Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Revolusi Iran
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Apresiasi Buku
apabisa
Revolusi Iran
Sejarah dan Hari Depannya


Judul Asli:
Iranian Revolution; Past, Present and Future
Penulis:
DR Zayar

Pengantar
Oleh Alan Woods



PENGANTAR

Peristiwa-peristiwa terkini di Iran merupakan hal yang sangat pentrog bagi kaurn buruh di seluruh dunia. Dua puluh tahun setelah revolusi anti-Shah dibelokkan dari relnya dan dirubah menjadi lorong buntu oleh para fundamentalis, rakvat sekali lagi mulai bergerak. Dernonstrasi mahasiswa, kemenangan besarbesaran dari para "reforman" dalara pernilihan umumkesemuanya ini adalah indikasi akan adanya perubahan fundamental dalam situasi. Publikasi dari buku Dr. Zayar dengan demikian tidak memerlukan justifikasi khusus.

Peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi mernberikan konfirmasi yang mengejutkan dari analisa vang telah dibuat setahun yang lalu dalara dokurnen First Shots of the Iranian Revolution. Dalara karya itu kauri menandaskan bahwa rezim para mullah dalara keadaan krisis, ditandai dengan perpecahan antara apa yang dinamakan sebagai reforman dan faksi garis keras, dan bahwa dernonstrasi mahasiswa menandai dimulainya sebuah tahapan baru dalam revolusi Iran. Represi yang brutal terhadap para mahasiswa, kauri prediksikan, akan membawa ke keadaan tappa gejolak sementara waktu, namun hal ini akan berakhir dalara sebuah kebangkitan gerakan baru yang tak terelakkan.

Sejak paragraf tersebut dituliskan, telah terdapat beberapa perkembangan baru yang besar, yang kesemuanya cenderung memberikan konfirmasi terhadap posisi kami sejak awal. Proses revolusioner di Iran mencapai sebuah tingkatan baru dengan pemilihan sebuah pemerintahan "reformis" pada awal tahun ini. Dengan mendorong faksi reformis menuju ke tampuk kekuasaan, massa ini melancarkan pukulan lain terhadap para mullah reaksioner yang telah memegang kekuasaan selama 20 tahun terakhir. Mereka mengambil keuntungan dari pemilihan untuk mendemonstrasikan keinginan mereka yang bergelora akan adanya suatu perubahan. Namun demikian, tidak ada perubahan vang telah diterima. Faksi reformis yang dipimpin oleh Mohammad Khatami takut untuk menangani para mullah reaksioner vang diwakili oleh Ayatollah Ali Khamenei.

Koran Chicago Tribune (10 juli, 2000) berkomentar: "Parlemen baru, yang keenam di Iran sejak revolusi, bersidang pada 28 Mei dan telah menghabiskan kebanyakan waktu enam bulan pertamanya meributkan masalah teknis dan menghindarkan isu-isu nyata." Koran ini meneruskan ke permasalahan pemilihan Muhammad-Reza Khatami, seorang reforman terkemuka yang merupakan saudara dari Presiden Khatarni: "Perubahan di Iran akan menjadi sulit dan gradual... Mereka yang mengharapkan bahwa segala sesuatunya akan diselesaikan dalara waktu 6 bulan atau 12 bulan harus memahami bahwa perubahan sosial secara mendalam memakan waktu bertahun-tahun."

"Sementara itu," tambah Harian Tribune, "para reforman berhati-hati dalara mengambil langkahnya di parlemen. Mereka berasal dari berbagai kelompok yang berbeda-berkisar dari perwakilan kelompok mahasiswa hingga sebuah organisasi yang dinamakan Asosiasi Pejuang Ulama-tanpa adanya agenda yang pasti terhadap komitmen samar akan 'kebebasan lebih banyak'.

Khatami dan para pendukungnya mencari perubahan melalui sarana damai yang legal, dan pada saat bersamaan menjaga konstitusi dan asas pemerintahan ulama yang tertinggi. Hal ini hampir sama saja dengan mencoba membuat bentuk kotak dari sebuah lingkaran. Meskipun para reforman telah melakukan segenap penyerahan diri dan kompromi, kaum mullah masih tidak dapat ditenangkan. Catatan bahwa, merupakan suatu hal yang masuk akal untuk mengurangi kontradiksi dalam masyarakat dengan memberikan suara bagi reformasi telah menunjukkan suatu hal yang benar-benar utopis. Sebaliknya, antagonisme telah meningkat pada sebuah level ketakutan yang baru.

Setelah adanya kekalahan yang sangat termasyhur dari para reforman dalam pemilihan parlemen Februari lalu, para ulama konservatif telah menggunakan koptrol mereka atas lembaga peradilan untuk menyerang balik. Meskipun kaum konservatif militan hanya mengontrol kurang lebih 30 persen dari kursi yang ada di parlemen, mereka telah melakukan perlawanan ketat "satu lawan satu" dalara belasan pertandingan yang dimenangkan oleh kandidat reformis. Sekitar 20 kursi masih belum diketahui siapa pemenangnya. Para reforman mengontrol lembaga eksekutif dan legislatif dalara pemerintahan Iran. Akan tetapi kaum konservatif agamis masih mendominasi lembaga yudikatif dan pusat kekuasaan penting lainnya, dan mereka telah memperlihatkan bahwa mereka siap untuk menyabotase semua usaha serius untuk mereformasi.

Ketika secara sistematis menghambat dan menyabotase reformasi, Khamenei, merasakan adanya

tekanan dari bawah, berkewajiban untuk mengambil kendali dan melakukan manuver. Dia mempertahankan reformasi "pada prinsipnya" tetapi menuntut tujuan yang jelas terdefinisikan demi menghindari adanya "miskonsepsi". "Kami tidak ingin setiap orang menyokong pemahamannya sendiri tentang reformasi. Jikalau reformasi bergerak terlalu cepat, hal itu dapat mengarah terhadap adanya deviansi," katanya. Dengan kata lain, Khamenei dan para reaksionaris berlindung di balik jubah Khatami dan para reforman borjuis dalam rangka mengkontrol gerakan masa. Akan tetapi tujuan dia adalah untuk menjaga cengkeraman para mullah yang kuat terhadap negara: "Konstitusi haruslah digunakan sebagai suatu ikrar, dimana Islam memiliki keutamaan di atas segala undang-undang," tegas Khamenei.

Isu serius satu-satunya yang telah dikendalikan oleh para reforman sejauh ini adalah undang-undang pers yang mempermudah lembaga yudikatif dalara memberangus suratkabar. Akan tetapi di sini sekalipun kaum konservatif telah membuat segalanya menjadi jelas bahwa mereka hendak menghambat inisiatif ini dalara Dewan Pengawal Konstitusi, sebuah lembaga konservatif yang memiliki otoritas untuk memblokir undangundang yang dianggap "ofensif terhadap Islam." Mereka telah menggunakan kekuatan yudikatif untuk membredel 20 suratkabar dan majalah reformis. Mereka juga telah memenjarakan belasan jurnalis terkemuka dan aktivis gerakan reformasi. Khamenei membela serangan atas kebebasan pers ini: "Kebebasan adalah penting, akan tetapi material yang meracuni (dalam pers) yang membelokkan reformasi pada saat kritis yang sensitif ini, dilarang," katanya. "Kita tidak akan mengijinkan metode musuh kita digunakan untuk melaksanakan reformasi."

Belum-belum konfliknya sudah dibatasi dengan kata-kata. Kaum reaksionaris telah berulangkali memperlihatkan bahwa mereka siap untuk menggunakan kekerasan apabila hal itu sesuai untuk mereka. Sebuah percobaan pembunuhan terjadi pada bulan Maret yang membuat luka kritis pada Saeed Hajarian, seorang penasihat kunci bagi Presiden Khatami, yang dilakukan oleh sebuah kelompok pejuang Islam, hampir pasti dilakukan dengan persetujuan para ulama reaksioner.

Kepengecutan Kelompok Liberal

Menghadapi kekerasan semacam itu, para reforman semata hanya mencoba untuk mengubur mereka hiduphidup. Tujuan utama mereka ke depan adalah untuk mencegah gerakan dari bawah dengan segala daya upaya. Ketika dihadapkan dengan ancaman dari kebangkitan masa, maka mereka tidak bisa tidak akan berkompromi dan meredam lapisan bawah dengan reaksi. Dalam usahanya untuk mengurangi snood para pemberontak, kaum Liberal akan melakukan yang terbaik menurut mereka untuk memperendah harapan: "Bersabarlah", "Kami tidak bisa melakukannya sekaligus!" dan sebagainya dan seterusnya. Tom Hundley, koresponden luar negers harian Chicago Tribune berkomentar: "Harapan yang tinggi pada beberapa bulan yang lalu telah memudar. Dengan pemahaman yang lebih jelas tentang bagaimana permainan ini akan dimainkan, para reforman yang menyapu hasil pemilihan parlementer pada bulan Februari sekarang mencoba untuk memperkecil pengharapan dari para pendukung mereka" (Chicago Tribune, 10 Juli 2000).

Para pemimpin gerakan reformasi-termasuk beberapa "mahasiswa" yang terkenal dari generasi sebelumnya, yang memimpin pendudukan Kedutaan Besar Amerika pada tahun 1979-terus mendesak mereka untuk mengendalikan perasaan dan bersabar. "Beberapa orang yang dibuat frustasi mungkin akan mencari jalan yang lain untuk mencapai tujuan mereka, tetapi kami mendesak kelompok ini untuk tidak mengambil langkah-langkah ilegal, khususnya sekarang, dimana kauri memiliki kekuatan untuk meraih tujuan ini melalui sebuah kerangka yang legal," ucap Khatami, saudara sang presiden.

Hamid-Reza Jalaipour memainkan sebuah peranan yang menonjol dalam gerakan untuk menggulingkan kekuasaan Shah. Sebagai imbalannya, pada usia ke-21, adalah kegubernuran sebuah provinsi, namun setelah beberapa saat dia mulai merasa kecewa dengan para ulama yang memerintah negeri. Pada saat itu dia mulai menerbitkan suratkabar reformasi. Orang Liberal tersebut sangat ingin menjauhkan diri dari revolusi. "Ini adalah sebuah gerakan untuk menciptakan sebuah masyarakat madani. Ini adalah sebuah gerakan damai, sebuah gerakan yang halus, bukan sebuah revolusi," begitu kata Jalaipour. Mantan pemimpin gerakan mahasiswa ini berubah menjadi penerbit suratkabar yang kaya pada usia 40-annya, secara sempurna mengekspresikan pendirian kaum Liberal: "Satu revolusi sudah cukup."

Apakah ini tidak familier bagi kita di Barat? Hal ini mengingatkan akan sebuah kelas menengah eksradikal yang menyedihkan, yang berdemonstrasi di jalanan Paris tahun 1968 dan sekarang merupakan reformis yang nyaman dan politisi borjuis yang tidak ragu-ragu untuk mengacu pada surat kepercayaan "revolusioner" (yang ada tiga puluh tahun yang lalu), pada saat yang sama mendesak generasi baru supaya "bersabar" -yaitu, menundukkan kepala mereka atas kemenangan kapitalisme yang tak terhindarkan. Seperti halnya Kadet Rusia sebelum Revolusi, ketakutan mereka akan masa adalah ratusan kali lebih potensial daripada kebencian mereka terhadap kaum reaksioner.

Akan tetapi kata-kata muluk seperti itu tidak mempunyai pengaruh sama sekali terhadap rakyat yang telah letih menunggu. Perasaan yang tumbuh adalah "tak ada yang telah berubah" dan dengan demikian sebuah impuls dari bawah diperlukan. Perbenturan penuh kekerasan antara mahasiswa pro-reformasi dengan satgas Islam pada akhir minggu 8-9 Juli menunjukkan bahwa kesabaran mulai semakin menipis, terutama di antara kaum pemuda. Pemuda adalah kunci bagi revolusi Iran. Hampir 60 persen dari 65 juta populasi Iran ada di bawah usia 25 tahun. Mereka yang tidak memiliki memori nyata terhadap revolusi Islam ataupun Khomeini, menuntut kebebasan dan semakin tidak sabar dengan lambatnya langkah perubahan. Selama beberapa bulan, Presiden Khatami dan para sekutunya telah menyerukan untuk tetap tenang menghadapi agitasi dari penganut garis keras. Dalam pendapatnya yang dipublikasikan pada hari Sabtu, Khatami telah memperingatkan adanya "ledakan" sosial jika kritikan dilenyapkan dengan paksa. "Salah jika berharap bahwa rakyat bertindak sebagaimana mereka, dan menindak mereka jika mereka tidak melakukan seperti yang diharapkan," katanya dalara komentar menandai peringatan peristiwa penyerbuan Juli 1999. "Kami tidak boleh bertindak dalam sebuah cara yang akan memperlebar kesenjangan antara rakyat dengan pemerintah, sesuatu yang pada akhirnya bisa mengakibatkan ledakan," Khatami memperingatkan. "Rakyat harus diperbolehkan untuk berbicara bebas dan mengkritik pemerintahnya, karena jika mereka tidak diijinkan untuk melakukan hal ini, ketidakpuasan publik pada akhirnya akan menyebabkan sebuah ledakan

Khatami yang liberal mencoba untuk memperingatkan kaum reaksioner akan bahava adanya ledakan sosial kecuali jika mereka setuju untuk melakukan reformasi. Akan tetapi, seperti biasanya, peringatan yang bermaksud baik dari kaum Liberal terhambat pada tulinya telinga. Kaum reaksioner telah memutuskan bahwa setan revolusi harus diusir dengan ledakan dan peluru, bukan dengan reformasi.

Masa Turun ke Jalanan

Sekali lagi para mahasiswa harus memenuhi jalanan di Teheran dan kota-kota lainnya. Akan tetapi lingkup dari gerakan sekarang ini adalah jauh Iebih besar dari gerakan yang terjadi pada musim panas lalu yang kami gambarkan pada saat itu sebagai "percobaan pertama revolusi Iran". Gerakan mahasiswa terkemuka, Persatuan Upaya Konsolidasi (PUK), mengorganisasikan sebuah even damai untuk memperingati ratusan mahasiswa yang terluka pada sebuah serangan atas pondok mahasiswa tahun 1999, menyerukan para pendukung supaya membagikan bunga dengan slogan "senyum untuk reformast". Para pemimpin reformis mengadakan sebuah seminar pada suatu pondok yang setahun lalu diserang oleh para gerombolan Islam dan menghajar para mahasiswa. Tujuan akan seminar ini adalah untuk mendesak digunakannya taktik tanpa kekerasan dalara perjuangan meraih kebebasan yang lebih besar dan mencapai demokrasi. Akan tetapi banyak pelajar yang mengabaikan posisi damai semacam itu dan larangan resmi untuk mengadakan arak-arakan, mereka turun ke jalan atas kehendak sendiri dan menarik banyak minat orang awam untuk bergabung dengan keinginan mereka. Begitu masa mahasiswa turun ke jalan, demonstrasi yang terjadi menampilkan karakter yang sama sekali berbeda.



Ketika para mahasiswa berkumpul di universitas, mereka berhadapan dengan polisi dan para milisi sukarela Islam. Pertikaian meletus dan dengan cepat menyebarluas melalui pusat kota Teheran. Para satgas Islam telah menyerang demonstrasi sebelumnya yang dilakukan oleh para mahasiswa yang meneriakkan slogan-slogan untuk memberikan dukungan terhadap reformasi dan kebebasan politik. Para saksi mata menyatakan bahwa polisi tidak melakukan intervensi disaat para petugas sukarela Islam memukuli dan menendangi para mahasiswa dimuka mereka. Kekerasan polisi dijawab dengan sebuah ledakan di jalanan beberapa hari kemudian. Beratus-ratus orang, kebanyakan dari mereka dipersenjatai dengan bebatuan dan meneriakkan "kematian bagi para diktator", bertarung mati-matian dengan belasan pejuang garis keras yang dipersenjatai dengan batu, rantai dan senjata otomatis. Para pejuang meneriakkan slogan mendukung pemimpin tertinggi garis keras Ayatullah Ali Khamenei. Para saksi mata melihat para demonstran terluka ketika kelompok militan Ansar-e-Hisbullah, atau Sahabat Partai Allah, dilempari dengan rantai, pentungan kayu dan botol pecah, disekitar pusat Taman Revolusi, dekat dengan Universitas Teheran, dimana para mahasiswa pro reformasi mengadakan hari protes damai.

Koran-koran melaporkan bahwa polisi dan para pejuang menangkap banyak demonstran dari sebuah kerumunan, yang berjumlah beberapa ribu maksimumnya. Beberapa pengunjuk rasa dibalas dengan batu-batu. Saksi mata melihat belasan orang ditangkap, dilemparkan kedalam mobil, van dan truk polisi, yang terus menerus berdatangan ke distrik tersebut. Anggota milisi sukarela Basij yang mendukung garis keras juga memenuhi jalan dengan sepeda motor dan van, dilengkapi dengan pentungan kayu dan bekerja bahu membahu dengan polisi. Pada hari Sabtu, ribuan polisi anti huru-hara-kembali-mem*kakkan jalanan yang sepi disekitar Taman Revolusi di Teheran. Pecahan kaca, pentungan dan batu berserakan mengotori daerah itu.

Pertikaian antara para pengunjuk rasa dengan pejuang Islam meninggalkan goresan berupa para demonstran ditangkap dan banyak orang dikedua belah pihak terluka parah. Tidak jelas berapa orang yang terluka dalara perkelahian antara kedua kubu, tapi setidaknya selusin orang terlihat diangkut kedalam mobil pribadi, kebanyakan dengan luka dikepala. Unjuk rasa dengan Lebih sedikit kekerasan yang meletup di bagiab selatan kota Shiraz dan sentra kota lsfahan. Akan tetapi peristiwa-peristiwa yang terjadi telah menunjukkan bahwa pentungan polisi tidak dapat menghentikan gerakan tersebut. Sebaliknya. Begitu sebuah rezim memakai kembali kegunaan purbanya, berupaya untuk menjaganya dengan cara kekerasan, maka dampak yang dihasilkan akan merupakan kebalikan dari yang diharapakan. Setiap tindakan represi hanya akan mengakibatkan kebencian yang lebih dalam diantara masa terhadap rezim tersebut dan memperlebar jurang dalam yang memisahkan dua kelas yang bertentangan. Hal ini, pada gilirannya, akan mengakibatkan hilangnya usaha bagi mereka yang mencoba untuk menutupi dan menyembunyikan kesalahan. Pendidikan di jalanan telah memberikan masyarakat dengan pelajaran yang berharga tentang alam, bukan hanya tentang reaksi tetapi juga tentang Liberalisme.

Gerakan tersebut kini telah melewati batasan yang dibuat oleh para reforman. Sebuah laporan dari Teheran oleh koresponden Reuters, Mehrdad Balali (Minggu, 9 Juli 2000) menyimpulkan: "Para pengunjuk rasa jauh melewati batas dari apa yang diperjuangkan oleh gerakan Khatami bagi perubahan politik dan sosial, serta melampaui garis yang disebut sebagai'garis merah' bagi perlawanan politik." (Dengan penekanan dari saga, AW.) Apa yang paling signifikan dari peristiwa ini adalah bahwa teriakan-teriakan para pengunjuk rasa utamanya diarahkan kepada para reforman. "Khatami, Khatami, perlihatkan kekuasaanmu atau mundur!" begitu dendang para demonstran pada arak-arakan hari Sabtu. Hal ini adalah salah satu dari pertama kalinya aktivis reformasi mengkritik presiden didepan publik. "Khatami, Khatami, ini adalah peringatan terakhir!" adalah slogan yang lain.

Perkembangan ini malahan merupakan sebuah titik balfik. Mereka menandai adanya perubahan kualitatif dalam keseluruhan situasi di Iran. Apa yang mengejutkan adalah cepatnya pergerakan melewati tingkat parlementer menuju ke jalanan. Ini adalah ekspresi dari fakta bahwa kontradiksi tersebut terlalu dalam untuk bisa diperbaiki oleh montir amatir di parlemen. Pemilihan reformis hanyalah semata diadakan untuk mengekspos impotensi mereka. Gerakan dijalanan adalah merupakan, dalam satu bagian, sebuah usaha untuk mendorong mayoritas Liberal di parlemen untuk bertindak lebih jauh. Dalam kesia-siaan!

.Seperti yang telah kami jelaskan satu tahun lalu, setelah 20 tahun bereaksi dibawah pemerintahan kaum mullah, rakyat kini tidak sabar akan adanya perubahan. Perpecahan pada tingkat atas adalah merupakan refleksi dari jalan buntu yang dihadapi rezim tersebut. Salah satu sayap dari kubu pemerintah mengatakan: "jika kita tidak mereformasi dari tingkat atas maka akan timbul revolusi." Saya_p yang lainnya berkata: "Jika kita melakukan reformasi maka akan timbul revolusi." Dan keduanya benar. Perjuangan pada tingkat atas, yang secara terbuka ditampilkan dalam parlemen, memberikan dorongan bagi gerakan dari bawah. Hal ini adalah merupakan arti sesungguhnya dari perkembangan yang terakhir.

Setelah terjadinya demonstrasi, orang-orang Khatami telah (secara alami) membikin jarak antara mereka dengan unjuk rasa. "Gerakan reformasi meyakini pendekatan yang damai dan rasional. Gerakan reformasi mengutuk segala bentuk aksi kekerasan dan tekanan," sitir harian Hayat-e No. Nyatanya, unjuk rasa tidak hanya diadakan mengabaikan larangan resmi terhadap arak-arakan tetapi juga mengesampingkan permohonan para reforman untuk tetap tenang dalam menghadapi reaksi yang tidak menyenangkan dari kaum konservatif terhadap aktivis liberal. Kenyataan ini cukup bisa menyatakan sifat sejati para reformtin sebagai reaksi yang berkebalikan. Kaum reaksioner menentang demostrasi dengan larangan, polisi dan pentungan, kaum Liberal dengan pendapat, "jangan memprovokasi reaksi". Akan tetapi, apada akhirnya, kedua faksi bermusuhan dengan gerakan masa, yang mereka takuti sebagaimana iblis takut dengan air suci.

Fitnahan Kaum Reaksioner

Suratkabar Konservatif menggambarkan para pengunjuk rasa sebagai "berandalan dan anti-revolusioner", menyerukan pada kelompok mahasiswa garis depan untuk mencoba memisahkan diri dari mereka. Seperti biasanya, kaum reaksioner mencoba untuk menyalahkan demonstrasi sebagai "musuh asing". Hal ini bukanlah sesuatu yang baru ataupun orisinil. Dengan cara yang sama, Kerensky pernah menuduh Bolshevik telah menjadi agen Jerman. Akan tetapi fitnah semacam itu tidak memiliki pengaruh begitu masa melakukan gerakan.

Seperti yang telah terjadi selama unjuk rasa tahun lalu, kita melihat suatu jenis persekutuan antara Khamenei dengan Khatami menentang gerakan masa. Kaum reaksioner tidak berkeberatan dengan kaum reforman selama mereka aktivitas mereka dalam "saluran konstitusional", selama mereka menerima aturan main yang telah ditetapkan oleh reaksionaris, selama mereka tidak melakukan apapun untuk membangkitkan masa, yang bisa dikatakan, selama mereka tidak bergerak untuk berjuang menuju perubahan. "Selama kubu-kubu dalam sistem ini tidak dengan jelas mendefinisikan posisi mereka dan tidak mengeluarkan radikalitas dari posisi mereka, ada kemungkinan bagi musuh untuk mengambil keuntungan," tulis Entekhab, sebuah harian yang terbit di Teheran.

Kemarahan kaum reaksioner tidaklah ditujukan hanya kepada para demonstran tetapi juga terhadap pemimpin mahasiswa reformis malang yang telah melakukan yang terbaik untuk mencegah demonstrasi dan menjaga gerakan tetap pada batas yang bisa ditolerir. "Strategi PUK berupa 'bunga dan senyum' tidak berlangsung lama. Penyebar kekerasan menciptakan insiden yang lainnya," sembur harian garis keras Resalat. Kaum Liberal yang terkemuka tidak memerlukan waktu untuk terbujuk. "Mereka yang menjadi ekstrim, jelas bukan termasuk gerakan mahasiswa. Wakil mahasiswa adalah mereka yang membagikan bunga pada hari Sabtu," ucap Meysam Saeedi, seorang anggota parlemen dan mantan "pemimpin" mahasiswa.

Akan tetapi pernyataan para reforman yang menyedihkan hanya memberikan keberanian bagi kaum reaksioner, beberapa orang melakukannya lebih jauh dan menyalahkan sekutu Khatami dan lembaga pemerintahan atas adanya unjuk rasa dengan kekerasan. Hal ini merupakan usaha yang jelas untuk menakuti para reforman (bukan sebuah tugas yang sangat sulit!) dan membuat mereka mengutuk gerakan masa (fuga bukan sesuatu yang sangat susah). Menulis dari Teheran pada hari Minggu, 9 Juli, dalam sebuah artikel yang bertajuk "Reforman Iran Memaklumatkan Kekerasan di Jalan", Mehrdad Balali menyatakan bahwa "sekutu reformis Presiden Mohammed Khatami pada hari Minggu menjauhkan diri dengan arak-arakan prodemokrasi pada akhir minggu, yang memiliki target pada jantung sistem pemerintahan agamis." Suratkabar reformis mencoba untuk memaparkan pertikaian antar kelompok, bukannya memberikan liputan terhadap peristiwa-peristiwa penuh damai untuk mendukung reformast liberal Khatami, yang ditekan oleh penindakan keras konservatif terhadap press independen dan aktivis liberal.

Setelah unjuk rasa itu para pemimpin reformis bahkan mencoba untuk mengklaim bahwa para mahasiswa tidak terlibat. Persatuan Upaya Konsolidasi, kelompok mahasiswa pro-reformasi terbesar, dengan cepat mengingkari para perusuh. "Para demonstran bukan mahasiswa," sanggah kelompok itu dalam sebuah pernyataan. "(Mahasiswa) tidak ada kaitannya dengan insiden ini." Hal ini jelas-jelas sebuah kebohongan. Kenyataannya adalah gerakan ini dimulai oleh mahasiswa militan, tetapi mereka digabungi oleh orang awam Iran, terutarna kaum miskin. Guardian (10 Juli) menulis: "Sebuah tantangan baru kepada pemerintahan Presiden Muhammad Khatami yang bangkit dalara kemunculan demonstrasi pada akhir minggu di pusat kota Teheran dimana ribuan rakyat miskin Iran bergabung dengan pelajar universitas dalara sebuah pertempuran dengan ekstrimis Islam."

"Koalisi spontan pada hari Sabtu malam, yang terdiri dari mahasiswa dan rakyat Iran, menuntut perbaikan kondisi sosial, menandai sebuah titik balik dalara perjuangan untuk mendefifnisikan kembali Republik Islam."

"Setahun yang lalu, para mahasiswa-lah terutama vang menuntut reformasi politik dan kebebasan lebih. Sekarang, teriakan akan perubahan datang dari masyarakat lapisan utama." (Penekanan saga, AW.)

Hal ini adalah sebuah perkembangan vang sangat penting. Pergerakan yang mulai menjadi gerakan bagi reformasi demokratis ditranformasikan menjadi sebuah gerakan revolusioner dimana para buruh bergabung dengan mahasiswa di jalanan, dan memenuhi tuntutan demokratis dengan membangun sebuah kelas. Bagi para pekerja dan petani, dernokrasi bukanlah sebuah pertanyaan abstrak yuridis. Perjuangan bagi hak-hak demokratis hanya masuk akal apabila hal itu dikaitkan dengan perjuangan untuk sebuah perbaikan kondisi material masyarakat. Alasan sejati bagi adanya demonstrasi, serta partisipasi kaum miskin dan tertindas bahu-membahu dengan para mahasiswa, dijelaskan dalara artikel Guardian yang sebelumnya pernah dikutip: "Bahkan sebelum unjuk rasa hari Sabtu di Teheran, yang meninggalkan belasan orang terluka serius setelah para pejuang Islam menggunakan pentungan kayu untuk menghajar para pengunjuk rasa, demonstrasi menentang kurangnya listrik dan air minum yang dibawah standar telah meletus disejumlah kota, termasuk dipusat minvak, Abadan, didekat perbatasan Irak." (Penekanan dan saga, AW.)

Fakta bahwa unjuk rasa telah menvebarluas ke kota-kota lainnya, dan khususnya wilayah-wilayah penghasil minyak, pastilah telah memberikan firasat yang dalam di Teheran. Kami harus mengingatkan bahwa perjuangan menentang Shah vang paling menentukan adalah vang dilancarkan oleh pekerja tambang minvak pada tahun 1979. Masyarakat telah bergabung dalam perjuangan para mahasiswa, tapi telah menambahkan tuntutan independen mereka sendiri bagi peningkatan standar hidup, upah dan kondisi hidup. Bagaimanapun juga, akan merupakan suatu hal yang salah untuk mengasumsikan bahwa motif yang sesungguhnya dari protes ini adalah.kondisi material masyarakat yang semakin memburuk. Tuntutan akan kekurangan listrik serta air minurn yang burukmeskipun hal ini juga pentrog-hanyalah percikan vang telah menyalakan sebuah pemantik yang telah dipersiapkan lama lebih dahulu. Setelah dua puluh tahun diperintah oleh para mullah yang korup dan reaksioner, kaum pekerja Iran telah muak. Sebuah perubahan fundamental masyarakat-tidak kurang dari itu-yang akan memuaskan mereka. Hal ini berarti bahwa perkembangan revolusioner di Iran hanyalah merupakan masalah waktu.

Kaum Imperialis Khawatir

Kejadian di Iran diikuti dengan penuh perhatian oleh Washington dan Brussel. Bukanlah sesuatu diluar kesengajaan jika segera setelah kemenangan Khatami dalam pemilihan umum, pejabat administrasi Clinton, untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade, menyatakan kemungkinan sebuah pemulihan hubungan baik dengan Iran. Pejabat administrasi Clinton menghapuskan larangan impor terhadap karpet Persia, kaviar dan pistachio (sejenis kenart hijau-penerj.) dart Iran Maret lalu sebagai sebuah proposisi pembuka terhadap Teheran. Dari sisi mereka, kaum reforman akan menerima investor AS setelah hubungan dingin selama dua dekade dan menunggu Amerika Serikat "melakukan langkah pertama", sebagaimana yang dikutip dari pernyataan kementerian luar negeri negara itu. "Dari pihak kauri jalan itu terbuka bagi perusahaan Amerika untuk datang ke Iran dan menjadi aktif di sini," demikian ucap Kamal Kharazzi terhadap mingguan Jerman Der Spiegel dalam sebuah wawancara baru-baru ini. Akan tetapi berlawanan dengan pemerintah Eropa, Amerika Serikat masih memblokir kesepakatan bisnis besar, terutama dalam industri minyak. Para reforman umumnya berkenan dengan restorasi hubungan yang normal dengan AS tetapi adalah masalahnya adalah terlalu sedikit dan terlalu terlambat.

Kunjungan Presiden Khatami ke Jerman adalah sebuah indikasi akan perhatian nyata dari ulama "moderat". Mereka berkeinginan untuk membangkitkan kembali pertalian dengan Eropa Barat dan AS, yang putus sejak revolusi Islam tahun 1979 di Iran menggulingkan Shah dan militan Islam menyandera 52 sandera Amerika di Kedutaan Besar AS di Teheran selama 444 hari. Eropa Barat membekukan hubungan dengan Iran setelah pada tahun 1997, pengadilan Jerman memutuskan bahwa pembunuhan atas empat orang pembelot Iran pada tahun 1992 di Berlin, telah diperintahkan mereka yang berada pada tingkat tertinggi di Teheran. Akan tetapi Kharazi berkata bahwa kini semua adalah masa lalu. "Tidak ada yang perlu diragukan dalam hal itu," Kata Kharazzi kepada Der Spiegel. "Kami ingin memandang ke depan dan akan lebih melihat pada kemungkinan-kemungkinan yang dapat membawa kita bersama dekat." Kharazzi mengundang Jerman untuk menggelembungkan aliran ekonomi dengan Iran, mengatakan bahwa rencana pembangunan Iran sekarang ini membutuhkan investasi total sebanyak $13 milyar. "Dan kami berharap bahwa kisaran proyek semacam itu menarik minat banyak negara, termasuk Jerman," dia menjelaskan.

Karakter pro-borjuis dari reforman Iran dengan demikian cukup jelas dan tidak asing di Barat. Imperialis berkeinginan untuk menyandarkan diri pada sayap Khatami untuk menghambat sebuah revolusi dan, secara tidak sengaja, membuka sebuah pasar yang sangat menguntungkan. Akan tetapi kenyataan ini tidak dengan demikian melambangkan sebuah kelebihan dari para reforman didalam Iran itu sendiri. Sentimen antiimperialis masih tetap kuat diantara masyarakatsebuah fakta yang oleh sayap Khamenei dicari untuk keuntungan mereka sendiri. Pada suatu tingkat dimana ekonomi pro-pasar milik kaum reforman secara berkebalikan memberikan pengaruh terhadap standar hidup masyarakat, hal itu hanya untuk mengakselerasi kurangnya dukungan mereka. Bukan tanpa alasan Khamenei menyalahkan kekuatan Barat atas keresahan sosial negara tersebut, mengatakan bahwa mereka merencanakan untuk menghancurkan republik Islam itu sebagaimana yang telah mereka lakukan terhadap Uni Soviet. "Bagaimana bisa Amerika dan Inggris, yang bertanggungjawab atas penderitaan di Iran selama 50 tahun, sekarang mendukung reformasi?" tanya Khamenei demagogis.

Ide dalar bahwa imperialis Amerika dan Eropa bertindak sebagai juara demokrasi di Iran hanya sekadar menjadi bahan tertawaan. Orang-orang ini adalah juara kediktatoran brutal dari Shah hingga dia digulingkan oleh rakyat Iran. Bagaimana mungkin sekarang mereka mengklaim sebagai pembela demokrasi sekarang? Kemunafikan ini semata hanya ingin untuk mencegah sebuah revolusi di Iran dimana kekuasaan akan pindah ke tangan rakyat. Mereka ingin menerapkan rezim demokrasi-semu lemah yang akan mengizinkan mereka menjarah kekayaan minyak Iran dan melemahkannya menjadi sebuah negara satelit balti Barat.

Para pengunjuk rasa, betapapun juga, tidak berdemonstrasi menentang kapitalisme, tetapi menentang rezim reaksioner para mullah. Dengan melakukan hal seperti itu, mereka, dalara kenyataannya, menentang basis sistem Islami, menyerukan diakhirinya pemerintahan ulama di Iran dan menuntut sebuah referendum untuk demokrasi. Hal ini secara langsung mengajukan pernyataan tentang kekuasaan di Iran. Pertanyaan itu berbunyi: siapa yang akan menjadi panitia referendum itu? Siapa yang akan menjamin hakhak demokratis bagi rakyat? Segala macam pembicaraan tentang demokrasi akan tetap merupakan sebuah omong kosong, sepanjang negara itu, tentara dan polisinya ada ditangan para mullah dan kroni-kroninya. Kaum reforman pro-borjuis tidak dapat menjawab pertanyaan ini. Mereka terlalu takut dengan masyarakat untuk memimpin sebuah perjuangan yang murni bagi demokrasi.

Satu-satunya kekuatan yang murni tertarik dengan demokrasi di Iran adalah kelas buruh dan sekutu alaminya-kaum tani miskin dan kaum miskin kota, ditambah rakyat kelas menengah kebawah, para mahasiswa, penjaga toko kecil, bazaaris dan semacamnya, yang akan merninta pada kaum proletar untuk memimpin, disaat kelas buruh dimobilisasikan dalara perjuangan untuk merubah masyarakat.

Hal itu merupakan tugas semaa anggota kelas pekerja yang sadar untuk berjuang bagi terwujudnya kebijakan kelas independen. Dalara hal ini, perjuangan untuk demokrasi bisa menjadi langkah pertama dalam perjuangan revolusioner, menuju adanya transformasi sosialis dalara masyarakat. Syarat yang pertama, bagaimanapun juga, adalah putus total hubungan dengan kaum Liberal borjuis. Jangan percaya dengan Khatami! Rakyat pekerja harus bersandar hanya pada kekuatan mereka sendiri untuk mengakhiri kediktatoran para mullah!

Unjuk rasa yang terakhir diadakan dalam rangka peringatan pemberontakan mahasiswa pada 8 Juli tahun silam. Protes ini berakhir dengan represi berdarah dan penangkapan para pemimpin. Akan tetapi seperti yang telah kami prediksi pada waktu itu, langkah mundur hanya akan merupakan hal yang sementara: "Dengan adanya kelangkaan pemimpin, represi akan memiliki dampak berupa penundaan gerakan secara temporer, tetapi pasti dengan imbalan berakibat ledakan yang jauh lebih memakan korban dan tidak terkontrol di suatu hari nanti." (The First Shot of the Iranian Revolution, 17 Juli 1999.) Prediksi ini sekarang telah sepenuhnya dibenarkan oleh peristiwa-peristiwa tersebut. Perjuangan akan terus berlanjut, dengan segala pasang surutnya yang tak terelakkan, hingga sebuah penanganan yang menentukan dilakukan.

Tentang buku ini

Buku ini mewakili sebuah kontribusi yang pentrog bagi pemahaman kita tentang revolusi Iran. Pengarang mempunyai segala hal yang dibutuhkan dalam melaksanakan tugasnya, merupakan seorang partisipan yang menonjol dan berpengalaman dalara gerakan Marxis dan gerakan buruh di Pakistan, dengan hubungan lama yang dijalin dengan Iran maupun Afghanistan. Karyanya ini akan berguna terutama di Barat dimana disitu dipercaya secara universal bahwa revolusi tahun 1979 adalah sebuah gerakan fundamentalis Islam yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini yang mendorong Iran kembali ke abad ke-6. Pandangan ini telah disebarluaskan dengan baik oleh yang berkuasa, yang memiliki sebuah vested interest dalam mendiskreditkan ide dasar revolusi dalam pikiran kelas pekerja di Barat. Hal seperti itu, dalam kenyataannya, adalah sebuah kebohongan yang keji.

Dr. Zayar, mengutip dari beragam sumbersumber yang orisinil, membuktikan dibalik bayangan keraguan, bahwa gerakan pada tahun 1979 adalah sebuah revolusi proletar yang dikhianati oleh para pemimpinnya, membuat terjadinya sebuah kontrarevolusi dimana para mullah merampas kekuasaan dengan mengisi kekosongan kekuasaan. Kaum buruh dan rakyat Iran telah membayar dengan harga yang mahal atas penghianatan ini selama dua puluh tahun terakhir, tetapi, seperti yang telah kita lihat, sekarang telah terpulihkan semangat juangnya dan memulai perjuangan yang telah diinterupsi oleh kontra revolusi Khomeini. Pengarang juga memberikan pada kita latar belakang sejarah yang kaya, termasuk banyak material yang akan menjadi tidak familier bagi pembaca di barat. Adalah suatu ketidakberuntungan yang besar bagi orang-orang di barat karena tidak mengenal pencapaian yang menakjubkan dari peradaban di timur, dimana Persia memiliki posisi yang istimewa. Kenyataan bahwa Asia dan Timur Tengah, seperti halnya semua negara kolonial dan semi-kolonial, telah mendapatkan perkembangan sejarah mereka terhambat dan dikerdilkan oleh dominasi penjarah imperialis yang telah mengaburkan kontribusi yang mengagumkan dari negara-negara ini terhadap kebudayaan umat manusia, seni dan ilmu pengetahuan.

Langkah mundur kebudayaan akhir-akhir ini diperburuk oleh kelicikan fundamentalisme yang menganggap pengabaian dan kesempitan pikiran sebagai kebenaran nyata. Dalam poin kenyataan, periode terbaik dari peradaban Islam, ketika negara seperti Iran memberikan kontribusi besar bagi peradaban manusia, dikarakterisasikan dengan toleransi dan keterbukaan pikiran. Hanya atas sebuah basis semacam itu perkembangan dari seni, ilmu pengetahuan, dan pikiran manusia dalam perkembangan umum bisa merdeka dan menjulangkan diri mereka sendiri pada ketinggian yang sebenarnya. Hal itu merupakan tugas kaum proletar, dengan dipersenjatai oleh program Marxisme berdasar keilmuan, untuk mempertahankan penaklukan kebudayaan manusia dan untuk berjuang melawan pengabaian dan pengaburan dalam segala bentuk penyamarannya.

Kaum pekerja membutuhkan sebuah pemahaman keilmuan dalara rangka untuk mempersenjatai diri dalam merubah masyarakat. Pemahaman semacam itu hanya bisa didapatkan dari Marxisme. Begitu kaum pekerja Iran telah dipersenjatai oleh program tersebut, kebijakan dan metode Marxisme, maka mereka takkan terkalahkan. Sebuah negara sosialis Iran, berdasar atas nasionalisasi sarana dan produksi dan sebuah sistem ekonomi terencana dibawah kontrol demokratis dan administrasi kaum buruh, akan berada dalam sebuah posisi yang bisa memobilisasikan potensi produktif yang menakjubkan, dari apa yang seharusnya menjadi sebuah negara yang kaya raya dan sejahtera bagi keuntungan semua orang secara keseluruhan, bukan hanya sejumlah pengeduk keuntungan, baik itu yang memakai sorban mullah ataupun jas bikinan desainer Amerika.

Perkembangan semacam itu akan menandai sebuah renaisans baru bagi kebesaran negara Iran, dengan berseminya seni, kesusastraan, puisi dan ilmu pengetahun. Hal itu tidak akan berhenti hanya disebatas wilayah Iran. Contoh dari demokrasi kaum buruh Iran akan bertindak sebagai sebuah mercu suar bagi rakyat yang tertindas dimanapun juga. Rezim yang penuh kebencian, Taliban, di negara tetangganya Afghanistan, tidak akan bertahan Iebih dari seminggu dibawah keadaan seperti itu. Juga tidak kediktatoran Saddam Hussein, atau rezim reaksioner dan busuk di Arab Saudi dan Negara-Negara Teluk. Dalam segala segi, revolusi Iran adalah kunci bagi Timur Tengah dan, dalam pandangan tertentu, bagi dunia.

Sebuah tanggung jawab yang berat dengan demikian dibebankan diatas pundak generasi baru dari kaum revolusioner Iran, terutama kepada kaum muda. Mahasiswa Iran telah menunjukkannya dengan keberanian mereka, bahwa mereka adalah anak-anak revolusi 1979 yang cukup berharga. Akan tetapi keberanian tidaklah cukup untuk menjamin adanya kejayaan. Perlu ditandaskan bahwa generasi baru dari para pejuang harus memperlengkapi dirinya dengan teori dan program Marxisme. Juga merupakan sesuatu yang penting bahwa mereka harus belajar dengan hatihati tentaug pelajaran-pelajaran yang telah terjadi di masa lampau, karena dia yang tidak belajar dari sejarah akan selamanya ditakdirkan untuk mengulanginya. Karya berikut ini menyediakan semua hal yang dibutuhkan bagi kepentingan ini. Dengan demikian saya tidak ragu sama sekali untuk merekomendasikannya kepada kaum muda di Iran. Bacalah, belajarlah darinya, dan temukan sebuah jalan bagi kaum buruh. Dengan cara seperti itu, maka kejayaan akan bisa dipastikan.

BESAMBUNG KE BAB I...........
apabisa
Bab 1
Latar Belakang Sejarah



Iran adalah salah satu negara tertua di dunia. Sejarahnya telah dimulai dari 5000 tahun yang lalu. Iran berada pada persilangan yang strategis di daerah Timur Tengah, Asia Barat Daya. Bukti keberadaan ma�nusia di masa lampau pada periode Palaeolitikum Awad di pegunungan Iran telah diternukan di Lembah Kerman Shah. Dan seiring dengan berjalannya sejarah panjang ini, Iran telah mengalami berbagai invasi dan dijajah oleh negara asing. Beberapa referensi tentang keadaan sejarah Iran dengan demikian tidak bisa dihapuskan untuk mendapatkan sebuah pemahaman yang sesuai terhadap perkembangan yang terjadi selanjutnya.

Peradaban awal utama yang terjadi pada daerah yang sekarang menjadi negara Iran, adalah peradaban kaum Elarnit, yang telah bermukim di daerah Barat Daya Iran sejak tahun 3000 S.M. Pada tahun 1500 S.M. suku Arya mulai bermigrasi ke Iran dari Sungai Volga utara Laut Kaspia dan dari Asia Tengah. Akhirnya dua suku utama dari bangsa Arya, suku Persia dan suku Medes, bermukim di Iran. Satu kelompok bermukim di daerah Barat Laut dan mendirikan kerajaan Media. Kelompok yang lain hidup di Iran Selatan, daerah yang kemudian oleh orang Yunani disebut sebagai Persis-vang menja�di asal kata nama Persia. Bagaimanapun juga, baik suku bangsa Medes maupun suku bangsa Persia menyebut tanah air mereka yang baru sebagai Iran, yang berarti "tanah bangsa Arya".

Pada tahun 600 S.M. suku Medes telah menjadi penguasa Persia. Sekitar tahun 550 S.M. bangsa Persia yang dipimpin oleh Cyrus menggulingkan kerajaan Medes dan membentuk dinasti mereka sendiri (Kerajaan Achaemenid). Pada tahun 539 S.M., masih dalara periode pemerintahan Cyrus; Babylonia, Palestina, Syria dan seluruh wilayah Asia Kecil hingga ke Mesir telah menjadi bagian dari Kerajaan Achaemenid. Dan dalara masa pemerintahan Darius, jalur pelayaran mulai diper�kenalkan, bersamaan dengan dimulainya sistem mata uang logam emas dan perak. Jalan kerajaan dari Sardis hingga Susa dan sistem pos difungsikan dengan tingkat efisiensi yang menakjubkan. Pada masa jayanya di tahun 500 S.M. daerah kekuasaan kerajaan ini membentang ke arah barat hingga ke wilayah yang sekarang disebut Libya, ke arah timur hingga yang sekarang disebut seba�gai Pakistan, dari Teluk Oman di Selatan hingga Laut Aral di Utara. Lembah Indus juga merupakan bagian dari Kerajaan Achaemenid. Seni budaya Achaemenid memberikan pengaruh pada India, dan bahkan kemu�dian dinasti Maurya di India dan pemimpinnya Asoka sangat terimbas dengan pengaruh Achaemenid. Begi�tupun juga yang terjadi di Asia Kecil dan di Armenia, pengaruh Iran sangat kuat bertahan jauh setelah keruntuhan dinasti Achaemenid. Ada beberapa kata yang diserap oleh bahasa Armenia dari kata-kata ba�hasa Iran sehinggga selama beberapa lama para peneliti mengira bahwa bahasa Armenia merupakan bagian dari bahasa Iran dan bukannya merupakan unit yang ter�pisah dari keluarga bahasa Indo-Eropa.

Pada kira-kira tahun 513 S.M. bangsa Persia meakukan invasi ke tempat yang sekarang merupakan Rusia Selatan dan Eropa Tenggara dan hampir mengu�asai wilayah ini fuga. Darius sekali lagi mengirim bala Tentara Agung-nya ke Yunani di tahun 490 S.M., tetapi dikalahkan oleh pasukan bangsa Athena di Marathon. Sekali lagi putra Darius, Xerxes, menginvasi Yunani di tahun 480 S. M. Bangsa Persia mengalahkan tentara Spar�ta setelah melalui pertempuran sengit di Thermopylae. Akan tetapi mereka mengalami kekalahan yang menye�sakkan di Salamis dan didepak dari Eropa tahun 479 S. M. (2) (3)Setelah mengalami kekalahan di Yunani, Im�perium Achaemenid kian melemah dan mengalami kemerosotan. Pada tahun 1331 S.M. Alexander dari Ma�cedonia menaklukkan kerajaan tersebut, setelah menga�Iahkan tentara Persia yang besar dalara pertempuran di Arbela. Kemenangan ini mengakhiri Imperium Achaemenid dan Persia pun menjadi bagian dari ke�kaisaran Alexander.

Penaklukan keseluruhan kerajaan Achaemenid oleh Alexander dianggap sebagai sebuah tragedi besar oleh bangsa Iran, sebuah fakta vang direfl�ksikan dalara kisah epik nasional Shah Nameh, yang ditulis oleh Fir�dausi, seorang penvair, kira-kira pada awal abad 11 M. Lebih dari sepuluh tahun setelah kematian Alexander di tahun 323 S.M., salah seorang panglima bernama Seleucus mendirikan sebuah dinasti yang memerintah Persfa dari tahun 155 S.M. Setelah itu, bangsa Parthian memenangkan kendali atas Persia. Pemerintahan mereka bertahan hingga tahun 224 M. Bangsa Parthian membangun kerajaan yang besar melewati Asia Kecil Timur dan Asia Barat Daya. Selama 200 tahun terakhir pemerintahan mereka, bangsa Parthian harus berperang dengan bangsa Romawi di Barat dan bangsa. Kushan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Afganistan.

Sekitar tahun 224 M seorang Persia bernama Ardhasir menggulingkan kekuasaan bangsa Parthian dan mengambil alih kerajaan. Setelah lebih dari 550 ta�hun di bawah kekuasaan bangsa asing, orang Persia kembali memerintah Persia, dan dinasti Sassanid ini bertahan selama lebih dari 400 tahun. Dalam kurun wak�tu itu, seni budaya Iran tumbuh subur, jalan-jalan, irigasi dan bangunan berkembang pesat, akan tapi perang antara bangsa Persia dan bangsa Romawi terus berlanjut mewarnai sebagian besar masa pemerintahan rezim Sassanid. Peradaban Sassanid mencapai kejayaannya di pertengahan abad ke 6 M. Persia memenangkan bebe�rapa peperangan dengan Romawi, dan menguasai kern�bali wilayah yang pernah menjadi bagian dari Kerajaan Achaemenid. Tentara Persia sebenarnya telah mengua�sai hingga perbatasan Konstantinopel, yang pada saat itu merupakan ibukota dari kerajaan Byzantium (Kerajaan Romawi Timur). Akan tetapi mereka di sana dikalahkan dan terpaksa mengundurkan diri dari sernua wilayah yang telah mereka taklukkan.

Kerajaan Sassanid jauh lebih tersentralisir dari para pendahulunya. Zoroastrianisme z menjadi agama negara. Akan tetapi selama masa rezim Shahpur 1, seorang pemimpin agama dan pergerakan baru muncul ketika Mavi menyatakan dirinya sebagai rasul Tuhan Yesus yang terakhir dan terbesar. Pada akhirnya dia dihukum mati. Agamanya kemudian disebut Mani�cliaeisme. Di bawah dinasti Sassanid, eksploitasi dan penindasan yang ekstrim terhadap rakyat mencapai puncaknya. Perbudakan telah rnelampaui batas dan memasuki masa krisis. Migrasi besar-besaran kaum tani miskin telah merambah kota-kota sebagai akibattirani kebangsawanan feodal yang tak tertahankan. Namun, di kota-kota-pun mereka masih diperlakukan sebagai budak. Penindasan yang terakumulasi itu tiba-tiba mele�dak dalara bentuk gerakan revolusioner di bawah pim�pinan Mazdak.

Mazdak adalah seorang revolusioner besar jaman itu dan gerakannya, seperti halnya gerakan Kristen di masa awal yang berkembang di bawah kQndisi serupa, memiliki kandungan komunistik. Ajarannya menuntut distribusi kesejahteraan yang adil, melarang memiliki istri lebih dari satu, dan memperjuangkan eliminasi kebangsawanan dan feodalisme. Gagasan�gagasan revolusioner Mazdak mengakar kuat di kalangan budak dan kaum tani miskin. Gerakannya bertahan selama 30 tahun dari tahun 494 M hingga 524 M. Pada masa pemerintahan Raja Nosherwan, gerakan Mazdak secara brutal ditindas dan tiga puluh ribu pengikutnya dibinasakan, akan tetapi pada dasamya Nosherwan telah dipaksa untuk melaksanakan reformasi sosial dan agraris. Gerakan revolusioner Maz�dak adalah salah satu perjuangan kelas yang paling inspiratif dalam sejarah Iran. Tradisi ini telah mening�galkan jejak mendalam pada perjalanan panjang gerakan revolusioner Iran.

Di pertengahan abad ke-7 M, terjadilah sebuah peristiwa yang merubah nasib Iran. Tentara Arab menaklukkan negara tersebut dan kebanyakan rakyat Iran kemudian menganut agama Islam. Alasan bagi keberhasilan pesat agama baru itu tidak sulit untuk dicari. Di samping kesemua pencapaian yang demikian menakjubkan, Kerajaan Sassanid dicirikan dengan adanya penindasan yang ektrim terhadap rakyat yang telah terinjak. Meskipun begitu, bagi dunia bangsa Iran lahirnya agarna Islam tidak berarti pembebasan, akan tetapi merupakan kekalahan dan penjajahan oleh orang asing. Hal itu merubah seluruh rangkaian sejarah Per�sia. Dengan memperkenalkan Islam, bangsa Arab mengganti kepercayaan kuno Persia, Zoroastrianisme, dan sejak saat itu hingga hari ini, orang Persia menjadi Muslim. Namun, stempel Islam mereka dari awainya agak berbeda dengan yang dimiliki oleh Muslim yang lain. Mereka mengisinya dengan wanra-warna Iran yang spesifik ketika bangsa Persia itu menganut agama Is�lam dalam bentuk Syi'ah yang heterodoks dan meng�gunakannya sebagai senjata yang digunakan untuk melawan para penguasa Arab.

Selama beberapa abad bahasa penjajah, yakni Bahasa Arab, menggantikan bahasa Pahalavi (bahasa Persia tengah), bahasa vang dipakai oleh bangsa Persia selama masa pemerintahan Sassanid (periode Kerajaan Persia Kedua). Pemberlakuan bahasa asing itu telah menghambat perkembangan kreatif kesusastraan dan puisi Persia. Dan jelas di sini bahwa semangat nasional kembali mengemuka dengan sendirinya. Bidang kesu�sastraan pertama pendobrak ketergantungan pada baha�sa Arab setelah dua abad lamanya mendominasi kebudayaan adalah puisi. Tidak diragukan lagi, ini me�rupakan hasil dari kekuatan tradisi lisan dalam penyam�paian puisi. Betapapun juga, pengaruh bahasa Arab masih tetap kuat, dan ketika bahasa Persia muncul kern�bali sebagai bahasa tulis di abad ke-9, karya-karya sastra ditulis dalam naskah berbahasa Arab. Selama kurang lebih lima abad, mayoritas karya yang ditulis oleh orang Persia dalam bidang teologi, filsafat, kedokteran, astronomi, matematika dan bahkan sejarah ditulis da�lam bahasa Arab. Namun demikian, semenjak per�tengahan abad ke-8 Iran telah menjadi pusat kesenian, kesusastraan dan sains dunia.

Selama abad ke-9, kontrol Arab melemah dan Iran pecah menjadi sejumlah kecil kerajaan di bawah bermacam penguasa Iran. Akan tetapi segera musuh yang baru muncul menjelang. Pada pertengahan abad ke-11, Bangsa Turki Seljuk dari Turkistan telah mena�klukkan sebagian besar wilayah Iran. Bangsa Seljuk dan suku-suku Turki lainnya memerintah hingga tahun 1220. Tahun dimana bangsa Mongol yang dipimpin oleh Jenghis Khan mengepung seluruh wilayah, dan melu�luhlantakkan segalanya. Mereka menghancurkan seluruh kota, menjagal beribu-ribu orang dan meng�akhiri kekhalifahan Abbasid dengan cepat dan niengerikan. Epik bangsa Iran dibanjiri dengan darah dari bencana nasional ini; setiap halarnan dipenuhi dengan catatan tentang kota-kota yang menjadi puing dan penghancuran yang mengerikan oleh kejahatan bangsa barbar nomaden ini. Namun ini pun sekedar episode vang melintas dalara sejarah bangsa Iran. Setelah tahun 1335 kerajaan Mongol di Iran pada gilirannya terpecah belah dan sekali lagi sebuah kerajaan digan�tikan dengan serangkaian dinasti-dinasti kecil. Antara tahun 1381 dan 1404 Iran diporak-porandakan oleh invasi berulangkali oleh penakluk lainnya dari daerah stepa, Taimur-yang di Barat dikenal sebagai Timurlane ("Titnur tlte Laine -Timur si Pineang "). Tetapi dengan sifat dan keorganisasian "berandalan" ini, kematian sang pemimpin utama biasanya merupakan sinyal akan adanya disintegrasi dan tercerai-beraikannya gerom�bolan itu. Maka, kerajaan Taimur di Iran tidak lama bertahan.

Pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, suatu suku dari Turki memperoleh kendali atas bebera�pa wilayah Iran. Pada tahun 1501, pemimpin suku tersebut, Ismail, ditahbiskan sebagai raja dan mendirikan Dinasti Safavid, dimana seorang representasi terbe�sarnya adalah Shah Abbas yang memerintah dari tahun 1587 hingga 1629. Ditangkalnya invasi yang dilakukan oleh kerajaan Ottoman Turki dan suku Uzbek dari Turkistan. Tercatat Shah Abbas dan para penerusnya sangat berpengaruh dalara mendukung perkembangan arsitektur dan seni. Isfahan, yang menjadi Ibukota Safavid di tahun 1598, dikenal sebagai salah satu kota berperadaban yang paling maju. Pada masa itu orang Persia suka menyebut Isfahan sebagai Nif-e-Jaltan ("separuh dunia"). Pemberlakuan ajaran Sy� ah sebagai agama resmi dari negara Safavid bertindak menjadi kekuatan pemersatu dalara tubuh kerajaan Safavid dan memungkinkan Safavid untuk menghubungkan rasa nasionalisme laten bangsa Iran yang luas tersebar. Di lain pihak, hal itu membawa Safavid ke kancah konflik terbuka dengan kerajaan Ottoman dan menggiringnya menuju dua abad pasang-surut peperangan antara ke�dua negara adidaya ini.

Dinasti Safavid memerintah Iran hingga tahun 1722, ketika tentara Afghan menginvasi negara itu dan menguasai Isfahan. Pada tahun 1730, Nadirshah, seorang suku Turki, mendepak bangsa Afghan keluar dari Iran dan menjadi raja. Dia membuktikan dirinya sebagai penakluk yang mengagumkan. Pada tahun 1739 Nadir Shah mencaplok kota Delhi di India. Dia menjarah India dan kembali dengan membawa berlimpah-ruah harta rampasan. Tapi Nadir Shah terhunuh pada tahun 1747, yang setelahnya diikuti oleh periode chaos dimana berduyunan pemimpin-pemimpin Iran saling berebut kekuasaan.

Pada tahun 1750, Karim Khan, seorang suku Kurdi dari Zand memperoleh kekuasaan di Iran. Setelah kematian Karim Khan pada tahun 1779, pecah perang antara suku Zand dan Qajar (suku Turkoman dari daerah Laut Kaspia). Selama periode ini Iran kehilangan Afghanistan dan wilayah lain yang telah ditaklukkan oleh Nadir Shah. Bangsa Qajar mengalahkan kaurn Zand di tahun 1794 dan dinasti mereka memerintah Iran hingga tahun 1925. Akhirnva kerajaan Qajar, terbukti tidak mampu membangun ekonomi modern, dan per�lahan-lahan jatuh di bawah gerusan arus imperialisme Narat. Mereka mengucurkan sumberdava ekonomi Iran sebagai konsesi kepada kaum imperialis atas sejumiah uang ala kadarnva vang memenuhi kebutuhan finansial seketika dan kemewahan harian mereka.

Ketidakpuasan yang semakin meningkat ter�hadap kemandulan serta korupsi dalara kerajaan, seiring dengan kekecewaan terhadap dominasi ekonomi bangsa asing dan tekanan politik imperialis, menemukan ekspresinva dalara bentuk gerakan massa. Revolusi Bab yang terjadi pada tahun 1844 dapat digilas oleh monarki, akan tetapi gerakan tersebut mewariskan sebuah tradisi revolusi yang mengambil bentuk dari berbagai sekte religius seperti gerakan Bahai. Sekali lagi gerakan massa meletuskan perlawanan terhadap kebijakan politik luar negeri Qajar yang meng�hadiahkan konsesi kepada Perusahaan Tembakau Inggris. Kekesalan ini berubah menjadi gerakan yang menyebar luas dan kerusuhan merebak di berbagai tempat yang berbeda. Hasil gerakan radikal ini yang pa�ling utama adalah tuntutan akan reformasi kons�titusional, yang diimplementasikan pada tahun 1906.

Gerakan menuntut reformasi demokratis dipimpin oleh sebuah aliansi tak tetap dari kelas peda�gang dan institusi religius yang mendapatkan dukungan mereka dari para bazaris, para penjaga toko dan unsur kelas yang iebih rendah lainnya di kota itu. Monarki dipaksa untuk merumuskan sebuah konstitusi dimana hak-hak borjuis-demokrat, seperti kebebasan berbicara, kemerdekaan berkumpul dan berserikat dianugerahkan dan pedagang serta para saudagar diberi hak-hak perwakilan dalara majelis (parlemen) secara terbatas.

Pada tahun 1826 Rusia menginvasi Iran. Pengua�sa Tsar Rusia mgin memperlebar daerah kekuasaannya dan memperoleh jalur penghubung ke Teluk Persia. Bangsa Rusia memberikan kekalahan yang hebat atas Iran pada tahun 1827, yang kemudian sesudah itu dua negara tersebut menandatangani traktat Turkomanchai. Perjanjian ini memberi penguasa Tsar Rusia wilayah bagian utara sungai Aras, vang sampai sekarang masih nienjadi perhatasan antara dua negeri itu. Di tahun 1856 Iran mencoba untuk mendapatkan kembali bekas teritorinva di barat laut Afghanistan, tetapi imperialis Inggris menvatakan perang terhadap Iran. Dan pada tahun 1857 Iran dipaksa untuk menandatangani traktat vang menverahkan semua klaim terhadap Afghanistan. Pengaruh imperialisme lnggris dan kekaisaran Rusia di Iran semakin meningkat sepanjang akhir pertengahan abad ke-19, dan pada permulaan tahun 1900, sebuah Korporasi Inggris, Perusahaan Minyak Anglo-Persian, mulai mengambil alih kendali atas ladang minyak di Iran barat daya.

Selama masa Perang Dunia 1, Iran menjadi ajang pertempuran meskipun negara tersebut bersikap netral. Ketsaran Rusia tertarik untuk mempertahankan cadangan minyak di Baku dan Laut Kaspia. Bangsa Ru�sia terlibat dalam pertempuran sengit dengan bangsa Turki di Iran barat laut. Imperialis Inggris, di pihaknya, mempertahankan kepentingan mereka di ladang minyak Khuzistan. Pada tahun 1920 Sayid Ziauddin Taba Tabai, seorang politisi Iran, dan Reza Khan, seorang perwira kavaleri, menggulingkan dinasti Qajar. Di bulan Oktober 1925, Reza mentahbiskan diri sebagai Shah dan menjadi pendiri sebuah dinasti baru, Dinasti Pahlevi. Selama 20 tahun masa kekuasaannya, dia menindas suku bangsa Kurdi, Baluchis, Qashqis, serta gerakan pemberontakan lainnya dan mengakhiri pemerintahan Arab semi�otonomi Syekh Khazal yang mendapatkan proteksi dari Imperialis Inggris di Khuzistan.

Pada saat Perang Dunia II dimulai tahun 1939, Iran sekali lagi menyatakan kenetralannya. Akan tetapi sekutu ingin menggunakan jalan kereta Trans-Iranian Railway untuk mengirimkan peralatan perang dari Inggris kepada Rusia di bawah Stalin. Bagaimanapun juga, Reza Shah pada titik tertentu di bawah tekanan Jerman-Hitler. Di akhir tahun 1930 lebih dari separuh perdagangan luar negeri Iran adalah dengan Jerman yang menyediakan mayoritas permesinan untuk pro�gram industrialisasi Iran. Dia dengan demikian d eno�lak untuk bekerja sama, dan maka pada tahun 1941 imperialis Inggris dan Rusia-Stalin menginvasi Iran. Mereka memaksa Shah Reza untuk mengundurkan diri, menempatkan putranya Muhammad Reza Pahlevi se�bagai penggantinya. Shah yang baru mengijinkan mereka untuk menggunakan rel kereta api tersebut dan menempatkan pasukannya di Iran hingga usajnya perang.

Kehadiran pasukan perang imperialis Inggris di Iran selama masa pertempuran mendorong timbulnya gerakan massa. Di dalam majelis (parlemen) suatu kelompok nasionalis di bawah pimpinan Mossadeq me�nuntut diakhirinya kontrol Inggris atas industri minyak. Pada tahun 1951 majelis menyepakati suara untuk mena�sionalisasi industri minyak, tetapi Perdana Menteri menolak untuk mengimplementasikannya. Dia kemu�dian dipecat dan digantikan oleh Mossadeq. Menyadari bahaya akan kebijakannya yang anti-imperialis, maka pada tanggal 16 Agustus 1953 CIA melancarkan kudeta terhadap Mossadeq. Pada tanggal 19 Agustus Shah kern�bali berkuasa.

Sekali lagi pada tahun 1960-61 krisis politik dan ekonomi kembali mengemuka, ketika pemilihan majelis dimanipulasi besar-besaran. Kekacauan politik dan eko�nomi menimbulkan sebuah pemogokan umum yang secara brutal ditindas dengan pertolongan agen polisi rahasia yang kejam, Savak. Shah memperkenalkan apa yang disebut dengan program "Revolusi Putih," pro�gram reformasi agraria yang dikombinasikan dengan langkah-langkah pendidikan dan kesehatan. Dari tahun 1963-73 secara politik dan ekonomi Iran relatif stabil. Pendapatan nasional dari minyak yang naik cukup mantap memperbaiki kinerja pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 1973-74, harga minyak dunia naik empat kali lipat, dan pendapatan Iran dari minyak meningkat dari 5 milyar dolar ke 20 milyar dolar setahun.

Shah mencoba menggunakan dana ini untuk merubah Iran dalam semalam menjadi apa yang dia gambarkan sebagai negara adidaya kelima di dunia. Dengan ilusi ini dalam pikirannya, dia merayakan ulang tahun ke 2.500 pendirian pertama kerajaan Persia pertama oleh Cyrus pada tahun 550 S. M. di tahun 1971.

Akan tetapi, boonring dalara penghasilan minyak segera diikuti dengan inflasi yang pesat, migrasi masal ke daerah perkotaan, minimnya perumahan dengan infrastruktur yang tidak mencukupi serta jenjang pendapatan yang semakin melebar. Kondisi ini memicu kekecewaan yang mendalam di antara para buruh, kaum petani dan kelas menengah yang termuntahkan dalam sebuah ledakan gerakan masa revolusioner. Pemogokan umum yang dilakukan kaum pekerja melumpuhkan sistem. Akan tetapi karena kebijakan yang diambil oleh Partai Tudeh (Partai Komunis) dianggap salah, revolusi tersebut dibajak oleh para fundamentalis.

Pada puncak gerakan itu, Khomeini sedang ber�ada di Perancis, dimana dia memperoleh dukungan dari golongan pemerintah di Perancis, yang melihatnya sebagai sarana untuk membelokkan revolusi itu dari relnya. Sebenarnya, kekuatan nyata di belakang revolusi tersebut adalah kaum proletar Iran, terutama para pekerja tambang minyak. Setelah membajak revolusi, Khomeini tidak mampu menghancurkan kelas pekerja, yang diorganisasikan dalara shura (Soviet) hingga tahun 1981. Setelah mengantongi kekuasaan negara, dia mengeksekusi lebih dari 6000 buruh politikus oposisi. Terdapat benturan dan perpecahan terus menerus dalam tubuh PIR (Partai Islam Republik), yang para pemimpinnya berjuang untuk melawan, pada satu sisi dengan mengorganisasikan penindasan terhadap oposisi internal, dan di sisi lain, dengan mendirikan organisasi-organisasi teroris di Timur Tengah dan negara-negara Islam lainnya.

Rezim Khomeini mendukung sayap-sayap fundamentalis Hizbullah Harnas sebagai saran� untuk mengalihkan perhatian dari ketegangan internal di Iran. Komposisi sosial dari kelompok-kelompok ini utamanya berasal dari kaum proletar-tak terpelajar. Ironisnya adalah bahwa sebelum Revolusi di Iran tahun 1979, organisasi semacam ini dibiayai oleh CIA dan Agen Rahasia Israel Mossad, dalam rangka untuk memecah�belah kaum pekerja di Timur Tengah sesuai dengan gans pemisah agama.

Melalui metode semacam itu, mereka berhasil mengendalikan faksionalisme dalam tubuh PIR dan mengkonsolidasikan rezim reaksioner mereka. Bulan September 1980, Irak menginvasi Iran dan pecah perang balas-membalas yang berlumuran darah hingga tahun 1988. Pada tanggal 3 Juni 1989 Khomeini meninggal dan digantikan oleh pemimpin spiritual tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khomeini. Pertarungan faksional pada level atas mencapai babak kritis, yang diekspresikan dalam pemilu tahun 1997, dan sekali lagi pada 18 Februari 1999.

Pada tanggal 11 Maret Said Hajjarian, Balah satu dari arsitek gerakan reformasi Iran, ditembak. Paling terakhir, serangan bom bermunculan secara periodik di berbagai belahan pusat kota Teheran. Bom telah mengguncang Pasdaran di Barat Laut ibukota. Hal ini menunjukkan bahwa rezim yang kelihatannya terlalu berlebihan untuk bisa bertahan selamanya telah me�masuki satu keadaan krisis terminal. Bagaimana hal itu bisa terjadi sebaliknya? Sejarah tidak berakhir dengan adanya proklamasi Republik Islam" Iran. Bagaimana bisa? Bertentangan dengan mimpi reaksioner Khomeini, sejarah tidak pernah terproses sesuai dengan rencana subyektif apapun atau gagasan-gagasan individu yang telah diprasangkakan, setidaknya ketika ide-ide ini memiliki karakter vang keseluruhannya tidak ilmiah. Pada satu kesempatan, meetang benar, bahkan reaksi yang paling ngawur sekalipun bisa berhasil, dengan mengambil kesempatan dari kontradiksi kesengsaraan dalara masyarakat dan dalam kesadaran masa yang baru saja bangkit dan berjuang untuk mencari cara menuju ke jalan revolusi.

Da lam situasi-kondisi tertentu dan terkecuali�kan, Khomeini dan para pengikutnya mampu untuk membajak sebuah revolusi yang tidak seorangpun dari mereka terlibat dalara pengkreasiannya. Karya ini bertujuan untuk menerangkan bagaimana sebenarnya hal ini bisa terjadi. Kemenangan reaksi kaum funda�mentalis di Iran sebenarnya tidak bisa terbayangkan tanga kebijakan kacau yang senantiasa dianut partai�partai dan kelompok-kelompok tersebut, yang seha�rusnya memberi kaum pekerja pemimpin yang dibu�tuhkan. Terutama, Partai Tudeh Stalinis memainkan peranan fatal yang secara efektif menghantar kaum huruh di Iran, terikat dan terbungkam, ke Khomeini.

Rezim para ayatullah telah berakhir lebih dari dua dekade lalu. Akan tetapi kesemua sinyal-sinyal itu menghangus dengan sendirinya. Satu babak baru gerbang revolusi Iran telah terbuka lebar di hadapan kita. Cambuk kontra-revolusi, sebagaimana ramalan Karl Marx, telah menggugah kembali gerakan revolusioner. Simpul sejarah, vang putus setelah tahun 1979, sekali lagi ditalikan di Iran. Tugas bagi para Marxis Iran-lah untuk mempersenjatai gerakan dengan tujuan dan sasaran yang jelas. Dengan basis ini, kejayaan ada di depan mata. Akan tetapi svarat yang mesti dilangkahi adalah bahwa generasi baru kaum buruh revolusioner dan para pemuda harus belajar dari pengalaman masa lampau dan mengambil kesimpulan vang dibutuhkan. Bila karya ini membantu tugas tersebut, maka terpe�nuhilah tujuannya.

BERSAMBUNG KE BAB II...
apabisa
Bab II
Catatan Atas SeJarah Iran

Antara abad ke-11 dan abad ke-19, sekitar 15 dinasti telah memerintah Iran. Hampir kesemuanya adalah penduduk asli Asia Tengah yang nomaden dan, dengan perkecualian dinasti Savafid (1501-1722), tidak satupun yang berumur panjang. Rangkaian dinasti nomadik ini timbul tenggelam nyaris seperti siklus. Para pakar sejarah dan antropologi telah berargumen bahwa, dalam konteks metode peperangan pra-kapitalis, kaum nomad�en umumnya memiliki kekuatan militer yang superior jika dibandingkan dengan kaum pemukim dan kon�sekuensinya, mereka mampu menjadi pihak penakluk. Begitu kaum nomaden menjadi kekuatan yang menie�rintah, bagaimanapun juga, maka mereka akan men�jalani proses pemukiman, dan superioritas militer mereka akan mengalami disintegrasi.(1) Menurut sejarah, kaum nomaden telah menggunakan kekuatan militer untuk menopang prasarana mata pencaharian mereka dengan menjarah harta kekayaan yang dikumpulkan oleh peradaban yang telah menetap.(2)

Setiap suku yang menginvasi memandang tanah maupun hasilnya sebagai obyek untuk dijarah. Peria�kuan tanah sebagai obyek penjarahan, bersamaan dengan kebutuhan untuk memberikan upeti bagi para pejabat dinasti yang baru, memiliki arti bahwa setiap penaklukan diikuti dengan penyitaan masal dan pem�bagian jatah pampasan untuk elit baru yang memerin�tah. Setiap perubahan dinasti senantiasa disusul dengan penjarahan dan penjatahan. Dengan demikian, daur timbul tenggelamnya dinasti-dinasti nomadik meng�hambat perkembangan kepemilikan tanah milik pribadi.

Periode stabilitas yang relatif lebih lama di ba�wah dinasti Safavid, betapapun juga, memiliki pengaruh yang lebih langgeng terhadap relasi kepemilikan, menjauh dari kesewenang-wenangan siklus penguasa nomadik dan perubahan dinastis. Perkembangan daya produktif mendapatkan dorongan baru pada awal abad ke-19. Sebagaimana halnya dengan kasus tsar di Rusia, dan kemudian Jepang, sumber dari dorongan ini adalah persaingan dan tekanan dari luar. Bangsa kapitalis barat yang lebih maju memberikan awalan bagi sebuah fase ekspansi kolonialis di Timur. Rusia berkonfrontasi dengan kekuatan Swedia yang tengah tumbuh ber�kembang, dan disusul konfrontasi dengan Perancis dan Jerman. Trotsky menulis bahwa: "Bukanlah bangsa Tar�tar yang memaksa Rusia untuk memperkenalkan sen�jata api dan menciptakan resimen tetap streltsi, bukanlah tentara Tartar yang kemudian memaksanya untuk membentuk kavaleri berkuda dan tentara infantri, akan tetapi tekanan dari Lithuania, Polandia dan Swedia-lah yang membuatnya demikian." (3)

Bagaimanapun juga, dengan mengesampingkan keterbelakangannya jika dibandingkan dengan negara�negara di Eropa Barat, tsarisme Rusia jauh lebih maju dibanding Iran. Dalam konflik militer dengan negeri tetangga bagian utara-nya, dinasti Qajar mengalami dua kekalahan besar di tangan tentara Rusia yang relatif lebih modern, vang mengakibatkan kekalahan teritorial berat. Sejak saat itu, kombinasi efek dari mernbanjirnya penetrasi pengaruh luar negen di Iran dan upaya peme�rintahan Iran untuk membangun sebuah angkatan bersenjata vang modern menyebabkan disintegrasi pa�da dinasti kesukuan yang Iama.(4) Iran dipaksa untuk memasuki gerbang jalan pembangunan kapitalisme. Namun semenjak permulaan, kapitalisme Iran memiliki karakter yang lamban, lemah, dan tidak sehat. Abad ke�19 disertai dengan pertumbuhan daya produktif yang lambat tapi mantap. Di sepanjang abad, populasi tumbuh dua kali lipat, urbanisasi meningkat dan agrikultur berkembang pesat. Kerajinan tangan dan ekspor tumbuh baik. Namun demikian, pada paro kedua abad itu, impor barang manufaktur dari negara imperialis menggusur produksi kerajinan lokal.

Era modern di Iran bisa dibagi menjadi tiga sub�periode. Dalara periode pertama yang dibuka dengan abad ke-19, Iran bisa digambarkan sebagai negara semi koloni dengan partisipasi vang relatif kecil terhadap pasar dunia. Periode ini mencapai titik kulminasi pada revolusi konstitusional pada tahun 1906 (di bawah pengaruh revolusi Rusia tahun 1905) dan berakhir dengan bermulanya produksi minvak bumi secara ekstensif tahun 1908. Periode kedua (1908-1953) ditandai dengan meningkatnya integrasi Iran di pasar dunia (meski masih berupa negara semi koloni). Periode mi diikuti dengan pertumbuhan produksi minyak dan industrialisasi, serta pertumbuhan dan peningkatan konsentrasi kelas pekerja. Perselisihan menyangkut kemandirian minvak bumi dan bagian Iran atas pendapatan darinya adalah wajah karakteristik periode ini. Konflik ini mencapai klimaks pada masa pem�berontakan sosial (1941-1953) yang diikuti dengan pengunduran diri Shah Reza (1926-1941). Periode ini berakhir dengan bangkit dan jatuhnya gerakan nasionalis Mossadeq (1951-1953). Periode ketiga (1953�1979) ditandai dengan tumbuhnya partisipasi Iran dalam pasar dunia sebagai negara yang berdaulat, dengan kontrol yang kuat atas sumber daya minyak bumi, peningkatan pendapatan yang tinggi dari minyak dan pertumbuhan ekonomi yang sangat mengesankan.

Meski demikian, demam ekspansi ekonomi Iran tidak menandakan adanya reduksi kontradiksi interral. Malahan sebaliknya. Kenaikan harga minyak tidak secara signifikan memberikan keuntungan bagi massa yang terpukul oleh berhembusnya inflasi menggila. Kesenjangan kesejahteraan yang menonjol, diikuti dengan pamer kekayaan ala "barat," dan kemiskinan yang mencekik menjadi tidak tertahankan. Munculnya ketegangan sosial tidak dapat dijinakkan dengan kebru�talan ekstrim yang dilakukan Savak (Savak adalah polisi rahasia yang loyal pada Shah) dari Shah, dengan kombinasi teknologi Amerika abad 20 dan kebiadaban timur abad pertengahan. Dengan mencoba untuk mengendalikan situasi dengan represi, Syah mencip�takan sesuatu yang analog dengan panei tekan "presto" dengan katup pengaman tertutup rapat. Penampilan tenang dan tertata yang palsu merosot ke sebuah titik kritis menuju ledakan kekerasan terhebat yang tidak dapat dielakkan.

Periode setelah tahun 1979 ditandai dengan nasionalisasi industri-industri tertentu, bank-bank dan institusi finansial serta penyitaan kekayaan milik Shah. Di penjuru lain, tergelar pertempuran delapan tahun dengan Irak, perpecahan dalam tubuh PRI, kernenangan Khatami, dan kembalinya ke arah proses privatisasi dan "liberalisme pasar terbuka." Periode keempat akan didiskusikan dalara bab terakhir, yang menarik benang merah perspektif tentang Iran

Prinsip Pembangunan Tidak Seimbang dan Terkombinasikan di Iran

Periode pertama yang berjalan kira-kira dari tahun 1800�1908 ditandai dengan perkembangan relasi produktif kapitalis yang lemah. Mayoritas populasi yang hidup di daerah pedesaan bergantung pada pertanian dan mode produksi pra-feodalis serta sebagian lagi bergan�tung pada sarana mata pencaharian nomadik. Kurang dari sepuluh persen populasi hidup di perkotaan, dan bekerja terutama sebagai saudagar dan para bazaaris (istilah para bazaaris menunjukkan kelas borjuis rendahan tradisional, penjaga toko kecil dan pedagang kaki lima.) Pada periode ini, produk Iran paling penting adalah sutera dan tekstil, vang keduanva sibuk meng�hadapi gempuran produk murah dari Inggris. Bela�kangan, tingginya permintaan dari Barat akan karpet Persia telah memungkinkan perkembangan dari industri kecil di sektor itu. Suatu kelas pedagang dan industri kecil karpet muncul dan makin menguat.

Menjelang akhir abad ke-19 dan awal abad ke�20, investasi asing terus mengalir ke Iran, dengan partisipasi dari pemegang saham lokal dalam sektor vang paling modern seperti konstruksi jalanan, indus tri penangkapan ikan di Laut Kaspia, dan telegraf. Mayoritas barang manufaktur dihasilkan oleh pengrajin dalam sekelompok besar bengkel kerja-bengkel kerja kecil, tetapi juga ada perusahaan kecil vang terlibat dalara pemintalan karpet dan industri kulit serta juga sejumlah pertambangan serta toko penjual barang cetakan. Menurut suatu penelitian tentang periode itu, pabrik karpet terbesar adalah di Tabriz dan mempe�kerjakan 1500 karyawan.

Di tahun 1908, minyak bumi ditemukan di Barat Daya Khuzistan, dan pada periode yang sama pembangunan jalan kereta api menyebabkan tum�buhnya integrasi ekonomi. Hal ini, sejalan dengan konsentrasi kelas pekerja, menyuarakan kemenangan akhir dari relasi kapitalis di Iran. Pada periode kedua, imperialisme Inggris secara keji mengeksploitasi industri minyak Iran dan memetik keuntungan luar biasa dari situ. Antara tahun 1912 hingga tahun 1933 saja, perusahaan Anglo-Persian Oil Company (APOC) meng�hasilkan keuntungan 200 juta lira, dan cuma 16 juta lira saja yang dibayarkan kepada Pemerintah Iran dalam bentuk royalti langsung. Sedangkan antara tahun 1945 hingga 1950, APOC hanya membayar sebanyak 90 juta lira sebagai royalti terhadap pemerintah Iran, dan memperoleh keuntungan bersih lebih dari 250 juta hra.(5)

Demikian skala produksi industri Iran hingga menjelang tahun 1920, mempekerjakan 20.000 kar�vawan, dan tahun 1940 telah mencapai 31.500 kar�vawan-salah satu konsentrasi terbesar di Timur Tengah. Pada akhir tahun 1925 Shah memberlakukan sebuah program untuk melindungi industri lokal dan untuk memberikan insentif negara bagi pengusaha swasta. Negara lebih mendasarkan diri pada penda�patan dari minyak bumi dan pajak, bukannya utang luar negeri. Berlawanan dengan dinasti sebelumnya, sebagian besar pendapatan dari minyak digunakan untuk pertahanan serta modernisasi negara Jan tentara. Selama masa 20 tahun kekuasaannya, Shah telah menghabiskan lebih dari 260 juta lira untuk industri. Setelah tahun 1930 kelompok-kelompok baru industri raksasa didirikan. Ratusan pabrik kecil dibangun, teru�tama yang bergerak dalam bidang tekstil, bahan makan�an dan material konstruksi. Jumlah kelas pekerja meningkat secara radikal, seringkali terkonsentrasi di perusahaan-perusahaan besar. Dalara hal mi, Iran meni�ru kekaisaran Rusia pada awal periode pembangunan industrinya.

Kebanyakan pekerja sebelumnya bekerja di bengkel-bengkel kerja kecil, tetapi setelah pembangun�an pabrik penenunan tekstil di Isfahan, Kerman, Yazd, dan Teheran, jurnlah pekerja meningkat dengan mantap. Prinsip pembangunan ekonomi dan sosial yang tidak seimbang dan terkombinasikan menunjukkan kemajuan. Mengacu pada dominasi pasar dunia oleh imperialisme,proses industrialisasi di Iran tidak bisa dilaksanakan dengan cara klasik. Karena Iran adalah sumber energi yang penting, eksploitasi sumber daya minyaknya oleh imperialis Inggris mengarah ke bentuk pembangunan yang sangat terbatas dan timpang. Kapitalis Inggris hanya tertarik untuk mengamankan kepentingan mere�ka sendiri. Dengan demikian, pertumbuhan industri menghasilkan pola pembangunan yang sangat tidak berimbang, dimana pendirian industri maju hanya terba�tas pada kota-kota besar-Teheran, Tabriz, Isfahan, Kerman dan beberapa pusat kota lainnya. Kebutuhan akan industri rninyak bumi mendorong dibangunnya industri maju di daerah Khuzistan-sebuah daerah yang belum pernah berubah selama berabad-abad-akan tetapi di kebanyakan wilayah negara itu masih tetap tertinggal. Kapital industri masih merupakan perke�cualian, bukan peraturan. Kapital komersial masih memainkan peranan yang dominan.

Distorsi ini memiliki arti bahwa hanya pola pembangunan yang terkombinasikan dan tidak seim�banglah yang rnungkin dilakukan. Bentuk sosial dan ekonomi yang paling maju dibangun beriringan dengan yang paling primitif. Seiringan dengan cahaya terang dari pabrik-pabrik petrokimia modern, ada cahaya lam�pu redup di desa-desa tanpa listrik. Di depan industri�industri yang menggunakan teknologi paling mutakhir, perajin kecil masih terus menggunakan metode yang tidak pernah berubah selama berabad-abad, bahkan mungkin bermilenium-milenium. Rumah-rumah mod�ern komplet dengan dapur ala Amerika berdiri kokoh di samping perkampungan kumuh dimana makanan dimasak di ata5 arang dan tungku kayu penuh asap.

Periode ketiga sekali lagi dikarakterisasi dengan pertumbuhan dramatis dalam hal pendapatan sektor minyak bumi. Menjelang 1965, pendapatan itu berjum�lah $522 juta dan di tahun 1969, $938 juta. Hasil raksasa ini dihabiskan pada aparat negara. $10 diinvestasikan untuk memperluas infrastruktur dan industri manu�faktur. Sembilan puluh perusahaan asing berinvestasi di Iran tahun 1969, separuh darinya berkantor pusat di AS.(6) Akan tetapi negara masih merupakan sumber utama pertumbuhan industrial, dan mensuplai 40-50 persen dari keseluruhan investasi. Pertumbuhan eko�nomi meningkat secara drastis berkat kenaikan harga minyak tahun 1973. Pada bulan Desember 1973, harga minyak terpompa hingga ke tingkat $11,65 per barel jika dibandingkan dengan harga sebesar $1,79 di tahun 1971. Pendapatan Iran serta-merta naik dari sebanyak $938 juta tahun 1969 hingga sebanyak $22 milyar pada tahun 1974.

Rencana pembangunan lima tahun diluncurkan dengan program pembangunan beranggaran $69 milyar. Upah buruh terampil naik dengan pesat, meningkatkan aliran urbanisasi dari desa ke kota. Antara tahun 1956 hingga 1971, berjuta kaum pedesaan hijrah ke kota. Pada pertengahan 1970-an, rata-rata 380.000 orang bermigrasi setiap tahunnya. Hal ini menimbulkan dampak yang buruk pada sektor agrikultur, dimana produksinya mengalami penurunan dan harga bahan makanan meningkat. Hanya dalam dua tahun, uang sewa di Te�heran telah berlipat 300%. Beberapa orang mendapatkan uang dari spekulasi properti dan komisi sebagai make�lar. Akan tetapi inflasi yang akut memukul telak kaum buruh, para petani dan borjuis rendahan.

Gubuk-gubuk kumuh semakin menjamur di perkotaan dan bermunculan dimana-mana, me4enyap�kan perasaan kemanusiaan paling mendasar. Kemiskinan yang mengerikan membayangi massa. Da�lam situasi ini, Shah yang seharusnya menjadi figur pemerintah vang bijaksana dan "progresif" justru menghambat program pembangunan. Hasilnya adalah kemerosotan nilai ekspor secara tajam, intensifikasi yang telah ada menjadi berantakan. Kaum buruh menjawab�nya dengan memperbanyak serikat kerja yangbergerak di pabrik-pabrik, di mana mereka melaksanakan pe�kerjaan organisasi dan agitasi yang berbahaya di bawah pengawasan ketat agen Savak. Posisi negara yang tidak nyaman dalam perusahaan industrial seringkali memak�sa otoritas untuk mengusahakan supaya agen mereka terpilih sebagai pemimpin dari apa yang disebut sebagai serikat pekerja resmi, organisasi yang dirancang oleh negara, bernama "Sindikat." Anggota Sindikat meru�pakan unsur utama dalam kontrol negara di dalam tubuh kaum pekerja. Kaki tangan negara ini memainkan peranan penting dalam mengeliminir gerakan kaum buruh dan memobilisasi kekuatan untuk demonstrasi dan unjuk rasa mendukung rezim.

Metode kedua untuk mempolitisir adalah mela�lui kehadiran langsung dari agen polisi rahasia, dibawah penyamaran dalam semacam Institusi perusahaan seperti Hefazat dan Entezamat (Badan Pengamanan). Ini merupakan unit de facto Savak di dalam tubuh perusahaan-perusahaan. Setiap pabrik memiliki bebe�rapa informan langsung. Entezamat dan Hefazat diawaki hampir seluruhnya oleh para kolonel dan per�wira militer yang secara langsung terkait dengan Savak. Keberadaan para kolonel dan perwira militer dalam pabrik-pabrik dan struktur manajemen hirarkis membuat perusahaan-perusahaan berubah menjadi tempat teror seperti barak. Akan tetapi seluruh kendali ketat terhadap para pekerja tidak menangkal berjalannya pemogokan. Beberapa orang memperkirakan 20 sampai 30 aksi mogok terjadi setiap tahunnya setelah 1973.

Dengan mengesampingkan catatan yang ada, kegagalan strategi pemerintah untuk mengamankan rezim dan untuk menon-aktifkan kaum buruh terlihat secara terang-terangan. Polisi rahasia dipaksa untuk memilih penggunaan kekuatan militer untuk mengantisipasi aksi buruh kolektif. Terdapat berbagai contoh dimana tentara mengepung pabrik yang sedang dilanda pemogokan - pabrik pembuatan perkakas Tabriz, perusahaan traktor Sazi di Tabriz, perusahaan besi baja Pars dan Renault adalah beberapa contoh pada tahun 1970-an.

Pembangunan kapitalis di Iran setelah Perang Dunia 1 dan khususnya setelah Perang Dunia II secara mendalam telah merubah wajah negeri ini. Modal telah mem-penetrasi Iran dan meninggalkan jejaknya di tiap sudut masyarakat. Daerah pedesaan telah mengalami beberapa perubahan sejak land reform pada tahun 1960�an. Akan tetapi struktur fundamental dari masyarakat pedusunan belum berubah. Pembangunan ekonomi yang pesat dibarengi dengan konsentrasi modal di tangan segelintir orang. Empat puluh lima keluarga mengendalikan 85 persen perusahaan-perusahaan terbesar pada tahun 1974. Pembangunan kapitalis juga telah menciptakan kelas pekerja raksasa di Iran, dan dengan demikian mentransformasi sepenuhnya per�imbangan kekuatan kelas. Fakta ini benar-benar men�colok pemandangan tahun 1979 di saat proletariat memainkan peranan penentu dalam revolusi.

BERSAMBUNG KE BAB III....
apabisa
Bab III
Partai Komunis Iran

Tumbuhnya gerakan dan pemikiran komunisme di Iran, dalam sudut pandang nyata, dimulai di ladang minyak Baku di Rusia sebelum tahun Revolusi 1917. Beribu-ribu imigran buruh Iran telah dipekerjakan oleh rezim tsaris di tambang minyak dimana mereka bekerja bahu-membahu dengan buruh dari Rusia, Azeri, juga Armenia dan bersentuhan dengan propaganda dan agitasi Bolshevik. Para pekerja ini memainkan peranan yang signifikan dalam perkembangan Partai Komunis di Iran. Hampir 50 persen dari para buruh di ladang minyak Baku adalah orang Iran yang kebanyakan dari mereka melakukan kontak dengan kaum Bolshevik yang bekerja di serikat buruh tambang minyak.(1) Catatan statistik resmi menunjukkan bahwa 190.000 orang Iran pergi ke Rusia di tahun 1911, dan 16.000 kembali ke rumah pada tahun yang sama.(2) Akan tetapi perkiraan yang tidak resmi menunjukkan bahwa tidak kurang dari 300.000 pekerja Iran bermigrasi ke Rusia setiap tahun. Para buruh ini umuninya berasal dari Azerbaijan dan Gilan, tetapi juga banyak yang datang dari bagian lain di Iran. Kaurn buruh Iran demikian terpengaruh dengan kaum Bolshevik sehingga setiap saat mereka kembali ke Iran, mereka membawa tradisi dan gagasan Marxis Rusia bersamanya. Untuk pertarna kalinya dalam sejarah Iran mereka mengumandangkan slogan terkenal dari Manifeste Komunis: Kargaran-e-Japan Mottahad Slotweed ("Kaum Buruh Sedunia, Bersatulahl")

Revolusionaris Iran memiliki kaitan dengan aktivitas dari Partai Demokratik Sosial Rusia sejak awalnya. Ketika Iskra ("Percikari') mulai dipublikasikan pada bulan Desember 1900, revolusionaris Iran mengi�rim terbitannya ke Baku melalui Persia. Revolusionaris inilah yang kemudian dikenal sebagai Sosial Demo�krat.(3) Dalara rangka urusan Iskra, Krupskaya suatu saat pernah menulis surat kepada Torkhan mengnyakan padanya apakah dia bisa mengirim terbitan itu ke Ru�sia melalui Tabriz. Dalara sebuah surat kepada L.Y. Galperin, Lenin juga menuliskan tentang pengiriman yang lebih jauh ke Persia melalui Wina, yang dia katakan hanya sebagai eksperimen terbaru, jadi hal itu masih "terlalu dini untuk mengatakan gagal; hal itu mungkin berhasil." (4) Galperin sendiri bertugas untuk mengirim Iskra ke Baku (oleh Sosial Demokrat Rusia) pada Musim Semi tahun 1901. Dia mengorganisasi Komite Baku dari Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (PBSDR). Fungsi dari komisi ini adalah untuk mengatur kerahasiaan pencetakan dan transportasi literatur ilegal dari luar negeri, serta distribusinya di dalam negeri Rusia.

Kebanyakan kaum Bolshevik malahan berparti�sipasi dalara gerakan Mashrutiat (Konstitusional) antara tahun 1905 hingga tahun 1911 dan kehilangan nyawanya bersama dengan revolusionaris Iran. Gartovk, duta besar Tsar di Iran, mengirim surat kepada pemerintah Rusia pada tanggal 2 Oktober 1908, bahwa komandan artileri Sattar Khan (pemimpin revolusi Tabriz) adalah seorang awak dari Kapal Perang Potemkin yang terkenal, yang telah melarikan diri ke Rumania namun belakangan kembali lagi ke Iran, dimana dia bergabung dengan para revolusionaris. Duta besar lebih jauh menulis bahwa literatur revolusioner itu dikirimkan dari Tabriz oleh para revolusionaris Rusia.(5)

Pada waktu itu sebagian dari Manifesto Komunis diterjemahkan ke dalam bahasa Persfa pada waktu revolusionaris Rusia yang dipimpin oleh Sergo Orjo�nikidze yang datang ke Iran tahun 1909 dalara rangka melaksanakan aktivitas revolusioner. Istrinya menulis tentang hal ini dalara bukunya Jalan Kaurn Bolshevik. Lenin sendiri mengadakan kontak dengan beberapa orang kaum Bolshevik Transkaukasia, yang berada di Iran selama berlangsungnya reaksi setelah kekalahan dalara Revolusi 1905. Kelompok Bolshevik Transkau�kasia menduduki peran penting dalam menyebar�luaskan ide-ide Marxisme di Iran selama Gerakan Konstitusional menentang dinasti Qajar.(6)

Namun, pada mulanya gerakan Sosial Demokrat Iran didominasi oleh, bukannya Marxisme, akan tetapi tren yang sama dengan Narodnisme Rusia. Alan Woods dalara bukunya yang terbaru Bolshevism, the Road to Revo�lution, menulis: "Kaum Narodnik dimotivasi oleh volunterisme revolusioner: yakni gagasan bahwa keber�hasilan revolusi bisa dijamin dengan kemauan baja dan penentuan sikap sekelompok kecil lelaki dan perempuan yang berdedikasi. Faktor subyektif tentu saja menen�tukan dalara sejarah umat manusia. Karl Marx mene�rangkan bahwa lelaki dan perempuan membuat seja�rahnya sendiri, tetapi dengan tambahan bahwa mereka tidak berhasil melakukannya di luar konteks hubungan sosial dan ekonomi yang terbentuk secara independen dari keinginan mereka."(7)

Pada dasarnya, terorisme adalah tendensi borjuis kecil (petit-bourgeois), yang betul-betul asing bagi tradisi kelas pekerja. Bahwasanya gerakan tersebut musti memilih menggunakan metode-metode serupa di masa awal adalah sernata merupakan refleksi dari fase perjuangan yang masih terbelakang. Hal itu merupakan akibat langsung dari rendahnya tingkat pembangunan sosio-ekonomi di Iran. Pembangunan daya produktif yang lambat lagi melempem menemukan refleksinya dalam struktur kelas yang terbelakang dalam masya�rakat Iran pada suatu ketika saat kelas pekerja masih dalam masa balita. Bagi para mahasiswa dan intelektual progresif, terlihat bahwa masyarakat berada dalam keadaan yang benar-benar stagnan. Dalara ketidaksa�baran, mereka menyimpulkan bahwa tidak ada jalan keluar dari krisis yang ada dalcm masyarakat kecuali dengan cara penggunaan senjata dan bom. Meskipun hal ini tidak bisa dibenarkan walau pada saat itu sekalipun, setidaknya hal itu bisa dimengerti pada suatu titik manakala mode produksi kapitalis masih berada dalam tahap perkembangan primitif. Kaum buruh masih dalam fase embrionik. Dengan demikian, para pelajar mencari sebuah basis di antara kaum petani yang tak terpuaskan. Yang terakhir ini sangat tertindas dalam cengkeraman para tuan tanah feodal dan seringkali melancarkan serangan putus asa terhadap tuan tanah dan kebangsawanan feodal. Akan tetapi keterbela�kangan yang lazim dari rakyat pedesaan, sikap masa bodoh serta tuna aksara, dan pembawaan dari kaum tani yang berserak-serak dan tak terorganisir dengan baik, memiliki arti bahwa, dengan hanya mengandalkan diri sendiri, mereka tidak mampu menawarkan jalan keluar. Hanya dengan mencari sekutu revolusioner yang kuat di perkotaan, para petani bisa berdiri tegak menun�tut atas sebuah transformasi masyarakat yang revo�lusioner.

Revolusionaris tahap awal ini adalah &rang�orang pemberani dan tulus, yang mendedikasikan diri untuk mencari jalan menuju kemerdekaan manusia. Mereka berpikir bahwa melalui metode ini mereka akan sampai pada sebuah perubahan dalam masyarakat dan mengakhiri penindasan serta eksploitasi. Akan tetapi di samping keberanian mereka, mereka kekurangan pemahaman teoritis yang penting untuk memimpin revolusi itu. Mereka habiskan banyak waktu guna berdiskusi tentang bagaimana cara membunuh Shah serta kaum aristokrat dan bangsawan feodal yang dibenci. Pada suatu kesempatan, mereka mengirimkan sebuah bingkisan hadiah kepada gubemur Kota Marand atas nama teman dekatnya yang hidup di pedesaan. Ketika Gubernur membuka bingkisan itu, bom meledak dan tewaslah dia terbunuh. Tetapi biasanya mereka,tidak sedemikian sukses.

Maksud para pemuda ini adalah mengarahkan sasaran hanya kepada para pejabat yang bengis dan penguasa yang lalim. Mayoritas aktivitas organisasional mereka berkisar di seputar tindakan terorisme indi�vidual menentang tuan tanah feodal dan anggota kaum bangsawan. Selama beberapa waktu dihantui ketakutan atas pembunuhan, para pejabat pemerintah hidup dalam keadaan panik terus-menerus. Dari sekian revolusionaris, ada satu figur yang menonjol, Hyder Khan Amougly, yang mencoba melakukan pembu�nuhan terhadap sang Raja Moh. Ali Shah atas instruksi Dewan Revolusioner Pusat. Pada bulan Februari 1908, setelah gagal pada upaya pertama, dia melakukan usaha yang kedua, ketika dia mencoba menaaamkan bom di bawah mimbar dimana Sang Raja dan segenap bawahan hendak berdiri di situ. Walapun demikian, yang kedua ini tak lebih beruntung dari upaya pertama.

Bahkan jikalau mereka berhasil, tindakan semacam itu sekali-kali tidak akan nienimbulkan efek paling ringan dalam memperlemah rezim tersebut, apalagi untuk menggulingkannya. Kesalahan dari para teroris adalah membayangkan bahwa negara hanya bersandar pada individu-individu. Tapi bukan hal itu yang terjadi. Seorang gubernur reaksioner akan digan�tikan dengan yang lain, dan negara dipaksa untuk mengambil langkah-langkah represif baru dengan kekuatan baru. Monarki Iran tidak bisa digulingkan oleh bom teroris melainkan hanya dengan gerakan massa revolusioner. Metode terorisme individual yang primitif, sebagaimana kita amati, berkaitan dengan sifat hubungan kelas di Iran yang relatif tidak maju saat itu. Sementara, kaum proletar masih dalam status kebayi�annya. Kaum revolusionaris, pada tingkatan tertentu, berhasil dalam upayanya untuk mendapatkan basis di antara para pemuda, kaum tani, dan di antara suku yang lemah dan tertindas. Mereka sangat setia kepada cita�cita kaum miskin dan pergi ke desa-desa di mana mereka bekerja dengan buruh tani seraya berusaha meyakinkan mereka untuk berjuang, tapi, seperti halnya usaha-usaha kaum Narodnik Rusia sebelumnya, para revolusionaris ini tidak mendapatkan respons yang serius dari mereka. Kadangkala mereka begitu frustasi dengan tiadanya kemajuan yang mereka dapat sehingga mereka mencaci maki para petani, dan tentu saja dengan hasil yang masih jauh lebih buruk dari sebelumnya.

Mereka bukanlah benar-benar teroris sejauh mereka berupaya mencari basis di kalangan rakyat banyak. Mereka benar-benar mencari cara untuk mengakhiri sistem dengan cara-cara revolusioner. Tentu saja mereka tidak seperti teroris jaman sekarang yang memainkan keseluruhan peran negatif dalam perjuang� an revolusioner. Pada saat ketika kekuatan proletar terlihat jelas bagi semua orang, dan ketika tidak seorang� pun bisa secara serius mempermasalahkan peranan utama kelas pekerja dalam revolusi, orang-orang ini mencoba untuk membawa kembali gerakan kepada keadaanya di jaman pra-sejarah, kembali kepada meiode terorisme individual yang dikecam oleh Lenin dan semua orang Rusia Marxis. Metode semacam itu hanya bisa menabur benih kebingungan, memperlemah gerakan revolusi dan menggerogoti kesadaran diri kaum proletar, dan justru memperkuat reaksi (kaum reak�sioner) dan aparat negara yang mereka nyatakan sebagai musuh yang harus dilawan.

Metode semacam itu tidaklah memajukan cita-cita revolusi sosialis dan kelas pekerja namun sebaliknya, mereka menolong para agen dan tentara bayaran imperialis melestarikan kekuasaan mereka dengan menyabotase kaum buruh dan memotong jalan sejati menuju perjuangan revolusioner. Metode perjuangan yang primitif dan keting� galan jaman ini hanya merupakan satu fase transisi dimana pada tingkat yang lebih besar akan dianggap usang begitu kaum buruh yang masih bayi ini memasuki kancah politik. Salah satu contoh pertama adalah gerakan buruh tekstil dan buruh pabrik kulit di Tehe�ran, yang menyampaikan ultimatum kepada majelis bahwa jika tuntutan mereka tidak dipenuhi, maka mereka akan menghentikan kerja. Pemerintah mereaksi ancaman ini dengan melancarkan tindakan represi terhadap' para pekerja, yang membalas dengan meneruskan aksi mogok. lnilah pemogokan pertama yang dilancarkan oleh para buruh dalam catatan sejarah Iran, dan pemogokan pertama ini berhasil memenang�kan sebuah pengurangan jam kerja dari 14 jam menjadi 10 jam sehari. Ini merupakan pengalaman pertama mereka tentang betapa kekuatan bisa dicapai dengan aksi bersama dari kaum buruh. Dampak pemogokan ini sungguh hebat, sehingga dalam setiap siklus revolu�sioner debat-debat bermula pada peranan kaum buruh dan potensi mereka. Pemogokan ini merubah perilaku dari kesemua revolusioner serius. Seiring dengan berkembangnya kekuatan dan daya rekat kelas pekerja, serta peranan sosial mereka semakin jelas, maka kaum revolusionaris lama memodifikasi metode perjuang�annya yang sudah kuno, dan mulai secara serius mem�persiapkan kaum buruh.

Serangkaian suratkabar muncul dalam periode ini, dan sejumlah artikel tentang Marxisme yang kian bertambah mulai dipublikasikan. Cendekiawan Soviet, Ivanov, mengungkapkan sejumlah polemik antara revolusionaris Iran dengan Kautsky dan Plekhanov.(S) Menurut dokumen ini, pada tanggal 16 Oktober 1908, sebuah pertemuan diselenggarakan dimana satu kelompok Sosial Demokrat mengemukakan opini bahwa Iran telah mencapai tahap kapitalisme. Dalara pan�dangan mereka, semestinya kaum revolusionaris tidak memberikan dukungan pada kaurn borjuis, yang semata-mata cuma akan mengeksploitasi situasi demi keuntungan sendiri, seperti yang telah mereka lakukan dalam revolusi Perancis. Kaum borjuis tak hanya tidak mampu memainkan peranan progresif, tetapi justru akan mencelakakan pergerakan kaum buruh dan revolusi.

Dalam kenyataannya, bersilangan banyak tendensi berbeda dalam tubuh Hemmat ("ambisi"), kelompok bentukan orang Iran yang diasingkan di Baku pada tahun 1904 berkat koordinasi dengan Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (PBSDR). Kelompok Hemmat secara aktif terlibat dalam gerakan Mashrutiat atau konstitusional di Iran. Kelompok ini menderita banyak perpecahan, yang salah satu kelompok pecahannya membentuk kelompok Mujahidin. Tuntutan utama dari kelompok ini termasuk perancangan -sebuah majelis (parlemen), hak untuk memilih, kebebasan pers dan distribusi tanah. Pada tahun 1916 mereka memasuki jaringan kolaborasi dengan Partai Bolshevik. Kaum revolusionaris tua Iran yang diasingkan, bersama-sama dengan Mujahidin (pecahan dari organisasi Hemmat) membentuk sebuah kelompok baru, Hezb-e-adalat ("Partai Keadilan"), yang menjadi tulang punggung dari Partai Komunis Iran masa datang. Setahun berselang, terjadi sebuah peristiwa yang merubah keselurufan rangkaian dalara sejarah dunia.

Revolusi Oktober 1917 di Rusia adalah sebuah inspirasi bagi Iran. Kaum revolusionaris Iran melak�sanakan tugas proletarian internasional, berjuang di jajaran kelas buruh dunia melawan kekuatan kontra�revolusioner selama masa perang sipil di Uni Sovjet. Antara tahun 1907 hingga tahun 1915 dua pakta rahasia dikeluarkan antara Tsar dan imperialis Inggris yang berarti pembagian Iran ke dalam wilayah pengaruh. Revolusi Oktober dengan cepat mempublikasikan traktat rahasia dan menghapuskan semua kebijakan ekspansionis kolonial tsaris. Iran adalah merupakan sebuah contoh utama atau penerapan kebijakan kolonial yang kejam dilakukan oleh tsarisme Rusia dalara kolaborasinya dengan apa yang disebut dengan demokrasi barat, dimana hak-hak nasional rakyat koloni diberlakukan bagai nilai kembalian yang kecil. Revolusi Oktober terbukti sebagai benteng pertahanan praktis dari segala bentuk penindasan nasional. Untuk pertama kalinya dalara sejarah modern, bangsa-bangsa yang tertindas menemukan pelindung yang kokoh dalara bentuk Negara Buruh di bawah kepemimpinan Lenin dan Trotsky. Terinspirasi oleh revolusi Oktober, massa Iran bahkan biasa menyanyikan lagu revolusioner seperti: khosh khabar badai nasim soinal keh bema mirasad zaman vesal (Sebuah kebahagiaan baru dibawa oleh angin utara kepada kita, menyentuh kita, menjadikannya berbentuk dua hati yang baik melebiur). (9)

Inspirasi dan energi yang didapat masa rakyat Iran dari revolusi Oktober juga menemukan suatu ekspresi yang lebih praktis dalam serangkaian kebang�kitan. Setelah perang, Iran berada dalam sebuah keadaan instabilitas parah. Bulan April 1920, kaum revolusionaris di Azerbaijan mendirikan pemerintahan nasional mereka sendiri; tak lama berselang di Gilan dan Khurasan pemberontakan merebak, menentang rezim yang lemah, rapuh dan tidak stabil di Teheran. Pem�berontak merancang republik independen sendiri. Di kota-kota, rakyat, setelah mengalami radikalisasi oleh pengalaman penjajahan bangsa asing dan kemenangan Revolusi Oktober 1917 di Rusia, juga dalara kegemparan revolusioner. Kelas buruh industrial memimpin sebuah gelombang perjuangan baru di kota-kota besar. Pada tahun 1921 serikat mengklaim memiliki anggota sebanyak 20.000 di industri minyak saja. Menjelang November 1921 gerakan pekerja telah mendapatkan semacam kekuatan yaitu, di bawah pengaruh Partai Komunis Iran yang baru saja dibentuk, organisasi De�wan Serikat Pusat yang dibentuk terafiliasi dengan Serikat Buruh Merah Internasional yang didirikan oleh Komunis Internasional.(1O) Masih di tahun 1921 para buruh pabrik cetak, pekerja pos, para guru, penambang minyak dan kuli pelabuhan melakukan pemogokan. Meskipun ukuran jumlah kaum buruh yang ikut bisa dibilang sedikit, namun tingkat perjuangannya sangat tinggi. Sebuah pesan salam revolusioner disampaikan kepada Trotsky, yang berbunyi:

"Dewan Perang Revolusioner dari Tentara Merah Persia, yang diatur oleh keputusan Dewan Komi�sariat Rakyat Persia, mengirimkan salam komunis kepa�da Tentara Merah dan Angkatan Laut Merah. Setelah melewati kesengsaraan yang hebat dan mengalami segala macam bentuk penderitaan, kami berhasil menghancurkan kaum kontra-revolusi internal kami yang bukan lain adalah agen imperialis. Dengan keingin�an untuk menempa masyarakat, Tentara Merah di Per�sia diorganisasikan dengan tujuan untuk menghan�curkan perbudakan terhadap orang-orang Persia."

Pesan itu ditutup dengan slogan: "Hidup serikat persaudaraan antara Tentara Merah Rusia dengan Tentara Merah Persia muda!" dan ditandatangani oleh pemimpin Dewan Perang Revolusioner Mirza Kuchk Khan, Komandan angkatan bersenjata Ehsan Ullah dan, anggota Dewan Perang Revolusioner, Muzzafar Zadeh. Dalam balasan surat ini, Trotsky menulis bahwa berita pembentukan Tentara Merah Rusia "telah memenuhi hati kauri dengan kebahagiaan",. (11)

Partai Adalat didirikan dan mulai menerbitkan dua suratkabar, Hormat ("Respek") di Persia serta Yoldash ("Kamerad") di Azerbaijan. Pada akhir tahun 1919 beberapa revolusioner terkernuka dari kelompok ini bergabung dengan organisasi revolusioner lainnya yaitu Kereta Timur Merah, yang sangat dekat dengan kaum Bolshevik dan berjuang melawan kontra-revolusi di Asia Tengah. Partai Komunis Iran dibentuk pada bulan Juni 1920, akan tetapi pada awalnya terdapat beberapa perbedaan pendapat di antara para anggota. Beberapa orang tetap mempertahankan garis kaum Bol�shevik, sedangkan yang lainnya memakai garis yang telah dipertahankan oleh kaum Bolshevik Lama sebelum adanya tesis April dari Lenin. Sementara sisanya masih berpegang pada posisi Menshevik. Pertentangan ini mewarnai Kongres Rakyat Timur di Baku, yang' diperhelatkan selama tujuh hari di tahun 1920, dengan partisipasi 204 delegasi. Delegasi Iran melakukan serangkaian pertemuan untuk mendiskusikan masalah revolusi akan tetapi tidak sampai pada kesimpulan yang jelas.

Kekalahan Republik Soviet Gilan telah me�luapkan frustasi dan kebingungan sehingga orang�orang mulai saling melemparkan kesalahan atas kekalahan yang menimpa. Dikarenakan tajamnya perbedaan internal yang terjadi, maka Partai benar-benar mendirikan dua Komite Sentral yang terpisah. Hal ini jelas tidak dapat dipertahankan. Pada tanggal 25 Januari 1922 Partai Komunis Iran mengadakan sebuah perte�muan dimana perwakilan dari Komintern juga turut ambil bagian, kemungkinan besar berkat desakan dari Lenin. Sebelumnya Komite Sentral Partai menulis banyak surat kepada Lenin menyangkut situasi di Iran dan posisi Partai. Pada akhir pertemuan tersebut, keber�adaan dua Komite Sentral di dalara tubuh Partai ditolak. Demi mempertahankan kesatuan, maka sebuah Komite Sentral gabungan diorganisir, terdiri dari 20 anggota. Komite lokal dan Komite Sentral yang lama dibubarkan. Akhimya, diputuskan untuk menyelenggarakan Sidang Pleno Komite Sentral berikutnya pada tanggal 1 Mei 1922. Bagaimanapun juga, pada pertemuan ini perbedaan dalam hal perspektif dan metode Iran tidak dengan pas dipecahkan. Sejumlah besar suratkabar muncul pada periode itu dan pandangan politik yang berlainan diekspresikan di halaman-halaman majalah dan surat kabar ini. Diantara dari mereka adalah: Kommunist ("Komunis"), Enkelabee-e-Sorkh ("Revolusi Merah"), Haqeqat ("Kebenaran"), Reykan ("Panah"), Khalq ("Rakyat"), Javagheh ("Pijar"), Peyak ("Duta"), Nassihat ("Nasehat"), Edalat ("Keadilan"), Iran-e-Sorkh ("Iran Merah"), Eqhtasadeh Iran ("Ekonomika Iran"), Peykar ("Perjuangan"), Nohzat ("Gerakan"), Satareh Sorkh ("Bintang Merah"), dsb.

Partai Komunis Iran telah mengalami berbagai gejolak dan perubahan di sepanjang dekade setelah dibentuknya formasi pada bulan Juni 1920. Dekade itu ditandai dengan peristiwa-peristiwa historis besar di Iran: bangkit dan tenggelamnya Republik Soviet Gilan, kejatuhan dinasti Qajar dan pembentukan dinasti despotis Pahlavi, militansi masyarakat urban khususnya kaum buruh, gelombang-gelombang pemogokan, dan sebagainya. Partai Komunis Iran sangat aktif; mulai bekerja di antara para wanita dan membeutuk organi�sasi-organisasi berbeda, seperti Masyarakat untuk Evolusi, Kebangkitan Wanita serta Wanita Patriot. Organisasi-organisasi ini tidak hanya mendidik wanita, tetapi juga memberikan pengetahuan teknis bagi indus�tri kerajinan tangan. Partai juga telah mengorganisir sayap kebudavaan yang memainkan peranan luar bias� dalam menyebarluaskan gagasan-gagasan kepada masyarakat dalam cara yang sederhana. Pertunjukan dan drama memainkan peran yang signifikan dalam mengembangkan organisasi di antara lapisan ma�syarakat yang lebih luas. Yang paling populer dan terkenal adalah Shah Abbas Drabaray Mobaraza, Enkalab�e-Murdom-e-Tabraiz dan Nadir Shah Afshar.

Dalara Sidang Pleno Komintern yang Keenam dan Ketujuh (Februari 1926 hingga November�Desember 1926), sekretaris jendral Partai Komunis Iran meminta bantuan Komintern dalam penyelesaian krisis internal Partai Iran. Dalam Sidang Pleno Komite Eksekutif Komintern-sebuah pertemuan khusus yang diadakan untuk membahas masalah-masalah Partai Komunis Iran serta perspektifnya-diputuskan bahwa kongres berikutnya (yang kedua) akan diselenggarakan bulan September 1927, dimana mereka akan mengupas masalah itu lebih jauh. Kongres kedua Partai Komunis Iran diadakan tepat pada waktunya dengan sembunyi�sembunyi pada bulan September 1927. Dua puluh. delegasi mengambil bagian, dan yang menjadi agenda adalah situasi internasional, karakterisasi rezim Reza Khan, masalah-masalah nasional, tantangan-tantangan organisasional, konstitusi Partai Komunis Iran, aktivitas Komsomol (kepemudaan) dan tugas-tugas bagi garda perempuan.

Item yang paling penting dalam agenda adalah karakterisasi Reza Khan yang telah memproklamirkan diri sebagai raja di bawah dinasti Pahlavi yang baru saja didirikan pada tanggal 12 Desember 1925. Di samping isu-isu lain, hal ini merupakan titik pusat pertentangan dalam Partai. Beragam opini dikemukakan, dengan beberapa orang mempertahankan pendapatnya bahwa kudeta yang dilakukan Reza Khan mempunyai arti pelucutan feodalisme dan dominasi kaum borjuis, sedang beberapa yang lain tetap berkeras bahwa kudeta itu hanyalah sekedar sebuah revolusi dalam istana, tanpa membawa pengaruh bagi relasi kepemilikan. Beberapa orang yang lain berpendapat bahwa untuk berjuang melawan imperialisme, Partai haruslah bersekutu dengan Reza Khan, sedang kubu lainnya mengkarakterisasikan dia sebagai agen imperialisme.

Sekali lagi Partai gagal mencapai satu keputusan dan perbedaan masih tetap bersemayam dalam tubuh organisasi. Dalam kenyataannya, apa yang telah terjadi adalah bahwa sesudah revolusi Oktober di Rusia, krisis yang menimpa dinasti Qajar telah mencapai tingkat akut. Di pucuk kekuasaan, sebuah perpecahan terjadi antar monarki, kaum bangsawan dan jajaran aristokrat dalam Birokrasi, yang merupakan tulang punggung dari pemerintahan pusat. Mereka di masa lampau adalah penguasa seni konspirasi dan intrik yang mustahil dipisahkan dari politik kesukuan. Di lain pihak, angkatan darat terbelah, dan muncul pula gejolak�gejolak nasionalitas yang terinjak-injak. Terbangkitkan amarahnya oleh kehadiran pasukan asing dan terimbas dengan dampak dari Revolusi Oktober, kaum buruh menjadi militan

Sebuah situasi mirip perang saudara berkecamuk dalam masyarakat. Dalam otobiografinya, Muhammad Reza Shah Pahlavi telah memberikan beberapa informasi yang menarik tentang situasi waktu itu. Dia menulis bahwa para serdadu tidak menerima gaji tetap dikarenakan pemerintah terlalu lemah untuk menarik pajak. Suatu hari di kala departemen luar negeri hendak menjamu makan malam bagi tamu dari luar negeri, terungkap bahwa tidak terdapat lagi persediaan dana, walhasil mereka terpaksa berbelanja di bazaar dan meminjam uang demi membiayai perjamuan resmi. Disintegrasi sosial dan ekonomi telah menghancurkan struktur masyarakat. Di Teheran, warga tidak akan keluar rumah waktu malam hari karena takut terpenggal kepalanya. Jalan-jalan raya di Iran yang dahulu pernah tersohor menjadi begitu menyedihkan sehingga untuk pergi ke Teheran melalui Meshad orang harus melakukan perjalanan lewat Rusia, dan untuk bepergian dari Teheran ke Khuzistan di bagian barat laut, maka orang bersangkutan musti melewati Turki dan Irak.(12)

Reza Khan, yang merupakan seorang perwira tentara, melakukan berbagai manuver di unit-unit ketentaraan yang berbeda-beda guna membangun ba�sis dukungan, dan akhirnya memimpin sebuah ICudeta pada tanggal 21 Februari 1921. Dengan menyeimbang�kan gaya Bonapartis antara kelas-kelas yang berbeda dan antara kubu-kubu yang bertikai di tingkat atas, dia merengkuh kekuasaan. Pada kali pertama, dia mengan�dalkan bazaaris untuk mempertahankan diri dari barang impor, dan sembari memenangkan dukungan dari kaum nasionalis dan para buruh. Akan tetapi, begitu meng�konsolidasikan dirinya dalam kekuasaan, dia melan�carkan pukulan terhadap kaum buruh dan Partai Komunis.

Setelah tahun 1928, kaum buruh berpartisipasi dalam gelombang baru perjuangan; mereka dalam keadaan memiliki semangat tempur yang tinggi. Pada tanggal 4 Mei 1929 para buruh penyulingan minyak berkumpul untuk menyuarakan tuntutan ekonomi mereka, dan perkumpulan ini berubah menjadi demonstrasi politik anti-pemerintah. Mereka meneri�akkan slogan-slogan anti rezim dan menuntut peng�unduran diri pemerintah. Buruh pabrik-pabrik yang lain bergabung dengan demonstrasi itu dengan antusiasme revolusioner. Tentara bersenjata datang dan secara bru�tal menyerang para pekerja dengan pedang mereka dan kaum buruh membalasnya dengan tongkat dan batu bata. Banyak buruh ditangkapi dan gerakan mulai menyebar ke kota-kota lain. Di Abdan, sejumlah 20.000 demonstran turun ke jalan berunjuk rasa menentang serangan brutal angkatan bersenjata terhadap kaum buruh. Sekali lagi pertempuran kecil terjadi antara tentara dengan kaum buruh. Situasi ini berlangsung hingga tiga bulan lamanya. Lebih dari liga ratus pekerja ditangkap, dan akhirnya pemerintah dipaksa untuk mendukung gerakan. Akan tetapi sekali lagi pada tahun 1931 para pekerja mengorganisir sebuah pemogokan besar-besaran. Mengambil tempat di pabrik tekstil Vatan kota Isfahan, para buruh pekerja itu mendesak pihak manajemen agar menaikkan upah mereka sebesar 40 persen dan menerima pengurangan jam bekerja dari 12 jam per hari menjadi 9 jam per hari. Di bagian utara, 800 buruh serikat dagang rahasia melakukan gerakan mogok.

Partai Komunis Iran memperoleh kemajuan signifikan di beberapa wilayah yang berbeda pada waktu itu. Akan tetapi, sejauh perbedaan politik dan masalah-masalah ideologis ditonjolkan, masalah mere�ka tetap tidak akan terpecahkan. Pada saat itu, peristiwa�peristiwa yang terjadi di Rusia mengalami peralihan yang sangat tajam dimana dampaknya sampai kepada berbagai partai Komunis di seluruh dunia. Dalam rangka untuk mengalahkan Trotsky dan Oposisi Kiri, Stalin menyandarkan diri ke kubu sayap kanan dari Partai Komunis Rusia. Hal ini membuat bangkitnya kulaks (para petani kaya) yang pada tahun 1928 mulai mengancam eksistensi pokok negara Soviet. Dalam bukunya, Russia: frons Revolution to Counter-Revolution, Ted Grant menjelaskan bagaimana Stalin telah mendapat banyak kesulitan dalam usahanya untuk mengandalkan elemen kapitalis di Rusia (kaum kulaks dan Nepmen). Hal ini tercermin dalam lingkup kebijakan politik luar negeri dan kinerja Komunis Internasional. Di Cina, upaya untuk menjalin hubungan baik dengan kaum borjuis nasional menghasilkan subordinasi Partai Komunis kepada Chiang Kai-Shek dan Kuomintang, dengan akhir berupa bencana. Di Inggris, usaha untuk berdamai dengan birokrasi Serikat pekerja menjadikan kekalahan dalara pemogokan umum dan rusaknya Partai Komunis Inggris. Sekarang Stalin beralih dengan tajam kepada Komintern dengan arah yang berlawanan. Dia melakukan satu belokan berbalik arah ke arah "kiri", yang dengan segera diterima oleh semua kubu dalara tubuh Komintern.

Ted Grant menulis: "Dalam pelanggaran anggaran dasarnya, Komunis Internasional tidak menyeleng�garakan konferensi selama empat tahun. Kongres baru diadakan pada tahun 1928 dimana untuk pertama kalinya, teori anti-Leninis'sosialisme dalam satu negara' secara resmi diperkenalkan pada program Komintern. Juga diproklamirkan akhir dari stabilitas kapitalis dan dimulainya apa yang diistilahkan dengan 'Periode Ketiga'. Berkebalikan dengan periode pergolakan revo�lusioner sesudah 1917 ('periode Pertama') dan periode stabilitas kapitalis relatif setelah tahun 1923 ('Periode Kedua'), apa yang dinamakan dengan 'Periode Ketiga' ini adalah untuk menunjukkan kolaps akhir dari dunia kapitalisme. Pada waktu yang sama, sesuai dengan teori Stalin yang pernah masyhur (tapi sekarang telah terkubur), Sosial Demokrat diharuskan bertranformasi diri menjadi 'sosial fasisme� ." (13)

Perubahan yang terjadi dalam tubuh Komunis Internasional ini langsung memberi dampak terhadap Partai Komunis Iran. Pada Kongres Komunis Interna�sional VI, yang diselenggarakan pada bulan Juli�Agustus 1928 di Moskow, masalah perbedaan internal dalam partai Komunis di Iran mengemuka kembali. Hingga waktu itu Partai didominasi. oleh garis sayap kanan, tetapi sekarang mendadak dikuasai oleh kubu ultra-kiri ekstrim, sejalan dengan zig-zag terakhir yang dilakukan oleh panutannya di Moskow yang Stalinis. Hal ini tidak hanya terjadi dalam tubuh Partai Komunis Iran, tetapi juga sudah menggejala di seluruh belahan dunia. Selama beberapa tahun, sernua partai-partai Komunis mengejar kegilaan ultra-kiri ini, yang, dengan memecah-belah kaum buruh yang kuat di Jerman, langsung dapat menghantarkan kemenangan bagi Hitler di tahun 1933.

Dengan demikian, praktis hanya dalara waktu semalam, Partai Komunis Iran melompat dari posisi kanan dengan mendukung Reza Khan Pahlevi, ke posisi ultra-kiri. Mereka secara konsisten berjuang menentang kekuatan demokrat dan berkeras bahwa tidak ada perbedaan antara dernokrasi dan fasisme. Hal ini meng�akibatkan terjadinya malapetaka. Tumbuhnya militansi gerakan kaum buruh di masa-masa itu dirubah oleh Partai Komunis Iran menjadi petualangan. Banyaknya kesalahan fatal yang mengalir dari kebijakan yang tidak benar menyediakan basis bagi rezim represif diktator Reza Khan. Dengan mudah, dirangkulnya majelis agar mensahkan Akta anti-Komunis tertanggal 1 Juni 1931. Dia melarang Partai Komunis dan memulai sebuah kampanye massal berupa eksekusi yang ditujukan terhadap kaum buruh Partai dan aktivis serikat dagang. Dia mengeksekusi banyak buruh dan pemuda-pemuda terbaik serta penyair-penyair revolusioner. Lebih dari dua ribu orang buruh telah dijebloskan ke penjara.

Sehabis mengalami kekalahan dan represi berat demikian, rasa putus asa, frustasi dan faksionalisme menimpa orang-orang awam dalam tubuh Partai. Ba�nyak buruh yang meninggalkan Partai, yang sekali lagi menemukan dirinya dalam keadaan terisolas.i. Partai kemudian bergerak di bawah tanah dan berbasis ter�utama pada lingkup intelektual dan mahasiswa. Mereka mulai menerbitkan sebuah majalah baru bemama Doniya ("Dunia"), yang para pembacanya terbatas pada lingkup ini. Rezim melarang majalah itu, dan para anggota kalangan ini ditangkap dan diajukan ke pengadilan. Pengadilan ini populer dengan sebutan "kelompok lima puluh liga". Kesemuanya dijatuhi hukuman selama liga hingga lima belas tahun hukuman penjara, tetapi pemimpin kelompok tersebut Dr. Taghi Arnai dibunuh dalara penjara pada tahun 1940.

Satu tahun setelah bencana Hitler berkuasa di Jerman, Stalin memerintahkan Komintern untuk melakukan gerakan salto lagi, membelot ke "kanan" dengan apa yang disebut sebagai kebijakan Front Populer, yaitu, sebuah kebijakan menggabungkan diri dengan borjuis "liberal" (yang sebelumnya dikecam sebagai "fasis radikal") untuk melawan fasisme. Pada tahun 1939, Stalin berganti posisi sekali lagi,`setelah menandatangani sebuah pakta dengan Nazi Jerman. Front Populer mendadak dibubarkan. Ketika Stalin menandatangani traktat non-agresi dengan Hitler, Trotsky mengumumkan bahwasanya penandatanganan Traktat dengan Hitler memberikan satu alat ukur ekstra yang bisa untuk mengukur derajat kemerosotan Biro�krasi Soviet dan keterpurukannya bagi kelas pekerja internasional, termasuk Komintern.(14)

Hingga peristiwa Hitler menyerang USSR, pemimpin Kremlin mengira kalau dia telah meng�akalinya. Merasa yakin telah mengamankan garis belakangnya dengan menandatangani Pakta Hitler�Stalin, Stalin menunggu-nunggu Jerman dan lnggris serampangan, sementara dia menonton dari luar garis lapangan. Seperti yang ditandaskan Trotsky, Stalin secara efektif telah bertindak sebagai nahkoda Hitler. Dari saat pecahnya Perang Dunia 11 hingga tepat pada bulan Juni 1941 ketika Hitler menyerang Rusia, Nazi Jerman memperoleh peningkatan besar dalam ekspor dari USSR. Antara tahun 1938 hingga 1940 ekspor ke Jerman naik dari 85,9 juta rubbel menjadi 736,5 juta rubbel yang sangat membantu Hitler dalam meng�upayakan perang.(15) Setelah mengabaikan setiap jejak perspektif internasionalis revolusioner, kaum Stalinis dimabuk kepayang dengan ilusi, padahal Hitler sedang mempersiapkan sebuah serangan yang bakal melu�luhlantakkan mereka. Hal inilah yang melucuti Uni So�viet di hadapan musuhnya yang paling mengerikan. Betapapun juga, sernua ini dipersingkat jalannya pada tahun 1941 ketika Hitler melancarkan serangan atas USSR. Sebagaimana yang telah diramalkan jauh-jauh hari oleh Trotsky tahun 1931, bahwa jika Hitler memperoleh kekuasaan, maka Jerman akan mende�klarasikan perang terhadap Uni Soviet. Sekarang pandangan ini terbukti benar.

Situasi politik di Iran menemui perubahan yang serius pada tahun 1941 ketika Hitler menyerang Uni Soviet pada tanggal 22 Juni. Melihat bahaya aktivitas Jerman di Iran, imperialis Inggris dan Stalinis Rusia sekonyong-konyong melakukan tindakan dan menyeru�kan satu memorandum kepada pemerintah Iran yang menuntut:

1. Pemutusan hubungan diplomatik dengan Jerman dan Italia.

2. Upaya pemerintah Iran untuk memfasilitasi transportasi material perang sekutu berupa jalan, rel kereta atau rute udara.

3. Kepastian Teheran memperbolehkan pe�nempatan tentara sekutu di teritori Iran.

Reza Khan menolak persyaratan ini dan dipaksa untuk mengundurkan diri dengan digantikan oleh putranya, Mohammed Reza Khan, seorang anjing pen�jaga imperialisme yang jmak dan patuh. Dia naik tahta pada tanggal 16 September 1941. Tindakan pertamanya adalah menggusur seluruh orang Jerman dan Italia dan Iran. Langkah kedua adalah melepaskan seluruh tahan�an politik, termasuk kelompok 53 (Doniya). Mayoritas kelompok tersebut mendukung rezim baru tersebut, dan memproklamirkannya sebagai karakter yang "anti fasis". Dengan tindakan serta merta yang meng�gemparkan itu, Partai Tudeh melakukan langkah menyeberang berbalik 180 derajat, seperti halnya panutan mereka Stalin, dan berganti kebijakan memberikan dukungan kepada Sekutu dalam menen�tang Jerman. Dalara situasi kondisi demikian, perubahan pada politik luar negeri dengan tiba-tiba terefleksikan dalara sebuah perubahan kebijakan dalara negeri yang sama-sama kasar. Tanpa ada kata-kata penjelasan, Partai membuang pendirian anti-Inggris dan menggantinya dengan suatu kebijakan yang memberikan dukungan penuh bagi Sekutu yang "demokratis" dalam rangka melawan Jerman.

Mengikuti Kebijakan Moskow bagaikan budaknya, PK bahkan memutuskan untuk merubah namanya. Prioritas mereka adalah untuk membentuk front "anti-fasis" dan menerbitkan sebuah suratkabar Mardom (Rakyat' ). The Hezb-e-Tudeh Iran (yaitu Tudeh atau "partai'rakyat' Iran") diwujudkan pada tanggal 2 Oktober 1941. Konferensi pertama Partai Tudeh dilak�sanakan pada tanggal 9 Oktober 1942 dengan kehadiran 120 delegasi. Mereka menekankan pertahanan Soviet Rusia dan memutuskan untuk memberikan "dukungan yang bersifat kritis kepada rezim Reza Khan. Peru�bahan yang tiba-tiba ini menjebloskan Partai ke dalara sebuah krisis internal. Sebuah kubu dari unsur anti�lnggris meninggalkan Partai. Beberapa memilih bergabung dengan barisan fasis Jerman, beberapa dari mereka membentuk "front patriotik" sendiri dan memakai kebijakan "tunggu dan lihat." Mereka memiliki basis dari kaum borjuis rendahan: para pedagang dan di antara suatu kubu kecil dari kaum borjuis. Tidak satupun dari mereka yang memiliki sesuatu yang dimiliki oleh sebuah garis kaum Leninis.

Dalam periode ini para pekerja dalam banyak perusahaan, penyulingan minyak bumi dan rel kereta api melakukan pemogokan dalam protesnya menentang kerja yang terlalu berat dan waktu kerja yang berlebihan dalam keadaan perang. Pada waktu yang bersamaan, Partai Tudeh mengeluarkan propaganda, menyerukan kepada para buruh untuk tidak ambil bagian dalara pemogokan, dan memaklumatkan bagi mereka yang mendukung pemogokan sebagai "fasis". Mereka ber�pendapat bahwa, karena para buruh memproduksi barang-barang bagi kekuatan sekutu, maka pemogokan apapun akan merugikan sekutu, menyebabkan dan memberikan kekuatan bagi kekuatan fasis secara internasional. Dalara kenyataannya, mereka bertindak sebagai pencegah pemogokan yang terburuk.

Selama masa perang, industri swasta berkem�bang pada tingkatan tertentu dan kapitalis Iran mengha�silkan banyak keuntungan. Akan tetapi setelah kega�galan kekuatan Imperialis untuk menyalurkan bantuan ang dijanjikan untuk pembangunan memiliki dampak negatif. Berakhirnya perang menandai sebuah periode baru pergolakan yang besar di Iran. Pada tanggal 22 Januari 1946, Azerbaijan dan Kurdistan mendeklara�sikan perundang-undangan domestik dan merancang sebuah pemerintahan yang otonom. Jumlah pemogokan naik hingga lebih dari seratus, bandingkan dengan tahun 1944 yang hanya enam puluh. Pusat-pusat industri kunci bergabung dengan gerakan tersebut. Di Tabriz, sebagai contoh, kaum buruh di 16 dari 18 pabrik di kota itu bergabung dalam pemogokan.

Banyak pertikaian militan terjadi pada waktu itu, khususnya di lokasi-lokasi tambang minyak, pabrik teks�til dan lokasi yang tengah dibangun. Pada tahun 1946 terdapat dua pemogokan umum besar oleh para pekerja tambang minyak Khuzistan. Periode setelah Perang Dunia Pertama, terlihat kemajuan pesat bagi serikat�serikat, dan periode sehabis Perang Dunia Kedua seka�rang dilihat sebagai kebangkitan kembali yang serupa tetapi dalam skala yang jauh lebih besar. Akan tetapi Staliris Rusia tidak menginginkan adanya perubahan revolusioner di Iran. Komintern yang mengalami keme�rosotan telah dibubarkan oleh Stalin pada awal tahun 1943 untuk menyenangkan hati kekuatan-kekuatan imperialis. Alih-alih mendukung revolusi untuk menggulingkan Sang Raja, birokrasi Stalin malah lebih memilih untuk membangun hubungan baik dengan Reza Shah. Dengan mengesampingkan kebijakannya yang keliru, partai Tudeh kembali mendapatkan basis sebagai satu-satunya partai buruh masa di Iran. Dalam pemilu untuk Majelis (parlemen) ke-14 di musim dingin 1943. Partai Tudeh menggunakan kesempatan untuk ikut bertanding memperebutkan tiga puluh kursi, yang memenangkan sepuluh di antaranya. Setelah pemilu, Partai Tudeh menunaikan kongres pertamanya pada bulan Agustus 1944. Betapapun juga, pada waktu kongres, perbedaan-perbedaan mengemuka dalara pertanyaan tentang partisipasi dalara pemilu, tentang taktik front anti-fasis setelah Perang Dunia Il dan sekali lagi tentang rezim Iran. Terpecah belah dengan isu-isu ini, Paartai mengalami krisis yang akut.

Setelah Perang Dunia Kedua gelombang gerakan mogok begitu besar hingga bisa menyapu semua halangan, memperlihatkan solidaritas kelas yang menakjubkan di antara kaum buruh. Sebuah serikat federasi baru yang dikendalikan oleh Partai Tudeh mendapatkan keanggotaan sebanyak 275.000 orang dan pada tahun 1946 di saat terdapat 186 serikat yang terafiliasikan memiliki anggota sebanyak 335.000 orang. Pemogokan tiga hari diadakan pada tahun 1946 dimana sebanyak 65.000 buruh minyak ikut ambil bagian. Kaum pekerja memenangkan tuntutan utama mereka, seperti naiknya upah dan kondisi higinitas yang lebih baik. Pada pemogokan itu, para pekerja tambang minyak di Khuzistan dan para buruh tekstil, bahkan yang berada di sektor ekonomi paling terpencil sekalipun, ikut terli�bat. Pemerintahan begitu lembek dan tekanan terus�menerus merongrong dari bawah, dari kaum buruh, maka Partai Tudeh di parlemen mengajukan sejumlah tuntutan reformis bagi kepentingan para pekerja. Ini meliputi hak-hak serikat, penghapusan lembur, jam bekerja selama 48 jam per minggu serta upah minimum. Semua tuntutan ini dikabulkan.

Imperialis Inggris, seperti biasa, menggunakan taktik lama berupa divide et impera serta memulai dukungan terhadap suku-suku di dekat Khuzistan, membiayai kaum mullah dan tuan tanah untuk menentang kaum buruh, serikat dan Partai Komunis Iran. Uni Soviet pada awalnya mendukung republik otonom baik itu Azerbaijan maupun di Kurdistan, tetapi tentara Rusia meninggalkan Iran pada tanggal sembilan Mei 1946 dan pemberontakan tersebut dihancurkan oleh tentara pemerintahan pusat. Dalara pertumpahan darah ini, ribuan anggota dan pendukung partai Tudeh mati terbantai.

Penarikan angkatan bersenjata sekutu mem�berikan dampak di berbagai sektor industri yang bergantung pada produksi untuk tujuan perang. Akibat yang berupa pemutusan hubungan kerja berdampak bagi moral kaum buruh dan mengurangi aktivitas serikat kerja. Pertumbuhan keanggotaan serikat pekerja terhenti dan mulai berkurang. Setelah kekalahan di Azerbaijan dan Kurdistan, para buruh Partai mengalami de�moralisasi dan keanggotaan partai Tudeh berkurang secara drastis. Rezim mulai melancarkan tindakan ofensif melawan kaum buruh. Dari tahun 1947 hingga 1949, aktivitas kelas buruh terjun bebas ke titik terendah mereka.

Pada tanggal 4 Februari 1947, Shah pergi guna menghadiri peringatan berdirinya universitas Teheran, pada waktu itu seorang fotografer berita menembakkan lima peluru ke arahnya. Tubuh Shah hanya sedikit tergores, tetapi ketika dari rumah sakit dia mengumum�kan kepada bangsanya lewat radio: Shah menuduh Tudeh berdiri di balik penyerangan ini. Hal ini jelas�jelas keliru, tapi menyediakan cukup dalih bagi rezim untuk mengumumkan negara dalam keadaan bahaya yang diumumkan pukul 7.30 malam pada hari yang sama. Keesokan harinya pimpinan partai Tudeh ditangkap, Partai dinyaakan ilegal, dan para pendu�kungnya dipecat dari diasas pemerintahan. Pengadilan mahkamah militer diajukan untuk mengadili para pemimpin Partai Komunis, yang di Iran menjadi terkenal sebagai Pengadilan Empat Belas. Pada tanggal 15 Desember 1950, atas bantuan dari seksi ketentaraan Tudeh, sepuluh pemimpin Partai melarikan diri dari penjara dan sekali lagi merintis aktivitas bawah tanah. Dengan demikian, kebijakan untuk berkolaborasi dengan apa yang dinamakan kaum borjuis progresif telah menghantarkan menuju malapetaka.

Masalah Mossadeq

Di masa ini, tendensi nasionalis dan fundamentalis mengisi kekosongan untuk sementara. Menyusul paska perang, hawa anti-Inggris kian kuat berkembang. Mossadeq yang nasionalis mendirikan sebuah Front Nasionalis dari partai-partai yang mewakili para profesional, bazaaris dan beberapa elemen religius. Mossadeq ditunjuk sebagai perdana menteri yang baru pada tanggal 28 April 1951. Setelah menutup pabrik penyulingan minyak bumi milik Inggris di bulan April, dalam sebuah tindakan sabotase yang disengaja, imperialis Inggris mebeberkan kasus ini ke PBB. Bersamaan dengan itu, Mossadeq memutuskan hubung�an diplomatik dengan Inggris. Proses ini mencapai titik tertinggi tatkala Mossadeq mengimplementasikan kebijakan nasionalisasi, saat majelis mensahkan sebuah resolusi berupa nasionalisasi Anglo Iranian Oil Com�pany.

Dengan naifnya, Mossadeq berpikir bahwa Amerika akan menolong Iran dalam krisis ini. Dia bahkan pergi ke Amerika Serikat demi mengusahakan bantuan ekonomi, tetapi kembali dengan tangan kosong. Setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua, perimbangan kekuasaan antara negara-negara kapitalis berubah ke posisi imperialis Amerika. Trotsky telah menjelaskan terjadinya hal ini bahkan sebelum perang, pada saat dia meramalkan bahwa Amerika Serikat akan memperoleh kejayaan dari perang yang akan datang, tetapi sebagai akibatnya Amerika akan memiliki di