Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Gajah Mada II : Tahta dan Angkara
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Apresiasi Buku
Sir Bilungakoe
Click to view attachment

Gajah Mada II : Tahta dan Angkara

Kematian Jayanegara di usia muda tanpa penerus, menimbulkan gejolak dalam pemilihan raja majapahit berikutnya. Kedua sekar kedaton memiliki tunangan yang sama-sama dikelilingi oleh kelompok ambisius. Sri Gitaraja bertunangan dengan Cakradara dari Singasari, dan Dyah Wiyat bertunangan dengan Kudamerta dari Pamotan. Kedua pangeran ini sebenarnya tidak berambisi menjadi raja, tetapi mereka dipanas-panasi oleh para penasehatnya yang ternyata justru memiliki ambisi tersendiri. Pemerintahan sementara dipegang oleh Ibu Suri Gayatri selama belum ada ketetapan siapa di antara dua sekar kedaton yang ditunjuk sebagai Prabu Putri (Ratu).

Aneka kejadian aneh mulai terjadi. Paman dari Breh Pamotan, Kudamerta, dibunuh dan dilempar ke api. Hanya jasad yang hangus menjadi buktinya. Pengawal pribadi Kudamerta terbunuh oleh panah, kedua prajurit yang dibawa Kudamerta juga mati tiba-tiba, dan sebuah pisau terbang melayang hampir saja membunuh Kudamerta.

Breh Singasari, Cakradara menjadi pihak yang disalahkan oleh Gajah Mada yang sudah menjadi Patih. Perburuan informasi kembali dilakukan oleh Bhayangkara di bawah perintah Gajah Mada dan Senopati Gajah Enggon, penggantinya. Sialnya dalam sebuah penyergapan, Gajah Enggon terkena lemparan batu dan terluka parah.

Gajah Mada yang hampir kehilangan informasi, tiba-tiba dijumpai oleh orang misterius yang kembali mengucapkan “bagaskara manjer kawuryan”. Hal yang tidak mungkin ! Karena tabib yang membantunya membongkar pemberontakan Ra Kuti telah dibunuh oleh Gajah Mada sendiri karena meracuni Raja Jayanegara. Siapa orang misterius ini ?

Dalam menelusuri peristiwa-peristiwa itu, Gajah Mada juga menjumpai ternyata ada rahasia-rahasia di dalam istana. Dyah Wiyat, sang sekar kedaton ternyata sudah pernah saling mencintai dengan tabib muda, sahabat Ra Kuti sekaligus pembongkar pemberontakannya, yang telah dibunuh Gajah Mada. Dyah Wiyat telah kehilangan kegadisannya dalam percintaan. Kudamerta sendiri ternyata sudah menikah dengan Dyah Menur dan memiliki seorang anak. Hal yang sangat memusingkan, karena apabila Dyah Wiyat menjadi raja, dan tidak ada anak pria, anak dari Dyah Menur bisa menuntut hak menjadi raja. Gajah Mada sangat ingin melenyapkan Dyah Menur dan anaknya untuk melindungi trah kerajaan.

Sementara itu keterlibatan Cakradara nampaknya semakin jelas. Tetapi ternyata Gajah Mada berhasil memergoki pembicaraan Cakradara dan pamannya. Cakradara menolak untuk menjadi raja mengikuti keinginan pamannya, dan ternyata sang paman juga belum bertindak. Bahkan sang paman akhirnya mati oleh sebuah panah dari pembunuh rahasia. Lalu siapa pembuat kekacauan selama ini ? Kembali LKH berhasil membuat teka-teki yang menarik dan tidak terduga.

Orang misterius itu bukan tabib yang bangkit kembali, tetapi justru sahabat kepercayaannya. Gajah Mada juga mendapat bantuan dari Pradhabasu, bhayangkara yang pensiun dini karena sakit hati kepada sesama bhayangkara lain dalam peristiwa penyelamatan Prabu Jayanegara. Pradhabasu berhasil membongkar logika dari kekacauan tersebut dan memberi jawabnya kepada Gajah Mada. Pradhabasu pula yang menyelamatkan Dyah Menur, dengan mengungsikannya dari ibukota Tarik.

Akhirnya, kedua sekar kedaton ditunjuk menjadi Ratu Bersama, menyelenggarakan pemerintahan bersama.

----

Notes :
Kebusukan selalu membayangi tahta. Power tends to corrupt kata Lord Acton. Oleh sebab itu Kekuasaan harus diawasi nerd.png
Kecermatan Gajah Mada dalam menyaring calon pemegang kekuasaan, adalah kecermatan yang seharusnya dimiliki oleh para intelektual muda sekarang ini. Kita harus kritis bahkan terhadap calon penguasa atau bahkan penguasa itu sendiri, karena bukan tidak mungkin mereka sendiri sebenarnya tidak mampu menjaga diri. Hmmmph.gif

Rating : **** (4)
dhimaz
ehehehehe seharusnya yang mewarisi tahta Jayanegara setelah sementara dipegang oleh Ratu Gayatri jangan disebutin dulu bro..., biar temen-temen penasaran. Kubu Sri Gitaraja dan Cakradara , atau Dyah Wiyat dan Kudamerta . Soalnya semuanya mempunyai hak untuk menjadi penguasa Majapahit.

Guwe juga baru tahu setelah baca novel Gajah Mada karya LKH ini, walaupun digolongkan sebagai fiksi namun didukung dengan riset yang lama sehingga tidak menyimpang dari sejarah yang sebenarnya. (walaupun LKH sendiri mengakui pada Gajah Mada I sedikit terpeleset dalam menyebut nama-nama daerah yang dijadikan tempat pengungsian Jayanegara).

Yang gw salut dari novel ini adalah dari sisi penokohan, betapa kuatnya karakter Gajah Mada sehingga siapapun menaruh hormat padanya. Di samping itu gw juga sangat tetraik dengan kesigapan pasukan Bayangkara yang menjadi pasukan elit dari Majapahit yang beberapa kali mampu menyelamatkan singgasana kerajaan.
andrew.azhar
wah...wah...seru2....
thnks atas resensi nya bro....
btw ada yg sudah posting belum ya?jd pengen baca...
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.