Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Bukan Dongeng Terindah Tentang Cinta
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
pro
Akhirnya aku menyelesaikan ini, sejak akhir 2002..bheww...sempet kehilangan mood nulis, dan ntah kenapa.. di bluefame ini aku menemukan rima yang hilang itu.

Cerita ini cukup panjang, bagi yang enggan membaca di forum, bisa download file pdf nya di akhir cerita ini.

Dipersembahkan untuk seorang Monika Gusti Abdullah.


selamat membaca dan aku tunggu komentar nya.


salam
pro
Bukan Dongeng Terindah Tentang Cinta

Hamparan sawah dengan padi yang mulai menguning mengelilingi bangunan yang masih tampak baru itu.
Beberapa petani tampak duduk dipematang, berbincang antar sesamanya dan beberapa orang anak kecil saling bekejaran, entah sedang bermain apa. Bangunan itu bunkanlah satu-satunya bangunan yang ada disekitar pesawahan itu, ada sederet bangunan yang tampak sama. Bangunan baru itu adalah sebuah rumah kost yang pada akhirnya kutemukan alamatnya. Yah, tanpa perlu mendekat, aku dapat memastikan bahwa itulah tempatnya, karena persis seperti yang tadi di gambarkan ketika
aku mencari di kostnya sebelum. Begitulah aku mencarinya, berbekal catatan lama yang pernah ia berikan, aku menelusuri satu-satu. Seminggu di pulau dewata ini, baru kemarin aku mantap melangkahkan kaki menelusuri jejaknya. Sebelumnya, lebih banyak terdiam di kamar hotel dan sesekali melangkahkan kaki keluar kamar, hanya untuk sekadar
menghilangkan rasa curiga pegawai hotel karena aku terus mendekam dalam kamar.

Seminggu lalu, hari sabtu yang panas di bandara Adi Sucipto Jogjakarta, sempat kegalauan bertahta dihatiku namun segera kupastikan langkahku ketika Mbak Arma, kakak angkatku bertanya, "Shelma, kamu mantap dengan keputusanmu ini? Kamu siap menemui dia?"

Suaranya datar tanpa ada nada penekanan, hanya sorot matanya memaksaku untuk menundukkan kepala dan menjawabnya dengan anggukan. Tanpa kusadari, air mataku menetes dan Mbak Arma sudah memelukku dengan erat,

"Shelma, kalau memang keputusanmu sudah mantap, berangkatlah. Apapun yang akan terjadi disana, Mbak yakin kamu bisa hadapi. Pengorbanan kalian sudah cukup besar untuk disia-siakan."
"Iya Mbak," jawabku sesegukan, sebelum akhirnya Mbak Arma melepaskan pelukan dan melepasku pergi, meninggalkannya yang menatapku penuh keharuan.

Itu bukan kali pertama Mbak Arma melepasku pergi dengan tujuan yang sama. Bulan Puasa satu setengah tahun yang lalu, tahun 2002, Aku telah berpamitan dengannya ditempat yang sama karena hanya Mbak Arma yang mengetahui keberangkatanku. Namun ketika itu, tak ada kekuatan yang mampu menguatkan hatiku untuk menghadapinya. Bahkan untuk menatapnya takkala ia menjemputku di bandara Ngurah Rai, aku hanya berani menatapnya dari kejauhan, seorang lelaki yang telah menawan hatiku,
dan membuatku tak mampu berpaling darinya. Seorang lelaki kurus dan cukup tinggi dengan rambut yang awut-awutan berbaju kemeja kotak-kotak. Persis seperti yang ia sampaikan ketika pagi sebelumnya aku sampaikan aku ingin bersamanya di Bali.
Di bandara Ngurah Rai itu, aku hanya menatapnya dari kejauhan. Lama, cukup lama sampai aku lihat ia gelisah dan meninggalkan bandara setelah aku tidak muncul dalam beberapa jam penantiannya. Sungguh aku tidak kuat untuk menjumpainya, dan segera setelah ia pergi, aku pun mencari tikel lain untuk penerbangan selanjutnya, kembali ke Jogja.

Mengenalnya, adalah anugerah terindah dalam hidupku dan sekaligus awal cerita pilu dalam hidup kami. Bukan salahnya,
melainkan aku yang dengan kebodohanku berkeras mengabaikan semua nasehat agar aku tidak menerima pinangan Aryo, yang bukan duda tak pula beristri namun beranak satu.

Entah kabut darimana yang menyelimuti kepalaku ketika itu, hingga mataku, hanya menatap hanya satu sosok Mahadewi, putri si Aryo. Seorang anak kecil, yang ketika aku menatapnya, yang tampak adalah masa kecilku.
Aku ingin menyelamatkannya, aku ingin mendidiknya, itu saja. Aku mengenal Mahadewi ketika beberapa kali Aryo berkunjung ke rumah kami di Jogja sebelumnya, dan terlihat anak ini tak terurus.
Selain itu, yang mengkhawatirkan, ia diasuh neneknya yang jauh dari lingkungan yg Islami. Aku khawatir akan masa depan anak ini. Karenanya, tak kuhiraukan peringatan kiri kanan, bahwa aku belum mengenal si Aryo secara mendalam, dan suara tajam Mbak Arma ketika itu, "Jika ada seribu Mahadewi, apakah kamu akan menikahi seribu bapaknya?"

Aku memang bodoh, namun jangan salahkan aku. Tatapan polos Mahadewi sungguh membiusku. Seperti cermin bagiku yang memperlihatkan bagaimana diriku dulu. Siapa Bunda yang melahirkanku, siapa Ayah yang
karenanya aku hadir di Bumi ini, aku tak pernah mengenalnya. Hanya satu kotak perhiasan yang mereka tinggalkan untukku. Aku hanya
tahu keluarga Arma, yang sejak aku masih dalam bungkusan gurita, yang mengasuhku. Mengenalkan aku pada ajaran Islam dan menjadikanku seperti saat itu, seorang gadis dewasa dan mengerti akan bagaimana hadirku disini.
Ayah hanya pernah bercerita, bahwa ayah kandungku adalah seorang dari aceh, dan ibu dari sunda. Karena beberapa masalah yang tak dapat mereka atasi, mereka menitipkanku pada keluarga Arma.
Karenanya, bagiku, menerima pinangan itu adalah sebuah pilihan untuk membalas kebaikan keluarga Arma. Tak kuasa aku menolak, ketika Ayah menyampaikan padaku bahwa beliau telah menerima pinangan dari kawan baiknya terhadapku, untuk anaknya: Aryo. Pertimbangan lain, tentu saja Mahadewi, bidadari kecil itu. Dan karena itu pula, aku rela mengorbankan jiwaku, yang saat itu tengah mulai merasakan kedalaman makna cinta bersama seorang lelaki pemilik jiwaku itu. Ale, singkat saja namanya. Ayah, kelak aku memanggilnya setelah ia memanggilku Mam.

Ale, bagiku bukan lelaki biasa. Perkenalan kami yang serba kebetulan dan kemudian dirangkai berbagai kebetulan lain membuat jiwa kami menyatu, menyublim dalam cerita cinta tiada akhir. Never ending lovebird, katanya kelak.
Sebuah kebetulan yang mengantarkan perkenalan kami adalah ketika itu di irc, di sebuah channel yang cukup besar di Austnet yang memiliki sebuah website yang luarbiasa interaktif.
Aku marah besar ketika kutahu fotoku di upload oleh seseorang lain yang aku tak tau siapa dia. Dugaanku, pastilah salah seorang kawanku yang kepadanya aku pernah kirim satu file fotoku, dan yang membuatku cukup sewot adalah tanpa seijinku, foto itu dipublikasikan. Eh, sebentar. Melalui irc? yeap. Perkenalan kami lewat irc, lewat chatting.

Ga jauh beda dengan banyak pasangan lain di era gen-Net ini. Selanjutnya, aku berfikir keras bagaimana menghapus file foto itu. Sempat aku berusaha menguhubungi salah seorang adminnya, namun hanya dijawab dengan cengengesan, sampai satu sore, Ale yang menyapaku. Kalimat sapaannya singkat. "Shelma halaman tujuh?"

Aku cukup terkejut dan bertanya-tanya, namun segera aku tersadar dengan maksudnya halaman tujuh.
Bahwa fotoku ada di halaman tujuh gallery members website itu, dan Ale ini adalah salah seorang adminnya.
Segera aku manfaatkan situasi ini, untuk memintanya menghapus foto itu, namun ia punya penawaran lain,
"Bagaimana kalau di hidden aja, jadi hanya admin yang bisa lihat?"
Tanpa berfikir panjang, aku segera menyetujui tawarannya, karena bagiku yang terpenting foto itu tak terpublikasikan dan dikomentari macam-macam oleh pengunjung website, karena memang dalam website itu setiap foto yang ada dapat dikomentari, kecuali beberapa foto yang di setting untuk tidak dapat dikomentari.
Beberapa saat kemudian, aku periksa kembali website itu, dan fotoku sudah tidak lagi ada disana. Seneng banget rasanya. Setelah mengucapkan terimakasih secukupnya, aku keluar dari irc.

Setelah tau fotoku tak lagi tampak disana dan menyampaikan rasa terimakasihku ke Ale, ada perasaan lega, namun kurasa ada yang kurang. Cukupkah itu hanya dengan ucapan terimakasih? Kurasa tidak, dan ketika aku kembali Online sore harinya, Ale kudapati juga sedang Online.
Segera kusapa dia, dan setelah berbasa basi secukupnya,
aku tanyakan padanya apa yang kira-kira bisa kuberikan untuknya sebagai balas budi atas jasa baiknya itu. Dengan nada terkejut dan balik bertanya ia bertanya padaku,
"Lho, itu kan dah kerjaan gua. Dan emangnya, apa menurut kamu semua perbuatan baik harus ada balasannya gitu?"
Aku terhenyak dan sungguh diluar perkiraanku sebelumnya, yang mungkin saja ia mau dikirimi kenang-kenangan dari Jogja, dan setelah memperkuat argumentasi bahwa aku ingin memberi balasan yang pantas, ia menyerah dan mengajukan sebuah permintaan untukku.
"OK dee. Gini aja. Kamu baca dan kasih komentar semua tulisan gue di web. Ok?"

Cukup sederhana permintaannya. Aku hanya diminta membaca, lalu berkomentar atas tulisan-tulisannya. Ngga susah kupikir dan setelah berbasa basi, aku pamit padanya karena harus mempersiapkan pakaian kerja untuk kukenakan keesokan harinya,
setelah tentu saja meninggalkan janji akan membaca tulisannya kemudian. Itu adalah kali kedua kami berkomunikasi. Sebelumnya, walau sering aku melihat nicknamenya, tak pernah sekalipun aku menyapanya, begitu pula ia, sama sekali tak pernah menyapaku, walau biasanya ketika aku online, selalu saja banyak nama menyerbu masuk untuk menyapaku. Tapi aku cukup tau pula kenapa ia tak pernah menyapaku, karena ia pun terlihat jarang bicara di channel kecuali kepada beberapa orang yang tampaknya sudah begitu dekat dengannya. Dan entah kenapa, sejak saat itu ada naluri untuk menyelidik dengan siapa ia bicara dan yang terpenting bagaimana anak ini? Duh.

Terlalu klise memang, ketika perasaan-perasaan aneh muncul hati selalu bertanya-tanya bagaimana, siapa dan mengapa. Wajar dan manusiawi kukira. Dari sedikit tanya sana sini, kemudian kutahu tentang Ale ini,
yang sedang dekat dengan seseorang lain, Haniya. Pengetahuanku yang terakhir ini kemudian jadi basi, karena kelak kutahu, hubungan mereka telah lama berakhir. Hanya memang, mereka tetap dekat satu sama lain, walau jarak mereka berbeda delapan jam.

pro
Malam selanjutnya, aku secara khusus online hanya untuk memenuhi janjiku pada Ale. Beberapa jam dalam malam itu, kuhabiskan untuk membaca satu-demi satu artikel yang ditulisnya. Satu yang paling awal kubaca, adalah sebuah artikel yang cukup panjang untuk ukuran web itu,
yang ternyata mendapat rating tertinggi dari segi jumlah pembaca dan yang berkomentar. Judulnya singkat, "Fragmen kehidupan si Tole Terboyo: Kenangan diantara manusia manusia". Membaca artikel itu, aku terhenti cukup lama. Ah, ini bukan cerita biasa. "Ini cerita tentang hidupnya,"batinku.

Dan lagi, gaya bahasanya mengingatkanku pada seseorang yang pernah aku kenal jauh sebelum ini. Setelah selesai membacanya, aku menulis komentarku. Tak langsung kutulis di website itu, karena dari pengalamanku,
terkadang tiba-tiba disconnect dan hilang semua tulisanku, karenanya aku menulisnya di notepad. Ketika komentar ini selesai, kusadari ini terlalu panjang jika di paste kedalam website. Karenanya kuputuskan untuk mengirimkannya lewat email, langsung kepada empunya. Tapi, dimana emailnya? Ah, aku harus mencari tahu, dan segera aku online ke irc, yang lagi-lagi kebetulan menjumpainya. Dengan berseri-seri aku sampaikan padanya, kalau sudah baca namun belum aku kirim komentarnya karena ga tau dimana emailnya. Segera setelah aku dapatkan emailnya, aku berpamitan kepadanya, karena malam telah semakin larut.
Setelah itu, semua komentarku aku kirim ke alamat emailnya itu. Aku masih ingat, bagaimana aku berkomentar dulu.
Begini bunyi komentarku itu:

Hi Ale
hmm..sebelumnya aku mo bilang ttg Ale dulu..
dari tulisan2 kamu nih, tiba2 aku jadi inget dg ssorg waktu kuliah
dulu..waktu kita sama2 jatuh bangun ngelola sebuah bppm kampus
yg ngak jelas kapan terbitnya gara2 masalah klasik..masalah dana
buat naik cetak Tounge.gif..wktu itu kita harus cari duitsendiri..ngalor-ngidul
cari sponsorship Tounge.gif...saat itu kebetulan dia jadi pemred and Shelma
jd sekum..tiap hari kita mesti nongkrong di mabes B21 gitu biasa
orang sebut -krn tempatnya di Bulaksumur blok 21- disitu anak2
balairung biasa mangkal..
kadang habis kul, ato bolos kul kalo lg bt..bahkan sering dr rumah
kadang tujuanku cuma ke B21..sekedar ngliat coretan anak2 hari
itu..yah..kita emang punya semacam buku harian..disitu apa aja
boleh ditulis..mau cerita, apa aja deh..soal dosen,soal gebetan..mau
misuh juga boleh..hmm..dari buku yg udah ngak pantes disebut
buku sebenernya -karena udah kumel- aku bisa tau kabar si A si
B..n siap2 kalo ada tanda2 kali2 aja ada yang gebet
Shelma...wakakaka..
Temen aku yg mirip kamu itu..juga ngak pernah absen menulis di
situ....kadang cerita,puisi..ato apalah kadang hanya serangkaian
huruf2 yg ngak bisa diidentifikasi kan bentuknya..
abis baca tulisan Ale itu..ingatanku langsung melayang pada
temenku itu..dan dari situlah aku seolah olah telah mengenal Ale
bertahun2.. ceilee..
hmm back to topic deh..soal Terboyo yak..btw mo nanya
dulu..apakah Tole itu = Ale? huehuehee..canda ah..
apa yah komentar Shelma..sebetulnya aku koment ini jg krn dipaksa
Ale..krn aku utang sesuatu ama dia ^_^ ..ngak deng..mungkin itu
cuma sebuah jalan aja ya..buat mengenal kamu..dan mengenal
Shelma tentu saja smile.gif
hmm Terboyo : Kenangan diantara manusia manusia
kalo dr keseluruhan titik awalnya Ale keknya mo menyampaikan
ama seorang ehm nya ttg apa tuh perubahan..perubahan adl hal yg
biasa..ngak perlu ada yg ditakutkan..dan untuk lebih meyakinkan
ehm nya itu, Ale flashback & mengangkat setting cerita dari
sebuah terminal terboyo -yg notabene kumuh,bau,banyak
preman,copet,org miskin-..mungkin sebuah dunia yg jauh berbeda
dg dunia yg dimiliki oleh ehm nya..but justru Ale berharap dari situ
lah ehmnya plus org2 yg membaca -yg notabene rata2 jg punya
dunia yg asing dg dunia 'terminal terboyo- bisa membuka mata dan
hatinya -contohnya tuh liat komenntar nya si Ammy Tounge.gif-
iya ngak Ale?? waks..itu strategi bagus..kata dosen filsafat Shelma
dulu, kalo kamu mo pengaruhi pikiran orang..bawa dia ke dlm
suasana yg menarik,yg mungkin asing bagi dia..yg belum pernah dia
alami sebelumnya..gitu..
hehe..sok tau ngak sih gue... tauk deh..terlepas dari 7 an Ale mo
pengaruhi pikiran sapa? wallahu 'alam deh
waktu sampai pada ..."Sebulan setelahnya, si kasir tak lagi
disana...ia merintis tuk bisa melanjutkan
jenjang pendidikannnya,..tuk mencari diri yang lebih mendalam di
situasi yang berbeda..
tak lagi diingatnya si gadis yang mirip yuni shara itu, walo dia
sempat mencari dan
ternyata ia seorang marketing ristra House...pantes aja cantik smile.gif
waks..aku ngak siap kalo ntar ending nya si Tole menjelma mjd
pengusaha kaya..yah bukannya ngak mungkin tapi lebih baik ngak
usah diceritakan sampai ke sana..aku lega ngak ada ending spt
itu..krn kesannya ntar cerita kamu jadi kek dongeng.. Tounge.gif ato kek
cerita sinetron indonesia yg ceritanya bener2 'mprihatinkan'
semua...ngak usah dibahas yak..krn toh ngak gitu..
hm gitu deh yah..menurut Shelma cerita kamu itu sarat dg pesan
moral..ttg perubahan ..yg dialami oleh setiap orang..sesederhana
apa pun itu..perubahan itu terus berlangsung dan bergulir dari
detik demi detik..krn tidak ada yg abadi selain dari perubahan itu
sendiri...gitu kata orang2 pinter yak..kalo kita ngak
berubah..mending matik aja kali ..
trus kalo menrt aku penokohan tole masih kabur..pdhl dia lah titik
sentral nya kan? mungkin karena pada awalnya terlalu banyak
karakter manusia di sana..ada papi,mami,melati,pak No si yuni
shara..baru ketahuan kalo lakonnya tole saat akhir cerita, yaitu pada
saat toleber kawan dg operator telpon kampus..blablabla (disini
klimaks langsung antiklimaks nih? smile.gif )..hmm tokoh mbak Herny kalo
ngak salah ..
but yg paling aku acungi jempol (kaki Tounge.gif) kemampuan kamu
mdiskripsikan serentetan karakter satu persatu..waks..soft
banget..ngalir gitu aja ngak terkesan melompat2 &
ngakdipaksakan..bagus tuh..Shelma tau utk bisa nulis runtut kek gitu
butuh jam terbang tinggi..iya Ale? seep deh smile.gif~ eh,..gitu dulu
komentar Shelma
teruslah menulis! (words speak louder than action..kata orang
sehhh) bye..cu
pro
Begitulah komentarku ketika itu. Dan semenjak itu, aku merasa hubungan kami semakin dekat.
Ga tau sapa yang memulai, perbincangan semakin dalam tentang masa lalu, masa lalu kami yang bukan
kebetulan sesama pegiat pers kampus, dan beberapa kebiasaan dan hobby yang kami sukai. Beberapa kebetulan kembali terjadi,
tentang perasaan diantara kami, sampai kemudian ia menceritakan tentang beberapa rencana yang akan dijalaninya di Bali sana, yakni bersama kawannya menerbitkan sebuah Tabloid. Aku turut senang membacanya,
namun terkejut karena tiba-tiba ia menyeretku kedalam perasaannya, memintaku menjadi pendamping hatinya. Walau perasaan sayang itu
mulai tumbuh dihatiku, namun sungguh aku tidak siap secepat itu.

Ia suka memulai dengan kalimat yang tak terduga, Malam itu malam panjang bagi kami,

"hey shelma....kok aku jadi mikirin kamu ya..kadang yang kucari namamu.."
"waks..carinya dimana? di terminal terboyo nga ada atuh "
"di channel non.."
"hihi..."
"elo..? kadang nyari gue ga?"
"ini tadi iya. "
"oya..? heran aku juga..knapa juga nyari nyari kamu..kepikiran lagii sampe bongkar bongkar tumpukan majalah buat cek balairung."
"we have smthing in common kali. Balairung itu masa lalu Shelma "
"majalah kampus juga masa lalu gue. But the point is..i thinking bout u shelma dah punya pacar pa blom?"
"pacar?"
"iya.."
"kan udh cerita kmrn kalo Shelma lg solo karir"
"ga minat nyari?"
"ntar dulu ah maseh menata hati nee"
"klo minat bilang yaaaaaaa.. mmm.. ngga tau ne ketemu elo jadi ganjen"
"Ale ngak cari pacar lagi? kan di bali banyak tu ce2 cakep berbagai ras "
"itu dee pengen nyari yang mencari..klo ga sama sama nyari..ga matching kan"
"hmm masa gitu?"
"iya makanya nyari donkk ntar kan sama-sama nyari dee"
"sama2 nyari? ntar rebutan dunk. pake lomba ngak?"
"uhmmm..karena saling nyari yang dicari jenisnya beda..knapa ngga di temuin..."
"ditemuin?, bisa diaturrr hehehe"
"so?"
"apanya...? kok lelet nih"
"aduh susah banget ngomongnya"
"hahaha"
"tau deh ni ghrogi deh.. tumben.."
"kok?"
"ga tau. klo tau aku dah bilang.."
"ayo cerita lah"
"ah pacaran yukkk?"
"waks"
"nah kan klluar juga..ehhehehe"
"emang gbt yg laen pada kemana"
"ga ada. mau mnau ?"
"maksudnya? "
"gimana?"
"emang Ale selalu bgini? kan baru kenal ini. canda ah"
"klo serius?"
"dah brp ce kamu ajak gini, masa baru kenalllllllll, alasannya dunk"
"ga ada alasannya..apa semua perlu alasan?"
"ngak juga. tapi minimal ada faktor pendorongnya lah. kenapa2 nya"
"uhmmmmmm karena aku mau.."
"apa kamu ngak binun tiba2 ada ce ajak kamu pacaran. mau apa?"
"mau ma kamu"
"walah..."
"klo ga bisa ya ga apa apa sante aja.."
"sante aja.?--nanti juga ada ce lain gitu?"
"ga mau maksain diri.. itu intinya klo emang mau ya mau..ga ya gak.."
"apa yg kamu cari dari saya?"
"pengen nyari istri "
"so?"
"klo serius..aku akan berfikir kedepan..jenjang yang lebih jauh...ga sekedar haha hihi"
"kenapa tiba-tiba Shelma?"
"knapa musti tiba tiba saling bicara...? ada banyak yang ga bisa kita jelaskan.."
"ngak harus dijelaskan"
"so????????"
"tapi minimal kamu kasih saya pengertian"
"perlu waktu mikir yaa?"
"kamu kasih tau perasaan kamu lah"
"pengen kenal lebih jauh...dan kepikiran ttg kamu and...kepikiran kamu..and..mikirin kamu"
"apa itu cukup sbg pertimbangan kamu buat jadiin aku pacar kau?
"semua kan berproses..dan ini bisa jadi awal semuanya atau akhir semuanya..."
"jadi biarkan dulu berproses"
"uhmm begitu?"
"biarkan ulat jadi kepompong jadi kupu kupu nantinya. Uh ngak ada hubungannya nih"
"bagaimana klo kepompong itu kita tumbuhkan bersama..dan ...menemaninya tumbuh....dengan kebersamaan? agar ketika kepompong itu retak..."
"ulat jadi kepompong perlu sebuah poon perlu daun"
"dan kupu kupu yang indah itu..bisa terlahr dengan senyum.."
"hehe "
"mau ya..? apa jadiannya di darat?"
"hmm"
"gimana miss Shelma?"
"di darat ato di udara ngak masalah"
"so?"
"yah biarkan dulu ulat memakan daun2 dengan lahap"
"dah kenyang.."
"ha?"
"ya..........?"
"aha.."
"so?"
"jangan sekarang Le"
"knapa..?"
"bagi saya ngak gampang putuskan itu karena saya ngak pernah main2 yg begituan"
"tadi baca ngga..saya pengen serius..dan memikirkan kedepan..ga sekarang aja..sampe jenjang yang...kamu bisa baca sendiri diatas"
"iya saya juga makanya itu..aku ngak mau buru2"
"apa aku kapam kapam nanti kr yk aja ngobrol langsung..?"
"boleh..tapi ini sbnrnya ngak ada kaitannya langsung soal mo ketemu di chat ato kopi darat cuma masalah teknis aja kan "
"agar ada keyakinan...ada perkuatan..ada kekuatan...yang..smuanya bisa disatukan..klo di terima..."
"kalo ada prosentasenya kecil ngak begitu ngaruh"
"aku akan ngurangi ol..pengen kerja serius..sambil beresin TA...and..kontak ma kamu enakan lewat telepon.."
"kok sampe gitu?"
"iya..."
"biar yakin aku serius.."
"jadi tambah binun Shelma nee"
"begini..jika kamu menerima..aku kan mengurangi semua aktifitas yang lain..di web.."
"lah jangan atuh"
"Shelma...kasarnya...aku ngelamar kamu neeeeeee *serius*"
"kenapa bisa begituuu?"
"ga bisa jawab..."
"binun"
"duh..aku juga bingung..kepikiran..memikirkan.,.dan...berperasaaan begini...but.jika memang ini titik balik yang saya cari itu..saya akan serius..gimana non Shelma..? would u be a part of my soul?
"binun Shelma"
"Shelma.."
"tapi"
"tapi apa?"
"saya kayaknya bener2 udah kenal kamu sebelumnya terlepas kamu mirip ato ngak sama temen ku yg aku ceritakan tadi"
"mungkin..saya..masa lalu kamu yang terlewatkan.."
"hehe..maybe "
"ok deh...aku ga mau maksa..klo memang malam ini tidak..lain kali aku tidak akan melontarkan ini..biarkan ia hilang bersama angin..."
"hmm napa?"
"ga tau..perasaanku malam ini waktunya..lain kali...ga bukan kali ini,.."
"hmm..kamu jg lom yakin dg perasaan kamu sendiri"
"bukannya blom yakin..keyakinanku...malam ini ada sesuatu yang menghidupkan sebagian jiwaku yang hilang,,so jika saya yakin..saya jalani.."
"tapi kamu jg harus liat dari sisi saya dong jgn cuma perasan kamu jangan cuma keyakinan kamu
terus terang saya ngak bisa jadi pacar kamu malem ini
kalo itu yg kamu inginkan malem ini dan tidak ada lagi tawaran u malem lain ok deh aku ngak bisa apa"

pro
Sampai disitu, aku bingung dengan situasi yang terjadi. Benar perasaan sayang itu sudah muncul, namun tetap saja semua begitu mengejutkan.
Walau begitu, tak urung keesokannya ketika aku membuka email, kudapati sebuah email darinya.
Ah, paling-paling kalimat perpisahannya dan aku ingin menulis email padanya untuk kali terakhir,

Hi Le...
setelah pembicaraan kita tadi malam..setelah saya
off..memang ada perasaan ngak enak dalam hati
saya..pahit dan sedikit getir..layaknya makan duku dan tak sengaja
mengunyah bijinya.. sad.gif

tadi malam itu..saya betul2 ngak siap menerima
semua yg kamu tawarkan kepada saya..
menjadi bagian dari impian kamu..dan rencana2
kamu..
saya mengerti keinginan kamu..dan apa yg sedang
terjadi saat ini pada diri kamu..
pekerjaan baru kamu, dimana disana ada jiwa dan
masa lalu kamu..
pertemuan kita..dan masa lalu saya sekaligus masa
lalu kamu..
tapi bukan berarti semuanya bisa disatukan dalam
satu malam..pada satu saat yang sama..
tadi malam saya berusaha menjelaskan itu..
tapi saya tidak berhasil..dan kamu katakan tidak
akan ada lagi kesempatan kedua..

Tadi malam hanya ada 'titik balik"....hanya ada
keyakinan kamu..hanya ada kemantapan kamu..
lalu dimana kamu mau meletakkan perasaan
saya?..hidup saya?...ah apakah terlalu berlebihan
kalo saya b'harap kamu mempedulikan hal2 itu..
kalo toh tadi malam saya menerima kamu..berarti
saya tidak adil pada diri saya..

saya paksakan semuanya secara instan..dan itu
bukanlah diri saya...walaupun entah darimana
datangnya bbrp hari ini kamu tiba2 ada di dalam
pikiran saya..ingatan ttg masa lalu saya..
tetapi dengan tidak menerima kamu tadi malam..itu
juga berarti saya mengingkari sekeping hati
saya...dan itu sangat menyakitkan krn saya merasa
akan segera kehilangan kedekatan
denganmu..justru pada saat akan
memulainya..dengan penuh semangat dan
kerinduan..

..dan kamu katakan stlh malam ini..setelah saya tidak
menerima kamu malam ini... jikalau kita masih
berkomunikasi, maka yg ada hanya lah dua orang
yang saling mengetik, tidak ada jiwa dan perasaan
disana? haha..mana bisa saya berada dalam situasi
seperti itu? lebih baik saya tidurr..

tadi pagi..seusai subuh..ngak tau kenapa saya
sebutkan nama kamu dalam doa saya..baru pertama
kali saya lakukan itu.. pembicaraan kita semalam,
kembali terngiang2 di pikiran saya..pada saat saya
memakai blazer, saat saya berdandan dan
berkaca..pada saat saya memulaskan lipstik di bibir
saya tadi pagi..semuanya saya lakukan perlahan
lahan.. tak seperti biasanya..

dan saya mulai berpikir untuk meninggalkan
semuanya..setelah apa yang terjadi..saya akan
tinggalkan kamu, Edu, Pantomim, Swordfish,
Lando_Jr, Dennis19, Mayang_007, baby^angel, tutik,
Marun, Gujet, Ikez,..semuanya...bahkan saya
juga ngak akan peduli lagi pic saya mau di up load
dimana dan oleh siapa..

yang jelas saya berterimakasih pada semuanya..dan
bersyukur...atas warna warna yang selalu ada di hati
saya setiap saya bertemu mereka..setidaknya
selama 3 bulan terakhir ini..
oke deh Ale Sayang, saya baru sekali ini memanggil mu
dengan nama ini,..saya juga minta maaf atas semua
yg pernah saya katakan, yang tak bisa saya
berikan,..dan mungkin atas semua hal yang ada di
hati saya..yang seluruhnya belum sempat saya
ungkapkan..saya minta maaf..
*pamit*
smoga tabloid kamu sukses yak..bulan depan shelma
jg udh mulai kuliah kalo malem smile.gif
saya akan selalu rindu dengan mu, Le smile.gif
bye
Shelma


Kusampaikan rencana kuliah malam, karena memang aku berencana untuk melanjutkan ke S2 MM di UGM. Semuanya
baru rencana. Lalu, rasa penasaranku mendorongku membuka email darinya dan aku terkejut ketika membacanya,

shelma,..
aku,..Ale
minta maaf atas apa yang terjadi malam tadi...
saat ini..
ketika email ini kutulis,.
disini sudah menjelang jam 3 pagi...artinya,..
tadi aku sempet pulang,..dan...berfikir,..kembali berfikir...
merenungi apa yang tadi terjadi bersama kamu,..finally,..saya
putuskan pagi ini kembali online tuk menulis email ini
untukmu,..

bagaimana kabar kamu,..?
jam brapa baca ini..? pagi atau sepulang kerja..?
ah aku merasa bersalah atas kejadian itu,..yang jika saja
kamu baca ini seusai kerja,..tentu apa yang tyerjadi malam
tadi mempengaruhi emosi dan psikologismu,..yang mungkin
berakibat menurunnya etos kerjamu,..maafkan aku...

lalu apa ya yang bisa kusampaikan?
tiada lain,..permohonan maafku atas sikap egoisku,..yah,..
kusadari aku egois,..cenderung mau menang sendiri,..
tapi saya akan sellau siap untuk minta maaf dan mengoreksi
diri,..

memang,..
kita kenal belum begitu lama,..
bahkan teramat baru,..kamu tau itu..dan selain aku merasa
sayang ma kamu...setelah sedikit mengenalmu,..
yah kusadari memang sedikit,..tapi seperti juga yang kamu
bilang...ada bagian dari jiwa saya yang kembali setelah
menyimak sedikitnya masa lalu mu...
ada kerinduan dan ada semangat,.

satu hal yang membuat aku berfikir,..begitu banyak kebetulan
yang mengiringi..kita...
persamaan orang pers...yang menjadi masa lalu,..yang menjadi
jiwaku..yah..pers..jurnalistik,.kata temenku, adalah
jiwaku,..sampe berkali kali aku diminta kembali dan aku
kembali...bersamaan ketika mengenalmu...dan tau ga,..
malam tadi...ketika aku pulang ke kost,.
komputerku desktopnya diganti ma temenku,.dengan fotomu...
lengkap sudah rangkaian kebetulan itu....

shelma,..
pada akhirnya,..
aku harus menulis,..
kita memang perlu waktu,.kamu tepatnya,..
kita sudah memiliki hati kita masing masing,...
ada tempat buatku dihatimu,.seperti katamu,.dan pasti ada
kerinduan dan impianku bersamamu,...
yah..kita perlu berproses,..disana kita kan tau,..kan
melihat,..pantaskah kita,.pantaskah aku bersamamu,..seseorang
yang baru kau kenal namanya ..,..
aku sayang kamu,..tanpa kusadari,..aku sayang kamu seperti
air yang mengalir,..datang diam diam dan menempati ruang
ruang kosong di dalam hati,...kuharap saling mengisi...masih
adakah ruang untukku setelah tadi malam...?
aku mulai merindukannmu,..sejak hari hari lalu sebenarnya..

me, Ale
pro
Ah, sebuah pengakuan atau sebuah omong kosong besar? Walau ini di irc, dunia cyber, namun perasaanku sungguh lain.
Aku merasakan kejujuran, ketulusan pada kalimat-kalimatnya.
Beberaa hari setelah itu, enggan rasanya menyentuh lapie kesayanganku, enggan bersentuhan dengan realitas cyber. Tapi entah kenapa, semakin enggan aku
menyentuhnya, semakin kuat perasaan ini muncul, dan kala aku menyentuhnya kembali, membuka emailku, aku mendapati bejibun email dari Ale,

To: Shelma
Subject: Re: sibuk ya?
Date: Thu, 28 Mar 2002 13:21:02 -0500

hey hey..seandainya aku tahu bagaimana bisa menuliskan ini
dengan tetesan darah..ingin kugoreskan sepenggal kata yang
mungkin banyak orang mengatakannya usang, tapi bagiku
nyata....,"rindu"
kenapa dengan darah...
knapa yaa..
karena ia mengalir dalam sukma..tak pernah terasa kecuali
ketika engkau donor darah.,,...tapi ia menghidupimu...
ia menyatu dan ia hidup...
adakah kau rasakan itu?

sayang kamu,
Ale



Dan keesokannya, 29 maret 2002, melalui pergulatan yang tak kalah panjang, secara resmi kami ikrarkan kebersamaan hati. Bahagia sekali kala itu,
kala semua ganjalan dan isi hati mampu kuungkap. Begitu pula ia.

"ini perasaan shelma ya.."
"iya.."
"sebagian dari hati saya bilang ih shelma masa baru kenal? lom ketemu bener? lom tau..blabla and sebagian dari hati saya yang lain bilang hmm..hehe"
"and.."
"binun shelma"
"baca bismillah,.."
"sebagian dari hati saya juga selalu pengen deket sama kamu"
"jadi..?"
"dan yg terakhit itu yg bikin keputusan sekarang. u got what i mean?"
"write it please.."
"u know lah.."
"hari ini...Shelma dan Ale,..adalah satu pasang kekasih..?"
"yup"
"alhamdulillah.."

Kala itu, timestamp di lappie, menunjukkan jam 07:51:44 WIB. Ini sungguh luar biasa, biasanya pedekate ke aku lumayan susah, entah kenapa dengan Ale, total jenderal sempat kali chatting, kami bisa jadian, dan ia menjajikan akan datang ke Jogja awal bulan nanti.
Selanjutnya, aku merasakan sensasi perasaan yang luar biasa indahnya, walau diantara kami belum saling bertemu. Simulakrum cinta? Iya rasanya. Tak ada batas yang jelas, semua kabur antara imajinasi dan realita. Aku menjalani hari-hariku selanjutnya dengan senyum,
bahkan sampai Eva, kawan sekantor, menggodaku karena memperhatikan perubahan dalam diriku,..."waaa...Shelma jatuh cinta yaa....ceria banget..,"begitu komentarnya. Aku hanya tersenyum lebar dan tak mampu berkutik ketika ia menodongku untuk sebuah makan siang.

Keceriaan yang ada pada diri kami, saling kami sampaikan. Rasanya, tiada saat terlewatkan tanpa berfikir tentangnya. Rangkaian email saling berbalas. Semua indah.

jogja..april,8,2002

Le,
jam 12 teng nehh....waktunya makannnnnnnnnnnn..hueheue..aku barusan pesen lotek ma office boy..kamu tau lotek ngak? enak tuu..keik gado2, tapi bumbunya langsung dicampur gituh...uenak dee Tounge.gif

hey say say
aku barusan baca file logs..isinyaa pembicaraan kita semalem..hueuhuehe lucuu juga dee..shelma baca sambil senyam senyum sendiri..
kok bisa yak..tau2 kita jadian..hehe..padahal ya Le, biasanya aku ma co itu..kenal deket duluu ntar baru jadian..pdkt nya susah loh kalo ma shelma..katanya gituuuu ..
tapi ma kamu? walah gampang banget yak Tounge.gif ..napa yah..hmm apa karena banyak kebetulan2 yg mengiringi kita? tau dee..wallahu'alam..tapih..itu pengaruh banget loo..& mungkin eh pasti itu ada yg ngatur yak..tapi shelma sampe skrg juga ngak tau penjelasannya gimanaaa...
n krn keterbatasan ilmu kita...
kita cuma bisa bilang..ah kebetulan dee....gitcu say.. miss u

walahhh Shelma jatoh cinta..hueuehuehue..gitu kata si Eva temen shelma se kantor Tounge.gif~ ..yey biarin dee..
hmm Le..cinta itu apa sehh?
Love is blind? hmm i think love is blend
campur aduk gituh..mungkin seperti gado2 ato seperti lotek? ia mencampur antara realita dengan imaji..batasnya ngak jelas..simulakrum gado2? simulakrum lotek? ah tau deeh,..yg jelas enak untuk dinikmati smile.gif


cinta saya ma kamu..keik apa yak?
hmm mungkin gini versi gombal nya Tounge.gif
saya (bersama kamu) seolah olah barusan menambatkan sauh pada sebuah dermaga atau pulau... dan mungkin, saat saya berada dalam kebersamaan bersama kamu..
saya kehilangan kebebasan melihat dunia luar..tapi saya menemukan dunia baru yang membuat saya ngak terlalu kecewa karena kebebasan saya melihat dunia luar sudah terampas..
karenaa buat apa kecewa? toh saya mendapatkan semua yang saya inginkan dari dunia baru saya..so? nuthin to loose..

sayyyyy
mari berangkat!!!
angkat dan lepaskan sauh..biarkan berlayar..menikmati desau angin..menikmati samudera ketidakterbatasan..
mari kita limpahkan cinta.. pada setiap perubahan riak dan gelombang arus samudra..
mari meng-ada dalam keberadaan segala yang ada.
Meski mungkin tak ada lagi dermaga yang bisa disinggahi. Meski mungkin kelaparan kita tanpa bekal yang memadai.
Alam akan menyusui kita.
do u believe that??

waaaaaa ampir jam 1 nehh..gtg..makan lotek dolooo..sholat duluuuuu..
*cup* ^_^


pro
Memang benar kata orang, ketika kita saling bercinta, dunia serasa milik berdua yang lain ngontrak. Begitu pula yang kurasakan.
Sebuah pertemuan bukanlah sesuatu yang luar biasa bagi kami. Pemaknaan cinta lebih kami tekankan. Itu bukan berarti tak ada hasrat kami berjumpa,
sangat ngebet malah. Karena kengebetan yang sangat, Ale merencanakan berangkat pada awal april. Hatiku berbunga-bunga. Bayangkan, siapa se yang ga bahagia dan berbunga-buka ketika buah hatinya
datang menyapa kehadapan kita? Namun, ah, ini terlalu klise. Selalu ada kendala dalam sebuah cerita. Secara bersamaan, oleh kantor aku ditugaskan presentasi ke jakarta,
dan Ale pun harus menghadapi ujian dikampusnya. Rencana kami tunda. Jadilah harapan tinggal harapan, pertemuan yang kami impikan, dengan sendirinya harus mengalah demi masa.

Beberapa hari kemudian, aku mendapat kabar gembira, bahwa acara presentasiku ditunda seminggu kedepan. Perasaanku sangat riang, tapi tak lama. Segera kuingat, bahwa Ale masih harus ujian. Ah, sungguh
menyebalkan. Uh beginikah rasanya rindu? Kenapa ia menyiksaku. Selama masa ketidakpastian penantian kapan kami akan bertemu itu,
kami tetap berkomunikasi memperdalam pemaknaan satu-sama lain. Tentang cerita cinta, tentang makna hidup yang tergores, tentang hasrat dan impian. Bahkan ketika itu,
kami punya room tersendiri di austnet, #myshelma. Aha, itulah rumah kami, tempat kami bersama mencurahkan isi hati bercerita tentang mimpi-mimpi. Pernah satu ketika aku bermimpi buruk, yang kemudian kuceritakan padanya.
Aku merasa seolah-olah berada dalam sebuah penjara. Tak seorangpun bisa menyelamatkanku, tak juga Ale. Anehnya, semua tak jelas bagaimana aku bisa berada dalam penjara itu, siapa hakim yang mengadili, siapa pula jaksanya.
Kurasakan kegelisahan dalam diriku, kurasa juga pada Ale. Ia terdiam cukup lama daan aku tau ia sama sekali tidak lagg apalagi DC sampai akhirnya ia berkomentar bahwa itu hanyalah bunga tidur.
"Ga masalah sayang... itu hanya mimpi..." Kalimatnya menenangkanku.

Hari-hari terasa begitu panjang dalam seminggu setelahnya, karena selanjutnya aku harus ke jakarta. Komunikasi kami akan terputus, dan ah..Ale di bali pun tak bisa kemana-mana termasuk ke warnet. Apa pasal? Ketika aku di jakarta,
di Bali bersamaan dengan hari raya nyepi. Komunikasi kami terhenti total. Ale tidak punya HP, telepon kost nya pun tidak diangkat. Katanya, telepon kost ada di rumah ibu kost dan pada hari-hari tertentu mereka jarang dirumah karena banyak acara di Pura.
Ah! Penghalang, penghalang, penghalang. Selalu saja ada penghalang!

Disebuah hotel dijakarta, hatiku risau. Perasaan tidak menentu, seolah olah akan kehilangan sesuatu. Setelah presentasi tadi siang, tiba-tiba ada perasaan
gundah dihatiku. Ada apa ini? Dalam kegelisahan itu, ponselku berdering, kuperhatikan nomor rumah di Jogja. Ketika kuangkat, terdengar suara Ayah diseberang sana yang memintaku segera pulang,..
"Ayah minta shelma segera pulang...tadi keluarga Aryo datang meminta shelma, dan ayah sudah menerimanya...."

Ahhhhhhh! Bagai disambar petir rasanya. Inikah jawaban atas kegelisahanku sepanjang hari ini? Secepat ini kah? Tak habis aku mengerti, inikah takdirku itu? Semua tiba-tiba hadir didepanku,
tentang Ale yang kukenal lewat scan fotonya, si Aryo dan anaknya, Ayah dan keluarga dirumah, Ayah dan Ibu kandungku yang tak pernah kutahu dimana mereka, masih hidup ataukah tiada, semua mengepungku.
Ah! Aku ga tau, bagaimana ceritanya kemudian karena sesaat kemudian, kuambil gunting...dan satu-satu rambut panjangku terpenggal. Hidup ini rangkaian memilih dan dipilih, melihat dan dilihat, aku dalam posisi ini sekarang.

pro
===================================

Aku masih termenung dalam kamar, ketika Eva yang bersamaku satu kamar datang dan terperanjat.
"Ya ampun shelma...ada apa dengan kamu?" Ia bertanya dengan membelalakkan mata. Mata yang bulat, memancarkan rona heran dan rasa tidak percaya atas apa yang dilihatnya. Tangan Eva merengkuh bahuku seraya menatapku penuh selidik.
"Kamu. Kamu kenapa sayang..?", Ulangnya setelah pertanyaan sebelumnya tak mampu kujawab. Aku hanya terisak. Semakin erat aku memeluknya.
"Ayah...Ayah menerima pinangan keluarga Aryo..uhuu..huu..,"sesegukan aku sampaikan apa yang terjadi. Aku tak mampu melanjutkan kalimatku, karena sesaat kemudian aku dalam pelukan Eva yang memelukku erat. Airmataku tumpah di bahunya. Kutumpahkan semua emosiku padanya.
"Dan kamu memotong rambutmu untuk buang sial? Ya Allah,..shelma kenapa begini...,"tak kalah harunya Eva berkata. Aku tak lagi menghiraukannya. Semua terasa perih di hati. Adakah kepedihan lain yang tak sepedih ini?

Hari berikutnya, ketika aku telah tiba kembali di Jogja, semua terasa asing. Kurasakan seolah-olah semua mata menatapku tajam. Mereka bertanya-tanya dengan keputusanku menerima pinangan itu. Heran, mengherankan. Saran dan nasehat kemudian terlontar, namun keputusanku sudah bulat. Hanya, bagaimana aku harus menyampaikan pada Ale? Sepagian ini, aku hanya tiduran. Pikiranku kelu, suntuk, sangat suntuk.

Beberapa kali kudengar telepon berdering, menanyakanku, oleh Ibu dikatakan aku tidur. Aku yang meminta itu. Aku tahu beberapa kali Ale yang menelponku itu. Tak hanya telepon, sms darinya pun bertubi-tubi masuk memenuhi ponselku.
Jika sms-nya masuk, kala itu kutahu ia Online. Ia memanfaatkan ICQ untuk menghubungiku sekaligus pertanda ia minta aku Online. Aku harus bagaimana? Kutatap dinding kamar, vas bunga dan semua isi kamar kurasa menatapku sinis. Seolah mereka tau apa yang terjadi dalam hatiku dan berkata,"Wahai Nona muda nan jelita, tidakkah kau tau kekasih hatimu sedang menunggu kabarmu. Tidakkah kau kabarkan keindahan hari ini padanya? Atau kau akan mengakhiri keindahan yang baru saja engkau semaikan?"

Tidak ada keindahan hari ini. Hanya kesedihan, duka yang akan kusampaikan. Aku telah memilih sebuah pilihan yang teramat berat dan paling berat dalam hidupku untuk meninggalkan cintaku yang sedang tumbuh. Aku mencintainya, aku mencintai Ale. Aku meninggalkannya, aku menyakitinya. Sungguh, ini bukan sesuatu yang kami harapkan. Andaikan ada jalan lain,
andaikan tidak ada hutang budi itu, andaikan tidak ada rasa harus membalas kasih sayang keluarga Arma, andaikan...andaikan.. ah mimpi. Tanpa kusadari kembali menetes air mataku. Dan lappie kesayanganku kurasa ia memanggil-manggilku agar aku membuka dan menghubungkannya ke dunia yang mempertemukan aku dan cintaku. Entah kekuatan apa
yang menggerakkanku untuk membuka dan mengaktifkan account indosatku untuk terkoneksi ke internet.

Lappie telah terbuka. Latarbelakangnya, membuatku bergetar. Lelaki muda berdiri dengan tangan berlipat di dada, tak berbaju, bertelanjang dada menatapku tajam menyimpan senyum misterius, entah untuk siapa. Dulu pernah aku tersenyum ketika di website itu foto ini dikomentari seorang kawannya, untuk siapa senyummu itu Le? Kini kutahu, senyum itu milikku. Milikku seorang. Tak peduli berapa gadis lain kan mencemburuiku. Aku memilikinya. Di lengan tangan kanannya, sebentuk gambar melekat. Sebuah tattoo, yang katanya adalah kenang-kenangan dari kepala dusun KKN nya dulu. Entah KKN model apa yang dijalaninya dulu, kok kenang-kenangannya sebuah tattoo. Padahal biasanya kan, batu marmer yang di tempel foto bersama atau vandel mika yang diwarnai macem-macem sebagai kenangan. Cukup membanggakan, lelakiku ini adalah kordesnya. Ia bisa memimpin.

Kubiarkan foto itu tetap disana, menajadi latar belakang monitor lappie kesayanganku. Mouse kuarahkan ke shortcut indosat. Setelah beberapa kali nada dialingnya bergema, koneksi terbentuk.

pro
Mirc telah terkoneksi ke sebuah server yang cukup singkat namanya: austnet. Sebuah channel kecil yang hanya aku dan ale yang tau: #myshelma. Ketika aku memasukinya, dua nama telah hadir disana, ChanOp dan Ale.
Sebuah topic yang mengejutkanku tertera disana,"Shelma,..perasaanku gak enak. Kamu baik-baik aja disana?"

Kekasih hatiku telah disana dan aku hadir dengan berita duka.

Segera setelah nicknameku terpampang dilayar lappie, kulihat dimonitor Ale telah mengetikkan dua karakter khas, titik dua dan kurung tutup. Tersenyum ia padaku. Selanjutnya,

"Sayang..baru bangun yah? Dah cuci muka? dah cantik?"

Aku tak mampu berkata-kata. Jawabku singkat, titik dua dan kurung buka. Cemberut. Dibalas Ale dengan serentetan tanda tanya dan satu kata tanya,"Kok? Ada apa Nona Shelma?"

Aku tetap tak menjawabnya. Tak ada kekuatan untuk menggerakkan jemariku, mengetikkan apa yang harus kusampaikan. Ia kembali menulis,

"Uh. Ada apa seeeeee, kok ga mau ngomong? Tau ga dr kemaren pikiranku ga enaaakk banget. Shelma sakit? Ada masalah pas presentasi? Kok diem... Jawab dong sayang...."
"Ale,..sayang...Shelma mau ngomong..."
"apa sayang...?"

Uh. Beberapa kali aku telah mendengar suaranya. Beberapa kali pula kata sayang itu kudengar. Suaranya tidak begitu bagus, hanya memang terdengar beda. Sexy, mungkin itu ungkapan paling jujur yang bisa kusampaikan.
Dan kini di depanku, ia menulis sapa sayang...terbanyang suaranya..terbayang kemesraan dalam telepon itu. Akankah kembali kudengar kata-katanya, suara sexy-nya tatkala apa yang kurasa, apa yang kupilih ini kusampaikan padanya?

"uh...mmmmmmmmm.." Sebuah Bridge. Aku belum mampu mengungkapnya.
"Kok mmm doang.. lagi M Yah?"
"Gak. Shelma lagi gak M. uh...enak aja."
"Hehehehe.. iya iya.. ngga M yg itu. Tapi M yang lain iya...?"
"paan tu?"
"Mumet?"
"ale....maafin shelma..hiks.."
"maafin? hiks?"
"alee...shelma dah khianatin kamu.....huhuuuuuu"
"Khianatin? Khianatin apa? kok tambah ga jelas gini. Sayang...tarik nafas dulu deee...tenangin pikiran..."

Tenangin? Bagaimana bisa aku tenangin. Wahai lelaki pemilik jiwaku. Ingatkah kau pada mimpi buruk yang pernah kuceritakan dulu padamu?
Tentang diriku yang terpenjara dan engkau pun tak sanggup membebaskanku? Kurasa, ini lah saatnya itu dimulai. Bukan hanya bunga tidur sayangku. Ini akan kita hadapi.

"Ale...shelma dah khianatin kamu. Kemaren, ayah menerima pinangan keluarga temannya. Dan secara ga langsung, shelma menerima karena..karena pernah mengatakan mau merawat anak lelaki yang mau menyunting shelma...maafin shelma.."

Hening. Jam dinding serasa berhenti berdetak ketika pada akhirnya aku menuntaskan kalimat itu. Aku telah menyampaikannya. Aku telah menyampaikan berita itu padanya. Ale terdiam.
Entah apa yang terjadi disana, pingsankah dia? marahkah dia? Ya Allah, maafkan aku. Ampuni aku....

Tak tahan dengan keterdiamannya, aku perlahan mengetik...

"Ale...maafkan shelma.."

Tak ada jawaban, lalu...

"Jika sekarang ale mau benci shelma, bencilah. Aku rela...." Kutulis apa yang bisa kutulis.
Perasaanku galau dengan ini semua.

"mmm..itu sudah final?,"ale mulai bicara.
"final?"
"Yah.. tak bisa dirubah lagi?"
"mmm...tidak. Ayah akan marah besar jika aku menolak..aku ga bisa apa-apa.. maafkan.
Ini menyangkut hubungan antar keluarga. Bahkan harinya sudah ditentukan."

Aku berbohong padanya. Sampai detik itu, lelaki ini tak pernah tau bagaimana statusku dalam keluarga Arma.
Tak seorang kawanku yang mengetahui keberadaanku dalam keluarga itu. Sungguh bukan
sesuatu yang mengenakkan berada dalam posisi ini.
Aku telah siap semuanya. Setidaknya, inilah yang kurasakan sekarang.
Aku ingin menghadapi semuanya, sendiri.

"Aku akan ke Jogja besok,"tiba-tiba Ale bicara.
"Ha?"
"Iya..besok aku ke Jogja. Aku jemput kamu.."
"Untuk apa?"
"Aku ingin bawa kamu kesini..." Ale menegaskan keinginannya.

Akankah ia datang menjemputku? bahkan alamatku pun ia belum tau. Ini kesalahan fatal kami? Selama kebersamaan kami
yang masih dalam hitungan hari ini, kami terlena dalam perasaan sayang yang tak menduga banyak hal-hal lain yang musti dipikir. Tukar alamat misalnya.

"jangan...ga berguna..."
"ga berguna? Bagaimana kamu bisa ngomong gitu sementara kita belum mencobanya,...?"
"mencoba? mencoba apa?"
"saya akan hadapi bapakmu...aku akan bicara pada Beliau..."
"pleaseeee...jangan...kamu ga perlu berkeras keik gini..."
"kenapa?"
"ale..aku sayang kamu...aku mencintai kamu....aku ga ingin kamu susah...cari gadis lain...shelma ga p[antes buat kamu..."
"gadis lain? gak pantes? sejak kapan kosa kata itu ada di benakmu myshelma?"
"sayang..maafkan shelma..."
"aku besok akan ke Jogja..jemput kamu..dan kita kesini..hidup disini..."
"ngggaaaaaa....kamu ngga usah kesini...biar shelma sendiri yang tanggung ini semua...kamu selesaiin kuliah dulu.."
"kamu? kamu sendiri? lalu aku dimana? akankah aku hanya terdiam tatkala kamu dalam kegalauan? pria macam mana aku?
Shelma sayang...yang penting sekarang kita ketemu dulu...kita rundingkan semuanya bersama...
termasuk..kalo kita musti kawin lari..kamu masih mencintai saya kan?"
"kawin lari..?"
"iya..kenapa ngga...?"
"..aduh..binun shelma..."
"..ga usah bingung sayang....shelma tenangin diri disana...yakinlah..semua akan bisa kita atasi bersama..."Kalimatnya berusaha meyakinkanku.
"..alee...shelma pusing... mo bobo aja.."
"..mmmm..iya...kamu istirahat...aku juga mau quit..mo nyiapin buat besok..."
"ah..jangan...pleaseeee..ga usah ke Jogja..."

Percuma. Ia terlebih dulu keluar.

[01:35:13] *** Quits: Ale (fly@202.95.144.2389) (Exit: aku bukan lelaki pecundang yang meninggalkanmu dalam duka..luv u my shelma..)


pro
Aku bertambah bingung. Kerinduan untuk bertemu, keengganan membawanya dalam tarian duka yang harus kumainkan, dan ah..aku ingin memeluknya.
Aku ingin menangis dalam pelukannya, aku...aku ingin memberikan keindahan pertamaku padanya..hanya padanya...uh harus bagaimana ini.??

Taukah engkau apa arti keindahan pertama bagi perempuan? Adalah persembahan kesucian dan kehormatan untuk orang terkasih, orang tercinta. Ini mungkin berbeda dengan lelaki, seorang perempuan akan berfikir seribu kali untuk menyerahkan kesuciannya. Seorang lelaki, bisa saja keperjakaannya hilang disembarang tempat. Kompleks pelacuran,
WC kamar mandi juga karena berbagai sebab. Tangan yang berlumur sabun atau oli mungkin dua diantaranya. Sedang perempuan? tidak semudah itu. Walau, ada memang perempuan lain yang menganggap itu bukan sesuatu yang penting. Itu urusan mereka. Bagiku ia adalah kehormatan. Ia adalah cinta kasih. Hanya orang yang kucintai yang berhak menyentuhku.
Ini sumpahku.

Lelah aku berfikir, tak kusadari aku terlelap karenanya. Lelah, sungguh lelah.


=======


Dari jauh, rumah kost itu tampak besar dan rasanya setelah kembali kuperhatikan, ia bukanlah berbentuk sebuah rumah. Rangkaian kamar-kamar kost tepatnya, yang beratap asbes warna putih. Aku belum tau bagaimana tampak mukanya, karena dari tempatku memandang sekarang yang terlihat adalah bagian belakangnya. Di bale tepi pematang sawah ini aku terus memandang. Bale apa ini namanya? Ale dulu pernah cerita tentang beberapa keunikan bangunan bali yang memiliki beberapa bale yang khas. Bale bali? bale bengong? Mungkin satu diantara keduanya. Tapi kalau dirasa bale ini ada di tepian pematang dan di pinggir jalan mungkin ini bale untuk penjaga sawah. Tadi, ketika menuju tempat ini, aku sengaja meminta sopir taksi untuk menurunkanku disini, agak jauh dari alamat yang kutuju itu. Aku ingin mempersiapkan langkah. Bukankah sebuah tujuan yang baik harus disusun dengan langkah yang baik?

Aku baru menyadari sesuatu yang khas disini. Bahwa ternyata, di bagian sisi kota Denpasar masih ada persawahan seperti ini.
Kost itu benar-benar di tengah sawah, yang di hubungkan dengan jalan tak beraspal menuju sebuah jalan lain yang tak begitu ramai. Mirip dengan di Jogja, walau tidak persis. Aku ingat, ini mirip dengan salah satu impian kami berdua dulu. Kami, aku dan Ale, pernah memimpikan membina sebuah keluarga kecil yang terletak ditengah sawah, kami bercocok tanam disana, merawat tanaman-tanaman itu tumbuh dan memakan dari apa yang kami tanam. Indah, sungguh indah jika saja itu semua bisa terjadi. Mirip keluarga cemara yang hidup di alam pedesaan yang menyatu dengan alam.
pro
Tak jauh dari tempatku memandangi rumah kost itu, sebuah kenyataan yang berbeda terlihat. Jalan raya yang di penuhi hilir mudik dan lalu lalang kendaraan bermotor, rentetatan ruko yang berdiri memanjang sepanjang jalan dan suasana khas kota besar lain seperti pedagang kaki lima, yang walau tak sebanyak di Jogja atau kota-kota lain, pemandangan itu tetap ada. Ruko-ruko itu memiliki kesamaan satu sama lain yang khas. Warna merah bata pada kolom-kolomnya. Bata gosok kata Ale dulu. Bata gosok memang sesuatu yang lazim ditemui dalam bangunan-bangunan di bali.

Ruko itu rata-rata bertingkat dua, dengan tiga lantai. Untuk menghitung kekuatan strukturnya jika dilakukan secara manual, sama saja dengan kita membatik kertas dengan perhitungan-perhitungan yang njelimet. Metode yang lazim dipergunakan adalah metode takabeya, yang me redistribusi momen yang menjadi bebannya. Kata Ale dulu, setiap bangunan tidak membutuhkan syarat yang neko-neko.

Secara teknis, syaratnya hanya tiga. Jumlah gaya arah horizontal, arah vertikal sama dengan nol dan jumlah momen yang bekerja juga sama dengan nol. Yang membedakan pada masing-masing bangunan itu hanyalah fungsinya bagi manusia. JIka sudah bicara tentang fungsi yang dengan sendirinya akan bermuara pada bentuk bangunan, beban dan komposisi ruangnya.
Pada tingkat ini, seringkali orang-orang sipil bersebrangan dengan orang-orang arsitek.

Orang-orang arsitek yang mendesain menurut fungsi dan penataan ruang, seringkali berbeda keinginan dengan orang-orang sipil yang ingin simetris-simetris saja agar memudahkan perhitungannya. Tapi kata Ale lagi, semua itu sekarang bukan masalah yang besar karena banyak software yang mempermudah analisa dan perhitungan struktur di release seperti sap2000. Ketika Ale menjelaskan itu semua dulu, aku hanya terbengong-bengong karena memang tidak mengerti maksud-maksudnya. Tapi begitulah dia. Ia ingin aku mengenalnya lebih dari sekadar mengenal untuk dicumbu dan dirayu. Ia ingin aku mengenalnya secara utuh, termasuk mengenal kawan-kawannya. Sesekali ia bercerita tentang satu-satu kawannya, perilaku mereka, ke-khas-an yang ada pada mereka dan caci makiannya pada mereka pula.

Kembali kupandangi rumah kost itu. Akankah aku berani melangkah kesana? Menemui satu penghuninya dengan segala duka yang pernah mengiringi kami? Setelah aku bersusah payah mencarinya dan bertanya ke berbagai tempat? Ah, kenapa perasaan ini tiba-tiba muncul? Aku merasa galau untuk melangkah.

Beberapa hari menjelang keberangkatanku ke pulau Bali ini, aku kembali menyempatkan diri online di austnet.
Hampir dua tahun sejak saat-saat terakhir komunikasi kami melalui irc. Aku mencari apakah ada informasi tentang Ale.
Berbagai usaha kulakukan dengan bertanya kepada beberapa chatter yang ada disana. Banyak yang aku tidak mengenalnya. Orang-orang lama sudah menghilang rupanya.

Nickname ale pun sudah tidak terregistrasi. Channelnya sudah pindah tangan. Dalam beberapa hari itu pula aku merenungi smua yang terjadi dalam hidupku. Lika-liku perjalanan irc ku, perkenalan dengan ale dan sebuah rasa takjub terhadap sebuah program komputer yang menghubungkan banyak insan dari berbagai tempat, menjalin komunikasi, bahkan menjalin perasaan cinta kasih. Inikah jawaban atas kebutuhan manusia modern? Benarkah itu yang kita butuhkan? Sebuah dunia tanpa batas? JIka benar ia tanpa batas, bukankah semestinya kami tak terhadang kenyataan kenyataan pahit yang menimpa kami? Apakah ini kesalahan kami memaknai kemajuan teknologi? Entahlah. Ternyata diantara wilayah tanpa batas itu, kita justru terbatas oleh pengetahuan dan ilmu yang kita miliki. Aku masih manusia. Penuh keterbatasan.

Kuangkat pantatku dan berdiri. Jika terus aku disini, takkan pernah aku menggapai langkah lebih jauh. Takkan aku tahu benarkah cintaku ada disana. Masihkah ia mengingatku?
masihkah ia menantiku? bagaimanakah rupanya kini? Apapun yang terjadi, aku harus kuat. Aku masih bisa merasakan getaran-getaran batin bahwa ia merindukanku. Dalam sebuah mimpiku,
kulihat ia bermunajat. Ada namaku disebut. Pada saat-saat seperti itu, batinku bergetar.

Dalam beberapa langkah, kakiku akan sampai di gerbang rumah kost itu. Sebentuk pintu rel terbuka lebar. Sebuah hardtop krem dan beberapa sepeda motor parkir di halamannya. Hardtop itu dan tiga motor yang parkir berseri
ber pelat DK sebuah motor lain ber pelat B. Suasananya tampak sepi, seperti tak ada kehidupan. Saat itu jam ditanganku menunjukkan jam dua siang. Dan dugaanku salah ketika menduga tak ada orang disitu siang ini. Seorang ibu-ibu berdiri tampak sedang mengerjakan sesuatu. Kuamati sekilas, aha..sedang meracik bumbu rupanya dan di depan itu rupanya sebuah warung. Sebuah warung yang menempelkan dirinya pada sebuah dinding kamar kost yang kebetulan menghadap kearah utara. Agak samar karena jendelanya tertutup. Rumah kost itu sendiri rupanya berbentuk letter U menghadap ketimur dan sebidang lain berada di tengah-tengahnya.

Langkahku perlahan dan pasti kuarahkan kepada ibu yang tengah meracik bumbu itu. Ia tak menyadari kehadiranku,
ketika aku menyapanya,...

"permisi ibu....,"aku mulai menyapanya.
"eh eh...e lha dallah.....ngageti ae...," Ia terkejut dan tak menduga kehadiranku disana.
"Ups..,"tak kalah terkejutnya aku. "maaf..maaf bu..,"aku berusaha meredakan keterkejutannya.

Kuperhatikan, ia seorang yang berumur sekitar limapuluhan. Beberapa bagian mukanya sudah berkeriput, ada rona sayu dimatanya.
Masa mudanya tampak tak terlalu cantik, namun sumringah. Bukan etnis bali, karena tadi sepintas ia berbahasa dengan logat jawa yang kental.

"adik ini siapa dan nyari siapa?, "mulai ibu itu bertanya setelah terlepas dari keterkejutannya.
"saya shelma Bu.."
"shelma? Bukan sales kan?"
"BUkan...saya shelma..saya kesini mau ketemu Ale. Ale masih tinggal disini BU?"
"Ale?"
"injih.."
"Namamu siapa tadi nak? sel sel..."
"shelma bu..."
"shelma..?" Diulangnya namaku. Kali ini diucapkan dengan nada bertanya.
=============
pro
======================

Denpasar, 13 Mei 2002, Usai Nyepi.

Ale. Begitu singkatnya namaku. Secara berseloroh, kawan-kawanku sering mempelesetkannya sebagai Anak Leak. Aku adalah Anak Lelaki. Tentu saja aku lelaki. Diselangkanganku terdapat sepotong tongkat mini yang ujungnya tumpul berlubang. Sebentuk tongkat yang unik, karena ia bisa mengeras, membesar dan kemudian kembali mengendur. Tergantung situasi yang ada. Yang rada mengherankan, tongkat mini ini selalu mengeras tiap pagi juga diwaktu waktu lain ketika ada sesuatu yang indah melintas didepan mata. Dengan sebatang tongkat mini ini, kelak seorang lelaki kan terbukti apakah ia lelaki sejati atau bukan. Apa hubungannya? begini. Banyak adagium tentang kesejatian lelaki. Misalnya bahwa lelaki sejati adalah mereka yang pernah menaklukkan berbagai puncak gunung, mereka yang merokok merk tertentu, mereka yang banyak gonta-ganti cewe. Tapi bagiku, bukan itu. Yang menjadi penentu kesejatian seorang lelaki adalah bisa tidaknya ia membuat hamil perempuan. Bukankan ujung-ujungnya disana? Dan tentu saja, berkat kerjasama yang erat antara si tongkat mini yang sering nakal dan lawannya yang merekah itu.

Ale, anak Lelaki yang kini berada dalam tahap awal kedewasaan. Belum sepenuhnya dewasa, karena aku merasa bahwa untuk bisa dikatakan dewasa, selain tidak lagi berperilaku kekanak-kanakan, seseorang musti hidup dengan sebuah kemandirian dan kematangan mental untuk menghadapi perubahan hidup. Aku merasa belum berada pada level itu. Beberapa perubahan dan tantangan hidup terkadang kuhadapi dengan tangan terkepal namun tak jarang juga aku hindari dan melarikan diri darinya. Semua tergantung situasi dan kalkulasi. Bukankah tiap permasalahan bisa diperhitungkan? O`..lebih tepat ditimbang-timbang. Timbangan baik-buruk, untung-rugi, dan kemampuan diri. Kalau memang sebuah masalah bagiku bisa dihadapi dengan kemampuanku sendiri dan perhitungan lain tanpa emosional, tentu akan kuhadapi. Sebaliknya, jika semuanya tidak memadai kurasa lebih baik menghindarinya.

Jeleknya tak jarang pula, yang kulakukan bukan keduanya tapi satu yang terakhir. Melarikan diri. Ini sebenarnya pilihan kecut namun acapkali ini juga adalah pilihan terbaik. Apakah ini berarti sebuah karakter yang tidak punya konsistensi? Kurasa tidak juga. Menghadapi persoalan tanpa persiapan hasilnya adalah sebuah kebodohan. Menghindari masalah bukan berarti tak berani menghadapinya, namun dibutuhkan persiapan untuk menghadapinya. Tentunya diwaktu yang lain. Yang paling unik terkadang adalah kondisi yang memaksa dan tak terduga. Mau tak mau harus dihadapi, karena untuk dihindari apalagi ditinggalkan pertaruhannya cukup besar. Harga diri misalnya. Yah. Pada akhirnya, kembali pada sosok yang menghadapi persoalan tersebut. Bagaimana sikap, kesiapan dan pengalamannya. Masing masing orang, punya pembenaran dan pembelaaan atas alasan dan tujuan yang ia pilih.

Denpasar usai hari raya nyepi masih terasa lengang. Banyak warga kota mudik ke kampung halamannya untuk merayakan hari raya in bersama keluarganya. Hari raya nyepi merupakan sebuah hari raya yang terbilang unik. Ketika hari raya Nyepi tiba, kota Denpasar dan tempat lain di pulau Bali sepi. Lengang tanpa suara. Tak ada gemuruh suara knalpot yang meraung-raung mengebulkan asap, tak ada hingar-bingar orang berlalu lalang. Sunyi, sungguh sunyi. Kalaupun ada suara kendaraan melintas di jalan raya, bisa diyakini itu adalah ambulance atau kendaraan untuk sarana darurat lain. Untuk kendaraan-kendaraan itu, memang diberi ijin khusus untuk tetap beroperasi sesuai kebutuhan. Malam harinya, semua gelap. Tak ada lampu yang menyala, kecuali nyala lilin untuk rumah tangga yang mempunyai bayi atau karena situasi khusus yang membutuhkan penerangan semisal ada orang sakit. Suasana hari raya itu begitu khusuk. Walau memang tak bisa dipungkiri terjadi satu-dua pelanggaran karena memang tabiat manusia yang suka melanggar aturan.

Hari belum begitu siang, ketika aku pergi ke wartel untuk nelpon Shelma di Jogja. Ada kerinduan yang memuncak dalam ubun-ubun kepalaku untuk sekadar mendengar suaranya. Dering bunyi telepon berbunyi diseberang sana. Seorang ibu menjawab dan memberitahukan bahwa Shelmaku sedang terlelap dalam tidurnya. Adakah Ia memimpikan diriku? Bagaimana rupaku dalam mimpinya? Segagah aslinya? Semoga saja. Aku masih belum tau banyak tentang kekasihku ini. Kami saling mencintai tanpa basa basi. Berhubungan cinta kasih tnpa pernah berjumpa. Kesemuanya itu lewat sebuah media interaktif yang sangat memukau diriku. Internet. Yeah. Ketika berada dalam lingkup itu, semua terasa begitu luas, besar dan tanpa batas. Menjadi siapa saja bukan sesuatu yang sulit. Sebaliknya, yang sulit adalah menjadi diri sendiri seutuhnya. Terlebih melalui pogram relay chat yang populer seperti mIRC. Komunikasi melalui text tak jarang mendistorsi siapa kita, bagaimana kita. Maka kurasa, tantangan terberat bergulat dalam dunia itu adalah menjadi diri sendiri. Bisakah seorang Ale tetap apa adanya Ale walau hidup di dunia cyber? Aku menjawabnya bisa. Aku telah mencobanya dan aku menjadi diriku sendiri. Sampai satu ketika aku bertemu Shelma, dirikulah yang muncul. Ia pun begitu. Ditambah berbagai kebetulan yang mengiringi, dan dengan kedalaman tekad aku bertekad menyatukan semuanya dalam sebuah tali cinta. Agak sulit menggapainya pada awal mula aku mendekat, namun pada akhirnya aku meraih hatinya. Sungguh ini sesuatu yang luar biasa, ketika aku menghadapi rencana kerja mempersiapkan sebuah tabloid bersama kawan, aku bertemu dengannya yang juga mantan aktivis pers kampusnya. Disaat yang sama batinku membutuhkan sentuhan lembut intuisi perempuan. Aku menemukan semuanya pada diri Shelma.


***
"..if he love you....
....like I love you....."

When we dance. Sting melantunkannya dengan penuh perasaan. Lagu itu mengalun lembut dari komputer dalam ruangan 4x5 meter persegi, sebuah warnet yang menjadi langgananku. Situasi warnet yang sangat personal dan hening membuat lagu itu terasa beda untuk di nikmati.

Sebuah komputer berprosesor pentium 233mmx ada dihadapanku. Sebuah mesin kecil yang telah merubah wajah dunia.
Wajahku juga. Sering aku menjadi pucat karena berlama-lama berinteraksi di dengannya. Sampai saat itu, aku belum memaknai makna yang tersirat dalam lagu itu.

Keadaan berubah 180 derajat satu jam kemudian. Perasaanku yang sejak malam sebelumnya gelisah dan When we dance yang
dilantunkan Sting rupanya sebuah pertanda akan sebuah perubahan yang besar. Shelma dijodohkan orangtuanya dan Ia menyetujuinya tanpa mampu mengelak. Entah kenapa. Padahal, hari yang sama ketika kami jadian, Ia pun menuturkan bahwa ia sedang dilamar oleh keluarga kawan ayahnya namun ia berani menolak.

"Semua diserahkan pada Shelma untuk mengambil keputusan,"katanya pagi itu.

Aku hanya bisa bergumam dalam hati,

"Ya Tuhan, dimanakah engkau kini? Ujian apalagi ini?"


Terbayang situasi yang dihadapi Shelmaku. Tentu telah terjadi sesuatu yang luar biasa hingga Ia tak mampu menolaknya. Ini yang aku belum tau. Kupandangi fotonya di web kesayanganku. Terbayang ia menangis. Mata indahnya basah, sembab. Gejolak emosiku meluap. Aku akan menjemputnya. Tak ada kata lain.Aku tak ingin meninggalkannya sendiri, aku tak ingin melarikan diri dari masalah ini. Bukankah jika kami bisa bertemu, kami dapat menghadapinya bersama-sama? Bukankah ada pepatah berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing?

Semua itu ada tentu bukan tanpa alasan. Dalam pikiranku, ketika kami bertemu nanti, kami bisa bahas banyak alternatif pemecahan masalah ini bersama-sama. Bahkan jika perlu menghadapi Ayah Shelma untuk mengutaran perasaan kami sebenarnya. Orang tua manapun, tetap adalah manusia yang masih bisa diajak bicara. Orang muda mungkin emosional, tapi tidak selamanya salah. Perubahan selalu ada di kamum muda. Dan itu telah kusampaikan padanya. Shelma berkeras melarang, namun terlambat dan tak lagi berguna. Aku telah mengambil keputusan.

Warnet itu segera kutinggalkan. Hatiku bergejolak. Tornado kesayanganku kupacu penuh emosi. Lelaki manakah yang akan terima kekasihnya dijodohkan dengan orang lain? Tamparan yang terasa amat perih di hatiku. Eh, emangnya hati bisa ditampar?

***

Stasiun Lempunyangan, dua hari kemudian.

Stasiun lempuyangan terlihat ramai pagi itu ketika kakiku menginjakkan kaki untuk kali pertama aku menjalin cinta dengan Shelma di jogjakarta. Situasi di stasin itu tak jauh beda dengan keebanyakan stasiun lain di berbagai kota di bumi pertiwi ini.
Sepanjang peron stasiun dipenuhi pedagang jajan dan oleh-oleh khas kota ini. Disini, bakpia bathok menjadi menu utama. Di semarang, jenang kudus dan wingko babad. Selalu ada yang khas di setiap tempat yang aku singgahi.

Pagi tadi di surabaya, ketika aku transit dan kereta mutiara timur yang berakhir di stasiun gubeng dan hendak melanjutkan perjalanan ke Jogja, aiku sempat meelpon Shelmaku. Apa yang aku dengar tak jauh berbeda dengan beberapa waktu sebelumnya. Memintaku untuk tidak berangkat dan tadi pagi, memintaku membatalkan perjalanan ke jogja ini. Ia berkeras ingin menghadapi semuanya sendiri. Huh, mana bisa? Bagiku, sekali langkah diayunkan, pantang aku tarik mundur kembali. Aha. Aku jadi ingat komentar seseorang yang kuanggap kakak di semarang, Mbak Herny.

Mbak Herny pernah bilang,
"kekeras kepalaan yang ada padamu..bisa dipositifkan sebagai sikap pantang menyerah..."
Kata-kata yang selalu kuingat...bahwa aku ga boleh gampang menyerah.
Sekeras apapun tantangan yang kuhadapi.

Pagi tadi pula, ketika nelpon itu, kembali kupertegas, bahwa aku tak akan surut melangkah.
"Aku akan tetap mencarimu Shelma...." Kutegaskan padanya.
Yah. Hanya ketegasan yang memperkuat nyaliku, yang jujur saja terasa tercabik-cabik. Sebelum kepastian keberangkatanku ke Jogja ini, beberapa kali kami saling kontak. Aku sempat menunda perjalananku sehari. sebuah masalah vital menghadang. Ketiadaan biaya. Aku terhitung sangat boros dalam banyak urusan satu ini. Tapi selalu menemukan jalan untuk smua itu, walau dengan jalan meminjam. Aku meminjam sama kawanku si Reza, sebesar ongkos perjalananku. Ah...susahnya ia pun menahanku agar tidak berangat segera. Barang kiriman hasil cardingnya sudah tiba. Dan kenapa menahanku? ia menggunakan alamatku. Sungguh menjengkelkan.

Sempat pula sebelumnya aku mengontak beberapa kawan yang ada di kota ini. Bagaimanapun aku harus perhitungkan banyak hal yang mungkin terjadi, bahkan untuk sekadar menginap. Tak sulit bagiku untuk bermalam dimanapun di berbagai kota.
Setiap kota aku punya tempat persinggahan.

Beberapa kali aku mengontak shelma melalui ponselnya. Mati. Hanya suara mailboxnya yang terdengar. Beberapa kali aku mencoba telpon ke rumahnya, oleh yang menerima dikatakan shelma di kantor. blar!! dimana kantornya?
Sungguh brengsek. Ketika situasi membutuhkan, aku bahkan tak tau dimana ia berada dan dimana kantornya. Ah, terlalu asyik masyuknya kami menyelaraskan isi hati sampai hal-hal sepele kayak gini terlupakan untuk ditanya. Cinta membutakan? Apa yang kualami ini, mungkin yang dimaksud.

Dengan keberangkatanku ini pula, aku harus menempuh beberapa pilihan sulit yang aku kalahkan. Si Nico, kawan yang mengajakku memulai usaha Tabloid telah berencana usai nyepi akan menemui calon investor bersama-sama dengan Bowo kawanku yang lain. Kami akan presentasi tentang kesiapan mengerjakan tabloid itu. Sebelum aku berangkat, persiapan-persiapan kearah sana telah kami persiapkan. Proposal penawaran, Cash Flow, Dummy dan termasuk keuntungan sebuah tabloid. Perhitungan-perhitungan dalam menyusun persiapan tabloid itu pun tak terlepas dari berbagai
kemungkinan merugi, walau Nico sangat yakin bisnis ini menguntungkan. Ia begitu yakinnya karena ia didukung seorang marketing kawan lamanya yang bisa terbilang expert. Dengan keberangkatanku ini, dua kawanku itu berangkat presentasi tanpaku. Entah bagaimana hasilnya.

"Mas,..Taksi?" seseorang menyapaku. Seorang sopir taksi.

Gelagapan aku tersadar dari lamunanku di bangku biru yang ada di stasiun itu. Seorang sopir taksi tersenyum ramah menawarkan jasa.

"O..Ngga pak. Terimakasih. Saya mau ngopi dulu."

Kutampik tawarannya sehalus mungkin agar tidak menyinggung perasaannya. Aku ingat bahawa aku saat ini di jogja.
Menurut cerita filsafat yang pernah aku baca, karakter orang Jogja bisa di lihat melalui Blangkon yang dikenakannya, yang mempunyai gundukan di belakang. Filosofinya, di depan mereka akan tampak halus, dan jika punya ganjalan dalam hati
akan dipendam dalam hati. Entah benar atau ngga, aku ga tau pastinya. Yang jelas, takkan ada asap tanpa api.

Kutinggalkan stasiun itu. Kakiku melangkah keseberang jalan stasiun. Disana terlihat ada sebuah wartel dan didepannya beberapa warung kopi. Rasanya aku perlu mempersiapkan dan memikirkan banyak hal sebelum melanjutkan langkah.

Sambil menunggu kopiku disiapkan, kusempatkan kembali nelpon Shelma. Lagi-lagi mailbox. Kutelepon tiga kawan lain dan mengabarkan aku sudah disini, dua diantaranya siap menjemput. Luar biasa. Ketika semua itu sudah selesai, kulihat segelas kopi telah menantiku. Aku berusaha menikmatinya.


Sambil berusaha mencari, aku singgah di warnet seorang kawan. warnet itu berada di sebuah paviliun rumah besar yang menjadi markas anak-anak austnet Jogja. Sambil menunggu perkembangan dan terus mencarinya, aku berjumpa beberapa kawan.
pro
========================****===========================
"Bagaimana Mbak? selesai membacanya?"
Suara lembut perempuan muda disampingku menyadarkanku dari diamku usai membaca tulisan di layar monitor kumputer tua ini.

"Iya..selesai..Tulisannya tak selesai."
"menurut Mbak Shelma bagaimana dan apa baiknya?"

"Entahlah mbak. Saya bingung. Terlalu cepat semua terjadi.
Apa yang Ale Tulis itu semua benar. Hanya, beberapa hal ia lupa tulis. Entah jika ia ingin melewatkan bagian-bagian itu atau memang belum seluruhnay tuntas"

"Mungkin Mbak Shelma ingin mengatakan sesuatu?.."

Ah sulit bagiku. Benar, keadaaan berjalan begitu cepatnya. Siang tadi Bu Min, seorang yang menyapaku di depan pintu tekhenyak mendenga namaku kusebutkan. Rupanya banyak kejadian disini dan namaku telah begitu sering disebut di rumah Kost ini.

Ale tidak lagi tinggal disini, namun seluruh barang miliknya masih disini. Seorang perempuan muda ada dikamarnya. Ia memperkenalkan diri sebagai Ayudya Atik yang tak kalah terhenyaknya ketika kusebutkan namaku. Pikiranku kacau. Ada apakah ini?

Sesaat kemnudian aku dipersilakan masuk ke kamar kost Ale itu.

Ruangan yang tak terlalu besar, sebuah komputer, lemari palstik dan satu lemari lain penuh dengan jajaran buku. Tapi dimanakah Ale? Jika semua barangnya ada disini, kenapa Ia tidak tinggal disini? Apakah ia sedang pulang ke Jakarta? Dimanakah dia? Sungguh tk adil. ketika aku ingin bertemu dengannya, Ia tidak ada disini. Terlambatkah aku?


"Mbak.. sebenarnya dimana ale? trus gmana status kost nya ini?," aku berusaha bertanya dan menyelidik tentang ale. Mbak Ayu, yang berbicara denganku ini adalah putri dari Bu min yang tadi menyambut kedatanganku di rumah kost ini.

Ale sudah pernah bercerita tentang situasi kost nya. Tentang ibu kost, keluarga ibu kost dan orang-orang yang tinggal disini. Jadi, bukan sesuatu yang terlalu asing buatku. Ketika tadi aku memperkenalkan diri, mereka pun sepertinya tidak terlalu terkejut dan sudah menduga kedatanganku. Entah apa yang sebenarnya terjadi aku belum sepenuhnya paham.

Mbak atik terdiam, matanya tampak tak terlalu yakin tentang apa yang dipikirkannya. Sampai akhirnya ia mulai membuka mulut, dan perlahan-lahan bercerita.

"Mbak shelma...sebenarnya kami disini sudah tau kalo mbak mau datang.."

"Kok bisa...gimana bisa,.."selaku. Tapi tatap matanya berubah, berharap agar aku tidak memotong bicaranya.

"Mbak..tentang hubungan mbak dengan mas Ale, kami sudah tau semuanya. Bukan semua yang tinggal disini, tapi ibu, bapak dan saya. Mas ale dah kayak keluarga disini. Bukan orang lain. Jadi kalo ada apa-apa,ia selalu terbuka sama kami.."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,..

"Tentang hubungan dengan mbak, sebenarnya ini perkecualian. Mas Ale sepertinya tidak ingin ada yang tahu. Dia tidak pernah cerita pada siapapun. Ini kelakuan dia dari dulu. Kalo ada masalah dia selesaikan dan hadapi sendiri, ga cerita-cerita. Tapi klo dapet rejeki lebih, semua pasti tau karena ia agak royal dan ga pelit masalah duit. Tapi, hari hari terakhir itu, mas Ale agak aneh. Beberapa kali menghilang dan pulang-pulang kusut. Beberapa kali seperti itu dalam satu bulan, dan dia agak berubah jadi lebih pendiam dibanding biasanya."

Kembali ia berhenti sejenak, mengambil nafas. Kali ini agak panjang.

"Trus ibu setelah rundingan sama saya, mengambil inisiatif untuk menanyakan langsung ke mas Ale, ada apa...karena masa se kalo seneng dibagi-bagi tapi kalo susah dia muram sendiri. Atas dasar itu ibu nanya langsung ke mas Ale...dan sesegukan...mas ale cerita tentang mbak...sampe nangis nangis...dan ibu dipeluk..."

Oh...sebegitunya...aku ga menduga bahwa lelaki itu bisa nangis...tapi aku pun kurasa mataku mulai sembab..

"Nah mbak..sejak itu mas Ale bisa mulai senyum lagi walau ga kayak dulu-dulu. Dan satu hari, mas ale pamit ke ibu mau pergi jauh katanya. Dia ga bilang mau kemana..tapi dia berjanji akan kembali..tentang kost ini, dia ga mau melepas. Kamar ini terus dibayar sama dia sampai sekarang. Saya dipasrahi untuk merawat kamar ini, dan pesannya ke saya dulu, kalo mbak datang diminta buka komputernya. Katanya ada cerita untuk mbak. Kami ga pernah ngidupin kompuetnya, karena kami ga tau gimana ngidupinnya. Kami pun ga tau dia dimana karena dia hanya transfer uang lewat bank saya. Semua ini dia lakukan, karena dia yakin banget kalo mbak mau datang. Karena itulah kami pun yakin kalo mbak mau datang...."

Ya ampun..begitu yakinnya dia padaku? Bahkan begitu yakinnya ia meyakinkan orang lain tentang cinta kami? Sungguh. Ini semua diluar apa yang kuduga. Beberapa kali aku menduga dan berburuk sangka, ah paling dia udah menemukan orang lain...namun ternyata, sungguh diluar apa yang aku pikirkan.

***

Sejak itu, aku memutuskan hidup di Denpasar. Sempat beberapa kali pulang ke Jogja, tapi itu hanya untuk mengurus beberapa berkas yang kuperlukan di denpasar ini. Aku mengajukan mutasi kerja, dan di setujui oleh pimpinanku. Jadilah aku menjadi warga baru kota denpasar yang kurasa asing pada awalnya namun ramah belakangan hari.

Aku tinggal tidak terlalu jauh dari kost Ale. Ini kusengaja agar aku tidak terus menerus terbayang dia. Aku mulai merasakan sesuatu yang membahagiakan. Sesekali dalam seminggu atau hari-hari dimana aku senggang, aku menginap dan tidur di kamar Ale. Bu min dan keluarganya tak lama menjadi akrab denganku. Mereka memperlakukan aku dengan sangat baik dan hati-hati. Namun tak jarang aku tangkap bahwa ada tatapan pilu dan kasihan terhadapku. Aku memakluminya.

Hari-hari berlalu tak terasa, waktu berjalan dengan cepatnya.

Dalam penantianku, terkadang aku merasa jenuh. Terkadang bosan dan ingin rasanya berpaling pada laki-laki lain, yang rasanya aku tak akan sulit mendapatkannya. Uhm..sombongnya aku. Dan ketika perasaan itu muncul, aku ga tau apakah benar itu permintaan hatiku atau bukan, apakah makna itu yang di bisikkan hatiku yang terdalam. Kebingungan kemudian datang tanpa permisi yang membuatku diam dan hanya memandangi raut mukaku dan basahnya kelopak mata dalam cermin di depan meja riasku. Aku teramat sangat mencintainya, dan aku terus harus menjalani perasaan ini. Tanpa bisa kuabaikan atau kupungkiri.

***
Dan penantianku itu sampai pada satu siang. Tidak biasanya Mbak Atik menelponku di kantor, dan mengabarkan sesuatu yang penting. Dia memintaku untuk ke kost Ale, segera.

"Penting mbak...tentang Mas Ale..."

Hatiku berdebar. Datangkah dia? Uh..hatiku tak menentu...aku telah sangat lama menantikannya..tapi siapkah aku? Siap siap siap...aku harus siap. Aku menyemangati diri.

Perjalanan menuju kost Ale terasa lama...padahal jalan-jalan di Denpasar ini tidaklah seperti jogja atau jakarta yang selalu padat. Cukup lengang, namun bagiku tiap detik terasa begitu lamanya. Benarkah dia datang? Apa yang akan kukatakan? Kalimat apa yang akan ku katakan? Dear I miss you? Ale..aku sayang kamu? Ale aku rinduuuu banget sama kamu?.....ale maafin shelma? ah.....

Begitu tiba di kost ale, aku terhenyak. Tidak ada sesuatu yang luar biasa sepertinya sedang terjadi. Aku terus melangkah, dan makin dekat ke kamar ale, semakin tidak menentu rasanya hatiku. Berat betul kurasa kakiku melangkah. Tapi hatiku terus berteriak...ayo shelma....temui..temui....


Semakin dekat, aku tidak mendengar suara yang mengundang perhatian selayaknya sesorang yang datang dari jauh. Ah, aku dengar ada suara mbak Atik didalam dan seorang laki-laki lain...mungkinkah itu Ale?...

Di depan pintu aku terdiam. Dua orang dalam kamar itu pun terdiam. Kudapati mbak Atik dan sesorang lain seperti sedang berkemas. Dia bukan Ale. Aku terdiam, menatap keduanya. Kurasa ada kesedihan di mata keduanya, dan mbak atik menatapku tanpa sepatah kata...terdiam...smua bisu.

"mbak..." aku lirih memanggilnya.

"Mbak shelma...ini..ini aldi, adiknya mas Ale..." terbata-bata ia bicara...

Lelaki itu aldi, adiknya Ale. Oh, aku ingat bahwa memang Ale memiliki dua adik. Satu perempuan, satu lelaki.


Seolah mengerti apa yang sedang kupikirkan,Aldi segera menghampiriku...dan memperkenalkan diri...

"Saya aldi, dan saya sudah tau tentang mbak.."tegas, namun terdengar berat.

Aku terus terbisu, aku hanya menatapnya..tanpa mampu berkata kata...kuharap ia tahu, aku sedang menunggu kabar tentang kakaknya.

"Mbak.."lirih ia memanggilku.

"..."

"Mas Ale sudah ga ada..."

Oh........kabar apa iniiiii....kurasa semua tiba-tiba menjadi gelap....ya allah....
pro
***

Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Ketika terbangun, kurasa hari telah gelap. beberapa oang duduk di samping tempatku berbaring. Aku masih belum mampu berfikir ketika mataku menatap mereka satu persatu. Bu min, Mbak atik, dan aldi. Semua dalam rona duka.

"Mbak..."Aldi mulai bicara.
"Mas Ale sangat mencintai mbak. Berulang kali mas nyebut nama mbak dalam sekaratnya. Mas Aldi menderita kanker otak yang sudah akut. Dia sudah tau ini akan terjadi. Hanya memang, dia tak pernah membicarakannya. Kami hanya tau satu hari ada teman kerjanya ngabari bahwa mas Ale pingsan di proyek setelah sempat marah-marah ke tukang-tukangnya. Selama ini mas aldi merindukan mbak. Dia pergi dan merantau kemana-mana, sampai akhirnya kembali ke jakarta. Dan dijakarta ia bekerja bersama teman lamanya sebagai kontraktor. Setau saya, dia tidak pernah bersama perempuan lain. Ketika ibu bertanya kapan nikah, ia hanya menjawab mey....ah meybi yes meibi no. Tapi mas pernah bercerita bahwa jika tidak sama perempuan yang dia tidak akan menikahi perempuan lains selain shelma. Nama mbak menjadi tanda tanya besar dalam keluarga kami. Dia jarang bercerita.

Menjelang kematiannya, dia beberapa kali mengigau memanggil-manggil mbak. Namun, kami ga tau siapa mbak. Dimana mbak dan bagaimana hubungan mbak dengan kakak saya. Tapi jangan kuatir mbak, kalimat terakhir sebelum meninggalnya adalah kalimat syahadat. Doakan mbak, agar mas tenang. Dan akhirnya kami tau setelah mas meninggal. Kami beranikan diri membuka catatan-catatan dan buku pribadinya. Selama ini, kami tidak ada yang berani menyentuh wilayah pribadi mas. Dia selalu marah jika ada yang mendekati barang-barang pribadinya. Dia ngajari kami tentang privasi dan bagaimana kami harus menghormati privasinya. Juga ke tiap orang.

Mas selalu terbuka mbak, setiap ada persoalan dengan kerjanya atau masalah lain ia bercerita ke kami. Entah kenapa, rasanya dulu dia ga begitu. Tapi tentang mbak, sekali lagi, rasanya dia tak pernah bercerita."

Aldi berhenti bicara. Di tegugnya kopi yang ada di meja. Lalu dia berdiri, dan seperti ingin mengambil sesuatu dari dalam sebuah tas. Sebuah buku. Buku harian.

"Mbak, ini..ini buku harian mas Ale.." diulurkannya buku itu kepadaku. Aku terima dan kubuka perlahan-lahan.

Buku itu buku harian serupa agenda. Dari sampulnya aku tahu itu terbitan 2003. Masih sangat rapi, nyaris seperti baru.

Halaman pertama, kubuka dan tertulis,."Ale untuk Shelma". Sebuah coretan tebal dan kasar. Membacanya, kurasa kembali mataku basah. Tak kuasa aku menahannya. Semua yang ada di kamar itu terdiam.

Aku buka halaman selanjutnya, kosong. Kubuka lagi, kosong. Sampai aku mencapai halaman tertanggal 9 September.
Kubaca,

"9 September 2003, Selamat ulang tahun shelma ku. Aku mencintai kamu!"
"9 September 2004, Shelma, kamu tambah usia sayang...I love you!"
"9 September 2005, Bagaimana kabar setahun ini sayang? Selamat ulang tahun! I love you!"
"9 September 2006, Sungguh aku merindukanmu...selamat ulang tahun shelmaku...."

Hanya itu. Tahun 2006 menjadi ucapan selamat yang terakhir darinya. Halaman lain, kosong. Ya allah, apa artinya ini buat aku. Sungguh aku ga mengerti. Aku hanya bisa menangis. Sungguh...aku ga tau apa makna semua ini.

Aldi beringsut dan berdiri. Ia berjalan pelan menuju pintu, dan menoleh kearahku.

"Mbak..besok saya pulang, barang-barang mas Ale sudah saya kemas. Mbak ikut kan...?"

Hanya anggukan yang bisa kulakukan. Selebihnya, duka.

***

Pagi, di pekuburan tua, aku melihat satu unggukan kuburan yang tanahnya masih basah, bunga-bunga yang bertaburan diatasnya mulai layu. Kutahu itu kuburan ale. Alfian Eto'o (ALE) LAHIR 2 NOVEMBER 1976 MENINGGAL 1 sEPTEMBER 2007. Meninggal delapan hari lalu, dan sekarang,..oh..hari lahirku. Aku, lagi lagi tak mampu berkata-kata...kakiku terasa lemas...dan aku jatuh bersimpuh di kuburan itu. Aku tak tau apa-apa lagi. Sungguh aku tak tau apa-apa lagi.


denpasar,
13 Mey 2007

======
dan seperti aku bilang di awal topic ini, pdf nya terlampir.
kritik aku tunggu....jujur aku keteteran nyari ending... sad.gif

nastro
lanjut bro ... bagus kok.
pro
QUOTE(nastro @ May 14 2007, 12:40 AM) [snapback]400182[/snapback]
lanjut bro ... bagus kok.

udah selese om...
kritiknya mana...
btw ente ngepost ampe doble2 gitu...
ck ck Tounge.gif

oya kirimin dunk link soal nastro mau juga baca..
The Rambo
@pro ... udah bagus bro !!! Peace.gif

cm ada sedikit saran aja ... klimaks klo bs loe panjangin dikit biar anti klimaks ga begitu terasa Tounge.gif
soal ending emang agak2 kurang menurut gw ... mgkn bs loe tambahin gambaran hati shelma waktu ikut ma aldi
bagaimana perasaan yg berkecamuk ... liat suasana menuju makam ... gw yakin cew yg baca lgsg crying_anim.gif

btw ... gw suka n kasih dua jempol buat loe ! speak_cool.gif Party.gif
ai.Luvie
ai luv it,, smile.gif Rose.gif Love.gif

Seorang ai yang cengeng, seperti biasa meneteskan air mata ketika membaca cerita2 yang mengharu biru. Untuk orang lain mgkn akan merasa biasa saja baca cerita, tp buat ai yang cengeng, ceritanya menyentuh hati dan punya kesan yang cukup dalam. Tounge.gif
gatau kenapa, cerita2 kaya gini (walaupun ai gak suka akhir yang gak bahagia) membuat ai selalu ingat, kalo manusia hidup cuma sebentar. Semua yang ada di dunia ini, menurut ai bukan hal yang abadi, smua yang kita miliki jg cuma sementara, belum tentu besok masih ada. sad.gif

Tau gak om, terkadang, ai suka berpikir apa rasanya kalau seandainya ai yang lebih dulu meninggalkan orang2 yang ai sayangi atau orang2 yang ai sayangi meninggalkan ai lebih dulu. Apakah itu pemikiran orang yang pesimis? atau hanya pemikiran orang yang berusaha menyiapkan hati? Ai seringkali lupa untuk bersyukur untuk semua hal yang ai miliki, baiknya cerita2 seperti ini untuk ai, mengingatkan ai untuk menjaga apa yang ai miliki. Ko kayaknya ai melankolis sekali yah? Tounge.gif

umm,, kritik??
jujur aja ai bingung mau kasih kritik apa, karena menurut ai ceritanya udah oke kok. smile.gif
Hanya saja, ai agak bisa menebak akhirnya seperti apa, karena akhir2 ini dosen ai kalo ngasih film gak ada yang happy ending. sad.gif Cuman, tetep aja penasaran akan seperti apa om Pro menyelesaikan cerita ini.

ai suka karyanya om Pro. Kan ai udah jadi fansnya om Pro. HeHe.gif
ai tungguin karya om Pro yang baru, sementara ai baca2 karya om Pro yang lain. Love.gif

--ai lagi belajar memperbaiki tulisan ai menjadi tulisan yang cukup benar, karena selama di sini bahasa indonesia ai udah dudulz berat, jarang menulis dan berbicara bahasa indonesia yang baik dan benar nih sad.gif--
Heil Cяew
yah ai cengeng.. Tounge.gif
makan tuh cengeng.. HeHe.gif
ai.Luvie
QUOTE(The ©®εw @ Jul 5 2007, 02:04 PM) [snapback]488887[/snapback]
yah ai cengeng.. Tounge.gif
makan tuh cengeng.. HeHe.gif



ih,, ada om-om sirik..
biarin,, cengeng kn hak ai.. Phbbbt.gif
Ze_Low
untung warnet masih sepi....jd gw bisa ke toilet buat cuci muka, sialnya ga ada tisu..yah, pake lengan baju aja deh
Mr.jim
banyak bgt bro.. Penulis di majalah apa nih? Tulisan dikau luar biasa lho..
AWSANDI7
memang bukan yang terindah
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.