesai. Dan tak ada air liur meleleh itulah sebabnya Upasara menyebut sebagai mati kering.
Berjalan beberapa tindak lagi, tiba-tiba Upasara mendengar suara-suara.
Dengan sigap ia meloncat ke atas pohon untuk mengawasi keadaan sekitar. Tak begitu sulit memanjat pohon sampai ke ujung tanpa menimbulkan suara.
Hanya saja, begitu sampai di ujung Upasara terperanjat sekali. Ia tak pernah menduga bahwa di bagian lain dari tempatnya bertempur, kini sedang terjadi sesuatu yang lebih besar. Bagaimana mungkin ia bisa tak mengetahui?
Memang apa yang dilihat Upasara cukup membuat heran.
Di sebuah lapangan yang rada luas, tapi masih tetap dikelilingi pohon tinggi, berdiri sepuluh perwira Keraton. Dalam keadaan siap siaga dengan tombak dan tameng. Agak jauh di belakang mereka ada seorang pemimpin yang naik kuda. Kuda hitam mulus. Sekelebatan, Upasara bisa mengenalinya sebagai Senopati Suro, Kepala pasukan Keraton. Mana mungkin bisa sampai kemari lebih dulu, pikir Upasara.
Rasanya, Ngabehi Pandu memberitahukan bahwa ini tugas rahasia dari Keraton.
Boleh dikata tak ada yang tahu. Tapi nyatanya, jelas omong kosong, Karena Senopati Suro sudah mengerahkan sepuluh pengawalnya yang terbaik. Agak di belakang ada sebuah tandu tertutup. Upasara tidak bisa memastikan siapa yang ada di dalamnya.
Tapi ini pasti hebat. Ia sendiri berkuda siang-malam. Boleh dikatakan tanpa berhenti untuk makan atau mandi. Eh, toh ada rombongan lain yang juga dari Keraton serta memakai tandu. Apa bukan luar biasa?
"Kami datang dengan baik-baik. Tetapi kalau tuan rumah tak mau menyambut, jangan salahkan kami yang berlaku kurang ajar," Senopati Suro menyepit perut kuda hitamnya. Yang seperti busur panah melesat ke depan.
Baru kini Upasara bisa melihat jelas. Ternyata di lapangan itu ada beberapa kelompok. Selain pasukan Senopati Suro juga ada tiga kelompok lain. Salah satu kelompok berjalan dengan seenaknya maju ke tengah.
"Aha, kalau negara sudah ikut campur, urusan ini bakalan ramai. Ramai sekali.
Tetapi untuk apa berkaok-kaok seperti itu. Semut bisa takut lihat kuda gagah, tetapi manusia bukanlah semut. Tak bisa ditakuti seperti anak kecil. Hai, penunggang kuda yang gagah, apa maksudmu berteriak seperti itu?",
Upasara melengak. Benar-benar aneh dunia silat ini. Kalau di Keraton segalanya serba teratur, serba penuh tata krama, tapi kayaknya di sini tak ada aturan apa-apa. Boleh main tegur sekenanya. Siapa kira seorang yang setengah baya, berpakaian penduduk biasa, berani menggertak seorang senopati?
"Maaf, kami tak ada urusan dengan kalian. Kami ingin bertemu tuan rumah."
"Astaga, sebagai sesama tetamu kenapa mesti berbuat kasar? Kami juga tetamu yang justru datang lebih dulu. Kenapa yang datang belakangan minta dilayani lebih dulu? Apa karena ia senopati Keraton sehingga bisa dan boleh berbuat semaunya?
"Aku tak bisa melihat cara-cara seperti ini. Kalian harus antre dengan baik."
Dua prajurit yang di depan bereaksi. Akan tetapi Senopati Suro memberi tanda untuk bersikap tenang.
"Saya datang kemari ngemban dawuh, mengemban sabda raja, tidak ada waktu untuk bermain-main. Maaf, bisa kita lanjutkan pada kesempatan yang lain.
"Kami bukan tak kenal dengan Tiga Pengelana Gunung Semeru yang terhormat. Kami bukan tak gatal untuk menjajal nama besar, akan tetapi sekarang bukan saatnya."
Lelaki yang disebut sebagai anggota Tiga Pengelana Gunung Semeru tertawa lebar.
"Siapa minta dilayani? Siapa minta bermain? Saya hanya bilang kalau mau bertemu dengan tuan rumah, harap pakai aturan yang benar. Kita datang lebih dulu.
Bukan begitu?"
Pertanyaannya entah ditujukan kepada siapa. Karena tak ada yang menjawab dan tak ada yang bereaksi.
Di atas pohon, Upasara merasa bergirang hati. Ia mengetahui dari Wilanda tentang tokoh-tokoh dunia silat. Tiga Pengelana Gunung Semeru termasuk yang
disegani. Terutama jika ketiganya maju secara bersamaan membentuk Barisan Trisula. Mereka ini terdiri atas tiga orang yang selalu pergi bersama-sama. Malah menurut
beberapa sumber ketiganya masih saudara kandung. Nama mereka tak terlalu sulit, karena merupakan urutan persaudaraan. Yaitu Kakang Mbarep si sulung, Panengah yang kedua, serta Wuragil yang paling berangasan sifatnya. Namun seperti pendekar yang lain, selama ini meskipun namanya pengelana, mereka sudah sejak lima tahun terakhir tak ada kabar beritanya. Karena memusatkan diri di Gunung
Semeru. Boleh dikatakan, meskipun ketiganya termasuk jagoan, akan tetapi karena lebih banyak berkutat dengan diri sendiri, pengaruhnya tak begitu terasa. Bahkan dalam kurun waktu terakhir ini boleh dikata tak ada yang membicarakan lagi.
Tetapi bagi Upasara lain soalnya. Ia sedang kesengsem untuk bermain silat.
Apalagi dari Ngabehi Pandu ia pernah mendengar tentang Barisan Trisula yang termasuk disegani. Makanya ia ingin agar terjadi bentrokan segera dengan Senopati
Suro. Namun yang terakhir ini nampaknya masih bisa menahan diri.
"Kalau yang tua tak tahu aturan, kapan lagi bisa mati dengan tenang?"
Ini baru kejutan. Kalau yang mengatakan itu seorang jago masih masuk akal. Tapi sekali ini semua yang hadir dibuat melengak. Karena yang mengatakan adalah seorang bocah yang masih bau ingus. Benar-benar bau ingus, karena di bagian bawah hidung nampak kotoran. Pakaiannya kelewat dekil. Kalau tidak betul-betul diperhatikan, agak susah membedakan dia lelaki atau perempuan. Hanya kain kembennya yang menutup sebagian dada yang memperlihatkan ciri-ciri kewanitaannya.
"Oho, ada kuntilanak mana membiarkan anaknya keluyuran seperti ini?" Suara Wuragil belum selesai, ketika si gadis kecil mengayunkan tangannya. Lembut, indah, bagai seorang sedang menari. Hanya saja Wuragil cepat menghindar dan balik menyerang. Semua yang hadir rada bercekat. Bukan karena apa, tapi karena Wuragil ternyata sangat telengas. Sekali gebrak tangannya mencowel bagian dada.
Ini jelas kurang ajar.
Walaupun tak ada aturan tertulis, semua pendekar atau jago silat tak begitu mudah mengumbar serangan yang menjijikkan. Boleh dikatakan tak bakal menyerang bagian yang melanggar kesusilaan. Maka termasuk aneh kalau Tiga Pengelana Gunung Semeru, yang selama ini punya nama baik, bisa melakukan hal yang rendah.
Tapi si gadis cilik ternyata juga bukan sembarangan, Tangan kirinya
menangkis dengan keras.
"Sudah tua masih jorok. Sungguh, mati tak pantas, hidup pun tak pantas." Wuragil sengaja tidak menarik tangannya.
Plak. Plak.
Sekali dua tangan saling beradu. Plak kedua sungguh mengherankan. Pipi Wuragil kena ditampar! Tak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang jagoan bisa kena gampar dalam sekali gebrak? Mana lagi lawannya anak kecil? Dalam satu gebrak di depan banyak tokoh kelas satu.
Cuh.
Kali ini benar-benar sial bagi Wuragil. Sudah kena gampar masih diludahi lagi.
Yang kedua juga tak sempat menghindar. Sehingga baju atasnya jadi basah.
"Aha, harum kan baunya?"
Ledekan ini juga lebih menyakitkan. Kakang Mbarep dan Panengah yang sejak tadi berdiam diri mengawasi, langsung meloncat maju dan memasang kuda-kuda.
Barisan Trisula. Namun jelas, mereka sendiri jadi kagok. Biar bagaimanapun agak repot kalau ketiganya harus mengeroyok seorang anak kecil. Menyerang jadi malu, bertahan bisa terus-menerus diperolok.
"Ayo, aku mau jajal barisan kalian. Trisula yang kalian banggakan itu macam mana. Apa cukup untuk menggaruk punggung atau tidak. Kalau ternyata tidak bisa, kalian harus turun dari Gunung Semeru. Mengotori tempat. Gunakan barisan kalian untuk meluku sawah.
"Ayo, jangan sampai aku menampar kalian satu per satu.
"Hebat dan panas kalimat si gadis cilik. Dilihat dari usianya, baru sekitar sepuluh tahun. Sebanyak apa pun pengalamannya, pastilah tetap luar biasa bisa mengenali Tiga Pengelana. Apalagi mengenali Barisan Trisula. Dan sekaligus meledek sebagai barisan untuk menggaruk punggung atau meluku sawah. Memang pada zaman itu ada alat yang digunakan untuk menggaruk punggung yang gatal. Biasanya digunakan oleh para bangsawan. Dibuat dari tanduk. Ujungnya bergigi seperti sisir.
Maka cukup keterlaluan mengumpamakan dengan alat penggaruk punggung. Sama tidak lucunya dengan mengumpamakan sebagai luku alat untuk membalik tanah seperti bajak.
Kalau Upasara terheran-heran, jago yang lain yang lebih jeli bisa melihat bahwa si gadis cilik kepandaiannya tidak terlalu tinggi. Biar bagaimana seusia itu tenaga dalamnya belum bisa menandingi Wuragil. Bahwa tadi berani bentrok tangan itu soal lain. Soal keberanian semata. Bahwa si gadis cilik tidak mengaduh atau memperlihatkan rasa nyeri, itu juga karena bandel saja. Dan soal tamparan di pipi, karena Wuragil sama sekali tak memperhitungkan bahwa setelah bentrok tangan, si gadis cilik ingusan masih meneruskan serangannya. Kini kalau terjadi duel benaran, bisa-bisa si gadis cilik jadi sungsang-sumbel. Tapi dasar si gadis cilik masih belum tahu tingginya langit dalamnya lautan, ia menantang dengan tenang saja.
Melihat yang ditantang berdiam diri, si gadis cilik tertawa bercekakakan.
"Kalau cuma tiga orang gunung yang kepandaiannya sebegini, buat apa mencari tuan rumah? Eyang Sepuh tak perlu menemui sendiri. Dengan modal dengkul begini, bagaimana bisa menyambut Tamu dari Seberang? Lebih baik kalian cepat pulang kampung di gunung bertanam jagung."
Wuragil tak bisa menahan diri. Pertama kali karena disinggung modal dengkul. Ini sindiran yang mengena. Memang Barisan Trisula mengandalkan daya tahan dan daya serang bagian kaki. Jadi boleh dikata memang bermodalkan dengkul alias lutut. Tapi dari caranya menyebutkan, si gadis cilik bisa memojokkan. Kedua, secara langsung si gadis cilik ini sudah menyebut nama Eyang Sepuh. Bahkan dengan suara sama entengnya meneriakkan Tamu dari Seberang.
"Adik Cilik, maafkan...." Suara Kakang Mbarep atau Pembarep masih terdengar menggambarkan kesabaran. "Kami memang kurang pantas dan berlaku kurang ajar pada adik cilik. Kami ingin sowan Eyang Sepuh, adakah beliau bersedia menerima kami?"
"Adik Cilik, Adik Cilik! Memangnya aku tak punya nama?"
"Maafkan, siapa nama Adik Cilik?"
"Jagattri namaku. Nah, panggil yang baik."
"Baik, Jagattri...."
"Enak saja memanggil seperti itu. Memangnya aku sudah setua kalian semua.
Panggil aku Gendhuk Tri."
"Gendhuk Tri...," suaranya tetap kalem. Bahkan terdengar akrab. Sebutan gendhuk, anak perempuan kecil, adalah sebutan yang akrab.
"Baik. Apa yang akan kautanyakan, Pembarep? Kau sudah mau mengubah cara memanggilmu. Aku akan menjawab dengan jujur. Tadi kautanyakan apakah Eyang Sepuh bersedia menerima kalian atau tidak. Bagaimana kalau jawabannya mau?"
"Kami akan sowan?"
"Kalau dikatakan tidak mau?"
"Kami akan segera angkat kaki dari sini."
"Tak percuma kalian mendapat gelar yang bagus. Ternyata masih ada yang berharga dari manusia gunung ini. Aku akan menjawab dengan jujur. Eyang Sepuh tak bisa menerima kalian semua. Juga tak bisa menerima siapa pun. Silakan angkat kaki seperti janji kalian."
"Anak ingusan, kau tahu apa tentang Eyang Sepuh? Siapa sudi mendengarkan omonganmu yang tak becus?"
"Wuragil ini mestinya tak usah dilahirkan di dunia, Untuk apa kalau cuma Mengotori Gunung Semeru?"
Wuragil mengangkat tangannya, Pembarep menggelengkan kepalanya. Dalam gusarnya Wuragil membuang tenaga ke samping. Pohon di mana Upasara berlindung jadi bergoyang-goyang keras. Daunnya rontok. Terpaksa Upasara melorot turun.
"Sejak kapan Eyang Sepuh tak menerima tetamu?"
"Tak ada yang memastikan. Tetapi memang agak lama."
"Apakah Eyang Sepuh pergi bersama dengan Tamu dari Seberang?"
"Siapa yang tahu? Siapa tahu Eyang Sepuh pergi bersama Tamu dari Seberang atau tidak? Siapa tahu Tamu dari Seberang itu bakal datang atau tidak? Kenapa kalian semua mempersoalkan ini? Apa istimewanya Tamu dari Seberang sehingga kalian semua berbondong-bondong datang ke tempat sunyi ini? Kukira tadinya kalian para ksatria dan pendekar ternama. Tak tahunya seperti anak-anak yang mudah dibohongi.
Percuma nama besar kalian semua."
Baru saja Gendhuk Tri menutup mulutnya, terdengar ringkik kuda tinggi.
Senopati Suro melayang dan sekali gebrak ia mencoba meringkus tubuh si gadis kecil.
Jarak antara Senopati Suro dan Gendhuk Tri cukup lumayan jauhnya. Tak bisa dijangkau dengan satu loncatan. Tetapi Senopati Suro meminjam tenaga kuda hitam.
Dengan sendirinya cukup untuk menjambret Gendhuk Tri. Apalagi caranya ialah dengan meluncurkan badan seolah tiduran. Dan sekali cengkeram, akan sulitlah untuk dilepaskan. Kalaupun menangkis, ia pasti sudah akan terlibat dalam pertempuran jarak pendek, karena Senopati Suro sudah berada di depannya. Kalau menghindar juga menghadapi hal yang sama. Karena begitu Senopati Suro bergerak, Senopati Joyo, Senopati Lebur, sudah mengurung. Sementara Senopati Pangastuti sudah bersiaga untuk maju ke tempat mana memerlukan bantuan.
Tiga Pengelana Gunung Semeru mengeluarkan seruan tertahan. Mereka boleh dibilang jago dalam soal baris-berbaris, dalam serangan bersama. Akan tetapi melihat kesigapan dan kecepatan bergerak, rasanya para perwira Keraton Singasari ini tak akan kalah gesit. Padahal kalau dilihat dari awal tadi, seperti tak ada persiapan khusus.
Bahkan sepertinya, Senopati Surolah yang menjadi pemimpin utama, sementara yang lain seperti prajurit biasa. Namun dalam seketika, si pemimpin atau yang dipimpin menjadi satu.
Kalau Gendhuk Tri mempunyai ilmu yang lebih tinggi lagi, rasanya masih sulit melepaskan cengkeraman.
Dalam sekejap terjadi beberapa perubahan besar.
Gendhuk Tri dengan cara yang aneh meloloskan diri. Cara yang disebut aneh, karena Gendhuk Tri secara tiba-tiba menjatuhkan dirinya ke tanah, bergulung seperti bayi masih dalam kandungan. Tubuhnya memang termasuk ukuran pendek, apalagi menjatuhkan diri secara seketika. Bukan dengan merendahkan diri atau duduk, tetapi benar-benar berbaring. Mana ada jurus menghindar model begini?
Serentak dengan gerakan itu tadi, sesosok tubuh menyerbu ke tengah, Mudah diperhatikan karena sosok itu tinggi, besar, dan semua pakaiannya berwarna hitam.
Dengan gerakan kaku, tapi gerakan tubuhnya memperlihatkan kekuatan, ia langsung menggempur ke arah Senopati Suro, Senopati Joyo langsung menyambut dari kiri. Di tangannya ada kelewang pendek sementara Senopati Lebur mengayunkan gadanya.
Seakan benar-benar ingin menggebuk hancur. Tak dinyana, lelaki berpakaian hitam itu tak berusaha menghindar, tak menangkis. Ia maju begitu saja. Karena memang tak bermaksud membunuh, Senopati Joyo mengurangi tenaganya. Ia hanya ingin sekadar melukai kulit saja. Dan Senopati Lebur juga mengalihkan ayunan gadanya.
Di tempat persembunyiannya Upasara terpekik. Sebagai orang Keraton, Upasara paham betul kelebihan masing-masing perwira. Dengan senjata andalannya,
Senopati Joyo memang termasuk luar biasa. Makanya, walaupun bukan sampai mati ngenas, luka yang diakibatkannya takkan bisa dianggap enteng. Tapi ajaib. Ketika kelewang itu menyentuh bagian lengan, seperti menumbuk besi. Keras. Senopati Joyo kaget. Tapi terlambat. Lelaki berpakaian hitam itu sudah nyelonong ke depan, langsung mengangkat Gendhuk Tri, mengempit di pinggang kanan, dan berlalu.
Baru kini Upasara bisa memperhatikan dengan saksama. Lelaki itu berwajah keras. Seluruh wajahnya hampir ditutupi dengan rambut. Ikat kepalanya pun seperti tertutup rambut. Hingga kepalanya nampak aneh. Sorot matanya tajam dan keras.
Tidak menunjukkan wajah bersahabat.
"Mau ke mana, Pu'un Tua?" Tiba-tiba terdengar seruan halus.
Seorang nenek yang seluruh rambutnya berwarna putih, berdiri genit menghalang. Sikapnya sangat bertentangan dengan usianya. Nenek tua berambut putih ini tidak membawa senjata apa-apa. Hanya selendang warna-warni yang
nampak aneh sekali. Aneh karena tidak cocok dengan usianya, Yang paling gusar adalah Dewa Maut. Baginya, Padmamuka yang dipanggil Tole, adalah segalanya. Apa yang dikatakan Padmamuka akan dituruti dengan sertamerta.
Memang sebenarnya ada hubungan yang aneh antara Dewa Maut dan Padmamuka. Hubungan ini bukan rahasia lagi di kalangan dunia persilatan. Dewa Maut konon tadinya adalah pendekar biasa, tidak mempunyai sifat yang aneh. Sampai kemudian karena mengalami peristiwa yang menghancurkan cintanya. ia bersumpah
tak akan mau menginjakkan kakinya di daratan lagi. Seumur-umur hidupnya dilewati sendirian di atas perahu yang hilir-mudik di Kali Brantas. Sampai suatu ketika bertemu dengan Padmamuka. Seorang yang tersisih dari dunia karena tubuhnya yang tetap kecil dan pendek. Entah bagaimana ceritanya, Padmamuka diambil sebagai murid atau anak angkat atau cucu angkat. Diajari ilmu silat. Sedemikian kerasnya Dewa Maut mengajari sehingga lambat laun wajah si bocah aneh ini menjadi merah, dan dipanggil Padmamuka. Mungkin sekali karena pengaruh ilmu racun yang diperdalam oleh Dewa Maut.
Sejak pertemuan yang tak banyak diketahui itu Dewa Maut dan Padmamuka selalu bersama-sama. Paling hanya bertemu orang luar kalau ada nelayan yang lewat sungai. Untuk dirampas barang yang dibawanya atau diambil nyawanya. Begitulah selalu, sehingga timbul dugaan bahwa hubungan mereka berdua bukan sekadar hubungan guru dengan murid. Tetapi lebih jauh dari itu. Mengingat keduanya manusia yang segi biologisnya normal tapi sikap hidupnya suka melanggar aturan.
Apalagi keduanya tersisih dari masyarakat ramai baik karena kemauan sendiri maupun karena situasi.
Maka hubungan yang aneh-tapi-mesra antara keduanya juga tercermin dalam sikap sehari-hari secara agak berlebihan. Cara mereka menggendong satu sama lain, cara mereka memperhatikan satu sama lain.
Bisa dibayangkan kini, ketika Padmamuka menjerit, betapa murkanya Dewa Maut. Dalam keadaan seperti itu, sudah bisa ditebak. Dengan mengeluarkan teriakan
keras, Dewa Maut memutar kedua tangannya ke atas dan serentak dengan itu, dari seluruh bagian tubuhnya meluncur senjata rahasia beracun. Duri-duri beracun yang sangat diandalkan.
Upasara, untung saja, sudah mengetahui keganasan Dewa Maut. Ia memakai cara yang dipergunakan Ngabehi Pandu. Meloloskan kainnya secara seketika, dan memutar bagai payung. Bagai kitiran hidup, Upasara bergerak menyongsong ke arah serbuan duri beracun. Gendhuk Tri dengan demikian juga terlindungi. Jagaddhita
mengeluarkan pekik keras,
"Keji!"
Sambil meloncat tinggi. Senopati Suro, Joyo, Lebur, dan Pangastuti juga berjaga dengan senjata masing-masing untuk melindungi diri secara sempurna. Tiga Pengelana Gunung Semeru pun serentak saling merapatkan diri, dan mengatur pertahanan dengan gerak bertahan. Pu'un yang sejak tadi hanya berdiri kaku dan mendongak juga mengeluarkan seruan keras sambil jumpalitan. Kalau tokoh yang terkenal dengan ilmu kebal pun harus menyingkir dengan cara seperti itu, bisa dimengerti bahwa yang disebarkan oleh Dewa Maut sangat mengerikan.
Kalau di antara mereka yang ada di tengah lapangan bisa mempertahankan diri, tidak demikian halnya dengan yang menjaga tandu. Para prajurit ini, walau bukan prajurit sembarangan. akan tetapi tak cukup bersiaga untuk diserang dengan cara hina seperti ini Lima prajurit langsung mengaduh, berteriak keras, sebelum akhirnya menjadi kejang. Mata masih melotot membayangkan rasa sakit yang tak tertahankan sebelum ajal sampai.
Tidak berhenti di sini, Dewa Maut meloncat maju. menebarkan sisa-sisa racun durinya. Sambil menjerit bagai serigala terluka. Dewa Maut berusaha membunuh Upasara dalam sekali gebrak.
Tirai yang menutup tandu terkuak sedikit dan sebatang anak panah meluncur lurus ke arah mata Dewa Maut. Di tengah udara, Dewa Maut menampik anak panah dan terus menerjang. Tapi begitu anak panah pertama berhasil ditebas, anak panah kedua menyusul. Dewa Maut menghindar ke samping, satu pukulan keras dilemparkan ke arah tandu.
Senopati Suro mengangkat kedua tangannya secara serentak memapak tangan keras Dewa Maut. Tiga Senopati yang lain juga tak tinggal diam melihat junjungannya diserang. Dalam sekejap Dewa Maut berada dalam kepungan para senopati.
"Senamata Karmuka, kenapa kau tak ikut keluar melihat suasana? Udara di dalam tandu terlalu sumpek, bukan?" Jagaddhita bersuara pelan. Arah suaranya ditujukan ke bagian dalam tandu.
"Di dalam lebih enak. Kenapa kau tak masuk saja?"
"Ah, itu undangan bagus sekali. Hanya saja aku takut kau akan mati berdiri melihat diriku. Aku tak pantas menakut-nakuti pada saat sekarang ini."
Meskipun sedang dikerubut, Dewa Maut mendengar percakapan antara Jagaddhita dan yang sedang berada di dalam tandu. Ekor matanya melirik ke arah tandu. Kalau ada kesempatan sedikit saja, ia akan menggedor ke dalam tandu untuk memaksa penghuninya keluar.
Adat Dewa Maut memang lain dari kebanyakan orang. Ada kecongkakan yang mendarah daging. Ia tak bisa diperlakukan sebagaimana orang biasa. Selalu ingin lebih dihormati. karena merasa paling jago. Maka darahnya menjadi mendidih mengetahui ada orang yang enak-enak berada dalam tandu. Seolah memandang kelewat remeh padanya.
Bahwa nama besar Senamata Karmuka cukup dikenal. Dewa Maut tak mengingkari. Semua penduduk Singasari mengenal nama besarnya. Bagaimana tidak, kalau ia adalah laksamana perang. atau panglima perang. Senamata berarti panglima perang. Sedang Karmuka berarti busur. karena laksamana yang satu ini terkenal mahir dalam memanah.
Hanya saja ketika menangkis tadi, Dewa Maut merasa keahlian dan gelar besar lawan seperti dilebih-lebihkan.
Jagaddhita memang jeli sekali melihat anak panah meluncur, ia bisa langsung menebak. Dan melihat cara pembicaraan keduanya, memang terlihat keakraban.
Sementara itu, Padmamuka masih berbaring di tanah. Darah mengucur keras dan pundaknya. Keris Upasara masih menancap. Agaknya Padmamuka tak berani menarik keris itu. Melihat kejadian ini, Gendhuk Tri merasa tidak sampai hati. Ia bergerak maju untuk mengobati.
"Hmmm. soal luka kecil begini saja bikin ribut. Mari sini aku tolong.
"Gendhuk Tri maju dua tindak. Pu'un yang mengawasi bersiap diri.
"Ikut aku," katanya keras sambil menyambar Gendhuk Tri. Kali ini serangan Pu'un cukup kuat menutup kemungkinan larinya Gendhuk Tri. Bahkan andai berbaring seperti tadi pun, akan tetap tertangkap. Kesepuluh jari mekar bersamaan.
Bagai cakar harimau. Gendhuk Tri menebas dengan kedua tangannya, hanya sekali ini ia tak berkutik. Langsung kena tangkap pergelangannya dan ditarik, untuk digendong lagi. Pembarep yang melihat ini turun tangan. Namun kasep. Gendhuk Tri sudah digendong, dan Pu'un meloncat pergi. Wuragil mengayunkan pedang sambil meloncat, mencoba menghadang. Tebasan pedangnya dipapak dengan jotosan keras.
Dan aneh sekali, pedang Wuragil terlepas dari tangan! Bahkan kaki Pu'un langsung menyambar dada. Wuragil hanya punya satu jalan. Berjumpalitan ke atas.
...kenapa harus bersedih hati waktu bayi temanmu adalah bidadari...
Gesit loncatan Jagaddhita, dan juga indah. Akan tetapi Pu'un telah meloncat lebih dulu. Jadi jarak antara keduanya tetap terentang jauh. Agaknya ini tak jadi soal benar bagi nenek berambut putih. Kalau ia bertekad mengejar, sampai ke ujung laut pun akan terus dikejar. Kalau buruannya masuk jurang atau mendaki gunung, ia akan terus mengikuti. Sampai bisa dekat dan untuk terus melanjutkan pertempuran.
Sampai salah satu benar-benar tak berdaya.
Pu'un yang satu ini agaknya juga menyadari kenekatan lawan. Maka ia mengerahkan tenaganya. Larinya kencang dan sebentar kemudian meninggalkan lapangan. Tepat di arah jalan masuk ke gerombolan hutan, tiba-tiba muncul seseorang yang juga menggendong orang lain di pundaknya.
Itu adalah Jaghana yang sedang menggendong Wilanda. Dua-duanya nampak kaget dengan kemunculan yang mendadak. Bedanya, Pu'un merasa yang menghadang ini juga lawannya, maka langsung melakukan serangan. Cakar macannya kembali ke
arah tengkorak lawan. Kepala Jaghana yang licin gundul seakan mau dikelupas kulitnya. Jaghana memiringkan sedikit kepalanya, dan giginya membuka. Kali ini cakar harimau dilawan dengan gigitan Sebenarnya ini juga pemandangan yang menarik. Seorang berpakaian serbahitam dengan rambut awut-awutan sambil menggendong gadis cilik di pundaknya, melawan seorang gundul bersih yang juga menggendong seorang tua.
Dilihat sekelebatan seperti orang tua yang sedang bercanda. Hanya saja kalau diperhatikan benar, ada semacam ketegangan yang menggigit. Gadis cilik yang dipanggul Pu'un meskipun nampak tersenyum geli, pandangan matanya kosong.
IZRO'IL
SENOPATI PAMUNGKAS I


Kesadarannya telah hilang. Tadi dalam mencengkeram, Pu'un sekaligus melapalkan mantera dengan mengusap wajah Gendhuk Tri. Yang kontan seperti kena sihir.
Makanya ia tertawa-tawa aneh di atas panggulan Pu'un. Sementara Wilanda tak bisa banyak bergerak karena racun dalam tubuhnya masih terasakan. Kalau tenaga dalam dan penolongan padanya tidak dilakukan segera, nasib Wilanda tak berbeda dengan prajurit pilihan yang lain. Mati seketika.
Membarengi dengan gigitan, Jaghana menyapu kaki lawan. Justru saat ini Pu'un juga mengayunkan kaki untuk menebas dengkul lawan.
Ini juga tak mengherankan. Ada beberapa persamaan mengenai asal-usul antara Perguruan Awan dan ilmu yang dimiliki Pu'un. Juga mengenai pengembangannya dititikberatkan pada gerakan kaki. Mencari kuda-kuda, memperkuat pertahanan, ataupun menyerang, hampir semua berasal dari gerakan kaki. Sebenarnya ini memang ciri khas ilmu silat daerah pedalaman. Agak berbeda sedikit dari yang berkembang di daerah pegunungan. Di sini gerak meloncat lebih mendapat tekanan. Mungkin juga karena alam dan situasi di mana ilmu dan gerakan itu lahir mempengaruhi secara langsung. Di daerah pegunungan loncatan lebih banyak dilakukan. Dilihat dari titik ini, bisa dimengerti kenapa Wuragil tadi bisa terus-menerus diungguli lawan. Keistimewaan gerakan loncat tidak diperlihatkan.

Apalagi memang gerakan mereka lebih banyak menuntut permainan bersama.
Dua kaki saling beradu keras. Jaghana mundur selangkah, tapi juga memapak
tendangan lawan dengan kaki yang sama. Dalam sekejap terjadi delapan kali
pertemuan dua kaki. Sama keras, seakan beradu tulang. Dalam delapan kali beradu,
Jaghana bergeser mundur lima kali. Pu'un hanya tiga kali. Itu pun dengan
perhitungan satu langkah digunakan untuk menyamping. Dari situ bisa ditakar bahwa
untuk adu keras lawan keras, Pu'un lebih unggul. Setidaknya dalam situasi seperti itu.
Wilanda yang berada dalam rangkulan Jaghana merasa tidak enak. Diam-diam
ia mengerahkan tenaganya. Walau rasa sakit kembali menjalar, ia tak peduli. Dengan
satu sentakan, ia melepaskan diri dari rangkulan dan melemparkan dirinya menjauh.
Wilanda, dalam keadaan terluka parah pun, masih unggul dalam soal ilmu
meringankan tubuh. Sehingga loncatannya masih jauh juga. Hanya saja Pu'un tidak
mengira kalau Wilanda membuang diri. Ia justru berjaga. Begitu melihat bayangan
melesat, disangkanya mau menerjang dirinya. Ia angkat tangan kanan tinggi-tinggi
dan langsung mencengkeram bagian pundak. Langsung dilempar ke atas untuk
terbanting keras di tanah. Pu'un memang sengaja mengerahkan delapan bagian dari
tenaganya. Hatinya bercekat ketika berhasil mencengkeram tubuh lawan. Rasanya
tidak ada perlawanan sama sekali. Akan tetapi untuk menarik pulang tenaga
dalamnya, bukan hal yang mudah. Bisa-bisa malah melukai dirinya sendiri. Pu'un
hanya mengurangi sepersepuluh tenaganya. Akan tetapi jelas bantingan itu masih
cukup untuk meremukkan tulang-tulang Wilanda. Jaghana sama sekali juga tidak
mengira bahwa Wilanda akan berbuat nekat. Perbuatan itu semata-mata dilakukan
karena ia tak ingin merepotkan orang lain. Jaghana terharu. Sama sekali ia tak
menyangka, bahwa jiwa luhur yang diturunkan sebagai sikap dasar dari Eyang Sepuh,
ternyata tak pernah berkurang dalam diri bekas murid Perguruan Awan.
Saking terpananya, Jaghana tak menyangka bahwa Pu'un telah berhasil
membetot dan mencengkeramnya.
Saat itu yang sedang melayang di udara adalah Jagaddhita. Ia sejak tadi
mengejar Pu'un sambil terus rengeng-rengeng. Hanya saja Jagaddhita tak curiga
sedikit pun bahwa Wilanda dalam keadaan sakit berat. Ketika melihat larinya Pu'un
berhasil dihadang dan disibukkan, Jagaddhita tak menyangka sama sekali kalau
ternyata yang sedang dibanting itu nyawanya sudah di ujung bibir. Dan ia memang
bertujuan untuk menyelamatkan Gendhuk Tri. Maka begitu melihat Pu'un rada bebas
dan berusaha lari, Jagaddhita langsung menyambar alis lawan. Kalau sentuhan itu
dilorotkan sedikit saja, mata lawan bisa bolong karenanya. Kalaupun mencoba
mengegos, telinga lawan bisa terpuntir karenanya. Bukan cuma daun telinganya yang
bakal somplak atau lepas, tapi seluruh sarafnya bakal putus. Kalaupun ia mengegos
mundur, rangkaian berikutnya sudah tersedia, yang akan makin menyulitkan
kedudukannya. Inilah rahasia keunggulan silat Jagaddhita. Jenis penyerangan yang
rumit dan penuh dengan variasi. Agaknya juga sengaja diciptakan khusus untuk
dimainkan oleh Jagaddhita. Disesuaikan dengan kelembutan gaya tarian. Yang dalam
setiap gerak mengandung seribu perubahan. Penyesuaian ini sangat banyak artinya.
Seperti yang dialami sendiri oleh Upasara Wulung. Dasar gerakan Banteng Ketaton
diciptakan Ngabehi Pandu untuk Upasara Wulung yang memiliki semangat dan daya
serangan kuat. Makanya, seperti menjadi gerakan yang istimewa.
Pu'un juga mengetahui kelebihan ini. Sekarang biar bagaimanapun, ia sendiri
repot dengan Gendhuk Tri yang dipanggulnya. Nampaknya Pu'un cukup cerdik.
Dalam keadaan terjepit ia menggunakan akalnya. Daripada makin keteter, Pu'un
memutar tubuhnya sambil menekuk lututnya. Itu berarti kalau Jagaddhita tak
mengubah atau tak menarik elusannya, yang menjadi sasaran adalah Gendhuk Tri
sendiri. Dalam perhitungan Pu'un, Jagaddhita tak bakal melukai Gendhuk Tri sendiri.
Toh dari sekian banyak orang, semua mempunyai dendam dan urusan dengan
Gendhuk Tri, hanya Jagaddhita yang melindungi.
Tapi justru perhitungannya meleset!
Jagaddhita ternyata jauh lebih cerdik dari Pu'un. Ia tak mengubah dan
mengurangi tenaganya. Ujung jarinya yang lentik terus melaju. Anginnya mendesir
menuju ubun-ubun Gendhuk Tri yang kini terputar ke arahnya. Dan Gendhuk Tri
sendiri dalam keadaan setengah sadar setengah tidak, tak menyadari bahaya besar. Ia
tetap tertawa kosong.
Perhitungan Jagaddhita sebenarnya sama dengan perhitungan Pu'un. Hanya
saja ia menarik kesimpulan yang berbeda. Ia juga memperhitungkan bahwa Gendhuk
Tri menjadi incaran karena Gendhuk Tri mengisyaratkan tahu mengenai Eyang Sepuh
serta Tamu dari Seberang. Pu'un pastilah menghendaki Gendhuk Tri dalam keadaan
hidup. Dengan sendirinya ia akan berusaha melindungi. Itulah kesimpulan Jagaddhita
sehingga ia tak menarik serangannya. Pada saat Pu'un menyadari hal ini,
penahanannya sudah terbuka. Hanya ada dua kemungkinan. Pu'un mengorbankan
Gendhuk Tri, atau untuk sementara mengalah. Dan Jagaddhita bisa membaca bahwa
kesimpulan terakhirlah yang dipilih Pu'un. Jauh-jauh ia datang dari ujung barat, pasti
tak ingin pulang dengan tangan kosong. Justru karena sekarang ada kesempatan.
Cerdik benar Jagaddhita membaca jalan pikiran lawan. Menebak dengan tepat
dan memperoleh manfaat.
Sementara di pihak lain, Dewa Maut masih disibukkan dengan serangan
bersama para senopati. Terutama desakan kuat dari Senopati Suro yang paling
tangguh. Dalam keadaan murka, lebih banyak tenaganya terkuras. Kalau tadi ingin
segera menyerbu ke dalam tandu, sekarang harus memusatkan konsentrasi pada
lawan yang mengerubuti. Bahwa ia berada dalam posisi yang unggul, Dewa Maut
sangat yakin mengenai hal ini. Akan tetapi bahwa ia tak bisa menyelesaikan dengan
segera, ia mulai menyadari. Ia harus mengerahkan tenaga ekstra. Kalau pertempuran
ini tak segera diselesaikan, berarti tenaganya akan makin terkuras. Padahal lawan lain
yang bakal dihadapi cukup tangguh. Selain Upasara Wulung yang menjadi sumber
dendamnya, juga masih ada tokoh yang berada dalam tandu yang misterius. Belum
lagi tokoh lain, yang ia tak tahu berdiri di pihak mana. Dewa Maut mengeraskan
hatinya. Kedua tangannya bergulung bagai kitiran dengan sangat, sangat cepat.
Berusaha menerobos lingkaran penyerangan. Senopati Suro merasa arus berbalik
dalam serangan itu. Ia merasakan keras dan makin berat. Ini yang dinamakan Sampan
Membalik Arus. satu jurus simpanan yang diandalkan.
Kekuatan utama jurus ini adalah menggabungkan tenaga sendiri dengan tenaga
lawan yang datang, untuk digulung dalam satu kumparan dan dipindahkan ke arah
lawan. Makin besar daya serangan lawan. daya serang balik juga besar. Tetapi jika
lawan berusaha mengurangi tenaganya. ia akan segera tergencet.
Dewa Maut menggerakkan tangannya lebih cepat. Getaran udara yang
menekan menjadi semakin berat. Yang pertama kali terganggu adalah pernapasan
Senopati Suro, Tekanan ini bila terus berkelanjutan. Senopati Suro akan kehilangan
penguasaan diri. Gerakannya sekadar meluncur dari latihan atau hafalan yang ada dan
lebih banyak menutup diri. Bukan lagi memainkan gerakan sesuai dengan situasi yang
ada. Bukan menyerang bagian yang lemah dan memanfaatkan kekurangan lawan. Ini
memang saat-saat yang kritis.
Bagaimanapun Dewa Maut masih setingkat lebih tinggi. Di samping itu,
gerakan dan jurusnya termasuk berbeda dari yang berkembang di darat. Dewa Maut
lebih banyak menghabiskan sisa hidupnya di atas sampan. Dengan sendirinya situasi
lingkungan sangat besar pengaruhnya. Maka dalam beberapa hal. variasi dan jurusnya
sulit ditebak.
Pada saat berhasil menebak pun, sudah sangat kepepet.
Ini semua masih harus ditambahkan bahwa Dewa Maut mampu
memanfaatkan situasi. Bukan sekadar menguasai jurus yang dimainkan, tetapi bisa
membaca. Biarpun ia jauh lebih lihai, cukup repot juga kalau melayani empat senopati
yang mempunyai kepandaian hampir sama. Jalan satu-satunya adalah mendesak salah
satu hingga benar-benar keteter. Dan itulah yang dilakukan oleh Dewa Maut.
"Tole. aku beresi satu demi satu."
Ketika itu, Pu'un yang mencelos luar biasa. Ia tak nyana bahwa Jagaddhita
sama sekali tak menarik tangannya. Terpaksa ia meloncat ke depan—karena
punggungnya menghadap ke Jagaddhita—seperti pohon rubuh. Dan Gendhuk Tri
yang berada di pundaknya, dilontarkan ke atas.
Tak terlalu sulit bagi Jagaddhita untuk meraih Gendhuk Tri lewat
selendangnya. Sekali tarik, tubuh Gendhuk Tri berubah arah. Dengan satu putaran
pendek, Gendhuk Tri mendekat ke arah Jagaddhita dan langsung dipeluk dengan
enak. Jagaddhita mengucapkan mantera pendek, lalu mengusap wajah Gendhuk Tri.
Namun ternyata pengaruh sihir Pu'un. tak hilang begitu saja. Dua kali Jagaddhita
mengusap, tapi hasilnya sia-sia. Gendhuk Tri masih bengong saja dan matanya
nyalang kosong.
Sementara di tempat lain, terjadi hal yang tak terduga. Ketika terayun tadi,
tubuh Wilanda seperti bakal terempas keras. Sejak tadi Tiga Pengelana Gunung
Semeru seperti penonton saja. Sejak Wuragil dipecundangi Gendhuk Tri, mereka jadi
serba salah.
Tapi Pembarep memang memiliki sifat seorang ksatria tulen. Melihat
seseorang menderita dan mendapat perlakuan tidak adil, hatinya tergerak. Hanya saja
ia tak bisa menolong dengan tangannya sendiri karena ia belum yakin siapa yang
ditolong, termasuk lawan atau kawan. Maka dengan menyalurkan tenaga dalam, ia
menepuk pundak Panengah. Panengah sendiri, sejak tadi sudah bersiap. Maka begitu
mendapat dorongan, langsung menjejakkan kaki dengan kuat ke tanah, dan sedetik
berikutnya tubuhnya melayang, menyongsong tubuh Wilanda. Karena jaraknya yang
tak memungkinkan bisa menangkap dengan sempurna, Panengah melemparkan
tubuh Wilanda ke angkasa kembali. Dengan satu gerakan lembut, Pembarep
menangkap tanpa menggeser kakinya.
Baru sekarang Upasara yakin bahwa mereka yang berkumpul di lapangan ini,
masing-masing memiliki kelebihan utama. Meskipun hanya satu gebrakan. apa yang
ditunjukkan oleh Pembarep dan Panengah cukup hebat. Kerja sama yang sangat
terpadu. Seolah hanya satu kehendak saja.
Pembarep merasa tubuhnya menerima rasa hangat yang aneh. Datang dan
pergi, dan tercium bau amis. Baru ia sadar bahwa tubuh yang digendongnya
menderita keracunan yang ganas.
"Dewa Maut, kami mohon obat pemunah untuk saudara ini." suaranya tetap
kalem dan lembut ketika menurunkan tubuh Wilanda. Wuragil-lah yang lebih dulu
menyerang ke arah Dewa Maut.
"Kakang Mbarep, biar Adik yang mengambil sendiri."
Panengah juga langsung menyusun serangan dari arah yang berlainan. Dewa
Maut yang tengah mencecar Senopati Suro jadi terdesak untuk sementara. Kalau tadi
ia berpikir sudah bisa menaklukkan Senopati Suro, kini jadi lain. Pinggangnya jadi
sasaran telak. Tangan kirinya diadu dengan tangan Wuragil sambil membalikkan
tangan lawan ke arah serangan Pembarep. Dengan memindahkan tenaga, tekanan ke
arah Senopati Suro jadi berkurang banyak. Dengan sigap Senopati Suro membebaskan
diri dari tekanan, menghirup udara sangat banyak di dadanya, memusatkan
perhatiannya, dan balas menyerang.
Sebenarnya walau Dewa Maut berilmu tinggi, ia tak mungkin menghadapi
keroyokan empat senopati dan dua pengelana dari Semeru secara sekaligus. Justru
karena kedua kelompok lawan yang dihadapi bisa menyusun serangan berantai yang
rapi. Dan terutama sekali susah ditembus. Hanya karena dua kesatuan, jadi untuk
sementara Dewa Maut masih bisa bertahan. Kalau tadi ia berniat menyerang ke dalam
tandu, kini pusat perhatiannya dialihkan untuk menghadapi lawan sambil melihat
suasana
Dan di lain pihak, Upasara mendekati Padmamuka. Ia merasa salah. karena
kerisnya mengenai Padmamuka. Dalam hatinya. Upasara mempunyai penilaian yang
berbeda antara Padmamuka dan Dewa Maut. Meskipun keduanya terkenal sama-sama
jahat, tapi tetap berbeda kadarnya. Mungkin kalau Upasara tahu latar belakangnya
jadi lebih yakin. Bahwa Dewa Maut mengalami kekecewaan yang besar dalam
hidupnya karena orang lain. Sementara Padmamuka, sejak lahir ia sudah merasakan
ketidakadilan dunia pada dirinya. Cacat tubuhnya terbawa sejak lahir. Kalau
hubungannya sangat erat dengan Dewa Maut, itu karena Dewa Maut-lah yang sangat
memperhatikan dirinya.
Namun tanpa mengetahui latar belakang ini pun. Upasara bisa menimbang
sendiri. Bahwa sejak penampilan pertama. ia mendapat kesan bahwa Padmamuka
menampilkan sikap yang memelas. Di balik wajahnya yang kemerahan, di balik
senyum bayinya. seperti menyembunyikan suatu penderitaan.
"Mari, saya bantu untuk melepaskan."
Padmamuka memandang Upasara. Seperti menimbang-nimbang. Tapi sorot
mata pemuda itu begitu polos. Mata itu menunduk mendekat. Dengan menotok jalan
darah di punggung, Upasara berusaha menghentikan muncratnya darah dan sekaligus
mengurangi rasa sakit. Baru kemudian, mencabut kerisnya dengan satu tarikan.
Padmamuka mengeluarkan erangan pendek. Upasara mengeluarkan sesuatu dari
gembolannya. Sejenis bubuk isika, yang diramu dari sejenis rumputan sebangsa
ilalang. Upasara menaburkan bubuk isika ke luka Padmamuka.
"Sebentar akan mengering."
Bahwa seorang jago silat membawa jenis obat-obatan bukan hal yang aneh.
Apalagi perjalanan ini sudah direncanakan, sehingga Upasara sudah mempersiapkan
segala keperluannya. Yang agak aneh adalah sikap Upasara. Tadi baru saja bertempur
soal mati-hidup. Sekarang malah membantu lawan dengan pengobatan.
Cara berpikir begini bukannya tidak masuk di akal Dewa Maut. Sejak melihat
Upasara mendekat dan mencabut keris, mendengar Padmamuka mengaduh, dan
Upasara menaburkan bubuk, Dewa Maut berubah pikirannya-Pastilah itu sebangsa
obat pengurang rasa sakit. Maka dengan serta-merta Dewa Maut kembali
mempraktekkan loncatan simpanan. Seperti orang yang terjun ke sungai. Tubuhnya
meluncur setengah membelok bagai bentuk buah pisang.
Upasara sama sekali tidak menduga. Tidak menduga bakal diserang, dan tidak
menduga serangan lawan bisa sampai ke arahnya. Jaraknya masih jauh, namun
sentilan tangan mengeluarkan desis tipis. Tak ada waktu buat menghindar. Satusatunya
cara adalah menenggelamkan kepalanya. Tapi serangan lawan tertuju ke arah
pundaknya.
Upasara menahan rasa sakit dengan mengatupkan gerahamnya. Ia tak mau
mengeluarkan rintihan atau aduhan. Mencoba menghindar beberapa tindak, seluruh
tubuhnya bagian kiri terasa kaku. Langkahnya limbung. Dan ternyata Dewa Maut
tidak terhenti dengan satu serangan. Begitu menjejak tanah. sudah langsung mengirim
serangan beruntun. Upasara membalik. Satu tangan terangkat untuk menerima
pukulan dari Dewa Maut. Memang bukan tandingannya. Bahkan dalam keadaan
paling siap pun Upasara bukan tandingan Dewa Maut. Karena ini soal mengadu
tenaga dalam. Yang bisa melukai dari dalam. Jika tidak hati-hati, akibatnya bisa fatal.
Cacat seumur hidup. Dan bagi kaum persilatan, adalah sesuatu yang paling
mengerikan kalau tak bisa bermain silat lagi.
Upasara memang tak bisa memilih jalan lain. Kecuali kalau ia melemparkan
tubuhnya dengan pancalan kaki satu, dan itu akibatnya bisa terguling-guling. Itu pun
pasti akan terkejar lagi. Tapi mana mungkin Upasara memilih cara menghindar
bergulingan seperti anjing kena pukul? Kalah atau menang tak jadi soal benar. Mati
atau hidup itu soal kedua. Yang penting kehormatan tetap terjaga. Jiwa ksatria
Upasara lebih kuat.
Sambil mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya ia himpun tenaganya. Tangannya
terlepas dan terayun lurus.
Dewa Maut tersenyum dalam hati. Bibirnya menyeringai. Sejak pertama tadi ia
memang mengincar Upasara. Kini kesempatan untuk melumatkannya.
Namun sebelum ia melanjutkan pukulan, Dewa Maut menggeser tubuhnya,
sebelah tangannya digerakkan ke belakang dan berteriak gusar. Sebatang anak panah
kena disampok keras olehnya. Sementara satu tangan lagi beradu keras dengan
Upasara.
Dewa Maut hanya mempergunakan empat persepuluh tenaganva untuk diadu,
namun enam persepuluh untuk menyampok anak panah yang menjurus ke arah
tenggorokannya. Karena menyampok panah lebih diperhatikan daripada pukulan
Upasara.
Akibatnya sungguh tak terduga!
Anak panah itu ternyata tak sehebat yang ia duga. Bisa disampok dengan
mudah. Sementara benturan tenaga keras menumbuk dari tangan Upasara. Jotosan
tangan Upasara sangat keras dan menyentak. Itu barangkali bedanya dengan tenaga
dalam mereka yang telah berpengalaman. Pada tingkat Dewa Maut, penyaluran
tenaga dalam tidaklah menyentak seperti yang dilakukan Upasara. Biasanya
bergelombang yang makin lama makin besar. Karena kalau mengerahkan sepenuh
tenaga. dan lawan lebih dahsyat, bisa habis-habisan. Betul-betul bakal terluka dalam.
Rontok semua isi dada dan perutnya.
Bagi Upasara, serangan ini pukulan terakhir. Karena tak mungkin bisa
menghindar dan tak mungkin menyusun serangan berikutnya.
Dada Upasara merasa sesak sekali. Panas luar biasa. Pandangannya jadi kabur.
Tumpuan kekuatan dengan satu bagian yang kaku tak mampu menyangga tubuhnya.
Upasara bagai tertekuk. Ditahankan hatinya untuk bisa berdiri, tapi tetap tak mampu.
Tubuhnya terguling.
Yang diderita Dewa Maut tak kurang parahnya. Gempuran tenaga dalam
Upasara mampu menerobos ke ulu hatinya. Terasa sangat nek. Setelah bertempur
sekian lama, tenaga Dewa Maut terkuras cukup banyak. Kim hanya dengan tenaga
kurang dari separuh yang dipergunakan. bisa jebol pertahanannya.
"Kalian semua setan busuk. Main keroyokan kayak anjing kampung." Belum
selesai omelannya, bibirnya berwarna merah karena darah.
Sementara itu dari tandu keluar seorang lelaki yang tinggi. Pakaian
kebangsawanannya begitu indah dan menawan. Wajahnya tak begitu kelihatan
karena memakai irah-irahan. atau hiasan berbentuk mahkota.
"Menghadapi sesama anjing kampung. apa pedulinya main keroyok atau tidak."
"Percuma kau bernama panglima besar. Percuma kau laksamana Keraton
Singasari, kalau beraninya menyerang dari belakang." Dewa Maut menghapus cairan
merah dari mulutnya. Sebagian rambutnya yang putih terkena semburan.
"Sekarang ini semuanya ada di sini, biar mereka menyaksikan siapa yang jantan dan
siapa yang busuk. Ayo majulah, Panglima."
"Kau tahu, aku tak peduli tata krama. Bagiku membunuhmu saat sakit atau
jaya apa bedanya? Kau tahu apa bedanya aku dianggap panglima besar atau manusia
busuk? Kau tahu itu. Semua tahu itu. Senamata Karmuka bukan orang gagah.
Senamata Karmuka orang busuk yang menjadi kentut Baginda Raja. Penjilat besar,
itulah gelarku sebenarnya. Nan, kau masih belum puas. Ayo maki sekali lagi."
"Pantas Keraton jadi sumpek. Isinya cuma cecunguk macam begini. Hah.
Sungguh tidak nyana. Tadinya aku mengira penjilat besar adalah nama main-main.
Hanya karena tidak berani dikirim ke mana-mana dan lebih suka menjadi kentut,
makanya gelar itu kauterima. Tak tahunya memang begitu."
"Sudah cukup puas? Kalau sudah, aku akan membunuhmu, agar kau mati
dengan sedikit rasa lega."
Kini boleh dikata semua pertempuran berhenti. Tinggal Senamata Karmuka
yang sedang mendesak Dewa Maut. Semua perhatian tertuju ke arah mereka berdua.
Termasuk Jagaddhita yang merasa bingung karena Gendhuk Tri masih belum juga
bebas dari pengaruh sihir Pu'un.
Kalau orang lain dicaci seperti itu, pastilah sudah murka. Akan tetapi Senamata
Karmuka biasa. Tertawa juga tidak, murka juga tidak. Kalem saja. Gelar penjilat besar,
kentut besar, sudah lama jadi bahan pembicaraan. Bukan hanya di kalangan Keraton,
tetapi juga meluas ke masyarakat Singasari.
Cemooh itu terdengar sejak Baginda Raja Sri Kertanegara banyak mengirimkan
pasukan ke luar Jawa. Iringan demi iringan diberangkatkan. Para senopati dikirim ke
berbagai penjuru tanah Jawa dan ke negeri seberang.
Para senopati yang tingkatnya seperti Senamata, boleh dikatakan semua sudah
dikirim ke luar Keraton. Akan tetapi Senamata Karmuka ini lain. Boleh dikatakan ia
tak pernah meninggalkan Keraton. Ketika terjadi pemberontakan besar, Senamata
Karmuka lebih suka berjaga dalam batas dinding Keraton. Kalau para pemberontak
lari ke luar, itu bukan urusannya lagi. Bahwa Baginda Raja yang gemar mengirim
ekspedisi tidak mengirimkan Senamata Karmuka, itulah awal dugaan adanya
penjilatan besar. Cemoohan seperti kentut, karena sebenarnya justru untuk meledek.
Kentut pun setelah keluar akan menjauh terbawa angin. Sementara Senamata masih
saja ada di sekitar Keraton.
Kalau sekarang ini Senamata Karmuka sampai berada di Perguruan Awan, ini
boleh dikatakan sudah luar biasa. Apalagi disertai dengan empat senopati yang lain.
Pastilah ada peristiwa yang dianggap penting sekali dan segi keselamatan negara.
"Ayo keluarkan semua yang ingin kaukatakan. Aku masih memberi
kesempatan sampai hubungan dua. Dua saja, tidak tiga.
Dewa Maut menyurut dua tindak.
Mengumpulkan tenaga dalam. Memusatkan konsentrasi. Tapi ternyata susah
dikendalikan. Buyar entah terserap ke mana. Sebagian perhatiannya terserap ke rasa
sakit.
"bangs*t tua."
"Dua..."
"Ayo bunuh aku. Biar dunia menyaksikan..."
"Satu..."
Senamata Karmuka mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Seperti mau
menepuk nyamuk. Tapi semua sadar bahwa tepukan itu bisa mencabut nyawa.
"Tunggu, Kisanak..." Terdengar suara lembut. Jaghana maju ke depan sedikit,
memberi hormat dengan menganggukkan kepala. "Kalau saya boleh mengajukan
suatu usul, dan kalau Kisanak masih mempunyai waktu untuk mendengarkan..."
"Apa urusannya orang itu denganmu?"
"Semua manusia adalah saudara kandung. Semua titah Dewa Yang Menguasai.
Lebih dari itu, Niriti adalah tamu saya. Seperti juga kalian semua yang terhormat.
Sungguh tak enak hati saya melihat tetamu harus mati di sini. Maaf, Kisanak, saya
Cuma orang dusun yang kurang mengerti tata krama."
"Hmmm, jadi kau dari Perguruan Awan?"
"Saya tak berani mengatakan ini. Saya hidup di dusun ini. Nama saya Jaghana."
Lagi-lagi Jaghana memberi hormat dengan menganggukkan kepalanya.
Senamata Karmuka mendongakkan kepalanya.
"Seumur hidupku belum pernah aku mengabulkan permohonan orang lain
yang bertentangan dengan kemauanku sendiri. Lalu untuk apa sekarang aku harus
berbuat lain?"
Nada suaranya tetap menggambarkan kecongkakan yang luar biasa. Caranya
mengangkat wajah benar-benar menggambarkan pribadi yang tinggi hati.
"Kematian, seperti juga kelahiran adalah milik Penguasa Tunggal. Kita adalah
hambanya yang kecil dan hina, sama sekali tak berkuasa untuk campur tangan."
"Hmmm. Baguslah itu, Kisanak. Aku memang hanya bisa berbuat hina dan
kecil. Membunuh manusia yang telah melukai orang lain yang sedang ditolong.
Katakan apakah ini juga campur tangan kehendak Dewa yang kausebut-sebut?"
"Saya minta maaf untuk itu. Kesalahan adalah sifat manusia, kekeliruan bisa
kecil bisa besar. Bisa sekali bisa berulang kali. Akan tetapi, jika kita merasakan udara
pagi, berarti kita sadar."
"Itu juga bagus. Tapi aku tetap mau membunuhnya. Kecuali kalau dengan satu
serangan ia bisa membalas, ini sudah nasib baiknya. Kalau dalam satu serangan ini
bahkan bisa melempar racun tikusnya, itulah nasib baikku. Apakah aku tidak cukup
adil?"
"Kisanak... Maukah Kisanak membantu saya? Saya mempunyai satu masalah yang tak
pernah bisa saya selesaikan. Mohon Kisanak memberi petunjuk.*'
Tiba-tiba saja Jaghana bersila di tanah. Helaan napasnya tertahan di dada. Matanya
tertutup rapat. Satu tangan terangkat ke atas, sedang tangan kiri tetap di alas lutut.
Hanya tangan kanan itu yang sedikit tergetar, selebihnya seluruh anggota badan
seperti kosong tak berisi.
Pu'un melongo. Ia tak menyangka sama sekali sikap Jaghana menjadi demikian
hormat. Dan caranya memberi hormat sama persis dengan yang biasa dilakukannya.
Tanpa terasa Pu'un pun mengambil sikap yang sama.
"...Kisanak," suara Jaghana tetap lembut, namun semua yang ada di lapangan bisa
mendengar jelas dan empuk. "Ada satu keluarga yang semua matanya buta. Seorang
suami dengan istrinya, dan dua mertua perempuan. Yang satu ibu si suami, yang satu
ibu si istri. Pada suatu hari mereka berjalan bersama. Si suami buta ini menemukan
barang di jalan. Barang terbungkus itu ketika dibuka isinya adalah tujuh buah mata.
Maka si suami pun memakai dua, si istri memakai dua. Satu diberikan pada
mertuanya, satu lagi diberikan pada ibunya sendiri. Dan masalahnya tinggal satu
mata. Kisanak, kepada siapa seharusnya mata itu diberikan? Kepada ibunya sendiri,
ataukah kepada mertuanya?"
Yang hadir melengak.
"Kenapa jumlahnya cuma tujuh?" Wuragil berteriak gusar. Jagaddhita, walau
merasakan keanehan, akan tetapi tidak mengeluarkan pertanyaan. Ini memang
semacam teka-teki yang biasanya menjadi bagian dari tanya-jawab keagamaan.
Konon, cara menanyakan dan cara menjawabnya dengan sikap seperti yang
ditunjukkan oleh Jaghana dan Pu'un. Sebenarnya juga, ketika Upasara Wulung
menangkap lemparan keris dengan dua tangan tadi, sudah membuat Pu'un heran
setengah mati. Itu persis juga dengan gerakan Tepukan Satu Tangan. Gerakan murni
yang diajarkan dengan tanya-jawab seperti ini. Seperti sekarang ini, hanya
menengadahkan satu tangan saja.
Kalau Pu'un terheran-heran, bisa dimengerti. Karena ia jarang bahkan tak pernah
berkelana. Jarang bersua dengan lawan yang ilmu silatnya bermacam-macam—
namun rasa herannya justru berlipat manakala merasa ilmu silatnya yang murni ada
yang menyamai secara persis. Padahal ini merupakan gerak dasar.
Lain dengan Jagaddhita. Sejak lepas dari Keraton, Jagaddhita selalu berkelana. Ia juga
mendapatkan guru yang bersifat aneh, tapi sangat luas pengetahuannya. Baru
sekarang ia ingat salah satu bagian yang dulu diceritakan. Mengenai ilmu Tepukan
Satu Tangan. Menurut si empunya cerita, ilmu itu datang dari Jambu Dwipa atau
tanah India. Akan tetapi mengalami proses perkembangan yang sangat berbeda; baik
di tanah Kaisar Matahari, Jepang, atau di negara turunan dewa, Cina. Di kedua negara
itu perkembangannya menjadi sangat jauh berbeda. Walau kemungkinan pada
akarnya masih bisa ditemukan persamaan. Jagaddhita masih ingat kalimat gurunya,
"Angin ada di mana-mana. Dhita. Di bukit di sawah, di laut, di dalam gua. Di luar
tubuh dan di dalam tubuh. Tetapi keberadaannya menjadi berbeda-beda. Angin bisa
sejuk. bisa membuat badan sakit, dan bisa menjadi badai. Itulah intisari Tepukan Satu
Tangan. Ilmu itu sedemikian sederhananya, sehingga semua orang yang paling bodoh
pun bisa mengerti artinya. Tapi juga sedemikian sulitnya, sehingga semua orang yang
paling pandai pun tak mampu menguasai sepenuhnya. Sejak lama para empu di jagat
raya ini gandrung mempelajari.
IZRO'IL
SENOPATI PAMUNGKAS I


"Di negeri mana pun, di keraton mana pun, terjadi perebutan dalam mencari
keaslian ilmu itu. Dan tak ada yang mengetahui. Yang menemukan merasa tak berhak
mengatakan. Yang tidak menemukan merasa berhak menyalahkan dan mencaci
bahwa itu semua kabar bohong. Yang menemukan ujungnya saja, merasa berhak
berteriak bahwa dialah yang telah menguasai.
"susah, susah."
"Rama Guru, kalau itu ajaran silat. kenapa para raja di semua negeri ikut ribut
mencarinya? Ataukah ada wahyu sejati?"
"Susah, susah."
"Siapa yang bisa menjawab? Siapa yang membawa kabar? Siapa sebenarnya
Tamu dari Seberang itu? Tak ada yang tahu pasti. Hanya kabar burungnya tersiar
bahwa dalam suatu kurun masa tertentu, murid tunggal Tamu dari Seberang ini
muncul. Tamu dari Seberang ini semacam Ratu Adil yang ditunggu masyarakat.
"Kalau pihak Keraton—tidak di India, tidak di Jepang, tidak di Cina—
mempersoalkan, itu karena dianggap Tamu dan Seberang bakal memberikan wahyu."
"Rama Guru, apakah kita semua menjadi bodoh? Kenapa percaya wahyu itu
berasal dari seseorang dan bukan dari Penguasa Tunggal jagat raya ini? Apakah..."
"Ah... kau tak tahu apa-apa. Bagaimana mungkin kau mengatakan dirimu
sebagai selir terkasih Kertanegara kalau tidak tahu bahwa raja itu pun mempersoalkan
Tamu dan Seberang? Dhita..."
Saat itu sebenarnya Dhita sudah sedikit berdamai dengan Rama Gurunya yang
masih selalu menyembunyikan identitas sebenarnya. Berdamai setelah mengetahui
bahwa Rama Guru memang menyebut nama raja junjungannya dengan enteng saja.
Dan memanggil nama Jagaddhita seperti Baginda Raja dulu memanggilnya.
"Bahkan raja yang kaujunjung setinggi langit itu pun pasti selalu memasang
kuping dengan teliti, kapan Tamu dari Seberang datang. Ia tak mau kehilangan
takhtanya.
"Ia mau Tamu dari Seberang datang padanya. Ia yang paling berkuasa pun
masih ragu. Setidaknya masih perlu berjaga-jaga.
"Dhita, kaukatakan dirimu selir terkasih, masa tidak tahu sejarah yang
diceritakan, bahwa dulu Tamu dari Seberang telah datang ke tanah Jawa, menemui
seorang bromocorah bernama Ken Arok?"
"Kalau mengenai Baginda Raja Ken Arok pendiri Keraton, semua juga
mengetahui tanpa perlu mendengar langsung dari Baginda Raja."
"Lalu apa bedanya kalau semua juga percaya? Apa bedanya Raja dengan rakyat
jelata dalam hal ini? Yang mengancam Keraton bukanlah Tamu dari Seberang, tetapi
Penghuni dari Dalam. Itu yang rajamu tidak mau melihat!"
Kalau sudah berbicara mengenai hal ini, Rama Guru menjadi murka luar biasa.
Bisa selama berminggu-minggu tak mengeluarkan suara lagi. Dan kemudian
menghilang entah ke mana. Lalu muncul lagi, dan memberikan pelajaran kepada
Jagaddhita. Di antara pelajaran yang diberikan itu disinggung juga mengenai
pertanyaan seperti yang diutarakan Jaghana.
Maka kini dengan cukup berdebar-debar Jagaddhita menunggu jawaban
Senamata Karmuka.
Senamata Karmuka menatap ke arah langit. Seakan silaunya matahari tak
menjadi penghalang. Lalu, dengan suara rendah, sambil menahan napas, Senamata
Karmuka bersuara pelan, sangat pelan.
"Suwung"
Terdengar helaan napas bersamaan. Napas berat dari Jaghana dan Pu'un secara
bersamaan. Keduanya dengan cara bersamaan memberi hormat kepada Senamata dan
lalu berdiri kembali.
Kini, giliran Upasara yang merasa bingung. Ini agak aneh. Jaghana menahan
gempuran terakhir pada Dewa Maut dari Senamata, lalu mengeluarkan teka-teki. Dan
Senamata menjawab dengan kata: suwung. Lalu terdengar helaan napas berat secara
bersamaan, dan Jaghana serta Pu'un seperti menyilakan Senamata melakukan
kehendak matinya.
Aneh karena Upasara tidak melihat bahwa Senamata bisa menjawab teka-teki
mata ketujuh harus diberikan kepada siapa.
Suwung itu bisa berani kosong, hampa, sunyi, sepi, Lalu apa hubungannya
dengan teka-teki yang dilontarkan?
"Kisanak yang bernama hebat Dewa Maut, saya tak bisa menghalangi atau
menahan lagi. Barangkali begitulah takdir yang harus dijalani." Dewa Maut meludah
ke tanah.
"Ini baru namanya sandiwara yang paling buruk. Kalian mau main keroyok,
silakan. Kalian mau membunuhku, lakukan saja. Kenapa pakai sandiwara teka-teki
segala macam? Kau kira aku Dewa Maut akan menyembah kalian untuk
memperpanjang umur?"
"Barangkali Senamata yang budiman akan mengampuni Kisanak, kalau
Kisanak mau mengobati Dimas Upasara."
Upasara memang masih merasa sebagian tubuhnya kaku. Bagian sebelah kiri
susah digerakkan. Beberapa kali dicoba dengan meneroboskan hawa dan pusar, tapi
seperti menembus dinding batu yang keras.
"Untuk apa? Bocah itu telah melukai cucuku dan aku melukainya. Siapa yang
masih utang?"
"Omong kosong. Aku justru telah menolongnya." teriak Upasara gusar. "Akan
tetapi jangan harap kau bisa menyentuh kulitku untuk menyembuhkan. Dengan
sekali tiup Pamanda Pandu akan menyelesaikan ini semua. Sekarang pun, kalau kau
maju, aku siap meladenimu. Jangan hanya karena sekali gempur, kau sudah mengaku
kalah. Niriti atau Dewa Maut hanyalah nama kosong belaka. Sebelum ini kudengar
kabar, kau tak bakal meninggalkan lawan tanpa membunuh. Tapi sepagi ini saja sudah
dua pertempuran yang kautinggalkan seperti tikus kampung. Masihkah kau punya
hati lelaki untuk tetapi memakai gelarmu?"
"Bocah ingusan, omonganmu besar. Tak layak kau jadi murid Ngabehi Pandu
yang bisanya cuma membisu. Kalah atau menang dalam pertempuran bukan hal yang
aneh. Kau akan segera mengalami juga. Tetapi kau sungguh kurang ajar mengatakan
aku omong kosong.
"Kau merasa jago dengan mengobati Padmamuka. Itu tandanya kau masih
ingusan. Darah diri tole-ku yang paling cakep berbeda dengan darah kalian semua.
Karena ia melatih ilmu khusus mengenai bisa dan racun ikan sungai. Sehingga ketika
bubuk rumput kauberikan, itu ibarat racun dalam tubuhnya. Kerismu melukai, itu tak
menimbulkan soal. Hanya caramu mencabut yang sembrono menyebabkan ia
teracuni, dan parah.
"Nah, sekarang kau bilang aku omong kosong?"
Upasara melengak. Ia tak menyangka bahwa tubuh Padmamuka berbeda
dengan kebanyakan orang. Dalam tubuh yang hampir seluruhnya beracun, obat
malah menjadi racun baginya.
Hilang dan rasa kejutnya. Upasara menunduk. Ia mengacungkan jempolnya
dengan hormat.
"Maafkan kekeliruan saya. Padmamuka."
Padmamuka meringgis.
"Memang pintar murid Pandu bisu ini. Bicaranya..."
Belum selesai bicara, Dewa Maut sudah diserang. Bagi Upasara tak bisa orang
merendahkan Ngabehi Pandu begitu saja. Apalagi dengan menyebut bisu segala
macam. Meskipun tenaganya belum disalurkan sempurna. Upasara tak bisa menahan
diri.
Dewa Maut juga tidak menduga sama sekali kalau dalam keadaan seperti itu.
Upasara berusaha menyerang. Cari mati juga bukan begitu caranya, pikirnya sekilas.
Anak muda ini benar-benar berangasan, tak bisa diinjak bayang-bayangnya.
Senamata yang lebih dulu bergerak. Tangan kirinya meraup pundak kiri
Upasara dan membetotnya.
"Kalau sudah kubilang aku yang akan membunuhnya, kau jangan turut
campur."
Pundak Upasara seperti tersengat. Ia kaget. Berusaha untuk
mengumpulkankan tenaga sebagai reaksi spontan. Akan tetapi terobosan tenaga
Senamata begitu keras. Dan sorot mata keras Senamata seperti tak ingin dibantah.
Upasara memang cerdas. Ia segera menangkap maksud Senamata. Kau jangan
turut campur, dengan cepat diartikan bahwa ia tak usah melawan tenaga yang masuk.
Benar saja. Rembesan tenaga Senamata bisa leluasa, dan dalam beberapa kejap saja
rasa kaku di bagian tubuh sebelah kiri berkurang.
Senamata mengibaskan tangannya. Upasara terdorong ke belakang agak jauh,
terpaksa berjumpalitan. Benar juga. Bahkan dalam mendorong pun Senamata
memakai perhitungan yang pasti. Sehingga Upasara terpaksa berjumpalitan dan ini
membuat darahnya mengalir lebih cepat. Diam-diam Upasara berterima kasih dalam
hati.
Senamata sendiri setelah selesai mendorong Upasara, tangannya meraih busur
beserta anak panahnya sekaligus dari seorang prajurit. Dengan ketenangan yang
dimiliki, kepala Dewa Maut yang dibidik. Sebelum lawan sadar, anak panah itu sudah
melesat.
Wuragil berseru tertahan. Ia tak menyangka bahwa kekejaman Senamata yang
didengar selama ini benar-benar ada buktinya. Masakan seorang tokoh seperti
Senamata, seorang laksamana, tega membunuh lawan yang terluka dengan membidik?
Berbeda dengan Wuragil, Pembarep mengawasi jalannya panah dengan
waspada. Benar juga perhitungannya. Panah hanya beberapa senti di atas kepala Dewa
Maut, dan langsung lurus ke arah semak. Disusul anak panah kedua dan ketiga.
Dari balik semak terdengar teriakan merintih. Seperti ada orang yang terluka.
Disusul teriakan keras, dan tiga bayangan meloncat ke tengah lapangan. Yang lebih
menarik ternyata bukan tiga bayangan itu saja. Melainkan munculnya puluhan
prajurit dari balik setiap semak. Ternyata sekitar lapangan telah dikepung. Di
kejauhan terdengar sangkakala ditiup keras, lalu terdengar sorak-sorai yang luar biasa
gegap-gempitanya. Dari arah timur malah muncul umbul-umbul, bendera yang
sengaja dikibarkan tinggi-tinggi.
Jagaddhita bisa melihat jelas, akan tetapi seperti tak percaya. Di antara
rombongan yang membawa bendera itu, ada bendera dengan warna dasar kuning dan
simbol lingkaran seekor harimau muda. Itu berarti tanda pengenal seorang pangeran.
Simbol umbul-umbul dengan gambar harimau adalah gambar resmi Keraton
Singasari. Bila pinggiran dilapisi warna emas, itu berarti Baginda Raja sendiri. Akan
tetapi siapa yang datang ini? Siapa yang mengerahkan begitu banyak pasukan ini?
Memang selama ini dalam Keraton banyak sekali jumlah pangeran. Namun
dari sekian banyak ini, tidak semua pangeran berhak mengibarkan umbul-umbul
sendiri.
Hanya beberapa nama saja yang diizinkan mengibarkan dan memiliki umbul-umbul
seperti itu. Yaitu pangeran yang telah mendapat didikan siasat perang dan
mempunyai daerah tertentu sebagai daerah kekuasaannya. Dulu pun, Baginda Raja Sri
Kertanegara memiliki. Karena saat menjadi pangeran pati atau putra mahkota,
Baginda Raja telah memiliki wilayah sendiri, yaitu Daha. Sehingga beliau berhak
memakai umbul-umbul bergambar harimau. Sampai dengan ketika dinobatkan
sebagai raja, Sri Kertanegara masih menggunakan simbol harimau.
Jagaddhita menduga ada sesuatu yang tidak beres. Kalau mereka prajurit dari
Keraton, pastilah Senamata Karmuka mengetahui hal ini. Setidaknya tahu rencana
pengepungan ini. Nah, kalau ini bukan rombongan dari Keraton Singasari, lalu dari
mana? Dan apa maksudnya datang dengan barisan lengkap dengan peralatan perang
seperti ini?
Pembarep menghela napas. Kedua tangannya bergerak. dan Panengah serta
Wuragil mendekat ke arahnya. Pu'un yang sejak tadi berdiam diri, juga mengambil
posisi Dewa Maut mendekat ke arah Padmamuka tanpa ada yang memedulikan.
Senamata Karmuka mendongak ke langit. Pandangannya tertuju ke atas, akan tetapi
suaranya ke arah samping, perlahan.
"Jaga dirimu baik-baik. Kejadian ini tak bisa diramalkan. Jangan pedulikan
orang lain. Ingat, jaga diri baik-baik."
Upasara menunduk hormat
"Terima kasih, Pakde,..."
Sementara itu kepungan sudah makin rapat. Ternyata bukan hanya puluhan,
akan tetapi sudah ratusan. Benar-benar luar biasa. Tempat yang begitu sunyi tiba-tiba
menjadi medan laga yang paling menentukan.
Senamata Karmuka mendekat kembali ke arah tandu. Senopati Suro, Joyo,
Lebur, Pangastuti bersiap-siap melindungi, dengan sisa beberapa prajurit yang masih
ada.
Dari semua yang ada di lapangan, hanya Jaghana dan Wilanda yang
bergeming. Yang satu seperti tidak peduli. yang lainnya sedang sakit
Tiga orang meloncat pertama tadi, berdiri tegak. Mengawasi sekeliling. Dilihat
dari pakaian yang dikenakan. jelas ketiganya bukan prajurit sembarangan. Dilihat dari
cara meloncat yang enteng dan sangat pegas. Ilmu mereka juga tidak sembarangan.
Jagaddhita mengenali mereka sebagai Kawung Sen, Kawung Benggol, dan
Kawung Ketip. Ketiganya dikenal sebagai pemimpin Kelana Bhayangkara. Nama
ketiga pendekar ini pernah mencuat ketika terjadi pemberontakan Cayaraja yang
terkenal. Ketiga bhayangkara Inilah yang berhasil menembus Keraton Singasari yang
terkenal dijaga rapih. Dalam pemberontakan berdarah yang habis-habisan itulah
ketiganva tak bisa dikalahkan. Hanya karena ampunan Baginda Raja, ketiga kawung
dibiarkan bebas.
Mereka meninggalkan Keraton setelah pemberontakan berhasil dipadamkan.
Akan tetapi korban dari pihak Keraton tidak sedikit. Banyak senopati yang terbaik
gugur.
Sejak pemberontakan itu ketiga kawung ini menghilang dari peredaran.
Siapa sangka sekarang muncul lagi dengan membawa sekian banyak prajurit
yang siap perang?
"Atas nama Raja Muda Gelang-Gelang, harap kalian semua berlutut
menerima titah."
Kini baru Jagaddhita sadar. Bahwa rombongan pasukan yang datang mengepung
adalah prajurit dari Gelang-Gelang, yang dipimpin Raja Muda Jayakatwang.
Jagaddhita selama ini mendengar kabar angin bahwa Raja Muda Gelang-Gelang
sedang menghimpun kekuatan besar. Akan tetapi selama ini ketaatan dan kesetiaan
kepada Keraton Singasari tak pernah diragukan oleh Baginda Raja sendiri.
Jagaddhita sedikit tenang hatinya, namun kewaspadaannya dipertinggi. Ia menarik
Gendhuk Tri yang masih terbengong-bengong. Bahkan kemudian meloloskan
selendangnya dan memakainya sendiri.
"Hanya ada satu matahari yang menerangi bumi ini. Hanya ada satu raja yang berhak
memerintah. Maafkan, kalau Prajurit Suro tidak memenuhi peran."
"Selama masih ada pengampunan, gunakan kesempatan. Kalau sudah terlambat tak
bisa diulang lagi." Terdengar suara nyaring, cempreng sangat tinggi. Dalam barisan
muncul seorang lelaki, ada benjolan di bagian punggung. Hidungnya juga tertekuk.
Sepasang matanya kecil bagai biji gabah. Pakaiannya luar biasa indah. Di belakangnya
seorang prajurit siap memayungi: Tangan kanannya diangkat ke atas.
Ketiga kawung itu mundur ke belakang. Lalu gerakan tangan itu berubah menjadi
lingkaran pendek. Serentak dengan itu, barisan prajurit yang mengepung membentuk
barisan lagi. Barisan yang tadinya bergerombol, dalam sekejap sudah berbaris lapis.
Berkeliling, lalu di bagian belakangnya berjajar rapi susun sepuluh. Membentuk
seperti kalajengking. Barisan belakang ini merupakan ekor kalajengking. Yang setiap
saat, sesuai dengan aba-aba, akan berubah menjadi bala bantuan di mana diperlukan.
Benar-benar ekor yang berbisa.
"Apakah kalian mau menjajal sengatan kalajengking sebelum bertekuk lutut?"
"Ular busuk, siasat perang itu hanya untuk menakut-nakuti anak kecil. Kau
mencurinya dari Keraton, untuk apa kau pamerkan kemari?"
"Senopati Suro kau masih jadi prajurit biasa yang menjaga kamar tidur?
Sayang, sayang sekali. Kepandaianmu tidak terlalu menonjol akan tetapi kesetiaanmu
bolehlah. Hanya sayang. Orang seperti kamu itu pantas menjadi Senamata. Aku
tawarkan pangkat itu padamu"
Senopati Suro tertawa bergelak. Nyaring dan keras suaranya. Terbawa oleh
gusar yang bergolak.
"Ular busuk, kau kira kau ini siapa? Menawari pangkat segala macam.
Kau kira setiap orang bisa seperti kamu ini, mengangkat dirinya sendiri dan kemudian
memamerkannya?"
Upasara kini merasa seluruh tubuhnya kembali seperti semula. Dengan
istirahat beberapa saat ia bisa menghimpun tenaganya. Ia merasa siap. Hanya saja kini
ia merasa tidak ingin bertindak sembrono. Setidaknya nasihat Senamata tadi berhasil
mengerem keinginannya untuk langsung menyerbu ke lapangan.
Sebenarnya ini saat yang paling ditunggu oleh Upasara. Selama ini ia hanya
mendengar tokoh yang sekarang dijumpai secara langsung. Dari penuturan Ngabehi
Pandu, gurunya, tokoh ini disebut-sebut sebagai gabungan dari jago silat yang sakti,
akal licik dan culas, ahli siasat perang, pandai berbicara, dan berkuasa.
Nama sebenarnya tak bisa dipastikan yang mana. Ia sendiri menyebut dirinya
sebagai Pujangga Pamungkas. Artinya pujangga terakhir, atau pujangga yang
menyelesaikan segalanya. Oleh Senopati Suro tadi dikatakan sebagai ular busuk. Ular
raksasa yang busuk, dalam bahasa kuno disebut sebagai bujangga. Ini nama ejekan
untuk pujangga. Tetapi ia juga dipanggil sebagai Lembu Ugrawe. Lembu, sebagai
orang yang masih keturunan raja. Ugrawe, jelas adalah sebutan yang sangat
berlebihan. Ugra artinya puncak, ujung, dahsyat, menakutkan. Sedang we artinya
matahari. Sehingga sebutan puncak matahari bagi dirinya sendiri kedengarannya
sangat berlebihan. Ia juga menyebut dirinya sendiri sebagai Panji Wacanapati, alias
turunan bangsawan tinggi yang ahli berbicara.
Namun siapa pun nama dan gelarnya, ia termasuk tokoh yang disegani karena
ilmu silatnya yang diberi nama Sindhung Aliwawar. alias Angin Topan. Menurut
Ngabehi Pandu, selama ini belum ada tokoh yang mampu mengimbangi Sindhung
Aliwawar. "Mungkin hanya Eyang Sepuh yang bisa mengimbangi. Tapi Eyang Sepuh
sudah lama menyembunyikan dirinya di Perguruan Awan dan tidak berniat turun ke
dunia lagi. Sehingga sulit untuk ditentukan siapa yang lebih unggul."
Apa yang berkelebat dalam bayangan Upasara tak jauh berbeda dengan apa
yang dipikirkan Jagaddhita. Ia pun mendengar nama besar ilmu Sindhung Aliwawar
hanya dari penuturan Rama Guru.
"Dibandingkan dengan Rama Guru, ilmu siapa lebih hebat?"
"Ilmu siapa saja sama hebatnya. Tapi manusia busuk itu memang tak bisa
diperkirakan. Rama Gurumu ini pernah bertempur dengannya. Akan tetapi itu sudah
lama berlalu. Dulu saja masih sulit ditentukan pemenangnya; Apalagi sekarang.
Katanya ilmunya maju pesat. Entah apa maunya Dewa Penguasa jagat ini, sehingga
ada manusia seperti itu diciptakan di dunia."
Baru sekarang Jagaddhita melihat sendiri, tokoh congkak yang paling banyak
disebut-sebut.
"Aku memang mengangkat diriku sendiri, Prajurit Kecil Suro. Karena siapa
lagi yang. mampu memberi gelar padaku?
"Hari ini kalian semua berkumpul di sini, sehingga mudah untuk menyelesaikannya.
Tak usah mencari jauh-jauh. Apakah kalian mau berlutut dan minta pengampunan
dari Raja Muda Gelang-Gelang, atau memilih mati?
"Aha. rupanya kau yang menyebar kabar bahwa akan ada Tamu dari Seberang di
Perguruan Awan ini. Aha, akal licik." Jagaddhita berseru heran, dan menyadari bahwa
mereka yang datang ini masuk dalam perangkap yang dipasang Panji Wacanapati.
"Akal licik apa, kalau kalian semua termakan? Untuk menangkap tikus busuk juga
diperlukan umpan kecil yang busuk. Untuk mendatangkan seorang wesya, kan tidak
perlu memakai umpan seorang pendeta?"
Jagaddhita mengeluarkan suara tertahan.
Selendang sampai bergetar. Ia tak nyana bakal dimaki sebagai wesya atau sundal. di
arena begitu luas. Seumur-umur ia selalu membanggakan diri sebagai selir Baginda
Raja. Itu adalah kehormatan terbesar yang membuat hidupnya berarti. Mana mungkin
sekarang ia dianggap sebagai sundal begitu saja?
"Hehehe, kau marah kupanggil sebagai wesya? Kalau bukan, siapa anak kecil itu?
Bisakah kautunjukkan siapa bapaknya? Hehehe, mungkin kau pun tidak mengenali
lagi siapa bapaknya. Bahkan kau pasti tidak berani mengakui bahwa akulah bapak
anak kecil itu."
Kawung Benggol meloncat ke samping. Ia bersiap kalau Jagaddhita langsung
menyerang.
"Untuk apa aku meladeni ucapanmu yang memang busuk itu?"
"Kalau kau bisa menjawab siapa bapak anak itu, aku akan mengampunimu. Mengingat
kemesraan yang pernah kauberikan padaku."
"Oho, rupanya Bapak Ugrawe masih ingat kejadian Syiwaratri yang lalu. Sungguh
suatu kenangan yang manis."
Jagaddhita benar-benar kepepet hingga tak bisa menjawab sepatah kata pun. Bagi
yang mengenal Ugrawe, mungkin menduga bahwa ucapannya main-main belaka.
Meskipun juga tidak sepenuhnya bohong. Tetapi Kawung Benggol seperti memberi
tekanan bahwa ada suatu peristiwa asmara terjadi pada Syiwaratri. Syiwaratri, atau
malam Syiwa, adalah malam hari bulan purnama, tanggal empat belas, yang dianggap
malam kudus bagi Dewa Syiwa.
Melihat Jagaddhita berkumat-kamit tapi tak bisa mengeluarkan kalimat, Kawung
Benggol makin keras tawanya.
"Baiklah, kalau kau sendiri tak menentukan siapa bapak anak kecil ini. Tapi untuk
yang masih berada dalam kandunganmu itu, aku bersedia mengakui. Setidaknya bisa
kudidik menjadi prajurit kelak."
Ugrawe mendengus ringan.
Lupakan sejenak urusan hawa nafsu. Sekarang saat membicarakan negara." Lalu
kembali mendongak ke udara. "Aku telah mengundang kalian semua datang kemari.
Kecuali yang berada dalam tandu, semua yang ada di sun bisa memperoleh
pengampunan.
"Jika kalian semua mau berlutut dan menghaturkan sembah kepada Raja Muda
Gelang-Gelang yang sebentar lagi memerintah di tanah Jawa ini, kalian bisa
memperoleh kedudukan.
"Kalau menolak, tanah ini akan diratakan."
Pembarep menggeser kakinya.
"Nama besar yang selama ini terdengar di penjuru angin. bukan nama kosong
belaka. Hari ini sungguh suatu kehormatan besar saya bisa bertemu. Entah saya harus
menyebut gelar yang mana...."
"Kakang Mbarep. kau terlalu merendah diri. Aku tahu kaulah yang menguasai
Gunung Semeru. Kalau kau ingin bicara, katakan apa maumu. Aku sudi memberi
ampunan kepada semua saja, kecuali yang berada di dalam tandu. Kentut satu itu tak
ada gunanya."
Senopati Suro menggeram keras. Menerjang bersama kuda hitamnya, dibarengi
teriakan nyaring. Senopati Joyo, Lebur, dan Pangastuti pun serentak bergerak. Adalah
suatu hinaan yang luar biasa kepada Baginda Raja yang tak bisa diterima oleh mereka.
Bahwa Senamata Karmuka dibilang kentut atau lebih dari itu, tak akan menjadi soal.
Akan tetapi sebutan itu sebenarnya ada embel-embelnya. Senamata Karmuka dikenal
sebagai laksamana yang setia kepada Baginda Raja. Selalu berada di dekat Baginda
Raja. Sehingga dikatakan sebagai kentut. Tapi ini juga diartikan oleh mereka yang
tidak menyukai Baginda Raja untuk mengatakan Baginda Raja adalah kotoran.
Hubungan "kentut dengan kotoran", adalah hubungan yang sangat dekat. Maka bisa
dimengerti kalau Senopati Suro murka.
Kali ini, empat senopati tangguh maju secara serentak. Dari empat penjuru
langsung mengurung. Kawung Benggol yang sudah bersiaga, langsung memapak
Senopati Suro. Tidak kepalang tanggung. Kawung Benggol meloncat ke atas punggung
kuda. Satu tangan menjitak ke arah kepala. satu tangan merebut kendali kuda. Meski
ilmunya tidak termasuk kelas satu, Senopati Suro juga bukan jagoan yang baru lahir.
Apalagi bersatu di atas kuda hitam yang sudah merupakan bagian dari tubuhnya.
dengan mendadak saja Senopati Suro menyepit perut kuda dan menarik keras tali
kekangnya. Kuda hitam yang tengah meluncur, tiba-tiba berhenti mendadak. Kedua
kaki depan terangkat ke atas. Dan Kawung Benggol yang sudah berada di atas harus
berhadapan dengan tendangan kuda. Meliuk dan samping, Kawung Benggol memutar
gerakan tubuhnya. Kim dua tangan langsung mencekik ke arah Senopati Suro. Tapi
senopati yang punya banyak pengalaman ini menjatuhkan tubuhnya ke samping.
Dengan cepat berputar di bawah perut kuda! Lewat bagian bawah! Dengan tetap
menyepit perut kuda, kaki Senopati Suro menjadi poros untuk berputar.
Dengan sangat cepat sudah muncul lagi. Dan tubuh Kawung Benggol yang
menubruk ruang kosong bisa dipukul dari belakang. Sebenarnya itu juga tidak perlu.
Karena justru Senopati Lebur sudah mengayunkan gadanya dari samping.. Tak ampun
lagi Kawung Benggol harus menangkis dengan dua tangan kosong.
Di pihak lain, Kawung Ketip berteriak gusar dan mengayunkan rantainya, sementara
Kawung Sen yang bersenjatakan jala juga menerjang dengan jala tertebar. Dalam
sekejap saja pertempuran sudah berlangsung seru. Kalau pada terjangan pertama,
Senopati Suro boleh dibilang unggul, kini mereka berempat harus memusatkan
perhatian seluruhnya; Itu pun belum mencapai ke arah Ugrawe.
"Baik. Kalau kalian memilih pertempuran."
"Tunggu," teriak Jagaddhita nyaring. Ia langsung meloncat menghadang
Ugrawe yang siap memberi aba-aba untuk serangan total. Jagaddhita mencoba
menghadang. Salah satu cara hanyalah dengan mendesak Ugrawe. Karena ia berpikir
bahwa posisi lawan jauh lebih menguntungkan. Sedangkan Ugrawe sendiri, masih
teka-teki siapa yang bisa menghadapi dengan imbang. Barangkali hanya Senamata
Karmuka yang bisa menghadapi. Itu pun belum tentu bisa menang. Kalaupun bisa,
diperlukan pertempuran yang lama dengan kemungkinan besar dua-duanya luka
parah. Sementara pihak lawan terdiri atas banyak sekali pasukan. Seratus bisa dibikin
binasa, yang lain masih ada. Sedangkan di pihaknya sendiri, mereka' tidak merupakan
kesatuan dengan tujuan yang sama. Sementara beberapa orang sudah terluka. Dewa
Maut, Padmamuka, Wilanda tak bisa berbuat apa-apa. Pu'un juga tak bisa diharap.
Belum dihitung bahwa Gendhuk Tri bisa membahayakan dirinya sendiri.
"Kau mau bergabung bersama kami?"
"Tentu, kalau kau bisa mengalahkan kami secara ksatria."
"Hehe, kau kira aku begitu bodoh? Di sini jelas sekali aku menang pasukan.
Dengan mengandalkan mereka ini saja, kalian semua bakal bisa diringkus. Untuk apa
aku pedulikan tata krama? Untuk apa perlu mengalahkan kalian seorang demi
seorang?"
"Licik. Kau sengaja memancing kami datang ke Perguruan Nirada ini, dan
menunggu kami bertempur...."
"Licik itu apa? Mulia itu apa? Aku ingin mengembalikan takhta kepada yang
berhak. Kenapa kau tidak menyebut Ken Arok licik? Kenapa kamu tidak mengatakan
Ken Arok menurunkan raja-raja perampok di tanah Jawa ini?
"Hanya rakyat kecil yang tak tahu apa-apa mempersoalkan licik atau mulia.
Hanya mereka yang tak tahu yang bisa menuntut macam-macam. Aku sudah berbaik
hati untuk mengampuni. Akan tetapi kalian memilih jalan bunuh diri. Aku hormati
pendirian kalian. Keraton yang akan kubangun nanti tidak membutuhkan pendekarpendekar
seperti kalian.
IZRO'IL
SENOPATI PAMUNGKAS I


"Makanya, sekarang ini juga, yang ada di sini dan tak menganggap raja kepada
Raja Muda Gelang-Gelang, akan kubasmi."
Ugrawe menarik suara dari hidung dengan keras. Lalu tangannya bergerak,
meraup bendera kecil di tangan salah satu prajurit. Cara meraupnya tanpa
meninggalkan tempat. Hanya mengandalkan tenaga mengisap. Dan prajurit yang
memegang bendera seperti terperanjat, tapi tahu-tahu apa yang dipegang sudah lepas
dari tangannya.
Jagaddhita terkesima. Pameran tenaga dalam yang luar biasa. Penguasaan yang
sempurna. kagetnya berubah ketika dari gerakan bendera ini, diikuti suara genderang
dan sangkakala, gerak pasukan berubah. Kalau tadi menunggu saja, kini semua
bersiap. Barisan panah yang mengepung sudah langsung memasang anak panah di
busur dan siap membidik.
Satu gerakan lagi dari Ugrawe, terjadilah keroyokan massal.
Jagaddhita meloncat ke belakang. Mendekati Gendhuk Tri, dan sekali gerakan
mendudukkan Gendhuk Tri dalam gendongan. Dua pasang selendangnya dilepaskan.
Siap untuk melindungi diri dan menyerang.
"Tugas lebih penting ada di Keraton. Kembali!"
Terdengar teriakan menggeledek sangat keras. Ujung-ujung pohon jadi
bergoyang karenanya. Sisa-sisa burung yang masih bertahan di ujung ranting bagai
disentakkan. Sebagian sempat terbang, sebagian kecil yang lain jatuh ke tanah.
Teriakan itu ternyata untuk memerintah keempat senopati yang masih
berkutat dengan ketiga kawung. Senopati Suro-lah yang pertama menyentak kuda
hitamnya dan sekali lagi menerobos maju, sepertinya mau menerjang lurus ke depan.
Kuda hitamnya meringkik panjang, memutar badannya, dan kaki belakangnya
menyentak dengan keras.
Kawung Sen, yang paling rendah kepandaiannya dibanding kakak-kakak
seperguruannya, tetapi juga paling ganas, bukannya menyingkir. Ia memasang kudakuda
untuk menangkap tendangan kuda! Keras lawan keras! Senopati Suro memukul
lewat udara dengan keras sambil meloncat ke atas. Pukulan dari atas lebih sulit
ditangkis kalau tengah menangkis tendangan kuda. Tetapi Kawung Sen cukup sebat.
Begitu menangkap dua kaki kuda sekaligus, kekuatannya dikerahkan dan serentak
dengan itu tenaganya dipusatkan, dan badan kuda itu seperti berputar arahnya!
Hebat tenaga Kawung Sen ini. Kalau ia menangkap ekornya-ia bisa melakukan
itu kalau cukup cerdik-dan membetotnya. sehingga kuda jadi kehilangan
keseimbangan, masih bisa dimengerti. Akan tetapi ini langsung main tangkap kaki
dan mengayunkannya.
Senopati Suro berhasil mundur. Diikuti oleh ketiga senopati yang lam.
Bersama para prajurit mereka melindungi tandu. Keempat prajurit mengangkat tandu.
Ketika itulah aba-aba penyerangan diberikan oleh Ugrawe. Serentak dengan
itu, puluhan anak panah terbang berurutan, teriakan para prajurit, tombak, pedang,
obor api, ringkik kuda terdengar bersamaan. Dan dengan satu tutulan sangat ringan,
Ugrawe langsung memimpin pertempuran sendiri. Yang diserbu pertama kali adalah
tandu.
Upasara meloncat maju ke arah Wilanda yang masih duduk di tanah. Kainnya
dilepaskan dan diputar sangat kencang untuk memayungi dirinya dan Wilanda.
Pandangannya masih sempat melihat bagaimana Ugrawe menyerbu ke arah tandu.
Kalau yang lainnya menggunakan ilmu meringankan tubuh, Ugrawe berbuat lain. Ia
berlari di alas kepala para prajurit Gelang-Gelang. Caranya meloncat dari satu kepala
ke kepala yang lain, nampak enak sekali. Padahal jaraknya tidak sama. Yang luar biasa
adalah bahwa nampaknya para prajurit sendiri yang diinjak kepalanya merasa tidak
dibebani apa-apa. Geraknya tidak terhalang karenanya.
Sisa prajurit Keraton Singasari dengan sigap menahan dan segera terjadi
pertempuran.
"Mundur jauh." Senopati Suro memerintahkan dengan suara keras. Ia sendiri
langsung maju memapak. Dengan dua tombak rampasan dari kiri-kanan, ia langsung
menusuk ke depan. Senopati Lebur sekali lagi mengayunkan gadanya dengan menebas
dari samping. Senopati Joyo yang menggunakan gada menggebuk dari arah yang
berlawanan. Dua pedang pendek di tangan Senopati Pangastuti menghunjam ke arah
badan lawan.
Dari satu gebrakan yang dilakukan secara bersamaan, banyak sekali perbedaan
dan sifat-sifat penyerangan. Walau dasar gebrakannya sama, akan tetapi tombak,
gada, dan pedang pendek berbeda sifatnya. Ugrawe memperdengarkan suara ejekan di
hidung, dengan tangan kosong ia menangkis dua gada yang datang bersamaan. Lalu
membiarkan bagian pinggangnya ditusuk oleh tombak Senopati Suro.
Terdengar suara keras, dua gada terlepas ke udara!
Bahwa ilmu kebal bisa untuk menahan diri sudah banyak yang tahu. Tapi ilmu
yang dipamerkan Ugrawe memang luar biasa. Dua gada yang diayunkan dua senopati
tangguh ditangkis oleh tangan kosong. Satu tombak yang membentur pinggangnya
dibiarkan saja. Hanya ketika Senopati Pangastuti menusuk pendek, Ugrawe
menghindarkan diri-. Menggeser kedua kakinya ke belakang lalu meloncat di kepala
salah satu prajurit untuk pijakan, langsung menyerbu ke arah para prajurit yang
membawa lari tandu.
Senopati Joyo sempat kaget karena gadanya terlepas dari tangan kanan. Namun
tangan kirinya masih sempat menangkap dan mengayunkan ke belakang. Senopati
Lebur juga mengayunkan dengan cara yang sama. Begitu juga Senopati Suro
mempergunakan dua tombak untuk mengayunkan tubuhnya. Bagai peloncat dengan
galah, tubuhnya menyerbu ke arah bayangan Ugrawe yang berkelebat. Cepat sekali
Senopati Suro bergerak, akan tetapi Ugrawe bergerak lebih cepat lagi. Dua prajurit
yang membawa tandu bisa direnggut bahunya dan dengan sekali gebrak, dua tubuh
itu terlontar ke dalam tandu.
"Kentut bau, keluar. Sambut kedatangan pencabut nyawamu..."
Belum selesai kalimatnya, Senopati Suro sudah datang. Dua tombak
dilemparkan dengan keras dari udara. Tombak yang tadi dipakai untuk meminjam
tenaga melompat, kini dipakai untuk menyambit. Tanpa menoleh ke belakang,
Ugrawe menggerakkan tangan ke belakang. Dua tombak diraup sekaligus! Lalu
ditimpukkan balik. Senopati Suro tak kepalang herannya. Kalau ia mendengar Ugrawe
tokoh yang disegani, tidak juga sehebat ini. Hanya kebetulan dua gada senopati yang
melayang menolong dari kemungkinan luka parah. Dua gada menyampok dua
tombak- Begitu hinggap di tanah, Senopati Suro harus melepaskan diri dari keroyokan
para prajurit Gelang-Gelang. Meskipun mereka ini prajurit terdidik, akan tetapi
tingkat kepandaiannya masih jauh di bawah para senopati. Hanya saja karena
jumlahnya banyak dan seperti bertarung kesetanan, memerlukan waktu untuk
menghadapi. Dan sementara itu terjadi, Ugrawe sudah membunuh dua pembawa
tandu yang lain.
Senopati Pangastuti menggerung pendek. Berbeda dari senopati yang lain,
Pangastuti tidak meloncat maju atau menyambitkan pedang pendeknya. Ia menerjang
tanpa tergesa.
Dan justru anehnya, Ugrawe selalu melengos setiap kali menghadapi serangan
Senopati Pangastuti. Tidak langsung menghadapi keras lawan keras. Ugrawe
menyamping. Dengan mengempos kekuatannya, dua tangannya bergerak bersamaan,
menjulur ke depan, lalu tiba-tiba dibalikkan lagi. Tenaga mengisap! Tandu seperti
bergoyang-goyang sebelum terangkat ke atas, dan dengan kecepatan tinggi tandu
terus terangkat ke atas. Ugrawe berseru keras. Satu tangan terbuka menahan. Dan
seperti ada tenaga penghubung, tandu itu tertahan di angkasa. Satu tangan bergerak
melontarkan pukulan. Terdengar suara "brak" keras sekali. Tandu hancur berkepingkeping.
Akan tetapi tandu ternyata kosong!
Ke mana Senamata Karmuka? Tipu daya apa yang dikeluarkan. keempat
senopati pun berusaha melindungi?
Ugrawe berteriak keras. Sekali lagi ia meloncat di antara kepala prajurit
Gelang-Gelang. Kali ini arah dan sasarannya bukan menyerbu ke arah musuh akan
tetapi kembali ke tempat semula. Pikiran Ugrawe cepat bekerja: pada situasi seperti
ini, Senamata Karmuka pasti lebih dulu menyerang ke arah pusat. Ia berarti langsung
menyerang ke arah kemah Raja Muda Gelang-Gelang. Ini merupakan salah satu cara
untuk menghentikan pertempuran dengan cepat. Karena kalau pucuk pimpinan
tertinggi ditawan, apa lagi yang bisa dilakukan. Maka Ugrawe langsung menuju tandu
utama. Barisan prajurit pengawal utama dilewati begitu saja.
Di depan tandu, Ugrawe berjongkok menghaturkan sembah.
Tirai tandu terkuak sedikit.
"Ada apa, Paman Guru?"
Ugrawe menyembah untuk kedua kalinya.
"Junjungan dalem, Senamata Karmuka untuk sementara bisa meloloskan diri.
Harap Paduka tidak keluar dari tandu."
Tirai tandu tertutup lagi.
Ugrawe menghaturkan sembah. Berdiri lagi. Matanya mengawasi sekeliling.
Ke arah pengawal utama. Mendadak saja tangan Ugrawe bergerak. Salah seorang
pengawal seperti terisap ke depan. Tubuhnya bergerak maju tanpa bisa dikuasai.
Ugrawe menyentak keras. Tubuh itu melayang ke arah Ugrawe dan dengan sentakan
berikutnya, tubuh itu terbanting ke tanah. Pandangannya melotot, dan napasnya
telah putus. Ugrawe bisa membunuh tanpa menyentuh.
Pengawal utama yang lain berteriak kaget.
"Kentut itu pasti menyusup kemari. Kalau ada yang sedikit mencurigakan,
akan kubunuh kalian semua." Ugrawe menatap sekitar.
Para prajurit utama jadi bergetar hatinya. Wajah mereka pias. Dalam masalah
seperti ini, Ugrawe memang selalu langsung bertindak cepat. Masih sekarang ini mau
menjelaskan alasannya.
Sementara itu Pembarep mulai terjun ke arena peperangan. Begitu melihat Upasara
bergerak melindungi Wilanda, Pembarep langsung meloncat maju. Ia menutup
serangan, sekaligus juga serangan ke arah Padmamuka dan Dewa Maut.
"Anakmas Upasara, biar aku yang tua di sini."
"Sembah bekti, Paman...."
"Bergabunglah bersama Jagaddhita. Paman tua ini masih bisa mengajak mereka
mundur."
Panengah dan Wuragil juga berbaris bersama. Ketiganya menjadi perisai utama.
Wilanda digotong oleh Jaghana dan Padmamuka digotong oleh Dewa Maut.
Keduanya berjalan mundur, sementara Tiga Pengelana Gunung Semeru melindungi
dalam bentuk lingkaran.
Upasara melejit maju ke depan, menghindari bantuan prajurit Gelang-Gelang yang
terus maju merangsek. "Bibi...*
"Wulung ..," sambut Jagaddhita, yang tiba-tiba akrab dengan Upasara. "Kalau kau bisa
kembali ke Keraton, sangat baik sekali. Serahkan semua ini pada bibimu...."
Empat ujung selendang Jagaddhita bergerak bersamaan ke arah empat penjuru, dan
empat prajurit lawan langsung terjungkal dengan memegangi matanya. Sekali lagi
bergerak, empat lagi memegangi matanya. Dari sana mengalir darah.
"Cari jalan lain, Wulung. Jangan pedulikan yang lain." Kawung Ketip berteriak
pendek sambil menerjang ke arah Jagaddhita dan mengayunkan rantainya. Sekali
sebat rantainya menggulung, melipat, dan sekaligus menyentak dua ujung selendang
Jagaddhita. Karena selendang itu masih dililitkan di tubuhnya, tak urung Jagaddhita
tertarik ke depan. Tapi justru dengan itu, dua ujung selendang yang lain menusuk ke
arah Kawung Ketip. Berubah bentuk selendang menjadi semacam tombak, Kalau lurus
menusuk. Dengan tangan kiri Kawung Ketip berusaha menangkap dua ujung
selendang sekaligus. Dan juga membetotnya. Karena dua tangan sudah digunakan
bersama, Kawung Ketip tak mungkin menahan serangan berikut dan dua tangan.
Yang serta-merta mengarah ke bagian jakun sedikit ke atas. Kawung Ketip adalah
pemimpin ketiga kawung. Bahwa ia paling jago, sudah banyak yang mengetahui.
Bahwa Jagaddhita berusaha menggebrak dengan jurus-jurus yang berbahaya, juga bisa
dimaklumi. Melawan seorang pemberontak, tokoh-tokoh Keraton memang tak kenal
kata kasihan atau ampunan.
Melihat serangan begitu nekat, Kawung Ketip mengerahkan seluruh tenaga
dan membetot luar biasa. Tubuh Jagaddhita terayun ke udara. Inilah yang tak
diperhitungkan oleh Kawung Ketip. Kelebihan Jagaddhita justru mempermainkan
antara tenaga yang keras dan tenaga yang lemah. Gerakan selalu bisa diubah dengan
sekehendak hatinya. Senjata selendang warna-warni juga bukan sekadar hiasan.
Dalam pertempuran, selendang itu jika terkena sinar matahari memantulkan aneka
cahaya yang aneh. Yang bisa mempengaruhi konsentrasi lawan. Namun lebih dari itu
semua, selendang ini juga bisa diloloskan dengan sekehendak hatinya. Ketika ditarik
tadi, Kawung Ketip menduga bisa menguasai lawan. ternyata hanya selendang saja
yang bisa dibetot. Selebihnya. tubuh Jagaddhita terus menerjang ke arahnya. Kawung
Ketip menangkis dengan pergelangan tangan. Satu sentilan halus cukup membuat
pergelangan Kawung Ketip kesemutan, dan Jagaddhita merampas kembali
selendangnya. Sekali lagi keempat selendang berkibar di udara sebelum menutup
wajah Kawung Ketip. Kawung Ketip mengimbangi dengan ayunan rantai ke arah
pinggang. Kalau sabetan mengenai sasaran, dengan sekali sentak. Jagaddhita bakal
menjadi boneka mainan yang dibanting hancur.
Diam-diam Jagaddhita memuji kegesitan lawan. Dalam menghadapi serangan,
ternyata Kawung Ketip tidak berusaha bertahan sepenuhnya. Justru bertahan dengan
balik menyerang.
Sementara keduanya masih terlibat dalam pertandingan, Gendhuk Tri jadi tak
ada yang mengawasi. Gadis kecil ini masih terbengong-bengong tak bereaksi, ketika
Pu'un datang kepadanya dan langsung mengepit. Belum sempurna kakinya menotol
bumi, Kawung Benggol sudah datang menyapunya. Kawung Benggol dalam gebrakan
pertama kena dipecundangi Senopati Suro, sehingga kedua tangannya kena pukulan
gada senopati yang lain. Makanya kini melakukan serangan dengan kaki.
Pu'un tak menghindar. Justru memapaki kaki dengan kaki. Dua tulang beradu
keras. Lalu disusul dengan dua-tiga tendangan berikutnya. Pu'un terus merangsek
maju. Ketika Kawung Benggol terdesak, Pu'un tidak melanjutkan serangan, akan
tetapi melarikan diri ke arah lain. Bagi Pu'un tujuannya hanya satu. Mendapat
keterangan mengenai Tamu dari Seberang.
Ia tak terlibat dengan masalah pemberontakan apa segala. Maka juga tak berniat
membunuh lawan. Asal bisa memperoleh Gendhuk Tri sudah lebih dari cukup.
Pu'un tidak menduga justru ketika ia melompat itulah ia masuk dalam
perangkap. Karena Kawung Sen sudah menebarkan Jala.
"Oho, mau ke mana kau, orang hutan?"
Jala itu terbuat dari tenunan sutra yang ulet. Maka begitu kena dijala, Pu'un
tak bisa bergerak. Ia benar-benar seperti seekor burung besar yang terjerat. Tak bisa
bergerak apa-apa.
Kawung Sen menendang bagian pantat sambil tertawa-tawa.
"Gadis itu bagianku. Bukan bagianmu."
Pu'un tak bisa berbuat sesuatu apa.
"Lihat. Aku akan mengencingimu. Biar kau mandi di sini."
Kalau ini benar-benar terjadi, entah di mana lagi Pu'un bakal menatap dunia.
Sebagai pendekar yang diandalkan dari asalnya, sebagai seorang ksatria, mana bisa
dimandikan di tempat terbuka seperti ini dengan air kencing?
Mati dalam pertempuran, bukan soal. Kalah dalam pertandingan, masih bisa
diterima. Akan tetapi dihina seperti ini, sungguh sangat memalukan. Pu'un berpikir
untuk menggigit putus lidahnya. Lebih baik mati sebelum dihina. Kalau bisa, ia akan
mengetok kepalanya sendiri. Tetapi diringkus dalam jala, menggerakkan jari pun sulit.
Dan Kawung Sen benar-benar membuka kainnya.
Tapi urung. Karena telinganya mendengar desir yang keras menuju ke arah
bagian tubuhnya yang sangat peka. Tangannya bergerak menangkap ke arah desiran
dan dengan cepat mengembalikan ke arah sumber suara. Upasara menangkap dengan
giginya.
Yang dilemparkan tadi adalah kancing baju, yang dilepas dari surjan yang
dikenakan.
"Baik kalau kau juga ingin dimandikan." Kawung Sen mengerahkan tenaga dan
mulai melancarkan pukulan. Upasara berdehem kecil. Ia sama sekali tak gentar
menghadapi Kawung Sen, yang baru saja membuktikan kekuatan tenaganya
membalikkan seekor kuda. Pukulan yang datang disambut dengan dua tangan yang
berusaha menjepit. Kawung Sen mengganti dengan gerakan sapuan kaki, akan tetapi
sekali ini Upasara tak menggeser kakinya. Dua tangan yang terjulur lurus berubah jadi
menjepit ke arah kepala.
"Nekat juga anak kecil ini," teriak Kawung Sen.
"Yang begini masih perlu mandi sendiri."
Keduanya berhadapan. Berdiri sama tegak. Di antara ketiga kawung, Kawung
Sen paling suka berlagak dan memamerkan kekuatan. Sikap yang rada congkak ini
sama dengan Upasara Wulung. Jenis permainan keduanya dengan cara menyerang
juga sama. Pola menyerang yang sama-sama terbuka.
"Ini baru hebat. Sekarang aku ketemu lawan. Sayang usiamu masih muda.
Kalau kau mati sekarang, kapan lagi aku mempunyai mainan?"
"Sama saja, jika kau mati dulu, aku tak bisa memandikanmu."
"Boleh juga mulutmu. Siapa gurumu?"
"Kawung Sen, dengarlah baik-baik agar kau tak kecewa kukalahkan. Guruku
adalah majikan utama Lembu Ugrawe. Ketika Lembu Ugrawe masih ingusan dan
hampir mati karena kelaparan, salah seorang pelayan guruku menolong nyawanya.
Nah, kini kau sudah cukup mendengar?"
"Bagus. Bagus. Aku suka lelucon seperti ini. Mari kita jajal lagi. Kau pakai jurus
apa itu tadi?"
"Dalam sekejap melihat, mestinya kau sudah tahu. Masakan pakai bertanya
segala macam."
"Wah, ini repot. Kalau menghafal nama jurus, siapa yang bisa ingat? Setiap
orang bisa memberi nama sendiri-sendiri. Tapi kalau dilihat dari gerakanmu, jelas kau
berasal dari Keraton Singasari. Kau mungkin tidak tahu bahwa aku sudah masuk ke
Keraton."
"Tentu aku ingat. Masakan kau lupa siapa yang memberi ampunan padamu
ketika itu?"
"Boleh juga. Makin lama lidahmu makin tajam."
"Lembu Ugrawe belajar bicara dari mana kalau tidak dariku, sehingga berani
membuka mulut lebih lebar?
"Sebenarnya aku enggan melawan tukang jala. Tentu karena kau yang maju
kemari, apa boleh buat."
Upasara mencabut kerisnya.
"Aku tidak suka kau main keris. Tangan kosongmu tadi aneh. Itu yang lebih
menarik. Ayolah, kau jajal dengan tangan kosong yang menjotos lurus. Soal keris kita
lupakan."
Upasara melirik ke arah Pu'un dan Gendhuk Tri.
"Baik, aku buang senjata ini."
Upasara melemparkan kerisnya ke tanah. Yang dituju adalah pinggiran jala.
Keris itu mengenai simpul hingga amblas ke tanah. Tapi, barangkali belum bisa
memutuskan tali jala.
"Tak mungkin kau bisa memutuskan jala itu. Dibakar pun tak bisa."
"Tapi tak adil kalau kau tidak memakai senjata."
"Kau sendiri bakal menyerang dengan tangan kosong. Justru tidak adil kalau
aku memakai senjata."
"Justru menjadi adil. Aku tertarik dengan gerakan jala, sedang kau tertarik
tangan kosong. Makanya cukup adil kalau kau- menyerang dengan jala dan aku
menghadapi dengan tangan kosong. Kita bisa mendapatkan jawaban rasa ingin tahu."
"Tapi jalaku cuma satu."
"Lepas saja lebih dulu. Apa susahnya untuk menangkap lagi? Bukankah dengan
sekali tebar kau bisa menangkapnya?"
"Masuk akal juga."
Kawung Sen langsung mencabut keris Upasara dan mengembalikan. Tak
memedulikan bahwa Upasara bisa menusuk dengan sekali sabet. Tapi Upasara tidak
melakukan itu. Ia menunggu.
Dengan sekali sentak di bagian simpul, jala itu melebar lagi. Dan sekali kebut,
Pu'un serta Gendhuk Tri terbebas dan jerat.
"Ayo sekarang kita mulai."
"Baik. silakan mulai."
Tidak adil. kau yang muda menyerang lebih dulu."
"Tidak adil juga. Kalau begitu kita hitung sampai tiga. Kita sama-sama
menyerang."
"Boleh juga."
Sementara Upasara bersiap dengan hitungan, begitu juga Kawung Sen, Pu'un
berdiri tegap. Di kepalanya berputar seribu satu pikiran. Ia merasa jago, dan
sesungguhnya memang jago, akan tetapi sekali kena jala, tak bisa bergerak. Bahkan
hampir saja mendapat kehinaan total. Tak habis pikir bagaimana justru sekarang
Upasara Wulung yang tak dikenal membebaskan ia.
"...tiga"
Sebat sekali Kawung Sen menebarkan jala. Upasara bukan menghindar dengan meloncat mundur, sebaliknya ia malah maju. Dengan dua pukulan lurus seperti tanduk banteng. Harus diakui bahwa dalam soal pertempuran seperti ini, Upasara jauh lebih cerdik dari Pu'un yang jalan pikirannya sederhana. Upasara boleh dikata mengenal segala macam rangkaian serangan yang banyak macam ragamnya. Serta mempunyai persiapan bagaimana menghadapi. Dengan melihat bahwa sekali gebrak, Pu'un bisa dijerat, Upasara tak akan meladeni dengan menghindar. Ruang gerak yang luas makin memungkinkan jala lawan meringkus dirinya. Maka sebagai gantinya, Upasara mendesak maju. Jalan pikirannya adalah bahwa lawan tak mungkin memainkan jala dalam jarak dekat. Kecuali kalau ingin menjala dirinya sendiri
"Apa nama jurus ini?"
"Menutup Langit"
"Kau tidak tanya aku?" Sambil terus berbicara keduanya terlibat dalam pertempuran.
"Apa?"
"Banteng Ngore."
Kawung Sen berteriak seperti disengat kala. Tak pernah dalam hidupnya ada nama begini aneh. Banteng Ngore? Jurus apa pula ini? Soal gerakan banteng, ia yakin. Penamaan itu tepat. Akan tetapi dengan tambahan ngore, jadi lain sekali. Kawung Sen menarik pulang jalanya, sementara tubuhnya sendiri melayang ke atas. Pegas sekali sentakannya. Sekilas saja, ia bisa berada di atas jala yang siap mengurung Upasara.

________________________________________
Episode 2

Kalau tadinya Upasara meminta lawan menggunakan jala, itu semata-mata
taktik agar Kawung Sen melepaskan Gendhuk Tri dan Pu'un. Tetapi tidak mengira
sama sekali bahwa Kawung Sen jam" luar biasa. Jala itu sudah menyatu dengan
dirinya. Tak ubahnya Senopati Suro dengan kudanya.
Upasara sempat melihat bagian ujung simpul jala, Bagian itulah yang langsung
direbut lebih dulu. Jadi kalaupun kena jala, tak mungkin bisa dijerat.
"Boleh juga."
Kawung Sen mengedut jalanya, hingga jadi menyimpang dan bergulung bagai
tambang. Upasara bisa menduga arah gerakan lawan. Sebelum jala tertebar ia lebih
dulu meloncat di antara prajurit Gelang-Gelang. Ia pasti akan merepotkan Kawung
Sen. Ia toh bakal repot menjala salah seorang di antara begitu banyak orang. Dengan
cerdik Upasara menggunakan prajurit Gelang-Gelang untuk perisai.
"Awas leher. Ini serangan banteng yang mengutamakan menyerang secara
total. Dua tangan ini berfungsi sebagai tanduk. Tapi mesti diperhatikan juga bagian
lambung. Serangan ini variasinya cuma sekitar lambung ke atas. Jangan dilawan,
hadapi dengan kekuatan yang lebih besar.
"Bagus.
"Awas yang berikutnya. Punggung sebelah kanan. Bedanya dengan banteng,
mereka binatang yang tak mungkin mengubah letak tanduk. Pada manusia bisa. Ouit,
kenapa kaki saya yang diserang. Kaki banteng adalah kuda-kuda yang terkuat-
"Bagus, tarik. Ganti yang lain. Ayo gunakan jala. Kekuatanmu di jala. Tanpa
jala sama saja tidak bertempur. Seperti bohong-bohongan saja. Tebarkan."
Bagi Upasara bertempur sambil berbicara bukan hal yang sulit. Ia bisa
memecah perhatian dengan baik. Apalagi memang kelebihannya justru dalam
berbicara. Dalam sepuluh gebrakan berikutnya, Kawung Sen tercecer. Hanya bisa
menangkis sambil terus mundur.
"Awas Banteng Noleh."
Persis seperti banteng menengok, Upasara memutar dua tangan dengan
gerakan kaku. Dalam bingungnya Kawung Sen menjajal tenaganya untuk diadu.
Dalam saat yang bersamaan, lututnya kena digempur. Tanpa bisa berdiri lagi, Kawung
Sen tertekuk ke depan. Usahanya terakhir ialah menjerat lawan dengan jala. Di atas
angin, Upasara bisa membalikkan gerakan jala itu menutup dirinya sendiri.
Kawung Sen terkurung dalam jala.
"Nah, bagaimana kalau kau kumandikan?"
"Bagus, aku menyerah kalah. Tetapi bagaimana mungkin ada jurus Banteng
Ngore?"
"Ada saja. Justru itu yang menarik. Selama ini kau pasti hanya mengenal Bango
Ngore, Gagak Ngore, atau paling jauh Jaran Kore. Memang hanya sejenis burung yang
bisa menisik bulu-bulunya. Tetapi banteng kan juga bisa!"
"Bagaimana mungkin?"
Upasara melepaskan jala.
Kalau badannya gatal, banteng cukup menolehkan kepalanya.
'Bagus. Bagus. Hari ini aku tambah pelajaran lagi.
"Kita akan bertemu lagi. ... , , ,.
Upasara berjalan ke depan. Kawung Benggol menyerbu, menghadang di
"Biarkan dia, Kakang," suara Kawung Sen terdengar berat. "Biarkan
Upasara berlalu." . . .
Kawung Benggol menggertakkan kakinya ke tanah, saking kesalnya. Upasara tidak
memedulikan. Ia terus berjalan ke depan. Para prajurit Gelang-Gelang tak ada yang
berani mengganggu. Hanya saja satu bayangan berkelebat masuk.
"Hehehe... kau belum menjelaskan ilmu Kerbau Gendheng. Dan aku sudah
bilang, siapa pun yang tak mau menyembah harus mati."
Ugrawe mengayunkan tangan. Gerakannya lurus, lalu turun ke bawah dan
ditarik masuk.
Sekejap Upasara merasa berdiri di atas pasir yang ditelan laut. Tanah di
bawahnya seperti bergerak. Tenaga mengisap yang sangat kuat. Upasara merasa tak
bakal bisa mengeluarkan tenaga untuk melawan. Sama tak mungkinnya untuk
menghindar lari. Dua-duanya akan menyebabkan ia kehilangan keseimbangan badan
dan membuat ia masuk dalam pusaran lawan.
Upasara meloncat sedikit. Lalu tubuhnya turun kembali dan tetap tegak di atas
kedua kakinya.
"Maju."
Ugrawe mengulangi gerakannya.
Upasara memantul kedua kalinya, kali ini dengan memutar badannya. Bagai
gasing. Lalu turun kembali dengan tersenyum.
Dua kali Ugrawe mengeluarkan ilmunya, tetapi Upasara bisa menjawab
dengan manis. Padahal semua ini hanya dimungkinkan karena Upasara memiliki
kejituan dalam menjawab gerakan menyerang Ugrawe. Ketepatan inilah yang
sebenarnya tadi menolong Upasara dalam menundukkan Kawung Sen.
"Upasara, kau mau membantah perintahku?"
IZRO'IL
SENOPATI PAMUNGKAS I


"Dalam dunia ini, siapa berani membantah Pujangga Pamungkas? Bahkan Raja
Muda Gelang-Gelang pun tak akan berani. Bahkan sejarah pun tak berani mengatakan
yang lain. Kalau Pujangga Pamungkas mengatakan Ken Arok menurunkan raja
rampok, siapa yang berani membantah?
"Bahwa kini Raja Muda Gelang-Gelang ingin mengembalikan takhta kepada
yang lebih berhak, kepada darah priyayi, siapa yang membantah?"
"Hehehe, tak nyana lidahmu tajam sekali. Ketahuilah, anak ingusan, hari ini
aku akan meratakan Keraton Singasari.
"Apa susahnya? Sekarang pun sudah bakal rata. Adalah percuma kau
menamakan dirimu Pujangga Pamungkas, kalau ternyata tak berani mengakui
sendiri"
Perhitunganmu terlalu rumit. Dengan prajurit sebanyak ini, kalian sudah bisa
masuk Keraton. Dengan Raja Muda Gelang-Gelang berada di depan, pintu Keraton
akan terbuka. Dan pemberontakan yang dulu bisa diulangi dengan hasil yang
sempurna.
"Kenapa kau terlalu kuatir? Begitu kau bisa memancing semua ksatria ke
Perguruan Awan, niatmu sudah terlaksana. Kenapa berpikiran kerdil dengan
membunuh kami semuanya? Perwira satu dibunuh, esoknya akan ada dua. Ksatria
mati satu, esoknya bakal muncul yang lain.
"Membunuh seekor burung, tidak bisa merebut hutan. Karena burung telurnya
banyak, dan tetap tak berani untuk merebut hutan. Seekor harimau tua yang
terbunuh, seluruh isi hutan bakal tunduk."
Dengan cerdik sekali Upasara mencoba melempar umpan mengenai strategi
Ugrawe yang ingin merebut takhta Keraton. Burung adalah perumpamaan untuk
prajurit atau senopati. Sedang harimau adalah perumpamaan untuk Baginda Raja.
Semua penduduk mengetahui bahwa Baginda Raja sering diumpamakan sebagai
harimau, si raja hutan.
"Harimau sudah tua dan gering. Untuk apa dirisaukan dan ditakuti? Tetapi
dengan meratakan hutan, akibatnya akan lain. Semut dan anai-anai pun akan menjadi
musuhnya."
Ugrawe mengerutkan keningnya. Jeli sekali anak muda ini. Tidak mungkin
berita rahasia dari Adipati Wiraraja kepada Jayakatwang bisa diketahui anak semuda
ini, apa pun pangkat dan kedudukannya dalam Keraton Singasari.
Bahkan di dalam Gelang-Gelang pun mungkin tak ada tiga yang mengetahui
secara persis isi surat itu. Surat itu adalah surat yang kelewat rahasia. Ditulis dalam
tembang, penuh dengan perumpamaan. Raja Muda Gelang-Gelang memang
menyerahkan kepada Ugrawe untuk ikut membaca. Surat rahasia Adipati Wiraraja
dari Sumenep memberi isyarat bahwa ini adalah saat yang tepat untuk berburu.
Seorang pemburu ksatria, adalah seorang yang tepat memilih sangat. Sangat artinya
waktu. Dan sekarang ini, tak ada yang menjaga hutan selain harimau tua. Selebihnya
hewan kecil, dan tanah tandus. Dalam surat Adipati Wiraraja itu yang dianggap
harimau tua adalah Mpu Raganata. Pujangga Keraton yang masih dianggap batu
karang yang perlu diperhitungkan.
Senopati yang lain sama sekali tak masuk perhitungan. Bahkan Senamata Karmuka
pun tidak terlalu dianggap. Karena dalam banyak hal, Baginda Raja tidak begitu
menyukai kesetiaan yang ditunjukkan Senamata Karmuka. Dan sesungguhnya,
Baginda Raja Singasari tidak sependapat dengan siapa pun. Termasuk Mpu Raganata!
Memang ada sedikit penafsiran yang keliru. Di sini, Upasara mengumpamakan
Baginda Raja sebagai harimau. Sedang yang diperebutkan hutan itu sendiri.
"Tahu apa kau tentang hutan?"
"Sebagai orang yang dibesarkan di tengah hutan, saya tahu mengenai
segala yang hidup di dalamnya. Tentang harimau atau binatang kecil
lainnya."
"Hehehe, kau tahu sekarang sudah saatnya berburu?"
Upasara merinding melihat sorot mata Ugrawe yang seperti mau menelannya
bulat-bulat tanpa mengunyah.
"Setiap saat adalah saat yang baik bagi pemburu yang siap," suaranya menjadi
sangat rendah. Antara terdengar dan tidak. Sebenarnya Upasara merasa sangat sedih.
Karena apa yang dikatakan menggambarkan kenyataan yang sebenarnya.
Ugrawe berpikir mendengar nada sedih. Ia tak pernah menyangka bahwa
dalam hidupnya bakal bertemu seorang pemuda yang masih muda usianya akan tetapi
mempunyai kecerdikan dan kepandaian yang bisa diandalkan. Caranya bisa
mengalahkan Kawung Sen menunjukkan bahwa Upasara mempunyai kelebihan yang
secara tepat dimanfaatkan.
Ugrawe mencoba dengan melontarkan pertanyaan.
"Cah bagus, bocah bagus, kau mempunyai bakat sebagai pemburu."
Mata Upasara berkilat. Ia tidak menyembunyikan perasaan geramnya. Kalau ia
tiba-tiba menerima tawaran kerja sama, diangkat sebagai barisan "pemburu", Ugrawe
pasti mengetahui taktiknya ini. Justru karena menebak, Upasara menunjukkan wajah
sengitnya.
"Saya lahir dan dibesarkan di hutan ini, bagaimana mungkin saya menjadi
pemburu?" Lalu disertai tarikan napas pendek. "Saya mungkin bisa membantu. Akan
tetapi mengharapkan saya menjadi pemburu, lebih sulit dari membunuh."
"Kuhargai keberanian dan kesetiaanmu. Cah bagus, dalam hutan kaukatakan
ada harimau tua. Tinggal harimau tua. Ataukah ada binatang buas yang lain?"
"Harimau tua si raja rimba hanya dijaga harimau tua yang tidak sependapat
dengannya. Memang kalau harimau si raja hutan mendengar nasihat harimau tua
yang empu, pemburu tak akan sempat merebut. Tetapi itulah kenyataan. Itulah
takdir."
"Aku menanyakan binatang buas yang lain."
"Apa artinya seekor atau dua ekor binatang buas yang lain kalau ia tak berada
di sarangnya?"
"Setua-tuanya harimau, cakarnya masih keras juga."
"Itulah kalau sempat mencakar. Kalau pemburu sudah dikenal sang harimau,
apa susahnya mengelus ekor atau kumisnya?"
"Bagaimana caranya mengelus?"
"Aku tak percaya padamu."
"Ayo, ikut."
Sekali ini Ugrawe tidak memaksa. Ia berjalan lebih dulu. Meloncat ke depan.
Upasara ikut meloncat, namun ia harus menutul tanah dua kali untuk bisa menjaga
jarak.
Sampai di depan tenda, Ugrawe menghaturkan sembah.
"Mohon Baginda berkenan menerima hamba."
"Masuklah, tanpa perlu basa-basi di saat seperti ini, Paman Guru."
Ugrawe menghaturkan sembah lagi. Upasara menunduk, memberi hormat,
tapi tidak bersila menyembah. Keduanya hampir seiring masuk ke dalam tandu.
Tadinya Upasara menduga Raja Muda Gelang-Gelang berada dalam tandu—yang
cukup sempit. Akan tetapi tandu itu ternyata hanya merupakan pintu saja. Karena
bagian belakangnya bisa disingkapkan, dan keduanya berjalan masuk. Ke dalam suatu
tenda. Diam-diam Upasara memuji tempat rahasia yang tidak pernah diduganya.
Seperti antara tandu dan kemah tidak ada hubungannya. Upasara juga memuji Raja
Muda Gelang-Gelang yang mampu mengirim suara berjarak. Hingga seolah suara itu
muncul dari tandu.
Sampai di kemah Upasara turut menghaturkan sembah. Ini bukan karena
Upasara memperajakan Raja Muda Gelang-Gelang. Ini semacam adat-istiadat kepada
seorang raja muda. Kalaupun Raja Muda Gelang-Gelang berada di Keraton Singasari
dan ia disuruh menemui, ia akan melakukan hal yang sama.
"Bagaimana, Paman Guru?"
"Maafkan hamba, Baginda. Ada seorang anak muda yang tahu bagaimana cara
berburu harimau. Ia ingin menghaturkan sendiri rencananya kepada Baginda."
Raja Muda Gelang-Gelang menepukkan tangannya dan para pengawal utama
pergi. Setelah diberi perintah untuk mendongak, barulah Upasara melihat siapa yang
dihadapi. Seorang raja muda yang tampan. Badan dan wajahnya sangat terjaga.
Bahkan sampai dengan mata serta alisnya. Kalau dilihat sekilas sulit membayangkan
bagaimana seorang raja muda yang begini tampan, yang seluruh tubuhnya seperti tak
pernah tersentuh debu dan panas matahari, mampu mengirim suara.
"Ceritakan, anak muda, siapa pun namamu."
"Hamba hanya berani mengatakan kepada Raja Muda."
"Aha, Paman Guru ini lebih tahu dari saya."
"Maafkan, Raja Muda. Kami baru saja bertemu tadi."
Ugrawe menghaturkan sembah.
"Biarlah hamba mengundurkan diri. Mau melihat suasana di luar." Sambil
menghaturkan sembah, Ugrawe memusatkan tenaganya di tangan. Sampai tergetar.
Ini berani kalau Upasara membuat gerakan mencurigakan sedikit saja, tangan itu akan
terayun.
Upasara merasakan getaran itu. Ia tak mau bertindak bodoh. Ia tak akan
menyerang begitu saja. Meskipun Ugrawe telah pergi dari kemah, getaran udaranya
masih terasa.
"Katakan. anak muda."
"Apa jaminan hamba setelah mengatakan rencana?"
"Walau aku belum raja penuh, kata-kataku sama berharganya dengan seorang raja.
Tak nanti aku menarik ucapanku. Kau akan selamat sampai akhir hayatmu." "Sembah
nuwun..."
Belum selesai ucapan terima kasih, tiba-tiba terdengar teriakan keras. Angin
badai mengguncang tenda. Sampai menimbulkan gempa. Raja Muda Gelang-Gelang
meraih tombak di belakang kursi dengan sigap. Upasara bersiap. Belum sepenuhnya
bisa memasang kuda-kuda, tenda telah jebol terangkat ke atas, terbang bersama angin.
Sungguh tenaga yang luar biasa.
Bersamaan dengan itu terdengar deru angin keras. Teriakan prajurit yang
terkena sapuan.
Upasara baru melihat dengan jelas. Lembu Ugrawe sedang memutar kedua
tangan bersilangan sambil tubuhnya terus berputar keras. Yang terlihat hanya
gumpalan angin puting yang bergulung keras. Sementara dalam jarak dua tombak
salah seorang prajurit sedang meloncat mencoba menembus pusaran angin.
"Mati kau!"
Teriakan Ugrawe bagai geledek dan guntur sekaligus. Upasara tak bisa melihat
jelas apakah pukulan itu dua tangan ditepukkan atau apa, karena terlindung oleh
getaran angin yang sangat keras. Prajurit Gelang-Gelang meloncat tinggi sekali, ke
atas pohon, dan kemudian meluncur turun dengan sebat. Tujuannya menyerang ke
arah Raja Muda Gelang-Gelang.
Upasara berteriak dalam hati. Ia sama sekali tak menyangka yang menyamar
sebagai prajurit itu orang yang sangat dikenalnya! Ngabehi Pandu! Itu satu-satunya
gaya Ngabehi Pandu yang selalu diunggulkan. Hanya Wilanda yang bisa
menyamainya.
"Senamata busuk, tak akan lolos lagi kau!"
Badai angin terus melanda. Bayangan prajurit itu menyerbu masuk. Dua
tangan beradu sangat keras. Begitu saling menyentuh, Ugrawe mengganti belitan
berikut jotosan dan belum lurus sudah berubah lagi. Menjotos ke arah dada lagi,
ditangkis, ke arah wajah, ditangkis, ke arah selangkangan, ditangkis, ke arah dada,
ditangkis, ke arah dada lagi, ditangkis, ke arah dada lagi, ditangkis.
Entah berapa puluh kali dua-duanya mengadu tenaga keras. Partai keras—
sangat keras.
Hanya saja kenapa Ugrawe meneriakkan nama Senamata Karmuka dan bukan
Ngabehi Pandu? Bukankah itu Ngabehi Pandu?
Sejenak Upasara tak bisa mengerti siapa yang tengah bertempur didepannya. Ia
memang mendengar bahwa Senamata Karmuka dan Ngabehi Pandu adalah dua
bersaudara. Akan tetapi selama ini yang dikenal di dunia luar adalah Senamata
Karmuka. Ngabehi Pandu hanya dikenal di kalangan para pesilat. Dua saudara itu
sangat berbeda sifatnya. Ngabehi Pandu digelari si mayat bisu, sedang Senamata
Karmuka justru sebaliknya.
Sangat mungkin sekali ini adalah Senamata Karmuka. Karena setahu Upasara,
Ngabehi Pandu tak perlu menyamar sebagai prajurit segala.
"Angin kentut masih lebih keras dari ini. Aku maju lagi."
Ugrawe menyerbu. Pukulannya yang menyerbu. Menyapu ke tanah, dan
terasa betotan yang luar biasa. Tangan yang satunya mengemplang dari atas. Belum
selesai sepenuhnya, gerakan diubah. Tangan yang sebelumnya menarik, lalu berbalik.
Yang tadinya menghantam, jadi menyedot. Putaran pergantian begitu mendadak
keras, dan terpatah-patah.
Gemuruh suaranya. Tanaman pendek di sekitar tercerabut beserta akar, dan
tanahnya ikut terbang, berputar di udara, dan kembali lagi. Lalu bagai disuntak
mendesak ke depan.
Ketika melawan Dewa Maut, Upasara merasakan betapa dahsyat ilmu
Membalik Arus Sampan, yang mempunyai dasar gerakan yang kurang-lebih sama.
Juga dalam mengatur tenaga. Akan tetapi yang disaksikan ini jauh lebih perkasa dari
itu.
Namun Upasara tak mau membuang waktu percuma. Siapa pun yang dihadapi
Ugrawe—Ngabehi Pandu atau Senamata Karmuka—ada di pihaknya. Dan dengan
keberanian besar berani menyerbu langsung ke dalam tenda. Sasarannya pastilah Raja
Muda Gelang-Gelang. Ini saat yang baik.
"Maaf..."
Upasara meloncat ke arah Jayakatwang, yang langsung memutar tombak.
Miring sabetan tombak yang ujungnya diberi bunga-bunga hiasan. Tangan kanan
Upasara berusaha menangkis persis di bawah ujung yang runcing, sementara tangan
kiri merebut bagian tangkai. Dalam gerakan pertama Upasara tidak ingin langsung
menyerang, akan tetapi berusaha memperdayakan. Maka ketika Jayakatwang
langsung menarik mundur tombaknya, Upasara sudah bersiap untuk mengubah
tangannya, agar tak tergores. Yang membuatnya agak was was adalah desis dingin dari
ujung tombak. Pertanda tombak pusaka yang linuwih, pusaka yang memperlihatkan
kelebihan setiap geraknya. Dengan menggeser kaki ke depan, Upasara tetap dalam
posisi merebut tombak. Kali ini yang dicengkeram adalah tangan Jayakatwang. Hebat
juga Raja Muda Gelang-Gelang ini Telapak tangannya membuka dan baik menangkap
tangan Upasara. Tinju Upasara seperti mau digenggam. Upasara menggunakan
sikunya untuk menyentil gagang tombak dan jotosannya diubah menjadi tangan kiri.
Plak. Terdengar suara keras. Gagang tombak bergoyang. Dua tangan beradu keras.
Jayakatwang justru maju ke depan. Mengarah ke leher lawan. Upasara memancal
tubuhnya dan kaki dan kini mulai menunjukkan bagian terakhir dan Banteng
Ketaton. Leher digerakkan miring sehingga pukulan lawan akan mengenai pundak,
akan tetapi serta-merta dengan itu tombak lawan dapat direbut. Tinggal membalik
arahnya kepada Jayakatwang sendiri.
"Maaf." Lagi Upasara mengeluarkan seruan keras. Tombak bisa digenggam erat,
Hanya saja Upasara tidak memperhitungkan bahwa tombak itu ternyata bisa
dipatahkan di tengah. Upasara hanya memegang bagian ujung, sementara sisanya
justru untuk menusuk—ada pula bagian yang lancip. Menjadi dua buah tombak.
Tombak yang dipegang Upasara bisa menangkis, akan tetapi pundaknya bakal kena
sasaran. Akan tetapi Jayakatwang tidak bertindak maju, ia malah meloncat mundur.
Sedetik Upasara menduga bahwa lawan merencanakan serangan berikut, makanya ia
setengah menunggu. Akan tetapi ternyata Jayakatwang lebih suka tidak melibatkan
diri dalam pertempuran secara langsung. Cukup dengan menggerakkan tangannya,
puluhan prajurit langsung mengepung.
"Tangkap hidup-hidup semuanya."
Belum prajurit itu maju, desir angin panas bergulung-gulung memadati
ruangan. Upasara tak habis pikir ketika merasa sedotan tenaga dalam Ugrawe sudah
berhasil menindihnya. Dua kali tadi Upasara berhasil menghindari gerak-gerak
sederhana Sindhung Aliwawar. Tapi sekali ini merasa darahnya digojlok habishabisan.
Rasanya darahnya mengalir tak karuan, bertubrukan di dinding-dinding
pembuluhnya. Belum bisa menguasai diri sepenuhnya, bayangan Ugrawe sudah
meloncat ke arahnya.
Bersamaan dengan bayangan Ugrawe bayangan lain masuk ke dalam lingkaran
angin ribut, dan langsung menyerang. Di tengah udara kedua bayangan itu memukul,
ditangkis, ditangkis, memukul, dan ketika turun lagi ke tanah, saling menjejak, dan
kembali ke atas lagi.
Ugrawe memang luar biasa. Justru ketika berada di atas, ia menghimpun
seluruh tenaganya dan seperti mendorong gunung, kedua tangannya terdorong ke
depan. Angin dahsyat mengimpit dengan keras, bagai gelombang laut yang
mengempas. Upasara meloncat mundur dan terdorong angin hingga tiga tombak.
Kakinya tak bisa berdiri tegak. Jatuh tergeletak. Dengan sigap ia bangun, menghadapi
keributan prajurit yang mendesak.
Luar biasa. Justru karena sebagian tenaga itu telah dapat ditangkis. Secara
kedudukan, Ugrawe lebih lemah. Karena ia berada di tengah udara. Nyatanya ia
terdorong mundur. Sambil berjumpalitan, sebelum kakinya menyentuh tanah,
pukulan berikutnya sudah susul-menyusul.
Kemah menjadi porak-poranda.
Daerah sekitar Ugrawe seperti tanah kosong. Prajurit yang mencoba
mendekat, terseret pusaran angin dan terpental. Kalau kemudian jatuh ke tanah tak
bisa bangkit lagi.
Ugrawe menyentak keras. Merampas bendera dan menggerakkan ke kanan, ke
atas. Barisan pun berubah. Kini semua bergerak ke arah Ugrawe. Menyerbu ke satu
titik.
Upasara melawan arus prajurit yang menyerbu ke arahnya. Ia berusaha
membuka terobosan, akan tetapi selalu saja terdesak mundur kembali. Terpaksa
mengurung diri dengan kerisnya.
"Anak yang tak tahu diuntung, terimalah kematianmu!"
Suara Ugrawe sangat dekat di punggung Upasara.
"Jangan takut." Terdengar teriakan dingin yang sama kerasnya. Pu'un berdiri
menghadang.
"Pu'un, hari-hati!"
Teriakan Upasara tak berguna. Ugrawe telah memutar kedua tangannya di atas
kepala. Angin puting beliung tercipta, dan dengan seruan keras putarannya tertumpah
ke arah Pu'un. Pu'un menggeram seperti seekor harimau. Ia justru masuk ke dalam
pusaran angin.
Terdengar suara dingin Ugrawe, dua buah tangan yang berputar di udara,
meliuk ke arah Pu'un. Yang langsung datang menyambut. Dua tangan beradu, dan
dalam sekejap tubuh Pu'un seperti terpelintir, ikut berputar. Ugrawe terus memutar
tubuh Pu'un di udara. Disertai gelak yang memiawak ia melemparkan tubuh ke atas.
Sebelum tubuh menyentuh tanah, kaki Ugrawe menendang bagian dada, leher, dada
lagi, dan leher lagi.
Begitu jatuh di atas tanah, Ugrawe meloncat ke atas dan mendarat tepat di
dada Pu'un.
Ketika Ugrawe menyerbu tadi, prajurit jadi terbelah. Tak ada yang berani
mendekat. Kesempatan ini digunakan Upasara untuk meloloskan diri. Ia menerobos
dan dengan cepat meninggalkan pertempuran. Masih mendengar teriakan keras Pu'un
sebelum yang terakhir ini mengembuskan napas penghabisan.
"Wulung, jangan pedulikan. Lakukan tugasmu."
Jagaddhita meloncat mendampingi. Bayangan Ugrawe berkelebat masuk.
Jagaddhita mengangkat seorang prajurit untuk dilemparkan ke arah Ugrawe. Yang
langsung ditangkap dan dibanting. Tak sempat kaget dan berpikir lagi, si prajurit telah
meninggal dunia.
Jagaddhita menggunakan prajurit yang bisa dipegang sebagai senjata. Akan
tetapi Ugrawe tak memikirkan keselamatan prajuritnya sendiri. Setiap lemparan yang
datang ditangkis dengan tangan dan tendangan.
Sembilan nyawa prajurit secara berurutan jadi korban main lempar-lemparan.
Dengan keras Ugrawe melempar balik setiap umpan yang datang. Pada korban yang
kesembilan, Ugrawe mengubah. Ketika dilempar lagi, ia bukan menolak seperti
biasanya. Melainkan menangkap dan membalikkan. Tapi yang melayang ke depan
bukan tubuh prajurit, melainkan tubuhnya sendiri. Dua telunjuknya terjulur ke
depan, sementara ketiga jari yang lain tertekuk ke dalam. Seperti mau mencungkil
mata Jagaddhita.
Jurus ini berbeda dengan jurus yang selalu diunggulkan sebelumnya. Ugrawe
kini menyerbu Jagaddhita dengan totokan dua jari yang menggunakan tenaga dalam
yang penguasaannya mirip dengan tenaga dalam Jagaddhita. Dua jari yang terulur ini,
satu berisi tenaga yang sesungguhnya dan satu lagi berisi tenaga biasa. Kelebihan
pengaturan tenaga ini. lawan menjadi bingung untuk menentukan di jari yang mana
tenaga sesungguhnya tersimpan.
Sebenarnya itu tidak menjadi soal benar, andai bukan Ugrawe yang
memainkan. Toh perbedaan jarak antara jari yang satu dan yang kedua sangat dekat.
Apalah artinya kalau tinggal menyampok saja. Namun, meskipun jaraknya dekat, daya
pancarnya berbeda. Satu jari diangkat ke atas, bisa mengarah ke mata. Satu jari lain
ditundukkan ke bawah, bisa menotok ke arah pinggang.
Lebih menyulitkan lagi, karena Ugrawe menggunakan empat jari dua tangan
yang menyerang serentak. Menghadapi pertempuran jarak pendek, Jagaddhita
keteter. Lima jurus berikutnya, kakinya sudah terlalu sulit untuk mengatur
pertahanan. Dan dalam sekejap saja ia sudah terkurung. Tinggal waktu saja.
Berada pada titik kritis, Jagaddhita memancing dengan serangan balik. Dua jari
tangan kanan dibiarkan menelusup ke depan, ia membarengi dengan sentilan ke arah
jakun. Ugrawe berseru dingin. Ia terus menerjang. Kalau tipuan yang sama
pernah dipraktekkan Jagaddhita kepada Pu'un, kali ini ternyata hasilnya berbeda.
Justru Ugrawe tidak memedulikan sentilan ke arah jakunnya. Tangan kiri meraup ke
depan, angin berdesir dari samping, langsung menghantam tangan Jagaddhita.
Mengira kecolongan, Jagaddhita mencoba menarik balik tangannya.
Duk!
Tubuh Jagaddhita bergoyang. Tersurung mundur tiga tindak.
Ugrawe meloncat maju sekali lagi. Jagaddhita meloncat ke atas sambil berbalik.
Ia melancarkan pukulan dengan punggung menghadap ke arah lawan. Tanpa
memedulikan serangan lawan, Ugrawe terus menjotos.
Duk.
Kali ini tubuh Jagaddhita terayun dan terbanting di tanah.
"Ayo menyanyi lagi tentang waktu kecil temanmu adalah bidadari. Sekarang
diganti, waktu mati temanmu adalah cacing busuk."
Tangan kiri Ugrawe berputar satu lingkaran sementara tangan kanan terbuka
telapaknya. Sekali terayun, Jagaddhita tak bakal bisa menghindar. Kemungkinan
paling kecil hanya bisa menangkis dengan sisa tenaganya.
Upasara sudah meloncat beberapa tombak jauhnya. Akan tetapi ia merasa tak
tega melihat adegan yang mengerikan. Untuk menolong sudah tak mungkin. Bahkan
kalau ingin melemparkan kerisnya pun rasanya hanya sedikit artinya. Bisa
merepotkan Ugrawe tetapi tetap tak menolong Jagaddhita. Upasara menjilat bibirnya.
"Jangan kuatir, Bibi, aku akan menunaikan tugas terakhir. Kematian bukanlah
akhir. Kehidupan bukanlah awal. Yang muda bisa mati, yang tua lebih lama."
Upasara melakukan sembah, lalu berbalik.
Ugrawe menganggap bahwa Upasara adalah yang paling cerdik dari semua
yang hadir. Perhatiannya sempat terpecah juga dengan kata-kata yang diduga
mempunyai sayap lain.
Siapa yang dimaksudkan dengan yang tua?
Apakah hal ini menyinggung Eyang Sepuh?
"Anak muda, soal mati-hidup bibimu ini hanya soal kapan aku membalik
telapak tangan. Hiburanmu tak akan berguna."
"Ugrawe, kau selalu berhitung sangat teliti dan rapi. Kau sudah menang. Untuk
apa ragu lagi? Aku sekadar mengacau perhatianmu. Agar kau tak seketika membunuh
Bibi. Mungkin dengan begitu akan ada pertolongan datang. Kenapa kau menduga
Eyang Sepuh bisa meloloskan diri dan bakal melaporkan hal ini ke Keraton? Sampai
sekarang pun kita sama-sama tidak tahu di mana Eyang. Apakah masih bersembunyi
di sini, ataukah sudah berada di Keraton, ataukah sedang ditawan lawan yang entah
dari mana, atau justru menemui Tamu dari Seberang. Ugrawe, kau boleh
merencanakan tipu daya macam-macam. Mengundang para pendekar kelas satu
kemari, dengan umpan Tamu dari Seberang. Dan kenyataannya kau berhasil
mengundang semuanya. Aku mengatakan semuanya, meskipun kau sendiri hanya
membawa Kawung Bersaudara dan mengandalkan prajurit-prajurit yang lain.
"Satu hal kau lupakan, bahwa umpan yang kausodorkan berdasarkan
perhitungan yang matang. Dan perhitungan itu, memang memungkinkan bahwa
Tamu dari Seberang akan datang. Siklus datangnya persis saat-saat sekarang ini.
Bahwa yang dituju adalah Perguruan Awan, itulah satu-satunya tempat yang
memungkinkan.
"Ugrawe, tidak sadarkah bahwa yang kauanggap jebakan, itu sebenarnya bisa
terjadi? Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin Pu'un yang dari ujung barat tanah
Jawa bisa datang kemari pada waktunya?"
"Aku senang caramu bicara. Kau sangat cerdik. Lebih cerdik dari muridmuridku.
Tapi mana mungkin aku terkecoh dengan akal bulusku sendiri? Tamu dari
Seberang tak pernah ada. Ken Arok zaman dulu hanya membuat kisah itu untuk
memantapkan Kehadirannya. Ia mencari persamaan dengan dewa-dewa sebagai
nenek moyangnya. Ia mencari darah biru. Tapi sesungguhnya ia perampok besar,
bromocorah yang bisa naik takhta. Dan semua keturunannya adalah keturunan
perampok besar. Yang hanya akan menghancurkan, yang hanya akan merampok
tanah Jawa. Termasuk Kertanegara."
"Tugasmu mulia, Ugrawe. Kau ingin mengembalikan takhta di tanah Jawa ini
kepada darah biru, darah para dewa. Hanya saja kenapa kau melakukan seperti kerja
para perampok?"
"Ini urusanku. Itu tanggung jawabku sendiri."
Telapak tangan Ugrawe bergetar.
"Jagaddhita, hari ini terimalah kematianmu. Sudah kukatakan, Upasara hanya
memperpanjang waktu saja. Langit pun tak bisa membantumu.
Jagaddhita bangun dengan susah. Rasa nyeri dua pukulan seperti meremukkan
isi tubuhnya.
"Kau salah perhitungan, Ugrawe. Gendhuk Tri bisa menolong Bibi...."
Ugrawe meleletkan lidahnya. Hingga menyentuh kumisnya.
"Anak ini sudah kena sirep Pu'un. Tak akan ada yang membebaskannya."
"Kau cerdik, akan tetapi salah perhitungan. Pu'un telah membebaskan
pengaruh sihirnya. Gendhuk Tri, kau bisa menyerang Ugrawe seketika."
Teriakan Upasara mengguntur. Memang, dalam perhitungan hanya Gendhuk
Tri yang bisa menyelamatkan Jagaddhita. Pertama karena ia tak diduga bakal
menyerang secara tiba-tiba. Kedua, posisinya sangat dekat dengan Ugrawe dan
Jagaddhita, tanpa dicurigai.
Dengan memberi komando, Upasara mengharap Gendhuk Tri segera
bertindak. Upasara menduga bahwa Gendhuk Tri sudah dibebaskan pengaruh
sihirnya oleh Pu'un. Karena keduanya sudah diringkus bersama di dalam jala Kawung
Sen.
Ternyata perhitungan Upasara meleset.
IZRO'IL
SENOPATI PAMUNGKAS I


Gendhuk Tri menoleh ke arah Upasara, akan tetapi. tak bereaksi. Sinar
matanya masih kosong saja.
"Gendhuk... sekarang!"
Ugrawe mengelus kumisnya.
Jagaddhita terhuyung ke belakang.
Suasana sekeliling terasa hening mencekam. Upasara menggertakkan
gerahamnya.
Jagaddhita menerawang pasrah.
...
kenapa harus bersedih hati..
waktu kecil tontonanmu adalah bidadari...
...
Mendadak terjadi perubahan. Gendhuk Tri seperti tersadar, dan mencabut
patrem dan setagennya, langsung meloncat ke arah Ugrawe. Pusat perhatian Ugrawe
memang sepenuhnya tertuju kepada Jagaddhita. Ia tak mengira sama sekali bahwa
Gendhuk Tri bakal meloncat langsung ke arahnya. Meloncat dan mendaki tangan
Ugrawe. Begitu berada di atas, patrem Gendhuk Tri menyabet ke bawah dengan cepat
sekali. Irisan tajam mengarah ke wajah!
Berteriak pun Ugrawe tak sempat. Tangan kanan yang dipakai pancalan,
ditarik mundur. Berikut tangan kiri berusaha menutup wajah. Tenaga terkumpul di
tangan sedemikian kuat, sehingga arah patrem melenceng ke kiri. Tak urung,
menyambar, daun telinga Ugrawe kena diiris. Darah muncrat membanjir, Ugrawe
melontarkan tubuhnya ke belakang dan dua tangannya kini menyambar ke atas.
Gendhuk Tri tidak menarik mundur serangan kedua, malah berusaha melompat maju
lagi. Dengan cara berjumpalitan di angkasa.
Upasara meloncat maju bersamaan dengan gerak Gendhuk Tri tadi,
menyambar tubuh Gendhuk Tri dan membawa lari. Perhitungan Upasara tepat dan
menentukan. Karena saat itu Ugrawe sudah melontarkan pukulan andalannya. Bumi
seperti tergetar. Menggandeng Gendhuk Tri, Upasara meluncur sambil tangan kirinya
menyambut uluran tangan Jagaddhita. Dalam sekejap ketiga tubuh melayang ke arah
jauh.
Walau dalam keadaan terluka, ilmu meringankan tubuh Jagaddhita masih bisa
diandalkan. Dengan empat kali loncatan, mereka telah terbebas dari serangan
Ugrawe.
Sementara itu Ugrawe tidak langsung menyerbu. Ia memegangi telinganya
yang telah. somplak. Darah yang mengucur segera dihentikan dengan memijit urat di
dekat pelipis. Lalu tangannya merampas bendera dan memberi komando untuk
serbuan total. Kini seluruh prajurit menyerbu ke arah satu jurusan.
Bagi Upasara, Gendhuk Tri, dan Jagaddhita tak terlalu sulit untuk meloloskan
diri. Akan tetapi di depan berdiri Kawung Benggol yang menunggu. Dengan tetap
bergandengan tangan, ketiganya melabrak lawan. Menduga lawan bakal mengeroyok,
Kawung Benggol yang sudah terluka tangannya tak berani adu keras lawan keras. Ia
menarik pukulannya. Kesempatan ini digunakan Upasara untuk terus menerobos
maju.
"Gendhuk, kau tak apa-apa?"
"Entahlah," jawab Gendhuk Tri. "Kadang aku seperti mengantuk."
"Masih mengantuk?"
Tak ada jawaban.
Upasara menggeleng lembut. Ternyata pengaruh sihir Pu'un masih sangat
kuat. Belum bisa dibebaskan sepenuhnya. Hanya waktu Jagaddhita mendendangkan
tembang yang dikenal tadi, ingatannya pulih normal. Kini masih bengong kembali.
Di arena yang lain, Kawung Ketip beserta puluhan prajuritnya menyerbu ke
arah rombongan yang dilindungi oleh Tiga Pengelana Gunung Semeru.
Wilanda terhuyung-huyung, sementara Dewa Maut mencoba menjaga
Padmamuka yang kelihatannya makin berat. Obat bubuk yang ditaburkan dalam
badannya ternyata menjadi racun yang keras. Dewa Maut tak tahan. Ia bopong
Padmamuka dan mencoba mencari jalan sendiri.
"Jangan keluar dari lingkaran," Panengah berteriak memberi peringatan. Ia
sendiri mengubah tempatnya, mencoba mendampingi Dewa Maut. Pembarep dan
Wuragil segera mengikuti gerak Panengah, agar bentuk lingkaran sebagai payung
tetap kuat.
Apa yang dikuatirkan Panengah memang terjadi. Begitu menerobos ke luar, Dewa
Maut sudah langsung terkurung. Kawung Ketip menyabet kaki Dewa Maut, yang
langsung menjadi limbung karenanya. Tubuhnya bergerak-gerak, Padmamuka sendiri
lepas dari bopongannya. Tubuhnya jatuh ke tanah, dan Kawung Ketip menendang
keris.
Terdengar teriakan mengaduh perlahan, tubuh Padmamuka membal ke atas.
"Toleee..." Dewa Maut menjerit, berusaha bangkit. Akan tetapi luka dalam
membuatnya makin parah. Darah segar muntah dari bibirnya, Sebagian berwarna
gelap. Belum bisa berdiri lurus, Kawung Ketip sudah melontarkan pukulan
berikutnya.
Dewa Maut tak berkelit, tak menghindar. Tujuannya hanya satu, mendekat ke
arah Padmamuka. Kena senggol angin pukulan saja, Dewa Maut langsung terguling.
Tubuhnya jatuh bagai pisang ditebang. Rubuh seketika. Tangannya mencoba
menggapai ke depan, tetapi seperti memegang udara kosong.
Jaghana yang melihat Kawung Ketip mencoba menerjang lagi, cepat sekali
menggulung dirinya. Masuk ke dalam perkelahian. Kawung Ketip bersiap, tapi
seketika ia terseret arus berputar. Tak ada jalan lain. Ia ikut berputar masuk dalam
lingkaran.
Kalau saja Upasara sempat mengamati dengan teliti, ia bisa mengerti bahwa
kini yang dimainkan Jaghana adalah permainan sepenuhnya. Bukan seperti ketika
menghadapi Upasara tadi. Pesat bagai gasing, Jaghana berputar melipat. Makin lama
putarannya makin sempit, sehingga jarak keduanya makin dekat, makin dekat, makin
lekat, dan akan saling menempel.
Kawung Ketip bukan jagoan sembarangan. Ia dulu, bersama dua adiknya,
termasuk yang menyerbu sampai ke dinding Keraton Singasari. Ilmunya tidak
sembarangan. Apalagi selama menyembunyikan diri ini, Kawung Ketip makin
memperdalam. Hanya saja sekarang ini yang dihadapi adalah lawan yang sekelas
dengannya. Sebelum ia mengembangkan ilmunya, sudah terpancing jenis permainan
lawan. ilmu berputar memang bukan ilmu yang bisa dipelajari dengan mudah. Mana
lagi ia membuat kesalahan fatal, yang baru diketahui kemudian. Ketika menendang
tubuh Padmamuka tadi, secara tidak langsung ia terkena racun. Kakinya yang untuk
menendang mulai terasa kesemutan. Itu tentu saja menghambat kemampuan
geraknya.
Sebaliknya Jaghana justru sedang berusaha melipat habis. Telapak tangannya
berputar, sementara tubuhnya sendiri terus berputar. Merasa bahwa lawan makin
tertekan, Jaghana mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Kawung Ketip berusaha membetot lawan. Bagian yang diserang di arah
selangkangan. Melihat lawan begitu licik, Jaghana menjadi lebih kuat. Tangan lawan
ditangkap, sementara tubuhnya terus berputar. Kali ini Kawung Ketip benar-benar
turut berputar sambil berpegangan. Satu tangan lagi mencoba menyodet lubang
hidung. Jaghana menangkap pula. Lengkaplah kini. Dua tangan berpegangan, saling
menggempur dengan menyalurkan tenaga dalam. Kawung Ketip berusaha, sementara
terus berputar mengangkat lututnya. Lagi-lagi yang diarah adalah selangkangan.
Risikonya bukan tidak ada. Kuda-kudanya menjadi agak timpang. Akan tetapi
kalau sodokannya mengena, Jaghana bakal habis di sini. Paling tidak bakal ada yang
pecah kena sodokan lutut. Tapi justru Jaghana melihat kelemahan lawan. Begitu kaki
lawan terangkat, satu kaki langsung menyapu. Keras, cepat, dan menebas. Kena gaet
satu kakinya, Kawung Ketip mengeluarkan suara tertahan. Gempuran kaki Jaghana
bukan hanya sangat keras, tetapi membuat ngilu sampai ke sumsum. Tak tahan,
Kawung Ketip berusaha mencengkeram lawan dengan kencang, seperti mau
memencet urat nadinya.
Jaghana justru merasa bagian bawah lawan tak ada perlawanan sama sekali.
Gempuran kaki berubah menjadi semacam gaetan, dan ketika disentakkan, Kawung
Ketip melayang di angkasa.
Wuragil berseru keras sambil meloncat dan mengayunkan pedangnya. Tiga
kali menebas, tiga-tiganya bisa mengenai tubuh lawan. Sebelum tubuh Kawung Ketip
menyentuh tanah, sudah terpisah menjadi tiga potong.
Kawung Benggol tak menduga bahwa kakak sulungnya begitu cepat bisa
ditaklukkan lawan. Dalam geramnya ia mengayunkan rantai panjang, menyerang
Wuragil dari belakang. Di tengah udara, Wuragil membalikkan tubuhnya, menyabet
rantai lawan. Pedangnya bisa dilihat. Kawung Benggol menyentakkan. Meskipun
sebenarnya dua tangan, dan terutama kakinya, terluka, akan tetapi tenaganya cukup
kuat. Apalagi dibandingkan dengan Wuragil yang masih berada di angkasa. Pedang
Wuragil bisa terlepas. Dalam sentakan berikutnya, Kawung Benggol melepaskan
libatan, dan pedang itu berbalik meluncur ke arah pemiliknya.
Pembarep meloncat ke atas, sementara Panengah langsung memasang kudakuda.
Ternyata Pembarep naik ke atas pundak Panengah. Di atas bahu Panengah,
Pembarep mengayunkan tangan, dan menangkap pedang. Sementara itu, Wuragil
melayang turun dengan aman.
Hebat gerakan Trisula ini!
Karena begitu menyentuh tanah, Wuragil langsung ganti memasang kudakuda.
Melihat Kawung Benggol menyerbu masuk, Panengah meloncat. Dengan
Pembarep masih berada di pundaknya, ia meloncat maju dan hinggap di pundak
Wuragil!
Kini Tiga Pengelana Gunung Semeru berdiri tegak lurus satu sama lain.
Menjulang ke atas. Inilah yang disebut Semeru Manjing Langit, atau Gunung Semeru
Bersatu dengan Langit. Ini salah satu dari tiga jurus berantai andalan dari Gunung
Semeru. Konon jurus ini merupakan jurus yang berintikan penyerahan diri kepada
kekuasaan Yang Mahatinggi. Semeru Manjing Langit adalah sinonim dari Curiga
Manjing Warangka, atau Keris Kembali ke Sarungnya. Dalam pengertian Jawa ini
mengandung falsafah penyerahan diri secara total. Sering disebut-sebut sebagai
bersatunya umat manusia dengan Sang Maha Pencipta.
Pada Tiga Pengelana Gunung Semeru, jurus ini akan mencapai hasil maksimal
jika di antara ketiga ksatria bisa menyatukan pikiran. Seolah-olah hanya satu pikiran
tiga badan. Berdasarkan latihan bersama yang memakan waktu lama, kemungkinan
ini bisa tercapai. Walau ketiganya memiliki perangai yang berbeda, akan tetapi ketika
menghadapi lawan bisa satu kehendak. Seperti ketika Wuragil turun ke bawah tadi, ia
langsung memasang kuda-kuda, dan Panengah langsung hinggap di pundak Wuragil.
Sementara Pembarep tetap bertengger di atas.
Kalau tidak ada saling pengertian, gerakan itu tak bisa terwujud dengan
sempurna. Karena walau Wuragil sudah berdiri memasang kuda-kuda di depan, tidak
selalu kedua ksatria yang lain akan melakukan jurus Semeru Manjing Langit.
Tergantung pada situasi yang dihadapi.
Dan Wuragil cukup tanggap. Melihat Kawung Benggol meloncat tinggi, ia
langsung memasang dasar dari jurus andalan. Dan rupanya Panengah pun melihat
jalan keluar yang sama, sehingga langsung meloncat ke atas pundak. Kalau saat itu
Pembarep melihat kemungkinan yang tidak sama, ia bisa memilih gerakan tersendiri.
Tapi agaknya justru sekarang ini melihat satu titik penyelesaian yang sama!
Tak alang kepalang kagetnya Kawung Benggol! Ia sudah meloncat ke atas.
Yang dihadapi adalah tiga orang yang berdiri secara lurus satu sama lain. Sempat
tergetar hatinya, Kawung Benggol merasa makin tak bisa memusatkan pikiran. Mau
menyerang bagian yang mana. Bagian atas atau bagian tengah. Tak ada pilihan selain
harus menggempur semuanya. Dan ini dirasa tak menguntungkan. Kawung Benggol
tak sempat menutup diri sepenuhnya ketika tangan Pembarep menyentuh pundaknya
dan menekan ke bawah, sementara siku Panengah menyodok dada. Dua sodokan yang
masuk secara telak. Kawung Benggol belum bisa sepenuhnya merasakan rasa pedih
dan ngilu, ketika Wuragil menusukkan tombak yang diraup dari tanah.
Bagai sate besar, tubuh Kawung Benggol tertahan pada tombak, yang oleh
Wuragil disentakkan kembali ke atas. Dan Kawung Benggol melayang ke atas.
Panengah bisa menambahi dengan beberapa pukulan. Akan tetapi agaknya Pembarep
tidak tega. Ia lebih dulu mengulurkan tangan, merampas tubuh Kawung Benggol dan
melemparkan ke tengah prajurit yang datang menyerbu. Ia sendiri langsung turun,
disusul oleh Panengah) dan ketiganya membentuk barisan menahan serbuan. Bagi
Wuragil semua tadi adalah kesempatan untuk memamerkan kemampuannya. Sejak
datang ia kena dipecundangi, dan belum sedikit pun bisa memperlihatkan
kepandaiannya. Maka begitu Kawung Ketip dan Kawung Benggol menyerbu, ia
menyambut dengan gairah.
Berbeda dengan Pembarep yang paling tenang. Ia tak berniat jahat. Bahkan
kalau mungkin tak ingin membunuh lawan.
Namun Kawung Benggol tak bisa bertahan lama, Tubuhnya terlempar dengan
tombak masih menancap. Dua sodokan siku Panengah telah mengacaukan sistem
pernapasannya. Maka begitu berdentam di tanah, ia hanya berkelojotan sebentar lalu
terbaring untuk selamanya.
Ketiga Pengelana Gunung Semeru memasang barisan rapat. Setiap serbuan bisa
dihalau, meskipun dengan demikian mereka terpaksa bekerja sangat keras. Jaghana
juga turut menahan dari samping kiri, agar masih mempunyai ruang tersisa.
Rombongan Upasara juga mulai bergabung. Mereka terdesak dan terus
mundur.
Mendadak terdengar sangkakala ditiup sangat nyaring. Pasukan Gelang-
Gelang yang berada di depan tak masuk menyerbu- Bertahan. Sementara lapisan
ketiga di belakangnya, semua memasang anak panah yang ujungnya dibakar. Agak
jauh di tengah, Ugrawe berdiri di atas papan yang diangkat tinggi-tinggi.
"Panah api..."
Teriakan Ugrawe disusul dengan ratusan anak panah berapi menderu bagai disiram
dari langit. Beberapa bisa disampok, beberapa berbenturan sendiri. Namun tak urung
semua terdorong mundur dan makin mundur.
"Awas, beracun. Jaga pernapasan."
Pembarep lebih dulu menutup diri.
Kedudukan memang makin sulit. Ratusan anak panah yang secara terusmenerus
dilepaskan adalah anak panah berapi. Bahaya sesungguhnya bukan berasal
dari api itu, melainkan berasal dari api yang padam. Asapnya akan mengeluarkan
sejenis bau yang menusuk hidung. Sebenarnya justru karena baunya yang sangit,
seperti kain terbakar, mudah cara menghindarinya. Hanya saja karena jumlahnya
kelewat banyak, asap tak bisa dihindari. Kalau panah tidak ditebas, apinya juga
menyulitkan.
Jagaddhita yang berjalan sempoyongan mulai merasa betapa ganasnya bau itu.
"Celaka, kita bisa habis di sini."
Senopati yang lain sama sekali tak masuk perhitungan. Bahkan Senamata Karmuka
pun tidak terlalu dianggap. Karena dalam banyak hal, Baginda Raja tidak begitu
menyukai kesetiaan yang ditunjukkan Senamata Karmuka. Dan sesungguhnya,
Baginda Raja Singasari tidak sependapat dengan siapa pun. Termasuk Mpu Raganata!
Memang ada sedikit penafsiran yang keliru. Di sini, Upasara mengumpamakan
Baginda Raja sebagai harimau. Sedang yang diperebutkan hutan itu sendiri.
"Tahu apa kau tentang hutan?"
"Sebagai orang yang dibesarkan di tengah hutan, saya tahu mengenai
segala yang hidup di dalamnya. Tentang harimau atau binatang kecil
lainnya."
"Hehehe, kau tahu sekarang sudah saatnya berburu?"
Upasara merinding melihat sorot mata Ugrawe yang seperti mau menelannya
bulat-bulat tanpa mengunyah.
"Setiap saat adalah saat yang baik bagi pemburu yang siap," suaranya menjadi
sangat rendah. Antara terdengar dan tidak. Sebenarnya Upasara merasa sangat sedih.
Karena apa yang dikatakan menggambarkan kenyataan yang sebenarnya.
Ugrawe berpikir mendengar nada sedih. Ia tak pernah menyangka bahwa
dalam hidupnya bakal bertemu seorang pemuda yang masih muda usianya akan tetapi
mempunyai kecerdikan dan kepandaian yang bisa diandalkan. Caranya bisa
mengalahkan Kawung Sen menunjukkan bahwa Upasara mempunyai kelebihan yang
secara tepat dimanfaatkan.
Ugrawe mencoba dengan melontarkan pertanyaan.
"Cah bagus, bocah bagus, kau mempunyai bakat sebagai pemburu."
Mata Upasara berkilat. Ia tidak menyembunyikan perasaan geramnya. Kalau ia
tiba-tiba menerima tawaran kerja sama, diangkat sebagai barisan "pemburu", Ugrawe
pasti mengetahui taktiknya ini. Justru karena menebak, Upasara menunjukkan wajah
sengitnya.
"Saya lahir dan dibesarkan di hutan ini, bagaimana mungkin saya menjadi
pemburu?" Lalu disertai tarikan napas pendek. "Saya mungkin bisa membantu. Akan
tetapi mengharapkan saya menjadi pemburu, lebih sulit dari membunuh."
"Kuhargai keberanian dan kesetiaanmu. Cah bagus, dalam hutan kaukatakan
ada harimau tua. Tinggal harimau tua. Ataukah ada binatang buas yang lain?"
"Harimau tua si raja rimba hanya dijaga harimau tua yang tidak sependapat
dengannya. Memang kalau harimau si raja hutan mendengar nasihat harimau tua
yang empu, pemburu tak akan sempat merebut. Tetapi itulah kenyataan. Itulah
takdir."
"Aku menanyakan binatang buas yang lain."
"Apa artinya seekor atau dua ekor binatang buas yang lain kalau ia tak berada
di sarangnya?"
"Setua-tuanya harimau, cakarnya masih keras juga."
"Itulah kalau sempat mencakar. Kalau pemburu sudah dikenal sang harimau,
apa susahnya mengelus ekor atau kumisnya?"
"Bagaimana caranya mengelus?"
"Aku tak percaya padamu."
"Ayo, ikut."
Sekali ini Ugrawe tidak memaksa. Ia berjalan lebih dulu. Meloncat ke depan.
Upasara ikut meloncat, namun ia harus menutul tanah dua kali untuk bisa menjaga
jarak.
Sampai di depan tenda, Ugrawe menghaturkan sembah.
"Mohon Baginda berkenan menerima hamba."
"Masuklah, tanpa perlu basa-basi di saat seperti ini, Paman Guru."
Ugrawe menghaturkan sembah lagi. Upasara menunduk, memberi hormat,
tapi tidak bersila menyembah. Keduanya hampir seiring masuk ke dalam tandu.
Tadinya Upasara menduga Raja Muda Gelang-Gelang berada dalam tandu—yang
cukup sempit. Akan tetapi tandu itu ternyata hanya merupakan pintu saja. Karena
bagian belakangnya bisa disingkapkan, dan keduanya berjalan masuk. Ke dalam suatu
tenda. Diam-diam Upasara memuji tempat rahasia yang tidak pernah diduganya.
Seperti antara tandu dan kemah tidak ada hubungannya. Upasara juga memuji Raja
Muda Gelang-Gelang yang mampu mengirim suara berjarak. Hingga seolah suara itu
muncul dari tandu.
Sampai di kemah Upasara turut menghaturkan sembah. Ini bukan karena
Upasara memperajakan Raja Muda Gelang-Gelang. Ini semacam adat-istiadat kepada
seorang raja muda. Kalaupun Raja Muda Gelang-Gelang berada di Keraton Singasari
dan ia disuruh menemui, ia akan melakukan hal yang sama.
"Bagaimana, Paman Guru?"
"Maafkan hamba, Baginda. Ada seorang anak muda yang tahu bagaimana cara
berburu harimau. Ia ingin menghaturkan sendiri rencananya kepada Baginda."
Raja Muda Gelang-Gelang menepukkan tangannya dan para pengawal utama
pergi. Setelah diberi perintah untuk mendongak, barulah Upasara melihat siapa yang
dihadapi. Seorang raja muda yang tampan. Badan dan wajahnya sangat terjaga.
Bahkan sampai dengan mata serta alisnya. Kalau dilihat sekilas sulit membayangkan
bagaimana seorang raja muda yang begini tampan, yang seluruh tubuhnya seperti tak
pernah tersentuh debu dan panas matahari, mampu mengirim suara.
"Ceritakan, anak muda, siapa pun namamu."
"Hamba hanya berani mengatakan kepada Raja Muda."
"Aha, Paman Guru ini lebih tahu dari saya."
"Maafkan, Raja Muda. Kami baru saja bertemu tadi."
Ugrawe menghaturkan sembah.
"Biarlah hamba mengundurkan diri. Mau melihat suasana di luar." Sambil
menghaturkan sembah, Ugrawe memusatkan tenaganya di tangan. Sampai tergetar.
Ini berani kalau Upasara membuat gerakan mencurigakan sedikit saja, tangan itu akan
terayun.
Upasara merasakan getaran itu. Ia tak mau bertindak bodoh. Ia tak akan
menyerang begitu saja. Meskipun Ugrawe telah pergi dari kemah, getaran udaranya
masih terasa.
"Katakan. anak muda."
"Apa jaminan hamba setelah mengatakan rencana?"
"Walau aku belum raja penuh, kata-kataku sama berharganya dengan seorang raja.
Tak nanti aku menarik ucapanku. Kau akan selamat sampai akhir hayatmu." "Sembah
nuwun..."
Belum selesai ucapan terima kasih, tiba-tiba terdengar teriakan keras. Angin
badai mengguncang tenda. Sampai menimbulkan gempa. Raja Muda Gelang-Gelang
meraih tombak di belakang kursi dengan sigap. Upasara bersiap. Belum sepenuhnya
bisa memasang kuda-kuda, tenda telah jebol terangkat ke atas, terbang bersama angin.
Sungguh tenaga yang luar biasa.
Bersamaan dengan itu terdengar deru angin keras. Teriakan prajurit yang
terkena sapuan.
Upasara baru melihat dengan jelas. Lembu Ugrawe sedang memutar kedua
tangan bersilangan sambil tubuhnya terus berputar keras. Yang terlihat hanya
gumpalan angin puting yang bergulung keras. Sementara dalam jarak dua tombak
salah seorang prajurit sedang meloncat mencoba menembus pusaran angin.
"Mati kau!"
Teriakan Ugrawe bagai geledek dan guntur sekaligus. Upasara tak bisa melihat
jelas apakah pukulan itu dua tangan ditepukkan atau apa, karena terlindung oleh
getaran angin yang sangat keras. Prajurit Gelang-Gelang meloncat tinggi sekali, ke
atas pohon, dan kemudian meluncur turun dengan sebat. Tujuannya menyerang ke
arah Raja Muda Gelang-Gelang.
Upasara berteriak dalam hati. Ia sama sekali tak menyangka yang menyamar
sebagai prajurit itu orang yang sangat dikenalnya! Ngabehi Pandu! Itu satu-satunya
gaya Ngabehi Pandu yang selalu diunggulkan. Hanya Wilanda yang bisa
menyamainya.
"Senamata busuk, tak akan lolos lagi kau!"
Badai angin terus melanda. Bayangan prajurit itu menyerbu masuk. Dua
tangan beradu sangat keras. Begitu saling menyentuh, Ugrawe mengganti belitan
berikut jotosan dan belum lurus sudah berubah lagi. Menjotos ke arah dada lagi,
ditangkis, ke arah wajah, ditangkis, ke arah selangkangan, ditangkis, ke arah dada,
ditangkis, ke arah dada lagi, ditangkis, ke arah dada lagi, ditangkis.
Entah berapa puluh kali dua-duanya mengadu tenaga keras. Partai keras—
sangat keras.
Hanya saja kenapa Ugrawe meneriakkan nama Senamata Karmuka dan bukan
Ngabehi Pandu? Bukankah itu Ngabehi Pandu?
Sejenak Upasara tak bisa mengerti siapa yang tengah bertempur didepannya. Ia
memang mendengar bahwa Senamata Karmuka dan Ngabehi Pandu adalah dua
bersaudara. Akan tetapi selama ini yang dikenal di dunia luar adalah Senamata
Karmuka. Ngabehi Pandu hanya dikenal di kalangan para pesilat. Dua saudara itu
sangat berbeda sifatnya. Ngabehi Pandu digelari si mayat bisu, sedang Senamata
Karmuka justru sebaliknya.
Sangat mungkin sekali ini adalah Senamata Karmuka. Karena setahu Upasara,
Ngabehi Pandu tak perlu menyamar sebagai prajurit segala.
"Angin kentut masih lebih keras dari ini. Aku maju lagi."
Ugrawe menyerbu. Pukulannya yang menyerbu. Menyapu ke tanah, dan
terasa betotan yang luar biasa. Tangan yang satunya mengemplang dari atas. Belum
selesai sepenuhnya, gerakan diubah. Tangan yang sebelumnya menarik, lalu berbalik.
Yang tadinya menghantam, jadi menyedot. Putaran pergantian begitu mendadak
keras, dan terpatah-patah.
Gemuruh suaranya. Tanaman pendek di sekitar tercerabut beserta akar, dan
tanahnya ikut terbang, berputar di udara, dan kembali lagi. Lalu bagai disuntak
mendesak ke depan.
Ketika melawan Dewa Maut, Upasara merasakan betapa dahsyat ilmu
Membalik Arus Sampan, yang mempunyai dasar gerakan yang kurang-lebih sama.
Juga dalam mengatur tenaga. Akan tetapi yang disaksikan ini jauh lebih perkasa dari
itu.
Namun Upasara tak mau membuang waktu percuma. Siapa pun yang dihadapi
Ugrawe—Ngabehi Pandu atau Senamata Karmuka—ada di pihaknya. Dan dengan
keberanian besar berani menyerbu langsung ke dalam tenda. Sasarannya pastilah Raja
Muda Gelang-Gelang. Ini saat yang baik.
"Maaf..."
Upasara meloncat ke arah Jayakatwang, yang langsung memutar tombak.
Miring sabetan tombak yang ujungnya diberi bunga-bunga hiasan. Tangan kanan
Upasara berusaha menangkis persis di bawah ujung yang runcing, sementara tangan
kiri merebut bagian tangkai. Dalam gerakan pertama Upasara tidak ingin langsung
menyerang, akan tetapi berusaha memperdayakan. Maka ketika Jayakatwang
langsung menarik mundur tombaknya, Upasara sudah bersiap untuk mengubah
tangannya, agar tak tergores. Yang membuatnya agak was was adalah desis dingin dari
ujung tombak. Pertanda tombak pusaka yang linuwih, pusaka yang memperlihatkan
kelebihan setiap geraknya. Dengan menggeser kaki ke depan, Upasara tetap dalam
posisi merebut tombak. Kali ini yang dicengkeram adalah tangan Jayakatwang. Hebat
juga Raja Muda Gelang-Gelang ini Telapak tangannya membuka dan baik menangkap
tangan Upasara. Tinju Upasara seperti mau digenggam. Upasara menggunakan
sikunya untuk menyentil gagang tombak dan jotosannya diubah menjadi tangan kiri.
Plak. Terdengar suara keras. Gagang tombak bergoyang. Dua tangan beradu keras.
Jayakatwang justru maju ke depan. Mengarah ke leher lawan. Upasara memancal
tubuhnya dan kaki dan kini mulai menunjukkan bagian terakhir dan Banteng
Ketaton. Leher digerakkan miring sehingga pukulan lawan akan mengenai pundak,
akan tetapi serta-merta dengan itu tombak lawan dapat direbut. Tinggal membalik
arahnya kepada Jayakatwang sendiri.
"Maaf." Lagi Upasara mengeluarkan seruan keras. Tombak bisa digenggam erat,
Hanya saja Upasara tidak memperhitungkan bahwa tombak itu ternyata bisa
dipatahkan di tengah. Upasara hanya memegang bagian ujung, sementara sisanya
justru untuk menusuk—ada pula bagian yang lancip. Menjadi dua buah tombak.
Tombak yang dipegang Upasara bisa menangkis, akan tetapi pundaknya bakal kena
sasaran. Akan tetapi Jayakatwang tidak bertindak maju, ia malah meloncat mundur.
Sedetik Upasara menduga bahwa lawan merencanakan serangan berikut, makanya ia
setengah menunggu. Akan tetapi ternyata Jayakatwang lebih suka tidak melibatkan
diri dalam pertempuran secara langsung. Cukup dengan menggerakkan tangannya,
puluhan prajurit langsung mengepung.
"Tangkap hidup-hidup semuanya."
IZRO'IL
SENOPATI PAMUNGKAS I


Belum prajurit itu maju, desir angin panas bergulung-gulung memadati
ruangan. Upasara tak habis pikir ketika merasa sedotan tenaga dalam Ugrawe sudah
berhasil menindihnya. Dua kali tadi Upasara berhasil menghindari gerak-gerak
sederhana Sindhung Aliwawar. Tapi sekali ini merasa darahnya digojlok habishabisan.
Rasanya darahnya mengalir tak karuan, bertubrukan di dinding-dinding
pembuluhnya. Belum bisa menguasai diri sepenuhnya, bayangan Ugrawe sudah
meloncat ke arahnya.
Bersamaan dengan bayangan Ugrawe bayangan lain masuk ke dalam lingkaran
angin ribut, dan langsung menyerang. Di tengah udara kedua bayangan itu memukul,
ditangkis, ditangkis, memukul, dan ketika turun lagi ke tanah, saling menjejak, dan
kembali ke atas lagi.
Ugrawe memang luar biasa. Justru ketika berada di atas, ia menghimpun
seluruh tenaganya dan seperti mendorong gunung, kedua tangannya terdorong ke
depan. Angin dahsyat mengimpit dengan keras, bagai gelombang laut yang
mengempas. Upasara meloncat mundur dan terdorong angin hingga tiga tombak.
Kakinya tak bisa berdiri tegak. Jatuh tergeletak. Dengan sigap ia bangun, menghadapi
keributan prajurit yang mendesak.
Luar biasa. Justru karena sebagian tenaga itu telah dapat ditangkis. Secara
kedudukan, Ugrawe lebih lemah. Karena ia berada di tengah udara. Nyatanya ia
terdorong mundur. Sambil berjumpalitan, sebelum kakinya menyentuh tanah,
pukulan berikutnya sudah susul-menyusul.
Kemah menjadi porak-poranda.
Daerah sekitar Ugrawe seperti tanah kosong. Prajurit yang mencoba
mendekat, terseret pusaran angin dan terpental. Kalau kemudian jatuh ke tanah tak
bisa bangkit lagi.
Ugrawe menyentak keras. Merampas bendera dan menggerakkan ke kanan, ke
atas. Barisan pun berubah. Kini semua bergerak ke arah Ugrawe. Menyerbu ke satu
titik.
Upasara melawan arus prajurit yang menyerbu ke arahnya. Ia berusaha
membuka terobosan, akan tetapi selalu saja terdesak mundur kembali. Terpaksa
mengurung diri dengan kerisnya.
"Anak yang tak tahu diuntung, terimalah kematianmu!"
Suara Ugrawe sangat dekat di punggung Upasara.
"Jangan takut." Terdengar teriakan dingin yang sama kerasnya. Pu'un berdiri
menghadang.
"Pu'un, hari-hati!"
Teriakan Upasara tak berguna. Ugrawe telah memutar kedua tangannya di atas
kepala. Angin puting beliung tercipta, dan dengan seruan keras putarannya tertumpah
ke arah Pu'un. Pu'un menggeram seperti seekor harimau. Ia justru masuk ke dalam
pusaran angin.
Terdengar suara dingin Ugrawe, dua buah tangan yang berputar di udara,
meliuk ke arah Pu'un. Yang langsung datang menyambut. Dua tangan beradu, dan
dalam sekejap tubuh Pu'un seperti terpelintir, ikut berputar. Ugrawe terus memutar
tubuh Pu'un di udara. Disertai gelak yang memiawak ia melemparkan tubuh ke atas.
Sebelum tubuh menyentuh tanah, kaki Ugrawe menendang bagian dada, leher, dada
lagi, dan leher lagi.
Begitu jatuh di atas tanah, Ugrawe meloncat ke atas dan mendarat tepat di
dada Pu'un.
Ketika Ugrawe menyerbu tadi, prajurit jadi terbelah. Tak ada yang berani
mendekat. Kesempatan ini digunakan Upasara untuk meloloskan diri. Ia menerobos
dan dengan cepat meninggalkan pertempuran. Masih mendengar teriakan keras Pu'un
sebelum yang terakhir ini mengembuskan napas penghabisan.
"Wulung, jangan pedulikan. Lakukan tugasmu."
Jagaddhita meloncat mendampingi. Bayangan Ugrawe berkelebat masuk.
Jagaddhita mengangkat seorang prajurit untuk dilemparkan ke arah Ugrawe. Yang
langsung ditangkap dan dibanting. Tak sempat kaget dan berpikir lagi, si prajurit telah
meninggal dunia.
Jagaddhita menggunakan prajurit yang bisa dipegang sebagai senjata. Akan
tetapi Ugrawe tak memikirkan keselamatan prajuritnya sendiri. Setiap lemparan yang
datang ditangkis dengan tangan dan tendangan.
Sembilan nyawa prajurit secara berurutan jadi korban main lempar-lemparan.
Dengan keras Ugrawe melempar balik setiap umpan yang datang. Pada korban yang
kesembilan, Ugrawe mengubah. Ketika dilempar lagi, ia bukan menolak seperti
biasanya. Melainkan menangkap dan membalikkan. Tapi yang melayang ke depan
bukan tubuh prajurit, melainkan tubuhnya sendiri. Dua telunjuknya terjulur ke
depan, sementara ketiga jari yang lain tertekuk ke dalam. Seperti mau mencungkil
mata Jagaddhita.
Jurus ini berbeda dengan jurus yang selalu diunggulkan sebelumnya. Ugrawe
kini menyerbu Jagaddhita dengan totokan dua jari yang menggunakan tenaga dalam
yang penguasaannya mirip dengan tenaga dalam Jagaddhita. Dua jari yang terulur ini,
satu berisi tenaga yang sesungguhnya dan satu lagi berisi tenaga biasa. Kelebihan
pengaturan tenaga ini. lawan menjadi bingung untuk menentukan di jari yang mana
tenaga sesungguhnya tersimpan.
Sebenarnya itu tidak menjadi soal benar, andai bukan Ugrawe yang
memainkan. Toh perbedaan jarak antara jari yang satu dan yang kedua sangat dekat.
Apalah artinya kalau tinggal menyampok saja. Namun, meskipun jaraknya dekat, daya
pancarnya berbeda. Satu jari diangkat ke atas, bisa mengarah ke mata. Satu jari lain
ditundukkan ke bawah, bisa menotok ke arah pinggang.
Lebih menyulitkan lagi, karena Ugrawe menggunakan empat jari dua tangan
yang menyerang serentak. Menghadapi pertempuran jarak pendek, Jagaddhita
keteter. Lima jurus berikutnya, kakinya sudah terlalu sulit untuk mengatur
pertahanan. Dan dalam sekejap saja ia sudah terkurung. Tinggal waktu saja.
Berada pada titik kritis, Jagaddhita memancing dengan serangan balik. Dua jari
tangan kanan dibiarkan menelusup ke depan, ia membarengi dengan sentilan ke arah
jakun. Ugrawe berseru dingin. Ia terus menerjang. Kalau tipuan yang sama
pernah dipraktekkan Jagaddhita kepada Pu'un, kali ini ternyata hasilnya berbeda.
Justru Ugrawe tidak memedulikan sentilan ke arah jakunnya. Tangan kiri meraup ke
depan, angin berdesir dari samping, langsung menghantam tangan Jagaddhita.
Mengira kecolongan, Jagaddhita mencoba menarik balik tangannya.
Duk!
Tubuh Jagaddhita bergoyang. Tersurung mundur tiga tindak.
Ugrawe meloncat maju sekali lagi. Jagaddhita meloncat ke atas sambil berbalik.
Ia melancarkan pukulan dengan punggung menghadap ke arah lawan. Tanpa
memedulikan serangan lawan, Ugrawe terus menjotos.
Duk.
Kali ini tubuh Jagaddhita terayun dan terbanting di tanah.
"Ayo menyanyi lagi tentang waktu kecil temanmu adalah bidadari. Sekarang
diganti, waktu mati temanmu adalah cacing busuk."
Tangan kiri Ugrawe berputar satu lingkaran sementara tangan kanan terbuka
telapaknya. Sekali terayun, Jagaddhita tak bakal bisa menghindar. Kemungkinan
paling kecil hanya bisa menangkis dengan sisa tenaganya.
Upasara sudah meloncat beberapa tombak jauhnya. Akan tetapi ia merasa tak
tega melihat adegan yang mengerikan. Untuk menolong sudah tak mungkin. Bahkan
kalau ingin melemparkan kerisnya pun rasanya hanya sedikit artinya. Bisa
merepotkan Ugrawe tetapi tetap tak menolong Jagaddhita. Upasara menjilat bibirnya.
"Jangan kuatir, Bibi, aku akan menunaikan tugas terakhir. Kematian bukanlah
akhir. Kehidupan bukanlah awal. Yang muda bisa mati, yang tua lebih lama."
Upasara melakukan sembah, lalu berbalik.
Ugrawe menganggap bahwa Upasara adalah yang paling cerdik dari semua
yang hadir. Perhatiannya sempat terpecah juga dengan kata-kata yang diduga
mempunyai sayap lain.
Siapa yang dimaksudkan dengan yang tua?
Apakah hal ini menyinggung Eyang Sepuh?
"Anak muda, soal mati-hidup bibimu ini hanya soal kapan aku membalik
telapak tangan. Hiburanmu tak akan berguna."
"Ugrawe, kau selalu berhitung sangat teliti dan rapi. Kau sudah menang. Untuk
apa ragu lagi? Aku sekadar mengacau perhatianmu. Agar kau tak seketika membunuh
Bibi. Mungkin dengan begitu akan ada pertolongan datang. Kenapa kau menduga
Eyang Sepuh bisa meloloskan diri dan bakal melaporkan hal ini ke Keraton? Sampai
sekarang pun kita sama-sama tidak tahu di mana Eyang. Apakah masih bersembunyi
di sini, ataukah sudah berada di Keraton, ataukah sedang ditawan lawan yang entah
dari mana, atau justru menemui Tamu dari Seberang. Ugrawe, kau boleh
merencanakan tipu daya macam-macam. Mengundang para pendekar kelas satu
kemari, dengan umpan Tamu dari Seberang. Dan kenyataannya kau berhasil
mengundang semuanya. Aku mengatakan semuanya, meskipun kau sendiri hanya
membawa Kawung Bersaudara dan mengandalkan prajurit-prajurit yang lain.
"Satu hal kau lupakan, bahwa umpan yang kausodorkan berdasarkan
perhitungan yang matang. Dan perhitungan itu, memang memungkinkan bahwa
Tamu dari Seberang akan datang. Siklus datangnya persis saat-saat sekarang ini.
Bahwa yang dituju adalah Perguruan Awan, itulah satu-satunya tempat yang
memungkinkan.
"Ugrawe, tidak sadarkah bahwa yang kauanggap jebakan, itu sebenarnya bisa
terjadi? Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin Pu'un yang dari ujung barat tanah
Jawa bisa datang kemari pada waktunya?"
"Aku senang caramu bicara. Kau sangat cerdik. Lebih cerdik dari muridmuridku.
Tapi mana mungkin aku terkecoh dengan akal bulusku sendiri? Tamu dari
Seberang tak pernah ada. Ken Arok zaman dulu hanya membuat kisah itu untuk
memantapkan Kehadirannya. Ia mencari persamaan dengan dewa-dewa sebagai
nenek moyangnya. Ia mencari darah biru. Tapi sesungguhnya ia perampok besar,
bromocorah yang bisa naik takhta. Dan semua keturunannya adalah keturunan
perampok besar. Yang hanya akan menghancurkan, yang hanya akan merampok
tanah Jawa. Termasuk Kertanegara."
"Tugasmu mulia, Ugrawe. Kau ingin mengembalikan takhta di tanah Jawa ini
kepada darah biru, darah para dewa. Hanya saja kenapa kau melakukan seperti kerja
para perampok?"
"Ini urusanku. Itu tanggung jawabku sendiri."
Telapak tangan Ugrawe bergetar.
"Jagaddhita, hari ini terimalah kematianmu. Sudah kukatakan, Upasara hanya
memperpanjang waktu saja. Langit pun tak bisa membantumu.
Jagaddhita bangun dengan susah. Rasa nyeri dua pukulan seperti meremukkan
isi tubuhnya.
"Kau salah perhitungan, Ugrawe. Gendhuk Tri bisa menolong Bibi...."
Ugrawe meleletkan lidahnya. Hingga menyentuh kumisnya.
"Anak ini sudah kena sirep Pu'un. Tak akan ada yang membebaskannya."
"Kau cerdik, akan tetapi salah perhitungan. Pu'un telah membebaskan
pengaruh sihirnya. Gendhuk Tri, kau bisa menyerang Ugrawe seketika."
Teriakan Upasara mengguntur. Memang, dalam perhitungan hanya Gendhuk
Tri yang bisa menyelamatkan Jagaddhita. Pertama karena ia tak diduga bakal
menyerang secara tiba-tiba. Kedua, posisinya sangat dekat dengan Ugrawe dan
Jagaddhita, tanpa dicurigai.
Dengan memberi komando, Upasara mengharap Gendhuk Tri segera
bertindak. Upasara menduga bahwa Gendhuk Tri sudah dibebaskan pengaruh
sihirnya oleh Pu'un. Karena keduanya sudah diringkus bersama di dalam jala Kawung
Sen.
Ternyata perhitungan Upasara meleset.
Gendhuk Tri menoleh ke arah Upasara, akan tetapi. tak bereaksi. Sinar
matanya masih kosong saja.
"Gendhuk... sekarang!"
Ugrawe mengelus kumisnya.
Jagaddhita terhuyung ke belakang.
Suasana sekeliling terasa hening mencekam. Upasara menggertakkan
gerahamnya.
Jagaddhita menerawang pasrah.
...
kenapa harus bersedih hati..
waktu kecil tontonanmu adalah bidadari...
...
Mendadak terjadi perubahan. Gendhuk Tri seperti tersadar, dan mencabut
patrem dan setagennya, langsung meloncat ke arah Ugrawe. Pusat perhatian Ugrawe
memang sepenuhnya tertuju kepada Jagaddhita. Ia tak mengira sama sekali bahwa
Gendhuk Tri bakal meloncat langsung ke arahnya. Meloncat dan mendaki tangan
Ugrawe. Begitu berada di atas, patrem Gendhuk Tri menyabet ke bawah dengan cepat
sekali. Irisan tajam mengarah ke wajah!
Berteriak pun Ugrawe tak sempat. Tangan kanan yang dipakai pancalan,
ditarik mundur. Berikut tangan kiri berusaha menutup wajah. Tenaga terkumpul di
tangan sedemikian kuat, sehingga arah patrem melenceng ke kiri. Tak urung,
menyambar, daun telinga Ugrawe kena diiris. Darah muncrat membanjir, Ugrawe
melontarkan tubuhnya ke belakang dan dua tangannya kini menyambar ke atas.
Gendhuk Tri tidak menarik mundur serangan kedua, malah berusaha melompat maju
lagi. Dengan cara berjumpalitan di angkasa.
Upasara meloncat maju bersamaan dengan gerak Gendhuk Tri tadi,
menyambar tubuh Gendhuk Tri dan membawa lari. Perhitungan Upasara tepat dan
menentukan. Karena saat itu Ugrawe sudah melontarkan pukulan andalannya. Bumi
seperti tergetar. Menggandeng Gendhuk Tri, Upasara meluncur sambil tangan kirinya
menyambut uluran tangan Jagaddhita. Dalam sekejap ketiga tubuh melayang ke arah
jauh.
Walau dalam keadaan terluka, ilmu meringankan tubuh Jagaddhita masih bisa
diandalkan. Dengan empat kali loncatan, mereka telah terbebas dari serangan
Ugrawe.
Sementara itu Ugrawe tidak langsung menyerbu. Ia memegangi telinganya
yang telah. somplak. Darah yang mengucur segera dihentikan dengan memijit urat di
dekat pelipis. Lalu tangannya merampas bendera dan memberi komando untuk
serbuan total. Kini seluruh prajurit menyerbu ke arah satu jurusan.
Bagi Upasara, Gendhuk Tri, dan Jagaddhita tak terlalu sulit untuk meloloskan
diri. Akan tetapi di depan berdiri Kawung Benggol yang menunggu. Dengan tetap
bergandengan tangan, ketiganya melabrak lawan. Menduga lawan bakal mengeroyok,
Kawung Benggol yang sudah terluka tangannya tak berani adu keras lawan keras. Ia
menarik pukulannya. Kesempatan ini digunakan Upasara untuk terus menerobos
maju.
"Gendhuk, kau tak apa-apa?"
"Entahlah," jawab Gendhuk Tri. "Kadang aku seperti mengantuk."
"Masih mengantuk?"
Tak ada jawaban.
Upasara menggeleng lembut. Ternyata pengaruh sihir Pu'un masih sangat
kuat. Belum bisa dibebaskan sepenuhnya. Hanya waktu Jagaddhita mendendangkan
tembang yang dikenal tadi, ingatannya pulih normal. Kini masih bengong kembali.
Di arena yang lain, Kawung Ketip beserta puluhan prajuritnya menyerbu ke
arah rombongan yang dilindungi oleh Tiga Pengelana Gunung Semeru.
Wilanda terhuyung-huyung, sementara Dewa Maut mencoba menjaga
Padmamuka yang kelihatannya makin berat. Obat bubuk yang ditaburkan dalam
badannya ternyata menjadi racun yang keras. Dewa Maut tak tahan. Ia bopong
Padmamuka dan mencoba mencari jalan sendiri.
"Jangan keluar dari lingkaran," Panengah berteriak memberi peringatan. Ia
sendiri mengubah tempatnya, mencoba mendampingi Dewa Maut. Pembarep dan
Wuragil segera mengikuti gerak Panengah, agar bentuk lingkaran sebagai payung
tetap kuat.
Apa yang dikuatirkan Panengah memang terjadi. Begitu menerobos ke luar, Dewa
Maut sudah langsung terkurung. Kawung Ketip menyabet kaki Dewa Maut, yang
langsung menjadi limbung karenanya. Tubuhnya bergerak-gerak, Padmamuka sendiri
lepas dari bopongannya. Tubuhnya jatuh ke tanah, dan Kawung Ketip menendang
keris.
Terdengar teriakan mengaduh perlahan, tubuh Padmamuka membal ke atas.
"Toleee..." Dewa Maut menjerit, berusaha bangkit. Akan tetapi luka dalam
membuatnya makin parah. Darah segar muntah dari bibirnya, Sebagian berwarna
gelap. Belum bisa berdiri lurus, Kawung Ketip sudah melontarkan pukulan
berikutnya.
Dewa Maut tak berkelit, tak menghindar. Tujuannya hanya satu, mendekat ke
arah Padmamuka. Kena senggol angin pukulan saja, Dewa Maut langsung terguling.
Tubuhnya jatuh bagai pisang ditebang. Rubuh seketika. Tangannya mencoba
menggapai ke depan, tetapi seperti memegang udara kosong.
Jaghana yang melihat Kawung Ketip mencoba menerjang lagi, cepat sekali
menggulung dirinya. Masuk ke dalam perkelahian. Kawung Ketip bersiap, tapi
seketika ia terseret arus berputar. Tak ada jalan lain. Ia ikut berputar masuk dalam
lingkaran.
Kalau saja Upasara sempat mengamati dengan teliti, ia bisa mengerti bahwa
kini yang dimainkan Jaghana adalah permainan sepenuhnya. Bukan seperti ketika
menghadapi Upasara tadi. Pesat bagai gasing, Jaghana berputar melipat. Makin lama
putarannya makin sempit, sehingga jarak keduanya makin dekat, makin dekat, makin
lekat, dan akan saling menempel.
Kawung Ketip bukan jagoan sembarangan. Ia dulu, bersama dua adiknya,
termasuk yang menyerbu sampai ke dinding Keraton Singasari. Ilmunya tidak
sembarangan. Apalagi selama menyembunyikan diri ini, Kawung Ketip makin
memperdalam. Hanya saja sekarang ini yang dihadapi adalah lawan yang sekelas
dengannya. Sebelum ia mengembangkan ilmunya, sudah terpancing jenis permainan
lawan. ilmu berputar memang bukan ilmu yang bisa dipelajari dengan mudah. Mana
lagi ia membuat kesalahan fatal, yang baru diketahui kemudian. Ketika menendang
tubuh Padmamuka tadi, secara tidak langsung ia terkena racun. Kakinya yang untuk
menendang mulai terasa kesemutan. Itu tentu saja menghambat kemampuan
geraknya.
Sebaliknya Jaghana justru sedang berusaha melipat habis. Telapak tangannya
berputar, sementara tubuhnya sendiri terus berputar. Merasa bahwa lawan makin
tertekan, Jaghana mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Kawung Ketip berusaha membetot lawan. Bagian yang diserang di arah
selangkangan. Melihat lawan begitu licik, Jaghana menjadi lebih kuat. Tangan lawan
ditangkap, sementara tubuhnya terus berputar. Kali ini Kawung Ketip benar-benar
turut berputar sambil berpegangan. Satu tangan lagi mencoba menyodet lubang
hidung. Jaghana menangkap pula. Lengkaplah kini. Dua tangan berpegangan, saling
menggempur dengan menyalurkan tenaga dalam. Kawung Ketip berusaha, sementara
terus berputar mengangkat lututnya. Lagi-lagi yang diarah adalah selangkangan.
Risikonya bukan tidak ada. Kuda-kudanya menjadi agak timpang. Akan tetapi
kalau sodokannya mengena, Jaghana bakal habis di sini. Paling tidak bakal ada yang
pecah kena sodokan lutut. Tapi justru Jaghana melihat kelemahan lawan. Begitu kaki
lawan terangkat, satu kaki langsung menyapu. Keras, cepat, dan menebas. Kena gaet
satu kakinya, Kawung Ketip mengeluarkan suara tertahan. Gempuran kaki Jaghana
bukan hanya sangat keras, tetapi membuat ngilu sampai ke sumsum. Tak tahan,
Kawung Ketip berusaha mencengkeram lawan dengan kencang, seperti mau
memencet urat nadinya.
Jaghana justru merasa bagian bawah lawan tak ada perlawanan sama sekali.
Gempuran kaki berubah menjadi semacam gaetan, dan ketika disentakkan, Kawung
Ketip melayang di angkasa.
Wuragil berseru keras sambil meloncat dan mengayunkan pedangnya. Tiga
kali menebas, tiga-tiganya bisa mengenai tubuh lawan. Sebelum tubuh Kawung Ketip
menyentuh tanah, sudah terpisah menjadi tiga potong.
Kawung Benggol tak menduga bahwa kakak sulungnya begitu cepat bisa
ditaklukkan lawan. Dalam geramnya ia mengayunkan rantai panjang, menyerang
Wuragil dari belakang. Di tengah udara, Wuragil membalikkan tubuhnya, menyabet
rantai lawan. Pedangnya bisa dilihat. Kawung Benggol menyentakkan. Meskipun
sebenarnya dua tangan, dan terutama kakinya, terluka, akan tetapi tenaganya cukup
kuat. Apalagi dibandingkan dengan Wuragil yang masih berada di angkasa. Pedang
Wuragil bisa terlepas. Dalam sentakan berikutnya, Kawung Benggol melepaskan
libatan, dan pedang itu berbalik meluncur ke arah pemiliknya.
Pembarep meloncat ke atas, sementara Panengah langsung memasang kudakuda.
Ternyata Pembarep naik ke atas pundak Panengah. Di atas bahu Panengah,
Pembarep mengayunkan tangan, dan menangkap pedang. Sementara itu, Wuragil
melayang turun dengan aman.
Hebat gerakan Trisula ini!
Karena begitu menyentuh tanah, Wuragil langsung ganti memasang kudakuda.
Melihat Kawung Benggol menyerbu masuk, Panengah meloncat. Dengan
Pembarep masih berada di pundaknya, ia meloncat maju dan hinggap di pundak
Wuragil!
Kini Tiga Pengelana Gunung Semeru berdiri tegak lurus satu sama lain.
Menjulang ke atas. Inilah yang disebut Semeru Manjing Langit, atau Gunung Semeru
Bersatu dengan Langit. Ini salah satu dari tiga jurus berantai andalan dari Gunung
Semeru. Konon jurus ini merupakan jurus yang berintikan penyerahan diri kepada
kekuasaan Yang Mahatinggi. Semeru Manjing Langit adalah sinonim dari Curiga
Manjing Warangka, atau Keris Kembali ke Sarungnya. Dalam pengertian Jawa ini
mengandung falsafah penyerahan diri secara total. Sering disebut-sebut sebagai
bersatunya umat manusia dengan Sang Maha Pencipta.
Pada Tiga Pengelana Gunung Semeru, jurus ini akan mencapai hasil maksimal
jika di antara ketiga ksatria bisa menyatukan pikiran. Seolah-olah hanya satu pikiran
tiga badan. Berdasarkan latihan bersama yang memakan waktu lama, kemungkinan
ini bisa tercapai. Walau ketiganya memiliki perangai yang berbeda, akan tetapi ketika
menghadapi lawan bisa satu kehendak. Seperti ketika Wuragil turun ke bawah tadi, ia
langsung memasang kuda-kuda, dan Panengah langsung hinggap di pundak Wuragil.
Sementara Pembarep tetap bertengger di atas.
Kalau tidak ada saling pengertian, gerakan itu tak bisa terwujud dengan
sempurna. Karena walau Wuragil sudah berdiri memasang kuda-kuda di depan, tidak
selalu kedua ksatria yang lain akan melakukan jurus Semeru Manjing Langit.
Tergantung pada situasi yang dihadapi.
Dan Wuragil cukup tanggap. Melihat Kawung Benggol meloncat tinggi, ia
langsung memasang dasar dari jurus andalan. Dan rupanya Panengah pun melihat
jalan keluar yang sama, sehingga langsung meloncat ke atas pundak. Kalau saat itu
Pembarep melihat kemungkinan yang tidak sama, ia bisa memilih gerakan tersendiri.
Tapi agaknya justru sekarang ini melihat satu titik penyelesaian yang sama!
Tak alang kepalang kagetnya Kawung Benggol! Ia sudah meloncat ke atas.
Yang dihadapi adalah tiga orang yang berdiri secara lurus satu sama lain. Sempat
tergetar hatinya, Kawung Benggol merasa makin tak bisa memusatkan pikiran. Mau
menyerang bagian yang mana. Bagian atas atau bagian tengah. Tak ada pilihan selain
harus menggempur semuanya. Dan ini dirasa tak menguntungkan. Kawung Benggol
tak sempat menutup diri sepenuhnya ketika tangan Pembarep menyentuh pundaknya
dan menekan ke bawah, sementara siku Panengah menyodok dada. Dua sodokan yang
masuk secara telak. Kawung Benggol belum bisa sepenuhnya merasakan rasa pedih
dan ngilu, ketika Wuragil menusukkan tombak yang diraup dari tanah.
Bagai sate besar, tubuh Kawung Benggol tertahan pada tombak, yang oleh
Wuragil disentakkan kembali ke atas. Dan Kawung Benggol melayang ke atas.
Panengah bisa menambahi dengan beberapa pukulan. Akan tetapi agaknya Pembarep
tidak tega. Ia lebih dulu mengulurkan tangan, merampas tubuh Kawung Benggol dan
melemparkan ke tengah prajurit yang datang menyerbu. Ia sendiri langsung turun,
disusul oleh Panengah) dan ketiganya membentuk barisan menahan serbuan. Bagi
Wuragil semua tadi adalah kesempatan untuk memamerkan kemampuannya. Sejak
datang ia kena dipecundangi, dan belum sedikit pun bisa memperlihatkan
kepandaiannya. Maka begitu Kawung Ketip dan Kawung Benggol menyerbu, ia
menyambut dengan gairah.
Berbeda dengan Pembarep yang paling tenang. Ia tak berniat jahat. Bahkan
kalau mungkin tak ingin membunuh lawan.
Namun Kawung Benggol tak bisa bertahan lama, Tubuhnya terlempar dengan
tombak masih menancap. Dua sodokan siku Panengah telah mengacaukan sistem
pernapasannya. Maka begitu berdentam di tanah, ia hanya berkelojotan sebentar lalu
terbaring untuk selamanya.
Ketiga Pengelana Gunung Semeru memasang barisan rapat. Setiap serbuan bisa
dihalau, meskipun dengan demikian mereka terpaksa bekerja sangat keras. Jaghana
juga turut menahan dari samping kiri, agar masih mempunyai ruang tersisa.
Rombongan Upasara juga mulai bergabung. Mereka terdesak dan terus
mundur.
Mendadak terdengar sangkakala ditiup sangat nyaring. Pasukan Gelang-
Gelang yang berada di depan tak masuk menyerbu- Bertahan. Sementara lapisan
ketiga di belakangnya, semua memasang anak panah yang ujungnya dibakar. Agak
jauh di tengah, Ugrawe berdiri di atas papan yang diangkat tinggi-tinggi.
"Panah api..."
Teriakan Ugrawe disusul dengan ratusan anak panah berapi menderu bagai disiram
dari langit. Beberapa bisa disampok, beberapa berbenturan sendiri. Namun tak urung
semua terdorong mundur dan makin mundur.
"Awas, beracun. Jaga pernapasan."
Pembarep lebih dulu menutup diri.
Kedudukan memang makin sulit. Ratusan anak panah yang secara terusmenerus
dilepaskan adalah anak panah berapi. Bahaya sesungguhnya bukan berasal
dari api itu, melainkan berasal dari api yang padam. Asapnya akan mengeluarkan
sejenis bau yang menusuk hidung. Sebenarnya justru karena baunya yang sangit,
seperti kain terbakar, mudah cara menghindarinya. Hanya saja karena jumlahnya
kelewat banyak, asap tak bisa dihindari. Kalau panah tidak ditebas, apinya juga
menyulitkan.
Jagaddhita yang berjalan sempoyongan mulai merasa betapa ganasnya bau itu.
"Celaka, kita bisa habis di sini."
Wilanda, yang paling lemah daya tahannya, sudah langsung terduduk. Jaghana duduk
di belakangnya.
Sementara itu hujan panah makin keras, dan asap mulai tercium di manamana.
"Kisanak Jaghana..." Suara Jagaddhita sangat lemah.
"Biar rata dengan tanah, saya akan berada di sini."
"Apakah orang luar boleh melangkahi Lawang Sewu?"
Jaghana menghela napas.
"Kau telah mengetahui hal itu, kenapa masih perlu minta izin?"
"Maafkan, Kisanak Jaghana, kalau saya terlalu lancang."
"Tidak. Tidak ada lancang, tidak ada tidak lancang. Kalau dahulu dibangun
untuk keselamatan negara, sekarang inilah saatnya."
"Di mana?"
"Satu kanan, dua kiri, bintang selatan bertiup pelan."
Jagaddhita menggertakkan giginya.
"Wulung..."
Upasara menoleh.
"Papah Bibi..."
IZRO'IL
SENOPATI PAMUNGKAS I


Upasara maju, membopong Jagaddhita. Satu tangan lain menggandeng
Gendhuk Tri. Tapi Gendhuk Tri mengibaskan tangan. Ia berjalan sendiri.
Mendampingi.
Mereka mundur ke bagian belakang sekali. Beberapa kali Upasara menyampok
anak panah yang terus menyerbu.
Sampai di deretan pohon-pohon besar bagian belakang yang rapat, Jagaddhita
mendongak mengawasi langit.
"Wulung... kau melihat ada gua di belakangmu?"
"Tidak ada."
"Bagus. Masuk ke dalam. Lima puluh tindak ke kanan, seratus tindak ke kiri.
Mulai!"
Upasara masih bingung akan tetapi mengikuti perintah Jagaddhita. Ugrawe di
kejauhan memerintahkan pasukan panah menyerbu maju.
"Jangan ada satu pun yang bisa lolos."
Teriakannya disusul bayangan tubuhnya menuju ke depan. Ketiga Pengelana
Gunung Semeru memapaki dan segera terjadi pertempuran. Jaghana menghadang
serbuan prajurit yang lain. Korban makin banyak berjatuhan, tetapi serbuan makin
gencar. Bagai air bah yang tak menghiraukan apa yang menghadang.
Jagaddhita bersorak. Upasara berhenti. Mengamati sekitar. Tak ada tandatanda
gua di belakangnya. Karena memang tak ada bukit kecil.
"Pelan saja. Tekan bagian ujung rumput itu."
Upasara mengerahkan tenaganya. Bergeming.
"Pelan. Pelaaan saja."
Upasara menekan ke tanah. Perlahan ia salurkan tenaganya. Karena tak ada
tanda batu-batuan atau pohon, ia menekan sekenanya. Mendadak, ada bagian tanah
yang hancur. Seperti menjadi pasir. Makin lama makin lebar.
"Upasara, masuk."
"Yang lainnya?"
"Jangan pedulikan. Ayo masuk..." Jagaddhita menggerung keras. Ia turun dari
bopongan, dan mendorong Upasara masuk. Satu tangan menarik Gendhuk Tri dan
mendorong ke arah lubang. Ia sendiri kemudian menjatuhkan dirinya. Upasara
merasa tubuhnya terbang sedetik, lalu terguling dan terbanting-banting. Disusul
pekik Gendhuk Tri, dan tubuh Jagaddhita sendiri.
Jagaddhita merangkak masuk lebih ke dalam gua, diikuti oleh Gendhuk Tri
dan Upasara. Berjalan menelusuri terowongan tiga tindak, Jagaddhita seperti kejang.
Dengan menggigit keras bibirnya, Jagaddhita berusaha terus merangkak. Rasa sakit
dari pundaknya makin menyiksanya. Dengan menggertak semangatnya, Jagaddhita
memaksakan diri sampai pada suatu cekungan. Tanpa bisa menahan dirinya lagi,
Jagaddhita jatuh tertelungkup.
Gendhuk Tri menjerit sambil menggoyang tubuh Jagaddhita. Upasara
memeriksa badan Jagaddhita yang ternyata makin panas. Keringat sudah membasahi
seluruh tubuh Jagaddhita, bercampur dengan darah. Rambutnya yang putih sudah
berubah lengket dengan darah yang membeku. Sementara itu sayup-sayup suara
pertempuran masih terdengar. Sesekali jeritan menyayat di antara beradunya senjata.
Jagaddhita berusaha duduk. Punggungnya bersandar ke dinding. Gendhuk Tri
yang biasanya tak begitu peduli, kini pucat pasi.
"Wulung..." Suara Jagaddhita terdengar menggeram. "Teruslah menelusuri
terowongan ini. Ikuti saja. Kira-kira waktu yang digunakan untuk menanak nasi, kau
akan bisa keluar dari sini. Keluar dari desa ini. melewati sungai besar, kau akan segera
menuju jalan utama menuju Keraton."
Jagaddhita meloloskan cincin di jarinya.
"Meskipun kau orang Keraton dan bisa dengan enak keluar-masuk, bawalah
cincin ini. Bagaimanapun keadaannya Keraton saat ini, dengan cincin ini kau bisa
masuk ke sana.
"Tanda pengenal yang kau miliki bisa menjadi pembunuhmu bila saat ini
Keraton dikuasai lawan. Cincin ini akan mengantarkan kau ke dalam."
Upasara Wulung menerima dengan perasaan masih bingung.
Dan kemudian, dengan satu gerak sangat cepat, tangan kanan Jagaddhita
menampar pipinya sendiri. Plak. Keras sekali. Dari bibirnya mengalir darah segar.
"Mbakyu...," teriak Gendhuk Tri kaget.
Upasara Wulung membelalakkan matanya. Ia tak menyangka bahwa
Jagaddhita akan menampar mulutnya sendiri hingga berdarah. Lalu tangan yang
selesai untuk menampar dimasukkan ke mulut. Mencari-cari. Ketika keluar lagi,
tangan itu ternyata memegang dua buah gigi. Masih basah oleh darah dan ludah.
"Temui Ingkang Sinuwun, Baginda Raja. Ingkang Sinuwun akan terpaksa
menemuimu jika kau perlihatkan gigi ini. Dua buah gigi berlapis emas ini, dulu
beliaulah yang menyarankannya.
"Wulung, apa kau jijik?"
Upasara Wulung menerima dengan perasaan masih kacau.
"Segeralah berangkat. Apa pun juga yang terjadi, kau harus masuk Keraton,
dan sowan Ingkang Sinuwun. Katakan kejadian ini. Wulung, berangkatlah sekarang."
Bibir Upasara bergetar keras. Ini benar-benar tak masuk dalam akalnya.
Bagaimana mungkin seseorang mencabut giginya, dua buah, dengan paksa, sebagai
tanda pengenal? Bagaimana mungkin seorang Baginda Raja yang demikian berkuasa
dan besar pernah meminta seorang Jagaddhita untuk memasang gigi emas?
Pengalaman Upasara dalam soal asmara memang masih terlalu polos. Ia tak
paham walau sekuku hitam soal liku-liku asmara. Bahwa Baginda Raja mempunyai
selir sekian puluh, ia tahu persis. Bahwa Baginda adalah lelaki terpilih di antre semua
wanita yang ada di Singasari, itu tak dibantahnya. Akan tetapi bahwa seorang yang
begitu terhormat pernah menjalin asmara dengan cara ganjil, itu susah masuk di
dalam pikirannya.
Jagaddhita menghela napas panjang. Tak mungkin dalam waktu sekejap ini
menceritakan hubungan pribadinya dengan Baginda Raja. Mungkin juga ketika
Jagaddhita meninggalkan Keraton, Upasara Wulung belum tahu banyak. Dan tak
pernah mendengar cerita.
"Berangkatlah sekarang, Wulung."
"Tidak, Bibi... Saya tak mungkin meninggalkan Bibi sendirian di sini. Luka Bibi
masih gawat, sementara setiap saat lawan bisa menyerbu ke dalam terowongan. Mana
mungkin saya meninggalkan Bibi saat ini?"
"Wulung, kau ternyata sama tololnya dengan kerbau. Bikin malu keluarga
Keraton saja.
"Dengar. Saat ini Keraton Singasari sedang dalam ancaman bahaya terbesar.
Bahaya dari dalam. Kehinaan yang luar biasa sedang terjadi. Tuhan akan mengutuk
sampai hari kiamat.
"Tetapi, sebelum kutukan itu datang, mungkin kita semua tak melihat Keraton
lagi. Nah, selagi masih ada kesempatan untuk bersiap-siap menghadapi bahaya,
mengapa tidak kita usahakan?
"Wulung, jangan pikirkan keselamatan diriku. Aku sudah terlalu tua. Kalau
sisa hidupku ini bisa menjadi darma bakti kepada Baginda Raja dan Keraton..."
Napas Jagaddhita tersengal-sengal.
Rasa nyeri kambuh dengan hebatnya. Tetapi lebih daripada rasa nyeri di
pundaknya, luka lama terobek kembali. Luka indah yang disembunyikan jauh di
dalam hati sanubarinya.
Ia hanyalah rakyat biasa. Ayahnya seorang abdi dalem bagian- karawitan. Pada
usia enam tahun, ia belajar menari. Pada usia delapan tahun, tepat sewindu, ia
diizinkan belajar di dalam Keraton. Belajar menari. Saat itu Baginda Raja Kertanegara
belum naik takhta. Akan tetapi secara tidak resmi telah memegang tampuk
pemerintahan. Sebagai pangeran pati, putra mahkota, Kertanegara sangat
memperhatikan masalah kesenian.
Sejak itulah secara resmi ia menjadi penari Keraton. Dengan nama resmi
Jagaddhita. Ketika Baginda Raja berkenan mengambilnya sebagai selir kesayangan,
Jagaddhita hanya mempunyai satu tujuan dalam hidupnya: berbakti sepanjang
hidupnya kepada yang telah memberi harga diri.
Sejak itu pula Jagaddhita hanya berpikir satu hal: membahagiakan Baginda
Raja. Dengan segala kemampuan dan pengobatan tradisional, Jagaddhita selalu
menjaga agar tubuh dan penampilannya selalu sempurna, selalu membahagiakan
Baginda Raja.
Suatu malam yang sunyi, Baginda Raja bertanya kepadanya.
"Dhita, sekian lama kita berdua, aku tidak melihatmu hamil."
"Mohon ampun, Sinuwun. Ampunilah tindakan hamba yang cubluk yang
kelewat bodoh ini. Hamba tak berhak menerima winih, benih, dari Ingkang
Sinuwun."
"Kenapa, Dhita? Semua selirku ingin mendapatkan anak keturunanku. Kenapa
kau tidak mau?"
"Hamba yang cubluk ini hanya berpikir dan menyerahkan segalanya demi
kebahagiaan Sinuwun. Apa artinya kepentingan hamba pribadi. Maafkan,
Sesembahan, bukannya hamba tidak berharap. Bidadari di surga pun berharap bisa
menjadi penyambung keturunan Ingkang Sinuwun. Tetapi hamba cukup puas dan
bahagia dunia-akhirat bisa membuat Sinuwun bahagia."
"Apa yang kau lakukan?"
"Maafkan hamba, Sinuwun,"
Baginda Raja mendengarkan penuturan Jagaddhita bahwa ia pergi kepada
tukang pijat Keraton. Bahwa ia telah diurut sedemikian rupa sehingga tubuhnya tak
mungkin bisa mengandung. Ini memang berbau seks, akan tetapi itulah yang
dilakukan Jagaddhita, demi kepuasan orang yang paling dihormati.
"Ah! Kau tak usah berbuat seperti itu."
"Hukumlah hamba yang cubluk ini."
"Dhita, Dhita... kau benar-benar memberikan kebahagiaan dunia. Aku tak
bakal bisa melupakanmu. Ratusan selir bergilir menanti perintahku, tetapi kau lain.
Aku ingin kau menyimpan gigi emas di bagian belakang gigimu. Biarlah kita berdua
saja yang tahu.
"Dhita, sebenarnya kau tak perlu berkorban seperti itu."
Itulah asal mulanya Jagaddhita melapisi giginya di bagian rahang dengan emas,
Bisa dibayangkan betapa sakitnya ketika tadi Jagaddhita mencoba paksa mencopotnya.
Namun semua ini dilakukan oleh Jagaddhita dengan segala kerelaan dan keikhlasan
yang tulus.
Pemujaan Jagaddhita adalah pemujaan yang tulus ikhlas. Ia tidak berambisi
apa-apa. Tidak juga sebagai selir terkasih. Atau bahkan berpikir untuk diangkat
sebagai prameswari, permaisuri, yang kesekian. Tak setitik pun terpikir ke arah itu.
Juga tidak setitik pun berpikir bahwa dengan itu ia bisa menyimpan harta benda.
Ketika terjadi malapetaka di Keraton dengan diguntingnya rambutnya,
Jagaddhita meninggalkan Keraton tanpa membawa bekal apa-apa. Kecuali cincin yang
melekat di jarinya dan dua buah gigi emas yang tersembunyi.
Dalam manekung pada Tuhan, Jagaddhita menyerahkan dirinya. Tadinya ia
berpikir untuk bunuh diri. Namun jiwa besar Baginda Raja menebas pikiran ke arah
itu. Kalaupun ia bakal mati dengan telanjang dan berdiam diri, itu atas kehendak
Tuhan, bukan keinginannya bunuh diri.
Jagaddhita memasuki hari keempat, membiarkan dirinya telanjang di tengah
hutan. Antara pingsan dan sadar. Setelah melewati masa-masa dimanjakan di Keraton.
secara tiba-tiba ia menempuh perjalanan yang panjang. Tanpa makan, minum, atau
istirahat. Tidak juga menghirup air hujan yang jatuh ke bibirnya.
Ketika itulah ia melihat bayangan mendekat. Jagaddhita tak tahu apakah yang
mendekat itu malaikat mau mengambil nyawanya, ataukah binatang buas mau
memakan dagingnya, atau bayangan dalam mimpinya.
"Seumur hidup aku kenyang melihat wanita telanjang, tapi di tempat seperti
ini sungguh tak pernah kuperkirakan." Bayangan itu ternyata manusia
yang bisa berkata.
"Nah, jika kau masih ingin terus telanjang tanpa malu, aku akan
menikmati sampai puas."
Jagaddhita bergeming. Ia memang sudah tak bisa berbuat apa-apa. Dan tak
tahu bahwa kemudian tubuhnya ambruk ke rumput. Dan dibiarkan semalaman, dan
esoknya diberi makan buah-buahan.
"Nah, sebelum kau mati, ceritakan siapa namamu."
Jagaddhita menemukan dirinya terbaring di karang, dalam suatu gua.
Tubuhnya ditutupi daun-daunan.
"Saya tidak punya nama. Semua tak perlu."
"Ini baru menyenangkan. Kau patah hati karena suamimu kawin lagi? Atau
anakmu kawin dengan orang yang tidak kau sukai? Suamimu jadi penjudi?"
Jagaddhita tak menjawab. Tak kuasa apa-apa, ketika lelaki yang berwajah tua
itu memeras air jeruk dan menyuapinya. Lalu meninggalkan. Esoknya muncul lagi.
"Belum mati?"
"Kenapa Rama menolong saya?"
"Bagus, setiap kali aku bertanya, kau juga bertanya. Aku bertanya, aku butuh
bertanya karena aku suka orang yang nglalu, orang yang berniat bunuh diri seperti
kamu."
Lalu ditinggal pergi.
Jagaddhita mulai memakai kain yang diberikan orang itu, yang selalu datang
pada pagi hari.
"Bagus, sekarang kau mau cerita?"
"Siapa nama Rama?"
Begitulah selama dua minggu, keduanya bertemu pada pagi hari untuk saling
melontarkan pertanyaan. Minggu kedua, Jagaddhita melihat Rama sedang berlatih
silat.
"Mari kuajari kau satu gerakan yang paling mustahil. Tapi setiap kali kau harus
menceritakan dirimu."
"Rama, apa perlunya mempelajari gerakan itu? Tanpa dipelajari pun bisa."
Rama jadi berjingkrakan.
"Kalau kau bisa menirukan gerakku, kuangkat kau jadi muridku. Bagaimana?
Begitu selesai bicara, Rama melihat takjub. Jagaddhita menirukan secara persis
gerakan yang ditunjukkan Rama.
"Rama Guru, apakah gerakan saya salah?" Rama Guru membelalak.
"Dewa pun perlu belajar gerakan itu dua bulan. Bagaimana mungkin kau bisa
menirukan dengan sekali lihat? Kau pasti mengakaliku! Tidak, aku tak mau dipanggil
Rama Guru.
"Kecuali... kecuali kalau gerakan ini kautirukan dengan persis"
Rama Guru membuat gerakan, dimulai dengan dua gerakan tangan Yang satu
menusuk ke depan, lalu ditarik ke belakang. Sebelum tarikan penuh, tangan
sebelahnya menusuk ke depan, yang juga berbelok ke arah bawah, disusul dengan dua
gerakan kaki sekaligus, seperti tangan bertepuk. Dengan meloncat hal itu bisa terjadi.
Hanya saja, ketika tubuhnya turun kembali, satu tangan menyangga tubuh sebelum
menyentuh tanah, dan dua kakilah yang digunakan untuk menendang. Cara
menendang ke depan dengan berbalik mirip gerakan tangan. Satu maju, ditarik, dan
diganti kaki kedua yang arahnya berbelok, lalu disusul, atau lebih tepat diganti
dengan tusukan tangan.
Belum selesai gerakan itu, Jagaddhita sudah bisa menirukan. Hanya saja ketika
menjatuhkan diri dengan jungkir berbalik dan disangga dengan satu tangan,
penyanganya tidak kuat. Sehingga tubuhnya terbanting ke rumput dan tangannya
sakit sekali. Akan tetapi gerakan kakinya tetap sama. Gerakan susulan dengan tangan
terganggu karena tangan Jagaddhita sangat sakit.
"Lhadalah... siapa suruh aku berjanji mengangkat murid segala?"
"Rama Guru yang berjanji, bukan saya."
"Katakan dari mana kau mengintip aku latihan?"
"Baru saja. Rama Guru sendiri yang mengajari."
Bagi Rama Guru ini tidak masuk akal sama sekali. Bagaimana mungkin dengan
sekali melihat bisa menirukan secara persis?
Sebenarnya bagi Jagaddhita tak ada yang aneh. Tak ada yang mustahil. Juga
ketika ditunjukkan gerakan yang makin sulit, Jagaddhita bisa menirukan secara persis.
Bahkan kemudian merangkaikan gerakan ke satu dengan gerakan kedua, dengan
gerakan ketiga, dan seterusnya. Lalu menyambung dengan gerakan semula.
Memang tidak aneh bagi Jagaddhita. Sejak kecil ia mengenal tarian. Dan
hidupnya semata-mata untuk berlatih gerakan menari. Dasar-dasar semua gerakan
tangan dan kaki ia kuasai dengan baik. Berdasarkan ketajaman matanya, ia bisa
menghafal dengan mudah. Kecuali gerakan-gerakan yang, menurut ukurannya, tidak
terlalu tepat. Seperti gerakan mengangkang atau gerakan mengangkat tangan lebih
tinggi dari bahu. Gerakan semacam ini agak tabu untuk seorang wanita. Kurang susila.
Kalau seorang guru tari yang paling kenamaan mengajarkan ini pada
Jagaddhita sebelum rambutnya dipotong, Jagaddhita lebih suka mati daripada berbuat
tidak susila. Akan tetapi sekarang ini, pikiran susila atau tidak, mencerminkan
kewanitaan atau tidak, bukan masalah lagi. Telanjang pun ia tak akan peduli lagi
apakah ini memalukan atau tidak.
Demikianlah berminggu-minggu Rama Guru mengajari berbagai gerakan, dan
Jagaddhita menirukan dengan sempurna.
"Kau bisa menirukan dengan baik, tapi tak ada gunanya. Kau tak punya tenaga
sama sekali. Percuma saja.".
"Kalau itu bisa dilatih, apa susahnya, Rama Guru?"
Sampai enam bulan purnama, Jagaddhita melatih pernapasan dan cara
menghimpun tenaga. Rama Guru selalu datang dan pergi. Kadang melatih, kadang
langsung mengajak bertempur. Namun selama itu tak pernah saling mengenal.
Jagaddhita tak mengenal siapa yang mengajari dan Rama Guru juga tak mengenal
siapa yang diajari. Dua tahun berlalu dengan cepat. Jagaddhita makin pesat. Ia lebih
mantap dan lebih lama mengimbangi Rama Guru.
"Selama ini aku main panggil kau dan saya saja. Dengan apa kau kupanggil?"
"Saya bisa dipanggil dengan apa saja."
"Selama ini kau dipanggil apa?"
"Jagaddhita."
"Lhadalah... namamu terlalu bagus. Siapa yang memberi nama seperti itu?"
"Ingkang Sinuwun..."
Tak diduga tak dinyana, Rama Guru berteriak gusar dan langsung
menghantam pohon asam. Belum puas dengan satu pukulan Rama Guru menyerang
secara beruntun, dan kemudian menendangnya .hingga pohon itu rubuh
mengeluarkan suara keras.
"Kausebut nama itu, kubunuh kau!"
"Nama itu anugerah Ingkang Sinuwun. Kalau mau bunuh silakan, Rama Guru."
Jagaddhita tak menyangka bahwa Rama Guru benar-benar mengayunkan
tangannya dan sebongkah batu jadi retak karenanya. "Rama Guru, saya tak bisa
menjawab yang lain."
"Ketahuilah bahwa raja itu tak perlu kau ucapkan. Apalagi dengan rasa hormat
seperti itu. Ia..."
Kim ganti Jagaddhita yang murka. Ia sama sekali tak rela sesembahannya,
priyagung yang paling dihormati dan dikagumi dipanggil "ia" begitu saja.
"Mulai hari ini Jagaddhita tak perlu berguru kepada Rama lagi. Kalau Rama mau
mengambil semua ilmu yang ada, silakan."
"Kau goblok."
"Benar, Rama Guru."
"Kau edan."
"Benar, Rama Guru."
"Ia itu..."
Jagaddhita langsung menyerang. Tiga jurus cuma, ia sudah ditelikung.
Tubuhnya dikempit dengan dua kaki Rama Guru yang sekaligus menginjaknya.
"Dhita, kau masih penasaran?"
"Panggilan itu hanya diucapkan Ingkang Sinuwun."
Rama Guru tertawa lucu. Lalu mengumandangkan nama "Dhita, Dhitaaaa"
berulang kali hingga jemu.
"Dhita, aku mau lihat kau bisa apa. Aku bisa berteriak, bisa memanggilmu
seperti ia memanggilmu. Apa hebatnya rajamu itu?"
"Lalu apa hebatnya Rama Guru kalau cuma bisa menirukan?"
Rama Guru meludah ke tanah.
Lalu bersuara pelan, seperti kepada dirinya sendiri, "Barangkali Penguasa
Tunggal sedang mengujiku. Sekian lama aku meninggalkan Keraton, sekian lama aku
membenci dan bersumpah tak mau mendengar suara menyebut namanya. Tak
tahunya sekarang masih tetap harus kudengar sebutan raja dengan embel-embel yang
memalukan. Dan orang yang menyebut itu memanggilku sebagai Rama Guru.
"Dunia tidak adil."
Lalu Rama Guru pergi lama sekali:
Jagaddhita berlatih sendiri. Setengah tahun ia berlatih sendiri dengan segala
ketekunannya. Semua waktu yang ada dihabiskan untuk terus-menerus berlatih.
Jagaddhita memang tak memikirkan hal yang lain. Makan ia bisa mengambil buahbuahan,
minum dan mandi tak menjadi soal. Pakaian pun selama masih ada yang
dikenakan, sudah lebih dari cukup. Satu-satunya keinginannya: bisa merubuhkan
pohon asam dan menghancurkan batu seperti yang dilakukan Rama Guru. Kalau ia
sudah menguasai itu... bisa membalas dendam.
Rama Guru ternyata muncul lagi. Dan melihat ketekunan serta ketaatan
Jagaddhita yang dahsyat. Hasratnya menyala-nyala. Sehingga ia melatih lagi, dan
lebih bersungguh-sungguh. Hubungan antara guru dan murid yang sangat ganjil.
Mereka berdua membicarakan banyak hal dengan akrab. Tapi kalau sudah membelok
ke arah pembicaraan mengenai Baginda Raja dan atau ia, menemui jalan buntu. Duaduanya
tersinggung, dan pertempuran tak-bisa dihindarkan.
Makin lama Jagaddhita makin bisa mengimbangi Rama Guru. Makin tahun
makin lama bertahan, dan beberapa kali pula Jagaddhita mampu balas menyerang.
Sesungguhnya ini cara belajar yang efektif. Karena ketika uji coba atau latihan, semua
dipraktekkan dengan sungguh-sungguh. Jagaddhita bisa melukai lengan Rama Guru.
Sebaliknya ia sendiri beberapa kali mengalami patah tulang. Atau bahkan muntah
darah.
"Dan sekarang kau bisa membalas dendam. Berangkatlah. Siapa yang akan kau
balas?"
Barulah Jagaddhita menerangkan asal-usulnya. Dan ia berangkat ke Keraton.
dan kemudian kembali lagi tanpa hasil. Ia tak jadi membalas dendam.
"Tidak jadi?"
"Rama Guru, izinkanlah saya berbakti pada Rama Guru, kepada Keraton,
kepada Baginda Raja...."
"Kau mau jadi prajurit?"
"Berbakti pada Keraton tidak selalu harus menjadi prajurit."
"Keraton? Negara? Selama rajamu itu yang memerintah, selama itu pula masih
akan berantakan tak karuan."
"Rama, bukankah kewajiban kita untuk berbakti pada Raja Keraton, yang
berarti berbakti pada negara? Baginda Raja sangat besar, sangat jembar, sangat luas
pandangan Baginda Raja...."
"Aku tak mau berbicara soal itu lagi. Kau sudah gila. Tak bisa dibuat waras lagi.
Pergilah. Kutunggu di sini setiap malam purnama di akhir tahun."
Begitulah Jagaddhita mulai berkelana. Mulai terjun dalam dunia persilatan.
Sekali setahun ia kembali ke tempat semula untuk bertemu Rama Guru.
Menceritakan pengalaman, melatih, bertempur, dan berakhir dengan hal yang sama.
Bertahun-tahun kejadian itu terus berulang. Jagaddhita makin matang. Bukan hanya
dalam penguasaan ilmu silat akan tetapi juga pengalaman hidup.
Sampai suatu ketika Rama Guru membawa seorang anak kecil, yang dipanggil
Gendhuk Tri.
"Ia bisa kau pakai untuk latihan. Ajari terus seperti aku mengajarimu. Dhita,
dua tahun lagi pergilah ke Perguruan Awan. Di Sana akan ada Tamu dan Seberang.
Kalau tamu itu benar datang, lihat apa yang terjadi. Laporkan kepadaku. Mulai hari
ini aku akan sibuk sekali."
Itulah asal mulanya Jagaddhita datang ke Perguruan Awan.
Dan sekarang, Jagaddhita merasa tak bisa menyanggupi semua perintah Rama
Gurunya. Jagaddhita menghela napas. "Wulung..." Upasara masih ragu.
Sebentar lagi aku akan mati. Juga yang lainnya. Tetapi jika kau bisa
memberitahukan ke Keraton bahwa Raja Gelang-Gelang akan kraman, akan mbalela,
akan memberontak, dan akan berkhianat, rasanya masih ada artinya.
"Makin cepat makin baik.
"Kau masih tunggu apa lagi?"
"Bibi..."
"Kalau kau tak berangkat, aku akan mati dengan sedih sekali."
"Gendhuk Tri..."
Jagaddhita menggeleng. "Tidak. Kau jangan bawa dia. Perhatianku akan
terpecah. Biarlah Gendhuk Tri di sini bersama aku. Kepada Rama Guru aku berjanji
mengajari. Mungkin masih ada sisa beberapa saat. Sesuai dengan janjiku.
"Kalau Gendhuk Tri ikut bersamamu, ia akan memperlambat perjalananmu.
Padahal kau tak boleh terlambat. Kalau pasukan Gelang-Gelang mencapai Keraton,
sejarah Singasari akan lain."
Upasara Wulung berpikir sendiri. Cepat ia melaksanakan jalan pikirannya.
Tangan kiri menarik Gendhuk Tri dan mulai merangkak ke luar.
"Maafkan Bibi, Gendhuk Tri saya ajak..."
Tiga rangkakan. Gendhuk Tri menggigit tangan Upasara keras sekali. Dalam
kagetnya Upasara melepaskan cekalannya.
"Siapa sudi ikut kamu?"
Benar-benar tak tahu bahaya, pikir Upasara. Ia berusaha menangkap Gendhuk
Tri yang sulit menghindar karena terowongan sangat sempit.
"Aku akan buka kainku kalau kau menarikku."
Gendhuk Tri bukan hanya sesumbar. Ia benar-benar mengangkat dan
melepaskan kainnya. Tak ada jalan lain bagi Upasara selain memalingkan wajahnya.
Begitu berpaling pantatnya ditendang Gendhuk Tri sambil tertawa mengikik. Dan
Upasara tak punya pilihan selain terus merangkak maju.
Gua itu panjang dan gelap. Beberapa kali Upasara terantuk. Blangkonnya jatuh
entah di mana. Kadang ia terpaksa benar-benar merayap seperti ular, kadang
merangkak seperti anjing, kadang setengah laku ndodok, sikap hormat kalau mau
sowan di Keraton.
Upasara mengerahkan tenaganya. Kalau banyak orang mau mengorbankan diri
untuk memberi laporan ke Keraton, untuk berbakti pada Keraton, kenapa ia harus
ayal-ayalan? Secara jelas ia masih mendengar suara teriakan di mulut gua. Rasanya
beberapa prajurit sudah memasuki gua.
Sebentar lagi pasti menemukan tempat Jagaddhita dan Gendhuk Tri. Dan
kedua orang itu pasti akan berusaha menghambat jalan masuk. Upasara tidak mau
mati percuma. Ada dendam yang bergelora dalam dadanya. Dendam pribadi dan
dendam kepada Ugrawe serta pengkhianatan Jayakatwang.
Desakan ini semua makin mengeras dalam diri Upasara.
IZRO'IL
SENOPATI PAMUNGKAS I


Dan ia berjalan, merangkak, merayap makin cepat. Makin tidak memedulikan
dirinya sendiri. Gua itu makin lama makin gelap. Seperti tak ada ujungnya. Upasara
terus merayap, merangkak, berjalan. Tujuannya hanya satu. Ke arah depan.
Barangkali akan ditemukan cahaya. Dan kemudian memacu tenaga sekuatnya untuk
bisa lebih dulu sampai ke Keraton!
JAGADDHITA melepas kepergian Upasara dengan rasa bahagia. Terdengar helaan
napasnya yang panjang, berat dan sangat melelahkan.
"Gendhuk Tri, apakah kau takut mati?" Suara Jagaddhita sangat perlahan. Rasa
masih sakit muncul setiap kali ia mengerahkan sedikit tenaga. Akhirnya Jagaddhita
bersandar ke dinding batu. Terasa tak tersisa lagi tenaganya. Kepalanya juga
menyandar sepenuhnya.
"Gendhuk Tri. apa kau takut mati?"
Sinar mata polos Gendhuk Tri memantulkan cahaya.
"Bagaimana aku tahu Mbakyu? Aku belum pernah mati."
"Sebentar lagi akan kau rasakan. Akan kita rasakan bersama. Bagaimana
rasanya sekarang ini?"
"Aku sendiri tak tahu."
"Inilah yang dinamakan nasib. Inilah takdir. Kita hanya tinggal menjalaninya.
Aku tidak mengenalmu, Tidak mengenal asal-usulmu. Tapi apakah penting kita saling
bercerita kalau sebentar lagi mati?
"Sejak Rama Guru menyerahkanmu kepadaku aku merasa kau bagian dari diriku. Aku
menyukaimu. Perawan seperti kaulah yang diharapkan muncul di Keraton. Baginda
Raja akan sangat bangga mempunyai rakyat sepertimu. Berani, ganas dan maju ke
depan. Sayang sekarang ini keadaannya tidak memungkinkan Baginda Raja bertemu
denganmu."
"Mbakyu kenapa selalu bercerita tentang kematian."
"Sebab itulah yang akan segera terjadi. Gua ini akan diketemukan. Jika bangs*t
Ugrawe itu menemukan, ia akan menyerbu masuk. Satu-satunya yang bisa kita
lakukan adalah membuat mati bersama. Setidaknya melukai seperti tadi. Tapi bangs*t
itu kelewat licik. Ia bisa menyuruh menimbuni lubang dan itu berarti kita terkubur
hidup-hidup di sini."
"Kalau Kangmas Wulung bisa keluar dari sini, apa susahnya kita keluar?
"Segera setelah Mbakyu bisa menahan rasa sakit, kita melalui jalan yang
dilewati Kangmas Wulung."
Dalam gelap Jagaddhita tersenyum.
Ingin sekali tangannya mengelus kepala Gendhuk Tri
"Gua ini dinamakan Lawang Sewu, alias Pintu Seribu. Banyak sekali jalan
masuk, banyak sekali jalan keluarnya. Akan tetapi jalan keluar yang sesungguhnya
hanya satu. Yaitu yang dilalui. Setelah itu tak mungkin bisa dilalui lagi. Ini adalah gua
yang dibuat sedemikian rupa sehingga hanya dipakai sekali saja."
"Aku belum pernah mendengar nama gua seaneh ini."
"Gua Lawang Sewu dahulu dipersiapkan olah Mpu Raganata yang kesohor.
Untuk menjebak lawan yang akan menyerbu ke Keraton Singasari. Perguruan Awan
ini sengaja dibangun di sini, karena sesungguhnya inilah benteng yang paling ketat di
luar dinding Keraton. Eyang Sepuh sengaja mendirikan Perguruan Awan di sini
bukannya tanpa perhitungan.
"Jika lawan akan menyerbu ke Singasari, pastilah akan melalui Perguruan
Awan. Dan di sinilah akan terjadi perang habis-habisan. Ada dua kemungkinan.
Perguruan Awan menang atau kalah. Jika menang, lawan bisa dihalau mundur dan
tak akan menjadi persoalan.
"Jika lawan menang, para ksatria akan melarikan diri lewat Gua Lawang Sewu
ini dengan harapan lawan akan mengejarnya. Dan lawan itu akan terkubur di sini.
Karena setiap lorong yang baru saja dilewati, tanah-tanahnya akan berguguran
menutup dengan sendirinya. Dan mereka tak mungkin bisa maju lagi. Ini akan
dimulai di tengah gua. Sehingga pengejarnya tak akan bisa mundur lagi.
"Kalau kita tadi mengikuti Upasara Wulung, kita mungkin akan selamat.
Tetapi itu percuma. Karena aku sudah tidak kuat lagi.
"Itulah sebabnya tadi kutanyakan apakah kau tidak takut mati."
"Lawang Sewu adalah perangkap yang dahsyat. Hebat sekali yang bernama
Raganata itu."
"Hush... kau tidak boleh menyebut namanya begitu saja." Kalau Jagaddhita
masih cukup tenaganya, mungkin ia akan langsung menempeleng Gendhuk Tri. Atau
paling tidak akan menjewer hingga Gendhuk Tri kesakitan dan menyembah Mpu
Raganata.
"Di dunia ini. yang mampu mengimbangi jiwa besar Baginda Raja, hanyalah
Mpu Raganata. Kedua junjungan ini ibarat panglima perang dan saisnya. Akan tetapi,
siapa nyana, jika sekarang bangs*t Ugrawe memorak-porandakan semua rencana
besar ini?"
"Mbakyu, aku belum mengerti. Kalau Lawang Sewu ini ciptaan yang
terhormat Mpu Raganata, bagaimana mungkin Mbakyu bisa mengerti?"
"Meskipun aku sangat dekat dengan Baginda Raja, tak bakal Baginda Raja
memberitahu soal ini."
"Dari mana Mbakyu mengetahui hal ini?"
"Dari Rama Guru."
"Rama Guru?"
Suara kaget Gendhuk Tri membuat Jagaddhita juga kaget.
"Kenapa kau seperti kaget?"
"Siapa sebenarnya Rama Guru?"
"Astaga, kau tak mengenalnya?"
"Tidak."
"Bagaimana kau bisa diajak Rama Guru untuk dipertemukan denganku?"
Gendhuk Tri duduk bersila. Tangannya bermain dengan pasir tanah.
"Aku berada di Keraton, ingin belajar menari. Akan tetapi kemudian
diambil oleh Rama Guru. Dibawa berkeliling. Diajari ilmu silat, dan
kemudian dipertemukan dengan Mbakyu. Lalu Mbakyu ajak berkelana,
berlatih, dan menuju daerah ini."
"Hmmmmmmm, aku sudah menduga bahwa Rama Guru mempunyai
hubungan yang erat dengan Keraton. Sangat erat. Tapi entahlah, hubungan apa. Rama
Guru sendiri tak pernah bersedia menjelaskan. Pastilah hubungan antara dendam dan
pemunah yang berlebihan. Hmmmmmmm, sungguh sulit diduga.
"Sampai mati pun kita tak akan mengenali
"Heh, Gendhuk Tri, kau juga tidak tahu siapa Rama Guru?"
Gendhuk Tri menggeleng.
"Bagaimana ia mengajakmu pergi?"
"Aku sudah bilang tadi. Mbakyu mendengarkan apa tidak?"
Dalam situasi yang kebat-kebit begini, Gendhuk Tri ternyata masih keras
kepala.
"Aku sudah bilang mau belajar menari. Datang ke Keraton dan kemudian
bertemu dengan Rama Guru dan ia ternyata mengajari aku ilmu silat. Lalu
membawaku pergi."
"Kau tak tanya kenapa?"
"Rama Guru bilang, aku tak boleh jadi klangenan Baginda Raja."
Darah Jagaddhita berdesir keras. Klangenan adalah istilah yang diperhalus dari
gendhak, atau penghibur. Agaknya Rama Guru kuatir kalau nanti Gendhuk Tri
nasibnya sama dengan Jagaddhita!
"Aku bilang bahwa aku tak mau jadi klangenan. Aku mau jadi penari."
"Hush, kau tak boleh bicara seperti itu. Apa pun kehendak Baginda Raja, itu
harus kita junjung tinggi. Kita ini punya darah dewa mana, sehingga harus berkata
tidak kalau Baginda Raja menghendaki?
"Kalau..."
Suara Jagaddhita terhenti. Matanya menjadi buas. Dua buah bayangan
menyuruk masuk. Gendhuk Tri bersiap untuk menghadapi. Tapi bayangan tubuh itu
tak bereaksi apa-apa. Jatuh begitu saja.
Sekilas Jagaddhita masih bisa mengenali bahwa bayangan yang dilemparkan ke
dalam adalah Padmamuka dan Pu'un yang sudah menjadi mayat! Belum hilang kaget
mereka berdua, suasana berubah menjadi gelap total. Terdengar teriakan dan
hamburan tanah.
Gendhuk Tri merapat ke arah Jagaddhita.
Jagaddhita memeluk lembut.
"Mereka mulai menimbuni mulut gua."
"Ya," suara Jagaddhita lembut.
"Mereka mengubur kita hidup-hidup dan dua bangkai ini." Kau takut mati?"
"Aku takut gelap."
"Kalau begitu kau harus bunuh diri. Agar tidak mengalami ketakutan. Kalau
aku masih mempunyai tenaga simpanan, aku akan membunuhmu. Agar kau tak usah
ketakutan. Tapi aku sendiri..."
Tubuh Jagaddhita bergoyang-goyang. Ketika akan berusaha duduk tadi rasa
sakit kembali menggigit seluruh tubuhnya bagian belakang.
Gendhuk Tri merangkul Jagaddhita, lalu menyeret ke depan. Dalam gelap ia
menyuruk maju beberapa tindak.
"Apa yang harus kita lakukan, Mbakyu?"
"Suaramu gemetar. Sungguh sayang, kau harus mengalami ketakutan seperti
ini sebelum mati."
"Siapa bilang aku takut mati? Aku takut gelap. Aku... aku... juga takut mayat."
"Hmmmmmmm, tapi bagaimana mungkin melenyapkan mayat itu? Apa kita
harus memakannya? Itu satu-satunya jalan untuk menyambung hidup kita,
sementara."
Gendhuk Tri bergidik. Mendadak ia lepaskan rangkulannya, dan Jagaddhita
terbanting di tanah.
"Kau sudah gila, Mbakyu. Mana mungkin kita makan mayat?"
"Habis, apa kita harus mati kelaparan dan ketakutan melihat mayat?"
"Pokoknya aku tak mau makan mayat. Paling tidak di sini ada ular atau
kelabang atau tikus atau hewan tanah yang lain. Itu masih lebih nikmat dari mayat
ini."
Gendhuk Tri merangkak maju.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Mengubur mereka."
"Astaga. Benar-benar goblok. Kita sendiri sudah terkubur, untuk apa bersusah
payah mengubur?"
"Sebentar lagi mayat itu berbau. Aku tak mau bau itu."
"Gendhuk Tri..."
Gendhuk Tri terhenti.
"Hati-hati. Jangan sentuh dengan tanganmu. Mayat itu mengandung racun keras.
Padmamuka adalah biangnya racun. Semua darah dan kulit pori-porinya beracun.
Kau bisa mati karenanya."
"Mbakyu... Mbakyu...Tadi bilang kita bakal mati. Kalau mati kena racun atau
kelaparan, apa bedanya?"
Meskipun demikian. Gendhuk Tri mengindahkan kalimat Jagaddhita. Ia
menggali tanah sekitarnya dengan patrem. Sampai berkeringat dan tersengal-sengal.
Semua dilakukan dalam gelap. Hanya berdasarkan perkiraan saja. Baru kemudian
menggulingkan kedua tubuh itu ke dalam satu liang, dan kemudian menimbuni
dengan tanah.
Waktu yang digunakan untuk menggali dan menimbun kembali cukup lama.
Sehingga Gendhuk Tri tersengal-sengal dan kehabisan tenaga.
"Nah, kini kalian berdua bisa beristirahat dengan tenang. Kalian pasti tak
mengira aku telah menguburkan kalian dengan baik. Mudah-mudahan arwah kalian
tahu cara berterima kasih dan menunjukkan pada kami jalan keluar. Setidaknya
bangkai kalian tidak terlalu busuk dan mengganggu kami. Tapi tetap cukup busuk
untuk mengundang ular tanah dan aku bisa menyantap."
"Gendhuk Tri..."
"Sudah selesai, Mbakyu..."
"Kau belum mati?"
"Hampir,"
"Tidak. Kita belum bakal mati. Lawang Sewu ini ternyata masih
memungkinkan kira bernapas. Setidaknya..."
"Apa, Mbakyu?"
"Tidak. Dari mana kita bisa keluar?"
"Kalau kita bisa bertahan di sini. Kita bakal keluar dari pintu kita masuk tadi.
Gua ini kan buntu di depan, tapi arah kita datang tadi kan masih terbuka. Hanya
ditutup dari luar. Kalau kita bisa mengorek sedikit demi sedikit, kita bisa keluar."
"Mana mungkin Ugrawe meninggalkan begitu saja?"
"Ugrawe atau neneknya atau kakeknya, apa susahnya menghadapi. Kalau ia tak
ada di situ justru aku yang akan mencarinya. Kupingnya yang sebelah akan
kuputuskan juga."
Diam-diam Jagaddhita memuji ketabahan dan semangat tinggi Gendhuk Tri.
Benar kau-katanya tadi: Baginda Raja memerlukan perawan yang seperti ini, Kalau
para wanita mampu berperan seperti Gendhuk Tri—dan bukan sekadar puas menjadi
selir—sejarah Keraton Singasari akan lain sekali.
Tapi sayangnya, pikir Jagaddhita, mungkin saat berbakti itu sudah tak ada lagi.
"Awas sebelah kiri..." Suara Jagaddhita memperingatkan Gendhuk Tri. Walau
ia terluka parah, kemampuannya mendengar desisan halus binatang masih sempurna.
"Ah, ular ini ternyata lebih cepat datangnya. Dagingnya bisa dimakan,
darahnya bisa diminum."
Jagaddhita mendengar bunyi gerak cepat dan suara cekikikan. Sepertinya bisa
menangkap hidup-hidup. Akan tetapi selebihnya tak bisa apa-apa. Jagaddhita ingin
mengeluarkan suara, tetapi tenaganya telah musnah. Antara sadar dan tidak, dalam
gelapnya gua yang pekat ia melihat warna-warna-warni-warni, seperti suasana
upacara di Keraton.
"Sembah dalem..." Suara itu hanya terdengar dalam hati Jagaddhita.
Ia sendiri terbaring lemah, tak bisa berbuat sesuatu. Warna-warna-warniwarni
itu berubah menjadi senyuman Baginda Raja. Jagaddhita merasa aman, damai,
tenteram, tenggelam....
PASAR BANYU URIP di desa Banyu Urip merupakan pasar yang terbesar di simpang
jalan menuju Keraton Singasari. Setiap lima kali sehari, di hari pasaran, suasana
menjadi sangat ramai. Sejak pagi-pagi, masyarakat sekitar berdatangan untuk menjadi
penjual atau pembeli atau dua-duanya sekaligus.
Meskipun disebut sebagai pasar dan paling ramai, keramaian itu sangat
terbatas. Hanya ada dua bangunan dibuat dari bambu, beratapkan daun. Seperti juga
bangunan-bangunan rumah yang ditemukan sepanjang jalan. Pada hari kedua dalam
perjalanan, Upasara Wulung menyaksikan masyarakat pedesaan hidup dalam keadaan
tenteram dan damai. Sawah yang luas, hutan-hutan yang masih kelewat lebat,
sepenuhnya memantulkan suasana alam. Sepi tapi damai. Sungguh berbeda dengan
hiruk-pikuk Keraton. Dalam dua hari melakukan perjalanan, sejak keluar dari Lawang
Sewu, Upasara hanya berjumpa beberapa kali dengan penduduk yang berjalan di jalan
setapak.
Suasana masyarakat belum ramai. Jalan setapak yang agak lebar pun tak banyak dilalui
gerobak yang ditarik sapi. Kusir gerobak menegur ramah, dan menyilakan Upasara
untuk ikut menumpang.
"Mari, Anakmas, beristirahatlah sebentar. Barangkali Anakmas ingin minum
seteguk air tawar."
Upasara menatap wajah sais gerobak. Wajah yang jujur, polos, dengan
pancaran kebahagiaan dan niat berbuat baik. Upasara menjadi tidak enak dalam hati.
"Biarlah, Paman, hamba berjalan. Rasanya kaki hamba masih bisa meneruskan
langkah."
"Ah, sungguh tak enak. Gerobak Paman memang tak pantas. Kenapa saya
begini tolol menawarkan diri?"
"Maaf," Upasara menjadi kikuk. Dan ia naik ke gerobak. Di bagian depan.
Dalam dua hari perjalanan, Upasara berubah banyak. Penampilannya tidak lagi mirip
ksatria dari Keraton. Ia bertelanjang dada, seperti umumnya orang desa. Juga tidak
mengenakan ikat kepala. Satu-satunya yang agak mewah hanyalah kain yang
dikenakan. Meskipun sudah kotor, sobek di sana ini tapi masih memperlihatkan
bahwa dulunya bukan kain yang murah. Namun secara keseluruhan, penampilan
Upasara tak jauh berbeda dengan penduduk setempat. Telapak kakinya juga
mengesankan sudah pecah-pecah.
"Paman bernama Toikromo...."
"Maafkan hamba, Paman Toikromo. Seharusnya hamba memperkenalkan diri
terlebih dulu. Maafkan hamba yang tak kenal sopan-santun. Upasara berusaha
memberi hormat dengan menunjukkan ibu jari ke arah Toikromo, sambil menunduk.
"Nama hamba Upa, berasal dari gunung. Hamba ingin nyuwita ke Keraton. Siapa tahu
di sana membutuhkan tenaga pencari rumput...."
Upasara merasa kurang enak jika harus berbohong. Menghadapi wajah yang
polos, hatinya terganggu. Maka ia menyebutkan bahwa namanya Upa. Upa juga
berarti sebutir nasi. Nama yang biasa dipakai rakyat desa. Ia tidak mungkin
menyebutkan nama lengkapnya, kecuali kalau ingin membangkitkan pertanyaan
lainnya yang lebih jauh. Dengan menyebutkan ingin nyuwita, ingin mengabdi ke
Keraton, hal ini mengurangi kecurigaan. Karena di zaman itu menjadi kelaziman
utama mengabdi ke Keraton. Sedikit pemuda yang tertarik untuk melanjutkan hidup
sebagai petani. Kalaupun menjadi petani, itu adalah petani Keraton, dan namanya
nyuwita juga. Apakah pekerjaan yang dilakukan menjadi penari, pesinden, penabuh
gamelan, pencari rumput untuk kuda, itu soal lain.
"Paman dulu juga ingin nyuwita tapi tak bisa diterima. Jadinya Paman bekerja
sendirian, sebagai pengantar barang. Sekadar mencari sesuap nasi dan setetes air.
"Kalau mau ke Keraton, kita bisa sama-sama ke Pasar Banyu Urip."
"Terima kasih sekali, Paman Toikromo. Hamba telah banyak merepotkan."
"Ah, jangan merasa begitu. Paman merasa gembira mempunyai teman. Tiga
hari ini Paman berjalan sendirian. Hanya bercakap dengan Seta...."
Upasara tak bisa menyembunyikan rasa herannya.
"Ini, sapi-sapi Paman...."
Upasara tersenyum. Dalam hatinya merasa heran juga. Mereka mempunyai
nama sederhana untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya. tetapi untuk nama binatang
peliharaannya cukup bagus.
"Pasar ramai sekali, Paman?"
"Ya, akhir-akhir ini. Selesai mengantarkan barang ini, Paman juga akan
mengantarkan barang lainnya.
Upasara melirik ke bagian belakang. Tumpukan kotak-kotak kayu. Dilihat dari
gerak dua ekor sapi yang berat. bisa diduga isinya sangat berat. Dan itu hanya
mungkin jika di dalam kotak itu berisi... besi. Dan itu berarti senjata!
"Diantar ke Gelang-Gelang, Paman?"
Tidak. Paman dari Sana."
"Kemarin ini juga ada gerobak menuju ke sana."
"Ah, mungkin itu saudara Paman juga. Hanya kami yang mempunyai gerobak
semacam ini. Lima-limanya dipakai semua. Ramai sekali. Belum pernah seramai ini.
"Kalau Anakmas gagal nyuwita, carilah Paman. Anakmas bisa bekerja
pada Paman."
"Terima kasih, terima kasih sekali, Paman Toikromo. Hamba akan segera
sowan Paman."
"Paman juga punya anak gadis. Anakmas sudah kawin?"
Wajah Upasara merah. Menunduk gelisah. Perkelahian mati-hidup ia bisa
menghadapi dengan tenang. Akan tetapi ditanya secara telak begini, apa yang bisa
dilakukan? Ini benar-benar pembicaraan terbuka.
"Paman, orang seperti hamba siapa yang bersedia mengambil menantu?" "Sama
juga. Kalau sudah menjadi abdi dalem, siapa mau mempunyai mertua kusir gerobak?"
Toikromo tertawa bergelak.
Gerobak itu mencapai Pasar Banyu Urip menjelang tengah hari. Upasara
membantu menurunkan peti-peti. Meskipun Toikromo mengatakan tak usah. Benar
dugaan Upasara bahwa tumpukan peti itu berisi tombak, keris, pedang, gada, serta
perisai. Suatu persiapan yang besar-besaran.
Dari Pasar Banyu Urip, peralatan itu akan diangkut oleh gerobak yang lain.
Sebenarnya di pasar ini Upasara berharap bisa membeli dua ekor kuda. Ia
masih menyimpan gelang emas yang tadinya dipakai di kaki. Setidaknya itu bisa
ditukarkan dengan dua ekor kuda yang bisa digebrak menuju Keraton. Makin cepat
makin baik. Kalau mengandalkan kekuatan kaki, bisa-bisa sampai sepuluh hari belum
sampai. Dulu saja ketika berangkat ke Perguruan Awan melalui jalan pintas,
memakan waktu tiga hari tiga malam berkuda penuh.
Namun harapan sia-sia. Tak ada bayangan seekor kuda atau kerbau atau sapi
yang ditambat. .
"Kenapa, Anakmas?"
"Biasanya ada kuda yang dijual."
"Biasanya memang ada. Sekarang belum sampai di sini sudah laku. Bahkan
yang masih dalam kandungan sudah dipesan. Haha, Paman ini orang bodoh. Tapi
semenjak Baginda Raja, yang menjadi sesembahan masyarakat, mengirim pasukan ke
negeri seberang, masyarakat jadi makmur. Perang malahan membuat dagangan laku.
Haha, Paman ini orang bodoh tidak mengerti apa-apa."
Memang, pikir Upasara. Kalau mengerti persoalan sebenarnya, tidak mungkin
tertawa selepas ini. Paman Toikromo mi, seperti juga yang lain, mana mungkin
memedulikan siapa yang membeli? Yang diketahui cuma satu. Pihak Keraton. Tapi
apakah itu Keraton Singasari atau Gelang-Gelang ataupun yang lainnya, mana mereka
memedulikan?
"Mungkin Anakmas akan bisa diterima menjadi prajurit."
"Pangestu Paman."
Toikromo bergerak lagi.
Dua belas tumpukan peti bisa dipindahkan dalam waktu singkat. Biasanya
memakan waktu sampai malam. Itu pun harus ditangani beberapa orang. Akan tetapi
Upasara sanggup mengangkat sendirian. Kalaupun berdua dengan Toikromo,
Toikromo seperti memegang papan yang enteng.
Dua orang prajurit yang mengawasi, maju ke arah Toikromo.
"Anakmu cukup kuat, Pak Kromo."
Toikromo menghaturkan sembah. Upasara juga menghaturkan sembah. Dalam
hatinya tersenyum geli. Mana mungkin ia harus menyembah prajurit biasa-biasa
seperti ini? Senopati Suro pun memberi hormat lebih dulu!
"Hamba hanya kuat makan, Raden...."
Upasara sengaja mengucapkan sebutan raden dengan keras. Tak peduli pantas
disebut raden atau tidak, prajurit itu tersenyum lebar.
"Kami sedang mencari tenaga untuk mengangkut barang. Kalau kau bersedia,
aku bisa mempekerjakanmu."
"Anak ini memang ingin nyuwita...."
"Asal tidak bertingkah."
"Maafkan hamba, Raden Prajurit...."
Toikromo berbisik, "Anakmas, ini peruntungan bagus. Siapa sangka kamu
langsung diterima?"
"Semuanya karena pangestu Paman."
"Tapi jangan lupa, Paman masih ingin bermenantukanmu."
Prajurit itu mengeluarkan suara di hidung, sehingga Toikromo buru-buru
terdiam tak bergerak. Malah suara napasnya pun tak terdengar.
"Tunggu di sini, malam nanti akan kujemput."
Upasara menghaturkan sembah. Dua prajurit itu berlalu tanpa memperhatikan
Upasara. Dengan lirik matanya, Upasara melihat arah berlalunya dua prajurit.
Telinganya masih mendengar percakapan dua prajurit itu.
"Enak kita. Kalau ada kuli seperti itu."
"Lebih baik begitu. Kan tidak lucu kalau kita prajurit harus mengangkut
barang seperti itu. Kalau kita cepat. kita bisa naik pangkat. Siapa tahu dapat persen
dan bisa kawin lagi?"
Menunggu malam hari, Toikromo-lah yang paling sibuk. Ia mengajak Upasara
mandi di belik, si sebuah sendang kecil. Dan meminjami sisir, serta memberi bedak.
"Wajahmu tampan, Anakmas."
"Sudahlah, Paman"
Sebenarnya Upasara ingin segera meninggalkan tempat itu. Namun merasa tak
enak jika ia meninggalkan begitu saja. Ia kuatir jika dua prajurit itu menuduh Pak
Toikromo mempermainkan mereka. Akibatnya bisa runyam semuanya. Makanya,
Upasara ingin penolongnya berlalu dulu dan ia akan mencari kesempatan baik untuk
meloloskan diri. Di samping itu, ia juga ingin menggunakan saat yang sebentar untuk
beristirahat dan memulihkan tenaganya.
Tetapi Toikromo ternyata menunggu sampai Upasara diambil dua prajurit itu
baru berlalu. Setelah mengadakan perpisahan sederhana, Upasara mengikuti dua
prajurit itu.
Masuk ke dalam bangunan rumah yang agak megah. Dindingnya dari anyaman
bambu. Demikian juga bagian lantai rumah. Jadi bukan dari tanah biasa.
"Besok pagi mulai bekerja. Malam ini kau beristirahat di sini."
"Sembah dalem, Raden...."
Salah seorang dari prajurit itu mengeluarkan duit receh terkecil dan
melemparkan ke tanah.
"Ini buat beli tembakau."
Dahi Upasara berkerut.
Sungguh tersiksa rasa congkaknya untuk memungut duit yang dilemparkan
dengan cara seperti itu, dan ini dilihat oleh prajurit-prajurit yang lain.
"Maaf, Raden. Hamba tidak menisik dengan tembakau...."
Upasara bergeming, tidak mengambil duit.
"Pakailah untuk makan."
"Maaf, hamba sudah diberi oleh Bapak...."
Prajurit itu menggertakkan giginya.
"Kalau kuperintah mengambil, jangan berbuat yang lain."
Upasara menghaturkan sembah. Ia mengulurkan tangan untuk mengambil
recehan ketika prajurit itu menyungkil dengan tombaknya. Kepingan mata uang itu
melayang ke atas, dan ditangkap dengan sebelah tangan. Upasara menjadi gusar.
"Hah!" teriaknya kaget.
Namun bersamaan dengan teriakan kaget dan mulut terbuka, Upasara mengirimkan
tenaganya, sehingga kepingan logam itu jadi melenceng. Si prajurit menangkap angin.
Kepingan duit logam itu jatuh kembali ke tanah.
Prajurit yang lain menertawakan.
Ditertawakan, seperti itu prajurit yang congkak ini jadi merah-padam. Tetapi
ia tak bisa berbuat apa-apa. Dan tak menduga ini ulah Upasara. Hanya geramnya
dilampiaskan ke Upasara.
"Pungut duit itu. Ikut aku. Kuajari caranya menisik tembakau."
"Baik, Raden."
Upasara memungut duit dan mengikuti prajurit di depannya.
"Jangan sekadar memanggil Raden. Panggil aku Raden Sukra. Ini pelajaran
kalau ingin menjadi calon prajurit."
"Nama hamba Upa...."
"Siapa yang menanyaimu? Tugasmu hanya menjawab pertanyaan dengan
kalimat: 'Sendika dawuh, Raden Sukra'"
"Sendika dawuh, Raden Sukra."
Sambil menahan rasa dongkol yang sudah sampai di leher, Upasara mengikuti
Prajurit Sukra. Ada yang menahan Upasara untuk langsung menyikat Prajurit Sukra.
Pertama karena ia ingin mengetahui persiapan apa yang terjadi di tempat ini. Ini
cukup beralasan karena Upasara melihat adanya panji-panji atau umbul-umbul yang
sama dengan yang dikibarkan di dalam tenda Raja Muda Gelang-Gelang. Matanya
sempat melihat ke dalam bangunan rumah.
Di bawah penerangan obor yang dinyalakan dari ujung tangkai pohon kelapa
yang diremukkan dari beberapa jurusan, beberapa prajurit utama berkumpul.
Semuanya duduk di bawah. Menghadap kursi yang masih kosong.
"Hei. Jangan longak-longok begitu. Jongkok."
Kali ini Prajurit Sukra bukan hanya berkata, akan tetapi langsung menarik
pundak Upasara dan menyeretnya ke tanah. Upasara mengikuti bantingan, hingga
tubuhnya seperti dilontarkan ke depan. Ia bisa melihat lebih jelas kini. Sebelum
Prajurit Sukra maju kedua kalinya. terdengar langkah kaki memasuki bangunan
utama. Semua prajurit langsung tunduk dan menghaturkan sembah. Kesempatan ini
digunakan oleh Upasara. Dengan mengambil batu kerikil kecil, ia menimpuk ke arah
Prajurit Sukra dan badan Sukra menjadi kaku.
Tentu saja di saat semua menunduk, kehadiran Prajurit Sukra jadi menarik
perhatian.
Begitu yang memegang pimpinan melirik ke arah Prajurit Sukra, semua
menahan napas.
"Prajurit mana yang tak tahu adat itu?"
Bersamaan dengan itu tangan ksatria yang berada di tengah ruangan
menuding. Upasara menduga bahwa sebuah tenaga lurus menghantam ke arah
Prajurit Sukra. Upasara tak mau berisiko. Ia menyambitkan batu kerikil untuk
membebaskan kekakuan Prajurit Sukra. Soalnya kalau orang mengetahui bahwa
Prajurit Sukra berdiri kaku karena tertotok jalan darahnya, bisa buyar semua
rencananya. Maka ketika tenaga dan jari telunjuk itu menyentuh Prajurit Sukra, yang
terakhir ini sempat mengaduh. Matanya membeliak dan tubuhnya terjatuh ke depan.
Ksatria di depan itu meraupkan tangannya, dan Prajurit Sukra seperti
melayang di udara. Lalu dengan satu tolakan tangan yang itu juga. tubuh Prajurit
Sukra terlempar jatuh ke belakang. Tak terdengar suara mengaduh.
IZRO'IL
SENOPATI PAMUNGKAS I


Upasara menahan ludah yang hampir tertelan. Satu gebrakan yang keras dan
ganas. Kalau melawan prajurit biasa. seorang yang mempunyai kepandaian tertentu di
atasnya bisa mempermainkan. Itu bukan hal yang aneh.
Yang membuat Upasara bertanya-tanya dalam hati ialah gerakan ksatria itu. Tak
ubahnya gerakan yang dipertontonkan oleh Pujangga Pamungkas, Ugrawe.
Siapa ksatria ini?
Dilihat dari usianya, masih sepantaran dengan Upasara. Tapi dilihat dan
pangkat dan jabatan, jelas ia pemimpin dalam pasukan ini. Dilihat dari kemampuan
dan tenaga yang dipergunakan, jelas susah ditentukan di mana tingkatnya.
"Sembah dalem, Gusti Rawikara...."
Rawikara melambaikan tangan. Para prajurit yang menghaturkan sembah
tetap menunggu. Akan tetapi agaknya yang ditunggu tidak segera duduk di kursi yang
telah disediakan.
Rawikara berarti sinar matahari. Kini, pertanyaan Upasara agak terjawab
sedikit dengan gerakan yang didemonstrasikan tadi. Pantas saja gerakannya seperti
Ugrawe. Ataukah ksatria ini murid Ugrawe? Kalau benar begitu, jelas banyak tokoh
yang tangguh bergabung dengan pasukan Gelang-Gelang.
"Bagaimana dengan penjagaan?"
"Sembah dalem, Gusti...." Seseorang menghaturkan sembah. "Sampai hari ini
belum ada yang melalui jalan di depan."
"Meskipun demikian, jangan sampai lengah. Kita mendapat tugas untuk
mengamati jalan di Banyu Urip. Karena ini satu-satunya jalan utama menuju ke
Keraton Singasari dari Perguruan Awan.
"Siapa pun yang lolos dari sana, akan melalui jalan ini."
Diam-diam Upasara bersyukur. Di luar perhitungannya sendiri, ia bisa lolos
dari pengawasan. Kalau saja ia muncul sendirian di pasar, pasti ia sudah ditanyai
dengan berbagai pertanyaan dan akan sangat repot. Untung saja ia muncul bersama
Toikromo yang sudah dikenal baik para prajurit di sini. Sehingga tidak menimbulkan
kecurigaan sedikit pun. Bukan tidak mungkin selama ini Toikromo ditemani oleh
keponakan atau anaknya. Hanya saja karena banyaknya gerobak yang dimiliki semua
dipakai untuk mengangkut, jadi hari ini Toikromo terpaksa mengangkut sendirian.
"Meskipun tugas utama kita menghimpun kekuatan, akan tetapi baru saja ada
berita dari Perguruan Awan, bahwa Senamata Karmuka sempat lolos. Tetapi ia tak
akan pernah mencapai Keraton Singasari.
"Tidak, selama kita masih di sini.
"Aku menginginkan semua menjalankan tugas dengan baik. Jangan mencoba
menyepelekan tata tertib yang berlaku."
Secara serentak para prajurit menghaturkan sembah.
"Semua yang diundang ke Perguruan Awan bisa diselesaikan. Sebagian
ditawan, sebagian dibunuh, dan sebagian dikubur hidup-hidup."
Upasara menggertakkan gerahamnya. Ia teringat akan nasib Jagaddhita dan
Gendhuk Tri.
"Hanya mayat Senamata Karmuka yang belum ditemukan. Boleh dikatakan
tugas pertama berhasil sempurna. Tinggal melaksanakan dua tugas berikutnya. Kalau
ini sudah terlaksana, kita akan melihat tanah Jawa kembali diperintah oleh yang
berhak. Kembali diperintah titisan dewa dan bukan turunan para perampok."
"Sembah dalem, Gusti...."
Rawikara mengeluarkan suara mendesis.
"Tetapi tetap ada yang membuat ganjalan. Maharesi Ugrawe dilukai sedikit,
tapi tak menjadi soal. Akan tetapi yang menjadi soal ternyata di antara kita sendiri ada
yang berkhianat."
Sejak meninggalkan Perguruan Awan, Upasara tak tahu apa yang terjadi. Baru
sekarang ini semua keterangan bisa diperoleh. Akan tetapi yang jauh lebih menarik
perhatiannya ialah ternyata Maharesi Ugrawe—begitulah Rawikara menyebutnya—
yang menjadi pucuk pimpinan prajurit Gelang-Gelang, mempunyai tiga rencana
sekaligus. Pertempuran hancur-hancuran dan habis-habisan di Perguruan Awan
hanyalah salah satu dari tiga rencananya.
Betapa dahsyat tipu muslihatnya!
Tiga rencana dilaksanakan secara serentak.
Tidak percuma semua gelar yang diangkat dan dianugerahkan untuk dirinya
sendiri. Ugrawe memang luar biasa. Jago silat kelas utama, sekaligus ahli siasat perang
yang memegang komando sendiri.
Dalam hati Upasara menduga bahwa dua rencana yang lain pasti tak akan
dikatakan di pertemuan ini. Pertemuan ini terlalu terbuka untuk menjelaskan tugas
rahasia. Inilah tugas Upasara untuk bisa mengetahui.
Pasti juga bukan hal mudah. Akan tetapi jika ia berhasil mengendusnya, bukan
mustahil semua rencana bisa digagalkan. Dan ini berani keselamatan Keraton bisa
dipertahankan.
Hanya saja kalimat terakhir Rawikara membuatnya sedikit bergidik. Kalau
dikatakan ada yang berkhianat, apakah Rawikara mengetahui kehadiran dirinya?
"Tak perlu kuatir. Aku sendiri telah menangkap pengkhianat itu."
Tangannya melambai. Persis gerakan Ugrawe. Upasara menghimpun
tenaganya. Namun ternyata ucapan itu tidak ditujukan kepada dirinya. Ucapan itu
ditujukan kepada sekelompok prajurit yang menyeret maju seseorang yang telah
diikat erat sekujur tubuhnya.
Upasara bisa segera mengenali bahwa yang diikat erat itu adalah... Kawung
Sen! Apakah karena dalam pertempuran lalu Kawung Sen membebaskan dirinya,
maka sekarang dianggap pengkhianat? Upasara menahan getaran di tangannya. Ia
berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak berbuat sembrono.
"Inilah pengkhianat itu. Dan kalian semua akan melihat bagaimana aku
menghukumnya, karena Maharesi Ugrawe telah menyerahkan hal ini padaku.
"Hoho, sejak kemarin dulu aku selalu dikatakan pengkhianat. Tetapi apa
sebenarnya dosaku?"
"Kawung Sen, kau masih bertanya? Kan tahu siapa aku? Kau tahu kenapa
Maharesi Ugrawe menyerahkan persoalan ini padaku? Karena aku bisa menyiksa
manusia dan setan untuk mengaku."
"Itu aku sudah tahu. Semua juga tahu. Bahkan kalau disuruh menyiksa ayahmu
sendiri, kau akan menjalankan perintah gurumu."
Kini lebih jelas. Maharesi Ugrawe memang benar guru Rawikara. Tapi siapa
yang disebut sebagai ayah? Mungkin Jayakatwang sendiri?
"Aku tak pernah berkata lain. Aku selalu memegang janjiku. Nah, Kawung
Sen, mengingat jasa baikmu dahulu ketika menyerbu Keraton Singasari, mengingat
pengorbanan saudara-saudaramu, katakan di mana kau sembunyikan Kartika Parwa
dan Bantala Parwa"
"Hoho, jadi itu dosaku?" Kawung Sen bergelak. Hanya itu yang bisa dilakukan
dengan bebas, karena menggerakkan ujung jari pun agaknya tak mungkin. Kedua
tangan dan kakinya diikat, dan itu pun saling dikaitkan. Tubuhnya terbaring di lantai
yang dialasi anyaman bambu. "Semua orang juga tahu, untuk apa aku mencuri kitab
bulukan itu. Pasti untuk mempelajari, untuk kubaca pelan-pelan, kuhafalkan. Agar
aku bisa mengalahkan Ugrawe yang merasa menguasai segala macam soal matahari,
rembulan, bintang dan langit, serta bumi. Untuk apa dipersoalkan lagi. Ayolah paksa
aku. Siksa aku. Biar aku mengaku."
Dari jawaban Kawung Sen yang tetap berani, Upasara tak bisa menebak
arahnya ke mana. Karena jawaban itu sudah jelas. Kalau seorang dituduh mencuri
suatu kitab, jelas untuk dipelajari, Apa lagi selain itu. Rangkaian jawabannya juga
benar. Ugrawe dikenal menguasai ilmu angin puyuh yang dahsyat karena berhasil
menggabungkan berbagai unsur kitab-kitab yang ada. Seperti yang dinamakan sebagai
kitab mengenai bintang, Kartika Parwa, dan kitab mengenai bumi, Bantala Parwa.
Bahwa dua kitab itu penting, mudah dimaklumi. Sama mudahnya memaklumi bahwa
Ugrawe memang menyimpan berbagai kitab pusaka. Akan tetapi bahwa Kawung Sen
dituduh mencuri, agak janggal. Terutama sekali dari jawaban Kawung Sen.
"Ayo lakukan. Tak bakal ada yang menyalahkanmu. Kau putra Raja Muda
Gelang-Gelang. Gurumu adalah Maharesi Ugrawe. Apa susahnya?
"Tapi ketahuilah, Rawikara. Kau sama bodohnya dengan aku atau Ugrawe.
Kenapa untuk soal sekecil ini saja aku harus diseret kemari dari Perguruan Awan?
Kenapa Ugrawe sendiri tak bisa menyelesaikannya? Kenapa aku harus dituduh?
Semua orang juga tahu bahwa Kawung Sen adalah orang yang paling bodoh di antara
kawung yang lain. Karena Kawung Sen tak mengerti baca dan tulis,
"Lalu untuk apa kalian semua menjerat aku seperti ini?"
Upasara baru mengerti sekarang ini bahwa Kawung Sen tidak mengerti baca
dan tulis. Agak mengherankan, akan tetapi hal itu memang bisa saja terjadi.
"Sayang benar. Ayahmu bercita-cita jadi Baginda raja. Gurumu jadi paman
negara. Tapi kau putranya, muridnya yang terkasih diberi pekerjaan yang tak ada
artinya. Tidak sadarkah bahwa kau diperolok-olok?"
Rawikara mengedipkan matanya.
"Dalam tugas besar ini aku memang cuma menjadi penjaga jalan dan
menyiapkan alat-alat perang. Aku tak kebagian tugas penting. Tetapi apa pun tugas
yang diberikan oleh Maharesi akan kulakukan dengan baik.
"Aku tahu kaulah yang mengambil kitab itu. Pertanyaanku: Kepada siapa kau
serahkan kitab itu?"
"Mudah sekali jawabannya. Kepada orang yang bisa membaca dan mau
mengajariku."
Belum pernah Upasara melihat peristiwa yang tak masuk akal ini. Bagaimana
bisa seorang seperti Kawung Sen yang pernah dianggap berjasa dan dianggap senopati
kemudian dituduh mencuri kitab? Bagaimana mungkin ia diseret begitu jauh untuk
dipertemukan dengan Rawikara?
Tetapi memang Ugrawe tokoh yang serba aneh dan serba ganjil. Segala apa
yang dilakukan serba tak menentu. Di satu pihak bisa memerinci suatu gebrakan besar
dan bukan hanya satu. Akan tetapi di lain pihak, perincian itu termasuk yang tak
perlu dilakukan.
Upasara, walau baru sekali bertukar kalimat, menyadari bahwa Ugrawe mudah
kacau pikirannya. Seperti ketika diingatkan bahwa ia malah mencari musuh baru
dengan mengadakan pertempuran habis-habisan dengan niat membunuh semua yang
ada di Perguruan Awan. Atau seperti yang dilihat sendiri oleh Upasara. Semua lawan
bisa dihadapi dengan mudah dan bisa dikalahkan, akan tetapi rasanya Ugrawe tak
berani bentrok dengan Senopati Pangastuti. Penglihatan Upasara yang tajam bisa
seketika menemukan titik kosong dalam masalah ini.
Anehnya hal seperti ini ternyata tertular kepada Rawikara, muridnya.
Mengancam Kawung Sen di depan para prajurit dalam suatu ruang terbuka lebar.
"Bagus. Berikan kepadaku dan nanti aku ajari kamu."
"Mana boleh begitu. Itu sama saja menyuruh aku mengakui. Dan bagiku,
pantangan besar mengakui apa yang tak kulakukan."
"Atau begini saja. Kau ambil dulu kitab itu, kauberikan padaku, lalu
kukembalikan, dan kau mengajariku, begini?"
Kawung Sen bergelak.
Dan masih bergelak, ketika Rawikara mengangkat tubuhnya lalu
melemparkannya ke atas. Sebat sekali gerakannya, dengan melemparkan bagian ujung
talinya sehingga terikat di salah satu tiang.
Tubuh Kawung Sen jadi terayun-ayun di udara.
"Begitulah cara mati yang paling hina. Tubuhnya tak menyentuh tanah.
Rawikara tertawa.
Tangannya mengambil salah satu cawan tanah dan diguyurkan ke tubuh
Kawung Sen.
"Dengan air gula aren ini, semua semut akan menggigitmu. Itulah cara
mati yang lebih sengsara lagi."
Tiga cawan air gula aren, ditambah dengan botol yang lain. Sehingga air gula
aren itu meleleh ke tanah. Sebagian ditumpahkan ke bagian wajah. Sebagian lagi
dioleskan lewat tiang rumah. Memberi jalan semut-semut yang akan menyerbu wajah
Kawung Sen.
"Mati karena digigit semut. Aha."
Kali ini Kawung Sen tidak berani membuka mulut. Wajahnya menjadi pucat.
"Sekarang kalaupun kau mengaku, aku takkan membebaskanmu."
Dengan gerakan kilat, Rawikara meloncat ke tengah ruangan. "Kalau sampai
besok tak ada seekor semut datang padamu, kau akan kubebaskan. Rakyatku, dengar
apa kata gustimu ini, yang tak pernah menelan ludah yang sudah disemburkan."
"Sembah dalem, Gusti...."
"Sekarang kalian semua bubar dari sini. Meneruskan pekerjaan jaga."
"Sembah dalem, Gusti...."
Rawikara nampak puas. Ia berjalan ke bagian belakang dan menghilang. Para
prajurit yang tadinya duduk bersila tak berani bergerak kini berdiri. Melihat Kawung
Sen yang terayun di udara.
"Kalau ada yang berani menertawakanku, akan kucabut nyawanya begitu aku
dibebaskan. Kalau aku mati, akan kucekik lehernya. Sebagai hantu aku bisa
melakukan itu."
Beberapa prajurit undur ketakutan.
Upasara bergerak lebih dulu. Ia masuk ke kemah bagian dapur. Koki yang
sedang tidur ditepuk urat di pundaknya. Ia mencari garam. Diremukkan dalam
genggaman tangan sehingga menjadi debu yang halus. Kemudian dengan cepat ia
kembali ke tempat Kawung Sen digantung,
Melihat seorang prajurit ada yang berani mendekat, Kawung Sen siap untuk
mengancam lagi.
"Kutandai kau dan akan kubunuh... eh... kau..."
"Sssst terus memakiku." Suara Upasara lemah sekali agar tak terdengar yang
lain. "Aku menaburkan garam di sekitar tiang. Sehingga tak mungkin ada semut
datang. Jangan takut, sampai besok pagi semut tak akan datang. Dan kau bebas."
"Bagus...."
"Sssttt, terus memakiku."
"Mana mungkin-..."
"Ayo...."
Upasara menaburkan untuk kedua kalinya. Warna garam yang sudah menjadi
bubuk itu tak terlihat di antara cairan air gula aren.
"Maaf aku tak bisa menunggu lama. Aku harus pergi."
Tanpa menunggu jawaban, Upasara berlalu dalam gelap. Ia menuju salah satu
penjagaan. Dua penjaga tak menaruh curiga sedikit pun. Sebelum keduanya bereaksi,
Upasara telah membungkam mulut mereka. Lalu menyeret, menaikkan ke punggung
kuda. Kuda itu dituntun agak jauh.
Di tempat yang agak sepi, dua prajurit itu diletakkan di tanah.
"Dua jam lagi kalian akan bebas. Kalian bisa kembali ke rumah besar itu. Kalau
kalian cerita ada dua ekor kuda hilang, kalian bisa dipenggal. Maka lebih baik purapura
diam saja. Tidak perlu memberi laporan."
Upasara mencemplak kudanya, dan segera bergegas. Sengaja ia tidak
mengambil jalan di perempatan dekat pasar. Ia berputar lewat jalan berbukit di dekat
sungai. Dari sana kedua kudanya dipacu sekencang mungkin. Satu kuda dinaiki, satu
lagi untuk pengganti. Dengan demikian Upasara berharap bisa lebih cepat sampai di
Keraton. Meskipun kuda yang dipilih bukan kuda seperti yang dibawa dari Keraton
atau seperti yang dinaiki Senopati Suro. namun cukup kuat juga. Karena memang
dipersiapkan untuk berperang. Toh begitu Upasara mempersiapkan dua>duanya.
Setiap waktu yang digunakan untuk menanak nasi, Upasara pindah dari punggung
satu ke punggung lainnya. Tanpa istirahat, tanpa berhenti lebih dulu.
Gelap malam diterjang terus. Upasara mengandalkan ketajaman kuda untuk
menerobos jalan malam. Jalan setapak yang kadang menikung sangat tajam, masuk ke
dalam celah-celah pepohonan, muncul di antara semak-semak. Hanya bintang di
langit yang menjadi pedoman.
Bagi Upasara makin jauh jalan yang ditempuh, berani makin dekat ke Keraton.
Ia akan berusaha menghabiskan separuh malam untuk terus berkuda. Makanya dua
kuda terus dipaksa hingga meringkik-ringkik.
"Esok jika matahari mulai terbit, aku tak bisa mengendarai secepat ini. Karena
pasti akan menarik perhatian penduduk. Kalau mereka barisan dari Gelang-Gelang,
sia-sialah usahaku selama ini. Besok aku mulai berjalan biasa, kecuali kalau melewati
hutan. Makanya, kudaku, ayo sekarang saatnya. Kalian dijuluki binatang yang tidak
mempunyai pusar, berani tak kenal lelah. Ayo tunjukkan kelebihan kalian."
Upasara terus memacu, hingga kuda-kuda itu benar-benar kelelahan. Saat itu
langit mulai sedikit terang. Upasara menghentikan kudanya, meloncat turun, dan
membiarkan kudanya melepaskan lelah sambil merumput. Ia sendiri memilih tempat
yang agak terlindung untuk beristirahat, sekaligus semadi untuk mengatur tenaganya.
Udara pagi yang dingin makin berkurang. Samar-samar mulai terlihat keadaan
sekeliling. Dan ketika Upasara memperhatikan keadaan sekitar, ia tak percaya apa
yang dilihat. Tak masuk akal sama sekali!
Karena di kejauhan ia melihat gerobak sapi milik Toikromo! Tak masuk akal.
Pun andai Toikromo tokoh silat kelewat sakti, ia tak mungkin bisa membawa
gerobaknya melayang di angkasa.
Akan tetapi yang dilihat adalah benar-benar gerobak sapi milik Toikromo.
Bukan dalam mimpi. Dan jaraknya dari tempatnya berlindung tak lebih dari lima
ratus meter.
Begitu Upasara melihat suasana sekitar, ia tahu bahwa dirinya telah masuk
perangkap dan melakukan pekerjaan sia-sia selama setengah malam suntuk. Berapa
tidak, kalau nyatanya ia masih berada di sekitar Pasar Banyu Urip!
Jagat Dewa Batara! Jadi selama setengah malam ini aku cuma berputar-putar
tidak karuan di sekitar tempat ini. Sungguh luar biasa. Benar-benar iblis Sakti
Ugrawe.
"Upasara, kenapa kau begitu tolol?" Upasara menepuk jidatnya sendiri. Suara
hatinya berkecamuk dan bertanya-jawab sendiri.
"Ugrawe telah mengatur segalanya. Dengan menyerbu habis ke Perguruan
Awan, ia menutup jalan di Banyu Urip ini. Bahkan jalan di sekitar tempat ini pun
telah dibuat sedemikian rupa, sehingga bakal menyesatkan. Kalau seseorang seperti
aku, yang tak begitu mengenal daerah ini, mencoba menerobos, pasti hasilnya sia-sia.
Akan bermuara kembali ke Pasar Banyu Urip.
"Pastilah Ugrawe telah memerintahkan Rawikara untuk mengatur desa ini.
Jalan lama dihilangkan, jalan baru dibuat. Dan itu hanya melingkar-lingkar saja.
Setengah malam aku berkuda, tapi hasilnya kembali ke tempat semula.
"Inilah serangan yang sempurna dan dahsyat. Ah, mudah-mudahan Senamata
Karmuka dan Ngabehi Pandu bisa meloloskan diri dari jalan siluman ini. Kalau tidak,
percuma juga. Mereka akan tertangkap di sini juga.
"Ugrawe begitu yakin akan bisa menyapu bersih sampai rata semua yang hadir
di Perguruan Awan. Ternyata rencananya sangat rapi sekali. Dan betapa dahsyatnya,
kalau ini salah satu dari tiga rencana yang dilakukan.
"Ilmu silatnya sudah setinggi langit. Kecerdikannya juga luar biasa. Ditambah
penguasaan strategi peperangan seperti ini, Ugrawe benar-benar ancaman luar biasa
bagi Keraton.
"Aku bukan tandingannya dalam peperangan. Apalagi dalam mengatur strategi
seperti ini. Entah bagaimana aku bisa meloloskan diri dari sini dan bisa menuju ke
Keraton. Agaknya keinginan Bibi Jagaddhita tak akan terkabul."
Berpikir begitu Upasara jadi lesu. Semangatnya hilang separuh. Ia menghela
napas.
"Satu kesempatan meloloskan diri telah buntu. Aku harus mencari tahu lebih
banyak dulu, sebelum bisa lolos dari sini."
Upasara berjalan biasa, menuju ke arah Toikromo, yang sangat gembira
melihatnya.
Langsung menyambut dengan wajah yang sangat riang.
"Bagaimana, Anakmas, bisa diterima?"
"Mudah-mudahan...."
"Semalam penuh Paman menunggu di sini. Kalau saja diizinkan masuk ke
rumah itu pasti Paman sudah masuk. Tapi prajurit galak-galak. Paman menunggu di
sini."
"Apakah pagi ini Paman akan berangkat lagi?"
"Ya, mengambil kiriman berikutnya."
"Dari Gelang-Gelang?"
"Ya."
"Paman bisa ke sana sendiri?"
"Bisa. Paman selalu lewat jalan yang sama."
"Tahukah Paman bahwa di tempat ini banyak jalan yang diubah?"
Toikromo mendehem dan berdecak-decak. Perasaan bangga terpancar dari
wajahnya
"Paman tahu para prajurit itu membuat jalan palsu. Dan menutup jalan aslinya
dengan pohon-pohon serta belukar palsu. Tapi mana mungkin bisa mengelabui
Paman?"
"Kalau begitu Paman tahu jalan ke Keraton Singasari?"
Toikromo terdiam sejurus. Lalu menggeleng.
"Jalan utamanya telah ditutup sama sekali. Dipersiapkan lama. Tak mungkin
bisa dilalui gerobak atau kuda. Semua jalan telah ditutup."
Dada Upasara menjadi panas, Hatinya juga panas.
"Hanya Gusti yang tahu. Kecuali kalau kembali ke Gelang-Gelang lebih dulu.
Baru dari sana masih bisa ditemukan jalan lain. Tetapi harus berputar sangat jauh.
Heh, Anakmas, kalau pasuwitan-mu diterima di sini untuk apa harus ke Keraton?
Bukankah di sini sama saja?"
Belum Upasara menjawab, dari bangunan rumah terdengar teriakan dan suarasuara
manusia sangat banyak. Upasara mengikuti Toikromo mendekat, hingga batas
yang diizinkan.
Ternyata asal suara itu dari diturunkannya tubuh Kawung Sen.
Rawikara berdiri tegak.
"Seperti setiap kalimat yang keluar dari bibirku pasti terjadi. hari ini
kamu bebas."
Rawikara memberi tanda. Beberapa prajurit membebaskan tali pengikat di
tubuh kawung Sen.
"Terima kasih. Aku suka sikap ksatria." Suara Kawung Sen tetap keras.
Tidak tercermin tanda-tanda keloyoan darinya.
Rawikara mengangguk.
"Mulai hari ini, Kawung Sen adalah senopati kita. Kalian para prajurit
harus menghormati seperti menghormati senopati."
Rawikara membimbing tangan Kawung Sen.
Para prajurit menunduk, sebagian bersila menghaturkan sembah. Juga
yang di luar dinding bersila.
Kawung Sen mengangguk-angguk puas
"Hari ini aku ingin makan enak, mandi dengan enak, dan minum madu
sepuasnya."
Tubuhnya langsung melesat ke depan. Meluncur ke arah tanah, kakinya
menutul, dan balik kembali berjumpalitan dengan gagah. Ia menuju ke bagian
Samping, mengambil jala, dan berjalan menuju sungai di bagian belakang bangunan
rumah. Dua prajurit mengiringinya. Disusul seorang prajurit yang membawakan
pakaian.
"Kau tidak becus membawakan," bentak Kawung Sen di luar.
"Biarlah hamba yang membawakan," kata Upasara sambil menghaturkan
sembah.
Kawung Sen menoleh ke arah Upasara dan matanya membelalak.
"Kau..."
"Hamba memang belum resmi diterima sebagai prajurit. Hamba ingin
mengabdi kepada Paduka."
Upasara mengedipkan sebelah matanya. Ia masih sangsi Kawung Sen bisa
diajak bersandiwara.
"Baik. Mulai sekarang kau menjadi prajurit. Ayo bawakan pakaianku."
Upasara menghaturkan sembah. Menerima pakaian dari prajurit Gelang-
Gelang dan mengikuti langkah Kawung Sen. Yang langsung menuju ke tengah
sendang. Membuka semua pakaiannya dan langsung berendam. Menyibakkan air
sepuasnya.
Dua prajurit yang mengiringi diusir jauh-jauh. Diancam akan dipecat jika
berani mendekat.
Tinggal Upasara sendiri.
"Ayo mandi di sini."
Tanpa pikir panjang, Upasara menanggalkan pakaiannya. Ia menyimpan
cincin, gigi emas Jagaddhita, dan gelang kaki yang terbuat dari emas di bawah
tumpukan pakaiannya. Lalu dengan telanjang bulat masuk ke dalam air.
"Hebat. Hebat. Akal sehat. Garam itu betul-betul menolak semut. Kau telah
menyelamatkan nyawaku. Kau hebat, Upa...."
"Ya, panggil saja aku Upa. Ingat, kita harus tetap bersandiwara sebagai prajurit
dan senopati"
"Bagus. Boleh juga. Aku senang sandiwara begini. Tetapi kenapa kau
menolongku sekali lagi? Bukankah aku pantas mati karena aku memang mencuri
kitab-kitab itu? Tapi sampai mampus mereka tak akan tahu di mana aku
menyimpannya."
Aku tahu. Kau menyimpan dalam jalamu. Jala itu terdiri atas dua lapis. Dan kau
menyimpan di tengahnya."
Kawung Sen membelalak untuk waktu yang lama.
"Jadi kau melihatnya waktu aku mencurinya? Aku kesal! Sebal! Mereka selalu
meremehkanku. Hanya karena aku tidak bisa membaca dan menulis.
Sumpah, siapa pun yang menghina seperti itu, akan kubunuh. Setidaknya kucelakai
Juga Ugrawe.
"Makanya ketika ia tak tahu, peti bukunya kubuka dan kuambil dua buah
bukunya. Baru tahu dia sekarang.
"Hoho, baru tahu bahwa Kawung Sen tak bisa direndahkan oleh siapa saja.
Tidak akan pernah."
"Kenapa kitab itu dicuri?"
"Sudah kubilang aku kesal, Upa."
"Pastilah kitab itu sangat berarti sehingga Ugrawe sampai tega membunuhmu
bila perlu."
"Ya, bagi yang mengerti." Suara Kawung Sen jadi menyesali dirinya sendiri.
"Bagiku lebih berarti air sungai ini. Aku memang bodoh. Kenapa kakak-kakakku bisa
membaca, sedang aku tidak? Uh, aku sungguh sangat bodoh sekali. Paling bodoh.
Otakku bebal. Sangat bebal"
Kawung Sen meninju air hingga tersibak.
"Itulah sebabnya kepandaianku tak bisa maju. Selama ini hanya Kakang Ketip
yang memberitahu secara lisan. Tanpa bantuan itu, aku tak bisa maju. Sayang Kakang
Ketip telah tiada. Kakang Benggol juga telah tiada. Uh, kenapa aku tidak mati digigiti
semut saja?"
"Selama ada aku, kenapa harus mati digigit semut? Aku bisa membacakan isi
kitab itu padamu."
Kawung Sen bersila di dasar sungai hingga air sampai di dagunya. Ia
menghaturkan sembah.
"Dewa di langit, hari ini Kawung Sen menghaturkan sembah buat Kakang
Upa...."
Upasara hampir tertawa lepas.
Ia berusaha menahan diri sekuatnya.
"Adik, aku bersedia menerimamu. Asal hanya kita berdua dan dewa di langit
yang tahu hal ini."
"Aku, Kawung Sen yang hina ini, bersumpah, kalau membocorkan rahasia ini,
biarlah mati digigit seribu semut!*
"Baik, baik."
"Ayolah kita pelajari sekarang juga."
"Mana mungkin?"
"Kenapa tidak? Dari dulu aku sudah senopati. Senopati itu tak punya pekerjaan
kalau tidak perang. Dan tak bakal diganggu orang lain. Hanya Rawikara yang berhak
memanggilku Ayolah, Kakang. sekarang kita mulai.
Kawung Sen meloncat naik, meraih jala. Meneliti, dan mengeluarkan
lempengan klika, atau kulit kayu yang sangat tipis.
"Bacakan."
Tidak enak di sini. Kita cari tempat yang lebih aman di tengah hutan. Adik
tahu jalan yang dipalsukan?"
Tanpa mengelap tubuh, Kawung Sen memakai celananya. Demikian juga
Upasara. Lalu keduanya bergerak dengan cepat ke tengah hutan. Menuruni dua
lembah, melewati bukit kecil berputar, mereka berdua sampai ke tanah lapang.
"Ini jalan yang ditutup itu."
Upasara melihat, bahkan di siang hari pun jalan itu tak mungkin bisa dikenali.
Tanpa bantuan Kawung Sen, Upasara tak akan bisa menemukan jalan yang
sebenarnya.
"Adik, sebenarnya kakangmu ini ada tugas istimewa di Keraton Singasari. Jadi
Kakang akan bacakan sekali, lalu ingat-ingat dengan baik."
"Mana mungkin?"
"Harus mungkin. Karena Kakang harus segera ke Keraton."
"Apa susahnya kita ke Keraton sama-sama? Selama dalam perjalanan, Kakang
bisa membacakan kitab itu."
Upasara berpikir sebentar. Bersama dengan Kawung Sen akan banyak
manfaatnya. Setidaknya kalau di tengah jalan ada bahaya dari senopati Gelang-Gelang
yang lain, Kawung Sen bisa menyelesaikan.
"Baik, mari kita segera berangkat. Tapi ingat, kepergian Kakang dan hubungan
kita tak boleh ada yang tahu."
IZRO'IL
SENOPATI PAMUNGKAS I


Kawung Sen menghaturkan sembah dengan kaku. Kawung Sen memang tidak
terbiasa dengan adat-istiadat. Upasara menepuk pundak Kawung Sen, dan keduanya
mulai berjalan.
Upasara berjalan sambil membuka lempengan klika pertama.
"Ini Kartika Parwa, atau Buku Bintang, disebut juga Dwidasa Nujum Kartika
atau Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Jurus-jurus ini diciptakan berdasarkan gerak dan
pengaruh serta nama-nama bintang.
"Jurus pertama, disebut Lintang Sapi Gumarang. Pusat tenaga yang dikerahkan
adalah tenaga yang disebut tenaga Kasa- Tenaga berasal dari arah utara dan selatan,
serangan ke arah kanan dan ke arah kiri. Pengaruhnya membuat samar, seperti berada
dalam bayang-bayang amun-amun, atau fatamorgana."
"Tunggu, Kakang. Mana aku mengerti tentang Kasa segala macam?"
"Kasa adalah perhitungan bulan pertama. Jadi tenaga yang dikerahkan, tenaga
dalam yang digunakan, harus mengandung keadaan bintang saat musim yang
pertama. Tenaga itu seperti yang dimiliki oleh hujan yang jatuh pertama kali. Hujan
pertama menyebabkan benih tumbuhan jadi, belalang dan hewan terbang dari
sarangnya, embun putih keluar, langit mulai terang, tanah mulai terlihat, batu bersih.
Makanya kalau merasa sombong dan pongah, jurus ini akan luput, jurus ini tidak
mencapai sasaran.
"Ingat baik-baik, Adi.
"Jurus kedua, disebut Lintang Tagih. Pusat tenaga yang dikerahkan tenaga
Karo. Tenaga yang diambil adalah tenaga dari- utara, di mana pun adik berdiri. Gerak
tenaga besar bagai lumbung padi. Pengaruhnya memberi
140
ketenangan si penyerang, tapi membuat kacau yang diserang Tenaga yang dikerahkan
adalah tenaga Karo, yang artinya tenaga ketika tetumbuhan mulai bersemi, tenaga
cacing bertelur, belalang menetas, pohon besar berkeringat mulai berbunga, serangan
pelan tapi terus mengalir. Biarkan tenaga panas di luar akan tetapi tetap dingin di
dalam.
"Jurus ketiga, disebut Lintang Lumbung. Pusat tenaga yang dikerahkan tenaga
Katiga. Pusat kekuatan berada di kaki, seperti akar yang merayap masuk ke tanah dan
berangkulan di dalamnya. Serangan di Luar bagai bumi yang bersih, tapi di dalam
tetap bergolak.
"Jurus keempat, disebut Lintang Jaran, atau Bintang Kuda. Pusat tenaga dan
arah utara, bergelombang datangnya. Gerak tenaga bagai menumpahkan hujan dan
sekaligus petir. Memakai sifat tenaga Kapat. Yaitu sifat perpaduan, seperti perpaduan
antara binatang jantan dan betina yang berkaki empat, seperti binatang bersayap yang
mulai menggerakkan sayapnya, seperti tenaga daun berebut tempat tumbuh di atas.
Perubahan tenaga kalau ke selatan membawa angin, kalau ke utara membawa hujan.
Jurus ini bisa membuat kematian mendadak kalau bisa mengenai secara telak.
"Jurus kelima, disebut Banyak Angrem, atau Angsa Mengeram. Pusat tenaga
seperti musim Kalima. Tenaga air sama dengan tenaga angin. Pusat tenaga yang
diambil dari utara dan barat. Kalau menyerang dengan tenaga air, tanpa tenaga angin.
Kalau menyerang dengan tenaga angin, tanpa tenaga air. Hasilnya lebih berlipat
ganda. Kekuatan utama adalah penggunaan tenaga kasar.
"Jurus keenam, disebut Lintang Gotong Mayit, atau Bintang Menggotong
Mayat. Satu-satunya tenaga yang dikerahkan dari arah barat. Besar, keras, dan harus
cepat. Jurus ini dipengaruhi musim Kanem, atau keenam. Jurus ini akan menghasilkan
manfaat seperti memetik buah-buahan. Jangan terpengaruh oleh suara dari lawan,
atau gerakan lawan. Sebab apa yang nampak adalah palsu. Lawan sudah terpengaruh
untuk bisa bertahan. karena seperti mengantuk.
"Jurus ketujuh, disebut Lintang Bima Sekti. Pusat tenaga musim Kapitu atau
musim ketujuh. Tenaga dari arah barat. Besar, cepat, dan berulang-ulang secara
bergelombang. Tenaga seperti membuat pohon melengkung, tapi tidak sampai rubuh.
Menyerang bagian kaki tidak untuk menjatuhkan melainkan membuat bumi yang
diinjak amblas. Kunci utama adalah gelombang serangan yang terus-menerus.
"Jurus kedelapan, disebut Lintang Wulanjar. Pusat tenaga dan arah perpaduan
antar barat dan selatan, menghajar tapi tanpa tenaga. Ibarat bunyi petir tanpa hujan.
Tenaga ditarik ke dalam. Sehingga kekuatan di atas dan di bawah sama rata. Antara
akar dan daun sama warnanya. Tak ada penyerangan, kalau bisa berdiam diri.
"Jurus kesembilan, disebut Lintang Wuluh. Pusat tenaga dari selatan persis.
Pengerahan tenaga seperti bunyi cengkerik dan belalang, sifat serangan dingin.
Merontokkan serangan berbunga dari lawan. Semakin. berbunga-bunga serangan
semakin rontok. Tujuan utama serangan perut dan dada. Bagian kaki tak akan terkena
telak, tetapi akan menyulitkan kuda-kuda lawan. Bagaimanapun lawan bergerak,
perut dan dada yang digunakan untuk bernapas menjadi sasaran utama.
"Jurus kesepuluh, disebut Lintang Waluku. Pusat tenaga diambil dari antara
selatan dan timur, cepat sifat serangannya. Terutama untuk menyerap tenaga lawan,
seperti sifat bumi menyerap hingga kering, seperti ibu menyerap tenaga ke dalam
kandungan. Lawan akan kehilangan keseimbangan dan kehabisan tenaga.
"Jurus kesebelas, juga disebut Lintang Lumbung. Sama dengan jurus ketiga.
Pusat tenaga diambil dari timur-selatan, keras sifatnya. Sangat keras. Segala tenaga di
atas tanah hancur, seperti tercerabutnya rumput dari tanahnya tercongkel, tenaga
didasarkan pada hewan kaki empat akan terguling rubuh, tenaga meloncat seperti
burung terbang akan hancur sayapnya, rasa dingin akan menyerang lawan ke bagian
tulang, tenaga di tengah dari lawan akan mati terhenti dan sia-sia.
"Jurus kedua belas, disebut juga Lintang Tagih. Memakai kekuatan musim
Saddha. Tenaga diambil sebelah timur. Sasaran terakhir adalah membunuh tanpa
meninggalkan mayat, mengambil nyawa tanpa terasa, seperti mengguncang pohon
merontokkan semua daun, pohon tetap berdiri tapi sudah mati. Bumi terbelah, tapi
batangnya tak runtuh. Tenaga panas dan dingin menjadi satu. Menyerang dan
bertahan menjadi satu. Khusus untuk jurus terakhir ini bisa terus diulang dan diulang
tanpa perubahan, tidak usah melalui jurus pertama,"
Kawung Sen seperti tak bernapas. Mendengarkan penuturan Upasara yang
membaca sambil terus berjalan, Kawung Sen mengerahkan seluruh kemampuannya.
Daya tangkapnya melalui lisan memang selama ini jauh lebih hebat dari dua kawung
yang lain. Hal ini tidak terlalu istimewa, karena sebenarnya Kawung Sen memang
lebih menonjol dalam hal mengingat-ingat. Soalnya ia tak bisa mengulangi dengan
membaca.
Namun karena Upasara membaca terus-menerus, tak urung Kawung Sen
menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sulit. Sulit sekali, Kakang."
"Kelihatannya justru mudah sekali."
"Kau tidak main-main, Kakang?"
"Tidak. Kita ini sangat senang dengan ilmu silat. Bagaimana mungkin aku
main-main?"
"Aku bisa menghafal apa yang kaukatakan. Setidaknya separuh bagian aku
tahu. Tapi bagaimana mungkin aku bisa mengerti?"
"Kuncinya ialah pengetahuan kita tentang musim. Tentang letak serta
kedudukan bintang. Ini termasuk ilmu pranata mangsa, mengenai-musim. Siapa pun
yang telah menciptakan dan menuliskan Kartika Parwa ini, pasti seorang tokoh yang
luar biasa luas ilmu pengetahuannya.
"Adik, menurut pendapatku ini bukan sekadar cara penyerangan dan
memberitahukan gerak-gerak saja, melainkan terutama pada pengaturan tenaga.
Sedang mengenai geraknya bagaimana sama sekali tak ditulis di sini. Menurut Adik
bagaimana?"
"Mana aku tahu, Kakang. Aku ikut saja."
Upasara menghela napas.
"Untuk membuktikan mengenai cara memusatkan tenaga, kita harus berlatih.
Tetapi sayang sekarang bukan waktu yang baik." Upasara berhenti, menggulung
kembali klika kayu, menyembah, dan mengembalikan kepada Kawung Sen.
"Simpanlah, Adik."
"Percuma, Kakang. Aku tak bisa membaca. Bawa sajalah."
Upasara menggeleng.
"Tidak. Adik yang mendapatkannya. Adik pula yang harus menyimpannya.
Aku telah berbuat kurang ajar membacanya. Mudah-mudahan empu yang
menuliskan ini mau mengampuniku."
Upasara duduk, bersemadi, dan menghaturkan sembah.
Kawung Sen memperhatikan, dan kemudian mengikuti jejak Upasara.
Tanpa terasa matahari telah menggelincir di arah barat. Kawung Sen mencari
buah-buahan, mengumpulkan, dan mulai menyantapnya. Ia juga mencari sarang
tawon dan memeras, serta meminum madunya. Upasara mendapat bagian yang sama.
Sejenak setelah beristirahat.
"Kakang, masih ada satu kitab lagi. Lebih pendek. Bantala Parwa. Kalau
Kakang mau membacakan, aku akan membuatkan api."
"Baiklah. Akan kubacakan semua untuk Adik. Setelah itu kita berpisah di sini.
Aku akan meneruskan perjalanan, dan Adik kembali ke Rawikara agar tidak
menimbulkan kecurigaan.
"Rasanya aku bisa meneruskan perjalanan sendiri."
Sementara Kawung Sen sibuk mengumpulkan kayu kering, Upasara
beristirahat. Pikirannya bergelut antara tugas yang harus disampaikan ke Keraton dan
kesempatan yang masih tersisa. Sementara Kawung Sen hanya terpusat pada apa yang
baru saja dibacakan oleh Upasara.
"Kakang Upasara, sungguh suatu kemurahan dewa di langit bahwa kita bisa
bertemu dengan cara seperti ini. Aku tak menyangka sedikit pun bahwa kita bisa
menjadi kakak-adik seperti sekarang ini.
"Sayang, Kakang ada urusan penting di Keraton. Kalau tidak kita akan bisa
bersama-sama terus. Ah, mungkin nanti setelah urusan Kakang selesai kita akan bisa
berkumpul terus. Bukan begitu, Kakang?"
Upasara berusaha tersenyum.
"Untuk mengatakan terus terang, tidak tahu saat seperti itu bisa terjadi. Urusan di
Keraton bukan urusan sepele yang bisa segera diselesaikan. Entah bisa terjadi atau
tidak. Entah kapan.
"Adik Kawung Sen, kenapa dulu Adik menyerang ke Keraton?"
"Sudah tentu aku menyerang ke Keraton. Kakek moyangku, tiga turunan ke
atas, adalah pengabdi setia Baginda Raja sejak masih di Tumapel. Lalu tanpa ba dan
bu, kami semua tidak dianggap lagi. Ayahandaku, Kawung Kencana, tidak
mempunyai jabatan apa-apa lagi.
"Ayahanda Kawung Kencana meninggal karena sakit hati. Tetapi kami bertiga
bersaudara memutuskan untuk mbalela. Kami mempunyai banyak teman yang juga
dipecat, dipindahkan, diturunkan pangkatnya. "
"Kakang Upasara, apakah kami keliru?"
"Entahlah, aku tak bisa mengerti masalah seperti ini. Hanya saja cara
memberontak itu mungkin tak bisa dibenarkan."
"Kami semua merasa malu. Merasa hina. Sejak Baginda Raja mengampuni
kami, rasanya kami tak mempunyai harga diri lagi-. Ke mana pun kami pergi, kepada
siapa pun kami bertemu, pandangan mereka ini sangat merendahkan.
"Dendam kami makin besar sekali. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa
suatu hari aku akan membalas dendam. Sampai kemudian Maharesi Ugrawe mengajak
kami bergabung."
"Serba susah. Kalau Baginda Raja dulu tidak mengampuni, mungkin akan lain
jalannya sejarah. Adik Kawung Sen, sekarang ini kau masih ingin membalas dendam?"
"Ya, Kakang."
"Jika aku prajurit Keraton, kau akan bertempur denganku?"
"Tidak mungkin. Tetapi aku tetap akan menyerbu ke Keraton. Dan memaksa
Baginda Raja mengumumkan bahwa kami bukan orang yang bersalah. Bahwa kami
mbalela, kami memberontak, karena kami tidak dimanusiakan lagi:
"Kakang Upasara, bagi kami sekeluarga pangkat tinggi atau bukan tak jadi soal
benar. Tetapi kehormatan, harkat diri sebagai manusia, perlu dipulihkan. Kakang
akan bisa mengerti kalau Kakang mengetahui bagaimana Ayahanda secara tiba-tiba
digeser kedudukannya. Ayahanda begitu berduka sehingga membiarkan tubuhnya
tersiksa oleh batinnya. Sampai meninggalnya, sejak digeser, Ayahanda tak berbicara,
tak minum, tak makan, tak bergerak.
"Kakang bisa mengerti?"
Upasara, sekali lagi, berusaha tersenyum. Hatinya memang terpukul oleh
penuturan Kawung Sen. Ini bukan pertama kali telinganya mendengar kekecewaan
mendasar sejak Baginda Raja melakukan penggantian besar-besaran di lingkungan
pejabat Keraton.
"Adik Kawung Sen, banyak para pendekar yang bergabung dengan Ugrawe.
Akan tetapi kenapa Ugrawe hanya mengajak adik bertiga ke Perguruan Awan?
Bukankah terlalu riskan mengandalkan jumlah para prajurit saja?"
"Soal itu aku tak tahu, Kakang."
"Apakah Adik mendengar bahwa Ugrawe menyusun kekuatan yang lain, di
mana para pendekar juga berkumpul?"
"Ya, tapi aku tak tahu."
"Begini. Ketika Adik ditawan oleh Rawikara, aku mendengar bahwa Ugrawe
mempunyai tiga rencana. Penyerbuan ke Perguruan Awan adalah salah satu rencana.
Masih ada dua rencana lain. Apakah Adik mengetahui?"
Kawung Sen menunduk sedih.
"Aku memang bodoh, Kakang."
Upasara mengetahui bahwa Kawung Sen tidak berdusta mengenai hal ini.
"Adik, aku tahu. Rencana Ugrawe adalah menyerbu ke Keraton.
Menumbangkan Baginda Raja. Akan tetapi jebakan apa, atau tipu muslihat apa, aku
sama sekali tidak mengetahui."
Wajah Kawung Sen berubah gembira.
"Hoho, jangan kuatir, Kakang. Begitu aku mengetahui, aku akan segera
memberitahu Kakang."
"Akan banyak gunanya." Lalu disambung dengan suara perlahan, "Kalau belum
terlambat. Setelah usaha itu berhasil kita semua juga akan mengetahui."
"Ah, dari tadi kita bicara tidak jelas. Bagaimana kalau kita pelajari lagi kitab
itu?"
Kawung Sen memberikan klika berikutnya. Upasara menghela napas.
Pandangan matanya menatap percikan api.
"Sekarang ini aku tak tahu bagaimana nasib paman dan teman-teman yang
berada di Perguruan Awan...."
"Hoho... kalau hal itu aku tahu. Kakang mau mendengarkan?"
Kawung Sen mengisap udara kuat-kuat. Seakan ingin memenuhi seluruh isi
dadanya dengan udara. Seperti mengumpulkan semua kemampuannya untuk
mengingat kejadian yang lalu.
Sejak Kawung Sen melepaskan Upasara, ia masih bersama dengan Kawung
Benggol. Itu adalah saat Ugrawe mengajak Upasara masuk ke dalam tenda Raja Muda
Gelang-Gelang. Lalu ketika terjadi keributan besar, Kawung Sen terlibat lagi di bagian
lain. Bersama dengan dua kawung yang lain, ia melibatkan diri dalam pertempuran.
Juga saat-saat Padmamuka meninggal dunia, dan dua kawung yang lain
menyusul.
"Bagaimana dengan Paman Wilanda?"
"Yang mana itu? Yang gundul. Oh, ilmu hebat. Ia yang paling bisa bertahan
dengan tenaga dalamnya ketika yang lain mulai dipengaruhi racun asap."
"Paman Wilanda yang sedang menderita luka."
"O, ia langsung ditawan. Diringkus. Begitu juga Tiga Pengelana Gunung
Semeru. Setelah terpengaruhi racun asap, tak terlalu sulit menawan mereka.
Ugrawe sendiri bisa membereskan mereka. Tapi lucu, Kakang, Ugrawe kehilangan
telinganya. Daun telinganya hilang. Hoho, itu yang menyebabkan Ugrawe murka luar
biasa. Hebat sekali Gendhuk Tri. Di jagat ini hanya ia yang bisa melukainya!"
"Semuanya bisa ditawan?"
"Bisa. Tiga Pengelana Gunung Semeru, Dewa Maut, Wilanda, dan akhirnya
orang gundul yang hebat itu. Hebat dia, Kakang. Pukulannya juga aneh. Ia
menggunakan satu tangan untuk menangkis dan melawan Maharesi Ugrawe.
Pertempuran paling lama. Tapi akhirnya bisa diringkus juga."
"Kalah tenaga dalamnya?"
"Aku yang meringkus, Kakang. Aku jala. Tinggal menyeret saja."
Kawung Sen menunjukkan wajah duka. "Tapi susah. Orang gundul itu tak mau
kuajak bicara. Tak mau kuajak bertanding seperti Kakang. Ya sudah.
"Namun yang membuatku jengkel, karena Maharesi Ugrawe menganggap aku
paling bodoh, paling tak mengerti situasi. Ini keterlaluan sekali. Ia boleh jengkel
karena daun telinganya hilang. Tapi mana mungkin menghinaku. Makanya, aku
ambil kitabnya dari peti. Di sana ada beberapa bundel. Aku mengambil dua.
Kusimpan dalam jala. Tapi karena orang yang berada di tempat penyimpanan itu
hanya aku, akulah yang diringkus.
"Dan segera dikirim ke Banyu Urip.
"Aku sudah bersumpah lebih baik mati daripada harus mengakui sebagai
pencuri kitab."
"Kenapa Adik dikirim ke Banyu Urip?"
"Karena akan diadili oleh Rawikara."
"Kenapa Ugrawe sendiri tak melakukan itu?"
"Sehabis pertempuran itu—sehabis mengubur Kakang Kawung Ketip dan
Kakang Benggol, sehabis menjebloskan mayat Pu'un dan Padmamuka ke dalam gua..."
Upasara tanpa terasa mengeluarkan seruan tertahan.
"Ah!"
"Kenapa, Kakang?"
"Kenapa Padmamuka dan Pu'un dilemparkan ke dalam Gua Lawang Sewu?"
"Aku tak tahu nama gua itu. Maharesi menyuruh melemparkan dua mayat itu,
dan menimbuni dengan tanah, batu, dan meninggalkan beberapa prajurit untuk
menjaga mulut gua."
"Ugrawe tidak menyerbu masuk?"
"Tidak. Ia bilang tak tahu rahasia gua. Ia tak mau berisiko. Makanya ditimbun
saja."
Upasara sadar kini. Bahwa Ugrawe tak mau mengambil risiko untuk menyerbu
masuk dalam gua. Makanya ia sengaja menutup. Tapi sebelum itu, melemparkan
mayat Pu'un dan Padmamuka. Perhitungan Ugrawe pastilah mayat itu akan
membusuk. Pastilah ini akan merepotkan yang bersembunyi di dalam gua. Sudah jelas
sangat berbahaya. Karena seluruh tubuh Padmamuka sebenarnya adalah gumpalan
racun yang kelewat ampuh! Karena, tubuh Pu'un pun mengandung unsur-unsur gaib
yang tak dikuasai. Unsur-unsur yang bisa membahayakan juga.
Sungguh licik Ugrawe. Dan perhitungannya sangat tepat.
Siapa pun yang berada dalam gua itu. Mengingat hal itu, Upasara menjadi
sedih. Pertemuan dengan Jagaddhita sangat singkat. Begitu juga dengan Gendhuk Tri.
Namun dalam hatinya, Upasara menghormati keduanya. Dan merasa akrab dengan
Gendhuk Tri. Ia menyesali kenapa meninggalkan Gendhuk Tri di dalam gua!
Mestinya ia terus memaksa agar Gendhuk Tri ikut dengannya!
Upasara tak bisa menceritakan bahwa Jagaddhita, Gendhuk Tri, masih
tertinggal dalam Gua Lawang Sewu.
Melihat Upasara berduka, Kawung Sen jadi merasa bersalah.
"Katakan, Kakang, apa yang bisa kulakukan?"
"Para pendekar utama telah ditawan. Kini lapanglah jalan Ugrawe untuk
mencapai maksudnya."
"Kakang, kalau Kakang menginginkan para pendekar yang ditawan itu
dibebaskan, aku bisa mengusahakannya."
"Tak begitu mudah. Ugrawe tak akan melepaskan pengawalan."
"Mereka akan dikirim ke Banyu Urip. Rawikara yang akan mengurusi."
"Ugrawe, ke mana ia?"
"Kembali ke Kediri."
Upasara mengernyitkan dahinya. Apa yang dilakukan Ugrawe di Kediri?
Kenapa tidak langsung menyerbu ke Keraton Singasari? Kenapa malah ke Kediri?
Dunia kelewat luas, dan aku ini tak bisa menduga sedikit pun. Kalau Ugrawe secara
buru-buru pergi ke Kediri, pasti ada sesuatu yang direncanakan. Tidak mungkin kalau
sekadar berobat atau apa. Ini berani, bukan penyerbuan langsung ke Keraton yang
menjadi langkah berikutnya. Berani juga, perhitungan Senamata Karmuka dan
Jagaddhita meleset.
Memang dengan menutup jalan di Banyu Urip, Ugrawe membuntu kemungkinan
lolosnya satu orang ke Keraton. Menutup kemungkinan Keraton mengetahui kejadian
di Perguruan Awan. Tapi ternyata itu tidak berani Ugrawe dan pasukannya lebih dulu
menyerbu ke Keraton.
"Apakah Ugrawe bersama rombongan Raja Muda Gelang-Gelang?"
"Ugrawe berangkat lebih dulu. Raja Muda akan menyusul kemudian."
"Adik Kawung, kau tahu apa yang akan dilakukan Ugrawe?"
"Mana aku tahu, Kakang? Aku sudah diikat."
Paling tidak, untuk sementara Keraton masih aman, pikir Upasara. Ugrawe
ternyata tidak langsung menyerbu. Juga sangat tidak mungkin ketika Ugrawe pergi ke
Kediri, pasukannya akan menyerbu sendiri. Ugrawe pasti akan terlibat dalam
penyerbuan dan berada di garis paling depan.
Nah, kalau bukan menyerbu langsung, rencana apa yang dipersiapkan di
Kediri?
Sepersepuluh rencana Ugrawe bisa kutebak, aku sudah merasa beruntung, kata
hati Upasara. Makin dikenal tokoh satu ini, makin terasa kebesarannya.
"Kakang, aku bisa pergi ke Kediri untuk mengetahui rencana Maharesi
Ugrawe. Kalau Kakang memerintahkan, tak nanti adikmu ini membantah."
Itu juga bisa, pikir Upasara. Kawung Sen bisa leluasa di sana. Namun Upasara
juga memperhitungkan bahwa Kawung Sen tak akan mendapatkan banyak
keterangan. Meskipun Kawung Sen termasuk salah satu senopati yang diunggulkan,
tetapi dalam masalah-masalah pelik dan rahasia, ia tak pernah diikutsertakan. Pastilah
Ugrawe sudah mengetahui bahwa jiwa Kawung Sen mudah goyah. Tokoh ini sangat
angin-anginan. Ambisinya dalam pertempuran berbeda banyak. Bagi Kawung Sen,
masalah penyerbuan ke Keraton lebih didasarkan pada masalah pribadi.
Kawung Sen menunggu.
Upasara melihat klika yang berisi Bantala Parwa sejenak. Lalu menggulung
kembali, dan menyerahkan kepada Kawung Sen.
"Tidak ada gunanya."
"Masa?"
"Kitab ini bukan berisi pelajaran ilmu silat. Ini mengenai uraian Tumbal
Bantala Parwa. Artinya cara menjawab jurus-jurus atau ilmu mengenai bumi. Tanpa
membaca Bantala Parwa, kitab ini tak ada artinya."
"Aku memang goblok, Kakang. Coba aku tahu. Aku bisa mengambil duaduanya.
Tapi mana mungkin aku tahu? Aku tak bisa membaca. Aku mengambil
sekenanya.
"Hoho, tapi bagaimana Kakang bisa langsung menentukan tak ada
gunanya?'
"Klika ini berjudul Tumbal Bantala Parwa, artinya Kitab Penolak Bumi. Berarti
sebelum ini sudah ada Bantala Parwa, atau Kitab Bumi. Barangkali setelah
menciptakan Bantala Parwa, empu yang sama ini menciptakan Tumbal Bantala
Parwa. Untuk melengkapi atau mengoreksi kekurangan dalam kitab sebelumnya.
"Bagi yang telah mempelajari Bantala Parwa, kitab ini sangat berguna sekali.
Akan tetapi bagi yang belum mengetahui, sama sekali tidak ada gunanya."
Kawung Sen sangat kecewa.
"Adik, aku sama sekali tidak berdusta."
"Kakang Upasara, mana mungkin aku berani mencurigai Kakang?"
Kawung Sen membuang klika kedua. Dalam satu ikat hanya terdiri atas satu
lembaran.
"Kakang, barangkali masih ada gunanya. Kalau kita bertemu dengan Ugrawe
yang memainkan jurus Bumi, bukankah kita bisa mengatasi?"
"Memang. Tapi, apa itu jurus Bumi tak disebutkan di sini sama sekali." Upasara
mengambil klika yang dicampakkan. Membukanya dan membaca.
"Aku mulai dengan baris pertama.
"Tumbal Bantala Parwa, atau Kitab Penolak Bumi. Catatan terakhir bagi Bantala
Parwa. Terdiri atas tujuh catatan, sebagai berikut:
"Untuk jurus Manik Maya Sirna Lala, mempergunakan telapak tangan terbuka,
seperti dua paruh itik, tenaga ada di sudut.
"Untuk jurus Sri Saddhana, mempergunakan tenaga isi yang dibungkus,
seumpama pisang biji. Sumber tenaga dari utara-selatan.
"Untuk jurus Sekar Sinom, mempergunakan tenaga yang terpancing ke luar
oleh lawan, ibarat biji asam yang membuka sendiri karena sudah tua. Sumber tenaga
dari selatan.
"Untuk jurus Glagah Kabungan, mempergunakan tenaga panas di tengah
untuk kuda-kuda. Sumber tenaga dari cara mengatur napas.
"Untuk jurus Kawula Katuban Bala, mempergunakan tenaga dua kaki
terbenam, seumpama buah ketela. Sumber tenaga dari arah utara-timur.
"Untuk jurus Sigar Penjalin, mempergunakan tenaga dingin di tengah untuk
kuda-kuda. Sumber tenaga dari cara mengatur napas.
"Untuk jurus Asu Angelak, mempergunakan tenaga runcing di setiap sudut.
Sumber tenaga tidak disebutkan di sini.
"Untuk Singa Meta, mempergunakan tenaga diam di tengah. Sumber tenaga
dari pengaturan napas terbuka tapi..."
Upasara menggeleng.
"Bahkan catatan ini pun tidak selesai...."
Kawung Sen mengangguk-angguk.
Lalu menggeleng-geleng.
"Benar-benar mustahil untuk bisa mempelajari. Kalau mengenai Kartika Parwa
saja sulit dicernakan, bagaimana mungkin kalau hanya mendapatkan kunci jawaban?
Itu pun belum selesai.
"Dengan cara bagaimana Ugrawe itu bisa mempelajarinya, sehingga ilmunya
demikian tinggi?"
"Satu hal yang selalu menyertai setiap lahirnya jurus-jurus ilmu silat. Jurusjurus
itu tidak pernah lahir dengan sendirinya. Ada dasar pemikiran yang menyertai.
Jurus-jurus Banteng Ketaton yang diwariskan Ngabehi Pandu padaku juga diilhami
dari gerakan seekor banteng terluka.
"Dari sifat-sifat itulah kemudian diubah, disesuaikan dengan kemampuan kita.
Ngabehi Pandu pernah menuturkan hal ini. .
"Ugrawe bisa mempelajari dengan baik kalau ia mengetahui mengenai sifatsifat
bumi. Setidaknya sifat-sifat yang disebut dalam nama jurus-jurus tersebut.
"Kakang bisa mengetahui?"
"Tidak begitu pasti. Mungkin..." Upasara berdiam diri. "...mungkin sekali.
Tetapi tidak. tidak. Apa hubungannya?"
"Apa yang Kakang katakan?"
"Manik Maya Sirna Lala ialah keadaan bumi di mana tanah di sebelah timur
rendah dan tanah di sebelah barat lebih tinggi. Keadaan ini sangat tidak baik. Tidak
bisa langgeng.
"Sri Saddhana adalah keadaan yang terbalik. Bumi di sebelah timur lebih tinggi
daripada sebelah barat. Tidak baik dipakai untuk latihan, karena ini bisa
menyebabkan luka berat.
"Salah-salah malah menyebabkan kehilangan kawan latihan.
"Sekar Sinom, keadaan bumi di mana sumber air di sebelah selatan, dan
dikepung oleh tenaga lain. Banyak keuntungan akan tetapi... akan tetapi jurus ini tak
banyak berguna jika kita tidak bisa menerima kenyataan bakal kehilangan kasih.
"Glagah Kabungan, keadaan bumi lebih tinggi di bagian selatan dan rendah di
bagian utara.
"Kawula Katuban Bala, kebalikan dari Glagah Kabungan. Jika bumi dikepung
oleh gunung.
"Sigar Penjalin, jika bumi dikepung air.
"Asu Angelak, jika tak ada tenaga di sebelah timur, atau tenaga yang patah. Ini
keadaan bumi yang siap mengamuk.
"Singa Meta, jika keadaan bumi diterobos air secara terus-menerus, tetapi ia
tetap kering."
Seumur-umur Kawung Sen belum pernah mendengar penjelasan seperti ini.
Selama ini ia berlatih silat mengikuti petunjuk kakak-kakaknya. Menirukan gerakan,
mengatur pernapasan, mengulang lagi, tanpa ada penjelasan seperti yang dikatakan
Upasara.
"Mungkin jurus-jurus itu menggambarkan sifat-sifat bumi yang tadi. Tapi
bagaimana penerapannya, tetap tak bisa dimengerti."
"Tak apa, Kakang. Lupakan saja."
Justru sebaliknya. Upasara merasa ditantang. Hatinya seperti dibakar. Tak
mungkin sama sekali, ia tiba-tiba saja berkata seperti yang diucapkan oleh Kawung
Sen. Untuk melupakan begitu saja hal-hal yang ada hubungannya dengan ilmu silat.
Kawung Sen memang tak bisa membayangkan cara hidup Upasara Wulung.
Bahkan kalau diceritakan masa lampaunya, mungkin sulit menerima, meskipun jelas
ia mudah -percaya.
Upasara melewati masa kecilnya berbeda sekali dengan anak-anak sebaya. Juga
berbeda dengan sentana dalem, atau kerabat Keraton. Sejauh ingatan Upasara, ia
belum bisa berjalan ketika berada dalam suatu ruangan yang biasa dipakai untuk
berlatih silat. Setiap harinya yang dilihatnya adalah para prajurit, para pendekar
berlatih jungkir balik, memukul, melatih senjata, berlatih napas, dan membaca buku.
Sejak masih kanak-kanak sekali, Upasara sama sekali tak mengenal siapa ayah dan
siapa ibunya. Ia juga tak menanyakan hal itu, karena pada pikirnya hal itu tak perlu
diketahui. Sampai dengan usia enam tahun, Upasara melewati waktunya dalam
ruangan luas yang sengaja dibangun untuk latihan. Bersama dengan dua puluh lima
anak sebaya. Setiap harinya, baik siang ataupun malam, mereka berlatih silat,
membaca buku, berlatih lagi, membaca buku, berlatih, membaca. Para guru datang
silih berganti. Pada usia sewindu, untuk pertama kalinya ia diajak keluar dari dinding
Keraton. Melihat sawah yang luas, gunung yang tinggi, sungai deras, dan pasar. Tetapi
kemudian mengeram diri lagi.
IZRO'IL
SENOPATI PAMUNGKAS I


Sejak itulah ia mulai dilatih khusus oleh Ngabehi Pandu. Yang
memberitahukan mana kitab yang harus dibaca, perlu dibaca. Mana yang harus
dilatih hingga mahir, mana yang perlu diketahui.
Bagian yang ditempati Upasara adalah sebuah sudut Keraton. Suatu ruangan
yang luas, tempat berlatih silat. Dan beberapa rumah yang dijadikan tempat tinggal.
Dari sanalah Upasara mengenal dunia. Dari rumah yang ditinggali dan di tempat
latihanlah Upasara menghabiskan masa kanak-kanaknya. Sampai usia dua belas tahun,
ia diajak mengembara lagi. Ngabehi Pandu mengajaknya pergi ke hutan, dan
memperkenalkan beberapa isi hutan.
Tiga bulan Upasara berdiam di hutan. Berlatih di sungai, di atas tebing, di atas
pohon. Mencoba hidup dari hasil hutan yang bisa ditangkap. Setelah itu masuk
kembali ke dalam Keraton.
Kembali berlatih. Membaca semua kitab yang ada. Mengenai cara bernapas,
mengatur pemerintahan, ilmu bumi, nama raja, tata cara, adat-istiadat, dan tentu saja
sejarah Keraton sendiri.
Sampai usia lima belas tahun, Ksatria Pingitan—begitulah sebutan untuk
mereka yang berada dalam ruangan tersebut—tinggal tiga orang. Dan sejak itu
Ngabehi Pandu secara khusus melatih sendiri secara maraton. Melatih membaca,
menghafal, berkelahi, ilmu negara, dan segala ilmu pengetahuan yang ada.
Tapi sejak itu, Upasara mulai longgar. Ia diizinkan pergi ke luar Keraton, jika
memang menghendaki Upasara mencoba, akan tetapi kemudian kembali lagi. Baginya
dunia di luar dinding Keraton sangat ganjil. Bahkan suasana dalam Keraton sendiri tak
membuatnya senang. .
Upasara hanya mencintai ruang di mana ia sejak kecil dibesarkan.
"Baginda Raja membuat dalem pingitan ini sengaja untuk melatih para ksatria.
Agar kelak menjadi senopati yang linuwih," demikian ujar Ngabehi Pandu suatu
ketika.
"Kau terpilih di sini sampai akhir hayatmu."
"Terima kasih, Paman."
"Segala apa yang terjadi di luar dinding Keraton bisa kau pelajari di sini. Cara
menanam padi atau mengubur mayat pun bisa kau pelajari. Kau memang disiapkan
untuk menjadi senopati, yang kelak kemudian hari akan menjunjung nama Keraton.
Menjelang usia delapan belas, Upasara setiap 35 hari sekali menjajal ilmunya.
Dengan para senopati yang lain. Ia mengenal mereka hanya dalam latihan belaka.
Termasuk di dalamnya adalah Senopati Suro, Joyo, Lebur, dan Pangastuti. Baik
sendiri-sendiri maupun menghadapi keroyokan mereka.
Maka boleh dikatakan Upasara sama sekali tak mengenal kehidupan dinding Keraton
secara langsung. Ia mengetahui dari buku-buku. Baginya tak ada yang bisa
mengalahkan kecintaannya untuk membaca buku dan menembang.
Maka ketika membaca Kartika Parwa dan Bantala Parwa, dengan segera
Upasara bisa melakukan. Dan untuk memecahkan isi kitab itu adalah tantangan besar.
Selama ini tak ada kitab pusaka di Keraton yang tak dipahami. Kitab-kitab itu
mempunyai sifat yang sama. Harus bisa dipahami dengan beberapa syarat tertentu.
Tidak asal menghafal dari yang tertulis.
"Adik, mari kita jajal jurus Lintang Sapi Gumarang. Tidak perlu dibuka lagi
catatan itu. Aku masih bisa menghafal.
"Di sini tidak diterangkan gerakan, karena hanya menyebutkan pengaturan
tenaga belaka. Maka sangat boleh jadi, gerakan apa pun tak menjadi soal. Asal
pengerahannya seperti yang dimaksudkan."
Upasara berdiri.
Di tengah malam, hanya kena pantulan api dari kayu. Ia mengambil sikap
sempurna, menghormat dalam dengan menghaturkan sembah.
"Hamba yang rendah ini, Upasara Wulung, minta berkah pangestu. Maafkan
segala kelancangan hamba mempelajari ilmu para sepuh."
Lalu dengan serta-merta mengumpulkan tenaga dari ujung-ujung hidung.
Udara disedot masuk, naik ke atas ke ubun-ubun, turun lewat tulang belakang, dan
dikumpulkan di pusar. Ditahan sekuatnya, sehingga arus tenaga yang bergelora itu
terasa menggerakkan semua urat dan saraf, membuka semua jalan darah. Baru
kemudian kedua tangannya terangkat ke atas dari samping, hingga pangkal telapak
tangan menyentuh ketiak. Kuda-kuda tetap mengangkang seperti seorang
menunggang kuda. Perlahan kedua tangannya bergerak sesuai dengan yang dihafal.
Tenaga dikerahkan dari arah utara dan selatan. Seirama dengan penyaluran napas,
tangan kanan dan kiri digerakkan ke arah kanan dan kiri. Pusat perhatian tertuju di
satu titik di depan, akan tetapi yang ada dalam bayangan adalah tetesan hujan
pertama, loncatan belalang, luncuran burung, tumbuhnya benih padi. Merasa
konsentrasinya kuat, Upasara melemparkan tenaganya ke depan.
Bupb!
Kayu api di depannya terpental semuanya. Api menjadi padam seketika,
keadaan menjadi gelap. Cabang kayu yang tadi dipakai untuk api, baru beberapa saat
kemudian terjatuh di tanah. Saking tinggi terlemparkan!
Kawung Sen berjingkrakan.
"Bagus, kau berhasil, Kakang."
Upasara membuyarkan tenaga dalamnya.
"Tidak. Tanpa jurus itu pun aku bisa melakukan."
"Lalu?"
"Ada yang belum bisa kupahami. Cara mengambil sumber tenaga inti masih
belum bisa kuketahui. Dalam kitab disebutkan sebagai tenaga musim Kasa. Musim
pertama. Itu juga bisa disebut tenaga Kartika. Musim pertama itu mempunyai sifat
belas kasih.
"Aha, mungkin itu sebabnya kenapa dalam kitab itu disebutkan kalau
mempunyai rasa pongah dan sombong, tidak mencapai sasaran."
"Coba lagi."
"Kita coba sama-sama."
Kawung Sen berjingkrakan. Ia berdiri sejajar, berjarak tiga tombak. Keduanya
mulai bergerak. Upasara mengulangi gerakan tadi untuk menghimpun tenaga. Sedang
Kawung Sen, karena latar belakang silatnya berbeda, mengambil tenaga dengan
menggerakkan kedua tangan setengah lingkaran di depan tubuh. Lalu dalam saat yang
bersamaan, keduanya melemparkan tenaga ke depan.
Terdengar suara keras. Dua pohon sekaligus bergoyang. Pohon di depan
Upasara rontok sebagian besar daunnya. Sedang pohon di depan Kawung Sen somplak
beberapa cabangnya.
"Hoho... aku bisa. Aku bisa."
Upasara memusatkan konsentrasi. Ia mulai dengan jurus Lintang Tagih.
Tenaga mengambil dari utara. Tenaga bergulung, dan bergelombang besar, dan
Upasara memusatkan seluruh daya cipta kepada dirinya, tidak memedulikan arah
pukulan. Membiarkan tenaga dingin tetap berada di dalam, dan tenaga panas
menyembur ke luar.
Krak!
Kini pohon di depan Upasara tercabut seakarnya.
Pohon di depan Kawung Sen rontok semua daun dan cabangnya.
"Adik, jurus kedua ini hanya mengerahkan tenaga luar, tenaga panas. Sebagian
tetap disimpan."
"Kenapa begitu?"
"Inilah inti musim Karo. Musim kedua yang juga disebut Pusa. Jangan terlalu
lama menahan tenaga di dalam. Gerakan harus dilakukan dengan cepat. Jauh lebih
cepat dari jurus pertama."
"Dasar ilmu silat kita berbeda. Bagaimana Kakang bisa menjelaskan itu? Apa
ditulis di situ?"
"Tidak. Tetapi kalau dilihat hasilnya, aku bisa menumbangkan pohon, sedang
Adik tidak. Padahal tenaga dalam Adik jauh lebih besar dariku. Adik memiliki latihan
dan pengendalian yang lebih berpengalaman.
"Hanya cara mengaturnya yang keliru.
"Kita ulangi jurus satu dan dua, dengan sasaran pohon yang lain.
"Mulai!"
Benar apa yang dikatakan Upasara. Pohon di depan Upasara sudah tumbang
dan terlempar. Baru kemudian pohon di depan Kawung Sen bergoyang perlahan
sebelum akhirnya rubuh.
"Astaga. Kenapa bisa begitu?"
"Waktu yang digunakan untuk pengerahan tenaga. Pada jurus pertama, karena
pengaruh Kasa, waktunya lebih lama. Umur Kasa adalah 41 hari. Sedang Karo hanya
23 hari. Jadi hampir separuhnya. Waktu Karo sama juga dengan waktu Dhestha atau
jurus kesebelas yang dipengaruhi Padrawana. Usianya juga 23 hari."
"Bagus, bagus. Boleh juga. Bagaimana dengan musim yang lain? Aku tak
pernah mengerti berapa umur bulan yang ketiga dan seterusnya."
"Musim ketiga disebut Manggasri, berumur 24 hari, musim keempat disebut
Sitra, berumur 25 hari. Musim kelima disebut Manggakala, berumur 27 hari. Musim
keenam disebut Naya dihitung 43 hari. Demikian juga musim ketujuh disebut Palguna
berusia 43 hari."
"Susah, susah, Kakang. Kenapa setiap bulan, setiap musim umurnya berbedabeda?"
"Entahlah, Adik, bagaimana para leluhur menemukan perhitungan ini. Tetapi
musim Kasa dihitung mulai terbitnya matahari ketika mulai condong ke selatan.
Musim Naya, dihitung sejak matahari terbit ke arah selatan persis. Musim Palguna,
ketika matahari terbit mulai condong ke utara. Sedangkan musim kedua belas, yang
terakhir disebut Asuji, dihitung dari matahari terbit persis di utara. Dan panjangpendeknya
umur musim mempengaruhi jurus yang dimainkan."
"Bagaimana mungkin matahari agak ke selatan atau di selatan persis, agak ke
utara atau di utara persis. Seumur-umur matahari terbit dari timur."
"Tidak persis begitu. Adakalanya agak ke utara dan agak ke selatan. Adik, para
leluhur kita telah lama memperhitungkan ini semua dengan arah angin, hujan, ombak
laut, ketika para senopati Keraton dikirim ke Melayu. Dengan dasar yang sama pula
kini diciptakan dalam ilmu silat. Berbahagialah Adik menemukan ilmu ini."
"Tidak, Kakang yang membuat terang."
"Adik bisa berlatih sendiri. Setidaknya dari Kartika Parwa. Mungkin suatu hari
kelak, kita bisa belajar bersama-sama lagi."
"Kakang akan melanjutkan perjalanan?"
"Tugas Keraton...."
"Sudahlah, Kakang. Pertolonganmu tak akan pernah kulupakan. Mudahmudahan
dewa di langit membalas semua budi baik Kakang. Kalau aku mengetahui
rencana Maharesi Ugrawe, aku akan segera melaporkan padamu."
"Nuwun...."
Upasara mengangguk. Kawung Sen melompat memeluk Upasara. Lalu cepat
melepaskan kembali.
"Aku sungguh tidak sopan."
"Adik Kawung Sen, selamat tinggal."
"Kakang Upasara, selamat jalan."
Upasara segera berlalu. Meskipun tidak menoleh ia tahu bahwa Kawung Sen
masih berdiri di tempatnya, sampai ia menghilang di kegelapan malam.
Dan malam itu Upasara terus melanjutkan perjalanan. Hingga dini hari.
Setelah beristirahat sejenak, ia melanjutkan perjalanan kembali. Menjelang senja,
sampailah ia di batas kota.
Upasara mulai berhati-hati. Sekali lagi ia menyamar sebagai penduduk biasa.
Malah ia memakai caping lebar sekali yang telah butut. Dengan perasaan aman,
Upasara melangkah ke dalam desa.
Sebuah desa perbatasan yang cukup ramai, pikir Upasara. Apalagi menjelang
senja begini masih banyak orang lalu-lalang. Setahuku, di luar Keraton tak pernah ada
kegiatan begitu matahari tenggelam. Ataukah ada sesuatu yang terjadi?
Dugaan Upasara tidak meleset.
Orang yang berlalu-lalang ini menuju satu tempat. Yang dituju adalah
lapangan yang diterangi banyak obor yang mulai dinyalakan. Ada panggung luas, di
belakangnya dihiasi patung besar, serta umbul-umbul. Kelihatan kegiatan baru akan
dimulai.
Upasara melirik sebentar. Berniat meneruskan perjalanan ketika terdengar
sorak-sorai keras. Terpaksa kakinya berhenti melangkah. Pandangannya _. tertuju ke
tengah panggung.
Dan kecele. Karena panggung tetap kosong melompong.
Dalam herannya, Upasara menegur seorang yang sebaya dengannya.
"Ada apa, Kisanak?"
Yang ditegur memandang heran ke arah Upasara.
"Untuk apa datang kemari kalau tak tahu kegiatan apa?"
"Maaf, saya benar-benar tidak tahu. Apakah akan ada pertandingan silat?"
"Ini sudah malam ketujuh dari Sayembara Mantu. Bisa jadi kalau kamu ikut
dan menang, bisa memboyong putri Cina. Ha... ha... ha."
Dari caranya tertawa, jelas Upasara ditertawakan.
"Majulah segera, siapa tahu nasibmu baik. Kami semua sudah tidak sabar
menunggu siapa pemenangnya."
Sayembara Mantu, adalah sayembara untuk dipilih menjadi menantu. Upasara
mengetahui bahwa ada cara-cara seperti itu. Agaknya terlalu banyak calon sehingga
perlu diadakan sayembara. Hanya yang mengherankan, kenapa yang dipilih adalah
putri Cina?
Upasara tahu bahwa dahulu pernah ada utusan dari negeri Cina yang datang ke
Baginda Raja. Konon, raja dari negeri Cina terdiri atas para jagoan yang luar biasa.
Namun mereka bisa diusir pergi. Malah utusannya dicoreng wajahnya dengan tulisan.
Sejak itu mereka pulang balik ke negerinya minta bala bantuan. Akan tetapi Upasara
juga mendengar berita bahwa tidak semua utusan pulang kandang. Beberapa jagonya
yang kesohor masih tinggal di sekitar pantai.
Siapa nyana sekarang berani mendirikan tempat pertemuan yang terbuka dan
mengadakan Sayembara Mantu?
Kalau benar ini malam ketujuh, berarti sudah lebih dari sepasar kegiatan ini
diadakan setiap malam. Dan jaraknya dari Keraton tak terlalu jauh. Sehingga pastilah
pihak Keraton telah mendengarnya. Pasti juga tak ada larangan dari Keraton, karena
nyatanya kegiatan ini masih terus berlangsung.
Bagi Upasara tidak menjadi soal benar hal semacam ini. Ia sama sekali tak
tertarik mencari pasangan. Dalam otaknya belum ada masalah seperti itu. Akan tetapi
bahwa kegiatan ini diadakan oleh kelompok yang pernah diusir dari Keraton,
memang agak mencengangkan.
Seingat Upasara, Ngabehi Pandu pernah menceritakan bahwa dalam utusan
Meng-ki terdapat seorang ahli silat yang ilmunya kelewat tinggi. Yang harus
diperhitungkan benar-benar.
Upasara tidak bertanya lebih jauh saat itu. Akan tetapi mengingat bahwa gurunya
memuji, ia jadi penasaran. Setahunya, gurunya hanya menyebut-nyebut beberapa
nama yang termasuk luar biasa. Yang pertama adalah Eyang Sepuh dari Perguruan
Awan. Ia menduduki tempat teratas. Hanya saja sudah sejak lama Eyang Sepuh ini
mengasingkan diri dan membina Perguruan Awan. Sehingga tak diketahui lagi.
Menurut Ngabehi Pandu, kemampuan Eyang Sepuh tak bisa diukur lagi. "Bagaimana
bisa diukur kemampuannya kalau selama ini Eyang Sepuh belum ada yang bisa
mengalahkan? Bahkan murid-muridnya masih termasuk kelas tinggi. Di dunia ini,
hanya Eyang Sepuh yang tak terkalahkan selama pertandingan."
Yang kedua adalah Mpu Raganata. Mahapatih Keraton yang dianggap mampu
menandingi siapa saja, dalam soal apa saja. Baik dalam pertempuran satu lawan satu,
baik dalam mengatur siasat perang, maupun dalam strategi, serta membaca maksud
lawan. Salah satu ilmu andalannya disebut sebagai Weruh Sadurunging Winarah, atau
Tahu Sebelum Terjadi. Rangkaian jurus-jurus ini oleh Ngabehi Pandu disebut sebagai
penangkis segala jurus. Karena Mpu Raganata mampu membaca apa yang dipikirkan
lawan. Tahu ke mana gerakan dan serangan lawan. Sehingga dengan mudah bisa
mengalahkan lawan-lawannya.
"Eyang Sepuh belum pernah terkalahkan. Paman Ngabehi, dibandingkan
dengan Mpu Raganata yang menguasai Weruh Sadurunging Winarah, siapa yang
lebih unggul?"
"Susah dibuktikan. Tapi Mpu Raganata selalu menolak bertanding dengan
Eyang Sepuh. Beliau mengatakan bukan tandingan Eyang Sepuh. Mungkin justru
dengan ilmunya itu Mpu Raganata mengetahui bahwa ia tak bisa mengungguli Eyang
Sepuh."
Yang ketiga disebut-sebut adalah Ugrawe. Terutama karena ilmunya Sindhung
Aliwawar yang beraneka ragam, dan sulit dipelajari oleh lawan.
Sejak Eyang Sepuh tak lagi terjun ke dunia, dan Mpu Raganata tergeser dari
pusat kekuasaan, hanya Ugrawe yang bisa malang-melintang.
Baru kemudian, Ngabehi Pandu bercerita tentang tokoh keempat. Yaitu
panglima utama dari negeri Cina, yang dikenal dengan Mojin, atau Bok Mojin.
"Mojin mewarisi ilmu gulat yang luar biasa yang dikembangkan dari negeri
asalnya, negeri padang pasir Mongolia. Dipadu dengan kecepatan gerak bangsa Cina
yang ditaklukkan, Mojin benar-benar luar biasa."
Saat itu Ngabehi Pandu tidak menyebut-nyebut Mahisa Anengah Panji
Angragani yang menggantikan kedudukan Mpu Raganata.
"Jauh di bawah itu, jumlahnya banyak sekali."
"Termasuk Paman?"
"Aku bukan apa-apa."
"Pakde Senamata Karmuka?"
"Pakdemu itu juga bukan apa-apa."
Saat itu Upasara seperti tak bisa menerima apa yang dikatakan gurunya.
Bagaimana bisa terjadi, Ngabehi Pandu tetap dikatakan bukan apa-apa? Selama ini
Upasara mengetahui bahwa Ngabehi Pandu tak pernah bisa dikalahkan dalam
Keraton!
Kalau benar begitu, pastilah empat tokoh yang telah disebutkan tadi sangat
luar biasa.
Upasara sendiri belum pernah menyaksikan jurus-jurus dan ilmu Eyang Sepuh.
Ngabehi Pandu hanya memberikan dasar-dasar sumber gerak sebagai tambahan
pengetahuan. Mengenai Mpu Raganata, Upasara pernah bertemu. Walau tidak sedang
memperlihatkan ilmunya, Upasara bisa merasakan perbawa dan kehebatan sorot mata
Mpu Raganata. Hanya dalam hatinya Upasara kurang hormat karena ketika itu Mpu
Raganata seperti meremehkan kehadiran Upasara.
Saat itu ia sedang berlatih keras bersama Ngabehi Pandu, tiba-tiba sebuah
bayangan menyeruak masuk. Upasara tidak mendengar desiran angin, tidak
mendengar suara kaki, akan tetapi tiba-tiba melihat seorang tua dengan pakaian putih
berdiri di depannya.
Ngabehi Pandu langsung memberi sembah dengan hormat sekali. Upasara
mengikuti.
"Ngabehi..."
"Sembah dalem, Begawan...."
"Hmmmmmmm, ini hasilmu melatih Ksatria Pingitan?"
"Nun inggih. Hamba sama sekali tak berbakat. Mohon petunjuk, Begawan."
"Susah, susah. Keinginan Keraton adalah menciptakan seorang ksatria tulen.
Sejak lahir tak tahu apa-apa selain ilmu silat. Dilatih sejak lahir ceprot. Dikurung
secara istimewa. Hmmmmm, tak tahunya hasilnya hanya sebegini. Saya dengar
banyak sekali yang tak bisa mewarisi ilmu Keraton."
"Nun inggih, hanya tinggal satu orang. Yang lainnya menjadi prajurit."
"Hmmmmm, susah. Susah. Tinggal satu saja seperti ini."
"Hukumlah hamba yang tidak becus ini."
"Bukan salahmu. Mereka memang tidak punya darah ksatria. Dipaksa seperti
apa ya susah. Sekalinya cacing tak bisa dipaksa menjadi naga."
Upasara yang terus menunduk sejak tadi, tak terasa mengangkat dagunya.
"Tapi anak muda ini boleh juga. Matanya berani menatapku. Besok kalau
sudah pantas, aku ingin sekali melihatnya."
Darah Upasara mendidih.
Sejak itu ia berlatih makin keras. Lebih keras dari biasanya. Namun Mpu
Raganata tak pernah muncul kembali. Setiap kali Upasara menanyakan, Ngabehi
Pandu menggelengkan kepalanya.
"Itu bukan urusanmu. Beliau mempunyai urusan lain lebih banyak. Urusanmu
mewarisi ilmu Keraton."
Sejak itu Upasara tak pernah bertemu lagi. Kini, ia ingat lagi karena ia teringat
kepada Mojin.
"Jangan-jangan Mojin...," kata Upasara pelan.
"Heh, kamu kenal juga nama itu?"
"Maaf, hamba hanya mendengar bahwa yang harus dikalahkan bernama Bok
Mojin...."
"Semprul... kamu ini ngerti apa? Kiai Sangga Langit tak perlu turun tangan
untuk mencari menantu. Cukup membiarkan kamu melawan pemenang dan itu
sudah cukup untuk menjadi suami putri Cina."
Bulu kuduk Upasara bergidik. Hebat benar jika Mojin yang digelari Kiai
Sangga Langit benar-benar ada di sini. Jelas ini bukan sayembara sembarangan.
Tapi kenapa mengadakan sayembara di tapal batas Keraton? Kenapa tidak di Keraton
sekalian atau di Gelang-Gelang atau di Kediri? Ini aneh, pikir Upasara. Ia banyak
membaca kitab-kitab dan segala macam peraturan, akan tetapi toh kejadian seperti ini
masih sulit dimengerti.
Kalau Kiai Sangga Langit berani muncul ke permukaan, pasti ada seseorang
yang berdiri di belakangnya. Sayembara Mantu ini sendiri pasti bukan tak ada apaapanya.
Selama ini boleh dikata, anak gadis yang memiliki sesuatu yang luar biasa,
akan di-sowan-kan ke Keraton atau mendapat panggilan ke Keraton. Kalau-kalau
Baginda Raja berkenan. Nah, kalau putri Cina terkenal karena keayuannya, kenapa
tidak langsung di-sowan-kan ke Keraton?
Mata Upasara seperti dicolok. Di pentas muncul seorang wanita yang sangat
menarik. Dahinya lebar, rambutnya yang berombak dibiarkan terurai hingga
mencapai pantat. Pandangannya galak sekali. Bibirnya tipis, sedikit berwarna merah.
Yang lebih menarik lagi adalah bentuk dadanya yang montok besar, dengan kemben
yang lekat. Kainnya terbuka sedikit di bagian kaki.
"Saya Demang Wangi mengucapkan selamat datang kepada para ksatria di
seluruh tanah Jawa. Ini adalah malam terakhir pemilihan menantu. Akan kita ketahui
bersama siapa yang berhak mempersunting Dyah Muning Maduwani....
"Akan tetapi seperti malam kemarin, Kiai Sangga Langit tetap memberi
kesempatan bagi peserta yang ingin menjajal keberuntungan...."
Suaranya enak, seperti mengelus telinga. Ada nada bisik-bisik yang
menggelitik. Apalagi ketika mengakhiri kalimatnya dengan menyungging senyum
serta menunggu reaksi, membuat lelaki di samping Upasara berdecah-decah.
Demang Wangi, setahu Upasara adalah salah seorang jago silat yang disegani
juga. Sebenarnya yang bergelar Demang Wangi adalah seorang lelaki. Tetapi entah
kenapa malam ini yang muncul adalah perempuan yang mengobral senyum.
Entah apa pula hubungannya dengan Kiai Sangga Langit atau juga Dyah
Muning Maduwani. Kalau ditilik dari namanya, Dyah Muning Maduwani adalah
putri Cina yang disayembarakan. Dyah memang sebutan terhormat untuk gadis.
Sedang Muning, bisa jadi kependekan atau nama yang diluweskan dari Mo dan Ing
atau sejenis dengan itu. Maduwani sekadar julukan untuk menggambarkan
keayuannya seperti madu. Dan wani yang juga berarti berani, mengandung
pengertian tersendiri. Maduwani, bisa juga berarti sangat bermadu, atau menonjol
kemaduannya.
"Bagaimana?"
"Bagaimana kalau saya melamar Demang Wangi saja?" Tiba-tiba terdengar
suara dari arah timur. Suaranya cukup keras dan gemanya seperti lebah berdengung.
"Kenapa bicara di tempat gelap, kalau di sini disediakan tempat terang? Silakan
maju, biar saya bisa berkenalan."
Terdengar suara tawa berkekeh, disela batuk lunak, ketika satu sosok bayangan
masuk ke dalam arena. Bayangan seorang lelaki yang badannya tinggi tegap, dengan
jidat sangat lebar. Di tangannya tergenggam tongkat berwarna gelap. Tongkat itu
kelihatannya sangat berat sekali, mengilap di sekujur batangnya, sehingga
membalikkan sinar api.
Upasara tahu siapa tokoh yang memakai tongkat dari galih pepohonan. Atau
dibuat dari tengah batang pohon. Galih Kaliki! Mengilatnya tongkat itu konon karena
selalu dilap dengan darah korban yang kena kemplangannya.
"O, kiranya Kakang Galih Kaliki yang menginginkan saya."
"Jauh sebelum kau menjanda, aku sudah menginginkan dirimu. Dan kau tahu
itu, Nyai Demang. Hari ini aku datang untuk melamarmu."
Nyai Demang Wangi tersenyum menggoda.
"Aha, saya sudah tua. Janda yang tak laku. Kenapa pula Kakang menginginkan
saya? Kalau Kakang bisa memperoleh Dyah Muning Maduwani, dengan sendirinya
saya akan menjadi pelayan Kakang.
"Baiklah kalau Kakang juga akan mengikuti sayembara ini."
Galih Kaliki menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku cuma ingin dirimu. Bukan yang lain. Apakah ia bidadari atau ular
naga apa peduliku. Bicaralah terus terang, Nyai Demang. Kau bersedia atau tidak.
Kalau bersedia, aku akan mengemplang siapa pun yang menghalangi. Kalau tidak, aku
akan menunggu lagi.
"Perkara lain kita bicarakan nanti. Biarlah para ksatria yang hadir di sini
menjadi saksi. Bahwa aku Galih Kaliki melamarmu."
Suaranya keras, nadanya tegas.
Upasara mengenal dari penuturan bahwa Galih Kaliki termasuk tokoh yang
aneh. Bahwa semua tokoh persilatan mempunyai sifat aneh, itu sudah dengan
sendirinya. Akan tetapi Galih Kaliki termasuk yang paling aneh, karena ia tak bisa
dengan begitu saja dimasukkan ke dalam golongan hitam atau putih. Apakah ia
memusuhi atau setia kepada Keraton, tidak bisa begitu saja dipastikan. Bahkan asalusul
perguruannya juga aneh. Selama ini tak diketahui.
Lebih aneh lagi sifatnya seperti yang ditunjukkan sekarang ini. Secara
demonstratif ia melamar Nyai Demang, justru di saat bukan Nyai yang
disayembarakan.
"Saya kira tukang kayu ini salah alamat. Untuk apa ia tampil ke panggung ini?"
"Bayi mana berani bersuara dalam gelap seperti ini?"
"Aku, Bagus Respati dari Keraton Singasari." Terdengar jawaban ringan dan
sesosok tubuh melayang dengan indah. Wajah yang tampan, bersih, dengan pakaian
mewah—kedua kakinya dihiasi dengan gelang emas— melemparkan senyum tinggi.
Titik-titik berlian di hulu kerisnya memantulkan sinar balik dengan terang sekali.
Titik-titik berlian yang sebesar biji kacang.
Upasara kenal baik dengan Bagus Respati. Dulu, Bagus Respati adalah Ksatria
Pingitan juga. Seperti dirinya ini. Hanya kemudian memilih jalan sendiri karena
secara khusus diundangkan beberapa guru kepadanya. Sejak berpisah lima tahun yang
lalu, Upasara tak pernah bertemu lagi. Baru kali ini sempat melihat dari jarak jauh.
"Apa hubunganmu dengan Keraton, cah bagus?"
"Aku adalah putra Yang Mulia Mahisa Anengah Panji Angragani, mahapatih
Keraton Singasari, tangan kanan Baginda Raja Kertanegara."
"Jadi kau ingin berebut denganku soal Nyai Demang? Mari kujajal dulu.
Apakah masih tercium bau pupuk bawangmu atau tidak."
Galih Kaliki langsung mengambil posisi.
Bagus Respati menggelengkan kepalanya.
"Kalau kau menjadi peserta sayembara, aku akan melayani. Karena malam ini
aku adalah pemenang terakhir.
"Kalau kau menginginkan Nyai Demang, aku tak mau meladenimu. Malam ini
juga akan kuboyong Dyah Muning Maduwani."
Bagus Respati berbalik ke arah penonton.
"Karena aku tidak mau main curang, aku akan memberi kesempatan terakhir.
Siapa yang masih mengikuti sayembara, silakan maju.
"Aku tidak mau menakuti. Akan tetapi sayembara ini hanya ditentukan
pemenangnya setelah lawannya tak bisa bangkit lagi. Jangan salahkan aku kalau
terlalu keras. Silakan kalau ada yang mau mencoba."
Suasana menjadi hening.
Upasara berniat meninggalkan lapangan.
Tapi kakinya terasa berat melihat senyum Nyai Demang.
"Ternyata peserta yang lain lebih suka mengundurkan diri. Kalau memang
tidak ada..." suaranya tertahan, seperti menunggu ada yang mengusulkan sesuatu,
"...kalau memang tak ada... memang tak ada?"
Mendadak perhatian terserap ke panggung sebelah kiri. Serombongan orang
berjalan masuk sambil memanggul tandu. Upasara melihat bahwa bentuk tandu yang
sekarang ini agak istimewa. Penuh dengan hiasan warna-warni. Warnanya juga
beraneka ragam.
Tandu itu diletakkan di pinggir sebelah kiri.
Bagian depan yang tertutup kain tiba-tiba menyibak. Serentak dengan itu
terdengar decak kagum, dan para penonton berdesakan. Dari dalam tandu terlihatlah
bayangan seorang gadis. Rambutnya panjang, hitam, disanggul sempurna. Seluruh
tubuhnya ditutupi dengan kain sutra putih yang ujungnya diberi hiasan bunga merah
muda.
Kulitnya putih—sangat putih sekali. Terutama di bagian wajah, dan lehernya
yang jenjang.
Yang membuat Upasara kagum adalah tenaga dalam untuk membuka tirai
penutup. Tirai yang dibuat dari sutra itu membuka, dan ujungnya tetap menunjuk ke
atas. Tertahan di tengah udara.
Mata yang sipit menatap ke arah panggung.
"Karena telah berada di atas panggung, mengapa tidak turut serta?"
Untuk pertama kalinya Upasara merinding. Suaranya sangat halus, merdu, dan
menyentuh. Walaupun bibirnya bergerak sangat pelan sekali.
Galih Kaliki mendengus keras.
IZRO'IL
SENOPATI PAMUNGKAS I


"Aku datang tidak untuk melamarmu. Aku tak suka kamu."
Galih Kaliki membuang muka. Bagus Respati menjejak panggung dan
tubuhnya melayang.
"Orang dusun tak tahu tata krama, bagaimana kau bisa menghina begitu
busuk? Jangan panggil aku Bagus Respati kalau tak bisa menyingkirkanmu."
Meskipun dalam keadaan murka, Bagus Respati masih memperingatkan lebih
dulu. Kedua tangannya menarik dua keris—satu dari belakang yang diketahui oleh
penonton, satu lagi entah dari mana. Dua keris itu tergetar mengeluarkan bau amis.
Galih Kaliki menyambar tongkatnya, dan langsung menerjang. Tongkat hati
kayu mengemplang dari atas. Yang diarah langsung batok kepala lawan. Dengan
memiringkan kepalanya, Bagus Respati menarik tubuhnya ke samping. Gerakan
kakinya sangat lincah dan bagus—Upasara diam-diam memuji kagum. Karena dengan
gerakan kaki itu Bagus Respati bisa memiringkan tubuhnya, menghindar, dan dalam
langkah berikutnya yang bersambungan sudah berada dalam jarak dekat. Kedua
kerisnya bagai sepasang gunting: Sekali tusuk bakal membuat dua luka. Dengan
variasi gerakan yang ada: Dua bisa menjadi empat, empat bisa menjadi delapan. Dalam
sekejap seperti ada 32 ujung keris yang datang dan pergi, dengan tusukan tempat yang
berbahaya.
Galih Kaliki seperti menyapu semuanya. Ia maju terus, menggempur dengan
tongkat hati kayu. Gebrakan sapuan tongkatnya hanya satu: Batok kepala lawan.
Kalaupun menyabet ke bawah, akhirnya langsung ke atas lagi. Mencongkel dari
bawah. Menggebuk dari samping pun arahnya tetap jidat.
Dengan cara menyerbu seperti ini, Bagus Respati tak bisa mempraktekkan
kelebihannya. Ia tak bisa memamerkan kelebihannya bermain dengan indah. Karena
sebelum satu jurus selesai separuh, sudah harus diubah dari awal, atau ditarik
mundur. Galih Kaliki terlalu merangsek maju.
"Ayo pamerkan ilmu menggelitik ini."
Namun meskipun Galih Kaliki kelihatan sesumbar, ayunan tongkatnya selalu
menemui tempat kosong. Cara bergerak Bagus Respati memang rapi dan tangguh.
Perubahan gerak kakinya sangat luar biasa. Sebentar merandek maju, ditarik mundur
ke samping, dan tahu-tahu sudah berada dalam jarak yang jauh lagi.
Dalam sepuluh jurus pertama, Galih Kaliki jadi repot. Beberapa kali
tongkatnya ditarik mundur—tertarik dengan sendirinya, karena serbuan kaki lawan
yang merepotkan. Sementara Bagus Respati juga tak bisa maju sepenuhnya. Setiap kali
memperoleh peluang, ia tak bisa menggunakan dengan baik. Karena angin dari
tongkat Galih Kaliki sudah terasa di ubun-ubunnya.
Lima jurus lagi telah berlalu, tanpa ada yang berani memastikan pihak mana
yang lebih unggul.
Sebenarnya kalau pertempuran diteruskan hingga jurus kelima puluh, Bagus
Respati bisa berada di atas angin. Bagaimanapun juga gerakan kakinya makin terarah
dan tetap rapi. Sementara Galih Kaliki harus terus mengeluarkan tenaga ekstra keras.
Jenis pukulan dan serangannya menuntut tenaga besar. Jadi biar bagaimanapun
kuatnya, makin lama akan makin keteter. Makin terkuras.
Tapi Bagus Respati tak sabar menunggu. Selama mengikuti sayembara ini, ia
telah mengalahkan empat lawan. Semuanya di bawah sepuluh jurus—dan semuanya
tewas dengan enam belas tusukan di satu tempat. Korban pertama, tertusuk di bagian
leher. Korban kedua, sama juga. Korban ketiga di bagian dada kiri. Dan korban
keempat... semuanya di bagian wajah.
Semua dikalahkan dengan cara yang sama. Posisi kuda-kudanya makin lama
makin kedodoran. Dan ketika suasana menjadi kritis, yang dibenahi lebih dulu adalah
bagian penjagaan. Saat itulah Bagus Respati melancarkan serangan kilatnya. Dua keris
bergerak bersamaan!
Memang Galih Kaliki yang dihadapi sekali ini jauh berbeda. Namun dengan
cara yang sama, Bagus Respati bisa mendesak. Hanya saja setelah lewat dua puluh
jurus, masih bisa bertahan dengan kuat dan tetap berbahaya, Bagus Respati tidak
sabaran.
Ia mempercepat serangan kaki, setiap kali Galih Kaliki beringsut, tempat yang
barusan diinjak ganti diinjak. Tak peduli Galih Kaliki mundur ke samping kiri atau
kanan. Bahkan kalau mencoba maju, Bagus Respati berusaha mengambil posisi yang
ditinggalkan.
Dengan cepat kedua tubuh yang tengah bertempur jadi berputar-putar. Dari
ujung kiri panggung ke kanan, pindah lagi ke tengah, minggir lagi. Bagus Respati bisa
makin keras mendesak, karena ayunan tongkat Galih Kaliki bisa dikenali. Keraslembut
tenaga serta sasarannya terlalu monoton.
Upasara yang menonton di pinggir panggung hanya bisa kuatir dalam hati.
Dalam perhitungannya, Bagus Respati memang sangat pesat kemajuannya. Sebagai
sama-sama Ksatria Pingitan—dulunya—Upasara melihat kepesatan Bagus Respati
bukan hanya dalam soal ilmu silat, tetapi juga dalam membaca kemampuan lawan.
Sementara itu justru sebaliknya dengan Galih Kaliki. Tokoh aneh yang tak dimengerti
asal-usulnya ini, dalam sepuluh jurus pertama sungguh mengagumkan. Ayunan
tongkatnya betul-betul berhasil menekan lawan dengan berat. Sehingga lawan tak
sempat berkembang permainannya. Didikte dengan keras. Arah dan sasarannya juga
maut. Ubun-ubun. Tenaganya yang tidak kecil. Sehingga untuk ditangkis hampir
tidak mungkin. Hanya bisa dihindari. Akan tetapi terasa juga tekanan itu tidak makin
berat, tetapi malah melonggar di sana-sini.
Terutama karena gerakan pengulangannya
Maka perlahan, Galih Kaliki menjadi jatuh di bawah angin. Bagus Respati
memperhitungkan bahwa peluang untuk mengeluarkan pukulan— atau lebih tepat
tusukan—terakhir yang menentukan.
Agaknya Bagus Respati melihat kesempatan itu ketika ayunan tongkat Galih
Kaliki berputar sedikit. Dengan sebat ia menyepak ke arah paha lawan untuk
meminjam tenaga, dan pada saat yang bersamaan tubuhnya melayang ke atas. Dengan
kedua keris seperti mencari kutu. Bergerak cepat, bergantian arahnya, seperti
menyerang leher, dagu, telinga, mata, dari arah bawah.
Upasara mengeluarkan seruan tertahan!
"Tahan...."
Terlambat. Tubuh Bagus Respati telah melayang ke atas dan dari ujung
kerisnya terlihat warna merah. Tapi Galih Kaliki tidak sekadar memukul angin.
Putaran tongkatnya dari menyerang kepala menjadi sodokan keras. Tak urung dada
Bagus Respati kena disodok. Tubuh Bagus Respati melayang ke bawah. Jatuh di
panggung.
Tetapi dengan bergulingan, Bagus Respati mampu berdiri kembali. Dadanya
masih terasa sakit sehingga jalannya terhuyung-huyung. Sementara Galih Kaliki
masih berdiri tegak. Tapi ada goresan dari dada ke atas. Goresan yang mengalirkan
darah segar.
"Ayo maju lagi!" teriak Galih Kaliki keras sambil menyerbu tanpa
memedulikan bahwa darah yang mengalir makin banyak. Ayunan tongkat ditangkis
dengan dua buah keris. Saking kerasnya satu keris terlempar ke tengah udara. Galih
Kaliki mengulang kembali serangannya.
Kalau tadi gerakan monoton yang berulang agak merugikan dirinya, sekarang
justru berarti sekali. Sebelum Bagus Respati bisa mengerahkan tenaganya secara
sempurna, lawan sudah mengemplang lagi!
Upasara yang berdiri di bagian pinggir hanya melihat satu kemungkinan:
Bagus Respati bakal melemparkan kerisnya, dan Galih Kaliki tak akan memedulikan
tapi terus mengemplang. Akibatnya jelas. Galih Kaliki akan mati seketika dan ubunubun
Bagus Respati akan hancur luluh berantakan. Upasara bisa menebak gerakan
Bagus Respati karena dasar gerakan dalam memainkan keris sama dengan yang
dipelajari. Yang berbeda hanya variasi kecilnya.
Maka Upasara melayang maju ke depan. Ia memegang dua pundak orang di
kanan-kirinya. Sebelum mereka ini tahu apa yang terjadi, tenaga mereka telah
dipinjam Upasara. Di tengah udara, Upasara melemparkan capingnya dengan sepenuh
tenaga. Perhitungan tak banyak berbeda.
Caping itu berputar keras sekali. Menyelip di antara Bagus Respati dan Galih
Kaliki. Sekaligus "menelan" keris Bagus Respati. Tenaga luncuran keris itu meluncur
terbawa pusaran caping. Dan dalam melayang ke atas caping itu mengenai
pergelangan tangan Galih Kaliki. Sehingga tongkatnya tak bisa dikuasai lagi arahnya.
Malah terlepas dari tangannya. Upasara menyambar tongkat itu sambil melayang
turun.
Lalu dengan berjongkok, menghaturkan sembah ke arah dua orang yang saling
menjauh. Galih Kaliki baru menyadari bahwa caping itu telah menolong nyawanya
dari luncuran keris. Sebaliknya Bagus Respati juga menyadari bahwa ubun-ubunnya
telah dibebaskan dari bentuk yang mengerikan.
"Maafkan, Paman Galih, maafkan, Kakang Respati...." Upasara menghormat
sekali lagi. Lalu mengembalikan kedua pusaka ke pemiliknya masing-masing.
"Siapa kau?" Nyai Demang bergerak maju. "Kenapa kau berani kurang ajar?
Tidak tahu bahwa dalam sayembara ini pemenangnya harus bisa mengalahkan lawanlawannya?
Kalau kau mempunyai sifat ksatria, bukan begitu caranya.
"Sebutkan namamu sebelum terlambat."
"Nama saya Upa, putra Bapak Toikromo. Saya memang kurang ksatria. Akan
tetapi kelancangan saya terutama karena dalam Sayembara Mantu ini harus ada
pemenangnya. Kalau keduanya tewas, Dyah Muning bakal menjadi janda sebelum
mempunyai suami.
"Lagi pula, dalam hal ini sudah ada pemenangnya. Bagus Respati. Sedang
Paman Galih menghendaki Mbakyu Demang."
Hebat kata-kata Upasara. Nyai Demang sedetik berubah parasnya. Warna
merah meronai wajahnya. Baru sekarang ini ada yang memanggilnya mbakyu, alias
kakak perempuan. Dan bukan nyai. Dalam sedetik itu Nyai Demang merasa sepuluh
tahun lebih muda.
Tapi Nyai Demang dalam detik berikutnya malah berubah geram.
"Anak desa yang sombong. Apa kau kira kau begitu jago sehingga bisa berbuat
sesukamu?"
"Maafkan saya, Mbakyu Demang. Usia kita mungkin tak jauh berbeda, akan
tetapi saya tidak mengerti tata krama. Saya memang anak desa."
Lagi Upasara melemparkan umpan yang berbisa. Siapa saja juga bisa melihat
dengan mudah, bahwa usia Nyai Demang jauh di atas Upasara yang nampak masih
segar. Tapi Upasara sengaja melemparkan kalimat itu.
Nyai Demang tergetar hatinya.
Akan tetapi penampilannya justru lebih galak.
"Huh. Siapa sudi mempunyai adik seperti kamu? Anak desa, ketahuilah bahwa
dalam Sayembara Mantu, siapa pun yang masuk ke dalam gelanggang adalah peserta
sayembara. Maka bereskanlah lawan yang lain dan kau akan memperoleh Dyah
Muning Maduwani."
Upasara melengak. Ia tak menyangka bakal disebut sebagai calon.
"Tidak bisa. Saya telah mempunyai istri...."
Nyai Demang tertawa cekikikan. Juga para penonton. Cara Upasara
mengucapkan kata istri, sangat janggal sekali. Apalagi Upasara sendiri lalu terlihat
salah tingkah.
"Anak dusun, kalaupun kau telah mempunyai istri tidak menjadi penghalang.
"Maka kalau kau bisa mengalahkan lawan-lawan yang masih ada di panggung
sekarang, kamu akan menjadi pemenang."
Upasara menunduk. Memberi hormat kepada Bagus Respati.
"Kakang Respati, silakan menjemput calon mempelai putri." Lalu berbalik ke
arah Galih Kaliki. "Paman, silakan mengambil Mbakyu Demang."
"Anak dusun Upa, siapa suruh kau jadi makcomblang seperti ini? Saya bilang
lawanlah mereka, kalau kau ingin menjadi pemenangnya?"
"Jelas tidak ksatria, Mbakyu. Dan bukankah sifat itu yang Mbakyu kutuk
barusan?"
Bagus Respati menahan rasa sakit di dadanya. Terasa ulu hatinya seperti
ditindih beban yang berat sekali. Ia bisa mengenali bahwa Upasara adalah teman
dekat di Pingitan. Akan tetapi karena Upasara sendiri tidak mau memperkenalkan
diri, Bagus Respati tidak memperlihatkan bahwa ia mengenali.
Galih Kaliki merasa sangat perih. Luka yang menyayat mulai menimbulkan
gatal-gatal.
Upasara mendekati Bagus Respati, dan membimbingnya ke tengah. Diam-diam
ia berusaha menyalurkan tenaga, sambil memencet nadi dibagian punggung. Bagus
Respati merasa sedikit lebih enak. Makanya tanpa diminta pun ia menyerahkan
bubuk pemunah gatal.
Upasara sendiri lalu mendekati ke arah Nyai Demang, sambil menyerahkan
bubuk dalam bungkus daun pisang.
"Mbakyu bisa membantu Paman Galih. Kalau saya bisa salah menaburkan."
Galih Kaliki tersipu-sipu.
"Terimalah hormatku, Upa...."
"Paman terlalu merendahkan diri."
"Pertolongan dan kebaikanmu tak akan kulupakan."
"Saya tak berani menerima, Paman."
Galih Kaliki nampak merasa gembira ketika Nyai Demang menuntunnya.
Namun baru tiga tindak langkahnya terhenti. Tirai sutra terbuka, dan kembali
terdengar suara halus.
"Siapa pemenangnya?"
Upasara tergetar mendengar suara yang begitu merdu di telinganya.
"Aku pemenangnya," jawab Bagus Respati tegas.
"Bawa saya pergi."
Tirai tertutup lagi.
Dari samping panggung, tanpa terdengar suara apa pun, bergerak satu
bayangan. Tanpa memperdengarkan suara berisik. Bahkan, sepertinya, obor di pinggir
lapangan pun tak bergerak karena angin.
Nyai Demang yang lebih dulu memberi hormat.
Upasara menjilat bibirnya. Sebagian ludahnya tersendat. Jago mengentengkan
tubuh yang selama ini dikenal adalah Wilanda. Yang bisa bergerak dan meloncat
bagai capung. Namun dibandingkan dengan tokoh yang baru muncul ini,
kelihatannya Wilanda masih dua kelas di bawahnya.
Upasara memperhatikan dengan cermat. Seorang lelaki yang badannya tegap.
Sangat tegap. Daging di lengannya menonjol seperti paha. Otot-ototnya terlihat jelas.
Di bawah topi bulu binatang yang aneh, sepasang mata sipit mengawasi panggung.
Dadanya licin, dengan otot-otot keras. Licin, sehingga seperti diminyaki. Mengenakan
celana yang komprang sebatas lutut. Kakinya juga memperlihatkan kekukuhan yang
luar biasa. Sedikit di atas mata kaki dibalut dengan bulu binatang—yang agaknya
berasal dari bulu binatang yang dikenakan sebagai topi.
Kalau melihat bentuk tubuh yang kokoh bagai tukang gulat, sungguh luar
biasa ilmu mengentengkan badannya.
Lelaki bertopi itu mengeluarkan suara aneh.
Nyai Demang berbalik ke arah Upasara.
"Kiai Sangga Langit belum menganggap Sayembara Mantu selesai. Masih ada
satu pertandingan lagi. Siapa yang keluar dari tempat ini sebagai pemenang pertama,
baru boleh membawa pergi putrinya."
Upasara mengertakkan giginya. Ini ternyata yang disebut-sebut sebagai Kiai Sangga
Langit! Pantas saja Ngabehi Pandu memuji dan meletakkan dalam kedudukan yang
terhormat.
Kalau benar Kiai Sangga Langit turun tangan sendiri, siapa yang bisa
melawannya?
"Paman, tanyakan kepada siapa Kiai menantang? Karena ia tak bisa bicara
langsung dengan kita—dan melalui perantaraan Mbakyu Demang— kita pun melalui
perantaraan Paman."
"Aku senang sekali. Itu peran bagus untukku," teriak Galih Kaliki.
Nyai Demang menerjemahkan ke arah Kiai Sangga Langit. Kiai Sangga Langit
menyeringai, berbicara, dan Nyai Demang kembali menerjemahkan.
"Kepada orang asing yang berada di atas panggung."
"Aneh. Dua tokoh utama sedang dalam keadaan terluka. Saya sendiri tidak
berminat, untuk apa melayani Kiai Sangga Langit?"
"Kalau tidak mau melayani, akan dipaksa. Kalian bertiga boleh mengeroyok."
"Paman Galih, tolong katakan padanya bahwa kita yang biasa hidup di tanah
subur, lain dengan mereka yang dibesarkan di padang pasir. Kita ksatria yang merasa
tidak gagah kalau main keroyok.
"Kalau modalnya cuma ilmu mengentengkan tubuh, katakan bahwa di sini
seekor nyamuk bisa melakukan itu—tanpa perlu dipamerkan."
Nyai Demang terbata-bata menerjemahkan. Agaknya merasa kurang enak
harus mengatakan secara persis apa yang diucapkan Upasara.
"Anak dusun Upa, Kiai Sangga Langit tidak mengada-ada. Sayembara Mantu
ini terdiri atas dua bagian. Bagian yang pertama ialah siapa yang berdiri terakhir di
panggung dianggap sebagai pemenang. Dalam sayembara ini, kalau ada yang terluka,
atau meninggal, tidak akan menjadi masalah di belakang hari. Sejak awal itu sudah
dijelaskan.
"Bagian yang kedua, ialah Kiai Sangga Langit sendiri yang akan menguji
dengan suatu permainan. Kalau bisa lulus, pemenang terakhir berhak atas Dyah
Maduwani.
"Kalau segalanya telah menjadi jelas, kau tidak akan menuduh bahwa ini
hanya akal-akalan saja."
Meskipun bercekat, Upasara tak mau kalah bicara.
"Kalau keinginannya hanya main-main, cukup aku anak dusun yang
menghadapi. Tak perlu seorang putra mahapatih yang terhormat, tak perlu seorang
pendekar sejati."
Kata-kata Upasara ada benarnya. Karena kini Bagus Respati tengah bersila di
panggung. Berusaha memusatkan seluruh tenaga dalamnya untuk mengusir rasa sakit.
Kalau pencetan Upasara tadi berhasil mengurangi, bukan berarti ia telah
tersembuhkan. Beberapa aliran jalan darahnya masih macet.
Juga Galih Kaliki. Meskipun ia mendapat bubuk pemunah yang dibuat dari
ilalang, tidak berarti racun dalam tubuhnya telah bebas. Bagian luar memang tak akan
dirembeti. Akan tetapi yang sudah terbawa aliran darah sulit ditahan. Terpaksa Galih
Kaliki pun duduk bersila untuk memusatkan konsentrasi.
Tinggal Upasara sendirian.
"Bagi Kiai Sangga Langit tak menjadi masalah siapa pun yang akan
menghadapi. Sendirian atau keroyokan. Permainan ini hanya dimainkan seorang saja.
Pikiran boleh meminta bantuan siapa saja.
"Hanya saja, kalau gagal mengatasi permainan ini, tergantung Kiai Sangga
Langit, apakah ia akan memberi ampunan atau tidak."
"Mbakyu Demang, kau bisa mengerti suara aneh. Kau bisa menerjemahkan
dengan bagus. Terimalah rasa kagum saya yang bahasanya sendiri masih belepotan
tidak keruan.
"Mbakyu sudah tahu, kira-kira jenis permainan apa? Biarlah saya yang tak
berharga ini menjajalnya."
Nyai Demang tersenyum manja. Upasara melengos. Ia tak berani menatap
secara langsung.
"Anak dusun, kau akan segera mengetahui."
"Tunggu dulu, Mbakyu Demang. Dalam sayembara ini ada yang tidak adil.
Dalam perang tanding, pemenangnya ditentukan dengan mengalahkan lawan secara
mutlak. Saya baru tahu ternyata malam-malam kemarin sudah ada korban berjatuhan.
Kini masih ada jenis permainan. Kalau gagal, apakah hanya sekadar menggantungkan
nasib pada kebaikan hati Kiai Sangga Langit? Sedangkan hadiah bagi pemenangnya
tak seberapa."
"Anak dusun, kau benar-benar keras kepala. Bagaimana mungkin Dyah
Muning Maduwani kaubilang hadiah tak seberapa?"
"Tidak. Katakan bahwa saya sama sekali tak menghendaki Dyah Muning
Maduwani. Paman Galih juga tidak. Bagus Respati jelas telah mendapatkannya.
"Permainan akhir ini hanya berlaku untuk saya. Kalau saya bisa memecahkan,
saya berhak atas satu permintaan. Kalau saya gagal, itu urusan saya dengan Kiai
Sangga Langit. Tak ada hubungannya dengan Bagus Respati dan Paman Galih Kaliki.
Kalau syarat ini tidak diterima, saya akan turun panggung. Kalau Kiai Sangga Langit
akan menahan saya, biarlah kita selesaikan berdua saja."
Nyai Demang memoncongkan bibirnya. Kagumnya bangkit seketika. Anak
dusun yang mengaku tak kenal tata krama ini jelas cerdik luar biasa. Tapi lebih dari
semua itu sifat ksatrianya sangat utama. Ia menghadapi sendirian risiko yang bakal
diterima. Ia tak mau melibatkan Bagus Respati atau Galih Kaliki. Bahkan menganggap
persoalan Bagus Respati dan Galih Kaliki sudah selesai. Sudah mendapatkan haknya!
Padahal bukankah dalam saat seperti ini, kemungkinan untuk mendapatkan
semuanya itu ada padanya?
Bukankah kalau nanti bisa memecahkan persoalan, ia bisa mempersunting
Dyah Muning Maduwani—impian sekian banyak lelaki?
Agak janggal sifat anak dusun ini, pikir Nyai Demang. Kalau Galih Kaliki tidak
menghendaki Maduwani, itu bisa dimengerti. Sejak Nyai Demang masih kecil, masih
jadi istri orang, Galih Kaliki memang selalu mengejarnya. Sejak awal tak tergiur oleh
Maduwani.
Kenapa anak dusun ini menolak kesempatan emas?
Ataukah, ataukah... Nyai Demang gemas. Ataukah anak dusun ini sudah
mempunyai "Nyai Demang" yang lain—seperti Galih Kaliki. Itu satu-satunya alasan
terkuat. Hmmmmm, bahagialah wanita yang mempunyai kekasih seperti anak dusun
ini. Wajahnya jatmika, tenang, dan bersih berwibawa; penampilannya jujur serta
polos. Ah, siapa wanita yang begitu bahagia hidupnya?
Kiai Sangga Langit bersuara pelan, sehingga lamunan Nyai Demang buyar.
Nyai Demang mengatakan persyaratan apa yang diminta oleh Upasara. Kiai Sangga
Langit bertanya apa yang bakal diminta Upasara.
"Tak nanti saya minta Kiai Sangga Langit bunuh diri atau pulang ke negaranya
atau mengajari ilmu silat. Saat ini saya tidak berpikir untuk menghinanya. Kalau ia
cemas apa yang saya minta, apakah ia juga sudah bersiap bahwa saya bisa
memecahkan permainannya?"
Selesai Nyai Demang menerjemahkan, Kiai Sangga Langit melompat ke atas
arena. Mengangkat kedua tangan dengan cara sedikit menghormat. Lalu berteriak
nyaring.
Bagian tengah panggung itu masih terdiri atas tanah berbatu-batu yang
diratakan. Di beberapa tempat yang agak pinggir ditambahi dengan papan. Tanah
berbatu-batu cukup keras juga, dan justru tempat itulah yang dipilih Kiai Sangga
Langit.
Sehabis berteriak menghimpun tenaganya, kakinya melangkah dengan tumit
untuk berpijak. Sehabis satu langkah tubuhnya berputar. Dan tanah di bawahnya
menjadi berlubang besar. Menganga.
Upasara menyedot udara keras-keras.
Ini baru namanya demonstrasi tenaga dalam yang dahsyat. Membuat tanah berlekuk
hanya dengan menginjaknya. Dalam sekejap terlihat sembilan pasang lekukan yang
dalam. Rapi berpasangan.
Di masing-masing ujung ada lubang yang sangat besar, lebih besar dari
sembilan lekukan yang berpasangan.
Belum hilang kagetnya, Upasara melihat Kiai Sangga Langit meloncat dengan
cara berjumpalitan, berlingkaran menuju pinggir panggung. Dari sisi paling tepi
tubuhnya meloncat ke atas, menuju pohon asam. Ringan sekali tubuhnya melayang,
bagai kupu-kupu raksasa.
Hanya saja ketika menyentuh pohon, kakinya menendang kuat. Seketika
pohon asam tergetar dan daunnya rontok. Berikut buahnya!
Sehabis menendang, tubuhnya melayang lagi, meraup buah asam yang berjatuhan,
lalu kembali menendang pohon dengan keras, dan menangkap kembali guguran buah
asam.
Beberapa penonton malahan bubar. Terasa ada yang mengerikan.
Upasara merasa lehernya tegang. Ini benar-benar pameran pengendalian yang
luar biasa. Tenaga keras ketika membuat lekukan di tanah, tenaga keras ketika
menendang pohon, tapi juga sekaligus pameran kelembutan dengan tubuh melayang
menyambut buah asam.
Pantas dan tepat Ngabehi Pandu memujinya!
Kiai Sangga Langit melompat kembali ke tengah arena. Bibirnya seperti
tersenyum penuh kemenangan. Tangannya bergerak meskipun tetap terkepal.
Tangannya bergerak-gerak dalam diam. Seperti memeras buah asam. Memang
itulah yang dilakukan. Dalam sekejap kulit buah asam berikut buahnya berhamburan
ke tanah bagai bubuk. Sedang biji asam yang hitam dilemparkan ke dalam lubang.
Setiap lemparan, sembilan biji masuk ke dalam lubang. Begitu terus-menerus diulangi.
Hingga delapan belas lubang itu masing-masing berisi sembilan biji asam!
Upasara tahu bahwa dalam dunia ini ada ilmu Bokor Sewu. Yaitu cara latihan
setiap malam harus bisa menghancurkan seribu buah bokor— sejenis buah-buahan
yang kulitnya sangat keras. Hanya dengan memencet saja hingga hancur. Tapi yang
diperlihatkan Kiai Sangga Langit lebih dari itu. Biji asam yang biasa disebut klungsu
itu masih utuh.
"Anak dusun, inilah permainan itu.
"Kau sudah siap?"
"Yang begini anak-anak juga bisa melakukan. Permainan lakon semacam ini
apa susahnya?"
Lakon atau congklak memang biasa menjadi mainan dalam Keraton. Upasara
merasa lega, karena paling tidak mengenal cara permainan itu. Namun ia juga sadar,
bahwa dalam permainan itu ada sesuatu yang harus dilakukan.
"Kiai Sangga Langit di negaranya tadinya adalah imam negara yang sangat
dihormati. Beliau datang ke tanah Jawa bersama Meng-ki, yang telah diusir. Karena
secara keprajuritan beliau bukan anggota resmi, beliau bisa tinggal di sini. Merasa
sayang meninggalkan tanah Jawa begitu saja, padahal di sini banyak jago silat dan
permainan.
"Salah satu permainan yang dikenal adalah permainan lakon. Menurut Kiai
Sangga Langit, permainan ini datang ke tanah Cina lewat permainan yang dibawakan
oleh Tat Mo Tosu. Imam Besar Tat Mo adalah pendiri Shao Lin yang sangat terkenal
hingga sekarang ini. Imam Besar atau Imam Agung Tat Mo menjalankan ajaran
Budha.
"Salah satu ajaran yang diketahui oleh Kiai Sangga Langit adalah Sembilan Jalan
Budha. Sembilan jalan itu ditunjukkan oleh sembilan lubang dalam lakon. Bagian
yang menghadap ke arah kamu, adalah bagian yang kau jalankan. Sedang bagian yang
dihadapi Kiai Sangga Langit adalah miliknya.
"Kau mengerti, anak dusun?"
"Cukup jelas, Mbakyu. Saya siap bertanding."
"Tidak. Kiai Sangga Langit tidak menghendaki bertanding. Kiai Sangga Langit
hanya menghendaki kau memainkan lakon itu. Dalam satu langkah tanpa henti.
Kalau kau bisa memasukkan separuh biji yang kau miliki ke dalam lumbung, kau
dianggap berhasil memecahkan.
"Modal yang menjadi milikmu adalah sembilan biji kali sembilan. Atau 81 biji.
Nah, kalau kau sekali jalan bisa memperoleh 41 biji, kau sudah dianggap menang.
Karena itu berarti kau sudah bisa menempuh separuh dari Sembilan Jalan Budha.
Perjalanan berikutnya tak terlalu menentukan.
"Kalau kau sekali jalan hanya bisa mendapatkan empat puluh biji, kau gagal.
Kau tak disinari oleh sifat Budha. Berarti kau kalah.
"Seperti dalam semua permainan lakon, kau harus memulai dari bagianmu
sendiri. Mulai dari lubang sepuluh hingga delapan belas. Setiap kali biji asam yang
kaumainkan masuk lumbung, kau harus mulai dari bagianmu sendiri.
"Apa bisa mulai sekarang?"
Upasara menatap ke langit. Untuk memainkan lakon tidak terlalu Sulit. Anak
kecil pun bisa. Akan tetapi untuk mendapatkan biji paling sedikit 41, bukan hal yang
mudah.
Kalau saja ada Ngabehi Pandu, mungkin bukan hal yang sulit. Tidak, Ngabehi
Pandu pun belum tentu bisa memecahkan rahasia dalam waktu cepat. Hanya Mpu
Raganata yang mampu! Ya, Mpu Raganata memiliki Weruh Sadurunging Winarah,
yang bisa untuk menguasai segala jenis permainan atau jurus-jurus baru.
Hanya Mpu Raganata!
Tapi sejauh ini Upasara baru bertemu sekali saja. Upasara hanya mengenal dari
penuturan Ngabehi Pandu. Ia pernah sangat penasaran dan menanyakan apa
sebenarnya ilmu Weruh Sadurunging Winarah itu, dan kenapa gurunya selalu
membanggakan itu?
"Ilmu itu sendiri tak diberi nama apa-apa. Hanya disebut sebagai Weruh
Sadurunging Winarah. Saya pernah berguru mengenai hal itu, akan tetapi sulit
memahaminya. Mpu Raganata hanya memakai perbandingan: Bahwa bila kau
menjadi katak, kaulah yang seharusnya menutupi liang. Bukan liang itu yang
menyelimuti dirimu. Tapi kau tak bisa mengatakan ini ilmu Kodok Ngemuli Leng,
Katak Menyelimuti Liang, meskipun itu yang dikenal. Dalam dunia silat selalu
dikenal nama yang seram-seram untuk memperhebat. Tapi kita terjebak lagi. Terjebak
dalam nama jurus, yang padahal itu adalah bungkus. Padahal itu adalah leng, liang,
bukan kodok, katak.
"Ngabehi, kita sekarang ini duduk berhadapan. Kalau kutanya kita di mana,
kau bisa menjawab di ruang pendopo. Itu betul secara wadag, secara fisik. Tapi salah,
sebab bukan itu yang wigati, yang penting. Yang benar ialah ruang pendopo ini
berada dalam diri kita.
"Setiap kali kita harus tanggap ing sasmita, peka kepada isyarat. Dengan
mengembalikan ke ilmu katak tadi. Katak tidak berada dalam liangnya. Liang itu
berada dalam katak.
"Ketika kau menciptakan jurus-jurus Banteng Ketaton, aku bisa menebak
bentuk kasarnya. Kalau kaupamerkan satu jurus saja, pembukaan, aku bisa menebak
ke arah mana serangan.
"Ngabehi, ketika Baginda Raja banyak mengirimkan para senopati ke tanah
seberang, saya sama sekali bukan tidak menyetujui. Saya ini apalah dibandingkan
Baginda Raja yang menerima wahyu.
"Tapi marilah kita lihat. Kau bisa melihat bahwa Raja Muda Gelang-Gelang
sedang menghimpun kekuatan. Ketika ini terdengar oleh Baginda Raja, malahan saya
dituduh mencari perkara dengan menebarkan bibit pertengkaran. Baginda Raja sama
sekali tak percaya bahwa Raja Muda Gelang-Gelang berniat kraman. Selama ini
makanan, pakaian, rumah, kehormatan diberikan padanya atas kebaikan Baginda
Raja.
IZRO'IL
SENOPATI PAMUNGKAS I


Episode 3

"Kedurhakaan yang paling keji pun tak akan seperti itu.
"Nah, inilah yang kumaksudkan dengan ilmu katak itu. Kalau Baginda Raja
melihat dari pandangannya saja, mengukur dari pribadi Baginda Raja, memang tidak
mungkin. Akan tetapi akan berbeda hasil akhirnya, jika saja Baginda Raja
menempatkan dirinya sebagai Raja Muda Gelang-Gelang.
"Susah, susah, tapi juga mudah.
"Tak ada yang luar biasa. Aku bukan nujum, bukan ahli ramal. Dengan
perasaan pun bisa. Semua manusia menerima kodrat bisa memainkan Weruh
Sadurunging Winarah asal mau melatihnya,
"Dasarnya cuma satu. Kekosongan pikiran diri sendiri, dan menjadi apa yang
dipikirkan. Kalau kau ingin tahu apa yang dilakukan Raja Muda Gelang-Gelang, kau
harus membebaskan dirimu sendiri. Kau harus mengosongkan dirimu, sehingga bisa
menyelimuti Raja Muda Gelang-Gelang. Menguasai Raja Muda Gelang-Gelang dan
tahu apa yang akan dilakukan. Pada saat yang bersamaan kau menjadi dirimu dan
mengalahkannya.
"Kita berdua bisa berlatih mengosongkan pikiran. Tetapi kamu terlalu sungkan
denganku, Ngabehi. Kau tak akan pernah bisa mengalahkanku. Dalam pertandingan
satu lawan satu, semua langkahmu mudah kutebak. Karena kau terlalu menghormat
padaku, pun andai aku telah berbuat jahat—amat jahat padamu.
"Di seluruh dunia ini hanya Eyang Sepuh yang sama sekali tak berani kulawan.
Membayangkan bertanding pun tak pernah terpikirkan. Karena aku tak berani. Aku
kalah dalam mengosongkan pikiran lawan Eyang Sepuh.
"Ngabehi, apakah kita akan berlatih?"
Saat itu Upasara merasa kelewat penasaran. Begitu seringnya Mpu Raganata
disebut-sebut dengan sangat hormat. Dan Mpu Raganata sendiri menyebut-nyebut
Eyang Sepuh. Upasara ingin sekali menjajalnya sendiri!
Tapi justru karena rasa gusarnya dulu, ia jadi terus teringat. Beberapa kali
Ngabehi Pandu membicarakan apa yang dibicarakan dan kadang berusaha
memecahkan bersama.
Kini Upasara berniat menghadapi beberapa petunjuk tidak langsung itu.
"Mpu Raganata, maafkan hamba...."
Upasara menghaturkan sembah dengan khidmat. Menarik napas dalam-dalam.
Memulai.
Pertama, mengangkat biji asam di lubang sepuluh. Itulah memang permainan
awal. Sehingga dengan demikian akan berakhir di lumbung, dan ia bisa memulai lagi
sesukanya.
Lalu memulai lagi mengangkat biji asam di lubang delapan belas. Yang
sekarang berisi sepuluh biji. Yang pertama masuk lumbung, lalu masuk lubang satu,
dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, dan berakhir di lubang sembilan—yang
kini isinya menjadi sepuluh. Diangkat lagi, dimasukkan lubang sepuluh, sebelas, dua
belas, tiga belas, empat belas, lima belas, enam belas, tujuh belas, delapan belas, satu
demi satu, dan kembali berakhir di lumbung. Langkah ketiga tak terlalu sulit. Dari
lubang delapan belas, tinggal memasukkan ke lumbung.
Kini berarti lumbungnya sudah berisi empat.
Baru empat, dari paling tidak harus bisa mencapai 41 biji.
Kiai Sangga Langit berdehem kecil. Langkah kelima memang mulai
mengandung komplikasi. Kalau tadi bisa dengan mudah dihitung, ia harus sangat
cermat. Keliru satu biji saja, bisa-bisa hancur berantakan.
Nyai Demang menahan napas.
Ia mengenal permainan lakon ini dengan baik.
Kalau Upasara mulai dari lubang sepuluh, seperti permulaan tadi— memang
secara berhitung kasar bisa begitu, sebelum langkah kesembilan belas ia harus mati.
Ini berarti lumbungnya baru terisi sepuluh. Tambah yang ada di depannya, karena
ditembak, isinya belum mencapai 25.
Ternyata Upasara mulai dari lubang kesebelas sebagai langkah kelima. Lubang
kesebelas isinya sebelas, berakhir di lubang tiga yang isinya menjadi sebelas juga, dan
berakhir di lubang ketiga belas yang isinya tiga belas, dan ini akan berakhir di lubang
ketujuh yang isinya dua belas. Dari sini berakhir di lumbung lagi. Selamat!
Berarti kini Upasara menyimpan enam biji di lumbung!
Sampai di sini, Nyai Demang masih bisa memainkan. Karena perkembangan
biji asam di setiap lubang masih bisa diperhitungkan.
Akan tetapi mulai langkah kesembilan, variasi makin banyak. Kini hampir
semua isi dalam lubang sudah tak ada yang sembilan biji lagi! Perubahan ini tak boleh
dihitung lebih dulu. Hanya berdasarkan ingatan saja.
Nyai Demang dikenal sangat cerdas dalam menganalisa dan belajar soal seperti
ini. Dan ia membanggakan dirinya, karena ia bisa berbicara dengan Kiai Sangga
Langit. Banyak kesalahan dalam menangkap arti bisa terjadi, akan tetapi secara
keseluruhan ia bisa mengetahui artinya!
Tapi untuk memulai langkah kesembilan dari lubang mana, bukan hal mudah.
Kalau Upasara mulai dari lubang sebelas, dalam tiga langkah berikutnya ia akan mati.
Tapi bukan Upasara kalau ia memilih lubang sebelas untuk dimainkan. Dalam
banyak hal yang berhubungan dengan angka serta cara hitung-menghitung, Upasara
seperti menemukan hafalan lama. Selama dua puluh tahun ia dikurung untuk hal-hal
seperti ini. Menghafal, berhitung luar kepala, mempraktekkan. Sehingga
dibandingkan orang lain, Upasara sudah belajar mengenai hal ini selama dua puluh
tahun. Dan tak pernah tersentuh oleh kegiatan lain.
Upasara mulai langkah kesembilan dari lubang tujuh belas. Dan di langkah
kesembilan belas, ia masuk lumbung lagi. Langkah dua puluh tinggal menaikkan dari
lubang tujuh belas. Di langkah kedua puluh, Upasara telah mengumpulkan dua belas
biji.
Langkah ke-21, Upasara mulai lubang enam belas. Pikirannya sederhana,
karena dari lubang enam belas berisi dua puluh biji, dan dengan demikian akan
menutup seluruh putaran, dan ia tak akan mati langkah.
Demikianlah dengan kecerdikan dan perhitungan matang, Upasara terus
memainkan biji asam. Kiai Sangga Langit berdecak pelan, mengawasi dengan cermat.
Sampai dengan langkah ke-34, Upasara sudah memasukkan ke dalam lumbung
sebanyak 22. Bagi Nyai Demang itu sudah suatu prestasi yang hebat.
Tapi untuk angka yang ditentukan Kiai Sangga Langit, itu masih separuh.
Sampai di sini Kiai Sangga Langit berjalan mendekat. Siapa pun tahu bahwa
kini langkah yang paling menentukan.
Upasara mendongak ke arah langit.
Bibirnya berkumat-kamit menghafalkan angka di dalam lubang.
"Lubang kesepuluh berisi 25, lubang kesebelas berisi enam, lubang kedua belas
berisi dua belas, lubang ketiga belas berisi lima belas, lubang keempat belas berisi
enam, lubang kelima belas berisi lima, lubang keenam belas berisi empat, lubang
ketujuh belas tidak ada isinya alias kosong, lubang kedelapan belas berisi enam.
"Aha, dari mana aku harus mulai?
"Di depan lubang kesatu berisi tiga, lubang kedua berisi delapan, lubang ketiga
berisi sembilan, lubang keempat berisi satu, lubang kelima berisi tiga, lubang keenam
berisi 25, lubang ketujuh berisi sepuluh, lubang kedelapan berisi dua, lubang
kesembilan tidak ada isinya alias kosong.
"Yang menjadi petaka yang mematikan bukan hanya lubang kesembilan dan
lubang ketujuh belas. Tapi adalah perubahannya. Mulai dengan lubang kelima belas,
keenam belas, ketujuh belas sama dengan bunuh diri dalam langkah pertama. Mulai
dari lubang kedelapan belas, menguntungkan karena panjang. Akan tetapi itu
berakhir di lubang keenam dan mengambil isinya sebanyak 25. Akan tetapi berarti itu
dibagi rata. Susah untuk nembaknya.
"Langkah lainnya penuh risiko.
"Susah sekali."
Upasara merenggangkan tangannya. Menggeliat. Lalu memandang ke atas lagi.
"Ini kesempatan saya mengambil yang terakhir. Entah bisa panjang atau tidak.
Tak mungkin bisa berakhir di lumbung lagi. Tak apa.
"Kalau bisa nembak yang terbesar, itu sudah cukup."
Upasara menggerakkan lubang kesepuluh yang berisi 25 biji. Langkahnya
berakhir di langkah ke-41, akan tetapi ia berhasil menyikat biji di depan lubang ketiga
belas. Berhasil menyikat lubang di depannya. Isinya paling banyak, yaitu 28 biji.
Dengan lumbungnya yang sudah berisi 26, semuanya berjumlah 54 biji!
Upasara meloncat ke atas, dan tertawa bergelak.
Nyai Demang berusaha menghitung, akan tetapi Upasara mendiktekan jumlah
yang ada.
"Katakan kepada Kiai Sangga Langit. Kalau ia ingin meneruskan permainan,
jumlah akhir nanti tak akan pernah bisa dimenangkannya. Kalau tidak percaya,
silakan jajal."
Nyai Demang jadi ragu.
Kiai Sangga Langit memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangannya.
Tubuhnya tetap tegak. Lalu mengganti dengan menyembah.
"Anak muda, sungguh luar biasa. Imam Tat Mo akan sangat bahagia di nirwana
sana. Tak sangka, hari ini ada yang bisa memecahkan permainan yang usianya ratusan
tahun dengan sekali gebrak. Luar biasa, luar biasa. Selamat, selamat...," Nyai Demang
menerjemahkan per kata. "Kini kau sudah menang mutlak. Nah, katakan apa
permintaanmu."
Upasara menggeleng.
"Jangan terlalu memuji. Sebenarnya saya yang rendah ini kebetulan bisa
menghitung di luar kepala. Itu saja.
"Mengenai permintaan saya, sampai saat ini saya belum mempunyai
permintaan apa-apa. Lupakan saja. Sembah hormat kembali untuk Kiai Sangga
Langit."
"Karena anak muda tak meminta apa-apa, apakah Kiai Sangga Langit boleh
meminta sesuatu?"
"Asal saya bisa memenuhi, akan saya lakukan."
"Kiai Sangga Langit hanya minta anak dusun menyebutkan asal-usul, nama
perguruan, agar di belakang hari bisa mengundang." Upasara menghela napas. Berat.
Kegirangan yang melonjak tinggi ketika merampungkan permainan tadi jadi
sirna.
"Saya telah mengatakan sesungguhnya. Saya biasa dipanggil Upa. Nama
perguruan saya tidak perlu disebutkan karena sudah lama bubar—sudah sejak lama.
Mengenai asal-usul, saya sendiri tidak tahu. Saya menyebut Bapak Toikromo, karena
beliau pernah menolong saya."
"Istri, saudara..."
"Istri saya belum berani memiliki, karena saya masih luntang-lantung seperti
ini. Saudara... saya tak pernah tahu. O, tidak, saya mempunyai saudara angkat. Ia
seorang senopati dari Gelang-Gelang. Kami baru saja saling mengangkat saudara. Agak
susah saya menyebutkan, karena kami saling berjanji untuk tidak membuka kepada
orang lain.
"Kiai Sangga Langit, masih adakah yang Kiai minta?"
Selesai Nyai Demang menerjemahkan, sekali lagi Kiai Sangga Langit memberi
hormat dengan dua cara.
Ketika itu Bagus Respati mulai membuka matanya. Bersamaan dengan Galih
Kaliki. Keduanya berdiri dan melihat Kiai Sangga Langit sedang memberi hormat
kepada Upasara. Upasara membalas dengan menundukkan badannya.
"Kiai Sangga Langit mempunyai beberapa hadiah, kalau kau mau
menerimanya. Sebuah kitab mengenai ajaran Budha yang bisa digunakan untuk
mempertajam keluhuran budi, apakah kau mau menerima?"
"Terima kasih, Nyai Demang, apa gunanya kitab itu kalau saya tidak bisa
membaca?"
"Aku akan membacakan untukmu." Kembali sinar mata yang genit mencubit
perasaan Upasara.
"Kalau begitu biarlah Nyai Demang yang menerima. Dan mempelajari. Saya
masih ada urusan di dusun, mohon pamit."
Upasara berbalik ke arah Galih Kaliki.
"Paman Galih, maafkan semua kelancangan saya. Saya mohon pamit. Jangan
lupa mengundang saya ke perkawinan nanti."
Galih Kaliki tertawa bergelak.
"Kau masih muda, gagah, dan sedikit congkak. Aku, Galih Kaliki, suka
padamu. Selamat, anak muda."
Upasara berbalik ke arah Bagus Respati.
"Kakang Raden Mas..."
"Terima kasih, Upa... Tak akan pernah kulupakan kebaikanmu. Datanglah ke
dalem kepatihan."
Upasara menghaturkan sembah. Lalu perlahan berjalan turun dari panggung.
Nyai Demang meloncat maju.
"Apakah kamu juga akan berlalu kalau saya mengharap tinggal barang
sebentar?"
Upasara menunduk. Tak berani menatap mata Nyai Demang.
"Buku silat yang dihadiahkan Kiai Sangga Langit adalah buku pilihan. Juga di
negerinya sendiri. Sungguh kurang enak kalau kamu menolak begitu saja."
Upasara mengangguk.
"Kita mengadakan makan malam bersama, dan setelah itu kamu bisa pergi ke
mana saja. Menjumpai kekasihmu...."
"Saya akan tinggal sebentar, Mbakyu...."
Malam itu juga diadakan perjamuan sederhana. Bagus Respati hanya
menikmati sebentar, lalu berpamitan untuk pergi keesokan harinya. Ia akan segera
berangkat bersama Dyah Muning dan mempersiapkan upacara.
Galih Kaliki menepuk-nepuk pundak Upasara.
"Pergilah bersama Nyai Demang. Ia akan membacakan isi kitab itu padamu."
Upasara merasa kikuk.
"Di dunia ini semua lelaki pasti tertarik kepada Nyai Demang. Baik diam-diam
atau terang-terangan. Akulah yang paling tergila-gila. Aku menyadari ini ketololan
yang luar biasa. Tapi aku suka terseret arus perasaan seperti ini. Indah sekali. Anak
muda, kamu beruntung malam ini."
"Paman Galih, karena Paman menganggap saya sebagai keluarga sendiri,
kenapa kita tidak bersama-sama mendengarkan apa yang dikatakan Nyai Demang?"
Dalam suatu tenda, malam itu Kiai Sangga Langit menjelaskan beberapa bagian
yang diterjemahkan oleh Nyai Demang. Upasara berusaha mendengarkan dengan
segenap perhatian. Hanya saja beberapa kali perhatian tertuju pada gerak bibir Nyai
Demang. Benar juga kalau semua lelaki tertarik kepada Nyai Demang. Cukup
beralasan kalau Galih Kaliki, meskipun sudah menyadari ketololannya, masih tetap
tergoda. Nyai Demang memang mempunyai daya tarik, dan bisa memanfaatkan
kelebihan ini.
"Buku ini mengandung ajaran cara melatih pernapasan. Intinya lebih berguna
untuk menjaga agar badan tetap sehat, panjang umur, dan memperoleh kebahagiaan.
Kiai Sangga Langit mendapatkan dari orang-orang Cina. Agak bertentangan dengan
ilmu Mongol yang mengandalkan kekerasan. Namun cara melatih pernapasan ini
ternyata mempunyai manfaat besar. Terbukti dari jago-jago di daratan Cina yang
makin tua justru makin perkasa."
Setelah larut, Upasara meminta diri. Sekaligus pamitan besok pagi akan
menemui ayahnya, Pak Toikromo. Ia kembali ke tenda. Bagi Upasara yang penting
bisa istirahat dan besok pagi melanjutkan perjalanan.
Maka setelah bersemadi, Upasara mulai berbaring.
Galih Kaliki yang berada di sampingnya sudah langsung mendengkur.
Mungkin karena capek, mungkin karena tadi minum tuak secara berlebihan.
Baru memejamkan mata sekejap, Upasara mendengar satu gerakan. Desir angin
yang lain. Sebagai seorang yang terlatih, Upasara melihat ada sesuatu yang tidak beres.
Gerakan mengentengkan tubuh dengan perlahan, mencurigakan di larut seperti ini.
Apalagi bukan gerakan satu orang. Upasara bangkit. Lalu berjalan perlahan keluar dari
tenda.
Sesaat masih melihat dua bayangan berkejaran. Cepat sekali Upasara meloncat
ke arah dua bayangan. Belum lama mengejar, dua bayangan itu sudah terlibat dalam
pertempuran. Upasara tahu bahwa bayangan yang dikejar adalah Nyai Demang.
"Kalau berani kurang ajar padaku, ayo kita jajal di sini."
"Perempuan murahan, untuk apa kamu menolakku? Jangan paksa aku
melakukan itu dengan kekasaran. Kita nikmati malam yang indah ini."
Suara yang satunya seperti dikenal oleh Upasara. Hanya saja tidak begitu jelas, karena
memakai kain yang dikerudungkan menutup seluruh tubuh.
"Majulah kalau kamu memang ksatria."
"Aku juga laki-laki yang bisa menaklukkanmu. Malam ini. Dan aku ingin
menjadi orang senewen seperti Galih Kaliki. Ayo, Nyai Demang, kita bermain-main
sebentar."
Bayangan berkerudung itu langsung menyerang Nyai Demang. Nyai Demang
menghindar. Dalam beberapa saat keduanya sudah terlibat dalam pertempuran.
Meskipun Nyai Demang termasuk unggul, namun masih setingkat di bawah
penyerangnya. Kelebihan Nyai Demang ternyata lebih bersifat teori. Gerak
pukulannya tepat, bagus, dan mengena. Akan tetapi tenaga pendukungnya tidak
cukup membantu. Sehingga dengan mudah ditangkis. Melewati sepuluh jurus, Nyai
Demang sudah di bawah angin.
Lima jurus berikutnya, kaki Nyai Demang kena serampang, dan tubuhnya
terbanting. Dengan satu tangan menotok ke arah pinggang, penyerang berkerudung
itu berhasil memeluk Nyai Demang.
"Apa lagi?"
Nyai Demang menggigit bibirnya. Kakinya yang lepas berusaha menendang
dari belakang. Sekali lagi, dengan mudah bisa disampok. Dan ketika pegangan
dilepaskan, tubuh Nyai Demang terbanting ke tanah.
Upasara tidak merasa perlu turut campur, sebenarnya. Akan tetapi merasa
kurang enak melihat Nyai Demang diperlakukan dengan kasar. Maka Upasara
melompat ke tengah.
Bayangan berkerudung melihat Upasara.
"Oh, kamu, Upasara."
Upasara melengak.
Baru ia sadar siapa yang dihadapi.
"Kang Bagus Respati... maaf, mengganggu masalah pribadi... saya kira..."
Upasara segera berbalik membuang wajah.
"Haha... di dunia ini masih ada lelaki sejujur kamu. Betul-betul luar biasa...."
Tanpa menoleh kiri-kanan Upasara terus kembali ke tenda. Melihat Galih
Kaliki masih tidur mendengkur. Ah, apakah pikirannya akan berubah jika melihat apa
yang dilakukan Nyai Demang? Entahlah. Upasara tidak mau berpikir lebih jauh.
Hanya ia merasa bersalah mencampuri urusan Nyai Demang dengan Bagus Respati.
Mereka berdua ternyata memang lagi "bermain-main".
Tokoh macam apakah Nyai Demang itu?
Tak bisa masuk di benak Upasara. Hanya saja sejak melihat kejadian itu,
Upasara tidak begitu tertarik lagi dengan Nyai Demang. Hanya saja Upasara juga tidak
mengerti bagaimana sikap Bagus Respati sebenarnya. Setelah memperoleh putri Cina
dalam sayembara, kenapa masih mengejar Nyai Demang?
Upasara melanjutkan perjalanan, dengan beberapa pikiran yang masih
mengganggu. Akan tetapi ia tidak memedulikan. Pikiran itu terbuang dengan
sendirinya. Karena memang sejak masih bayi tak pernah terlibat dengan keusilan.
Harapannya cuma satu: menyampaikan berita ke Keraton!
Selewat fajar, Upasara sampai di Keraton.
Ia merasa bingung karena tak tahu harus menghubungi siapa. Ngabehi Pandu
tak ada di tempat. Senamata Karmuka juga tak bisa dihubungi.
Maka ketika ia mengatakan akan sowan kepada Baginda Raja, prajurit penjaga hanya
melengak saja.
"Kami mengetahui dirimu, anak muda. Kamu dari Ksatria Pingitan. Kamu
membawa tanda untuk masuk ke Keraton. Akan tetapi untuk bisa melihat bayangan
Baginda Raja, apakah kamu mempunyai alasan untuk itu?"
"Dengan paksa atau baik-baik saya akan sowan kepada Kanjeng Sinuwun."
Mendengar jawaban itu para prajurit bersiap dan mengurungnya.
Upasara mendongak.
"Kalau kalian memaksa terus, akan terjadi sesuatu yang tidak kalian inginkan."
Upasara bertindak maju. Dengan membawa cincin Keraton, Upasara bisa terus
melangkah maju ke dalam.
Para prajurit tak ada yang berani menyerang. Hanya sekadar berjaga.
Sampai di balairung, tempat menghadap, Upasara duduk bersila.
Upasara tetap tidak bergeser. Ia terus bersila di balairung, tertunduk, sama
sekali tak beringsut. Dari pagi hingga tengah hari sampai menjelang petang. Beberapa
pengawal utama tak berani menegur atau mengusik, hanya mengawasi dari kejauhan.
Ketika penerangan Keraton dinyalakan, dan bayangan tubuh Upasara
bergerak-gerak, ketika itulah terdengar langkah kaki memasuki balairung. Beberapa
pengawal berjalan membentuk barisan di sebelah kiri dan kanan. Bersila di bawah.
Beberapa saat kemudian sebuah langkah ringan menuju ke tengah. Semua yang hadir
menghaturkan sembah.
Upasara tetap menunduk.
"Anak muda yang keras kepala, apakah kau Ksatria Pingitan?"
Barulah tangan Upasara bergerak, menghaturkan sembah yang khidmat. Sorot
matanya tetap menunduk. Akan tetapi sempat menangkap sosok tubuh yang gagah
perkasa, yang dadanya telanjang dan berbulu. Dengan kalung panjang berbentuk segi
tiga. Melingkari leher secara terbuka, dan bertemu sedikit di atas pusar. Kain yang
dikenakan sangat bagus, dan ujung keris menonjol dari belakang. Ditopang dengan
sepasang kaki yang bersih kukuh, ditumbuhi bulu-bulu keriting. Rambutnya digelung
di atas kepala, memberi kesan sangat gagah.
"Nun inggih... saya yang rendah bernama Upasara Wulung," suaranya penuh
rasa hormat, "...saya menghaturkan sembah bekti, Mahapatih yang mulia."
Mahisa Anengah Panji Angragani seperti berdecak bibirnya.
"Apa maksudmu memaksa diri bersila di sini?"
"Saya mohon izin Mahapatih yang mulia untuk sowan kepada Baginda Raja.
Hanya dengan perkenan Mahapatih yang mulia, saya yang rendah bisa sowan di
hadapan Baginda Raja, penguasa tunggal Keraton."
Kembali terdengar decakan suara di bibir.
"Sudah lama kudengar makin banyak pemuda yang berbuat kurang ajar dan
ugal-ugalan. Hari ini aku menemukan sendiri. Upasara, apakah karena kau merasa
bekas Ksatria Pingitan, sehingga bisa begitu mudah meminta izin untuk sowan
Baginda Raja?
"Ksatria Pingitan sudah lama dibubarkan, karena hanya memboroskan keuangan
Keraton. Sudah tidak ada artinya lagi. Pun andai masih ada, kau tak bisa leluasa
mengajukan usul seperti itu.
"Apakah ada sesuatu yang luar biasa sehingga merasa perlu sowan Baginda
Raja?"
"Maafkan hamba, Mahapatih yang mulia. Maafkan kelancangan hamba, dan
ketidaktahuan akan tata krama ini. Keberanian dan keinginan hamba hanya didasari
bahwa ada sesuatu yang harus hamba sowan-kan kepada Baginda Raja.
"Maafkan, Mahapatih yang mulia."
"Sesuatu itu apa? Aku akan mempertimbangkan."
Upasara menghaturkan sembah.
"Katakan."
Upasara menunduk.
Pundaknya merunduk menuju satu titik di tanah.
Ludahnya seperti tak bisa ditelan.
Apakah ia harus memberi laporan kepada Mahapatih Panji Angragani
mengenai kejadian di Perguruan Awan? Menurut pesan Jagaddhita, ia harus
menyampaikan langsung kepada Baginda Raja. Akan tetapi, untuk bisa sowan, ia tak
bisa menghindar dari Mahapatih.
Apakah ia harus memperlihatkan dua buah gigi emas Jagaddhita? Apakah ini
cukup berarti bagi Mahapatih? Tetapi jika ia tidak mengatakan... Terlambat.
Mahapatih sudah berdecak lebih keras.
"Upasara. Sungguh lancang! Bagaimana mungkin kau tidak menghormati
dengan berdiam diri seperti itu? Bahkan Baginda Raja mempercayaiku untuk menjadi
mahapatih. Untuk menjadi bahu kanan Baginda Raja. Apa yang kausembunyikan
dariku, pasti akan kuketahui.
"Akan kulihat apakah kau masih berusaha duduk di situ, atau menunggu aku
memerintahkan untuk menendangmu."
"Ampun, Mahapatih yang mulia. Sama sekali tak terpikir oleh hamba yang
rendah ini untuk tak menghormati Paduka. Mahapatih yang mulia adalah sesembahan
kawula, Mahapatih yang mulia adalah bahu kanan Baginda Raja yang terpercaya,
akan tetapi saya ingin menyampaikan secara pribadi."
Terdengar decak kecil.
"Aku tak punya waktu banyak, Upasara. Kalau kau mau mengatakan, sekarang
saatnya. Para pengawal ini adalah pengawal Keraton yang tak perlu diragukan lagi
kesetiaannya."
"Maaf, Mahapatih. Masalah ini ada sangkut-pautnya dengan peristiwa di
Perguruan Awan."
"Hmmmmm."
"Juga mengenai rombongan Raja Muda Gelang-Gelang, serta pasukan yang
dipimpin langsung oleh Maharesi Ugrawe. Mohon Mahapatih yang mulia
menyampaikan kepada Baginda Raja."
Terdengar tawa menggeledek.
Para pengawal sempat kaget.
Darah Upasara berdesir sangat cepat.
"Dewa Batara... kukira tentang gempa yang dahsyat atau matahari berbalik
arahnya. Tak tahunya tentang urusan begitu sepele. Kalau urusan membunuh nyamuk
saja harus di-sowan-kan kepada Baginda Raja, kapan Baginda Raja ada waktu untuk
memuja Penguasa Tunggal di jagat ini?
"Ketahuilah, Ksatria Pingitan. Baginda Raja saat-saat ini sedang bersemadi. Tak
bisa diganggu gugat, tak bisa di-sowan-i siapa saja. Dan mengenai kekuatiranmu,
Baginda Raja sudah mengetahui jauh lebih dulu. Kuhargai sepenuhnya keberanianmu,
tetapi itu tak ada gunanya.
"Nah, sekarang kembalilah. Mulai sekarang jangan menyebut-nyebut sebagai
Ksatria Pingitan lagi, karena sebutan itu sudah dibubarkan. Kembalilah ke desamu,
jadilah petani yang baik.
"Aku telah bermurah hati menemuimu."
Mahapatih mengibaskan tangannya.
"Ampunilah saya yang cubluk, bodoh, ini. Peristiwa di Perguruan Awan sangat
memilukan. Saya yang rendah ini berada di sana...."
"Aku adalah mahapatih. Aku menjalankan roda pemerintahan sehari-hari. Aku
telah mengetahui dari telik sandi, dari pasukan rahasia, bahwa beberapa pendekar
akan mengadakan pertemuan untuk memberontak kepada Keraton. Itu sebabnya
Baginda Raja menugaskan Raja Muda Gelang-Gelang untuk menumpas sampai habis.
Sampai rata dengan tanah. Aku sendiri yang memerintahkan Senopati Suro, Joyo,
Lebur, Pangastuti untuk memimpin pasukan Keraton. Di samping beberapa prajurit
pilihan yang lain.
"Kau berada di sana dengan siapa?"
"Saya diajak Ngabehi Pandu dan Pamanda Wilanda...."
"Hmmmmm, sok tahu."
"Beberapa dari prajurit Keraton ditawan oleh Maharesi Ugrawe. Ngabehi
Pandu masih belum ditemukan, demikian juga Senamata Karmuka...."
Kembali terdengar tawa menggeledek.
"Lancang sekali omonganmu.
"Anak lancang. Ajaib sekali. Apa yang diajarkan Ngabehi lancang itu sehingga
Ksatria Pingitan begitu kurang ajar dan ngawur?
"Bagaimana mungkin kaukatakan kalau Senamata Karmuka itu hilang? Selama
ini Senamata Karmuka tak pernah meninggalkan Keraton!
"Omongan edan apa ini?"
"Seribu ampun, Mahapatih yang mulia, saya melihat sendiri...."
"Cukup! Aku tak pernah bicara ngawur. Semua prajurit di Keraton bisa
menilai. Bisa mengatakan apakah aku berdusta. Selama ini Senamata Karmuka berada
di Keraton. Ia tak ikut ke Perguruan Awan. Aku tidak memerintahkan ke sana. Juga ia
hadir dalam pasowanan agung di Keraton. Seluruh pejabat di Keraton melihatnya.
Bagaimana mungkin kau edan-edanan seperti itu?
"Bocah kecil, aku tak menyangka kalau kau berani berdusta di depanku. Ketika
dalam Sayembara Mantu aku mendengar namamu disebut putraku, aku menyangka
kau adalah ksatria yang hebat. Mewarisi keberanian Keraton. Tak tahunya cuma
tukang dusta.
"Tidak adil jika aku tidak menghukummu, walau kau telah menyelamatkan
putraku.
Prajurit, tangkap dia."
Tiga prajurit memberi hormat, dan langsung menelikung Upasara.
Upasara mendongak.
"Saya hanya menyampaikan pesan ini. Kalau saya sengaja berdusta, saya
pastilah melakukan suatu kebodohan yang tiada taranya. Saya hanya memberi laporan
seperti yang saya lihat.
"Sebelum Mahapatih menjatuhkan hukuman, perkenankanlah saya memohon
sesuatu."
Terdengar decak lidah.
"Di dalam lipatan kain, ada dua buah gigi emas. Bukan senjata rahasia, bukan
barang penuh bisa atau ilmu gaib. Saya mohon Mahapatih yang mulia berkenan
menghaturkan kepada Baginda Raja."
IZRO'IL
SENOPATI PAMUNGKAS I


Seorang prajurit pengawal membuka lipatan kain dan memperlihatkan dua
buah gigi emas.
"Untuk apa kaukatakan itu?"
"Ini permintaan Bibi Jagaddhita, bekas penari Keraton. Saya berjanji untuk
menyampaikan, apa pun yang terjadi. Kalau besok saya tak sempat melihat matahari
lagi, saya tidak mengecewakan arwah Bibi Jagaddhita.
"Untuk kemuliaan Mahapatih menghaturkan dua buah gigi emas ini, saya
menghaturkan nyawa saya yang tak berharga ini."
"Masih ada juga jiwa ksatriamu. Memuliakan tugas. Memegang janji. Itulah
sifat ksatria sejati. Itulah ciri utama ksatria Keraton Singasari yang besar.
Kepandaianmu tidak rendah.
"Sayang kau banyak bermimpi.
"Prajurit, penjarakan dia."
Upasara diseret.
"Satu hal lagi, Mahapatih... yang mulia, Raja Muda Gelang-Gelang tidak
memadamkan pemberontakan, malah sebaliknya. Maharesi Ugrawe mempunyai dua
rencana lain untuk merebut takhta...."
Tapi tubuhnya telah terseret jauh. Dan Mahapatih telah meninggalkan
balairung.
Tubuh Upasara seluruhnya diikat. Kaki dan tangan, serta badannya diikat erat
pada sebuah tonggak, di ruang bawah tanah.
Dulu Upasara mengetahui ruangan itu digunakan untuk menawan para
penjahat yang berbahaya. Hanya para penjahat yang bakal dihukum mati di tempat
itu. Cara pelaksanaan hukuman mati juga tak jauh berbeda. Dibakar hidup-hidup atau
diberikan kepada seekor harimau yang menjadi klangenan, atau kesayangan, Baginda
Raja.
Untuk itu semua hanya diperlukan waktu lima hari. Jika dalam waktu lima
hari Mahapatih tidak berkenan membicarakan masalahnya, dengan sendirinya ia
harus menjadi makanan seekor harimau! Dalam keadaan biasa, Upasara bisa melawan
dan mempertahankan diri. Akan tetapi dalam keadaan terikat erat, seekor nyamuk
yang hinggap di pipi pun tak bisa diusir. Apalagi selama lima hari itu, ia tak dibiarkan
meneguk setetes air atau sesuap nasi, atau juga satu kalimat.
Para prajurit penjaga tak diperkenankan berkata. Ini semua untuk
menghindarkan dari rencana para tersangka mempengaruhi atau mencoba melarikan
diri.
Upasara Wulung mengetahui hal ini. Siapa sangka sekarang ini dirinya yang
menjadi penghuni penjara? Siapa sangka ia begitu susah melarikan diri akan tetapi
malah ditertawakan? Siapa sangka kalau pengorbanan Jagaddhita tak berarti apa-apa?
Upasara termasuk cerdas. Jalan pikirannya cemerlang untuk menangkap suatu
masalah yang tak diperhitungkan. Namun kali ini benar-benar mati kutu. Tak bisa
memperkirakan kejadian apa yang sebenarnya berlangsung. Baik di Keraton, di
Perguruan Awan, atau juga di tempat lain.
Rasanya serba tak menentu dan tak jelas ujung-pangkalnya. Yang disangka
terang-benderang di siang hari, ternyata gelap-pekat tak bisa dimengerti.
Upasara mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi, sejak awal Sejak ia
diperam selama dua puluh tahun sebagai Ksatria Pingitan. Suatu usaha untuk
melahirkan para prajurit dan bangsawan teladan. Usaha ini agaknya menimbulkan pro
dan kontra, sehingga resminya dibubarkan. Beberapa ksatria kembali kepada
orangtuanya masing-masing, seperti juga Bagus Respati. Karena dirinya tak
mengetahui harus kembali ke siapa, Upasara Wulung terus bersama Ngabehi Pandu.
Sampai suatu ketika diajak serta ke Perguruan Awan.
Bertemu dengan para pendekar kelas satu. Terjadi perselisihan paham
mengenai Eyang Sepuh serta Tamu dari Seberang. Sampai kemudian munculnya
Maharesi Ugrawe dengan prajurit Gelang-Gelang. Dan terjadi petempuran habishabisan.
Upasara melihat sendiri hadirnya Senamata Karmuka. Bahkan bercakap-cakap
secara langsung.
Tapi baru saja Mahapatih mengatakan bahwa Senamata Karmuka tak pernah
menginjakkan kaki ke luar Keraton.
Ini aneh.
Lalu siapa yang diketahui? Jelas bukan orang lain. Tapi kalau begitu siapa yang
di Keraton? Jelas juga bukan orang lain. Kalau iya, pasti Mahapatih mengenali. Jadi
siapa sebenarnya Senamata Karmuka? Ataukah Senamata Karmuka mempunyai ilmu
yang bisa hadir di dua tempat yang berbeda secara serentak? Upasara pernah
mendengar ilmu semacam itu, namun belum pernah melihat secara langsung.
Yang juga aneh: Pasukan Gelang-Gelang yang secara langsung dipimpin oleh
Raja Muda Jayakatwang. Benarkah pasukan ini mau memadamkan pemberontakan?
Kalau tidak, memang agak mustahil bisa bergerak begitu leluasa. Akan tetapi bila mau
memadamkan pemberontakan, kenapa Maharesi Ugrawe mencoba menyapu bersih
semua yang hadir di situ? Taruhlah ada dendam pribadi antara Maharesi Ugrawe dan
Senamata Karmuka atau Ngabehi Pandu, tak nanti mereka akan bertindak sembrono.
Dan lagi secara jelas Ugrawe melontarkan kecamannya tentang Baginda Raja yang
dikatakan sebagai turunan perampok, maka harus digulingkan dari takhtanya. Sangat
gamblang bahwa Raja Muda Gelang-Gelang akan memberontak. Tetapi mengapa
justru kenyataan malah berbalik? Kenapa malah disangka Raja Muda Gelang-Gelang
yang menumpas pemberontakan para pendekar?
Strategi Ugrawe dengan melenyapkan jalan utama dan menggantikan dengan
jalan palsu di Banyu Urip, jelas untuk memutuskan hubungan Perguruan Awan
dengan Keraton. Bahwa prajurit Gelang-Gelang menghimpun banyak senjata secara
rahasia, ini juga persiapan yang tidak ingin diketahui pihak Keraton.
Bagaimana mungkin yang begini ini malah dikatakan membantu Keraton?
Kalau ini semua merupakan bagian dari rencana Ugrawe, ia benar-benar luar
biasa. Kepada pihak Keraton ia menyusun laporan seakan para pendekar mau
memberontak, sehingga ia mendapat restu untuk menyikat habis. Padahal maksudnya
melenyapkan mereka agar kelak di kemudian hari tidak membantu pihak Keraton.
Karena, meskipun hidup bebas, para pendekar sangat hormat dan bekti kepada
Baginda Raja serta kepada Keraton. Lalu kepada para pendekar, Ugrawe melemparkan
isu bahwa Tamu dari Seberang akan muncul.
Para pendekar bisa dipancing karena Ugrawe dengan cerdiknya melemparkan
berita akan datangnya Tamu dari Seberang.
Semua berjalan sempurna. Karena pihak Keraton sendiri agaknya sama sekali
tidak mencurigai. Utusan yang dipimpin oleh Senopati Suro lebih berfungsi sebagai
saksi belaka. Sehingga kalaupun rombongan ini bisa disikat habis, tak bakal ada
gunjingan.
Hanya saja masih ada yang tidak diduga oleh Ugrawe. Ngabehi Pandu serta
Senamata Karmuka ikut hadir. Entah intrik apa yang sedang berkecamuk dalam
Keraton, sehingga kedua saudara itu muncul di gelanggang, tanpa restu dari Keraton.
Kalau kedua tokoh itu sempat meloloskan diri, pastilah akan lain hasil dari rencana
busuk Ugrawe.
Ini berarti, masih ada tiga orang yang bisa lolos. Yaitu dirinya sendiri, Ngabehi
Pandu, serta Senamata Karmuka. Ngabehi Pandu tidak ketahuan hutan rimbanya.
Entah berhasil lolos atau tidak. Sementara Senamata Karmuka, bagi Upasara masih
merupakan teka-teki. Tapi kini ia tak bisa berbuat banyak. Malah bisa jadi mati secara
menyedihkan. Dibakar hidup-hidup atau jadi santapan harimau!
Kenyataan ini membuat Upasara merasa sangat nelangsa, sangat menderita dan
kesal. Rangkaian kejadiannya begitu ganjil, tapi seperti terjalin menjadi satu.
Pemunculan Kiai Sangga Langit dengan Sayembara Mantu, ternyata juga mendapat
restu dari Mahapatih. Setidaknya Mahapatih membiarkan Kiai Sangga Langit unjuk
gigi. Malah secara resmi melibatkan para pembesar Keraton.
Satu-satunya harapan Upasara adalah dua buah gigi geraham Jagaddhita. Ia
berharap Mahapatih menyampaikan gigi tersebut kepada Baginda Raja, dan Baginda
Raja berkenan untuk mengetahui asal-usulnya. Saat itu ia bisa bercerita panjanglebar.
Kalau Baginda Raja sudah mendengar secara langsung, Upasara akan mati
dengan tenang. Ia tidak penasaran lagi. Pun andai Baginda Raja hanya mendengar dan
lebih mempercayai apa yang dikatakan Mahapatih!
Soal diikat berdiri dan tak bisa bergerak, bagi Upasara tidak menjadi soal
benar. Jangan kata cuma lima hari. Empat puluh hari empat puluh malam secara
terus-menerus Upasara sanggup. Berada dalam ruang gelap tanpa melihat seberkas
sinar pun, tanpa menyentuh air dan atau makanan tak jadi soal benar. Akan tetapi jika
berakhir lain—di perut seekor macan, sungguh tidak enak. Sungguh bukan cara mati
seorang ksatria.
Mudah-mudahan Baginda Raja terbuka sedikit perhatiannya. Itulah harapan
yang terakhir.
Jika saja Upasara mengetahui bahwa Mahapatih Panji Angragani sama sekali
tidak tertarik soal gigi, ia lebih menderita lagi. Mahapatih yang jijik melihat dua buah
gigi segera menyingkirkan begitu saja tanpa peduli.
Setelah kembali ke kepatihan, ia sama sekali tidak mengingat soal gigi. Namun
memang tergerak sedikit oleh kehadiran Upasara. Justru karena Upasara memberi
laporan yang sangat tidak masuk akal: Senamata Karmuka terlibat dalam penyerbuan
ke Perguruan Awan.
"Banyak cara berdusta. Kenapa Upasara mengatakan secara tolol bahwa
Karmuka datang ke Perguruan Awan? Kalau ia berdusta dengan cara lain, ada
beberapa bagian yang bisa dipercaya.
"Entahlah, apakah di saat yang damai seperti ini akan muncul gelombang dan
amukan badai?"
Tak urung malam itu juga Mahapatih memanggil Senamata Karmuka ke dalem
kepatihan. Yang segera menghadap, menghaturkan sembah di ruang dalam.
"Karmuka, pasti engkau kaget kupanggil malam hari begini."
"Sebagai prajurit, sebagai bawahan, saya siap menerima hukuman atas setiap
kesalahan yang saya lakukan, Mahapatih."
"Hmmmmm. Aku memanggil tidak untuk memberi hukuman atau menaikkan
pangkatmu secara mendadak. Tidak juga aku menanyakan tugas pengamanan di
Keraton. Untuk yang terakhir ini, aku percaya sepenuhnya kepadamu."
"Beribu terima kasih atas kepercayaan Mahapatih."
"Malam ini kau kupanggil kemari karena aku kangen padamu. Itu yang
pertama. Yang kedua, rasanya kita sudah lama tidak berduaan sambil minum teh.
Sedangkan hal yang ketiga, tidak penting benar. Aku ingin tahu, apa yang kau ketahui
tentang Upasara Wulung."
"Upasara Wulung dulunya Ksatria Pingitan," jawab Senamata Karmuka cepat
sekali. "Termasuk anak muda yang merupakan bibit unggul di antara 25 yang
dikumpulkan dalam pendidikan Keraton Singasari.
"Kebetulan saya diserahi memegang pimpinan pengelolaan itu oleh Baginda
Raja sesembahan rakyat Jawa."
"Ya, tapi rencana itu bubar, kan?"
"Mahapatih, semua itu karena kesalahan saya yang tidak becus apa-apa."
"Itu susahnya, Karmuka. Baginda Raja berharap akan lahir ksatria yang bisa
meneruskan kejayaan Keraton. Tapi nyatanya susah. Putraku sendiri, akhirnya
kutarik dan kuserahkan kepada para empu yang lain.
"Sudahlah, kita lupakan itu. Tapi bagaimana dengan Upasara ini?"
"Bocah itu seterusnya di bawah pengawasan adik saya, Ngabehi Pandu, karena
tak mempunyai keluarga lagi. Hatinya baik, kemauannya keras."
"Waras atau tidak?"
"Saya tak berani memastikan. Mahapatih yang bijak lebih tahu hal ini."
"Memang. Memang aku lebih tahu, Karmuka. Dari putraku Bagus Respati aku
mendapat laporan bahwa Upasara menyelamatkan jiwanya dalam Sayembara Mantu.
Aku hargai itu. Kalau perlu akan kuberi hadiah besar.
"Hanya saja ia membikin perbuatan onar. Kau sudah dengar bahwa katanya ia
bertemu denganmu di Perguruan Awan?"
"Saya belum mendengar, Mahapatih."
"Kau bertemu dengannya?"
"Tidak pernah, Mahapatih."
"Apakah Upasara mempunyai hubungan langsung dengan Baginda Raja? Ia
membawa cincin Keraton."
"Saya tidak tahu, Mahapatih."
"Cincin yang dibawanya memang berasal dari Baginda Raja. Cincin pengenal
di Keraton. Tidak palsu. Akan tetapi dari mana ia memperolehnya?
"Kalau kau tidak tahu, berarti ia tidak menerima langsung dari Baginda Raja.
Kamu—dan adikmu—yang secara langsung mengawasi.
"Karena ia berbuat kurang ajar dan lancang, aku menghukumnya. Sekarang ia
berada di gua bawah tanah.
"Apa pendapatmu, Karmuka?"
"Saya kurang tahu. Mahapatih lebih bijak dari saya."
"Karena aku tidak tahu asal-usulnya secara pasti, dan kau juga tidak, kita tak
perlu menyayangkan. Lebih baik kehilangan daripada tidak yakin ia bakal setia
kepada Keraton. Bagaimana pendapatmu?"
"Apa yang Mahapatih utarakan sangat tepat sekali."
"Karmuka?"
"Siap menerima titah, Mahapatih."
"Aku berpikir lain. Ia masuk ke Keraton dengan membawa tanda pengenal
cincin. Di dalam Keraton ini, bahkan putraku saja tidak memiliki. Pastilah ia
mempunyai hubungan dengan orang dalam sini. Dan kehadirannya pasti diketahui.
Aku ingin melihat apakah ada yang akan membebaskannya atau tidak.
"Pada saat itu aku akan menjebaknya. Apakah aku terlalu mengada-ada?"
"Terima kasih atas kepercayaan Mahapatih saya diizinkan mendengarkan
rahasia ini."
"Kalau Baginda Raja mempercayaimu, mana mungkin aku berahasia
denganmu? Baiklah, Karmuka, kembalilah beristirahat."
Senamata Karmuka memberi hormat, menundukkan kepalanya, dan berlalu.
Seorang prajurit mengawal keluar dari ruangan dalam.
Sejenak Mahapatih termenung di kursinya. Lalu menghela napas.
Sebelum tarikan napas dikeluarkan, dari balik senthong, atau kamar di
belakang ranjang tidur, muncul seorang kakek tua. Tangannya memegang biji-bijian
yang diuntai dengan rambut.
Mahapatih berdecak.
"Karmuka itu masih kuat. Langkah-langkahnya, cara mengatur napas tetap
unggul. Aku tak menyangka tenaga dalamnya masih begitu hebat, Mahisa. Dalam
menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, sama sekali tak ada perubahan.
Sungguh luar biasa."
Kakek tua itu menggelengkan kepalanya.
"Dilihat dari perhitungan kelahiran, Senamata Karmuka mempunyai
ketenangan yang lebih. Ia mampu mengendalikan perasaan, menyimpan apa yang
dipikirkan. Sulit ditentukan apakah Karmuka mempunyai hubungan langsung dengan
Upasara atau tidak. Kalau dilihat sejarah dan awal berdirinya Ksatria Pingitan, tak
mungkin Upasara anak turunan rakyat biasa. Hanya keluarga dekat, kerabat Keraton,
yang diperkenankan dipilih. Namun ketika semua dikembalikan kepada masingmasing
orang tua, Upasara tetap dilatih olehnya.
"Padahal kalau masih ada hubungannya dengan Upasara, Karmuka pasti
tergetar mendengar rencanamu. Tapi nyatanya, suaranya datar saja. Tak dipengaruhi
perasaan. Kini tinggal melaksanakan rencana kita selanjutnya."
"Itulah yang saya pikirkan, Paman Waisesa Sagara. Paman adalah penasihat
utama saya, yang bisa melihat jarak jauh, yang bisa meramal kejadian yang akan
datang. Dengan mengatakan apa yang akan kita lakukan, apakah Karmuka tidak
berniat menolong Upasara?"
"Ia akan menolongnya. Pasti," Waisesa Sagara menganggukkan kepalanya. Bijibijian
di tangannya bergerak cepat. "Akan tetapi terlambat. Malam ini juga, Upasara
harus dilenyapkan. Tak usah menunggu lima hari.
"Ketika Bagus Respati menceritakan tentang Upasara, aku sudah
memperhitungkan. Ketika ia berada di balairung Keraton, aku sudah melihat sendiri.
Berdasarkan perhitungan kedatangannya, arah datangnya, bentuk mukanya, potongan
tubuhnya: baik telinga, hidung, mulut, rambut, dan terutama sekali matanya, aku
memperhitungkan kelak di kemudian hari Upasara Wulung bakal menjadi saingan
utama Bagus Respati. Malah kalau dilihat peruntungannya, nilai dasar Upasara
Wulung lebih dua buah. Bagus Respati mempunyai nilai peruntungan sebelas, sedang
Upasara Wulung tiga belas.
"Rezekinya tidak sebaik Bagus Respati, akan tetapi perhitungan masa depannya
sungguh luar biasa. Kelewat bagus. Soal jodoh agak ruwet."
Mahapatih berdecak.
Ia bukannya tidak tahu bagaimana menghitung dan meramalkan nasib
seseorang. Akan tetapi selama ini percaya penuh bahwa perhitungan Waisesa Sagara
tidak pernah meleset sedikit pun.
Sejak ia mengabdi kepada Keraton, Mahapatih selalu mendengarkan nasihat
Waisesa Sagara. Salah satu ramalannya yang paling menakjubkan ialah ketika Waisesa
Sagara mengatakan bahwa, "Sebuah bulan buta bersinar keemasan jatuh ke
pangkuanmu. Dalam waktu lima hari mulai hari ini, kau harus bersiap-siap menerima
anugerah besar. Siapkan dirimu sebaik-baiknya. Keramas rambutmu sebersihbersihnya,
cuci badanmu paling bersih, jaga kulit tubuhmu, jangan lupa tersenyum."
Ajaib. Tiga hari kemudian Baginda Raja memanggilnya dan menganugerahi
jabatan mahapatih. Sesuatu yang tak pernah berani diimpikannya! Bahkan dalam
berdoa pun ia tak berani membayangkan jabatan yang mulia tersebut. Jabatan yang di
tangan kanan dan kiri menentukan merah-hijaunya Keraton Singasari.
Akan tetapi siapa berani mengimpikan jabatan itu? Saat itu Mpu Raganata
adalah tokoh besar yang tak diragukan lagi. Baik soal kanuragan atau ilmu silat, soal
tata pemerintahan, maupun cara mengatur strategi. Bertahun-tahun Mpu Raganata
membuktikan cara mengendalikan pemerintahan.
Hubungan Mpu Raganata dengan Baginda Raja sangat dekat sekali. Tak pernah
beranjak dari sisi Baginda Raja.
Memang saat itu Baginda Raja mengadakan pergeseran besar-besaran.
Sejumlah besar para bangsawan ditanggalkan pangkatnya. Kalau tidak diturunkan,
juga dibuang ke daerah terpencil. Namun tak pernah terpikir bahwa Baginda Raja
bakal menggeser Mpu Raganata. Dari seorang mahapatih yang berkuasa penuh,
menjadi semacam penasihat Baginda Raja— yang tak mempunyai kekuasaan langsung
ke bawah!
Waisesa Sagara telah meramalkan hari baiknya. Hari yang kelewat baik!
Sejak itu pula Waisesa Sagara diangkat menjadi penasihat pribadi dalam,
hampir, segala hal. Tak pernah ada suatu tindakan yang dilakukan Mahapatih
Angragani tanpa persetujuan Waisesa Sagara. Mengenakan motif kain batik,
melangkah pertama ke luar rumah, makan, dan menemui seseorang, atau sowan ke
Keraton, semuanya berdasarkan saran Waisesa Sagara.
Juga ketika Mahapatih Angragani membubarkan Ksatria Pingitan. Saat itu
Waisesa Sagara melihat bahwa ada kemungkinan para ksatria yang dipingit kelak di
kemudian hari akan menimbulkan malapetaka. Manakala mereka hanya mengenal
satu tuan saja: Senamata Karmuka.
"Seekor anjing yang sejak kecil hanya mengenal satu tuan, kelak di kemudian
hari bakal menyerang siapa saja atas perintahnya. Bubarkan saja."
"Bagaimana dengan Bagus Respati?"
"Cari guru yang lain. Dengan demikian apa yang diperoleh tidak sama dengan
yang diperoleh yang lainnya. Bagus Respati akan memiliki kelebihan."
"Akan tetapi Baginda Raja menghendaki diadakannya Ksatria Pingitan."
"Apa susahnya? Laporkan pada hari Budha nanti, bahwa pengelolaannya mulai
tidak terarah. Bahwa hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan pengeluaran kas
Keraton. Bahwa sebenarnya ada yang lebih bagus. Yaitu dilatih secara langsung.
"Dengan demikian, mulai sekarang ini seluruh kekuasaan ada pada dirimu.
Senamata Karmuka tidak mempunyai anak buah lagi, selain beberapa prajurit
pengawal utama. Itu pun masih di bawah komandomu.
"Saat ini sebenarnya seluruh kekuasaan sudah berada di dalam genggamanmu.
Kamu bisa mulai memperkuat diri. Melanjutkan tradisi Baginda Raja untuk
menyingkirkan yang tak menyokong kekuasaanmu.
"Hanya sedikit ganjalannya. Karmuka, telanjur menjadi Senamata. Dan
hubungannya dengan Baginda Raja sangat istimewa, sehingga agak susah digeser.
Akan tetapi selama kau bisa terus mengawasi gerak-geriknya, selama kau selalu
menyadarkan bahwa kau menjadi atasannya, Karmuka tak akan bisa berbuat banyak."
"Mengenai Mpu Raganata?"
"Praktis beliau tak memegang komando apa-apa. Kalau terjadi sesuatu, beliau
tak bisa memerintahkan, tanpa menggunakan tanganmu atau tangan Baginda Raja.
Lagi pula kini sudah lanjut usia.
"Bagi Mpu Raganata, yang selama ini aktif bergerak dalam pemerintahan,
hanya menunggu ajal saja kalau tidak lagi menjabat apa-apa. Kaulihat sendiri dalam
beberapa kali pasowanan agung, beliau tidak muncul.
"Tak perlu disingkirkan. Beliau akan tersingkir sendiri. Kalau itu terjadi secara
mutlak dan resmi, kaulah yang memegang kendali pemerintahan, atas tanganmu
sendiri."
Mahapatih kembali berdecak.
"Pamanda Waisesa, bagaimana kalau ternyata Upasara adalah lembu peteng
Baginda Raja?"
Lembu peteng adalah istilah untuk menyebut anak tidak resmi, atau anak
gelap. Memang lembu peteng sangat banyak jumlahnya. Di antara mereka ini, banyak
yang tidak diakui secara resmi, akan tetapi mendapatkan kehormatan dan jabatan,
tetapi lebih banyak lagi yang kemudian dilupakan.
"Sangat tidak mungkin. Kalau benar, mana mungkin selama ini Baginda Raja
tidak menanyakan? Selama ini nyatanya tak pernah terucapkan atau tertanyakan oleh
Baginda Raja. Itulah tadi sebabnya aku menduga Upasara adalah anak gelap Karmuka.
Hanya karena caranya bernapas tetap teratur ketika hal itu disinggung aku jadi ragu."
"Akan tetapi dari mana ia memperoleh cincin Keraton?"
"Ia menyebutkan dari Bibi Jagaddhita. Kamu sendiri tahu bahwa dulu banyak
sekali selir Baginda Raja. Puluhan atau bahkan ratusan jumlahnya. Salah satu bernama
Jagaddhita. Dan kamu mendengar sendiri ceritanya.
"Taruh kata Jagaddhita dulu mempunyai hubungan yang sangat istimewa
dengan Baginda Raja. Akan tetapi itu sudah lama berlalu. Jagaddhita telah lama
meninggalkan Keraton. Tak nanti Baginda Raja masih akan mempertanyakan. Mana
mungkin Baginda Raja mengingat salah satu selir yang telah pergi di antara puluhan
yang lain? Prameswari utama saja bisa-bisa lupa.
"Hanya yang membuat sedikit ganjalan ialah bahwa beberapa ksatria telah
mengenai Upasara. Ia sempat muncul dalam Sayembara Mantu. Sehingga hilangnya
bisa menimbulkan pertanyaan."
"Itu tak menjadi soal, Paman Waisesa. Kalau saya mengatakan bahwa Upasara
Wulung berbuat kurang ajar, menghina Baginda Raja, siapa yang berani
mempersoalkan? Malaikat pun tak akan berani turun dari langit untuk menanyakan
hal itu."
"Kau benar. Jadi apa masalahnya?"
"Tetapi tetap menjadi pertanyaan: Apakah Upasara Wulung harus dibunuh?"
"Jawabannya tetap: Perlu dibunuh. Dilihat dari perhitungan hari dan saat ia
ditangkap serta tempatnya ditangkap, Upasara bisa meloloskan diri. Dengan
mempersingkat waktu penahanan, nasibnya akan lain. Walau menurut perhitungan
waktu ditangkap ia bisa lolos, kalau malam ini juga dihabisi, tak akan menjadi soal.
Nasib yang ditetapkan oleh langit bisa kita ubah."
Mahapatih menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara.
"Satu-dua nyawa, apa artinya? Sekarang ini kau harus yakin bahwa siapa pun
yang berdiri di dekatmu bakal membantumu. Kalau ia meragukan sedikit saja, perlu
disingkirkan. Ingatlah, jabatan mahapatih bukanlah jabatan sederhana. Dan di
Keraton ini terlalu banyak pendapat. Sejak Baginda Raja mengadakan pergeseran,
sejak kamu memegang kekuasaan, banyak yang berusaha menggugatmu. Setiap
kesempatan akan mereka pergunakan, kamu lebih dulu bertindak. Jangan menunggu
sampai mereka siap.
"Sebenarnya apa yang meragukanmu?"
Mahapatih mengangguk. Menepuk tangannya.
Waisesa Sagara menyelinap ke balik tirai tempat tidur, kembali ke senthong.
Arya Bangkong dan Arya Genggong masuk ke dalam dengan laku ndodok. Keduanya
bersila dan menghaturkan sembah bersamaan.
"Hamba menunggu titah, Mahapatih...."
"Bangkong, malam ini kauawasi Senamata Karmuka. Kerahkan prajuritmu
yang terbaik. Mata-matai, apa pun yang ia lakukan. Kalau ia menemui seseorang,
kalau ia melakukan sesuatu, segera laporkan padaku. Juga kalau ia berada dalam
kamar, laporkan dengan siapa ia menghabiskan malam. Saat apa pun, kau melaporkan
padaku. Semua kekuasaan untuk mengambil tindakan, kuserahkan sepenuhnya
padamu."
"Hamba laksanakan perintah, Mahapatih."
"Genggong, malam purnama nanti, kau ambil tawanan di penjara bawah tanah.
Tak perlu dilepaskan dari ikatan. Bawa ke kandang Sardula. Adakan persembahan
malam ini juga. Semua kekuasaan dan wewenang ada padamu jika ada yang
menghalangi.
"Kalau sampai gagal, kepalamu menjadi ganti."
"Hamba laksanakan perintah, Mahapatih."
"Jangan menunda waktu, berangkatlah sekarang ini."
Arya Bangkong dan Arya Genggong menghaturkan sembah secara bersamaan.
Bersamaan dengan kibasan tangan Mahapatih, keduanya berjalan setengah merangkak
ke luar setelah menghaturkan sembah. Di luar, sekali lagi menghaturkan sembah,
baru berdiri.
Keduanya berpandangan.
"Kakang Bangkong..."
"Adik Genggong, kita laksanakan perintah. Tak ada waktu buat berbicara."
"Silakan, Kakang."
"Silakan, Adik."
Di regol, pintu depan, keduanya berpisah. Arya Bangkong segera memilih lima
prajurit utama untuk memata-matai rumah Senamata Karmuka. Mereka dengan
segera menuju rumah Senamata Karmuka, dan memerintahkan penjaga utama untuk
beristirahat. Arya Bangkong sendiri yang menggantikan berjaga. Sampai melihat
Senamata Karmuka masuk peraduan dan mendengar dengkur tidurnya. Meskipun
demikian, Arya Bangkong tetap menunggui di depan pintu.
Sementara itu Arya Genggong menuju ruangan bawah tanah dengan empat
prajurit utama. Dengan kampak sebagai senjatanya, ia segera mengayunkan untuk
memutuskan tiang pengikat. Tubuh Upasara yang masih terikat jatuh ke tanah. Sekali
lagi Arya Genggong meyakinkan ikatan tangan, kaki, badan. Kemudian
memerintahkan untuk mengangkut.
Dalam usungan, Upasara merasa bahwa usahanya sia-sia. Di luar
perhitungannya bahwa malam ini ia akan diumpankan harimau. Berteriak atau
mengoceh tak ada gunanya. Ia dibawa melalui lorong gelap, yang berakhir di ujung
sebelah timur Keraton. Seluruh badannya dilumuri dengan boreh, atau bedak, yang
baunya membangkitkan nafsu makan harimau.
Kandang harimau Keraton itu terletak di sebelah timur penjara bawah tanah.
Di atas sebidang tanah yang dipagari besi. Letaknya sendiri jauh di bawah permukaan
tanah. Ada dua cara memberi makan harimau kesayangan Baginda Raja. Dengan
melemparkan dari atas sekali, dari Keraton, atau dari sebelah terowongan penjara
bawah tanah.
"Anak muda, siapa pun namamu, apa pun pangkatmu, atas perintah Mahapatih
kau akan dipersembahkan ke Sardula. Kalau masih ada kalimat terakhir, katakanlah."
Upasara merasa tawar hatinya.
Toh tak mungkin ia menjelaskan seluruh duduk perkaranya. Tak mungkin
Arya Genggong mengubah putusan Mahapatih.
"Paman, lakukanlah tugasmu."
Arya Genggong sejenak terperanjat. Ia sama sekali tidak menduga bahwa
kalimat itu yang akan keluar dari anak muda yang bakal mati. Bukan sekali-dua ia
menjadi jagal utama. Bukan sekali-dua ia menggiring para penjahat untuk
diumpankan ke harimau. Bukan sekali-dua kampaknya sendiri memutuskan leher
penjahat. Akan tetapi baru sekarang ini, ada kalimat yang begitu bagus dan
menyentuh.
Tetapi hanya sejenak.
Segera ia menjalankan tugasnya. Hatinya telah membatu. Hanya ada satu yang
diketahui: Menjalankan tugas. Melakukan perintah. Tak peduli apakah perintah itu
sesuai dengan jalan pikirannya atau bertentangan.
Segera ia memberi perintah.
Dua prajurit memukul pagar besi dengan keras. Bau boreh yang ditebarkan
serta bunyi besi, membuat bayangan bergerak dari kegelapan.
Mata Upasara melihat seekor harimau keluar dari semak kegelapan. Belum
Upasara melihat jelas, ia merasa tubuhnya dilemparkan ke depan. Dan pintu kandang
ditutup kembali.
Kandang tempat harimau Keraton itu cukup luas sebetulnya. Kalaupun mereka
tak tergesa, tak nanti harimau itu bisa menyerbu ke arah pintu kandang. Akan tetapi
demi amannya, mereka melontarkan begitu saja.
Di tengah udara, Upasara berusaha memindahkan berat tubuhnya agar
tubuhnya tidak jatuh dengan menghadap ke bawah. Ia berhasil akan tetapi seluruh
tangannya terasa sakit sekali. Dari jarak lima tombak, ia melihat harimau menggeram
ke arahnya.
Kematian tak pernah ditakuti. Selama ini ia tak pernah memikirkannya.
Namun sekali ini, Upasara tak menyerah begitu saja. Ia mengerahkan tenaganya.
membalikkan tubuhnya, berikut tiang yang diikat bersama. Dengan bergulingan, ia
bukan saja bisa menjauh, akan tetapi mulutnya bisa meraup kerikil kecil dengan
giginya. Masih ada satu perhitungan. Dengan kerikil itu ia bisa membidik ke arah
kepala harimau.
IZRO'IL
SENOPATI PAMUNGKAS I


Inilah satu-satunya harapan untuk menunda kematian.
Dan itu yang dijalankan. Begitu harimau melompat mendekat, Upasara
menembakkan kerikil. Karena tergesa, kerikil itu hanya menyerempet telinga
harimau. Dan ini malah berakibat sebaliknya. Harimau menjadi buas, meraung. Kain
di tubuh Upasara diseret oleh harimau. Diseret ke dalam gelap.
Arya Genggong mengawasi dengan obor di tangan. Tapi tak melihat apa-apa
lagi. Hanya mendengar auman harimau yang menggerung.
"Kecuali badannya terbuat dari besi, bocah itu tak akan bisa melihat matahari
esok pagi. Sudah agak lama Sardula tidak dapat makanan manusia. Sekarang ini
saatnya.
"Anak muda, mudah-mudahan di alam baka kau mendapat pengampunan."
Arya Genggong menghela napas. Lalu memerintahkan prajurit-prajuritnya
menunggu sampai fajar nanti. Ia sendiri mengawasi dari kejauhan. Keras hatinya
mendengar jeritan, teriakan yang menyayat, serta auman harimau. Pastilah harimau
itu melalap perut dan isinya lebih dulu. Kalau meremukkan kepala, pasti tak akan
terdengar jeritan menyayat seperti itu.
Malam itu bulan di langit pucat.
Sangat pucat sekali.
Bau anyir darah tercium.
KEESOKAN harinya, setelah semalam melihat sendiri harimau Keraton berlumuran
darah, Arya Genggong melaporkan kepada Mahapatih. Arya Genggong menceritakan
secara lengkap seluruh urutan kejadian.
Mahapatih mendengarkan tanpa bereaksi.
Saat itu juga Arya Bangkong memberikan laporan bahwa Senamata Karmuka
tidak beranjak dari kamarnya. Sampai pagi ini masih ada prajurit yang ditugaskan
untuk mengamati.
"Lakukan terus, sampai aku memerintahkan mencabut perintah."
"Sendika dawuh, Mahapatih."
"Genggong, kau temui anakku Bagus Respati. Katakan bahwa perkawinannya
dengan Maduwani tak usah dirayakan besar-besaran di Keraton. Aku tidak setuju hal
itu. Maduwani hanya salah satu selir baginya. Aku tak ingin punya menantu dia.
"Jangan coba mengemukakan hal itu padaku lagi." Mahapatih berdecak dan
melambaikan tangannya, sebelum berlalu.
"Ini tugas yang berat," kata Arya Genggong perlahan setelah suasana sepi.
"Bagaimana aku harus menyampaikannya. Raden Mas Bagus Respati sama kerasnya
dengan ayahandanya."
"Adik Genggong, sebagai prajurit kita harus menjalankan perintah. Itulah yang
menyelamatkan nyawa kita hingga hari ini. Kalaupun kita mati karenanya, kematian
kita karena menjalankan perintah. Itulah harga terpenting dari diri kita sebagai
prajurit.
"Dengan sikap seperti ini, apakah Adik Genggong masih ragu?"
"Kakang Bangkong, kenapa kita juga yang harus melakukan ini? Sebagai
prajurit, dalam bayangan saya adalah berperang. Mengabdi kepada Keraton dengan
darah. Memberikan nyawa dan kehidupan untuk kemuliaan Keraton. Bukan menjadi
pesuruh urusan yang sama sekali tidak bersifat ksatria semacam ini."
"Prajurit tidak memilih tugas. Kalau sekarang ini saya ditugaskan menjaga
kaputren atau memandikan harimau, akan saya lakukan juga."
"Terima kasih atas petunjuk Kakang."
"Saya selalu mengulang pengertian itu. Karena saya pun merasa kurang enak
harus memata-matai Senamata Karmuka. Sesuatu yang menyakitkan hati saya sendiri.
Tapi saya akan menjalankan perintah itu. Apa pun juga perintah Mahapatih. Hanya
Baginda Raja yang berhak mengubah. Selama Baginda Raja tidak memerintahkan
yang lain, tak menjadi soal.
"Adik, kita masih ingin menikmati kebahagiaan, pangkat, dan harta yang kita
peroleh dari pekerjaan kita. Selama kita belum bosan hidup, kita masih akan terus
menjalankan perintah."
"Terima kasih banyak, Kakang."
"Silakan, Adik."
"Silakan, Kakang."
Arya Genggong menuju ke bagian samping dalem kepatihan. Jaraknya hanya
beberapa ratus meter saja. Langsung ia menghadap Bagus Respati dan mengutarakan
apa yang menjadi keputusan Mahapatih.
Bagi Arya Genggong, hubungannya dengan Bagus Respati boleh dikatakan
sangat akrab. Hubungan antara seorang paman dan keponakannya. Bukan hanya
dalam kata-kata. Sejak Respati belum lahir, Arya Genggong dan Arya Bangkong sudah
mengabdi kepada Mahapatih. Sejak kecil Respati sudah diasuh oleh Arya Genggong.
Hubungan mereka agak renggang sebentar ketika Respati masuk ke Ksatria Pingitan.
"Saya hanya menyampaikan dawuh Ramanda."
Respati menggebrak meja, hingga meja berukir dari kayu jati yang utuh itu
somplak bagian pinggirnya.
"Aku tak tahu apa maksud Ayah. Dilarang atau tidak, direstui atau dikutuk,
aku tetap akan mempersunting Miming Maduwani. Sampaikan ini kepada Ayah."
"Anakmas..."
"Paman Genggong, aku sudah dewasa. Aku bisa menentukan sendiri apa yang
seharusnya kulakukan. Dalam Sayembara Mantu, aku sama sekali tidak meminta
bantuan Ayah. Bahkan kepada Paman Genggong dan Paman Bangkong, aku tidak
minta bantuan. Dyah Muning Maduwani kurebut dengan tanganku sendiri.
"Sejak kecil aku tak pernah merepotkan Ayah. Aku hidup di sini dari hasil
karyaku sendiri. Tidak mengemis pada Ayah."
"Anakmas... Ayahanda bukannya melarang. Hanya Ayahanda tidak berkenan
bila Dyah Muning Maduwani dipermaisurikan."
"Omong kosong. Kalau yang ini hanya sebagai selir, kepada siapa lagi aku
mencari yang lebih? Paman Genggong tahu sendiri bahwa ketika diadakan Sayembara
Mantu, seluruh ksatria Keraton, para raden mas, para gusti mengadu nyawa. Dan aku,
biar bagaimana juga, keluar sebagai pemenangnya. Katakan, Paman, apakah itu tidak
pantas untuk dirayakan?
"Ini juga bukan sembarangan. Bukan asal perempuan. Dyah Muning
Maduwani adalah putri Kiai Sangga Langit. Kalau aku memperlakukan putrinya
dengan baik-baik, Kiai Sangga Langit tak akan curiga kepadaku. Justru sebaliknya.
Kepercayaannya berlipat. Saat itu ada kemungkinan aku diangkat menjadi muridnya.
Berhasil mempelajari ilmu silatnya.
"Dengan kemampuan ini saja, di seluruh Keraton ini siapa yang bisa
menandingiku?
"Aku tidak sembarangan, Paman. Aku cukup bisa berpikir dewasa dan jauh ke
depan, walau aku tidak memiliki penasihat Kakek Tua Waisesa Sagara. Aku tak perlu
dukun semacam itu.
"Apakah hal yang begini saja Ayah tidak bisa mengerti?"
"Anakmas..."
"Jangan mencoba menasihatiku, Paman. Sampaikan kepada Ayah. Katakan apa
yang kukatakan. Bahwa aku, Bagus Respati, tetap akan mempersunting Dyah Muning
Maduwani. Pesta tetap akan kurayakan di dalam ksatrianku sendiri.
"Kalau Paman merasa berat, aku akan menghadap Ayah sendiri. Tanyakan
kapan Ayah bersedia menerimaku.
"Paman bisa melihat sendiri. Sekarang ini rombongan Kiai Sangga Langit
sudah berada di sini. Kalau ia mendengar hal ini, kalau ia mengetahui perlakuan Ayah
kepadaku, di mana aku harus menegakkan kepala?
"Aku kan bukan anak kecil yang bisa diusir dan diperintahkan begitu saja.
Tidak, Paman. Sebagai seorang ksatria, sebagai seorang lelaki, aku tak mau
dipermalukan. Apa pun hukuman Ayah, aku akan menerima sebagai ksatria."
Tak urung berita mengenai pertentangan ayah dan anak ini menjalar. Dari
sekitar dalem kepatihan, berita ini menjalar ke luar. Nyai Demang melepaskan burung
merpati yang membawa rahasia ke markas Rawikara di Banyu Urip. Dari sana laporan
yang sama diteruskan ke Gelang-Gelang.
Berita ini disampaikan kepada Maharesi Ugrawe, yang hari itu juga
menghadap Raja Muda Gelang-Gelang.
"Susah. Susah. Saya tidak menghendaki perkembangan setajam ini. Meskipun
ini baik, akan tetapi bisa merusak rencana Sinuwun.
"Semua sudah berjalan sesuai dengan rencana, kenapa tiba-tiba harus terjadi
sifat keras kepala Respati? Susah, susah. Saya tidak memperhitungkan bahwa di
Keraton masih ada anak berani kepada ayahnya."
"Bagaimana kalau pesta perkawinan Respati diadakan di sini saja?"
Maharesi Ugrawe menghaturkan sembah.
"Sungguh Sinuwun sangat bijaksana. Dengan memindahkan perjamuan di sini,
sebagian besar ksatria Keraton akan berada di sini. Dan Keraton akan kosong. Saat
itulah kita melancarkan serangan terakhir. Kita bisa mengatur sedikit rencana, agar
bisa memancing senopati lebih banyak."
"Semua saya serahkan kepada Paman Guru."
"Beribu terima kasih atas kepercayaan Sinuwun. Ketika saya menyerap para
pendekar ke Perguruan Awan sebagai langkah pertama, ketika saya mengadakan
Sayembara Mantu untuk menyerap para ksatria dan bangsawan sebagai langkah
kedua, dan rencana terakhir menyerbu Keraton, saya sudah yakin bahwa Dewa Yang
Maha Benar berada di pihak kita.
"Tindakan dan perjuangan kita untuk mengembalikan takhta kepada yang
berhak direstui oleh Dewa Penguasa Jagat.
"Sinuwun, atas perkenan Paduka, saya akan mulai mengadakan persiapan.
Sekarang ini para pendekar yang tersisa berada dalam tawanan kita. Sekarang ini para
bangsawan dan ksatria sudah banyak yang terluka. Ketika sebagian terbesar datang
kemari untuk mengadakan pesta, kita harus menyerbu ke Keraton. Saat itu, sejarah
kembali kepada jalan yang sebenarnya.
"Masalah kecil hanyalah soal Kiai Sangga Langit."
"Menurut Paman Wiraraja, setelah peristiwa ini selesai, Kiai Sangga Langit
baru diselesaikan. Ia sendirian dan Paman Guru bisa menghadapinya."
"Akan segera saya laksanakan, Sinuwun."
Maharesi Ugrawe segera mengirimkan berita ke desa Banyu Urip. Burung
merpati yang sama terbang balik.
Hanya saja burung merpati ini sebelum sampai ke kandangnya di Banyu Urip
terjerat oleh Kawung Sen ketika ia tengah berlatih jurus-jurus Kartika Parwa.
Ketika menebarkan Jala sambil berloncatan itulah Kawung Sen menangkap
merpati.
"Kena!" teriaknya kegirangan. Sewaktu burung merpati itu diambil,
perhatiannya tertuju pada sesobek kain kecil di kaki. Kawung Sen memaki panjangpendek.
Percuma juga. Ia tak bisa membaca.
Akan tetapi walau tidak bisa membaca, Kawung Sen bukannya tidak mengerti
bahwa burung merpati itu pasti kiriman dari Maharesi Ugrawe. Dan ia teringat akan
Upasara—kakangnya! Budi baiknya dan keinginannya mengetahui rahasia tiga
gerakan yang dilancarkan Ugrawe. Kawung Sen menyalin sekenanya, sebisanya. Lalu
melepaskan burung itu kembali. Ia sendiri, dengan salinan tulisan itu langsung
berangkat ke Keraton Singasari, melewati hutan buatan.
Bagi Kawung Sen menuju ke Keraton tidak masalah. Perjalanan itu bisa
ditempuh dengan nyaman dan lancar. Akan tetapi dari segi persoalan pribadi
termasuk berat juga. Ia dikenal sebagai pemberontak Keraton. Pemberontak yang
pernah menyelusup masuk Keraton. Pernah menyerbu Keraton hingga berada dalam
dinding. Namanya sangat buruk di Keraton. Kini ia harus masuk ke sana kembali
dengan risiko dikenali. Bisa-bisa sebelum masuk sudah harus ditelikung.
Namun Kawung Sen sudah memperhitungkan hal ini. Hubungannya dengan
Upasara akrab secara lahir dan batin. Entah mengapa ia merasa sangat hormat sekali.<