Gajah Mada IV : Perang Bubat
Inilah bagian dari buku Gajah Mada yang paling membuat saya terenyuh. Inilah peristiwa yang paling menyakiti hubungan Jawa – Sunda dan membuat buruk nama Gajah Mada.
Dimulai dari diangkatnya anak Sri Gitaraja, Hayam Wuruk menjadi raja. Raja muda yang gagah ini mencari isteri yang sepadan. Tidak ditemuinya putri yang menarik hati di seluruh wilayah jajahan Majapahit. Padahal Majapahit telah meluaskan wilayah sampai ke Sumatera, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara. Terdengarlah kabar ke ibu suri Gitaraja bahwa Raja Sunda Galuh memiliki seorang putri yang sangat cantik Dyah Pitaloka Citaresmi.
Kebetulan, Gajah Mada juga sudah sangat sebal dengan sikap Raja Sunda Galuh yang tidak mengambil sikap juga atas keinginan Majapahit menyatukan Nusantara. Gajah Mada tidak dapat menyerbu, karena Kerajaan Sunda Galuh berkerabat erat dengan Kerajaan Majapahit. Ibu dari Raden Wijaya, keturunan Sunda Galuh.
Maka kesempatan lamaran itu digunakan juga oleh Gajah Mada untuk menekan Raja Sunda Galuh. Sayangnya Gajah Mada tidak menyadari bahwa taktik politiknya itu diterjemahkan dengan kasar oleh jendral-jendralnya yang ingin mencari muka, dipimpin oleh Ma Panji Elam. Untung Gajah Mada menyertakan jendral seniornya, Gajah Enggon yang sudah berpangkan Kanuruhan (setara Menteri Muda) sehingga konflik bisa terhindarkan.
Armada perkenalan dikirim ke Sunda Galuh, melalui pelabuhan Cairebon (sekarang Cirebon) mereka masuk dan menuju ke ibukota Sunda Galuh. Untuk memastikan kecocokan Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka dikirimlah tukang gambar untuk melukis Dyah Pitaloka. Betapa kagetnya sang tukang gambar melihat ternyata Dyah Pitaloka begitu cantik, tetapi lebih kaget karena Dyah Pitaloka mempunyai lukisan diri yang memiliki teknik tinggi dan sangat menggambarkan kecantikan Dyah Pitaloka.
Lukisan ini rupanya dibuat oleh Sancaraka, kekasih gelap Dyah Pitaloka. Seorang rakyat biasa tetapi telah mampu meluluhkan hati Dyah Pitaloka dengan kemampuan musiknya (permainan seruling) dan kemampuan lukisnya. Konflik cinta Dyah Pitaloka menjadi bumbu dari buku Gajah Mada keempat ini.
Hayam Wuruk yang menerima lukisan diri Dyah Pitaloka, langsung jatuh cinta. Armada lamaran langsung dikirim. Kembali ikut Ma Panji Elam. Kali ini dia berhasil menyampaikan surat ancaman untuk menyerah kepada Raja Sunda Galuh. Tetapi Raja Sunda yang bijak ini mengambil sikap yang luar biasa. Dia mundur dan menjadi Dyah Pitaloka sebagai Ratu Sunda Galuh. Sikap ini berarti jika Dyah Pitaloka menjadi isteri Hayam Wuruk, Sunda Galuh menyerah sebagaimana isteri tunduk kepada suami; tetapi sekaligus Sunda Galuh tidak pernah dijajah karena isteri tidak dijajah suami. Selain itu, keturunan Raja-Raja Majapahit berikutnya akan menjadi keturunan bersama Majapahit dan Sunda Galuh.
Lamaran diterima, dan Dyah Pitaloka akan segera diberangkatkan menjadi isteri Hayam Wuruk. Dalam keadaan ini Dyah Pitaloka patah cinta, dia nekat. Dikunjunginya Sancaraka untuk terakhir kali, dan dalam kunjungan itu Dyah Pitaloka minta agar Sancaraka menanamkan benih agar nantinya raja majapahit adalah keturunan Sancaraka. Tetapi akal sehat Sancaraka menolaknya. Cintanya kepada Dyah Pitaloka tidak mengijinkannya untuk menjamah kesucian kekasih hati. Cinta tak harus memiliki.
Rombongan Sunda Galuh berangkat menuju Majapahit. Saat itu Gajah Mada sedang bertapa. Ma Panji Elam membuat manuver. Anak buahnya disuruh menyebar kabar ke Istana Majapahit, bahwa rombongan Sunda tertunda 7 hari. Persiapan pesta pun dihentikan dan ditunda. Ketika rombongan Sunda tiba di Ujung Galuh. Tidak ada penyambutan. Tetapi mereka berbesar hati dan masuk ke wilayah Majapahit. Di Lapangan Bubat, tetap tidak ada penyambutan.
Informasi kedatangan ini membuat panik Bhayangkara. Mereka segera menata diri, memberi kabar ke ibu suri, ke prabu Hayam Wuruk dan pemuka agama. Mereka tidak sempat menata pasukan Bhayangkara untuk melindungi tamu agung, calon permaisuri. Rombongan Sunda Galuh sudah gelisah dan merasa terancam karena tidak disambut semestinya. Sebagian mulai menyerukan pulang ke Sunda Galuh.
Gajah Mada yang baru saja keluar dari pertapaan, diberi kabar bahwa Raja Sunda Galuh sudah datang. Dia bertanya tentang apakah Raja Sunda sudah menyerah. Dijawab oleh Ma Panji Elam dan kawan-kawan, belum. Fakta bahwa raja baru Sunda sekarang adalah Ratu Dyah Pitaloka ditutup-tutupi. Gajah Mada mengambil keputusan semberono. Dengan kudanya berderap, dia berseru kepada rombongan Sunda Galuh, “Jika belum menyerah, jangan masuk ke Majapahit”. Perintah ini segera disalah tafsirkan lagi oleh jendral-jendral pencari muka di Majapahit. Sikap prajurit Sunda yang hendak melindungi keamanan Rajanya yang diteriaki oleh Gajah Mada, dianggap sikap menyerang. Rombongan Sunda Galuh, Raja, Ratu, dan Sang Dyah Pitaloka Citaresmi beserta 100 prajurit dihujani panah dan diserbu. Peperangan yang tidak seimbang dan lebih tepat disebut pembantaian. Dyah Pitaloka mengambil kujangnya, dan menusuk diri tepat di jantung. Raja Sunda terbunuh. Ratu juga terkena panah dan kemudian menusuk diri dengan kujang. Rombongan yang hendak berbesanan dengan keluarga istana majapahit dihabisi. Gajah Mada sendiri kaget dengan hasil kejadian ini.
Sancaraka ternyata menyaksikan semua peristiwa ini, dan ketika hendak menolong Dyah Pitaloka, sebuah panah juga menghabisi nyawanya. Kisah cinta itu berakhir di kematian.
Hal ini sangat memukul Hayam Wuruk. Raja menolak bertemu dengan Gajah Mada, dan tak lama kemudian Gajah Mada dipecat dari jabatannya sebagai Mahapatih Majapahit.
Sampai hari ini dendam ini masih membayang hubungan sejarah jawa-sunda. Tampaknya tidak ada satupun jalan Gajah Mada di kawasan Jawa Barat, sebuah dendam yang berkepanjangan saya rasa. LKH membuat cerita Perang Bubat menjadi sedemikian menarik dan luar biasa. Lengkap dengan bumbu cinta, trik istana dan perang.
---
Notes :
Sikap rasional yang berlebihan dari Gajah Mada tanpa mau mendengar kata hati nuraninya barangkali telah mengubahnya menjadi seorang megalomania.
Gajah Mada terjebak pada sistem birokrasi yang dibangunnya sendiri.
Dia menjadi seorang superstar yang tidak pernah salah, untuk kemudian melakukan satu saja kesalahan, tetapi sangat fatal.
Kita harus belajar untuk selalu siap dikritik, menggunakan hati nurani dan selalu introspeksi diri agar tidak mengulangi kesalahan Gajah Mada.
Cita-cita besar harus diikuti dengan hati yang mengasihi.
Kapan ya "kebencian" (sentimen sejarah - revisi dari bro@pro
Rating : ***** (5)
