Rekaman selama 21 menit yang tidak dimasukkan dalam memori PK itu memperkuat hubungan Polly dengan Badan Intelijen Negara (BIN). Polly mengakui bahwa suara dalam rekaman itu memang suaranya.
Di dalam pembicaraan yang disadap pada Mei lalu, saat Indra sudah berada di tahanan Rutan Bareskrim Polri itu, terdapat sejumlah hal, termasuk soal surat Wakil Kepala BIN As’ad yang pernah diberikan Polly kepada Indra.
"Tenang saja, barang-barang (surat, Red) itu sudah nggak ada semua. Kalau di tempat Pak Indra sudah tidak ada, ya sudah. Sudah aman," kata Polly dalam rekaman tersebut.
Indra melanjutkan, "Saya khawatir kalau ada copy-nya di BUMN."
Polly menjawab, "Oh, tidak ada. Yang di BUMN juga sudah hilang. Itu orang kita semua."
Mantan kopilot Airbus 330 Garuda itu juga mengatakan bahwa "orang-orang kita" itu selalu mewanti-wanti dirinya supaya tenang. "Kita semua bekerja bahkan sampai di pucuk atas," ujar Polly.
Indra menyebut surat yang ditandatangani oleh As’ad dan diberikan kepada Indra itu memang sudah hilang saat mobil Indra kemalingan di Hotel Sahid, Jakarta, pada 31 Desember 2004. Menurut Indra, surat As’ad yang menugasi Polly sebagai staf perbantuan di Unit Corporate Security itu semakin memperkuat niatnya untuk menandatangani surat tugas Polly nomor Garuda/DZ-2007/04 tanggal 11 Agustus 2004 (Jawa Pos, 10/8).
Tidak hanya itu, dalam rekaman tersebut, Polly bahkan menyebut beberapa nama pejabat tinggi negara sebagai "orang kita". "Pak Bagir Manan, ketua MA (Mahkamah Agung), dan wakilnya itu orang kita semua," ujarnya.
Ekspresi Polly tampak tegang saat rekaman itu diperdengarkan. Beberapa kali lelaki kelahiran Solo, Jawa Tengah, itu mengatupkan tangannya.
Dia pun memukul-mukul dagunya saat rekaman memperdengarkan kalimat soal penggantian mantan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh yang diklaim sebagai perbuatan "orang kita". "Petruk (sebutannya pada Abdul Raham Saleh, Red) diganti, yang ngganti orang kita, grup kita," ujarnya. Untuk itu, Polly berani menjamin Indra bakal bebas seperti nasibnya.
"Novum itu nggak bakal ada. Bapak (Indra, Red) dicari untuk mengejar saya. Itu sebenarnya permainan polisi supaya SBY (Presiden SBY, Red) tidak diubek-ubek LSM. SBY ini jadi presiden dari LSM. Saya sudah bertemu Hary Tjan yang punya CSIS," tambahnya.
Untuk itu, dia meminta Indra untuk tenang dan konsisten menjawab tidak tahu saat diperiksa polisi hingga masa penahannya habis. "Polisi di dalam terpecah belah. Ada yang ambisi naik pangkat," tambah Polly.
Polly juga menyebut penyidik Polri sebagai Pramuka. "BAP buatannya Pramuka. Dulu seolah-olah saya begini. Saya turutin saja. Padahal, saya nggak pernah. Nanti lawan di pengadilan. Itu kebobrokannya Pramuka," ujar Polly.
Tak hanya soal itu, Polly juga menjamin Indra dari pengalaman spritualnya. "Saya sudah ke Jatim, ke petilasannya Raden Wijaya dan petilasan Mahapatih Gadjah Mada," lanjut Polly, disambut tawa pengunjung sidang. Polly pun ikut tertawa mendengar perkataan yang pernah dilontarkannya itu.
Apa tanggapan Polly setelah sadapan itu diperdengarkan? Meski mengakui suara di rekaman adalah suaranya, Polly menolak substansi rekaman. "Nanti dalam tanggapan saja (sidang selanjutnya, Red). Itu saya hanya menyenangkan (Indra) seperti ketika saya dulu di dalam tahanan," tambahnya. Polly menolak menjelaskan maksud "Bagir Manan orang kita".
Indra tampak puas begitu sadapan diperdengarkan. "Ini adalah keterangan tambahan saya. Ini dari hati nurani saya. Makanya saya katakan, kendati saya tidak ada bukti karena surat itu hilang. Demi kebenaran dan keadilan," tambahnya.
Begitu pula un yang dia sampaikan ke koran ini saat hendak masuk mobil menuju ke Rutan Bareksrim Mabes Polri. "Alhamdullilah," katanya. Di persidangan Indra juga mengatakan sempat dipertemukan dengan As’ad oleh Polly. Dalam pertemuan itu, hadir Muchdi P.R., petinggi BIN yang lain.
----
Notes :
Gila ... kalau benar omongan si Polycarpus ... ini sih skenario intelejen tingkat tinggi
Ketua MA, Jaksa Agung, BIN, Kementerian BUMN, CSIS ... itu nama besar semua
Moga-moga angin sudah berubah dan para pendukung polycarpus kehilangan pijakan dengan terbongkarnya sadapan ini
Yang gila penyidik polri disebut "pramuka"