Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Perempuan Penunggu Malam
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
Cassa
Jalan yang kulalui tak terlalu berbeda dengan beberapa belas tahun yang lalu. Masih berbatu, debu kemarau, dan pepohonan sepanjang jalan desa yang layu. Sebuah tanjakan yang cukup terjal membuat aku iba pada kuda tua yang menarik delman yang kunaiki. Maka bergegas aku turun, untuk mengurangi beban. Kusir delman nampak gusar dengan kudanya, hingga ia melecutnya lebih keras. Kuda itu nampak berupaya keras untuk menapak kaki dan akhirnya tiba sampai tanjakan. Aku bergegas untuk naik delman itu kembali. Namun mataku tertuju pada sebuah rumah di dekat tanjakan. Sebuah rumah yang menyisakan kenangan.

Ringkik kuda menampar lamunanku. Aku naik kembali ke atas delman itu. Hampir saja aku mengajukan pertanyaan pada kusir delman, namun aku teringat ia bisu. Dan aku satu-satunya penumpang dalam delmannya. Aku terpaksa memendam rasa ingin tahuku. Dan memandang rumah itu hingga sampai ke tikungan. Sekelebat aku melihat perempuan di bingkai jendela. Masihkah ia tinggal di rumah itu?

Gerbang desa menyambutku. Aku seperti memasuki wilayah bertuan setelah melalui jalanan yang hanya ditemani pepohonan. Dari jarak jauh telah terlihat bangunan besar dengan arsitektur Jawa. Kurasa rumah ini terbesar di desa, milik pamanku seorang kepala desa. Regol yang nampak kokoh terbuka lebar, saat delman memasuki halaman. Di pendopo nampak paman dan bibi telah menanti. Selain beberapa orang yang kuduga tentu adik sepupuku.

"Gunawan...gagah kau sekarang," ucap paman sambil memelukku.

Kehangatan yang sama sekali tidak kusangka karena belasan tahun kami tidak pernah bertemu. Bibi-ku masih seperti dalam ingatanku. Perempuan Jawa yang sangat tahu akan posisinya. Ia berangsur maju saat paman telah selesai melepas rindu, dan aku langsung mencium tangannya.

"Capek ya, Gun, mobilnya sedang rusak, hingga terpaksa bibi menyuruh pak Atmo yang jemput kamu."

Bibi memberi isyarat pada ketiga anaknya agar mendekat. Mereka nampak manis dan baik-baik, Wajah mereka sungguh khas wajah orang Jawa Tengah. Perpaduan wajah paman dan bibi. Lantas bibi memperkenalkan mereka satu persatu. Rati yang besar, Rendro, dan Rukmi. Mereka hampir sebaya berusia belasan tahun. Mungkin Rati telah menginjak usia dua puluh. Menurut ibunya, ia kuliah di fakultas pertanian di Yogyakarta. Aku melihat semburat di wajahnya, saat ibunya nampak setengah memujinya.

"Ayo masuk, ngaso dulu. Aku ingin tahu kabar bapak ibumu," ucap paman sambil menepuk pundakku.

***

Malamnya, kami duduk di pendopo. Pertanyaan paman dan bibi tentang ayah dan ibu aku jawab sebisaku. Maksudku, aku tak dapat menjelaskannya secara panjang lebar hingga detil. Bagaimana mungkin, kami terpisah selama belasan tahun, sangat banyak yang terjadi. Dalam keluargaku, dan aku sendiri. Demikian juga dengan keluarga paman tentunya. Namun sesungguhnya aku tak merasa asing, karena bagaimanapun aku pernah tinggal di desa ini. Sebelum ayahku mengajak keluarganya tinggal berganti-ganti kota karena dinas.

Namun entah mengapa bayang perempuan di jendela itu memanggil-manggilku lebih dari yang semestinya. Saat bibi dan adik-adik pamit untuk tidur, aku beranikan diri bertanya tentang perempuan itu. Namun entah mengapa paman tidak menggubrisnya. Pertanyaanku selalu dapat ditangkisnya dengan pertanyaan tentang diriku. Hingga dalam lelahku, aku pamit untuk beristirahat.

Dalam kamar, aku mencoba untuk merebahkan diri. Namun ada sesuatu yang mengusik. Panggilan-panggilan dari jendela kamar, seakan kotak Pandora yang minta dibebaskan. Perlahan aku menuju jendela dan membukanya lebar-lebar. Dalam malam, aku melihat sebuah bukit kecil. Di atasnya nampak sebuah rumah. Rumah perempuan itu.

Betapa aku tak menyangka akan mendapat pemandangan begitu jelas. Dari kamarku, aku dapat melihat ia di bingkai jendela rumahnya. Aku menduga-duga, apa yang sedang ia lakukan. Jelas aku tak mendengar apapun karena jarak yang jauh. Namun kesunyian seperti terlempar dari dunianya menujuku. Begitu mistis. Seakan seluruh
penghuni malam berhenti bersuara. Tak kedengar kesiur angin, atau suara binatang malam. Hening dan pekat. Seperti lukisan hitam, dan tepat di tengah lukisan itu terdapat sepotong cahaya yang berasal dari bingkai jendela kamarnya Tak dapat kulihat ekspresi wajahnya. Hanya siluet tubuh yang sesekali bergerak seperti ingatanku beberapa belas tahun yang lalu.

Seberapa tua ia sekarang? Secantik dulukah? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dalam dadaku. Tak terasa aku mencengkram bingkai jendela begitu keras. Seakan ada yang menyedotku mengarus padanya. Seperti ingatan masa kecilku tentang perempuan penunggu malam.

***

Saat itu usiaku baru sebelas tahun. Aku, dan dua karibku Imran dan Adi selalu bermain bersama. Kami menjelajah desa. Semua tempat kami datangi. Tak ada wilayah desa yang tak tersentuh kaki kami. Hingga kami memperluas penjelajahan ke hutan di seberang desa.

Pada suatu sore, sehabis dari penjelajahan, kami melewati rumah perempuan itu. Sebenarnya kami telah mendengar cerita tentang perempuan itu. Tapi baru pada sore itu kami menyadari bahwa kami sering melalui rumah itu dan tidak melihat tanda kehidupan.

"Apa benar di rumah itu ada yang tinggal?" tanya Adi yang sebenarnya juga jadi pertanyaan kami semua.

"Katanya sih iya, seorang perempuan cantik tinggal di situ," jelas Imran dengan mimik serius.

"Cantik?" tanya Adi.

Entah mengapa pertanyaan itu membuatku bergidik. Bukankah sesuatu yang cantik dan misterius selalu berhubungan dengan sesuatu yang mistik?

"Iya. Cantik, seperti bidadari. Dan katanya, ia sedang menunggu kekasihnya."

"Kekasihnya ke kota?"

"Kabarnya begitu, dan lelaki itu menikah dengan perempuan kota."

Aku tercenung. Betapa cerita itu menyentuhku. Kisah-kisah percintaan dan kesetiaan selalu membuat sesuatu mendesak-desak dadaku.

"Ia tinggal sendiri?" tanyaku.

"Ya. Orangtuanya meninggal karena kecelakaan."

Kami bertiga memandang rumah itu dari seberang jalan. Kami tak berani mendekat pada sisi jalan yang dekat dengan rumah itu.

"Tetapi aku tak pernah melihatnya. Apa benar ia masih tinggal di rumah ini?"

"Huh…makanya kalau paman Rebo bercerita dengarkan baik-baik," sentak Imran. "Kata paman Rebo, perempuan itu masih tinggal di rumah itu."

"Mana buktinya? Tak terdengar apa-apa sedari tadi."

"Ia terlihat cuma malam hari. Cuma malam. Dan kalian tahu yang ia kerjakan?"

Aku dan Adi menggeleng, kami membayangkan sesuatu yang menakutkan. Apalagi nada suara Imran setengah berbisik.

"Ia menjahit."

"Menjahit?"

"Menjahit kebaya pengantinnya."

Suara Imran terdengar begitu menakutkan. Aku merinding dan tiba-tiba Adi telah berlari meninggalkan kami. Dalam hitungan detik, aku dan Imran berlari menyusulnya.

***

Paginya, aku memutuskan untuk menjelajah masa laluku, termasuk menuntaskan keingintahuanku tentang rumah itu. Sebenarnya ada rahasia semasa kecil yang tak sempat kuceritakan pada Adi dan Imran. Aku pernah bertemu perempuan itu sekali. Waktu itu kami sekeluarga harus pindah ke kota. Entah mengapa, aku ingin berpamit
pada perempuan itu.

Hari masih pagi waktu itu, dengan segenap keberanian aku mengetuk pintu rumahnya. Cukup lama, hingga pintu itu terbuka dan tersembul wajah perempuan yang sangat cantik. Ternyata sirna segala takut menjadi takjub. Belum pernah aku melihat perempuan secantik itu di desaku. Aku terdiam tak berbicara apapun. Ia juga berdiri tak berbicara atau bertanya apa mauku. Namun aku membaca sesuatu di matanya. Seakan ia mengerti aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal. Sekilas, kulihat senyumnya sebelum akhirnya ia menutup pintu.

Sekarang, aku membayangkan seperti apa rupa perempuan itu. Akankah ia secantik dewi-dewi yang tak lekang dimakan waktu? Usianya kini mungkin sekitar 50 tahunan. Bahkan lebih. Ia telah menjadi legenda desa kami. Tentang penantian, kesetiaan dan sakit hati. Julukan perempuan penunggu malam berasal dari judul puisi yang aku buat untuknya. Puisi pertamaku untuk seorang perempuan. Dan kini, aku menuju rumahnya.

Rumah itu tak seseram ingatanku. Memang terlihat kurang terawat dan ilalang nampak tumbuh liar di sana sini. Pagar itu tidak lagi berpintu. Aku berjalan di jalan setapak menuju teras. Pada teras, aku melihat peralatan menjahit tergeletak di meja. Sebuah kursi nampak habis diduduki, terlihat dari busanya yang mencekung Dari teras ini, aku memandang jalan. Ternyata dinding tinggi menghalangi pandang. Pantas aku tak pernah melihatnya dahulu duduk di teras. Rupanya perempuan itu bersembunyi di balik dinding yang tinggi.

Suara pintu berderit, secara reflek aku menoleh ke arah suara. Seorang perempuan berdiri dengan pandangan bertanya. Usianya sekitar 25 tahun. Wajahnya secantik mawar hutan. Kulitnya yang pucat, kontras dengan baju biru tua yang dikenakannya. Ingatanku melayang akan perempuan ningrat abad ke sekian dari belahan dunia barat. Bukan perempuan Jawa. Namun juga bukan perempuan peranakan. Perempuan yang kecantikannya sukar untuk ditaksir dari etnis mana ia berasal.

"Maaf aku mengganggu," ucapku kelu.

Ia tersenyum sambil menggeleng kepala,

"Anda mencari siapa?"

"Saya hanya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini. Tapi tampaknya, sekarang sudah berganti penghuni," jelasku dengan sikap kikuk dan bersiap pergi. Namun ia mencegahnya.

"Jangan pergi, anda baru saja datang. Akan saya buatkan teh."

Tanpa menunggu persetujuanku, ia masuk ke dalam. Dan tak lama keluar
membawa poci dan gelas. Ia meletakkannya di meja, sambil membenahi
peralatan menjahitnya.

"Nampaknya, anda bukan orang sini?" tanyanya.

Aku mengangguk. Dan kami bercerita panjang lebar. Rupanya, ia tak mengenal penghuni lama, perempuan penunggu malamku. Namun ada yang membuat aku tercekat melihat apa yang dipegangnya. Sebuah kebaya putih dengan hiasan manik-manik. Ingatanku melayang ke perempuan penunggu malam dengan kebaya pengantinnya.

"Apa yang sedang kau jahit?"

"Kebaya."

Kebaya pengantin, lanjutku dalam hati. Dan aku menatap kesedihan yang dalam seperti lorong-lorong penantian panjang di matanya.

***

Sejak hari itu, aku semakin sering berkunjung ke rumahnya. Terkadang siang, bahkan malam. Namun herannya pamanku nampak kurang suka akan kegiatanku. Ia selalu bertanya setiap kali aku hendak pergi ke rumah itu. Ada apa sebenarnya, mengapa ia melarang aku bergaul dengan seorang perempuan yang jelas statusnya masih sendiri.

Apa salahku, telah melanggar normakah aku? Mengunjungi seorang perempuan yang tinggal sendiri. Pikiran sempit, makiku.

Setengah berlari aku menuju rumahnya. Entahlah, aku merasa ada yang menguntitku. Begitu tiba, aku langsung mengetuk pintu rumahnya. Tak ada jawabnya. Aku berteriak memanggilnya. Tak berjawab. Belum pernah aku merasa demikian takut kehilangan. Seperti orang gila aku mendobrak pintu rumahnya. Memasuki ruangan-ruangan sambil berteriak. Tiba-tiba aku melihat bayangan banyak orang di sekitarku. Dengan cemas aku menyambut mereka, ternyata pamanku dan beberapa orang desa.

"Gunawan…mari kita pulang."

"Pulang?!" seruku dengan dengus dan melempar pandang.

"Paman kemanakan kekasihku, hah? Paman usir? Apa karena paman kepala desa di sini paman bisa bertindak semaunya!"

Dalam pikiranku, tentu kekasihku meninggalkan pesan. Maka aku segera menuju ruang dalam. Tetapi langkahku tercekat. Orang-orang desa memegangiku. Aku mengamuk dalam bekapan mereka. Brengsek, mereka pikir bisa menaklukkan aku! Maka aku mengamuk seperti orang kesetanan. Orang-orang desa menyeretku tak peduli tubuhku terantuk batu.

Sesampai di rumah, kedua tanganku dibelenggu, demikian pula dengan kakiku. Aku tak bergerak, seluruh persendianku serasa hendak lepas. Aku melihat bibi memandangku iba. Rati berdiri disampingnya, sambil memeluk ibunya. Aku merasa di awang-awang. Kepalaku berputar-putar. Samar kudengar suara paman, kurasa ia meracau bicara tentang diriku.

"Dulu, aku pikir ia anak yang hebat. Imajinasinya begitu liar. Ia mengarang cerita tentang perempuan penunggu malam hingga seluruh anak desa ini begitu percaya. Walau banyak yang beranggapan ia pembual, namun aku berkeyakinan ia akan menjadi penulis cerita tenar, nyatanya…"

Aku meraba setiap kata yang diucapkan dengan ketidakmengertian. Bicara apa pamanku tentang aku. Pengarang cerita?

"Ia terobsesi akan kesetiaan. Maka dikarangnya cerita tentang perempuan penunggu malam yang menanti kekasihnya. Padahal omong kosong tentang kesetiaan. Pacarnya baru saja menikah bulan lalu dengan lelaki lain. Maka orangtuanya mengirimnya ke sini, tak disangkanya ia masih terobsesi dengan ceritanya sendiri. Malah membuat cerita baru tentang perempuan cantik penghuni baru. Tak kusangka segala khayalannya menjebaknya dalam halusinasi…Rati, aku bicara denganmu…kau pikir ayah tak tahu kau menyayangi Gunawan lebih dari seorang kakak? Jangan kau harap…."

Aku tak lagi mendengar ceracau paman. Menurutnya aku gila, keterlaluan. Dan Rati, wajah itu memandangiku dengan tangisnya yang melelehkan amarahku. Aku merasakan detak jantungnya yang halus. Rati, Rati, Rati, aku mengeja namanya perlahan. Sebelum akhirnya aku terlelap. Gelap.
kutahu
nice story..... speak_cool.gif

tapi kok gw masih bingung ama ending nya Confused.gif Peace.gif
labiaslicker
pengarqang emang kadangkala gila...
heheheh..but i salut you for your story..it is a nice story to read..
zwageri
Walah ... sedih juga ceritnya ... sad.gif
zwa juga jadi ingat lagunya om Iwan Fals ... smile.gif

Thanks Bro speak_cool.gif
lusiana
good good good
obsesi selalu menimbulkan penyesalan walau diliputi pula kebahagian...
aman_lie
lanjut mang ......................
prasedewa
aku tunggu cerpen lanjutannya ya...thanks banget..........
andelumut
kok binun ya q,tapi bagus bro punya koleksi laen gak
mauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
g-shock
punya bakat juga bro... karangan sendiri? salut deh.
MR_IUS
bagus
MR_IUS
enak
MR_IUS
sip
MR_IUS
ngayal enak
MR_IUS
nangte
MR_IUS
enjoy
MR_IUS
asik2
MR_IUS
wendang
MR_IUS
mm
MR_IUS
gop
MR_IUS
klop
The MonK
Cerita bagus ... BigGrin.gif
Thanks Bro ... smile.gif

Tp kok @IUS reply ulang-ulang sih ... Thinking.gif
Solichin
Cerita yg bagus...
H2M
mantap bro teruskan kreasimu coy..........
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.