Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Kumpulan Puisi Den Baguse Koentjir a.k.a The Rambo
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Poetry Room
Pages: 1, 2
The Rambo
kembali ke peraduan
lelah jiwaku mengembara
menghiba pada sang fajar
bertasbih dengan nadi
menunggu keputusan nyata

menghitung kilauan
menghardik aral menyisir noda
bertamu di teras sang penyair
memohon setetes karma
tunaikan sepenggal caraka

daku hadir kembali ke peraduan
memeluk hitamnya kelambu malam
membumi dan berusaha menyatu
kembali dengan nurani
bersahaja dalam bertindak
sambut fajar songsong senja ... kembali

yah ... kembali ke peraduan
chuenk
weleh...weleh...


para ksatria puisi.... lantunkan kisah
lukiskan cerita,luka,suka,sedih,dendam,dan angkara


ImNotWorthy.gif ImNotWorthy.gif ImNotWorthy.gif
financebbs
QUOTE
Preman juga manusia

kau pernah bilang takkan mati
tidak untuk hari ini
sebab perut belum lagi terisi
sebab hutang belum lagi terlunasi
sebab dirumah terdengar rintihan anak istri
sebab ... sebab kau sudah berjanji

siapa bilang preman sama dengan Tuhan
cuma setan yang bilang
siapa bilang preman tak terkalahkan
cuma pedagang yang bilang
siapa bilang preman bukan orang
asal kau tau saja
preman itu juga manusia

buktinya hari ini
preman perkasa itu akhirnya modar
bukan karna peluru atau sabetan samurai
bukan juga sakit atau tua
sepele saja ... dia mati karena tusuk gigi
ya ... tusuk gigi dia dari jarum karatan
yang tak pernah ia bersihkan apalagi simpan

sebilah pedang selalu terselip dipinggang
sementara celurit kau letak diselangkangan
entah berapa banyak ajimat yang kau bawa
tapi ketika naas menjelang ... kau mati juga
memang benar katamu
preman kan juga manusia


saya salut sama puisi yang satu ini, memang kalau saja kita dibesarkan di lingkungan yang seperti tersirat dalam puisi ini, kita akan tahu betapa sulitnya kehidupan ini.

speak_cool.gif for om Rambo
The Rambo
bulir kembali mengalir
lelah bertahan disudut mata
mengiring gemeretak gigi
beradu dengan dahaga hati
julangkan ego indahkan elegi

semburat kasihmu tak nampak lagi
meski secuil yang ingin kurasa
hampa sudah ...
entah kemana terbangnya
melepas lelah
menepis ombak angkara
berubah tanpa rona
The Rambo
aku makhluk tanpa nama
terlahir dari sebuah angkara
dari rahim para durjana
bermandikan darah para jelata
bersusukan harta dan jumawa

aku makhluk tanpa nama
aku tak seperti mereka
meski aku berada disana
dan menghirup semuanya
namun tak mampu menikmatinya
semua terasa hampa

aku makhluk tanpa nama
melangkah tanpa kepastian
mencari sinar kebenaran
sebuah asa yang patut kuperjuangkan
yang bernama kehormatan

aku makhluk tanpa nama
tiada yang mengenalku
bukan engkau saja
bahkan diri ini pun tidak
karna sesungguhnya aku ... makhluk tanpa nama


(for someone who realy hate himself)
The Rambo
berjalan dilorong sunyi
sendiri ...
oh bukan ... ada bayang disisi
dialah teman setiaku
terasa damai aku dengannya

saat bunga menyambut mentari
mekar kala fajar berselimut embun
bayangku selalu muncul dan menyapa

kala layu dan tertunduk menghunjam bumi
bungaku ditelan temaram senja
bayangku masih disisi merangkulku erat
tak pernah sedetikpun ia meninggalkanku

bayangku ... teman sejatiku
engkaulah penyusun kisahku
penyunting buku kehidupanku
hingga akhir ceritaku

hidup ditanah biru
berjuta nikmat terhampar
senyap masih kurasa
panca inderaku mati
dan bukan mauku
entah ...

hidup dengan bayangku
ceria meski tanpa warna
tetap berjalan meski terinjak
tetap disana dan setia menunggu
bertahan denganku ...
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.