iansaja
Aug 4 2007, 11:08 AM
Mengungkapkan sejarah perjuangan Darul Islam di Indonesia, sama pentingnya dengan mengungkapkan kebenaran. Sebab perjalanan sejarah gerakan ini telah banyak dimanipulasi, bahkan berusaha ditutup-tutupi oleh penguasa. Rezim orde lama dan kemudian orde baru, mengalami sukses besar dalam membohongi serta menyesatkan kaum muslimin khususnya, dan bangsa Indonesia umumnya dalam memahami sejarah masa lalu negeri ini.
Selama ini kita telah tertipu membaca buku-buku sejarah serta berbagai publikasi sejarah perjuangan umat Islam diIndonesia. Sukses besar yang diperoleh dua rezim penguasa di Indonesia dalam mendistorsi sejarah Darul Islam, adalah munculnya trauma politik di kalangan umat Islam. Hampir seluruh kaum muslimin di negeri ini, memiliki semangat untuk memperjuangkan agamanya, bahkan seringkali terjadi hiruk pikuk di ruang diskusi maupun seminar untuk hal tersebut. Tetapi begitu tiba-tiba memasuki pembicaraan menyangkut perlunya mendirikan Negara Islam, kita akan menyaksikan segera setelah itu mereka akan menghindar dan bungkam seribu bahasa.
Di masa akhir-akhir ini, bahkan semakin banyak tokoh-tokoh Islam yang menampakkan ketakutannya terhadap persoalan Negara Islam. Mantan Ketua Umum PBNU, K.H. Abdurrahman Wahid misalnya, secara terus terang bahkan mengatakan : "Musuh utama saya adalah Islam kanan, yaitu mereka yang menghendaki Indonesia berdasarkan Islam dan menginginkan berlakunya syari'at Islam". (Republika, 22 September 1998, hal. 2 kolom 5). Selanjutnya ia katakan : "Kita akan menerapkan sekularisme, tanpa mengatakan hal itu sekularisme".
Salah satu partai berasas Islam yang lahir di era reformasi ini, malah tidak bisa menyembunyikan ketakutannya sekalipun dibungkus dalam retorika melalui slogan gagah: "Kita tidak memerlukan negara Islam. Yang penting adalah negara yang Islami". Bahkan, dalam suatu pidato politik, presiden partai tersebut mengatakan: "Bagi kita tidak masalah, apakah pemimpin itu muslim atau bukan, yang penting dia mampu mengaplikasikan nilai-nilai universal seperti kejujuran dan keadilan".
Demikian besar ketakutan kaum muslimin terhadap isu negara Islam, melebihi ketakutan orang-orang kafir dan sekuler, sampai-sampai mereka tidak menyadari bahwa segala isme (faham) atau pun Ideologi di dunia ini berjuang meraih kekuasaan untuk mendirikan negara berdasarkan isme atau ideologi yang dianutnya.
Selama 32 tahun berkuasanya rezim Soeharto, sosialisasi tentang Negara Islam Indonesia seakan terhenti. Oleh karena itu adanya bedah buku atau pun terbitnya buku-buku yang mengungkapkan manipulasi sejarah ini, merupakan perbuatan luhur dalam meluruskan distorsi sejarah yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari khazanah sejarah bangsa.
Sejak berdirinya Republik Indonesia, rakyat negeri umumnya, telah ditipu oleh penguasa, hingga saat sekarang. Umat Islam yang menduduki jumlah mayoritas telah disesatkan pemahaman sejarah perjuangan Islam itu sendiri. Sudah seharusnya, di masa reformasi ini, umat Islam menyadari bahwa di Indonesia pernah ada suatu gerakan anak bangsa yang berusaha membangun supremasi Islam, yaitu Negara Islam Indonesia yang berhasil diproklamasikan, 7 Agustus 1949, dan berhasil mempertahankan eksistensinya hingga 13 tahun lamanya (1949-1962). Namun rezim yang berkuasa telah memanipulasi sejarah tersebut dengan seenaknya, sehingga umat Islam sendiri tidak mengenal dengan jelas sejarah masa lalunya.
Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, adalah sebuah nama yang cukup problematis dan kontroversial di negara Indonesia, dari dulu hingga saat ini. Bahwa dia dikenal sebagai pemberontak, harus kita luruskan.Bukan saja demi membetulkan fakta sejarah yang keliru atau sengaja dikelirukan, tetapi juga supaya kezaliman sejarah tidak terus berlanjut terhadap seorang tokoh yang seharusnya dihormati.
Semasa Orla berkuasa (1947-1949) yang merupakan puncaknya perjuangan Negara Islam Indonesia, SM. Kartosuwiryo memang dikenal sebagai pemberontak. Tetapi fakta yang sebenarnya adalah, Kartosuwiryo sesungguhnya tokoh penyelamat bagi bangsa Indonesia, lebih dari apa yang dilakukan oleh Soekarno dan tokoh tokoh nasionalis lainnya. Pada waktu Soekarno bersama tentara Republik pindah ke Yogyakarta sebagai akibat dari perjanjian Renville, yang menyebutkan bahwa wilayah Indonesia hanya tinggal Yogya dan sekitamya saja, dan wilayah yang masih tersisa itu pun, dipersengketakan antara Belanda dan Indonesia, sehingga pada waktu itu nyaris Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Dan yang ada hanyalah negara-negara serikat, baik yang sudah terbentuk, atau pun yang masih dalam proses melengkapi syarat-syarat kenegaraan. Seperti Jawa Barat, ketika itu dianjurkan oleh Belanda supaya membentuk Negara Pasundan, namun belum terbentuk sama sekali, karena belum adanya kelengkapan kenegaraan.
Ketika segala peristiwa yang telah disebutkan di atas, menggelayuti atmosfir politik Nusantara, pada saat itu Indonesia dalam keadaan vacuum of power. Pada saat itulah, Soekarno memerintahkan semua pasukan untuk pindah ke Yogyakarta berdasarkan perjanjian Renville. Guna memberi legitimasi Islami, dan untuk rnenipu umat Islam Indonesia dalam memindahkan pasukan ke Yogya, Soekarno telah memanipuiasi terminologi al-Qur'an dengan menggunakan istilah "Hijrah" untuk menyebut pindahnya pasukan Republik, sehingga nampak Islami dan tidak terkesan melarikan diri. Namun S.M. Kartosuwiryo dengan pasukannya tidak mudah tertipu, dan menolak untuk pindah ke Yogya. Bahkan bersama pasukannya, ia berusaha mempertahankan wilayah jawa Barat, dan menamakan Soekarno dan pasukannya sebagai pasukan liar yang kabur dari medan perang.
Jauh sebelum kemerdekaan, yaitu pada tahun 1930-an, istilah"hijrah" sudah pernah diperkenalkan, dan dipergunakan.sebagai metode perjuangan modern yang brillian oleh S.M. Kartosuwiryo, berdasarkan tafsirnya terhadap sirah Nabawiyah. Ketika itu, pada tahun 1934 telah muncul dua metode perjuangan yaitu cooperatif dan non cooperatif. Metode non cooperatif, artinya tidak mau masuk ke dalam parlemen dan bekerja sama dengan pemerintah Belanda namun bersifat pasif, tidak berusaha menghadapi penguasa yang ada. Metode ini sebenamya dipengaruhi oleh politik SWADESI, politik Mahatma Gandhi dari India. Lalu muncullah S.M. Kartosuwiryo dengan metode Hijrah, sebuah metode yang berusaha membentuk komunitas sendiri, tanpa kerjasama dan aktif, berusaha untuk melawan kekuatan penjajah.
Akan tetapi, pada waktu itu, metode ini dikecam keras oleh Agus Salim, karena menganggap S.M. Kartosuwiryo menerapkan metode hijrah ini di dalam suatu masyarakat yang belum melek politik. Sehingga ia kemudian berusaha menanamkan politik dan metode hijrah itu kepada anggota PSII pada khususnya. Dengan harapan setelah memahami politik, mereka mau menggunakan metode ini, karena paham politik sangat penting. Namun, Agus Salim menolaknya, karena ia tidak setuju dengan politik tersebut. Menurutnya rakyat atau anggota partai hanyalah boleh mengetahui masalah mekanisme organisasi tanpa mengetahui konstelasi politik yang sedang berlangsung, dan hanya elit pemimpin saja yang boleh mengetahui. Sedangkan "hijrah" adalah berusaha menarik diri dari perdebatan politik, kemudian berusaha membentuk barisan tersendiri dan berusaha dengan kekuatansendiri untuk mengantisipasi sistem perjuangan yang tidak cukup progresif dan tidak Islami. Faktor inilah yang menjadi awal perpecahan PSII, yaitu melahirkan PSII Hijrah yang memakai metode hijrah dan PSII Penyadar yang dipimpin Agus Salim.
Walaupun metode Hijrah, bagi sebagian tokoh politik saat itu, terlihat mustahil untuk digunakan sebagai metode perjuangan, namun ternyata dapat berjalan efektif pada tahun 1949 dengan terbentuknya Negara Islam Indonesia yang diproklamasikan dibawah bendera Bismillahirrahmaniirrahim. Sehingga pantaslah, jika kita tidak memperhatikan rangkaian sejarah sebelumnya secara seksama, memunculkan anggapan bahwa berdirinya Negara Islam Indonesia berarti adanya negara di dalam negara, karena Proklamasi RI pada tahun 1945 telah lebih dahulu dilakukan.
Namun sebenamya jika kita memahami sejarah secara benar dan adil, maka kedudukan Negara Islam Indonesia dan RI adalah negara dengan negara. Karena negara RI hanya tinggal wilayah Yogyakarta waktu itu, sementara Negara Islam Indonesia berada di Jawa Barat dan mengalami ekspansi (pemekaran) wilayah. Daerah Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Aceh mendukung berdirinya Negara Islam Indonesia. Dan dukungan itu bukan hanya berupa pernyataan atau retorika belaka, tapi ikut bergabung secara revolusional. Barangkakali benar, bahwa Negara Islam Indonesia adalah satu-satunya gerakan rakyat yang disambut demikian meriah di beberapa daerah di indonesia.
Melihat sambutan yang gemilang hangat dari saudara muslim lainnya, maka rezim Soekarno berusaha untuk menghambat tegaknya Negara Islam Indonesia bersama A.H. Nasuion, seorang tokoh militer beragama Islam yang dibanggakan hingga sekarang, tetapi ternyata mempumyai kontribusi yang negatif dalam perkembangan Negara Islam Indonesia. Dia bersama Soekarno berusaha menutupi segala hal yang memungkinkan S.M. Kartosuwiryo dan Negara lslam Indonesia kembali terangkat dalam masyarakat, seperti penyembunyian tempat eksekusi dan makam mujahid Islam tersebut.
Nampaklah sekarang bahwa sebenarnya penguasa Orla dan Orba, telah melakukan kejahatan politik dan sejarah sekaligus, yang dosanya sangat besar yang rasanya sulit untuk dimaafkan. Mungkin bisa diumpamakan, hampir sama dengan dosa syirik dalam pengertian agama, yang merupakan dosa terbesar dalam Islam. Karena perilaku politik yang mereka pertontonkan, telah menyesatkan masyarakat dalam memahami sejarah perjuangan Islam di Indonesia dengan sebenarnya. Berbagai rekayasa politik untuk memanipulasi sejarah telah dilakukan sampai hal yang sekecil-kecilnya mengenai perjuangan serta pribadi S.M. Kartosuwiryo. Seperti pengubahan data keluarganya, tanggal dan tahun lahirnya. Semua itu ditujukan agar SMK dan Negara Islam Indonesia jauh dari ingatan masyarakat.
Sekalipun demikian, S.M. Kartosuwiryo tidak berusaha membalas tindakan dzalim pemerintah RI. Pernah suatu ketika Mahkamah Agung (Mahadper) menawarkan untuk mengajukan permohonan grasi (pengampunan) kepada presiden Soekarno, supaya hukuman mati yang telah dijatuhkan kepadanya dibatalkan, namun dengan sikap ksatria ia menjawab," Saya tidak akan pernah meminta ampun kepada manusia yang bernama Soekarno".
Kenyataan ini pun telah dimanipulasi. Menurut Holk H. Dengel dalam bukunya berbahasa Jerman, dan dalam terjemahan Indonesia berjudul: "Darul Islam dan Kartosuwiryo, Angan-angan yang gagal", mengakui bahwa telah terjadi manipulasi data sejarah berkenaan dengan sikap Kartosuwiryo menghadapi tawaran grasi tersebut. Tokoh sekaliber Kartosuwiryo tidak mungkin minta maaf, namun ketika kita baca dalam terjemahannya yang diterbitkan oleh Sinar Harapan telah diubah sebaliknya, bahwa Kartosuwiryo meminta ampun kepada Soekamo, dan kita tahu Sinar Harapan adalah bagian dari kekuatan Kristen yang bahu -membahu dengan penguasa sekuler dalam mendistorsi sejarah Islam.
Dalam majalah Tempo 1983, pernah dimuat kisah seorang petugas eksekusi S.M. Kartosuwiryo, yang menggambarkan sikap ketidak pedulian Kartosuwiryo atas keputusan yang ditetapkan Mahadper RI kepadanya. Ia mengatakan bahwa 3 hari sebelum hukuman mati dilaksanakan, Kartosuwiryo tertidur nyenyak, padahal petugas eksekusinya tidak bisa tidur sejak 3 hari sebelum pelaksanaan hukuman mati. Dari sinilah akhimya diketahui kemudian dimana pusara Kartosuwiryo berada, yaitu di pulau Seribu.
Usaha untuk mengungkapkan manipulasi sejarah adalah sangat berat. Satu di antara fakta sejarah yang dimanipulasi, adalah untuk mengungkap kebenaran tuduhan teks proklamasi dan UUD Negara Islam Indonesia adalah jiplakan dari proklamasi Soekarno-Hatta. Yang sebenamya terjadi justru kebalikannya. Ketika Hiroshima dan Nagasaki di bom (6 - 9 Mei 1945) S.M. Kartosuwiryo sudah tahu melalui berita radio, sehingga ia berusaha memanfaatkan peluang ini untuk sosialisasi proklamasi Negara Islam Indonesia. Ia datang ke Jakarta bersama pasukan Hisbullah dan mengumpulkan massa guna mensosialisasikan kemungkinan berdirinya Negara Islam Indonesia, dan rancangan konsep proklamasi Negara Islam lndonesia kepada masyarakat. Sebagai seorang tokoh nasional yang pernah ditawari sebagai menteri pertahanan muda yang kemudian ditolaknya, melakukan hal ini tentu bukan perkara sulit. Salah satu di antara massa yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Sukarni dan Ahmad Subarjo.
Mengetahui banyaknya dukungan terhadap sosialisasi ini, mereka menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok agar mempercepat proklamasi RI sehingga Negara Islam Indonesia tidak jadi tegak. Bahkan dalam bukunya, Holk H. Dengel menyebutkan tanggal 14 Agustus 1945 Negara Islam Indonesia telah di proklamirkan, tetapi yang sebenarnya baru sosialisasi saja. Ketika di Rengasdengklok Soekamo menanyakan kepada Ahmad Soebardjo, sebagaimana ditulis Mr. Ahmad Soebardjo dalam bukunya "Lahirnya Republik Indonesia".
Pertanyaan Soekarno itu adalah: "Masih ingatkah saudara, teks dari bab Pembukaan Undang-Undang Dasar kita?"
"Ya saya ingat, saya menjawab,"Tetapi tidak lengkap seluruhnya".
"Tidak mengapa," Soekarno bilang, "Kita hanya memerlukan kalimat-kalimat yang menyangkut Proklamasi dan bukan seluruh teksnya".
Soekarno kemudian mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuai dengan apa yang saya ucapkan sebagai berikut : "Kami rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan".
Jika kesaksian Ahmad Soebardjo ini benar, jelas tidak masuk akal, karena kita tahu bahwa UUD 1945 baru disahkan dan disetujui tanggal 18 Agustus 1945 setelah proklamasi. Sehingga pertanyaan yang benar semestinya adalah, "Masih ingatkah saudara akan sosialisasi proklamasi Negara Islam Indonesia?" Maka wajarlah jika naskah Proklamasi RI yang asli terdapat banyak coretan. Jelaslah bahwa ternyata Soekarno-Hatta yang menjiplak konsep naskah proklamasi Negara Islam Indonesia, dan bukan sebaliknya. Memang sedikit sejarawan yang mengetahui mengenai kebenaran sejarah ini. Di antara yang sedikit itu adalah Ahmad Mansyur Suryanegara, beliau pernah mengatakan bahwa S.M. Kartosuwiryo pernah datang ke Jakarta pada awal Agustus 1945 bersama pasukan Hizbullah dan Sabilillah.
"Sebenarnya, sebelum hari-hari menjelang proklamasi RI tanggal 17 Agustus 1945, Kartosuwiryo telah lebih dahulu menebar aroma deklarasi kemerdekaan Islam, ketika kedatangannya pada awal bulan Agustus setelah mengetahui bahwa perseteruan antara Jepang dan Amerika memuncak dan menjadi bumerang bagi Jepang. Ia datang ke Jakarta bersama dengan beberapa orang pasukan laskar Hisbullah, dan segera bertemu dengan beberapa elit pergerakan atau kaum nasionalis untuk memperbincangkan peluang yang mesti diambil guna mengakhiri dan sekaligus mengubah determinisme sejarah rakyat Indonesia. Untuk memahami mengapa pada tanggal 16 Agustus pagi Hatta dan Soekamo tidak dapat ditemukan di Jakarta, kiranya Historical enquiry berikut ini perlu diajukan: Mengapa Soekarno dan Hatta mesti menghindar begitu jauh ke Rengasdengklok padahal Jepang memang sangat menyetujui persiapan kemerdekaan Indonesia? Mengapa ketika Soebardjo ditanya Soekarno, apakah kamu ingat pembukaan Piagam Jakarta? Mengapa jawaban yang diberikan dimulai dengan kami bangsa Indonesia ...? Bukankah itu sesungguhnya adalah rancangan Proklamasi yang sudah dipersiapkan Kartosuwiryo pada tanggal 13 dan 14 Agustus 1945 kepada mereka? Pada malam harinya mereka telah dibawa oleh para pemimpin pemuda, yaitu Soekarni dan Ahmad Soebardjo, ke garnisun PETA di Rengasdengklok, sebuah kota kecil yang terletak di sebelah barat kota Karawang, dengan dalih melindungi mereka bilamana meletus suatu pemberontakan PETA dan HEIHO. Ternyata tidak terjadi suatu pemberontakan pun, sehingga Soekamo dan Hatta segera menyadari bahwa kejadian ini merupakan suatu usaha memaksa mereka supaya menyatakan kemerdekaan di luar rencana pihak Jepang, tujuan ini mereka tolak. Laksamana Maida mengirim kabar bahwa jika mereka dikembalikan dengan selamat maka dia dapat mengatur agar pihak Jepang tidak menghiraukan bilamana kemerdekaan dicanangkan. Mereka mempersiapkan naskah proklamasi hanya berdasarkan ingatan tentang konsep proklamasi Islam yang dipersiapkan SM. Kartosuwiryo pada awal bulan Agustus 1945. Maka, seingat Soekarni dan Ahmad Soebardjo, naskah itu didasarkan pada bayang-bayang konsep proklamasi dari S.M. Kartosuwiryo, bukan pada konsep pembukaan UUD 1945 yang dibuat oleh BPUPKI atau PPKI." (Al Chaidar, Pengantar Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S.M. Kartosoewirjo, hal. 65, Pen. Darul Falah, Jakarta).
Demikianlah, berbagai manipulasi sejarah yang ditimpakan kepada Darul Islam dan pemimpinnya, sedikit demi sedikit mulai tersibak, sehingga dengan ini diharapkan dapat membuka cakrawala berfikir dan membangun kesadaran historis para pembaca. Lebih dari itu, upaya mengungkap manipulasi sejarah Negara Islam Indonesia yang dilakukan semasa orla dan orba oleh para sejarawan merupakan suatu keberanian yang patut didukung, supaya pembaca mendapatkan informasi yang berimbang dari apa yang selama ini berkembang luas.
Kami bersyukur kepada Allah Malikurrahman atas antusiame generasi muda Islam dalam menerima informasi yang benar dan obyektif mengenai sejarah perjuangan menegakkan Negara Islam dan berlakunya syari'at Islam di negeri ini. Semoga Allah memberi hidayah dan kekuatan kepada kita semua, sehingga perjuangan menjadikan hukum Allah sebagai satu-satunya sumber dari segala sumber hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara segera terwujud di Indonesia yang, menurut sensus adalah negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Amin, Ya Arhamar Rahimin !
________________________________________
From: "Farouk Alwany" <falwany@isdb.org.sa>
Date: Wed, 5 Apr 2000 10:54:19 +0300
Heil Cяew
Aug 4 2007, 12:01 PM
Coba TS nya kasih pendapat dong... jangan cuma copy paste tulisan orang aje..

jadi kesimpulannya apa nih?

Kalo dari gw yee.. mau Darul Islam itu bener atau salah saat itu tetep aja
Indonesia selamanya tidak boleh menjadi negara Islam!Kita hidup dalam komunitas masyarakat plural bro..
Udah deh buang jauh2 mimpi tentang membangun Negara Islam Indonesia... basi tau ngga..

Lebih eneg lagi sama partai yang mengusung simbol2 keagamaan ternyata di kemudian hari terbukti korupsi, kolusi, nepotisme... mau dikemanain itu agama?
Cukup deh agama itu buat hak pribadi personal rakyat, ga perlu deh agama apapun masuk dalam sistem pemerintahan.. kalau perlu hapuskan Departemen Agama <<< ini lahan korupsi gila2an soalnya..
Apalagi kalo agama jadi ideologi halah... cabe deh..

Sorry.. sekedar brainstorming aja dari gw nih..
situ_ok?
Aug 6 2007, 08:56 AM
hmm..
indonesia mau jadi negara islam?
bukannya ini adalah hanya egosentris beberapa orang saja?
1. kalo indonesia mau jadi negara islam berarti dasar negaranya bukan pancasila lagi (sila ke 1 KETUHANAN YANG MAHA ESA)
2. kemarin pas mau ganti UU mengenai apa gw lupa (semua tempat umum seperti sekolah, bank, dll harus memiliki mushola dll kalo gak salah bunyinya gitu) itu aja di demo bahkan ada yang ngancam mau melepaskan diri dari NKRI apalagi kalo indonesia jadi negara islam
3. terus apa gunanya ada pelajaran PPKN dan agama saling menghormati antar umat beragama? yang gw lihat di wacana diatas hanyalah sebuah aroganisme dan fanatisme sempit, kalo cuma mau seperti itu mah semua orang juga bisa (kata orang jawa "okeh tunggale")
4. apakah kita sudah menghargai mereka yang berjuang demi menjadikan negara indonesia ini bersatu dan gugur menumpas DI TII dulu, kalo sekarang DI TII dianggap benar buat apa dulu diberantas? ato kalo dibalik kalo DI TII dulu diberantas kenapa orang2 yang mendukung DI sekarang (meskipun tidak secara langsung) tidak?
5. hal itu cuma di mulut gombal saja dan susah menjadi kenyataan, kalopun akan jadi kenyataan prediksi gw nanti bakalan ada kerusuhan besar2an seperti pas soeharto turun dulu (bisa lebih besar malah) soalnya soeharto ini ganti presiden sedangkan hal ini bisa ganti dasar negara dan secara LUGAS = MENGKHIANATI PANCASILA dan tidak menghargai PENDIRI NEGARA INI dan pengkhianatan terhadap pancasila adalah DOSA TERBESAR KEPADA NEGARA INDONESIA maka harus di

6. menurut saya islam adalah agama yang "damai" dan "tidak egois" tapi wacana di atas hanya mencerminkan KEEGOISAN, GOLONGANISME, dan berpikiran sempit sama sekali tidak ada sifat2 islami disana
sori kalo ada yang tersinggung tapi gw tetap pada pendirian seperti temen2 yang lainnya
"Indonesia selamanya tidak boleh menjadi negara Islam!"
enclaim
Aug 6 2007, 09:52 AM
tunggu @tS kasih tanggapan dulu ah.........
ntar abru koment.. kalo cuman baru kopi paste ntar dulu....
@situ_ok
2. kemarin pas mau ganti UU mengenai apa gw lupa (semua tempat umum seperti sekolah, bank, dll harus memiliki mushola dll kalo gak salah bunyinya gitu) itu aja di demo bahkan ada yang ngancam mau melepaskan diri dari NKRI apalagi kalo indonesia jadi negara islam
ORANG YG PICIK itu kalo masalah ada MUSHOLA ato kagak udah mau MELEPASKAN DIRI DR NKRI.... !!! sama ajah menghalangi kebebasan beragama dong. emang mo lepas dr NKRI gara2 MUSHOLA.. kalo ane jd PRESIDEN udah gue USIR itu DIREKTUR ama MANAGEMENTNYe.... picik amat pendapatnye,,, .... apa susahnya sih bikin MUSHOLA.. orang cuman butuh kamar kecil ajah... itu kan bukan MESJID...
fuRy
Aug 18 2007, 04:31 AM
Menurut saya nih, klo semua rakyat dengan suara bulat menyetujui untuk jadi negara agama, ya silahkan aja.
Masalahnya, untuk masyarakat Indonesia saat ini, hal itu kan tidak mungkin terjadi.
Jadi, ya jangan lah itu dipaksakan.
Yang penting, perbaiki moralnya ajah. Ga perlu harus berdasarkan salah satu agama.
Saya rasa semua agama mengajarkan dan menginginkan moral yang baik kok.
situ_ok?
Aug 20 2007, 12:55 PM
@crew
sori bro
bukan masalah nyerah atau nggak
gw cuma nggak mau debat jadi forum pertengkaran
just it jadi mending gw out, gampang kan

tentang urusan "agama bukanlah alat pemersatu" gw sih setuju2 aja
tapi soal:
2. kemarin pas mau ganti UU mengenai apa gw lupa (semua tempat umum seperti sekolah, bank, dll harus memiliki mushola dll kalo gak salah bunyinya gitu) itu aja di demo bahkan ada yang ngancam mau melepaskan diri dari NKRI apalagi kalo indonesia jadi negara islam
itu gw cuma membagikan apa yang gw dengar waktu itu saja
dan gw gak inget pasti, jadi sampe gw inget pasti kisahnya waktu itu gw ngobrolin tentang itu di warung kopi aja sama temen2 gw
lagian apapun kata orang tentang gw itu kan cuma kata orang meskipun mau dibilang gw pengecut ato gak bisa debat ato kalo debat kacangan... yah yang penting gw males cari ribut aja
ridwanx
Sep 8 2009, 06:02 AM
@all... kok semua hampir berantem yah... memang sejarah tentang DI/TII ini berbau kontroversial. sampe2 tanggapan
anggota yg banyak saling tuding.@situ_ok, maksud ente amandemen UUD 45 pasal 29 ato SKB 2 menteri ttg pendirian
tempat ibadah tahun 2007? banyak yg salah kaprah ttg penerapan SKB 2 menteri (menag dn mendagri) mengakibatkan
148 tempat ibadah (termasuk pura dan klenteng) ditutup paksa oleh pemda setmpat di seluruh Indonesia. masakan tempat
ibadah yg udah puluhan tahun berdiri dan diresmikan pjabat era ORBA bisa dibubarin paksa? mau dikemanain kebebasan beragama di negara ini?@situ_ok lupa fakta yg dimaksud tapi aq bisa menangkap maksudnya.
perlu @all ketahui motivasi rakyat timor leste pengen merdeka karena muaknya program "rahasia" pemerintah melakukan sosialisasi SDSB dan islamisasi disana. belum lagi program militer yg jadiin Timtim sebagai DOM kedua sesudah aceh.
@TS, jgn banggain tuh syari'at Islam sebagai alat pemersatu bangsa.
aq kasih bocoran ya.
sebelum Indonesia merdeka, wilayah ini waktu masih jaman kolonial jepang terbagi 2 komando besar. wilayah barat Indonesia dibawah komando DIVISI angkatan darat jepang sedangkan wilayah timur dibawah komando divisi gabungan angkatan laut dan udara jepang.
sesaat setelah penyampaian proklamasi 17 agustus 1945, tgl 18 adalah hari penyusunan dasar negara Pancasila dan UUD. tentu dalam pembahasan dasar negara ini hadir semua tokoh penting
Ir. SOEKARNO,Drs. Mohammad Hatta,Mr. A.A Maramis,Abikusno Tjokrosujoso,Abdul Kahar Muzakir,H.A. Salim,Mr. Achmad Subardjo,Wachid Hasjim,
Mr. Muhammad Yamin, tapi pada saat final penyampaian rumusan Pancasila, Laksamana Maeda sebagai anggota panitia BPUPKI mengajukan keberatan mengenai bunyi sila pertama dari pancasila yg awalnya sudah selesai tanggal 22 juni 1945 sbb:
1. a) Ke-Tuhanan Yang Maha Esa, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya,
kata beliau (Laks. Maeda) bila ini diloloskan maka komando divisi AL dan AU jepang mengkhawatirkan akan terjadi pertumpahan darah dan upaya pemisahan diri dari NKRI dari wilayah Timur Indonesia karena mereka menolak point itu.
ini menjadi sangat dilematis bila diloloskan maka Indonesia akan kehilangan separuh wilayah yg dulu dijajah Belanda. bila tidak maka akan mungkin terjadi hilangnya dukungan gerakan2 ormas Islam dalam mempertahankan Kemerdekaan RI yg berujung pada pemberontakan2 didaerah.
org jaman sekarang lupa bahwa dahulu leluhur kita yg tewas berjuang mempertahankan kemerdekaan bukan atas dasar motivasi agama melainkan cita-cita mulia untuk mempertahankan kemerdekaan demi anak cucu kita tanpa menyinggungkan masalah background masing2 individu pejuang.
aangxxx
Oct 15 2009, 09:10 AM
bagi saya pribadi, gak masalah mau negara Islam atau bukan. Selama rakyat menghendakinya tidak masalah. salah satu cara paling adil adalah demokrasi dalam menentukan bentuk negara melalui pemilu.
jadi bagi mereka yg menghendaki tujuan tersebut ya harus menerima fakta tsb demikian juga kelak apabila berlaku sebaliknya.
hanya faktanya saat ini kekuatan yg menginginkan negara Islam di negeri ini semakin mengecil (bedasarkan data pemilu pemilih partai Islam).
artinya idealisme negara Islam belum diterima atu tidak disosialisasikan dengan baik atau para pemimpinya kurang dapat memikat hati sebagian besar rakyat Indonesia.
saya juga tidak setuju SKB tiga menteri ttg rumah ibadah, karena jelas jelas menghianati UUD 45 kita (padahala inilah konstitusi negara ini), kenapa ?
bagaimana mungkin sekumpulan orang yg hendak menjalankan kegiatan ibadah agamanya TERGANTUNG oleh umat agama lain, saya yakin SEMUA AGAMA menolak ini, hanya pemimpin2 yg berpikiran politis saja yg menganggap ini perlu.
mau dibangun 1000 gereja di aceh, 1000 mesjid di Bali, 1000 pura di manado ya silakan asal tanahnya gak ngerampas, atau tanah sengketa
robbyyangganteng
Oct 17 2009, 10:58 AM
whaw thread lama bersemi kembali. jika tidak terlarang saya mo nimbrung OOT.
1. tidak ada negara islam dewasa ini yang benar2 islam sesuai dengan definisinya. contoh yang paling naas adalah mesir yang tidak tergerak nolong palestina ketika (lagi2) diagresi israel. lalu posisi masjidil haram yang dikepung franchise hotel dan makanan dari barat
2. waduh taliban jangan disebut penjahat dunks. taliban masih bisa dipandang sebagai 'pejuang daerahnya' yang berusaha mengusir 'penjajah' dari negerinya.
3. ya departmen agama adalah departemen yang terkorup. sebuah hal ironi yang sangat memalukan. tapi maap, menurut saya, urusan beragama mesti ditengahi juga oleh negara. (kalo urusan haji sih kasih swasta aja)sebagai pemersatu.agar tidak ada klaim kebenaran sepihak dari pihak tertentu. misalnya disatu sisi, mencegah penyimpangan agar tidak tumbuh radikalisasi, disisi lain juga mencegah diskriminasi seperti usaha menyortir kurikulum pesantrean-sebagai reaksi sepihak dari aksi pengeboman diindonesia akhir2 ini.
demikian,maap jika tidak berkenan.
begudul
Oct 19 2009, 12:05 AM
nyumbang opini ya,udah deh ga ush ribut,,,mo agama lo a,b,c,d,e tau apa lh ampi Z klo ad.gw tau dari be2rp agama mngkin semuanya,kita th di larang untuk menyakiti sesama manusia harus slng tolong menolong.dan gw tekankan dsni ya yg namnya pndpt itu psti berbda2.mang ad ajaran agama harus salng membnh satu sama lain???udah deh kita yg masih hidup
1.toleransi dan perdamayan yang ada di benak kita(untk menyikapi prbedaan pndapt yg dianugrahkan kpd kita)
2.udah deh ga ush saling menyalahkan,sekarng mndngn kita saling bergtng royng
3.belajar jangan pantang menyerah supaya jadi negara maju yg bisa membuat rakyatnya makmur,aman,damai,dan tentram
4.gw sadar banyak orng indonesia yg pinter tetapi kita belum bisa menghargai mera semua
hargailah apapun yang telh di perbuat oleh saudara kita yang berguna buat kita semua INDONESIA
vieri
Oct 31 2009, 12:08 PM
Agama sebagai ideologi suatu bangsa, kenapa gak?? Kita samakan persepsi dulu, yang seringkali terjadi adalah pengertian agama selalu identik dengan seseorang. Jika orang itu baik ya bolehlah agama itu baik bisa ditiru tetapi bila sebaliknya tetap saja agama menjadi si tertuduh si persalah. Memahami sejarah adalah memahami jalan hidup dan pemikiran. Inilah seringkali kita berbeda memahaminya sehingga bilang ada yang ditutupi, salah benar.
Agama dan orang bisa sama dan berbeda. Berkembang menuju wilayah politik dan pemerintahan seringkali penafsiran membuat makin berbeda. Agama ada karena pemahaman setiap manusia untuk bisa selalu bersyukur akan Sang Khalik. Mempercayai, memahami dan menerapkan kesetiap tingkahlakunya dalam hidup. Agama adalah jalan kebenaran, pedoman hidup setiap manusia. Akal dan pikiran manusia seringkali terbawa oleh nafsunya, kenegatifan dan hal--hal yang berlebihan terjadi.
"Indonesia selamanya tidak boleh menjadi negara Islam!", sebenarnya "Indonesia selamanya boleh menjadi negara Islam!" sudah kita rasakan walau penerapan dalam politik dan pemerintahan tidak tertulis.
"Agama bukanlah alat pemersatu bangsa yang paling efektif!", sebenarnya "Agama adalah alat pemersatu bangsa yang paling efektif!" karena masyarakat bangsa ini terdiri dari berbagai macam agama dan aliran yang artinya masyarakat beragama, percaya pada Tuhan tentu tidak ada istilah perpecahan bangsa. Kita saling menghormati ibadah masing-masing untuk kesatuan Negara Republik Indonesia.