Help - Search - Members - Calendar
Full Version: -= kupu-kupu tidak bersayap =-
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
Dream LoVeR
Kenapa? Kenapa? Dan kenapa? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kini selalu terngiang-ngiang dalam lamunanku. Kenapa aku tidak ditakdirkan untuk bersama seseorang yang aku sayangi? Seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Seseorang yang aku cintai. Seseorang yang selama ini selalu ada menemaniku. Tidak hanya dalam suka, terutama dalam duka. Seseorang yang selalu membuatku tersenyum dengan perasaan bahagia yang sangat. Seseorang yang membuatku merasa teristimewa.

Entah sejak kapan dia mulai hadir dalam hidupku. Yang pasti ketika air mata jatuh mengalir dari mataku, kehadirannya mulai aku sadari. Ya. Mungkin sejak saat itu, aku mulai menyadari kehadirannya dalam hidupku. Meski sesungguhnya dia telah lama memandangiku dari kejauhan. Belaiannya yang lembut dengan segera menghapus air mataku. Dekapannya yang erat membuatku nyaman berada dalam pelukannya. Setiap kali aku memandangnya, dia selalu mencoba untuk membuatku tersenyum. Karena katanya, senyumku merupakan hal yang terindah yang pernah dia lihat. Setidaknya bagi dirinya.

Namun, kala kebahagiaan datang melanda. Di situ pula lah kesedihan kan datang. Karena meskipun aku yakin bahwa hatinya mencintaiku, namun kehadirannya tidak hanya milikku seorang. Dia selalu ditemani oleh yang lainnya. Nada-nada yang bernyanyi dengan merdunya selalu menyambut kehadiran dirinya. Kemilau cahaya yang berwarna warni selalu menyambut kedatangannya kala dia menyingkap kelabu yang meluapkan laranya. Meski aku mengerti, namun aku selalu saja cemburu melihat dirinya menemani yang lainnya.

Kenapa dia tidak hanya tercipta untukku? Kenapa kehadirannya tidak hanya untuk menemani diriku? Apakah aku tidak mampu membahagiakan dirinya, sehingga dia selalu mencari kebahagiaan di lain hati?

Namun, rasa raguku mulai redup ketika suatu ketika dalam sayup-sayup aku mendengar dirinya berkata, “Wahai cinta, jika aku boleh memanggilmu begitu! Sesungguhnya aku tidak ingin sedetik pun meninggalkanmu. Aku tahu engkau cemburu melihatku bercengkerama dengan yang lainnya. Namun untuk sementara ini kita tidak dapat bersama. Setidaknya hingga saatnya tiba. Aku berharap engkau sabar menunggu waktu itu, meski sesungguhnya aku yang tidak sabar untuk menunggu hari itu tiba. Hari dimana engkau dan aku bersatu dalam keabadian.”

Sejak saat itu, aku selalu menunggu dengan perasaan yang membara. Menunggu hari dimana aku dapat bersanding dengannya. Menunggu dengan sabar. Tanpa rasa cemburu. Meski aku melihat dirinya sedang ditemani oleh yang lainnya yang lebih indah dariku, lebih cantik dariku. Karena aku percaya pada dirinya.

Namun betapa hatiku hancur berkeping-keping, saat aku mengetahui ketika dirinya memilih seseorang selain diriku untuk bersanding dengannya. Kepercayaan yang aku berikan untuknya telah hancur begitu saja. Rasa cinta yang bersemi dalam hatiku pun ikut musnah. Berganti dengan rasa benci. Amarah. Penasaran.

Kenapa bukan diriku yang bersanding dengannya? Kenapa dia mengkhianati kata-katanya sendiri? Kenapa dia seolah melupakan aku? Kenapa dia tidak mau menunggu hari yang dia janjikan itu?

“KENAPA???”

Dia hanya terdiam kala aku menanyakan pertanyaan itu padanya suatu ketika.

“KENAPA?” tanyaku lagi.

Dirinya pun kembali terdiam.

“Kenapa?” tanyaku lagi, kali ini dengan perlahan.

“Maaf ... Aku tahu engkau marah. Kesal. Cemburu. Tetapi tiada yang dapat aku katakan selain kata maaf. Meskipun aku mengetahui bukan kata maaf yang kau harapkan dariku.”

“Lalu ... kenapa?”

“Sesungguhnya pertanyaan itulah yang ingin aku tanyakan padamu. Kenapa engkau tidak ada saat aku merasa kesepian merindukanmu? Kau mengetahui dengan pasti bahwa aku tidak dapat selalu menemanimu. Kenapa tidak engkau saja yang menemani diriku saat aku tidak dapat menemanimu? Aku telah berulang kali mengulurkan genggamanku. Kenapa engkau tidak menggapai genggamanku?”

Kali ini aku yang terdiam. Aku tidak mampu menjawab pertanyaannya. Aku memang tidak dapat hadir saat dia merindukanku. Aku memang tidak dapat menemani dirinya layaknya dia menemani aku. Aku memang tidak menggapai genggamannya yang berulang kali dia ulurkan kepadaku. Karena aku kupu-kupu yang tak bersayap. Sementara dia adalah matahari.

Aku adalah kupu-kupu yang tak bersayap. Sehingga aku tidak mampu terbang mendatanginya kala dia merindukan aku. Aku tidak mampu menemaninya kala malam datang menjelang. Aku tidak dapat menggapai genggamannya. Hanya karena aku kupu-kupu tak bersayap.
labiaslicker
what a very gud story telling......
i do love butterflies..they are incredible...
one and only..the perfect creature which has all the living phases..
from ugly to beautiful.................
peach a pie
bagus..
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.