"Katapel ini siap digunakan. Tolak eksekusi, ini harga mati," kata Arman Donida, warga Meruya Selatan, sambil menunjukkan katapel dengan memegangi katapel yang selalu dikalungkan di lehernya. Dia mengungkapkan hal itu saat ditemui di Posko Warga Meruya Selatan, Jakarta Barat, Jumat (11/5/2007).
Pria plontos yang meletakkan kacamata hitamnya di atas kepala itu, kerap terlihat bangga dengan katapelnya. "Senjata api tidak main dengan senjata tajam. Kita sih pakai mainan anak-anak saja. Tapi rasanya boleh coba nanti," cetusnya.
"Tinggal pilih mau kena kepala atau yang lainnya," tambah Arman.
Lalu pelurunya pakai apa? Sambil mengeluarkan sebuah kelereng dari saku celannya Arman mengatakan, "Pelurunya kayak gini."
Saat ditanya apakah bisa kena, dijawab Arman dengan nada bangga, "Pasti kenalah. Zaman flu burung, tanya warga di sini berapa burung dara yang kena sama saya."
----
Notes :
Wah buset
Ini yang paling menakutkan .... semua orang bertindak sendiri-sendiri karena tidak percaya dengan penegakan hukum .... kalau sudah demikian ANARKISME di depan mata
Tapi memang sih kasus Meruya ini aneh .... BPN saja bisa mengeluarkan 6000 lebih sertifikat untuk warga Meruya koq mau digusur sih .....
Ayo pemerintah, badan pertanahan, pengadilan semua bekerja yang benar dong