QUOTE
QUOTE
1. Klaim ente ... Majapahit adalah negara perampok. Apa buktinya ?
Klaim aku ... Majapahit bukan negara perampok tetapi mengupayakan royal hegemony di Nusantara.
Klasifikasi perampok adalah : hanya datang ambil, lalu pergi. Tetapi walaupun Majapahit bukan invasionis seperti Mongolia, tetapi dia tidak sekedar datang ambil dan pergi ... Majapahit meninggalkan jejak budaya, mengadakan pasewakan agung (rapat akbar) dengan semua raja negara taklukkan di nusantara, yang artinya ada pola relasi. Bahwa pola relasi itu tidak invasionis tetapi hegemonis (tidak mengambil alih kerajaan tetapi menanamkan pengaruh, contoh Inggris Raya) adalah metode yang paling tepat dengan keterbatasan teknologi transportasi dan komunikasi saat itu.
pendapat w singkat aja, masa ada kerajaan yg masa kehancurannya langsung setelah masa keemasannya.(hayam wuruk adalah raja terakhir kan?!) dalam tempo yg relatif singkat. dan satu2nya kerajaan di dunia ini yg mengalami itu hanya lah majapahit ( bila ada tolong sebut kan)! itu seperti kemersekaan indonesia, begitu jepang nyerah dan belanda belum masuk cepat2 indonesia memerdekakan diri karena bila nanti belanda masuk kita sudah merdeka dan dalam masalah majapahit, waktu hayam wuruk mangkat propinsinya langsung memerdekakan diri agar kalaupun ada pengganti raja majapahit, mereka ogah di sebut bagian dari majapahit!! silakan lu pikir. ok?
gue jelasin knp sdr @ntah bicara kl majapahit dibilang perampok :
pertama kita musti tau dulu silsilah Raden Wijaya - pendiri Majapahit.

Kekuatan Singhasari yang terfokus pada persiapan pasukan untuk mengantisipasi balasan Mongol, membuat lengah pertahanan dalam negeri. Akibatnya kesempatan ini digunakan oleh Jayakatwang untuk memberontak terhadap Singhasari. Jayakatwang yang menantu Wisnuwardhana tidak suka dengan peralihan kekuasaan Singhasari ke tangan Kertanagara. Kertanagara akhirnya meninggal tahun 1292 ketika mempertahankan istananya, dan kejadian ini digambarkan dengan jelas dalam Prasasti Kudadu yang ditemukan di lereng Gunung Butak, Mojokerto.
Raden Wijaya menantu Kertanagara, berhasil melarikan diri dan meminta perlindungan kepada Adipati Aria Wiraraja di Sumenep, Madura. kemudian
Kertarajasa atau Raden Wijaya, yaitu anak menantu Kertanegara, kemudian bersekutu dengan orang Mongol untuk melawan Jayakatwang. Setelah Jayakatwang dikalahkan, Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya secara kalang-kabut
QUOTE
QUOTE
2. Klaim ente ... Majapahit bukan negara besar karena tidak bisa menaklukkan Sunda yang dekat. Sebuah logika yang meloncat dari seorang yang mengaku belajar sejarah.
Klaim aku ... Majapahit dan Sunda berkerabat sehingga tidak ada political will dari Istana untuk Gajah Mada menyerbu Sunda. Perang Bubat adalah murni kesalahan politik Gajah Mada. Mau lihat contoh lain : Inggris Raya negara besar atau bukan ? Kenapa dia tidak menaklukkan Perancis yang dekat ? Karena memang tidak ada political will bagi Inggris untuk menaklukkan Perancis. Rusia di jaman Tsar agung apa bukan negara besar, kenapa dia tidak menaklukkan Polandia atau Austria ? Karena Tsar menginginkan tanah luas di dataran Asia tengah dan tidak tertarik dengan Eropa Barat. Anda lemah dalam logika sejarah dengan berkesimpulan bahwa tanpa menaklukkan sunda yang dekat (apalagi memang ada relasi keluarga di kedua kerajaan ini), Majapahit bukan negara besar
jawaban w singkat aja. kita kembali ke sumpah palapanya gajah mada. di salam sumpahnya itu ia bersumpah untuk menaklukkan sunda(atau ada nama lainnya. w lupa) bagaimana lu menjelaskan hal ini?
menurut sejarah dari prasasti dan penelitian bahwa kerajaan Sunda dpt dikuasai oleh Majapahit dengan namanya perang BUBAT :
Lewat "Pararaton" dan Pustaka Nusantara II/2 yang diambil dari naskah Wangsakerta terjemahan Drs. Saleh Danasasmita (alm), peristiwa itu bisa dituturkan kembali sebagai berikut: “Kemudian terjadi peristiwa orang Sunda di Bubat. Sri Prabu ingin memperistri putri dari Sunda. Patih Madu diutus mengundang orang Sunda. Maksudnya mengharap agar orang Sunda menikahkan putrinya. Lalu raja Sunda datang di Majapahit. Sang ratu Maharaja tidak bersedia mempersembahkan putrinya. Orang Sunda harus meniadakan selamatan (jangan mengharapkan adanya upacara pesta perkawinan) kata sang utusan. Sang Mahapatih Majapahit tidak menghendaki pernikahan (resmi), sebab ia menganggap rajaputri sebagai upeti".
Karena merasa terhina, Raja Sunda dan rombongannya menolak permintaan tersebut. Apalagi Kerajaan Sunda bukan bawahan dari Kerajaan Majapahit. Raja Sunda merasa sejajar dengan Majapahit, sehingga akhirnya terjadilah Perang Bubat pada hari Selasa Wage sebelum tengah hari, tanggal 13 bagian terang bulan Badra tahun 1279 Saka.
SEJARAH tak bisa ditutup-tutupi, apalagi dihilangkan. Sedalam apapun dipendam, bahkan dikubur sekalipun, suatu saat sejarah akan terangkat muncul dan menampakkan diri ke permukaan sebagai pengakuan kebenaran.
Salah satu peristiwa lama yang selama ini terpendam adalah menyangkut Perang Bubat. Tujuh tahun lalu, peristiwa tersebut sempat ditulis wartawan Galura Aan Merdeka Permana melalui Harian Pikiran Rakyat (29 Juni 1998). Di bawah judul "Perang Bubat Tidak Pernah Terjadi?", Aan mengutip pendapat Drs. Aris Soviyani, Kepala Seksi Penyelamatan Benda Purbakala Kota Mojokerto, Jatim yang meragukan terjadinya peristiwa tersebut. Alasannya, karena perang tersebut tidak dilengkapi data akurat. Katanya, selama 16 tahun bertugas mengikuti penggalian purbakala di Trowulan dan di lapangan Bubat, tak ada temuan yang dapat mendukung terjadinya peristiwa itu.
Untuk melengkapi tulisannya, wartawan dan pengarang yang gemar melakukan perjalanan itu melengkapi tulisannya dengan ilustrasi foto sebuah jalan kecil yang lebih mirip disebut gang. Di mulut jalan terpampang papan penunjuk: Jalan Bubat. Jalan kecil itu merupakan pintu masuk ke areal Bubat, wilayah Kerajaan Majapahit tempo doeloe.
MASYARAKAT Sunda sebenarnya cukup lama bersabar menanti pengakuan dari para penulis sejarah di luar Jawa Barat dalam menyikapi peristiwa Perang Bubat. Jika memang terjadi, mengapa hanya para penulis sejarah dari Jawa Barat saja yang mengangkat peristiwa itu sebagai fakta sejarah.
Sebaliknya jika memang tidak pernah terjadi, bukan hanya ganjalan hubungan emosional dua daerah yang bertetangga yang bisa dihilangkan. Tetapi bagian-bagian yang mengisahkan peristiwa tersebut dalam naskah-naskah kuno di atas, patut dikesampingkan atau bahkan diabaikan karena dianggap menyesatkan. Namun jika benar kandungan naskah kuno tersebut, mengapa kita harus malu dan kemudian berusaha menutup aib seseorang yang selama itu berambisi menyatukan seluruh wilayah Nusantara. Bukankah pepatah lama mengatakan, "Tak ada gading yang tak retak?"
Apalagi sejarah yang ditulis dengan jujur bukanlah untuk mempermalukan seseorang. Tetapi bisa merupakan cermin untuk generasi berikutnya, sehingga tidak mengulang kekeliruan atau kesalahan yang sama.
QUOTE
QUOTE
3. Klaim ente ... Majapahit hancur karena Islam.
Klaim aku ... Islam bukan agama yang suka menghancur-hancurkan. Majapahit hancur karena dirinya sendiri.
Islam masuk ke Cina ... mana dinasti di Cina yang hancur karena Islam, justru Islam yang berasmiliasi dengan kehidupan di Cina (suku Uighur). Islam masuk ke India, mereka bisa berbagi wilayah dengan Hindu di India. Tetapi Majapahit hancur karena perang saudara dan suksesi yang tidak lancar. Kerajaan Islam di Demak, masih berkerabat dengan raja-raja Majapahit lewat Putri Campa.
wew!! agama w pun islam bro!! setau w islam adalah agama yg baik. tapi bisa bisa sangat mematikan jika dalam keaadaan terdesak!! ini pendapat w
1. islam menyebarkan agamanya di kota-kota besar majapahit. lalu majapahit berusaha untuk memulihkan kepercayaan rakyat untuk kembali ke hindu. rakyat tidak mau. kemudian kota itu diserang. karena rata2 kota besar menjadi tempat islam, maka seranganpun tidak efektif malah menghancurkan majapahit sendiri(kota ngak dapat, pasukan tewas).intinya pasukan islam sifatnya defend!
hancurnya majapahit setelah jaman keemasan lebih karena perang PAREGREG :
Wikramawardhana adalah raja Majapahit (1389-1429). Ia adalah keponakan Hayam Wuruk yang menikah dengan putri Hayam Wuruk, Kusumawardhani. Kekuasaannya ditentang oleh Wirabhumi, putera Hayam Wuruk dari selir.
Tahun 1401-1406 pecah Perang Paregreg, yang dipimpin oleh Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Perang ini berakhir dengan dieksekusinya Wirabhumi.
Pada masa ini Majapahit mulai mengalami kemunduran. Pada akhir masa pemerintahan Wikramawardhana, praktis wilayah jajahan Majapahit pecah berantakan. Wilayah Majapahit terbatas hanya di Jawa, bahkan hanya Jawa Timur. Setelah menininggalnya Wikramawardhana.
tidak juga menutup kemungkinan masuknya agama Islam di Indonesia. Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan agama Islam, yaitu Kesultanan Malaka, mulai muncul di bagian barat nusantara.
Catatan sejarah dari China, Portugis, dan Italia mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus, penguasa dari Kesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M.