SENOPATI PAMUNGKAS I

Episode 1
Tokoh-Tokoh Berdasarkan Urutan Penyebutan
Sanggrama Wijaya, atau Naraya Sanggrama Wijaya, atau Raden Wijaya. Nama yang dikenal ketika mengalahkan Raja Jayakatwang, yang secara culas menguasai Keraton
Singasari dan mendepak Baginda Raja Kertanegara. Bersama dengan prajurit dan senopati yang setia, Wijaya berhasil menggempur balik pasukan Tartar dari negeri Cina. Menurut catatan sejarah, dinobatkan menjadi Raja Majapahit pada tanggal 15 bulan Kartika atau sekitar bulan Oktober-November 1298. Nama kebesarannya adalah Kertarajasa Jayawardhana. Nama ini menunjukkan rasa hormat terhadap leluhurnya, raja-raja Singasari.
Upasara Wulung, salah seorang ksatria hasil godokan Ksatria Pingitan. Ksatria Pingitan adalah semacam perguruan yang berusaha melahirkan ksatria sejati yang dilatih ilmu surat dan ilmu silat, atau kanuragan. Para ksatria yang terpilih, dilatih sejak lahir di Ksatria Pingitan. Menurut cerita ini, Ksatria Pingitan didirikan atas gagasan Baginda Raja Sri Kertanegara Raja Singasari yang terakhir, dengan tujuan menciptakan manusia yang selain jago silat juga mempunyai watak luhur, yang kelak diharapkan menjadi senopati utama yang melanjutkan kebesaran Keraton dan melindungi penduduk. Selama dua puluh tahun Upasara Wulung berada dalam Ksatria Pingitan, dilatih oleh Ngabehi Pandu, sebelum terjun ke medan persilatan.
Ilmu dasarnya adalah Banteng Ketaton, atau Banteng Terluka. Akan tetapi mengalami
perubahan besar sejak mempelajari Bantala Parwa atau Kitab Bumi yang berisi Dua Belas Jurus Nujum Bintang serta Delapan Jurus Penolak Bumi. Bantala Parwa dianggap babon segala kitab kanuragan. Merupakan puncak berbagai sumber ilmu silat yang ada di tanah Jawa.
Gayatri, atau Permaisuri Rajapatni, salah satu dari empat putri Baginda Raja Sri Kertanegara yang dipermaisurikan oleh Raja Majapahit. Menjelang penyerbuan ke Daha untuk menaklukkan Jayakatwang.
Gayatri pergi bersama Upasara Wulung untuk mengetahui kekuatan lawan. Di sinilah bibit-bibit daya asmara tumbuh. Dan berpuncak saat Gayatri ditawan di atas benteng dan Upasara maju menggempur tanpa memedulikan keselamatan dirinya. Akan tetapi Menurut perhitungan dan ramalan para pendeta, Gayatri harus menikah dengan Sanggrama Wijaya, karena inilah pasangan Dewi Uma dan Dewa Siwa, yang kelak kemudian hari akan menurunkan raja terbesar. Hubungan masa lalu ini ternyata banyak membebani tapi sekaligus juga mewarnai perjalanan hidupnya.
Mpu Renteng, salah seorang senopati Majapahit yang berjuang sejak awal. Ilmu andalannya ialah Bujangga Andrawina atau Ular Naga Berpesta Pora, dengan menggunakan ujung kain yang tersampir di pundaknya.
Mpu Sora, salah seorang senopati Majapahit yang berjuang sejak awal. Ilmu andalannya ialah Bramara Bekasakan, atau Lebah Hantu. Tokoh yang tangguh ini banyak mendapat dukungan untuk menjabat sebagai mahapatih. Mahapatih ialah jabatan tertinggi di Keraton sesudah raja. Namun ia sendiri merasa tidak berhak.
Pangkat yang disandang adalah adipati, semacam penguasa daerah, di Dahanapura. Tempat Kala Gemet, putra mahkota, berada.
Mpu Elam, salah seorang senopati Majapahit, yang menjadi prajurit telik sandi. Prajurit yang terpilih dalam pasukan telik sandi, atau pasukan rahasia, adalah prajurit pilihan yang tugasnya mengumpulkan semua laporan yang menyangkut keamanan. Dalam jajaran pemerintahan ditangani secara langsung oleh Mahapatih.
Dyah Palasir, salah seorang senopati muda Majapahit. Anak buah langsung Senopati Nambi, seperti juga Dyah Singlar yang bertugas menjadi prajurit pribadi Raja.
Bersama Dyah Pamasi, mereka Merupakan senopati-senopati muda yang dipersiapkan untuk menjadi pengganti. Klikamuka, tokoh yang selalu menutupi wajahnya dengan klika atau kulit kayu. Kelihatannya mempunyai hubungan dekat dengan Keraton.
Toikromo, penduduk biasa yang ingin mengangkat Upasara Wulung sebagai menantu.
Gendhuk Tri, calon penari Keraton Singasari yang menjadi anak murid Mpu Raganata
sebentar, lalu dilatih Jagaddhita. Ilmu andalannya menggunakan selendang seperti penari. Karena satu dan lain hal, seluruh darahnya teraliri racun sangat ganas. Dalam usianya yang masih belasan tahun, dan hidup di tengah pergolakan jago silat, adatnya memang rada aneh. Diam-diam sangat mengagumi Upasara Wulung, dan mencemburui setiap wanita yang mendekati Upasara.
Jaghana, salah seorang murid Perguruan Awan, perguruan yang dianggap sumber segala ilmu kanuragan di tanah Jawa. Kepalanya gundul pelontos, pakaian yang dikenakan asal menutup tubuh. Sabar dan welas asih. Namanya bisa diartikan sebagai "pantat".
Ini cara merendahkan diri sebagai "bukan apa-apa, bukan siapa-siapa", salah satu ciri ajaran Perguruan Awan.
Eyang Sepuh, lebih dikenal sebagai nama seorang empu yang mahasakti yang mendiami Perguruan Awan. Dari Eyang Sepuh-lah terdengar gema ajaran Kitab Bumi dengan jurus yang ampuh, yaitu Tepukan Satu Tangan. Ajaran yang sejajar dengan ajaran Budha, baik di negeri Hindia, Cina, maupun Jepun. Atau bahkan sampai ke negeri Turkana. Eyang Sepuh pula yang membuat para jago seluruh penjuru jagat datang ke Trowulan, untuk membuktikan siapa yang mewarisi ilmu sejati. Namun sejak semula, Eyang Sepuh tak pernah menampakkan diri. Hanya beberapa orang, Gayatri dan Upasara, yang pernah mendengar suaranya. Penguasaan ilmu Eyang Sepuh telah sampai ke tingkat moksa, lenyap bersama raga dan jiwanya.
Adipati Lawe, atau Ranggalawe, salah seorang senopati Majapahit yang besar jasanya. Putra Aria Wiraraja ini nama kecilnya seperti juga ayahnya, Aria Adikara. Ranggalawe, nama pemberian Raden Sanggrama Wijaya yang mungkin menjadi petunjuk kepangkatannya ketika itu. Rangga adalah jabatan yang sama dengan camat sekarang ini. Kuda hitam dan umbul-umbul bergambar kuda, menunjukkan kegagahannya ketika menjadi adipati, semacam patih penguasa suatu wilayah, di daerah Tuban. Sebutan yang lain ialah patih amancanegara, yaitu semacam kepala di wilayah luar Keraton. Patih amancanegara menunjukkan penguasaan di luar wilayah kekuasaan Keraton. Yang terbagi di daerah barat, timur, utara, maupun selatan letak Keraton.
Galih Kaliki, tokoh yang asal-usul ilmu silat dan perguruannya tidak gampang dimengerti. Senjata andalannya sebuah tongkat galih asam, bagian tengah atau hati pohon asam. Baru kemudian diketahui bahwa gaya permainannya mirip dengan ksatria pedang panjang dari Jepun. Orangnya keras, jujur, apa adanya. Dan sepanjang hidupnya kesengsem atau tergila-gila pada Nyai Demang.
Senopati Anabrang, atau Mahisa Anabrang. Salah seorang senopati zaman Keraton Singasari yang menjelajah sampai ke tlatah Melayu dan baru kembali dua puluh tahun kemudian. Melanjutkan pengabdian kepada Raja Majapahit, dengan membawa dua putri ayu yang salah satunya dipermaisurikan Baginda Raja.
Senopati Nambi, atau Mpu Nambi, salah seorang senopati Majapahit, pimpinan prajurit telik sandi, atau pasukan rahasia. Diangkat sebagai mahapatih, suatu jabatan tertinggi sesudah raja. Mahapatih menjalankan roda pemerintahan sehari-hari. Secara langsung membawahkan para senopati, pemerintahan sehari-hari. Secara langsung membawahkan para senopati, adipati, ataupun patih. Pengangkatannya sebagai mahapatih banyak mengundang pertentangan. Terutama dari Adipati Lawe, yang mengharapkan dirinya atau Mpu Sora yang memangku jabatan tersebut.
Wilanda, salah seorang murid Perguruan Awan yang kemudian melepaskan diri dan menjadi prajurit andalan Keraton Singasari, dan kemudian kembali lagi ke Perguruan Awan. Budinya luhur, dan menjadi pendamping Upasara sejak kecil. Ilmunya yang sulit ditandingi ialah cara mengentengkan tubuh seperti capung hinggap di ujung daun.
Kiai Sumelang Gandring, atau Mpu Sumelang Gandring, turunan seorang ahli pembuat keris yang mengembara sampai ke ujung barat tanah Jawa. Di sana meneruskan ilmunya. Seluruh muridnya berjumlah dua belas, dan semua memakai sebutan Gandring. Istimewanya ialah kedua belas Gandring ini bisa menyusun barisan yang luwes dan ampuh. Di antaranya gaya serangan Jiwandana Jiwana, atau Tembang Kehidupan.
Nyai Demang, satu-satunya tokoh wanita yang sering dinilai hanya karena mengobral asmara, serta bentuk tubuhnya yang montok. Menurut cerita, dulu istri seorang demang, pangkat setingkat Camat. Banyak para ksatria menjadi korban senyuman dan bentuk tubuhnya. Akan tetapi di balik segala daya tarik lahiriahnya, Nyai Demang selama ini tak tertandingi dalam soal kemampuannya mempelajari bahasa mancanegara. Dialah yang menjadi penyalin bahasa sewaktu pasukan Tartar mendarat.
Halayudha, salah seorang senopati Majapahit yang tak terlalu menonjol dalam peperangan. Gerak-geriknya penuh teka-teki, karena hubungannya yang sangat dekat dengan Raja Majapahit, dan kemampuannya untuk taktik yang dijalankan sangat culas, bergetah, tapi berhasil. Ilmu silatnya termasuk sangat tinggi karena ia murid langsung Paman Sepuh, ditambah berbagai ilmu yang diperoleh sendiri.
Tribhuana, putri Baginda Raja Sri Kertanegara yang dipermaisurikan oleh Raden Wijaya. Sebagai putri Keraton, Tribhuana dikenal memiliki pengetahuan yang luas dan cara berbicara yang ulung dalam menangkap suasana, sehingga digelari Mahalalila. Sebagai permaisuri pertama, sebenarnya Tribhuana berhak melahirkan putra mahkota. Akan tetapi nyatanya tidak, karena Raja Majapahit memilih permaisuri yang lain.
Mahadewi, adik Tribhuana yang juga dipermaisuri oleh Raja. Mahadewi dikenal sebagai putri landasan daya asmara Baginda.
Jayendradewi, atau Permaisuri Pradnyaparamita, adik Mahadewi yang juga dipermasurikan Baginda. Tidak secantik adiknya “Gayatri”, namun kesetiaan dan keluhuran budinya menjadi contoh teladan.
Dara Jingga, putri boyongan dari Melayu yang dipersembahkan Senopati Anabrang kepada Baginda. Namun kemudian menikah dengan salah seorang bangsawan Keraton yang melanjutkan pemerintahan di tlatah Melayu.
Dara Petak, adik Dara Jingga, yang dipermaisurikan Baginda dengan gelar Permaisuri Indreswari. Disebut sebagai istri tinuheng pura atau permaisuri yang dituakan.
Menggeser kedudukan Tribhuana dan dengan demikian berarti anak keturunannya yang bakal mewarisi takhta Baginda Kertarajasa.
Dewa Maut, tadinya menjadi tokoh yang ganas, setiap kali berperang harus mencabut nyawa lawan karena daya asmara kepada gadis pujaannya bertepuk sebelah tangan.
Hidup menyendiri hanya dengan sesama kaum pria, di atas perahu yang selalu berada di Kali Brantas. Dalam salah satu pertarungan ilmunya lenyap, dan gayanya seperti kehilangan ingatan. Seluruh rambutnya putih. Gendhuk Tri dianggap "kekasihnya" yang hilang dan selalu dipanggil Tole, panggilan untuk anak lelaki. Dewa Maut hanya mau mengikuti perintah Gendhuk Tri.
Kama Kalacakra, salah seorang ksatria Jepun yang mahir memainkan pedang panjang.
Kama Kalandara, saudara seperguruan Kama Kalacakra. Dua nama yang berbeda akan tetapi artinya sama, yaitu "benih matahari". Bila bergabung, keduanya menjadi disegani, karena bisa memindah serangan sambil berputar kencang.
Kama Kangkam, guru Kama Kalacakra maupun Kama Kalandara. Datang ke tanah Jawa untuk mengadu kekuatan dengan Eyang Sepuh, memperebutkan gelar sebagai ksatria lelananging jagat, atau ksatria yang paling lelaki yang paling tak terkalahkan.
Senopati Semi, salah seorang senopati Majapahit. Salah seorang dari tujuh dharmaputra, putra istana yang mendapat perlakuan istimewa dari Baginda. Senopati lain yang termasuk dharmaputra ialah Senopati Kuti, Senopati Pangsa, Senopati Wedeng, Senopati Yuyu, Senopati Tanca, serta Senopati Banyak.
Kala Gemet, putra mahkota Keraton Majapahit, putra Permaisuri Indreswari. Sejak muda telah diangkat menjadi calon pewaris takhta dengan mengambil tempat latihan kekuasaan di Dahanapura. Ketakutan disaingi saudaranya, ia melarang saudara lain ibu menikah.
Mahisa Taruna, putra Mahisa Anabrang, yang terbakar oleh dendam sejak kematian ayahnya di tangan Senopati Sora. Merasa pengabdian ayahnya kepada Keraton disiasiakan, Mahisa Taruna mudah dipermainkan orang lain.
Aria Wiraraja, tokoh yang dihormati dari Sumenep, Madura, inilah yang pertama kali mengulurkan tangan kepada Sanggrama Wijaya. Taktik dan strateginya jitu. Dengan kematian Lawe, putra kesayangannya, Aria Wiraraja sangat kecewa. Kemudian meninggalkan Keraton dan berdiam di Lumajang, yang membawahkan wilayah Majapahit sebelah timur.
Naga Nareswara, atau Raja Segala Naga, merupakan utusan tertinggi dari Tartar, yang masih menyimpan dendam, karena pasukannya yang mampu menaklukkan dunia dikalahkan oleh senopati-senopati Majapahit. Akan tetapi kedatangannya yang terutama untuk bertarung dengan Eyang Sepuh, dalam memperebutkan gelar ksatria lelananging jagat. Untuk membuktikan siapa pewaris suci dari ajaran yang sama sumbernya.
Kiai Sambartaka, atau Kiai Kiamat, seorang pendeta dari tanah Hindia. Datang ke tanah Jawa untuk mengadu ilmu sejati dengan Kama Kangkam, Naga Nareswara, serta Eyang Sepuh. Agaknya, lima puluh tahun lalu, para tokoh itu sudah berjanji untuk mengadakan pertempuran habis-habisan.
Paman Sepuh Dodot Bintulu, atau menyebut dirinya Bik Suka Bintulu karena menyamakan dirinya sebagai pendeta peminta-minta. Dodot Bintulu adalah nama untuk menunjukkan kesederhanaan sebagai rakyat jelata. Panggilan Paman Sepuh karena tokoh sakti ini saudara seperguruan Eyang Sepuh maupun Mpu Raganata, & yang sesungguhnya menuliskan Kitab Bumi atau Bantala Parwa bagian pertama, yaitu yang berisi Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Wajahnya hancur karena dikhianati dua muridnya yang durhaka, yaitu Ugrawe dan Halayudha. Kemunculannya kembali ke
dalam dunia persilatan untuk memenuhi undangan yang disebarkan Eyang Sepuh
lima puluh tahun yang lalu. Di mana akan berkumpul seluruh jago silat, jawara dari
jawara seluruh jagat. Salah satu gubahan ilmunya yang terkenal, selain Banjir Bandang Segara Asat yang disempurnakan Ugrawe, adalah jurus-jurus Timinggila Kurda, atau jurus-jurus Ikan Gajah Murka. Ikan gajah adalah sebutan untuk ikan paus pada masa lalu.
Kiai Gajah Mahakrura, nama lain Paman Sepuh yang dipakai oleh Halayudha, yang menggambarkan gurunya yang dianggap sebagai gajah mahabengis.
Ratu Ayu Bawah Langit, menunjukkan sebutan bahwa di seluruh kolong langit ini, dialah yang paling ayu tanpa tanding. Nama sesungguhnya Ratu Ayu Azeri Baijani, datang dari negeri Turkana. Suatu negeri yang disebut sebagai tlatah tapel wates, karena merupakan tapal batas dengan wilayah yang tak dikenal. Ratu Ayu berkelana ke tanah Jawa karena mendengar bakal ada pertemuan seluruh jago silat. Bersama para senopatinya, Ratu Ayu ingin mencari jodoh, yaitu yang bisa mengalahkannya.
Karena ia percaya bahwa bersama lelaki yang mampu mengalahkannya, ia bisa
membebaskan negerinya dan jajahan Raja Tartar. Repotnya, justru dalam pengelanaannya, tak ada yang mampu mematahkan ilmunya, yaitu Tathagati, atau ilmu Budha Wanita, yang dianggap sesat karena menyamakan sang Budha dengan wanita. Gerak langkah ilmu ini disebut Tathagata Pratiwimba atau gerakan Arca Budha yang Kaku, serupa dengan cara bergerak boneka.
Sariq, senopati utama Ratu Ayu Bawah Langit. Sariq berarti kuning, karena ketika memainkan ilmunya seakan tubuhnya berwarna kuning seluruhnya. Senopati lainnya ialah Uighur, Karaim, Wide, Chagatai, dan Kazakh. Bersama-sama mereka mampu memainkan barisan yang disebut Lompat Turkana, atau 64 Langkah Jong. Jong bisa berarti payung, bisa berarti tertutup. Barisan Lompat Turkana ini disusun sedemikian rupa, sehingga langkah ke belakang tertutup. Mereka selalu bergerak maju ke depan,
ke samping kanan, atau ke samping kiri. Konon ini merupakan permainan yang lazim di negeri Turkana.
Gajah Biru, senopati yang setia kepada Mpu Sora, baik di saat jaya maupun ketika tersisih, seperti juga: Juru Demung, Maha Singanada, gagah perkasa, wajah & penampilannya sangat mirip dengan Upasara Wulung. Hanya rambutnya dibiarkan tergerai dan sikapnya jauh lebih urakan, tak mengenal tata krama. Senopati ini termasuk dalam rombongan yang dikirim oleh Baginda Raja Sri Kertanegara dari Keraton Singasari (itu sebabnya masih memakai nama Singa) ke tlatah Campa, ke Keraton Caban. Untuk mengantarkan Dyah Ayu Tapasi, putri Baginda Raja, untuk dipermaisurikan Raja Campa. Senjata utamanya adalah kantar, atau tombak pendek.
Ilmunya bersumber pada Kitab Bumi, akan tetapi cara mengatur pernapasannya disebut Nawawidha, atau Mengatur Tenaga Dalam Lipat Sembilan. Jurus-jurusnya dikenal sebagai Nawagraha, atau Siasat Sembilan Bintang, yang kesemuanya berintikan kepada angka sembilan.
Pendeta Syangka, atau Pendeta Sidateka, berasal dari tanah Syangka atau Sri Langka.
Merupakan pendeta kesayangan Putra Mahkota Bagus Kala Gemet, sehingga kelak kemudian hari sang putra mahkota ini memakai gelar kebesaran sebagai Sri Sundarapandya Adiswara. Sebutan pandya berarti mengakui kebesaran dinasti Pandya
yang memerintah di Sri Langka. Sejak tata pemerintahan Keraton Sriwijaya, pendetapendeta dari Syangka mencoba menanamkan pengaruhnya, akan tetapi selalu gagal.
Sekali ini Pendeta Sidateka yang menguasai Pukulan Dingin, berhasil. Maha Singa Marutma, salah seorang senopati yang dikirim oleh Baginda Raja Sri Kertanegara ke Keraton Mon, di delta Sungai Saluen di tlatah Burma. Keraton Mon menjadi rebutan kekuasaan antara Keraton Burma dan Keraton Sukothai, dari bangsa Thai. Maha Singa Marutma kembali ke tanah Jawa mencari bantuan untuk membebaskan Keraton Mon dari serbuan Burma maupun Sukothai.
Pangeran Jenang, nama yang dimudahkan untuk menyebutkan Pangeran Che Nam, yang terdesak oleh bangsa Vietnam. Karena Keraton Campa merupakan wilayah yang dikuasai Singasari, Pangeran Jenang minta bantuan ke tanah Jawa. Hanya saja ketika
ia datang, yang memerintah bukan lagi Baginda Raja Sri Kertanegara. Oleh Bagus Kala Gemet, ditarik sebagai salah seorang pendukungnya.
Kebo Berune, oleh Upasara dipanggil dengan sebutan hormat Eyang Kebo Berune, sedangkan Nyai Demang memanggil dengan Kakek Kebo Berune. Salah seorang tokoh sakti yang hidup sezaman dan seangkatan dengan Paman Sepuh, Eyang Sepuh, maupun Mpu Raganata. Bahkan sama-sama merumuskan lahirnya Kitab Bumi. Kebo Berune hanyalah nama sebutan karena tokoh ini mengembara sampai ke tlatah Berune atau Brunei, dan baru kembali untuk bertanding menguji ilmu siapa yang paling unggul. Suatu pertemuan setiap lima puluh tahun sekali. Sayangnya, karena
cara berlatih tenaga dalam yang keliru, Kebo Berune selalu dibayangi maut, dan tak bisa bergerak. Salah satu ajiannya yang sejajar dengan ilmu Weruh Sadurunging Winarah Mpu Raganata, sejajar dengan ajian Tepukan Satu Tangan Eyang Sepuh, sejajar dengan Banjir Bandang Segara Asat Paman Sepuh, adalah Pukulan Pu-Ni yang diciptakannya. Pu-Ni sekadar untuk mengingatkan bahwa ilmu itu diciptakan di tanah Pu-Ni atau Berune atau Brunei. Konon ilmu-ilmu itu diciptakan untuk menjadi penangkal ilmu Dua Belas Jurus Nujum Bintang.
Pulangsih, atau Putri Pulangsih dalam sebutan Nyai Demang. Menurut cerita yang dituturkan Kebo Berune, Pulangsih adalah gadis yang diperebutkan oleh Mpu Raganata, Eyang Sepuh, Paman Sepuh, maupun Kebo Berune. Tokoh wanita yang masih serba samar ini memilih Eyang Sepuh yang disebut Bejujag atau si kurang ajar, namun justru pada saat itu Eyang sepuh mencampakkannya.
Penolakan itulah yang mengilhami lahirnya bagian terakhir Kitab Bumi, yang disebut Kitab Penolak Bumi, atau Tumbal Bantala Parwa. Pulangsih pastilah sebutan di antara keempat ksatria muda pada zamannya, karena arti pulangsih sesungguhnya adalah bersatunya daya asmara secara jasmani.
Cebol Jinalaya, si cebol berkulit hitam. Mewakili pemuja yang tetap mengagungkan Sri Kertanegara, sehingga menganggap bahwa bila mereka mati, bisa terus menjadi abdi Baginda Raja. Jinalaya sendiri nama yang dipakai untuk menunjukkan tempat untuk mati.
Senopati Agung Brahma, bangsawan tua yang dihormati oleh kalangan Keraton, tetapi juga jauh dari kekuasaan karena lebih suka menyepi. Kepedihan hatinya tetap tak terhibur dengan menikahi Dyah Dara Jingga, yang dengan demikian ia adalah kakak ipar Baginda. Termasuk salah seorang senopati yang dikirimkan ke seberang oleh Baginda Raja Sri Kertanegara. Hanya satu yang menyebabkan ia keluar dari "persembunyiannya", yaitu terutama karena mendengar berita datangnya utusan dari Keraton Caban di Campa, di samping keruwetan yang menimpa Keraton.
KOKOK ayam jantan pagi itu tak terdengar. Cengkerik juga tak sempat memperdengarkan musik akhir. Bahkan tetesan embun belum sepenuhnya mengental, ketika tiga ekor kuda melintas dengan tergesa. Suasana desa yang tenteram, hutan rimbun yang sunyi berubah serentak dengan suara bising. Tapak kuda menderap makin cepat dan rapat menyatu dengan dengusan napas kuda kelelahan. Ketiga penunggang kuda itu pun kalau diperhatikan cermat, sudah basah kuyup oleh keringat.
Robeknya alam pagi yang damai, seakan menandai terjadinya suatu peristiwa. Peristiwa yang berbeda dari sebelumnya, setidaknya puluhan tahun terakhir ini.
Jalan setapak di desa tanpa, nama itu tak pernah terusik apa-apa. Bahkan sangat jarang sekali terdengar langkah kaki manusia. Binatang pun hanya sesekali, pada malam hari.
Akan tetapi sekali, kali ini, dipecahkan oleh rombongan tiga ekor kuda yang tergesa. Sampai di ujung jalan, mereka tak bisa sejajar lagi. Terpaksa berurutan karena jalan terhalang dahan, ranting, dan pohon tumbang. Dari bawah menguap bau tanah.
Angin sangat bersih. Menyeberangi sungai kecil yang airnya dangkal, ketiga penunggang kuda itu kemudian memacu lagi. Kalau saja di sepanjang jalan itu ada rumah, pastilah penghuninya terheran-heran. Suatu pemandangan aneh dan baru; tiga ekor kuda perkasa melintas tergesa. Bau tubuh mereka seakan asing untuk suasana sekitar yang sepenuhnya berbau daun dan tumbuh-tumbuhan.
"Benarkah ini jalannya?" tanya salah seorang penunggang kuda yang nampaknya paling muda. Namun dari nada bicaranya kentara sekali ia yang menjadi pemimpin.
Setidaknya yang paling dihormati. Bukan karena wajahnya yang bersih yang membedakannya dari kedua penunggang yang lain, juga bukan karena alis matanya yang tebal dengan sorot mata memerintah, akan tetapi terutama sekali dari sikap hormat yang diajak bicara.
"Benar, Raden Mas. Tak ada yang berubah sejak lima belas tahun lalu hamba lewat di
sini."
Yang menjawab adalah seorang lelaki bertubuh gempal , gagah dengan kumis tebal.
Sikapnya amat sangat menghormati. Dan sekelebatan saja ketahuan bahwa jawaban ini keluar dari orang yang mempunyai ilmu.
Setidaknya dari caranya menunggang kuda yang seakan sama sekali tak menambah berat tunggangannya. Dibanding dengan bentuk tubuhnya, gerakannya sangat enteng. Bahkan ketika meloncat turun untuk memeriksa rumput dan kemudian meloncat kembali ke punggung kuda, dengan satu gerakan tak terputus, menegaskan sesuatu yang disembunyikan dengan sikapnya yang merendah.
Sebaliknya, penunggang ketiga yang berwajah sangat pucat sedemikian pucatnya sehingga kalau saja ia berhenti di air sungai dan mandi, tak akan kelihatan lagi.
Menyatu dengan warna air. Kehadirannya hanya ditandai dengan nampak gedombrangan. Kain yang dikenakan longgar di sana-sini. Nampaknya pemakainya tak peduli sama sekali. Juga tidak pada suasana sekitar. Pandangannya lurus ke arah belukar. Seakan ia sudah memperhitungkan dua tindak yang akan dilalui. Atau seperti
tak memperhitungkan apa-apa. Hanya mereka yang lama berkecimpung dalam dunia silat bisa melihat sesuatu yang luar biasa dari penunggang ketiga ini. Dari cara mengatur napasnya kelihatan bahwa simpanan tenaga dalamnya luar biasa.
Dibandingkan dua penunggang kuda yang lain, si wajah pucat ini nampak tetap segar. Berkuda sepanjang malam tanpa henti sama sekali tak mempengaruhi tarikan dan embusan napasnya. Bahkan juga tidak membuat kulitnya berubah warna.
"Kalau begitu kita sudah sampai," kata penunggang kuda yang dipanggil Raden Mas.
"Tapi tak ada apa-apa. Hmmm, mengherankan juga. Nama besar Nirada Manggala selama ini hanya kabar murahan saja. Percuma memakai nama Perguruan Awan kalau di markasnya tak ada apa-apanya. Tidak juga sepotong batu untuk duduk, selembar daun untuk berteduh, dan secangkir teh untuk menyambut tetamu."
"Maaf, Raden Mas," suara si penunggang kuda kedua nampak sangat berhati-hati. Dari nadanya terasakan kekuatiran tetapi juga teguran. Kekuatiran akan suasana yang bisa mendadak berubah.
Sebagai orang yang pernah mengenal dekat Nirada Manggala, ia tahu persis bagaimana perguruan ini bukan perguruan yang bisa dikatai seenaknya.
Nama besarnya juga bukan nama kosong belaka. Kalau nama sekadar nama, mereka tak akan datang kemari. Nada teguran lembut, karena walaupun, memegang jabatan yang penting, ia tak bisa begitu saja melarang atau mempengaruhi junjungan yang dipanggil Raden Mas.
"...memang beginilah hidup mereka."
"Seharusnya mereka tahu kita kemari. Bukan begitu, Pamanda Pandu ?"
Si muka pucat yang ditanyai sama sekali tak bereaksi.
"Ini sudah keterlaluan. Saya bisa memerintahkan agar hutan ini dibakar habis!"
Mendadak saja, sebelum ucapannya selesai, ia merasa ada yang menepuk pundaknya. Dan sebelum bisa mengerti apa yang terjadi, kuda yang ditungganginya sempoyongan.
Dengan sigap ia meloncat turun, dan langsung pasang kuda-kuda. Semuanya terjadinya dalam sekejap. Penunggang kuda yang berwajah pucat yang dipanggil Pamanda Pandu sudah turun di samping kudanya. Sementara si kumis juga sudah meloncat enteng. Begitu kakinya menginjak rumput, punggungnya menekuk dengan
sikap hormat.
"Kami utusan dan Keraton ingin bertemu dengan Eyang Sepuh yang terhormat. Nama saya Wilanda, bekas murid Nirada juga. Saya datang bersama Raden Mas Upasara Wulung, dengan Ngabehi Pandu. Kami datang menghaturkan sembah bakti kepada Eyang Sepuh dan membawa berita dari Keraton."
Upasara serasa tak percaya pada apa yang masuk di telinga. Ini hebat! Wilanda bukan prajurit sembarangan. Ia satu-satunya yang terpilih menyertai ke Perguruan Nirada ini di antara sekian puluh pemimpin pasukan yang lain. Ilmunya juga di atas rata-rata yang terpilih. Bahkan dalam kecepatan bergerak rasanya hanya satu-dua yang bisa menandinginya. Nama Wilanda adalah gelar kehormatan karena gerak meringankan tubuhnya bagai seekor capung. Yang sanggup hinggap di tangkai tanpa menggoyang ranting. Namanya itu sendiri adalah anugerah, dari wilala yang artinya capung. Maka cukup membuat Upasara agak bengong melihat Wilanda merendahkan diri.
Dalam sekejap saja Wilanda sudah menjelaskan semua. Bahkan secara langsung sudah menyebut-nyebut sebagai utusan resmi dan Keraton. Meskipun Upasara baru menginjak usia dua belas tahun, pengalamannya boleh dikatakan segudang. Ia mendengar nama Perguruan Nirada yang banyak disebut-sebut. Namun itu semua bukan berarti harus menghormat dengan cara seperti itu. Dan sebenarnya yang lebih mengherankan lagi ialah Ngabehi Pandu pun turut turun dari kudanya.
Selama ini Upasara mengenal pamannya sebagai seorang tokoh yang bergeming oleh gempa, tak terusik oleh badai. Di Keraton, tokoh ini boleh dikata tak peduli apa-apa.
Bahkan upacara sowan kepada Baginda Raja pun tak dilakukan. Ia lebih suka menyembunyikan diri di gua pertapaannya, dan secara terus-menerus berlatih ilmunya. Paling sebentar hanya keluar dan ruangan semadinya seratus hari sekali. Itu pun sekadar menemui Upasara untuk melihatnya berlatih silat. Upasara boleh dikatakan beruntung karena ia satu-satunya yang diajari secara langsung. Ia satu-satunya murid yang menerima ajaran dari Ngabehi Pandu. Ini saja sebenarnya sudah membuat Upasara bisa malang-melintang di Keraton. Ia merasa sedikit saja yang bisa menandinginya. Dan puncak kekagumannya memang pada Ngabehi Pandu, yang menurut perhitungannya orang yang paling sakti. kalau tokoh yang dikagumi sampai perlu turun dan kudanya, itu pasti bukan basa-basi belaka. Ngabehi Pandu bukan orang yang bisa dan biasa berpura-pura.
Ataukah mereka berdua juga "dipaksa" turun dari punggung kuda,
Seperti dirinya? Tak mungkin hal itu terjadi.
Upasara melihat secara lebih jelas. Kekuatannya dipersiapkan untuk satu serangan mendadak-baik untuk menyerang atau bertahan. Kuda-kudanya kuat mantap.
Lebih heran lagi, karena yang keluar dari semak-semak adalah seorang lelaki gundul yang praktis telanjang. Hanya kain gombal sekenanya menutup di bagian bawah
selebihnya tak ada apa-apanya. Tidak juga sehelai rambut. Yang membuat Upasara gusar adalah kenyataan bahwa lelaki itu seperti tidak melirik ke arah mereka.
Bahwa di Perguruan Awan banyak hal yang ganjil, itu Sudah lama didengar. Tapi kenyataannya ternyata lebih ganjil lagi. Tak ada bangunan rumah, tak ada sambutan.
Hanya tetumbuhan liar dan seorang lelaki setengah tua yang lebih mirip binatang hutan. Upasara merasa tak bisa menahan sabarnya.
"Bapak Gundul, saya ingin bertemu dengan pemimpin Nirada Manggala. Katakan kepadanya untuk menjemput saya. Katakan Raden Mas Upasara Wulung bersama Pamanda Ngabehi Pandu dan Wilanda sendiri yang datang.
"Paman Gundul, kau dengar apa yang saya katakan?"
"Saya...," jawab si gundul sambil menunduk hormat.
Upasara melihat Wilanda yang masih bersila seperti mengisyaratkan agar jangan kurang ajar. Tapi siapa yang peduli? Untuk apa menghormat lelaki setengah tua yang berpakaian saja tak sempurna?
"Paman Gundul, kau dengar?"
"Saya...."
Tapi selain jawaban yang diberikan, paman gundul itu tetap bergeming.
"Rupanya di perguruan ini banyak yang angkuh dan sok. Saya sudah bicara baik-baik, tapi kalian memperlakukan seperti ini. Jangan bilang anak muda berlaku kurang ajar."
Upasara menggeser kakinya.
"Saya..."
Seumur hidup, belum pernah Upasara mendapat perlakuan hina seperti ini. Di Keraton, semua menuruti keinginannya. Apa yang diharapkan bisa terlaksana. Tak ada yang membandel seperti ini.
"Maaf, Kisanak...," suara Wilanda tetap ramah. "Kami sudah mengenalkan diri. Bolehkah kami mengetahui nama besar Kisanak?"
"Saya... Saya bernama Jaghana, Kisanak."
Upasara tak bisa menahan diri lagi. Ini jelas cara mempermainkan yang keterlaluan. Bagaimana mungkin pertanyaan yang baik-baik, dengan rasa hormat, dijawab seenaknya ? Bagaimana mungkin seorang bernama Jaghana yang artinya pantat?
Tanpa memedulikan lirikan mata menahan, Upasara langsung menerjang. Jaraknya masih sekitar dua tombak, akan tetap hanya dengan sekali menginjak tanah, tubuhnya sudah melayang maju ke depan Persis di depan Jaghana yang gundul, dan langsung menyerang. Dua tangan, kiri dan kanan, maju secara serentak seperti menjepit tubuh Jaghana. Ini adalah gerakan dasar dari serangan banteng. Ilmu yang diandalkan selama ini. Kedua tangannya berfungsi sebagai pengganti tanduk. Kalau saja Jaghana
bisa dijepit, kepalanya bisa retak, sebelum tubuhnya berputar dan melayang ke atas.
Kunci utama dari serangan kilat ini adalah pada kekuatan besar yang mengunci gerak lawan, dan di samping itu juga tak memberi kesempatan lawan untuk menggagalkannya. Karena Upasara yang berarti banteng sangat kuat kuda-kudanya.
Persis seperti ketiga banteng menyerbu harimau. Ilmu ini boleh dikatakan ciptaan Ngabehi Pandu sendiri, yang disesuaikan dengan sifat-sifat Upasara yang masih berdarah panas bertenaga besar seperti banteng. Selama ini selalu terbukti bahwa jurus pembukaannya selalu membuat lawannya repot. Upasara sudah memperhitungkan.
Andai terpaksa menghindar, Jaghana harus mundur, paling sedikit dua tindak. Itu juga akan menempatkan Jaghana pada posisi yang sulit, karena dua tangan Upasara akan menyusul langsung. Dan kali ini sasarannya adalah pusar. Bagai tanduk sepasang yang menemukan sasaran empuk. Pukulan ini merupakan rangkaian. Hanya beberapa jago saja yang mampu menghindar dari rangkaian pukulan berantai ini, itu pun akan mempersulit posisinya kemudian.
Dalam beberapa latihan, hanya Wilanda yang secara berturut-turut mampu menghindar. Terutama karena ilmu meringankan tubuh yang satu kelas di atasnya.
Itu pun harus mengorbankan kedudukan kuda-kuda untuk tetap berada dalam sikap bertahan.
Ngabehi Pandu menciptakan jurus yang kelihatannya sederhana ini bukan sekadar bangun dari tidur. Walau kelihatannya sederhana, perubahannya cukup rumit.
Sederhana karena gerakannya seperti kaku. Lurus menerjang dengan dua tangan sekaligus. Namun sebenarnya ini juga merupakan inti untuk menjajal kekuatan lawan.
Seperti diketahui, untuk menghadapi jurus ini hanya tersedia dua pilihan.
Menghindar mundur atau langsung menggempur. Ini berarti secara langsung beradu tenaga. Saat itu juga, si penyerang sudah bisa memperkirakan kekuatan lawan. Karena saat beradu, dua tangan yang menjotos berputar arahnya ke bawah. Cara mengatur kekuatan lawan inilah yang disebut serangan efektif. Menerjang sekaligus menakar kekuatan lawan. Dengan mengetahui secara persis kekuatan lawan, si penyerang bisa mengatur siasat.
Ngabehi Pandu menciptakan rangkaian jurus ini terutama sekali untuk menerjang lawan yang belum dikenal seberapa kekuatannya. Namun dilihat dari kuda-kudanya, jurus ini tidak sekadar menjajal untuk coba-coba, akan tetapi sudah sekaligus menggilas.
Seekor kerbau liar pernah terjungkir dan terbanting kasar di tanah ketika Upasara mempraktekkannya.
Apakah Jaghana akan terbanting seperti seekor kerbau? Itulah yang akan terjadi karena Jaghana tidak menggempur langsung dan tidak menghindar. Seakan membiarkan saja. Jaghana seperti membiarkan dirinya diserang! Upasara serta-merta mengurangi kekuatan tenaganya. Ia ingin sekadar memberi pelajaran kepada lawan dan bukan ingin menghancurkan.
Akan tetap justru di saat seperti itu, dalam sepersekian detik yang bersamaan, Upasara
merasa kakinya bergetar. Seperti kesemutan. Aneh. Padahal Jaghana hanya menggeser sedikit posisi kakinya. Ini soal tenaga dalam. Dalam sekelebatan saja Jaghana sudah bisa membaca gerak dan inti serangan. Justru dengan sekali gebrak, Jaghana membalas pada posisinya yang paling kuat. Di arah kuda-kuda. Upasara berpikir cepat.
Membatalkan serangan utama, dan balik menggeser kaki kiri untuk mengurangi tekanan lawan. Sekaligus dengan itu tangan kirinya ditarik mundur untuk menampik lawan. Tanpa menggeser tubuh, Upasara kini melancarkan serangan berikut.
Tubuhnya sedikit meloncat, dengan cara menjatuhkan diri, Upasara ingin mengetok punggung lawan dari belakang. Tubuhnya melengkung bagai plastik yang bisa berubah menjadi lebih panjang. Lawan akan mengira ia masih bertahan di tempatnya, tetapi secepat kilat ia menyerang arah belakang.
Inilah salah satu kehebatan jurus Ngabehi Pandu. Dua jenis serangan yang mempunyai sifat berbeda, bisa dilakukan secara beruntun. Meskipun sebenarnya gerakan ini pada awalnya mengandalkan kekerasan, tapi di saat yang bersamaan bisa diubah menjadi luwes. Untuk mempraktekkan gerak semacam ini sebenarnya tak diperlukan latihan yang panjang. Kekuatan utamanya justru terletak pada mengatur dan menyalurkan tenaga sesuai yang dibutuhkan.
Jaghana seperti mengeluarkan seruan pujian dari hidungnya. Lagi-lagi, seperti pada mulanya, ia seperti membiarkan punggungnya dipatuk dari belakang. Caranya menghadapi justru dengan meneruskan serangan kakinya ke depan. Sehingga tubuhnya seperti jatuh.