gadispantai
judul puisi Hanya Untukku
http://www.bluefame.com/index.php?showtopic=246340
QUOTE
Sudah sejak lama kesedihan mengajakku berbincang
Tentang entah dan mengapa, tentang kemirisan hati
Kutatap matanya dan kuajak dia masuk ke rumah jiwaku
Hanya karena tidak ingin mengecewakan hatinya
Kusajikan air minum dalam gelas yang kurajut dari keputusasaan
Kutatap harapan yang dijinjingnya, ia sedang tersenyum.
Kutanyakan asalnya, dan apa tujuan ia menemuiku
Aku berasal darimu, jawabnya, lalu kupergoki diriku terheran-heran
Aku ingin bersahabat denganmu, (jari-jarinya mengelus badan gelas)
Aku tak ingin bersahabat dengan siapa pun sekarang!
Lalu mengapa kau mengundangku? (oh Tuhan, senyum itu semakin mengembang)
Siapa yang mengundangmu? Aku tak mengundangmu!
Aku takut kehilangan dirimu, balasnya (ia melipat tangannya)
Aku sudah kehilangan diriku sendiri, itu sudah lama sekali (kurendahkan suaraku)
Aku ingin menolongmu, aku ingin merapihkan jubahmu yang kusut
Aku menolak tawaranmu, bukan karena aku bebal namun aku tahu itu semua tak berguna
Jika kau menolakku, kau pun menolak dirimu sendiri (sanggupkah kau melihat keangkuhannya?)
Mengapa kau sakiti aku dengan mengatakan dirimu adalah diriku?
Karena memang demikian adanya (seperti halnya seorang pria ditinggal kekasihnya)
Jelas, karena kau pandai mempermainkan kata, jawabku (apa itu "main", dan apa itu "kata"?)
Itu semua kupelajari dari dirimu (dari tangismu dan dari setiap keluhanmu)
Aku tak pernah mengajarimu (aku hanya membaca masa laluku)
Karena kau tak menyadarinya, kau berhenti mengada (nyaris tanpa sadar sepanjang hidupmu)
Aku sadar maka aku ada? (bukankah ini terdengar seperti kalimat Descartes yang konyol itu?)
Aku menyelinap dalam hidupku, aku meringkuk dalam "tak pernah ada"
Aku mengunci pintu dan jendela, tak kubiarkan sepotong bunyi menggangguku
Aku menarik selimut, menutup rapat diriku, memejamkan mata dan memikirkan kematian
Oh kematian, tunjukkan dirimu, sayatlah nadiku, puaskan dahagamu dengan harum darahku
Oh kehidupan, mana taringmu? mana syair-syairmu yang indah itu? (aku muak!)
Oh Iblis, di mana kau menyimpan kuasamu? (manusia itu memang penipu)
Melihat itu, Matahari-Yang-Terhormat hanya tersenyum bahagia
Ia telah pergi, kesedihan itu telah kuusir (ia meninggalkan jejak senyumnya)
Tinggal diriku di sini, menatap kosong gelas yang kurajut sendiri, hanya untukku.
Tentang entah dan mengapa, tentang kemirisan hati
Kutatap matanya dan kuajak dia masuk ke rumah jiwaku
Hanya karena tidak ingin mengecewakan hatinya
Kusajikan air minum dalam gelas yang kurajut dari keputusasaan
Kutatap harapan yang dijinjingnya, ia sedang tersenyum.
Kutanyakan asalnya, dan apa tujuan ia menemuiku
Aku berasal darimu, jawabnya, lalu kupergoki diriku terheran-heran
Aku ingin bersahabat denganmu, (jari-jarinya mengelus badan gelas)
Aku tak ingin bersahabat dengan siapa pun sekarang!
Lalu mengapa kau mengundangku? (oh Tuhan, senyum itu semakin mengembang)
Siapa yang mengundangmu? Aku tak mengundangmu!
Aku takut kehilangan dirimu, balasnya (ia melipat tangannya)
Aku sudah kehilangan diriku sendiri, itu sudah lama sekali (kurendahkan suaraku)
Aku ingin menolongmu, aku ingin merapihkan jubahmu yang kusut
Aku menolak tawaranmu, bukan karena aku bebal namun aku tahu itu semua tak berguna
Jika kau menolakku, kau pun menolak dirimu sendiri (sanggupkah kau melihat keangkuhannya?)
Mengapa kau sakiti aku dengan mengatakan dirimu adalah diriku?
Karena memang demikian adanya (seperti halnya seorang pria ditinggal kekasihnya)
Jelas, karena kau pandai mempermainkan kata, jawabku (apa itu "main", dan apa itu "kata"?)
Itu semua kupelajari dari dirimu (dari tangismu dan dari setiap keluhanmu)
Aku tak pernah mengajarimu (aku hanya membaca masa laluku)
Karena kau tak menyadarinya, kau berhenti mengada (nyaris tanpa sadar sepanjang hidupmu)
Aku sadar maka aku ada? (bukankah ini terdengar seperti kalimat Descartes yang konyol itu?)
Aku menyelinap dalam hidupku, aku meringkuk dalam "tak pernah ada"
Aku mengunci pintu dan jendela, tak kubiarkan sepotong bunyi menggangguku
Aku menarik selimut, menutup rapat diriku, memejamkan mata dan memikirkan kematian
Oh kematian, tunjukkan dirimu, sayatlah nadiku, puaskan dahagamu dengan harum darahku
Oh kehidupan, mana taringmu? mana syair-syairmu yang indah itu? (aku muak!)
Oh Iblis, di mana kau menyimpan kuasamu? (manusia itu memang penipu)
Melihat itu, Matahari-Yang-Terhormat hanya tersenyum bahagia
Ia telah pergi, kesedihan itu telah kuusir (ia meninggalkan jejak senyumnya)
Tinggal diriku di sini, menatap kosong gelas yang kurajut sendiri, hanya untukku.
Congrats, Thanks buat kontribusinya di poetry room.
Ditunggu karya yang lain, Selamat berkarya!