Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Pahlawan nasional Indonesia, etnis Tionghoa
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Sejarah
Pages: 1, 2
Sir Bilungakoe
Asvi Warman Adam
Pahlawan Nasional Etnis Tionghoa

MESKI Indonesia telah merdeka tahun 1945, pengangkatan pahlawan nasional baru dimulai sejak tahun 1959. Sampai sekarang tercatat lebih dari 100 pahlawan yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Tahun lalu, Pong Tiku masuk jajaran tokoh terhormat ini. Ia adalah pejuang dari Tanah Toraja yang berperang melawan Belanda tahun 1905-1907. Deretan pahlawan nasional itu bagai album perjuangan. Masing-masing daerah berusaha memasukkan "foto"-nya ke album bersama ini. Pada akhir pemerintahan Soeharto, dirasa tidak cukup bila provinsi diwakili seorang tokoh, sampai-sampai ada kabupaten yang ingin memperjuangkan pahlawan yang berasal dari wilayah mereka sendiri (daerah tingkat II).

Selama Orde Baru, ada dua pahlawan nasional yang dicekal. Maksudnya nama mereka tidak tercantum dalam buku pelajaran sejarah sekolah meski surat pengangkatan sebagai pahlawan nasional tidak dicabut. Keduanya adalah tokoh dari golongan kiri, yakni Tan Malaka (diangkat tahun 1963) dan Alimin (1964).

Dalam waktu lebih 30 tahun, etnis Tionghoa tidak disebut dalam pelajaran sejarah Indonesia. Aneka peringatan atau pertunjukan kultural yang berbau Tionghoa tidak pernah ditampilkan di depan umum. Buku Slamet Mulyana yang memuat pendapat kontroversial bahwa Wali Songo berasal dari etnis Tionghoa tidak dibahas secara ilmiah, tetapi langsung dilarang Kejaksaan Agung.

Baru pada era reformasi keadaannya berangsur berubah. Perayaan Imlek, misalnya, diakui sebagai hari libur fakultatif (masa Presiden Abdurrahman Wahid) dan libur resmi (era kepemimpinan Mega). Barongsai dipertunjukkan di mana-mana. Sejarah kelenteng diulas di televisi.

Tampaknya, perjalanan warga Tionghoa masih panjang untuk mendapatkan kedudukan yang sederajat dengan etnis lain di Tanah Air. Diskriminasi di bidang hukum masih berlaku terhadap etnis Tionghoa. Tidak kalah, diskriminasi di bidang sejarah. Sumbangan amat besar etnis Tionghoa dalam ilmu pengetahuan dan teknologi selama berabad-abad di Nusantara tidak pernah diajarkan kepada siswa. Perlu dicatat, etnis Tionghoa berjuang melawan Belanda. Di Kalimantan Barat, seperti diteliti sejarawan UGM Harlem Siahaan, kongsi Tionghoa pernah mengangkat senjata terhadap Belanda.

Major John Lie

Salah seorang tokoh etnis Tionghoa yang berjasa kepada Republik ini adalah Mayor John Lie. Ia adalah mualim kapal pelayaran niaga milik Belanda KPM yang lalu bergabung dengan Angkatan Laut RI. Semula ia bertugas di Cilacap dengan pangkat kapten. Di pelabuhan ini selama beberapa bulan ia berhasil membersihkan ranjau yang ditanam Jepang untuk menghadapi pasukan Sekutu. Atas jasanya, pangkatnya dinaikkan menjadi mayor.

Ia lalu ditugaskan mengamankan pelayaran kapal yang mengangkut komoditas ekspor Indonesia untuk diperdagangkan di luar negeri dalam rangka mengisi kas negara yang saat itu masih tipis. Pada masa awal (tahun 1947), ia pernah mengawal kapal yang membawa karet 800 ton untuk diserahkan kepada Kepala Perwakilan RI di Singapura, Utoyo Ramelan. Sejak itu, ia secara rutin melakukan operasi menembus blokade Belanda. Karet atau hasil bumi lain dibawa ke Singapura untuk dibarter dengan senjata. Senjata yang mereka peroleh lalu diserahkan kepada pejabat Republik yang ada di Sumatera seperti Bupati Riau sebagai sarana perjuangan melawan Belanda. Perjuangan mereka tidak ringan karena selain menghindari patroli Belanda, juga harus menghadang gelombang samudera yang relatif besar untuk ukuran kapal yang mereka gunakan.

Untuk keperluan operasi ini, John Lie memiliki kapal kecil cepat, dinamakan the Outlaw.

Seperti dituturkan dalam buku yang disunting Kustiniyati Mochtar (1992), paling sedikit sebanyak 15 kali ia melakukan operasi "penyelundupan". Pernah saat membawa 18 drum minyak kelapa sawit, ia ditangkap perwira Inggris. Di pengadilan di Singapura ia dibebaskan karena tidak terbukti melanggar hukum. Ia juga mengalami peristiwa menegangkan saat membawa senjata semiotomatis dari Johor ke Sumatera, dihadang pesawat terbang patroli Belanda. John Lie mengatakan, kapalnya sedang kandas. Dua penembak, seorang berkulit putih dan seorang lagi berkulit gelap tampaknya berasal dari Maluku, mengarahkan senjata ke kapal mereka. Entah mengapa, komandan tidak mengeluarkan perintah tembak. Pesawat itu lalu meninggalkan the Outlaw tanpa insiden, mungkin persediaan bahan bakar menipis sehingga mereka buru-buru pergi.

Setelah menyerahkan senjata kepada Bupati Usman Effendi dan komandan batalyon Abusamah, mereka lalu mendapat surat resmi dari syahbandar bahwa kapal the Outlaw adalah milik Republik Indonesia dan diberi nama resmi PPB 58 LB. Seminggu kemudian John Lie kembali ke Port Swettenham di Malaya untuk mendirikan naval base yang menyuplai bahan bakar, bensin, makanan, senjata, dan keperluan lain bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pada awal 1950 ketika ada di Bangkok, ia dipanggil pulang ke Surabaya oleh KSAL Subiyakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang Rajawali. Pada masa berikut ia aktif dalam penumpasan RMS di Maluku lalu PPRI/Permesta. John Lie yang juga dikenal dengan nama Jahya Daniel Dharma tetap berdinas di Angkatan Laut, terakhir berpangkat laksamana muda. Ia layak diusulkan sebagai pahlawan nasional.

Asvi Warman Adam, peneliti LIPI, doktor sejarah dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales, Paris.

Sumber: Kompas, Jumat, 31 Januari 2003

----

Notes :
Salut untuk penelitian Asvi Warman Adam Applause.gif
Setuju bahwa Laksamana Jahya Daniel Dharma a.k.a. John Lie diangkat jadi Pahlawan.

Yang pasti semua orang di tanah air Indonesia ini ikut berjuang melawan PENJAJAH ... entah Belanda atau Jepang. Dan kaum keturunan Tionghoa juga ada di barisan penentang itu Tounge.gif

Politik Belanda yang memisahkan : Asia Timur dan Pribumi telah mengasingkan posisi kaum tionghoa ... yang herannya tidak terjadi pada kaum keturunan Arab, India dan sebagainya yang juga diperlakukan istimewa oleh Belanda.

Pada jaman Soekarno, pembauran itu berlangsung baik. Kaum Tionghoa bersedia berpikir tentang kemajuan Indonesia dan bukan hanya berdagang. Tercatat Menteri Oey Tjoe Tat di Kabinet Soekarno. Dan keturunan suku lain di nusantara tidak ada masalah dengan Tionghoa.

Masalah muncul jaman Orde Baru, yang memakai pola pendekatan politik Belanda. Hanya Orde Baru tidak memakai kaum Arab dan India, tetapi hanya segelintir kaum Tionghoa sebagai kasir mesin uang Soeharto. Tapi implikasinya ... terjadi sentimen terhadap keseluruhan kaum Tionghoa. Soeharto sebenarnya tidak pernah tulus bersahabat dengan kaum Tionghoa ... karena kaum ini sering hanya menjadi Bemper. Lihatlah setiap ada krisis ekonomi, selalu masalah dilemparkan ke kaum ini.

Kini, kita bersyukur pada Gus Dur dan Megawati yang telah mengembalikan posisi "satu kaum" di republik ini pada posisi yang sama dengan keturunan suku-suku lain di Indonesia. Semoga seperti jaman Soekarno, tidak ada lagi kecurigaan dan sentimen dari suku lain terhadap kaum tionghoa ... dan kaum tionghoa Indonesia tidak hanya berpikir untuk kelompoknya melainkan berpikir untuk kemajuan INDONESIA indonesia.gif ... Semoga ada lagi menteri (sudah ada Kwik Kian Gie, sekarang ada Marie Pangestu), bahkan tentara, polisi, bupati, gubernur, kalau perlu camat dan lurah yang juga dari keturunan tionghoa; jadi hilang kesan bahwa keturunan tionghoa hanya mengurusi dagang dan uang ... Peace.gif

Semoga ada kemajuan bagi Indonesia Peace.gif
situ_ok?
saya ikut bersukur dagh
kan seperti yang sudah saya bilang
kita gak boleh genderisme dan rasis
kalo kita rasis apa bedanya kita sama jerman dan italia pada PD II?
kita sama busuknya !!
Heil Cяew
Salut atas postingan ini.. Applause.gif
Memang zaman orde baru terkesan etnis Tionghoa terpinggirkan andil nya dalam mengusir penjajah..
Lagi2 ini karena usaha pembelokan sejarah...

Makanya kembali kepada kita generasi muda untuk mencoba memperbaiki sejarah..
Berbahayalah sejarah kalau sampai dibelokkan untuk kepentingan penguasa..
pro
asyik ne postingan, dan bener juga tentang pejuang etnis tionghoa. Bahkan di buku yang barusan aku posting di sebelah, (peristiwa tiga daerah), disebut salah satu pemimpin pergerakan di pemalang adalah etnis tionghoa..

situasi yang lain dialami etnis tionghoa secara "nyastra" ada juga di bukunya Pram, Hoakiau di Indonesia, yang sayangnya, buku aku yang itu ilang...sad.gif
hoshino
Bt @sir bilung,karena etnis ini ditebengi oleh Soeharto jugalah yg membuat kerusuhan biadab Mei'98 (kalo ga salah)menjadi hari paling naas bagi seluruh etnis tionghoa,bukan hanya di indonesia,tapi juga di seluruh dunia,semoga hal2 biadab seperti tidak terjadi lagi di masa yg akan datang ^_^
bang momod
Say no to racism, say yes to oli top one!!!
isal
Sudah saatnya kita pejuang etnis tionghoa masuk dalam sejarah indonesia.....
apabisa
dalam membangun untuk satu tujuan dalam NEGARA harus ada kebersamaan.... mari kita jaga kebersamaan........
jangan nodai dengan tinta-tinta kerakusan dan kebiadaban................ jangan hanya melihat golongan tertentu kita semua sama WNI..........!!!!!!!!
Segho_Lover
syukur deh....cw gw keturunan tionghoa soalnye Tounge.gif
vr_nico
Thx God...now Indonesia can be a solid country
situ_ok?
comment nya nice2 semua neh
emang neh yang comment orang2 berpendidikan, berperasaan, dan berpikiran terpelajar

kasian orang yang gak bisa berpikiran seperti kalian

salute for you all Applause.gif
oelil
ane lebih afdol nyebutnya Suku daripada Etnis....

mereka berjuang sama kakek en buyut ane, banyak cerita bagaimana darah mereka juga ikut tumpah di bawah indonesia.gif
Th3 R4t E4t3R
SAY NO TO RACISM ... SAY YES TO NATIONALISM ...

N SAY OH YES ... OH NO ... WHEN MAKING LOVE ... haha.gif
evoluthu
ada artikel yang luamayan buat perenungan neh

RASIALISME ANTI-TIONGHOA DAN PERCOBAAAN MENJAWABNYA
Pramoedya Ananta Toer
22 Oktober 1998
Rasialisme anti-Tionghoa terbesar dan pertama kali terjadi pada 1740 jelas hasil permainan kekuasaan Kompeni alias VOC. Sumber-sumber otentik yang dipergunakan Jan Risconi dalam disertasinya Sja'ir Kompeni Welanda Berperang Dengan Tjina (1935) cukup jelas. Sayang dissertasi yang membahas syair berbahasa Melayu aksara Arab ini ditulis dalam bahasa Belanda sehingga untuk masa sekarangan ini agak sulit menjadi sumber rujukan. Kasus 1740 adalah rasialiane anti Tionghoa dari pihak Kompeni, dari pihak kekuasaan orang Barat/Belanda.

Rasialisme anti-Tionghoa sepanjang tercatat oleh sejarah terjadi pertama kali di Solo, pusat kapital, produksi dan perdagangan batik. Padahal ko-eksistensi damai antara Pribumi dan Tionghoa berjalan mulus sepanjang sejarah. Pada masa ini kekuasaan kolonial sedang mengembangkan politik ethiknya yang dapat menerima terjadinya kebangkitan pada Pribumi. Dengan syarat memang: asal tidak bersifat politik. Jadi sejajar dengan politik massa mengambang OrBa. Seperti halnya pada peristiwa 1740 juga di sini tangan kekuasaan bermain di belakang layar. Ada kemenangan pada gerakan boikot oleh para pedagang Tionghoa terhadap perusahaan-perusahaan raksasa Barat di Surabaya. Pada pihak Pribumi ada kebangkitan dalam bentuk lahirnya Sarekat Islam yang dalam waktu sangat pendek telah menjadi gerakan massa yang meraksasa. Unsur-unsur ini telah dipaparkan dalam karya Sang Pemula, Hasta Mitra, Jakarta 1985. Dari sedikit sumber dan juga langka disebutnya tentang adanya kegelisahan pada penduduk penetap bangsa Barat dan keturunannya terhadap kebangkitan massa Pribumi yang agamanya lain daripada yang mereka anut. Walau penduduk penetap bangsa Barat ini merupakan minoritas sangat kecil namuk bertulangpunggung kekuasaan, kekuasaan kolonial. Dan terjadilah kerusuhan rasial itu.

Kerusuhan rasial anti-Tionghoa terjadi 4 tahun kemudian di Kudus, 1916. Walau pun kejadiannya jauh lebih besar, meliputi seluruh kota industri rokok ini, disertai pembunuhan di berbagai tempat, namun sebagai peristiwa sebenarnya hanya merupakan edisi kedua dari yang pertama. Beruntunglah bahwa Tan Boen Kim telah membukukan peristiwa ini dengan judul Peroesoehan di Koedoes, 1918. Namun masih ada yang patut disayangkan. Karya yang didasarkan pada pemberitaan pers ini tak sampai mengungkap latarbelakang peristiwa. Tentang ada-tidaknya tangan kekuasaan yang bermain, ia hanya menyesalkan sikap para pejabat setempat, bukan sebagai lembaga kekuasaan.

Kemudian terjadi peristiwa rasial anti-Tionghoa semasa Indonesia telah merdeka, formal oleh negara, dalam bentuk PP 10-1960. Mengagetkan, mengherankan, mengingat bangsa Indonesia yang mereka ini telah merumuskan aspirasi perjuangan nasionalnya dalam Pancasila. Buku Hoakiau di Indonesia yang diluncurkan sekarang ini, pertama diterbitkan oleh Bintang Press, 1960, tak lain dari reaksi atas PP 10 tsb. Peraturan Pemerintah nomor 10 ini kemudian berbuntut panjang dengan terjadinya tindakan rasial di Jawa Barat pada 1963, yang dilakukan oleh militer Angkatan Darat. Kebetulan pada waktu itu saya "mengajar" di Fakultas Sastra Universitas Res Publika milik Baperki, yang sekarang diubah namanya menjadi Universitas Trisaksi dan bukan lagi milik Baperki. Dari para mahasiswa- mahasiswi, sebagian terbesar WNI keturunan Tionghoa, saya menerima sejumlah informasi tentang perlakuan pihak militer terhadap keluarga mereka yang tinggal di Jawa Barat. Ternyata rasialisme formal ini ditempa oleh beberapa orang dari kalangan elit OrBa untuk meranjau hubungan antara RI dengan RRT, yang jelas, sadar atau tidak, menjadi sempalan perang-dingin yang menguntungkan pihak Barat.

Yang mengherankan tentang rasialisme anti-Tionghoa ialah: mengapa ini bisa terjadi dalam alam Indonesia Merdeka? Di samping Indonesia memiliki Pancasila bukankah pihak etnik Tionghoa juga punya saham dalam gerakan kemerdekaan nasional sampai pencarian input untuk panitya persiapan kemerdekaan menjelang akhir pendudukan Jepang. Bukankah sumbangannya pada revolusi juga ada, dan tidak semua etnik Tionghoa bergabung dengan Po Ang Tui yang berpihak pada Belanda, sebagaimana halnya tidak semua Pribumi berpihak pada Nica? Juga dalam alam Indonesia merdeka?

Tentang ini dengan mudah siapa saja dapat mengikuti tulisan Siau Giok Tjhan Lima Jaman, Perwujudan Integrasi Wajar, Yayasan Teratai, Jakarta-Amsterdam Mei 1981. Dalam paparan lebih luas hubungan Pribumi-Tionghoa, sejak jaman migrasi, penyeberangan budaya Dongson atau perunggu sampai kurun 70-an abad ini, meliputi pembauran di seluruh Indonesia telah ditulis oleh Yoe-Sioe Liem dalam karyanya Die ethnische Minderheit der Uberseechinesen im Entwicklungsprozess Indonesiens (Verlag Breitenbach, Saarbrucken, Fort Lauderdale, 1980). Bukankah dalam momentum pembauran purba budaya Dongson Jawa memiliki tangga nada selindro, karena datangnya melalui wilayah kedatukan Cailendra? Belakangan ini semakin banyak diterbitkan paparan tentang etnis Tionghoa di Indonesia, nampaknya kurang mendapat perhatian.

Kurun perjuangan nasional dan saham etnis Tionghoa di dalamnya telah ditulis oleh Siauw Giok Tjhan sebagai pelaku sejarah. Tokoh luarbiasa di samping Siauw adalah Liem Koen Hian, pendiri Partai Tionghoa-Indonesia, September 1932. Ia menggalang kerjasama dengan para tokoh puncak gerakan kemerdekaan nasional pada masanya. Malahan sebagai pribadi, biar pun bukan hartawan, ia selalu memberikan bantuan yang mereka perlukan. Ia sejak semula menjadi penganjur hapusnya diskriminasi rasial untuk mempermudah dipupuknya rasa senasib antara semua putera Indonesia, termasuk etnis Tionghoa. Partai ini menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa organisasi, dengan catatan bahwa yang dimaksud dengan bahasa Indonesia pada waktu itu sinonim dengan bahasa pers Melayu-Tionghoa, sekali pun di antara para anggotanya lulusan perguruan tinggi Belanda.

Nasib dua orang pejuang gerakan kemerdekaan ini, yang pada masa kegiatannya, dua jendral besar Indonesia justru menjadi serdadu Knil, nyaris sama. Mereka juga menjadi kurban OrBa, menjadi bagian dari jutaan orang Indonesia yang jadi kurban OrBa. Mereka menjadi tapol OrBa. Bebas sebagai tapol pada 1 Mei 1979, ia meninggalkan Indonesia bermukim di Belanda dan wafat di sana. Liem Koen Hian sebagai tapol OrBa mengalami kekecewaan berat, karena sebagai tapol sama sekali tidak mendapat perhatian, jangankan pertolongan, dari tokoh-tokoh puncak semasa gerakan kemerdekaan nasional yang pernah dibantunya. Bebas sebagai tapol OrBa ia langsung menanggalkan kewarganegaraannya sebagai orang Indonesia, dan sejak itu tak pernah terdengar lagi kabar-beritanya.

Di atas ini adalah kartu anggota Partai Tionghoa Indonesia atas nama Kho Sien Hoo, cabang Magelang, dengan tandatangannya sendiri dan tandatangan Liem Koen Hian, tertanggal 5 Januari 1933. Bukan suatu kebetulan kartu anggota Kho Sien Hoo direproduksi di sini, karena sejak berdirinya Partai Tionghoa Indonesia ia mulai bergabung dengan gerakan kemerdekaan nasional. Jadi hanya sebagai contoh di antara yang banyak yang kurang diketahui. Semasa revolusi ia menjadi komandan tertinggi Laskar Rakyat Magelang dan Kedu, bersama kesatuan BKR merampas senjata Nakamura Butai dan melawan Inggris-Ghurka dan Nica di Ambarawa pada awal revolusi.

Ia mengubah namanya nenjadi Surjo Budihandoko tanpa melalui pengadilan. Dilahirkan pada 1905 ia wafat di Jakarta pada November 1969. Bintang-bintang pada dadanya adalah pengakuan resmi tentang jasa-jasanya pada tanahair dan bangsa.

Bahwa yang dipampangkan di sini hanya Surjo Budihandoko bukan berarti hanya beliau yang berjasa pada tanahair dan bangsa Indonesia. Cukup banyak, diakui atau tidak jasa-jasanya. Makanya mengherankan bila terjadi kerusuhan rasial anti-Tionghoa. Celakanya justru yang terjadi pada penutup era OrBa, Mei 1998. Padahal justru semasa OrBa Pancasila diajarkan sejak dari SD sampai perguruan tinggi. Atau memang sudah diprogram jadi ajaran "Pancasila Bibir"? Mungkinkah Siauw Giok Tjhan dan Liem Koen Hian juga kecewa berat terhadap Pancasila "Bibir" ini sehingga yang pertama meninggalkan Indonesia dan yang kedua menanggaIkan kewarganegaraannya?

Stop! Rasialisme anti minoritas apa pun harus tak terjadi lagi di Indonesia. Sungguh suatu aib yang memalukan dalam lebih setengah abad dan ber-Pancasila bisa terjadi kebiadaban ini kalau bukan karena hipokrisi pada kekuasaan.

Pada 1946 awal waktu saya naik keretapi Jakarta menuju ke basis militer di Cikampek. Di samping saya duduk seorang pemuda yang meminjami buku karya S. Soedjojono, pelukis nasional itu. Saya sudah lupa judulnya. Yang teringat dari bacaan itu hanya satu bagian kecil: tentang Mongoolse Vlek, tembong biru pada pantat atau bagian bawah lain dari bayi yang baru dilahirkan, satu isyarat bahwa si bayi punya darah Mongoloid atau darah Cina. Padahal bayi-bayi Indonesia yang berkulit sedikit lebih cerah dari coklat bertembong biru. Saya tidak tahu jawaban para anthropolog atau pun kedokteran tentang kebenarannya. Beberapa tahun kemudian seseorang mengatakan: sekiranya Hitler dalam, upayanya memurnikan darah Aria pada bangsa Jerman tahu tentang adanya Mongoolse Vlek alias tembong biru ini mungkin beberapa juta orang lagi akan dilikwidasi Nazi. Soalnya dalam abad 13 balatentara Kublai Khan bukan saja menyerang ke selatan sampai ke Singasari, ke timur sampai ke Jepang, juga ke barat sampai ke Eropa Tengah.

Setelah Kublai Khan mendirikan pusat kerajaannya di Beijing bajak laut Cina mendirikan diaspora di Palembang. Beijing mengirimkan ekspedisi ke Palembang dan menangkap gembong bajak laut tsb. dan menghukum mati di Beijing, namun diaspora ini justru berkembang, bahkan menghasilkan seorang Jin Bun, yang kemudian menjadi raja Islam pertama di Demak. Percampuran darah dari koloni ini dengan penduduk membuahkan generasi dengan tubuh lebih tinggi dan kulit lebih cerah, menyebar sampai ke wilayah Lampung.

Kalau benar tembong biru pada bayi pertanda ada darah Cina mengalir dalam tubuhnya apakah kerusuhan rasial 1998 masih tetap dapat dikatakan rasial? Ya atau tidak samasekali tidak penting. Setidak-tidaknya kerusuhan tsb. suatu kejahatan terhadap kemanusiaan, kebiadaban, siapa pun yang melakukannya dan siapa pun kurbannya.

Akhirnya yang timbul hanya pertanyaan bagaimana mengakhiri kejahatan dan kebiadaban terhadap kemanusiaan ini? Saya hanya bisa menyarankan: giatkan penyebaran informasi yang menumbuhkan saling pengertian antara dua belah pihak. Antaranya menyebarluaskan karya Siauw Giok Tjhan dan lain-lain, dan terutama karya Siauw.
Sir Bilungakoe
Bagus bro @evoluthu ... yang penting adalah setiap orang Indonesia harus berpikir untuk Indonesia dan bukan untuk golongan.

Tidak dapat dinafikan bahwa masih banyak kaum primordial yang merasa adanya eksklusifitas kesukuan atau golongan dan pikiran picik seperti inilah yang dapat memecah belah Indonesia. ShameOnYou.gif

Indonesia untuk semua rakyatnya indonesia.gif
devine
Tiongha kan juga manusia and selama menjadi warga negara indonesia,gimanapun bentuknya tetep aja orang indo.Banyak juga orang pribumi yang kurang menghargai tanah airnya. BigGrin.gif
molding
Ahm....
Jangan lupa Bahasa daerah tetap harus dipertahankan... jangan sampai bahasa suku dilupakan,
terutama suku tionghua di jawa rata2 mereka sudah melupakan bahasa suku mereka sendiri...
cape d .....kalo ke negeri tetangga ( singapura,malaysia ) ga bisa bhs mandarin Laughing.gif
samael
pembahasan yang bagus sekali....... seandainya semua orang Indonesia membaca topik ini mungkin tidak akan ada lagi rasialisme di Indonesia...... Bersatulah Indonesia!!
stusjka
bagusssss......... buat si penulis
jadi nambah ilmu gua d bidang sejarah nih
klo ada ilmu yg langka lagi jangan pelit2 bagi ya
kan buat rakyat bangsa indonesia sendiri
betul..........
sahaweatuh
Bagus bgt, kita memang nggak boleh bersifat rasisme.
katanya kita multi kultur (artinya setiap budaya dihargai sebagaimana penghargaan kita terhadap budaya kita)
kayaknya stereotip diantara masyarakat Indonesia asli terhadap etnis tionghoa sangat besar, hal-hal ini dapat kita lihat dari hal-hal berikut ini :

1. pihak tionghoa dipercayai sebagai pihak yang banyak menguasi perekonomian masyarakat indonesia, ini menjadikan terjadinya kesenjangan sosial.
2. akibat stereotip kedua belah pihak, banyak menarik pihak tionghoa untuk menjauh dari masyarakat secara multi kultur, mereka cenderung berdiri sebagai etnis yang mandiri dan memisahkan dirinya. ex. jarang terjadi pernikahan antara pribumi dengan tionghoa
3. politik orde baru yang mendiskriminasi tionghoa yang menjauhkan dirinya terhadap budayanya sendiri. disatu pihak budaya indonesia (dalam arti pribumi) di kembangkan, di pihak lain budaya tionghoa di musnahkan. ini menjadikan pihak tionghoa bersifat empati terhadap pribumi.
4. tidak adanya pendidikan yang mendekatkan antara kedua belah pihak sejak dini, kaum tionghoa kurang mendapat tempat dalam sejarah atau wacana pendidikan.

Thinking.gif
bledhoes
Pahlawan Indonesia versi gue Soe Hok Gie, memang bukan dr jaman Pergerakan Kemerdekaan, tp tulisan2 dia menginspirasikan kita u/ punya kemauan keras, berpikiran maju, dan yang paling gue suka, kebebasan.
mas_jeprik
GW masih bersyukur di BF masih banyak yg mempunyai jiwa nasionalisme
kita harus semakin solid ke depan, karena bangsa ini akan runtuh oleh perseteruan antar sesama saudara

semoga makin berjaya INDONESIA KU ...
hsun1979
stop rasis.. Pancasila itu ideologi tepat untuk Indonesia

kedamaian hanya bisa didapat kalau para manusia mampu memahami perbedaan dirinya dengan manusia lain..

peace BigGrin.gif
srimbil
Memang di belahan dunia manapun masalah RACIALISME pasti ada, nga bisa di pungkiri lagi. Semua berpulang pada factor human being nya aja, yang jelas di Republik kita tercinta ini...pendidikan yang paling utama. Mana slogan BHINEKA TUNGGAL IKA, bullshit aja slogan is slogan, mari kita didik masyarakat Republik ini untuk saling menghargai baik itu program di sekolah, di RT/RW, dan terkecil di keluarga kita masing masing... Karena masyarakat Republik ini kebanyakan pake topeng sehingga terciptalah masyarakat yang Munafik, yang mana berkedok di balik suku, Agama dan Golongan!

Dan Pemerintah Republik ini wajib melindungi dan mengayomi seluruh warga negaranya!

Memang kita terlahir boleh milih mau jadi Ras/Suku apa? Coba lihat dunia anak-anak mereka main dan berkawan semaunya ko nga pandang Ras & Agama.....terus beranjak besar jadi milih-milih karena terkontaminasi dengan stigma di masyarakat dan di keluarga. Marilah kita didik generasi kita mulai dari lingkup keluarga kita masing masing!
Heil Cяew
@srimbil: wah.. anda bilang Bhinneka Tunggal Ika itu bullshit?
Justru karena orang seperti anda yang meremehkan arti slogan suatu bangsa maka jadinya negara kita kayak begini..

Saya sebenarnya setuju dengan ucapan anda soal Ras.. dimana manusia dari lahir memang tidak bisa memilih dia mau jadi ras apa.. hal itu memang 100% benar.. makanya kita seharusnya untuk selalu menghindari segala jenis diskriminasi ras di negara ini.

tapi koq malah jadi ente sendiri yang munafik.. nyuruh2 kita untuk saling menghargai tapi ente sendiri tidak menghargai slogan bangsa sendiri.. emangnye loe kira slogan Bhinneka Tunggal Ika itu asal nyomot dari tong sampah ya?

coba kalo ngomong jangan pake EMOSI bro.. tapi pakai OTAK.. Just Kidding.gif
arnada
menurutku orang yang lahir dan hidup serta mencintai indonesia ya... dia orang indonesialah...... hanya orang picik yang mempersoalkan suku, ras dan agama................ yang terpenting adalah hidup rukun, damai, saling menghargai dan menghormati satu dengan yang lainnya......
srimbil
Bro Crew, sebenarnya yang emosi tuh siapa kayanya anda sendiri deh....
Ini forum coi.... Kalau kita masih berperilaku seperti TAMAN KANAK-KANAK, ( seperti kutipan Gus DUR, terhadap anggota DPR, yang lalu ) mau jadi apa Republik ini? Coba lebih wise pola pikir anda, maksud saya slogan Bhineka Tunggal Ika itu bullshit, kalau tidak di aplikasikan di tatanan bermasyarakat kita, oleh karena kita harus mulai dari lingkup yang terkecil yaitu dari keluarga... Okay bro...lets be wise, semua berpulang pada diri kita masing masing, yang penting jangan pandang bulu bro, kalau berkawan, we all the same and we have equal right in front of our Creator...
Heil Cяew
baru kali ini gw ngerasa ada orang yang nyolot banget sama gw.. axehead.png

maksud loe dengan mengatakan Bhinneka Tunggal Ika itu adalah bullshit maka loe merasa lebih wise?
otak loe ditaro dimana bro? orang mana ngerti maksud pikiran loe yang "mungkin" menurut loe wise.. tapi kalo menurut gw loe itu udah melecehkan sebuah semboyan suatu negara!

mungkin lu ngerasa terbuka yah di forum BF ini.. tapi jujur aja bro, gw ngerasa etika loe itu kurang.. ngomong bebas boleh aja disini.. tapi kalo udah bersifat melecehkan ya gw yakin loe ga bakal bertahan lama disini..

lain kali jaga deh kata2 loe itu.. jangan asal nyeplak aja.. ShameOnYou.gif
JustTry
tulis juga soal tan malaka dong..
trefba
good point , buat gue semua yang lahir di indonesia maupun yang memiliki darah indonesia adalah saudara semua
Gua gak pernah mandang dari suku or etnis mana dalam pergaulan sehari-hari ,karena buat gua semua orang sama di mata Tuhan . Karena kita semua khan ciptaanNYA . klo ada orang jahat itu bukan karna suku or etnis tapi karena emang wataknya jahat .
Hidup Indonesia
Renji Furuya
hmm,,John Lie bukan 'one and only' sih.pada lembaran sejarah bangsa kita juga terdapat Lim Koen Hian <pendiri Partai Tionghoa Indonesia, PTI, 1- 932>,Tan Po Goan <mantan Menteri RI> , Tjoa Sek In<mantan wakil Indonesia di PBB>, Ong Eng Die <mantan Menteri Keuangan RI>,Oei Tjoe Tat <mantan Menteri Negara>.yaah,bangsa Indonesia tetep bangsa Indonesia meskipun warna kulitnya mejikuhibiniu.
ichie
terus klo tan malaka sejarahnya gimana tuh bro
Ctrl Alt Dellete
memang orang cina tu nga semuanya jelek. sama juga dengan suku yang lainya seperti madura
Ctrl Alt Dellete
jangankan dari etnis tionhoa. siapa sih yang gak kenal ama bung tomo, mang dia diakui sebagai pahlawan?
pakdhe popeyes
Yang paling asyik adalah di BF ini....

Mau dari etnis atau suku apapun, kita tetep asyik,,,,,,,

Kita jaga terus yang kek ginian!!

OK???

Hidup Indonesia indonesia.gif

Hidup BF!!!!!
bhuhehehe
STOP RACISM...
open your eyes... then realize we are one...
bhineka tunggal ika...

jangan rasis bro...
nih, di kota gw rasisme masih berasa banget ma etnis tiong hoa...
Jussy_nn
baik-buruk gw tetep cinta INDONESIA....!!
tidak ada perbedaan Ras dalam Indonesia...
yang ada hanya rasa kesatuan...
walaupun rasa itu, sekarang tengah tergoncang..
oleh pihak2 yg tidak senang bangsa Kita jadi BESAR...

go Indonesia..go..... indonesia.gif Party.gif Party.gif
steeve haryanto
Applause.gif
sibaranun
yang penting kita saling menghargai orang laen,mau dari suku apa..
kalo mau di hargai ya hargai dolo org laen..
peace..
artemio
bagus semoga bangsa kita ini tidak rasialis terhadap etnis tionghoa, seperti mereka tidak rasialis ke etnis arab.
Iyra
Bukankah GIE atau Shu hok gie juga di anggap pahlawan?? MA'ap kalo salah
PROJECT-D
atas nama pejuang bangsa.. layak disebut pahlawan Applause.gif

atas nama perusak bangsa.. pantas disebut pecundang Peace.gif
yuichiro
NO RACIST PLS!!!!
comandante simone
Media Indonesia , Selasa, 08 Februari 2005



Pahlawan Nasional dari Etnis Tionghoa

Asvi Warman Adam, Sejarawan dari LIPI

MENYONGSONG hari raya Imlek tahun 2003 dan 2004 saya telah menulis tentang
penting adanya pahlawan nasional yang berasal dari etnis Tionghoa. Kalau
tahun ini disuarakan kembali, tak lain karena persoalan ini cukup mendasar
dalam kehidupan kita berbangsa. Jangan sampai ada kesan bahwa etnis Tionghoa
itu semata-mata memikirkan bisnis dan tidak memiliki kesadaran kebangsaan.
Pada masa revolusi fisik 1945-1949, mereka juga ikut berjuang dalam
mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah perjuangan Mayor
John Lie yang akan dikisahkan berikut ini.

Adanya "wakil" Tionghoa dalam album pahlawan bangsa bukan semata-mata untuk
kepentingan kalangan Tionghoa itu sendiri. Etnis Tionghoa di Indonesia tidak
satu, melainkan terdiri dari subetnis dan pengelompokan lainnya. Kalau mau
dicapai kesepakatan mutlak, itu tidak akan tercapai. Namun adanya pahlawan
nasional dari etnis Tionghoa justru sangat penting bagi masyarakat Indonesia
keseluruhan yang bisa melihat bahwa etnis Tionghoa itu sama dengan etnis
lain di Tanah Air sama-sama berjuang untuk kemerdekaan bangsa.

Meskipun pernah diusulkan di media massa, namun John Lie tidak kunjung
diangkat sebagai pahlawan nasional. Seyogianya ada sebuah organisasi
kalangan Tionghoa yang mengusulkannya kepada Presiden melalui Departemen
Sosial. Buku tentang calon pahlawan nasional itu perlu diterbitkan dan
kemudian disosialisasikan ke tengah masyarakat melalui seminar.

Keberatan terhadap pengangkatan John Lie sebagai pahlawan nasional mungkin
karena beberapa hal, yang di bawah saya coba memberikan reaksi balik.
Pertama, John Lie adalah seorang perwira Angkatan Laut. Mungkin yang lebih
diterima adalah Angkatan Darat. Tetapi alasan itu tidak tepat juga karena di
deretan pahlawan juga ada yang berasal dari Angkatan Laut seperti Yos
Sudarso. John beragama Kristen. Itu tidak jadi soal. John dalam berlayar
membawa kitab suci Injil. Ketika kapalnya ditembaki meriam kapal Belanda, ia
masih sempat berdoa. Mungkin itu dilebih-lebihkan. Tulisan itu terdapat pada
majalah Life International dengan judul With one hand the Bible and the
other a Gun. Tetapi andaikata benar juga tidak apa-apa. Malah memberi nilai
tambah kepadanya, karena ia berjuang dengan disertai keyakinan agama juga.

Mungkin alasan penolakan yang paling berat adalah karena John Lie dianggap
sebagai penyelundup. Tudingan itu sebenarnya keliru. Ia adalah mualim pada
kapal pelayaran niaga milik Belanda KPM yang kemudian bergabung dengan
Angkatan Laut RI. Pada mulanya ia bertugas di Cilacap dengan pangkat kapten.
Di pelabuhan ini selama beberapa bulan ia berhasil membersihkan ranjau yang
ditanam oleh Jepang untuk menghadapi pasukan Sekutu. Atas jasanya ini
pangkatnya dinaikkan menjadi mayor.

Selanjutnya ia ditugaskan untuk mengamankan pelayaran kapal yang mengangkut
komoditas ekspor Indonesia untuk diperdagangkan di luar negeri dalam rangka
mengisi kas negara yang masih tipis waktu itu. Pada masa awal kemerdekaan
(tahun 1947) ia pernah mengawal kapal yang membawa karet seberat 800 ton
untuk diserahkan kepada Kepala Perwakilan RI di Singapura Utoyo Ramelan.
Sejak itulah ia secara rutin melakukan operasi menembus blokade Belanda.
Karet atau hasil bumi lain dibawa ke Singapura untuk dibarter dengan
senjata. Barter itu terjadi di tengah laut, bukan pada pelabuhan yang
dikuasai Inggris. Bila diperiksa, mereka mengaku membawa tekstil dan ban
mobil. Senjata yang mereka peroleh kemudian diserahkan kepada pejabat
Republik yang ada di Sumatra, seperti Bupati Riau sebagai sarana perjuangan
melawan tentara Belanda.

Perjuangan mereka tidak ringan karena selain menghindari patroli Belanda,
juga harus menghadang gelombang Samudra Hindia yang relatif besar untuk
ukuran kapal yang mereka pergunakan. Untuk keperluan operasi ini John Lie
memiliki kapal kecil cepat. Sebagai dituturkan dalam buku yang disunting
Kustiniyati Mochtar (1992) paling sedikit sebanyak 15 kali ia melakukan
operasi menembus blokade musuh. Pernah ketika membawa 18 drum minyak kelapa
sawit, ia ditangkap oleh perwira Inggris. Di pengadilan di Singapura ia
dibebaskan karena tidak terbukti melanggar hukum. Ia juga mengalami
peristiwa yang menegangkan tatkala membawa muatan senjata semi otomatis dari
Johor ke Sumatra, dihadang oleh pesawat terbang patroli Belanda. John Lie
mengatakan bahwa kapalnya sedang kandas. Dua penembak, seorang berkulit
putih dan seorang lagi berkulit gelap, mengarahkan senjata ke kapal mereka.
Entah kenapa, komandannya tidak mengeluarkan perintah tembak. Pesawat itu
kemudian meninggalkan mereka tanpa insiden, mungkin persediaan bahan bakar
sedang menipis sehingga mereka buru-buru pergi.

***

Setelah menyerahkan senjata kepada Bupati Usman Effendi dan Komandan
Batalyon Abusamah, mereka kemudian mendapat surat resmi dari syahbandar
bahwa kapal John Lie menjadi milik negara Republik Indonesia dan diberi nama
resmi PPB 58 LB. Seminggu kemudian John Lie kembali ke Port Swettenham di
Malaya untuk mendirikan naval base yang menyuplai bahan bakar, makanan,
senjata, dan keperluan lainnya bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan
Indonesia.

Ferdy Salim yang kemudian beberapa kali menjadi Dubes Indonesia juga pernah
ikut dalam kapal John Lie dalam misinya menemui Daoed Beureuh. Kunjungan ini
berhasil. Tokoh Aceh ini kemudian memberi mandat kepada wakil pemerintah
Indonesia di Singapura untuk menerima semua devisa Aceh yang waktu itu
terkumpul di Penang.

Pada awal 1950 ketika berada di Bangkok, John Lie dipanggil pulang ke
Surabaya oleh KSAL Subiyakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang
Rajawali. Pada masa berikut ia aktif dalam penumpasan RMS di Maluku dan
kemudian PPRI/Permesta. John Lie yang dikenal juga dengan nama Jahya Daniel
Dharma tetap berdinas di Angkatan Laut, terakhir dengan pangkat laksamana
muda. Sebetulnya tidak ada alasan untuk menunda lagi pengangkatan John Lie
sebagai pahlawan nasional. Kenapa pemerintah masih setengah hati seperti
halnya beberapa waktu lalu memberi bintang jasa kepada Fifi Young dan Tan
Tjeng Bok tetapi bukan gelar pahlawan.

Tidak ada manusia yang sempurna, demikian pula semua pahlawan nasional yang
telah maupun yang akan diangkat. Namun paling tidak, mereka telah berjuang
dan sebagian hidupnya diabdikan membela kepentingan bangsa dan negara. Itu
akan menjadi suri teladan bagi generasi sekarang dan mendatang.

Pengangkatan John Lie sebagai pahlawan nasional akan mempunyai dampak besar.
Pertama, orang Tionghoa tidak melulu pedagang, tetapi bisa berdinas dalam
bidang kemiliteran bahkan menjadi pahlawan. Kedua, ini akan menjadikan etnis
Tionghoa setara dengan etnis lainnya di Tanah Air karena telah terbukti
berjuang dan berjasa dalam membela kemerdekaan RI.***






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give underprivileged students the materials they need to learn.
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email:
ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx

Heil Cяew
ini hampir sama dengan thread ini:

http://www.bluefame.com/index.php?showtopic=34369
Danu_Murphy
ya emang sih...sampai hari ini sebagai rakyat jelata yang hidup dan berkembang di indonesia, belum pernah ada yang membahas pahlawan nasional secara personal dari etnis tionghoa, tapi memang secara kaum, kaum etnis tionghoa turut peran serta...
tapi pegimana baiknya..nunggu yang lebih paham infonya untuk berkomentar...
Cassa
lebih baik kayaknya di merger saja... Peace.gif
bunugh
Postingan ini mudah-mudahan membuat mata hati kita terbuka...gue hanya salut aja kalo ada anak bangsa etnis Tionghoa yang tentara. Saat ini tidak pernah gue liat ada etnis Tionghoa jadi tentara...mudah-mudahanan semakin hari semakin baik.
comandante simone
@cassa thread gua yg thread nya hampir sama dgn bro "sir bilungakoe" di merger yah?
gua kira di close ato apa rupanya di merger toh.
gua liat2 kok kaga ada soalnya kalo di close kan keliatan.
ini malah ilank rupanya di merger.bukan nya lancang bro tapi gua mo kasih saran kalo di merger kasih pemberitahuan dunk so gua kaga penasarn ato binun hukuman apa yg bakal gua terima hehehe
peace smile.gif
tomy_doank
QUOTE (bunugh @ Sep 2 2008, 09:13 PM) *
Postingan ini mudah-mudahan membuat mata hati kita terbuka...gue hanya salut aja kalo ada anak bangsa etnis Tionghoa yang tentara. Saat ini tidak pernah gue liat ada etnis Tionghoa jadi tentara...mudah-mudahanan semakin hari semakin baik.



logis aja bro....dengan gaji pas-pas an, musti mikir berapa kali kalo mau jadi tentara, jadi tentara mana bisa kaya dan hidup enak, mending jadi pengusaha/ pedagang

gw lom pernah denger nama2 pahlawan nasional dicatat dengan embel embel etnis tertentu, pahlawan sejati ga mikirin namanya dicatat/diinget ama orang, mereka cukup senang kalo perjuangan pengorbanan mereka bisa dinikmati oleh generasi sekarang...plis deh

katanya kita ini Bangsa Indonesia, kalo udah ngerasa Bangsa Indonesia mustinya ga usah lagi bawa2 suku atau etnis tertentu dalam soal nasionalisme dan kebangsaan, jangan meng kotak2 kan kalo tidak mau di kotak2 . banyak sekali para pejuang/pahlawan2 yang betul2 berjuang mengusir penjajah justru kehidupannya sekarang memprihatinkan, ga memperoleh tunjangan dari negara karena ga dapet kartu identitas pepabri dari negara. dan kalo gw liat riil, secara ekonomi mayoritas etnis tionghoa diatas etnis2 lain. peace....
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.