Gajah Mada V : Hamukti Moksa
Akhirnya tiba kita di penghujung perjalanan hidup Gajah Mada.
Setelah keputusan Panca Prabu (Lima orang berpengaruh di Istana Wilwatikta, Majapahit : Raja Hayam Wuruk, Ibu Suri Gitarja, Ibu Suri Dyah Wiyat, dan suami mereka Raden Kudamerta dan Rader Cakradara) bahwa Gajah Mada dipecat dari jabatan Mahapatih Majapahit, Gajah Mada memutuskan untuk menyepi di pendrikan (tanah wakaf dari raja yang dibebaskan dari pajak negara) di daerah Tongas, kaki gunung Bromo.
Dalam perjalanannya, Gajah Mada bertemu dengan kenyataan bahwa ada agama baru yang mulai masuk ke Majapahit yaitu agama para pedagang dari Barat, agama Islam. Dia bertemu dengan kampung islam di daerah Ujung Galuh, desa Galing (sekitar Surabaya sekarang). Gajah Mada mulai merasa bahwa Tripaksa, atau perjanjian damai antara Budha dan Hindu di Majapahit harus diperluas. Tetapi disimpannya itu dalam hati karena sekarang dia bukan Mahapatih.
Sementara rakyat sunda belum puas dengan permintaan maaf Majapahit atas insiden Bubat. Beberapa orang nekat membentuk kelompok dengan menyamar sebagai penari tayub dan pemusiknya, menuju majapahit untuk menuntut balas dengan cara membunuh Patih Gajah Mada atau Raja Hayam Wuruk. Sialnya, anak dari sahabat Gajah Mada, yaitu Kanuruhan (Menteri Senior) Gajah Enggon yang bernama Gajah Segara (berpangkat perwira / Lurah Prajurit) jatuh cinta pada sang penari tayub yang sebenarnya adalah pembunuh bayaran tersebut.
Sementara Gajah Mada menyepi, Majapahit mengalami goncangan karena banyak raja-raja bawahan yang mulai memberontak dan menolak membayar upeti serta menolak hadir dalam sidang akbar (pasewakan agung) tahunan. Akhirnya dengan meminta dukungan para agamawan, termasuk mpu Prapanca, Kanuruhan Gajah Enggon mengajukan petisi agar Gajah Mada dipulihkan kembali sebagai Mahapatih untuk menetralkan pemberontakan.
Alkisah, 2 tahun setelah dikucilkan, akhirnya Raja Hayam Wuruk mengampuni Gajah Mada, dan mengangkatnya kembali menjadi Mahapatih. Hayam Wuruk sendiri memerintahkan penjemputan, dan ikut dalam prosesi menjemput pulang sang Mahapatih. Tetapi dalam pertemuan yang membawa semangat bagi rakyat Majapahit lagi, ada kejadian tidak menyenangkan yang membuat kesedihan merusak pertemuan penuh kegembiraan itu.
Penulis telah menyelesaikan kisah Gajah Mada dengan indah, sayang LKH tetap tidak dapat menemukan sumber tentang asal muasal Gajah Mada (ada yang bilang dari Jawa Timur, ada yang bilang dari Bali, ada yang bilang dari Palembang) dan tentang kematiannya (ada yang bilang mati tenggelam, ada yang bilang kena stroke, ada yang bilang menghilang
