Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Perempuan Remaja dalam Cengkraman Militer
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Apresiasi Buku
pro


Perempuan Remaja dalam Cengkraman Militer

Judul Buku: Perempuan Remaja dalam Cengkraman Militer
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit :Kepustakaan Populer Gramedia, 2001
Halaman: ix+218


Buku ini adalah salah satu catatan yang diwariskan Pram, ditulis ketika yang bersangkutan menjalani masa tahanan di pulau Buru, dan bercerita tentang nasib dan situasi yang dihadapi perempuan Indonesia pada jaman penjajahan jepang. Bukan cerita yang menyenangkan sebenarnya, namun sebaliknya adalah cerita pilu kepedihan insan perempuan dengan ketidakberdayaannya menghadapi keadaaan.

Awalnya, adalah janji-janji indah yang ditebarkan pihak jepang, dan secara berantai di teruskan oleh aparat-aparat pribumi yang berkuasa masa itu.Perintah jepang disampaikan ke pangreh praja (aparat diringkat keresidenan), dari mereka dilanjut ke para bupati, para bupati ke para camat, dari camat ke lurah. Menurut Sumiyati, salah seorang yang menjadi korban, bahwa janji itu disebutkan: di dalam usaha mempersiapkan rakyat Indonesia ke arah kemerdekaan nanti sesuai dengan kehedak Nippon, generasi muda Indonesia dididik supaya bisa mengabdikan diri dalam kemerdekaan. Sumiyati mendengar janji itu pada 1944, bukan 1943. Di tempat lain janji itu berbunyi akan memberi kesempatan belajar sebagai bidan dan di tempat lain sebagai juru rawat. Tidak mengherankan kemudian yang di kehendaki adalah perawan berumur antara 13-17 tahun, sebagian besar baru lulus SD. (hal 8)

Reaksi atas janji itu beragam, ada yang apatis dan ada yang hanya mencibir. Tapi mengapa jepang berhasil mengangkut para perawan itu? Memang ada beberapa alasan. Pertama, gadis-gadis yang hatinya berisikan cita-cita mulia untuk maju dan berbakti pada masyarakat dan bangsanya, bila tidak mengindahkan kenyataan yang berlaku, akan mudah terpikat. Kedua, keadaan hidup yang mencekik memudahkan orang untuk melarikan diri pada khayalan, sehingga mudah terperangkap. Ketiga, ini yang lebih penting, adalah peran orang tua yang bekerja mengabdi pada jepang. (hal 8)

Kisah yang kemudian terjadi sebagaimana kita bisa baca adalah kepahitan belaka. Tidak pernah janji-janji indah itu terbukti justru sebaliknya menjadikan para perawan itu tak lebih dari pemuas nafsu tentara jepang. Mereka diberi janji, dimanfaatkan dan diperbudak, lalu di buang. Beberapa jejak, ada di pulau Buru, dan dalam masa tahanannya, pram menyempatkan diri menyelisik lebih jauh tentang ini.

Ditulis layaknya sebuah surat cinta, buku ini sangat menarik untuk dibaca dipahami dan dimengerti. Tak terbatas pada peminat sejarah, buku ini, seandainya aku adalah seorang guru SMA, akan kuwajibkan seluruh siswaku membacanya.

Selama perang dunia II, diperkirakan 200.000 perempuan dari negara-negara asia yang pernah diduduki Jepang, seperti Korea Selatan, Taiwan, Indonesia, Filipina, dan Burma, termasuk perempuan Jepang sendiri, Telah dijadikan Budak Seks. Ironisnya, hingga kini pemerintah Jepang tetap menolak untuk bertanggungjawab secara hukum. Alasannya, para korban ada;ah Jugun ianfu (perempuan penghibur) yang bekerja secara sukarela, bukan sebagai budak seks, dan persoalan tersebut melalui perjanjian perdamaian dan pampasan perang. Secara moral, pemerintah Jepang juga telah menebus kesalahan masa lalu itu dengan mendirikan asian women fun pada 1996. Lembaga swadaya masyarakat ini dibentuk untuk mengumpulkan dana masyarakat guna membayar kompensasi para perempuan korban perbudakan seksual balatentara jepang.

Alasan Pemerintah Jepang tersebut tidak diterima oleh kalangan aktifis pembela hak asasi manusia daj perempuan dari berbagai negara yang pernah diduduki Jepang. Merujuk pada konvensi Jenewa1949 dan statuta Roma 1999, mereka menyatakan bahwa perbuatan tentara jepang tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dapat diajukan ke mahkamah Pidana Internasional.

Untuk itulah pada 8-12 Desember 2000 para aktivis tersebut menyelenggarakan "Pengadilan Rakyat" di Tokyo, diberi nama "Pengadilan Internasional Kejahatan Perang terhadap Perempuan untuk Kasus Perbudakan Seksual Militer Jepang pada Masa perang Dunia II". Secara moral, pengadilan ini diharapkan dapat menggugah kesadaran kolektif masyarakat internasional.

Menulis resensi, selesai.

Denpasar,
2:46 PM 5/19/2007

situ_ok?
menurut saya pemerintah jepang bersalah dalam hal ini
secara logika bisa dikatakan mengapa mereka tidak mau mengakui perbuatannya:
kalau mereka mengakuinya mereka harus membayar ganti rugi (santunan)
dan jumlah perempuan korban perang yang pernah menjadi budak seks jepang itu bukannya sedikit tapi ratusan ribu
belum lagi yang mati pada masa tahanan...
tetapi bagaimanapun setidaknya mereka tetap bertanggung jawab karena berani berbuat harus berani bertanggung jawab -__-
fuRy
iye, jadi ingat novel CANTIK ITU LUKA.
Adapula cerita tentang teweČ indo n belanda (sesaat setelah jepang mengusir belanda dari indo) yg dijahatin ma Jepang dulu.
pro
QUOTE(fuRy @ May 19 2007, 04:36 PM) [snapback]409148[/snapback]
iye, jadi ingat novel CANTIK ITU LUKA.
Adapula cerita tentang teweČ indo n belanda (sesaat setelah jepang mengusir belanda dari indo) yg dijahatin ma Jepang dulu.


ceritanya gmana tu non...?
asyik ya klo baca cerita2 cewe masa lalu...
ih,,
fuRy
ntar deh Pi buatin sinopsisnya
tebel banget tuh novel
600an halaman doank sih Tounge.gif
pro
600an?
doang?
byuhh....
The Rambo
Jugun Ianfu ... sebuah penyesalan dari pemerintah Jepang atas tindakan para anggota militernya masa lalu.

Tahun 2001 pemerintah Jepang udah menyatakan siap memberikan santunan ganti rugi kepada krg lbh 300 ribu wanita ex Jugun Ianfu yg tersebar di kawasan Asia Tenggara ... Penanda tanganan MoU untuk Indonesia telah dilakukan pada masa pemerintahan Ibu Megawati melalui DepSos.

Tetapi sampai sekarang ... para wanita korban penjajahan ini masih menderita baik moral maupun material !
~ Moral ... karena mereka dianggap "pelacur" oleh masyarakat sekitar, jujur aja gw kasian sad.gif
~ Material ... karena proses "alami" pengucilan berakibat mereka tidak bs produktif ... sebagian memilih cari uang dengan jadi "pelacur" ==> gw pernah ngobrol ma one of them (almh) n dia hanya bs berkata "Sekali 'lonte' buat masyarakat tetep 'lonte' jd buat apa kita jadi org alim" ... Subhanallah gw kaget banget denger itu !

Kerugian material lainnya karena sampe sekarang ganti rugi dari pemerintah Jepang belum mereka terima dan justru dialihkan ke bidang sosial lain ... Menteri Sosial waktu itu (Bu Intan) menyatakan tidak bs mengumpulkan data akurat para ex Jugun Ianfu jd dikhawatirkan terjadi salah penyampaian Shocked.gif

Kemauan Bangsa Jepang untuk menyelesaiakn masalah ... di Indonesia berbuntut masalah baru !!!
Kapan Bangsa ini akan lepas dari masalah jika pemecahan masalah dipermasalahkan ... Thinking.gif

Embuh ... aku ora weruh ... BigGrin.gif
hoshino
Setidaknya dalam masalah ini pemerintah Jepang sendiri sudah mau bertanggung jawab terhadap kesalahannya ^_^
Yang jadi masalh kan sekarang pemerintah kitanya,wong dah dibayar ganti rugi lewat pemerintah kita,tapi tdk disalurkan kpd para wanita ybs ^_^
djmady
memang pemerintah lumz bisa merealisasikan janjinya..
tp kita sebagai kaum adam harus mendukung kaum hawa ya...
maju terus wanita indonesia..
ciaww...
indonesia.gif indonesia.gif
bulcomb
Memang bentuk penyelesaian Jugun Ianfu ini belum ada di Indonesia. Seperti apa bagusnya ya?
Permintaan maaf sajakah? Kompensasi materi sajakah? atau sudah dilupakan saja mari menatap masa depan?
harus ada kejelasan dari pemerintah RI sebagai bangsa yang berdaulat
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.