Menghiba seorang hamba dimalam kelam
Bersujud mengharap tercipta semua asa
Menangis berontak dari kehidupan
Mengharap bahagia yang jadi idaman
Tengadahkan kedua belah tangannya
Bercucuran dan berlinangan air mata
Terduduk bersimpuh diatas kemalangan
Tenggelam larut didalam keheningan
Tuhan ... ini aku hamba-Mu yang lalai
Tuhan ... ini aku hamba-Mu yang ingkar
Tuhan ... ini aku hamba-Mu yang menangis
Tuhan ... ini aku hamba-Mu yang memohon
Kau berikan aku kenikmatan
Kau berikan aku kelebihan
Kau berikan aku keindahan
Tapi mengapa tak ada kugapai kebahagiaan
Aku hidup dalam hampa
Aku tenggelam dalam nista
Aku tertawa bukan bahagia
Karena aku berjalan di atas bara
dBK ... Parangtritis, 14 Mei 2005
Bibir Pantai
sambut senja diam terpana
riak pun makin cepat
dayung patah berserakan
pasir pun tak lagi lembut kurasa
kapan aku bisa sepertimu
membatasi ruang menjadi pintu
aku tak lagi bisa bicara sendiri
aku hidup bukan untuk sekali ini
bibir pantai tak lagi putih
manusia dajjal gila harta
bibir pantai tak lagi bersih
tangan kotor rusak dirimu
perahu tetap bergiat
hidup si kecil tetap bersemangat
ibu di dapur sibuk sendiri
mau jadi apa ... siapa peduli ?
laknat cacian dan seribu umpatan
kebal telinga kaki berbicara
musuh atau kawan tak jua bicara
setan ... bajingan kalian semua
kembali ke peradaban
hidup lagi dalam kesendirian
bibir pantai yang dulu jauh kurasa
kenapa sekarang ada dibawah kakiku
kemana pantaiku yang dulu
bibir pantaiku ...
dBK ... Tuban, Jan 2001
sambut senja diam terpana
riak pun makin cepat
dayung patah berserakan
pasir pun tak lagi lembut kurasa
kapan aku bisa sepertimu
membatasi ruang menjadi pintu
aku tak lagi bisa bicara sendiri
aku hidup bukan untuk sekali ini
bibir pantai tak lagi putih
manusia dajjal gila harta
bibir pantai tak lagi bersih
tangan kotor rusak dirimu
perahu tetap bergiat
hidup si kecil tetap bersemangat
ibu di dapur sibuk sendiri
mau jadi apa ... siapa peduli ?
laknat cacian dan seribu umpatan
kebal telinga kaki berbicara
musuh atau kawan tak jua bicara
setan ... bajingan kalian semua
kembali ke peradaban
hidup lagi dalam kesendirian
bibir pantai yang dulu jauh kurasa
kenapa sekarang ada dibawah kakiku
kemana pantaiku yang dulu
bibir pantaiku ...
dBK ... Tuban, Jan 2001
Tebing Hati
Laknat bersautan dengan puji
Cacian berhiaskan indah sanjung
Kemarahan mengiring haru
Kesaksian sebatas rindu
Berharap tak jua datang
Memuji tak jua menikmati
Buat apa lagi
Ya sudah ... aku pun tak peduli
Kikis pelan tap tak jua nampak
Halus budi tak jua menyentuh
Karang sudah semakin bertambah
Kapan lagi bisa berubah
Hanya kejutan bisa runtuhkan
Bom waktu telah kau tanam
Tunggu saja tiba sang masa
Tebing terjal pasti tiada
Sudahi sekarang
Lepaskan
Makin berat kau rasa
Makin sengsara
Tak bahagia
Mati saja kau
Tak terjal lagi tebing
Banyak yang kan singgah
Sudahi saja kataku
dBK ... Semeru, 16 Agustus 2000
Laknat bersautan dengan puji
Cacian berhiaskan indah sanjung
Kemarahan mengiring haru
Kesaksian sebatas rindu
Berharap tak jua datang
Memuji tak jua menikmati
Buat apa lagi
Ya sudah ... aku pun tak peduli
Kikis pelan tap tak jua nampak
Halus budi tak jua menyentuh
Karang sudah semakin bertambah
Kapan lagi bisa berubah
Hanya kejutan bisa runtuhkan
Bom waktu telah kau tanam
Tunggu saja tiba sang masa
Tebing terjal pasti tiada
Sudahi sekarang
Lepaskan
Makin berat kau rasa
Makin sengsara
Tak bahagia
Mati saja kau
Tak terjal lagi tebing
Banyak yang kan singgah
Sudahi saja kataku
dBK ... Semeru, 16 Agustus 2000
Kenapa ?
Murka kah ?
Amarah ato kebencian ?
Pelampiasan rasa kesal ?
Timbunan kotoran dendam kesumat ?
Muara kepedihan ?
Manusia picik
Manusia yang hidup dalam tempurung
Manusia tak berkasta ... ato bukan manusia ?
Entah ...
Kodrat itu bisa berubah, asal kau mau
Rumahmu bahkan bisa tergusur
Kau pun sanggup tidur di mana saja
Aku tak risau lagi ... aku tak peduli
Sudah kau cecerkan darah kenikmatan dimana-mana
Aku tak tau lagi apakah aku berdosa
Kurang apa aku ini
Edan memang aklo aku makin peduli
Kamarmu kosong tapi penuh berisi
Dendam, sakit hati, kebencian habis sudah
Kaca lemari yang pecah tak jelas kemana
Debu dan noda ... entah siapa
Kamarmu bukan kamarku juga dia
Habis sudah kata-kata dan pikiran
Hitam legam bagai pelukan dewa malam
Hilang sudah
Tiada lagi penderitaan
Buka saja jendela ... lihatlah
Asap mulai menjulang sedikit demi sedikit
Pasrah ... mati saja
Aku hanya bisa duduk diatas mayat tanpa kepala
Hanya bisa merokok dari tangan yang bukan milikku
Sambil mengenggam dasi berlumur keringat dan daki
Ato mungkin darah ... ya nikmat rasanya !
dBK ... Medan, Jul'06
