
Pantaskah buku ini diresensi? Ini pertanyaan yang pertama ada dikepaku ketika selesai ambil gambar buku ini. Yup, Bung Karno penyambung Lidah rakyat Indonesia. Ditulis oleh Ciny Adams, buku ini terbit kali pertama dalam bahasa inggris dengan judul, "Sukarno, an Autobiography as Told To Cindy Adams", pada 1965. Penerbitnya The Bobbs-Merrill Company INC. New York.
Pertanyaan tentang pantaskah di resensi, akan aku jawab sendiri disini: Tidak perlu. Cukuplah diulas dikit dan direkomendasikan. Kepada siapa? Kamu, setiap kamu yang tertarik dengan Sejarah, yang tertarik dengan Bung Karno dan yang tertarik untuk mengenal Founding Fathers nya. Secara umum, kita semua sebagai anak negeri, sangat baik membacanya.
Dalam buku ini bung karno bercerita banyak tentang hidupnya, tentang pandangan politik, sosial, religi dan cintanya. Haha..jika kamu mengklaim diri sebagai seorang Marhaenis, dalam buku ini diceritakan proses awalnya bagaimana Bung Karno memperoleh inspirasi.
Berikut, kata Bung Karno,
Sementara mendayung sepeda tanpa tudjuan -sambil berfikir-- aku sampai dibagian selatan kota Bandung, suatu daerah pertanian yang padat dimana orang dapat menyaksikan para petani mengerjakan sawahnya yang kecil, yang masing masing luasnya kurang dari sepertiga hektar. Oleh karena beberapa hal, perhatianku tertuju pada seorang petani yang sedang mencangkul tanah miliknya. Dia seorang diri. Pakaiannya sudah lusuh. Gambaran yang khas ini kupandang sebagai perlambang daripada rakyatku. Aku berdiri disana sejenak memperhatikannya dengan diam. Karena orang Indonesia adalah bangsa yang ramah, maka aku mendekatinya. Aku bertanya dalam bahasa sunda,
"Siapa yang punya semua yang engkau kerjakan sekarang ini?"
Dia berkata padaku, "saya Juragan".
Aku bertanya lagi, "Apakah engkau memiliki tanah ini bersama-sama dengan orang lain?"
"O tidak Gan. saya sendiri yang punya."
"Tidak. Warisan bapak kepada anak turun temurun."
Ketika ia terus menggali, aku pun menggali ..................aku menggali secara mental. Pikiranku mulai bekerja. Aku memikirkan teoriku. Dan semakin keras aku berfikir, tanyaku makin bertubi-tubi pula.
"Bagaimana dengan sekopmu? Sekop ini kecil, tapi apa kepunyaanmu juga?"
"Ya, Gan."
"Dan Cangkul?"
"Ya, Gan."
"Bajak?"
"Saya punya, gan."
"Untuk siapa hasil yang kau kerjakan?"
"Untuk saya, gan."
"Apakah cukup untuk kebutuhanmu?"
Ia mengangkat bahu sebagai membela diri. Bagaimana sawah yang begini kecil bisa cukup untuk seorang istri dan empat orang anak?
"Apakah ada yang dijual dari hasilnmu?" Tanyaku.
"Hasilnya sekadar cukup untuk makan kami. Tidak ada lebihnya untuk dijual."
"Kau memperkerjakan orang lain?"
"Tidak, Juragan. Saya tidak dapat membayarnya."
"Apakah engkau pernah memburuh?"
"Tidak, gan. Saya harus membanting tulang, akan tetapi semua jerih payah saya semua untuk saya."
Aku menunjuk kesebuah pondok kecil, "Siapa yang punya rumah itu?"
"Itu gubuk saya gan. Hanya gubuk kecil saja, tapi kepunyaan saya sendiri."
"Jadi kalau begitu," Kataku sambil menyaring pikiranku sendiri ketika kami bicara,"Semua ini punya engkau?"
"Ya, Gan."
Kemudian aku menanyakan nama petani muda itu. Ia menyebut namanya, "Marhaen". marhaen adalah nama yang biasa seperti Smith dan Jones. Disaat itu sinar ilham menggenangi otakku. Aku akan memakai nama itu untuk semua orang Indonesia yang bernasib malang seperti itu. Semenjak itu, kunamakan rakyatku rakyat Marhaen.
***
Kutipan diatas, berasal dari buku yang aku ulas ini, tepatnya halaman 83 dan sebagian halaman 84. Aku ga kutip banyak banyak, karena selain capek ngetiknya, juga secara legal aku harus minta ijin ke penerbit untuk mereproduksi sebagian isinya. Ga, aku ga mau serepot itu. Tidak ada yang aku tambah atau kurangi, kecuali mentransformasikan dari ejaan lama ke ejaan yang disempurnakan.
Heheeeeeeeeeei,...dan kawan, kalo kamu liat foto sampul buku ini diatas, yap..buku ditanganku ini sudah sangat tua. Ia terbitan pertama yang diterbitkan PT Gunung Agung, Jakarta 1966. Dalam buku ini, Bung Karno berbicara dengan teramat terbuka dan jujur, baik tentang dirinya, lingkungannya maupun negerinya. Teramat jelas bisa sangat dipahami latar belakang dan metode ia berfikir. Dalam buku ini pula, kamu akan tau latar belakang pemikiran Sukarno kenapa sampai terlontar jargon abadinya, Go to Hell With Your Aids! Tau kan, kepada siapa itu ditujukan?
denpasar,
8:29 PM 5/24/2007
