Another Story Of Love
Originally written by Aphroditee
Originally written by Aphroditee
Pertamanya aku ngga terlalu memperhatikan ketika kapan pun kami ada momen hanya berdua, dia selalu memeluk dan memberiku perhatian khusus.
kali ini sudah keterlaluan,malam itu aku di dapur untuk membuat minuman dan makanan untuk sebuah pesta kecil di rumahku. Dan tentu saja dia menawarkan bantuannya. Tetapi dia memelukku dari belakang dan menciumiku penuh gairah.
Terang saja aku kaget dan marah, kubalikan badanku dan kudorong dia.
"Apa yang kau lakukan?" Kataku
Tak serta merta dia menjawab, hanya tatap matanya yang tajam dalam sejenak kebisuan.
"Maafkan aku, Wi..." Jawabnya kemudian "Aku tak lagi bisa menahan hasrat ini".
"Udah ngga waras kau ini ya?"
"Aku...", Perkataannya terpotong oleh kemunculan anakku di dapur.
"Mama, aku mau eskrim..."Pintanya manja.
"Iya sayang, yuk kita makannya di depan aja ya".
Aku bersyukur anakku datang. Biasanya aku tak mengijinkan dia makan eskrim malam-malam begini, tap untuk kali ini aku buat pengecualian.
Di ruang depan, suami dan beberapa orang tetangga kami sedang ngobrol dan sebentar-sebentar tertawa. Segera aku bergabung dengan mereka dan bersikap mesra terhadap suamiku. Dari sudut mata kulihat Alex baru keluar dari dapur, aku mengacuhkannya sampai pesta berakhir.
Sialan... Malamnya aku tak bisa tidur, walau kutau kalau aku sangat letih tetapi pikiranku tetap tertuju pada kejadian di dapur tadi.
Hari-hari setelahnya aku tetap mengacuhkan Alex, bahkan ketika kami bertemu di mini market depan kompleks. Aku segera menyudahi belanja dan pulang ke rumah.
Suatu ketika suamiku pergi untuk keperluan dinas selama beberapa hari di luar kota, Alex mendatangiku di rumah.
Wajahku tak lagi bersahabat melihat dia. Kutolak dia untuk masuk ke rumah. Alex tetap memaksa sehingga akhirnya kubiarkan dia masuk.
"Apa maumu sekarang?" Tanyaku ketus
"Wi, mengenai kejadian kemaren itu aku sekali lagi minta maaf, hanya saja..." Dia menghentikan kalimat itu, kulihat ada keraguan di matanya.
"Hanya apa?" Sambungku cepat "Kau hanya mengahbiskan waktuku saja, Lex"
"Aku hanya ingin kau tau, Wi, perasaanku yang sebenarnya. Sejak dari kita SMA dulu kau telah mencuri hatiku, kau telah menguasai mimpi-mimpiku dan kau memenuhi setiap fantasi erotisku...Hampir tiap ma..."
"Cukup, Lex, aku udah muak mendengarnya"
"Tapi,Wi, aku hanya ingin kau membantuku dengan.."
"Tak ada yang bisa kulakukan untukmu,Lex. Ya Tuhan, apa tak kau lihat, aku punya anak dan suami yang kusayangi dan merekapun menyayangiku. Hidupku sempurna...Dan aku tak mau kau merusaknya begitu saja" Kalimat-kalimat itu begitu saja meluncur dari mulutku.
"Saranku, Lex... Kau pergi saja cari psikiater buat obati jiwamu itu".
Tiba-tiba pandangan Alex berubah, dia mulai mendekatiku kemudian memeluk dan menciumiku dengan kasar. Tak kusangka salah satu tangannya menyingkap rok-ku dan jari-jarinya masuk di balik celana dalamku.
Sekuat tenaga ku lepaskan diri dari cengkramannya. Kucakar wajahnya dan kutampar berkali-kali. Setelah terlepas dari pelukannya, kutendang perutnya sampai dia jatuh terhuyung-huyung.
Aku kehilangan kendali. Kulemparkan buku-buku di rak dekatku ke arahnya sambil berteriak-teriak.
"Setan kau Lex!! Kau gilaa... Aku benci kau... Sekarang pergi dari rumahku, pergiiii!!!"
Wajahnya berubah menjadi sayu. Sambil berdiri, dia memegangi luka bekas cakaran di wajahnya. Perlahan-lahan dia menjauh dariku. Sebelum menghilang di balik pintu, dia berkata "Aku akan tetap mencintaimu, Wi...".
Kurasakan sekelilingku berputar sangat cepat, aku terjatuh. Untuk beberapa saat aku tak sadarkan diri.
Begitu siuman, aku telpon suami dan kuceritakan apa yang terjadi. Suamiku langsung pulang hari itu juga dengan mengambil penerbangan pertama ke kotaku.
Besoknya kutau dari suami bahwa Alex sudah meghilang dari rumahnya dan juga dari lingkungan kami. Tapi bukan berarti aku bisa merasa tenang, karena tepat seminggu semenjak Alex menghilang, aku sering mendapatkan teror.
Dari mulai dering telepon yang ketika diangkat tak ada jawaban dari ujung sana melainkan suara alunan musik saja. Kemudian kiriman buket-buket bunga tanpa nama pengirim, sampai kartu ucapan 'Happy Valentine' di bulan Mei!!
Akhirnya kami (aku, anak dan suami) memutuskan untuk pindah rumah ke daerah pinggiran kota. Hanya keluarga dn beberapa sahabat yang tau tentang kepindahan kami dan mereka sepakat tutup mulut.
Rumah baru kami memang tak sebesar rumah yang di kota tetapi setidaknya aku mulai merasakan ketenangan dan kedamaian di sini setelah beberapa bulan kepindahanku.
Di suatu pagi ketika aku sedang duduk-duduk sendiri di beranda rumah, entah kenapa aku teringat lagi padanya.
Namanya adalah Alexandra Melanie Wiyono. Teman-teman yang lain memanggilnya "Sandra" tapi hanya aku yang memberinya panggilan "Alex", karena dia adalah yang paling dekat denganku. Kami adalah gank dengan personil lima orang perempuan semasa SMA dulu.
Peristiwa-peristiwa masa lalu menyeruak kembali di ingatanku. Aku ingat ketika kami berlima menginap di suatu Villa, Alex memintaku untuk mandi bersamanya. Alasannya, dia takut berada di kamar mandi sendirian, aku pun setuju.
Kulihat dia menelan ludah saat melihatku telanjang bulat dan mulai menyabuni tubuhku.
Malamnya aku kebagian tidur seranjang dengan Alex, kemudian kurasakan tangannya meraba-raba payudaraku. Ketika kutanya kenapa, Alex dengan enteng menjawab "Aku hanya ingin tau payudara siapa yang paling bagus" Setelah itu kami hanya tertawa karena kusangka itu sebagai candaan saja.
...Oh naif sekali aku ini...
Lamunanku buyar oleh datangnya tukang pos mengantarkan surat buatku. Perasaanku kembali kalut karena surat itu tanpa nama pengirim. Dengan penuh cemas dan keraguan, kubuka amplop surat itu perlahan-lahan. Tanganku bergetar ketika kubaca isi surat itu yang hanya berisi beberapa kalimat pendek..
There's nothing they can do to keep you away from me
I love you too much, and I don't want to lose you no matter how much you threaten me.
But you'll see, that in time you will love me a little... And that's enough for me.
I love you too much, and I don't want to lose you no matter how much you threaten me.
But you'll see, that in time you will love me a little... And that's enough for me.
............................................................................................
Inspired by: Gabriella Parca (1963) -The Italian Women Confess-
Taken from "The Sex Box", Woman Edition.