@OYM : Bravo, Bro.... I'm honoured to have you in our brotherhood... Those are what a gentleman has to do... my regards to your family... especially to your pretty little daughter.... (we both have one... mine is almost 5 y.o now, how old are yours?)
@OYes.. : My condolences to you, Bro... May they rest in peace by HIS side now and forever...

But I believe... your late wife & daughter must be very very proud of you.... as We do so...
@thread starter: Thanx, Bro... topic ini sangat bagus... semoga bisa menjadi masukan berharga bagi Bro (& Sis) yg lain di
BLueFaMe
Memang ada banyak pendapat ttg hal ini... tapi bagi saya hal ini sebetulnya adalah hal yg sangat bisa dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Terutama mengenai kesiapan mental (psikologis) sang suami...
Saya adalah salah satu yg sangat meyakini bahwa kehadiran suami yg mendampingi istri saat melahirkan akan sangat-sangat berarti dalam membantu kelancaran proses kelahiran... Hal ini saya alami sendiri...
Pada saat kehamilan putri pertama kami, dari awal saya mencoba untuk selalu mendampingi istri. Hal ini bukan saja karena sosok perempuan sbg kaum ibu saya yg punya tempat terhormat di hati saya, tapi juga karena besarnya rasa ingin menanamkan kedekatan antara ayah dan anak (I might not have enough time to walk with my child in this life... for I have been living with very high risk on my job, then)
Pada masa awal kehamilan, banyak hal yg menciutkan hati kami... 3 dari 4 dokter kandungan sempat menyarankan aborsi kepada istri saya karena meyakini bahwa janin dalam kandungannya sangat lemah, tidak melekat kuat. Untunglah akhirnya ada 1 dokter kandungan, yg kebetulan juga perempuan yg men-support kami bahwa kandungan tersebut masih dapat diperjuangkan walaupun kami harus sangat extra hati-hati dan harus bekerja keras dgn mengikuti banyak rangkaian kegiatan terapi dan berbagai tes-tes kehamilan. Alhamdulillah akhirnya kandungan tersebut dapat bertahan dan tumbuh dengan baik hingga menjelang saat kelahirannya. (terimakasih Bu Dokter...

)
Pada bulan terakhir kehamilan (3 minggu sebelum lahir), ternyata diketahui bahwa posisi janin adalah sungsang, saat itu dokter menganjurkan agar kelahiran dilakukan dengan operasi sj, tapi istri saya berkeras ingin melahirkan secara normal. menghormati keinginannya yg begitu kuat, maka kamipun mengikuti beberapa treatmen untuk mengembalikan janin bayi kami ke posisi normal. 1 minggu kemudian posisi bayi kami sudah kembali normal, namun ternyata hanya sementara, karena 3 hari kemudian posisinya kembali sungsang. Ada hal yg menarik bahwa sekalipun kami lalu kembali melakukan treatmen untuk mengembalikan posisi bayi supaya normal, ternyata beberapa hari kemudian sang bayi selalu kembali sungsang. hal ini terjadi sampai 3 kali, akhirnya saya mencoba menanamkan keyakinan kepada sang ibu bahwa barangkali memang sanak kami harus lahir ke dunia ini dalam keadaan sungsang. maka kamipun mulai melakukan persiapan-persiapan untuk proses kelahiran dalam kondisi tersebut. Setelah berkonsultasi dgn berbagai pihak, maka kami putuskan untuk melahirkan di sebuah RSB bersalin yg dikenal punya reputasi sangat bagus di Rawamangun, hal ini dilakukan karena seandainya kemudian persalinan normal mengalami hambatan, maka Dokter akan dapat segera melakukan operasi demi keselamatan Ibu dan bayinya.
Namun kembali suatu peristiwa menarik terjadi. Lima hari sebelum tanggal yg telah ditentukan bagi si Ibu dan bayinya untuk mulai masuk perawatan di RSB tsb, mendadak sejak jam 12 malam istri mengalami kontraksi yg berkelanjutan, semakin lama semakin sering, bahkan seakan-akan tidak diijinkan untuk turun dari tempat tidur, setiap kali istri saya mencoba bangun, tiba-tiba saja kontraksinya terasa sangat kuat. anehnya apabila posisi istri masih ada di tempat tidur, maka kontraksinya berhenti sendiri. Akhirnya saya berkeyakinan bahwa bayi kami tidak mau Ibunya turun dari tempat tidur. Walaupun agak di luar akal sehat, lalu saya mencoba mengajak bicara bayi kami yg masih dalam kandungan. Saya katakan agar jangan rewel, kalau memang tidak ingin Ibunya turun dari tempat tidur, dan supaya kontraksinya tidak terlalu mengganggu agar Ibunya bisa sedikit istirahat. Alhamdulillah, bayi kami setuju... dan dia kembali tenang dalam kandungan Ibunya. Setelah Subuh, saat kami sudah bangun dan sedang membahas kejadian tadi malam, tiba-tiba kontraksi kembali terjadi bahkan intensitasnya agak tinggi. Saya berinisiatif untuk membawa istri saya ke klinik kebidanan yg kebetulan ada di sekitar rumah kami, sekedar pemeriksaan awal, sebelum kami ke rumah sakit. Alangkah terkejutnya kami ketika Bidan mengatakan bahwa istri saya sudah mengalami pembukaan 6, yang berarti bayi kami sudah akan segera lahir dalam hitungan 30 menit ke depan... Sudah tidak akan sempat lagi untuk membawa ke Rumah Sakit... akhirnya kami putuskan untuk melahirkan di Klinik itu saja.
Dengan kondisi janin yg masih sungsang dan agak melintang, bidan tsb mengakui agak kesulitan mengatasinya, sehingga menawarkan untuk meminta bantuan Bidan lainnya guna membantu persalinan. Demikianlah akhirnya 2 orang Bidan (yg belakangan baru saya tahu bahwa keduanya pernah menjadi Bidan Teladan se DKI) menangani persalinan tersebut. Pada saat itu satu-satunya hal yg saya tahu adalah istri saya akan mengalami keaadaan yg sangat kritis, bukan saja karena ini adalah prses kelahiran pertama, tapi juga karena kondisi janin yg tidak normal. Saya terus mengajaknya berdoa dan menanamkan bahwa tugasnya sekarang adalah berjuang mengantarkan anak-nya ke gerbang kelahiran. Maka dia harus yajin bahwa dia mampu, bahwa dia kuat untuk melakukan itu... saya berusaha agar dia tidak memikirkan hal lain, atau merasa cemas tentang rasa sakitnya. setengah bergurau saya berkata bahwa kalau tidak tahan merasa sakit, dia boleh menggigit tangan saya atau bagian manapun dari tubuh saya sekuat-kuatnya. saat itu istri saya hanya tersenyum kecil sambil mengusap pipi saya dan berkata, dia tidak ingin anaknya punya ayah yg cacat karena jari atau tanganny ada yg putus... (God... I still remember every single detail of that moment...)
kemudian ketika semua persiapan sudah selesai dilakukan, maka kedua Bidan bertanya apakah sang Ibu sudah siap untuk memulai persalinannya. Saya mengajak istri saya untuk membaca Al-Fatihah, ber-tahmid, bertasbih dan istighfar... lalu lami persilahkan kepad Ibu2 Bidan untuk mulai. Saya sempat mengatakan kepada istri saya bahwa saya sangat bersyukur mendapat istri sebaik dia, dan bahwa saya sangat bangga atas apa yg selama ini dia lakukan, serta berharap masih diberi kesempatan untuk membahagiakannya ( I owe her that for the rest of my life...)
Akhirnya persalinan pun berlangsung... sama seperti yg Bro OYM dan Bro Oyes... ceritakan, begitulah berat dan dahsyatnya perjuangan seorang Ibu dalam melahirkan anaknya.... (@All: jika di dunia ini kita hanya boleh punya satu kesempatan untuk memberikan penghargaan dan penghormatan, maka please... I BEG YOU.... janganlah ragu untuk memberikannya kepada Ibu kita... siapapun dia...apapun yg pernah dilakukannya kepada kita...please...

)
Kejadian menakjubkan lainnya terjadi dalam proses persalinan tsb, setelah beberapa saat berjuang mendorong bayinya ke pintu kelahiran, maka lahirlah bayi kami... didahului air ketuban yg cukup banyak (banyu kawah :jawa), maka kaki kanannya menendang keluar (good step...eh), lalu kaki kiri (Alhamdulillah...utuh & normal), lalu perutnya.... (Bidan sempat meminta istri untuk berhenti mengejan dulu, karena dikhawatirkan tangannya akan tersangkut di gua garba ibunya dan bisa patah kalau dipaksa dengan mengejan).... lalu yg mengagetkan adalah kedua tangannya terlipat rapi di atas dadanya, sehingga dapat keluar dengan sangat lancar (Subhanallah...), lalu segera kepalanya keluar.... lahirlah bayi kami.... bayi perempuan yg cantik (Alhamdulillah)... kulitnya agak membiru, mungkin karena agak lama di dalam air ketuban... tapi setelah salah satu Bidan menjungkirkan badannya, maka pecahlah tangis bayi kami dengan nyaringnya... suaranya yg merdu bagai menyapa kami semua... kami berdua (ayah & bundanya... sempat membalas salam anak kami... Wa'alaikum salam wa rahmatullah wa barakaatuh... setelah mengucapkan selamat atas kelahiran anaknya dgn selamat kepada istri saya dan mengecup kening dan matanya, maka saya meninggalkan istri saya karena harus menjalankan tugas saya atas anak saya, meng-adzani-nya dan mengajarkan ketauhidan pada kesempatan pertama kepada anak saya...
Setelah menerima anak saya yg seperti tertidur tenang setelah dibersihkan oleh perawat, maka saya mulai tugas saya... Menakjubkan bahwa saat saya menyapa anak saya dengan salam, dia menggerakkan kepalanya ke arah suara saya dan merengek pelan... dan selama saya membacakan syahadat dan shalawat (sesuai tuntunan agama saya... Islam), mulutnya tak henti bergerak-gerak walaupun tak bersuara... lalu setiap saya selesai membacakan kalimat-kalimat adzan, dia selalu tersenyum... (Subhanallah... Allahu Akbar...) Saya ingat bahwa air mata saya tak berhenti mengalir kala itu... saya merasa sangat berbahagia, atas besarnya anugerah yg saya terima....
Sementara itu ada hal lain yg terjadi pada istri saya... ternyata persalinan belum selesai, karena ari-ari bayi kami belum keluar... maka kembali kedua Bidan membantu istri saya kembali "melahirkan" ari-ari tersebut... Betapa terkejutnya kami karena setelah mengejan cukup lama... maka "lahir"lah ari-ari tersebut yg ternyata besarnya hampir 2 kali besarnya bayi kami, dengan tali placenta yg sangat panjang walaupun tadinya sudah dipotong sebagian oleh Bidan (bagian yg sudah keluar pada saat bayi kami lahir, tersampir di pundak bayi kami bagaikan selendang). Dan yg lebih mengagetkan lagi, ternyata setelah ari-ari bayi kami tersebut keluar (dlm tadahan tangan salah satu Bidan) tiba-tiba keluar juga air yg banyak, sedemikian banyaknya hingga menggenangi lantai ruang bersalin dan membuat baju Bidan yg menadah-i (?) ari-ari bayi kami basah kuyub.... ternyata selain sungsang, bayi kami juga kembar air.... (Subhanallah...)
Sepulang dari Klinik tersebut, sementara bayi kami dan Ibunya beristirahat, maka saya pulang dengan membawa ari-ari bayi kami untuk dirawat dan dibersihkan.... sesuai tradisi dan tuntunan para tetua, saya cuci dan bersihkan ari-ari tersebut hingga tidak ada lagi noda bekas darah dan bau amis... setelah itu ari-ari tersebut saya tanam/kuburkan.... ada hikmah sangat besar yg ingin saya share di sini berjaitan dgn kegiatan membersihkan ari-ari tsb... Percaya atau tidak percaya, ternyata ketika saya membersihkan ari-ari bayi kami dgn telatem hingga benar2 bersih, yg sebetulnya setulusnya saya lakukan terdorong rasa cinta kasih dab rasa sayang seorang ayah kepada anaknya (juga jarena saya sangat excited...) ternyata berdampak positif, karena anak kami tersebut sangat memiliki kedekatan batin dengan ayahnya... saat dia rewel se-rewel-rewelnya karena agak sakit, maka hanya 3 menit dalam gendongan saya, dia akan kembali tertidur tenang... tak hanya itu... ada satu hal yg sempat membuat Ibunya menangis karena cemburu & sewot, karena sekalipun anak kami hampir sepanjang hari bersama ibunya, tapi kata pertama yg dikeluarkan saat dia bisa bicara adalah: .... AYAH !!! dan hal itu dilakukan sambil memegang pipi saya (Subhanallah...) kami terkejut tentang hal itu, karena lazimnya bayi akan berkata: Mama atau mamam atau hal yg mirip dgn itu... tapi anak saya tidak... dan kata-kata AYAH itu tidak asal dikeluarkan, setiap kali saya hampir sampai di rumah dari bepergian, maka sekalipun sosok saya sama sekali belum kelihatan, anak saya sudah berteriak...AYAH !!! sambil melihat ke suatu arah... dan beberapa saat kemudian dari arah pandangannya itulah saya muncul, sekalipun arah tersebut bukan arah darimana biasanya saya datang... (My Baby... I Miss U so..so..much...I Will always Love You... forever)
Demikianlah... mohon maaf klo kemudian saya berpanjang-panjang bercerita disini... entah kenapa, besar sekali dorongan hati untuk cur-hat disini... mungkin karena sudah hampir 4 tahun saya tidal bertemu dengan anak saya itu, yang bahkan kini saya tidak tahu dimana dan bagaimana keadaannya.... (...Semoga Allah melindungimu dan menjagamu selalu, anakku... maafkan ayah karena tidak bisa menjagamu sebagaimana seharusnya...) .........
(pengin nangis.....)
Karena suatu hal, berkenaan dgn resiko pekerjaan, maka dgn terpaksa saya berpisah dgn istri dan anak saya, hampir 4 tahun yg lalu... hal itu saya lakukan demi kebaikan, keselamatan dan ketenangan mereka... karena pada saat itu terlalu besar bahayanya bila mereka ada didekat saya, atau ketahuan sbg istri dan anak saya... setelah sempat mengantarkan istri dan anak saya ke rumah mertua, membelikan rumah sederhana dan perabotan sewajarnya di dekat rumah mertua... dan memberikan deposito atas nama istri saya yg saya anggap cukup untuk kebutuhan hidup mereka selama 3 th, maka saya memutuskan berpisah dn mereka... Sejujurnya saya harus katakan bahwa saya bukan penjahat, setidaknya bukan seperti penjahat yg melakukan kegiatan kriminal... tapi resiko pekerjaan saya saat itu mengharuskan saya untuk anonim dan truly lonesome untuk beberapa waktu... saya memang salah karena sebetulnya saya punya kesempatan untuk menghindar dari tugas tersebut... tapi satu alasan pribadi yg sebetulnya agak egois membuat saya mengambilnya... now everything is too late... I lost my family.... and I almost getting crazy & lost my insanity... until one day God led my way to a community that offering great love... bring me peace... and give me conciousness that my life is worthed... make me realize that life goes on no matter what or how... and most of all... I found a sincere friendship & solidarity.... from the bottom of my heart I Thankyou to
BlueFame and to all of
BlueFamers.... I Thank you all Bro n Sis....
(.
... teriring rindu tanpa batas buat MEMS, my sweet little daughter - Jewels of my heart....
dan Bunda, walau mungkin kini tak mungkin bagi kita untuk merajut hari-hari bahagia yg pernah kita miliki.... maafkan.....)